-->

Nagabumi Eps 14: Kesadaran Tukang Batu

Eps 14: Kesadaran Tukang Batu

AKU sudah lupa apa jawabanku, tetapi percakapanku dengan punggawa itu terdengar oleh orang-orang yang bekerja di dekat kami, dan dengan cepat tersebar ke seputar bukit tempat candi itu dibangun. Percakapan itu membuat para pekerja berpikir. Memang benar pembangunan Kamulan Bhumisambhara ini memberi tempat bagi pengukir batu, pematung, maupun ahli-ahli bangunan, dan pembangunan candi ini memang mempunyai makna yang besar bagi mereka. Namun bagi mereka yang hanya dibutuhkan tenaganya, bukan sebagai budak yang memang tidak punya hak, tetapi sebagai penduduk yang wajib bekerja bakti, pembangunan candi jinalaya ini adalah suatu beban luar biasa jika tidak ingin mengatakannya suatu bencana.

Kutinggalkan orang-orang thani ini setelah kuberi pengobatan secukupnya. Mereka segera melanjutkan perjalanannya. Aku tahu kini Bhumisambhara kosong tanpa pekerja. Mungkinkah ini yang dianggap sebagai dosa karena menyebarkan pikiran berbahaya, karena menolak ketentuan penguasa? Namun itu sudah lama sekali. Kamulan Bhumisambhara sudah direncanakan tata letaknya ketika aku masih bocah ingusan umur empat tahun48. Itu adalah tahun 775, dan Yawabumi bagian tengah ini sudah dipenuhi oleh bangunan-bangunan Hindu, ketika kerajaan Mataram dikuasai oleh Rakai Panamkaran sejak tahun 746 selama 38 tahun.

Sering disebutkan Bhum isambara mulai dibangun tahun 780-an, bersama dengan pembangunan sebuah candi dengan ratusan arca di Mataram wilayah selatan, tetapi meme rlukan waktu lima tahun untuk mengangkut batu-batu dari seluruh penjuru negeri ke Mantyasih itu. Pada saat yang bersamaan, agama Buddha Mahayana telah menjadi lebih kokoh di wilayah utara. Kuperhatikan, tampaknya Kamulan Bhumisambhara merupakan limas berundak yang dimaksudkan untuk agama Hindu, tapi kemudian diubah menjadi bangunan Buddha50.

Ketika bekerja di sana, aku melihat pelipit51 atas dinding dalam lorong pertama terlalu besar dibandingkan dengan tinggi dinding itu, dan pada awalnya tidak direncanakan pelipit bawah sama sekali-seingatku pelipit bawah baru ditambahkan sesudah batu-batu persegi selesai dipahat. Dalam pengalamanku yang seadanya sebagai tukang batu, kedua ciri perbingkaian itu bertujuan supaya dinding itu kelihatan lebih tinggi, dan mestinya begitu pula dengan tahap pertama dinding lorong kedua. Namun petunjuk tentang ketinggian semula sudah sengaja dihilangkan.

Kenapa? Karena untuk bentuk bangunannya sendiri, rancang bangun agama Buddha tidak membenarkan pemakaian kesan kedalaman untuk membetulkan bentuk yang tidak dilihat seadanya oleh mata manusia, atau demi pembesaran kerangka bangunan, terutama dalam hal stupa, mengingat bentuknya yang kurang lebih seperti belahan bola- dalam rancang bangun Hindu, sebaliknya cara ini sangat laz im.

Dari para guru di masa kecilku, aku mendapat pengetahuan bahwa agama Buddha di bagian tengah Yawabumi berkembang di bagian selatan, bahkan diresmikan sebuah prasasti pada tahun 778 di wilayah selatan tentang pembangunan candi untuk Tara. Ketika agama Buddha menjadi semakin kokoh pada tahun-tahun berikutnya, sehingga candi luas dengan ratusan arca dapat mulai dibangun di selatan, candi jinalaya Kamulan Bhumisambhara juga mulai dibangun di utara. Namun sekitar tahun 790, ketika pembangunan kedua candi ini belum se lesai, Yawabumi bagian tengah terlanda gelombang perubahan besar dalam bidang rancang bangun dan perlambangan, sehingga segenap pendekatan dalam bentuk pembermaknaan di daerah itu dirombak.

Gelombang perubahan ini adalah bagian dari pertarungan kekuasaan dan perebutan pengaruh antarkerajaan yang membawa pula pengaruh agama, karena bentuk-bentuk baru itu diterapkan juga di berbagai candi, termasuk Kamulan Bhumisambhara yang belum usai pembangunannya. Perubahan ini tentu menghentikan pekerjaan untuk sementara, dan para pekerja tentu tidak termangu-mangu saja di sana-karena perubahan budaya tentu menyangkut manusia yang memperjuangkan kepentingannya dalam negara.

Ketika pekerjaan dilanjutkan, tempat-tempat masuk diubah. Seingatku, perubahan tempat-tempat masuk ini berlangsung lama, karena mulainya saja sekitar tahun 800 dan ketika aku mengundurkan diri dari dunia ramai pada tahun 846 sebetulnya belum selesai. Saat itu pintu-pintu lorong pertama belum diubah. Tahun 840 ditemukan cara baru dalam pembuatan dinding, yakni diisi dengan urukan, yang kemudian ternyata digunakan untuk bangunan Hindu maupun Buddha. Namun sebelum hal ini terjadi, pembagian wilayah budaya Yawabumi bagian tengah ini telah berubah, agama Buddha yang semula berkembang hanya di selatan sampai tahun 790, telah mencapai utara di dekat Kamulan Bhumisambhara pada tahun 832.

Dengan pengetahuanku yang terlalu sederhana sebagai tukang batu, dapat kukenali bahwa dalam tahap pembangunan Bhumisambhara yang pertama, pemasangan batu di atas bangunan diletakkan tanpa pengait, sehingga sambungannya hanya terjamin oleh bobot batu itu sendiri; tetapi sejak lapisan batu yang ke-65, yakni se lama pembangunan tahap kedua, dibuat takuk sejajar dengan sisi luar bangunan. Sekarang ini, tahun 871, apabila semakin sering terlihat kemiripan, tetapi yang tidak pernah berarti sama, dalam berbagai ungkapan keagamaan Hindu dan Buddha, termasuk bangunan, tentulah ada sesuatu yang terlewatkan olehku se lama menghilang 25 tahun dalam sebuah gua -karena selama 50 tahun lebih, dari tahun 780 sampai 832 itu, terpisah secara jelas terdapatnya dua kerajaan yang berbeda agama, sebagai akibat persaingan antara wangsa Sanjaya dan Syailendra.

Aku masih berada di tengah kerumunan penonton, yang masih terus menikmati wayang topeng tentang Pendekar Tanpa Nama. Jika memang yang dimaksudkan betapa tokoh Pendekar Tanpa Nama itu adalah diriku, maka harus kukatakan betapa berbahaya mempercayai kesan selintas, yang barangkali hanya terdengar dari sana-sini, sebagai bukti tersahih atas kenyataan.

Wayang topeng yang berkisah tentang Pendekar Tanpa Nama adalah suatu cerita yang dibangun untuk menyudutkan diriku, atas suatu sebab yang aku belum mengerti. Mereka yang menyebutkan bahwa aku menyebarkan ajaran rahasia untuk menghina agama pasti sangat memahami betapa aku tidak me lakukannya-aku berpikir bahwa kehilanganku dari dunia ramai itulah yang dimanfaatkan, bagaikan sebuah ruang kosong yang bisa diisi apa saja untuk mengalihkan perhatian dari tujuan yang sebenarnya. Namun meski diriku telah menghilang begitu, kehilanganku harus tetap dipastikan- mungkin tadinya aku disangka tentunya sudah mati, mengingat usia yang sudah waktunya mati, tetapi pengiriman regu pembunuh itu tentunya menandai kepastian bahwa aku ternyata masih hidup dan karena itu perlu dibunuh.

Masalahnya, kenapa baru sehari aku keluar gua sudah kutemukan selebaran lontar tentang hadiah 10.000 keping emas bagi yang berhasil membunuhku? Mungkinkah ada ketakutan betapa penguasa Jurus Tanpa Bentuk memang tidak akan bisa dikalahkan, kecuali oleh waktu? Namun aku juga berpikir betapa bukan kematian diriku benar yang penting dalam tujuan itu, melainkan bahwa namaku bisa dipersalahkan demi suatu tujuan yang aku belum tahu-yang berusaha dibunuh adalah namaku. Jika aku mati, baik karena terbunuh maupun karena usia, seluruh rahas ia di balik kabut ini akan ikut tenggelam dalam kegelapan-sedangkan jika aku takdapat dibunuh dan mampu melawan, maka semakin sahihlah keberadaan diriku sebagai orang berbahaya yang pantas diburu, demi pengesahan suatu tujuan tertentu yang mengorbankan diriku, baik nama maupun nyawaku.

Barangkali tidak cukup memeriksa apa yang hilang dalam

25 tahun terakhir, masa ketika aku barangkali saja tidak pernah dianggap hilang sama sekali, karena selama malang melintang di rimba hijau pun aku jarang memperlihatkan diri. Apalah yang bisa dilakukan seorang pendekar silat di dunia awam? Seorang pendekar silat biasanya hanya tahu bersilat. Sejak kecil ia dilatih bersilat, setelah remaja ia bercita-cita menjadi pendekar silat, setelah dewasa ia mengembara di dunia persilatan, belajar silat dari guru yang satu ke guru yang lain, dan mungkin ia akan mati atau berjaya dan mendapat nama di dunia persilatan-bahkan mereka yang tewas terkapar setelah pertarungan usai tiada jarang adalah juga mereka yang mempunyai nama besar. Dalam sungai telaga dunia persilatan berlaku pepatah, di atas langit ada langit, seberapa pun tinggi ilmu silat yang dikuasai seorang pendekar, akan tiba saat seorang pendekar lain mengalahkannya-tetapi saat itu belum pernah tiba kepadaku.

Seperti kata Naga Emas, aku hanya bisa dikalahkan oleh waktu, ini berarti pepatah dunia persilatan yang berlaku bagiku adalah: gelombang yang di depan digantikan oleh gelombang yang di belakang -betapapun hebatnya seorang pendekar, suatu ketika ia akan memudar dan raib, atau dikalahkan juga akhirnya, untuk digantikan seorang pendekar yang bukan hanya lebih tinggi ilmunya, tetapi juga lebih muda. Namun bukan saja pendekar tua maupun pendekar belum mampu mengalahkan ilmu silatku, tetapi yang disebut waktu pun belum kunjung memudarkan ilmu silatku, apalagi mengakhiri hidupku.

Umurku sudah seratus tahun, aku tidak merasa daya hidupku mengendur sama sekali-hanya memang ingatanku, jika mengingat sesuatu tidak terlalu kuyakini akan selalu tepat seperti yang telah kualami set iap kali mengingatnya. Bahkan aku sangat khawatir bahwa ingatanku akan sesuatu hal itu berubah-ubah. Jika memang ini yang terjadi atas diriku, ini tentu sangat mengerikan. Betapa aku selalu bisa menyelamatkan nyawaku dari perburuan para pembunuh bayaran, tetapi aku tidak dapat menyelamatkan diri dari diriku sendiri, yang akan mengikis daya ingatku dari waktu ke waktu seperti layaknya setiap manusia uzur yang akan jadi pelupa.

Tiga penari yang tadi berputar seperti gasing itu mendadak berhenti mematung, lantas bergerak begitu lambat, sangat lambat, lebih lambat dari pergerakan bum i. Mereka membawakan Tarian Kematian seperti aku telah menyerap dan mengulangnya sebagai cara kerja Jurus Bayangan Cermin. Namun mereka telah mengira mampu menyerap Jurus Bayangan Cermin yang mereka bawakan untuk menarikan diriku. Kulihat diriku di sana, diriku yang menjadi tiga, dalam pembawaan tiga penari wayang topeng yang topeng putihnya begitu pucat, dingin, bahkan sama sekali tiada berwajah. Begitukah aku telah dikenal? Barangkali bukan sa lah mereka untuk tidak mengenalku. Bukankah aku tidak ingin dikenal maupun mengenal?

Jadi teringat lanjutan Upacara Pembuka Mata: legakanlah pikiranmu

telah hilang ketiada -pengetahuam yang menyelimuti hatimu

disapu bersih Bhatara Sri Vajradhara seperti penyakit mata

yang membuat rabun menjadi sembuh

dan bening kembali demikian pula

ketiada -pengetahuan sebagai penghambat

telah dibabad oleh Bhatara enakkanlah perasaanmu janganlah ragu-ragu

(Oo-dwkz-oO)

KUTINGGALKAN tempat itu dan aku melangkah di dalam kota. Jalanan gelap dan sepi. Hanya obor di sana-sini. Itu pun bagian dari penerangan gapura atau gerbang memasuki puri. Tidak semua puri memasang penerangan. Begitu malam turun penduduk sebagian besar tidur?kecuali ada upacara agama, yang dalam agama Hindu berlangsung hampir setiap hari, tetapi tidak malam ini. Dewa-dewa bagaikan turun ke bumi dan minta disembah serta diberi sesajian tiap hari. Tanpa dewa, hidup ini bagaikan tiada artinya-dewa harus se lalu ada untuk melindungi manusia dari anasir-anasir jahat entah darimana datangnya. Namun para dewa tidak bisa hidup sendiri. Berbeda dengan para bhiksu, para dewa tidak mampu berselibat, mereka harus didampingi pasangan yang berdaya, dan daya para dewi yang mendampingi ini sangat sering begitu luar biasa tanpa dapat diduga. Daya itu membuat mereka disebut sakti. Jika bagi Siwa sakti?nya adalah Devi, maka bagi Wisnu sakti itu adalah Laksmi. Kotaraja Mantyasih ini jelas sangat dipengaruhi budaya agama Siwa, meski doa puja Mahayana terdengar di lorong-lorongnya. Di tengah kota terlihat patung Durga Mahisasuramardini yang bertangan delapan, perwujudan kroda atau kedahsyatan sakti Siwa tersebut.

Patung tinggi besar yang terbuat dari batu berpori-pori besar ini tubuhnya bersikap tribhangga, empat tangan kanan masing-masing memegang cakra berapi, sara, dan sara lagi, serta ekor kerbau; empat tangan kiri masing?masing memegang sangkha, pasa, dan pasa lagi, serta rambut asura. Matanya melotot, tubuhnya kecil, langsing dan anggun. Jata- mukuta-nya tinggi, rambut tergerai di atas bahu, pita seolah- olah menempel kepada sirascakra di kiri dan kanan kepala. Pilinan upav ita besar. Uncal hampir mencapai ujung kain, selendang menyilang kain sebatas lutut, dan panjangnya kain sampai pergelangan kaki. Asura atau anasir jahatnya baru keluar dari kepala kerbau, kakinya masih terlihat lentur; sedangkan mahisa menghadap ke kiri. 55

Itulah Bhatari Durga. Jika terdapat patung sebesar ini di tengah kota. Tentu berarti penguasa mengharapkan perlindungannya. Devi juga mempunyai daya santa atau saumya yang berarti ketenangan, itulah sakti yang akan menjelma pesona kecantikan menghanyutkan; tetapi yang kutatap adalah kroda atau kedahsyatannya sebagai pembantai asura, yang bahkan telah ia kelupas rambut kepalanya. Kutatap matanya dan kurasakan sesuatu yang aneh, karena mata patung yang seperti sedang menatap dengan hidup itu bagaikan pernah kukenal dan mengenalku. Siapakah yang pernah menjadi begitu dekat kepadaku sehingga mengenal dan kukenal? Jelas bukan Bhatari Durga, tetapi seorang perempuan yang dibayangkan, atau bahkan berdiri di dekat para pematung, yang diandaikan sebagai Durga.

Di depan patung itu terdapat sesaji yang berasap dan berbau. Terlihat juga sebuah jambangan penuh air, di dalamnya terlihat mengambang beberapa jenis daun; tujuh periuk tembaga tidak diisi air, tetapi satu di antaranya diisi jenis daun-daun tertentu; sebuah lampu terbuat dari tepung beras, salah satunya berbentuk wajah manusia; dan sebuah tombak yang ditancapkan di tanah. Aku tidak mengerti kenapa seperti tercium olehku bau yang sangat kukenal.

Tiba-tiba saja dari ujung jalan yang gelap muncul serombongan orang menuju patung ini. Terdengar suara tangis. Aku tertegun. Paling depan seorang lelaki yang membawa bocah lelaki yang tampak sangat lemas. Seorang perempuan yang mungkin isterinya mengikuti di belakang dengan kepala tertunduk, diikuti dua lelaki dan dan dua perempuan muda yang kuduga merupakan saudara?saudara mereka. Wajah mereka semua tertunduk dan tampak sangat berduka. Kain yang mereka kenakan semuanya berwarna hitam pekat. Kaum perempuannya menutup pula bagian atas tubuh mereka dengan kain yang hitam itu, sehingga berbeda dengan semua perempuan lain, buah dada mereka hanya tampak sebelah.

Aku menghindar dari pandangan mereka, bersembunyi di bagian yang tergelap dari kekelaman malam.

(Oo-dwkz-oO)