Nagabumi Eps 137: Di Kota Than Long

Eps 137: Di Kota Than Long

AKU menoleh. Sebuah wajah yang kukenal tersenyum lebar dan tertawa tanpa berusaha menarik perhatian.

''Iblis Suci! Kenapa dikau ada di sini?''

Ia menyamar sebagai paria pengemis. Astacandala juga. Golongan manusia yang tidak dianggap manusia, kecuali oleh para rahib Mahayana di kuil itu, yang tentu tahu bagaimana rasanya jadi pengemis. Meskipun igama Buddha tiada mengenal kasta, keberkastaan dalam kehidupan masyarakatnya, yang semula menyembah Visnu, Durga, dan Siva, tidaklah terhindarkan. Namun makanan yang dibagi bukanlah hasil dari mengemis. Inilah dana amal Pemerintah Daerah Perlindungan An Nam, keturunan campuran Han-Viet itu, yang sengaja disediakan untuk menjaga ketenangan. Diketahui bahwa sebagian besar dari mereka yang mengemis itu pun bukanlah pengemis dalam arti paria yang sesungguhnya. Kadangkala mereka adalah orang desa dari pedalaman sahaja, para petani yang sawahnya disapu banjir bandang atau desanya dibakar karena peperangan. Kedudukan orang desa memang bisa serba disalahkan, karena pasukan pemerintah akan membumihanguskan desanya jika dianggap telah berpihak kepada pemberontak, yang juga akan dilakukan pasukan pemberontak jika mereka berpendapat desa tersebut mengakui pemerintahan yang sah.

Tidak jarang, karena takut dibunuh dan diperkosa, oleh pihak mana pun, desa-desa itu ditinggalkan begitu saja dalam keadaan kosong. Daripada kehilangan nyawa, lebih menghinakan diri sebagai paria tak berkasta dalam kota, tempat mereka merasa hanya akan dianggap sebagai kumpulan lalat menjijikkan, yang tidak akan pernah dicurigai dan diawasi. Justru karena itulah menyamar sebagai pengemis adalah pilihan termudah mata-mata, dan sebaliknya para pengawal rahas ia istana selalu menempatkan pula mata- matanya di sana. Demikianlah dunia yang aman bagi orang desa dari kejaran pasukan mana pun adalah dunia yang sama sekali belum terjamin bagi kaum mata-mata, yang menyamar maupun mencari orang yang menyamar.

''Apakah dikau berharap diriku enak-enak minum arak di suatu tempat, tanpa kepastian atas nasib kalian yang menghilang dan tak kembali lagi? Di manakah Amrita?''

Tentu tak kujawab, dan kurasa Iblis Suci Peremuk Tulang itu mengerti. Ia menundukkan kepala dan mendesah. Betapapun kami bertiga lama bersama keluar masuk hutan dalam berbagai pertempuran.

''Biar kudobrak saja istana dan mencari pengkhianatnya!'' Ia mendesis penuh amarah.

''Tidak bisa begitu Iblis Suci, mendobrak seperti membalik tangan, tetapi menemukan yang bertanggung jawab atas kematiannya seperti mencari jarum di tumpukan jerami.''

''Ah! Kita bunuh saja seluruh isi istana! Siapa pun yang berkhianat tentu ikut mati di s itu!''

''Tidaklah semudah itu, Iblis Suci, kita tidak akan membunuh mereka yang tidak bersa lah, sementara yang bertanggungjawab tak kelihatan lagi.''

Aku memang memikirkan masalah ini. Dalam peperangan, bagaimanakah menilai suatu pengkhianatan? Dalam pertempuran, bunuh membunuh bukanlah suatu kebersalahan, sementara jika kegiatan mata-mata merupakan bagian dari perang, seberapa jauh suatu pengkhianatan harus dianggap salah dan mendapat hukuman? Para pengkhianat dihukum mati, tetapi dihukum mati sebagai pengkhianat dan dihukum mati sebagai mata-mata pihak musuh yang berani mati perbedaannya besar sekali; yang pertama terhina, yang kedua sangat dihormati.

Kegiatan mata-mata tak hanya membuka mata dan telinga lantas menyampaikan segala keterangan yang didapatnya, melainkan juga membujuk, merayu, menawarkan, dalam tingkat penyamaran yang kadangkala sulit dipercaya. Berusaha menjadi kekas ih tercinta dengan permainan asmara yang bergelora, bagi lelaki maupun perempuan mata-mata, adalah cerita biasa; tetapi bagaimana dengan menjadi suami atau istri, yang melahirkan anak segala? Bagaimanakah caranya seseorang membangun keluarga tanpa cinta demi tugasnya sebagai mata-mata?

Demikianlah pernah pula kudengar cerita tentang mata- mata yang terserap dalam cinta, mengalahkan kepentingan tugasnya, bahkan takjarang beralih pihak dan berkhianat, sehingga mati terbunuh karenanya. Betapa tipis jarak antara kesetiaan dan pengkhianatan, dengan alasan yang adakalanya sangat bisa diterima, karena menolak tugas untuk membunuh isteri atau suami dan anak sendiri tentu masuk akal adanya. Tentu cerita tentang mata-mata yang terpaksa melenyapkan anak, isteri atau suaminya sendiri, ketika siapakah dirinya yang sebenarnya terbongkar, adalah cerita yang sering beredar dari kedai ke kedai pula.

Pengemis di belakang kami berteriak marah. ''Kalian mau bicara atau mau makan? Cepat maju!''

TERNYATA yang di depan sudah maju begitu jauh, dan rahib yang membagi-bagikan kentang itu tampak kesal menanti. "Kalian berdua seperti tidak butuh makanan, masih banyak orang antri di belakang kalian. Ayo cepat!"

Kutengok ke belakang, ternyata panjang juga barisan, bahkan sampai keluar halaman. Kurasa sudah sangat bagus pembagian makanan untuk orang miskin ini tidak berlangsung kacau. Di hadapan rahib berjubah merah berlapis kuning itu kuulurkan batok kelapa yang kubawa. Seketika batok kelapa itu segera penuh dengan kentang panasnya mengepulkan uap. Aku mendadak merasa lapar dan segera menepi, agar Iblis Suci bisa maju ke depan. Saat itulah rahib tersebut terbelalak. Rupanya ia mengenali Iblis Suci. Aku teringat riwayat Iblis Suci Peremuk Tulang dari Sungai Hitam yang kuilnya dihancurkan pasukan pemerintah karena menampung keluarga pemberontak.

Ia memanggil Iblis Suci dengan sebuah nama yang tidak dapat kueja. Setelah itu mereka berpelukan sambil menangis dan mengeluarkan kata-kata dalam bahasa burung. Aku mulai memahami bahasa orang Viet sedikit demi sedikit, sedangkan seperti kebudayaannya, bahasa Viet juga banyak menyerap bahasa Negeri Atap Langit. Maka alangkah mengherankan bagiku betapa diriku taksepatah pun memahami bahasa yang mereka ucapkan. Baru nanti akan kusadari betapa Negeri Atap Langit itu merupakan negeri yang betul-betul besar, bukan hanya karena luas wilayah yang dicakupnya, tetapi juga keragaman bahasa yang takpernah terduga keberbedaannya.

Orang-orang yang antri berteriak kepada rahib itu.

"Hei pendeta! Jangan asyik sendiri! Tugasmu membagi makanan kepada kami!"

Kusaksikan orang-orang yang sungguh dekil. Wajah-wajah berbulu tak terurus. Baju tebal bertambal-tambal. Karung yang mereka bawa entah berisi apa. Orang-orang yang desanya terbakar maupun yang desa-desanya terendam air. Kanak-kanak yang menempel di punggung ibunya seperti monyet, dengan wajah-wajah serba ketakutan tanpa kepercayaan diri sama sekali, sementara ibunya sibuk mengulur-ulurkan tangan dengan wajah mengiba agar segera mendapatkan makanan sedekah.

Kulihat Iblis Suci mengatakan sesuatu kepada rahib, dan rahib yang kurasa masih muda itu memanggilku dengan pandangan mata penuh belas. "Datanglah kemari Anak," katanya, "masuklah ke kuil bersama temanmu ini, di sana banyak makanan untukmu."

Ah! Apakah yang telah dikatakan Iblis Suci Peremuk Tulang itu tentang diriku? Sementara rahib itu kembali sibuk, Iblis Suci berlagak merangkul bahuku dan mengajakku masuk ke bagian dalam. Ia berbisik di telingaku.

"Rahib itu temanku. Lebih baik kita bersembunyi di sini sambil mencari keterangan. Kukatakan kamu sakit dan sudah tiga hari tidak makan."

Pantaslah rahib itu memandangku begitu rupa!

Kami menembus lorong panjang menuju asrama tempat para rahib bermukim. Di dalam sana lebih banyak lagi makanan, meskipun tidak ada yang berasal dari makhluk hidup, tetapi sambil melangkah kami telah menghabiskan kentang. Jadi tiba di tempat kami ikuti saja suatu upacara pembayatan Bodhisattva, makhluk yang bertekad untuk mencapai Kebuddhaan bagi kepentingan segala makhluk lain itu.

Ia telah melakukan sumpah dalam suatu upacara memasuki mandala yang disebutkan kitab Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya sebagai berikut:

seandainya ada seseorang yang benci kepada Sang Hyang Samaya

tetapi yang ingin melaksanakan Sang Hyang Mantranaya seandainya ada seseorang yang telah mengingkari

sumpahnya

sesudah mengalami pembayatan

tetapi masih juga mengharapkan pengajaran hasil apakah yang diharapkannya?

bila bertemu dengan guru, maka guru itu dihinanya; orang demikian yang menunjukkan kebencian terhadap samaya

dan yang mengingkari samaya dapat disuruh untuk dibunuh

ia tidak dilindungi oleh Bhatara

karena ajaran Bhatara Hyang Buddha haruslah dipelihara serta Sang Hyang Samaya haruslah ditepati

sehingga mereka yang memusuhi samaya akan mendapatkan kematian sebagai hasilnya

INILAH kesempatan terakhir seorang murid untuk mengundurkan diri, jika ia mengalami keraguan untuk mengikuti Sang Hyang Samaya dengan akibat yang menakutkan itu. Sejauh yang pernah kudengar, dalam Mahayana terdapat dua macam pengucapan sumpah, yaitu pengucapan sumpah bagi para rahib atau pendeta, dan pengucapan sumpah bagi seorang Bodhisattva yang diucapkannya sebelum ia memasuki jalan kebodhisattvaan. Bagi mereka yang akan memasuki jalan Tantrayana, maka mereka ini pun harus mengucapkan sumpah, yang hanya diperuntukkan bagi yana. Adapun yana berarti cara, jalan, atau kendaraan.

Demikianlah rahib yang tentu juga seorang yogin itu, yakni orang yang telah melaksanakan yoga dengan sempurna itu bersumpah.

"Saya mengucapkan Sumpah Agung ini, hai Raja atas Segala Hukum; jika saya sampai mengingkarinya saya mohon kepada para Buddha dan Bodhisattva mereka semua yang melindungi jalan mantra yang tertinggi cabutlah dari dalam diriku jantung dan darahku."

Aku terhenyak. Benarkah murid yang menghindari sumpahnya harus dibunuh?

"Sumpah atau samaya ketiga dalam Tantrayana, yang diucapkan sebelum memasuki mandala ini, harus diartikan sebagai sumpah yang diucapkan murid itu sendiri, jadi bukan dibunuh oleh guru, atau orang yang diperintah untuk melakukannya," ujar Iblis Suci kepadaku. Ya, sekarang aku teringat, seperti pernah kuceritakan pula, seorang guru sebelum murid itu bersumpah berkata.

"Dikau dilarang untuk membicarakan tentang rahasia yang tertinggi dari Para Tathagata ini dengan mereka yang belum pernah memasuki mandala. Jika sumpah dikau terputus, dan jika dikau tidak menepatinya, maka pada waktu dikau meninggal, dikau pasti akan jatuh ke Neraka."

Sesudah mengucapkan sumpahnya, Bodhisattva itu menjalani pembayatan sambil memasuki mandala, seperti meminum vajrodaka. Aku pun memikirkan kembali makna mandala itu, yang terdiri dari empat jenis: yang dibuat dari bubuk berwarna, yang dilukis di atas kain, yang diciptakan melalui dhyana , dan yang mempergunakan badan sebagai mandala. Adapun mandala dalam Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya adalah mandala yang diciptakan melalui dhyana, karena penciptaannya melalui upacara pembuka-mata.

"TENTANG mandala yang diciptakan melalui dhyana," ujar Iblis Suci lagi, "tidaklah semua guru atau murid mampu untuk memberi atau menerima pembayatan. Lebih tepat untuk dikatakan, bahwa hanyalah mereka yang mempunyai kepribadian menonjol, seperti misa lnya guru yang teguh samadhinya, murid yang telah mampu menguasai alat inderanya dan telah mantap keyakinannya."

"Tapi bagaimana mungkin suatu mandala yang hanya diciptakan melalui penglihatan itu dapat dimasuki?"

Sengaja kuuji pengetahuan Iblis Suci Peremuk Tulang itu sebagai bekas rahib. Mungkin tahu diuji, kulihat senyum tersembunyi ketika menjawab.

"Istilah yang pertama mengandung arti lebih pada perenungan daripada arti memasuki mandala secara lahiriah, karena tiada seorang pun yang akan menginjak atau memasuki mandala yang terbuat dari bubuk berwarna, untuk tujuan apa pun." Masih kami ikuti upacara itu.

"Baiklah, sekarang pertajamlah pandanganmu, pada waktu berada dalam Sang Hyang Mandala," kata gurunya, "dengan demikian dikau telah terpaut pada mandala, telah dituntun untuk membuka rahasia. Sebagai hasilnya, hilanglah segala dosa-dosamu, bagai dibasuh sampai bersih, lenyap sampai ke akar-akarnya. Legakanlah perasaanmu, jangan sampai sangsi."

Tidakkah pernah kuceritakan pula soal ini? Iblis Suci berbisik kembali di telingaku.

"Uraian itu menguatkan kembali perumusan, bahwa mandala yang dimaksud adalah diciptakan kembali me lalui dhyana. Penguatan itu dapat dilihat dari kalimat, 'pertajamlah pandanganmu'. Juga uraian yang telah memastikan sejak awal pembicaraan, bahwa Dewa yang 'dibayangkan' dan kemudian juga 'diundang' adalah Vajradhara."

Vajradhara? Iblis Suci itu tidak menyebutkannya sebagai Buddha atau Jina. Apakah yang dipelajarinya juga berasal dari Sang Hyang Kamahayanan Mantrayana yang beredar di Jawadwipa?

Murid itu pun sambil menutup mata, melemparkan sekuntum bunga ke dalam mandala, yang dalam ruangan tertutup itu terlindungi dari hujan salju. Kedudukan Dewa tempat bunga itu jatuh akan menjadi Dewa murid tersebut.

Demikianlah upacara itu berlangsung terus sampai pada saat pembayatan air, yang disebut toyabhiseka, sebagai bagian pertama dari Pembayatan Lima Bejana.

"Melalui pembayatan air," ujar Iblis Suci, "dengan melakukan dhyana atas cara yang ditentukan, seseorang akan mampu mencuci bersih segala noda yang menghalangi pencapaian tingkat Kebudhaan dengan sempurna dalam keluarga yang sudah ditentukan." Pembayatan air adalah suatu tingkat pengalaman yang dijalani Bodhisattva, yang merupakan tahap pertama dari serangkaian empat pembayatan tertinggi dalam tingkat pengalaman anuttarayoga-tantra. Sampai pada tingkat pencapaian pengalaman ini, seorang Bodhisattva itu telah dinyatakan menerima ajaran Tantrayana menguraikan segala rahasia, dengan segala akibat dan kewajibannya, serta juga dengan segala kemungkinan untuk memperoleh hasilnya.

SETELAH itu, ia harus mengikuti upacara persiapan, karena tanpa dikukuhkan melalui pembayatan, badan manusia biasa disebutkan tiada akan kuat menahan kekuatan Vajradhara, suaranya tiada akan kuat mengumandangkan mantranya, dan batinnya t iada akan kuat melaksanakan samadhi terhadapnya, yang mempunyai hakikat ketiadaan. Setelah menerima pengukuhan ini, Bodhisattva tidak hanya diiz inkan melaksanakan segenap upacara atau menjalankan semua ajaran yang telah diturunkan, tetapi juga telah mampu melakukannya sendiri melalui kekuatan yang disalurkan lewat gurunya.

Untunglah bahasa dalam upacara ini adalah bahasa Sansekerta, jika berlangsung dalam bahasa orang-orang Viet, tentulah aku hanya dapat mengikutinya sepotong-sepotong, meski sebagian isi Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya itu pernah pula kubaca, meski dalam bahasa dan huruf yang digunakan di Jawadwipa. Demikianlah guru itu berujar.

"Sekarang giliranmu untuk melaksanakan Sang Hyang Mantranaya, sudah selayaknya seseorang seperti dikau memasuki Sang Hyang Marga. Selanjutnya apabila dalam melaksanakan abhyasa Sang Hyang Mantra disertai dengan ketekunan, maka dikau pasti akan menemukan Kesempurnaan, sehingga akan terlepas dari gangguan Mara serta kekuatannya. Oleh karenanya legakanlah perasaan dikau. Upayakanlah untuk terus menerus melaksanakan Sang Hyang Mantra dengan penuh pengabdian." Dengan mengikuti upacara ini secara langsung, kini aku tahu bahwa yang tertulis dalam Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya itu hanya sebagian. Apakah itu merupakan hasil penafsiran, ataukah peniruan yang kurang sempurna? Apa yang diuraikan Sang Hyang Kamahayanan Mantranaya hanyalah hasil upacara itu, sedangkan yang harus dilalui untuk mencapai hasil itu tidak diungkapkan. Adapun hasil yang dicapai Bodhisattva ini agaknya dibandingkan hasil yang diraih oleh Bhatara Sri Sakyamuni, yakni dengan kekuatan Mantranaya yang menaklukkan beserta balatentaranya.

Tentang kerahasiaan ajaran Tantrayana, berkatalah pula gurunya yang konon dalam usia 90 tahun, masih tampak seperti 50 tahun saja.

"Jagalah baik-baik Sang Hyang Samaya oleh dikau, dan jangan sampai tidak dengan sepenuh hati di dalam dikau menjaga kerahasiaannya. Hendaknya dikau ketahui pula kepada siapa seyogyanya Sang Hyang Samaya itu diajarkan. Hendaknya ia dinilai kemampuannya, perasaannya, kelakuannya, dan ciri-ciri tubuhnya; demikian juga apakah ia itu teguh keyakinannya dan apakah ia bersungguh-sungguh terhadap Sang Hyang Mantra.

"Dalam hal inilah dikau bertindak sebagai penjaga pintu Sang Hyang Rahasya. Namun demikian, janganlah ragu-ragu dan jangan pula segan-segan untuk mengajarkan Sang Hyang Samaya yang kuat keyakinannya, adhimukti sattva, karena dikau te lah diberi iz in oleh para Tathagata untuk mengajarkan Sang Hyang Samaya, atau lebih telah diiz inkan oleh Bhatara untuk melaksanakan semua perintah para Tathagata."

Sembari menelan sisa-sisa kentang yang telah diremukkan itu, kuperhatikan adanya penyamaan dan pembedaan arti dari kata Bhatara dan Tathagata dalam satu kalimat. Kiranya terdapat dua tingkat pengalaman, yakni Vajradhara sebagai benih yang disebut hetu, dan Vajradhara sebagai hasil yang disebut phala. Diterapkan dalam kalimat sang guru, maka Bhatara melambangkan Vajradhara yang pertama, sedangkan Tathagata melambangkan Vajradhara yang kedua.

SAAT itu datanglah rahib teman Iblis Suci Peremuk Tulang.

Ia berteriak dalam bisikan.

''Apa yang kalian lakukan di sini? Untuk apa kalian mengikuti upacara membosankan ini? Sudah daku bilang tadi, di dalam sana itulah terdapat banyak makanan!''

Ia menggamit kami berdua meninggalkan upacara pembayatan dan terus berjalan sepanjang lorong yang gelap. Dari arah depan sejumlah rahib dengan jubah mereka yang kuning dan merah tampak akan berpapasan. Sebetulnya aku sama sekali tidak bosan dengan upacara itu, meski bukan upacara itu benar yang memikatku, melainkan segenap pemikiran di baliknya. Namun Iblis Suci Peremuk Tulang telah memperkenalkan aku sebagai pengemis bodoh kelaparan, jika aku tampak berbeda dari yang dikatakannya, bukan rahib temannya itu yang kukhawatirkan, melainkan mata-mata yang mungkin saja sudah lama tertanam dalam kuil tersebut. Meskipun pengepungan telah dibubarkan dan pasukan pemerintah dianggap meraih kemenangan, betapapun kematian Amrita menunjukkan bahwa kota ini masih sangat waspada terhadap penyusupan. Sudah sangat sering terjadi, pasukan yang kalah dalam pertempuran akan berusaha menebusnya dengan penyusupan, saat pihak yang menang berada dalam kelengahan, untuk melakukan pembunuhan gelap atas para pemimpinnya.

Kuingat tentang bodhicitta, kitab Sang Hyang Mahakayanan Mantrayana menguraikannya seperti berikut.

Sang Hyang Bodichitta janganlah dikau tinggalkan bodhicitta berarti Sang Hyang Vajra dan Sang Hyang Mudra karena yang terdiri atas keduanya

akan membuat dikau menjadi Hyang Buddha kelak yang membuat dikau terbebas

dari keterikatan pada bentuk badan dikau melalui pengabdian

kepada Sang Hyang Vajra, Ghanta, dan Mudra

Sejauh yang masih kuingat dari ma lam-malam perbincangan Sepasang Naga dari Ce lah Kledung dengan para bhiksu maupun bhiksuni yang selalu kucuri dengar, kuketahui bahwa bodhicitta yang harus dipupuk ini juga dikenal dalam tingkat ajaran Mahayana di samping tingkat Tantrayana. Dalam ajaran Tantrayana menurut penafsiran Anandagarbha dikenal adanya lima rahas ia, yakni bodhicitta, pengertian terhadapnya, pencapaian pengalaman atasnya, sesudah dialam i untuk tetap dikuasa i, dan pengetahuan tersendiri sebagai hasil yang dicapai atas pengalaman itu.

Kemudian, kelima rahasia itu diungkapkan melalui bahasa semu, yakni dengan perbendaharaan kata yang berhubungan dengan sanggama, untuk menyembunyikan pengertian yang dirahasiakan itu. Dengan kata lain, langkah-langkah menuju pencapaian pengalaman bodhicitta itu dilambangkan sebagai langkah-langkah persanggamaan. Dalam perlambangan semacam itu bodhicitta dilambangkan sebagai Vajrasattva, sedangkan yang lainnya, seperti pengertian, pengalaman, penguasaan, dan pengetahuan, berturut-turut dilambangkan sebagai empat devi. Perwujudannya dalam bentuk susunan dewa-dewa , mereka itu dilukiskan sebagai mandala yang dirahasiakan dan disebut sebagai Kota Kebebasan.

Diungkapkan bahwa hubungan antara bodhicitta dengan keempat rahasia yang lain itu ibarat hubungan sanggama antara Vajrasattva dengan keempat devi yang terjadi di dalam mandala yang dirahasiakan. Hubungan itu dilakukan untuk menghadirkan rahasia yang lebih mendalam, yakni maha- sukha. Menurut Anandagharba, vajra dalam bahasa semu menyembunyikan arti kemaluan lelaki, sedangkan mudra adalah pasangan perempuan dalam upacara bersanggama, dan akhirnya bodhicitta yang terdiri atas atau tercipta dari kedua unsur tersebut berarti benih. Dalam naskah lain, Hevajra-tantra, diartikan bahwa bodhicitta adalah perpaduan antara yogin dan mudra, yang masing-masing melambangkan karuna dan sunyata. Sesungguhnya, langkah-langkah perpaduan antara yogin dan mudra itu sendiri merupakan langkah-langkah dhyana, sebagai padanan terhadap langkah- langkah perpaduan antara upaya dan prajna.

BAGAIKAN masih kudengar suara bhiksu tua di pondok kami waktu itu.

"Upaya atau yogin, dalam Hevajra-tantra, melambangkan kesadaran akan kebenaran yang diakibatkan oleh kehadiran karunia rasa iba terhadap penderitaan makhluk serta timbulnya niat untuk menolong membebaskan diri mereka dari penderitaan. Disebut upaya karena merupakan sarana-agung untuk mencapai Kebuddhaan secara sempurna. Tentang mudra yang disebut juga prajna, adalah sunyata dalam pengertian semua dharma itu tidak terciptakan, yang disebut utpada. Demikian juga dengan segala makhluk, karena tiada apa pun yang tercipta dengan sendirinya atau dari benda- benda lain, atau dari keduanya, dan atau dari tidak dari kedua-duanya."

Begitulah rahas ia yang berlindung di balik bahasa semu tentang persanggamaan itu ada kalanya hanya ditangkap bahasa semunya sahaja. Itulah saat para rahib gadungan yang tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti mempermainkan pengertian peleburan dalam sanggama sebagai persanggamaan yang sebenarnya, agar mendapat banyak pengikut yang akan dengan sukarela bersanggama satu sama lain, terutama dengan dirinya! Para rahib cabul yang menjajakan gagasannya di antara para pelacur ini bertebaran di mana-mana dan memberikan nama buruk bagi penganut Tantrayana.

Kami masih melangkah sepanjang lorong, ketika aku berpikir bahwa Nagarjuna tentulah telah membaca kitab-kitab tua sebelum menuliskan kitabnya sendiri, karena aku merasakan suatu hubungan dengan cara berpikirnya. Kami belum berpapasan dengan sederet rahib di depan. Aku dan Iblis Suci berpandangan. Kami sudah saling mengerti, sementara teman rahibnya tersebut masih terus bicara penuh sukacita karena pertemuannya kembali dengan Iblis Suci Peremuk Tulang. Namun ia mendadak tertegun ketika melihat para rahib yang berendeng maju ke depan. Tentu ia tertegun karena tidak mengenal mereka!

Meski lorong itu gelap, sisa cahayanya masih memperlihatkan pisau melengkung yang digenggam para rahib itu di balik jubahnya, ketika angin mus im dingin bagaikan tiba-tiba saja menemukan jalan masuk ke lorong, dan menyibakkan jubah mereka. Pisau me lengkung itu berkilat, begitu siap menebas leher maupun perut siapa pun jua.

(Oo-dwkz-oO)