-->

Nagabumi Eps 136: Gagak Beterbangan Memenuhi Langit

Eps 136: Gagak Beterbangan Memenuhi Langit

BURUNG-BURUNG gagak masih saja berdatangan memenuhi langit, lantas turun ke medan peperangan yang telah menjadi sepi, tetapi penuh dengan mayat-mayat bergeletakan dalam timbunan sa lju. Pemerintah Daerah Perlindungan An Nam telah mengerahkan banyak petugas maupun penduduk di pinggiran kota yang tidak berkasta, untuk membersihkan tanah lapang medan pertempuran dari mayat manusia maupun bangkai kuda, dan tentu saja mereka yang masih hidup tapi terluka tanpa peduli kawan atau lawan. Orang-orang yang terluka dibawa dengan tandu, dipapah, atau diangkut dengan gerobak ke dalam kota melalui jembatan gantung yang sempat kuruntuhkan itu. Aku hanya membabat putus tali raksasa tempat bergantungnya jembatan, sehingga jika yang putus disambung kembali, maka jembatan itu pun kembali ke tempatnya semula. Namun mengangkat kembali jembatan yang telah tercebur ke sungai itu tidaklah mudah, karena memerlukan tenaga beratus-ratus orang, dibantu oleh empat ekor gajah pada kedua s isi sungai, belum lagi menyambungkan tali putus dengan tepat yang merupakan masalah tersendiri. Setidaknya memerlukan waktu dua hari sebelum jembatan gantung pada empat mata angin itu se luruhnya dapat dilewati kembali.

Sebelumnya, orang-orang sakit harus diseberangkan dengan rakit, sementara mayat-mayat manusia dan bangkai kuda dibakar bersama senjata-senjata yang menancap di tubuh mereka, lengkap maupun tidak lengkap tubuhnya, dengan atau tanpa kepala, lawan maupun kawan, apapun agama dan suku bangsanya, tanpa kecuali dibakar habis tanpa upacara dan pembacaan doa apapun juga. Senjata-senjata logam yang bergeletakan dikumpulkan dan diangkut ke dalam kota, karena yang rusak akan dipisahkan untuk dilebur dan kembali ditempa oleh para pandai besi yang dipekerjakan pemerintah, sedangkan yang masih utuh dibawa ke gudang senjata sebagai milik negara.

Semua ini kuikuti dengan cermat, karena sejak kematian Amrita diriku masih berada di Thang-long. Dalam beberapa hari ini kudengar cerita tentang bagaimana pasukan pemerintah telah berhasil memukul mundur pasukan pemberontak dengan kemenangan gilang gemilang, meski pada pihak pasukan pemerintah pun taksedikit jatuh korban. Kusaksikan sendiri barisan pasukan pemerintah yang kembali dari pengejaran pasukan pemberontak sampai ke tepi Sungai Merah itu tampak lunglai, letih, dan lesu. Jumlah pasukan pemerintah yang kembali mungkin tinggal separuhnya. Mengingat jum lah mereka yang besar, tentunya mesti dianggap pasukan pemberontaklah yang mendapat banyak keuntungan. Namun dalam peperangan, banyak sekali juru cerita mendapat tugas untuk menunjukkan yang sebaliknya.

Memang, jangan terlalu percaya kepada juru cerita, meski kita boleh menyukai dan mengaguminya, karena cerita adalah cerita, yakni kenyataan yang disusun kembali menurut kehendaknya, dan tiada kenyataan yang sampai kepada kita tanpa melalui susunan cerita yang terbebani suatu tujuan. Maka petabumi dunia juru cerita terbanding dengan petabumi dunia pendekar dalam persilatan, yakni bahwa terdapat juru cerita yang mengandaikan dirinya wajib menyampaikan kebenaran, yang terbandingkan dengan golongan putih; juru cerita yang sengaja memutarbalikkan kenyataan demi kepentingan tertentu, yang terbandingkan dengan golongan hitam; dan juru cerita yang mengandaikan bahwa cara bercerita itu sendirilah yang terpenting dalam bercerita, dan bukan isi maupun tujuan yang ingin disampaikannya, yang terbandingkan dengan para pendekar golongan merdeka.

Namun untuk sementara dapat kutafsirkan sendiri apa yang terjadi melihat iring-iringan yang kembali dari pengejaran tersebut. Betapapun, meski berada dalam pengejaran, semakin jauh pengejaran berlangsung, semakin para pemberontak itu kembali ke medan yang sangat mereka kenal, dan karena itu bukan takmungkin pasukan pemberontak dapat menjebak pasukan pemerintah di tempat tertentu. Kemudian akan kudengar cerita tentang pertempuran seru di sepanjang tepi Sungai Merah, ketika pasukan pemberontak menyeberangi sungai, dan terus dikejar karena tampak kelelahan, tetapi segera menghilang ke dalam air untuk muncul kembali di belakang punggung set iap anggota pasukan pemerintah yang sedang menyeberang di sepanjang Sungai Merah itu. Maka pasukan pemerintah Daerah Perlindungan An Nam tidak lagi meneruskan pengejaran, dan hanya dapat menyaksikan ratusan kawan-kawan mereka yang terlanjur menyeberang itu muncul kembali ke permukaan sebagai mayat-mayat mengambang dengan luka gorokan. Demikianlah terceritakan betapa Sungai Merah menjadi sungai yang sungguh-sungguh merah karena darah dengan mayat-mayat mengambang yang terbawa arus, seperti sengaja mengambangkan dirinya agar terbawa sampai ke lautan lepas. Dalam iring-iringan yang melangkah dengan kepala tertunduk meski umbul-umbul berkibar gagah, dan barisan berkuda yang sebagian besar membawa mayat-mayat penunggangnya sendiri, terbayang kisah sedih dari suatu pasukan yang dikalahkan, sama sekali bukan kemenangan.

Betapapun penduduk Thang-long bergembira ria karena pengepungan telah dipatahkan, meski hanya berarti bahwa pemberontakan belum lagi tumpas. Kumasuki kota dengan bersikap sebagai pengembara miskin yang banyak berkeliaran di negeri-negeri yang dilanda peperangan dan bencana. Meskipun di sana-sini terdapat pengawal bersenjata mondar- mandir dan tandu mengusung orang sakit hilir mudik, kehidupan ramai tetap berjalan seperti biasa, bahkan seperti sengaja mengingkari suasana peperangan, yang oleh pengepungan sebelumnya terasa amat menekan. Sejarah peperangan selama ratusan tahun membuat penduduk paham, alangkah mengerikannya jika para pemberontak berhasil masuk dan menguasai kota. Dapat dipastikan betapa penjarahan dan pembakaran akan diiringi pemerkosaan dan pembunuhan yang tiada semena-mena, membuat kehidupan porak poranda.

Suasana sedikit banyak meriah, tetapi kepergian Amrita telah meninggalkan kepadaku suatu perasaan yang kosong. Ketika aku terpisah lama darinya, seperti saat dirinya diculik Naga Kecil, masih dapat kubayangkan sebuah percakapan, seperti dirinya masih ada, berpikir dan berbicara. Namun kini bayangan semacam itu harus kugugurkan dengan terpaksa, karena aku tidak mungkin mengenangnya tanpa rasa duka yang sangat mendalam.

AKU mengarungi Thang-long dengan perasaan hambar, meski tujuanku tetap jelas, yakni mencari dan menyelidiki peranan Harimau Perang, sebelum memutuskan apakah yang harus kulakukan kepadanya. Membiarkannya tetap hidup ataukah menantangnya bertarung sampai mati.

Pengembaraan yang telah membawaku kepada perang melawan Negeri Atap Langit ini membuatku bertanya-tanya tentang tujuan hidupku, apakah diriku masih bermaksud mencari kesempurnaan dalam ilmu silat, dengan pertaruhan nyawa dalam pertarungan dengan para pendekar, atau sekadar pengembara yang hanya menikmati perjalanan dari segi yang menyenangkan dirinya, antara lain dengan menghindari segala sesuatu yang tidak harus menjadi urusannya. Aku masih terus bertanya-tanya dan tidak merasa harus menyelesaikan kebimbangan itu segera, karena terpesona oleh dunia ramai yang tetap hiruk pikuk menyembunyikan kesedihan mendalam. Dengan korban sebanyak itu, bagaikan tiada mungkin ada keluarga yang tidak kehilangan anggota keluarganya. Bahkan tidak usahlah terlalu heran jika sesama orang Viet yang berhadapan dalam pertempuran adalah keluarganya sendiri pula.

Demikianlah di antara hiruk pikuk pasar, pedagang keliling di lorong-lorong, dan pesta kemenangan resmi pemerintah Daerah Perlindungan An Nam dengan pawai di jalan-jalan utama, kutemui upacara perkabungan di dalam rumah yang dilangsungkan diam-diam dalam kegelapan. Dalam peperangan seperti itu, tiada jenazah dapat disaksikan untuk menggenapkan perkabungan, bahkan terlalu sering tiada jelas seorang handai taulan memang terbunuh sebagai pahlawan atau hilang dalam penugasan. Maka memang ada dua jenis doa, yakni bagi yang jelas tewas dan bagi yang hilang entah masih hidup atau nyawanya sudah melayang. Semerbak dupa menggenang di antara keramaian, bagai mengingatkan atas pengorbanan setiap orang sebagai ganti kenyamanan. Doa membubung di antara salju bak kapas yang melayang ringan di antara dingin angin yang mendesau dan bergumam perlahan-lahan.

Aku sungguh memasuki dunia baru, dan serentak dengan itu teringat duniaku yang lama. Bagaimanakah kabarnya Kamulan Bhumisambhara dengan berbagai persoalan di sekitarnya? Apakah di Mataram Rakai Panunggalan masih sibuk menghadapi sisa-sisa pengikut Rakai Panamkaran yang menjadi gerombolan dan mengumpulkan segenap astacandala tanpa kasta untuk memberontak dan merongrong kewibawaan? Begitulah para penguasa mengeluarkan prasasti dalam batu berukir maupun lempengan emas dan tembaga, untuk mengukuhkan kekuasaannya, tetapi pada masa depan kelak siapa yang tahu kejadian apa saja berlangsung di baliknya?

Apa yang terjadi dengan Pendekar Melati, setelah gurunya membawa ia pergi dalam keadaaan taksadarkan diri? Kuingat gurunya mengundangku ke Gunung Halimun. Baru kusadari sekarang betapa ajakan yang ramah itu dapat ditafsirkan sebagai tantangan bertarung. Mungkin Pendekar Melati sudah menamatkan pelajarannya sekarang. Kuingat perempuan gurunya yang menandai kemunculannya dengan seruling itu, jubahnya yang putih dan rambutnya yang putih, siapakah dia sebenarnya? Aku masih terlalu muda dalam dunia persilatan. Telah kualami cukup banyak pertarungan, bahkan tanpa maksud bersombong diriku belum terkalahkan, tetapi kuakui betapa masih miskin diriku dengan pertarungan melawan pendekar-pendekar kenamaan. Bahkan pengetahuanku tentang para pendekar itu sendiri juga sangat terbatas. Pendekar yang begitu sakti seperti perempuan guru Pendekar Melati itu sendiri sampai sekarang takkuketahui namanya. Kuingat ilmu Pendekar Melati yang mampu menyerap tenaga, sampai lawan takberdaya, bahkan dalam pengembaraanku selama ini pun, setelah bertemu berbagai macam pendekar dengan ilmu mereka yang serba ajaib, belum pernah melampaui kemampuan begitu rupa.

Kota-kota di Jawadwipa mungkin tidak semegah kota-kota yang kutemui kemudian, tetapi sungguh Jawadwipa itu penuh dengan pendekar tangguh takterkalahkan. Meskipun dengan Jurus Bayangan Cermin yang kukembangkan menjadi I lmu Bayangan Cermin telah kukuasai ilmu silat lawan sebelum kukalahkan, sehingga perbendaharaan ilmu silatku cukup banyak untuk kupilih maupun kugabungkan menjadi ilmu silat yang membingungkan lawan, masih saja aku ragu apakah itu cukup untuk mengalahkan satu saja dari Pahoman Sembilan Naga. Padahal, jika aku sungguh ingin mencapai kesempurnaan dalam ilmu silat, harus kuujikan ilmu silatku kepada mereka semua.

AKU menghela nafas. Kurasa wilayah An Nam cukup jauh dari Jawadwipa, yang dalam dingin angin bersa lju di sini, bagaikan terhirup kembali bau rumput segar dan kesejukan hutan-hutan di sana. Bagaikan terdengar kembali desir angin dari rumpun bambunya yang gemerisik, dise la bunyi malas dari genta tanah liat pada leher sapi yang menghela pedati, yang membawa perempuan-perempuan tercantik berambut lurus panjang berdada terbuka di atasnya. Baru kusadari takpernah kutemui lagi pemandangan seperti itu di kota-kota An Nam ini. Bukan sekadar karena musim dingin menuntut setiap orang menutup badan, tetapi kebudayaan Negeri Atap Langit yang banyak diikuti di wilayah ini membuat busana setiap orang, juga busana prianya, menutup seluruh badan.

Begitulah di dunia yang asing bagiku ini aku harus mencari seorang mata-mata licin yang disebut Harimau Perang. Pernah kupikirkan bahwa dengan peranan sepenting itu, sangat mungkin ia hanyalah nama yang diciptakan untuk mengecoh lawan, atau memang ada tetapi jum lah orang yang bernama sama dengan segala kemiripan tubuh diperbanyak agar tersamarkan. Kini bahkan kupikirkan kemungkinan, bahwa nama Harimau Perang adalah nama yang selalu digunakan siapapun dalam peranan itu, jadi memang satu orang, tapi selalu berganti sepanjang masa peperangan. Jadi, Harimau Perang mana yang dimaksud Amrita? Harimau Perang sebagai suatu kesatuan jaringan, ataukah Harimau Perang tertentu yang kali ini berkhianat dan bertanggung jawab atas seluruh kegagalan pasukan pemberontak?

Pada 722 tercatat terdapatnya pemberontakan Mai-Thuc- Loan; pada 767, jadi tigapuluh tahun lalu, ibukota didirikan di sebelah selatan Thang-long sekarang, dan bernama Dai-la, tempat kesenian Dai-la berkembang pesat; dan enam tahun lalu, pada 791, maraklah pemberontakan Do-Anh-Han. Mungkinkah jaringan rahasia Harimau Perang sebetulnya ditanam sejak lama oleh wangsa manapun dari Negeri Atap Langit untuk menggagalkan pemberontakan demi pemberontakan bangsa Viet untuk menggulingkan kekuasaan?

AKU masih terus berjalan sembari berpikir tentang apa yang harus kulakukan. Dari manakah aku bisa mulai? Kubayangkan bahwa dalam segala bentuknya, jika memang benar Harimau Perang melakukan pengkhianatan, maka tentunya ia bermukim di kota ini. Namun bagaimanakah cara memastikannya? Kuingat perbincangan yang kudengar malam itu. Bukankah mata-mata musuh disebar untuk me lacak jejak dan membunuh Harimau Perang? Mereka yang kucuri dengar malam itu, Pedang Biru, Cambuk Emas, maupun yang disebut Tombak Gila, semuanya telah terbunuh olehku. Mereka tak tahu menahu bahwa Harimau Perang itulah yang telah merencanakan dan mengarahkan agar pasukan pemberontak turun gunung, mengepung Thang-long, sementara perempuan mata-mata mereka yang bergabung sebagai penghibur serbaguna telah ditanam, untuk bertindak pada saat yang tepat. Amrita mendapat keterangan tentang Harimau Perang dari perempuan mata-mata, yang mungkin karena merasa sudah dekat ajal lantas mengungkap saja rahasia yang mestinya dibawa sampai mati. Tentu terdapat suatu masalah sehingga rahasia itu diungkapnya, karena para mata-mata yang berani dan tangguh seperti mereka seharusnya setia terhadap tugas, yakni membawa rahasia ke alam baka, dan di sana pula terletak kebanggaan atas pekerjaan ini. Apakah kesalahan Harimau Perang sehingga rahasianya perlu terungkap sebagai mata-mata yang ternyata mengabdi kepada pihak pemerintah? Sebagai perwira penghubung ia telah mengarahkan segenap pasukan pemberontak keluar dari hutan, menyeberangi sungai demi sungai demi sungai, mengalahkan dan mengejar pasukan pemerintah yang semula dikirim untuk menumpas mereka, untuk mengepung Thang- long, tempat mereka tertambus api.

Aku tentu bisa menebak apa pun, tetapi yang kuperlukan adalah bukti. Penghianat bagi Amrita, artinya Harimau Perang mengkhianati pasukan pemberontak; pengkhianat yang perlu dibocorkan rahas ianya, artinya Harimau Perang bermasalah dengan pihak pemerintah Daerah Perlindungan An Nam. Bukankah ini rumit? Lebih rum it lagi bagi orang luar sepertiku, yang bahkan menafsirkan kehidupan sehari-hari saja mesti berpikir seratus kali. Dunia mata-mata sungguh rumit, tetapi menurut Sun Tzu, siapa yang memiliki pengetahuan lebih banyak tentang musuhnya itulah yang lebih berpeluang menang dalam perang. Pernah kudengar cerita tentang burung elang yang terbang di atas perkemahan atau pasukan yang sedang menempuh perjalanan ke tempat musuh. Disebutkan bahwa melalui mata elang itulah seorang mata- mata melakukan pengawasan, yang membuat burung apa pun yang terbang di atas pasukan yang berangkat berperang selalu menjadi sasaran para pemanah jitu.

Cerita ini bukan tanpa kebenaran, tetapi bukanlah bahwa seorang mata-mata meminjam mata elang untuk melakukan pengawasan, melainkan betapa dari gerak-gerik burung e lang, bahkan burung apa pun di angkasa, seorang pengamat dapat memperkirakan pergerakan yang berlangsung di bawahnya, misalnya bahwa terdapat barisan pasukan. Maka cerita tentang Harimau Perang pun kurasa bisa sama berkembangnya cerita tentang burung elang tersebut. Aku memerlukan bukti untuk menentukan sikap, karena menurutku haruslah ada seseorang yang bertanggung jawab atas kematian Amrita. Betapapun ia tewas oleh pukulan tenaga dalam yang telak dari belakang, sehingga punggungnya hangus terbakar. Meskipun dalam keadaan perang, peristiwa itu tidak terjadi di medan pertempuran yang hiruk pikuk dan memang lazimnya tak berketentuan. Aku merasa berhak menuntut sikap ksatria dari mereka, yang meskipun telah tewas, masih menyisakan satu orang yang menyerangnya dari belakang. Orang ini mungkin Harimau Perang, mungkin juga bukan, tetapi satu maupun dua orang haruslah kutemukan.

Tanpa terasa aku telah mengelilingi kota tanpa tujuan pasti. Kadang ikut arus orang ramai, kadang tiba-tiba sendirian. Masih tampak korban-korban perang memasuki kota, pertanda pasukan pemerintah ini memburu sampai ke tempat yang jauh. Aku belum makan, tapi tidak merasa lapar. Kekosongan perasaan setelah kematian Amrita membuat aku tidak terlalu peduli kepada keadaan diriku sendiri seperti itu. Semakin hari perasaan itu semakin kuat, bagaikan suatu gema yang semakin jauh dari peristiwanya semakin tergandakan maknanya. Tidak kukira bahwa cara kematian Amrita yang begitu rupa telah mengubah sikap dan perasaanku kepadanya. Semula aku sempat berpikir, jika pasukan pemberontak akhirnya memasuki kota sebagai pemenang, aku akan meninggalkan Amrita dengan kemenangannya untuk melanjutkan pengembaraan. Namun kenyataan berbicara lain.

Di depan sebuah kuil aku bergabung dengan orang-orang yang mendapat sedekah makanan. Pada saat aku berada dalam antrian seseorang menepuk bahuku dari belakang. (Oo-dwkz-oO)