Nagabumi Eps 134: Siapakah Harimau Perang

Eps 134: Siapakah Harimau Perang

BUMI bergetar oleh derap pasukan berkuda yang mengalir bagaikan tiada hentinya dari dalam kota. Ratusan ribu pasukan berkuda, tidak terhitung lagi tepatnya berapa, menyerbu pasukan pemberontak dengan ganas. Pasukan berkuda yang terlatih, yang bahkan kudanya pun menggigit dan menyepak dengan tepat, mengalir dan mengalir dari balik pintu gerbang, seperti dimuntahkan mulut naga yang menganga.

''Bunuh! Bunuh! Bunuh!''

Kudengar perintah dalam bahasa Viet untuk mengobarkan semangat prajuritnya berkumandang di mana-mana. Dalam udara dingin darah memercik karena bacokan senjata tajam, menodai putihnya hamparan salju, yang memang telah menjadi berantakan oleh pertempuran antarmanusia yang berseberangan pikiran itu. Pikiran yang harus dinyatakan melalui ayunan senjata tajam, yang kini saling berbenturan dengan suara berdentang-dentang. Tombak dihadang tombak, pedang dihadang pedang, kelewang bertemu kelewang, sambar menyambar dengan penuh ancaman, sekali lengah nyawa langsung melayang. Jerit kesakitan dan maki kemarahan terdengar mengiringi tertembusnya tubuh oleh senjata tajam. Tombak panjang menembus tubuh tiga orang, sabetan pedang membuntungkan lengan, putus kepala tanpa ampun oleh ayunan kelewang. Ringkik kuda mengeruhkan keadaan. Kuda menggigit kuda. Ribuan anak panah turun dari langit mencari mangsa dan menancap pada bahu, dada, punggung, maupun kepala. Tentu juga menancap pada tubuh-tubuh yang telah terkapar maupun tengkurap sebagai mayat berserakan.

Sebegitu jauh pasukan pemberontak, meski dalam keadaan lelah akibat perjalanan panjang dari pertempuran satu ke pertempuran lain sebelum bergabung dalam pengepungan, berhasil menghadapi serbuan pasukan pemerintah yang mengalir bagai air bah dengan siasat yang tepat. Dengan suitan-suitan antara kepala pasukan seperti yang kudengar dalam pertempuran di atas kapal, serbuan mengalir seperti a ir pada delapan titik pengepungan itu disambut dengan kedudukan barisan yang dalam Arthasastra disebut Usana maupun Brhaspati.

DALAM gabungan kedua kedudukan ini, berlangsung pergerakan silang kesatuan ular, kesatuan lingkaran, maupun kesatuan tersebar. Kedudukan ini dapat menghadapi segala serangan dengan lentur. Membuat serbuan pasukan berkuda yang mengalir seperti air bah itu memasuki kincir air raksasa yang menampung segala aliran dengan segala kecepatan.

Persoalannya, pasukan pemerintah juga telah menggunakan siasat lain yang diajarkan Sun Tzu, yakni Serangan dengan Api, yang tentunya hanya akan berlangsung pada musim kering, tepatnya ketika bulan menduduki rasi Pengki, Tembok, Sayap, atau Sengkang Kereta. Hari yang menduduki rasi tersebut adalah hari yang terbanyak anginnya. Menurut Sun Tzu, terdapat lima jenis serangan dengan api, yakni membakar pasukan musuh dalam perkemahannya, membakar pangkalan perbekalan, membakar kereta perbekalan, membakar gudang perbekalan, dan membakar iringan pasukan.

Sun Tzu berkata: "Umumnya dalam serangan dengan api, mesti kita adakan serbuan terpadu sesuai dengan perubahan kelima serangan itu. Jika api dikobarkan dari dalam, segeralah lakukan serbuan dari luar. Walaupun api berkobar, jika pasukannya tetap tenang, tunggu, dan jangan menyerbu. Jika kobaran api mencapai puncaknya, jika dapat dimanfaatkan, majulah; jika tidak dapat, mundurlah. Jika api dapat dikobarkan dari luar, tentulah tidak perlu menunggu pengobaran dari dalam. Hanyalah perlu dikobarkan pada saat yang tepat. Kobarkanlah api dari mata angin. Janganlah menyerbu dari arah yang berlawanan dengan mata angin."

Sehubungan dengan pertempuran ini: "Semua tentara mesti mengetahui adanya perubahan kelima serangan dengan api itu dan waspada terhadapnya dengan memperhitungkan kemungkinan musuh menyerang dengan api."

Tentu saja tiada seorang pun dari pihak pemberontak, betapapun kecerdasannya seperti Amrita, akan waspada terhadap serangan api pada musim dingin, apalagi dilakukan mata-mata setempat yang mereka ajak sendiri sebagai para penghibur dalam rombongan, yang lima di antaranya kini justru sedang mengepung Amrita!

Bukanlah sekadar betapa serangan api yang tak terduga telah dilakukan mata-mata dengan persiapan matang, sehingga api berkobar-kobar begitu tingginya di udara dingin bersalju, tetapi bahwa tak seorang pun mata-mata pihak pemberontak dapat mengendusnya! Mungkinkah? Serangan api ini terlalu rapi, terlalu terencana, dan terlalu besar untuk tidak diketahui mata-mata pihak pemberontak sendiri. Sampai saat itu belumlah kuketahui bahwa yang disebut Harimau Perang, dengan pasukan penghubungnya yang terlatih, sebenarnya juga mengemban tugas sebagai pemimpin kesatuan mata-mata. Dialah yang mengatur tugas kelima jenis mata-mata dengan cermat dan selama ini se lalu berhasil, sehingga pasukan pemberontak di berbagai tempat terpisah meraih kemenangan demi kemenangan, dan dapat bertemu di Thang-long dalam waktu bersamaan untuk mengepung.

Amrita telah mengeluarkan sepasang kipasnya dan berkelebat di antara sambaran berbagai macam senjata. Kuperhatikan bahwa tingkat ilm u silat kelima perempuan mata-mata yang mengurungnya sama sekali tidak di bawah Amrita. Apakah yang membuat mereka tidak sejak awal membunuh Amrita dari belakang, yang dengan tingkat ilmu silat setinggi itu sebetulnya bisa saja dilakukannya? Agaknya semua itu telah diatur dengan sangat terperinci. Kematian Amrita yang terlalu awal akan membuat terdapatnya jaringan mata-mata terbongkar. Sedangkan jaringan mata-mata ditanam demi suatu rencana yang dijalankan langkah demi langkah dengan cermat agar mencapai tujuan yang diinginkan. Kiranya kerahasiaan itulah prasyarat pekerjaan mata-mata yang merupakan kemutlakan.

Bukan lima perempuan pendekar itu saja mata-mata yang tertanam di dalam pasukan Amrita, melainkan terdapat lima perempuan lagi dengan kepandaian sama tinggi, yang serangannya sama sekali di luar perhitungan. Sementara lapis penjagaan terdepan membentuk kedudukan kincir air untuk meredam air bah serbuan pasukan pemerintah membuat keadaan tetap berimbang, kobaran api yang menghabiskan segalanya dan tikaman dari belakang para perempuan mata- mata itu mengubah keberimbangan. Betapa tidak jika sekali berkelebat setiap perempuan mata-mata itu dapat menewaskan lima orang? Bagi pasukan pemberontak, kenyataan betapa para perempuan yang semula hanya mereka pandang sebagai penghibur itu mendadak jadi pembunuh tanpa ampun tentulah sangat mengejutkan.

MEMANG sebagai anggota pasukan pemberontak selama ini mereka juga telah menunjukkan kemampuan tempur dalam hutan rimba, sama seperti kaum lelaki dalam kemampuan memainkan senjata. Namun tiada seorang pun tentunya mengira betapa mereka semua akan mampu berkelebat dan melenting begitu rupa seperti Amrita, berkelebat dan melesat dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata, mencabut nyawa dengan bebas tanpa halangan apa pun jua. Dalam pasukan Amrita mereka digabungkan dengan regu panah, sebagai pemanah jitu yang bertugas mengincar para pemimpin pasukan pihak lawan. Maka jika selama ini tugas semacam itu berjalan dengan sangat baik, maka apalah yang harus menjadi alasan untuk meragukan kesetiaan mereka? Jika pada set iap pasukan terdapat mata-mata yang menusuk dari belakang dengan kemampuan setinggi ini,

Kuambil tiga dari lawan Amrita, karena keselamatan Amrita bagiku sangatlah utama. Bukan sekadar karena hubunganku dengan Amrita, melainkan karena tidak banyak orang seperti Amrita yang menguasai seluk beluk siasat perang yang telah dipelajarinya sebagai putri raja Jayavarman II. Dengan pedang biru kubabat putus pedang dan tombak di tangan mereka, begitu ketiganya melompat mundur sembari melepaskan pisau-pisau terbangnya, cambuk kuning keemasan yang kupegang berputar cepat bagaikan kincir membentuk perisa i dan merontokkan serangan dari tiga jurusan. Rerontokan pisau terbang belum lagi sampai ke bumi ketika ribuan jarum mendesing sembari meruapkan aroma racun.

Menangkis serangan jarum beracun, apalagi dalam jum lah ribuan, yang hanya bisa dilakukan tangan terlatih yang sangat terampil, di tengah pertempuran seperti ini adalah persoalan pelik, karena jika tidak berhasil kurontokkan ke tanah tentu melesat ke lain arah dan dapat membunuh teman sendiri. Juga tak dapat sekadar melesat ke atas dengan ilmu meringankan tubuh untuk menghindarinya, karena ini sama dengan merajam orang lain yang tak bisa menghindar di sekitar kita. Pernah kusaksikan betapa jarum-jarum beracun itu menancap pada tubuh kuda sejak leher sampai perutnya, dan betapa mengenaskannya nasib kuda tempur yang betapapun perkasanya tiada berdaya melawan racun yang segera membekukan darahnya. Tentu telah kusaksikan pula akibat tangkisan yang mementalkan ribuan jarum itu kepada manusia, yang wajahnya bisa berubah menjadi hijau, biru, dan kuning karena racun ganas jarum-jarum itu.

Maka, di tengah pertempuran kacau balau yang tidak segera dapat dibedakan mana kawan dan mana lawan, kuterima seluruh jarum itu agar menancap pada tubuhku. Jarum-jarum itu menembus baju tebal musim dinginku dan menancap pada kulitku, yang berani kulakukan hanya karena kuanggap dalam diriku masih tersisa ilmu-ilmu pemunah racun warisan Raja Pembantai dari Selatan itu.

Suatu pikiran yang sangat berbahaya! Karena setiap kali aku dapat memecahkan mantra Sansekerta itu sebagai bait- bait ajaran filsafat Nagarjuna, daya pemunah racun maupun sihir dari mantra-mantra itu semakin berkurang, bagaikan penanda yang tak bisa lebih tepat lagi atas bergesernya kepercayaan kepada yang gaib kepada ilmu penalaran.

Ketiga perempuan pendekar yang telah berbulan-bulan bersama kami itu tertegun. Bagaimana mungkin ribuan jarum beracun dapat menancap begitu rupa menembus baju musim dingin tanpa akibat apa pun juga? Namun dalam pertarungan tingkat tinggi, kelengahan sesaat sangat berakibat. Saat ketiganya tertegun itulah nyawanya terputus oleh pedang biru yang menyapu leher jenjang mereka.

Iblis Suci Peremuk Tulang datang pada saat yang tepat untuk menghadapi lima perempuan mata-mata lain yang mengamuk tanpa lawan, sehingga terlalu banyak korban di pihak pasukan pemberontak bergelimpangan. Namun ia tidak akan bisa menghadapinya sendirian, karena para perempuan mata-mata ini memang bukan sembarang petarung. Mereka tidak takut mati, dan memberikan nyawa demi kemenangan perang adalah segala-galanya. Iblis Suci Peremuk Tulang bahkan nyaris terbunuh oleh pisau terbang jika Amrita, yang telah menewaskan kedua lawannya, tidak menepisnya jatuh dengan tampelan kipas sebelum menembus leher paderi itu.

"Iblis Suci! Hancurkan saja para penyerbu di depan itu! B iar kubasmi tikus-tikus ini bersama Pendekar Tanpa Nama!"

Siasat Amrita tepat. Sambil melenting-lenting jungkir balik ke udara menghindari pisau terbang yang berhamburan dari segala penjuru, kusaksikan di tempat lain pasukan pemberontak sungguh terdesak, karena pasukan perempuan mata-mata yang serba sakti mandraguna itu sungguh tidak ada lawannya. Adapun mereka itu menyerang secepat kilat tanpa tertahankan dari belakang, ketika perhatian pasukan pemberontak di setiap titik pengepungan terbelah, antara para penyelusup yang masih bertahan dan serbuan pasukan berkuda pemerintah Daerah Perlindungan An Nam yang bagaikan a ir bah.

HAMPIR di setiap titik pada delapan penjuru angin pasukan pemberontak terdesak ke arah dinding api, yang berkobar- kobar menggapai angkasa pada pagi buta di mus im dingin seperti ini. Sambil turun dari udara kusapukan lenganku agar jarum-jarum beracun yang menancap pada lenganku di balik baju dapat melncur sebagai senjata rahasia ke arah tiga lawanku. Mereka melenting dan jumpalitan ke udara menghindarinya, maka pedang biru dan cambuk kuning keemasan yang kugerakkan dengan Jurus Naga Menguap di Tepi Danau membuat riwayat mereka tamat sebelum kembali menyentuh bumi.

Untuk sesaat segalanya tampak begitu lamban bagiku, dan kelambanan membuat segala sesuatu tampak terlalu jelas. Pertempuran ganas yang berubah menjadi tarian terindah, mulut kuda yang meringkik dengan kedua kaki depan terangkat ke atas dan matanya memancarkan kengerian, penunggangnya yang membacok ganas dengan kelewang berkilatan, tetapi yang pada punggungnya tiba-tiba saja menancap sebatang anak panah, dan dari bawah sebatang tombak menembus titik lemahnya yang terbuka saat ia membacok. Tubuhnya terangkat oleh tombak itu, terlontar dari kuda dan dibuang ke arah barisan lawan, yang tak ingin kuceritakan lagi kelanjutannya. Bunuh membunuh tiada hentinya berlangsung dalam pertempuran. Dalam peperangan panjang seperti yang telah berlangsung beratus-ratus tahun semenjak Negeri Atap Langit menguasai An Nam, takterhitung lagi banyaknya manusia yang tewas bergelimpangan.

Untuk sesaat segalanya memang tampak lamban, tetapi hanya dalam beberapa saat, berapa ribu manusia tewas karena senjata tajam dengan kesakitan tak tertahankan? Mereka yang sejatinya bukan prajurit tempur melainkan petani-petani desa sahaja, telah berubah menjadi binatang- binatang ganas tanpa ampun, yang tak bisa lain selain meraung, meradang dan menerjang, dengan amukan penuh dendam tanpa terlalu paham apa yang sebenarnya dipersoalkan. Hanya pasukan yang dalam Arthasastra disebut sebagai pasukan turun-temurun bertempur dengan lebih tenang dan penuh perhitungan. Mereka ini tidak berteriak- teriak, yang memang lebih sering digunakan oleh mereka yang merasa jeri bertempur untuk menutupi ketakutannya sendiri. Namun memang tiada yang lebih ganas daripada mereka yang takut mati, karena mereka dipastikan akan membunuh siapa pun yang berpeluang membunuh mereka dengan sepasti- pastinya. Apa yang bagi prajurit sejati cukup dilumpuhkan, bagi petani yang maju berperang hanya karena kewajiban, atau tiada lagi tanah garapan, kematian saja belum cukup jika tidak diiringi perajaman.

Mataku berkejap mengusir lamunan. Amrita telah menewaskan satu lawannya dengan bersimbah air mata. Sambil bertarung ia tersedu sedan tak dapat lagi menahan tangisnya. ''Kenapa kalian paksa daku membunuh kalian begini rupa? Kenapa? Bukankah kita telah bersahabat begitu dekat, selalu bersama dalam suka dan duka. Kenapa daku harus membunuh kalian... Kenapa...''

Air matanya berderai membasahi pipi. Namun tampaknya ia pun tidak menanti jawaban, ketika kipasnya bergerak mementahkan segenap jarum beracun yang berhamburan dari perempuan mata-mata itu. Lebih tidak memerlukan jawaban lagi, karena setelah jarum-jarum beracunnya gagal mengenai Amrita, perempuan mata-mata yang sangat bernyali itu lantas menghamburkan jarum-jarum beracunnya ke mana-mana dan menewaskan banyak sekali pasukan Amrita. Maka Amrita pun melesat dan menyelesaikan pertarungan dengan Jurus Satu Kebutan Satu Nyawa. Pedang yang dipegang perempuan mata-mata itu terpental ke udara dan pada saat itu pula kipas Amrita dalam keadaan tertutup menohok jantungnya.

Ia terpental ke arah sejumlah pendekar yang secara ksatria tidak merajamnya. Dari mulutnya tersembur darah. Amrita memeluknya sambil menangis sementara pertempuran masih terus berlangsung di sekitarnya.

''Maafkan kami, Kakak, seandainya saja kita berada di pihak sama... Tapi saya tidak menyesal terbunuh oleh Kakak...''

Tidaklah kuketahui bagaimana caranya mengungkapkan kesedihan Amrita. Perempuan mata-mata itu memegang tangan Amrita, mulutnya penuh darah, tangannya menggamit agar Amrita mendekatkan telinga kepadanya. Kulihat ia membisikkan sesuatu kepada Amrita sebelum meninggal.

Lantas kusaksikan Amrita bangkit dan menjejakkan kakinya dengan kemarahan luar biasa.

''Pengkhianat!'' teriaknya dengan mata menyala-nyala.

KAMI saling berpandangan. Kedekatanku dengan Amrita membuat kami cukup berpandangan sekilas untuk mengetahui apa yang dikehendaki. Ia menggerakkan kepalanya ke arah dinding api yang berkobar di belakang. Maka aku pun mengerti bahwa ia memintaku agar membuka jalan supaya pasukannya bisa melewati api itu. Di antara semua titik serbuan pasukan pemerintah, memang hanya pasukan kami yang dapat bertahan, bahkan mendesak mundur pasukan pemerintah berkat amukan Iblis Suci Peremuk Tulang yang mengerikan. Namun pada titik lain, perempuan mata-mata di tempat mereka masing-masing agaknya tidak tertandingi, sementara para penyusup masih bertahan pula, sehingga pasukan pemberontak terdesak ke dinding api.

Ketika langit mulai terang, semakin jelas bahwa bukanlah sekadar sumbu yang telah menghubungkan ledakan api pada delapan mata angin menjadi satu, melainkan juga segenap perbekalan, tenda, gerobak, bahan pangan, yang selama ini diserahkan penjagaannya kepada perempuan-perempuan itu. Dalam siraman bergentong-gentong minyak lampu yang sengaja dipersiapkan, semua itu menyambungkan api di belakang para pengepung sekeliling perbentengan, sehingga pasukan pemberontak yang semula mengepung itulah yang kemudian terkepung api.

Bukanlah betapa api itu begitu tinggi, melainkan betapa luas dan lebarnya, sehingga bagai mustahil melewatinya tanpa tertembus jadi daging bakar di tengah padang salju itu. Serangan api pada musim dingin. Dengan pengetahuan bahwa setiap pasukan tempur mengacu kepada kitab falsafah seni perang Sun Tzu, kemutlakan mustahilnya melakukan serangan api pada musim dingin dima inkan, sehingga pasukan pemberontak terkecoh. Alih-alih siap memasuki Thang-long dengan langkah kemenangan, kini berada dalam ancaman kekalahan dan kepunahan.

Aku melesat ke garis paling belakang. Masih terdapat sisa- sisa para penyusup yang belum juga bisa dilumpuhkan. Betapapun harus kuakui, yang kudengar sebagai pasukan sewaan dari Negeri Atap Langit itu, mungkin berasal dari suatu jaringan rahasia, adalah orang-orang yang tangguh. Namun tiada waktu bagiku untuk mengaguminya. Kuambil alih pertarungan lima lawan lima itu dengan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian, meski hanya tangan kirikulah yang memegang pedang biru, sementara di tangan kananku cambuk kuning keemasan, yang membuat jurus ini semakin sulit dibaca lagi. Inilah kalimat yang dituliskan kedua senjataku:

dari mana kalian datang kawan menjemput kematian di negeri orang tiada maksud sahaya memutus kehidupan selain menjalankan kewajiban

Dalam tiga baris pertama kuselesaikan perlawanan tiga orang, dengan baris terakhir tamatlah riwayat dua orang gagah sekaligus. Kelimanya bergelimpangan di medan pertempuran. Begitulah caranya Jurus Dua Pedang Menulis Kematian. Tanpa memahami aksara maupun isinya untuk membentuk kalimat sanggahan sebagai jurus perlawanan, kematian sudah menjadi ketentuan.

(Oo-dwkz-oO)

KUSAKSIKAN parit api yang tak mungkin dilompati kuda tempur. Kusapukan angin pukulan untuk membunuh api, dengan cara memukul tanah di bawah api tersebut dari jauh, sehingga tanah terbongkar dan menutup api itu sampai padam. Aku harus melakukannya berkali-kali, bukan sekadar karena yang terbakar bukanlah sekadar jerami kering seperti terjadi pada musim panas, melainkan bahan-bahan lain yang ditumpahkan ke sana, juga karena harus cukup luas untuk jalan keluar pasukan pemberontak ini sebanyak-banyaknya.

Melalui regu penyampai pesan, Amrita menyebarkan gagasannya, yang tidak mungkin untuk tidak dituruti, karena pilihan hanyalah tertambus api sementara dihujani ribuan anak panah dari busur silang yang mematikan. Terdengar suitan di sana-sini di tengah dentang senjata yang beradu dan jerit terakhir dari kehidupan. Dimulai dengan pasukan Amrita berlangsunglah pengunduran diri melalui celah yang kubuat, dan masih terus kuusahakan bertambah lebar dengan pemadaman demi pemadaman, yang tidak terlalu mudah karena pasukan pemerintah ternyata segera mengetahui perkembangan. Mereka tidak ingin pasukan pemberontak sekadar dikalahkan dan mundur kembali ke hutan. Mereka ingin membasmi pasukan pemberontak yang memang telah berkumpul semuanya dan berhasil mereka kurung dengan api.

Setidaknya kubuka jalan dengan cara mematikan api sepanjang empat ribu hasta prajapati, lebih dari cukup untuk jalan keluar suatu barisan.

NAMUN siapakah kiranya yang sudi melepaskan musuh terdesak di depan mata? Bukan hanya pasukan pemberontak mengundurkan diri dan keluar dari gelanggang pertempuran melalui bagian yang apinya telah kumatikan, tetapi pasukan pemerintah pun memanfaatkan sebagai celah pengejaran. Demikianlah pertarungan tidak berhenti dengan pelarian, karena segera disusul perburuan.

Langit mulai terang ketika aliran pasukan pemberontak terbentuk ke arah tenggara, karena dari arah itulah pasukan Amrita datang dan kini menjadikannya jalan pelarian. Pilihan yang bisa dimengerti, karena itulah wilayah yang telah mereka kenal, tempat mereka telah mencapai kemenangan demi kemenangan, meskipun kemenangan itu ternyata semu dan menyesatkan. Para pemberontak melaju dengan sisa-sisa tenaga kuda mereka, dalam kejaran pasukan pemerintah yang kuda-kudanya masih segar dan baru keluar perbentengan setelah disiapkan berbulan-bulan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama pasukan berkuda pemerintah telah berada di kiri dan kanan barisan, dan pertempuran dilanjutkan sembari melaju tanpa henti dengan korban-korban bergelimpangan sepanjang jalan.

(Oo-dwkz-oO)