Nagabumi Eps 132: Perbincangan yang Kudengar

Eps 132: Perbincangan yang Kudengar

PEMANDANGAN kota Thang-long pada malam hari dari langit bagiku sangatlah memesona. Kerlap-kerlip lampion bertebaran dan berkerlipan bagai kunang-kunang di persawahan Jawadwipa. Kenyataan betapa kota berpenduduk ratusan ribu orang ini sedang berada dalam pengepungan tidaklah berarti kehidupan sehari-hari harus berhenti. Tentu saja tidak ada pesta pora dan setiap orang dengan sendirinya siaga, tetapi bahkan dari atas pun, ketika aku sudah melayang makin rendah, dan sengaja mengelilingkan diriku bagaikan elang menghentikan kepaknya, masih terlihat orang berkumpul di depan kedai tempat makanan disajikan di udara terbuka.

Menjelang dini hari, tentu orang tidak lagi makan malam. Namun kaum lelaki masih berkumpul di depan tiap kedai dan bercakap-cakap. Terlihat set iap orang membawa senjata, meskipun hanya pentungan, jadi rupanya mereka memang telah disiagakan. Pada setiap petak pemukiman terlihat kelompok-kelompok ini berjaga, dan antarpetak selalu terlihat sebuah regu melakukan ronda. Dingin ma lam yang bersalju membuat pekerjaan berjaga dan meronda sebetulnya berat, tetapi telah dipelajari bahwa ma lam seperti itulah yang menguntungkan para penyusup dan karena itu dalam keadaan kota sedang terkepung sudah sewajarnya penjagaan diperkuat.

DARI atas kucari gedung yang paling besar dan memang kutemukan berada di tengah kota. Dari pintu-pintu dan jendela-jendelanya keluar banyak cahaya, pastilah banyak orang di dalamnya. Di berbagai sudut kota kulihat masih ada orang di jalanan. Ada yang sedang berjalan dan ada pula yang menggeletak di tepi jalan. Ketika telah semakin rendah kuketahui mereka sebagai pengemis, gelandangan, dan pengamen jalanan. Sebenarnya aku belum tahu apa yang harus kulakukan, tetapi naluri membawaku ke gedung besar tersebut, yang kubayangkan sebagai tempat berkumpulnya orang-orang penting. Dalam keadaan dikepung lawan, wajarlah di dalam gedung itu masih berlangsung kegiatan. Ketika berputar mengelilingi gedung yang tinggi itu, di tingkat atas terlihatlah sejumlah orang mengadakan pertemuan saat pintu dibuka karena seorang perwira pasukan masuk. Firasatku mengatakan bahwa tentunya aku bisa mendapatkan keterangan berharga jika mampu mendengarkan percakapan mereka.

Maka aku pun melayang turun tanpa suara, langsung menempel pada dinding di samping jendela dengan ilmu cicak. Angin tidak lagi menderu bersama salju, sehingga terasa sepi, dan musim dingin pada malam hari membuat pintu dan jendela tertutup rapat. Kukerahkan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang menembus celah papan kayu. Mereka berbicara keras dalam bahasa Viet yang sempat kupelajari selama mengikuti pasukan pemberontak itu. Berarti mereka semua orang-orang Viet. ''Pedang Biru, dikau baru tiba dari garis depan, apakah yang hendak dikau katakan?''

''Rencana kita...''

''Kenapa dengan rencana kita?''

''Kita tidak menduga terdapat sejumlah pendekar yang sangat hebat di antara mereka.''

''Apakah berarti rencana kita akan gagal?''

''Sahaya tidak tahu, karena sebagian rencana kita sebetulnya berhasil.''

''Pedang Biru! B icaralah yang jelas! Apakah Harimau Perang berhasil kita bunuh?''

''Itulah masalahnya Cambuk Emas! Seluruh mata-mata sampai saat ini belum berhasil menemukan jejaknya!''

Aku terkesiap dalam dingin udara yang sungguh menyiksa. Pasukan pemberontak penuh dengan mata-mata! Tidak ada salahnya tak seorang pun pernah bertemu dengan Harimau Perang. Aku mulai menduga betapa sebetulnya orang yang bernama Harimau Perang itu tidak ada. Namun yang sebenarnya terjadi, Harimau Perang itu terdiri dari beberapa orang. Hanya satu Harimau Perang asli, selebihnya hanya jebakan, meski dalam kenyataannya belum seorang pun dari seluruh kepala-kepala pasukan pemberontak pernah melihat wajah Harimau Perang.

''Bagaimana dengan perempuan Khmer itu?'' ''Amrita?''

''Ya, anak Jayavarman II, apakah kita akan bisa mengatasinya?''

Untuk beberapa saat tiada jawaban.

''Mengapa dikau diam begitu lama Pedang Biru! Apakah dikau akan berkata kita tidak akan mampu mengatasinya?'' ''Tenanglah dahulu Tombak Gila, yang kupikirkan adalah suatu bahaya yang lebih besar dari itu...''

Di dalam ruangan hampir terdengar suara bersahut- sahutan.

''Apakah bahaya itu Pedang Biru? Cepat katakan!''

''Ya, cepat katakan, wahai Pedang Biru! Apakah bahaya itu?''

Sejenak masih berlangsung kesuny ian, tetapi yang disebut Pedang Biru lantas menjawab setelah menghela napas panjang.

''Amrita sangat berbahaya dan baginya belum kita temukan lawan sepadan, bahkan begitu juga untuk seorang kepala regunya, Iblis Suci Peremuk Tulang, pendeta yang kuilnya di Sungai Hitam pernah kita hancurkan. Para pemberontak dibantu oleh banyak pendekar hebat yang berasal dari berbagai negeri, mulai dari Campa, Siam, Malayu, dan Pagan. Namun hanya satu orang yang tiada dapat kubayangkan akan pernah menemui lawan...''

''Siapa?''

''Pendekar ini selalu berada di dekat Amrita, yang membuat keduanya semakin tak bisa ditundukkan, dan ia berasal dari Jawadwipa.''

''Siapakah dia dan apa kata mata-mata kita?''

"IA tidak mempunyai nama. Dialah yang menggagalkan pengepungan kita atas pasukan Amrita di hilir Sungai Merah waktu itu, karena garis terdepan maupun garis belakang dikacaunya sendirian saja. Pasukan kita kalah di sana dan sejak itu keadaan berbalik sampai mereka mengepung kita sekarang. Menurut mata-mata kita pasukan yang terdiri atas seribu orang dihadapinya sendirian." "Hmm. Jadi itulah Pendekar Tanpa Nama yang menjadi buah bibir orang-orang di selatan, yang karenanya selaksa balatentara Jayavarman II takdapat menangkap seorang Amrita."

"Hmm."

"Hmm."

"Hmm."

Aku menahan napas. Tidakkah begitu luar biasa jaringan mata-mata mereka? Jadi ada mata yang dapat menangkap gerakanku, bahkan menandai keberadaanku ketika kukacaukan pengepungan dengan Jurus Seribu Naga Menyerbu Bersama. Masalahnya, hanya yang berkepandaian sama tinggi dengan tingkat ilmu itu sekadar dapat menyaksikannya, dan sekarang ia berada di sana tanpa seorang pun mengetahuinya! Meskipun sangat kupercayai kemampuan Amrita, di antara pasukannya terdapat musuh dalam selimut yang sangat berbahaya!

Sembari menempel pada dinding tembok kubayangkan pedang seorang mata-mata musuh menusuk punggung Amrita yang tembus sampai ke dadanya. Kugoyangkan kepalaku seperti bisa mengusir bayangan buruk. Namun bayangan betapa mata-mata musuh bertebaran di sepanjang lingkaran pengepungan tidak dapat kuhapus. Betapa sulit menebak dan menduga keberadaan mata-mata dalam pasukan pemberontak, apakah mereka berada di antara pasukan yang terdiri dari orang-orang as ing, ataukah berada di antara orang-orang Viet sendiri. Setidaknya dari perbincangan yang kudengar, kuketahui bahwa bukan hanya Harimau Perang yang dicari-cari, tetapi juga keberadaan Amrita dan bahkan diriku takluput diawas i!

Namun perbincangan rupanya telah beralih ke masalah lain.

"Pedang Biru, apakah kiranya yang dikau pikirkan, jika ternyata pasukan pemberontak itu ternyata mendapat banyak bantuan, bukan hanya dari para petani di pedalaman, tetapi juga para pendekar dunia persilatan dari berbagai negara?"

"Tidakkah semuanya jelas, Cambuk Emas? Gagasan penjajahan telah memuakkan semua orang."

"Hmmhh! Sudah berapa ratus tahun pemberontakan silih berganti? Hanya penderitaan dialam i orang-orang di pedesaan. Bagaimanakah kiranya kesejahteraan dan kemakmuran diselenggarakan tanpa adanya ketenangan?"

"Tentu, tetapi gagasan perlawanan beredar di mana- mana."

"Gagasan! Memang itu sangat berbahaya, lebih berbahaya daripada senjata! Tapi kita tidak bisa memeriksa dan memenggal kepala setiap orang."

Aku teringat yang tertulis dalam Arthasastra:

rakyat yang menjadi miskin, menjadi rakus jika rakus mereka menjadi tidak patuh

jika tidak patuh

mereka akan menyeberang ke musuh atau bahkan mereka sendiri

akan membunuh tuannya karena itu ia jangan membiarkan

penyebab kemunduran, kerakusan, dan ketidak patuhan muncul di antara rakyat

atau kalau sudah tumbuh harus segera diberantas mana yang terburuk

rakyat yang miskin atau tidak patuh? yang miskin,

karena takut diganggu atau dihancurkan lebih suka segera berdamai,

atau perang, atau melarikan diri yang rakus,

yang tidak puas karena rakus akan terpikat bujukan musuh

TAMPAK sederhana yang diungkapkan Arthasastra, tetapi menjelaskan segalanya. Daerah Perlindungan An Nam diperlukan Negeri Atap Langit bukan demi rakyat An Nam, melainkan kepentingan terjaganya jalur ke pelabuhan yang dapat menghubungkannya ke Jambhudvipa. Jalur perdagangan terbentuk tentu saja untuk memakmurkan Negeri Atap Langit sendiri, bukan para petani An Nam yang tanpa penjajahan pun telah selalu menderita oleh banjir.

Namun Negeri Atap Langit telah berhasil menyusun pemerintahan Daerah Perlindungan An Nam yang terdiri atas orang-orang Viet sendiri dan hanya kepala daerah dan lapisan pejabat tertinggi saja didatangkan dari Negeri Atap Langit. Maka sebuah pemberontakan adalah perang yang untuk sebagian berlangsung di antara orang-orang Viet.

"Katakanlah yang sebenarnya Pedang Biru, bagaimanakah kedudukan kita sekarang? Apakah kita segera akan dapat menyerbu dan meraih kemenangan, ataukah kita harus bertahan dalam pengepungan dalam waktu yang belum bisa ditentukan?"

Untuk beberapa saat Pedang Biru berdiam diri, tetapi kemudian kudengar jawabannya.

"Pasukan pemberontak sebetulnya berada dalam keadaan lelah. Jika kita menempur mereka dengan kekuatan yang sama besarnya, dalam keadaan biasa mereka akan dapat dikalahkan oleh pasukan mana pun yang lebih segar. Namun semangat mereka sedang begitu tinggi dan sangat bergelora, bagaikan tiada peduli betapa kematian menghadang di depan, sedangkan pasukan kita masih se lalu memikirkan anak isteri mereka di rumah. Bukankah susah memiliki pasukan tentara yang hanya bisa mencari selamat? Inilah yang membuat pasukan pemerintah di mana-mana mengalami kekalahan dan kini terdesak masuk ke dalam kota serta kita mengalami pengepungan." Belum selesai kata-katanya ketika terdengar ledakan cambuk menggelegar. Pastilah ini ledakan cambuk dari yang disebut Cambuk Emas. Dari suara ledakannya aku tahu betapa tenaga dalamnya sangat tinggi.

"Tapi Cambuk Emas tidak akan sudi menyerah di tangan para pemberontak dekil itu! B iarlah maju segala pendekar dari segenap penjuru dunia, Cambuk Emas tidak pernah akan mundur!"

Aku tertegun. Jika para ksatria tersebar pada kedua kubu, bukankah menyedihkan ketika mereka harus mengadu jiwa ketika berhadapan?

Saat itulah dalam bahasa Viet kudengar teriakan. "Penyelusup!"

Aku membuka mata, setidaknya dua puluh anak panah dari busur-busur berkait yang tepat sasaran meluncur bersamaan ke arahku. Meski tadi kugunakan ilmu pendengaran Mendengar Semut di Dalam Liang, perhatianku ke dalam perbincangan di dalam ruangan telah membuat aku lengah terhadap pengepungan gedung ini.

Panah-panah itu berbatang, bermata, dan berbulu penyeimbang yang juga hitam. Tali busurnya terpentang kencang dan tertahan kait sebelum dilepaskan dengan kayu lurus di tengah busur yang menjamin ketepatan, karena terdapatnya pengarah bidikan. Inilah jenis panah yang sekali tancap menembus badan. Melesak tanpa ampun dan meski tanpa racun batangnya yang besar tentu berdaya besar pula untuk melumpuhkan. Jika aku tetap menempel di tembok ini, sungguh aku akan tewas terajam. Maka kulepaskan ilmu c icak sehingga tubuhku jatuh dan menggelinding ke bawah di atas genting. Sekilas terlihatlah dua puluh anak melesak bersamaan pada tembok, menancap sampai kepada pangkalnya. Tentu mata anak panahnya menembus ke balik dan terlihat dari dalam. Di bawah telah menunggu pasukan penjaga dengan seratus tombak siap merajam, dan tentu tak kubiarkan diriku tertembus tombak-tombak bagus dengan ujung tajam yang mampu melubangi perisai besi. Begitu tubuhku menyentuh saluran air yang penuh salju aku melenting ke atas, dan di sanalah dari atas genting berkelebat suatu bayangan yang menyabetkan cambuknya. Masih di udara aku terpaksa berkelit dengan berjungkir balik ke atas semakin tinggi. Sabetan cambuk yang luput itu mengeluarkan bunyi ledakan dengan lelatu api yang mengejarku! Ah! Ini rupanya yang membuat ia disebut Cambuk Emas.

Masih di udara kusapu kembang api yang mengejarku bagai peluru katapel raksasa itu ke pelontarnya kembali. Cambuk Emas terpaksa mencambuk hancur kembang api kirimannya sendiri itu. Terdengar ledakan yang menyusul pecahnya cahaya ke segala arah membuat malam bersalju menjadi terang benderang sejenak sebelum gelap kembali. Namun sebelum kegelapan malam kembali dan lelatu api semburat ke mana-mana aku telah menerobosnya dengan ilmu memberatkan badan, yang membuat jejakan kakiku menimpa dada Cambuk Emas, jatuh bersama menembus genting yang terasa bagaikan hanya kayu lapuk ke dalam ruangan, menembus lantai sehingga tubuh Cambuk Emas tercetak di lantai batu itu.

MESKI lantai hancur dan melesak oleh tubuhnya yang terinjak olehku, Cambuk Emas tak kurang suatu apa karena tenaga dalamnya yang tinggi. Cambuknya menyambar dadaku, tetapi aku telah melesat ke atas melalui lubang tembusan pada atap rumah tadi dan tentu saja sekali lagi pijar kembang api mengejarku. Di atas, semua orang yang tadi berada dalam rumah sudah berada di wuwungan rumah gedung bertingkat itu. Kuhindari kembang api dengan geliat tubuh, sambil tangan kananku menyapu pijar kembang api, sehingga perbenturannya bahkan membuat langit pun menjadi terang sekali. Begitu terang cahayanya, sehingga sangat menyilaukan sekali, jauh dari maksud Cambuk Emas dengan ledakan cambuknya, karena akulah yang meminjam dan mengembalikan daya pijar kembang api itu secara berlipat ganda dengan Jurus Sentuhan Dewa.

Ketika cahaya menyilaukan hilang, mata orang masih berkunang-kunang, aku berkelebat pergi dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit yang agak kuperlambat, agar mereka yang berada di atas genting itu sempat mengejarku. Aku melenting dari genting ke genting dan segera terlihat seseorang yang berjubah dengan senjata tombak mengejarku. Aku melompat ke bawah dan menjejak sebuah tiang rumah besar sehingga me lesat ke atas lagi dengan kecepatan kilat yang takterduga oleh pengejarku itu. Aku tahu ilmunya tinggi dari kemampuannya menyusulku, makanya kuberikan jurus yang tak dapat diduganya sama sekali, bahkan mengejutkannya.

Ia masih melesat ketika dari bawah kusambar tombaknya, lantas kutepuk punggungnya sehingga jatuh menggelinding ke bawah dari atas genting. Malang nasibnya karena panah dan tombak para penjaga di bawah yang dimaksudkan merajamku, ternyata merajam tubuhnya itu.

''Aaaaarrgghh!''

Jubahnya yang putih bersimbah darah dan sa lju yang putih ikut ternoda cipratan darah. Sementara aku melejit dan berkelebat, melenting dengan ringan dari genting ke genting, dengan sengaja memperlambat lajunya sedikit, agar pengejar terdepan segera tiba. Demikianlah dari atap ke atap di sepanjang kota Thang-long aku diburu para perwira pasukan pemberontak yang tinggi ilmunya, sementara di jalanan dan di lorong-lorong, para penjaga kota dengan sigap telah selalu berada di bawah, menunggu mangsa yang terjatuhkan untuk segera mereka rajam. Kematian orang bersenjata tombak dan berjubah putih yang tadi mengejarku di tangan mereka sendiri, agaknya telah membangkitkan kemarahan seluruh mereka semua.

Atap-atap rumah memutih karena salju, tidak kuketahui berapa lama lagi malam bertahan. Aku masih berkelebat sambl menyiapkan tombak yang kupegang untuk menyambut pengejar yang berikutnya. Ketika pengejar itu tiba ternyata ia pun bersenjatakan tombak. Serangannya sangat cepat dan tajam. Kulayani sebentar permainan tombaknya. Tampaknya ini memang ilmu tombak yang berasal dari Negeri Atap Langit. Ujung tombaknya seolah menjadi ratusan dan mematuk- matuk dengan ganas ke sekitar leher dan kepalaku. Dengan cepat kuujikan Jurus Bayangan Cermin yang sedang kususun menjadi ilmu silat yang mandiri, lantas kukembalikan jurus yang sama kepadanya, tetapi tanpa dapat dikenalinya.

Kutinggalkan mayat ahli tombak ini dalam keadaan berdiri disangga tombak yang menusuk jantungnya di atas wuwungan rumah, agar siapa pun yang datang segera terpancing mengejarku. Sengaja aku berdiri di wuwungan rumah lain di dekatnya, agar mereka yang datang bisa melihatku, sebelum melesat lagi setelah mereka mengejarku dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Begitulah caranya mereka kuselesaikan riwayatnya satu per satu. Aku berkelebat dari atap ke atap, turun ke lorong, naik lagi ke atap, untuk setiap kali menelan korban. Dalam sekejap mayat mereka bergeletakan di atas genting, di lorong, di jalanan, dan di lapangan. Pasukan penjaga di bawah akhirnya selalu kutinggalkan dan para perwira yang berkelebat dari segala arah mengepungku tetap saja kalah cepat dan hanya menemukan mayat yang masih hangat dan bersimbah darah segar. Dalam hamparan malam, permadani sa lju terciprat bercak-bercak darah segar...

Semakin banyak yang mengejar semakin banyak korban berjatuhan. Untuk beberapa saat masih kugunakan tombak, tetapi kemudian kugunakan sebilah pedang kuning keemasan yang berhasil kurebut dari salah seorang dan karenanya dapat kumainkan I lmu Pedang Cahaya Naga maupun Ilmu Pedang Naga Kembar berganti-ganti untuk menghadapi ilmu mereka yang tinggi. Nyaris seluruh kota Thang-long terjelajahi dalam kejar mengejar ini dan kedudukan dari atap ke atap, kadang dari gedung bertingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya, membuat diriku berpeluang mendapat gambaran atas pertahanan kota, yang ternyata memang kuat sekali. Ibarat jebakan, inilah jebakan lubang bagi harimau dengan tombak- tombak menanti di dasarnya, siap menembusi tubuh sang harimau yang jatuh melayang dalam kegelapan.

SEKARANG aku mengerti kenapa pengejaranku berlangsung secara besar-besaran. Sudah dua puluh korban kujatuhkan dan mereka semua berilmu tinggi yang dalam peperangan tentu dibutuhkan. Jika masih saja mereka berdatangan mengejarku dalam jumlah yang terlalu banyak untuk mengejar satu orang, tentulah karena pertaruhan mereka yang tinggi, bahwa jika aku lolos maka seluruh rencana mereka berantakan.

Namun apakah yang sebenarnya kuketahui sampai saat ini? Aku hanya mengetahui bahwa mata-mata yang bekerja untuk pemerintah bertebaran di dalam gabungan pasukan pemberontak yang sedang melakukan pengepungan, tetapi aku belum mengetahui sama sekali apa yang akan mereka lakukan. Jadi apakah kiranya yang belum kuketahui sehingga keberadaanku menjadi sangat gawat sekali? Dua pengejar terakhir tiba dan langsung menyerang. Telah kuketahui yang bernama Cambuk Emas dan seorang lagi tentulah yang bernama Pedang Biru. Ia langsung berteriak bagai telah dipastikannya diriku mengenal bahasa Viet.

"Pendekar Tanpa Nama! Bukankah itu dirimu? Janganlah pergi sebelum bermain sedikit denganku!"

Pendekar Tanpa Nama bagaikan telah menjadi namaku, meski betapapun memang bukanlah namaku. Mengapa seseorang di dunia harus mempunyai nama bukan? Apalagi jika tidak seorang pun memanggil, mencari, dan membutuhkannya. Jawadwipa adalah tempat yang jauh, tetapi melalui para pedagang Srivijaya dan serangan-serangan Wangsa Syailendra yang menggunakan kapal-kapalnya, segala sesuatu yang berlangsung di sana tampaknya bagaikan dekat saja tampaknya.

"Daku tidak pernah nemiliki nama Tuan, dan daku hanyalah seorang pengembara yang mencari pengalaman."

"Janganlah terlalu merendah dan berbasa-basi pendekar! Izinkan kami mencicipi sebagian kecil dari ilmu silatmu yang termasyhur!'

Ilmu silatku yang termasyhur? Apakah yang telah menjadi perbincangan tentang ilmu silatku? Semua pertarunganku dalam dunia persilatan berlangsung tanpa kesaksian. Jadi tidaklah mungkin seseorang bercerita tentang diriku sejauh berhubungan dengan ilmu silatku. Mereka yang bertarung denganku, jika diriku masih hidup, tentulah berarti tewas. Adapun mereka yang boleh dianggap menonton, yang tidak terjadi dalam pertarungan antarpendekar, tidaklah akan dapat mengikuti gerakanku, yang kecepatannya jauh lebih tinggi daripada kecepatan pikiran. Namun tiada dapat kucegah beredarnya dongeng dari kedai ke kedai yang tidak selalu mudah dipisahkan dan diuraikan, mana yang bisa diterima akal dan mana yang khayalan.

Pedang yang berada di tangan Pedang Biru memang bercahaya redup kebiru-biruan. Kusambut papasannya dengan pedang di tanganku yang kuning keemasan. Dalam sekejap pedang di tanganku disabetnya kanan kiri dan patah menjadi dua belas bagian, itu pun masih ditambah ujung pedang birunya yang nyaris menyambar urat leherku jika aku tidak menjatuhkan diri dari wuwungan ke tanah bersalju untuk segera melenting kembali. Segera kulolos cambuk kulit dari pinggangku dan kusambut sabetan Cambuk Emas dengan sabetan pula, keduanya langsung saling membelit, tetapi cambukku pun kali ini putus dan rontok menjadi dua belas bagian. Di atas atap genting berselimut salju, aku terkepung pada sebuah wuwungan, di sebelah kananku Cambuk Emas dan di sebelah kiriku Pedang Biru. Senjata keduanya berpijar, pertanda cahayanya bukan pantulan karena datang dari dalam, jelas keduanya adalah senjata mestika.

Umurku masih 25 tahun, mungkin sebentar lagi akan memasuki 26. Kedua lawanku adalah para petarung berpengalaman dengan usia di atas 40 tahunan. Namun aku mempelajari dan mengolah ilmu silat yang sangat berbeda dari ilmu silat mana pun di dunia. Jadi aku memang seharusnya bersilat tanpa senjata, bahkan tanpa bersilat sama sekali, karena aku telah mengolah dan merenungkan ilmu s ilat yang tidak menyerang badan melainkan pemikiran. Ini bukan sihir, melainkan filsafat, bahwa aku hanya dapat menggugurkan seluruh bangunan ilmu silat melalui filsafat yang menjadi sumbernya. Mampu menggugurkan bangunan filsafatnya berarti mampu pula menggugurkan bangunan ilmu silatnya.

Mereka menyerang, aku tak bergerak. Pedang kebiruan yang dipegang Pedang Biru jika digerakkan akan meninggalkan jejak cahaya kebiruan yang tidak segera hilang di udara, seperti berusaha mengikuti gerak pedangnya. Adapun cambuk di tangan Cambuk Emas telah diketahui apabila dilecutkan akan mengeluarkan lelatu api, yang tidak sekadar berpijar sekejap melainkan dapat mengeras dan menyerang sebagai peluru api. Aku memusatkan perhatian kepada kenyataan, bahwa mutu ilmu silat tidak terletak pada senjata yang digunakan, melainkan kepada cara memainkan senjata itu, dan tentu saja cara kedua orang itu memainkan senjatanya sangat luar biasa.

NAMUN bukankah Sun Tzu berkata, ''Menaklukkan tentara lawan tanpa berperang adalah siasat yang paling baik.'' Dalam hal ini, aku menjalankan suatu jurus yang kelak akan bernama Jurus Tanpa Bentuk -dan karena tanpa bentuk memang tidak ada yang bisa diceritakan tentang pertarungan. Sebaliknya yang tampak oleh mereka yang mengepungku di sekeliling rumah mungkin akan sangat membingungkan, karena ketika pedang dan cambuk itu bagaikan sudah begitu pastinya akan membunuhku, ternyata adalah Pedang Biru dan Cambuk Emas itulah yang tewas, keduanya dengan dada terbakar dari jejak berbentuk telapak tangan.

Api masih menyala dari dada keduanya ketika kedua tanganku masing-masing sudah memegang kedua senjata mereka. Mereka masih berdiri ketika tewas, dan mata keduanya terbeliak memandang dada mereka yang terbakar itu. Ini berarti Jurus Tanpa Bentuk yang kumatangkan selama ini belum sempurna, karena masih kubutuhkan ilmu pukulan tangan kosong Telapak Darah untuk menamatkan riwayat lawan. Padahal dengan Jurus Tanpa Bentuk seharusnya kematian lawan tidak disebabkan oleh serangan apa pun juga.

Dari bawah seribu anak panah melesat ke segala titik kematian pada tubuhku. Dengan Pedang Biru kuarahkan cahaya-cahaya biru yang menyusulnya kepada panah-panah itu seperti mengibaskan se lendang, yang membuat panah- panah yang menuju kepadaku itu rontok berhamburan. Lantas dengan cambuk yang setiap kali dilecutkan mengeluarkan lelatu api itu aku me lompat turun ke arah pasukan penjaga yang sejak tadi memburuku dari rumah ke rumah, dengan tujuan membuat kekacauan. Aku memang belum tahu sama sekali rencana mereka, tetapi aku yakin jika dapat kubuat kekacauan malam ini, rencana apapun yang mereka persiapkan dengan pengiriman para penyusup ke dalam pasukan pemberontak yang mengepung itu akan mengalami kegagalan.

Maka aku pun menyuruk masuk ke dalam pasukan penjaga yang semakin banyak saja mengejarku. Aku ingin membuat kekacauan sebanyak-banyaknya lantas melesat dan kembali ke garis pengepungan secepat-cepatnya, karena penyelidikanku belum memberi pengetahuan terlalu banyak tentang apa yang akan mereka lakukan. Sangat kukhawatirkan bahwa mereka telah merancang sesuatu di luar jangkauan siasat perang Kautilya dalam Arthasastra maupun Sun Tzu, karena jika masih menyangkut dua nama tersebut, para pemimpin pasukan pemberontak pun menguasainya. Kedudukan para pengepung sangat kuat, tetapi kuketahui betapa mereka sudah sangat lelah, seperti yang pasti juga dapat diduga oleh pihak pemerintah.

Aku menyuruk dengan pedang biru dan cambuk keemas- emasan itu. Pasukan penjaga yang tampaknya mengenal senjata-senjata mestika para pemimpinnya, menjadi jeri dan segera menjauh, tetapi mengepung dan mengurungku dengan panah-panah yang melesat tajam dan mendesing kejam penuh kehendak membunuh. Begitu banyak pasukan yang mengepungku, mengalir bagai tiada habisnya, bahkan mereka yang berilmu tinggi segera berlompatan ke atap-atap rumah dan melepaskan panah-panahnya dari sini. Aku sungguh- sungguh terkepung dan meskipun tidak satu panah pun berhasil melukaiku, hujan panah yang terus menerus sungguh menghambat laju gerakku. Mereka bukan taksengaja menyusun kedudukan yang membuatku tidak bisa beranjak ke mana-mana, kecuali menangkis ribuan anak panah yang terus menerus mengancam jiwaku dari segala penjuru.

(Oo-dwkz-oO)