Nagabumi Eps 131: Perempuan dan Penyusupan

Eps 131: Perempuan dan Penyusupan

SEMBILAN penyusup tersisa di titik penjagaanku berjuang keras untuk tidak menjadi tewas di tangan Amrita, dan ilmu mereka yang tinggi memang membuat mereka bertahan agak lebih lama, meski tidak terlalu lama. Dalam malam yang dingin dan kelam, kedua pedang Amrita Vighnresvara, puteri Khmer yang terbuang keluar dari kerajaan Angkor yang dibangun ayahnya, bergerak cepat di antara senjata lawan-lawannya. Pedangnya yang ringan dan lentur itu dapat membabat lepas kain hitam penutup wajah para penyusup tersebut, tanpa melukai kulit wajah mereka sama sekali. Cahaya api unggun segera memperlihatkan wajah mereka. Memang orang-orang Negeri Atap Langit.

Semula wajah orang-orang Negeri Atap Langit dan orang- orang Viet tak bisa kubedakan, tetapi sekarang aku bisa mengenalinya. Dengan ganas Amrita membabat mereka satu per satu. Meskipun ilmu mereka memang tinggi, tidaklah terlalu mudah mencapai peringkat ilmu silat Amrita, murid Naga Bawah Tanah yang tidak pernah memperlihatkan dirinya itu. Senjata rahasia yang mereka lepaskan rontok hanya dengan sampokan pedang di tangan kirinya, sedangkan pedang di tangan kanannya bergerak begitu cepat seperti tiba-tiba saja ujungnya sudah berada di belakang tengkuk, menyusup jantung, memapas perut, atau menyilang dada. Para pendekar mempelajari cara terbaik untuk menamatkan riwayat lawannya dengan cara yang tidak menyakitkan, tetapi sering kulihat Amrita seperti pura-pura melupakannya. Mungkinkah karena kesempurnaan dalam ilmu silat sebagai kesempurnaan manusia, tidaklah menjadi tujuan sebesar tujuannya dalam permainan kekuasaan?

Delapan orang segera tumbang bersimbah darah, tetapi Amrita menyisakan satu orang yang telah kehilangan senjatanya dan tertelungkup dalam injakan Amrita. Sejumlah anggota pasukan pemberontak datang meringkusnya. Mereka menggelandangnya pergi untuk diperiksa. Artinya ia akan disiksa jika tidak mau berbicara tentang keadaan di dalam kota Thang-long. Adu siasat dalam pertempuran sangat ditentukan oleh banyak sedikitnya pengetahuan tentang keadaan lawan. Semakin sedikit pengetahuan tentang keadaan lawan yang kita miliki, semakin mudah kita jatuh dalam jebakan. Namun aku ragu apakah penyusup yang tersisa itu akan berbicara, karena menahan derita akibat siksaan adalah bagian dari ilmu penyusupan.

Tidakkah pernah kuceritakan bahwa penyiksaan dalam penyelidikan dalam Arthasastra juga dianjurkan?

ia hendaknya menyiksa orang yang mungkin bersalah tetapi sekali-sekali tidak boleh wanita hamil

atau wanita yang sebulan lagi melahirkan tapi bagi wanita, hanya sepao penyiksaan atau pemeriksaan dengan penyidikan saja bagi seorang Brahmana

hendaknya dipakai pengawal rahasia jika ia ahli Veda

juga bagi para pertapa jika aturan ini dilanggar

denda tertinggi akan dikenakan kepada orang yang melakukan atau menyebabkan penyiksaan

juga bagi yang menyebabkan kematian dalam penyiksaan

Pada sebelas titik lain pertarungan masih berkecamuk. Sepuluh penyusup yang berniat memecahkan pemusatan perhatian dalam pengepungan masing-masing dihadapi oleh sepuluh anggota pasukan pemberontak, artinya pendekar golongan merdeka dengan tingkat ilmu silat yang sama tingginya, sehingga gagal menimbulkan kekacauan. Pertarungan dengan tingkat ilmu yang sama tinggi, artinya para penyusup pun mampu membunuh lawan dari pihak pemberontak. Pada berbagai titik, hal itu memang terjadi, sangat menyedihkan melihat kawan tumbang di tangan lawan.

NAMUN tetap harus dijaga bahwa yang menggantikannya cukup satu orang, selama ilmunya setara, atau boleh juga lebih tinggi. Para penyusup ini adalah orang-orang pilihan yang berilmu tinggi, sehingga memang hanya yang tertinggi ilmu silatnya pada setiap titik penyusupan yang dapat maju menghadapinya.

Betapapun dapat terjaga bahwa kekacauan tidak berlangsung, sehingga jika berlangsung penyerbuan dari dalam kota, maka pasukan pemberontak akan mampu menghadapi mereka dengan semestinya. Pada sebuah titik, Iblis Suci Peremuk Tulang mengurung lima penyusup dengan putaran sepasang bandul besinya yang bagaikan angin puting beliung, sehingga pada titik ini cukup lima orang dikerahkan menghadapi sisanya. Sungguh mengherankan betapa rantai- rantai berbandul besi yang berat ini dapat digerakkannya seringan tali permainan dan set iap bandulnya bagaikan bermata mengejar batok kepala lawan-lawannya. Aku taktega menceritakan bagaimana tepatnya lawan-lawan Iblis Suci Peremuk Tulang ini sungguh-sungguh diremukkan, tetapi sungguh ingin kusampaikan bagaimana sang pendeta yang dapat bergerak di udara seperti terbang tanpa pijakan di antara pergerakan bandul-bandulnya. Maka takselalu bandul itu yang meremukkan tulang-tulang di dalam tubuh lawan, tetapi justru dirinya sendiri dengan sentuhan tenaga dalam telah berada di belakang lawan, saat lawan itu menangkis serangan bandulnya. Betapa cepat pergerakannya!

Demikianlah kelima lawan Iblis Suci Peremuk Tulang itu menemui ajalnya satu persatu dalam waktu yang singkat. Sesudah itu tampaknya ia siap melesat menuju ke titik-titik lain untuk segera menyelesaikan pertarungan, tetapi Amrita yang berkelebat dari titik ke t itik mencegahnya.

"Iblis Suci," katanya, "jangan tinggalkan bidang penjagaan pasukan kita."

Aku pun mengerti apa yang dimaksudkan Amrita. Pasukannya yang kuikuti naik turun gunung keluar masuk hutan sampai ke Thang-long ini hanyalah salah satu pasukan yang baru tiba untuk bergabung melakukan pengepungan. Siasat pengepungan hanya dapat dilakukan oleh pasukan yang berjumlah besar. Para pemimpin pemberontak telah saling berhubungan dengan sangat baik, sehingga dapat mengatur bahwa pasukan-pasukannya yang tersebar di berbagai penjuru masing-masing dapat mengatasi pasukan pemerintah yang mengejarnya, dan dengan begitu menyingkirkan segala halangan untuk keluar dari wilayah persembunyian, serta melakukan penggabungan untuk mengepung Thang-long, pusat pemerintahan Daerah Perlindungan An Nam.

Tentu saja ini berarti segenap pasukan yang keluar dari persembunyian, meski disatukan oleh semangat dan siasat yang sama, sebenarnya memang belum terlalu banyak saling mengenal. Bahkan para pemimpin pasukannya, juga tidak dapat dianggap dengan sendirinya telah saling mengetahui kedudukan dan kepribadian masing-masing. Seperti terjadi dengan Amrita, para pemimpin pemberontak yang tidak selalu bisa ditemui, untuk menghindarkannya dari pembunuhan rahasia, telah mengajak orang-orang asing yang terampil memimpin pasukan dan menguasai ilmu peperangan untuk bergabung menggoyang penjajahan Negeri Atap Langit. Mengingat bahwa bukan hanya pemimpin pasukan, tetapi juga para pengikutnya tidak hanya terdiri dari orang-orang Viet, melainkan orang-orang pinggiran beraneka ragam dari berbagai wilayah negeri tetangga, bahkan sejauh Jawadwipa seperti diriku, maka perbedaan lawan dan kawan sangat mungkin menjadi kabur.

Dalam Arthasastra disebutkan:

kesempatan untuk menggunakan berbagai jenis pasukan turun-temurun, yang disewa, gerombolan,

sekutu, asing, dan hutan, adalah:

bila pasukan turun-temurun melebihi yang diperlukan untuk mempertahankan pusat pengendalian

bila pasukan turun-temurun

menjadi bertebaran oleh pengkhianat mungkin menimbulkan masalah di pusat pengendalian

Tidak akan kukatakan apalagi kupastikan akan terdapat pengkhianatan di kalangan pasukan pemberontak, karena kehidupan yang berat dalam peperangan panjang telah merupakan ujian bagi kesetiaan setiap orang yang tergabung dalam penderitaan bersama.

NAMUN tidak kuingkari betapa rawan keadaan jika diingat betapa gabungan besar pasukan pemberontak ini tidak saling mengenal, sehingga banyak kesalahan taksengaja dimungkinkan, dan terutama betapa rawan bagi tindak penyusupan yang penuh ketabahan. Betapapun, dalam peperangan yang telah berlangsung timbul tenggelam sejak ratusan tahun, tepatnya tahun 43 ketika para perempuan perkasa Trung Bersaudara memberontak terhadap kekuasaan Wangsa Han, sangatlah dimungkinkan ditanamnya apa yang disebut Mata-mata Tidur. 

Adapun mata-mata tidur tidak terdapat dalam seni perang Sun Tzu, juga tidak ditemukan dalam nasehat kepada raja yang berperang dalam Arthasastra, karena siasat penggunaan mata-mata tidur adalah penemuan baru yang belum terbukti. Mata-mata tidur hidup sebagai rakyat di dalam negeri lawan dalam kurun waktu yang lama, bagaikan bagian dari bangsa yang menghuni negeri itu sendiri. Mereka kawin dan beranak pinak, kemungkinan besar memang mata-mata itu merupakan pasangan, dan dalam waktu lama tidak melakukan tugas apa pun. Itulah saat mereka "ditidurkan", artinya melebur dan terlibat ke dalam segenap sendi dan urat syaraf kehidupan rakyat, seperti bagian dari bangsa negeri itu sendiri. Pada saat yang menentukan mereka akan "dibangunkan", untuk menjalankan tugas yang amat sangat penting, yang tidak terdapat dalam perumusan Sun Tzu maupun Kautilya.

Mata-mata tidur ini tentu sangat amat sulit dilacak, karena ia te lah mendekam tanpa melakukan kegiatan se lama puluhan tahun. Mungkinkah saat ini, ketika pusat pemerintahan Daerah Perlindungan An Nam berkemungkinan jatuh ke tangan pemberontak, maka mata-mata tidur itu sudah waktunya dibangunkan?

Pada berbagai titik pertarungan masih berlangsung. Denting logam dan percik lelatu api senjata yang beradu masih terdengar, diseling raung kesakitan mereka yang terbunuh. Namun kedudukan ternyata berimbang. Dari sepuluh orang yang saling berhadapan dengan sepuluh orang, masing-masing kehilangan lima orang dan lima orang sisanya segera menghadapi lima orang lainnya.

Amrita melirikku dan kami saling memahami, para ahli siasat perang Negeri Atap Langit dalam keadaan segenting ini, tidak akan menjalankan siasat yang terlalu mudah dibaca. Kami telah menduga bahwa pengiriman pasukan penyusup ke duabelas titik pengepungan adalah usaha memecahkan perhatian dengan cara menimbulkan kekacauan. Jika kekacauan berhasil ditimbulkan, akan muncul pasukan pemerintah dari pintu gerbang, dan karena itu sepuluh penyusup yang tiba-tiba muncul dari balik malam pada setiap titik tidak dihadapi lebih dari sepuluh orang, lebih bagus lagi jika hanya perlu satu orang seperti dilakukan Amrita.

Namun tidak banyak orang di atas bumi ini dapat menyamai tingkat ilmu silat Amrita, bahkan Iblis Suci Peremuk Tulang pun hanya menghadapi lima penyusup. Betapapun, melihat siapa saja yang menjadi korban di pihak pasukan pemberontak, termasuk sejumlah pendekar golongan merdeka, sudah jelas para penyusup itu ilmu silatnya sangat tinggi. Telah kuceritakan betapa tugas penyusupan itu tidak dapat dijalankan oleh sembarang orang, bahkan mengingat penjagaan kami yang dilakukan para pendekar tangguh, tak dapat kubayangkan bagaimana mereka mampu tiba-tiba muncul begitu saja dari balik kegelapan. Dikatakan bahwa dalam ilmu penyusupan seseorang dapat mengenakan malam itu sendiri sebagai jubahnya. Tentu saja ia menjadi tidak terlihat sama sekali.

Maka, jika setelah beberapa lama para penyusup masih bertahan meski akhirnya dihadapi mereka yang berilmu tinggi dari pihak pasukan pemberontak, dan tidak juga muncul penyerbuan susulan, terpikir olehku sesuatu; pertama, bahwa usaha mengobarkan kekacauan dianggap gagal, dan karena itu serbuan susulan dibatalkan; kedua, sebetulnya terdapat siasat lain yang tidak dapat diduga. Aku pun menjauh dan mencoba melihat dari ketinggian, yang segera diikuti Amrita. Namun dari sini pun hanya terlihat separuh pemandangan, karena bagian lain dari lingkaran pengepungan tentu berada di balik kota itu sendiri.

Dari atas bukit, kulihat lelatu api berkilat di antara hujan salju yang untuk pertama kalinya kulihat dalam hidupku.

"Amrita," kataku, "perhatikan pertarungan itu. Katakan apa yang dikau saksikan."

Amrita memicingkan matanya menembus kegelapan. Cahaya api unggun masih cukup besar untuk memperlihatkan pertarungan yang hanya akan terasa anginnya bagu mata orang awam dan prajurit biasa.

"Ilmu mereka tinggi sekali," katanya kemudian, "seharusnya mereka sudah bisa menyelesaikan pertempuran dari tadi."

"Bagaimana dengan sudah mati? Ilmunya juga tinggi sekali?"

"TENTU, mereka hanya tidak beruntung karena menghadapiku dan Iblis Suci Peremuk Tulang."

"Selebihnya?"

"Daku memang mencurigai sesuatu." "Apakah itu Amrita?" "Mereka yang terbunuh sama sekali bukan karena ilmunya lebih rendah. Dalam ilmu penyusupan kemungkinan terbunuh tidak diperhitungkan, karena kemungkinannya untuk membuka jejak dan membongkar kerahasiaan. Jadi dalam keadaan semacam ini hanya ada satu kemungkinan."

"Yakni?"

"Sengaja membiarkan diri terbunuh demi berhasilnya tujuan!"

"Dan apakah kiranya tujuan mereka itu? Membubarkan pengepungan?"

"Seandainya kita tahu!" Kuingat nasihat Arthasastra.

antara gangguan kecil di belakang dan keuntungan besar di depan

gangguan kecil di belakang lebih penting karena bila ia pergi

orang pengkhianat, musuh, dan penjaga hutan akan memperbesar

gangguan kecil di belakang pada semua sisi

Ya, seandainya kami tahu. Artinya kami harus mengadakan penyelidikan. Telah kugiring Amrita ke arah perbincangan ini, karena aku ingin tahu apakah pikiran kami sejalan. Dulu kami seperti sepasang kekasih, tetapi sekarang kurasakan tidaklah terlalu seperti itu lagi. Mungkin karena suasana perjalanan bersama suatu pasukan pemberontak yang terus menerus berpindah dan bertempur, dan kenyataan bahwa Amrita memimpin pasukan itu, membuat hubungan kami menjadi seperti ini. Namun itu tidak berarti perasaan atas kebersamaan kami terhapus. Kurasakan betapa dia masih memperhatikan aku seperti aku memperhatikan dirinya.

Penyelidikan harus dilakukan di dua tempat sekaligus, sebelum tujuan penyusupan itu dapat berlangsung. "Daku saja yang masuk ke dalam kota," kataku, "dikau lebih mudah dikenali daripadaku."

"Tetapi daku juga ingin masuk kota bersamamu," jawabnya pula.

Kulihat matanya yang sendu. Masihkah ia Amrita yang dulu? Kehidupan bersama pasukan pemberontak ini telah banyak mengubahnya. Rambutnya yang lurus panjang dan hitam jatuh ke bahu putih takpernah terlihat lagi, karena tertutup tudung tempur yang sebetulnya takdiperlukannya. Namun kurasa ia mengenakan tudung tempur untuk menunjukkan dirinya sebagai kepala pasukan, tepatnya sebagai bagian dari pasukan, yang sangat perlu ditunjukkannya dalam kehidupan dari hutan ke hutan. Pada musim dingin di bagian utara ini, tentu juga takmungkin lagi ia mengenakan busana tembus pandang. Ia taktampak lagi seperti patung Laksmi gaya Sambor dari Koh Krieng, yang menampakkan segalanya dalam udara panas, seperti ketika kupandang ia pertama kalinya di pelabuhan bekas Kerajaan Fu-nan itu.

Seperti juga semua orang dan diriku juga, musim dingin dan langit kelabu membuat kami semua bagaikan makhluk- makhluk sejenis yang berbaju tebal, atau baju kulit berlapis- lapis, melangkah di antara tumpukan salju yang semakin rata seluas mata memandang. Namun bagiku bukanlah busana dan lingkungan itu benar yang membuatnya terasa berubah, melainkan sesuatu pada matanya, semacam cahaya kesedihan, yang meski ditutupinya tetap saja mempengaruhi caranya memandang.

"Pendekar Tanpa Nama, biar daku saja yang masuk ke dalam kota, dan dikau berjaga di s ini."

Jika garis belakang dalam pertempuran menentukan apa yang terjadi di garis depan, kurasakan lawan sekarang sedang melakukan sesuatu di garis belakang. Apakah kami harus mengimbangi dengan set idaknya menyelidik ke garis belakang. Di antara pasukan pemberontak ini tidak terdapat regu penyusupan, karena ilmu penyusupan adalah bagian dari suatu budaya kerahasiaan yang hanya mungkin dibangun dan dipelihara dalam kemapanan kekuasaan.

PERSOALAN lain dengan pasukan pemberontak ini adalah kedudukan pemimpinnya yang selalu dirahas iakan. Belajar dari penjajahnya, orang-orang Viet bukan hanya merahasiakan keberadaan para pemimpinnya, tetapi juga bahkan namanya mereka rahasiakan. Amrita hanya mengenal seorang perwira penghubung yang disebut Harimau Perang, yang memiliki sejumlah anak buah yang sangat bisa diandalkan sebagai penghubung antara dirinya dengan para pemimpin pasukan pemberontak yang tidak selalu saling mengenal itu. Tentu regu penghubung ini sangat penting dalam wilayah peperangan yang sengaja diperluas untuk memancing pasukan pemerintah pergi semakin jauh ke segala arah, dan jauh pula dari sumber-sumber pangan. Selain itu regu penghubung yang merupakan para penunggang kuda terbaik di se luruh wilayah, yang masing-masingnya jelas pula berilmu silat dan ilmu meringankan tubuh yang tinggi, memang pengganti yang diperlukan dalam kelemahan jaringan rahasia.

Bukan berarti kelompok pemberontak itu tidak memiliki jaringan rahasia sama sekali. Justru itulah yang akan menjadi persoalan seperti yang akan berlangsung berikut ini.

(Oo-dwkz-oO)

AKU berkelebat tanpa bisa dicegah Amrita lagi.

"Selesaikan pertarungan mereka," kataku, "mereka sengaja mengulur waktu. Daku ke dalam kota untuk mengalihkan perhatian."

Demikianlah kulakukan juga bagaimana para penyusup memperlakukan ma lam sebagai jubah yang menyembunyikannya. Aku berkelebat di antara bayang- bayang. Di dalam bayang-bayang aku berhenti dan menunggu, sebelum akhirnya berkelebat lagi. Dalam hujan salju yang kutembus dengan ilmu Naga Berlari di Atas Langit, aku merasa melayang dalam dunia mimpi kapas-kapas berjatuhan. Dunia seperti begitu ringan, dengan lapisan- lapisan tabir yang sebentar putih sebentar hitam. Dengan kecepatan sangat tinggi, segala gerak yang lebih lambat menjadi terlalu lamban, sehingga kunikmati hujan salju yang membuatku bagaikan merasa terbang melayang perlahan- lahan.

Dalam kenyataan aku dengan segera telah tiba di tepi sungai di luar kota. Jarak antara garis depan pengepungan dan gerbang kota Thang-long sekitar duaribu langkah. Dapatlah dibayangkan lingkar pengepungan yang tidak terputus itu.

Seperti para penyusup aku memasuki air yang terlalu dingin itu, bernapas dengan buluh melalui mulut, aku berenang di bawah permukaan sungai yang hampir membeku, bahkan sudah terdapat lapisan-lapisan es di atasnya. Tidak berapa jauh terdapat tembok perbentengan yang mengelilingi kota, yang meski tampak tidak mulus lagi, karena hantaman peluru- peluru batu di masa lalu, dijaga dengan sangat ketat. Di atas tembok, terdapat gardu-gardu jaga setiap limaratus langkah dan di antara gardu-gardu itu terdapat penjagaan yang kuat sekali. Penjagaan ketat yang sama juga terdapat di luar tembok di sekeliling kota itu. Belum kutahu lagi tentunya bagaimana penjagaan di balik tembok itu. Pada masa perang, penyusupan untuk mengacau kubu lawan adalah siasat andalan, dan karena itu setiap penjagaan selalu mempertimbangkan kemungkinan penyusupan.

Jadi aku harus menyusup seperti yang tidak pernah dilakukan penyusup mana pun. Thang-long adalah kota besar yang dihuni ratusan ribu manusia. Kubayangkan akan sangat mudah menyelinap di antaranya. Namun di luar tembok, antara sungai dan tembok itu, hanya terdapat bidang tanah kosong selebar dua ratus langkah yang kini memutih karena salju. Mungkinkah melewatinya tanpa satu penjaga pun memergokinya? Dalam hal para penjaga yang terdiri dari prajurit biasa, bagiku tidaklah akan menimbulkan kekhawatiran. Namun aku harus waspada terhadap regu penjaga pilihan, yang tidaklah aneh jikas ilmu silatnya setingkat dengan para pengawal istana, dan dari sana pula biasanya dipilih pengawal rahas ia istana yang bertugas melindungi raja.

Aku sudah sangat kedinginan karena tak kunjung bergerak. Jika aku terlalu lama bersembunyi, bukan saja tujuan lawan yang belum diketahui akan terjadi, tetapi aku sendiri sangat mungkin akan mati. Jadi aku keluar dari tepi sungai dan bertiarap. Aku harus masuk ke dalam kota, jika tidak untuk menyelidik dan menemukan sesuatu, setidaknya dapat kusulut kekacauan yang kiranya dapat menggagalkan apa pun rencana mereka, karena serangan di garis belakang tentu akan berpengaruh kepada sasaran mereka di garis depan. Untuk itu aku harus melewati garis belakang, dan melakukan serangan dari belakang.

Dalam tiarapku itu aku menunggu.

JIKA dalam beberapa saat tidak terdapat sesuatu baru aku maju lagi, tetapi hanya sebadan demi sebadan. Dalam jarak dua ratus langkah, tentu akan sangat lama diriku mencapai tembok kota, itu pun belum tentu lolos dari mata elang para pengawal yang memang ditugaskan untuk waspada. Sembari beringsut sebadan demi sebadan, kusadari betapa harapan begitu tipis, karena keadaan bisa saja berbalik: bagaimana misalnya jika para penyusup itu tak kunjung bisa dilumpuhkan, atau bahkan meraih kemenangan demi kemenangan, yang berarti tetap saja berhasil mengalihkan perhatian? Selain itu, jika aku beringsut dengan cara seperti ini, jika pagi tiba maka terlalu mudah keberadaanku ditandai, sehingga hujan ribuan anak panah dari langit tak akan memberi ruang bagiku untuk menyelamatkan diri. Aku harus masuk ke dalam kota sebelum fajar tiba, bahkan mengacaunya sebelum cahaya yang pertama.

Maka aku pun menunggu angin. Itulah satu-satunya cara bagiku untuk melewati ketatnya penjagaan, tetapi angin tidak juga datang, meski rasanya aku telah beringsut nyaris sepanjang malam. Hujan salju te lah berhenti. Bertumpuk salju di atas punggungku. Kusempatkan mendongak dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Salju yang memutih sepanjang dataran tentu akan membuat titik hitam sepertiku akan sangat tertandai pergerakannya. Memang aku dapat menggunakan ilmu bunglon sehingga oleh mata biasa sungguh aku akan tersamarkan, tetapi tak dapat kujamin diriku sendiri bahwa tiada seorang pendekar di atas tembok itu yang dapat melihat segalanya dengan terang seperti siang.

Demikianlah aku beringsut dengan sabar tanpa sedikit pun menarik perhatian. Sebegitu lama rasanya aku baru mendapatkan tiga puluh langkah, meski sudah cukup bagi sebatang anak panah yang meluncur hanya sejengkal di atas tanah secepat kilat untuk menembus leherku. Maka begitu angin yang kutunggu tiba, berdesir dan berhembus kencang sampai mengeluarkan bunyi seperti siulan, kuringankan tubuhku begitu rupa seringan kapas dan seperti layang-layang kubentangkan tanganku sehingga aku pun segera melayang ke atas. Begitulah aku melayang berjungkir balik seperti layang-layang diterbangkan angin sampai ke langit. Dengan segera jarak yang tadinya serasa harus ditempuh sepanjang malam terlewatkan bahkan tanpa terlihat.

Meskipun dalam kegelapan malam mata yang tajam mungkin saja melihat sesuatu seperti bayangan hitam bergerak diterbangkan angin ke atas dengan cepat sekali, siapakah kiranya yang akan mengira itulah manusia yang terlalu ringan, sangat amat ringan, sampai terterbangkan ke langit malam begitu rupa bagaikan layang-layang? Angin bersiul di telingaku dan di dalam angin aku menyapukan tangan seperti berenang mengatur embusan. Melewati garis perbentangan, yang setelah hujan salju tampak bagaikan garis memanjang, kuluruskan dan kuberatkan tubuhku kembali, meluncur ke bawah untuk mencari tempat hinggap yang aman.

Kulihat hamparan salju telah memutihkan jalanan dan genting-genting rumah. Kulihat juga rumah-rumah besar bertingkat dua yang disebut gedung. Tampak para peronda menyusuri ma lam dengan senjata lengkap sambil membawas lentera. Kota perbentengan dalam keadaan perang, bahkan sedang menghadapi pengepungan, di manakah kiranya tempat yang lolos dari pengawasan?

(Oo-dwkz-oO)