Nagabumi Eps 130: Pengepungan

Eps 130: Pengepungan

MUSIM dingin belum berlalu ketika kami mengepung Thang-long saat memasuki tahun baru 797. Gabungan pasukan pemberontak yang turun gunung dari berbagai wilayah di Daerah Perlindungan An Nam memasuki Hoa-lu sebulan sebelumnya tanpa perlawanan sama sekali. Pasukan pemerintah yang semakin terdesak telah meninggalkannya untuk bertahan di Thang-long, yang tidak seperti Hoa-lu, memiliki benteng kuat yang lebih memungkinkan untuk bertahan lebih lama, bahkan mungkin saja membalikkan keadaan dan meraih kemenangan.

Hoa-lu begitu mudah direbut, karena jaringan rahasia pemberontak telah banyak menyabot perbekalan, dan juga melakukan pembunuhan tokoh-tokoh serta para petinggi penting, sehingga tidak ada lagi yang bisa diandalkan memimpin pertahanan. Kota di seberang Sungai Merah, Bo- hai, yang terletak di tepi pantai, bahkan sudah lama menjadi sarang pemberontak itu sendiri, yang sulit dilacak karena berbaur dengan orang-orang asing. Jangan lagi dikata Nghe- an, yang jauh di selatan, tempat pengaruh Negeri Atap Langit tidak terlalu terasa.

Saat itu kekuasaan Wangsa Tang di Negeri Atap Langit memang sedang melemah. Wangsa itu telah berkuasa sejak tahun 618, artinya memasuki tahun ini sudah 179 tahun. Adalah semasa pemerintahan Wangsa Tang maka kota pelabuhan Kwangtung di bagian selatan Negeri Atap Langit itu terbuka bagi perdagangan dengan berbagai negeri as ing. Dari kota inilah jalur perdagangan Negeri Atap Langit terbuka, dengan Kedatuan Srivijaya, maupun Jambhudvipa dan Dashi. Seperti berbagai kota pelabuhan lain, kota ini menjadi pusat perdagangan maupun pusat kekuasaan, ke-igama-an, dan kebudayaan. Maka dari barang perdagangan andalan seperti kain sutra berlangsung pula pertukaran yang menyangkut pengetahuan mengenai berbagai bidang tersebut.

Wangsa Tang bahkan mengeluarkan perintah tertulis untuk melindungi para pedagang as ing yang bermukim di Kwangtung. Antara 763 dan 778 sekitar empat ribu kapal asing berlabuh di Kwangtung setiap tahun. Para pedagang dari Dashi yang kudengar memuja Allah yang tak berbentuk dan tak terbayangkan, maupun para pedagang negeri-negeri lain, membuka jalur perdagangan dan bermukim di tempat yang disebut fanfang, bagian kota yang hanya ditinggali orang asing. Namun masa ini sebetulnya adalah kelemahan pemerintahan Wangsa Tang, sejak kaisarnya yang tua, Xuanzong, yang segala kebijakannya bertentangan dengan para penasehatnya, jatuh ke pelukan selirnya yang cantik jelita, Yang Yuhuan, sementara segenap petinggi pemerintahannya berlomba memperkaya diri mereka sendiri.

Pada 755, An Lushan bersekutu dengan Shi Sim ing untuk mengobarkan pemberontakan, yang terkenal dengan sebutan Pemberontakan An Shi. Mereka adalah pasukan penjaga perbatasan yang bergabung sebagai kesatuan tentara yang kuat. Pertempuran yang dikobarkan para pemberontak ini berlangsung delapan tahun, yang membuat kekuasaan Wangsa Tang menjadi lemah dan memancing lahirnya pemberontakan baru pada tahun-tahun berikutnya di berbagai wilayah, termasuk di Daerah Perlindungan An Nam sekarang ini. Untuk se lanjutnya, secara turun temurun Wangsa Tang menjadi semakin rapuh, karena di dalam istana sebagai pusat pemerintahan pun berlangsung perma inan dalam perebutan kekuasaan tanpa henti antara jaringan orang-orang kebiri dan para petinggi negara. Pemberontakan yang tiada habisnya membuat banyak penduduk berpindah ke selatan, dan mengubah segala sesuatunya di wilayah selatan, termasuk wilayah jajahannya seperti Daerah Perlindungan An Nam.

Aku tidak mempunyai kepentingan apa pun dalam pertentangan kekuasaan ini. Kuikuti pasukan Amrita yang telah bergabung, bercerai, dan bergabung lagi dengan banyak pasukan pemberontak yang lain, tak lebih dan tak kurang karena Amrita tidak pernah rela kutinggalkan. Aku memang hanyalah seorang pengembara, mengikuti langkah kaki ke mana pun langkah itu menuju sesuai kata hatiku, dan kata hatiku kini masihlah mengikuti Amrita Vighnesvara, puteri Khmer anak raja Jayavarman II yang melawan ayahnya sendiri dalam pemersatuan Angkor. Ketika kami mengembara bersama di wilayah Khmer dan Campa, sebetulnya Amrita menemukan kenyataan betapa suatu rongrongan terhadap kekuasaan ayahnya itu tidak berguna, karena kehadiran Kerajaan Angkor telah memberikan kebanggaan bagi rakyatnya.

NAMUN kebijakan Angkor pula yang tidak memberi ampun atas langkah-langkah Amrita, yang demi dendam lama nasib ibunya sebagai selir keturunan Tchen-la, bersama kelompoknya telah melakukan banyak pembunuhan rahas ia di dalam istana. Seperti telah diketahui, orang-orang Viet yang mengetahui kedudukan dan kemampuan Amrita, berhasil mengajaknya bergabung atas nama perlawanan semesta terhadap penjajahan, terhadap pemerintah Daerah Perlindungan An Nam yang merupakan pemerintahan boneka Negeri Atap Langit.

Begitulah aku mengikutinya atas nama cinta, karena memang tiada kepentinganku dalam perjuangan para pemberontak ini, yang tidak kurang-kurangnya diwarnai pertentangan kepentingan. Namun itu tidak berarti aku tidak mendapatkan suatu keuntungan, karena inilah kesempatanku mempelajari segala macam bahasa. Telah kuceritakan betapa para pemberontak ini, meski sebagian besar memang terdiri atas orang-orang Viet, juga memanfaatkan tenaga tempur orang-orang gagah berbagai suku bangsa. Maka lambat laun, dengan kemampuan berbahasaku yang terbatas, akhirnya bahasa orang Viet maupun bahasa-bahasa Negeri Atap Langit tak lagi terdengar hanya seperti bahasa burung bagiku. Bahkan kukenali juga seperlunya bahasa Pagan dan bahasa Siam, karena rombongan orang gagah mereka bergabung pula dengan para pemberontak ini.

Dengan bekal perbendaharaan bahasa seadanya itu, dalam perjalanan menyelusuri lembah, naik turun gunung, menyeberangi sungai, dan menembus hutan ini, aku dapat bercakap-cakap dengan Pendekar Iblis Suci Peremuk Tulang, bekas pendeta yang berasal dari Sungai Hitam di utara Thang- long, jadi seorang Viet juga, yang sangat menguasai ajaran- ajaran Nagarjuna. Suatu kebetulan yang menyenangkan!

Maka sambil berkuda berdampingan kami dapat bercakap- cakap mengenai pemikiran Nagarjuna, yang kumaksudkan untuk mendorong pengembangan nalar di balik ilmu silatku itu. Ini pula yang terjadi ketika gabungan pasukan pemberontak melakukan pengepungan yang tampaknya akan berlangsung panjang. Pada malam-malam musim dingin yang membekukan tulang, di depan api unggun dalam tugas jaga kami bersama, percakapan tentang filsafat Nagarjuna dapat memanaskan otak dan menghangatkan badan. Demikianlah Iblis Suci Peremuk Tulang memilih untuk menjelaskan perihal Nagarjuna sejak awal, memulainya dengan suatu pengantar dan pembahasan tentang latar belakangnya lebih dahulu, sebelum memasuki ujaran-ujaran Nagarjuna. Maka, harap dimaafkan jika terdapat segala sesuatu tentang Nagarjuna yang telah kuungkapkan sebelumnya, karena mantra sihir dalam bahasa Sansekerta yang dipendamkan kepadaku oleh Raja Pembantai dari Selatan memang ujaran Nagarjuna yang suka terbaca tanpa kesengajaan olehku. Belum jelas bagiku, kenapa Raja Pembantai dari Selatan itu menggunakan ujaran Nagarjuna. Seperti telah diketahui, jika kata-kata dalam bahasa Sansekerta itu tidak dikenal, maka mantra itu akan sahih sebagai mantra, karena mantra memang harus berada di luar bahasa. Tidakkah terdapat bahaya betapa tuah mantra itu akan hilang ketika bunyinya menjadi kata biasa bagi yang menguasai bahasa Sansekerta? Betapapun kata-kata Sansekerta yang biasa ini pun sebagai kalimat dalam kenyataannya tidak dapat dengan mudah dipahami maknanya.

Sembari menghadapkan telapak tangannya ke arah api unggun, seperti menyerap prana api, Iblis Suci Peremuk Tulang menjelaskan, "Takhayul tak masuk akal telah berkembang di sekitar tokoh-tokoh filsafat dan ke-igama-an, nyaris pada hampir setiap aliran dalam igama Buddha. Lebih sering takhayul ini dihembuskan oleh persa ingan antar aliran yang terus menjadi penyakit dalam sejarah igama Buddha, khususnya persaingan dua ajaran utama, yakni Theravada dan Mahayana. Berbagai prasangka yang timbul karenanya, cenderung membentuk ajaran filsafat kedua aliran ini terkutubkan kepada asalnya pula, yang dalam kenyataannya mirip bahkan nyaris sama. Keduanya bermiripan dalam kesetiaan kepada ajaran-ajaran dasar Buddha, mereka terbandingkan dalam cara menolak sejumlah gagasan- gagasan adikodrati yang masih terus menempel bagai benalu pada ajaran-ajaran ini." "Kedua sisi ajaran Buddha, yang bersifat falsafi maupun yang berlaku untuk kehidupan sehari-hari, dan keduanya saling tergantung, secara jelas tersebutkan dalam dua wacana, yakni Kaccayanagotta-sutta dan Dhammacakkappavattana-sutta, yang dihargai tinggi oleh hampir setiap perguruan igama Buddha, lepas dari persaingan demi pemisahan yang dilakukan setiap aliran.

KACCAYANAGOTTA-SUTTA dikutip oleh hampir semua perguruan Buddha yang utama, membahas perkara 'jalan tengah', dan ditempatkan berlawanan dengan latar belakang dua pemikiran filsafat yang serba mutlak dari Jambhudvipa, yakni atthita atau keberadaan tetap yang diajukan dalam awal Upanisads dan natthita atau kehampaan ketakberadaan yang diajukan Kaum Pemihak Jasad. Kedudukan tengah dijelaskan sebagai paticcasamuppada atau kebangkitan yang tergantung, yang ketika diterapkan kepada perilaku kepribadian manusia dan dunia pengalaman, muncul sebagai ramuan yang berisi dvadasanga atau dua belas penentu. Jalan tengah yang berlaku dalam keseharian dinyatakan dalam Dhammacakkappvattana-sutta, dan dihargai oleh para penganut Buddha sebagai ujaran-ujaran Buddha yang pertama. Di sini, jalan tengah adalah antara dua titik bertentangan kamasukhalliyoga atau penurutan katahati sendiri dan attakilamathanyoga atau pemberian aib kepada diri sendiri, dan berisi ariyo atthangiko maggo atau jalan delapan lipatan menuju kebebasan dan kebahagiaan.''

Amrita datang dengan kudanya. Melihat wajah kami berdua yang sungguh-sungguh ia pun turun, dan tanpa mengatakan apa pun lantas duduk dan turut mendengarkan.

''Sepanjang sejarah igama Buddha,'' ujar Iblis Suci Peremuk Tulang melanjutkan, ''para penganutnya berusaha keras tetap setia kepada peraturan yang ternyatakan dalam dua wacana ini, meskipun pembagian kepada Therevada dan Mahayana, dan dalam tekanan besar baik dari dalam maupun luar, apakah dari rakyat atau dari penguasa, yang memaksa mereka kadang-kadang menyimpang dari ajaran yang asli.''

''Misalnya?''

Hmm. Cepat sekali Amrita menyela.

''Dalam wilayah perdugaan filsafat, terdapat suatu aliran yang bersumber dari Sthaviravada, disebut Sarvastivada, mengajukan pemikiran tentang 'alam-diri' atau ''hakikat'' yang disebut svabhava dan sebagian kaum Mahayana menyatakan rancangan pemikiran seperti bodhi-citta atau 'pikiran dalam pencerahan, yang keduanya, seperti akan daku jelaskan, adalah pemikiran yang bertentangan terhadap dasar ajaran Buddha tentang paticca-sammupadda atau ekebangkitan yang tergantung'.

''Jalan tengah dalam kehidupan sehari-hari dijelaskan dalam Dhammacakkappavattana-sutta yang terkenal itu, yang menambah kepada ataupun menjadi dasar filsafat jalan tengah yang disebut tadi, lebih lemah terhadap pengembangan. Kajian dari keragaman yang luas dari kehidupan igama sehari-hari muncul dari dua peradatan, Theravada dan Mahayana, yang ternyata bertentangan terhadap jalan tengah, yang perbincangannya daku sampaikan nanti.

''Jika ingin tahu, daku harus menjelaskan bagaimanakah filsafat jalan tengah ini tahan uji mengarungi zaman, di tengah begitu banyak penafsiran menyimpang dan sesat yang kadang-kadang muncul dalam peradatan igama Buddha. Bertahannya kedudukan tengah dalam filsafat ini berkat jasa pembaharu seperti Mogalliputta-tissa dan Nagarjuna. Pribadi semacam itu muncul dari masa ke masa dan bertanggung jawab atas kelanjutan pesan-pesan Buddha. Kegiatan para pembaharu semacam itu telah diabaikan, seperti dalam hal Mogalliputta-tissa, atau dilebih-lebihkan, seperti Nagarjuna.''

''Dilebih-lebihkan bagaimana?'' Amrita yang membaca ujaran-ujaran Nagarjuna melalui lembaran-lembaran lontar di Pertapaan Naga Bawah Tanah, tampaknya merasa perlu bertanya. Ia pernah mengalami akibat yang gawat dengan Jurus Penjerat Naga karena belajar dari kitab curian yang salah. Konon salah memahami filsafat Nagarjuna yang menguji daya jelajah nalar manusia bisa membuat seseorang menjadi gila.

''ITU akan kujelaskan, Putri Amrita yang perkasa, setelah daku sampaikan bahwa penjelasan tersebut juga bermaksud menunjukkan sumbangan Mogalliputta-tissa, yang karya pentingnya, Kathavattu, tak pernah diperbincangkan di perguruan Buddha mana pun. Sebaliknya, ini justru akan membantu cara kita melihat kedalaman falsafi dan rohaniah dari Nagarjuna, yang telah dilebih-lebih sampai ke luar batas.''

Aku tercenung. Apabila ujaran Nagarjuna terucapkan sebagai mantra sihir, tidakkah ini termasuk sebagai cara memperlakukan filsafat Nagarjuna sampai ke luar batas? Aku bersedia kehilangan seluruh daya sihir dan ilmu pemunah racun yang terwariskan akibat paksaan Raja Pembantai dari Selatan, jika demi pengertian yang kudapat aku memang harus kehilangan semua kemampuan yang memang tidak pernah sengaja kupelajari. Aku siap kehilangan segenap daya sihir, apabila segenap kalimat Nagarjuna itu dapat dimengerti oleh penalaranku.

''Kini baiklah didengarkan apa yang membuat filsafat Nagarjuna diterima lebih dari seharusnya..., awas!''

Iblis Suci Peremuk Tulang itu berkelebat cepat menangkap sebilah anak panah yang tertuju ke punggung Amrita. Telah terjadi penyusupan! Aku dan Iblis Suci Peremuk Tulang yang bertugas jaga telah menjadi lengah karena tenggelam dalam riwayat suatu pemikiran filsafat yang bernama Filsafat Jalan Tengah.

Amrita berkelebat, dengan segera pedangnya telah memakan korban, tetapi rupanya penyusupan berlangsung tak hanya pada titik yang kujaga. Dari dalam kota pihak pemerintah telah me lepaskan penyusup-penyusupnya yang terbaik untuk mengacaukan perhatian para pengepung. Jika pemusatan perhatian bisa dipecahkan, pasukan yang kuat dan segar akan menyerbu dari dalam kota, menggasak kepungan yang telah mengerahkan segala daya dalam keterbatasan ini.

Pengepungan memang belum berlangsung lama, baru beberapa hari saja, padahal mungkin dapat dan berlangsung berminggu-minggu sebagaimana seharusnya sebuah pengepungan dilakukan. Namun kami telah berm inggu- minggu me lakukan perjalanan naik turun gunung dan keluar masuk hutan yang berat, sehingga meskipun jum lah gabungan pemberontak ini cukup banyak, semuanya berada dalam keadaan letih, dengan perbekalan pangan yang telah semakin menipis. Adapun pasukan pemerintah yang bermaksud menjadikan Thang-long sebagai benteng terakhir, telah memperhitungkan semuanya, dan tentu dalam persiapannya mengandalkan kesegaran badan sebagai suatu kelebihan. Dalam malam musim dingin yang berat, kelelahan pasukan semakin terasa sebagai siksaaan.

Para penyusup berusaha memecahkan perhatian pasukan pemberontak dengan menciptakan pertempuran kecil pada dua belas titik. Jika pasukan pemberontak terpancing, akan terbentuk dua belas gelanggang pertempuran yang tidak dapat saling menolong, dan saat itulah dari dalam pasukan pemerintah akan menyerbu bagaikan air bah. Tentu saja ini harus dicegah.

Dengan bahasa sandi yang berupa suitan karena lingkaran jari dalam mulut, kusampaikan bahwa pasukan penyusup harus dihadapi dengan jum lah orang yang sama. Ke setiap titik itu dikirim regu penyusup yang terdiri dari sepuluh orang. Berarti 120 orang dengan serentak menyusup dan bergerak ke dua belas sasaran. Tentu saja karena menyusup ke daerah lawan maka dipilih mereka yang ilmu silatnya tinggi dan memang terlatih dalam penyusupan itu sendiri.

Sandi suitan beredar cepat dan maksudnya segera dapat ditangkap.   Pada setiap titik hanya   sepuluh orang yang diiz inkan bergerak menghadapi para penyusup, karena jika nafsu mengeroyok dan membantai para penyusup itu tidak dicegah, kekacauan yang diharapkan akan menjadi kenyataan, sementara para penyusup yang berilmu tinggi menyebarkan maut dengan senjata rahasia sesuka-sukanya.

Segera terdengar denting dan lelatu api karena senjata yang beradu. Sepuluh penyusup dihadapi sepuluh orang yang berilmu se imbang dan sisanya bersiap menghadapi segala keadaan. Kini para penyusup yang seluruh tubuhnya terlilit kain hitam pekat, dan wajahnya kecuali mata juga dilibat kain hitam, bagaikan tikus terperangkap di dalam lubang.

Amrita yang dimaksudkan menjadi korban pertama, agar kekacauan semakin dimungkinkan, mengangkat tangan. Artinya ia ingin menghadapi sembilan orang yang lain, selain dari yang telah dibunuhnya sendirian. Dengan dua pedang yang telah berlumur darah ia memasuki gelanggang yang baru saja diciptakan.

''Kalian para pengabdi Negeri Atap Langit! Bersiaplah menghadapi kematian!''

(Oo-dwkz-oO)