-->

Nagabumi Eps 125: Bayi

Eps 125: Bayi

DALAM keadaan tak teratasi itu muncul seberkas cahaya putih yang langsung melibas Naga Kecil, sehingga aku pun terlepas dari pilihan sulit itu, dan dengan sekali kibas segenap titik air hujan meluncur ke arah sisik-sisik beracun dalam keadaan lebih keras dari batu. Segera terdengar letupan- letupan dari sisik yang terpecah meruapkan uap saat kutinggalkan segalanya ke bawah. Kulihat gulungan cahaya putih menggulung cahaya merah. Kuketahui bahwa cahaya merah itu tentu Naga Kecil, tetapi tak dapat sekadar kutebak gulungan cahaya putih itu, yang tentulah ilm unya tinggi sekali sehingga bahkan diriku tidak dapat melihat apa pun selain cahaya dan bukan pergerakan yang telah mengakibatkan adanya cahaya itu.

Aku hinggap di atas sebuah perahu sampan yang penuh dengan air karena hujan deras yang masih belum berhenti. Dengan papan yang terapung di dekatnya kusibakkan air di dalamnya sampai kosong. Ketika melewati gerumbul pohon pisang yang hanya terlihat pucuk-pucuknya, kupangkas beberapa dengan golok yang kebetulan tergeletak telanjang tanpa sarung pada sampan itu. Sebagian kujadikan alas bagi si bayi dan sebagian lagi untuk menutupinya dari air hujan yang menggila, sementara pertarungan di angkasa itu menyusup ke dalam air dan membentuk pergolakan luar biasa seolah terdapat dua naga raksasa bertarung di dalamnya.

AIR membuncah-buncah bagaikan terdapat kawah gunung yang siap meletus di dalamnya. Cahaya berkilatan dari dalamnya sebagai akibat pertarungan itu, yang meskipun berlangsung di dalam air tetapi cahayanya berkeredap dan berkilat-kilat ke angkasa. Padahal angkasa yang berlangit mendung masih penuh dengan kilat yang bersabung- sabungan diiringi guntur yang meledak-ledak bersambungan di sepanjang langit yang serba kelabu seperti itu. Permukaan air yang membuncah kadang membentuk garis buncahan yang panjang diikuti garis buncahan panjang lain saling kejar- mengejar di permukaan sungai, yang masih saja mengalir deras dan menyeret segalanya tanpa pandang bulu. Bersama dengan buncahan itu kilat berkeredap ke atas mencapai langit yang kadang melewati permukaan di bawah perahu-perahu penuh pengungsi, yang tentu saja membuat perahu-perahu itu terbalik dan menimbulkan bencana baru.

Suatu ketika garis membuncah-buncah tanda terdapatnya gulungan pertarungan di bawahnya itu seperti akan menabrak perahuku, kusambar bayi yang terbungkus daun pisang itu dan siap melejit, tetapi ketika mendekati perahu garis buncahan itu terpisah menjadi dua, masing-masing berlalu di kanan dan kiri perahu dan menyatu lagi setelahnya, menghasilkan suara-suara benturan dan tumbukan yang dahsyat dengan kilat berkeredapan merah dan putih, diiringi suara-suara raungan dan desis naga yang beracun membunuh ikan-ikan.

Ketika mereka agak menjauh, kuambil kesempatan menatap wajah bayi yang kugendong itu. Ternyata ia juga sedang memandangku. Ia tidak lagi menangis tetapi tampak masih ketakutan dan dalam waktu sesingkat itu telah membuatku merasa bahwa baginya mungkin aku orang yang paling dikenalnya sekarang ini. Suatu perasaan yang jarang kualami merayap ke dadaku. Apakah yang disadari bayi belum berusia setahun ini? Sadarkah ia betapa ibunya sudah pergi dan tahukah ia mengenai segala sesuatu yang terjadi? Hidup manusia saling bersilang mempertemukan nasib. Mengingat nasib bayi itu aku teringat nasibku sendiri. Air mataku titik menatap wajahnya yang tiba-tiba tersenyum. Jika aku telah mendapatkan kasih sayang berlimpah dari pasangan pendekar yang mengasuhku, apakah jaminannya bayi yang tidak mungkin kucari asal-usulnya ini juga akan mendapatkan kasih sayang seperti yang telah kudapatkan selama ini? Kulihat sekeliling, para pengungsi di atas perahu dan rakit melewati. Mereka semua masih harus berjuang agar tidak terbalik dalam arus deras ganas yang berusaha menyeret segalanya ini. Suara sungai yang mengalir deras mendesau bagaikan janji ancaman yang memang telah dinyatakannya. Nun di kejauhan terlihat cahaya merah telah semakin melemah digulung cahaya putih. Langit yang menggelap membuat cahaya-cahaya berkeredap itu berkilat makin terang. Perahuku terseret arus makin jauh dari tempat pertarungan keduanya. Siapakah sosok di balik cahaya putih yang telah menyelamatkan jiwaku itu? Aku teringat betapa di Jawadwipa dahulu aku pun masih berutang budi dan berutang ilmu, kepada seorang pendeta tua yang telah membukakan kunci- kunci ilmu silatku, sehingga bisa kulakukan penalaran demi pengembangan ilmu silat itu, yang tidak lagi sekadar menjadi olah gerakan, melainkan juga olah pemikiran mendalam.

Lamunanku yang singkat terbuyarkan oleh gelegak permukaan sungai yang dahsyat di kejauhan. Terdengar raungan serak kesakitan luar biasa yang seolah keluar dari mulut makhluk raksasa. Namun hanya terlihat cahaya merah yang membentuk naga berpijar sejenak, sebelum meredup, memudar, dan luruh, tidak pernah kelihatan lagi. Setelah itu seluruh permukaan sungai, tanpa kecuali, bagaikan dilapisi cahaya putih mengilap sejenak, sebelum meresap ke balik permukaan sungai itu.

''Naga Bawah Tanah...,'' desisku.

Naga Bawah Tanah yang mahasakti, yang tidak pernah memperlihatkan diri, yang sebetulnya sangat menyayangi Naga Kecil muridnya sendiri, telah menamatkan riwayat manusia bersisik dan lidahnya bercabang itu karena menolongku, ataukah karena kehadiran bayi itu. Sekarang aku mengerti, betapa kenyataan bahwa Naga Bawah Tanah menyelamatkan bayi dari perut ular, telah menentukan batas kehidupan bayi yang kelak bergelar Naga Kecil tersebut: Ajalnya akan tiba saat ia berusaha membunuh bayi lainnya. Barangkali Naga Kecil memang tidak berusaha membunuh bayi itu, melainkan sekadar usaha mengalihkan perhatian agar jantungku bisa ditariknya keluar tanpa sisa, tetapi agaknya bagi Naga Bawah Tanah itulah pertanda akhir kehidupan Naga Kecil sudah harus dipastikannya.

(Oo-dwkz-oO)

Angin berhembus pelan. Benarkah seluruh petaka ini terjadi karena kegalauan hati Naga Kecil?

AKU tidak ingin mempercayai kemustahilan seperti itu, tetapi entah kenapa gagasan semacam itu merasuki kepalaku. Betapapun hujan memang kemudian berubah menjadi gerim is sebelum akhirnya berhenti. Mega-mega yang bergumpal hitam dan bergulung-gulung mengerikan menyisih disapu angin. Langit menjadi bersih bagaikan terang cuaca sehabis hujan, tetapi sore memang telah berlalu dan hari menjelang malam.

Sejauh-jauh dan se luas-luasnya banjir, ada juga tempat surutnya. Ke sanalah agaknya perahuku menuju. Sejauh mata memandang memang air masih menutupi permukaan bumi, tetapi permukaan air ini sudah tidak tinggi lagi. Kulihat air kini hanya setinggi betis para pengungsi dan semakin lama semakin rendah dan semakin rendah lagi.

Perahuku terseret arus keluar jauh dari tepi sungai. Sebentar kemudian dasar perahu sampan itu sudah menyentuh tanah. Aku melompat turun dengan bayi dalam gendonganku.

Sepanjang jalan tanah becek dan berlumpur, hanya di ketinggian orang-orang membuat gubuk-gubuk darurat dari bambu dan atap rumbia seadanya. Aku pun berjalan menuju ke sana meski belum tahu pasti apa yang akan kulakukan. Gelap semakin membenam. Mayat tidak terurus masih tergeletak, terdampar, dan terlantar di sana-sini. Aku melangkah di antara batang pohon, ranting, dan segala macam benda yang terlihat sepintas kilas dalam keremangan. Guci, kundika, piring, dan gerabah segala macam peralatan rumahtangga, yang masih utuh maupun sudah pecah tersebar dalam keadaan terselimuti lumpur. Para pembawa keranjang di punggung, kutahu berusaha mengais-ngais keberuntungan dalam bencana seperti ini.

Benarkah begitu terbiasanya penduduk di sekitar Sungai Merah ini mengalami banjir? Meski banjir bandang kali ini tentunya dianggap luar biasa, karena rumah-rumah panggung yang dibuat dengan kesiapan menghadapi banjir pun terseret hanyut dalam keadaan hancur, tak kudengar ratap tangis dan raung kesedihan karena petaka. Kemudian, bayi yang kubawa menangis dan aku kebingungan. Aku berada di tengah-tengah para pengungsi yang berbahasa burung dan tidak sepatah kata pun kumengerti. Tangis bayi ini luar biasa, lebih keras dari suara tangis bayi yang lain.

Aku sungguh kebingungan. Ia tentu lapar. Apa yang harus kulakukan? Di antara para pengungsi, bagaikan tiba-tiba saja muncul seorang perempuan paro baya di hadapanku. Ia menceracau dengan bahasa burung sambil menggamit lenganku. Kuturuti saja ke mana langkahnya menuju. Betapapun aku merasa ia bermaksud baik, karena semenjak tadi ditunjuknya bayi itu, sembari memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut. Kukira ia menawarkan kepadaku agar bayi itu diberi minum.

Langkahnya berhenti di sebuah gubuk. Banyak lelaki membawa bayi di situ. Apa yang terjadi? Perempuan itu mendorong punggungku agar bergabung dengan sebuah kerumunan. Aku menyeruak, yang rupanya menimbulkan kemarahan orang-orang. Bahasa burung dan wajah amarah bertubi-tubi tertuju kepadaku, tetapi aku tetap menyeruak juga dan -- ah! Aku sangat terkejut. Kulihat lima perempuan muda berdada subur sedang berjajar menyusui bayi-bayi, setiap perempuan membawa satu orang bayi, dan setelah bayi yang disusuinya lelap tertidur segera digantikan bayi yang lain. Untuk itulah para lelaki yang membawa bayi datang ke sana. Mengantrekan bayinya agar disusui.

Aku tertegun, bayi di tanganku menangis keras sekali. Aku baru sadar betapa sangat tidak berpengalaman dengan urusan bayi seperti ini. Bahasa burung di sekitarku bersabung dengan tangis bay i, bukan hanya bayi di tanganku, tetapi juga hampir semua bayi di tempat itu. Aku merasa kecut, kecil hati, dan rendah diri dengan ketidak mampuanku menghadapi masalah ini, tetapi ingatan atas ibunya yang tidak berhasil kutolong itu membuatku tetap bertahan di sana. Aku menjadi bagian dari para suami yang kehilangan istrinya dalam banjir bandang ini, tetapi berhasil menyelamatkan anak bayinya, yang hanya bisa bertahan hidup jika tetap disusui, dan hanyalah perempuan yang kehilangan bay inya pula yang tiada bisa lebih tepat lagi untuk menolongnya.

Betapapun, perempuan yang kehilangan bayinya ternyata lebih sedikit daripada bayi-bay i yang kehilangan ibunya. Itulah yang membuat kami semua, para lelaki yang membawa bayi kini berdiri berdesak-desak, yang semestinya tentu antri tetapi tangis bayi itu masing-masing bagai mendesak penggendong yang satu mendesak-desak penggendong lainnya. Sementara kelima perempuan itu menyusui bayi-bayinya dengan wajah penuh kasih dan sayang di tengah kericuhan luar biasa dalam kegelapan sehabis bencana yang sungguh menimbulkan petaka tersebut.

APAKAH harus mengerahkan tenaga dalam untuk membuyarkan para lelaki penggendong bayi yang menyesaki gubuk darurat ini? Aku merasa malu pikiran seperti ini muncul dalam kepalaku. Pemecahan persoalan dunia awam ternyata jauh lebih pelik daripada seperti yang selalu dilakukan dalam dunia persilatan.

Bayi yang kugendong makin keras tangisnya, bagaikan bahasa perintah yang menuntutku berbuat sesuatu dengan segera. Aku semakin panik ketika dari kedua lubang hidungnya ternyata mengalir darah!

Aku melesat keluar, tidak bisa berpura-pura lagi menjadi orang awam. Kulihat sekeliling dan kulihat ke langit. Rumah- rumah darurat pengungsian ini terletak di sebuah ketinggian yang landai, sementara langit gelap gulita. Rupanya meski dengan kematian Naga Kecil cuaca menjadi cerah, setelah malam tiba langit mendung kembali, seperti tak juga cukup memberi penderitaan kepada para korban bencana yang masih selamat dan belum mati. Ini berarti aku tidak dapat melakukan penyembuhan dengan tenaga prana rembulan maupun prana pohon. Kulihat hutan yang gelap di kejauhan, apakah aku akan ke sana, ataukah melakukan penyembuhan dengan prana udara?

Darah dari hidung bayi itu mengalir. Kutahan kepanikanku, karena penyembuhan dengan tenaga prana memerlukan ketenangan dalam pemusatan perhatian. Di tengah perkampungan pengungsi yang riuh dengan cericit bahasa burung, ketenangan yang kubutuhkan tidak akan kudapatkan. Maka dengan pengerahan Naga Berlari di Atas Langit sekuat tenaga aku pun me lesat ke hutan yang gelap di perbukitan sambil membawa bayi itu. Saat melesat itulah sepintas lalu kulihat bayangan-bayangan berkelebat. Namun karena tidak tampak mengancamku, kubiarkan saja berlalu. Perhatianku tersita sepenuhnya kepada si bayi.

Tiba di hutan kudekati sebuah pohon besar. Dalam hatiku kuucapkan permintaan izin kepada pohon tersebut untuk menarik kelebihan prana darinya, melalui chakra tangan. Sementara tangan kiriku membopong bayi yang tidak lagi menangis tetapi kini lemas itu, telapak tanganku kuletakkan pada batang pohon tersebut. Kupusatkan perhatian kepada pusat telapak tanganku dan secara bersamaan kulakukan pernafasan prana. Kulakukan sampai sepuluh putaran dan kuucapkan terimakasih dalam hati kepada pohon itu karena telah menerima pemberian prana. Kurasakan getaran di seluruh tubuh, dan kualirkan dahulu se luruh tenaga prana ini ke seluruh tubuh sebelum mengalirkan ke tubuh si bayi melalui tangan kiriku. Aliran hangat merasuk melalui punggungnya. Demikianlah kulakukan beberapa kali, sampai darah dari hidungnya berhenti mengalir, dan dia mulai menangis. Lebih baik menangis pikirku, seperti menemukan makna baru dari tangis bayi, daripada lemas tanpa suara seperti tadi.

Hatiku lega. Bayi itu menangis keras dengan penuh daya. Tentu ia lapar dan ini berarti ia masih sehat sekali. Tampaknya kini aku harus kembali ke tempat pengungsian untuk mencari ibu susu bagi bayi yang belum berusia setahun ini. Namun alangkah terkejutnya aku, ketika aku menoleh ke arah tempat pengungsian itu, kulihat gubuk-gubuk darurat itu sedang terbakar. Terdengar jerit tangis dan ceracau burung dari kejauhan. Kulihat obor-obor masih dilemparkan untuk menghabiskan sama sekali gubuk-gubuk itu. Aku teringat sejumlah bayangan yang berkelebat tadi. Kuketahui bahwa sepanjang tepi Sungai Merah di daerah hilir te lah berkembang menjadi pusat-pusat pemberontakan setiap kali kekuasaan Wangsa Tang di Negeri Atap Langit melemah.

An Nam berarti daerah selatan yang didamaikan, tetapi didamaikan di sini tiada lebih dan tiada kurang adalah dijajah, meski dalam keterjajahannya tiada lebih dan tiada kurang orang-orang Viet mempelajari segala sesuatunya tentang peradaban dari Negeri Atap Langit, dengan hasil yang memang menjelaskan segalanya tentang hal itu. Bahasa burung mereka bagiku misa lnya mirip benar bunyinya dengan bahasa burung Negeri Atap Langit, meski aku yakin keduanya tentulah merupakan bahasa yang berbeda. Betapapun sejarah hubungan mereka adalah sejarah pertentangan, pemberontakan, dan perang. Setiap kali An Nam memang berhasil ditaklukkan, tetapi set iap kali pula muncul pemberontakan baru, kadang besar, kadang kecil, tetapi membuat Daerah Perlindungan An Nam belum dapat membangun wilayah dalam pengertian sesungguhnya. Orang- orang Viet selalu merasa, ketika mereka berontak sebetulnya mereka melanjutkan semangat Trung Bersaudara, dua perempuan pemimpin yang mengangkat senjata terhadap kekuasaan Wangsa Han dari Negeri Atap Langit jauh hari di tahun 43. Saat itu wilayah ini masih diberi nama Giao-chi oleh Negeri Atap Langit.

Sebelum wilayah ini ditaklukkan, peradaban mereka sudah tinggi, bahkan di wilayah Suvarnadvipa sejak ratusan tahun silam telah dikenal hasil-hasil peradaban Dong-son seperti genderang besar dari perunggu. Kuingat ayahku bercerita bahwa genderang semacam itu berasal dari kerajaan Au Lac di wilayah ini sekitar 800 tahun lalu. Sudah jelas betapa saat itu leluhur orang-orang Viet tersebut merupakan bangsa yang berbudaya. Tidak seperti sekarang, yang dianggap sebagai bangsa yang suka berperang. Ternyata sejarah mereka sendiri memang memberikan a lasan yang masuk akal. Namun apakah yang membakar gubuk-gubuk itu memang pemberontak, ataukah justru utusan dari utara yang ditugaskan memadamkan pemberontakan itu? Tidak selalu pasukan besar yang dikirimkan dari Negeri Atap Langit, melainkan orang- orang pilihan dengan tugas istimewa untuk membunuh para pemimpin pemberontak.

Dari cara berkelebatnya bayangan yang kusaksikan tadi, tidak dapat kuketahui mereka berasal dari mana, tetapi jelas betapa ilmu silat mereka sangat tinggi.

Mereka bersembunyi di balik bayang-bayang malam, berkelebat dan berkelebat mendahului angin dan gerim is yang masih sedang mendatang dari pegunungan, bahkan sekarang pun belum tiba di sana, belum melampaui tempatku sekarang berdiri, meski dapat kudengar suara gerim is bagaikan naga mendesis di balik pegunungan, tentunya bagaikan tirai kelabu dalam kekelaman yang menyapu ke arahku. Jadi tentu saja ilmu silat mereka sangat tinggi. Untuk apakah mereka yang berilmu sangat tinggi membakar gubuk- gubuk darurat orang-orang kecil yang miskin, lemah, dan tak berdaya? Tiadakah mereka dapat memperkirakan betapa akan semakin berat penderitaan orang-orang tersebut dalam kemalangan begitu rupa? Orang-orang kecil, hanya menjadi korban pertikaian orang-orang yang merasa dirinya besar. Tidakkah seorang raja boleh kita anggap merasa dirinya besar, jika mengambil keputusan untuk mengirimkan balatentara dan menjajah suatu negeri yang bukan bangsanya, dan tidakkah juga kita boleh menganggap seseorang merasa dirinya cukup penting untuk memimpin pemberontakan, melawan suatu kekuatan tempur luar biasa yang lebih besar kemungkinannya tak bisa dikalahkan dan hanya memberikan kematian besar- besaran selain harga diri dalam ketertumpasan yang mengenaskan?

Namun kusadari pula bahwa Negeri Atap Langit harus mempertahankan jalur perdagangan hasil bumi maupun barang-barang mereka ke selatan, yang menghubungkan mereka dengan berbagai kota pelabuhan di Teluk Tongking. Dari sini, dengan perantaraan kapal-kapal Sriv ijaya, mereka masih bisa melakukan hubungan dagang dengan kota-kota pelabuhan di Jambhudvipa. Maka setelah menyerang, menundukkan, dan diberontak berkali-kali semenjak setidaknya seribu tahun lalu, Negeri Atap Langit takbisa berbuat lain selain menjadikan wilayah orang-orang Viet ini sebagai bagian dari wilayah mereka, seolah-olah menjadi bagian dari bangsa mereka, apapun wangsanya, dan sungguh mereka berhasil dalam ratusan tahun membuat orang-orang Viet menjadikan kebudayaan Negeri Atap Langit sebagai kebudayaannya sendiri, tentu dengan cara-caranya sendiri. Dalam pengertian cara-cara sendiri inilah sebetulnya Daerah Perlindungan An Nam takpernah bisa ditundukkan sepenuhnya. Api berkobar menerangi langit, dan jerit tangis masih membubung ke angkasa dari arah gubuk-gubuk darurat itu. Kupandang sejenak bayi di tangan kiriku. Mungkinkah aku bertarung menghadapi para pembakar gubuk yang tidak mengenal belas kasihan tanpa membahayakan bayi ini?

Kudengar pekik kematian orang-orang yang dibantai. Aku melesat secepat kilat tanpa berpikir lagi.

(Oo-dwkz-oO)