Nagabumi Eps 123: Duabelas Pengemis

Eps 123: Duabelas Pengemis

Hmm. Pisau belati di leher. Apa yang bisa dilakukan seorang pendekar? Banyak. Pisau belati di leher menjadi bahaya besar hanya jika dipegang oleh seorang pendekar lain yang seimbang kemampuan ilmu silatnya. Jika jauh lebih rendah, apalagi dipegang seorang awam yang tidak mengenal ilmu meringankan tubuh maupun tenaga dalam, maka ancaman seperti itu tidak ada artinya sama sekali. Tentang pisau belati di leherku ini, dari getaran tangan maupun hembusan nafas pemegangnya, tanpa menoleh pun aku tahu betapa mudahnya berkelebat lebih cepat dari kilat, dan menghilang, ataupun melumpuhkan pemegang pisau belati itu, apakah itu sekadar merebut kembali pisau belati, menotok jalan darah, ataukah mencabut nyawanya.

Mengikuti hati nurani, aku ingin bergerak secepat kilat, tetapi mengikuti kerja otak, kuingatkan diriku sendiri betapa aku sedang menyamar. Jika aku menanggapi todongan pisau ini sebagaimana layaknya orang persilatan, tindakan itu akan segera mengundang orang-orang persilatan yang lain, dan seperti terbukti ketika aku bersama Amrita lari dengan ilmu meringankan tubuh saja, telah mengundang tantangan Pendekar Cahaya Senja. Setelah beberapa kali merasa penyamaran gagal karena takbisa tetap tinggal sebagai awam, sudah saatnya aku menguji diriku sendiri sampai seberapa jauh bisa bertahan.

Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Semua orang perhatiannya tersita oleh pertunjukan Naga Kecil. Tidak seorang pun mengetahui bagaimana pisau belati itu, setelah mengancam leherku, segera pindah menusuk pinggang, bagai memberi tahu betapa bisa dilakukannya apapun kepadaku dengan pisau itu. Sebuah suara berbisik dengan nada keras penuh ancaman di telingaku. Aku taktahu bahasanya, apakah itu bahasa orang-orang Viet ataukah bahasa Negeri Atap Langit yang konon bermacam-macam pula bahasanya itu. Namun bahasa ujung pisau belati yang menusuk pinggangku itu tentulah dimengerti semua orang: bahwa aku harus menuruti perintahnya. Namun apakah perintahnya itu? Kumaki diriku sendiri karena berbakat sangat buruk dalam perkara bahasa.

Setidaknya aku tidak melawan ketika terasa dorongan sebuah tangan di punggungku. Kuturuti saja ke mana pemegang pisau ini akan membawaku. Untunglah api biru dari mulut Naga Kecil itu masih juga menyembur-nyembur ke atas setinggi pohon kelapa, dan mata setiap orang masih terarah ke sana tanpa terlalu peduli keadaan sekelilingnya, karena betapapun aku berjalan ke arah berlawanan dengan banyak orang yang masih saja datang ingin menyaksikan pertunjukan itu. Kukatakan untung, karena aku merasa dengan diculik seperti ini aku akan langsung mendapat keterangan yang lebih jelas, daripada menduga-duga tanpa kepastian dari kedai ke kedai dalam perjalanan dengan kemiskinan bahasaku saat ini. Setidaknya terdapat sesuatu yang berurusan langsung denganku, karena mengembara sendirian di tanah asing dalam kesendirian bukanlah kehidupan yang terlalu mudah.

Aku terus didorong sampai tiba di baris terbelakang, kemudian dikeluarkan dari kerumunan. Suasana perayaan masih sangat ramai, tetapi turun hujan rintik-rintik dan angin berhembus kencang. Suasana yang sungguh membuat diriku terlalu mudah untuk melepaskan diri. Namun kuturuti saja mereka, dan dengan cepat di antara banyak orang yang lalu lalang, segera kuketahui kembali titik-titik tempat para pengemis itu mengikutiku. Terdapat sebelas titik yang mengikuti dari jauh di segala penjuru. Berarti yang membawaku sekarang ini adalah pengemis yang keduabelas. Kuingat anak-anak kecil tadi, jelas tidak mungkin diandalkan dalam dunia persilatan yang penuh pertumpahan darah. Maka siapakah mereka?

Hujan rintik-rintik yang disapu angin mengempas ke wajahku. Orang-orang di jalan bergegas, jika tidak menuju lapangan yang semakin ramai, tentu mencari kehangatan di dalam rumah-rumah berdinding bata. Nanti akan kuketahui, bahwa hari ini bukanlah hari pertama pertunjukan Naga Kecil. Setelah beberapa hari menyaksikan keajaiban, banyak orang kembali kepada kenyataan hidup sehari-hari. Hanya mereka yang baru tiba dari kapal, dari hutan, dari luar kota, merasa perlu menyaksikan pertunjukan manusia bersisik dengan lidah bercabang yang kemampuannya bermacam-macam itu.

Aku masih membawa tongkat berisi buntalan kain itu. Sosokku sungguh tidak menonjol. Sebagai apakah mereka mengenal diriku sehingga sejak keluar dari kedai itu aku diawas i, yang berarti telah mengikuti aku sebelumnya, dan lantas membuntutiku terus menerus sampai ke lapangan dan menahanku sekarang ini? Begitu burukkah penyamaranku dan begitu teledorkah diriku, sehingga terlalu mudah bahkan bagi orang-orang yang tidak mengenalku itu menemukan suatu alasan untuk berurusan denganku? Maka kubiarkan diriku seolah-olah menyerah sebagai tangkapan mereka, berharap mendapatkan suatu kejelasan di antara hari-hariku yang penuh keterasingan dalam pengembaraan ini.

TERINGAT Naga Kecil yang kuburu dan harus kutinggalkan lagi. Benarkah dengan apa yang disebut sebagai kekuatan batinnya ia tidak mengetahui sesuatu pun dari peristiwa ini, dan sama sekali tidak terlibat dengan segala sesuatu yang telah menimpa diriku? Aku tak pernah tahu bahwa jawaban untuk itu tidak bisa kudapatkan dengan segera. Kuperhatikan bahwa sebelas pengemis itu masih mengikutiku, tetapi tidak akan bisa bersembunyi lagi karena semakin menjauhi pusat keramaian, rumah-rumah pun semakin jarang. Kemudian bahkan di sebuah persimpangan mereka semua dengan gesit telah berada di belakangku. Aku memutuskan untuk terus berpura-pura menyerah karena menjadi penasaran, ke manakah kiranya semua ini akan berakhir?

Kudengar bahasa burung sejenak, kemudian kuketahui sesuatu bergerak memukul kepalaku. Sungguh aku bisa bergerak menghindar dan langsung membalas, bahkan dengan cepat melumpuhkan mereka berdua belas, tetapi justru kubiarkan benda yang ternyata tongkat pengemis itu menimpa kepalaku. Tentu setelah kulapisi batok kepalaku dengan tenaga dalam yang berlaku sebagai perisa i, sehingga pukulan tongkat pengemis itu tidak berpengaruh sama sekali.

Aku berpura-pura pingsan. Mereka memang bekerja cepat sekali, karena sebelum aku jatuh mereka telah menangkap dan dengan sigap telah membungkusku dengan tikar. Mereka angkat gulungan tikar berisi diriku. Kurasakan diriku dibawa berlari masuk kembali menuju pusat keramaian. Dua belas pengemis itu terus bercericit seperti burung. Tampaknya mereka saling memberi perintah. Rasanya aku diangkat di atas bahu-bahu mereka yang sudah dewasa, sementara yang masih kecil berlari memimpin di depan. Menyeruak di antara orang-orang yang tampaknya makin banyak saja hilir mudik, berpapasan maupun melewati pengemis-pengemis ini, yang berani kupastikan bukanlah pengemis paria dalam pengertian yang biasa diberikan kepadanya.

Di manakah aku? Dari percakapan burung yang semenjak tadi kudengar, tertangkap oleh telingaku berbagai bunyi yang lain, bahkan ada kalanya kukenal, seperti Khmer dan Cam lagi, atau juga Sansekerta. Aku merasa rombongan dua belas pengemis ini berjalan berkelak-kelok. Namun kemudian kudengar suara kaki-kaki menginjak papan yang biasa dipasang di tanah becek, agar dapat dilalui para petinggi tanpa kakinya harus menjadi kotor. Kemudian kudengar pula suara air berkecipak dan dinding-dinding perahu beradu. Kukira aku berada di tepi sungai di dekat pelabuhan, dan mengingat suara-suara di sekelilingku, setidaknya aku berada di sebuah pemukiman di sekitar pelabuhan, mungkin pula kampung nelayan, meski mengingat terdengarnya berbagai bahasa, aku cenderung menduganya sebagai pemukiman orang-orang asing.

Dari langkah kaki, kecepatan berjalan, maupun kemiringan tubuhku yang mereka gulung dengan tikar pandan sahaja ini, kurasakan aku diangkat menaiki tangga pada sebuah rumah panggung. Percakapan burung merendah, seperti menghindar untuk didengar orang lain. Aku mendengar orang-orang bercakap di rumah lain, di jalanan, bahkan suara-suara seperti teriakan para penjaja pun lalu lalang di sana. Tentu saja kurangnya pengetahuanku atas bahasa setempat ini membuatku mati kutu. Dulu karena selalu berada di dekat Amrita, dengan cepat aku dapat berbicara bahasa Khmer, tetapi tanpa Amrita, meski m inat belajarku besar, kemajuanku dalam penguasaan bahasa sangatlah lamban.

Kudengar suara pintu kayu dibuka.

LANTAS aku digotong masuk ruangan. Di dalam ruangan kurasakan udara lembab karena penuh dengan manusia. Untunglah udara musim dingin menembus kayu, bahkan hujan rintik-rintik tadi berubah menjadi hujan. Pikiranku terpaku ke lapangan. Bubarkah pertunjukan Naga Kecil dengan api biru setinggi pohon kelapa dari mulutnya itu? Atau tidakkah Naga Kecil itu sendiri yang mendatangkan hujan agar dirinya bisa menghilang? Terbenturnya diriku kepada masalah bahasa membuatku bagaikan hidup di lorong yang sempit. Kusadari kini betapa dunia persilatan bukanlah segalanya untuk menunjukkan diri kita sebagai manusia sempurna. Dunia orang awam penuh dengan pengetahuan yang seperti silat juga tersusun menjadi ilmu yang menyempurnakan kemanusiaan. Di dalam gulungan tikar itu terlintas pada pikiranku tentang jalan kesempurnaan. Mungkinkah kesempurnaan itu dicapai manusia dan apakah kiranya yang menjadi ukuran? Mungkinkah bisa didapatkan suatu ukuran untuk segala sesuatu sehingga tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat diukur dan kiranya seperti apakah ukuran itu?

Lahir tanpa kukehendaki, apakah ada sesuatu yang memang harus kulakukan dalam hidup ini? Apa yang harus kulakukan dalam hidup ini? Kuingat sepotong ajaran dari kitab Siksamuccaya karya Santideva:

ia mempunyai tugas dan kewajiban terhadap banyak makhluk hidup

karena itu seyogyanya tidak mengorbankan diri dengan sia-sia

untuk yang tiada perlu ia harus mampu

memadukan kebijaksanaan dengan belas kasihan

Dalam dunia persilatan, puncak kesempurnaan dicapai justru ketika mengalami kematian dalam kekalahan. Bagaimanakah hal ini bisa dijelaskan? Aku teringat riwayat hidup Naropa yang pernah diceritakan seorang guru aliran Tantra: Setelah Naropa memukul kemaluannya dengan batu, Tilopa menanyakan kepadanya tentang apa yang dirasakannya sekarang. Naropa menjawab bahwa ia merasa sangat kesakitan. Maka Tilopa mengingatkan, Naropa harus menyakiti dirinya sendiri untuk mencapai keyakinan betapa pada hakikatnya kesengsaraan dan kenikmatan itu terlihat sama di dalam cermin batinnya, karena sesungguhnya hati merupakan tempat persemayaman nilai dari Dakini. Setelah mengungkapkan rahasia ini, Tilopa menyembuhkan Naropa sekadar agar ia dapat kencing. Ah! Mungkinkah jalan yang ditempuh seorang pendekar lebih berat dari seorang pendeta, karena setelah ditewaskan dalam pertarungan tentu takdapat dihidupkan kembali? Namun telah lama kurenungkan ujaran Santideva itu: Seyogyanya tidak mengorbankan diri dengan sia-sia! Saat itu gulungan tikar yang berisi tubuhku diletakkan di lantai kayu. Dari apa yang kurasakan, tampaknya aku diletakkan di pojok seperti barang. Bahkan kemudian diduduki! Kurasa dua belas pengemis itu semuanya masuk ke dalam rumahpanggung yang luas tersebut, dan setidaknya yang masih kecil menduduki aku. Di dalam rumah yang terasa lembab itu kudengar suara-suara orang berteriak. Kemudian kudengar juga barang-barang diletakkan. Kupejamkan mataku dan kusisir ruangan itu dengan ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Lubang. Kudengar gesekan tikar lain pada lantai dan kudengar hembusan napas dalam tikar-tikar itu!

Aku berusaha menduga sesuatu dan tahu betapa penyamaranku sungguh sedang diuji. Aku merasa bodoh sekali karena Naga Kecil semula sudah begitu dekat, sehingga keberadaan Amrita dapat segera diketahui kejelasannya. Apakah aku sebaiknya melepaskan diri sebagaimana layaknya seorang pendekar? Namun aku tidak sedang berperan sebagai pendekar sekarang ini, me lainkan menyamar sebagai pengembara asing, yang dengan segala kekumalan dan kedekilanku mungkin memenuhi syarat sebagai paria tanpa kasta, seorang astacandala yang tidak menjadi bagian dari masyarakatnya. Apakah sebaiknya merelakan diri terseret arus seperti ini, ataukah menguak takdir dan menentukan nasib sendiri? Masalahnya, jika pun aku telah melihat Naga Kecil tadi, sebetulnya aku masih belum mengerti cara untuk mengetahui keberadaan Amrita. Jika tidak bertanya langsung kepadanya, dan itu tidaklah mungkin jika mengingat lidahnya yang bercabang dua, maka aku dapat dari jauh mengikuti segenap gerak-geriknya.

Namun jelas para pengemis ini telah mengalihkan perhatianku. Sedikit demi sedikit kedudukanku bergeser diseret para pengemis tersebut. Semakin lama kudengar suara teriakan itu semakin keras, serba singkat, seperti suatu kegiatan sedang berlangsung. Aku seperti mengenal sesuatu, memang tidak mengenali bahasanya, tetapi tergambar suasana sejenis, yakni kuketahui dari pasar ikan.

TIDAK jauh dari pasar ikan itu akan terdapat tempat pelelangan ikan.

Para nelayan dari laut akan memasuki muara dan menyusuri sungai ke pasar ikan terdekat. Di sanalah ikan-ikan tangkapan mereka akan dilelang dan cara melelangnya mirip dengan nada-nada yang kudengar sekarang. Angka bersahut angka sampai berhenti pada angka tertinggi.

Namun apakah yang sedang dilelang sekarang? Hatiku berdebar, antara khawatir, marah, tetapi juga merasa geli dengan arus kehidupan yang menghanyutkan aku. Benarkah aku berada di pasar budak? Kuingat peraturan tentang perbudakan dalam Arthasastra:

bukan pelanggaran bagi mleccha untuk menjual keturunan

atau memelihara sebagai janji

Apakah yang telah terjadi padaku? Belum selesai berpikir, tikar yang membungkus diriku telah diseret ke dekat tempat terdengarnya teriakan-teriakan itu. Kemudian aku terguling ketika tikar itu dibuka dan ditarik, yang membuat aku terguling dan terputar-putar.

Seketika aku bagaikan baru saja lahir kembali ke dunia, tetapi ke sebuah dunia yang sama sekali tidak menyenangkan. Dalam keadaan terkapar, sepasang lengan perkasa memegang bahu dan mengangkat tubuhku bagai mengangkat selembar kain sahaja. Aku diangkat dan diletakkan seperti barang di atas semacam panggung kecil. Orang-orang tinggi besar terlihat di sekelilingku, menyoren pedang, membawa tombak, dan juga memegang cambuk.

Tampaknya mereka punggawa Daerah Perlindungan An Nam ini. Seseorang yang kukira juru taksir, mendekati aku, memegang-megang lengan, bahu, memukul pantat dan menusuk-nusuk perut serta pinggangku dengan kayu. Lantas sambil menutup hidung dengan tangan kiri, tangan kanannnya membuka mulutku, mengintip mulutku sambil membungkuk, lantas menyingsingkan bibirku dengan jari untuk memeriksa gigi. Seusai itu ia menggosokkan jari-jari tangan kanan ke bajunya yang tebal dan meludah ke lantai. Ludahnya merah karena mengunyah pinang.

Meski tidak mengerti bahasanya, kutahu ia menyebut angka, juga jari-jarinya menunjuk suatu angka. Dadaku berdesir, sedemikiankah beratnya sebuah penyamaran untuk mendapatkan keterangan, sehingga harga diriku pun, meski dalam peran penyamaran, harus kuturunkan begitu rupa? Jika aku tidak mampu menertawakan diri sendiri maka penyamaranku akan gagal. Maka kutarik nafas panjang- panjang dan kulihat sekeliling dengan tenang, tetapi jangan terlalu tenang, karena seperti yang telah kukatakan, selain menyamar dari pandangan awam, seperti diriku adalah bagian dari mereka, aku harus juga menyamar dari pandangan orang- orang rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan, karena sekali terlihat aku adalah bagian dari dunia mereka, sebuah tantangan yang takbisa dihindari akan segera berdatangan. Sedangkan melayani tantangan bertarung, betapapun adalah terbukanya penyamaranku.

Jadi harus kuanggap penyamaranku berhasil. Duabelas pengemis itu rupa-rupanya menatap tajam bukan karena mengetahui betapa diriku datang dari dunia persilatan, melainkan karena dengan suatu cara menduga aku adalah orang asing, dan karena aku rupa-rupanya memang tampak sebagai paria tanpa kasta, maka terpikir untuk menangkap dan menjualku sebagai budak demi penghasilan mereka! Kalau aku bukanlah keluarga mereka, kesamaan rendahnya derajatku membuat mereka berhak menjual diriku sebagai budak dalam pelelangan. Kenyataan bahwa aku orang asing telah membuatku berada di luar kasta, yang boleh ditafsirkan siapapun sebagai tanpa kasta, dan karena itu bisa dijual sebagai budak lata.

Sementara aku sedang ditawarkan, kucermati ruangan yang rupanya hanya menjadi tempat berlangsungnya jual beli. Di luar masih banyak lagi yang akan masuk membawa hasil tangkapan untuk dijual.

Setelah terbeli lewat pelelangan, maka budak itu segera diturunkan melalui pintu lain, dan dibawa pembelinya. Jika pembelinya berbelanja lebih dari satu budak, mereka dikumpulkan di bawah dengan dijaga pengawal bersenjata. Rupa-rupanya ini hari pasar dan jumlah budak yang dijual cukup banyak, sehingga ruangan dalam pun penuh. Di luar masih banyak yang menunggu giliran masuk. Termasuk mereka yang menjual dirinya sendiri.

Harapan akan mendapat makan setiap hari agaknya menjadikan penjualan diri sebagai budak menjadi pencarian nafkah yang sahih.

Aku telah se lesai dijual. Pembeliku yang tampak makmur membayarkan sejumlah uang kepada para pengemis itu, yang sepintas lalu kulihat berebutan. Kulihat pembeliku itu juga membayar sejumlah ongkos kepada seorang punggawa. Mungkin atas jasa pelelangan itu. Lantas aku didorong turun dari panggung sampai hampir jatuh. Seseorang tiba-tiba menyabetkan cambuk kulit ular, yang dengan segera melibat leherku dengan ketat. Aku diam saja ketika diseret seperti ternak menuruni tangga rumah panggung.

Di luar, hujan sudah menderas. Aku digabungkan dengan budak-budak lain yang dibeli oleh orang yang sama. Kami tetap dibiarkan di sana ketika hujan semakin deras dan membuat kami semua basah kuyup. Tidak seorang pun berusaha melarikan diri.

HUJAN turun membentuk tirai yang membuatku tidak bisa melihat apa pun kecuali kekelabuan yang rata, begitu rata, dan amat sangat rata, meski masih dapat kulihat samar-samar para budak yang baru saja dibeli itu menghayati nasibnya. Mereka tidak diikat kaki dan tangannya, tetapi mereka tidak bergerak dalam hujan deras pada musim dingin ini. Kepala mereka tertunduk, tubuh mereka menggigil, tetapi nasib seorang budak dalam hal ia berhasil menjual dirinya sendiri dianggap lebih daripada paria tanpa kasta, dari tingkatan terendah pula, yang bisa mati kelaparan hanya karena tidak mendapat makanan. Sebagai budak yang dibeli, bukan tawanan perang atau semacam itu, majikannya akan merasa perlu merawatnya dengan baik, jika ingin budaknya berguna. Diberi makan, minum, bahkan istirahat yang cukup, sudahlah pasti, karena hanya budak yang sehat dan bertenaga besar akan sangat berguna. Tanpa daya tenaga, seorang budak hanyalah beban yang bisa dibuang. Apabila ia sakit, apalagi menular, kadang-kadang bahkan dibunuh, karena majikannya itulah yang bertanggung jawab jika penyakit menular menyebar dan menjadi wabah mematikan.

Demikianlah budak-budak para majikan kaya mendapatkan segalanya, kecuali kemerdekaan. Namun kemerdekaan bukanlah gagasan yang menarik dalam dunia yang dipenuhi oleh kodrat, atau nasib yang ditentukan dewa-dewa di langit. Kemerdekaan tidak dianggap mungkin didapatkan di dunia, kecuali manusia berjuang untuk mencapai pencerahan, seperti yang telah dicapai Siddharttha ketika meraih bodhi. Ia sering merumuskan dirinya sebagai tathagata, orang yang menemukan dan menyebarkan jalan menuju nibbana atau nirvana. Sejauh kudengar dari berbagai perguruan filsafat yang kulewati sepanjang pengembaraanku, berlangsung perdebatan tentang kerincian pencerahan tersebut. Salah satu alasan yang membuat perdebatan terjadi, karena ujaran Sang Buddha bukanlah sekadar ajaran, melainkan jalan, dan muncul banyak pendapat tentang apa yang dimaksud jalan dan akan menuju ke mana. Apa pun isi perdebatan itu, kurasa mereka yang tubuh dan jiwanya diperbudak tidak akan mencapai apa yang disebut pencerahan tersebut, karena menurut diriku pencerahan tidak mungkin tercapai tanpa kemerdekaan, dan budak-budak di bawah pohon yang terguyur hujan ini tidak memililki kemerdekaan.

Kupandang budak-budak lelaki maupun perempuan yang kepalanya tertunduk. Di balik tirai hujan sosok-sosok mereka bagaikan patung. Kudengar budak-budak bertenaga besar memang sedang banyak dicari, terutama untuk mengangkut barang-barang dagangan ke tempat tujuan yang jauh. Jalur perdagangan laut dari Negeri Atap Langit ke Jambhudvipa dan sebaliknya yang dikuasai Sriv ijaya, membuat para pedagang terpaksa menempuh jalan darat yang sulit dan berbahaya jika tidak ingin diperas di tengah lautan. Sikap bermusuhan Wangsa Syailendra dengan serangan-serangannya ke sepanjang pantai dari Panduranga, Kautara, Indrapura, sampai ke Tongking mendorong para pedagang yang tabah dan bernyali memilih untuk menyeberangi gunung terjal dan jurang yang curam dalam lebatnya rimba belantara. Meskipun jalur laut masih merupakan jalan termurah dan tercepat, dan karena itu menguntungkan, masih ada saja yang berusaha mencari jalan baru.

Pada tempat-tempat tertentu, sulitnya jalan membuat gerobak pengangkut barang tidak mungkin melaluinya, sehingga hanya para pengawal berkuda dan budak-budak pembawa barang yang dapat terus berjalan. Maka dengan demikian budak-budak pengangkut barang semakin dibutuhkan. Apakah aku juga akan dibawa menempuh jalur itu, dan artinya meninggalkan Amrita yang masih diculik Naga Kecil? Aku menggigil. Dingin udara terasa luar biasa bagiku karena Jawadwipa hanya memiliki dua musim, penghujan dan kemarau, sementara di Sungai Merah ini terdapat pula musim dingin, yang membuat semuanya menjadi tiga musim.

Dari dalam rumah panggung masih terus bermunculan budak-budak yang lehernya dilibas dan diseret cambuk. Ada yang dibeli oleh pembeli yang sama dengan orang yang membeliku, ada yang dibeli orang lain. Ada yang membeli begitu banyak budak dan menggiringnya dalam hujan bagai kumpulan ternak, ada yang membeli satu saja, yang membuntutinya berhujan-hujan hanya berpayung daun pisang. Mereka yang dibeli oleh majikan yang sama denganku, semakin banyak memenuhi tempatku, dan semuanya adalah lelaki. Orang-orang yang lalu lalang semuanya berpayung daun pisang, membentuk bayang-bayang hijau yang menembus kekelabuan dalam pekatnya hujan.

Apakah yang harus kulakukan? Jika kuserahkan nasibku kepada cabang jalan cerita ini, bagaimanakah aku bisa menemukan Amrita?

(Oo-dwkz-oO)