Nagabumi Eps 120: Ruang Tulisan, Waktu Tulisan

Eps 120: Ruang Tulisan, Waktu Tulisan

PEMBACA yang Budiman, sementara Pembaca mengikuti kisah perjalananku di Kambuja, aku mengalami kejadian yang membuat diriku berada dalam kedudukan yang sulit, karena seseorang telah menyandera Nawa agar kuserahkan riwayat hidup yang sedang kutulis tersebut. Adapun kesulitan itu meliputi dua matra: Pertama, bahwa jika kuserahkan demi Nawa, dan bagiku keselamatan seorang anak jauh lebih penting dari apa pun juga, karena anak adalah masa depan, maka besar kemungkinan naskah tersebut bahkan tak dapat kubaca kembali, padahal aku menuliskannya demi sebuah penyelidikan, mengapa diriku disuruh bunuh oleh negara; kedua, dengan melibatkan diri dalam kejadian itu, sambungan penulisanku tidak jelas kapan bisa dilanjutkan, padahal aku tidak dapat menulis dan membebaskan Nawa dalam waktu bersamaan. Apa akal?

Dalam waktu yang sempit, aku mendapat jalan keluar yang hanya dapat berhasil dengan bantuan Pembaca, yang akan berbaik budi tetap mengikuti lanjutan cerita tersebut meski mengetahui betapa aku belum sempat menuliskannya! Bukankah penulisanku terhenti ketika kuketahui sesosok bayangan berkelebat, dan sosok yang lain mendadak muncul sambil menempelkan pedang di leher Nawa? Memang, aku dapat mengharapkan bahwa guratan demi guratan aksara yang sedang kutulis itu diandaikan saja sebagai lanjutan cerita yang berlangsung sampai aku keluar dari wilayah Campa. Namun seberapa banyaklah yang dapat dituliskan oleh sebuah pengutik di atas lembaran lontar bukan? Jadi, maaf, seribu kali mohon maaf atas kebodohanku dalam penulisan, dan terima kasih sebesar-besarnya atas pengertiannya, bahwa peristiwa yang berlangsung sesudahnya, seperti pertarunganku melawan Amrita dan seterusnya, tentu belum dituliskan selengkapnya saat aku terpaksa menghentikannya ketika memergoki bayangan yang berkelebat dalam kegelapan tersebut. Mohon maklum dan mohon maaf!

Masalahnya, jika aku tidak dapat mengambil jarak dengan masa kiniku, tidak dapat kujamin aku akan segera kembali ke masa lalu dan menuliskannya; sedangkan jika penulisan masa laluku itu terbengkalai dan akhirnya terlupakan sama sekali, aku pun tidak dapat mencapai kejelasan pada masa kiniku. Maka aku harus segera menyelesaikan pengembalian ingatan segenap masa laluku itu, agar tidak tenggelam dalam kebingungan seperti sekarang.

Kini persoalan pelik lain harus kupecahkan dalam waktu singkat, sehubungan dengan pentingnya keselamatan Nawa. Betapa besar dosa dan rasa bersalahku jika seorang anak harus menjadi korban dalam masalahku yang sudah memasuki usia 101 tahun. Sangatlah tidak layak seorang anak terkorbankan untuk seseorang yang setiap saat berkemungkinan mati.

Persoalannya, apakah sosok yang berkelebat dalam kegelapan itu datang bersama dengan sosok yang memegang Nawa? Jika mereka datang bersama, dan memang bekerjasama, tentu harus kuperhitungkan berbeda dengan kenyataan jika mereka tidak saling mengenal. Paling sulit adalah memperhitungkan, jika mereka mungkin tidak saling mengenal, tetapi bisa saja kepentingannya sama; ataukah ternyata tidak sama. Jika yang menyandera Nawa telah menyatakan kepentingannya, maka apakah kiranya maksud dan tujuan sosok yang langkahnya begitu ringan, nyaris takterdengar sama sekali, yang jelas tidak bermaksud memperlihatkan diri?

"Aaaakkhhh!"

Nawa menjerit, pedang itu telah menggores kulit lehernya. Mataku masih bisa melihat garis hitam kental dalam kegelapan, tanda darah keluar dari goresan luka.

"Semua naskah ada di pondok," kataku, "silakan ambil semua, tetapi tinggalkan Nawa di s ini!"

Kutatap dengan pandangan menembus kegelapan. Agaknya ia membebatkan kain hitam di wajahnya, sehingga hanya tampak matanya. Pantaslah takbisa kujejaki wajahnya tadi, karena kain hitam menyamarkannya dengan kegelapan. Kulihat Nawa yang juga melihat ke arahku. Apakah yang diharapkannya dari seorang kakek tua yang setiap hari dilihatnya hanya menulis saja?

Langkah-langkah halus dari bayangan yang berkelebat tadi telah sampai ke belakang pondok. Apakah ia bermaksud mencuri tumpukan lontar yang telah kutulisi selama setahun ini? Aku tidak terlalu yakin bahwa seseorang tahu apa yang kutuliskan selama ini, kecuali pengusaha lembaran lontar ini, yang pertanyaannya terpaksa kujawab, bahwa aku sedang menulis kenang-kenanganku. Kurasa apapun yang kutulis tidak penting bagi pengusaha lembaran lontar itu, sehingga kuandaikan ia tidak pernah memperbincangkannya, dan tentu tidak juga Nawa, yang baginya diriku hanyalah kakek tua. Namun setidaknya terdapat dua perkara yang memungkinkan seseorang mencari dan peduli dengan keberadaan maupun apa yang kulakukan di sini. Pertama, bahwa aku memang seorang buronan, yang bagi penangkapan atau kematianku tersedia hadiah 10.000 inmas; kedua, bahwa seorang perempuan muda telah bertanya-tanya kepada Nawa, apakah aku ini seorang pendekar, yang telah membuat Nawa bertanya kepadaku pula.

"AAAAKKHHH!"

Nawa menjerit, pedang itu telah menggores kulit lehernya. Mataku masih bisa melihat garis hitam kental dalam kegelapan, tanda darah keluar dari goresan luka.

"Semua naskah ada di pondok," kataku, "silakan ambil semua, tetapi tinggalkan Nawa di s ini!"

Kutatap dengan pandangan menembus kegelapan. Agaknya ia membebatkan kain hitam di wajahnya, sehingga hanya tampak matanya. Pantaslah tak bisa kujejaki wajahnya tadi, karena kain hitam menyamarkannya dengan kegelapan. Kulihat Nawa yang juga melihat ke arahku. Apakah yang diharapkannya dari seorang kakek tua yang setiap hari dilihatnya hanya menulis saja? Langkah-langkah halus dari bayangan yang berkelebat tadi telah sampai ke belakang pondok. Apakah ia bermaksud mencuri tumpukan lontar yang telah kutulisi selama setahun ini? Aku tidak terlalu yakin bahwa seseorang tahu apa yang kutuliskan selama ini, kecuali pengusaha lembaran lontar ini, yang pertanyaannya terpaksa kujawab, bahwa aku sedang menulis kenang-kenanganku. Kurasa apa pun yang kutulis tidak penting bagi pengusaha lembaran lontar itu, sehingga kuandaikan ia tidak pernah memperbincangkannya, dan tentu tidak juga Nawa, yang baginya diriku hanyalah kakek tua. Namun setidaknya terdapat dua perkara yang memungkinkan seseorang mencari dan peduli dengan keberadaan maupun apa yang kulakukan di sini. Pertama, bahwa aku memang seorang buronan, yang bagi penangkapan atau kematianku tersedia hadiah 10.000 inmas; kedua, bahwa seorang perempuan muda telah bertanya-tanya kepada Nawa, apakah aku ini seorang pendekar, yang telah membuat Nawa bertanya kepadaku pula.

Aku harus bertindak cepat, jika ingin Nawa tetap selamat. "Lepaskan anak ini sekarang juga! Dan ambil naskah itu!

Cepat! Sebelum aku berubah pikiran!"

Bahwa ia perlu menyandera Nawa, kutafsirkan sebagai pengenalan atas diriku yang sebenarnya. Ini membuat gertakanku berhasil, karena aku juga telah memperhitungkan, kedua orang yang menyatroni tidak bekerja sama, mengingat perbedaan tingkat ilmu mereka. Aku mengenal para pendekar. Ibarat burung rajawali, mereka selalu terbang sendiri. Tidak banyak kemungkinannya dengan ilmu setinggi itu akan sudi bahkan hanya untuk bicara dengan penyandera ini.

Perhitunganku tidak keliru, karena jika ilmu penyandera ini tinggi, ia tentu minta naskah itu kuambil ke dalam pondok, dan menolak kehendakku. Lagipula ia tidak tahu apa yang terdapat di dalam pondok, sedangkan dalam dunia persilatan, segala sesuatu yang dianggap penting pasti dirahas iakan. Begitulah ia melesat sambil melemparkan Nawa ke arahku. Kutangkap Nawa yang ketakutan dan segera memelukku. Dengan sebelah tangan kudekap ia di s isi kiri tubuhku dan aku segera berkelebat ke dalam pondok. Sesosok bayangan berkelebat menghilang ketika aku masuk. Kulihat sepintas. Belum ada sesuatu pun yang sempat disentuhnya. Namun lebih dari yang kuharapkan, penyandera bertutup kain hitam yang hanya terlihat matanya itu sudah tewas dengan luka di dadanya. Adapun bayangan itu sudah lenyap di balik kegelapan.

Aku tidak berm inat mengejarnya, sejauh tidak ada sesuatu yang kuanggap penting telah diambilnya, apalagi dengan adanya Nawa dan mayat orang itu dalam pondokku. Aku segera keluar agar Nawa tidak melihat mayat dengan luka tepat pada jantungnya itu. Memang nyaris tak berdarah sama sekali karena ketinggian ilmu pedang yang membunuhnya, tetapi bukan sekadar kekerasan betapapun bukanlah pengalaman menyenangkan bagi seorang anak, melainkan betapa akan sulitnya menjawab pertanyaan-pertanyaan anak secerdas Nawa.

Kuletakkan Nawa yang masih terpaku dengan peristiwa yang dialam inya itu di luar. Lantas aku masuk dan memeriksa lagi orang itu. Di pinggangnya terdapat rantai, yang mungkin merupakan senjata yang belum sempat dipakainya. Ia hanya berkancut seperti semua orang yang tidak mempunyai kedudukan tinggi, tetapi kain kancutnya yang hitam kelam menunjukkan tujuan penggunaannya untuk kepentingan tertentu. Kuperiksa gulungan kain yang melingkari pinggangnya, sehingga rantai itu memang sepintas lalu tak ada. Seperti kuharapkan, segala sesuatu yang menunjukkan keterlibatan dengan kerja penyusupan terdapat di sana, seperti jarum-jarum beracun, tali berkait untuk bergantung, bola-bola peledak, maupun pisau terbang.

"Kalapasa. " Kudengar desisanku sendiri pada malam sunyi. Aku harus segera melenyapkan mayat ini jika tidak ingin mendapat kesulitan.

KUANGKAT mayat itu dan aku pun berkelebat lewat pintu belakang. Inilah kesulitan seseorang dari dunia persilatan yang menyamar sebagai seorang awam, apabila kemudian ternyata persoalan dari dunia persilatan itu masih terus menyusulnya. Dunia persilatan penuh dengan mayat bergelimpangan, karena seseorang yang hidup dalam dunia itu memang selalu berada dalam kedudukan antara hidup dan mati, sementara di dunia awam tergeletaknya satu mayat saja akibat pembunuhan sudah menjadi peristiwa menggemparkan. Istilah mayat yang kejatuhan embun masih berlaku untuk menekankan makna betapa sesuatu telah berlangsung di luar kewajaran.

Ke manakah aku harus pergi dalam kegelapan ini? Meski malam telah turun, tetapi ini malam yang belum larut sama sekali. Justru di kota seramai Mantyasih, kedatangan malam itu seperti harus dirayakan. Di berbagai pojok jalan obor penerangan menyala dan memperlihatkan kerumunan, bahkan di tepi jalan besar terlihat keramaian karena terdapat sebuah tontonan. Aku membawa mayat anggota Kalapasa ini dengan berlindung di balik kegelapan di balik tembok. Aku harus sangat waspada, karena jika benar yang harus kusembunyikan mayatnya ini adalah anggota Ka lapasa, seharusnya ia t idaklah bekerja sendirian.

Berlindung di bawah bayangan tembok bata merah di jalan besar tidaklah mudah, karena cahaya obor yang cukup banyak telah memudarkan kegelapannya. Cahaya api kekuningan menyepuh tembok bata merah, bahkan bayanganku yang memanggul mayat tampak jelas pada tembok itu! Bergoyang- goyang sesuai goyangan api yang tertiup angin...

Aku terkesiap dan segera berkelebat dari bayangan kegelapan yang satu ke bayangan kegelapan yang lain. Aku sama sekali tidak boleh terlihat, jika tidak ingin se isi kota keluar dari rumahnya dan memburuku. Maka aku terbang ke atas tembok dan melesat di atasnya, berkelebat dari atas atap rumah yang satu ke atap rumah yang lain, menghindari keramaian, menuju ke pinggiran kota. Di depan berbagai arca Siva kulihat sejumlah orang masih melakukan upacara malam, dan ini pun harus kuhindari hanya di belakang arca itu terdapat kegelapan. Di depan arca bahkan obor terang benderang, dan semakin ke pinggiran kota semakin sedikit terdapat tembok perkotaan, sehingga nyala api menyelusuri tanah seluas-luasnya, memperlihatkan bayang-bayangku memanjang memanggul mayat yang kejatuhan embun.

Tujuanku adalah tempat pembakaran orang-orang mati. Tempat itu berada di luar tembok kota, di pinggiran, tempat bermukimnya orang-orang paria, yang meski disebut tanpa kasta ternyata masih berperingkat pula. Rumah-rumah mereka jelas tidaklah terbuat dari batu bata seperti rumah para bangsawan di dalam kota, melainkan seperti kandang hewan sahaja. Kadang tak berdinding dan hanya beratap, bahkan tak jarang hanya menggeletak begitu saja di atas jerami. Itulah golongan candala, mleccha, dan tuca. Di dekat mereka itulah terdapat pancaka-pancaka pembakaran mayat, tempat siapa pun yang keberangkatannya ke alam baka tidak memerlukan upacara, karena tidak mempunyai biaya tentunya, mayatnya segera dibakar sampai habis tanpa sisa. Itulah sisa pekerjaan bagi para astacandala yang meski berperingkat dalam ketanpakastaan sepintas lalu tampak sama saja, yakni kumuh dan nestapa.

Mereka, laki dan perempuan, sedang duduk berkerumun bagai gundukan dalam kegelapan. Bahkan siang hari pun mereka tidak selalu tahu apa yang bisa dikerjakan selain mencari sisa-sisa makanan. Mereka berdiri ketika aku datang. Tidak ada penerangan apapun di tempat itu. Demikianlah orang-orang yang selalu dianggap tidak mempunyai igama ini, ataupun jika memiliki kepercayaan dianggap saja sebagai golongan vidharma, upadharma, upatha, apatha, vipatha, atau mithyadusti ini, atau golongan sesat, hidupnya nyaris seperti binatang, meski dalam kenyataannya tetap saja memiliki kebudayaan.

Kulemparkan mayat itu ke depan mereka. Dengan terkejut mereka berdiri.

"Siapa di antara kalian mengenali mayat ini," kataku.

Segalanya memang gelap, tetapi apalah yang bisa terlalu gelap bagiku sebagai orang persilatan, maupun bagi mereka yang selalu hidup dalam kegelapan itu?

KUKELUARKAN beberapa keping mata uang perak. Yah, tidak perlu emas untuk membuat mata mereka terbelalak lebih. Kutahu jaringan perkumpulan rahasia sangat mengandalkan kaum paria, karena bagi kasta di atasnya kaum tanpa kasta ini hanya ada untuk mendukung keberadaan mereka, yang keberadaannya bagai merupakan suatu takdir, sama sepert keberadaan anjing, angin, rembulan, yang bagaikan sudah semestinya ada demi keberadaan mereka. Karena itu tidak ada sesuatu pun dari kaum paria itu harus menjadi begitu istimewa untuk diperhatikan lebih dari seharusnya.

Sebaliknya kaum paria itu se lalu memperhatikan segalanya yang berlangsung di luar dunia mereka, karena segala sesuatu yang berada di luar dunia mereka itu sangat memengaruhi keberadaan mereka. Selain bahwa seolah-olah tiada sesuatu pun dalam dunia mereka sendiri yang dapat menarik perhatian mereka. Mereka yang berada di tepi dunia selalu memandang ke arah pusat dunia, mereka yang berada di pusat dunia t idak punya waktu memandang apapun, selain memandang diri mereka sendiri.

Di Mantyasih, mereka merasa berada di pusat dunia dan sibuk dengan upacara igama. Candi-candi terus dibangun mengerahkan tenaga dari desa, sehingga sawah dan ladang terbengkalai. Orang desa yang jatuh miskin, merayap masuk kotaraja yang selama ini dipandang sebagai pusat dunia, tetapi tidak ada satu manusia pun peduli kepada mereka. Para pengawal dan penjaga kota menahan mereka di luar kotaraja, dan hanya bisa masuk jika kaum berkasta membawa mereka masuk sebagai budak atau orang upahan.

Dari tahun ke tahun mereka beranak pinak, selain ada kalanya datang pula rombongan baru yang desanya terlantar karena membangun candi. Anak beranak yang lahir di kandang hewan akhirnya takmengenal kehidupan lain selain keselamatan hari ini. Bukan hanya orangtuanya kehilangan kepercayaan kepada dewa-dewa yang telah berpaling, tetapi anak-anak tumbuh di kandang hewan ini telah menciptakan dewa-dewanya sendiri!

Makanya mereka disebut sebagai apatha atau mithyadusti, mereka yang sesat, dan karena itu tidak dapat diterima sebagai bagian dari peradaban. Bahkan pengemis dan gelandangan di dalam kota, seolah-olah kastanya lebih tinggi dari mereka, karena pengemis dan gelandangan hanyalah warga biasa yang terlantar, bisa berkasta sudra, bahkan vaisya yang jatuh rudin, tetapi apatha dianggap kelahiran yang salah.

Kedudukan semacam itu membuat mereka tak pernah dipandang, tetapi selalu memandang, dan karena itu layak kuanggap tahu segala sesuatu. Kulemparkan ikatan mata uang perak itu, yang segera berserak di atas tanah. Mereka menyergapnya seperti buaya menyambar itik, tetapi aku segera menendangi mereka dengan tenaga kasar, sehingga sepuluh orang terlempar sambil mengerang.

"Dasar astacandala! Katakan siapa pernah melihat orang ini! Baru uangnya boleh dimakan!"

Uang bagi orang-orang yang malang ini hanya berarti arak dan pelacur, sedangkan para pelacur yang tidak terlalu butuh uang pasti akan menolaknya. Mereka mendekati mayat itu dan memeriksanya. Mereka membolak-balik mayat, dan kurasakan hal itu agak terlalu lama. Dengan cepat kuambil kembali ikatan mata uang perak itu, lantas kulemparkan lima keping ke udara.

"Itu untuk pembakaran, siapa pun yang akan melakukannya," kataku sambil berlagak pergi, "aku hanya buang waktu di sini."

Aku melangkah pergi. Dengan langkah biasa. Setelah agak jauh kudengar langkah seseorang menyusulku

"Tuan, Tuan, sahaya melihatnya."

Aku menoleh. Seorang lelaki berkancut yang sangat dekil, seperti nyaris telanjang, karena kancut yang tak jelas warnanya itu pun sungguh compang-camping. Rambutnya terurai dan kaku, seperti mengesahkan ketidakberadabannya. Meski kurasa cara berbahasanya tidaklah sekasar seperti yang biasa diperdengarkan golongannya.

"Apa yang kamu lakukan sehingga melihatnya?"

"Sahaya sedang mencari telur burung di batas kota, Tuan, ketika sahaya mendengar perbincangan di bawah pohon yang daunnya sangat rimbun itu. Sahaya tidak berani turun, karena mereka pasti akan membunuh sahaya. Pertemuan ketiga orang penunggang kuda itu jelas dirahas iakan, karena mereka saling bertukar kata sandi."

"Apa yang mereka bicarakan?"

"Mereka berbicara perlahan sekali tuan, maaf, sahaya tidak berkata telah mendengar percakapan mereka, sahaya hanya menyatakan telah melihatnya.'

Ia benar. Namun tentunya harus ada sesuatu yang bisa kuperhitungkan berdasarkan pandangan matanya.

"APA saja yang dikau lihat?" "Kuda mereka." "Kenapa dengan kuda mereka?"

"Kuda mereka ketiganya hitam, tegap dan perkasa."

Hmm. Apakah ini mempunyai makna? Mereka yang memilih untuk hidup sebagai penyusup akan akrab dengan warna hitam. Kuda hitam bukan perkecualian, karena tidak akan mudah terlihat dalam penyusupan dan perburuan dalam kegelapan. Ini hanya membenarkan dugaanku sebelumnya, bahwa orang ma lang yang terbunuh dalam tugas itu adalah petugas rahasia. Namun sebetulnya dengan segenap bukti yang kudapat, belum bisa dipastikan, apakah dirinya anggota Kalapasa, atau justru pengawal rahasia istana -meski kuyakinkan diriku betapa pengawal rahasia istana sesungguhnya telah dididik untuk bersikap ksatria, dan tidak akan pernah menyandera bahkan membahayakan seorang anak kecil demi kepentingannya. Masalahnya, jaringan rahas ia Cakrawarti disebutkan telah demikian merasuk, sehingga sangat mungkin untuk menanamkan seorang anggota Kalapasa sebagai pengawal rahas ia istana, yang merupakan tindak gabungan antara ilmu penyamaran dan ilmu penyusupan. Dengan perkembangan ilmu-ilmu kerahasiaan itu, t idakkah mencari jejakku akan menjadi terlalu mudah?

Pertemuan ketiga orang itu juga berarti bukan hanya satu orang yang terbunuh itu saja mengetahui keberadaanku. Tidakkah itu sangat berbahaya? Buronan negara terlacak oleh suatu regu pemburu resmi. Dengan jalur perintah dan penugasan mereka yang terlatih, tidakkah saat ini setidaknya sudah seratus orang pengawal rahasia istana mengepuh pemondokanku?

"Tuan, mayat kedua orang itu sudah tiba lebih dahulu, Tuan."

"Mayat dua orang? Siapa?"

"Dua dari tiga orang berkuda hitam yang berkumpul di bawah pohon itu, Tuan. Sebelum Tuan datang, seseorang sudah datang dengan dua mayat dan membayar agar segera dibakar."

"Hah?"

"Makanya sahaya segera mengenali yang ketiga itu ketika Tuan datang dan melemparkan mayatnya. Sahaya tidak berkata kepada siapa pun tentang pertemuan ketiga orang itu, takut ada mata-mata salah mengerti tentang keberadaan sahaya."

Setiap orang mengerti arti siksaan oleh para petugas rahasia. Siksaan yang dapat membuat orang tidak bersa lah mengaku bersalah.

"Siapa yang membawa kedua mayat itu, dan kapan?" Orang tanpa kasta ini menoleh ke sekelilingnya.

"Semua orang melihatnya, Tuan, tetapi apakah itu berarti uangnya harus dibagi?"

Itulah yang kukatakan tadi. Apakah harus dikatakan mereka memiliki budi pekerti? Meski aku tahu kecenderungan untuk merendahkan mereka adalah kesalahan besar. Kuperhatikan astacandala ini memiliki semangat hidup, dan tampaknya juga berdaya cipta, meski sepintas lalu hanyalah gelandangan hina dina tanpa kehormatan sama sekali.

"Kuberikan semuanya untuk dikau," kataku, "hanya jika ada gunanya bagi daku!"

Ia lantas mendekati aku dan berbisik. Aku menahan napas, karena seperti orang sadhu manusia tanpa kasta ini tampaknya sudah berbulan-bulan tidak mandi. Hanya saja dirinya bukan orang sadhu, bahkan siapa dewanya tiada jelas sama sekali.

"Memang akan berguna Tuan, karena meskipun ia tampak sebagai seorang laki-laki, sahaya tahu ia sebetulnya seorang perempuan." "Bagaimana dikau tahu?"

"Karena memang terlalu kentara Tuan. Sahaya rasa ia tak pandai menyamar. T idak jelas apa maksudnya. Mungkin takut diperkosa di wilayah ini. Aneh, suaranya saja jelas suara perempuan muda."

Jika perempuan ini juga yang membunuh keduanya, kemungkinan juga yang telah menamatkan riwayat penyandera Nawa dan menghilang dengan sangat cepatnya, artinya mustahil takut diperkosa. Betapapun aku merasa terbunuhnya ketiga orang ini sangat menguntungkan. Jika tidak aku terpaksa berpindah tempat lagi, sebagaimana layaknya seorang buronan, yang sulit kulakukan sekarang karena aku harus se lalu menulis. Aku bukan saja tidak dapat menulis sambil berkelebat dalam pelarian, dan bahwa segenap gulungan keropak itu harus dibawa, tetapi juga betapa aku membutuhkan lembaran-lembaran lontar untuk ditulisi ini, yang untuk mengolahnya dari daun rontal tidaklah dapat dilakukan seketika. Jika setiap kali mau menulis harus berhenti dulu untuk mengolah rontal menjadi lembaran lontar, kapan pula tulisan tentang riwayat hidupku ini akan selesa

PADAHAL aku butuh penyelesa ian secepat dan setuntas mungkin, agar segera kuketahui dari perkara yang sekecil- kecilnya, mengapa setelah mengundurkan diri dari dunia persilatan selama 25 tahun, wangsa Syailendra menjadikan aku seorang buronan.

Aku merasa keadaanku tidak terlalu mengkhawatirkan sekarang, tetapi bagaimana dengan perempuan itu?

''Bagaimana caranya ia menyamar sebagai lelaki?''

''Seperti banyak lelaki maupun perempuan yang keluar malam Tuan, ia melingkarkan kain penahan dingin yang menutupi dadanya. Selebihnya seperti kebanyakan pria yang berkain pendek, maka kakinya yang seperti belalang membuat sahaya curiga. Suaranya yang lemah meyakinkan sahaya.'' ''Apa yang dikatakannya?''

'''Bakar kedua mayat ini segera,' katanya. Itu saja. Ia datang menunggang kuda hitam, dan kuda hitam yang lain untuk membawa dua mayat di atas punggungnya. Apakah Tuan mengetahui di mana kuda yang ketiga?''

Aku merasa penjelasan orang tanpa kasta ini meyakinkan. ''Pergi ke arah mana perempuan itu?''

''Ke sana Tuan?''

Ia menunjuk arah dari mana aku datang. Itu berarti ada kemungkinan aku telah berpapasan dengannya tanpa kuketahui! Pikiranku segera melayang kepada Nawa.

Setelah melemparkan seikat uang perak, aku melesat kembali ke pemondokan. Tidak kupedulikan lagi api menyala- nyala terang di luar batas kota, dari mayat yang langsung dibakar di atas pancaka. Dengan upah atas pembakaran tiga mayat dalam semalam, kurasa kaum paria itu hari ini berpesta.

(Oo-dwkz-oO)

TIBA di pondok, sesosok bayangan berkelebat. Apakah aku harus mengejarnya? Mengingat kecepatannya, meski ilmu meringankan tubuhnya memang sangat tinggi, kukira aku masih akan mampu mengejarnya, tetapi tentu saja pikiranku tertuju kepada Nawa. Ternyata dia masih ada. Maka aku pun segera masuk dan menengok ke dalam bilik. Gulungan yang telah bertumpuk-tumpuk pun ternyata masih ada dan kukira bahkan tidak disentuhnya sama sekali.

Aku keluar dan mendekati Nawa. Kuperiksa lukanya. T idak berbahaya. Aku masuk ke dalam pondok dan mencari daun obat-obatan. Untunglah masih ada. Segera kuusap sedikit di lehernya itu. Dengan segera memang mengering dan tidak berbahaya sama sekali. Tidak ada yang perlu kukhawatirkan dari luka itu, tetapi bagaimana dengan perasaan anak berusia enam tahun, yang baru akan memasuki tahun ketujuh dalam kehidupannya itu? Bagaimanakah ia akan menerima peristiwa yang telah melukai lehernya itu? Bukan apa yang terjadi kepada dirinya barangkali yang perlu kukuatirkan bagi seorang anak yang cerdas seperti Nawa, dan telah kukenal setahun ini melalui segenap yang selalu aku membuat aku berpikir dalam- dalam; melainkan apa yang dipikirkannya tentang diriku, yang telah mengelak dari pertanyaannya yang langsung dahulu itu: apakah aku seorang pendekar?

Masa lalu apakah yang mungkin dim iliki oleh seorang tua, sehingga seseorang sampai harus menyandera seorang anak kecil untuk mendapatkan apa yang ditulisnya? Apa pula yang mungkin dituliskannya, sampai begitu panjangnya, yang membuat seseorang sampai menyandera dan terbunuh pula oleh seseorang yang lain, yang agaknya tidak ingin naskah itu diambil dan dibawa? Seberharga apakah naskah itu kiranya, jika ternyata dilindungi begitu rupa? Siapakah kiranya orang tua yang hidupnya seolah-olah hanya menulis di se la kesibukannya mengolah daun rontal menjadi lembaran lontar ini?

Aku sangat ingin menyapa Nawa. Namun kurasa anak ini tidak memerlukan sapaan yang seperti basa-basi, meskipun jika menyapanya tentulah aku tidak berbasa-basi sama sekali. Aku hanya memeluknya, dan dia ternyata merebahkan diri di pangkuanku.

''Kakek,'' katanya, ''Kakek tenanglah. Daku tidak kurang sesuatu apa.''

AKU tertegun. Apakah peristiwa ini membuatnya mendadak dewasa? Bukan diriku yang harus menenangkannya karena kejadian yang tentunya luar biasa itu, melainkan dirinya yang merasa harus menenangkan diriku. Tidakkah ini lebih dari biasa?

Sembari memeluknya kusapu kegelapan malam. Sayup- sayup masih terdengar keramaian di luar tembok. Dalam setahun ini Mantyasih bertambah ramai, sehubungan dengan pembangunan candi terbesar yang tampaknya semakin membutuhkan lebih banyak lagi tenaga manusia. Sudah tujuh puluh lima tahun candi itu dibangun, melewati berbagai masa dan peristiwa. Kukira pembangunannya kini memang mendekati saat-saat terakhirnya.

"Kakek..."

Nawa berbisik dengan sangat amat pelahan. Alam pun terasa sangat amat sunyi, sehingga meskipun suara-suara di kejauhan itu menjadi bertambah jelas, tidak menghilangkan bisikan Nawa sama sekali.

"Janganlah takut, Kakek, tidak ada sesuatu pun yang perlu Kakek takuti..."

Meskipun aku memasuki umur 101 tahun, dan sampai hari ini aku belum terkalahkan, mataku terasa panas oleh air mata yang mengambang. Lima puluh tahun belakangan ini aku hidup menyendiri, dan memang sangat amat sendiri, tanpa pernah merasa ada yang harus ditakuti, tetapi meski barangkali di luar maksudnya, sikap Nawa terhadapku membuatku terharu. Ternyata seseorang, meskipun anak kecil, begitu peduli kepadaku. Baginya aku hanyalah seorang tua sebatang kara yang sendirian saja, tanpa seorang pun merasa perlu untuk agak lebih peduli kepadanya...

Nawa yang akhirnya tertidur, tentu juga karena kelelahan batin, kugeletakkan pada amben bambu di serambi. Orangtuanya sudah tahu bahwa jika Nawa tak pulang berarti ia tidur di sini. Kuselmuti dirinya dengan kain dan kudengar napasnya yang lembut. Belum waktunya ia mengenal dunia yang begitu keras, meski anak mana pun akhirnya akan menjadi dewasa dan mengenal dunia dengan tantangannya sendiri.

Baru kusadari sejak tadi belum kunyalakan lampu damar. Kupertajam kewaspadaanku dan kukira keadaannya aman. Dengan batu api kunyalakan damar itu. Apinya kecil, tetapi lebih dari cukup untuk menulis. Aku sudah biasa menulis pada malam hari ketika suasana sudah begitu sunyi. Kukira sosok perempuan yang menyamar sebagai lelaki itu juga tidak akan menggangguku. Jika dirinya ingin mengawasiku tanpa suara di salah satu sudut gelap itu, biarlah ia mengawasi diriku yang sedang menulis, yang kupedulikan adalah menyelesaikan riwayat hidupku dengan secepat-cepatnya agar terselesaikan sebelum kematian entah bagaimana caranya tiba.

Kusiapkan pengutik dan lembaran-lembaran lontar yang kosong. Setelah berpikir sejenak, aku menulis kembali. Semoga tidak ada kesalahan.

(Oo-dwkz-oO)