-->

Nagabumi Eps 119: Meninggalkan Khmer

Eps 119: Meninggalkan Khmer

PADA suatu malam berhujan kami sudah berada di dalam perahu yang menuju ke muara Sungai Mekong. Kami masih tetap menyamar dan tetap mendengarkan bagaimana orang bicara tentang Jayavarman II, dan agaknya putrinya sendiri tidak pernah mendapat cukup alasan untuk tetap merongrong kekuasaan ayahnya itu. Memang benar bahwa dengan pasukannya yang kuat Jayavarman II telah menaklukkan wilayah yang luas, tetapi dengan kekuasaannya betapapun orang banyak merasakan suatu ketenangan.

"Pendekar Tanpa Nama, biarkanlah Amrita mengikuti dirimu ke mana pun kakimu melangkah. Tiada lagi yang dapat dilakukan Amrita di tanah kelahirannya ini. Semua orang telah mengkhianati dan mengingkarinya. Biarkanlah Amrita mengikutimu, wahai pendekar pengembara..."

Suara hujan yang menimpa atap perahu sungguh amat riuh. Setidaknya dua puluh orang terkapar berdempet- dempetan di dalam perahu itu. Sebagian tidur, sebagian ketakutan, dan sebagian lagi hanya melamun. Amrita membisikkan kata-katanya ke telingaku agar tak perlu berteriak dan semua jadi terganggu.

"Daku bukanlah orang yang tepat untuk diikuti, wahai Putri, dikau putri raja yang terampil dan akan sangat berguna demi pekerjaanku. Beliau memimpikan suatu kesatuan kerajaan Angkor yang jaya. Tiada lain selain dirimu yang akan mewujudkan mimpi-mimpi itu, demi kesejahteraan rakyat di seluruh tanah Kambuja."

"Dan mengkhianati segenap derita wangsa ibuku?" "Sejarah akan memberikan pengadilannya sendiri Amrita,

dan kita tidak dapat mengubahnya lagi, kecuali melanjutkan dan jika perlu memimpinnya. Dengan kekuasaan ayahmu dikau dapat melakulannya, Putri, demi kesejahteraan seluruh rakyatmu."

Amrita memeluk dan menenggelamkan kepalanya ke dalam diriku. Hujan badai membuat perahu oleng kemoleng. Ini memang bukan perahu yang besar. Betapapun kukagumi ketangkasan tukang perahu ini, yang hanya dengan dayungnya mampu menembus tirai hujan dan menjaga keseimbangan, sehingga perahu ini tetap terjaga dan melaju ke hilir.

Berat hatiku jika memang harus berpisah dengan Amrita. Kami telah mengembarai Kambuja dengan menyamar bersama-sama. Penyamaran yang setiap kali nyaris terbuka karena para pemburu hadiah atau para pembunuh bayaran selalu bisa mengendus jejak kami berdua. Peristiwa yng terjadi di tempat penganyaman tikar pandan dahulu tidaklah dengan sendirinya berlalu. Para pengawal rahas ia istana menyelidik, dan tentu bisa diduga bahwa majikan kami dahulu itu tidak memiliki cukup alasan untuk merahasiakannya.

Setiap kali penyamaran kami terbuka, Amrita selalu berhasil membunuh mereka yang memergoki keberadaannya, yang hanya membuat jejaknya makin panjang dan para pemburunya juga makin banyak. Meskipun aku juga yakin bahwa tidak akan pernah terlalu mudah untuk menangkap Amrita, apalagi dengan diriku bersamanya, telah lama kupikirkan bahwa keadaan semacam ini tidak bisa berlangsung seterusnya. Apalagi keberadaanku di Kambuja telah diketahui pula oleh kaki tangan Naga Hitam. Tentu aku sama sekali tidak takut menghadapi siapa pun yang dikirim Naga Hitam, tetapi bukanlah pada tempatnya jika Putri Amrita Vighnesvara ini harus ikut pula menerima akibatnya. Siapakah yang bisa menjamin bahwa tidak sebatang jarum pun, yang beracun dan mematikan, tidak akan melesat dari kegelapan dan menembus jantungnya, sementara yang dituju sebetulnya diriku?

DALAM dunianya Amrita dapat melakukan perdamaian dengan ayahnya, dan untuk itu ia hanya perlu kembali ke istana. Dalam duniaku segala sesuatunya tiada pernah dapat diduga, seperti yang telah berlangsung dalam hidupku se lama ini, dan jika aku betapapun siap untuk mati, tetapi aku tidak akan pernah siap untuk kematian Amrita dalam duniaku yang penuh marabahaya, apalagi mati terbunuh di hadapanku. Begitulah hatiku terbelah antara ingin terus bersama dan melindunginya, berhadapan dengan kenyataan bahwa tempat Amrita adalah di istana untuk membangun kesatuan Kambuja bersama ayahnya. Apakah yang akan terjadi dengan sejarah Kambuja, jika Amrita mampu mengumpulkan laskar yang mengganggu bahkan meruntuhkan kekuasaan ayahnya, dengan diriku di sampingnya pula? Sudah kuniatkan untuk meninggalkan tanah orang-orang Khmer dengan sejarah mereka.

Begitulah yang kupikirkan tentang Amrita, tanpa menyadari betapa banyak masalah lain di Kambuja yang lebih menentukan jalan cerita. Selain aku sebetulnya tidak terlalu mengenal hubungan Jayavarman II dan Amrita yang sebenarnya, bahwa keselamatan Amrita ternyata sudah tidak terlalu penting lagi bagi Jayavarman II, justru salah duga atas hubungan Jayavarman II dengan putrinya itu telah membuat musuh-musuh sang raja mengira bahwa Amrita adalah permata yang terlalu berharga bagi Jayavarman II.

Kami masih berada di wilayah Champassak di sebelah timur laut dari pusat kerajaan di Angkor. Aku bermaksud mengantar Amrita sampai tiba dengan selamat di istana ayahnya, karena perburuan kepadanya masih terus berlangsung. Namun tidaklah terpikirkan sama sekali olehku, betapa ancaman terhadap Amrita tidak sekadar datang dari para pemburu hadiah dan pembunuh bayaran yang terhubungkan dengan istana ayahnya, melainkan juga dari orang-orang Cham dari berbagai kesatuan wilayah Champa di balik barisan pegunungan yang selalu tertutup awan; maupun juga dari wilayah utara yang diduduki Negeri Atap Langit. Kekuasaan Jayavarman II yang dengan jelas berkembang sangat pesat berusaha dibendung dengan segala cara, dan Amrita diandaikan sebagai titik lemah yang akan sangat menentukan. Kedudukan terakhir itu tidak pernah kuduga karena pengetahuanku yang terbatas tentang perebutan pengaruh di wilayah Kambuja, sampai suatu peristiwa terjadi pada malam berhujan ini. Terdengar guntur menggelegar, angin sangat ribut, dan tirai hujan dalam gelap malam tiada tertembus pandangan - meskipun begitu ternyata ada yang matanya lebih dari tajam untuk menembus kegelapan, begitu tajamnya sehingga menabrakkan perahu mereka kepada perahu yang kami tumpangi.

Sebelum perahu itu menabrak, tukang perahu kami sudah berteriak.

"Awas! Ada perahu mau menabrak kita!"

Tukang perahu itu orang Cam, bahasanya serumpun dengan bahasa Malayu, lebih mudah kupelajari dari bahasa Khmer, dan kalimat sependek itu dapat kumengerti dengan jelas. Namun dalam suasana seperti ini dampak tumbukan perahu sama mengejutkannya dengan sambaran halilintar. Perahu itu terguling, mendadak saja diriku sudah berada di dalam air dan kurasakan tubuhku terseret arus yang menceraiberaikan seluruh penumpangnya.

"Amrita!" teriakku sekuatnya, tetapi hujan dan angin dalam kegelapan seperti melenyapkan segala-galanya.

Aku melenting ke atas setinggi-tingginya dan melihat sekilas sesosok manusia bersisik telah menangkap Amrita yang terkulai. Naga Kecil! Kukirimkan pukulan cahaya dengan seketika, itulah jenis pukulan dari perbendaharaan ilmu Raja Pembantai dari Selatan yang tidak akan pernah kugunakan jika bukan untuk menolong Amrita. Namun apa yang terjadi? Sambil masih berenang membawa Amrita, Naga Kecil mengibaskan tangannya dan dari telapak tangannya meluncurlah bola cahaya berwarna merah yang mencegat pukulan cahaya warna putih dari tanganku. Akibatnya terjadilah ledakan cahaya mahadahsyat yang menerangi malam. Aku masih berada di angkasa ketika tirai hujan berkilat merah, sebelum menjadi gelap saat tubuhku ditelan arus sungai kembali. TERNYATA Naga Kecil tidak sendirian. Ia telah lenyap bersama Amrita. T inggal kini diriku yang dikepung sekitar dua puluh manusia bersenjatakan cambuk. Aku masih berada di dalam air dan terseret arus dalam kegelapan. Mereka semua juga terseret arus, tetapi berdiri di atas permukaan a ir karena mengenakan terompah dari kayu. Sudah terpikir olehku untuk menyelam ketika set idaknya enam cambuk, tiga di kiri dan tiga di kanan dengan segera telah menjerat lenganku, dan melontarkanku ke udara. Kubiarkan diriku terlempar, dan aku tahu belaka betapa mereka tentu menyiapkan sesuatu ketika mereka harapkan diriku meluncur kembali ke bawah.

Namun begitulah untuk sementara aku tetap berada di atas, bahkan dapat mengikuti arus sungai yang menghanyutkan mereka di atas terompah kayunya itu, sehingga mereka pun tampak kebingungan dan saling memandang. Aku masih mengambang ketika dari balik tirai hujan dua puluh pisau terbang melayang ke arahku! Delapan belas pisau terbang bisa kuhindari, sedangkan dua sisanya kutangkap dan kukembalikan jauh lebih cepat dari daya lontaran mereka. Keduanya menancap di dada pelemparnya sendiri. Mereka berdua jatuh dan terapung ketika aku sudah berdiri di atas permukaan sungai dengan ilmu meringankan tubuh, sementara delapan belas sisanya telah lenyap ditelan kegelapan. Aku tidak berusaha mengejarnya, karena salah satu di antara dua orang anak buah Naga Kecil itu masih bergerak, penanda ia masih hidup.

Aku bergerak menyusul dan menyambar tubuhnya ke tepi sungai. Namun napasnya pun sudah satu-satu.

''Dibawa ke mana Amrita?''

Sebetulnya ia sudah tidak mampu menjawab. Maka kusalurkan tenaga prana yang membuatnya bisa menjawab. Meski agaknya ia tidak mau menjawabnya. Padahal aku harus tahu ke mana Amrita dibawa. Kusalurkan lagi tenaga prana yang membuat tubuhnya segar untuk sementara, tetapi lantas kutekan suatu titik di tubuhnya yang memberikan kesakitan luar biasa. Ia mendesis dengan sisa tenaganya.

''Katakan! Atau kubiarkan kamu tetap hidup dengan kesakitan selama-lamanya!''

Bahwa aku harus bicara dengan bahasa Khmer, membuat kesulitanku terasa berlipat ganda. Kutekan lagi titik kesakitan itu. Saat ia akan merasa bagaikan seribu jarum beracun bergantian menusuk-nusuk tulang belakangnya.

''Ah, bunuh saja daku!''

''Katakan! Cepat! Ke mana Naga Kecil membawa Amrita?!'' Jelas Naga Kecil tidak akan kembali ke pertapaan Naga

Bawah Tanah yang tersembunyi itu, karena betapapun aku sudah mengetahui tempatnya.

''Katakan! Sebelum aku pergi dan membuatmu tetap bertahan dalam kesakitan!''

Di sungai telaga dunia persilatan aku memang sudah banyak membunuh, tetapi tak berarti aku suka menyakiti orang. Namun perasaaan takut akan kehilangan Amrita telah membuatku menggunakan suatu cara agar orang ini bicara sebelum tewas untuk selamanya. Dari perbendaharaan mantra warisan Raja Pembantai dari Selatan kuubah wajahku begitu mengerikan seolah iblis pun akan lari melihatku. Seorang anggota kawanan mungkin telah bersumpah setia untuk tidak mengungkap rahasia, bahkan untuk bunuh diri demi kesetiaannya, tetapi mereka tidak siap untuk mati dirobek- robek makhluk ganas bertaring panjang dengan mulut berbau busuk menetes-neteskan air liur yang sangat lengket dan menjijikkan.

Menjelang kematiannya, ia tampak sangat ketakutan. ''Aaaahhh! Ampun! Ampun!''

''Katakan! Atau kutelan! Grrrrhhhhh!'' Sihir itu ternyata mengena.

''Sungai Merah! Pergilah ke Sungai Merah...'' Saat itu wajahku berubah ke wajah asalku.

Tidak ada yang bisa dilakukan orang yang tubuhnya bergambar rajah naga itu pada saat-saat terakhirnya, ia mati dengan mata masih memandangku. Kulepaskan tubuhnya, dan arus sungai membawanya pergi.

Hujan berubah jadi gerim is. Di tepi sungai aku menghela nafas panjang.

(Oo-dwkz-oO)

UNTUK mencapai Sungai Merah aku harus menembus wilayah Campa sampai ke pantainya, lantas menyusuri kota demi kota ke utara di sepanjang pesisir timur tanah Kambuja itu sampai ke Teluk Tongking yang berhadapan dengan Pulau Hainan. Di te luk itulah terletak muara Sungai Merah yang juga disebut Sungai Hong.

SEPANJANG perjalanan sedikit demi sedikit kukumpulkan riwayat wilayah yang kutuju, yang meskipun sebagian wilayahnya juga dihuni orang Cam, memiliki sejarah yang berbeda sama sekali. Para pedagang Negeri Atap Langit yang kutemui berkisah bahwa dataran di sekitar Sungai Merah itu telah dikuasa i balatentara Wangsa Han sejak 700 tahun lalu, meski baru dua ratus tahun kemudian Negeri Atap Langit berhasil membangun suatu pemerintahan, tetapi yang pejabatnya diangkat dari penduduk setempat, sehingga kemapanan lebih dapat dijamin. Dalam keadaan seperti itu, pejabat setempat sebagai pemimpin wilayah akan peka terhadap kepentingan kemaharajaan Negeri Atap Langit, tetapi yang akan mengutamakan kepentingannya sendiri ketika kekuatan wangsa yang berkuasa melemah.

Dua ratus tahun lalu, para pemimpin setempat menolak kekuasaan wangsa-wangsa yang lemah ini, tetapi awal abad VII, jadi seratus tahun lebih dari saat aku menyusuri pantai timur itu, perlawanan mereka melemah, dan menerima saja kekuasaan Wangsa Sui dan Wangsa Tang. Saat aku menjelajahi wilayah tersebut dalam usaha mencari Amrita, wilayah itu telah diresmikan sebagai Daerah Perlindungan An Nam. Daerah Perlindungan adalah jenis kebijakan di wilayah perbatasan yang terpencil, tetapi dianggap menguntungkan, yang penduduknya bukan berasal dari Negeri Atap Langit. Pendirian Daerah Perlindungan An Nam diikuti penyerapan golongan penguasa setempat ke dalam peringkat jabatan kemaharajaan. Selama kekuasaan Wangsa Tang masih kuat, wilayah An Nam berada dalam suasana damai. Namun pada saat aku menyusuri kota demi kota di sepanjang pes isir timur, yang merupakan kota-kota pelabuhan tempat segala kabar terdengar dan beredar, kudengar betapa pengaruh Negeri Atap Langit kembali goyah.

Sampai seratus tahun berikutnya kelak, ternyata Daerah Perlindungan An Nam memang bergolak, ketika kelompok setempat yang kuat berjuang merebut kekuasaan, bahkan tidak jarang memang memberontak bersama dengan melemahnya kekuasaan Wangsa Tang, yang membuat tempat-tempat tertentu di Sungai Merah kini menjadi pusat- pusat kekuasaan baru di wilayah An Nam. Di sepanjang Sungai Merah, mula-mula pusat kekuasaan itu terdapat di berbagai dataran, terutama di sebelah barat daya dan sisi utara dataran, tetapi yang sejak seratus tahun lalu telah berpindah ke sebelah selatan sungai yang tanahnya lebih tinggi, mungkin menghindari banjir, di tempat yang kemudian akan disebut Thang-long.

Demikianlah sembari menyusuri jejak Naga Kecil yang disebutkan menuju ke Sungai Merah, aku mempelajari segala sesuatunya dengan perbendaharaan bahasa yang sangat terbatas, karena di sini orang tidak berbicara dengan bahasa Khmer lagi. Untunglah, selama masih menyusuri pesisir, bahasa Malayu masih bisa digunakan, karena kapal-kapal Srivijaya yang selalu ada di sana maupun serangan Wangsa Syailendra ke Pho Nagar, Virapura, bahkan juga Tongking, yang sebetulnya belum berlangsung lama adalah bagian dari hubungan dengan wilayah Suvarnadvipa, termasuk Mataram di Jawadwipa di dalamnya, yang meninggalkan jejak kebahasaan dan kebudayaannya pula. 4) Namun semakin ke utara, dan menyusyuri Sungai Merah ke pedalaman, tampak sekali pengaruh Negeri Atap Langit yang segenap kebudayaannya bagaikan tampak sengaja mereka serap, justru untuk melawan penindasan kekuasaannya. Ini membuatku harus banyak belajar kembali.

DARI Champassak aku telah menyeberangi pegunungan dan turun ke pesisir bekas kerajaan orang Campa yang bernama Vijaya. Dari sana aku melangkah terus dari candi ke candi, karena kuketahui dari Amrita bahwa Naga Kecil, meskipun tidak dapat mengucapkan bahasa manusia adalah seorang pemuja Siva. Ini untuk menjamin bahwa meskipun telah kuketahui tujuan Naga Kecil adalah Sungai Merah, tidak akan terjadi bahwa tanpa kuketahui te lah kulewati Naga Kecil, tetapi lantas diikutinya diriku dari belakang.

Kini aku tahu Amrita ternyata tidak membunuh Naga Kecil ketika bertarung di dalam air pada lorong bawah tanah itu. Ataukah Amrita memang tidak membunuhnya, ataukah Naga Kecil telah memperdayainya, sehingga Amrita merasa telah membunuh tetapi Naga Kecil masih hidup? Memang tidak pernah kuingat terdapat mayat manusia bersisik waktu itu. Tidak di dalam danau dan tidak juga terapung-apung. Waktu itu aku tidak merasa perlu bertanya karena kupikir tentu Amrita sudah tahu apa yang harus dilakukan dengan sebaik- baiknya.

Segalanya gelap bagiku, karena terlalu banyak urusan dapat dikaitkan kepada Amrita, mulai dari hubungan cintanya dengan Naga Kecil, pengkhianatannya terhadap kekuasaan ayahnya, keterlibatannya dengan pencurian kitab, maupun kepentinganku sendiri yang telah terseret makin jauh.

Naga Kecil itu, apakah yang telah membuatnya menculik Amrita, dengan perencanaan yang tampaknya sangat matang pula? Sudah jelas bahwa pada suatu hari yang tidak kami ketahui, kebetulan atau tidak kebetulan, seseorang telah mengetahui keberadaan kami. Penyamaran memang bukan perkara yang mudah, apalagi jika diburu para pengawal rahasia istana yang dalam menjalankan tugasnya itu akan menyamar. Kuingat kembali Arthasastra yang menjadi pegangan negeri mana pun yang merujuk kebudayaan dari Jambhudvipa. Dalam kitab itu tertulis tentang Kegiatan Petugas Rahasia yang Menyamar Sebagai Pekerja Rumah, Pedagang dan Pertapa yang lengkapnya seperti berikut:

1. Dengan membagi daerah pedesaan menjadi empat bagian, kepala pelaksana harus menyuruh mendaftarkan jumlah desa, yang tergolongkan sebagai yang terbaik, menengah dan terendah (mencatat mana yang bebas pajak, mana yang menyediakan serdadu, jumlah (pendapatan) dalam gandum, ternak, uang tunai, hasil hutan, kerja dan hasil sebagai pengganti pajak.

2. Di bawah petunjuknya petugas pajak harus menjaga sekelompok lima atau sepuluh desa.

3. Ia harus mencatat jumlah desa dengan menentukan batasannya, jumlah ladang dengan menghitung (ladang) yang dibajak dan yang tidak, ladang kering dan basah, taman, kebun sayur, (bunga dan buah) yang dipagari, hutan, bangunan, cagar alam, puri, irigasi, tempat pembakaran mayat, rumah istirahat, tempat untuk m inum air, tempat suci, lapangan rumput dan jalan; dan tentang hadiah, penjualan, pemberian dan pembebasan mengenai batas desa dan ladang, dan (mencatat) rumah dari jumlah pembayar pajak dan bukan pembayar pajak. 4. Dan di dalamnya (ia harus mencatat) mereka yang termasuk empat varna, jumlah petani, penggembala, pedagang, pekerja tangan, pekerja dan budak, jumlah makhluk berkaki dua dan berkaki empat, dan jumlah uang, kerja, pajak dan denda timbul dari mereka.

5. Dan tentang pria dan wanita dalam keluarga, ia harus tahu jumlah anak dan orangtua, kerja mereka, adat, dan jumlah penghasilan dan pengeluaran mereka.

6. Dan dengan cara yang sama, petugas bagian harus mengawasi seperempat bagian daerah pedesaan.

7. Di pusat petugas pajak dan bagian, para hakim harus menjalankan tugas mereka dan berusaha memperoleh beaya.

8. Dan petugas yang menyamar sebagai pekerja rumah, diarahkan oleh kepala pelaksana, harus menemukan jumlah ladang, rumah dan keluarga di desa tempat mereka bertugas, ladang dan ukuran serta hasil se luruhnya, rumah, tentang pajak dan pembebasan dan keluarga tentang varna dan pekerjaan.

9. Dan mereka harus mencari tahu jum lah perorangan di dalamnya dan penghasilan serta pengeluaran mereka.

10. Dan mereka harus menyelidiki alasan untuk pergi dan berdiam dari mereka yang mengadakan perjalanan dan mereka yang datang (masing-masing), juga tentang pria dan wanita yang membahayakan, dan (harus cari tahu) kegiatan para mata-mata.

11. Dengan cara yang sama, mata-mata yang menyamar sebagai pedagang harus cari tahu jum lah dan harga barang raja yang dihasilkan di negerinya sendiri, yang diperoleh dari tambang, pengairan, hutan, kilang, dan ladang.

12. Dan tentang kegiatan mengenai barang yang bernilai tinggi dan rendah yang dihasilkan di mancanegara dan didatangkan melalui jalan air atau jalan darat, mereka harus cari tahu jum lah pajak, tol jalan, beaya pengawalan, beaya pada rumah jaga pengawal dan perahu penyeberangan, bagian, makanan dan hadiah.

13. Dengan cara yang sama, para petugas yang menyamar sebagai pertapa, dipimpin oleh kepala pelaksana, harus mengetahui kejujuran atau ketakjujuran para petani, penggembala dan pedangan dan kepala bagian.

14. Dan para pembantu yang menyamar sebagai pencuri tua mencari tahu alasan untuk masuk, diam, dan keberangkatan para pencuri dan pemberani musuh, dalam cagar alam, persimpangan jalan, tempat sepi, sumur, sungai, danau, penyeberangan sungai, perumahan puri, pertapaan, rimba, gunung, hutan, dan semak.

15. Demikianlah kepala pelaksana yang selalu rajin, harus mengawasi daerah pedesaan; dan (para mata-mata) juga harus mengurusnya, juga badan-badan lain dengan asal sendiri (yang berbeda) harus mengawasinya.

Memang aku tidak pernah terlalu bisa menikmati bahasa resmi, apalagi yang berbau hukum, tetapi dari Arthasastra itu terbayang segala sesuatu yang mungkin dikerjakan para pengawal rahasia istana. Namun jika memang benar pengawal rahasia istana yang mengabdi kepada Jayavarman II menemukan jejak kami, mengapa Naga Kecil yang menangkap Amrita, dan mengapa pergi ke utara, ke Sungai Merah yang sudah berada di luar Campa?

Betapapun kusadari kesalahan yang telah kami lakukan, yakni belum mampu bersikap seperti orang biasa dalam arti sesungguhnya. Sudah bagus ketika Amrita berdiam diri saat dagunya didorong ke atas oleh gagang cambuk di tempat penganyaman tikar pandan itu, tetapi jatuhnya petugas bercambuk tanpa nyawa lagi setelah majikan kami bersujud, sudah tentu mengundang pelacakan. Kemudian, meski kami segera menyempurnakan mayat Pendekar Cahaya Senja dengan pembakaran, dan tidak kami rasakan pertarungan Amrita itu disaksikan seseorang, ternyata cerita tentang pertarungan itu sudah begitu saja tersebar dari kedai ke kedai melalui mulut para pembual, entah bagaimana caranya, tanpa jaminan ketepatan sama sekali. Ini terjadi karena kami membiarkan diri kami bersikap seperti para penyoren pedang di rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan, yakni selalu menanggapi setiap bahaya yang mengancam dengan kemampuan ilmu s ilat, sementara syarat pertama penyamaran adalah bersikap sepenuhnya seperti orang awam.

Jika itu pun belum mampu kami penuhi, bagaimana mungkin menghindari para petugas rahasia yang bahkan mengetahui segala sesuatu di dalam rumah sebuah keluarga itu? Sehingga apabila kami sungguh berperan dengan baik dalam penyamaran itu, tetap saja kami masih harus sangat berhati-hati terhadap siapapun yang berada di sekitar kami. Meski begitu, betapapun aku merasa kami sudah bersikap awam seperti yang semestinya dituntut dalam sebuah penyamaran. Bersikap seperti tukang kayu ketika menjadi tukang kayu, bersikap seperti pandai emas ketika menjadi pandai emas, bersikap seperti pengemis ketika menjadi pengemis, bersikap seperti sais kereta ketika harus menjadi sais. Sungguh aku begitu yakin bahwa tidak ada seorang petugas rahasia pun mengendusnya. Hanya menjadi pelacur sajalah yang tidak dijalani Amrita, karena dirinya tiada lagi bisa bercinta dengan siapapun juga se lain kepada diriku. Secara keseluruhan, karena memang terus menerus berpindah tempat di seluruh Kambuja, untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya, kami tetap berperan sebagai kaum paria pengembara, yang berkelana di atas bumi tanpa pernah mendapat kemapanan, menggelandang tanpa tujuan selain melanjutkan kehidupan

Maka memang menjadi pertanyaan besar bagiku sekarang mengenai peran Naga Kecil di sini. Apakah dia menemukan Amrita karena daya batin alam iahnya, dan para petugas rahasia memang memanfaatkannya, ataukah tindakan Naga Kecil tidak ada hubungannya dengan kebijakan istana yang mana pun juga? Namun rajah bergambar naga menggeliat dengan mulut menganga yang kulihat pada tubuh orang yang mengikutinya itu, mengingatkan diriku kepada tanda-tanda suatu perkumpulan rahasia...

DARI Vijaya aku telah melewati Amaravati, dan terus menyusuri pantai sepanjang Indrapura. Aku tetap berperan sebagai paria pengembara yang bercaping dan berbaju compang-camping, tetapi memilih untuk tidak terlalu sering bertemu dengan manusia. Betapapun aku merasa harus secepatnya mencapai Sungai Merah, yang masih sangat jauh karena batas utara Campa yang terujung, tempat berdirinya candi Siva di Caoha, belum kulewati pula. Pantai adalah tempat yang ramai, karena tiap sebentar terdapat kampung nelayan, bahkan pelabuhan, sehingga kutentukan untuk selalu melakukan perjalanan malam. Siang hari aku tidur di mana pun agar memiliki cukup tenaga pada malam harinya. Dalam penyamaran di dunia yang penuh mata-mata ini, aku menahan diri untuk tidak berkelebat dan melesat dengan Jurus Naga Berlari di Atas Langit agar tidak seorang mengendus keberadaan seseorang dari dunia persilatan di dunia awam.

Namun, begitulah, pada suatu siang berangin ketika aku tidur di tepi pantai dengan wajah tertutup caping di bawah pohon nyiur yang melambai-lambai, terdengar sebuah suara dalam bahasa Jawa.

''He, pengemis! Bangunlah!''

(Oo-dwkz-oO)