-->

Nagabumi Eps 116: Sepasang Pendekar yang Menyamar

Eps 116: Sepasang Pendekar yang Menyamar

AKU dan Amrita melakukan perjalanan dengan menyamar.

Setelah sekitar sebulan lamanya berada di dalam gua, kami putuskan keadaan cukup aman untuk keluar dengan kemungkinan bertemu banyak orang, asalkan kami sengaja menyamarkan diri dan menghindari setiap kemungkinan untuk ditebak dan dijebak. Dengan kemampuan bergerak lebih cepat dari kilat maupun bersembunyi di dalam bayang-bayang, sebetulnya kami lebih dari mampu menghindarkan pertemuan dengan banyak orang. Namun Amrita justru merasa perlu meleburkan diri dengan banyak orang di dunia awam, karena ingin mendengar dan mengetahui langsung perkembangan keadaan. Selaksa manusia telah gagal menangkapnya. Pengerahan tenaga sebanyak itu tentunya bukanlah tanpa akibat kepada kehidupan sehari-hari, sedangkan kehidupan sehari-hari akan memperlihatkan seberapa jauh pengaruh istana atas orang banyak itu. Untuk itu bagi Amrita tiadalah cukup baginya memasang telinga di kedai, karena cerita lisan di kedai lebih sering terkuasai para pendongeng nan canggih, yang meskipun seru dan enak didengar, tetapi masih memerlukan penafsiran ulang untuk memahami kenyataannya. Memang kedai adalah tempat terbaik untuk mengikuti perkembangan warta mutakhir, tetapi Amrita merasa perlu menyuruk lebih jauh dan mendengar lebih langsung dari hati yang terjujur dan terdalam, seberapa jauh segenap kebijakan Jayavarman II untuk membangun Kerajaan Angkor dan mempersatukan Kambuja diterima oleh rakyatnya. Dari kedai memang terdapat warta, tetapi di kedai pula segenap mata-mata dan juru hasut demi kepentingan entah siap beradu daya dalam memberi makna berbagai peristiwa.

Maka Amrita t idak ingin hanya mendengar jurucerita, tetapi mereka yang bercerita tanpa bermaksud memberi kesan atau mempengaruhi siapa saja. Aku pun mengikutinya saja, karena aku memang tidak mempunyai alasan menolak ketika Amrita merasa sudah sewajarnya aku berada bersamanya. Lagipula aku yakin dan percaya betapa masih ada pembunuh bayaran yang ditugaskan untuk memburunya di luar sana. Jika bukan pembunuh bayaran tentu pengawal rahasia istana yang mencarinya. Mereka tentu memperhitungkan memang akan sulit mencari orang yang bersembunyi ketika dijaring selaksa prajurit, tetapi orang yang bersembunyi itu kemungkinan besar akan keluar dari persembunyiannya setelah mengira keadaan sudah aman. Memang lama para buronan bersembunyi itu tak tentu. Bisa setahun, bisa sepuluh tahun, tetapi bisa pula sebulan. Tidaklah terlalu keliru mencari jejak seorang buronan keluar dari persembunyiannya setelah menghilang satu bulan. Betapapun kemungkinan itulah yang harus dihadapi Amrita, dan aku tidak bisa membiarkannya sendirian saja diburu para pembunuh bayaran di segala penjuru. Amrita tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menangkap hangatnya perbincangan, dan karena itu merasa layak menempuh bahaya untuk mengetahuinya.

''Jika rakyat memang mencintai Jayavarman II, yang sebetulnya juga ayahandaku sendiri, dapat daku pertimbangkan untuk menerima penderitaan ibuku dengan suatu cara,'' ujar Amrita yang seperti mendapat kesadaran baru setelah membaca kembali Nagarjuna dari lempengan- lempengan emas di pertapaan Naga Bawah Tanah itu.

''Rupanya pemahamanku dulu masih terlalu apa adanya,'' katanya pula, ''karena bagaimanakah caranya memahami dengan lebih sempurna jika kepentingan kita hanyalah agar segera bernapas di udara?''

''Sebetulnya di sanalah letak pelajaran Naga Bawah Tanah,'' kataku, ''bukannya dikau dilatih untuk memahami filsafat Nagarjuna, melainkan tetap berpikir tajam dalam menghadapi bahaya. Tentang Nagarjuna, selama dikau sempat menanamkan ujaran-ujarannya dalam kepala, setiap saat akan tetap bisa mendalaminya.''

Amrita bukan tidak mengerti makna di balik pelajaran gurunya, artinya ia mengerti betapa ilmu silat hanya menyempurnakan manusia justru ketika melampaui pembelajaran jasmaninya saja. Justru pendalaman filsafat itulah yang membuat Amrita mempelajari Jurus Penjerat Naga, tetapi yang nyaris membuatnya terbunuh olehku karena belajar dari kitab curian yang keliru.

Begitulah kami berada di dunia ramai sekarang, tidak menjauhinya seperti biasa dilakukan para pendekar, melainkan mendekati dan memasukinya, melebur di antara khalayak sebagai orang paria yang bersedia mengerjakan apa saja demi kelanjutan hidupnya. Pilihan atas kasta paria artinya kami menyamar sebagai orang Campa pemeluk Siva, karena dengan pilihan atas kasta itu pula jadinya kami bebas dan sahih menggelandang tanpa harus menjadi gelandangan itu sendiri. Seperti banyak pengembara yang terlihat lalu lalang dengan capingnya, seperti yang sebetulnya sudah dengan sendirinya dilakukan para pencari kesempurnaan di sungai telaga dunia persilatan.

NAMUN meski tampak serupa, perbedaan antara pengembara biasa dengan pendekar pengembara tidaklah sama.

Seorang awam mengembara terutama karena pemujaan terhadap perjalanan dan pengembaraan itu sendiri, sedangkan seorang pendekar mengembara terutama demi perburuan ilmu, tepatnya pencapaian kesempurnaan dalam ilmu silat, dengan mencari guru-guru ternama untuk belajar maupun para pendekar ternama untuk bertarung. Maka jika bagi seorang pengembara awam tiadalah ada bedanya ke mana pun kaki me langkah, bagi seorang pendekar suatu pengembaraan haruslah mencapai tujuan dalam pencarian keilmuan demi pencapaian kesempurnaan. Perbedaan ini membuat bagi para pengembara awam tiada masalah apakah tempat yang dilaluinya itu sunyi atau hiruk pikuk penuh keramaian, mereka sanggup bekerja apa pun di mana pun untuk menambah perbekalan, sedangkan pendekar pengembara cenderung mengasingkan diri dalam penempaan ilmu s ilat dan pencarian guru sakti di tempat-tempat terpencil.

Bagi para pendekar ini memang hanya ada ilmu silat dalam kehidupan mereka dan bagi mereka segala sesuatu yang dikerjakan orang awam hanyalah merupakan pekerjaan tidak berguna dan membuang waktu. Bagi para pendekar ini kehidupan seperti bertani, berkebun, berdagang, menjadi pengrajin, atau menempa logam adalah pekerjaan penuh keterikatan yang membuat mereka tidak bisa ke mana-mana. Meskipun begitu adalah keliru untuk mengira bahwa semua pendekar bersikap seperti itu. Selalu disebutkan bahwa terdapat para empu yang tersembunyi di berbagai sudut kehidupan. Memang itu bisa berarti pertapaan terpencil, tetapi tidak mustahil tersembunyi dan berbaur dalam keramaian sebuah pasar di kota besar.

Amrita dan diriku melakukan perjalanan dengan menyamar sebagai pengembara awam, sehingga kemungkinan kami memang menjadi lebih luas daripada pengembara awam maupun para pendekar yang menempuh jalan di sungai te laga dunia persilatan. Dengan menyamar sebagai awam, kucoba melihat segala sesuatunya dengan pandangan awam, yakni tidak membawa-bawa tenaga dalam, ilmu meringankan tubuh, maupun ilmu silat itu sendiri dalam pertimbanganku. Demikianlah kucoba membuka mataku dengan cara memandang lain, yang tidak hanya melihat dari sudut pandang kepentinganku sendiri, sebagai manusia yang mencari kesempurnaan di rimba hijau.

Maka meskipun sudah beberapa saat lamanya diriku berada di tanah Kambuja, tepatnya di bagian negeri Campa, seperti baru terbuka mataku pemandangan betapa penduduknya membangun tembok rumah mereka dengan batu bata yang dibakar, yang kemudian dikapur. Rumah mereka semuanya mempunyai semacam serambi atas atau teras, yang dinamakan kan-lan. Lubang pintu atau jendela pada umumnya menghadap ke utara; kadangkala ke timur atau ke barat, tak tetap aturannya. Lelaki maupun perempuan hanya memakai sehelai kain dari ki-pei yang dipasang membelit badan, seperti juga yang kami lakukan dengan ki-pei itu. Telinga mereka ditindik dan digantungi cincin kecil. Orang terkemuka memakai alas kaki dari kulit; orang kebanyakan bertelanjang kaki.

Sejak tiga ratus tahun yang lalu , kebiasaan itu terdapat juga di Fu-nan dan di kerajaan-kerajaan yang letaknya di balik negeri Lin-yi. Raja memakai kuluk yang tinggi, dihias i mulai emas dan jambul sutera. Kalau bepergian ia naik gajah; ia didahului barisan peniup sangka dan pemukul gendang, dilindungi payung dari ki-pei dan diarak abdi yang mengibarkan bendera-bendera dari kain itu juga.... Selama perjalanan kusaksikan bahwa perkawinan selalu dilaksanakan pada bulan kedelapan. Si gadis yang melamar anak laki-laki, karena gadis dianggap lebih rendah harkatnya. Tidak ada larangan bagi mereka yang mempunyai nama keluarga yang sama untuk menjalin perkawinan. Aku mempunyai kesan orang-orang Campa berwatak suka berperang dan kejam. Senjata mereka busur dan panah, pedang, lembing, dan tarbil dari bambu. Alat bunyi-bunyian yang mereka pakai banyak miripnya dengan alat bunyi- bunyian yang kuketahui berasal dari Negeri Atap Langit, seperti kecapi, alat gesek berdawai lima, seruling, dan banyak lagi. Mereka juga memakai sangka dan gendang untuk menyebarkan berita kepada rakyat. Mata mereka cekung, hidungnya lurus dan mancung, rambutnya hitam keriting. Kaum perempuan mengikat rambutnya di atas kepala, berbentuk palu.

PEMAKAMAN raja dilangsungkan di atas kepala tujuh hari sesudah kematiannya; dalam hal pejabat tinggi kerajaan tiga hari sesudahnya, dan dalam hal rakyat kecil esok harinya. Apa pun pangkat orang yang meninggal itu, badannya dibungkus baik-baik, diusung ke tepi laut atau ke tepi pantai dengan suara gendang, diiringi tarian, lalu dibakar di atas api pancake yang didirikan oleh hadirin. Tulang-tulang yang tak habis dimakan api, disimpan di dalam tempayan emas dan dibuang ke laut kalau yang dibakar tadi jenazah raja. Sisa tulang menteri-menteri disimpan di dalam tempayan emas dan dibuang ke muara sungai; dalam hal orang mati yang tidak berpangkat, hanya dipakai tempayan dari tanah saja yang dibuang ke dalam air sungai.

Orang tua, baik yang laki-laki maupun perempuan, mengikuti iring-iringan jenazah dan memotong rambutnya sebelum meninggalkan tepi air; itulah satu-satunya tanda untuk perkabungan yang masanya pendek sekali. Akan tetapi ada beberapa perempuan yang berkabung seumur hidup dengan cara yang lain: Mereka membiarkan rambutnya terus terurai sesudah tumbuh kembali. Mereka itu janda yang tidak mau kawin lagi untuk selamanya.

Amrita dan diriku menyamar sebagai sepasang pengembara bercaping yang setiap kali harus berhenti untuk bekerja, sekadar agar bisa mendapat makan dan bekal untuk meneruskan perjalanan. Namun justru saat bekerja itulah Amrita menggali segenap kejelasan yang ingin diketahuinya, karena memang benarlah kiranya kami hanya menyamar sebagai pengembara, dan meski melakukan perjalanan juga, tetapi saat berhenti dan bergaul itulah yang menjadi tujuannya.

Pilihan untuk menyamar sebagai pengembara yang setiap kali berhenti untuk bekerja, sebetulnya memungkinkan kami untuk menggolongkan diri ke dalam kasta sudra, karena kaum paria lebih sering tidak mendapatkan peluang untuk bekerja tersebut, dan hidup seadanya dengan apa saja yang bisa dimakan; tetapi dengan menyatakan diri sebagai paria, kegelandangan kami tidak dipertanyakan dan tidak menarik perhatian, serta kami rasa aman dari perburuan.

Demikianlah, sejauh bisa kuingat, kami pernah bekerja sebagai penganyam tikar pandan. Setiap hari kami datang ke tempat itu untuk menganyam bersama banyak orang lain, sekitar dua puluh orang jum lahnya, dan di sanalah kami dengar bagaimana rakyat bicara tentang Jayavarman II.

Tentu bahasa Khmer yang kukuasai sangat terbatas, tetapi Amrita kemudian se lalu akan menjelaskan semuanya, sehingga aku bisa menceritakannya kembali dengan lebih baik.

"Dikau dengarkah pernyataan dari istana, betapa kekuasaan raja kini didasarkan kepada igama?"

"Memang kudengar dari penyampaian warta di tanah lapang di depan istana kemarin, bahwa peranan raja secara resmi ditingkatkan sebagai utusan dewa." "Ya, seperti raja-raja di Jambhudvipa." "Padahal ia baru tiba dari Jawadwipa."

"Tidak kuranglah pengaruh Jambhudvipa kepada wangsa Syailendra."

"Masalahnya, mungkinkah ada manusia percaya bahwa dirinya sendiri adalah utusan dewa?"

"Ah, tentu saja ini hanya permainan penguasa, untuk menjalin kembali hubungan dengan kejayaan masa lalu, yakni Kerajaan Tchen-la."

"Bagaimana caranya?"

"Dengan kepercayaan yang sama."

"Memuja Siva? Bagaimana kita tahu orang Tchen-la tidak berigama Buddha?"

"Tidakkah candi-candi yang ditinggalkannya berbicara?"

"Tetapi sejak Tchen-la itulah Mahayana memasuki wilayah kita dan diterima banyak orang karena menghapus kasta?"

"Jadi kenapa kita semua tetap sudra, bahkan kedua orang itu termasuk paria?"

Orang terakhir ini berbicara sambil menunjuk diriku dan Amrita, yang menganyam tikar berdampingan tanpa bicara.

"Artinya Mahayana memang menyebar tanpa harus menghapus segala sesuatu sebelumnya."

Untuk tidak memancing kecurigaan, aku dan Amrita saling melirik pun tidak. Kami terus menganyam, dan terus mendengarkan, karena memang itulah tujuannya kami melakukan penyamaran.

Dengan banyak diam dan mendengarkan, kami telah mendapat banyak pelajaran berharga. Amrita, meskipun hidup di negeri ini, karena hidupnya hanya untuk ilmu silat, sering meluputkan banyak pengetahuan yang semestinyalah diketahuinya. Seperti berikut yang juga kuhimpun dari percakapan sehari-hari ini.

Seperti di Jambhudvipa yang igamanya telah mereka peluk, orang Khmer menganggap tempat pemujaan sebagai tempat tinggal dewa dan berhala memang menghuni tempat itu, sehingga mudah bagi mereka untuk memujanya, bahkan memaksanya dengan suatu upacara yang pantas agar dapat memberi keuntungan yang diinginkan kepada manusia.

Candi dan dewa yang dipuja hanyalah dua di antara sejumlah unsur upacara. Para pendeta memerintahkan pengadaannya kepada para pelaksana. Mereka tidak memberikan pilihan lain se lain cara untuk melaksanakan upacaranya. Tempat pemujaan itu bukan merupakan tempat bertemu para pemeluk teguh yang terpanggil untuk berdoa. Mereka bahkan dilarang masuk ke tempat itu. Hanya para brahmana terdidik yang berhak masuk ke dalam candi untuk melakukan pemujaan. Aku jadi maklum kenapa candi-candi orang Khmer dapat dikatakan sempit, dan semula merupakan susunan bangunan kecil terpisah-pisah. Apakah itu menara pemujaan yang hanya cukup diisi arca dewa utama, satu atau beberapa tempat pemujaan tambahan untuk para pengikutnya, isteri-isterinya, wahananya, yang terbuat dari kayu dan dengan sendirinya lenyap dimakan waktu, yang semula menjadi tempat benda-benda upacara untuk memuja, maupun tempat menyimpan kitab-kitab suci.

Segalanya dilindungi dalam benteng yang dilengkapi pintu- pintu masuk, sebagai penggambaran tempat pemujaan utama dalam bentuk kecil, yang berisi wahana dewa atau dewi-dewi pelindung. Setelah semua itu, terdapat bangunan tempat tinggal para pendeta, pemain musik dan penari suci, pelayan- pelayan dan budak belian. Semuanya juga terbuat dari kayu, dan karena itu tak akan bertahan seperti jika terbuat dari batu, dan tanpa kayu itu lagi keberadaannya hanya ditunjukkan oleh benteng kedua. Begitulah kadang-kadang dalam pengembaraan kami kenali terdapatnya istana-istana, maupun rumah-rumah sederhana, yang sebetulnya sudah hilang dan keberadaannya kami kenali dari parit besar yang menjadi tempat penampungan air.

MEMPERHATIKAN penataan hiasan dan benda-bendanya, candi-candi mengungkapkan kepercayaan kepada dewa-dewa yang ada di dalamnya. Menyamar sebagai berigama Hindu, apa pun alirannya, kami mesti tampak percaya betapa dewa- dewa utama tinggal di pusat dunia, di Gunung Meru yang suci, serta menguasai ruang dan waktu. Denah tempat tinggal duniawi mereka diarahkan berdasarkan empat penjuru mata angin. Bagian muka dan pintu utama menghadap ke timur, arah matahari terbit, sebagai sumber kehidupan. Candinya, yang dianggap sebagai terletak di pusat ruang dalam benteng yang melambangkan batas-batas alam semesta, melambangkan Gunung Meru tempat dewa bersemayam di dalam berhalanya. Bahkan sering dimaksudkan sebagai tiruan gunung suci, dengan bentuknya yang memuncak dan siluet yang meruncing.

Candi dibangun di tengah ibu kota, dekat istana raja, agar dapat mengungkapkan pusat alam semesta secara meyakinkan, tempat dewa dan wakilnya di dunia yang tentu saja sang raja sendiri, bersemayam dan memerintah dunia. Pada dinding tempat pemujaan, terpahat adegan-adegan yang menceritakan riwayat dan perlakuan istimewa dewa, selain memperlihatkan para pemuja serta sesajen bunga. Demikianlah rakyat mengabadikan diri mereka sendiri, agar dapat terus menyanjung-nyanjung sumber segala kemakmuran mereka. Budaya persembahan seperti itu dipertahankan berabad-abad tanpa perubahan, kecuali ukuran-ukurannya, dalam pengawasan kitab-kitab suci yang dianggap memiliki kekuatan gaib. "Bangunan ini hanya berguna selama igamanya memberi berkat," ujar Amrita suatu ketika di antara puing-puing bangunan di atas bukit.

Bukan sekali itu kulihat bangunan menjadi reruntuhan, tak lebih karena ditinggalkan dan tidak dirawat lagi. Pergantian kekuasaan sangat mungkin mengubah kepercayaan penduduknya, karena igama sering dan terlalu sering dipergunakan penguasa untuk mendukung segenap kebijakannya.

Mendadak suara cambuk meledak keras di telingaku. "Menganyam atau melamun? Awas! Tikar yang dikau

tangani itu harus selesai hari ini juga! Jika tidak rasakanlah akibatnya!"

Lantas cambuk itu meledak lagi dan meledak lagi. Aku dan Amrita berusaha keras menjaga, agar dalam keadaan seperti itu tetap tidak saling memandang sama sekali.

(Oo-dwkz-oO)