Nagabumi Eps 112: Tanah Peperangan

Eps 112: Tanah Peperangan

MAYAT sudah bertumpuk-tumpuk di bawah ketiga tiang Puncak Tiga Rembulan yang menjulang ke langit dan menembus awas bagaikan persembahan bagi dewa-dewa entah di mana yang menuntut persajian. Tubuh-tubuh yang semula terpotong irisan raksasa nan tajam karena Jurus Pendeta Mengipas karena Kepanasan, tertumpuk tubuh-tubuh menghijau karena jarum beracun yang tampaknya saja disebarkan berhamburan, tetapi yang setiap jarumnya mengenai setiap sasaran dan membuatnya tersentak bergelimpangan. Potongan senjata tajam yang digiling Jurus Kipas Menelan Matahari bertebaran di mana-mana sampai menutupi rerumputan. Bau amis darah meruap. Bencana yang masih akan datang jika Amrita terus diserang sungguh tak terbayangkan. Namun bagaimanakah kiranya Amrita akan dibiarkan bebas berkeliaran, jika telah sangat jelas putri raja itu yang merancang segenap pembunuhan gelap yang nyaris melumpuhkan pemerintahan?

Sembari terus berkelebat menghindari serangan, aku membayangkan berbagai kemungkinan jika pertempuran ini diteruskan. Pertama, gelombang pasang manusia akan dikerahkan lagi yang dise lang-seling hujan tombak serta anak panah yang betapapun penangkisannya akan melelahkab; dalam kedua cara ini mayat tetap akan bergelimpangan, yang pertama karena dihabisi Jurus Pendeta Mengipas karena Kepanasan, yang kedua karena Amrita sangat mungkin akan menyebarkan jarum-jarum beracunnya lebih dahulu sebelum tombak dan panah dilepaskan. Kedua, jika secerdik yang kuduga, pada saatnya mereka akan melonggarkan kepungannya sampai seratus atau dua ratus langkah, sekadar menjamin Amrita tidak bisa lolos, kalau perlu terus menyerang dengan para prajurit pilihan sampai Amrita kelelahan. Aku tahu meskipun mengetahui para prajurit itu akan tewas, sekali pilihan dilakukan kemungkinan tewas sudah diperhitungkan untuk dikorbankan.

Meskipun belum dijalankan, kemungkinan kedua harus kuakui lebih bagus dari yang pertama, dengan suatu catatan: Kemampuan Amrita menjalankan Jurus Pendeta Mengipas karena Kepanasan itu sesungguhnyalah menunjukkan ketinggian tingkat tenaga dalam, begitu tingginya sehingga sangatlah mungkin bahwa dalam jangka panjang justru pasukan kerajaan ini yang akan lebih dulu kelelahan. Tentu kumaklumi kemarahan para petinggi istana atas segala pembunuhan gelap penuh perhitungan yang ternyata dilakukan orang dalam, tetapi pengerahan selaksa manusia untuk menjamin penangkapan ini bagaikan pekerjaan yang berlebihan dalam perbandingan dengan tuntutan keadaan. Terkumpulnya selaksa manusia demi pengepungan jelas tak hanya mengandalkan pasukan kerajaan, melainkan juga penduduk desa maupun kotaraja yang terpaksa meninggalkan kewajiban. Kelumpuhan pemerintah akan diikuti kelumpuhan negara apabila sebagian besar rahayat takdapat menjalankan kewajiban. Apakah yang akan terjadi pada sebuah negeri jika para petani meninggalkan sawah dan ladang, para tukang melepaskan peralatan, dan para seniman menimang kelewang, segalanya dikerahkan demi penangkapan Amrita seorang?

APABILA kemudian Amrita memang begitu kuatnya sehingga penuh daya bertahan dalam pengepungan, bagaimanakah caranya kemudian membuat mereka semua tetap makan? Jika kemudian bagaimana mereka akan makan dan minum itu telah dipersiapkan, tidakkah itu merupakan sebesar-besarnya pekerjaan? Memang aku telah mendengar riwayat Kambuja yang penuh peperangan. Seorang teman seperjalanan dalam kapal bercerita bahwa dalam Sejarah Wangsa Tsin, pada bab biograf i T'ao Houang, seorang kepala daerah Tonkin yang menjadi bagian Negeri Atap Langit, terdapatlah pemberitahuan bawahannya yang mengeluh atas serbuan Kerajaan Lin-yi sekitar tahun 280. Disebutkan bahwa, ''...kerajaan itu berada di sebelah selatan, berbatasan dengan Kerajaan Fu-nan, banyak sekali jum lah sukunya, gerombolan- gerombolan yang hidup bersahabat, saling menolong, mereka memanfaatkan keadaan daerah mereka yang berbukit itu dan tidak mau tunduk kepada Negeri Atap Langit.'')

Kerajaan Lin-y i adalah catatan pertama tentang keberadaan Campa dalam sejarah Negeri Atap Langit, ketika didirikan pada

192. Dikisahkan bahwa seorang punggawa pribumi bernama

K'ieu-lien memanfaatkan keuntungan dari merosotnya Wangsa Han Akhir, untuk membentuk wilayahnya dari sebagian wilayah ketentaraan Negeri Atap Langit, yang terletak antara bukit barisan Hoanh-son dan Lintasan Mega. Ia menyatakan diri jadi raja di Sianglin, wilayah paling selatan Campa. Terbentuknya Kerajaan Lin-yi berawal setengah abad sebelumnya, tahun 137, ketika untuk kali pertama Siang-lin diserbu segerombolan orang yang disebut tidak beradab, sekitar seribu orang, dari luar perbatasan Je-nan. Mereka yang disebut orang-orang tidak beradab itu adalah orang-orang Cam, bahkan juga Malayu, tetapi yang waktu itu belum berigama Hindu dari dewa yang mana pun.

Adalah orang-orang yang dituliskan sebagai tak beradab ini dalam Sejarah Tiga Kerajaan yang telah menolak pemberian upeti, yakni raja-raja Fu-nan, Lin-y i, dan T'ang-ming yang alih- alih mengantar upeti, pada 248 pasukan Lin-yi menjarahi kota- kota di sebelah utara, dan sesudah pertempuran besar di teluk sebelah selatan Ron, menguasai wilayah K'iou-sou di daerah Badon di tepi Song Gianh. Akhirnya raja Fan Hiong, cucu K'ieu-lien dari pihak keluarga ibu menyerang lagi pada 270, dibantu Fan Siun, raja Fu-nan. Tidak kurang dari sepuluh tahun waktu yang diperlukan T'ao Huang, kepala daerah Tonkin itu, untuk mendesak orang-orang Lin-yi masuk kembali ke perbatasan mereka sendiri.

Perang selanjutnya berlangsung tahun 347, ketika raja Fan Wen yang berhasil mendamaikan suku-suku yang masih liar, meminta kepada Maharaja Tsin agar perbatasan utara ditetapkan pada Gunung Hoanhson. Sejak dim inta dari tahun 340, kaisar terus ragu-ragu melepaskan tanah subur Je-nan itu, dan Fan Wen merebutnya tujuh tahun kemudian. Namun pada 349 ia meninggal ketika sedang melancarkan penyerbuan di sebelah utara perbatasan baru itu. Fan Fo, anak Fan Wen, yang gagal dalam serbuan-serbuan tahun 351 dan 359, terpaksa mengembalikan Je-nan kepada Negeri Atap Langit pada 372 dan 377 sete lah Sang Maharaja mengirimkan utusan-utusannya. 4) Ternyata adalah Fan Fo ini yang terkenal sebagai Bhadravarman, pendiri candi pertama di M i-son yang dipersembahkan kepada Siva Bhadresvara, karena dalam catatannya orang-orang Negeri Atap Langit sulit mengalihkan bahasa Sansekerta ke aksara mereka sendiri. Setelah Fan Fo meninggal, lagi-lagi negeri ini menyerbu Je-nan pada 399, dipimpin Fan Hou-ta, mungkin anak atau cucu Fan Fo, dan lagi-lagi gagal. Dalam suasana kacau yang berlangsung setelah jatuhnya Maharaja Tsin, kembali Fan Hou-ta melancarkan serangan pada 405, 407, dan 413 ke dalam wilayah utara Je-nan. Di sanalah Fan Hou-ta gugur.

ORANG yang bercerita kepadaku di dalam kapal tidak mengetahui apa yang terjadi setelah itu, hanya saja pada 420 muncul seseorang bernama Yang Mah yang artinya Pangeran Emas. Ia menyerang daerah Tonkin dan minta dikukuhkan sebagai raja oleh Negeri Atap Langit. Namun tahun itu juga ia sudah mati. Anaknya yang masih berusia 19 tahun juga mengambil gelar Pangeran Emas dan melanjutkan penjarahan ke utara. Pada tahun 431 ia mengerahkan seratus kapal untuk merampok sepanjang pesisir Je-nan. Serangan ini dibalas Negeri Atap Langit dengan pengepungan Kiiou-sou, tetapi meskipun Pangeran Emas tidak di tempat, badai telah mengacaukan segalanya, sehingga kepungan terpaksa dilonggarkan.

Kesempatan ini membuat Pangeran Emas berusaha meminjam pasukan dari Fu-nan, dengan alasan untuk menjatuhkan Tonkin yang pernah ia minta pada 433 kepada Negeri Atap Langit. Namun permintaan ini tidak dipenuhi. Sebaliknya, serangan-serangan Cam yang semakin mengganggu itu membuat kepala daerah Tonkin yang baru, T'an Ho-tche, pada 446 menyerang dan membantai dengan keras. Selain berbagai perundingan dengan bangsa Cam berlangsung curang, ia pun menyerang dan merebut kembali Kiiu-sou. Penyerbuan Negeri Atap Langit yang lain sampai merebut kotaraja Hue dan tak kurang dari lima puluh ribu kilo emas dirampas.

Kemudian orang yang bercerita di dalam kapal itu menyebut-nyebut Nagasena. Namun kenapa disebutnya pendeta Hindu? Lagipula, apakah Nagasena masih hidup tahun itu? Nagasena manakah yang diceritakannya dan ada berapa Nagasena di dunia ini?

Katanya, "Pada tahun 484, raja Jayavarman dari Fu-nan mengutus pendeta Hindu Nagasena mempersembahkan hadiah kepada Maharaja Negeri Atap Langit, sekalian memohon bantuannya untuk menaklukkan Kerajaan Lin-y i. Maharaja Negeri Atap Langit menyatakan terimakasihnya kepada Jayavarman atas hadiahnya itu, tetapi tidak mengirimkan pasukan untuk menundukkan Lin-y i."

"Bagaimana sikap Jayavarman," tanyaku waktu itu, dalam bahasa Malayu yang dikenal para pengembara Khmer.

"Tidak diketahui apa yang dilakukan Jayavarman, yang pasti pada 491 perebut takhta itu masih memerintah dengan nama Fan Tang-ken-tch'ouen dan mendapat pengukuhan dari Negeri Atap Langit sebagai Raja Lin-y i. Namun tahun berikutnya, pada 492 ia diturunkan dari takhta oleh keturunan Pangeran Emas yang bernama Tchou Nong, yang memerintah selama enam tahun, dan tidak jelas sebabnya, tenggelam di laut pada 498."

Akupun tak tahu kenapa percakapanku dengan teman sekapal dalam kegelapan malam ketika menyusuri Sungai Mekong itu muncul kembali sekarang, justru ketika aku seharusnya memeras otak menyelesaikan persoalan di tengah kepungan. Aku masih terus berkelebat naik turun seperti kelelawar tanpa pernah menyentuh apapun untuk membuatku tetap berada di udara. Mungkin karena aku memang bergerak cepat dan memang sangat amat cepatnya, takterimbangi oleh satupun dari para pengawal rahasia istana Jayavarman II itu, maka dari segala sesuatu yang menjadi lambat dan sangat amat lambatnya, aku bagaikan mendapat ruang tempat segala kenangan berkelebatan. Cerita teman sekapal tentang peperangan di tanah Kambuja dari zaman ke zaman, tempat orang-orang Cam selalu memberi perlawanan kepada kekuasaan Negeri Atap Langit, terus berlanjut.

Pada 534, Rudravarman seperti para pendahulunya melanjutkan serangan ke utara, tetapi dikalahkan Pham Tu, jenderal dari Li Bon yang baru memberontak melawan penguasaan Negeri Atap Langit dan telah menguasai Tonkin. Sangat mungkin pada saat inilah berlangsung kebakaran di Mi- son dengan akibat kehancuran candi Bhadresvara yang pertama. Agaknya raja manapun memang akan berhadapan dengan kekuasaan Negeri Atap Langit yang sudah membentang dengan begitu luasnya itu. Terhadap Kemaharajaan Tengah, raja Sambhuvarman yang oleh penulisan Negeri Atap Langit disebut Fan Fan-tche, berusaha memanfaatkan kelemahan Wangsa Tchien yang berkuasa antara 557-589 dan menyatakan taklagi takluk sebagai raja bawahan. Namun setelah kemaharajaan itu bangkit lagi di bawah Yang Kien, yang menyatakan diri sebagai raja Souei pada 589, ia merasa lebih aman memulihkan kembali hubungan, dan pada 595 mengirimkan upeti kepada Yang Kien.

Kini aku ingat sebuah cerita yang berhubungan dengan upeti, tetapi kukira lebih baik kuceritakan nanti.

SEKARANG kusambung dulu kisah teman sekapal, yang melanjutkan bahwa sepuluh tahun kemudian, tahun 605 tentunya, sang maharaja menugaskan Lieou Fang yang baru saja merebut Tonkin kembali, untuk memimpin penyerbuan ke Campa. Perlawanan Sambhuvarman yang -sia membuat balatentara Negeri Atap Langit menduduki Kíiu-sou dan kotaraja Tra-kieu serta membawa pulang rampasan yang bukan a lang kepalang banyaknya dari negeri kaya itu. Setelah pasukan Negeri Atap Langit mengundurkan diri, Sambhuvarman kembali ke negaranya dan minta maaf kepada sang maharaja. Semasa pemerintahan Maharaja Yang Kien, lagi-lagi Sambhuvarman seperti tidak peduli atas kewajibannya untuk membayar upeti, dan hanya setelah Wangsa Tíang memegang kekuasaan pada 618, setidaknya ia tiga kali mengirimkan utusan, pada 623, 625, dan 628.

Menurut teman seperjalanan dalam kapal layar yang menyusuri Sungai Mekong itu, kemungkinan besar adalah Sambhuvarman yang menerima Menteri Simhodewa dari Kambuja, utusan Mahendravarman untuk mengadakan hubungan dengan Campa. Pemerintahan Sambhuvarman yang baru berakhir tahun 629, membangun kembali puingpuing tempat suci yang aslinya dibangun oleh Raja Bhadravarman. Salah seorang penggantinya, Prakasadharma, memerintah antara 653 sampai 686, keturunan Isanavarman dari Tchen-la melalui garis keturunan perempuan, mengabdikan se luruh masa pemerintahannya untuk memperindah M i-son dan membangun segala peninggalan awal Cam.

Namun teman itu kuingat menarik perhatianku pada kisah sebelumnya, bahwa cucu Sambhuvarman dari Kandarpadharma, yakni Prabhasadharma, telah dibunuh tahun 646 oleh salah seorang menterinya. Bagian ini meruyak kembali karena aku teringat akibat pembunuhanpembunuhan gelap Amrita yang luar biasa ini, pengerahan pasukan berlebihan yang membuatku berpikir keras atas pengaruhnya kepada seluruh negeri. Jika jalan pikiranku juga menjadi jalan pikiran Amrita, maka mati pun akan dijalaninya, asalkan pengerahan selaksa manusia yang telah berkurang puluhan ribu orang ini memang akan membatalkan kejayaan Angkor yang berdiri di atas puing-puing Kemaharajaan Tchen-la.

Tiada kisah peperangan sete lah ini. Keturunan Kandarpadharma yang naik tahta sebagai Vikrantavarman, dalam masa pemerintahannya yang lama dan damai memperbanyak bangunan suci di M i-son, di Tra-kieu, dan beberapa tempat lain di daerah Quang-nam. Semua itu bangunan pemujaan kepada Wisnu, yang tidak kuketahui kenapa disebut teman sekapal itu sebagai, ”Lebih bersifat susastra daripada igama.” Ia tercatat mengirim utusan ke Negeri Atap Langit pada tahun 653, 657, 669, dan 670. Penggantinya, Vikrantavarman II masih mengirim setidaknya 15 utusan antara 686 dan 731. Urusan upeti dan utusan ke Negeri Atap Langit ini ternyata membentuk cerita tersendiri yang juga belum dapat kusampaikan sekarang, karena harus kuceritakan sekarang bagian yang telah kukenal, bukan sekadar karena berlangsung pada zaman yang sama dengan hidupanku saat itu, tetapi karena masa kekuasaan Wangsa Sailendra di lautan se latan, bagi Campa dan Kambuja merupakan kurun waktu yang rawan.

Saat itulah nada bicara teman sekapal tersebut menjadi terdengar getir.

”Maka Rudraloka pun digantikan Satyavarman, anak saudara perempuannya yang harus menghadapi serangan dari Jawadwipa pada tahun 774,” katanya.

Lantas ia kutip prasasti yang pernah kuceritakan dahulu. ”Orang-orang yang lahir di negeri-negeri lain, orangorang

yang hidup dari makanan yang lebih menjijikkan dari bangkai,

orang-orang yang menakutkan, sama sekali hitam lagi kurus, mengerikan lagi jahat seperti maut, yang datangnya naik kapal. Menghancurkan candi Po Nagar di Nha-trang yang pertama, yang pembuatannya adalah titah Raja Vichitasagara, raja dari alam dongeng. Lantas mereka mencuri lingganya. Meski kemudian dengan kapal-kapal yang lebih baik dan dikalahkan di lautan.”

SATYAWARMAN memang membangun kembali candi baru dari batu bata pada 784. Namun adiknya, Indravarman yang menggantikannya sementara ia pergi ke Jawadwipa, juga masih menghadapi serangan dari Jawadwipa pada 787, yang merusak candi Bhadradhipaticvara di sebelah barat kotaraja Virapura.

Lamunanku terputus karena duabelas pisau terbang meluncur dengan tujuan merobek sayap kulit kambing ini agar aku tidak bisa terbang naik turun seperti kelelawar lagi. Aku menangkap keduabelas pisau terbang itu, enam di tangan kanan dan enam di tangan kiri dan mengembalikannya ke arah sang pelempar tanpa maksud membunuhnya.

Srrrrrttttt! Duabelas pisau terbang ini masing-masing masuk ke sarungnya lagi yang melingkar lebar di pinggangnya itu. Tentu menjadi jelas bagi mereka yang mengepungku sekarang, betapa untuk mencabut nyawa mereka bagiku dalam pertarungan yang bukan benar-benar pertarungan ini semudah membalik telapak tangan. Mereka berloncatan menjauh, tetapi tidak melepaskan kepungan. Aku tersenyum. Kurasa aku ingin memberitahukan sesuatu kepada mereka.

Masih di udara dan tidak menyentuh pucuk pepohonan, kusentakkan sayap kulit kambing yang semula adalah selimut itu, yang lantas melayang jatuh dan tersangkut di atas pohon. Aku tersenyum dalam hati melihat mereka semua ternganga, melihatku mengambang di udara...

(Oo-dwkz-oO)