Nagabumi Eps 110: Terjun dari Langit

Eps 110: Terjun dari Langit

AKHIRNYA kugunakan selimut bulu kambing yang kulitnya tersamak sampai lemas itu sebagai sayap kelelawar yang tidak kumiliki. Betapapun ilmu meringankan tubuh Puteri Amrita Vighnesvara itu sudah sangat tinggi, masih perlu pendalaman baginya untuk bisa membuat tubuh begitu ringan, agar dapat berbobot kapas ketika turun me layang perlahan-lahan seperti berpegangan kepada sebuah payung raksasa.

ITU artinya aku harus memondong tubuhnya dan dengan begitu tubuhku tidak bisa menjadi seringan kapas lagi. Kupilih cara turun seperti terbangnya kelelawar, yakni turun dengan kecepatan seperti orang terjatuh tetapi sangat terkendali, karena selaput sayapnya menjadi kemudi. Inilah cara yang telah kugunakan tanpa sayap ketika harus menghadapi kedua burung elang penjaga puncak itu, yang tentu saja memanfaatkan penyerapan Jurus Bayangan Cermin atas Ilmu Silat Kelelawar. Kini, dengan menggunakan sayap kulit kambing, aku bahkan dapat memperlambat laju jatuh kapan saja aku menghendakinya dan terbang naik turun berputar- putar seperti kelelawar. Begitulah dengan Puteri Amrita menempel pada punggungku aku menja-tuhkan diri dengan kepala lebih dulu dari Puncak Tiga Rembulan. Tanganku terpentang, membuka dan menutup seperti cara kelelawar, meluncur ke bawah dengan cepat dan penuh kendali. Begitu tingginya Puncak Tiga Rembulan ini sehingga me luncur turun dengan cepat ini pun rasanya lama sekali. Itulah sebabnya ilmu cicak tidak dapat menjadi pilihan untuk menuruninya, karena meskipun bisa dipercepat dengan tiap sebentar melompat seperti katak sebelum menempel kembali, itu pun akan memakan waktu berbulan-bulan.

Tepat ketika fajar menyingsing dan tiang-tiang Tiga Puncak Rembulan berkilau keemasan, aku melayang dengan Amrita di punggungku memasuki pemandangan terbentang dari lapisan ke lapisan di udara t inggi, menembus mega-mega dan warna- warni pelangi di langit yang berubah-ubah dari ungu ke biru memasuki kuning lantas merasuk kelabu, dengan sangat cepat, tetapi yang terasa sangat lambat, begitu lambat, sehingga dapat kami amati dengan cermat segala sesuatu di atas bumi dari ketinggian ini. Pegunungan Mi-son yang bagaikan gundukan ungu tua, aliran Sungai Mekong dengan anak-anak sungainya berkelak-kelok di atas permadani hijau tua hutan rimba belantara pedalaman Kambuja.

Pemandangan itu akan hilang mendadak apabila aku memutar tubuhku jungkir balik yang membuat Amrita di punggungku tentu terpaksa mengikutinya sebelum kembali kuluruskan tubuhku. Begitulah caranya aku mengatur kecepatan dan kelambatan dalam perjalanan turun ke bum i. Melayang, meluncur, melayang, sebagaimana kelelawar yang bukan burung pun akhirnya dapat terbang. Tiada akan pernah kukira tentunya, betapa Ilmu Silat Kelelawar yang kuserap berkat Jurus Bayangan Cermin, hanya karena jurus ini memang harus menyerapnya terlebih dahulu sebelum mengembalikan jurus ini kembali kepada penyerangnya, akan segera menjadi sangat berguna. Kami masih meluncur, melayang, dan meluncur sembari menembusi berlapis-lapis pemandangan langit sebelum akhirnya mencapai setengah dari tinggi tiang Puncak Tiga Rembulan. Ketinggian luar biasa yang membuat segalanya sangat lambat, terlalu lambat, yang membuat kami dapat menatap dengan cermat bagaimana tubuh Pangeran Kelelawar masih tertancap pada dinding tebing karena tertancap dua pedang hitamku yang melesak sampai ke pangkalnya. Bahkan sempat kukitari lingkar dinding tempat kami mengadu jiwa itu, sehingga tampak jelas tubuhnya yang kaku membeku bagai menyatu dengan batu. Kepalanya tertunduk seperti ketika aku meninggalkannya di sana bersama kedua pedang hitam warisan Raja Pembantai dari Selatan, yang sangat dikenal orang-orang Khmer karena didatangkan wangsa Syailendra untuk membantai siapapun yang menghalangi jalan mereka.

Dingin udara membekukan segala-galanya. Serpihan embun yang menjadi beku menyelimuti se luruh tubuh Pangeran Kelelawar yang selaput kulit kedua sayapnya telah kujadikan alas dan penutup kaki bagaikan sepatu. Kukelilingi tiang itu perlahan-lahan sehingga Amrita bisa selama mungkin memandang paman gurunya itu untuk terakhir kali, sebelum meninggalkannya untuk selama-lamanya. Baru kusadari kemudian betapa keduanya memang sempat lama bersama, sejak Pangeran Kelelawar membawanya pergi dari pelabuhan itu sampai tiba saatnya menyerangku, tepat saat aku tiba di kaki Puncak Tiga Rembulan pada ma lam bulan purnama. Setidaknya duapuluh hari dan barangkali hanya duapuluh hari menjelang bulan purnama, paman dan keponakan perguruan itu sempat bersama dalam usaha Pangeran Kelelawar menyembuhkan Amrita, karena Pangeran Kelelawar itu memang selalu mengembara.

Dalam kenyataannya Pangeran Kelelawar tidak berhasil memecahkan kunci Jurus Penjerat Naga yang telah membocorkan prana, sehingga Amrita takdapat disembuhkannya, dan pada gilirannya takdapat pula memecahkan kunci Jurus

Bayangan Cermin yang telah menyerap Ilmu Silat Kelelawar miliknya, sebelum akhirnya terperangkap pula oleh Jurus Penjerat Naga.

JIKA aku sampai menggunakan Jurus Penjerat Naga itu berarti lawan yang kuhadapi memang tangguh seperti para naga, karena hanya diciptakan terutama untuk menghadapi lawan dengan kesaktian pada tingkat naga. Hanya pasangan pendekar yang mengasuhku saja memilih untuk menciptakan Ilmu Pedang Naga Kembar daripada mempelajarinya, karena memang mencintai permainan ilmu pedang berpasangan.

Sembari mengelilingi tiang sebesar bukit yang berada di tengah itu, aku diliputi perasaan haru menghayati kehidupan Pangeran Kelelawar yang terlempar dari kehidupan istana, mengembara dalam pencarian kesempurnaan dalam dunia persilatan, dan suatu hari tewas di tangan seorang perantau asing dari Jawadwipa. Tidakkah terasa pedih, dikalahkan seorang pendatang, dari bangsa yang telah menjarahrayah dan membakar candi pemujaan sembari menyebarkan pembunuhan, meski memperkaya kebudayaan pula? Namun siapakah yang tidak akan kalah dan mati di ujung pedang dalam dunia persilatan, dalam perjalanan mencari kesempurnaan seperti dikehendakinya? Siapapun dia, betapapun saktinya, selama masih menghendaki pencapaian kesempurnaan haruslah siap untuk mati di tangan siapapun yang lebih unggul daripada dirinya. Jadi selalu siap membunuh dan juga selalu siap dan rela terbunuh -memang di sanalah seorang pendekar mempertaruhkan kehormatannya.

Kemudian kuketahui betapa Amrita pun menangis. Air matanya meleleh pada pipinya yang membeku. Aku sangat mengerti bagaimana ikatan dalam perguruan silat bisa lebih erat daripada ikatan kekeluargaan. Apalagi keduanya berada di tempat yang sama dalam keadaan yang rawan, bahwa Amrita terancam kematian dan Pangeran Kelelawar bersiap menghadapi kematian. Kemudian bukan hanya airmata, tetapi juga suara sesenggukannya terdengar olehku di antara deru dingin, yang semakin lama semakin mengencang angin, meski bukanlah maksud Amrita yang menempel di punggungku itu untuk memperdengarkan kedukaannya yang sangat dalam dan memedihkan.

Kuusahakan melayang lebih dekat dan semakin dekat, karena apalagi dengan Amrita di punggungku tiada mungkin kami melayang naik. Dalam jarak yang dekat tetapi tentu takbisa berhenti, wajah Pangeran Kelelawar yang betapapun memang beku menyatu batu bagaikan masih hidup, dengan tangan terkulai lemas, tetapi takbergoyang dalam tiupan, sementara dua pedang menancap seperti bagian tubuh itu sendiri. Meskipun tubuh itu jelas tiada bernyawa, tetapi kedudukan tubuh yang bagaikan menyatu pada batu seperti itu, wajah yang tertunduk dengan mata terpejam bagaikan tepekur begitu, seperti menyimpan banyak sekali cerita.

Akhirnya harus ditinggalkan juga tubuh Pangeran Ke lelawar yang semakin lama semakin mengecil itu, meninggalkannya dengan segala cerita yang ada padanya, semakin jauh dan semakin jauh. Aku terus meluncur ke bawah, bahkan mempercepatnya, dengan mengapitkan kedua tangan sejajar tubuh dengan kaki yang juga terkatup rapat. Bagai terdengar ledakan di telingaku ketika tubuhku dengan Amrita menempel pada punggungku menembus segala lapisan udara, meluncur dan meluncur turun langsung ke bumi. Percepatan kulakukan karena perjalanan memang masih jauh. Perasaan telah melayang dengan lambat hanyalah pertanda betapa Puncak Tiga Rembulan ini sangatlah tinggi.

Betapapun setelah meninggalkan titik tempat tubuh Pangeran Kelelawar tertancap sendirian itu perjalanan tinggal separuh lagi. Aku ingin segera kembali ke bumi karena dingin udara langit memang bagaikan taktertahankan. Selimut telah kujadikan sayap untuk mengemudi, sehingga diriku hanya dibalut kancut dan kain jubah dari kapal yang jauh dari cukup untuk menahan dingin, serta Amrita busananya lebih parah lagi, takmengenakan apapun di bagian atasnya dan dari pinggang ke bawah masih saja kain tembus pandang gaya Fu- nan, yang meskipun tidaklah set ipis tampaknya apalah artinya pada ketinggian di antara mega-mega?

Aku meluncur turun, turun, dan turun, kini sengaja tegak lurus ke bawah karena aku tidak ingin membuang waktu lagi. Dalam sekejap sepertiga dari setengah bagian bawah itu terlampaui, dan kiranya akan terus meluncur jika Amrita tidak mengingatkan bahwa aku tidak bisa terus menerus menjatuhkan diri tegak lurus kecuali ingin jatuh seperti karung dan hancur lebur meleleh seperti buah kates jatuh dari atas pohon kelapa.

''Menyamping! Menyamping!'' Amrita berteriak di telingaku.

Tentu aku tahu bahwa kini tiada lagi mega yang akan tertembusi dan karena itu sudah waktunya kusesuaikan kejatuhanku dengan tarikan bumi, maka akupun berputar satu kali sebelum membelokkan arah menyerong, menjauhi ketiga tiang Puncak Tiga Rembulan, melampau hutan, dan setelah itu membentangkan lagi kedua kaki dan tangan.

DENGAN segera penurunanku tertahan, melambat, dan aku melayang lagi mengitari wilayah hutan yang pernah kurambah ketika mencari Puncak Tiga Rembulan, dan di luar hutan itulah terlihat titik-titik seperti semut, beribu-ribu semut, yang segera menyebar ketika melihat kami.

"Lihat!'' Amrita berteriak, "pasukan Jayavarman!''

Benarkah mereka memang menanti kedatangan kami? Tidakkah dari bawah sana kami pun taklebih hanya sebuah titik? Aku mencoba melayang menyamping lebih jauh dan lebih jauh lagi dari titik-titik semut yang lari berhamburan menyeberangi persawahan itu. Melayang menyamping memang mengurangi kecepatan, menjadikanku lebih lamban, tetapi tetap menurun dan menurun jua. Arah pendaratanku bagaikan bisa mereka duga. Sebagian pasukan yang berkuda dengan cepat memburuku ke tempat aku takbisa melayang lebih jauh lagi.

Aku masih mempunyai pandangan luas di atas ini, dan dengan sayap selimut kulit kambing ini aku masih bisa mengemudikan diri ke tempat yang aku kehendaki. Sembari melayang dan terpandang hutan, sawah, kampung, lapangan, serta jurang, aku sempat berpikir. Tantangan Pangeran Kelelawar, meski diucapkan dalam bahasa Sansekerta, terdengar oleh set iap orang di pelabuhan Fu-nan. Pertarungan kami mempunyai jadwal yang jelas, yakni pada ma lam bulan purnama, dan tempatnya juga jelas, yakni Puncak Tiga Rembulan. Meski tempat itu, seperti yang kualami, sangat sulit dicapai, jika aku pun sampai ke sana, mengapa harus menjadi lebih sulit bagi orang Khmer sendiri?

Amrita kurasakan semakin erat mencengkeram. Aku berpikir kepungan beribu-ribu orang ini lebih berhubungan kepada dirinya daripada diriku. Bukankah dirinya, seperti yang telah diceritakannya sendiri, telah menyebarkan kematian begitu rupa di istana untuk melumpuhkan pemerintahan Jayavarman? Betapapun telah dimanfaatkannya para pembunuh gelap dari jaringan Naga Hitam, selama pengawal rahasia istana yang terlatih berhasil mengendusnya, sangatlah mungkin kerahasiaannya terbongkar. Telah diketahui betapa Jayavarman II tinggal bertahun-tahun di lingkungan istana di Jawadwipa, dan tentunya ia belajar pula bagaimana memanfaatkan jaringan rahasia seperti Cakrawarti demi kepentingannya.

Kami masih cukup tinggi di udara, setidaknya masih dapat berputar sekali lagi dalam wilayah yang sangat luas ini. Mereka tentu mendengar diriku dan Putri Amrita Vighnesvara ini berada di atas Puncak Tiga Rembulan untuk bertarung ulang, dan karena Pangeran Kelelawar berada di pihak Amrita, maka kemungkinan besar mereka berdua itulah yang akan turun dari atas sana. Namun karena tidak tahu pasti tempat pendaratannya, mereka sebarkan manusia di mana-mana. Apakah mereka perkirakan bahwa siapa pun tidak mungkin meluncur jatuh ke bawah, sehingga di kaki tiang-tiang itu sendiri tidak diperlukan penjagaan oleh seorang pun jua? Kubelokkan arah me layangku kembali menuju kaki Puncak Tiga Rembulan. Setidaknya jika ribuan manusia, yang berkuda maupun tidak berkuda tetap akan memburuku ke kaki tiang- tiang itu, tidaklah mudah bagi siapa pun untuk menempuh rimba raya yang pernah kulalui itu,

Aku melayang makin rendah. Pucuk-pucuk pohon di bawahku, bahkan sejumlah burung terbang berpapasan di atas kami. Kadang-kadang terlirik pula olehku sarang burung dan telur-telurnya di atas pohon itu. Kami melesat ke arah kaki Puncak Tiga Rembulan yang berada di dataran tinggi. Pucuk-pucuk pohon kemudian menyerempet tubuh kami sebelum akhirnya kukerahkan ilm u meringankan tubuh untuk mengurangi pengaruh bobotku yang ditarik perputaran bum i. Amrita telah pula melenting lebih dulu dari punggungku, sebelum aku seharusnya menginjak tanah, yang ternyata kubatalkan karena kudengar suitan senjata rahasia siap merajam tubuhku. Dengan sayap kulit kambing ini, tanpa beban Amrita di punggungku, aku dapat bergerak seperti yang dimaksudkan I lmu Silat Kelelawar, yakni berkelebat terus menerus tanpa menginjak tanah sama sekali. Ribuan jarum beracun yang amis baunya, tanda racun yang tingkatnya tinggi, melesat dan bersuit-suit dari segala arah.

Di atas tanah Amrita telah memegang kipas besar yang kibasan anginnya saja telah merontokkan jarum-jarum itu ke tanah. Namun hujan jarum yang datang dari segala arah itu tidak juga berhenti, sehingga Amrita me lepaskan dua belas pisau terbang ke dua belas arah yang tepat mengenai sasarannya. Dua belas tubuh yang tertancap pisau terbang di lehernya masing-masing terjatuh dari atas pohon di sekitar tiang-tiang Puncak Tiga Rembulan itu. Berhentinya serangan jarum itu membuatku bisa mendarat di bumi.

DARI segala arah telah muncul orang yang memegang berbagai macam senjata, dan lengan mereka berkelat sebagai tanda jabatan tertentu.

''Pengawal istana,'' dengus Amrita, ''apa kerja kalian di tengah hutan ini?''

Jumlah mereka sekitar lima puluh orang. Salah satu pemimpinnya menunjuk ke suatu arah dengan pedangnya.

Amrita memekik tertahan. Para pengawal pribadinya yang kulihat di pelabuhan waktu itu tergantung pada lehernya dan tubuh mereka penuh dengan luka. Tidak kurang dari dua belas orang banyaknya.

Tubuh Amrita bergetar, wajahnya memerah, dan matanya menyala-nyala. Di tangannya segera terpegang satu lagi kipas.

''Kalian harus membayar untuk perbuatan kalian!''

Lantas ia mengepakkan kedua kipasnya ke belakang, dan tubuhnya melayang ringan ke arah pengawal istana yang menunjuk dengan pedang itu. Kulihat Amrita melayang di udara dengan dua tangan yang memegang kipas itu terlipat di samping tubuh menuju ke arah pengawal istana itu, yang dengan begitu mengira Amrita sebagai makanan empuk. Namun begitu ia berusaha membacok kepala Amrita yang seolah-olah tidak terlindung, Amrita me lejit jungkir balik sampai dengan kepala masih di bawah berada di atas kepala pengawal istana itu. Aku sudah tahu apa yang akan dilakukan Amrita, dalam sekejap mata kedua kipas yang sudah mengembang di samping tubuhnya itu tinggal ditepukkannya ke bawah, dan lenyaplah kepala pengawal istana itu tidak kelihatan lagi. Tinggal tubuhnya terbanting dengan darah menyembur deras bagai air mancur dari batang lehernya. Dengan tenaga tepukan itu Amrita melayang jungkir balik ke atas, sehingga ketika kepalanya berada di atas kembali, dapat segera dilihatnya berpuluh-puluh pengawal istana itu keluar dari persembunyiannya, dan semuanya, semuanya tanpa kecuali, melemparkan senjata rahasia jarum-jarum beracun. Masih di udara Amrita menggerakkan kipasnya begitu rupa sehingga tubuhnya berputar bagai baling-baling dengan kipas tersebut sebagai sayap baling-balingnya; maka ribuan jarum beracun itu pun terserap oleh angin pusaran tubuh Amrita yang kini sudah berputar seperti baling-baling itu.

Tidaklah mengherankan bagiku jika di tanah Khmer ini tiada lawan yang cukup sepadan bagi Amrita, yang membuat putri nan cantik serta jelita ini merajalela tanpa tandingan. Pantaslah jika ibarat kata seluruh pasukan bersenjata Angkor dikerahkan untuk menangkapnya. Kemudian akan kuketahui, bahwa sebetulnya adalah Amrita dan para pengawal pribadinya yang telah bergerak ke seluruh Kambuja membasmi golongan hitam di tempat-tempat persembunyian mereka. Maka kedigdayaan Putri Amrita, murid Naga Bawah Tanah yang tidak pernah memperlihatkan dirinya, memang telah menjadi permakluman seisi negara.

Para pengawal istana melesat beterbangan ke arah Amrita yang masih berputar, tetapi saat itulah Amrita mendadak berhenti berputar, melenting ke luar dari lingkaran jarum yang berpusar sambil mengibaskan kedua kipasnya mengikuti pusaran itu, mendorong jarum-jarum itu dengan tenaga pusarannya yang dahsyat melesat kembali ke arah para penyerangnya! Demikianlah ribuan jarum itu berurutan keluar dari pusaran, menyambut para pelemparnya sendiri dengan janji perajaman. Terpaksalah para pengawal istana ini, sembari masih meluncur di udara, menggerakkan senjatanya untuk menangkis jarum-jarum beracun mereka sendiri. Maka bagi Amrita yang sementara itu telah sampai ke bumi, terdapatlah kesempatan untuk menjejakkan kakinya lagi, melesat dengan kedua kipas tertutup yang ketajamannya melebihi pedang, berkelebat cepat membuat garis di bagian tubuh setiap pengawal istana, yang ketika menangkis jarum- jarum itu pertahanannya jadi terbuka. Membuat garis artinya melubangi tubuh di tempat yang mematikan.

Ketika Amrita mendarat kembali hampir se luruh pengawal istana yang menyerangnya itu sudah tewas. Dari garis yang diguratkan Amrita di tubuhnya merembes darah, yang semula memang hanya membentuk garis, tetapi lantas membanjir menggenangi tanah. Sisanya yang masih hidup mengerang- erang sebentar, tetapi segera tewas menyusul yang lain menuju nirvana jika mereka mempercayainya. Dalam sekejap mata putri istana yang halus mulus dengan telapak tangan selembut kapas ini telah menewaskan limapuluh pengawal istana. Aku yang baru saja menginjak tanah bahkan belum sempat berbuat apa-apa. Untuk berterus terang, bahkan belum sempat menarik nafas sama sekali!

Peristiwa yang baru saja kuceritakan secara rinci itu sebenarnyalah berlangsung dalam sekejap mata.

HANYA karena mereka yang terlibat dalam dunia persilatan, yang pergerakannya serbacepat, begitu cepat, melebihi kecepatan pikiran, matanya terlatih untuk mekakukan pengamatan. Jadi segala yang berkelebat tetap saja berkelebat, bukan tak mungkin lebih cepat dari pikiran, tetapi pengajian atas pengamatan tetap bisa dilakukan, atas pandangan mata yang terlatih menanggapi percepatan pergerakan.

Kulihat Putri Amrita yang memunggungi diriku, berdiri tegak dengan kaki terbentang, menatap tajam ke dalam hutan yang memperdengarkan suara gemuruh datang suatu barisan. Kupejamkan mataku dan melalui ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang kuketahui betapa selaksa manusia yang bermaksud mengepung kami sedang mendatang dengan bergelombang. Di dalam, di atas, maupun di luar hutan. Agaknya memang tiada celah yang ingin mereka berikan. Berlindung di antara kerimbunan hutan sudah tiada memungkinkan, karena telah dipenuhi pasukan; jika melenting ke atas pucuk-pucuk pepohonan, maka di sana kulihat pasukan pengawal rahasia istana, yang paling tinggi ilmu silatnya dari berbagai kesatuan keprajuritan, telah berteberan dan berayun ringan di ketinggian; lantas kalaupun dengan suatu cara kami lolos dari hadangan, di luar hutan masih terdapat lautan pasukan kerajaan yang menyemut untuk memastikan berhasilnya penangkapan.

Kusaksikan Putri Amrita, dan kuraba sayap kulit kambing yang masih terikat pada kedua tanganku. Barulah kusadari betapa Ilmu Silat Kelelawar yang terserapnya hanya secara kebetulan dan tidak diniatkan, kini sungguh bagiku menjadi andalan. Gelombang manusia muncul dari dalam hutan bagaikan a ir pasang.

(Oo-dwkz-oO)