Nagabumi Eps 11: Rajamangsa; Agen Rahasia Ganda

Eps 11: Rajamangsa; Agen Rahasia Ganda

AKU membuka mata. Mereka tidak berada di ruangan ini. Aku masih tengkurap. Kudengar mereka masih berbisik?bisik di ruangan sebelah.

"Ayah, nanti malam mereka akan memainkan Pembantaian Seratus Pendekar itu..."

"Hhhh... Salah satu korban pembantaian itu adalah kakekmu."

"Ya, ayah pernah bercerita tentang itu, dan ilm u pengobatan ini adalah warisan beliau."

"Ia juga berpesan agar kita t idak menaruh dendam, karena kematian dalam pertarungan adalah jalan seorang pendekar."

Mereka terdiam. Aku menahan nafasku. Itulah yang tidak pernah terpikir pada masa lalu oleh kepalaku. Mereka yang tewas mungkin punya keluarga, yang meskipun rela, tidak akan pernah melupakannya. Siapakah kakek dan ayah dari bapak-anak yang telah merawatku ini? Bukankah tidak terlalu mudah menerima kebaikan dari keturunan seseorang yang tewas di tanganku, betapapun melalui tata nilai yang tersahihkan dalam rimba hijau? Aku tak berusaha mengingatnya karena merasa akan sia-sia. Barangkali aku mengingat seratus lawanku malam itu, tetapi jelas sulit menentukan siapa kiranya yang ilmu pengobatannya tergunakan kepada diriku sekarang ini. Lima puluh tahun telah berlalu. Peristiwa itu tidak dilupakan, bahkan mengilhami pertunjukan wayang topeng. Bagaimanakah pandangan banyak orang atas peristiwa itu? Seberapa jauh orang?orang awam memahami dunia orang- orang sungai telaga dunia persilatan?

Aku menggerakkan tubuh, balai-balai kayu itu berbunyi, dan mereka bergegas datang dari ruang sebelah.

"Sudah bangun Bapak? Minum lah dan silakan makan.

Bagaimana rasa punggungnya?"

Aku tidak segera menjawab, tetapi kurasakan seperti sudah hilang luka-luka karena cambuk berduri itu. Kalau memang sudah sembuh, obat mereka sungguh-sungguh mujarab!

"Maafkan kami tidak dapat menghilangkan bekas luka itu Bapak, bekas itu tidak bisa hilang..."

Maksud mereka jelas, banyak orang akan mengetahui aku pernah dicambuk oleh alat negara, selama aku tampak di jalanan tanpa jubah yang menutupi se luruh tubuh. Aku jadi teringat baju berkantung dan isinya.

"Baju Bapak sudah sobek, bahkan hancur punggungnya, kami terpaksa membuangnya. Sebagai gantinya kami sediakan kain yang bisa dipakai sebagai jubah. Ini milik Bapak yang terdapat dalam kantung baju Bapak..."

Aku beranjak bangkit. Ingin sekali melihat punggungku, tetapi tidak semua orang memiliki cermin sebagai bagian rumahnya. Bahkan aku sudah terlalu lama tidak tahu bentuk rupa wajahku sendiri. Tabib muda itu mengulurkan pundi- pundi kulit dan lembaran lontar dengan gambar diriku sendiri.

Kami saling berpandangan, tetapi kurasa ia tidak mengenaliku. Meski ia mengetahui rambutku hitam karena disemir, aku te lah mencukur kumis dan jenggot, dan aku tahu itu akan sangat menyamarkan siapa diriku sebenarnya.

"Bapak membawa gambar Pendekar Tanpa Nama yang diburu negara? Apakah Bapak seorang pendekar yang sedang memburunya?"

Memalukan sekali tentunya, jika mengaku pendekar tetapi memburu hadiah dari pencelakaan orang lain pula.

"Ah, sahaya bukan seorang pendekar, sahaya hanya menemukannya tergeletak di jalanan. Sahaya hanya seorang paria pengembara, candala t iada berharga yang tidak memiliki kepandaian apa pun jua. Terima kasih banyak dan maaf telah menyibukkan Bapak berdua."

Wajah mereka jelas tak percaya, tetapi mereka tampaknya percaya aku bukan orang yang jahat. Dari dalam muncul seorang perempuan muda, mungkin istri tabib muda ini. Ia membawa talam berisi piring dan gelas tanah liat, yang langsung diletakkan di balai-balai tempatku tidur. Ia mengenakan kain yang dicelup warna merah, dikenakan dari pinggang ke bawah.   Rambutnya yang   panjang tampak dim inyaki sehingga berkilat. Dadanya bidang dan buah dadanya membusung. Seorang anak ingusan usia dua tahun tampak memegangi kainnya itu.

"Silakan dimakan Bapak, maaf tidak ada makanan lain di sini."

Aku makan dan mereka semua duduk di bawah memandangiku.

"Kakek sahaya, orang tua ayah sahaya juga tewas di tangan Pendekar Tanpa Nama dalam peristiwa Pembantaian Seratus Pendekar. Apakah Bapak pernah melihat Pendekar Tanpa Nama itu? Karena tampaknya usia Bapak sudah sangat lanjut, meski Bapak memang sehat sekali."

Dia seorang tabib yang baik, aku tidak bisa berpura?pura jadi gelandangan dengan sakit paru-paru di hadapannya. Namun kurasa ia hanya ingin menunjukkan betapa ia tahu masalah disemirnya rambutku.

"Pendekar Tanpa Nama? Bagaimana mungkin sahaya melihatnya, bukankah siapa pun yang pernah melihatnya pasti akan mati?"

Mereka menghela nafas.

"Memang cerita semacam itulah yang kami dengar. Bahkan ia mendapat nama Pendekar Tanpa Nama karena kesempatan untuk mengenali apa pun darinya hanya berakhir dengan kematian."

Cerita ini tentu tidak sepenuhnya benar. Bukankah Pendekar Naga Emas masih hidup ketika meninggalkan aku? Begitu juga dengan Pendekar Melati. Namun aku tiba-tiba seperti menemukan jalan masuk ke dalam penyelidikanku.

"Tapi jika memang begitu, bagaimana kiranya gambar Pendekar Tanpa Nama terdapat pada lembaran lontar seperti itu dan tersebar di antara para pemburu hadiah dan pembunuh bayaran?"

Mereka saling berpandangan. Adakah kata-kataku yang salah? Aku merasa terlalu fasih bicara jika mengaku sebagai candala hina dina. Tabib muda itu menjawab.

"Itulah yang kami tidak mengerti dan tidak seorang pun mengerti. Namun karena ini datang dari istana, sebagai pengumuman negara, banyak orang percaya saja, dan bagi pemburu hadiah hanyalah janji hadiah uang itu yang mereka pikirkan."

Ayahnya menambahkan. "Kenyataan bahwa Pendekar Tanpa Nama itu tidak terkalahkan dengan Jurus Tanpa Bentuk yang dikuasainya seperti sudah dilupakan. Bahkan mereka mengira jika Pendekar Tanpa Nama kini sudah berusia 100 tahun tentu lebih mudah mengalahkannya."

Hmm. Setelah 50 tahun berlalu, pengetahuan yang agak mendekati kenyataan tentang diriku memudar, tetapi sebaliknya beredar cerita ibarat dongeng justru karena tidak mengenali kenyataannya tersebut.

Aku makan dengan lahap. Ternyata aku kelaparan. Kuperhatikan, makanan ini merupakan rajamangsa atau makanan yang biasa dimakan raja. Dalam prasasti bahkan makanan yang hanya berhak disantap bangsawan itu dipahatkan, seperti kambing yang belum keluar ekornya, penyu badawang, babi liar pulih, babi liar matinggantungan, taluwah, anjing yang dikebiri26, dan sebagainya- tapi yang kumakan ini tak jelas bagiku, karena sudah dimasak dan diberi bumbu.

"Itu penyu badawang masak kari, Bapak, istri saya adalah juru masak istana, jadi bisa membawa pulang rajamangsa," ujar tabib muda itu, seperti bisa membaca apa yang sedang kupikirkan.

Aku mengangguk-angguk sambil menelan makanan. Sudah lama aku hanya makan daun-daunan mentah dan lebih mengandalkan zat asam dan air yang begitu penting bagi tubuh untuk bertahan hidup. Sekarang aku makan nasi hangat berkepul-kepul.27 Hmm. Apa yang dicari seorang pendekar dengan segala tapabratanya, jika hanya dengan menjadi orang awam saja kita bisa bahagia? Nun di suatu tempat yang sunyi dan sepi, barangkali dua orang pendekar sedang bertarung mengadu jiwa-apakah yang mereka cari sebenarnya, setelah ilmu silat sa lah seorangnya terbukti unggul dan pendekar yang lain terkapar tinggal nama? Kehormatan dalam jalan pertarungan, itulah pertaruhan filsafat seorang pendekar. Sampai setua ini, aku belum mampu menjawab, seberapa jauh kehormatan itu begitu tingginya sehingga nyawa yang melayang seolah tiada artinya. Nasi yang hangat dengan lauk rajamangsa ini membuatku berpikir bahwa kehidupan ini sungguh layak dijalani. Namun seberapa lama seseorang yang berumur seratus tahun masih bisa terus hidup?

Aku teringat agen rahasia yang membuntutiku, apakah dia masih di luar? Aku tahu dia akan terus membuntuti aku selama kecurigaannya belum terpuaskan, dan aku membutuhkan kecurigaannya itu agar aku dapat membongkar segala sesuatu yang direncanakan istana terhadap Pendekar Tanpa Nama.

Di luar, seseorang mengucapkan salam, dan tabib itu keluar. Agen rahasia itu sudah muncul di depan pintu.

"Bisakah mengurutkan pinggang saya Bapak? Rasanya sakit sekali."

Dia berpura-pura sakit pinggang. Sama sekali tidak melirikku. Sebaliknya aku punya banyak alasan untuk menatapnya dengan jelas. Ia bukan salah seorang perempuan pengawal rahas ia istana yang menguasai ilmu pedang Suksmabhuta itu. Mungkinkah ia tidak berasal dari tempat yang sama?

Inilah intrik kalangan awam yang kubenci. Permusuhan tidak berlangsung terus terang. Betapa sulitnya memastikan dari pihak mana orang ini membuntutiku. Memang ia membuntuti aku setelah keluar dari rumah kepala dinas rahasia, tetapi apa jaminannya ia berasal dari sana atau bekerja untuk mereka juga? Aku jadi teringat ketentuan Arthasastra lagi, pada Bab 3 Bagian 173 tentang "Mempekerjakan Para Agen Rahasia", terutama Pasal 1, 2, dan 5:

ia hendaknya membuat seorang kepala gerombolan yang dapat dipercaya (berpura- pura) membelot dengan berlindung pada musuh,

ia hendaknya membawa teman dan rekan dari negerinya dengan dalih

keberadaan mereka adalah dari kelompoknya sendiri setelah mendapat kepercayaan musuh

ia hendaknya mengirim berita kepada majikannya Ingatan ini membuat aku mempertimbangkan kemungkinan terdapatnya agen rahasia ganda. Mereka

bisa berbuat sangat banyak, seperti tertulis dalam Pasal 3: atau dengan membawa masuk para agen rahasia

setelah mendapat persetujuan musuh

ia hendaknya menghancurkan kota majikannya yang berkhianat atau tentara tanpa gajah dan kuda

yang berkhianat di belakang majikannya dan hendaknya memberi tahu musuh

Agen rahasia ganda sebetulnya paling berbahaya, karena kedua majikannya tidak pernah akan tahu dia bekerja untuk siapa. Bisa juga dia tak berpihak dan bekerja untuk dirinya sendiri saja. Tentu pada saat yang genting dia harus memilih- tetapi pilihan dan kesetiaannya sangat sulit diduga. Dalam Bab

6 Bagian 144 tentang "Berbagai Bahaya yang Berkaitan dengan Pengkhianat dan Musuh", dalam Pasal 8 dan 11 Kautilya berkata:

karena yang berkhianat dan tidak berkhianat bergandengan tangan maka itu adalah bahaya campuran karena sekutu dan musuh menjadi satu itulah bahaya campuran dengan musuh

Seorang agen rahasia memang harus cerdas. Salah satu syarat pengangkatan adalah mereka yang tergolong kapatika chatra atau murid yang cerdas.31 Persyaratan ini dapat dipahami jika membaca nasihat-nasihat Kautilya bagi pengelola negara, bahwa penguasa selalu berada dalam bahaya pengkhianatan dan bahwa pengkhianatan itu harus segera diketahui. Persoalanku adalah, kepada penguasa macam apakah kiranya kecerdasan itu mengabdi?

Lamunanku tentang agen rahasia ganda itu belum selesai, ketika makananku ternyata sudah habis. Istri tabib yang dadanya padat membusung itu segera menyodorkan minuman. Aku minum dan merasa agak asing dengan rasanya. Baru seteguk aku sudah merasa pusing. Hmm. Ramuan apa pula ini? Mendadak dari dalam kamar sebelah, tempat orang yang semula kuduga pengawal rahasia istana itu dibawa untuk pijat, terdengar jeritan. Aku tahu itu jeritan si tabib muda.

Pada pintu muncul tabib muda itu. Orang yang membuntuti aku telah melepas serban yang tadinya juga menutup seluruh wajah kecuali matanya, sehingga rambutnya yang panjang bergelombang jatuh ke pundak. Ia juga telah melepas jubahnya, hanya berkain putih dari pinggang ke bawah. Dadanya kecil, padat seperti buah manggis. Ia berkulit sangat putih dan ternyata sangat cantik, tetapi aku tidak bisa mengagumi keindahannya kalau ia sedang memegang tengkuk dengan cekalan mematikan seperti itu.

"Mengaku!" Ia membentak tabib muda itu.

Tabib muda itu membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Perempuan itu mengeraskan cekalannya. "Ahck!" "Mengaku!"

"Ya, ya, sahaya mengaku..." "Mengaku apa?!"

''Bermaksud mencuri pundi-pundi itu..." Hah? Sebegitu lengahnya aku? Tapi? "Hanya itu?"

Cekalan mengeras lagi. "Ahhhhcccckkk!" "Bicara!"

"Sebenarnya sahaya diperintahkan memberikan m inuman itu..."

Ah! Aku sudah menduga! Kewaspadaanku meningkat seketika.

"Untuk apa minuman itu?! Atas perintah siapa?!" "Itu minuman untuk menghapus ingatan..."

"Kenapa?"

"Karena ingatan beliau sangat berbahaya..."

Ingatan yang mana? Ingatan bahwa aku disiksa? Ataukah ingatanku sebagai Pendekar Tanpa Nama? Tapi benarkah mereka mengenaliku tanpa berusaha menangkapku?

"Atas perintah siapa, wahai tabib muda yang budiman?"

Aku masih berkutat dengan samaranku. Untunglah hal itu kulakukan, karena aku ternyata masih mampu memergoki, betapa perempuan tersebut telah membunuh tabib muda yang malang itu melalui tekanan tertentu pada tengkuknya. Ia pura-pura terkejut ketika tabib muda itu roboh dalam keadaan tidak bernyawa.

Ia menempelkan telinganya ke dada. "Jantungnya lemah sekali," katanya.

Aku mengangguk seolah sedih dan takut, meskipun aku belum tahu bagaimana aku bisa mengambil keuntungan dalam dunia tipu muslihat ini. Dunia persilatan telah membuatku bahagia dengan keterus-terangan dalam sikap jantan para pendekar. Jelas ini bukan duniaku. Namun, seperti sudah kukatakan, aku tidak akan puas mati tanpa memecahkan teka- teki. Padahal bagi seorang tua berumur 100 tahun, seberapa lama lagi waktu tersisa untuk memecahkannya?

Ia memandangku. Jantungku berdetak karena kecantikannya. Namun aku belum lupa bacaanku dari Arthasastra, bahwa tiada yang lebih berbahaya daripada seorang agen rahasia ganda. Ia seperti berpihak kepadaku, tetapi tiada jaminan ia tidak bermaksud menjebakku. Akulah yang harus bisa menjebaknya!

Aku tidak boleh lupa. Perburuan diriku digalang oleh negara-meski aku tidak tahu dengan tepat siapa. Seorang pendekar boleh berilm u set inggi langit. Namun bukan saja di atas langit ada langit, tetapi negara yang menerjemahkan dirinya dalam sabda raja, pada zamanku ini bagaikan titisan dewa yang menguasai seluruh langit. Bilamana perlu se luruh rakyat dapat digerakkannya. Seperti ketika mereka membangun Kamulan Bhumisambhara. Aku tidak berpendapat bahwa seorang raja diraja kerajaan Mataram akan begitu peduli dengan seseorang yang baginya hanya seorang pesilat, tetapi siapa pun mereka yang terlibat dalam perburuan yang belum dapat kupahami ini, boleh kupastikan telah melibatkan dan memanfaatkan peranan negara.

Perempuan itu menatap orang-orang di dalam rumah, lantas berkata kepadaku.

''Rumah ini sudah lama diawasi kegiatannya. Mereka suka melebih-lebihkan sakitnya seseorang untuk menipunya, memberi ramuan penghapus ingatan agar para korban lupa semua perlakuan mereka kepadanya." Aku sudah telanjur menelan ramuan itu seteguk. Adakah sesuatu yang hilang dari ingatanku? Aku tidak keberatan untuk lupa perlakuan mereka kepadaku, yang kurasa baik-baik saja- ataukah ini bukti aku telah menjadi lupa? Atau mungkinkah perempuan ini te lah menggunakan tipu daya agar aku merasa seolah-olah ingatanku ada yang terhapus? Namun jelas aku tidak bisa membayangkan seandainya ingatanku yang hilang adalah riwayat hidupku sendiri!

"Ampuni kami Puan!"

Istri tabib muda itu menyembah dengan kepala menempel ke tanah.

"Kami tidak bermaksud jahat terhadap orang tua ini," katanya lagi, "kami hanya menuruti perintah!"

Aku berpikir keras. Tiada pernah kusangka satu hari ini bisa terasa begitu lama.

Aku menarik napas dalam-dalam, mengalirkannya ke seluruh tubuh, dan mengembuskannya dengan sangat pelahan. Aku harus tenang, setenang Buddha, yang merupakan setengah cahaya dan setengah bayangan.

(Oo-dwkz-oO)