-->

Nagabumi Eps 10: Kisah Rakit dan Perbincangan yang Kudengar

Eps 10: Kisah Rakit dan Perbincangan yang Kudengar

KUSAKSIKAN pemandangan sebuah sungai. Perm ukaan sungai itu berkilauan memantulkan cahaya. Kemudian dari balik lembah sungai muncul sebuah rakit. Apakah dalam mimpi ini aku bermaksud menyeberang? Rakit itu datang bersama arus dengan seorang tukang rakit di atasnya. Namun aku merasa tidak dapat menatapnya dengan jelas karena cahaya berkilauan di atas sungai itu kemudian menjadi sang at menyilaukan.

Berapakah rakit yang datang ke arahku itu? Satu atau dua? Apakah ini karena permainan cahaya? Tentu aku bisa menyeberang tanpa rakit sebetulnya, cukup asal telapak kakiku bisa menyentuh benda-benda yang terapung di sungai. Aku pernah menyeberangi sebuah sungai deras dengan jembatan udara, yakni set iap kali me lemparkan poton gan lontar ke depan untuk kujadikan pijakan, dan begitu seterusnya sampai ke seberang. Namun lontar berisi kisah Mahabharata itu langsung hilang di su ngai begitu aku menginjaknya. Tentu saja aku sangat sedih, tetapi saat itu aku harus memburu lawan yang tidak mungkin kubiarkan hidup.

Rakit-rakit ini datang dalam mimpiku dan aku tidak bis a bergerak. Kalau mau menyeberang, aku harus menggunakan salah satu rakit itu, tetapi yang mana? Tadi sepertinya rakit itu satu, tetapi sekarang menjadi dua. Tukang rakitnya, yang menghela rakit dengan ba mbu panjang untuk menekan dasar sungai, juga menjadi dua.

"Mau menyeberang Bapak? Naiklah ke rakit sahaya."

"Naik ke rakit sahaya saja Bapak, lebih nyaman dan lebih cepat mencapai tujuan."

Aku tahu, menumpang rakit yang manapun akan sama saja rasanya dan juga sama saja cepatnya untuk sampai ke seberang. Namun aku tetap harus menentukan pilihan. Bagiku, ini cukup membingungkan, karena menentukan\ pilihan harus mempunyai suatu dasar dan alasan.

Kutatap lagi, ternyata salah satu rakit itu memecah diri lagi, sehingga semuanya menjadi tiga rakit dengan tukang rakitnya masing-masing.

"Naik ke rakit sahaya saja, Bapak," ujar tukang rakit yang ketiga, seperti sengaja menambah kebingunganku.

Jika ingin sampai ke seberang, aku harus memilih sa lah satu dari ketiga rakit itu, padahal tiada perbedaan apa pun di antara ketiga rakit, yang membuat aku setidaknya memiliki alasan untuk memilih salah satu.

Ternyata rakit yang satunya juga membelah diri, bahkan menjadi tiga, sehingga kini terdapat lima rakit menuju ke arahku.

"Naiklah rakit sahaya Bapak, naiklah rakit sahaya saja!"

Lima rakit dengan tukang rakitnya masing-masing menuju ke arahku, dalam silau cahaya mereka tampak timbul dan tenggelam bagai sosok bayang-bayang. Permukaan sungai bercahaya menyilaukan.

Banyak pilihan tidak selalu membuat segalanya lebih mudah-tidak ada pilihan lain jauh lebih mudah, meski ketiadaan pilihan bagaikan suatu nasib yang memaksa kita untuk pasrah. Namun, bagaimana kalau kita tidak usah memilih saja?

Meski hanya ada satu pilihan di depan kita?

Kemudian muncul rakit yang keenam. Rakit ini kecil sekali. Justru karena itu tukang rakitnya mampu membawa rakit itu melaju lebih cepat, menyalip kelima rakit yang lain, dengan segera menuju tempatku berdiri. Hmm. Aku memang tidak punya pilihan lain kali ini, tetapi aku juga mempunyai alasan yang kuat.

Aku tidak menunggu rakit itu mendekati tepi sungai. Aku telah menjejakkan kaki dan melayang. Dengan sekadar menyentuhkan kaki pada daun-daun yang terapung pada permukaan sungai aku segera tiba di atas rakit itu.

"Bapak, mau menyeberang?" Tukang rakitnya bertanya. "Tentu saja menyeberang, kamu pikir apa pekerjaanmu?"

"Sahaya tidak hanya memberi jasa pelayanan agar penumpang bisa sampai ke seberang, sahaya juga membawa penumpang ke hulu maupun ke hilir, ke mana pun penumpang menghendakinya."

"Kamu bisa membawaku ke mana saja?"

"Ya, sahaya bisa membawa Bapak ke mana sahaja." "Kalau begitu bawa aku ke suatu tempat di mana aku bisa melihat dunia."

Tukang rakit itu tersenyum.

"Melihat dunia? Bukankah kita berada di dalam dunia ini Bapak?"

"Bukankah kamu bisa membawa penumpang ke mana saja dia menghendakinya?"

"Benar Bapak, sahaya sanggup membawa Bapak ke tempat Bapak dapat melihat dunia."

"Kalau begitu bawalah aku ke sana segera." "Baik Bapak, tetapi itu berarti kita harus ke luar dari dunia." Aku tertegun.

"Tidak mungkin kita melihat dunia dari dalam dunia bukan? Kita hanya bisa melihat dunia dari luar dunia." "Apakah itu mungkin?"

"Sahaya sanggup membawa Bapak ke sana, masalahnya apakah Bapak masih bersedia pergi ke sana?"

"Pertanyaanku, apakah masih mungkin ada sebuah tempat di luar dunia? Bukankah tiada yang ada di luar dunia?"

"Itulah menariknya dunia ini Bapak, bagaimana yang tidak mungkin menjadi mungkin! Nah, kita jadi pergi ke sana atau tidak?"

Hanya itulah tujuan hidupku di dunia ini. Tidak lebih dan tidak kurang, memahami segala sesuatu tentang dunia. Itulah sebabnya aku selalu mencari tempat yang memungkinkan aku melihat dunia. Pertanyaan tukang rakit itu sungguh benar adanya: Bagaimana mungkin kita bisa melihat dunia dari dalam dunia? Namun meski kami tidak mungkin keluar dari dunia supaya bisa melihat dunia, tukang rakit dari rakit yang terkecil ini sanggup membawaku ke tempat semacam itu. Mungkinkah? Aku tentu saja penasaran.

"Jadi, mari kita berangkat."

"Baiklah, kita berangkat, Bapak tidur-tiduran saja dahulu." (Oo-dwkz-oO)

SEPERTI masih terdengar desisan sungai ketika aku

menyadari diriku masih tidur tengkurap di ruangan tabib muda itu, dan mendengar bisik-bisik percakapan mereka. Maka meski masih tengkurap, aku tetap mengatur nafas seperti orang tidur dan tetap memejamkan mataku. "...Ayah, orang tua ini menyimpan banyak uang di kantongnya, dan ia juga menyimpan selebaran tentang perburuan Pendekar Tanpa Nama."

"Apa yang aneh dengan itu, semua pemburu hadiah memegang selebaran semacam itu, dan kenapa seseorang mesti tidak punya banyak uang jika bekerja..."

"Entahlah, aku tidak merasa dia seperti seorang pemburu hadiah, dan juga bukan orang yang tampak selalu bekerja keras. Lagipula cambukan yang di dapatnya mengandaikan dia seorang musuh negara..."

"Musuh negara? Hmm. Apa salahnya dengan itu?"

"Dia bisa membahayakan kita. Mungkin dia dimata?matai." "Hmm."

"Juga aku menemukan perkara lain." "Apa itu?"

"Rambutnya..." "Kenapa rambutnya?"

"Tadi aku tidak sengaja, tanganku masih beroles minyak penghilang warna sehabis membersihkan patung, lihat..."

Mungkin ia menunjukkan rambut pada bagian kepala yang dipijat.

"Aaahhhh...?"

Mereka bercakap begitu pelahan, tetapi aku mendengar desisan bernada khawatir.

"Siapa dia kiranya?"

"Dia jauh lebih tua dari tampaknya, mungkin lebih tua dari Ayah..."

"Apa yang harus kita lakukan?" Dalam pura-pura tidurku, aku juga belum tahu apa yang harus kulakukan. Segalanya bagaikan menggelinding begitu cepat setelah penyerbuan para pembunuh ke gua tempatku bersembunyi selama 25 tahun. Setelah seperempat abad tenggelam dalam samadi, tidak terlalu mudah bagiku kembali ke dunia ramai dengan segala muslihat yang menutupi segenap kepentingan. Namun aku tidak mungkin meninggalkan dunia ramai ini sekali lagi sebelum misteri terpecahkan. Meskipun aku telah menjadi sangat terlatih dalam olah tubuh dan pernapasan seperti yang dijalankan para ahli yoga, jiwaku bukanlah jiwa seorang brahmana atau bhiksu yang menjadikan nirwana sebagai tujuannya. Aku hanyalah seorang pengembara di sungai telaga dunia persilatan, yang mencari ilmu sebanyak-banyaknya sekadar demi kesenangan, bahkan tidak merasa terlalu wajib mengabdikan diri untuk membela kebenaran dan keadilan.

"Apakah dia bisa menjadi masalah bagi kita?"

"Kita belum tahu Ayah, tetapi Pendekar Tanpa Nama dianggap sebagai musuh negara paling berbahaya saat ini, dan kita belum tahu apakah dia teman atau lawan pendekar yang sudah lama menghilang itu."

Aku masih memejamkan mata. Aku sudah menghilang 50 tahun semenjak peristiwa Pembantaian Seratus Pendekar. Seharusnya lebih dari cukup untuk membuat siapapun di dunia persilatan, apalagi orang-orang awam, untuk melupakan diriku. Namun dalam kenyataannya justru berkembang sebuah cerita baru tentang diriku, yang tidak pernah kuketahui sama sekali! Bagaimana caranya aku telah menjadi musuh negara yang paling berbahaya- saat ini pula? Ingin sekali aku bertanya!

Kudengar ayahnya mendesah.

"Hhhhhh! Pembantaian Seratus Pendekar... Bahkan pahawuhawu dan atapukan telah membuat wayang topeng tentang peristiwa itu." "Ayah tahu peristiwa itu?"

"Aku masih berumur 20 tahun ketika peristiwa itu terjadi, orang membicarakannya di kedai dan di pasar?pasar."

"Apa sebetulnya yang terjadi, sampai Pendekar Tanpa Nama harus membantai seratus pendekar itu?"

"Ah, itu bukan seratus pendekar, lebih dari separonya golongan hitam. Tetapi tewasnya para pendekar golongan putih dan golongan merdeka dalam jumlah yang lumayan banyak dengan seketika itu mempunyai akibat, karena kejahatan yang tumbuh di mana-mana lantas menjadi sulit dibasmi."

"Apakah itu dianggap sebagai dosa Pendekar Tanpa Nama?"

"Mungkin. Aku tidak tahu. Bagiku bukanlah tugas para pendekar untuk saling bertarung seperti itu."

"Aku juga tidak mengerti Ayah, orang-orang dunia persilatan itu, kenapa kedudukan sebagai pendekar nomor satu menjadi terlalu penting?"

"Itulah kalau orang hanya diajarkan untuk berkelahi, tanpa ada yang lain lagi, mereka pikir kalau sudah tidak pernah kalah maka hidupnya menjadi sempurna."

Hmm. Pendapat ayahnya itu sebagian benar, dan sebagian lagi tidak, karena ilmu silat yang paling dangkal pun dilandasi suatu falsafah. Jadi orang belajar silat tentu tidak hanya belajar berkelahi. Namun memang benar banyak orang belajar ilmu silat hanya dengan maksud belajar berkelahi, meskipun itu membela diri, dan tidak mampu menangkap ilmu yang tersirat dari ilmu silat itu.

(Oo-dwkz-oO)

SELAMA aku menjelajahi rimba hijau dunia persilatan, kupelajari betapa ilmu silat  hanya  dapat menjadi ilmu jika segenap gerak, jurus, siasat, dan tipu dayanya, dipertimbangkan sebagai bentuk suatu cara berpikir. Hanya dengan begitu ilmu s ilat itu akan menjadi milik s iapa pun yang mempelajarinya, menjadi ilmu yang dim iliki dan mewakili pemikirannya sendiri.

Pendapat orang tua berjenggot dan berkumis putih itu juga benar, ketika ia menggugat kemenangan sebagai bentuk kesempurnaan. Menurut pendapatku, dalam ilmu silat, mengalami kemenangan dan kekalahan jauh lebih sempurna sebagai pengalaman daripada selalu menang tanpa pernah terkalahkan.

Itu berarti ilmu silatku belum mencapai kesempurnaan, karena aku belum pernah mengalami kekalahan.

(Oo-dwkz-oO)

"AYAH, jadi siapakah kiranya orang tua ini? Dia dicambuk seperti itu. Hanya mungkin dilakukan dinas rahasia yang memiliki dan menguasai segala jenis alat maupun cara menyiksa."

"Aku juga tidak tahu bagaimana mesti menghubungkan luka-lukanya itu dengan Pendekar Tanpa Nama, tetapi kita wajib menolongnya."

"Tentang ajaran rahasia itu, benarkah Ayah?" "Kenapa dengan ajaran rahasia?"

"Bukankah Pendekar Tanpa Nama dianggap bermasalah dengan ajaran rahasia yang tidak boleh diajarkannya?" Telingaku menegang.

"Aku tidak pernah tahu soal itu. Tidak ada penjelasan dalam selebaran itu bukan?"

"Itu yang kudengar dibicarakan semenjak selebaran itu ada di mana-mana."

"Apa masalahnya?" Rasanya aku ingin berbalik dan ikut membicarakannya, karena barangkali aku bisa menggiring perbincangan ke arah yang kukehendaki. Namun aku masih menunggu.

"Pendekar Tanpa Nama dianggap menyebarkan ajaran sesat dengan sengaja untuk menghina agama."

Bagaimana mungkin! Seseorang telah mengisi hilangnya diriku dengan omong kosong! Dalam sekejap seluruh riwayat hidupku berkelebat dalam benakku. Bagian manakah dari riwayat hidupku yang begitu keliru sehingga barangkali saja benar kiranya yang dikatakan orang-orang itu? Aku mencoba berprasangka baik bahwa mungkin saja memang ada sesuatu yang ditanggapi secara keliru.

Namun tak bisa pula kusangkal dugaanku sendiri, betapa menghilangnya diriku yang begitu lama dari dunia persilatan telah dimanfaatkan demi suatu kepentingan tertentu. "Menghina agama? Sejauh yang kudengar Pendekar Tanpa Nama itu tidak terlalu peduli dengan agama. Bagi para pendekar golongan merdeka seperti Pendekar Tanpa Nama, tidakkah ilmu silat itu sendiri bagi mereka sudah berlaku sebagai agama?"

"Itulah yang kudengar dalam perbincangan di kedai, Ayah..."

"Kukira sebenarnya tidak ada yang peduli apakah Pendekar Tanpa Nama itu bersalah atau tidak. Mereka hanya peduli dengan hadiah sepuluh ribu keping emas."

"Aku juga berpikir seperti itu Ayah, lagipula menurut aku apa salahnya menyebarkan suatu ajaran rahasia? Bukankah pengetahuan itu seharusnya menjadi milik semua orang?"

"Itulah persoalannya anakku, dengan memiliki pengetahuan seseorang memiliki kekuasaan."

Orang tua berjenggot putih itu benar, tetapi kebenaran diriku belum juga terungkap, bahkan ketidak benarannya bisa diterima sebagai kebenaran baru. Betapa kebenaran itu ternyata seperti ruang kosong yang akan diperebutkan siapapun yang berk ehendak mengisinya.

Ajaran rahasia ap akah yang mereka maksudkan itu? Kuingat perbincangan di kedai yang menghubungka Jurus Tanpa Bentuk dengan pengetahuanku atas s ajaran rahasia. Dunia persilatan ternyata tidak begitu terasing dari dunia awam seperti yang kusangka . Orang?orang awam yang tidak pernah bersilat satu jurus pun berbicara tentang ilmu silat dengan lebih fasih daripada para pendekar itu sendiri. Orang- orang di rimba hijau telah meremehkan kemampuan orang- orang awam untuk memanfaatkan dunia persilatan demi kepentingan mereka.

Persoalannya, masih mungkinkah aku melacak sumber segala cerita tentang diriku ini? Masih mungkinkah membongkar dongeng dan menemukan sumbernya yang pertama? Namun jika terdapat lebih dari satu sumber yang saling tidak mengenal tetapi saling menambahi arti, masih mungkinkah aku menemukan seseorang yang bisa kuanggap sebagai bersalah?

Aku belum mendapatkan kisah tentang Pendekar Tanpa Nama yang sudah beredar itu dengan se lengkapnya, tetapi sudah jelas itu merupakan riwayat yang terbangun bukan atas nama diri yang kuhayati detik ini. Aku tidak pernah menceritakan riwayat hidupku kepada s iapapun, tiada seorang pun, siapapun tidak, dan kukira tidak akan pernah, karena kuanggap diriku tidak perlu ada sebagai seseorang yang pernah ada.

Aku telah menghilang untuk menghilangkan diriku. Siapa nyana diriku terhadirkan begitu rupa di luar kehendakku? Apakah yang tidak lebih berlawanan dari diriku selain dinyatakan sebagai orang yang paling berbahaya untuk negara karena menghina agama? Aku telah menjadi bukan diriku. T iada kenyataan yang lebih menyakitkan bagi seorang pengembara di sungai telaga dunia persilatan, yang menempuh jalan pertarungan antara hidup dan mati untuk mencari nama, selain mendapatkan nama yang bermakna sebaliknya! Aku memang disebut sebagai Pendekar Tanpa Nama, karena tiada pernah seorang pun kuberi kesempatan untuk mengetahui diriku ini siapa -tetapi itu tidak berarti maknanya bisa ditafsirkan seenak perut mereka!

Kuputuskan untuk membuka mata.

(Oo-dwkz-oO)