Nagabumi Eps 09: Menengok Pasar

Eps 09: Menengok Pasar

AKU melangkah dengan gontai di tengah kerumunan orang-orang yang lalu lalang di jalanan. Inilah kesempatanku untuk mengamati apakah ada yang berubah dan tidak berubah dalam 25 tahun terakhir. Rakyat jelata, orang-orang awam berkulit coklat yang lalu lalang masih berbusana seperti dulu, kain tanpa hiasan yang kusam, dililitkan sekitar pinggang, dengan tubuh bagian atas tanpa penutup dan tanpa hiasan apapun jua. Lelaki perempuan sama saja. Hanya rambut mereka masih berbeda gaya sanggulnya. Lelaki tersanggul ketat, seperti asal tidak mengganggu gerakan, sedangkan perempuan ada yang lebih memperhatikan keindahan, dengan menjatuhkan rambutnya ke pundak, menghiasinya dengan bunga, dan kadang-kadang berkalung dan bergelang pula, dari kulit, akar bahar, atau cetakan perunggu.

Namun di antara mereka, terdapat juga yang berbusana lebih mewah, dan tampak lebih kaya, atau mempunyai kedudukan tinggi, sehingga berhak mengenakan jenis busana tertentu untuk menunjukkan martabatnya tersebut. Maka tampaklah olehku mereka yang mengenakan ringring bananten (kain halus), patarana benanten, kain berwarna emas, pola patah, ajon berpola belalang, berpola kembang, warna kuning, bunga teratai, berpola biji, kain awali, dulang pangdarahan, dodot dengan motif bunga teratai hijau, sadangan warna kunyit, kain nawagraha, kain pasilih galuh- bahkan ada juga yang ditandu, dengan iringan budak belian dan hamba sahaya, berpayung kutlimo maupun payung lain yang bertingkat.

Aku teringat, hak untuk mengenakan kain yang bergambar emas bahkan tertulis dalam sebuah prasasti, seperti juga dengan hak memiliki perangkat makan sirih. Para pejabat tinggi akan tertandai bukan saja dari payung yang mengiringinya, tetapi juga dari perhiasan gelang, sisir, dan ikat pinggang emas dengan perhiasan intan. Hak memasang payung putih atau payung kuning di depan rumah juga ditentukan berdasarkan kedudukan penggunanya dalam masyarakat13. Aku melewati pasar yang terletak di dekat sungai. Kulihat tumpukan bawang, beras, garam, gula, lnga (minyak), jahe, pja (ikan laut asin), buah-buahan terutama pinang di bagian makanan.

Kuhirup bau rempah-rempah seperti sirih dan kapulaga, kutatap warna-warni tumpukan durian, rambutan, manggis, jeruk, kecapi, sukun, langsat, jamblang, salak, nangka, jambu bol, wuni, mangga, pisang, dan kelapa. Aku menyuruk makin jauh ke dalam pasar besar di lapangan ini, sembari meyakinkan diri bahwa agen rahasia yang membuntuti aku masih menjalankan tugasnya. Ternyata memang begitu. Kadang-kadang aku berbuat seperti tidak sengaja menoleh ke arahnya, dan sosok yang membuntuti itu segera menyembunyikan diri.

Namun ada kalanya ia mendekat ke sampingku, seperti ketika aku memasuki bagian sandang dan berhenti di tempat amahang (bahan pewarna) . Kemudian kulihat ia mendahuluiku di tempat wasana (pakaian), dan di belakangku lagi ketika aku menyusuri kios-kios para penjual kapas dan lawe (benang). Aku berjalan terus, sama sekali tidak berusaha menghindarinya, menyusuri pasar di bagian perlengkapan umum, tempat dijualnya galuhan (batu permata), gangsa (perunggu), anganam (keranjang), labeh (kulit penyu), makacapuri (kotak sirih), tamwaga (peralatan tembaga), tambra (lempeng tembaga), timah, wsi (bes i), maupun mangawari (permata).

Di sini juga terdapat barang-barang yang dibuat para undhahagi atau tukang kayu, berikut alat-alat kerja para tukang seperti kapak, kapak perimbas, beliung, tampilan, linggis, tatah, parang, keris, pisau, sekop kecil, ketam, kampit, bor, tombak pendek, alat pemotong kuku, siku?siku, jarum, dan pemukul besi16, tempat aku melangkah dan menyelinap di antara deretan pedati, gerobak, dan kuda-kuda pengangkut, tetapi kubiarkan agen rahas ia itu tetap berhasil melihatku dan aku sengaja mencari jalan ke sana kemari supaya ia tetap mencurigaiku. Di seberang jalan dari tempat sarana pengangkutan terdapat pasar hewan. Aku tidak masuk, tetapi hanya mengitarinya saja. Masih sama, dulu orang juga berjual beli kerbau, sapi, kambing, babi, dan unggas, terutama bebek.

Kuingat apa saja makanan hewani yang masih dimasak rakyat jelata sejak 25 tahun lalu, celeng (babi ternak), wok (babi hutan), kbo (kerbau), kidang (kijang), wdus (kambing), sapi, wrai (kera), andah (bebek), angsa, ayam, kaluang (kalong), alap-alap (sejenis burung), sampai hewan-hewan air tawar seperti hayuyu (kepiting sungai), hurang (udang sungai), wagalan, kawan-kawan, dan dlag (ikan-ikan di sungai); hewan-hewan air laut seperti getam (kepiting laut), hnus (cumi), iwak knas (kerang), kadiwas, layar-layar, prang, tangiri, rumahan, slar (ikan-ikan di laut) .

Kepala tuaku sudah tidak bisa mengingat, apakah ikan?ikan seperti bijanjian, bilunglung, harang, halahala, kandari termasuk ikan laut atau air tawar, tetapi beberapa jenis daging dan ikan juga diawetkan sebagai deng (dendeng) dan asin- asin (ikan as in), dan baunya sampai ke hidungku. Kura (kura- kura) juga mereka makan, tetapi tentu tidak selaz im kerbau, kambing, dan itik yang memang diternakkan.

Aku berhenti, kurasakan sesuatu di punggungku. Rupanya darah dari luka-luka cambuk berduri itu lengket dengan bajuku. Aku memang tidak merasakan kesakitan yang mestinya dialam i seseorang yang dicambuk, tetapi luka-luka itu tidak dengan sendirinya sembuh hanya karena aku memiliki tenaga dalam. Aku harus memanfaatkan obat yang diberikan para pengawal rahasia istana. Itupun aku tidak tahu bagaimana cara mengoleskannya ke punggungku. Aku harus mencari seorang tabib. "Bapak, tunjukkanlah kepada sahaya rumah tabib," ujarku kepada salah seorang yang lewat, ia juga sudah tua, hanya mengenakan kancut dan kepalanya bertutup serban. Kumis dan jenggotnya putih menutupi wajah.

Ia menunjuk sebuah umbul-umbul di seberang jalan, dan terkejut melihat lukaku.

"Datanglah ke sana orang tua! Lukamu sangat mengerikan! Apakah kesalahanmu sampai mendapat cambukan begini rupa?"

Aku sudah membuka mulut, mau mengatakan hanya perlu minta tolong seseorang yang sudi membubuhkan obat ke punggungku. Namun ia menukas.

"Cepat pergilah ke sana orang tua. Anakku sendiri yang menjadi tabib di sana."

Aku siap melangkah ke arah umbul-umbul warna ungu yang berkibar di seberang jalan, tetapi dari belokan jalan muncul rombongan pejabat tinggi sehingga semua orang harus bersujud ke tanah. Pejabat tinggi itu dari busananya tampak sebagai hakim, mungkin hakim tertinggi, karena ia berkendaraan seekor gajah. Ada tandu dengan tirai sutra keemasan yang tersibak di atas punggung gajah itu, dan di tengkuk gajah itu terlihat sais berkulit hitam legam yang masih muda sekali.

"Orang tua! Bersujudlah!"

Seorang pengawal yang menyisir tepi jalanan menekan pundakku agar aku bersujud ke tanah. Aku pun bersujud.

Kurasakan debum kaki gajah yang melangkah menuju ke gedung pengadilan, tempat orang-orang yang melanggar hukum diadili. Aku tidak habis pikir betapa peradaban tidak pernah menghapuskan kejahatan sama sekali. Seseorang bahkan tidak perlu bergabung dengan golongan hitam untuk melakukan kejahatan. Orang-orang awam yang tidak berilmu melakukan kejahatan dengan nekat - mungkinkah karena segala bidang pekerjaan telah dikuasa i orang-orang berilm u? Kalau orang awam tidak mampu menjadi pandai besi, pandai emas, pandai kayu, ataupun tukang jagal, mengapa mereka tidak mencari ikan, membajak di sawah, atau menjadi kuli?

Ketika menyamar sebagai tukang batu yang membangun candi jinalaya Kamulan Bhumisambhara aku pernah ditugaskan untuk memasang bagian-bagian gambar adegan perampokan. Tergambarkan dalam gambar di dinding itu seorang penjahat berwajah seram menyerang tiga orang sambil memegang pisau. Satu orang digambarkan jatuh dan kedua orang lain menghindar ketakutan sambil membela diri dari serangan. Digambarkan pula betapa barang-barangnya sebagian terbawa dan sebagian lagi jatuh ke tanah18. Memang banyak perampokan di jalur perdagangan, sedangkan peradaban tidak akan hidup tanpa jalur perdagangan tersebut, dan di jalur itulah perampok menanti di daerah terpencil, daerah perbukitan, daerah perhutanan, dan di daerah muara sungai yang berdelta.

Kuingat pula ketika menyamar sebagai sa is pedati pengangkut barang, di antara dua desa aku pernah dicegat para perampok yang tiba-tiba muncul dari balik pohon beringin. Mereka menyerang serabutan ke arahku yang sedang mengangkut berkarung-karung beras. Segera kuraup segenggam beras dari salah satu karung yang terbuka dan kulemparkan ke arah mereka. Bulir-bulir beras itu menotok berbagai jalan darah tertentu pada tubuh, sehingga para perampok yang kurang makan itu langsung lemas tanpa daya dan terpuruk seperti karung yang kosong.

"Orang tua! Untuk apa bersujud terus, rombongan rakryan mapatih itu sudah lewat!"

Aku beranjak. Orang-orang tersenyum.

"Orang tua pikun! Kenapa bisa dicambuk seperti itu?" Waktu aku bersujud tentu saja seluruh punggungku yang bersimbah darah dan melengketkan kain baju koyak moyak itu pada kulit terlihat jelas. Namun aku segera ditinggalkan sendirian lagi, karena keberadaan seseorang yang dihukum rupa-rupanya bukan sesuatu yang harus membuat seseorang berhenti di jalan.

Di depan umbul-umbul aku menengok ke sana kemari. Di manakah rumah tabib? Kutanyakan kepada seorang perempuan tua yang kepalanya berserban dan dadanya bergelayutan.

"Tabib? Dukun maksudmu? Masuk saja ke dalam pura itu."

Aku melangkah masuk. Seorang perempuan tua lain, yang kali ini kepalanya tidak berserban, tetapi dadanya juga bergelayutan, menyambutku.

"Orang tua, dikau mau berobat? Masuklah ke pintu itu."

Aku melewati halaman tempat anak-anak dengan hidung ingusan bermain-main telanjang bulat. Banyak sekali anjing berkeliaran di mana-mana. Bahkan ada yang sedang berkelahi memperebutkan sepotong dendeng yang jatuh dari jemuran di atas atap.

Kusingkap tirainya. Tidak ada orang. Namun dari balik dinding terdengar suara perempuan mengerang-erang kesakitan, disambut suara lelaki membentak-bentak. "Bacakan! Bacakan!"

Terdengar suara perempuan lain, membaca dengan terbata-bata.

"Setelah menekan dalam bejana berbentuk onta, janin abortus dari semua varna atau bayi mati di kuburan-lemak yang dihasilkan dari itu memungkinkan berjalan tanpa lelah sejauh seratus yojana."

Mendengar itu aku langsung menghilang. Berkelebat ke atas genting dan turun lagi di lorong bertembok bata merah di luar pura. Meski aku mampu menghilang dengan cepat, aku tidak mau pengawal rahasia istana yang bertugas membuntuti kehilangan jejakku. Kulihat ia baru mau masuk ke dalam pura.

Kulempar pecahan genting agar dia menoleh. Sebelum dia menoleh aku sudah melangkah gontai ke arah sebaliknya dengan penuh makian dalam hati. Sudah makan asam garam kehidupan begini, hampir saja aku terjerumus ke dalam dunia mengerikan tersebut. Padahal aku hanya perlu seseorang untuk mengoleskan obat ke punggungku.

Tentu aku masih ingat nasihat-nasihat Kautilya untuk menipu musuh-musuh negara melalui ilm u gaib yang tidak pernah bisa diperiksa benar tidaknya! Seperti terdapat dalam Buku Keempatbelas : Mengenai Cara-cara Rahasia pada Bab 2 Bagian 177, yakni "Praktik-praktik Rahas ia untuk Menghancurkan Pasukan Musuh". Dalam campuran racun untuk membunuh musuh misalnya terdapat ramuan seperti ini: Bubuk kodok bertutul, serangga kaudinyaka dan krkana, pancakustha dan kelabang, bubuk uccidinga, kambali, satakanda, dihma dan kadal, bubuk cicak, reptil buta, karakntaka, serangga bau, dan gomarika, yang bercampur dengan air bhallataka dan avalguja, menyebabkan mati secara langsung, atau disebabkan oleh asapnya.

Dari ramuan seperti ini, aku tidak menolak kemungkinannya membuat orang mati. Namun aku tidak akan pernah bisa mengerti kenapa reptil yang disebutkan itu harus buta matanya dan serangganya pun bau? Kukira itulah khayalan para dukun.

Perhatikan ini juga misalnya: Campuran kadal dan cicak menimbulkan lepra, yang sama dicampur dengan isi perut kodok berbintik dan madu menimbulkan sakit kandung kencing, dicampur dengan darah manusia menimbulkan sakit paru-paru.

Hmm. Juga ini: M inyak biji mostar putih, digodok dengan butir gandum yang diambil dari tahi keledai putih yang diberi makan susu mentega dan gandum, setelah tujuh malam, adalah cara untuk membuat cacat.

Benarkah ini juga dilakukan orang di India seribu tahun lalu?

Sedangkan yang bagiku sangat ajaib adalah dua ramuan ilmu halimunan berikut ini:

(1)

setelah berpuasa selama tiga hari dan malam

seseorang harus menyiapkan pada hari pusya, sebuah peniti dan tempat salep (yang)

mengandung tulang paha seorang pembunuh kemudian, dengan mata dibubuhi bubuk

dari salah satu mata, orang bisa bergerak

tanpa tampak bayangan dan bentuknya

(2)

setelah berpuasa selama tiga hari dan malam, seseorang harus menyiapkan pada hari pusya, sebuah tempat salep dan sebuah peniti

dengan mengisi tengkorak salah satu makhluk yang mengembara waktu malam

dengan salep mata,

lalu harus dimasukkan ke dalam vagina wanita yang sudah meninggal

dan membakarnya

mengeluarkan salep itu pada hari pusya harus disimpan dalam tempat salep itu dengan mata dibubuhi (salep) itu seseorang bergerak

tanpa kelihatan bayangan dan bentuknya

Ilmu sihir, ilmu hitam, ilmu gaib, aku tidak pernah mengerti dan tidak merasa perlu mengerti cara bekerjanya. Bukan karena ilmu itu bersifat jahat dan hanya bertujuan mencelakakan orang, melainkan karena terlalu mirip dongeng yang memualkan perut, meski dalam kehidupan awam sangat dipercaya. Adalah kepercayaan ini yang membenarkan keberadaan para dukun, yang dengan bersemangat akan mengembangkan khayalan dalam dongengan berbahasa meyakinkan.

Mendadak di hadapanku muncul orang tua berjenggot putih, yang mengenakan kancut dan serban putih tadi.

"Sudah berjumpakah dikau dengan anakku, wahai orang tua?"

Aku terperangah. Teringat janin yang akan menjadi korban. "Ah! Dikau pasti sa lah masuk ke rumah dukun sihir yang

tolol itu! Hahahaha! Ikutilah aku!"

Begitulah aku sampai di rumah sebelahnya, yang hanya berdinding bambu dan beratap rumbia. Kunikmati diriku tidur tengkurap di sebuah dipan kayu berkasur jerami dalam kain lurik. Aku berada dalam perawatan seorang tabib muda yang mengerti apa artinya menyembuhkan seseorang dengan ramuan obat, bukan dengan ilmu gaib yang menolak dipahami.

Obat pemberian orang-orang yang menyiksaku memang bagaikan pemunah terbaik dari akibat siksaannya. Tabib muda itu mengoleskannya dengan hati-hati sepanjang luka-luka cambukan berduri di punggungku. Bajuku yang koyak tergantung di dinding. Di dalam kantung sebelah dalam terdapat pundi-pundi uang dan lembaran lontar dengan gambarku.

"Orang tua, minum lah ramuan ini, akan mempercepat sembuhnya luka-lukamu."

Aku meminumnya dengan penuh kepercayaan. Apalah yang lebih bisa dipercaya daripada seorang tabib, dalam negara yang penuh ilmu sihir ini? Jika bahkan prasasti yang resmi berisi kutukan untuk menakut-nakuti, apakah yang masih bisa diharapkan dari seorang awam di Yawabumi yang jiwanya harus dilindungi, selain kepastian sebuah cara berpikir yang memang mengandalkan akal dan budi?

Sembari terbaring dengan perasaan sejuk dan nyaman, kubayangkan Yawabumi telah menjadi gelap dalam dekapan naga raksasa yang hitam, kejam, dan sangat menakutkan. Kulihat mata Naga Hitam ini berkedip-kedip karena silau, oleh cahaya terang yang datang dari puncak sebuah stupa. Naga Hitam ini mengaum takrela melepas Yawabumi dalam dekapannya, tetapi cahaya yang amat sangat menyilaukan telah menggelisahkannya. Ia mengaum dan menggeliat-geliat, tetapi akhirnya terbang mengangkasa, membuat Yawabumi yang semula gelap kembali terang. Sayup-sayup seolah terdengar bisikan Pembuka Mata.

bayangkanlah

Sri Bhatara Vajrasattva di dalam matamu

ia akan membuka matamu berbesar hatilah

terbuka matamu terlihat Sang Hyang Mandala

Angin dari sebuah kipas besar membelai diriku pelahan membawaku makin jauh ke alam mimpi.

(Oo-dwkz-oO)