-->

Nagabumi Eps 07: Diculik Gerombolan Tangan Besi

Eps 07: Diculik Gerombolan Tangan Besi

AKU masih berpikir ketika dari dua ujung lorong sempit itu muncul sejumlah orang mengepungku. Lima orang di utara dan lima orang di se latan. Tubuh mereka dibalut selempang kain seperti para rahib, tetapi kepala mereka tidak gundul. Rambut mereka semua digelung ke atas seperti aku sekarang dan tidak seperti pendeta yang selempangnya sudah mempunyai warna tertentu, selempang mereka warnanya berbeda dan masing-masing tidak sama. Ada yang abu-abu, hijau, biru, merah, dan hitam, bermacam-macam, tetapi rata- rata warnanya sudah kusam-karena jenis kain dan cara pewarnaan yang tampaknya sengaja dibuat kusam.

Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus meloncat ke atas genting, melenting, dan menghilang?

Apakah mereka semua harus kulumpuhkan? Namun dengan kedua cara ini aku tidak akan mencapai maksudku, yakni menyelidiki segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pelempar pisau terbang tersebut.

Juga, kurasa dengan datangnya kepungan ini, tentunya entah siapa pun yang berada di bagian belakang kedai yang ditemui oleh pelempar pisau terbang itu sudah mengetahui keberadaanku. Ini bisa berarti orang yang kubuntuti tahu betapa aku telah mengikuti sejak tadi, tetapi aku lebih percaya kepada kemungkinan lain, yakni bahwa ada orang lain yang juga membuntutinya. Namun aku belum tahu apakah yang membuntutinya itu kawankawannya atau justru lawan-lawannya!

Kembali ke dunia ramai setelah 25 tahun menghilang, dalam usia 100 tahun pula, mengakibatkan aku bergerak dengan serba meraba-raba. Ilmu silatku tinggi, tetapi pengetahuanku tentang dunia awam yang sangat tertinggal

`telah mempengaruhi segenap keputusanku.

Kubiarkan diriku terkepung. Seseorang berkata.

"Orang tua! Jangan melawan, jika tidak ingin merugikan dirimu sendiri!"

Maka aku pun tidak melawan, bukan karena merasa akan terkalahkan, melainkan karena kata-katanya kutangkap mengandung pesan: Mereka mengetahui kelebihanku, tetapi jika aku ingin mendapatkan lebih banyak kejelasan, sebaiknya tidak menjadikan mereka lawan.

"Ikutlah kami dan berlakulah seperti kami!"

Ternyata mereka mengatupkan tangan seperti orang memuja dan mulutnya komat-kamit berdoa. Mata orang yang berbicara kepadaku memberi tanda agar aku mengikuti sikap dan langkah mereka. Aku mengikuti sikap mereka yang melangkah keluar dari lorong seperti sedang memuja dan berdoa. Begitu banyaknya aliran kepercayaan yang berkembang di antara berbagai aliran di dalam agama Hindu dan Buddha itu sendiri, membuat aku tidak bisa mengerti yang mereka ucapkan adalah doa yang terhubungkan ke mana, karena aku sama sekali tidak mengerti bahasanya. Aku rasa ini memang sebenarnyalah merupakan sikap pura-pura berdoa, dan tiada yang akan mencurigainya karena begitu banyaknya aliran kepercayaan tersebar di seantero Yawabumi.

Sembari ikut berpura-pura kuamati Mantyasih yang penuh dengan manusia. Jalan raya yang tanahnya telah diratakan dan dikeraskan dengan injakan kaki gajah di atas lempengan batu. Kerumunan manusia menyibak ketika rombongan ini lewat, tanpa perhatian seperti kepada sesuatu yang tidak biasa. Di beberapa bagian kota yang lain, kulihat juga rombongan yang memuja dan berdoa dengan cara yang sama maupun cara yang lain. Rombongan yang mengepung dan menggiringku ini menggumamkan entah apa, seperti doa, tetapi aku tidak mengenalnya. Apakah selama aku menghilang dalam 25 tahun telah muncul agama baru?

Sejauh yang kuketahui selama hidupku, aliran kepercayaan apapun yang muncul selalu bisa dikaitkan dengan agama Hindu atau Buddha, atau kedua-duanya, tepatnya dengan Siwa-Mahayana. Dalam setiap agama terdapat aliran dan dari setiap aliran terlahirkan sekte?sekte yang diakui maupun tidak diakui, yang masing?masingnya sangat mungkin melebur sebagai aliran baru. Adapun aliran baru kadang mengandung unsur yang masih bisa dikenali dari agama dan aliran sumbernya, bahwa ada lebih dari satu agama dan seribu satu aliran yang diacunya; tetapi ada pula yang sudah tidak bisa dikenali lagi atas nama usaha memurnikannya. Namun dalam hal perilaku rombongan ini, aku tidak bisa mengatakan apa- apa.

Karena perjalanan ini nyaris menjelajahi kota, aku bisa mengenali tata kotanya yang mengacu kepada tata kota perbentengan. Tiga jalan raya kerajaan dari barat ke timur dan tiga dari selatan ke utara sekaligus menjadi cara membagi daerah permukiman. Terdapat dua belas gerbang yang diberi tempat saluran air, kolam, dan jalan di bawah tanah. Setiap jalan itu lebarnya paling tidak empat danda dan jalan raya kerajaan sampai delapan danda. Seingatku ini juga berlaku untuk jalan di pedesaan, daerah gembala, pelabuhan, maupun daerah pembakaran mayat. Jalan kecil di desa, di tempat saluran air untuk sawah dan hutan dibuat empat danda, sementara jalan untuk gajah dan sepanjang ladang cukup dua danda. Di dalam kota ini juga ada jalan untuk kereta, lebarnya lima aratni, jalan ternak yang empat aratni, sedangkan untuk manusia dan hewan piaraannya paling tidak dua aratni.

Kuperhatikan istana raja didirikan di bagian kesembilan di sebelah utara jantung daerah pemukiman, menghadap ke timur; dari timur ke utara terdapat kediaman para guru dan pendeta, termasuk tempat-tempat untuk korban suci maupun sumber air, dan kediaman para penasihatnya. Dari bagian timur ke selatan, terlihat kandang gajah maupun gudang penyimpanan mesiu. Masih di bagian timur terdapat permukiman kasta ksatria, dan agak di luarnya adalah permukiman para penjaja parfum, bunga dan ramuan cair, maupun pembuat barang-barang untuk mandi. Orang-orang lalu lalang, tetapi aku harus memperhatikan tata kota yang kurasa akan berguna jika aku harus bergerak sendiri di kota ini suatu hari.

Melintasi bagian timur ke selatan itu kulihat gudang untuk barang-barang, gedung penyimpanan catatan negara, kantor pemeriksaan keuangan, kediaman para pekerja. Dari se latan ke barat mulai terlihat gudang?gudang hasil hutan dan penyimpanan senjata; di luarnya, para pedagang beras dari kota, pejabat pabrik, perwira militer, pedagang makanan masak seperti arak dan daging, para penghibur dan penari, mereka yang dari kasta waisya ditempatkan di bagian se latan. Juga di bagian se latan terlihat kandang-kandang kuda, sapi, kereta, kendaraan apa pun, dan bengkel-bengkel para pandai besi. Di luarnya lagi, di ujung barat, para penenun, pemintal benang, penyamak kulit, pengrajin bambu, pakar perlengkapan perang, senjata, dan perisai; kaum berkasta sudra juga ditempatkan di sana.

Aku berusaha keras merekam semua hal yang kulihat ke dalam kepalaku, yang selama 25 tahun hanya berurusan dengan kegelapan gua. Tentu saja pengalamanku 25 tahun sebelumnya, ketika mengundurkan diri dari dunia persilatan dengan cara melebur ke dunia orang awam masih sangat membantu; bahwa bangunan penyimpanan obat-obatan biasa terletak antara bagian barat-utara dan ternak serta kuda selalu di bagian timur-utara. Patung-patung para dewa pengawas, patung raja, berdekatan dengan pemukiman tukang logam dan perhiasan, maupun juga mereka yang tergolong kasta brahmana, semuanya ditempatkan di utara.

Semua ini sesuai dengan Arthasastra, kitab tentang tata negara, yang ditulis Kautilya di India lebih dari seribu tahun dari masa hidupku sekarang. Bahkan penempatan serikat pekerja dan orang asing terletak di dalam tanah berpagar di daerah bukan permukiman, juga sesuai anjuran Arthasastra tersebut mengenai sebuah kota perbentengan. Jadi berkembang pesatnya Buddha Mahayana di Yawabumi tidak berarti kemunduran Hindu sama sekali. Maka begitulah di dalam kota terdapat kuil?kuil Aparajita, Apratihata, Jayanta, maupun candi-candi Siwa, Waisrawana, Aswin, Sri, dan Madira. Di setiap sudut juga terdapat dewa-dewa penjaga sesuai daerahnya. Asap dupa dan kemenyan campur aduk tercium di mana-mana.

Kuperhatikan toko-toko, hampir semuanya menjual bahan yang tahan lama, mulai dari gula, garam, obatobatan, parfum, sayuran kering, makanan ternak, daging kering, rumput kering, kayu, logam, kulit, arang, urat daging, racun, tanduk lembu, kulit kayu, kayu yang kuat, senjata, perisai, dan batu. Karena kami nyaris berkeliling, semua gerbang kota kuketahui sesuai dengan nama Dewa Brahma, Indra, Yama, dan Senapati. Di luar kota, pada jarak seratus dhanuse dari parit, terlihat pertapaan, tempat-tempat suci, belukar dan bangunan air, dengan patung para dewa penjaga. Aku terus melangkah sambil mengamati. Di bagian utara dan timur rupanya tempat pembakaran mayat disediakan kepada yang terbaik di antara varna, sementara di bagian se latan untuk varna yang lebih rendah. Seingatku, pelanggaran atas pembedaan ini akan didenda dengan kekerasan. Artinya para brahmana sungguh masih berkuasa. Namun yang menarik perhatianku adalah kediaman para candala dan kaum bid'ah yang ditempatkan di pinggiran wilayah pembakaran mayat6. Dari jauh terlihat anak-anak kecil berlarian di antara rumah-rumah gubuk yang usang. Beberapa anak bahkan saling bersilat. Hmm. Apakah yang membuat seseorang menjadi brahmacari dan candala?

Kemudian aku tergiring masuk ke sebuah lorong yang panjang. Di kiri kananku tembok yang dibuat dari tumpukan batu-batu persegi. Aku masih sibuk dengan kepalaku sendiri ketika dari balik tembok itu, dari kiri maupun kanan, muncul sejumlah orang berpakaian serba putih yang langsung menyerbu para penggiringku ini.

Para penyerbu ini semuanya bersenjatakan pedang putih lurus panjang yang berkilauan seperti perak. Pertarungan berlangsung begitu cepat sehingga sulit diikuti mata telanjang. Jumlah mereka seimbang, sehingga pertarungan berlangsung satu lawan satu, yang di lorong sesempit ini berlangsung dengan sangat tidak leluasa. Hidungku segera mencium bau harum yang mengingatkan aku kepada Pendekar Melati. Melihat jurus -jurusnya kukenali ilmu pedang mereka sama dengan ilmu pedang pendekar perempuan tersebut. Tangkas, lugas, tetapi tidak kehilangan kehalusan ilmu pedang yang hanya bisa dimainkan perempuan, karena diciptakan sesuai dengan daya ketubuhan perempuan itu sendiri, yang dikenal sebagai ilmu pedang Suksmabhuta yang sudah tua sekali umurnya -meskipun tentu Pendekar Me lati telah mengembangkannya.

Ciri ilmu pedang ini adalah kehalusan dan kecepatan luar biasa yang membuat lawan bahkan tidak sadar betapa nyawanya sudah melayang. Makanya semakin tinggi ilmu yang melawannya justru akan semakin tersiksalah oleh tekanan Suksmabhuta yang nyaris tiada tandingannya. Dalam dunia persilatan di Yawabumi memang hanya ada tiga ilmu pedang yang kedahsyatannya setara, yakni ilmu pedang Cahaya Naga yang menjadi andalanku sebelum menemukan Jurus Bayangan Cermin dan Jurus Tanpa Bentuk; ilmu pedang Aliran Naga yang hanya dikuasa i oleh para pewaris Naga Emas dari Tiongkok; dan ilmu pedang Suksmabhuta yang hanya bisa dikuasai oleh perempuan, warisan para leluhur di Yawabumi yang berusaha melindungi kaum perempuan dari segala bentuk kekerasan kaum pria.

Aku pernah merasakan kehebatan ilmu pedang Suksmabhuta ketika Pendekar Melati menempurku. Kini ilmu pedang itu tersesuaikan oleh bentuk pertarungan berbanyak orang, sehingga dima inkan secara berbeda oleh penggunanya sebagai suatu regu. Orang-orang yang menggiringku melawan dengan ilmu Tangan Besi. Tangkisan tangan mereka atas sambaran pedang-pedang itu di antara cahaya berkilatan terdengar berdentang?dentang. Namun mereka segera dibingungkan oleh pergantian lawan yang saling bertukar dengan sangat cepatnya. Setiap lawan baru menggunakan jurus baru yang mengejutkan dengan cara yang sangat tidak biasa di ruang sempit ini. Para penyerbu ini kakinya tidak pernah menginjak tanah, mereka menggunakan tembok sebagai pijakan, agar bisa melenting-lenting dengan secepat kilat, maupun tetap menempel di tempat seperti cicak tetapi pedangnya berputar bagaikan perisai cahaya dan menusuk begitu rupa sehingga pucuknya bagaikan selaksa.

Umurku memang sudah 100 tahun, tetapi mataku sangat terlatih dalam pertarungan dunia persilatan, sehingga meskipun mata manusia biasa tidak akan mampu mengikutinya aku bahkan bisa menikmatinya seolah-olah mereka bergerak dengan sangat lambatnya. Maka kulihat bagaimana para pemegang ilmu pedang Suksmabhuta itu mempermainkan lawan-lawannya. Ketika kaki masih menempel di tembok seseorang menepuk?nepuk kedua pipi lawan dengan sisi datar pedang, tapi kemudian ujung pedang segera menembus jantungnya untuk dicabut lagi dengan seketika. Dalam pertarungan lain sesosok bayangan putih melompat terbalik di atas ubun-ubun lawannya dan ketika melenting kembali ubun?ubun itu sudah berlubang setipis pedang. Demikianlah hampir set iap cara mengakhiri pertarungan dilakukan dengan cara yang sangat mematikan untuk meniadakan penderitaan.

Meskipun mereka berkelebat seperti bayangan, karena ilmu silatnya belum setinggi Pendekar Melati maka aku bisa mengamati mereka dengan jelas. Mereka semua adalah perempuan muda yang cantik jelita. Mata mereka serbatajam dengan alis serbatebal, dan hanya mata dan alis itulah yang bisa dilihat dengan tegas, karena nyaris seluruh tubuh mereka terbalut kain serbaputih. Meskipun begitu kain putih yang mereka kenakan tidak membalut tubuh dengan ketat, sebaliknya cukup longgar sehingga memungkinkan mereka bersilat dengan sebat, dan karena itu juga memperlihatkan beberapa bagian tubuh yang kadang tertutup dan kadang terbuka. Namun seorang awam dalam persilatan tentu tidak akan melihat apapun jua. Suksmabhuta mempunyai makna jiwa yang tiada tampak, dengan pencapaian itulah ilmu pedang ini mendapat namanya. Ilmu pedang yang dikuasai para perempuan itu pun akan segera bekerja, seandainya ada mata yang terbuka lebih lebar dari seharusnya, karena menyaksikan sesuatu yang tidak biasa.

Aku masih berdiri di lorong itu ketika sosok terakhir melorot pada tembok. Sepuluh perempuan perkasa menyarungkan pedang mereka kembali setelah membersihkan darahnya dengan kain busana korban?korban mereka. Pemimpinnya menundukkan kepala dengan takzim.

"Kami pengawal rahasia istana, pengawal pribadi raja, memohon maaf atas gangguan kenyamanan yang telah diterima. Kami tidak mengetahui sama sekali Bapak ini siapa, tetapi kami mendapat tugas untuk melindungi siapa pun yang mendapat ancaman gerombolan Tangan Besi. Sudah lama mereka menjual tenaganya demi keping?keping emas, kepada para menteri culas yang berusaha merongrong kewibawaan negara. Sekarang Bapak harus ikut kami, untuk dihadapkan kepada para petugas dinas rahasia."

Mendengarkan kalimat itu aku merasa lega. Penyamaranku tidak terbongkar. Jika bersembunyi dalam gua selama 25 tahun masih dipergoki dan sudah menyamar masih terbongkar pula, apakah aku masih memiliki diriku sendiri? Kurasa aku tidak akan bisa hidup dengan tenang dalam sisa usia yang tinggal sedikit ini, jika aku tidak bisa membongkar apa yang terjadi di balik serbuan para pembunuh ke gua itu. Gua yang kukira akan menjadi tempat tinggalku selama-lamanya sampai aku meninggalkan dunia ini, tetapi yang kenyataannya harus kutinggalkan karena banyak orang tidak terlalu sabar menunggu aku mati sebentar lagi.

"Baik," kataku dengan memendam hasrat penyelidikan.

Aku harus berhati-hati, karena ilmu silat set inggi langit belum tentu berguna menghadapi kelicikan siasat dalam permainan kekuasaan.

(Oo-dwkz-oO)