Mencari Tombak Kiai Bungsu Jilid 09

Jilid 09

MIRAH SEKAR selalu membayangkan ketika ia meraih buah merah yang disengaja dipasang oleh Guru Bantu.

Dan Sentanu, bagaimana nasibnya?

Mirah Sekar masih tak mengetahuinya. Hanya dari Paman guru yang menolong dan mengasuhnya itulah. Sekar mendengar Sentanu telah masuk ke Demak. Bahkan terakhir ia mendengar bahwa Sentanu telah berada di istana Demak.

- Disinilah dulu ibumu terjatuh, Mundarang.

Kata Mirah Sekar ketika membawa anak itu ketempat semula ia ditemukan oleh Paman gurunya.

Mundarang mengangguk-angguk. Ia telah mendengar kisah itu.

- Kakek pandai memasang jala itu ya Bu? Tanyanya.

- Kakekmu selalu pandai. - Jawab Sekar.

- Tapi kata kakek, masih ada yang melebihi kepandaiannya lagi. Kata Mundarang pula. Dan Mirah Sekar tertawa.

- Tentu, tentu saja. Bukankah kau diberitahu kakek, diatas orang pandai, masih ada yang lebih pandai lagi, bukan?

- Ya,-

Dan Mundarang mengangguk pula.

- Jadi kakekmu yang pandai, masih ada yang melebihi kepandaiannya.

- Dengan ayah, mana yang lebih pandai. bu ?

- Hi hi tentu saja kakekmu lebih pandai,-

- Dengan guru ayah?

- Ah, kata kakekmu, mereka masih bersaudara, dan kakek tak pernah mengatakan itu. Sudahlah. 

Kau harus hati-hati, Mundarang. Kelak jika kau telah dijinkan kakek untuk meninggalkan tempat ini, kau akan bisa menjaga dirimu dengan baik.

Saat kedua ibu dan anak bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar suara orang berdatangan, Suara mereka jelas terdengar oleh Mirah Sekar dan Mundarang

- sst, ada orang datang.-- Sekar menarik Mundarang.

- Siapa ?-

- Tentu bukan orang padusunan, kalau mereka, tak berani datang tanpa ijin kakekmu.

Sekar berdebar. Ia tahu yang bermunculan tentulah bukan orang-orang biasa. Sebab selain mereka bercakap-cakap dengan suara keras, gerak gerik dan langkah kaki mereka terasa lain dari orang kebanyakan. Mirah Sekar yang telah berpengalaman berada di tempat itu, dapat membedakan gerak-gerik orang-orang yang mendatangi. Gema yang dipantulkan oleh tebing dan jurang disekitarnya, telah ia hapal dengan baik. Maka tak terasa, ia memegang gagang pedang. Tetapi Mirah Sekar menggamit Mundarang.

- Kita masuk! Katanya.

- Tidak keluar menyambut orang-orang itu, Ibu? Biarkan mereka mencari. Kalau kita telah berada didalam, siapa mampu menemukan tempat kita disini?

- Bukankah kakekmu membuat tempat ini demikian rumit dan penuh rahasia?

- Tapi aku ingin keluar dan mengusir mereka. - Mundarang masih membantah.

- O, kau jangan sembrono Mundarang! Mendengar gerak langkah kaki mereka, jelas membayangkan gerakan orang-orang berilmu tinggi.

- Aku tidak takut, kita keluar dan usir mereka!

Mirah Sekar mencoba tersenyum. Bukan ia takut keluar, tapi Mirah Sekar tahu yang berdatangan adalah orang - orang berilmu tinggi. Terdengar dari langkah kaki dan suara mereka yang berkata kata dengan tarikan napas kuat. Mungkin baginya, masih akan mampu melindungi diri sendiri.

Tapi Mundarang?

Mirah Sekar tahu anaknya, sekalipun memiliki dasar tata tempur anak itu masih hijau, bahkan kesempurnaan ilmu kepandaiannya masih jauh dibanding dirinya sendiri. Maka Wanita muda itu tak akan mengijinkan Mundarang keluar.

- Kita keluar saja,- Mundarang masih mendesak.

- Tidak Mundarang, kau akan mambantah perintah ibumu?

Mundarang terdiam dengan tiba-tiba. Perkataan Mirah Sekar membuatnya tak berkata. Sebab 

Mundarang tak berani disebut ,Membantah' perkataan Ibunya. Semenjak kecilnya telah dididik untuk menurut perkataan guru dan ibu. Maka ia menjatuhkan diri kedalam pelukan Mirah Sekar.

-Tidak, aku tidak akan membantah, aku menurut perkataan-mu! Katanya. Dan Mirah Sekar mengusap kepala anaknya.

- Percayalah pada ibumu Mundarang, kita akan selamat tanpa mengganggu mereka. Dan mereka tak akan mampu masuk ketempat ini. Sementara itu kita tunggu saja kedatangan kakekmu agar kakeklah yang menyelesaikan.

Mundarang tak lagi membantah. Perasaan bangga merayap kedalam hati Mirah Sekar. Anaknya demikian patuh. Maka tanpa banyak berkata Mundarang berjalan masuk. Pertapaan yang dibangun oleh Guru Bantu memang mengagumkan. Sebuah tempat dalam celah gunung. Dari atas tebing di jalan kepuncak, terlihat sebagai dasar jurang yang dalam tanpa dasar. Tak terlihat jalan menuju ketempat itu. Dari arah lain, memiliki banyak jalan menghubungkan dengan pedusunan disekitarnya. Seluruh jalan dan tempat itu hanya Guru Bantu dengan Mirah Sekar yang mengetahuinya. Bahkan penduduk Padukuhan disitu tak seorangpun tahu. Hanya mereka yang menjadi orang kepercayaan orang tua itu sajalah yang juga mengetahuinya.

Maka sekalipun tinggi kemampuan seseorang dalam tata tempur, namun untuk dapat memasuki pertapaan itu merupakan suatu perkerjaan yang tak mudah dilakukan. Hingga tak sekalipun Guru Bantu mengalami gangguan, dari manapun. Mirah Sekar tak perdulikan keadaan diluar. Ia sengaja kemudian melatih Mundarang dalam tata tempur dan ulah kanuragan yang lebih tinggi. Diam-diam Mirah Sekar menginginkan itu dapat melebihi kepandaian ayahnya, bahkan kepandaian siapapun.

Maka ia memberi banyak petunjuk dan latihan pada anak itu. Namun dalam pada itu,

pembantu-pembantu dari pedusunan yang diperintahkan membantu Mirah Sekar dengan Mundarang memberitahukan kejadian yang mengejutkan kedua ibu dan anak itu-

- Apakah Ganti dengan Supala ada diantara mereka?- Bertanya Mirah Sekar. Jawab orang-orang itu.

- Kami tidak mengetahui dengan pasti. Hanya jumlah mereka tidak sebanyak yang dibawa Ganti dengan Supala itu.

- Apa yang telah mereka lakukan? Bertanya pula perempuan muda itu.

- Mereka tidak mengganggu kami. Sahut orang-orang itu,

- mereka mendirikan arena melingkar yang aneh, juga membawa seperangkat gamelan seperti yang dilakukan Supala dan Ganti.

Mirah Sekar termangu-mangu. Untuk beberapa saat lamanya ia tidak mengucap. Hatinya diliputi 

gelisah dan khawatir. Tentu saja Mirah Sekar menduga bahwa orang-orang yang disebut itu adalah orang segolongan Ganti dan Supala. Tentu merekalah yang pernah ia dengar langkah kakinya.

- Kalau Paman Guru ada. Gumamnya tanpa sadar

- Ajeng Sekar tak usah cemas. Kata orang padusunan iu

- Mereka tidak mengganggu. Kami kira mereka tak akan menimbulkan kesengsaraan pada rakyat Padukuhan ini.

- Kalian terlalu baik Jawab Wanita muda itu.

- Tapi tidak seharusnya kita lengah!-

Orang-orang itu tidak lagi banyak berkata. Namun dalam hati mereka juga membenarkan ucapan Mirah Sekar. Dan ketika mereka akan berlalu Mirah Sekar berkata berbisik:

- Kalian jangan memberitahu Mundarang tentang mereka, anak itu bisa menuruti kemauan sendiri.

orang-orang itu mengangguk dan berjanji mematuhi perintah itu. Malam harinya Mireh Sekar keluar dari tempatnya. Dengan mengenakan pakaian ringkas, ia berlari turun bukit. Pedangnya ia sembunyikan dibalik pakaian. Mirah Sekar sengaja mencari waktu malam hari. Ia telah memperhitungkan bahwa orang-orang yang berdatangan di Padukuhan itu bukan sembarangan. Maka ia tidak mau tertindak gegabah. Ia menduga meraka tentu mencari dirinya dengan Mundarang, sebab kalau mereka benar adalah orang-orang yang dibawa oleh Ganti dan Supala, tentulah kepandaian mereka di- atas kedua orang itu. Maka dengan perhitungan itu Mirah Sekar bertindak hati-hati. Ia tidak mau sengaja muncul pada siang hari, sebab belum tahu dengan pasti kekuatan yang harus ia berikan untuk menghadapi mereka, Lebih lagi ia mendengar orang-orang itu tidak mengganggu penduduk. Jadi Mirah Sekar menganggap tidak terlalu mendesaknya agar muncul membantu orang2 dusun itu. Maka malam harinya ia sengaja turun dan menyelidiki. Mirah Sekar menuju tanah lapang diujung Padukuhan, dimana Ganti dengan Supala pernah mendirikan panggung besar. Disana Mirah Sekar kaget. Dari tempat ketinggian, ia melihat batang-batang bambu berdiri ditanam membentuk lingkaran. Batang bambu itu merupakan pagar melingkar. Dan Ia memperkirakan luas lingkaran pagar bambu itu lebih dari luas bangsal Kadipaten Wanabaya. Mirah Sekar tak habis mengerti dengan adanya batang-batang bambu itu. Lalu ia layangkan pandang ketempat lain. Panggung di- mana pernah dibuat Ganti denga anak buahnya ternyata kembali berdiri, bahkan disana terpajang dengan lebih bagus. Ditengah pada panggung itu Mirah Sekar melihat seperangkat gamelan, ditutup kain hitam. Berbeda dengan cara Supala meletakkan gamelan itu. Kini diletakkan ditengah panggung.

Namun Mirah Sekar sekalipun bertanya tanya dalam hati, tak memperhatikan lebih jauh. Ia mencari 

kalau-kalau ada seseorang terlihat ditempat itu. Akan tetapi sampai beberapa lamanya ia tak melihat seorangpun. Mungkin mereka dibalik panggung itu.

Pikirnya. Dan Mirah Sekar kemudian melompat turun. Ia berlari kecil kebawah, menuruni tanah berbatu-batu. Ingin ia menyaksikan dari dekat siapa yang datang membuat panggung itu kembali. Sementara ia berlari itu, hatinya bertambah yakin orang-orang itu memiliki kepandaian lebih tinggi dari Ganti dan Supala, melihat cara mereka memasang gamelan diatas panggung itu, Sekar tahu mereka sengaja menantang dirinya. Wanita muda ini tidak merasa jerih kalau saja ia terpaksa bertempur. Tapi, mengingat anaknya, hati wanita ini tak urung digerayangi perasan cemas juga.

Mundarang masih terlalu muda untuk dapat mengetahui segala cara yang dilakukan oleh orang-orang tua dalam setiapkali terjadi perkelahian. Mundarang masih jauh dari sempurna menghadapi

orang-orang tua yang telah banyak berpengalaman. Lebih-lebih menghadapi lawan yang tak mau menjunjung tinggi tata tempur ksatria. Mundarang masih terlalu kecil untuk dapat mengetahui kecurangan-kecurangan yang tersembunyi dari lawan-lawannya. Maka Mirah Sekar diam-diam menyusun rencana untuk tidak melibatkan Mundarang jika saja timbul pertempuran dengan orang orang itu. Setelah ia berkeliling Mirah Sekar segera lompat dan berniat kembali. Sementara hari mulai terlihat tanda-tanda mendekati fajar. Mirah Sekar berlari-lari kecil menuju puncak. Namun tiba-tiba ia mendengar suara seseorang, tertawa perlahan dibelakangnya. Mirah Sekar menghentikan langkah dengan mendadak. Ditunggunya orang yang tertawa dibelakangnya itu tanpa menoleh, Tapi alangkah terkejutnya. Suara tertawa itu kini tiba-tiba di depannya, sigap Mirah Sekar lompat kesamping dan punggungnya ia tempelkan ke batang pohon yang ada didekatnya. Matanya

mencari-cari arah suara itu. Sorot mata itu menembus kegelapan, kalau kalau terlihat orang yang tertawa tadi. Namun kembali ia kaget Sebab suara tertawa itu kembali terdengar diarah lain, bahkan kemudian semakin heran ia sebab bukan lagi dari belakang atau depan, melainkan dari segala arah suara itu terdengar tertawa. Seakan puluhan orang tertawa mengelilinginya berganti-ganti.

Mirah Sekar sadar. Seorang berilmu tinggi tengah ada didekatnya. Maka tanpa menunggu lagi ia cabut pedangnya dan sambil masih menempelkan punggung kebatang pohon itu ia bersiap menghadapi segala sesuatu. Ia tak bergerak. Sekar tahu orang jauh melebihi dirinya, dalam hal kepandaian. Maka ia tak mau bergerak. Ia akan menunggu serangan, sebab masih belum tahu dari mana orang itu tertawa. Kalau ia menyerang lebih dahulu, selain belum mengetahui tempat orang itu berada, juga Ia akan kerepotan sebab suara tertawa itu sekalipun tidak keras, namun panjang dan bertenaga. Bahkan mendirikan bulu roma manakala orang tak tahan mendengar suara itupun akan segera roboh karena takut dan kekuatan yang menggelitik dalam telinga dan perasaan, Mirah Sekar masih tak bergerak. Ia pusatkan perhatian dan kekuatan. Berusaha sekuatnya menekan pengaruh suara tertawa yang hampir membawanya hanyut. Diam-diam murid Nyi Ageng Maloka ini mengerahkan kemampuan batin dan berusaha membentengi diri dari pengaruh suara lawan yang 

masih belum kelihatan, pedangnya menempel dimuka dadanya. Rupanya orang itu tahu bahwa Mirah Sekar tak mudah dirobohkan dengan cara itu. Lebih-lebih ketika mengetahui wanita muda itu tak bergerak sedikitpun. Maka tiba-tiba ia menghentikan suara tawanya. Kembali tempat itu sunyi dan lengang. Namun Mirah Sekar masih tak bergerak. Ia tak mau bertindak gegabah. Sampai beberapa lamanya masih tak bergerak dan beranjak dari tempatnya. Itulah yang membuat orang yang masih sembunyi itu jadi mendongkol.

- He, kemari kau

terdengar suara dari samping kanan

- Ah, kau tuli rupanya.

Kembali terdengar suara. Mirah Sekar yang dipanggil tak menyahut. Bergerakpun tidak.

- Gila! Kau mendengar suaraku, ha?! Kemari!

- Huh!

Sekar menyahut pendek.

Terdengar kembali suara itu. Getaran yang terdengar terasa berat dan berpengaruh

- Kemari, kau takut? Ah rupanya pengecut saja kau anak muda. Percuma kau membawa-bawa senjata itu, kemarilah!

Namun Mirah Sekar masih tak bergerak, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan menyerang seraya berseru:

- Awas!

Dan angin santar menyorang menggulung Mirah Sekar dengan kuat.

Murid Nyi Ageng Maloka itu sebat bergerak. Begitu ia melihat bayangan menyambar kearahnya, tubuhnya ia gerakkan kemuka dan Sekar bergulung maju sebab terasa sambaran angin lawan cukup kuat dan bertenaga. Maka terlihat dalam cahaya remang menjelang terang tanah itu seorang melayang bagai burung garuda menyambar mangsa, dan seorang lagi bergulung kebawah bagai terengiling dan pedang Mirah Sekar sekaligus membabat lawan yang ada diatasnya.

- Trang

Terdengar suara senjata beradu, dan pedang Mirah Sekar terlempar keras dari tangannya. Sakit dan panas telapak tangan itu. Cepat ia loncat berdiri dan bersiaga. Hatinya kaget sekali bergerak lawan berhasil membuat pedangnya terlempar. Namun lebih kaget hati Mirah Sekar, sebab penyerangnya tak kelihatan. Entah menghilang kemana. Maka diam-diam hatinya memuji. Lawannya benar bukan sembarangan, sebab sambil menyerang dan sementera tadi ia bergulingan, lawannya telah lenyap bagai hantu ditelan bumi. Namun ia segera loncat dan pungut kembali senjatanya yang terlempar. Ia sarungkan kembali senjata itu, lalu Mirah Sekar loncat berlari tanpa perdulikan lawannya yang telah lenyap dari hadapannya. Mirah Sekar tak mau melayani lebih jauh. Jelas lawan menang diatasnya. Lebih-lebih keadaan masih gelap hingga tak leluasa baginya melakukan 

perkelahian dengan orang itu. Tetapi begitu Mirah Sekar berloncatan beberapa langkah, sambaran angin kembali terasa dan bayangan hitam tadi kembali menyerang dengan pukulan kearahnya. Mirah Sekar kaget juga. Tapi ia waspada. Begitu terasa orang muncul, ia telah bergerak lebih dahulu dan menyerahg orang itu hingga dua serangan bertemu.

- Dug!

Tangan kedua orang itu beradu keras, dan Sekar mengeluh tertahan, lengannya sakit luar biasa dan ia terpental kebelakang beberapa tindak, bahkan hampir saja ia terguling kalau tidak segera menguasai diri sekuat tenaga.

- Kau sungguh hebat dan kuat.....

Terdengar orang itu tertawa. Dan Sekar kini melihat sesosok tubuh berdiri dihadapannya dengan jubah hitam yang melambai-lambai ketika bergerak tadi. Tapi ia tak mau berpanjang waktu. Dengan gerakan kilat Sekar meluruk dan melancarkan serangan dengan pedangnya. Angin bersiutan ketika senjata ditangan murid Nyi Ageng Maloka itu menyambar-nyambar. Namun lawannya tertawa pelahan, dan hanya dengan beberapa kali loncatan orang itu telah mumbul dikejar oleh serangan senjata panjang ditangan Mirah Sekar, membuat orang itu terus meloncat-loncat, dan sekali-sekali ia berjungkir balik dengan gerakan aneh dan mengagumkan hati. Mirah Sekar sadar. Lawan tak akan dapat ia kalahkan. Maka ia gerakkan pedang dengan lebih cepat hingga bergulung hebat. Dan suatu saat senjata itu meluncur maju bagai anak panah mengarah tubuh lawan. Tapi orang itu lebih cepat, ia loncat mumbul pula dan melayang menjauh dari Mirah Sekar. Saat itu Mirah Sekar bertindak cepat. Ia loncat mundur dan pergi meninggalkan tempat itu.

- Kalau kau benar jantan, biarkan aku pergi -

Serunya.

- Aku tahu kau adalah jago yang dipanggil oleh orang macam Ganti dan Supala. Tapi jangan anggap aku takut dengan orang-orang macam kalian -

- He.........he...... .he....... kau cerdik dan pintar menebak. Tapi apakah kau akan berani melanjutkan pertempuran ini?-

- Huh. Sejak pertama aku sudah mengendus maksud burukmu dipadukuhan ini. Tantanganmu dengan mendirikan panggung itu, aku tahu dan jangan anggap aku lari. Tunggu saatnya panggung itu kuhancurkan sekali lagi. Eh, ya, baik! Baik! Aku akan tunggu kedatanganmu dipanggung dan aku ingin saksikan kepandaianmu. Nah, jangan tidak datang!

Dan bayangan itu berkelebat pergi. Mirah Sekar menarik napas lega. Ia kagum orang itu amat tangguh dan kuat. Bahkan ia masih belum mampu melihat wajah sesungguhnya, hanya bayangan hitam sajalah yang berhasil ia lihat tadi. Tapi ia tak bepikir lebih lama. Bergegas ia kembali ketempatnya, sambil merasakan kecamasan yang makin menyergap di hatinya. Sebab, menilik kepandadan orang, tak mustahil kawan-kawannya masih banyak, sekurangnya sejajar dengan orang itu. 

Ah, Mirah Sekar menarik napas lagi,

- Kapan Guru datang?

Tanyanya dalaim hati. Diam-diam ia khawatir atas nasib penduduk dan anaknya.

- Tapi aku akan mengadu senjata kalau mereka mengganggu, huh!

Dan Sekar terus berloncatan lari naik kembali ke pertapaan Paman gurunya. Mirah Sekar hampir saja bergerak menyerang, ketika ia berlari itu, sesosok tubuh berloncatan kearahnya. Tapi segera ia sadar ketika melihat jelas siapa orang itu.

- Ibu, kau kucari, kemana sepagi ini?

Bertanya orang itu yang tak lain adalah Bagus Mudarang.Tapi Mirah Sekar tak banyak berkata.

Segera ia tangkap lengan anaknya, ditariknya sambil berkata

- kau jangan nakal Mundarang, hayo masuk!

Mudarang tak membantah. Terasa tubuhnya hampir melayang ketika Mirah Sekar menariknya sambil berlari kedalam itu. Namun dalam kepala anak itu penuh prasangka dan dugaan yang membuatnya tak puas.

Tadi ketika ia terbangun, ditengoknya ibunya, telah tak ada di tempatnya. Maka ia menanyakan pada pembantunya.

- Ajeng Sekar keluar sejak tadi.- Jawab. pembantu itu.

- Keluar? Apa pesannya? Bertanya Mundarang.

- Tidak, tidak ada pesan.

- ya, ya, tentu Ibu kesana.

Gumam Mundarang kemudian, Maka tanpa banyak berkata ia keluar dan menuju jalan turun bukit lewat celah lain.

- Mau kemana gus? _ Pembantunya mencegah .

- Jangan pergi, nanti kami sekalian ditegur Ajeng Sekar.

- Mengapa begitu? Kalian diperintah untuk melarang aku pergi?

- Tidak! Tidak begitu, tapi jangan pergi sebelum Ajeng datang

- Kalian jangan takut, aku hanya ingin melihat-lihat di padukuhan ada apa. -

Lalu Mundarang berlari pergi meninggalkan pembantu-pembantunya yang melongo tanpa mampu mencegah kepergiannya. Saat itulah muncul Mirah Sekar yang langsung mengajak Mundarang balik kembali. Mirah Sekar bukannya tidak tahu anaknya tentu bersungut-sungut dibawa kembali. Tapi ia tak perdulikan. Di dalam, Mundarang kaget. 

- Ibu berkelahi, dengan siapa?

Tanyanya. Mirah Sekar tak heran kalau Mundarang tahu ia habis berkelahi, sebab mukanya nampak menegang dan rambut yang terurai belum sempat dibenahkan.

- Dengan siapa ibu berkelahi? Tentu ia tinggi ilmunya, benarkah?

Mirah Sekar tak menjavab. Tapi Mundarang meraih pedang yang baru diletakkan oleh Mirah Sckar, lalu dicabutnya senjata itu dari sarungnya.

- Hebat!

Mundarang bersera kaget.

- Lihat! Pedang ini rusak!

Mirah Sekar kaget pula. Ia rebut senjata dari tangan anaknya, lalu diamatinya dibawah cahaya lampu obor. Ternyata mata pedangnya pecah-pecah dan sempal sepanjang tiga jari. Mirah Sekar ingat benturan senjatanya dengan milik lawan yang menyebabkan pedang itu terlempar tadi. Namun ia tak menduga bahwa pedangnya akan mengalami rusak demikian. Ia tak tahu senjata apa yang digunakan lawan menggempur pedangnya. Tapi Sekar tahu tentu senjata itu luar biasa. Kalau tidak bagaimana dapat membuat pedangnya sempal dan rusak demikian?

Padahal pedang itu adalah, buatan Paman gurunya, kuat dan ampuh. Maka Sekar menarik napas dalam dalam.

- Mengapa ibu tadi tak mengajakku?

Tanya Mundarang seraya memegang lengan ibunya.

- Kalau aku ada kita bisa menggempur orang itu berdua, dan pedang ini tak akan rusak demikian.

- Ah, Mundarang. Apakah kau suka menggempur lawan dengan mengeroyok?-- Tanya Mirah Sekar, dan tangannya mengusap kepala anak itu.

- Tidak, aku tak suka itu. Tapi kalau lawan berilmu tinggi, kita boleh mengeroyok, bukan?

- Ya, mungkin boleh. Tapi ada jalan lain yang lebih baik lagi

- Jalan lebih baik? Bagaimana caranya?-

- Belajar dan berlatih dengan lebih tekun serta rajin, tentu kepandaian kita akan naik, kalau telah mencapai tingkatan tinggi, tentu tak mudah dikalahkan, bukan?

- Ya, ya.

Mundarang mengangguk-angguk

- Nah, kau harus rajin berlatih dan ulet lagi, Mundarang,-

- Lawan itu, apakah ia menang darimu?

- Ya, ia menang jauh.

- Dan Ibu lari?

- O, tidak. Kita tidak boleh lari karena takut. 

- Ya, kakek bilang begitu. Tapi mengapa Ibu kembali, apakah orang itu membiarkan ibu begitu saja?

- Tidak, aku adakan perjanjian untuk bertempur lagi.

- Kapan? Kapan perjanjian itu? Aku ikut!

- Ah, Mundarang, jangan banyak bertanya dahulu, kita masuk dan kita merlatih, lagi. Kau tidak boleh sombong dan menganggap dirimu telah pandai. Sebab masih banyak orang pandai didunia in. Juga lawan-Jawan itu. Kalau kita sembrono, bisa kita celaka. Kau berlatih saja dahulu. Nanti aku beritahukan hari perjanjian itu, dan kau boleh ikut kalau mau.

Mundarang tak lagi membantah. Hari-hari berikutnya, Padukuhan itu kembali diguncang oleh kedatangan orang-orang yg mendirikan Pagar Bambu dan panggung itu. Penduduk yang semula masih takut-takut, semakin hari bertambah berani mondekati. Ternyatalah makin hari berduyun-duyun orang datang dan menyaksikan permainan orang-orang itu. Bunyi gamelan yang tadinya mengingatkan pada tindak-tanduk, Ganti dan Supala semakin hari makin hilang. Rakyat Padukuhan telah berdatangan lebih banyak. Dan setiap kali terdengar sorak sorai mereka, gegap gempita. Maka riuh rendah rakyat Padukuhan dibuatnya. Apa yang mereka saksikan dalam kurungan pagar bambu yang dibuat itu. Rakyat nampak girang dan tertawa-tawa. Kadang-kadang terdengar-

teriakan-teriakan -mereka bersahut-sahutan

- Ayo seruduk yak....ha...ha..

- Mampus! Mampus!

- He, ini kakimu menginjak .kurang ajar! hay.

- Oh bodoh! ih. kau ini teriak ditelinga orang! Sana dalu!

- Ahai ....ayo serang terus... ayo serang....

- Jaga mulutmu, kau juga teriak seenak maumu sendiri..

- He, diam semua! Kalian malahan ribut. Lihat tuh belang jadi ketakutan, ah aku kalah lagi...

Dan orang-orang makin, berdesakan. Keriuhan tempat itu benar-benar merubah pemandangan, Kalau semula tempat itu lengang, bahkan setelahnya Mirah Sekar mengusir Ganti dan Supala dengan anak buahnya, tempat itu benar-benar menjadi sunyi dan menakutkan. Tetapi kini bukan lagi sunyi, sebaliknya berubah menjadi arena teriakan dan seruan orang-orang itu. Tak ubahnya mereka menyaksikan adu ayam, berteriak teriak. Bahkan rasanya hampir tak muat tempat itu oleh kerumunan orang-orang Padukuhan yang mengelilingi pagar bambu itu. Sekalipun dari tempat ketinggian, mereka banyak yang dapat melihat ketempat kerumunan itu tapi tak urung masih berjubal berdesakan disekeliling pagar bambu seraya masih berteriak-teriak dan tertawa gembira.

Hampir terguncang tempat itu manakala terdengar seruan dan sorak berbarengan. Bagai gompa saja tempat itu bergeletar akibat sorakan-sorakan mereka.

Dalam pada itu terlihat seorang anak lelaki berlari mendekati. Lalu dengan sigap anak itu turut 

mendesak orang yang berkerumun mengelilingi pagar bambu. Kekuatannya mengagumkan juga. Tangannya yang kecil mendesak maju, membuat orang-orang menyingkir. Kerumunan mereka terkuak oleh tenaga si anak lelaki yang nampak kuat.

- Ah, Gus Mundarang. Hayo kau masuk dan melihat dimuka!

Terdengar seseorang berseru ketika melihat yang mendesak adalah Mundarang.

- Beri jalan sedikit, Gus Mundarang mau nonton. Hei, beri jalan itu! Seru seorang yang lain,

- Ya, masuk saja kemari! - Kata yang lain.

- Sini saja gus, dekat saya, bisa jelas! -

Seru yang lain pula. Tapi Mundarang tidak banyak berkata. Ia terus maju mencari tempat dimuka, Banyak yang menyisih melihat Mundarang muncul. Bahkan anak-anak sebayanya berlarian mendekati ketika melihat munculnya anak tunggal Mirah Sekar itu. Mundarang kaget. Ia ternganga heran ketika tiba dimuka. Dalam kurungan pagar bambu itu ia melihat pemandangan yang belum pernah Ia saksikan. Seekor Babi hutan sebesar harimau tengah berkelahi dengan garangnya melawan tujuh ekor anjing yang menyalak- nyalak dan menyambar-nyambar padanya. Mundarang melihat dipinggir seekor anjing hitam telah tewas. Dan ketika itulah ketujuh anjing yang lain masih menyalak-nyalak mengelilingi babi hutan yang dengan garang memasang taring kemudian seraya mengawasi

lawan-lawannya yang tak henti-hentinya menyalak dan menyambar-nyambar padanya. Mundarang hampir ikut bersorak ketika tiba-tiba Babi hutan itu bergerak meluruk maju dengan serudukan hebat. Anjing-anjing Yang menjadi lawannya mencar sambil menyalak, tapi sebentar kemudian seekor berbulu coklat menyambar leher babi hutan itu dari samping dengan giginya. Binatang itu menguik keras, tapi seekor anjing lain terpelanting oleh babi hutan dengan taringnya hingga anjing itupun menguik keras kesakitan terpental, dan bergulingan.

Namun anjing dengan bulu coklat itu masih hinggap dileher babi hutan dengan, giginya menghunjam dan anjing lain menyalak nyalak seraya menyambar dari, kanan kiri.

- Ayo! Ayo, terus.. hayo he hitam bantu kawanmu itu.

Orang-orang masih berteriak-teriak gegap gempita. Dan Mundarang berdiri dengan kagum. Ia melihat pemandangan menarik hatinya. Perkelahian itu sungguh aneh baginya. Ia belum pernah menyaksikan orang mengadu binatang-binatang semacam itu. Maka matanya tak berkedip bahkan sekali-sekali Mundarang ikut bersorak kalau ada seokor anjing berhasil menyerang atau melukai babi hutan itu.

Pada suatu saat anjing berbulu coklat yang berhasil menanamkan gigi keleher babi itu, mengulang perbuatannya. Akan tetapi sebelum niatnya kesampaian. Babi hutan itu telah menyambut dari arah samping dan taringnya yang panjang menyambar perut anjing itu. Tak dapat dihindarkan perut binatang itu robek dan terdengar lengkingan panjang ketika anjing itu kembali diseruduk hebat 

dan moncongnya hancur oleh serudukan babi hutan yang semakin nampak garang dan ganas. Lengkingan itu akhirnya terhenti dan tubuh anjing bulu cokelat itupun menggeletak tanpa nyawa

- Haik! Haik. Gug!.Gug!. Ayo, serang lagi! Ayo jangan takut

Tinggal enam ekor lagi anjing yang menyalak-nyalak menyerang. Namun tiga diantaranya telah luka-luka. Hanya rupanya binatang-binatang itu tak mau menyerah. Dan orangpun melihat tubuh babi hutan itu telah penuh dengan luka-luka dan robek akibat jambretan gigi-gigi anjing yang

berkali-kali menyerangnja.

- Hung ....gug...gug

Babi hutan besar itu menyuruk hebat pula kemuka. Namun tiga ekor anjing tiba-tiba secara berbareng telah menyerang dari samping dan belakang. Seekor diantaranya. menyerang, namun meleset hingga terguling sendiri, Sedang dua ekor yang lain berhasil, menyambar punggung, dan seekor loncat menerkam bebokong binatang hutan itu

- Hug!-

Akan tetapi binatang hutan itu benar-benar tangguh dan kuat. Sekalipun tubuhnya telah penuh oleh luka dan kulitnya robek disana-sini, dan dua ekor anjing masih menempel dibelakang tapi ia maju dengan gesit. Seekor diantaranya berhasil jatuh terguling ketika babi itu menggerakkan tubuh sekaligus menyuruk maju kemuka. Tepat, ketika seekor anjing menyalak binatang hutan itu menyambar dengan serudukan hebat dan lawannya menguik hebat lalu melengking gonggongan panjang, untuk kemudian terguling dengan nyawa terlepas ketika taring binatang hutan itu merobek leher si anjing yang kelelahan. Tinggal dua ekor lagi. Dua ekor yang lain telah berlari-lari mengelilingi pagar bambu. Rupanya jera menghadapi babi hutan yang tak terkalahkan itu. Namun tentu saja dua ekor anjing itu tak terkalahkan itu. Namun tentu saja dua ekor anjing itu tak berhasil keluar sebab bambu yang dipatok memagagarinya terlalu rapat untuk tubuhnya.

- Tak berguna kalian hidup!

Terdengar seruan keras dan dua batang senjata tajam melesat kedalam kurungan, dua ekor anjing yang telah ketakutan itu menguik hebat dan tubuhnya tersungkur oleh serangan dua batang pisau yang langsung menancap dileher keduanya. Mundarang kaget. Ia hanya mendengar suara seruan tadi dan matanya masih melihat dua sinar berkelebat menyerang anjing-anjing itu. Tapi Mundarang tak berhasil mencari siapa orangnya yang melepaskan senjata-senjata itu. Seruan dan teriakan-orang orang yang menyaksikan adu binatang itu semakin riuh rendah ketika babi hutan tadi berhasil membikin dua ekor anjing terakhir tersungkur dan menguik-nguik kesakitan. Dua ekor binatang itu tak kuasa bangkit lagi, sekalipun tidak tewas, tetapi luka-Juka akibat serudukan babi hutan dan serudukan terakhir yang menyebabkan tubuh mereka hancur tercacah itu membuat dua binatang tadi tak mampu bangkit, kecuali menguik-nguik panjang kesakitan, menimbulkan iba yang mendengar.

Dalam pada itu Mundarang melihat binatang hutan yang berhasil mengalahkan delapan ekor 

lawannya itu mengendus-endus dan berlari mengelilingi patok bambu. Muncul seorang setengah baya. Ia bendiri ditempat ketinggian di panggung. Tepat ketika orang itu mengangkat tangan, semua orang yang semula riuh rendah suaranya tiba-tiba berhenti. Tak sedikitpun terdengar suara mereka, hingga keadaan menjadi berbalik sepi . Mundarang heran. Bagai kena sihir orang banyak diam menunggu yang akan dikatakan oleh orang setengah baya itu.

- Kisanak sekalian. Terdengar orang itu berkata.

- Ini adalah yang kesembilan kalinya kita adu binatang itu. Nah, untuk aduan kesepuluh, kalian boleh mencari sebanyak-banyaknya anjing yang layak diadu dengan babi hutan itu. Tetapi ingat dalam aduan kesepuluh nanti kalian yang mengikutkan anjingnya untuk melawan babi itu harus menyerahkan tanah sawah yang dimiliki, sesuai dengan perjanjian yang telah kalian sepakati.

Nah,kalian boleh datang hari Wage esok lusa dengan membawa anjing-anjing piaraan kalian itu.

Lalu orang itu melompat turun. Sementara itu Mundarang melihat babi hutan tadi telah digiring oleh dua orang dibawa keluar dari kurungan pagar bambu itu. Sedang bangkai anjing yang tewas telah diangkut keluar pula.

- Apa kata mereka?-

Mundarang bertanya pada Rambat dan Santang yang kebetulan juga ada di tempat itu.

- Mereka minta tanah sawah apa artinya itu semua?-

- Kau, belum tahu Mundarang. Jawab Santang.

- Memang itu taruhannya!. Rambat menyambung.

- Taruhan ?-

- Ya, itu taruhan, kau belum tahu? Mundarang menggelengkan kepala.

- Aku baru kali ini turun melihat aduan itu. - Katanya kemudian.

- Tapi memang aduan yang menyenangkan Mundarang. Sahut Rambat pula.

- Menyenangkan, tapi taruhan itu, bagaimana mereka bisa melakukan ?-

- Dulunya.-

Rambat menjelaskan.

- Mula pertama kita heran aduan aneh itu. Kata orang mereka datang dari Pajajaran.

- Ah, kata ibuku mereka orang Majapahit Santang. Sahut Mundarang. 

- Mungkin, mungkin juga.Jawab Rambat.

- Kakekku juga mengatakan demikian. Malah kata orang mereka juga teman dari Ganti dan Supala itu. Tapi bagaimana bisa mereka beraruh? Itulah. Seperti kukatakan tadi, pertamakali mereka mengundang penduduk untuk melihat aduan binatang. Mereka mengadu lima ekor anjing dengan seekor babi hutan itu. Tentu saja orang senang menyaksikan aduan aneh yang belum pernah mereka lihat.

- Dan lima ekor anjing itu tewas?

- Ya, babi hutan itu memang kuat. Bertanya Mundarang.

- Lalu ?

- Lalu rakyat disuruh mencari anjing. Mereka kemudian menyediakan taruhan besar.

- Taruhan, apa taruhan mereka?

- Mereka memiliki banyak emas.

- Dan orang pedudukuhan?

- Orang padukuhan yang mengadukan anjing miliknya melawan babi hutan itu akan memperoleh emas kalau anjingnya menang. Tapi tak seseorangpun menang. Dan sampai tadi, aduan yang kau lihat, telah tewas enam puluh ekor anjing dari Padukuhan kita ini

- Enampuluh ? Ah,..-

- Benar, babi hutan itu amat aneh dan kuat. Ia tidak kalah oleh keroyokan anjing-galak sekalipun,

- Dan taruhan tanah sawah itu, bagaimana ?

- Ya mereka yang ikut bertaruh rupanya menjadi kegiatan. Sampai dengan aduan kedelapan kemarin mereka telah mempertaruhkan sebagian tanah sawah. Bahkan ada yang telah menyerahkan tanah itu. Dan yang belum masih akan mengadu untung dengan aduan kesepuluh nanti. _

Mundarang termangu-mangu. Seklipun anak kecil, namun dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kendati ia tidak mengerti benar, tetapi Mundarang tahu dari kakeknya, bahwa bertaruh adalah buruk. Apalagi jika tanah sawah dipergunakan untuk itu.

- Mereka akan jatuh miskin Mundarang.

Kata Mirah Sekar ketika Mundarang memaparkan pengalamannya melihat aduan itu.

- Untuk apa mereka meminta tanah sawah? Tanyanya.

-Tentu saja bukan maksud untuk memiliki kekayaan Mun- darang, tapi ada maksud lain mereka.

Sudahlah, kau berhati-hatilah menonton adaun itu. Mereka adalah orang-orang berilmu tinggi yg tidak bisa diperlakukan sembarangan.-

Mundarang menganggukkan kepalanya. Namun dalam hati anak itu masih merasakan perkelahian 

antara babi hutan dengan anjing-anjing tadi. Dan ia bayangkan perkelahian binatang-binatang itu. Mundarang senang melihat aduan menarik. Tapi mengingat tanah sawah yang akan ditaruhkan, ia khawatir. Tetapi siapa tahu babi hutan itu akan dapat dikalahkan oleh anjing-anjing orang Padukuhan?

Mengingat itu Mundarang teringat sesuatu. Lalu dengan berlari-lari Mundarang mendatangi Kepala Padukuhan.

- Kau, ada kepentingan apakah kemari? Bertanya Kepala Padukuhan itu dengan heran.

- Paman, saya ingin bertanya. Tak adakah anjing di Padukuhan kita yang kuat dan ampuh? Tanyanya. Kepala Padukuhan itu heran.

- Apa maksudmu? Kau ingin ikut bertaruh dengan orang orang Pajajaran itu, Mundarang?

- Tidak, tidak. Tapi saya ingin mengetahui tak adakah anjing di Padukuhan kita yang dapat mengalahkan babi hutan itu ?

- Ah, kau rupanya tertarik juga.

Jawab Kepala Padukuhan itu kemudian.

- Ketahuilah Mundarang, di Padukuhan kita telah habis anjing yang tangguh dan pandai. Bahkan aduan itu telah mendatangkan anjing dari lain Padukuhan. Lagipula babi hutan itu amat kuat.

Mundarang terdiam. Hatinya kecewa.

- Kalau ada yang baik, aku akan ikuti aduan itu.- Katanya.

- Kau mau bertaruh dengan mereka?

- Apa salahnya?

- Kau tak akan menang!

- Kita tak boleh bertindak untuk sesuatu yang tak pasti, paman. Makanya aku ingin mencari anjing-anjing yang akan kuadukan dengan babi hutan itu, dan pasti akan menang!-

Kepala Padukuhan itu terdiam. Diam-diam dalam hati ia memaklumi perkataan Mundarang

- Tapi sayang, sayang sekali Mundarang, di Padukuhan ini telah habis binatang-binatang itu. Namun kalau kau mau mencarinya dibawah gunung, diselatan sungai itu kau akan dapat mencari- binatang yang kau maksudkan...-

-Kesana ?

Mundarang melengak.

- Berjalan bersama si Lawung, saya baru akan dapat kembali setelah empat hari, paman. Sedang aduan itu tinggal sehari lagi-

Kepala Padukuhan itu mengangkat bahu.

- Apa daya Mundarang,- 

Keluhnya. Dan Mundarang terdiam lagi. Ketika itu tiba-tiba orang berlarian dengan muka ketakutan. Mundarang hampir ikut berlari ketika melihat puluhan orang ke Padukuhan itu. Tapi melihat Kepala Padukuhan tak bergerak dari tempatnya, ia batalkan maksudnya. Dan orang semakin banyak bermunculan.

- Cepat, lekas tolong mereka . Lekas hah hah uh...-

Napas mereka putus-putus dan muka-muka yang pucat ketakutan menimbulkan keheranan di hati Kepala Padukuhan itu.

- Apa yang terjadi?- Tanyanya pada salah seorang

- Hu... uhh ada,.. ada... lekas pergi.. huh... huh

- Eh ! Tenang, apa yang terjadi,?

Kepala Padukuhan bertanya kembali seraya memegang pundak orang itu. Sedang puluhan orang lain masih terlihat ketakutan.

- Mengapa kalian ketakutan, apa yang terjadi Diguncangnya pundak orang itu

- Ada... huh... huh... ada dua harimau ngamuk... huh lekas pergi... pergi... kita huh. sadarlah Kepala Padukuhan.

- Harimau ? Ah. kalian mengapa jadi penakut Bukanlah sering kalian melihat harimau di pedukuhan ini ?

Seorang yang telah nmmpak lebih tenang maju dan berkata

- Ya, katamu benar. Tapi dua harimau itu luar biasa. Mereka keluar masuk padusunan dengan garang. Tentunya mereka dilepas oleh orang orang Pajajaran itu Kita tangkap, hayo lekas siapkan tali dan kurungan !-

Kata kepala Padukuhan itu. Dan bergegas orang membuat perangkap, lalu berbondong bondong mereka menuju padusunan dimana binatang hutan itu muncul. Kepala Padukuhan terperanjat, hatinya tercekat juga. Dan binatang hutan yang membuat orang pedusunan berlari dan bubar itu tengah mendekam dibawah pohon beringin ditengah jalan menuju puncak pertapaan Guru Bantu. Maka Kepala Padukuhan memerintahkan orang-orangnya untuk tidak bergerak. Dan diperintahkan sebagian memencar kemudian memanjat pohon disekeliling dua raja hutan itu .Lalu ia sendiri memasang perangkap dan tali-tali yang telah dibawanya. Namun dalam pada itu hati Kepala Padukuhan itu berdebar, juga. Dua harimau yang dilihatnya kali ini berbeda dengan binatang hutan lain yang pernah ia lihat. Kecuali besar tubuhnya, juga nampak berpengaruh dan menakutkan

- Mundarang Jangan dekat !

Tiba-tiba kepala Padukuhan itu berteriak kaget. Sebab Mundarang mengikuti mereka mendadak loncat mendekati binatang-binatang itu. Tapi terlambat . Sebab Mundarang telah melompat, kemuka. 

Sedang dua harimau itu melihat orang muncul, bangkit dan menggeram. Tak seorangpun yang menyaksikan kejadian itu tidak berdebar dan cemas. Mereka tahu Mundarang memiliki kepandaian. Tetapi tubuh Mundarang dibanding dengan kedua raja hutan itu. ah mereka tak berani membayangkan jika Mundarang diterkam oleh keduanya.

Namun terlambat. Sebab Mundarang rupanya tak takut dengan kedua Raja hutan itu.

Ditangannya ia memegang gulungan tali. Lalu dengan membungkuk Mundarang menggerakkan tali itu. Digoyang-goyangkan kemuka binatang-binatang yang telah berdiri dan menggeram. Tak terasa orang-orang pedusunan yang melihat itu memegang senjata yang mereka bawa. Siap kalau-kalau binatang itu loncat menyerang. Seekor diantaranya maju melihat tali yang digoyangkan Mundarang. dilemparnya kemuka. Tali itu melayang menyerang leher Harimau jantan. Kepandaian Mundarang pantas dipuji. Tali panjang yang ia lenmparkan kemuka binatang itu bergerak bagai ular hidup dan bergetar ujungnya menyerang leher harimau jantan, dan....... tepat menjirat leher binatang itu. Lalu sigap Mundarang menarik dengan kuat. Namun diluar perhitungan. Ketika ia menarik tali itu, harimau jantan yang lehernya telah terjirat kolongan tali, mengaum hebat dan menerjang kemuka. Loncatan harimau jantan sungguh dahsyat. Getaran suaranya mendirikan bulu roma, dan loncatan bagai garuda mengaduk langit itupun menerbitkan suara-suara jeritan hebat dari orang-orang yang melihatnya.

Mundarang sadar bahaya mengancam dirinya. Begitu ia melihat binatang itu meloncat menerjang, ia

berguling kebelakang dengan cepat hingga loncatan harimau jantan itu lewat diatas tubuhnya. Dan tali yang masih ia pegang, ditariknya sambil kemudian loncat berdiri. Akibatnya harimau jantan itu tertarik dengan kuat. Tapi rupanya tenaga yang dikerahkan Mundarang kalah jauh dongan tenaga lawannya. Begitu harimau itu merasa lehernya makin terjirat dan tubuhnya kena ditarik, ia berlari kesamping dan Mundarang jatuh terguling akibat kuatnya tenaga binatang itu. Tetapi karena Mundarang tak mau melepaskan tali, ia jadi terseret ketika raja hutan itu tiba-tiba berlari berputar-putar. Orang-orang menjerit kaget dan cemas. Harimau itu masih berlari berputar dan Mundarang terseret hebat. Tetapi rupanya Mundarang masih mampu menguasai dirinya. Ia berhasil

berdiri. Tapi karena tenaga lawannya menang lebih kuat, Mundarang terpaksa harus meloncat-loncat mengikuti lari binatang itu.

Ketika Mundarang ada dalam keadaan demikian, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan dan sebuah sinar terlihat membabat tali yang dipegang Mundarang. Tali itu putus dengan tiba-tiba. Mundarang hampir terpelanting karena tali yang putus. Tetapi bayangan itu cepat bergerak dan menyambar tubuh Mundarang hingga jatuh kedalam pelukannya. Bayangan itu bergerak minggir seraya mengangkat Mundarang.

- Ibu. ..-

Mundarang kaget ketika melihat siapa orng itu. Dan orang banyak berseru lega melihat Mundarang selamat. 

- Jangan gegabah Mundarang. - Mirah Sekar menegur

- Bukan begitu caranya menangkap harimau.

Dan Kepala Padukuhan tiba-tiba memerintahkan orang-orangnya mengurung kedua harimau itu.

- Tahan! Tunggu dulu!?

Mirah Sekar lompat mencegah.

- Jangan diganggu.-

Katanya kemudian. Tapi karena ia melihat muka orang-orang itu heran, Mirah Sekar memberi tanda lalu berkata:

- Kalian tidak melihat? Kedua binatang itu agaknya bukan sembarang harimau. Kalian lihat tadi ketika Mundarang menyerang dengan talinya? Hanimau satunya itu tidak ikut menyerang, bahkan ia mendekam dengan enaknya menyaksikan kawannya berkelahi Dan kalian perhatikan ketika harimau jantan mempermainkan Mundarang dengan berlari-lari memutar tadi? Kalau mereka harimau biasa tak akan terjadi yang demikian. Jelas keduanya adalah milik orang-orang berilmu tinggi yang mengerti tata kelahi seperti manusia.-

Kepala Padukuhan mengangguk-angguk. Demikian juga yang lain. Baru sadar mereka.

- Lalu apa yang harus kita lakukan? -

Tanya kepala Padukuhan itu. Mirah Sekar tersenyum. Lalu ia melompat kedekat harimau yang kini telah kembali mendekam ditempat semula. Mirah Sekar mengangkat tangan, lalu berkata:

- Kalian tentu dengar perkataanku, kawan! Kalau dugaanku benar kalian bukan harimau sembarangan yang datang dari hutan, kalian tentu mengerti perkataanku. Kami tidak berniat memusuhi kalian dan tak akan mengganggu. Tetapi kalian jangan pula mengganggu kami. Kami akan bersahabat. Nah, kalian lihat pedang ini ?

Dan Mirah Sekar mengangkat pedangnya,

- Ia akan menabas leher kalian jika kalian memusuhi kami. Tapi jika kalian mau bersahabat, datang dan majulah kemari!

Orang-orang menunggu dengan hati berdebar. Dan Mirah Sekar menunggu pula dengan senjata telanjang siap ditangan. Dan terjadilah keanehan bagi orang-orang itu, ketika kedua binatang hutan itu tiba tiba menggeram lalu meloncat maju. Mirah Sekar masih tak bergerak, tapi senjatanya siap kalau harimau itu menyerang. Namun kedua harimau itu tiba-tiba mendekam dibawah kaki Mirah Sekar. Orang banyak bersorak girang dengan mendadak melihat perbuatan harimau itu. Mundarang loncat maju kemudian dipeluknya leher harimau jantan yang tadi mempermainkan dirinya. Kemudian melepaskan tadi yang masih melilit dileher binatang itu. Melihat perbuatan Mundarang, orang banyak maju hampir berbareng dan mereka berebutan memegang kepala dan tubuh kedua harimau itu.

Mereka girang dan kagum, Baru kali ini mengalami peristiwa ganjil. Dua raja hutan yang ganas dan 

menakutkan, tiba- tiba tunduk dan menurut ketika muncul Mirah Sekar. Mereka mengira Mirah Sekar memiliki kesaktian luar biasa. Namun sebaliknya Mirah Sekar tertawa. Ia tahu tentu kedua harimau itu milik seseorang yang berilmu tinggi.

Tapi siapakah dia?

Mirah Sekar masih belum mengetahuinya. Hanya ia merasa yakin orang itu ada tidak jauh dari tempat itu. Maka Mirah Sekar memasang mata melihat kalau-kalau muncul orang itu. Pada saat Mundarang dengan orang-orang padusunan masih mengerumuni dua raja hutan itu, tiba-tiba terdengar suara anjing- anjing menyalak. Suara itu demikian kerasnya hingga mengejutkan orang banyak. Tetapi kekagetan mereka lebih hebat ketika tiba-tiba dua harimau itu meloncat pergi hingga orang-orang yang semula mengerumuni terpental oleh tabrakan binatang hutan tadi dan bergulingan. Disangkanya harimau itu menyerang. Tapi rupanya tidak. Mereka menarik napas lega. Yang diduga Mirah Sekar terjadi. Ketika salak anjing makin dekat, muncul ditempat itu seorang gadis, seusia dibawah dirinya. Si gadis yang cantik dengan pakaian ringkas pejalan jauh itu, menuntun empat ekor anjing sebesar kambing jantan berbulu hitam, Dan dua harimau tadi mendekati gadis itu yang telah heran melihat kerumunan orang banyak. Mirah Sekar sadar. Segera ia maju dan memberi hormat

- Ah kiranya kaulah pemilik kedua harimau gagah iu. Perkenalkan kami adalah penduduk di

Padukuhan ini. Gadis itu tertawa. Ia ikatkan tali yang dibawanya pada sebatang pohon didekatnya. Empat ekor anjing yang terikat oleh tali itu menyalak-nyalak tak hentinya melihat banyak orang.

- Eh, kalian diam jangan ribut !-

Kata gadis itu pada anjing- anjingnya yang kemudian terdiam menuruti perintah. Lalu gadis itu maju kembali.

- Terimakasih, aku harap kedua piaraanku tidak mengganggu kalian disini.- Katanya. Kepala pedukuhan merah mukanya, Ia maju dan berkata

- Ah maafkan. Kamilah yang bersalah. Sungguh kedua binatang itu tidak mengganggu. Tetapi karena orang dusun ketakutan, kami tadinya bermaksud menangkap dan membunuh mereka. Untung muncul Ajeng Mirah Sekar yang mencegah. Ya, maafkan kami, sebab kami tak mengetahuinya, kedua binatangmu itu baik dan berbudi, mereka malah bersahabat. Terimakasih, terimakasih!-

Tiba-tiba harimau jantan mengaum dan loncat maju mendekat kepada kepala padukuhan itu. Lalu diciuminya kaki kepala Padukuhan. Orangnya membungkuk dan mengusap kepala binatang itu.

- Terimakasih, kalian amat baik. Katanya.

- Hayo kita kembali ke Padukuhan, dan kami persilahkan kisanak untuk singgah digubug kami.

Katanya pada gadis itu. Maka berbondong-bondong mereka menuju rumah kepala padukuhan, Dan tempat itu kembali menjadi ramai oleh kedatangan orang-orang dusun yang mendengar munculnya dua harimau dengan seorang gadis cantik ke rumah kepala Padukuhan. Diam-diam Mirah Sekar 

mengagumi kecantikan gadis itu. Namun lebih dari itu, Mirah Sekar mengagumi kehebatannya. Sebab dari gerak-geriknya Mirah Sekar dapat menduga orang itu memiliki kemampuan tinggi, bahkan rasanya jauh diatas kepandaian sendiri.

- Ah, kalian jangan memujiku.

Kata gadis itu dirumah kepala Padukuhan,

- Namaku Ken Rati. Sengaja aku datang ketempat ini barena mendengar adanya aduan babi hutan disini. Tetapi karena aku melihat tak ada lagi anjing kuat disini, aku turun kembali dan mencari di padukuhan lain dan menemukan empat ekor anjing pilihan itu, Maksudku ingin mengalahkan babi hutan milik orang-orang Pajajaran itu.

- Kau ingin bertaruh?-- Kepala Padukuhan bertanya.

- Bukan, tapi ingin menyelamatkan kalian dari kejahatan mereka. Kalian rupanya tidak tahu siapa mereka sesungguhnya.

- Tunggu dulu. -

Mirah Sekar menyahut.

- Kita berterima- kasih dengan kedatanganmu. Namun ketahuilah kami telah mengetahui sepak terjang mereka sejak pertama disini. -

Lalu dipaparkan perihal Ganti dan Supala yang menimbulkan kekacauan. Kemudian

- Merekalah yang sekarang rupanya menggantikan perbuatan Ganti dan Supala

Ken Rati termangu-mangu. Hatinya marah. Namun mengingat bahwa mereka adalah orang-orang Majapahit dan Pajajaran, ia terpukul. Terbayang olehnya Pangeran Madi Alit yang berada di pihak Majapahit. Sedang ia sendiri masih belum berhasil menemukan seorang bernama Sasadara di Demak. Semula Ken Rati tengah dalam perjalanan, dan ia mendengar adanya aduan Babi hutan itu dari orang orang dusun. Tetapi setelahnya menyaksikan sendiri, tahulah gadis itu bahwa orang-orang yang mendirikan panggung dan memasang gamelan mengadakan aduan itu bukan sekedar mencari nafkah dan menghibur penduduk Padukuhan. Bahkan ia melihat mereka merencanakan sesuatu yang hebat.

Maka tak heran Ken Rati mendengar penuturan Mirah Sekar perihal munculnya Ganti dan Supala.

- Berhati-hatilah. Mereka orang kuat dan pilih tanding. Maka sengaja aku mencari anjing-anjing itu untuk membunuh babi hutan mereka, Maksudku hanya ingin memancing dan mengetahui kehendak mereka kalau binatang taruhan itu berhasil dibunuh.

- Anjingmu bagus, biar aku yang bawa -

Tiba-tiba Mundarang muncul membawa empat binatang itu, menyalak-nyalak dengan kerasnya.

- Mundarang!

Mirah Sekar menegur. Tapi Ken Rati tertawa.

- Anak itu cerdik dan berani. 

Pujinya. Dan Mundarang menatap Mirah Sekar dan Ken Rad berganti-ganti.

- Kau bawalah, mereka galak. Berhati-hati saja.-

- Kita bawa dan adu dengan babi hutan itu, tentu ia akan tersuruk-suruk dengan anjing ini. - Gumam Mundarang, lalu dibawanya binatang-binatang itu keluar. Dalam pada itu Mirah Sekar telah demikian dekat dengan Ken Rati. Keduanya segera merasa ada kecocokan satu dengan yang lain. Bahkan penduduk Padukuhan itu telah merasa girang pula bertemu dengan gadis itu. Dan Ken

Rati dibawanya menginap di rumah Kepala Padukuhan sambil mempersiapkan aduan yang akan dilakukan. Diam-diam kedua wanita muda itu saling mengagumi. Pada harinya, tempat aduan yang dibuat oleh orang-orang Majapahit kembali penuh sesak oleh penduduk. Bukan saja dari Padukuhan itu, tapi dari lain Padukuhan berduyun orang datang ingin menyaksikan kembali aduan yang dirasa aneh dan menarik. Orang telah berdiri mengelilingi tempat aduan dari pagar bambu itu. Di tempat ketinggian penuh sesak. Dan suara gamelan yang dipukul sejak pagi hari diatas panggung telah terdengar menambah meriahnya suasana. Rakyat nampak gembira, disana sini ramai orang membicarakan aduan itu.

- Kali ini adalah aduan terakhir.

Kata seorang yang tengah berjalan cepat menuju gelanggang

- Bukan saja terakhir, tanah sawah penduduk Padukuhan telah dipertaruhkan besar-besaran.

Sahut yang lain.

- Kalau babi hutan itu masih tak terkalahkan. tanah sawah di padukuhan ini akan menjadi milik mereka.

- Gila, mereka beraninya bertaruh.- Yang lain menyahuti

- Menurutmu, apakah kali ini akan ada yang dapat mengalahkan binatang butan itu?

- Emm... entahlah kalau ada tentu saja datang datang dari Padukuhan lain. Sebab di padukuhan ini telah habis anjing-arjing terbaik.

- Terlanjur, sebab aduan telah dilakukan berkali-kali

- Kalau babi hutan itu menang, ah, kemana mereka akan menempatkan hidupnya lagi? Bukankah tanah sawah mereka tentu akan diminta oleh orang-orang itu.

- Yah, bodohnya mereka.

- Bertaruh ?

- Aku tak suka.-

- Melihat aduan kau senang!-

- Ya, melihat. Tapi aku tak mau bertaruh. Lagi pula aku tak punya aning baik untuk diadu dengan babi hutan itu._

Dalam pada itu seorang yang biasa berdiri diatas panggung telah berkali-kali mengeluarkan 

tantangan pada penduduk yang membawa anjingnya untuk maju dan melepas anjing itu kedalam kurungan aduan. Tetapi menunggu beberapa lama, tak juga muncul orang orang yang diharap membawa binatang untuk diadu. Gamelan terus dipukul. Sampai tengah hari masih tak muncul orang-orang yang membawa anjing untuk diadu dengan babi hutan itu. Maka orang tadi berdiri kembali diatas panggung. Lalu dengan suara keras, ia berseru:

- Kisanak sekalian, rupanya telah tak seorangpun berani mengajukan tantangan. Dengan demikian kami akan tabuh gong sepuluh kali sebagai tantangan terakhir. Kalau masih ada yang berani mengadukan anjingnya, kami harap segera maju. Tetapi jika sampai pukulan gong kesepuluh tak ada juga yang muncul kami anggap kelima puluh penantang yang telah kalah dalam aduan yang lewat telah menyerah. Dan kami berhak mengambil sawah mereka -

Orang banyak kecewa. Mereka bermaksud menonton aduan. Tetapi tak muncul juga binatang yang akan melawan babi hutan itu. Berarti aduan tak akan terjadi. Dan mereka telah menggerutu, hingga suara mereka terdengar bagai lebah bersahutan, sementara gamelan terus ditabuh. Matahari semakin meninggi ketika orang banyak hampir tak sabar menunggu munculnya lawan babi hutan iu, tiba-tiba terdengar suara anjing menyalak-nyalak. Yang melihat kaget bercampur girang ketika dilihatnya muncul seorang kanak-kanak menuntun empat ekor anjing berbulu hitam bertubuh bagus dan gagah.

Empat ekor binatang itu terus menyalak-nyalak melihat banyak orang dimukanya. Namun

kanak-kanak yang tak lain adalah Mundarang menuntun mereka kedekat panggung. Banyak orang kemudian berseru girang melihat munculnya empat ekor binatang itu, sebab mereka segera akan melihat aduan yang menarik itu. Sorak sorai kemudian bergema disekitar tempat itu.

- Bagus! Horee. maju terus.pasti menang

- Ah bagus binatang itu, galak dan lincah nampaknya. Gumam yang lain.

- Belum tentu, babi itu nampak sehat dan makin gemuk saja hari ini. Lihat ia mengendus-ngendus tak sabar menunggu munculnya lawan. -

Kata yang lain pula. Tetapi orang-orang Padukuhan yang telah mengenal Mundarang merasa beran melihat munculnya anak itu

- Eh kau Mundarang?! Bagaimana kau mau ikut bertaruh ? Apakah guru sudah datang dan mengijinkan ?

Mundarang tersenyum, tetapi tak menjawab pertanyaan itu.

- Mundarang kau mau bertaruh? Ah, babi hutan itu amat...

Tetapi anak itu masih tak membuka percakapan. Dituntunnya anjing-anjing yang dibawanya lebih kedekat panggung. Ketika dilihatnya orang tadi muncul berdiri diatas panggung, Mundarang berseru keras

- E, kau lihat ! Aku mau mengadu binatangku ini dengan babi hutanmu itu. _ 

Orang diatas panggung tertegun sejenak. Heran, seorang anak lelaki menuntun anjing dibawah panggung itu terlihat tampan dan sorot matanya tajam, menimbulkan kesan kagum padanya.

- Kau berani? Tanyanya kemudian.

- Tak usah bertanya, aku sudah kemari Jawab Mundarang

- Taruhanmu?-Juga tanah sawah? Apakah kau sudah memberitahukan orang tuamu?

- Sudah Sudah ! Jangan khawatir. Tapi kalau babi hutanmu kalah, aku minta taruhan darimu yang lebih besar. Bukankah ini aduan terakhir?

- Hm...apa mintamu ! Katakan!

Mundarang tertawa. Dan orang banyak yang terdiam sejak tadi memasang telinga baik-baik.

Mereka ingin mendengar taruhan yang diminta dari orang itu.

- Satu.

Kata Mundarang kemudian.

- Kau harus kembalikan semua tanah sawah milik penduduk yang telah kalah dalam aduan. Dua, seperangkat gamelan milikmu harus diberikan pada kami rakyat padukuhan ini. Tiga, seluruh harta milikmu ditinggal dan berikan kami. Empat, kalian dengan semua orang-orang harus enyah dari padukuhan ini serta bersumpah tak akan mendatangi tempat kami ini lagi itu saja!

- ha ha ha kau lucu...lucu...tak ada yang mengajukan tawaran sepertimu... ha ha... ha...

Orang itu tertawa-tawa. Tapi Mundarang tak memperdulikan. Ia membungkuk mengusap-usap empat anjing yang dibawanya

- Bagaimana? Kau terima?"-

Tanyanya setelah orang itu berhenti tertawa.

- Dan taruhanmu?

Tanya orang itu kemudian.

- Katakan dulu kau terima tidak ?! Mundarang ganti bertanya.

- Gila! Aku terima!--

- Bagus, terimakasih! Sahut Mundarang

- Hayo kita mulai!

- He, tunggu dulu ! Bagaimana taruhanmu? Berapa besar ?

- Taruhan apa?-

Mundarang bertanya dan matanya bergerak-gerak lucu.

- Gila! Kau mau taruhan berapa besar 

- He, kau jangan permainkan aku!-

- Tapi kau sudah menyetujuinya, bukan? Orang itu loncat turun kedekat Mundarang

- Sudah kukatakan!- Mundarang berkata.

- Ya, tapi itu taruhan yang kau minta dariku. Kini aku ingin tahu lebih dahulu berapa besar taruhan yang akan kau berikan kalau anjing-anjingmu kalah?-

- Ah, itu urusan nanti, bukan? Anjingku belum kalah.

- Gila! Tapi kau harus katakan dulu!

- Toh aku belum tentu kalah olehmu, bukan? Anjing-anjingku masih segar dan tangkas, bankan merekapun berani menggonggong dirimu. Lihat! , hayo kalian menyalaklah hitam ! Hayo

Dan Mundarang memberi isyarat anjing-anjing itu, maka menyalaklah mereka keras-keras kepada orang itu;

-Hug! Hug! Hug! Hugw

Dan orang banyak yang menyaksikan tertawa keras, melihat itu. Orang tadi merah mukanya.

Namun ditahan kemarahan yang timbul dalam dadanya. Ia maju dan berkata pula.

- Kau harus katakan dulu, kalau tidak aduan tidak jadi dilakukan

- Kalau aku tak mau mengatakan aduan tidak dilakukan?- Mudarang menegas.

- Tentu! Tentu batal!

- Kalau demikian kau kalah, sebab tak melayani tantangan. Dan kau harus kembalikan tanah sawah milik penduduk.

- Kau jangan curang anjing kecil!- Orang itu marah.

- Aku sudah katakan taruhan yang kau minta. Sedang kau tak mau menyebutkan berapa berapa taruhanmu. Tidak adil !

- Eh, siapa bilang tidak adil ? Salah kau sendiri mau menjawab pertanyaanku dan menyetujuinya.

Sedang kalau aku tak mau menjawab juga bukan salahku, bukan?-Sudahlah kau berani tidak? Kalau ada yang menantang kau tak melayani artinya kau mengaku kalah. Itu bunyi aturan yang kau katakan sejak semula. -

Saat keduanya bertegang, muncul seorang tua menyeret tongkatnya. Ia tertawa pada Mundarang dan mendekati mereka.

- Kau pintar anak, jangan ribut. Kami terima tantanganmu Nah kau masukkan anjingmu kedalam kurungan. Kita mulai aduan setelahnya gong berbunyi. Mundarang tertawa. Orangtua yang baru muncul itu senyum ramah padanya. Janggutnya yang sedikit panjang menimbulkan ingatan Mundarang 

pada kakeknya. Dan memang sebaya kiranya orang tua itu

- Eh, terimakasih. Kau ternyata lebih pintar kek!

Katanya lalu ia bawa anjing-anjingnya ke dalam kurungan bambu dan begitu gong berbunyi, anjing-anjing itu dilepas oleh Mundarang. Orang banyak segera berhenti bergumam. Mereka manahan napas, kali ini adalah aduan terakhir yang diawali dengan ketegangan itu. Bagi orang yang menyaksikan telah timbul keheranan dengan munculnya Mundarang. Namun segera mereka bersorak ketika empat anjing itu mulai berlaga dengan babi hutan yang bertubuh lebih besar.

-Hug! Hug Hug

Namun kali ini yang terjadi lain. Empat ekor anjing hitam itu ternyata memiliki kehebatan tak terkirakan.

Pada suatu saat babi itu menyuruk kencang menyerbu kearah empat anjing lawannya. Tetapi empat binatang berbulu hitam itu mencar tiba-tiba dan dua ekor diantaranya menyambar dari arah samping dan menghunjamkan giginya kepunggung babi hutan itu. Akibatnya babi itupun

menguik-nguik hebat dan darah telah bercucuran dari akibat luka-lukanya. Saat binatang itu kesakitan, tiba tibi dua ekor anjing yang lain, menyambar dengan berani dari samping kanan kiri dan leher babi itu menjadi sasaran.

Anehlah!

Keempat ekor anjing itu menempel lawannya. Babi hutan kesakitan menguik-ngaik

berputar-putar dengan empat lawan yang tak mau melepaskan gigitan dan cengkeramannya. Bahkan semakin binatang itu meronta, empat lawannya makin kuat mencengkeramkan gigi. Sedang darah semakin banyak mengalir dan debu berterbangan akibat, binatang itu berputar-putar hebat disekeliling pagar bambu yang mengurungnya. Orang banyak segera bersorak gegap gempita melihat kehebatan empat anjing yang tangkas dan hebat iu. Dan tak seorangpun tahu, bahwa empat ekor anjing itu ketika ditemukan oleh Ken Rati, selain karena memiliki tulang baik oleh gadis yang berpengalaman itu ditarik salah sebuah urat ditubuh mereka, hingga membuat binatang itu semakin garang dan ganas bagai srigala liar. Lebih lagi setelahnya darah menetes dari tubuh babi hutan. keempat binatang itu makin garang mencium bau darah. Tak mengherankan. Ken Rati dari Mpu Sugati memperoleh ilmu merubah sifat binatang hanya dengan merubah susunan syaraf dan

memijit-mijit bagian tubuh binatang itu. Maka empat ekor anjing itu kini benar berubah dahsyat dan garang melebihi srigala lapar dan kehebatan gerakannya melebihi babi hutan itu. Tak ubahnya mereka adalah empat harimau jantan. Maka sudah barang tentu babi hutan itu tak mampu menandingi lawannya dan ia tinggal mampu berputar-putar sedang darah semakin banyak bertetesan. Debu mengepul hebat dan suara babi hutan yang menguik-nguik kesakitan lambat atau cepat namun pasti segera akan berubah menjadi kematiannya. Benarlah. Ketika orang telah kembali terdiam dan berdebar menyaksikan akhir dari pergulatan empat anjing dengan babi hutan itu tiba-tiba berseru 

ketika babi hutan itu terguling dan roboh. Namun empat lawannya tak mau tinggal diam. Babi itu diseret-seret dengan ganas muka serta tubuh bancur dan robek-robek. Saat itu tiba-tiba terdengar pula seruan kaget dan lengkingan suara empat anjing hitam itu.

Tetapi orang banyak berseru kaget dan heran ketika empat anjing tadi melengking panjang dan roboh terguling hampir berbareng dan tewas tak berkutik. Sedang babi hutan itu masih

mendengus-dengus meregang nyawa. Tak seorangpun mengeluarkan suara. Mereka yang menyaksikan terdiam. Tak diduganya empat anjing yang semula nampak garang dan telah hampir menewaskan lawannya tiba-tiba terjungkal dan mati. Namun seruan kaget segera terdengar dan Mundarang tahu- tahu telah meloncat masuk kedalam kurungan, lalu dengan sekali gerakkan kakinya yang kecil, ia injak kepala babi butan yang tengah melawan maut itu hingga remuk dan melesak ketanah.

Bersamaan dengan itu si orang yang berdiri diatas panggung berseru keras;

- Kau kalah! Binatangmu mati lebih dahulu. Kau harus serahkan barang taruhanmu pada kami.-

Tetapi Mundarang kembali loncat dan ia patahkan sebatang- bambu kecil dari kurungan itu, lalu berlari dan loncat keatas panggung. Ditatapnya orang itu dengan sorot mata marah

- Kau kalah!-

Kata orang itu pula.

- Huh, siapa kalah?- Mundarang berapi matanya.

-Kau curang ! Siapa tidak melihat banwa hampir saja babi hutanmu kalah. Tetapi secara licik ada diantara kawan-kawanmu yang melepaskan pisau dan membunuh empat anjingku dengan sembunyi.

Lekas kau suruh kawanmu itu keluar, kalau tidak kau harus mengganti nyawa empat ekor anjing piaraanku itu.

Orang itu mundur. Hatinya berdetak juga melihat mata Mundarang yang berapi-api. Sekalipun kanak-kanak, namun telah ada orang yang membisiki padanya bahwa Mundaranglah yang membikin Ganti dan Supala babak belur. Maka ia mundur dan khawatir juga

- Lekas suruh keluar orang itu!

Mundarang mengacungkan batang bambu yang dibawanya kemuka orang itu.

- Lekas! Sebelum aku bertindak sendiri dan mengampuni kelicikan kalian. Suruh keluar orang itu!

_

Orang itu tak menyahut. Ia mundur-mundur. Tangannya meraba pinggang, Dan Mundarang tahu

dibalik pakaian itu ada senjata. Tiba-tiba Mundarang bergerak, loncat kesamping. Batang bambu yang dibawanya memukul kain yang ada diatas panggung itu. Dan terdengar jerit ngeri ketika sesosok tubuh melayang keluar dan mukanya hancur berdarah oleh sabetan batang bambu ditangan Mundarang, dan sekantung pisau dari orang itu tumpah berhamburan. Orang tadi mundur dengan pucat melihat kehebatan Mundarang, kagum anak itu tahu ada orang sembunyi melepas pisau pada 

anjing-anjingnya, bahkan dengan sekali serang berhasil menghajar kawannya itu. Tapi ia tak merasa takut, sebab masih banyak orang orang yang diandalkan dibalik panggung. Maka ia serang Mundarang. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba berkelebat bayangan lain dan tiga orang maju menyerang Mundarang dengan senjata telanjang. Akibatnya Mundarang kerepotan juga. Dua lawan yang baru muncul ternyata berkepandaian diatasnya. Lagi pula Mundarang terlalu kecil bagi mereka. Maka batang bambu ditangan anak itu telah hancur karena benturan-benturan dengan senjata lawannya. Sedang Mundarang tinggal berloncatan mundur.

Saat itulah berkelebat bayangan lain dan dua orang wanita. Begitu menginjakkan kaki ke duanya bergerak dan pedang-pedang yang dibawa telah bergulung

-Kau turun Mundarang!-

Mirah Sekar yang datang bersama Ken Rati memerintahkan anak itu. Mundarang loncat turun tanpa membantah. Dan Kepala Padukuhan menyambut kemudian dibawanya Mundarang kedekat orang-orangnya. Dalam pada itu kedua wanita muda tadi masih menggerakkan senjatanya menyerang lawan. Rupanya menghadapi keduanya itulah lawannya tak berkutik, sebab kehebatan mereka jauh diatas. Maka dalam waktu singkat, Mirah Sekar dan Ken Rati telah mendesak tiga orang lawannya, sampai mereka mepet kedekat gamelan yang ada diatas panggung.

- Kalian curang, kalau tidak bagaimana bisa terjadi keributan! Mirah Sekar menegur.

- Kalian menyerah dan mengaku kalah kemudian mematuhi perjanjian semula. Kalau tidak jangan anggap kami keterlaluan mendesak dan melukai kalian._

Tetapi ketiga orang itu tak mau mendengar perkataan. Bahkan mereka makin garang menyerang seraya melancarkan ilmu simpanan. Akan tetapi, tentu saja mereka bukan lawan Mirah Sekar den Ken Rati. Ketika dua wanita itu tahu lawan keras kepala, keduanya saling memberi tanda. Dan senjata mereka bergulung makin cepat mengurung lawannya. Pada suatu saat Mirah Sekar menggerakkan senjata lebih cepat dan dua orang sekaligus menjerit dengan paha dan pundak robek oleh pedangnya. Lalu disusul dengan gerakan kilat Mirah Sekar mengerjakan kakinya, dan... tubuh dua orang itu terpental jatuh tersungkur dibawah panggung. Bersamaan dengan itu Ken Rati telah menggerakkan pedang pula. Terdengar jerit menyusul ketika lawan yang tinggal seorang robek pula kedua pahanya dan seperti kedua kawannya orang itupun roboh terpelanting kebawah panggung akibat gempuran Ken Rati. Orang berseru dan mundur. Sejak semula telah banyak yang menyingkir melihat timbulnya perkelahian diatas panggung. Tetapi ketika melihat kedua wanita muda yang telah mereka kenal itu berhasil merobohkan lawan, apa yang akan terjadi kemudian.

Mirah Sekar mengerling pada Ken Rati. Ken Rati tahu maksud itu. Maka ia loncat kedalam dan

menuju balik panggung. Sedang Mirah Sekar menunggu diatas panggung mengawasi sekelilingnya, Tak bergerak. Saat Ken Rati loncat masuk kebalik panggung, seorang tua berjanggut putih yang tadi 

berbicara dengan Mundarang sebelum aduan dimulai, muncul sekaligus menyabetkan tongkatnya pada gadis itu.

- Curang!

Ken Rati berseru kaget dan loncat mundur kembali.

- Kau hebat dan mengagumkan!--

Orang tua itu berseru memuji ketika Ken Rati loncat mundur tadi.

- Jaga serangan!

Ken Rati berseru kembali dan sepasang pedang yang ia bawa meluncur maju mengarah dada dan perut orang tua itu.

- Sabar, jangan terburu napsu! -

Orang tua itu berseru sambil tertawa dan mengangkat tongkat menangkis serangan Ken Rati

- Ah!-

Ken Rati berseru tertahan. Benturan senjatanya ketika beradu dengan tongkat orang tua iu membuat tapak tangannya mengeletar dan sakit. Namun ia tak takut. Dengan merubah serangan kembali ia lancarkan gempuran-gempuran hebat pada orang tua itu. Namun rupanya Ken Rati harus mengakui keunggulan lawannya. Sebab tanpa banyak bergerak ,orang tua itu menyambut

serangan-serangan Ken Rati hanya dengan ujung tongkatnya. Terlihatlah gencarnya serangan Ken Rati menggulung mengurung lawan. Namun setiap kali serangan serangan si gadis bertemu dengan ujung tongkat orang tua itu, Ken Rati tergempur hebat dan pertahanannya punah. Sampai ia merasakan kelelahan. Mirah Sekar yang tadinya menonton tiba-tiba loncat maju dan menyerang orang tua itu. Gerakannya tak kalah cepat dengan Ken Rati. Babatan dan gempuran senjatanya kuat bertenaga.

- Bagus....kalian memang mengagumkan tak percuma aku datang kemari. Hoh..... pantas Ganti dan Supala tak berdaya. Layak kau begini hebat.

Tetapi kedua wanita itu tak menggubris perkataan lawannya. Keduanya melancarkan serangan tanpa putus dan gempuran demi gempuran bergelombang mengurung hebat. Tetapi orang tua itu benar2 tangguh. Keroyokan kedua wanita itu tak terlalu membikin kesulitan dirinya. Tongkatnya masih tenang dan mantep melayani kedua wanita yang semakin garang

- Eh, anak-anak manis...... tentu saja kalian tak akan menang melawanku. Baik kita adakan pertandingan dengan cara lain.

Orang tua itu berkata sementara sambaran senjata lawannya masih berkelebatan menyerang.

- Crak! Crak!

Tongkatnya tiba-tiba terbabat pedang Ken Rati dan hancur ujungnya.

- Bagus!

Orang tua itu memutar tongkat pula dan menyabet Mirah Sckar. 

- Wuuut. Wuut!

Mirah Sekar loncat kesamping.

- Jangan anggap kami takut! Katanya seraya balas menyerang.

- Crak!

Tunggu dulu! Orang tua itu berseru pula ketika kembali pedang Ken Rati membabat.

- Kita bertanding jujur. Kalian boleh..

- Jangan banyak cakap. jaga pedang! Dan

- crak-crak!

Kembali dua batang pedang membabat ujung tongkat hingga senjata itu makin pendek saja.

Mirah Sekar tersenyum, Ia berhasil membabat ujung tongkat bersamaan dengan Ken Rati

- Kalian terburu napsu, tunggu dan dengar perkataanku!

- Awas!

Ken Rati kembali menyerang dengan lebih gencar dan Mirah Sekar menyusulkan serangan dari samping dan angin bersiutan ketika senjata-senjata itu mengurungnya.

- Ah, kalian jangan gogabah dan tak mau bicara.....

- Dug!

Terdengar seruan keras ketika kepalan kiri Mirah Sekar berhasil mendarat dipundak orang tua itu hingga yang diserang hampir terhuyung kemuka. Namun orang tua itu benar tangguh. Begitu ia terdorong, ia putarkan badan dan sekaligus tongkatnya menyambar kedua lawannya.

- Wuut!

Ken Rati loncat mumbul berjungkir balik dan Mirah Sekar karena tak ada kesempatan menghindarkan gerakan pedang dengan mengerahkan tenaga menangkis tongkat dan

- crak. Duk

Mirah Sekar tegempur hebat kebelakang hampir terpental. Sedang orang tua itu hanya terdorong beberapa tindak. Mirah Sekar rasakan telapak tangannya sakit akibat benturan itu. Tapi ia tahan dan kuatkan hati. Kembali ia serang berbareng Ken Rati yang telah kembali maju dengan senjatanya.

- mundur dan dengar perkataanku. _

- Tak akan menang! Kalian tak akan menang melawanku,

Tetapi kedua wanita muda itu tak menggubris. Mereka terus maju mengerubut dengan semangat menyala-nyala.

- Dasar perempuan, bandel!

Orang tua itu berseru, lalu tiba-tiba loncat mundur sambil berjungkir kebelakang lalu menjatuhkan diri dalam keadaan berdiri. Lalu ia angkat tangan kiri dan berkata keras 

- Berhenti! Aku tak mau melayani kalian bertempur lagi. Tapi kalau kalian penasaran, besok siang boleh datang ketempat ini dan kita mengadu senjata pula sampai ada yang menyerah kalah atau tewas

- Ah kau licik. Alasan untuk melarikan diri bukan? Hayo lawan kami sampai ada yang tewas diantara kita sekarang juga!

Ken Rati maju dan menudingkan senjatanya.

- Kurang ajar -

Orang tua itu berseru karas dan tongkatnya ia geraklan dan

- Brak !

Papan tebal panggung itu hancur berlobang

- Siapa mau melarikan diri? Aku datang kemari bukan untuk lari, malah akan menguasai daerah ini selamanya, mengerti ? Nah, tinggal kalian turuti tidak. Sampai besok siang bertemu di- sini

Lalu orang tua itu loncat mundur dan berkelebat lari meninggalkan panggung.

Ken Rati loncat berbareng dengan Mirah Sekar mengejar. Tetapi orang tua itu telah lenyap. Dan ketika mereka mengaduk isi panggung, tak seorangpun ditemukan. Bahkan orang-orang tadi telah tak terlihat bekasnya.

- Mereka kabur ketika kita bertempur itu. Mirah Sekar bergumam.

- Licik.

Ken Rati menyahut.

- Baik kita datang besok siang dan buktikan parkataannya. Tapi rasanya orang tua itu memang bukan lawan kita.-

Mirah Sekar berkata pula.

- Aku sependapat dengan itu. Tapi dengan kita maju berdua, bukan mudah baginya mengalahkan kita.

- Ya, tetapi berhati-hatilah,_

Mirah Sekar memerintahkan orang-orang bubar dan meninggalkan tempat.

- Siapa orang tua itu? Mirah Sekar bertanya.

- Tentu orang Majapahit. Sahut Ken Rati.

- Ia hebat, bukan?

Mundarang bertanya pula. Dan Ken Rati tiba-tiba teringat bayangan yang pernah menyerangnya pada malam hari ketika ia menyelidiki tempat aduan itu. Sadarlah ia. Menitik bentuk tubuh tentu orang tua itulah yang menyerangnya malam itu. Mirah Sekar berdebar juga. Tadi ia merasakan kehebatannya. Dan malam hari itu ia tahu lawan bukan sembarangan. Bahkan agaknya hanya paman 

Guru atau gurunya sendiri yang akan mampu melawannya.

- Tapi aku harus maju dan menggempurnya besok. Apapun yang akan terjadi

katanya dalam hati. Mirah Sekar membawa orang-orang ke rumah Kepala Padukuhan dan merundingkan siasat menghadapi lawan-lawan diatas panggung itu. Namun ketika rombongan itu memasuki regol rumah kepala Padukuhan, Mirah Sekar hampir menjerit kaget dan girang, ketika matanya menangkap si Lawung, kuda milik Mundarang yang terikat dimuka rumah itu, Dugaannya kuat dan bergegas ia loncat mendahului masuk kedalam pendapa rumah itu

- Paman guru!

Mirah Sekar menubruk dan hatinya memukul girang sebab orang yang ia tubruk adalah Guru Bantu.

- Bagus ! Kalian telah datang, aku menunggu sejak tadi Kata orang tua itu.

- Mana Mundarang?-

- Kakek!-

Mundarang berlari dan ikut merangkul orang tua itu.

- Bagus Bagus ! Kalian baik-baik saja, bukan ?

- Kau tidak melihat aduan kek, tetapi mereka curang! Mundarang tertawa-tawa. Kata anak itu lucu.

- Ya, ya, aku tahu, aku tahu. -

Kata Guru Bantu. Lalu dipaparkan oleh Mirah Sekar dan kepala Padukuhan perihal munculnya Ganti dan Supala dan datangnya orang-orang yang mengadakan aduan binatang itu.

- Aku tahu, aku tahu kalian akan melakukan semuanya. _

- Tetapi orang tua yang menempur kalian tadi, bukan lawanmu. Ia adalah Sunan Langgar orang pertama setelahnya paman gurumu Ki Ageng Semanding di Majapahit._

- sunan Langgar?!-

Mirah Sekar hampir melonjak. Teringatlah ia akan cerita Sentanu yang mengatakan pernah hampir bertempur dengan orang tua itu. (baca Jilid 4)-

- Pantas ia hebat. Pikirnya.

- Dan kalau aku tak salah lihat, gadis itu tentulah murid si orang tua bernama Mpu Sugati.

Benarkah ?

Ken Rati kaget. Tentu saja tebakan orang tua itu benar. Maka ia membungkuk dan mengiyakan.

- Orang tua itu adalah kakekku. Katanya.

- Yang Maha Agung ! Pantas kepandaianmu tidak dibawah Sekar. Bagaimana keadaan kakekmu kini?  - Kakek ada di Padepokan. Ia baik-baik saja.

- Syukur... . syukur.... kakekmu pantas dipuji. Ia baik dan linuwih dari yang lain. Aku terlalu lama menyembunyikan diri dari dunia ramai, jadi tak mendengar banyak tentang kakekmu.

- Kek, kau harus ikut menggempur mereka. Mundarang tiba-tiba berkata.

- Menggempur siapa katamu?

- Mereka orang Majapahit itu.-

- Ah, bukan begitu Mundarang. Yang menjadi lawanku hanyalah orang-orang yang bertindak keliru dan menjadi pengganggu orang baik-baik. Jadi bukan Majapahit atau Demak atau siapapun. Sebaliknya, sekalipun ia orang yang kucintai, kalau tindakannya sesat, ia akan berhadapan denganku._

- Mereka juga sesat kek. Bertaruh dan mengajak penduduk berbuat jahat dan maksiat. Orang tua itu tertawa. Diusapnya kepala cucu yang disayang itu.

- Tapi apakah sesungguhnya yang menjadi sebab mereka tiba-tiba datang ketempat ini Guru?

Bukankah Padukuhan kita adalah Padukuhan terpencil dan tidak terdapat hal-hal yang menarik orang

?-

Mendengar perkataan kepala Padukuhan itu, Guru Bantu menghela napas dalam-dalam. Baru sesudahnya ia berkata.

- Itulah! Itulah yang kutakutkan semenjak dulu. Akulah sesungguhnya yang merasa berdosa dan salah. Sebab kedatangan mereka tentunya mencari diriku._

- Mencarimu kek ? Tanya Mundarang.

- Ya. ya, mereka tentu mencari itu. Kau ingat yang kusebutkan padamu Sekar. Ingat ketika kau terjatuh kedalam jala yang kupasang itu ? Bukankah aku katakan bahwa aku menerima titipan dari orang tuaku Bapa Dalang Dharmapara untuk menurunkan sebuah ilmu kasampurnan jati pada murid yang berjodoh ? Semula aku inginkan dirimu mewarisi ilmu itu. Tetapi karena kau terlanjur memiliki Mundarang, gugurlah niat menurunkan ilmu itu, sebab ia tidak lagi tepat untukmu. Dan rupanya kabar tentang ilmu peninggalan Bapa Dalang Dharmapara itu terdengar oleh orang luaran. Dan aku telah mendengar sejak lama banyak orang berniat merampas ilmu itu dari tanganku.

- Lalu darimanakah mereka tahu tentang ilmu itu? Bukankah selama ini kau menyembunyikan diri ditempat ini?-

Bertanya pula Sekar.

- Oho, tentu saja mereka akan tahu. Bukankah Ki Ageng Semanding tahu paling banyak tentang rahasia ini? Bukankah kau juga mengetahuinya, bahwa orang tua itu adalah adik seperguruan Ki 

Ageng Semu dan kakak seperguruan gurumu sendiri Nyi Ageng Maloka? Ah, tentu saja ia akan tahu benar, Sekar

- Lalu Sunan Langgar itu?

- Ia orang dekat paman gurumu ki Ageng Semanding, tak heran jika ia mencari sampai ketempat ini. Dan kalian jangan lupa bahwa bukan saja orang-orang yang kusebutkan tadi yang berniat mencariku. Masih banyak yang lain yang menginginkan diriku, dan sudah barang tentu mereka menginginkan apa yang kumiliki saat ini.Sudahlah, besok aku maju menemui orang tua itu. Ia bukan tandingan kalian.

Dan Sunan Langgar jadi kaget ketika ia menunggu munculnya Mirah Sekar dan Ken Rati, muncul Guru Bantu.

- He Tentu kau tak akan menyia nyiakan kesempatan begus ini, bukan? Katanya. Tapi Guru Bantu tertawa .

- Aku tahu kau akhirnya tentu akan tiba ditempat ini. Jawab orang tua itu.

- Tetapi bukankah ada harinya sendiri bagi kita yang tua-tua untuk bermain-main? Aha, mengapa begitu bodoh? Bukankah waktu itu akan datang sendiri? Mumpung kita bertemu, mengapa harus disia-siakan? Sunan Langgar. - Ada perjanjian diantara kita orang-tua bahwa kita boleh mengadu kerasnya tulang dan liatnya kulit. Tetapi bukan sekarang. Kalau kau mau menunggu beberapa purnama lagi. waktu itu akan datang dan siapa tahu kau akan berhasil meraih kehendakmu dalam pertarungan kelak?-

- Heh, he, lalu apa maksudmu kemari?-

- Tentu saja untuk memperingatkan dirimu. Kalau kau mau, tinggalkan tempat ini dengan damai.

Dan kita memperhitungkan kelak jika tiba saat perebutan itu.

Sunan Langgar tertawa keras,

- Ya, apa boleh buat. Aku turuti kata-katamu. Tetapi aku masih ingin menjajal anak-anak manis yang kemarin menempurku. Nah, kau suruhlah mereka maju kemari!

- Tidak bisa begitu, kau keliru. Kalau kau mendesak agar mereka maju menghadapimu, sama dengan kau menantang aku turun tangan melayani permainanmu.

- He, mengapa kau membela, ada hubungan apa kau dengan mereka?

- Kau perlu mengetahuinya, bukan? Mereka adalah muridku.

- Muridmu ? Ah, pantas. Tak malu kalau aku harus berkeringat menghadapi mereka. Tapi undanglah anak-anak itu kemari sudahnya aku akan turuti kemauanmu??

- Ah, kau orang tua terlalu usil. Tapi baik, baik. Mereka ada disini. Nah, Sekar dan kau Rati, bukankah kalian tidak jerih renghadapi tongkat Sunan Langgar itu? Majulah anak-anak!

Mirah Sekar tak banyak berkata. Ia loncat kemuka dan naik panggung, lalu diikuti Ken Rati. 

- Tentu, tentu aku tak takut dengan tongkatmu, hayo kau majulah! Gadis itu menantang.

- Bagus! pantas dipuji. Lalu orang tua itu memberikan isyarat agar gamelan dibunyikan. Orang yang menonton dibawah beringsut maju. Penduduk yang kemarin mendengar perjanjian perkelahian telah mulai berdatangan sejak pagi hari. Rata-rata mereka telah mengetahui kehebatan Mira Sekar dan menyaksikan adu kepandaian seperti itu sungguh jarang sekali mereka lihat. Bahkan belum tentu satu kali dalam hidup. Maka panggung itu tetap penuh sesak, malah nampak lebih penuh dari ketika aduan babi hutan.

Sementara itu diatas panggung orang melihat dua orang perempuan cantik itu tengah bersiap.

Mirah Sekar tampak lebih tua sedikit dibanding Ken Rati, namun kecantikan keduanya masih nampak jelas. Dengan memakai pakaian ringkas, nampak gagah dan berisi kedua wanita diatas panggung itu.

- Hayo kau serang!

Sunan Langgar menantang.

- Awas!

Ken Rati mendahului dan pedangnya berputar menyerang maju. Mirah Sekar belum bergerak. Dan Sunan Langgar melihat serangan miringkan kepala sedikit, dan pedang itu lewat disamping leher.

Tetapi Ken Rati cepat menggerakkan senjata itu kesamping mengancam kepala orang tua itu. Mata pedang menggeletar berkeredepan membuat Sunan Langgar terpaksa egos berkelit seraya menundukkan kepala dan

- Hayo kau maju

Tongkatnya menerjang Mirah Sekar sambil berkelit itu. Mirah Sekar tak menduga datangnya serangan, ia loncat dan gerakkan pedang pula menyerang. Saat itu Ken Rati yang melihat serangannya gagal, bahkan orang tua itu masih sempat menyerang Mirah Sekar, kaget juga. Tapi segera ia susulkan serangan serangan berantai, panjang dan bergelombang. Padangnya berkelebatan mengancam lawan. Sedang Mirah Sekar menggerakkan senjata dengan lebih pelahan, namun justru Sunan Langgar tahu serangan itu lebih berbahaya dibanding serangan Ken Rati. Sebab Mirah Sekar mengerahka kekuatan tersembunyi lewat gencaran senjata padanya itu. Terlihatlah dua perempuan cantik itu berloncatan dan orang menyaksikan sambaran dan kelebatan pedang keduanya mengejar den mengancam Sunan Langgar hingga jubah panjang orang tua itu hingga berkibaran diantara sambaran senjata Ken Rati dan Mirah Sekar

- Bagus!

Sunan Langgar berkali-kali menyatakan pujian. Namun kedua lawannya tak perduli, serangan mematikan masih gencar dilancarkan.

Suatu saat senjata panjang mereka berkelebat berbareng menabas leher, sekaligus bagian bawah 

orang tua itu. Dan yang diserang sekonyong loncat dan mumbul keudara setinggi tiga tombak. Saat itu dua senjata lawan menyusul dengan kecepatan kilat bagai ular senduk menerjang mangsa. Akan tetapi tak percuma Sunan Langgar sebagai orang linuwih. Begitu melihat senjata menyerang, tadipun ia hanya akan pamerkan kehebatan, maka tongkatnya berputar, dan sementara masih diudara itu tongkatnya menggeletar di tangan dan

- trak ! Trang! Trang....

Kedua senjata milik Mirah Sekar dan Ken Rati terlempar melayang lalu jatuh membentur batu dibawah panggung.

Lalu Sunan Langgar gerakan tongkat sambil meluncur kebawah kembali. Tongkat itu menyuruk hebat mengancam dada Ken Rati, sedang ujung- satunya bisa ditebak akan makan pinggang Mirah Sekar yang masih terkejut karena pedangnya lepas.

- Kau harus menyerah anak manis..

Sekalipun Mirah Sekar dengan Ken Rati adalah orang-orang tergolong berilmu tinggi, namun menghadapi orang tua itu mereka masih harus banyak belajar. Maka ketika tongkat menyuruk kebawah, mereka berusaha meloncat menghindar. Tetapi Sunan Langgar begitu menapak ketanah dan tongkatnya hampir menyentuh lawan, putar senjata itu dengan gerakan cepat dan aneh. Tak dapat dihindarkan lagi, Mirah Sekar berdua Rati tiba-tiba terhajar dengan hebat pada punggung dan pahanya-

- Bug plak !

Dan keduanya mengeluh pendek ketika tubuhnya terpukul senjata lawan hingga terbanting berdebam. Sunan Langgar tertawa, melihat lawan roboh, tongkatnya kembali bergerak cepat dan Mirah Sekar dengan Ken Rati tak mampu bangkit melihat datangnya serangan, tak bergerak sedikitpun, tapi matanya menyala marah melihat orang tua itu, menggerakkan tongkat kearah mereka. Saat itu berkelebat dalam pikiran Sunan Langgar untuk membikin habis nyawa kedua lawannya yang muda. Maka tongkatnya bergerak memukul kepala kedua lawannya sekaligus. Tetapi sebelum tongkat itu berhasil menyentuh kepala mereka, sebuah bayangan bergerak cepat dan muncul diatas panggung, sekaligus menerjang tongkat itu dan.

- Dug!

Sunan Langgar tergempur hebat dan tongkatnya mental berbalik kebelakang dengan keras sedang ia terhuyung mundur tiga tindak.

- Curang! Kau menipu!

Terdengar kemudian suara Guru Bantu yang datang menolong kedua orang muda itu.

Sunan Langgar tertahan-tahan maju. Ia menatap orang tua yang berhasil membuat tongkatnya mental balik itu. Katanya

- Hm, kau rupanya mau ikut campur juga kakek tua!- 

- Ah, ah, kaulah yang terlalu pikun. - Sahut Guru Bantu.

- Mereka bukan lawanmu, tadipun bukankah karena kau hanya ingin main-main maka mereka melayani kau berkelahi. Tapi tak nyana, kau secara licik dan curang malah ingin menewaskan mereka yang sudah tak mampu melawan. Aha. kalau memang kau gatal tangan, boleh kau jajalkan tongkatmu padaku. Kita tua sama tua!

Mirah Sekar kaget. Belum pernah ia menyaksikan paman Gurunya itu marah demikian. Nampak janggutnya seakan menegang dan sorot matanya membara. Sekar tak pernah melihat itu. Biasanya Paman guru itu amat ramah dan mukanya memancarkan kedamaian.

Tapi sekarang?

Lain sekali. Sunan Langgar tertawa sinis. Ia pukulkan tongkat kelantai panggung.

- Kau mau melawanku? Boleh! Boleh kau maju. Kau kira aku merasa jerih menghadapimu? Sejak dulupun tidak, bukan?-

Sunan Langgar timbul kesombongannya. Ia ingat Guru Bantu sejajar tingkat kepandaian dengannya, Maka ia berani menantang dengan nada mengejek. Tapi orang tua ini tidak menyadari, Guru Bantu telah mengasingkan diri dipegunungan selama bertahun-tahun, jarang turun kedunia ramai. Sudah barang tentu kalau saja Sunan Langgar tidak sedang diliputi napsu dan kesombongan, ia akan tahu tentu Guru Bantu telah maju pesat dibanding puluhan tahun yang lalu. Namun ia tak menyadari itu, maka dipukul-pukulkan tongkatnya ke papan panggung berkali-kali.

- Hayo kau maju!

Tantangnya dengan mengejek

- Ah, kau makin tua bukan makin sadar akan dosa, malah kau mencari penyakit menanamkan permusuhan.

Guru Bantu bergumam.

- Ketahuilah, aku telah lama tak ingin berkelahi dengan siapapun. Tetapi menghadapi kecurangan dan penghinaan tentu saja aku tak akan tinggal diam. Nah, sekedar untuk mendidik kesombonganmu, kau kuberi waktu untuk menyerang dengan tongkatmu. Aku tak akan menggerakkan tangan. Kalau kau mampu menyentuh kulitku dengan senjatamu itu aku akan berlutut dan menjadi muridmu

Sunan Langgar merah mukanya. Ia merasa direndahkan dengan tantangan demikian itu. Maka ia maju dan membentak.

- Kau benar sombong dan takabur, baik, aku akan buktikan bahwa tongkatku hanya dalam beberapa gerakan akan dapat membuat kepalamu lepas dari tempatnya. Nah, awas jaga serangan!

Dan orang tua itu menerjang hebat. Angin menyambar ketika tongkat bergerak. Tetapi Guru Bantu membuktikan kata-katanya. Kedua tangannya bersidekap. Ketika tongkat lawan menerjang itu ia geser kaki dengan cepat dan sedikit merendah, maka tongkat lewat dengan cepat diatas kepalanya 

- Awas!

Sunan Langgar kembali menyerbu dan kini tongkatnya menderu berputar diatas kepala Guru Bantu. Namun kembali hanya dengan menggeser letak kaki tongkat itu selalu lewat, menyentuhpun tidak. Terlihatlah kemudian pemandangan aneh. Sunan Langgar berloncatan menyerang dengan gencar, namun Guru Bantu hanya menggeser kaki dan kadang merendahkan sedikit tubuh atau miringkan badan, serangan tongkat itu selalu lewat dan makan tempat kosong. Kedua jago tua yang nampak gagah itu mulai terlihat semakin seru berlaga. Akan tetapi kalau orang memperhatikan dengan lebih teliti, akan segera mengetahui bahwa Sunan Langgar mulai terlihat kepayahan. Kalau semula ia masih garang dan sombong, dan konsentrasi penyerangan masih teratur dan kuat, maka kini mulai nampak kacau dan sembarangan. Napasnya memburu hebat dan keringat membasahi jidat serta lehernya. Hanya suara sambaran tongkatnya masih menderu hebat.

Diam-diam dalam hati orang tua itu timbul gelisah juga. Ia merasa ada yang tidak selumrahnya pada diri Guru Bantu. Rasanya ia telah melakukan serangan dengan dahsyat dan kuat dilambari ilmu dan kepandaiannya yang jarang terkalahkan. Tapi menghadapi Guru Bantu, ia merasakan aneh dan kecutlah hatinya. Sunan Langgar ingat. Diseluruh telatah Tanah Jawa, hanya orang macam Ki Ageng Semu, Nyi Ageng Maloka, atau Mpu Sugati sajalah yang imbang kepandaian dengannya. Juga Ki Ageng Semanding dan Guru Bantu ia anggap sejajar. Tapi kini ia menyaksikan hal diluar dugaan. Guru Bantu telah berubah sejak bertahun-tahun tak bertemu. Terbayanglah, ketika pada masa mudanya ia menyaksikan kehebatan serupa itu. Sunan Langgar teringat seorang linuwih di Majapahit bernama Dalang Dharmapara. Mengingat itu tercekatlah hatinya. Guru Bantu adalah anak dari Dalang itu.

Tentu saja ia mewarisi kepandaiannya. Mengingat yang demikian, Sunan Langgar mengambil keputusan cepat. Maka dengan lebih gencar ia berusaha sekuat kemampuannya menindih Guru Bantu dengan tongkatnya. Akibat itu terlihatlah kedua orang tua itu saling bergerak. Guru Bantu juga berloncatan masih dengan sedakap dan melipat tangan. Terlihat gagah diantara sambaran tongkat Sunan Langgar yang menyambar-nyambar mengeluarkan angin dan bunyi dahsyat menakutkan.

Dalam pada itu Mirah Sekar dan Ken Rati berangsur pulih kekuatannya. Rasa sakit akibat gempuran Sunan Langgar, telah membaik. Keduanya bangkit. Sejak tadi kedua orang itu kagum dan heran menyaksikan perkelahian yang belum pernah mereka lihat. Kehebatan Sunan Langgar dengan tongkatnya benar-benar mengejutkan. Tentu saja keduanya merasa melawanpun pastilah akan roboh dalam waktu singkat oleh orang tua itu. Namun sebaliknya kekaguman mereka pada Guru Bantu tak kurang-kurangnya. Gerakan Guru Bantu menghindarkan diri dari sambaran tongkat lawan membuat keduanya mengiri dan kagum. Dalam pada itu Sunan Langgar bukan tak tahu kedua wanita muda itu telah bangkit. Timbul pikiran dalam kepala orang tua itu. Ia tahu rupanya tak akan mampu meruntuhkan pertahanan Guru Bantu sekalipun ia kerahkan kepandaian berlipat ganda. Sunan 

Langgar sebagai seorang tua yang banyak berpengalaman tahu lawannya telah menang jauh diatasnya sejak sembunyi bertahun- tahun. Itupun belum melakukan serangan balasan. Tetapi untuk mundur, ia tak sudi. Maka Sunan Langgar ingin memecah perhatian Guru Bantu agar ia berhasil barang sekali memukul lawannya. Berpikir begitu, Sunan Langgar menyodok pinggang Guru Bantu dengan mengerahkan kekuatan sepenuhnya. Namun Guru Bantu kembali memutar tubuh hingga tongkat itu kembali mengenai tempat kosong. Namun Sunan Langgar yang telah memperhitungkan tindakannya, begitu Guru Bantu memutar tubuh menghindar, ia teruskan sambaran tongkatnya menerjang Mirah Sekar dan Ken Rati dengan tak terduga. Kedua wanita itu hampir berbareng mengelak cepat. Terkejut melihat serangan cepat tak terduga itu. Namun karena sakit masih mengeram dalam tubuh, gerakan keduanya limbung dan tak sempurna.

- Curang!-

Guru Bantu kaget melihat gerakan tongkat lawannya menyerang anak-anak muda itu. Maka sebelum tongkat menyentuh tubuh Sekar dan Rati, Guru Bantu bergerak cepat. Tangannya bekerja sambil meloncat. Maka dengan gerakan aneh tongkat ditangan Sunan Langgar berhasil ia rebut, hingga orangnya tertarik maju terhuyung-huyung. Semula Sunan Langgar masih mempertahankan tongkat itu.

Tetapi tarikan Guru Bantu kuat luar biasa, maka tak ampun senjatanya kena dirampas oleh lawan. Pada saat Sunan Langgar masih terhuyung kemuka, Guru Bantu menggerakkan tongkat rampasan dari bawah menyapu keatas kearah Sunan Langgar. Dan orang tua itu bermaksud mengelak. Namun akibat ia terhuyung mendadak akibat tarikan tadi dan gerakan tongkat itupun cepat luar biasa, maka tak ampun lagi tongkat yang digerakkan Guru Bantu menerjang menyapu dari bawah masuk kedalam ketiaknya.

- Agh

Sunan Langgar terlempar keatas beberapa kaki karena kuatnya sapuan senjata itu dan segera terlempar jatuh dengan mengaduh. Ketiaknya bagai dibakar dan dilolosi otot-ototnya. Lumpuh dan rasa sakit hebat menggerayanginya.

Guru Bantu melempar tongkat itu kedekat pemiliknya seraya berkata :

- Kau masih kuampuni. Kalau tadi kau tidak berbuat curang, tentu kita masih bersahabat. Tapi kau telah mulai. Maka beruntung aku hanya membikin lumpuh tangan kirimu.-

Sunan Langgar meringis menahan sakit. Mukanya memancarkan kemarahan. Dendam mulai membakar dadanya.

- Nah, kuberi waktu sampai esok siang, kau bawa pergi orang-orangmu dari padukuhan ini. Kalau tidak, jangan harap aku akan berhati lemah.

Lalu Guru Bantu memberi isyarat pada orang-orangnya untuk meninggalkan tempat itu. Mirah Sekar berdua Ken Rati telah di bantu orang-orang pedusunan berjalan meninggalkan tempat itu. 

Maka berulanglah pemandangan seperti halnya ketika Ganti dan Supala meninggalkan padukuhan diusir Mirah Sekar. Sunan Langgar memerintahkan orang-orang meninggalkan tempat itu dengan hati dendam, menyala berkobar-kobar.

- Aku bersumpah akan menghirup darah kakek tua itu.

Katanya berkali-kali. Dan Guru Bantu kembali membenahkan keadaan serta kekacauan yang telah terlanjur timbul di Padukuhan. Samentara itu ia memperingatkan Mirah Sekar dan yang lain.

- Api semakin besar menyala Sekar. Kiranya kita tak akan aman lagi berada ditempat ini. Aku tahu banyak orang-orang berilmu tengah menuju kemari mencariku. Dan semenjak aku meninggalkan tempat ini aku telah banyak mendengar kabar Majapahit semakin kuat. Demakpun bertambah kuat. Dan api peperangan akan menyala ditlatah timur kelak. Maka aku segera akan keluar meninggalkan tempat ini. Kalian bertiga, Ken Rati dengan kau berangkatlah ke Demak. Masuklah keistana dengan cara apapun.

- Dan Mundarang ?- Sekar bertanya.

- Mundarang akan pergi bersamaku. _

- Kemanakah Paman ?

Sekar makin cemas. Ia takut berpisah dengan anaknya itu.

- Tentu saja yang tahu hanya Yang Maha Agung karena aku akan membawa Mundarang, sabab aku masih belum mempunyai tujuan, Sekar. Tapi percayalah, Mundarang akan kujaga baik-baik. Kelak kita akan bertemu. Percaya saja dengan kehendak Sang Pencipta, mulai besok kalian berangkatlah berdua.

- Padukuhan ini akan hancurkah Paman? Bertanya pula Ken Rati.

- Ah, kau jangan khawatir. Ada tangan gaib yang akan menjaga keutuhan Padukuhan ini. Lawan hanya mencariku saja. Selain itu tak akan diganggu. Sudahlah, hal itu serahkan pada kekuasaan Yang Maha Kuasa._

- Sebab api besar telah mulai menyala. Aku melihat api itu akan membakar tlatah timur kemudian kebarat menghanguskan segala sesuatu yang tidak mau menuruti kemauannya. Demak hanya akan menjadi perantara saja. Namun dalam pada itu kekuasaan Trenggana dan keselamatan Sultan Demak yang baru itu akan ditentukan dari mulainya berkorbar peperangan kelak dengan Majapahit. Maka kau selekasnya mencari Sentanu. Dan Rati, kelak kita akan bertemu pula. Semoga aku dipertemukan dengan kakekmu mPu Sagati. Ia adalah seorang pinunjul yang selalu kukagumi.

Mirah Sekar tak membantah lagi. Demikian pula Ken Rati. Ia menaruh hormat dan kagum pada Guru Bantu. Kedua wanita muda ini dalam waktu singkat telah menjadi dekat, tak ubahnya saudara. Bahkan ketika Ken Rati memaparkan pertemuannya dengan Sentanu di kemah tumenggung Santa 

Guna, membuat Mirah Sekar makin menaruh sayang padanya. Mereka segera menjadi dua orang yang selalu sejalan. Bahkan Mirah Sekar semakin kagum ketika mendengar dari Guru Bantu bahwa Ken Rati jauh menang diatas kepandaiannya di banding dirinya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Guru Bantu menyerahkan pertapannya yang selama bertahun-tahun ia tempati pada kepala Padukuhan untuk dipergunakan oleh penduduk Padukuhan itu.

- Guru mau kemanakah ?-

Bertanya kepala Padukuhan dengan heran.

- Aku masih belum mengetahui kemana tujuan. Tetapi ada yang harus kuselesaikan. Aku masih mengemban Dharma kehidupan yang dipikulkan kepundakku, Dan perjalanan kali ini harus ditempuh dengan laku yang, berlainan dengan ditempat ini

- Tetapi Guru akan kembali ke Padukuhan ini, bukan ?

- Ya, tentu saja. Tentu aku ingin kembali. Tetapi kapan waktu itu masih belum dapat kukatakan.

- Sesungguhnya apakah yang menyebabkan Guru meninggalkan Padukuhan ini ?

- Ah, tentu kau belum mengetahuinya. Tapi kukatakan sesungguhnya aku adalah api yang menyala, di Padukuhan ini, Nyala kecil yang sekali sekali menjadi penerang bagi kalian. Akan tetapi api itu rupanya tertiup angin dan mulai menyala membakar benda sekitarnya, membesar dan membakar, lambat atau cepat namun pasti. Maka sebelum api itu membakar kalian, aku akan menyingkir lebih dahulu. Aku akan mencari tanah luas dan padang yang tak tertembus oleh nyala itu. Kesanalah aku akan memadamkan api yg mulai membakar itu.

- Ah, Guru.

- Ya, itulah maksudku, kalian tentu mengetahuinya.Maka biarkan aku berangkat dengan ketenangan dan antarkan aku dengan keikhlasan yang dalam .

- Lalu Ajeng Mirah Sekar?

- Ia telah berangkat lebih dahulu ke Demak.

- Demak kata Guru mulai berangkat menyerang Majapahit.

- Ya, ya. Demak memang telah siaga untuk itu.

- Maka Sekar kesana iapun mengemban kuwajiban menyelamatkan orang-orang yg layak diselamatkan dari api peperangan itu.

- Mundarang ? Apakah akan mengikuti Guru?-

- Mundarang ikut denganku. Ia masih harus banyak belajar untuk mengenal kehidupan, sejati dalam penglihatan, ini

Esoknya Guru Bantu telah membawa Mundarang menunggang si Lawung untuk turun gunung meninggalkan pertapaan. Kuda jantan itu berlari mencongklang membawa kedua tuannya. Tiba dijalan datar yang rata, kuda itu diperintahkan berlari cepat, maka bagai terbang si Lawung menggerakkan kaki berlari hingga mengaduk debu yang mengebul dibawah kaki-kakinya. Mundarang tertawa-tawa. 

Hatinya amat senang si Lawung berlari cepat seakan berlomba dengan angin. Kuda itupun nampak gembira. Ia berlari tanpa kenal lelah. Melompati jurang2 kecil bagi si Lawung adalah pekerjaan mudah. Tubuhnya yang tegar dan gagah, anggun dalam berlari itu. Dikejarnya segala yang nampak di muka, hingga si Lawung tak kenal berhenti. Makin lama bertambah cepat ia berlari. Mundarangpun semakin gembira. Guru Bantu tidak banyak berkata. Ia biarkan Mundarang tertawa-tawa bercanda dengan kuda itu.

- Eh Lawung, kau berlari kurang cepat, ayuh lekas sedikit.

Kata Mundarang dan lengannya memeluk leher binatang itu. Kuda jantan itupun seakan mengerti maksud Mundarang. Maka menggerakkan kaki dengan lebih cepat. Sekuat tenaga ia berlari menempuh perjalanan pengunungan, turun berlari dan debu masih mengepul dibawah kaki-kakinya.

- Lawung, kau memang hebat. Kalau aku bisa berlari seperti kau tentu kuajak berlomba. -

Kata Mundarang pula. Terlihatlah kedua orang tua dengan anak itu terbang dibawa kudanya. Tak hentinya mereka tertawa. Dan rupanya Si Lawung juga tak Kenal lelah. Setengah seharian mereka berlari tanpa berhenti. Keringat mulai membasahi tubuh kuda itu. Namun ia masih belum memperlihatkan tanda kelelahan.

- Disana ada sungai Mundarang, kita berhenti. Biar Si Lawung istirahat. _

Kata Guru Bantu ketika mereka kembali menempuh jalan datar, dan gunung tempat orang tua bertapa itu telah tertinggal jauh dibelakang.

- Kita berhenti disana Lawung.

Mundarang meneruskan perkataan kakeknya.

- Kita istirahat disungai itu. Kau haus, bukan?-

Kuda jantan itu meringkik dan mengurangi kecepatannya berlari. Dimuka mereka segara terlihat sungai mengalir. Sekalipun tidak besar, namun airnya jernih. bunyi gemericik yang memecah kesunyian tempat itu membuat Mundarang segera melompat turun.

- Kesana kek! -

Serunya. Dan Mundarang berlari kecil menyusuri tepian sungai yang banyak ditumbuhi rumput segar. Guru Bantu memerintahkan si Lawung mengikuti Mundarang. Kuda itu menurut berjalan dengan meringkik pelahan. Agaknya girang melihat banyak rumput gemuk dan segar. Dan sementara kuda itu kemudian makan rumput, Mundarang masih merendam tubuhnya di air sungai, Guru Bantu naik keatas tebing dan melayangkan pandangan sekeliling. Lalu setelahnya beberapa lama ia berhasil demikian, turun pula. Mundarang telah duduk diatas batu, bercakap-cakap dengan kudanya. Anak itu nampak selalu senyum dan sekali-sekali terlihat mengusap leher kuda itu. Mundarang yang duduk diatas batu besar, dengan mudah dapat memegang surai dan leher si Lawung

- Kau sudah kenyang Lawung? Senang ya dapat rumput segar. Aku juga senang tak usah terlalu lelah mencarikan rumput itu. 

Dan kuda itu menggoyangkan leher berkali-kali hingga keliningan perunggu yang ada diatas surainya berbunyi nyaring

- Ya, kau sudah kenyang, tapi aku masih lapar, Lawung!- Kata Mundarang pula.

- Entah Kakek kemana, aku mau makan dengan kakek. Kau mau makan lagi ya?

- Makanlah Mundarang, kau buka bekal itu!

Terdengar suara dibelakangnya. Dan Mundarang kaget, ia membalikkan tubuh. Dilihatnya kakeknya berdiri dibelakangnya dengan tersenyum.

- Kau mendengar perkataanku kek?- Katanya. Guru Bantu tertawa.

- Kau buka buntalan itu!

Perintahnya. Dan Mundarang meraih buntalan yang dibawa. Beberapa potong singkong rebus dan jagung ada didalamnya .Tapi Mundarang telah mengambil bungkusan daun pisang.

- Ikan bakar kek!

Serunya. Mundarang tertawa lebar. Nasi putih dan ikan bakar menantang, seleranya.

- Kakek makan ini. -

Mundarang mengangsurkan bungkusan lain.

- Nanti aku makan. _ Sahut kakeknya.

- Kalau kakek tidak makan, aku juga tak makan.

kata Mundarang .Seraya membungkus kembali panganan itu.

Guru Bantu tertawa. Diraihnya sepotong jagung. Lalu dikunyahnya pelahan.

- Kau makanlah!

Katanya. Dan Mundarang tertawa pula. Ia buka dan santap habis nasi dengan ikan bakar itu. Dan sementara makan Mundarang memperhatikan kakeknya yang mengunyah butir-butir jagung rebus diam-diam Mundarang senang melihat orang tua itu berhal demikian. Sebab menurut Mirah Sekar, banyak orang setua kakeknya telah habis giginya, Tetapi Guru Bantu masih lengkap bahkan utuh dan kuat giginya.

- Kita kemana kek'?

Bertanya anak itu setelahnya selesai menyantap bekalnya.

- Aku rasa kita bisa tinggal disini sampai esok pagi Mundarang. Siangnya kita lanjutkan, perjalanan ketimur. Kau lihat, di sana, ada tebing menjorok kedalam. Bersih, dan terang tempat itu. Kita bisa tinggal disana sampai esok pagi, Biar Lawung juga pulih tenaga dan semangatnya. Ia tentu lelah berlarian setengah harian tadi.

- Kita sesungguhnya mau kemana kek ? Bukankah kakek berjanji akan membawaku ke Demak? 

Apakah ini jalan menuju Demak?

- Ya, tentu kau akan kuantar ke Demak. Tetapi bukan besok pagi. Kau masih harus banyak belajar Mundarang. Maka sambil berjalan aku bermaksud melatihmu dengan lebih baik. Agar jika kau dewasa kepandaianmu makin sempurna.

- Tapi bukankah berlatih sebenarnya bisa dilakukan di pertapaan ?

- Benar. Tapi kau tahu, selain pertapaan mulai terancam oleh orang-orang yang memusuhi kita, juga aku bermaksud mengajakmu mengetahui keadaan diluar pertapaan.-

- Tapi bukankah kakek tidak takut dengan musuh ?  Mengapa harus pergi Kek ?

- Mundarang, musuh tidak harus ditakuti. Tetapi setiap orang harus bertindak dengan perhitungan dan berhati-hati. Lebih-lebih kalau musuh banyak memiliki kawan yang tidak sembarangan.-

- Kenapa kakek punya musuh? Kakek pernah berkata sebaiknya kita tidak membuat permusuhan, bukan ?

Guru Bantu tertawa juga. Ia terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan Mundarang yang selalu ingin tahu banyak.

- Ya, setiap manusia tentu punya musuh Mundarang. Selama kita hidup didunia ini tentulah ada saja orang lain yang tidak menyukai kita.

- Kalau hidup menjadi orang baik-baik tentu tak ada musuh bukan? Kata Ibu begitu, Kek!

- Oho, tentu saja ibumu benar. Tapi menjadi orang baik bukan tidak ada musuhnya. Malah makin banyak yang memusuhi. Orang baik-baik yang memusuhi tentu orang-orang yang senang berbuat salah. Dan orang-orang demikian itu malah berbahaya daripada musuh yang berwatak baik.

Mundarang,

Mundarang terdiam. Agaknya memikirkan perkataan itu.

- Kek.-

Katanya kemudian.

- Kalau kita kuat dan berilmu tinggi. sekalipun ada musuh, tentu tak bisa dicelakakan, bukan?

Sebabnya ? Bukankah kita tak bisa dikalahkan?

- Aha, ah, bukan begitu. Kalaupun kau pandai dan berilmu tinggi, tentu masih ada yang lebih tinggi darimu. Dialam raya ini tak ada yang berilmu sempurna. Hanya Yang Maha Pencipta sajalah yang memiliki kesempurnaan tanpa cacat cela.

- Lalu siapakah orang yang paling kuat didunia ini Kek?

- Orang paling kuat, kakek tidak bisa menyebutkan siapa. Tetapi musuh yang paling sukar dilawan kakek tahu

- Siapa? Siapa musuh itu Kek, apakah kakek juga tak kuat melawan musuh itu? Guru Bantu tertawa. 

- Musuh itu Mundarang. Katanya

- Adalah napsu dan kekuatan yang ada dalam hatimu sendiri. Napsu itulah musuh yang paling sulit dikalahkan. Justru ialah yang seringkali menjerumuskan orang kedalam jurang kesengsaraan dan kenistaan. Mata pedang bisa dilawan dengan mudah, tapi musuh dalam ujud napsu itu yang sulit dilawan. Sebab ia selalu bersembunyi. Kadang sukar ditemukan, tahu-tahu telah menjerat leher dan membunuhnya kemudian melemparkan kita kedalam kehinaan.

- Tapi kata kakek, setiap lawan ada lawannya. Setiap penyakit ada jampinya. Setiap bisa ada pemunahnya. Lalu bagaimana lawan dari napsu itu?

- Oho, tentu saja ada Mundarang. Hanya orang harus tahu cara-caranya yang tepat dan benar. Kita harus mau mempelajari watak napsu itu sendiri. Napsu tidak selamanya buruk. Ada napsu baik. Namun dengan kita mau mempelajari segala sifat napsu yang ada dalam diri kita masing-masing, kita akan dengan mudah bisa meneranginya, bahkan menghancur leburkan jika napsu itu menjadi barang yang mencelakakan diri kita. Antara lain dengan cara mengenal diri sendiri.

Mundarang melongo mendengar perkataan Guru Bantu. Dan kakeknya tahu tidak seluruh perkataannya dapat dimengerti oleh anak itu. Namun orang tua itu tahu ada bagian-bagian kecil yang juga meresap kedalam pemikiran Mundarang. Guru Bantu tahu, ia mampu memindahkan kedalam jiwa dan kesadaran Mundarang hal- hal yang tidak tertangkap dalam tata lahir. Maka betapapun Mundarang menurut tataran lahir belum mampu menangkap keterangan demikian, tapi Guru Bantu yakin Mundarang menangkapnya dengan indera keenam, lalu disimpannya kedalam bawah sadar yang akan banyak berguna manakala telah tumbuh kesadaran dan jiwa dewasa anak itu.

Dengan cara-cara demikian Guru Bantu ingin menanamkan keperwiraan dalam diri Mundarang, dengan cara itu Guru Bantu telah melanjutkan upaya mendewasakan cucunya. Mengisinya dari kekosongan pada "nas" yang akan merubah murid itu menjadi manusia dewasa yang kuat lahir dan batinnya. Sementara itu Guru Bantu juga tak lupa memberikan ulah kanuragan pada tataran yang lebih tinggi dari yang telah dimiliki Mundarang. Guru Bantu menurunkan tata cara pertahanan diri yang sempurna. Dengan melatih anak itu sejak kecil, Guru Bantu ingin ilmu yang diserap oleh Mundarang akan berangkat dewasa bersama-sama dengan pertumbuhan Mundarang sebagai manusia yang mampu membela diri dan membela kepentingan lain orang, sesamanya. Maka tak heran, jika Mundarang dalam usia semuda itu telah melebihi anak sebayanya. Tempaan yang ia peroleh rupanya membuat Mundarang tumbuh lebih dari yang lain. Bukan saja dalam kemampuan lahir, namun kemampuan dibalik yang kasat matapun ia peroleh dari orang tua itu. Guru Bantu telah memberikan segalanya pada tataran yang semestinya. Orang tua itu bukannya ingin memperkosa pertumbuhan jiwa si anak, tetapi setidaknya ia telah menanamkan kelebihan pada diri Mundarang, sesuai dengan pertumbuhan kedewasan seusia anak itu. Maka seraya ia membawa Mundarang mengembara dari satu 

tempat ketempat lain, Garu Bantu bertambah yakin bahwa anak murid itu semakin mampu menguasai ilmunya. Diajarnya Mundarang sambil ia menyaksikan kehidupan senyatanya pada rakyat kecil.

Sekalipun anak itu telah menyaksikan kehidupan di Padukuhan namun dalam pengembaraan itu bertambah banyak yang dilihat, bertambah banyak yang menimbulkan semangat dan menerbitkan kedewasaan sikap pada diri anak itu. Guru Bantu mengajarkan bagaimana kehidupan rakyat dan bagaimana membedakan barang baik dan yang batil. Dan Mundarang menerima dengan segala pengertiannya. Pada suatu saat Mundarang meninggalkan Guru Bantu yang tengah berada ditepian sungai. Anak itu telah meminta diri pada kakek itu untuk membawa si Lawung berjalan naik dan keliling tempat disekitar itu.

- Kau berhati-hati Mundarang. Disini jauh dari Padesan. Jangan sembarangan berkata manakala kau bertemu seseorang. Dan kau antarkan kepadaku kalau ada orang-orang yang kau anggap usil padamu._

Dan Mundarang berjanji untuk menuruti perintah tu. Maka ia bawa kudanya berlari naik dan melarikan binatang itu lebih cepat dari biasanya. Mundarang girang. Si Lawung telah bertambah gemuk dan tangkas. Rupanya kuda itu juga merasa senang mengikuti kedua tuannya yang kasih dan memelihara dengan baik.

- Kita memutari jalan itu Lawung, aku ingin melihat bukit. kecil disana itu.

Kata Mundarang. Dan si Lawung meringkik keras. Ia tahu perkataan tuan kecilnya. Maka binatang itupun segera menggerakkan kakinya untuk berlari dengan lebih cepat. Dilewati tebingnya jalan-jalan menurun pegunungan diantara celah tebing-tebing yang menjulang tinggi dikanan kirinya. Sebentar kemudian jalan berbatu-batu itupun menanjak naik. Semakin lama tanjakan makin naik dan sulit. Berkelok-kelok dan disepanjang jalan batu berserakan menghambat gerak lari si Lawung. Namun binatang itu masih tegap dan berjalan naik lebih keatas melalui jalan berkelok-kelok disitu. Sekalipun jalan rumit, namun Mundarang percaya kudanya mampu melewatinya, maka ia tak menghentikan binatang itu berjalan. Mundarang ingin mengitari tempat itu dan melihat kesekeliling. Ada sesuatu yang menarik dalam hati anak itu untuk mendaki. Kedua makhluk itu terus berjalan naik keatas. Dan ketika jalan tiba-tiba berubah semakin sulit ditempuh, Mundarang menghentikan kudanya.

- Berhenti Lawung. -

Katanya. Dan mata anak kecil itu melihat jalan buntu .Dimukanya terlihat banyak tumbuh semak belukar dan disekitarnya banyak ditumbuhi lumut, basah dan licin. Rupanya tak pernah dijamah kaki manusia. Namun untuk kembali turun, Mundarang ragu-ragu. Dilayangkan pandang kesekeliling, tak ada lagi jalan lain, Maka Mundarang turun dari punggung kudanya.

- Kau tunggu disini Lawung, aku mau mencari jalan untuk dapat naik lagi-

Katanya. Lalu ia meloncat kemuka, keatas sebuah batu besar yang ada disitu. Dan Mundarang 

berloncatan pula kemuka. Lalu ia mencoba menapakkan kaki kesemak belukar di mukanya. Lembab dan dingin terasa ditelapak kakinya. Hampir saja ia menarik telapak kaki itu. Tapi diurungkan niatnya. Dan Mundarang melangkah lebih maju.

- Awas! Jangan maju!--

Sekonyong-konyong terdengar seruan pelahan namun kuat berpengaruh ditelinga Mundarang, membuat anak itu merandek dan menghentikan langkah kaki dengan tiba-tiba. Namun Mundarang yang merasa belum mengenal suara orang tidak menoleh. Ia tahu suara itu datang dari belakangnya..

- Kau siapa?

Tanyanya masih tidak bergerak dan tak menoleh kebelakang.

- Anak baik, jangan melangkah kemuka. Tiga kaki dimukamu adalah jurang dalam yang mengerikan. Tubuhmu bisa hancur lumat kalau terjerumus kedalamnya.

Terdengar kembali suara itu lebih pelahan.

- Aku tidak percaya, Sahut Mundarang pula.

- Kalau kau tidak mau menyebut siapa dirimu, aku tak akan mempercayai kata-katamu.

- Ha.. ha. . . . .. . .. ha.. . . . . berani-sekali kau . Jawab orang dibelakangnya itu pula.

- Kau kembali kemari dan pandang aku lebih dahulu agar kau dapat percaya kepadaku! Namun Mundarang masih tak menoleh.

- Jawab dahulu siapa namamu! - Katanya.

- Kalau tidak, aku akan loncat kemuka

- Kau akan terjatuh kedalam jurang anak baik! Kembalileh kemari!

- Ya, aku akan berbalik, tapi sebut dulu siapa dirimu!

- Ah, kau keras kepala, mengapa tak menurut perkataan orang tua?

Tetapi Mundarang tak menggubris perkataan itu. Bukan saja ia melangkah maju, bahkan ia buktikan kata-katanya dan loncat ke muka. Akan tetapi sebelum tubuhnya meluncur maju, sebuah bayangan berkelebat dan Mundarang merasakan pundaknya dicengkeram oleh sebuah tangan dan ia merasakan kemudian tubuhnya bergulingan kebawah kedekat kudanya berada. Mundarang cepat lompat bangun. Ia marah melihat perlakuan orang padanya. Maka ia membalikkan badan dan melihat seseorang berdiri dimukanya dengan tersenyum. Namun Mundarang segera menundukkan mukanya ketika pandang mata beradu dengan sorot mata orang itu. Sorot mata yang tajam dan berpengaruh memancar kearahnya. Mundarang merasakan dadanya berdebar dan gelisah. Namun segera ia mendongak dengan perlahan menatap orang itu. Dimukanya berdiri seorang tua berjanggut panjang. 

Tak jauh berbeda dengan Kakeknya, Hanya orang tua itu sedikit nampak lebih rapi pakaiannya yang hanya merupakan kain berwarna coklat melilit diseputar tubuhnya.

- Kau keras kepala anak baik Kata orang tua itu.

- Aku tidak menipumu. Lihat!

Dan orang tua itu kemudian maju kemuka. Dirabanya sebuah batu besar lalu dengan membungkukkan badan orang tua itu mendorong batu besar tadi. Hingga akibat dorongannya batu itu menggelinding maju, lalu dengan dibantu oleh tenaga dorongannya kembali, batu besar itu tiba-tiba meluncur dan ketika berada diantara semak-semak yang tadi diinjak Mundarang batu besar itu terjatuh dan lenyap, kemudian Mundarang mendengar suara berderak-derak ketika batu besar itu terjun kedalam jurang yang ditutup oleh semak-semak dimukanya itu. Mundarang ternganga. Tak ia duga benar dimukanya jurang dalam.

- Kau percaya bukan?

Orang tua itu bertanya. Dan Mundarang cepat membungkuk menghaturkan terimakasih.

- Anak baik, anak baik. Kau benar berani dan gagah. Kau mau kemana mendatangi tempat ini ?

-

orang tua itu kemudian bertanya

- Aku ? Aku hanya ingin melihat lihat saja.- Jawab Mundarang.

- Dan kau siapakah? Adakah kau penghuni pegunungan ini?

- He.. . he. . he tentu saja aku bukan penghuni pegunungan ini. Aku juga pejalan jauh sepertimu.

-

- Kau siapa?

Bertanya pula anak itu.

- Ah, kau rupanya selalu ingin tahu, Orang banyak menyebutku mPu Sugati., Sengaja aku berada

ditempat ini, sebab aku menunggu saudara-saudaraku. Nah. hayo sekarang kau bawa aku ke- tempat gurumu berada.-

Mundarang kaget mendengar ajakan mPu Sugati

- Kau tahu aku kemari dengan kakekku?

- Oho, tentu aku tahu. Karena tidak mungkin seorang berani seperti akan datang seorang diri ditempat semacam ini. Ayo bawalah aku ketempat kakekmu. Kita bersahabat sejak duhu.

Mundarang ragu-ragu.

- Kalau kau musuh kakek, tentu aku akan ikut melawanmu! -

Katanya kemudian. 

- Ha. . . ha. . . ha. jangan takut. Kalau aku nanti memusuhi kakek dan gurumu, jangan takut.

Kakekmu tentu akan dengan mudah mengalahkan aku, bukan?

Mundarang tak lagi membantah. Timbul percayanya. Karena dalam hati anak itu tak merasa ada kecurigaan melihat sikap dan tutur kata mPu Sugati. Maka ia perintahkan Lawung mendekat.

- Kita naik si Lawung.- Katanya.

- Kau naik lebih dahulu

- He, mengapa aku harus naik lebih dahulu? mPu Sugati bertanya

- Bukankah kau yang memiliki kuda ini ?-

- Tidak ! Tidak begitu. Aku yang memiliki, jadi sudah terlalu sering menaiki si Lawung. Sedang kau adalah tamuku, aku harus menghormat tamu lebih dahulu.

Kata Mundarang pula.

- ha ha ha ....siapa bilang aku tamumu...pegunungan ini bukan punyamu dan tempat ini punya semua makhluk hidup..kau aneh.

- Eh, mengapa kau tertawa? Mundarang ingin marah.

- Aku tidak menyebut-nyebut pegunungan ini punyaku, bukan ? Kau kuanggap tamu adalah karena kau tamu diatas punggung si Lawung. Karena kuda itu aku yang punya, maka kau tamu jadinya.-

- Ha,. .ha.. . kau pintar, cerdik benar kau ! Tapi sudahlah, kau naik sendiri dan aku akan berjalan mengikutimu. Aku terbiasa jalan kaki._

- Tidak, kalau kau tak mau naik kuda ini, aku juga akan berjalan. Biar si Lawung berlari sendiri ketempat kakek. Dan aku mengantarmu berjalan._

- Eh ! Bagaimana bisa begitu ?- mPu Sugati heran juga.

- Kita sama-sama jalan. Bukankah kau sahabat kakekku? Senang kita kecap bersama dan susah kita rasakan bersama juga.

- Ah, ah, baiklah hayo kita naik berdua.

Mpu Sugati tertawa. Diam diam ia kagum terhadap Mundarang. Maka dalam waktu singkat kedua telah berada di punggung kuda itu.

- Kuda bagus!

Mpu Sugati berseru memuji ketika binatang itu berlari kencang melewati jalan pegunungan dicelah tebing- tebing tinggi dan terjal itu.

- Kau tahu siapa kakekku? 

Bertanya Mundarang dalam perjalanan turun itu.

- Tentu, tentu saja aku tahu. Hanya dengan melihat gerak gerik ketika berlompatan dan berjalan tadi. Kalau kau bukan murid Sahabat tuanku Guru Bantu, sebut aku orang tua yang telah Pikun

- Hei, kau juga pintar menebak. - Dan Mundarang tertawa-tawa senang.

- Tapi bagaimana kau bisa menebak dengan tepat itu? Tentu kau sudah melihat aku berdua kakek ditepi sungai itu!

- He, tentu tidak. Sebab yang memiliki ilmu gerak seperti yang kau miliki bisa dihitung. Kalau kau murid Ki Ageng Semu, jelas bukan.

Mpu Sugati hanya ingat bahwa bekas muridnya, Sentanu telah diambil murid Ki Ageng Semu. Sedang Nyi Ageng Maloka mengambil Murid Mirah Sekar. Lalu Ki Ageng Semanding yang dianggap memiliki kepandaian serupa berada di Majapahit.

- Jadi kau tentu murid orang tua itu, tidak lain.-

Katanya. Mundarang tertawa senang. Dan kuda itu harus mencongklang berlari turun dengan gembira menuju tepian sungai dimana Guru Bantu berada. Dalam pada itu ditepian sungai Guru Bantu masih menunggu munculnya Mundarang. Ketika Mundarang tiba di tempat itu, ia menghentikan kuda dengan tiba-tiba sebab rupanya kakeknya tidak lagi sendirian, Mundarang melihat dua orang tua lagi berdiri di samping Guru Bantu. Seorang adalah perempuan tua senyum-senyum memandang kepadanya. Ia jadi berdiam mematung diatas punggung si Lawung menatap kearah orang tua itu.

- He, kemari! Apa yang kau takuti?

Tiba tiba berseru salah seorang diantaranya. Mundarang sadar. Maka ia majukan kudanya mendekat, lalu turun dan menghampiri kakeknya.

- Mundarang, beri hormat, mereka adalah kakekmu juga!

Kata Guru Bantu. Mundarang ragu-ragu. Untuk beberapa saat ia tak melakukan perintah itu.

Ditatapnya dua orang kakek dan seorang perempuan

- Ayo Mundarang, mereka orang sendiri!- Guru Bantu berkata.

- Ayo Mundarang, mereka orang sendiri!

Guru Bantu memandang kepadanya dengan roman bersinar itu berkata pula

- Siapakah mereka ini kek? Mundarang bertanya.

- Eh, kau bocah berani juga ya? Kami adalah kakek dan nenekmu!_

Perempuan tua itu berkata tiba-tiba sambil tertawa. Tapi Mundarang memandang kakeknya.

- Ya, mereka juga kakekmu anak baik!

Terdengar suara dibelakangnya. Mundarang menoleh. Baru ia ingat orang tua yang mengaku 

bernama Mpu Sugati yang datang berdua dengannya tadi.

- Ya, ya mereka orang sendiri Mundarang, Guru Bantu berkata pula.

- Kau sudah mengetahui siapa yang datang denganmu itu, bukan? Ia adalah Mpu Sugati. Yang ini,

Guru Bantu menuding kakek disebelahnya,

- Ia Ki Ageng Semu, keduanya adalah guru dari ayahmu.

- Eh dengar!

Perempuan tua itu tiba-tiba berkata menengahi

- Aku adalah guru dari ibumu Mirah Sekar, jadi kau cucuku Mundarang!

- Kau siapa?- Mundarang bertanya.

- Eh siapa apa?

- Namamu?

Perempuan tua itu melengak heran.

- Hu, aku dipanggil orang dengan sebutan Nyi Ageng Maloka!

Tiba-tiba Nyi Ageng Maloka bergerak, Mundarang tak tahu apa yang akan diperbuat, tapi tiba-tiba saja tubuhnya telah kena didekap orang tua itu, lalu diangkatnya tinggi-tinggi seraya tertawa.

- Bagus! Kau anak baik dan berani!..... he...... he. tidak percuma Guru Bantu mendidikmu. ..-

Mundarang kaget jadinya. Ia ingin berontak dari cengkeraman orang tua itu. Tapi Nyi Ageng Maloka tiba-tiba saja melemparkan Mundarang ke arah Ki Ageng Semu, sambil berseru:

- He. kakek tua, coba kau rasakan betapa lembut anak ini !

Mundarang makin kaget. Ketika tubuhnya terlempar itu ia berusaha menjaga keseimbangannya agar tidak terbanting. Namun sia- sia. Tenaga Nyi Agong Maloka amat aneh dan kuat. Hingga ia hanya merasakan luncuran tubuhnya dengan kuat. Tetapi sebelum ia sadar dengan apa yang terjadi, sekonyong-konyong Ki Ageng Semu telah bergerak pula dan menangkap Mundarang dengan ke dua lengan terbuka

- Anak baik, anak baik! Kau segagah ayahmu! Seru orang tua itu.

- Ya, secerdik ibunya!

Nyi Ageng Maloka menimbrung perkataan pula.

Mundarang tersipu mendengar perkataan orang-orang tua itu. Maka cepat ia membungkuk memberi hormat bergantian kepada mereka. Baru ia sadar bahwa orang-orang itu adalah guru dari kedua orang tuanya sendiri. 

- Eh, kau juga mengapa bisa berada ditempat ini?

Nyi Ageng Maloka bertanya kepada Mpu Sugati yang masih tersenyum memandang Mundarang.

Dan orang itu menoleh.

- Aku? Tentu saja sama dengan kalian, ingin bertemu saudara seperguruanmu itu! Sahutnya sambil menunjuk Guru Bantu.

- Ah kau undang juga dia? -

Nyi Ageng Maloka bergumam. Guru Bantu tertawa. Cepat ia berkata.

- Jangan salah paham, sengaja aku undang kalian datang di- tempat ini, sebab selain kita telah saling memendam rindu sejak bertahun-tahun, ada hal-hal yang mesti kita selesaikan sekarang ini.

- Semula aku akan menyelesaikan keributan yang timbul seorang diri. Kata Guru Bantu melanjutkan perkataan.

- Tetapi setelahnya aku menyaksikan keadaan rakyat dan Demak yang nampak semakin gigih menaklukkan tlatah timur, sedang disana banyak bertengger orang-orang tua yang tak bisa dianggap ringan, maka kalian kupanggil berkumpul ditempat ini. Yang pasti, kita mempunyai kuwajiban untuk turun tangan. Mpu Sugati masih harus menolong cucunya Ken Rati menemukan ayahnya di Demak.

Dan kalian berdua telah mendengar murid-muridmu Sentanu dengan Mirah Sekar berada di Demak pula.

- Ya, bahkan aku mendengar tentara Demak telah berangkat ke Timur mengerahkan kekuatannya untuk merobohkan pertahanan Supit Urang. - Kata Nyi Agung Maloka.

- Tentu, akupun tahu kali ini serangan Demak besar-besaran. Sahut Ki Ageng Semu pula.

- Dan Trenggana telah meminta bantuan tentara Banten. Aku tahu itu._

- Tidak hanya tentara Banten, Bahkan aku dengar Sultan Banten datang sendiri ke Demak membawa armada laut untuk menghancurkan sisa negri Majapahit itu.-

Kata Mpu Sugati.

- Itulah! Itulah sebabnya aku benar menginginkan kita bisa bertindak. Setidaknya kita menghindarkan rakyat dari malapetaka peperangan.

Kata Guru Bantu.

- Jadi?_

- Kita berangkat ke Majapahit dan temui Ki Ageng Semanding dan Rangga Permana. Kita bujuk mereka agar berdamai dengan Demak. Aku akan menghadap Prabu Udhara di Majapahit agar mau menghentikan perlawanan kepada Demak. Bukankah kita orang orang tua ini masih memiliki wibawa terhadap mereka? Dan Mpu Sugati bisa menahan Raden Trenggana agar menunda penyerangan itu.

Sedang Nyi Ageng Maloka berdua Ki Ageng Semu menemui Rangga Permana dan Ki Ageng Semanding, setidaknya kalian masih seperguruan, aku berharap ia akan menerima perkataan dan 

menghentikan peperangan.

Orang-orang tua itu terdiam mendengar perkataan Guru Bantu yang ternyata paling tua diantara mereka. Diam-diam dalam hati orang orang tua yang arif dan waspada itu telah merasakan alamat buruk bagi Demak dalam penyerangan ke tlatah timur itu. Maka mereka tak membantah pendapat dan perkataan Guru Bantu .Lebih- lebin Ki Ageng Semu dan Nyi Ageng Maloka. Keduanya masih tergolong adik seperguruan dari orang tua itu.

(Baca jilid ke V).

Dan secara cepat mereka telah saling sepakat melakukan kuwajiban masing-masing.

- Nah, kita berpisah sekarang, kita bisa bertemu di Timur mudah mudahan Yang Maha Agung melindungi kita semua. Ayo Mundarang, kita berangkat!-

Mundarang yang semenjak tadi memperhatikan orang-orang tua berunding, mengangguk, lalu ia membungkuk memberi hormat pada ketiga orang tua tadi dan meminta diri.

- Selamat! Selamatlah Mundarang, kita masih akan bertemu lagi!

Kata Ki Ageng Semu. Dan Mundarang merasa lengannya ditarik Guru Bentu. Tak lama kedua kakek dan cucu itu telah berada di punggung si Lawung pula. Lalu binatang itupun berlari keras meninggalkan tepian sungai itu.

- Hayo berangkat!

Nyi Ageng berseru pula dan melangkah pergi sedang kedua kakek yang lain, melangkah pula mengambil jalan berbeda.

Sementara itu Mirah Sekar yang berangkat berdua dengan Ken Rati, mulai memasuki Kotaraja Demak. Akan tetapi keduanya heran melihat kehidupan Demak yang sunyi. Sebagai dua orang yang memilki pengetahuan tempur tinggi, kedua wanita muda itu tak banyak menemui kesulitan dalam perjalanan. Namun kesunyian Demak benar membuat keduanya heran dan cemas.

- Rupanya tuanku Trenggana telah berangkat ke Timur.-

Gumam Mirah Sekar. Ken Rati berdebar juga. Harapan untuk bertemu dengan ayahnya di Demak semakin menipis kembali. Selain ia masih belum mengetahui apakah ayahnya benar ada di Demak, ia masih harus menemui kesulitan lagi kalau seluruh prajurit telah diberangkatkan ke Timur. Tetapi melihat kehidupan di Demak itu ia juga menduga hal yang sama dengan Mirah Sekar. Rakyat masih terlihat dengan segala pekerjaan, dan kuwajibannya. , Tetapi pasar-pasar nampak lebih sunyi.

Muka-muka yang murung dan cemas dari para wanita serta anak anak menandakan kesedihan ditinggal para suami yang ikut ke timur. Mereka adalah istri-istri prajurit.

- Kita masuk istana?

Mirah Sekar bertanya ketika mereka tiba ditepian alun-alun.

Ken Rati berdebar juga. Ia teringat ketika memasuki Demak dan bertemu dengan Pangeran Madi Alit. 

- Bagaimana?

Kembali Mirah Sekar bertanya.

- Kita ke Istana?

- Sesukamu! Aku akan ikut. -

Jawab Ken Rati. Maka Mirah Sekar majukan kuda tunggangannya pula, menyebrangi alun-alun diikuti Ken Rati. Lalu mereka memutari regol istana dan memasuki regol timur.

Di pintu itu nampak berjaga jaga dua orang prajurit dengan tombak panjang siap disamping tubuh.

Mirah Sekar mendekati kedua penjaga itu, sedang Ken Rati masih mengikuti dari belakang. Kedua penjaga regol heran dan melongo melihat munculnya kedua wanita muda yang tak diduganya itu.

Mereka heran. Kedua wanita cantik tiba-tiba muncul didekat mereka. Mengenakan pakaian ringkas sebagai pejalan jauh. Dan melihat sikap keduanya duduk dipunggung kuda, bisa ditebak keduanya mengerti tata tempur dan berilmu. Mirah Sekar loncat turun dari punggung kuda dan menghampiri kedua penjaga itu lalu menyapa perlahan:

- Maafkan kami kisanak, bisakah kiranya kami masuk dan menemui Tuanku Trenggana?

Kedua penjaga itu masih menatap Mirah Sekar dengan melongo. Sungguh tak mereka duga kedatangan kedua perempuan itu. Akibatnya perkataan Mirah Sekar tak terdengar oleh mereka.

- Dungu!?

Ken Rati habis sabar. Ia loncat turun pula, lalu ditangkapnya batang tombak yang dipegang penjaga itu, diguncangnya seraya menegur keras

- Dengar! He, kalian tuli ya?!

Yang dipegang tombaknya sadar. Ditariknya senjata itu dan ia mundur dengan mendelikkan mata.

- Ah kalian siapa?-

Satunya bertanya dengan masih heran. Mirah Sekar tersenyum, Lalu berkata menyahut.

- Tolong kami kisanak, perkenankan kami masuk untuk menemui tuanku Trenggana.

- Tuanku Trenggana? He, kalian siapa dan ada kepentingan apakah?

Kedua penjaga itu mulai sadar dan berkata agak keras. Tapi Mirah Sekar masih senyum dan mencoba memberikan penjelasan.

- Kami adalah orang-orang jauh yang ingin menghadap tuanku Trenggana, ijinkan kami masuk.

- Tuanku Trenggana tidak ada! -

- Tidak ada?--

- Ya, apakah kalian tidak mendengar, seluruh tentara Demak telah berangkat ke timur dan tuanku Trenggana tentu saja menyertai pasukan itu. 

Mirah Sekar berpandangan dengan Ken Rati.

- Jadi tak seorangpun yang tinggal? Bertanya wanita itu pula.

- Tidak, tidak ada._

-Lalu yang mendapat wewenang memegang negri? Tentu ada, bukan?-

- Hem, ya ada. Tuanku Pangeran Mukmin memegang tampuk negeri selama Trenggana tak ada di Demak.

- Tuanku Pangeran Mukmin?

- Ya, adik tuanku Trenggana sendiri.

- Baik, kalau demikian ijinkan kami menghadap.

Sementara itu seorang diantara penjaga itu diam-diam memandang Ken Rati dengan kagum. Gadis itu demikian memikat hatinya, Bibirnya yang kecil memerah bergerak-gerik dan raut muka gadis itu menggoda tak hentinya dalam hati. Maka diam-diam ia menyenggol pinggang kawannya. Yang disenggol rupanya mengerti maksud kawannya. Maka ia tersenyum dan berkata pula

- Kalian ingin menghadap tuanku Mukmin? Boleh! Boleh saja. Tapi kalian harus, memberikan imbalan kepada kami.

Mirah Sekar mengerutkan kening mendengar perkataan itu.

- Apa maksudmu? Tanyanya.

- Hm, kau belum tahu juga. Negri saat ini dalam keadaan bahaya. Setiap orang yang memasuki istana tentu saja harus diperiksa dengan teliti. Apalagi kalian orang asing. Tapi...... tapi kalau saja kalian mau memberi upah pasti kami akan memperlonggar penjagaan, dan kalian bisa masuk dengan aman. _

Mirah Sekar semakin tak mengerti dengan maksud perkataan itu. Dan tentu saja ia tak akan mengerti, sebab menurut perkiraan kedua penjaga itu. Mirah Sekar dengan Ken Rati adalah

orang-orangnya Pangeran Mukmin dan Pangeran Timur yang sedang ada di Demak. Mereka menduga kedua wanita muda itu sengaja datang dengan maksud menghibur kedua adik Raden Trenggana itu, maka timbul niatnya mengganggu lebih dahulu

- Eh, apa maksudmu?-

Mirah Sekar kembali bertanya.

- O, kau jangan pura-pura bodoh. Jawab penjaga itu pula dengan tertawa.

- Jangan anggap kami tidak tahu kalian datang kemari ingin menemui Pangeran Mukmin dan Pangeran Timur, bukan? Nah, nah, kalian rupanya juga belum tahu. Kami berdua adalah orang kepercayaan mereka. Maka sebelum kalian berdua menghadap kedalam, kalian harus mau menemani 

kami tidur malam ini. Itu biasa....... kalau tak percaya tanyakan kawan-kawanmu yang pernah datang kemari....

Tapi rupanya nasib sial menghampiri penjaga itu. Sebab sebelum ia berkata lebih jauh, Ken Rati yeng telah menangkap maksud perkataan penjaga itu telah bertindak sebat. Kedua tangannya bergerak cepat dan pukulan gadis itu menghujani penjaga tadi dengan hebatnya.