-->

Mencari Tombak Kiai Bungsu Jilid 08

Jilid 08

RADEN TRENGGANA girang ketika dua orang prajurit datang menghadap.

- Jadi kalian utusan Tumenggung Santa Guna?- Dua orang prajurit itu mengangguk.

- Benar tuanku. Kini Gusti Tumenggung masih dalam persiapan untuk membawa prajurit tuanku kemari. Dan hamba berdua diperintahkan memberitahu terlebih dahulu agar tuanku tidak menunggu terlalu lama.

- Bagus. Berapa orang kau bawa sekarang ini? Bertanya pula Raden Trenggana.

- Hamba baru membawa seratus kawan hamba. Kini mereka masih berada di alun-alun menunggu perintah tuanku. _

- Ya, nah kau Pamasa dan Wijaya, kuserahkan prajurit itu dibawah pimpinanmu. Kuharap mereka selekasnya berada di lingkungan tembok dalam istana. Manakala hari penobatan tiba, kawan- kawanmu itu kuperintahkan berada di dalam lingkungan tembok dalam yang menghubungkan istana dengan bangsal ini.-

Kedua orang prajurit itu menganggukkan kepala. Sedang Pamasa dan Wijaya menggamit mereka, diajaknya keluar menjemput prajurit yang baru tiba.

- Perintahkan orang-orangmu untuk beristirahat di gandok timur. - Kata Wijaya.

- Tuanku Trenggana telah memerintahkan mempersiapkan tempat itu sejak kemarin dulu._

- Kalian berdua siapa? -

Bertanya dua orang prajurit itu. Pamasa tertawa.

- Kalian belum mengenal kami?

- Tentu saja! - Jawabnya.

- Sebab kami adalah orang-orang baru dilingkungan Demak.

Sesudahnya Pamasa dan Wijaya diperkenalkan oleh dua orang prajurit itu pada keseratus orang yang masih menunggu di alun-alun, mereka diperintahkan segera menempati gandok yang disediakan. Dan diperintahkan untuk segera berkumpul pula menerima perintah dari kedua pemimpin barunya.

Wijaya, dalam perjalanan kembali kegedungnya, menggamit Pamasa.

- Bagaimana pendapatmu tentang prajurit itu kang?

- Tentunya sama dengan yang kau pikir!

- Ah, kau pura-pura menutup mata kang Pamasa. 

kata Wijaya

- Ah apa pula yang kau maksudkan? - Tanya Pamasa.

- He, apa itu?-

menggerutu Pamasa tertawa. Ia tahu apa yang tengah dipikir adiknya.

- Ya, aku merasa heran. Mereka tak mengenal kita berdua, bukan? Itulah. Ha.... ha... ha tak apalah. Mereka akan mudah kita jebak.-

- Kita beritahu kang Sentanu?

- Tentu saja!

*****

- Cepat, kita harus mencegah bahaya ini menjalar semakin jauh kedalam istana.- Sentanu menganggukkan kepala mendengar penuturan kedua saudaranya.

- Tetapi tuanku Trenggana terlanjur memerintahkan mereka mengawal dibagian lingkungan tembok dalam. -

Kata Sentanu.

- Itu masih besok akan mereka lakukan kang._

- Tetapi mulai sekarang mereka akan dapat memulai rencana jahatnya.

- Ya, beruntunglah kita. Kalau benar mereka prajurit tuanku Tumenggung Santa Guna, bagaimana bisa tidak mengenal kita bertiga? -

Kata Pamasa menyatakan keheranan pula.

- Dua orang prajurit yang menghadap tuanku Trenggana tadi. Bukankah jelas melihat kita bertiga? Tak terlihat perubahan air mukanya. Maka aku curiga. Lebih heran dan yakin mereka bukan prajurit Demak ketika aku berdua Wijaya menemui mereka di alun alun. Tak seorangpun terlihat pernah mengenal. Ya, sekalipun kita dalam barisan bertugas sebagai tukang ransum, tapi bukankah hampir semua prajurit telah mengenal kita?

- Sudahlah, kita beritahu tuanku Trenggana. - Kata Sentanu kemudian.

Raden Trenggana terkejut.

- Apa katamu? Mereka bukan prajurit Demak? Bagaimana mungkin ini? _ Sentanu menggeser duduknya.

- Benar tuanku. Kami yakin. Sebab jika benar mereka adalah prajurit Demak, tentu telah mengenal hamba bertiga yang lama berada dalam barisan pasukan Santa Guna.-

- Kalian lihat ada yang mengenakan ciri dengan gelang lawe itu? -

- Tidak ada. tuanku. - Sahut Pamasa. 

- Tetapi bukankah dapat mereka pakai manakala pecah pertempuran dengan prajurit tuanku? Raden Trenggana mengangguk-angguk.

- Kalau demikian ketiga orang utusan yang membawa perintah tentu dibegal mereka. Sebaiknya kau Pamasa dan Wijaya secepatnya pula membawa prajurit yang ada disana kembali ke Demak.

Berhati-hatilah kalian dalam perjalanan. Waktu telah mendesak. Maka lakukan dengan cepat. - Pamasa berdua Wijaya bangkit. Tanpa membantah keduanya telah bersiaga untuk berangkat. Namun dalam pada itu tiba-tiba muncul seorang prajurit jaga,

- Tuanku, Gusti Santa Guna ingin menghadap. - Kata prajurit itu.

- Paman Santa Guna? Lekas bawa masuk!

Seru Raden Trenggana. Tak lama terlihat Tumenggung Santa Guna muncul diiringkan dua orang prajurit.

- Ah paman, selamat datang paman! -

Seru Raden Trenggana. Dan tumenggung itu tertawa, kemudian membungkuk memberi hormat. Tetapi ketika matanya tertumbuk dengan Sentanu dan Pamasa serta Wijaya yang baru saja berdiri. Kaget dan heran hati Tumenggung itu.

- Kalian, berada disini? Bukankah kuperintahkan bergabung dengan kawanmu kembali? Ah, kalian membikin pusing aku.

- Ampun tuanku. - Kata Sentanu.

- Hamba sesungguhnya ingin segera kembali setelahnya kuwajiban itu. Tetapi hamba terlanjur bertemu tuanku Trenggana dan terbawa kemari.

Raden Trenggana tertawa. Maka Tumenggung Santa Guna tak berkata padanya lagi.

- Celaka tuanku. Utusan tuanku yang membawa perintah di begal orang Majapahit. Mereka berhasil mengetahui perintah tuanku. Hanya untung utusan tuanku cukup tangguh. Sekalipun mereka menyandang luka berat, ketiganya masih berhasil menemui hamba dan menyampaikan perintah tuanku dengan lisan. Maka hamba secepatnya menyusul kemari.

- Ya, kami tahu. Dimana utusan yang berani itu paman?

- Mereka masih lemah akibat luka-lukanya. Kini dirawat oleh prajurit di perkemahan. Raden Trenggana kembali menganggukkan kepala.

- Jadi paman datang sendirian?!

- Tidak, tidak tuanku. Hamba bawa seluruh prajurit. Tetapi mereka akan tiba pada malam hari nanti. Sebab hamba khawatir jika siang tiba disini akan menimbulkan kekagetan dihati rakyat. -

- Bagus!-

Raden Trenggana kembali menganggukkan kepala dan memuji. Sentanu bertiga saudaranya tak 

luput memuji kecerdikan Tumenggung itu pula. Sekalipun dalam hati merasa geli melihat Tumenggung Santa Guna heran melihat mereka bertiga ada disitu

- Jadi hamba berdua tiak jadi berangkat tuanku? - Tanya Pamasa.

- Ah, anak bodoh! Bagaimana kalian ingin berangkat jika yang mau dicari sudah ada disini?

***

Demakpun segera menyadari. Musuh telah menyusup demikian jauh. Maka Raden Trenggana mempersiapkan pertahanan dengan lebih rapi. Ada yang terasa di hati Raja Demak itu, lawan rupanya telah memiliki kembali kekuatannya. Namun dengan adanya Sentanu serta yang lain-lainnya Raden Trenggana merasa Demak tidak akan mudah dipukul.

Sampai ketika hari-hari berikutnya telah genap menuju saat penobatan, Raden Trenggana telah merubah segala perintah. Tidak lagi sekedar ingin menyaksikan rakyat memperlihatkan kesetian dan kecintaan padanya, namun seluruh beteng dan lapisan prajurit dikerahkan ditiap tempat. Bahkan ditiap ada seseorang mengenakan gelang lawe, tentulah disana ada prajurit Demak, mengawasi mereka secara diam-diam.

Satu demi satu adipati taklukan berdatangan dan mereka mempersembahkan upeti dan kuwajiban pajak mereka pada Demak sebagai tanda menakluk. Hingga Demak semakin terlihat ramai. Kehidupan benar-benar nampak meriah. Tak ubahnya rakyat tengah menghadapi musim baru yang menimbulkan harapan baru dalam hati dan perasaan.

Saat itu, Sentanu tiba-tiba muncul digandok dimana prajurit yang mengaku sebagai Prajurit Tumenggung Santa Guna berada. Sesungguhnyalah keseratus orang prajurit itu tidak akan menduga bahwa rencana mereka telah tercium terlebih dahulu. Bahkan kini ketika Sentanu muncul mereka masih tak mengira bahwa bahaya mengancam mereka. Maka kepala prajurit maju dan berkata :

- Ada perintah apakah kisanak, datang pada saat begini? -

Tetapi Sentanu tidak segera menjawab. Melainkan ia melambaikan tangan pada mereka, baru setelahnya ia memandang berkeliling, menjawab :

- Ada berita gembira buat kalian. Sementara kalian menunggu kawan yang lain datang, kalian seluruhnya diperintahkan untuk berpindah ke bangsal timur. Disana ada pesta kecil yang disiapkan secara khusus untuk kalian. Kita kesana. Tuanku Trenggana sudah menunggu di bangsal itu. -

Kepala prajurit menatap Sentanu dengan heran. Ada perasaan tak enak juga dalam hatinya.

Tetapi ia yakin kepalsuannya belum terbongkar. Maka ia perintahkan orang-orangnya untuk berangkat. Dan mereka kemudian mengikuti Sentanu berjalan yang ternyata membawa mereka berkeliling istana. Lalu membelok dan agaknya jalan yang ditempuh kini menuju keluar lingkungan istana.

- Eh, kita kemana kisanak? 

Tanya kepala prajurit.

- Rasanya kita berputar-pudar. Begitu jauhkah bangsal yang kau katakan itu? --

- Tidak! Tuanku Trenggana sedang menunggu.

- Tetapi rasanya kita telah berjalan demikian jauh. -

- Benar dugaanmu. Tetapi mengapa kau menjadi heran? Bukankah memang demikian keadaan istana? Bukankah kalian juga tahu bahwa tuanku Trenggana selalu membuat beteng dan lorong yang melingkar-lingkar? Sengaja buat membikin bingung lawan kalau ada yang berani menyatroni, bukan? .

Kepala prajurit itu tak berkata pula. Ia sadar kini. Kalau tak ingin rahasianya terbuka, tidak seharusnya ia menyatakan herannya. Bahkan ia harus berpura pura sudah hapal dengan keadaan di istana itu. Maka ia tak mau banyak berkata lagi, kecuali mengikuti kemana Sentanu membawanya.

Seperti yang dikatakan oleh Sentanu, Demak memang memiliki jalan dan lorong rahasia. Maka tentu saja ketika seratus orang prajurit itu ia bawa masuk menuruti petunjuk yang telah diterimanya, mereka menjadi heran juga. Rasanya memang telah terlalu lama berjalan dan berputar-putar.

Pada suatu saat, mereka tiba dimulut sebuah lorong lain yang lebih sempit. Lorong yang panjang dan gelap.

- Kita lewat lorong ini. - Kata Sentanu.

- Hati-hati kalian . berjalan, lorong itu licin!

Prajurit musuh yang ada dihadapan Sentanu itu memandang heran. Lorong itu sangat sempit.

Hanya satu orang saja yang dapat masuk dan berjalan kedalamnya. Jadi mereka harus berjalan satu demi satu.

- Ayo kita masuk!

Kata Sentanu pula. Ia melihat kebimbangan dalam wajah mereka. Maka ia semakin percaya mereka bukan orang Demak.

Ketika itu muncul seorang prajurit juga. Ia membawa dua obor lalu diberikannya satu obor itu pada Sentanu. Sentanu kemudian memerintahkan prajurit Demak itu berjalan.

- Kau berjalan dimuka! --katanya.

Maka prajurit itupun berjalan masuk lorong sempit itu. Lalu diikuti oleh prajurit lain dan satu demi satu mereka berjalan memasuki lorong itu.

Pembawa obor itu berjalan agak cepat. Tentu saja karena ia telah hapal dengan lorong itu. Ada kira-kira seratus langkah panjang lorong itu ketika pembawa obor terlihat telah keluar dari lorong disebelah ujung satunya. Sedang Sentanu berjalan membawa obor satunya, mengikuti langkah kepala prajurit yang berjalan paling akhir dibelakang orang-orangnya. 

Setelah prajurit yang berjalan duluan terlihat keluar lorong, menyusul yang dibelakangnya. Keluar dengan menarik napas lega.

Akan tetapi baru saja ia berbuat demikian, tiba-tiba sebuah tangan yang kuat menyambar lehernya dengan cepat. Orang itu mau berteriak karena kaget. Tetapi mulutnya keburu ditekap oleh tangan itu. Dan sebelum ia tahu apa yang terjadi. Tubuhnya telah diseret menjauh dan dua orang mengikat tubuhnya dengan tali kuat. Orang itu kemudian didorong hingga jatuh terduduk dengan tak mampu berbuat apapun. Prajurit itu sadar, ia terjebak. Bahkan kawan-kawannya juga terjebak oleh anak muda yang bernama Sentanu itu. Sebab ketika ia layangkan pandang, sekelilingnya terlihat prajurit Demak dalam sikap tempur yang sempurna. Ada seratusan orang bersenjata ditempat itu, namun mereka tak bergerak. Dan ketika ia melirik melihat mulut lorong dimana tadi ia keluar, hatinya menjadi marah. Di mulut lorong itu berdiri dua orang anak muda gagah. Sedang prajurit pembawa obor tadi terlihat masih berdiri tidak jauh dari kedua anak muda itu. Dugaannya kemudian menjadi benar. Dua anak muda yang berdiri dimulut lorong itulah yang tadi meringkusnya dengan mendadak. Iapun kemudian menduga kawannya juga akan mengalami nasib sama. Dan benarlah. Dari mulut lorong itu muncul pula seorang kawannya, keluar.

Dan seperti nasib orang pertama, prajurit Majapahit itu tiba-tiba merasakan sebuah tangan kuat

menyambar lehernya, kemudian ia kena diringkus dengan mudah oleh orang-orang Demak dan diseret ketempat kawannya yang terjebak lebih dahulu.

Kedua orang itu sadar bahaya mengancam kawan-kawannya yang masih berada dalam lorong gelap itu. Akan tetapi mereka tidak dapat berbuat apapun. Dan diam-diam mereka kagum pada dua orang yang kini kembali menunggu dimulut lorong itu. Keduanya tentulah orang-orang berkepandaian. Sebab kalau tidak, bagaimana dengan mudahnya meringkus mereka tadi?

Dan tentu saja, kedua anak muda itu tak lain adalah Pamasa dan Wijaya. Dengan mengandalkan kepandaian yang dimiliki, keduanya akan dengan mudah meringkus prajurit yang keluar satu demi satu dari lorong itu, kemudian menyerahkan pada prajurit Demak yang telah siaga ditempat itu.

Hampir separuh prajurit Majapahit itu kena ditangkap tanpa dapat melakukan perlawanan. Akan tetapi ketika Pamasa kembali akan melakukan gerakan menangkap seorang yang keluar dari lorong itu, ternyata lawannya agak berbeda dari yang terdahulu. Orang yang berjalan dimuka itu telah merasa curiga. Setiap kali seorang kawannya keluar mereka tak terlihat lagi bayangannya. Hilang bagai ditelan bumi.

- Mustahil terjadi begitu. Pikirnya.

- Seharusnya mereka menunggu yang masih ada dalam lorong, dan setidaknya satu atau dua akan terlihat dimulut lorong itu.

Namun satupun tidak. Maka ia menjadi curiga. Dan karenanya ia melangkah dengan berhati-hati, 

dan diam diam ia mencabut senjatanya.

Saat itulah, ketika orang itu keluar, Pamasa yang telah menunggu bergerak cepat akan tetapi karena yang diserang telah bersiap. melihat gerakan Pamasa, ia berkelit dengan sebat.

- Curang!

Serunya. Lalu ia loncat kembali masuk kedalam lorong.

Dengan kejadian itu prajurit yang masih berada dalam lorong terkejut.

- Hati-hati kawan, kita terjebak! -

Seru prajurit yang dimuka itu. Maka ributlah mereka. Hatinya gelisah. Sadar benar bahwa rupanya mereka telah terjebak oleh Sentanu.

Dalam pada itu Pamasa dan Wijaya yang melihat kegagalan serangannya, cepat bersiaga. Mereka memberi tanda prajurit yang ada ditempat itu agar bersiap pula. Menunggu kalau-kalau orang-orang dalam lorong itu berhamburan keluar. Tetapi mereka masih tak 'bergerak. Yakin orang-orang dalam lorong itu tak akan mampu berbuat banyak. Sebab lorong yang sempit hanya dapat dilalui satu orang saja. Hingga tak mungkinlah mereka akan keluar secara serentak. Maka ditunggunya dengan tenang.

Sementara itu orang-orang Majapahit yang berada dalam lorong itu semakin ribut. Dan kepala perajurit yang berjalan dimuka Sentanu, tiba-tiba membalikkan tubuh dan menyerang Sentanu.

- Kau licik! -

Geramnya. Tetapi Sentanu menggerakkan obor itu dan mundur cepat kebelakang berusaha keluar kembali dari lorong itu. Kepala prajurit mengejar diikuti oleh yang lain.

Tetapi Sentanu yang telah tiba dimulut lorong berseru keras: - Berhenti. Kalau ingin selamat jangan keluar. Kalian akan terancam!

Namun kepala prajurit itu tak mengindahkan kata-kata Sentanu. Ia mengejar dengan senjata terhunus. Dan bagai kilat begitu tiba diluar lorong, ia serang Sentanu.

Yang diserang menggerakkan obor yang masih dipegang. Maka segera terjadi gempuran hebat ditempat itu. Hanya Sentanu tak mau mengulur waktu. Ia gerakkan obornya dengan cepat. Dan tentu saja kepala prajurit itu bukan lawannya, karena dalam waktu hanya beberapa kali gerakan ia telah dibikin tak berdaya oleh Sentanu lalu dengan mudah diringkus, dan menyeret orang itu kemulut lorong dan berseru keras :

- Hei, kalian menyerahlah. Pemimpinmu telah menyerah, kalau masih berkeras melawan, kalian akan sia-sia. Seluruh tempat ini telah dikepung, menyerahlah!

Orang-orang yang masih ada dalam lorong terkejut. Mereka sadar pemimpinnya telah tertawan.

Maka tak ada pilihan lain, mereka berloncatan keluar dan membuang senjata menyerahkan diri.

Ketika mereka memandang, ditempat itu telah siaga dengan puluhan prajurit Demak bersenjata.

Dalam waktu yang bersamaan, dimulut lorong yang lain, Pamasa dan Wijaya telah berhasil menggiring orang-orang yang keluar dari situ. 

- Kau curang. -

Kata kepala prajurit ketika Sentanu mendekatinya. Tetapi sentanu mencoba tertawa.

- Siapa curang? Bukankah kalian yang memulainya? Kalau saja kalian berhasil masuk kraton dengan cara menggelap ini, bukankah itu lebih dari curang? Kau bersyukurlah, bahwa kami orang Demak tidak berniat membunuh. Kalau saja kami mau menurunkan tangan menghabisi nyawa kalian, apa susahnya? Seratus orang kawan-kawanmu akan dengan mudah dihancurkan oleh tentara Demak. Tetapi karena Tuanku Trenggana menghendaki kalian hidup hidup maka sengaja untuk menghindari perlawanan kalian sengaja aku giring melewati lorong ini. Sebab tanpa demikian, kalian tentu akan melawan, dan itu hanya akan menimbulkan pertumpahan darah.

Kepala prajurit itu tak berkata lebih banyak. Sementara Sentanu memerintahkan prajurit lain membawa mereka sebagai tawanan pertama .Seratus orang prajurit yang dikirim Rangga Permana itu menjadi tak berdaya. Mereka kena ditangkap sebelum berbuat sesuatu di istana.

Demak telah mengetahui seluruh rencana yang akan dilakukan oleh orang-orang Majapahit. Maka persiapan dilakukan dengan secermat mungkin .

Malam harinya, dari istana, keluarlah sepasukan besar prajurit Demak. Mereka berbondong keluar tanpa mengenakan pakaian keprajuritan. Barisan Demak ini bergerak keluar kota dengan melalui jalan rahasia dibelakang istana. Bergerak keluar menuju pinggiran kota.

Esok pagi adalah saat penobatan Raden Trenggana sebagai Sultan Demak. Maka untuk mendahuluinya digerakkan pasukan yang nampak bersiaga untuk menghadapi bahaya itu. Dan inilah rencana Raden Trenggana yang cerdik dan cekatan.

Barisan pasukan Demak dalam jumlah tidak sedikit itu sengaja dibawa keluar kotaraja. Tanpa mengenakan pakaian kaprajuritan. Kalau orang memperhatikan, seluruh tentara Demak itu memakai gelang lawe, tak ubahnya orang-orang Majapahit yang telah diselundupkan ke Demak.

Dua orang pemimpin yang kini berjalan dimuka ternyata adalah Pamasa dan Wijaya. Mereka inipun mengenakan gelang lawe itu. Dan ketika pasukan telah hampir mendekati tapal batas, Pamasa memberikan perintah untuk berhenti.

- Kawan, berhati-hatilah. Kita akan mulai rencana dari tempat ini. Kita akan berpencar dengan masing-masing kelompok yang telah ditentukan. Dan kalian akan menyebar keseluruh kota, ajak orang orang Majapahit yang tentu akan mengenakan gelang lawe itu. Percayalah, mereka akan mengira kita sebagai kawannya. Berusahalah menggiring mereka ketengah hutan ditimur itu. Dan kita akan segera berkumpul disana pada tengah hari nanti. Berusahalah seluruh orang yang nampak mengenakan gelang lawe itu mengikuti kalian kehutan itu. Dan satu-satunya tanda untuk membedakan kalian dengan mereka adalah ikat pinggang lawe kuning itu. Orang Majapahit hanya mengenakan gelang lawe, sedang kalian adalah gelang dengan ikat pinggang itu. Nah,

berhati-hatilah. Kita mulai menyebar sekarang! 

Maka prajurit Demak itupun tanpa bersuara mengambil jalan memisah. Mereka saling bergabung dengan kelompok masing-masing untuk kemudian berpencar. Dan sebelum matahari terbit, mereka telah menyebar diseluruh kota dan disudut-sudut jalanan, mencari orang-orang yang nampak mengenakan gelang lawe kuning.

Bersamaan dengan terbitnya sang surya Demak seakan bangkit dari tidur yang lelap. Cerah dan riang seluruh kota. Penobatan Raden Trenggana akan dilakukan. Dan ditiap sudut kota telah nampak indah dengan hiasan berwarna warni. Sedang dari penjuru pedesaan, terlihat masih banyak rakyat berbondong menuju kota, untuk sekedar melihat roman muka Raden Trenggana yang baru dikenal namanya.

Kesibukan dalam istana tak kalah dengan yang diluar. Nampak punggawa dan pembantu istana dengan tugasnya masing-masing mempersiapkan saat penting itu. Sedang prajurit-prajurit jaga nampak pula bersiaga sepenuhnya.

Dalam waktu yang bersamaan, orang-orang Majapahit yang sejak jauh hari telah

menunggu-nunggu saat penobatan itu berdebar girang. Maka mereka saling berunding sesama kawan, dan terlihatlah mereka ikut sibuk membicarakan saat penobatan itu.

Tiba-tiba muncul dua orang muda. Tetapi ketika melirik, dua orang muda itu mengenakan gelang lawe pada pergelangan tangan kiri, mereka tersenyum dan mengangguk. Dua anak muda itupun juga menganggukkan kepala. Tetapi kalau diteliti, ternyata dua anak muda yang baru datang itu selain mengenakan gelang lawe, pinggang mereka mengenakan tali lawe melingkar. Namun itu tak diperhatikan oleh orang-orang terdahulu.

- Ada berita apakah?

Bertanya orang-orang tadi pada dua pemuda itu yang bukan lain adalah Pamasa dan Wijaya.

- Berita penting. -- Kata Pamasa berbisik.

- Dimana pemimpin kalian? '

- Pemimpin sedang mempersiapkan kawan-kawan. Sahut orang itu.

- Antarkan aku padanya. Aku membawa perintah dari tuanku Rangga Permana. Kata Pamasa pula.

Tanpa banyak bertanya orang itu memberi isyarat agar Pamasa berdua Wijaya mengikutinya. Dan keduanya segera mengikuti dengan hati bertanya-tanya. Mau dibawa kemana. Hanya melewati beberapa kali tikungan, mereka tiba disudut kota. Dan sebuah warung nampak terhampar. Warung itu nampak belum lama adanya. Bangunan masih baru.

Tetapi bukan main larisnya!

Banyak yang bertengger diwarung, bahkan hampir penuh mereka terlihat girang dan makan 

makan sambil mengobrol dengan bersemangat. Hingga pemilik warung itu nampak sibuk melayani.

Namun Pamasa dan Wijaya segera melihat kejanggalan di warung itu. Pemiliknya tampak sibuk, tetapi tersenyum aneh. Dan gerakan tangan yang kaku ketika melayani langganan terlihat nyata. Membuktikan ia bukan seorang pemilik warung yang biasa melayani pembeli. Melainkan lebih cocok disebut sebagai seoran prajurit yang biasa menggerakkan tombak dalam perkelahian. Dan ketika Pamasa memperhatikan dengan lebih seksama, nyatalah seluruh pembeli yang berkerumunan itu mengenakan gelang lawe pada lengan kirinya. Maka sadarlah mereka adalah prajurit Majapahit.

Dan Pamasa semakin mendekati dugaannya. Ia dibawa orang-orang yang membawanya melangkah memasuki warung hingga seluruh mata menatap pada kedua anak muda itu. Pamasa tersenyum, menganggukkan kepala. Dan semua yang memandang membalas tersenyum ketika melirik pergelangan kiri kedua anak muda itu mengenakan gelang lawe.

Pamasa segera masuk dan matanya beradu pandang dengan seseorang yang rupanya adalah pemimpin mereka.

- Kau siapa? -

Tanya orang itu melihat munculnya Pamasa dan Wijaya.

- Kisanak, aku adalah utusan Tuanku Rangga Permana, Saat ini dalam istana telah bersiaga seratus orang prajurit pilihan yang mengaku sebagai prajurit Tumenggung Santa Guna. Seperti kalian tentu mengetahuinya, mereka bertugas menyerang musuh dan membunuh Raja Demak yang baru itu. Dan saat ini pula tuanku Rangga Permana akan memasuki kota. Untuk itu aku berdua diperintahkan memberitahu kalian agar secepatnya menyingkir lebih dahulu kepinggiran kota. Dan kalian diperintahkan masuk hutan tutupan ditimur. Disana tuanku Rangga Permana akan memberikan perintah yang terakhir sebelum melakukan penyerangan.

- He, bagaimana bisa terjadi? Bukankah kita diperintahkan menunggu isyarat? '

- Itu benar.

Sahut Pamasa cepat.

- Tetapi ini perintah terakhir sebelum penyerangan. Kalian belum mengetahui perkembangan yang terjadi. -

- Ah, bagamana mungkin? ............

- Ya. kalian boleh percaya boleh tidak. Bagiku yang penting telah menyampaikan perintah itu.

Terserah kalian mau berbuat apa. --

Orang itu ragu-ragu. Tetapi sebentar kemudian ia perintahkan orang-orangnya mengikuti. Dan dalam waktu singkat puluhan orang ini berjalan dengan diam-diam menuju hutan yang ditunjukkan Pamasa.

Dalam waktu yang bersamaan, pada kelompok lain, terlihat prajurit Majapahit yang mengenakan 

gelang lawe itu. Bahkan ketika rombongan yang mengenakan gelang lawe nampak menuju suatu tempat, yang lain menjadi heran.

- Ada apa. mereka berjalan tergesa-gesa. Bertanya salah seorang.

- Entah. Mari kita tanya mereka. -

- Eh kalian mau kemana? -

Tanyanya kemudian. Dan orang orang yang berjalan menyahut :

- Kita diperintahkan berkumpul dihutan timur kota itu.

- O, begitu ......... hayo kita ikut mereka!

Maka dalam waktu singkat hampir semua orang yang mengenakan gelang lawe habis dari seluruh sudut kota menuju hutan tutupan ditimur.

Sementara itu Sentanu yang berada didalam kota mengawasi istana, girang hatinya. Sebab diantara kerumunan rakyat yang nampak, tak terlihat lawan lawan yang dicurigai. Ia yakin orang-orang Majapahit yang semula ada dalam kota berhasil dibawa oleh orang Demak ke hutan

Tutupan. Maka kota dan istana akan bersih dari lawan. Ada, masih banyak terlihat yang mengenakan gelang lawe, namun mereka itu juga mengenakan gelang yang sama pada pinggangnya.

Saat itulah ditengah kota muncul tiga orang berjalan dengan tergesa-gesa. Dua diantaranya masih nampak muda. sekalipun yang seorang bukan muda lagi, namun nampak gagah. Hanya satunya muda benar. Sedang seorang lagi adalah seorang yang lebih pantas disebut kakek. Tetapi sekalipun kakek itu membawa tongkat tetapi gerakan kakinya ketika berjalan memperlihatkan ia bukan seorang sembarangan. Dan ketiganya bukan lain adalah Rangga Permana, sedang seorang lagi adalah Pangeran Pajajaran Madi Alit dengan Ki Ageng Semanding.

Ketiganya bergirang ketika melihat disana-sini terlihat orang orang mengenakan gelang lawe. Namun sedikitpun tak akan mengira bahwa mereka bukan lagi anak buahnya yang sedang bersiaga. Maka ketiganya terus berjalan, lalu mendesak diantara kerumunan banyak orang menuju kota yang mulai penuh pula oleh rakyat Demak yang akan menyaksikan penobatan Raden Trenggana.

- Rencana kita berhasil baik.

Kata Rangga Permana pada Ki Ageng Semanding. Dan orang tua itu tertawa.

Ketiganya tiba diregol. Disana rakyat terlihat telah berdesakan ingin masuk. Sedang prajurit jaga nampak kewalahan menghadapi keinginan itu.

Rangga Permana semakin besar hati ketika ditiap tempat ia masih melihat orang-orang yang mengenakan gelang lawe itu. Maka iapun semakin jauh maju dan berusaha mendekati bangsal dimana Raden Trenggana akan berada. Perbuatan itu diikuti oleh Madi Alit dan Ki Ageng Semanding. Yang tentu saja dengan kekuatan dan kepandaian ketiga orang itu, mudah saja mereka menembus rakyat 

yang berdesakan untuk maju dan ketiganya makin dekat saja dengan bangsal itu. '

Bersamaan dengan itu, terdengar suara gong dipukul hingga suaranya berdengung menggema dengan keras kesekitar tempat itu. Dan rakyat semakin bergerak maju. Pertanda itu memperingatkan bahwa Sultan Demak akan segera muncul dibangsal. Dan ketika Rangga Permana melayangkan pandangan kesekeliling bangsal, selalu terlihat prajurit yang nampak berjaga dengan tegap dan siaga. Terlihat para Adipati Taklukan yang duduk bersila menunggu. Maka mata Rangga Permana segera mencari seratus prajurit yang telah dikirim untuk berada dekat dengan Raden Trenggana. Dan pandangannya segera bertemu dengan yang dicari. Dikiri kanan bangsal terlihat kelompok prajurit jaga. Mereka jelas mengenakan gelang lawe itu. Rangga Permana menarik napas lega. Sedang disekeliling tempat itu juga menyaksikan orang-orang mengenakan gelang lawe serupa. Cuma Rangga Permana tak akan menduga bahwa orang-orang itu bukan lagi prajuritnya, melainkan mereka adalah prajurit Demak sendiri yang diperintahkan agar bersiaga sebagai prajurit lawan, untuk mengelabuhi musuh yang akan datang. Dan Rangga Permana tak menyadari hal itu. Maka ia menggamit Madi Alit yang berada agak jauh dengannya.

Rencana telah disusun dengan sempurna. Pada saat Trenggana muncul dan penobatan selesai,

setelah ia memberi isyarat, Madi Alit akan menyerang Trenggana, bersama dengan orang-orang yang telah diperintahkan menyerang prajurit dan pengawal. Tinggal beberapa saat lagi saja.

Ketika gong kembali berbunyi untuk ketigakalinya, seluruh rakyat yang berada ditempat itu makin mendesak maju. Pertanda Raden Trenggana akan muncul. Dan benarlah, yang dinanti terlihat muncul diapit oleh dua punggawa sedang di belakangnya mengiringi prajurit dan pengawal yang lain, sementara para sesepuh terlihat mengenakan pakaian kebesaran mengiringkan Raden Trenggana yang mengenakan kebesaran pula.

Namun demikian rakyat belum melihat wajah sesungguhnya dari sultan Demak itu, karena mukanya masih tertutup dengan selembar kain kuning. Berjalan perlahan menuju singgasana dengan dituntun deh dua orang pengawal istana .

Kalau semula rakyat terdengar hiruk pikuk, mendadak jadi terdiam ketika raja Demak itu telah duduk dan upacara sesaji segera akan dimulai.

Dalam pada itu Rangga Permana telah meraba ujung kerisnya .Matanya memberi tanda pada Madi Alit yang juga telah mengangguk. Sedang Ki Ageng Semanding telah lenyap entah menyelinap ke mana. Rangga Permana yakin, sekali ia bergerak, seluruh prajurit dan orang orang yang mengenakan gelang lawe kuning itu akan bergerak dan menyerang rakyat. Diharap akan segera pecah kekacauan dan saat itulah Trenggana akan menjadi mayat oleh serangan Madu Alit dan Ki Ageng Semanding, Sebab bukankah para pengawal yang tampak ada di dekat Raden Trenggana juga mengenakan gelang lawe itu ?

Ah, Rangga Permana yakin Raja Demak itu telah tak mampunyai seorangpun pengawal. Hanya ia 

tak menduga bahwa segala rancananya telah berbalik. Seperti ia tak menduga bahwa gerak-geriknya semenjak tadi sudah diperhatikan oleh dua pasang mata yang bersinar tajam. Seorang diantaranya adalah Sentanu.

Sentanu sejak tadi sengaja berdiri diantara kerumunan rakyat. Ketika Rangga Permana muncul bertiga dengan Madi Alit dan Ki Ageng Semanding. ia telah merasa curiga. Lebih-lebih sewaktu tanpa sengaja Rangga Permana mendorong pinggangnya dalam berdesakan tadi. Maka Sentanu segera mengenal siapa mereka. Ia segera mengamit seorang lelaki gagah yang berdiri tak jauh darinya. orang itu mengerling tanda mengerti isyarat yang diberikan Sentanu .

Maka keduanya segera memperhatikan ketiga orang yang telah menyebar berjauhan itu. Menitik gerak geriknya segera Sentanu mengenal siapa mereka. Bahkan ketika Rangga Permana memberi Isyarat Madi Alit, Sentanu melihatnya pula. Namun Sentanu tak menduga ketika secara tiba-tiba Rangga Permana mencabut kerisnya dan menggerakkan senjata itu menikam seorang yang berada dimukanya.

Orang itu menjerit kaget kemudian roboh mandi darah. Bertepatan itu Rangga Permana loncat, demikian pula Madi Alit. Akan tetapi sebelum Rangga Permana sempat berbuat lebih jauh seseorang telah meloncat dengan cepat mengejarnya.

Rakyat sejenak kaget dengan terbunuhnya seorang oleh Rangga Permana. Namun segera mereka menyadari ada seorang tengah berusaha mengacau.

Sebelum hilang kekagetan mereka, Rangga Permana menjadi kaget pula ketika merasa ada yang mengejarnya. Bahkan ia menjadi tak habis mengerti.

Mengapa prajurit dan orang-orang yang mengenakan gelang lawe itu tidak ikut menyerang ? Bukankah isyarat sebagai perintah melakukan penyerangan sudah dilakukan ?

Sebelumnya Rangga Permana memerintahkan agar seluruh yang ada di Demak ikut menyerang jika ia menikam salah seorang yang ada didekatnya. Tetapi bukan saja tak seorangpun bergerak mengikuti perbuatannya, bahkan orang-orang yang mengenakan gelang lawe dilihatnya melindungi rakyat dan menentramkan ketakutan mereka.

Demikian pula Madi Alit, sewaktu ia baru saja akan bergerak menyerang Raden Trenggana , ia berseru girang. Sebab salah seorang pengawal tiba-tiba menangkap tubuh orang yang sedang duduk disinggasana Demak itu lalu didorongnya kearah Madi Alit yang telah meloncat kebangsal menyambar dengan keris pusakanya. Maka tanpa dapal dicegah tubuh itu termakan oleh Keris ditangan Madi Alit dan orangnya menjerit lalu roboh terguling. Rangga Permana yang masih berada dekat tak sadar berseru girang. Ia gembira melihat Madi Alit berhasil menewaskan lawannya. Akan

-tetapi ketika seorang tua yang bukan lain Ki Ageng Semanding loncat merenggut tutup mukanya, ia berseru kaget. Sebab yang terbunuh bukan Raden Trenggana, melainkan kepala Prajurit yang telah berhasil diringkus oleh Sentanu dilereng istana. Tapi keheranan Rangga Permana tak sempat 

berlangsung lama. sebab orang yang mengejarnya telah dekat dan sekaligus menyerang dengan hebat.

Madi Alit yang berhadapan dengan Santanu menjadi heran seluruh prajurit yang mengenakan gelang lawe ternyata tidak melawan Demak, malah mereka terlihat melindungi orang-orang istana.

Akan tetapi ia tak sempat berpikir terlalu lama, karena serangan Sentanu telah sampai dan hampir saja mengenai mukanya kalau saja ia tidak cepat berkelit dengan sebat.

- Kau salah duga sobat!

Kata Sentanu sambil masih melancarkan serangan pada Madi Alit.

- Seluruh orangmu telah kami tawan, kini kalian hanya bertiga. Kami seluruh prajurit siap untuk menghancurkan. Maka kau menyerahlah sebelum menyesal.

Madi Alit kagum juga. Serangan Sentanu amat kuat dan bertenaga. Namun ia tak akan mundur.

Maka sambil masih berloncatan menghindarkan diri dari serangan Sentanu iapun berkata.

- Ya, kami memang bodoh. Ternyata Demak lebih unggul hingga mengetahui rencana ini. Hanya jangan harap kau akan bisa menangkapku dengan mudah. Bukan saja dirimu. Bahkan gurumu ki Ageng Semu tak akan mampu melawan.

Sentanu heran lawannya mengenal dirinya.

- He, jangan kau menakut-nakuti dengan bualanmu itu! -

- Hem ......... kau bodoh. Siapa membual? Aku Orang Pajajaran tak akan mendustaimu. Dan aku tak tahu apa yang akan dilakukan oleh Mpu Sugati dan Aki Kerancang kalau ia melihat kau berani kurang ajar melawanku begini.

Sentanu merandek. Ia bertambah heran lawannya menyebut pula Aki Kerancang, ayahnya yang telah lama ia tinggalkan bahkan disebutnya Mpu Sugati gurunya yang pernah mendidiknya di dusun dan mengajarnya membuat senjata. Malahan saat ini ia berada di Demak adalah sebagai upaya menebus dosa akibat melanggar perintah orang tua sakti Mpu Sugati itu. Maka Sentanu menjadi ragu ragu dan serangannya mengendur.

Namun akibatnya sungguh hebat. Madi Alit yang dalam keadaan biasapun sudah barang tentu sulit dilawan oleh Sentanu, melihat anak muda itu terpengaruh kata katanya bergerak cepat. Ia tadinya hanya menduga duga bahwa lawannya adalah Sentanu. Ternyata dugaannya benar. Maka ia bergerak cepat, sekaligus dua tangannya bergerak cepat.

- Kau bodoh dan cengeng, terimalah! ........ .

dan

- Blug...

Sentanu tepat termakan lambungnya oleh serangan itu hingga ia terpental membentur

orang-orang yang masih ribut ketakutan. Dan Madi Alit yang melihat tak akan ada harapan untuk melawan pula. ia berlari menerobos keluar lalu mengerahkan kesaktiannya dan ia berlari keluar 

menerobos kerumunan banyak orang dan menghilang dengan cepat, meninggalkan istana.

Dalam pada itu Rangga Permana menjadi sadar, lawan yang mengejarnya ternyata kuat dan tangguh. Dan ia baru mengenal secara pasti bahwa lawan itulah yang ternyata Raden Trenggana. Dan kini ia terdesak hebat oleh serangan Raja Demak itu.

Pada saat Rangga Permana berhal demikian itu, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan menghantam Raden Trenggana dengan hebatnya. Akibat serangan itu Raja Demak tadi terpaksa meloncat mundur. Dan bersamaan dengan itu Rangga Permana merasa tangannya disahut oleh seseorang yang bukan lain adalah Ki Ageng Semanding. Lalu diseretnya Rangga Permana berlari meninggalkan tempat itu menyusul Madi Alit. Semula, Raden Trenggana bermaksud mengejar mereka, tetapi ketika dilihatnya Sentanu terduduk menderita luka akibat serangan Madi Alit, mengurungkan niatnya. Dengan cepat ditolongnya anak muda itu, kemudian dibawanya masuk kedalam. Rakyat Demak yang semula ingin menyaksikan penobatan itu menjadi takut-takut. Sekalipun masih banyak yang tak mengalami perasaan itu, tetapi Raden Trenggana telah memerintahkan seluruh punggawa agar melindungi mereka seraya diperintahkan menyusulkan bantuan ke hutan tutupan ditimur. Raden Trenggana bernapas lega, api pertempuran hampir saja membakar kota Demak, jika saja tak berhasil menggiring orang Majapahit ke hutan tutupan ditimur kota. Namun demikian bukan mustahil pertempuran tetap akan terjadi di hutan itu. Maka Raden Trenggana memerintahkan tentara Demak menyusul setelahnya merasa yakin kota tak akan terjadi kerusuhan. Sentanu menyatakan kesediaannya untuk menyusul pula.

- Kau masih terluka. _

Kata Raden Trenggana. Tetapi Sentanu tertawa.

- Hanya sedikit sakit, tuanku. Hamba merasa akan segera pulih jika saja hamba menghadapi lawan-lawan itu.

Maka Raden Trenggana tak menahan keinginan anak muda itu pula. Dan dengan menunggang kudanya Sentanu menyusul Pamasa dan Wijaya yang berhasil membawa barisan musuh kehutan tutupan ditimur kota. Demikian, pada saat yang hampir bersamaan, dihutan itu terjadi keributan. Orang-orang Majapahit yang semula berkumpul dihutan tutupan itu merasa heran. Dalam jumlah besar mereka mendatangi hutan itu dari berbagai arah.

Namun ketika pemimpin-pemimpin mereka tak melihat Rangga Permana, mereka menjadi curiga.

- Kita terjebak. Mereka tadi bukan kawan kita. Seru mereka.

- Ya, kita tertipu, hayo kita serang mereka sekarang juga. Namun sebelum mereka berbalik kembali, tentara Demak yang telah bersiaga menghujani mereka yang ada dalam hutan itu dengan panah panah berapi. Hutan itu telah dikepung melingkar. Dan jumlah tentara Demak cukup besar berlipat dari jumlah orang-orang itu. Maka pertempuran menjadi seru dan orang Majapahit yang 

terjebak kedalam hutan itu benar terdesak. Namun mereka cukup gagah berani. Tak sedikitpun ada niat melarikan diri. Yang demikian tidak mengherankan, sebab orang-orang yang dikirim ke Demak adalah prajurit Majapahit pilihan yang tangguh dan bisa diandalkan. Hanya karena Demak telah mengetahui rahasia dan rencana mereka sajalah membuat orang-orang itu berhasil ditipu untuk berkumpul di hutan tutupan dan prajurit Demak berhasil mengepung dengan kekuatannya yang berlipat ganda.

Pamasa dengan Wijaya merasa girang melihat hasil serbuan dan prajurit Demak bertambah semangat seakan kemenangan telah mereka capai dengan gampang tanpa menimbulkan kekeruhan dikalangan rakyat.

Namun dalam pada itu Rangga Permana bertiga Ki Ageng Semanding dan Madi Alit telah menaruh kecurigaan. Seluruh prajurit yang dikirim ternyata berhasil dibikin lumpuh oleh Demak. Maka mereka sesudahnya merampas kuda dari prajurit Demak, melarikan binatang itu dengan cepat. Bukan mereka takut melakukan perlawanan, tetapi tak akan banyak berguna, sebab dengan hanya bertiga, apalah artinya bagi kekuatan Demak yang tangguh?

Maka mereka berniat kembali ke timur.

Saat ketiganya melarikan kudanya itulah tanpa disengaja telah melewati hutan tutupan, dan karena tertarik dengan pertempuran yang terjadi mereka memasuki hutan itu. Dan alangkah kaget ketika diketahui ternyata mereka adalah prajurit-prajurit Majapahit yang tengah menghadapi perlawanan Demak. Maka tanpa banyak berkata ketiga orang itu mengambil sikap dan turun tangan menyerang prajurit Demak yang telah bertambah semangatnya.

Dengan munculnya ketiga orang itu tentu saja membuat prajurit Majapahit yang semula telah hampir kehilangan semangat timbul pula semangat dan kekuatan baru. Mereka bersorak sorai dengan gegap gempita. Sekalipun jumlahnya kalah berlipat dengan tentara Demak, tetapi semangat telah mereka dapatkan pula hingga dengan gencar kembali mereka melakukan perlawanan.

Pamasa terkejut melihat perubahan itu, ia tak melihat munculnya ketiga pemimpin Majapahit ditengah tentaranya itu. Namun sebaliknya ia melihat Sentanu mendatangi dengan menunggang kuda dan langsung turun tangan membantu tentara Demak yang masih melakukan penyerangan dengan gigihnya.

Sentanu cepat memberi tanda pada Pamasa dan Wijaya ketika matanya melihat Rangga Permana dan Madi Alit telah ada ditempat itu. Dan ketika Rangga Permana tiba-tiba terlihat maju, Sentanu memberi tanda agar Pamasa maju menghadapinya. Maka Pamasa bergerak dan menyambut serangan Rangga Permana dengan'garang. Dan sementara para prajurit semakin gencar mengadu senjata, Pamasa telah terlibat dalam suatu pertempuran dengan Rangga Permana yang menyambut orang Demak itu dengan gagah berani. Pamasa cukup bertindak hati-hati sebab tahu lawannya adalah seorang yang mumpuni, terlihat dari gerak geriknya. 

Pada suatu saat pedang ditangan Pamasa berkelebat menyerang membuat Rangga Permana terkesiap hatinya. Gerakan pedang itu amat kuat bertenaga. Namun ia tidak merasa jerih, maka iapun gerakkan pedang pula menyambut serangan itu. Dan

- Trang!

Bunga api berpijar sesaat akibat benturan senjata keduanya. Namun segera disusul oleh serangan berikutnya yang tak kalah dahsyat.

Diam-diam Rangga Permana merasa kagum juga. Serangan pedang lawannya amat kuat dan cepat. Bergerak laksana air bah menggulung dan mendesak tempat-tempat berbahaya ditubuhnya. Maka iapun mengerahkan kemampuan berusaha mengimbangi gerakan senjata lawannya yang masih muda. Namun sebaiknya, Pamasapun diam-diam mengakui keunggulan lawannya. Maka ia amat berhati hati dan tak mau gegabah menyerang tanpa perhitungan. Dan benarlah kemudian ilmu serangan simpanan yang jarang dipergunakan.

Dan kedua orang itu semakin nampak gencar saling serang. Ditengah terdengarnya suara hiruk pikuk dan gemerincingnya senjata para prajurit yang bertempur, keduanya terlihat saling berusaha menjatuhkan. Bagaimanapun tingginya kepandaian Rangga Permana, namun Pamasa bukan seorang yang mudah dijatuhkan. Kesempurnaan dan pengalaman tempurnya telah membawanya kepada satu tingkatan yang membuatnya sukar untuk dijatuhkan begitu saja. Namun demikian pula Rangga Permana juga tergolong seorang yang telah mencapai tingkat tinggi. Namun pada akhirnya satu gerakan kaki Pamasa berhasil menyambar lambung Rangga Permana dengan hebat hingga orangnya terpental jatuh dari atas kudanya. Hal itu membuat Rangga Permana heran dan kagum. Rasa sakit menyerang lambung itu. Tak ia duga akhirnya lawannya yang masih muda berhasil menyerang demikian rupa. Tetapi Rangga Permana segera bangkit dan maju pula dengan senjata telanjang.

Pamasa yang melihat lawan telah tak lagi berada diatas kuda, iapun meloncat turun dari kudanya. Tapi pada saat Pamasa loncat turun itu Rangga Permana telah mengirimkan serangan dengan lebih dahsyat mengarah lambung dan leher Pamasa hingga tanpa dapat dicegah, Pamasa terancam jiwanya. Namun bukan Pamasa jika ia tak mampu menghindarkan diri serangan itu. Pedangnya ia gerakkan berputar dengan cepat menyambut serangan itu-

- Trang! _

Kembali dua senjata beradu hingga mengeluarkan percikan bunga api. Dan akibat bertemunya dua senjata itu Pamasa terdorong oleh benturan itu hingga dari itu ia mampu meloncat dengan meminjam tenaga dorongan lawan untuk kemudian berjungkir balik dan jatuh dalam keadaan berdiri.

- Bagus!-

Rangga Permana berseru memuji. Sekaligus ia lancarkan serangan simpanan dengan lebih gencar.

Dan Pamasa terkejut ketika Rangga Permana tiba-tiba berubah dengan mendadak, terasa serangannya kini dirasakan berat menindih dirinya. Namun ia berusaha menahan. Rangga Permana 

memang menang jauh diatasnya. Ketika kembali dua serangan bertemu,

- Trang! Duk! Duk!

Dua tenaga bertemu, dan pedang Pamasa terlempar ke udara. Tidak itu saja. Rangga Permana bergerak sebat. Serentetan serangan ia lakukan dan tanpa dapat mengelak Pamasa kena oleh serangan itu hingga ia terpental sejauh enam tombak bergulingan. Pamasa kaget. Tubuhnya terasa lemah. Tenaga Rangga Permana yang dilambari kekuatannya telah mampu membuat saudara angkat Sentanu itu harus menyerah. Namun sebelum Rangga Permana kembali melancarkan serangan, puluhan prajurit telah meluruk menolong Pamasa, diangkatnya keluar pertempuran, dan puluhan prajurit lain mengurung Rangga Permana dengan bersemangat. Wijaya yang berada tak jauh dari tempat itu kaget melihat saudaranya roboh oleh lawan. Akibat dari itu ia menjadi lengah. Sehingga ketika seorang prajurit lawan membabatkan pedangnya Wijaya tak mampu mengelak, pedang itu telah merobek pundaknya hingga mengucurkan darah. Wijaya menjadi sadar. Dan begitu terasa ada darah mengalir dari pundaknya, ia pacu kudanya maju dan hanya dengan dua kali gerakan saja prajurit yang tadi menyerang secara menggelap didupak terpental sekaligus ia sambar prajurit itu dengan gendewa yang dibawanya hingga prajurit itupun tak sempat lagi mengeluh, roboh dengan nyawa putus.

Sementara itu hujan panah masih terus dilancarkan oleh prajurit-prajurit Demak, menyerbu ketengah

pertempuran dan korban tak lagi dapat dihindarkan. Prajurit Majapahit semakin menipis dan jumlah mereka nyata berkurang. Sekalipun tentara Demak pun juga banyak yang jatuh korban, namun semangat mereka berlipat dari lawannya, Dibagian lain dalam hutan itu, terlihat pula pemandangan yang tak kalah hebatnya. Seseorang terlihat bergerak dengan aneh. Diatas kudanya seorang muda tampan terlihat memegang sebuah tombak pendek. Dan orang itu yang ternyata adalah Madi Alit, nampak berwibawa dan berpengaruh gerak geriknya. Membuat para prajurit mundur dengan perasaan takut ketika berhadapan dengan pangeran dari Pajajaran itu.

Tombak pendek ditangan Madi Alit itu nampak bercahaya kebiru-biruan memancarkan pengaruh gaib. Setiapkali ada seorang mendekat, hatinya bergetar dan kecut tanpa tahu sebabnya. Maka Madi Alit menjadi agak leluasa.

Wijaya bergerak mendekati Madi Alit, ia heran dengan pengaruh yang dipancarkan orang itu. Ia tahu senjata ditangan lawan itu akan sulit dilawan, namun ia majukan kudanya mendekat dengan tabah.

Sesungguhnyalah Madi Alit tergolong seorang yang telah mampu menguasai daya pikir dan batin yang tangguh. Sebagai seorang muda yang semenjak kecil telah menjelajahi tempat-tempat bertapa di tlatah Pajajaran dulunya (jilid ke I) Madi Alit telah memperoleh suatu kekuatan yang sukar terlawan. Ia telah mampu menguasai daya ciptanya demikian rupa, sehingga alam ceciptan yang ia timbulkan dapat saja ia ujudkan kedalam bentuk lahir. Maka bagi seorang Madi Alit, mudah saja ia 

melakukan serangan dari jarak jauh dengan mengirim pancaran kekuatan batin yang ia miliki. Dan kini kekuatan itu ia pergunakan mendorong keluar mujijat tombak pusaka yang ada ditangannya. Tombak pusaka yang jarang ia pergunakan. Sebuah senjata ampuh milik ibundanya yang ia terima di Pajajaran. Dan kini senjata itu ia pergunakan menghalau lawan dengan secara aneh.

Sekalipun Madi Alit tak berniat menghancurkan lawannya, namun karena ia merasa lawan berjumlah lebih banyak maka ia keluarkan tombak pusaka itu.

Dan ketika Madi Alit menggerakkan tombak itu, hampir seluruh mata yang memandang menjadi terpana. Bahkan barisan panah prajurit Demak tiba-tiba menghentikan serangan dan mereka turunkan gendewanya bagaikan kena pesona. Kekuatan pengaruh yang di pancarkan oleh tombak pusaka itu demikian kuatnya, hingga untuk beberapa saat mana menjadi hening. Pertempuran terhenti dan setiap orang terpaku ditempatnya bagai kena sihir.

Melihat kejadian itu Wijaya tak tahan. Iapun merasakan pengaruh aneh senjata ditangan Madi Alit itu. Tetapi untuk beberapa saat ia berhasil menguasai perasaannya yang terguncang. Maka dimajukannya kudanya mendekati Madi Alit. Namun kurang sepuluh tindak tiba tiba kudanya miringkik dan tak mau maju pula.

Wijaya kaget. Dipaksanya, namun binatang itu tak mau sedikitpun diajak maju. Maka Wijaya terpaksa meloncat turun dan langsung ia serang Madi Alit yang masih memegang tombaknya.

Terjadilah kemudian sesuatu yang hebat. Dalam keadaan biasa tanpa memegang senjata pusakapun Wijaya tak akan mampu melawan Madi Alit. Dan dalam keadaan demikian, Madi Alit tak akan banyak mengalami kesulitan melawan Wijaya. Karena ketika serangan anak muda itu tiba, Madi Alit telah menggerakkan tombaknya dengan cepat. Dan Wijaya harus membayar keberaniannya dengan berat. Ketika tombak lawan bergerak menyambar, terasa oleh Wijaya angin dingin menyambar. Wijaya menggigil dan kaget. Tubuhnya terasa bagai diguyur air dingin luar biasa. Ia terhuyung dengan lemah. Namun ia tak mau menyerah. Dikerahkan semangat dan kemampuannya.

Iapun maju kembali dan melancarkan serangan, sekalipun semangatnya sebenarnya telah mulai runtuh. Akan tetapi Madi Alit yang melihat lawan tak mau menyerah, mendadak bergerak terlebih dahulu. Ia lancarkan serangan dengan lebih cepat. Dan tombaknya bergulung berputar dengan dahsyat.

Wijaya tak dapat berbuat banyak. Ia seakan melihat diujung tombak itu seorang dewa tengah melawan dirinya. Maka tentu saja Wijaya tak mampu bertempur dengan baik. Hingga ketika Madi Alit menggerakkan tangan menyerang pula, Wijaya telah tak mampu menahan dan akibat serangan itu ia terlempar keras dan terbanting tak sadarkan dirinya.

Sentanu yang telah muncul ditempat itu terkejut melihat kehebatan Madi Alit. Dan ketika dua saudaranya telah tak berdaya, ia mengambil keputusan cepat. Dibunyikan tanda bagi prajurit Demak. Agar mereka mundur dan kembali kekotaraja. 

Prajurit Demak mendengar isyarat dari Sentanu, bertindak cepat. Mereka berloncatan dan mundur berusaha menyingkir dari tempat itu. Semula orang-orang Majapahit bermaksud menyerang dan mengejar. Tetapi Madi Alit memerintahkan agar berhenti dan tidak melakukan pengejaran.

- Kita kembali. -

Kata Madi Alit pada Rangga Permana.

- He, mengapa kembali? Bukankah kita telah hampir mendapat kemenangan?

- Kemenangan? Kemenangan atas para prajurit itu? Tak banyak berguna. Sudahlah, kita kembali dan menyusun rencana lebih bagus. Sebab kemenangan ditempat ini tak akan banyak berguna.

Akhirnya Rangga Permana memerintahkan seluruh prajuritnya kembali dan kawan mereka yang terluka diangkutnya.

- Bagaimana rencana dan muslihat kita bisa diketahui orang Demak itu? --- Rangga Permana tak habisnya bergumam dan menyesali

- Ah, tentu ada seorang linuwih disana. Tukas Madi Alit.

- Pemuda yang datang belakangan memerintahkan kembali tadi nampak benar memiliki kemampuan luar biasa. Kau lihat, dia bernama Sentanu. Tentu ia memegang pengaruh di Demak. -

Rangga Permana menggelengkan kepala.

- Ah, kau belum mengenal Demak. Katanya.

- Dia bukan orang Demak. Bahkan bukan prajurit rasanya. Dalam penobatan tadi

tetunggul-tetunggul Demak masih belum kelihatan muncul. Tentu mereka berjaga didalam istana.

- Tetapi, kita tak boleh menganggap ringan terhadap anak muda bernama Sentanu itu. Bahkan dua orang pemimpin yang kita taklukkan tadipun nampak berilmu. _

Dan Madi Alit tiba-tiba teringat seseorang.

- Masih ada seseorang yang harus kita perhitungkan. Kau belum mengetahuinya. Ia begitu kuat dan sukar terlawan. -

Katanya.

- He, siapa? -

Rangga Permana bertanya.

- Aku pernah bertempur dengannya. -Seorang gadis muda cucu Mpu Sugati yang terkenal.

- Hmmm. ....... -

Rangga Permana menarik napas dalam-dalam. Betapapun banyak lawan tangguh ia tak mundur dan tak sudi menjadi taklukan Demak.

Dan mereka terus berjalan kembali ke timur. Sedang Madi Alit sudah membayangkan yang 

disebutnya sebagai cucu Mpu Sugati, yakni putri seorang prajurit Demak bemama Sasadara yang mengaku bernama Ken Rati. Ya, Madi Alit teringat gadis itu hingga sepanjang perjalanan si gadis mengikuti diruang matanya. Ken Rati, Ken Rati yang semula berkawan, terpaksa harus berpisah setelahnya mengetahui mereka bermusuhan dan bertentangan kehendak.

Pagi hari ketika matahari belum menampakkan dirinya dengan sempurna, dihutan pegunungan dimana kabut masih menyaput permukaan bumi yang lengang, terlihat seorang anak-anak

berlari-larian dengan gembira, menuruni jalan gunung. Kakinya yang kecil bergerak-gerak lincah dan bersemangat. Turun dengan gerakan yang baik dan indah dipandang. Mata si anak bersinar dengan bola mata hitam, sedang mulut dan hidungnya yang indah mengembang dan bergerak-gerak pula ketika berlari itu. Dan meskipun gerak kaki yang kecil ramping itu bertelanjang tanpa mengenakan alas kaki, tetapi anak itu berlari dengan cepat. Sekali-kali terlihat ia meloncat-loncat. Maka kendati pagi hari benar, anak itu terlihat berkeringat tubuhnya. Dadanya yang telanjang basah oleh keringat itu. Dan kalau saja saat itu ada orang lain, tentulah akan dapat mengira ngira berapa usia si anak. Tak lebih dari enam tahun. Beroman bagus dan kuning. Dan matanya itulah yang nampak mengagumkan. Pandangannya amat polos dan mata itu bersinar indah bagai bintang pagi, namun tajam menyorot dan menimbulkan kekaguman.

Anak itu terus berlari. Tak sedikitpun ada rasa takut ketika berlarian turun gunung, sekalipun dikanan kirinya banyak jurang menganga dan batu-batu terjal dijumpai dalam berlari itu. Barulah ketika semakanan nasi lamanya, anak itu tiba-tiba berhenti. Di mukanya terhampar sebuah dataran yang tidak terlalu luas. Anak itu berhenti disana, lalu ia mendekati batu besar yang ada ditempat itu, kemudian menjatuhkan dirinya diatas batu itu lalu dengan tapak tangannya ia membersihkan batu besar dan rata itu dari embun yang membasah. Dan si anak duduk bersila diatasnya.

Terlihat kemudian anak itu menarik 'napas dalam-dalam dan matanya merem untuk beberapa saat lamanya. Saat itulah matahari menyinarkan cahaya, menerobos cahaya itu lewat celah dedaunan dan pohonan yang banyak terdapat disana. Dan kebetulan si anak membelakangi cahaya matahari, hingga punggungnyapun mulai dijilati oleh sinar matahari itu. Tetapi si anak tak bergerak. Ia masih duduk bersila dengan tak bergerak sedikitpun. kecuali dadanya terlihat turun naik, selaras dengan tarikan napas ketika ia menghirup dan melepaskan panasnya.

Anak itu nampak bersemangat benar. Ia terus menerus menghirup kemudian melepaskan sumber dan daya hidup melalui hidung yang nampak mengembang. Agak lama anak itu duduk bersila demikian, mengatur napas hingga dadanya bergerak gerak turun naik dengan tegar. Tubuh kecil diatas batu hitam itu nampak teguh dan anggun, seakan batu karang yang tak tergoyahkan oleh gelombang laut yang menghantam bergelora.

ketika anak itu masih dalam keadaan demikian, mulai ramai tempat itu dengan kicau burung yang bercuitan riuh menyambut munculnya matahari dihutan itu, dari arah kejauhan terdengar suara 

mengetuk-ngetuk bagai orang memukuli batu gunung. Namun kalau orang memperhatikan benar, suara itu ternyata adalah enam 'kaki kuda yang berlari perlahan sedang turun gunung. Dalam suasana pagi yang hening dan sunyi itu suara kaki kuda tadi amat jelas terdengar, bahkan gemanya memantul dengan lebih keras.

Tak berapa lama kemudian suara kaki kuda itu semakin terdengar jelas. Dan dari arah jalan dimana anak tadi muncul, terlihat kuda yang mendatangi itu juga turun dengan perlahan. Dan dipunggung kuda itu nampak seorang wanita muda memegang tali kendali akan tetapi rupanya mendengar suara kuda yang mendatangi itu anak tadi tiba-tiba loncat dan bersembunyi didalam gerumbul semak yang ada tak jauh dari tempatnya duduk.

- Eh, Mundarang, bengal kau! -

Terdengar seruan wanita muda itu ketika melihat anak tadi loncat kedalam semak. Maka wanita itu loncat turun dari punggung kudanya, dan dengan beberapa kali loncatan telah berada dekat semak itu.

- Mundarang, ayo kau keluar! Kakek menunggu diatas! -

Seru wanita itu pula. Namun tak ada jawaban. Ditunggunya beberapa saat. Tapi yang sembunyi dalam semak itu tak menyahut sedikitpun. Dengan demikian si wanita tadi bertindak, ia maju dan menguak gerumbul semak yang lebat itu. Tetapi si anak telah tak ada. Wanita itu menoleh dengan heran. Mencari-cari.

- Ibu, aku ada disini!

Terdengar seruan kecil. Dan wanita muda itu menoleh pula kebelakangnya. Ah, anak itu telah berada disebatang pohon kecil. Rupanya sewaktu menyusup ke dalam semak tadi anak itu merangkak dengan cepat kemudian memanjat pohon kecil itu.

- Ha, kau memang nakal! - Wanita muda itu berseru pula.

- Turun!

Tetapi bersamaan dengan itu wanita tadi telah bergerak cepat berkelebat dan loncat menangkap lengan si anak yang masih bertengger diatas dahan yang paling rendah. Anak yang di panggil Mundarang itu tertawa dan loncat menghindar dengan turun kebawah. Namun rupanya hal itu telah diperhitungkan oleh Wanita muda tadi, sebab gerakan si anak yang gesit dan lincah ternyata tak berhasil menghindar dari tangkapan wanita itu. Ketika Mundarang loncat kebawah dengan maksud mengelak, wanita muda itu telah bergerak lebih cepat, hingga bukannya lolos dari tangkapan, sebaliknya Mundarang malah masuk kedalam pelukan Wanita itu.

- Anak nakal, ayo kita kembali!

Anak itu tertawa, tetapi ia sembunyikan mukanya kedalam dada wanita itu.

- Ayo kau naik sendiri! - 

Kata si wanita. Dan anak itupun melorot turun dari pelukan. Dengan gembira kemudian wanita muda itu memegang lengan si anak, membantunya naik ke punggung kuda. Sesudahnya barulah wanita itupun naik duduk dibelakang anak itu.

- Pulang Lawung! -

Kata wanita itu pada kudanya dan binatang itu rupanya mengerti, membalikkan tubuh kemudian berjalan naik kembali, melewati jalan sempit dengan jurang dan batu-batu gunung yang banyak terdapat disitu.

- Hari ini kau nampak rajin berlatih. -

Kata wanita itu selagi mereka masih dalam perjalanan naik itu.

- Kakiku masih sakit. - Sahut si anak.

- Ya, beritahu kakek nanti. Kau harus berhati-hati jika berloncatan diatas batu yang dibuat kakek itu. Tetapi jangan takut. Kelak kau tentu akan dapat melakukan itu. Tentu kau akan melebihi ayah dan kakekmu. -

- Kapan aku diperbolehkan mencari ayahku, Ibu? Tanya si anak.

- Entah, terserah kakek, tetapi tentu saja kalau kau sudah besar benar' -

- Ya, aku juga sudah besar Ibu,ayahku tentu akan senang melihat aku begini. Dimanakah harus mencarinya?

Wanita itu terdiam untuk beberapa saat.

- Dimana Ibu? -

Si anak bertanya pula membuat wanita itu terpaksa harus tersenyum.

- Kau boleh mencarinya di Demak. - Sahutnya kemudian.

- Ya, Demak. Jauhkah Demak itu?

- Jauh. tetapi, dengan menunggang si Lawung ini kau akan cepat tiba disana. .

- Ayah dulu juga menunggang si Lawung?

- Kapan? -

- Waktu ayah pergi ke Demak itu, ayah juga menunggang Lawung ya., Bu?

Tetapi wanita itu menggelengkan kepalanya. Si anak menoleh kebelakang, berusaha menatap ibunya.

- Mengapa tidak membawa Lawung Bu bukankah ayah juga pandai menunggang kuda?

- Ya, ayahmu pandai menunggang kuda. Tetapi kuda ayahmu lebih gagah dan besar dari Lawung ini, Mundarang.

Anak itu terdiam, Rupanya membayangkan kuda ayahnya yang dikatakan lebih gagah dari si Lawung,  - Bu. Kita larikan si Lawung!

Tiba-tiba anak itu berkata dan sebelum wanita muda tadi menjawab, kuda itu telah dibedal hingga berlari dengan cepat naik keatas dan kedua penunggangnya berguncang-guncang dibuatnya.

Ternyata anak itu cekatan dan tangkas mengendarai kuda itu sekalipun tangannya kecil kuda itu cukup tahu dengan tuannya, dan si anak yang pandai menunggang kuda membawa binatang itu berlari, dan ibunya yang berada di belakang, tak banyak berkata. Ia juga ikut memegang tali kendali dan diam-diam rupanya wanita muda itu berbangga dengan Mundarang. Nampak matanya bersinar. Dadanya tentu berbunga-bunga memiliki seorang anak demikian .

Siapakah sesungguhnya kedua ibu dan anak itu?

Kalau saja orang memperhatikan, dengan mudah akan mengenal si wanita. Sebab tidak lain ia adalah Mirah Sekar anak Adipati Tamponi yang setelahnya terjatuh kedasar jurang, berpisah dengan Sentanu lalu dipelihara oleh seorang tua yang mengaku sebagai anak dari Ki dalang Dharmapara bernama Guru Bantu. Mirah Sekar kemudian berguru pada orang tua itu. Tetapi seperti telah dipaparkan Mirah Sekar ketika pertama berada dengan orang tua itu ia telah mengandung benih dari Pemuda Sentanu (Baca jilid 6).

Dan benih yang kemudian terlahir itu maujud dalam bentuk sebagai si anak tampan Bagus Mundarang yang kini berada berdua dengan Mirah Sekar di atas punggung kuda itu.

Tentu saja kegirangan Mirah Sekar mendapatkan seorang tua berbudi sebagai Guru Bantu, menimbulkan harapan baru dalam hatinya. Bahkan ketika Mundarang lahir, bagi Mirah Sekar menjadi tumpuan segalanya.

Mencurahkan segala kasih sayangnya pada anak itu. Dan berkat didikan yang diberikan oleh Guru Bantu maupun ibunya .Mundarang telah tumbuh sebagai seorang kanak-kanak yang kuat dan pandai. Bahkan rasanya guru dari Mirah Sekar sendiri yakni Nyi Ageng Maloka tak akan mampu mendidik Mundarang sedemikian rupa. Semenjak kecil Mundarang telah digembleng secara teratur oleh kedua kakek di bantu Mirah Sekar. Hingga tak mengherankan dalam usia enam tahun Mundarang telah mampu melindungi diri sendiri. Sekalipun ia masih bertulang muda, namun kepandaiannya tak akan mudah diimbangi oleh seorang dewasa sekalipun. Tubuhnya telah tumbuh dibawah didikan alam dan latihan berat yang diberikan oleh kakek dan ibunya. Bahkan Guru Bantu telah pula memberikan pengetahuan batin semenjak Mundarang dianggap mengerti dengan kehidupan yang selaras dengan alam pikirannya yang masih kanak-kanak. Sedang Mirah Sekar melatih anak tunggalnya itu dengan pengetahuan dan ilmu tulis. Hingga meskipun Mundarang hidup ditengah gunung, jauh dari keramaian kota Demak, namun ia telah memiliki dasar-dasar pengetahuan dan kemampuan tinggi. Lahir dan batin. Dan berbanggalah Mirah Sekar manakala menyaksikan anak itu memperlihatkan hasil didikan kedua orang tua yang mengasihi dengan sepenuh rasa dan perhatian itu. 

Dalam pada itu Mundarang berkat didikan kakek itu ternyata mewarisi sifat dan kebiasaannya. Ia juga banyak bergaul dengan penduduk pedusunan yang ada disekitar tempat Guru Bantu tinggal. Ke dermawanan Mundarang yang masih kecil seringkali merebut hati orang. Bahkan teman sepermainan Mundarang disekitar pedusunan, amat banyak. Ia seringkali harus berlama-lama bermain, dan sering kali Mirah Sekar mencari dan mengajaknya pulang.

Maka tak mengherankan, jika seluruh penduduk yang semula telah mengenal baik siapa orang tua yang tinggal dibalik gunung ini maka kini bertambah girang mengenal cucu yang bernama Mundarang. Karena sejak kecil anak itu telah memperlihatkan watak dan kebiasaan yang terpuji.

Nampak benar Mundarang selalu melindungi kawan yang lemah bahkan selalu memihak siapa yang dianggapnya benar. Mundarang telah tampil sebagai kanak-kanak telah mampu membedakan yang buruk dan baik.

Sementara itu kedua ibu dan anak tadi telah tiba dibagian puncak. Ketika Mundarang yang duduk dimuka melihat seorang tua berdiri dijalan, ia menghentikan kudanya.

- Aku turun Ibu! _

Serunya. Lalu sebelum Mirah Sekar sempat turun lebih dulu, Mundarang telah loncat turun dan berlari mendekati si kakek.

- Anak nakal, kemana saja kau sepagi ini?! -

Kakek itu tertawa dan tangannya bergerak seakan mau memukul kepala Mundarang dan agaknya sekalipun gerakan tangan itu perlahan akan bisa membikin pusing jika kepala kena terpukul. Tetapi Mundarang yang telah kenal dengan kebiasaan kakeknya bergerak cepat. Sebelum tangan itu menyentuh dirinya, ia telah berkelit hingga pukulan itu lewat disisi telinganya.

Tetapi si kakek tak mau sudah. Kakinya ganti bergerak cepat ketika Mundarang berkelit itu. Kakek itu berusaha menyerang kaki Mundarang. Namun Mundarang kecil meloncat mumbul dan sebelum orang tua itu sempat bergerak pula, tahu-tahu Mundarang telah memeluk leher kakeknya. Tak mau melepaskan dan mukanya dibenamkan pada leher itu.

- Ha ...... ha ., he Kau benar nakal dan pintar! Ah, Sekar bagaimana kau jadi bisa mempunyai anak seperti ini ...... ha ...... ha -

Lalu Mundarang diangkatnya tinggi-tinggi dan si kakek tiba-tiba menggerakkan tangan dengan kuat, dilemparnya tubuh Mundarang kemuka hingga terlempar dengan deras.

Tetapi anak itu sigap dan tangkas. Merasa tubuhnya dilempar, ia sadar dan cepat mengambil keseimbangan, dan ketika tubuhnya merasa menyentuh tanah, sebelum terbanting Mundarang bergulingan berputar beberapa kali, lalu dengan gerak mengagumkan tahu-tahu telah loncat berdiri dengan muka bersinar.

Pada saat itu Mirah Sekar tersenyum. ia tatap Mundarang. dan si anak loncat kemuka mendekati kakeknya pula.. - Kemari! -  Perintah orang tua itu. Ketika Mundarang terlah dekat kakek itu berkata perlahan.

- Eh Mundarang, kau harus lebih cepat ketika menghindar dari pukulanku tadi. Gerakanmu lamban dan bagian dadamu masih terbuka. Kalau saja tadi aku bersungguh-sungguh menyerang, sekalipun kepalamu selamat karena kau berkelit, tetapi dadamu lowong, membuat lawan akan mudah menyerang bagian itu. Dan sewaktu kau bergulingan jangan menunggu sampai tubuhmu menyentuh tanah. Bahkan begitu kau merasa terlempar seharusnya kau berusaha berputar diudara, dan menjatuhkan diri, begitu menyentuh tanah kau cepat berguling. Maka tentu saja kau masih harus banyak melatih diri.

Mundarang menganggukkan kepala ia menyatakan akan menuruti nasehat itu. Karena ia terbiasa diperintah demikian, Mundarang tak banyak membantah, lagi pula ia percaya kakeknya memang mengetahui hal itu.

- Nah, sekarang kau bersihkan badanmu. sesudah itu kita berktampul. Ada yang-akan aku rundingkan dengan kalian. ....

Mundarang tertawa, lalu ia loncat dan berjalan pergi, diikuti Mirah Sekar turun ke tempat tinggalnya dengan bangunan baru dan petamanan yang indah disitu.

- Sekar.

Berkata orang tua itu setelahnya mereka bertiga berkumpul.

- Rupanya saat inilah yang telah kutunggu semenjak lama. Hari-hari inilah sesungguhnya merupakan hari perjanjian antara aku dengan gurumu Nyi Ageng Maloka dengan Ki Ageng Semu. Mereka tentu akan mencariku ditempat ini. Sebab bagi kami orang-orang tua ada yang akan dirundingkan ditempat ini. Seperti kau ketahui Sekar. tempat ini adalah tempat rahasia yang tak akan mudah diketemukan oleh siapapun. Bahkan kau sendiri jika bukan karena terjatuh ketika mengambil buah merah itu tak dapat masuk kemari. Namun demikian karena kami orang-orang tua telah berjanji dulunya, kami akan mengadakan pertemuan ditempat ini. Sekaligus berunding untuk menentukan siapa yang harus mewarisi ilmu tinggalan Bapa Dharmapara. Semula Sekar, akn berjanji akan menurunkan ilmu itu kepadamu. Sebab hanya orang-orang yang sedang mengikat tali asmara sajalah yang dapat menerima tinggalan itu. Tetapi karena ternyata kau terlanjur memiliki Mundarang, dengan terpaksa ilmu tinggalan Bapa Dharmapara tak dapat kuberikan padamu. Namun demikian, jangan berkecil hati, sebab dengan kemampuan yang telah kau miliki dari gurumu Nyi Ageng Maloka, kau telah mampu melawan siapapun.

Mirah Sekar mengangguk-anggukkan kepala. Ia dapat memahami perkataan orang tua itu.

Bahkan telah seringkali hal itu diulang.

- Jadi paman akan meninggalkan tempat ini?

- Ya, untuk beberapa hari saja. Kau jaga Mundarang dan tempat ini baik-baik 

- Akan pergi kemanakah kakek? Bertanya Mundarang.

Guru Bantu tersenyum, ia mengelus kepala anak itu.

- Ah, nanti kuberitahu sesudahnya aku kembali. Jawabnya

- Kalau ke Demak, mengapa kakek tidak mengajakku?

- Ah bukan ke Demak Mundarang. Kakek mau mencari kakekmu yang lain. Kau tinggal lebih dahulu berdua ibumu disini. Setelah kakek kembali kau boleh pergi ke Demak kalau kau mau, _,

- Ah, benar itu? Mundarang berseru girang.

- Tentu saja kau boleh mencari ayahmu.

- Ya, tentu aku akan mencarinya. Aku sudah besar, bukan?

Orang tua itu tertawa. Namun ketika ia melirik Mirah Sekar, nampak wanita muda itu tertunduk.

Tentu saja orang tua itu tahu. Bahwa Mirah Sekar bersedih.

Sebab siapakah sesungguhnya yang tahu dimana adanya Sentanu?

Mirah Sekar terpisah dari Sentanu ketika terjatuh meraih buah merah dihutan dan terjun masuk kedalam jala yang di,pasang Guru Bantu. Sejak itu tak lagi mereka keluar dari sana, maka keduanya sesungguhnya tak dapat memastikan apakah Sentanu ada di Demak atau tidak. Hanya dugaan bahwa anak muda itu di sana, sebab Mirah Sekar tahu Sentanu tengah berusaha masuk tamtama sebelum terpisah dengannya dulu itu. Hanya karena tak ingin mengecewakan Mundarang sajalah, mereka selalu mengatakan bahwa Sentanu, ayah anak itu ada di Demak.

- Tahukah ia kalau anaknya telah demikian besar? Pikir Mirah Sekar membayangkan Sentanu.

- Mundarang, karena saatnya hampir tiba bagimu untuk segera turun gunung dan mencari orang tuamu, kau harus rajin berlatih. -

Kata orang tua itu pula. Lalu disambungnya.

- Selama aku tidak berada ditempat ini kau harus menjaga ibumu, turut nasehat dan perkataannya. Kelak jika kau berada ditengah rakyat ramai, kau akan bisa memperlihatkan sikap dan kejujuran sebagai seorang jantan yang membela kebenaran. Ingat itu! _

- Ya, aku akan turut perkataanmu kakek. -

Jawab Mundarang. Dan orang tua itu mengelus-elus rambut cucunya yang masih kecil. Diam-diam dihati Guru Bantu membersit perasaan bangga pada cucunya itu. Ia anggap anak kecil itu telah cukup memiliki dasar pengetahuan dan ilmu.Kelak jika dewasa tinggal menempa dengan didikan yang lebih baik, maka diharapkan Mundarang akan menjadi seorang kuat lahir dan batinnya. Dan setelahnya beberapa lama mereka terdiam, orang tua itu berkata pula. 

- Nah, sebagai tanda kau harus tetap rukun dengan seluruh penduduk pedesaan yang ada disekitar tempat ini. Aku bermaksud mengajakmu berkeliling kedesa-desa itu. Sekaligus aku ingin menitipkan dirimu pada mereka. ....

Mundarang bersinar matanya mendengar perkataan itu.

- Kakek mau mengajakku berkeliling pedusunan? -

- Ya, hanya untuk pamit pada mereka dan menitipkan dirimu, agar kau tak berbuat nakal.

Dan Mundarang bersorak, ia pegang-pegang jenggot kakeknya dengan senang. - Menunggang si LaWung kek?!

Tanya Mundarang pula.

- Sesukamu. -

- Ya, kita ajak dia tentu senang.

Dan Mundarang tanpa menunggu tiba-tiba saja berlari keluar, dicarinya kudanya si Lawung sementara kakeknya berkata pada Mirah Sekar.

- Hati-hatilah menjaga Mundarang Sekar, ia masih terlampau muda sengaja aku akan mengajak ia berkeliling pedusunan sebab selama ini kubiarkan ia bermain sendiri. Sekaligus aku ingin menitipkan anak itu pada orang-orang dusun itu manakala Mundarang ada diantara mereka.

Bukankah Mundarang terlalu sering nakal dan mengganggu?

- Mereka sesungguhnya sayang pada anak itu. - Jawab Sekar.

- Ya, ya, aku tahu, tetapi kita sebagai orang tua tidak selayaknya membiarkan Mundarang berbuat semaunya. Biarlah orang-orang dipedusunan itu merasa bahwa kita menitipkan Mundarang pada mereka. Bukankah tak ada buruknya. Dan aku ingin Mundarang bisa bepergian berdua denganku, karena aku akan secepatnya meninggalkan tempat ini untuk beberapa lamanya. Hanya pesanku kau awasi baik baik anakmu itu. -

Mirah Sekar menganggukkan kepalanya.

Orang tua itu segera bertindak keluar, diluar terlihat Mundarang yang sudah berada di punggung kudanya mengelus-elus rambut surai binatang itu.

- Hayo kita berangkat. --

Kata Guru Bantu. Lalu ia meloncat kepunggung kuda itu duduk di belakang Mundarang.

- Ayo Lawung, kita pesiar dengan kakek.

Kata Mundarang dengan tertawa. Dan orang tua itu tersenyum. Maka dibedallah kuda itu yang segera berlari mencongklang membawa kakek dan anak itu turun melewati jalan gunung menuju pedusunan yang ada dibawah.

Sesungguhnya Guru Bantu dapat langsung membawa Mundarang melewati jalan tembus yang ada 

seperti ketika membawa Mirah Sekar pertama kali dulunya, namun karena orang tua itu menginginkan Mundarang dapat melingkari jalan gunung. sengaja membawa kuda turun melewati jalan itu. Dan Mundarang girang, ia banyak berbicara dan banyak bertanya.

Dijalan itu terlihatlah cucu dan kakek yang menunggang si Lawung mencongklang dengan anggun. Kuda jantan gagah itu nampak pula gembiranya. Ia terlalu biasa membawa dua orang itu, lebih-lebih dengan Mundarang yang biasa bermain sampai jauh dengannya Maka si Lawung terasa keduanya terlalu sayang, hingga binatang itu seakan ingin membalas budi baik mereka dengan setia dan menuruti kemanapun kemauan tuannya.

Gunung itu seakan bergetar ketika si Lawung dengan gagah dan geraknya yang anggun membawa kedua tuannya diatas punggungnya. Dan ketika mereka telah turun ditempat terbuka dan datar, binatang itu berlari lebih cepat menuruti arah isyarat yang diberikan oleh Mundarang.

Dan karena cepat serta tangkasnya si Lawung membawa mereka, tidak selang lama mereka mulai memasuki tlatah Padukuhan Gilang yang ada didekat pertapaan Guru Bantu.Dan orang-orang yang kemudian berpapasan dengan mereka berseru girang menyapa dan menghormat dengan senyum lebar. Hal itu tak mengherankan, karena Guru Bantu sejak lama telah dikenal baik oleh seluruh penduduk di Padukuhan itu. Karena orang tua itu demikian baik dan selalu menolong mereka dengan berbagai uluran kebaikan, bahkan seluruh hasil berladang dan bertanam banyak diberikan pada penduduk di padukuhan, pada rakyat disekitarnya.Karena itu kemudian disebut dengan gelar Guru Bantu. Sejak saat itulah ia terkenal dengan sebutan itu. Karenanya, ketika orang tua itu terlihat berkuda dengan Mundarang. siapapun, bahkan yang tengah bekerja di pesawahan dan dikebun berdatangan. mereka kemudian berkerumun mengelilingi kedua cucu dan kakek itu.

- 0, guru Hendak kemanakah guru sepagi ini? ' Tanya salah seorang.

- Singgahlah digubug saya guru, hamba akan hidangkan nasi ketan yang kemarin baru panen itu.

kata yang lain.

- Hei, hei Mundarang, mengapa kali ini begitu manja, mengajak kakek berjalan-jalan?! Mau kemanakah?

Kata yang lain pula.

- Selamat datang guru, lama saya kangen dengan guru. Terima kasih dengan pemberian guru yang dikirim oleh Ayu Mirah Sekar!

Dan banyaklah perkataan-perkataan mereka hingga orang tua itu tak sempat menjawab satu persatu, hanya melambaikan tangan dan berseru berulang-ulang:

- Terima kasih! Terima kasih! Kalian sangat baik. Selamat, selamatlah kalian

Dan Mundarang tertawa-tawa, ketika banyak orang mencowel pipinya atau pahanya, bahkan 

ketika seorang tua dengan tangan kotor mencubit dada anak yang telanjang itu, ia tertawa mengikik.

Namun ketika orang semakin banyak berkumpul mengelilingi, Guru Bantu malah memerintahkan mereka berkumpul. Setelahnya ada seratusan orang berada ditempat itu, orang tua itupun berkata :

- Saudara-saudaraku. Sebenarnyalah, sengaja aku datang pada kalian. Aku sudah kangen juga, terlalu lama aku berada dipertapaan maka aku ingin bertemu dan berkumpul seperti ini. Tetapi baiklah kita menuju kerumah Kepala Padukuhan. Hayo kita kesana. Bagi yang tengah bekerja, jangan tinggalkan pekerjaan itu, tak ada yang terlalu penting. Hanya karena aku ingin pamitan pada kalian dan menitipkan anak nakal ini!

- He, guru mau kemanakah? - Tanya mereka hampir serentak.

- Tidak ada yang penting untuk diketahui, hanya itu, tidak lama aku juga kembali. Ijinkan aku akan kerumah Kepala Padukuhan diujung dusun itu. -

- Ya, kami akan ikut denganmu Guru......! Kami akan iringkan Guru kerumah Kepala Padukuhan Seru orang-orang itu.

Guru Bantu tak dapat menolak pula, maka ia perintahkan Mundarang membawa kudanya sedang ia meloncat turun, kemudian berjalan bersama-sama orang-orang pedusunan itu. Akan tetapi, ketika kakeknya turun itu Mundarang tiba-tiba juga loncat turun.

- Aku ingin berjalan juga kek. -

Katanya. Dan orang tua itu tak melarang, maka Mundarang berjalan diiringkan orang banyak.

- Eh Lawung.

Kata Mundarang kemudian.

- Kalau kau ingin berlari-larian, pergilah lebih dahulu kerumah kepala Padukuhan diujung dusun.

Kau tunggu kami disana! -

Kuda jantan si Lawung meringkik perlahan, ia tahu maksud tuan kecil itu. Maka si Lawung yang telah terlatih dan terbiasa itu tanpa diperintah duakali berlari mencongklang dan kabur sendirian menuju tempat yang dikatakan oleh Mundarang.

Guru Bantu tersenyum. Diam-diam ia memuji tabiat cucunya. Sebab dengan begitu kakek itu bisa menilai bahwa Mundarang telah memahami keinginan si kuda yang sesungguhnya lebih senang diumbar dan berlari. Maka dibiarkan saja ketika si Lawung pergi meninggalkan mereka. Dan

iring-iringan itu terus berjalan. Nampak sekali betapa mereka disegani serta dihormati oleh banyak orang diseluruh Padukuhan itu.

- Kalian tolong jaga dan awasi cucuku kalau aku belum kembali. Kata Guru Bantu pada orang-orang itu.

- Ia harus dijewer kalau nakal dan mengganggu. 

Sambungnya pula.

Dan orang banyak tertawa. Mereka tahu Mundarang adalah scorang kanak-kanak yang baik dan penurut.

Benar seringkali Mundarang mengajari teman sepermainan untuk memanjat2 pohon. Bahkan banyak kebun buah dijelajahi oleh Mundarang dengan kawan-kawan mainnya didusun itu. Tetapi pemiliknya bukan marah, sebaliknya merasa senang dan membiarkan anak itu menghabiskan seluruh buah miliknya. Sebab siapapun tahu Gnru Bantu telah memiliki lebih banyak kebun buah dan ladang palawija. Dan hampir setiap memetik hasil penduduk padukuhan itu akan mendapat bagian. Maka tak akan terjadi orang marah pada Mundarang. Dan Mundarang, selain memiliki watak terpuji, ternyata juga gemar melindungi kawan. Bahkan ia banyak mengalah.Kalau saja ada seorang yg lebih besar memukul anak lebih kecil, tentu Mundarang akan menghajar anak nakal itu. Dan sudah barang tentu tak ada anak sebaya dipadukuhan itu yang mampu melawan Mundarang.

siapakah diantara mereka mampu melawan anak murid Guru Bantu dan anak tunggal Mirah Sekar yang berilmu tinggi?

Namun Mundarang sekalipun masih kanak-kanak, ia telah diajar untuk selalu berendah hati. Tidak memamerkan kebisaan serta keandalan.. Hingga tak mengherankan jika Mundarang selalu disenangi kawan-kawannya. Bahkan anak tunggal Mirah Sekar itu kerapkali melatih dan mengajar kawan mainnya dengan ilmu bela diri dan tata kelahi. Seakan ia menjadi guru kecil diantara teman-temannya di Padukuhan itu.

- Selamat datang guru

Sambut Kepala Padukuhan ketika rombongan besar itu memasuki pekarangan rumahnya.

Dan ramailah tempat itu. Orang berdatangan semakin banyak dan mereka rata-rata ingin berdekatan dengan kedua kakek dan cucu itu.

Namun ketika mereka masuk kedalam gandok, dirumah kepala Padukuhan itu terlihat sedang menerima banyak tamu yang jelas adalah orang-orang pendatang. Ada sekira duapuluhan orang didalam itu, duduk diatas tikar lampit. Sedang diruang yang lain terlihat masih ada sekitar tigapuluhan orang. Didekat mereka nampak seperangkat gamelan lengkap.

- Ah, maafkan kedatanganku mengganggu. Kata Guru Bantu pada Kepala Pendukuhan itu.

- Rupanya kau sedang menerima kunjungan sanak jauh. -

- 0, tidak mengapa guru, mereka adalah sanak jauh yang sengaja akan menetap sementara di Padukuhan kita ini.

Kepala Padukuhan itu menjadi sibuk. Ia memerintahkan pembantu-pemhantunya mempersiapkan tikar lagi, dan orang-orang pedusunan yang tadi mengikuti Guru Bantu dipersilahkan duduk diluar setelahnya digelar dengan tikar pula. Dan Mundarang segera menghilang. Karena anak itu bertemu 

dengan teman-teman sepermainannya. Mereka berlarian menuju hutan kecil yang ada tak jauh dari rumah Padukuhan itu.

Tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda. Dan Mundarang tahu. Si Lawung telah berada dikandang belakang rumah Kepala Padukuhan. Anak itu mendekati kudanya.

- Eh, Lawung, kau tunggu disini saja. Kakek ada didalam, dan aku mau mencari buah kenari dihutan itu. Tinggal saja Lawung!

Dan Mundarang segera meloncat diikuti kawan-kawan kecil lainnya.

Dalam pada itu Guru Bantu telah diterima oleh Kepala Padukahan yang Segera berdiri berkata pada tetamunya yang datang lebih dahulu.

- Ki sanak sekalian, aku perkenalkan. Dia ini adalah Guru Bantu seorang sesepuh yang telah lama menetap disini. Seorang budiman dan linuwih yang .........

- Eh maaf kisanak!

Guru Bantu berdiri dan memotong perkataan kepala Padukuhan itu.

- Adi Jamus ini berlebihan dan terlalu memuji. Aku adalah seorang tua biasa yang memang telah lama menetap disini. Dan aku perkenalkan, orang disini memanggilku dengan sebutan Guru Bantu.

Maka kiranya kalau kalian tidak berkeberatan aku yang tua sangat ingin mengetahui sebutan kisanak sekalian dan dari mana asal, sebab tentu saja dengan saling mengenal aku yang tua ini berharap akan mendapat tambah sanak kadang.

Kepala Padukuhan memberi tanda agar tetamunya memperkenalkan diri. Dan dua orang yang agaknya pemimpin mereka berdiri. Seorang diantaranya berumur sekitar empat puluhan tahun mengucap dengan suara cukup keras.

- Ya, kami ingin memberitahukan. Kami seluruhnya adalah rombongan teledek. Dan kami berdua yakni aku sendiri bernama Ganti, sedang adik seperguruanku ini bernama Supala, adalah pemimpin rombongan. Kami berjumlah lima puluh orang lelaki dan sepuluh orang perempuan. Sengaja datang mengunjungi Padukuhan ini dengan maksud memberikan hiburan pada rakyat. Untuk ganti telah kami hanya akan sekedar meminta sumbangan nafkah dan pangan dari Sanak Padukuhan ini. _

Seluruh pendengar ditempat itu hampir berbareng berseru perlahan dengan girang. Mereka lama tak didatangi rombongan teledek dan penari. Maka mendengar perkataan itu tentu saja mereka menjadi gembira. Akan tetapi Guru Bantu diam-diam mengerutkan kening, sebagai seorang yang banyak berpengalaman dan memiliki pandangan tajam, orang tua itu bukan tidak tahu bahwa sikap dan gerak-gerik orang-orang itu tampak mencurigakan. Bahkan kedua pemimpin mereka yang tadi mengaku bernama Ganti dan Supala, jelas tindak tanduknya menyimpan maksud tersembunyi. Dan jelas keduanya terlihat memiliki kemampuan tempur tinggi. Tetapi orang tua itu tak berkata sedikitpun. Sampai ketika Kepala Padukuhan telah menghidangkan penganan dan jamuan, kedua pemimpin rombongan teledek memerintahkan orang-orangnya mempersiapkan gamelan yang mereka 

bawa. lalu serombongan penabuh diperintahkan memainkan gamelan itu di ruang tengah sebagai pembuka kedatangan mereka di padukuhan itu.

Dengan terdengarnya suara gamelan itu, kalau semula Padukuhan itu sunyi dan tenang, tentu saja menimbulkan suasana gembira dan meriah. Orang pedusunan menjadi gembira. Dan mereka berdatangan ketika mendengar suara gamelan yang ditabuh dengan indahnya itu. Semakin hari siang yang datang bertambah banyak, bahkan seluruh rakyat mulai berkumpul ditempat itu.

Namun Guru Bantu segera meminta diri, ketika dicarinya Mundarang tak bertemu, orang tua itu pergi dan meninggalkan pesan pada si Lawung .

- Kau bawa Mundarang kembali Lawung, aku berangkat lebih dahulu.

Dan kakek itu kemudian meninggalkan Padukuhan setelahnya minta ijin kepala Padukuhan. Guru Bantu diam-diam merasakan firasat tak enak dalam pikirnya. Ada sesuatu akan terjadi.

Maka bergegas orang tua itu menuju pertapaannya

- Kemarilah Sekar. ---

Katanya setelahnya tiba. Dan Mirah Sekar berdebar. Tak biasanya orang tua itu berhal demikian.

Nampak ada sesuatu yang sedang dipikir benar. Maka cepat ia mendekat tanpa banyak berkata.

- Rupanya memang tak akan ada segala sesuatu yang langgeng dialam ini. - Katanya setelah menarik napas dalam-dalam dihadapan Mirah Sekar. Lalu:

- Dusun itu Sekar, bahkan seluruh padukuhan itu akan mengalami perubahan dalam waktu dekat

ini.

Orang tua itu memaparkan perihal datangnya rombongan penari dan teledek di rumah kepala

Pedukuhan tadi.

Mirah Sekar mendongakkan kepalanya dan bertanya.

- Bukankah hal itu malah akan membikin senang sanak padukuhan ? _

- Ha., kau tidak tahu sekar, aku melihat dengan mata kepalaku. Dan bisa dijajagi siapa mereka sebenarnya. Aku tidak yakin mereka akan benar-benar sekedar memberikan hiburan pada rakyat dusun ini. Sayang, sayang sekali aku harus meninggalkan tempat ini. Tak bisa ditunda Sekar. Maka aku hanya berpesan, kau berhati-hatilah mengawasi Mundarang. Ialah yang paling banyak bermain didusun itu. Tempat kita disini tak akan mungkin dapat diketahui oleh orang lain. Tetapi dusun itu, ya dusun yang sejak aku berada ditempat ini merupakan dusun yang tenang dan tentram penduduknya. Dusun yang hanya dipenuhi dengan kerukunan kegotong royongan dan persaudaraan, dusun yang selalu teduh dan aman jauh dari maksiat dan keributan, rupanya harus berganti menjadi dusun yang terbakar oleh kekacauan yang dibawa oleh orang orang itu. Tidak Sekar, aku tak akan keliru menebak siapa mereka. Namun karena rupanya telah menjadi garis hal itu akan terjadi. Hanya itulah pesanku, kau turutlah menjaga rakyat pedusunan itu. Kaulah yang harus melindungi mereka kalau kalau terjadi keributan yang mengancam ketentraman mereka. Kuwajibanmu berat Sekar, selain kau 

harus melindungi rakyat banyak, kau harus melindungi anakmu Mundarang, sekalipun Mundarang telah mampu menjaga diri sendiri, tak akan mudah orang mencelakakan dirinya, tetapi ia masih terlampau kecil. Sepandai-pandainya Mundarang. ia masih belum masak dalam tindak dan kelakuannya.

Mirah Sekar berdebar hatinya. Ia belum pernah mendengar Orang tua itu sedemikian khawatir dan cemas hatinya. Maka ia berjanji akan mematuhi segala perintah orang tua itu.

- Malam nanti aku berangkat. Entah kapan akan kembali. Hanya saja aku berharap segera sudah selesai kuwajiban yang harus kulakukan. Sedang untuk membantu kalian, aku telah perintahkan tiga orang muda dari dusun untuk turut menjaga dan menemani kalian ditempat ini. Esok pagi ketiganya akan mulai berada disini.

Mirah Sekar menganggukkan kepala.

Ketika itulah muncul Mundarang menunggang si Lawung tetapi kali ini Mundarang nampak berkerut mukanya, dan suram wajah anak itu. .

- Kau kembali begitu cepat, tidak melihat gamelan dirumah itu? - Bertanya Guru Bantu. Tetapi Mundarang menggelengkan kepala.

- Tidak, aku tak ingin melihat mereka. Mereka sombong dan kasar. - Katanya.

- Eh kemari kau anak manis. -

Mirah Sekar meraih kepala anak itu. Lalu si anak yang segera merebahkan kepala dipangkuan Mirah Sekar dielus kepalanya dengan pelahan.

- Kau tidak boleh berprasangka buruk pada orang lain, Mundarang. kata Mirah Sekar.

- Belum tentu mereka kasar dan sombong, bukan? -

Mundarang mendonggakkan kepala, untuk beberapa saat ia menatap muka Mirah Sekar.

- Ibu apakah kau tak percaya? Aku melihat sendiri perbuatan mereka, Kalau kakek mengijinkan, aku akan ceritakan padamu.

Kata anak itu.

- Katakan Mundarang, apa yang terjadi? Tetapi jangan kau tambah dan kurangi dari kejadian yang telah kau lihat dan alami.

- Begini kek.

Mundarang memulai ceritanya. Ia gerak-gerakkan tangan ketika bercerita dihadapan kedua orang tuanya itu.

- Sewaktu kakek tadi ada dalam rumah Kepala Padukuhan itu, aku dengan Rambat, anak tukang pisau itu, dan dua teman lain yakni Jayus dan Santang pergi mencari buah kenari. Banyak aku dapat buah kenari dengan cara melempar menggunakan batu. Kantungku bahkan kantung teman Mundarang 

yang lain itu penuh dengan buah kenari itu. Tetapi aku tiba-tiba saja mendengar suara gamelan maka aku ajak teman yang lain berlari ingin mengetahuinya.

- He. Santang, itu ada suara gamelan. Kau dengar, bukan? - Kata Mundarang.

- Hayo kita melihat '

Anak-anak itu heran. Jarang sekali mereka mendengar suara gamelan yang ramai dan meriah.

- Ayo!

ajak Santang kemudian dan mereka berlari menuju rumah Kepada Padukuhan. Namun setibanya disebrang tegalan tiba tiba mereka berpapasan dengan lima anak lagi dan mereka meminta buah kenari yang dibawa anak-anak itu.

- Berikan kenarimu sebagian Rambat, punyamu lebih banyak. -

Kata Santang. Dan Rambat memberikan sebagian buah kenari yang diperolehnya itu pada temannya.

- Ini punyaku ambil buat kalian semua, bagi! -

Kata Mundarang tiba-tiba. Dan rupanya karena melihat perbuatan Mundarang itu-maka Rambat dengan Santang malahan memberikan pula kenarinya.

- Nah, kalian juga boleh ambil kenari, ambil saja semua!

Maka berebutanlah anak-anak itu menerima buah kenari dari ketiga anak itu. Namun tiba-tiba dua anak yang tergolong paling besar dan bertubuh lebih besar dari Mundarang, merebut paling banyak buah kenari hingga kawan-kawannya berteriak marah.

Tetapi kedua anak itu tak senang hatinya. Anak tadi ia gubat hingga terjerembab dan mulutnya mengeluarkan darah.

Santang maju melerai.

- He, kalian jangan curang. Bagi yang adil! - Katanya

- Ya, kalian sudah kami beri, masih mau merampas semua ya,

- Jangan curang! - Sahut Rambat pula.

Namun kedua anak tadi nampak tak mau mengalah, mereka maunya meminta lebih banyak kenari itu. Dan tanpa berkata tiba-tiba buah kenari itu ia lemparkan kemuka Rambat dan Santang, hingga kedua anak tadi kaget. Tentu saja sakit rasanya. Bahkan bukan itu saja. Kedua anak yang paling besar itu tiba-tiba menyerang Rambat dan Santang dengan kayu pemukul.

- Aduh ! _

Rambat mengaduh dan keningnya berdarah. Dan Santang agaknya sempat mengelak hingga kayu pemukul yang dipegang anak satunya tak mengenai badannya. Tetapi karena kerasnya pukulan, kayu 

itu melenceng dan tepat menggebuk punggung Mundarang. (

- Bug!

Mundarang terhantam oleh pemukul itu. Tetapi ia tak bergerak. Dan sebelum ia berbuat apa-apa tiba-tiba kedua anak yang meminta kenari lebih banyak tadi menyerang Rambat dan Santang kembali.

- Jangan berkelahi!

Mundarang melerai. Tetapi keduanya malah membalikkan badan dan menyerang Mundarang hampir berbarengan. Tentu saja Mundarang yang sejak tadi marah karena kedua kawannya diserang berusaha melawan. Sebagai cucu dari Guru Bantu yang memiliki kepandaian tinggi serangan demikian tak akan berarti banyak. Maka hanya dengan duakali gerakan lengan, kayu-kayu pemukul yang menyerang dirinya berhasil terlempar bahkan memukul penyerangnya sendiri hingga mereka mengaduh dengan kening berdarah dan sebelum tahu apa yang akan dilakukan, Santang dengan Rambat telah balas menyerang menghantam perut kedua anak lawannya itu bertubi-bibi. Hingga semakin menjerit dan menangislah mereka.

Kejadian itu membuat anak-anak yang tadi berebutan buah kenari menyingkir dan mereka takut melihat temannya berkelahi dan keningnya berdarah.

- Ada apa ini?! -

Tiba-tiba terdengar seruan keras,dan tiga orang lelaki tinggi besar tahu-tahu telah berada ditempat itu. Seluruh anak-anak yang ada menjadi kaget. Mereka menyingkir dengan ketakutan. Ketiga orang itu mereka kenal.

- He, apa yang terjadi?! -

Bentak salah seorang diantara tiga orang yang baru datang tadi. Dan Rambatlah yang maju.

- Mereka yang mulai. -- Katanya.

- Kami bertiga, Santang, dengan Mundarang membagi buah kenari. Dan mereka berebut. Sedang dua anak tadi minta lebih banyak. Kami berkata mereka harus adil membaginya, tetapi malah kami dipukul dengan kayu itu. -

Ketiga orang itu tertawa keras. Bahkan seorang diantaranya seperti ngakak ketawa bagai iblis kesiangan.

- Ha ...... ha ... ha ., kalian benar-benar berani dan lucu. Eh, hayo kalau demikian kalian harus berkelahi lagi. Ayo aku ingin lihat kalian berkelahi, lekas!

Dan sebelum anak-anak tahu apa yang terjadi, orang-orang itu telah mengeluarkan cambuk panjang, dan menggerakkan cambuk itu keudara.

- Tar! Tar! Tar! 

terdengar lecutan-lecutan keras meretas diudara. Dan secara tak terduga seluruh kanak-kanak yang ada ditempat itu telah tergiring membuat lingkaran.

- Ayo kalian berkelahi. lagi! Ayo lekas!

Dan Rambat tahu-tahu telah ditangkap, kemudian oleh orang itu ia didorong maju ketengah.

- Dan kau, hayo maju lawan dia!

Lalu orang itu menangkap salah seorang diantara anak yang terluka keningnya tadi. Maka dua jago kecil berhadapan dengan muka takut.

- Hayo berkelahi lekas!

Kata orang itu berulang-ulang.

- Oh ya, tambah sepasang lagi, tentu ramai dan menyenangkan! Kau maju sini! - Bentaknya lalu seorang lagi yakni Santang ditarik dengan paksa maju.

- Lawannya kau!

Orang itu menuding Mundarang.

- Hayo maju! Kau takut? Ha ......... ha ......... tidak usah takut, ini hanya berkelahi kecil-kecilan.

Kalian adalah ayam-ayam cilik yang berani berkelahi, bukan? Nah, hayo ayo kau maju ... maju kataku!

Orang itu membentak keras pada Mundarang yang sejak tadi telah menggigit bibir menahan marah. Ia merasa belum kenal dengan orang kasar yang datang-datang berteriak dan mengadu mereka bagai ayam aduan itu. Namun ketika ia tiba-tiba ditarik, hampir saja Mundarang jatuh terjerembab. Tetapi ia segera dapat menguasai keseimbangannya pula.

- E, ayo lekas kalian mengapa menjadi takut? Bukankah tadi sudah baku hantam? _. Mundarang tiba-tiba berteriak. Tangannya yang kecil ia kepalkan.

- Tunggu dulu! - Serunya.

- Aku mau berkelahi tetapi dengan syarat.

- Apa katamu? Kau anak kecil ini minta syarat? Apa syarat itu? _

- Syaratnya, kalian lawan dahulu aku satu persatu, baru kami akan berkelahi. Itupun kalau kalian bisa menang.

Ketiga orang tadi terdiam. Heran mereka mendengar tantangan berani anak kecil itu. Namun tiba-tiba meledaklah ketawa mereka. Dan sambil memegangi perutnya karena geli, mereka ketawa keras dan berputar-putar.

- Ha .. ha.. he.. he.. ha. Kau anak yang masih bau pupuk lempuyang ini berani menantang kami?

Ha ...... ha lucu!"

Akan tetapi Mundarang yang telah tak mau menahan diri, segera bertindak. Sementara tiga orang itu masih tertawa-tawa geli sambil berputar-putar, ia pungut kayu pemukul tadi lalu dengan 

gerakan cepat ia sodokkan kayu tadi beruntun dan menyambar perut ketiga orang itu bergantian.

Tentu saja akibat tak menduga, ketiga orang tadi tak sempat menghindar. Perut mereka secara bergantian kena disodok oleh kayu ditangan Mundarang dan tanpa ampun ketiganya terdorong mundur dan jatuh terlentang kesakitan.

Anak-anak yang melihat ganti tertawa geli. Mereka melihat pemandangan lucu.

Tetapi dua orang diantaranya tiba-tiba bangkit dan kini dengan sorot mata marah mereka mendekati Mundarang. Dan kini sikapnya tak lagi main2. Tanpa berunding tiba-tiba saja kedua orang itu menubruk Mundarang berbareng.

Tetapi Murid Guru Bantu dan anak tunggal Mirah Sekar itu telah melihat serangan. Sebagai seorang anak yang mengerti tata tempur bahkan telah mewarisi kemampuan dasar ilmu tinggi, gerakan kedua orang itu tak ia hiraukan. Bahkan ketika serangan hampir tiba, secara mendadak Mundarang menyambut tubrukan keduanya dengan satu loncatan dan kedua kakinya melayang deras menghantam muka dua orang itu dan ...... .

- Ahg! Aduh ...... Bug! Bug!

Keduanya terpelanting jatuh bergulingan mengaduh aduh.Sedang Mundarang telah berdiri dengan tenang. Seorang lagi melihat hasil serangan anak kecil itu menjadi kaget. Sadarlah ia bahwa anak itu tak bisa dianggap ringan, maka ia melolos sebatang pedang yang sejak tadi ia sembunyikan dibalik baju. Lalu meloncat dan menabas leher Mundarang dengan keras.

Namun tentu saja Mundarang tak akan mudah disentuh senjata' lawan yang baginya masih terhitung dibawah kemampuannya. Hingga ketika babatan pedang lawan itu menyambar leher, Muadarang merendahkan tubuh dengan cepat sekaligus kakinya melayang kemuka dan kemudian tepat menghantam kelangkangan orang itu yang sekalipun kecil namun bertenaga besar. Dan belum juga orang itu dapat berdiri tegak, Mundarang telah menyambar kayu pemukul dan dengan hanya gerakkan kayu perlahan, lambung orang itu ia dorong hingga terjengkang mengaduh-aduh.

Tetapi rupanya perkelahian itu telah memancing perhatian banyak orang dusun yang juga berdatangan karena mendengar suara gamelan tadi. Dan mereka kaget ketika tahu bahwa ketiga orang itu telah berkelahi dengan Mundarang. Namun ketika oleh Rambat dan Santang diberitahukan awal mulanya, mereka menarik napas lega.

Dan setiap mereka tak akan heran dengan sepak terjang Mundarang sebab kemampuan anak itu telah dikenal oleh seluruh orang pedukuhan itu. Hanya kemudian ketiga orang tadi ditolong dan setelahnya 'diketahui mereka adalah rombongan orang-orang yang baru datang di rumah Kepala Padukuhan itu, ketiganya diangkut kesana.

- Itulah Kek, terpaksa aku melawan mereka. Sebab kalau tidak tentu saja aku dengan teman-teman itu akan diadu seperti ayam oleh mereka. -

Kata Mundarang mengakhiri ceritanya dihadapan Mirah Sekar dan kakeknya. 

- Yang Maha Agung, kiranya keributan telah dimulai. Ah Mundarang, baru saja aku berpesan pada ibumu agar tidak memancing permusuhan. Tetapi rupanya yang terjadi lain dengan yang kuhendaki. -.

- Tetapi mereka yang memulai. - Bantah Mundarang.

- Ya, ya, aku tahu, aku tahu mereka memulai. Tetapi bukan hal itu yang kuprihatinkan. Apapun soalnya, api kecil telah dinyalakan. Dan api yang kecil dan sedikit itu akan segera membakar seluruh wilayah padukuhan itu. Dan rakyat yang lemah itulah yang sedang kupikirkan bagaimana menyingkirkan mereka dari kobaran api itu .Kau mengerti . bukan ? '

Mundarang menganggukkan kepala. Ia mengerti apa yang di maksud oleh kakeknya. Namun ia tak berani berkata pula . Untuk beberapa saat kemudian Guru Bantu berkata pula

- Sudahlah. Yang terjadi biar akan terjadi. Aku tetap tak dapat menunda kepergianku. Malam ini aku akan berangkat. Pendeknya keselamatan rakyat padukuhan itu aku serahkan pada kalian berdua untuk turut menjaganya. Semoga aku telah kembali sebelum segalanya menjalar lebih besar. Kalian berhati-hati. Jangan bertindak gegabah. Seyogyanya kalian tetap berpikiran jernih, jangan terjerat oleh napsu dan kesombongan, bahkan jangan tertipu oleh hawa amarah yang selalu mudah muncul dalam hati. Rasa amarah jika tak terkendalikan hanya akan membinasakan diri sendiri. Nah, selamat tinggal, aku berangkat. Semoga Yang Maha Agung memberkati kalian berdua, juga seluruh penduduk Padukuhan itu. Nah, Sekar. kau jaga anakmu baik-baik!

Mirah Sekar berlutut dihadapan Guru Bantu, demikian juga Mundarang mengikuti perbuatan ibunya. Tetapi ketika mereka mendonggak pula, orang tua itu telah tak ada dihadapan mereka. Untuk beberapa saat Mirah Sekar temangu-mangu ditempatnya. Kembali ia rasakan betapa sunyi alam raya ini. Ia teringat ketika terjatuh kedalam jala yang dipasang orang tua itu, ingat ketika ia ditolong bahkan ingat saat-saat mendebarkan dimana ia mengandung benih Sentanu yakni yang kini bernama Bagus Mudarang itu. Dan ingat serentetan budi dan kebaikan orang tua yang kemudian mengasuh, mendidik Mundarang dengan kasih sayang, bahkan telah menanamkan kemampuan lahir dan batin pada anak tunggal yang dimilikinya itu. Tiba-tiba Mirah Sekar terisak. Ia ingat Sentanu, ingat pertemuan dan awal ia menjumpai anak muda itu di kadipaten Wanabaya dulunya. Dimana Sentanu dengan mempentaruhkan jiwanya telah menyelamatkan ia dari cengkeraman adipati Wilapribrata.

- Ibu, kau menangis?-

Tiba-tiba Mundarang bertanya, membuat Mirah Sekar cepat menghapus air matanya.

- Tidak, aku ingat kakekmu yang pergi sendirian!

- Tapi mengapa kau menangis ?-

- Ya. aku kasihan kakekmu sendirian. Tentu ia merasa kesepian tanpa kawan.- Kata Mirah Sekar kemudian. 

- Tidak kakek tak akan kesepian ibu, karena kakek seringkali mengatakan padaku. Seseorang harus berani menghadapi segala kejadian dalam hidupnya dengan gembira dan berani. Ya, kakek bilang aku harus tabah dengan segala pahit getir bahkan segala penderitaan. Dan kesepian, kata kakek tak akan terjadi kalau orang mau memikirkan hidup dan nasib orang lain. Maka tentu kakek tak akan kesepian.

- Ya, ya, kakekmu benar, kau pintar masih ingat nasehat itu.

- O ya, dan kakek melarang aku menangis, ibu. Apakah kau belum pernah dilarang kakek untuk tidak menangis?-

Tanya Mundarang pula. Dan Mirah Sekar terpaksa senyum mendengar perkataan anaknya.

- Memang anak lelaki tak boleh meruntuhkan air mata. Katanya kemudian.

- Dan Ibu bukan anak lelaki, jadi boleh menangis ?

- Ya. menangis boleh tetapi tak boleh mudah menangis dan kau tentu saja tak akan menangis, bukan ?

- Tidak, tidak. Aku mau meniru ayah. Ibu katakan ayah tak pernah menangis, bukan ? Mirah Sekar tak lagi menjawab, melainkan ia peluk anaknya iti.

- Sudahlah. Kita tidur. Sudah mulai gelap.

Katanya. Saat itu muncul ketiga orang dusun yang telah diperintahkan menemani Mirah Sekar dan Mundarang. Mereka datang membawa obor. Mirah Sekar menyambut dengan tertawa. Ketiganya segera di perintahkan masuk dan mereka di dalam saling berbincang. Seorang diantaranya menemani Mundarang yang tidur tidak jauh dari kamar Mirah Sekar. Dua orang lagi duduk berjaga sementara Mirah Sekar telah masuk kekamarnya dan mulai lelap dengan impiannya tentang Sentanu, tentang Mundarang dan tentang Demak, dan tentang segalanya yang pernah ia alami.

Sementara itu dirumah Kepala Padukuhan terjadi kegemparan Ketiga orang yang telah terluka sewaktu bertempur dengan Bagus Mundarang ternyata adalah anak buah yang ikut dalam rombongan penari teledek itu. Ganti dan Supala marah mendengar ketiganya dirobohkan oleh seorang anak kecil.

- Bagaimana bisa terjadi hal itu?- Tanya Supala dengan geram:

- Aku tidak tahu, tetapi anak iblis itu benar hebat. Aku menduga tentu ia dibantu secara menggelap oleh seseorang.

kata mereka.

- Kita harus balas penghinaan ini.

Geram Supala. Lalu ia panggil Kepala Padukuhan itu.

- Kau tentu tahu siapa anak kecil yang berani kurang ajar itu!- 

Katanya dengan marah. Dan Kepala Padukuhan itu tentu saja menjadi pucat. Ia tak menduga tetamunya akan kasar. Dan tentu saja ia tak percaya jika, Mundarang menyerang mereka tanpa sebab. Sudah bisa ditebak tentu ketiganya yeng memulai memancing perkelahian. Karena Kepala Padukuhan itu juga mengetahui Mundarang mustahil akan menyerang sebelum orang mendahului berbuat jahat atau mengganggu

- Ah kalian bersabarlah kisanak. Aku yakin tentunya orangmu telah berbuat kesalahan, karena aku tahu benar siapa anak itu. Ia tak akan mengganggu orang kalau saja tak ada orang berbuat salah.

- He, apa katamu?!- Dan

- plak!

Ganti telah menyambar dengan pukulan keras pada kepala padukuhan itu hingga orangnya jatuh terduduk dengan keras.

- Kau jangan sekali-sekali mencoba menyalahkan orang-orangku, Ingat aku hanya ingin anak itu dibawa kemari sampai esok hari, jika tidak, seluruh penduduk padukuhan ini akan kubikin habis.

Kepala padukuhan itu berdiri dengan takut. Ia menyesal bahwa Guru Bantu telah pergi meninggalkan mereka. Kalau saja orang tu itu ada disitu, tak akan terjadi hal yang menimbulkan ia harus menderita malu dipukul orang yang tak dikenalnya

Dan malam itu ia telah dipaksa menjamu seluruh tetamu yang ternyata kasar dan kurang ajar. Sedang seluruh penduduk yang ada disitu dipaksa untuk tidak pulang. Mereka dipaksa mendengarkan gamelan yang ditabuh semalaman tanpa berhenti. Diam-diam Kepala Padukuhan itu memerintahkan orangnya untuk datang menemui Guru Bantu dan minta agar menolong mereka dari cengkeraman orang-orang tak dikenal itu. Namun penduduk yang tadi mendengar Guru Bantu pamit, memberitahukan hal itu:

- Tentu orang tua itu tak ada ditempatnya. - Kata mereka.

- Celaka !Lalu apa yang kita lakukan?-

- Tunggu saja sampai esok, tentu Ayu Mirah Sekar akan datang.

- Menghadapi orang sebanyak itu, apakah ia mampu ?

- Entah, aku belum pernah melihat ia memegang senjata. Tetapi sebagai murid orang tua itu tentu ia bisa. Bukankah kau lihat sendiri Bagus Mundarang, kecil-kecil ia telah mewarisi kepandaian kakeknya. Tidak mustahil jika Ayu Mirah Sekarpun akan dapat berbuat itu. Sudahlah, Kita bersabar sampai esok hari. Malam ini jangan membangkang, turuti kemauan mereka, asal tidak mengganggu keselamatan saja. Kita biarkan.

Dan rupanya gamelan yang ditabuh semalaman itu sengaja dilakukan karena mereka hendak 

minum-minum. Dan sampai tengah malam kemudian mereka mulai berjatuhan dalam pengaruh air tuak yang keras. Dan ternyata kemudian kesepuluh penari wanita yang mereka bawa adalah merupakan alat bagi mereka untuk pelesiran secara bergantian. Semalam penuh rumah kepala Padukuhan itu berubah menjadi hiruk pikuk dengan suara tertawa dan suara-suara dari mulut yang mabuk oleh minuman tuak. Sementara ada diantaranya yang tanpa malu serta sungkan lagi menarik-narik wanita-wanita yang dibawa dengan napsu gilanya. Maka dengan ditingkah oleh suara gamelan yang mengalun semalaman itulah mereka berpesta pora, dan rumah itu dijadikan ajang kebejatan mereka tanpa kenal malu. Membuat penduduk yang menyaksikan satu demi satu meninggalkan tempat itu dengan perasaan marah dan dendam yang ditahan-tahan.

Akhirnya matahari yang ditunggu oleh penduduk Padukuhan itu muncul juga. Sinarnya nampak cerah dan panas hangat mengusir embun yang semalaman turun membasahi tanah di seluruh Padukuhan itu. Seperti hari-hari yang telah berlalu sebelumnya, seluruh tlatah padukuhan itu terlihat tenang dan tentram. Sawah dan pategalan terhampar dengan damai, sedang burung yang biasa menyambut pagi hari telah mencicit riuh rendah bersahutan. Akan tetapi dibalik segala kedamaian itu dalam hati rakyat sejak semalaman telah terjadi pergolakan hebat. Semalaman mereka tak tidur. Dan sekalipun dengan saling berbisik, mereka sibuk membicarakan kedatangan tetamu tak diundang yang ada dirumah kepala Padukuhan. Tak satupun luput dari percaturan dari mulut kemulut. Dan sementara rasa takut juga mulai menyelinap dihati mereka. Sebab nampak sekali kegarangan serta keganasan rombongan yang mengaku sebagai rombongan penari teledek itu. Rasanya ada mulut buaya tengah menganga dihadapan mereka, siap menelan tanpa kenal ampun dan kasihan. Ketika matahari telah sedikit meninggi, terlihat kesibukan lain. Tetamu yang tinggal di rumah Kepala Padukuhan itu memerintah penduduk mencari kayu dan bambu. Lalu mereka memerintahkan membuat sebuah panggung besar ditanah lapang tidak jauh dari ujung padukuhan yang banyak dilalui orang. Panggung itu dibuat besar, dan seperangkat gamelan yang mereka bawa ditaruh disana, lalu diatas panggung itu mereka menabuh gamelan itu seperti pada malam pertama mereka menginap dirumah Kepala Padukuhan. Dengan ditabuhnya gamelan ditempat itu, maka terdengarlah suara gamelan itu sampai jauh, kedusun-dusun yang berdekatan di sekitar tempat itu. Maka rakyat yang masih belum mengetahuinya berdatangan dengan heran. Dan mereka takjub ketika dilihatnya sebuah panggung telah berdiri dengan megahnya ditanah lapang dan serombongan penabuh tak henti-hentinya membunyikan gamelan itu.

Orang-orang pedusunan tak mengerti apa maksud mereka dengan mendirikan panggung itu.

Tetapi karena suara gamelan itu memang bagus, mereka mau atau tidak terpaksa menjadi senang. Dan karena sampai dengan hari itu seluruh rombongan tak lagi bertindak kasar, kecuali mereka minta dengan paksa jamuan makan dari orang di Padukuhan itu. Rakyat masih rela menyerahkan makanan guna menjamu mereka itu, secara bergantian. Dan sebagai gantinya mereka diperbolehkan 

mendengar dan melihat teledek diatas panggung menari. Namun setelahnya beberapa waktu berjalan, rakyat diseluruh padukuhan mulai terlihat guncang. Kalau semula hidup mereka tenang dan tentram, kini sedikit demi sedikit mereka mulai dipengaruhi adanya rombongan itu. Kerja mereka sekarang hanya bermalas-malasan mendengarkan gamelan dan menonton para penari teledek diatas panggung bergoyang mengikuti irama gamelan itu. Dan setiap kali mereka masuk rela dipungut imbalan tinggi. Bahkan banyak yang telah menyerahkan harta bendanya dan barang berharga seperti emas dan perak telah diserahkan pula pada mereka. Bukan itu saja, bahkan kalau tadinya para suami didusun itu adalah suami yang rajin dan tekun bekerja, sekarang telah berubah benar. Waktunya banyak dihabiskan untuk menyaksikan para teledek menari diatas panggung itu, semalaman.

Dan tak sedikit pula yang ikut terhanyut kedalam kelakuan minum tuak dan mabuk-mabukan. Akan tetapi yang lebih parah dan menyedihkan adalah tak sedikit pula yang kemudian tergila-gila pada para teledek yang memang cantik menarik. Dan kaum lelaki diseluruh padukuhan itu hanyut kedalam keroyalan dengan para teledek itu. Selain mabuk kepayang menyaksikan keindahan gerak tari mereka, mereka juga telah hanyut kedalam bius asmara dan napsu pada kecantikan para teledek, hingga relalah mereka tak pulang kerumah sendiri asalkan para teledek itu masih dalam pelukan mereka sehari semalaman sepanjang waktu. Maka mulailah kini terdengar keluh kesah dan bahkan jerit tangis para istri dan kanak-kanak yang tertimpa oleh kejahatan naspu yang mengeram dalam hati mereka.

Maka tidak terasa dalam waktu cepat seluruh kekayaan dan harta milik yang semula dipunyai oleh padukuhan itu menjadi habis. Sedikit demi sedikit tetapi pasti seluruh kekayaan penduduk mulai berpindah kepada Ganti dan Supala dengan anak buahnya. Sebab kini para suami dengan rela bahkan dengan mencuri harta milik keluarga, istri bahkan anaknya lalu diserahkan pada para teledek, malah kepada rombongan itu mereka mementingkan daripada kepentingan keluarga mereka sendiri.Keluh kesah dari para istri yang semula hanya terdengar dalam rumah dibawah atap masing-masing keluarga, lama kelamaan mulai terdengar diluar, bahkan semakin jauh terdengarnya sampai bergema keseluruh daerah pedusunan yang lain. Karena bencana itu telah menjalar sedemikian cepat. Kalau saja para suami hanyut dan terbius dengan kenikmatan bergaul dengan para teledek, dan mereka tenggelam kedalam irama gamelan itu, maka sebaliknya anak buah Ganti dan Supala balas memasuki dusun dan dari rumah kerumah dengan paksa mereka merampas penghuni rumah itu. Bukan saja harta benda yang dapat mereka rampas dengan kekerasan, bahkan para istri telah mulai mereka ganggu. Maka wanita dan gadis di padukuhan itu tak lagi bisa tidur dengan tentram. Karena

sewaktu-waktu akan muncul anak buah Supala, menculik dan mengganggu, memperkosa gadis dan

wanita wanita dusun dengan cara yang gampang menimbulkan kemarahan serta menerbitkan hati dendam dikalangan kaum wanita disitu. Dan tak terhitunglah yang telah dengan menyedihkan membunuh dirinya sendiri setelahnya ternoda oleh perbuatan iblis dalam wujud anak buah Supala dan 

rombongannya. Rupanya firasat yang dirasakan oleh Guru Bantu benar adanya. Ketentraman serta udara damai dusun-dusun disekitar pertapaan itu mulai dibakar oleh bencana dan kesedihan. Karena itulah membuat kepala Padukuhan tak lagi berdaya. Ia tak lagi mampu berbuat apapun. Segala tindakan pencegahan hanya akan menimbulkan bencana yang lebih besar. Maka semakin nampak murung dan bersedih hatilah kepala padukuhan menyaksikan keadaan rakyat yang dicengkam oleh keruntuhan itu. Dan laki-laki setengah baya itu duduk dengan wajah gelap. Ia telah semenjak kemarin malam tak lagi kembali kerumahnya. Seluruh miliknya telah dibayarkan pada Supala dengan anak buahnya, Dan sisa miliknya tinggal satu-satunya yakni anak dan istri yang kini masih berada di rumahnya. Beruntunglah kalau mereka tak diganggunya pula. Harapan kepala padukuhan itu kini hanya bergantung pada kedatangan Guru Bantu. Semula ia berharap Mirah Sekar akan turun dan membantu mareka. Namun sampai saat itu tak terlihat sedikitpun mereka keluar.

- Eh Paman, sedang berbuat apakah kau berada disini?

Terdengar sebuah suara menegur. Membuat kepala Padukuhan ita melonjak kaget. Tetapi ketika ia melihat yang datang, wajahnya bersinar sinar. Dihadapannya berdiri seorang anak lelaki yang telah dikenal baik-baik.

- Ah Mundarang, Bagus Mundarang. Kau lama tidak turun. Bagaimana Ajeng Mirah Sekar Ibumu ?

Semoga Yang Maha Kuasa melindungi orang tuamu itu, Mundarang!

- 0, terimakasih paman, ibu dalam sehat. Bagaimana dengan paman? Dan kawan-kawan Mundarang adakah masih sering kehutan mencari kelinci?

- ya mereka masih ada Mundarang, tetapi tak lagi seperti dahulu. Kini mereka selalu cemas dan gelisah.

- Ho, ada apakah ? Mengapa begitu paman?-

Kepala padukuhan itu tak segera menjawab, ia menatap kanak kanak yang bermata indan itu, untuk beberapa lama ia menimbang.

Adakah pantas ia menyatakan keluhan dihadapan anak yang masih belum cukup umur itu ? Tetapi mengingat Mundarang juga tergolong berilmu, namun ia juga sangsi.

Apakah seorang Mundarang akan sanggup, menolongnya keluar dari kesulitan yang sedang diderita oleh penduduk padusunan itu ?

Ia ragu dan bimbang.

- Eh paman, mengapa diam ? Bagaimana nasib kawan Mundarang semuanya? Apakah mereka sakit. Baik aku akan menengok mereka kalau demikian._

- Oh, tidak demikian Mundarang. - Kepala Padukuhan itu cepat menyahut.

- Mereka baik-baik saja.

- Lalu bagaimana maksud paman, mengapa paman nampak ragu menceritakan tentang mereka ? 

Untuk beberapa saat kemudian kepala padukuhan masih menimbang-nimbang. Namun pada akhirnya ia berkata.

- Baiklah Mundarang. Kau sangat cendik dan bisa menerka yang kupikir dengan tepat. Tentu saja kau lama tak pernah turun, maka tak mengetahui apa yang tengah terjadi

- Ya, katakan paman, aku akan mendengarkan.-

- Tentu kau masih ingat rombongan teledek yang ada dirumahku, bukan ? Ah, itulah yang menjadi sebab.

Maka dipaparkan oleh kepala padukuhan itu segala yang telah terjadi dan sedang dialami oleh penduduk padukuhan itu. Pada akhir kalimat. Mundarang tiba-tiba meloncat. Ia kepalkan tangannya yang kecil, geram dan marah.

- Kalau demikian, mengapa paman tidak mengatakan sejak kemarin dulu? Biarlah aku yang akan mengusir mereka, paman!-

- Tunggu dulu! -

Kepala Padukuhan itu menjadi kaget. Tak ia duga Mundarang akan berkata demikian, ia lalu mengangkat tangan dan berkata pula:

- Kau jangan terburu napsu, Mundarang, apa yang akan kau lakukan? Jumlah mereka banyak.

Sebaiknya kau meminta pertimbangan ibumu lebih dahulu. _

- Ah paman jangan takut. Kau tunggu disini paman, aku akan usir mereka sekarang juga.

Tunggulah aku akan memberitahu paman jika mereka telah kubikin bubar dan pergi dari dusun ini!

Dan tanpa menunggu pula Mundarang tiba-tiba loncat dan berlari-lari turun dan menuju letak panggung para teledek berada. Panggung yang besar terletak dekat ujung padukuhan itu selalu ramai. Terutama pada malam hari dengan lampu obor menyala. Akan tetapi pada siang hari, panggung itu sepi, hanya dibagian dalam dibalik panggung itu banyak terdapat lelaki padusunan dan anak buah Ganti dan Supala yang tengah berpesta tak hentinya.

Banyak orang merasa heran ketika berpapasan dengan Mundarang. Teguran-teguran mereka tak lagi terdengar oleh anak itu. Maka karena heran mereka melihat tingkah Mundarang yang tidak seperti biasanya, banyak kemudian orang pedusunan yang ikut berlari-lari mengikuti Mundarang menuju letak panggung itu. Dan semakin jauh, makin bertambahlah orang yang mengikutinya. Bahkan terlihat pula anak anak kawan permainan Mundarang.

- Kau mau kemana Mundarang? Tanya mereka.

- Jangan bertanya dahulu. Jawab anak itu.

- Nanti kuberitahu.

- Ya, tetapi kau mau kemana? 

Tanya mereka pula sambil mengikuti Mundarang berlari-lari.

Dalam waktu singkat ratusan orang telah mengikuti anak itu. Dan keheranan mereka bertambah ketika melihat anak itu ternyata menuju panggung. Tetapi tak seorangpun kini bertanya. Mereka menunggu apa yang akan dilakukan oleh Mundarang.

Setibanya dibawah panggung itu Bagus Mundarang berhenti akan tetapi tak terlihat seorangpun.

Ia menjadi bimbang. Saat itulah muncul kepala Padukuhan dan berbisik padanya.

- Mereka ada dibalik panggung itu, didalam!

Dan Mundarang mengangguk. Cepat ia bergerak dan dengan cekatan ia panjat panggung yang setinggi orang dewasa itu. Matanya lalu mencari-cari pula. Diatas panggung itu terpampang dengan megah sebuah kain bertuliskan Warna emas yang memperlihatkan nama rombongan teledek dan penari. Maka Mundarang loncat dan dengan gerakan indah ia berhasil mumbul lalu tangannya menyambar kain panjang itu, dan

- Breeet....... breeet breet!

Kain itu robek dan dirobek dengan marah hingga hancur berhamburan. Bersamaan dengan itu sebuah tiang penyangga yang tadi menjadi tempat kain 'itu bergantung roboh dan menerbitkan bunyi keras diatas panggung .

Rupanya karena mendengar suara benda jatuh itulah anak buah Supala berloncatan dengan kaget.

Tetapi mereka semakin kaget dan heran ketika dilihatnya seorang anak telah merobek hancur kain panjang itu.

- He mengapa kau berani mati datang merusak? -

Tanya salah seorang dengan bentakan keras. Namun Mundarang bertolak pinggang. Dan tentu saja ia nampak lucu. Seorang anak kecil bertolak pinggang dihadapan banyak lelaki dewasa.

- Gila. siapa kau? Anak siapa kau berani mengacau?! -

Mundarang membuka perkataan tak kalah keras, sekalipun suaranya lebih kecil namun jelas terdengar oleh semua orang yang berada dibawah panggung.

- Hei, kalian dengarlah. Sengaja aku merobek kain panjang itu dengan maksud memperingatkan kalian agar dalam waktu satu hari kalian enyah dari dusun ini, dan tinggalkan harta benda yang telah kalian dapat dari penduduk disini! Nah, aku tunggu sampai esok siang. Kalau tidak jangan harap kalian akan selamat meninggalkan dusun ini. -

- Ha ha... ha... sinting! ha... ha... ha -

Terdengar suara tertawa hampir berbareng. Mereka yang mendengar merasa lucu dan geli oleh tantangan si kecil Mundarang.

- He... he... kau anak kecil ini apa katamu? he siapa yang menyuruhmu melakukan ini? Apakah orang itu sudah gila menyuruh anak-anak mengacau disini? Ha.... ha... ha... lucu! Lucu. Ha ha hugh aduh!  Sekonyong suara tertawa itu berganti dengan suara mengaduh keras ketika dengan gerakan kilat Mundarang menyerang lambung orang itu yg langsung tanpa dapat megelak orangnya roboh muntah darah.

Kawan-kawannya kaget. Tak diduga si anak akan dapat berbuat demikian. Maka mereka berloncatan maju benbareng. Tetapi Bagus Mundarang yang merasa marah, tak tanggung-tanggung melakukannya walaupun ia masih belum tergolong dewasa, namun dasar pendidikan yang diberikan Guru Bantu dengan Mirah Sekar adalah ilmu-ilmu tingkat tinggi. Maka mereka yang memiliki kepandaian biasa sudah barang tentu akan mudah dirobohkan tanpa dapat banyak melawan.

Dan ketika Mundarang bergerak, bagai burung walet ia merangsek dan sekaligus lima orang tinggi besar lawannya menjerit, dangan ulu hati atau kelangkangan dan perut terhantam kekuatan tersembu nyi yang dimiliki Mundarang dalam kekuatan lengannya yang kecil dan mereka roboh satu demi satu tanpa dapat bangun kecuali merintih kesakitan.

Akan tetapi mendengar suara ribut-ribut itulah bermunculan banyak anak buah Supala yang lain.

Mereka segera sadar lawan yang kecil itu amat berbahaya. Maka mereka mencabut senjata lalu berbareng menyerang Mundarang. Mundarang tak urung kerepotan juga menghadapi lawan yang puluhan jumlahnya. Ia berloncatan dengan tangkas. Berloncatan diantara sambaran senjata lawan yang berseliweran dengan deras.

Pada saat Mundarang berhal demikian itulah, tiba-tiba terdengar kesiur angin tajam menuju padanya. Semula Mundarang mengira sebuah senjata tengah menyerang dirinya dari belakang. Maka dengan gerakan indah ia membalik lalu menangkap senjata itu. Tetapi ketika ia perhatikan ternyata sebuah gendewa panah dengan sekantung penuh anak panah. Mundarang berseru girang. Diam-diam ia berterima kasih pada sipemberi gendewa dan panah itu. Dan Mundarang tahu orang itu tentu adalah Mirah Sekar, ibunya sendiri. Dan Mundarang setelahnya mendapatkan senjata itu loncat mundur menjauhkan diri dari para penyerangnya. Namun mereka ternyata tak mau melepaskan lawan itu begitu saja. Dengan berbareng mereka terus melancarkan serangan.

Namun nasib naas hinggap dan menerkam mereka. Karena Mundarang sewaktu loncat mundur menjauh tadi telah pasang lima batang anak panah dan ketika mereka meluruk maju, lima batang panah tajam itu menyambar dengan dahsyat dan terdengar jerit ngeri disusul oleh robohnya kelima orang lawan. Dan tidak berhenti disitu, Mundarang masih bergerak, dan sekali lagi terdengar jerit ngeri ketika kembali lima orang roboh dengan luka tersambar anak panah yang dilepas Mundarang.

Yang lain, ketika melihat kejadian itu menjadi ciut hati dan semangat mereka runtuh. Maka mereka berloncatan dan tak lagi bergerak. Sebab kini mereka sadar lawan itu bukan lagi mudah dijatuhkan.

Dan Mundarang melihat tak ada lagi yang melawan, mengangkat gendewanya tinggi2 dan berseru keras :  - Ingat, beritahukan pada pemimpin kalian, jika sampai esok siang panggung ini masih berdiri dan kalian tak mau enyah dari dusun ini aku akan membikin habis semuanya tanpa ampun.

Lalu Mundarang meloncat turun kebawah. Dan terdengarlah seruan-seruan kaget dan heran dari orang-orang yang menyaksikan kehebatan Mundarang diatas panggung itu. Selama ini sekalipun pernah menyaksikan Mundarang berkelahi, namun tak sehebat seperti yang ia lakukan diatas panggung melawan banyak lawan bersenjata itu. Diam-diam mereka semakin kagum pada anak itu.

Kepala padukuhan segera mapag Mundarang, dipeluknya anak itu dengan girang. Tetapi dalam pada itu ia berbisik :

- Kau berhati-hatilah Mundarang, pemimpin mereka sedang tak ada disini. Kalau mereka datang, ia tentu akan membuat balasan padamu. Maka berhati-hatilah.

- Jangan takut paman, masih ada ibuku yang akan melawan mereka kalau aku kalah. - Kepala padukuhan itu mengangguk-anggukkan kepala.

Mundarang mencari-cari Mirah Sekar. Sejak tadi ia tak melihat akan tetapi ia merasa yakin ibunyalah yang tadi melemparkan gendewa kepadanya. Namun karena menduga ibunya sengaja menyembunyikan diri .Mundarang tak mencari lebih jauh. Dan ketika itu tiba tiba muncul kudanya Lawung lari mencongklang menghampiri dirinya.

- Eh, Lawung, kau kemari?

Mundarang berseru girang. Ia lari menyambut 'binatang itu, lalu naik keatas punggung dan setelahnya berpamitan pada kepala padukuhan tadi ia larikan binatang itu kembali ketempat pertapaan.

- Tentu ibu yang mengirim si Lawung. Pikirnya.

Dan dugaannya segera terbukti, sebab ditikungan sunyi tiba-tiba muncul Mirah Sekar. Mundarang tertawa.

- Ibu!

Serunya. Dan Mirah Sekar mendekat, kemudian setelah si Lawung berhenti .Wanita itu naik pula kepunggung Lawung yang segera berlari pula meninggalkan tempat itu.

Mirah Sekar mengangguk. Ia bangga dengan Mundarang. Sekali pun dalam hati ia merasa cemas jika anak tunggal yang dikasihinya itu mendapat cidera.

Ketika si Lawung telah hampir naik kepuncak pula, tiba-tiba terdengar suara keras dari belakang

:

- Hei berhenti kalian! -

Dan Mirah Sekar menengok terlebih dahulu.

- Mereka datang mengejar. Katanya.  - Kita berhenti dan bereskan sekalian Ibu. Kata Mundarang.

- Seperti ayahnya, berani dan gagah sikapnya

Kata Mirah Sekar dalam hati. Ia tersenyum melihat Mundarang bersemangat. Maka ia tarik kendali si Lawung dan kuda itu berhenti.

Debu mengepul tebal ketika orang-orang itu berhenti. Dua orang diantaranya adalah Ganti dan Supala. Mereka menatap kedua ibu dan anak itu dengan heran.

- Manakah lawan kita?

Bertanya Ganti dengan berang pada anak buahnya yang tadi dibikin babak belur oleh Mundarang.

Dan mereka serentak menuding pada Mundarang.

Ganti mendelikkan matanya. Ia hampir tak percaya ketika menatap wajah Mundarang yang kekanak-kanakan. Rasanya ia tak percaya jika anak tampan itu yang berhasil menjatuhkan anak buahnya. Sedang satunya adalah seorang wanita muda cantik menarik dan matanya yang bersinar memancarkan pesona kuat dihati lelaki yang melihatnya itu. Maka siapa akan percaya jika merekalah yang telah mengganggu anak buahnya. Bahkan rasanya tak akan sampai hati melukai kulit Mirah Sekar yang halus jika terjadi perkelahian. Dan anak kecil yang matanya bersinar indah itupun.

Ah... sulit mereka percaya bahwa lawannya yang dicari adalah dia.

Tetapi karena seluruh orangnya mengatakan demikian, tak ada pilihan lain. Kedua pemimpin itu maju dan mencabut golok panjang yang mereka bawa.

- Kau turun dan lawanlah kami berdua tikus kecil! - Tantang mereka.

- Ah, apakah kalian memanggil diriku? .. Bertanya Mundarang sambil senyum-senyum.

- Bangsat, kau turun dan serahkan kepalamu untuk menggantikan kawan-kawan kami yang tewas olehmu. -

- Ah, siapa yang tewas? Adakah kawanmu tewas? Mengapa tanya dan marah padaku? - Mundarang masih tertawa sambil duduk diatas kudanya.

- Kurang ajar, hayo turun dan serahkan kepala kecilmu itu! --

- Maaf tuan berkepala besar. Sahut Mundarang.

- Tentu saja aku keberatan menyerahkan kepalaku. Bukankah itu tidak adil? kalau

kawan-kawanmu tewas itu sebabnya karena mereka jemu pada pemimpin seperti kalian, hingga mereka memilih berpisah. Jadi mengapa marah dan menuntut ganti rugi, eh namamu juga Ganti, bukan? Pantas kau minta ganti rugi dariku, hu ...... hu ..... . - 

Mundarang menahan ketawanya.

- Kurang ajar! Mampuslah kau! -

Dan sebatang golok besar menyambar hebat pada Mundarang. Namun si Lawung yang cukup tahu bahwa tuannya dalam bahaya, meringkik dan mundur hingga babatan golok itu leWat makan angin.

Namun Supala juga maju dan menyerang, ia putar golok panjangnya lalu dengan sebat bagai angin puyuh goloknya menyambar mengancam leher.

- Kau menyingkir Mundarang, mereka lawanku! -

Kata Mirah Sekar. Sekaligus ia loncat kebawah dan pedangnya ia lolos seraya digerakkan berputar menangkis serangan golok lawan dan......

- trang! Trang!

lelatu menyiprat dari akibat benturan dua senjata tajam. Namun Supala merasa tangannya bergetar. Tapak tangan itu Menjadi sakit. Sedang Ganti sebelum saudaranya maju pula, ia telah menyerang Mirah Sekar dengan lebih dahsyat. Dan terjadilah perang tanding tak seimbang ditempat itu. sungguh tak selaras perkelahian itu. Seorang wanita muda berhadapan mengadu senjata dan dikeroyok dua orang tinggi besar bersenjata.

Namun segera terlihat bahwa keduanya kalah jauh dibanding Minah Sekar. Maka hanya dalam beberapa kali gebrakan keduanya mulai terlihat terdesak hebat. Keringat mereka telah bertetesan.

Pada suatu saat ketika dua batang golok itu beradu dengan senjata Mirah, pedang itu menempel lalu dengan berputar kedua golok ditekan dan dipukul keras hingga terpental lepas dari tangan kedua pemiliknya.

Supala dan Ganti heran dan kaget. Tak diduga mereka mudah saja ditaklukkan oleh seorang wanita muda. Namun sebelum mereka sempat bertindak pula, tiba-tiba Mirah Sekar memutar pedangnya dengan cepat. Bagai kitiran senjata panjang itu mengancam, lalu wes, wuut!

Tiba-tiba leher dan pundak Ganti tersambar oleh senjata itu dan ia mengeluh dan loncat mundur.

Sedang Supala lebih hebat. Dalam beberapa kali gerakan Mirah Sekar berhasil merobek baju yang dipakai olehnya dan dada serta punggungnya tiba-tiba saja telah kena digores oleh senjata ditangan dan satu babatan merobek pahanya, hingga orang itu mengeluh tertahan, lalu loncat mundur.

Saat itulah tiba-tiba Mundarang bergerak, ia serang orang itu dengan tendangan beruntun dan ternyata kecepatan gerak Mandarang tak tertangkap mata. Maka tak ampun keduanya terlempar jatuh dan luka-luka.

Namun Supala telah loncat berdiri. Diikuti oleh Ganti.

- Nah, kalian pergi dan jangan ganggu dusun ini. Kata Mirah Sekar kemudian.

- Huh, kalian tunggu pembalasanku. Kata Supala. 

- Pergilah, hayo lekas dan kalian jangan harap akan hidup kalau esok siang panggung itu masih berdiri disana. -

Katanya. Dan ketika kedua pemimpin itu beranjak dengan ragu-ragu, Mundarang kembali loncat dan kedua kepalan kecilnya bekerja cepat.

- Plak bug! Bug! -

Kedua orang itu tak dapat lagi berkelit. Maka tak seorangpun diantara anak buahnya yang ada membantunya. Belum juga bergerak, mereka sudah ketakutan.

Ganti dan Supala menahan sakit. Ia perintahkan orang-orangnya pergi balik. Sakit dan

luka-lukanya akibat serangan Mirah Sekar tak begitu ia rasakan. Tetapi sakit dalam hatinya akibat malu dibikin tak berdaya dihadapan banyak orang itulah yang membuat ia merasa lebih sakit.

Sesungguhnyalah, jika saja mereka mau mengakui keunggulan Mirah Sekar, tak akan demikian sakit hati mereka itu. Sebab jelas Mirah Sekar bukan lawannya. Karena hanya dengan sedikit membuka mata dan pikiran, sejak pertama melihat gerakan wanita muda itu, seharusnya mereka telah mengetahui lawannya bukan tandingan mereka.

Dan akibat itu tentu saja orang lain yang akan menjadi korban. Ganti dan Supala dalam perjalanan menuju tempatnya memerintahkan anak buahnya merampas lebih banyak harta milik penduduk Padukuhan. Dan sepanjang jalan mereka memukul dan menganiaya orang-orang lemah yang tak berdosa itu. Hingga jerit tangis terdengar disepanjang jalan yang mereka lalui.

- Tolong! Aduh jangan! Jangan ambil! .........

Terdengar jerit penduduk.

- Huh mampuslah kalian! - Dan

- plak bug! Blug! Hiyaa... blug? -

- Aduh ...... jangan ..... . tolong ......

- Lepaskan! Kalian bangsat kejam, huh! Tak sudi aku aduh!

Dan tiba tiba api berkobar. Rumah penduduk dibakar oleh mereka hingga keributan yang sudah menjelma semakin menjalar meluas. Di pekarangan rumah penduduk banyak terlihat wanita-wanita diseret dan milik mereka dirampas dengan kekerasan. Jerit tangis semakin meninggi dan menyayat hati yang mendengarkan.

Agaknya nasib anak buah Ganti dan Supala telah dibuat sendiri oleh mereka. Mereka telah memilih nasib dengan perbuatannya itu. Karena pada saat mereka baru saja melakukan kekejaman atas penduduk di padukuhan sebelah selatan, tiba-tiba muncul Mirah Sekar dan ditangan wanita muda itu sebatang pedang. Yang tanpa menunggu bergerak sebat berloncatan menyerang perampok yang tak mengenal perikemanusiaan.

Kehebatan Mirah sekar benar bukan lawan mereka, maka dalam beberapa gebrakan tiga orang 

terjungkal lewat senjata itu.

Mirah Sekar tak lagi berlaku lemah. Ia keraskan hati melihat penduduk disiksa. Maka murid Nyi Ageng Maloka itupun berloncatan kesana kemari. Dan dimanapun ia bergerak tentu seorang anak buah lawan roboh dan terluka.

Dalam pada itu diatas punggung si Lawung terlihat Mundarang melepaskan panah-panahnya dengan gencar dan banyak lawan telah roboh oleh serangan itu.

Mirah Sekar tiba-tiba teringat sesuatu. Ia mencari kedua pemimpin mereka. Maka ia loncat berlari kepanggung. Dugaannya ternyata benar. Ganti dan Supala sibuk membenahi barang-barang rampasannya.

- Hm, kalian pengecut. Letakkan barang itu dan kalian maju berlutut kemari! - Bentak Mirah Sekar.

Ganti dan Supala kaget. Tak diduganya wanita itu telah ada didepan mereka. Akan tetapi karena merasa tak ada jalan lain, kedua orang itu mencabut senjatanya pula. Dan golok-golok panjang mereka berkelebatan menyerang Mirah Sekar.

Kali ini Mirah Sekar tak mau memberi hati dan bersikap lemah pada mereka. Maka pedangnya ia putar dengan hebat mengurung gerakan senjata lawannya itu. Mirah Sekar menang jauh dan kegesitan tubuhnya bergerak, menolong benar. Hingga dalam gebrakan-gebrakan itu Ganti dan Supala cepat terdesak. Mereka tinggal mundur-mundur tanpa mampu menyerang pula. Lagi pula akibat lukanya oleh Mirah Sekar tadi, keduanya benar dipojokkan pada kekalahan yang mereka takuti.

Pada suatu ketika Mirah Sekar mengeluarkan sesuatu dari balik pakaian. Ia telah siapkan benda itu sejak mulanya. Dan ketika Supala berbareng Ganti menyerang dengan goloknya, Sekar telah memperhitungkan hal itu. Maka ia bergerak dan duakali gerakan dengan pedangnya, kedua golok lawan itu terpental keras, melayang lepas dan jatuh berdencing menimpa batu.

Ganti dan Supala kaget. Hatinya makin ciut. Dan timbul niat untuk kabur. Tapi Sebelum niat itu terjadi, Mirah Sekar menggerakkan benda yang tadi ia keluarkan. Rupanya adalah seutas tali panjang. Tali itu melayang dengan cepat bagai seekor ular hidup menyerang Ganti dan Supala.

Kedua orang itu kaget. Mereka bermaksud menghindar dengan loncat menjauh. Akan tetapi tali itu seakan hidup dan bermata, Sebab tiba-tiba terulur lebih panjang, dan ujungnya meliuk-liuk menyambar lebih cepat. Dan... . tanpa dapat dicegah pula Ganti dan Supala kena dilibat oleh tali itu. Dan hampir berbareng keduanya jatuh tersungkur ketika Mirah Sekar menarik tali itu dengan kuat.

Ganti dan Supala berontak, akan tetapi tali itu demikian kuat. Tenaga mereka tak mampu melepas dari jiratan tali terbuat dari jenis kulit yang kuat dan liat. Dengan sigap Mirah Sekar menggiring kedua orang itu. 

- Berdiri!--

Perintahnya. Dan Supala dengan Ganti tak membantah.

- Hayo kau bawa orangmu semua pergi dari dusun ini!

Maka terlihatlah, kemudian, pemandangan yang mengenaskan. Ganti dan Supala, dengan diikuti oleh orang-orang yang masih hidup berjalan pergi keluar dari Padukuhan tanpa membawa sedikitpun barang yang mereka rampas dari penduduk. Sedang yang luka mereka bawa pula setelahnya merawat kawan-kawannya yang tewas. Tak urung mereka diantar oleh penduduk pedusunan itu sampai dibatas tlatah. Namun sebelum mereka meninggalkan tempat itu, Supala masih sempat berkata pada Mirah Sekar yang berjalan menggiring mereka dengan pedang telanjang.

- Huh, jangan kau bergirang lebih dulu, tunggu aku akan panggil seseorang yang akan melumat habis kesombonganmu, huh!-

Mirah Sekar tak menjawab. Ia hanya mendengus lewat hidung. Dan Supala meludah

- Cuh!

Tetapi Mirah, Sekar tak meladeni lagi, ia tinggalkan orang, itu lalu mengawasi sampai kesemua orang itu, lenyap ditelan punggung perbukitan disebelah sana. Kepala padukuhan mengucapkan terimakasih pada kedua ibu dan anak. Namun Mirah Sekar tak banyak berkata, Ia memerintahkan harta benda rakyat dikembalikan pada yang berhak. Dan kepala padukuhan itu berusaha menyadarkan para suami yang tadinya terbius oleh para teledek.

Mirah Sekar kembali kepertapaan. Namun diam diam hatinya rusuh dengan rasa khawatir. Ia cemas mengingat peristiwa tadi. Sebab mendengar ancaman Supala tadi, Mirah Sekar menduga tentulah ia mempunyai seseorang yang diandalkan. Bukan ia takut karena ancaman itu. Tetapi ia memikirkan nasib Mundarang. Karena bisa jadi keselamatan anak itu akan terganggu. Dan apabila benar ancaman itu dibuktikan, bagaimana pula dengan penduduk di Padukuhan itu, mereka tak akan mampu membela diri dari serangan gerombongan bersenjata seperti mereka.

Ya. kalau saja Mirah Sekar masih ada ditempat itu, bahkan kalau saja Guru Bantu pamannya juga ada, tak akan sulitlah melindungi penduduk padukuhan itu. Tetapi apakah ia mampu selamanya berdiam ditempat itu?

Tidak!

Mirah Sekar telah mempunyai rencana. Ia berencana keluar dan turun gunung. Bahkan Mundarang harus mencari ayahnya, Sentanu di kotaraja Demak. Dan tentu saja Mirah Sekar kalau saja belum bertemu Sentanu, ia ingin tinggal di kadipaten Wanabaya dengan saudara tuanya Adipati Taruna.

Maka berpikir demikian itulah Mirah Sekar menjadi cemas hatinya. Dan kini ia hanya menunggu datangnya Guru Bantu dan kepadanyalah ia akan paparkan segala perasaan itu, kelak jika paman guru itu datang di pertapaan. 

Siapakah sesungguhnya Ganti dan Supala yang baru saja digiring mundur oleh Mirah Sekar dan Mundarang dari Padukuhan itu?

Keduanya adalah anak murid pembantu dari Ki Ageng Semanding tetunggul di Majapahit, tangan kanan Rangga Permana dan Prabu Udhara. Sengaja mereka dikirim oleh orang tua itu, guna mencari seseorang yang sejak lama menjadi incaran Ki Ageng Semanding. Dan sekaligus mereka diperintahkan untuk mencari suatu daerah pemukiman baru ditlatah Demak. Sebab dengan maksud-itu Ki Ageng Semanding bermaksud agar mereka dapat membuat suatu daerah perbentengan seperti halnya Supit Urang yang sampai saat itu masih belum berhasil dihancurkan oleh Demak. Beteng Supit Urang yang terletak diwilayah Singhasari akan dijadikan duanya di tlatah Demak. Maka diperintahkan Ganti dan Supala mencari daerah itu.

Dan ketika mereka kemudian menemukan padukuhan itu, mereka merasa girang, sebab sesudahnya dipelajari dengan lebih seksama, tempat itu akan cukup memadai dipergunakan sebagai tempat pemukiman dan sekaligus dibuat sebagai letak pertahanan yang kuat. Akan tetapi tak diduga oleh mereka bahwa ditempat itu mereka bertemu dengan Mirah Sakear dan Mundarang. Dan justru mereka menghancur leburkan rencana dan kemenangan mereka atas padukuhan itu. Tentu saja padukuhan itu letaknya amat bagus dan kuat manakala dipergunakan sebagai daerah perbentengan. Kalau tidak tentu saja Guru Bantu tak akan mencari tempat itu dan menggunakan sebagai pertapaannya selama bertahun-tahun. Maka Ganti dan Supala kendati menyandang luka dan dilabrak habis oleh lawan, namun mereka bertekad akan merebut kembali daerah padukuhan itu. Mereka akan bawa Ki Ageng Semanding. Kalau orang tua itu benar mau turun tangan, apakah sulitnya menaklukkan kedua ibu dan anak itu?

Maka sekalipun mereka letih dan sakit, namun niatnya harus kesampaian. Ki Ageng Semanding

akan diberitahukan dan minta pada orang tua itu untuk merebut padukuhan itu. Sementara itu Mirah Sekar menyadari bahaya yang mengancam penduduk Padukuhan. Maka ia menemui kepala padukuhan dan berkata dengan keyakinan sepenuhnya.

- Kita harus berani mengumpulkan rakyat padukuhan ini, bahwa semua anak lelaki dan kaum lelaki semuanya harus berlatih membela dirinya. Mereka harus mengerti tata tempur yang baik, hingga sewaktu ada musuh mengganggu mereka akan bisa mempertahankan padukuhan ini dengan tenaga sendiri.

Kepala Padukuhan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengakui kebenaran perkataan Mirah Sekar. Dalam pada itu Mirah Sekar memanggil Mundarang, diajaknya anak itu ke pertapaan Guru Bantu. Mirah Sekar memperlihatkan tempat-tempat yang selama ini belum dilihat anak itu.

- Mundarang.- Kata Mirah Sekar.

- Kau harus masih banyak berlatih. Terlanjur kau menyerang Ganti dan Supala dengan orang orangnya._  - Aku tidak takut, bu ! -

Mundarang memotong perkataan. Tangannya mengepal dan mukanya membayangkan kemarahan.

- Mereka kejam. Kalau tidak dihajar kasihan orang-orang pedusunan itu.

- Oh, kau benar. Kau benar Mundarang. - Mirah Sekar memeluk kepala anaknya.

- Tapi kau masih belum mengerti dengan orang-orang seperti mereka. Sudahlah, kelak jika Kakek datang kau boleh bertanya tentang mereka. --

- Kakek tahu ? _

- Ya, tentu tahu. Kakekmu banyak berpengalaman.

- Kalau saja ayah ada disini.. tentu mereka tak berani mengganggu kita. _?

Kata anak itu pula. Dan Mirah Sekar berdebar. Ia tak menduga Mundarang akan menyebut-nyebut ayahnya. Maka melayanglah bayangan bayangan dari ingatan pikiran Mirah Sekar. Bermunculan segala yang telah ia alami dengan Sentanu. Ia terlanjur memberitahukan siapa ayah anak itu. Dan tentu saja Guru Bantu yang juga mengasuh bahkan mendidik Mundarang, telah memberi tahu banyak tentang Sentanu.

Namun demikian dalam hati Mirah Sekar, tumbuh semacam kebimbangan. Ia tak meyakini. Apakah Sentanu tahu bahwa ia telah menurunkan seorang anak lelaki ?

Bukankah Sentanu, ya Sentanu hanya sekejap berkumpul dengannya pada saat ia kelaparan berdua murid KiAgeng Semu itu ditepi sungai saat mana kemudian Mirah Sekar mengikuti Sentanu mencari jalan naik pegunungan dan terjatuh kedalam jurang.