Mencari Tombak Kiai Bungsu Jilid 07

Jilid 07

DEMIKIANLAH watak manusia. Pada dasarnya manusia telah menciptakan dgn segala napsu dan kemauannya. Setiap mahluk telah dilengkapi oleh Yang Maha Kuasa dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Hanya kekuatan napsu yang disandang seseorang telah disertai pula oleh daya penolak yang berujud akal pikir. Hingga manakala seseorang-kedatangan napsu keinginan pada manusia lawan jenisnya, ia bisa mempertimbangkan dengan akal pikirnya. Hingga mampu menimbang mana yang pantas ia lakukan dan mana yang tidak layak ia kerjakan.

Namun demikian, Kepala Prajurit Santa Guna yang perasaan hatinya tergoncang oleh kecantikan Ken Sanggit yang menyebabkan ia terpikat sesungguhnya dapat menguasai perasaan dan keinginannya itu jika saja ia mau menggunakan akal dan pikir yang dimilikinya.

Bukankah ia melihat Ken Sanggit dalam keadaan berbadan dua?

Dan lagi tengah mencari suami yang dikatakan berada dalam lingkuan Demak. Akan tetapi rupanya karena pertimbangan akal pikirnya telah tersaput oleh napsu yang mengeram dalam hati dan perasaannya itu, Santa Guna lupa dan ia terbawa hanyut oleh napsu yang mengeram dalam dirinya itu, melupakan bahwa tindakan demikian merupakan tindakan yang tidak selayaknya ia lakukan. lebih lagi terang-terangan ia lakukan dihadapan anak buahnya.

Santa Guna juga melupakan bahwa perbuatan demikian akan berbahaya sekali jika ketahuan oleh Baginda Raden Patah penguasa Demak.

Raden Patah yang pada waktu itu menjadi tetunggul di Demak, terkenal adil dan bijaksana.

Sehingga tak sulitlah untuk menjatuhkan hukuman bagi siapapun yang dianggapnya bersalah. Apalagi sampai mengganggu wanita, bagi Raden Patah tak ada pertimbangan lain kecuali hukuman ranjam dan siksaan berat.

Demikianlah, maka Kepala Prajurit Santa Guna akibat napsunya ingin memiliki kecantikan Ken Sanggit menutup segala pertimbangannya, ia berani melakukan rencana itu. Dan memerintahkan anak buahnya membawa Ken Sanggit ketempat tinggalnya.

Dalam pada itu Ken Sanggit merasa bersyukur telah bertemu dengan seorang yang dianggapnya baik dan murah hati. Maka ia berharap besar akan bertemu dengan Sasadara yang dicarinya. Dan keinginannya semakin kuat. Ia ingin anak yang dikandungnya lahir didekat suaminya. Maka siang malam ia meminta pada Yang Maha Kuasa agar mempertemukan dirinya dengan Sasadara.

Maka dari hari kehari, Ken Sanggit semakin merasakan kandungannya mendekati saat mendebarkan yang ditunggunya. Ia merasa bahwa telah hampir tiba saat anak yang dikandungnya akan terlahir kedunia. Maka ia menunggu-nunggu kedatangan Santa Guna yang sejak beberapa hari masih belum kembali karena kuwajiban-kuwajiban nya di kraton terlalu menghalangi. Ken Sanggit ingin meminta Santa Guna agar mencari suaminya.

Hanya beruntunglah Ken Sanggit digedung kediaman Santa Guna ia merasa aman dan segala kebutuhannya tercukupi. Namun sampai disitu ia masih belum menyadari apa yang sesungguhnya 

tersembunyi dalam pikiran Kepala prajurit itu. '

Sementara itu Santa Guna yang telah sejak beberapa hari tidak kembali karena kewajiban yang dipikul di istana bertambah heran dan girang ketika seorang pembantunya memberitahukan Ken Sanggit telah melahirkan seorang bayi perempuan. Santa Guna tersenyum.Ia bayangkan sesuatu dan perintahkan pembantunya agar merawat Ken Sanggit dengan bayinya baik-baik.

Tiga hari kemudian Santa Guna muncul dan menengok Ken Sanggit yang tengah menunggui anak perempuan yang masih merah itu.Ia tersenyum lebar dan melangkah masuk ke kamar Ken Sanggit

- Oh, ampun tuanku, hamba tak mengetahui kedatangan tuanku hingga tak sempat menyambut dengan baik. -

Kata Ken Sanggit.

- Tak apa. kau cukup cantik dalam keadaan begitu.Bagaimana anakmu? -

- Ya, hamba baik-baik dengan anak hamba ini. --

- Anak manis. Semanis kau Sanggit!

- Tuanku terlalu memuji.

Dan Ken Sanggit tertunduk dengan muka merah. Ia bayangkan bagaimana kegembiraan Sasadara jika melihat anaknya itu. Dan diam-diam ia berterimakasih sekali pada orang yang kini berdiri dihadapannya, yang telah menolong dan membantu banyak padanya.

- Eh, Sanggit kau datanglah ke kamarku. Ada yang akan kubicarakan denganmu. Kata Santa Guna kemudian. - Tentang suami hamba tuanku? -

- Ya, juga tentang dirimu. Berikan anak itu lebih dahulu pada mereka! - Seraya Santa Guna menunjuk pada pembantu Yang ada ditempat itu.

Ken Sanggit tak membantah, ia berikan anaknya pada emban lalu ia berjalan mengikuti Santa Guna masuk kedalam kamarnya.

- Duduk Sanggit! - Perintah Santa Guna.

Ken Sanggit tak membantah, ia berikan anaknya pada emban hatinya tiba-tiba saja berdebar aneh. Ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Tetapi ia diam saja, menunggu apa yang akan dikatakan oleh orang yang sudah menolong dirinya.

Untuk beberapa saat Kepala Prajurit Santa Guna memandangi Ken Sanggit dengan kagum. Kini kecantikannya semakin tampak dengan jelas. Sekalipun Wanita muda itu tengah menyusui, namun Santa Guna tak melihat sesuatu yang mengecewakan pada diri Ken Sanggit. Dalam keadaan begitu Ken Sanggit masih belum menyadari apa yang sedang terpikir oleh Santa Guna, senyumnya yang mulai kurang ajar tak ia lihat sebab Ken Sanggit masih tertunduk menunggu apa yang akan diucapkan oleh Kepala Prajurit itu.

Akan tetapi ketika ia menunggu beberapa lamanya tak terdengar suara apa apa, Ken Sanggit jadi 

berani mendonggakkan kepala dan memandang. Maka alangkah kaget hatinya ketika pandangannya bertemu dengan pandang mata Santa Guna. Sorot mata orang itu bersinar aneh dan

sekonyong-konyong saja hati Ken Sanggit digerayangi rasa takut. Ia merasa sesuatu yang amat menakutkan dalam pandangan Santa Guna.

- Apa kehendak tuanku? '

Tanyanya kemudian memberanikan diri.

Santa Guna tertawa. Ia maju dan dihadapan wanita ini berdiri lalu berkata :

- Tentunya kau sudah dapat menduga kuajak masuk kedalam peraduanku ini, Sanggit. Ya, aku telah menunggu terlalu lama kelahiran anakmu.

Ken Sanggit pucat dan gemetar mendengar kata-kata itu. - Apa maksud tuanku? - Tanyanya.

- Maksudku? Ah. benarkah kau belum mengetahuinya? Atau sengaja pura-pura tidak mengetahui?

-Kau cantik menarik Sanggit. Apakah kau tak ingin membalas kebaikanku menolongmu? - Ken Sanggit semakin ketakutan. Kini kekhawatirannya menjadi jelas.

- Tuanku. - Ia berkata

- Jangan melakukan itu, hamba sudah bersuami,bahkan hamba sudah punya anak yang masih merah. Hamba sudah sangat berterimakasih tuanku memelihara dan memberi perlindungan ditempat ini. -

Santa Guna menggelengkan kepala.

- Kau jangan salah duga Sanggit. Sejak semula aku mengagumi kecantikanmu. Maka kau menurutlah. Terimalah permintaanku. Kau akan kujadikan penguasa kedua dalam rumah ini. Kau terimalah aku menjadi suamimu. -

Mendengar itu Ken Sanggit bangkit berdiri, ia mundur dengan takut.

- Ingatlah tuanku, hamba sudah bersuami. Bahkan tuanku telah berjanji akan mencarikan suami hamba itu.

- Jangan! Jangan lakukan!

Santa Guna tertawa ia masih berdiri dengan menatap Ken Sanggit yang ketakutan.

- Kau boleh berkata semaumu Sanggit. Tetapi kini kau ada dalam kekuasaanku.

- Hamba sudah punya anak,Tuanku !

- Jangan khawatir. aku akan besarkan anakmu dan pelihara. -

- Tetapi suami hamba ?

- Oh, kau jangan menjadi dungu. Tentu suamimu hanya menipu. Di seluruh tlatah Demak, tak ada yang bernama Sasadara. Prajurit itu tak ada di Demak. Maka jangan kau berharap ia lagi. Ia tentu telah menipumu. Maka terimalah permintaanku Sanggit, kau akan hidup senang denganku disini. Ya, 

kini aku berpangkat Kepala Prajurit. Siapa tahu sebentar lagi aku menjadi Tumenggung ?

Ken Sanggit menggigil. Ia tak menduga penolongnya akan berbuat demikian. Tetapi apa yang dapat ia lakukan?

Hatinya diliputi kecemasan.

- Bagaimana? Kau terima bukan? _ .

- Ampun Tuanku hamba tidak bisa menerima kemauan Tuanku yang demikian. -

Santa Guna maju dengan muka merah. Ia marah dan malu ditolak oleh Ken Sanggit. Namun ketika ia menatap wajah wanita itu Santa Guna berubah pikir. Tiba-tiba ia loncat maju dan menubruk Ken Sanggit. Yang ditabrak tak dapat menghindar. Tak dapat dielakkan ia terjatuh kedalam pelukan Santa Guna. Tetapi ia mencoba berontak dan meronta melepaskan diri.

- Ha, kan mau melawan?! _ Santa Guna semakin bernapsu.

Digelutnya Ken Sanggit dengan amat bernapsu diciuminya wanita muda itu. Ken Sanggit tak berdaya, ia ketakutan sekalipun ia meronta ronta sekuat tenaga, tetapi kekuatan Santa Guna jauh berlipat darinya, maka dalam beberapa saat kemudian Ken Sanggit telah lemas karena takutnya. Santa Guna menyeringai melihat Ken Sanggit tak berdaya. Ia angkat wanita itu keatas pembaringan lalu dengan sebat ia lolos pakaian Ken Sanggit satu persatu.

Santa Guna berdengus dan napasnya memburu sedang matanya menjadi liar ketika melepas' pakaian yang melekat pada tubuh Ken Sanggit yang tak berdaya terbujur diatas pembaringan.

Pada saat Santa Guna hampir saja berhasil melampiaskan napsunya, sekonyong-konyong terdengar jerit tangis bayi melengking diambang pintu dan rupanya karena jeritan tangis bayi yang melengking keras itulah, membuat Ken Sanggit sadar dan timbul kekuatannya kembali, Ia meloncat menubruk Santa Guna yang tak menduga akan mendapat perlakuan begitu. Ia terjengkang dengan keras berguling kebawah pembaringan. Sedang Ken Sanggit terus memburu kepintu lalu dengan keras ia tolak pintu itu yang ketika terbuka, seorang dayang tengah menggendong anaknya yang masih kecil ada dibalik pintu itu. Ken Sanggit meraih anak itu lalu diciuminya seraya menangis lalu berlari pergi dengan masih menangis keras-keras. Dayang itu tak mampu berkata. Ia heran dan kaget melihat pakaian Ken Sanggit yang robek tak keruan. Tadinya ia bermaksud memberitahu Ken Sanggit agar membawa anaknya, sebab anak itu sewaktu digendong tiba-tiba menjerit menangis keras. Tak mau di bujuk siapapun. Maka ia bawa pada Ken Sanggit. Tetapi ia tak menduga keadaan akan menjadi demikian. Hingga ketika Ken Sanggit telah menghilang dibalik tembok bangunan, dayang itu masih termangu-mangu menduga-duga apa yang tengah terjadi. Ketika itulah tiba-tiba muncul Santa Guna yang telah membenahi pakaian dan ketika dilihatnya seorang dayang berdiri dimuka pintu, tahu bahwa dayang itulah yang menyebabkan ia gagal menguasai Ken Sanggit. 

- Kau

Santa Guna membentak dengan marah dan maju mengancam. Dayang itu pucat mendadak. Ia ketakutan dan tubuhnya gemetar melihat tuannya marah sedemikian rupa.

- Ampun Tuanku, hamba..... hamba ....me menangis dan dan bawa anak itu

Tetapi Santa Guna telah tak mendengar kata-kata dayang yang ketakutan. Secepat kilat ia cabut keris yang terselip dipinggangnya lalu gerakkan keris itu dan segera terdengar jerit ngeri dari mulut si dayang ketika keris tuannya menghunjam bersarang diulu hatinya dan ia segera roboh mandi darah, berkelojotan, untuk kemudian terdiam untuk selamanya.

Santa Guna berseru memanggil pengawalnya.

- Apa yang terjadi Tuanku?

Tanya salah seorang pengawalnya.

- Jangan banyak cakap. angkut mayat penghianat ini dan kalian lekas tangkap Ken Sanggit.

Masukkan ia dalam kurungan, kerjakan!

Para prajurit berserabutan mengejar Ken Sanggit yang sedang berusaha melarikan diri dari regol.Namun demikian Ken Sanggit tak perdulikan keselamatan dirinya lagi. Niatnya kini hanya satu. Lolos dari cengkeraman Santa Guna yang ternyata jahat. Ia tak sudi diperistri oleh prajurit Demak itu, bahkan hatinya menjadi terbakar oleh dendam dan perbuatan yang hampir saja merusak kehormatannya. Maka ia berusaha melarikan diri dan sekalipun pakaiannya telah robek dan hancur tak keruan, ia tak perduli karena niatnya hanya ingin secepatnya lolos dari tempat itu. .

Para prajurit yang banyak berpengalaman dalam pertempuran, tentu saja tak akan terlalu sulit mencari Ken Sanggit. Dalam waktu singkat mereka telah mengepung.

- Jangan! Jangan ganggu anakku!

Ken Sanggit berteriak teriak ketakutan.

Akan tetapi lebih takut para prajurit jika tak berhasil menangkap wanita itu akan didamprat oleh pimpinan mereka. Maka prajurit itu terus mendesak dan mengepung Ken Sanggit yang kini mepet kedinding regol sambil mendekap anaknya.

- Menyerahlah Sanggit. Jika kau tak mau, 'kasihan anakmu yang masih kecil. Bukankah Santa Guna sudah terlalu baik padamu?

Bujuk mereka.

Pada saat itu tiga orang prajurit telah maju dan secepat kilat tangan ketiganya telah bergerak menanggap Ken Sanggit dengan berbareng.

Tetapi ketika tangan-tangan itu telah berhasil menangkap mangsanya, sekonyong2 tiga orang itu terlempar dengan keras seraya mengeluarkan jeritan kaget dan tubuhnya membentur dinding regol dengan keras.

Prajurit yang lain menjadi kaget melihat kejadian yang tak diduga. Mereka berloncatan maju 

dengan heran dan menangkap Ken Sanggit. Tetapi merekapun terlempar dengan keras dan jatuh bergulingan saling tubruk menimpa kawan.

Sadarlah kini para prajurit itu bahwa ada seseorang yang telah menolong Ken Sanggit secara menggelap. Maka salah seorang diantara mereka memberi isyarat kawan-kawannya agar berhenti lalu ia berseru keras :

- Hei siapa kau yang menyerang dengan pengecut?! Kalau kau memang ksatria, ayo perlihatkan wajahmu. Keluarlah! Hadapilah kami dengan berterang!

Hampir bersamaan dengan selesainya tantangan itu, muncul secara tak terduga seorang tua yang melangkah maju dengan tenang menatap mereka.

Para prajurit menjadi terpaku. Mereka heran. Siapa orang tua itu tak seorangpun diantara mereka yang mengenal. Maka salah seorang kemudian maju bertanya :

- Hei kau siapa? Ada urusan apa kau datang mengganggu kami yang sedang hendak menangkap wanita itu? -

Si orang tua tidak membuka kata. Ia diam menatap mereka dengan sorot mata aneh membuat yang melihat jadi tertunduk. Hanya Ken Sanggitlah yang segera mengenal orang tua itu yang ternyata adalah Mpu Sugati. Maka hatinya menjadi girang bukan main.

Mpu Sugati tak bergerak. Ketika ia melihat para prajurit tak bergerak pula, orang tua itu mendekati Ken Sanggit lalu berkata perlahan :

- Kau ikut kembali denganku. Belum saatnya kau bertemu dengan Sasadara sekarang ini.

Ken Sanggit mengangguk dan sebelum-ia tahu apa yang akan terjadi, tiba-tiba ia merasa tubuhnya telah ada dalam gandengan Mpu Sugati telah melayang pergi dibawa berlari.

Para prajurit baru sadar kemudian ketika mengetahui Ken Sanggit lenyap dibawa orang tua yang tak mereka kenal. Maka dengan ribut mereka kembali dan memberitahukan kejadian itu pada Santa Guna yang meradang dan marah-marah.

Ken Sanggit kemudian dibawa Mpu Sugati dan anak perempuan itupun diasuh oleh orang tua itu bersama-sama dengan Tirta di Padepokan.

- Dan anak perempuan yang kemudian besar itu adalah aku sendiri. He, kau dengar tidak?!

Madi Alit, Putra Pajajaran yang mendengar cerita dari si gadis Ken Rati menjadi kaget. Ia tersadar ketika Ken Rati membentak sambil tertawa itu.

- Ohya, jadi Mpu Sugati itu adalah kakekmu? - Tanyanya kemudian.

- Kini aku tahu. Kau tentu tengah mencari ayahmu Sasadara, bukan?

- Bagaimana kau bisa tahu itu? Tanya Ken Rati.

- Tentu saja, tindak tandukmu jelas memperlihatkan hal itu. Eh, apakah ayahmu itu belum pernah 

sekalipun menjenguk kembali di Padepokan ?

Ken Rati menggelengkan kepada.

- Jadi kau masih harus mencari dengan susah payah. Atau apakah kau sudah mengetahui dimana orang tuamu itu? --

Sekali lagi gadis itu menggelengkan kepalanya.

Tiba tiba Madi Alit teringat sesuatu. Hatinya yang telah diliputi oleh kebulatan tekad untuk melawan Demak yang dianggap menjadi sebab timbulnya gangguan pada Pajajaran dan Majapahit menjadi kecewa. Ternyata Ken Rati adalah anak turun seorang prajurit Demak. Ia tak tahu mengapa tiba tiba hatinya menjadi kecewa demikian.Akan tetapi ia segera kuatkan perasaan dan berkata. .

- Ya, kini aku tahu. Kau adalah seorang yang berdarah Demak. Tetapi seperti yang kau ketahui aku adalah putra Pajajaran yang sedang bermusuhan dengan Negri leluhurmu. Apa boleh buat, dengan berat hati aku terpaksa mengambil jalan memisah disini. Nah, selamat tinggal Ken Rati, aku

ingat-ingat segala kebaikanmu. Kini aku mau meneruskan perjalanan ketimur _ Ken Rati kaget mendengar perkataan itu. ia maju dan bertanya :

- Eh, kau mau kemana, ketimur Ada kepentingan apakah kau kesana ? ,

- Aku ! Tentu saja aku ingin bergabung dengan Rangga Permana dan Prabu Udhara di Majapahit.

- Kau? Kau juga akan memusuhi Demak ? - Madi Alit menganggukkan kepalanya.

- Jadi kau juga akan melawanku? Tanya Ken Rati pula.

- Kalau kau membela Demak, tak ada jalan lain, aku akan menjadi lawanmu pula. Bukankah Majapahit dan Pajajaran harus mempertahankan keruntuhannya yang sedang diangkah oleh Demak dan Pati Unus?

- Tetapi bukankah kau katakan ingin mencari Sentanu? Anak itu ada dalam barisan tentara Demak, dan kakekku Mpu Sugati tentu saja akan membela dimana aku berada. Kau ingat itu!

Mendengar jawaban itu untuk beberapa saat Madi Alit termangu mangu. Hatinya sedih dan bimbang. Ia telah berjanji harus mencari Sentanu memenuhi permintaan Aki Kerancang dan mencari Mpu Sugati. Tetapi kini kenyataan menjadi lain. Justru mereka yang sedang ia cari berada dalam barisan lawan. Bukan itu saja, Ken Rati yang baru saja menimbulkan kegirangan dan rasa simpatinya, tiba-tiba dalam sekejap telah berubah pula menjadi lawan yang memusuhinya.

- Eh putra Pajajaran, kau boleh memusuhi siapapun. Dan aku tak akan perduli dengan siapa kau bermusuhan. Tetapi jika kau memusuhi Kakek dan ayahku Sasadara, maka akupun akan menghadapi senjatamu. -

Kata Ken Rati kemudian.

Madi Alit mengdongakkan kepala, lalu dengan pandangan sayu ia tatap si gadis, baru setelah itu 

ia membuka perkataan pula :

- Apa boleh buat. Ah, seandainya saja kau bukan anak Sasadara prajurit Demak, kita bisa berkawan. Baiklah, selamat tinggal Rati, kelak kita bertemu dilain waktu.

Lalu Madi Alit menghampiri kudanya dan ia loncat kepunggung binatang itu kemudian membedalnya kabur, meninggalkan Ken Rati yang masih terbengong dengan kejadian yang tak diduganya.

Untuk beberapa lamanya Ken kati berhal demikian, baru sadar ketika kedua harimaunya mengaum perlahan sambil menciumi kakinya.

Si gadis mengelus kepala kawannya ini. Namun hatinya masih membayangkan yang baru saja meninggalkan dirinya dengan menunggang kuda tadi. Akan tetapi ia segera sadar pula.

- Ayo kita pergi!

Ajaknya, lalu ia naik pula kepunggung harimau jantan dan memberi perintah binatang itu untuk membawanya berjalan.

Dalam pada itu Madi Alit melarikan kudanya dengan pikiran rusuh. Ada sesuatu yang terasa tak enak ia rasakan. Dalam berlari ia teringat Ken Rati. Semula ada harapan yang aneh ia bayangkan manakala memikir gadis itu. Dadanya menjadi berbunga-bunga jika memandang wajah Ken Rati yang cantik manis. Akan tetapi bayangan itu segera berganti dan wajah Ken Rati seolah berubah ganas dan menyeringai padanya. Madi Alit mengeprak kudanya agar lebih kencang berlari. Dimukanya terbayang tiba-tiba Ken Rati yang mengancam dengan senjata terhunus menikam lehernya.

- Jangan! -

Ia menjerit. Namun bayangan itu masih menghantuinya. Ken Rati semakin garang. Seakan gadis itu berubah menjadi puluhan dan kini mengepung dengan senjata terhunus mengancam dirinya.

Ketika Madi Alit menoleh kekanan dan kekiri, bayangan Ken Rati ada disitu. Diarah muka ia melihat gadis itu siap menghujani dirinya dengan anak panah. Diarah kanan Ken Rati terlihat siap melepas tombak berapi dan dikirinya matanya menangkap Ken Rati membawa barisan panah berapi mengepung pula.

- Jangan kau lakukan itu! --

Madi Alit menjerit pula. Dan ia larikan kudanya lebih keras menghindari Ken Rati yang nampaknya telah mengepung dan mengancam nyawanya.

Pangeran Madi Alit anak Prabu Mahesa Tambreman dari Pajajaran yang terkenal berbudi dan digdaya itu, kini menjadi ketakutan hebat.

Rupanya Madi Alit telah terjerat oleh panah cinta yang dilepas oleh gerak-gerik dan tutur kata Ken Rati. Diam-diam hatinya telah terpikat pada gadis itu. Madi Alit yang semenjak kecil merasa kesepian hidup didalam lingkungan tembok istana hingga ia lebih banyak berada diluar istana mencari ketenangan batin, secara tak diduga bertemu dengan Ken Rati. Dan rupanya tangan takdir 

mempertemukan dirinya untuk diam-diam menyintai gadis itu. Maka hatinya menjadi girang dan berkembang mekar sewaktu dapat berdua dengan gadis itu.

Namun ternyata yang harus terjadi menjadi lain. Madi Alit harus melihat bahwa Ken Rati tak lain adalah anak turun Demak yang sebaliknya harus ia musuhi. Maka timbul kecam yang dahsyat menghunjam hati dan perasaannya .Bagai guntur menggelegar disiang hari Madi Alit merasakan betapa kaget dan kecewa hati itu.

Maka ia terus larikan kudanya tanpa melihat jalan lagi. Mau rasanya ia berbalik menemui Ken Rati dan meminta maaf lalu menyatakan merubah sikap akan membantu Demak melawan Majapahit. Tetapi sebentar kemudian ia teringat kuwajibannya mencari Tombak Pusaka Kiai Bungsu adalah semata-mata unuk menyelamatkan kawula Pajajaran. Maka jika ia membela Demak, tak bedanya ia ikut menghancurkan Pajajaran dan Majapahit. Mengingat yang demikian, Madi Alit keraskan hati dan mengaburkan kudanya tanpa berhenti pula Sekalipun bayangan-bayangan Ken Rati muncul disepanjang jalan ia tak perdulikan lagi.

Pada saat ia berhal demikian itu, tiba tiba dari arah utara muncul kembali bayangan Ken Rati yang menunggang kuda seraya menyorongkan sebatang tombak menghadap dimukanya. Tak jauh dari gadis itu ia melihat sepasukan prajurit siap bertempur menunggu kedatangannya pula.

Madi Alit mengusap matanya, sadarlah ia. Ternyata yg ada di mukanya bukan Ken Rati, melainkan dua orang pembesar Negri yang sedang berjalan dengan dikawal puluhan prajurit bersenjata .

Madi Alit masih tak mengerti siapa orang-orang yang tengah berjalan kearahnya itu. Tetapi ia tak perdulikan lebih jauh. Kudanya terus ia larikan kedepan hingga debu mengepul dan lari binatang yang menggebu-gebu itu tentu saja mengejutkan orang-orang yang ada di mukanya.

- Hei berhenti! Jangan kurang ajar! -

Terdengar seorang pengawal dari orang-orang itu loncat maju dan menegur Madi Alit yang seakan mau menabrak mereka.

Madi Alit tak memperdulikan seruan itu. Hatinya yang rusuh tak membuat ia harus menurut kata-kata orang yang tak ia kenal. Kudanya terus ia keprak berlari keras menuju orang-orang itu.

Tentu saja perbuatan Madi Alit menimbulkan amarah. Tiga orang prajurit majukan kuda lalu ketika Madi Alit benar-benar menabrakkan kuda kedalam barisan itu, ketiga pengawal tadi membabat Madi Alit dengan hebatnya.

Kalau saja orang biasa diserang dengan cara demikian pada saat menunggang kuda yang berlari kencang, mungkin dalam saat itu juga akan terguling roboh oleh serangan tiga batang tombak dari arah mukanya. Tetapi Madi Alit, tidak menjadi gentar. Dua tangannya menyambut gerakan

tombak-tombak itu lalu entah dengan cara bagaimana, ketiga pengawal tadi menjerit keras dan 

tubuhnya terlempar jauh dari atas punggung kudanya, berdebug ditanah.

Prajurit lain menyibak dengan kaget. Madi Alit terus membelah jalan mencari kesempatan lolos. Tetapi puluhan prajurit yang melihat perbuatan orang muda tampan itu segera bergerak mengepung dan melancarkan serangan dengan hebat berbareng,

- Trang ....! Trang . . . . ! -

Terdengar suara senjata beradu ketika Madi Alit berhasil merampas sebatang golok dari salah seorang prajurit lalu ia gunakan senjata itu menangkis dan menyerang.

Dalam keadaan demikian, ternyata Madi Alit memperlihatkan kemampuan yang mengagumkan. Ia nampak gagah melawan banyak orang sekaligus. Dan disana-sini telah terlihat banyak prajurit terluka oleh serangannya. Maka ia majukan kudanya dan merangsek dengan hebatnya.

- Berhenti! Hentikan pertempuran gila ini! -

Tiba-tiba terdengar seruan keras menggeledek, membuat para prajurit berloncatan mundur menahan senjata.

Segera terlihat seorang diantara dua bangsawan yang tadi terlihat oleh Madi Alit. Orang itu maju menegur dengan muka berkerut.

- Eh. kau siapa anak muda? Tanpa hujan tanpa angin datang datang menyerang kami?

Madi Alit kaget. Sadarlah ia. Ternyata ia telah melakukan tindakan yang tak ia sadari sepenuhnya. Dan ketika ia melayangkan pandangan kesekeliling, matanya menangkap prajurit-prajurit yang terluka oleh senjatanya, maka ia menunduk dengan muka ditampar rasa kecewa pula..

Namun ketika Madi Alit memperlihatkan lebih teliti pada orang-orang yang ada dihadapannya itu, keningnya berkerut. Ia tak syak lagi mereka tentu orang Demak. Maka iapun maju dan bertanya :

- Apakah kalian orang-orang Demak?

Seorang prajurit yang ada dimuka maju menjawab dengan suara keras.

- Apakah kau buta? Hayo berlutut dihadapan Tuanku Pati Unus! -

Madi Alit surut kebelakang. Sadar dengan siapa ia berhadapan. Tetapi matanya memperhatikan lebih jauh. Ternyata dua orang bangsawan itu adalah Pati Unus dan seorang lagi Tumenggung Aria Teja yang tengah menyusul tentara Demak yang dipimpin Tumenggung Santa Guna.

Madi Alit sekalipun masih berusia muda, tetapi telah hampir mencapai tingkat yang sukar diukur kemampuannya. Ia semenjak mudanya telah menggembleng dirinya dalam ulah kanuragan dan kemampuan batin sewaktu menatap pada Raja Demak, melihat sesuatu pada diri Pati Unus. Meski raja Demak itu masih nampak gagah dan berwibawa, akan tetapi sinar kehidupan telah menyuram dari mata dan Wajahnya. Diam-diam Madi Alit berdetak hatinya. Ada yang akan terjadi pada diri Pati Unus tidak lama lagi. Maka ia mengangkat tangan dan berkata pula :

- Aku tidak harus melakukan peradatan menghormat tuanmu. Kalian menyingkirlah dan biarkan aku meninggalkan tempat ini! 

Para pengawal yang mendengar kata-kata demikian menjadi marah. Bahkan Aria Teja dan Pati Unus sendiri menjadi heran. - Ah, kau terlalu kurang ajar dengan kami, siapakah dirimu hingga telah merasa berani menentang kami? -

Tanya seorang pengawal pula.

- O, menyingkirlah kalian. Aku putra Pajajaran tak akan menarik perkataan untuk melawan orang Demak jika tak mau membiarkan aku lewat tanpa diganggu.

Yang mendengar saling berpandangan. Tak diduga yang ada dihadapan mereka ternyata orang Pajajaran yang menjadi lawan. Dan tiba-tiba Kepala Pengawal mengangkat tangan memberi isyarat. Maka melesatlah puluhan anak panah dari prajurit yang ada di dibagian kanan.

Madi Alit terkejut. Tak ia duga perlakuan yang diterima akan menjadi sedemikian. Dan karena geraknya ragu-ragu, sekalipun ia telah berloncatan menghindari serangan anak panah itu, tak urung dua diantaranya telah berhasil menancap dipundak. Madi Alit berseru tertahan. Kemarahannya timbul. Terbayang kembali wajah Ken Rati yang seakan tersenyum mengejek melihat ia diserang demikian, ia menggigit bibir dan memeluk leher kudanya erat-erat sesudahnya dua batang panah itu ia cabut hingga dari pundaknya mengalir darah merah membasahi dada dan punggung, lalu kuda itupun ia keprak maju menerobos orang-orang yang ada dimukanya.

Para pengawal berseru, mereka berloncatan menghadang Madi Alit seraya menyerang pula. Tetapi putra Pajajaran itu tiba-tiba menyambar sebatang tombak dari prajurit penyerang yang ada dimukanya menggunakan senjata itu menangkis serangan lawan yang berjumlah banyak.

Pecahlah pertempuran tak seimbang ditempat itu. Madi Alit seorang diri menahan serangan puluhan pengawal Demak. Namun Madi Alit masih dapat bertahan dengan baik. Tombak ditangannya berputar dan bergerak-gerak hebat.

Dugaan Madi Alit ketika ia melihat Pati Unus tadi ternyata benar. Aria Teja yang selalu ada didekat Raja Demak itu, ketika Madi Alit menyerang. tiba-tiba menyambar tubuh Pati Unus dari atas kudanya dan menaikkan Raja Demak itu kepunggung kudanya sendiri. Lalu Aria Teja loncat dibelakangnya dan mengaburkan kuda itu menyingkir dari tempat pertempuran.

Madi Alit tahu, Pati Unus tengah menderita sakit berat. Maka diam-diam timbul kegirangan dalam hatinya. Sebab menurut yang ia dengar, Pati Unus merupakan seorang kuat yang sukar terlawan.

Keadaan itu menimbulkan niat lain pada pikiran Madi Alit. Ia tahu Raja Demak itu sedang menderita sakit berat dan ia ingin menangkap Pati Unus hidup-hidup untuk ia bawa ke Majapahit sebagai orang tawanan. Maka Madi Alit mendesak para prajurit dengan semakin gencar. Yang tentu saja prajurit-prajurit itu bukan lawannya yang dalam waktu singkat segera terlihat mereka kewalahan. Beberapa orang diantaranya telah roboh luka-luka.

Madi Alit sekonyong-konyong berseru keras dan keprak kudanya berlari mendekati Aria Teja yang 

melindungi Pati Unus. Dan dengan kemampuannya ia serang Aria Teja dengan hebat.

Mendapat serangan yang demikian Aria Teja kaget. Tak ia duga Madi Alit akan secepat itu lolos dari kepungan para pengawalnya maka ia mengangkat tombaknya pula menangkis serangan Madi Alit yang telah meluruh ini.

Kali ini Madi Alit benar-benar mengerahkan segala kemampuannya. Maka tak mengherankan jika Aria Teja menjadi terkejut ketika tombak keduanya beradu tangannya gemetar hebat. Madi Alit tersenyum. Anak muda itu seakan dikuasai kekuatan tak nampak yang mendorongnya mendesak semakin kuat. Akan tetapi Aria Teja sudah barang tentu tak mau diperlakukan seenaknya oleh lawannya. Tiba-tiba ia loncat turun dari kudanya meninggalkan Pati Unus sendirian. Bersamaan itu para pengawal telah maju pula dan melindungi tuannya seraya melakukan serangan-serangan berbahaya.

Dalam pada itu Aria Teja telah mendapatkan seekor kuda yang lain pula. Ia putar tombak dan maju menahan serangan Madi Alit yang semakin berbahaya. Maka kembali terjadi perang tanding yang lebih dahsyat ditempat itu.

Kini prajurit Demak tak terlihat lagi melancarkan serangan. Mereka hanya berkeliling turut melindungi Pati Unus, sedang Aria Teja bertahan melawan Madi Alit dengan kagum. Hatinya tak menyangka lawannya yang masih muda sedemikian kuat, bahkan terasa lawan itu lebih unggul darinya. Gerakan-gerakan tombak ditangan Madi Alit demikian gencar dan berbahaya. Sekali-sekali terlihat Aria Teja terdesak mundur. Sekalipun ia masih belum sedikit juga pun tersentuh oleh senjata itu, tetapi keringat telah mengalir deras dan membasahi tubuhnya.

Sesungguhnyalah, kendati Aria Teja di Demak merupakan tetunggul yang tak mudah terkalahkan, namun menghadapi Madi Alit terpaksa ia harus mengakui lawan mudanya memang jauh diatasnya.

Agaknya hanya Pati Unus sajalah yang akan mampu menghadapi serangan Madi Alit. Namun keadaan Raja Demak itu telah jauh berbeda dengan beberapa waktu yang lalu.

Sebelumnya, tanpa diduga oleh siapapun, Pati Unus yang telah bersiap menyusul prajuritnya menyerang kearah timur, mendadak jatuh sakit. Pati Unus seakan terpukul oleh rasa kecewa tak mampu menyelesaikan pertempuran-pertempuran yang selama ini ia lakukan. Demak yang mulai nampak berkembang, tak banyak membuat ia berbesar hati. Dan tiba-tiba saja muncul penyakit aneh menyerang tubuhnya. Tak seorangpun tabib istana yang tahu penyakit itu. Sekalipun banyak tabib didatangkan dari seluruh Tanah Jawa, namun penyakit itu tak kunjung hilang. Bahkan tubuh Pati Unus sekalipun masih terlihat gagah, tapi lemah dan mengkhawatirkan. Hanya karena tekad dan kemauannya yang kuat sajalah membuat Pati Unus masih ingin melanjutkan peperangan menaklukkan telatah timur. Dan sementara Demak diserahkan pada Adiknya Raden Trenggana, Pati Unus minta pada Aria Teja agar mengawalnya menyusul para prajurit yang telah berangkat bersama Tumenggung Santa Guna. 

Maka Aria Teja menjadi cemas ketika menyaksikan kehebatan Madi Alit benar-benar tak mudah diimbangi. Bahkan Aria Teja merasa belum pernah bertemu lawan sekuat itu yang dalam keadaan seorang diri masih mampu mendesak para pengawal pilihan.

Pada suatu saat, ketika Madi Alit maju dan menyerang pengawal, Aria Teja menyambut serangan itu dengan memutar tombaknya pula. Tetapi Madi Alit telah memperhitungkan. Ia telah mendapat banyak pengalaman dalam pertempuran itu. Ketika tombak ditangan Aria Teja menyambut serangannya, Madi Alit membiarkan senjata itu bergerak demikian dan

trang!

Tombaknya terlepas oleh serangan Aria Teja. Namun dalam waktu yang hampir bersamaan Madi Alit loncat dari punggung kudanya kearah Aria Teja.

Madi Alit menerkam seraya mengeluarkan seruan keras yang tak terduga akan dilakukan. Sebab ia bukan menerkam Aria Teja melainkan kudanya yang menjadi sasaran terpukul oleh serangan Madi Alit pada bagian bawah perutnya hingga binatang itu melonjak kaget serta meringkik hebat kesakitan. Serangan Madi Alit tidak sampai disitu saja, saat kuda itu melonjak ia susul dengan gerakan cepat menyerang lambung Aria Teja dengan pukulan bertubi-tubi.

Aria Teja mula-mula kaget kudanya melonjak membuat ia hampir saja terlempar. Maka dengan sigap ia berusaha menguasai keseimbangan badan agar tak terbanting. Tetapi saat itu datang serangan Madi Alit yang cepat luar biasa.

Agaknya telah menjadi nasibnya, serangan itu tepat menghantam lambung Aria Teja hingga orang Demak itu berseru tertahan dan disusul tubuhnya melayang terlempar dari atas kuda.

Madi Alit telah turun ditanah, ketika ia melihat serangannya berhasil, loncat maju pula. Dan Aria Teja yang terluka, serangan datang dengan tombak yang masih ia genggam, bergerak sedapat mungkin dan membabatkan tombak itu kearah kaki Madi Alit.

Madi Alit sadar serangan itu masih berbahaya, maka ia loncat mumbul menghindarkan serangan tombak lawan. Membuat Aria Teja merubah serangan. Dengan terhuyung-huyung menahan sakit akibat serangan Madi Alit. Aria Teja memutar tombak itu dan ketika tubuh lawan masih berada diudara sewaktu meloncat tadi. Aria Teja melepas senjatanya dengan sisa tenaga terakhir ia kerahkan dan wuut...Tombak panjang itu melayang deras mengancam Madi Alit.

Yang diserang sadar tombak berbahaya itu tengah mengancam nyawanya maka dengan gerakan penuh perhitungan, Madi Alit memutar tubuh dan tangannya bergerak. Persis tombak itu hampir mengenai tubuhnya, Madi Alit berhasil memukul gagang tombak hingga senjata itu mencong dan melesat lebih deras terdorong pukulan tangan Madi Alit dan lewat disisi tubuh anak muda itu.

Terjadilah hal yang mengejutkan. Ketika tombak yang meluncur dengan kekuatan dahsyat menyerang Madi Alit, masih kemudian ditambah oleh dorongan pukulan anak muda itu, membuat tombak tadi meluncur deras dan terdengar seruan pendek tertahan, ketika Pati Unus yang ada 

dibelakang terhantam gagang tombak pada leher dan mukanya hingga Raja Demak yang telah payah itu terlempar hebat dari atas kudanya.

Aria Teja menjerit keras dan meloncat maju melihat kejadian itu. Demikian pula para pengawal berserabutan dengan kaget dan mereka bergerak cepat menolong Pati Unus, sedang sebagian lagi mengepung Madi Alit dengan kemarahan berapi-api.

Madi Alit terhenti. Tak ia duga akhir kejadian akan demikian. Namun ia tak bergerak hingga para prajurit hanya mengepung dengan senjata siap ditangan.

Sementara itu terdengar Pati Unus terbatuk-batuk hebat ditolong bangun oleh para pengawal dengan cemas.

- Aku akan mengadu jiwa denganmu! -

Teriak Aria Teja ketika melihat keadaan junjungannya demikian itu. Ia cabut keris yang sejak tadi terselip dipinggang lalu loncat maju menghadang Madi Alit yang telah dikepung oleh para pengawal.

- Bukan aku yang melakukan itu! - Seru Madi Alit.

- Tetapi kaulah yang menyebabkan! -

Aria Teja terhenti langkahnya mendengar kata-kata itu. Ia takut oleh suara hatinya sendiri. Dan diam-diam ia mengakui kebenaran perkataan Madi Alit. Maka ia menjadi ragu-ragu untuk melanjutkan serangannya. Lebih-lebih terasa punggung dan lambungnya amat sakit akibat serangan Madi Alit. Membuat Aria Teja harus berhitung lebih jauh. Agaknya ia bersama para pengawalnya tak akan dapat berbuat banyak. Belum tentu pengawalnya yang hanya berjumlah duapuluh lima orang itu akan dapat dipukul hancur oleh Madi Alit seorang diri. Tetapi juga bukan pekerjaan mudah untuk menghalau lawannya yang ternyata berilmu diatasnya itu.

Namun untuk mengaku kalah Aria Teja tak akan melakukan itu. Ia tentu saja lebih senang hancur menjadi debu daripada harus mengaku kalah terhadap lawannya. Tetapi ketika ia melirik Pati Unus yang sudah ditolong oleh para pengawal, hatinya menjadi cemas. Kalau ia akhirnya harus mati ditangan Madi Alit. siapa pula yang akan menjadi pelindung junjungannya itu?

Aria Teja semakin diliputi kebimbangan dan kecemasan. Maka Aria Teja mengambil putusan cepat.

Ia maju dan berkata pada Madi Alit yang masih berdiri termangu mangu.

- Hmm anak muda, ternyata kau dapat membuat kami menderita sedemikian rupa. Namun aku yakin, menilik gerak gerik dan tutur katamu, kau bukan dari golongan pengecut yang mau menindas orang yang telah tak berdaya. Jangan salah tangkap. Bukan aku takut berhadapan denganmu, tetapi jika kau setuju, lepaskan Junjunganku untuk kembali bersama para prajurit itu. Dan kau boleh berhadapan denganku sampai ada yang tewas diantara kita. -

Madi Alit yang sejak semula telah tak tega menghadapi keadaan demikian, ketika mendengar perkataan Aria Teja menggelengkan kepala 

- Ya, aku tahu. - Katanya.

- Akupun tak akan memperpanjang urusan pula. Kalian boleh kembali dengan aman, tetapi dalam kesempatan peperangan kelak jangan lupa aku akan turut menghancurkan lawan-lawan seperti kalian! -

- Eh anak muda, kau jangan membuat aku malu!

Aria Teja loncat menghadang ketika Madi Alit melangkah mau pergi.

- Kau lawan dulu aku. Apakah kau anggap aku takut berhadapan denganmu hingga kau merasa belas kasihan menghidupi diriku pergi begitu saja?

Madi Alit menghentikan langkahnya. Ia menggelengkan kepala.

- Jadi kau takut melawanku sampai ada yang tewas diantara kita? Kata Aria Teja pula.

Kembali Madi Alit menggelengkan kepala.

- Sudahlah kau rawat tuanmu itu baik-baik. -

Katanya kemudian lalu Madi Alit meloncat kepunggung kudanya dan keprak binatang itu berlari meninggalkan mereka yang tak menghalangi kepergiannya pula. Yang dalam waktu singkat Madi Alit bersama kudanya telah menghilang dibalik perbukitan yang ada dimuka ini.

Aria Teja dengan terhuyung-huyung menahan sakitnya memerintahkan para prajurit meneruskan perjalanan dan setelah kawan kawan mereka yang terluka dirawat pula, Pati Unus dibawa menuju perkemahan prajurit Demak yang telah tak jauh letaknya. Dalam pada itu Madi Alit melarikan kudanya kearah timur dengan semakin cepat. Hatinya kembali dibayang bayangi oleh Ken Rati.

Diam-diam ia menyesal memusuhi gadis itu. Bukan itu saja, bahkan ketika ia bertempur dengan Aria Teja dengan pengawal-pengawalnya itupun dalam hati kecilnya merasa tak sampai hati. Ia melakukan itu semata-mata terdorong oleh perasaan cintanya pada Pajajaran dan Majapahit yang terancam oleh munculnya negeri Demak.

Sementara itu Madi Alit tidak menyadari bahwa semenjak tadi sepasang mata telah mengintai serta mengikutinya kemanapun ia pergi. Dan kini orang yang juga menunggang kuda itu setelahnya jauh dari tempat pertempuran, menyusul Madi Alit mengejar melarikan kudanya seraya berseru memanggil-manggil :

- E. tunggu dulu kisanak! Berhentilah!

Madi Alit merasa heran. Ia telah mendengar seruan itu, dan menduga tentu orang Demak pula yang mengejarnya. Maka segera menghentikan lari kudanya dan memutar binatang itu pula. Dari jauh Madi Alit telah melihat seseorang yang melarikan kuda pula menyusul kearahnya. Maka ditunggunya.

Setelahnya dekat, Madi Alit menjadi heran. Melihat dandanan orang itu jelas bukan orang Demak, maka ia menyapa setelahnya mencoba tersenyum. 

- Ada kepentingan apakah menghentikan perjalananku? Orang itu tertawa.

- Kita segolongan kawan!

Sahut orang itu kemudian. Dan Madi Alit masih tersenyum. Ia menunggu perkataan orang lebih lanjut.

- Aku adalah Rangga Permana, penguasa daerah Supit Urang Majapahit. Aku tahu kau adalah putra Pajajaran. Maka kita adalah bersaudara, bukan?

Madi Alit tergagap. Ia pernah mendengar nama Rangga Permana sebagai kepala daerah Supit Urang yang disegani. Maka ia membungkuk memberi hormat.

- 0, kiranya kaulah yang telah kukenal lewat kebesaran namanya. Maafkan jika aku yang muda kurang mengerti kedatanganmu.

Rangga Permana tertawa pula. Ia kagum terhadap Madi Alit. Sebab diam-diam tadi ia telah ikut menyaksikan bagaimana Madi Alit menghadapi prajurit Demak dengan Aria Teja.

- Dan kau kemanakah sekarang? Tanyanya.

- Sengaja aku ingin bergabung ke Majapahit. - Jawab Madi Alit

- Bagus! Bagus! Ha....ha.....ha.....Kita beruntung benar. Hayo kita bersama-sama. Disana telah berkumpul banyak tokoh-tokoh andalan kita. Mereka tentu akan senang sekali melihat kedatanganmu.

Dengan tak banyak berkata pula, Madi Alit mengikuti Rangga Permana. Keduanya segera menjadi dekat. Dari Rangga Permanalah kemudian Madi Alit mengetahui bahwa kekuatan Majapahit amat besar. Banyak tokoh-tokoh tua ada disana. Maka diam-diam hatinya girang dan Rangga Permana yang telah banyak mengetahui kedudukan Demak menceritakan banyak hal yang ia dapat dari Demak selama ini.

- Sayang kau tidak bunuh saja Pati Unus itu. - Kata Rangga Permana dalam perjalanan.

- Aku merasa tak ada perlunya. - Jawab Madi Alit.

- Tetapi ia berbahaya.

- Ya, tapi untuk membunuh seorang yang telah demikian lemah keadaannya, tidak layak dilakukan saat itu.

Rangga Permana tidak banyak berkata pula. Bahkan ia bedal kudanya semakin kencang diikuti oleh Madi Alit yang tak kurang gagahnya menunggang berendeng dengan Rangga Permana.

Jika saja saat itu ada orang lain melihat mereka, tentu akan timbul rasa kagumnya. Sebab kedua 

orang itu terlihat tangkas dan sigap berada dipunggung kuda-kuda yang berlari dengan cepat meninggalkan debu dibelakang kakinya. Yang seorang masih muda dan tampan memakai ikat kepala kecil dan seorang lagi adalah setengah baya penguasa daerah perbentengan terakhir Majapahit yang disegani. Debu terus mengepul dibelakang kaki-kaki kuda mereka dan kearah timurlah mereka masih meneruskan perjalanan setelahnya mengalami banyak pertempuran.

Pada saat keduanya telah melampaui daerah perbukitan dan masuk melintasi sebuah hutan kecil, dari arah kanan tiba-tiba muncul seorang Penunggang kuda lain menuju kearah mereka.

Rangga Permana kaget. Demikian pula Madi Alit. Keduanya merasa heran melihat munculnya seorang penunggang kuda berpakaian aneh. Tubuhnya yang nampak kecil tertutup oleh jubah, demikian pula mukanya ditutup oleh sebuah kain berwarna kuning. Hanya sorot matanya terlihat dari dua lubang kecil yang menyembul dari kain penutup muka itu. Dan ketika diperhatikan lebih jauh, ternyata dipinggang orang itu tergantung dua batang pedang dikanan kiri dengan sarungnya berwarna indah.

- Tunggu dulu sobat!

Terdengar orang itu berseru. Suaranya kecil namun tinggi dan menyakitkan telinga yang mendengar.

Madi Alit menghentikan lari kudanya lebih dulu. Lalu Rangga Permana mengikuti perbuatan itu. '

- Siapa kau?! -

Rangga Permana menegur terlebih dulu. - Aku adalah lawan-lawan kalian. Maka kita berhenti disini dan mengadu kepandaian. -

Jawab orang itu, dengan suara lebih keras. Sekalipun suara itu kecil namun nadanya yang tinggi benar-benar menyakitkan telinga yang mendengarkan.

- Eh, apa maksudmu?

Rangga Permana bertanya. Ia melihat orang itu bertubuh kecil. Tetapi melihat gerak-geriknya menunggng kuda jelas memperlihatkan orang itu memiliki kepandaian. Maka ia tak berani sembarangan bertindak dan menegur dengan suara rendah.

- Maksudku? Kalian akan tahu nanti. Tetapi perlu aku katakan. Sayang aku tadi tidak menyaksikan orang Pajajaran itu. Ia menuding Madi Alit

- Hampir membunuh Tuanku Pati Unus. Kalau aku tahu, agaknya kepalanya akan diserahkan cuma-cuma padaku.

Madi Alit tertawa. Ia yang merasa dikenai oleh kata-kata itu maju dan menyahut :

- Benar sayang kalau kau tadi tak melihat. Kalau ada disana ia tentu senang menyaksikan kau yang sombong ini lari terbirit-birit

Rangga Permana tertawa mendengar ucapan itu.

- Huh, kalian sombong. Kini kalian lawan aku berdua. Aku ingin memberi pelajaran bahwa Demak 

masih banyak tenaga kuat yang tak mudah diganggu oleh orang-orang macam kalian ini.. Majulah!

Dan . . . . . .

Srat! Srat!

Orang itu mencabut dua batang pedangnya dan majukan kuda bersiap menghadapi Rangg Permana dan Madi Alit. Madi Alit berpandangan sejenak dengan Rangga Permana. Setelah Rangga Permana mengangguk ia maju lebih dulu dan mencabut pedangnya pula sementara Madi Alit tak bergerak menunggu apa yang akan terjadi.

- Sekaranglah! -

Kata orang itu menantang pula.

- Kau sombong! -

Seru Rangga Permana dan gerakkan pedangnya menusuk lawan diarah leher. Tetapi orang itu sebat bergerak. Ia miringkan leher dan gerakkan pedang ditangan kiri menangkis dan

- trang! .

terdengar suara senjata beradu sedang pedang ditangan kanan tiba-tiba menyambar membabat dada Rangga Permana yang terbuka.

Rangga Permana maklum orang sekalipun kecil tetapi tenaganya luar biasa kuat. Dan ketika pedang lawan hampir saja makan dadanya, ia jepit perut kudanya hingga binatang itu melonjak maju sekaligus Rangga Permana putar pedang sendiri menangkis serangan itu. 

- Trang! Trang!

Kembali terdengar suara senjata beradu dengan kerasnya. Namun alangkah kaget Rangga Permana ketika pedangnya 'beradu itu terasa tapak tangannya sakit bagai dibeset kulitnya. Dan sebelum ia tahu orang itu akan berbuat apa, tiba-tiba dua batang pedang berkelebatan dimukanya dan . . . . .

- trang! -

Kembali pedangnya kena benturan. Tetapi sekali ini karena tapak tangan telah kesakitan, pedang Rangga Permana terlempar jauh melayang diudara. lalu jatuh berdencing menimpa batu.

Terasa aneh sekali gerakan gadis itu. Luar biasa cepat dan mengagumkaan. Dan Rangga Permana yang telah tak bersenjata tibatiba merasa ada sesuatu goresan pipinya. Terasa dingin. Maka cepat ia mundur dan meraba pipi itu.

- Ah . . . . . .

Ia mengeluh. Ketika dilihatnya darah mengalir dari pipi yang ternyata digores oleh pedang lawan.

- Hayo kau maju berdua sekaligus. Kalau tidak jangan sesalkan aku turunkan tangan kejam mencakar mukamu dengan pedang ini! ,

Rangga Permana menjadi ciut hatinya. Sungguh tak masuk pada akalnya. Hanya dalam beberapa 

kali gerakan ia telah dibikin tak berdaya. Pedangnya terlepas dan mukanya luka. Agaknya kalau orang itu mau, bukan hanya pipinya yang akan mengalirkan darah. Mungkin lehernya bisa putus kena babatan pedang yang bergerak aneh dan cepat itu. '

- Hai, kau majulah!

Orang itu berseru pula dan pedangnya bergerak menyerang berkelebatan dan . . . . .

- breet! -

Pakaian Rangga Permana robek separuh oleh babatan senjata itu. Dan ketika ia maju pula, kembali pedang lawan berkelebat dan

- cras!

Kini pahanya menjadi korban goresan hingga darahpun mengalir dari luka itu. Membuat Rangga Permana pucat. Ia kaget bukan main melihat kehebatan lawannya. Maka ia mundur menjauh.

Dalam pada itu Madi Alitpun tak urung ternganga juga. Ia saksikan gerakan lawan itu demikian cepat dan sebat. Bahkan gerakan pedangnya amat sulit diikuti mata. Namun demikian ia menjadi penasaran. Maka iapun maju dan membentak :

- Lawanlah aku!

- Bagus mengapa tak maju sejak tadi?

Orang itu mengejek. Ia sambut tikaman pedang Madi Alit yang menggunakan pedang Rangga Permana ia ambil sewaktu terjatuh tadi.

- Trang! -

Kembali dua batang pedang beradu.

- Ah! .....--

Madi Alit berseru tertahan.Benar lawannya tidak ringan. Maka ia berhati-hati mencari kesempatan untuk balas menyerang. Dan sebelum lawan bergerak lebih jauh, Madi Alit lancarkan serangan bertubi-tubi. Ia ingin mendesak lawan itu secepatnya dan menyelesaikan pertempuran dalam waktu singkat.

- Mengakulah kau siapa sebenarnya menutup muka dengan topeng itu!

Serunya. Tetapi lawan tak memperdulikan. Hanya mendengus lewat hidung dan menyambut mengimbangi serangan Madi Alit yang mulai menindih dengan gencar.

Terlihatlah bahwa Madi Alit memang lebih unggul dari Rangga Permana. Hingga bagi lawannya tak semudah ketika melukai Rangga Permana. Bahkan serangan-serangan Madi Alit nampak kuat dan bertenaga. Maka diam-diam lawan bertopeng itu menaruh kagum juga.

Namun demikian, tiba-tiba lawan itu menggerakkan senjata dengan lebih cepat. Ia merangsek Madi Alit dengan serangan-serangan mematikan. Membuat lawannya berloncatan menghindarkan diri. Madi Alit kaget bukan main. Ternyata tak mudah baginya untuk menyentuh tubuh lawan dengan ujung pedangnya. Bukan ia tak tahu bahwa dirinya tergolong telah memiliki kemampuan yang tinggi. Tetapi 

berhadapan dengan lawan yang bertubuh kecil itu tiba-tiba saja Madi Alit merasa bodoh dan kerdil. Ia telah merasa lawan memang lebih unggul darinya. Hingga pada suatu saat pedangnya terlempar akibat benturan dengan pedang lawannya seperti nasib Rangga Permana.

Begitu senjata ditangan Madi Alit terlepas, lawannya loncat turun dari punggung kudanya sekaligus membabat kaki Madi Alit dengan hebat. Madi Alit kaget. Terasa pahanyapun tergores oleh pedang dan darah segera mengalir membasahi kakinya. Maka ia jepit perut kuda agar loncat berlari. Tetapi lawan itu bergerak lebih cepat. Dua batang pedang bergerak seketika dan kuda itu tiba-tiba meringkik keras lalu roboh bertekuk lutut karena kakiya terpotong oleh babatan pedang lawan dan Madi Alit terlempar jatuh dengan kerasnya.

Pada saat itu tiba tiba lawan bergerak pula, dengan dua kali gerakan pedang, lengan Madi Alit tergores hebat dan mengucurkan darah pula. Lawan tidak berhenti, ia terus loncat maju dan sekaligus dua batang pedang menjepit leher Madi Alit yang sudah terduduk lemah akibat luka-lukanya.

- Hayo kau mengaku kalah dan ikut denganku ke Demak untuk menerima hukuman. Kalau tidak pedang ini tak mengenal kasihan. Ia bisa menembus putus lehermu! -

Madi Alit yang telah tak berdaya dibawah ancaman pedang itu menjadi terkejut dan curiga. Sementara Rangga Permana juga tak bergerak dari tempatnya, Madi Alit berpikir. Ia bisa saja menyerang lawannya dalam keadaan demikian. Tetapi mengingat lawan ternyata cukup tangguh, ia tak berani sembarangan bergerak. Namun ketika ia mendengar perkataan terakhir orang itu. suaranya mendadak berubah. Kalau tadi lawan itu bersuara kecil melengking dan keras,kini kembali.Dan rasanya Madi Alit pernah mendengar suara itu. Maka sementara lawannya masih menjepit lehernya dengan pedang itu. Madi Alit mencoba memperhatikan bentuk tubuh yang tertutup oleh jubah panjang dan muka yang terhadang oleh penutup itu. Rasanya pernah mengenal.

Pikirnya.

Maka mengingat demikian, Madi Alit mengambil keputusan cepat. Ia akan pertaruhkan nasibnya dibawah dua batang pedang pedang lawan yang menindihnya.

- Hayo kau mengaku kalah dan berjanji mau ikut tanpa melawan ke Demak! Kata orang itu pula.

Madi Alit yang sudah memperhitungkan masak-masak, tiba-tiba bergerak memukul pedang yang menjepit lehernya dan tangannya bergerak sebat merobek tutup muka lawannya.

Akibatnya sungguh hebat. Gerak Madi Alit yang cepat ternyata berhasil menolong lepas dari ancaman pedang lawan. Tetapi karena senjata itu telah lekat dan gerakan lawan cukup tangguh, tak urung pundak Madi Alit tergores pula kanan kiri oleh senjata itu. Akan tetapi lawannya yang tak menduga tindakan Madi Alit menjerit kaget ketika gerakan lawannya berhasil merenggut tutup mukanya hingga kini jelas terlihat muka itu.

- Kau?! 

Madi Alit ternganga dan berkata lemah.

Orang itu tak tergerak. Kedua pedangnya terkulai disamping tubuhnya. Dan mulanya nampak berubah pucat menatap Madi Alit yang terluka oleh serangannya tadi.

- Ken Rati --

Madi Alit berdiri pula lalu mendekat dan memegang pundak lawannya yang ternyata adalah Ken Rati. Lalu dengan tersenyum Madi Alit berkata :

- Tak sia-sia, dan aku tak kecewa dikalahkan olehmu Rati. Ah, aku malahan berbesar hati kau mampu mengalahkan diriku. Tak aku duga kau sehebat ini. -

Ken Rati kini tertunduk. Tadipun ia tak sungguh-sungguh akan melukai Madi Alit. Apalagi membunuhnya. Dan kini setelahnya ia ketahuan maka hatinya merasa tak enak. Mukanya menjadi jengah hingga memerah jambu. - Dan kalau kau mau bunuh aku, bunuhlah Rati, aku tak akan melawan.

Kata Madi Alit pula. Tetapi Ken Rati masih tak bergerak. Hatinya diliputi kebimbangan. Ingin rasanya ia menjatuhkan diri kedalam pelukan Madi Alit, tetapi mengingat justru yang berdiri dihadapannya itu adalah lawan yang selayaknya ia musnahkan, ia diam tak bergerak.

- Ah, Rati bunuhlah aku. Kau adalah Kawula Demak yang seharusnya bertindak ksatria. Mengapa menjadi lemah hatimu? Dan andainya kali ini aku kau biarkan hidup. Jangan salahkan jika kelak kita bertemu lagi sebagai lawan yang harus saling mengincar nyawa masing-masing.

Gadis itu tiba-tiba mendongakkan kepala, lalu menatap pemuda itu dengan pandangan mengeras.

Namun disela sudut matanya terlihat setitik air bening mengaca.

- Baik. Kita memang dilahirkan untuk saling bermusuhan. _ Kata gadis itu kemudian.

- Sebanyak-banyaknya aku akan melawan musuh yang hendak mengganggu negeri orang tuaku.

Sebaliknya kaupun boleh membunuh orang Demak sebanyak yang kau mampu lakukan. Hanya aku ingin kau jangan jangan melawan ayahku mana kala kau bertemu dengannya. -

- Baik Rati, aku tak akan mengganggu ayahmu Sasadara jika kelak bertemu dengannya.

Gadis itu segera membalikkan tubuh, lalu meloncat kepunggung kudanya dan kabur meninggalkan mereka berdua. Rangga Permana menggamit Madi Alit dan menyatakan kagum atas kehebatan gadis itu. Madi Alitpun mengiyakan. Hanya ia tak habis mengerti mengapa semula Ken Rati berpura-pura tak mengenal ilmu kelahi. Namun sebagai cucu seorang linuwih macam Mpu Sugati sangat mustahil jika hal itu tak terjadi. Namun Madi Alit segera mengajak Rangga Permana untuk melanjutkan perjalanan ketimur. Keduanya mengatur siasat yang akan segera ditempuh bersama untuk menahan serangan Demak yang jelas telah dipersiapkan secara rapi.

Sementara itu seluruh prajurit Demak menjadi gempar mendengar: berita junjungan mereka Pati Unus telah mengalami kejadian yang hampir merenggut nyawanya. Namun tak urung kecemasan itu 

menjadi terbukti dan berkembang semakin jelas, sebab dalam beberapa hari kemudian Pati Unus telah menghembuskan nafas penghabisan dan wafat dalam pelukan Tumenggung Aria Teja.

Dengan peristiwa itu Demak diliputi mendung tebal dan berkabung. Maka pasukan yang sedianya akan berangkat ketimur, ditangguhkan dan sebagian ditarik kembali ke Kotaraja.

Selanjutnya disepakati oleh para sesepuh istana yang akan menggantikan adalah adik kedua Pati Unus yakni Raden Trenggana dengan gelar Sultan karena Pati Unus tak mempunyai turunan langsung.

Untuk mengadakan upacara penobatan Raden Trenggana menjadi Sultan Demak itulah telah diperintahkan kepada seluruh punggawa dan rakyat agar menyambutnya. Maka waktu singkat telah tersiar kesegala pelosok negeri bahwa Pati Unus telah tiada, dan Trenggana naik menggantikan tahta Demak dengan gelar Sultan.

Segala persiapan guna penobatan telah dilakukan. Pada kesempatan penobatan Trenggana itu rakyat akan diberi kesempatan untuk memberikan tanda gembira dan menyambut Raja mereka di bangsal penobatan. Saat itulah rakyat kecil diperkenankan untuk memasuki istana dan mendekat melihat raja mereka yang baru. Maka guna keperluan itu disediakan waktu dua pekan lamanya untuk rakyat bergantian mendekat dan melihat raja mereka.

Dengan upacara itu pula rakyat diseluruh wilayah kekuasaan Demak akan berbondong-bondong tak habisnya mendatangi istana guna melihat raja mereka. Dari segala pelosok penjuru akan berdatangan orang-orang itu dan memenuhi kotaraja serta alun-alun menunggu giliran diperbolehkan memasuki halaman istana dan bangsal dimana Sultan Trenggana akan duduk diatas tahtanya menyaksikan rakyatnya datang berduyun-duyun memberikan tanda penghormatan serta kedukaan mereka.

Seluruh punggawa menjadi sibuk. Dimana-mana terlihat kehidupan. Rumah rumah rakyat yang berdekatan dengan kotaraja jadi penuh sesak oleh orang-orang yang menginap menunggu kesempatan. Namun demikian masih juga terlihat arus manusia membanjir kotaraja. Dan sementara dibanyak tempat diadakan pesta-pesta serta keramaian rakyat, istana pun telah memulai mengadakan upncara-upacara sebagai tanda kebesaran Demak yang harus diagungkan. Maka pada waktu yang demikian. Demak benar-benar menjadi pusat keramaian, siang malam sepanjang waktu tak habisnya sambil menunggu upacara penobatan berlangsung.

Keramaian itu oleh rakyat dianggap sebagai suatu hal yang menggembirakan. Namun dibalik kesemuanya, sesungguhnya telah disengaja oleh Raden Trenggana Sultan Demak itu mengatur siasat mengadakan upacara sedemikian dengan maksud ingin melihat sampai dimana kecintaan rakyat padanya.

Dalam suasana perang dan keributan menghadapi peperangan dengan negeri lain. Trenggana benar memperhitungkan akan hal itu. Sebab dari kerumunan rakyat ia akan dapat mengetahui 

kebesaran Demak yang sesungguhnya. Karena itu dipesannya pada setiap punggawa yang menjadi petugas ditiap sudut keramaian untuk selalu memasang mata memperhatikan setiap yang datang dalam upacara penobatan.

Sebagai seorang yang cukup memiliki kecerdikan, Trenggana menduga banyak yg akan diperoleh dengan jalan mengumpulkan rakyatnya demikian. Sekaligus Trenggana ingin memperlihatkan kebesaran Demak dimata negeri lawan.

Namun dalam pada itu Trenggana tak menduga akan timbulnya suatu keributan yang berbahaya. Karena semenjak hari-hari pertama, dimana rakyat telah mulai banyak terlihat berbondong-bondong datang ke kotaraja, diantara rakyat yang terus membanjir itu terlihat pula orang-orang yang beroman agak lain dari rakyat kebanyakan.

Menilik pakaian jelas merekapun rakyat Demak yang mempunyai kepentingan sama dengan yang lain, yakni ingin turut melihat wajah Sultan Trenggana. Akan tetapi gerak-gerik mereka jelas pula membayangkan bahwa mereka bukan semata-mata rakyat biasa. Setidak-tidaknya mereka adalah orang-orang yang telah terlatih baik baik dalam ulah keprajuritan. Sedang manakala orang lebih memperhatikan orang-orang semacam itu banyak terdapat diantara kerumunan rakyat. Dan rupanya mereka memiliki ciri tersendiri. Pada pergelangan tangan kiri mereka mengenakan gelang lawe kuning. Dan jumlah mereka juga ratusan. Terbukti dimanapun ada kerumunan rakyat diantaranya tentu terdapat orang-orang dengan gelang lawe kuning itu. Merekapun seperti yang lain, ikut ngobrol dan bercanda dengan orang banyak. Di warung-warung atau ditempat kerumunan yang lain.

Ya, pendeknya dimanapun orang-orang dengan gelang lawe kuning itu tentu ada. Tak seorangpun memperhatikan mereka dengan cara istimewa. Semua dianggap mempunyai kepentingan yang sama ingin menyaksikan raja mereka dari dekat. Sedang manakala orang-orang dengan gelang lawe kuning saling berpapasan, terlihat mereka saling lirik bahkan ada yang menganggukkan kepala menyapa.

Tetapi ada pula yang sengaja tidak menegur satu dengan lainnya. , Sedang ditempat-tempat sunyi kadang terlihat dua atau tiga orang yang sama-sama mengenakan gelang lawe kuning saling berbisik merundingkan sesuatu. Dan apabila kemudian datang orang lain, mereka pura-pura bergurau dan merundingkan hal lain.

Hari pertama, tidak terjadi keributan. Diantara rakyat Demak sendiri hanya kadangkala terjadi perselisihan kecil yang tak berarti. Demikian pula pada hari kedua tidak terjadi bentrok apapun.

Rakyat nampaknya tenang dan benar-benar ingin menikmati kesenangan dan hiburan yang diadakan. Mereka rukun rukun dan menghormati satu sama lain.

Namun pada hari ketiga, agak dipinggir pusat kota terjadi benturan senjata. Seorang pedagang keliling telah menabrak seorang wanita yang menggandeng anak yang masih kecil. Hingga akibat tabrakan tak disengaja itu anak kecil tadi tertimpa oleh pikulan dan menangis.

- Maafkan. Aku tak sengaja menabrak. Ada yang mendorong dari belakang tadi. 

Kata pedagang keliling itu seraya membungkuk dihadapan wanita itu. Si wanita nampaknya marah. Tetapi melihat orang sudah minta maaf ia menyudahi persoalan itu akan tetapi pada saat anak tadi terjatuh, seseorang telah melempar betisnya dengan sebuah batu kecil hingga betis itu berdarah dan anak itu menangis. Maka alangkah kaget wanita yang menggandengnya tadi ketika dilihat anaknya berdarah dan luka. Maka ia berlari memanggil pedagang keliling yang sudah berjalan.

- Tunggu dulu. Ternyata anakku terluka oleh pikulanmu. Kau harus merawat dan mencarikan tabib untuk mengobatinya yang terluka berdarah, dan memeriksanya. ada yang tidak wajar disini.

Gumam pedagang itu.

- pikulanmu menimpa kau masih mau mungkir._

Pedagang keliling itu membungkuk lalu memegang betis anak itu.

- Aneh, tak mungkin luka ini tertimpa pikulanku. Rasanya...

- Apa katamu?- wanita itu marah.

- Jelas aku melihat

Tetapi pedagang keiiling tadi tidak memperdulikan ucapan itu. Matanya telah tertambat pada sebuah batu kecil yang terdapat tak jauh dari tempat anak tadi terjatuh. Maka dipungutnya batu itu lalu diamat-amati dengan memincing-mincingkan mata

- Ini penyakitnya.

Gumam pedagang itu pula. Namun dalam pada itu seorang dengan mengenakan gelang lawe kuning dengan tergopoh-gopoh menemui kepala prajurit Demak yang sedang berada tak jauh dari regol alun-alun.

- Ampun raden. Kata orang itu.

- Anakmu terluka parah dipukuli oleh pedagang Hindu disana.

- Apa katamu?-

Prajurit itu, membentak.

- Anakmu raden, ya anakmu terluka! Mari ikut hamba akan perlihatkan.!

Dan tanpa menunggu jawaban, orang itu segera berlari diikuti oleh prajurit itu dari belakang. Orang-orang yang melihat dua orang itu berlari-lari menjadi heran. Hingga karena ingin tahu apa yang tejadi, banyak orang lain mengikuti keduanya berlari-lari yang bertambah lama pengikut menjadi semakin banyak. Suasana menjadi ribut dan banyak orang segera berdesakan akibat sesaknya yang sedang berkumpul.

- Disanalah. Kau lihat! -

Kata orang tadi pada prajurit Demak. Setibanya ditempat yang ditunjuk, prajurit itu masih 

melihat istrinya sedang marah dan mengumpat pedagang keliling yang melukai anaknya. Lalu ketika diperiksa benar anaknya tak dapat berjalan karena sakit dan betisnya berdarah. Prajurit itu menghampiri pedagang keliling tadi dan membentak keras :

- He. kau orang Hindu yang melukai anakku?

Pedagang keliling itu kaget. Ia heran melihat seorang prajurit marah dan melotot padanya.

Tetapi dengan tenang ia menjawab :

- 0, jangan salah terima. Aku tidak melukai anakmu

- Bangsat mampuslah kau! -

Kata-kata pedagang keliling tadi terpotong oleh pukulan prajurit tadi yang menyerang lambung Pedagang itu dengan hebatnya

- Sabar! Jangan terburu napsu! --

Pedagang keliling tadi berseru berulang-ulang. Tetapi prajurit itu tak menggubrisnya. Bahkan ia melolos kerisnya dan menikamkan senjata itu bertubi-tubi, seraya berteriak-teriak : .

- Kau orang Hindu harus mampus kafir bodoh!-

Akan tetapi rupanya pedagang keliling tadi mengerti ilmu berkelahi. Dan tentu saja ia menguasai tata kelahi dengan baik, sebab ia adalah pimpinan orang-orang yang masih memeluk Hindu di Demak. '

Melihat prajurit itu tak mau mendengar perkataan ia gerakkan pikulan menangkis serangan senjata prajurit itu.

Akan tetapi sewaktu pikulan tadi bergerak, tiba-tiba dari belakang bergerak sebuah tangan lain menyambar pikulan dengan cepat ikut mendorong memukul prajurit tadi. Hingga tak dapat dielakkan lagi pikulan itu dengan derasnya mengayun dan menghantam kepala prajurit dan terdengar suara berdetak mengerikan ketika kepala itu retak seketika dan orangnya roboh mandi darah tewas.

Pedagang keliling itu menjadi kaget. Ia tak bermaksud membunuh. Tetapi dorongan seseorang dari belakangnya jelas yang menyebabkan tewasnya prajurit Demak itu. Ketika ia mencoba mencari siapa orangnya, tak seorangpun yang dapat ia curigai karena banyak orang disitu. Maka dengan kaget ia segera berbalik pergi dan menghilang diantara kerumunan banyak orang.

Pedagang keliling tadi merasa ada sesuatu yang terasa tidak sewajarnya. Pertama ia melihat batu kecil yang menyebabkan luka anak kecil tadi. Kedua bagaimana prajurit yang seharusnya tidak berjaga ditempat itu tiba-tiba saja mengetahui anaknya terluka. Ketiganya seseorang yang mendorong pikulan tadi.

- Ah, ini berbahaya. Harus aku laporkan di Kotaraja. - Pikirnya.

- Dan orang-orangku harus segera kuberi penjelasan yang benar agar mereka tak terkena oleh pancingan permusuhan ini. - 

Maka ia bergegas-menuju istana untuk memberitahukan kejadian itu. Akan tetapi ketika baru saja ia berlari-lari kecil itu tiba-tiba muncul dihadapannya dua orang mengenakan pakaian keprajuritan.

- He. tunggu dulu! Jangan kira akan mudah lolos dari tangan kami!

lantas tanpa banyak kata dua orang prajurit itu menyerang hampir bersamaan, menikamkan keris pada lambung kanan dan kiri pedagang keliling itu hingga saat itu juga ia menjerit dan tewas.

Tepat pada saat robohnya tubuh pedagang keliling, datang puluhan orang Hindu yang diberitahukan orang bahwa pemimpin mereka mati terbunuh di jalan. Dan mereka berseru dengan kaget melihat kejadian itu. Maka mereka berloncatan mengejar dua orang prajurit itu. Tetapi rupanya kepandaian keduanya mumpuni hingga dalam sekejap mereka telah kehilangan jejak.

- He, pemimpin mati! Kita harus membalas. Tidak adil! Mengapa terjadi pembunuhan ini? Kita harus balas dendam!

Tiba tiba saja dua orang prajurit tadi mengangkat tangan dan terlihat gelang lawe kuning melingkar dipergelangan tangan mereka. Tiba-tiba muncul seorang mengenakan gelang semacam itu pula dan berkata :'

- Kalian memang bodoh. Prajurit itu tidak bersalah. Kalian memang layak ditumpas habis agar tidak mengotori Demak dengan agama yang buruk itu. -

Mendengar demikian. orang-orang Hindu tadi merah mukanya. Namun ketika ada yang mau membuka mulut, tiba-tiba muncul pula seseorang lain yang tanpa berkata apapun menyerang memukul mukanya hingga yang dipukul terjerembab.

Dengan adanya pukulan itu menimbulkan marah mereka, maka serentak mereka maju menyerang orang-orang yang ada didekat mereka. Dan timbullah kemudian perkelahian diantara mereka. Saling mencaci dan saling mengejek. Orang-orang Hindu inipun mulai kewalahan. Jumlah mereka tak seimbang. Rakyat yang semula tak tahu menahu dan hanya ingin melihat apa yang terjadi menjadi terpengaruh dan ikut marah sebab mereka dipukul dengan serampangan maka pecahlah ditempat itu perang kecil dan keributan yang membikin ratusan orang saling baku hantam dan saling serang.

Korban segera berjatuhan. Baru kemudian ketika muncul tentara Demak dalam jumlah besar melerai perang kecil itupun terhenti.

Tetapi keributan yang kecil itu menjadi sebab timbulnya keributan yang lain. Karena rakyat yang masih memeluk agama Hindu menjadi marah dan curiga. Mereka menduga prajurit-prajurit Demak sengaja memusuhi dan menghina mereka. Dengan demikian diam diam timbul dalam hati mereka kebencian dan rasa tak senang pada prajurit Demak. Dan sekali-kali timbul pula percekcokan dan perkelahian kecil antara prajurit Demak dengan orang-orang Hindu itu.

Pada kesempatan lain, ketika rakyat tengah menunggu-nunggu datangnya upacara penobatan yang tiga hari lagi baru diadakan, tiba-tiba rakyat dikejutkan dengan ditemukannya sesosok tubuh 

yang telah menjadi mayat tergeletak ditepi jalan dipusat kota. Orang itu setelahnya diteliti ternyata adalah orang Hindu yang tewas terbunuh.

Tidak hanya itu saja, ditempat lain yang lebih sunyi juga didapati seorang Hindu yang telah tewas pula. Bahkan pada orang terakhir yang diketemukan itu didapati tanda-tanda telah dirampas barang miliknya secara paksa.

- Tentu disengaja untuk menakut-nakuti kita. - Kata seorang Hindu pada kawannya.

- Ya, kita harus berhati-hati terhadap prajurit-prajurit itu. Mereka makin berani dan terang-terangan menghina kita. -

Sahut kawannya.

- Bukan hanya harus berhati-hati. - Kata yang lain pula.

- Kita harus membalas dendam kematian kawan-kawan itu. Kalau tidak pasti mereka semakin memandang rendah kita.

- Membalas dendam? Salah seorang bertanya.

- Bagaimana bisa kita lakukan? Siapa berani melawan prajurit, berarti menyatakan berontak dan melawan negeri. Kita bisa dihukum pancung karenanya. -

- Kau bodoh. Kita tidak berterang, Balas kematian kawan- kawan kita itu secara diam-diam.

Kalau mereka bisa melakukan itu, mengapa kita tidak?

Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mendengar itu. Rata-rata mereka telah menjadi marah dan sakit hati.

- Kita kumpulkan kawan-kawan semua dan kita rundingkan rencana ini. Kata pemimpin mereka pula.

- Tetapi hati-hatilah prajurit Demak banyak yang bermata awas. Sekali niat kita tercium keselamatan adalah taruhannya.

Dengan demikian, tiba-tiba timbullah keributan dan kegemparan yang lain. Kalau semula banyak terdapat orang-orang Hindu terbunuh, kini berkali-kali terjadi prajurit Demak tewas terbunuh pula.

Namun bersamaan dengan itu masih juga kedapatan orang-orang Hindu yang hilang atau, terbunuh. Dan kegelisahan segera menjalar keseluruh Demak. Rakyat mulai diterkam ketakutan. Setiap saat mereka selalu dicengkam perasaan khawatir dan gelisah. Ditengah-ditengah kesibukan punggawa yang mempersiapkan upacara penobatan dan ditengahnya keramaian-keramaian yang diadakan ditiap sudut kota, menjalar pula kegelisahan dan was-was. Hingga semakin lama semakin tampak bahwa rakyat ketakutan dan bimbang untuk tetap berada di Kotaraja. Bahkan setelah sebagian tak mampu lagi menahan ketakutan itu, mereka kembali pulang ke kampung, para punggawa mulai merasakan 

hal itu. Ada sesuatu yang nampaknya bukan sewajarnya. Rakyat seakan dibayang-bayangi oleh maut yang menakutkan. Maka segera para punggawa memberitahukan hal itu pada Raden Trenggana, Sultan Demak yang baru itupun menjadi kaget. Bahkan ketika mendengar banyak orang telah tewas, hatinya menjadi sedih. Tetapi Sultan Trenggana cepat mengambil keputusan dan memerintahkan prajurit-prajurit untuk menyelidiki keadaan itu dan mencari apa sebabnya mereka berhal demikian.

Pada suatu saat seorang Hindu yang telah agak lanjut usianya terlihat berjalan dengan tergesa-gesa sambil menyeret tongkat panjang. Orang itu berjalan kearah kerumunan rakyat yang sedang berkumpul dipusat kota. Matanya nampak merah dan wajahnya tegang. Lalu ia menerobos diantara kerumunan orang banyak, lalu mengangkat tongkatnya dan berseru keras membuat yang mendengar menjadi terkejut;

- He, saudara-saudaraku. Lihatlah kemari ! Kalian dengarkan apa yang akan kutanyakan!

Orang-orang menoleh dan memandang orang itu dengan heran. Tetapi suaranya yang keras ternyata berhasil memancing perhatian hingga orang banyak terdiam dan menunggu apa yang akan dikatakan orang itu.

- Dengar! Kita semua adalah kawula Demak, bukan ? Kata orang Hindu itu kemudian.

- Hai apa maksudmu?

Terdengar suara bertanya diantara kerumunan orang-orang itu.

- Katakan dulu, kita orang Demak, bukan ?-

- Ya, tentu saja. Lekas kau katakan jangan mengoceh tak keruan !--

- Bagus! Kita benar kawula Demak. Dan kita saling bersaudara satu dengan yang lain. Maka tentu saja kita menyintai Sultan Trenggana, menyintai Pati Unus yang sudah wafat. Kita juga menyintai para prajurit yang selalu gagah berani dalam peperangan. Tetapi kalau prajurit-prajurit itu kemudian membunuh orang menyiksa dengan kejam pada rakyat kecil seperti kita. Apa yang harus kita lakukan?_

Orang-orang yang mendengar perkataan itu tak menyahut.

- He, apa maksudmu?-

Tanya salah seorang diantara mereka pula.

- Ah, kalian mengapa bodoh. Bukankah kalian tahu dan melihat banyak saudara-saudaraku dari kaum Hindu yang tewas terbunuh oleh prajurit-prajurit Demak. Maka kini aku ingin minta pendapat kalian. Apa yang harus kita lakukan?

Tak ada sahutan. Tak terdengar jawaban ketika pertanyaan orang itu sampai pada kalimat terakhir tadi. Akan tetapi dalam hati orang orang itu memihak orang Hindu, sebab dengan terbunuhnya orang orang Hindu oleh prajurit menyebabkan timbulnya rasa cemas dalam hati mereka sejak lama. Tetapi untuk berkata menyatakan pendapat mereka tak akan berani melakukan. Hingga 

untuk beberapa saat lamanya tak terdengar jawab atau suara. Dan orang Hindu tadi menoleh kekanan dan kekiri dengan kecewa. Lalu dengn nada kecewanya ia berkata pula:

- Ah, kalian ternyata juga seperti prajurit-prajurit itu. Bodoh dan kejam. Tak memiliki belas kasihan terhadap yang lemah. Baik

- Tunggu dulu, aku berpendapat kalian harus membalas dendam! - Terdengar sebuah suara menyahut memotong perkataan orang Hindu itu.

Banyak mata segera mencari dari mana datangnya suara. Dan ketika diperhatikan, seseorang terlihat maju mendesak kemuka dan berkata dengan suara lebih keras seraya menggerak-gerakkan tangan:

- Kalian orang-orang Hindu harus berani melawan dan balas kematian kawan-kawan kalian yang telah tewas itu.

Segera terdengar orang banyak bergumam. Saling berbisik dan mereka terdengar sependapat dengan orang itu yang ketika berkata kata gelang Lawe kuning nampak jelas dilengannya.

- Terimakasih, kau memang pantas dipuji. -

Kata orang Hindu tadi pada orang bergelang lawe tadi.

- Nah bagaimana saudara saudara yang lain ? - Tanyanya pula.

- Ya, kami setujuuuu............

- kalian harus balas kematian itu!

Dan segera terdengar mereka berteriak-teriak dihadapan orang Hindu tadi seraya mengacungkan tangan dan mengepalkan tinju.

Namun sekonyong-konyong orang yang berdiri ditengah kerumunan orang banyak itu mencabut keris dengan diam-diam. Lalu tiba-tiba ia tikamkan senjata itu pada pinggang orang yang ada didekatnya hingga orang yang ditikam itu menjerit kaget dan jatuh terguling kesakitan.

Yang lain kaget melihat kejadian itu dan mereka ribut lalu berusaha menangkap orang yang sudah menikam. - Tangkap dia yang membunuh!

Teriak mereka. Tetapi orang itu dengan cepat dan tangkas menyelinap dan melarikan diri diantara kerumunan orang berdesakan dan lolos menyelamatkan diri.

Akan tetapi orang lain yang tak jelas mengetahui apa yang terjadi, tiba-tiba saja menjadi ribut dan panik. Mereka saling dorong, dan saling desak.

- He kurang ajar, jangan menginjak kakiku. aduuh!

- Awas! hei! jangan pukul aku tidak tahu apa-apa!

Dan timbullah kemudian perkelahian ditempat itu tanpa mengetahui siapa yang menjadi sebab.

Mereka saling memukul. Akibatnya yang merasa tak bersalah menjadi marah dan balas memukul pula. Sehingga keributan semakin menjalar diseluruh tempat itu.. 

Dan beberapa orang telah tampak menjadi korban dan terinjak-injak oleh kaki orang-orang yang berdesakan.

Ketika itulah muncul tentara Demak dalam jumlah yang tak sedikit. Mereka telah mendengar adanya keributan ditempat itu. Maka prajurit-prajurit itu cepat turun tangan dan meredakan perkelahian.

- Hentikan! Apa yang kalian lakukan ini?! - Terdengar bentakan-bentakan.

Akan tetapi ketika itulah muncul orang-orang Hindu yang tanpa banyak cakap menyerang para prajurit. - He, apa ini ? Kalian mau melawan kami ?

Tak terdengar jawaban. Kecuali babatan senjata dan orang orang Hindu itu terus menyerang dengan sengitnya. Membuat para prajurit tak dapat berbuat lain kecuali balas menyerang hingga kini terjadi pertempuran yang lain.

Tak lama kemudian tiba-tiba saja muncul puluhan orang Hindu dan muncul pula yang lain hingga jumlah mereka bertambah dan dengan membawa senjata telanjang merekapun turut menyerang prajurit-prajurit Demak itu. Sedang diantara rakyat yang tergolong berani mulai banyak yang terlihat maju dan membantu menyerang para prajurit. Benturan senjata segera terjadi dan korban semakin bertambah .Dari kedua belah pihak mulai banyak yang terluka, sementara pertempuran terus berlangsung rakyat mulai terlihat berdatangan, bahkan banyak yang kemudian turut menyerang dengan lebih hebat.

- Bunuh saja prajurit-prajurit licik dan kejam ini! Terdengar sebuah suara keras dan lantang.

- Ya, tumpas saja mereka itu! -

- Jangan takut. !

- Bunuh! Habisi nyawa mereka. !

Dan pertempuran semakin menjalar.

Tetapi kalau saja orang mau melihat dengan lebih teliti, maka jelaslah banyak diantara rakyat yang melawan prajurit itu terlihat mengenakan gelang lawe kuning pada pergelangan .

Korban yang terluka semakin bertambah. Para prajurit telah tak kuasa lagi meredakan pertempuran. Bahkan sedikit saja lengah pasti nyawa mereka terancam.Maka tak ada pilihan lain bahwa mereka tetap bertahan dan menyerang orang-orang itu. Apalagi melihat banyak diantara kawan-kawan mereka telah roboh dan luka-luka. Sekalipun rasa heran masih mengeram dalam hati, tak mengerti mengapa orang-orang itu melawan, telah tak ada jalan untuk minta penjelasan.

Akan tetapi banyak kemudian diantara para prajurit itu yang melarikan diri dan mereka masuk kota kemudian memberitahukan kejadian itu pada Tumenggung Aria Teja yang segera mengirim prajurit lebih banyak. Lalu Tumenggung itu sendiri turut dan dengan menunggang kudanya 

mendatangi tempat keributan. Namun sebelum Tumenggung Aria Teja datang ketempat itu, terlihat tiga orang pemuda muncul mendekat. Dan ketika mereka melihat pertempuran menjadi heran. Sebab yang terlihat adalah rakyat menyerang para prajurit dan disana sini telah terlihat banyak yang terluka.

- Apa yang terjadi kang Sentanu?

Tanya salah seorang diantara tiga pemuda itu. Mereka tak lain adalah Sentanu bertiga dengan Pamasa dan Wijaya yang telah datang pula di Demak yang diharuskan mengikuti upacara penobatan Raden Trenggana telah meloncat dan masuk kedalam pertempuran, diikuti oleh Wijaya.

- Lekas kita lerai mereka!-

Kata Sentanu yang dengan cepat diikuti oleh Pamasa dan Wijaya. Dengan menggerakkan tombak pusaka Kiai Jalak Diding, Sentanu berseru keras seraya mengerahkan kesaktiannya,

- Berhenti semua ! Berhenti !_

Anehlah. Ternyata getaran suara Sentanu yang dilambari oleh keampuhan yang terlatih membawa banyak hasil. Rata-rata yang sedang bertempur bergetar hati dan perasaannya terguncang keras mendengar Sentanu maka tanpa sadar mereka menghentikan pertempuran itu. Pamasa dan Wijaya cepat pula bertindak. Ketika mereka telah tak lagi bertempur keduanya menghalau para prajurit untuk memisah dari orang-orang yang menjadi lawannya. Dan muncullah ketika itu Tumenggung Aria Teja mengiringkan Raden Trenggana yang disertai pengawal lain, Ketika diihatnya tiga anak muda melerai pertempuran mereka menjadi heran, dan memperhatikan. Terlihat para prajurit telah terpisah dari lawan-lawannya. Dan Sentanu dengan masih memegang tombaknya berseru lantang.

- Hei kalian kembali ke istana dan hentikan pertempuran bodoh ini !-

- Dan kalian kawula Demak mengapa menyerang prajurit, siapa yang memulai ? Namun tiba-tiba kepala prajurit loncat maju lalu menuding Sentanu dengan marah.

- Kau siapa berani turut campur urusan kami? Bentaknya.

- Ya, bunuh saja. Dia tentu yang menjadi sebab kawan-kawan kami terbunuh!

Seru orang-orang Hindu yang masih memandang prajurit dengan marah, Akan tetapi Sentanu tiba-tiba menggerakkan tombaknya lalu memutar senjata itu dengan cepat hingga menimbulkan angin bersiutan santar menampar-nampar wajah orang-orang itu bagai angin puyuh, membuat nyali mereka tiba-tiba menjadi ciut dan kagum melihat kehebatan anak muda itu.

Lalu Sentanu menghentikan gerakan dan berkata pula:

- Baik, kalian boleh melawanku bersama-sama jika tak mau kuperingatkan untuk menyudahi pertempuran bodoh ini.

- Bunuh saja!

Terdengar seruan orang Hindu yang semula membujuk rakyat untuk melawan prajurit Demak. 

Orang itu memukulkan tongkatnya kearah Pamasa yang ada didekatnya. Namun Pamasa yang telah melihat datangnya serangan bergerak lebih cepat. Sengaja ia kerahkan kemampuan simpanannya sebab jika melawan terlalu lama bisa menimbulkan kemarahan dan pertempuran pasti akan timbul kembali. Maka ketika tongkat orang Hindu yang ternyata cukup berilmu itu menyambar kepalanya, Pamasa gerakkan kedua tangan secara aneh dan sebelum penyerangnya tahu apa yang terjadi tongkat itu telah terpegang Pamasa dan.

- Krak ! Krak

tongkat itu kutung menjadi tiga potong, lalu orang Hindu itupun tak sadar apa yang terjadi, hanya ia merasa tubuhnya ditarik satu kekuatan luar biasa dan ia segera melayang ke udara jatuh terbanting oleh terkaman Pamasa menimpa orang-orang yang masih banyak berkumpul ditempat itu. Namun orang itu cepat berdiri. Hatinya menjadi kaget, ketika ia merasa tubuhnya tak mengalami cidera apapun, ia menjadi lega. Hanya untuk kembali menyerang ia tak memiliki keberanian lagi.

Sentanu tersenyum melihat perbuatan Pamasa. Maka kembali ia berkata:

- Saudara-sadaraku semua, kalian kembalilah ketempat masing-masing dan sudahi pertempuran ini. Tak berguna sesama orang Demak saling baku hantam dan saling bunuh. Kembalilah.-

Untuk beberapa saat kedua pihak yang baru mengadu senjata menjadi ragu-ragu. Mereka bayangkan tiga anak muda itu memiliki kepandaian luar biasa. Dan keberanian mereka ternyata berpengaruh hingga kedua pihak masih tak bergerak. Ketika itulah tiba-tiba mendekat Raden Trenggana diiringkan Tumenggung Aria Teja dan tanpa banyak berkata Raden Trenggana memasuki tempat itu lalu berkata dengan perlahan tetapi jelas terdengar

- Apa yang terjadi? Mengapa saling bunuh dan saling serang demikian rupa?-

Hampir semuanya ketika melihat munculnya Raden Trenggana telah terdiam dan menundukkan muka. Bahkan ada diantaranya yang segera berjongkok berlutut. Raden Trenggana memandang kesekeliling lalu berkata pula dengan suara masih perlahan:

- Kalian harus malu dengan sesama kawan teiah saling bermusuhan. Lalu Trenggana menatap kearah para prajurit,

- Dan kalian tidak seharusnya melayani mereka itu bertempur. Bukankah kalian yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayom mereka rakyat Demak itu ? Ah kalian ternyata telah dikuasai amarah yang tak terkendali. Sedang kalian, wahai kawulaku rakyat Demak. Tentu saja aku tahu.

Kalian menyerang dan berani melawan prajurit istana tentu dengan maksud untuk membunuhku. Apakah itu kemauan kalian ? Kalau benar, maka aku akan ikhlas menyerahkan nyawaku, Nah kalian boleh serang dan bunuh aku beramai-ramai. Aku tak akan melawan, dan Hei! Aku perintahkan pada seluruh prajurit dan pengawalku di seluruh Demak agar jangan membela aku dan jangan melarang mereka jika benar nyawaku yang dikehendaki. Biarkan aku tewas menyusul Kakanda Pati Unus. Nah, rakyatku yang kini ada ditempat ini kalian boleh menyerang dan bunuh aku. Aku jamin tak akan ada 

yang menghalangi kalian melakukan itu. Kerjakanlah!

Mendengar perkataan Raden Trenggana yang demikian, seluruh telinga yang mendengar menjadi gemetar. Terbukalah rasa dan pikiran waras mereka. Lalu terdengar kemudian isak tangis

tertahan-tahan diantara orang-orang itu. Dan hampir berbareng kemudian terdengar mereka berkata pula.

- Ampunilah kami tuanku, kamilah yang berdosa, maka kamilah yang seharusnya menerima kematian. Sekali-kali kami tak akan melakukan itu. Ampunilah kami. ..-

Dan serentak merekapun berlutut dengan kening menyentuh tanah seraya berkali-kali minta ampun serta mengakui kesalahan. Raden Trenggana terdiam melihat mereka berhal demikian. Dalam hati merasa girang, ternyata rakyat Demak masih menyintai dirinya, maka berkata pulalah Raden Trenggana

- Terimakasih! Terimakasih jika kalian masih menyintai junjunganmu. Karena itu aku perintahkan kalian semua kembali kerumah masing-masing. Lupakan kejadian ini. Laporkan jika ada sesuatu yang tak mengenakkan, jangan bertindak sendiri-sendiri melupakan tata peraturan negri kita. Nah, bubar dan kembalilah kalian

Mendengar perintah itu tanpa membantah segera mereka bubar dan dengan perasaan menyesal kembali ketempat masing-masing. Akan tetapi Raden Trenggana memerintahkan beberapa orang yang dianggap menjadi sebab timbulnya pertempuran itu untuk mengikuti ke istana. Demikian pula Sentanu bertiga dengan saudaranya diperintahkan menghadap di istana. Orang Hindu tadi dengan menangis meminta ampun dan menuturkan bahwa dialah yang menjadi sebab timbulnya pertempuran tadi.

- Namun demikian tuanku, hamba melakukan itu terdorong oleh sakit hati hamba atas terbunuhnya saudara-saudara hamba oleh prajurit-prajurit tuanku.

Raden Trenggana terdiam untuk beberapa saat. Baru kemudian berkata dengan suara perlahan:

- Aku tahu perasaanmu. Tetapi benarkah kau dengan kawan- kawanmu sudah melakukan penyelidikan benar bahwa prajurit-prajurit itu yang melakukan pembunuhan atas saudara-saudaramu

?-

Orang itu heran. Tetapi segera menyahut pula:

- Benar hamba dengan kawan-kawan hamba masih belum menyelidiki lebih jauh. Tetapi hamba melihat sendiri ada kawan hamba terbunuh oeh prajurit tuanku. _

Raden Trenggana masih tersenyum. Lalu:

- Ya, aku tak dapat menyalahkanmu. Hanya sebelumnya aku ingin mengetahui apakah kau masih menaruh kepercayaan terhadapku ?

- Oh ampun tuanku, mengapa bertanya demikian ? Tentu saja hamba masih percaya pada segala kebenaran dan keadilan dari tuanku 

- Baik kalau demikian. Tentunya kau akan bisa mempercayai kata-kataku. Menurut penyelidikan yang telah aku lakukan dengan para punggawa yang lain. Tak ada satu orangpun prajurit Demak Trenggana yang melakukan pembunuhan dan menyakiti saudara-saudaramu golongan Hindu. Hanya ada satu yakni kepala prajurit yang berkelahi dengan pedagang keliling itu saja. Tapi iapun telah tewas secara aneh. Sebab menurut kesaksian kawan kawanmu juga, pedagang keliling itu tak terlalu berarti kepandaiannya. Sedang kepala prajurit itu tewas oleh pukulan kayu pikulan disertai tenaga luar biasa dan tepat pada tempat paling berbahaya ditubuhnya. Sedangkan tempat kematian itu hanya tata kelahi yang sempurna. Karena sebagai seorang kepala prajurit rata-rata memiliki kepandaian tinggi dan kemampuannya dapat diandalkan. Maka sangat tidak masuk akal jika pedagang keliling yang tidak memiliki kepandaian itu dapat membunuh dengan menyerang pada bagian yang justru selalu dilindung. Nah, mengertikah kau apa yang sebenarnya telah terjadi ? -

Orang Hindu tadi ternganga. Tak terpikir olehnya hal-hal seperti itu. Namun segera ia

menangkap maksud pertanyaan Raden Trenggana. Dan ia menganggukkan kepala:

- Ya, hamba mengerti tuanku. Jadi ada orang ketiga yang sengaja menimbulkan kematian itu.

- Bagus kau cukup cerdik. - Sahut Raden Trenggana kemudian

- Nah, kini aku teruskan. Kepala prajurit itu menyerang pedagang keliling tadi disebabkan anaknya terluka akibat tertimpa pikulan. Tetapi menurut penyelidikan yang dilakukan para punggawa akhirnya terbukti luka itu sangat mustahil jika terjadi karena pikulan, secara jelas bekas luka anak itu akibat serangan benda lain dan keras dilakukan dengan tenaga seorang yang memiliki kemampuan sempurna. Karena Selain luka itu, ternyata juga telah menyebabkan lumpuhnya tata syaraf pada kaki si anak. Dan setelahnya diteliti lebih jauh, akhirnya juga didapati pada pedagang keliling itu ia menggenggam sebuah batu saat ia telah tewas. Dan batu yang terdapat dengan noda darah itulah yang kemudian terbukti dipergunakan oleh seseorang menyerang kaki anak itu secara menggelap. 0, masih banyak hal-hal yang bisa dihaturkan kalau kau mau mengetahuinya. _

Orang itu tertunduk makin dalam. Kini sadarlah ia dan ia mulai mengingat-ingat betapa tadi ia melihat beberapa orang memang seakan maju memancing keributan dan dari merekalah mula-mula pertempuran itu timbul.

Dalam pada itu Sentanu bertiga dengan Pamasa dan Wijaya masih tertunduk didekat ruang itu. Diam-diam mereka yang menyaksikan perkataan raden Trenggnna menjadi kagum. Tak salahlah jika Demak memilihnya sebagai Sultan dan raja mereka. Namun ketiganya masih tak dapat menduga apa yang akan dilakukan atas diri mereka dibawa menghadap di istana itu. Maka dengan hati berdebar mereka menunggu.

- Eh kau, siapakah kalian bertiga ini? Dan mengapa kalian berada ditengah pertempuran itu ? Tanya Raden Trenggana tiba tiba. 

Sentanu cepat memberi hormat lalu berkata:

- Ampun tuanku, secara kebetulan saja hamba berada dekat tempat itu dan karena hamba bertiga melihat yang tengah berkelahi adalah kawula Demak sendiri dengan prajurit tuanku, maka hamba melerai mereka.

- Kalian siapa? -

Bertanya pula Raden Trenggana.

- Dan rasanya aku pernah melihat dirimu. -

- Hamba bernama Sentanu tuanku, dan mereka ini adalah saudara-saudara hamba, Pamasa dan Wijaya. -

- Ya, nanti dulu -

Tukas Raden Trenggana pula.

- Benar rasanya aku pernah melihat dirimu. Benarkah? -

Sentanu berdebar hatinya. Ia cemas jangan-jangan Raden Trenggana akan menghukumnya sebab mengingat ia pernah masuk istana dan merampas Tombak Jalak Diding dengan kekerasan dari tangan Raden Trenggana. Tetapi tiba-tiba ia teringat ketika menolong Raden Trenggana dari serangan harimau di gunung dulu. Maka Sentanu segera menyahut:

- Benar tuanku, hamba pernah secara lancang pamer kekuatan menolong tuanku dari serangan harimau buas. Bahkan tuanku kemudian memberikan tanda kekuasaan tuanku pada hamba. Inilah benda itu. -

Dan Sentanu mengeluarkan tanda kekuasaan yang pernah ia terima dari Raden Trenggana.

- Oh, ya. ya, aku ingat. Benar kaulah itu pemuda gagah berani yang telah menolongku itu. Tetapi aku telah menduga tampaknya kau juga yang telah masuk istana dan merampas Tombak Pusaka Jalak Diding yang kau pergunakan tadi. Benarkah '!

Sentanu pucat. Tak ia duga bahwa kini dirinya akan terperangkap. Sedang untuk mengingkari tak mungkin.

- Ampun .Tuanku, benar hambalah yang telah secara kurang ajar menculik Tuanku di istana dan memaksa menyerahkan tombak pusaka yang sekarang hamba bawa ini. Tapi hamba akan ikhlas menerima hukuman. Hamba benar bersalah dan layak dihukum kisas tuanku.

- Ha...ha......... ha..... kau anak baik. Kau jujur dan berani. Jangan takut aku tak akan menghukummu. Kalau aku mau sejak kau melarikan diri membawa tombak itu aku telah dapat meringkusmu. Tetapi karena aku kagum dengan keberanianmu, maka kau kuberi kesempatan untuk lari. Tetapi baiklah, kau jangan cemas.

- Terimakasih tuanku, dan inilah tombak itu, hamba kembalikan!

- 0, tidak tak perlu itu. Kau boleh memakainya. Tombak itu rupanya cocok untukmu, sebab tak seorangpun akan dapat mempergunakan tombak berat itu. 

Tumenggung Aria Teja menggelengkan kepala dengan kagum Melihat Tombak Jalak Diding, ia jadi teringat ketika berebut dengan Tumenggung Santaguna dalam kedudukan Panglima Perang dengan mengangkat senjata pusaka itu. Dan Sentanu ternyata mampu membawanva, bahkan tak ubahnya dengan membawa barang lain, ia menjadi kagum bukan main. Sebab siapapun tahu tombak itu berat luar biasa.

- Eh Sentanu.

Kata Raden Trenggana pula.

- Bukankah kau dulu menyatakan niatmu masuk tamtama Demak. Sudahkah itu kau lakukan ? Sentanu menganggukkan kepala.

- Sudah tuanku, bahkan hamba telah merasa beruntung ditempatkan oleh Gusti Tumenggung Santa Guna dalam barisan tukang masak bertiga dengan dua saudara hamba ini.

- Tukang masak ? -

Yang hadir bergumam hampir berbareng. Rasanya tak percaya perkataan anak muda itu.

Demikian pula Raden Trenggana. Hampir meloncat dari tempat duduknya.

- Kau, ditempatkan dalam barisan tukang masak ? Siapa melakukan itu?

Sentanu kaget. Sadar apa yang akan terjadi jika berterus terang bahwa Tumenggung Santa Gunalah yang berbuat itu, bahkan berkali-kali menolak ia bergabung ke dalam tentara Demak. Akan tetapi Sentanu tak ingin mengadukan hal itu. Maka ia berkata lain :

- 0, bukan siapa-siapa yang memerintahkan hamba Tuanku. melainkan hamba bertigalah yang meminta ditempatkan dalam barisan tukang ransum itu.

Raden Trenggana menggelengkan kepala perlahan. Raja Demak itu bukannya tidak tahu bahwa Sentanu sengaja berdusta. Ia tahu Sentanu berbuat itu semata-mata menutupi perbuatan Tumenggung Santa Guna. Akan tetapi hati Raden Trenggana tak habis heran. Bagaimana Tumenggung Santa Guna menjadi bodoh. Sekilas saja memandang, Raden Trenggana telah dapat melihat bahwa ketiga anak muda itu adalah orang-orang yang berilmu. Dilihat dari gerak gerik serta sorot matanya jelas membuktikan mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu tak sembarangan.

Jadi bagaimana bisa terjadi Tumenggung Santa Guna hanya menempatkan mereka dalam barisan Tukang masak ?

Namun Raden Trenggana tak banyak berkata pula. Melainkan segera memerintahkan agar Sentanu tinggal di istana dan bergabung dengan prajurit pengawal istana.

Maka Sentanu tak banyak membantah. Lebih-lebih dua saudaranya menjadi girang. Kini mereka bisa mengenyam suasana lain. Sekurang-kurangnya mereka telah dihargai. Dan diam-diam kedua saudara itu berunding akan mengejek Tumenggung Santa Guna dan Bagus Prana dengan memperlihatkan bahwa kini setelah dipakai oleh Sultan Demak.

Dalam pada itu Raden Trenggana memerintahkan pula agar seluruh punggawa tiga menghadapi 

hari penobatan. Dan diam-diam Raden Trenggana memerintahkan membentuk satu pasukan istimewa karena menurut perhitungan Raja Demak itu akan terjadi sesuatu yang lebih hebat.

Untuk itu Raden Trenggana memerintahkan agar tentara Demak yang telah berada di Purwodadi bersama Tumenggung Santa Guna seluruhnya ditarik kembali ke Demak. Diperintahkannya tiga orang kurir membawa perintah itu pada Tumenggung santa Guna.

Ketiga orang itu merasa girang bahwa merekalah yang mendapat kepercayaan menyampaikan perintah pada Tumenggung Santa Guna. Apalagi kewajiban itu untuk mempersiapkan hari penobatan yang selalu dianggap sebagai saat yang keramat. Karena hari baik yang dipilih akan membawa berkat dan kemakmuran negri manakala sudah selaras dengan kemauan Yang Maha kuasa. Sedang jika penobatan itu membawa penanda buruk, maka negri bisa dipastikan akan lebih banyak kericuhan serta kekacauan akan selalu timbul dan mengganggu ketentraman rakyat Demak sendiri. Maka segala kewajiban yang dipikulkan pada pundak setiap kawula Demak akan dikerjakan dengan gembira sebagai menerima satu anugrah dari Raja.

Ketiga orang utusan itu tak mengenal lelah. Mereka melarikan kuda kudanya dengan cepat. Hanya sekali-sekali berhenti melepaskan lelah dan memberi makan binatang itu. Tetapi tak lama kemudian berangkat pula meneruskan perjalanan. Melintasi hutan dan gunung yang banyak terdapat disepanjang perjalanan mereka.

Akan tetapi ketiga orang utusan itu sama sekali tak menduga bahwa kepergian mereka dari kotamraja telah diikuti oleh dua orang yang nampak tangkas dalam menunggang kudanya.

Dua orang itu dengan sembunyi-sembunyi terus mengikuti ketiga utusan tadi. Dan keduanya nyata terlihat lebih cerdik dan berani, sebab dengan kepandaiannya dua orang itu tidak sampai diketahui oleh ketiga utusan Demak.

- Kemana tiga orang itu? - Tanya salah seorang diantaranya.

- Tentu saja aku belum dapat menebak dengan pasti, tetapi menitik daerah perjalanan yang mereka tempuh agaknya mereka menuju ke' tempat prajurit prajurit Demak yang tengah siap menuju ke tlatah timur. Kita ikuti saja sampai kita dapat mengetahui apa yang akan dilakukan tiga orang itu.

- Tetapi kalau kita mengikuti terus menerus, rasanya akan terlalu memakan banyak waktu,

Sedang kesempatan kita tidak banyak Kata kawannya.

- Kita cegat dibalik bukit itu. Jalan mereka tentu kesana.

- Ya, kau siap, bukan ?

Kawannya mengangguk. Maka keduanya segera memotong jalan dan melarikan kuda-kudanya 

menuruni jalan terjal dan berusaha melalui jalan yang melingkar.

Sementara itu tiga utusan yang masih belum menduga apa yang akan terjadi tenang-tenang, bahkan mereka masih bergurau sekali sekali terdengar tawa mereka.

Tiba-tiba

- Berhenti ! -

Terdengar bentakan keras membuat mereka kaget.

Hampir bersamaan ketiganya menghentikan lari kudanya. Dalam hati segera menduga akan terjadi sesuatu yang tak enak. Namun ketiganya bukan penakut. - Ada maksud apkah sobat-sobat menghentikan kami ? -

Tanya salah seorang diantaranya.

Dua orang pencegat tadi tertawa. Sementara kuda mereka meringkik perlahan, salah seorang maju dan berkata :

- Kalian siapa ? -

Tiga utusan itu saling berpandangan dan ketika diperhatikan, pada pergelangan tangan kiri dua orang itu terlihat mengenakan gelang lawe berwarna kuning. Namun itu tidak terlalu menarik perhatian para utusan. Hanya cara pakaian yang mereka pergunakan itu yang menarik, sebab jelas pakaian mereka tak berbeda sebagai pakaian yang mereka pakai, yakni orang-orang Demak juga. Berpikir begitu salah seorang menjawab juga :

- Aneh. rasanya kita berasal dari daerah yang sama. Bukankah kalian juga dari Demak ? Dua orang itu tertawa.

- Apakah aneh jawabanku ? - Bertanya utusan itu pula.

- Kalian benar orang Demak. Tetapi kami berdua, bukan! -

- Jadi, siapa kalian ? -

- He, bukankah kau belum menjawab pertanyaanku ? -

- Ah kalian rupanya sengaja mencari permusuhan. Bukankah sudah jelas kami orang Demak ?

Kedua orang itu nampak marah. Dan ketika salah seorang kemudian memberi tanda, mereka maju bersama dan mencabut pedang yang disembunyikan dibalik pakaian.

- Kalian banyak rewel, mari kita mengadu senjata ! -

Tantangnya. Lalu terdengar seruan keras dan timbullah kemudian pertempuran ditempat itu.

Para utusan Demak tak habis mengerti ternyata ada orang orang Demak yang memusuhi orang sendiri. Tetapi mereka tak lagi sempat berpikir terlalu lama, karena serangan kedua orang itu ternyata kuat dan bertubi-tubi datangnya.

Benturan-benturan senjata pedang mereka segera terlihat semakin keras dan seru.

Namun setelahnya pertempuran berjalan lama, mulai terlihat ketiga utusan Demak itu terdesak. 

Sekalipun jumlah mereka lebih satu tetapi kepandaian kedua penyerangnya menang jauh diatas. Dan gerakan-gerakan pedang kedua orang itu amat cepat serta serangan-serangan yang dilancarkan bergelombang menindih dengan gencar. - Menyerahlah ! Kalian tak akan menang menghadapi kami !

Seru dua orang itu. .

Tak terdengar jawaban. Ketiga utusan tak sudi menyerah begitu saja. Mereka tahu kuwajiban mereka amat penting. Tetapi napas ketiganya telah mulai terlihat memburu. Gerakan tempur mereka setelahnya berjalan beberapa saat terlihat melemah dan kacau.

Tak mengherankan, karena ketiga utusan tadi hanyalah prajurit-prajurit biasa Yang bertugas sebagai kurir dalam istana.

Pada suatu saat salah seorang diantaranya mengeluh ketika pundaknya terbabat pedang lawan.

Dan sebelum ia sempat menghindar pula. Pedang lawan menyayat pahanya dan darah membasahi luka luka itu. - Kau mundur dulu !

Kawannya memperingatkan.

Namun sebuah babatan yang lebih cepat berkelebat hingga yang baru saja berseru itupun terpaksa menutup mulut karena pahanya juga menjadi sasaran senjata lawan, sekaligus kudanya meringkik keras karena perutnya tergores oleh serangan senjata itu pula.

- Menyerahlah, kalian tak akan mampu melawan kami !

Kata Penyerang penyerangnya. Dan kedua semakin memperhebat serangan tak mau lagi memberi kesempatan utusan tadi melakukan serangan balasan. Hingga kini keduanya hanya mampu bertahan.

Dua orang telah terluka. Tinggal seorang masih belum tersentuh senjata.

Namun yang satu inipun terlihat mulai kepayahan benar. Hatinya di liputi kecemasan. Maka ia mulai berpikir untuk melarikan diri. Bukan takut mati diujung senjata lawan. Tetapi ia harus menyampaikan perintah Raden Trenggana pada Tumenggung Santa Guna. Bagaimanapun caranya perintah itu harus ia sampaikan. Sebab hari penobatan tinggal dua hari lagi. Maka diam-diam ia mengatur siasat. Segera ia majukan kuda dan sambil melindungi dirinya mendekati kawan-kawannya yang masih bertahan mati-matian dan berkata :

- Kalau kita memang tak mampu melawan, menyerahlah kawan. Biar bangsat itu senang dan . .

. . . .

- Trang!

Sebelum habis perkataannya pedangnya terlepas oleh babatan senjata lawannya.

Dua orang kawannya kaget mendengar kata-kata itu. Tak mungkin mereka harus menyerah.

Tetapi ketika mereka melirik kawannya itu memberi tanda dengan kedipan mata. Maka tahulah apa maksud kawan itu. Merekapun siap melakukan perintah tadi.

Dalam pada itu seorang yang masih belum terluka dan kehilangan pedangnya itu tiba-tiba maju dan dengan dada terbuka ia menubruk lawan. 

Tentu saja perbuatan itu tidak diduga sedikitpun oleh dua lawannya. Mereka tak menyangka utusan itu akan berlaku nekad bunuh diri. Sebab dengan dada terbuka ia pasangkan untuk dicacah oleh senjata lawan. Maka karena terkejut, kedua penyerang menjadi raguragu. Ketika pedang telah terlanjur berkelebat, senjata itu digerakkan sedikit miring dan dada yang terbuka itupun tak dapat dihindarkan lagi termakan senjata panjang lawan dan orangnya menjerit keras untuk kemudian jatuh terbanting dari atas kudanya tertelungkup tak bergerak lagi.

Dua kawannya kaget, mereka menjadi gelisah. Namun kedua penyerangnya bergerak cepat. Keduanya melancarkan serangan mematikan, dan tiba-tiba dua penyerangnya meloncat hampir bersamaan menerkam dua orang utusan itu hingga mereka jatuh bergulingan dari atas punggung kuda. Lalu dengan sigap dua utusan tadi diringkus untuk kemudian tubuh mereka ditelikung oleh tali tambang yang telah mereka bawa sebelumnya. Dua orang utusan itu dengan luka-lukanya tak berdaya sehingga ketika tubuh mereka diikatkan pada sebatang pohon keduanya tak melawan pula. Lalu ketika salah seorang diantara penyerangnya merobek baju dan mengambil surat perintah dari Raja Demak mereka tak lagi dapat mencegah.

Kedua penyerang tadi menyeringai ketika mengetahui isi gulungan berisi perintah Raden Trenggana yang memerintahkan Tumenggung Santa Guna agar membawa kembali tentaranya ke Kotaraja.

- Benar dugaan kita.

Kata salah seorang penyerang itu. Lalu setelahnya bersepakat, dua orang itu meloncat keatas kudanya dan mengaburkan binatang itu dengan cepat meninggalkan utusan-utusan yang terikat tak berdaya.

- Mengapa tidak kau habisi saja nyawa kedua orang itu? -- Tanya salah seorang diantara mereka.

- Tak dibunuhpun mereka tak lagi mampu pergi. Dan sebentar lagipun mereka akan menjadi mayat. Seorang telah tewas dan dua orang itu akan segera mampus pula. Sudahlah! -

- Lalu bagaimana kita sekarang? -

- Beritahu Tuanku Rangga Permana secepatnya. Kita berhasil baik kali ini. Sampai hari penobatan nanti Tumenggung Santa Guna tak akan mungkin datang ke Demak. Dan itu memberi kesempatan Tuanku Rangga Permana untuk mengirim tentara kita. Mereka akan menyamar sebagai prajurit Demak yang ada di perkemahan itu.

Kawannya menganggukkan kepala tanda mengerti.

- Eh, apakah kawan-kawan kita seluruhnya telah diberitahukan hal ini? ,_

- Mereka rata-rata telah menerima perintah rahasia dan siap menghadapi hari penobatan itu.

Bukankah sejak hari-hari belakangan ini kawan-kawan kita yang telah menyusup di Kotaraja berhasil memecah belah orang-orang Demak dan menimbulkan keributan? Pendeknya usaha kita berhasil baik. 

Kelak jika hari penobatan tiba, kawan-kawan kita yang ada di dalam kota dan disudut-sudut kota Demak akan bergerak. Sedang tentara samaran yang mengaku sebagai prajurit Tumenggung Santa Guna akan berada dibangsal. Saat itu Rangga Permana akan berada di dekat Trenggana.

Kawannya mengangguk pula.

- Kau jangan lupa. Kata kawannya pula.

- Peringatkan kawan lain jika masuk Demak harus mengenakan tanda benang lawe kuning itu pada pergelangan tangan kirinya. Agar mudah membedakan diantara prajurit Demak sendiri. _

Keduanya segera tertawa pula. Hatinya girang berhasil menyelesaikan kuwajiban itu. Ada harapan akan mendapat hadiah, atau bahkan akan segera naik pangkat mereka.

Dilarikannya kuda-kuda mereka semakin cepat seraya membawa gulungan surat perintah untuk Tumenggung Santa Guna yang mereka rampas tadi.

Sementara itu salah seorang utusan yang tertelungkup tadi tiba tiba bangkit. Ia tersenyum.

Sesungguhnya ketika ia tadi diserang sengaja menubrukkan dada pada pedang lawannya, ia hanya berpura-pura. Namun demikian ia telah mempertaruhkan jiwanya. Untung-untungan ia berbuat demikian, sebab jika lawan benar-benar menusukkan senjata tentulah jiwanya akan melayang. Tetapi untunglah lawan tadi menjadi ragu-ragu hingga serangan senjata itu hanya berhasil menggores kulit dadanya lalu ia berpura-pura jatuh terbanting dan tak bergerak pula. Baru setelah merasa yakin lawan-lawannya meninggalkan tempat itu ia bangkit, lalu ditolongnya dua kawannya yang terluka diikat pada batang pohon itu.

- Kita harus secepatnya meninggalkan tempat ini. -Katanya

- Biar mereka berhasil merampas surat perintah itu, kita harus segera memberitahu gusti Tumenggung Santa Guna.

Dua kawannya tidak menjawab. Mereka masih lemah dan akibat luka-lukanya mereka tak lagi dapat berjalan dengan baik. Hanya berkat semangatnya yang tak pernah padam sajalah membuat ketiga orang utusan itu meneruskan perjalanan yang tidak lama lagi sudah mencapai tempat tujuan. Pada saat tadi ketika utusan tadi dengan susah payah melanjutkan perjalanan, Sentanu tengah menghadap Raden Trenggana diistana.

- Tentunya kau mengetahuinya. - Kata Raden Trenggana.

- Saat hari penobatan semakin dekat, pastilah keadaan akan semakin terlihat panas. Tidak mustahil hari itu akan terjadi keributan. Aku telah merasakan hal itu Sentanu. Seakan ada yang berbisik dihatiku bahwa sesuatu yang hebat akan terjadi. Oleh karena itulah, sengaja aku memanggilmu. Kau bertiga dengan saudaramu aku perintahkan untuk melindungi istana pada saat penobatan itu.

Sentanu menganggukkan kepala. 

- Hamba sekalian tentu siap Tuanku. Jawabnya.

- Ya, -

Sahut Raden Trengggana.

- Tetapi saudaramu itu, tentu saja mereka harus memperlihatkan kemampuannya dalam tata tempur yang baik. Aku telah menyaksikan kemampuanmu, tetapi mereka berdua, aku masih belum dapat menjajagi. Karena itu perintahkan mereka esok pagi keluar dapg istana. Kita keluar berempat kehutan kecil ditimur kota untuk berlatih dengan mereka. -

Sentanu kaget. Namun segera dapat menangkap maksud Raden Trenggana. Raja Demak itu ingin menguji kepandaian Pamasa dan Wijaya.

Diam-diam hatinya berdebar girang. Sebab kepercayaan yang dilimpahkan oleh Raden Trenggana ternyata sangat besar.

- Hanya berempat Tuanku? Tanyanya.

- Berempat cukup. Jangan membuat perhatian orang pada kita. Saat seperti ini bukan waktunya untuk menguji calon pengawal istana. Maka esok kita keluar secara diam-diam dengan 'menyamar. Akupun akan berlaku sebagai rakyat biasa agar tak menimbulkan kecurigaan pada siapapun. Dan kau ingat Sentanu, pada waktu yang demikian, keselamatan seorang Raja amat terancam. Sebab tidak mustahil banyak musuh mengintai. Oleh karenanya akan lebih leluasa dan selamatlah jika aku berada diluar istana dengan menyamar sebagai rakyat kebanyakan. Nah kau bersiap dan beritahukan kedua saudaramu. -

sentanu menganggukkan kepala dan minta diri mundur dari hadapan Raja Demak itu.

- Apa perintah Tuanku Trenggana kang Sentanu? -

Tanya Wijaya ketika melihat Sentanu muncul dari dalam istana. Kedua saudara itu semenjak tadi telah menunggu diluar regol ketika Sentanu dipanggil menghadap.

- Kita bersiap melakukan sesuatu. -

Jawab Sentanu. - Esok pagi kalian mengikuti Tuanku Trenggana ke hutan kecil ditimur itu. -

- He, mau apa kita kesana? Bertanya Pamasa dengan heran.

- Ah, kalian mengapa jadi bodoh. Bukankah Tuanku Trenggana belum mengenal kalian? Tentu saja Tuanku ingin menyaksikan kemampuan kalian berdua. Sebab harapan untuk kita adalah menjadi pengawal istana.

Hampir bersorak kedua saudara itu menyatakan girangnya.

- Berapa orang penguji kita kang? --

- Tak banyak, satu orang! _ 

- Ah tidak berat. Satu orang akan dapat kita layani dengan baik! Seru Wijaya girang.

- Jangan. takabur. --

Tukas Sentanu. - Kalian jangan takabur dan merasa diri terlalu berlebih. Sebab dengan memelihara perasaan itu malah akan melemahkan kita dan mengurangi kewaspadaan. Dan apakah kau tahu siapa penguji itu? -_

- Ya, tentu saja kepala pengawal istana dalam yang terkenal itu!

- Ah kau keliru! Justru Tuanku Trenggana sendirilah yang akan menguji kemampuan kalian dalam ulah kanuragan dan aji jaya kawijayan.

- He,! Tuanku Trenggana sendiri?! -

Pamasa dan Wijaya berseru kaget hampir benbareng. Sentanu mengangguk seraya tersenyum.

- Sudahlah. Kalian bersiap baik-baik. Perlihatkan keperwiraan dan kejujuran dalam suatu tata tempur yang baik. Tuanku Trenggana akan dapat memberikan penilaian yang adil. -

Tak tahulah Sentanu bahwa kedua saudaranya tiba-tiba jadi kebat kebit hatinya. Perasaan mereka menjadi ciut mendengar Raja Demak itu sendiri yang akan menguji kepandaian mereka. Namun keduanya tak berkata pula dan mereka bertiga segera masuk kegedung kediaman yang disediakan untuk mereka.

Tentu saja ketiga anak muda itu merasa gembira. Semula mereka diikutkan oleh Tumenggung Santa Guna dalam barisan tentara yang dikirim ke Demak kembali. Tetapi tak diduga ketiganya telah bertemu dengan Raden Trenggana hingga kini nasib baik membawa mereka semakin dekat dengan Raja Demak itu.

Pagi hari setelah subuh mulai menipis, terlihatlah empat orang keluar dari regol belakang istana lalu dengan bergegas keempat orang itu berjalan meninggalkan istana ketimur. Dan ketika seorang penjaga mengetahui siapa yang lewat, dengan kaget memberi hormat lalu perintah perintah dan pesan yang diucapkan orang itu diiyakan penjaga itu membalikkan tubuh kembali ke tempatnya berjaga. Lalu empat orang tadi melanjutkan langkahnya.

- Kita baru akan kembali setelahnya matahari terbenam. -

Kata salah seorang diantara empat orang itu yang tak lain adalah Raden Trenggana.

Mudah ditebak. Tiga orang yang lain adalah Sentanu dengan Pamasa dan Wijaya. Mereka menyahut dan menyatakan akan taat perintah.

- Jangan perlihatkan kalian sebagai prajurit. Kita bersikap biasa dan ingat. Jangan bertindak melihat sesuatu kejadian. Sebab dengan begitu akan membongkar siapa kita. Dan akan berbahaya sekali kalau musuh mengetahui aku berada diluar istana. Kecuali terpaksa, kita baru akan bertindak terang terangan. --

Ketiga orang muda itu kembali mengiyakan. Dan mereka terus berjalan menyusuri jalan-jalan 

sunyi yang masih belum banyak dilalui orang.

Sengaja Raden Trenggana memilih jalan-jalan sunyi agar sebelum jauh dari istana tak ada yang mencurigai mereka yang kini mengenakan pakaian sebagai rakyat kebanyakan.

Ketika matahari mulai memancarkan semburat kemerah merahan diarah timur, keempat orang itu telah meninggalkan istana lebih jauh lagi. Dan kini mereka berjalan melalui jalan yang telah mulai banyak dilewati orang-orang yang menuju ke kota. Terdengar percakapan dipagi hari itu. Rakyat ternyata masih meperbincangkan hal penobatan di istana.

- Kita harus menyaksikan. Bukankah kau belum pernah melihat Tuanku Trenggana? Kata salah seorang diantara mereka.

- Ya, tentu saja. Tapi aku takut. Aku mendengar di kota banyak terdapat orang jahat. Malah belum lama ini aku mendengar cerita kawan kita disebrang dusun itu, dikota terjadi perkelahian dan banyak yang mati.

Sahut temannya.

- Ah tak apa, kalau kita-tidak memulai, tentu tak akan ada yang mengganggu.

Raden Trenggana yang mendengar percakapan itu tak urung merasa bersedih juga. Kalau rakyat telah mulai dijangkiti perasaan takut dan tak tentram, maka haruslah hal itu dihilangkan. Raden Trenggana menginginkan rakyat jangan takut bepergian kemanapun, maka salah satu upaya yang sedang ditempuh adalah mengembalikan ketentraman yang terlihat mulai terancam.

Kepergian Raden Trenggana berempat itu selain dengan maksud ingin mengetahui kemampuan Pamasa dan Wijaya, sebenarnya mempunyai rencana yang lebih dari itu. Sudah barang tentu sebagai seorang yang mengerti baik dalam ulah kanuragan, Raja Demak itu telah dapat mengukur seberapa tinggi kemampuan dua anak muda itu. Dengan hanya melihat gerak gerik dan sinar mata sudah dapat diduga kemampuan seseorang. Namun karena tujuan yang sesungguhnya adalah ingin mengetahui keadaan rakyat seraya menyelidiki sesuatu yang selama ini dirasakan tidak sewajarnya. Raja Demak itu merasa yakin ada musuh yang tengah memancing serta menyusupkan rasa permusuhan dalam hati rakyat Demak satu dengan yang lainnya. Maka sekalipun Raden Trenggana telah menyebar banyak prajurit sandi, namun ia masih ingin mengetahui dengan mata kepala sendiri apa yang sesungguhnya tengah dirasakan oleh rakyat dan apa yang selalu menjadi sebab timbulnya keributan dan permusuhan. Karena sebagai seorang yang cukup banyak makan pengalaman Raden Trenggana dapat menduga ada musuh tengah melancarkan api permusuhan dihati rakyat. Bahkan tak mustahil nyawanya sebagai seorang penguasa di Demak tengah terancam. Maka justru karena tahu kemampuan Sentanu dengan dua saudaranya dapat di andalkan, Raden Trenggana memilih mereka sebagai kawan sekaligus menjadikan pengawal dalam perjalanan itu.

Pada saat Raden Trenggana tengah berjalan itu, tiba-tiba dari arah muka memanggil tiga orang

perempuan setengah tua dan seorang lelaki. Mereka adalah pedagang sayur yang tengah menuju ke 

kota.

- Kisanak mau kemana? Tanya perempuan itu.

- Ah, kami hanya akan menjenguk kerabat di sebrang padukuhan ditimur itu. - Jawab Raden Trenggana.

- Ya, kalau demikian, kami sarankan kalian jangan melintasi hutan dimuka itu. Berbeloklah melewati jalan yang kami tempuh tadi, kekanan. - Ada apakah di hutan itu?

Bertanya Raden Trenggana heran.

- 0, kisanak tentunya orang jauh, belum hapal dengan tempat ini. Dihutan itu seringkali terjadi pembegalan. Kawan-kawan kami telah banyak yang menjadi korban kejahatan begal-begal itu.

Bahkan ada yang terbunuh oleh mereka.

Raden Trenggana. berpandangan dengan orang-orangnya.

- 0, baiklah. - Jawabnya kemudian.

- Terimakasih atas peringatan itu. Kami akan memperhatikan saran itu. Terimakasih.

- Ya, berhati-hatilah kisanak! -

Kata orang-orang itu pula lalu mereka melanjutkan perjalanan pula.

- Kau dengar Sentanu? Bagaimana pendapat kalian? Tanya Raja Demak itu kemudian.

- Menurut hemat hamba yang bodoh Tuanku, kita ikuti saja petunjuk orang tadi. Tak usah Tuanku melewati jalan itu. Tetapi kita melingkar dan mendatangi dari arah belakang mereka. Lalu kita lihat apa yang akan mereka lakukan. Lagi pula. kalau benar ada begal-begal itu disana, tentulah tak hanya ditempat itu mereka ber diam. Sebab kalau hanya disatu tempat mereka sembunyi dan rakyat telah hapal jalan, mereka tak akan peroleh mangsa. Tak ada yang melalui jalan itu.

Raden Trenggana menimbang sejenak, baru kemudian berkata:

- Kau benar. Mari kita melingkari jalan hutan itu dan kita lihat apa yang akan mereka lakukan terhadap kita. Kalau benar ada selayaknya mereka dihukum mengganggu ketentraman rakyat.

Dengan adanya berita itu Raden Trenggana semakin merasa yakin bahwa diluar istana rakyat masih mengalami banyak penderitaan dan kekurangan.

Pertentangan dan permusuhan ternyata masih banyak terjadi dimana-mana. Lebih-lebih benturan yang selalu terjadi antara rakyat yang memeluk agama Hindu dengan pengikut-pengikut Islam.

Keempat orang itu melarikan kudanya melalui jalan hutan dan melingkari jalan yang ditunjukkan oleh orang-orang pedusunan tadi. Di jalan itu terlihat kesunyian pula. Karena jalan yang tak biasa dilalui oleh manusia. Akan tetapi kalau saja mereka telah menempuh beberapa tikungan lagi akan tibalah dimana sedang terjadi sesuatu yang hebat. 

Pada saat empat orang itu masih melarikan kudanya dipagi yang masih terasa dingin oleh kabut, tiba-tiba mereka terkejut ketika mendadak berkelebat kearah mereka dua bayangan hitam dan langsung bayangan itu menghadang mereka dengan sikap mengancam.

Raden Trenggana bergerak cepat, sebatang tombak panjang ia genggam erat-erat siap menghadapi lawan. Akan tetapi Sentanu dengan dua saudaranya tidak sekaget itu. Sebab yang muncul dihadapan mereka adalah dua sosok harimau loreng sebesar anak sapi yang kini menghadang dimuka dengan sikap mengancam seraya mengeluarkan bunyi geraman memusuhi.

Pandangan Sentanu yang tajam segera mengenal siapa mereka.Maka dengan sigap ia loncat turun dari punggung kudanya dan menegur seraya tertawa :

- Eh, kalian membikin kami terkejut saja. Dimana Ken Rati?

Kedua harimau tadi hampir saja menubruk kearah Sentanu ketika loncat turun tadi. Tetapi ketika anak muda itu menegur demikian, binatang hutan itu tak jadi mlakukan niatnya,kedua nya segera mengenal siapa yang ada didepannya. Maka keduanya maju dan mendekam, lalu menggerang perlahan menyatakan kegembiraannya. Saat itulah Wijaya dan Pamasapun telah berloncatan turun. Mendekati mereka.

Raden Trenggana tak habis herannya. Kalau tadi agak terkejut melihat munculnya harimau yang tiba-tiba, sekarang kekagetan itu berganti menjadi rasa kagum ketika Sentanu mengusap-usap kepala dua raja hutan itu. Lalu Raden Trenggana mengikuti loncat turun mendekat.

- Tuanku, mereka adalah kawan-kawan hamba. -

Kata Sentanu. Lalu ia tuturkan harimau milik Ken Rati yang di temukan di perkemahan ketika mengganggu prajurit yang tengah berada bersama Tumenggung Santa Guna. Raden Trenggana mengangguk2.

- Dimana sekarang gadis itu? -

Tanyanya. Tetapi Sentanu kembali mengulang pertanyaan itu pada kedua binatang hutan yang hanya menjawab sambil menggerang dan menggelengkan kepala.

Akan tetapi harimau jantan tadi tiba-tiba loncat dan kabur berlari kemuka. Tentu saja si betinapun loncat dan mengikuti berlari dengan mengaum panjang seakan marah mencium sesuatu.

- Kita ikuti mereka tuanku! -

Kata Sentanu. Dan Raden Trenggana tanpa menjawab telah meloncat kepunggung kudanya lalu melarikan binatang itu menyusuri kedua harimau tadi. Demikian pula Sentanu bertiga saudaranya mengikuti dan mereka kaburkan kudanya kearah larinya raja hutan tadi.

Pada saat itu matahari telah mulai terlihat bersinar lebih terang. Cahayanya menerobos dedaunan dihutan yang tidak terlalu lebat itu hingga sekelilingnya tampak terang dan menyegarkan.

Tak lama mereka tiba dimulut hutan, dan sewaktu hampir memasuki sebuah tanah lapang, 

pandangan mereka terbentur pada suatu tempat yang menimbulkan rasa heran dan kaget. Disana terlihat banyak gubug dan rumah-rumah tinggal. - Sebuah perkampungan kecil! -

Desis Pamasa. Tetapi yang menarik adalah tidak jauh ditempat itu terlihat seorang gadis tengah mengadu senjata dengan lima orang laki-laki yang nampak garang.

Kepandaian lima orang itu terlihat lumayan dan mereka dengan gerakan-gerakan mengagumkan memainkan senjata mengurung sigadis yang juga menggunakan sepasang pedang. Hanya senjata si gadis terlihat lebih pendek dibanding dengan pedang ditangan kelima orang itu.

Beberapa gerakan, Raden Trenggana dengan ketiga pengawalnya telah dapat mengukur bahwa kepandaian si gadis menang jauh dibanding para pengeroyoknya. Dan rupanya pertempuran itu telah berjalan lama, sebab nampak kelima orang tadi telah berkeringat, meskipun hari masih pagi dan udara terasa dingin. Sedang gadis itu tak sedikitpun terlihat terdesak, bahkan gerakan pedangnya seakan hanya main-main dan sembarangan .

- Kalian benar sombong, -

Kata sigadis seraya masih mainkan senjatanya melayani kelima orang itu.

- Masakan dengan kepandaian yang sedemikian kalian ingin memusuhi Demak. Bukankah terlalu gegabah dan bodoh? -

- Diam!

Bentak salah seorang pengeroyoknya. Tetapi saat itulah tiba-tiba harimau jantan yang telah berada ditempat itu lantas mengaum keras dan menyerang kelima orang itu. Hingga mereka kaget melihat munculnya harimau hutan yang tiba-tiba saja telah berada ditempat itu. Dan harimau betina melihat jantannya menyerang, tanpa diperintah pula bergerak dan ikut menyerang orang-orang itu. Maka terjadilah kemudian pertempuran antara kelima orang itu dengan binatang hutan yang nampak garang dan menyeramkan.

Sepasang raja hutan itu tentu saja akan dengan mudah mendesak kelima lawannya yang kini berserabutan dan gerakan pedangnya menjadi kacau. Sedang si gadis telah semenjak tadi loncat mundur dan kini ia memperhatikan perkelahian kelima orang itu. Namun agaknya si gadis masih belum melihat munculnya Raden Trenggana dengan ketiga anak muda tadi. Bahkan dengan gembira gadis itu berseru seraya mengejek :

- Bagus, eh! Jangan kau bunuh orang-orang itu! Candra Muki!

Dalam waktu singkat kelima orang tadi telah berloncatan dan ketika merasa bahwa lawan memang tak terkalahkan, kelima orang itu tanpa berunding tiba tiba berloncatan dan kabur melarikan diri. Namun harimau jantan menggeram hebat dan sekali loncat dua orang yang tengah berusaha melarikan diri menjerit keras ketika punggung mereka kena diterkam binatang itu, sedang sewaktu si betina hampir loncat pula, sekonyong-konyong berkelebat sebuah bayangan dan sebuah serangan dahsyat menghantam harimau betina hingga raja hutan itu terlempar beberapa langkah dan bergulingan.  Melihat itu si gadis menjadi kaget. Baru sadar ia kalau ditempat itu ada orang. Namun ia menjadi marah lalu dengan gerakan kilat iapun meloncat dan menghadang orang yang baru saja menyerang harimau betina.

- Kau! Awas jaga kepalamu!

Seru si gadis yang bukan lain adalah Ken Rati menyerang dengan pedangnya bertubi-tubi. Orang itu yang bukan lain adalah Raden Trenggana kaget juga. Gerakan si gadis yang tak terduga ternyata amat kuat dan cepat. Maka ia loncat ketika tikaman senjata itu hampir saja

menabas kepalanya.

Raden Trenggana yang timbul rasa tak teganya melihat kedua harimau hutan menyerang kelima orang yang hampir kehabisan tenaga ketika melihat dua orang telah roboh diterkam si jantan, turun tangan menolong sewaktu melihat betinanya juga menerkam. Namun ia tak menduga kini sigadis malah menyerangnya. Dan gerakan gadis itu cukup kuat, bahkan serangan-serangannya amat cepat dan terasa aneh gerakan pedang yang kini mengurung.

Sentanu yang sejak semula telah mengenal Ken Rati jadi kaget melihat kejadian itu. Maka ia segera berseru keras :

- He, Rati jangan lakukan itu! Hentikan seranganmu. Kau tengah berhadapan dengan Tuanku Trenggana. Hentikan!

Ken Rani baru sadar sewaktu ia melirik, mengetahui yang berseru adalah Sentanu yang telah dikenalnya. Bahkan ia menjadi terkejut ketika mendengar orang yang tengah diserang adalah Raden Trenggana. Maka dengan sebat ia loncat mundur. Lalu dengan pandang tajam ia menatap lawannya, lalu bergantian memandang Sentanu.

- Benarkah kata-katamu? - Tanya Ken Rati.

- Apakah aku harus berbohong padamu? Jawab Sentanu.

Ken Rati menyarungkan pedangnya, lalu membungkuk memberi hormat.

- Ampun tuanku jika benar tuanku adalah Raden Trenggana. Hamba sungguh tak memasang mata. -

Raden Trenggana tertawa.

- Kau sungguh hebat. Aku kagum padamu. -

Katanya. Tetapi Ken Rati tak berkata lagi. Ia memanggil kedua harimaunya. Sementara tiga orang lawannya telah melarikan diri. Hanya dua orang yang terlihat tak mampu bangkit akibat luka-lukanya oleh serangan harimau jantan tadi. . .

Sentanu segera menuturkan pada Raden Trenggana siapa Ken Rati yang telah ia kenal. 

- Mengapa terjadi perkelahian? Bagaimana kau bisa menghadapi mereka seorang diri? - Bertanya Raden Trenggana setelahnya mengerti siapa si gadis.

- Tuanku, mereka seharusnya tuanku bawa ke kotaraja. Hamba hanya kebetulan saja bertemu kelima orang disini. Semula hamba hanya ingin beristirahat. Dan ketika kedua binatang piaraan hamba itu tengah mencari makan di hutan., muncul lima orang itu dan mereka langsung menyerang hamba dengan maksud buruk. Bahkan ketika hamba mengatakan akan memberitahukan kejahatan mereka ada diantaranya mengatakan mereka justru sedang berusaha membunuh tuanku. Nah, kini tuanku boleh bertanya. Mereka adalah orang-orang yang tengah berusaha mmghancurkan Demak.

Raden Trenggana terdiam. Maka Sentanu bergerak dan sekali loncat ia telah menerkam salah seorang diantaranya lalu diseretnya orang itu kehadapan Raden Trenggana. Orang itu jatuh terduduk dengan muka menahan sakit akibat luka-lukanya.

Raja Demak itu sekilas dapat menduga orang yang kini ada di hadapannya adalah benar seorang yang berniat melawan.

- Panggil satunya! Perintahnya kemudian.

Tanpa menunggu perintah kedua kali, Pamasa telah loncat dan menyeret kawannya lalu didorongnya orang itu kedekat Raden Trenggana pula.

- Kalian jawab dengan jujur. Kata Raden Trenggana kemudian.

- Benarkah kata gadis itu, kalian memusuhi Demak?

Dua orang itu hampir berbareng tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut hingga keningnya mencium tanah dan seraya menangis berkata

- Ampunilah hamba utanku. Benar kata-kata tuanku. Tetapi hamba hanya orang-orang yang sekedar menerima perintah . . . . jadi . . . . . ampuni kami . . . . . kami akan kembali tanpa melawan pula. ....ampun.....tuanku.....

Raden Trenggana tertawa. Lalu: - Kalian dari Majapahit ? -

- Ya, ya, hamba sekalian dari Majapahit. -

- Apa tugas kalian berada di tempat ini?

- Kuwajiban hamba menghubungi kawan-kawan yang ada di sini dan menghubungi Majapahit melaporkan keadaan mereka. -

- Hmm. . . . . .jadi kawan kalian banyak yang telah berada di Demak? _

- O, apakah kalau hamba mengatakan yang sebenarnya tuanku tak akan menjatuhkan hukuman pada hamba? -

Bertanya salah seorang diantara mereka.

- Katakanlah! - 

Kata Raden Trengganu.

Kedua orang itu saling berpandangan, salah seorang berkata :

- Kau ceritakan! -

- Jangan, kau saja katakan sesungguhnya! Jawab kawannya.

Keduanya nampak ragu-ragu. Tetapi ketika pandangan mereka beradu dengan sorot mata Raden Trenggana, keduanya tertunduk dengan gelisah.

- Bagaimana? Kalian katakan lekas! Kami tak ada waktu lagi.

- Baik tuanku, sesungguhnya ratusan kawan hamba telah menyusup ke Demak ini. Bahkan banyak diantaranya telah memasuki sudut-sudut penting di kota. Tidak sedikit tuanku, dan . . . . .

- o ya, -

Tukas Raden Trenggana.

- Mereka bermaksud mengepung Demak secara diam-diam dan menyerang dari dalam?

- Ya, lanjutkan bagaimana rencana kalian setelahnya memasuki kota! -

- Tentu saja kawan-kawan hamba adalah prajurit pilihan dan mereka menurut laporan prajurit sandi telah hampir berada ditiap sudut jalan penting dan pada hari penobatan tuanku kawan-kawan hamba telah akan berada didekat tuanku. Maka disanalah tuanku akan dibunuh. -

Raden Trenggana terdiam. Agak terkejut juga hatinya. Tak menduga lawan akan melakukan siasat demikian. Tetapi tak terlalu mengherankan Sebab pada hari penobatan itu hampir seluruh rakyat akan diperbolehkan mendekati Raja. Dan saat itulah musuh bisa saja melakukan serangan.

- Oh ya, kalian cukup berbaik hati. Tetapi tentunya kalian juga tahu bagaimana cara kalian membedakan antara kawan-kawanmu dari Majapahit dengan rakyat Demak sendiri? _

Hampir berbareng kedua orang itu mengangkat lengan kiri mereka dan berkata :

- Ini tuanku! Kawan-kawan seluruhnya mengenakan ciri gelang lawe berwarna kuning. Raden Trenggana menganggukkan kepala dan tersenyum.

- Bagus kalian memang berbudi.

Katanya. Dan kedua orang itu girang. Timbul harapan mereka akan dilepas, bahkan bisa jadi akan menerima hadiah.

- Nah, kalian berdirilah" !

Perintah Raden Trenggana kemudian.

Kedua orang itu cepat berdiri. Sekalipun susah payah.

- Terimakasih tuanku, terimakasih hamba sekalian telah terbebas. Bolehkah hamba pergi sekarang?

Kata mereka seraya mengangguk-anggukkan kepala.

Akan tetapi bagai kilat Raden Trenggana tiba-tiba saja telah mencabut keris pusakanya dan 

hanya dengan dua kali gerakan senjata itu menghunjam diulu hati kedua orang itu. Dan sekalipun keduanya masih tergolong mampu menghindar, tetapi karena cepatnya gerakan Raden Trenggana dan lagi mereka tak menduga hal itu maka tanpa dapat dicegah kedua orang itu roboh hampir berbareng oleh serangan Raden Trenggana dan bergerak-gerak sebentar untuk kemudian menghembuskan napasnya ditempat itu.

Ken Rati, bahkan Sentanu dengan saudaranya kaget dan mereka tak menduga sedikitpun Raden Trenggana akan melakukan itu. Tetapi tak satupun bergerak. Baru sesudahnya Raden Trenggana menyarungkan kembali keris itu, Sentanu maju dan berkata :

- Tuanku bunuh mereka? Bukankah akan lebih berguna seandainya mereka dihidupi? Raden Trenggana menggelengkan kepala.

- Kau keliru Sentanu. Jawabnya.

- Aku tak senang dan kebencian timbul terhadap orang-orang yang bersikap pengecut. Mereka minta-minta ampun. Bahkan tak malu-malu berkhianat terhadap Majapahit. Sekalipun itu menguntungkan kita, tetapi berkhianat aku tidak menyukainya. Maka lebih baik orang-orang seperti mereka dihabisi jiwanya. Kalau tadi mereka bungkam dan tidak membukakan rahasia itu dan melawan kita, aku malah akan memberinya ampun dan melepaskan. Kita harus dapat menghargai orang orang yang memiliki keberanian dan sikap jantan, Sentanu. Dan kau ingat kalau saja mereka kita hidupi dan kita pergunakan. Tidak mustahil mereka juga akan berkhianat terhadap kita. -

Sentanu menganggukkan kepala. Ia mengerti sekarang mengapa kedua orang itu harus tewas diujung senjata Raden Trenggana.

- Nah, kini kita harus waspada. Kita perhatikan siapa-siapa yang mengenakan ciri dengan gelang lawe kuning itu.

Tiba-tiba Raden Trenggana teringat sesuatu.

- Eh kemana gadis itu? _

Sentanu baru ingat Ken Rati, maka iapun menoleh kekanan kiri, tetapi si gadis telah tak nampak batang hidungnya bersama kedua ekor harimau pengikutnya.

- Ia pergi sejak tadi tuanku. - Berkata Wijaya.

- Kalian tidak mencegahnya. Aku kagum dengannya.

- Dicegahpun tak akan dapat tuanku.

Jawab Sentanu. Lalu ia ceritakan perihal si gadis yang pernah menimbulkan kegemparan dalam perkemahan Prajurit Demak. Tapi sementara itu diam-diam Sentanu heran. Ken Rati ternyata diluar dugaannya. Gadis itu tidak selemah yang ia duga. Bahkan ia merasa kepandaian gadis itu berada lebih tinggi diatasnya. Jelas tadi ia melihat gerak-geriknya sewaktu menghadapi para pengeroyoknya. 

Tetapi ia tak berkata sesuatu.

- Kita rawat mereka.

Kata Raden Trenggana menunjuk mayat kedua orang tadi.

Sesudah itu Raden Trenggana memerintahkan melanjutkan perjalanan.

- Kemana tujuan kita tuanku? Bertanya Sentanu.

- Kita akan menyaksikan keadaan ditengah rakyat. Kalian berhati hatilah. Agar kita tak diketahui mereka. Dan sekarang bukan saatnya menguji kalian lebih jauh. Kita lanjutkan saja dengan menyelidiki keadaan rakyat. Siapa tahu mereka dalam bahaya. -

Sentanu tak membantah pula. Mereka kemudian meninggalkan tempat itu.

Raden Trenggana melihat kehidupan ditengah rakyat Demak. Disana sini terlihat orang sibuk menyiapkan hari penobatan. Dan rakyat tetap terlihat girang. Tak sedikitpun terlihat ada kecemasan yang mengambang dalam wajah dan sinar mata mereka. sekalipun terjadi beberapa kali benturan senjata.

Namun, ketika Raden Trenggana memperhatikan dengan lebih teliti. Dimana-mana terlihat adanya orang-orang yang mengenakan gelang lawe berwarna kuning. Hampir ditiap sudut kota dan ditiap keramaian ada orang-orang semacam itu. Sukar membedakan mereka dengan orang Demak. Cara berpakaian, dan gerak-gerik mereka tak berbeda dengan yang lain. Ditengah pasar, dijalan dan ditiap tempat ada saja orang-orang itu. Dan tentu saja mereka menyembunyikan senjata-senjata dibalik baju, atau pada kantung-kantung yang mereka bawa.

Raden Trenggana banar2 kaget melihat kenyataan itu. Tak bisa dibayangkan jika tiba-tiba saja timbul perang. Rakyat tentulah akan kesulitan melawan orang orang itu. Mereka yang menyusup itu tentulah prajurit-prajurit pilihan. Sedang lawan mereka hanyalah rakyat kecil yang tidak mengerti tata tempur dengan baik. Maka sepanjang jalan Raja Demak itu tak banyak berkata. Demikian pula yang mengiringkannya. Dalam hati dan pikiran mereka berkecamuk gelisah dan khawatir.

- Ternyata Majapahit cukup cerdik Sentanu. -

Kata Raden Trenggana ketika berada ditempat sunyi. ...

- Mereka telah bergerak lebih cepat. Dan kini seakan Demak telah berada dalam tangan mereka.

Dan rakyat tak menyadari ada yang sedang mengancam keselamatan mereka. -

- Apa rencana tuanku untuk menghadapi mereka? - Bertanya anak muda itu.

- Tunggu kita tiba kembali di istana. Kita rundingkan dengan sesepuh dan para panglima.

Sewaktu-waktu bisa meletus keributan dan sekali salah langkah kita, maka dalam sekejap Demak akan menjadi neraka dan lautan api serta banjir darah tak akan bisa dihindarkan.

Sentanu menganggukkan kepala. Ia dapat memahami perasaan Raden Trenggana. Ia sendiri 

menyaksikan ratusan orang-orang mengenakan benang lawe pada pergelangan tangannya ada diseluruh sudut kota Demak dan hampir ada ditiap jengkal tanah ketika itu.

Terlalu mengejutkan yang dilihat oleh Raden Trenggana. Munculnya orang-orang dengan gelang lawe itu memperlihatkan kecerdikan orang Majapahit. Dalam waktu singkat Demak rasanya telah hampir berada dalam genggaman lawan. Sejauh mata memandang diseluruh tlatah Demak, terlihat orang-orang itu. Rakyat tidak menyadarinya. Raden Trenggana tahu apa artinya itu. Maka tanpa banyak bertindak yang menimbulkan kecurigaan, Raden Trenggana perintahkan Sentanu dengan yang lain untuk kembali keistana.

- Berhati-hatilah. Jangan mereka sampai tahu siapa kita yang sebenarnya. Sentanu menganggukkan kepala. Demikian pula Wijaya dan Pamasa.

- Tetapi bukankah tuanku berniat untuk menyaksikan kemampuan dua saudara hamba ini? Bertanya Sentanu.

Namun Raja Demak itu hanya menggelengkan kepala.

- Aku sudah tahu siapa kalian. Tak perlu lagi dilakukan.

Dengan bergegas, mereka melarikan kudanya kembali menuju kota dan menjelang senja hari akan segera mencapai tujuan, untuk kemudian menyelinap diantara bangunan istana, tanpa banyak orang yang mengetahui.

Sentanu berdebar hatinya. Bukan ia tidak tahu apa yang tengah terjadi di lingkungan Rakyat Demak. Bencana menganga dihadapan mereka. Sewaktu-waktu ada tanda dari lawan, bisa dipastikan orang orang dengan gelang lawe itu akan bergerak dan menyerang rakyat yang tidak bersenjata.

Maka bisa dibayangkan jika hal itu terjadi.

Dalam pada itu orang-orang Majapahit yang merampas surat perintah dari ketiga utusan Raden Trenggana yang hendak diberikan pada Tumenggung Santa Guna telah tiba disuatu tempat di Tlatah timur.

Saat itu terlihat tiga orang tengah bercakap. Sebuah gubug dipinggir hutan menjadi tempat mereka. Dan salah seorang diantaranya melihat dua orang itu, muncul, cepat berdiri.

- Bagaimana? Tanyanya.

Dua orang itupun membungkuk memberi hormat, lalu salah seorang diantaranya berkata girang.

- Kita berhasil tuanku, kali ini prajurit Demak dapat kita kelabui. Trenggana memerintahkan menarik tentaranya yang masih berada dihutan Purwodadi. Tetapi kurir mereka kita selesaikan. Inilah surat perintah itu tuanku!

Seorang yang ada ditempat itu yang bukan lain adalah Rangga Permana bersinar mukanya. Ia terima gulungan surat perintah dari orang itu.

- Bagus! Serunya.  - Dengan demikian Tumenggung Santa Guna tak akan pernah mengetahui adanya perintah ini. Sampai hari penobatan tentaranya tak akan kembali masuk Kota. Nah, kita akan dapat mengirim tentara kita. Menyamar sebagai prajurit Tumenggung itu dan.....ha....ha....ha.. .rencana kita ternyata berjalan sebagus ini. Bagaimana pendapatmu Ki Ageng ?

Seorang tua yang ada ditempat itu berdehem kecil.

- Ah, anakmas jangan terlalu cepat bergirang. Trenggana bukan lagi anak kemarin sore.

Sekalipun kita telah berhasil menyusupkan prajurit kesana. Selayaknya anakmas tetap berhati-hati.

- He, kau jangan membuat kita berkecil hati Ki Ageng! -

Desah Rangga Permana.Dan orang tua yang bernama Ki Ageng Semanding itu tertawa.

- Bukan, bukan maksudku berniat demikian. Coba anakmas tanyakan pendapat Madi Alit.

Rangga Permana terdiam. Namun Madi Alit yang ada ditempat itu tersenyum. Dalam hati membenarkan pendapat Ki Ageng Semanding,

Ternyatalah Madi Alit setelahnya bertemu Rangga Permana dan mengetahui rencana penyerangan tentara Demak ke Majapahit, bertindak cepat. Madi Alit kemudian memberikan pendapatnya menyusupkan orang-orang Majapahit ke kotaraja lawan. Madi Alitlah yang kemudian memulai memasukkan orang-orang Majapahit ke Demak, menyamar sebagai rakyat Demak. Dengan tanda pengenal gelang lawe berwarna kuning orang Majapahit itu akan dapat saling mengenal kawan sendiri. Sementara itu pada hari penobatan, orang Majapahit akan sudah berada didekat Trenggana. Dan saat itulah Trenggana akan di serang dan istana akan dapat dihancurkan dengan diam-diam dan mendadak. _

- Bagaimana? -

Bertanya Rangga Permana. Madi Alit tersenyum.

- Pendapat Ki Ageng ada benarnya. Namun kita telah cukup matang dengan persiapan ini.

Secepatnya kita mintakan kawan-kawan lain. Mereka kita kirim dengan mengaku sebagai prajurit Demak yang ada di hutan Purwodadi.

Rangga Permana menganggukkan kepala.

- Ya, kali ini Demak akan jatuh. Setidak tidaknya kita dapat merobek Demak sebagian. Katanya.

- Kita siapkan sekarang Ki Ageng? -'

- Aku siap anakmas -Kuwajiban pertama. -

Ketiga orang itu mengangguk senang. Lalu keluar dan perintah-perintah dilakukan.

Diam diam dalam hati Madi Alit berdebar juga. Ialah yang telah menyarankan Rangga Permana melakukan penyerangan ke Demak dengan cara demikian itu. Dan hatinya cukup merasa girang jika 

Trenggana akan dapat dipukul hancur. Dan tentu saja dengan munculnya Madi Alit menjadi kawan bagi Majapahit, menimbulkan kegirangan besar. Prabu Udhara yang mengandalkan kekuatan Majapahit terakhir pada Rangga Permana dan orang-orang yang masih bersedia membela Negri Hindu itu dapat melihat bahwa Madi Alit merupakan tenaga bantuan yang amat besar. Demak diperhitungkan akan segera terpukul oleh rencana mereka. Dan jika saja Trenggana dapat ditewaskan dalam penyerangan itu berarti Majapahit tak usah banyak mengecewakan tentaranya. Maka timbul rasa kagum pada Madi Alit yang telah berhasil menyusupkan orang-orangnya ke Demak. Bahkan menurut keterangan prajurit sandi yang selalu menyaksikan kemajuan orang-orang yang ada di Demak itu, menyatakan Demak masih belum menyadari bahaya dan kekuatan lawan. Maka satu impian membayangkan Demak akan robek oleh serangan Majapahit semakin jelas. Hanya dengan menggunakan sedikit tenaga, Demak akan terkejut tanpa sempat membela dirinya.