Mencari Tombak Kiai Bungsu Jilid 06

Jilid 06

PADA suatu ketika Mirah Sekar berhasil memandang kebawah dan kini jelas terlihat olehnya, dasar jurang dibawah itu ternyata amat indah dan bersih. Sebuah dataran berumput hijau dan halus yang penuh dengan bunga-bunga hutan berwarna warni. Namun Mirah Sekar tidak perhatikan itu terlalu lama. Ia pejamkan mata karena tiba-tiba saja kepalanya kembali pening dan berdenyut. Dan perutnya yang digigit rasa lapar membuatnya ia harus menggigit bibir dan menahannya. Tidak menunggu terlalu lama segera tubuhnya telah berada didasar jurang itu. Namun Mirah Sekar telah tak ingatkan diri lagi. Ia pingsan diserang oleh rasa lapar dan pening yang hebat. Mirah Sekar membuka mata dengan perlahan, ia menjadi heran, kini tubuhnya terbaring diatas sebuah batu panjang yang halus. Ia loncat bangun dengan sigap.

Aneh.

Tangan yang tadi sakit terkilir, kini tak terasa sakit lagi. Dan ketika ia meraba tubuhnya, terasa segar hingga ketika ia gerakkan tubuh dan meloncat bangun, loncatan itu menimbulkan kegembiraan dalam hatinya. Mirah Sekar memandang kesekitarnya, tempat itu ternyata adalah sebuah gua batu yang bersih dan terang sebab sinar matahari dapat masuk kedalam lewat lobang yang agaknya sengaja dibuat oleh seseorang yang tinggal ditempat itu. Mirah Sekar bangkit dari batu panjang halus itu. Lalu ia bertindak keluar dari gua. Namun ketika ia baru saja hendak melangkah lebih jauh, terdengar sebuah suara halus menegurnya:

- Eh tunggu dulu! Kau belum makan. makan dulu!

Si gadis terkejut. Dari luar gua terlihat seseorang berjalan mendatangi. Ditangan orang itu membawa sebuah mangkuk dari tanah dan ketika Sekar memperlihatkan dengan seksama, ia menjadi heran. Orang itu adalah seorang yang besar telah lanjut usia. Rambutnya yang menyentuh pundak telah berwarna putih bagai perak berkilau demikian juga janggut panjang yang menghias di mukanya. Nampak ketika Sekar mencoba menatap mata orang tua itu, Ia tertunduk tak tahan menatap mata yang bersinar tajam dan kuat. Maka dengan masih heran ia maju dan bertanya

- Kau siapakah orang tua ini? Apakah kau yang telah membawaku turun ketempat ini?

Orang tua itu tertawa mengekeh. Suara ketawanya pelahan dan halus. Baru sesudah itu ia berkata pula

- Kau makan dulu, nanti setelah perutmu tak lagi merasa lapar kau akan tahu semuanya. Hayo makanlah!

Mirah Sekar menerima mangkuk tanah dari tangan orang itu, lalu ia membalikkan diri duduk kembali ditempat semula pada batu panjang halus itu. Si orang tua tersenyum, lalu ia bertindak keluar kembali berkata :

- Kau tunggu dulu disitu, kalau masih kurang kau mengambil tambahnya diluar!- 

Dan si gadis mengiyakan, lalu dengan tanpa ragu-ragu ia santap habis bubur panas dalam mangkok tanah itu. Mirah Sekar girang bukan main. Terasa nikmat dan sedap bubur yang ia makan. Perut yang lapar dan kedinginan mendapatkan santapan lezat ditempat demikian sungguh merupakan hal yang baru bagi si gadis. Namun ia telah makan habis bubur panas itu. Ia telah merasa kenyang. Maka ia tak hendak minta lagi. Ia berjalan keluar membawa mangkuk yang kosong. Tiba diluar gua, Mirah Sekar menjerit kagum. Tempat itu ternyata diluar dugaan. Seperti yang ia lihat sekilas tadi, penuh ditumbuhi rumput halus dan hijau, dan tumbuhnya nampak diatur oleh tangan ahli hingga teratur dan enak dipandang. Sedang dibeberapa tempat ia melihat petamanan yang penuh dengan warna warni bunga indah. Sedang ketika ia melayangkan pandangan ke arah muka ditengah petamanan terdapat sebuah sungai kecil berair jernih, mengalir menimbulkan bunyi gemericik yang meresapkan hati. Kesanalah kemudian Sekar menuju dan membersihkan mangkuk yang baru saja dipakainya. Ketika Sekar berjalan balik, baru ia tahu, pada dinding tebing yang bersih terdapat sebuah gua batu kecil yang juga tak kalah bersihnya dengan gua semula. Namun ketika Sekar melongok kedalam gua batu itu, ia heran disitu terdapat sebuah tungku batu dan sebuah periuk panas masih terdapat diatasnya. Terlihat pula alat2 masak.

- Kemanakah orang tua itu?-

Pikir si gadis. Namun pertanyaan itu segera terjawab ketika ia menatap sebuah gua batu lain yang lebih kecil dari gua tempat ia terbaring tadi, dan dari dalam gua itu muncul si orang tua yang agaknya merasa gembira melihat Sekar telah berada di tempat itu.

- Kau sudah mengambil tambah makanmu?

Tanya orang tua itu. Mirah Sekar tidak menjawab. ia hanya tersenyum dan ketika si orang tua melambaikan tangan memberi tanda agar ia mendekat, Mirah Sekar berjalan mendatangi. Dan ketika orang tua itu memerintahkan Mirah Sekar masuk kedalam gua batu, tanpa menolak si gadis bertindak masuk, Ia menjadi kaget dan bertambah kagum. Ketika berada dalam gua itu, tak terasa jika ia berada dalam sebuah gua. Dinding gua yang dibikin sedemikian rupa, amat halus berkilat tak ubahnya dinding Kadipaten Wanabaya yang dibuat oleh Wilapribrata. Ketika ia berjalan masuk lebih kedalam, dibeberapa tempat terdapat kamar2 yang tidak kurang bersihnya. Tempat inipun amat terang sebab sinar matahari dapat masuk melewati lobang2 yang dibuat disekitar dinding gua itu.

Tak terasa Sekar telah menjelajahi hampir seluruh tempat itu. Karena kagumnya ia jadi tak ingat pada orang tua yang memerintahkan masuk tadi. Namun ketika ia melihat tempat terakhir yang membikin kaget karena ternyata disitu banyak terdapat senjata tajam. Tak ubahnya bagai sebuah tempat penyimpanan senjata pusaka.

Disitu si gadis ingat pada orang tua itu lalu ia berjalan balik pula.

Di ruang depan, kini Sekar melihat orang tua itu duduk bersila diatas sebuah batu bundar menghadapi sebuah meja batu pula yang tak kalah halusnya dengan batu2 lain dalam gua itu. 

- Kau duduklah disitu !--

Perintah orang tua itu seraya menunjuk bangku batu yang ada dihadapannya. Sekar tidak membantah, dengan menghormat ia duduk.

- Kau tentu heran dengan keadaan semua yang telah kau lihat disini.-

Kata orang tua itu kemudian. Dan Mirah Sekar menatap sejenak. Lalu berkata

- Tentu saja. Aku tidak menduga kau orang tua bisa hidup ditempat ini. Siapakah kau sebenarnya? Dan apakah kau memang berasal dari tempat yang terpencil ini? Jauh dari alam ramai dan hidup seorang diri tanpa seorangpun kawan. -

Orang tua itu tertawa lebar, wajahnya berseri-seri mendengar pertanyaan Mirah Sekar yang polos dan jujur.

- Kau tentu saja tidak tahu, tetapi eh. siapakah namamu anak manis ?-

karena orang tua itu memandangnya dengan ramah dan muka jernih, Mirah Sekar merah mukanya ditanya nama demikian. Namun ia menjawab juga

- Aku Mirah Sekar !

- Nama yang bagus! Sahut orang tua itu.

- Nah, kini kau dengar perkataanku. Kau tentu merasa heran mengapa aku bisa berdiam ditempat ini. Tetapi itulah yang dinamakan beratnya mengemban kuwajiban dan perintah. Hanya saja aku sedikitpun tak menganggap ini sebagai hal berat. Bahkan aku telah merasa aman dan damai berada ditempat ini. Jauh dari kekacauan dan keributan. Tetapi ketahuilah Sekar, aku telah menunggu nunggu kedatanganmu sejak puluhan tahun yang lalu. Kau tahu. Akulah yang sengaja memasang buah warna merah dan batang bambu apus diatas tebing jurang ini. Dengan berharap akan ada seorang yang berani mencoba untuk meraih buah yang menarik itu. Namun agaknya tak seorangpun mempunyai keberanian berbuat dengan mempertaruhkan nyawa mengambil buah merah itu. Tetapi, tentu saja barang siapa berani mencoba meniti batang bambu yang sengaja kupasang disana, ia pasti akan terjatuh kedalam jurang. Namun sudah kuperhitungkan, siapapun juga tak akan terbanting hancur karena diatas telah kusediakan sebuah penjala kuat yang akan menerima tubuh orang itu. Dan ternyata yang mengalami adalah kau, Sekar

- Tunggu dulu. Sekar menyahut.

- Jika kemudian terjadi seseorang bukan meniti batang bambu itu tetapi mengambil buah merah itu dengan galah, tentulah usahamu akan sia-sia.

- Hm. itulah yang kau tidak ketahui. Namun sudah kuperhitungkan. Tak ada seorangpun yang dapat memetik buah merah itu dengan galah, ia telah kubuat lekat demikian rupa pada tempatnya, dan hanya bisa dipetik manakala orang mengambil dengan tangan sendiri.

Mirah Sekar menganggukkan kepala tanda mengerti. 

- Tak usah kau tanya Sekar. - Lanjut orang tua itu pula.

- Tentu ada maksudku memasang buah itu, tak lain adalah sengaja memancing datangnya seorang yang berjodoh untuk dapat bertemu denganku disini. Hampir aku berputus pengharapan Sekar, bertahun- tahun aku menunggu namun masih belum terjadi juga seorang yang kena jerat perangkapku. Namun kini harapanku telah terkabul. Maka hatiku lega dan puas. Berarti usahaku tidak menjadi sia2.

- Apakah maksudmu sebenarnya? Bertanya pula Mirah Sekar.

- o, kau akan tahu setelah mendengarkan perkataanku hingga selesai.-

Tukas orang tua itu. Maka Mirah Sekar terdiam. Ia tak lagi berani memotong perkataan.

- Sekar, orang menyebutku dengan sebutan Guru Bantu, entah mengapa pula mereka menyebutku demikian, benar aku sekali dua kali pernah menolong kesulitan orang lain. Namun itupun tak banyak berarti. Dan agaknya karena itulah mereka menyebutku demikian. Tetapi akupun merasa suka dengan sebutan itu. Maka tak kularang mereka menyebutku demikian. Dimasa mudaku aku masih memiliki orang tua. Mereka berasal dari Majapahit. Mereka adalah dalang terkenal dimasa itu yg disebut Dharmapara, orang tua perempuan bernama Nyi Rumbi.

Mirah Sekar hampir melonjak dari duduknya mendengar penuturan itu. Tetapi ia tak berani memotong pula. Maka ditahannya gejolak perasaannya yang kini menggelora hebat.

- Ketika orang tuaku masih hidup, keduanya telah berhasil menciptakan sebuah ilmu yang tak ada taranya. Tetapi sayang ilmu itu tak dapat diturunkan pada murid-muridnya karena hanya pada orang-orang yang saling mengikat tali percintaan sajalah ilmu itu bisa diturunkan. Sedangkan empat murid tak satupun mau menikah. Dan aku sendiri sebagai anak kedua berbuat demikian juga. Begitu pula saudara tuaku maka ilmu yang telah diciptakan kedua orang tuaku itu tak dapat diturunkan.

Maka beliau hanya berpesan pada murid-murid agar mencari murid yang memiliki kekuatan dan berbakat baik agar bisa menerima warisan ilmu itu. Tetapi kepadaku Bapa Dharmapara telah memerintahkan agar aku berdiam ditempat ini menunggu kalau kelak ada seorang yang berjodoh untuk dapat menerima warisan ilmunya itu. Agaknya Bapa Dharmapara telah melihat sebelumnya bahwa kaulah yang akan muncul ditempat ini. Maka kini tak usah kau katakan, aku telah melihat pada dirimu, bahwa kau tengah dilibat oleh perasaan asmara. Maka tentu saja aku menjadi gembira. Karena memang itulah sifat ilmu dahsyat yang telah diciptakan oleh Bapa Dharmapara dan Biyungku Nyi Rumbi. Hanya kepada dua orang muda yang saling menyinta sajalah ilmu ini bisa diturunkan.

Sebab jika keduanya digabung menjadi satu, menurut penuturan Bapa Dharmapara akan membuat runtuhnya ilmu apapun di alam raya ini. Meskipun tidak mengurangi keampuhannya manakala dipergunakan sendirian. 

Mirah Sekar tak tahan mendengar keterangan itu. Maka dengan berani ia berkata

- Ampun guru, aku ingin sekali mengatakan satu hal. Aku telah mendengar sejak lama akan ilmu yang kau sebut itu. Guruku Nyi Ageng Maloka telah memberitahukannya.

Guru Bantu melengak heran.

- Hm, jadi kau murid Nyi Ageng Maloka? Yang Maha Agung... Kiranya benarlah apa yang dikatakan oleh Bapa Dharmapara bahwa ilmu ini pada akhirnya tak akan terjatuh kedalam tangan orang luar. Jadi dimanakah gurumu sekarang ?-

- Guru masih sehat dan berada dipertapaannya

- Bagus ! Sukur, sukur, rupanya kemauan Yang Maha Kuasalah yang menuntun kau berjalan ketempat ini. -

- Tetapi guru. bagaimanakah dengan pasangan lain yang kau katakan itu -

- o, Sekar. Aku tidak berani mengatakan. Segalanya adalah Yang Maha Agung sendiri yang mengatur. Saudara tuaku juga sedang menunggu seorang yang ditakdirkan menjadi jodohmu untuk menerima ilmu yang diciptakan oleh Bapa Dharmapara. Tetapi di mana Saudaraku itu berada, aku tidak mengetahuinya, dan siapakah yang kelak akan bisa mewarisi segala peninggalan Bapa Dharmapara selain engkau, aku juga belum dapat menjawabnya. Kau tunggu saja, kehendak Yang Maha Agung pasti terjadi. -

Mirah Sekar tidak berkata pula. Namun ia membayangkan Sentanu. Mungkinkah anak itu yang akan mendapatkan peninggalan dari kakek gurunya?

Sekar tidak dapat memastikan. Namun yang ia tahu benar adalah hatinya amat menyinta pemuda murid Ki Ageng Semu itu.

- Sudahlah, Sekar. Kini kau tinggallah bersamaku ditempat hi. Tak usah khawatir, pada saatnya kau akan menerima peninggalan Bapa Dharmapara. Dengan demikian kau telah menyelesaikan beban kuwajiban yang kupikul selama puluhan tahun menunggumu di tempat ini. Mirah Sekar menjadi girang mendengar itu. Maka ia menyatakan hendak taat dan mengikuti segala petunjuk Guru Bantu.

- Kau bisa menyebutku Paman Guru, meskipun aku terhitung lebih tua dari gurumu sendiri Nyi Ageng Maloka. -

Dan Sekar hanya mengangguk. Tapi ketika Mirah Sekar tiba-tiba teringat sesuatu, ia memberanikan diri bertanya pula.

- Guru, aku merasa heran darimanakah kau mendapat padi yang kau buat menjadi bubur itu? _ Guru itu tertawa

- 0, jadi kau ingin tahu? Hayo kita keluar!

Sekar mengikuti guru itu keluar. Sesudah melewati halaman penuh rumput hijau dan halus yang penuh dengan petamanan bunga. tiba2 Guru Bantu membelok masuk kedalam sebuah lorong sempit. Si gadis mengikuti dengan heran. Lorong itu demikian sempitnya, terdapat diantara celah batu 

padas yang keras. Dan setelahnya mereka habis menyusuri lorong itu, Mirah Sekar ternganga heran. Dimukanya terhampar sebuah tanah yang meskipun tidak terlalu luas, namun terlihat subur dan ditempat itulah teryata terdapat tanaman padi yang tengah menghijau

- itulah, aku telah bersawah sejak pertama berdiam disini. -

kata Guru itu. - Jadi untukku selamanya tak akan kelaparan, kalau hanya ingin makan kenyang tentu masih berlebih. Disini banyak air mengalir, jadi untuk mengairi sawahku yang tidak seberapa luas itu tak akan kekurangan.

Mirah Sekar menganggukkan kepala berkali-kali. Tak ia duga sedikitpun bahwa didasar jurang gelap yang tak nampak dari atas itu terdapat sebuah tempat yang demikian mengagumkan dihuni seorang tua yang ternyata adalah paman gurunya. .

- Sekarang kita kesana!

Guru Bantu mengajak Sekar berjalan pula. Dan dengan melewati pematang disitu, diajaknya Sekar turun kesebuah tempat yang lebih rendah diarah sana.

- Kau lihat itu!

Guru itu menunjukkan jarinya.

Kembali Mirah Sekar terkejut dan heran. Disitu ia melihat sebuah kebun yang penuh dengan tumbuhan ketela rambat, sedang di arah lain terdapat tanaman ketela pohon yang berdaun segar hijau. Sedang ketika ia menengok diarah lain, Sekar jadi menelan air liur disana terlihat jelas bergantungan pada'ranting-rantingnya buah jambu air yang tengah masak. Lagipula masih terdapat beberapa pohon mempelam yang masih belum berbuah.

- Kau jangan khawatir akan kelaparan disini, Sekar. - Kata Guru itu dengan tertawa.

- Kau inginkan buah apapun aku telah menanamnya. Aku ditempat lain masih memiliki kebun durian, jambu monyet dan beberapa pohon jeruk aku masih memelihara pula.

Mirah Sekar kembali meneguk air liurnya ketika orang tua itu menyebut-nyebut buah-buahan yang terasa nikmat dalam lidahnya

- Aku hanya sekedar mengisi waktu kosongku, Sekar. Sejak muda aku gemar bertanam. Semasa aku masih berkumpul dengan gurumu, merekalah yang banyak menghabiskan segala tanamanku.

Tetapi tentu saja aku menjadi girang, sebab kalau mereka tak mau membantu makan, mau buat,apa ?

- Eh guru. kalau begitu sekarang ini tentunya guru juga tak akan mampu menghabiskan semuanya itu, bukan? Lalu apa yang guru lakukan? Membiarkan mereka busuk dengan sia-sia? _

- He ...... he he ...... tentu saja tidak, Sekar. Kau belum tahu. Hayo kau ikut aku kesana! _ Mirah Sekar mengikuti guru itu berjalan pula. Ia heran, ternyata tempat itu banyak terdapat

dataran-dataran yang banyak jumlahnya. Namun kali ini Sekar harus mengikuti guru itu menyusuri 

sungai kecil yang ada disitu, lalu menembus sebuah hutan kecil dan kembali memasuki gerumbul dan lorong berlumut yang sempit.

- Hayo! -

Guru itu mengajak Sekar melewati lorong itu. Dan Sekar menurut.

Kini kembali ia dibuat terheran-heran oleh pemandangan sekitarnya. Sebab kini bukan lagi ia berada didasar jurang, melainkan berada di tempat terbuka, dialam luas. Bahkan ia bisa melihat bayang-bayang gunung yang terlihat banyak bertebaran ditempat itu.

- Kau tentu telah mengetahuinya kini. Kita sekarang berada ditempat terbuka. Kau lihat agak jauh disana, itu sebuah pedusunan, kesanalah aku seringkali membawa makan yang berlebih. Tentu saja mereka akan gembira menerimanya. Namun tak seorangpun akan tahu jalan masuk yang sengaja kubuat dengan teliti ini.

Sekar kembali menganggukkan kepala berkali-kali. Ia kagum dengan kecerdikan guru yang menemukan jalan itu.

- Jadi kau jangan menduga selama ini aku terpencil. Sama sekali tidak! Aku tetap bergaul dengan rakyat banyak. Maka ketika kau masih tergantung dalam jala itu, aku tidak segera menolongmu turun sebab aku tengah datang kedusun itu menolong seorang anak kecil yang tengah sakit panas. Orang tuanya menyangka anak itu diganggu hantu yang ada didusun. Tetapi menurut pengamatanku anak itu bukan diganggu hantu, melainkan ia diganggu nyamuk jahat yang banyak terdapat disana. --

- Sekarang aku tahu.

Kata si gadis. Dan guru itupun tertawa.

- Kau cerdik dan berani. Lebih bagus bertanya daripada memendam ganjalan dihati, bukan? Si gadis juga tertawa.

- Kita kembali kedalam! - Kata guru itu kemudian.

Maka sesudah melewati jalan-jalan semula. seraya ditengah perjalanan dua orang itu mengambil banyak buah-buahan segar. lalu merekapun tiba pula ditempat semula.

- Eh, Sekar

Kata orang tua itu ketika mereka telah tiba digua.

- Tempat tinggalmu adalah gua itu. Sengaja kubuat untukmu semenjak lama. Dan aku tetap berada ditempat ini.

Mirah Sekar mengangguk. Kini hatinya menjadi girang bukan main. Tak ia duga akan bisa menemukan sebuah tempat yang demikian menyenangkan. Segalanya amat murni dan tenang. Dan agaknya jika ia harus tinggal di Kadipaten Wanabaya, tentu aku lebih suka memilih tinggal ditempat orang tua yang adalah paman gurunya itu.

Dan Sekar kini benar menjadi seorang gadis yang lebih periang lagi. Ia amat rajin membantu 

paman gurunya mengurusi kebun, memelihara sawahnya dan kini paman gurunya itu boleh merasa girang memiliki seorang pembantu semacam Mirah Sekar yang rajin dan tak kenal berpeluk tangan. Maka tempat yang semula telah di jadikan indah dari hasil rawatan Guru Bantu, maka kini menjadi semakin indah hingga tak ubahnya merupakan taman surga berkat rawatan tangan si gadis Mirah Sekar.

Paman guru itupun diam-diam merasa girang. Tak keliru rupanya Nyi Ageng Maloka mendapatkan Sekar sebagai muridnya. Dan pada waktu-waktu senggang Mirah Sekar selalu melatih diri dengan rajin dan tekun. Kadangkala paman gurunya memberi petunjuk dan menyempurnaka gerakan gerakan yang masih lemah dan menambahkan dengan gerakan lain yang diciptakan oleh paman guru itu.

Namun setelah hampir tiga pekan masih belum juga paman gurunya memberikan petunjuk bagaimana pelajaran yang dijanjikan dari kakek gurunya, Mirah Sekar menjadi heran. Tetapi ia diam saja, sedikitpun tidak menanyakan hal itu. Bahkan ia makin memperlihatkan ketekunannya berlatih dan memperdalam ilmu yang telah dimiliki.

Maka tanpa dirasakan oleh Mirah Sekar sendiri, kini ilmunya bertambah dalam dan kuat. Banyak kemajuan telah ia capai selama rajin berlatih itu. Bahkan tambahan-tambahan sedikit dari paman gurunya ternyata membantunya banyak membangkitkan kemampuan dahsyat pada dirinya.

Dalam pada itu berkat perawatan yang teratur dan kebersihan yang selalu ia pelihara, maka Mirah Sekar selain bertambah maju pesat dalam hal ulah kanuragan dan kasampurnaan batinnya, juga mengalami pertumbuhan badan yang mengagumkan. Kini ia berubah menjadi seorang gadis cantik dan berisi. Tubuhnya semakin padat menggiurkan. Agaknya jika ia berkumpul dengan orang-orang pedusunan, bukan saja kaum lelaki akan terpikat oleh Mirah Sekar, kaum wanitapun menjadi iri dan cemas mendapat saingan.

Mirah Sekar telah tumbuh bagai bunga dalam hutan, segar dan cantik tanpa pulasan. Ia cantik menarik karena perhiasan alam yang tidak dibikin-bikin. Namun demikian Mirah Sekar tidak mmghiraukan hal itu. Ia menyadari akan kelebihan yang ada pada tubuhnya, namun hal itu bukannya menjadikan ia sombong dan merasa lebih dari yang lain. Bahkan gadis ini merasa bersyukur dan ia akan merasa gembira jika dapat menularkan kelebihan itu pada lainnya.

Adakalanya Mirah Sekar terganggu oleh bayangan Sentanu yang tidak ia ketahui berada dimana sekarang. Namun hatinya menduga tentulah anak muda itu telah berada di Demak. seringkali mirah Sekar bertanya-tanya dalam hatinya.

Bagaimanakah Sentanu ketika ia terjatuh kedalam jurang itu? Apakah ia bingung?

Cemas?

atau menangis?

Dan apa yang dilakukan? 

Namun gadis ini tak dapat memberikan jawabnya. ia hanya menduga-duga.

Adakalanya pula ia teringat pada Taruna di Kadipaten Wanabaya. Namun mengingat kini ia telah hidup berdua dengan paman 'gurunya yang telah menganggap dan memperlakukan dirinya bagai anak sendiri, hati Mirah Sekar menjadi terobat dan kembali tenteram. Ia tak lagi merasa hidupnya kesepian tanpa sanak dan kadang.

Bahkan jika ia masih ingat bahwa dirinya memiliki seorang guru berbudi macam Nyi Ageng Maloka, dan kini memiliki paman guru yang lebih berbudi, rasanya ia mendapatkan ganti kedua orang tuanya yang telah tewas dalam pemberontakan di Kadipaten Banyuwangi.

Lebih lagi ternyata paman gurunya selain memiliki kemampuan tinggi dalam tata tempur, juga memiliki kemampuan membuat banyak kisah yang menarik. Pengalaman paman gurunya terlalu banyak sehingga jika ia tengah mendengarkan kisah paman yang pintar mendongeng itu rasanya tahan ia duduk bertahun-tahun hanya untuk mendengarkan dongeng pamannya. Genap dua bulan Mirah Sekar telah berada ditempat itu. Ia semakin nampak gembira dan terlihat kerasan tinggal disitu. Tak sedikitpun ia mengeluh manakala tengah bekerja berat. Bahkan ia terlihat gembira dan bersemangat, Pada suatu saat, paman gurunya memanggilnya.

- Sekar. -

Kata paman guru itu.

- Kini agaknya kau harus mulai banyak berlatih dengan lebih rajin, sebab ternyata ilmu yang kau terima dari gurumu masih belum seluruhnya kau kuasai. Maka kau harus lebih banyak menggunakan waktumu untuk berlatih dengan lebih baik.-

Mirah Sekar menjadi girang bukan main setelahnya ia lebih banyak mengenal paman guru yang baik itu. Maka diam -diam ia ber- janji akan menuruti segala petunjuk dan nasehat orang tua itu. Namun dalam pada itu diam-diam pula ia memendam perasaan gelisah dalam hati. Ada sesuatu yang ia rasa telah menjadi beban batin dan perasaan itu amat mengganggu manakala Sekar mengingatnya. Pada suatu ketika Sekar duduk termenung diatas batu yang banyak terdapat ditempat itu. Hatinya jauh menerawang hari-hari yang telah ia jalani. Terbayang segala pengalaman bahkan pertemuan dengan Sentanu yang dirasa terjadi begitu cepatnya. Dan tanpa ia sadari dirinya tenggelam makin dalam kealam lamunan yang membuainya mengayun-ayun jiwa dan perasaannya.

- Sekar! -

Tiba-tiba terdengar suara halus menyapa di belakangnya. Mirah Sekar cepat menoleh mendengar suara yang telah dikenal baik olehnya itu.

- Paman! -

Serunya seraya ia berdiri menatap paman gurunya yang telah ada ditempat itu.

- Ya, sengaja aku datang. - Sahut paman guru itu kemudian. 

- Aku tahu ada sesuatu yang telah kau sembunyikan padaku Sekar. Baik, baik jika kau kuasa memendam kegelisahan itu. Sebab kekuatan rasa gelisah akan berubah menjadi tenaga luar biasa dalam dirimu sendiri. Akan tetapi kalau kau tak mampu menindihnya, sebaliknya ia akan menjadi rasa sakit yang bisa membunuh. Oleh karena itu tak ada buruknya jika aku bertanya dan kau katakan apa yang tengah kau pikirkan sehingga kerapkali aku melihatmu murung dan berduka. Katakanlah Sekar!

Mirah Sekar menjadi pucat. Kagumlah hati gadis itu bahwa paman gurunya bermata awas sehingga bisa menduga apa yang tengah menjadi ganjalan dihatinya. Namun tiba-tiba Sekar loncat dan menubruk paman guru itu merangkul lutut dan menangis terisak-isak.

- 0, Yang Maha Agung. Apa yang terjadi anakku ?

Paman gurunya mengelus rambut Mirah Sekar lalu dipegangnya pundak Mirah Sekar lantas diangkatnya berdiri dan berkata :

- Berdirilah, apa yang terjadi ? -

Untuk beberapa saat lamanya gadis itu masih menangis. Dan paman guru itupun tak lagi mencegah. Paman guru yang arif itu telah mengetahui bahwa menangis adalah jalan paling baik bagi seorang wanita untuk menumpahkan kedukaan dan rasa sedihnya. Maka dibiarkan saja Sekar sampai beberapa lamanya menangis.

- Bagus anakku!

Kata paman gurunya kemudian setelahnya dilihat Sekar mulai reda tangisnya.

- Kau cukup tabah dengan penderitaan ini. Aku tidak dapat menduga dengan persis. tetapi aku mengetahui kau benar ingin berbicara denganku. Nah, katakanlah Sekar. Aku siap mendengar segala yang ingin kau katakan. Mendongaklah, jangan kau peras seluruh air mata yang kau miliki, karena ada saatnya nanti air mata itu akan menjadi senjata pamungkas manakala kau menghadapi kenyataan hidup yang keras ini. Katakanlah Sekar, aku paman gurumu akan mendengarmu. --

- Guru, aku . ..... aku takut mengatakan.

Kata Sekar kemudian. Tetapi Paman gurunya tertawa.

- Ah, mengapa kau harus merasa takut terhadapku? Tidak! Kau jangan merasa takut dengan sesama makhluk Sekar, tapi takutlah pada yang Maha Kuasa yang membuat hidup dan mati kita. -

- Bukan begitu maksudku Guru. Kata Sekar pula.

- Ya, ya, aku tahu tapi katakanlah, kau harus berjiwa ksatria bukan ?

Mirah Sekar semakin tertunduk. Tetapi segera berkata pula : - Guru aku .... aku ternyata seperti yang aku tuturkan padamu dulu itu, sebelum aku bertemu denganmu aku telah ..., telah ya, Sentanu. Sentanu itulah ... dan aku merasa kini sedang berbadan dua. -

Sekar segera tertunduk dengan muka merah setelahnya mengucapkan perkataan itu. Ia bayangkan paman gurunya akan kaget setelahnya mendengar itu. Tetapi dugaannya meleset. Ketika Sekar mencoba menatap muka orang tua itu, paman gurunya tenang dan wajahnya tak  

memperlihatkan perubahan apapun. Baru setelahnya Sekar berdiam diri beberapa saat paman gurunya berkata pula.

- Ya, aku tahu itu Sekar, aku telah mengetahuinya semenjak kau ada ditempat ini. Mengapa kau harus takut dengan itu? Bukankah satu karunia besar kau mendapatkannya? Ribuan manusia merana hidup dan jiwanya lantaran tak memiliki keturunan. Berbahagialah kau, Sekar.

- Tetapi, Dewa-Dewa tentu mengutuk perbuatan itu. Dan aku telah membuat aib dihadapanmu Guru. -

Sahut Sekar.

- Oho, Yang Maha Agung mengetahui segalanya, Sekar, kendati hal itu mungkin merupakan kesalahan, namun kurasa dalam pengadilan-Nya segala kesalahan akan memperoleh keadilan yang seadil-adilnya. Bukan hukum manusia tetapi hukum-Nya lah yang kekal. Lagipula antara kau dengan Sentanu ada pertalian batin murni. Kalian berdua saling mencintai akan menjadi landasan yang masih dapat diterima. Tetapi yang penting bukan hanya mengakui kelemahanmu sebagai manusia saja.Sekar, sekarang adalah kewajiban yang lebih berat bagimu memelihara yang ada dalam kandunganmu saat ini agar .ia kelak terlahir dalam keadaan murni untuk kelak dapat diterimanya olehNya. Hayolah Sekar, kita mengadakan upacara kecil dihadapan penduduk pedusunan sekitar ini untuk memintakan kesaksian mereka bahwa kau adalah Mirah Sekar yang telah sah menjadi istri Sentanu agar kelak anakmu bisa diterima murid Ki Ageng Semu itu dengan senang hati. Kau

siap-siap sekarang. -

Mirah Sekar menitikkan air mata pula. Hatinya digerayangi perasaan gembira. Tak ia duga paman gurunya bahkan akan memberinya penunjuk bahkan memberikan jalan keluar dari kedukaan hatinya. Ia terbayang kembali ketika berdua dengan Sentanu ditepi sungai. Hatinya memukul keras. Namun perasaan bahagia kini menyelinap dihati Sekar. Tanpa sadar ia meraba perutnya dan tersenyum.

Diam-diam ia bayangkan anak yang ada dalam kandungannya ini kelak akan segagah ayahnya. Tapi dimanakah kini Sentanu ?

Masih hidupkah ? Menurut paman gurunya.

Sentanu selamat, tapi dimanakah sekarang ? - Pikir Mirah Sekar.

Sementara itu ditempat lain prajurit Demak yang dipimpin oleh Tumenggung Santa Guna masih menunggu kedatangan Pati Unus dengan Tumenggung Aria Teja yang memegang tampuk panglima dalam penyerangan ke wilayah timur itu.

Dalam masa itu Demak sebenarnya telah berkali-kali melakukan penyerangan ke Timur dan Majapahit. Raja Majapahit Prabu Udhara hanya dibantu oleh tentara Pajajaran yang masih tersisa. Akan tetapi seperti yang telah menjadi cita-cita Pati Unus, ia ingin membasmi dua kerajaan yang 

dianggap masih kafir itu, yakni Pajajaran,dan Majapahit yang dalam beberapa peperangan yang timbul di sebabkan Majapahit telah mendekati kelemahan akibat pemberontakan para Adipati di daerah pantai yang tak kunjung reda, menjadi agak terdesak dan terancam keselamatannya.

Dalam satu serangan yang pernah dilakukan sebelumnya, Demak dengan Pati Unus ternyata berhasil menguasai Negri Hindu Majapahit, sehingga Mahkota, upacara dan upacara-upacara serta pusaka kerajaan Majapahit dipindahkan ke Demak, Sedang rakyat Majapahit sebagian lari menyelamatkan dirinya ke Bali, Pasuruan dan Blambangan.

Namun demikian Majapahit masih belum hancur seluruhnya. Lebih-lebih setelah munculnya tokoh-tokoh yang membantunya, maka daerah Panarukan masih belum berhasil dikuasai Demak, bahkan sebuah tempat di daerah Singasari yang disebut dengan Supit Urang menjadi pusat perbentengan yang masih kokoh kuat dan Demak masih belum mampu menerobos benteng yang pernah menjadi tempat pertahanan Majapahit Gajah Mada di jaman Prabu Hayam Wuruk.

Dengan kejadian itulah maka Pati Unus merasa diburu-buru oleh rasa kurang puasnya sebab masih belum berhasil menghancurkan Supit Urang yang menjadi pertahanan terakhir Majapahit.

Namun demikian, niatnya menghancurkan Majapahit terhalang dengan kepentingan lain yang dianggap lebih besar. Sebelum itu Pati Unus setelahnya merebut daerah Jepara, ia melancarkan keinginan untuk menguasai Malaka. Akan tetapi Pati Unus telah kedahuluan tentara Portugis dibawah pimpinan d'Albuquerque yang merebut Malaka terlebih dulu.

Pati Unus tak menjadi mundur, ia minta bantuan Palembang yang membantu dengan mengirim 90 buah perahu dan 12000 tentaranya mengarungi laut disebelah barat Pulau Andalas dan muncul di muka Pelabuhan Malaka.

Tetapi tidak diduga oleh Pati Unus ternyata d'Albuquerque telah mengetahui datangnya tentara Demak dan Palembang itu maka sebelum Pati Unus melakukan serangan tentara Portugis telah mendahuluinya dan dalam pertempuran itu Pati Unus menderita kekalahan hebat. Beruntung Pati Unus selamat dengan sisa tentaranya men darat kembali di Jepara.

Semenjak kekalahan menyerang Malaka itulah Pati Unus kembali memusatkan perhatian guna menghancurkan Majapahit Pajajaran dan memerintahkan Tumenggung Santa Guna mengumpulkan barisan anak muda diseluruh Demak guna menghancurkan Supit Urang di Singasari Majapahit dan membunuh Prabu Udhara.

Supit Urang menurut catatan sejarah adalah sebuah tempat bekas milik Mahapatih Gajah Mada yang setelah Majapahit mulai terdesak dan mendekati keruntuhan akibat serangan Demak, berubah menjadi sebuah negri kecil dengan Rangga Permana sebagai kepala daerahnya. Maka cita-cita Pati Unus adalah menghancurkan daerah itu yang menjadi benteng dan kekuatan terakhir bagi Majapahit dan bagi Prabu Udhara.

Suatu ketika Tumenggung Santa Guna yang masih menunggu kedatangan Pati Unus di 

perkemahan mereka menjadi agak kesal sebab yang ditunggu telah dua pekan masih belum muncul. Prajurit yang dibawanya terlihat telah merasa jemu berada terlalu lama di tempat itu. Maka atas pendapat Bagus Prana, Tumenggung Santa Guna memerintahkan para prajurit melakukan latihan perang2an.

- Kau siapkan orang-orangmu untuk berlatih sekarang juga.-

Kata Bagus Prana pada kepala tamtama yang mengangguk mendengar perintah itu.

- Seluruh prajurit harus mengikuti, Gusti ? - Bertanya kepala tamtama itu.

- Bodoh ! tidak demikian.sebagian harus menjaga daerah pertahanan. kita sisakan yang lain dibagi sebagai lawan berlatih. Nah, kau beritahu mereka bukit kecil disebelah utara itu kita jadikan beteng dan menjadi daerah perebutan. Barisan penyerang serahkan kepala prajurit yang lain. Maka sampai senja hari nanti persiapan harus sudah selesai dan esok menjelang fajar sudah harus mulai. Mengerti?

- Hamba mengerti. -

Jawab kepala Tamtama itu kemudian mundur dari hadapan Bagus Prana untuk melakukan persiapan.

Maka didaerah hutan dimana prajurit Demak berkubu itu terjadilah kesibukan. Bekas hutan sarang perampok yang telah ditaklukkan Sentanu menjadi pusat pertahanan yang dipergunakan Tumenggung Santa Guna untuk menetap. Pecahlah kemudian pertempuran-pertempuran kecil diantara para prajurit yang berlatih. Hutan itu menjadi ramai oleh teriakan dan benturan senjata para prajurit, sementara Bagus Prana mengawasi perang-perangan itu dari kejauhan diatas bukit kecil tidak jauh dari Tumenggung Santa Guna berdiam.

Sementara itu Sentanu bertiga dengan Pamasa dan Wijaya yang berada dalam barisan tukang masak tidak mengetahui adanya latihan prajurit itu. Mereka terkejut sayup-sayup mendengar suara teriakan-teriakan dari kejauhan. Dan bagi telinga ketiga'anak muda yang terlatih itu tahu bahwa telah pecah pertempuran kecil dan benturan suara senjata jelas terdengar oleh mereka.

- Kang Sentanu, suara pertempuran. Siapa mereka? -

Bertanya Pamasa sedang Wijaya memasang telinga lebih sungguh.

- Ya, suara senjata beradu kang ! -

Katanya kemudian Tetapi Sentanu cepat memberi isyarat agar keduanya bersikap tenang,

- Kita keluar dan lihat apa yang terjadi, jangan-jangan ada lawan menyerang kawan-kawan kita.

Kata Sentanu.

- Keluar? - Tukas Wijaya. 

- Kalau Tumenggung Santa Guna tahu bisa kita dihardik kang! _

- He. sejak kapan kau takut dengan Tumenggung itu ? -

Pamasa mengejek adiknya. Tapi Wijaya tertawa. Jelas ia tidak takut, maka ia loncat lebih dulu sambil berkata :

- Baik, aku berangkat dulu kang, kalau kalian takut boleh tinggal disitu. _

Sentanu tersenyum mendengar perkataan Wijaya. demikian pula Pamasa, Tetapi keduanya tidak banyak berkata pula lantas menyusul, berlari keluar menuju arah terdengarnya suara senjata beradu.

Tak mengherankan jika Sentanu dengan kedua saudara angkat itu tidak mengetahui bahwa prajurit Demak hanya berlatih, tidak melakukan peperangan sungguh-sungguh. Sebab Tumenggung Santa Guna tidak memberi tahukan pada barisan belakang, lebih-lebih prajurit yang berkuwajiban menyediakan ransum seperti Sentanu. Mereka ditinggal bersama prajurit lain menjaga perkemahan.

Ketiganya berlari menuju bukit kecil yang menjadi arena pertempuran. Tetapi disana Sentanu dengan dua saudara angkatnya menjadi kaget melihat suatu pemandangan yang mengerikan. Ketika Sentanu bertiga tengah terheran-heran, puluhan Prajurit Demak berlari dengan panik kearahnya, bahkan Bagus Prana nampak pula lari diatas kudanya dengan muka ketakutan.

- Awas ! -

Pamasa berseru seraya menarik lengan Wijaya yang hampir saja kena tubruk binatang tunggangan Bagus Prana yang dibedal dengan keras.

Sentanu melihat ditanah lapang yang agak luas dimana prajurit Demak berlatih, dua ekor binatang loreng sebesar anak sapi tengah mengamuk hebat dan terlihat dua harimau itu sedang dikurung oleh puluhan prajurit bersenjata. Sedang disekitar tempat itu terlihat puluhan prajurit lain telah roboh luka-luka.

Ternyata, sewaktu Bagus Prana memimpin prajurit tamtama berlatih itu, tanpa diduga beberapa orang prajurit melihat dua ekor harimau tengah mendekam dekat sumber air yang banyak ditumbuhi rumput. Akan tetapi dua ekor binatang itu nampak jinak dan tidak bergerak sedikitpun ketika prajurit Demak tadi mendekat.

Para prajurit yang semula kaget, menjadi lega melihat harimau itu tak berbuat apapun, sampai ketika mereka tinggalkan, dua ekor binatang itu tidak berbuat sesuatu, bahkan keduanya membalikkan badan lalu meninggalkan prajurit yang keheran-heranan naik keatas lukit menghilang dari pandangan prajurit-prajurit itu. !

- He, mereka pergi !

Seru salah seorang diantara mereka.

- Aneh, kita tidak diganggunya. - Sahut yang lain.

- Ah, aku takut, hayo kita kembali. 

Kata yang lain pula.

- Ha, kau memang jerih. Sahut kawannya.

- Bukan begitu.kalau binatang itu marah, hiii kita bisa habis dalam sekejap. Sudah, jangan diganggu, ia tentu yang mbau rekso gunung ini.

Dalam pada itu tiba-tiba saja muncul Bagus Prana membentak dengan marah.

- Gila apa yang kalian lakukan disini? Kalian pantas dihukum, hayo menghadap Rama Tumenggung ! -

- Ampun Gusti, kami baru saja melihat dua ekor harimau berada disini. - Kata salah seorang diantara prajurit itu. .

- Benar Gusti, dua ekor lebih besar dari seekor pedet- Kata yang lain.

- Harimau ?!

Bagus Prana melototkan matanya tak percaya.

- Benar Gusti, harimau ! - Sahut prajurit itu pula.

- Kalau benar, kita bunuh binatang itu, lekas kalian panggil kawan-kawanmu yang lain, kita tangkap binatang itu. -

- Ampun Gusti. -

Salah seorang diantara prajurit itu maju dan berkata dengan muka. pucat.

- Seyoganya Gusti tak usah mengganggu binatang itu, sebab hamba merasa ia tentu yang menguasai daerah pegunungan ini. -

- Gila ! Siapa percaya omonganmu ! Bagus Prana marah.

- Benar kata kawan hamba itu Gusti. sebab kalau ia harimau biasa tentulah kami semua telah habis dimakan sejak tadi.

- Diam, kalian jangan banyak cakap, lekas kau panggil kawan kawanmu dan kita tangkap, lekas

! -

Prajurit itu tak kuasa membantah pula, hingga dalam sekejap tempat itu telah penuh oleh prajurit

yang lantas mengepung sekitar bukit dimana harimau tadi berjalan naik. Bagus Prana hampir saja melonjak kaget ketika ia dengan diiringkan para pengawalnya mencapai tanjakan bukit melihat dua ekor binatang yang dicarinya sedang duduk bersanding, seakan tengah berkasih-kasihan. Demikian pula kedua harimau itu nampaknya tak terpengaruh oleh munculnya para prajurit Demak yang meluruk dengan menyandang senjata telanjang. Kedua binatang itu tenang-tenang duduk di atas sebuah batu besar. Tetapi sekalipun matanya tidak terlihat ganas, namun menyorotkan sinar tajam dan 

menimbulkan kengerian bagi yang kurang berani. Bagus Prana terheran-heran melihat dua ekor binatang besar loreng itu tidak mengacuhkan kehadiran puluhan prajuritnya. Diam-diam bergidig juga ia dan bulu kuduknya terasa meremang..

Dua binatang loreng itu nampak angker dan menerbitkan rasa gentar dalam hatinya. Namun ketika Bagus Prana menoleh, seluruh prajuritnya juga terpaku ditempat itu seakan terpesona melihat kehebatan harimau jantan dan betina yang terlihat gagah duduk tenang-tenang diatas batu gunung. Melihat prajuritnya mematung, Bagus Prana tiba-tiba berseru keras: - Tangkap, bunuh binatang itu

Dan puluhan tombak prajurit Demak melayang setelahnya .Bagus Prana mendahului menyerangkan tombaknya kearah binatang hutan itu. Berkelebatan senjata-senjata menghujani dua harimau yang semula hanya berdiam diri. Tetapi terjadilah keanehan. Ketika puluhan tombak prajurit menghujani tubuhnya, dua ekor harimau itu tiba-tiba loncat turun seraya mengibaskan ekornya dan tubuhnya berjungkir balik kemudian turun di bawah seraya mengaum panjang dengan hebatnya. Saat itulah senjata para prajurit runtuh seakan tertangkis oleh gerakan yang terlatih dan tak satupun berhasil menyentuh kulit binatang itu. Bagus Prana ternganga. Seakan harimau itu mengerti tata kelahi dengan baik hingga mampu menghindarkan serangan senjata. Namun Bagus Prana memang sombong luar biasa. Ia merasa serangan yang gagal itu hanya kebetulan, maka ia mencabut kerisnya dan melempar senjata itu kearah harimau jantan yang berdiri menatap dengan angker.

Agaknya telah menjadi nasib bagi para prajurit Demak itu. Kalau saja mereka tidak mengganggu binatang itu tak akan terjadilah nasib naas mereka. Terbukti ketika hujan tombak tadi gagal mengenai sasaran, kedua binatang hutan itu tak mau melakukan serangan, kecuali menatap para prajurit dengan sorot mata memancarkan kemarahan.. Akan tetapi ketika Bagus Prana melempar kerisnya, harimau jantan tiba-tiba loncat maju dan kaki depannya menyampok senjata itu hingga keris tadi mencong kesamping untuk kemudian jatuh ketanah. Tetapi tidak hanya itu saja, tiba-tiba harimau betina loncat sambil mengaum panjang menimbulkan getaran dahsyat digunung itu dan tanpa diduga, seorang prajurit kena diterkam binatang hutan itu dan tanpa sempat mengelak prajurit itu roboh terlempar oleh terjangan harimau betina seraya mengeluarkan jeritan ngeri dan mukanya hancur termakan cakaran kuku si binatang.

Bersamaan dengan itu pula, dua orang prajurit lain, menjerit ketika harimau jantan melabrak mereka dengan terjangan dan kuku kukunya yang kuat dan tewaslah mereka oleh serangan itu. '

Bagus Prana kaget, ia balikkan badan dan kabur dengan kudanya turun bukit. Tetapi dua harimau tadi tak berhenti, dilabraknya para prajurit yang sudah ketakutan hingga dalam waktu singkat mereka roboh luka-luka dan sisanya menyelamatkan diri dengan panik dan ketakutan.

Dua binatang itu terus turun dan sewaktu dilihatnya puluhan prajurit lain yang tengah berlatih bertempur, harimau itu terus mengamuk dan menerjang kesana kemari. Maka gegerlah tempat itu, puluhan prajurit berusaha mengepung dan menangkap dua binatang hutan yang menakutkan itu. 

Tetapi amukan keduanya tak mampu ditahan oleh prajurit Demak hingga bubarlah mereka melarikan diri mencari keselamatan. Tetapi tak urung puluhan prajurit menjadi korban dan tewas sedang sebagian besar diantaranya menyandang luka-luka parah oleh amukan binatang itu.

Pada saat itulah Sentanu muncul bertiga dengan Pamasa dan Wijaya yang hampir saja tertabrak kuda tunggangan Bagus Prana yang tengah melarikan diri. Bagus Prana melihat Sentanu berada di tempat itu berseru dengan gugup : - He, lekas kau lihat harimau itu me ...... cepat Sentanu kau tangkap heh... he... he... lekas kalian bantu mereka...._

Pamasa menarik bibir mengejek melihat anak Tumenggung Santa Guna yang ketakutan. Demikian pula Wijaya, ia tak memandang Bagus Prana, bahkan membelakangi seraya sebentar-sebentar berdehem kecil seakan ingin membuat panas hati Bagus Prana. Tetapi Sentanu tak sampai hati berbuat itu. Ia maju dan berkata :

- Mundurlah Gusti, hamba bertiga akan mencoba menghalau binatang itu. -

Dan tanpa berunding Sentanu loncat lebih dahulu seraya berseru menggamit dua saudaranya.

Ketiga anak muda itu berlari menyerbu ketengah lapangan mendekati dua ekor harimau yang masih mengamuk hebat. Sentanu memasang dirinya menghadap binatang itu sedang Pamasa dengan Wjava mencar mendekati binatang satunya.

Aneh!

ketika Sentanu dengan saudara angkatnya itu maju. tiba tiba dua ekor binatang hutan yang kini nampak ganas mengerikan itu menghentikan serangan hingga para prajurit sempat mundur dan mereka membuat lingkaran menonton munculnya Sentanu menunggu serangan dua harimau itu.

Rupanya sepasang binatang hutan itu mengetahui bahwa kini yang muncul menghadang mereka bukan lagi prajurit biasa. Terasa olehnya sorot mata dan gerak-gerik ketiga anak muda itu membuat gelisah dan harimau jantan menggaruk-garuk tanah, menggeram perlahan memandang Sentanu.

Sebaliknya Sentanu melihat pula perubahan sikap sepasang raja hutan itu. Maka diam-diam hatinya menduga-duga dengan heran. Jelas tadi ia melihat harimau itu mengerti tata tempur dan Sentanu telah menduga bahwa binatang itu tentulah piaraan seorang linuwih.

Berpikir demikian Sentanu menjadi ragu-ragu. Ia harus mempertimbangkan sikap agar tak keliru.

Namun saat Sentanu dihinggapi keragu-raguan itu.Pamasa tiba-tiba bergerak cepat, tombakwyang dibawanya mengayun deras menyerang harimau betina seraya ia loncat dan berseru keras. - Wuut ! Wuut -

Tombak Pamasa menyerang bertubi tubi tetapi harimau itu ternyata gesit dan tangkas.

Serangan tombak Pamasa dengan amat mudah berhasil delakkan dengan meloncat tinggi-tinggi kemudian menerjang Wijaya yang berdiri menonton.

Mendapat serangan tak terduga itu Wijaya agak kaget. Tapi ia cepat sadar. Tombak yang dipegangnya ia gerakkan cepat menyambut serbuan harimau. Tetapi sungguh mengagumkan. Loncatan 

harimau yang disambut serbuan tombak Wijaya tak berhasil menghindar. Tetapi kaki depan binatang itu tiba-tiba bergerak mencakar dan menyampok hebat hingga tombak Wijaya terlempar kena sampukan itu.

Wijaya kaget tenaga binatang itu ternyata cukup besar hingga tombaknya terlepas. Maka ia mencabut keris dan membalas serangan itu dengan marah.

Bersamaan dengan itu Pamasa telah pula mendekat dan sekaligus ia lancarkan serangan dengan tombaknya. Dan kini harimau betina terpaksa melayani serbuan dua pemuda tangguh dan sakti itu.

Dengan terjadinya perkelahian itulah, harimau jantan yang dihadang Sentanu tiba-tiba juga bergerak menerjang Sentanu sambil mengeluarkan auman panjang.

Sentann siap untuk itu. Ia melihat harimau jantan itu bergerak. Tak ayal ia babatkan tombak Kiai Jalak Diding yang selalu dibawanya hinga babatan itu menimbulkan suara angin keras menerjang lawan berkaki empat itu.

Dalam benturan yang terjadi kemudian Tombak ditangan Senin itu bergerak dengan hebat. Maka tentu saja harimau itu bukan lawan Sentanu yang sudah cukup tangguh masih memegang kiai Jalak Diding yang berat. Maka ketika harimau jantan berusaha menyampok tombak itu tiba-tiba binatang tadi terus menjerit keras dan tubuhnya terlempar balik kebelakang oleh kekuatan serangan Sentanu hingga jatuh bergulingan ditanah dan kaki depannya nampak kesakitan.

Tiba2 terdengar binatang itu mengaum panjang dengan suara memilukan membuat yang mendengar menjadi bergetar hatinya. Rasakan tersayat oleh suara auman yang menyedihkan itu.

Harimau betina yang mendengar auman itu tiba2 beranjak mundur. Pamasa dan Wijaya tidak bergerak. Keduanya tak luput kena pengaruh suara itu hingga ketika harimau betina menjauhkan diri ke dua anak muda itu tidak menghalangi. Tetapi rupanya akibat gempuran tombak pusaka ditangan Sentanu .Harimau jantan lumpuh kaki depannya. Hingga sewaktu betinanya mendekati, binatang itu berusaha melangkah, namun ia terguling, mencoba melangkah pula namun begitu bergerak terguling pula sambil menggerang menahan sakit. Si betina maju dan menjilat-jilat kaki kawannya. Akan tetapi harimau jantan itu tak mampu berdiri dan ia mendeprok tanpa bangkit pula sambil menggerang menahan sakitnya.

Prajurit2 yang menyaksikan kejadian itu bersorak girang, namun mereka tak berani mendekat sebab harimau betina masih nampak kuat dan berbahaya.

Dalam pada itu prajurit2 yang pertama2 menemukan harimau itu telah berlari mendekati Sentanu lalu dengan ketakutan mereka berkata : '

- kisanak Sentanu. Seyogiyanya kau lepaskan binatang itu. Kamilah yang pertama-tama menemui kedua binatang itu.

- Tetapi sungguh mati! Harimau itu tak mau mengganggu kami, bahkan mereka pergi setelah berpapasan tadi. Tetapi karena desakan Gusti Bagus Pranalah memerintahkan mencari dan 

membunuh binatang itu. Maka lepaskanlah. Kami merasa iba melihat dua binatang itu. ,

Sentanu yang sejak semula merasa ada sesuatu yang luar biasa pada binatang hutan itu dan sejak tadi telah timbul ibanya, mendengar penuturan prajurit itu bertambah yakin bahwa binatang itu tak selayaknya diganggu. Maka dengan beberapa kali loncatan Sentanu telah mendekati binatang itu.

Si betina melihat Sentanu loncat mendekat, secepat kilat menggerang dan loncat menghadang Sentanu dengan sorot mata mengamati. Ia menduga Sentanu akan melancarkan serangan pula. Tetapi anak muda itu segera menghentikan gerakan. Lima belasan langkah lagi dari binatang itu Sentanu berdiri kemudian ia mengangkat tangan menggoyang-goyangkan tangan itu dimuka dadanya seraya menggelengkan kepala. Maksudnya memberi tanda pada binatang itu bahwa ia tak akan mengganggu.

Si betina agaknya mengerti dengan maksud anak muda itu, terbukti ia tidak berbuat sesuatu ketika Sentanu loncat pula mendekati.

Sementara itu para prajurit yang melihat dari kejauhan gerak gerik Sentanu menjadi berdebar ketika dilihatnya anak muda itu mendekati dua harimau yang kini tak memberikan perlawanan.

Mereka bertanya2 dalam hati apa yang akan dilakukan Sentanu dan apa yang akan terjadi sesudahnya.

Namun seluruh mata yang memandang menjadi terheran2, ketika Sentanu bukan menyerang binatang itu pula, sebaliknya mendekati harimau jantan yang terluka lalu berjongkok dimuka binatang ini mengangkat kaki depan binatang yang terluka. Sentanu mengurut kaki itu seraya memijit dan sekali2 terlihat Sentanu meludahi kaki yang terluka oleh tombak pusakanya tadi.

Harimau betina melihat perlakuan Sentanu menggerang pula. Namun kali ini ia menggerang senang sebab ia tahu Sentanu justru berusaha menyembuhkan luka jantannya.

Pada saat terakhir Sentanu mengibaskan kaki binatang itu dan sekira semakanan nasi lamanya ia mengurut dan memijat-mijat kaki itu lalu dengan tiba-tiba ia dorong harimau ini perlahan.

- Berdirilah kawan! -

Kata Sentanu kemudian. Harimau itu agaknya mengerti dengan perintah Sentanu, ia berdiri dan tiba2 binatang itu mengaum keras2 hingga membuat yang mendengar kaget dan hampir melonjak mendengar suara yang tiba2 itu.

Kini terlihat harimau jantan itu melangkah. Sakit pada kakinya yang lumpuh telah pulih. Dan ia meloncat beberapa tindak. Si betina loncat pula memperlihatkan girang hatinya.

- Pergilah kawan, kami tak akan mengganggu kalian. Maafkan kawan-kawanku yang telah mengganggu tadi. Nah, kalian pergilah dengan aman! -

Kata Sentanu dengan senyum lebar.

Dua ekor binatang itu untuk beberapa saat menatap Sentanu dengan pandangan sayu. Rupanya 

merasa terharu dan ingin mengucapkan terimakasih pada anak muda yang telah mengalahkan mereka sekaligus menjadi penolongnya.

Lalu keduanya membalikkan tubuh kemudian loncat dan berlari kecil meninggalkan tempat itu.

Namun tanpa diduga terdengar desingan anak-anak panah melesat menghujani kedua binatang yang tengah meninggalkan tempat. Tetapi sebelum anak-anak panah itu menghunjam tubuh raja hutan tadi, sebuah bayangan melesat bagai kilat dan terdengar suara sang anak panah dan batang anak panah kena tangkisan tombak panjang hingga runtuh ketanah sebelum mengenai sasaran.

Bersamaan dengan itu, sebuah bayangan lain melesat kearah Bagus Prana dan terdengar seruan tertahan ketika Bagus Prana menjerit kaget. Sewaktu para prajurit melihat dengan seksama, ternyata Pamasalah yang meloncat menangkis serangan anak panah yang ternyata dilakukan oleh Bagus Prana hingga anak panah itu runtuh oleh tangkisan tombak Pamasa. Sedang bayangan lain yang menuju Bagus Prana tak lain adalah Wijaya dan kini terlihat anak muda itu menyeret Bagus Prana kehadapan Sentanu.

- Pengecut keji, tak pantas kau dihidupi! Kata Wijaya.

Bagus Prana terbanting tepat dihadapan Sentanu. Namun ia cepat bangun dengan mata merah menahan marah. Tetapi karena ia tahu ketiga anak muda yang berkali-kali membuat ia tak berdaya maka Bagus Prana hanya menggeram dan bertanya menahan marah?

- Mengapa kalian selalu mencari permusuhan denganku? Bukankah binatang jahat itu harus dibunuh sebelum menyerang kita disini. Salahkah aku ?!-

Sentanu maju kemudian dengan sedikit membungkuk memberi hormat ia berkata perlahan

- Mohon diampuni kelakuan dua saudara hamba yang kasar Tuanku. Namun hamba sependapat dengan mereka. Tak malukah Tuanku membokong melepas senjata pada dua binatang yang telah mengakui kesalahan. Lagi pula hamba mendengar binatang-binatang itu tidak pernah mengganggu para prajurit. -

- Gila, bagaimana kau tahu binatang itu tidak mengganggu dan mengapa kau berani memastikan ia mengakui kekalahan? -

Bertanya Bagus Prana dengan masih menahan marahnya.

- O, ampunilah hamba jika terlalu banyak berkata Tuanku, bukankah Tuanku sendiri menyaksikan dua ekor binatang itu pergi tanpa banyak ribut dan tanpa melawan pula?- Bukankah itu bukti yang selayaknya Tuanku percayai?

- Cukup! Kalian mundur dan kembali ketempat masing-masing!-

Terdengar sebuah suara lain yang ketika diperhatikan ternyata adalah Tumenggung Santa Guna muncul dengan pengawalnya. Bagus Prana tak membantah pula. Kemudian Sentanu memberi tanda pada dua saudaranya agar kembali ketempatnya dikuti oleh para prajurit yang segera kembali 

ketempat masing-masing dengan dada penuh kekaguman pada anak muda Sentanu yang berkali-kali memperlihatkan kehebatan dihadapan mereka, sampai Tumenggung Santa Guna tak berani turun tangan menegur ketiga anak muda itu.

- Kang Setanu, sekali lagi aku kecewa tak berhasil membikin kapok anak manja Bagus Prana itu.

Gumam Wijaya sewaktu mereka ada ditempatnya. Tetapi Sentanu tertawa.

- Kau tunggu kesempatan lain masih banyak adi Wijaya!

Sahut Pamasa yang dapat memahami perasaan hati saudaranya itu. Namun Wijaya masih terlihat bersungut-sungut. Kecewa benar rupanya. Setelahnya kejadian itu Tumenggung Santa Guna masih memerintahkan agar para prajurit menetap menunggu, kedatangan Baginda Pati Unus. Setelahnya terjadi perkelahian dengan harimau itu tiba-tiba saja timbul kejadian lain yang menggemparkan seluruh prajurit Demak yang masih berkubu ditempat itu. Seperti biasanya pada malam harinya, Tumenggung Santa Guna telah membagi kuwajiban diantara prajurit jaga untuk selalu meronda dan berjaga-jaga. Tetapi malam itu, tidak seperti malam-malam sebelumnya, suasana amat sunyi dan mencengkam perasaan. Banyak diantara para perajurit yang masih terbayang kejadian siangnya menghadapi amukan dua ekor harimau yang hampir saja menelan korban diantara mereka lebih banyak kalau saja tidak muncul Sentanu dengan dua saudaranya itu.

Namun demikian secara tanpa disadari terselip juga dalam relung hati para prajurit itu kehebatan harimau jantan dan betina yang telah mereka saksikan itu. Dan diam-diam ada perasaan ngeri kalau kalau harimau itu tiba-tiba muncul di malam gelap itu dan langsung menyerang.

- Ah aku masih terbayang peristiwa siang tadi.

Kata seorang prajurit jaga pada kawannya yang mulai diserang kantuk.

- Bukan ,kau saja, akupun merasa demikian. Bahkan lebih dari itu. Rasanya kedua binatang itu akan muncul malam ini ditempat kita ini dan tiba-tiba menyerang kita yang tengah berjaga. -

- He, mengapa kau berkata demikian? -- Tukas kawannya.

- Kau jangan membuat kawan lain berkecil hati dan ketakutan. Kawannya itu tertawa.

- Ah, kurasa tak beralasan kita takut. Bukankah binatang itu sudah jera,siang tadi ? -

- Tetapi meskipun aku berpendapat seperti pendapatmu itu. - Sahut prajurit lain

- Hatiku merasa akan ada sesuatu yang terjadi malam ini -'

- Ah, sudahlah jangan bicarakan itu pula. Kita lebih baik berhati-hati dan waspada.

Untuk beberapa saat kemudian prajurit jaga inipun terdiam. Ada kemudian dua kelpmpok jaga yang lain menggabung dengan kelompok itu, hingga membuat mereka semakin bertambah semangat 

dan keberaniannya timbul kembali.

Namun tidak terduga, pada saat kesunyian malam telah hampir sempurna, sekonyong-konyong terdengar jeritan ngeri dari arah tenda utara berturut turut

Rupanya jeritan itu telah memecahkan kesunyian yang telah mencekam tadi dan menimbulkan kejutan dikalangan prajurit yang telah siap siap semenjak tadi.

Terdengar kemudian loncatan-loncatan kaki prajurit jaga yang terbangun dengan kaget. Berlarian mereka menuju arah datangnya suara jeritan tadi.

Bukan kepalang kaget hati kepala prajurit yang ikut memeriksa, terlihat dua sosok tubuh terkapar telah menjadi mayat dan darah segar membasahi tempat itu. Dan sewaktu diperhatikan ternyata dada dua orang prajurit yang tewas telah robek dan muka keduanya hancur oleh bekas cakaran persis seperti dada yang robek oleh bekas cakaran binatang

- Ah, jelas ini perbuatan harimau itu

Desis kepala prajurit. Namun ia segera memerintahkan mengangkat kawan yang naas itu, kemudian melaporkan pada Tumenggung Santa Guna dan Bagus Prana.

- Bangsat benar! - Bagus Prana memaki.

- Ini buahnya Sentanu menghidupi binatang itu. Rama Tumenggung harus memberikan hukuman pada ketiga anak yang keras kepala dan sombong ini!

- Sabar anakku,cari jalan lain untuk memecahkan persoalan ini. Kita tidak boleh berlaku gegabah menghukum Sentanu demikian saja.

- Ah, rama Tumenggung terlalu memberi hati hingga mereka menjadi sombong dan kurang ajar. Jelas merekalah yang melepaskan binatang jahat itu dan sekarang hasilnya? sekali binatang tetap binatang. Sekalipun ditolong, pastilah akan menerkam penolongnya

Namun sekalipun mengeluh panjang pendek, Bagus Prana tak berani membantah perkataan Tumenggung itu.

Ternyata kemudian kejadian itu terulang pada esok malamnya. Tiga orang prajurit kedapatan tewas dengan luka-luka tak ubahnya prajurit yang tewas duluan. Maka dugaan semakin kuat bahwa kejadian itu disebabkan oleh serangan binatang harimau, karena jelas bekas-bekas luka menunjukkan bekas cakaran kuku binatang harimau.

Tumenggung Santa Guna menjadi habis sabar, dan lagi atas desakan Bagus Prana, Tumenggung itu memanggil Sentanu bertiga dua saudara angkatnya.

- Kau tentu telah mengetahui sebabnya kupanggil kemari. Kata Tumenggung itu. Dan Sentanu mengangguk.

- Sekarang kau harus menyelesaikannya Sentanu, karena setiap prajurit disini mengetahui kaulah yang melepaskan kedua binatang itu. Dan ternyata kemudian 11 orang menjadi korban keganasan 

binatang hutan itu. Maka terserah bagaimana kau ingin melakukan, aku hanya memintamu agar menangkap hidup atau mati dua binatang itu dan memperlihatkan dihadapanku. Kau boleh berangkat dan sesukamu mau membawa berapa orang prajurit. Aku percaya kau tak akan kembali dengan tangan hampa.

Sentanu tidak banyak berkata. Ia mengiyakan saja perintah Tumenggung itu. Meskipun dalam hati masih meragukan apakah ia mampu mencari binatang yang telah kembali kesarangnya itu di hutan yang masih belum diketahui dimana letaknya. Tetapi Sentanu bertekad akan mencarinya sekaligus ia ingin menyingkirkan rasa heran bagaimana harimau itu dapat melakukan yang demikian. Ia tak heran, sebab harimau itu sejak semula telah memperlihatkan gerak gerik yang mencurigakan seakan bukan harimau sembarangan. Hanya dugaan Sentanu kuat binatang itu ada yang memiliki.

Maka Sentanu ingin sekali mengenal orang itu yang demikian mengagumkan mampu melatih dua binatang ganas menjadi makhluk lain yang memiliki tata tempur tak ubahnya manusia lumrah lain. Pamasa dan Wijayapun sependapat dengan Sentanu. Maka keduanya tak banyak rewel kecuali menuruti kemauan Sentanu. Ketiganya segera kembali ketempat untuk bersiap esok harinya. Malam itu seluruh prajurit berjaga dengan kuat. Bahkan Sentanu telah ikut meronda bertiga dengan saudara angkatnya yang gemas mengingat perlakuan Tumenggung Santa Guna.

- Kang Sentanu, pada pikirmu, harimau macam apakah binatang yang sedang kita cari ini? Tanya Pamasa.

- Loreng dan berkaki empat! Sahut Wijaya tertawa.

- Mungkin dugaan kalian akan sama denganku. Kata Sentanu kemudian.

- Aku merasa binatang itu bukan sembarang binatang.-

- Dan ketika kau tolong itu kang, nampaknya mereka tidak sekeji sekarang ini.- Tukas Pamasa.

- Ya, itulah yang mengherankan.-

Ketiganya terdiam. Malam hampir berganti pagi hari, namun tak terjadi serangan binatang itu.

Para prajurit bernapas lega. , Manakala malam habis siang dapat dipastikan tak akan terjadi peristiwa mengerikan itu. Namun ketika fajar merah mulai nampak diufuk timur dan pada saat para prajurit mulai berganti prajurit jaga yang lain, Pamasa menjadi kaget dan loncat menyambar pedang yang tergantung pada tenda. Sebab Pamasa yang baru saja melangkah masuk kedalam tempatnya itu dikejutkan oleh adanya sesosok tubuh loreng sebesar anak sapi yang tahu-tahu telah ada dalam tendanya. Tetapi harimau itu menggerang perlahan dan sebelum Pamasa melakukan sesuatu, Sentanu dengan Wijaya yang masih berada diluar, mendengar gerakan terkejut Pamasa, keduanya loncat masuk kedalam tenda pula. Keduanya merandek dengan kaget pula melihat raja hutan itu telah 

berada dalam kamar tenda mereka.

- Tahan!

Sentanu berseru perlahan mencegah kedua saudaranya bertindak menyerang. Lalu ia mendekati binatang itu karena matanya yang awas melihat sesuatu pada moncong harimau jantan yang datang sendirian itu. Ternyata kemudian pada mulut harimau itu menggigit sebuah badik kecil terbungkus dengan kain sutra biru. Dan ketika Sentanu mengambil benda itu si raja hutan tidak menolak bahkan sengaja memberikan senjata itu. Sentanu memeriksa badik itu dengan heran. Demikian kedua saudaranya. Lalu Sentanu mengalihkan pandangan menatap binatang itu yang menggelengkan kepala dengan pandangan aneh.

- Eh, apa maksudmu kawan?- Bertanya Sentanu.

- Mengapa kau datang dan tak tahukah kau bahwa kami tengah siap untuk menangkapmu, bahkan kami dan seluruh prajurit disini siap untuk membunuhmu?_

Harimau itu menggerang perlahan, lalu mendekat dan tiba-tiba mendekam dihadapan Sentanu menjilati jari kaki anak muda itu lalu loncat bangun dan mundur pula seraya menggerakkan kepalanya ke arah ketiga saudara angkat itu.

- Apa maksudmu? Pamasa bertanya.

- Eh kang Sentanu ia mengajak kita keluar dari tempat ini. Kata Pamasa kemudian.Sentanu mengangguk tanda mengerti.

- Eh apa. maksudmu kawan? Apa yang terjadi, mana kawanmu itu? -

Tanya Sentanu seraya mengelus leher binatang itu pula. Tetapi si raja hutan tiba-tiba bangkit, dan bertindak keluar lalu loncat dan lari kabur meninggalkan tempat itu.

- Kita ikuti! --

Seru Sentanu. Maka berloncatan ketiga saudara angkat itu mengejar harimau jantan.

Ternyatalah kemudian harimau jantan itu berlari keluar daerah perkemahan para prajurit Demak dengan susah payah. Berbeda dengan sewaktu binatang itu masuk tak seorangpun prajurit melihat

.Tetapi rupanya karena menunggu datangnya Sentanu sampai fajar, binatang itu tiba2 saja kepergok oleh beberapa prajurit jaga. - Tolong!

- Tolong -

Prajurit itu berteriak ketakutan dan teriakan inilah yang memanggil prajurit lain yang serentak dilihatnya raja hutan itu mereka meluruk dan berkali kali melepaskan panah dan tombak menghujani binatang itu yang berusaha lari menerobos kepungan.

Tak lama binatang itu telah berada diluar daerah perkemahan akan tetapi ketika itulah muncul Bagus Prana yang telah mendengar keributan dan dengan menunggang kudanya Bagus Prana 

menghujani binatang itu dengan puluhan anak panah dibantu para prajurit lain.

Keadaan telah terang benderang sehingga dengan mudah para prajurit melihat binatang itu.

Kehebatan main panah Bagus Prana memang cukup terpuji. Hujan panah dari tangannya demikian gencar. Maka binatang hutan yang tengah berusaha lari itu menjadi kerepotan.

Dalam pada itu Sentanu bertiga dengan saudaranya menjadi serba salah, mereka telah menyaksikan bagaimana harimau itu dikepung dan dihujani panah, bahkan keselatannya terancam. Tetapi Sentanu tak berani bertindak menolong. Sebab seluruh prajurit telah menaruh dendam hebat pada binatang itu. Maka ketiganya menjauh tidak turut mengepung.

Pada suatu saat dua batang panah tiba-tiba menyambar paha belakang harimau jantan itu, dan karena kerasnya sambaran dan tenaga Bagus Prana yang melepas, binatang itu terhuyung. Dan pada saat terhuyung itulah sekaligus lima batang anak panah prajurit yang mengepung menyambar kaki depan dan dua menancap di perut binatang itu hingga tanpa dapat dicegah binatang itu roboh terguling dengan lemas.

Bertepatan dengan robohnya harimau jantan itu tiba tiba terdengar auman keras dan panjang.

Dan muncul ditempat itu harimau betina yang langsung menubruk harimau jantan yang terluka tanpa dapat bangkit.

Bagus Prana majukan kuda siap melepas panah pula.Ia melihat munculnya harimau betina itu. demikian para prajurit telah bergerak dan kembali mengepung dan

- Tahan! Jangan bunuh! _

Tiba-tiba terdengar suara nyaring mencegah. Membuat para prajurit terhenti beberapa saat tidak bergerak. Tetapi mereka lebih heran ketika dibelakang harimau jantan tadi muncul seorang gadis mengenakan pakaian ringkas tanda ia pejalan jauh. Dan gadis itu kemudian berseru pula:

-Jangan bunuh mereka!

Lalu ia berlari mendekati harimau yang sedang kesakitan

Melihat munculnya gadis itu, Bagus Prana berpikir lain. Ia menduga tentulah gadis itu pemilik harimau yang mengacau dan menyerang para prajurit, maka tiga batang panah melesat dari gendewa Bagus Prana, dan ...,...... tanpa dapat dicegah tiga batang panah itu beruntun menyambar si gadis yang tengah berlari mendekati harimau dan tepat pundak dan pahanya termakan panah panah itu dengan hebatnya.

- Agh ...,...

si gadis mengeluh pendek dan roboh terguling.

- Kau! kau! .. kejam tak mengenal belas terhadap wanita lemah

kata gadis itu menuding Bagus Prana yang melepas senjata padanya. Dan muka si gadis merah padam bibirnya mengerut menahan sakit kena senjata itu.

Si gadis bergerak untuk bangkit. tetapi rupanya pahanya kena panah amat sakit, ia terhuyung 

menggigit bibir dan tangannya bermain mencabut dua batang panah yang menancap pada pundaknya..

Pada saat itulah muncul Sentanu dengan Pamasa dan Wijaya yang tak kurang kagetnya melihat munculnya gadis itu. Sentanu cepat mendekati si gadis, lalu dengan mengucapkan

- Maaf kisanak, kubantu kau melepas senjata ini. _

Dan Sentanu bergerak sehat. Ia pukul pundak si gadis dan paha yang terluka, lalu dengan hati hati Sentanu mencabut panah-panah itu.

Si gadis meringis menahan sakit, tetapi untung Sentanu telah memukul sekitar tempat yang terluka guna melumpuhkan bagian itu agar tak terlalu sakit sewaktu panah dicabut.

Pamasa bertindak cepat pula. Ia yang berpengalaman hidup di hutan sebagai kepala rampok, kenal berbagai daun obat yang terdapat di gunung itu.Maka ia telah muncul dan memeras daun obat ia lalu menutup pada luka si gadis.

Dan ketika Sentanu menoleh, ia tersenyum melihat Wijaya sedang mengobati harimau jantan yang terluka setelahnya mencabuti panah-panah yang menancap ditubuh binatang itu. Sentanu mengagumi kelebihan dua saudara angkat yang kenal baik dengan daun dan obat hingga dapat diharap luka-luka kena panah itu akan pulih kembali.

Si gadis mengangguk mengucapkan terima kasih pada Sentanu.

Sementara itu seluruh prajurit kini mengelilingi si gadis dan kembali mereka dibuat kagum oleh kejadian yang tak diduganya itu. Sentanu berdiri ketika Bagus Prana menegur ia pula:

- He, Sentanu sekali ini kau melindungi pembunuh orang-orang Demak ini maka tak ada pilihan lain aku akan memberitahukan pada Tuanku Pati Unus agar kau dihukum picis. ,

Tiba-tiba si gadis berdiri pula, dan sambil masih menahan sakit akibat lukanya ia berkata dengan berani :

- Kalian jangan salah paham. Kami sesungguhnya tidak bersalah. Dua harimau inipun sebenarnya tak bersalah. Bahkan mereka menyerang prajurit itu karena diganggu lebih dahulu.

- He,siapa kau berani menegur aku Bagus Prana -

Anak Tumenggung itu meradang dan membentak dengan kasar.

- Hati2 kau membuka mulut. Puluhan prajuritku tewas oleh serangan gelap binatang piaraanmu itu. _

- Tidak ! kalian jangan terburu napsu, kau harus meneliti terlebih dahulu. -- Jawah si gadis pula. Tetapi Bagus Prana mengangkat tangan dan berseru :

- Cukup! kau harus dihukum, tangkap dia !

Puluhan prajurit segera bergerak akan menangkap gadis itu. Namun sebelum terjadi, tiba-tiba terdengar sebuah suara tertawa keras dan seruan berulang-ulang :

- Benar, kalian terburu napsu ...... ha .. ha ...... ha .. memang benar kata orang, Demak hanya 

memiliki kerbau2 dungu yang tak bisa berpikir he ... he ..!... .. he ...... _

Yang mendengar suara itu tiba2 terdiam. Mereka rasakan getarannya memekakkan telinga seakan mengandung kekuatan tersembunyi dan bisa merontokkan isi dada mereka.

Bersamaan dengan itu, terlihat seorang penunggang kuda muncul beroman gagah. Tetapi sewaktu diperhatikan ternyata orang itu membawa seseorang yang terikat menelungkup diatas kuda didepannya .

Bagus Prana kaget. Orang itu nampak angker dengan roman muka tampan dan gagah memeluk tawanannya. Maka Bagus Prana mengangkat tangan pula dan memerintahkan tangkap orang itu.

Para prajurit yang mulanya menangkap si gadis menjadi berbalik dan kini mengurung orang berkuda itu seraya mengancam dengan senjata. Tetapi orang itu menggerakkan kudanya ke muka dan berteriak tak kalah kerasnya.

- Tahan!- Katanya.

- Kalian tak melihatkah siapa yang kubawa ini? -

Dan berkata demikian orang itu mengangkat muka tawanan yang dibawanya. Maka serentak dilihat, kagetlah yang ada disitu, sebab tawanan itu bukan lain adalah Tumenggung Santa Guna. Mereka mundur tanpa sadar, Bagus Prana nampak pucat mukanya sementara Sentanu dengan yang lain masih tidak bergerak melihat orang itu kini tertawa-tawa diatas kudanya.

- Kalian benar bodoh. Kata orang itu kemudian.

- Benar gadis itu! ia tidak bersalah. Kalian tunggu apa? Mau serang aku seranglah! Atau kalian mundur dan jangan ganggu aku menangkap gadis itu.Dan sebagai ganti aku akan serahkan Tumenggung penakut ini. Nah, terimalah! -

Orang itu mengangkat tubuh Tumenggung Santa Guna melemparkan kearah para prajurit yang berloncatan mundur lalu menolong Tumenggung Santa Guna berdiri kembali.

Dalam pada itu orang berkuda inipun bergerak dan menuju si gadis yang masih berdiri dengan mata tak berkedip. Tetapi sewaktu orang itu mendekat serta kemudian bergerak menyambar dirinya, si gadis baru menyadari bahaya dan ia berseru kaget lalu menyingkir dari tangkapan orang itu dan melarikan diri.

Sentanu kaget. Terlihat si gadis tidak akan mampu menghindar karena orang berkuda itu jelas memiliki kemampuan tinggi. Dan terlanjur basah Sentanu tadi menolongnya. Ia tak tahu siapa yang harus dianggap benar, tetapi melihat gadis yang nampaknya tak memiliki kemampuan tempur dikejar kuda demikian ia tak sampai hati. Maka hanya dengan beberapa kali loncatan Sentanu telah menghadang dimuka kuda orang itu dan tak banyak berkata Sentanu gerakkan tombak panjangnya dengan cepat memutar senjata panjang itu dimuka kuda yang tengah berlari mengejar si gadis. 

- He, mundur! Siapa kau berani mati menghalangi? _

Seru orang itu dengan marah. Ia tak menghentikan kudanya dengan maksud ingin menabrak Sentanu yang diduganya adalah prajurit biasa.

Akan tetapi orang itu menjadi kaget bukan main, ketika Sentanu merasa orang itu akan menabrakkan kudanya, tombaknya ia gerakkan berputar dan tiba tiba kuda tunggangan tadi meringkik keras untuk kemudian roboh tersungkur kakinya kena sambar tombak Sentanu. Tapi penunggangnya cukup gesit dan tangkas Ketika kudanya tersungkur hebat ia loncat dan berjumpalitan lalu turun dalam keadaan berdiri.

- Kau hebat anak muda, siapa namamu? Bertanya orang itu pada Sentanu.

- Rasanya aku pernah melihat cara berkelahi yang kau perlihatkan tadi.

Namun Sentanu tidak menjawab, ia tersenyum dan langsung menabaskan tombaknya kearah orang itu seraya berkata:

- Nama tak perlu kau ketahui. Tapi aku tahu kau adalah orang Majapahit yang sengaja datang mengacau, maka jangan harap akan bisa lolos dari tanganku untuk kuserahkan pada tuanku Pati Unus._

Dan

- wuut! wuuut

Tombak ditangan Sentanu bergulung hebat mengurung orang itu. Yang diserang sadar, ternyata anggapannya keliru menduga lawan mudanya hanya prajurit biasa. Tetapi terlambat, tombak Sentanu telah bergerak cepat mengancam nyawanya hingga orang itu mulai mundur-mundur dan berloncatan.

- Bagus! kau hebat! Seru orang itu memuji.

- Tetapi kau akan kecewa jika berhadapan dengan Rangga Permana ditempat ini, lebih baik kita tunda perkelahian kelak jika Majapahit berhadapan dengan Demak.

- Rangga Permana? -

Bagus Prana ternganga mendengar orang itu mengaku sebagai Rangga Permana.

- Bukankah Rangga Permana kepala daerah Supit Urang anak buah Prabu Udhara, Rama? -

Tanyanya pada Tumenggung Santa Guna yang telah berada didekatnya. Dan Tumenggung itu mengangguk membenarkan.

- Kalau demikian jangan biarkan ia lolos.

Bagus Prana memberi isyarat menggerakkan ratusan prajurit meluruk mengurung Rangga Permana yang tengah berhadapan dengan Sentanu.

- Ah orang Demak licik dan pengecut. Menghadapi seorang aku saja harus mengerahkan ratusan prajurit bersenjata. Bagus ! Kecurangan yang pantas dipuji! 

Seru Rangga Permana. Sentanu yang mendengar langsung perkataan itu mukanya berubah merah.

Ia terpukul oleh perkataan itu dan diam-diam menyalahkan Bagus Prana yang memberi perintah. Tetapi terlambat, gelombang prajurit sudah bergerak dan berkelebatan senjata mereka menyerang Rangga Permana. Rangga Permana sadar dirinya terancam. Tiba2 ia loncat mundur. Dan hatinya heran bercampur lega ketika Sentanu tidak mengejar. Orang Majapahit itu tiba2 pula melempar benda bulat sebesar telur angsa kearah para prajurit yang menyerangnya.

Dan

- wuuuusss duar! Dar! Dar!

terdengar letusan2 keras dan asap tebal bergulung dari akibat benda-benda yang dilempar Rangga Permana menyaput seluruh tempat itu. Para prajurit panik dan ribut. Mata mereka menjadi pedas dan gelap. Sekitar tempat itu menjadi ramai karena mereka saling bertubrukan sesama kawan. Hanya Sentanu dengan orang-orang yang tergolong tinggi ilmunya masih dapat selamat dari letusan dari asap yang menyakitkan mata itu. Bahkan Sentanu melihat Rangga Permana sesudahnya menghujani prajurit dengan benda-benda itu setelah loncat kabur merampas seekor kuda prajurit lalu melarikan diri dengan cepat. Sentanu tak bergerak. Ia tak mau mengejar, perasaan malunya masih mengeram dalam hati mengeroyok Rangga Permana yang sendirian.

- Masih ada kesempatan lain untuk berhadapan satu lawan satu

Pikirnya. Maka Sentanu membiarkan Rangga Permana melarikan diri tanpa mengganggu sedikitpun. Para prajurit baru sadar kemudian bahwa buruannya telah lepas setelahnya asap menipis. Mata mereka sekalipun masih terasa pedas, tetapi telah dapat melihat dengan terang. Tumenggung Santa Guna dengan gemas memerintahkan prajuritnya untuk kembali. Sedang si gadis diperintahkan menghadap padanya dan dengan diiringkan Sentanu bertiga saudaranya gadis itu di giring ketempat Tumenggung itu berdiam di tendanya.

- Seharusnya kaulah yang menerima hukuman pancung karena kaulah yang menimbulkan bencana ini.- Kata Tumenggung itu.

- Tetapi karena adanya Bagus Prana anakku yang telah menimbang dengan bijaksana, kau bebas! Namun begitu, kau masih harus berada ditempat ini menunggu keputusan Tuanku Pati Unus. Nah, sebutlah namamu agar kami semua mengetahuinya.-

Sentanu yang mendengar kata-kata Tumenggung demikian menjadi sedikit lega. Berarti gadis itu tak akan diganggu. Tetapi sebelum gadis itu membuka mulut. Sentanu maju dan berkata:

- Ampun Tuanku, hamba ingin mengemukakan pendapat hamba. Seyogyanya Tuanku memberi kesempatan pada gadis itu untuk memaparkan awal mula kejadian hingga binatang piaraannya itu mengganggu prajurit. Dan ada hubungan apa ia dengan Rangga Permana. 

Tumenggung Santa Guna mengangguk-anggukkan kepala mendengar usul Sentanu.

- Kau benar, nah kau dengar bukan perkataan Sentanu?- Kata Tumenggung pada gadis itu kemudian.

- Mulailah kau tuturkan dari mulanya kau bisa menimbulkan keributan disini. Tetapi awas, jika kau membuat cerita palsu hukuman akan kau terima tanpa menunggu Tuanku Pati Unus pula. Nah, mulailah!-

Si gadis menjadi girang mendengar itu. Diam-diam ia berterima kasih pada Sentanu yang dianggapnya amat pandai dan cerdik. Bahkan tak langsung Sentanu yang dianggapnya memberi kesempatan ia mengulur waktu dan berusaha menyelamatkan diri dari hukuman. Maka ia maju dan membungkuk dihadapan Tumenggung Santa Guna lalu dengan suara sekalipun tak keras, namun jelas terdengar oleh seluruh yang hadir, gadis itu membuka kisahnya.

- Sesungguhnyalah Tuanku, hamba tidak merasa bersalah. Nama hamba Ken Rati. Tiga pekan yang lalu diperintahkan oleh kakek hamba mencari ayah yang pergi ke Demak. Oleh kakek hamba diberi kawan dua ekor harimau. Maksud kakek kawan hamba itu agar menemani serta melindungi hamba karena kakek tak sampai hati melepas hamba seorang diri diperjalanan yang penuh bahaya. Namun ditengah perjalanan, hamba tiba-tiba bertemu dengan Rangga Permana yang tadi bertempur dengan prajurit Tuanku._

Kemudian Ken Rati melanjutkan ceritanya dengan suara yang makin menarik membuat yang mendengar terpaksa terpaku mendengar sepenuh perhatian.

- Rangga Permana dengan menunggang kudanya yang tinggi besar, semula amat kaget dan heran melihat seorang gadis cantik berada seorang diri dalam hutan. Tetapi segera mengenal siapa adanya gadis itu.

- He, bukankah kau anak Ken Sanggit dari padepokan Julang? Bertanya Rangga Permana.

Si gadis yang tidak menduga buruk mengakui benar ia adalah anak Ken Sanggit. Maka mendengar jawaban itulah Rangga Permana tiba-tiba majukan kudanya lalu loncat turun mendekati si gadis . Dengan menyeringai Rangga Permana berkata:

- Bagus! Kebetulan. Aku tak usah berpayah-payah ke Demak pula. Kau cukup menjadi pengganti orang tuamu yang sombong. Nah, kau menurutlah untuk kutangkap.

Ken Rati terkejut mendengar perkataan Rangga Permana. Maka sadarlah ia bahwa dirinya dalam bahaya. Maka ia berseru memanggil dua binatang harimau yang tengah turun mencari sumber air.

Tetapi teriakan itu tak banyak berguna. Rangga Permana sebat bergerak dalam sekejap Ken Rati telah ada dalam pondongannya untuk kemudian ia loncat naik keatas kudanya melarikan Ken Rati dengan tertawa-tawa. Si gadis berontak sekuat tenaga seraya menjerit-jerit. Namun tenaganya tak 

mampu melepas tubuhnya dari cengkeraman Rangga Permana yang berilmu tinggi. Dan sementara kuda yang membawa dua orang itu kabur naik menuju sebuah bukit kecil, Ken Rati terus

berteriak-teriak hingga kehabisan suara dan jatuh pingsan dalam pelukan Rangga Permana. Rangga Permana tersenyum lebar. Hatinya girang bukan main. Sebab niat kedatangannya ke Demak, adalah mencari dan menyelidiki kekuatan lawan. Rangga Permana yang diserahi kekuasaan menguasai daerah Supit Urang yang menjadi benteng pertahanan Majapahit terakhir tahu lawan cukup berat.

Iapun kemudian mengetahui adanya tentara Demak yang berdiam ditempat itu. Maka semenjak pertama tentara Demak membuat perkemahan ia telah ada disekitarnya. Namun tanpa diduga Rangga Permana kemudian bertemu dengan Ken Rati yang juga dicari-carinya. Sementara itu Ken Rati dalam keadaan tak berdaya telah menjadi tawanan Rangga Permana. Ia disembunyikan dalam gubug di mana orang Majapahit itu tinggal selama mengintai prajurit Demak.

Pada saat itulah dua binatang piaraan yang dibawa gadis itu naik dan keduanya mengaum keras sewaktu tuannya tidak mereka temukan, sepasang harimau yang rupanya terlatih itu kebingungan.

Mereka berusaha mencium jejak Ken Rati keseluruh daerah perbukitan itu. Ketika keduanya tengah mencari Ken Rati itulah tiba-tiba beberapa prajurit Demak memergoki mereka hingga Bagus Prana kemudian memerintahkan menangkap dan terjadilah perkelahian hebat antara para prajurit dengan binatang-binatang itu hingga Sentanu turun tangan, Setelahnya kedua binatang itu dilepas oleh Sentanu, keduanya terus mencari jejak adanya Ren Rati. Dan berkat penciuman yang tajam, pada suatu saat mereka temukan gubug persembunyian Rangga Permana dan tanpa disengaja mereka menemukan badik kecil milik gadis itu. Maka jelaslah bagi kedua harimau itu bahwa yang dicari ada dalam gubug itu. Namun berkat kehebatannya, harimau jantan seakan berunding dengan betinanya ia membawa badik itu pada Sentanu dengan maksud meminta bantuan sedang si betina diam-diam memasuki gubug Rangga Permana mencari Ken Rati yang terikat dalamnya. Dalam pada itu Rangga Permana yang tak menduga bahwa Ren Rati memiliki dua binatang piaraan tak menaruh kecurigaan, hingga saat harimau betina itu memasuki gubugnya, ia tinggalkan Ken Rati dan masuk keperkubuan tentara Demak dan berhasil menculik Tumenggung Santa Guna. Sampai kemudian terjadinya perkelahian orang-orang Demak dengan harimau jantan dan munculnya si betina mengiringkan Ken Rati ditempat itu.

- Demikianlah Tuanku, hamba mohonkan pengampunan bagi kedua binatang kawan hamba yang

tak bersalah itu. -

Kata Ken Rati kemudian .Tumenggung Santa Guna yang mendengar penuturan si gadis

manggut-manggut, rupanya mengerti dan hilang kemarahan yang semula mengeram dalam dadanya.

- Aku tahu. Katanya kemudian. 

- Tetapi siapakah yang membunuh prajurit-prajurit dengan keji itu?- Bukankah kedua binatang piaraanmu itulah yang melakukannya?

Sentanu mendengar itu menyela dan berkata.

- Bukankah ada Rangga Permana yang telah mengakuinya Tuanku? Tak mustahil dialah yang berbuat melihat kehebatannya yang cukup mengagumkan.-

Semua yang ada ditempat itu terdiam. Perkataan Sentanu masuk dalam akal mereka. Baru untuk beberapa saat kemudian Tumenggung itupun berkata pula.

- Baik, kalau demikian Ken Rati boleh lepas dari hukuman. Kau boleh pergi sekarang.

Ken Rati cepat menyahut mendengar perkataan itu. - Ampun Tuanku, sesungguhnyalah hamba ingin menggabung dengan Tuanku disini. Hamba akan membantu dengan segala kemampuan yang hamba miliki, lagi pula kedua piaraan hamba itu akan banyak menolong prajurit Tuanku dalam pertempuran

Tumenggung Santa Guna terheran-heran. Tak diduganya gadis itu akan berkata demikian. Tetapi sebelum Tumenggung itu membuka mulut pula, Bagus Prana berbisik perlahan:

- Terimalah Rama, aku rasa gadis itu bukan sembarangan, tentu ada yang dibelakangnya hingga ia berani melakukan segalanya ini. Dan dua ekor binatang miliknya, anak menduga tentu milik seorang linuwih.

Tumenggung Santa Guna manggut pula sependapat dengan Bagus Prana. Namun hati orang tua itu tidak melihat sesuatu yang tengah terpancar dari sinar mata Bagus Prana yang semenjak tadi berputar aneh manakala menatap kearah Ken Rati. Agaknya hanyalah Sentanu dengan Pamasa dan Wijayalah yang dapat menduga isi hati dan kepala Bagus Prana yang terlihat jelas terpikat oleh kecantikan Ken Rati dan agaknya memendam maksud kotor terhadap gadis itu. Namun mereka tidak mengucapkan sesuatu hanya saling memandang dan melirik dengan maklum.

- Baiklah! kau boleh menetap disini dan sementara menunggu keputusan lebih lanjut dari Tuanku Pati Unus, kau boleh tinggal. -

Kata Tumenggung Santa Guna kemudian.

- Dan kau boleh kembali ketempat masing-masing!

Perintahnya kemudian. Sementara itu Wijaya yang telah kembali ketempatnya bergumam dengan kesal.

- Mengapa gadis itu meminta berdiam disini. Apa maunya?-

- Ya, akupun merasakan aneh sikapnya itu. Sahut Pamasa.

- Pendapatmu bagaimana kang Sentanu?

Sentanu tertawa kecil. Ia tidak segera menjawab. Namun memperhatikan saudara-saudaranya yang selalu tak puas dengan sikap- sikap yang timbul dilingkungan mereka. Tetapi sebentar 

kemudian ia berkata:

- Kita tak usah mengambil pusing semua itu. Bukankah tak ada kepentingan dengan kita sendiri?-

- Itu benar. - Jawab Wijaya.

- Tapi kau lihat sikap Bagus Prana, yang matanya liar ketika memandang Ken Rati, tentu ada apa-apa dibalik pandangan anak Tumenggung itu, kang. _

- Benar kau adi Wijaya. Aku merasa sikap Bagus Prana mengandung maksud tersembunyi. Bukankah dia juga yang mendesak Tumenggung Santa Guna agar menerima gadis itu disini?-

Sentanu tidak berkata pula. Sekalipun diam-diam dalam hatinya juga tersimpan rasa curiga terhadap Bagus Prana, tetapi Sentanu tak mengatakan hal itu. Hanya kemudian ia berkata:

- Sudahlah, kita beristirahat lebih dahulu.

Pamasa tak puas dengan jawaban Sentanu, bahkan Wjiaya lebil tak puas lagi maka ia segera bertindak keluar dengan roman muka muram. Dalam pada itu Sentanu semakin diganggu oleh dugaan-dugaan yang membuatnya tak tenang.

Mungkinkah Ken Rati adalah musuh Demak yang sengaja dikirim untuk mematai prajurit disitu? Dan benarkah gadis itu tak berkepandaian?

Berpura-purakah dia, tetapi penglihatan Sentanu merasa yakin bahwa gadis itu memang tak berilmu. Bahkan gerak paling mudah dalam dasar tata kelahi nampaknya tak dikenal sama sekali.

Tapi siapakah dia sesungguhnya? Sentanu masih bertanya-tanya.

Dugaan-dugaan mereka kemudian ternyata terbukti. Bagus Prana yang melihat kecantikan Ken Rati sejak semula telah tergoncang hatinya. Namun ia masih belum dapat berbuat apapun.

Pertimbangannya berputar. Ia ingin sekali gadis itu menjadi miliknya. Tetapi kedua kawan Ken Rati tak dapat dianggap ringan binatang hutan yang selalu dekat dengan gadis itu akan berbahaya baginya. Maka Bagus Prana dengan sabar mengendalikan keinginannya. Pada malam berikutnya, dua harimau hutan yang selalu bersama Ken Rati kebetulan berada di tenda Sentanu. Sepasang binatang itu sengaja dibawa oleh Pamasa. Dan karena mereka kini terbiasa dengan mereka, maka tak mengherankan jika binatang itu tak ubahnya sebagai kawan. Bahkan mereka kerapkali terlihat berada di hutan berburu bersama sama. Agaknya telah menjadi garis bahwa Bagus Prana memiliki watak rendah. Suatu saat keinginannya mengganggu Ken Rati tak tertahankan lagi. Dan Ken Rati menjadi kaget ketika dengan tiba-tiba Bagus Prana muncul dengan mata menakutkan. Sekalipun Bagus Prana mencoba tersenyum manis pada gadis itu, tetapi dalam pandangan Ken Rati senyum itu tak ubahnya seringai serigala. Tetapi ia kuatkan perasaan dan bertanya

- Ada maksud apakah Tuanku mencari hamba pada malam begini ?- 

Bagus Prana tidak menyahut, hanya matanya berputar aneh dan bibirnya masih menyunggingkan sebentuk senyum yang mengerikan dalam pandangan Ken Rati. Bergerak-gerak seraya melangkah maju mendekati. Tahulah Ken Rati apa yang akan terjadi, ia mundur-mundur melihat Bagus Prana berhal demikian. Tak diduga sedikitpun olehnya jika akan terjadi hal itu.

- Tuanku, jangan! Jangan lakukan itu. Bukankah Tuanku harus menjunjung kehormatan wanita yang tak berdaya..... jangan ! dan..... dan..... kalau Tuanku Pati Unus mengetahui ini . jangan ..

Namun Bagus Prana yang telah dikuasai oleh napsu iblis melihat gadis itu gemetar ketakutan, bukannya mundur, sebaliknya ia melihat si gadis nampak semakin cantik, menarik. Dan bibir si gadis yang gemetar bergerak-gerak, menimbulkan rangsangan berahinya semakin menggelora. Tiba-tiba Bagus Prana meloncat menubruk. Ken Rati menjerit dan menghindarkan diri. Tetapi tak urung pundaknya kena direnggut oleh Bagus Prana hingga si gadis terhenyak kesudut tenda.

- Mengapa kau melawan? Siapa menentang kemauanku harus mati. Hati-hatilah kau!? Ancam Bagus Prana melihat si gadis melawan.

- Penjahat keji! Awas kelak akan kuberitahukan perbuatanmu ini pada tuanku Pati Unus. Kau tentu dipenggal....

Akan tetapi anak Tumenggung Santa Guna itu bukan menjadi reda napsunya. Ia kembali loncat dan menerkam Ken Rati yang telah memucat mukanya. Tetapi Ken Rati berubah niat mengingat kalau banyak orang mendengar teriakannya dan mereka kemudian melihat apa yang terjadi, tentulah ia hanya akan menderita malu. Lagipula Ken Rati tahu Bagus Prana cukup ditakuti oloh para prajurit.

Jadi siapakah yang akan berani mencegah perbuatannya ?

Dengan demikian, Bagus Prana beruntung. Maka ia semakin menyeringai dan kembali Ken Rati dikejar dengan bernapsu. Ditubruknya si gadis. Dan

Breeet!

Pakaian Ken Rati robek bagian atas hampir separuh. Gadis itu menggigit bibir lalu ia menelungkup keatas pembaringan tetapi matanya tak lepas menatap Bagus Prana dengan cemas. Bagus Prana semakin gila melihat dada Ken Rati yang terbuka maka saat itulah ia kerahkan kepandaian dan tangannya bergerak cepat. Dalam sekejap kemudian gadis itu telah berhasil didekap olehnya lalu dengan kasar tubuh Ken Rati ia balikkan hingga menghadap ke arahnya dan tangan Bagus Prana terus bergerak merobek pakaian si gadis yang meronta-ronta sambil menangis. Marah, malu, campur aduk dalam hati si gadis disertai rasa takut luar biasa membakar hati dan pikirannya. Namun sampai disitu Ken Rati tetap tak mau berteriak. Ia akan lebih merasa terpukul dan malu manakala prajurit ada yang melihat ia diperlakukan demikian. Maka gadis itu hanya meronta-ronta.

Bagus Prana semakin kalap. Ia banting Ken Rati kembali keatas pembaringan dan ditubruknya.

Maka rupanya Ken Rati telah tak mempunyai pilihan lain. Ia menyesal Badiknya tak ia bawa. Dan kini gadis itu telah kehabisan tenaga melawan Bagus Prana yang sudah barang tentu tak dapat ia lawan 

begitu saja. Selain Bagus Prana tergolong berilmu, juga tengah dikuasai napsu gilanya. Apalah artinya kekuatan Ken Rati?

Maka Bagus Prana merasa girang. Ia merasa niatnya kesampaian dan perasaan itu membuat ia lupa bahwa sesungguhnya masih ada dua harimau yang sewaktu-waktu bisa menerkamnya dan mencabik- cabik tubuhnya. Hampir separuh pakaian Ken Rati telah robek dan lepas. Dan Bagus Prana masih ketat memeluk tubuh yang meronta dan berusaha lepas dari cengkeraman. Pada saat Ken Rati telah hampir tak berdaya, tiba-tiba tenda itu terbuka dan seseorang muncul dengan muka tegang menahan marah yang membakar dada.

- Gila! Apa yang kau lakukan ini?! Apakah kau sudah ingin, mati dipenggal di alun-alun?!

Terdengar orang itu menegur dengan keras dan marah. Bagus Prana kaget. Cepat ia bangkit dan menoleh kebelakang. Dan mukanya menjadi pucat melihat yang muncul. Ternyata adalah Tumenggung Santa Guna yang ketika Bagus Prana bangkit, Tumenggung itu loncat kedua tangannya bergerak dan

Plak! Bluk!

Bagus Prana terlempar bergulingan oleh pukulan tangan Tumenggung Santa Guna.

- Bangsat rendah memalukan!-

Geram Tumenggung itu dan sekali lagi ia loncat kemudian tubuh Bagus Prana diangkat lalu

- Buk! Blug! -

Kembali Bagus Prana terlempar kena serangan pukulan Tumenggung yang marah itu.

- Kau tak pantas dihidupi! Bangsat rendah! -

Dalam pada itu Ken Rati yang melihat munculnya Tumenggung Santa Guna cepat berdiri dan membenahi pakaiannya, lalu si gadis menyambar buntalan yang dibawa kemudian cepat ia berganti pakaian lalu keluar dan berlari meninggalkan tempat itu. Tumenggung Santa Guna masih geram dan mengumpat Bagus Prana yang kini terduduk dengan ketakutan dimukanya.

- Kau keterlaluan. - Kata Tumenggung itu kemudian.

- Bukan aku melarang kau main perempuan, tetapi bukan ditempat ini dengan cara kurang ajar. Bayangkan jika ada prajurit yang melihat kemudian melaporkan perbuatanmu pada Tuanku Pati Unus. Bukan kau saja akan dihukum penggal tetapi akupun akan dirajam dan dicopot kedudukanku. Huh!

Bagus Prana tak membuka mulut.

- Hayo kembali ketempatmu! -

Bentaknya kemudian. Bagus Prana bangkit perlahan, lalu dengan kepala tunduk ia melangkah keluar diikuti Tumenggung yang marah itu. Sementara itu Ken Rati yang berlari keluar dengan membawa buntalan pakaiannya mendekati kemah Sentanu, lalu dengan isyarat ia memanggil dua binatang yang ada dalam tenda itu. Si harimau jantan yang menangkap isyarat itu keluar diikuti betinanya dan Ken Rati yang melihat dua kawannya itu keluar berkata perlahan:

- Ayo, kita tinggalkan lebih dahulu tempat ini 

Kemudian berlari diikuti oleh dua kawannya itu meninggalkan perkemahan menerobos kegelapan malam yang hampir mendekati pagi hari. Sementara itu Pamasa tiba-tiba terbangun ketika dilihatnya sepasang raja hutan yang tidur menemani mereka tak terlihat. Ia loncat bangun lalu menjenguk keluar. Samar-samar dikejauhan ia melihat sosok bayangan kedua binatang yang

berlari-lari kecil mengikut Ken Rati. Pamasa menggamit Sentanu dan Wijaya.

- Eh, ada apakah kau bangunkan aku? Bertanya Wijaya dengan heran.

- Entah ada apa, tetapi aku melihat, binatang-binatang itu berlari pergi kearah timur keluar. jangan-jangan ada yang tengah terjadi disana. _

- Mereka pergi?

Tanya Sentanu dengan heran.

- Kita susul,

Ketiganya loncat dan bergegas berlari menyusul kearah yang ditunjuk oleh Pamasa.

- Kesana aku tadi melihatnya. Kata Pamasa kemudian.

Kelebihan ketiga orang itu membuat tak seorangpun prajurit melihat ketika mereka berloncatan keluar. Berbeda dengan Ken Rati yang keluar dengan sembunyi-sembunyi. Sementara itu Ken Rati telah beberapa ratus langkah meninggalkan tempat itu. Hatinya masih diliputi kemarahan hebat. Ia menjadi benci bukan alang kepalang pada anak Tumenggung Santa Guna itu. Marah dan malu diliputi rasa dendam membakar hatinya. Mau rasanya ia pukul kepala Bagus Prana kemudian melumat jantungnya saat itu juga. Tetapi Ken Rati ternyata mampu menindih perasaan itu, hingga tak kentara pada wajahnya. Hanya diam-diam ia mengancam anak Tumenggung itu dengan balas dendam yang hebat kelak. Ken Rati terus berlari kecil diikuti dua kawan yang setia itu. Sewaktu fajar telah mulai terlihat ditimur, Ken Rati berhenti. Ia bermaksud mencari sumber air. Namun sebelum niatnya itu terlaksana, tiba-tiba ia mendengar suara orang mendatangi dan berseru kepadanya.

- E, berhenti dulu kawan! Mau kemana kau pergi dengan diam diam?-

Ken Rati terkejut. Semula ia menyangka prajurit Demak yang mengejar atas perintah Tumenggung Santa Guna. Tetapi sewaktu dilihatnya yang mendatangi adalah Sentanu dengan dua saudara yang telah dikenal sebagai penolongnya, menjadi lega. Maka ia berhenti dan berusaha menyembunyikan kerusuhan hati dan kemarahannya.

- Mau kemanakah kau sepagi ini? - Bertanya Pamasa.

- Maafkan aku. Terpaksa aku meninggalkan tempatmu tanpa pamit. Sebab masih ada yang harus kulakukan. Maafkanlah aku dan terima kasih atas segala budi baik dan pertolongan kalian padaku yang tak berarti ini.- 

Jawab Ken Rati dengan mencoba tersenyum. Sentanu berpandangan dengan saudara-saudaranya.

Jelas mereka merasa ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu. Tetapi ketiganya tak enak untuk bertanya lebih jauh.

- Maafkanlah aku saudara-saudaraku, kalian amat baik dan tinggi budi. Tentulah kelak Tuanku Pati Unus akan menaikkan pangkat kalian. _

Sentanu loncat maju.

- Kau mau pergi kemanakah? Tanyanya.

Pamasa dengan Wijaya loncat maju pula dan ikut bertanya

- Ya, kau sendirian pergi. Mengapa tidak mengajak kami saja?

Ken Rati terpukul hatinya. Ia terharu mendengar perkataan tiga anak muda yang dirasanya memperhatikan sekali padanya itu.

- Ya, ya, aku tahu kalian adalah pendekar berbudi dan berhati mulia. Biarlah aku pergi. Kelak tentu masih bertemu pula, bukan? Sudahlah, kalian tak ubahnya saudaraku juga. Selamatlah bertemu kelak kita kembali. -

Ren Rati melangkah, dan ketiga anak muda itu tak kuasa mengucap. Ada rasa iba melihat Ken Rati. Ketika si gadis melangkah lebih jauh seraya mengucap-

- Selamat tinggal saudara-saudaraku.-

Ketiganya baru sadar dan mereka melambaikan tangan dengan terharu.

- Ken Rati!-

Sentanu berseru perlahan. Pamasa dan Wijaya melihat gadis itu menggelengkan kepala dan terlihat ia seperti mengeluarkan air mata. Namun langkah-langkah gadis itu semakin menjauh dan menjauh, sampai kemudian hilang di tikungan memasuki hutan kecil dimukanya. Sentanu bertiga masih berdiri mematung. Mereka menatap arah hilangnya Ken Rati. Baru ketika terdengar auman panjang kedua ekor harimau yang dibawa si gadis, ketiganya sadar. Dan tiba-tiba Wijaya loncat maju dengan suara keras dan panjang ia menirukan suara auman raja hutan itu menyahut mereka. Rupanya kedua binatang piaraan Ken Rati mengetahui maksud Wijaya maka dari kejauhan mereka masih mengaum panjang memberi tanda dan seakan mengucapkan selamat tinggal pada mereka bertiga.

Demikian pula Wijaya masih terus menerus mengeluarkan teriakan itu sampai kemudian ketika suara auman telah semakin jauh dan hilang, Sentanu beranjak dan berjalan kembali ketendanya.

- Siapakah sebenarnya Ken Rati pada pikirmu?

Tanya Pamasa pada Sentanu ketika mereka berjalan itu.

- Kurang dapat menduga dengan persis. Tetapi aku merasa ia tentu anak seorang linuwih, atau sekurang-kurangnya ia murid orang itu. Dan melihat tindak-tanduknya agaknya ia ada kepentingan dengan Demak.- 

- Tetapi kang. - Jawab Wijaya.

- Kalau Ken Rati murid seorang linuwih, mengapa ia tak sedikitpun terlihat memiliki kepandaian?

Kecuali dua binatang piaraan yang dibawanya itu.

Tetapi ketiganya terdiam tanpa dapat menjawab pula dan mereka masuk kembali ketempatnya dengan pertanyaan masih mengeram dalam kepala masing-masing.

****

Sementara itu jauh dari kotaraja Demak dan masih puluhan pal dari sebelah barat hutan Purwodadi dimana prajurit Demak dengan Tumenggung Santa Guna berdiam, terlihat seorang lelaki muda beroman tampan menunggang kuda menyusuri sungai Tuntang dengan berjalan perlahan. Orang itu nampak benar baru saja melakukan perjalanan jauh. Pakaian yang dikenakan adalah pakaian rakyat kebanyakan. Namun ikat kepalanya memperlihatkan ia bukan salah seorang kawula Demak.

Dan menilik dari caranya menunggang kuda serta melihat sorot matanya yang tenang berwibawa, bisa diduga ia bukan seorang biasa. Sekalipun roman mukanya masih muda, tetapi kerut dan

garis-garis kening serta wajahnya memperlihatkan bahwa ia merupakan seorang yang telah matang jiwa dan pribadinya. Dan gerak- gerakan tubuh ketika mengimbangi jalan kudanya menunjukkan ia seorang yang cukup berilmu dan terlihat agung sikapnya duduk di- atas pelana kudanya itu. Baru juga kemarin sorenya orang muda itu turun dari punggung Gunung Ungaran lalu menyusuri sungai Tuntang ia menuju kearah utara dengan tanpa banyak melarikan binatang tunggangannya. Lelaki muda dengan roman tampan yang nampak agung sikapnya itu tak lain adalah Putra Mahkota Pajajaran yang kini berganti nama sebagai Pangeran Madi Alit yang telah melarikan diri dan lolos dari Pajajaran karena melawan kehendak ayahnya yang menginginkan ia mengganti sebagai Raja di Pajajaran. Akan tetapi karena Madi Alit lebih suka hidup sebagai pertapa hingga ia bertemu dengan seorang tua yang tak dikenalnya memerintahkan agar ia mencari adanya sebuah senjata Pusaka yang disebutnya -Pambengkas papa nista Tombak Pusaka Kiai Bungsu, Pangeran Pajajaran itupun lolos meninggalkan kemewahan istana dan negara yang dicintainya di Pajajaran. (Baca Jilid 1).

Madi Alit telah jauh berjalan, semenjak ia berpisah dengan ayah Sentanu Aki Kerancang, kaki

kudanya telah membawanya ke tlatah timur dan Madi Alit selama dalam perjalanan telah banyak mendengar timbulnya banyak peperangan. Bahkan ia telah mendengar sebuah Negeri baru yang bernama Demak telah berdiri dan semakin kuat saja. Malah Madi Alit mendengar pula dari para saudagar dan pejalan bahwa negri yang bernama Demak itu memusuhi negrinya Pajajaran dan berkali-kali mengirim tentara menyerang ke Pajajaran. Bukan itu saja Demak menurut yang didengarnya telah pula melakukan serangan ke Majapahit, dan banyaklah orang-orang Majapahit 

yang menyingkir akibat serangan-serangan itu. Mengingat yang demikian, adakalanya Madi Alit ingin kembali ke Pajajaran dan membantu negrinya. Tetapi dorongan hatinya ternyata lebih kuat untuk tetap mencari dimana adanya Tombak Pusaka Kiai Bungsu. Sebab masih membayang jelas ramalan Begawan Seda Paningal yang bertemu dengannya memaparkan bakal hancurnya Pajajaran manakala Tombak Pusaka Kiai Bungsu tidak ia temukan. Maka Pangeran Madi Alit sekalipun seringkali diganggu kecemasan mengingat nasib Pajajaran, tetapi ia merasa yakin Pajajaran tak akan runtuh manakala ia telah berhasil menemukan yang dicarinya. Bahkan tidak hanya untuk kawula Pajajaran saja, iapun akan dapat menyelamatkan seluruh manusia dari kehancuran dan papa sengsara. Lalu oleh adanya berita-berita yang ia dengar mengenai negri Demak itulah membuat Pangeran Pajajaran itu ingin mengetahuinya dan datang ke Demak. Dinegri itu pula Madi Alit berharap akan menemukan yang dicarinya. Namun dalam pada itu Pangeran muda yang kini hidup dalam perjalanan itu menjadi semakin terkejut dan semakin cemas hatinya setelahnya ia memasuki tlatah-tlatah yang menjadi kekuasaan Demak. Dari rakyat yang selalu ditemuinya ia mendengar Negri Majapahit telah banyak mengalami kekalahan dalam peperangan, bahkan hampir seluruh kekuatan Majapahit telah berpindah di Demak Kalau Majapahit hampir runtuh, tidak mustahil Pajajaranpun akan menjadi milik Demak, sebab Majapahitlah satu-satunya negri bagi Pajajaran untuk saling membantu. Hanya tinggal sebagian tlatah Majapahit saja yang tersisa, dan benteng Supit Urang yang ada dalam kekuasaan Rangga Permana sajalah membuat negri Majapahit masih hidup dan Prabu Udhara masih memegang separuh sisa kekuasaan. Maka terjadi kemudian benturan dan perang dalam batin pangeran Madi Alit. Ia menangis mendengar kisah-kisah yang menyedihkan hatinya. Apapun yang terjadi. Ia masih berdarah Pajajaran. Dan Majapahit tak ubahnya bagian dari negrinya sendiri. Karena bagi orang Pajajaran semenjak kecil telah diajar bahwa Pajajaran merupakan bagian dari Majapahit, itu terjadi setelahnya Pajajaran dulunya ditaklukkan oleh Mahapatih Gajah Mada. Dengan demikian Pangeran Madi Alit bertekad, sambil ia mencari adanya Tombak Pusaka Kiai Bungsu, ia ingin membantu Majapahit untuk melawan Demak. Maka dengan diam-diam ia terus berjalan dan berusaha memasuki tlatah Demak dan niatnya ingin sekali melihat Raja Demak Pati Unus yang ia dengar memiliki kemampuan bagai Dewa. Sekalipun dalam hatinya kagum dengan nama Pati Unus, tetapi Madi Alit menganggap Raja Demak itu sebagai lawan yang harus ia hadapi, bahkan ia ingin bertemu dan mengadu kepandaian dengan Pati Unus yang telah ia dengar kehebatannya dari orang-orang yang pernah ia temui.

Darah sebagai seorang ksatria yang mencintai negri dan leluhurnya bangkit dan kini menyala

dalam dada Pangeran Madi Alit. Kalau saja ia tidak mendengar Demak berusaha menghancurkan Pajajaran dan Majapahit ia tak akan banyak berniat melawan, sebab niatnya yang terutama adalah mencari adanya Tombak Pusaka Kiai Bungsu.

Madi Alit membayangkan ketika ayahandanya Prabu Mahesa Tambreman mengusir setelahnya 

berusaha membunuhnya lantaran Raja Pajajaran itu menghendaki ia menggantikan menjadi raja. Namun Madi Alit menolak sehingga menimbulkan kemarahan ayahandanya itu. Membuat kini harus meninggalkan negrinya, meninggalkan segala yang dicintainya di Pajajaran. Mengingat yang demikian, Madi Alit terbangkitkan kembali pada kenangan semasa ia kecil teringat segala yang pernah ia kecap di negri itu. Maka kecintaan pada Pajajaran timbul dan kemarahan hati serta ketidak relaan mengembang dalam dadanya mendengar Demak berusaha keras menghancurkan Pajajaran dan Majapahit. Dan tiba-tiba Pangeran Madi Alit menyentakkan kendali kudanya hingga binatang itu melonjak berlari keras kemuka. Kuda itu berlari disepanjang sungai yang masih ditumbuhi oleh semak belukar. Namun agaknya karena terbiasa, binatang itu tak terlihat mengalami kesulitan menerobos sepanjang rintangan kecil yang menghadang dimukanya itu. Sedang Madi Alit nampak semakin gagah dengan menunggang kuda demikian. Romannya yang tampan bersinar ketika matahari menimpa wajah itu. Kuning kemerah-merahan pipi anak muda itu dan sorot matanya memancarkan kegembiraan melihat kuda tunggangannya masih segar bugar dan bersemangat. Beberapa saat kemudian Madi Alit tiba disebuah tanah lapang ditepi sungai itu. Dan dikejauhan tebing menjulang agak terjal sedang sekitar tempat itu terasa mempersonakan dalam pandangannya. Maka Madi Alit menghentikan kudanya dan melayangkan pandangan kesekeliling. Madi Alit baru saja hendak turun dari atas kudanya, ketika tiba tiba binatang itu meringkik keras dan sekonyong-konyong membalikkan tubuh dan berlari meninggalkan tempat itu. Pangeran Pajajaran itu kaget. Tak biasa kudanya berlaku demikian. Ia menjadi heran. Maka ditahannya agar kuda itu tak berlari pergi. Tetapi kali ini rupanya binatang itu tak mau menurut perintah tuannya. Terbukti ia melawan kehendak Madi Alit bahkan berusaha melarikan diri dari tempat itu.

- Eh, ada apakah? Jangan takut. Bukankah aku selalu mau melindungi dan menemanimu?

Kata Madi Alit seraya memegang leher kudanya. Namun kuda itu tak menghiraukan kata-kata Madi Alit. Bahkan meringkik-ringkik dan tak mau menghentikan larinya membuat Madi Alit semakin heran.

- Sahabat, berhentilah aku ingin berbicara denganmu!

Tiba- tiba terdengar suara menegur. Madi Alit semakin heran. Dan ketika ia menengok kebelakang, hampir saja ia bedal kudanya yang sudah ketakutan untuk kabur melarikan diri. Tetapi niat itu segera diurungkan dan sekuat tenaga ia menahan lari kudanya menunggu datangnya orang yang menegur itu. Madi Alit segera mengerti mengapa kudanya tak mau diajak berhenti. Rupanya penciuman binatang itu telah mengendus sesuatu yang membuatnya takut. Madi Alit menunggu orang itu yang bukan lain adalah Ken Rati yang menunggang harimau jantan sedang disebelahnya berjalan pula seekor harimau lain. Pemandangan itulah yang tadi membuat Madi Alit menjadi kaget dan heran.

Seorang gadis menunggang harimau? 

Rasanya mustahil. Tetapi Madi Alit yakin bahwa yang dilihatnya adalah benar. Seorang gadis cantik dengan dua binatang hutan yang mengagumkan tengah berlari kecil menuju kearahnya.

- Hehhhh

kuda anak Pajajaran itu kembali meringkik ketakutan. Tetapi Madi Alit menghiburnya.

- Tenang kawan, mereka tak akan mengganggumu, tenanglah kau bersamaku Setelah Ken Rati mendekat Madi Alit menyapa dengan suara datar :

- Ada apakah kau menghentikan perjalananku? Adakah yang dapat kubantu untukmu?

Si gadis sewaktu telah dekat benar dan melihat siapa yang tadi ia panggil, menjadi kaget roman mukanya. Ia menutup mulut dengan tiba-tiba, dan matanya melotot heran menatap Madi Alit.

- Oh, eh, jadi kau bukan, oh maafkan kekeliruanku!

Madi Alit ternganga. Kalau tadi ia sudah merasa heran melihat seorang gadis ditemani dua binatang buas itu, kini herannya berganti melihat orang menjadi tergagap setelahnya menegur terlebih dahulu. Maka ia majukan kuda dan berkata pula

- Apa maksudmu? Bukankah kau tadi yang memanggilku?- Si gadis mencoba tertawa.

- Maafkan aku. Benar aku yang memanggil. Tetapi bukan kau yang kumaksud. Kukira kau yang bernama Sentanu. Dari belakang tadi kau benar mirip anak itu. -

Jawab Ken Rati. Tahulah Madi Alit mendengar jawaban itu. Ia menjadi geli hati. Tetapi tiba-tiba ia bertanya dengan kaget

- He, kau tadi menyebut Sentanu. Siapakah dia? Ah, kau kenal Sentanu? - Si gadis tak kurang herannya.

- Dia tentu saja prajurit Demak yang kukenal gagah dan berbudi.

Madi Alit mengerutkan kening. Ia teringat Sentanu, yang disebut-sebut sebagai anak Aki Kerancang yang pernah ditemuinya. Namun karena ia belum pernah melihat anak itu, Madi Alit ingin bertemu. Dan sejak ia berpisah dengan Aki Kerancang, Madi Alit diam diam telah memendam niat mencari anak muda yang pernah dihukum oleh Mpu Sugati karena melakukan pelanggaran perintah orang tua itu. (Baca jilid I).

Dan kini tiba-tiba saja gadis itu menyebut seorang prajurit Demak yang bernama Sentanu. Benarkah dia anak Aki Kerancang?

Pikir Madi Alit.

- Apakah kau kenal anak itu? --

Bertanya pula Ken Rati membuat Madi Alit tersadar dari lamunannya. Tetapi ia menggelengkan kepala.

- Tidak! aku tidak mengenalnya. Hanya pernah mendengar nama anak itu. Bahkan aku sedang berusaha mencarinya. _ 

Si gadis terdiam. Ia tidak dapat menduga siapa yang sedang berhadapan dengannya dan menanyakan Sentanu. Tetapi Ken Rati tidak menjadi khawatir, sebab Madi Alit tak nampak sebagai seorang penjahat. Bahkan diam-diam gadis itu mengagumi Madi Alit yang tampan dan dengan gerak gerik kata-kata yang menarik. Lagi pula ada sesuatu yang luar biasa dibalik ketenangan sikap serta tutur kata Madi Alit. Ia bayangkan Sentanu. Anak itupun tak kurang gagah dengan roman muka menarik. Tetapi anak muda yang kini ada dihadapannya agak berbeda. Kalau Sentanu terlihat sebagai seorang yang berwatak keras, sebaliknya Madi Alit terlihat lebih tenang dan sorot matanya membayangkan ia sedikit lebih tua dari Sentanu.

Madi Alit yang dipandang begitu rupa, tak terasa juga bahwa debaran hatinya menjadi lain.

Tatapan si gadis yang polos dan nampak jujur, membuat Madi Alit kagum. Jelas dalam pandangannya gadis itu tidak memiliki kepandaian dan agaknya tak memiliki pengetahuan tata tempur dan ilmu kelahi. Namun sikapnya terbuka dan berani membuat Madi Alit kagum. Dan lagi melihat pengawalnya yang nampak menakutkan itu diam-diam Pangeran Pajajaran ini menjadi bertanya dan heran juga.

Agaknya jika pada saat itu ada orang lain yang melihat mereka, akan menjadi geli. Sebab terlihat Ken Rati menatap Madi Alit dengan sikap bagai anak kecil mengagumi ayahnya, sebaliknya Madi Alitpun memandang gadis itu dangan segala kelebihan kecantikannya, kata-katanya yang menarik dan segala yang ia lihat tadi benar-benar membuatnya terpikat. Madi Alit jadi membayangkan gadis-gadis Pajajaran yang pernah dilihatnya di istana namun tak seorangpun berhasil menarik hatinya untuk dipandang begitu rupa seperti ia menatap Ken Rati. Hingga keduanya kini membisu sampai beberapa lamanya. Tetapi ketika harimau jantan melihat Ken Rati dan Madi Alit berhal demikian, tiba-tiba saja ia menggeram dengan sedikit keras.

Akibatnya, kuda Madi Alit menjadi kaget dan meringkik keras serta bergerak mau kabur. Namun Madi Alit yang segera tersadar cepat memegang leher binatang itu membujuknya untuk tidak melarikan diri.

- Eh, ada apakah kau menakut-nakuti saja.

Ken Rati memegang leher harimaunya pula. Dan ketika ia mendongak kembali memandang Madi Alit orang muda itu ternyata juga tengah menatapnya. Maka kembali mereka berdua tertawa geli.

Namun Madi Alit menjadi tak enak hati juga. Ia cepat membuka perkataan kembali dengan bertanya.

- Jadi kau ini siapakah, dari mana dan mau kemana?

Si gadis tersenyum. Pertanyaan itu terasa benar dibuat-buat. Tetapi ia tak ingin mengecewakan maka menyahut dengan masih tersenyum:

- Namaku buruk. Kau boleh panggil aku Ken Rati. Dan kau siapakah? Kini Madi Alit yang tersenyum.

- Kau harus menyebut dahulu darimana asalmu dan kau siapa sebenarnya membawa-bawa binatang berbahaya itu? 

Katanya.

- He, mereka tidak berbahaya, asal tak diganggu lebih dahulu.

- Ya, lalu darimana pula asalmu? Bertanya kembali Madi Alit.

- Ah, dasar. Benar juga kata orang tuaku laki-laki maunya menang sendiri. Kaulah yang harus menjawab lebih dahulu darimana asalmu. Bukankah aku sudah mengatakan siapa namaku, bukan?

Dan Ken Rati tertawa. Madi Alit jadi tertawa juga. Ia geli dan tiba- tiba timbul rasa senang berbicara dengan gadis itu. Kelihatan nakal dan pintar. Tak mengherankan jika Madi Alit berperasaan demikian. Sejak perjalanan lolos dari Pajajaran dulu, ia tak sekalipun berhadapan dengan gadis semacam Ken Rati. Maka kegembiraannya timbul.

- Eh jadi kau menginginkan namaku juga? Bukankah nama tak penting kau ketahui? Kita sebentar lagipun akan berpisah dan tidak akan saling mengenal lagi. Kata Madi Alit. Mendengar itu Ken Rati cemberut. Aneh juga. Ken Rati menjadi heran pada diri sendiri.

- Mengapa aku harus marah ia tak mau menyebut nama? Pikir gadis itu dalam hati.

- Dan mengapa aku kecewa kalau ia tak mau mengatakan siapa dirinya. Ah. ah mengopa aku jadi begini?

Ken Rati bertanya-tanya dalam hatinya. Dan berpikir demikian tiba-tiba ia mengucap

- Baik, tak apalah kau tak mau menyebut namamu. Aku memang tak membutuhkan lagi. Lalu Ken Rati menggamit kedua binatangnya seraya berkata

- Hayo kita pergi!

Dan kedua binatang itupun menurut, mereka melangkah berbalik meninggalkan Madi Alit yang tak kuasa mengucap sepatah katapun melihat si gadis agaknya marah. Tetapi tiba-tiba:

- Tunggu dulu!- serunya.

- Kau kembali dulu, ada yang akan kukatakan!_

- Tak usah, aku tidak membutuhkan lagi!

Jawab si gadis dengan masih mengikuti langkahnya meninggalkan Madi Alit.

Dengan demikian Madi Alit menjadi habis akal. Maka ia larikan kudanya menyusul Ken Rati yang sudah membelok keluar dari tepi sungai.

- Eh Ken Rati, kau dengar, aku bernama Madi Alit dari Pajajaran.

Tetapi Ken Rati tidak menyahut. Ia nampak tak perduli pula dengan Madi Alit yang kini menjadi bengong untuk beberapa saat. Hatinya menjadi bingung. Dan tanpa disadari tiba-tiba hatinya merasa tak enak dan sepi rasanya jika si gadis menghilang begitu saja. Maka kembali ia larikan kudanya menyusul lebih dekat, lalu dengan berani ia kemudian menghadang gadis itu dimukanya, lalu dengan 

sigap Madi Alit loncat turun dari punggung kudanya berdiri seraya menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata dengan gugup.

- Tunggu dulu, mengapa kau marah. Bukankah aku telah mengatakan siapa diriku. Jadi jadi bukankah itu cukup? Atau kau masih ingin tahu siapa aku sebenarnya?-

Tiba-tiba pula Ken Rati tertawa. Ia merasa geli melihat sikap orang yang baru dikenalnya itu. Sedang Madi Alit menjadi terbodoh-bodoh melihat si gadis tertawa itu. Ia berubah mendadak bagai kanak-kanak berhadapan dengan gadis yang menyenangkan hatinya itu.

- Aku pinjam kudamu. Kata Ken Rati.

- O, boleh. Kau bisa menunggang kuda?

Jawab Madi Alit. Tetapi si gadis tak menjawab lagi. Ia menghampiri kuda Madi Alit lalu dengan sigap ia meloncat keatas pelana binatang itu.. Gerakan si gadis membuat Madi Alit tersenyum.

Nampak lucu dan canggung.

- Hati-hati, ia galak dan binal. Tetapi ia diam saja.

- Kau kira hanya dirimu saja yang dapat menunggang kuda? Akupun pernah diajar menunggang kuda oleh kakekku.

Kata si gadis kemudian setelahnya ia berada diatas punggung binatang itu.

- Ah, tentu kakekmu pandai dan gagah. _ Tukas Madi Alit.

- Ya, kakekku memang pandai. Tidak hanya gagah. Kakek bisa menghilang bagai hantu.

- Bisa menghilang? Madi Alit tertawa.

- Siapa nama kakekmu itu?

- Sudah, kau tak usah bertanya, aku memberitahupun tentulah kau tak akan mengetahuinya. - Oh, mungkin nama kakekmu itu buruk, dan kau malu mengatakan.

Ken Rati melototkan mata mendengar perkataan itu. - Ha, kau mengejek, kalau kakek tahu jangan harap kau akan lolos dari jewerannya. -

Katanya pula.

- Ya, siapa kakekmu? Mungkin aku pernah mendengar namanya. _

- Yang kutahu, Jawab Ken Rati kemudian. - Orang menyebut kakek dengan sebutan Mpu Sugati.

- Mpu Sugati?

Madi Alit kembali mengerutkan kening. Ia teringat bahwa Aki Kerancang pernah menyebut nama Mpu Sugati yang menjadi guru Sentanu bahkan menghukum Sentanu masuk ke Kedung Bubak di hutan Kalang dulunya. Jadi gadis itu cucu Mpu Sugati yang ia kagumi itu? 

Pantas nakal dan berani.

- Kau benar cucu orang tua itu?

Tanyanya kemudian. Tetapi Ken Rati menjawab singkat.

- Ya!

Lalu ia larikan kudanya dengan cepat.

Binatang itu rupanya tak mau banyak rewel. Ia seperti telah mengetahui Ken Rati telah menjadi sahabat tuannya, maka ia menurut saja ketika gadis itu mengajaknya berlari mengitari tempat itu dengan gembira.

Madi Alit yang menyaksikan gadis itu tersenyum juga jadinya. Sekalipun si gadis nampak belum lincah menunggang binatang itu tetapi dari caranya mengendalikan kuda telah menunjukkan ia pernah dilatih baik-baik. Maka Madi Alit tak merasa khawatir Ken Rati akan cidera jatuh. Maka seraya menanti gadis itu, Madi Alit menghampiri sepasang raja hutan yang dibawa gadis itu. Perlahan ia mendekat dengan hati hati. Siap jika binatang-binatang itu marah dan menyerang.

Tetapi rupanya sepasang harimau itupun tahu Madi Alit telah bersahabat dengan tuannya, maka keduanya malah menghampiri dan ketika Madi Alit mengulurkan tangan, keduanya loncat maju dan mengangsurkan kepala yang segera diusap-usap oleh Madi Alit dengan perasaan kagum.

- Ah kalian memang gagah. Tak percuma menjadi murid Mpu Sugati yang terkenal. -

Katanya Dalam hati .Madi Alit menaruh rasa kagum dan hormat pada Mpu Sugati yang sekalipun belum pernah ia kenal, tetapi kebesaran namanya telah ia ketahui. Bahkan menilik gerak-gerik sepasang raja hutan yang mengawal Ken Rati itu, membuktikan kehebatan orang tua yang ia kagumi. Sebab hanya orang-orang luar biasalah yang mampu menguasai binatang hutan seperti mereka.

Sementara itu diam-diam pula Madi Alit membayangkan Ken Rati yang telah tak nampak batang hidungnya. Maka Madi Alit segera mencari tempat yang terlindung oleh semak-semak. Ia mencari tempat bersih lalu duduk ditempat itu bertiga dengan dua harimau loreng yang telah mulai mengenal dirinya. Ada getaran yang aneh tiba-tiba ia rasakan. Madi Alit belum sekalipun merasakan hal itu.

Dan kegembiraannya timbul lebih besar. Ia rasakan perasaannya kali ini terlalu asing dalam dirinya. Kalau semula selalu merasa sepi dan sunyi perasaannya dalam menempuh perjalanan jauh semenjak meninggalkan Pajajaran, maka setelahnya bertemu gadis itu ia tak lagi merasakannya. Ken Rati dengan mendadak telah menimbulkan banyak dugaan serta bayangan gadis itu tiba-tiba saja tak mau lenyap dari angan2 dan pikirnya. Hingga ketika Madi Alit duduk bertiga binatang hutan itu, bayangan Ken Rati selalu ada didepannya. Pipinya yang tadi memerah ketika pertama mengira ia Sentanu, matanya yang meredup dan bibirnya yang cemberut waktu marah tadi, terbayang dipelupuk mata Pangeran Pajajaran itu. Ketika Madi Alit tengah melamunkan itu terdengarlah suara kaki kuda mendatangi. Sebentar kemudian muncul Ken Rati dengan wajah gembira. Namun yang membuat heran Madi Alit, gadis itu membawa sebuah buntalan besar menggantung dipelana kudanya. Madi Alit loncat 

bangun lalu menolong si gadis turun dari punggung kudanya.

- Apa yang kau bawa ini?

Tanyanya ketika Ken Rati telah berada didekatnya. Tapi yang ditanya tertawa. Sedang kedua binatang hutannya bangkit dan menggeram mendekati seraya mengendus buntalan yang dibawanya.

- Tunggu dulu. Hayo kita kesana!--

Kata Ken Rati kemudian dan ia melangkah ketempat Madi Alit tadi duduk bertiga dengan sepasang harimaunya. Ketika buntalan itu telah dibuka, Madi Alit ternganga heran. Gadis itu membawa dua buntalan daun pisang lalu mengangsurkan sebuah pada Madi Alit seraya berkata :

- Kau lapar, bukan? Nah makan ini!

Madi Alit ragu-ragu menerima buntalan daun itu.

- Ayo!-

Si gadis mendesak pula hingga terpaksa diterimanya juga. Ken Rati tertawa melihat itu. Lalu ia buka pula buntalan lain yang lebih besar lalu mengangsurkan itu pada sepasang raja hutan yang menunggu tak sabar lagi. Ketika Madi Alit memperhatikan, buntalan itu berisi potongan potongan daging masak yang segera disantap oleh kedua binatang itu.

- He, kau tak lapar?

Ken Rati bertanya sambil masih tertawa melihat Madi Alit tidak juga membuka buntalan daun yang dibawanya.

- Dan kau makan apa? Tanya anak muda itu.

- O, masih ada. Kau lihat ini!

Dan si gadis meraih buntalan lain yang ketika dibuka dimukanya, terlihatlah nasi putih dengan potongan-potongan daging.

- Masih hangat. -

Kata Madi Alit setelahnya membuka buntalan yang dibawanya dan isinya serupa dengan yang tengah dipegang Ken Rati. Madi Alit masih tak kurang herannya. Setelahnya buntalan besar yang dibawa gadis itu dibuka seluruhnya, nampak terlihat buah rambutan dan pisang bertumpuk.

- Ayo makanlah. Aku lapar sekali,--

Kata gadis itu kemudian. Dalam sekejap habislah kemudian isi buntalan yang ada ditangan kedua orang muda itu.

Dan seraya masih menghabiskan sisa-sisa yang tinggal sedikit Madi Alit bertanya :

- Kau dapat darimana makanan enak ini?

- Di utara itu ada dusun, aku kesana tadi. Maunya aku membeli. Tetapi orang pedusunan itu tak mau menerima penukarannya. Diberikannya saja seluruh makanan ini. Dan ia potong kambingnya yang kita makan ini. - 

- Pantas kau lama sekali. -

- He, aku merasa hanya sebentar saja di dusun tadi.

-Rasanya lama benar. - Jawab Madi Alit.

Si gadis tertawa lalu ia berlari kecil turun ketepi sungai dan mencari air, diikuti oleh Madi Alit.

Keduanya mencuci tangan dan minum dari air bersih yang ada disumber itu.

Tiba-tiba Ken Rati merah mukanya. Sewaktu kedua tangannya mengambil air, ialah menyentuh tangan Madi Alit yang juga bersamaan menyendok air dengan tangan. Satu getaran aneh merayap dalam dada si gadis. Namun untung Madi Alit tak mengetahuinya hingga Ken Rati segera berlari ketempatnya semula.

Madi Alit menyusul. Dan ketika ia melihat sepasang harimau itupun telah menghabiskan santapannya, tersenyum. Lalu ia mendekati kudanya, yang berdiri tenang-tenang ditempatnya.

- Hayo kau makan disana!

Lalu Madi Alit menuntun binatang itu kearah dataran yang banyak ditumbuhi rumput segar.

- Hei, terlambat kawan! Seru Ken Rati melihat itu.

- Ia sudah kenyang tadi makan dedak didusun itu! -

- Oh!

Madi Alit terhenti. Diam-diam ia girang melihat gadis itu ternyata menaruh perhatian sedemikian rupa. Tanpa sadar ia meraba perutnya yang telah terasa kenyang. Dan sekonyong-konyong, Madi Alit mendongak keatas pandangannya menatap awan-awan putih yang berarak dengan lembut tertiup angin.

Sesungguhnya, Madi Alit berbuat begitu karena ia tak ingin mukanya terlihat oleh Ken Rati yang tengah bercakap dengan kedua kawannya.

Madi Alit melihat gerak gerik Ken kali sejak semula melihat gadis itu menaruh perhatian dan memikirkan kebutuhan rasa laparnya, bahkan tak lupa binatang-binatang peliharaannya ikut terawat, menjadi teringat pada Ibundanya yang di Pajajaran. Madi Alit merasa Ken Rati mirip-mirip Ibundanya itu. Namun membayangkan yang demikian membuat Madi Alit terharu. Maka tak terasa tiba-tiba butiran air bening meloncat dari pelupuk matanya. Tetapi segera ia mendongak agar air mata itu tak terlihat oleh si gadis.

Cepat Madi Alit mengusapnya lalu dengan memperlihatkan perasaan girangnya ia mendekati gadis itu pula, lalu ikut duduk pula dihadapan Ken Rati.

- Kau amat berani. - Katanya.

- Berani?- 

- Ya. berani berjalan seorang diri tanpa kawan

- Kawan? Mereka adalah kawan baikku. -

Jawab gadis itu seraya menunjuk kedua harimaunya. Membuat Madi Alit tertawa.

- Oh ya, darimanakah asalmu sesungguhnya? Dan dimana pula kakekmu Mpu Sugati? -,

- Ah, kau memang aneh. Tadi bertanya Sentanu, kini menanyakan kakekku pula. Jadi manakah sebenarnya yang kau kehendaki? -

- Ya, dua-duanya. _. Jawab Madi Alit.

- Kakek, aku tak tahu ada dimana, tetapi Sentanu aku tahu. Sudah kukatakan ia ada dalam barisan tentara Demak di hutan Purwodadi itu, tidak jauh dari tempat, sekira lima belas duapuluh pal. Kau boleh mencarinya. Tetapi hati-hatilah. Disana ada yang bernama Bagus Prana anak Tumenggung, amat sombong dan jahat.

- Aku akan mencari Sentanu esoknya. -- Jawab Madi Alit.

- Ya, kau boleh mencari Sentanu. Tapi sebut dahulu asal dan tujuanmu kemana? --

Kata si gadis. Madi Alit tak banyak membantah pula. Kali ini ia tak sampai hati menolak permintaan itu. Berbeda dengan tadinya. Kini rasanya ia telah mengenal si gadis bertahun-tahun. Bahkan lebih dari itu. Ia tak ingin Ken Rati menjadi kecewa

- Kau tak usah heran jika mengetahui siapa aku yang sesungguhnya.

Jawab Madi Alit kemudian. - Tapi aku minta kaupun menuturkan asal usul dan tujuanmu. Maka berjanjilah! -

Ken Rati menatap Madi Alit. Hati gadis itu berdetak keras. Sebuah permintaan yang ia rasakan kekanakan dan manja. Anehlah. Baru kali ini ia bertemu pemuda semacam itu. Bahkan Sentanu yang ditemuinya terlebih dahulu sekalipun ia mengagumi Sentanu yang berilmu tinggi, tetapi berbeda dengan Madi Alit yang kini juga menatap padanya itu.

Namun Ken Rati segera menundukkan kepalanya lebih dahulu.

- Kau berjanjilah, aku akan kisahkan riwayatku.

Kata Madi Alit kemudian. Dan tanpa sadar tiba-tiba tangannya menangkap lengan gadis itu.

Namun si gadis yang niatnya mau menolak, tak bergerak sedikitpun.

- O, alangkah senangnya. Pikir si gadis.

- Jangan kau lepas tanganku --

Katanya dalam hati. Maka untuk beberapa saat keduanya terdiam.

- Berjanjilah!

Kata Madi Alit pula. 

- Ya, aku berjanji. Jawab Ken Rati singkat.

- Baiklah, kisahku tak banyak, sesungguhnya namaku bukan Madi Alit seperti yang kau ketahui tadi. Tetapi aku adalah Mundingwangi anak Tuanku Prabu Mahesa Tambreman dari Pajajaran di tanah Pasundan. -

Dan Madi Alit kemudian menuturkan bahwa ia melarikan diri dari Pajajaran karena dipaksa untuk mengganti tahta dan menikah dengan putri kraton. Dituturkan pula olehnya ia tengah berusaha mencari sebuah tombak Pusaka yg bermana Kiai Bungsu. Hingga kemudian bertemu dengan gadis itu.

Ken Rati terdiam mendengar penuturan Madi Alit. Tetapi segera berkata dengan penuh hormat.

- 0, jadi kau adalah putra Pajajaran? Pantas kau demikian berani berjalan seorang diri.

- Ya, ya, kini kaulah berganti menuturkan riwayat dan mengapa kau bisa berada ditempat ini? -

Tanya Madi Alit kemudian. Si gadis terdiam beberapa lamanya. Namun setelahnya menimbang nimbang akhirnya ia berkata :

- Sebenarnyalah, aku tak ingin orang lain mengetahui siapa aku. Tetapi setelahnya kau berkata terus terang dengan segala perjalanan yang sedang kau tempuh, aku tak sampai hati menolak. Nah, kau dengar baik-baik aku memulai dari awal meninggalkan padepokan dimana orang tuaku berada dan tinggal.

Bagai anak kecil Madi Alit menggeser duduknya lebih dekat.

- He, lepas dulu tanganku! -

Tiba-tiba Ken Rati berseru membuat Madi Alit tertawa. Tak sadar mereka telah bergenggaman tangan sekian lamanya.

Maka Ken Rati memulai kisahnya dengan suara menarik membuat Madi Alit melongo mendengar penuturannya.

Sesungguhnya Ren Rati berasal dari sebuah dusun di kaki Gunung Sundoro. Tetapi jauh sebelumnya Ken Rati lahir, seorang linuwih bernama Mpu Sugati datang ditempat itu lalu mendirikan sebuah padepokan yang kemudian disebut orang dengan Padepokan Julangwangi.

Mpu Sugati dalam waktu singkat telah memiliki banyak-murid. Rata rata mereka dilatih oleh Mpu Sugati dalam ulah pande menciptakan senjata dan berbagai gegaman perang. Selain itu para muridpun digembleng dalam ulah kaprajuritan dan tata kelahi yang membuat Padepokan itu semakin terkenal dan ramai. Kehebatan Mpu Sugati cepat tersiar keseluruh tanah Jawa. Hingga tak mengherankan jika banyak berdatangan raja-raja dan bangsawan memesan senjata dan minta dibuatkan keris bertuah oleh Mpu Sugati yang hebat itu.

Salah seorang diantara murid Mpu Sugati yang tergolong pandai dan menjadi tangan kanannya adalah seorang lelaki bemama Tirta. Tirta inilah yang terlihat memiliki kemampuan lebih dari yang 

lain. Maka Mpu Sugati memilih Tirta sebagai pembantunya yang amat diandalkan. , '

Dalam pada itu Tirta mempunyai tinggalan anak gadis cantik bernama Ken Sanggit. Dan karena kecantikan Ken Sanggit diseluruh wilayah pedusunan dan Padepokan Julangwangi tak ada yang menyamai, tak mengherankan jika ia menjadi buah bibir seluruh pemuda pedusunan itu. Akan tetapi siapakah yang berani mengganggu atau mencoba menaksir Ken Sanggit yang jelita?

Lebih-lebih mencoba meminta agar menjadi istrinya. Siapakah yang berani melakukan itu?

Seluruh penduduk tahu bahwa Ken Sanggit adalah anak Tirta murid terkasih dari Mpu Sugati yang mereka segani.

Bukan saja karena kehebatan Tirta dan Mpu Sugati yang telah didengar dan diketahui, bahkan lebih dari itu Mpu Sugati maupun Tirta terkenal sebagai orang-orang berbudi dan banyak menanam jasa kebaikan pada hampir seluruh penduduk. Bahkan Padepokan Julangwangi dianggap oleh mereka sebagai tempat suci yang harus dihormati. Maka menjadi masgul dan kecewalah jika terdapat seorang muda yang mencoba mencintai Ken Sanggit.

Ken Sanggit bagai bunga tumbuh dalam hutan. Kecantikan yang tak ada taranya membuat tergila-gila dan mabuknya orang-orang yang melihatnya. Namun untuk memetik tak terdapat satu tanganpun yang berani terulur. _

Namun demikian kejadian ini segera berakhir ketika pada suatu hari ditempat itu muncul seseorang muda gagah tampan memasuki pedusunan dengan menunggang kuda tinggi besar.

Orang itu mengaku bernama Sasadara dan sengaja mencari Mpu Sugati untuk minta dibuatkan sebuah badik bertuah.

Mpu Sugati yang bermata awas segera mengetahui siapa yang datang, maka disapanya dengan lembut.

- Menilik dandanan yang anakmas kenakan, tentulah seorang pedusunan lumrah. Tetapi melihat cara bertutur kata, aku yang tua ini menduga tentulah seorang yang sedang mencari adanya wahyu kerajaan di tanah Jawa ini. _

Sasadara kaget mendengar umpan Mpu Sugati. Tetapi karena ia tahu orang tua itu cukup waskitha dan mumpuni, ia tak banyak membantah.

- Segala yang kau katakan benarlah adanya. - Kata pemuda Sasadara.

- Namun aku hanya meminta kau sang Mpu juga membuatkan sebuah Badik yang dapat kupergunakan mendapatkan keinginan ku itu.

Mpu Sugati termenung. Matanya yang awas dapat melihat bahwa anak muda yang ada dihadapannya itu adalah seorang luar biasa dan memiliki bakat-bakat baik serta nampak berjiwa luhur. Sedang melihat sinar mukanya Mpu Suyati telah dapat menduga bahwa Sasadara adalah 

seorang yang kelak akan dapat menguasai tanah Jawa.Maka orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar permintaan Sasadara demikian.

- Baiklah, anakmas kini boleh tinggal untuk sementara waktu ditempat ini sementara aku akan buatkan permintaan anakmas itu.

Dan Sasadara kemudian tinggal di Padepokan Julangwangi menunggu selesainya Badik yang ia pesan dari Mpu Sugati.

Semenjak munculnya pemuda Sasadara itulah terjadinya perubahan dalam diri Ken Sanggit anak gadis Tirta yang jelita. Sudah barang tentu dari pertemuan dari hari keseharinya antara Sasadara dengan Ken Sanggit maka tumbuhlah hubungan batin dan cinta kasih diantara mereka.

Semula Tirta mencoba melarang anak gadisnya berbuat demikian. Akan tetapi Mpu Sugati sebaliknya membenarkan dan malah orang tua itu yang meminta Sasadara agar mengambil Ken Sanggit menjadi istrinya.

Karenanya Tirta menerima gembira perkawinan Ken Sanggit dengan Sasadara.

- Terimalah Tirta,

kata Mpu Sugati sebelumnya.

- Sasadara adalah pemuda baik-baik. Ia seorang prajurit Demak yang pandai. Siapa tahu Ken Sanggit anakmu kelak akan menjadi seorang terpandang di Demak? -

Namun demikian, hanya enam bulan lamanya Sasadara berdiam di Padepokan. Sesudahnya Badik yang diminta selesai dibuat oleh Mpu Sugati, Sasadara minta perkenan orang tua itu dan pada Tirta ia me minta diri untuk kembali.

- Jadi anakmas masih belum mau membawa anakku Ken Sanggit? Tanya Tirta.

- Maafkan anakmu ini. Jawab Sasadara.

- Saat ini tentulah aku belum dapat membawanya ke Demak. Sebagai seorang prajurit aku masih harus membantu Demak menyelesaikan peperangan yang akan timbul. Kelak jika Demak telah aman, aku akan kemari menjemput Ken Sanggit.

Maka ditinggallah Ken Sanggit yang sedang berbadan dua. Namun Mpu Sugati telah memperhitungkan segala yang akan timbul kelak kemudian harinya. Pada saat Mpu Sugati membuatkan badik yang diminta oleh Sasadara, orang tua itu memerintahkan pada Tirta agar membuat sebuah lagi Badik kembaran hingga terdapatlah dua senjata kembar yang serupa bentuk dan warnanya. Satu diserahkan pada Sasadara. sedang satunya diberikan pada Ken Sanggit sebagai tanda bukti kelak bahwa ia adalah istri dari Sasadara.

Pada suatu saat, ketika Ken Sanggit kemudian merasa kandungannya hampir genap sembilan bulan, ia meminta diri pada Tirta ayahnya untuk pergi ke Demak mencari Sasadara. Ken Sanggit 

sangat ingin melahirkan bayinya dekat Sasadara. Akan tetapi karena saat itu Mpu Sugati telah pergi meninggalkan padepokan .Tirta tidak dapat mengantar anaknya mencari Sasadara. Mpu Sugati adalah seorang Mpu yang tak betah tinggal berlama-lama disatu tempat. Maka seringkali harus

berpindah-pindah. Oleh karenanya Tirta tidak dapat meninggalkan Padepokan yang banyak dihuni orang dalam mencari ilmu dan kasampurnaan hidup. Tirta telah menjadi pengganti Mpu Sugati mendidik mereka. Maka dengan berat hati terpaksalah Ken Sanggit dilepas untuk pergi ke Demak mencari Sasadara hanya dengan dikawal oleh dua orang pembantunya.

Ada semacam kerinduan yang aneh dalam hati Ken Sangkit terhadap Sasadara yang telah meninggalkan dirinya. Kandungannya yang telah mendekati bulan tua menimbulkan perasaan itu hingga Ken Sanggit berani meninggalkan Padepokan hanya untuk mencari Sasadara di Demak. Lagi pula ia ingin bayinya lahir didekat orang yang dicintainya itu.

Maka ditempuhlah perjalanan berat hanya dengan ditemani dua orang pembantu ayahnya.

Pada suatu saat Ken Sanggit telah mencapai batas kotaraja Demak, membuat hatinya berdebar girang. Ia bayangkan Sasadara akan gembira menerima kedatangannya. Tetapi dimana adanya anak muda itu, Ken Sanggit masih belum mengetahuinya. Hanya Sasadara mengaku sebagai prajurit pengawal kraton yang pada waktu itu masih dikuasai Raden Patah.

Namun demikian Ken Sanggit merasa yakin akan mudah menemukan Sasadara sebab menilik gerak gerik dan tutur katanya, Sasadara pastilah seorang yang amat dikenal dikalangan

prajurit-prajurit Demak. Hingga Ken Sanggit girang ketika langkah-langkahnya semakin mendekati pintu regol istana. Ia tidak mengetahui dimana Sasadara, tetapi Ken Sanggit merasa pujaan hatinya ada dalam lingkungan tembok-tembok kraton yang terlihat itu.

Seorang prajurit jaga menjadi heran melihat seorang wanita muda dengan perut besar berjalan perlahan dengan dua orang lelaki di sampingnya sambil menggendong buntalan. Tetapi prajurit itu diam saja dan membiarkan Ken Sanggit lewat.

Ternyata kemudian Ken Sanggit memasuki alun-alun yang luas. Disana ia melihat banyak prajurit tengah berlatih perang-perangan. Dan kuda-kuda terlihat berlarian dengan penunggang yang nampak gagah dengan pakaian keprajuritannya berlari mengitari alun-alun, sementara yang lain masih terlihat berlatih perang-perangan.

- Berhenti dulu! -

Katanya pada pembantunya.

- Kita lihat apakah diperbolehkan kesana? _

Kedua pembantunya tidak membantah. mereka berhenti, sedang Ken Sanggit melayangkan matanya kearah prajurit-prajurit yang terlihat berkelompok disana. Matanya mencari-cari kalau ada Sasadara diantara prajurit-prajurit itu. Tetapi karena banyaknya mereka, Ken Sanggit tidak dapat menemukan yang dicari. Namun ia menunggu, lalu ikut duduk didekat dua orang kawannya seraya 

melepaskan lelahnya

Ketika itulah tiba-tiba muncul tiga orang penunggang kuda mendekati Ken Sanggit duduk.

Seorang diantaranya yang berada ditengah rupanya adalah pemimpin, terlihat dari pakaian keprajuritan yang ia pakai lebih mewah dan indah dibanding dua yang lain.

Ken Sanggit terkejut melihat munculnya mereka. Membuat ia berdiri dengan tiba-tiba diikuti oleh dua orang pembantunya .

Ketiga penunggang kuda itu tiba-tiba menghentikan lari kudanya dan seorang yang ditengah memandang Ken Sanggit dengan heran. Lalu ia dekati Ken Sanggit diikuti oleh dua kawannya.

- Eh, siapakah kalian? Mengapa berada ditempat ini? - Bertanya orang itu.

Ken Sanggit menjadi kikuk. Ia tak menduga akan ditanya demikian. Tetapi ia tenangkan hati lalu membungkuk memberi hormat dan berkata :

- Maafkan kami raden, sesungguhnya kami sedang mencari seseorang ditempat ini. -

Prajurit itu memberi isyarat pada dua orang yang lain untuk turun dari atas kudanya dan lebih mendekat lagi.

- Mencari siapa? Disini yang ada hanya para prajurit Demak. Jika kau terlalu lama berada ditempat ini berbahaya, sebab senjata para prajurit yang sedang berlatih itu bisa nyasar. Maka kalian menyingkirlah secepatnya -

Ken Sanggit terdiam. Tadi ia belum melihat adanya Sasadara. Sekarang diperintahkan untuk menyingkir. Tentu saja ia merasa keberatan. Tetapi untuk membantah agaknya tak mungkin. Maka dengan beranikan hatinya ia berkata pula.

- Ampun Raden, hamba akan menyingkir dari tempat ini. Tetapi dapatkah Raden menunjukkan pada hamba salah seorang diantara prajurit Demak yang bernama Sasadara. -

- Sasadara? Siapa dia? - Orang itu bertanya heran.

- Tak ada yang bernama itu diantara prajurit disini!

Mendengar jawaban itu Ken Sanggit berdetak hatinya. Ia kaget. Maka untuk beberapa saat ia terdiam. Sampai ketika prajurit itu berkata pula :

- Kau tentu keliru. Siapa Sasadara, disini tidak ada yang bernama itu. Tapi, eh, apakah dia suamimu? -

Ken Sanggit menganggukkan kepala.

- Hm, jadi Sasadara itu suamimu. Apakah ia mengaku sebagai prajurit Demak?

- Hamba mengatakan yang sebenarnya raden, suami hamba itu bernama Sasadara. - Jawab Ken Sanggit dengan hati mulai digerayangi rasa khawatir.

Tiga orang prajurit itu saling memandang. Lalu pemimpinnya berkata pula : - Kau tentu keliru, 

aku adalah kepala Prajurit Santa Guna dan tentu saja aku hapal dengan seluruh bawahanku. Maka dengan pasti aku katakan tak ada diantara prajurit Demak bemama Sasadara. _

Ken Sanggit melangkah mundur. Hatinya terpukul oleh rasa kecewa dan kesedihan hatinya timbul mendadak. Ia menangkap perkataan kepala Prajurit yang mengaku bernama Santa Guna itu tidak berbohong. Tetapi disudut hatinya yang lain Ken Sanggit juga tidak mempercayai jika Sasadara menipu dirinya.

Tetapi apa yang akan ia ucapkan lagi? Hatinya menjadi rusuh dan gelisah.

Lalu kemana pula akan dicarinya Sasadara?

Pada saat itulah Kepala Prajurit Santa Guna maju pula dan berkata dengan ramah :

- Sudahlah, kalian jangan bersedih hati. Sekalipun aku tidak tahu siapa dan dimana suamimu, tetapi jika kalian percaya, kalian singgahlah ditempatku. Akan kubantu mencari suamimu itu. -

Ken Sanggit tak dapat berkata pula, Rasanya hampir putus asa ia. Maka mendengar perkataan Santa Guna itu, Ken Sanggit tiba-tiba saja maju berlutut dan berkata perlahan seraya menangis.

- Terima kasih, terima kasih raden. Hamba akan senang menerima kebaikan budi raden. - Santa Guna maju dan menggamit Ken Sanggit untuk berdiri.

- Berdirilah, siapa namamu? -

- Hamba, Ken Sanggit, dari padepokan Julang.

- 0, kau dari padepokan? Tentu anak seorang begawan.

Lalu Santa Guna memerintahkan dua anak buahnya memanggil prajurit lain serta diperintahkan mereka membawa tiga orang itu ke gedung kediamannya.

Diam-diam, para prajurit yang diperintah itu memaklumi apa yang telah tersimpan dalam kepala pemimpin mereka. Siapapun tahu bahwa Kepala Prajurit Santa Guna adalah seorang lelaki mata keranjang yang gemar pada Wajah licin. Hanya saja ia amat pandai menyembunyikan wataknya itu hingga Ken Sanggit tak dapat menduga .

Apalagi Ken Sanggit sedang diliputi perasaan gelisah dan cemas. Ia terlanjur berkeras minta ijin pada ayahnya mencari Sasadara. Jika kemudian ia tak berhasil menemukan yang dicari, Ken Sanggit akan merasa malu. Maka untuk kembali ke padepokan begitu saja ia tak berani. Dan kini tekadnya telah bulat. Apapun yang terjadi ia tak mau kembali sebelum, menemukan yang dicarinya. Hingga tawaran baik dari Santa Guna ia terima begitu saja tanpa menimbang lagi. Lebih-lebih keyakinan hatinya mengatakan bahwa Sasadara tak mungkin bukan prajurit Demak, maka Ken Sanggit menaruh harapan besar akan bisa bertemu. Dalam pada itu Kepala Prajurit Santa Guna seperti telah diterka oleh orang2nya, yang benar-benar telah terpikat oleh kecantikan Ken Sanggit. Sekalipun wanita muda itu sedang berbadan dua, tetapi dalam pandangan Santa Guna tidak mengurangi daya pikat yang 

memancar dari Ken Sanggit. Bahkan dalam keadaan begitu Ken Sanggit terlihat semakin cantik menarik. Ada sesuatu yang terpancar dari gerak-gerik Ken Sanggit yang menimbulkan hati Kepala Prajurit iu berdebar keras dan mabuk. Maka diam-diam Santa Guna mengatur siasat. Ia akan perbuat Ken Sanggit agar tetap berada dengannya dan sesudah kandungan wanita muda itu lahir, Santa Guna akan membujuk agar mau menjadi selirnya.

Dan ia tersenyum membayangkan rencananya.

O, Ken Sanggit memang menggoyahkan keimanan lelaki yang memandangnya. Lebih-lebih orang macam Santa Guna.