Mencari Tombak Kiai Bungsu Jilid 05

Jilid 05

BAGINDA telah memerintahkan hampir enam puluh prajurit untuk menyebar ke berbagai arah mencari jejak mereka. Dan sementara kelompok lain mencari di arah berbeda, maka kesepuluh prajurit 

yang disertai tiga senapati itu agaknya yang paling beruntung, Sebab merekalah yang menemukan jejak buruan yang dicari.

Sepeninggal para prajurit yang diperintahkan mengejar orang orang itu Baginda bergegas masuk kedalam kamar. lalu mengunci kamar itu dan Baginda membanting diri diatas pembaringan dengan pikiran kusut dan gelisah. Tiba-tiba Baginda mendekati tempat pemujaan yang ada dalam kamar itu seraya kemudian berlutut dihadapan patung Brahma dan mulut Baginda terdengar mengucap :

- Brahma yang suci, kau ampunilah aku yang telah menbuat kekotoran atas kawulaku di Majapahit ini. Akulah yang telah menjadi sesat dan melupakan laranganmu mengambil istri orang dan membunuh orang orang ymeg tidak berdosa. Maka kini andainya kau potong lenganku aku ikhlaskan namun janganlah kejadian ini terdengar orang diluar istana. -

Sejak Baginda telah tidak berhasil membujuk Nyi Rumbi, Baginda telah berobah kesadaran akan kesalahan itu. Namun dalam sudut hati Baginda yang lain diliputi ketakutan akan terbongkarnya kecurangan itu, maka tanpa menimbang Baginda tetap memerintahkan seluruh keluarga punggawa itu untuk ditumpas habis.

Sementara itu kesepuluh prajurit Majapahit telah hampir mendekati jarak lari empat wanita muda yang sedang melarikan anak-anak mereka dari ancaman maut.

Namun keempat wanita malang itu tiba-tiba menjerit kaget ketika didengar oleh mereka suara kaki kuda bergemuruh mendatangi dari belakang, dan ketika salah seorang melihat munculnya para prajurit Majapahit, mereka menjerit ketakutan seraya mendekap anaknya yang ada dalam gendongan.

- Jangan bunuh ! Jangan bunuh anakku. Bunuhlah aku, tetapi jangan bunuh anakku ! - Terdengar jerit mereka memecah kesunyian hutan.

Para prajurit kaget bercampur girang berhasil menemukan buruan. Maka dengan berseru keras mereka loncat turun dari kudanya. Tiga senapati yang ada diantara mereka maju mendekat kemudian berkata dengan suara datar :

- Kalian tak akan berhasil lari dari kami, maka menyerahlah ! Jika kalian mencoba untuk lari, maka nasib kalian akan sengsara. -

Tiga orang diantara wanita itu telah tak kuasa membuka mulut. mereka berdiri dengan mendekap anak dalam gendongan dan airmatanya deras mengalir dari pipi. Namun seorang diantaranya nampaknya ada yang paling tabah dan kuat hati, maka ia maju seraya mendekap anaknya dan berkata :

- Kalian orang-orang kejam ini apakah kalian telah buta ? Tidaklah kalian lihat kami membawa anak yang tidak berdosa dan tidak mengerti apapun? Apakah salah kami hingga kalian mencari dan ingin membunuh kami ?

Senapati itu berkata menggelengkan kepala : 

- Kami hanya menerima perintah. Lain tidak.

Lalu ia beri isyarat kebelakang. Dan empat orang prajurit berloncatan maju dengan pedang telanjang mendekati empat wanita itu. Sedang agaknya karena merasa tak ada harapan untuk hidup, pula empat orang wanita malang itu telah tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Mereka sejak tadi telah memejamkan mata dengan mendekap anak-anaknya dan tak tahu apakah mereka masih hidup atau tidak.

Empat pedang berkelebatan membabat dengan hebat kearah leher wanita-wanita itu. Lalu disusul oleh terdengarnya jerit ngeri memilukan hati dari empat nyawa yang melayang dan segera terdengar suara empat tubuh roboh terbanting mandi darah.

Namun prajurit lain menjadi kaget dengan tiba-tiba. sebab jerit ngeri yang terdengar tadi bukan suara empat wanita itu, melainkan empat orang prajurit yang mengayunkan pedang tajam mereka inilah yang menjerit dan roboh mandi darah dengan nyawa putus.

Maka tentu saja prajurit lain menjadi gempar. Mereka tak tahu apa sebabnya bisa terjadi demikian. Namun sebelum hilang kaget mereka itu, muncul seseorang loncat dari tempat sembunyi dibalik gerumbul pohon lebat yang ada disitu.

Serentak enam prajurit yang masih hidup meloncat kebelakang bersiaga. Tetapi alangkah kaget hati mereka ketika diketahuinya orang yang datang itu adalah orang yang telah mereka kenal baik baik. Bukan lain adalah Ki Dalang Dharmapara. Maka sadarlah para prajurit itu bahwa yang turun tangan menolong empat wanita itu adalah ki dalang Dharmapara yang ketika empat prajurit tadi mengayunkan pedang menabas leher empat wanita itu, ki Dalang telah bertindak cepat dengan menyambit senjata mereka dengan batu batu hingga senjata mereka membalik dan menembus leher sendiri dan memotong putus urat nadi pada leher itu.

Ki dalang maju seraya tersenyum pahit dan berkata :

- Sungguh kalian prajurit Majapahit mulai biadab tidak mengenal manusia dan meninggalkan batas perikemanusiaan. Sungguh rendah dan pengecut membunuh wanita lemah yang tidak berdaya. Ah, jadi pantas kalau mereka harus menerima maut untuk balas jasanya. -

Enam prajurit yang masih hidup belum hilang kagetnya, mereka melangkah mundur dengan muka pucat. Bagaimanapun ki Dalang adalah seorang yang ditakuti di Majapahit. Dan mereka juga mengenal baik watak dalang Dharmapara yang tak akan membunuh manusia lain jika bukan karena kejadian luar biasa. Namun kini agaknya ki dalang Dharmapara benar-benar memuncak rasa amarahnya melihat mereka dengan pandangan mata mengancam. Namun tiga orang Senapati, maju hampir berbareng.

- Kisanak Darmapara, kami tahu kau adalah seorang yang mumpuni dalam ulah kaprajuritan. Tetapi bagi seorang yang telah mulai melawan pada prajurit Majapahit, ganjaran yang layak adalah kematian dan kau telah memulai untuk itu - 

- Bagus ! _

Sahut ki dalang dengan menarik bibir mengejek.

- Kalian makin berani tidak tahu malu dengan bertudung sebagai prajurit setia dan berlagak jujur. Kini kalian jawab baik-baik apa seorang prajurit Majapahit dibenarkan membunuh manusia lemah yang tidak mampu melawan? Apalagi wanita yang membawa anak masih menyusu? Nah, kalian pikir dan jawab dengan betul! Jika kalian tidak mampu menjawab dengan benar, maka jangan kalian akan bisa berharap untuk kembali dengan kepala masih ditubuhmu!

Tiga senapati itu terkejut, namun terlanjur basah ia berhadapan dengan ki dalang yang disegani. Benar mereka tahu dalang Dharmapara adalah seorang pinunjul yang ditakuti, bahkan oleh baginda sendiri. Tetapi dengan berenam apakah dalang itu masih akan mampu bertahan ?

Maka berpikir demikian, tiga senapati itu jadi berbesar hati dan timbul semangat hendak melawan dalang Dharmapara yang ditakuti itu.

- Hm, aku tahu Dharmapara, berbincang denganmu tak akan ada seorangpun yang mampu melawan karena kau seorang dalang yang telah dilatih untuk mengoceh. Namun mengadu senjata, agaknya kami masih akan sanggup melawanmu dengan baik. -

Ki dalang Dharmapara mengerutkan kening dan wajahnya nampak muram. Maksud ki dalang hendak membikin mereka sadar dan menginsafi kekeliruan. Namun dengan berkata demikian, merek sendiri telah menyatakan hasrat tak mau membikin habis persoalan itu. Maka ki dalang Dharmapara masih menahan hati dan perasaan. Lalu dengan suara merendah ki dalang Dharmapara berkata pula:

- Kalian mundurlah, dan biarkan wanita-wanita itu berada disini. Dan aku tak akan mengganggumu pula. _

Mendengar itu senapati yang tertua merasa mendapat angin, ia anggap ki dalang mulai mengendurkan sikap karena merasa jerih bertempur dengan mereka berenam. Maka dengan tertawa mengejek berkata kasar: - Eh, kau mulai kapan telah menjadi pembangkang. Kami semua adalah petugas dari baginda langsung untuk menyelesaikan wanita-wanita berdosa itu. Dan lagi kau terlanjur bikin kesalahan dengan membunuh empat prajurit itu, maka jangan kau mencoba membujuk kami dengan perkataanmu itu! Kau menyingkirlah dengan baik-baik, dan kami akan mengampuni jiwamu yang bodoh dan penakut itu. _

Ki dalang Dharmapara tak mengucap sepatah katapun lagi. Hati dalang ini telah terlanjur hancur dan remuk ketika mengetahui istrinya hilang tanpa diketemukan jejaknya. Dan ia telah mengembara dari satu tempat ketempat lain, namun pencariannya sia-sia. Dan kini sesudahnya tanpa disengaja ia mendengar kejadian yang sebenarnya maka ki dalang menjadi marah sekali. Namun ia masih tak ingin mencari permusuhan dan merelakan istrinya.

- Hayo kalian menyingkir dan biarkan kami menghabisi mereka!

Seru salah seorang diantara senapati itu dengan suara keras. Namun ki dalang menatap dengan tajam.  - Baik, aku akan menyingkir, tetapi sebutlah dulu apa kesalahan mereka ? -

- Gila! Kami adalah prajurit yang semata menjalankan kuwajiban dan perintah.

- Bodoh! Apakah tuanku Brawijaya mengajarkan hal itu? Bukankah kalian berkali-kali juga diajarkan untuk menggunakan pikiran waras oleh baginda ? -

- He... he... kau jangan mencoba mengajarku, pemberontak ! justru tuanku Brawijayalah yang memberikan wewenang pada kami untuk menghabiskan nyawa mereka.

- Jadi kalian tak bisa menyebut kesalahan mereka? -

Tantang Ki dalang. Ia sengaja memperpanjang perkataan agar enam prajurit itu masih sempat menyatakan kesalahan dan berbalik pikir. Namun agaknya harapan ki Dharmapara akan sia-sia.

- Cukup! pendeknya mereka bersalah dan wajar menerima hukuman.-

- Hm, jadi menurut pikiranmu, Seorang yang bersalah harus menerima hukuman ? _

- Tentu ! Tentu saja ! Dan kesalahan mereka cukup berat maka pantas dihukum mati ! -

- Baiklah, sekarang kalian jawab apakah hukuman seseorang yang menyembunyikan istri orang lain dengan sengaja?

Enam prajurit itu tidak mengerti dengan perkataan Ki Dalang. Karena mereka memang tidak mengetahui bahwa bagindalah yang telah menyembunyikan istri ki dalang Dharmapara.

- He, apa maksudmu ? - Bertanya mereka.

- Ah, jadi kalian belum mengetahuinya? Nah, kalian dengar baik-baik. Akulah yang telah kehilangan istri yang paling kucintai. dan aku akhirnya kini tahu bahwa bagindalah yang telah melakukan

Enam prajurit itu melonjak kaget.

- Gila! kau sudah tidak waras lagi Dharmapara! jangan sembarangan membuka mulut. - Sesukamu ! Tetapi itulah yang terjadi dan aku tidak pernah berdusta! -

Prajurit itu menjadi bimbang. Kini mereka mulai menghubungkan segala kejadian yang mereka lihat di istana. Pembunuhan atas tiga punggawa dan seorang prajurit sandi. Lalu suara-suara para emban yang telah menjalar dari mulut ke mulut. Dan ki dalang yang berhasil menemukan jejak penculik isterinya.

- Apakah sebenarnya kesalahan empat prajurit yang terbunuh oleh keris di istana itu ?

Mereka mulai bertanya-tanya dalam hati. Dan tingkah baginda yang selalu nampak gelisah dan marah-marah jika terdapat punggawa yang memohonkan baginda turun tangan membantu mencari hilangnya Nyi Rumbi. Dan kini perintah membunuh seluruh keluarga empat prajurit itu, mengapa baginda nampak ketakutan dan gelisah?

Mereka benar bimbang. Dan beberapa saat tak mampu mengucap. Namun senjata mereka yang 

semula tergengam mengacung ditangan, tanpa sadar telah turun terkulai disamping tubuh.

Ki dalang Dharmapara melihat perkataannya termakan, ia diam dan menunggu. Namun dalam hati ki dalang telah memperoleh keyakinan lain. Maka dengan perlahan berkatalah dalang itu :

- Kalian tak usah terpengaruh kata-kataku, tetapi kalian bisa menyaksikan sendiri. Dan bukalah hati kalian untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi. Karena aku telah melihat segalanya, dan banyak punggawa istana yang memberi kesaksian benar istriku disekap dalam istana oleh baginda. Bahkan kini telah berada di Palembang untuk diberikan pada saudara baginda Adipati Arya Damar.

Enam orang itu semakin dapat berpikir dengan pikiran waras, dan tiba-tiba salah seorang segera berkata:

- Benarkah yang kau katakan itu Dharmapara? - Dharmapara tertawa.

- Kau boleh bertanyakan pada nuranimu sendiri yang pasti akan jujur dan tak bakal mendustaimu, apakah perkataanku benar atau fitnah.

- Kalau demikian, aku tahu sekarang. jadi semuanya ini berpangkal pada baginda sendiri?

-Baiklah Dharmapara. Kini aku menyerah dan maafkan segala kekasaranku. Aku hendak mengikutimu mencari Nyi Rumbi. -

Melihat senapati itu berkata demikian lima kawannya segera maju dan berlutut dihadapan Ki dalang menyatakan penyesalan dan kesediaan mereka mengikuti kidalang.

- Kalian bangunlah! Tak pantaslah aku menerima penghormatanmu demikian. Tapi ingat, jika kalian hendak mengikutiku, kalian akan kehilangan kedudukan di Majapahit.

- Tak apa Dharmapara, kami akan ajak seluruh keluarga kami dan meninggalkan Majapahit hidup dilain dusun yang jauh dari kotaraja. Dan kami berjanji hendak merawat empat wanita itu dengan baik-baik sebagai tanda takluk dan menebus dosa kami. -

Ketika itulah sehabis para prajurit itu mengucapkan perkataan yang terakhir, terdengar suara isak tertahan dari wanita-wanita yang semenjak tadi tegang menyaksikan adu mulut antara prajurit Majapahit dengan ki dalang yang menolong mereka dari maut. Dan segera enam prajurit itu berlutut pula dihadapan empat wanita muda yang malah menangis melihat mereka berbuat demikian itu.

Ki dalang melihat mereka dengan terharu. Diam-diam hatinya bersyukur pada Yang Maha Kuasa yang telah mengembalikan mereka pada kesadarannya. Dan sesudahnya mereka kembali tenang, ki dalang segera berkata pula.

- Kita akan rawat mayat kawan-kawan kita yang tewas ini. Biarlah mereka telah menemukan jalan mereka untuk kembali kealam asalnya.

Setelah segala sesuatu selesai mereka kerjakan, para prajurit itu menyatakan kehendaknya untuk kembali ke Majapahit dengan diam-diam dan membawa anak istri mereka keluar dari sana untuk kemudian mencari tempat baru bersama empat wanita muda dengan anak mereka itu. 

- Baiklah, aku telah mempunyai tempat bagi kalian. - Kata ki dalang tanpa diduga.

- Percayalah, kalian semua akan aman berada di tempat yang telah aku temukan itu. Hidup bersama warga pedusunan yang tenang dan damai, jauh dari kekacauan dan kemauan tamak manusia. Sesudah itu aku akan tinggalkan kalian untuk menuju Palembang mencari istriku. -

- Kau akan segera ke Palembang? - Bertanya prajurit prajurit itu.

- Ya.. makin cepat makin baik. Dan segera aku kembali berkumpul dengan kalian pula. -

- Kami akan mengikutimu Dharmapara! _

- Kalau demikian, baiklah, keluarga kalian akan kutitipkan pada warga dusun tempat kita nanti.

Percayalah, mereka akan bisa melindungi dengan baik. -

Pada saat yang telah ditentukan, sesudahnya prajurit Majapahit itu berhasil membawa keluarganya keluar dari Majapahit, dan kemudian menempatkan seluruh keluarga berikut empat wanita janda itu, Ki dalang dengan disertai enam prajurit itupun berangkat ke Palembang dengan menumpang perahu layar milik saudagar yang telah dikenal baik oleh dalang Dharmapara.

- Kita harus menyamar, kalian jangan berpakaian keprajuritan, tetapi pakailah pakaian niyaga, dan kita menyaru sebagai dalang dan wiyaga yang mencari makan dengan mbarang keliling, kalau- kalau ada yang membutuhkan kita._

Dalam pada itu Adipati Arya Damar yang memerintah atas nama Majapahit di Palembang merasa gembira dengan dikirimnya seorang wanita cantik oleh saudaranya di Majapahit. Karena telah

berkali-kali Adipati Arya Damar mencari calon permaisuri namun selalu ditolak karena merasa tidak cocok, dan ada saja alasan unluk tidak menerima. Namun ketika datang utusan Majapahit yang mempersembahkan Nyi Rumbi, Adipati Arya Damar telah merasa suka dan terpikat oleh kecantikan Nyi Rumbi. Namun Sang Adipati merasa heran bahwasannya Nyi Rumbi selalu nampak berduka cita, seakan hatinya tidak senang hendak dijadikan istri seorang Adipati besar yang memerintah Palembang. Sementara itu Nyi Rumbi yang telah tiada lagi mempunyai pengharapan bertemu dengan suaminya, telah menjadi putus asa dan menyerah pada nasib. Namun ketika Adipati Arya Damar meminangnya untuk diperistri Nyi Rumbi mengajukan syarat pada Sang Adipati.

- Ah, tentu saja aku akan penuhi permintaanmu itu, katakanlah!

Nyi Rumbi ingin mencoba sekali lagi berupaya mencari suami yang tak pernah diketahui lagi bagaimana nasibnya. Ketika Adipati bertanya serta menyanggupi permintaannya segera menjawab:

- Tuanku, hamba hanya minta pada pertemuan kita supaya dirayakan dengan pergelaran wayang.

Adipati Arya Damar merasa heran mendengar permintaan itu. Dirasanya hanya merupakan 

permintaan remeh. Maka dengan menahan ketawa Adipati berkata:

- Baik aku akan mencari dalang terbaik untukmu. Bersabarlah, aku akan perintahkan pada orang- orangku mencarinya di Jawa.

Arya Damar tak kurang pula rasa girang mendengar permintaan Nyi Rumbi. Ia sendiri telah terlalu lama berada di tanah Palembang, dan seringkali pula Adipati ini merasa ingin menyaksikan pertunjukan wayang yang telah lama benar tak dilihatnya. Jadi permintaan itu dianggapnya sebagai permintaan yang ringan dan menyenangkan. Namun sudah barang tentu Adipati Arya Damar tak akan menduga bahwa Nyi Rumbi Malah istri seorang dalang ternama Dharmapara.

- Tetapi tuanku, - Sambung Nyi Rumbi pula.

- Hamba hanya meminta tuanku mencari dalang dari Majapahit. -

Tanpa berpikir pula Adipati Arya Damar menyanggupkan diri untuk mencari dalang dari Majapahit. Dan sedikitpun tak akan menduga bahwa itu hanyalah merupakan akal Nyi Rumbi yang berharap bisa bertemu dengan suaminya jika ki dalang Dharmapara yang ditemukan. Karena bagi orang Majapahit,tak ada duanya dalang seperti suaminya.

Ketika itulah dalang Dharmapara yang menumpang kapal layar menuju Palembang dengan enam wiyaganya, telah mempersiapkan diri dan mencari upaya untuk dapat masuk kedalam Kadipaten yang ia tahu adalah tempat berbahaya karena Aripati Arya Damar terkenal memiliki kemampuan tidak rendah.

Namun tanpa diduga. seorang utusan dari Palembang yang diperintahkan mencari dalang dari Majapahit telah kembali tanpa hasil membawa seorang dalangpun, karena orang hanya menunjukkan satu orang dalang yakni Dharmapara. Tetapi karena Dharmapara diketahui telah lama menghilang dari Majapahit, maka ia kembali dengan tangan hampa. Tetapi tidak diduganya ketika menumpang kapal layar yang menuju Palembang itu ia bertemu dengan ki dalang Dharmapara.

- 0, jadi kau seorang dalang? _. Tanya utusan itu.

- Ya, hamba benar seorang dalang yang tengah mengembara bersama kawan-kawan hamba.

Jawab Dharmapara dengan hati hati karena melihat yang bertanya adalah seorang punggawa tinggi Kadipaten.

- Kebetulan. kau ikutlah denganku ke Kadipaten Palembang. Berapapun kau meminta upah tentu akan diberi oleh Gusti Arya Damar, sebab Gusti Adipati seorang mulia dan murah hati.

Dharmapara terkejut mendengar permintaan itu. Tak ia duga jalan yang tengah dicari datang dengan tiba-tiba. Maka tanpa banyak berkata ia menyatakan bersedia untuk dibawa ke Kadipaten Palembang.

Tentu saja utusan itu menjadi girang hati. 

- Eh siapa namamu? - Tanya utusan ini.

- Hamba? Hamba bernama Ki Gending. .._ Jawab Dharmapara.

- Berapa orang wiyaga yang kau bawa? -

- Hanya enam orang, tetapi mereka akan mampu melakukan kuwajiban dengan baik Percaya saya, Gusti. -

Utusan Palembang itu tertawa. Maka ia segera perintahkan orang-orangnya menjamu ki dalang Dharmapara dengan kawan-kawannya di kapal itu.

Pada hari yang telah ditentukan, dalang Dharmapara tela siap melakukan pekerjaannya, dan dengan dibantu enam orang wiyaga yang telah diajaknya, ki Dharmapara segera melakukan kemahirannya mainkan wayang dihadapan Adipati Arya Damar yang dihadap seluruh punggawa tinggi di Palembang.

Sudah barang tentu Nyi Rumbi yang duduk dekat sang Adipati menjadi terkejut bercampur girang melihat ternyata yang muncul adalah suaminya, maka diam-diam hati Nyi Rumbi merasa girang untuk dapat memberi isyarat pada Dharmapara agar ia bisa melihat bahwa dirinya ada dalam Kadipaten itu.

Namun tak perlu Nyi Rumbi memberikan isyarat, ki Dharmapara tentu saja telah mengetahuinya.

Namun ia masih diam dan berpura pura tidak melihat.

Melihat kehebatan ki dalang Dharmapara mainkan wayang, seluruh punggawa dan petinggi Kadipaten merasa kagum dan terkesan. Ki Dharmapara telah memperlihatkan kemahiran dan keajaiban yang dipunyainya. Puluhan wayang yang digelar seakan hidup dan bergerak sendiri. Sedangkan menurut penglihatan punggawa Kadipaten, blencong yang dipergunakan 'ki dalang tidak bergantung pada satu gantungan apapun. Seakan menggantung begitu saja diatas awang-awang. Dan enam orang wiyaga yang dibawa ki dalang, nampaknya hanya bermain dengan seenaknya, tetapi dari seluruh permainan mereka telah memperdengarkan permainan gamelan yang hebat mengagumkan, hingga tanpa terasa, para punggawa yang menyaksikan kena dibuat kagum dan terpaku .

Tak seorangpun tahu akan hal itu. Bahwa ki dalang Dharmapara pada waktu memainkan wayang, telah mengerahkan kekuatan daya sirap dan daya pesona yang kuat kepada penonton di Kadipaten. Tak sulit bagi Dharmapara berbuat itu, ia selain mainkan wayang, namun telah mengalihkan daya penglihatan mereka sehingga nampaknya dalang itu benar bermain tak ubahnya dengan dibantu oleh Wiyaga lengkap.

Sementara itu Nyi Rumbi tiba-tiba mendekati Adipati dan berkata :

- Ampun Gusti, hamba mohon Tuanku ijinkan hamba untuk turut menyinden. Bukankah disana belum ada seorangpun pesidennya ? 

Adipati Arya Damar heran.

- Jadi kau dapat menjadi sinden? Bisakah kau membawakan tembang-tembang itu? -- Bertanya Sang Adipati.

- Akan hamba coba, Tuanku, hamba pernah belajar semasa kecil.

Setelah Adipati Arya Damar tidak berkeberatan, Nyi Rumbi segera berpindah tempat mendekati para wiyaga, lalu terdengarlah tembang-tembang sindiran pada ki dalang Dharmapara.

Ketika tiba-tiba terdengar suara seorang sinden merdu dan memikat tak terasa seluruh punggawa yang menyaksikan ki dalang memainkan wayangnya menjadi melengak dan kagum. Ternyata suara Nyi Rumbi merembes dalam sanubari para pendengar di Kadipaten itu. Bahkan Arya Damar tibatiba terlena bagai dibuai kenikmatan luar biasa.

Namun tentu saja tak seorangpun tahu aahwa mereka adalah pasangan semenjak di majapahit.

Dan ki dalang Dharmapara tidak menduga istrinya akan berani turun dan menyampaikan keluhan serta segala kesedihan hati selama berpisah dengan ki dalang lewat tembang-tembangnya. Ki dalangpun membalas dengan tembang-tembang sindiran pula, dan diam-diam kedua suami isteri yang telah lama berpisah tu berunding tanpa diketahui lewat tembang-tembang yang mereka bawakan. Tak seorangpun tidak terpikat oleh kehebatan ki Darmapara membawakan permainan wayangnya. Daya pesona yang dipancarkan ki dalang lewat pengaruh kesaktiannya telah memukau semua orang. Sampai ki dalang telah merasa tiba saatnya untuk membawa keluar istrinya dari Kadipaten Palembang. Namun dalam pada itu, ada hal yang tidak diduga oleh ki dalang Dharmapara. Ketika mainkan wayang dan mengerahkan kesaktian menyebar pengaruh pikat dan daya pesona pada orang-orang yang ada dalam Kadipaten itu, Arys Damar yang tergolong berilmu telah merasakan sesuatu yang tidak wajar ketika Nyi Rumbi turun dan membawakan tembangnya. Kalau semula Sang Adipati masih kena terpengaruh oleh daya pesona yang dipancarkan ki dalang Dharmapara, maka ketika Nyi Rumbi telah turun dari tempatnya, keris pusaka Adipati Arya Damar bergetar hebat.

Semula Sang Adipati tidak mengetahui hal itu. Namun ketika keris pusaka itu bergetar semakin

keras, bahkan terasa hendak loncat ke luar dari werangkanya, Adipati Arya Damar sadar. Ada hal yang sedang terjadi dalam Kadipaten. Maka Adipati memperhatikan seluruh punggawa Kadipaten yang menyaksikan permainan ki Dharmapara, Adipati ini menjadi terkejut, sebab air muka seluruh punggawanya telah berubah. dan jelas mereka kena pengaruh kesaktian seseorang. Adipati Arya Damar segera memusatkan perhatian pada tetamunya yang sedang memainkan wayang. Dan alangkah kaget hati Arya Damar, ketika dilihatnya badan ki Dharmapara bersinar. Meskipun cahaya itu tidak terang. namun penglihatan Sang Adipati telah menangkap bahwa pengaruh itu datangnya dari ki dalang yang telah memainkan wayangnya. Namun Adipati ini tidak bergerak, diam-diam ia cabut keris pusaka dari werangkanya dan tanpa setahu siapapun, keris itu diangkat diatas kening lalu dimasukkan kembali kedalam werangka hingga tidak lagi senjata pusaka itu nampak gelisah dan 

bergetar. Dan Sang Adipati menunggu sampai permainan ki dalang habis.

Ki Dharmapara, mendadak mendapat pujian dan seluruh punggawa Kadipaten tak henti-hentinya memperbincangkan kepintarannya.

Namum Adipati Arya Damar telah memerintahkan memanggil ki dalang untuk datang menghadap di dalam kamar peraduan Sang Adipati.

Tak seorangpun tahu mengapa Adipati berbuat demikian memanggil seorang asing untuk datang kedalam kamar peraduan. Tapi tak seorangpun bertanya.

Adipati Arya Damar telah memendam rasa amarah yang hampir saja tak tertahankan.

Maka ketika ki dalang Dharmapura datang dan melihat Sang Adipati nampak merah dan mata Adipati itu terlihat memancarkan cahaya kemarahan .Dharmapara telah mengetahuinya. Namun ia bertindak tenang dan membungkuk memberi hormat pada Sang Adipati.

- Ki sanak,

Kata Sang Adipati kemudian.

- Mungkin kau terkejut aku memanggilmu. Namun jangan kau salah mengerti. Aku hanya ingin mendengar darimu. Apakah yang telah kau lakukan ketika memainkan wayang itu? _

Dharmapara tidak menjadi kaget, ia sadar bahwa Adipati itu telah mengetahui apa yang ia lakukan. Namun Dharmapara telah menduganya, sebab Arya Damar adalah seorang yang dikenal dan mumpuni dalam ulah jaya kawijayan. Maka ki dalang tersenyum lalu berkata dengan suara perlahan :

- Tuanku Adipati Arya Damar, seperti yang paduka telah saksikan. benar hamba telah sengaja memasang daya kemayan ketika mainkan wayang itu.

- Bagus! Kau ternyata jujur dan berani. Dan sekarang jawab pertanyaanku. Mengapa kau bermain sindir dan merundingkan siasat untuk melarikan diri dari Kadipaten ini bersama Nyi Rumbi? Apakah ki dalang tidak mengenal linuwihnya Arya Damar hingga dengan lancang memasang pikat pada calon sisihan seorang Adipati?

Kembali ki Dharmapara tersenyum. Ia kagum juga pada Adipati yang tahu ia telah main sindir ketika Nyi Rumbi membawakan tembang-tembang dalam menyinden itu.

- Ampun Tuanku Adipati. Sungguh hamba takluk pada kehebatan Tuanku yang ternyata mengetahui segala yang hamba lakukan. - Cukup kau jawab yang kutanyakan! _

Tukas Sang Adipati.

- Aku tak ingin kau berputar dengan memuji-muji diriku.

- Tuanku Adipati, kini apa boleh buat. karena paduka telah mengetahui segalanya, maka agaknya tak akan berguna hamba semabunyikan hal ini. Nah dengarlah Tuanku bahwa 'Nyi Rumbi sinden itu adalah istri hamba yang pernah hilang dari tangan hamba. -

- Istrimu?! -

Adipati itu melonjak kaget. Maka oleh Dharmapara segera dituturkan perihal hilangnya Nyi Rumbi 

yang diculik oleh Baginda di Majapahit lalu dikirimnya ke Kadipaten Palembang hingga ia mencari dan bertemu ditempat itu. Tak satupun dilewatkan oleh Dharmapara segala kejadian yang timbul akibat hilangnya Nyi Rumbi dari tangannya .

Bukan kepalang kaget hati Sang Adipati Arya Damar ketika Dharmapara selesai menuturkan kisahnya.

- 0, jadi kaulah Dharmapara Dalang linuwih di Majapahit yang sejak lama telah kudengar namamu? -

- Benar, hambalah yang bernama Dharmapara ,

Arya Damar menepuk dada dengan muka pucat. Tak ia duga bahwa yang ada dihadapannya adalah dalang Dharmapara yang telah ia kagumi bukan saja karena kebesaran namanya sebagai dalang, namun yang juga terkenal tinggi budi dan berilmu tinggi. Bahkan dengan telinga sendiri Adipati pernah mendengar Baginda saudaranya di Majapahit memuji-muji Dharmapara. '

Namun dalam pada itu Adipati Arya Damar merasa ditampar mukanya. Ia malu dan kecewa dengan perbuatan Baginda. Dan kini celakanya ia terlanjur ikut menanggungnya. Maka coreng pada kening Sang Adipati rasanya tak akan hilang. Hampir saja ia ikut merampas istri seorang yang tidak berdosa dengan kekerasan. Dada Sang Adipati bergemuruh. Marah, malu dan kecewa campur aduk dalam dada itu. Hingga muka Adipati nampak sebentar merah dan sebentar pucat. Namun sesudahnya ia berhasil menguasai gelora yang memukul dalam dada itu, Adipati Arya Damar berkata pada Dharmapara.

- Kakang Dharmapara, kau ampunilah segala kekhilapanku yang telah terlanjur terjadi ini. Namun untung Yang Maha Agung masih memberikan peringatan hingga kakang Dharmapara muncul pada saat yang tepat. Tetapi kakang, karena terlanjur Nyi Rumbi dibawa ke Kadipaten ini, maka ia masih berada dalam kekuasaanku. Dan kakang boleh membawa istrimu kembali ke Majapahit, tetapi aku minta tebusan dengan keris yang terselip pada pinggangmu itu. Berikan kerismu padaku kakang Dharmapara, dan kau akan beroleh kembali Nyi Rumbi istrimu.

Ki dalang Dharmapara kaget mendengar perkataan itu. Ia termangu-mangu mendengar permintaan Adipati Arya Damar. Namun sesudahnya beberapa saat ia berhal demikian itu, baru ki dalang Dharmapara berkata pula:

- Ampun Tuanku, jika'Tuanku mendesak hamba dan meminta keris hamba, maka tentu Saja hamba akan berikan, tetapi Tuanku Arya Damar hamba mohon memberikan keris yang ada dipinggang Tuanku itu pula kepada hamba. Kita bertukar senjata, Tuanku!

Arya Damar tertawa. Hatinya telah menjadi terluka hebat. Ia merasa malu jika kejadian ini didengar punggawa Kadipaten. Maka itulah sebabnya Dharmapara diajaknya masuk kedalam kamar peraduan. Dan kini mendengar permintaan ki dalang Dharmapara, ia menggelengkan kepala.

Sedangkan Dharmapara bukannya tidak mengerti dengan maksud Arya Damar Dengan meminta ganti 

keris yang ada pada ki dalang, ia memberikan tanda agar ki dalang membunuhnya. Namun Dharmapara tak akan mau turun tangan dengan demikian jika Adipati tidak memberikan perlawanan, maka iapun meminta Sang Adipati mencabut keris dan dengan cara halus ia menantang Adipati itu.

- Lakukan kakang Dharmapara!

- Tuanku menukarnya dengan keris Tuanku itu?!

- Baik. aku turuti permintaanmu. _

Mendengar itu ki dalang Dharmapara mencabut kerisnya, lalu diberikan pada Sang Adipati dengan ujung menghadap kearah dirinya sendiri. Jadi ia mengangsurkan hulu keris itu kearah Arya Damar.

Dengan perbuatan ini Dharmapara memberi tanda bahwa ia tidak bersedia melakukan pembunuhan pada Sang Adipati, bahkan meminta Adipati itu untuk menikamnya. Namun Adipati Arya Damar tiba-tiba memukul senjata ditangan Dharmapara itu hingga terpental keatas dengan keras. lalu

melayang dan agaknya telah menjadi garis Yang Maha Kuasa. ketika keris pusaka itu turun meluncur kembali, telah mengenai ubun-ubun Adipati Arya Damar hingga karena keris ki Dharmapara bukan sembarang keris,, maka Adipati Arya Damar roboh dengan mengucurkan darah dari ubun ubunnya.

Ketika itulah Nyi Rumbi yang merasa khawatir melihat suminya dianiaya, maka ia menyusul dan masuk. Namun ketika ia melihat Adipati roboh dengan mandi darah ia menjerit kaget, hingga jeritan itu mengundang prajurit yang berjaga diluar berloncatan masuk. Dan alangkah kaget mereka melihat tubuh Adipati yang terkapar dan kepala Sang Adipati terlihat mengucurkan darah. Maka dengan memberi seruan, ia panggil prajurit lain dan ki dalang Dharmapara segera dikepung.

Namun ketika itulah. Adipati Arya Damar yang masih belum tewas berkata perlahan pada seorang pengawal yang terdekat dengannya.

- Jangan. Kalian jangan mengganggu dia. Biarkan ia keluar tanpa diganggu. Aku ...... aku, teWas karena perbuatanku sendiri ....,.... kalian lepaskan dia. Dan kau ...... kakang Dharmapara maafkan aku jika hal ini membuatmu gusar aku.. .... mer. ..... ... merasa menyesal. maafkanlah kakang ... ahg.:.......

...

Dan setelahnya mengucap dengan susah payah, Adipati itupun menghembuskan napas terakhirnya.

Mereka gempar dan seluruh Kadipaten mendengar berita mengejutkan yang menimpa Adipati Arya Damar, Dan sesudahnya tubuh Sang Adipati dimakamkan dengan baik baik, ki dalang Dharmapara meninggalkan Kadipaten pula dengan membawa Nyi Rumbi dan keenam wiyaga yang dibawanya dari Majapahit.

Enam wiyaga yang semula adalah prajurit dan senapati Majapahit itu kini sadar benar bahwa segala yg dikatakan ki Dharmapara ternyata bukan dusta. Maka mereka merasa bersukur tidak membunuh empat wanita isteri punggawa yang terbunuh di kraton.

Dengan menumpang kembali pada kapal layar yang menuju Majapahit. ki Dharmapara dengan 

disertai enam prajurit dan Nyi Rumbi kembali dan menemui empat wanita dan keluarga para prajurit yang kini telah tinggal didusun yang jauh dari kotaraja Majapahit.

Lalu sesudah empat anak kecil yang kehilangan ayah dan dibawa mereka berkumpul didusun itu menjadi besar, empat anak itu diambil murid oleh ki dalang Dharmapara dan dibesarkan dengan kasih sayang oleh ki dalang dan Nyi Rumbi.

Empat orang kanak-kanak yang manis itu kemudian dibawa oleh ki Dharmapara ke pertapaan di Gunung Lawu, mereka diajar dan dididik dengan segala ilmu lahir dan batin dan segala ilmu kasampurnaan dengan harapan ki dalang agar menjadi orang-orang pinunjul yang mampu berbakti pada kehidupan dan pada sesama.

- Demikianlah riwayat yang harus kau ketahui, Sentanu. Nah, kalau kau ingin bertanya kini aku ijinkan kau bertanya.

Terdengar suara keras yang membuat Sentanu sadar kembali dari lamunan terbawa oleh cerita Nyi Ageng Maloka yang demikian panjang dan menarik.

Sentanu sadar. Karena menariknya Nyi Ageng berkisah menjadi ia seakan terbawa dalam kisah itu. Diam-diam anak muda itu kagum dan merasa suka pada ki dalang Dharmapara yang disebut oleh Nyi Ageng sebagai seorang yang mumpuni dan tinggi dalam ilmu dan kebijaksanaan. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu, namun ketika baru saja ia hendak membuka mulut, Nyi Ageng telah membentaknya dengan keras : - He. kau mau tertanya atau tidak?! -

Sentanu tertawa.

- Tentu saja. Aku mau bertanya Nyi Ageng,

- Lekas, aku tak ada Waktu lagi untuk berada ditempat ini.

- Eh, Nyi Ageng. - Tanya Sentanu kemudian.

- Kau tadi belum menyebut ada hubungan apa seluruh ceritamu itu dengan guru dan Nyi Ageng sendiri?

- Bodoh!

Kata Nyi Ageng dengan marah.

- Bukankah sudah kukatakan. empat anak dari prajurit pengawal yg terbunuh di istana Majapahit itu diambil murid oleh ki Dharmapara? Dan kau ingat sudah kukatakan salah seorang diantaranya empat anak itu adalah perempuan. --

Sentanu mengangguk,ia mulai mengerti. Tetapi tak urung bertanya kembali :

- Kalau demikian, empat anak itu tentu Guru Ki Ageng Semu dan ....... ..

- Bagus, kau cerdik! Nah kuteruskan', gurumu Ki Ageng Semu adalah yang tertua, sedang anak lebih muda lagi adalah kini setelah menjadi kakek bergelar dengan sebutan Ki Ageng Semanding. -

- Ki Ageng Semanding? _, 

Sentanu bertanya heran.

- Kau maksudkan Ki Ageng Semanding yang kini membantu melawan pada Demak? ...

- Benar! Dialah sesungguhnya adik seperguruan gurumu Ki Ageng Semu.

- Mengapa bisa terjadi ia melaWan guru, Nyi Ageng?

- Tentu saja. Kau ingat empat anak yang diambil murid oleh Guru Dharmapara salah seorang diantaranya adalah anak prajurit Sandi yang melaporkan perbuatan tiga prajurit pada Baginda Brawijaya. Dan karena guru Dharmapara telah memaparkan segalanya dengan terus terang dan gamblang, anak itu sesudah besar menjauhkan diri dari kami bertiga murid yang lain. Agaknya ia merasa bahwa ayahnyalah yang menjadikan sebab ayah-ayah kami terbunuh di kraton Majapahit. Meskipun kami bertiga tidak mendendam, namun merasa tak enak sendiri, maka selalu menjauhkan diri dari saudara yang tiga. Bahkan seringkali ia mencari sebab permusuhan. Maka dimasa muda kami seringkali harus bertengkar dan mengadu kepandaian. Hingga sekarang ia membantu musuh di Bangwetan. -

- Baiklah Nyi Ageng, aku tahu kini selain dua orang itu adalah Guru sendiri dengan Ki Ageng Semanding, maka satu anak perempuan itu tentunya adalah Nyi Ageng sendiri! -

- Kau benar. Akulah yang termuda diantara empat saudara angkat dan senasib yang kehilangan ayah di Majapahit itu.

- Tetapi Nyi Ageng, siapakah seorang lagi? Bukankah kau baru menyebutkan tiga orang? --

- Gila! kau jangan permainkan aku, Sentanu!

Tiba-tiba Nyi Ageng meradang dengan suara marah. Sentanu jadi heran dan kaget.

- Apa maksudmu Nyi Ageng? _ Tanyanya.

- Kau permainkan aku, bisa kupukul kepalamu dengan tongkat ini.

- Eh, aku tidak mengerti, mengapa kau berkata demikian? Aku bertanya, tetapi kau marah. Apa pula ini? -

Dan Sentanu menunjukkan muka bodohnya, ia merasa bingung juga.

- He, jadi kau belum mengerti benar? Apakah kau belum pernah mendengar orang tuamu bercerita dan mendongeng? -

- Mendongeng? Tentu saja pernah. Tapi apa maksudmu? Aku bertanya siapa seorang lagi diantara empat saudaramu itu! -

- Eh, gurumu juga tidak mengatakan hal itu? Sentanu menggelengkan kepala.

- Benar gila orang itu. Nyi Ageng bergumam. 

- Baik aku katakan, dan kau dengar baik-baik; Sesudah yang tertua diantara murid guru Dharmapara adalah gurumu Ki Ageng Semu, murid kedua adalah Ki Ageng Semanding,.dan murid keempat aku sendiri dan murid ketiga yang belum kusebut adalah seorang bernama Aki Kerancang yang sesudahnya menjadi orang tua telah menetap sebagai kepala dusun Lereng Gunung dan kegemarannya berburu.

Sentanu menjadi pucat mendengar perkataan dan penjelasan dari Nyai Ageng. Sebab Aki Kerancang adalah ayahnya sendiri.

- Jadi ....... .. jadi ..... . ia tergagap dengan muka pucat.

- Ya. Aki Kerancang adalah ayahmu. Aku telah lama benar tidak bertemu dengannya. Tadinya aku anggap dia telah menghilang dan tak ingin bertemu dengan kita orang-orang tua. Hanya kemudian belakangan aku dengar dari gurumu, kakang Aki Kerancang masih tinggal di Pucanganom. Dan ketika gurumu mendengar kau diusir ayahmu. Dan kau ditemukan oleh gurumu ketika melarikan diri berdua dengan Mirah Sekar anak Adipati Tamponi itu. -

Sentanu tak kuasa mengucap, ia terduduk dengan perasaan tidak menentu. Tak diduganya peristiwa yang menyangkut hidup orang tuanya akan demikian hebat dan mengejutkan.

- Sudahlah, kau telah mendengar semuanya. Kini kau mulai lakukan kuwajibanmu. Bukankah kau harus masuk kedalam barisan Demak yang kini tengah disusun? Aku hanya membantumu dari jauh, berhati-hatilah, dan kau ingatlah Sekar dan bantulah manakala ia mendapatkan kesulitan. Ia masih terlalu muda untuk dapat mengikuti pergolakan yang sedang timbul sekarang ini. Nah, selamat tinggal Sentanu.

Sepeninggal Nyi Ageng Maloka. Sentanu maSih terduduk termanga-mangu ditempatnya. Ia terpengaruh benar oleh cerita Nyi Ageng. Namun timbul rasa heran dalam hatinya. Ayahnya tak sedikitpun pernah menyinggung hal itu, bahkan tidak ia ketahui bahwa ayahnya ternyata adalah murid dari seorang pinunjul seperti Dharmapara. Namun Sentanu hanya merasa semuanya sebagai bayang-bayang yang segera haruslah lenyap pula.

Sentanu sadar ia harus memulai hidupnya dengan kekerasan. Bagaimanapun pengalaman dimaki-maki Tumenggung Santa Guna masih terngiang ditelinganya. Dan hatinya yang penasaran masih belum hilang pula..

Mengingat begitu, tiba-tiba ia menengok tombak Kiai Jalak Diding yang berhasil dilarikan dari dalam gedung pusaka, dan ingatannya melayang pula pada orang-orang yang telah ia temui dalam hidupnya, penolong yang menyelamatkan nyawanya sewaktu ia menderita kelaparan bernama Taruna yang kini menjadi Adipati di Wanabaya. Ia tersenyum ketika mengenang Taruna, saudara angkat yang berhasil menguasai Wanabaya itu. Lalu teringatlah anak muda ini pada Mirah Sekar. Dan bayangan Pangeran Trenggana muncul pula dalam kepalanya.

Mengingat Pangeran itu, Sentanu meraba tanda cap kekuasaan yang diberikan oleh Pangeran. 

Tiba-tiba Sentanu meloncat berdiri. Ia hampiri kudanya yang masih berada di dekat tempat itu, lalu sesudahnya ia bawa tombak Pusaka Jalak Diding, ia menepuk leher kuda itu dan berkata :

- Kita berangkat sekarang!

Lalu iapun loncat keatas punggung si kuda, dan memberinya tanda agar binatang itu berjalan. ia segera memutar arah, berniat untuk segera menemui Tumenggung Santa Guna kembali.

Namun ketika berjalan tiba-tiba binatang itu melonjak dan berlari balik, menuju sungai yang ada dibelakang yang baru saja ia tinggalkan tadi.

Sentanu menjadi heran, namun ia tidak menahan kudanya berlari demikian, ia menuruti saja kemauan binatang yang kelihatan aneh itu.

- Kau mau kemana ? -

Tanya Sentanu kepada kudanya, namun binatang itu hanya meringkik perlahan dan terus berlari menyusuri tepi sungai keutara.

- Eh, aku hendak ke Demak, kalau kau kesana akan semakin jauh !

Sentanu berkata pula. Dan agaknya binatang itu juga mengerti dengan perkataan tuannya.

Kembali ia meringkik, namun tidak mau membalikkan diri kejalan semula.

Sentanu jadi habis sabar, ia tidak mengerti dengan kehendak kudanya, maka ditariknya kendali memberi tanda agar binatang itu berbalik lagi. Tetapi ketika Sentanu menarik tali kendali demikian itu kudanya bukan menurut, malah mengangkat kaki tinggi-tinggi seraya meringkik semakin keras. seakan marah dan tidak hendak menuruti kemauan tuannya.

Sentanu menggelengkan kepala. Ia tidak mengerti mengapa binatang itu menjadi demikian. Maka karena ia tak mau memaksa binatang itu pula, Sentanu jadinya membiarkan ia dibawa menyusur sungai, melewati tebing-tebing curam dan meloncati jalan-jalan sukar yang masih banyak ditutupi oleh semak belukar lebat. Namun kudanya tidak mau berhenti juga, terus menerobos semak dan gerumbulan yang banyak menghalang disepanjang tepi sungai itu. Hingga Sentanu terpaksa turun tangan, kadangkala harus membabatkan tombak pusakanya untuk menyapu penghalang di sepanjang jalan yang ia lewati.

Kini ia menyerah pada kemauan binatang itu, dan niatnya ke Demak kembali ia urungkan. Tidak lagi akan terlalu Khawatir ditolak, sebab bukankah ia telah membawa cap kekuasaan dari Pangeran ?

Maka hati anak muda ini tak lagi risau dan gelisah. Bahkan dirasa ketika itu membawanya berlari menyusuri tepian sungai hatinya merasa girang dan bersemangat. Entah apa sebabnya.

Sampai ketika binatang itu telah berlari lebih dari lima pal, baru kuda itu berhenti. Napasnya nampak agak memburu. Dan Sentanu segera loncat turun, lalu menuntun binatang itu ke mata air yang ada ditepian, mengajaknya minum.

- Eh ada apakah kau kemari, hitam? - 

Tanya anak muda itu pada kudanya. Namun binatang itu menggerakkan lehernya dan meringkik perlahan. Maka Sentanu melepaskan kudanya mencari rumput yang ada didekat tempat itu. Dan ketika Sentanu melayangkan pandangan kesekeliling, hatinya memukul gembira. Pemandangan amat meresap dan indah. Tepian sungai itu amat bersih dan sedap dipandang. Meskipun kedua tepi kiri kanan sungai dibetengi oleh tebing terjal yang menjulang tinggi, tak mengurangi keindahan tempat itu. Dan agak kesana, disebelah timur terdapat dataran agak luas yang ditumbuhi rumput segar dan kesanalah kudanya telah berada. Sedang disebalik pepohonan lebat diutara masih terdapat pohonan yang menimbulkan hawa segar ketika Sentanu berjalan kearah tempat itu.

Kesuyian alam yang murni, sebuah tempat yang agaknya amat jarang didatangi manusia, sehingga disana sini pada kedua tepi sungai itu terdapat tumbuh-tumbuhan liar dan semak belukar. Namun tumbuhan itu malah menambah indahnya pemandangan, ditingkah oleh suara air sungai gemericik memecah kesunyian alam yang tak terkatakan indah itu. Sedang ketika Sentanu mencoba menatap keangkasa, langit diatas nampak bersih dan terang, awan biru disela-sela warna putih bagai kapas menggantung dan seakan bergerak dengan gerakan lembut dan halus.

Ketika ia melihat kudanya makan rumput segar dan hijau dengan lahap dan gembira, ia tersenyum. Namun tiba-tiba dirasanya perutnya berbunyi keruyukan. Ingat bahwa perutnya belum terisi, namun ia tak membawa makan sedikitpun. Hanya dalam kantung kulit yang dibawanya masih terdapat keping-keping emas yang diberikan Taruna ketika ia meninggalkan Kadipaten Wanabaya.

Mengingat perutnya yang mulai berbunyi itulah Sentanu segara berloncatan menuju hutan kecil yang terdapat diseberang sebelah barat. Ia berloncatan melewati batu-batu besar yang banyak terdapat ditempat itu.

Sentanu berharap dihutan kecil itu ia akan dapat menemui buah buahan yang sekiranya bisa dipergunakan mengisi perutnya yang berkeruyukan.

Namun ketika ia telah melewati pepohonan yang melindungi tempat itu dari pandangan diarah selatan, Sentanu merandek dan kaget. . Ternyata ditempat itu ia melihat seekor kuda tengah makan rumput dan ditambatkan pada sebatang pohon mempelam kecil.

Sentanu merasa heran.

- Hm, ternyata ditempat sesunyi ini masih ada juga seseorang yang mendatangi.

Gumamnya seorang diri. Sebab menilik adanya kuda itu tentulah terdapat seorang yang tentu tidak jauh dari tempat itu. Maka ia bertindak berhati-hati. Ia meloncat kemuka dan berjalan dengan pelahan.

Namun ketika dirasanya tak terdengar suara apapun. kecuali suara gemericik air sungai yang mengalir, Sentanu meloncat dengan berani melewati aliran anak sungai dan berdiri diatas sebuah batu besar yang ada ditepi sungai sebelah timur. Tetapi Sentanu berseru tertahan dan mukanya berubah merah jambu dengan mendadak. Dan bersamaan dengan seruan Sentanu itu terdengar pula 

suara jerit melengking dari orang yang terkejut. Ternyata kedua mata Sentanu terlanjur menangkap bentuk tubuh indah seorang gadis berkulit kuning bersih yang tengah mandi disungai itu. Sentanu menjadi pucat sebab matanya terlanjur singgah pula pada bentuk tubuh si gadis manis yang berdiri menghadap kearahnya tanpa penutup dada.

Si gadis menjerit dengan pucat dan kaget melihat munculnya seorang laki-laki yang tidak diduganya, maka dengan sebat ia pasang kain penutup pada tubuhnya dan loncat keluar dari dalam rendaman air sungai.

- Hei, mengapa kau datang kemari? Butakah matamu?! -

Si gadis cepat mengenakan pakaian untuk menutup tubuhnya dan membentak.

Namun Sentanu menjadi tergagap. Ia terlanjur melihat sesuatu yang selama ini belum sedikitpun ia ketahui, sebab ketika ia loncat itu, kebetulan si gadis tengah membuka kain penutup tubuh atasnya, bermaksud hendak membenahkan penutup itu.

- Maaf!

Ia mengucap terbata-bata, lalu ia loncat balik ketempatnya semula.

Dalam pada itu si gadis cepat membenahi pakaian pada tubuhnya lalu ia cabut pedangnya dan loncat mengejar kearah Sentanu berlari.

- Bangsat kurang ajar! Kau mulai usilan mampuslah! -

Dan si gadis mengayunkan senjatanya pada Sentanu yang dilihatnya tengah termenung diatas sebuah batu besar. Dan ketika kelebatan senjata si gadis hampir mengenai pinggangnya, Sentanu sadar, ia gerakkan tubuhnya melejit berkelit seraya loncat turun dari atas batu itu. Namun si gadis melihat serangannya gagal, loncat turun pula mengejar Sentanu dengan marah

- Kau bangsat tidak tahu malu! Lebih baik kau mati ditanganku!

Dan bertubi tubi si gadis melancarkan serangan. Namun Sentanu yang tahu si gadis hanya terdorong oleh rasa amarah atas terjadinya hal itu, tidak membalas menyerang, ia hanya berloncatan kesana kemari seraya mulutnya tak henti-hentinya berkata :

- Tahanlah Sekar! Aku sungguh tidak mengetahui. Kau jangan terburu nafsu hendak membunuhku.

-

gadis yang bukan lain adalah Mirah Sekar, tak perdulikan seruan Sentanu, ia terus menyerang

anak muda itu dengan gencar dan melancarkan serangan berbahaya dan mematikan.

- Kau maafkan aku. Sekar! Berhentilah dan dengarkan katakataku! - Berulangkali Sentanu berseru, namun sigadis masih tak menggubrisnya.

- He, tahan dulu ! Kau dengar perkataanku, baru kau boleh bunuh sesukamu! -

- Tutup mulutmu dan terimalah upah kekurangajaranmu! --

Sentanu tidak mampu menahan perasaan ketika si gadis masih juga hendak membunuhnya. Maka 

tiba-tiba ia loncat dan berguling kebelakang beberapa kali hingga jauh dari si gadis yang masih marah. Namun si gadis segera loncat mengejar pula.

Tiba-tiba Sentanu berdiri sedekap dan berdiam mematung seraya berkata pula:

- Eh, Sekar, kau tidak adil. Kalau mau bunuh. bu nuhlah! Aku tak akan melawanmu. Tetapi kukatakan aku sungguh tidak sengaja datang ketempat itu. Dan aku tidak tahu bahwa yang disana adalah kau! -

Namun sigadis telah meloncat maju. Dan ketika dilihatnya Sentanu hanya berdiri bersedakep mematung, ia menjadi ragu-ragu dan gerakan pedangnya yang terlanjur berkelebat menyerang ia tarik sedikit kesamping. Tetapi karena cepatnya gerakan dan kekuatan Mirah Sekar bukan

main-main, tak urung pedang sigadis telah menyerempet pundak Sentanu hingga darah mengucur dari luka itu.

Si gadis terkejut melihat Sentanu benar-benar tidak bergerak.

- Kau bunuhlah Sekar, aku tak akan melawan. Tapi dengar baik-baik bahwa sungguh aku tidak mengetahui jika kau ada ditempat itu

Mirah Sekar menjadi gemas, namun tidak terasa pedangnya tiba tiba terlepas dari tangannya dan jatuh berdencing mengenai batu dibawahnya. Lalu tanpa diduga oleh Sentanu, tiba tiba gadis itu membalikkan tubuh berlari sambil menangis.

Sentanu kaget, ia loncat mengejar Mirah Sekar. Dan ketika ia tiba didekat kuda gadis itu yang masih makan rumput, ia melihat Mirah Sekar tengah terduduk dekat batu besar dan menutup mukanya dengan terisak-isak.

Sentanu menjadi bingung. Ia harus berbuat apa?

Kedua tangannya bergetar, hendak memegang pundak gadis itu, tetapi segera ditariknya kembali.

Ia takut dan kasihan. Hingga karena bingungnya Sentanu hanya ikut duduk dekat gadis itu.

- Kau maafkan aku, Sekar-

Kata anak muda itu ketika dilihatnya si gadis mulai reda tangisnya. Namun si gadis masih tidak perdulikan dirinya. Membuat ia menjadi kikuk. Ia melirik kesana kemari. Dan tiba-tiba ia punya lain pikiran. Sentanu loncat berdiri lalu berlari masuk hutan kecil yang ada dekat tempat itu.

Beruntunglah ia ternyata dalam hutan terdapat banyak pohon jambu batu, maka Sentanu yang memang telah merasa lapar, makan buah itu, tetapi ketika baru saja ia gigit sedikit, segera ia batalkan niatnya, kemudian diambilnya beberapa buah yang nampak masak dan segar memikat, lalu dibawanya ketempat Mirah Sekar berada.

Sentanu tersenyum. Si gadis tengah mendekati kudanya dan menepuk-nepuk leher binatang itu.

Namun masih juga membayang mata merah sehabis menangis.

Sentanu mendekati si gadis dan perlahan serta hati-hati ia ber kata :

- Kau masih marah, Sekar? Sungguh aku tidak mengetahuinya. - Diam!  Si gadis membentak. Membuat Sentanu jadi mundur pula. Dan ketika si gadis meloncat ke atas punggung kudanya dan terlihat hendak pergi, Sentanu cepat menangkap tali kendali kuda itu dan berkata:

- Kau hendak kemana Sekar? Lihat hari telah mulai menuju petang. sebentar lagi tentu gelap seluruh tempat ini.

Mirah Sekar kaget tali kendali kudanya ditarik. Ia tarik tali itu. Namun Sentanu mengerahkan tenaga melawan, hingga si gadis tidak berhasil menariknya.

- Lepaskan! Seru si gadis.

- Kau mau kemana? _

- Apa perdulimu ? Kemanapun bukan urusanmu ! -

- Ah, jadi kau tak mau juga memaafkan diriku, Sekar? Mengapa,? Bukankah kita adalah sahabat yang pernah sama-mengalami penderitaan ketika aku melepaskanmu dari Kadipaten Wanabaya ini? Dan akan sampai hatikah membuat hati saudaramu ini menjadi gelisah? Mengapa kau tidak bunuh saja aku dengan pedangmu tadi? Bukankah kalau aku terbunuh kau akan bisa lepas tanpa diganggu siapapun?

Mirah Sekar terdiam mendengar perkataan Sentanu demikian itu. Dalam hati si gadis sesungguhnya telah mulai runtuh rasa amarah yang tadi meluap. Mau rasanya ia loncat turun dan berdekatan dengan murid Ki Ageng Semu yang telah ia kagumi sejak dulunya itu.

- Sebentar lagi tempat ini akan gelap, Sekar. Amat berbahaya kalau berjalan sendirian dalam kegelapan yang sunyi begini. Hayo kita mencari tempat istirahat yang aman. Percayalah Sekar, aku akan menjagamu dari segala gangguan bahaya. -

Mirah Sekar merasa hatinya diayun-ayun ketika mendengar katakata demikian. Khayalnya jauh membubung tinggi dan agaknya mau menembus awan diatas yang mulai remang dan samar-samar.

- Hayo kita kesana.!

Sentanu berkata pula. Dan aneh. Bagai dituntun oleh tenaga gaib, Mirah Sekar mengikuti saja ketika Sentanu menuntun kudanya mendekati tempat kudanya sendiri berada.

Mereka mencari tempat terlindung yang banyak terdapat batu batu besar disekitar tepian sungai itu... Dan sementara hari telah mulai berangkat gelap, Sentanu telah mengisi perutnya dengan

buah-buahan. Namun ketika itulah tiba-tiba Mirah Sekar melemparkan buntalan daun kearahnya. Sentanu menyambut, dan ketika dibukanya ia hampir berseru girang ketika dilihat isinya nasi putih dengan bakaran ikan lele bergaram.

- Kau berikan ini untukku?! Sentanu bertanya.. 

- Kalau kau habis, makanlah sendiri! -

Sekar tertawa. Sentanu jadi ikut tertawa. Kini sigadis telah hilang pula muka muramnya.

- Ah, mana bisa aku habiskan sendiri, kau tentu belum makan sejak siang tadi. _ Tukas ia pula.

- Tidak, aku sudah makan didusun sebelah barat sana, dan bibi yang punya rumah dusun itu memberikan nasi itu untuk malam kalau lapar,

- Jadi ini harus kau makan, biarlah aku tak usah, Sekar! - Sentanu mengangsurkan bungkusan daun pisang itu.

- He, tidak! Kau tentu lapar, aku melihat kau tadi amat rakus makan jambu air itu.

Sentanu tertawa kembali, namun ia angsurkan sebagian nasi yang dipegangnya pada gadis itu.

- Kita bagi sama rata, Sekar. Hayo kau makanlah juga. --

Si gadis tak dapat menolak pula, ia terima sebagian nasi dalam bungkus daun pisang itu. Lalu kembali ia duduk bersandar batu besar beralaskan pasir ditepi sungai itu. Sentanu juga mengikuti, ia duduk membelakangi si gadis dan makan dengan lahap dan girang,

- Ugh! -

Tiba-tiba Mirah Sekar tersedak hingga batuk-batuk keras. Sentanu loncat membalikkan tubuh.

- He, apa yang kau pikir? Perlahan mengunyah daging berduri itu! -

- Ah. tidak. Aku hanya membayangkan kau makan dengan cara apa mengbelakangi diriku. --- Jawab gadis itu.

- Aku membelakangi, sebab kalau aku melihat kau makan, pasti kau tak akan mampu menelan dengan baik.

- Hi ...... hi ..... . hi kau bisa menggoda. memangnya aku pemalu? - .

Malam bertambah larut, dan ketika diangkasa muncul bulan separuh, udara dingin menusuk tulang dan Mirah Sekar menekuk lutut bersandar batu besar. Matanya tak bisa terpejam. Ia menutup tubuh dengan kain yang dibawanya, sedang Sentanu berdiri lalu berjalan beberapa tindak, lalu balik kembali dan duduk tidak jauh dimuka si gadis yang kedinginan. Sentanu duduk bersila dan mengatur pernafasan dengan perlahan dan panjang. Hingga sedikit demi sedikit hawa dingin yang semula menyaput tubuhnya, berangsur hilang dan lenyap.

- Kau hebat, Sentanu! _

Terdengar si gadis memuji melihat perbuatan kawannya itu. Tapi Sentanu hanya menjawab dengan tawa lebar. '

- Agaknya kepandaiankupun tak akan melebihi kepandaianmu. - Kata Sentanu kemudian.

- Gurumu Nyi Ageng memberikan segalanya padamu. Sedang Ki Ageng Semu tidak melakukan itu.

Belum seluruhnya ilmu guru yang kupelajari. - 

- He, bukankah dengan sebegitupun kau telah mampu malang melintang berhadapan dengan orang-orang ternama? Ah, kau jangan kira aku tak tahu. Tombak yang kau bawa adalah tombak pusaka Jalak Diding yang dapat kau curi dari Demak.

Sentanu melengak dengan heran.

- Kau tahu?! _

- Tentu saja, aku melihat ketika kau dikejar prajurit panah dari regol luar istana. - Sentanu berdiam. Tak diduganya Mirah Sekar akan mengetahui kejadian itu.

- Ya, guru yang memerintahkan aku mengambilnya dari istana.

- Gurumu memang senang mengajar murid untuk mencuri! -

- He, bukan mengajar mencubit -..

- He, bukan mengajar mencuri!

- Jadi apakah namanya? --

Sentanu terdiam. Namun ia tertawa, sigadis juga tertawa.

- Kalau kau ngantuk, tidurlah, Sekar. Aku akan menjagamu disini.

- Dan kau?

- Aku belum mengantuk. nanti kalau mengantuk tentu kau kubangunkan dan berganti menungguku.

- Aku? Aku menunggumu?

- Ya, mengapa?

Si gadis mendengus lewat hidung. Namun senyumnya terlihat menyungging ditimpa cahaya bulan separuh yang ada diatas mereka.

- Eh, kau mendekatlah kemari!

Tiba-tiba Mirah Sekar berseru dan memberi isyarat agar Sentanu mendekat.

- Ada apakah tuanku?

Sentanu menggeser duduknya mendekati gadis itu.

- Kau dengar baik-baik. Kau ingat pertanyaanku dulu, bukan?

- Yang mana.? -

- Bodoh! Kau pelupa dan dangu. -

Si gadis marah dan cemberut tapi Sentanu tidak berkata lagi. Ia menunggu Mirah Sekar melanjutkan kata-katanya.

- Kau bodoh benar, tapi kalau kau memang benar belum mengetahuinya aku beritahu. Buka telingamu lebar-lebar! -

Dan Mirah Sekar tiba-tiba bergerak, dan sebelum Sentanu tahu apa yang diperbuat si gadis daun telinganya telah kena dijewer dengan keras hingga hampir saja ia terjerembab kemuka.

- He, apa apaan ini? Lepaskan! 

Ia terkejut dan berseru kesakitan. Si gadis lalu melepas daun telinga itu dengan masih ketawa.

- He, Sentanu pemuda dungu! Kau dengar baik-baik. Kalau aku ingat kekurangajaranmu mengintai orang mandi, ingin rasanya aku menghabiskan nyawamu agar kau segera dihukum dihadapan malaekat penyiksa, -

- Sudah kukatakan aku tidak sengaja! Sahut Sentanu.

- Aku tahu! Tetapi tebusan untuk itu terlalu mahal. Kau terlanjur melihat rahasia terlarang. Kau tahu? Ingin aku bunuh diri dengan menggorok leher sendiri jika ingat itu. Kau bisa tahu apa perasaan hati seorang gadis yang mengalami hal demikian.

Sentanu terdiam. Ia menyadari kesalahannya. Namun ia tidak ingin berbantah lagi. Bisa repot jika ia melayani kemarahan si gadis yang sudah mulai berbaik itu.

- Maka kini aku menuntut padamu! Kau harus menjadi suamiku! -

Sentanu melonjak kaget mendengar perkataan e si gadis yang tidak diduganya.

- Kau?! Kau mau menjadi istriku? Mana mungkin, Sekar! _ Tiba-tiba :

- Plak! Plak!

Tamparan tangan si gadis melanda muka dan pipi Sentanu yang tak sempat mengelak, hingga muka itu terasa panas dan sakit. Namun ia tidak bergerak.

- Kau harus bersikap kesatria. Jika tidak kau atau aku yang harus mati diujung senjata. Tubuhku terlanjur kau tonton, maka tak ada seorang laki-laki lain yang akan kubolehkan menjamah tubuhku kecuali kau! -Nah, kau katakanlah! Jika benar kau tak mau bertanggung jawab, katakan sekarang juga dan aku akan bunuh diri dengan menggorok leherku! ....

Sentanu menjadi termangu-mangu. Hatinya gelisah dan ketakutan bukan main. Namun pikiran jernih yang ada dalam kepalanya membenarkan pikiran Mirah Sekar. Dan tak bisa ia pungkiri pula. Bahwa diam-diam dalam hati kecilnya juga telah tumbuh perasaan kasih pada si gadis, semenjak mereka berpisah di Kadipaten Wanabaya. Ia menyadari perasaan hati itu. Akan tetapi ia tidak sedikitpun hendak memperlihatkannya. Bahkan terhadap diri sendiri rasanya ia mau sembunyikan perasaan itu. Namun perkataan si gadis telah membikin kejutan yang tak terduga. Tak ia duga sedikit juga Mirah Sekar memiliki watak keras demikian.

- Nah, kau jawablah!

Terdengar Sekar mendesak pula.

- Tidak Sekar! Tidak mungkin!

- Apanya tidak mungkin? Kau telah mempunyai simpanan gadis lain?

- Bukan, bukan begitu. Aku takut dengan guru dan Nyi Ageng!

- Tolol! Kau agaknya benar tak mengerti, kedua orang tua itu telah menyatakan kerelaannya jika 

kita bisa mengikat perjodohan. Dulu sekalipun aku mengakui dalam hati memendam rasa sayang padamu tetapi sebagai wanita aku tak sudi mendahului melamarmu. Tetapi sekarang yang terjadi adalah terlalu berbeda. Jika tidak sekarang juga kau kutuntut maka bisa jadi aku malah akan membunuh diri sendiri.

- Guru menyetujui? - Sentanu bertanya bergagap.

- Gila. kau tak usah pertanyaan itu. !

- Tetapi Sekar, aku ...... aku ...... hanyalah rakyat kecil yang lahir ditengah gunung dan pedusunan terpencil, sedang kau adalah keturunan Adipati Tamponi, apakah kakang Taruna akan menerimaku?

Tiba-tiba Mirah Sekar tertawa, dan ia tertawa terus, namun ketika Sentanu perhatikan muka si gadis yang mendongak kena cahaya bulan, ia kaget. Sebab ketika tertawa itu si gadis mengalirkan air mata membasahi pipinya yang kuning dan halus.

- Sentanu. -

Kata Mirah Sekar kemudian.

- Kini tahulah aku ternyata kaupun mencintaiku. Ya, aku tahu sekarang bahwa kiranya kau juga memendam perasaan itu kepadaku. -

Dan sigadis mengusap air matanya. lalu ia tatap Sentanu dengan pandangan lembut dan matanya kini tak lagi memancarkan kemarahan dan kekerasan.

Melihat itu Sentanu tertunduk, pandangan Mirah Sekar bagaikan menusuk kedalam jantungnya hingga ia merasakan debaran aneh dalam dadanya. Dan tiba-tiba si gadis menjatuhkan dirinya ke dalam pangkuan anak muda itu. Sentanu tak lagi kuasa berbuat sesuatu. Namun tanpa terasa tangannya merangkul si gadis lalu dibelainya rambut Mirah Sekar dengan lembut dan pelahan.

Untuk beberapa lamanya dua orang muda itu tenggelam dalam kedamaian hati dan perasaan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Hingga sekalipun hawa dingin menyerang, namun telah tak terasa pula oleh keduanya.

- Sekar.

Akhirnya berkata Sentanu seraya masih membelai rambut Mirah Sekar yang kini menyembunyikan mukanya kedalam dada murid Ki Ageng Semu itu.

- Kau seharusnya lekas kembali ke Wanabaya. Kang Taruna tentu menunggumu di sana. - Mirah Sekar mendongakkan kepala dan memandang anak muda itu :

- Aku masih belum hendak kembali pada kang Taruna, kelak kita bisa kembali setelahnya kau meminangku.

Jawab si gadis. Sentanu tertawa. Ia merasa geli juga mendengar kata gadis itu.

- Mengapa tertawa? Adakah yang lucu? - Bertanya si gadis. 

- Kau lucu, Sekar. Mengapa kau tahu akupun memendam perasaan kepadamu? Bukankah kita belum sekalipun bertemu dan membicarakan soal itu? ----

Ia mencoba menutupi perasaan gelinya.

- Sudahlah, kau harus ingat, Sentanu. Laki-laki yang telah melihat kehormatanku, hanyalah engkau maka jika suatu ketika kau mengingkari janji, maka kau akan mengerti apa yang akan kulakukan. Kalau tidak aku membunuhmu, maka aku akan bunuh diri di hadapanmu. Aku tak sudi lelaki lain menjamah tubuhku.

- Baiklah, Sekar. Aku akan ingat hal itu. Tetapi kau hendak kemanakah tak mau kembali ke Kadipaten sekarang ini?

- Seperti dirimu. Aku masih mengemban kuwajiban dan perintah guru untuk menyelesaikan sesuatu.

- Apakah itu?

Bertanya Sentanu dengan heran. Tetapi Mirah Sekar tidak menjawab. Kecuali tertawa dan seraya makin melekatkan kepalanya pada dada anak muda itu. - Hm, kau sembunyikan rahasia itu?

- Kelak kau akan tahu.

Tidak terasa oleh dua orang muda itu bahwa waktu telah berjalan juga, dan tiba-tiba saja keduanya terbangun ketika sinar matahari menyengat tubuh mereka. Yang terbangun lebih dulu adalah Sentanu. Ia membuka mata dan dilihatnya kepala si gadis masih berada dalam pangkuannya, ia kaget. Namun ia tak bergerak, takut membikin kaget gadis itu.

Tidak diduganya si gadis juga terbangun dan bahkan ia loncat ketika terasa olehnya tangan Sentanu mengusap wajahnya. Muka si gadis merah jambu. Ia jengah dan malu mengingat mereka berdua telah berada ditempat itu berdua dan malah saling berdekapan. Maka Mirah Sekar berlari menuju sungai. Sentanu meloncat mengejar. Tetapi si gadis tiba-tiba berseru:

- Hei kau jangan ikut. Hayo kau pergi kesana! -

Sentanu tertawa. Sadarlah ia. Maka segera ia membalikkan tubuh dan mencari tempat lain untuk membersihkan tubuh sesudahnya bangun tidur yang penuh dengan impian dan keganjilan itu.

Tidak lama Mirah Sekar telah kembali, mukanya nampak berseri dan kegembiraan membayang air muka itu.

- Aku lapar sekali. -

Kata si gadis sambil mengernyitkan kening dan memegang perutnya. _

- He, lapar?

Dan Sentanu juga memegang perutnya.

- Ah, perutku juga lapar. Kita cari buah jambu itu lagi? - Namun Mirah Sekar menggelengkan kepala.

- Bisa sakit perut nanti. -- 

- Kita cari dusun yang ada disebelah barat itu. - Kata Sentanu kemudian.

- Melewati bulak panjang. agak jauh rupanya, - Tukas Sentanu. - Tak apa,kita kesana

Keduanya segera membawa kudanya berlari menyusuri sungai dan menuju dusun yang terlihat jauh diujung barat laut terlihat sebagai titik hitam diatas bukit yang terlihat dari atas.

Ketika mereka melarikan kudanya itu, Mirah Sekar diam-diam kagum juga pada anak muda yang kini berdua dengannya ditempat itu. ia merasa iri hati juga melihat ternyata Sentanu lebih banyak memiliki kepandaian dan rupanya tidak lebih dibawah kepandaiannya sendiri, bahkan mungkin melebihi. Namun si gadis tidak berpikir terlalu lama, Ia tersenyum membayangkan sesuatu. Sesuatu yang sedang ia cari dan ingin benar ia dapatkan.

Nyi Ageng Malaka diam-diam telah memerintahkan muridnya ini untuk mencari benda-benda peninggalan gurunya, ki Dharmapara. Nyi Ageng Maloka mengetahui bahwa Guru Dharmapara hanya mempunyai seorang anak lelaki, namun ketika anak itu telah dewasa ia pergi mengembara ke tanah sebrang. Sehingga ki dalang Dharmapara hanya hidup berdua dengan Nyi Rumbi dan murid-muridnya yang empat.

Pada masa muda empat murid Dharmapara, Nyi Ageng Maloka pernah dijodohkan dengan seorang punggawa Majapahit, namun tunangan Nyi Ageng Maloka ketika mudanya itu mati terbunuh dalam peperangan, sehingga semenjak itu Nyi Ageng Maloka telah bersumpah tak akan menikah dengan siapapun. Sedangkan saudara seperguruan lain seperti Ki Ageng Semu, Ki Ageng Semanding yang merasa kasihan melihat nasib adik perempuan yang mereka sayangi itu menderita batin kehilangan suami, telah ikut bersumpah untuk tidak beristeri. Mereka berdua ingin ikut merasakan hidup sendirian tanpa anak maupun istri, sehingga sama-sama merasakan penderitaan. Namun ketika saudara seperguruan lain hendak ikut bersumpah, yakni Aki Kerancang orang tua Sentanu, telah dilarang keras oleh saudara seperguruan lain. Karena jika mereka semua bersumpah untuk tidak berumah tangga, maka dikhawatirkan akan habislah ketutunan dari ki dalang Dhamapara. Jadi untuk tetap menghidupkan keturunan langsung, Aki Kerancang-lah satu-satunya murid Ki Dharmapara yang mengambil istri.

Akibat dari itu, ternyata telah mengejutkan guru mereka Dharmapara..

Orang tua itu amat kaget ketika mengetahui murid-muridnya mengangkat sumpah yang tidak diduganya itu. Karena Dharmapara, sewaktu mengasingkan diri selama bertahun-tahun telah menciptakan ilmu yang dahsyat dan menurut penuturan guru mereka, tak akan ada duanya untuk masa waktu seratus tahun sesudah meninggalnya guru itu.

Empat murid Dharmapara bersorak girang. Mereka berharap gurunya akan menurunkan ilmu itu pada mereka. Namun dengan muka kecewa sang Dharmapara menerangkan bahwa ilmu yang telah 

diciptakan itu tak dapat diturunkan kepada mereka, karena ilmu dahsyat itu hanyalah dibuat semata-mata untuk sepasang suami istri. Karena selain Dharmapara sendiri yang meyakinkan, juga Nyi Rumbi menciptakan bersama ilmu pasangan yang tak ada taranya.

Dharmapara menciptakan ilmu itu sesudahnya murid-murid dewasa dan ketika kerinduan Dharmapara pada istri yang hilang demikian menggelora dan meledak-ledak dalam dadanya. Maka kekuatan hanya bisa ditimbulkan oleh dua orang yang saling cinta menyintai. Sehingga ketika murid-murid terlanjur mengangkat sumpah untuk tidak menikah, maka ilmu itu tak dapat diturunkan pada mereka.

Maka satu-satunya murid yang tidak terkena sumpah hanyalah Aki Kerancang. Namun karena Aki Kerancang ini kurang tertarik dengan ilmu itu, ia tidak berkeinginan meminta pelajaran dari sang guru. Karena sejak mudanya ayah Sentanu lebih tertarik pada ilmu batin dan mendalami jalan kasampurnan sejati. Sedang pada ilmu kanuragan dan tata kelahi sedikitpun ia tidak tertarik. Hanya sekedar ia mempelajari pokok-pokok yang penting dari ki Dharmapara.

Sehingga karena itulah maka Guru Dharmapara telah mengubur ilmu itu tanpa sempat menurunkan pada seorang muridpun. Namun sang guru telah berpesan pada murid-muridnya bahwa ia telah menuliskan segala pelajaran ilmu yang diciptakan itu berikut pelajaran yang diyakini oleh isterinya Nyi Rumbi. Sang guru telah berpesan agar murid memerintahkan pada seseorang yang dianggap pantas untuk mencari ilmu itu yang akan dibawa berkubur bersama ki Dharmapara dan Nyi Rumbi. Jika memang berjodoh, maka orang itu pasti akan dapat menemukan ilmu simpanan yang belum pernah dikenal oleh siapapun itu.

Dari sebab itulah maka Nyi Ageng Maloka dan Ki Ageng bertahun-tahun mencari sepasang murid untuk dididik dan jika benar mereka berjodoh maka akan diperintahkan mencari adanya ilmu tinggalan Dharmapara. Dan ketika akhirnya dua orang tua itu menemukan Sentanu dengan Mirah Sekar, hati kedua orang tua itu merasa girang, karena selain dua orang muda itu memiliki kemampuan dan kecerdikan pikir, juga keduanya terlibat pada perasaan asmara, meskipun belum mereka perlihatkan, namun dua orang tua yang arif dan awas itu telah mengetahuinya, hingga Nyi Ageng Maloka kemudian memaparkan perihal keinginannya mengikatkan jodoh antara Sentanu dengan Mirah Sekar, dan hal itu dikatakan oleh Nyi Ageng pada muridnya, hingga Mirah Sekar telah mengetahui segalanya. Bahkan terang-terangan murid itu diperintahkan mencari peninggalan dan kubur ki Dharmapara dngan Nyi Rumbi. Karena tak seorangpun diantara empat murid yang tahu dimana ki Dharmapara dengan Nyi Rumbi. Karena tak seorangpun diantara empat murid yang tahu dimana ki Dharmapara dengan Nyi Rumbi berkubur. Dulunya mereka berdua hanya pergi tanpa mengatakan kemana mereka akan menuju.

- Kalian tak usah risau. -

Kata Dharmapara ketika itu. 

- Kalau benar kelak kalian peroleh murid yang berjodoh denganku, pastilah muridmu akan berhasil menemukan kubur dan peninggalan ini.

Itulah sebabnya Mirah Sekar tidak ingin segera kembali ke Kadipaten Wanabaya dan berkumpul dengan Taruna. Ia masih mencari adanya kubur dan peninggalan kakek gurunya.

Berbeda dengan Nyi Ageng Maloka, Ki Ageng Semu sedikitpun tidak menyinggung hal itu pada Sentanu. Sebab Ki Ageng Semu merasa yakin jika benar muridnya berjodoh untuk menemukan peninggalan Dharmapara, tak usah diberitahupun tentu akan mendapatkan. Maka Sentanu sedikitpun tidak mengetahui segala yang dimaui si gadis Mirah Sekar yang mencari kubur kakek guru mereka Dharmapara.

Tanpa disadari Sentanu dengan Mirah Sekar telah jauh dari tempat semula. Namun mereka masih belum mencapai dusun yang tadi terlihat. Bahkan kini mereka telah jauh benar dan rasa lapar semakin menggigit perut mereka. Namun keduanya masih tampak gembira dan tak sedikitpun terdengar mengeluh.

Pada suatu ketika dua orang muda itu mendekati suatu gigir jurang menganga yang ada dikiri mereka. Dan kini hanya jalan setapak saja tempat mereka berjalan membawa kudanya.

- Hati-hati, Sekar! _

Seru Sentanu. Namun Mirah Sekar malah melarikan kudanya lebih cepat. Ia bukan gadis penakut, maka kuda itupun mencongklang naik keatas dan tinggi. Wajah si gadis nampak merah dan bercahaya.

- Hayo kau kejar aku kalau mampu! Seru sigadis dari tikungan sebelah sana.

Sentanu menggelengkan kepala. Ia girang juga melihat kelakuan Mirah Sekar yang manja dan pemarah. Maka dengan mengeprak kudanya ia juga naik keatas melewati jalan sempit yang berbatu-batu terjal. Untunglah kudanya kuat dan gagah hingga tidak banyak mengalami kesulitan ketika berjalan naik.

Diatas. Sentanu melihat si gadis melambaikan tangan kearahnya. Maka ia mengejar dan mendekati gadis itu. Kini tak teringat agaknya mereka pada rasa lapar yang menyerang tadi. Sehingga matahari semakin tinggi, kedua anak muda itu masih berkejaran dengan gembira dan tertawa-tawa.

Sentanu terus mengikuti gadis naik keatas gunung yang tidak ia ketahui gunung apakah itu.

Namun hatinya mulai diterkam kecemasan ketika ia teringat pada kuwajiban dan niatnya ke Demak.

- Dimana kita berada sekarang? Bertanya ia pada si gadis Mirah.

- Mengapa kau tanya? Aku tak akan bisa menerangkan. _ Jawab si gadis. 

- Eh, apakah kau tak lagi merasa lapar?

Tanya Sentanu pula. Si gadis berhenti. Ia heran dengan pertanyaan itu. Namun segera berkata pula.

- Kau menyinggung lapar, jadi aku kini ingat lapar. Hayo kita turun, lihat dusun itu ada dibawah.

Tentu tidak jauh lagi. -

- Kau turun dulu!

Sentanu memerintah dan si gadis segera memutar kudanya berjalan turun pula. Namun ketika ia membalikkan tubuh itu. tiba-tiba Mirah Sekar menjerit kecil :

- Kau lihat!

Serunya seraya berhenti dan menuding kearah barat.

Sentanu menoleh mengikuti arah telunjuk Mirah Sekar yang menuding sebutir buah berwama merah darah berkilat menakjubkan. Sentanu ternganga heran, buah bulat berwarna meraih darah itu tergantung disebuah dahan kecil, menijorok ketengah jurang sekira tiga tombak, dari tepi.

- Buah apakah itu? -

Ia bertanya pada diri sendiri .Dan mataya tak lepas mengawasi benda bulat berwarna merah tadi.

Ia merasa belum pernah melihat buah semacam itu. Dan ketika Sentanu melirik pada Mirah Sekar, dilihatnya gadis itu menatap tanpa berkedip dan bibirnya menggeletar bergerak-gerak menyatakan kekaguman pada buah merah yang menakjubkan itu. Bulat merah halus, berkilat bersih dan menakjubkan benar.

- Kita ambil!

Seru si gadis seraya menoleh pada Sentanu.

- Buat apa? Sentanu bertanya.

- Tentu bukan obat lapar yang cocok untuk kita berdua. _ Mirah Sekar cemberut mendengar kelakar Sentanu.

- Kau ambilkan! -

Perintah gadis itu kemudian. Namun Sentanu tidak bergerak. Ia masih menatap buah itu dengan pandang mata kagmn.

- He, ayo kita ambil!

Si gadis berseru pula, hingga Sentanu sadar.

Tiba-tiba terlihat oleh keduanya sebatang bambu tertanam pada tepi jurang itu. Menjorok ketengah.

Sentanu melihat batang bambu itu menjadi heran, nampaknya batang bambu itu sengaja ditanam orang ditempat iu. Dan rupanya sengaja disediakan untuk orang yang hendak memetik buah merah tadi, karena panjang bambu itu persis sampai dibawah buah. Hingga jika orang mampu meniti batang 

bambu itu pasti akan mudah memetik buah merah yang menakjubkan itu.

Namun Sentanu berpikir. Melihat batang bambu yang telah penuh dengan lumut hijau dan licin. ia merasa bimbang untuk meniti dan mengambil buah itu. Dan lagi, bambu itu jelas, telah tertanam disitu dan jika kemudian ternyata bambu itu rapuh, maka nyawa orang yang berani mencoba menitinya pasti akan meluncur dan terjun kedalam jurang menganga yang tak terbayangkan dalamnya. Dan bisa dibayangkan batu-batu besar dibawah akan menerima tubuh orang itu dan melumatnya hancur menjadi debu didasar jurang.

- Tunggu dulu!

Sentanu berseru kaget ketika Mirah Sekar loncat turun dari kudanya dan nampaknya hendak meniti batang bambu itu memetik buah merah yang membuatnya mengilar.

- Cari galah untuk mengambil! _ Namun si gadis mencibirkan bibir.

- Kau takut? Aku yakin batang bambu itu kuat.

Mirah Sekar membantah. Namun Sentanu telah meloncat turun dan mencari kayu pohon yang sekiranya bisa dipergunakan memetik buah itu.

Akan tetapi Sentanu menjadi kaget ketika Mirah Sekar tidak mengindahkan kata-katanya. Ia telah meniti dengan lincah diatas batang bambu itu ketengah.

Sentanu berdiri mematung. Hatinya berdetak memukul dengan keras. Ia tahu Mirah Sekar adalah murid terkasih Nyi Ageng Maloka, maka sudah barang tentu kepandaiannya tidak rendah dan ia bisa memahami jika si gadis tidak menggubris nasehatnya, karena apalah sulitnya meniti galah bambu yang hanya tiga tombak panjangnya itu?

Namun Sentanu menduga bambu yang telah rapuh sebab termakan waktu diterkam hujan dan angin serta dibakar matahari.

Setindak dua tindak Mirah Sekar telah melangkah kemuka. Kini benar-benar ia berada diatas jurang menganga itu. Dan Sentanu berdebar keras hatinya.

Sebagai seorang yang telah mampu menyerap ilmu yang diturunkan Ki Ageng Semu, Sentanu dengan mudah saja akan mampu menguasai perasaan yang bergejolak. Namun ketika ia melihat Mirah Sekar meniti batang bambu licin itu hatinya melonjak dan jantung memukul lebih keras dari biasanya.

Batang bambu itu bergoyang, dan Mirah Sekar melangkah ke muka lebih maju. Dan kini tinggal selangkah lagi ia akan dapat meraih buah merah yang menggiurkan itu. Dan Sentanu menarik napas lega ketika tangan gadis itu berhasil meraih dan memetik buah merah yang menggantung diatas jurang. Namun ketika baru saja Mirah Sekar hendak melangkah mundur, tiba-tiba batang bambu itu berderak dan patah!

Dan Mirah Sekar tiba tiba menjerit keras, dan tubuhnya terbanting meluncur kedalam jurang dibawah.  - Sekaaaaaaaarrr ...... -

Sentanu menjerit bagaikan diterkam hantu dan ia meloncat kemuka. Namun Mirah Sekar telah hilang ditelan gelapnya jurang menganga yang tak terlihat dasarnya itu. Sentanu tak dapat membuka mulut. Dan sekonyong-konyong ia terbanting roboh pingsan ditempat itu.

Ketika matahari mulai meninggi dan kemudian awan gelap mengambang ditempat itu lalu turun hujan gerimis yang bagaikan ribuan jarum alit menusuki bumi, Sentanu terbangun dari pingsannya. Dan kudanya telah berada dekat dan menjilat jilat mukanya. Perlahan ia bangkit dan mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi.

- Sekar -....

Tiba-tiba ia teringat gadis yang telah lenyap dimangsa dalamnya jurang dekatnya itu. Ia ingin menangis, namun air matanya tak mampu keluar. Untunglah anak murid Ki Ageng Semu ini cepat bisa menguasai perasaan. Ia berdiri dan termangu-mangu menjatuhkan pandang matanya kebawah, dikedalam yang tak terkirakan dalam jurang itu. Lalu mata Semanu mencari jalan kalau-kalau ia bisa menemukan jalan menuju turun ke jurang itu dan mencari tuhuh Mirah Sekar yang tentulah telah hancur dibawah sana..

Tetapi Sentanu tidak dapat menemukan jalan untuk itu. Selebar matanya memandang, ia tak menemukan jalan yang kiranya bisa di pergunakan untuk menuruni jurang dan mengusut tubuh Mirah Sekar. Kecuali jika ia mampu menuruni lewat tebing dan gigir jurang yang banyak ditumbuhi semak dan rumput-rumput liar. Namun hal itu tak mungkin ia lakukan. ia tak dapat mengira bagaimana dinding jurang itu. Dan hatinya tak dapat mengukur kemampuan untuk menuruni jurang itu.

Untuk beberapa lama Sentanu masih berdiri termangu-mangu di pinggir jurang itu. Baru ia sadar ketika hujan semakin menderas, dan kudanya meringkik keras minta turun. Sebab sebentar lagi kabut pasti akan menyaput seluruh tempat itu.

Dengan perasaan berat Sentanu turun menuntun kudanya, sedang kuda Mirah Sekar ia ikatkan dibelakang kudanya sendiri. Tiga makhluk Tuhan itu berjalan turun, dan Sentanu tak sedikitpun terlihat gembira lagi. Keningnya berkerut, bahkan alisnya hampir bertemu dan kedua bibirnya terkatup rapat. Dengan tubuh basah kuyup. Sentanu berjalan menuntun binatang tunggangnya turun. Namun hawa dingin yang telah menusuk tubuh hingga tulang sungsum itu tak dihiraukan. Hatinya masih terpukul oleh kejadian yang baru saja ia alami itu.

Seakan tak percaya pada diri sendiri. Sentanu mengingat itu. Rupanya Mirah Sekar baru saja bergurau dan bergembira dengannya. namun kini telah hilang pula tanpa bekas. Sentanu rasakan bermimpi. Tetapi ketika ia pukul lengan sendiri, terasa lengan itu sakit, maka Sentanu menjadi kecewa, sebab bukan lagi mimpi yang ia alami.

Tidak terasa oleh anak muda ini, ia berjalan turun tanpa sadar, bahkan ketika hari telah kembali 

menjadi gelap. Sentanu tidak perdulikan. Ia terus melangkahkan kakinya turun dengan menuntun kuda kuda yang ada dibelakangnya itu. Sentanu tak lagi berpikir, ia tak lagi perdulikan apakah langkahnya tidak sesat ataukah ia bukan sedang melangkah kedalam jurang?

Sentanu tidak menghiraukan itu. Hatinya tak lagi dapat merasakan alam sekitar yang kini mengurungnya dengan kegelapan dan mengerikan.

Hujan makin menderas, nunun Sentanu tak merasakan hal itu.Jari jarinya yang kaku dan dingin memegang tali kendali kuda-kuda yang dituntunnya. Basah kuyup dan perut yang menjerit-jerit minta diisi tidak terdengar olehnya. Yang ada hanyalah bayangan Mirah Sekar terbanting kedalam jurang tadi. Dan bergantian bayangan mengganggu pikirnya. Ia teringat ketika melarikan gadis itu dari Kadipaten Wanabaya, lalu sewaktu datang gurunya menolong. dan terbayang pula ketika gadis itu melawan Adipati Wirapribrata. Lalu menyusul berturutan ketika ia berdua dengan Mirah Sekar ditepi sungai itu. Kemudian muncul kembali bayangan si gadis ketika meniti batang bambu diatas jurang.

Dan baveangan buah berwarna merah menghantui kepala anak muda ini. Bayangan buah merah yang menakjubkan itu kini terlihat oleh Sentanu bagaikan tangan iblis yang telah menarik si gadis. untuk turun terjun kedalam dasar jurang itu.

Sentanu telah semalam penuh berjalan turun dari atas gunung itu dan dua ekor kuda yang berjalan dibelakangnya, agaknya mengerti dengan kesedihan tuannya. Terbukti mereka tidak banyak rewel dan menurut diajak turun dari atas menembus hujan lebat yang menerkam-nerkam tanpa kasihan pada tubuh yang mulai kaku dan membiru.

Telah menjadi kodrat alam, bagi sesuatu makhluk dan segala yang ada dialam penglihatan maupun yang tersembunyi, tak dibolehkan melawan hukum yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Maka berlakulah ketentuan yang menggariskan sesuatu yang berani mencoba melawan hukum Yang Maha Kuasa dialam raya ini, maka dia akan hancur dan tergilas oleh hukum sebab dan akibat 'yang selalu berputar bagai mata rantai yang tak putus-putus dan tanpa berhenti. Maka akan berlakulah kekuasaan Yang Maha Kuasa yang telah menggariskan berputarnya segala isi alam ini sesuai dengan hukum hukum yang dibuatNya semenjak pertama menjadikan alam seisinya. Tak satupun berjalan tanpa poros dan jalur yang telah ditetapkan. Namun makhluk yang bernama manusia ternyata memperoleh perkecualian yang berbeda. Sejak manusia ada telah dibekali dengan kemampuan untuk menolak dan menentang hukum alam. Maka hanya manusia yang telah mengerti saja bisa berjalan pada jalur yang semestinya. Namun tak kurang pula yang sengaja dengan segala kesombongan melawan kehendak dan hukum Yang Kuasa.

Adakalanya seorang manusia harus menyandang papa dan penderitaan dari sebab yang tidak

dikehendakinya. Lalu ia melawan hukum kodrat dan memaksakan kehendak diri sendiri. Dan sudah barang tentu manusia yang demikian harus menyandang akibat dari perbuatan yang dilakukan.

Seperti halnya Sentanu, dengan tidak menghiraukan hujan lebat dan hawa dingin disaput 

kepedihan batin akibat kehilangan seorang yang tidak diduganya akan mengalami nasib seperti Mirah Sekar.

Betapapun tingginya kemampuan seorang murid Ki Ageng Semu yang telah menguasai banyak ilmu dan kekuatan yang sukar dicari banding namun ia telah tanpa sadar mamaksakan tubuhnya yang lemah untuk melawan keganasan alam yang terjadi ketika ia turun dari gunung menuntun kuda itu.

Apapun juga liatnya kulit dan kerasnya tulang, namun kehendak alam telah terjadi atas dirinya.

Perut yang kosong dan tubuh yang lemah,diseretnya dengan tidak mengingat akibat yang bisa menghancurkan diri sendiri. Maka ketika pagi hari baru ia berhasil turun dikaki gunung, tubuhnya telah membiru dan bibirnya yang gemetar membuat ia harus limbung, untuk kemudian roboh ketika serangan batin kembali menerkam mengingat Mirah Sekar. _

Baru ketika matahari semakin tinggi, muncul ditempat itu orang-orang pedusunan mencari kayu-kayu bakar. Dan ketika dilihatnya seorang muda menggeletak mereka segena memberikan pertolongan dan mengangkat tubuh yang lemah itu, lalu dibawanya kepedusunan digotong mempergunakan usungan kayu yang dibuat ditempat itu juga.

Sentanu sadarkan diri ketika hari kembali hampir gelap, namun tubuhnya masih amat lemah dan kepalanya terasa pening. Maka ia tetap berada didusun itu hingga beberapa saat. Dan sesudahnya lewat sehari kemudian baru ia menghaturkan terima kasih pada orang orang yang menolong dan berjanji kelak hendak membalas jika ia telah berhasil diterima menjadi tamtama di Demak.

Kini Sentanu telah kembali pulih badannya. Namun kesedihan hatinya tak akan hilang demikian mudah. Wajah Mirah Sekar selalu mengikuti kemanapun ia pergi.

Anak muda itu kini menunggang kudanya menuju kotaraja. Dengan kejadian hilangnya si gadis Mirah Sekar, membuat Sentanu tak lagi perdulikan sikap dan kebencian Tumenggung Santa Guna. Maka ia bedal kudanya berlari menuju Demak.

Angin bersiutan keras disisi tubuhnya ketika kuda itu bagaikan terbang berlari menuju ke arah selatan. Dan jika kebetulan ada orang melihat ia menunggang kuda demikian itu, mereka tentu akan terkejut dan heran. Menilik sandang yang dipakai orang akan menduga bahwa penunggang kuda adalah seorang jembel pengemis. Namun melihat geraknya melarikan kuda nampak ia bagaikan dewa dari langit dan lagi tombak panjang yang dibawanya menambah sikap Sentanu bertambah kelihatan gagah perkasa.

Kuda hitam itu terus berlari meluncur bagai anak panah lepas dari busur melesat keselatan. Dan sekali-kali terlihat Sentanu tubuhnya mumbul-mumbul mengikuti irama lari kudanya.

Hampir tengah hari nanti, baru kota Demak akan dicapainya. Dan kini ia merasa semakin dekat dengan niatnya itu.

Sentanu merasa cemas kalau kalau penerimaan tamtama di Demak telah selesai. Maka ia 

bandangkan kudanya menembus jalan berdebu keselatan. Dan kuda yang telah kembali segar itupun tak menyia-nyiakan harapan tuannya. Ia bawa kabur tuan itu dengan gerakan kakinya yang hebat dan bergerak tanpa kenal mengendur, lebih lebih untuk berhenti. Sentanu tidak melakukan itu.

Tengah hari benar ia telah memasuki kotaraja dan dengan mengurangi lari kudanya ia membawa binatang itu ke gedung Tumenggung Santa Guna menguji calon tamtama.

Sebelum masuk kota, sengaja Sentanu melumuri tombak Kiai Jalak Diding dengan abu dan kapur.

Karena ia masih sangsi jangan jangan tombak itu akan dikenal oleh prajurit Demak yang ada di gedung Tumenggung Santa Guna, bahkan siapa tahu Tumenggung itu juga mengenal senjata pusaka yang baru saja ia rampas dari gedung Pusaka itu.

Tiba dimuka regol, Sentanu menambatkan kudanya diluar, lalu ia bertindak kedalam memasuki gedung Tumenggung Santa Guna berada dengam pembantu pembantunya.

Dua orang prajurit loncat dan menghadang sambil menegur:

- Kau siapa dan mau kemana? _

- O, maafkan aku. Aku hendak menghadap tuanku Santa Guna. Jawab Sentanu dengan sikap menghormat.

Dua orang prajurit itu memandang dengan ragu-ragu. Dan Sentanu segera menyadari ketika prajurit-prajurit menatap pada pakaian ditubuhnya yang robek dan kotor compang camping. Namun ia diam saja. sampai ketika dua orang prajurit itu melepas ia untuk masuk lebih kedalam. Tumenggung Santa Guna yang duduk dengan angker ditempatnya didampingi Bagus Prana, berdiri tiba-tiba dan keningnya berkerut ketika dilihatnya seorang muda yang telah dikenal dengan pakaian compang camping bertindak masuk.

Tak usah dikata marah dan kaget hati Tumenggung ini melihat munculnya Sentanu yang melangkah dengan tenang dan sikap yang tetap hormat dan merendah.

Hampir saja Tumenggung itu memaki kalau tidak Sentanu mendahului membungkuk memberi hormat dengan dalam dihadapannya. Sedang Bagus Prana geram hatinya melihat munculnya Sentanu yang pernah merobohkan ia dalam pertandingan diruangan itu yang disaksikan oleh banyak punggawa. Namun ia diam saja menunggu Tumenggung Santa Guna mengucap.

- Heh, kau lagi! _

Berkata Tumenggung itu dengan masih mengerutkan kening.

- Mau apa pula kau datang kemari?

Sentanu yang telah menduga akan diperlakukan demikian tidak ambil perduli. Namun ia membungkuk sekali lagi dan berkata :

- Ampun tuanku, seperti yang telah hamba lakukan beberapa waktu berselang, hamba benar berhasrat menjadi tamtama di Demak.

- Dungu! 

Kata Tumenggung itu.

- Bukankah sudah diperintahkan untuk meninggalkan Demak? Tetapi ternyata kau masih berani mati datang kembali. Jangan mimpi! Kau tak akan dapat diterima dalam barisan..

- Tetapi tuanku, .....

- Cukup! Kau pergilah, atau kuperintahkan para pengawal menangkapmu sebagai pemberontak? _ Sentanu tidak menggubris. Ia berkata kembali.

- Tuanku, hamba membawa tanda cap kekuasaan dari tuanku Pangeran Trenggana yang telah mengijinkan hamba masuk menjadi tamtama.

Mendengar perkataan itu, Tumenggung Santa Guna kaget, lebih kaget lagi ketika Sentanu mengeluarkan tanda cap kekuasaan yang diterimanya dari Pangeran Trenggana

Untuk beberapa saat, Tumenggung itu tidak mampu mengucap. Mukanya pucat bagai kertas putih.

Hatinya cemas bukan main. Karena jika Raden Trenggana telah memberikan tanda kekuasaan pada anak muda itu, maka jiwanya akan terancam. Dan akan terbongkarlah akal busuknya.

- Kalau anak ini telah menceritakan segalanya pada Pangeran Trenggana maka akan celakalah aku Pikir Tumenggung itu.

- Karena perintah dari Pati Unus mencari seorang muda bernama Sentanu telah dipalsukan. Namun bukan Tumenggung Santa Guna kalau tidak segera cepat menggunakan kelicinannya dengan membentak lebih keras .

- He! jadi sekarang semakin tampaklah kelicikanmu. Kau telah berusaha mengadu pada Pangeran Trenggana dan mengaku aku telah ditolak oleh Tumenggung Santa Guna, tetapi jangan kau kira aku akan takut!

Sentanu kembali memberi hormat dan bergegas menjawab :

- Ampun tuanku, hamba bukannya mencari tuanku Pangeran untuk mengadu, melainkan hamba kebetulan saja berjumpa dengan tuanku itu. Sedang sedikitpun hamba tidak memburukkan nama tuanku Santa Guna, menyebut namapun hamba tidak pula pada Tuanku Trenggana. -

Mendengar penuturan demikian, Tumenggung Santa Guna girang bukan main.

- Jadi kalau begitu belum menyebut nama maka Pangeran tak mengetahuinya. Bagus. Maka dengan tiba-tiba Tumenggung itu berkata.

- Baiklah, aku kagum dengan tekad dan kemauanmu yang keras. Ditolak berkali-kali kau tetap berusaha untuk meraih keinginanmu. Itulah sesungguhnya ujian paling berat bagi calon Seorang prajurit tamtama yang berjiwa kuat dan baja. Nah, kau kini kuterima. Tetapi dengan syarat

- Apakah syarat itu, tuanku? Hamba akan memberikan asal mampu hamba lakukan.

- Tidak berat, tidak berat. Nah perlu kau ketahui terlebih dahulu bahwa tindakanku mengusirmu, semata-mata adalah berdasar niat menolong jiwamu juga. Ketahuilah, tuanku Pati Unus telah 

mendapat mimpi buruk ketika hendak mempersiapkan penyerangan ke Majapahit itu. Tuanku Pati Unus mimpi bertemu lawan berdarah Sunda. Nah, bukankah kau benar seorang berdarah Sunda?

Sentanu menjadi heran. Ia merasa belum pernah sedikitpun menceritakan asal-usul yang sebenarnya, namun ternyata Tumenggung Santa Guna telah mengetahui. Maka ia percaya benar dengan perkataan Tumenggung licin lidah itu.

- Oleh karena itulah kau bisa turut dalam barisan, tetapi kau jangan memperlihatkan dirimu yang sebenarnya, ganti namamu dengan nama yang pernah kau pergunakan dulu. Kau masih ingat nama Sumantri? Pakailah nama itu. Sedang untuk sementara menyembunyikan dirimu agar tidak diketahui oleh tuanku Pati Unus dan panglima Aria Teja. kau kutempatkan dalam barisan tentara menyediakan ransum. _

Tidak ada pilihan lain, dan terdorong oleh rasa girang diterima, Sentanu menyanggupi hal itu. Namun ia tidak menduga bahwa pandangan prajurit lain yang mendengar keputusan Tumenggung demikian itu memaki dalam hati dan menyesalkan tindakan Tumenggung Santa Guna. Sebab mereka yang telah mengenal kepandaian anak muda itu ketika bertempur dengan Bagus Prana hanya ditempatkan daeam barisan tukang masak yang tidak mengerti tata tempur dimedan. Tetapi tak seorangpun membuka mulut. Siapa berani mati mencela perbuatan Tumenggung Santa Guna?

Bertepatan dengan diterimanya Sentanu dalam barisan itu, Baginda Pati Unus telah mengeluarkan perintah untuk segera membawa tentara cadangan yang telah berjumlah ribuan ditambah prajurit-prajurit ini untuk segera berangkat ke timur.

Tumenggung Santa Guna menerima perintah itu dari panglima Aria Teja yang telah memangku kuwajiban sebagai panglima perang dalam penyerbuan ke Bangwetan dan Majapahit itu.

Segera terlihat kesibukan besar-besaran di Demak.

Sementara itu Pamasa dan Wijaya yang telah berada lebih dahulu, ketika mengetahui Sentanu diterima dan ditempatkan dalam barisan tukang masak, mereka berdua segera menghadap Tumenggung Santa Guna dan menyatakan hendak berkumpul dengan Sentanu dalam barisan tukang masak itu.

Tumenggung Santa Guna tidak berkeberatan, permintaan mereka dikabulkan. Maka Sentanu kembali berkumpul dengan dua saudara angkat itu.

Mereka bertiga merasa gembira.

- Kang Sentanu. Kata Pamasa.

- Aku lebih merasa senang berada dibarisan ini daripada tidak berkumpul denganmu. Tak apa mereka menganggap kita rendah tidak mengerti tata tempur dan ulah keprajuritan, bukankah mereka semua telah mengetahui kita justru unggul dibanding para senapati yang ada itu? _

Setelahnya segala persiapan untuk berangkat selesai, Panglima Aria Teja menyampaikan perintah 

dari Adipati Unus agar tentara yang dibawah kekuasaan Tumenggung Santa Guna segera berangkat lebih dulu. Sesudah tentara itu berangkat terlebih dahulu, baru Raja Demak akan menyusul dengan disertai beberapa panglima lain.

Tumenggung Santa Guna memerintahkan pasukannya berangkat dan berderaplah barisan Demak memenuhi sepanjang jalan menuju timur dengan didahului pengawal berkuda, tentara itu bergerak bagai tak habis-habisnya, seakan semut yang keluar dari liang tanpa putusnya.

Tumenggung Santa Guna berada dibarisan belakang dengan pengawalan kuat .Tumenggung ini didampingi oleh Bagus Prana dan anak-anaknya yang lain, berdiri dengan sikap angker dan nampak benar ketinggian hatinya. Tumenggung Santa Guna adalah seorang prajurit yang berpengalaman, dimasa mudanya ia bagaikan seorang yang tak dapat di lawan. Maka ketika ia melihat barisan Demak yang panjang dan ribuan itu, hatinya menjadi besar dan dadanya membusung. Tumenggung ini yakin barisan yang dipimpin pasti akan dapat menghancurkan lawan. Iapun ingin Majapahit segera hancur kemudian Pajajaran baru akan diserang. Namun dalam pada itu, Tumenggung ini diam-diam juga memikir-mikir adanya Sentanu dalam pasukannya. Tumenggung Santa Guna bertanya-tanya dalam hati.

Apa sebenarya yang akan terjadi dengan anak muda itu?

Jika ia mengingat ramalan, yang menyebutkan orang bernama Sentanu itulah yang telah ditakdirkan akan memenangkan peperangan dengan Raja Majapahit, hati Tumenggung Santa Guna menjadi ciut. Sebab jika benar demikian, maka ia tak akan dapat membangun jasa, dan keinginan untuk memberikan kedudukan pada Bagus Prana tak akan dapat terjadi. Tetapi, melihat agaknya Sentanu memang bukan orang sembarangan, terbukti Tumenggung ini yang menyaksikan sendiri ketika anak muda itu melawan Bagus Prana, ia jauh menang unggul. Maka Tumenggung Santa Guna mencari akal sebaik-baiknya guna menyingkirkan anak muda itu. Tiba-tiba ia tersenyum sendiri ketika dalam pikirannya berkelebat satu rencana yang dianggapnya bagus. Pati Unus sengaja memerintahkan tentara itu untuk berangkat lebih dulu bukan tidak ada maksud yang telah direncanakan. Tumenggung Aria Teja mengetahui bahwa di wilayah hutan di muka, terdapat gerombolan rampok yang terkenal kejam dan kuat. Tak satu negeripun pernah berhasil menghancurkan sarang gerombolan dihutan itu. Sedang menurut prajurit sandi yang dikirim untuk mengendus mereka, Tumenggung Aria Teja mengetahui gerombolan yang jumlahnya ratusan itu ternyata berpihak pada Majapahit dan sengaja ditanam di hutan untuk mengganggu orang-orang Demak.

Ratusan telah menjadi korban gembolan itu. Pernah Demak mengirim utusan untuk membujuk

mereka dan menakluk, namum utusan itu kembali nama saja. Mereka habis ditumpas oleh gerombolan dihutan itu. Maka, seraya mengirim tentara itulah Pati Unus memerintahkan untuk sekaligus menghancurkan sarang gerombolan yang kuat dan ditakuti itu. 

Tumenggung Santa Guna sengaja tidak diberitahukan akan adanya bahaya lawan di hutan itu.

Maka dengan tenang ia berjalan membayang-bayangkan peperangan yang bakal timbul jika tentaranya tiba di Bangwetan.

Setelah berjalan berhari-hari dan beberapa kali bermalam di perjalanan, maka pada akhirnya barisan itu tiba dan beberapa saat lagi mereka akan segera melintasi hutan berbahaya sarang lawan yang belum diketahui dengan baik.

Lima pal dari hutan itu Tumenggung Santa Guna memerintahkan tentaranya berhenti dan membuat tenda-tenda guna beristirahat dan menunggu datangnya Pati Unus yang akan datang disertai para panglima yang lain.

Seorang kepala pengawal menjadi terkejut ketika Tumenggung Santa Guna memerintahkan berhenti itu. Dengan agak gugup kepala prajurit itu berkata :

- Tuanku. mengapa tuanku memerintahkan tentara berhenti disini? Bukankah ini wilayah berbahaya sarang gerombolan rampok yang ditakuti? _

Tumenggung Santa Guna memandang kepala prajurit pengawal itu dengan muka merah.

- Hm, kau tahu siapakah yang berkuasa dalam barisan ini?! Aku ataukah kau sehingga kau hendak mencoba menentang perintah?! -

Kepala prajurit itu makin pucat.

- Ah tuanku, hamba hanya memperingatkan di hutan yang dimuka itu adalah sarang gerombolan.

Mereka kuat dan berbahaya. Bukankah tuanku Pati Unus pernah mengirim tentara untuk menghancurkan mereka, tetapi tak satupun berhasil pulang kembali. ..

Tumenggung Santa Guna terkejut juga mendengar perkataan kepala prajurit itu. Ia masih kurang percaya, maka dipanggilnya kepala prajurit lain dan ditanyakan kebenaran perkataan kepala prajurit itu.

- Setahu hamba memang benar tuanku, disitulah gerombolan yang memihak lawan bersarang dan kerapkali mengganggu dan membunuh kawula.

Tumenggung Santa Guna terdiam. Hatinya mulai merasa tak enak. Meskipun ia bukannya merasa takut, sebab dengan membawa ribuan tentara. gerombolan itu tak akan mampu bertahan.

Tetapi apakah barisan yang dibawanya hanya dipersiapkan untuk membasmi gerombolan kecil dihutan itu saja?

Rasanya kurang tepat. Tetapi untuk memutar jalan sudah tak mungkin, apalagi perintah dari Aria Teja harus menunggu ditempat itu, maka untuk beberapa saat Tumenggung ini tidak dapat berkata. Ia berpikir keras mencari cara sebaik-baiknya untuk menyelesaikan hal itu. Dan sesudah

menimbang-nimbang beberapa saat akhirnya Tumenggung memerintahkan Bagus Prana untuk membawa seratus orang prajurit menuju hutan itu dan membasmi mereka.

Tumenggung Santa Guna sengaja memilih anaknya untuk maju menyerang sebab ia ingin Bagus 

Prana bisa terlihat dan dapat membangun jasa, karena Tumenggung ini memperhitungkan dengan seratus prajurit, Bagus Prana tentu akan dapat membasmi mereka.

Maka dengan menunggang kuda Bagus Prana maju dan membawa seratus tentaranya menuju hutan itu dengan sikap sombongnya. Ia ini tak ubahnya bagai Tumenggung Santa Guna sendiri, selalu menganggap rendah pada lawan-lawan yang hendak diperanginya, karena merasa diri sendiri berilmu tinggi dan pilih tanding.

Namun sedikitpun tak diduga oleh Bagus Prana, bahwa kedatangannya menuju hutan jauh sebelum mendekati telah terdengar oleh kepala begal tiga bersaudara. Maka tiga orang kepala begal hutan itu keluar dengan membawa lima orang anak buahnya. lalu memerintahkan seluruh anak buahnya mengosongkan hutan dan memencar ke segala jurusan.

Kecerdikan kepala begal yang telah berpengalaman menguasai hutan itu tidak diperhitungkan oleh Bagus Prana yang dengan dada membusung melarikan kudanya diiringi prajurit Demak yang gagah berani. Suara kaki kuda mereka berderap mengaduk debu di sepanjang jalan. Dan ketika mereka telah melintasi bulak panjang dan kering, tibalah mereka dimulut hutan yang telah terlihat keangkerannya.

Bagus Prana memerintahkan prajuritnya berhenti. kemudian memerintah mereka menantang perang dan mengajak gerombolan itu keluar hutan.

Tiga orang prajurit maju mendekati hutan, lalu mereka ini berseru menantang perang. Tetapi mereka menjadi heran, tak sedikitpun terdengar suara balasan dari dalam hutan itu. Mereka berpandangan. Laln diulang dengan lebih keras tantangan itu. Masih tak terdengar sahutan dari dalam.

- Hutan itu kosong. Desis Bagus Prana

- Ya, kita tertipu oleh kepala pengawal itu. Kata prajurit lain.

- Gila, hayo kita periksa kedalam!

Bagus Prana memberi tanda prajuritnya agar masuk kedalam hutan. Maka segera terdengar derap kaki kuda memasuki hutan itu melewati jalan kecil memanjang yang terdapat di hutan.

Ketika mulai berada dalam hutan, mereka tak menemukan sedikitpun tanda-tanda bahwa disitu menjadi sarang gerombolan.

- Mungkin di dalam. - Desis Seorang prajurit pula

- Hayo masuk! -

Terdengar kembali perintah Bagus Prana memerintahkan prajuritnya untuk masuk lebih ke dalam. Hati Bagus Prana menjadi lega ketika mengetahui hutan itu ternyata kosong. Maka untuk 

menyombongkan keberaniannya, ia yang merasa yakin hutan itu tak ada begal, maka ingin memperlihatkan keberanian dengan menyuruh masuk.

Namun ketika para prajurit itu baru saja hendak masuk lebih ke dalam, sekonyong konyong terdengar suara sorak sorai riuh rendah yang menggemuruh dan ratusan anak panah melesat menyerang dengan tidak diduga. Maka prajurit Demak yang menjadi terkejut itu mencabut senjata dan menangkis dengan repot hujan anak panah yang tidak diketahui tiba-tiba saja telah mengurung mereka dari berbagai jurusan.

- Hiiyyaaa...mampus! Bunuh

Prajurit-prajurit yang dipimpin oleh Bagus Prana menjadi tak mampu bertahan dengan baik. Ratusan hujan anak panah terus membanjir tidak putus-putusnya menembus dari celah pohon dan dari berbagai jurusan. Namun sampai sejauh itu masih belum terlihat munculnya gerombolan penyerang, karena mereka melancarkan serangan panah dari tempat-ttmpat terlindung yang telah dipersiapkan baik-baik. Puluhan prajurit segera berjatuhan. Mereka tak mampu balas menyerang karena lawan tidak terlihat. Hanya dengan membabi buta dan asal saja mereka melempar tombak dan panah kesegala arah. Namun tentu saja tindakan itu sia-sia. Hujan panah gerombolan masih menyerbu dengan deras dan semakin gencar. Bagus Prana berloncatan dan menggunakan pedangnya menangkis hujan panah itu. Namun tak urung pundaknya telah kena tertembus dua batang panah lawan hingga darah mengalir dari luka itu. Agaknya merasa tak akan mampu bertahan pula, maka Bagus Prana memerintahkan prajuritnya untuk mundur dan keluar dari hutan pula. Tetapi terlambat, yang dapat menyelamatkan diri hanya separuh dan itupun mereka susah payah menyeret

kawan-kawannya yang terluka. Lalu kabur kembali keluar hutan. Bagus Prana membedal kudanya

berlari keluar dengan menahan sakit akibat luka pada pundaknya. Tetapi agaknya mereka masih beruntung, bahwa gerombolan itu tidak mengejar lebih jauh, karena agaknya mereka juga memperhitungkan dan khawatir jangan jangan tentara Demak akan menyerang seluruhnya. Dan yang mereka cemaskan jika tentara itu benar menyerbu masuk dalam jumlah besar, tentu saja betapapun kuatnya gerombolan, pasti akan dapat dihancurkan juga.

Maka masih mujur Bagus Prana dapat lolos dengan selamat.

Tumenggung Santa Guna kaget melihat tentaranya kembali dengan menyandang kerugian dan menderita luka-luka berat. Tetapi Tumenggung ini selalu tidak mau menyadari kesalahan sendiri bahkan ia membentak kepala prajurit yang memberikan laporan adanya gerombolan itu .

- Kau sudah gila rupanya. Mengapa tidak kau katakan kekuatan mereka begitu kuat dan sukar dijatuhkan? Kalau kita tahu tentu akan kita kirim kekuatan lebih besar.

Kepala prajurit itu terdiam dengan hati mendongkol. Tak masuk pada akalnya Tumenggung yang mendampratnya demikian rupa. Sebab dimuka ia telah memberitahukan gemmbolan itu adalah 

gerombolan kuat yang sukar ditaklukkan. Namun ia diam saja. Tak berguna membantah Tumenggung Santa Guna yang hanya akan memancing kemarahan saja.

Semenjak menderita kekalahan prajuritnya itu Tumenggung Santa Guna selalu marah tanpa sebab, Kini ia mudah memaki anak buah dan pembantunya. Hatinya gelisah bukan main, sebab jika sampai hal itu diketahui oleh Pati Unus, tentulah ia akan mendapat marah dan ditegur. Tumenggung ini tahu watak Raja Demak yang keras dan disiplin itu.

Santa Guna berpikir keras. Jika ia perintahkan membawa prajurit lebih banyak, maka tentu ia lebih merasa malu jika hal itu di dengar oleh Pati Unus dan Arya Teja. Lagi pula kekuatan tentaranya bukan disediakan untuk membasmi gerombolan. Melainkan di sediakan guna menggempur Majapahit. Dan jika terjadi sebagian tentaranya rusak oleh gerombolan yang telah membuktikan kehebatannya itu, maka Tumenggung ini akan merasa lebih rugi dan kecewa.

Ketika tengah bingung dan buntu pikir itu, tiba-tiba berkelebat dalam pikiran Tumenggung ini untuk mencoba majukan Sentanu dengan dua saudara angkatnya yang ada dibarisan tukang ransum. Maka diperintahkan seorang prajurit memanggil tiga orang muda itu.

Sentanu muncul diiringkan Pamasa dan Wijaya. Dan ketika ketiganya mendengar perintah Tumenggung Santa Guna untuk menggempur lawan menjadi girang.

Bagi Pamasa dan Wijaya lebih girang lagi, karena telah terlalu lama mereka tidak memainkan senjata menghadapi lawan. Maka tanpa banyak bertanya ketiganya telah menyanggupi hal itu.

- Kalian pergilah bertiga! -

Perintah Tumenggung Santa Guna. Yang mendengar jadi pucat dan terkejut. Bertiga?!

Mereka anggap Tumenggung itu sudah menjadi gila. Bagus Prana ynga membawa seratus prajuritpun masih kembali dengan menderita luka dan hampir putus nyawa, kini Sentanu hanya diperintahkan menyerbu bertiga tanpa prajurit pengawal yang lain. Tetapi tak seorangpun berani mencela perintah itu.

Namun demikian, Sentanu tidak perdulikan segala yang terdengar ditelinganya itu. Ia segera minta diri, lalu dengan menunggang kuda hitamnya ia bertiga dengan Pamasa dan Wijaya melarikan binatang itu menuju hutan yang berada disebelah muka tempat kubu prajurit Demak itu.

- Kang Sentanu. -

Berkata Pamasa ketika mereka telah keluar dari tempatnya.

- Aku merasa Tumenggung itu sengaja hendak menjerumuskan kita. -- Sentanu melengak heran.

- Apa maksudmu? ia bertanya.

- Aku mendengar Bagus Prana yang sombong itu kembali dengan luka berat ketika membawa 

seratus prajurit menyerbu sarang gerombolan itu. Dan kita hanya bertiga, tanpa seorangpun prajurit.

- Memang bangsat Tumenggung licik itu! - Wijaya memaki.

- Kelak jika ada kesempatan tentu hendak kubikin keluar isi perut Tumenggung itu.

Sentanu tidak segera menjawab. Ia dapat memahami kemarahan saudara-saudaranya. Namun sesudah berdiam beberapa saat ia berkata :

- Sudahlah, tak berguna kita mengumpat. Kita cari jalan bagaimana baiknya agar kita berhasil menumpas gerombolan itu.

- Eh, kang Sentanu. Berkata pula Pamasa.

- Kau ingat bukan? Aku dulunya juga adalah kepala begal. Maka aku merasa yakin mereka tentu mempergunakan cara jebakan memancing lawan masuk ke hutan. Kuyakin itulah yang menjadi Sebab Bagus Prana harus menerima kepahitan.

- Ia sombong, tentu dengan gegabah mengajak tentaranya masuk kedalam hutan. Jadi kita harus mencari akal.

- Sesukamu Pamasa! Kau yang paling tahu dengan tata tempur yang biasa digunakan mereka Kata Sentanu seraya menggerakkan tombak Jalak Diding yang dibawanya.

- Kita berhenti dulu ditempat ini!

Pamasa berseru dan Sentanu berdua Wijaya mengikuti, lalu mereka berloncatan turun dari atas kuda. kemudian menuju sebuah pohon beringin besar yang ada disitu.

- Kang Sentanu. - Berkata pula Pamasa.

- Jika kita nekat menyerang gerombolan itu, kita tentu akan banyak mengalami kesulitan.

Salah-salah kita bisa jadi korban, dan tak kembali dengan nyawa utuh. Jadi kita pancing kemarahan kepala begal itu sebab dengan demikian tentu ia akan maju ditempat terbuka. Kita pancing agar ia keluar hutan. Sebab jika kita tidak menggunakan cara ini, kau bisa bayangkan akibatnya. kang!

Sentanu mengangguk-angguk mendengar pendapat saudaranya

- Lalu?

-Ya, kita usahakan menimbulkan kemarahan mereka. Kita tunggu dan bikin tempat untuk istirahat tidak jauh dari hutan mereka. Dan kita tak usah membuat gerakan apapun untuk menyerang. Tentu mereka akan melihatnya.

- Eh. kau merasa yakin mereka akan bisa melihat kita? - Bertanya Sentanu.

- Tentu saja. Mereka telah membuat pertahanan dan pengaturan tempat jaga yang mampu mengawasi sampai beberapa pal sekitar hutan mereka. Jadi tak heran jika mereka telah melihat 

kedatangan lawan dari luar.

Sentanu mengangguk tanda mengerti. Tetapi masih ada yang belum jelas padanya. Maka ia bertanya kembali :

- Lalu maksudmu? -

- Itulah, jika kita bertiga sudah membuat tempat istirahat tidak jauh dari tempat mereka, tentu akan terjadi kepala begal itu memerintahkan orang-orangnya mengusir kita atau berusaha merampok harta yang dikiranya pejalan jauh. Bukankah kita tidak mengenakan pakaian keprajuritan?

-

Sentanu menengok pakaiannya, ia tersenyum sendiri melihat pakaian tukang masak yang dipakai.

- Sukur jika kepala begal sendiri yang datang hingga kita bisa membekuknya di tempat terbuka.

Tetapi jika yang muncul anak buah mereka, kita tangkap salah seorang lalu kita perlakukan untuk memancing kemarahan mereka. Tentu, kang. Jika mereka benar bisa kita bikin marah, tentu akan keluar dan menyerbu kita. Nah. bukankah kita bisa menghadapi mereka diluar hutan? -

- Eh kang Pamasa. - Wijaya menyela

- Kalau mereka datang dalam jumlah banyak? Padahal kita hanya bertiga. -

- Tak apa. Kita bukan penakut. Kendatipun mereka berjumlah banyak, lebih bagus kita melawan diluar hutan daripada dalam hutan.

Sentanu menganggukkan kepala. Ia memuji kecerdikan saudaranya. Maka sesudah perembugan dilakukan dengan lebih matang, ketiganya menunggang kudanya kembali dan melarikan mendekati hutan dimuka.

- Kita merasa tidak lagi terlalu jauh,

Pamasa memilih sebuah tempat dibawah pohon besar ditepi jalan lalu minta saudaranya mencari ranting dan kayu serta daun-daunan. Mereka membuat gubug kecil ditempat itu. Yang dalam waktu singkat telah berdiri gubug yang di buat dengan tali pelepah pohon pisang sebagai pengikat kayu dan ranting yang dipergunakan.

Pamasa bersenyum melihat gubug itu kini berdiri dengan kuat. Maka kuda yang mereka bawa ditambatkan dekat gubug itu. lalu ketiganya masuk dan tidur-tiduran seraya memasang mata dan telinga kalau-kalau ada tanda-tanda anak buah gerombolan yang muncul.

Namun sampai hari berganti gelap, masih tak terlihat seorangpun keluar dari hutan itu. Tapi ketiganya bersabar dan menunggu pula.

- Entah kapanpun, pasti ada yang keluar. Kata Pamasa.

- Kita tidur bergantian menjaga dan melihat-lihat sekitar tempat ini. 

Sentanu ternyata jatuh pulas terlebih dulu. Ia nampak lelah dan lelap dalam tidurnya. Sedang Pamasa tersenyum melihat saudaranya segera tenggelam dalam tidur.

Ketika esoknya matahari menyorotkan sinarnya menerpa gubug mereka. ketiga orang muda itu telah terbangun. Mereka bergantian menuju sungai kecil yang tidak jauh ada ditempat itu. Lalu sesudahnya membersihkan diri, ketiganya kembali berbincang dan mengatur rencana menghadapi gerombolan di hutan itu.

- Tak seorangpun keluar.

Kata Wijaya. Tetapi Pamasa menyatakan keyakinan bahwa suatu saat tentu akan keluar juga.

Ditunggu, kemudian ketika matahari makin meninggi masih belum terlihat ada tanda-tanda akan keluarnya gerombolan di hutan itu.

Sementara itu didalam hutan kepala begal marah-marah. Ia telah melihat adanya tiga orang membuat gubug tidak jauh dari luar hutan. Semula dikiranya hanyalah orang-orang yang hendak bepergian. Maka diperintahkan anak buahnya mencegat dan merampas barang bawaan tiga orang itu.

Tetapi kepala begal menjadi kecewa ketika diberitahukan tiga orang yang membangun gubug diluar hutan tidak nampak membawa barang berharga, bahkan kelihatan mereka adalah orang-orang miskin dengan pakaian robek. Maka dibiarkan saja mereka hingga sehari semalam berada ditempat itu

Namun ketika esok harinya mereka menduga tiga orang itu pasti akan meninggalkan tempat melanjutkan perjalanan, tapi ternyata dugaan itu meleset. Sampai ketika matahari mulai meninggi dan panas telah membakar sekitar tempat itu ketiga orang yang membuat gubug itu masih belum pergi, kepala begal menjadi merah.

- Kurang ajar, apakah mereka belum tahu kita berkuasa disini? Hayo kalian usir mereka! Dan diperintahkan tiga anak buahnya keluar hutan untuk mengusir tiga orang itu.

Sentanu yang tadinya telah dijangkiti perasaan jemu menunggu, sebab matahari telah mulai miring ke barat pula, bersorak dalam hati ketika dilihatnya tiga orang begal keluar dengan membawa golok telanjang mendatangi.

- Kita mulai kang Sentanu. Jangan bunuh mereka, tapi tangkap dan serahkan padaku ketiganya.

Pasti beres. -

Kata Pamasa.

Ketiganya pura-pura mendengkur dalam gubug dan menunggu tiga orang begal itu lebih mendekat.

Tiba-tiba ketiganya mendengar bentakan keras mengguntur dan gubugnya roboh ambruk menimpa mereka:

- He bangsat kecil! Apa maumu berdiam disini? _ 

Sentanu tertiga merangkak bangun pura-pura terkejut. Namun mereka menatap tiga begal itu dengan berani.

- He, mengapa kau melotot, ha?! -

Salah seorang begal membentak Wijaya seraya tangannya terayun memukul anak muda itu. Tetapi tentu saja ia bukan lawan Wijaya yang berkepandaian, maka ketika tangan hitam besar itu melayang memukul Wijaya tidak menghindar tapi gerakkan tangan dengan lebih cepat menangkap lengan begal itu, lalu tanpa diduga oleh lawannya, Wijaya telah memutar lengan itu seraya mengerahkan kekuatan sepenuhnya dan......

- Kraaak!

Terdengar tulang patah dan begal itu menjerit ngeri lalu mundur memegang lengannya yang terkulai sakit bukan main. Rasa nyeri itu rasanya menembus sampai kedalam jantung hingga ia meringis hebat menahan sakit.

Kawannya melihat kejadian itu, kaget, namun cepat kedua begal yang lain mengayunkan golok besarnya kearah Sentanu dan Pamasa

Sentanu dan Pamasa, adalah orang-orang yang telah mumpuni dan matang dalam ilmunya, maka dua orang begal kecil itu mana mampu melawan Pamasa yang pernah memimpin ratusan begal dulunya. Maka begitu dua golok mereka mengayun deras, kedua orang muda itu menggeser kaki sedikit, tanpa setahu lawan, tiba-tiba saja kepalan Sentanu telah masuk kedalam ketiak lawan kanan kiri, hingga tangan begal itu tiba-tiba merasa lumpuh dan sakit. Dan kedua tangannya segera terkulai pula mengikuti kawan yang terdahulu.

Sedang Pamasa berbuat lain, ia sengaja memperpanjang pertempuran untuk permainkan lawannya. Ia loncat mundur. Tentu saja lawannya mengejar dan loncat mengayunkan senjatanya.

Namun Pamasa yang sudah menduga lawan akan berbuat demikian tiba-tiba menggelundung maju dan kedua kepalan tangannya menyerang kedua paha begal itu. Dan terdengarlah jerit panjang ketika begal itu merasakan sakit pada pahanya yang disusul oleh melayangnya tubuh berdebug sejauh lima tindak tanpa mampu bangkit. Mukanya meringis menahan sakit. Ketika ia mencoba bangun dirasa kakinya telah lumpuh.

Pamasa segera bertindak cepat. Ia keluarkan barang-barang yang telah disiapkan sejak lama. Ia sergap mereka, lalu Pamasa mencoreng muka ketiga begal itu dengan angus hitam berisi tulisan tantangan dan makian pada kepada begal. Lalu dengan diikat kuat-kuat dua Orang begal diperintahkan menggendong kawannya yang terluka hebat pada pahanya. Dengan susah payah mereka menuruti kemauan Pamasa lalu kembali masuk kedalam hutan dengan menggendong kawan yang terluka yang diikat pada punggung salah seorang diantara mereka.

Sudah barang tentu kepala begal menjadi meradang dan marah ketika Ketiga orangnya kembali 

dengan coreng moreng pada muka berisi tulisan tantangan dan penghinaan benar-benar memancing kemarahannya.

- Kita bunuh mereka agar tahu siapa kita disini! Tuanku.

Tetapi ketika pembantunya hendak memanggil anak buah yang lain Kepala begal itu menggerakan kaki menghajar pembantunya itu

- Kau jangan gila! kau kira aku takut menghadapi mereka bertiga.? Memalukan melawan tiga kunyuk kecil dengan ratusan orang. Minggir! Kita bertiga keluar dan hajar mereka.

Dua orang pembantu dekatnya segera bersiap, lalu Kepala begal itu dengan diikuti dua orang pembantunya berloncatan keluar menuju gubug tiga orang muda yang telah roboh itu.

Ketika Kepala begal melihat tiga orang muda yang tengah membenahkan gubugnya yg roboh dan rusak akibat perbuatan orang-orangnya, menjadi heran juga. Dari jauh tidak nampak ketiganya adalah orang-orang muda tampan yang masih amat muda usia. Dan ketika dekat, Kepala begal itu bertambah heran. Ternyata mereka berpakaian tukang masak.

- Tentu orang Demak. Pikir Kepala begal itu.

Namun Wijaya rupanya menjadi tak sabar melihat tiga orang begal itu telah loncat maju dan menyerang salah seorang diantara mereka seraya berkata kepada Sentanu

- Kang Sentanu, yang itu bagianmu. Kita berhasil memancing Kepala mereka yang bodoh ini!

Sentanu juga tertawa melihat tingkah kedua saudaranya. Dan ia segera memutar tombaknya menyerang Kepala begal yang terlihat amat marah sekali.

- Kalian menyerahlah. --

Seru Kepala begal itu seraya menangkis tombak Sentanu. Tetapi ia jadi kaget ketika senjatanya beradu dengan tombak itu, tenaganya membalik dan hampir saja ia terpental kebelakang kalau tidak segera bergerak mengikuti lontaran tenaganya sendiri.

- Bagus! Rupanya kau memang berisi juga.

Kepala bagal itu memuji sambil balas menyerang lawannya dengan memutarkan senjatanya lebih cepat dan menerjang kemuka.

Kali ini Sentanu tak mau berlama-lama berurusan dengan Kepala begal itu. Lebih-lebih ketika dirasa lawannya tidak terlalu berat. Sentanu menggerakkan tombaknya dengan cepat bagai kitiran ia menyapu lawannya itu. dan terus mendesaknya hingga lawan hanya mampu mundur-mundur atau berloncatan. Tombak ditangan Sentanu mengeluarkan angin suara bersiuran menderu-deru dan gerakan senjata itu terus menerus menindih Kepala bagal yang menjadi terkejut mengetahui lawannya ternyata adalah seorang yang berilmu tidak rendah.

Ketika Sentanu melirik kedua saudaranya, ia tersenyum. Pamasa dengan Wijaya ternyata telah mendesak lawan-lawan mereka dengan lebih hebat dari dirinya. Agaknya Pamasa benar-benar 

gembira bisa mengadu senjata dan lagi kedua begal itu ternyata bukan lawan berat bagi keduanya hingga seperti Kepala begal sendiri merekapun mulai terdesak.

Agaknya benar seperti yang diduga oleh Pamasa, mereka tak akan mampu berbuat banyak ditempat terbuka. Maka lambat atau cepat mereka tentu akan segera jatuh oleh ketiga orang itu.

- Kang Sentanu, kita tangkap mereka hidup-hidup dan kita buat mainan menarik! Terdengar Pamasa berseru.

Ketika tiga orang begal itu mulai terdesak hebat, tiba-tiba Kepala begal bersuit keras.

Sentanu terkejut mendengar suitan itu. Dan dugaannya terbukti. Sebab begitu mendengar suara suitan itu, dari dalam hutan berdatangan puluhan orang anak buah begal yang membawa senjata golok dan pedang. Maka kini pastilah akan segera terjadi pertumpahan darah ditempat itu. Sentanu menjadi bimbang. Ia tak ingin terjadi pertumpahan darah lebih banyak. Maka ia mencari jalan sebaik-baiknya untuk menghindari itu.

- Lekas kerjakan!

Terdengar kembali seruan Pamasa. Sentanu tahu maksud saudaranya itu, maka ia gerakkan tombaknya dengan lebih cepat dan mendesak Kepala begal itu.

Pada suatu saat senjata Kepala begal itu kena dibikin terpental dari tangan, lalu ia pukulkan gagang tombak kepaha lawannya, dan ... begal itu segera roboh terguling. Sentanu loncat maju kemudian meringkus dan menjepit leher Kepala begal dengan tombaknya. 

- Berhenti semua!

Sentanu berteriak keras pada anak buah mereka yang bermunculan dari dalam hutan.

- Hayo kau perintahkan orang-orangmu menyerah atau kepalamu terpaksa harus dipindah dari tempatnya! _

Kata Sentanu pada Kepala begal itu.

Kepala begal itu pucat. Tak diduganya ia akan kena diringkus dengan mudah oleh lawannya yang masih muda. Namun untuk melawan ia tak mampu pula. Maka dengan suara berat, ia berseru

- Kalian menyerahlah. '

- Perintahkan mereka membuang senjatanya! Perintah Sentanu pula

- Buang senjatamu! -

Berdentangan suara pedang dan golok yang dibuang

- Panggil keluar semua orangmu, awas jangan seorangpun tersisa! Kalau aku tahu masih terdapat orangmu yang tidak keluar, maka kau akan rasakan akibatnya.

Kata Sentanu pula.

Maka segera berdatangan orang-orang dari dalam hutan yang di panggil keluar oleh

kawan-kawannya. Tentu saja mereka takut pada Kepala mereka, maka dengan takut mereka telah 

keluar tanpa membawa senjata apapun.

- Kita bawa sekarang Kang Sentanu? -

Bertanya Pamasa dengan tertawa. Dan Sentanu mengangguk kemudian dengan cepat ia ikat tubuh Kepala begal itu dan Pamasa berdua Wijaya menggiring orang-orang hutan itu dan diperintahkan mereka untuk berjalan maju, lalu Pamasa dan Wijaya loncat ke punggung kuda mereka, menggiring perampok-perampok itu. Sedang Sentanu menaikkan Kepala begal itu keatas kudanya, baru ia loncat dan duduk dibelakang.

Seratus tigapuluh orang begal kini berjalan digiring Pamasa dengan dua saudaranya menuju tempat tentara Demak membuat kubu dan mendirikan tenda tendanya.

- Kalau kau mau menjadi orang baik-baik, maka nyawamu tentu selamat, aku dengan tuanku Pati Unus amat berbudi dan suka memberi ampun pada orang sesat yang mau kembali pada jalan benar. -

Kata Sentanu pada Kepala begal yang ditawannya itu.

Namun Kepala begal itu tidak menjawab. Hatinya masih panas. Baru kali ini ia kena dibikin tidak berdaya. Dan celakanya justru anak buahnya tak Seorangpun berani berkutik. Mereka terlanjur takut dan taat pada Kepala mereka, sehingga ketika Kepala begal telah tak berdaya, tak seorangpun berani membuka mulut atau melawan. Hingga dengan mudahnya mereka digiring tiga anak muda itu.

Pamasa diam-diam menjadi geli juga. Tak ia duga rencananya akan demkian mudah terjadi.

Namun dalam hati Pamasa merasa heran juga. Bagaimana mereka tak melawan? -

- Benar-benar kerbau saja.

Pikir Pamasa. Sedang Sentanu terlihat masih berkuda dengan Kepala begal yang nampak marah dan mukanya kelihatan lebih seram dan menakutkan. Agaknya jika bisa tentu ia akan bikin hancur lumat anak muda yang duduk dibelakangnya itu.

Beberapa saat lagi mereka akan tiba di tempat prajurit -prajurit Demak mendirikan tenda dan menunggu datangnya Sentanu.

Dalam pada itu, Tumenggung Santa Guna telah tidak lagi mengharap akan datangnya Sentanu dengan dua orang saudara angkatnya. Mereka telah mengira tiga orang itu tewas ditangan begal dihutan itu. Sebab ketika malam hari telah lewat, mereka belum terlihat kembali, sampai ketika siangnya kembali masih belum terlihat muncul pula maka mereka pastikan ketiganya telah tewas.

Namun alangkah terkejutnya para prajurit ketika melihat munculnya banyak orang berbondong ke tempat mereka dengan kepala tunduk dan ketakutan. Dan rasa heran mereka semakin bertambah ketika dilihat Sentanu dengan dua saudaranya berada diantara orang orang itu dengan tersenyum dan tertawa-tawa. Lebih-lebih Pamasa yang terlihat lucu ketawa sendiri menggiring gerombolan itu bagai menggiring binatang ternak.

Tumenggung Santa Guna melengak dan kaget ketika Sentanu menyerahkan Kepala begal dengan 

orang-orangnya itu, dan segera merekapun dimasukkan kedalam kurungan sebagai tawanan.

- Inilah tuanku., Kepala begal itu. -

Kata Sentanu pada Tumenggung Santa Guna. Dan Tumenggung itu menatap Kepala begal dengan tajam.

- Kalian tunggu keputusan tuanku Pati Unus untuk menentukan nasib kalian. He, masukkan orang ini kedalam kurungan bersama kawan-kawannya!

Perintah Tumenggung itu pada seorang praJurit.

Namun ketika itu tiba-tiba muncul Bagus Prana, yang tanpa berkata telah menyerang Kepala begal yang dalam keadaan terikat kedua tangannya itu. - Plak! Bug! ....

Bertubi-rubi Bagus Prana melancarkan pukulan pada Kepala begal itu hingga yang diserang jatuh tergulingan dan mengeluh pendek. Mulutnya mengalirkan darah.

Sentanu sungguh merasa tidak senang dengan perbuatan Bagus Prana yang demikian itu. Namun ia diam saja mengawasi tindakan tidak ksatria itu.

Tiba-tiba Bagus Prana melolos sebuah cambuk besar yang agaknya ia sembunyikan sejak tadi dibalik bajunya. Lalu ia gerakkan cambuk itu dan bertubi-tubi kini cambuk itu meledak-ledak menghajar Kepala begal yang jatuh bergulingan pula tanpa dapat melawan.

Agaknya Bagus Prana masih belum puas dengan perbuatan demikian. Tiba-tiba ia minta sebatang tombak prajuritnya yang berdiri dekat situ, lalu dengan berseru marah ia maju memukulkan tombak itu.

- Kau harus mampus perampok busuk!

Dan gagang tombak itu telah mengenai punggung Kepala begal yang terikat kedua tangannya itu, hingga kembali tubuh Kepala begal terlempar kedepan bergulingan.

Bagus Prana loncat pula dan mengayunkan tombaknya kearah leher orang itu yang agaknya pasti akan segera tewas jika gagang tombak itu mengenai leher atau kepalanya.

Wijaya semenjak tadi telah mengepalkan tangan dengan geram. Dalam hati ia memaki tindakan Bagus Prana yang pengecut. Sebab jika tidak dalam keadaan terikat dan takut, Bagus Prana tak akan mungkin mampu melawan Kepala begal yang berilmu tinggi itu. Sedang tadipun jika bukan Sentanu yang menangkapnya, pastilah meskipun Wijaya berdua maju dengan Pamasa masih belum tentu berhasil menangkap Kepala begal itu.

Namun Bagus Prana menjadi kaget ketika ia gerakkan gagang tombaknya, terasa dengan

tiba-tiba ada sesuatu yang menahan dengan kuat. Ternyata Sentanulah yang melakukan. Ia tak tahan melihat kekejaman Bagus Prana menyiksa Kepala begal yang tidak berdaya. Maka Bagus Prana menjadi marah ketika mengetahui siapa yang berbuat. Dengan muka merah dan mata melotot ia membentak.

- Hei,. kau berani mampus melawanku? Minggir, biar kubereskan bangsat ini! 

Dan Bagus Prana mencoba membetot tombaknya yang terpegang oleh Sentanu. Namun tentu saja tenaganya tak akan mampu melawan kekuatan Sentanu yang menjepit tombak itu dengan kuatnya.

- Lepaskan!

Bagus Prana menjerit. Namun Sentanu tidak menggubris.

- Kasihan tuanku, ia telah menyerah dan tak dapat melawan.

- Bangsat! Kau lepas atau tidak?! -

- Mohon ampun tuanku, hamba minta tuankulah melepaskan tombak ini agar dapat hamba bawa.

Bagus Prana meluap marahnya, tiba-tiba ia gerakkan tangan kirinya memukul muka Sentanu.

Akan tetapi Sentanu yang telah menjadi mendongkol dan gemas dengan kelakuan Bagus Prana yang pengecut. Maka ketika Bagus Prana benar tak melepaskan tombaknya bahkan tangan kirinya memukul mukanya, anak muda ini bergerak cepat, dan tiba-tiba Bagus Prana terbanting dengan hebatnya dan ia merangkak bangun dengan mulut berdarah membentur tanah.

Tumenggung Santa Guna meradang dan marah hebat..

- ..He, apa yang kau lakukan ini? Kau sudah ingin mampus sampai berani menyakiti anakku ? -' Sentanu hampir saja membuka mulut, tetapi lebih duluan Pamasa telah loncat maju, dan dengan kedua tangannya yang kuat, ia angkat tubuh Bagus Prana yang merangkak dengan susah payah itu.

Dan diberdirikannya tubuh Bagus Prana kemudian diseret kemuka Tumenggung Santa Guna dan Pamasa berkata keras

- Tuanku Tumenggung yang berbudi, hamba mohon tuanku tidak menjadi marah pada saudara hamba. Bukankah anakmu inilah yang pengecut menyiksa orang tidak berdaya seenak perut sendiri? Nah, tuanku, bukan hamba hendak mencari penyakit, kini hamba telah mengetahui orang macam apa anakmu ini. Maka kalau ia tidak bersumpah untuk tidak mengganggu lagi pada orang lemah, maka hamba akan lupakan kebodohan sendiri dan melupakan keselamatan jiwa, hamba akan bikin hancur tulang kaki putra paduka ini. Hayo kau minta ampun padanya!

Dan Pamasa mendorong tubuh Bagus Prana yang terlempar kemuka Kepala begal yang telah berdiri kembali.

Bagus prana menjadi geram dan marah. Namun ia tak akan berdaya menghadapi anak muda yang telah ia ketahui keunggulannya itu.

- Bangsat, hayo kau minta ampun!

Pamasa berseru marah dan loncat maju dan

- Plak! Plak!

Bagus Prana kembali terbanting ketika tamparan Pamasa bersarang dikedua pipinya.

Para prajurit dan pengawal berdebar debar melihat kejadian itu. Mereka baru saja dibikin kagum 

oleh kehebatan tiga orang tukang masak itu yang berhasil menggiring gerombolan yang mereka takuti. Dan kini ketiganya telah dengan berani pula memukul Bagus Prana dihadapan Tumenggung Santa Guna bahkan memaki-makinya. Maka hebatlah kejadian itu. Meskipun dalam hati mereka memihak pada Sentanu dan saudaranya sebab sejak lama merekapun benci dan tak suka pada Bagus Prana yang sombong dan kejam. Maka ketika kini Bagus Prana diperlakukan demikian, mereka girang juga.

Tumenggung Santa Guna menjadi marah. namun ia tak berani bertindak keras, sebab selain telah mengetahui tiga orang yang ia tempatkan dalam barisan tukang masak itu berilmu tinggi, juga bisa ia mengalami kerepotan jika ketiganya melawan padanya.

Sentanu yang membawa cap kekuasaan dari Raden Trenggana tidak dapat ia singkirkan demikian saja. Maka Tumenggung Santa Guna harus berpikir hati-hati. Namun ketika mengetahui ketiganya dengan amat mudahnya membikin takluk gerombolan dihutan itu, kini timbul pikiran baru pada Tumenggung ini. Ia akan perlakukan ke tiganya sebagai orang-orang yang dapat diambil manfaatnya. Tetapi biar mereka tetap dibarisan belakang menyediakan ransum bagi tentara yang lain. Hanya jika tenaga mereka dibutuhkan maka akan dimajukan melawan musuh. Maka Tumenggung Santa Guna tidak berbuat apapun ketika Bagus Prana diperlakukan demikian. Hanya setelah beberapa saat ia berseru:

- Cukup! Kalian kembali ketempat masing-masing. Biar kelak Tuanku Pati Unus memberikan keadilan pada orang-orang itu.

Namun Pamasa berkata menyahut.

- Baik, hamba bertiga akan kembali tuanku. tetapi jika hamba masih mendengar tuanku Bagus Prana berbuat keji dan pengecut pada orang-orang ini, maka hamba bersumpah akan merobek-robek perut Bagus Prana anakmu yang tampan itu. -

Lalu Pamasa bertindak meninggalkan tempat itu, kemudian diikuti Wijaya dan Sentanu berjalan pula menyeret tombaknya. Agaknya ancaman Pamasa benar membikin kaget mereka yang mendengar. Tetapi hampir setiap prajurit yang ada ditempat itu bersorak girang dalam hati. Mereka memuji keberanian tiga bersaudara itu.

Dengan timbulnya hal itu, maka segera tersiar hampir diseluruh perkemahan dan dalam Waktu singkat hampir semua prajurit telah mendengar kejadian yang menggemparkan itu. Mereka jadi kagum dan ingin melihat tiga tukang masak itu.

Namun Sentanu dengan Pamasa dan Wijaya tidak mengacuhkan perhatian mereka. Bahkan ketika kawan-kawannya di dapur mendengar kejadian itu mereka berebutan memeluk dan menciumi Sentanu bertiga dengan kawan-kawannya itu dan mengangkatnya, mengarak keliling tempat mereka.

Sementara itu setelah tak ada lagi lain orang, Tumenggung Santa Guna menegur Bagus Prana yang dianggapnya kurang perhitungan. 

- Kau tak usah melawan mereka dengan kekerasan. Kata Tumenggung itu.

- Tak usah mereka diganggu pula. Biarkan apa yang hendak mereka perbuat. --

- Tetapi ayah. - Sahut Bagus Prana

- Mengapa ayah tidak mengusir pergi saja mereka itu? Bukankah kehilangan mereka bertiga kita tak akan mengalami kerugian?

- Bodoh! Kalau Sentanu mengadukan pada Pangeran Trenggana dan pangeran itu tahu siapa dia, maka aku akan dicopot dari kedudukan ini. Kau kira Aria Teja yang kini menjadi Panglima perang, ia berwatak keras dan tindakannya tak dapat dihalangi. jika ia telah mengetahui pula perbuatan kita menyembunyikan anak itu, maka bukan saja aku akan kehilangan kedudukan, tetapi bisa pula kehilangan kuasa. Sudahlah, kau ikuti saja perintahku. Kita sembunyikan mereka di dapur umum dan kelak jika tuanku Pati Unus tiba aku akan bikin laporan pada Aria Teja bahwa kaulah yang berhasil membikin takluk gerombolan di hutan itu.

Bagus Prana menganggukkan kepala mendengar rencana Tumenggung Santa Guna yang demikian.

Hingga kendatipun hatinya dibakar oleh dendam dan amarah, ia tak lagi dapat membantah.

Dalam pada itu ketika tentara Demak masih berada ditempat itu maka disebuah tempat lain yang jauh dari situ terjadi periatiwa lain yang sungguh tidak diduga oleh Sentanu.

Mirah Sekar yang terbanting terjun kedalam jurang, ketika sesaat ia merasakan tubuhnya melayang kebawah telah menjerit kaget hingga jeritan itulah mengejutkan Sentanu ketika itu. Namun Mirah Sekar yang tergolong berilmu, cepat sadar dengan apa yang terjadi. Ia berusaha berputar ketika melayang turun dengan deras. Tetapi lontaran kuat tak berhasil ia kuasai hingga tubuhnya terus melayang dengan derasnya kebawah. Hanya saja berkat kehebatan si gadis ia masih memiliki kesadaran kuat dan meskipun tahu didasar jurang tubuhnya akan hancur namun ia tidak menjadi takut sedikitpun.

Namun ketika tubuhnya telah meluncur sedalam tigapuluh depa, Mirah Sekar menjadi terkejut bukan main, sebab tubuhnya tibatiba tertahan oleh sesuatu hingga karena kagetnya ia tak dapat menguasai gerak luncur tubuhnya hingga tangan kirinya terkilir kena timpa tubuhnya sendiri. Lalu sesuatu yang menahan tubuhnya itu bergoyang-goyang dengan hebat. Mirah Sekar masih belum mengetahui benda apakah yang menahan tubuhnya, sebab ia menjadi pingsan dengan tiba-tiba.

Akibat luncuran yang kencang dan terbanting tanpa diduga pada sesuatu yang menahan tubuhnya itu membuat kepalanya pening dan berkunang-kunang hingga ia tak sadarkan dirinya.

Beberapa lamanya Mirah Sekar masih belum ingatkan diri. Namun ketika turun hujan lebat ditempat itu. ia jadi terbangun dan sadar kembali. Bersamaan dengan turunnya Sentanu ke bawah. Mirah Sekar telah siuman dari pingsannya. Namun hari telah menjadi gelap benar. Sekalilingnya 

hanya warna hitam kelam. Mirah Sekar heran, ia merasakan tubuhnya tergantung pada sesuatu yang menahan tubuhnya. Dan ia mencoba mengingat kembali kejadian ia meniti batang-batang bambu diatas jurang tadi hingga terjun kebawah. Dan ketika Mirah Sekar mencoba meraba benda yang menahan itu.

ia menjadi heran. Ternyata adalah sebuah jaring dari bahan lentur dan basah. Hingga kini ia berada dalam jaring yang agaknya sengaja dibuat orang dan dipasang disitu. Dan ketika ia meraba dengan teliti ternyata tubuhnya telah berada dalam jaring yang membungkus seluruh tubuhnya hingga pantas ia jadi terayun-ayun. sebab jaring yang dianyam dari bahan tali kuat dan basah itu memilki daya membal yang membuatnya bergoyang manakala ia menggerakkan tubuh.

Mirah Sekar jadi merasa geli, ia bayangkan dirinya bagai harimau yang kena jebakan pemburu atau bagai Seekor ikan besar dilaut yang masuk kedalam jala seorang nelayan. Gadis itu tidak merasa takut sedikitpun. Ia masih ingin tau apa yang terjadi kemudian. Ketika ia gerakkan tangannya, ia menjerit kecil. Tangan itu ternyata telah terkilir dan sakit. Maka ia tak berani menggerakkan tangan itu kembali. Dan si gadis lantas berdiam diri. Tubuhnya kedinginan ditimpa hujan lebat yang masih turun. Si gadis membayangkan Sentanu yang tentu menjadi bingung dan cemas. Dan ketika mencoba melihat keatas, matanya tak dapat mencapai tebing diatas itu karena tinggi dan gelapnya.

Dengan sabar Mirah Sekar menunggu hari menjadi siang kembali, dan ketika hujan telah berhenti semalam. kini pada pagi harinya matahari menyinari kembali sekitar tempat itu, Mirah Sekar bisa melihat dengan jelas sekitarnya. Ternyata benar ia terjaring oleh sebuah jala besar yang dibuat dari tali yang liat dan basah, kini tergantung diantara bumi dan langit bagai seekor burung dalam sangkar diatas kerekan. Sekar mencoba memandang keatas, namun pandangannya terhalang oleh semak dan pepohonan yang banyak terdapat ditebing jurang lagi pula ia tergantung jauh dibawah tigapuluh depa. Sedang ketika ia mencoba melirik kebawah, terlihat dasar jurang yang samar-samar sebab pandangannya juga masih terhalang oleh semak dan tetumbuhan yang melebat di tebing jurang itu.

Tiba-tiba Mirah Sekar merasakan perutnya berkeruyuk dan lapar. Teringatlah ia sejak kemarin memang belum terisi perut itu. Maka Sekar menahan rasa perih dalam perutnya yang terasa dingin dan kosong. Ia tunggu apa yang akan terjadi, karena untuk turun ia tak akan mampu apalagi kembali keatas.

Pada tengah hari kemudian, Mirah Sekar merasakan jaring yang membungkus tubuhnya itu bergerak-gerak. Ia menjadi heran. Namun diam dan ia tak bergerak sedikitpun. Akhirnya Mirah Sekar menjadi kaget dan bertambah heran ketika jaring itu sesudah bergerak beberapa kali, kini turun dengan perlahan-lahan kebawah. Dan Sekar merasakan ada seseorang yang telah melakukan itu.

Sedikit demi sedikit, kini tubuhnya terus meluncur turun kebawah, dan ketika ia perhatikan 

ternyata jaring yang membungkus tubuhnya itu tergantung pada sebuah cabang pohon besar dan seutas tali besar dipergunakan orang untuk mengereknya turun dari atas itu. Mirah Sekar berdebar juga hatinya mengalami kejadian itu, ia tidak dapat menduga, apakah makhluk dibawah yang tengah mengereknya turun itu juga manusia?

Apakah didasar jurang dalam itu terdapat manusia?

Mirah Sekar benar tak dapat menjawab sendiri pertanyaan itu. Namun ia telah bersiap sedia.

Meskipun tangan kirinya sakit dan bengkak, jika makhluk dibawah itu berniat mencelakakan dirinya, maka ia akan mengadu jiwa.

Lama juga ia dalam keadaan terayun-ayun diantara Bumi dan langit itu, dan rupanya untuk menuju kebawah lebih jauh dari jaraknya ketika ia terjatuh dan masuk kedalam jala. Maka Mirah Sekar banar-benar harus menahan diri dan berhati-hati. Ia kadang masih harus merasa khawatir kalau-kalau tali panjang yang dipergunakan mengerek tubuhnya itu putus maka tentu ia akan terbanting kedalam jurang. Namun untunglah hal itu tidak terjadi juga.