Mencari Tombak Kiai Bungsu Jilid 04

Jilid 04

- KAU mengapa jadi begini dan mengkhianati saudara sendi.ri -

Adipati Wilapribrata terus bertanya sambil berloncatan menghindarkan serangan si gadis.

- Tutup mulutmu! Kau tak pantas dihadapi. Kini jangan pandang rendah lagi terhadapku.

Menyerahlah untuk kuserahkan pada Kang Taruna dan kau mengaku dosa baru kemudian kucincang tubuhmu di alun-alun sebagai pengewan-ewan. -

Namun Wilapribrata mana mau menyerah begitu saja ?

Hanya ia merasa tak mengerti dengan kejadian yang rasanya hanya terjadi dalam mimpi. Sebab si gadis yang kini tengah mendesak hendak meringkus Wilapribrata hidup-hidup itu adalah Mirah Sekar. Maka sudah barang tentu kini si gadis yang dahulunya diketahui sebagai gadis lemah, telah berubah tanpa diduga menjadi seorang berilmu yang malah berhasil mendesaknya dalam perkelahian itu.

- Sekar, berhentilah, dengan perhataanku ! - Wilapribrata berseru.

- Tutup mulutmu ! Kau harus kutangkap hidup-hidup untuk kuhadapkan pada kang Taruna! Jawab Sekar seraya terus melancarkan serangan pada saudara sendiri itu.

- Ah sekar, sadarlah ! Taruna tak akan mampu datang kemari.. dan lagi ia tentu sudah mati ditangan orang -

Jawab Wilapribrata.

Mirah Sekar tertawa mengejek.

- Kau takut mendengar nama kang Taruna? -Ketahuilah, sekarang kang Taruna sedang menghancurkan kadipaten ini, kau tunggu saja. -

Wilapribrata terus berloncatan menghindarkan serangan-serangan Mirah Sekar yang tak mampu lagi ia hadapi dengan baik. Maka jika beberapa waktu yang lalu adipati ini masih dapat menepuk dada menyombongkan ketinggian ilmunya dan berhasil menguasai kadipaten Wanabaya, maka kini ia tak lagi berarti dihadapan Mirah Sekar yang telah menerima didikan dari Nyi Ageng Maloka.

Ketika itulah ditempat itu muncul Taruna dan Sentanu diiringkan prajurit-prajurit yang telah berpihak pada Taruna.

Wilapribrata terkejut melihat seluruh orangnya berbalik pikir mengkhianati dirinya. :

- Hei kalian pengecut gila semua, apa artinya semua ini ? - Teriaknya pada prajurit-prajurit itu.

- Ampun Gusti, kami telah menemukan junjungan yang berkhianat.

- Gila, kalian ingin aku mampuskan dengan berani berkhianat? -

Tetapi tak terdengar lagi jawaban, semua yang ada ditempat itu telah memperoleh ketetapan hati. Lagipula sebenarnya dalam hati kecil mereka kadangkala harus memberi kekejaman Wilapribrata. Maka hanya prajurit-prajurit yang benar-benar setia padanya saja yang masih bertahan 

mati-matian. Tetapi yang inipun tak bertahan lama, sebab kekuatan Taruna dengan prajurit-prajurit itu tak dapat diimbangi. Sedang dengan adanya Sentanu disitupun membuat mereka tak berdaya sama sekali.

Taruna yang muncul agak belakangan kaget melihat Wilapribrata tengah mengadu kekuatan dengan seorang gadis. Tetapi ketika diperhatikan ia menjadi kaget :

- Sekar

Serunya ketika mengenal gadis itu adalah Mirah Sekar. '

- Tunggu disitu kang Taruna, aku hendak selesaikan tikus licik dan Kejam ini. Jawab si gadis seraya terus mendesak Wilapribrata.

Sentanu tak kurang pula rasa herannya melihat kehadiran Mirah Sekar yang tidak diduganya.

Diam-diam ia merasa kagum melihat ketegaran gadis itu. Matanya yang awas tahu si gadis tak akan membutuhkan batuan maka ia diam saja menyaksikan perkelahian itu dari kejauhan.

- Sekar, jangan kau habisi jiwanya jika kakang Wilapribrata mau bertobat ! - Taruna memperhatikan perkelahian itu.

- Diam bangsat kecil! -- Seru wilapribrata marah.

- Aku tidak sudi menerima kebaikan budimu yang rendah itu

Taruna terdiam. Ia sayangkan jika saudaranya itu masih hendak mencari permusuhan dengannya.

Tetapi tiba-tiba :

- Buk ! Buk! -terdengar suara berdebug keras ketika kepalan tangan Mirah Sekar berhasil masuk kepinggang dan dada Wilapribrata.

- Sekar, kau tega membunuh saudaramu ? -

Terdengar Wilapribrata berkata lemah ketika ia terpental kena benturan serangan itu.

Mirah Sekar menggigit bibir, ia sebenarnya tak sampai hati menurunkan tangan pada saudara itu. Namun mengingat kekejaman Wilapribrata padanya ia menjadi keras hati juga.

- Sekar tahanlah dirimu! -

Berkata pula Taruna yang melihat Wilapribrata agaknya tak akan mampu melawan.

Adipati Wilapribrata untuk sejenak terhenyak dilantai. Matanya memandang pada Mirah Sekar dengan pandangan minta dikasihani. Dan sigadis, bagaimanapun keras hatinya, namun ketika pandangannya bertemu dengan pandangan Wilapribrata yang demikian jadi luluh dan runtuh rasa dendamnya pada saudara tuanya. Sehingga untuk beberapa saat Mirah Sekar masih terdiam memandang Wilapribrata yang kini merangkak mendekati dirinya, sedang keris pusakanya masih tergenggam ditangan kanannya.

- Kau benar bertega hati membunuh saudaramu, Sekar ? - Berkata Adipati itu dengan terbata-bata. 

- Kalau memang kau telah bulat dan niatmu untuk melenyapkan nyawaku, maka bunuhlah Sekar!

Aku tak akan melawan pula. Nah kau bunuhlah, cabut senjatamu dan tikamlah aku ! '

Wilapribrata berkata demikian seraya mendekati Mirah Sekar dan menengadahkan dadanya dengan terbuka.

- Kau bunuhlah aku Sekar!-.

Namun Mirah Sekar masih berdiri termangu-mangu dengan hati bingung. Dan tiba-tiba ia menekap mukanya sendiri lalu menangis terisak-isak. Hatinya diterkam rasa saling bertentangan. Mengingat kekejaman saudaranya itu mau rasanya ia mencabut nyawanya seketika itu juga, tetapi teringat waktu kecil Wilapribrata seringkali mengajaknya bermain dan menggendong dirinya, Sekar jadi tak sampai hati untuk menjatuhkan tangan mautnya. Maka terjadi perang hebat dalam hati si gadis. Ia bimbang, dan kini hanya menangis sedih tanpa berbuat apapun. Mukanya masih tertutup oleh tapak tangannya yg mulai basah oleh air matanya yang mengalir deras.

-Kakang Wilapribrata. -

Terdengarlah kemudian suara Taruna memecah kesunyian itu.

- Kau sebenarnya harus sudah bertobat sejak lama. Aku tahu kakang, kaulah yang ikut berkianat dengan pemberontak di Banyuwangi, hingga ayah sendiri tewas oleh tanganmu. Tapi masih beruntung kau menggantikan ayah menjadi Adipati. Dan sesudahnya kau menyekap Sekar dalam cengkeraman tanganmu tanpa kenal kasihan, masih juga memburu dan hendak membunuhku. . Untung aku berhasil lolos dari tangan jahatmu.Kini kau bertobatlah. aku dan Sekar akan menyudahi perselisihan ini.

Sedang kau tetaplah memerintah kadipaten Wanabaya. Biar, aku dengan Sekar merebut kadipaten Banyuwangi dari tangan orang orang yang tidak berhak atas kadipaten itu.

Mendengar perkataan demikian, Mirah Sekar semakin terisak isak ia membalikkan tubuh berlari keluar meninggalkan mereka semua.

Taruna kaget hampir saja ia susul saudara perempuan itu. Namun Sentanu telah bergerak lebih dulu menyusul si gadis.

Ketika itulah terjadi hal yang tidak mereka duga. Adipati Wilapribrata sekonyong-konyong menerkam Taruna dan mengayunkan kerisnya kelambung Taruna dengan hebat.

Taruna kaget. Ia tak menduga akan diserang demikian. Maka cepat ia berkelit dan loncat menyingkir. Sedang prajurit yang menyaksikan menjadi marah, maka mereka maju mengurung adipati itu.

- Majulah jika kalian ingin mampus !

Berseru Adipati Wilapribrata seraya mengacungkan senjatanya. Maka tak satupun diantara para prajurit itu berani mendekat, sebab mereka tahu kehebatan Adipati Wilapribrata. Jadi mereka hanya mengurung dengan hati berdebar.

Taruna berloncatan dan balas menyerang Wilapribrata yang terus merangseknya dengan 

tikaman-tikaman berbahaya. Adipati itu beranggapan sesudah Sekar dan Sentanu meninggalkan mereka tentu saja Taruna akan mudah ia lenyapkan. Dan dugaan itu tidak meleset. Taruna yang semenjak dahulu belum mampu menyamai kepandaian Wilapribrata menjadi terdesak dan kerepotan. Ia jadi melawan dengan susah payah keringat mulai bertetesan dari keningnya.

Sementara itu Wilapribrata berpikir lain, ia khawatir Mirah Sekar dan Sentanu muncul kembali, maka ia kerahkan seluruh kemampuannya dan keris pusakanya menyambar-nyambar dengan dahsyat.

Pada suatu saat Taruna kena termakan pukulan Adipati Wanabaya itu tubuhnya berputar akibat kuatnya tenaga lawan. lebih lagi Wilapribrata telah mengerahkan Segenap kekuatan dan kesaktiannya hingga ketika Taruna masih belum kembali keseimbangannya akibat kena gempuran itu, adipati Wanabaya loncat dan menerjang dengan kerisnya mengarah dada Taruna yang terbuka.

Taruna terkejut, ia masih melihat berkelebatnya senjata Wilapribrata kedadanya, maka ia membanting diri kebelakang untuk menghindarkan serangan itu. Namun Wilapribrata agaknya memang hebat dan cepat Karena segera ia memutar arah Serangan. Dan tak urung kini paha Taruna kena sambaran keris itu hingga seperti perkelahian di Banyuwangi dahulu Taruna roboh terguling kena sambaran senjata itu. .

Tiga orang prajurit Wanabaya loncat menyerbu hendak menolong Taruna. Tetapi hanya dengan beberapa kali gerakan kaki, tiga orang prajurit itu terpental jauh membentur dinding kena tendangan adipati Wilapribrata.

Adipati itu segera bergerak pula, ia sambar tubuh Taruna yang terluka hebat pada pahanya itu dengan keris menghunjam dada.

Namun ketika hampir saja kurang sejengkal senjata Wilapribrata bersarang dalam dada Taruna, sebuah bayangan berkelebat muncul dan tanpa dapat dicegah bayangan itu yang bukan lain adalah Sentanu memukul keris ditangan Adipati Wilapribrata hingga terpental jauh dan sekaligus Sentanu melancarkan serangan dengan dua kepalan tangan maju berbareng.

Karena cepatnya serangan Sentanu itulah Adipati Wilapribrata tidak sempat mengelak hingga tubuhnya terjengkang dan terbanting kelantai. Namun cepat ia bangun pula dan menerjang dengan marah.

- Bangsat kau harus mampus!- Serunya.

- Ah kau manusia tidak kenal budi, kita buktikan siapa yang harus membayar mahal semua ini. -

Sahut Sentanu dan tanpa menunggu bergerak pula menyerang Wilapribrata dengan bertubi tubi.

Adipati itu kini benar harus menghadapi lawan berat kembali, ia telah merasa payah ketika bertempur melawan Sekar, dan kini menghadapi Sentanu, ia merasa lebih payah dan kerepotan. 

Namun Sentanu tidak mau memberi hati, ia kerahkan ilmu dan kemampuannya dengan sepenuh hati. Maka pada saat yang telah diduga oleh Taruna yang terhenyak disudut tak mampu bangkit, terjadilah hal yang mengejutkan.

Tanpa diketahui bagaimana Sentanu melakukan, para prajurit melihat tiba-tiba tubuh Adipati Wilapribrata melayang keatas dan menjerit keras kesakitan. Ternyata pahanya remuk oleh serangan Sentanu yang membalaskan lukanya Taruna oleh senjata Wilapribrata. Sentanu telah memperhitungkan dengan hanya menyandang luka pada paha yang remuk tulang belulangnya Wilapribrata masih dapat hidup dan diharap bisa jera untuk kembali pada jalan kebenaran. Namun tanpa diduga, kepala prajurit Wanabaya loncat maju. dan ketika tubuh Wilapribrata melayang turun, tombak kepala prajurit menancap ditubuh Adipati itu hingga tertembus hebat lalu terbaring diatas lantai mandi darah dan tewas seketika itu juga.

- Kakang Wilapribrata!

Taruna berseru lemah dan tangannya menggapai hendak mendekati Wilapripbrata yang mandi darah itu.

Sentanu tertegun melihat akhir kejadian. Ia sempat pula melihat Taruna menangis melihat saudara tuanya itu mati dengan secara mengenaskan.

Ketika itulah kepala prajurit Wanabaya yang baru saja menikamkan tombaknya ke tubuh Wilapribtata loncat maju dan berlutut dihadapan Taruna yang juga masih lumpuh terhenyak disudut.

- Ampunilah aku Gusti Taruna, kini aku siap menerima hukuman darimu atas perbuatanku membunuh Gusti Adipati.

Kata kepala prajurit seraya berlutut

- Terpaksa, aku terpaksa turun tangan, sebab perbuatan Gusti Adipati yang pernah menyembelih anakku untuk korban pembuatan beteng kadipaten tidak dapat kulupakan. Maka kinilah saatnya dendamku itu terbayar. _

Taruna menggelengkan kepala dengan sedih. Lalu berkata perlahan :

- Sudahlah, kau tidak berdosa. Semua adalah akibat perbuatan kakang Wilapribrata sendiri. Namun kepala prajurit itu masih berlutut.

- Kau berdirilah, dan tolong rawat mayat kakang Adipati dengan baik-baik !

Para prajurit segera bertindak merawat kawan-kawannya yang terluka. Sedang Sentanu mendekati Taruna, lalu diangkatnya sandara angkatnya itu dibawanya ketempat yang ditunjukkan oleh seorang pengawal. Taruna dirawat disitu dengan teliti.

- Dimana Sekar ? -

Bertanya Taruna. Sentanu menggelengkan kepala.

- Ia pergi pula, tak mau kucegah sedikitpun. Hanya berpesan jika Gusti Adipati gugur supaya dirawat dengan layak, 

- Ah,Sekar tentu bingung. Ia terlalu baik kepada siapapun. Kata Taruna pula.

- Kau tak usah khawatir dengan Sekar lagi kang Taruna. Kata Sentanu

- Kini saudaramu bukan lagi Sekar tiga tahun yang lalu. Ia telah berubah banyak dan mampu menjaga dirinya sendiri.

Taruna mengangguk. Ia telah melihat Mirah Sekar yang kini telah berilmu tinggi melebihi dirinya sendiri, bahkan melebihi Wilapribrata.

- Tapi, kau carilah kelak saudaraku itu. Aku masih ingin bertemu dia pula.

- Tentu, tentu aku akan laksanakan peritahmu kang Taruna.

Dengan telah gugurnya adipati Wilapribrata itu maka kadipaten Wanabaya jatuh ketangan Taruna.

Dan rakyat kadipaten serta seluruh prajurit dengan rela menerima Taruna sebagai pemimpin mereka di kadipaten itu.

Tanpa diduga sebelumnya, Taruna kini mewarisi kehebatan bangunan yang dibuat Wilapribrata. Diam-diam Taruna merasa kagum terhadap saudaranya itu. Sebab bagaimanapun juga pembuatan bangunan beteng kadipaten dan segala lorong rahasia yang ada dalam kadipaten akan sukar ditembus oleh lawan jika terjadi penyerangan kedalamnya. Diam-diam Taruna merasa beruntung pula ketika melakukan penyerbuan ke Wanabaya mendapatkan bantuan prajurit Wanabaya sendiri, Jika tidak tak akan terjadi ia berhasil masuk dengan selamat kedalam kadipaten. Agaknya sekalipun Sentanu dan Mirah Sekar yang berilmu masuk kedalamnya, pasti masih kena dijebak dan bisa dipastikan akan tewas dalam kadipaten yang menjadi demikian mengagumkan pengaturannya.

Dari sebab itu Taruna mendapatkan pelajaran dari segala kelakuan saudaranya. Ia kini menaruh perhatian dan perlindungan pada setiap kawula yang ada dalam lingkungan Wanabaya. Taruna lebih bertindak adil dan bijaksana atas Segala kejadian yang menyangkut hampir setiap orang dalam kadipaten. Maka sudah barang tentu Taruna lebih disukai oleh banyak orang daripada Wilapribrata yang mengepalai prajurit Wanabaya, namun ia menolak.

***

- Tapi bukankah kau berkali-kali telah mengalami perlakuan tidak adil dari tumenggung Santa Guna di Demak ? Apakah kan juga masih hendak meneruskan niatmu masuk tamtama itu Sentanu ? -

Sementara itu Sentanu oleh Taruna hendak diberinya kedudukan lebih banyak menggunakan tangan besi dalam mengatur kadipaten .

Sentanu menghela napas dalam-dalam. Baru kemudian ia bekata : 

- Aku tidak tahu kang Taruna, apa yang kini berada dalam dadaku hingga rasanya kalau aku belum berhasil masuk tamtama hidup dan perasaanku tak akan tentram. Lagipula aku terlanjur menerima pesan guru untuk melaksanakan kuwajiban itu. Guru telah mengatakan hidupku memang digariskan untuk mengabdikan diri pada Demak. Apapun yang terjadi kang, agaknya aku harus mewujudkan cita cita itu

- Sentanu, - Berkata pula Taruna.

- Kau benar. Namun kini yang memegang wewenang menerima masuknya tamtama adalah Tumenggung Santa Guna. Sedang ia telah duakali membuat sakit hatimu dan mengusir dengan tidak layak bagai mengusir anjing kurap. Jadi apakah kau hendak membunuh lebih dulu tumenggung itu

Sentanu kaget.

- Bukan begitu kang Taruna ! - Sahutnya

- Aku tak hendak menimbulkan tangan jahat membunuh tumenggung Santa Guna. Kalau aku mau, kang ! Apakah sulitnya membunuh orang tua itu ? Tetapi apakah kang Taruna senang aku menjadi pemberontak terhadap Demak ?

Taruna terdiam. Ia berpikir mencari jalan guna menolong saudara angkatnya itu.

- Jadi bagaimana kau hendak masuk ke Demak kembali ? - Akhirnya ia bertanya juga.

_ Tentu saja, aku ingin mencoba dengan menyembunyikan segala tanda yang ada padaku dan mengganti nama pula

- Ah, kau salah menghitung. Tumenggung itu kudengar memiliki kecerdikan luar biasa. Bukankah Santa Guna adalah salah seorang dari orang tangan kanan Gusti Pati Unus ?

- Ia sejajar dengan Pangeran Benawa, Agaknya di Demak yang di takuti oleh Tumenggung Santa Guna hanyalah Tumenggung Aria Teja yang kini memangku kedudukan sebagai Panglima prajurit.

- He, ternyata kau tahu banyak tentang Demak kang Taruna

- Bukan begitu, sebab mereka adalah orang-orang linuwih yang memang pantas dikagumi dimasa mudanya.

- Tetapi kang '..

- Ia, aku tahu kau masih ingin mencobanya juga bukan?

- Ya,benar katamu. Hanya aku ingin menuruti perintahmu lebih dahulu mencari Mirah Sekar dan menyampaikan pesanmu agar ia kembali ke Wanabaya ini

- Sesukamu,sukur ia mau kau ajak membantumu masuk ke Demak

- Ah ia masih belum mengenal diriku dengan baik.

- Bukankah pernah kalian berdua melarikan diri dari kejaran prajurit kakang Wilapribrata dulu itu ? 

- Ah ia masih belum mengenal diriku dengan baik. Itu telah lewat, kang. Kini Sekar telah berubah banyak.

- Percayalah padaku, Ia masih tetap Sekar yang dahulu. Aku yakin ia akan dapat mengingat pertolongan dan budi baikmu ketika membebaskan dari cengkeraman kakang Wilapribrata.

Sentanu tidak lagi banyak berkata, hanya kemudian ia menyatakan esoknya hendak meniggalkan Wanabaya pula menuruti maksud dan tujuannya.

Ketika Sentanu telah tidak dapat pula dicegah kepergiannya, tak ada jalan lain bagi Taruna kecuali meluluskan permintaan anak muda itu. Dengan membawa seekor kuda pilihan Sentanu berangkat, kembali meninggalkan kadipaten Wanabaya. Oleh Taruna ia diberi bekal secukupnya dan dengan menunggang kudanya Sentanu meninggalkan Wanabaya dengan perasaan berat dan sedih.

Namun dengan menguatkan hari ia bedal juga kuda itu dan tujuannya jelas ia hendak kembali masuk ke Demak dan menemui Tumenggung Santa Guna pula. Kali ini Sentanu mempunyai rencana lain, jika nanti ia mendekati tapal batas maka dirinya akan merubah bentuk dan ia siap untuk itu, dengan penyamaran ia berharap akan dapat diterima oleh Tumenggung Santa Guna.

Sentanu masih tidak mengetahui secara pasti apakah yang membuatnya ia demikian berhasrat untuk menjadi tamtama. Namun dalam pada itu ia memang menyadari niat yang selama ini terpendam dalam hatinya. Ia ingin memiliki kehidupan yang lebih banyak dan ingin menyumbangkan kepandaian untuk Demak. Ayah ibunya dulunya adalah orang terpuji di dunianya, ayahnya dihormati orang. Dan kini sesudah Sentanu merasa hidupnya tak lagi mempunyai siapapun telah menimbulkan hasrat yang bertambah kuat untuk bisa menjadi prajurit. Lagipula selanjutnya Pamasa dan Wijaya berhasil masuk, ia makin berkobar hasrat untuk bisa mengikuti jejak dua saudara angkatnya itu.

Sedang mengingatkan Taruna yang telah berhasil pula menyingkirkan Wilapribrata, Sentanu menjadi ingin dirinya menjadi seorang yang tenpandang diantara saudara-saudaranya itu.

Sedangkan dengan perlakuan Tumenggung Santa Guna kepadanya telah pula menimbulkan rasa penasaran dan ganjalan yang tak mudah akan hilang demikian saja. Maka jika ia berhasil masuk kedalam barisan tentara Demak. Sentanu merasa yakin dirinya aka mampu membuat tumenggung itu mengakui kelebihannya. Maka berbagai rencana dan siasat ia bayangkan untuk dikerjakan jika ia telah tiba dihadapan Tumenggung Santa Guna yang ia anggap terlalu sombong dan keras itu.

Diam diam Sentanu telah mereke-reka apa-apa yang pantas dilakukan nanti. Dan sikap berhati2 kiranya masih perlu ia pegang agar ia tidak mudah dikenal oleh tumenggung itu.

Sentanu melarikan kudanya tanpa banyak berhenti. Ia ingin agar segera tiba di Demak dan kali ini adalah harapan yang terakhir baginya. Sebab jika masih Tumenggung Santa Guna tidak menerimanya, maka Sentanu akan menempuh jalan lain yang masih belum dapat ia perhitungkan untung ruginya. 

Pada saat Sentanu melarikan kudanya bagaikan dikejar hantu. tiba-tiba diarah muka ia melihat seorang penunggang kuda lain yang juga berjalan searah dengannya. Tetapi orang yang didepan itu ternyata juga membedal kudanya dengan kecepatan yang tak terkirakan, agaknya orang itu tengah mengejar sesuatu.

Sentanu menjadi heran, siapakah orang itu ?

Tanyanya dalam hati. Tetapi karena jarak mereka cukup jauh, maka Sentanu masih belum dapat mengenai orang itu. Hanya karena Sentanu merasa curiga. iapun lantas melecut kudanya berlari dengan lebih cepat menyusul orang dimuka. Hatinya ingin mengetahui siapa orang itu, karena di tempat demikian sunyi terasa aneh jika terdapat seorang berkuda melarikan tunggangannya dengan cepat seakan takut dikejar lain orang.

Ternyatalah kemudian jarak lari kudanya dengan orang itu semakin memendek. Dan Sentanu menjadi terkejut ketika matanya yang tajam mulai bisa mengenali orang dimuka itu. Ternyata adalah seorang Wanita muda mengenakan pakaian ringkas seperti layaknya dipakai oleh orang-orang yang berjalan jauh.

Sentanu jadi bertambah heran. Siapa dia?

Pikiranya. Namun ia tetap melarikan kudanya lebih cepat agar segera bisa menyusul wanita dimuka itu.

Pada akhirnya jarak kuda Sentanu dengan kuda wanita itu pun semakin memendek pula, untuk akhirnya. ketika Sentanu merasa jarak dengan orang cukup dekat. ia berseru dengan suara keras seraya masih melarikan kudanya menyusul ;

- Hei sahabat yang dimuka, berhentilah dulu! Aku hendak berbicara denganmu! -

Namun suara Sentanu tidak digubris orang itu yang masih melarikan kudanya tanpa menoleh kebelakang.

Sentanu jadi penasaran. Maka dengan masih melecut kudanya ia mengejar tanpa kenal berhenti pada orang dimuka itu .Orang didepan itu masih juga melarikan kudanya dengan kecepatan tinggi hingga debu terlihat berkepul dibelakang kaki kuda itu. Sentanu merasa kagum, kelincahan orang itu pantas dikagumi, dan kepintarannya mengendarai binatang tunggangannya itupun ternyata amat mengherankan. Sebab bagi seorang wanita yang menunggang kuda berlari demikian cepat, melewati jalan-jalan terjal dan tikungan tikungan penuh jurang berbahaya, menimbulkan kekawatiran yang melihat.

Namun agaknya wanita muda dimuka itu telah demikian pandai menguasai kudanya. Maka segala rintangan itu tak menjadikan ia kesulitan melarikan kuda.

Sentanu masih mengejar dengan sering berteriak menyuruh agar orang itu berhenti. Namun tak digubrisnya oleh wanita didepan. Dengan begitu membuat Sentanu jadi mendongkol dan penasaran. 

Tetapi sampai dimulut masuk hutan, dengan tiba-tiba saja wanita itu menghentikan kudanya. Sentanu kaget. Dia pacu kudanya mendekat. Namun lebih kaget ketika wanita itu memutar kuda menghadap padanya. Sentanu melihat seseorang yang membuat ia merasa heran dan tak mengerti. Sebab wanita itu kini memandang padanya tanpa mengucap sepatah katapun

- Kau !

Sentanu menyapa.

- Mengapa kau melarikan diri dariku ? --

Wanita itu yang bukan lain adalah Mirah Sekar tidak segera menjawab, namun untuk beberapa saat ia hanya menatap dengan pandangan aneh. Sentanu jadi tidak mengerti.

- He, mengapa kau diam? Sekar, aku mendapatkan pesan dari kang Taruna untuk disampaikan padamu

- Tak usah kau katakan aku sudah mengetahui pesan itu !

Si gadis menjawab tanpa memperlihatkan sikap ramah padanya.

- Jadi kau telah mengetahuinya ? Lalu apa. jawabmu ? - Bertanya pula Sentanu.

- Jawabku, bukan harus disampaikan padamu.

- Eh, kau tahu Adipati Wilapribrata telah .....

- Ya. aku telah mengetahui segalanya! -'

Sentanu terdiam. Sikap Mirah Sekar agak berbeda sekarang. Nampak ia agung-agungan dan keras. Namun kecantikan gadis itu terlihat semakin menarik.

- Sekar, kau hebat kini .

Tanpa sadar Sentanu mengeluarkan kata pujian. Namun si gadis menjengek perlahan lewat hidung.

- Hh, kau mau apakah memuji diriku ? - Sentanu jadi kaget. Sadar dengan kesalahan.

- Eh Sekar, maksudku kau telah berubah dari dulunya, kau kini telah mampu membikin saudaramu Wilapribrata takluk dibawah kepandaianmu.

- Jangan banyak omong kosong, Gadis itu Berkata mencela.

- Oh, kau begini pemarah Sekar

Sentanu jadi merah juga ditegur demikian.

- Eh, Sekar, mau kemanakah kau sekarang ini ? _

- Bodoh! -

Sekar membentak.

- Kau bertanya terlalu usil. Mengapa tidak kau katakan saja padaku kau sendiri mau kemana ? 

Sentanu menjadi semakin heran dengan sikap si gadis. Nampaknya gadis itu kini menjadi pemarah. Namun Sentanu merasa tak ada gunanya mendesak Mirah Sekar lebih jauh. Maka dengan mengangkat pundak ia berkata:

- Baiklah Sekar, jika kau tidak senang bertemu denganku, aku minta diri. Lalu Sentanu membalikkan kudanya dan menarik tali kekang perlahan.

- Tunggu dulu!

Tiba-tiba berseru si gadis seraya mengangkat tangannya. Sentanu jadi heran pula. Namun ia tahan kuda yang hampir saja kabur.

- Ada apakah kau mencegah kepergianku ? Tanyanya.

- Jangan bodoh! Kau mendapat pesan apakah dari gurumu Ki Ageng Semu? Tanya gadis itu.

- Pesan? --

Sentanu menggelengkan kepala.

- Tidak ada! Hanya pesan agar aku masuk jadi tamtama di Demak.

- Hanya itu?

- Ya, mengapa kau menanyakan? Sungguh hanya itu saja, Sekar

Mirah Sekar nampak terdiam, pandangannya kini menatap di arah kejauhan sana. Dan Sentanu tidak mengacuhkan, ia diam saja seraya mengawasi gerak-gerik si gadis yang dirasanya menjadi aneh dan menimbulkan tanda tanya dihatinya.

- Eh Sentanu, jawablah dengan jujur. Tidak adakah pesan lain yang dikatakan Ki Ageng Semu padamu ?

Sentanu menggelengkan kepala.

- Tidak Sekar! Kau jangan mendesakku demikian rupa. Ki Ageng tidak banyak mengatakan apapun. -

Si gadis ganti terdiam. Ia menimbang-nimbang agaknya. Dan sesudah itu barulah ia berkata kembali: -

- Baiklah, aku minta diri! -

Dan si gadis hendak melarikan kudanya meninggalkan tempat itu. Tetapi Sentanu cepat majukan lebih dulu kudanya dan berkata dengan tertawa:

- Tunggu dulu, kau telah mencegahku pergi. Sekarang kau katakan dulu mengapa kau menanyakan pesan guru ? -

- Tidak bisa, kalau kau ingin tahu tanyalah gurumu itu !

- Sebutlah Sekar, kau terlanjur membukakan padaku tadi.

- Bodoh, mana bisa aku mengatakan hal itu ? Sudahlah, biarkan aku Pergi! 

- Katakanlah Sekar, atau aku harus memaksamu agar mengatakan ? _

- He, mengapa kau hendak memaksaku ?

Sekar tertawa. Dan Sentanu jadi tertawa pula. Tadi ia hanya main-main. Maka katanya kemudian.

- Kau pergilah Sekar, aku tak akan menghalangimu lagi, tapi kau kembalilah ke Wanabaya pada kang Taruna, ia tentu menunggumu. -

- Pasti aku akan kesana! Hanya bukan sekarang ini. Aku masih ada kuwajiban yang lebih penting dari itu.

- Hubungannya dengan guruku?

- Ya, ada hubungan pula dengan itu. Tetapi berbeda. Pesan guruku Nyi Ageng Malaka terlalu gila dan mendesakku kesudut kesulitan.

Sentanu tertawa dalam hati. Tanpa sadar si gadis mulai hendak membuka rahasianya.

- Eh, apakah diriku juga terlibat dengan persoalan itu ?

- Ya, kaulah yang menjadi sebab semuanya ini.

- Aku ?! -

- Sudahlah, aku hendak melanjutkan perjalanan dan menyelesaikan kuwajiban yang tengah kupikul, kelak kita selesaikan pula Urusan diantara kita.

- Urusan ?

Sentanu heran pula.

- Cukup! Kau tak usah banyak bertanya lagi. Tapi ingat kau benar terlibat dengan urusan itu.

Hati-hatilah jikalau berlaku bodoh!

Sesudah berkata demikian Mirah Sekar membedal kudanya dan lari meninggalkan Sentanu seorang diri termangu-mangu melihat kepergian gadis itu.

Sentanu merasa heran dengan sikap dan perbuatan Mirah Sekar demikian. Ia tak mengerti dengan sikapnya yang agak berbeda dengan dahulunya ketika ia bertemu dengan si gadis di Kadipaten Wanabaya. Namun dalam hati anak muda ini semakin timbul rasa kagum pada Mirah Sekar yang nampaknya tidak berada dibawah dirinya ilmu dan kemampuannya.

Sentanu membayangkan tingkah si gadis ketika melawan Adipati Wilapribrata. Jelas ia melihat gerakan-gerakan tempur yang baik dan kuat. Dengan demikian Sentanu jadi membayangkan Nyi Ageng Maloka. Tentulah gurunya lebih hebat dari Sekar. Pikirnya. Tapi membayangkan itu ia juga teringat gurunya sendiri Ki Ageng Semu.

Sentanu sangat mengagumi kepandaian gurunya itu, dan siapakah diantara Ki Ageng Semu dengan Nyai Ageng Maloka yang lebih tinggi kepandaiannya?

Ia bertanya dalam hati.

Dulu itu mengapa kedua orang tua itu berada bersamaan ketika menemukan dirinya yang tengah 

membawa Mirah Sekar melarikan diri daki Kadipaten Wanabaya?

Dan sekarang pesan apa pula yang ditanyakan Mirah Sekar padanya itu ?

Sentanu semakin diganggu oleh berbagai pertanyaan yang tidak terjawab. Ia heran karena seingatnya Ki Ageng Semu tidak berkata apapun yang merupakan pesan untuk dikerjakan, kecuali nasehat dan pesan untuk menjadi prajurit.

Tetapi Sentanu tak mau lebih banyak diganggu oleh pikiran pikiran itu. Segera iapun melarikan kudanya pula mengambil arah berlainan dari jalan yang ditempuh Mirah Sekar tadi. Ia segera ingin tiba di Demak sebelum senja. Maka ia bedalkan kuda tunggangnya dengan cepat menembus jalan pegunungan yang banyak didapat jurang dikiri kanannya. Sedang hutan tampak mengangkang di sekelilingnya pula. Namun ia tidak takut dengan semua itu. Lagi pula kudanya adalah kuda pilihan yang sengaja diberikan oleh kepala prajurit Wanabaya sewaktu ia meninggalkan Kadipaten itu.

Sentanu terus melarikan kudanya tanpa mengenal berhenti. Ia rasa kudayea tentu gembira, sesudahnya tadi sebentar ia beri makan rumput segar, kini berlari dengan tegap dan gagah membawa tuannya berlari lari turun naik jalan pegunungan.

Sesudah berlari beberapa puluh pal. Sentanu tiba di sebuah tempat yang agak menyeramkan

.Tempat itu agak lain perbawanya dibandingkan tempat-tempat lain yang telah dilewati. Namun Sentanu terus melarikan kudanya.

Jalan bulak dicelah gunung itu nampak sedikit gersang dan rupanya jarang dilalui orang. Terbukti, tempat dan jalan disitu agak liar ditumbuhi oleh rumput dan alang-alang.

Ketika itu tiba-tiba saja kuda Sentanu berhenti tanpa diperintah. Binatang itu kemudian meringkik keras seakan mencium sesuatu yang menakutkan.

Sentanu menjadi heran Kudanya membangkang tak mau meneruskan perjalanan, bahkan ketika Sentanu mencoba sedikit memaksa, binatang itu mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi dan meringkik makin keras.

- Eh kau kenapa ?

Bertanya anak muda itu seraya menepuk leher kudanya. Namun si binatang masih meringkik keras dan tak mau maju kemuka.

Sentanu dari merasa heran jadi teringat pada perkataan kepala prajurit Wanabaya ketika hendak memberikan kuda'itu padanya.

- Kuda ini akan banyak berguna diperjalanan, Sentanu. Ia bukan kuda sembarangan. Tetapi kuda yang telah terlatih baik-baik bertahun tahun. Kalau dalam penjalanan kau menemui bahaya, binatang ini jauh sebelumnya akan mengetahui hingga kau bisa menghindari bahaya itu lebih dulu. Atau kau ikutilah kemana binatang ini membawamu jika ia tak mau kau kendalikan, sebab tentu disitu ada sesuatu yang bisa menimbulkan kecelakaan.

- Ada apakah? -- 

Pikir Sentanu ketika mengingat pesan kepala prajurit itu. Maka kini ia tak lagi memaksa kudanya untuk maju ke muka, melainkan ia ikuti saja kehendak binatang itu.

Merasa dirinya tidak lagi dikendalikan. kuda itupun tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan berlari melesat kejalan semula, naik pegunungan terjal dengan sigap dan cepat.

Makin tinggi kuda itu naik, Sentanu jadi makim heran. Namun ia tak hendak menahan tingkah binatang itu .Ia ingin tahu apa yang terjadi. Dan ketika Sentanu telah dibawanya ketempat ketinggian, binatang itu berhenti dan kini Sentanu berada diatas jalan yang tadi dilalui, ada enam tombak ia berada diatas jalan sempit dicelah gunung itu. Jadi kudanya hanya memutar dan bersembunyi diatas jalan. Maka kini dengan jelas Sentanu dapat memandang sekeliling pegunungan dan sepanjang jalan sempit dicelah gunung yang berkelok itu. Tetapi hatinya masih tidak mengerti dengan kemauan binatang tunggangannya. Karena ternyata tak terjadi sesuatu yang mengejutkan.Maka Sentanu loncat turun dari punggung kuda itu, lalu melongok kebawah jalan kemudian mendekati kudanya dan memegang leher binatang itu sambil berkata.

- Ada apakah kau sembunyi kesini ? Bukankah tak terjadi sesuatu?

Namun kuda itu meringkik perlahan dan kedua kaki belakangnya menghentak-hentak.

Sentanu tidak berkata sepatahpun lagi. Kuda itu masih menolak untuk ia ajak turun dari tempat itu. Maka Sentanu hanya menunggu sampai beberapa saat apa sesungguhnya yang akan terjadi.

Namun dalam hati ia tersenyum juga mengingat dirinya jadi menuruti kehendak binatang itu. Kalau mau bisa saja ia paksa kudanya terus melanjutkan perjalanan, tetapi Sentanu tak mau melakukan, ia merasa kasihan dan iba jika binatang itu dipaksa. Maka kini seraya beristirahat dan membayangkan pertemuan dengan Mirah Sekar tadi Sentanu berdiri melihat jalan dibawah yang masih sepi dan sunyi. Kecuali batu-batu gunung disepanjang tepi jalan itu yang nampak menyeramkan bergantungan seakan hendak roboh saja.

Ketika itulah dengan tidak diduga sedikitpun oleh Sentanu dari arah selatan terdengar derap kaki kuda berlari dengan keras melewati jalan kecil dibawah Sentanu berada. Ia kaget. Suara kaki-kaki kuda yang berlari itu jelas memecah kesunyian suasana dan mata anak muda yang tajam ini dapat melihat enam orang penunggang kuda tengah melarikan kudanya bagai dikejar setan.

Tetapi yang membuat Sentanu menjadi kaget dengan tiba-tiba adalah ketika matanya menangkap sesuatu dibelakang enam penunggang kuda yang melarikan binatang mereka dengan cepat. Sesuatu yang membuat Sentanu menjadi heran tetapi kaget benar, sebab seekor binatang besar loreng melesat maju mengejar kuda-kuda dimukanya. Sentanu cepat sadar dengan apa yang tengah terjadi. Seekor harimau sebesar anak sapi melesat maju hendak menerkam mangsa yang kini telah semakin dekat dengannya.

Namun Sentanu melihat enam penunggang kuda itu agaknya juga berilmu, maka agak sulit juga harimau itu menerkam mangsanya. sedang kuda-kuda itupun berlari dengan ketakutan. Kuda Sentanu 

sendiri meringkik hebat, dan menghentak-hentakan kaki ketanah.

Sentanu tidak banyak berpikir pula, ia segera melorot turun lewat tebing yang menjadi beteng jalan dari tempat ia berdiri itu. Lalu setelah melorot turun Sentanu loncat ke bawah, tepat ketika kuda terakhir lewat disampingnya, bahkan hampir saja menubruk dirinya jika tidak karena Sentanu sebat menyingkir.

Sentanu segera mencabut Sepasang pedangnya dan menunggu harimau loreng itu dengan tanpa berkedip.

Harimau sebesar anak sapi itu ketika melihat dimukanya kini menghadang seorang manusia, menjadi marah, dirasa oleh binatang itu Sentanu menjadi penghalangnya, maka beralih dari mengejar buruannya, harimau loreng itu menggeram hebat, ia mengaum dan tiba-tiba menikamkan

kuku-kukunya yang tajam dan kuat ketanah hingga batu-batu yang kena cakar kukunya itu berhamburan.

Sentanu tidak bergerak dari tempatnya, ia menunggu binatang itu menyerang lebih dahulu.

Sedang sepasang pedang yang dipegangnya ia siapkan dimuka dada.

Sebagai seorang muda yang pernah tinggal dekat sarang harimau, Sentanu sedikitpun tidak merasa jerih dan takut pada binatang hutan itu. Lagi pula ia telah terbiasa mengikuti Ki Ageng Semu menjelajahi hutan dan pegunungan yang banyak dihuni binatang buas. Maka kini ia menghadapi raja hutan itu dengan tabah.

Melihat orang tidak bergerak dari tempatnya, agaknya harimau loreng itu menjadi marah, ia merendahkan tubuh hingga perutnya menempel tanah, lalu dengan sorot mata mengancam tiba-tiba harimau itu loncat kemuka tinggi-tinggi ,tubuhnya melayang sambil mengeluarkan suara auman panjang dan dahsyat hingga akibatnya seakan seluruh perbukitan disini hendak runtuh oleh getaran suara auman harimau hutan itu.

Namun Sentanu telah siap ketika harimau itu menerkam dirinya.Ia menjatuhkan diri dan merendahkan kemuka hingga terkaman itu lolos diatas kepalanya, tetapi bersamaan dengan itu Sentani telah menggerakkan pedangnya menyambar bagai kilat kearah perut binatang besar itu.

Akibatnya sungguh luar biasa,harimau itu tepat kena tikam bagian perutnya hingga bergulingan dan mengaum panjang menyayat hati dan akibat kesakitan kena tikam itulah harimau itupun mengamuk hebat dan berloncatan menerkam membabi buta sambil tak hentinya menggeram dahsyat menakutkan.

Sentanu berlaku hati-hati. Harimau terluka itu amat berbahaya. Maka ia berloncatan dan menghindarkan diri dari terkaman binatang itu. Untunglah Sentanu cukup banyak memiliki kelincahan dan ilmu yang bisa diandalkan. Hingga dalam waktu singkat, kedua pedangnya kembali telah menerkam kedua mata binatang itu dengan tepat. Hingga si raja hutan kembali mengaum hebat, keuda matanya mengucurkan darah. Dan karena menderita hebat itu si raja hutan kini bergulingan 

hebat mencakar cakar tempat yang dapat diterkamnya.

- Dewa yang Agung!

Sentanu memuji dengan hati bagai diiris sembilu. Ia iba melihat penderitaan raja hutan demikian.

Hati Sentanu menyesal membikin binatang itu menjadi sengsara kesakitan. Maka dengan menguatkan hati ia loncat maju dan dua kali pedangnya berkelebat, maka raja hutan itu roboh dan tewas seketika oleh tikaman senjata yang tepat menghujam di jantung si raja hutan

Sentanu termangu-mangu melihat hasil serangan yang tak diduga akan berhasil demikian. Tadi anak muda ini benar merasa terpukul hati dan perasaannya. Ketika ia melihat binatang loreng itu mengaum kesakitan dengan kedua mata mengucurkan darah. hatinya terpukul hebat. Sentanu tak sampai hati melihat penderitaan binatang itu kena pedangnya. Maka dengan tiba-tiba ia lempar dua batang pedang yang telah berlumuran darah itu kedalam jurang yang beberapa langkah saja ada disebelahnya.

Untuk beberapa saat Sentanu masih berdiri termangu-mangu memandang bangkai harimau loreng yang kini terkapar dimukanya. Ia selalu teringat manakala melihat binatang harimau. Ia teringat segala yang pernah dialaminya didusunnya pula.

- Kau sungguh mengagumkan anak muda!

Tiba tiba mendengar suara orang menegur, membuat Sentanu sadar dari lamunannya dan menoleh

Tanpa ia ketahui dimukanya kini telah berdiri enam penunggang kuda ,yang menjadi buruan si raja hutan tadi. Dan kini jelas terlihat oleh Sentanu keenam orang itu adalah bangsawan menilik dari pakaian yang dikenakan,lebih nampak lagi adalah seorang yang telah menegurnya tadi. Nampak berwibawa dan cahaya matanya lembut menatap dirinya. Dan senyum lebar yang menghias muka tampan bangsawan itu membuat Sentanu merasa aman berada didekatnya. Namun tak urung ia harus menundukkan kepala melihat sinar orang itu menyorot-dengan tajamnya.

- Kau tak usah takut anak muda- Kata orang itu mendekati.

- semua telah melihat kehebatanmu melawan harimau itu. Sunggah kami merasa kagum dan terpikat oleh kepandaianmu. Ketahuilah aku adalah Trenggana .Adinda Sultan Demak dan orang-orang ini adalah pengawal-pengawal yang baru saja mengikutiku memeriksa tlatah Demak diluar kotaraja.

Tetapi tidak terduga kami kepergok oleh raja hutan itu.

Sentanu kaget mendengar orang didepannya adalah Raden Trenggana. Maka Segera ia maju dan berlutut.

- Ampunilah hamba tuanku, hamba telah berlaku lancang pamer kebisaan hamba yang tak berarti.

Raden Trenggana tertawa. Ia senang dengan sikap anak muda yang sopan dan tahu membawa diri itu.  - Eh bangunlah kau! Kami tidak sekalipun menganggap kau telah pamer kekuatan .Bahkan kami senang melihat kemampuanmu membunuh binatang itu.

- Benar tuanku, namun bukankah sama dengan artinya hamba melangkahi tuanku yang berilmu melebihi kebisaan hamba yang rendah. -

Raden Trenggana tertawa senang. Benar yang dikatakan anak muda itu. Agaknya ia telah mendengar ketinggian ilmu Adik Sultan itu. Karena sebenarnyalah yang dikatakan Sentanu. Pangeran dengan lima pengawalnya itu bukan ketakutan oleh kejaran harimau loreng tadi. Namun terdorong oleh kebiasaan Pangeran yang senang bergurau, ketika ia dengan lima pengawalnya dicegat raja hutan itu, bukannya segera disingkirkan atau dibunuh, melainkan Pangeran memerintahkan para pengawalnya berlari hingga harimau itu mengejarnya. Namun ketika terjadi kejar-kejaran-itu ,Raden Trenggana dengan kelima pengawalnya malah gembira, mereka ingin menggoda binatang itu sampai lelah, baru kemudian membunuhnya jika memang binatang itu tak mau menyingkir. Apalah sukarnya bagi seorang Pangeran yang berilmu tinggi macam Raden Trenggana itu, sedang kelima pengawalnya adalah pengawal-pengawal pilihan yang sengaja ditugaskan menyertai pemeriksaan Pangeran pada wilayah Demak yang jauh dari Kotaraja.

Namun tanpa diduga tiba-tiba saja muncul Sentanu yang mengira enam orang itu dalam bahaya,

maka ia turun tangan membunuh harimau itu. Dan sebaliknya dari yang diduga, ternyata Raden Trenggana tidak menjadi marah, bahkan Pangeran ini terpikat oleh kegagahan Sentanu yang telah ia saksikan kehebatannya melawan binatang hutan itu.

- Eh, anak muda, mengapa kau tidak mengikuti pendadaran untuk menjadi prajurit tamtama di Demak? Dengan bekal kepandaianmu tentu mudah saja kau masuk dan aku yakin dalam waktu singkat kau akan bisa mencapai jabatan tinggi dalam keprajuritan -

Sentanu terkejut, tidak menduga ditanya demikian oleh Raden Trenggana yang telah ia dengar namanya itu. Maka dengan masih bersikap menghormat Sentanu berkata :

- Ampun tuanku, agaknya memang nasib hamba belum bagus. Telah berkali-kali hamba menghadap pada tuanku Tumenggung Santa Guna di Demak, namun hamba selalu ditolak, bahkan, hamba diusir berkali-kali.

Raden Trenggana kaget mendengar jawaban anak muda yang dikaguminya itu.Pangeran berpandangan dengan kelima pengawalnya yang kurang percaya dengan perkataan anak muda yang ada didepan mereka.

- Kau jangan berdusta.Benarkah kau sudah menghadap Tumenggung Santa Guna?

- Ampun tuanku bagaimana hamba berani berdusta terhadap tuanku Pangeran yang hamba hormati? Sesungguhnyalah demikian yang terjadi.

- Kau telah mengikuti pendadaran dari Tumenggung Santa Guna? . 

- Ya,hamba telah berhasil menjatuhkan tuan Bagus Prana namun hamba dituduh telah berusaha membunuh Tuanku Bagus Prana sebab nampaknya Tuanku Bagus Prana terluka berat oleh hamba.

Pangeran berseru keras : - Bagus Prana roboh olehmu?! Sentanu mengangguk.

- Agaknya Tuanku Bagus Prana sengaja mengalah.

Katanya kemudian. Namun Raden Trenggana termenung. Kalau anak ini mampu mengalahkan Bagus Prana yang terkenal dikalangan punggawa Demak sebagai seorang yang tangguh dan kuat, bagaimana bisa Tumenggung Santa Guna tidak menerimanya? -

Pangeran benpikir dan heran benar.

- Eh bagaimana pendapat kalian?

Pangeran bertanya pada kelima pengawalnya.

- Hamba merasa aneh Tuanku, jika ia mampu mengalahkan Bagus Prana mengapa Tumenggung Santa Guna tidak menerimanya ?

- Ya, hamba juga berpendapat demikian Gusti. Sahut yang lain.

- Atau mungkin anak ini berbohong pada kita Tuanku Pangeran? - Kata seorang pengawal lain.

- Tidak bisa jadi begitu! _ Pengawal satunya membantah.

- Kita saksikan sendiri ketika ia bertarung dengan raja hutan liar tadi.

Akhirnya kelima pengawal itupun mengangguk dan mereka sependapat dengan Raden Trenggana.

- Memang janggal Tuanku. Kata mereka serempak.

Dalam keadaan itu Raden Trenggana menimbang nimbang. Dalam hati Pangeran ini telah terpikat oleh kegagahan dan kemampuan Sentanu. Maka Pangeran juga merasa sayang jika anak muda itu tidak bisa ditarik kedalam barisan, sebab tenaganya tentu akan banyak berguna. Bahkan agaknya lebih banyak berarti tenaga seorang dia daripada tenaga kemampuan sepuluh orang prajurit tamtama biasa.

Maka sesudah berpikir beberapa saat Raden Trenggana berkata seraya memberikan sesuatu pada Sentanu.

- Kalau demikian,kaubawalah tanda cap kekuasaanku ini anak muda, perlihatkan pada Tumenggung Santa Guna. Tentu Ia Akan menerimamu dengan senang hati. -

Sentanu kaget. Tetapi ia terima juga pemberian Raden Trenggana tanda cap kekuasaan itu, lalu menyimpannya dibalik pakaian.

Sesudah memberikan tanda kepercayaan itu Pangeran berkata pula.

- Kini aku berangkat lebih dahulu, kau datanglah pada Tumenggung Santa Guna dan katakan mendapat kepercayaan dariku. Nah, selamat tinggal anak muda! 

Pangeran itu kemudian menghampiri kuda yang ditambatkan dekat tempat itu, lalu diikuti oleh kelima pengawalnya berloncatan ke punggung kuda masing-masing dan kemudian mengeprak

kuda-kuda itu yang segera kabur meninggalkan Sentanu sendirian.

Raden Trenggana telah sedikit berbuat khilap. Ia sedikitpun tidak teringat untuk menanyakan nama Sentanu.

Dalam pada itu Sentanu bergegas menghampiri kudanya, kemudian mencari orang-orang pedusunan yang tidak jauh dari tempat itu untuk diperintahkan merawat bangkai harimau besar yang telah tewas. Tentu saja kejadian ini membuat terkejut penduduk pedusunan namun ketika oleh Sentanu dikatakan harimau itu tewas oleh Raden Trenggana dari Demak rakyat pada

mengangguk-angguk karena mereka telah mendengar kebesaran nama Pangeran itu.Lalu dengan gembira mereka membawa bangkai harimau itu sedang Sentanu segera meminta diri melanjutkan perjalanan.

Kini sentanu melarikan kudanya tidak seperti semula. Kalau tadi ia membedal kuda itu dengan cepat, maka kini ia perintahkan berjalan seenaknya. Binatang itu berlari-lari kecil, agaknya ikut gembira melihat Sentanu yang telah berhasil membunuh harimau loreng tadi. Sentanu merasa terhibur hatinya. Kini ia percaya niatnya jadi tamtama akan tercapai. Maka akibat dari rasa gembira itulah Sentanu tidak menjadi terburu-buru dalam perjalanan. Ia membawa kudanya tanpa lagi dipengaruhi kegelisahan. Dan niatnya melakukan penyamaran ia urungkan. Sebab kini dengan membawa tanda kepercayaan dari Raden Trenggana pastilah dengan mudah ia akan diterima oleh Tumenggung Santa Guna tanpa banyak mengalami kerepotan. Ketika Sentanu masih diliputi perasaan girang itulah, tanpa ia duga ditengah perjalanan ia melihat seorang tua berjalan menuju arahnya.

Orang tua itu terlihat berjalan dengan cepat seakan kakinya tidak menginjak tanah, namun jelas ia adalah seorang manusia juga. Maka ketika melihat orang tua itu menuju kearahnya ia pasang mata memperhatikan dengan waspada, sebab melihat gerakan orang tua yang berjalan demikian cepat itu ia menandakan seorang yang berilmu tinggi. Namun ketika jarak mereka semakin dekat, Sentanu terkejut, ia melihat ternyata orang tua itu adalah Ki Ageng Semu, gurunya.

Maka Sentanu loncat turun dari kudanya kemudian berlari-lari mendekat.

-Guru!

Serunya lalu berlutut dihadapan Ki Ageng Semu yang tersenyum lebar.

- Guru hendak kemanakah berada ditempat ini? - Bertanya ia.

- Hayo kau berdiri!-

Ki Ageng menarik pundak Sentanu dan ditariknya berdiri. Sentanu menurut, sebab melawanpun tak akan berguna, karena tarikan gurunya demikian kuat bertenaga. 

- Sentanu, jangan heran! Sengaja aku mencegatmu ditempat ini. Ada sesuatu yang hendak kukatakan. Agaknya kinilah saatnya kau akan memulai dengan yang baru sama sekali. Bukankah kau telah bertemu dengan Raden Trenggana? Nah, dengan demikian kau akan mulai memasuki alam lain yang akan membawa pengaruh hebat buatmu. Sudah barang tentu, kau akan diterima oleh Tumenggung Santa Guna tanpa banyak mengalami kesulitan. Tetapi dengan mengemban kuwajiban sebagai prajurit kau akan berhadapan dengan banyak lawan berat di tlatah Timur, maka sengaja aku mencarimu untuk memberimu senjata pusaka ini.-

Sentanu terkejut dan heran mendengar ucapan gurunya yang telah mengetahui segala yang dialaminya dengan Tumenggung Santa Guna. Tetapi ia diam tidak bertanyakan hal itu. Hanya ia perhatikan senjata yang diberikan gurunya. Sentanu tahu senjata itu adalah sebuah busur dengan lima batang anak panah. Ia telah tahu sejak belajar pada Ki Ageng Semu kehebatan busur dan anak panah yang kini hendak diberikan padanya itu.

- Untukku guru? - Ia bertanya.

- Tentu saja.

Jawab Ki Ageng. - Sebab kini sudah saatnya kau memiliki senjata ini. Tetapi ketahuilah muridku, senjata masih belum cukup untuk bekalmu mengemban kuwajiban, kau masih harus melewati satu ujian berat, kau harus mengambil sebuah senjata pusaka lain yang kini disimpan di Demak. Senjata itu disebut orang sebagai tombak pusaka Kiai Jalak Diding. Nah, kau carilah dalam gedung pusaka di istana. Hanya dengan tombak pusaka Jalak Diding sajalah kau akan mampu membasmi semua

lawan-lawanmu. Tetapi ingat, kau harus mengambil tombak Jalak Diding dengan diam-diam. Dan tentu saja jika kau ketahuan karena kurang berhati-hati maka taruhannya adalah nyawamu yang pasti akan kau terima hukuman.

Sentanu menjadi kaget. Namun terhadap perintah gurunya ia tak mau banyak bertanya. Apalagi membantah. Lagipula ia tahu segala perkataan gurunya tentulah memendam maksud baik dan tak akan menjerumuskan. Maka tanpa banyak berkata telah menyanggupi perintah Ki Ageng Semu untuk mengambil Tombak pusaka Jalak Diding dari gedung pusaka di Demak

- Bagus! Berhati-hatilah. Kini aku kembali dan carilah aku bila terpaksa kau tidak mampu mengatasi rintangan. Namun ingat, jangan sekalipun kau minta pertolonganku jika tidak Karena kau menghadapi kesulitan hebat yang tak mampu kau pecahkan.

Sentanu menganggukkan kepala. Ia berjanji hendak mentaati perintah itu.

- Nah, kau berangkatlah sekarang, sebentar malam ini kau akan dapat memasuki Kotaraja dan mencari tombak Jalak Diding di istana.

Sentanu bimbang untuk meninggalkan gurunya. Ia masih ingin mengatakan sesuatu dan rasanya 

berat berpisah dengan Ki Ageng yang telah mendidiknya serta menempanya sehingga kini dirinya berubah banyak. Ki Ageng Semu rupanya tahu yang tengah dipikirkan muridnya, maka berkatalah Ki Ageng dengan tertawa;

- Kau harus lebih banyak berlatih diri Sentanu, kuasailah segala perasaan yang menghambat bagi kemajuanmu sendiri. Sebentar lagi seluruh tempat ini akan menjadi gelap, dan jika kau sampai tengah malam belum berhasil masuk Demak, maka akan sia-sialah niatmu mencari Tombak pusaka itu. Maka kau berangkatlah.

Sentanu jadi sadar, dengan masih diliputi rasa bimbang ia menghampiri kudanya, kemudian loncat kepunggung binatang itu. Dan sesudahnya memberi hormat pada Ki Ageng Semu, melecut kuda itu hingga sebentar kemudian ia telah jauh dari gurunya. Ketika Sentanu menoleh kebelakang, ternyata gurunya telah tak terlihat lagi. Entah kemana pula orang tua itu. Namun ia menduga tentulah kembali kepertapaannya. Maka Sentanu segera mempercepat lari kudanya agar segera bisa tiba di Demak. Kali ini Sentanu merasa menghadapi kuwajiban berat. Ia sedikitpun belum mengenal keadaan dalam istana dan lebih lagi harus masuk dengan menggelap pada tengah malam. Namun mengingat semua perintah itu harus dijalankan, ia tidak berkecil hati. Dan ia merasa mampu untuk melakukan. Hanya ada juga terbayang para panglima dan pengawal-pengawal kraton yang berilmu tinggi. Sebab sekali saja ia kepergok, maka akan sulit baginya untuk lolos. Menghadapi Raden Trenggana saja agaknya masih harus berpikir keras, lebih lagi jika Dipati Unus sendiri berhasil memergoki dirinya mencuri tombak pusaka di istana, maka dapat dipastikan ia akan kena dirangket dialun-alun atau tubuhnya akan jadi pengewan-ewan di- muka banyak orang di Demak.

Namun Sentanu memang harus melakukan itu. Apapun yang terjadi. Lepas isya ketika tong-tong penjagaan regol Kotaraja Demak berbunyi, Sentanu telah mencapai wilayah itu dengan selamat. Dan kini untuk memudahkan pekerjaannya ia titipkan binatang tunggangannya itu pada penduduk, lalu menunggu diluar batas kota sampai hari berlanjut dan menunggu tengah malam tiba. Ia berpikir mencari jalan bagaimana sebaiknya agar ia dapat masuk istana tanpa diketahui prajurit jaga yang banyak terdapat di- dalam istana. Maka sebelum malam menjadi larut, Sentanu yang menumpang istirahat dirumah seorang penduduk pedusunan, mencoba untuk menanyakan pada pemilik rumah tumpangan itu perihal keadaan istana.

- o, Demak kini tengah sibuk dengan penerimaan tamtama, kisanak. - Kata orang dusun itu.

- Apakah kisanak juga hendak mengikuti?

- Ya, aku ingin mencobanya. - Jawab Sentanu.

- Mudah sekali khabarnya. 

Berkata pula orang itu.

- Anak-anak muda didusun ini juga telah ada limabelas yang masuk menjadi tamtama.

- O, banyak orong pandai ditempat ini?

- Tidak, kisanak. Hanya kebetulan Gusti Bagus Prana pernah berada ditempat ini. Dan seorang tetua kampung kebetulan juga telah melatih anak-anak muda ditempat ini dalam olah kanuragan dan kaprajuritan. Maka mereka mudah saja diterima.-

- Eh, apakah paman pernah mendengar nama tombak Kiai Jalak Diding ?

- Jalak Diding, tentu saja pernah. Apakah kisanak belum mendengar kehebatan senjata pusaka itu? - Pernah juga.

- Ah, ia hebat, khabarnya untuk mengangkat saja harus dilakukan oleh lima orang bertenaga kuat. Beratnya menurut yang paman dengar dari para prajurit melebihi seratus kati. -

- Hm, kalau begitu paman seringkali berhubungan dengan para prajurit._

Bertanya Sentanu ketika mendengar perkataan terakhir pemilik rumah yang ditumpangi.

- O. tentu, saja kisanak. Aku adalah ahli pijat disini, banyak para prajurit yang kemari minta tolong aku memijat mereka manakala mereka merasa payah. Bahkan bukan hanya itu saja, Gusti Bagus Prana seperti kukatakan tadi, kerapkali datang kegubugku ini.

Ketika orang itu berkata menyebut nama Bagus Prana Sentanu melihat dada orang itu membusung penuh kebanggaan. Namun ia tidak perdulikan hal itu. Hanya yang membuat ia tertarik adalah mengetahui orang itu banyak kenal dengan para prajurit Demak

- Eh paman, siapakah namamu? Kita sudah saling mengenal tetapi belum tahu nama. Janggal, bukan?-

Sentanu bertanya. Orang itu tertawa.

- Ha,...... ha...... kau benar pemuda baik hati, baru sekali inilah aku bertemu seorang muda yang menginap dirumahku lalu menanyakan namaku terlebih dahulu. Biasanya yang terjadi adalah aku bertanya nama lawan bicara, baru dia ganti bertanya, atau malah seringkali tak satupun yang bertanya. Cukup mereka terpenuhi kebutuhannya minta tolong padaku memijati tubuhnya dan mereka memberi upah, itu cukup. Dan akupun tidak perdulikan apa mereka butuh tahu namaku atau tidak. Yang penting upahku terbayar, kisanak. Ha ha ha.. tetapi kau aneh. Datang kemari, bukan mau minta pijit, malah belum-belum sudah memberiku sekeping emas dan kini menanyakan namaku pula. Ah, ah, rejeki besar hari ini rupanya.-

Sentanu tersenyum mendengar kelakar orang tua itu.

- Sebutkan namamu paman, aku akan mamberitahukan namaku pula. Tetapi kalau memang kau merasa perlu mengetahui.

Katanya kemudian. 

- Panggil aku Ki Becak, begitu cukup..Dan namamu sapa kisanak?

- Kau boleh menyebutku Sentanu, paman Becak,-

- He, nama bagus, sebagus orangnya

Sentanu tertawa, demikian juga Ki Becak tertawa.

- Paman, kau tadi belum menjawab pertanyaanku. Kata Sentanu.

- Yang mana. ? -

- Tentang tombak itu, apakah paman tahu dimana letak gedung disimpannya senjata pusaka itu

? -

- Ah, aku belum tahu dengan persis, tetapi pernah aku kesana ketika Gusti Bagus Prana

mengajakku masuk kedalam istana Kanjeng Adipati Unus

-Kau pernah masuk keistana?-

- Ya, aku pernah beberapa kali. Seperti kukatakan tadi, aku banyak mengenal prajurit dan pengawal dalam istana, sehingga tak satupun akan menggangguku berada di istana.

sentanu termenung mendengar perkataan itu. Lalu sesudah ia menimbang-nimbang yang hendak dikatakan. Sentanu menggamit orang itu dan berkata perlahan

- Paman sesungguhnyalah aku ada kepentingan untuk menemui saudaraku yang berada di istana.

Tetapi aku tidak tahu dengan cara bagaimana aku kesana.

Orang itu terkejut mendengar perkataan Sentanu. Namun sebentar kemudian ia berkata pula:

- Siapakah yang hendak kau cari itu? Tentu aku mengenalnya.

- Ah, kau tentu kenal. ,Kau lihat tanda ini? -

Dan Sentanu memperlihatkan tanda cap kekuasaan yang diberikan oleh Raden Trenggana. Orang itu menjadi pucat ketika dilihatnya tanda itu.

- He, jadi kau mencari Gusti Pangeran Trenggana ?!

Sentanu menganggukkan kepala seraya tersenyum menatap wajah orang itu .

- Kalau demikian kau masuklah, mudah saja kau perlihatkan tanda itu pada prajurit jaga, tentu mereka tak akan satupun yang berani melarangmu masuk istana.

Cepat Sentanu menyahut:

- Bukan begitu maksudku, paman. Benar yang aku katakan aku akan bisa masuk dengan mudah.

Tetapi aku tak ingin para prajurit itu mengenalku membawa tanda ini, sebab hanya akan menyulitkan saja. Aku ingin datang dengan diam diam kedalam istana. Baru sesudahnya bertemu dengan Gusti Pangeran aku akan meminta tombak pusaka Kiai Jalak Diding -

- Kau hendak minta tombak itu, untuk apakah kisanak ?

- Aku, tentu saja untuk ikut membantu Demak, sebab Tumenggung Santa Guna telah menerima 

perintah dari Gusti Pangeran Trenggana agar tombak pusaka itu dibawa guna menguji prajurit tamtama yang ingin menjadi prajurit. Dan kini akulah yang oleh Gusti Pangeran dipercayakan membawanya pada Gusti Santa Guna.

Orang itu mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia bertanya

- Kalau hanya untuk itu, mengapa kisanak harus membawa dengan sembunyi-sembunyi ? -

- 0, kau belum tahu paman, bukankah Demak banyak mempunyai musuh? Jika musuh mendengar aku membawa tombak pusaka itu, tentu ada yang berusaha merampasnya, maka sengaja hal ini dirahasiakan.

Orang itu menganggukkan kepala berkali-kali mendengar penuturan Sentanu yang demikian. Ia tahu sekarang maksud anak muda yang baik itu.

- Jadi bagaimana rencanamu kisanak? - Bertanya orang itu.

- Kalau paman bisa membantuku . ........ - Jawab Sentanu ragu-ragu menyatakan pendapat.

- Maksud kisanak ?

- Kau banyak kenal dengan para prajurit, dan kalau kau bisa masuk keistana tanpa dicurigai, apakah tak dapat membawaku masuk melewati pintu regol itu.

Orang itu berhenti sejenak, ia menatap Sentanu tanpa berkedip. Hatinya ditumbuhi perasaan bimbang dan takut. Bayangan bayangan tak enak terlihat diruang matanya.

- Ah, sulit untuk melakukan. Aku khawatir kau akan dicurigai, dan aku kemudian menerima hukuman berat karenanya. -

- Kau tak usah khawatir, aku bisa mengatakan pada Gusti Pangeran jika keadaan memaksa. Dan lagi kau akan diberinya hadiah telah menolongku, paman ! -

Orang itu kembali terdiam. Namun sesudah ia menimbang nimbang beberapa lama. akhirnya berkata pula :

- Baiklah. Aku tak mengharapkan pahala dari siapapun Hanya semata-mata terdorong rasa senang berkenalan denganmu saja. kisanak! Maka aku bersedia melakukan permintaanmu. .

Sentanu tersenyum, ia menghaturkan terimakasih pada orang tua ini. Dan ia merasa beruntung benar beroleh teman itu. Karena jika tidak ,bagaimana ia bisa masuk istana melewati para penjaga yang selalu berajaga diregol masuk itu? .

Setelah hari bertambah panjang dan malam tambah larut, Sentanu telah mulai memasuki halaman istana diluar regol yang dikelilingi beteng tinggi. Ia berjalan dengan tenang mengikuti Ki Becak yang berjalan dimuka.

Tiba dekat penjagaan, Ki Becak ditegur oleh prajurit jaga yang mendekati orang tua ini. 

-Hei mau kemana kau ?!

Ki Becak tertawa. ia dekati prajurit itu sambil kemudian berkata:

- Ha. kau mengapa harus bertanya demikian padaku? --' Prajurit itu menatap sejenak, kemudian melangkah surut kembali

- Kukira siapa. Tapi mengapa malam begini kau datang? Siapa memanggilmu, he ?

Ki Becak tidak menjawab, tetapi ia memperlihatkan ketawa lebar baru kemudian menjawab:

- Kalian rupanya seperti orang mulai bercuriga kepadaku. Sedang aku tahu benar siapa yang akan mampu mengelabui prajurit macam kalian ini. Nah kalian silahkan berjaga-jaga disini. aku mau masuk. Sayang aku terlambat, tentu Tuanku Pangeran di istana akan marah. -

Gumamnya pula.

Para prajurit jaga itu tidak melarang pula mereka membiarkan orang tua yang telah dikenal itu untuk melangkah masuk melewati regol. Tetapi ketika Sentanu mengikuti masuk, seorang penjaga lain maju dan menghadang seraya berkata

- Dan ini siapa Ki Becak? adakah perlu ia juga dibawa masuk? Kanbali Ki Becak tertawa:

- Tentu,tentu saja ada perlunya maka kuajak dia kemari,

Penjaga itu ragu-ragu sejenak, tetapi akhirnya memberi jalan juga, meskipun dimulutnya mengatakan :

- Kau sendiri yang bertanggung jawab jika kena marah panglima, Ki Becak ! -

- Ya, aku tahu. Percayalah. Panglima tak akan marah.

Kata Ki Becak kemudian, lalu dengan langkah lebar ia berjalan masuk diikuti Sentanu yang tidak banyak membuka mulut. Namun diam-diam ia merasa heran juga menyaksikan orang tua itu dipercaya demikian hingga keluar masuk istana tanpa kesulitan.

Sesampainya dihalaman istana, Sentanu segera mencari jalan terlindung agar tidak kepergok para prajurit yang tengah melakukan penjagaan. Berdua dengan orang tua itu menyusuri lorong dalam kraton menuju tempat yang ditunjukkan Ki Becak.

Namun Sentanu menjadi bingung jika orang tua itu masih juga mengikutinya. Maka berkata :

- Paman, sebaiknya kau mencari tempat sembunyi, menungguku. Karena jika paman terus bersamaku, aku bisa kena marah. Bukankah pekerjaan ini masih dirahasiakan ?

Orang tua itu mengangguk. Ia mengerti.

- Kalau demikian, aku tunggu kau disini. ,..

Berkata Ki Becak seraya menunjuk pada gerumbul semak dekat petamanan yang agak gelap.

Sentanu tersenyum.

- Baik paman, aku akan menjemputmu kemari jika kuwajiban ini telah selesai.

- Nah, kau berhati-hatilah! 

Sesudah orang tua itu bersembunyi, Sentanu segera loncat menuju letak gedung pusaka yang telah ditunjukkan oleh Ki Becak tadi.

Dengan hati-hati Sentanu berloncatan menuju tempat itu.

Namun hatinya tercekat ketika dilihatnya gedung itu terjaga kuat oleh beberapa orang prajurit yang berdiri dekat pintu dan pada masing-masing sudut masih terlihat prajurit jaga lain yang berada dalam keadaan siaga sepenuhnya.

Sentanu bermaksud memasuki gedung itu tanpa menimbulkan keributan. Maka dengan amat berhati-hati ia mendekat. Tetapi ia menjadi gelisah juga. Jika ia tidak bertindak secara kekerasan dengan menyerang prajurit-prajurit itu bagaimana mungkin ia berhasil memasuki gedung yang terjaga kuat itu?

Maka ia menjadi berdiam diri tidak berbuat apapun.

- Atau tenpaksa aku menyerang mereka, tanpa melukai, asalkan aku berhasil memasuki gedung itu. -

Pikirnya menimbang. ..

- Tapi pintu itupun tentunya terkunci kuat, dan siapa yang harus menunjukkan letak tombak pusaka itu? Jika kupaksa tentu mereka menunjukkan. Tapi kalau mereka tak mau menunjukkan, bahkan berani mati? Tentu akan sia-aia saja perbuatanku. Dan lagi jika terjadi ada salah seorang lolos kemudian memberitahukan prajurit lain, maka akan celakalah aku.

- Dan Ki Becak tentu akan tertangkap pula Ah, kasihan ia tidak berdosa. -

Sentanu terus menerus diganggu oleh berbagai pertimbangan sehingga ia masih belum berbuat apapun. Ia menunggu kesempatan baik.

- Mungkin bisa aku memukul seorang prajurit yang ada disudut belakang itu, lalu aku memanjat keatas atap dan turun dari atas wuwungan.

Pikirnya pula.

- Tetapi jika salah seorang diantara mereka keliling dan melihat Seorang kawannya berkurang, tentu akan timbul curiga, maka aku akan mengalami pula kesulitan untuk keluar. Pasti mereka akan mengetahuiku juga.

Berpikir bolak-balik Sentanu masih belum menemukan jalan sebaik-baiknya. Karena gedung itu nampak kuat dengan para prajurit jaga yang selalu siaga sepenuhnya itu.

Namun ketika Sentanu tengah berpikir demikian, tiba-tiba dari arah belakang muncul seorang punggawa mendatangi dengan menunggang seekor kuda tinggi besar. Dan meskipun malam demikian gelap, namun mata Sentanu yang awas dibantu oleh cahaya api obor yang terdapat disudut-sudut lorong jalan dalam halaman istana itu, masih dapat memperhatikan bahwa punggawa itu tentulah seorang yang berpangkat tinggi, terbukti pakaian yang dikenakan tergolong milik bangsawan tinggi. Tetapi ketika ia memperhatikan dengan lebih teliti, ia menjadi kaget. Ternyata orang itu adalah 

Pangeran Trenggana.

Tentu tak akan diduga oleh Sentanu bahwa di tempat lain telah terjadi keanehan yang membuat Pangeran itu kini datang ke tempat itu.

Pada malam itu Dipati Unus mendadak terbangun dari tidur dengan kaget. Rasanya ada sesuatu yang telah membuat kaget hingga dengan serta merta Sultan Demak itu memanggil pengawal, lalu memerintahkan orang memanggil Raden Trenggana dan Sunan Giri untuk datang menghadap.

Tidak selang lama yang dipanggil datang dengan rasa heran.

- Kanda Sultan -berkata Pangeran itu

- Aku baru saja hendak menghadap kemari, tidak tahunya tuanku telah memanggil terlebih dahulu.

- Kebetulan. _

Sahut raja Demak itu.

- Aku merasa aneh sekali. Dalam tidur aku seakan mendengar suara letusan memekakkan telinga, hingga aku terbangun dengan kaget. Maka kupanggil Adimas Trenggana dan Paman Sunan.. Tanda apakah gerangan menurut Paman Sunan suara yang kudengar dalam tidur tadi? -

Sunan Giri berdiam sejenak. Baru kemudian menjawab dengan hati-hati :

- Mungkinkah tuanku tengah bermimpi ketika itu?

- Sama sekali tidak paman, dengan mendadak aku terjaga, dan ketika itulah telinga, rasanya mendengar suara ledakan keras memekakkan kendangan. Namun segera hilang pula. Ketika aku bertanyakan kalau-kalau para prajurit pengawal juga mendengarnya namun ternyata tak seorangpun.

-

- kalau demikian sebaiknya tuanku memerintahkan melakukan penjagaan dengan lebih kuat. Hamba merasa akan terjadi sesuatu malam ini. Tetapi tuanku tak perlu merasa khawatir, karena kejadian ini bukan merupakan tanda buruk. Tuanku tetap tenanglah berada dalam istana. Biar tuanku Pangeran melakukan perondaaan kesekeliling istana. -

Dipati Unus berdiam. Namun hatinya kembali tenang, karena jika Sunan Giri telah mengatakan demikian, maka tak akan melesetlah perkataan orang tua itu. Sedang Pangeran menganggukkan kepala. Ia tahu tidak langsung dirinya telah ditunjuk oleh Sunan Giri untuk melakukan penjagaan dalam istana. Dan bagi Raden Trenggana tentu saja bisa menangkap kehendak orang tua itu yang sama dengan menyebutkan ada sesuatu yang hebat akan terjadi dalam kraton. Sebab jika tidak, bagaimana orang tua itu akan menunjuk dirinya untuk turun tangan sendiri?

Bukankah Demak tidak kekurangan senapati dan pengawal tangguh yang berilmu tinggi?

Maka dengan demikian Raden Trenggana menjadi berhati-hati. Dan Sultan Demak sendiripun maklum dengan perhitungan Sunan Giri. Tetapi karena orang bijak itu juga telah menasehatkan agar tetap tenang berada dalam istana, Dipati Unus tidak banyak berkata pula. Maka sesudah Sunan Giri 

dan Raden Trenggana minta diri, Raja Demak itu kembali masuk kedalam kamar beradu seraya berharap dan meminta pada Yang Maha Kuasa agar tidak timbul kerusuhan berdarah dalam istana.

Oleh sebab itulah Sentanu yang masih bersembunyi jadi melihat Raden Trenggana dengan menunggang kuda tinggi besar mendatangi gedung pusaka yang tengah diincarnya.

Bagai dituntun oleh tenaga gaib, Raden Trenggana yang melakukan kuwajiban meronda menuju tempat itu. Dan tiga orang pengawal lain masih berada jauh dibelakang Pangeran ini. Mengikuti seraya meneliti prajurit jaga lain dan memperingatkan mereka agar lebih berhati-hati, dan memperkuat penjagaan mereka dengan menambah jumlah prajurit jaga ditiap gardu' jaga di istana

Melihat munculnya Pangeran itulah ,maka timbul pikiran baru dalam kepala Sentanu. Sesudahnya menetapkan putusannya, ia jadi tersenyum. Dan ia segera merangkak dengan hati-hati keluar dari tempat persembunyiannya, mendekati Pangeran yang masih mendatangi dengan perlahan.

Setelah Sentanu merasa jarak dengan Pangeran itu semakin dekat. ia lepas kain baju yang dipakainya, lalu menutup mukanya dengan baju itu hingga tak mungkinlah wajahnya bisa dikenali.

Sentanu membiarkan Pangeran itu lebih mendekati dirinya. Tetapi ketika jarak tinggal empat langkah lagi, tiba-tiba Sentanu loncat menerjang Pangeran yang masih berada diatas kudanya.

Raden Trenggana terkejut. Tadi ia telah menduga ada sesuatu yang bergerak dalam gerumbul dimukanya. Namun ternyata gerakan Sentanu lebih cepat luar biasa, hingga Pangeran itu tak sempat menghindar. Namun mana mau Pangeran ini menyerah demikian saja. Sekilas tadi Pangeran melihat seorang dengan tutup muka loncat menerjangnya. Maka dengan gerakan kilat tangan Pangeran memukul kebelakang.

Sentanu telah memperhitungkan hal itu. Ia tahu Raden Trenggana adalah seorang yang mumpuni. Maka sejak semula ia telah siapkan ilmu simpanan dengan gerakan yang cukup terlatih dan matang berusaha menerkam Pangeran itu dan meringkusnya tanpa banyak mengadakan perkelahian.

Maka ketika tangan Pangeran itu bergerak menyerang kebelakang hampir saja kepala Sentanu kena gempuran itu. Namun dengan sedikit gerakkan kepala, ia berhasil menghindarkan serangan dan sekaligus tangan kanan memukul tengkuk Pangeran sedang tangan kiri menekap mulut Raden Trenggana.

Sentanu ternyata cukup kuat untuk melawan kemampuan Pangeran itu. Hingga dengan tidak banyak mampu melakukan perlawanan, Raden Trenggana diterkam demikian rupa oleh Sentanu yang telah berada dibelakangnya.

Namun agaknya kuda Raden Trenggana menjadi kaget ketika dengan tiba-tiba punggung kedatangan seorang penunggang lain yang tidak dikehendaki. Maka kuda itupun loncat kemuka seraya meringkik keras.

Sentanu jadi kaget juga. Maka daripada kuda itu kabur dan berlari yang bisa menimbulkan kegemparan dan kecurigaan. Ia menarik tubuh Pangeran dari atas kudanya hingga berguling ketanah. 

Lalu menyeret tubuh tawanannya ini sembunyi kedalam semak pohon bunga yang ada ditempat itu.

- Maafkan hamba Tuanku, terpaksa ini hamba lakukan!

Kata Sentanu seraya masih tidak melepaskan mangsanya yang masih melakukan perlawanan.

Raden Trenggana sedianya hendak berontak dan berusaha melepaskan diri dari terkaman orang yang tak dikenalnya itu. Namun Pangeran ini segera menyadari bahwa lawannya memiliki kemampuan luar biasa. Terbukti dirinya kena dibikin tidak berdaya. Namun Pangeran ini bukannya merasa takut. hanya karena ia ingin mengetahui apa kemauan orang itu, maka tidak melakukan perlawanan.

Ditunggunya apa yang hendak dilakukan orang ini atas dirinya.

- Tuanku, jangan salah terima, hamba bukan hendak mencelakakan Tuanku. Berkata pula Sentanu.

- Tetapi jawablah, jika Tuanku bersedia menuruti kehendak hamba, maka akan hamba lepaskan dengan baik-baik. Maukah Tuanku berjanji menuruti kehendak hamba? .Tidak berat, dan tak akan menimbulkan korban siapapun juga. Lebih-lebih bagi diri Tuanku Pangeran yang hamba hormati.

Mengangguklah jika Tuanku bersedia menuruti kehendak hamba.

Untuk beberapa saat, Raden Trenggana masih berdiam diri. Matanya mencoba melirik kebelakang ingin tahu siapa orang yang telah berani mati menyergapnya itu. Tetapi Sentanu tetap menekap mulut dan tengkuk Pangeran dengan mengerahkan tenaga sepenuhnya hingga Pangeran itu masih tidak mampu berbuat lebih jauh lagi kecuali menyerah.

- Mengangguklah Tuanku, hamba tak ada waktu berpanjang kata. -

- Meng... ngek .. kelab si . . , . ep . . . , pe keu! -

Pangeran mencoba berkata, namun suaranya tak keluar dengan baik.

- Cukup Tuanku! Hamba hanya ingin Tuanku mengangguk jika bersedia menuruti kemauan hamba.

Namun jika Tuanku tidak bersedia, terpaksa hamba akan mengalirkan darah ditempat ini. Bukan nyawa Tuanku Pangeran yang akan hamba lunasi, tetapi adalah prajurit-prajurit yang ada disana itu.

Raden Trenggana terkejut. Ia tidak takut mati dan tak akan menyerah meskipun nyawanya terancam diujung maut. Tetapi jika benar ancaman orang yang menekannya itu dibuktikan dengan membunuh para prajurit jaga. maka akan menyesallah hati Pangeran ini sebab korban tentu akan berjatuhan, oleh tangan orang yang nampaknya berilmu tinggi ini. Maka dengan terpaksa Pangeran menganggukkan kepala. Lagi pula nampaknya orang memang tidak berniat jahat.

- Terima kasih Tuanku, hamba mau lepaskan. Namun jika ternyata kemudian Tuanku mengingkari janji, Tuanku bertanggung jaWab. Hamba harap Tuanku tak akan mengingkari perkataan sendiri

Maka dengan segera Sentanu melepaskan Pangeran Trenggana.

- Hati-hati Tuanku, jangan banyak bergerak hingga menimbulkan kecurigaan pada prajurit itu.

Sebab yang demikian berarti Tuanku memancing keributan. 

Raden Trenggana mencoba menembus muka dibalik kain penutup yang ada didepannya itu.

- Apa maumu?

Bertanya Pangeran dengan suara perlahan.

- Hamba hanya ingin memiliki tombak pusaka Kiai Jalak Diding, meminjamnya Tuanku! Kelak hamba kembalikan jika telah tiba saatnya.

Raden Trenggana menjadi heran. Kemauan orang yang berhasil menyergapnya itu dirasa agak aneh.

- Kau harus meminta ijin Tuanku Pati Unus! - Jawab Pangeran kemudian.

- Aih, Tuanku jangan mengulur waktu, hamba tak ada waktu banyak. Cukup Tuanku Pangeran berjalan dimuka, beri perintah pada para prajurit itu untuk membukakan gedung pusaka dan perintahkan memberikan pada hamba tombak pusaka itu.

Pangeran merasa habis akal. Maka ia tidak banyak membantah, ketika Sentanu mendorongnya keluar dari tempat persembunyian.

- Tuanku silahkan naik kuda Tuanku kembali, dan hamba mengiringkan dari samping. Tetapi ingat Tuanku, jika Tuanku mengingkari janji, maka puluhan prajurit itu akan menemui ajal ditangan hamba. Dan hamba rela menjadi korban para pengawal, tetapi prajurit-prajurit Tuanku juga puluhan akan menemui ajalnya. Berpikirlah Tuanku Pangeran, jika Tuanku menuruti kehendak hamba untuk meminjam tombak pusaka itu. maka banjir darah akan bisa dihindarkan.

- Hem, kau sombong! Kata Pangeran ini.

- Mungkin Tuanku tak percaya hamba bisa melakukan itu. -

Jawab Sentanu. - Namun Tuanku bisa buktikan jika Tuanku benar hendak ingkar.

Tentu saja Raden Trenggana percaya dengan perkataan itu. Sebab jika bukan seorang berilmu tinggi bagaimana mungkin dapat memperlakukan dirinya demikian rupa hingga tidak berdaya?

Maka sesudah tak ada pilihan lain. Pangeran menurut ketika Sentanu mendorongnya keluar.

- Silahkan Tuanku naik kekuda itu!

Sentanu berkata perlahan. Dan Pangeran segera loncat kepunggung kudanya. lalu menarik kekang memberi tanda agar kuda itu berjalan kemuka. Sedang Sentanu mengikuti berjalan disamping binatang itu.

Ketika para prajurit penjaga melihat munculnya Raden Trenggana, serentak mereka membungkuk memberi hormat. Namun hati prajurit itu menjadi heran ketika dilihatnya disamping kuda Pangeran terlihat seseorang mengikuti berjalan. Namun yang menarik perhatian adalah ketika melihat muka orang itu tertutup oleh kain baju hanya kedua mata saja terlihat berkilat dalam kegelapan malam yang hanya ditimpa cahaya lampu pelita. Tetapi para prajurit tidak banyak bertanya ketika Pangeran 

terlihat tenang-tenang saja diatas kudanya.

- Bukakan pintu itu! -

Pangeran berkata. Maka dengan tidak menunggu diperintah duakali, dua orang prajurit membuka palang pintu lalu membukanya.

- Silahkan Tuanku! --

Sentanu berkata seraya membungkuk memberi hemat. - Hamba persilahkan tuanku masuk terlebih dulu!

Raden Trenggana diam-diam memuji kecerdikan orang bertutup muka itu. Maka tanpa berpikir pula ia loncat turun dari kuda itu dan berjalan masuk. Namun dalam hati Pangeran masih ingin melihat apakah orang itu akan mampu membawa tombak pusaka Kiai Jalak Diding yang beratnya hampir seratus kati itu, yang pernah membikin Tumenggung Toja Reka jatuh muntah darah ketika mengangkatnya dihadapan Dipati Unus.

- Hamba persilahkan Tuanku menunjukkan dimana tombak itu. -

Sentanu berkata pula. Dan Pangeran tidak berkata, kecuali berjalan masuk. sedang Sentanu mengikuti dengan diiringkan pandangan mata para prajurit yang melihat dengan perasaan bertanya-tanya.

- Inilah tombak itu. -

Kata Pangeran seraya menunjuk sebuah tombak yang terletak berdiri dirak bersama-sama dengan tombak lainnya.

Sentanu telah mendengar bahwa Tombak Jalak Diding adalah satu pusaka yang beratnya luar biasa. Maka dengan sigap ia loncat maju seraya matanya tidak lepas menatap Pangeran ia raih tombak yang ditunjuk. Dan hatinya menjadi lega ketika tangannya menyentuh senjata ini, terasa getaran hebat dan hawa dingin memancar dari tombak itu. Lalu ketika diangkat, terasa beratnya hampir tak terangkat olehnya. Namun Sentanu telah siap untuk itu.

Dengan sedikit mengerahkan pikiran serta kemudian mengerahkan kekuatannya, maka tombak itupun terangkat dari tempatnya.

Raden Trenggana ternganga melihat kehebatan yang diperlihatkan orang itu. Hatinya jadi kagum.

Namun ia diam saja.

- Terimakasih, tuanku. Kini hamba persilahkan Tuanku berjalan keluar dan bawa hamba dengan kuda tuanku untuk duduk dibelakang Tuanku Pangeran.

Pangeran tidak banyak berkata. Ia kagum melihat kehebatan orang yang mampu dengan mudahnya mengangkat senjata pusaka dengan tidak banyak mengalami kesulitan.

Para prajurit tidak banyak bertanya. Melihat Pangeran itu bertindak keluar pula dan dibelakangnya orang bertutup muka masih mengikuti. Tetapi sungguh tidak diduga oleh Sentanu. Ketika Raden Trenggana berjalan keluar melewati para prajurit itu, Sentanu tidak melihat kaki 

Pangeran menyentuh dengan keras pada kaki kepala prajurit jaga dan mata Pangeran mengerling memberi tanda. Maka sadarlah kepala prajurit jaga itu bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada Pangeran dengan orang bertutup muka itu. Namun ia masih belum berani bertindak sebab nampaknya Pangeran masih dalam ancaman orang itu. Bahkan ketika Pangeran loncat kepunggung kudanya, lalu diikuti oleh Sentanu meluncat duduk dibelakang Pangeran itu, kepala penjaga masih belum bergerak.

Barulah ketika pangeran telah membedal kudanya meninggalkan tempat itu si prajurit memberitahu kawan-kawannya akan isyarat Pangeran adanya.

- Lekas beri tanda bahaya pada seluruh pengawal!

Kepala perajurit itu berseru. Dan tak lama kemudian segera terdengar tanda bahaya yang segera menjalar keseluruh halaman istana.

Maka berloncatan para prajurit dan pengawal menuju datangnya Sumber suara yang memberi tanda.

Sentanu kaget, mendengar bunyi itu. Sadarlah ia bahwa seluruh prajurit kraton akan bergerak dan bisa jadi ia akan mengalami kerepotan.

- Ah, kiranya tuanku Pangeran telah mengingkari janji itu!

Berkata Sentanu dengan suara tertahan. Namun Pangeran yang berada dimuka tertawa :

- Kau salah duga. Bukankah aku tidak memberikan perintah atau tanda apapun? Tentunya merekalah yang merasa curiga melihat mukamu yang tertutup itu, dan lagi tak biasanya seorang Pangeran menunggang kuda berdua dengan orang tak dikenal macam kau begini caranya. -

Sentanu menjadi gelisah. Ia memikirkan nasib Ki Becak yang masih bersembunyi. Kalau orang tua itu tertangkap, maka celakalah ia. Dan lagi Sentanu bukannya berniat menimbulkan keributan dalam istana. Tetapi kini keadaan telah menjadi lain. Segera ia melihat banyak prajurit berkuda mengurung dirinya berdua Raden Trenggana. Dan dibeberapa tempat-masih terlihat prajurit bermunculan menuju arahnya. Sedang di tikungan-tikngan dan sudut bangunan terlihat beberapa prajurit menjaga dengan senjata terlanjang menutup hampir semua jalan keluar.

Tak ada pilihan lain Sentanu menekankan gagang Kiai Jalak Diding pada pinggang Raden Trenggana seraya berkata :

- tuanku, hamba meminta tuanku memerintahkan mereka untuk memberi jalan keluar. - Namun Pangeran itu tertawa pula.

- Kau keliru sangka benar ! Katanya

- Aku bukannya orang yang takut mati. Apalah artinya nyawa seorang macam aku yang telah banyak makan garam dan pengalaman ? Sedang kau nampaknya masih muda. Jadi tak dapat menjajagi hati dan pikiranku.

Sentanu terkejut mendengar perkataan Pangeran demikian itu. Dan tentu saja percaya Raden 

Trenggana bukannya orang yang takut mati. Maka sudah barang tentu ancamannya tak akan banyak menolong. Namun ia masih mencoba berkata :

- Baiklah Tuanku, hamba percaya hal itu. Tetapi para prajurit itu tak akan rela membiarkan tuanku mati diujung senjata hamba. Pastilah mereka tak akan berani bertindak jika Tuanku tetap dalam tangan hamba. -

- Eh kau benar bodoh dan memperlihatkan betapa kurangnya kau memiliki pengalaman. Kembali kau salah duga. Seluruh prajurit disini adalah prajurit-prajurit yang selain memiliki kemampuan tempur tinggi, juga memiliki kesadaran tidak rendah. Kami semua yang ada dalam lingkungan ini adalah orang-orang yang mementingkan kepentingan negri dari kepentingan diri sendiri. Jadi mereka tahu harga nyawa seorang Trenggana tidak berarti apapun. Mereka akan membiarkan diriku tewas sekalipun oleh tanganmu, asalkan kau sendiri bisa dibekuk. Kalau kau tidak percaya juga, bunuhlah aku, dan mereka tak akan melindungiku sedikitpun, asalkan kau benar bisa ditangkap, karena kau dianggap menjadi musuh mereka

Kembali Sentanu terpukul hatinya mendengar kata-kata Raden Trenggana yang demikian. Ia percaya benar hal itu. Karena siapa tidak mengenal kehebatan orang-orang Demak yang menggetarkan seluruh negri ditanah Jawa maupun ke negri sebrang ?

- Baiklah tuanku, jika demikian hamba terpaksa membikin istana harus kehilangan banyak prajurit dengan tombak pusaka Jalak Diding ini.

Kata Sentanu kemudian. Raden Trenggana terkejut. Ia sadar korban tak dapat dihindarkan jika benar kata-kata itu dibuktikan. Tanpa memegang Jalak Diding. orang muda yang menyekapnya sudah demikian hebat, apalagi memegang senjata pusaka itu, maka akan lebih berbahaya lagi. Namun Pangeran masih mencoba berkata dengan tenang.

- Bagus, tetapi jumlah prajurit tak akan berkurang, berapa ratus pun yang menjadi korban tanganmu, namun mereka akan datang membanjir, dan kau pasti akan bisa dibekuk juga. Dan jangan lupa, kalau tuanku Pati Unus berkenan datang sendiri dan turun tangan, maka kau tak lagi berarti apa-apa. Meskipun kau membawa seribu tombak Jalak diding. _

Kembali Sentanu tercekat mendengar itu. Jika benar Pati Unus turun tangan sendiri, maka tentu saja ia tak akan berani melawan, bahkan bisa konyol benar ia. Dalam pada itu Sentanu telah semakin dekat dengan pintu keluar menuju regol depan. Sesudah menimbang beberapa saat, ia serang Raden Trenggana dengan memukul tengkuknya hingga Pangeran yang telah berada dalam kekuasaannya itu terjatuh dari punggung kuda.

Pangeran yang terguling itu cepat bangun. Ia kagum dengan orang itu. Hatinya semakin yakin bahwa kedatangannya memang tidak bermaksud jahat. Terbukti ia tidak menderita luka sedikitpun ketika didorong jatuh dari atas kudanya. Namun pangeran juga tak ingin orang ini lepas begitu saja. Maka ia beri perintah dengan isyarat agar prajurit yang telah siap mengejar Sentanu yang telah 

membedal kuda Raden Trenggana berlari menuju pintu regol ke luar.

Ketika itulah meluruk puluhan pengawal dan prajurit bersenjata mengurung dan sebagian berusaha menutup jalan keluar.

Tetapi alangkah kaget prajurit-prajurit yang mengurungnya ketika Sentanu diserang oleh berbagai senjata, tombak Jalak Diding ditangannya dibikin berputar cepat bagai kitiran menutup seluruh tubuh dari hujan senjata prajurit yang mengurung dengan ketat itu.

Senjata2 prajurit itu segera runtuh terpental berhamburan atau kutung ketika bertemu dengan tombak Jalak Diding ditangan Sentanu.

Prajurit2 itu segera berloncatan mundur dengan kaget. Digantikan oleh kelompok lain yang segera mengurung dengan lebih kuat, sedangkan jumlah mereka semakin bertambah. Namun Sentanu tidak mau memberi kesempatan mereka menyerang lebih dahulu. Sebelum hujan senjata meluruk pula padanya, ia telah maju menembus kepungan dan tombaknya masih berputar menyambar-nyambar senjata lawan hingga berhamburan terpental lepas dari tangan pemegangnya. Tidak berhenti sampai disitu saja, gagang Jalak Diding di pakainya juga mendorong paha atau tubuh para pengeroyoknya hingga banyak diantara mereka roboh terpental dan mundur namun, tak satupun diantara mereka menyandang luka berat, kecuali sedikit rasa sakit pada bekas dorongan Sentanu sedikit luka lecet ketika bergulingan ditanah.

Sentanu segera menjadi lega hatinya ketika kepungan mulai mengendor. Dengan sebat ia tarik kudanya agar maju kemuka dan berlari menerobos kepungan menuju pintu regol keluar.

Tetapi puluhan prajurit mengejar sedang dimuka ada beberapa lapis lagi dengan siaga menunggu datangnya.

Sentanu menjadi agak kerepotan juga. Ia tak mau menurunkan tangan membunuh prajurit2 itu. Maka tombaknya tak henti-hentinya ia putar hebat hingga menimbulkan suara angin yang bersiutan menyambar-nyambar meluruk ketengah para pengepungnya, membuat mereka terpaksa berloncatan menyingkir.

Sentanu merasa payah juga. Keringat telah membasahi tubuhnya .Hanya untunglah Raden Trenggana tidak terlihat turun tangan ikut menangkapnya. Agaknya Pangeran itu benar memegang janji tidak ikut mengurung dirinya. Jika tidak, maka bisa dipastikan Sentanu akan lebih banyak beroleh kesulitan untuk dapat lolos dan maut terpegang orang-orang Demak itu.

Namun ketika Sentanu hampir saja berhasil membobolkan kepungan prajurit dipintu regol keluar, muncul barisan panah berkuda yang segera menyerang memberondongkan anak panah ke arahnya.

Ia kaget. Terdengar suara bersiutan ketika anak panah itu melesat dan menyambar tubuhnya

.Namun segera runtuh pula ketika tombaknya ia putar dengan lebih dahsyat dan cepat. Dan sekali ini terpaksa Sentanu harus mengerahkan tenaga sepenuhnya. Maka dengan beberapa kali gebrakan ia telah berhasil keluar dari regol itu melarikan kudanya kabur dengan cepat. 

Ketika itu hujan panah masih menyerangnya seraya barisan penyerang itu maju mengejar keluar. Dan akibat lelah serta payah telah hinggap padanya, tanpa diduga dua batang panah melesat lolos diantara sambaran tombaknya, dua batang panah itu menancap lengan kanan sekaligus sedang satunya menyambar betis Sentanu.

Sentanu mengeluh tertahan. Ditahannya rasa sakit yang menyengat akibat terkejut kena sambaran senjata prajurit itu. Namun untunglah bagi Sentanu, ketika barisan Panah Prajurit masih mengejar, tiba tiba terdengar tanda dari belakang yang memerintahkan mereka berhenti dan mundur. Hingga Sentanu bisa membedal kudanya berlari tanpa gangguan lagi. Segera ia lenyap dari lingkungan istana.

Barisan panah itu menjadi heran, namun ketika dilihatnya di tempat itu muncul Dipati Unus yang diiringkan Sunan Giri berdua .

Raden Trenggana dan beberapa punggawa lain mereka sadar, tentulah perintah itu datang dari Raja Demak itu. Maka tanpa banyak berkata mereka mundur dan kembali kedalam.

Raden Trenggana segera memerintahkan seluruh prajurit untuk kembali ketempat masing-masing, namun beberapa petugas tetap di perintahkan menjaga dengan lebih kuat.

Ketika itulah nampak Ki Becak digelandang oleh dua orang prajurit kemudian dihadapkan pada Pati Unus.

-Mohon ampun tuanku,inilah orangnya yang telah membawa penjahat itu masuk kemari. - Sembah prajurit jaga yang tadi menjaga regol muka.

Namun Raden Trenggana segera memerintahkan bangun Ki Becak yang berlutut itu, lalu bertanya dengan suara perlahan :

- Ampun tuanku,-

Kata Ki Becak dengan suara gemetar.

- Hamba tidak mengetahui maksudnya. Karena ia mengancam hamba, maka hamba terpaksa membawanya kemari. Hamba sungguh tidak berdaya tuanku.

Ki Becak terpaksa berdusta. Karena ia terlanjur menaruh simpati pada Sentanu yang selain baik hati ternyata juga gagah perkasa. Ki Becak melihat dengan mata kepala sendiri ketika Sentanu meringkus Raden Trenggana yang terkenal dan ditakuti, dan ketika menerobos kepungan prajurit, hati Ki Becak menjadi kagum dan suka. Maka ia tidak mau menyebut-nyebut Sentanu yang telah memperlihatkan tanda cap kekuasaan dari pangeran itu.

Raden Trenggana menganggukkan kepalanya, ia sadar apalagi seorang macam Ki Becak, sedang dirinyapun kena dibikin tidak berkutik oleh orang itu. Maka ia menyela berkata

- Tuanku, Ki Becak tidak bersalah, ia datang membawa orang itu dibawah ancaman.

- Seperti sampeyan Adimas Trenggana!

Sahut Sunan Giri seraya tertawa. Dan Raden Trenggana juga tertawa. Meskipun kata-kata Sunan 

Giri berisi ejekan, namun Pangeran yang telah mengenal Sunan itu yang gemar bergurau. seperti juga dirinya, tidak marah. Bahkan Pangeran itu menambahkan :

- Tentu saja paman Sunan. aku tak berdaya terhadap orang itu sebab Paman Sunan sendiri tidak kunjung keluar menolong.Namun aku tidak marah sebab aku tahu paman Sunan sejak dulu penakut! -

- He he .. anakmas tidak mau kalah. ..-

Sunan tertawa. Dan mendengar perkataan itu rata-rata prajurit yang masih berada disitu tersenyum juga. Lebih-lebih ketika dilihatnya Pati Unus juga tersenyum. Hanya Ki Becak yang masih ketakutan. Akhirnya Baginda berkata:

- Baiklah, kau kuberi pengampunan Ki Becak, sebab kau tidak berdosa. Maka kuperkenankan kau kembali!

Ki Becak berlutut dan menghaturkan terimakasih berulang- ulang. Lalu ia mengundurkan diri dari tempat itu dengan perasaan girang bukan main. Lalu Pati Unus mengajak para petinggi kraton itu kembali ke- dalam dengan diringkan para pengawal yang masih bersiaga. Adalah tidak mengherankan jika tiba-tiba barisan panah yang mengejar Sentanu tadi mundur dan menghentikan serangan, karena yang menerima pelaporan perihal datangnya seorang yang mengambil tombak Pusaka Jalak Diding telah mendapat bisikan dari Sunan Giri yang mengatakan:

- Tuanku, agaknya kinilah saatnya mimpi tuanku akan menjadi kenyataan. Lepaskan orang itu.

Melihat tanda-tandanya, tentulah ia yang bernama Sentanu yang digariskan akan dapat menghancurkan pemberontakan para Adipati di tlatah timur_

- Paman Sunan, kalau demikian kita undang ia dengan baik- baik. - Katanya.

- O, bukan demikian yaag harus terjadi, tuanku. Kini meskipun sudah terlihat tanda-tanda bakal munculnya impian tuanku, tetapi masih ada beberapa kejadian yang membuat tuanku belum dapat bertemu dengan anak muda itu. Bersabarlah tuanku. Pada saatnya tuanku akan bisa menyaksikan sendiri orang itu. Maka lepaskan dengan ikhlas tombak pusaka Jalak Diding terbawa olehnya. Karena tombak itulah yang akan membantu timbulnya kemenangan Demak atas Adipati dan Raja musuh.

Baginda tidak membantah pada nasehat Sunan Giri maka segera diperintahkan barisan panah yang memburu untuk mundur. Hingga Sentanu berhasil lolos dari kejaran, meskipun betis dan lengannya terluka oleh dua batang panah.

Sementara Baginda Pati Unus menjadi kagum ketika menerima pelaporan bahwa tak seorangpun diantara prajurit yang terluka oleh serangan Sentanu, anak muda itu telah berlari jauh meninggalkan Demak menuju keluar dan menerobos daerah pegunungan di utara.

Ketika itu hari telah berangkat terang tanah. Sentanu turun dari kudanya, kemudian mencabut dua batang panah yang melukai lengan dan betisnya itu. Dengan mencari daun-daun obat yang 

terdapat disekitar tempat itu ia mengunyah kemudian menempelkan pada luka-lukanya. Maka dalam waktu singkat dengan dibantu oleh kekuatannya sendiri luka yang tidak banyak berarti itu segera mampat dan darah tak lagi mengalir keluar.

Sentanu membiarkan kudanya makan rerumputan yang banyak terdapat disitu. Dalam hati anak muda ini merasa kagum dengan kuda Raden Trenggana yang tinggi gagah itu. Lalu ia

menimang-nimang tombak pusaka Jalak Diding ditangannya. Dan Sentanu memang merasakan tombak itu amat berat. Namun berkat kekuatannya luar biasa, ia mampu membawa tombak itu tanpa kesulitan. Bahkan hatinya menjadi girang memperoleh senjata berat yang dirasa amat cocok dengan dirinya.

Sentanu segera pergi turun kesungai dengan menuntun kudanya ia berniat membersihkan diri disungai yang tidak jauh ada didekat tempatnya berhenti. Dan akan menunggu sampai beberapa waktu lagi baru akan datang kepada Tumenggung Santa Guna untuk dapat diterima menjadi tamtama. Kini Sentanu tak usah merasa khawatir akan ditolak pula sebab pada dirinya membawa cap tanda kekuasaan yang diberikan oleh Raden Trenggana.

Ketika Sentanu mengamat-amati tombak pusaka yang dibawanya, ia menjadi kagum. Meskipun dari pamor luar senjata itu tidak memperlihatkan sesuatu yang luar biasa, namun sewaktu disentuh olen tangannya terasa ada aliran hidup bergetar dari tombak itu.

Tiba-tiba Sentanu menggerakkan tombak itu, lalu ia menggerak-gerakan maju dan loncat beberapa langkah kemudian memainkan senjata pusaka itu dengan cepat dan bertenaga.

Sentanu menjadi gembira, hatinya merasa senang mempermainkan tombak pusaka yang meskipun terasa berat ditangannya, namun ia merasa cocok benar. Sehingga makin lama bertambah cepat memainkan senjata itu hingga terdengar angin menderu-deru dari sambaran tombak itu. Daun berguguran ketika kena sampok Kiai Jalak Diding yang dimainkan dengan cepat dan hebat.

Namun ketika Sentanu masih bergerak memainkan tombak pusaka itu, tiba-tiba terdengar sebuah suara keras dan nyaring dari arah belakangnya: .

- Bodoh benar! memainkan barang bagus tidak mencari kawan, nah kau lawanlah aku anak muda!

Sentanu terkejut. Tak diduganya akan ada orang lain melihat perbuatannya. Tetapi ia sadar tentu orang itu adalah seorang berilmu yang sengaja hendak mencari permusuhan dengannya. Maka Sentanu tidak menggubris perkataan orang yg masih belum memperlihatkan mukanya, malah Sentanu sengaja kembali bergerak dengan lebih hebat, dan ia bentur-benturkan Jalak Diding pada

batang-batang pohon yang ada disitu.

Ketika Sentanu memainkan tombak pusaka dan membenturkan pohon-pohon itulah segera terjadi hal yang tak diduganya. Beberapa pohon segera roboh terkena benturan Kiai Jalak Diding yg digerakkan Sentanu hingga menimbulkan suara gemuruh hebat ketika pohon-pohon itu roboh dan 

tumbang.

- Ha...... ha...... bodoh dan dungu benar ! Menyerang barang mati yang tidak mampu melawan.

Hei Anak muda, jangan kau kira aku tidak tahu bahwa kaulah murid Ki Ageng Semu kakek penyakitan itu! Hayo kau lawan aku barang sebentar untuk menjajal kepintaranmu main senjata buruk itu!

Sentanu jadi menghentikan permainannya. Kalau tadi ia masih tidak mau menggubris seruan orang yang tidak ada urusan dengannya maka kini sesudah mendengar orang itu memaki nama gurunya, jadi mendongakkan kepala dan mencari dari mana datangnya suara itu. Tetapi tidak terlihat seorangpun.

- Eh, kau yang berkata itu, keluarlah jika kau memang mempunyai keingingan untuk berkenalan denganku. Mengapa harus sembunyi?

Bertepatan dengan hilangnya suara Sentanu, terdengar suara tertawa keras. ;

- Ha ...... ha ...... he ...... kau benar berani dan pintar. Tetapi semangat mudamu itu sayang jika kau pergunakan membela manusia serakah macam Pati Unus.

- Kau keluarlah, agar kita dapat berbicara dengan enak! -

Sentanu kembali berseru. Namun masih belum terlihat terdengar jawaban-jawaban lain kecuali suara tertawa orang itu yang semakin keras dan mendirikan bulu kuduk orang yang mendengarnya.

Sentanu berpikir, kalau benar orang tidak mau memperlihatkan diri, sedang ia masih juga belum berhasil mencari tempat sembunyi orang itu. maka dapatlah ia mengukur ketinggian ilmu orang itu. Namun Sentanu tidak menjadi takut. Cepat ia mengambil busur panah yang diberikan gurunya, dengan pentang gendewa itu berkata pula:

- Hei kau siapapun orangnya, keluarlah, sebelum aku turun tangan memaksamu untuk keluar dan menemui diriku.

- He ...... ha... kau benar berani anak muda. Kalau benar kau bisa membuktikan katamu maka lakukan apa yang kau hendaki.

Sentanu tidak banyak berkata pula, ia segera tarik tali gendewa panahnya, lalu dengan berputar ia menyerang menghujani anak panah kearah datangnya suara itu.

Dan Sentanu yang telah mengetahui kehebatan panahnya merasa pasti bahwa orang yang sembunyi itu akan kena dipaksa untuk keluar menghadapi dirinya.

Maka ketika tali gendewa telah terpentang, lalu dengan tiba-tiba ia lepas bidikan anak panahnya, segera terdengar suara bersiut keras ketika anak panah itu melesat bagai kilat dari busurnya.

Orang itu agaknya mengenal kehebatan panah Sentanu, hingga dengan mengeluarkan suara keras ia juga balas menyerang melepas anak panahnya.

Anak panah yang dipegang Sentanu adalah sebuah senjata pusaka yang dibuat secara khusus oleh Ki Ageng Semu dari bahan kayu pilihan. Tebal tipis dan berat anak panah itu ditimbang dengan 

teliti sekali oleh Ki Ageng Semu dan diperhitungkan dengan lenturan tali busur yang dipergunakan, sehingga jika sebatang anak panah dilepas dari busurnya, maka anak panah itu akan menyuruk dan menyambar berputan putar kesegala arah dengan kuat. Sehingga tidak hanya satu arah yang dituju ujung senjata runcing itu, melainkan dengan gaya berat, yang telah diperhitungkan oleh Ki Ageng Semu manakala anak panah itu lepas dari busurnya, membuat panah itu bagaikan didorong tenaga ajaib berputar-putar hebat dan menyambar segala jurusan. Dan manakala senjata itu telah mengenai sesuatu benda keras, pasti akan membalik dan meluncur kearah pemiliknya, kembali pada yang empunya.

Maka ketika panah Sentanu terlepas hebat, dengan memperdengarkan suara keciutan mengancam nyawa, si orang yang masih bersembunyi juga melepas anak panah yang tak kalah ajaibnya. Hingga pada satu tempat dua batang panah itu saling berbenturan dan

- Cring! -

Terdengar Suara nyaring akibat benturan dua batang panah itu, yang segera masing-masing terpental berbalik kepada masing-masing pemiliknya.

Sentanu loncat menangkap anak panah yang kembali dengan sigap dan cepat. Namun anak panah lawan ternyata melayang tinggi kemudian runtuh kebawah menancap disebatang pohon yang ada dihadapannya.

- Ha ...... ha ...... kau kira hanya kau saja memiliki anak panah itu? He ...... he tidak percuma aku melatih diri bertahun tahun untuk membuat panah semacam punyamu itu. Nah, kini barulah Ki Ageng Semu harus mengakui keunggulanku. Pasti! Pasti aku sekarang bisa menghajar kehebatan orang tua penyakitan itu. He ...... he ..... .

Sentanu terdiam. Ternyata lawan masih belum mau memperlihatkan dirinya. Jadi benar ia sengaja hendak mencari permusuhan dengannya.. Maka segera timbul dalam pikiran Sentana. Ia tak sudi melayani orang yang sembunyi dan mengejek itu. Meskipun tanpa membawa tombak Kiai Jalak Diding ataupun Sentanu, bukannya merasa tahu, tetapi melihat lawan memang tak mau memperlihatkan dirinya, agaknya sengaja untuk membikin panas hatinya. Maka timbullah pikiran lain. Ia segera simpan kembali busur dan anak panahnya. Lalu ia loncat mendekati kudanya yang masih berada ditempat itu. Ditepuk-tepuknya kuda itu pada lehernya seraya berkata :

- Kau lihat, bukan? disini ada bau busuk. Ayo kita tinggalkan tempat ini! -

Dan Sentanu segera menuntun kuda itu berjalan naik lewat jalan semula. Seakan tak terjadi apapun ditempat itu.

Ketika Sentanu telah sampai diatas, dan baru saja ia hendak loncat kepunggung binatang itu, tiba-tiba berkelebat seseorang kedekatnya, yang segera orang itupun tertawa mengekeh memandang dirinya.

Sentanu menduga tentulah orang itu yang tadi menyerangnya, .menilik dari suara tertawanya, ia 

merasa pasti. Maka ia segera melengos memalingkan muka lalu;

- Hayo kita pergi! -

Katanya pada kudanya seraya memberi tanda agar kuda itu berjalan. Ia tidak lagi perdulikan orang tua yang nampak rambutnya sudah memutih itu.

- Eh, tunggu dulu! -

Tiba-tiba siorang tua loncat menghadang dimukanya, hingga Sentanu menghentikan kuda dengan tiba tiba pula. Namun ia masih tidak sudi berbicara dengan orang tua itu.

- Kau tidak takut terhadap setan tua, bukan? -

Kata Sentanu pada kudanya pula. Hingga perkataan itu membuat si orang tua yang ada dihapannya menjadi merah mukanya, merasa kena disindir.

- Eh kau berhenti dulu, dan jawab pertanyaanku, baru kau boleh lewat dengan selamat! --

Kata orang tua itu kembali seraya mengedangkan kedua tangannya lebar-lebar menghadang dimuka Sentanu.

Sentanu menatap si orang tua yang ia anggap terlalu usil itu. Jelas seorang yang berilmu tinggi, bahkan mungkin sejajar dengan gurunya. Tetapi pandang mata dan gerak gerik bibir orang tua itu membayangkan watak tidak baik. Dan karena Sentanu masih juga melihat orang tua itu menghalangi jalannya, maka ia mencibirkan bibir dan berkata :

- Tak usah kau tanyapun aku juga tak akan sudi menjawabnya. lebih lagi kau tanya, maka akan sia-sialah suara usilmu jika kau bertanya.

- Bagus, kalau begitu kau tak akan bisa lewat sebelum bisa mengalahkan aku. Jawab orang tua itu.

- Hh, sayang kalau tanganku harus menyentuh kulitmu. Maka kau boleh menghalangi jalanku sampai kau mampus. tetapi aku juga tak akan memaksamu untuk menyingkir, karena akupun bisa duduk disini sampai aku mati. Tetapi jangan harap aku akan sudi melayani berkelahi.

- Ha, kau mau duduk disini sampai mati?! -

- Kalau kau masih tak mau menyingkir, aku tetap akan disini sampai kau mampus dengan sendirinya.

- Kalau begitu kau harus mampus lebih dulu ditanganku! -

Dan orang tua itu segera melangkah maju seraya menggerakkan tangan kemuka siap hendak melancarkan serangan. Namum Sentanu segera loncat turun dari kudanya. Dan berkata:

- Kau boleh bunuh kalau mau bunuh aku, dan aku tak akan melawan. Aku tak sudi kulitku bersentuhan dengan kulitmu, dan mengajakmu berkelahi tak akan berguna dan tak ada untungnya bagiku! -

Lalu Sentanu berkata pada kudanya:

- Kau kesanalah, disana banyak rumput segar, aku mau tunggu kamu disini. - 

Lalu ia duduk diatas rumput sambil meletakkan busur dan panahnya. Sedangkan tombak Jalak Diding ia letakkan dimukanya pula. Kemudian ia mengusap usap tombak itu. Ia tidak lagi perdulikan si orang tua yang menjadi marah melihat sikap anak muda itu.

- Gila! Gila benar anak ini!

Orang tua itu mencak-mencak sendiri dan membanting-banting kaki bagai anak kecil kehilangan mainan.

- He, ayo berdiri dan lawan aku!

Serunya. Tetapi Sentanu masih tak perdulikan. Melirikpun tidak. Ia terus menggosok gosok tombak yang dipegangnya seraya duduk bersila dihadapan orang tua itu.

- Hayo kau bangun dan lawan aku! - Orang tua itu masih juga berteriak-teriak.

Mana mau Sentanu menuruti perkataan si orang tua. Ia sedikitpun tak hendak memandang, apalagi menyahut perkataan.

Pada saat kedua orang itu dengan tingkahnya masing-masing bertahan menuruti keinginan sendiri yang saling bertentangan, ditempat itu muncul seorang wanita tua yang tak kalah gesit dan cepatnya berkelebat mendatangi.

Sentanu kaget melihat munculnya wanita itu. Begitu pula orang tua itu tiba-tiba mendelikkan mata ketika pandangnya beradu dengan orang yang baru datang.

Sentanu mengenali wanita itu adalah Nyi Ageng Maloka yang pernah dilihatnya ketika bersama Ki Ageng Semu menemui dirinya dengan Mirah Sekar. Maka dengan cepat ia loncat bangun dan memberi hormat sambil berkata keras: - Ah, selamat datang Nyi Ageng! Kiranya kau orang tua yang telah menolong Mirah Sekar dulu itu. Maafkan jika aku yang muda tidak segera mengenalimu!

Nyi Ageng Maloka tertawa mendengar perkataan Sentanu. Namun matanya masih menatap dengan tajam, ke arah anak muda itu dengan sorot menyelidik.

- Eh, kau siapakah mengenaliku ? Tanya Nyi Ageng Maloka. -

Sentanu heran. Tak tahunya orang tua itu tak mengenal dirinya. Maka sambil senyum, ia berkata:

- Rupanya Nyi Ageng telah melupakan peristiwa dua orang muda yang lari dari wanabaya.

Bukankah Nyi Ageng yang kemudian menolong anak-anak itu? Nyi Ageng tentu ingat muridmu Mirah Sekar. Sedang satunya akulah Nyi Ageng! -

- Oh. oh, ya aku ingat sekarang! -

Nyi Ageng menepuk keningnya dan memukulkan tongkat kayu yang dipegang ketanah.

- Jadi kaulah rupanya murid Ki Semu ya?

- Begitulah Nyi Ageng. 

- Hem, tetapi ada urusan apa berada berdua dengan Sunan Langgar ini? -

Bertanya pula Nyi Ageng Maloka sambil menuding orang tua yang masih berdiri memandang dengan muka berkerut.

Sentanu terkejut. Mendengar Nyi Ageng yang menyebut orang tua itu adalah Sunan Langgar. Ia telah mendengar dari gurunya kehebatan Sunan Langgar yang juga menjadi lawan Demak, membanuau pemberontakan Majapahit, ia ingat bahwa gurunya seringkali menyebut-nyebut dua orang tua sakti yang ada di tlatah timur. Mereka adalah Ki Ageng Semanding dan Sunan Langgar

- Pantas ia demikian hebat dan tak berhasil menemukannya ketika ia sembunyi tadi. - Pikir Sentanu. Tetapi ia hanya melirik sekejap. Lalu tak memperdulikan lagi. Lalu berkata :

- Akulah yang tidak beruntung Nyi Ageng, baru saja aku tiba ditempat ini, tiba-tiba muncul orang tua usilan yang mengganggu maka kubiarkan ia menari kayak monyet dimukaku. Mana aku sudi bersentuhan kulit dengannya berkelahi. Tetapi Nyi Ageng jangan anggap aku jerih padanya, coba saja kalau Nyi Ageng tidak datang kemari, tentu ia akan mati berdiri disitu. -

Nyi Ageng melengak heran mendengar jawaban anak muda itu. Tetapi tiba-tiba meledaklah ketawanya. Ia tahu kini dengan apa yang terjadi. Karena ketika ia muncul tadipun telah melihat sentanu duduk bersila menggosok-gosok tombaknya sedang Sunan langgar terlihat marah-marah berdiri dimuka anak muda itu.

- Hi ..... . hi ...... heh... kau lucu. Pantas dia itu kulihat merah mukanya dan matanya hampir copot dari tempatnya.

- Diam! ---

Tiba-tiba terdengar Sunan Langgar membentak hebat hingga bergetar sekitar tempat itu. Namun Nyi Ageng hanya loncat kesamping dan Sentanu yang merasakan getaran hentakan itu agak kaget juga. Hampir ia melonjak karena terkejut. Tetapi untung cepat sadar hingga niatnya itu diurungkan.

- Eh, mengapa kau jadi marah? Nyi Ageng bertanya tertawa.

- Ha, kau mau bela anak itu?! -

- Kalau kamu menantangku, apa boleh buat. Apakah kau pernah merasa bisa membikin aku jerih padamu? Hi ...... hi..... hi... kau tak tahu anak inilah yang telah dijanjikan untuk menumpas kalian yang serakah.

- Gila semua!

Sunan Langgar memaki.

- Kau perempuan buruk juga mau membikin permusuhan lagi denganku. -

Tetapi Nyi Ageng juga maju dan seraya menyabetkan tongkatnya ia berkata tak kurang kerasnya:

- Kau orang tua serakah ini, buka matamu lebar-lebar! Bukan hanya hendak bikin permusuhan. 

Tapi sejak kapan aku telah berbaik padamu? Huh! Kalau aku tidak mengingat Guru, kau tentu sudah menggelinding diujung tongkatku ini. ..

- Eh, Nyi Ageng! -

Berkata pula Sunan Langgar. - Ada harinya kelak kau harus membuat perhitungan denganku.

Berhati hatilah jika tiba saat itu. -

- He, mengapa tidak sekarang kau membuat perhitungan? Kau licik seharusnya akulah yang menuntut padamu. Hayo kita jajal kerasnya tulang dan liatnya kulit sekarang juga. Siapa diantara murid Guru yang unggul -

- 0. bukan sekarang, kau tunggu saja. Ada Saatnya kau berdua si Jembel Semu harus menggelinding dimukaku.

- Kalau kau tak mau Sekarang mengadu kepandaian, hayo kau enyah saja dari sini! Kalau tidak kau akan kupaksa menghadapi tongkatku yang tidak bermata ini. _.

Sunan Langgar mendelik mendengar kata-kata itu. Namun ia memang tak hendak membuat perkelahian dengan Nyi Ageng Maloka, maka tanpa menyahut pula ia Segera berlalu dari tempat itu. Tetapi ketika orang itu telah berjalan membelakangi Sentanu, anak muda ini masih menangkap kata kata si orang tua yang bernada mendongkol,

- Kau beruntung anak muda, kita belum jadi main main sudah keburu datang setan perempuan itu. Namun Sentanu tidak menyahut. Ia diam saja dan matanya kini mengawasi Nyi Ageng Maloka.

- Kau cerdik anak muda. Seperti gurumu dimasa mudanya. -

Kata Nyi Ageng ketika Sunan Langgar telah tak kelihatan lagi punggungnya.

- Untung kau tidak berkeras melawan orang tua itu. Sebab jika kau memaksakan diri melawan dengan berkelahi, pastilah sulit kau bisa lolos dari tangannya. Tetapi kebetulan kau diam tidak melawan, jadinya membuat dia marah. Namun untungnya. Sunan Langgar selamanya tidak sudi turun tangan menyerang seseorang yang tidak melawan padanya. Maka meskipun ia ada didekatmu seribu tahun kalau kau sendiri tidak melawan dengan Senjata. pasti diapun tak akan menyerang dirimu.

Maka dia akan selalu membikin panas hati orang supaya lawan jadi menyerang.

- Aku tidak sengaja berbuat demikian Nyi Ageng, maksudku hanya membikin dia marah saja. .,

- He ...... he ...... tentu saja dia marah. Tetapi tak mungkinlah dia akan turun tangan padamu. -

Sentanu menjadi tersenyum juga. Namun dalam hati anak muda ini timbul rasa herannya ketika dengan tidak banyak repot, orang tua itu meninggalkan dirinya ketika Nyi Ageng memerintahkan ia pergi. Dan karena ia tak tahan dengan perasaan ingin tahunya maka Sentanu memberanikan diri bertanya dengan hati-hati :

- Nyi Ageng, aku merasa heran! Mengapa orang tua itu menurut begitu saja ketika kau perintahkan pergi dari sini? Bukankah jika ia melawanpun belum tentu aku bisa mengusirnya? 

Nyi Ageng Maloka melengak heran, Ia tidak menduga akan ditanya demikian oleh Sentanu. Maka matanya segera menatap anak murid Ki Ageng Semu itu dengan pandang heran. Namun segera ia membuka perkataan kembali :

- Eh, mengapa kau tanyakan hal itu? Apakah gurumu tidak mengatakan? -

- Guru? Tidak Nyi Ageng! Guru tidak sedikitpun juga menyinggung hubungan kalian dengan Sunan Langgar. Hanya guru sering memuji kehebatan dua orang tua yang bernama Sunan Langgar dengan Ki Ageng Semanding,

- Nah, itulah kau tentu telah mendengar dari gurumu perihal dua orang kakek itu. - Sahut Nyi Ageng.

- Tidak Nyi Ageng, guru hanya memuji-muji saja. Tetapi tidak menceritakan lebih jauh siapa kalian dan ada hubungan apa. Hanya aku menduga tentunya dimasa muda kalian ada hubungan dekat. -

- Kau benar. kami memang dekat dimasa dulunya. Tetapi. eh, apakah benar gurumu tidak pernah mengatakan hal itu? -_

- Sungguh Nyi Ageng! Mengapa aku harus berdusta padamu?

- Ha...... he... kau bisa menggoda Sunan Langgar dengan duduk diam begitu, tentu saja bisa menipuku dengan berdusta. --

Sentanu gemas. Ia mengkal juga disebut demikian. Karena sebenarnyalah Ki Ageng Semu tidak pernah mengatakan hal hubungan orang-orang tua yang kini saling bersebrangan dalam hidup itu.

- Baiklah Nyi Ageng, kalau kau tak percaya dengan perkataanku aku tak akan memaksamu untuk mengatakan. Kau boleh berkata apapun sekarang.-

Kata Sentanu kemudian.

- Eh tunggu dulu!- Nyi Ageng menyahut.

- Kalau kau ingin tahu, nah akan kukatakan, Kau duduklah ditempatmu itu. Aku akan mulai ceritakan, tetapi awas ! Kau tidak boleh menyela sedikitpun jika tidak aku menyuruhmu -

Sentanu merasa mendongkol kembali. Ia diperintah duduk ditempat ia bersila tadi. Ia kurang senang dirinya diperlakukan bagai anak kecil.

- Hayo kau duduk! Baru aku akan katakan!-

Nyi Ageng berseru sambil menudingkan tongkatnya ke tempat Sentanu tadi bersila. Namun betapapun mendongkol, entah mengapa mendengar perintah Nyi Ageng yang terakhir ia jadi melangkah lalu duduk bersila kembali ditempatnya.

- Kau mulailah Nyi Ageng. Aku akan berdiam diri mendengarkan ceritamu. Dan sebelum selesai aku tak akan menyela. Nah, kau mulailah, berapa haripun aku akan tetap mendengarkan.

- Dungu ! Kau menggodaku seperti Sunan Langgar, ha ?!- 

- Oh, bukan begitu, bukankah Nyi Ageng yang memerintahkan aku membisu sementara kau bercerita ? -

Dan Sentanu tertawa.

- Kau seperti gurumu senang menggoda orang.-

Gumam Nyi Ageng kemudian. Lalu ketika dilihatnya Sentanu tidak lagi berkata, Nyi Ageng masih berdiri dan memukulkan tongkatnya berkali-kali ketanah, barulah kemudian ia membuka perkataan kembali. Namun matanya tengah menerawang angkasa biru yang nampak cerah di- atasnya.

- Kau dengar baik-baik ! Aku mulai. -

- Sebelum ada negri Demak sekarang ini, jauh, bahkan sebelumnya negri Demak dan Pajang ada, ada sebuah negri yang tentunya kau telah mendengarnya. Negri itulah yang disebut orang dengan Majapahit. Kau tentu pernah mendengar kebesaran Majapahit dari orang orang lain.

Pada jaman Majapahit itulah, sewaktu negri itu dipegang oleh Raja Brawijaya, anak negri mulai merasakan hal-hal yang tidak mengenakkan.

- Tak usahlah aku sebutkan satu persatu kejadian yang menimpa anak ngeri. Tetapi pada masa itu, negri Majapahit masih menguasai daerah Palembang. Maka oleh Prabu Brawijaya, diperintahkan seorang saudaranya sebagai wakil Raja Majapahit yang berkedudukan di Kadipaten Palembang. Orang inilah yang disebut Adipati Arya Damar.

- Ketika Adipati Arya Damar datang di Palembang, Agama Islam telah masuk kenegeri itu, sehingga Arya Damar sendiri menjadi penganut Islam disana.

Dalam pada itu, di negri Majapahit terdapat seorang dalang kenamaan bernama Dharmapara, seorang Budha yang mumpuni dalam ulah senjata dan kaprajuritan, Sedang kemampuannya mendalang sengat ajaib. Rasanya diseluruh Majapahit tak ada duanya dalang sepandai Dharmapara ini. Maka berkat kepandaian dan ketinggian ilmunya yang tak ada tara, ditambah kemampuannya mendalang yang membikin kagum seluruh Majapahit, Ki Dalang Dharmapara menjadi orang kesayangan Prabu Brawijaya.

Manakala Dalang Dharmapala mendalang, ribuan orang dari berbagai negri akan datang dan melihat kepandaiannya. Tak seorangpun akan bergerak dari tempatnya sebelum Dalang Dharmapara selesai membawakan cerita dengan wayang-wayang kulitnya. Bahkan Dhamapara terkenal mumpuni menggerakkan Wayang-wayang itu dengan cara aneh yang mengagumkan. Ia mampu menggerakkan wayang sekaligus tidak hanya satu dua, tetapi puluhan ia mampu memainkan wayang dengan baik. Hingga seakan benar hidup dan mempesona bagi yang menyaksikan ulah Darmapara mendalang itu.

Kehebatan Darmapara inilah yang menggemparkan orang senegeri. Bahkan Prabu Brawijaya tentu akan terpaku manakala menyaksikan Dhamapara memainkan wayang-wayangnya. Dan lagi dengan dibantu para niyaga yang terpilih Dharmapara namanya semakin hari bertambah umum dan mengundang ribuan orang untuk menyaksikan kehebatannya memainkan wayang. 

- Namun menurut orang-orang terdekat dengan Dharmapara, sebenarnyalah ki Dalang Dharmapara mampu memaku penonton ketika ia memainkan wayangnya, bukan lain terletak pada bantuan seorang pesinden cantik jelita yang selalu menemaninya manakala ia mainkan wayang.

- Dan tak seorangpun tahu bahwa pesinden cantik jelita ini adalah isteri ki Dalang Dharmapara sendiri. Kecuali hanya orang dekat dengan ki dalang sendiri yg mengetahuinya bahwa Nyi Rumbi pesinden muda cantik jelita itu adalah istri Dharmapara. Dan prabu Brawijaya juga mengetahuinya.

Namun tanpa diduga sedikitpun oleh dalang Dharmapara, pada suatu ketika isterinya, Nyi Rumbi hilang lenyap tanpa diketahui kemana. Dharmapara menjadi gelisah. Dicarinya kemana-mana Nyi Rumbi tetapi jejaknyapun tidak dapat ia ketemukan. Maka menjadi bersedih hatilah Dalang Dharmapara kehilangan istri yang amat dicintainya. Hatinya terpukul hebat dengan kedukaan, hingga akhirnya dalang Dharmapara menjadi masgul dalam hidup. Dan kepandaiannya mendalang tak lagi ia lakukan.

Pembesar negri dan orang-orang Majapahit menjadi ikut kecewa, mereka tak lagi bisa menyaksikan Dharmapara main wayang. Kerinduan Dharmapara untuk dapat berjumpa dengan isterinya Nyi Rumbi menjadi sebab Dharmapara menghilang pula dari Majapahit. Ia mengembara dari negri satu kenegri lain diseluruh tanah Jawa. dan terus berjalan ketimur dan kebarat, membawa luka hatinya kehilangan seorang istri yang amat dicintainya.

Sebelum Dharmapara menghilang meninggalkan Majapahit itulah banyak punggawa kraton datang menghadap prabu Brawijaya dan memohon

- Gusti, alangkah baiknya jika Gusti memerintahkan para prajurit dan hamba negri utk membantu Dharmapara mencari isterinya. Bukankah Majapahit telah menjadi ternama dengan kepintaran Dharmapara. Lagipula ia adalah bekas pengawal Gusti Prabu yg banyak menanam jasa._

Namun Prabu Brawijaya ketika mendengar permohonan orang- orang itu hanya menjawab dengan pendek: - Kalian pikirkanlah kepentingan negri yang lain. Hilangnya istri Dharmapara tak akan menimbulkan bencana apa-apa. Sudahlah, kalian kembali dan uruslah kepentingan kalian sendiri.

Banyak orang menjadi heran mendengar jawab Baginda demikian itu. Maka timbul berbagai suara dan dugaan yang segera menjalar dari mulut ke mulut dikalangan para punggawa Majapahit dan anak negri

- Baginda tidak adil membiarkan Dharmapara menderita- Kata seorang pengawal istana.

- Mengapa Baginda jadi berubah, bukankah Dharmapara kesayangan Baginda ? Kini ia menderita namun Baginda tidak memberikan perhatian. Apakah salah dalang itu?

Kata seorang prajurit lain pula.

- Ya, Dharmapara orang berbudi dan bijak. 

Sahut yang lain pun.

- Mengapa ada juga orang yang bertega hati melarikan istrinya ?- -

- Tentu orang itu sakti linuwih, Kata yang lain.

- Sebab kalau bukan bagaimana bisa ia melarikan Nyi Rumbi itu ?-

- He, jadi Nyi Rumbi itu istri Dharmapara ?- Tanya yang lain dengan heran.

- Kau tolol benar !

- Tentu saja ia isterinya.

Temannya membantah sambil tertawa.

- Tapi bukanlah selama ini kita hanya menganggap sebagai pesinden Ki Dharmapara saja ? Siapa tahu ternyata dia istrinya -

- He, oh ya, aku ingat- Jawab orang itu pula.

- Benar ! Dulunya memang orang hanya tahu Nyi Rumbi pesinden. -

- Jadi darimana khabar ini timbulnya ?

- Aku pernah mendengar dari panglima dalam. Katanya dari Baginda sendiri yang menyebutkan Nyi Rumbl adalah istri Dharmapara.

- Aku pernah mendengar dari panglima dalam katanya dari Baginda sendiri yang menyebutkan Nyi Rumbi adalah istri Dharmapara.

- Maka demikianlah tersiar sekarang bahwa sesungguhnya Nyi Rumbi adalah istri Dalang Dharmapara. Dan kedudukan itupun akhirnya menjalar keseluruh negri. Tak seorang kini anak negri yang tidak merasa kehilangan dengan lenyapnya Nyi Rumbi yang kemudian disusul hilangnya pula Ki Dharmapara dari Majapahit.

Dalam pada itu dalam istana terjadi pula sebuah kejadian lain. Prabu Brawijaya menghadapi persoalan berat yang menimbulkan kegelisahan hatinya. Sebab ternyata yang melakukan penculikan atas istri Dharmapara adalah Baginda Brawijaya sendiri. Baginda merasa terpikat oleh-kecantikan Nyi Rumbi yang masih muda remaja. Sudah sejak lama. Baginda menginginkan gadis ini, namun karena Nyi Rumbi telah menjadi istri Dharmapara, Baginda menahan gejolak dalam hatinya.

Akan tetapi lama kelamaan, baginda rasanya tak kuat lagi menahan gelora cinta pada Nyi Rumbi yang cantik itu. Maka akibat desakan perasaannya yang tak tertahankan lagi Baginda memerintahkan tiga orang punggawa untuk memanggil Nyi Rumbi ketika Dalang Dharmapara sedang tidak berada dirumahnya.

- Ada kepentingan apakah tuanku Brawijaya memanggilku ? 

Bertanya Nyi Rumbi pada punggawa utusan Baginda.

- Kami tidak mengetahuinya, hanya sekedar menjalankan perintah. Kau ikutlah aku menghadap sekarang juga. -

Jawab punggawa itu.

- Tapi, aku harus menunggu suamiku, ia masih berada dihutan mencari carang. - Kata Nyi Rumbi.

- 0, jangan ! -

Sahut orang suruhan itu pula. Tak usah menunggu pulangnya suamimu, Baginda memanggilmu sekarang juga. - Kalau suamiku kembali dan mendapati aku tak ada?

- Kau bisa menceritakan nanti setelah kembali dari istana. lagi pula tentu suamimu tak akan marah kalau yang memanggilmu Baginda sendiri-

Maka akhirnya karena didesak terus menerus. Nyi Rumbi jadi menurut juga. Ia tak enak menolak perintah baginda. Sebab menurut pikir Nyi Rumbi, tentulah suaminya akan marah mendengar ia menolak panggilan Baginda di Majapahit. Maka diikutinya punggawa itu

Nyi Rumbi dibawa dengan kereta tertutup dan dengan melewati jalan tersembunyi ia dibawa keistana. Tanpa sedikitpun menduga akan terjadi sesuatu yang hebat dalam hidupnya.

Ketika Baginda Brawijaya melihat suruhan datang dengan membawa Nyi Rumbi, hatinya berdebar girang. Segera diperintahkannya Nyi Rumbi masuk kedalam puri. Namun istri kidalang Dharmapara itu menjadi kaget ketika ia diperintahkan masuk kedalam ruangan yang ada dalam istana.

- Gusti, ada kepentingan apakah Gusti memanggil hamba? -

Bertanyalah Nyi Rumbi dengan cemas sebab melihat gelagat tindakan Baginda tidak sewajarnya.

- Ah mengapa kau harus menanyakan hal itu Nyi Rumbi ? Seharusnya kau telah mengetahuinya ketika aku selalu memperhatikan dirimu manakala duduk menyinden dengan suamimu.

Nyi Rumbi kaget. Meskipun ia menduga, namun tidak disangkanya Baginda akan berkata demikian terus terang. Hingga karena kekagetan yang tidak dikiranya itu membuat Nyi Rumbi untuk beberapa saat tidak dapat mengucap. Ia melangkah mundur dari hadapan Baginda.

Baginda maju dan berkata dengan suara merendah :

- Eh Rumbi, mengapakah kau menolak ? Bukankah kau tahu siapakah aku di Majapahit ini ?

Nyi Rumbi masih belum dapat membuka mulut, namun ketika Baginda melangkah semakin dekat, terpaksalah Nyi Rumbi bersuara dengan ketakutan:

- Ampun Tuanku, hamba takut. Hamba masih mempunyai suami. Bukankah Tuanku juga mengetahui siapa suami hamba itu ? _

Baginda Brawijaya kecewa melihat sikap Nyi Rumbi yang demikian. Tidak diduganya wanita muda yang cantik jelita, yang sejak lama telah menimbulkan kegilaan pada perasaan hati Baginda, 

menolak ketika Baginda mencoba memegang lengannya.

Akibat penolakan itulah Nyi Rumbi disekap dalam istana. Baginda masih mempunyai pengharapan Sinden itu akan menurut diambil selir. Namun ketika sehari sesudahnya Nyi Rumbi disekap dalam istana masih belum mau menuruti kemauan Baginda, timbul kemarahan raja Maiapahit itu. Nyi Rumbi terus dimasukkan dalam tahanan dan sepanjang waktu Baginda mencoba membujuk dengan berbagai upaya. Namun Sinden itu masih tetap menolak dan menyatakan kesetiaan cintanya pada Dharmapara.

Semenjak itulah maka Nyi Rumbi hilang dan tidak berhasil diketemukan oleh Dharmapara yang mencari keseluruh pelosok negri. Sudah barang tentu, Dharmapara tak akan berhasil menemukan istrinya karena sedikitpun dalang Dharmapara tak menduga bahwa istrinya berada dalam istana Majapahit.

Sementara itu dua pekan kemudian tiga orang punggawa yang diutus Baginda Brawijaya mengambil Nyi Rumbi dari rumahnya, menjadi gelisah.

- Kita berada dalam bahaya. -

Kata salah seorang pada dua kawannya.

- Maksudmu ? - Bertanya yang lain.

- Kau jangan pura-pura ! Akupun tahu kau diganggu rasa takut yang berlebihan akhir-akhir ini. Sahut orang itu pula.

Orang itu terdiam mendengar teguran kawannya.

- Ya, akupun merasakan hal itu. -

Sahut satunya. - Tetapi apa yang dapat kita lakukan ? Kita hanya sekedar menjalankan perintah Baginda. -

- Itu sulitnya. Tapi kau sendiri tahu Dharmapara bukan orang sembarangan. Kesaktiannya pilih tanding dan ia tak terlawan oleh hampir semua orang Majapahit. Agaknya dengan Baginda pun Dharmapara pasti akan membuat perhitungan jika mengetahui istrinya ada dalam istana. _

- Dan kita bertiga, akan menerima bagian. Mungkin Dharmapara akan mencincang tubuh kita sampai lumat.

- Ah kau jangan menakut nakuti.

Kata temannya. - Bukan begitu, kau lihat sesudahnya dalang itu kehilangan istrinya, hidupnya menjadi remuk. Bagaikan gila ia mencari disegala pelosok pedusunan dan dicelah gunung curam.

Maka apalah artinya nyawa kita bertiga dibanding dengan kesengsaraan yang telah ia , tanggungkan itu ? -

Ketiganya terdiam. Mereka tak dapat menemukan jalan yang baik untuk menghilangkan kegelisahan hatinya. Namun salah seorang coba berkata : 

- Aku ada pendapat, bagaimana kalau kita menghadap Baginda dan memberikan usul agar Nyi Rumbi dikembalikan. -

- Bodoh ! Bagaimana mungkin ? Ki Dalang Dharmapara telah tak ada lagi di Majapahit, lagipula kalau Nyi Rumbi menceritakan kita yang membawanya, nah kau bisa bayangkan apa yang terjadi dengan kita. -

- Kalau demikian, apakah kita cari Dharmapara dan bunuh ' bertiga ?

- Gila lagi! Itu lebih tidak waras kawan. Jangankan kita bertiga. Sepuluhpun Dharmapara tak akan dapat kita sentuh apalagi membunuhnya. Kau jangan ngacau ! -

- Ah ! Sudahlah kepalaku pening. Sudahlah terserah kalian mau berbuat apa. Asalkan kita selamat dari bahaya ketahuan Dharmapara.

Dua kawannya terdiam pula. Namun salah seorang sesudah agaknya menimbang-nimbang, tiba-tiba mengemukakan pendapatnya pula

- Masih ada jalan. -

Bisiknya. Dua kawannya hampir berbareng mendongak menatap kawan satu itu.

- Bagaimana ?

Bertanya mereka serentak.

- Kita cari Dharmapara dan katakan terus terang perbuatan kita. -

- Bah kau sinting hendak berbuat itu?!

Dua kawannya melonjak hampir berbareng mendengar kata kawannya. - Tunggu dulu, kalian belum mendengar penjelasanku. -

Dengan masih menggumam menyatakan tidak puasnya dua orang itu mendengar kawan itu melanjutkan kata :

- jangan terburu napsu dan kurang pikir. Aku merasa, berdasarkan pada penglihatan sehari-hari pada ki dalang Dharmapara. Kalau kita mau berterus terang padanya dan minta maaf. tentulah ia akan memberikan ampunan. Lagi pula sebagai seorang dalang yang banyak berpengalaman dan tinggi kemampuannya, aku yakin dia dapat menimbang mana yang salah dan mana yang benar.

Daripada kita berdiam diri dan kelak Ki Dalang mengetahuinya, kita akan terancam. Nah, kalian pikir baik-baik hal ini. -

Mendengar penjelasan itu dua kawannya menimbang dengan hati-hati. Dan memang pada dasar hati mereka membenarkan pendapat kawan itu.

- Kalau demikian, kita meninggalkan Majapahit ? -

- Kau takut ? Kita bisa kembali kedusun dan bertani dengan aman daripada berada disini diliputi kegelisahan dan ketakutan yang tidak berkesudahan. _

Akhirnya setelah menimbang-nimbang pula ketiganya menyatakan setuju dengan buah pikiran itu, maka tekad mereka bulat. Hingga dengan penuh keyakinan ketiganya kembali ketempat mereka 

dan sedikit terobati ketakutan yang selama ini mengeram dalam dada mereka.

Namun dalam pada itu sungguh tak akan diduga. oleh ketiga punggawa itu bahwa percakapan mereka telah terdengar oleh seorang prajurit sandi yang sengaja ditugaskan mengawasi gerak-gerik mereka.

Prabu Brawijaya sejak semula telah bertindak dengan perhitungan dan berhati-hati. Baginda menyadari sepenuhnya dengan siapa ia memancing urusan.

Karena siapakah di Majapahit yang tidak kenal kehebatan Dalang Dharmapara ?

Kesaktian dalang Dhamapara telah terdengar sampai seluruh pelosok negri. Dan lagi Baginda mengetahui sendiri segala, kemampuannya itu .Maka Baginda telah memerintahkan seorang punggawa lain untuk mengawasi gerak-gerik tiga orang punggaWa yang diperintahkan mengambil Nyi Rumbi dulu itu. Sebab Baginda menduga ketiganya pada suatu ketika akan membocorkan rahasia itu. Dan manakala dalang Dharmapara mengetahuinya, maka kecuali akan timbul keributan besar juga nama Baginda akan merosot karenanya. Sehingga begitu Baginda mendengar ketiganya hendak melarikan diri dari Majapahit dan mencari dalang Dharmapara, segera ketiganya dipanggil menghadap.

- Ampun Gusti, adakah yang dapat hamba kerjakan untuk paduka? -

Bertanya salah seorang diantara ketiga punggawa itu. Namun Baginda tidak memperlihatkan kemarahan bahkan air muka Baginda nampak jernih dan senyum lebar menghias muka Baginda ketika berhadapan dengan tiga punggawa itu.

- Tahukah mengapa kalian bertiga dipanggil menghadap kemari _. Bertanya Baginda seraya masih belum menghilangkan senyumnya.

- Ampun Gusti, tentu saja hamba sekalian belum mengetahuinya.

Jawab salah seorang. Sedang dua lainnya tidak membuka kata. kecuali bertanya-tanya dalam hati yang mulai tersaa tak enak rasanya.

- Baiklah,, jika kalian belum mengetahuinya, akan dijelaskan!

Lalu setelah berkata demikian Baginda memberi isyarat kebelakang. Dan segera ditempat itu bermunculan tiga orang senapati perang yang ditangannya masing-masing memegang keris telanjang.

Ketiga punggawa itu kaget melihat keris ditangan senapati yang terlihat menggeletar mengancam nyawa. Sadarlah mereka dengan keadaan yang tengah terjadi dihadapan mereka. Dan ketika mata ketiganya melirik, seorang prajurit sandi yang mendengar percakapan mereka tampak menyeringai dengan mengejek. Semakin sadarlah ketiga punggawa itu bahwa perkataan mereka terdengar oleh prajurit sandi itu. Namun sudah terlambat untuk menghindar. Maka tak ada pilihan lain ketika Baginda memberi isyarat. tiga senapati itu bergerak hampir berbareng dan keris ditangan ketiganya menghunjam dengan cepat keperut tiga punggawa yang segera roboh terguling 

mandi darah. Sedang Baginda tiba-tiba saja loncat dari duduknya dan kerisnya bergerak kemudian menancap pada perut prajurit sandi yang berdiri dekat yang tidak menduga sedikitpun nasib akan merampas jiwanya dengan cara demikian. Maka empat nyawa telah melayang ditempat itu. Dan legalah hati Baginda menyaksikan orang-orang yang dianggap akan bisa membocorkan rahasia telah menemui ajalnya, Sedang ketiga senapati itu tak sedikitpun mengetahui apa yang menjadi sebab Baginda menjatuhkan hukuman mati. Dan memang sudah menjadi kuwajiban mereka mematuhi perintah yang dipertuan di Majapahit itu, tanpa mengusut apa yang menjadi sebab musabab.

Namun setelah beberapa waktu berjalan, Baginda ternyata tidak berhasil menekan rasa ketakutan yang menghantui dalam pikir dan bayangan Baginda sendiri.

Nyi Rumbi masih tidak bersedia menuruti kehendak Baginda. maka akibat penolakan itulah Baginda menjadi marah dan sebagai seorang raja besar ia merasa terhina. Maka tak ada pilihan lain pula, Baginda berusaha menyingkirkan Nyi Rumbi ke luar Majapahit. Sebab jika masih terdapat dalam istana, suatu ketika pasti akan tersiar keluar yang bisa menimbulkan cela dan pemusuhan dari ki dalang Dharmapara.

Kebetulan ketika itu Adipati Arya Damar masih belum mempunyai permaisuri dan oleh Baginda dikirimlah pada saudaranya di Palembang itu Nyi Rumbi untuk diperisteri oleh saudara Baginda Adipati Arya Damar. Dan dengan diam-diam dibawalah Nyi Rumbi menggunakan kapal dagang ke Palembang.

Dengan telah hilangnya Nyi Rumbi dari istana, Baginda menjadi agak lega. Sebab berarti jejaknya telah hilang pula. Dan tak mungkinlah Ki Darmapara akan tiba di Palembang atau mendengar perihal istrinya. Tetapi pada satu ketika Baginda menjadi kaget dengan sendirinya.

Pada ketika Baginda tengah bersantap, tiba-tiba terpikir oleh Baginda ketiga punggawa dan seorang prajurit sandi yang telah terbunuh itu. Terbayang dalam angan-angan Baginda anak istri mereka yang tentu masih menunggu-nunggu kembalinya empat orang prajurit itu.

Tiba-tiba Baginda menjerit keras. Membuat yang melihat jadi kaget dan heran. Mereka berlarian mendekat dan dengan tergopoh gopoh menghibur Baginda dan menanyakan kalau-kalau telah terjadi sesuatu.

- Pergi, kalian ! _

Tiba-tiba Baginda membentak dengan hebatnya. Tentu saja semua punggawa dan pengawal menyingkir melihat tingkah Baginda yang aneh.

Tak seorangpun tahu bahwa ketika itu Sang Prabu seakan melihat empat orang anak kecil datang dengan membawa keris telanjang, lalu dengan tertawa menyeringai empat orang anak-anak itu menusukkan keris mereka berbareng kedada Baginda, hingga dengan tanpa sadar Baginda telah menjerit keras karena kagetnya.

Sehari sesudah Baginda melihat pemandangan itu, Baginda memerintahkan orang-orangnya untuk 

menghukum mati keluarga empat orang punggawa ini. Dikirimnya prajurit yang bertugas melakukan kuwajiban itu menuju rumah tinggal keluarga empat prajurit yang telah tewas diujung senjata.

Kebetulan pula yang menerima perintah Baginda adalah prajurlt-prajurit Majapahit yang berasal dari Pajajaran. Sedangkan empat punggawa yang terbunuh itupun seluruhnya adalah bekas prajurit Pajajaran yang pernah menakluk pada jaman Prabu Hayam Wuruk. Maka akibat itu dengan amat terkejut dan heran mereka menerima perintah yang dirasa amat aneh dan tidak mengerti dengan kemauan Baginda. Namun mana mereka berani bertanya. Kecuali hanya menyanggupkan diri untuk membunuh semua keturunan empat punggawa yang telah tewas itu. Karena rupanya Baginda merasa ketakutan jika anak keturunan empat prajurit itu akan membalas dendam.

Namun prajurit keturunan Pajajaran yang menerima perintah itu pun menjadi bingung dan bimbang. Lalu mereka mencari akal dan berunding mencari jalan untuk menyelamatkan anak-anak kawan mereka yang tidak berdosa. Sejak tiga prajurit Sunda itu terbunuh tanpa diketahui kesalahannya, mereka ini telah menjadi heran dan bertanya- tanya. Dan kini ketika perintah untuk membasmi keturunan mereka membuat terkejut dan cemas. Namun agaknya perintah itu telah terdengar oleh seorang hamba lain yang segera memberitahukan pada keluarga empat orang punggawa itu perihal perintah Baginda yang sedang memerintahkan untuk membunuh anak turun dan istri-istri itu. Tersiarnya berita itu tidak mengherankan sebab banyak diantara hamba istana yang telah melihat Nyi Rumbi dari rumahnya. Maka segala kejadian itu dihubung-hubungkan hingga akhirnya orang bisa menduga apa yang terjadi sesungguhnya.

- Kalian larilah dari Majapahit -

Kata hamba itu ketika ia telah berhasil mengumpulkan empat istri punggawa yang terbunuh itu. Keempatnya menangis sedih mendengar berita tewasnya suami mereka. Semula disangkanya masih bertugas di istana. Ditunggu- tunggu tidak kunjung kembali, tak tahunya telah menemukan ajal di ujung senjata. Maka empat orang perempuan muda itu jadi bersatu yang kemudian oleh hamba yang memberitahukan rencana pembunuhan atas mereka itu empat perempuan muda itu diberinya bekal secukupnya sambil berkata :

- Kalian berhati-hatilah. Yang penting kalian bisa selamat dari pembunuhan ini. Selamatkan anak kalian yang masih kecil, semoga Yang Maha Agung melindungi kalian semua dan anak-anak kalian yang kecil-kecil itu. Nah, berangkatlah!-

Empat wanita muda itu menangis sedih, dan sesudah menghaturkan terimakasihnya pada hamba yang memberi mereka bekal dan telah menyelamatkan nyawa mereka keempatnya segera pergi dengan diam-diam dari tlatah Majapahit. Dan meskipun masih belum tentu arah tujuan, namun mereka berpikir paling perlu adalah menyelamatkan anak-anak mereka yang masih kecil. Kebetulan empat punggawa yang terbunuh itu masing-masing mempunyai anak satu, agaknya mereka adalah pengantin baru, terbukti masih nampak muda usia mereka. Tiga orang wanita janda itu semuanya 

beranak laki-laki, sedang satunya mempunyai anak perempuan.ketiga orang bayi mungil yang masih merah itu terpaksa dibawa oleh janda-janda muda itu keluar dari Majapahit dengan berbekal kesedihan dan remuknya hati mengingat nasib sang ayah yang terbunuh.

- Kuatkan hati kalian. suami kalian adalah prajurit. Sudah selayaknya seorang prajurit tewas diujung senjata. Dan tak usahlah kalian menanamkan rasa dendam pada anak-anak yang tidak berdosa ini. Cukup kelak beritahukan peristiwa ini saja.

Demikian masih terngiang dalam telinga empat janda muda yang kini tengah berusaha melarikan diri dari Majapahit pada malam hari yang gelap gulita. Keempatnya menerobos jalan hutan, khawatir akan diketahui orang jika melewati jalan yang biasa ditempuh. Kini harapan mereka hanya satu, menyelamatkan anak mereka satu satunya. Kalaupun mereka harus matipun akan ikhlas.Lagipula dengan kematian suami yang dicinta rasanya telah tak adalagi keinginan untuk hidup.Namun mengingat bayi merah yang masih dalam gendongan itu. mereka bertekad untuk hidup,semata semata-mata untuk dapat menghidupi bayi yang masih menyusu pada mereka.

Sementara itu prajurit-prajurit yang mendapatkan perintah untuk membunuh keluarga empat punggawa itu menjadi kaget bercampur gembira melihat sasaran yang hendak ditangani telah lenyap.

Tak seorang tahu kemana mereka menuju. Mereka terkejut melihat empat janda dengan

anak-anaknya telah hilang yang berarti akan menimbulkan kemurkaan Baginda. Sedang gembira hati mereka dikarenakan empat orang wanita janda dengan anak-anak itu selamat dari tangan maut Baginda yang telah terulur panjang untuk menewaskan mereka pula.

Maka dengan bergegas mereka memberitahukan akan hilangnya empat wanita janda itu. Dan seperti yang telah diduga. Baginda menjadi kaget, maka diperintahkan sepuluh orang prajurit pilihan dipimpin oleh senapati untuk mengejar empat wanita yang melarikan diri itu.

- Kejar mereka sampai diketemukan. Aku yakin pasti mereka belum jauh dari Majapahit.

Dan berloncatan para prajurit mengejar buruan yang telah kabur itu. Sedang prajurit-prajurit yang semula di perintahkan membunuh mereka diam-diam dalam hati berdoa agar mereka dilindungi keselamatannya oleh yang Maha Kuasa.

Sementara itu empat wanita janda tadi telah agak jauh dari Majapahit, dan jalan mereka telah mulai terlihat kepayahan. Namun mereka masih memaksakan diri untuk berjalan membawa anak mereka yang masih bayi itu berjalan lebih jauh lagi. Hati mereka khawatir jangan-jangan ada prajurit Majapahit yang menyusul. Dan agaknya oleh naluri mereka telah dirasakan adanya orang-orang yang menyusul mereka itu. Hanya kadang-kadang saja mereka berhenti untuk melepaskan lelah, namun segera melanjutkan perjalanan pula. Mereka terus berjalan ke utara tanpa mengenal tujuan yang hendak dicapai. Yang terbayang hanyalah lolos dari Majapahit dan anak-anak mereka selamat.

Namun demikian agaknya memang telah menjadi nasib mereka harus bertemu dengan prajurit Majapahit yang menyusul mereka dengan menunggang kuda. 

Sepuluh orang prajurit pilihan yang dipimpin oleh tiga senapati yang ikut menikamkan keris ketubuh Suami mereka itu telah memperhitungkan benar. Bahwa empat buruannya tak mungkin melalui jalan terbuka, dan lagi kebetulan pula sepuluh orang prajurit pengejar itu menuju lewat jalan yang sama dengan jalan hutan yang dilalui empat wanita malang itu.