Mencari Tombak Kiai Bungsu Jilid 03

Jilid 03

SEMENTARA itu Sentanu melangkah dengan perasaan mendongkol kendati ia merasa tak ada alasan untuk merasa marah ditolak oleh Tumenggung Santa Guna, namun ada sesuatu yang ia rasa tidak semestinya pada Tumenggung itu. Sentanu merasakan perlakuan yang tidak adil atas dirinya. Tadinya ia melihat banyak prajurit tamtama yang telah diterima, agaknya juga tak memiliki kepandaian tinggi, mereka dapat diterima., sedang ia merasa kepandaiannya belum tentu dibawah Tumenggung itu sendiri. Tetapi Sedikitpun Sentanu tidak di jajal ilmu dan kemampuannya, hanya karena ia tidak memiliki nama sebagai nama orang Demak maka dirinya diusir oleh Tumenggung Santa Guna.

Sentanu berjalan dengan tidak tentu arah yang dituju, mau kemana ia. Tiba-tiba ia teringat kembali pada Taruna, teringat Mirah Sekar yang dibawa oleh Nyi Ageng Maloka.

Dimanakah kini gadis itu?

Sentanu jadi termenung sambil berjalan. Ia ingin kembali ke Pringsewu menemui Taruna, namun teringat pesan Gurunya untuk datang ke Demak, ia menjadi gelisah. Kalau pesan guru tidak ia patuhi maka rasa tak enak mengaduk dada dan perasaanya. Teringat Pula ia pada mpu Sugati.

Pada saat Sentanu tengah berjalan itu sekonyong-konyong terdengar derap kaki kuda berlari muncul dari hutan. Namun yang membikin Sentanu kaget adalah binatang itu ternyata berlari tanpa dikendalikan dan menerjang kearah dirinya dengan cepat dan ganas.

Sentanu sebat loncat menghindar ketika binatang itu tiba di mukanya hingga ia selamat dari terjangan binatang yang agaknya gila itu.

Tapi Sentanu lebih terkejut ketika dilihat dengan seksama, diatas punggung kuda itu terlihat seorang laki-laki dalam keadaan terikat tubuhnya. Sentanu jadi berseru kaget. Hatinya menjadi heran. Namun segera timbul kesadaran bahwa orang itu tentu dianiaya seorang yang kemudian mengikat pada kuda itu yang kabur bagai gila melarikan diri menerobos hutan dan turun naik gunung berbahaya.

Sentanu berpikir jiwa orang itu pasti terancam jika tidak tertolong. Maka dengan cepat ia loncat mengejar kuda yang baru saja lewat dimukanya itu.

Untung bagi Sentanu, binatang tunggangan yang nampak liar itu tiba-tiba berhenti dan berputar-putar seraya meringkik keras. Agaknya kuda itu mau membanting beban yang ada dipunggungnya. Namun karena beban itu terikat kuat, kuda itupun tak berhasil melemparnya.

Sentanu loncat dan berusaha memegang leher binatang itu. Namun si kuda melihat orang muncul dan berusaha menangkap dirinya, meringkik kembali dengan keras dan menghindar lalu berputar pula menjauhi anak muda itu.

Sentanu kaget. Ternyata kuda itu geraknya luar biasa cepat dan liar. Namun kembali ia bergerak mengejar menangkapnya. Kali ini Sentanu berhitung benar. Tadi hanya dengan sekali tangkap binatang itu sempat menghindar, maka kini ia. bertindak hati-hati. Ia memasang kuda-kuda sambil 

memutari mengikuti binatang itu menanti kesempatan.

Sesudah berputar beberapa kali, kuda itu tiba tiba berhenti dan agaknya hendak berlari kabur kembali. Akan tetapi Sentanu yang sejak tadi telah siap tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Pada saat si binatang baru saja hendak loncat, Sentanu telah meloncat mendahului memegang leher binatang itu, kemudian berusaha naik ke atas punggung kuda itu

Merasa orang berhasil memegang dirinya. kuda itu melonjak kembali.Namun kekuatan Sentanu tak mampu ia patahkan. Hingga kuda itu hanya berhasil menghentak hentak kaki saja sambil tak hentinya meringkik keras.

Sentanu yang hampir berhasil naik kepunggung binatang itu, Tangannya bergerak cepat memutuskan tali-tali yang mengikat tubuh orang dipunggung kuda itu. Dan dengan kekuatan yang dimiliki maka tanpa banyak menemui kesulitan ia berhasil melepaskan tubuh orang itu lalu memeluknya dengan kuat.

Kuda liar yang masih berputar-putar tiba-tiba loncat pula dan ketika pegangan Sentanu mengendor akibat ganti memeluk orang yang terikat tadi. kuda itu mencongklang dan kabur kemuka.

Sentanu kaget. Tanpa sadar ia lepas pegangan pada leher binatang itu hingga ia terbanting dengan keras di atas tanah namun yang dipeluknya ikut terlempar bergulingan dengan dirinya. Sedang kuda itu kabur berlari kedepan dan hilang dibalik pepohonan di sebelah sana.

Sentanu cepat bangun kembali lalu mendekati orang itu yang ternyata adalah seorang yang telah berusia setengah baya, beroman gagah namun terlihat bekas penganiayaan pada muka dan lehernya. Agaknya baru saja berkelahi hingga mukanya nampak biru dan bengkak-bengkak. Dan orang itu masih belum sadar dari pingsannya.

Sesudah memeriksa orang itu benar-benar belum tewas, maka segera menolong dengan membaringkan tubuh orang itu, kemudian memijit-mijit pada bagian tubuh orang yang masih belum juga sadar.

Sentanu kemudian berlari mencari air disungai yang tidak jauh dari tempat itu. Namun hampir saja ia kaget ketika dilihatnya kuda liar tadi berada tengah minum disungai itu. Tapi liarnya binatang itu tidak liar seperi tadi. Maka didekatinya. Ternyata binatang itu tidak melawan, dan ketika Sentanu memegang lehernya, kuda itu meringkik perlahan, Sentanu menepuk-nepuk leher binatang itu seraya berkata dengan tertawa :

- Ah kau nakal benar! Hayo kau ikut aku menolong orang itu.

Lalu dituntunnya si binatang, dan kuda itu agaknya mengerti dengan perkataan anak muda yang telah berhasil menundukkan dirinya. Diikutinya Sentanu yang mengmbil air dengan daun pisang lalu dengan perlahan ia mengikuti pula ketempat orang tadi berada.

Sentanu kaget ketika tiba ditempat semula.Orang pingsan yang ditolongnya tadi telah duduk. 

- Ah kau sudah sadar kisanak? _ Sentanu bertanya dengan gembira.

- Oh, jadi inikah yang menolongku? -

Bertanya pula orang itu dan matanya memandang Sentanu dengan kagum dan terimakasih

- Kebetulan saja aku melihat dirimu terikat diatas kuda itu Sentanu menunjuk binatang yang kini berada dekat mereka

- maka dengan sebisa-bisa aku tolong melepas dirimu. _

- Kebetulan saja aku melihat dirimu terikat diatas kuda itu Sentanu mengangguk dengan heran.

- Ya, sendiri. Mengapa? ...

--Kuda itu- Jawab orang itu

- dia liar dan binal luar biasa. Bagaimana kau bisa membikin ia menjadi jinak begitu? -Tadi hampir saja aku terbunuh olelnya.

Katanya

- malah tak seorangpun mampu membikin ia sejinak itu. Eh, apakah yang kau lakukan anak muda?

Sentanu semakin heran mendengar pertanyaan ini. Namun ia tidak mau lebih banyak berbincang hal itu. Maka ia ganti bertanya:

- Paman, mengapa paman sampai terikat dipunggung kuda itu? Siapa yang melakukan? Orang tua itu berdiam, ia nampak termenung membayangkan peristiwa yang dialaminya.

Berkali-kali ia menghela napas panjang, sedang wajahnya nampak sekali berduka. Keningnya berkerut. Matanya memancarkan sinar kemarahan.

Sentanu tidak mendesak pula. Ditunggunya sampai orang itu membuka percakapan sendiri. Sesudah di tunggu beberapa saat barulah orang itu berkata pula:

- Sungguh aku tidak tahu anak muda,dosa apa yang pernah di perbuat hingga sekarang aku mengalami nasib demikian ini. Aku adalah Demang Pulanggi. Merasa tidak mempunyai permusuhan dengan siapapun. Tetapi beberapa hari yang lalu ketika aku tengah menghadap pada Tuanku Pati Unus dalam pisowanan. Kademangan didatangi perampok dari hutan sebelah timur bukit itu. Tentu saja mereka merampas seluruh isi kademangan dan membawanya ke hutan sarang mereka. Tetapi bukan itu saja anak muda, bahkan perampok perampok itu menginginkan anak gadisku dan menculik membawa ke sarang mereka di hutan itu.

- Ketika aku kembali dari pisowanan, mendengar perbuatan mereka segera aku membawa orang-orangku untuk merampas kembali anak gadis dan harta benda yang mereka bawa. Tetapi tak kuduga perampok-perampok itu memiliki ilmu tinggi dan orang-orangku terbunuh oleh mereka. 

Lebih-lebih dua orang pemimpin mereka yang bernama Pamasa dan Wijaya, kedua bersaudara itu tak mudah dijatuhkan, bahkan hampir saja aku tewas diujung senjata mereka, kalau tidak Pamasa yang termuda menahan senjata memperpanjang hidupku.

- Lalu anakmu bagaimana? -

Tanya Sentanu dengan penuh perhatian

- O, itulah yang hendak kukatakan padamu. Tentu saja mereka mau menghidupi nyawaku sampai beberapa waktu lagi, karena mereka masih menginginkan sesuatu dariku. Pamasa minta memberikan anak gadisku dan mengawinkan keduanya di Kademangan. Untuk itulah mereka kemudian melepaskan diriku dengan mengikat diatas punggung kuda dengan harapan agar aku kembali ke Kademangan dan menimbang-nimbang maksud dan permintaan mereka itu.

- Dan apakah kau menyetujui permintaan itu, paman? - Bertanya pula Sentanu.

- O, tentu tidak! Mana aku sudi anakku berjodoh dengan penjahat macam mereka itu? Meskipun aku menjadi debu tak akan kuberikan anakku pada mereka.

Demang Pulanggi berkata seraya menggeretakkan giginya karena marah membakar dadanya.

Sentanu tidak banyak bertanya pula. Namun ia merasa kasihan dan merasa tidak bertega hati melihat meskipun orang tua didepannya itu marah tetapi terlihat air matanya menitik membasahi pipinya yang telah penuh dengan gurat ketuaan.

Tiba-tiba Sentanu kaget ketika orang tua itu bertanya dengan suara keras

- Eh anak muda kau siapakah yang telah menolongku? Sudah. jangan kau ikut memikirkan nasibku, biarlah besok aku akan datangi kembali mereka dan mengadu jiwa dengan kedua orang penjahat yang menjadi pemimpin mereka itu.

- Tunggu dulu paman! - Sentanu menyahut.

- Menurutkan hawa nafsu dan rasa amarah tak akan banyak menolong. Mengapa paman tidak mencari jalan sebaik-baiknya untuk dapat membebaskan anakmu itu? -Bukankah paman sendiri katakan mereka berilmu tinggi dan tidak terlawan? Maka kalau paman menurutkan nafsu amarah dan menyerbu pula, hanya mengantar nyawa dengan sia-sia dan anakmu tak akan tertolong pula. ...

Demang Pulanggi terkejut, ia kaget anak muda yang telah menolongnya itu akan dapat berkata sedemikian rupa. Tak ia duga anak muda itu bisa memberinya nasehat bagai kepada anak kecil.

Demang Pulanggi menjadi sadar. Ia mengakui dalam hati kata kata anak muda itu banyak benarnya dan sudah tentu ia merasa malu jadinya. Karena seperti diguyur air dingin kemarahan serta dendam yang menyala itu padam perlahan-lahan.

- Ah, kau mengingatkan aku anak muda. Tetapi dapatkah kau juga memberikan petunjuk bagaimana aku dapat membebaskan anak gadisku dari cengkeraman mereka? Kalau tidak terpaksa 

aku harus memberitahukan hal ini kepada tuanku Pati Unus di Demak. Namun yang inipun aku kurang yakin, apakah Tuanku Pati Unus akan segera menolongku, sebab kini tengah sibuk memikirkan persiapan penyerangan ke timur. Ah, apa yang harus kulakukan?

Sentanu tersenyum, lalu mendekati orang tua itu dan berkata dengan suara pelahan :

- Kau jangan khawatir paman. kalau kau percaya padaku, biarlah aku yang akan membebaskan anakmu dari tangan penjahat itu. Kau ajaklah aku kesarang mereka. Biarlah aku tolong kau membasmi mereka.

- Kau?! Kau seorang diri hendak menyerbu mereka?! - Orang tua itu loncat maju dan berkata dengan heran.

- Kau jangan bergurau anak muda! Aku benar tengah dirundung kedukaan, jika kau main-main bisa jadi malah aku akan hajar kau ditempat ini juga. -

Sentanu tersenyum melihat orang menjadi marah padanya. Tetapi dengan sabar ia berkata pula :

- Kau boleh tidak percaya padaku tetapi beri aku kesempatan dan kau tunjukkan dimana tempat mereka.

Katanya. Demang Pulanggi dari merasa kurang percaya menjadi heran dan ragu-ragu melihat keberanian Sentanu.

- Eh, anak muda. apakah kau sengaja ingin mencari keuntungan dengan memberi jasa padaku? - Tanyanya.

- 0, kau salah duga Ki Demang Pulanggi! Kau lihat ini? -:

Sentanu mengeluarkan Kantung yang disembunyikan dibalik bajunya.

- Kantung ini berisi keping-keping emas pemberian guruku yang akan berlebih jika hanya untuk menghidupi puluhan orang selama bertahun tahun. Aku sudah cukup kaya dengan segala yang kumiliki

_

Demang Pulanggi kaget juga.

- Maaf anak muda, eh siapa namamu? Kau belum menyebutnya tadi.

- Panggil aku Sentanu, cukup itu saja! -

Dan ia tertawa melihat perubahan sikap orang tua itu.

- Ha ...... ha kau memang baik! Terdengar demang Pulanggi juga tertawa.

- Terimakasih Sentanu, kini aku percaya padamu. Jangan khawatir, aku akan perintahkan prajurit kademangan membantumu.

- Tidak usah! Itu tidak perlu paman Pulanggi, kita berdua sudah cukup. - Sahut Sentanu.

- Kau sombong! -

Terdengar ki Demang berkata kurang senang. 

- Bukan sombong paman, sebab jika terlalu banyak membawa teman beban kita bertambah, harus memikirkan keselamatan mereka juga. Sudahlah paman, sebentar malam kita datangi sarang mereka dan bawa keluar anakmu.

- Sesukamu, sesukamu!

Ki Demang berkata tanpa membantah

- Dan kini kita kembali ke Kademangan lebih dahulu. -

Sentanu menurut, ia dekati kuda yang tadi masih berada dekat mereka. Agaknya kali ini binatang itu benar benar menyerah pada Sentanu yang segera memasang kendali dengan tali serat pohon yang ia buat disitu, lalu berdua dengan Ki Demang Pulanggi .Sentanu membawa kuda itu kabur pulang ke Kademangan Pulanggi.

Pada tengah malam kemudian Sentanu telah keluar dari rumah Ki Demang Pulanggi. Lalu berdua dengan Demang itu membawa dua ekor kuda kemudian melarikan binatang itu kabur menuju hutan sarang perampok yang menculik anak gadis Demang Pulanggi.

Dua ekor kuda tunggangan itu melesat kabur bagai panah lepas dari busurnya. Sentanu tidak banyak berkata, demikian juga Ki Demang. Tetapi orang tua ini hatinya diliputi rasa cemas dan khawatir.

Ia masih belum meyakini kemampuan Sentanu. Sedangkan jika kali ini usaha mereka gagal, bukan saja akan menimbulkan celaka bagi dirinya, tetapi bisa jadi anaknya sendiri yang masih tertawan akan menjadi korban. Namun Ki Demang tidak berkata apapun. Hanya ia berharap Sentanu benar akan dapat membebaskan anak gadisnya.

Dalam pada itu Ki Demang diam-diam ternyata telah terpikat oleh tindak tanduk dan tutur kata anak muda itu. Lebih-lebih melihat perangai dan sikap yang agung dari si anak muda, Ki Demang menjadi tunduk dan heran. Kendatipun belum lama ia tahu dan kenal pemuda itu, namun Sentanu telah memikat hatinya benar.

Kedua kuda tunggangan Sentanu dengan Ki Demang terus berlari, dan kini tinggal menyeberangi bulak panjang yang ada didepan itu. Dan hanya dengan beberapa kali lagi berbelok, maka mereka akan segera tiba di mulut hutan sarang para perampok itu.

- Paman Pulanggi, benarkah Pamasa dan Wijaya itu begitu hebat dan tak terkalahkan? -

Bertanya Sentanu ketika mereka mulai masuk bulak panjang itu seraya mengurangi kecepatan lari kudanya

- Jangan heran. - Sahut Ki Demang.

- Kedua bersaudara itu sejak lama telah ditakuti oleh lawan dan kawan. Bahkan tuanku Pati Unus 

pernah mengirimkan prajurit untuk membasmi mereka. Akan tetapi Pamasa dengan adiknya Wijaya itu benar-benar tangguh hingga prajurit Demak terpaksa harus mundur dan kembali dengan banyak yang menjadi korban senjata kedua bersaudara dan anak buah gerombolannya. Hanya sesudahnya tuanku Pati Unus mulai mengerahkan prajurit untuk menggempur para Kadipaten Timur itulah Pamasa dan Wijaya tak pernah lagi diganggu.

- Kita sampai!

Tiba-tiba berkata Ki Demang Pulanggi ketika mereka tiba dekat mulut hutan yang menuju sarang gerombolan

- Kau tunggu disini paman? Tanya Sentanu.

- Ya, aku tunggu disini. Tapi beri tanda jika terjadi sesuatu!

Sentanu mengangguk, lalu ia tambatkan kudanya pada sebatang pohon yang ada disitu.

Kemudian dengan sigap ia loncat masuk menuju bagian dalam hutan. Dan Ki Demang Pulanggi seperti yang telah mereka rancangkan menunggu di mulut keluar hutan itu menunggu anaknya jika berhasil dibebaskan oleh Sentanu.

- Aku akan bawa kalau mungkin tanpa menumpahkan darah, paman. - Kata Sentanu sewaktu mereka berunding di Kademangan.

- Tetapi itu sulit, mereka sangat kuat. - Sahut Ki Demang.

- Hutan yang dari luar nampak penuh dengan pepohonan lebat itu, sebenarnya merupakan perkampungan dan beteng kuat bagi mereka. Anak buah gerombolan itu rata-rata berilmu tinggi dan cerdik. Maka kalau kau berhasil masuk membawa anakku dengan tanpa rintangan, maka barulah kau benar hebat, Sentanu. Sentanu senyum. - Kita coba saja paman. Kalau terpaksa tidak bisa dihindari pertumpahan darah, apa boleh buat. Lagi pula memang mereka harus dibasmi, kalau tidak hanya akan menambah ketakutan dan ketidak tentraman dihati rakyat yang melewati hutan itu.

Maka ketika Sentanu telah masuk kedalam hutan, ia tidak mau bertindak gegabah dan semberono. Ia telah mendengar dari Demang Pulanggi tempat itu amat kuat dan berbahaya. Dan meskipun Sentanu tidak sedikitpun merasa takut, tetapi ia memang harus berhati-hati.

Sentanu kaget dan heran begitu masuk lebih kedalam benar seperti dikatakan Ki Demang Pulanggi, ternyata hutan itu merupakan pedusunan yang banyak didapati rumah-rumah tinggal. Sedang di berapa tempat terlihat api pelita terpasang di sudut-sudut gang dan lorong diantara rumah-rumah yang ada.

Menurut perasaannya tempat itu amat bagus dan menarik. Terlihat bersih dan menyenangkan. Tetapi mengapa demikian sepi?

Pikirnya 

Mungkinkah sarang perampok ini tidak terdapat penjaga?

Akan tetapi Sentanu tidak berpikir terlalu lama. Ia mengikuti petunjuk Ki Demang Pulanggi untuk terus berjalan mencari letak bangunan rumah yang paling bagus dan besar di sebelah barat. Karena disanalah anak Ki Demang dikurung oleh Pamasa dan Wijaya.

Sentanu meskipun agak sulit mencari letak rumah itu, tetapi akhirnya ia temukan juga. Maka ia menyingkir ke tempat yang agak terlindung. Sentanu tidak mau bertindak semberono yang bisa menimbulkan keributan yang hanya akan menyulitkan usahanya mencari anak Ki Demang Pulanggi.

Namun dalam pada itu ia menyadari, sejak masuk kedalam hutan merasa ada dua pasang mata selalu mengawasi dirinya, bahkan ketika ia menyusup dan berlarian diantara lorong-lorong gelap tadi, Sentanu tahu dua orang itu juga terus mengikuti dengan hati-hati.

Diam-diam Sentanu dapat menduga tentulah dua orang itu tergolong orang-orangnya Pamasa yang berilmu lumayan, sebab ia mengetahui gerak kaki mereka tidak terdengar, menunjukkan keduanya adalah orang-orang yang mengerti dengan ilmu.

Mungkinkah Pamasa dan Wijaya sendiri? - Bertanya Sentanu dalam hatinya. Namun

- Ah, tentu bukan. Karena menurut Ki Demang kedua orang bersaudara itu amat tinggi dan sakti, jadi pastilah jika benar mereka, aku tak akan mudah begitu saja mengetahui kehadirannya dibelakangku.

Sentanu membantah sendiri kata hatinya itu.

Maka ketika telah dekat dengan rumah besar yang menjadi tempat mengurung anak Ki Demang, Sentanu memancing dua orang yang mengikutinya itu. Sengaja ia kemudian loncat bersembunyi dengan tiba-tiba dan menghilang dari pandangan dua orang itu. Ia mengintai apa yang akan diperbuat mereka

Perhitungan Sentanu tidak meleset. Ketika dua orang yang sebenarnya adalah penjaga hutan yang tengah ronda melihat buruannya tiba-tiba hilang, menjadi kaget. Keduanya terkejut. Semula ketika mereka melihat munculnya anak muda yang berani masuk kedalam hutan mereka sudah menjadi kaget dan heran. Tidak biasanya terjadi hal yang demikian itu.

Sebab siapakah yang belum pernah mendengar kehebatan gerombolan Pamasa dengan anak buahnya?

Maka jika terjadi seorang muda berani masuk, bahkan seorang diri dan tengah malam pula, maka hal itu sudah barang tentu menimbulkan keheranan dan kekagetan bagi dua orang anak buah perampok Pamasa itu.

Namun keheranan dua orang itu justru menguntungkan mereka sendiri. Sebab jika begitu Sentanu masuk tadi dari mulut hutan, dan mereka menyerang maka umur mereka pastilah tak akan lama. Dan karena keheranan itulah mereka jadi tidak bertindak, malah mengikuti kemana Sentanu berjalan. 

Dan sekarang, keduanya kehilangan jejak orang yang diikutinya. Mereka jadi saling berpandangan.

- Kemana dia? Tanya salah seorang.

- Kau tak melihat? Tentu ia kesana, dibalik gedung pemimpim

- Bagaimana baiknya? - Sahut orang itu pula.

- Kalau ia lolos dan hilang, kita bisa kena damprat pemimpin.

- Kita cari! Kemana? Hayo, jangan banyak cakap!

Keduanya berlonoatan membalikkan tubuh, namun ketika baru saja mereka hendak berlari, Sentanu telah loncat mendahului dan dengan gerakan kilat ia mengirim serangan kedua orang itu.

- Hei! Siapa kau! Berani ma ......... _

Tapi suara orang itu segera tersumbat ketika Sentanu dengan tepat telah menyodok lambungnya hingga ia terjungkal tak mampu bangkit. Yang seorang melihat kawannya roboh, mencabut pedangnya, tetapi gerakan itu telah digagalkan Sentanu yang dengan sebat telah loncat menyerang pundak serta perut orang itu dengan serangan berbahaya yang tak mudah dihindarkan.

Sudah barang tentu, dua orang itu bukan lawan murid Ki Ageng Semu ini. Maka hanya dengan beberapa gerakan mereka harus roboh dan si orang terakhir itupun lambungnya kena serangan Sentanu dan pedangnya terlepas dari tangan. Namun Sentanu cepat. menjambret pundaknya kemudian dengan suara tertahan ia bertanya :

- Cepat katakan dimana anak Demang Pulanggi disembunyikan? . Orang itu menggerang kesakitan, dan mulutnya berkata :

- Aku idak tahu!

Sentanu menjadi marah, dipegangnya leher orang ini dan-berkata ia lebih keras

- Kau ingin aku robek perutmu, ha?! Cepat katakan dimana ia disembunyikan.

Orang itu masih diam membisu. Namun Sentanu menjepit lehernya semakin keras, hingga ia meringis dan sesak napas.

- Hayo katakan, dimana? .

Akhirnya karena tak tahan diperlakukan demikian, orang itu berkata :

- Di.,. sana ... lepaskan dulu aku!

Sentanu mengundurkan jepitan pada leher orang itu.

- Anak Demang Pulanggi disembunyikan dirumah besar itu, dikamar sebelah selatan. Tiba-tiba ..... - Plak! -

Tangan Sentanu melayang menampar pundak orang itu sambil berkata :

- Awas jika kau berdusta! - 

Hingga orang itu terguling menubruk kawannya yang sedang mimpi sejak tadi. Ia menggerang kesakitan dan Sentanu masih sempat mendengar orang itu mengatakan :

- Sayang pemimpin kami sedang tidak ada anak muda, kalau tidak jangan harap kau bisa berbuat begini

Sentanu merandek mendengar itu.

- Oh, jadi pemimpin mereka tidak ada?

Pikirnya. Dan ia hampir saja membalikkan tubuh bertanya hal itu. Namun ia urungkan niatnya.

Lebih baik segera mencari anak Ki Demang lebih dahulu. Jika benar Pamasa dan Wijaya tak ada, kebetulan!

Kalau kelak keduanya penasaran, biar urusan di selesaikan kemudian harinya.

Berpikir demikian tanpa banyak cakap lagi. Sentanu loncat dan masuk kedalam rumah besar yang ditunjuk orang itu tadi. Sentanu mencari jalan untuk dapat memasuki ruangan besar itu. Namun

tiba-tiba sebuah tangan kuat menyambar dan menjepit lehernya. Sentanu bergerak capat, ia tangkap tangan penyerang gelap itu. dan sebelum si penyerang tahu apa yang akan terjadi, tiba-tiba ia merasa lambung sakit kena siku Sentanu yang masuk dari belakang dan tiba-tiba pula tubuhnya melayang keatas untuk kemudian jatuh berdebug dengan suara keras diatas tanah, tak mampu bangkit pula. Sentanu segera menyadari disitu tentulah banyak orang yang tak lama tentu bermunculan. Dan itu bisa merepotkan dirinya benar. Bukan ia takut, tetapi jika jumlah mereka terlalu banyak dan menyerang sekaligus, maka dapat dipastikan ia akan menemui rintangan juga dalam melarikan anak Ki Demang. Maka ia segera loncat masuk ke dalam rumah besar yang ditunjukkan oleh anak buah perampok tadi.

Dugaan Sentanu tidak meleset, karena ketika ia loncat masuk, terdengar suara kentongan dipukul orang. Yang segera disusul oleh munculnya orang-orang bersenjata mengurung seluruh tempat dihutan itu. Hanya karena tidak tahu apa yang sedang terjadi, maka tak satupun dapat berbuat dengan semestinya .Mereka hanya menunggu dan berjaga ditempat masing-masing. Kecuali beberapa orang lagi berlari menuju rumah besar tempat anak Ki Demang ditawan.

Sementara itu Sentanu telah berhasil menemukan anak Ki Demang yang terikat kaki dan tangannya.

- Kau ikut aku, jangan banyak bertanya. Kata Sentanu pada gadis itu.

- Kau siapa? Seru si gadis.

- Nanti saja. lekas!

Dan Sentanu menyeret gadis itu dibawanya keluar dengan jalan merusak dinding bambu yang

ada. 

Di luar Sentanu kaget, ternyata di beberapa tempat telah terlihat banyak orang bersiaga. Maka cepat ia menyusup mencari jalan gelap menghindari orang-orang yang kini tengah mencarinya dengan kebingungan.

- Ia membawa anak Ki Demang!

Seru salah seorang anak buah Pamasa ketika dilihatnya anak Demang Pulanggi telah tak ada di ditempatnya.

- He, siapa yang menjaganya tadi? Mengapa bisa lolos? Hayo tangkap orang itu!

Terdengar suara-suara ribut ketika mereka berloncatan berlari menuju keluar di mulut hutan itu.

Ketika Sentanu hampir saja mendekati jalan keluar, tiba-tiba lima orang menghadang dangan senjata telanjang dan menghardik :

- Berhenti!

Namun Sentanu tidak banyak berkata, ia lolos pedangnya, kemudian seraya melindungi anak Ki Demang yang ketakutan, ia babat kelima orang itu dan mendesak mereka dengan cepat. Sebab jika sedikit saja ia mengendurkan serangan, beberapa saat lagi tentulah akan semakin bertambah banyak lawan yang berdatangan, maka tentu saja ia akan kesulitan menyelamatkan anak Ki Demang itu.

Kelima penyerangnya kaget dan meloncat mundur ketika senjata mereka beradu dengan pedang di tangan anak muda itu, bergetar dan tangan mereka sakit dan pedas. Namun kesempatan itu dipergunakan Sentanu untuk meloncat lebih jauh keluar hutan.

Kelima lawannya berseru ketika Sentanu berusaha kabur, dengan berebutan-mereka maju dan mengejar pula. Tetapi ketika itulah Ki Demang yang semenjak tadi telah menunggu dengan

harap-harap cemas muncul lalu menarik tangan anak gadisnya, dibawanya mendekati kuda yang telah siap menunggu. Lalu dengan cepat ketika gadis itu telah berada dipunggung kuda, Ki Demang loncat dan kabur melarikan binatang itu.

- He, tangkap kejar orang itu! --

Terdengar teriakan gerombolan yang melihat anak Ki Demang berhasil lolos bersama Demang. Bertepatan dengan itu pula orang-orang yang tadi menyusul, telah bermunculan dan mereka segera mengejar seraya menyerang dengan hebat kearah anak muda itu.

Tiga orang yang berusaha mengejar Ki Demang, tanpa sempat mengeluh kena dicengkeram Sentanu hingga roboh dan Sentanu terus berkelahi dengan mundur-mundur mencari kesempatan untuk lari. Namun ia masih terus bertahan agar memberi kesempatan Ki Demang berlari lebih jauh. Dan ketika dirasa Ki Demang sudah berada jauh, Sentanu tiba-tiba membentak keras, dan sepasang pedangnya ia cabut, lalu diputarnya senjata itu bagai kitiran membendung membentengi tubuhnya dari hujan serangan lawannya yang tidak sedikit.

Sedikit demi sedikit Sentanu masih berhasil merobohkan beberapa lawan. Namun melihat jumlah yang terlalu banyak, ia berpikir jika bertahan terus menerus tentulah akhirnya akan terluka juga. 

Maka ia mengerahkan kepandaiannya. Dua batang pedang yang dipegang seakan berubah menjadi gulungan sinar berkilau mengurung lawan, sedang angin serangan yang ditimbulkan menderu dengan dahsyatnya menyerbu lawan-lawan itu.

Para pengeroyoknya menjadi kaget. Serangan itu begitu hebat dan mereka terpaksa harus berloncatan mencari selamat. Namun tentu saja Sentanu tidak menyiakan kesempatan itu, ia loncat dan berlari mendekati kudanya yang ditambatkan lalu dengan sigap ia loncat kepunggung kuda itu dan membedalkan kabur dari hutan.

Para pengeroyoknya menjadi geram, mereka melempari dengan senjatanya, namun Sentanu terlanjur jauh hingga tak satupun senjata mereka berhasil menyentuh anak muda itu. Dan ketika beberapa orang mencoba mengejar dengan kudanya. jejak Sentanu telah tidak diketemukan lagi. Sedang untuk mengejar semakin jauh, mereka masih harus berpikir dan menimbang, sebab mereka tahu anak muda itu tidak rendah ilmu dan kepandaiannya. Maka dengan geram mereka kembali dan mengurus kawan-kawannya yang terluka.

Sementara itu Sentanu berhasil menyusul Ki Demang Pulanggi yang tengah membawa-anak gadisnya kembali ke Kademangan. Ki Demang tersenyum lega ketika dilihatnya anak muda itu kembali dalam keadaan selamat. Tadi ia sudah khawatir ketika mendengar bunyi kentongan dipukul orang. Sedang ketika ia kabur membawa gadisnya, Ki Demang melihat lawan yang mengeroyok Sentanu tidak sedikit. Maka Ki Demang bermaksud menyembunyikan anaknya terlebih dahulu. Ia hendak kembali membantu, namun hatinya menjadi girang dan niat itu diurungkan ketika Sentanu muncul menyusul dengan kudanya.

-Lekas sedikit. Mereka tentu akan menyusul kita! -

Berkata Ki Demang seraya melecut kudanya agar lebih cepat berlari.

- Kau tak usah cemas paman, mereka tak akan berani mengejar kita.

Ki Demang mengerutkan kening. Ia tidak senang dengan perkataan anak muda itu. Dianggapnya tidak berhati-hati.

- Tetapi mereka bisa menyusul kita. -

Kata Demang itu pula. Tiba-tiba Ki Demang teringat sesuatu :

- Eh bagaimana kan bisa lolos dari tangan Pamasa dan Wijaya? - Tanyanya.

Sentanu tertawa.

- Mereka tidak ada ditempatnya.

- Jadi?

- Ya, hanya tikus-tikus kecil saja yang ada! _.

- Hh, kalau aku tahu, tak usah minta bantuanmu, Sentanu. -

Kembali Sentanu tertawa, dan kali ini ia menarik kendali kudanya hingga binatang itu berhenti 

dengan mendadak.

- He, mengapa berhenti? Bertanya Ki Demang.

- Aku mau kembali ketempatku. Jawab Sentanu.

- Kembali? _

- Ya, kau sudah mendapatkan putrimu, bukankah senang dan lega?

- He, kau tersinggung dengan perkataanku?

- Tersinggung? Tidak! Aku hanya ingin melanjutkan perjalananku kembali. Kau berhati-hatilah membawa putrimu, paman!

Ki Demang mendadak teringat hal lain pula.

- He, tunggu dulu! Serunya.

Sentanu menoleh.

- Apa pula yang hendak kau katakan?

Ia tersenyum menggoda. Untung hari masih gelap hingga senyumnya tidak terlihat oleh Ki Demang Pulanggi.

- Tadi kau katakan Pamasa dan Wijaya tidak ada. Jadi besok atau lusa mereka tentu mencari dan mengambil anakku pula. Nah mengapa kepalang tanggung kau berbuat baik? Kau tinggallah di Kademangan untuk beberapa hari lagi.

- Tetapi kuwajiban yang tengah kupikul harus cepat selesai. paman.

- Ah, sudahlah, mengapa kau yang begini gagah dan sakti tersinggung dengan kata-kataku yang hanya bergurau?

Tiba-tiba anak Ki Demang Pulanggi menyahut berkata :

- Mengapa ayah mendesak dia terus menerus? Biarlah kalau dia mau pergi, kita tak akan membutuhkan pertolongannya pula. Kau berangkatlah sobat! Kami ayah dan anak merasa berterimakasih atas kebaikanmu membebaskan aku. Dan jika besok kedua pemimpin rampok itu datang, biarlah tak usah pikirkan hal itu. Aku juga tak takut untuk mati. Pergilah kau!

Sentanu menjadi heran mendengar perkataan anak Ki Demang demikian. Tak ia duga gadis itu akan berkata ketus. Namun ia masih senyum dan berkata pula :

- Maafkan aku nona, bukan maksudku hendak menakut nakuti ayahmu dengan Pamasa dan Wijaya itu. - Aku juga tidak menanyakan hal itu padamu, aku hanya menyuruhmu lekas pergi dari sini jika memang tak dapat singgah lebih dulu di Kademangan.

- Sawitri! jangan semberono! -

Ki Demang menegur anaknya ketika melihat dua anak muda itu berbantah mulut. Ki Demang 

yang tahu watak anaknya menjadi khawatir terjadi perang mulut antara anak dengan Sentanu yang telah menolongnya itu. Maka cepat ia mencegah.

Namun akibatnya sungguh tidak terduga. Anak Ki Demang Sawitri ketika ditegur demikian, tanpa berkata lagi membedal kudanya berlari meninggalkan mereka. Dan Ki Demang ketika Sentanu hendak berbalik tadi telah turun dari kudanya menjadi kaget melihat perbuatan anak gadisnya itu. Ki Demang jadi termangu-mangu. Lalu didekatinya Sentanu yang masih berdiam diri.

- Kau maafkan anak itu. Ia masih terlalu muda untuk mengerti soal-soal kita. __ Sentanu tersenyum pula.

- Mengapa harus terlalu dipikir hal itu, paman? Bukankah kita telah saling mengenal dan tahu?

- Dan kau benarkah mau meninggalkan Kademangan sekarang ini? Sentanu ragu-ragu. Ia menimbang beberapa saat. Baru kemudian berkata :

- Baik aku akan kerumahmu dulu. Sambil menunggu Pamasa dan Wijaya jika benar mereka menyusul ke rumah paman.

- 0, terimakasih! terimakasih!. Hayo kita berangkat! -- Sentanu tiba-tiba loncat turun dari kudanya lalu berkata :

- Kau pakai kuda ini paman. - Demang Pulanggi menjadi heran

- Dan kau?

- Mudah, nanti aku menyusul!

Demang Pulanggi heran dan tidak mengerti dengan kehendak anak muda itu.

- Bagaimana? ia bertanya.

- Kau berangkat lebih dulu, aku menyusul kemudian. Sentanu berkata

- Lekaslah paman, anakmu tentu telah jauh. jangan-jangan ada bahaya di jalan

Ki Demang tak dapat-pula membantah. Dengan hati masih diliputi rasa heran, Ia meloncat naik kepunggung kuda itu. Namun sebelum berangkat, kembali Demang itu menoleh dan memandang Sentanu dengan ragu-ragu.

- Berangkatlah, paman!

Sentanu berkata pula melihat orang tua itu nampak bimbang hati.

Ki Demang segera menarik kendalinya berangkat membawa kuda itu, sambil kemudian ia melecutnya hingga binatang itupun kabur berlari menembus malam yang hampir habis mendekati pagi.

Ki Demang memacu kudanya menyusul anaknya yang telah hilang dibalik perbukitan kecil dimukanya. Dan karena ia masih khawatir dengan nasib Sawitri, maka Ki Demang memacu kudanya 

dengan lebih cepat lagi, terus ia memacu binatang itu sekuat tenaga agar dapat menyusul anaknya. Namun yang dikejar telah tak terlihat sedikit pun. Ki Demang berharap anaknya tidak bertemu lawan yang menculiknya pula. Maka ia terus mengejar dan melarikan kudanya dengan tidak berhenti sedikitpun. Pada saat fajar mulai nampak, Demang Pulanggi telah memasuki pintu regol Kademangan, lalu masuk halaman luas disitu. Dua orang penjaga menyambut lalu mengambil kuda Ki Demang sambil memberi hormat.

- Kau lihat Sawitri sudah kembali? - Bertanya Demang itu.

- Sudah Ki Demang, tapi ketika kami menegur Gusti Sawitri tidak menyahut.

Ki Demang tidak berkata pula, ia melangkah masuk kedalam. Tetapi tiba-tiba ia berbalik lalu memanggil penjaga tadi dan berkata :

- Kau sambut baik-baik kalau ada anak muda yang datang kemari, dan ..."

Ki Demang tidak melanjutkan kata-katanya. Ia kaget ketika tiba tiba muncul Sentanu di pintu regol itu.

- He, kau sudah tiba disini? Ah bagaimana bisa jadi? - Namun Sentanu hanya tertawa

- Aku sejak tadi ada dibelakangmu paman. - Sahutnya.

Demang Pulanggi menggelengkan kepala, kini sadarlah ia dengan anak muda yang ada dihadapannya itu.

- Benar ia hebat.

Kata Ki Demang dalam hati. Maka bergegas Ki Demang membawa masuk Sentanu kedalam.

Dua orang penjaga tadi saling benpandangan tidak bisa menduga apa yang dipercakapkan oleh kedua orang itu.

Demang Pulanggi merasa gembira dengan telah kembalinya Sawitri. Maka untuk menyatakan rasa sukur dan girangnya itu ia mengadakan sekedar pesta selamatan di Kademangan. Diundangnya kawan-kawan dekat dan penduduk disekitar Kademangan itu. Demang Pulanggi memanggil tledek dan penari-penari yang dikenal untuk memeriahkan pesta di Kademangan itu. Dan kepada penduduk yang hadir oleh Ki Demang dikenalkan anak muda yang kini menjadi tamunya. Sentanu.

Sentanu menjadi sungkan dan kikuk dengan perlakuan Demang Pulanggi yang berlebihan memuji dihadapan banyak orang. Maka ia hanya menunduk dan sekali-kali menatap keramaian yang tengah berlangsung dipendapa

- Saudara-saudaraku di Kademangan ini, -

Berkata Ki Demang Pulanggi seraya berdiri dihadapan semua tetamunya. 

- Kalian melihat anak muda yang tadi telah kusebut namanya. Dialah Sentanu yang telah menolong anakku dari cengkeraman tangan perampok. Beruntunglah kita sekalian kini mengenal wajahnya.

Yang mendengar berseru kagum. Terdengar disana sini seruan memuji.

Demang Pulanggi mengangkat dada pula, ia merasa bangga dihadapan banyak orang itu menampilkan Sentanu, karena diam-diam hati Demang itu ingin menjodohkan anaknya dengan anak muda yang bertambah merah mukanya mendapat perlakuan Demang Pulanggi demikian itu.

- Saudara saudara. -

Sambung demang itu pula dengan disertai muka berseri

- Sentanu, sekalipun masih muda, namun ternyata ia telah memperoleh keberuntungan besar yang tidak dapat diraih oleh siapapun.kalian tentu pernah mendengar nama KiAgeng Semu bukan?

- Ah Ageng Semu ?

Terdengar suara bertanya mengulang nama itu dan disambut oleh yang hadir di pendapa dengan suara bagai lebah menyebut nama itu.

- Ki Ageng Semu? Tentu saja kami kenal dan mengetahui siapa orang tua sakti dan berbudi itu.

- Ki Ageng Semu dimana dia sekarang?- Tanya yang lain.

- Aku pernah ditolong ketika sakit oleh orang sakti itu!- Sahut yang lain pula.

- Dan aku pernah melihat ia menghilang dari depan mataku. ah benar mengagumkan orang itu -

Yang lain berkata menambah.

- Ya, Ki Ageng Semu orang sakti yang banyak menolong kita itu ? apakah ia datang juga sekarang ini ? -

Tanya salah seorang dengan suara keras.

- Tidak! Ia tidak datang sekarang ini! Jawab Ki Demang.

- He, jadi apa maksudmu menyebut nama orang sakti itu? Tanya orang pula.

Demang Pulanggi mengangkat tangan tinggi-tinggi memberi isyarat agar mereka diam dan tenang. Lalu sesudah dilihatnya tidak lagi terdengar suara berisik, Demang Pulanggi berkata kembali seraya menunjuk pada Sentanu

- Kau lihat anakmuda itu? dialah murid dari Ki Ageng 'Semu!

Begitu Demang Pulanggi menutup katakatanya, hampir semua orang yang ada ditempat itu berdiri dan melongok ingin melihat lebih jelas pada Sentanu. Mereka memandang dengan kagum pada 

anak muda yang duduk dekat Ki Demang itu.

Sentanu menjadi semakin tak enak hati. Rasanya bagai duduk diatas bara ia dipuji sedemikian rupa dan hampir semua mata memandang padanya dengan pandangan kagum. Maka ia segera berdiri dan membungkuk memberi hormat pada yang hadir dipendapa itu lalu berkata dengan suara lantang :

- Harap saudara-saudara memaklumi ,benar aku murid orang tua itu. Tetapi aku masih belum menyentuh sedikit saja dari ilmu KiAgeng. Paman Pulanggi agak membual saja bercerita tentangku

Semua yang ada dipendapa itu terdiam mendengar perkataan Sentanu. Demikian juga Ki Demang, namun terlihat senyumnya menghias bibir Demang itu. Tapi ia segera berdiri dan berkata pula:

- Sudah saudara-saudara. mari kita meriahkan pertemuan kita kali ini dengan sedikit bergembira menikmati hidangan ala kadarnya.

Namun tiba-tiba terdengar suara berseru yang datang dari antara orang-orang yang sejak tadi ada dipendapa itu.

- Aha, apakah kalau sudah belajar pada Ki Ageng Semu orang sudah boleh merasa sombong? Demang Pulanggi kaget mendengar suara itu. Dicarinya darimana arah suara itu datangnya.

Namun ia tidak mengetahui. Hingga kepala Demang itu bergerak-gerak mencari arah datangnya suara.

sedang orang yang mendengar itu menjadi kaget dan cemas. _

- Bagaimanakah murid ki Ageng Semu apa masih tidak berani bertindak ksatria dengan minta maaf atas perbuatannya merusak rumah tinggal orang lain? --

Terdengar kembali suara tantangan itu, Ki Demang menjadi pucat. Ia menduga sesuatu yang butuh .Namun karena masih belum juga terlihat siapa yang berkata, maka ia masih diam untuk beberapa saat. Hanya ketika tak juga muncul orang yang dicari, Demang Pulanggi maju ketengah ruangan dan berkata keras

- Siapakah kau yang berani bicara tidak berani mempelihatkan muka? Hayo kau keluarlah agar kami bisa tahu dengan siapa kami ada urusan ?

- Eh Demang dogol! Mengapa tidak paksa anjing tampan itu untuk maju mewakili hidungmu yang penyok itu? Takutlah dia atau sudah kena terbius mulut anakmu Sawitri hingga tidak mampu berdiri dari duduknya ?

Demang Pulanggi merah mukanya mendengar kata kata yang ia anggap kurang sopan itu. Ia melirik ke arah sentanu yang masih diam membisu ditempatnya. Sentanu yang merasa lawan sengaja mencari gara gara dan hendak menimbulkan keributan, semula tak akan sudi melayani, apalagi orang itu tidak mau memperlihatkan diri. Maka ia diam saja. Tetapi ketika orang ini mengeluarkan suara kotor penuh penghinaan, Sentanu mengerutkan kening. Ia berusaha menekan hawa amarah yang tiba2 mendesak dada. Ia masih teringat nasehat ki Ageng semu 

- Jika kau kedatangan hawa amarah, maka berhati hatilah. Sebab jika kekuatan amarah itu tidak dapat kau kendalikan, ia akan membunuh dirimu sendiri. Jangan berbuat sesuatu karena marah.

Tetapi tekan amarah itu dan jinakkan, sebab kekuatan amarah itu akan banyak menolong untuk hal hal yang lain. Bertindaklah sesudah kau menyadari benar bahwa hawa amarah itu sudah dapat kau kuasai-

Maka mengingat itu Sentanu berhasil menekan rasa marah yang tadi telah mendesak kedadanya.

Dan perlahan-lahan sesudah mampu mengembalikan ketenangan, serta setelah hatinya tidak lagi disaput oleh rasa panas kemarahan, ia berdiri lalu memandang ketengah ruangan lalu berkata dengan suara mantap dan berat:

- Eh sobat yang berbaju hijau, kau keluarlah! Jangan berkata dengan sembunyi.

Yang mendengar perkataan itu menjadi heran. Agaknya Sentanu ,sudah mengetahui siapa yang berkata kasar tadi. Mereka menunggu , dengan berdebar apa yang akan terjadi.

Tiba tiba dari antara tengah orang banyak itu meloncat keluar seorang muda cukup tampan bermuka kuning, mengenakan pakaian serba hijau berkilat. Menandakan pakaian itu berharga cukup mahal.

Orang berbaju hijau itu loncat pula ketengah ruangan dan kini berhadapan dengan Sentanu.

Orang banyak yang tadi berdiri dekat orang berbaju hijau itu menjadi heran. Menurut rasa mereka si baju hijau yang kini tengah berhadapan dengan Sentanu itu sedikitpun tidak membuka mulut. Bagaimana bisa kini ia meloncat muncul ketika Sentanu menyuruhnya datang. Namun tentu saja orang-orang itu tidak mengerti bahwa si baju hijau telah menggunakan ilmunya. Dia mampu berseru keras hanya dengan bantuan pengendalian hawa udara lewat perut dan sela bibirnya. Maka tanpa membuka terlalu lebar mulutnya ia mampu berseru dan hanya orang-orang yang berada jauh dengannya saja dapat mendengar suara itu. Namun orang banyak segera mercurahkan perhatian pada dua orang muda yang sedang berhadapan itu. Si Baju hijau nampak gagah dan tampan dengan pakaian yang gemerlapan itu. Sedang Sentanu yang sekalipun mengenakan pakaian sederhana berwarna serba putih saja, namun juga terlihat gagah dan menarik.

Dalam pada itu si baju hijau telah berkata pula dengan suara keras :

- Aha, ternyata matamu awas juga. Pantas kau menjadi murid Ki Ageng. Hanya sayang kau tidak kenal sopan dan peraturan hingga bertamu kerumah pada saat pemiliknya tidak ada.

Ki Demang yang telah mengetahui siapa pemuda berbaju hijau itu sejak melihat munculnya tadi telah gemetar tubuhnya dan mukanya pucat. hingga ia tidak mampu berkata sedikitpun.

- Terimakasih atas peringatanmu sahabat, - kata Sentanu

- Tetapi sebelum aku memberikan penjelasan, alangkah baiknya jika saudara yang berbaju kuning itu juga ikut datang bÄ›rkenalan sekalian denganku. 

Kembali orang banyak dibikin heran dengan perkataan Sentanu. Tetapi ketika itulah tiba-tiba berkelebat dan muncul dipendapa Seorang muda lain memakai baju kuning. Sekalipun muka si baju kuning masih kalah tampan dengan si baju hijau, namun kegagahan sikapnya amat menarik dan menimbulkan pujian. Melihat munculnya orang itu, yang hadir menjadi kaget.

Dimana ia tadi berada?

Tanya mereka. Tahu-tahu saja telah ada ditempat itu. Tetapi hanya Sentanu dengan orang yang dekat saja yang telah melihat dimana si baju kuning tadi berada, sebab ia sembunyi dibalik lebatnya daun nangka di halaman.

- Hem, kau memang bermata bagus.

Sapa si baju kuning. Sentanu maju memberi hormat didepan orang muda itu. Lalu berkata dengan suara keras

- Maafkan aku yang bermata bodoh, kalau tidak keliru penglihatan dan dugaanku, kalian berdua inilah yang disebut Pamasa dan Wijaya itu?

- He.... he kau benar anak tampan, cukup tajam juga kepalamu itu. Benar! Benar kamilah Wijaya dan Pamasa.-

Orang-orang yang mendengar pengakuan itu tiba-tiba menjadi ribut dan gelisah. Sebagian segera mundur dan menyingkir. Mereka tentu saja menjadi takut dan gemetar mendengar nama Pamasa dan Wijaya yang dikenal sebagai pemimpin perampok kejam yang kerap kali mengganggu penduduk pedusunan itu. Namun yang tergolong berani hanya mundur memasang mata memperhatikan dua orang pemimpin gerombolan itu.

Tidak menduga sedikitpun jika kedua pemuda tampan gagah itu adalah pemimpin gerombolan yang ditakuti. Maka dari tertarik dan ingin tahu, ada sebagian orang-orang itu malah lobih mendekat. Dan orang-orang yang menjauh tiba-tiba harus kembali mendekat karena melihat ternyata masih ada kawan-kawan mereka yang berani. Namun demikian ketegangan itu masih berlangsung. Hati semua yang melihat kejadian itu berdebar-debar. Karena mereka dapat menduga apa yang akan terjadi dengan anak muda yang disebut Demang Pulanggi Sentanu itu. Sentanu membuka perkataan:

- Sudah kuduga, kalian tentu akan mencariku, Maka sejak kemarin telah kutunggu kedatangan kalian untuk memperhitungkan dosa kalian pada penduduk pedusunan ini.

Dua bersaudara Pamasa dan Wijaya menjadi merah telinganya.

- Bagus ! Ternyata kau cukup jantan untuk membuat perhitungan dengan kami. Tetapi yakinkah kau akan dapat membuat kami harus mengakui keunggulan murid Ki Ageng Semu yang tersohor itu ?

Sentanu tersenyum,

- Itu urusan nanti, Jawabnya. 

- Kalian katakan apa kehendak sebenarnya datang mengacau pertemuan disini ? Si Baju hijau Pamasa maju dan berkata marah

- Kau sombong ! jelas maksud kami adalah membawa kepalamu untuk kami taruh dimuka tangga rumah kami. Sebagai ganjaran kekurangajaranmu datang tanpa ijin ke rumah kami, biar tubuhmu dilempar ke hutan untuk menjadi mangsa binatang dan burung gagak.

Sentanu masih tersenyum.

- Baik sesukamu aku akan menurut. Katanya.

- Tetapi aku hendak bertaruh. Jika kau tak mampu merobohkan diriku, apa yang kalian berikan padaku ?

Kedua kepala begal itu saling berpandangan.

- Kau tak akan dapat menjatuhkan kami ! Kata Wijaya.

- Mungkin. - Sahut Sentanu.

- Tetapi katakan apa upahku jika ternyata kalian harus mengakui keunggulan murid Ki Ageng Semu ?_

- Baik, kami akan belajar lagi darimu dan mengangkatmu sebagai guru.

- Ha, itu terlalu mahal untukku. Sudah kalian pikirkan ? Tentu saja aku akan merasa gembira mempunyai murid-murid pandai macam kalian ini. Nah, kuberi kesempatan untuk memikirkan taruh yang lebih ringan untuk kalian,

- Gila ! Kau amat sombong dan takabur- Wijaya berteriak marah.

- Katakan dulu,jangan jangan kau menyesal menjadi muridku,

- Bangsat jangan banyak omong. Kami sanggup mengangkat muka monyetmu itu menjadi guru jika benar kau bisa merobohkan kami

- Bagus! Sentanu tertawa.

- Kini sebagai jaminan kalian harus menyerahkan tanggungan senjatamu yang tergantung dipinggang itu untuk jaminan kalian tak akan berdusta dan ingkar janji.

- Gila! Kurang ajar tutup mulutmu!

Pamasa menjadi habis sabar hingga ia maju dan menyerang dengan kedua tangan mengarah dada dan perut Sentanu. Sentanu kagum juga melihat serangan lawannya. Desiran angin yang ditimbulkan amat kuat, namun tentu saja ia tak mau tubuhnya kena disentuh serangan lawan . Maka ia berkelit dengan mengegos kekiri. Tapi Pamasa menyusulkan serangan dengan lebih dahsyat dan 

kedua kakinya menyambar tubuh Sentanu dengan hebat dan cepat. Ternyata bukan omong kosong jika Pamasa dimashurkan sebagai seorang yang ditakuti karena kehebatannya. Namun Sentanu ternyata masih mampu menghindari setiap serangan Pamasa.

- Hayo mengapa kau menonton saja ?

Sentanu berseru pada Wijaya yang masih belum juga bergerak. Dan akibat teguran itu Wijaya jadi merah mukanya. Semula ia masih merasa malu untuk mengerubut lawannya berdua. Tetapi sekilas Wijaya telah dapat melihat Sentanu bukan lawan ringan. Dan jika dibiarkan saja Pamasa menghadapi seorang diri, maka dapat dipastikan mereka akan dapat dirobohkan satu persatu oleh lawannya itu, Juga terlanjur ia telah mempertaruhkan kehormatannya, maka Wijaya maju juga dan menyerang Sentanu dengan serangan-serangan yang tak kalah hebat dari Pamasa. Segera terlihat ditempat itu perkelahian dahsyat yang menegangkan orang-orang yang melihat.

Tiga orang itu makin lama terlibat semakin cepat dan gerakan ketiganya mulai terlihat sungguh-sungguh dan seakan mempertaruhkan segala yang dipunyai. Bagi yang melihat perkelahian itu, dari rasa ketakutan dan khawatir, kini berubah menjadi kagum dan tertarik. Sebab ketiga orang yang tengah mengadu tenaga di tengah pendapa itu terlihat bagaikan tiga ekor kupu-kupu yang tengah bercanda, sehingga kelebatan cahaya pakaian ketiga berbeda, kuning, hijau dan putih itu malah menambah indahnya pemandangan. Tak ubahnya mereka bagai sedang menyaksikan ayam aduan yang berlaga dengan menarik dan hebat. Hingga mencengkam mata yang melihat, Namun dalam pada itu Pamasa dan Wijaya mulai merasa bahwa lawan sukar dijatuhkan. Menyentuhpun sampai ketika pertempuran telah berjalan lama, masih belum mampu. Maka diam-diam dua

bersaudara itu menjadi khawatir juga. Tetapi untuk menyerah begitu saja, keduanya juga masih tidak sudi. Maka Sentanu terpaksa harus tetap mengerahkan kepandaian yang ada padanya. Menghadapi dua bersaudara Pamasa dan Wijaya itu Sentanu merasa gembira juga. Ia mendapat lawan tangguh hingga menimbulkan kesenangan ketika menghadapi perkelahian itu. Sentanu tahu dua orang itu memang memiliki ilmu kelahi tingkat tinggi yang berbahaya dan kuat. Jika lawan biasa saja tentulah dalam beberapa gebrakan saja akan mudah roboh oleh salah seorang diantaranya.

- Cabut senjatamu!

Tiba-tiba tendengar Pamasa berseru. Ia telah memegang pedang yang tadi diselipkan dipinggangnya. Wijaya mengikuti perbuatan Pamasa dengan mencabut senjatanya pula.

- Hayo kau cabut senjatamu itu!

Terdengar kembali Pamasa berseru seraya ia menyerangkan senjata itu keleher lawan. Sentanu kaget. Serangan pedang dari Pamasa ternyata lebih berbahaya dan memang cepat dari jika ia hanya bertangan kosong. Maka dengan sebat miringkan kepala menghindarkan diri dari sambaran pedang itu. Dan untuk tidak membuat Pamasa kecewa Sentanu mencabut pula pedangnya lalu digunakan menempur senjata dua bersaudara yang kini mengurung dengan serangan-serangan berbahaya dan mematikan.  Sentanu sesungguhnya merasa belum ada perlunya menggunakan pedang melawan dua orang kepala begal itu. Tetapi karena ia tidak ingin membuat kedua saudara itu terlalu merasa malu jika berhasil ia jatuhkan, maka dengan berat hati Sentanu terpaksa mencabut pula pedangnya. Pamasa dan Wijaya, merangsek mengerahkan kemampuan yang mereka punyai. Dua batang pedang dua saudara itu menyerbu dan mengurung dari berbagai jurusan. Angin serangan senjata mereka bersuitan dan menyambar-nyambar. Hingga orang banyak yang menyaksikan perkelahian itu menahan napas benar.

Mereka tahu kesaktian dua kepala rampok Pamasa dan Wijaya. Maka sebagian besar orang yang dalam hati mengharap Sentanu beroleh kemenangan menjadi cemas dan was-was. Sebab telinga mereka yang mendengar suara bersuitan dari sambaran pedang Pamasa dan Wijaya mengancam nyawa itu menjadi merinding dan ngeri membayangkan kepala Sentanu menggelinding putus dari tubuhnya atau jika dengan tiba-tiba Sentanu roboh dengan darah segar menyembur dari dadanya yang robek oleh serangan senjata kedua kepala rampok itu.

Namun Sentanu masih mampu dengan baik melayani serangan keduanya. Ia yang semenjak muda remajanya telah dibakar oleh api dendam atas terbunuhnya banyak orang dusun di, bunuh oleh rampok, telah menghabiskan waktu untuk belajar ilmu perang dan ilmu kelahi. Maka dari semangat dan kerajinan berlatih mendapat guru-guru pandai, membuat anak muda ini benar-benar amat tangguh dan sukar dirobohkan oleh lawan. Apalagi sesudahnya bertemu dan menerima pelajaran dari Ki Ageng Semu, maka kemampuan Sentanu menjadi berlipat ganda. Ia merasa lebih dan kemampuannya belum ia kerahkan seluruhnya. Sedangkan Pamasa berdua Wijaya, sampai sebegitu jauh masih belum juga mampu menjatuhkan lawannya, Mereka menjadi cemas dan agak gugup.

Sedang kemampuan puncaknya telah habis mereka peras untuk mendesak dengan serangan-serangan berbahaya dan mematikan. Namun setiapkali senjata mereka bertemu dengan pedang lawan tentu tapak tangan kedua kepala begal itu menjadi bergetar dan sakit.

Pada suatu ketika, kedua senjata Pamasa dan Wijaya berhasil kena disentuh oleh senjata Sentanu dengan keras. Hingga hampir saja senjata itu terpental dari tangan keduanya. Namun Pamasa masih tidak mau menyerah. Tiba-tiba ia putar senjatanya dengan lebih hebat digunakan mendesak. Tapi kali ini Pamasa menyerang bagian bawah tubuh. Sekalipun Pamasa tidak lagi menyerang Secepat seperti semula, Melihat perbuatan saudaranya Wijaya mengerti maka iapun

tiba-tiba merubah serangan, kini Wijaya menyerang bagian atas tubuh lawan hingga Sentanu menjadi heran melihat lawan-lawannya merubah serangan demikian rupa. Namun akibatnya sungguh mengejutkan. Ternyata serangan atas bawah yang dilancarkan bersaudara itu amat aneh dan untuk beberapa saat Sentanu menjadi terkurung. Ia agak kerepotan. Setiapkali ia loncat keatas tentulah 

mata pedang Wijaya menyambar dan manakala ia membungkuk mengindari kebawah, Pamasa menggerakkan senjatanya dengan gencar, hingga untuk beberapa saat harus berhati hati, dan kini ia hanya dapat meloncat mundur atau menjauh. Namun sudah barang tentu dua saudara itu tidak mau melepaskan lawannya demikian enak. Hati keduanya telah menjadi girang melihat siasat mereka berhasil mendesak lawannya yang tangguh-dan berat

- Tidak adil kalau begini Tiba tiba Sentanu berseru.

- Kalian bawa pedang berdua, bagaimana kalau aku melawan tanpa senjata?

Pamasa melengak mendengar perkataan lawan yang masih mundur-mundur itu. Maka sambil ia menyabetkan kembali senjatanya, Pamasa juga berseru:

- Kau sombong, jangankan bertangan kosong, menggunakan dua pedangpun kami akan dapat membunuh juga,

- He, benarkah begitu? Sentanu berseru. Tetapi. Trang !

Pedang Pamasa bertemu dengan pedang Sentanu hingga menimbulkan percikan api memuncrat.

- Kau cabut sckalian pedangmu itu. Lawan kami dengan dua pedang burukmu itu!

Berulang-ulang Pamasa berkata seraya mendesak dengan serangan mematikan. Sentanu tersenyum, sengaja tadi ia pancing perkataan Pamasa agar ia beroleh kesempatan untuk menggunakan dua pedangnya. Maka ketika Pamasa mengeluarkan tantangan itu, Sentanu mencabut pedang satunya hingga kini dengan sepasang pedangnya ia menghadapi dua bersaudara itu. Pamasa dan Wijaya kaget. Dengan dua batang pedang ditangannya, ternyata lawan berhasil menahan serangan mereka. Hingga gulungan senjata yang mengurung Sentanu sedikit demi sedikit mulai kendur untuk akhirnya buyar sama sekali. Tidak berhenti sampai disitu saja, tiba-tiba Sentanu yang telah merasa bosan dengan perkelahian itu bergerak cepat dan kedua pedangnya berkelebatan meluruk bertubi-tubi hingga desauan suara angin yang ditimbulkan membuat kuduk Pamasa dan Wijaya harus berkeringat dingin. Kini Pamasa dan Wijaya terpaksa harus berloncatan menghindarkan diri dari serangan senjata lawannya yang, ganti mendesak mereka.

Pada suatu saat, dengan kecepatan yang tidak terduga, menggerakkan kedua senjatanya

berbareng dan Pamasa serta Wijaya hanya melihat sinar kedua pedang yang berkelebat dimuka mereka hingga dengan terkejut keduanya memajukan pedangnya menangkis serangan itu, kalau tidak tentu mata mereka akan kena diterkam mata pedang lawannya .Tetapi sekonyong konyong terdengar suara senjata beradu:

- Trang! Trang!

Dan Pamasa berdua adiknya kaget bukan main. Ternyata akibat benturan senjata itu kedua 

pedang yang dipegang Sentanu berhasil menyabet senjata Pamasa dan Wijaya berbareng hingga mental terlepas dari pegangan keduanya. Sentanu berseru keras, melihat senjata lawan-lawannya terlepas dan melayang diudara, ia loncat kemudian gerakkan pedangnya dengan berputar dan gerakan yang nampak indah itu ternyata mengancam pedang yang tengah melayang, dan Pamasa berseru kaget ketika pedang lawan tiba-tiba bagai menyedot senjatanya yang masih melayang itu, hingga pedangnya berikut pedang Wijaya menempel pada pedang Sentanu, lalu sebelum keduanya dapat menduga apa yang akan diperbuat Sentanu, kedua pedang mereka melayang terlempar pula lebih jauh dan menancap tiang pendapa disebelah sana. Ketika dua senjata lawan itu menancap ditiang, Sentanu cepat menyarungkan kembali sepasang pedangnya. Lalu ia loncat maju mendekati Pamasa dan Wijaya yang masih berdiri dengan kagum melihat pedangnya.

- Eh apakah kalian masih belum mau mengaku kalah juga?

- Diam ! Kau harus mampus !-

Tiba-tiba wijaya loncat menerjang dengan menyerangkan kepalan tangan kearah muka Sentanu.

- Hebat

serangan itu makan angin. Sentanu loncat menyingkir dengan sebat hingga Pamasa melihat adiknya maju iapun ikut meluruk dengan sekaligus melancarkan serangan dengan kedua kakinya kearah perut dan kelangkang Sentanu, Melihat kedua orang itu agak bandel Sentanu menjadi habis sabar. Sebagai seorang yang mengerti, seharusnya dua kepala begal tu jauh2 telah menyadari kemampuan lawan, yg tak mampu dirobohkan. Maka semestinya dari pada harus menanggung rasa malu kena dipukul roboh, akan lebih bagus jika mengaku kalah. Namun kedua bersaudara ini ternyata bandel dan keras kepala,

Hal itulah yang membuat Sentanu ingin segera menyelesaikan keduanya, agar segera persoalan cepat beres. Maka ketika dua saudara itu masih juga dengan penasaran menyerang padanya, Sentanu diam-diam menyiapkan kekuatan simpanan dari ilmu yang ia miliki. Kali ini ia harus bertindak cepat terhadap dua orang keras kepala itu.

Maka ketika serangan dua bersaudara itu tiba, Sentanu tidak berkelit, namun ia majukan kedua tangan kemuka menyambut serangan itu seraya mengerahkan aji pamungkasnya. Akibatnya sungguh hebat. Ketika terjadi benturan dahsyat, Pamasa dengan Wijaya menjerit tertahan dan tubuhnya terlempar lima tindak oleh hasil serangan Sentanu. Dan muka mereka menjadi pucat pasi terbanting dengan keras dilantai tanpa mampu bangkit pula. Pamasa terkejut benar, Tubuhnya terasa lemah, seakan tulang belulangnya telah dicopoti. Maka hatinya mulai sadar dan terbuka. Hingga dengan tidak diperintah, ia maju merangkak kemudian berkata:

- Kami menerima kalah. Kau benar hebat dan bukan lawan kami-

Wijaya yang melihat saudaranya berbuat demikian tidak berbuat apapun. Namun ia juga terlihat mengangguk-angguk. 

Pada saat itulah dengan tidak terduga, terdengar sorak riuh rendah para penduduk yang menyaksikan perkelahian dahsyat itu. Mereka menyambut kemenangan Sentanu dengan gembira dan berteriak teriak

- Ya, bunuh saja dua penjahat kejam itu

- Ayo bunuh !

- Habisi nyawanya. jangan beri ampun..

- Hei ayo mana gigimu sekarang?

- Mampuslah kalian!

Sentanu mengangkat tangan memberi tanda agar orang-orang itu kembali tenang. Lalu sesudah orang-orang itu menutup mulut, ia dekati Pamasa dan Wijaya, lalu dengan beberapa kali tepukan dan pijatan, Pamasa berdua saudaranya mampu bergerak dan loncat kemudian berlutut dimuka Sentanu seraya berkata:

- Kami semua menerima kalah dan siap menjadi muridmu.

Melihat itu Sentanu cepat bergerak pegang pundak keduanya lalu di tariknya Pamasa dan Wijaya berdiri sambil berkata:

- Jangan begitu. kalian bukan kalah, karena akupun cukup kepayahan untuk melayani kalian main-main. Ah, mengapa kalian orang orang gagah ini mau berpura-pura kalah terhadapku bodoh?

Pamasa berpandangan dengan Wijaya mendengar kata-kata domikian itu. Maka mereka maklum bahwa Sentanu sengaja berbuat demikian untuk menjaga kehormatan mereka dihadapan banyak orang itu. Maka timbul rasa hormat dan sukanya pada lawan yang selain berilmu tinggi tetapi berbudi tinggi pula.

- Sentanu, biarlah kami mulai saat ini ikut denganmu, kemanapun akan kami turuti. Kami ingin mengikutimu, biarlah kami menjadi budakmu sekalipun, asalkan kau sudi ketumpangan kami berdua ini.

Sentanu termangu-mangu mendengar perkatan dua saudara itu. Baru sesudah ia berdiam beberapa saat berkata pula:

- Kalian mempunyai anak buah? Bagaimana jika mereka kehilangan kau ?

- Kami kini sadar, dan mulai saat ini hendak meninggalkan kebiasaan merampok. Kami hendak menuntut penghidupan sebagai orang baik-baik Anak buahku tentu akan menuruti jejak kami.

Percayalah mereka akan senang jika kau mau menerima mereka sebagai saudara.

Mendengar perkataan itu, Demang Pulanggi yang semenjak tadi berdiri tegang menyaksikan pertempuran hebat tiga orang muda itu, kini maju dan berkata :

- Aduh kalian Pamasa dan Wijaya kalau benar hendak kembali pada jalan kebenaran, tentu saja aku sangat gembira. Biarlah orang-orangmu bergabung dengan rakyat Kademangan ini jika benar 

mereka ingin berbalik pada jalan lurus.-

- Tentu saja Demang Pulanggi, aku jamin mereka akan menurut perintahmu. Sebab jika ada yang membangkang, tentulah kepala taruhannya. _

- Tetapi perkara nasibmu berdua, aku serahkan Sentanu. Bukankah kalian terlanjur bertaruh sebelum mengadu senjata tadi.

- O, tentu saja kami tak akan ingkar, biarlah aku akan mengikuti kemanapun Sentanu pergi dan berjalan.

- Ya, tetapi bukan menjadi budak, kalau begitu apakah kalian akan sanggup menjalaninya ?

- Kami telah bertekad untuk menuruti apapun maumu,

- Bagus, tetapi aku tidak cukup mampu untuk membiayai hidup dan makanmu, bagaimana?

- Kami akan mencarikan untuk itu.

- Dengan merampok lagi?

Pamasa tersenyum, ia tahu Sentanu hanya bergurau, maka ia tidak menjadi marah. Sentanu merangkul Pamasa dan Wijaya, lalu iapun berkata perlahan :

- Mulai saat ini kalian adalah saudara-saudaraku. Aku berjanji susah dan senang akan kubagikan pada kalian. Bagaimana? Kalian menerima?-

Pamasa terharu,,

- Tentu saja, Jangankan senang, menderitapun siap untuk turut memikulnya.

- Aku kagum dengan kehebatan kalian Pamasa dan Wijaya. Kalau tidak, bagaimana aku bisa memberi pengampunan pada kedua kepala begal yang lihai dan hebat macam kalian.

- Sudahlah, kau hanya membikin kami jadi malu saja. Sentanu tertawa, demikian juga Ki Demang Pulanggi.

Maka pesta di Kademangan terus dilanjutkan namun dengan suasana agak berbeda dari semula, sebab kini ditengah mereka muncul dua orang kepala rampok yang selama ini amat ditakuti. Karena itu merupakan pertanda kehidupan mereka akan menjadi aman dari gangguan para penjahat itu.

Beberapa hari kemudian dua orang kepala begal Pamasa dan Wijaya datang pula di Kademangan dan menyerahkan seluruh anak buah mereka yang masih berdiam di hutan untuk ikut hidup ditengah mereka, penduduk Kademangan. Dalam pada itu Sentanu telah meminta diri untuk melanjutkan perjalanan yang masih belum ketahuan akan berakhir diujung mana. Karena jika kembali teringat akan nasibnya Sentanu menjadi harus berduka. Sekalipun sebagai seorang yang telah memiliki bekal cukup dalam ilmu dan kesempurnaan, namun Ia masih merupakan seorang muda yang mempunyai watak sebagaimana layaknya darah muda dan sifat mengharap kasih dan perhatian dari orang-orang atas dirinya. Maka tak heran jika kerapkali Sentanu harus menghadapi kegelapan jalan hidupnya dengan kening berkerut. Hatinya masih kerapkali merasakan kepahitan dan penderitaan ia ingat hukuman yang masih dipikulnya. Dan kini harapan satu-satunya adalah menuruti pesan dan nasehat 

gurunya Ki Ageng Semu untuk menjadi prajurit dan menyumbangkan tenaga buat negeri yang sedang membutuhkan tenaga sepertinya. Namun Sentanu kembali merasa penasaran dan tidak puas manakala ia teringat perlakuan Tumenggung Santa Guna yang mengusir dirinya tanpa perlakuan keadilan. Hanya saja karena Sentanu tidak mau melawan dengan kekerasan sajalah membuat anak muda ini rela menelan kepahitan sikap Tumenggung itu. Sentanu tahu dirinya diperlakukan tidak adil, namun ia menerimanya juga,

Dalam pada itu juga karena dorongan hendak menuruti pesan Ki Ageng Semu, juga karena ia merasa tak lagi berkawan siapapun dalam dunia luas ini, maka keinginan menjadi prajurit sangat mendorong hatinya benar. Dan setelah segala urusan di Kademangan Pulanggi selesai, Sentanu kembali menyatakan kehendaknya hendak kembali pergi merantau. Sampai hukuman dari mPu Sugati berhasil ia lepaskan. Semula Demang Pulanggi menahan dengan keras, namun hati anak muda itu telah mengeras dan kemauannya bulat. Ia tetap hendak meninggalkan segalanya di Kademangan itu.

- Kami tetap ingin mengikuti kemana kakang Sentanu pergi -

Kata Pamasa berdua Wijaya.

- Ah Pamasa, dan kau Wijaya, tentu aku sangat berbesar hati jika selalu dapat berkumpul denganmu. Tetapi aku masih mengemban kuwajiban dan pesan guru yang tidak dapat kuingkari dan aku masih dalam hukuman.

Lalu oleh Sentanu diceritakan niatnya menjadi prajurit.

- O, kakang Sentanu, mengapa kau anggap niatmu itu demikian berat? Aku yakin dengan kemampuanmu itu kau tak akan ditolak masuk menjadi prajurit. Bahkan menjadi kepala pengawal Tuanku Pati Unus pasti mudah saja.

Kata Pamasa. Namun Sentanu menghela napas panjang.

- Kau tidak tahu Pamasa, aku pernah datang menemui Tumenggung Santa Guna dan menyatakan kesediaanku masuk prajurit. Tetapi kau tahu apa yang dikatakan? Aku ditolak dan Tumenggung itu menghinaku dengan kata-kata kasar yang menyakitkan hati.

- Ah kau mengapa jadi begini, bukankah kau dapat saja melabrak Tumenggung itu?

- Aku? Menghajar Tumenggung Santa Guna? Tentu saja aku tidak takut, Pamasa. Tetapi dengan perbuatan itu sama saja dengan aku melawan tuanku Pati Unus. Dan aku jadi pemberontak terhadap negeri Demak. Padahal itu tidak kuhendaki

- Jadi bagaimana pemikiranmu sekarang? Aku ingin mencobanya kembali

- Kami ikut denganmu, !-

- Masuk tamtama?

- Ya, asal bisa dekat denganmu._ 

- Jangan seperti kanak-kanak Pamasa. Kalau bisa bertanggung jawab pada diri sendiri. Tentukan apa yang kalian anggap paling baik, asalkan kalian tidak membikin kerugian orang lain. Jangan hanya mengikuti kemauanku kalian ikut begitu saja.

Pamasa tertawa.

- Karena kami telah dewasa itulah maka kami hendak mengikutimu kang. Jangan kau menolak.

Hayo kita berangkat kita jajal kemampuan didepan mereka. Tentu dengan mudah kita menjadi prajurit di Demak. Dan kau kelak bisa menjadi panglima, kang!

Sentanu mau tidak mau tersenyum juga mendengar kelakar Pamasa demikian.

- Baik, jika kalian berdua memang mengikutiku, aku tidak berkeberatan. Hayo kita mulai bersiap untuk mencoba nasib dan peruntungan.

- Kakang Pamasa.

Terdengar Wijaya menyela perkataan

- Kita benar-benar hendak ke Demak ?

- Ya, apakah kau keberatan? Tanya Pamasa.

- O, Bukan itu. Hanya aku merasa aneh dan lucu kita ini.

- He, apanya lucu? Dan mana pula yang aneh? Sentanu bertanya.

- Kita biasa mencari makan dengan merampok. Sekali pukul bisa menghidupi nyawa banyak orang berbulan-bulan. Dan kini kita akan masuk prajurit, yang membanting tulang sepanjang tahun tetapi hidup tak pernah berkecukupan. Bukankah bagai bumi langit bedanya ?

- Eh, kau gila Wijaya!- Tegur Pamasa.

- Jangan kau timbang-timbang dengan akal begitu. Bisa jadi nanti kita berbalik pikir dan kembali merampok lagi.?

Namun Wijaya tertawa. Demikian juga Pamasa tertawa. Ia tahu Wijaya hanya membandingkan hal itu, tidak lebih. Maka Pamasa juga tidak perdulikan perkataan saudaranya itu.

- Dan lagi, jika kita mengukur kepandaian yang kita miliki, semestinya bukan hanya menjadi prajurit tamtama,

Kata Pamasa pula

- Kita sekurang-kurangnya bisa menjadi kepala pengawal kraton.

Sentanu tertawa pula mendengar percakapan kedua saudara itu. Namun hatinya merasa terharu pada dua saudara yang kini benar-benar hendak berbalik dari kesesatan mengganggu orang lain menjadi orang-baik yang bersedia dan ikhlas membela kepentingan orang lain.

Maka segeralah dengan diantar oleh penduduk Kademangan, ketiga orang muda gagah tu berjalan 

keluar dari dusun dan berjalan menuju bumi Demak yang tengah sibuk dengan Persiapan menyerang ketimur. Ketiganya menunggang kuda yang gagah dan besar, hingga bagaikan anak kahyangan turun dari kaindran ketiga anak muda itu melarikan kudanya turun naik pegunungan.

Pamasa berdua Wijaya benar merasa girang bertemu dengan Sentanu. Keduanya merasa amat beruntung memperoleh saudara seperti itu yang selain memiliki ilmu tinggi juga memiliki pribudi mulia. Hingga setiap kali kedua bersaudara harus merasa kikuk dan malu menghadapi keluhuran budi dan perlakuan baik dari Sentanu. Tidak salah keduanya mengangkat saudara pada Sentanu, karena Sentanu ternyata menaruh perhatian dan kecintaan besar pada dua bersaudara itu.

- Kebetulan kita bertiga telah tidak mempunyai siapapun di dunia ini.

Berkata Pamasa ditengah perjalanan ketika mereka berendeng dengan kudanya masing-masing. Sentanu mencoba tertawa. Meskipun hatinya memukul keras. Ia teringat ayahnya pula Aki Kerancang dan Mpu Sugati.

- Ya, agaknya memang nasib telah menjodohkan kita untuk bertemu di Kademangan itu. - Sahut Sentanu kemudian.

- Dan kedatanganmu di Kademangan bagiku merupakan penolong yang tak terkirakan besar jasanya. Sebab jika kami belum bertemu denganmu, pastilah kami masih malang melintang di hutan itu dan berapa lagi korban yang akan berjatuhan jika kami masih berada di sana itu.

- Kalian memang hebat! Sentanu memuji.

- Benar kami hebat dan belum seorangpun mampu menjatuhkan kami. Bahkan ketika

prajurit-prajurit Demak mencoba menghancurkan kami, mereka terpaksa pulang dengan hampa sebab prajurit itu malah jadi pecundang dan mereka bubar lari. Namun pada akhirnya kami terpaksa menyerah kalah padamu, kang Sentanu.

- He, kalian tentu tidak tahu,akupun pernah menjadi begal semacam kalian. Berkata pula Sentanu.

- Tetapi untunglah aku cepat berbalik pikir dan menjadi orang baik-baik.

- Ha, kau mengejek kami pula! Sentanu tertawa pula.

- Eh Kang Sentanu. Bertanya pula Pamasa.

- Aku pikir sebaiknya kang Sentanu menggunakan nama lain. Bukankah kau katakan Tumenggung Santa Guna tidak mau menerimamu hanya disebabkan tidak suka dengan nama saja, bukan?

Sentanu memandang Pamasa dengan heran. Baru kini ia ingat . 

- Benar yang kau katakan itu.- Sahutnya kemudian,

- Tetapi aku masih ingin mencoba dengan mengatakan apaadanya

- Ah, kau terlalu ingin mempersulit dirimu sendiri, kang. Bukankah tak ada buruknya kau pergunakan nama lain. Aku anggap itu bukan suatu dosa yang patut dibuat malu. _

Sentanu merenungkan kata-kata Pamasa. Dalam hati ia memang sependapat dengan perkataan itu. Hanya ada yang masih membikin ragu hatinya. Namun akhirnya ia berkata juga

- Pendapatmu bagus, Pamasa. Nah, kau cari nama apakah yang kiranya pantas untuk kupergunakan?

Tiba-tiba Wijaya majukan kudanya diantara mereka dan menyahut:

- Aku ada nama bagus untuk mu!

- He, mengapa secepat itu mendapatkan? - Pamasa bertanya.

- Sedari kakang Pamasa tadi mengusulkan, aku telah mulai memikir nama yang pantas untuk kang Sentanu.

Sahut Wijaya. Ketiganya tertawa. Namun lebih merasa senang adalah Sentanu. Tidak diduganya jika dua kepala rampok tampan itu akan menjadi kawan yang menyenangkan.

- Apa nama itu?- Pamasa bertanya pula.

- Kalau kakang Sentanu menyetujuinya.

- Ya, kau katakan dulu Wijaya!

- Bagaimana kalau kau pergunakan nama Sumantri?

- Sumantri?

- Kurasa tepat untukmu.

- Baik, apapun namanya toh hanya samaran yang kurang penting

- Bagus Wijaya, aku juga sependapat dengan nama itu. Nah,kita panggil dia dengan nama itu, kau siap kang?

Sentanu tertawa. Kedua saudara Pamasa dan Wijaya juga tertawa. Tidak selang beberapa lama, ketiga anak muda itu telah memasuki kota. Ketiganya langsung menuju gedung penerimaan prajurit yang telah lama disediakan di luar kotaraja. Dalam pada itu Tumenggung Santa Guna diam-diam merasa gembira dengan kuwajiban yang dibebankan padanya. Ratusan prajurit telah terkumpul dari berbagai tlatah di Demak. Sedangkan jika Pati Unus mengirimkan utusan bertanyakan hal orang muda yang diperintahkan mencarinya. Tumenggung Santa Guna selalu memberikan jawaban tidak berhasil menemukan orang yang dicari.

- Heh, Sentanu. Gila semua. Ternyata benar ada anak itu - 

Pikir Tumenggung Santa Guna.

- Tapi akulah yang berkuasa dan mempunyai wewenang menerima atau menolak siapapun yang hendak masuk menjadi prajurit. Jadi sampai kapanpun jangan harap anak itu bisa bertemu dengan tuanku Pati Unus.

Dalam hati kecil Tumenggung ini sesungguhnya memendam ketakutan yang mengganggunya sejak lama. Santa Guna telah bercita citakan anak menantunya Bagus Prana memangku kedudukan sebagai Panglima prajurit Demak. Tetapi sampai beberapa kali ia mencalonkan anak mantu itu selalu terbentur yang lain, hingga akhirnya Bagus Prana masih belum beroleh kesempatan memegang kedudukan tinggi itu. Maka ketika timbul pula api pemberontakan para Adipati dibang wetan, Santa Guna mempunyai, pengharapan anak mantunya akan dapat membangun jasa, sebab Tumenggung ini tahu anaknya cukup mampu maju dalam peperangan dan banyak orang telah mengetahui kehebatan serta kelebihan Bagus Prana. Pati Unus bukannya tidak mengetahui, akan kelebihan Bagus Prana ini, namun karena nasehat dari Sunan Prapen, tidak berkenan menerima menantu Tumenggung Santa Guna itu dalam jabatan yang ia inginkan. Malah pada saat-saat ia berusaha meraih segala kedudukan, Raja Demak itu selalu berhasil menggagalkan, karena Baginda tidak senang atas kelakuan menantu Santa Guna yang berwatak sombong dan tinggi hati. Lagi pula selalu berbuat seenak perasaan sendiri pada orang-orang yang di bawahnya. Tindakan Bagus Prana selalu menimbulkan keributan yang tercela. Maka Pati Unus tidak memberikan apapun padanya. Disebabkan oleh hal itulah Tumenggung Santa Guna hendak mempergunakan kesempatan ini untuk mendirikan pahala bagi anak menantunya. Akan tetapi betapa kaget ketika Adipati Unus mengutarakan mimpinya bertemu Sentanu yang menurut ramalan Sunan Prapen di gariskan menjadi orang yang akan berhasil menaklukkan seluruh Adipati di Bangwetan dan Majapahit. Dengan demikian Tumenggung Santa Guna berusaha untuk menghalangi bertemunya Sentanu dengan Baginda Demak, dan berusaha agar anak itu tidak masuk kedalam barisan. Maka ketika Sentanu datang menghadapnya dulu itu, Tumenggung itu merasa kaget, lalu diusirnya Sentanu agar tidak melanjutkan niatnya masuk kedalam barisan yang tengah disusun. Untuk itulah Tumenggung Santa Guna memberikan perintah pada orang-orangnya agar melarang jika terdapat seorang anak muda bernama Sentanu masuk kedalam gedung penerimaan tamtama. Dan kepada anak dan menantunya, ia memberikan perintah agar membunuh saja anak muda yang bernama Sentanu jika bertemu. Sebab hanya dengan begitulah Baginda Pati Unus tak akan berhasil menemukan anak itu dan anak itupun tidak akan berhasil masuk kedalam barisan tentara Demak. Namun ketika Tumenggung Santa Guna masih sedang memeriksa daftar yang menyatakan keinginan anak muda menjadi prajurit, tiga orang pemuda bermuka tampan muncul dipintu gerbang lalu bergesas membungkuk memberi hormat pada Tumenggung yang agung agungan sifatnya itu. Tumenggung Santa Guna memberi tanda agar ketiga orang itu diperintahkan masuk dan datang padanya. Tiga orang muda itupun ketika seorang pengawal memerintahkan masuk dan datang 

pada Tumenggung Santa Guna, cepat maju dan lantas kembali membungkuk memberi hormat lebih dalam. Tumenggung Santa Guna menatap ketiganya dengan tajam. Tentu saja Sentanu yang ada diantara tiga orang muda itu menjadi berdebar hatinya. Ia khawatir dirinya akan dikenal oleh Tumenggung itu. Tiga orang muda itu bukan lain adalah Sentanu dengan Pamasa dan Wijaya. Dan kedua saudara itupun tak kurang khawatirnya ketika mata Tumenggung Santa Guna meneliti mereka dengan pandangan menyelidik, sebab bagaimanapun juga Tumenggung itu adalah seorang yang memiliki kemampuan cukup. Maka sekilas ia telah dapat melihat tiga orang muda yang ada didepannya itu adalah orang-orang berilmu. Tentu saja hatinya menjadi gembira.

- Kalian ingin menjadi tamtama? - Bertanya Tumenggung itu.

- Demikian gusti, hamba sekalian memang hendak menyumbangkan sedikit kemampuan yang kami punyai untuk membela bumi Bintoro-

Pamasa mewakili ketiganya.

- Bagus! Kalian harus diuji terlebih dahulu.-

Kata Tumenggung itu, lalu diperintahkan dua orang prajurit yang telah siap untuk menguji mereka. Sentanu berdebar girang ketika ternyata Tumenggung Santa Guna tidak mengenalnya lagi. Karena terlalu banyaknya Tumenggung Santa Guna berhadapan dengan anak-anak muda yang telah masuk, maka tentu saja mata tuanya agak rabun dan tidak mengenal lagi pada Sentanu. Namun Sentanu kembali berdebar ketika tiba-tiba Tumenggung Santa Guna memanggil mereka pula.

- Kalian sebut dahulu nama dan asalmu!

Berkata Tumenggung Santa Guna seraya memerintahkan prajurit yang bertugas untuk menuliskan dalam daftar yang disediakan.

- Kami bertiga seluruhnya berasal dari Kademangan Pulanggi. Pamasa mewakili saudara-saudaranya berkata.

- Hamba bernama Pamasa, dan ini adik hamba Wijaya, seadng satunya ini adalah saudara hamba Sumantri.

- Bagus, kalian boleh mulai!

Tumenggung itu memerintahkan mereka untuk bersiap pula.

Wijaya menyingkir menjauh dari tempat itu, sedang Sentanu mengikuti adik angkat itu. Kini tinggal Pamasa masih berada ditengah ruangan luas yang telah disediakan ditempat itu. Ketika Tumenggung Santa Guna memberi isyarat, seorang prajurit pengawal bertubuh tinggi besar maju dengan dada telanjang berbulu lebat.

- Kau boleh mulai!

Berseru seorang prajurit lain pada Pamasa. Pamasa melirik sekejap pada dua saudaranya yang 

berdiri jauh di sudut sebelah muka. Lantas ia mapag maju menghadapi pengawal tinggi besar itu. Pamasa tahu ia harus mampu menjatuhkan orang itu untuk dapat diterima menjadi tamtama.

Dalam pada itu Sentanu dan Wijaya tenang-tenang berdiri memandang yang tengah bersiap mengadu tenaga. Tentu saja dua saudara angkat ini tahu Pamasa bukan lawan enak bagi pengawal tinggi besar itu. Sekilas Sentanu dan Wijaya telah bisa menduga bahwa pengawal tinggi besar itu hanya besar tenaga, tetapi kosong dari ilmu den kecerdikan. Maka Pamasa tak akan banyak mendapat kesulitan jika hanya menghadapi orang itu. Tiba-tiba pengawal tinggi besar itu telah loncat menerkam Pamasa yang masih berdiri memandang padanya dengan senyum mengejek

- Hup!

Terdengar pengawal itu berseru keras dan lengannya bergerak maju menyambar leher dan muka Pamasa. Namun bekas kepala begal Pamasa hanya menggerakkan leher dan langkah kaki saja telah berhasil menghindarkan diri dari cengkeraman pengawal itu. Hingga berkali-kali Pamasa berhasil mempermainkan lawan itu demikian rupa. Si pengawal agaknya menjadi marah tangkapannya tak satupun berhasil menyentuh lawannya yang belum banyak bergerak. Maka kini orang itu ganti bergerak cepat dan ia melancarkan serangan dengan bertubi-tubi pada Pamasa. Sudah tentu Pamasa yang tergolong berilmu tinggi hanya tertawa mendapatkan serangan demikian. Ia sadar lawan memang bertenaga kuat bagai kerbau. Tetapi Pamasa mempunyai niat hendak permainkan lebih dahulu orang itu. Hingga jika seharusnya ia telah dapat membikin roboh pengawal itu maka diulurnya waktu dan ia memberi umpan agar dirinya terus diserang oleh si tinggi besar. Pengawal itu telah beberapa kali melakukan serangan, namun ternyata lawannya benar-benar licin bagai belut, meyebabkan beberapa kali ia harus makan angin dan serangannya tak sekalipun bisa menyentuh lawannya. Pada suatu saat si pengawal merangsek Pamasa dengan serangan beruntun yang berbahaya. Kedua tangannya bergerak bagai kitiran berusaha menangkap leher anak muda itu.

Namun Pamasa yang mulai ingin bertindak ketika kedua lengan lawan itu maju menyerang

mukanya, tiba-tiba ia berguling kedepan, hingga tangkapan itu lewat diatas tubuhnya, dan Pamasa yang bergulingan itu menyambar kaki si tinggi besar lalu menariknya dengan sepenuh tenaga. Maka tak dapat dihindarkan lagi, akibat kecepatan gerak Pamasa sangat tidak terduga, si pengawal berseru kaget dan ia terbanting hebat diatas lantai dan bergulingan membentur dinding. Pamasa loncat berdiri. Bersamaan itu pula pengawal tinggi besar itupun telah loncat bangun. Matanya kini menjadi merah karena marah yang meluap. Bagai hendak copot biji mata itu melotot keluar menatap Pamasa yang tersenyum gembira. Sengaja Pamasa mengejek agar lawan menjadi marah benar-benar.

- Huh!

Tiba-tiba pengawal itupun maju, tetapi kini terjadilah gerakan lucu orang itu. Entah apa sebabnya, tiba-tiba pengawal itu majukan kakinya melancarkan serangan. Yang melihat tertawa. 

Sebab nampak gerakan kaki itu amat lucu dan aneh. Dan sebelum serangan itu tiba, Pamasa masih berdiam diri mengejek lawannya. Sampai ketika serangan kaki itu hampir menyentuh Pamasa, anak muda itu tetap tidak bergerak, hanya menggeser sedikit kebelakang tanpa berbuat apapun. Namun sekonyong konyong pengawal itu menjerit hebat dan terbanting roboh kebelakang, Kemudian menggerang tak mampu bangkit pula. Terdengarlah sorak prajurit yang menyaksikan perkelahian.

Tetapi mereka merasa heran dengan robohnya pengawal tinggi besar yang tanpa sebab itu. Tak seorangpun diantara para prajurit yang tahu dengan persis sebab-sebab pengawal itu roboh. Hanya beberapa orang saja diantara orang-orang yang tergolong berkepandaian, termasuk Tumenggung Santa Guna dan Bagus Prana yang tahu benar bahwa pengawal itu jatuh disebabkan urat kakinya kena dibikin lumpuh bleh Pamasa yang memukul urat kaki yang terletak dibelakang lutut si pengawal ketika Pamasa bergulingan tadi. Sehingga terjadilah ketegangan urat itu.

Semula si pengawal tinggi besar itu tidak menyadari apa yang terjadi. Maka ia bangkit dan berusaha mendekati lawannya. Namun urat kakinya tiba-tiba bergerak hingga membuat tanpa sadar ia gerakkan kaki seakan hendak menyerang Pamasa, namun urat itupun segera berkerut pula dan mengejang dengan tiba-tiba dan iapun roboh tak berkutik. Hampir saja Wijaya bersorak melihat perbuatan saudaranya. Tetapi Sentanu segera menginjak kakinya hingga Wijaya membatalkan niat itu. Tumenggung Santa Guna mengangkat tangan dan berkata memuji :

- Bagus, kau cerdik anak muda!

Lalu Tumenggung itu memberi isyarat pula agar prajurit lain yang telah siap maju untuk mundur kembali

- Tidak usah! Ia tidak perlu diuji lagi.- Seru Tumenggung itu

- Cukup, ujian sekali. Nah, kau diterima anak muda!

Serunya kemudian. Dan Pamasa maju membungkuk memberi hormat seraya menghaturkan terima kasih, lalu mengambil tempat duduk yang telah disediakan ditepi ruangan.

- Kau majulah anak muda!-

Berkata pula Tumenggung Santa Guna memanggil Wijaya. Wijaya segera loncat maju, hingga ketika ia meloncat itu terdengar seruan memuji dari tengah-tengah yang menyaksikan gerakan Wijaya mengingatkan mereka pada Pamasa. Seorang prajurit lain maju menyambut Wijaya. Wijaya menatap lawannya. Tidak seperti lawan Pamasa tadi, tubuh orang itu agak sejajar dengan dirinya. Namun sorot mata orang itu menunjukkan seorang yang memiliki banyak mengalaman bertempur. Dan meskipun usia orang itu jauh diatasnya, namun Wijaya melihat semangat dan keberanian lawannya agaknya tak kalah dengan dirinya sendiri. Maka Wijaya menjadi berhati-hati.

Dalam pada itu Pamasa menjadi khawatir ketika dilihatnya saudaranya itu tidak mencabut senjata. Karena Pamasa tahu tanpa menggunakan senjata pastilah lawan itu akan menjadi terlalu 

berat. Belum tentu Wijaya bisa dikalahkan, tetapi pasti akan banyak makan waktu, lagi pula jiwanya bisa terancam. Lawan Wijaya benar bukan sembarangan, ia adalah senapati pilihan. Namun Pamasa menjadi lega ketika Wijaya berkata seraya mencabut pedangnya:

- Aku lebih suka dengan ini sobat!

Senapati itu melihat lawan menggunakan senjata, menoleh kebelakang, dan seorang prajurit segera maju membawa sebuah rantai panjang dua depa, yang pada kedua ujungnya terdapat bola-bola besi berduri. Sentanu kaget melihat senjata orang itu yang tidak biasa dipergunakan prajurit Demak. Namun Wijaya tertawa melihat senjata yang dipegang orang itu.

- Kau majulah!-

Tantang Wijaya. Senapati itu mendelik mendengar tantangan anak muda yang terlihat sombong itu. Namun ia juga maklum bahwa lawan mudanya bukan seorang sembarangan, terbukti ketika loncat masuk kalangan tadi gerakannya nampak lincah dan mengandung tenaga tersembunyi yang menakjubkan. Maka senapati itu tidak mau menunggu lagi serta tanpa ragu-ragu iapun maju, kemudian ketika Wijaya menutup tantangannya, ia melepaskan rantai dengan bola besinya itu kemuka.

- Wuut! Wuut terdengar suaranya menderu dahsyat menyerang Wijaya yang memegang senjata ringan. Terlihat benar kedua lawan yang tak seimbang. Senjata mereka nampak tidak imbang dalam pandangan yang menyaksikan. Satu memegang rantai dengan bola besi berat berduri, sedang satunya memegang senjata tipis berujud pedang yang kelihatan ringan.

- Trang! trang!

terdengar suara kedua gagaman yang beradu. Totapi aneh juga. Meskipun pedang ditangan Wijaya kecil dan tipis, namun ketika terjadi benturan dengan bola besi ditangan lawannya, bola itu justru mental kebelakang, bahkan hampir saja muka senapati itu kena hajar senjata sendiri.

Namun Wijaya juga tak kurang kagetnya. Ia sendiri tergempur mundur tiga tindak dan senjatanya juga hampir menyabet mukanya. Kembali bola, besi diujung rantai panjang itu meluruk maju menyerang dada dan kepala Wijaya, menyambar bagaikan burung elang mengincar anak ayam.

Suaranya dahsyat mengerikan. Hingga terpaksa Wijaya mundur menyambut datangnya serangan itu

- Wuut Trang! Trang!

Berkali-kali terdengar benturan keras senjata mereka yang bersiutan saling menyerang dengan hebatnya. Prajurit-prajurit yang menyaksikan menahan napas. Mereka khawatir dengan nasib anak muda yang memegang pedang itu. Karena agaknya kali ini disengaja oleh Tumenggung Santa Guna untuk majukan jago-jago Demak yang tangguh dan berat. Pengawal tinggi besar yang roboh oleh Pamasa tadipun belum pernah sekalipun maju menguji. Dan senapati yang melawan Wijaya kali inipun bukan sembarangan. Kalau bukan lawan yang dianggap benar-benar berat, ia tak akan diajukan dalam pertandingan itu. Maka kali ini banyak di antara prajurit yang berbisik mencela tindakan 

Tumenggung Santa Guna yang dianggapnya kurang adil. Bagaimana mungkin anak muda itu bisa mengalahkan senapati yang dikenal berilmu tinggi itu?

Maka mereka menyaksikan dengan hati berdebar. Wijaya agaknya memang harus menerima kenyataan pahit ketika mendapatkan lawan itu. Ia mulai terlihat terdesak oleh kecepatan gerak lawannya yang tangguh. Meskipun pedangnya juga mampu menahan serangan bola besi diujung rantai lawannya, namun untuk balas menyerang ia masih harus mengumpulkan tenaga dan kecerdikannya.

Yang begitupun ternyata belum sekali juga ia berhasil menyentuhkan pedang itu ketubuh lawannya. Pamasa khawatir melihat perkelahian yang tidak imbang itu. Ia tahu Wijaya tak akan bisa dijatuhkan dalam waktu cepat oleh lawannya, tetapi Wijaya juga tak akan ada harapan untuk menang melawan orang Demak itu. Perkelahian masih berlangsung dengan hebat dan mengerikan. Angin sambaran yang ditimbulkan dari senjata bola besi dengan berkesiurnya pedang Wijaya benar-benar mampu memukau orang-orang yang menyaksikan. Kedua orang ini kini jelas terlibat dalam arena pertempuran yang tidak main-main lagi. Karena Wijaya merasa lawan ternyata berat, maka ia kerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya. Sebaliknya senapati Demak itu merasa lawan juga cukup tangguh, maka ia bertindak tidak tanggung-tanggung. Karena jika sekali saja kena dilukai, maka ia akan jatuh nama dihadapan seluruh punggawa yang menyaksikan. Hingga iapun melancarkan serangan yang tak mudah dihindarkan lagi oleh Wijaya. Beberapa gebrakan telah berlalu, namun keduanya masih belum terlihat ada yang menang atau mundur. Masih nampak keduanya kuat dan bertahan dengan baik. Hanya para prajurit sajalah yang diganggu oleh kekhawatiran. Diam-diam mereka merasa cemas dan menyayangkan jika terjadi anak muda tampan itu terpukul bola besi diujung rantai yang setiap saat mengincar kepalanya. Atau jika sekali saja bola itu bersarang didada Wijaya, maka pastilah akan remuk tulang belulang anak muda itu, dan niatnya menjadi prajurit akan musnah seketika. Namun dalam pada itu, Sentanu yang menyaksikan adu tenaga antara Wijaya dengan senapati Demak itu sejak semula telah menduga Wijaya tak akan beroleh kemenangan. Ia tahu lawan Wijaya terlalu kuat. Meskipun Wijaya juga tak akan mudah roboh begitu saja, tetapi dapat dipastikan pada akhirnya pasti ada diantara keduanya yang tewas atau terluka berat. Maka Sentanu segera mengambil putusan untuk menolong Wijaya. Dalam suasana tegang itu seluruh prajurit terdiam membisu di cengkam perkelahian dahsyat yang menegangkan. Namun ketika Wijaya mulai terlihat terdesak, tiba-tiba Sentanu berseru perlahan, namun cukup bisa didengar oleh yang ada didekatnya.

- Adi Pamasa! Kau mendekatlah, jangan terlalu jauh. Kemarilah kau.

Pamasa yang mendengar seruan itu menjadi heran. suara Sentanu tentu saja menarik

orang-orang yang ada ditempat itu. Namun tak seorangpun memperdulikan ketika tahu orang itu memanggil Pamasa yang duduk berseberangan.

Pamasa bergerak loncat mendekat kearah Sentanu dengan perasaan heran. Tetapi tiba-tiba terdengar pula Sentanu berseru : 

- Eh adi Pamasa, jangan terlalu banyak meloncat, kamarilah kau mendekat, aku tak enak kalau kau terlalu jauh. Hayo kau peganglah tubuhku, biar kita tak berpisah lagi.

Pamasa semakin heran, demikian juga orang-orang yang mendengar jadi mendongkol pada Sentanu yang berteriak bagai gila itu. Tetapi segera perhatian mereka kembali pada yang sedang mengadu kekuatan ditengah arena.

- Eh Kang Sentanu mengapa kau berteriak-teriak memanggil ku? -

Pamasa menegur.Tetapi segera Pamasa tahu dengan apa yang dikehendaki Sentanu ketika yang ditegur mengerling dengan sudut matanya kearah yang sedang bertempur.

Dalam pada itu Wijaya tentu saja jelas mendengar seruan Sentanu tadi merasa heran pula. Tidak biasanya saudara tua itu akan demikian tingkahnya. Nanan ketika Sentanu berseru yang kedua kalinya, Wijaya menjadi sadar dan mengerti. Kiranya Sentanu memberikan peringatan padanya. Maka segera sesudah menimbang beberapa saat ia mencari ketika yang baik untuk mendekati lawannya.

Kalau tadi ia bertempur mengambil jarak cukup jauh dan memang terpaksa harus menjauh akibat senjata lawan yang panjang, maka kini Wijaya setelah Sentanu memberi peringatan padanya agar ia berusaha mendekat dan melakukan serangan dengan jarak dekat, Wijaya jadi timbul semangat barunya.

- Benar. Pikirnya.

- Jika aku dapat mendekati orang ini, maka senjatanya akan segera lumpuh dan jika ia tidak mau membuang senjatanya. maka mudah bagi Wijaya untuk merobohkan lawan itu.

Perhitungan Sentanu tidak berbeda jauh dengan dugaan Wijaya. Jika ia berhasil merangsek lawan dengan serangan jarak dekat maka senjata berat bola besi itu akan lumpuh.Namun jika ia mau melepaskan senjata beratnya melawan Wijaya, masih dapat memperoleh kesempatan untuk bertahan dengan baik. Tetapi. seperti yang diduga oleh Sentanu, senapati Demak itu tentu tak akan sudi membuang senjatanya. Ia akan merasa malu berbuat demikian dihadapan seluruh prajurit yang menyaksikan. Maka dengan masih memegang senjata beratnya itu, ia pasti akan kerepotan, dan jika Wijaya bisa menyelesaikan pertempuran dengan cepat, maka kemenangan pasti ia dapat. Namun jika Wijaya tidak berhasil mempercepat pertempuran, ia pasti juga akan menemui kesulitan untuk meraih kemenangan atas lawannya.

Wijaya sudah berpikir demikian pula. Maka tiba-tiba ia merangsek lawan dengan mendekat seraya menghindari serangan bola besi itu. Dan kini bukan dengan mata pedang ia menyerang, melainkan gagang pedanglah yang digunakan menyodok lawannya.

Dengan siasat itu lawannya berhasil dibikin bingung oleh Wijaya. Sebab kini lawannya tidak lagi berloncatan jauh dimuka atau disamping, namun selalu berputar dan nampaknya mau menempel saja pada tubuhnya, dan sekali-kali menyerang dengan hebat kepadanya. - Gila! -  Senapati itu mengutuk dalam hati. Namun ia tak lagi mmepunyai pilihan lain. Sebagai seorang senapati yang memiliki senjata bola besi itu, ia biasa bertempur diarena luas dalam serangan jarak jauh. Dan kini ia didekati oleh lawan yang justru hendak menempel padanya. Lagipula kelincahan Wijaya lebih menang jika dibandingkan dirinya. Membuat senapati ini terpaksa harus mengikuti gerakan Wijaya yang berputar serta mengancam lambung dan perut berkali-kali dengan sodokan gagang pedangnya.

Dalam keadaan hampir saja menguasai lawan, kini berbalik menjadi dikuasai, senapati itu menjadi marah. Dan kemarahan inilah yang menguntungkan Wijaya, sebab dengan demikian senapati itu berkurang kewaspadaan. Apalagi kini bola besinya menjadi hanya tergantung dilengan tanpa dapat berbuat banyak. Ia menjadi kalap.

Pada suatu ketika, ia menggeram hebat, dan menyorongkan kepalan tangan kiri kearah perut Wijaya, namun yang diserang telah tahu apa yang harus dilakukan. Dengan sebat Wijaya miringkan kepala sambil tangannya menyambar rantai yang tergantung dilengan senapati. Maka akibat cepatnya gerakan Wijaya, dan senapati yang terlanjur dipengaruhi nafsu marah, menjadi kurang hati-hati. Tarikan tangan Wijaya berhasil membuat ia terhuyung kemuka.

Wijaya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ketika lawan masih terhuyung maju kemuka dan kakinya limbung. ia sodokkan gagang pedangnya kearah lambung orang itu dan

- Heg!

Terdengar suara keras dan gagang pedang Wijaya berhasil masuk lambung orang itu hingga tanpa sempat menjerit pula, senapati itu roboh terbanting dengan tulang rusuk patah kena sodokan gagang pedang Wijaya.

Wijaya cepat loncat mundur melihat lawan telah roboh. Lalu iapun maju mendekati Pamasa dan Sentanu berada. Namun terlihat keringat Wijaya bertetesan, napasnya agak memburu. Maka segera ia duduk bersila dan mengembalikan ketenangan serta mengendalikan pernapasannya yang tidak teratur.

Tumenggung Santa Guna berdiri dan mengangkat tangan.

- Kau diterima!

Seru Tumenggung itu kepada Wijaya. Lalu ia juga perintahkan prajurit mengangkat senapati yang roboh pingsan itu.

Tinggal Sentanu kini menunggu giliran untuk maju. Maka ketika Tumenggung Santa Guna memberi isyarat padanya agar menuju ke tengah arena. Sentanu melangkah dengan tenang. Namun hatinya tak urung berdebar juga ketika Tumenggung itu melambaikan tangan pada seorang kepala prajurit yang masih terlihat tenang duduk disudut jauh dibelakang Tumenggung itu.

Namun ketika kepala prajurit itu telah meloncat maju, tiba-tiba Bagus Prana yang semenjak tadi 

diam mengawasi, loncat kemuka sambil berseru :

- Ayah, dia lawanku! -

Hingga kepala prajurit itu berhenti dan memandang heran pada Bagus Prana, kemudian pandangnya beralih pada Tumenggung Santa Guna minta putusan siapa yang harus menghadapi anak muda itu.

Tumenggung Santa Guna tidak menduga anaknya akan berbuat itu. Tetapi ketika mata Tumenggung itu memperhatikan Sentanu dengan seksama. tahulah ia, bahwa pilihan Bagus Prana tak meleset. Sebab sekilas Tumenggung itu tahu jika kepala prajurit itu dipaksakan melawan tentulah tak akan banyak berarti.

- Kau boleh mundur dahulu!

Perintah Tumenggung Santa Guna pada kepala prajurit itu yang segera kembali ketempatnya semula.

Para prajurit lain yang melihat Bagus Prana turun ke gelanggang sendiri menjadi terkejut. Mereka rata-rata telah mengenal kehebatan anak menantu Tumenggung Santa Guna itu. Maka hati mereka semakin gembira, meskipun juga berdebar keras. Gembira karena tanpa diduga kali ini menyaksikan perkelahian antara orang-orang berilmu tinggi. Namun cemas sebab khawatir jangan-jangan anak muda tampan itu akan jatuh oleh Bagus Prana yang telah dikenal kemampuannya. Namun mengingat dua saudara yang terdahulu terbukti memperoleh kemenangan, hati prajurit itu timbul gembira pula.

Dan mata mereka yang semenjak tadi terpaku manakala memandang Sentanu, kini nampak lebih kagum dan terpukau. Sikap anak muda itu nampak agung dan pengaruh yang dipancarkan dari gerak geriknya menimbulkan rasa lain dan menimbulkan pula perasaan hormat dan cinta.

Bagus Prana ketika menatap kearah lawannya, menjadi terkejut. Tatapan mata anak muda itu amat tajam dan seakan menembus hati dan jantungnya. Namun Bagus Prana segera menenangkan perasaannya yang menjadi tergoncang melihat perbawa yang dipancarkan Sentanu. 

- Kau majulah!

Bagus Prana berkata seraya memasang kuda-kuda.

- Gustilah maju dan serang hamba dahulu.

Jawab Sentanu dengan mengikuti lawannya memasang kuda-kuda pula. _

Bagus Prana heran. Tetapi karena lawan telah memintanya, maka tiba-tiba ia berseru keras :

- Awas! -

Dan dua kepalan tangan Bagus Prana meluruk maju menyambar dada Sentanu.

Sentanu kaget juga, serangan itu ternyata menimbulkan angin kuat, hingga sebelum serangan itu sendiri tiba, angin yang ditimbulkan telah sampai dan menekan dadanya lebih dulu. Namun ia menggeser kaki dan mengegos kesamping hingga serangan Bagus Prana lewat disisi dadanya. Tapi Bagus Prana tiba-tiba menggerakkan tangan itu memukul kesamping mengancam leher Sentanu 

dengan lebih cepat Pula. membuat ia terpaksa menundukkan kepala seraya memutar badan namun ia sempat menyambar kelangkangan lawan dengan tak kalah cepat dan berbahayanya.

- Bagus! _.

Bagus Prana memuji. Namun ketika kelengkungannya hampir kena disambar lawan, ia loncat mumbul dan membanting diri kebelakang. Lalu jatuh dalam keadaan berdiri.

Sentanu tersenyum melihat lawan yang ternyata cukup hebat itu.

Ia merasa senang bertemu lawan berilmu tinggi. Demikian pula para prajurit tak terasa berseru memuji perkelahian yang meskipun baru mulai, tetapi terlihat lebih hebat dari yang sudah.

- Kau majulah sekarang!

Bagus Prana berkata dan memasang kuda kuda pula. Sedang Sentanu masih tersenyum melihat lawannya berlaku demikian.

- Maaf, jagalah ini! -

Tiba-tiba Sentanu loncat maju dan tangan kanannya terangkat memukul dahi lawan.

Bagus Prana ganda ketawa, ia sangka serangan itu terlalu gegabah dilakukan dari jarak cukup jauh. Maka ia menunggu sampai serangan itu tiba. Namun dugaan Bagus Prana keliru. Ketika Sentanu telah mendekat, tangan yang terangkat siap turun menghantam pelipis itu tiba tiba turun dengan deras, namun tangan kiri Sentanu masuk keperut Bagus Prana dengan cepat tak terduga.

- Gila!

Bagus Prana mengutuk keras. Tetapi ia cepat berkelit dengan memutar badan sedikit seraya mendorong tubuh Sentanu dengan maksud agar terjatuh kena dorongan dengan tenaga kuat.

Dalam pada itu Sentanu merasa bahwa jika ia terlalu melayani Bagus Prana yang agaknya malah merasa gembira berhadapan dengannya, jadi berpikir lain. Ia tak mau dirinya dijadikan lawan berlatih bagi anak Tumenggung itu.. Maka Sentanu ingin segera menyelesaikan perkelahian. Dan sekaligus ia hendak perlihatkan pada Tumenggung yang nampak sombong duduk ditempatnya itu, bahwa dirinya masih tergolong mampu kalau hanya hendak meraih kedudukan prajurit rendahan. Diam-diam Sentanu memendam rasa marah dan sakit hati pada Tumenggung yang pernah menghinanya secara tidak adil itu. Maka ketika Bagus Prana majukan tangan mendorong tubuhnya. ia tidak berkelit. Tetapi ia tangkap lengan tangan Bagus Prana lalu menariknya kemuka dengan keras.

Bagus Prana kaget. Tidak menduga lawan akan berbuat demikian, dan ia merasa tarikan itu terlalu kuat, maka ia mengikuti saja daya tarik Sentanu, tetapi sekaligus ketika tubuhnya kena ditarik maju, ia juga menarik lengan lawan, hingga-karena pegangan mereka sama kuat, Bagus Prana dan Sentanu jadi bergulingan bagai bola ditendang hingga orang-orang yang menyaksikan terpaksa menyingkir.

Sentanu sudah terlalu kesal dan muak melihat cara Bagus Prana yang hendak memperlihatkan kesombongan dihadapan prajurit prajurit yang menyaksikan pertandingan itu. Jelas Bagus Prana 

memang hanya main-main dan seakan Sentanu cuma mau dijadikan lawan bermain untuk pamer kepandaian dimuka banyak orang di arena itu.

Maka Sentanu benar bertindak. Ketika orang menyingkir akibat dua tubuh yang bergulingan hampir saja menabrak mereka, tiba-tiba Bagus Prana terlempar dengan keras bagai ditolak oleh sebuah tenaga raksasa melayang keatas lebih tiga tombak dan kemudian jatuh berdebug dengan keras membentur tiang dengan hebatnya.

Akibat itu ternyata sungguh hebat dan mengejutkan. Entah apa pula sebabnya, ketika itu Sentanu tiba-tiba saja menjadi amat marah. Maka ketika ia masih bergulingan tadi, ia menyerang Bagus Prana dengan aji pamungkasnya hingga bagai ledakan gunung tenaga Sentanu bersarang di dada Bagus Prana membuat ia terlempar hebat membentur tiang. Dan ketika tubuh anak Tumenggung Santa Guna itu membentur tiang, seluruh bangunan ruangan menjadi bergetar hebat hingga atap diataspun bergetar berderak-derak, sedang tiang itupun hampir saja roboh dan kini menjadi miring dari tempat semula.

Tumenggung Santa Guna loncat menghambur ketika melihat hasil perkelahian itu. Sedang para prajurit menjadi panik dan terdengar seruan-seruan kaget disana-sini. Namun diantara seruan mereka terdengar pula suara-suara yang menyatakan kegembiraan. Agaknya mereka senang melihat Bagus Prana terluka hebat oleh serangan lawannya itu.

- Apa pula ini? Kenapa kau menurunkan tangan membunuh dia? Tumenggung itu maju dan mendamprat Sentanu.

Pamasa dan Wijaya maju mendekat, keduanya siap jika terjadi Sentanu diserang prajurit-prajurit itu. Namun untunglah tak satupun yang bergerak. Hanya kini Tumenggung Santa Guna menjadi kalap.

- Masih bernapas Gusti Tumenggung.

Kata seorang prajurit yang memeriksa Bagus Prana.

- Diam! -

Tumenggung Santa Guna membentak prajurit itu, hingga orangnya segera mundur pula dengan takut.

Namun akibat dari itu Tumenggung Santa Guna benar jadi kalap dan marah sekali.

- Kau harus mampus! -

Serunya berulang-ulang. Pamasa maju mendekat dan berkata :

- Gusti, bukankah saudaraku menang dengan jujur? Mengapa Gusti harus menjatuhkan hukuman yang tidak adil?

Namun mata Tumenggung Santa Guna tiba-tiba menatap Sentanu dengan heran dan kaget. Kini Tumenggung itu mulai mengingat wajah Sentanu yang pernah datang dahulunya.

- He, bukankah kau yang bernama Sentanu? - 

Bertanya Tumenggung itu dengan menudingkan jari telunjuknya. Sentanu kaget, tak ia duga dirinya akan dikenal kembali.

- Jawab! Bukankah kau yang pernah datang kemari mengaku bernama Sentanu?! .

Melihat keadaan agaknya sudah tak dapat lagi dikendalikan dan lagi terlanjur Tumenggung Santa Guna mengenali wajah Sentanu, maka Pamasa berkata pula :

- Gusti Tumenggung, benar dia adalah Sentanu yang pernah datang menghadap paduka beberapa waktu yang lalu.

- Hah! Gila, mengapa kau berani mati datang pula kemari? Hayo tangkap dia ! Para prajurit berloncatan maju mengurung Sentanu dangan senjata terhunus.

Melihat itu Pamasa dan Wijaya berendeng melindungi Sentanu saling mengadu punggung.

Ketiganya siap tempur menghadapi prajurit-prajurit itu. Namun agaknya perintah Tumenggung Santa Guna masih membuat bimbang para prajurit hingga tak satupun yang bergerak, kecuali hanya mengambil sikap mengurung.

- Pamasa, dan kau Wijaya, jangan berbuat bodoh melawan para prajurit itu. - Kata Sentanu perlahan.

- Kalian bisa celaka jika prajurit Demak sudah menyerang, sebab kalian bisa dituduh menjadi pemberontak terhadap tuanku Pati Unus.

- Tak apalah Sentanu, aku pernah menjadi kepala begal yang berani menentang prajurit prajurit Demak.

- Itu beda Pamasa! -

- Kalau kalian masih menginginkan aku diterima jadi tamtama, menyingkirlah kalian jangan melawan prajurit-prajurit itu. .

Dalam pada itu Tumenggung Santa Guna ketika melihat Pamasa dan Wijaya melindungi Sentanu, maju dan berkata pula :

- Eh kau yang bernama Pamasa dan Wijaya, menyingkirlah kalian, biarkan anak kurang ajar itu kami cincang disini.

- Mohon ampun Gusti Tumenggung, kami terpaksa membela diri jika disakiti. - Jawab Pamasa.

- Kalian berdua sudah diterima menjadi tamtama, menyingkirlah! - . Sentanu menyentuh bahu Pamasa dan berkata pula :

- Kau ikutlah perintahnya Pamasa, kalau kau jadi orang besar di Demak, kau akan bisa menolongku untuk masuk jadi tamtama. Ikutlah Pamasa!

Mendengar perkataan itu Pamasa menimbang. Ia pikir ada benarnya juga kata-kata Sentanu. 

Namun mengingat Sentanu pasti akan ditangkap, ia ragu dan berkata pula.

- Gusti Tumenggung, hamba berdua bersedia mengikuti perintah tetapi hamba mohon saudara hamba ini dilepas dengan aman. -

Tumenggung Santa Guna berpikir sejenak, lalu :

- Baiklah, aku luluskan permintaan kalian. Nah, kau pergilah menyingkir dari tempat ini lekas!

Sebelum aku berubah pikiran dan menangkapmu untuk dihadapkan pada Gusti Pati Unus.

Para prajurit menyingkir. Dan ketika Pamasa dengan Wijaya membuka jalan, Sentanu berpamitan pada dua saudaranya itu. lalu ia melangkah keluar dengan tidak menoleh ,pula, melangkah dan terus berjalan, hingga akhirnya hilang dibalik bangunan kraton yang banyak terdapat disitu.

Para prajurit termangu-mangu melihat kejadian yang tidak diduganya itu. Mereka menaruh kasihan dan iba pada Sentanu yang telah hilang dari hadapan mereka. Diam-diam menyesali pula tindakan Tumenggung yang dirasa tidak adil. Namun keheranan mereka tetap menjadi rasa heran yang tak terjawab. Dua kali orang muda itu datang, namun ditolak dengan cara tak adil oleh Tumenggung Santa Guna, pada hal ilmunya tak akan kalah agaknya dibanding Tumenggung itu sendiri. Namun mereka diam saja.

Apalah artinya suara seorang prajurit yang tidak memiliki kekuatan apapun?

Dengan berat hati dan sedih, Pamasa dengan Wijaya menerima juga jabatan sebagai prajurit tamtama lalu bergabung dengan prajurit lain yang telah diterima terlebih dahulu. Namun kedatangan dua orang muda bekas kepala begal ini menimbulkan kegembiraan dikalangan mereka, karena hampir setiap orang telah mendengar riwayat mereka yang agak berbeda dan menimbulkan kekaguman.

Sementara itu Sentanu tanpa menoleh telah berada diluar kota. Ia menjadi tak habis mengerti dengan kemauan Tumenggung Santa Guna yang tanpa sebab telah menjadi tak senang padanya.

Sentanu sungguh tidak mengetahui mengapa semua menjadi demikian jadinya.

Namun demikian, bukannya ia menjadi berduka karena tak berhasil masuk menjadi tamtama.

Hanya ia merasa kecewa jika pesan gurunya tidak ia taati. Lagi pula hasrat yang memang telah lama di pendam menjadi kandas pula. Ia tak lagi mempunyai harapan untuk kembali ke Demak.

Tetapi manakala ia teringat nasibnya, rasanya mau meruntuhkan air mata. Ia teringat orang tuanya dan lagi perasaan yang selama ini mengganggu adalah kini tak lagi ada siapapun didunia yang pantas menjadi saudara dan tempatnya mengadukan kisah dan penderitaan hidupnya.

Hanya jika Sentanu mengingat nasehat gurunya Ki Ageng Semu. ia jadi terhibur, dan segala kesedihan menjadi hilang pula. Sebab apalah artinya menderita dan kedukaan jika batin telah menjadi tumpuan bagi perasaan dan pertimbangan hidupnya. Sentanu masih harus banyak belajar, ia sadar itu. Karena bagi seorang yang masih kena terpengaruh oleh rasa sedih atau senang, belum dapat dikatakan telah macapai tataran ilmu batin yang layak. Maka mengingat yang demikian ia seringkali harus memerangi segala perasaan buruk yang hanya akan menggerogoti kemurnian diri sendiri itu. 

Namun dengan adanya kejadian ia ditolak berkali-kali oleh Tumenggung santa Guna, membuat Sentanu mempunyai pikiran lain. Dari rasa berduka, kini tiba-tiba berubah. Ia ingin mengetahui apa sesungguhnya yang menjadi sebab dirinya diusir setiap kali menghadap Tumenggung itu. Ya, Sentanu telah mengambil putusan untuk menyelidiki hal itu.

Berpikir demikian, tiba-tiba Sentanu teringat pada Taruna, saudara angkat yang pernah menjadi penolong. Mengingat Taruna ia jadi ingat pula pada Adipati Wilapribrata.

Ah, mengingat semua itu, pikiran Sentanu jadi mengenangkan waktu yang telah lewat. Dan ingatannya kini singgah pada Mirah Sekar, adik Taruna yang dibawa oleh Nyi Ageng Maloka.

Dimanakah Sekar sekarang? - Pikirnya.

Sentanu tiba-tiba jadi ingin menemui Taruna dan sekaligus ia hendak mengetahui keadaan saudara angkat yang telah menolong dirinya itu. Maka ketika ia telah merasa tak ada lagi arah tujuan yang hendak dicapai, ia berniat menjenguk saudaranya di Pringsewu, di Kadipaten Wanabaya.

Dengan menunggang kudanya ia berjalan menuju dusun Pringsewu mencari Taruna yang telah lebih dari tiga tahun ia tinggalkan. Mengingat semuanya itu, ia menjadi ingat juga pada nasib prajurit Kadipaten Wanabaya yang pernah menyatakan hendak berontak pada Adipati Wilapribrata.

- Ah aku pernah berjanji hendak menolong mereka. - Katanya dalam hati.

- Tetapi apa boleh buat aku dulu itu terlanjur bertemu dan mengikuti Ki Ageng, hingga janji itu belum terlaksana. Tapi apakah sekarang mereka masih berada di Wanabaya? Apakah barangkali bahkan telah timbul pemberontakan mereka pada Adipati Wilapribrata ?

Sentanu bertanya-tanya dalam hati sementara ia melarikan kudanya itu, ia membayangkan Mirah Sekar yang cantik menarik.

- Seperti apakah dia kini? - Pikirnya

- Mungkin kepandaiannya melebihi diriku. Ah, Sentanu menggelengkan kepala dengan tiba-tiba. Mengapa aku jadi membayangkan gadis itu?

- Kau gila! Mengapa gadis itu jadi kau ingat-ingat?

Sentanu terus melarikan kudanya tanpa berhenti. Dan ia terus melarikan kuda itu bagaikan dikejar setan. Sentanu hanya ingin mengusir bayangan Mirah Sekar yang kini seakan malah menempel dipelupuk matanya

- Hei, mengapa begini? - Ia menggerutu.

- Mengapa aku mendadak jadi membayangkan Sekar begini? Gila 

Tetapi dalam pada itu tanpa sadar Sentanu telah membandingkan antara Mirah Sekar dengan anak gadis Demang Pulanggi.

- Ah anak ki Demang itu galak dan keras. Kalau Mirah Sekar? Ia menarik, dan senyumnya .. .......

senyum itu. Hai

Sentanu kaget. ia bagaikan gila terus dibuntuti oleh bayangan Mirah Sekar yang mengikuti lari kudanya, bahkan berada dekat dengan matanya.

Tidak selang lama kemudian, Sentanu telah memasuki wilayah Kadipaten Wanabaya, lalu dengan bergegas ia mencari letak dusun Pringsewu yang berada diarah barat laut Kadipaten.

Memasuki pedesaan itu hati Sentanu padi berdebar juga. Ia teringat ditempat itulah dulunya ia bertemu dengan Taruna, dan diujung hutan keluar dari Kadipaten itu pula ia bertemu gurunya Ki Ageng Semu. Maka Sentanu menjadi terhenti untuk beberapa saat. Ia mencoba mengingat kembali pengalaman-pengalaman yang pernah terjadi ditempat itu.

Namun segera Sentanu menarik tali kendali kudanya untuk kemudian melanjutkan perjalanan masuk kedusun Pringsewu dan secepatnya mencari rumah Taruna yang masih diingat dengan baik.

Tiba dimuka regol pekarangan rumah Taruna, sentanu menghentikan kudanya. Kebetulan dipekarangan itu terlihat seseorang tengah berjalan keluar dari pintu samping menuju kearahnya. Dan agaknya melihat ada seorang menunggang kuda berhenti dimuka regol pekarangan rumahnya, orang itu menjadi heran dan menatap tajam-tajam kearah Sentanu. Namun lebih kaget lagi ketika orang ini menegur dengan suara keras :

- Kang Taruna!

Orang itu jadi kaget, tiba-tiba berbalik menjadi girang ketika mengetahui siapa yang muncul.

- Hei, kau adi Sentanu?!

Orang itu yang bukan lain adalah Taruna menghambur dan menyambut kemudian merangkulnya. Sentanu balas memeluk saudara itu dengan hati terharu Ingin rasanya ia menitikkan air mata untuk menyatakan perasaan haru dan gembiranya bertemu Taruna yang kini bagai saudara sendiri itu.

- Ah, kau nampak semakin gagah saja! - Taruna berkata memuji.

- Kemana saja kau selama ini?

- Kang, aku selalu teringat dirimu. Kau tentunya juga baik-baik saja kang? Aku juga kangen!

- Ayo kau masuk dulu, tak baik kita berada dihalaman begini. Sentanu mengikuti Taruna masuk kedalam ruang pendapa rumah itu.

- Banyak perubahan. --

Pikir Sentanu ketika memperhatikan isi rumah Taruna.

- Kebetulan kau datang saat ini. 

Berkata Taruna ketika mereka duduk berdua diatas tikar lampit sambil minum air teh wangi.

- Adakah sesuatu yang hendak kau perbuat kang? _. Sentanu bertanya.

- Itulah, aku menunggu-nunggu kedatanganmu. Tetapi hampir saja penantianku itu menjadi kandas, kukira kau masih lama kembali kemari, tetapi untunglah kini kau telah datang.

- Apa yang terjadi kang Taruna? Apakah Sekar juga belum pernah menjengukmu kemari?

Mendengar disebutnya Sekar, Taruna terdiam. Ia bayangkan adiknya itu yang kini tentunya telah lain sama sekali dengan dulunya.

- Belum, Sekarpun belum Sekali juga datang kemari. Kalau saja ia ada, tentu akan lebih bagus. -

Sahut Taruna pula. Lalu oleh Taruna dikatakan satu peristiwa yang dialaminya selama Sentanu tidak berada di Pringsewu,

Setelah ia meninggalkan Pringsewu bersama Ki Ageng Semu dulu itu, ternyatalah para prajurit Wanabaya di Kadipaten, masih menunggu-nunggu munculnya anak muda itu pula. Akan tetapi karena tidak juga muncul, maka oleh kepala prajurit diperintahkan seorang anak buahnya untuk menghubungi Taruna di Pringsewu dan menanyakan perihal Sentanu.

Namun betapa kecewa mereka ketika, mengetahui anak muda itu telah pergi bersama Ki Ageng Semu. Tetapi dari pertemuan dengan Taruna itulah tanpa diduga timbul rencana lain. Sebab akhirnya Taruna berhasil membujuk prajurit Wanabaya yang menyimpan niat berontak pada sang Adipati Wilapribrata untuk bergabung dan mengikuti jejaknya.

Sudah barang tentu para prajurit tidak banyak membantah, mereka menerima pendapat Taruna dan berjanji hendak membantu Taruna untuk merebut Kadipaten Wanabaya dari tangan Wilapribrata, saudara tuanya. Maka sejak itulah Taruna menyusun kekuatan yang terdiri dari prajurit Wanabaya yang bukan berasal dari Banyuwangi. Sedang Taruna sendiri dari jauh memimpin mereka memberinya petunjuk serta mengatur segala rencana pemberontakan terhadap Adipati Wilapribrata.

Ternyatalah, waktu berjalan dengan cepat. Hampir lewat tiga tahun Adipati Wilapribrata yang membangun taman dan beteng rahasia dalam istananya, mendekati penyelesaian.

Beteng rahasia itu demikian menakjubkan. Kepintaran Adipati Wilapribrata patut dipuji.

Namun akibat dari itu sungguh tidak diduga oleh Adipati Wilapribrata. Karena dari banyak hal yang seharusnya dipikirkan menjadi terlantar. Adipati yang terlalu banyak mencurahkan perhatian pada pembuatan beteng dan lorong-lorong rahasia penuh jebakan itu jadi kurang menaruh perhatian pada keadaan lain yang terjadi disekelilingnya.

Rahasia mengenai akan dihabiskannya orang-orang Wanabaya terlanjur terbuka dan mulai dicium oleh prajurit dan pekerja Kadipaten yang berasal dari Wanabaya. Maka kepala prajurit yang pernah menolong Sentanu ketika membebaskan Mirah Sekar dari kurungan telah bertindak lebih jauh lagi. Ia menyusun kekuatan terpendam dalam Kadipaten dibawah pengaruh Taruna yang memberikan petunjuk.  Kepala prajurit itu secara rahasia pada waktu-Waktu tertentu pasti bertemu dengan Taruna. Dan berdasarkan pada keterangan kepala prajurit itulah Taruna mulai menempatkan orang-orangnya dalam Kadipaten. Bahkan beberapa kali Taruna berhasil menyusup masuk menyamar sebagai prajurit jaga dimalam hari. Dengan bantuan kepala prajurit Wanabaya itulah Taruna berhasil masuk menyamar jadi prajurit jaga lalu mengadakan penelitian pada tempat-tempat dan sudut sudut rahasia yang terdapat dalam Kadipaten.

Dalam pada itu Adipati Wilapribrata, karena terlalu percaya pada diri sendiri, menjadi kehilangan kewaspadaan. Ia merasa dirinya tak terkalahkan, sehingga akibat dari itu menganggap semua orang di Wanabaya takut dan tidak akan berani menentang pendapatnya. Dan perihal bangunan-bangunan rahasia yang sedang dikerjakan, Adipati tidak khawatir akan terbuka pada orang luar, sebab Adipati ini menganggap tak satupun orang-orang yang turut mengetahui rahasia pembuatan itu akan selamat. Jika pembuatan selesai, maka mereka harus mati dalam satu ruangan yang sengaja dibuat untuk itu.

Pada saat seluruh bangunan selesai. semua pekerja akan berkumpul dalam ruangan yang telah disiapkan itu. kemudian oleh orang orang kepercayaan dari Banyuwangi. Wilapribrata bermaksud mengubur mereka dalam ruangan itu hingga tak akan terjadi rahasia itu keluar dan diketahui lain orang.

Tetapi tanpa disadari oleh Adipati Wilapribrata dalam Kadipaten kini telah terjadi perpecahan diantara prajurit-prajuritnya. Dan akibat kepintaran Taruna maka bisa dikata hampir separuh lebih prajurit yang ada dalam Kadipaten telah berbalik pikir dan siap berontak terhadap Wilapribrata.

Hanya saja persiapan yang dilakukan dengan secara diam-diam itu masih menunggu waktu untuk meledakkannya. Karena Taruna masih hendak menunggu datangnya Sentanu.

Namun ditunggu setahun, dua tahun bahkan kini menginjak tiga tahun Sentanu masih belum muncul. Hingga akhirnya oleh Taruna diputuskan untuk secepatnya menghancurkan Wilapribrata. Tetapi tanpa diduga, ketika sehari rencana penyerangan itu hendak di lakukan, Sentanu telah muncul dengan tiba-tiba. Maka alangkah girang hati Taruna dengan kedatangan adik angkatnya itu.

Sentanu merasa girang pula, maka tanpa diminta ia menyatakan kesediaannya membantu.

- Kau tentu sudah bertambah hebat, Sentanu! Ujar Taruna.

Tetapi Sentanu hanya tertawa, Taruna ikut tertawa. Kedua saudara itupun segera menyusun rencana penyerangan ke Kadipaten Wanabaya.

- Sebentar malam kepala prajurit itu tentu datang kemari. Kata Taruna itu pula.

Perintah dan pesan-pesan segera disampaikan lewat orang-orang Yang sebagian terdapat 

didusun Pringsewu itu.

Dalam pada itu di Kadipaten Wanabaya Adipati Wilapribrata Semenjak kehilangan Mirah Sekar, menjadi lebih berhati-hati. Dan kini tinggal dua pekan lagi maka bangunan yang tengah dikerjakan akan selesai. Namun ternyatalah seluruh pekerjaan itu telah memakan banyak pengorbanan. Pada saat menjelang penyelesaian seluruh bangunan itulah, Adipati Wilapribrata mempersiapkan upacara sesaji di Kadipaten sebagai persembahan dan rasa terima kasih pada dewa dewa yang memberinya kehidupan dan pertolongan.

Namun sementara itu, Adipati Wilapribrata sedikitpun tidak menduga dalam Kadipaten telah mulai terlihat tanda-tanda akan timbulnya kerusuhan yang diperbuat oleh prajurit-prajurit Wanabaya.

Namun sebelum segala persiapan yang diatur Taruna selesai, dalam Kadipaten terjadi keributan kecil yang membuat api semakin berkobar.

Adipati Wilapribrata yang tengah memeriksa bangunan terakhir pada dinding lorong yang dibuatnya, tiba-tiba melihat seorang prajurit Wanabaya berada dalam lorong itu. Maka Sang Adipati yang menjadi heran, segera menegur prajurit itu dengan marah :

- He, mengapa kau bisa berada ditempat ini? Bertanya Adipati itu.

Prajurit Wanabaya yang sebenarnya tengah ditugaskan oleh kepalanya untuk memeriksa bagian bangunan akhir itu tidak menduga akan ketahuan oleh Adipati Wilapribrata, sebab pada saat seperti itu tidak biasanya Adipati datang memeriksa. Maka dengan gugup prajurit itu maju menyembah lalu berkata :

- Ampun Gusti, hamba tengah mencari kawan hamba ditempat ini.

Adipati Wilapribrata merah mukanya. Jelas prajurit itu telah berdusta. Maka dengan keras Adipati membentak orang itu :

- Bohong! Kau mencoba berani berdusta didepanku, Ha? Apa kau pura pura tuli dan buta? Bahwa ditempat ini tak satupun terdapat prajurit macam kau. kecuali pengawal-pengawal dari Banyuwangi. Mengerti?!

Prajurit Wanabaya itu menjadi pucat. Ia terlanjur kelepasan omong hingga karena takutnya tidak sadar bahwa kata-katanya telah keliru. Karena benar yang dikatakan Adipati tak seorangpun ditempat itu terdapat prajurit asal Wanabaya melainkan seluruhnya berasal dari Banyuwangi yang datang bersama Adipati sendiri.

Melihat prajurit itu menggigil, Adipati Wilapribrata menjadi sadar, tepatlah ada yang tidak wajar dalam Kadipaten.

- Kau kemari! -

Serunya memanggil prajurit itu.

Yang dipanggil mendekat, namun ketika baru saja ia hendak berkata pula, tiba-tiba tangan 

Adipati Wilapribrata bergerak mencabut keris pusakanya, lalu dihunjamkan keperut prajurit Wanabaya itu.

- Mati kau!-

Seru sang Adipati dengan geram hingga prajurit itu mengeluh pendek kemudian roboh dengan mandi darah.

- Panggil kepala prajurit Wanabaya itu, lekas! - Perintah Adipati pula pada pengawalnya.

Namun ketika itu seorang prajurit Wanabaya lain yang melihat kejadian itu cepat berlari-lari mencari kepala prajurit yang masih berada ditempatnya.

Dengan terengah-engah ia mendapatkan kepala itu tengah berunding dengan anak buahnya digandok belakang. .

- He, apa yangterjadi?- Bertanya kepala prajurit itu.

- Seorang kawan kita terbunuh oleh Gusti Adipati. . Jawab prajurit itu.

- Terbunuh? Jadi ia ketahuan berada disana? Kau lekas menyingkir.- Kata prajurit itu pula.

- Kini Gusi Adipati tengah memerintahkan pengawalnya memanggilmu. Namun Kepala prajurit itu menggelengkan kepalanya.

- Tidak perlu, kini saatnya kita bertindak. Lekas kau menemui Taruna dengan Sentanu agar kemari. Kita siapkan kawan-kawan Wanabaya menumpas orang Banyuwangi yang telah merampas hak kita Atas wilayah Wanabaya ini. _

Mendengar keputusan pemimpinannya demikian, para prajurit Wanabaya berserabutan dan memberitahukan teman-temannya bahwa pemberontakan akan dilakukan.

Dalam Kadipaten itu segera terlihat kesibukan, meskipun tidak kentara, tetapi jelas para prajurit Wanabaya telah melakukan persiapan rapi.

Ketika itu muncul pengawal menemui Kepala prajurit Wanabaya.

- Kau dipanggil gusti Adipati. Kata pengawal itu.

- Ada kepentingan apakah gusti Adipati memanggilku? -- Bertanya Kepala prajurit dengan suara datar.

Tentu saja pengawal itu menjadi heran mendengar jawaban Kepala prajurit yang tak seperti biasa

itu.

Karena siapakah yang pernah bertanya demikian manakala menerima perintah untuk menghadap

Adipati Wilapribrata? 

Dan jawaban itu telah mengejutkan pengawal Adipati.

- Kau jangan main gila, Gusti Adipati memanggilmu! - Katanya.

- Ya, aku tanya ada kepentingan apa Gusti memanggil itu?

- Eh, kau! -

Pengawal itu menuding Kepala prajurit.

- Ya, katakan aku tidak dapat menghadap kalau hanya hendak dijadikan korban senjatanya. - Jawab Kepala prajurit pula.

- Atau kau lebih dulu jadi korban senjataku ini! -

Dan berkata demikian Kepala prajurit Wanabaya itu menghunjamkan kerisnya pada lambung pengawal itu dengan tiba-tiba hingga iapun yang tidak menduga akan terjadi demikian menjadi tak sempat menghindar hingga akhirnya terpaksa roboh dengan mandi darah sebagai prajurit Wanabaya tadi.

- Hutang satu bayar satu. -

Desis Kepala prajurit itu.Maka segera dengan keris berlumuran darah, ia perintahkan menyingkirkan mayat prajurit Banyuwangi itu. lalu Kepala prajurit Wanabaya itupun menuju tempat dimana Adipati berada.

Sementara itu prajurit Wanabaya, telah semakin tegang dengan 'tindakan yang telah dilakukan oleh pemimpin mereka. Karena kini perang terbuka telah terjadi. Namun mereka masih menunggu perintah untuk menyerang. Hingga tak satupun terlihat bergerak dari tempatnya masing-masing.

Mereka masih berdiam diri, menunggu perintah.

Adipati Wilapribrata menjadi heran dan kaget melihat munculnya Kepala prajurit Wanabaya datang dengan senjata terhunus berlumuran darah.

- He, apa maksudmu? _

Bertanya Adipati yang juga masih memegang kerisnya.

- Melayani kehendak paduka Gusti Adipati. - Jawab Kepala prajurit dengan senyum mengejek.

- Kau hendak berontak padaku? Ha ...... ha ...... bodoh! Tak satupun akan ada yang membantumu. Ah, aku sudah duga kaulah yang menimbulkan keributan di Kadipaten. Bahkan aku menduga tentulah kau juga yang berkomplot dengan Sentanu melarikan Mirah Sekar.

- Tepat gusti, hambalah yang berbuat itu. Tetapi percayalah Mirah Sekar tentu amat senang ketika ia bebas itu.

- Bangsat pengkhianat! Kau mampuslah! -

Seru Adipati yang merah mukanya karena marah seraya menyerang Kepala prajurit itu dengan tikaman hebat. 

Kepala prajurit loncat menghindar, dan iapun balas menyerang Adipati itu dengan senjatanya. Maka akibat dari itulah seorang prajurit Wanabaya yang telah menerima perintah agar jika

Kepala prajurit bentrok dengan Adipati agar membunyikan tanda untuk melakukan penyerangan segera bertindak dengan meniup terompet tanduk kerbau yamg lalu berdenging denging mengumandang keseluruh sudut Kadipaten, dan prajurit Wanabaya berloncatan menyerbu orang-orang Banyuwangi yang ada dekat mereka. Maka terjadilah perang tanding didalam Kadipaten antara

orang-orang Wanabaya dengan prajurit Banyuwangi.

Sementara itu Adipati Wilapribrata tengah mendesak Kepala prajuritnya dengan hebat. Maka tentu saja Kepala prajurit itu bukan lawan-sang Adipati, hingga dalam Waktu singkat, Kepala prajurit itu terdesak benar. Ia hanya mampu berloncatan kesana kemari menghindarkan diri dari serangan senjata Adipati Wilapribrata.

- Kau harus mampus pengkhianat! -

Adipati Wilapribrata berulang-ulang mengutuk dan merangsek prajurit itu terus menggiringnya kesudut dan mendesaknya dengan serangan berbahaya.

Kepala prajurit itu terdesak benar, keringat telah bertetesan dan mukanya pucat. Ia telah menyadari Adipati itu bukan lawannya. Namun karena kemarahan telah tak tertahan ia lawan juga.

Pada suatu saat tiba-tiba tendangan sang Adipati berhasil masuk kepaha Kepala prajurit itu hingga terlempar membentur dinding dan bergulingan.

Melihat lawannya jatuh itulah Adipati Wilapribrata loncat dan kerisnya menyambar dengan cepat keperut prajurit itu.

Tetapi ketika itulah tiba-tiba berkelebat bayangan yang datang dan menangkis serangan adipati Wilapribrata hingga keris itu terlepas dari tangannya mencelat jauh dibelakangnya.

Adipati Wilapribrata kaget. Dilihatnya seorang gadis cantik berdiri dihadapannya memandang dengan sinar mata geram dan marah.

- Kau?! -

Adipati itu melengak heran dan seakan tak percaya pada yang dilihatnya. Namun si gadis yang baru datang itu agaknya tak mau banyak omong, terbukti ia segera melancarkan serangan pada Adipati itu dengan tangan kosong menyambar tempat berbahaya hingga adipati Wilapribrata harus terpaksa berloncatan mundur-muudur oleh serangan gadis itu.

Dalam pada itu prajurit Wanabaya yang berhadapan dengan pengawal-pengawal dari Banyuwangi mulai terlihat mendesak lawannya. Orang-orang Banyuwangi terhitung memiliki kepandaian tempur lebih , namun jumlah mereka kalah oleh orang-orang Wanabaya yang menyerang tanpa diduga. Maka mulailah orang-orang Banyuwangi terdesak hebat dan kewalahan menghadapi orang-orang Wanabaya.

Satu hal yang menjadi sebab orang Banyuwangi harus mengalami kekalahan. Semenjak Adipati 

Wilapribrata telah menguasai Wanabaya belum pernah sekalipun terjadi kerusuhan atau musuh menyerang. Sehingga membuat Adipati menganggap daerah itu cukup aman dari gangguan penjahat dan lawan-lawannya. Maka akibat dari itu orang-orang Banyuwangi menganggap tak perlu banyak berlatih dalam ulah kaprajuritan dan jarang melatih prajurit dalam tata tempur yang baik. Hingga akhirnya mereka semakin terlena dengan kemewahan, ketentraman dan kecukupan yang memang terdapat di Kadipaten itu.

Lagi pula dengan kemauan Adipati yang giat membangun beteng pertahanan serta membikin lorong-lorong rahasia dalam Kadipaten untuk persiapannya melawan Demak membuat seluruh Kadipaten menjadi lengah. Sebaliknya orang-orang Wanabaya yang sejak kedatangan Sentanu terpengaruh untuk melawan tak henti-hentinya berlatih dan memperkuat kemampuan diri sendiri. Hingga ketika pemberontakan terjadi, prajurit Wanabaya tak banyak mengalami kesulitan melawan prajurit Banyuwangi.

Pada saat terjadinya pertempuran itulah tiba-tiba muncul Taruna dengan diikuti oleh Sentanu, yang ketika melihat banyak orang Banyuwangi roboh manjadi korban senjata, Taruna timbul rasa tidak nega. Maka ia berseru dengan keras dikalangan para prajurit yang tengah bertempur itu.

- Berhenti kalian!

Prajurit Wanabaya yang melihat kedatangan Taruna yang sudah mereka kenal lalu mendengar perintahnya, dengan agak ragu-ragu loncat mundur dan menjauhi lawan-lawannya. Namun prajurit Banyuwangi salah duga, ketika orang Wanabaya berloncatan mundur justru maju dan menyerang dengan lebih bernapsu.

Namun Sentanu segera bergerak, ia menghadang dimuka prajurit Banyuwangi seraya membentak mengerahkan suaranya yang menggeledeg:-

- Berhenti! atau kalian ingin seperti ini?

Dan dengan tiba-tiba menggerakkan kedua tangannya menghantam dinding yang ada didekatnya,dan ......

- bluar hrr..-

Dinding itu berhamburan terkena serangan Sentanu hingga orang-orang Banyuwangi itupun berloncatan mundur dengan muka pucat.

- He, kau Sentanu!

Salah seorang tiba-tiba mengenal dan berseru. Namun Sentanu diam tidak menyahut, kecuali berkata terus.

- Kalian mundur dulu! Hentikan perkelahian ini.

Melihat pertempuran telah berhenti, Sentanu loncat menuju ruangan lain yang menjadi ajang pertempuran pula. Sedang Taruna segera mengangkat tangan dan berkata :

- Kalian masih kenalkah denganku. 

Beberapa prajurit Banyuwangi heran mendengar perkataan Taruna tetapi beberapa orang segera mengenal ketika memperhatikan orang itu.

- Bukankah kau adalah Gusti Tawang Taruna?

- Bagus, terima kasih kalian masih mengenalku. Kini dengarlah, sengaja aku datang hendak menuntut tanah Wanabaya ini sebagai ganti Kadipaten Banyuwangi yang dirusak oleh kangmas Wilapribrata. Maka jika kalian mau membantuku, hindarilah pertumpahan darah ini, dan biarkan aku membekuk kakang Wilapribrata yang tamak dan serakah itu.

Prajurit Banyuwangi kaget. Namun mereka sejak dulunya memang telah mengenal watak Wilapribrata dan sedikit banyak juga tahu macam apa Taruna yang kini datang tidak diduga itu. Maka mereka menjadi bimbang hati.

- Jika kalian tetap hendak membela kakang Wilapribrata, apa boleh buat terpaksa kami akan melawan kalian juga. Ingat seluruh prajurit Wanabaya telah berpihak padaku, tinggal kalian

orang-orang Banyuwangi yang harus menentukan pilihan. Nah, jika kalian masih menghormati dan menyintai ayahanda Tamponi, maka kalian tentu akan berpihak padaku dan mengikuti kehendakku. Prajurit Banyuwangi itu dari bimbang, mendadak berubah pikiran. Lebih lagi ketika disebutnya nama Tamponi yang telah tewas maka mereka teringat Adipati yang bijaksana dan pengasih pada

rakyat itu. Dan Taruna yang dulunya mereka kenal sebagai seorang ksatria jujur dan berbudi, kini muncul pula membuat mereka jatuh hati dan mendadak ingin membela kepentingan Taruna.

- Ya, kami membela Gusti Taruna! -

Tiba-tiba lima orang prajurit maju berbareng. Membuat kawan-kawannya terpengaruh dan mereka berloncatan maju menyatakan kehendak membantu Taruna.

Taruna girang melihat bujukannya berhasil, namun tak ia perlihatkan rasa girangnya itu.

- Baik hayo kita masuk kedalam, jangan menumpahkan darah jika tidak keadaan memaksa. - Katanya. kemudian.

Maka kini prajurit Wanabaya berbareng orang orang Banyuwangi meluruk maju menuju kedalam.

Dibeberapa tempat terlihat masih terjadi bentrokan senjata antara prajurit Wanabaya dengan orang Banyuwangi. Dan dibeberapa tempat lagi Sentanu bertindak cepat, ia robohkan lawan-lawannya tanpa menimbulkan pertumpahan darah.

- Dimana kakang Wilapribrata?

Bertanya Taruna pada pengawal Banyuwangi yang telah memihak padanya. Maka Taruna berloncatan kesana kemari, memberikan peringatan dan meredakan orang-orang Banyuwangi agar memihak padanya. Akibat dari itu sungguh mengherankan, hampir separuh lebih ketika orang-orang Banyuwangi melihat munculnya Taruna mereka dengan terkejut dan heran mengenal adik Wilapribrata itu. Dan ketika dilihat oleh mereka banyak prajurit Banyuwangi telah berdiri dibelakang Taruna.

Namun sebagian lagi masih mengadakan perlawanan. 

Namun demikian tentu saja orang banyuwangi yang makin susut jumlahnya itu makin terdesak lebih jauh. Hingga dibeberapa tempat perkelahian dan adu senjata telah mengendur. Mereka sesungguhnya menjadi heran ketika Adipati Wilapribrata masih belum terlihat muncul. Padahal mereka yang masih bersetia pada Adipati itu mengharapkan munculnya junjungan mereka. Karena dengan kepandaian Adipati Wilapribrata pastilah tak akan sukar menghalau musuh.

Dalam pada itu Adipati Wilapribrata benar mengalami nasib naas. Segala persiapan yang dibuatnya bertahun-tahun dan makan banyak pengorbanan menjadi siaosia. Sebab lawan yang dihadapi adalah orang-orang dalam yang mengetahui segala rahasia dalam Kadipaten. Itulah yang kurang diperhitungkan oleh Adipati Wilapribrata. Namun segalanya telah terlanjur. Bahkan kini ia harus menghadapi serangan berbahaya dari si gadis yang terus mendesak dengan hebat dan memojokkan dirinya pada satu sudut yang tidak menguntungkan.