Mencari Tombak Kiai Bungsu Jilid 02

Jilid 02

PADA saat Pangeran Madi Alit tercengang mendengar penuturan Aki Kerancang perihal kubangan beracun itu, tiba-tiba, berkelebat sebuah bayangan ke arah mereka. Aki Kerancang sehat menarik gendewa yang dipegangnya. Demikian pula Madi Alit bersiap menunggu kalau-kalau yang muncul adalah lawan baru.

Namun Aki Kerancang kaget bersaampur girang ketika melihat siapa yang muncul.

- Ah tenyata Ki Ageng! Selamat datang mPu Waskita! Seru Aki itu dengan muka berseri.

Orang itu yang tak lain adalah mPu Sugati tersenyum, dan sebelum yang lain membuka mulut pula, mPu Sugati telah mendahului berkata :

- Terimakasih Aki, terimakasih. Sengaja aku menemui kalian di sini dan sekaligus ingin aku mengucapkan selamat pada pangeran Madi Alit yang tengah mengemban kuwajiban berat.

Pangeran Madi Alit tercengang.

- Ah, ia telah mengetahui diriku! -katanya dalm hati.

Tapi ia diam saja seraya mengangguk tersenyum mendengarkan perkataan orang tua itu lebih jauh.

- Aki, layak aku memberitahukan padamu. Kini tak usahlah kau terlalu memikirkan anakmu Sentanu. Ia semenjak tiga hari yang lewat telah kubebaskan dari hutan kalang ini. Akan tetapi, sebagai kelanjutan denda yang harus ia pikul, Sentanu masih harus menjalani tapa brata mengalami pengembaraan. Biarkanlah Aki, Sentanu masih harus memikul dan menjalani dharmanya. Dan kini ia tengah berjalan ketlatah timur . .

- Aku juga mengharapkan Pangeran Madi Alit segera melanjutkan perjalanan kembali. Sebab pada Sentanu dan Pangeran ada hal-hal yang akan bertalian kelak. Hanya sekarang pangeran masih belum berjodoh untuk bertemu dengan anak muridku itu. Nah, kalian Aki kembalilah ketempatmu, pada saatnya Sentanu akan kembali padamu. Kini aku minta diri terlebih dulu untuk menyelesaikan kuwajibanku yang lain. Selamat tinggal semua!

- Ki Ageng! ........ -

Aki Kerancang berseru ingin mencegah dan bertanya. Tetapi mPu Sugati telah berkelebat dan menjauh. Hingga Aki Kerancang melongo dengan muka bodoh memandang kearah lenyapnya mPu Sugata

- Sudahlah Paman. - Berkata Madi Alit.

- mPu Sugati telah mengatakan yang sebenarnya. Seyogyanya paman segera kembali.

Tanpa dapat membantah pula, Aki Kerancang memerintahkan orang-orangnya untuk kembali pulang. 

Sementara itu Pangeran Madi Alitpun segera meminta diri pada Aki Kerancang dan seluruh penduduk untuk melanjutkan perjalanannya. Dan dengan berat hati Aki Kerancangpun melepas kepergian anak muda yang telah merebut hatinya itu.

Seperti yang dikatakan oleh mPu Sugati, benarlah Sentanu telah secara diam-diam ditolong oleh orang tua itu keluar dari hutan kalang.

mPu Sugati sesungguhnya tidak benar berniat menghukum Sentanu di hutan berbahaya itu. Ia hanya ingin menguji ketulusan serta keikhlasan muridnya menerima hukuman sebagai pengakuan ia telah melakukan kesalahan dan melanggar perintah. Maka ketika Sentanu berhasil memasuki hutan kalang, dengan diam-diam mPu Sugati menyusul masuk dan menolong anak muda itu serta kemudian memerintahkan untuk pergi meninggalkan tempat itu mengembara mencari pengalaman ,dan memperdalam kepandaian serta mencari orang pandai.

Sentanu tidak banyak membantah. Ia mentaati perintah gurunya yang ia ketahui tak akan mencelakakan. Dan sekalipun ia belum menerima banyak ilmu dari orang tua itu, tetapi ia rela meninggalkan dusun dan seluruh orang yang ia cintai.

Sentanu pergi meninggalkan hutan kalang menuju kearah timur tanpa mengenal arah yang hendak dituju. Namun tekadnya hendak mengembara seraya mencari guru yang paling pandai yang sekiranya dapat memberikan pelajaran yang lebih sempurna. Sebab Sentanu merasa bahwa ilmu yang diperolehnya masih jauh dari sempurna Maka ia tetap melangkah dengan tidak mengetahui hendak kemana yang dituju. Sesuka hatinya membawa, dan sekehendak kakinya melangkah, kesanalah ia berjalan. Tidur di hutan dan mencari makan pengisi perut manakala lapar ditengah hutan dan mengisinya dengan buah-buahan yang ia dapat dihutan yang dilalui.

Namun sesudah berjalan berhari-hari menempuh perjalanan yang sukar dan melelahkan. Sentanu mulai banyak mendapat rintangan. Meskipun tubuhnya tergolong kuat dan bakat ia rajin melatih ulah kanuragan, namun perutnya kerapkali tidak berisi oleh makan. Bahkan kini ia telah tiga pekan harus menahan lapar dan haus. Sedang untuk minta-minta pada penduduk terlalu jauh. Jalan yang ia lewati adalah jalan pegunungan dan bulak panjang yang gersang.

Perut Sentanu semakin memuntir dan melilit-lilit rasanya. Bagai dipilin perut itu hingga merasakan pedih dan sakit. Bibirnya telah menjadi kering. Mukanya pucat dan tubuhnya telah gemetar untuk diajak bergerak. Rasa melayang ketika mencoba terus melangkah maju dan berjalan. Sedang kepalanya berputar, pening dan berat rasanya.

Agaknya, telah menjadi kehendak nasib anak muda ini. Karena pada akhirnya ia telah tak kuasa lagi untuk berdiri tegak berdirinya telah sempoyongan dan tidak teratur pula. Matanya telah tak kuasa untuk dibuka melihat jalan didepannya. Berkunang-kunang mata itu. Hingga pada akhirnya Sentanu benar-benar tidak lagi mengetahui apa yang terjadi. Ia roboh terguling dan jatuh terbanting tertelungkup' diatas tanah kering tak sadarkan dirinya lagi. 

Namun bertepatan dengan itu, ditempat Sentanu jatuh pingsan lewat sepasang suami istri yang membawa barang pada pikulan yang dibawanya. Kedua orang itu adalah pedagang keliling dari tanah Bagelen. Ketika dilihatnya Oleh suami istri itu akan Sentanu yang menggeletak diatas tanah dijalan

,pedagang keliling itu berseru pada istrinya:

- He, kau lihat itu? Hayo kita dekati, jangan-jangan dia menderita atau sakit.

Istrinya tidak membantah, diikutinya suaminya mendekati Sentanu yang tertelungkup pingsan. Lalu dengan cekatan pedagang keliling itu mengangkat'tubuh Sentanu, kemudian dipangkunya dan setelah diteliti, orang itu berkata pula .

- Kasihan orang ini. Ia sakit Agaknya menderita kelaparan. Kau lihat perutnya. Ia tentu lapar sekali.

- Aduh, kasihan benar! Kau tolonglah dia, aku akan siapkan makanan ini. -

Kata istri pedagang keliling itu, seraya tangannya sibuk membuka buntalan yang dibawa dengan pikulan oleh suaminya.

Orang itu dengan cepat menolong Sentanu dengan mengurut urut bagian tubuh anak muda itu.

Dan akibat dari itu, tak lama Sentanu membuka mata dengan heran. Namun mata itu segera terpejam pula. Ia tahu ada orang telah menolong dirinya. Tetapi tubuhnya telah menjadi lemah, sehingga ia kembali memejamkan matanya.

- Kisanak, kau bangkitlah sebentar, makanlah ini lebih dahulu!

Kata orang itu seraya mendudukan Sentanu dan memberikan nasi yang baru saja disediakan istrinya dengan daun pisang.

Sentanu mendengar suara itu. Dan ketika ia merasa dirinya dibantu untuk duduk, ia bergerak kemudian duduk bersila diatas tanah.

- Makanlah kisanak. Ulang orang itu kembali.

Sentanu menerima uluran yang diberikan penolongnya, lalu dengan perlahan ia menyuap nasi itu kedalam mulutnya, mengunyah dengan perlahan dan hati-hati.

- Minum kisanak!

Orang itu menyodorkan air minum dengan tempurung kelapa yang telah berwarna hitam halus.

Sentanu menerima seraya mengangguk pelan.

Sementara Sentanu makan, kedua penolongnya memandang dengan muka berseri, karena segera terlihat Sentanu berangsur menjadi pulih dan nampak mukanya kini berseri pula. Sampai pada akhirnya Sentanu dapat berkata mengucapkan sukur dan terimakasihnya.

- Terimakasih kisanak, aku berhutang budi pada kalian.

-0, berterimakasihlah pada yg Maha Kuasa Kisanak, kami hanya sekedar menjalankan dharma 

menolong sesama yang tengah menderita kesusahan. ....

- Benar, tetapi jika kalian tidak ada, tentulah aku telah mati kelaparan. Tiga pekan perutku tidak terisi oleh apapun. Namun rupanya dewa masih menginginkan aku hidup dengan mengirim kalian suami istri ini kemari. Tetapi, siapakah nama kisanak ini ?

- Aku bernama Taruna dan ini istriku.Sedang kisanak ini siapakah dan hendak menuju kemana hingga tiba ditempat ini dalam kesengsaraan?

Sentanu terdiam untuk beberapa saat.

- Aku Sentanu. Jawabnya kemudian.

- Dari Pucanganem Daerah barat.

Lalu Sentanu tuturkan riwayatnya hingga ia tiba di tempat itu diketemukan Sepasang suami istri Taruna yang menolongnya.

- 0, kalau demikian, kisanak tidak ada tujuan dalam berjalan ini. Tanya Taruna.

- Marilah kisanak singgah dahulu ke gubugku kalau sudi.

- Dengan Senang hati, aku akan singgah tetapi aku khawatir akan mengganggu perjalanan kisanak Taruna.

- Jangan! Jangan berkata demikian kisanak. Ayolah kau ikut kami kerumah di dusun Pringsewu.

Semula Sentanu masih hendak menolak ajakan sepasang suami istri Taruna. Tetapi karena didesak terus menerus, akhirnya ia terima juga ajakan itu.

- Biar aku bawakan barang itu! -

Sentanu minta pikulan yang dibawa Taruna. Hatinya merasa kasihan melihat orang itu membawa barang-barang berat.

- 0, sudah! Tak usah kisanak. Aku sudah terbiasa membawa ini. -

- Tak apa kisanak, biar aku bawakan. Aku hendak mengucapkan rasa terimakasih dengan membawakan barang ini.

Lalu dimintanya juga barang-barang yang dipikul Taruna, dipindah keatas pundaknya. Tentu saja kekuatan Sentanu melebihi Taruna. Sentanu yang pada dasarnya memiliki ilmu lumayan. Hanya karena kelaparan yang sangat sajalah telah membuat ia roboh dan jatuh pingsan tadi.

Kemudian Sentanu mengikuti Taruna berjalan pulang. Hati anak muda ini menjadi gembira bertemu dengan Taruna yang agaknya memiliki kecintaan terhadap sesama, sehingga dengan ikhlas diajaknya ia ke rumah tinggalnya di dusun Pringsewu.

- Seyogyanya menetaplah kisanak ditempatku ini kalau memang tak ada tujuan. - Kata Taruna setelah mereka tiba dan menjamu tamunya di Pringsewu.

- Ah, jangan terlalu repot memikirkan itu. - 

Jawab Sentanu pendek. Namun hatinya mulai merasa cocok dengan Taruna.

- Keadaan sedang kacau. kisanak. - Kata Taruna pula.

- Dimana-mana banyak timbul perang. Dan perampok banyak berkeliaran. Hingga hidup rasanya semakin terjepit.

Sentanu termangu mangu mendengar perkataan Taruna itu. Ia teringat ketika desanya dihancurkan perampok. Hatinya jadi panas oleh api dendam yang menyala dalam dadanya.

- Dendam. Dendam karena sakit hati dan permusuhan. Kata Taruna dengan perlahan.

- Dendam tak akan pernah selesai kisanak. Aku masih muda sepertimu juga. Terbakar oleh dendam karena ayahku mati oleh pamaliku sendiri. Lalu aku juga belajar memegang senjata kemudian kucari paman dan kubunuh. Namun kemudian anak pamanku ganti mencari dan hendak membunuhku. Hanya untung ia sadar kembali dan tahu pamanku yang mulai memancing permusuhan. Kalau tidak sudah pasti akan terus terjadi saling bunuh.

- Demikian seterusnya. Bunuh membunuh. Menuruti dendam kesumat dan rasa permusuhan.

Seperti dirimu kisanak. Ah. Dendam hanya memperpendek umur dan menanam penyakit dalam dada sendiri. -

Sentanu termenung pula mendengar perkataan Taruna yang demikian. Ia pikir ada benarnya juga perkataan penolongnya itu.

- Ah, kisanak Taruna. Aku jadi heran. Tukas Sentana dengan kagum,

- Kau ternyata mempunyai wawasan yang lebih dalam serta jauh, seperti guruku mPu Sugati. Taruna tertawa pula.

- Kau beristirahatlah kisanak, dikamar samping itu. Anggap sebagai tempat tinggalmu sendiri.

Dan katakan apa-apa yang kau butuhkan -

Taruna meninggalkan sentanu, karena saat itu malam telah semakin bertambah panjang, dan beberapa saat lagi tentu seluruh dusun Pringsewu akan disaput oleh kesunyian yang mencengkam. Karena bunyi kentongan memberikan tanda malam itu telah hampir berjalan separuhnya.

Beberapa lama kemudian. ketika Sentanu telah lelap pula dalam tidurnya, Taruna yang juga telah tertidur pulas, menjadi kaget dan heran ketika istrinya membangunkan dengan gugup dan bingung bercampur dengan keheranan.

- he ada apakah kau membangunkan ini? -

Taruna hampir loncat dari bale bale ketika istrinya membangunkan dengan tidak memberi tanda terlebih dahulu.

- Ssst . ..... perlahan sedikit. - 

Istrinya menempelkan telunjuk pada kedua bibirnya yang indah. Taruna menjadi heran.

- Apa yang terjadi?-Taruna bertanya pula.

Namun istrinya tidak berkata sepatahpun, melainkan ia tarik suaminya turun dari bale-bale dan lengannya ditarik dibawa berjalan ke arah kamar Sentanu disamping.

- He, apa maksudmu? -

Taruna bertanya dengan heran melihat kelakuan istrinya yang dirasa aneh.

- Kau diamlah dulu, nanti akan kau lihat sendiri.

Kata istrinya, seraya maSih menarik lengan suaminya. Dan ketika dekat dengan kamar dimana Sentanu berada, Taruna menjadi kaget dan heran. Karena dari celah-celah lubang dinding bambu terlihat cahaya aneh bersinar lembut dan indah.

- Kau lihat kedalam! -

Perintah istrinya. Dan Taruna menurut. Dengan hati-hati ia melangkah berjingkat mendekati pintu kamar itu. Dan pintu yang tidak terpalang, ia buka sedikit. kemudian Taruna melongok kedalam kamar, hendak melihat benda apakah yang bersinar hingga terlihat dari luar dinding itu.

Taruna melonjak dan hampir saja ia berseru kaget. dan heran, namun untung ia sadar hingga suaranya tertelan kembali dan tidak membuat Sentanu terbangun. Karena Taruna melihat ternyata benda yang menimbulkan sinar indah itu adalah kepala Sentanu yang tengah tidur lelap

Taruna melihat kepala itu bercahaya dan wajah Sentanu tengadah nampak agung dan berwibawa, sedang kedua bibirnya menyunggingkan senyum membayangkan roman mukanya yang gagah dan tampan. Sinar berwarna kuning lembut itu seakan bergerak-gerak, bagai asap kuning cemerlang berputar sekeliling kepala Sentanu yang tidak menyadari dirinya tengah diperhatikan oleh sepasang suami istri yang telah menolongnya.

Taruna menjadi sadar kembali dari kekaguman menyaksikan keajaiban pada diri anak muda itu, ketika istrinya menggamit ia agar kembali seraya berbisik :

- Ayo kita kembali, jangan sampai anak muda itu mengetahui kita mengintip dengan secara demikian.

Taruna mengikuti istrinya yang telah berjalan lebih dahulu. Hatinya masih diliputi oleh keheranan dengan pemandangan yang ia saksikan itu .

- Kakang Taruna, aku merasa Sentanu adalah seorang pemuda yang terpilih mendapatkan wahyu.

Aku yakin dia pasti akan menjadi orang besar dikelak kemudian. Maka alangkah baiknya jika kita mulai sekarang mengangkat dia sebagai saudara. Bagaimana pikiranmu kang?

Taruna tidak segera menjawab perkataan istrinya. Namun ia menimbang nimbang dengan teliti.

- Bagaimana? Desak istrinya.

- 0, apakah kau tidak mengingat lagi pada pesan ayah? - 

Bertanya Taruna.

- Aku hanya hendak memberikan kepercayaan pada seorang yang memang kita cari. Sedang Sentanu. belum tentu orangnya yang sedang kita upaya untuk melepaskan pederitaan kita ini.

Istrinya menjadi terdiam.Teringat bahwa mereka memang sedang hendak mencari seorang yang menurut perjanjian akan dapat menolong dari papa sengsara yang tengah mereka jalani .

-Tapi kang! tak ada salahnya kita mengangkat saudara kepada sentanu itu.

- Isteriku, kalau kita mengangkat saudara kepadanya, sama halnya kita harus membuka rahasia kita yang selama ini kita simpan rapat rapat. Kemudian menceritakan semua rahasia itu kepadanya.

- Tentu saja harus demikian kang Taruna, tak ada buruknya, bukan ?

Taruna menjadi termangu-mangu. Hatinya bimbang. Meski dalam hati kecil Taruna terbit rasa senang dan cintanya kepada Sentanu yang belum lama ia ketahui. Namun waktu yang singkat itu ternyata telah menggugah perasaan hati Taruna untuk merasa cocok dengan Sentanu. Tetapi untuk membuka rahasia yang selama ini dipendam rapat-rapat kepada anak muda itu?

Taruna masih ragu. Karena hanya kepada seorang yang telah digariskan akan dapat menolonya saja rahasia itu boleh dibukakan.

Tetapi siapakah orangnya?

Taruna telah mencarinya bertahun tahun. Namun belum juga ia temukan orang itu. Dan kini muncul Sentanu ditengah perjalanan mencari orang yang telah digariskan akan menolongnya.

- Kau tak usahlah berbanyak pikir kang Taruna, aku merasa Sentanu cukup pantas untuk mengetahui persoalan dan kesulitan kita.Tak ada buruknya.

- Kalau kemudian ternyata bukan dia orangnya yang kita cari?

- Tak apalah kang, kau bisa mencobanya. Namun aku yakin dialah orang itu. Aku merasa benar akan hal ini. -

Istrinya terus berusaha menanamkan keyakinan pada suaminya. Sehingga akhirnya Taruna memperoleh ketetapan hati untuk mengikuti perkataan istrinya.

-Baik, kita tunggu besok pagi. Aku akan katakan semua persoalan kita padanya. Hanya semoga tidak keliru kita mengambil langkah ini.

- Percayalah kang, aku merasa tindakan kita tak akan salah. - Kata istrinya pula.

*****

- Kisanak Sentanu.

Taruna membuka percakapan ketika esok harinya mereka bersantap.

- Apakah kau cukup merasa senang bertemu denganku? 

Sentanu heran mendengar pertanyaan itu.

- Apa maksudmu dengan pertanyaan demikian ini? Tak usah ditanyakan pun sudah barang tentu aku merasa bukan hanya sekedar gembira malah lebih dari itu kisanak Taruna.

- 0, baiklah. Sahut Taruna pula.

- Maaf aku kisanak jika perkataanku menjadi janggal pada pendengaranmu. Cuma aku sesungguhnya mempunyai niat lain terhadap kisanak Sentanu.Bagai manakah jika pertemuan kita ini kita eratkan lagi dengan cara mengangkat saudara diantara kita ?

-He! -

Sentanu melengak heran dan terkejut. Tetapi :

- Ah Taruna apakah tidak keliru pikiranmu hendak mengangkat aku menjadi saudaramu?

Bukankah hanya akan menambah beban dan penderitaan dihatimu yang karena hidupku yang masih dalam keadaan demikian ini.

- 0, tidak kisanak. Percayalah. Hanya kini semua. keputusan tergantung padamu. Kau terimakah keinginanku?

Taruna terkejut ketika tiba-tiba Sentanu merangkul dirinya dengan tiba-tiba.

- Kakang Taruna, tak usah ditanya aku telah menerima niatmu itu dengan ikhlas. Taruna balas merangkul Sentanu seraya berkata :

- Terima kasih Adi. kau sungguh berbudi dan baik.

Keduanya segera bersumpah mengangkat saudara satu sama lain dan menyatakan hendak hidup sama mengenyam senang dan penderitaan.

- Kakang Taruna.

- Adi Sentanu!

Keduanya segera saling merangkul pula. Dan ketika itulah istri Taruna muncul dari dalam dan berkata:

- Kita rayakan hari ini dengan gembira. Ayo kita makan kedalam.

- Kakang Taruna.

Kata Sentanu kemudian.

- Karena kita telah saling mengikat janji sebagai saudara, sedang aku telah menuturkan riwayat kepada kakang Taruna, maka kini aku mohon kakang Taruna berganti menuturkan riwayat, kakang berdua. Aku ingin mendengarnya. -- .

Taruna kaget namun hatinya gembira. Karena sesungguhnyalah ia tadi mempunyai niat untuk memaparkan riwayatnya kepada Sentana. Dan siapa tanpa diduga malah bertanya terlebih dahulu.

- Adi Sentanu, sebenarnya memang demikian yang hendak kukatakan. Baiklah akupun hendak menuturkan riwayat hingga sampai kemudian aku bisa berada ditempat ini. 

Taruna menghela napas dalam-dalam, sesudah itu barulah ia membetulkan duduknya diatas tikar lampit lalu memulai membuka perkataan pula.

- Kau dengarlah adi Sentanu. Sesungguhnyalah aku bukan berasal dari tlatah Pringsewu ini.

Namun aku dulunya datang dari tempat yang jauh diujung timur Kadipaten Banyuwangi. Nah, apakah adi Sentanu pernah mendengar nama Tamponi?

- Tamponi? -

Ulang Sentanu mengingat-ingat.

- Rasanya memang pernah mendengar nama itu disebut-sebut orang.

- Baiklah adi Sentanu. Sebenarnya Tamponi adalah nama Adipati Banyuwangi yang menguasai seluruh tlatah Banyuwangi di ujung timur. Dulunya Banyuwangi masuk kedalam tlatah Negri Majapahit yang dikuasakan kepada Baginda Bra Wirabumi.

- Adipati Tamponi adalah seorang adipati yang gagah sakti. Dan kecuali memang merupakan seorang adipati yang mumpuni dalam ulah perang dan menguasai banyak ilmu, juga mumpuni dalam ulah kenegaraan. Maka tidak mengherankan jika Negeri Kadipaten Tamponi menjadi berkembang dengan baik. Perdagangan maju dan rakyat mengenyam hidup subur dan tenang serta tentram.

Adipati Tamponi mempunyai tiga orang anak. Dua laki-laki dan seorang perempuan. Mereka diberinya nama Raden Wilapribrata yang sulung dan adik Raden Wilapribrata adalah Raden Tawang Teruna. Sedang putri BungSu bernama Mirah Sekar.

Namun agaknya kebesaran kadipaten Banyuwangi tak akan berumur lama, sebab sepeninggal Adipati Tamponi, dalam kraton timbul kerusuhan yang diperbuat oleh Raden Wilapribrata.

Raden Wilapribrata yang menggantikan Adipati Tamponi memimpin Kadipaten Banyuwangi ternyata berwatak bengis dan tidak memikirkan nasib rakyat, sehingga lama kelamaan kadipaten menjadi mundur.

Sepanjang hari Wilapribrata hanya berfoya-foya dan bersanding dengan selir-selir yang tak terhitung jumlahnya. Nasib kadipaten tak diurusnya lagi. Maka dimana-mana ditlatah Banyuwangi timbul kekacuan. Perampokan muncul dimana-mana. Kraton makin rusak dan mendekati keruntuhan. Namun hal itu tetap tidak membuat Wilapribrata sadar dari mabuk bergelimang dengan kesenangan duniawi, malah Adipati Wilapribrata semakin jauh dari memikirkan nasib rakyat yang mulai menyadari mereka tidak lagi mempunyai pimpinan yang bisa diharap menjadi pelindung dan pengayom yang baik.

Dalam pada itu, Tawang Taruna yang menyaksikan nasib rakyat dan kadipaten semakin memburuk, mencoba datang menghadap Adipati Wilapribrata dan memperingatkan keadaan yang bertambah buruk di tlatah Banyuwangi.

- Kanda Adipati sudah selayaknya hamba mohonkan perhatian untuk rakyat Banyuwangi yang tengah ditimpa kemiskinan. Dimana timbul kekacuan dan tak seorangpun merasa takut pada kanda 

Adipati melawan hukum dan peraturan yang pernah dibuat ayahanda Tamponi. -

Mendengar perkataan Taruna yang demikian itu, muka Wilapribrata menjadi merah. Ia merasa telah ditampar dimuka banyak punggawa dan nayaka yang ada saat itu.

- Hm, sejak kapan kau Taruna mulai belajar dan berani menasehati kakandamu? -Kau mengira apakah aku masih kanak-kanak yang perlu diberi wejang dan nasehat oleh anak ingusan macammu Taruna?

Taruna surut mendengar jawab Adipati Wilapribrata. Namun tekadnya telah bulat. ia hendak memberikan peringatan pada saudaranya agar kembali pada jalan yang benar dan memegang kadipaten dengan sebaik-baiknya.

- Ampun kakanda, aku bukan hendak sekali-kali melawan kehendak kakanda, namun hanya kepentingan rakyat sajalah yang hamba bela dan mohonkan kakanda untuk memerhatikan nasib mereka itu.

- He, Taruna !

Tiba-tiba Wilapribrata berteriak marah.

- Kau kini sudah mulai hendak memberikan pelajaran kepadaku ha ?!

- Cukup ! Kau pergilah dan jangan coba lagi memberikan perkataan bodohmu itu.

- Kakanda Adipati, hamba mohon kakanda memikirkan kata kata hamba ini, sebab segalanya akan menjadi berbalik dan kelak kakanda sendiri akan mengenyam buah perbuatan buruk itu jika kanda tidak mau bertobat sejak sekarang.

- Taruna !

Wilapribrata menggeram hebat. Mukanya mendadak bertambah merah bagai kepiting direbus.

Dan saking marahnya gigi Adipati Wilapribrata gemeretak dan tangannya gemetar memandang Taruna dengan mata menyala bagai hendak menerkam saja layaknya.

Para pengawal kadipaten berloncatan melihat kejadian itu. Mereka tahu jika terjadi perkelahian, maka akan hebat jadinya. Sebab Wilapribrata dan Taruna adalah dua bersaudara yang semenjak kecil telah memiliki kehebatan dalam ulah keprajuritan dan telah mewarisi kepandaian ayahnya, Adipati Tamponi yang terkenal sakti pilih tanding di seluruh kadipaten.

Namun demikian, sekalipun Taruna telah bertekad hendak menberikan hajaran kepada Wilapribrata, namun ia juga menyadari bahwa kakandanya bukanlah tandingan untuknya. Karena Taruna tahu kakandanya ini menang jauh darinya. Kemampuan Wilapribrata bukan lagi lawan baginya. Dan agaknya jika benar terjadi perkelahian, ia tentu akan susah payah untuk menjatuhkan, bahkan mungkin untuk selamat dari tangan Wilapribrata akan sulit dan berbahaya.

Bertepatan dengan itu, tiba-tiba terdengar suara sorak sorai barisan rakyat kadipaten yang datang menyerang istana. Suara mereka terdengar bagai hendak meruntuhkan gedung istana kadipaten. Dan segera terlihat prajurit pengawal maju menyambut kedatangan para penyerang ini. 

Wilapribrata menjadi kaget melihat munculnya rakyat yang membanjir dan datang-datang menyerang. Demikian pula Taruna menjadi heran melihat munculnya barisan rakyat yang kini tengah perang campuh dengan suaranya yang hiruk pikuk melawan prajurit kadipaten. 

Ternyatalah rakyat telah tidak sabar lagi melihat keadaan yang mengenaskan mereka. Sedang adipati enak dan tenang berada di kraton tenggelam dalam pelukan selir-selir cantik yang tak terhitung jumlahnya itu. Tenggelam dalam arus kesenangan duniawi dan mabuk mabukan tanpa memikirkan nasib rakyat dan kadipaten lagi.

- Gantung Wilapribrata ! Bunuh mati anjing busuk itu !

Terdengar suara-suara teriakan yang memerahkan telinga Wilapribrata. Namun adipati ini cukup tahu bahwa prajuritnya tentu akan dapat membendung serangan rakyat itu. sebab bagaimanapun juga prajurit kadipaten adalah prajurit pilihan yang tidak mudah dilumpuhkan lawan, apalagi hanya menghadapi barisan rakyat tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam tata tempur yang baik. Akan tetapi dengan timbulnya pemberontakan itu Wilapribrata maju menggeram dan mencabut keris pusakanya kemudian berteriak dengan keras menatap Taruna seraya mengacungkan senjata pusakanya itu :

- He. Taruna ! Ternyata kau adalah binatang busuk yang tidak mengenal budi dan kebaikan. Jadi inikah balasanmu terhadapku ? membawa rakyat kotor untuk menghancurkan kadipaten ?

Taruna kaget mendengar tudingan itu. Maka ia maju dan berkata

- Kanda jangan salah menduga. Hamba tidak mengetahui rakyat yang tengah menyerang kraton itu. Mungkin karena mereka telah merasa habis kesabarannya hingga berani berlaku berontak kepada kanda Adipati. -

- Bohong ! Kau pura-pura tidak mengetahui, tetapi aku tahu tentu kaulah yang menjadi biang keladi timbulnya kerusuhan itu. Aku tahu kau iri hati hendak menguasai kadipaten. maka menghasut rakyat untuk brontak melawan padaku. -

- Kanda ............

- Cukup! Kau mampuslah !

Dan Wilapribrata, loncat menerjang dengan kerisnya menghunjam dada Taruna. Namun yang diserang cepat berkelit dengan sebat lalu loncat menyingkir menjahui Wilapribrata. Akan tetapi Wilapribrata Yang sesudah serangannya dapat dihindari, bertambah marah. Maka dengan menggeram hebat kembali ia terjang Taruna dan kali ini, bukan hanya senjatanya yang menyambar-nyambar menyerang Taruna tetapi juga tangan dan kaki bertubi-tubi melancarkan serangan yang berbahaya.

Taruna berloncatan menghindarkan diri dari serangan Wilapribrata yang dahsyat dan tak tertahan itu. Namun karena memang ia bukan lawan seimbang, maka pada satu saat keris ditangan Wilapribrata berhasil merobek lengan Taruna hingga lengan itu terpental dan robek mengeluarkan darah segar bertetesan membasahi lantai kadipaten. 

Taruna yang robek lengan kirinya oleh serangan Wilapribrata, loncat dan mengmbil keris yang sejak tadi masih terselip dipingganngnya, lalu dipergunakan menangkis dan menyerang Wilapribrata. Maka kini terjadilah perkelahian mati-matian ditempat itu.

Para prajurit tak satupun berani bergerak, mereka jadi bingung melihat dua saudara itu mengadu senjata. Namun dalam pada itu ternyata dugaan Wilapribrata meleset. Barisan rakyat berhasil mendesak prajurit pengawal yang menahan serangan mereka.

Dan agaknya karena merasa rakyat yang berontak mulai terlihat merembes dan masuk kedalam, Wilapribrata menjadi bertambah marah. Dengan mengerahkan tenaga ia mendesak Taruna dengan hebat. Dikerahkan kepandaian dan ilmunya untuk menekan Taruna.

Sudah barang tentu Taruna yang kecuali memang berada jauh dibawah kemampuannya, juga telah terluka, maka menjadi semakin terdesak dan kini hanya tinggal mundur-mundur dan bertahan saja.

Sedang kadangkala serangan Wilapribrata nampak semakin gencar dan menutup jalan lari bagi Taruna yang mulai kehabisan nafas dan pertahanannyapun terlihat mulai mengendur dan banyak

tempat-tempat lowong menganga ditubuhnya.

Wilapribrata melihat hal itu, maka dengan bergerak cepat ia gerakkan senjatanya menyerang pula, dan suatu ketika sebuah tikaman adipati itu berhasil dengan tepat masuk ke paha Taruna, hingga darah mengucur dari luka itu, sedang Taruna terhuyung mundur membentur dinding.

Melihat itu Wilapribrata loncat maju dan kerisnya mengayun deras menghunjam perut dan dada Taruna. Namun bertepatan dengan itu tiba-tiba sebuah bayangan muncul dan menyambar Taruna hingga selamat dari tikaman maut Adipati Wilapribrata.

Wilapribrata menjadi kaget melihat Taruna lolos dari ujung senjatanya. Dan ketika ia loncat membalikkan tubuh, seorang muda berdiri didepannya seraya tersenyum.

- Kau ?! -

Serunya dengan kaget. Karena Wilapribrata melihat ternyata yang datang menolong Taruna adalah anak paman sendiri.

Taruna tak kurang pula kagetnya melihat ternyata orang itu adalah Raden Bangsal anak paman mereka yang sejak lama memang hendak merebut kadipaten.

Wilapribrata menjadi marah, lebih-lebih ternyata ketika melihat prajurit kadipaten benar-benar terdesak oleh barisan lawan yang menyerbu. Pantas mereka mampu mengalahkan prajurit kadipaten. Pikir Wilapribrata karena tahu terdapat Raden Bangsal yang telah diketahui kehebatan dan ketinggian ilmunya. Namun karena Wilapribrata tetap menganggap Taruna berkomplot dengan pemberontak itu, maka ia loncat pula menerjang Taruna yang terduduk dekat pintu regol keluar ruangan.

Taruna melihat Wilapribrata menyerang pula, mengambil keputusan cepat. Dan untunglah Raden Bangsal maju menahan serangan itu pula hingga Taruna berhasil lolos dan kabur meninggalkan 

Kadipaten dengan membawa istrinya menuju kearah barat ke Majapahit. Namun dari sana Taruna terus melarikan diri kebarat.

Sementara itu Wilapribrata ternyata tidak berhasil memadamkan pemberontakan yang dipimpin oleh saudara sendiri itu. Akhirnya ia harus melarikan diri dan dengan membawa

pengawal-pengawalnya yang masih setia kabur pula keluar dari Kadipaten menuju kearah barat. Dan Kadipaten jatuh ketangan Raden Bangsal anak dari paman mereka.

Wilapribrata melarikan diri dengan diikuti oleh prajurit dan pengawal Kadipaten yang ternyata jumlahnya tidak sedikit. Dan dalam menempuh perjalanan itu Wilapribrata membawa pula adik perempuan mereka Mirah Sekar.

Mirah Sekar sengaja dibawa oleh Wilapribrata karena adik perempuan itu adalah kesayangan Taruna. Dan dikarenakan Wilapribrata masih menyimpan dendam pada'Taruna yang tidak ia-ketahui kemana larinya maka dengan membawa Mirah Sekar, ia berharap Taruna akan menjadikan Mirah Sekar sebagai umpan untuk memancing datangnya Taruna dan dengan demikian maka mudah saja bagi Wilapribrata untuk membunuh Taruna yang dianggap jadi sebab ia kehilangan Kadipaten

Beberapa tahun kemudian ternyata Wilapribrata berhasil mendapatkan tanah baru ditlatah Wanabaya dan diangkat oleh Raja majapahit sebagai Adipati Wanabaya dengan tanah yang tidak terlalu luas.

Agaknya pengalaman di Kadipaten Banyuwangi membuat Wilapribrata harus bertindak lain.Maka kini ia berusaha sekuat tenaga membangun Wanabaya hingga karena kepintarannya dengan dibantu prajurit yang dibawanya ia berhasil membangun Wanabaya menjadi besar. Namun karena Taruna masih juga belum muncul, Mirah Sekar tetap menjadi tawanan di Wanabaya.

Dugaan Wilapribrata ternyata tepat. Taruna yang mengetahui Mirah Sekar dibawa oleh Wilapribrata menjadi khawatir karena Taruna tahu Mirah Sekar selalu menjadi bulan-bulanan kemarahan saudara tuanya itu. Maka timbul kasihan dan hendak mencari Mirah Sekar. Hingga akhirnya Taruna mengetahui Mirah Sekar berada dengan Wilapribrata di Wanabaya. Namun karena Taruna merasa tak mampu untuk mengalahkan saudaranya itu. ia datang minta bantuan pada Raden Bangsal yang telah menguasai Banyuwangi. Namun Raden Bangsal menolak permintaan itu. Raden Bangsal hanya mau memenuhi permintaan Taruna apabila sesudah Mirah Sekar lepas dari tangan Wilapribrata harus menjadi isteri muda Raden Bangsal. Maka sudah barang tentu Taruna menolak hal itu. Ia tahu Mirah Sekar sangat benci kepada Raden Bangsal yang memiliki watak mata keranjang.

Tak ada jalan lain, Taruna berusaha untuk membebaskan Mirah Sekar dari Wanabaya. Namun karena ia hanya seorang diri. Lagi pula memang terhadap Wilapribrata ia merasa kalah jauh maka Taruna hanya mendekati Wanabaya kemudian menetap dan tinggal di Pringsewu seraya menunggu kesempatan bagus untuk dapatnya membebaskan Mirah Sekar dari tangan Wilapribrata.

Taruna menyamar menjadi pedagang keliling guna menghindar dari prajurit Wanabaya yang 

mungkin mengenalnya. Hatinya menjadi prihatin dan berduka mengingat hal itu hingga tak henti hentinya ia memohon dewa agar diberinya jalan untuk membebaskan Mirah Sekar dari tangan Wilapribrata saudara tuanya yang tidak mengenal kasihan terhadap saudara sendiri itu.

Terdorong oleh kehebatan rasa prihatin yang disandang oleh Taruna, pada suatu saat ia mimpi bertemu dengan ayahandanya Tamponi yang datang memberi padanya seekor harimau putih seraya berkata

- Taruna, kau bersabarlah, pada saatnya kelak Mirah Sekar akan bebas dari tangan Wilapribrata. Sesudahnya Tamponi memberikan nasehat itu, ia sadar dan terbangun dari mimpinya.

Ia merasa heran dengan mimpi itu. Ketika diceritakan mimpi itu kepada istrinya, istrinya hanya mengatakan harapan dan menghibur dengan perkataan :

- Percayalah kakang Taruna, ayah tentu akan menolong kita. Bukankah dalam mimpi yang kang Taruna dapat itu dikatakan Mirah Sekar pasti akan kembali pada kita bukan ?

- Ya, tetapi apakah yang dimaksud ayah ?

- Kita tunggu saja kang Taruna, dewa-dewa tentu akan menolong dan membukakan jalan buat kita. Eh, kang Taruna, memikirkan mimpi itu rasanya aku mendapat ilapat kang Taruna akan dapat menguasai menggantikan Kakang Wilapribrata.

- Ah, jangan berpikir demikian tinggi, bagiku Mirah Sekar kembali sudah merupakan pahala besar buat kita.

- Tapi Kang. aku yakin akan itu. Dan tentu pula jika kang Taruna dapat menguasai Wanabaya, kita akan dapat kembali merebut Kadipaten Banyuwangi pula. '

- Sudahlah, jangan berpikir demikian jauh istriku, kita prihatinkan saja seraya mohon pertolongan dewa-dewa. Istri Taruna kembali terdiam. namun dalam perasaan dan benak perempuan ini membersit suatu perasaan dan harapan yang melambung tinggi mengawang jauh kealam lain yang ada dibalik kepahitan hidup yang tengah disandangnya

- Demikianlah Adi Sentanu. riwayatku hingga aku terseret ke dusun Pringsewu ini, bukan lain hanya bermaksud hendak membebaskan Mirah Sekar dari tangan Wilapribrata.

Kata Taruna mengakhiri kisahnya kepada Sentanu.

- Jadi kakang Taruna sedang mencari jalan membebaskan saudaramu itu ?

- Ya, itulah.

- Eh, kang Taruna, bukankah saudaramu itupun sesungguhnya tak akan diganggu oleh Wilapribrata? Mengapa kakang Taruna harus membebaskan dari tangan saudara tuamu itu?

- 0, kau belum mengenal watak dan perangai saudara tuaku Wilapribrata. Namun aku yakin dan bisa memastikan Mirah Sekar tentu tak akan tinggal merasa senang dengan Wilapribrata. Menurut orang-orang dalam Wanabaya, aku mendengar Mirah Sekar selalu lebih banyak menangis dari merasa senangnya. Adi Sentanu, akulah yang paling tahu apa yang kini tengah dirasakan oleh saudaraku 

Mirah Sekar.

Sentanu terdiam. Ia merasa tidak mampu untuk memahami apa yang sedang dirasakan oleh Taruna. Namun ia diam saja, karena dengan membantah lebih banyak tak akan banyak berguna. Baru sesudah mereka saling membisu untuk beberapa saat, Sentanu berkata pula:

- Kalau demikian kakang Taruna, aku bersedia untuk ikut menanggung beban batinmu itu.

- Terimakasih Adi Sentanu, tetapi apa yang dapat kulakukan sekarang ?

- Kita serang Kadipaten Wanabaya !

- Ah, sama dengan mengantar nyawa sia-sia.

- Kang Taruna. Hh ! . '

- Aku sanggup untuk melakukan kuwnjiban membebaskan saudaramu itu. -

- Kau ? Sendirian ?!

-Ya, aku sanggup kang.

- Jangan bergurau Sentanu ! -.

- Sungguh aku ingin melakukan. apakah kakang Taruna tidak percaya kepadaku ? Aku telah banyak belajar kang ! Seperti yang kukatakan belajar memegang dan menggunakan senjata. Kukira aku akan sanggup membebaskan saudaramu Mirah Sekar.

- Ah Sentanu !

- Bagaimana ? Tinggal kau setujui atau tidak ?

- Kau belum mengetahui kekuatan Wilapribrata !

- Nanti akan bisa kita ketahui jika aku telah melakukan pekerjaan ini kang.

- Bagaimana ? Kau benar hendak membantuku membawa Mirah Sekar keluar dari Wanabaya ?

- Mengapa kau tanya lagi kang Taruna ? Sudah kukatakan aku akan kerjakan hal itu. Tunggu saja kakang dirumah. Mirah Sekar akan kubawa kepadamu.

- Jangan takabur Sentanu, sebaiknya berpikir lebih cermat untuk mengerjakan kuwajiban yang berat ini. Kesombongan hanya akan mengundang bencana bagi diri sendiri saja.

Sentanu terdiam ditegur demikian oleh Taruna.

- Jadi bagaimana pemikiranmu kang ? -

- Kita menggunakan siasat dan muslihat. ----

- Dan kalau benar kau siap hendak membantuku, maka sukurlah. Jadi kini agaknya penantianku telah mulai akan berakhir. Aku percaya dengan kemampuamnu. Tetapi jika bisa dilakukan dengan cara halus, apalah gunanya kita merebut dengan kekerasan ? -

- Ya,katakan bagaimana rencanamu?

Kau masuklah ke Kadipaten Wanabaya menyamar sebagai rakyat yang hendak mengabdi padanya. Karena kebetulan sekali saat ini Wilapribrata tengah membangun taman dan bangsal kaputren Kadipaten. Banyak pekerja dibutuhkan. Dan orang-orang semacam kau Sentanu ! Tentu 

akan mudah diterima. Dan setelahnya kau diterima bekerja disana, berusahalah untuk membawa lari Mirah Sekar dari Kadipaten. Aku akan menunggu ditepi hutan sebelah timur Pringsewu ini. Dan jika Wilapribrata mengetahui perbuatanmu. maka apa boleh buat kita lawan berdua. Nah, kau sanggup, bukan?

- Kang Taruna ! -'

-Apa lagi ?

- Aku berangkat sekarang juga kang !

Sentanu segera minta diri kepada Taruna suami istri.

- Beri tanda jika kau merasa tiba saatnya dapat membawa keluar Mirah Sekar. Kata Taruna. Dan Sentanu mengangguk mengiyakan.

Dengan tidak menemui banyak rintangan Sentanu tiba dipintu regol Kadipaten. Namun sewaktu ia hendak masuk, prajurit jaga mencegat dan bertanya dengan suara keras : -

- Tunggu dulu ! Hendak kemana kau anak muda ?

Sentanu yang telah siap dengan jawaban, tersenyum, katanya:

- Aku hendak menghadap Gusti Adipati Wilapribrata.

- Hh, apa keperluanmu ?

- Bukankah Gusti Adipati tengah membutuhkan banyak tenaga pekerja untuk membangun taman Kadipaten ?

- Ya, benar, jadi kau menginginkan menjadi tenaga pekerja itu ?

- Begitulah.

- Kalau demikian tunggu dulu, biar prajurit juga itu memberitahukan kemauanmu pada kepala pengawas.

Sentanu menunggu beberapa saat. Tidak lama segera prajurit itupun keluar kembali lalu melambaikan tangan seraya berkata

- Kau masuklah kemari !

Anak muda itupun berjalan masuk kegedung yang tidak jauh letaknya dari regol Kadipaten. Lalu ia diterima oleh seorang tinggi besar yang agaknya adalah kepala pengawas seperti dikatakan prajurit jaga tadi.

- Kau hendak mengabdikan tenagamu di Kadipaten ini, benarkah ?

- Benar, hamba ingin ikut menyumbangkan tenaga hamba yang tidak terlalu banyak berarti ini.

-

- Tetapi sayang anak muda, yang tinggal belum memiliki tenaga hanyalah bagian angkut kayu

dari hutan. Apakah kau sanggup menjalankan pekerjaan itu ?

Sentanu terkejut. Namun karena maksud utamanya hendak berada di Kadipaten itu, maka betapapun ia berat hati jika dipakai sebagai tenaga pengangkut kayu dari hutan, namun akhirnya 

setelah ia sedikit menimbang-nimbang diterimanya juga pekerjaan itu.

- Hamba sanggup. - Jawabnya.

Sentanu bergabung dengan-kelompok orang-orang yang bertugas menjadi pembawa kayu kayu tebangan dari dalam hutan yang tidak jauh dari Kadipaten.

Ternyatalah kemudian oleh Sentanu diketahui adipati Wilapribrata adalah seorang yang memang pantas dipuji dan dikagumi. Wilapribrata ternyata bukan hanya sedang membangun taman kaputren, melainkan ia membangun sebuah beteng pertahanan dan jalan rahasia dalam istana Kadipaten yang luas. Sehingga apabila terjadi musuh menyerang dan jika tidak berhati-hati maka dapatlah mereka terjebak dan masuk kedalam jalur jalan yang membawa kedalam hutan tutupan penuh dengan

rawa-rawa berlumpur yang berbahaya.

Dari luar nampak bangunan itu tidak bedanya dengan istana dan bangsal penghadapan bagi kawula dan rakyat Kadipaten. Namun jika orang telah masuk kedalamnya, maka pastilah akan terkejut karena didalam ruangan itu mereka akan kebingungan dan sesat. Dan sekali masuk akan sulit untuk keluar kembali. Ruang bangunan itu penuh dengan tikungan dan ruang yang menipu pandangan.

Belokan dan tikungan yang tidak terhitung serta menimbulkan kebingungan bagi yang masuk dan terlanjur berada didalam. Kemanapun akan keluar, ternyata bukan jalan menuju keluar, sehingga mereka hanya akan berputar-putar dalam ruang itu saja. Kecuali bagi yang mengenal tanda tanda tertentu yang sengaja dipasang ditempat Itu.

Sepekan lamanya Sentanu berada di Kadipaten, dan kuwajiban mengangkat kayu-kayu tebangan masih juga dipikulnya. Namun sampai sejauh itu Sentanu masih belum dapat mencium dimana adanya Mirah Sekar. Meskipun telah berulangkali ia tanyakan pada orang-orang yang dekat dengannya, namun tetap tak seorangpun mengetahui dimana adanya gadis itu.

Sentanu menjadi bosan dengan keadaan itu. Ia mencari upaya lain agar dirinya bisa lebih mendekati ke dalam gedung Kadipaten. Karena jika masih harus menjadi tukang angkut kayu tebangan maka niatnya untuk mencari Mirah Sekar akan menemui kegagalan .Hingga karenanya Sentanu mulai memancing perhatian dengan menimbulkan hal-hal yang tidak sewajarnya. Ia bermaksud memancing perhatian Wilapribrata agar dapat ia berada di dalam kraton.

Secara kebetulan Sentanu memiliki tenaga luar biasa. Dan berkat latihan yang tidak pernah mengenal berhenti, maka membuat Sentanu jadi terlibat dan segera menjadi pusat perhatian teman-teman sekerja.

Kalau orang lain menebang pohon dengan kapak atau senjata golok atau parang, maka Sentanu melakukan dengan cara lain. Dengan menunggang seekor kuda, ia bawa tali dan pedangnya, lalu ia perlakukan pohon itu sebagai seorang lawan yang harus dirobohkan. Hanya dengan beberapa kali 

bacokan pedang. Sentanu melibatkan tali yang dibawanya meliliti batang itu dan kudanya kemudian dikeprak maju seraya menarik tali yang telah melibat batang pohon, dan kekuatan Sentanu berhasil merobohkan pohon dengan suara gemuruh.

Pekerja lain yang menyaksikan kelakuan anak muda itu menjadi heran dan terkejut. Perbuatan itu dianggapnya terlalu gegabah.

-Kau lihat !

Kata seorang kepada temannya.

- Ia menarik batang pohon itu dengan kudanya.

- Gila ! -

Kata yang lain. - Bayangkan kalau batang besar itu menimpa kepalanya, pastilah hancur lumat.

- Ia main-main. -

Yang lain menyahut pula.

Namun bukan demikian saja Sentanu membuat tercegang banyak orang yang bersamanya.

Kekuatan dan kepandaiannya telah menarik orang-orang disekitarnya. Maka tak mengherankan jika lain orang harus memakan banyak waktu berhari-hari untuk memotong batang pohon tebangan, maka Sentanu dengan kepandaiannya menggunakan sepasang pedang hanya beberapa kali bacokan telah mampu membikin batang pohon terpotong-potong.

Dalam waktu singkat. Sentanu telah menjadi perhatian dan kepala pengawas yang seringkali menyaksikan kelakuan anak muda, ia terkejut dan heran. Namun segera ia tersenyum gembira sebab anak muda itu dapat bekerja lebih banyak dari yang lain. Maka dibiarkan saja Sentanu berbuat semaunya. Hanya kepala pengawas itu diam diam harus mengawasi lebih dari yang lain karena jelas ia melihat Sentanu merupakan seorang muda yang berilmu.

Agaknya kelakuan Sentanu telah sampai pula kepada Adipati Wilapribrata. Namun Adipati Wanabaya ini masih diam tidak menaruh perhatian benar.

- Tetapi Gusti, Kata kepala pengawas kepada Adipati. - Anak muda itu ternyata memiliki kepandaian yang tidak rendah. Ia tentu kemari dengan sengaja mencari sesuatu.

- Kau maksudkan ia hendak menyatroni Kadipaten ? -

- Begitulah perkiraan hamba. -

- Ah, kau terlalu menaruh prasangka.

- Tetapi Gusti, hamba pernah melihat sendiri ia berlatih ditengah hutan dengan sepasang pedang yang hebat dan mengejutkan. Daunan pohon runtuh bagai hujan dihutan tempat ia berlatih

Adipati Wilapribrata menjadi terpengaruh juga akhirnya mendengar penuturan kepala pengawas itu. Namun dari bercuriga, sebaliknya Adipati ini menaruh rasa kagum dan hatinya tertarik pada Sentanu yang sedang menjadi perbincangan di Kadipaten.

- Kau panggil kemari anak itu! 

Perintah Wilapribrata kemudian. Dalam hati Adipati berkehendak ingin memakai tenaga Sentanu jika memang ia mampu dengan kepandaiannya.

- Orang-orang seperti itulah yang sedang kubutuhkan. Pikir Adipati.

Tidak lama yang dipanggil telah datang menghadap.

Adipati tercengang melihat anak muda bermuka tampan dan gagah yang kini membungkuk dihadapannya.

- Kaukah yang bernama Sentanu?

- Benar Gusti.

- Kau turut dalam kelompok mana?

- Kelompok pengangkut kayu tebangan dihutan timur.

Sang Adipati berdiam beberapa saat. Hatinya mengatakan tidak salah bahwa anak muda yang kini ada dihadapannya itu adalah seorang luar biasa yang memiliki kelebihan dari yang lain.

Sedang Sentanu diam-diam hatinya menjadi girang. Ia tahu Wilapribrata mulai tertarik kepadanya.

- Eh, mulai saat ini kau kupindahkan untuk ikut membantu dibagian dalam. Maukah?

- 0, hamba akan merasa senang hati Gusti.

- Bagus! --

- Nah kau bawalah dia ketempatnya! -

Perintah Wilapribrata kepada seorang pengawas lain.

Sentanu semakin terkejut dan kagum kepada Adipati Wilapribrata. Kini ia ditempatkan bersama kelompok orang-orang yang tengah membikin lorong-lorong jebakan dalam istana Kadipaten. Lorong itu demikian banyak. Sudah barang tentu barang siapa masuk kedalamnya akan bingung pula.

Kemanapun berjalan dan keluar, akhirnya tetap akan masuk ketempat semula. Nampaknya demikian banyak jalan, namun sesungguhnya semua hanyalah jebakan yang menyesatkan.

Dalam pada itu bertambah lama.. Sentanu mulai kenal dengan para prajurit jaga dalam Kadipaten. Satu demi satu mereka mulai mengenal dan menyukai Sentanu yang menyenangkan dalam tutur dan sikap kesederhanaannya.

Pada akhirya Sentanu melihat sebuah ruangan yang cukup luas, dan ditengah ruang itu terdapat sebuah ruang lain yang lebih kecil. Namun yang menarik perhatian Sentanu adalah ruang itu yang dijaga oleh beberapa orang prajurit bersenjata.

- Tempat apakah itu? -

Tanya Sentanu pada salah seorang prajurit yang telah dikenalnya .

- He, berhati-hatilah kau bicara. -- Kata prajurit itu. 

- Jika Sang Adipati mendengar kau tentu dihukum.

- Mengapa begitu? Apa salahku?

- 0, kau belum tahu kita disini semua dilarang membicarakan itu. - Sentanu menjadi heran.

- Mengapa dilarang? Tanyanya pula.

- Ssst.. ...... jangan terlalu 'keras. -

Prajurit itu memperingatkan. - Sudahlah kau pergi dengan tugasmu Sentanu. Aku yang bertugas disini bisa kena marah jika ketahuan ngobrol denganmu.

Sentanu yang diliputi rasa heran menjadi penasaran ketika perajurit itu memberikan peringatan demikian itu. Maka ia beranjak pergi. Tetapi hatinya mulai merasa dekat dengan yang dituju. Maka ia memutar akalnya guna mencari jalan memastikan dugaannya.

Berkat kepintaran, dalam istana Kadipaten itupun ia telah berhasil memancing perhatian sekelilingnya. Dan suara-suara yang menyebutkan sebagai seorang yang luar biasa telah terdengar pula oleh prajurit-prajurit jaga dalam Kadipaten itu.

Adipati Wilapribrata yang mulai tertarik pula dengan Sentanu. diam diam mamendam niat hendak mengangkat sebagai prajurit Kadipaten.Namun hal itu belum dikatakan.Hanya beberapa orang dekat Sang Adipati yang telah mengetahuinya. Termasuk kepala prajurit Kadipaten.

Kepala prajurit inipun sejak Sentanu berada dalam Kadipaten merasakan kelebihannya dari yang lain. Maka pada suatu kesempatan kepala prajurit itu mendekati Sentanu yang tengah beristirahat digandok ketika baru saja menyelesaikan memasang dinding buatan.

Sentanu kini telah diangkat sebagai kepala pengawas pada pekerja yang membikin lorong jebakan menuju hutan yang banyak didapati rawa-rawa berlumpur.

Wilapribrata sengaja membuat itu dengan maksud jika lawan menyerbu atau menyusup akan tersesat dan masuk tergiring kedalam rawa-rawa dihutan itu. Dan jika seseorang telah terjerumus kedalam rawa itu, jangan berharap untuk dapat selamat. Tubuhnya akan terhisap oleh lumpur liat yang bagaikan hidup menyedot tubuh orang yang terperosok kedalamnya.

-Eh Sentanu

Kata kepala prajurit itu.

- Senangkah kau berada di Wanabaya ini?

Sentanu tersenyum. Ia tahu yang bertanya adalah kepala prajurit yang sejak lama diincar untuk ia dekati. Namun ternyata orang itu kini datang sendiri.

- Seperti kau juga, aku senang berada diSini.

Jawab Sentanu masih belum meninggalkan senyumnya.

- Ah, kau keliru! - 

Berkata kepala prajurit itu pula.

- Keliru?

Sentanu menjadi heran.

- Ya, keliru.

- Mengapa bisa keliru? Apakah yang berbeda diantara kita?

-Kau orang baru disini.'Tentu saja ada yang berbeda diantara aku dan kau.Bahkan berbeda diantara seluruh penghuni dalam Kadipaten. Perbedaan selalu ada.

- Ah apa maksudmu? - Sentanu bertanya.

- Kelak kau akan tahu sesudahnya melihat dengan mata sendiri.

Ketika itu muncul prajurit jaga yang lain, membuat Kepala prajurit berdiam dengan tiba-tiba dan mengalihkan pembicaraan.

Sesudahnya prajurit tadi lewat kepala prajurit itu berkata pula.

- Kau kelak akan mengetahuinya Sentanu. Nah selamat tinggal, aku hendak kembali ketempatku.

- Tunggu dulu!

Sentanu maju dan mencegah kepergian kepala prajurit itu.

- Terlanjur kau katakan. Katanya

- Mengapa tidak sekalian kau menyebut apa yang sebenarnya tengah terjadi di Kadipaten ini? ' Kepala prajurit itu ragu-ragu dan mundur beberapa tindak.

- Mengapa kau seakan ketakutan dilihat orang? - Sentanu mendesak.

- Sudah kukatakan. Kau akan tahu kelak. -

- Mengapa tidak sekarang saja aku tahu? Apakah bedanya?

- Lain. jika sekarang kau tahu, aku akan bertambah pendek umur. Malah mungkin juga anak dan istriku. Sedang kalau kau kelak mengetahui sendiri, sekurang-kurangnya aku bisa menghidupi keluargaku beberapa lama lagi.

Sentanu menjadi kaget.Kini tahulah ia bahwa dalam Kadipaten tentu terjadi sesuatu yang agaknya dipendam oleh kepala Prajurit itu. Namun Sentanu telah mengambil keputusan untuk mencari dimana Mirah Sekar disembunyikan. Dan rupanya kepala prajurit itu akan bisa dimintai keterangan.

Maka dengan setengah berbisik ia mendekat dan berkata pada kepala prajurit itu.

- Katakan? Bukankah seorang prajurit tak akan takut dengan apaun juga? .....

- Kau salah Sentanu, aku bukan takut kehilangan nyawa. tapi anak istriku? Mereka tidak tahu apa-apa! ' 

- Jadi?

- Ya, sudahlah jangan mencoba mendesak aku terus menerus. -

- 0, sama sekali talak. Aku hanya ingin tahu sesuatu yang ada didalam Kadipaten ini. Dan rupanya kaulah orang yang paling pantas untuk dapat memberikan keterangan yang kubutuhkan itu. Kau terlanjur basah menyinggung soal itu. Mengapa tidak seluruhnya kau katakan padaku? -

- Aku menyesal mengatakan padamu. Sentanu !

- Menyesal setelah terlanjur aku tahu, apakah kau tidak sadar bahwa kemungkinan aku bisa mengadukan keluhanmu itu pada Gusti Wilapribrata ?

- He, kau mengancamku Sentanu ?!

Kepala prajurit itu maju dan menentang pandang mata Sentanu dengan sorot yang lain.

- 0, tidak. Aku tahu kau adalah seorang prajurit yang tidak akan runtuh oleh ancaman, bukan?

Aku tahu itu. Hanya mengapa kau sembunyikan. Nah, baik aku mendahului. Akupun datang ke Kadipaten ini bukannya begitu saja tanpa memendam maksud.

- Kau?

- Ya, apakah kau juga mengira aku hanya seorang pengangkut kayu tebangan? Ah, aku juga seorang prajurit yang kenal dengan senjata.

Kepala prajurit itu termangu-mangu. Tak ia duga Sentanu akan berkata demikian. Ia menjadi bimbang. Dan Sentanu tahu bahwa kepala Prajurit itu agaknya menyimpan satu ganjalan terhadap Wilapribrata. Maka ia tidak khawatir rahasianya akan terbongkar.

Sesudah bebera.pa saat kepala prajurit itu berdiam diri akhirnya ia berkata juga ;

- Baik, kau datanglah kerumahku, lewat tengah malam nanti. -

Sentanu mengangguk seraya tersenyum. Ia menyanggupi pemintaan kepala prajurit itu. Kemudian bergegas kepala prajurit itupun meninggalkan ia seorang diri.

Rasanya langkah Sentanu semakin mendekati tujuan. Dengan bertemu kepala prajurit itu ia tahu ada sesuatu yang amat penting akan diperolehnya. Maka dengan hati-hati ia menuju rumah kepala prajurit itu pada tengah malamnya.

Dengan kepandaiannya, Sentanu tak menemui kesulitan datang dan masuk kehalaman prajurit itu, kemudian dengan cepat iapun hilang dihalaman rumah orang itu.

Dipintu kepala prajurit telah menunggu.

- Kau menunggu ?

- Ya, masuklah! Lewat pintu samping itu.

Sentanu mengikuti dari belakang, keduanya berjalan hati-hati kebangunan belakang rumah kepala prajurit yang kini membawa Sentanu dengan debaran yang lain.

- Kau tak akan membunuhku, bukan? -

Prajurit itu berkata seraya tersenyum ketika mereka telah masuk kedalam sebuah ruang yang 

cukup bersih dan luas.

- Sesama kawan, mengapa harus saling bunuh ? Kita telah berjalan pada jalur yang sama. Jawab Sentanu.

- Nah, kau duduklah !

Prajurit itu mempersilahkan duduk diatas tikar yang ada ditengah ruangan itu. Dan seorang perempuan masuk, membawa nampan berisi minuman dan sekedar makanan.

- Dia istriku.

Kata prajurit itu pula. Dan Sentanu mengangguk. .

- Nah, kita telah menjadi sahabat tanpa berunding terlebih dulu. -berkata pula Sentanu. Dan prajurit itu tersenyum.

- Siapa yang harus mulai ? -- Tanya prajurit itu kemudian.

- Kau mulailah, aku akan menyusul kemudian.

Kepala prajurit terdiam beberapa saat. Mengatur kalimat yang hendak dikatakan kepada orang muda yang kini duduk didepannya.

- Sentanu,perlu kau ketahui sebelumnya. Dulunya Wanabaya ini bukan merupakan kadipaten seperti yang kau lihat ini. -

- Ya.. aku tahu itu. Sahut Sentanu.

- He, jadi kau telah mengetahuinya ?

- Hanya itu saja, dan Gusti Adipati bukan dari Wanabaya. bukan ?

- Ya. ternyata kau telah tahu banyak.Baik kalau demikian aku akan langsung dari pokok. Lalu beberapa saat ia terdiam. Baru setelah ia mengatur nafas berkata

- Dikadipaten ini terdapat dua golongan prajurit.Pertama adalah prajurit-prajurit berasal dari Banyuwangi. yang datang bersama sama Gusti Wilapribrata. Sedang golongan kedua adalah prajurit-prajurit yang diambil dari daerah Wanabaya ini. Seperti aku ini adalah prajurit golongan Wanabaya. Dan seperti yang kau saksikan, kini Gusti Wilapribrata tengah membangun Kadipaten.

Beberapa tempat disebut dan disiarkan membikin taman kaputren. Namun sesungguhnya yang terjadi amat lain. Gusti Adipati bukannya membuat taman keputren tetapi tengah membikin beteng pertahanan yg amat kuat.

Sentanu mengangguk-angguk mendengar perkataan itu.

- Dan ternyata Gusti Adipati bukan orang sembarangan. Lanjut prajurit itu pula.

- Dibuatnya tempat-tempat penuh jebakan guna menyesatkan lawan. Malah tempat yang kau tengah ikut mengerjakan itu, kau tentu bisa menduga untuk apa. Kalau bangunan dan lorong itu 

selesai seluruhnya. Dia akan tampak dari luar sebagai sebuah kamar yang indah dan menarik. Dan jika terjadi ada orang masuk, akan mengira masuk kedalam ruangan yang bagus. Tetapi jika terus berjalan mengikuti lorong yang berbelok-belok, ia akan masuk kedalam hutan tutupan yang ada di sebelah belakang kadipaten. Orang itu akan bingung. Namun untuk kembali sudah tak mungkin, karena lorong disana seluruhnya mempergunakan cara pengaturan sedemikian rupa yang telah diatur oleh Gusti Adipati sendiri sehingga jalan keluar hanya terdapat menuju hutan tutupan yang penuh dengan rawa-rawa berlumpur. Dan kau tahu sendiri, barang siapa masuk terperosok kedalam rawa itu, tak akan ada kekuatan yang akan mampu menolongnya. Dan orang itu akan tenggelam kedalam lumpur jahat itu."

- Aku tahu semuanya. Sentanu menyahut.

- Lalu apa kaitannya dengan pertemuan kita malam ini ? -

- Itu yang hendak kukatakan. Kita disini terdiri dua golongan prajurit. Sudah barang tentu, semua orang yang pernah masuk kedalam kadipaten akan mengetahui rahasia yang sedang dikerjakan. Dan yang lebih hebat lagi, Gusti Adipati merasa tidak percaya kepada siapapun yang pernah masuk dan melihat pembanguan kadipaten yang serba rahasia itu. Maka telah dibuat rancangan. Begitu segala pembangunan selesai, seluruh prajurit dan penghuni kadipaten yang berasal dari Wanabaya harus dibunuh. Kecuali prajurit-prajurit dari Banyuwangi saja yang akan selamat.

Sentanu hampir melonjak mendengar penuturan kepala prajurit itu. Tidak ia duga kesudahannya akan sedemikian hebat.

- Termasuk juga kau, Sentanu. Jika selesai tentu nyawamu akan ikut menjadi banten.

Untuk beberapa saat Sentanu masih belum mengucap. Ia berpikir keras memutar otaknya sesudah mendengar kisah itu.

- Oh ya, apakah kalian tidak mencari jalan keluar dari kesulitan yang selama ini menjadi beban itu ? -

Sentanu bertanya.

- Maksudmu ?

- Mencari keselamatan, memukul terlebih dulu pada Wilapribrata sebelum ia berhasil menjirat kalian semua.

- Sudah, sudah kami pikirkan. tetapi kami tidak mempunyai pimpinan yang bisa diandalkan.

- Apakah kau berani memimpin kami untuk berontak ?

Sentanu terkejut mendengar itu. Namun ia menjawab dengan hati-hati :

- Bukan aku takut, tetapi aku masih mempunyai seorang kawan yang sekarang ada tidak jauh dari kadipaten ini. Dia pasti akan bersedia memimpin kalian.

- Siapa orang itu ? - 

- Saudara kandung Wilapribrata sendiri. lalu Sentanu menuturkan kepada kepala prajurit itu riwayat dan asal usul Wilapribrata hingga melarikan diri dari Banyuwangi yang kemudian mendirikan kadipaten Wanabaya. Dan ketika Sentanu menyinggung Mirah Sekar yang tengah dicarinya. Kepala prajurit itu berkata :

- O.jadi ini yang tengah kaucari?

- Ya, kau tahu dimana Wilapribrata mengurung? -.

- Ah, kau sudah melihatnya. Ditengah ruangan luas yang kita lihat kemarin itu. Mirah Sekar dikurung didalamnya. Tetapi gila Sentanu, itulah yang membuat aku semua tidak habis mengerti. Mirah Sekar meskipun saudara kandung Gusti Adipati, namun adipati yg nampak pandai itu ternyata bodoh juga. Menurut pengawalnya yang pernah bercerita padaku, gusti adipati menganggap Mirah Sekar adalah benda hidup untuk pesugihan. Gusti adipati percaya bahwa dengan menyimpan Mirah Sekar, akan dapat memperoleh kemuliaan dan derajat tinggi. Dan rupanya itu dibuktikan dengan berhasilnya menguasai Wanabaya ini dan kemajuan demi kemajuan yang dicapai agaknya semakin menguatkan kepercayaannya itu. Maka Gusti Adipati memperlakukan Mirah Sekar bagai binatang piaraan. Dikurung, diberinya makan minum dan dipelihara bagai memelihara burung saja. -

- Aku hendak membebaskan Mirah Sekar, dapatkah kau membantuku ? - Tanya Sentanu kemudian, membuat kepala prajurit itu termenung dan berpikir.

- Itu masih harus dipikirkan masak-masak. Jawabnya kemudian.

- Karena prajurit penjaga yang menungg Mirah Sekar adalah prajurit dari Banyuwangi. Tetapi baiklah, aku akan berbuat sesuatu untuk itu.

- Terima kasih, kita mengatur rencana. Sesudahnya Mirah Sekar bebas, kita berontak kepada Wilapribrata, atau kalian orang Wanabaya melarikan diri keluar dari kadipaten.

Sentanu segera berdiri dan kemudian berjalan menuju keluar. Karena telah terlihat tanda-tanda hari mulai menjelang pagi.. Maka sebelum ada seorangpun melihat ia telah masuk ke rumah kepala prajurit itu, ia harus berada ditempatnya semula.

Setelah terjadinya pertemuan itu Sentanu mulai mengadakan hubtangan dengan Taruna yang menunggu-nunggu dengan segala kesabaran berita darinya.

Dengan kepandaiannya Sentanu tak akan menemui kesulitan untuk keluar masuk istana kadipaten pulang balik kerumah Taruna di Pringsewu. Dan segala rencana disusun dengan teliti. sementara berita-berita dan perkembangan selalu dikirimkan Sentanu pada Taruna. 

Dalam pada itu kepala prajurit telah menghubungi orang-orangnya pula untuk membantu usaha Sentanu membebaskan Mirah Sekar dari kurungan.

-Kita juga akan bebas dari ancaman maut.sebab lambat atau cepat jika kita masih ada disini,tentulah nyawa kita tak akan selamat. 

- Berhati-hatilah kalian, jangan bocorkan rahasia kita ini. Kita akan berontak ?-- Tanya salah seorang.

- Bukan. kita akan keluar dengan muslihat dan jalan halus. Baru kemudian melawan apabila terjadi kekerasan dari prajurit Banyuwangi. Namun yang penting kalian beri kesempatan sentanu untuk membawa keluar Mirah Sekar. Berpura-puralah kalian kalah oleh anak muda itu. Baru kemudian tiga purnama sesudah Mirah Sekar bebas, giliran kita untuk keluar dengan diam-diam dari kadipaten ini.

Para prajurit Wanabaya mengangguk dan diam-diam mereka bersukur dengan timbulnya pengharapan baru untuk bebas.

Kadipaten Wanabaya seperti pada hari-hari sebelumnya merupakan sebuah kadipaten yang tenang dan tentram. Istana kadipaten selalu dalam ketenangan dan kesunyian manakala malam mulai datang menyelimuti.

Namun pada malam hari itu, terasa agak lain suasana yang terjadi. Tidak seperti biasanya, disana sini terlihat prajurit berjaga dengan lebih tegang. Karena sebagian dari para prajurit itu telah mengetahui apa yang akan terjadi. Pemimpin mereka telah memaparkan apa-apa yang akan timbul malam itu. Maka dengan harap-harap cemas mereka menunggu.

Adipati Wilapribrata adalah seorang adipati yang tangguh dan ditakuti. Selain karena ketinggian ilmunya, juga karena perangainya yang keras dan mudah menurunkan hukuman pada prajurit yang bersalah. Maka hampir seluruh kadipaten selalu merasa takut-takut apabila berhadapan dengan adipati itu, khawatir salah dalam berkata atau bertindak. Sebab akibatnya akan sangat hebat.

Kematian adalah hal yang terlalu biasa bagi prajurit yang bersalah.

Malam itu prajurit jaga yang bertugas di ruangan dalam tempat Mirah Sekar dikurung berdiam diri membisu .Tak biasanya. kali ini mereka seakan telah merasa akan terjadi sesuatu.Dan bersamaan dengan ketika terdengarnya tanda dari gardu sebelah selatan yang menandakan malam telah lewat separuhnya.

Tiba-tiba empat orang prajurit itu melihat seorang prajurit lain mendatangi.

- He, mengapa kau malam-malam begini masuk kemari ? dimana kau bertugas ? Prajurit yang baru tiba itu tersenyum.

- Aku hendak menemani kalian barang sebentar.

- Jangan semberono, bukankah kau tengah dalam kuwajiban jaga ?

- Benar, tetapi ada hal amat penting hendak kukatakan pada kalian.

Empat prajurit jaga itu memandang dengan curiga pada prajurit yang baru datang itu. .

- He, kau dari kelompok mana ? rasanya aku belum pernah melihat mukamu. Kata salah seorang.

- Tentu saja kau belum pernah melihatku, karena biasanya aku bertugas didalam gedung 

perbendaharaan, sedang kalian dalam istana kadipaten. Sudahlah ! Aku ingin salah seorang diantara kalian ikut denganku.

- Gila ! kau mau ajak kemana ? Tidak bisa, kami bisa celaka kalau Gusti Adipati mengetahui kami meninggalkan penjagaan. -

- Gusti adipati tak akan mengetahuinya, lagi pula hanya sebentar karena ada yang hendak kuperlihatkan.

- Kaumelihat apa ?- Tanya prajurit yang lain.

- Seseorang yang mencurigakan berada dalam bangunan bangsal yang belum jadi itu. - Siapa ? -

- Aku tidak tahu maka kuajak salah seorang diantara kalian untuk melihatnya.

- Kau cari saja prajurit ronda.

- Terlalu lama, lekaslah! Aku khawatir jangan-jangan dia melarikan diri. -

Keempat prajurit jaga itu berpandangan. Bimbang ragu mengganggu hati mereka. Namun tiba-tiba salah seorang yang agaknya menjadi pemimpin mereka berkata :

- Ayo kita berdua melihat kesana. Dan kau tunggu disini. Kalau menipu, awas! Kuadukan Gusti Adipati bisa kepalamu lepas dari tempatnya. Dua diantara prajurit jaga itu berjalan bergegas menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang itu yang bukan lain adalah Sentanu. Dan begitu kedua prajurit itu pergi, Sentanu berjalan seakan hendak meninggalkan mereka yang masih,ada disitu.

- Hei. mau kemana kau?

- Tunggu dulu jangan pergi!-

Kata salah seorang sambil mencegat dimuka.

Namun ketika itu tiba-tiba muncul kepala prajurit yang begitu datang lantas menyerang salah seorang diantaranya. Sedang Sentanu melihat munculnya kepala prajurit itu, iapun cepat bergerak dan hanya dengan beberapakali gerakan yang tak terduga, dua orang prajurit itu telah roboh dan tidak berkutik. Maka dengan cepat pula kedua orang itu diseret disembunyikan. Dan kepala prajurit itu menggamit Sentanu untuk mencegat kedua orang yang pergi tadi.

- Pantas dihajar mulut orang Wanabaya itu ! -

Terdengar suara prajurit-prajurit tadi telah berjalan masuk kembali. Cepat Sentanu dan kepala prajurit itu loncat menempelkan tubuh dibalik pintu. Dan begitu dua orang prajurit itu melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan, Sentanu berdua kepala prajurit itu sebat bergerak dan menyambar leher mereka.

Maunya kedua orang prajurit jaga itu hendak melawan, namun kemampuan mereka tidak imbang dengan para penyerang, maka segera kedua orang inipun roboh tanpa dapat bangun untuk selamanya. 

- Lekas kau masuk ! -

Terdengar kepala prajurit itu memberi tanda sedang ia menyeret tubuh kedua orang yang baru saja mereka robohkan itu.

Sentanu cepat membuka pintu dan loncat masuk kedalam ruangan yang selalu tertutup. Dan ketika matanya mencari, tertampaklah seorang gadis cantik duduk disudut ruangan itu.

Si gadis ketika melihat munculnya seorang muda yang mengenakan pakaian prajurit menyapa :

- Ada kepentingan apakah kau masuk kemari ?

- Jangan membikin suara Gusti. -

Kata Sentanu seraya melekatkan ujung telunjuk jari pada bibirnya. Lalu ia mendekat dan berbisik

:

- Aku diperintahkan oleh saudaramu Taruna untuk membawa keluar dari tempat ini.

- Taruna?-Dimana dia?--

Gadis itu menjerit dengan kaget. Namun Sentanu cepat menyambar dan menekap mulut gadis itu,

hingga suaranya tak terdengar keluar.

- Pakai ini cepat ! -

Sentanu menyodorkan seperangkat pakaian prajurit pengawal kepada gadis itu. Dan sigadis yang mengerti dengan maksud pertolongannya cepat mematuhi perintah, dan sebentar kemudian sekilas ia telah terlihat sebagai seorang prajurit kadipaten. '

- Lekas ! --

Sentanu menarik tangan gadis itu keluar. Diluar kepala prajurit masih menunggu dengan hati berdebar.

- Cepat keluar lewat pintu utara itu ! -

Katanya. Dan Sentanu menyeret Mirah Sekar menuju jalan yang telah direncanakan.

Karena mereka telah mengenal baik segala sudut tempat itu maka tak banyak menemui kesulitan untuk keluar. Sementara itu kepala prajurit telah kembali kedalam rumahnya.

Kepala prajurit kadipaten itu berdebar keras hatinya. Sebab jika perbuatan mereka terlambat sedikit saja maka tempat itu segera akan penuh dengan prajurit lain. Karena kesempatan yang bagus 'ketika tak ada penjaga lain telah mereka pergunakan, maka kepala prajurit itu menjadi lega. Sebab jika terjadi ia ketahuan berkomplot dengan Sentanu menculik Mirah Sekar, tentulah bentrok senjata dan banjir darah tak dapat dihindarkan. Karena seluruh prajurit Wanabaya telah siaga untuk mengadu jiwa dengan prajurit asal Banyuwangi. Dan kini hanya tinggal menunggu kesempatan persiapan yang akan dikerjakan Sentanu yang berjanji akan kembali membebaskan mereka setelah tiga purnama kelak.

Pada saat itu Sentanu hampir tiba dimulut pintu lorong yang menuju keluar istana kadipaten.

Namun ketika itu untung saja dua orang prajurit ronda mendekati mereka. 

Sentanu cepat berkata pada Mirah sekar:

-Kau tiarap lekas dan tempelkan telinga pada tanah!

Mirah Sekar yang tidak mengerti dengan maksud penolongnya hanya menurut. Ia bertiarap menempelkan telinga ketanah. Sentanu melolos pedangnya, bersiap seakan hendak bertempur.

Prajurit ronda itu tiba ditempat mereka. Dan ketika dilihatnya dua orang itu bersikap aneh, salah seorang menegur :

- He, apa yang tengah kalian lakukan ini ? - Sentanu memberi isyarat :

- Ssss ... ! Jangan keras-keras. Kawanku sedang mendengarkan langkah-langkah kaki aneh yang sedang mendekati tempat ini. Mungkin musuh menyerang.

Prajurit-prajurit ronda itu berpandangan.

- Kalian lekas mencari bantuan dan panggil kawan-kawan lain! Biar aku menunggu disini, kalau-kalau ada yang akan memasuki jalan ini. Biar aku akan menahan mereka lebih dulu.

Dua orang prajurit ronda itu cepat loncat mencari pasukan lain untuk bersiap. Dan ketika itulah Sentanu menarik lengan Mirah Sekar ditariknya keluar dari pintu kemudian keduanya berlarian keluar melewati hutan menuju tempat yang telah dijanjikan. Seekor kuda telah disiapkan oleh kepala prajurit ditempat itu, maka Sentanu segera membedal kuda itu melarikan diri ketempat Taruna menunggu.

Sementara itu dua prajurit ronda tadi itba-tiba berhenti berbareng dan dengan bergegas mereka memberitahukan adanya bahaya yang dikatakan oleh Sentanu. Maka berserabutanlah puluhan prajurit menuju keluar dengan menyandang senjata. Tempat itu segera menjadi gempar dan hiruk pikuk oleh suara mereka sendiri.

Keributan itu bertambah meledak ketika prajurit lain menemukan mayat keempat prajurit jaga yang menunggu kamar tawanan Mirah Sekar. Lebih kaget lagi ketika diketahuinya Mirah Sekar telah lenyap dari tempatnya. Maka bertambah ribut dan gempar mereka.

Selama ini sekalipun belum pernah terjadi keributan dan pembunuhan di kadipaten Wanabaya.

Maka tentu saja kejadian itu amat mengejutkan.

Sementara itu dua prajurit ronda tadi sadar dan tertipu. Maka mereka jadi membanting-banting kaki dengan gemas.

- Mereka tentu lari kesana, kita susul !

Segera terdengar suara derap kaki kuda para prajurit yang mengejar keluar kadipaten. Namun Sentanu telah hilang berdua dengan Mirah Sekar bagai ditelan bumi. Jejak mereka tak lagi dapat diketemukan oleh prajurit-prajurit itu.

Sekeliling hutan yang berdekatan dengan kadipaten telah dijelajah dan diusik, namun jejak buruan masih tidak tercium oleh prajurit Wanabaya. Maka terpaksalah mereka kembali dengan kecewa dan ketakutan kena marah dari Adipati Wilapribrata. 

Ketakutan para prajurit kadipaten ternyata beralasan. Sebab segera terdengar

bentakan-bentakan dari dalam kraton ketika Adipati Wilapribrata membentak para penjaga dengan suara keras :

- Kurang ajar ! siapa yang melakukan ini semua ?! Hayo tangkap orang itu, lekas ! -

Para prajurit berloncatan keluar, namun segera muncul prajurit prajurit terdahulu yang telah gagal mencari Sentanu.

- Bagaimana semua ini bisa terjadi ? Siapa yang melakukan ?! Hayo katakan mengapa bisa begini ? -

Adipati itupun membentak bentak dengan marah dan geram.

Dua prajurit ronda yang melihat kemarahan Adipati itu segera maju dan berkata :

- Ampun tuanku, tadi kami hanya mendapati dua orang prajurit yang berada dekat pintu keluar menyuruh kami juga mata prajurit yang mengejar Sentanu tidak berhasil menemukan

- Mengapa kau tidak awasi dua orang itu ? -

- Karena hamba mengira mereka adalah kawan sendiri:

- Bodoh !

Dan prajurit ronda itu tiba-tiba terjungkal kena sambaran tangan Adipati Wilapribrata yang marah bukan main.

- Gila semua ! Masak sebanyak ini kalian tidak mampu menangkap dua tikus kecil yang datang mengacau itu ? -Apa gunanya kalian kuutanam untuk menjaga kadipaten. ha ?!

Tak seorangpun menyahut perkataan itu. Tak satupun berani membuka mulut. Sebab dengan sedikit saja mereka membuka mulut berkata sama dengan mencari penyakit karena hanya akan menambah kemarahan Adipati yang tengah kalap itu.

- He, panggil kepala prajurit kemari, lekas ! -

Seorang prajurit cepat loncat mencari kepala prajurit yang belum juga terlihat. . Tak lama yang dipanggil telah datang menghadap.

- Ampun tuanku, hamba baru saja hendak menghadap kemari. Kata kepala prajurit itu.

- Bagus ! Apa sajakah kerjamu hingga Mirah Sekar berhasil diculik orang ?

- Hamba mengatur penjagaan dibagian selatan gardu induk kadipaten dan hamba mendengar adanya ribut-ribut, tetapi ketika hamba datang Mirah Sekar telah tidak berada lagi ditempatnya.

- Bodoh ! Kerbau dungu semua ! Hayo siapa yang pantas dicurigai melakukan perbuatan kurang ajar ini ? Hayo lekas kalian periksa dari kelompok mana dua prajurit yang berani mati berkhianat itu.

Maka segera terlihat para senapati mengumpulkan anak buahnya masing-masing kemudian memeriksa kalau ada diantara prajuritnya yang hilang dua. Namun ternyata tidak satupun prajurit kadipaten yang lenyap. 

- Tak satupun yang hilang Gusti! Sembah mereka kemudian.

- Kau panggil dan periksa kepala pengawas, jangan-jangan diantara mereka yang menjadi sebab timbulnya penyakit ini.

Ketika itulah muncul kepala pengawas dan dengan muka ketakutan ia berkata :

- Gusti adipati, Sentanu tidak berada ditempatnya, hamba sudah perintahkan mencari, namun jejaknya telah hilang dan lenyap begitu saja. -

- Sentanu ? ! Kurang, ajar ! Jadi anak itu menculik Mirah Sekar. Hh, awas kau ! Pasti kau akan dapat kubekuk dan kurobek isi perutmu !

Kepala prajurit terdiam, dan hatinya menjadi lega ketika Adipati Wilapribrata tidak mengusut hal itu lebih jauh. Namun diam-diam ia juga masih khawatir karena Adipati Wilapribrata bisa bertindak di luar dugaan. Seringkali ia nampak diam, namun dengan tiba-tiba melakukan tindakan yang mengejutkan. Maka Kepala prajurit itu berpesan pada prajurit Wanabaya agar selalu berhati-hati, sebab Adipati Wilapribrata tak mungkin tinggal diam dengan kejadian hilangnya Mirah Sekar. Kepala prajurit Wanabaya itu tahu Adipati Wilapribrata dapat kebobolan masuknya Sentanu disebabkan adipati itu terlalu banyak mencurahkan perhatian pada pembuatan benteng kadipaten

Sementara itu Sentanu yang melarikan diri dengan membawa Mirah Sekar, tiba ditengah hutan yang menjadi batas kadipaten dengan dusun Pringsewu. Dan hanya tinggal melintasi hutan itu maka keduanya akan dapat bertemu dengan Taruna yang masih menunggu disana. 

- Ei, jadi kau bernama Sentanu ? -

Tanya Mirah Sekar tanpa sungkan dan rikuh.

-Bagaimana kau bisa bertemu dengan kangmas Taruna ?

Dengan singkat Sentanu menceritakan awal mulanya ia bertemu Taruna.

- Dan kau, mengapa menolongku ?

-Aku ?

Sentanu menjadi tergagap. Sebenarnya ingin ia banyak berkata, namun ketika tiba-tiba teringat mereka masih dalam pengejaran prajurit Kadipaten, maka ia menggamit Mirah Sekar untuk melanjutkan perjalanan. Akan tetapi kini Sentanu menjadi bingung. Tadinya ia hanya membawa seekor kuda ketika melarikan diri berdua Mirah Sekar dari Kadipaten, bahkan menarik-narik lengan gadis itu Sentanu tak merasakan sungkan. Tapi sekarang keadaan menjadi lain. Ia sadar sepenuhnya bahwa yang sedang bersamanya adalah seorang gadis cantik yang belum dikenalnya. Maka hati anak muda ini menjadi kikuk dan sungkan, hingga tinggal Mirah Sekar saja yang menunggang kuda itu dan ia menuntun berjalan disampingnya.

- Kita harus secepatnya keluar dari hutan ini, sebab prajurit Kadipaten pasti akan menyusul kita.

- Kau takut? - 

Sahut gadis itu.

- He, bukan takut! Tetapi kalau jumlah mereka puluhan, kita pasti akan tertangkap kembali.

Dan dugaan kepala prajurit Wanabaya ternyata terbukti, sebab Adipati Wilapribrata ternyata memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk mengejar dan mencari Sentanu dengan mengerahkan prajurit berkuda keseluruh tlatah Kadipaten, sebab menurut dugaan mereka tentu Sentanu belum jauh dari tempat itu.

Pada saat Sentanu masih menuntun kuda yang ditunggangi Mirah Sekar menerobos jalan hutan dalam kegelapan itu. tiba-tiba harus menjadi kaget ketika 'dari jauh terlihat banyak api obor mendatangi dan derap kaki kuda terdengar pula mengikuti arah langkahnya ditengah jalan hutan itu.

Meskipun ketika itu hari telah mulai mendekati fajar dan sebentar lagi terang tanah akan datang menyaput hutan itu. namun masih juga mata prajurit yang mengejar Sentanu tidak berhasil menemukan jejak buruannya, karena Sentanu telah melepaskan kudanya dan di gebraknya hingga binatang itu berlari keras kedepan. Sedang Sentanu segera menyusup ketengah semak-semak dan merayap berdua Mirah Sekar kearah barat.

Prajurit Kadipaten yang melakukan pengejaran, tiba-tiba seakan mendengar suara kaki kuda berlari kearah timur, maka dengan cepat mereka melarikan kudanya ketimur pula, sehingga Sentanu beroleh kesempatan menjauhi tempat itu dan masuk kedalam hutan lebih jauh..

Tepat ketika matahari mulai nampak muncul dari arah timur hutan yang semula masih remang-remang kini terlihat lebih terang meski pun cahaya matahari itu masih terhalang oleh

banyak daun dan pepohonan. Ketika itulah Sentanu telah mencapai jarak yang cukup jauh dari para pengejarnya. Hatinya sedikit menjadi lega. Akan tetapi ketika dilihatnya Mirah Sekar kepayahan, hatinya menjadi berdetak. Ia kasihan melihat keadaan gadis itu. Mukanya kotor kena debu dan rambutnya banyak terkena oleh kotoran pula. sedang pakaian keprajuritan yang dipakai telah robek-robek sebagian ketika mereka merayap dengan susah payah di semak semak yang banyak tumbuh duri dan ranting tajam

- Kau lepas saja pakaian itu! -

Sembari berkata, seraya ia sendiri juga melepas pakaian prajurit yang dipakai pada tubuhnya.

Mirah Sekar menuruti permintaan itu. Dan baru saat itulah Sentauu dapat memperhatikan wajah cantik si gadis yang memang nampaknya tanpa cacat. Namun ia segera menunduk pula ketika matanya nyalang dan singgah tanpa sadar pada bagian dibawah leher Mirah Sekar yang membentuk belahan kuning dan berisi.

Mirah Sekar sedikitpun tidak mengetahui dirinya diperhatikan oleh anak muda itu. Namun ia merasa anak muda yang telah menolongnya itu pemalu. Dan yang paling terasa dihati Mirah Sekar, pemuda itu amat berhati-hati dan menghormat sekali padanya. Maka diam diam ia bersukur dalam 

hati. Sebab jika tidak Sentanu menghormat, sudah sejak semula ia tak akan sudi bersama anak muda itu, meskipun mengaku sebagai suruhan dari Taruna.

- Hayo lekas kita lewat sana.

Sentanu menunjuk arah gerumbul lebat yang terlihat dimuka

- Mengapa tidak melewati jalan itu saja? -

- 0, kalau kita melalui jalan itu, tentu akan mudah diketahui prajurit-prajurit!

- Mereka sudah jauh dari kita! -

- Bukan, mereka segera akan kembali mencari kita jika kuda yang kita lepas tadi diketahui tanpa orang.

Gadis itu tidak membantah pula. Maka dengan langkah hati-hati ia berjalan menerobos jalan gerumbul itu, dengan Sentanu dimuka mencari jalan dan membabat semak ilalang yang menghalangi jalan.

Tapi dengan tiba-tiba terdengar derap kaki kuda mendatangi tempat itu. Sentanu menjadi kaget, tahulah ia bahwa prajurit Kadipaten telah tiba kembali dan kini mengejar pula dengan marah ketika mengetahui buruannya tidak bersama kuda yang mereka kejar tadi. 

- Hei itu Sentanu !

Tiba-tiba berseru salah seorang yang melihat kedua buruan berusaha menerobos jalan hutan disitu.

- Hei berhenti! -Menyerahlah sebelum kami turun tangan mencabut nyawamu! - Terdengar seruan prajurit-prajurit itu.

Mirah Sekar pucat, dan cemas hatinya mengetahui para pengejarnya menemukan jejak. Sedang Sentanu tak kurang cemasnya, bukan ia takut kehilangan nyawa, namun kini keadaan menjadi berat karena ia harus berusaha untuk menyelamatkan Mirah Sekar, yang berarti ia harus bertahan dengan mati-matian menghadapi prajurit Wanabaya yang tidak sedikit itu.

Maka melihat munculnya para prajurit itu Sentanu berhenti membelakangi Mirah Sekar. Pedangnya yang semula disembunyikan dibalik punggungnya, ia cabut dan kini ditunggunya prajurit-prajurit yang datang meluruk menyerbu dengan kuda tunggangan mereka. Namun sungguh naas nasib prajurit. yang berada paling dimuka, karena begitu tiba dimuka Sentanu, anak muda itu telah mendahului bergerak dan pedangnya merobek leher kuda lawan, lalu disusul sebuah babatan menyerang penunggangnya yang kaget terpelanting jatuh terbanting dari atas kuda dengan dada robek oleh babatan pedang Sentanu.

Mirah Sekar menjerit melihat babatan pedang itu merobek dada prajurit dan leher kuda itu.

Sehingga Sentanu kaget mendengar jeritan Mirah Sekar yang dikiranya terluka oleh senjata. Namun ketika ia loncat mendekati si gadis, hatinya menjadi lega. 

- Apa boleh buat Sekar, aku terpaksa berbuat ini. Kalau tidak, nyawa kita yang akan mereka rampas dengan kejam.

- Sentanu ...... ! -

Mirah Sekar berseru pelan.

- Kau disitu, tunggulah dan tenangkan hatimu Sekar!

- Aku takut, kita lari saja '.

- Mereka berkuda, kita sia-sia untuk lari. Tenanglah, aku pasti akan dapat mengusir mereka ini.

-

Tiba-tiba prajurit yang berada dibelakang, kaget melihat kehebatan Sentanu hingga untuk

beberapa saat mereka ragu-ragu tapi akhirnya loncat menerjang dengan mengeluarkan seruan keras.

Sentanu kaget juga hatinya, tiga batang pedang sekaligus menyabet dan tiga ekor kuda itu mendesaknya kebelakang, namun ia juga putarkan pedang yang dipegangnya, sehingga ketika terjadi benturan dari senjata2 itu terdengar suara berdencingan, namun ternyata kekuatan sentanu lebih banyak menang, hingga dua batang pedang prajurit melayang kena gempuran itu. Dan Sentanu bersorak dalam hati melihat lawan dapat ia imbangi. Maka ia bergerak lebih cepat pula. Segera terdengar suara ringkik kuda yang terkejut akibat terkena sambaran senjata ditangan Sentanu yang berkelebat dengan hebat dan mengejutkan.

Akan tetapi jumlah para pengejarnya berlipat lebih banyak. Roboh satu datang dua, roboh dua muncul empat. Yang empat mundur terluka., namun delapan maju bebareng, dan lainnya yang masih berada dibelakang menyaksikan pertempuran itu melihat kawan-kawannya banyak terluka segera maju dan kini hampir seluruh prajurit yang mengejar maju mengeroyok dirinya. Terlihatlah perkelahian yang tidak seimbang ditempat itu.

Betapapun tinggi kepandaian Sentanu, namun menghadapi keroyokan prajurit Wanabaya itu, makin lama ia menjadi semakin terdesak pula. Dan kini ia tak lagi mempunyai banyak kesempatan untuk balas menyerang. Malah keringat telah membasahi tubuh dan gerakan-gerakannya semakin terlihat melemah. Sedang para pengeroyoknya bukan makin mundur, melainkan makin mendesak maju dan menyudutkan Sentanu pada satu kedudukan yang tidak menguntungkan. Sedang semangat para pengeroyok itu bertambah meluap karena melihat lawan telah nampak kepayahan dan bisa dipastikan mereka akan dapat meringkus buruannya itu.

Pada saat Sentanu makin terdesak hebat itu, dua orang prajurit tiba-tiba loncat. keluar dari pertempuran, dan keduanya loncat mendekati Mirah Sekar yang menutup muka ngeri melihat perkelahian berdarah itu.

Sentanu kaget melihat dua prajurit itu mendekati Mirah Sekar. Hatinya mencelos dan khawatir. Maka guna menyelamatkan si gadis dari serangan dua prajurit itu, Sentanu loncat keluar dari arena menyusul dua prajurit yang mendekati Mirah Sekar. 

Tetapi akibat dari itu, tiba-tiba sebatang pedang prajurit yang berada paling dekat berhasil menyambar pahanya hingga Sentanu terbanting dengan paha robek oleh sabetan pedang itu. Darah mengucur dari luka. Namun ia loncat bangun pula dan tepat ketika dua prajurit tadi hendak meringkus Mirah Sekar, Sentanu mengerahkan tenaga terakhirnya menyerang dua orang lawan itu. Dan akibatnya sungguh hebat. Dua batang pedang yang dipegang Sentanu melayang dengan cepat dan terlempar dari tangan meluncur kemuka dan langsung masuk kepinggang dua orang prajurit itu hingga roboh terjungkal tidak mampu bangkit kembali kecuali menggerang kesakitan terkena sambaran pedang yang masuk pinggang lebih dari sepertiganya.

Tetapi prajurit lain telah maju pula, dan kini Sentanu tidak lagi bersenjata. Namun ia masih bertahan mendekati Mirah Sekar seraya berkata :

- Kau larilah Sekar! Lekas! Dimulut hutan itu saudaramu menunggu. Lekas, larilah! Tapi Mirah Sekar tidak bergerak dari tempatnya.

- Cepatlah Sekar! -

Sentanu berseru pula, bersamaan itu sebuah serangan lawan sampai mengancam pundak. Maka Sentanu banting diri kebelakang menghindari serangan itu. Akan tetapi seorang lagi loncat mengirim serangan dengan kedua kakinya mengarah Sentanu, yang masih bergulingan. Dan .

- Buk! Buk!

Sepasang kaki prajurit itu berhasil masuk dada Sentanu hingga anak muda itu terlempar jauh bergulingan.

Ia terlanjur terluka. Kalau tidak, belum tentu ia dapat dikalahkan oleh lawan-lawannya. Lagi pula menghadapi jumlah penyerang yang tidak sedikit, bukan satu hal yang gampang ia lakukan. Maka tanpa dapat ia cegah, berkali-kali lawan berhasil mengirimkan serangan padanya. Hanya yang membuat prajurit-prajurit Wanabaya ini menjadi kesal dan mendongkol adalah sampai sebegitu hebat mereka melancarkan serangan, namun masih belum dapat membekuk Sentanu. Apalagi membunuh anak muda itu. Bahkan dalam keadaan luka-luka berat pada pahanya anak muda itu masih mampu melindungi Mirah Sekar dari jamahan prajurit pengeroyoknya.

Agaknya melihat demikian, prajurit-prajurit itupun menjadi sadar bahwa tak mungkin mereka dapat membunuh Sentanu jika tidak berusaha lebih dulu membunuh Mirah Sekar. Maka kini serangan mereka tujukan pada gadis itu yang berada dekat dengan Sentanu.

Sentanu menjadi kaget melihat kelicikan lawan-lawannya. Maka bukan main marahnya ia. Akan tetapi sekali lagi ia terbentur pada ketatnya penyerangan lawan-lawannya yang masih puluhan banyaknya.

Lambat atau cepat, Sentanu pasti akan tewas diujung senj lawan-lawannya. Tenaganya makin berkurang, darah yang mengalir dari luka dipahanya sangat mengganggu gerak dan kekuatannya. 

Terlihat ia seringkali harus menggigit bibir mengumpulkan semangat dan kekuatannya yang sudah banyak berkurang. Agaknya tinggal menunggu waktu saja bagi Sentanu untuk menemui ajalnya ditempat itu, diujung senjata prajurit Wanabaya yang berjumlah tidak sedikit.

Namun pada saat Sentanu terdesak hebat itu, terdengar sebuah suara lembut dan kuat mengumandang ditengah pertempuran.

- Aha, sayang! Sayang sekali prajurit-prajurit gagah dan bersenjata mengeroyok anak muda yang telah kepayahan.

Dan aneh, ketika suara itu berhenti dan hilang dari pendengaran, tiba-tiba seluruh senjata yang dipegang para prajurit itu terlempar dengan tidak terduga bagai ditarik tenaga raksasa. Tidak hanya itu saja, para pengeroyok itu merasa tubuh mereka terdorong oleh angin kuat hingga mundur dan berloncatan dengan muka pucat dan kaget.

Sentanu tidak kurang herannya melihat kejadian ini. Tadinya ia mengira Taruna muncul dan menolong. Namun ketika dilihatnya di tempat itu muncul seorang tua berambut putih mengenakan jubah panjang yang melilit tubuhnya, Sentanu menjadi terkejut. Namun sebelum ia dapat berkata, orang tua itu telah membuka kata-katanya lebih dahulu pada para prajurit Wanabaya.

- Kalian kembalilah ke Kadipaten dan katakan pada Wilapribrata aku memerintahkan kalian kembali dan melepaskan anak muda ini!

Salah seorang diantara prajurit itu maju dan menegur marah dengan suara keras;

- Kau siapakah orang tua ini berani memberi perintah?

- Kau terlalu kasar, omonganmu kurang sopan dan kau tidak pantas menjadi prajurit. Kalau kau tak mau kembali dengan baik-baik. apakah kau ingin aku paksa dengan kekerasan? Kalau ya, nah pergilah kau! -

Dan suara orang tua itu jadi menggeledek dengan hebat, hingga kuda prajurit itu melonjak karena kaget, dan tiba-tiba kuda itu membalikkan badan seraya meringkik keras lalu berlari kabur bagai kesurupan setan. Untunglah prajurit yang menunggangnya sebat hingga cepat memegang leher binatang itu hingga tidak sampai terbanting. Kawan-kawannya yang menyaksikan kejadian itu menjadi kaget .Maka sadarlah mereka bahwa kini berhadapan dengan seorang sakti yang tidak bisa dianggap ringan, maka tanpa berunding, berloncatan kepunggung kuda mereka dan melarikan binatang itu dengan tanpa banyak mulut seraya membawa teman-temannya yang terluka.

Dalam beberapa saat tempat itu kembali bersih-dari ' prajurit yang mengeroyok. Dan sesudahnya para prajurit Kadipaten jauh, orang tua itu mendekati Sentanu yang tengah duduk menutup lukanya yang parah.

Tanpa banyak cakap orang tua itu memegang paha Sentanu lalu mengurut-urutnya. Hingga tak lama kemudian darah yang mengalir dari luka itu telah berhenti.

- Kau hebat dan berani anak muda, siapakah namamu? 

Bertanya orang tua itu.

- Aku Sentanu. Dan kau ini siapakah telah mau menolong diniku ?

- Aku? Jangan bersusah payah menyebutku. Tetapi kalau memang kau ingin mengetahuinya cukup kau panggil aku dengan sebutan Ki Ageng Semu. Karena begitulah orang banyak memanggilku.

Berkata-kata demikian, orang tua yang mengaku bernama Ki Ageng Semu itu terus menggerakkan tangan dan jari-jarinya mengurut luka dan menepuk-nepuk paha Sentanu yang terluka.

- Ki Ageng Semu yang budiman. - Terdengar suara halus berkata.

- Biarlah aku ganti merawat luka kawanku ini.

Ki Ageng Semu menoleh dengan heran. Dilihatnya Mirah Sekar telah berdiri didekatnya.

- Oh ya, aku jadi terlupa. Rupanya kau masih membawa kawan. Ah, ah, orang tua selalu lebih cepat lupa. Baik ! Baik kau ganti merawat kawanmu yang terluka ini.

Dan Ki Ageng Semu melepaskan Sentanu, lalu ia berjalan beberapa langkah kemudian berdiri membelakangi Sentanu dengan Mirah sekar yang sedang membalut luka itu dengan sobekan baju.

Namun Mirah Sekar menjadi merah mukanya ketika melihat Ki Ageng Semu berdiri membelakangi itu. Ia merasa diejek. Maka cepat ia lepaskan balutan yang belum selesai dan berlari dari tempat itu. Rasa malu menjalar dari hati kemukanya hingga muka itu menjadi merah jambu. -

Ki Ageng Semu membalikkan tubuh.

- Sudah?

Tanyanya. Tetapi ia tertawa lebar ketika dilihatnya gadis itu berlari dengan muka merah.

-Aha, anak-anak memang suka pemalu menghadapi begini - Gumamnya.

Dan Sentanu yang belum mengetahui apa yang menjadi sebab Mirah Sekar berbuat begitu menjadi heran. Lebih heran lagi ketika didengarnya Ki'Ageng Semu bergumam begitu. Namun ia diam saja.

Ketika itu tiba-tiba muncul tanpa diketahui oleh Sentanu maupun Mirah Sekar, seorang wanita yang meskipun telah nampak usianya menua, tetapi jelas terlihat bekas kecantikannya dimasa mudanya.

Wanita itu begitu melihat Ki Ageng Semu berada merawat luka Sentanu, mengerutkan kening.

Tetapi sebentar kemudian berkata :

- Aha rupanya kau telah menemukan buruan itu Ki Ageng !

- E, kau diam dulu jangan terlalu ribut. Nanti burung ini lepas pula ! - Jawab Ki Ageng Semu.

- Bagus kalau begitu. Akupun secepatnya harus mencari yang sebagus punyamu itu! 

Wanita itu menjawab perkataan Ki Ageng.

Tentu saja Sentanu tidak mengerti dengan percakapan dua orang tua aneh yang datang tiba-tiba itu. Namun ia tahu keduanya tentulah orang-orang berilmu tinggi sebab kehebatan Ki Ageng Semu telah ia saksikan ketika menolong dirinya dari keroyokan prajurit Wanabaya itu.

Sedangkan perempuan yang baru tiba itupun pastilah seorang yang luar biasa, terbukti kedatangannya saja tidak ia ketahui darimana. Tau-tahu telah berada ditempat itu.

- E, Ki Ageng, omong-omong sebenarnya aku iri juga dengan peruntunganmu mendapat bahan bagus itu!

- Kau diamlah dulu Nyi Ageng Maloka! Belum juga ditanya apa orangnya mau diambil murid atau tidak, kau sudah banyak omongan. -

- Eh kau marah?

- Kenapa marah? kalau kau iri, lihat disana masih ada lagi satu badan bertulang baik!

Perempuan itu menoleh mendengar perkataan Ki Ageng terakhir itu. Dan ketika matanya menumbuk Mirah Sekar yang berada tidak jauh dari tempat mereka, mata perempuan itu menatap sekilas pada Mirah Sekar, lalu terdengar suara tertawanya, perlahan, tetapi menggetarkan siapa yang mendengarnya.

- Bagus Ki Ageng, kiranya kita memang beruntung. Benar juga katamu, dia itu tak kalah bagus dengan buruanmu.

Sesudah dirasanya oleh Sentanu keadaan lukanya bertambah baik, ia bangkit kemudian membungkuk menghaturkan terimakasih pada Ki Ageng Semu yang telah menolongnya

- tunggu dulu anak muda. Berkata orang tua itu.

- Aku menolongmu bukannya tidak memiliki pamrih, kau harus tahu itu. Sentanu melengak heran mendengar perkataan orang tua itu.

- 0, apakah maksudmu orang tua?

- Kau harus menjadi muridku anak muda. - Jawab orang tua itu pula.

- Jadi muridmu?

- Ya, dan ikut untuk belajar denganku.

Sentanu sadar dengan siapa ia berhadapan. Hatinya menjadi gembira bertemu dengan orang tua yang berilmu tinggi, lagi pula sudah lama ia idamkan benar hendak mencari guru yang lebih tinggi ilmu darinya memenuhi pesan mPu Sugati. Dan kini tanpa disengaja malah ia hendak diambil murid oleh orang tua itu. Maka tanpa menunggu lebih lama ia menyahut sambil memberi hormat lebih dalam;

- 0 terimakasih, terimakasih Ki Ageng sudi mengambil diriku yang bodoh menjadi muridmu. Aku 

menerimanya,

Ganti Ki Ageng semu tertawa, hatinya gembira mendengar perkataan Sentanu. Lalu Ki Ageng Semu berkata pula:

- Kalau kau suka, hayo berangkat sekarang!

Sentanu terkejut. Tak ia duga Ki Ageng Semu akan mengajaknya dengan tiba-tiba. Maka cepat ia maju dan berkata :

- Apakah harus sekarang juga Ki Ageng?

- Ya kau mau tunggu apalagi?

- Mirah Sekar .... .

- Jangan perdulikan dia! Akan ada yang mengurusnya! Hayolah! Atau aku paksa kau agar menurut? -

- Kau ikutlah dia! -

Mirah Sekar berkata seraya mengerling pada Sentanu yang menjadi heran melihat kemauan si gadis.

- Sekar, apa maumu? Kakang Taruna masih menunggumu, bagaimana kalau kakang Taruna tak berhasil menemukan kita tentu dia

- Jangan khawatir Adi Sentanu! Aku sudah tahu semuanya.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa yang dikenal olehnya. Maka ia girang karena yang datang dan berkata bukan lain adalah Taruna yang muncul sambil menyeret keranjang pikulannya.-

- Kakang Taruna!

Ia berseru dan menghamburkan diri, disusul oleh Mirah Sekar yang segera memeluk saudara tuanya.

- Ah Sekar, kau makin cantik saja.

- Kang Taruna, aku.... aku selalu memikirkan dirimu kang .........

Mirah Sekar terisak-isak dipangkuan Taruna yang tak dapat berkata2 setelah saudara perempuan itu merangkulnya sambil menangis.

- Ya sudahlah. Semua akhirnya berakhir dan kita bertemu pula. Kata Taruna.

- Dan semua ini berkat adimas Sentanu. Lalu Taruna menoleh dan berkata:

- Kau ikutlah Ki Ageng. Adi Sentanu! Tak akan salah langkahmu mengikuti dia!

- Ha...... ha ..... pinter juga kau Taruna. Kau memujiku agar mau membawa anak bodoh itu. Ha

...... ha tak usah kau berkata demikian jauh sebelumnya aku sudah mengincar.

- 0, maaf Ki Ageng. - Sahut Taruna. 

- Bukan maksudku hendak memujimu dengan mengharap sesuatu.

- He ....... . he...... aku percaya! Aku percaya padamu Taruna, siapa tidak tahu Taruna anak Tamponi yang jujur dan berbudi itu? Ah, jika aku mengingat ayahmu, hatiku menjadi sedih pula. Sudahlah! Hayo kita berangkat sekarang!

Sentanu menjadi ragu-ragu pula. Dilihatnya Mirah Sekar masih memandang padanya dengan tersenyum seakan ikut mendesak agar mengikuti Ki Ageng Semu.

- Ikutilah! .

Kata gadis itu pula.

- Kau melepasku Sekar?

Bertanya Sentanu bagai kanak kanak pada ibunya.

- Bodoh! Tentu saja dia akan ikut denganku! -

Tiba-tiba wanita yang dipanggil Nyi Maloka tadi berseru mendelik pada Sentanu.

- Benar itu Sekar?

Ia bertanya pula. Dan Mirah Sekar menoleh pada Taruna.

- Ikutlah kalian pada orang-orang tua ini, beruntung kalian-jika menuruti kemauannya. - Kata Taruna.

- Hatiku lebih tentram melepaskan ikut Nyi Ageng Maloka dari jika kau masih ada dalam tangan Kangmas Wilapribrata. Itulah Sekar, dan kau Adi Sentanu. Pada saatnya kita pasti masih akan bertemu.

- Hayo lekas! Kalian ini banyak omong. Nah selamat tinggal Nyi Ageng! Kita bertemu lain kali.

Ki Ageng Semu bergerak dan sebelum Sentanu tahu apa yang terjadi, ia merasa lengannya telah ditarik oleh orang tua itu dan tubuhnya segera terasa melayang berlari dengan cepat diseret Ki Ageng Semu.

Sementara itu Mirah Sekar tiba-tiba juga menjerit kaget ketika Nyi Ageng Malaka menarik tangannya dan berkelebat membawa gadis itu. Kedua orang tua itu berpisah mengambil jalan berbeda. Yang dalam sekejap keduanya telah hilang membawa kedua anak muda itu. 

Taruna termangu-mangu melihat kejadian itu. Namun dalam hati Taruna merasa girang mengetahui saudaranya kini telah benar terlepas dari cengkeraman Adipati Wilapribrata, bahkan bertemu dan diambil murid oleh Nyi Ageng Malaka yang ia ketahui adalah seorang tokoh sakti sejajar dengan Ki Ageng Semu yang membawa Sentanu.

- Keduanya beruntung!

Kata Taruna dalam hati. Karena Taruna tahu benar kedua orang tua itu adalah orang-orang yang tergolong berilmu tinggi, yang pada masa ayahnya Tamponi menjadi Adipati di Kedawung Banyuwangi, telah dikenal oleh Taruna dengan baik.

Malah Taruna pernah menyaksikan kehebatan kedua orang itu sewaktu mereka datang di 

Banyuwangi. Maka diam-diam ia merasa bersukur Mirah Sekar bertemu jodoh dengan Nyi Ageng Malaka. Hatinya gembira, dan tentu saja timbul pengharapan baru dalam benak Taruna. Maka dengan bergegas ia kembali pulang ke Pringsewu untuk memberitahukan khabar gembira itu.

Ki Ageng Semu dan Nyi Maloka sejak lama menjadi gelisah. Mereka ingin mempunyai murid yang memiliki bakat dan watak bagus. Sayang jika kepandaian yang dimiliki akan musnah begitu saja tanpa ada yang mewarisi. Maka berbulan-bulan kedua orang tua itu mengembara dari barat ketimur, keselatan dan utara mencari murid. Namun rupanya masih juga belum didapat yang dicarinya.

Baru ketika 'kedua orang tua itu melihat Sentanu dan Mirah Sekar, maka hanya dengan melihat sekilas, sebagai seorang yang banyak pengalaman serta mampu mengenal watak manusia, maka mudah saja kedua orang sakti itu mengenal Sentanu dan Mirah sebagai anak-anak muda yang berbakat dan memiliki dasar watak bersih.

Maka keduanya tanpa merasa ragu sedikitpun telah mengambil kedua anak muda itu sebagai murid dan membawa mereka ke pertapaan masing-masing.

Sentanu yang pada dasarnya telah memiliki pengetahuan dan kepandaian tidak mengalami banyak kesulitan menuntut ilmu dari Ki Ageng Semu. Namun akibatnya sungguh hebat. Dalam waktu singkat ia telah berhasil menyerap hampir seluruh kemampuan yang dimiliki gurunya. Kini ia telah berubah menjadi seorang muda yang bukan lagi seperti ketika belum bertemu dengan Ki Ageng Semu. Ia rajin dan tekun berlatih, sabar dan teliti dalam menimba ilmu dari gurunya yang bijaksana dan tahu mendidik anak itu.

Pada masa itu, sisa kerajaan Majapahit berada dalam kekuasaan Prabu Udara yang mengalami banyak pertempuran dalam usahanya mempertahankan negri yang mulai diancam keruntuhan akibat berontaknya para taklukan. '

Namun ancaman paling besar adalah timbulnya Kerajaan Demak yang dipegang oleh Pati Unus.

Sebab agak berbeda dengan ketika Raden Patah memegang kekuasaan, Pati Unus ternyata memusatkan perhatian besar guna menaklukkan Majapahit yang dianggapnya sebagai kerajaan kafir di Jawa. Pati Unus merencanakan untuk menghancurkan dua kerajaan kafir yakni Majapahit dan Pajajaran.

Pati Unus tahu benar bahwa Majapahitlah lawan terberat yang harus dihadapi. Maka kekuatan untuk itu disusun dengan lebih baik, lagi pula sekalipun Majapahit telah mulai terlihat lemah dan banyak mengalami kemunduran, akan tetapi Pati Unus tidak mudah begitu saja menghancurkan negri itu. Masih banyak terdapat orang kuat yang membentengi Majapahit dan Pajajaran. Tak sedikit terdapat orang-orang berilmu tinggi yang masih memihak Majapahit.

Namum demikian, Pati Unus didampingi oleh banyak orang-orangnya tak putusnya melakukan perundingan dan mencari siasat guna menghancurkan dua negri Majapahit dan Pajajaran itu. Pati Unus di bantu para punggawa Demak, seperti Pangeran Benawa, Sunan Prapen dan para tetua lain 

yang tidak ringan kepandaiannya.

Dalam pasewakan agung dihadapan Adipati Unus tengah terjadi perundingan dan perdebatan menarik ketika Sang Adipati memaparkan peristiwa yang baru saja dialaminya.

- Paman Sunan. -

Berkata Senapati kepada penasehat yang berada dekat disampingnya.

- Aku sesungguhnya tengah memikirkan peristiwa ganjil yang beberapa hari yang lalu kualami dalam mimpi.

- Mimpi apakah paduka Tuanku ? - Tanya Sunan Prapen.

- Katakan agar hamba dapat memberikan wawasan atas mimpi itu.

Untuk beberapa saat Baginda masih tidak mengutarakan akan mimpi itu. Hingga para senapati dan pembesar kraton lain juga terdiam, mereka menunggu apakah yang hendak dikatakan oleh Raja perihal mimpinya.

- Katakanlah Tuanku,

Desak Sunan Prapen ketika dilihatnya Baginda masih berdiam diri. Namun

- Tentu akan aku katakan paman Sunan- Akhirnya berkata Pati Unus

-Malam itu aku mimpi berada seorang diri di hutan perburuan, dengan menunggang kuda aku menerobos masuk hutan. Namun sewaktu telah jauh masuk kedalam itu, tiba-tiba timbul kebakaran dan api mengurung jalan keluar. Tentu saja aku menjadi bingung. Tetapi aneh! Tiba-tiba terbuka sebuah jalan lurus kearah timur yang tidak dijilat oleh api yang tengah membakar hutan. Maka tanpa berpikir panjang kudaku kularikan melewati jalan itu secepat-cepatnya. Dan selamatlah aku tiba dimulut keluar hutan, sementara dari jauh masih terlihat api membakar hutan sebelah sana.

Baginda berhenti sejenak. Yang mendengar tidak bergerak, mereka-dicengkam oleh perasaan ingin tahu bagaimana kelanjutan dari cerita itu.

- Namun akhirnya, paman. Sambung Baginda pula

- Ketika aku tiba dimulut keluar hutan itu, muncul Ki Ageng Semanding yang juga menunggang seekor kuda hitam tinggi besar dan gagah.

- Ki Ageng Semanding? -

Sunan Prapen bertanya dengan roman kaget.

- Ya, Ki Ageng Semanding. - Jawab Baginda.

- Lalu bagaimana Tuanku ? 

Yang lain memasang telinga dengan lebih tajam. Mereka tadi terkejut mendengar Pati Unus menyebut nama Ki Ageng Semanding.

Sebab siapa yang tidak kenal dengan nama itu?

Ki Ageng Semanding adalah seorang sakti yang cukup ditakuti oleh Demak. Hanya karena adanya orang itulah Demak masih belum dapat melumpuhkan perlawanan dan pemberontakan Majapahit.

- Seperti paman ketahui. Lanjut Baginda pula.

- Ki Ageng Semanding tentu akan tidak tinggal diam bertemu denganku. Ketika itu hatiku telah merasa kaget dan cemas, lebih-lebih ketika Ki Ageng Semanding tiba-tiba menyerang dengan mengeluarkan sebuah senjata yang aneh. Namun ketika keris pusaka yang kupergunakan menangkis serangan itu kutung dan hancur oleh serangan Ki Ageng Semanding, aku semakin menjadi terkejut.

Akan tetapi orang tua itu tiba-tiba pula menyerang dengan kesaktiannya, senjata yang dipegangnya menyala mengeluarkan api yang membakar dan menjilat tubuhku. Maka karena merasa tidak mampu melawan, aku bedal kuda dan melarikan diri kabur kearah selatan. ' 

Sejenak baginda berdiam pula menahan nafas mengingat mimpi yang menegangkan perasaan itu.

Sesudah berdiam demikian baginda melanjutkan pula :

- Namun ternyata Ki Ageng Semanding mengejar dengan kudanya, dan lari binatang itu agaknya lebih cepat dari kuda tungganganku, sehingga tidak lama segera tersusul oleh orang tua itu segera masih mengancam hendak membunuhku. Namun sudah barang tentu aku tak akan menyerah kepadanya. Kudaku terus kularikan, kearah selatan menembus hutan dan turun naik pegunungan.

Tetapi betapa terperanjat ketika aku sadar, bahwa aku telah lari sampai puluhan pal dan didepanku terbentang laut kidul yang bergelora. Tak ada lagi jalan untuk menyelamatkan diri. Sedang Ki Ageng Semanding telah dekat dan tanpa banyak bicara ia terus menyerang dengan senjatanya kearahku. '

Tanpa sadar tiba-tiba mulutku berseru :

- Tolong! ...... Dan aneh! Tiba-tiba dari arah laut kidul muncul seorang anak muda menunggang kuda berwarna putih membawa sepasang pedang. Melihat kepadaku sambil anak muda itu berkata. Jangan khawatir, hamba datang menolong tuanku. Lalu diserangnya Ki Ageng Semanding dengan hebat. Dan ternyatalah anak muda yang baru muncul itu tidak mendapat perlawanan yang berarti, karena Ki Ageng Semanding yang terkenal sakti mandraguna roboh tertembus pedang anak muda itu. Melihat Ki Ageng Semanding tewas aku bersorak gembira, lalu kudekati anak muda itu. Terima kasih anak muda! -Tegurku Siapakah namamu dan darimana pula asalmu ? Namun anak muda gagah dan tampan itu hanya tertawa dan menjawab pendek :

- Nama hamba adalah anak angin dan api, Gusti. Dan kalau Gusti bertanya akan asal, hamba berasal dari tanah Sigaluh di Pakuan. Sesudah menjawab, anak muda itu tiba-tiba loncat dan berlari 

dengan kudanya masuk kedalam laut kidul dan lenyap disana. Ketika itulah aku terbangun.

Baginda mengakhiri kisahnya. Sunan Prapen yang mendengar dengan sepenuh perhatian termenung beberapa saat. Yang lainpun masih berdiam diri. Tak satupun membuka mulut. Mereka menunggu apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh Baginda.

- Paman Sunan yang waskitha. Kata Pati Unus kemudian.

-Terangkan kepadaku makna dari mimpi itu paman! Dan apakah kiranya mempunyai ilapat buruk bagi Demak atau sebaliknya memberikan pertanda bakal timbulnya kemenangan. Katakanlah paman Sunan !

Sunan Prapen tertawa kecil. Dan kini semua mata memandang kepada orang tua itu. Sebab mereka tahu Sunan Prapen adalah penasehat agung dan seorang yang berdiri dibelakang Pati Unus sebagai penasehat dan sesepuh.

- Ah, tuanku terlalu memberati perasaanku dengan pertanyaan itu. Namun baiklah, aku akan mencoba mengutarakan apa-apa yang dapat kutangkap dari mimpi tuanku itu.

- Menurut perhitungan paman, mimpi itu memberikan pertanda bahwa kini Majapahit telah semakin bertambah kuat dan siap menyerang Demak. Namun seperti kita sekalian telah mengetahui, dibelakang mereka itu terdapat banyak orang-orang tua sakti dan berilmu tinggi, diantaranya adalah Ki Ageng Semanding, Maka hanya seorang inilah yang akan sukar dijatuhkan oleh kita. Bahkan kita akan banyak mengalami banyak kekalahan dan korban akan berjatuhan.

- Tetapi tuanku, Demak akan dapat memperoleh kemenangan jika tuanku bisa berhasil mendapatkan anak muda yang bertemu dalam mimpi tuanku itu. Hanya olehnya saja Ki Ageng Semanding akan jatuh dan seluruh kadipaten di timur dan Majapahit akan takluk kepada kekuasaan tuanku di bumi Demak.

- Tetapi, kemana akan dapat dicari anak muda itu? -

Baginda menjadi kecewa. - Tidak dapatkah paman Sunan memberikan keterangan dimana adanya anak muda itu? Apakah benar dia ada di alam kita ini? Karena aku hanya bertemu dalam mimpi paman !

- 0ho, tuanku tentu masih ingat. Apa yang terjadi dalam mimpi kerapkali merupakan pertanda yang menunjukkan barang wujud sebenarnya.

- Bagus paman! Kalau demikian, paman tentu mengetahui dimana adanya anak muda itu.Katakanlah paman Sunan,agar cepat kita perintahkan para prajurit memanggilnya menghadap Demak.

- Ampun tuanku. -

Sembah Sunan Prapen dengan terkejut. 

- Tentu saja paman hanya dapat mengatakan anak muda itu benar ada. Tetapi untuk dapat menunjukkan secara gamblang dimana adanya, adalah suatu dosa dan kesalahan besar. Kita tidak diperkenankan mendahului kehendak Yang Maha Agung dengan membukakan halhal yang menurut kehendak-Nya masih harus tertutup. Jadi mohon ampun tuanku, tetapi dapat hamba tunjukkan jalan, tuanku dapat memberikan kesempatan kepada anak-anak muda diseluruh telatah Demak untuk masuk menjadi prajurit tamtama. Dengan cara itu tuan ku akan dapat bertemu dengan anak muda yang tuanku temui dalam mimpi itu. .

- Bagus! .

Baginda melonjak gembira.Lalu Baginda menoleh kepada Panglima prajurit Santa Guna dan bersabda :

- He, Santa Guna ! Kau dengar itu? Perintahkan kepada seluruh kepala prajurit untuk mengundangkan perintahku agar diadakan pemilihan prajurit dan sayembara untuk seluruh anak muda di Demak masuk menjadi prajurit.

Namun Panglima itu maju dan berkata;

- Ampun tuanku, hamba merasa tindakan itu tidak perlu dilakukan. Karena hamba telah mengetahui dimana adanya anak muda yang tuanku kehendaki itu.

- He, Santa Guna! Benarkah katamu? - Baginda bertanya dengan heran.

- Benar tuanku, dia adalah anak menantu hamba sendiri Bagus Prana. Karena anak hamba itu gemar mempergunakan sepasang pedang, dan lagi ia cukup berilmu tinggi. -

Pangeran Benawa mendengar penuturan Santa Guna demikian, jadi tawa :

- Eh, Santa Guna! kau jangan ngaco seenakmu sendiri! Siapa bilang anak mantumu. Bagm Prana itu adalah anak muda yang di temui Baginda. Kau gegabah Santa Guna !

Santa Guna pucat ditegur oleh Pangeran Benawa demikian itu. Namun sesungguhnya Santa Guna telah lama memendam niat hendak menonjolkan anak mantunya. Santa Guna adalah Tumenggung tinggi hati dan sombong. Hatinya lebih banyak berwarna dengan kedengkian dan kejahatan. Hatinya culas bukan main. Namun karena Tumenggung ini tergolong berilmu tinggi dan berjasa, maka ia menjadi seorang yang disegani. Namun ditegur oleh Pangeran Benawa, maka ia berani membantah.

Akan tetapi sebelum ia berkata lebih lanjut, Baginda Pati Unus telah berkata pula :

- He, Santa Guna! Kalau benar apa yang kau katakan itu. Panggillah anak mantumu untuk menghadap kemari! Aku ingin melihatnya !

Tanpa menunggu diperintah duakali. tumenggung Santa Guna mohon diri lalu memerintahkan pengawalnya yang menunggu dibangsal depan dengan para prajurit pengawal yang lain. 

- Kau panggil anakku Bagus Prana kemari. Lekas! Baginda hendak bertemu. Perintahkan agar ia membawa lengkap pakaian perang dan sepasang senjatanya.

Prajurit itu segera melaksanakan perintah Tumenggung Santa Guna. Bergegas menunggang kuda menuju istana Katumenggungan dan memanggil Bagus Prana untuk datang menghadap di pasewakan.

Tidak lama prajurit itu telah kembali bersama Bagus Prana menghadap.

- Inikah anak menantumu itu Santa Guna? -

Baginda bertanya seraya mengerutkan kening menatap tajam-tajam anak muda yang tengah menunduk dihadapannya.

- Itulah anak hamba yang hamba katakan itu tuanku. Jawab Santa Guna.

Baginda tidak mengucapkan sepatah kata pula. Benar agak mirip roman muka Bagus Prana dengan pemuda yang ditemui dalam mimpi, akan tetapi ada gerak-gerik yang amat berbeda ketika Baginda memperhatikan Bagus Prana datang masuk tadi. Hati kecil Pati Unus merasa bukan Bagus Prana yang ditemui dalam mimpi. Maka Baginda menoleh pada Sunan Prapen yang sejak tadi masih berdiam diri melihat kelakukan Tumenggung Santa Guna.

-Paman Sunan? Benarkah anak ini yang kita cari?-

Sunan Prapen tersenyum. Lalu melirik kearah Tumenggung santa Guna dan berkata :

- Tentu saja hamba belum dapat memastikan apakah benar dia orangnya, tuanku. Tetapi sebaiknya perintah tuan ini untuk mengumpulkan anak anak muda masuk menjadi prajurit tetap dijalankan. --

Baginda terdiam. Dalam hati sependapat dengan perkataan Sunan Prapen yang dipercaya. Maka berkatalah Pati Unus sesudahnya menimbang nimbang beberapa saat.

- Baiklah Santa Guna, aku terima anak menantumu untuk tetap berada dalam pasukan istana.

Tetapi tetaplah kau jalankan perintahku untuk mengumpulkan anak-anak muda di Demak agar masuk menjadi prajurit dengan sayembara. Baik buruknya kupasrahkan kepadamu, Santa Guna! Nah kau kini kuperkenankan untuk keluar menjalankan perintah ini!

Tumenggung Santa Guna merah mukanya. Ia tahu Baginda tidak mempercayai anak mantunya.

Namun ketika Pati Unus telah mengeluarkan perintah padanya. tumenggung itu tak dapat membantah pula.

Segera ia bertindak keluar diikuti anak menantu Bagus Prana.

Namun Tumenggung yang licik ini segera berunding dengan anak anaknya untuk memperdayai Baginda manakala benar ada anak muda yang dikatakan itu.

- Kita sembunyikan atau kita bunuh anak itu jika benar ia ada dan datang. 

Kata Santa Guna pada anak mantunya.

Sementara itu di kraton sepeninggal Tumenggung Santa Guna, terjadi kegemparan yang menimbulkan kekagetan semua yang hadir dalam pisowanan.

Dua orang prajurit pengawal masuk membawa seorang lakilaki yang mukanya tertutup oleh kain hitam. Hanya dua lobang kecil pada mata saja membuat orang itu dapat melihat sekelilingnya.

- He, apa ini?!

Baginda berseru dengan amat heran. Namun lebih terperanjat lagi ketika Baginda perintahkan membuka tutup muka orang itu, ternyata adalah seorang prajurit utusan yang mukanya hancur bekas dicacah dengan senjata tajam, rusak dan mengerikan. Namun ketika diperhatikan, ternyata cacahan pada muka orang itu berujud tulisan penantang perang dan ' penghinaan pada Pati Unus di Demak.

Orang itu kemudian menuturkan bahwa dia sedang dalam perjalanan membawa sepasukan prajurit membawa upeti untuk Pati unus. Namun ditengah perjalanan dibegal oleh orang-orang Majapahit dan mukanya dicacah hancur oleh Ki Ageng Semanding dengan tulisan penantang perang dan penghinaan dengan kata-kata kotor. '

- Kurang ajar! Benar sombong mereka! Pati Unus menjadi geram dan meradang.

- Kita hancurkan mereka. Hayo perintahkan tentara kita untuk menyerang mereka sebelum mereka sendiri berhasil memerangi kita!

Lalu Pati Unus perintahkan memberi hadiah pada orang yang dicacah mukanya itu dan memerintahkan merawatnya.

- Tetapi untuk memimpin angkatan perang menumpas lawan tuanku harus memilih seorang panglima terlebih dahulu.

Kata Pangeran Benawa. itu. - Benar! Benar yang Adimas Benawa-katakan. - Mungkin Tumenggung Toja Reka pantas untuk

Bisik Pangeran itu pula

Pati Unus mengerutkan kening. Tumenggung Toja Reka memang seorang ksatria pilih tanding dan telah banyak memperlihatkan kemampuan dalam banyak pertempuran melawan musuh. Jadi Pandangan Pangeran Benawa tidak terlalu meleset. Cuma Baginda meragukan mengingat usia Tumenggung Toja Reka sudah berangkat lanjut.

Agaknya Pangeran Benawa tahu dengan apa yang dipikirkan oleh Pati Unus. Maka pangeran itu berkata :

- Tentu saja tuanku dapat menanyakan kepada paman Toja Reka, apakah dia masih mampu untuk menerima kuwajiban yang tidak ringan ini. - 

Untuk beberapa saat Pati Unus tidak menjawab, namun kemudian seraya menoleh kepada Tumenggung Toja Reka baginda berkata perlahan :

- Pilihanmu tidak meleset Adimas Benawa, tetapi Kakang Tumenggung Toja Reka tentunya akan berkeberatan memikul kuwajiban ini. Bukankah demikian paman? Maka aku menjaminkan pilihan pada Kakang Aria Teja untuk menjadi Panglima perang menyerang Majapahit.

Tiba-tiba Tumenggung Toja Reka maju dan berkata :

- Ampun tuanku. sesungguhnya hamba kurang berani berbuat lancang ini. Tetapi agaknya jika hanya mengemban kuwajiban memimpin barisan Demak menumpas kaum kafir, hamba masih merasa sanggup.

Baginda melengak. Tak diduga Tumenggung Toja Reka akan berkata demikian.

- Terima kasih Kakang Toja Reka, tetapi bagaimana dengan Kakang Aria Teja sendiri? Terlanjur perintah telah dijatuhkan. -

Toja Reka terdiam. Namun diam-diam hatinya panas. Karena sesungguhnya kedua Tumenggung itu sejak lama telah memendam rasa bersaing.

Namun ketika inilah tiba-tiba Sunan Prapen menyahut berkata :

- Tuanku, kedua calon panglima memang sama-sama memiliki kemampuan yang dapat diandalkan. Apakah tidak seyogyanya Tuanku memberikan keputusan dengan mengadakan sayembara kecil untuk keduanya?

Pati Unus mengangguk. Jelas pendapat Sunan Prapen adalah jalan tengah yang bagus dan tepat. Sebab dengan demikian, tak akan ada yang merasa sakit hati atau tak puas. Dan kepada Pangeran Benawa yang mencalonkan Toja Reka, Pati Unus tak akan terlalu sungkan.

- Baik, kuterima pendapat Paman Sunan. Kini kuberikan kesempatan kepada Kakang Tumenggung Toja Reka dan Kakang Aria Teja untuk mengangkat tombak pusaka Jalak Diding, Barang siapa yang dapat melakukan maka dialah yang berhak menjadi panglima perang.

- Baik, kuterima pendapat Paman Sunan. Kini kami persilahkan Kakang Toja Reka dan Aria Teja.

Barang siapa berhasil membawa Tombak Pusaka Kiai Jalak Diding memutar ruangan ini lima kali, maka dialah yang berhak memangku kuwajiban sebagai panglima perang ini. -

Kedua tumenggung itu menyatakan kesediaannya. Dan Pati Unus memerintahkan lima orang kepala pengawal untuk mengambil tombak itu di gedung pusaka.

Tombak Pusaka Kiai Jalak Diding, adalah tombak pusaka peninggalan yang diperolehnya dari rampasan dalam peperangan. Tombak itu hanya dua depa panjang, namun beratnya luar biasa.

Sehingga kelima kepala pengawal yang diperintahkan mengambil terpaksa harus berkeringat mengangkat tombak pusaka itu.

- Silahkan Kakang Aria Teja!

Baginda memberi tanda Aria Teja agar mengangkatnya terlebih dahulu. 

Aria Teja meloncat maju sesudahnya memberi hormat Baginda, kemudian memandang tombak pusaka yang diletakkan diatas lantai. Hatinya berdebar keras. Bagaimanapun tombak pusaka itu bukan sembarang tombak. Karena setiap kali ada pemilihan kepala pengawal tentulah tombak itu dikeluarkan guna menguji kekuatan prajurit dan sesuai dengan tingkatan yang dikehendaki. maka mereka hanya diberikan kesempatan mengangkat sekali atau dua kali. Namun kali ini bukan hanya mengangkat saja bahkan harus membawanya mengelilingi ruangan pasewakan yang luas dengan dilihat banyak punggawa kraton dan tokoh-tokoh yang tidak ringan.

Aria Teja mencoba menenangkan hatinya yang berdebaran. Ia berusaha memusatkan pikir dan kekuatannya. Lalu dipegangnya tombak pusaka yang terasa dingin itu. Aria Teja kemudian mengangkat perlahan dengan kedua tangan. Sekilan dari lantai, tombak itu telah terangkat. Lalu Aria Teja mengangkat lebih tinggi, dan kemudian dengan tiba-tiba tombak itu diangkat tinggi-tinggi diatas kepalanya. Terlihat Tumenggung itu merah mukanya dan lehernya nampak menegang.

Yang melihat tak kurang berdebar hatinya menyaksikan kekuatan Aria Teja itu. Namun mereka menahan nafas. Sampai kapan Aria Teja akan mampu menahan berat tombak pusaka itu?

Namun semua menunggu dan memperhatikan seraya tak berkedip sedikitpun.

Selangkah Aria Teja telah mengerakkan kaki. Dua langkah menyusul. kemudian tiba-tiba ia maju dan berjalan mengelilingi ruangan pasewakan seraya masih mengangkat tombak pusaka Kiai Jalak Diding diatas kepalanya.

Yang menyaksikan pertunjukan kekuatan itu menahan napas benar. Satu kali, Aria Teja berhasil melewati keliling ruangan. Dua kali ia masih mampu membawa tombak pusaka itu diatas kepalanya.

Akan tetapi kini tombak itu nampak terlihat turun dan hampir menyentuh kepalanya, sedang langkah kaki Aria Teja nampak bergetar sedikit. Namun Aria Teja tak terlihat ingin menyerah. Ia pejamkan mata beberapa saat, kemudian dengan langkah tetap, sekalipun tombak telah hampir menempel pada kepalanya, namun ia akhirnya berhasil melangkah pada hitungan keempat. Muka tumenggung itu kini benar-benar telah merah dan keringat mulai terlihat membasahi kening. -

Tinggal satu langkah maka ia akan menjadi pemenang dalam sayembara untuk kemudian memangku kuwajiban sebagai panglima perang.

Tumenggung Aria Teja agaknya menyadari bahwa tombak itu bukan lagi mainan. Sebab sekalipun ia berhasil membawanya keliling ruangan lima kali, namun pada langkah terakhir saat ia berhenti. membutuhkan tenaga tersendiri untuk menurunkan tombak pusaka itu dari atas kepalanya. Kalau tidak, maka dapat dipastikan ia akan terbanting oleh beratnya tombak Kiai Jalak Diding itu.

Maka mengingat demikian, Aria Teja tidak melangkah dengan gegabah. Ia perhitungkan setiap langkah kakinya dengan hati-hati diselaraskan dengan jalan nafas yang mulai mendesak keatas dada.

Pada akhirnya Aria Teja berhasil membawa senjata itu lima kali memutari ruang pasewakan 

agung. Dan ketika tenaga terakhir ia kerahkan dengan menurunkan pusaka itu perlahan dan hati-hati ketempatnya semula. Aria Teja berhasil meletakkan tombak pusaka itu dengan tepat ditempat semula tanpa kurang suatu apapun, maka terdengar desahan napas lega dari yang menyaksikan.

Aria Teja kemudian mundur dan tanpa banyak berkata-kata ia kembali duduk ditempat semula seraya kemudian ia mengatur napas dan ketenangan batinnya yang terpengaruh hebat akibat perjuangan yang tidak ringan itu.

Namun Pati Unus tidak berubah sedikitpun wajahnya. Sesudahnya Aria Teja meletakkan Kiai Jalak Diding ditempatnya, Baginda memberi tanda agar Tumenggung Toja Reka maju dan mengangkat tombak itu pula.

Dengan tertawa Tumenggung Toja Reka maju, didekatinya tombak pusaka itu. Namun berbeda dengan Aria Teja, Teja Reka tiba tiba saja mengangkat senjata pusaka itu dan menirukan gerakan Aria Teja tadi ia bawa keatas kepala. Lalu dengan langkah cepat ia bawa tomba pusaka itu keliling ruang pasewakan. Langkahnya tetap dan nampaknya tak akan ada kesulitan sedikitpun.

Melihat itu yang menyaksikan bertambah kagum. Berbeda dengan Aria Teja, yang melangkah dengan hati-hati. Tumenggung Toja Reka menggerakkan kaki secara cepat dan mantap.

Tiga langkah telah berhasil ia lakukan, sedikitpun tidak terlihat muka yang memerah. Dan Tumenggung Toja Reka terus melangkah membawa tombak Jalak Diding itu.

Namun pada langkah keempat ketika baru saja setengah ruangan ia jalani, tibatiba tangannya gemetar hebat, dan tak dapat dicegah, tiba-tiba Tumenggung Toja Reka roboh terguling dan muntah darah, sedang tombak Jalak Diding jatuh berdentang di lantai hingga lantai itu hancur berlubang tertimpa senjata pusaka luar biasa yang beratnya hampir seratus kati itu.

Tiga prajurit loncat maju menolong Tumenggung Toja Reka yang muntah darah, kemudian mengangkatnya mundur dari ruangan.

- Kakang Aria Teja, kau cerdik! -

Terdengar Pati Unus berseru memuji. Dan beberapa tokoh yang ada disitu juga memuji kecerdikan Aria Teja. Sebab menilik kekuatan yang dimiliki kedua tumenggung itu, sebenarnyalah Tumenggung Toja Reka menang setingkat dari Aria Teja. Namun akibat pengerahan kekuatan yang tiba-tiba dan tidak dikendalikan serta tanpa kontrol membuat Tumenggung Teja Reka terperas tenaganya hingga pada titik puncak pengerahan itu ia tak dapat lagi menahan berat tombak Pusaka Kiai Jalak Diding hingga roboh terjungkal dan muntah darah.

Berbeda dengan Aria Teja, ia menyadari kekuatan dirinya maka Aria Teja menghemat tenaga dan membuat gerakan teratur, namun berhasil melangkah sampai hitungan kelima berakhir keliling ruangan.

Pati Unus merasa kerepotan menghadapi perlawanan Majapahit. Sebab Ki Ageng Semanding ternyata berpengaruh dan menjadi biang timbulnya kekuatan. Dan Pati Unus masih harus berpikir 

keras untuk dapat menguasai Majapahit karena disana banyak terdapat orang-orang pandai yang membantu dan kekuatan bergabung mereka tidak dapat dipandang ringan.

Diantara orang-orang pandai yang memihak dan membantu terdapat seorang tokoh tua yang telah dikenal oleh hampir seluruh tanah Jawa, yakni yang di disebut Ki Ageng Semanding. Ki Ageng Semanding adalah seorang yang bukan lagi rendah ilmu dan kemampuannya. Di seluruh wilayah, Ki Ageng Semanding adalah tokoh tua yang ditakuti, disamping ilmunya telah mencapai tingkatan sukar diukur, juga mempunyai kebiasaan bengis dan kejam. Orang tua ini berdarah dingin, membunuh baginya bukan suatu hal yang sukar. Dan melihat nyawa orang lain melayang seakan adalah merupakan santapan nikmat buat Ki Ageng Semanding ini.

Jika ditilik dari riwayat mereka semasa mudanya, Ki Ageng masih terhitung bersaudara dengan Ki Ageng Semu dan Nyi Ageng Maloka. Mereka adalah saudara seperguruan. Namun hanya karena bertentangan pendapat sajalah orang-orang tua itu harus berpisah dan bersebrangan dalam cara hidup dan perbuatannya.

Ki Ageng Semanding membentengi Majapahit dan Adipati tlatah timur dalam pemberontakannya melawan Demak. Dan yang membuat Pati Unus mesih belum berhasil menaklukkan Majapahit antara lain juga dikarenakan kehebatan Ki Ageng Semanding.

Berkali-kali Pati Unus telah mengirim tentara untuk menghancurkan Majapahit, namun selalu penyerangan itu berhasil dilumpuhkan oleh murid-murid Ki Ageng Semanding hingga tenpaksalah Pati Unus mencari daya dan muslihat untuk dapatnya melumpuhkan pusat kekuatan lawan.

Dalam pada itu Tumenggung Santa Guna yang diperintahkan untuk mengumpulkan anak muda di Demak agar masuk menjadi prajurit tamtama guna menambah kekuatan untuk menggempur Majapahit di timur, masih belum hilang mendongkol dan rasa tidak puasnya atas keputusan itu.

Tumenggung Santa Guna yang tidak berhasil menempatkan anak mantunya Bagus Prana. sebagai calon panglima yang dicari Pati Unus, masih belum juga kehabisan akal untuk tetap memberikan kekuasaan tinggi pada anak mantu itu. Dan ketika oleh Santa Guna disanggupi untuk mencari adanya seorang pemuda yang pernah ditemui dalam mimpi sebagai ksatria yang digariskan untuk memberikan kemenangan pada Demak atas tlatah timur, memutar akal untuk menghalangi hal itu jika benar anak muda itu ada dan datang.

Ratusan rakyat dan kaum muda datang berbondong-bondong menghadap Tumenggung Santa Guna untuk menyumbangkan tenaga sebagai prajurit. Dan dengan dibantu para pengawal serta anak mantunya Bagus Prana, Tumenggung Santa Guna menjadi sibuk menerima para kaum muda Demak yang bersedia menjadi prajurit tamtama itu.

Satu demi satu mereka diuji dan dijajal kemampuannya. Yang kemudian ternyata tidak mampu berbuat sebagai seorang prajurit layaknya, terpaksa harus menyingkir atau gugur dalam arena adu senjata menghadapi lawan-lawannya. ***** 

Sementara itu Sentanu yang mengikuti Ki Ageng Semu telah menjalani tapa brata selama tiga setengah tahun dan selama itu ia telah berubah banyak. Dan bertepatan dengan ketika itulah maka Tumenggung Santa Guna tengah sibuk menerima kaum muda Demak untuk masuk menjadi prajurit tamtama.

- Sentanu.

Berkata Ki Ageng Semu pada muridnya.

- Agaknya kini telah tiba saatnya bagimu untuk kembali turun kealam ramai. Aku yakin dengan bekal kepandaian yang telah kau miliki sekarang, kau akan lebih mampu menjaga diri sendiri dan juga kiranya bukan satu kesombongan jika kukatakan kaupun mampu melindungi lain orang dengan kepandaian yang telah kau peroleh. Tetapi, berhati-hatilah kau menghadapi perasaan sendiri. Karena kerapkali perasaan dan diri sendiri menjadi musuh yang tak terlawan. Musuh berbahaya itu adalah nafsu yang turut mengalir dalam darah dan rasamu. Sebab musuh itulah paling berbahaya bagimu.

Karena ia akan selalu menyamar dan mengelabui sehingga bisa jadi tidak terlihat dan kau akan terjerumus jika tidak mampu menguasainya.

- Betapapun kau tinggi Sentanu, namun jika tak mampu menguasai musuh yang ada dalam dirimu sendiri itu, maka belum dapat kau menyebut dirimu makhluk yang berderajat tinggi. Jadi kita kenalilah diri sendiri dan kenalilah musuh dalam dada sendiri itu. Dia harus dilawan jika

menyesatkan, namun turutilah jika ia mengajak pada kebajikan dan keluhuran.

- Dan satu rahasia yang harus kau ketahui, untuk melawan nafsu dalam diri sendiri senjatanya bukan semata harus berada pada akal. Tetapi ia hanya akan tunduk dengan senjata perasaan yang murni. Akal tak akan mampu membendung nafsu dalam dada manusia. Tetapi jika kau selalu memelihara perasaan-perasaan bersih dan murni, maka nafsu jahat akan luluh bagai malam kena api. Dia akan melawan dan makin garang jika dilawan dengan akal tanpa perasaan. Namun sebaliknya akan luluh dalam genggaman rasa dan pikir yang bersamaan harus ditimbulkan dalam dirimu.

Ingatlah hal itu, karena'seribu mata pedang bisa dilawan dengan mudah, namun musuh yang terdapat dalam dada sendiri lebih sulit memeranginya. .

Sentanu mengangguk-angguk mendengar penuturan. gurunya. Dalam hati ia berjanji hendak mentaati nasehat sang guru. Dan kini agaknya tiba saat baginya untuk meninggalkan guru dan berpisah kembali. Sesungguhnya ia masih harus belajar lebih lama pula namun karena Sentanu terlalu memikirkan nasib Taruna yang pernah menjadi penolongnya, lagi pula ia telah berjanji membebaskan prajurit Wanabaya dari Adipati Wilapribrata, maka tak ada pilihan baginya selain minta ijin gurunya untuk turun gunung.

Ketika ia hendak berangkat itulah Ki Ageng Semu banyak-banyak memberikan petuah dan nasehat padanya. Juga dikatakan oleh Ki Ageng 

- Kau berhati-hatilah dalam mengarungi luasnya alam yang keras dan tak mengenai perilaku mementingkan diri sendiri. Kini Demak tengah dalam rencana penyerangan ke tlatah timur, kau dapat menimbang sendiri apa yang pantas kau lakukan. Aku sendiri tidak terlalu perduli dengan soal-soal yang menyangkut negri dan pemerintahan. Aku menganggapnya persoalan itu terlalu banyak dikotori oleh tingkah dan laku manusia sendiri. Tipu menipu dengan berbagai muslihat tentu terjadi dalam urusan pemerintahan, perebutan kekuasaan, saling ingin mempengaruhi satu terhadap yang lain.

Namun, aku melihat pada dirimu terjadi lain dengan keadaan yang kualami. Agaknya kau sengaja dilahirkan oleh Yang Maha Kuasa kealam ini adalah untuk mengemban kuwajiban menjadi hamba Ratu. Maka aku tidak melarangmu untuk berbuat apapun sepanjang ia masih pada jalan kebenaran dan kesucian. Hanya aku dapat memberikan ancar-ancar, kau pergilah ke Demak, disana sedang dibutuhkan banyak tenaga muda untuk membela kepentingan kedaulatan yang terlanjur robek oleh peperangan. Dan kau bisa memilih langkah yang paling kau anggap benar. Namun aku bisa memberikan sedikit arah, temuilah Tumenggung Santa Guna yang kini tengah menjalankan penerimaan tenaga muda sepertimu. Tetapi kau bersabarlah jika menghadapi kesukaran dan kepahitan. Karena jalan pada kemuliaan 'dan citacita harus dibayar dengan pengorbanan. Sangat bodoh sekali orang mengharap kemuliaan tanpa mau membelinya dengan beaya dan pengorbanan. Nah, kau berangkatlah. aku akan selalu berada dekat denganmu. Semoga kau menemui jalan terpendek untuk menerima apa-apa yang telah digariskan untuk menjadi hakmu.

Bersamaan dengan itu Tumenggung Santa Guna masih sibuk dengan persiapan dan penelitian atas prajurit-prajurit yang hendak diberangkatkan dan penerimaan anak-anak muda yang menginginkan menjadi prajurit tamtama masih berjalan dengan menguji mereka.

Oleh Tumenggung Santa Guna telah disiapkan orang-orang yang harus menguji kemampuan setiap yang masuk. Dan manakala tak mampu mengalahkan beberapa gebrakan kepada orang-orang yang mengujinya maka gugurlah pelamar prajurit itu.

Pada suatu ketika Tumenggung Santa Guna dikejutkan oleh munculnya seorang pemuda tampan yang terlihat membawa sepasang pedang. Gerek gerik anak muda yang masuk kedalam gedung penerimaan prajurit tamtama itu menarik perhatian para prajurit lain. Dan sorot mata orang itu ternyata menimbulkan berbagai tingkah diantara mereka

- Siapakah -dia menurut pikirmu? - Tanya salah seorang.

- Siapa dia? Kau aneh, tentu saja aku belum tahu. - Sahut yang lainnya. 

-Eh kau lihat tentu ia akan mudah diterima oleh Gusti Tumenggung -

Sentanu tidak terlalu memperdulikan suara-suara yang menyebut nyebut dirinya. Ia terus melangkah maju mendekati tempat Tumenggung Santa Guna berada dengan Orang-orangnya memeriksa calon-calon prajurit tamtama yang berbondong-bondong datang dari berbagai tempat. Macam-macam tingkah dan sikap mereka ketika menghadap dan menunggu giliran dipanggil untuk diuji kemampuannya.

Tumenggung Santa Guna terkejut melihat munculnya anak muda yang menarik perhatian banyak orang itu. Tumenggung ini merasa benar anak muda itu beroman agung dan berwibawa sorot matanya amat hebat dan membuat yang melihatnya terpaksa harus menunduk dengan segan. Dan sekalipun tubuh anak muda itu hanya dibungkus oleh sebuah pakaian sederhana, namun ketika berjalan mendekati Tumenggung Santa Guna para prajurit tanpa sadar telah menyingkir memberi jalan sehingga anak muda itu tidak harus berdesakan seperti lainnya.

Sesudah tiba ditempat Tumenggung. anak muda itu membungkuk memberi hormat.

- Eh apakah kau hendak mengikuti ujian kali ini? -

Bertanya Tumenggung itu dengan mata tidak berkedip. Diam-diam hatinya merasa kagum melihat bentuk tubuh dan sikap anak muda yang nampak agung dan berwibawa itu.

Orang itupun kembali membungkuk lalu berkata :

- Begitulah Gusti. hamba ingin hendak turut menyumbangkan tenaga hamba untuk kejayaan kerajaan Tuanku Pati Unus.

- Kau menginginkan menjadi prajurit tamtama? --.

- Benar Gusti.

- Bagus, kau tentu dapat diterima. Tetapi siapakah namamu anak muda? Tanya Tumenggung Santa Guna dengan penuh perhatian.

- Dan kau berasal dari mana?

- Hamba, nama hamba Sentanu berasal dari tanah Sigaluh.

Santa Guna ingat Sunan Prapen yang membukakan rahasia mimpi Pati Unus seperti dikatakan Sunan Prapen dalam pisowanan dulu hari bahwa anak muda yang ditemui Pati Unus mempergunakan sepasang pedang yang kini nampak dibalik punggung anak muda yang ada didepannya itu.

Dengan demikian, karena Tumenggung Santa Guna cukup memaklumi kehebatan Sunan Prapen sebgai seorang waskitha yang mumpuni maka sudah tentu saja jika anak muda itu ia terima maka Tumenggung merasa kehilangan kewibawaan dan tak akan memperoleh jasa. Lagi pula terlanjur pernah mengajukan anak sendiri Bagus Prana sebagai itu orang yang dicari. Maka segera terlintas satu keputuan dalam kepala Tumenggung itu, maka ia panggil Sentanu untuk lebih mendekat, lalu berkata :

- Eh. siapa namamu tadi? 

Sentanu heran ditanya demikian, namun ia menjawab juga :

- Hamba katakan Sentanu gusti!

- Ah. itulah sayang! Sayang sekali! -

Kata Santa Guna seraya menggoyang-goyang tangan dimuka dadanya. - Namamu menunjukkan kau bukan dari keturunan kawula Demak. Sedangkan yang kami cari adalah kawula Demak saja, anak muda!

Sentanu menjadi kaget. Tak diduganya jawaban Tumenggung itu akan demikian. Namun karena Sentanu terlanjur menerima mandat gurunya untuk masuk ke Demak maka ia masih mencoba berkata pula:

- Mungkin benar hamba bukan keturunan langsung kawula Demak. gusti. Tetapi hamba masih juga termasuk kawula negri tuanku ini. ....

Tumenggung Santa Guna membelalakkan mata menatap Sentanu dengan sorot mata marah.

- He. kau berani membantah perintahku?! -Kau siapakah berani berlaku tidak sopan dihadapan Tumenggung Santa Guna?!

Sentanu surut kebelakang mendengar perkataan itu. Demikian juga para prajurit lain menjadi kaget mendengar perkataan yang tidak diduganya. Mereka sungguh tidak habis mengerti dengan jawaban serta penolakan Tumenggung Santa Guna.

Namun siapa berani bertanya?

Mereka hanyalah prajurit biasa yang tahunya harus tunduk kepada perintah. Maka tak satupun terdengar membuka mulut.

- Kau kembalilah,belum ada kesempatan untuk menerima dirimu sebagai tamtama di Demak Kata Tumenggung itu pula sambil memberi tanda dengan tangan mengusir Sentanu untuk keluar

meninggalkan tempat itu.

- Tapi gusti Tumenggung

- Cukup! Kau pergilah. Aku tidak menerima seorang kawula yang bukan berasal dari turunan Demak.

- Hamba ..

- Ya, aku tahu kau hendak mendesakku. Pergilah anak muda! Sebelum aku perintahkan pengawal untuk memaksamu keluar dari tanpat ini.

Sentanu merasakan ada sesuatu yang menggelegak keatas dadanya. Menuruti perasaannya, mau ia loncat dan menerjang Tumanggung yang terlihat sombong itu. Ia tak tahu mengapa dirinya harus ditolak hanya untuk masuk menjadi prajurit matamu. Namun hatinya ia tekan sekuat tenaga sehingga tidak berkata pula, kecuali sesudah memberi hormat, segera membalikkan tubuh dan pergi 

meninggalkan tempat itu, diantara pandangan para prajurit yang merasa kasihan melihatnya.

Tumenggung Santa Guna bernapas lega setelah Sentanu tak terlihat punggungnya .Lalu berbisik pada Bagus Prana yang selalu ada didekatnya.

- Selamatlah kita. Biar ia pergi jauh agar tidak mengganggu kita.

- Tetapi ayah. bukankah ayah tak akan mengalami kerugian jika menerima Sentanu juga?

- Bodoh! Kau belum mengenal Kanjeng Sunan yang waskitha. Kalau Sentanu kita terima berada dalam barisan, maka ramalan Sunan Prapen akan terjadi dan kemenangan Demak tentu didapat dengan kekuatan anak itu. Dan kau akan beroleh apa? Sudahlah, maka kuusir dia agar kau memperoleh kesempatan membuat jasa.

Bagus Prana terdiam. Ia pikir ada benarnya juga pendapat ayah mertua itu. Maka dilanjutkannya pemilihan prajurit tamtama untuk hari itu dengan kembali mengadakan beberapa ujian terhadap calon prajurit yang dianggap kuat.