Gembong Kartasura Jilid 4

Jilid IV

“Akulah iblis hina itu…. kau mau berbuat apa terhadap setan alas ini. tahu-tahu ada tubuh manusia gagah perkasa menyelinap masuk kalangan pertempuran. Itulah Putut Punung, pemuda berdandan awut-awutan yang tadi dicurigai orang sekampung, ternyata sekarang bahwa dia adalah pembela lurahnya, berani menghadapi berandal

“Kini terjadilah hal yang aneh dimata orang banyak. Pemimpin berandal yang ganas dan garang luar biasa itu, tampak pias seketika waktu berhadapan dengan pemuda tak karuan tadi. Ludeslah segala kegarangannya, lenyaplah segala sifat berandalnya …. musnahlah keberaniannya. Wirawangsa memandang dengan mata melotot dan mulut melogo, kepada pemuda yang menyebut dirinya „Najis‟, menirukan suara Wira tadi. Berkatalah pemuda itu, “Wirawangsa

…… bukankah ini anakmu yang tersayang? Pastilah kau tahu tentang maksud jahatnya bukan? Ketahuilah bahwa anakmu ini telah melarikan seorang gadis. Pastilah itu anak ke gede desa ini. oleh karena itu, terpaksa aku rebut kembali anak dara itu, yang sudah diserahkan kepada bunya kembali, sedang anakmu kini juga aku serahkan kepada ayahnya. Kalau perlu bunuhlah dia saja. jangan gerayangan kepada orang lain yang tidak bersalah …… Nah, bagaimana?”

“Sebenarnya siapakah Tuan …… mengapa selalu merusak reneana kerjaku …… adakah permusuhan antara tuan dengan aku segerombolan?” kata Wira menyimpang dari jawaban langsung.

“Bukankah kau sudah menyebutkan sendiri sebutan-sebutanku yang „bagus‟ tadi mengapa masih menanyakannya? …… perlukah itu, tetapi mungkin kau masih membutuhkannya dalam pembalasan kemudian …… Ingatlah saja, namaku adalah PUTUT PUNUNG. Kalau aku selalu menentang rencanamu itu, karena aku ini abdi rakyat umum, tugasku membela kebenaran dan keadilan umum juga. Dengarlah pula peringatanku yang terakhir ini. Punung adalah manusia biasa, hingga ia hanya dapat mengampuni kesalahan orang sebanyak tiga kali …… maka, bila aku menemui sekali lagi bertemu denganmu dalam soal yang menyalahi tugasku lagi …. Pastilah kau dan aku tidak dapat hidup lagi dalam satu jaman bersamaan. Kau atau akulah yang akan berjalan mendahului. Ingatlah itu, pada waktu kami berjumpa sekali lagi. Sekarang kau dengan orang-orangmu boleh pergi! Hayo segera jalamlah!”

Semua orang agak menjadi keheranan, melihat pemimpin berandal gunung sewu itu benar-benar mematuhi perintah jalan si pemuda. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Wirawangsa memondong anaknya yang kiranya hanya dilumpuhkan saja oleh musuhnya, untuk dibawa pergi …… diiringi oleh ketiga orang teman setia mereka yang tak kurang herannya, karena tindakan sang pemimpin kali ini sangat berlainan dengan yang sudah-sudah. Tak pula berani mereka bertanya sebab musababnya sang pemimpin menjadi kawus tidak karuan itu.

Malam itu Putut Punung dengan temannya dipaksa bermalam ditempat kiageng Karangharja dengan mendapat perhatian penuh, lebih-lebih setelah pemuda aneh itu dapat menyembuhkan Ki Ageng dengan cara istimewanya……

****

Sekali lagi sang malamlah yang menjadi soa yang rumit dan gawat bagi bagus Suwarna, yang sebenarnya seorang gadis molek remaja bernama Sasanti niken Sawarni atau Suwarni nama yang diberikan oleh denaju Widasari, karena gadis itu hampir kernbar dengan ratu Alit ... selagi Suwarna masih berjalan bersarna-sama dengan Putut Punung. Malam dirumah pagede Karangharja itu adalah malam yang kedua, dalam perjalanan mereka.

Dasar waktu belakangan ini bagus Suwarna sudah sangat kurang tidur ... mula-rnula dalam iring-iringan layon ratu Alit, kemudian ikut berjaga dimakam ... dan selanjutnya bertemu dengan bekas kekasih mendiang putri malang itu.

Setelah berkawan dengan Putut Punung ... dimalam pertarna tidak berani memejamkan mata barang sebentar didalam pondok tua tersebut. Kalau malam ini dia tidak bisa tidur lagi, apakah jadinya nanti. Mulailah keruwedan bagus Suwarna, setelah kigede beserta keluarga hingga para punggawanya menjamu dan menghorrnati kedua tamu yang berjasa tadi. Karena kedua tamu itu pasti payah sekali, maka sehabis puas beromong-omong, mereka dipersilahkan beristirahat dalam karnar diserambi muka. Kamar itu cukup lebar, yang hanya disekat dengan dinding papan saja disudut pendapa yang sangat luas. Didalam kamar hanya terdapat satu amben besar, cukup untuk tidur ernpat-lima orang, malah masih agak longgar, asal mereka membujur sedjajar saja, Jadi bagi orang dua, arnhen itu boleh di katakan sangat luas.

“Saudara-saudara pasti sangat payah, karena baru berjalan jauh lalu terpaksa ikut serta dalam urusan kami tadi, maka sebaiknya beristirahatlah sepuas-puasnya dulu, dikamar itu. Maaf'kan bila ada kekurangah-kekurangannya, karena memang hanya itulah yang dapat kami sajikan kepada para tamu-kata ki Gede Tanuarja ramah.

“Terrma kasih ki Ageng... kami, ini biasa tidur diluar beralas tanah atau rerumputan, mana dapat tempat peraduan kebiasaan kami dipersamakan dengan yang ki Ageng relakan untuk kami ini. Nah ... marilah dik kita beristirahat dahulu, besok kita dapat melanjutkan perjalanan kita lagi.”

“Beristirahat dahululah kak Punung, aku masih hendak keluar sebentar, uutuk mendinginkan badan. Hebat panasnya udara didesa ini, jawab Suwarna kontan saja ... maka terpaksa agak keliru menilai udara Karangharja yang sama sekali tidak dapat dikatakan panas. Namun sebenarnya dia juga tidak salah, karena yang dirasakan adalah rasa-badannya sendiri ... keruan saja ia menjadi panas seketika mendengar ajakan temannya. Mana boleh ia diajak tidur dalam satu kamar dengan dia . . . wah.. wah, gila benar …. tetapi apakah alasannya untuk menolak permintaan temannya itu, Tidakkah wajar sekali apabila mereka tidur searnben dan sealas? karena mereka sama-sama pria, …. teman seperjuangan, senasib dan seasib. Dernikianlah dalam pandangan umum. Adapun yang sebenarnya Suwarna itu seorang gadis remaja .... tidak seorangpun yang berani mengatakan, karena dandanan dan lagak-lagunya. Paling banter orang menyangka, bahwa dialah pemuda pesolek kota, yang tingkah lakunya kewanita•wanitaan, Mungkin sekali demikian itulah model dikota•kota supaya menjadi perhatian gadis- gadis cantik,

“Namun Putut Pununglah yang terpaksa mengerutkan keningnya mendengar jawab Suwarna yang tidak terlarnpau kena itu. Mengapakah teman iru selalu menghindari berdekatan dengan dia agak rapat sedikit ……

Agaknya pantang benar ia bersentuhan dengan dia juga dengan pria lainnya. Tidak suka berdiri berdekatan atau duduk terlalu dekat dengan orang lain. Sudah lebih dari sehari mereka bersama-sarna, maka pastilah ada sesuatu yang menjadi perhatian Putut Punung tentaug diri teman aneh ini. Kecuali bentuk raut mukanya yang terlala manis malah mirip benar wajah ayu ratu Alit kulit. tangan

dan kakinya nampak sangat halus bening, sekalipun keseluruhan warnanya hitam-mams. Suka pula ia akan bebauan yang wangi, harum, dan selalu berbau bedak wangi, mirip sekali perangai wanita, adakah ia memang wanita? Kalau itu benar seorang wanita siapakah dia itu? Menjadi lebih kuatlah raba-rabaannya waktu mengingat jawaban temannya itu, tidak mau diajak mandi bersama kesungai …. menyuruh orang tidur diluar dengan dalih tikar bodol segala ....

Sekarang malahan terbangunlah keinginan Punung untuk mengetahui dengan seksama, kebenaran pemikirannya. Maka tersenyumlah ia, berkata dalam bati, “Baklah, kau mau mengelabuhi mata orang …. aku ingin tahu sampai dimana kau dapat bertahan!”•

Masuklah ia kedalam kamar mendahului teman, sebagai dianjurkan oleh bagus Suwarna. Sekali lagi ia tersenyum geli ...

Ambennya terlalu besar apakah akalnya sekarang untuk menyempitkan tempat berbaring orang lain .... Maka direbahkan badannya yang panjang besar itu serong melintang diatas amben, hingga pasti saja mengurangi keleluasaan orang lain yang hendak tidur disitu pula. Kedua bantal yang semula direndengkan, kini yang satu dibuat alas kepalanya sedang satunya lagi sengaja dikempit dilintangkan didadanya.

Mulai mendengkurlah ia, entah pura-pura entah sebenarnya, karena kepayahan. Bagus Suwarna yang terpaksa keluar karena ucapannya sendiri, setelah ada dihalaman samping pendapa, segera merasa betapa dinginnya udara diluar. Lebih lebih pada waktu daumg sang angin-malam yang lembut tetapi dingin menggigit kulit.

Maka menggigillah anak dara yang berpakaian laki laki itu kedinginan, sedang matanya terasa sangat perih karenanya. Tiga kali berturutan, ia terpaksa menguap, itulah. Pertanda kantuk yang berlebih-lebihan. Tetapi ia bertahan sekuat tenaga, melawan rasa hampir tak dapat membuka mata itu, pikirnya;

“Kau tidak boleh tidur …. tidak boleh, sekali lagi tidak boleh ... hayo lawan terus rasa kantukmu . . . lawan terus, masakan kalah dengan perasaanmu sendiri.”

Selesai menasehati diri sendiri …. serrr, hampir saja ia jatuh terjerunuk, karena dilanda kantuk lagi. ... Gila ... apa mungkin orang tidur berdiri, atau ... serrr ... Wah-wah .. celaka. Celaka benar kalau ada orang yang melihat aku terjatuh karena kantuk.. Apakah kata orang., kalau aku tertidur diluar begini . . Aih, apakah yang sebaiknya kulakukan ... Tidur dengan sikap duduk diamben besar dipendopo bersama-sama dengan para jagabaja ... atau, atau ... idiiihh ... sulit nih. Hmm ... sudahlah, untung-untungan, aku akan masuk dalam karnar gila itu. Tak a palah kiranya bersama-sama dengan dia asal aku tidur duduk saja. Sebelum ia bangun aku harus sudah keluar lagi . . . mendahului,-

Maka dengan jalan berhati-hati sekali tanpa menimbulkan suara sedikitpun, bagus Suwarna masuk kedalam kamar tidur tadi. Sebenarnya iapun harus tahu bahwa pendekar sakti tingkaran Punung itu tidak mungkin tidak tahu atau lebih tepat merasa, bahwa didekatnya ada sesuatu yang bergerak. Boleh gerak itu tanpa suara, namun tidak bisa tanpa iringan angin lernbur. Dan angin itulah yang menyentuh kepekaan rasa Putut Punung, Dengan sangat hati-hari pula ia membuka matanya, karena lekas ia tahu siapa yang masuk kedalam karnar tersebut, Penerangan untuk jarak yang tetap dinyalakan dipendopo hanya mampu memberi penerangan sangat terbatas disekitarnya, Masuknya kedalam karnar melewati celah- celah sernpit dibeberapa bagian dinding papan itu, sama sekali tidak dapat menerangi kamar tersebut ... tetap remang-rernanglah keadaan didalamnya. Meremanglah bulu roma bagus Suwarna waktu berada didalam kamar, harnpir ia segera kernbali keluar ... tetapi ia sudah terlanjur didalam masakan lalu keluar Jagi tanpa sebab, bukankah Itu janggal sekali? Sebenarnya apakah yang ditakutkan itu ... Pernahkah ternan ini berbuat yang tidak senonoh terhadapnya, Audaikata ia tahu bahwa Suwarna itu nyaranya seorang gadis, sudah pastikah Punung akan berbuat yang kurang patut terhadapnya. Mengapa ia selalu takut terhadap dia? Deegan memupuk pemikiran yang demikian bertekadLah ia duduk dlsarapirig badan orang yang masih mendengkur itu.

Terdengarlah amben itu berderak lirih waktu bagus Suwarna duduk, nampak tubuh orang yang tidur tadi bergerak beralih sikap membelakangi yang baru datang. Mula-mula pemuda pesolek itu sangat terkejut, melihat tubuh temanya bergerak ... namun segera menjadi sangat lega, ketika melihat punggung orang. Karena tidak mendapat teguran atau diajak bicara, maka ia mengira bahwa teman itu benar-benar tidur nyenyak sekali.

Apa salahnya kalau ia juga mencoba tidur sebentar, karena rasa kantuknya tidak dapat disabili lagi. Lupa pula ia bahwa rencananya hanya duduk sambil mengantuk melulu.

la merebahkan diri diamben juga, tetapi agak jauh jaraknya dari punggung Punung.

Dasar sudah tiga hari tiga malam tidak tidur baru saja kepala daletakkan pada ujung bantalnya kesadarannya sudah pudar dialam mimpi. Tertidurlah bagus Suwarna, lebih pulas dari biasanya. Pernapasannya yang mula terdengar kurang wajar. kini sudah lurus teratur rapi, hingga mudah diterka bahwa ia sudah jauh dari dunia kesadaran.

Demi sedikit Putut Punung membalik arah, untuk meyakinkan keadaannya. Pastilah teman itu sudab tidur nyenyak sekali, lupa sgala-galanya. Ikat kepala yang menutup kepala pemuda itu terpaksa lepas sebagian ... hingga merosotlah beberapa untai rambut hitam-legam berombak disamping pipinya.

Sekalipun penerangan lampu ublik diluar kamar hanya remang- remang samar saja didalam bilik itu, bagi Punung dengan ketajaman matanya, sudah lehih cukuplah penerangan itu, guna melihat sesuatu dengan saksama.

Baginya sekarang ini teranglah sudah, bila temannya itu. pastilah seorang wanita yang menyaru dengan dandanan priJa, untuk keperluan tertentu. Dan yakinlah ia bahwa keperluan tadi pasti ada hubungannya dengan ratu Alit dan dirinya sendiri.

Malahan sebagian besar pesau putri malang itu sudah disampaikan kepadanya, sebagian telah didengarnya dimuka kuburan putri kemarin dulu, Mungkinkah masih ada pesan Puteri yang belum disampaikan karena ada bahayanya bila sarnpai kedengaran orang lain, hingga harus dirahasiakan baik-baik? Dernikianlah kesan yang serasa oleh Punung, tentang pemuda gadungan ini.

Lama sekali Putut Punung menekuni wajah Suwarna ….. yang pasti bukan Suwarna itu, Makin lama wajah itu makin serupa dengan wajah ratu Alit, Tetapi berbeda mutlak dalam warna kulitnya, oleh karena kemolekan ratu Alit bertitik berat kepada aju- luar biasa, sedang putri ini titik-berat kecantikannya pada, manis, juga luar biasa. Maka repotlah hati Punung yang masih sangat merindukan kekasih yang telah meninggal; sedang didekatnya ada anak dara yang serupa benar dengan bekas kekasihnya itu. Hanya dengan kekuatan batin yang hebat saja ia dapat menahan hatinya.

Kuat-kuat ia mernalingkan kepalanya, tidak hendak memandang lebih lama lagi, supaya jangan menjadi mata-gelap, Sejak bertemu dipekuburan, Sudah disangkanya bahwa yang bersuara kepadanya itu adalah roh sang kekasih, wajarlah kiranya jika ia sekarang menganggap putri ini penjelrnaan putri raja itu. Dengan menyadari keadaan ini, agak terhiburlah rasa pedih hatinya yang terasa hampir membeku kedinginan ... kini mencair demi sedikit, karena sinar harapan, ingin ia menemani putri menyarnar prija ini lebih lama lagi, untuk mengetahui lebih lanjut apakah maksudnya yang masih dirahasiakan itu.

Supaya jangan menjadi malu atau kurang dapat bergaul bebas dengannya, ia harus menjaga agar Suwarna tetap merasa helum diketahui penyamarannya. Maka biarpun Punung. masih sangat kesengsam melihati wajah manis itu, terpaksa ia merebahkan diri. lagi dalam sikapnya semula, membelakangi bagus Suwarna, tetapi ia tidak tega untuk tidak menernpelkan punggungnya kepada bahu bagus Suwarna, sekalipun sangat sedikit kenanya, Demikian saja sudah menggetarkan hatinya hebat sekali, hingga terasa pernapasannya kurang lancar dengan mendadak. Seluruh badannya terasa kesemutan, gemetaran lirih.

Bagus Suwarnapun seorang pendekar asuhan guru sakti Biarpun tingkatan saktinya tidak nempil pada kemarnpuan Putut Punung, retapi ia juga sudah melatih kepek.ian perasaan dan • segala ~engind~raan, oleh sebab itu, getaran punggung yang menempel dibahunya sudah pula cukup, untuk membangunkan tidurnya yang nyenyak tadi. Mula-mula dirasakan sebagai barang hangat-hangat nyaman saja tetapi setelah pulih Sama sekali k,eciadarannya, tahulah ia bah.wa yang menyentuh bahunya itu tidak mungkin barang lain, kecuali badan temannya.

Mendadak seperti bersentuhan dengan apilah rasa hangat sernula itu. Sebagai tersentak rasa kagetnya, hingga tahu' tahu terduduklah ia, dengan sikap marah sekali hendak menempeleng orang. Pasti saja ia mengira bahwa teman itu berlaku curang, hendak berlaku kurang-ajar setelah tahu bahwa ia adalah wamta......... Tetapi tangan yang sudah diangkat itu, pelan•pelan diturunkan lagi, waktu melihat sikap temannya masih saja seperti waktu dia masuk kekamar. Nampaknya Punung masih tidur nyaman sekali, hingga hampir setengah malam tidak mengubah sikap berbaringnya.

“Hmm hampir salah tangan, pasti dia tidak bersalah, malah

belum tahu sama sekali penyamaranku' ini . . . . . . Kalau dia lebih dulu bangun, lalu melihat keadaanku demikian ini ikat-kepala

hampir lepas, rambut keluar setengah konde, baju beskap terlepas karnyingnya, sampai terlihat pamekak hijauku, wah-wah ......

celakalah aku. Dimana aku dapat menyembunyikan mukaku terhadap orang ini. Aih, kangmbok Alit, kau benar-benar menyiksa aku. Kau lihat, akupun orang biasa dengan segala kesalahan dan keinginan biasa. Tahukah kau roh yang sudah suci ...... bahwa aku juga langsung jatuh hati kepada bekas kekasihmu itu. Setelah aku melihatnya dan bergaul dengannya, pastilah tak ada pemuda lainnya yang kunilai lebih dari dia. Kangmbok telah mewariskannya kepadaku, tetapi kalau orangnya sendiri tidak menghiraukan akan daku apakah jadinya nanti?”

Demikian ramailah pikiran pemuda pesolek itu sambil mengaw'asi terus punggung orang, hingga terasa panaslah oleh orangnya. Menggeliatlah Putut Punung, meregang badannya yang kukuh-kuat itu. Terdengar otot-ototnya bergemerutan, tulang•tulangnya berkerutukan…uaaah.. ia menguap lebar dengan menutup mulutnya .. .. .. Uaaaiih ...... sekali lagi ia menguap, dan meregnng badannya, lalu membalikkan tubuh tanpa membuka mata kemudian menyingkrung lagi …… seperti udang kering.

Yakinlah bagus Suwarna babwa orang ini belum tahu menahu tentang penyamarannya. “Heee ...... kak Punung, masakan masih mau tidur bgi. Hari sudah siang, malu ah. orang semua telah sibuk, kamu masih sibuk

menutup mata saja. Bungunlah!”

“Apakah matahari sudah tinggi?” Punung balik bertanya kepada temannya, ' '

“Bukalah matamu itu .... masakan membuka mata sebentar saja merasa rugi, uwah-uwah …. rajin benar kakak ini.” jawab teman itu,

“Hayaaa, kedahuluan matahari …… tapi tak apalah untuk kali ini, bukansah kira ini ramu-tamu terhorrnat, yang dibenarkan berbuat lain dari pada yang lain. Mari kita mandi saja dahulu!” dengan sengaja ia menguijapkan permintaannya yang terakhir itu tanpa memandang langsung kepada orangnya, namun krlasan lirikan sudut matanya justru sangat tajam.

Maka tahulah ia bagaimana warna kulit hitam manis itu menjadi lebih merah pada kedua belah pipinya yang halus. Terdengar jawabannya sebagai terlontar dari mulut mungil itu, “Uila ... sudah siang begini mengajak mandi kesungai …. pergilah sendiri kalau tidak malu dilihat orang banyak!”

“Apa salahnya orang melihat orang …. juga, masakan kilta tidak dapat mencari tempat yang aman tidak dilalui orang. Apakah kau sudah mandi dahuluan? Atau …. masihkah demammu kernarin- dulu itu?”

“Sudalah! jangan banyak bicara kak, mau mandi .. mandilah sendiri, tak usah mernusingkan orang lain! Seperti penakut saja kakak ini, tidur minta ditemani, mandi juga minta kawan …. apa sih yang ditakuti itu?”

“Hmm memang aku ini sebenarnya penakut ulung, ada-ada

saja yang kutakuti .... Kadang kadang bayanganku sendiri, tetapi betakangan ini takut kepada pembajanganku, karena selalu masih ingat akan kangmbok Alit, sering nampak wjahnya didepanku, hingga aku berbicara sendiri, seperti orang kurang leugkap, itulah dik persoalanku sekaraug!”

“Yaaa ... aku dapat mengerti keadaanrnu ilu, tetapi tidakkah kakak dapat memahami pula bahwa orang yang sudah mati, tidak akan dapat kembali lagi didalam pergaulan kita ini. Mau tidak mau kakak harus dapat menerima kepahitan nasibmu. Nasihat mendiang kangmbok juga menganyurkan supaya kakak mengatasi kesedihanmu, dengan mencurahkan pengabdianrnu kepada masyarakat, memuju ketingkatanyang lebih tinggi ebih bahagia, lebih makmur. Apabila kau sendiri tetap dalam kesedihan, mana bisa kau membajangkan kebahagian orang lain. Bahkan mungkin sekali kau membenci segala ben• tuk kebahagian orang. Oeh karena itu, kangmbok menghendaki kau hidup sebagai rakyat biaa, bergaul rapat dengan rakyat jelata, memahami segala segi tata- hidupnya, suka dan dukanya …… yaa, bahkan kangmbok menganjurkan kakak mengawini gadis dari kalangan mereka itu, yang cantik dan kakak sukai.”

“Aku sudah mengucapkan sumpahku didepan kubur kangmbok itu, pastilah akan kutepati janjiku hanya soal beristeri itulah yang kiranya sangat sulit bagiku, karena aku pastl tiaak akan kawin dengan wanita siapapun yang tidak seratus bagian menempati jantung-hatiku. Soalnya adakah wanita yang sama dengan mendiang kangmbok Alit, seraut dan sebentuk keseluruhan tubuhnya Sulit

bukan?”

“Itulah mustahil, gadis manakah dapat direndengkan dengan putri raja yang tercantik?. Memang konyol nasib kakak ini, seumur hiduppun tak akan dapat menemukan orang yang mirip. rupa putri raja itu. Tetapi asal kamu berani hidup saja, tidak usah kawinpun sudah lebih baik dari mati cemas kemlurusen-. “Mungkin kau benar dik, tetapi aku masih mempunyai pengharapan benar. ltulah kareua mimpiku semalam yang bagus sekali firasatnya.”

“Apakah mimpimu itu, coba ceriterakan.”

“Aih, mana. boleh pagi-pagi berceritera tentang mimpi baik, nanti saja, dalam perjalanan aku menceriterakannya kepadamu, untuk menghilangkan rasa payah. Mari kita bertemu saja dengan Ki Ageng, untuk minta diri dan berterima kasih atas kemurahnnya.”

“Tanpa membersihkan diri dulu kesungai, bagaimana kakak

ini?!”

“Biarlah ... kita gosok kuat-kuat sajalah muka kita, pasti sudah

cukupbersih nampaknya, anggap saja aku mulai dengan hidup secara rakyat jembel, sesuai dengan pakaianku ini bukan?”'

“Bah .... itulah kebiasaan orang besar kota takut

bersentuhan dengan air waktu pagi, karena agak dingin saja, Justru rakyat desa suka mandi diwaktu pagi-pagi benar. Nah, biarlah begitu dulu, kalau orang tak suka berdekatan denganmu, janganlah menyesal. Hayo lekas betulkan pakaianmu, mari kita segera keluar!”

Setelah turun dari amben dan berdiri tegak berkatalah Putut Punung. “Sudah beres sejak kemarin dulu dik apanya jang mesti diluruskan lagi. Mari kita berpamitan kepada ki ageng, dia sudah duduk diamben besar pendopo.”

Ki Gede Tanuarja, memang sudah duduk diamben pendopo, sedang minum serbat kesayangannya Setelah melihat tamu tamunya keluar dari karnar, berkatalah ia dengan senyum ramahnya: “Sudah bangun Cukupkah sudah beristirahat setengah malam saja, Mari-

rnari , ... duduk disini dulu, menikmati serbat Karangharja, yang hangat-pedas!” “Sudah lebih dari cukup ki Ageng. Malahan kami hendak, minta maaf karena bangun agak kesiangan ini. Soalnya, karena payah dan menemui ternpat yang jauh lebih baik dari yang biasa kami jumpai.”

“Heh• heh-heh.” ... jawab ki Ageng menggelegas, “Apanya yang harus dimaaf'kan angger, kalau, mau saja, boleh angger beristirahat lagi sepuas-hati, tetapi marilah kita minum-minum sebentar dan memilih hidangan yang dapat kami sediakan ini, guna melewatkan pagi berkabut itu. Silahkan-silahkan.”

“Benar-benar nikrnatlah wedang serbat istimewa Karangharja diminum bersama-sama makan juadah-bakar masih hangar pada waktu pagi demikian, lehih lebih bagi orang-orang jang sudah agak lama tidak teratur makannya seperti kedua orang .perantau itu, Gajenglah ornong-omong pagi dipendopo pagede Tanuarja, karena keramahan tuan rurnah yang sudab sembuh sarna sekali dari ijederanya kemarin. Sudah barang tentu pula pembirjaraan mereka melanrur kebarat dan ketimur.

Pada pertanyaan Putut Punung tentang sebuah lukisan pedang berbentuk indah sekali, yang nampak diatas gawang pintu kerumah belakang jawab ki Gede “Itulah lukisan kuno angger, mungkin

sudah lima turunan dari pelukisnya. Bagi kami yang memilikinya, kami anggap bukan lukisan melulu melainkan sebagai rajah tulak- bala (malapeeaka). Lukisan pedang indah itu diturunkan dari ayah kepada anak-sulungnya sampai kepada tanganku sudah kira-kira lima turunan. Pedang itu disebut PEDANG JANUR NAGASURA, konon tajam dan ampuhnya pedang itu luar biasa sekali, dapat direndengkan dengan pusaka-pusaka ampuh dikeraton …… dari jaman MAJAPAHIT. Kalau angger suka mendengarkan ceriteranya, boleh saya paparkan sebentar garis garis besarnya sebagai iseng tambah- tambahan pengetahuan saja.”

“Pasti saja kami suka mendengarkan ceritera itu ki ageng, silahkan ki ageng menuturkannya!”

Mulailah ki Gede Tanuarja berceritera tentang lukisan pedang sakti diatas pintunya.

“Salah satu perwira tinggi Majapahit, berpangkat Manggala Rana, sederajat dengan bupati tempur jaman sekarang bernama SINGAPATI. Banyak orang sakti-mandraguna pada jaman dahulu itu, tetapi tidak seorangpun dapat disamakan dengan manggala-rana SlNGAPATI ini. Dia seoranglah yang mempunyai kemungkinan paling luas pada jamannya karena kesaktiannya dan ilmu pedangnya yang luar biasa sekali disamping pedang ampuh tiada taranya, pedang JANUR NAGASURA, yang dilukis itu.

Dalam keroyokan pengepungan ratusan orang Singapati sanggup menembus kepungan, asal saja ia memegang pedang saktinya itu. Jangankan kayu penggada dan besi atau logam lain tidak taban putus terbabat pedang tersebut, sekali•un senjata dari baja murni, akan mudah terpotong dengan mudah sekali oleh pedang itu.

Pada perang besar terakhir melawan laskar gabungan dari Demak, dimana laskar Majapahiit hancur tergempur, dimana pula banyak senapati dart Majapait gugur dalam medan laga banyak

orang melihat sendiri, senapati SINGAPATI dapat menyelamatkan diri dengan menembus pengepungan musuh yang rapat lagi ketat sekali, karena pedang dan permainan pedangnya. la dapat mempertahankan diri hingga malam hari dan mempergunakan gelap malam ia menerjang kepungan laskar musuhnya Selamatlah ia, menoblos kepungan itu, lalu menghilang entah kemana. Karena pertahanan Majapait sejak itu tidak ada yang berarti lagi maka selanjutnya orang tidak tahu lagi kemana larinya orang saktti dengan pedang istimewanya itu. Hanya dapat dipasiikan bahwa dia menuju kearah barat itulah karena pada suatu waktu diketernukan orang lukisan pedang ini, Para ahli berpikir mengarakan. Siapakah yang dapat melukis pedang sakti itu hingga mirip pedangnya sendiri, kalau bukan yang memilikinya sendiri pula. Maka dapat dipastikan bahwa orang tanpa tandingan tersebut berada disekitar gunung-gunung Kawi, Lawu atau Pandan bila orangnya belum meninggal.

Kalau orang itu sudah mati, pastilah kerangkanya masih dapat diketernukan orang yang kebetulan menernukan persembunyiannya, Akan berbahagialah orang itu karena pasti juga dialah pemilik benda tak ternilai harganya, pedang Nagasura, Mungkin sekali orang itu mempunyai keropak pelajaran ilrnu pedangnya, yang masih dapat dipelajari oleh penernunya, hingga tidak usah ilmu pedang Janur Nagasura lenyap dari persada bumi Jawa.

Sayang, sampai sekarang tidak seorangpun dapat menemukan gua Singapan itu. Di jarnan nenek saya, ada usaha menernukan persembunyian orang dalam ceritera ini, tetapi usaha itu gagal sernua ... mungkin karena kurang tekun, atau kurang kemampuan perseorangannya, hingga ridak dapat mengatasi kesulitan dan rintangan-rintangan yang tersulit ditengah jalan.

Sekali lagi aku merasa sayang sekali, kalau pusaka itu sampai tidak dapat diketemukan kembali beserta imunya. Kini banyak orang-orang muda yang boleh disebut sakti sekali misalnya angger ini, mengapa ridak mencoba-coba mencari jejak Sang SINGAPATI untuk dapat mewarisi ilmu serta senjata ampuhnya itu, Pastilah waktu yang diperuntukkan itu, tidak terbuang sia-sia belaka. Dalam mengikuti jejak orang luar biasa tadi pastilah akan bertemu deugan segala. macam pengalaman yang berrnutu tinggi bagi kehidupannya hingga ..... bila tidak dikeiemukan orangnya, sudah bertarnbah pengetahuan dan pengalamannya. Hanya saja perjalanan itu berbahaya sekali bagi orang yang kurang modal kesaktian.

Nah, angger. , itulah ceritera lukisan pedang Janur Nagasura,

Semoga ceritera pendek ini bermanfaat dalam pertemuan kita, setidak-tidaknya supaya menjadi kenang-kenangan indah.”

“Kedua tamu muda itu mendengarkan dengan sungguh- sungguh ceritera ki Ageng, tanpa menyela barang sepatah katapun, untuk minta penjelasan. Mungkin karena ceritera itu disajikan dengan sederhana sekali hingga mudah sekali ditangkap intinya.

Apabila bagi orang kebanyakan ceritera itu hanya bagus sekali untuk didengar saja, ... bagi Putut Punung agak berbedalah makannya. Seolah-olah jiwanya tergoncang keras untuk berbangkit dan berusaha, supaya ilmu pedang nomor satu beserta pusakanya tidak terlanjur musnah ditelan kala. Sekurang-kurangnya ia akan berusaha mencoba nasibnya, beruntung-untungan menemukan peninggalan jaman kuno itu, setelah berpisahan kemudian dengan Suwarna nanti.

Bertanyalah ia kepada pembawa ceritera itu. Ki Ageng, adakah petunjuk-petunjuk perkiraan orang bahwa Singapati itu . harus berada disekitar gunung•gunung yang ki ageng sebut tadi?”

“Petunjuk yang tertentu, memang tidak ada ngger …. Tetapi orang berani mengatakan itu, karena lukisan ini diketemukan. dikaki gunung Lawu, maka petunjuk utama bagi orang yang hendak mencoba menemukan kerangka orang sakti itu, adalah menyelajah gunung Lawu ….. dan kemudian mencoba di gunung lainnya setelah yakin hahwa orang itu tidak akan dapat diketemukan digunung lersebut. Adakah anger berminat, untuk mencarinya? Kiranya tidaklah terlalu janggal apabila anggerlah jang mendapat anugerah Tuhan sebesar itu!”  “Akh, ki ageng terlalu tinggi menilai diriku ini. Aku hanya seperti yang kebanyakan saja. Anggaplah pertanyaanku itu sebagai iseng saja.”

“Ya yaa ...... tahulah aku angger, hanya alangkah suka juga hatiku kemudian bila ternyata ceriteraku tadi, terbukti nyataanya dan anggerlah orang yang membuktikannya itu.”

Demikianlah mereka itu masih melanjutkan beromong•omong kira-kira setengah jam lagi baru kedua tamu muda itu diperkenankan melanjutkan perjalanan mereka.

Ki Ageng sendiri berkenan mengantarkan mereka sampai diperbatasan desa, baru mereka berpisahan sebagai keluarga yang baik.

Kini mereka tinggal berdua, hingga dapat mempercepat jalan mereka. Karena masih terpengaruh oleh perpisahan dengan orang- orang Karangharja yang baik bagi mereka itu, maka mereka berjalan tanpa berkata-kata, sementara waktu …… masih hanyut dalam perasaan masing-masing. Setengah jam kemudian mereka sudah melampaui karang perdesan dan pedukuhan Karangharja, menempuh jalan yang melalui hutan lagi menuju ke Kartasura.

Dengan lirikan yang tajam Suwarna mengerling kepada ternannya, yang masih membisu saja. Tegurnya : “Hmm, kak Punung kau ini masih dapat berbicara atau tidak ?"

“Kukira lidahku belum beku sama sekali. Adik hendak menanyakan apakah kepadaku? jawab Punung sambil menyeringai lucu.

“Apa lagi kalau bukan mengingatkan kepadarnu, yang agaknya pelupa ulung pula ini, tentang mimpirnu semalam? Bukankah kau hendak menceriterakan itu setelah kita berjalan? Apakah yang sedang kita lakukan ini ... mengapa tidak lekas berceritera untuk melunasi janji.

“Baik-baik, aku segera bicara .... Dalam mimpi itu aku kedatangan putri Alit. Nasehat yang diberikan kepadaku dalam mimpi itu, mengapa sarna benar dengan nasehat jang adik ucapkan tadi pagi. Tidakkah itu sangat ajaib. Perbedaannya hanya pada bagian-bagian terakhir, jakni kangmbok Alit mengatakan, bahwa didunia ini ada seorang dara yang serupa benar dengan dia, dan gadis itu adalah saudara sepupunya sendiri yang harus kucari dan kuanggap sebagai ganti kangmbok Alit, bila gadis itu dapat menerima aku sebagai teman hidup. Oleh karena itulah aku mengatakan, masih ada harapan bagiku tadi pagi. Pastilah gadis iru akan kucari kernudian, setelah aku selesai dengan latihanku terakhir.

“Apakah nama dan rumah gadis itu juga disebut oleh kangmbok Alit?” tanya Suwarna dengan mata penuh selidik.

“Tidak, tetapi kangmbok bilang, bahwa dara itu pasti tidak terlampau jauh dariku, Bagiku itulah bukan yang sulit, namun adanya putri yang mirip sekali wujud kangmbok Alit cukuplah bagiku untuk menghidupkan sernangat juangku kembali, Akan kucari dia hingga dapat kutemukan” jawab Punung tanpa melihat kepada orangnya secara langsung.

“Kau kira mudah bukan, mencari orang segelintir diantara ribuan manusia ini. Kemana hendak kau cari gadis itu?”

“Aku sudah bilang tadi, itupun bukan soal. Apa sih sulitnya mencari barang atau orang yang sudah pasti adanya! ….. Sekalipun bersembunyi dibalik bumi bila dicari sungguh-sungguh masakan tidak dapat diketemukan.” “Hmm, betul betul aku mau tahu sampai dimana kesungguhanmu itu nanti. Mencari barang yang ada, sudah barang tentu berlainan sekali dengan mencari orang yang dapat bergeak menurut kehendak sendiri, dan yang dapat bersernbunyi secara cermat sekali …. Kau bisa berbuat apakah?”

“Ha-ha ... aku jakin bahwa gadis yang kucari itu belum tahu- menahu lentang maksudku hendak mencarinya, bagairnana dia bisa tahu sebelumnya, kalau hendak dicari orang, kecuali kalau gadis itu sudah diberi tahu oleh seseorang lebih dahulu. Karena kaulah satu- satunya orang yang mengetahui soalku ini mudah dimengerti siapa yang memberi tahukan kepada anak dara itu ... ha-ha ...

“Hai, kau menuduh aku ya?” kata Suwarna agak keras. “Belum dik, belum sekarang ... Kemudianpun belum tentu

aku menuduhmu tanpa bukti nyata,” jawab teman itu menggelegas.

****

HARI SENEN pagi yang cerah. Sinar Hyang Bagaskara berlincahan, menerobos butir-butlr air cmbun yang bergelantungan di ujung-ujung daun dan rumput-rumputan ... mernbuamja berkilauan bagai berlian erntah berapa keret. Alangkah indahnya dunia, pada waktu demikian itu. Segala sesuatu narnpak bersinar terang kernilau, bergoyang-goyang lernbut karena hernbusan angin pagi yang masih sayup-lemah. Hari itu, hari kerja-pertarna dalam rangkaian hari-hari kerja setiap minggu. Hari itu adalah juga hari pasewakan. Sri Sunan Amangkurat II, sudah keluar duduk di Balairung Siti-inggil, ditengah-tengah para menteri serta hulubalangnya, dijaga oleh kelornpok kesatuan-kesatuan segala macam prajurit Jagabaja, Wira•tamtama, Suragarna, Sarageni, Panyutra dan lain sebagainya, yang berdiri tegak perkasa dengan masing-masing senjata mereka ditangan. Nampak angker berwibawalah pasewakan itu.

Sebagai biasanya, pada hari pasewakan itu, Sri Baginda menerima laporan-laporan terpenting dari para anggota Pancaniti dan Bale-Agung, tentang keadaan negara ... tentang tata tentrern, tentang ketata-raharjan praja, tentang keadaan didaerah burni Mataram. 

Kecuali menerima laporan kenegaraan, baginda berkenan pula menerima laporan-Iaporan atau pengaduan-pengaduan perorangan dari setiap kawula negara Matararn.

Cara orang menginginkan bertemu dengan raja itu disebut “PEPE” duduk diantara pohon beringin kernbar dialun-alun, dalam terik matahari, supaya terlihat oleh baginda. Pastilah baginda akan mengutus abdi-gandek (bentara-kanan/kiri), memanggil orang yang sedang pepe tersebut, unruk didengar perkaranya.

Pada waktu sibuk-sibuknya baginda bertukar pikiran dengan para menteri serta para bangsawan penasehat agung, terjadilah keriburan-keributan yang hebat sekali di paseban alun-alun. Nampak pula para prajurit jaga sibuk melolos senjata agak tergugup-gugup, untuk segera berdiri dalam bentuk perrahanan mereka bersarna, siap untk bertempur, atau bertahan. Sernentara itu terdengar jeritan orang-orang yang berada di alun-alun memberi petunjuk kepada sesamanya, “Awaaas, gajah-meta ... gajah meta awaaasss ... gajah lepas dari wantilan ... gajah mengamuk ••• merusak dan membunuh yang berada dimuka ... gajah gajah- gajahhhhh, awaaas!”

Tahulah orang bahwa ada gajah yang terlepas dari rantainya atau yang dapat mernutuskan rantainya, dan kini mengamuk ... merusak dan membunuh orang. Itulah hebat sekali. Berapa manusiakah yang sudah menjadi korban amukannya ... dan apakah yang sudah rusak berantakan di injak-injaknya… Dimanakah setan berkulit tebal itu sekarang.

Semua orang yang mendengar jeritan-jeritan itu, lari terbirit- birit tanpa kecuali, jika tidak justru menjadi dengkelen (lumpuh) saja.

Keadaan dialun-alun menjadi panik seketika.

“Sumabrata !” sabda Baginda kepada raden adipati pepatih

negara …. “Apakah yang membuat geger dipengurakan itu?”

“Hamba berdatang sembah Baginda ... adapun yang disibukkan orang paseban itu, adalah amukan gajah yang dapat. memutuskan tali diwantilannya. Sudah banyak orang mati karena gadingnya, banyak pula warung dan rumah pinggir jalan yang dirusaknya.”

- Suruh merampok para tamtama saja dialun-alun, bunuh saja, jangan tanggung-tanggung lagi, karena gajah yang sudah sekali mengamuk, tak mungkin lagi dikembalikan kepada tertib biasanya.

“Hamba tuaaku ... para tamtama sedang berbuat demikian ...

namun hingga sekarang belum berhasil, karena yang mengamuk itu, kjai Puspa-Bandang, gajah laki•laki yang terbesar.”

“Hai ... pastilah itu sulit, Benar-benar tidak disangka Puspa- Bandang bisa menjadi gemblung. Kerahkan tenaga sakti, untuk menghadapi amukannya, supaya jangan melantur-lantur!” “Hamba sinuhun, tetapi terlalu beratlah untuk menghadapi gajah-meta laki ini, sulit mendapatkan orang yang sekiranya sanggup menandingi kekuatannya!”

Menjadi hening sejenak disiti-inggil. Mau tidak mau orang ikut berpikir siapakah orang yang akan menerima tugas berat sekali ini. Berdebaranlah hati para gembong Kartasura ... ada yang berharap-harap mendapat tugas itu, narnun banyak juga yang sudah menjadi ciut keberaniannya waktu mendengar gajah yang manakah harus dihadapi itu. Terdengarlah celetuk pangeran dipati Anom tanpa menghiraukan tertib pasewakan, dirnana orang tidak dibenarkan bersuara, bila tidak langsung memberi jawaban kepada raja. Namun dialah calon pengganti raja, putra tertua dan terkasih Sri Sunan … maka seenaknya sendiri menerjang ketertiban itu, katanya: “Hai, orang-orang Kartasura masakan kalian melupakan

gembong terbesar negara kita …. Pangeran PUGER lah, orangnya, yang pasti dapat menandingi kjai Puspa-Bandang!”

Bahwasanya anyuran pangeran dipati Anom itu terlanjur diucapkan tanpa suba-sita (tertib pergaulan), masih mudah dimengerti orang, tetapi tentang penunjukannya secara langsung menyebut nama orangnya ..... itulah yang sangat dirasakan sebagai tindakan yang tidak bijaksana. Sri Sunan sendiri mungkin masih menawarkan kepada para sukarelawan dimuka, umum demikian, supaya tidak melanggar perasaan orang banyak kecuali bila kepentingan itu sudah mendesak sekali, dan orang itulah satu- satunya yang harus melakukan kewajiban berbahaya tersebut.

Keruan sekali suasana penangkilan menjadi tegang dengan mendadak .... hingga Baginda sendiri terdiam beberapa saat. Dermkian pula seluruh orang yang hadlir dipasewakan, semua menundukkan kepala, takut akan dilihat orang lain rasa rasa kecewanya yang membayang di wajah masing masing. Siapakah yang berani memperlihatkan muka kurang senang dan tidak setuju akan tindakan sang pangeran dipati Anom, caIon pengganti raja itu. Siapa pula berani menentang pendapat putra mahkota ini ....

Bukankah itu sama artinya dengan mencalonkan lehernya berurusan dengan tali ditiang gantungan.

Walaupun ketegangan itu tidak lama, namun bagi para hadirin dirasakan sebagal siksaan batin yang cukup lama mengganggu saraf mereka. Orang merasakan benar akan kesulitan Baginda raja .....

pastilah Sunan tidak akan menegur putra mahkota, untuk menjaga perasaan sang putra, tetapi sangatlah janggal untuk dibenarkannya. Pangeran Puger adalah adik Baginda yang tertua dan paling dihormati oleh beliau, juga disegani. Pangeran Puger sendiri tahu tentang hal itu, maka pastilah ia mengerti akan kesulitan kakaknya.

Berdaang sembahlah gembong terbesar negara itu, dengan suara datar tiada berkesan.

“Kakak Prabu perkenankanlah aku menghadapi kjai Puspa

Bandang.”

Nampak Sri Sunan bernafas lega, tetapi segera pula terbayang kekuatiran diwajah agung itu, sabdanya: Yajimas Puger …… baiklah aku perkenankan kau menghadapi bahaya, bawalah kjai Pleret pusaka keraton paling ampuh itu.”

“Tidak usah kangmas, ingin adik Bagiuda ini mencoba tangannya dulu beserta pusaka keris kjai Gringsing.”

Berkatalah kini pangeran Harja MATARAM, adik yang kedua Baginda, “Biarlah aku yang membawa kjai Pleret kaka Pra bu, umuk mendampingi kangmas pangeran Puger dari jauh. Bila ternyata kjai Gringsing belum mencukupi dalam penundukan Puspa Bandang, perkenankanlah aku menolong kakangmas.

“Bagus harja Mataram bawalah tombak keramat itu.

Dampingilah kakakmu dari jauh dulu!” Setelah menyingsatkan pakaian erat-erat, kedua pangeran setengah tua itu, turun dari Sitinggil menuju kearah para tamtama mengerojok gajah meta tersebut ….. didekat paseban sebelah kanan alun-alun. Menjadi legalah suasana dipasewakan. Kini semua orang memandang kepada kedua ksatria agung dengan rasa kagum, dan mengharapkan akan dan menghara akan kejajaan mereka. Adapun yang paling senang adalah pangeran dipati Anom, karena merasa menang ….. juga karena jakin bahwa sekali inilah peman yang sangat dibenci itu akan musna dari percaturan negara Mataram. Apabila semua orang jakin bahwa Puspa-Bandang tak akan kuat menadahi kjai tombak Plered hanya dipati Anomlah orangnya yang tidak percaja seekor gajah yang tengah mengamuk, dapat dikalahkan dengan tombak melulu, sekalipun tombak itu pusaka yang terampuh diseluruh jagad Mataram.

Marilah kita tinjau sebentar keadaan alun-alun Kartasura pada waktu kjai Puspa-Bandang mengamuk itu, Kecuali seorang wiratamtama bersenjata tombak dan tempuling, yang menghalang- halangi amukan gajah kemana-mana .... nampak bersihlah dataran alun-alun itu, tak satu orang berani menginyak tanah lagi. Para penderek yang membawa upacara kebesaran pangkat para menteri - hulubalang yang menunggu majikan masing masing dipaseban pangurakan, sudah lari semua atau telah memanjat pohon besar disekitar paseban.

Sekalipun mereka itu sudah merasa agak aman duduk didahan-dahan yang cukup tinggi, namun masih saja berdebaran hatinya, melihat betapa hebat tenaga gajah-meta itu. Kalau lima orrang prajurit pilihan saja tidak mampu berbuat banyak terhadap Puspa-Bandang, kecuali hanya memancing-mancingnya kekiri dan kekanan melulu …… lalu lari serabutan, bila dihadapi oleh sang gajah, menyerahkan kepada regu yang lain untuk memancingnya kearah sebaliknyapastilah pohon-pohon yang penuh manusia tadi mendapat giliran terjangan binatang mata gelap ini. Dapatkah kiranya pohon yang dibuat bersernbunyi itu bertahan bila diseruduk gading raksasa yang mengerikan itu.

Kjai Puspa-Bandang sendiri yang nampak mobat-mabit kekanan dan kekiri sambil mengempos-emposkan marahnya. mengejar kekiri dan kekanan penggodanya. Tetapi baru melangkah beberapa tindak saja sudah datang penggoda lainnya dari umping atau dari belakang, Biarpun tusukan-tusukan tombak mereka tidak berarti sama sekali bagi kulitnya yang sangat tebal, namun ia merasa sangat dihina oleh kurcaci-kurcaci tadi.

Terpaksa ia harus melayaninya. Demikianlah rampogan gajah mengamuk dialun-alun, yang memakan waktu Jama itu.

Menjadi gemparlah alun-alun karena sorak orang dipepohonan sekitar paseban, waktu terlihat pangeran Puger seorang diri dalam kesiagaan bertempur mendekati arena perampogan gajah. Segera tahulah bahwa gembong negara ini mendapat tugas mengatasi kesulitan hari itu.

Akan tetapi justru karena itu, kemarahan gajahnya menjadi berlebih-lebih. Dengan belalai terangkat tinggi dan ekor menyentar lurus, dengan menghembuskan jeritan nyaring seperti teromper sember ia menerjang kearah kanan, tidak mau dipaneing-paneing lagi, pasti akan mengalami beneanalah penggoda terakhir tadi bila tidak ada tiba-tiba tubuh orang berdandan awut-awutan menyela ditengah antara gajahnya dan para pemaneingnya tadi. Kedatangan orang jembel itu tak seorangpun yang mengetahuinya. Baru nampak ketika dikejar gajahnya.

Pasti pula Puspa Bandang mengejar orang tersebut, karena dialah yang paling dekat belalainya. Turunlah belalai itu seperti penggada raksasa menganeam didepannya. Semua orang yang melihatnya sudah menutup mata karena tidak tega melihat kehaneuran seseorang…… tetapi waktu mereka membuka matanya lagi, tidaklah terjadi sesuatu yang mengerikan pemandangan. Si jembel agaknya dapat melompat kesamping sehingga bebasla ia dari sabetan belalai itu. kini terjadi kejar mengejar antara si gajah dengan si gembel keluar dari kepungan para tamtama.

Pemuda yang nampak seperti pengemis itu, ikut masuk kedalam kota dengan temannya, Bagus Suwana. Waktu mereka hendak berpisah di dekat batas kota tadi, mereka melihat orang banyak tergesa-gesa meninggalkan kota dengan wajah tegang sekali. Mereka mengabarkan keadaan dalam kota yang menjadi kacau karena ada gajah mengamuk di alun-alun pada hari pasewakan itu. itulah sebabmua kedua pemuda itu mempereepat jalannya untuk melihat keadaan di paseban alun-alun.

Mereka datang di alun-alun hampir bersamaan dengan turunnya pangeran Puger kegelanggang perampogan gajah. Tahulah Punung apa yang segera akan terjadi didepan matanya.

Ayahnya akan berhadapan dengan gajah meta itu. biarpun tidak usah orang mengkhawatirkan keselamatan pangeran sakti itu, namun bagi perasaan anak yang sudah dewasa dan berbakti kepada orang tua, tidak tegalah hatinya mernbiarkan sang ayah sendiri yang harus bertempur selagi masih ada putra-putranya yang merasa sauggup mengatasi kesulitannya.

Maka . tanpa berpikir panjang lagi meloncatlah pemuda jembel itu kedalam arena, menghadang Puspa•Bandang, untuk memancingnya keluar kepungan. Ia berbuat seperti orang yang sangat ketakutan dikejar gajahnya, mendekati pangeran Puger yang datang dengan langkah tetap dan sikap waspada, Berbisiklah Punung dengan aji bisikannya: “Ayah, aku, Putut Punung sengaja memancing setan ini mendekatimu dengan cara takut sekali begini

... yah, aku akan menggemblok dipunggung ayah, untuk menyalurka tenaga sakti bergabung dengan tenaga ayah ... Jotoslah kepala gajah itu ... hendak aku melihat dapatkah ia menerima tenaga gabungan kita ... Awas yah, aku mulai.”

Jernbel itu nampak menyelinap dibeiakang Pangeran Puger, lalu memegang erat-erat lambung Pangeran tersebut.

Hanya sang ayahlah yang mengerti dan merasa penyaluran tenaga hebat yang melewati kedua telapak tangan sipengemis muda, bergelornbang-gelombang memasuki lambungnya, bersatu deugan pengerahan tenaganya sendiri. Semeutara itu datanglah sudah Puspa Bandang didepan sang Pangeran dengan belalai dikebaskan menyabet orang yang berani tegak dimukanya, “Wuttt” sebagai gunung ambruklah serangan binarang besar i tu ... Pangeran Puger terlihat meloncat, mernbawa orang dibelakangnya. Hindarilah ia dari benturan belalai gajah, dan ... dengan tenaga perkasa tergabung, cepat sebagai kilat Pangeran im menjotos kepala gajah sambil meloncat indah sekali.

Sorak orang bergemuruh diangkasa, waktu terdengar suara gerneletuk keras. Gajah kjai Puspa Bandang mula-mula masih ter lihat tegak, namun demi sedikit badannya miring-miring, kernudian ambruk berdebug keras ditanah, tidak bangun lagi. Sekali lagi sorak orang memecah angkasa …. bersambung ucap ucapan memuji kesaktian sang prawira-digdaja Pangeran Puger. Mau tidak mau semua yang menyaksikan kehebatan sang pangeran harus mengaguminya dengan rasa miris sekali, karena tidak lagi dapat membayangkan kekuatan orangnya.

Sementara itu nampak dari jauh sandiwara yang diperankan oleh sang Pangeran dengan putera terkasihnya. Dengan menggoyang-goyangkan telunyuknya dimuka Punung, yang nampak menunduk seperti orang kena tegur, orang dapat mengira bahwa Pangeran Puger sedang memarahi seorang jembel yang sembrono memegangi terus lambung sang pangeran ….. demikianlah layaknya. Tetapi yang benar-benar diucapkan oleh Pangeran tua setengah itu, “Anak yang baik ….. hebat benar kemajuan gaya saktimu. Kekuatanku sama sekali tidak ada sepertiganya, terima kasih atas pertolonganmu ini. ayahmu tidak dapat dibuat konyol oleh setan dipati Anom yang jail itu. nah, Punung …. kau segera menghilangkal dari kota ini, supaya tidak sampai ketahuan orang lain, lebih-lebih oleh di „DIA‟ Selamat jalan anakku…!”

“Selamat tinggal Ayah, restuilah aku!” Menyembahlah Putut Punung, lalu lari serabutan meniru gaya orang kurang beres otak, keluar dari alun-alun Kartasura tanpa dirintangi orang. Siapakah yang hendak berurusan dengan orang kurang beres. Kalau tidak ada pertolongan dari Kanyeng Pangeran Puger, masakan orang itu masih selamat. Biarkan saja orang itu menempuh nasibnya yang gelap.

Namun diantara ribuan orang itu, ada satu yang mempunyai penilaian lain sekali dari yang kebanyakan ….. Orang itu adalah seorang gadis molek sekali yang sedang menyaru sebagai pria. Bagus Suwarna mengikuti arah lenyapnya pemuda jembel tadi dengan pandangan sayu menyayangkan kepergiannya. Kalau ia menuruti kehendaknya, pastilah ia tidak suka berpisahan lagi dengan temannya itu, tetapi kewajiban masing-masing memaksa mereka berpisah untuk waktuyang cukup lama.

Alangkah sibuknya orang-orang di ibukota membicarakan kejadian hebat hari itu. ditiap-tiap rumah, dijalan-jalan, lebih-lebih di warung-warung orang berkumpul. Yang dibicarakan tidak lain daripada kegagahan Pangeran Puger Sakti, yang dengan sekali jotos mampu meremukkan kepala gajah. Yang dahulu masih menyangsikan kedudukan sang Pangeran Sebagai gembong terbesar Kartasura kini menjadi jakinlah Bahwa benar-benar Pangeran setengah tua itulah orang sakti nomor satu diseluruh ibukota atau seluruh negara Mataram ... kecuali sang Pangeran sendiri.

Sekali lagi putra mendapat kecewa dalam mensiasati orang, namun karena itulah kebeneiannya bahkan bertambah-tambah. Demikianlah biasanya orang yang sudah terlanjur berjalan dijalan yang salah ….. tidak mau mundur lagi sejengkal jua pun, sehingga bertumpuklah kesesatannya yang akan meletus pada suatu ketika.

Apabila diusut secara teliti, yang menyebabkan kehebohan Gajah Meta di alun-alun, akan tahulah bahwa biang keladinya juga bukan orang lain daripada Pangeran Anom Sendiri.

****

DENGAN LARI senggojoran, kadang-kadang serong kekiri

…….. kadang-kadang miring kekanan, Putut Punung dapat keluar dari kota Kartasura tanpa dihiraukan orang, karena semua yang berjumpa dengan dia, menganggap pemuda jembel itu tidak penuh. Setelah ia ljauh dari kota, sampai kepada jalan didaerah hutan, berhentilah ia sebentar, untuk berorientasi arah yang hendak ditujunya ...... pertapaan gurunya, Cemara Tunggal, dilereng gunung Lawu. Kemudian, tanpa mengindahkan segala rintangan perjalanan, seperti semak, belukar, relung dan parit-parit lebar, melesatlah pemuda sakti itu mempergunakan ilmunya lari cepat. Mengejar Barat yang dilambari ajian Ungkal-Bener serta Blabag-Pengantol- antol aji yang dahulu dimiliki sang Bima-Sena. Konon, orang yang memakai ajian itu, dalam perjalanannya, pantang menyimpang kekanan, atau kekiri.

Segala. yang merintangi arah lurusnya diatasinya dengan lompatan•perkasa, atau diterjang tumbang dengan berani. Itulah jalan yang paling singkat dan cepar, Hanya rlaerah perdesan dan dukuh-dukuhlah yang menjadi hambatan kelancaran perjalanan Putut Punung, karena terpaksa berjaan biasa.

Suatu pemandangan yang agak janggal minta perhatian Punung yang sedang jalan biasa dikabekelan Banyar Pejaten. Nampak seorang tua sedang marah-marah, mengumpat carji seorang pemuda gagah, menggebahnya dengan tongkat rotan keluar pendopo. Terdengar suaranya setengah menjerit, saking jengkenya “Kau ...... kau ...... cucu orang macam apakah seperti kamu ini? Sudahkah keturunan bekel Wangsadinama tidak mempunyai ketabahan hati lagi dalam pengabdian. Kau seorang pemuda pengecut, pemuda berhati kura-kura,jang hanya pandai bersolek dan mencari perempuan saja.

Kau berani berbuat tidak berani bertanggung jawab ....…

blegg......... (rotan sekali lagi jatuh dipunggung pemuda itu, hingga terlihat pernudanya berjengit), Siapakah yang mau melindungi orang yang ljadi buruan negara seperti macam-mublegg

…….. Siapa berani bermusuhan dengan negara mengapa karnu tidak menyerahkan diri saja, mengapa kau berami melepaskan gajah hingga banyak terjadi kecelakaan dikota yang ramai itu bleg

…… Coba kau jawablah, tidakkah lebih baik kau mati saja daripada menjadi buruan negara, yang bisa merembet-rembet kepada orang tuamu, hah …. blegg .....

Biarpun masih agak jauh antatanya dari kerlua orang itu, segala sesuatu yang dikatakan oleh sikakek tadi terdengar jeIas sekali bagi pendengaran Putut Punung. Tahulah ia bahwa pemuda itulah orangnya yang sengaja melepaskan kjai Puspa•Bandang …...

maka sangat tertariklah perhatiaannya, untuk menyelidiki lebih lanjut tentang sebab-sebabnya. Masuklah ia kedalam halaman rurnah bekel tua itu. Sudah barang tentu kedua orang itu menjadi sangat kaget kedatangan orang asing, karena mengira kedatangan pegawai negara yang mengendus perjalanan pemuda itu. Tetapi setelah melihat. dandanannya, menjadi legalah hati mereka, Pastilah orang im bukan pegawai negara tetapi apakah maksudnya datang harnpir bersamaan waktunya dengan pemuda pelarian itu.

Bertanyalah bekel Wangsadinama: “Ada keperluan apakah kisanak dntang kernari?”

Jawab Punung: “Ahh tak ada keperluan penting lurah aku hanya hendak menanyakan, mengapa pak lurah merangket pemuda

•itu Bukankah ia anak panewu serati di Gajahan?”

Pertanyaan Punuug yang terakhir itu mernang sengaja untuk meugejutkan orang. .

Ternyata pak lurah menjadi gugup dan gagap seketika, “Mak mak-mak-maksud ……. an-anak bagaimana? Ap-aoa di-dia ad-

ad-ada apa.sebenarnya?”

“Jangan gugup pak lurah, aku ridak bermaksud jahat terhadap kalian, Akupun datang dari kota, jadi tahulah apa yang terjadi disana. Jangan dikira aku datang untuk mencari dia tidak. Bukan

maksudku hendak menangkap orang, malahan mungkin aku , dapat memberi pertolongan, asal sudah jelas saja persoalannya.” kata Punung menententramkaa hati orang.

“Ah, baiklah .... baiklah nak aku percaja kepadamu. Sukur anak dapat menolong dia itu yang membutuhkan sekali pertolongan orang. Sebenarnya cucuku itu pemagangan dikota yang terluka hatinya, karena bakal istermja direbut pemuda yang paling berkuasa diseluruh negara.”

“Pangeran dipati Anorn, bukan?”

“Jangan menyebut nama nak, aku tidak berani mengatakannya

...... cukuplah aku sebut pemuda berkuasa saja. Oleh karena itu hati Si Sungkana menjadi mendendam berlebih-lebihan, hingga berani melepas gajab kjai Puspa-Bandang di hari pasewakan itu. Seterusnya ia lari karena takut akibataja, dan. minta perlindungan kepada aku, kakeknya. Pastilah aku tidak berani menerimanya, malahan meneljadi marah sekali kepadanya!”

Jadi, deikianlah persoalan cucu pak Jurah itu. Memang. pemuda yang disebut tadi suka benar melukai hati orang lain. Akupun salah seorang yang mendalami siasat kejinya. Maka senasiblah kiranya cucu pak lurah dengan aku.

Apabila pak Lurah takut akan rembetan akibat perbuatannya, baiklah, kak Sungkana ikut aku saja menyepi dipuncak gunung, hmgga peristiwanya dilupakan orang.

Bagaimana kak Sungkana, maukah kakak mengikuti aku menyepi di gunung Lawu sana?”

Bagiku tidak ada jalan lain untuk ditempuh maka penderitaan di puncak gunung• itu masih lebih baik dari pada dikejar-kejar orang, ditangkap dan digantung sebagai pengewan-ewan (contoh jelek), jawab pemuda yang sudah merasakan gebugan tongkat rotan beberapa kali itu. Kata pak bekel ikut menganyurkan, “ Kau pergilah Sungkana

…… siapa dapat menyelamatkan dirimu, kalau kau berkeliaran didataran mataram saja. Lenyapkan dirimu untuk sementara waktu, ikutilah pemuda ini dan anggaplah ia sebagai pemimpinmu. Kau bawalah pedang pusakaku sebagai sifat kandel dalam penyepianmu itu. tentang orang tuamu, aku akan menemuinya nanti!”

“Berikan doa dan pangestumu Mbah!”

“Baik …… jadilah orang yang baik dikemudian hari!” kata orang tua itu.

Demikianlah Putut Punung mendapat teman baru yang nasibnya agak mirib dengan, nasibnya sendiri. Keruan puja ia tidak dapat lagi mempergunakan ilmunya Iari pesat, karena teman baru itu pasti tidak mampu merendenginya. Namun hatinya agak terhibur karena dapat menolong orang lain. Ia tidak mau kepalang tanggung dalam, pertolongan itu, sedikit demi sedikit Sungkana diberi pelajaran gerak tata-mernbela diri, bertangan kosong. Ternyata pula pemuda itu murid yang rajin sekali, hingga dalam, waktu beberapa minggu bersama•sama mengembara dilereng Lawu, Sungkana, sudah mempunyai bekal yang lumajan. Badan pemuda itu makin menjadi kuat, gerakannya makin gesit dan cekatan. Hanya tenaga yang menyertai gerakannya, masih bertingkat jasmaniah-lahirlah saja, oleh karena itu kekuatannya belum berselisih banyak dari kernampuan orang-orang kuat kebanyakan.

Dalam bergaul rapat dua bulan dengan pemimpin mudanya itu, Sungkana merasa berbahagia sekali ….. tidak hanya karena ia mendapat tuntunan bersilat baik sekali saja, tetapi karena ia kemudian mendapal tahu siapakah pemuda sakti yang menolonng dirinya ... ialah putra Pangeran Puger yang paling digjaya mandraguna, yang sudah banyak dibicarakan orang seluruh ibukota, diwaktu ia masih berada didalam kota tersebut. Dialah yang dahulu bernama denmas PURBAYA, tetapi yang kini menghilang didalam masyarakat, bergelar Putut Punung .....

karena patah-hati, dipisahkan dari putri Alit oleh Pangeran dipati Anom, kakak tertua putri tadi. Biarpun rada berbeda persoalannya, tetapi le'lakon mereka itu mirip sekali sesamanya. Itulah yang mempererat hubungan mereka sekarang.

Mula-mula bagus Sungkana agak sungkan berbahasa kakak atau adik kepada Punung ... tetapi karena permintaan Punung sendiri, akhirnya biasa pula ia mengadik kepada pemuda sakti itu, hanya sikapnya sangat menghormat kepadanya tak mungkin ia

meninggalkannya.

****

Pada suatu malam waktu mereka beristirahat disuatu gua, berkatalah Putut Punung: “Kak Sungkana, tidakkah lebih baik kakak sejak sekarang berganti nama saja, supaya jejakmu lebih menjadi buram? Peliharalah kumismu, biarkan tumbuh ramai jenggotmu ….. pastilah sulir orang mengenal bagus Sungkana kembali dalam waktu dua tahun saja.”

“Baik den mas, eh … adik, aku akan berbuat demikian, lebih- lebih karena aku tidak membutuhkan lagi kebagusan rupa, segala!”-

“Hai kak Sungkana, suaramu bernada seperti kata-kata - seorang kakek yang sudah menginyakkan sebuah kakinya diliang kubur. Mudah amat kakak ini putus harapan, dalam usia muda. Nampaknya dunia ini sangat sempit bagimu. Ha-ha, karena seorang putri saja, seorang yang tidak cukup tangguh dalam janyi sehidup semati ...... kakak sudah menyerah, untuk dibuat konyol hidupmu seterusnya. Wah.. wah.. wah kiranya tidak ada wajah yang lebih manis, lebih rjantik dipersada bumi Mataram ini, dari pada putrimu yang lemah janyi itu!”

“Bukankah den ...... eh, adik mengalami sendiri kegetiran hidup muda, dalam soal demikian?”

“Ya, memang akupun pernah merasakannya, Tetapi putri itu kukuh sekali dalam janyinya, hingga lebih baik mati daripada ingkar ubayanya. Sekalipun demikian, dia masih memberi nasihat kepadaku, unruk tidak bercupat pandangan.

Justru karena anjurannyalah terbuka pengertianku, bahwasannya didunia ini masih banyak sekali bentuk-bentuk keadaan jaag bernilai tinggi dari soal wanita dan asmara melulu. Pengabdian kepada TUHAN lah bentuk yang tertinggi itu, bukan. Tetapi pada hekekatnya, Tuhan lah bentuk pengabdian janig paling sempurna, Dia-lah Maha Pengabdian. Siapakah yang memberi hidup ...... siapakah yang memeliharanya ...... siapakah yang memberi, memberi dan terus menerus memberi itu? Maka pastilah Tuhan tidak membutuhkan pengabdian secara langsung terhadap- Nya, karena Tuhan tidak berwujud tidak bertempat, berarah, berjaman dan bermakam …….. tidak segala-galanya, hingga penyernbahan kepada-Nya sering saja salah kiblat.

Bersambung ke Jilid MAKA PENGABDIAN bagi manusia yang dapat dianggap benar adalah pengabdian terhadap sesama hidup, dalam soal kebenaran-keadilan dan kejujuran, tanpa pamrih bagi diri sendiri. Demikianlah manusia berbakti kepada Tuhannya, mengagungkan Narna-Nya, menyembah kepada-Nya,

“Aih, mengertilah aku sedikit tentang tingkah-laku adik selama kita bergaul ini, demikianlah kiranya. pendirianrnu. Pastilah aku akan berusaha menirunya, dengan iramaku yang larnban, dan biarkan aku mengatasi keruwetan hatiku dahulu, yang sudah terlanyur luka parah, Dengan keasjikan bertekun ilmu gerak pelajaranmu, aku sudah mulai dapat mernbuang sebagian besar rasa dendamku, Mudah-rnudahan dengan pertolongan adik aku segera dapat menemukan hidupku yang lama lagi. Sekarang ini akupun ingin berganti nama, terserah nama apakah yang cocok bagiku dari adik saja.”

“Hm, apakah yang untuk menjadi sebutanmu itu kak, Seharusnya ada hubungannya dengan pelepasan gajah dulu .........

ah, ja, kalau Putut Parnuk, bagaimana? Narna itu mengingatkan kita kepada gajah yang mengarnuk dialun-alun.”

“Bagus bagus ...... itulah namaku seterusnya. Sebutan putut diambilkan dari pemimpinku, sedang Pamuk, akan selalu mengingatkan kepada pelepasan Puspa Bandang. Kiranya tak ada nama yang lebih mentereng bagiku dari Putut pamuk.”

“Jadi sudah setuju akan narna itu, kini tinggal usahanya menyaga nama itu sebaik mungkin, Maka sejak hari ini kakak harus mulai dengan pelajaran pengerahan tenaga sakti man usia, Ketahuilah bahwa manusla yang menjadi titah paling sempurna didunia ini, mempunyai sumber kekuatan hidup yang Iuar biasa gaja

~aktirija. Soalnya seseorang harus tahu dan mengerti (jara membangkitkan tenaga hebat itu, Lebih tepas orang dapat membangkitkannya dan dapat cara mempergunakannya, lebih pula kehebatan sakrinya. Kini pengerahan tenaga itu akan kuajarkan kepadarnu, tergantung kepada ketekunan dan keuletanmulah, dapat tidaknya kakak mencapai tingkatan yang diinginkan.”

“Mari kita mulai sajalah.”

Sejak malam itu beratihlah pelaljaran Putut Pamuk dari sifat jasmaniahnya, ke rokhaniahnya.

Karena sikapnya yang ungguh-ungguh, dalam waktu satu minggu mengikuti petunjuk-perunyuk pemimpin mudanya. Pamuk sudah dapat menangkap inti pelanyarannya.

Sifat manusia mempelajari suatu ilmu, lebih cepat merasa mendapat kemajuan, menyadi sernakin keranjinganlah ketekunannya untuk dapat terus meningkat, hingga melupakan segala-galanya, juga kesehatannya. Itulah yang dialami oleh Putut Parnuk, sampai di tegur oleh sang pemirnpin.

“Caramu menekuni ilmu demikian itu, pasti malahan kurang baik jadinya. Kekuatan manusia itu kepegasannya terbatas. Jika gajanya dipakai secara berlebih-lebihan selalu, pastilah akan lumpuh gaja pegasnya. Bukan hasil yang gemilanglah yang akan kau dapat, tetapi kau akan kehilangan gaja sarna sekali alias, lumpuh iiu.

Aturlah demikian seterusnya, pagi dan sore, kau berlatih silat tangan kosong dan pedang, siang kau mencari makananrnu, akar- akaran dan buah-buahan liar, atau berburu untuk mendapat persediaan daging, Malamnya kau bertekun semadi membangkit gaja sakti sampai kira-kira tengah malam, kemudian kau harus berietlrahat.

Sejak besok, kau akan kuringgalkan di gua ini untuk waktu enam bulan atau lebih, guna merenungi pelajaranmu semuanya. Pesanku jangan tergesa-gesa hendak mencapai kemajuan dengan mengorbankan kesehatanrnu. llmu yang ditekuni dengan sabar pastilah lebih mendalam dari ilmu yang dipelajari secara serampangan.

Kau jangan sekali-sekali mencari aku kepuncak sana, sebelum kau dapat mempergunakan gaya saktimu, dengan leluasa sekali supaya jangan mendapat kecelakaan karena kabut beracun yang disebut ampuhan.”

“Baik kyai, (demikiaulah ia menyebut Putut Punung sekarang) pasti aku dapat mematuhi pesan kyai, tegakanlah aku.

Maka dengan hati lega dan gembira karena asuhannya nampak berhasil baik, pergilah Punung meoeruskan perjalanannya untuk mencari pedang Janur Naga Sura.

Dengan enaknya Punung mendaki tebing•tebing yang terjal Sungai-sunga yang curam mengerikan dilonjatinya tanpa was- was sedikitpun.

Semua itu bagi Punung merupakan suatu tamasya yang indah. Bagi orang biasa perjalanan itu pastilah merupakan suatu perjalanan yang menakutkan yang sangat ditakuti orang dilereng gunung itu ialah yang disebut-sebut-ampuhan yaitu kabut dingin mengandung racun sangat berbahaya bagi manusia.

Namun pemuda awut-awutan yang sakti luar biasa itu tidaklah gentar sedikitpun menghadapi semua itu.

Jangan pula mengira bahwa didekat puncak gunung tidak lagi terdapat binatang-binatang buas. Ma.lahau bila bertemu dengan binatang disitu, dapat dipastikan, bahwa binatang itulah yang paling besar dari jenisnya, mungkin juga yang paling buas dan ganas diantaranya.

Tetapi rintangan apakah yang dapat menghamhat perjalanan Putut Punung didekat puncak Lawu itu, kecuali gunung itu meledak baantabn. Sudah tiga hari berturutan Punung mengitari puncak gunung tersebut tanpa menemukan sesuatu yang dapat menjadi petunjuk adanya sebuah gua atau relung yang mungkin ditempati orang.

Kebanyakan puncjak gunung itu gundul dan tenggar, sering terdapat salju yang putih bersih yang lumer bila sinar matahari

sekali-sekali melintasinya.

Waktu itu sebenarnya tepat tengah hari. Didataran pastilah sinar matahari sedang terik-teriknya, namun didekat puncak tadi hanya berkas-berkas sinar terang saja yang nampak sebagai bujur- bujur kabut putih dari celah-celah awan jatuh dibeberapa bagian puncak tersebut. Gumam Pulut Punung. “Hei-hei setelah berkas-

berkas sinar itu menghilang, datanglah serangan kabut dingin lagi. ltulah hebat. Masih dapatkah aku kiranya bertahan serangan itu sekali lagi ...

Hai, kalau aku sudah makan atau minum cukup saja, tidaklah akan menjadi soal kabut dingin itu .... Tengah ia menimbang-nimbang kekuatannya, Punung dikagetkan oleh pernandangan yang memaksa ia berpikir.

Aneh, berkas sinar itu seharusn]a putih, mengapa nampak sekilas kuning-marong sebentar hingga bertemu dengan tebing larnuk itu. Aku harus tahu juga makna kenataannya. Maka bergeraklah ia seperti terbang menuju tempat tersebut.

Alangkah kagetnya, waktu ia sarnpai ditempat yang dituju tadi, karena kedatangannya diterima dengan terkaman seekor hariman loreng, yang besarnya harnpir lipat dua dari biasanya. Raja gunung itu menyerang dengan menganm keras sekali, bagai guntur meledak, sedang kedua kaki mukanya yang bersenjata maut itu megar-lebar mencari sasarannya.

Biarpun dalam keadaan kagok Punung menghadapi Serangan tadi, namun pemuda perkasa itu tidak menjadi gugup menanggapinya. Jurus Palwa-ranu yang telah menjadi ref'leks, memungkinkan dia masih dapat lolos dari cengkeraman maut, Punung membuang diri kesamping, badannya rapat dengan tanah, maka bebaslah ia dari cakaran sang harimau hanya siliran angin berbau busuk saja yang tercium olehnya, saking dekatnya cakar dan mulut siloreng dengan badannya tadi.

“Biadab!” kata Punung sambil melenting tegak siap dalam jurus tersaktinya Bumi Geneljot Gonyang Ganying ... kedua kaki merenggang seroug, lutut agak ditekuk, kedua tangan segera mengambil sikap seperu Kunyuk hendak berjalan.

“Majulah, kau bukan aku .... kaulah yang akan menjadi makanau lezat lekas menyerang, atau akulah yang akan menyerangrnu mbah-buyut. Harimau yang jatuh ngusruk karena salah menangkap orang, sudah membalik badannya menghadapi Punung lagi ... dengan memamerkan taringnya sarnbil menganm- geram marah. Belum pernah ia gagal menerkam mangsanya, mengapa kali ini ia terjatuh pada moncongnya. Sekali lagi ia menerkam orang itu dalam satu loncatan, tetapi ia menerkam angin, karena lawannya menelusup dibawah keempat kakinya dengan gaja yang luwes sekali Punung melenggakkan badannya kesamping dan muncul dekat lambung si-raja rimba. Bagaikan kilat tangannya yang kanan menyotos kepala harimau ..... pragg …. ambruklah harimau besar itu dengan kepala remuk, hingga darahnya keluar dari hidung dan telinganya.

Darah itulah barang cair satu-satunya yang belum menjadi beku ditempat setinggi tersebut, sedang tenggorokan Punung sudah lama kering sama sekali .... maka mau tunggu kapan lagi untuk dapat membasahi tenggorokannya yang sudah seperti terbakar rasanya, sedang serangan kabut dingin pasti segera akan dalang seperti biasanya. la hams dapat bertahan dapat mengatasi serangan dahsjat itu.

Maka dengan mengabaikan rasa jijik dan bau anyir•darah mentah, kedua belah tangannya dipersatukan untuk mengumpulkan tetesan-tetesan darah harimau tersebut lalu diminum nya dengan memejamkan mata ... demi keselamatannya, demi cita-cita pengabdiannya, dipaksakan air hidup itu masuk kedalam perutnya. Anehnya ... ia tidak menjadi muak karenanya.

Oleh karena itu berbuat sekali lagi dan sekali lagi, hingga ia merasa puas. A pabila pada waktu itu ada orang lain yang melihat Putut Punung dengan mulut gabres darah….. pastilah orang itu ketakutan, dikira bertemu dengan orang yang masih makan orang.

Demikianlah keadaan pemuda itu. Ia sedang membersihkan tangannya pada kulit bekas musuhnya, sambil meneliti bangkainya. Belum pernah ia melihat harimau loreng sebesar ini. Adakah jenis harimau yang memang sangat besar demikian ……. atau harimau ini satu diantara jenisnya, yang tumbuh secara istimewa asli, hingga badannya melebihi jenisnya yang terbesar. iasaja harimau tidak terlalu suka tempat yang terlalu dingin letapi bekas raja gunung memilih tempat yang luar biasa dinginnya ... Ha, dimana tempat si loreng ini .... Pastilah sinar kekuning-kuningan marong tadi badan harimau ini yang kena soroi simar matahari tadi. Karena sinar kuning hilang di suatu lempat, waktu menyentuh tebing tadi ....

tahulah Punung, bahwa disitu pasti ada relung atau gua yang tidak nampak dari tempat mereka berkelahi, karena teralang oleh sesualu.

Teringatlah ia akan keperluannya berkeliaran disekitar punca.k gunung tersebut, waktu pernikirannya sampei kepada gua atau relung tadi. Maka keinginannya, dalam beberapa loncatan saja, sampailah ditempat darirnana siloreng tadi menyerang. Dan benar

saja terkaannya itu. yang terlihat lamuk dari kejauhan tadi, adalah batu lempeng besar berbentuk segi-tiga, sengaja ditempatkan oleh tangan orang dimuka lobang, atau mulut gua, maka tidak nampak dari jauh ..

Berdebaranlah hati Punung mengikuti jalan pikirannya sendiri. Batu dimuka lubang ini ditempatkan oleh tangan manusia, jadi gua ini ada penghuninya.

Mungkin penghuni itu sudah mati lama sekali karena gua itu sudah menjadi hak mutlaknya sigembong.• Hai …. Apakah aku ini berhasil menernukan persembunyian Manggala-rana Majapahit terakhir itu, Kalau demikian adanya, gua ini. pasti gua Singapati dan akulah yang berhak menjadi ahli-warisnya.

Dengan sikap hormar tetapi penuh kewaspadaan masuklah Putut Punung kedalam gua itu. Gua itu berupa lobang mendatar, panyang lima depa, lebar tiga depa dan tingginya kira-kira dua pohon nyiur, yang puncaknya menyempit menjadi satu, hanya nampak retak disebelah muka. Benar pula persangkaan Putut Punung, bahwa gua•itu pernah didiami manusia. Disudut sebelah kanan gua terdapat batu besar berbentuk amben tempat duduk atau tidur diwaktu beristirahat. Dan di amben batu tersebut terlihat kerangka orang dalam sikap duduk bersamadi dengan bersila “Padma-ashanas'' salah satu cara duduk bersamadi melakukan yoga. MendekatIah Punung dengan sikap hormatnya …. Beberapa keanehan nampak pada kerangka itu:

Pertama, kerangka ini pasti sudah lebih dari setengah abad, karena sudah tinggal tulang-belulang melulu. Semua bekas pakaiannya sudah hancur sama sekali, tetapr mengapa ia masih terbungkus oleh rompi lamuk, bereoret-corec seribu macam …. mengapa rompi itu tidak ikut hancur ber-sama dengan pakaiannya yang lain.

Kedua, mengapa kerangka itu tidak roboh setelah sarnbungan•sambungan tulang belulangnya rusak kemudian lenyap sama sekali. Kekuatan apakah yang ada Pada kerangka sudah lama mati itu?

Lama Punung memperutika kerangka itu ... Dalam masa hidupnya orang ini pasti luar biasa benar kesaktiannya hingga

setelah mati lama saja, kekuatan itu masih belum lenyap sama sekali dari tulang-tulangnya. ltulah satu-satunya keterangan yang masuk diakal, mengapa tulang-tulang itu membujar.

Kalau kerangka ini benar orang yang dicari itu, dimanakah pedangnya yang tidak kurang termasjhurnya? Dalam gua itu tidak ada barang yang terlihat mirip pusaka apapun. Apakah sebelum Putut Punung memasuki gua ini sudah ada orang yang mendahului menemukannya …. ya-ya siapa tahu yang, sebenarnya telah terjadi, hanya rasanya saja …. itulah tidak mungkin. Sudahlah tidak perlu berpikir secara berlarut, lebih baik berbuat saja. Jenazah ini harus segera dikebumikan biarpun tinggal kerangka belaka. Baru Putut Punung hendak membuat lubang …. www-uu uuttt

.. angin dingin membawa serangan kabut dingin membawa serangan kabut dingin sudah keburu datang. Biasanya segera dinmgmnya langsung tandas pada tulang-tulang diseluruh badan. Maka sebelum kasip segera Punnng mengerahkan tenaga saktinya yang tertinggi, pengiling jurus Gempuran Bumi genyot gonyang-ganying disertai tenaga Guntur geni yang bersifat panas. Siaplah sudah ia menghadapi serangan dahsyat itu. wwwuuutttt---wwwuuuttt--- wwwuuur,tt---

Berkali-kali. angin datang membawa kabut dingin, tetapi Punung sama sekali tidak terasa dingin sekali ini, malahan terasa kepanasan karena pengerahan tenaga sendiri, hingga terpaksa . keluar gua untuk melepasnya. Hai mengapa diluarpun ia tidak

merasakan dinginnya udara lagi. Sudah lewatkah serangan kabut dingin itu? Pasti belum, lihat salju dan butir-butir di sekitarnya, belum menjadi susut.

Punung sengaja keluar agak jauh dari gua ketempat bangkai harimau tadi ia tetap tidak merasa dingin.

Bangkai harimau itu sudah hampir membeku, sedang daging binatang itulah satu-satunya yang dapat dibuat santapan. Cepat- cepat bangkai harimau tadi diseret kedalam gua, supaya jangan terlalu kedinginan. Sambil bekerja itu pikiran Punung selalu diliputi kebimbangan, mengapa kedalam gua ia tidak merasa kedinginan.

Ah' itulah kiranya …. karena ia minum darah-mentah siloreng tadi, atau sekurang-kurangnya pasti ada hubungannya dengan itu.

Bukankah siloreng itu tahan sekali udara dingin, hingga ia dapat hidup subur ditempat seringgi ini? Kemudian kembalilah Punung kedalam gua ia hendak mernbuat lubang dttengh-tengah gua, untuk mengubur kerangka penghuni pertama gua ini. Dengan taugan yang perkasa itu, tidaklah lama membuat liang kubur yang cukup dalamnya.

Setelah itu bersilalah ia dimuka kerangka orang, seperti orang tengah menghadap orang tua a tau guru yang dihormati.

Berkatalah Punung dengan khidrnat : “Ijinkanlah aku berbuat bakti terhadapmu paman ... entah paman ini, parnan Singapati, entah siapa ... anak hendak mengubur kerangka paman. Satu- satunya pemnggalan paman. adalah rompi yang masih utuh itu. Mungkin sekali rompi yang sangat keramat, muka jzinkanlah aku memakainya sebagai akhli waris paman.

Setelah berbuat sembah satu kali, mendekatlah ia uniuk menurunkun rompi lamuk tersebut dari sang kerangka. Kini rerjadi keanehan yang ketiga jakni sesudah rompi itu lepas, maka kerangka itu lalu runtuh berantakan. Pasti saja lebih mudah bagi Punung untuk mengubur sebagian demi sebagian dari tulang-tulang kedalam gua itu. Tetapi .. yang meherankan pemikirannya, sebab-musabab terlepasnya kerangka itu !! yang harus dihubungkan deagan rompi.

Karena belum dapat menyelidikinya dengan teliti, terpaksa ia barus sabar dulu ia ingin bersantap daging siloreng untuk pengisi perut, .

Kemudian baru akan menyelidiki segala sesuatu yang berhubungan dengan gua beserta penghuninya. Ia membawa rompi itu yang kemudian ditaruh dibadannya siloreng. Segera ia mengeluarkan pisau belatinya, untuk menguliti harrmau itu.

Pisau Putut Punung bukan sembarang pisau, tajamnya jangan dikira-kirakan lagi, tetapi waktu digoreskan kuht siloreng ... kulit itu tidak terobek karenanya. Heranlah Purut Punung dibuatnya, karena goresannya dengan pisau tajam, seperti menyajat barang yang liat luar biasa. …. la mencoba sekali lagi dengan penuh perhatian, hasilnya tetap demikian juga.

Kedua sudut matanya melihat rompi orang saku itu menyala berkilauan.

Haaa ... mungkin karena itu. Rompi itu lalu diambilnya dan ditaruh ditempat lain. Kemudlian ... dengan segala senang hati ia menguliti si loreng dan menyajati dagingnya dengan mudah sekali. Yakinlah ia bahwa rompi itu, menimbulkan gaya kebal senjata tajam dan runcing kepada pemakainya.

Hmm, pasti saja orang yang memakai rompi ilu dapat menerobos kepungan seribu orang pengepungnya, lebih-lebih orang berkepandaian tinggi dan bersenjata pedang ampuh luar biasa. Gumam Punung, ”Terima-kasih paman belum bernama, alas peningalanmu rompi sakti ini. Sebenarnya hampir aku berani memastikan bahwa pamanlah Manggaarana singapati, tetapi masih harus diketemukan lagi pengenal mutlak paman ialah pedang Janur Nagasura. Paman taruh dimanakah peninggalanmu itu?”

Malam itu Punung dapat mengisi perutnya dengan daging harimau yang matang digarang, karena didalam gua itu masih terdapal tumpukan kaju kuno dan alat pematik api (titikan), sajangnya tidak ada airnya hingga tidak dapat minum ... tetapi... tidak apalah, karenn selera minumpun kurang ditempat dingin demikian. Ia lalu duduk bersamadi didepan kuburan didalam gua itu.

Serangan kabut dingin dan datangnya angin Ampuhan dipuncak gunung itu selalu berturutan, dan tidak terlampau lama jaraknya. Hampir dapat ditentukan dalam satu jam sekali pasti ada serangan kabut dingin, disusul oleh ampuhannya. Maka bagi orang biasa jagan harap dapat bertahan lama dipuncak itu. Tetapi Putut Punung adalah hukan orang biasa, kecuali itu ia sekarang telah minum darah harimau istimewa puncak Lawu. Tambahan pula rompi peninggalan kunonya beserta guanya ... pastilah beradanya dipuncak lersebut bukan menjadi soal mati-hidup.

Maka baginya dipuncak itu adalah tempat yang sangat di- idamkan untuk bertekun ilmu dan berlatih. Bulatlah tekadnya untuk tinggal disitu kira-kira enam bulan, mengimbangi latihan Putut Pamuk.

Esok harinyia ia membuat rencana kesibukannya sehari•harian supaya jangan ada waktu yang terbuang sia-sia. Tiap hari yang lewat ditutup dengan membuat garis silang dimuka mulut gua. Dengan berbuat demikian pastilah ia tak akan berbuat salah menghitung bulan.

Jang menjadi perhatian pertamanya adalah soal rompi keramat itu, Agaknya rompi tersebut dibuat dari kain yang mulur-mungkret

... karena kelihatan hanya sempit saja, tetapi waktu rompi dipakainya pas-presis pada badannya ... aih, enak, benar pakainya .. hangat-hangat nyaman terasa dibadan. Dan anehnya rasa nyaman dan hangatnya menetap didalam badannya. Segala-galanya terasa longgar dalam tubuhnya.

Yang paling menyenangkan sekali itu, soal pernapasanya yang menjadi landung (panyang sekali). la dapat menarik nafas hampir tiada batas, demikian pula mengeuarkannya alias mengempos nafasnya ... Ini berarti bahwa gaya saktinya sulit di- ukur lagi kemampuannya. Hendak ia mencobanya.

Karena belum tahu menilai kekuatannya sekarang ini, ia meloncat lurus dengan kekuatan peuh …Wutt… Ho hlo. hlo ......

terpaksa ia kaget sekali, karena badannya menjadi enteng luar biasa. Luncuran dahulu paling banter enam tujuh meter tetapi kini ia