Gembong Kartasura Jilid 1

Jilid I

DI IBUKOTA Kartasura…… pada hari Sabtu yang cerah, hari yang dapat menggetarkan para ksatria prajurit dan pemuda dari kalangan pembesar negara umumnya …… Tidakkah setiap hari Sabtu pagi, di alun-alun Kartasura diadakan latihan kecekatan dan keterampilan memainkan WATANG ……? Ikut serta pada latihan watangan pada hari itu, adalah idam-idaman tiap-tiap pemuda umumnya, khusus dari Ibukota sendiri…… Pemuda-pemuda yang sedang giat berguru sakti berlatih diri, mempertinggi kemampuan setiap hari dalam tata-gerak, menghadapi lawan dengan segala macam senjata, juga dengan tombak atau watang. Maka hari Sabtu itulah hari meneari pengalaman dalam bertanding tiada menghadapi lawan.

Kecuali mencari pengalaman bertandingpemuda

manakah yang tidak ingin memamerkan tampang kegantengan dan kebagusannya di muka umum, dimuka penonton, teritimewa para penonton putri pingitan. Memang hanya pada hari sabtu itulah adanya kesempatan untuk sekali-sekali melirik pada puteri-puteri pingitan kraton yang biasanya ikut baginda raja melihat watangan, menduduki panggung kerajaan dekat ringin kurung.

Tersiar pula kabar, bahwa hari Sabtu itu turut keluar berlatih, tamu perkasa sang UNTUNG SURAPATI yang belum lama ini datang dari Jawa Barat, beserta puteri Gusik dan pengiring- pengiringnya, konon orang ini adalah orang yang berani menentang Kompeni, kini sedang menjadi buruan Belanda, karena cukup membuat pusing Kompeni di Jawa barat. Karena tidak lagi bertahan terhadap tekanan dari pihak lawan, maka Untung Surapati melarikan diri ke Kartasura untuk berlingung di bawah kekuasaan Sunan…… dan …… sikap Kartasura tidak menolaknya, entah bagaimana nanti jadinya.

Benarlah adanya pekabaran itu, atas desakan Pangeran Adipati Anom, putera mahkota kerajan …… Untung Surapati pada hari itu akan turut serta terjun dalam gelanggang watangan di alun-alun Kartasura.

Pahlawan perkasa itu mengendarai kuda pilihan dari istal Pangeran Dipati Anom sendiri. Ditangan kanannya itupun memegang sebuah watang, sebagaimana pengikut-pengikut lainnya. Watang adalah semacam tombak yang ujungnya diganti dengan bantalan kulit, supaya tidak melukai lawan berlatih dengan luka tusukan barang runeing, hingga paling banter hanya menderita luka lecet-lecet saja …… kecuali terjatuh dari kuda tunggangannya. Ditangan kiri seorang pengikut watangan, memegang tameng (perisai) dibuat dari anyaman penyalin yang cukup kuat, untuk menangkis serangan tusukan bantalan diujung watang itu.

Hebatlah pemandangan di alun-alun waktu itu. pemuda-pemuda yang ganteng lagi perkasa, bertubuh kuat sentosa, berpakaian serba bagus, dengan kutang (baju kutung, batas pangkal lengan), wama- wami sebagai bunga setaman …….. tengan bersiap-siap untuk beraksi di tengah lapangan pada waktunya. Sabtu itu nyata benar keistimewaannya …… lebih dari empat puluh pemuda, menampilkan diri untuk bermain watangan di muka Sri Sunan. Pemuda-pemuda putera Bupati dan kliwon, juga para pemuda hartawan dan dari lingkungan bangsawan, semua nampak gagah- gagah dan tegap-tegap perawakannya …. Tanpa kecuali hendak memamerkan kemampuan masing-masing …… sekaligus melirik bunga-bunga keraton yang sedang dipuji-puji dan disanyung- sanyung kecantikannya, yang namanya selalu dibisik-bisikkan orang dalam kota Kartasura …….. ialah : Ratu Alit, puteri yang ketujuh dari urutan SEKAR KEDATON. Biarpun puteri ini hanya dari garwa selir saja, tetapi kecantikannya menang jauh dari puteri- puteri lainnya.

Kehadiran Sri Sunan, beserta para puterinya, dan puteri-puteri para pangeran seluruh Ibukota, membayangkan pula keistimewaan hari watangan kali ini. siapakah yang tidak ingin melihat wayah perkasa Surapati yang termasyur itu …… ? alun-alun Kartasura yang lebar itu pada tepinya berjejal-jejal penonton yang datang dari semua jurusan mata-angin.

Terdengar kini gamelan besar itu menggemakan lagu MONGGANG, yang mulai mengalun diangkasa. Alangkah sedapnya melihat pera ksatria itu bergerak atau lebih tepatnya menggerakkan kudanya, mengikuti irama pukulan lagi Monggang yang masih berayun-ayun tenang, sengan gaya dan kepandaian sendiri-sendiri …… mengitari tepi alun-alun. Da yang meneongklangkan , ada yang menyirikkan kudanya …… bahkan ada yang membalapkan tunggangannya, dalam irama masih tenang itu seolah-oleh mendesak segera terjadinya penggantian lagu SAMPAK, yang menjadi pedoman permulaan berlatih.

Terdengarlah kini laagu Sampak sudah mengambil alih irama lagu Monggang. Semua pengikut latihan membalapkan kudanya melewati muka panggungan tempat Raja duduk melihat beserta para pengiringnya…… untuk memberi hormat kepada Baginda. Setelah itu lalu mereka melarikan kudanya ketengah lapangan meneari lawan bertanding Watang. Sudah barang tentu sejak tadi bertemu kawan dialun-alun, sudah menaksir-naksir pilihan sendiri-sendiri sebagai lawan latihan. Kini tainggal menearinya kembali lalu mengitarinya sebagai tantangan tanpa ucapan-ucapan. Bertemulah mereka dalam pertandingan babak pertama …… Maka mulailah mereka membuat lingkaran, dengan saling mengitarinya, sambil berwaspada …… juga meneari kesempatan untuk menyerang lawan.

Sebenamya semua pemuda yang datang berlatih itu berharap tanpa kecuali. Mendapat tandingan sang Surapati yang termasyur namanya. Sekalipun tidak dapat merobohkannya, setidak-tidaknya sudah pemah bersilang watang dengan prajurit perkasa ini. namun setelah melihat orangnya …… banyaklah diantaranya yang sudah kuneup nyalinya …… mungkin karena terkena perbawa orang gagah yang berani menentag Belanda itu.

Gumam seorang prajurit latihan, pada waktu bertemu dengan Surapati : “Waduh …….. hebat benar orang ini. sinar matanya sangat tajam menakutkan yang menatapnya. Otot-ototnya nampak kokoh kuat luar biasa, dapat dibayangkan betapa besar gaya tempumya. Hemm, …… lebih aman menyauhkan diri saja dari samberan-samberan watangnya. Silakan saja kepada yang masih ingin meneoba kekuatannya……

Terdengar suara lantang menegur yang sedang menggumam itu. “Hai Subrata, mau lari kemana kau, sudah berani muneul

disini.

Sebenamya pemuda yang ditegur dengan nama Subrata tadi sangat kaget dalam hatinya, karena temyata sudah agak lengah, tetapi pemuda mana suka berterus-terang dalam soal yang memalukan, banyak sedikitnya menyangkut kehormatan dirinya. Jawabnya agak dibuat-buat biasa “Aha ...... siapa mau lari dan apakah dibuat takut, lebih-lebih apabila hanya menghadapi lawan sepertimu saja, Kartana …….. Rangkap dualah sekaligus, untuk melegakan hatiku.”

“Bagus-bagus ...... kau tidak hendak lari, akulah salah terka, mengira kau ketakutan setengah maii melibat gaya tamu perkasa itu, Nah ...... , baiklah kita bertanding saja dahulu. Siapa yang menang dalam main sodoran ini, ...... harus meneoba kekuatan sang Surapati, setuju?”

“Baik aku terima tantanganmu Kartana.”

Kedua pemuda yang sudah memilih tandingan itu lalu berkitaran sambil memainkan watang masing-masing. Lingkaran yang dibuat makin menyempit, hingga jarak dua-tiga meter saja,

…… menanti kesempatan untuk membuka serangan, bila lawan agak menduduki tempat kurang enak sedikit saja.

Saat demikian itulah yang paling bagus untuk dilihat oleh para penonton. Pemuda tampan, berdandan serba menarik tetapi rapi dan singsat praktis, memainkan watangnya yang menggetar ke segala arah …… membaling pepat disamping kiri kanan atau diatas kepala dengan gaya luwes, cekatan lagi kuat, hingg ada yang mengaung- ngaung di udara menimbulkan angin pusaran menyebar lebar.

Lagu Sampak kian berirama menyesak. Saat yang dinantikan dengan rasa panas dingin oleh para peserta watangan dan penonton pada umumnya. Tergetarlah alun-alun Kartasura layaknya, karena pekik-pekik nyaring yang dilanearkan para penyerang minta perhatian sekaligus untuk menggetarkal lawannya. Dengan watang terkempit erat yang ujung bantalannya tertuju kepada badan lawan, penyerang itu menggerakkan kudanya, menerjang dengan gagah berani. Gemerapyaklah suara gagang watang bertangkisan nyaring, dengan akibat yang beraneka ragam.

Betapa ramainya, riuh dan gaduhnya pada waktu serang- menyerang itu, sulitlah rasanya untuk dilukiskan dengan perkataan. Gagang watang beradu disertai pekik-pekikan orangnya …… suara gebahan dengan tameng, disusul dengan tusukan watang yang mengenai dada lawan …… suara membekos orang terkena watang, jatuh mental dari tunggangannya, gedebugan ditanah terjadi disana- sini …… dibarengi dengan sorak serta tepuk-tangan penonton bergemuruh diangkasa bagaikan guntur membelah jagat.

Dalam gebrakan pertama itu, kira-kir ada sepuluh orang pemuda yang dapat dianggap telah gugur …… karena mereka jatuh terlempar dari atas kudanya, atau telah kehilangan watang, putus atau terjatuh ……..

Mereka itu harus mundur ke samping, yang biasanya lalu membedalkan kudanya keluar gelanggang untuk langsung pulang. Sengan menanggung sedikit malu.

Adapun yang masih lengkap genggamannya, lalu meneruskan berlatih dengan memilih lawan baru yang sama-sama belum gugur. Karena jumlahnya sudah berkurang, mau tidak mau mereka itu harus berani dikeroyok atau mungkin malah mengeroyok. Dan …… sesudah sampai pada tahap pengeroyokan inilah, oarang dapat menilai ketangguhan dan kekuatan seseorang peserta watangan.

Gebrakan yang kedua …… ad lima belas peserta yang tersisihkan, karena mereka kebanyakan tidak kuat menghadapi kerubutan hingga mudah saja dirubuhkan. Maka berkurang banyaklah yang masih melanjutkan berlatih. Karena susutnya lawan bertanding, maka yang kebanyakan terlihat adalah satu melawan dua pengerubut.

Salah seorang yang dikerubut demikian itu …… adalah Untung Surapati, jagoan dari Jakarta yang kian nampak gagah saja. memang tidak salah terkaan pemuda Subrata yang kini sudah menonton dipinggiran karena sudah „GUGUR‟, bahwasanya gaya tempur sang Surapati pasti hebat luar biasa. Serangan kedua lawannya yang kuat lagi terarah rapi, dengan mudah sekali dihalau dengan tangkisan tamengnya yang cekatan. Pada waktu mendapat kesempatan untuk membalas, sekali mengibaskan watangnya membentur watang kedua lawan tadi, putuslah watang lawan, sedang orangnya hampir jatuh dari pelana kuda mereka, nampak duduk termiring-miring sudah. Syukur mereka tidak sampai jatuh, sehingga tidak usah menanggung malu lebih lanjut …… namun mereka itu tetap dianggap sudah gugur.

Sorak penonton memecah udara lagi, pujian-pujian kagum menggema diudara: “Surapati-Surapati, jaYa-yaja.”

Tidak hanya para penonton dipinggiran alun-alun saja yang muji-muji kegagahan sang Surapati juga semua orang yang hadir dipanggung Sri Baginda tak ada yang mengecuali.

Demikianlah corak tokoh, yang berani menghadapi kekuatan Kompeni iiu.

Adapun yang paling ramai dalam pujiannya adalah

kangeljeng pangeran Adipati Anom (putra mahkota), yang telah memperlihatkan gejala-gejala kurang bijaksana dalam segala tindakannya dan suka menuruti kehendak sendiri, biar yang kurang baik sekalipun. Siapakah yang berani mencegah atau menghalangi kelancangan beliau itu, kecuali Sri Sunan sendiri.

Jahatnya .... , sang pangeran suka sekali menyjindir-nyindir, melukai hati para pangeran pamannya atau pembesar lain, yang tidak disukainya.

Kali ini yang menjadi sasaran kelakar yahatnya, adalah pangeran Puger, salah seorang pamannya yang sangat dibencinya, karema pangeran ini sering digelari orang „GEMBONG KARTASURA'. Itulah karena sang Pangeran pemah berdiri tegak melawan Kerajaan Trunajaja demgan laskamya sendiri tanpa bantuan dari Kompeni, pada waktu Sunan Tegal-Arum beserta pangeran Adipati- Anom (sunan yang sekarang) melarikan diri dari Kerta, ibukota lama, kearah Barat. Pangeran Puger baru mau membubarkan barisannya, waktu kakaknya sang pangeran Adipati- Anom, telah dinobatkan menjadi Sunan Amangkurat II di Kartasura, ibukota Mataram yang baru .. , tunduk patuh dalam pengabdian kepada raja.

Peristiwa itulah yang sangat menyusahkan sang pangeran, karema lalu dibenci secara istimewa oleh putra mahkota yang sekarang, sekalipun pangeran Adipati-Anom itu sudah menjadi menantu Kapugeran. “Nah, .... mumpung sekarang ini ada kesempatan baik,” berkatalah paugeran muda-jahat itu, “Hua ha ha

...... hebat sekali paman Untung Surapati itu. Siapakah tandingannya di Kartasura ini …… Akh … aku lupa, bahwasannya kitapun mempunyai gembong negara, paman Pangeran PUGER. Itulah dia

......... kita akan melihat pertarungan yang hebat sekali, bila paman pangeran Puger suka juga terjun dalam gelanggang watangan hari ini untuk menandingi pamaa Untung Surapati. Silahkan Paman, untuk membuka mata kita, untuk mengagumi kedigjayaan paman.”

Siapakah yang tidak mengerti dan merasa ejekan sinis, dalam ucapan-ucapan pangeran muda itu. Pada waktu itu pangeran Puger sudah berusia lebih. dari tahim, sudah boleh digolongkan sebagai sesepuh praja namun masih belum hindar dari kelakar yahat menantunya sendiri.

Jikalau pangeran tua itu kurang membat dalam tata berpikir sedikit saja, pasti akan segera pecahlah sengketa kekeluargaan keraton Kartasura. Syukurlah, pangeran Puger sudah bersikap "runduk", tidak lagi suka keburu nafsu. Maka terdengarlah jawabnya yang tenang diiringi dengan senyuman damai,

“Ah, angger Adipati Anom ...... pamanmu yang sudah pikun jni, sudah barang tontu bukan tandingan sang Surapati yang gagah- perkasa itu. Malahan dimasa mudakupun, agaknya aku tidak sanggup bertahan serangan-serangan hebat luar biasa dari jago muda itu.” “Masakan demikian paman, mana dapat orang-orang Kartasura menghargai lagi gembongnya, bila paman sudah takut karena melihat kegagahan orang, hingga keberanian sudah mengkeret sebelum bertanding?”

Sengaya sang pangeran mempergunakan istilah-istilah yang menyakitkan hati orang untuk merendahkannya.

“Soalnya bukanlah takut anak mas .”

“Apa lagi soalnya kalau bukan takut itu?” kata pangeran muda tadi dengan mendongakkan kepala keatas.

Jawab pangeran Puger tenang, “tulah karena tidak pantas lagi......... berhubung dengan umurku yang sudah lanjut, telah melewati masa beraksi.”

“Alias…… takut, bukan? Ya..ya, ….pasti ada saja dalih yang dapat dipakai alasan sebagai “alias” kenyataan.

Benar-benar melebihi batas kesopanan, ejekan Pangeran Anom itu, tetapi Puger masih dapat mengendalikan amarahnja.

Diwaktu yang sangat tegang itu, terjadilah suatu hal yang sangat tidak dapat diperkirakan lebih dahulu. Seorang pemuda tampan, gagah, berbadan tegap dengan dandanan sebagai lazimnya dandanan seorang bangsawan tinggi, berdiri dari tempat duduknya, menarap Pangeran Dipati Anom dengan mata menyala-nyala‟ karena menahan marah. Anehnya pemandangan disitu, pemuda itu diganduli oleh dua orang teman duduknya, tanpa digubris serta dirasakan. Mungkin kedua teman itu hendak memcegah tindakan temannya yang terlanyur marah sekali itu, tetapi tidak mampu untuk mencegahnya, hingga terpaksa menggantung sejenak. Semua orang terpaksa melongo memandang kep ada si pemberani luar biasa itu. Memang perbuatan pemuda itu snngat gegabah. Dijaman kerajaan, orang berani berdiri tanpa perintah Baginda terlebih dahulu, mudah sekali kehilangau kepalanya.

Siapakah yang tidak memgerti hal seperti itu namun den mas PURBAYA, salah seorang putera Pangean Pugersudah

terlanjur berbuat demikian karema tidak dalpat memahan gedjolak hatinya, mendengar ayahnya dipermainkan orang sejadi-jadlnya itu.

Putera Pangeran Puger yang seorang Ini, agaknya lain dari pada yang lain, biarpun dia hanya lahir dari seorang garwa selir saja, Sejak kecil dia memperlihatkan bakat yang baik sekali, sedang otaknya rerang tiada tercela, sopan tutur katanya lagi berbudi lembut. Maka tidak memgherankan bahwa dialah kesayangan seluruh keluarga Ka-Pugeran itu. Sejak kecil ia memdapat gemblemgan tata bergerak oleh ayahnya dan kakeknya sendiri didesa Katongan, dekat Candi Prambanan, bila sedang diajak memgunyungi orang orang tua sakti itu oleh ibunya, Maka pada wakru ia memginyak umur an iapun pemuda bertubuh tegap,

bertampang ganteng lagi jantan itu, sudah berilmu tinggi sekali, mungkin sudah dapat disejajarkan dengan kemampuan ayahnya yang masih memgguruinya, untuk memiliki semua kesaktian sang ayah ,

Terdengarlah suaranya memecah ketegangan, “Kangmas Pangeran Anom, karema ayah hamba telah berusia lanjut, bolebkah beliau itu hamba wakili saja. Dengan perkenan uwa Prabu Sri Susuhunan, hamba akan mencoba kekuatan hamba, mewakili orang tua.”

Dengan pandangan mata sangat merendahkan, pangeran Adipati menatap wayah saudara sepupunya yang masih sangat muda itu. Sebenamya ia tidak memandang dengan sebelah mata kapada denmas PURBAYA tadi ........ Pastilah “kunyuk rendah" ini bukan tandingan sang Surapati, tetapi biarlah pemuda gegabah ini tahu akan rasa sedikit, hitung- hitung mengayar adat kepadanya. Demikian pikir Sang Pangeran, maka berkatalah ia.

“Bagus-bagus dimas Purbaya pasti saja kau diperkenankan

mewakili kangjeng paman, ayahmu……… Rama Prabu, perkenankanlah adik Purbaya terjun kegelanggang watangan mewakili paman Pangeran Puger, melawan paman Surapati.”

Yangpaling betul adalah, bila Sri Baginda menegur puteranya yang telah menyakiti hati pamannya tadi .. tetapi dimuka umum, menegur Pangeran Mahkota, alangkah tidak layanya. terpaksa Baginda meluluskan permohonan puteranya tadi, sekahpun dengan hati berat Sabda Bagmda.

“Baiklah, anak Purbaya berhati-hatilah kamu menghadapi kekuatan Surapati yang temyata luar biasa itu!”

Demmas Purbaya berjongkok lalu berdatang sembah.

“Uwa Prabudengan restu paduka Baginda, pasti hamba

akan keluar dari gelanggang dengan selamat.”

Setelah menyembah Baginda sekali lagi, ia lalu mengarahkan sembahnya kepada ayahnya, kemudian kepda Sang Pangeran Adipati Anom.

Turunlah pemuda tampan itu dari panggung raja, Lalu memerintahkan kepada penderek pribadinya untuk menyediakan perlengkapan watangannya, pada kuda Kala Werengkuda

kesayangannya. Gemparlah para penderek Ka-Pugeran, waktu mendengar bahwa denmas Purbaya jago kesayangan mrreka akan keluar bersilang watang•dengan sang prawira Surapati. Mereka tahu pasti, pemuda macam apakah denmas kesayangan Ka-Pugeran itu

...... hai, inilah hebat sekali. Dipanggung banyak orang menjadi gelisah karena peristiwa tersebut, tetapi yang paling gelisah adalah Pangeran Puger. Rasa- rasanya masih belum tega beliau membiarkan puteranya yang masih semuda itu akan mendapat hinaan dimuka orang banyak, apabila terpaksa menelan kekalahan nanti. Putera ini, sebenamya putera pameran, yang kedigdajaan dan kekuatannya tidak lagi berselisih banyak dengan kemampuan sang Pangeran sendiri, malahan mungkin sudah melewatinya ...... entahlah. Dalam waktu enam bulan belakangan ini denmas Purbaya belum berlatih lagi demgan ayahnya, kiranya anak muda itu sedang sibuk sekali memekuni pelajarannya, tenaga sakti AJI GINENG, dan pukulan GUNTUR GENI, yang diturunkan oleh kakeknya. Soalnya sampai dimanakah Purbaya memiliki sakti yang ditekuni itu. Menurut bakatnya yang baik sekali dan otuknya yang teranz, hampir dapat ditemtukan, bahwa dia sudah dapat menyelami dan memiliki ajian dahsjat ke dua-duanya lebih dari delapan hagian dari sepuIuhnya. Celakalah seriap lawan tanpa lambaran ilmu sakti yang menghadapi pemuda gagah itu mungkin sekali binasa dalam tangannya.

Tanpa sengaya bergeraklah bibir Pangeran Puger, menggunakan ajian PAMEKAS, sebangsa aji bisikan gaib, jang hanya dapat drterima oleh orang yang ditujunya. Kata-kata bisikannya yang jelas didengar oleh denmas Purbaya melulu.........

“Anak kau dengarlah ayahmu berbicara denganmu dalam aji PAMEKAS, maka jangan celingukan, supaya orang tidak menjadi curiga Anak, aku tahu, kamu sekarang ini sudah memiliki aji Gineng dan pukulan Guntur Geni jangan sekali-kali kau pergunakan terhadap Untung Surapati, yang bukan musuh kita, awas !!! Kau pergunakan tenaga JALA SENGARA dan kecepatan Kilat tatit bersamberan …….. Semoga kau tidak akan mengecewakan ayahmu!” Suara ayahnya itu terdengar baik sekali oleh denmas Purbaja, yang masih berdiri.anteng seperti menekuni sesuatu, Setelah selesai mendapat pesan ayahnya, memanggut brulah ia, dan . . . .. . . ..

sekali lagi mengayun tubuh, sudahlah ia bertengger dipelana Kala Wereng. Berbengerlah kuda keras itu, ialu melompat maju dengan gaya yang mdah membawa lari tuannya, mengombak-omhak pesat sekali mengitari alun-alun….. kemudian mengitari Sang Surapati yang menaagumi pemuda gagah pendatang baru ini.

Tahulah Untung Surapati, bahwa ia dipilih oleh pendatang ini sebagai lawan bertanding watang. Mau tidak mau Surapati harus mengakui, bahwa lawan baru yang masih sangat muda ini berprabawa luar biasa, lam sekali dari semua pengikut latihaa yang berada ditempat bertanding. Siapakah gerangan pemuda ganteng berwayah agung ini kecuali salah seorang dari para bangsawan

Mataram yang berarti, mungkin seorang pangeran atau putranya sekurang-kurangnya. Maka lalu hersikap hati-hatiah jagoan Betawi tersebut. Waktu itu Untung Surapati sudah agak lama meanti datangnya tandingan baru. Ia 'Sungkan untuk memgeroyok lawan yang belum gugur, tetapi sebaliknya mengharap keroyokan mereka, sekarang ini datanglah lawan yang dinanti-nantikan itu. Baru melihat ketangkasan berkuda dan gaya duduknya pada pelana saja. Untung terpaksa memnya setinggi langit keprigelan dan keluwesan pendatang baru ini…….. Masih sangat muda orangnya namun sudah demikian mantap ia becokol pada kuda tungganganya, hingga me ulu orang kuat sekali saja yang akan dapat menggoyahkan duduknya pemuda ini.

Berkatalah jago Betawi itu dengan senyum simpatiknya , “Siapakah denmas yang hendak bertanding dengan paman ini?”

“Aku bemama 'PURBAYA‟, salah seorang putera pangeran Puger. Maaf paman Surapati, aku maju dengan berkenan uwa Prabu Sunan Mangkurat II, untuk mencoba-coba kemampuan jang masih rendah ini. Hendaklah paman Surapati bermurah hati terhadap aku memperlakukan aku sebagai orang yang cukup dewasa, biarpun aku jatuh mencium tanah, tidaklah akan merasa penasaran, karena jatuh ditangan perkasa sang Surapati.”

“Anak jaog baik; bagus benar tutur-katamu, tinggi dan lembut peribudimu, tegap serasi-rapi bentuk badan denmas Aih, berbabagia sekalilah kangjeng pangeran Puger mempunyai putera sehebat ini. Tak usah demmas merendahkan dan mengurangi kemampuan sendiri …….. ketahuilah, bahwa pamanmu ini banyak-sedikimja sudah dapat menilai kekuatan denmas. Berkata secara terus-terang paman kini agak kuatir menghadapi denmas, takut kalau kekuatanku tidak cukup tangguh untuk menghadapi terjangan denmas. Akupun minta kemurahan hati demmas, supaya tidak menjadi kura-kura dimuka umum.”

“Silahkan paman, jangan sungkan-sungkan lagi. ..... kita ini hanya berlatih saja.”

“Baikmulailah denmas.”

Mulailah kedua ksatria bertanding itu memggerakkan kudanya, mencongklang berputaran untuk kemudian saling terjang dengan deras sekali dalam sikap menyerang dan menang kis praggg landejan watang mereka bertemu sesamanya.

Watang denmas Purbaya datang lebih awal, dalam sikap menyerang, sedang watang Untung terpaksa menangkis, maka berbenturanlah kedua landejan itu, menimbulkan suara nyaring menggeletar. Berkatalah jago Betawi itu dengan senyum simpatiknya: “Siapakah denmas, yang hendak bertanding dengan paman ini?” Surapatilah yang benar-benar menjadi kagum terheran•heran, setelah adu tenaga-percobaan itu. Hingga sekarang baru kali ini

ada lawan mampu menggetarkan bahunya, mengguncang rongga dadanya. Hampir saja watang ditangannnya terlepas dari genggaman, sedang telapak tangannya terasa panas sekali benar-

benar bukan main tenaga sakti bocah inimungkin melebihi

tenaganya sendiri. Mulai itu bersikap lebih berhati-hati lagilah Untung Surapati. Nampak sangat cermat dan tepat serangan- serangannya dan pembelaannya, supaya tidak mudah dapat disisihkan oleh pemuda lawannya.

Serangan balasan Surapati datang sebagai kilat menyambar, tetapi lawannya juga tangkas dan cekaian sekali hingga watang jago Betawi itu dengan mudah saja tertangkis pergi.

Sorak penonton membelah angkasa, sedang mereka itu sudah tidak lagi berada dipinggiran alun-alun. Saking ramainya pertandingan kali ini, orang tidak lagi dapat berdiri tertip melihat dari jauh, demi sedikit para penom on itu bergeser tempat berdirinya

..... tahu-tahu mereka itu sudah berdiri tidak terlalu jauh dari yang sedang bertanding. Pengikut-pengikut watangan yang lain sudah bubar semua, karena mereka ingin menyaksikan pertandingan Surapati dengan putera pangeran puger.

Gebragan-gebragan permulaan sangat ramai dan seru, karena kekuatan jago-jago itu nampaknya ridak beselisih banyak. Denmas Purbaya menang gesit dan menang lincah, serangannya kuat lagi tepat selalu, namun pembelan lawannya juga terlampau kuat lagi pepat. Dari sepuluh bersilang. watan, denmas Purbaya selalu dapat menyerang musuh tujuh kali, tiga kali menangkis serangan pembalasan Untung. Oleh karena itu pertandingan yang mula-mula seimbang ini, terpaksa berubah keadaannya ..... Demi sedikit Surapati merasa tekanan lawan mudanya itu, kian menjadi besar, hingga ia mengalami kerepotan dalam pembelaannya. Pada suatu ketika terlengahlah Untung ..... atau, karena serangan lawannya terlalu cepat baginya ..... maka masuklah tusukan watang denmas Purba]a kearah dada jagoan perkasa itu.

Apabila tusukan itu diieruskan, tidak ditarik sendiri oleh putera pangeran Puger itu jangan harap Surapati dapat mempertahankan

kedudukannya dipelana kudanya. Syukurlah, hati denmas Purbaya penuh welas-asih kepada sesama hidup, lagi bijaksana sekali.

Ia tahu akan akibat apa yang bakal dialami oleh tamu negara ini, bila dia sampai terkalahkan olehnya. Maka secepat akan masuknya tusukan pada dada sang Surapati, secepat itu pula arah ujung watangnya diselewengkan dan ditarik kembali, sebelum watang menyentuh dada lawan, Baru Surapati tahu, apa yang seharusnya akan terjadi atas dirinya, setelah kasip. Dengan gugup ia mengibaskan watangnya menangkis watang denmas Purbaya yang tengah ditarik secepat kilat ..... pranggg ……..

Sekali lagi terdengar landaian watang beradu dan terjadilah hal- hal yang tidak mungkin dimengerti oleh orang kebanyakan, kecuali bagi orang-orang yang sudah sangat tinggi ilmunya, dapat melihat segala kejadian dengan selajang pandang saja. Apakah yang sebenamya terjadi itu? .... Watang Surapati kurang mendapat saluran tenaga sakti, mungkin karena sedang gugup terpaksa menangkis tadi, hingga terpaksa putus sepertiga bagian dari ujungnya, runtuh ditanah, karena berbenturan dengan watang yang masih penuh gaya sakti denmas Purbaya.

Anehnya, yang menjadi sangat gugup pula adalah Denmas Purbaya sendiri, mengingat akibat kekalahan . lawan yang patah senjata. Segera ia mengerahkan tenaga saktinya, untuk menghancurkan landejan watangnya sandiri ditempat dibentur watang lawan tadi. Pemuda prawira sakti itu nampak mengedut watangnya sedikit …… runtuhlah ujung watangnya batas bekas teradu itu. Dengan demikian …. seri-lah pertandmgan ini, tidak ada kalah dan menang, kedua-duanya kehilangan gegaman.

Bagi umum, pertandingan dua perkasa ini berakhir seri….. tatapi bagi Untung Surapati sendiri tidak demikian, juga bagi para orang-orang sakti dipanggung.

Dengan perasaan terharu lagi keheran-heranan Untung Surapati memandang kepada lawannya yang masih sangat muda namun bijiaksana sekali ini. Ia justru merasa takluk sekali kepadanya, maka dengan sukarela ia mendahului membuang watang yang tinggal dua pertiga bagian tetapi kali inipun maksud baiknya tidak kesampaian juga, karena denmas Purbaja-pun tidak mau ketinggalan membuang watangnya keadaan tetap seri. •

Berkatalah Untung Surapati, “Wahai anak baik, anak berbudi luhurdenmas Purbaya, paman memgaku kalah kepadamu.”

Jawab pemuda itu tegas. “Tidak paman, mana dalam pertandingan kita ini ada yang kalah dan yang menang. Semjata kita sama-sama rusak, membuang watangpun kita lakukan bersama- samaSiapakah yang tidak tahu bahwa pertandingan ini seri.”

“Hatimu sangat mulia den mas. sudahlah, bila itu memang

kerelaanmu, akupun dapat menerimanya dari tangan perkasamu dengan ucapan terima kasih yang tak terhingga. Mari bersama-sama menghadap sri Sunan.”

“Maaf paman, aku akan langsung pulang setelah memghormat keluarga agung dipanggung, seperti pengikut-pengikut lainnya. yang sebenamya aku takut ejekan-ejekan orang, maka jalan yang paling baik bagiku ialah pulang selekas mungkin. Nah…… paman disini kita berpisah dahulu, hingga bertemu kembali.” “Baik angger, pamanpun agaknya tidak lama lagi di Kartasura ini. Konon, Belanda sudah mengutus wakilnya untuk minta kepada Baginda, supaya menyerahkan aku kepada Kompeni. Hingga bertemu lagi, anak baik!”

Kebetulan juga Baginda sudah berdiri dari duduknya, hendak kundur kekedeton. Maka bubarlah watangan hari Saptu yang mengesankan itu. Adapun yang paling tidak puas adalah pangeran dipati Anom, karena siasat merendahkan keluarga yang sangat dibencinya tidak dapat diwujudkan malahan sebaliknya berkesan baik sekali bagi keluarga ka-Pugeran itu.

****

BAGlAN II

KUDA Kala Wereng mencongklang membat mengitari alun- alun lalu terus keluar dari situ menuju kearah dalem Ka-Pugeran, Sebagai kuda lain biasanya pulang kerumah sendiri tidaklah perIu ada yang menunjukkan jalan. Kuda kuat lagi keras itu nampak tidak segarang dan lincah, seperti waktu beraksi memdukung majikannya dalam bertanding kekuatan dimedan latihan tadi agaknya iapun

merasa, bahwa tuan mudanya sedang menanggung risau didalam hati,

Memang demikianlah keadaan denmas Purbaya pada waktu itu hatinya risau, pikiran ruwed menanggapi kejadian-kejadian yang baru dialami. Sama sekali ia tidak memikirkan penilaian umum terhadap dirinya, ia tengah memberatkan pikirannya dengan taffsir yang mungkin dilakukan oleh sang pangeran dipati. Dapat dipastikan bahwasanya tafsir itu tidak baik bagi keluarganya dan apakah akibat yang akan memjusulnya. Hm, semoga Tuhan melindungi keluargaku. Bagi aim sendiri, ja, tak

apalah kiranya menjadi bulan bulanan sasaran kebencian kangmas dipati-Anom asal tidak merembet kepada ayah berserta keluarga saja. Ah, mengapa aku kurang waspada dan kurang dapat menagndalikan amarahku mudah saja masuk kedalam pasangan dan pancingan orang aih, sayang mudah saja sekarang mendapat dalih menyalahkan orang yang dibencinya.

Aku terpaksa segera harus berbicara dari hati kehati dengan ayah, tentang hal yang sebaik-baiknya bagiku, meninggalkan ibukota untuk sementara waktu. Dengan demikian mungkin dapat dihindari terjadinya sengketa keluarga. Hmm benar-benar tidak

kepalang tanggung kangmas dipati Anom membenci keluargaku itu. Bagaimanakah jadinya nanti, apabila beliau itu sudah menjadi raja Mataram. Wahai Kartasura apakah jadimu kemudian, sekarang sudah mulai nampak awan hitam bergumpalan diatas persada-mu.

Hampir dengan tidak setahunya Kala Wereng sudah menghentikan atau lebih tepat mengubah gaya congklangnya menjadi jalan biasa, karena sudah tiba dihalaman ka- Pugeran.

Nampak kini seorang abdi gamel berlari-Iari untuk menuntun kuda hitam itu kemuka pendapa dibawah kuncungan kemudian

untuk dibawa ke-istalnya.

“Beri perawatan istimewa kepada Wereng paman!, baru saja dia harus bekerja keras sekali!” kata denmas Purbaya kepada gamel itu dengan senyuman agak sedih, dipengaruhi oleh pikirannya,

“Jangan kuatir denmas ha-ha, bagus-bagus Weremg,

berapakah musuh Denmas yang kau suruh bergelimpangan mencium tanah hari ini? jawab orang tua it u sam bil menepuk•nepuk leher kuda Kala Weremg. Bagi abdi ka-Pugeran, jakinlah bahwa tak seorangpun mampu menahan terjangan tuan mudanya yang seorang mi, Siapakah lebih tahu akan kemampuan pemuda. kesayangan ini, daripada dia yang pemah tanpa sengaya melihat anak-muda itu berlatih menggunakan jurus sakti isumewa yang disebut-sebut pukulan „GUNTUR-GENI‟ Pada waktu itu

yang menjadi sasaran adalah batu hitam sebesar kepala gayah .. hanya sekali tampar saja, batu itu sudah berantakan berkeping- keping. Mungkin diseluruh kota. mi tidak ada keduanya, kecuali ayahandanya yang menjadi guru pemuda uu.

Belum lama den mas Purbaya duduk termenung didalam kamarnya, datanglah Pangeran Puger kepadanya, terus saja sang ayah ikut duduk dipinggiran tempat tidur anaknya.

“Purbaya,” kata orang setengah tua itu lamban,

“Ayah …… anak berbuat salah, bukan…… Maafkanlah aku Ayah, tidak tertahan lagi ejekan kangmas pangeran itu bagiku.”

“Iya ...... bagaimanapun kamu telah berbuat salah terhadap orang yang berkuasa, tetapi apakah hemdak dikatakan lagi karema sudah terlanyur, tinggal menanti akibatnya saja.”

“Itulah anak tahu, dan itu pulalah yang sedang anak renungkan.”.

“Sudahkah kamu mendapatkan titik terang untuk berpegang, apa yang seyogyanya kau berbuat ?”

“Maaf ayah, bila masih kurang tepat, harap ayah suka memberi petunjuk Tidakkah yang sebaiknya anak harus meninggalkan ibukota untuk sementara waktu, supaya kejadian radi-pagi tidak berekor panyang. Bila anak tidak menampakkan diri agak lama, mungkin persoalannya menjadi pudar.” “Itulah bagus Purbaya Sebenamya ayahpun akan membicarakan hal itu, tetapi aku agak takut akan sangkalan darimu, menerka orang tua mengayarkan tindakan yang licik nampaknya, tidak berani menghadapi akibat perbuatan sendiri.”

“Ah, mana boleh demikian Yah, apabila hal ini hanya menyangkut pribadi anak sendiri, tidaklah terlalu dikhawatirkan perkembangannya. Tetapi soal akan tersangkutnya keseluruhan keluarga kiia itulah yang tidak boleh dianggap enteng, harus dihindari sejauh mungkin. Maka sebentar malam nanti juga, terpaksa anak mohon diri untuk mengembara sementara waktu, entah kemana, asal jauh saja dulu dari Kartasura. Tegakan anak ini, hitung-hitung mencari tambahan bekal hidup yang berguna untuk hari kemudian.”

Pangeran Puger menepuk-nepuk bahu putera kesayangannya dengan rasa terharu dan terima kasih bercampur sedih .....

“Baiklah Purbaya, kau berangkatlah nanti malam meninggalkan kota, untuk memcegalil berlarut-larutnya kemurkaan dipati Anom terhadap keluargamu ini. Kurasa. ia selalu masih terus mencari-cari onar dengan kita, mencari kesempatan untuk mempersalahkan kita dengan segala macam dalih yang dapat dipergunakan. Itulah sangat kusayangkan, bila dia tidak dapat membatasi diri dikemudian hari.”

“Dapatkah kiranya ayah menahan sabar dihari-hari kemudian terhadap usaha-usahanya yang rendah lagi licik-licin itu? Tidakkah lebih baik kita menyingkir saja sekeluarga, dari pada mati konyol tanpa pembelaan sama sekali?”

“Huss Purbaya, jangan mengucap yang tidak-tidak. Masakan

tega kangmas Sunan menghancurkan aku dengan keluargaku. “Uwa Baginda pasti tidak yah, .... tetapi kalau kangmas dipati Anom telah mengenakan mahkota kerajaan apakah jadinya nanti dengan keluarga kita ini ?

“Hmm . . . sudahlah jangan mempersoalkan tentang kemudian hari dulu. Biarlah nanti, dihadapi dengan NANTI saja paling

perlu adalah soal kita yang sekarang. 'Sebaiknya kau pergilah ke.pada sahabat ayah, seorang tokoh sakti tiada tandingan diseluruh jagad Mataram 'ini, sudah semasa mudanya. Kini orang itu sudah mencucikan diri bertapa dilereng gunung Lawu, dengan gelar “Ajar CEMARA TUNGGAL” jang juga dijuluki Si KUNYUK SAKTI. Carilah tokoh itu hingga bertemu, yang pasti tidak mudah, karena tidak mau atau belum mau digurui seseorang. Kalau kau dapat diterima sebagai murid orang itu aih, Purbaya, pastilah hidupmu

tidak akan mengecewakan. Biarlah kau mendapat gemblengan luar biasa dari orang sakti itu, supaya padatlah bekalmu untuk menghadapi yang kau sebut hari NANTI tadi ..... kau mengerti Purbaya ?”

“Terima kasih Yah, anak mengerti beberapa bagian. Dengan doa restu ayah, anak akan berbuat sebaik mungkin. Mudah- mudahan ayahpun iidak akan kecewa karemanya”

“Anak, masih ada satu pertanyaan lagi, kau sudah kenal putri raden-ajeng BRANGTI, atau yang biasanya disebut ratu ALIT.? -

Bagaimanapun hendak disembunyikan perasaannya, tetap saja wajah pemuda tampan itu menjadi merah-padam karena agak malu. Pemuda manakah dari kota ini yang tidak pemah berebut tempat mengintai putri keraton .ang aju manis bagaikan bidadari surga itu, bila putri beseria teman-temannya putri-putri keraton lainnya, sekali-sekali pesiar berkereta yang ditarik kuda empat, berkeliling kota ... ? Maka dengan agak gagap denmas Purbaya menyawab : - Ak ... ak ... aku sud, ... eh, sudah berkenalan dengan kangmbok ALIT itu Yah. Secara kebetulan saja aku pemah menolong kangmbok beserta ibunya, bibi mas Ayu Widasari, waktu kereianya dibawa lari oleh keempat kudanya, karena menjadi keranjingan (seremgah gila).”

“O, begitukah. Kurasa ... kau belum pemah menceriterakan halmu itu kepada siapapun, bukan?”

“Memang demikianlah yah ... buat apa diceriterakan suatu hal yang sangat biasa itu.”

“Ha ... biasa, bagaimana sih caramu menolong mereka itu, dimana dan kapan terjadinya.”

“Tempatnya dekat pemandian diluar kota Selatan, aku sedang pulang habis mandi berenang, dengan mengendarai si Wereng. Tiba-tiba semua menjadi terkejut karena mendengar jeritan-jeritan orang banyak berlontiatan kesamping jalan ... “Awas .. kuda gila, kuda keranyingan, kuda nyeleng ... minggir-minggir.”

Akupun menyamping sambil menoleh kebelakang. Segera tahulah aku, yang sedang mengalami bencana itu pasti keluarga keraton hanya dengan melihat kereta dan ke-empat kudanya saja. Maka waktu kereta sebagai terbang lewat disampingku, dan mendengar kusimya berkaok•kaok minta tolong ...... aku tidak bisa tinggal diam saja tanpa berusaha mencegah terjadinya kecelakaan, Wereng terpaksa harus berpacu mengejar kereta yang dilarikan empat kuda tersebut. Tak lama kemudian Wrereng dapat mendahului lari kuda-kuda dalam pasangan kereta itu. Waktu

Itulah aku berkesempatan melontiat kepada kuda yang paling ganas nampaknya. Karena tali-kekangnya sudah putus, terpaksa aku menyambar ujung hidungnya. Dengan demikian aku dapat memaksanya menghentikan larinya. Kuda yang lainpun terpaksa berhenti karenanya, lebih-lebih lari mereka tadi hanya ter-bawaz oleh kuda yang keranjingan tadi, maka sellamatlah kereta dan penumpangnya semua. Itulah peristiwanya Yah. Dan sejak itu, eh ... sejak itu, aku kemudian kenal kangmbok Alit.”

“O, begitu .... Tahukah kau, tadi pagi itu lirikan-lirikan putri manis luar biasa. ... hem-hem ... selalu tertuju kepadamu saja! Memgapa kamu hanya sekali dua saja menanggapinya. Aih-aih, Purbaya-Purbaya ... umurmu sudah hampir tahun, mengapa kamu masih terlalu jauh dari konde wanita yang cantik molek, seperti anak Alit. Kalau memang kamu penujui kakakmu Altt itu bilanglah terus terang kepada ayah, pasti segera akan kubicarakan dengan kangmas Sunan.”

“Hee.. jj ... jargan dulu Yah ... , uwah celaka benar kalau demikian. Anak masih belum menjadi punggawa praja, juga belum mendjadi orang yang dapat mengurus rumah ang~a sendiri, mana holeh aku gegabah main cinta segala, lebih-lebih untuk beristri.”

“Mengapa tidak Purbaya, kau adalah anak seorang pangeran ... Bila saja kau mau, aku dapat memberikan sebagian dari bumi pepancenku, bukan?”

“Tidak demikian Yah, jangan begitu hendaknya …… Aku ingin menjadi orang karena jasaku sendiri, malulah rasanya terhadap negeriku, bila aku masih rergantung kepada orang tua.”

“Bagus sekali pendirianmu itu nak, hany a saja bila temyata perlu, kau tidak usah kuatir, karena ayahmu juga masih cukup kuat memikul seluruh keluarganya. Dengarlah pendirianku Purbaya . . . .

aku sangat setuju, bila kau hendak memperisteri anak Alit. Nah, itulah yang hendak kukatakan juga kepadamu.” Setelah berkata demikian pangeran Puger meninggalkan puteranya, yang kini menyeringai geur sambil menggaruk-garuk kepalanya tanpa alasan itu, Wayah cantik manis berlebih•lebihan ratu Alit, membajang kembali, dengan tiba-tiba dimatanya Terkenanglah masa per emuan itu dan perkenalannya yang pertama, dipinggiran jalan , ... wakiu mengaku persaudaraannya senemek, Surran Mangkurat I (Tegal-Arum). Pada waktu itu ratu Alit sangat kemalu-maluan, tetapi justru itulah manisnya bukan main dipandangan denmas Purbaya yang merasa gelagapan karenanya. Masih terdengar sampai sekarang suara putri aju itu ditelinganya,

“O ... jadi dimas ini putera paman pangerau Puger? Memgapa aku tidak pemah melihat dimas sebelum hari ini?”

“Memang kangmbok, saya tidak banyak keluar dari rumah ayah.”

“Terima kasih atas pertolonganmu dimas. Ah, apakah yang mungkin terjadi dengan bibiku dan aku sendiri tanpa perrolongan dimas itu.”

“Barang hanya me mberhentikan kuda lari saja kangmbok ....

mengapa masih banyak dibicarakan. Kecuali itu aku ini , masih saudara sepupu kangmbok ser.diri termasuk pula kawula Mataram, maka sudah selajaknya berbuat bakti terhadap raja dan keluarganya, yang berarti berbakti pula kepada negara. Oleh karena itu, mana ada aturan masih mendapat terima kasih dariku,”

“Baiklah, bagaimanapun kami merasa berhutang budi te. hadapmu di mas, semoga Tuhan membalasmu dengan anugerah yang setimpal.”

Dengan gaya tergentak denmas Purbaya berdiri dari duduknya sambil mengibaskan kepalanya yang bagus itu maka terjatuhlah ikat kepalanya wama gadung (hijau daun), yang tadinya rapi menghias kepalanya. Rambumya yang banyak lagi berombak ombak itu kir.i lepas terurai ba ras pundaknya. Alangkah tampan dan perkasanya pemuda harapan ini, maka tidaklah salah bila denajeng ratu Alit sejak melihat dia lalu jatuh hati kepadanya. Sebaliknya denmas Purbayapun tidak mudah lagi melupakan wayah cantih-molek puteri raja itu .... selalu membajang di-ufuk matanya pada waktu•waktu terluang, membangkitkan rasa senang-senang-menakutkan demikian.

Untuk menghilangkan lamunannya yang biasanya menjadi-jadi, pergilah pemuda itu keuar dari rumah ka-Pugeran! Berdiri dikori butulan sebelah Timur untuk melihat-hhat lalu lintas atau pandangan yang lain. Masih nampak satu-dua ksatria berkuda lewat di jalan besar dimuka dalem.

Itulah para ksatria yang pasti datang dari luar kota …… pulangnya dari alun-alnn sering suka mampir di tempat teman atau mampir diwarung-warung makan. Sedang memikirkan hal demikian, denmas Purhaja merasa disentuh orang pada lututnya,

…... tercemganglah ia pada waktu ia memperhatikan orang yang menyemtuhnya itu. Wanita setemgah tua itu, adalah dayang putri Alit ... , hanya dayang itu berpakaian seperti orang kebanyakan, tanpa tanda tanda yang biasa dipergunakan, untuk menyatakan berasal dari kedaton. Apakah makna kedatangannya dan sentuhannya ini?

“Nyai emban Subita, bukan?” bertanya denmas Purbaya. “Hamba sendiri denmas …. Ah, hebat benar ingatan denmas,

sampai kepada nama seorang emban seperti saya mac;ih teringat oleh denmas.”

“Mengapa bibi tidak memakai pakaian biasanya?” “Denmas, hamba ada keperluan diluar …... mana bisa leluasa bergerak diluar tembok keraton, bila berpakaian seperti dayang keraton.”

“Ah. begitulah kiranya Silahkan saja bibi melaksanakannya

jangan terhambat karemaku.”

“Aih, denmas ..... masakan demikian, malah tugas hamba kali ini justru menghubungi denmas seorang.”

“Hai, bibi Stibita, siapakah yang memjuruh bibi kemari ini…, kangjeng bibi Wadasarikah, atau …. eh atau ... eh….”

Seketika itu juga berdebaranlah jantung pemuda itu darahi-ja menggelegak berdesiran kesegala arah diseluruh badannya, hingga terasa panas dengan mendadak. Maklumlah, perasaan seorang pemuda baru pertama kali merasa mendapat perhatian dari seorang gadi.... , ya, gadis yang selalu terbajang dipelupuk matanya. Panas dinginlah rasa badanya, karena gugup, suka bercampur malu-malu girang.

Hingga berumur hampir tahun, denmas Purbaya hanya mementingkan seal i lmu.gerak, ilmu-sakti, ilmu bertempur dalam peperangan dan sedikit ilmu ketata negaraan . . . belum pernah ia menyeleweng kearah konde-licin dan wayah canik para wanita, Baru kali ini ia rerlibat dalam rasa yang aneh, menakutkan dan menyenangkan sekaligus, yang disebut „asmara‟.

Tetapi wajarlah kiranya bila ia langsung jatuh cinta kepada saudara sepupunya, denajeng ratu ALIT itu, karena putri ini memang manis-molek luar biasa, mungkin putri yang terindah diseluruh jagad Mataram pada jamannya.

Berkatalah emban Subiia dengan memberi sarat : “Jangan menjadi gugup denmas, nanti mudah dilihat orang lain, bisa menggagalkan keperluan hamba. Ya-ya-ya..... bibi ini dititahkan kemari oleh seorang Bidadari manis, yang minta dengan hormat tetapi sangat kedatangan denmas di Taman sari, disekitar kolam remang para putri kraton sebentar malam lepas Isa. Tetapi

bila denmas merasa ragu karena banyaknya peronda yang selalu berkeliling …. janganlak terlalu nekad. Apabila denmas berani menempuh bahaya itu, silahkan datang pada waktu tersebut ....

pastilah denmas dapat bertemu dengan tidak disengaya seorang bidadari manis yang tengah merasa sedih sekali, ingin membicarakan sesuatu dengan denmas sendiri.”

“Bagi saja sih, tidak terlalu sulit untuk memenuhi permintaan itu bibi, .... yang patut dikuatirkan itu bila tindakan kita ini dipergoki orang. Celakalah kangmbok untuk selama•lamanya, ternoda nama baiknya. Itulah yang harus dijaga baik-baik.”

“Siapakah yang tidak tahu akan bahayanya itu denmas, tetapi ingkang mbokaju sendiri mungkin sudah memperhitungkan hal itu. Seorang putri raja sudah berani berbuat sesuatu, akibat mati sekalipun tidak lagi menjadi soal, asal ksatrianya tidak mengecewakan saja.”

“Hmmm kau terlalu mendesak orang.”

“Tidak denmas …… itu terserah putusan denmas sendiri.” “Baiklah emban, katakan kepada mbokaju bahwa aku akan

datang pada wakiunya di-Taman-sari. Pesanku, supaya kangmbok bersiap-siap menghadapi maut bersama aku, bila tindakan kita tidak selamat.”

“Semoga hal yang tidak di-inginkan tidak akan terjadi atas diri putriku dan denmas. Selamat tinggal denmas yang sakti.” Setelah ditinggal oleh emban Subita, bingung pulalah rasa hati denmas Purbaya, karena haru berebut unggul dengan rasa bangga. Teranglah sudah sekarang, bahwa putriaju•manis, ratu ALIT itu mencintai dirinya. Siapakah yang tidak akan menjadi bangga karenanya. yang menjadi soal ialah rasa belum setimpalnya ia memperisteri seorang putri raja, karena belum berkedudukan dalam kepunggawaan negara. Patut pula disayangkan peristiwa yang baru saja terjadi, yang bisa merenggangkan hubungan keluarga.nya dari pihak keraton hingga ia sendiri memutuskan, untuk meninggalkan ibukota nanti malam.

Akan tetapi bagaimanapun ..... denmas Purbaya hendak memenuhi janjinya, sekalipun menerjang lautan api Kartasura, ia tidak akan mundur. Tidak disangkanya sama sekali ia akan bertemu dengan lelakon rumit dan berbahaya ini, pada saat ia akan meninggalkan Kartasura, dalam usahanya menghindari terjadinya sengketa keluarga keraton. Namun temyata ia kini langsung masuk ketengah gelanggang persengketaan, bila tindakannya dipergoki orang. Adakah ini firasat jelek baginya?

Apakah kehendak ratu Alit yang sebenamya? Kalau hanya karena rasa cintanya saja, tidak mungkin kangmbok menyuruh aku datang sebagai seorang maling putri .... Pastilah ada sesuatu yang hendak dibicarakan dengan aku secara rahasia, bila rahasia itu tidak amat gawat, pastilah sudah disampaikan kepadaku dengan perantaraan emban saja.

Ah, sudahlah ..... siapa dapat menerka bisikan sukma orang lain. Aku harus pergi dan berani menanggung segala akibatnya. Inilah hebat, baru saja dapat mendekati putri pujaansudah

sangat hebat bahayanya. Namun dapat berdekatan dengan si-dia ...

dapat melihat dengan saksama wajah ayu-manisnya saja, cukuplah kiranya untuk membesarkan hati menerjang rimba golok dan pedang Kartasura. Semoga Tuhan melindungi kangmbok, syukur bersama dengan aku .....

Waktu lepas ISA . . . . malam tanpa bulanSeluruh kota

Kartasura sudah diliputi sang gelap, yang kian menjadi pekat, lebih- Iebih dipekampungannya penerangan lampu di jalan-jalan besar berjauhan sekali sesamanya, hingga tidak mampu memberi penerangan yang cukup, hanya batas penunjuk jalan melulu.

Seorang pemuda tampan berdandan serba hitam, ringkas dan siogsat,' berkelebat nampak melompati pagar tembok kepuri dalem ka-pangeranan Puger Diluar pagar tembok bayangan hitam tadi

bergerak gesit sekali ke -arah istana. ltulah denmas Purbaya yang hendak memenuhi janjinya. Sebagai putra pangeran tahulah ia dimana letak Taman-Sari Baginda.

Karena gawatnya tindakan yang tengah dikerjakan itu bersikap sangat waspadalah ia. Segala kesaktiannya siap untuk dipergunakan sewaku-waktu untuk memjaga dan melindungi diri. Dengan jalan memghindari penerangan jalan, sampailah ia diluar tembok Taman- sari, yang tingginya kira-kira tigameter lebih sedikit saja. Maka dengan sekali mengayun tubuhnya me]ajanglah ia melampaui pagar tembok tersebut ...... terjun didalam Taman tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

la merasa lucu sekali, karena teringat ia akan lelakon NARAYANA-MALING dewi Rukmini .... Pastilah Narayana pada waktu itu mengalami perasaan yang sama dengan dia sekarang, mungkin juga terpaksa melompati pagar tembok seperti dia. Nah, apakah yang harus dikerjakan sebagai kelanjutannya Harus hati-

hati dan teliti lagi cermat, mengenal lingkungan dan keadaan disitu.

Denmas Purbaya melihat dengan mata tajam kesegala arah, agaknya karena masih sore ini belum ada peronda dan -jaga kemit yang berkeliling. Seselah merasa aman pemuda itu mengarahkan pandangannya kek kolam renang. Lapar-lapat ia melihat tubuh seseorang dibawah pohon Widuri, dekat kolam tersebut. Tidak salah lagi, pastilah itu orang yang tengah menantinya.

Tanpa menimbulkan suara, mendekatlah denmas Purbaya lalu ber did tidak terlalu jauh dibeiakang orang itu. Setelah [akin ia tidak keliru mengenal orang, berbisiklah denmas Purbaja, “Kangmbok, aku memenuhi janji Apakah yang hendak kangmbok bicarakan,

Walaupun hanya bisikan lirih saja, namun teranglah bagi ratu Alit bahwa orang yang dinantikan dan diharap kedatangannya sudah berada dibelakangnya. Betapapun cinta kasihnya kepada pemuda harapan itu, namun ralu Alit adalah. Seorang puteri Raja, yang berkepribaidian tiuggi …. biarpun. jantungnya berdenyut keras bagaikan hendak pecah, hatinya melonjak-lonjak hendak memapaki sang kekasih, namun tak hendak ia berbuat yang kurang pantas bagi seorang puteri.

Maka dengan gaya yang luwes-merakati Alit memutar. badannya, menghadapi demmas Purbaya dengan senyuman yang keliwat sedap, hingga yang melihatnya terpaksa mengibaskan kepalanya, untuk tidak lupa daratan atau tenggelam dalam lautan madu. Terdemgarlah suaranya yang direndahkan,

“Adikku, selamat datang.Apakah penilaian adik tentang permintaanku ini ?”

“Ah, kangmbok ... aku jakin bahwa kangmbok pasti mempunyai persoalan yang sangat gawat, hingga terpaksa berbuat demikian. Maka jangan sungkan-sungkan lagi kangmbok…..

katakanlah kepadaku apa yang hendak kangmbok bicarakan itu!”

“Adik Purbaya aku benar-benar mengagumi kecerdasanmu

...Ya-ya memang ada sesuatu yang hendak kukatakan kepadamu

seorang secara rahasia. Dengarkanlah setelah watangan tadi pagi bubar .... secara tidak sengaya, aku mendengar kata-kata kotor kangmas pangeran adipati anom terhadap keluargamu, demgan mengancam setelah kangmas pangeran kemudian mengganti ayah naik tahta kerajaan, jangan harap keluarga ka Pugerann mendapat tempat yang aman lagi. Itulah dimas yang sangat mengganggu pikiran dan perasaanku hingga sekarang terpaksa aku minta kedatanganmu ini. Dengan penuturanku, sekurang-kurangnya keluargamu sudah mendapat kisikan orang akan bahaya yang mengancam. Itulah yang hendak ku-bicarakan denganmu dimas.”

“Benar juga yang sudah kurasakan sendiri kangmbok. Sekarang ini bahaya besar itu sudah lebih nyata lagi. Perkenankanlah aku mengucapkan terima-kasih yang tak terhingga kepada kangmbok.”

“Dimas ... bukankah kita ini keluarga serumpun Mengapa

sikap kangmas pangeran dipati Anom selalu memusuhi keluargamu, itulah aku kurang mengerri sama sekali.”

“Itu hendaknya jangan ditanyakan kepada saja kangmbok, karena aku tidak berhak untuk mengupasnya. Perhatikanlah sendiri ucapan ucapan kangmas dipari Anom, yang selalu berkisar pada waktu ayah mengangkat senjata tanpa bantuan Kompeni, menghadapi keraman TRUNAJAJA. Itu berarti pula tidak bersama- sama dengan barisan uwa Prabu Sunan Amangkurat II (yang juga disebut Amangkurat Amral) Waktu itu uwa Prabu masih pangeran adipati Anom.”

Karena mereka berbicara dengan suara berbisik, maka mau tidak mau ...., mereka harus mendekat, hingga hanya berjar~k setegah. depa saja itupun selalu- berkurangan tanpa disengaya,

hingga tahu tahu mereka sudah saling memandang dengan mata. mleleng karena tandas dihati masing-masing.

Maka hatilah yang terpaksa melonjak-lonyak bagaikan hendak meloncat keluar untuk bertemu mesra sesamanya, Habislah segala macam perkataan seribu bahasa, yang kini sibuk berkisah. apalah hati mereka, berbentuk desahan menyinta keluar dari mulut, …… “Adik !”

“Jawabnyapun hanya sepatah ..... “Kangmbok” Waktu genting itu emban Subitalah yang menjadi pengamannya, tetapi sekaligus membawa kabar buruk bagi muda-mudi tersebut.

“Denmas, awas ..... lima peronda datang masuk ke taman …… celakalah kita ini!”

Bagai kilat taggapan denmas Purbaya menghadapi bahaya maut ini, “Biyung emban, jangan bingung. Aku akan segera melakukan siasatku ..... Kangmbok akan kularikan dengan melompati pagar tembok. Pasti orang akan mengejar aku. Dengan jalan melingkar aku akan datang lagi disini lebih dahulu, untuk mengembalikan kangmbok. Tugasmu sekarang ini, adalah menyerit-jerit setengah mati, mengatakan putrimu diculik orang. Demikian pula kangmbok harumenyerit panjang sekali, tetapi hanya sekali saja, supaya tidak diketahui orang kearah mana lariku, Nah . , . , hajo, mulailah!”

Maka terdengarlah aksi emban Subita, menyerit tinggi•rendah .

….. seperti setan kehilangan anak.

“To-looong, to-looo -- ong, toloong .... adu- uuuh mati aku- uhu-uhu-uhu ...... to-looo-ng-toloong ... anakku, o, putriku o,

intenku ... to-looong …toloong .... o, putriku diculik orang, .....

diculik maling ......toloong .... , putriku dibawa lari maling, o ....

intenku, uhu-uhuh ihi-ihi-ihi-i-i-i ... maling-maling… putri ….

Geger Seketikalah para penjaga dan peronda yang baru masuk kedalam taman , karena mendengar jerit tangis emban Subita... . . . ..

dan bjerit nyaring putri yang tengah dilarikan orang. Kelima peronda yang hendak jalan keliling taman, melihat dengan terang berkelebatnya orang berpakaian serba hitam memondong putri Alit, meloncat meranggeh puncak pagar tembok. yang tinggi itu. Setelah tangan kanannya mencapai puncak tembok .. , dengan sekali sentak saja badannya mumbul lagi melewati tembok tersebut dengan masih memondong putri Alit.

Sudah barang tentu mereka itu kehingungan sekali, karena tak seorangpun mempunyai kemampuan untuk meloncat melam paui pagar tembok yang tingginya tidak kurang dari tiga meter itu. Terpaksa mereka sibuk dulu mencari tangga, untuk segera dapat keluar mengejar maling. Penjaga keraton yang lain terpaksa mempergunakan pintu butulan disebelah lain dari arah lain si penculik. Setelah diluar ... mereka sudah agak lama ketinggalan, terpaksa harus mencari jejak penculik putri itu dulu, yang pasti saja juga tidak mudah. Nampak kini obor diajalakan orang hingga puluhan banyaknya, untuk mencari jejak maling .

Adapun denmas Purbaya….. tersenyum puas, sambil membentangkan kaki, mempraktikkan ilmu lari cepatnya mengejar barat. Siapakah akan dapat menyandaknya, kecuali tokoh-tokoh utama kerjaan Mataram, maka tenteramlah hatinya hingga ia masih dapat menikmati keadaannya pada waktu itu, memondong kekasih yang baru saja diketemukan karena terpaksa. Pasti ia tidak akan dapat melupakan rasa samar-samar takut, tetapi nyaman tiada tandingan, karena sentuhan pipi halus lumer, menempel kepada pipinya sendiri yang mulai menjadi kasar ksrena gejala-gejala pertumbuhan kumis dan jenggotnya. Juga lengan ratu Alir, yang kial-halus ramping, melingkar pada lehemya . . . . Hmm ... dalam keadaan demikian, lari setahun-betah juga, tidak akan terasa lelahnya.

Puas pula hatinya, karena dapat memperdajakan pengejar- pengejamya. Mereka itu terus lari meugejar keluar kota, menurutkan arah pancingan denmas Purbaya tanpa sadar bahwa

yang dikejar sudah membelok demi sedikit, melingkar lebar, kembali kearah semula, dengan meninggalkan pemgejar nya jauh sekali. Tetapi betapa kaget denmas Purbaya pada waktu itu, karena merasa diserang secara hebat sekah dari belakang, oleh sambaran- sambaran angin pukulan sakti.

Otomatis ia mengelak kesamping,segera meletakkan denajeng Alit dirempat terlindung dibelukang pobon. Purbaya bertekad untuk melajani penyerang gelapnya. Siapakah grrangan tokoh sakti yang mengayar ini, Purbaya sudah siap dengan segala ilmu kemampuannya, juga sudah mantap bertekad bulat, lebih baik sima dari pada kena dirawan orang. Maka waktu serangan pengejamya datang lagi .. , pemuda sakti itu sengaya memapakinya dengan pukulan saktiaja pula. Kedua tangan perkasa bertumbukan, hingga menyeprat nyaring menggetarkan udara. Akibatnya pun hebat, ... Penyerang yang datang dari tempat gelap itu mental balik selandejan tombak, jatuh mendeprok dengan memegang dadanya ... denmas Purbaya sendiri, biarpun tidak gempur kuda-kudanya, merasa kesemutan diseluruh badannya, hingga iapun mendeprok ditempat.

Kedua-duanya tidak segera dapat bergerak atau berkata, karena masih kacau pemafasannya. Pandangan matapun belumjemih kembali. •

Yang dapat membuka mulut dahulu adalah denmas Purbaja. “Aih Ayah ... maaf Ayah, anak tidak menyangka sama sekali, bertemu dengan Ayah.”

“Anak Purbaya ..... engkau-kah kiranya. Akupun tidak menyangka, pemjulik Alit itu engkau sendiri .... Hmmm .....

mengapa tidak bilang lebih daaulu, hiagga terjadi salah faham ini.- kata pangeran Puger agak menyesal.

“Tidak apa yah ... Sukur kita. sama-sama udak terluka datam adu tenaga ini. Bukankah ayah menggunakan tenaga Gineng- Jalasengara? Hampir-hampir tak tertahan olehku gebugan Ayah tadi.”

“Heh-beb•heh .... kau tidak terluka Purbaya, tetapi aku mengalami cedera sedikit, karena tenagamu temyata sudah lebih besar dari tenagaku. Tetapi tak apalah . . . . . aku hanya terluka sedikit saja, tak usah dibuat kuatir. Sebaliknya boleh dibuat bangga, babwa kau sudah mahir juga mempergunakan tenaga sakti Gineng Jalasengara itu, akupun bukan tandingan mu lagi nak.”

Da tang menyela ratu Alit, “Paman pangeran Puger, apakah yang barus kuperbuat sekarang ini? Aku agak memjadi takut kemurkaan karema dipati Anom terhadap dimas Purbaya.”

“Ha ..... anak manis, kemari kau. Apa yang harus ditakutkan. Aku akan membawamu pulang. Kita katakan saja nanti, bahwa penculik itu sudah kukalahkan, lalu lari meninggalkan kita .....

berres bukan?”

Bila orang kemudian menanyakan siapa penculikku itu, apakah jawabanku?” tanya putri itu.

“Kau bilang tidak sadar akan dirimu lagi sejak dibawa lari .....

mana kau bisa tahu siapa jang membawa lari kau itu? Baru kau sadar diri, waktu kubawa kembali kekeraton.”

“Kalau paman yang ditanya siapa yang paman kalahkan ita . . .

. . paman bilang apa nanti?”

“Putri manis .... kau cerdas dan cermat sekali tetapi itulah urusan pamanmu ini, tak usah kau-kuatirkan Alit. Nah, sekarang

…… Purbaya, kau berpamitanlah dari kangmbokmu saja, untuk menyingkir sementara waktu supaya jangan saling harap- mengharapkan.”

“Dimas hendak paman suruh kemana?” “Ia barus berguru lagi kira-kira tiga tahun lagi lamanya, supaya jangan kepalang ajar Alit.”

“Betulkah itu dimas Purbaya?”

“Benar kangmbok, maka dengan ini sebaiknya aku minta diri, untuk jaogka waktu tiga empat tahun.”

“Ih,mengapa demikian lama, dan sebenamya untuk apa berguru lagi itu. Siapakah tandinganmu dalam kota Kartasura ini, apabila paman Puger sendiri telah mengaku bukan sainganmu lagi? Berguru sakti yang akhirnya hanya memperbesar selera berkelahi saja, berperang-bertending dan membunuh sesama hidup …. apakah baiknya?”

“Tidak hanya demikian kangmboklihatlah dunia kita ini,

barang siapa tidak mampu mempertahankan diri sendiri, dialah si- konyol yang akan diganyang orang, dibunuh tanpa dapat membela. Kemajuan dunia kita ini belum sampai ketaraf: manusia dapat mencintai sesamanya seperti mencintai diri sendiri, Oleh karena itu wajiblah kiranya, seseorang memiliki bekal yang cukup kuat, untuk bertahan bila hendak diganyang orang lain. Berguru adalah baik, karena mendapat petunjuk guru yang benar, asal guru kita benar- benar pendita yang baik martabatnya dan luhur budinya. Ingatlah pula: Semakin padat dan tinggi ilmu manusia yang baik, semakin runduklah ia, semakin tinggi pula martabat dan peri-budinya.”

“Anak Alit ..... biarkanlah adikmu itu berguru dulu. Tidak ingatkah kau akan peristiwa tadi pagi, yang pasti akan berekor panjang? Maka untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknyalah adikmu pergi dulu dari kota ini. Mumpung kalian masih sangat muda, tiga-empat tahun lagi bersabar pastilah justru sangat baik, Tiga tahun lagi, kau pasti akan menjadi bidadari yang mengguncangkan jagad Mataram.” “Baiklah paman . . . . . tetapi aku emoh menjadi bidadari yang menghebohkan jagad, biarlah aku tetap menjadi manusia biasa.”

“Ya-ya aku tahu anak manis ..... Sudahlah, kau mengucapkan kata perpisahan saja dulu dengan adikmu!”

“Dimas selamat jalan, sampai bertemu lagi.”

“Terima kasih kangmbok ”

Pangeran Puger tersenyum penuh arti, katanya ..... “Wah…. kok terlalu kaku didengar, ya Baiklah aku akan membebelakangi

kalian saja, supaya agak leluasalah pamitanmu Purbaya.”

Benar saja pangeran setengah tua itu membalik kearah membelakangi kedua orang muda tersebut, Itulah saat–saat bahagia tanpa tandingan bagi si muda-mudi, yang sudah bertemu hati dan merasa mendapat perkenan dari orang tua.

Mau tunggu kapan lagi bila sudah disetujui pihak berwajib. Maka tanpa dapat dicegah pula, dengan sekali raih saja denajeng Alit sudah berada dalam rangkulan denmas Purbaya.

Apa yang segera terjadi .... ja, siapakah yang tidak dapat membajangkannya, hingga pangeran Puger tidak tahan lagi hanya membelakang' mereka saja ……

“Selamat jalan dimas ....” Isak ratu Alit, yang kini dipondong pangeran Puger, kembali kekeraton, Denmas Purbaya tidak dapat mengeluarkan perkataan separah pun, ia hanya memandang kepada kekasihnya dengan mata berkilat-kilar penuh gairah membajangkan gejolak hati mudanya . . . . . pandangan mata penuh arti, yang tak mungkin akan melupakannya. Benar saja pangeran setengah tua itu membalik arah membelakangi kedua orang muda tersebur. Itulah saat-saat bahagia tanpa tandingan hagi si muda-mudi yang sudah berremu bati dan merasa mendapat perkenan dari orang tua, Baru setelah ayahnya tidak lagi kelihatan, pemuda itu sadar akan keadaan dirinya. Kini baginya hanya ada satu istilah melulu ....

harus berhasil, atau lenyap dari percaturan dunia Mataram.

****

UNTUK MEREDAKAN rasa harunya yang berlebih-lebihan itu, hampir setengah malam denmas Purbaya lari sekuat tenaganya. Keruan saja ia sekarang sudah jauh sekali dari Kartasura, yang berarti pula bahwa ia sudah jauh dari putri kekasihnya. Namun harinya masih belum menerima keadaan jang sebenamya itu ...

masih penuh rasa rindu-risau,, karena teringat akan wayah nan aju- manis dari ratu Alit saja. Baru sekali ini ia mendapat pukulan batin, yang tidak mudah diatasinya.

Siapakah yang rela dengan sukarela meninggalkan kota yang sudah teratur segala-galanya, untuk berkelana tiada menentu, yang pasti tidak kurang bahayanya Lebih-lebih siaapakah rela meninggalkan kekasih yang baru saja diketemukan. Inilah hebat, maka pikirannya-pun melantur-lantur tidak keruan…….

“Ah, memang nasibkulah yang buruk itu mengapa menimbulkan amarah kangmas dipati Anom itu mengapa kurang sabaran ... Tetapi siapakah dapat juga menelan hinaan sebesar itu, tertuju kepada ayah yang sangat dihormati. Hmm, ...... bila hanya soal keselamatanku sendiri saja, mengapa aku tidak berani berhadapan dengan segala akibat perbuatanku itu. Namun pastilah orang licik itu akan merembet-rembet kesegala arah keluargaku

pasti tidak aman.…... Mungkin malahan sampai kepada keluarga semua penderek ka-Pugeran, akan menanggung siksaannya. Tambahan lagi peristiwa tadi malam di Taman-sari ….. masih untung hanya ayah seorang dapa t bertemu dengan aku. Semoga saja segala sesuatu dapat dibereskan tanpa ada ekornya. Nah, baiklah nasib yang buruk ini aku terima saja sebagai penebus dosa sekaligus memenuhi maksud ayah yang tertentu, sebagai yang dikatakan secara samar-samar.

Hmm... dimanakah aku sekarang ini, bukankah bengawan dimuka itu, sungai besar daerah Sokawati?.

Gunung besar yang nampaknya dari sini seperti wanita tidur terlentang itu, pastilah gunung Lawu, kemana aku harus peru mencari orang sakti tanpa tandingan sahabat ayah. Dimanakah kiranya sekarang ini kjai Ajar CEMARA-TUNGGAL bertapa ... Kata ayah, pastilah orng suci itu tidak mudah diketemukan orang, juga karena ia sungkan menerima murid ... sungkan pula bergaul erat lag dengan manusia lainnya. Maka mustahillah dia dapat dietemukan berumah dipekampungan atau didesa. Ah, mengapa tidak jalan terus saja dulu, sambil bertekun duulu yang sudah dibekal, Semoga lekas berhasillah usahaku ini, mendaparkan titik tolak, untuk melanjutkannya.”,

Tidaklah mudah mendaki lereng gunung yang nampaknya dari jauh bagus, halus dan lurus. Kenyataannya tidak demikian keadaan sehuah lereng gunung, Mula-mula lereng itu berupa hutan belanrara yang cukup lebat, kian menanjak tinggi kian berobah corak hutannya, Pohon-pohon cemara yang besar dan lurus batangnja tumhuh berserakan mememuhi relung-relung dan lereng serta jurangnya, menambah. keangkeran keadaan, Bila sang angin berembus melewatinya ...... terdengrlah suara bergemuruh dahsyat, bagaikan suara seribu iblis dan berkasaan berebut mangsa, mengerikan, Adapun yang sangat ditakuti orang dilereng gunung Lawu itu, adalah yang disebut „AMPUHAN‟ Itulah angin keras membawa kabut maut, konon kabut itu beracun mematikan Maka tidaklah

sembarang orang berani gegabah mendaki gunung tersebut.

Namun pemuda gagah lagi ganteng, berpakaian serba hitam ringkas itu bukanlah pemuda biasa, maka berani berkeliaran dilereng gunung ampuh itu, Badannya tinggi-besar, ramis-ramisnya nampak kukuh kuat, rapi serasi, tindakannya enteng tetapi meantap, pandangan matanya bening berkilat-kilat mengandung Perbawa sakti, Itulah putra pameran pangeran Puger yang kesaktiannya sekarang saja sudah melewati gurunya, atau ayahnya sendiri. Minggirlah kiranya jin-setan peri-perajangan serta segala macam binatang buas diterjang oleh pemuda gagah•berani itu.

Hari ini adalah hari jang kelima dari saat denmas Purbaya meninggalkan kota, untuk mencari Ajar Cemara Tunggal. Dengan memendam diri sambil merenungi ilmu……..

Menjauhkan diri dari sengketa keluarga dengan orang-orang berkuasa dan berwibawa. Betapa sulit dan besar bahayanya sekalipun berkeliaran dileremg Lawu itu, pastilah masih lebih aman dari hidup dikota berdekatan demgan pangeran dipati Anom.

Berapa kali ia harus memgerahkan tenaga-saktinya untuk melawan angin dingin yang dapal membekukan kulit dan daging. Berapa kali pula ia harus bergerak dengan jurus saktinya GUNTUR GENI, untuk membuyarkan kabut dingin beracun, yang disebut Ampuhan terrsebut Namun pemuda itu tidak menjadi kecewa, karena ia tahu pasti, bahwa tidaklah mudah orang mencapai maksudnya yang baik. Hanya dengan tekad badja, lebih baik pulang namanya saja dari pada tidak becus mewwujudkan cita-citanya, bergerak madjulah ia ...... menerjang segala macam rintangan perjalanannya. Seorang pendekar perkasa tingkatan denmas Purbaya pada waktu itu, pasti tidak gampang terlengah kewaspadaannya, tak mudah terbokong serangan lawan. Maka dengan gaya yang luwes tetapi kuat sekali, ia sekonyong-konyong membalikkan badannya sambil melancarkan pukulan jurus pembelaan, serunya:

“Gila siapa kurangayar membokong orang?”

Dalam jarak kurang le bih tujuh delapan meteran dari denmas. Purbaya nampaklah orang yang menyerang dari belakang tadi…….

la melepaskan pukulan jarak djauh kepada pemuda pemberani, yang gegabah berkeliaran di lreng gunung angker itu, sengaya untuk menjajaki kemampuannya. Karena denmas Purbaya pun melancarkan pukulan serupa, maka kini bertemulah kedua pukulan yang kira-kira sama kuat itu …….. dan gempurlah kuda-kuda mereka bersama-:sama pula. Penyerang itu nampak hanya surut tiga langkah sada, sedang denmas Purbaya terpaksa melangkah mundur empat tindak baru dapat memperbaiki posisi kakinya.

Kaget benarlah pemuda kota itu, pikimya : “Hebat sekali orang ini. Aku mempergunakan gaya sakti Gineng Jalasengara .........

masih gempur kuda-kudaku. Siapakah dia ini? Mengapa dia menyerang aku secara pengecut demikian. Waspadalah kiranya yang paling benar. Sekali lagi demmas Purbaya berseru: “Siapa berbuat seperti cecunguk membokong orang dari belakang?”

Tetapi jawabannya sangat aneh: “Ahah-ah uh-uh mba-beh .......

bahok.” sambil menggerak-gerakkan jari-jari tangannya ramai sekali, Teranglah bahwa orang itu bisu dan tuli, tetapi denmas Purbaya tidak segera melihatnya malah merasa sangat dihina. Berkatalah ia dengan mata memcilak mar ah:

“Apa kau menghinaku?!” “Uh. uh:..... uwah . . . .. . bahok-wau . . . . . .” jawabnya pula ....

Masih a menggerak-gerkkan jarinya, Namun pemuda lainnya masih juga. belum insyaf akan keliru tangknpanya.

“Apa, kau kira aku takut kepadamu, ha .. ha ... Mari.. mari. ..

kita mulai saja memgadu kekuatan.”

“Uh•uh ...... ah-ah, wau ” jawab orang itu.

Tidaklah dapat demmas Purbaya memahan sabar lagi, segera ia membuka serangan demgan jurus pancingannya ......... yang tidak dihiraukan oleh lawannya, tetapi malah menyerang dagu musuh, hingga hampir saja pemuda pameran itu dapat terhajar dagunya., yang berarti rontoklah kewibawaannya jikalau kurang cekatan

sedikit saja. Hanya dengan menundukkan bada dan membuang kepala kesamping ia dapat menghindarkan bahaya itu. Tetapi dengan berbuat demikian ridak pula dia dapat mengerjakan tangan kirinya, menggaplok musuh, karena terpaksa mengubah sikap badannya tadi.

Yang kini dapat dikerjakan adalah menyerang bagian bahwa lawan dengan temdangan k earah lambungnya.

Temyata, orang tinggi-besar yang hanya bercawat kain lurik itu seorang pendekar yang tinggi ilmunya, yang tidak hanya melulu dapat menyerang saja demgan kuat saja tetapi dapat pula menjaga diri dengan baik sekali, Tendangan geledek den mas Purbaya dapat dielakan hanya demgan melenturkan badannya sedikit saja ……..

bebaslah ia dari tendangan ampuh pemuda kota itu.

Kedua orang itu kini tahulah bahwa mereka sedang berhadapan Jawan yang tidak dapat diremehkan sama sekali. Maka sangat berhau-hatilah mereka dalam gebragan-gebragan selanyumja, Mereka itu sama-sama kuat, sama-sama gesit cepat, hanya pemuda gunung tadi kaku dalam gerakannya, sedang denmas Pnrbaya sangat luwes prigel namun tidak dapat berbuat banyak terbadap si-kaku welu itu. Lama juga mereka pertempnr seru sekali, ratusan jenis jurus lewat dalam waktu lidak terlampau lama ...... semua tidak berguna lajaknya dalam pertempuran mereka kali ini.

Karena rasa penasarannya, mulailah pemuda-pemuda sakti itu mengeluarkan jurus-jurus istmewanya masing-masing untuk dicobakan kepada lawan setimpal ini. Keruan sadja pertempuran mereka memjadi lebih seram dan seru. Sudah lebih dari lima jam mereka bertempur demikian, tetapi masih tetap seimbang keadaan mereka, sedang sejam lagi sang Matahari sudah akan masuk kedalam peradnannya. Maka berpikirlah demas Purbaya, sambil terus melajani lawannya.

Tinggal satu pukulan sakti yang belum dicobakan . .. GUNTlJR-GENI bagaimana kiranya bila kucoba sekarang ......

Tetapi sayang bila orang ini sampai terluka karenanya, karena dia bukanlah musuh mati-hidupku.

Tetapi kenekatannya itu menjengkelkan hati sekali ......

mungkin karena merasa agak menang tenaga dariku. Baiklah ....

akan aku coba, biarpun hanya dengan tenaga setengah Awas kau

Bahok mungkin kau segera kelabakan mencari tempat dingin.

Setelah siap memgerahkan tenaga sakti itu, mulailah denmas Purbaya memjerang lawannya dengan jurus pukulan Guntur Geni. Jurus itu aneh sekali, karema selalu dilontarkan deagan lutut kanan tertekuk menjentuh tanah.

Benar saja musuh menjadi kelabakan membuat gerakan jungkir balik hingga liga kali kebelakang, karena terserang jurus panas itu.

Kemudian ia berloncatan kekiri dan kekanan sambil memukulkan tangan keduanya, membuyarkan serangan udara panas Purbaya. Kini siaplah ia dengan ilmu penolaknya. Maka ia lalu berdiri regak dihadapan lawan demgan kedua tangan dimuka dadanya.

Datanglah serangan Purbaya demgan tangan kiri., orang itu ikut surut dua tindak lalu miring kekanan, bebaslah ia dari pukulan guntur-geni. Pukulan yang datang dari kanan, juga dihadapi demgan gerakan yang sama tetapi lalu miring kekiri bebaslah ia.

Hai, jurus apakah ini, mengapa dermkian enteng hingga kelihatannya musuh itu tidak mempunyai bobot sama sekali, selalu ikut terbang dengan pukulannya .... untuk kemudian tanpa menderita sesuatu apapun dapt memperbaiki kedudukannya.

Dirasakan oleh denmas Purbaya, pukulan saktinya sebagai jatuh diudara kosong saja, hingga tanpa guna sedikitpun. Walaupun musuh tidak membalas, tetapi menggunakan jurus guntur geni adalah memakan ienaga sakti banyak. Kalau ia rerus menerus meujerang dengan jurus dahsjat itu, mau tidak mau akan terkuras habislah tenaganya.

Celaka ... habislah dayaku sekarang, pikir pemuda Kartasura itu. Dari ingin memperlihatkan keunggulan, berbalik ia menjadi bulan-bulanan musuh tagguh ini. Tidak tahunya, bahwa sipemuda yang disebur Bahok olehnya itupun hampir juga kehabisan nafas, yang masih dapat dilakukan adalah andalannya, disebut jurus PALWA RANU, ikut serta dalam segala arah pukulan musuhnya saja ..... ridak mungkin lagi di celakai oranig karena pukulan sedahsjat apapun juga, tetapi tidak dapat menyerang kembali. Pemusatan tenaga batinnya di arahkan kepada merasakan kedatangan angin pukulan serta kekuatan daja pukulannya,

Sebenamya kedua pemuda itu hampir sama-sama jatuh kehabisan nafas semua, tetapi tak seorang dari mereka mau mengalah, Pukulan Purbaya tinggal menyerupai siliran angin hangat saja, itupun harus dilancarkan dengan nafas terputus-putus sedang elakan si Bahok sudah sangat lemah, berupa seleoran kekanau dan kekiri.

Memdadak terdengar orang tertawa nyaring mengejutkan jang sodang bertempur tadi. Keduanya senggojoran munaur tiga langkah, akhimya sama-sama jatuh memdeprok ditanah, teremgah-engah memandang orang yang meudekati mereka. Siapaka.h dia ini yang berpakaiau serba hijau, celana gombjong (longgar), kutung batas siku sedang kainnya digubatkan pada pinggangnya.

Usianya pasti sudah lanjut, tetapi masih kelihatan kuat, wayahnya nampak agung berwibawa, yang kini ramai tersenyum menarik. Katanya: “Ah, anak baik anak gagah gagah. Puaslah rasa hati melihat gaya tempur kalian yang bermutu tinggl itu. Hai, Bisu

... mengapa kamu sampai disini, meninggalkan pertapan Hargadumilah. Adakah gurumu adi Hadisukma, baik•baik saja ?”

“Uh uh ah-ah, bahok.” jawab si Bisu disertai bahasa khususnya ialah bahasa jari yang digerak-gerakkan. Ia sedang menceritakan sesuatu kepada orang tua yang kiranya sudah dikenalnya itu.

“Hmm, dia baik katamu …... dan kau disuruh menyusul adik- adikmu seperguruan kedesanya. Ya-ya aku tahu, dialah si Sasana, Sarasa dan Sasanti. Mengapa kau selewengan mengganggu pemuda ini?!”

“Uh-ah ... ah-ah, uhu, heh.” jawabnya, jarinya terus saja bergerak-gerak lucu.

“Ha-ha .... namamupun pemuda, kalau tidak suka kelakar bukanlah pemuda biasa sebenamya. Tetapi kelakar ini tadi agak keterlaman, bukan? Coba kamu tidak menggunakan jurus „Jalwa- ranu‟ konyollah kamu, karena pemuda gagah ini memggunakan aji Gineng Jalasengara disertai Guntur Geni.” “Uh uh, bahok.” jawab si Bisu serta mengacungkan kedua jempolan tangannya, memandang Purbaya sambil manggut- manggut, minta maaf.

Denmas memjeringai setan . . . baru tahu ia berurusan dengan pemuda bisu yang luar biasa, murid seorang lokohjang pasti luar biasa. Bau muridnya yang bisu saja demikian hebatnya, bagamana gurunya. Dan 'siapakah orang ini, mengapa ia tahu segala temaga yang dipakainya umtuk menghadapi si Bisu itu.

“Anak, bukankah kamu masih darah-keraton?” tanya orang itu kepada Purbaya.

“Tidak salah paman, hanya aku bukanlah keturunan yang kini bermahkota.”

Kalau demikian, anak adalah salah seorang putera sahabatku seperguruan, pangeran Puger, betulkah?”

“Ah, paman ... bukankah paman ini yang disebut orang Ajar CEMARA TUNGGAL ?”

“Angger, akulah Cemara Tunggal, ada titah apakah dari ayahmu kepadaku?”

“Paman, akulah putera pangeran Puger yang nomer emam datang kepada paman atas titah ayah, untuk berguru barang tiga- empat tahun.”

“He-he-he-he aku kira ada hal yang lain, baiklah denmas, aku turuti kehendak ayahmu dan sejak hari ini, denmas adalah muridku, satu-satunya. Nampaknya masih ada sesuatu yang masih dapat kuturunkan kepada calon senapati Kartasura. Mari kita menyauhkan diri dulu dari segala keramaian dunia, demi keutuhan negara dikemudian hari. Bisu ...... kau terus ..... saja kedesa Samakaton, menyemput adik-adikmu seperguruan Sasana, Sarasa, Sasanti, anak bekel desa itu, bukan? Bila kau kemudian bertemu gurumu, katakanlah bahwa kini akupun mempunyai murid, hanya seorang