Gema Di Ufuk Timur Bab 18 : Simalakama (Tamat)

Bab 18 : Simalakama (Tamat)

Diboyongnya Nawangsurya ke Bangkalan oleh Rasamala memberi kesempatan bernapas bagi orang Bayu atau orang Blambangan. Bersama adik dan saudara-saudara lainnya, antara lain Mas Ayu Patih, Mas Ngalit, Mas Talip, dan beberapa inang, ia diangkut ke Madura. Ia tidak lagi memperhitungkan apakah Rasamala seusia ayahnya atau kakeknya. Juga tidak memperhitungkan wajah yang kasar bekas kukul. Berkulit hitam atau kuning. Ia telah merasa diri tanpa makna. Permohonannya untuk tinggal di Pakis jadi istri gelap ia rela. Tapi Rasamala tidak ingin berpisah sesaat pun dari Nawangsurya. Ia ingin menikah dengan resmi di depan penghulu istana Bangkalan. Rasamala tahu dengan pasti bahwa Nawangsurya benar-benar baru pertama dijamah lelaki. Itu sebabnya ia tak ingin melepas lagi. Sebaliknya Nawangsurya telah merasakan dirinya menjadi salah satu dari orang yang disebut Wilis: sundal! Air matanya berderai kala tanah kelahirannya mulai lenyap dari pandangan, cuma suatu garis yang hijau. Lama-lama pudar dan musnah. Kala Rasamala membimbingnya ke samping kapal yang lain, maka di depannya nampak daratan baru. Madura! Selamat tinggal Blambangan. Selamat tinggal semua dan segala. Biarlah kumasuki dunia yang baru. Biarlah aku damai di kemanjaanku dalam pelukan si tua Rasamala. Karena kau tak lagi mampu memberi pengayoman padaku. Benar-benar ia tak peduli lagi pada kemungkinan sakit hatinya istri-istri Rasamala yang lebih tua. Bukan aku yang salah, tapi Rasamala yang rakus!

Rasamala cuma meninggalkan lima ribu pasukan untuk membantu Kompeni dan Jaksanegara serta mengawasi Pakis. Karena ia tidak lagi berminat perang. Ingin mengulur kesenangan bersanding dengan gadis Blambangan, Nawangsurya. Ia rasa di Madura tak ada wanita secantik dia. Namun VOC tetap tidak berani menyerang Bayu. Schophoff sedang menyusun kekuatan. Bukan cuma kekuatan manusia. Tapi uang dan cadangan makanan. Dari Blambangan mereka tak dapat mengharapkan apa-apa. Panen musim lalu terganggu oleh perang. Yang kini kawula masih menanam. Mungkin saja jika panen hasilnya tidak bisa diharapkan karena kawula tidak suka berbagi hasil dengan Kompeni. Tapi mereka akan mempersembahkan dengan sukarela pada para brahmana dan pandita. Atau mempersembahkan upeti ke Derwana. Jika dipaksa untuk membayar pajak, maka mereka sudah siap dengan banyak alasan.

Kini kawula lebih pintar lagi. Mereka tidak pernah lagi menyimpan padi di lumbungnya. Suatu kenyataan yang memang pahit. Tanah yang subur hijau tidak memberikan sesuatu pada Kompeni, kecuali kematian. Kematian!

Kini kematian itu berlanjut, walau perang tidak berkecamuk secara hebat. Cuma ada pertempuran-pertempuran kecil. Di samping pertempuran kecil itu ada pembunuh yang kejam dan tidak pernah pilih bulu. Apakah ia tinggal di benteng atau di loji, atau di rumah-rumah gedek, atau gubuk. Wabah menghantui semua dan segala.

Di Derwana, Indrawana, dan Bayu pun orang sibuk. Musim tanam membuat semua orang sibuk dan harus berhemat. Mas Ayu Tunjung sibuk membagikan benih padi. Juga sibuk membagi * cadangan makanan. Sedang Mas Ayu Prabu diberi tugas memantau kegiatan laskar Madura merangkap pemuka di Derwana serta Indrawana. Sedang Sratdadi sibuk menyiapkan pembentukan pasukan baru. Di samping itu dia juga sibuk mencari tabib untuk menanggulangi wabah yang tiada dapat ditolak.

Wilis berulang masuk pura. Kendati ia juga sering tampak di tengah-tengah kawula yang sedang menyiangi padi. Tapi ada sesuatu yang mengganjal dalam kalbunya. Yistyani sedang tergeletak di pembaringan karena sakit. Puluhan tabib sudah didatangkan dari setiap penjuru Blambangan. Tapi tidak mengurangi aniaya yang diderita ibundanya itu. Bahkan mereka juga berusaha mendatangkan tabib Cina yang biasa menggunakan jarum untuk mengobati penderita. Sudah beberapa lama setelah Jagapati tewas, Yistyani tidak mampu bangkit dari pembaringannya. Makin punah kecantikan masa mudanya. Kedua pipi yang dulu dikagumi oleh tiap pria itu kini jadi kempong, susunya jadi peot tanpa isi. Tubuh yang montok tinggal kulit pembungkus tulang. Tantrini dan Mas Ayu Tunjung serta Mas Ayu Prabu mengerumuni wanita itu.

Pandangannya kosong tanpa makna.

Sudah tidak muntah lagi. Tapi tidak membuatnya bangkit. Doa tidak pernah henti keluar dari mulut semua orang Raung. Bermacam ramuan dan jampi bercampur-aduk dalam perut Yistyani. Ini semua mendebarkan hati Wilis. Setelah ia mondar-mandir di pura, Dang Hyang Asyoma, yang sekarang meninggalkan Pakis dan bergabung dengan Bayu, mencoba memberikan pendapatnya,

"Usia di tangan Hyang Maha Dewa, Yang Mulia. Kita telah berusaha. Tapi sekalipun kita menyimpannya dalam gedong batu dan menguncinya rapat-rapat, jika sang Yamadipati tiba, tak seorang pun mampu menyimpan nyawa itu. Maka hamba kira yang harus kita lakukan sekarang adalah menyiapkan hati untuk kepergian seorang yang kita hormati, kita sayangi "

"Jagat Dewa!" Wilis menyebut. Namun cepat sadar akan dirinya. Setelah menarik napas panjang, maka ia segera meninggalkan pura itu. Ya, katanya dalam hati. Ibunda akan mati. Apakah gunanya bersedih? Bukankah semua yang hidup akan mati?

Kala ia masuk ke kamar, Yistyani melambai dengan perlahan. Semua menoleh padanya. Rupanya Yistyani merasa waktunya telah dekat. Ia harus segera menyampaikan rahasia penting yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Namun kala anaknya menyembah, hatinya menjadi ragu. Apakah jika rahasia itu dikemukakan tidak akan memupuskan semangat anaknya yang sedang menghadapi peperangan yang lebih besar? Padahal para pembantunya sudah punah menghadapi meriam Belanda. Apalagi gugurnya Jagapati, beberapa waktu lalu.

"Inilah hamba, Bunda."

Yistyani membelai rambut anaknya.

"Tampaknya kau ingin menyampaikan sesuatu, Anakku." Wanita itu memancing. Kendati tubuhnya sudah amat lemah, namun pikirannya belum benar-benar punah. Wilis ragu. Ia toleh semua orang satu per satu. Terutama Mas Ayu Prabu. Seolah meminta pendapat. Dengan mata Mas Ayu Prabu memberi isyarat, ia setuju dengan apa yang akan diutarakan Wilis.

"Ibunda, hamba cuma ingin penegasan, apakah Bunda merestui keinginan Ananda?"

Sekilas Yistyani nampak bermendung. Ia ingat permintaan Wilis untuk melamar Mas Ayu Prabu beberapa waktu lalu. Kini anak muda itu mengulangi kendati samar. Mata Yistyani mencari-cari pegangan. Namun kala beradu dengan mata Tantrini, tiba-tiba seperti ada kekuatan gaib yang keluar dari mata itu. Kekuatan yang melindas dadanya, makin tertekan. Seperti kejatuhan batu yang gunung-gemunung. Napasnya tiba-tiba menjadi sesak. Padahal mata itu tulus dan suci.

Kesucian seorang istri, ibu, dan brahmani yang menyatu. Sedang aku? Ah...

"Ampuni, daku... Wilis. Bukankah aku telah berdoa banyak demi kemenangan dan kesejahteraanmu? Restu yang mana lagi yang kauperlukan? Perang belum lagi usai. Adakah Ananda merencanakan sesuatu yang lain?" Yistyani berusaha mengebaskan himpitan.

Kembali Wilis mengernyitkan dahinya. Terbenam dalam pertimbangan selanjutnya. Membuat ia terjebak di dalam sebuah pertanyaan yang melingkar dan sulit dijawab. Apa yang tersembunyi di hati Bunda? Hal yang sama dialami oleh Ayu Prabu. Ia sudah menceritakan pada Tantrini semua kesulitan Wilis untuk melamarnya. Tersandung pada ibunya sendiri. Mengapa wanita itu sepertinya tidak rela? Tantrini sendiri tidak tahu mengapa demikian? Atau mungkin... naluri kewanitaannya berbicara di lubuk hatinya yang jauh. Jauh. Jauh sekali.

"Kanda, mungkin hati junjungan kita sedang tertindih oleh masalah asmara. Adakah kita yang tua ini masih sempat mempersembahkan sesuatu yang baik buat seorang junjungan?" Tantrini mencoba.

Kembali Yistyani berdebar. Ia tatap wajah adiknya. Hati- hati sekali wanita itu menyatakan pendapatnya. Ah, jika dia tahu apa sebabnya aku tak mengizinkan anakku kawin dengan anaknya apakah ia tidak akan mengutuki suaminya? Apakah jiwanya tidak terguncang? Ia tidak akan rela adiknya terguncang oleh apa yang ia ketahui.

"Baiklah," putusnya kemudian, "aku tidak akan keberatan, asal kalian mendapat izin dari Wong Agung Wilis di Bali.

Karena itu usahakanlah kalian berdua menghadap Yang Mulia "

"Jadi hamba harus menyeberang ke Bali?" Wilis menegaskan.

"Harus. Hanya beliau yang bisa memberikan restu. Apabila tidak ada restu dari beliau, janganlah kalian melanjutkan niat kalian berdua."

"Terima kasih, Ibunda. Hamba akan menghadap Yang Mulia Wong Agung Wilis di Mengwi."

Yistyani lega dengan jawaban itu. Rasanya terlepas dari beban yang menindihnya. Ia kemudian menyapukan pandangnya kepada semua orang yang berdiri di sekelilingnya. Ketika matanya beradu dengan mata Ayu Tunjung, tiba-tiba wajah itu seperti menarik ingatannya pada masa lalu. Di mana ia sedang bersama Ayu Candra atau Dyah Nawangsasi, permaisuri Blambangan. Berdiri jauh di seberang sana. Terbungkus awan-awan putih. Terbayang kala keduanya berusaha membangun kembali Blambangan dari puing-puing. Wanita yang begitu anggun dan dikagumi, tapi kala terdesak oleh hal yang sangat sulit, maka ia menggunakan keperempuanan sebagai senjatanya. Sama seperti Nawangsurya saat ini. Namun Nawangsurya tidak punya laskar sebagai kekuatan pendukung, akibatnya ia di pihak yang kalah.

Ah, betapa sakitnya anakku andai mengambil Mas Ayu Tunjung menjadi istrinya dan kelak gadis ini juga seperti ibundanya anumerta, mempertahankan semua miliknya dengan keperempuanan. Ternyata anaknya tidak salah pilih. Ayu Prabu tentunya adalah seorang wanita yang teguh dan setia seperti ibunya. Tapi jika kaulihat ayahnya, oh, ia juga ayahmu, Nak. Mata Yistyani beralih ke lain lagi. Kini beradu kembali dengan mata adiknya. Beberapa bentar. Sukmanya serasa berayun-ayun.

"Adikku...." Ia menggapai wanita itu. "Ampuni aku " Air

mata tersembul perlahan dari balik kelopak matanya. Lirih suaranya. Tantrini terkejut. Tidak pernah ia melihat kakaknya selemah itu. Maka ia maju dan menciumnya.

"Pahit dan manis telah kaulalui dengan baik. Kau sendiri mengajar padaku tentang bagaimana menghadapi hidup. Lalu apa lagi yang harus aku maafkan?" Tantrini makin nampak agung di usia senja. Seperti halnya Dewi Laksmi dari surga.

"Aku sudah habis, Adikku. Mentariku telah tenggelam di ufuk barat. Biarlah sekarang gema suara suamimu muncul di ufuk timur, untuk memimpin semua orang Blambangan.

Gema! Kendati cuma gema. Tapi biarlah terus memantul di setiap telinga. Bahkan di setiap dinding hati kawula. Sehingga saatnya akan tiba mereka sadar dari mimpinya dan bangkit mengusir penjajah!" Makin lemah suara Yistyani. Makin pudar sinar matanya. Makin tersengal napasnya. Tantrini makin terpekur dalam doanya. Semua pasrah pada Hyang Maha Qiwa, sang Pencabut dan Penentu.

"Kau... akan tahu semuanya jika... jika... kalian... telah... berkumpul kembali dengan... sua..." Putus sudah napas Yistyani. Kalimat terakhirnya tidak usai. Namun Wilis menduga ada rahasia pribadi ibundanya yang belum terungkap. Selesai masa perkabungan tentu ia akan menyeberang ke Mengwi.

Amanat ibundanya harus dilaksanakan. Sekaligus ia perlu mengungkap rahasia yang tersirat di dalam pesan terakhirnya.

***

Kembali Umbul-umbul hitam menghias wajah tiap kota di Blambangan. Schophoff bertanya-tanya siapa lagi yang mati ini? Perkabungan kematian Jagapati sudah berlalu. Baru beberapa hari, kini umbul-umbul hitam naik lagi. Jika demikian masih ada lagi deretan orang kuat memimpin mereka. Tentu bukan Jagapati orang pertamanya. Kendati ia adalah kepala pemerintahan. Tidak kurang-kurang orang tampil sebagai pemuka, bahkan menjadi kepala pemerintahan tapi tidak pernah punya pendapat apa pun, karena sebenarnya ia tak lebih dari wayang yang dimainkan oleh dalangnya. Dan Belanda memang suka sekali menciptakan wayang-wayang yang dapat menyuarakan apa yang telah diputuskan di Batavia. Atau juga apa yang telah lebih dulu diputuskan di Nederland.

Rahminten tidak memperhatikan untuk siapa umbul-umbul hitam itu dikibarkan. Tapi ia terbenam dalam kedukaan tersendiri. Akhirnya ia menyadari bahwa ia telah menjerumuskan kakaknya pada suatu keadaan yang tidak pernah dimauinya. Tentu kakaknya Nawangsurya akan selalu menyesal sepanjang hidupnya, karena diperistri seorang yang telah tua dan berwajah...

Kekecewaan membuat wanita itu menelusuri kembali lereng-lereng hidupnya yang telah terlewati. Ia seperti tersentak. Setumpuk kesalahan terpampang di pelupuk mata. Ah, ia berusaha menggapai kembali kebesaran keluarga Tawang Alun dengan damai. Dan kesalahan telah membuat apa yang digapainya cuma angan yang berdiri di luar jangkauannya. Dan makin hari Jaksanegara makin sulit mendengar pendapatnya. Apakah ia harus keluar dari istana Jaksanegara dan bergabung dengan laskar Bayu agar dapat merebut kembali istana Pakis yang saat ini diawasi oleh pasukan Madura itu? Kendati Rasamala berjanji tidak akan menduduki istana dan daerah Pakis. Namun kenyataan menunjukkan bahwa seluruh isi istana diboyong ke Bangkalan dengan dalih untuk melindungi mereka. Siapa akan percaya?

Tidak! Rahminten tidak percaya. Juga kepada Jaksanegara ia telah kehabisan kepercayaan. Sekarang ia mengambil keputusan akan merebut kembali saudara-saudaranya dari tangan Rasamala. Karena merasa bersalah. Maka kini ia harus berusaha sedapat-dapatnya. Tapi apa dayanya? Aku bukan Sri Maha Ratu Tribuana Tunggadewi dari Majapahit yang mampu mengerahkan beratus ribu laskar. Ia wanita semata wayang. Baiklah, apa yang ada padaku adalah modal untuk menjangkau tujuan. Jika Ken Dedes bisa, mengapa aku tidak? Aku pikir, aku tidak terlalu dungu. Walau mungkin tidak seperti Dedes. Juga tidak terlalu buruk, kendati tidak secantik Dedes.

Kepergian Nawangsurya memberikan pukulan batin tersendiri bagi Jaksanegara. Walau ia sudah mengawini Rahminten, tapi keinginannya untuk mempersunting Nawangsurya tidak pernah punah. Maka kepergian Nawangsurya ke Madura cukup mengguncangkan batinnya. Tapi ia tidak berdaya untuk mempertahankan wanita itu. Ia tidak memiliki prajurit sebanyak Rasamala. Itu sebabnya ia sering marah pada istri-istrinya. Apalagi pada anak-anaknya. Bahkan tidak jarang ia menempeleng istrinya. Juga pada Rahminten. "Apa salahku maka Suaminda menempeleng?" Rahminten menyatakan ketidakterimaannya. Darah Tawang Alun membuat ia tersinggung. Mata Jaksanegara merah karena minuman.

"Kau tidak pernah membantu aku menegakkan cita-cita kita untuk memperoleh kembali cakra-warti Tawang Alun."

"Suaminda tak pernah berusaha meraih cakra-warti itu," Arinten kesal. "Nyatalah bagiku, Suaminda cuma pandai memburu kesenangan pribadi dan memanjakan nafsu semata." Masih memegangi pipinya sambil melanjutkan ketidak-terimaannya.

"Iblis! Setan betina!" Jaksanegara mengumpat. "Jika kau dulu mau membujuk kakakmu kawin dengan aku, maka tidak mungkin Pakis diduduki Rasamala yang tua itu."

"Jika Suaminda seorang bertanggung jawab dan berani, Pakis tidak lumat seperti sekarang ini." Arinten tidak kalah sengit. Ia mulai kehilangan ketakutan kendati dibentak.

"Kau membantah aku? Pilih! Diam atau hukuman mati untukmu?"

Rahminten terdiam. Tapi kekesalan hatinya makin dalam. Jaksanegara makin jarang memperhatikannya. Makin jarang juga memasuki purinya. Maka Arinten makin mengerti bahwa nasibnya sudah ditentukan oleh Jaksanegara. Baik! Aku atau kau yang harus punah, tekadnya. Kini ia mencoba sesekali berjalan-jalan. Tetap saja tidak ada perhatian. Juga tidak ada kecurigaan. Kini Rahminten mempunyai banyak kesempatan untuk menemui para selir yang sudah tak terjamah lagi. Tentu tujuannya adalah menyatukan hati. Dan orang-orang yang memiliki penderitaan yang sama, akan lebih mudah menyatukan diri. Dan karena itulah terjadi saling pengertian antara mereka. Tidak seorang pun mengusik jika seorang di antara mereka menerima tamu para penjaga atau prajurit- prajurit Kompeni yang gagah itu. Juga Rahminten mulai berani bertingkah. Ia merasa, pasti akan dilindungi teman-temannya. Tapi Rahminten tidak akan mengundang para prajurit seperti selir-selir itu. Sebab ia punya tujuan tertentu. Bukan untuk mencari kepuasan.

Dan betul, setelah berulang mencari kesempatan, maka suatu hari ia dapat berbincang dengan Juru Kunci justru waktu Jaksanegara sedang pergi ke Lateng. Walau mereka sering bersua, namun tidak mudah dapat leluasa berbincang. Apalagi sebenarnya Rahminten tidak suka pada orang itu kendati masih terhitung muda jika dibanding Jaksanegara. Di samping mukanya bopeng, dan agak gemuk, orang ini sebenarnya berdarah sudra. Bapa Anti adalah sudra yang mensatriakan diri dengan caranya sendiri. Mencoba membuka jalan ke Batavia bagi Mas Nuwong.

Ah, bukan orang ini yang ia tuju. Tapi bagaimana cara mendekati Schophoff. Ia anggap Juru Kunci akan dapat jadi jalan yang paling lurus.

"Yang Mulia mewakili suami hamba?" Rahminten memandang tajam pada Juru Kunci. Orang itu menghormat seperti biasanya jika sedang berhadapan. Wanita itu sudah tidak telanjang dada lagi. Mengenakan kemben. Kuning mencolok, serasi sekali dengan kulit yang'di-bungkusnya. Kain penutup kaki dan tubuh bagian bawah tampak ketat sekali dan berwarna coklat tua.

"Hamba, Yang Mulia." Juru Kunci memandang tangan yang meletakkan minuman di atas meja. Ah, jari-jarinya runcing.

"Berapa hari?"

"Hamba kurang tahu. Mungkin sepekan. Karena beliau pergi bersama Tuan Pieter Luzac untuk mengunjungi para perwira Kompeni yang sedang sakit keras di benteng-benteng. Terutama di benteng kota Lateng."

"Apa penyakit mereka?" Rahminten kini duduk di seberang meja. Tidak biasa ia duduk di kursi itu. Juga tak biasa ia menyuguhkan minuman kendati untuk suaminya sendiri. Juru Kunci sendiri jadi berdebar melihat sikap Rahminten. Berkali matanya menengok ke luar ruangan. Takut ada orang melihat mereka. Rahminten tersenyum. Membuatnya makin kikuk.

Salah tingkah.

"Eh, tidak... tidak tahu, Yang Mulia. Hemh... menurut orang yang pernah melihat, wajah mereka berubah menjadi kuning. Demikian pula ujung-ujung jari kaki dan tangannya. Jika sudah seperti itu, maka sulit diobati. Mereka pasti mati."

"Itu perbuatan para dukun dan ahli teluh Blambangan." "Yang Mulia mengerti itu?" Kini Juru Kunci memberanikan

diri menatap istri pimpinannya.

"Hamba dulu banyak kenal mereka."

"Ah, Yang Mulia Kebetulan, Tuan Schopoff sendiri ingin

mendapat keterangan perihal teluh-meneluh di Blambangan ini. Yang Mulia bisa menolong hamba?"

Rahminten seperti ingin melonjak rasanya. Apalagi Juru Kunci menceritakan bahwa Schophoff juga sering mengeluh, sering merasa terlalu lelah dan perutnya sering mual. Juru Kunci diminta mencarikan seorang dukun yang sanggup diupah.

"Hamba akan menolong Tuan Schophoff. Tapi tentunya hamba harus bertemu sendiri dengan Tuan "

"Tidak mungkin, Yang Mulia "

"Memang tidak mungkin hamba keluar dari rumah ini tanpa izin suami hamba. Tapi Tuan Schophoff tidak akan terhalang oleh peraturan yang mana pun untuk datang ke tempat ini."

"Jadi, hamba harus memberi tahu bahwa Yang Mulia "

"Ya, hamba bahkan memiliki obatnya."

"Ya, Allah Baiklah sekarang juga hamba akan ke sana." "Tapi, Yang Mulia, kendati Tuan Schophoff tak terikat oleh hukum mana pun, hamba tetaplah istri seorang yang..."

"Itu, Yang Mulia. Tentu melanggar hukum agama kita.

Yang Mulia Jaksanegara..."

"Akan membunuh hamba. Tapi..." Rahminten mendekatkan diri pada Juru Kunci. Mulutnya hampir menyentuh kupingnya. Juru Kunci benar-benar tergagap kala wanita itu berbisik,

"Agar hamba tidak dibunuh oleh suami hamba, Tuan Schophoff dipersilakan datang dengan diam-diam."

"Para penjaga akan tahu."

"Mereka tidak pernah diperkenankan masuk ke dalam puri."

Juru Kunci segera pergi, sedang Rahminten bersiap dan bersolek dalam purinya. Cuma beberapa bentar menunggu. Namun ia seperti tak sabar. Ingin segera memuntahkan semua yang dimauinya. Tapi pada diri sendiri Rahminten berkata, kau saat ini memasuki peperangan dengan caramu sendiri. Ya, aku berperang dengan caraku sendiri.

"Selamat datang, Tuan," sambutnya pada orang bertubuh tinggi besar yang diiringkan oleh Juru Kunci. Ah, Juru Kunci diam-diam makin mengagumi kecantikan wanita itu. Berganti kemben. Hitam berenda benang emas. Warna yang bertolak belakang dengan kulitnya. Susunya nampak kian padat di balik kain pembungkus seperti itu.

"Senang sekali bisa bertemu dengan Putri..." Schophoff memandang tajam seperti pada boneka. Sementara Rahminten melirik Juru Kunci sebagai isyarat untuk kembali ke ruang kerjanya. Schophoff sudah terbiasa masuk kaputren itu. Namun tak pernah berhadapan dengan Rahminten. Dibanding dengan semua wanita yang pernah dikenalnya di puri itu, ternyata Rahminten paling istimewa. Purinya berjauhan dari lainnya. Kendati tetap dalam lingkungan satu pagar. Terbesar dan terbaik. Dia ikuti langkah pendek-pendek wanita itu dengan hati tak sabar. Langkahnya jauh lebih lebar. Para putri yang lain cuma mengintip dari balik tirai. Mereka sendiri sering menerima tamu. Tak perlu iri. Apalagi hampir semua ingin membalas dendam pada Jaksanegara.

"Tuan sakit?" Rahminten bertanya dalam Jawa yang baik.

"Yang Mulia Putri punya obat, kata Juru Kunci," Schophoff berkata sambil memandangi bunga dan rumput yang tumbuh subur dalam musim penghujan ini. Dan setiap hari kalau tidak mendung ya hujan yang mewarnai bumi Blambangan.

"Ya." Rahminten kini membuka gerbang tamannya.

Kemudian mengajak Schophoff berjalan kembali beberapa depa jauhnya.

"Tapi kelihatannya Tuan begitu sehat." Rahminten bicara tanpa menoleh. Membuka pintu rumah pun sendiri. Karena para dayang pun telah ia perintahkan pergi. Ia katakan mereka boleh beristirahat selama Jaksanegara tidak ada di tempat.

"Memang tidak begitu sakit. Tapi jika Putri punya obat, tentunya berguna untuk para prajurit dan perwira lainnya."

Rahminten mencuci kaki terlebih dahulu sebelum masuk ke rumahnya. Sedang Schophoff ia persilakan melepas sepatunya. Tidak biasa memang. Tapi tidak tahu mengapa Schophoff kali ini seperti kena sihir. Cukup besar ruangan dalam puri itu. Di dalamnya tidak ada bilik-bilik. Tempat tidur yang meniru milik orang Eropa di sudut kiri ruangan besar itu. Dibatasi oleh kain putih yang diikat di tiang-tiang yang tersedia. Perabot lain tidak ada kecuali satu kursi yang juga meniru milik orang Eropa dan satu meja marmer. Kursi itu cukup untuk duduk berdua. Memang tidak pernah ada tamu di puri ini kecuali Jaksanegara. Kini Schophoff dipersilakan duduk. Sementara Rahminten berjalan ke balik kainnya itu sambil melepas kembennya. Mata Schophoff bagai kena tarik barang gaib. Melotot, memperhatikan kulit punggung yang mulus. Setelah melempar kemben itu ke sudut ruangan, ia mengambil pisang dan air gula aren untuk dihidangkan.

Rahminten tak peduli mata bule itu melahap tubuhnya. Puaskanlah! pikirnya.

"Gerah, Tuan. Di luar mendung." Kemudian tanpa ragu ia duduk di samping Schophoff. Susu yang tanpa penutup itu kini bergoyang-goyang seolah melambai tangan berbulu Schophoff. Orang itu kini menghela napasnya dalam-dalam sambil menyebut.

"Memang udara gerah," katanya, kemudian menggoyang- goyangkan kipas yang sejak tadi dibawanya.

"Ini pisang emas dan air gula aren. Nenek moyang hamba mengajar bahwa untuk menyembuhkan orang yang kena teluh kuning, penderita harus diberi makanan macam ini ditambah kutu kepala wanita."

"Ya, Tuhan?" Schophoff terkejut.

"Ini teluh gawat. Jika Tuan mau sembuh inilah obatnya." "Lalu aku harus makan ini semua? Kutunya mana?" "Nanti Tuan cari sendiri di kepala hamba."

"Ya, ampun, Tuhan!" Muka Schophoff menjadi merah. Rahminten tersenyum.

"Kenapa orang-orang Blambangan enggan berdamai dengan..."

"Tentu ada sebabnya. Apa Tuan tidak menyadari? Tuan dulu pernah beranjangkarya, bukan? Zaman Yang Mulia Sutanegara baru dibuang ke Ceylon?"

"Ya." Schophoff mengangguk-angguk sambil memandang wanita itu tajam-tajam. "Lalu apa maksud Tuan Putri?" "Masih ingat permintaan kawula Blambangan waktu itu?" "Ya. Mereka minta suami Tuan Putri dibunuh dan

dikembalikannya Sutanegara atas tahta Blambangan."

Schophoff agak ragu.

"Itu dia." Rahminten menatap mata Schophoff. Kagum. Biru indah. Jenggot dan kumis lupa dicukur hari ini. Tumbuh. "Ia memang tidak disukai kawula Blambangan. Karena itu orang Blambangan mengangkat senjata. Jika Belanda mau berdamai dengan kawula Blambangan, maka Belanda harus berani menyingkirkan suami hamba. Jaksanegara."

"Tapi bukankah dia suami Tuan Putri?" Schophoff meminum air aren itu satu gelas. Terlalu manis. Membuatnya terbatuk-batuk. Rahminten mengupaskan pisang.

Menyuapkan-nya ke mulut Schophoff. Makin kagum ia pada keberanian wanita itu. Semua wanita pribumi takut pada Kompeni, tapi satu ini tidak. Setelah batuknya hilang, ia mengulangi pertanyaannya. Tiba-tiba wajah ayu Rahminten jadi bermen-dung. Beberapa saat ia tertunduk. Meneteskan air mata. Isak yang mengundang rasa iba di hati Schophoff.

Tangannya tak sadar membelai rambut Rahminten. "Mengapa menangis?"

'Tuan..." Rahminten menghapus air matanya. Schophoff menolong mengusap dengan tangannya yang berbulu kasar. Menimbulkan rasa geli. "Rempek tidak akan melawan VOC jika Jaksanegara tidak merampas hamba dari tengah-tengah keluarga. Ia telah memasang guna-guna sehingga hamba terlena. Setelah itu, ia tidak menepati janjinya menjadikan hamba paramesywari, Tuan. Ia sengaja menghasut Tuan Biesheuvel agar Kompeni menyerbu Rempek. Apa tujuannya? Ia ingin jadi raja di Blambangan tapi dengan memperkuda VOC. Sendiri ia tidak berani menghadapi laskar Wong Agung Wilis." Schophoff mengangguk-angguk. Bertimbang dalam kegerahan. Apalagi setelah minum gula aren gelas yang ketiga, semangatnya pulih kembali. Keringatnya muncul dari tiap pori kulitnya.

Ia menjadi gelisah karena gerah. Tapi Rahminten bertindak cepat.

"Jangan malu, Tuan. Memang tidak ada budak pengipas di sini," katanya sambil melepas baju tebal Schophoff. Dan bule itu tidak bisa menolak, Rahminten menyampirkan baju itu di sandaran kursi. Tindakannya itu bukan saja mengagumkan, tapi sekaligus mengundang keberanian Schophoff untuk melepas celananya yang juga membuat ia gerah. Rahminten terkesiap melihat tubuh yang dipenuhi bulu. Hatinya berdebar. Schophoff duduk lagi di sampingnya.

"Jadi, Tuan Putri kecewa kawin dengan dia!"

"Syarat untuk kesembuhan Tuan masih kurang. Tuan harus..." Rahminten tidak menjawab pertanyaan itu. Tapi dia segera menyerahkan serit (sejenis sisir yang terbuat dari tanduk, gunanya untuk menangkap kutu rambut wanita) pada Schophoff lalu menjatuhkan kepalanya ke paha si bule.

Jantung Schophoff kian berdebar. Tapi aneh. Ia menurut. Sementara Rahminten mengelus-elus bulu-bulu yang menumbuhi paha itu.

"Akii akan singkirkan Jaksanegara," tegasnya. "Tapi tidak sekarang. Sebab, Tuan Gubernur akan mengirimkan pasukan lagi untuk menyerbu Blambangan. Tapi dengan syarat, mau menerima cintaku?" Schophoff tidak tahan lagi. Ia letakkan serit itu. Ia dudukkan Rahminten dipangkuannya. Punggung Rahminten terasa geli dielus tangan kasar Schophoff.

"Tuan berjanji akan melakukan semua permintaan hamba?"

Schophoff mengangguk. Bahkan tertawa kala Rahminten minta ia mengusahakan agar Jaksanegara mengizinkan istrinya merawat istana Pakis dan tinggal di sana. Schophoff suka mendengar itu. Karena ia tahu, bahwa hubungan mereka selanjutnya akan lebih mulus. Kompeni akan menempatkan pasukan kecil di sana, sambil menjaga keamanan Rahminten. Di samping itu niat untuk menyingkirkan Jaksanegara segera ia laporkan pada Gubernur di Surabaya. Senang sekali Rahminten mendengar itu. Hatinya lebih riang kala jenggot Schophoff yang kasar mengiringi hidungnya menelusuri beberapa bagian tubuh Rahminten. Berkali menggelinjang...

***

Kehijauan menghias Bumi Semenanjung. Padang ilalang bekas peperangan dan terbakar pun tumbuh kembali. Ilalang dan rumput muda yang mengundang kelompok rusa, kancil, serta banteng untuk beramai-ramai mencari makan. Kelompok demi kelompok mendatangi pusat-pusat persediaan makanan yang ditumbuhkan oleh kekuatan gaib Hyang Maha Pencipta. Tapi sungguh, mereka bukan satwa liar yang buas. Mereka mampu berdamai. Karena mereka tidak menomorsatukan kerakusan mereka. Jauh berbeda dengan satwa buas. Tidak jarang mereka saling bertarung karena enggan berbagi rejeki. Ingin menang sendiri dan hidup sendiri. Itu sebabnya kepunahan lebih banyak mengancam mereka.

Sawah-sawah juga mulai menghijau. Hampir merata di seluruh Bumi Semenanjung. Namun sawah-sawah itu tampaknya sepi. Tidak nampak anak-anak gembala yang mencari belut di kali-kali kecil di pinggiran sawah. Juga tak terdengar suara dendang para gadis yang menembangkan kidung di pematang-pematang. Cuma burung-burung kecil dan burung-burung manyar yang memperdengarkan suaranya di atas pohon-pohon kelapa. Kendati sudah tidak nampak lagi umbul-umbul hitam berkibar, tapi kawula akan tetap miris dan tidak berani keluar ke tempat-tempat umum. Apalagi ke tempat sunyi. Sebab terlalu sering ada tembak-menembak antara pasukan Kompeni yang berjaga di pos-pos, pasar- pasar, di saat-saat mereka sedang beronda dengan laskar yang tidak dikenal. Selalu menimbulkan korban. Apalagi kawula. Sering menjadi korban. Kedai-kedai pun sering menjadi ajang.

Kini Wilis mengamati langsung, betapa rapi hasil kerja semua anak buahnya. Sambil berkuda menuju ke barat daya, Wilis memuji Mas Ayu Prabu yang kini berkuda di sampingnya.

"Sungguh perjalanan yang menyenangkan. Ini bisa menjadi bahan pembicaraan dengan Ramanda Wong Agung Wilis nanti."

"Banyak yang akan kita laporkan pada beliau."

"Ya. Beliau akan kagum padamu. Dan pada seluruh putra- putranya. Bukan cuma mampu menggerakkan manusia yang punya akal, tapi binatang yang tak dapat diajak bercakap juga bisa diperintah. Aku lihat sekarang para petani banyak yang memelihara lebah. Tentu sangat berguna bagi kelapa mereka di samping jadi pelindung. Bagaimana kau bisa menemukan akal itu?"

"Semula hamba mempelajari cara hidup mereka.

Menyenangkan. Karena masyarakat lebah ternyata seperti masyarakat manusia. Juga memiliki kasta-kasta."

"Menarik sekali, Adinda. Aku belum pernah mendengarnya." "Dalam suatu masyarakat sempurna yang tinggal dalam

satu sarang, boleh diibaratkan suatu negeri. Negeri ini

dipimpin oleh seorang Sri Ratu. Ia memiliki tiga puluh ribu lebah pekerja. Sri Ratu memilih makanan istimewa untuk dirinya. Tidak sama dengan yang lain. Karena ia makan lendir lebah-lebah jantan. Kasta yang paling sial adalah lebah pejantan. Ia bertugas mengawini. Setelah itu diusir keluar atau mati."

"Hyang Bathara!"

"Bau suatu sarang sangat ditentukan oleh bau Sri Ratu.

Dalam sarang mereka terdapat berlaksa-laksa telur yang siap menetas. Dan setelah putri mahkota menjadi dewasa, segera ada peralihan kekuasaan. Dan Sri Ratu beserta laskarnya harus mewariskan sarangnya itu, kemudian pindah mencari atau membangun sarang baru. Itu kodrat mereka. Buat selamanya jalan hidup mereka tidak akan berubah."

"Hyang Bathara! Engkau telah mempelajari hal-hal rumit. Belum lagi bagaimana caranya mengajar mereka membenci Kompeni. Kadang aku berpikir apakah calon istriku ini punya ilmu seperti Prabu Anglingdarma yang mampu bercakap-cakap dengan semua satwa?" Wilis tertawa.

Ayu Prabu juga mesem. Kaki kuda mereka melangkah terus.

"Tidak ada yang rumit, Kanda, kecuali menyelesaikan soal cinta. Siapa pernah akan menduga bahwa untuk suatu perkawinan kita harus memohon pertimbangan dari banyak pihak?"

"Tergantung kita sendiri sebenarnya. Yang Mulia Puger..." "Ah, dia tak bisa dijadikan ukuran. Apalagi hamba sudah

bersumpah."

Wilis diam lagi. Rambutnya tersanggul ke atas. Enak rasanya berdandan seperti itu. Kini mereka tidak melewati perkampungan lagi. Namun rim-ba-raya. Berbelok ke selatan. Menuju perkampungan kecil di pantai selatan. Desa Plaosan. Harya Lindu Segara menunggu di sana. Dan siap melayarkan mereka ke Bali.

"Ada perubahan baru di Pakis. Laskar Madura ditarik dan diganti laskar Kompeni. Yang Mulia Rahminten memerintah di sana sekarang," Ayu Prabu mengalihkan pembicaraan. Agar terlepas dari masalah cinta.

"Perkembangan menarik. Apakah sudah diceraikan oleh Adipati Jaksanegara?" "Tidak! Tapi tentunya dia sibuk dengan istri yang lebih baru lagi. Menurut laporan Juru Kunci yang mengantar Rahminten, sepekan kemudian barulah Jaksanegara datang mengantar Schophoff berobat. Setelah itu Residen sering berobat sendiri ke Pakis. Mungkin saja Jaksanegara tidak tahu, tuannya itu sering bermalam di sana."

"Bukankah seingatku Rahminten tidak bisa lepas dari candu? Bagaimana mungkin dia berani melepaskan diri seperti itu? Atau dapat dari yang lain?"

"Juru Kunci dan Schophoff akan memberikan padanya.

Setidaknya ia akan mempunyai banyak uang dengan mendapatkan kembali Pakis. Semua sawah di sana jadi miliknya. Tentu ia akan membelinya sendiri dari para pedagang."

"Dengan uang ditangan persundalannya akan makin menjadi-jadi," Wilis menimpali. Perjalanan dari Bayu menuju Plaosan ternyata cukup lama. Melewati hutan-hutan yang cuma ada jalan setapak. Menyisir jurang dan tebing. Membuat kekaguman Wilis pada Ayu Prabu kian memuncak. Demikian pula sebaliknya. Kala malam turun, mereka beristirahat dan tidur beradu punggung di samping api unggun. Di alam mimpi mereka bergandeng tangan, berpeluk mesra. Di alam nyata, mereka melihat masih adanya dua penghalang yang tak mungkin mereka singkirkan begitu saja. Sumpah Mas Ayu Prabu untuk memenangkan peperangan dan amanat Yistyani. Namun keduanya berjanji, akan menyingkirkan penghalang itu satu per satu. Sebab satria pantang melanggar sumpah.

Perjalanan selanjutnya menjadi lebih mudah setelah bersua dengan Lindu Segara. Seorang pemuda berkulit gelap karena terbakar sinar mentari. Pandangan matanya tajam. Biasa menembus cakrawala. Hidung mancung dihias tahi lalat di samping kanannya, kumisnya tebal. Otot-otot tubuhnya kekar. Ah, di darat tentunya ia akan menjadi pria idaman tiap wanita. Laut, burung-burung camar, lumba-lumba, angin kencang merupakan pemandangan baru bagi Wilis. Jauh di sudut hatinya ia jadi iri terhadap Lindu Segara yang setiap hari menikmati panorama ini. Dengan menikmati lautan seperti itu, Wilis sadar betapa terbatasnya pandangan seorang gunung.

Keterbatasan akan membawa manusia ke alam keseakanan. Seakan diri besar. Ya, seakan! Namun semua mimpi itu akan ambruk begitu manusia berhadapan dengan dahsyatnya ombak yang setinggi-tinggi bukit.

Debar jantung Wilis kian mengencang kala kakinya mulai menapaki titian puri tempat tinggal Wong Agung Wilis. Setelah melewati beberapa peraturan dan tatacara, barulah mereka diperkenankan masuk. Bunga beraneka macam tumbuh di seputar titian. Tidak kurang dari lima puluh langkah kedua orang itu meniti untuk memasuki pendapa. Di ambang pendapa berdiri seorang pemuda tanggung. Belasan tahun.

Telanjang dada. Berkalung mutiara hampir seperti milik Mas Ayu

Prabu. Aduh, luar biasa pemuda kecil ini. Rambutnya ikal.

Kulitnya kuning, giginya rapi, dipamerkan melalui sebuah senyuman bagi penyambutan untuk keduanya.

"Dirgahayu!" sapa pemuda cilik itu. Keduanya membalas. Anak muda itu mampu bercakap bahasa Blambangan. Walau berbusana seperti layaknya pangeran Bali. Hidungnya mancung. Matanya bersinar. Di belakangnya berdiri seorang perempuan yang jauh lebih muda dari Tantrini. Tubuhnya masih segar. Ah, Wilis tak mampu menilai. Mungkin demikianlah wajah seorang bidadari. Tidak terlalu tinggi. Tapi juga tidak terlalu pendek. Pantas jika mampu memberi kekuatan hidup buat Agung Wilis. Senyum di bibir tipis mengejankan suatu kebahagiaan di dalam jiwanya. Di sebelah kanannya berdiri seorang yang bertubuh kurus. Rambutnya putih. Juga kumisnya yang tebal telah memutih. Tapi sorot matanya membuat Wilis bergetar. Ia merasa tiap langkahnya tidak lepas dari pengamatan orang tua itu. Ia coba menatap. Dalam usia setua itu, Wong Agung Wilis menatap hidup dengan senyumnya. Sebagai gambaran betapa luas samudra pengetahuan dan pengalaman yang telah terlampaui dalam hidupnya. Seolah ia selalu melecehkan dunia dengan semua masalahnya.

"Dirgahayu!" suara orang itu parau. Matanya beradu dengan Wilis. Hatinya terisak kendati bibirnya tetap mengulum senyum. Ia seperti melihat cermin yang mengingatkan wajahnya di kala muda. Ia menyebut dalam hati. Sebaliknya Wilis sendiri seperti mendapat penglihatan tentang masa depannya. Beberapa bentar lamanya mereka terpatri tanpa gerak. Nyi Ayu Ratih memandang keduanya berganti-ganti.

"Yang Mulia, inikah Wilis yang menghancurkan Kompeni itu? Sungguh belum pernah terjadi selama perang-perang besar di Jawa."

"Benar, Adinda." Wong Agung tersentak dari lamunannya. "Anak muda ini telah membuat perkara besar untuk tanah kelahirannya. Dia mampu memporakporandakan pertahanan Belanda. Aku tidak." Wong Agung Wilis seperti meletakkan dirinya di bawah kemampuannya sendiri.

"Tapi Yang Mulia telah melawan, sekalipun tidak berhasil mengusir mereka. Pernah ditangkap, dibuang, itu menunjukkan bahwa Yang Mulia telah berbuat sesuatu untuk tanah kelahiran sendiri. Usaha itu jauh lebih berharga dari Jaksanegara yang dengan sadar mengundang dan menyerahkan negeri pada peradaban asing. Kebudayaan yang menghancurluluhkan kebudayaan sendiri. Nah, mari kita naik." Ayu Ratih mempersilakan mereka.

Wong Agung Wilis tertawa. Seolah ia tak punya beban apa pun dalam hidup ini. Mungkin ia belum tahu bahwa Ibunda sudah meninggal, sehingga tak merasa perlu ada yang disedihkan. Atau mungkin juga tidak tahu bahwa Mas Ramad telah lumat. Tanpa kubur. Tanpa abu. "Wilis, kau belum tahu, inilah Cokorda Dewa Sekarbhumi, anakku yang terakhir. Dia adalah ibunya, Nyi Ayu Ratih." Wong Agung Wilis mengenalkan tiap orang yang hadir di ruangan itu.

"Yang Mulia mengenal hamba dengan baik. Padahal pertemuan terakhir kita, saat hamba masih sekitar sepuluh tahun."

Sekali lagi Wong Agung Wilis tertawa. "Kau tahu jawabannya," sambungnya dengan tawa.

Wilis tertegun. Rupanya mereka sudah tahu kehadirannya. Beberapa waktu mereka terlibat dalam pembicaraan tentang gugurnya Mas Puger, Sayu Wiwit, dan teakhir, Jagapati.

"Dalam satu peperangan selalu ada korban. Banyak orang yang berharap hasil terlalu tinggi tanpa pernah memperhitungkan pengorbanan yang harus dibayar untuk menjangkau hasil itu. Aku sudah dengar Dalem Puger gugur bersama istrinya "

"Jagat Bathara! Yang Mulia tahu ia sudah menikah," Wilis kagum.

"Kalian sedang sibuk berperang. Tidak sempat memberitahukan hal itu padaku. Tidak apa. Ia telah gugur sebagai kesuma. Sepantasnyalah aku berbahagia, memperanakkan singa yang tidak kenal takut. Ia telah menjadikan dirinya semulia-mulianya manusia yang pernah kukenal. Apakah ibunya tidak bahagia pernah mengandung seorang satria sejati? Ah, juga aku bangga punya menantu seperti itu. Siapa namanya? Sayu Wiwit? Kematian adalah keharusan bagi manusia. Dan mati demi cita dan cinta adalah seluhur-luhurnya kematian. Sepanjang zaman nama mereka tak akan pernah punah dari hati orang Blambangan. Walau tubuh mereka lebur mendebu." "Ayahanda tahu semua-mua. Kenapa tidak menengok kami di Raung barang sebentar? Setidak-tidaknya memberikan..." Mas Ayu Prabu mengutarakan pertanyaannya.

Wong Agung menarik napas panjang. Sambil memandang istrinya. Senyum lagi.

Benar-benar menarik perhatian Wilis untuk diamatinya.

Apalagi kini wanita cantik itu yang menjawab.

"Sungguh kami sudah mempertimbangkan hendak berangkat. Aku ingin bersua dan menyembah Nyi Ayu Tantrini, ibumu. Ah, betapa bahagia hati ini. Tapi bukankah itu perasaan kita semata? Bukankah setiap orang Blambangan memperkirakan Wong Agung telah gugur? Dan bukankah kalian telah menggunakan nama ayah kalian untuk mengerahkan kawula Blambangan melawan Belanda? Itu sebabnya kami mempertimbangkan tidak boleh ada dua Wilis di Blambangan. Jagapati telah pula menggunakannya, untuk menanamkan kewibawaan. Tapi itu jangan diartikan Yang Mulia marah karenanya. Dan kami tidak pernah menganggap kalian tidak mampu berbuat apa-apa tanpa nama itu. Kami bahkan sangat mengagumi setiap hasil kalian. Maafkanlah kami, Mas Ayu, ampuni. Sampaikan juga permohonan maaf kami pada ibundamu. Tapi jangan khawatir kami akan selalu membantu perjuangan kalian."

Panjang-lebar keterangan Ratih. Kini Wilis jadi berdebar. Menyesal kenapa aku diberi nama Wilis. Ia meriup kecil. Ia lihat Wong Agung Wilis serasa menjelma jadi raksasa segunung. Ah, beranikah aku melamar anaknya? Tapi ini bukan soal nama. Soal cinta. Kebesaranku akan aku bangun sendiri.

"Ampuni hamba, Yang Mulia. Bukan kehendak hamba memakai nama Wilis. Nama itu telah dianugerahkan pada hamba sejak hamba belum mengenal dunia. Dan ampuni hamba, Yang Mulia, jika hamba berani berkata, bahwa hamba tidak pernah ingin hidup di bawah bayang-bayang..." "Ha...ha...ha...," tawa Wong Agung Wilis memotong ucapan pemuda di hadapannya. "Siapa berani mengatakan bahwa kau hidup di bawah bayang-bayangku? Ah, sama sekali tidak! Aku justru berterima kasih pada karya dan darmamu selama ini.

Apa yang tidak pernah dapat kukerjakan, telah kaukerjakan sebaik-baiknya. Tidak percuma ibumu dan para pemuka Bayu lainnya menurunkan ilmunya padamu. Aku kira VOC juga mengakui. Jangan kau merendahkan diri semacam itu. Atau kau tidak tahu akan keberha-silanmu? Jangan sampai itu terjadi, Wilis. Sebab jika kau tidak dapat menilai keberhasilanmu, maka kau juga tidak akan pernah tahu kegagalanmu.

"Tapi bukankah kita harus rendah hati? Dan penilaian itu seharusnya bukan oleh diri sendiri?"

"Barangsiapa tak pernah menilai diri sendiri, ia telah memasukkan sebelah kakinya ke lumpur ketidaktahuan. Bisa saja ia menjadi kembung tanpa isi. Jangan kita terbawa pada pendapat cuma berdasarkan kesan. Biasanya kesan itu berdasar pada keseakanan. Di mataku kau tetap besar. Dan layak menjadi seorang pemimpin. Ya, pemimpin Blambangan."

Wilis memuji dalam hati. Pintar orang tua ini membuatnya melambung. Tapi apa pun yang ia katakan, bagi Wilis itu merupakan petunjuk bahwa Wong Agung Wilis merupakan orang bijak yang berhati-hati dalam tiap kata-katanya. Benar- benar satria yang berlidah dewa. Maka dengan tulus sekali lagi ia menyembah. Untuk menahan getaran jiwa yang diguncang teka-teki yang kian memburu. Mengapa aku seolah melihat wajah masa depanku? Saat itu Ayu Prabu sedang menyampaikan keadaan kawula Blambangan yang dilanda wabah. Dan Wong Agung memberi nasihat.

"Aku dengar kau pandai melatih lebah. Tentunya kau tahu bukan bagaimana lebah bersikap jika musim dingin tiba? Lihat, mereka akan berkerumun, menyatu, dan menghangati sarang mereka. Sebaliknya jika panas tiba, tak henti-hentinya mengipasi sarang mereka secara bersama atau bergiliran. Begitulah seharusnya kau mengatur kawula di Derwana dan Indrawana, bahkan di seluruh Bumi Semenanjung. Yang sudah sembuh harus dikerahkan untuk mencari obat bagi mereka yang masih sakit. Sebab jika sampai VOC tahu wabah melanda kalian, niscayar mereka akan mengerahkan segala daya untuk menumpas kalian."

Lebih banyak kata-kata yang keluar dari bibir Wong Agung yang makin penting rasanya. Sesekali memang diselingi Ratih dan Sekar. Keduanya dipersilakan bermalam. Istirahat untuk mengurangi ketegangan. Kala malam turun, Wilis melihat Wong Agung tidak turun dari pura. Wilis menunggunya. Ingin ia menyampaikan lamaran di bawah empat mata. Supaya andaikata Wong Agung tidak memberikan persetujuannya, ia tidak malu di depan banyak orang.

Tapi Wong Agung tidak kunjung turun. Ia sedang berdoa. Sebenarnyalah Wong Agung tidak cuma berdoa. Tapi sedang berjuang mengatasi getaran sukmanya. Kehadiran anak muda itu... Pengalaman yang seluas samudra itu saja yang membuatnya nampak tenang. Anak ini datang untuk memohon restu mengawini Ayu Prabu. Ah, apa kata Yistyani pada anak ini? Dan tiba-tiba saja Yistyani seperti duduk di hadapannya. Bukankah kau sendiri, Yis, yang menyebabkan semua ini terjadi? Mengapa sekarang kautuntut aku?

Kausuruh aku bertanggung jawab setelah dunia tahu bahwa Wilis ini anak Andita? Tidak, Pangeran. Hamba telah berusaha menutupi kedustaan ini. Tapi hamba memang tidak tahu bagaimana cara mengatasi masalah cinta mereka. Apa? Cinta? Wong Agung kian bergumul. Bergumul dengan diri sendiri.

Angannya meniti masa lalu. Satiari tewas, korban... Ah, tidak! Aku tidak ingin Ayu Prabu seperti Satiari. Maka ia perlu mengambil keputusan agar Satiari tidak menjelma dalam tubuh Ayu Prabu. Tidak! Hyang Maha Dewa, jangan berikan hukum karma ini. Juga tidak ingin Wilis jadi korban,. Segera ia keluar dengan tekad mantap. Dan begitu keluar dari pura, Wilis berdiri di ambang pintu. Purnama telah condong ke barat. Kembali hati tua Wong Agung bergetar. Ia sempatkan berdoa. Ah, aku dihadapkan pada buah simalakama!

"Belum tidur, Nak?" ia menyapa lebih dulu untuk mengatasi hatinya.

"Hamba menunggu Yang Mulia," Wilis memberanikan diri. "Jagat Dewa! Tentu ada persoalan rahasia yang tidak boleh

diketahui siapa pun. Mari kita berjalan-jalan. Di taman. Tentu

semua dayang sudah tidur."

Keduanya lalu melangkah perlahan. Mendung berkali melintas menutupi bulan. Tapi tak menarik perhatian keduanya. Juga bunga-bunga yang sedang tertidur. Juga semua suara satwa malam.

"Memang rahasia. Pribadi sifatnya."

Mereka berhenti tepat di tengah taman. Di mana terdapat sebuah batu besar yang biasanya adalah tempat duduk Wong Agung dengan Ratih. Keduanya berdiri berhadapan. Dekat jarak keduanya. Kembali keduanya seperti berhadapan dengan cermin. Cermin masa lalu dan masa mendatang

"Hamba mencintai Ayu Prabu. Hamba datang untuk mohon..."

Pandangan tajam dan senyum Wong Agung menghentikan kata-kata Wilis. Tapi ia pun menatap orang tua itu tajam.

Seperti ingin menyelam dalam-dalam ke hati Wong Agung. Beberapa bentar mereka membisu. Angin membelai muka mereka. "Sungguh?"

"Hamba, Yang Mulia." "Tidak akan kau sia-siakan anakku? Kau tidak akan memperduakan cintamu? Jangan tergesa menjawab. Pikir dulu!"

"Hamba berjanji, Yang Mulia." Keringat dingin Wilis mulai merambat. Tidak pernah ia begini. Sedang berperang pun.

"Aku tahu, jika kau sudah mengambil keputus-an untuk bercinta, tentunya kau sudah mengerti benar makna cinta itu. Tapi... karena kau minta restuku, maka aku minta izin padamu untuk menyampaikan pendapatku. Boleh?" Wong Agung sabar.

"Hamba, Yang Mulia," kembali hati Wilis cemas.

"Aku juga tahu, Ayu Prabu juga sangat mencintaimu. Jika tidak, ia tidak akan membunuh Tha Khong Ming, seorang Cina yang baik dan berjasa besar bagi kita. Aku berutang budi padanya. Mayatnya baru dibakar sepekan lalu."

"Jagat Dewa!" Wilis terkejut.

"Jika kalian tidak singgah di Sumberwangi, tentunya Ayu Prabu juga tidak tahu bahwa Ming sudah mati." Wong Agung menarik napas sebentar. Kemudian lanjutnya,

"Tapi cinta itu punya banyak bentuk. Tentu kau tahu itu.

Salah satu di antaranya adalah kesabaran."

"Apa artinya itu, Yang Mulia?" Wilis memberanikan diri. . "Sabar menunggu saat. Sabar menekan hawa nafsu sendiri,

sehingga kau tidak akan menodai kekasihmu sebelum wadad suci berakhir. Karena kau akan jadi raja besar. Dan Ayu adalah paramesywari. Harus suci. Sedang untuk bisa marak jadi raja atas Blambangan kau harus mampu merebut kembali seluruh wilayah Blambangan." 

Keduanya kini terdiam. Wilis menunduk. Namun hatinya terbakar. Aku akan susun kembali laskarku. Aku akan buktikan bahwa VOC akan lumat di tanganku. "Jangan marah, Wilis. Aku menghormatimu. Kau seorang satria dan sekaligus juga brahmana. Ingat, brahmana yang ingkar dari pengetahuan yang dipelajarinya sendiri, adalah seburuk-buruknya brahmana. Ia akan sama dengan hewan pandir yang tidak pernah tahu membaca dan menulis.”

"Jagat Dewa!” Kembali pemuda itu mengagumi cara Wong Agung Wilis menyudutkannya. Ia tahu bahwa ia belum mampu memecahkan teka-teki. Karena nyatanya Wong Agung Wilis tidak menampiknya. Namun hatinya kian terbuka. Ayu Prabu sangat kuat menjaga kesuciannya, kendati ia seorang telik.

Saat mereka pulang, Wong Agung seperti berat melepaskan kepergian keduanya. Sekali lagi, dan berkali lagi, Wong Agung berpesan agar keduanya bersabar sampai perang usai. Di samping memberikan surat untuk Sratdadi, Wong Agung berjanji akan menambah bantuan laskar Bali.

Terutama laskar laut. Supaya VOC dapat terjepit dari darat dan laut. Ratih menitikkan air mata sambil tak henti-henti mencium Ayu Prabu. Demikian pun Sekarbhumi.

Sudah malam ketika mereka memasuki gerbang bekas rumah Tha Khong Ming. Repi dan Kebhi tergopoh-gopoh menyambut kedua orang itu. Rindu mereka setelah beberapa bulan tidak bersua Ayu Prabu. Segera mereka menduga bahwa Mas Ayu sudah kawin.

"Jangan main-main. Dia adalah junjungan kita. Wilis!” bisik Ayu Prabu pada Repi. Repi jadi ketakutan. Ia tidak pernah melihat dari dekat maka tak dapat mengenal. Setelah membersihkan tubuh agar segar, Ayu segera menuju tempat peristirahatan yang sudah disediakan. Sedang Wilis beristirahat di kamar Ming.

"Adinda..." Wilis menyelinap masuk kamarnya.

Ayu Prabu berdebar. Apalagi Wilis langsung duduk di tempat tidurnya. "Kau tak pernah menceritakan semuanya. Aku tahu justru dari Ramanda. Kau bunuh Khong Ming dengan sengaja." Wilis meraih kekasihnya dan menciumnya. Kemudian ia ceritakan pertemuannya dengan Wong Agung di taman.

Mas Ayu jadi iba. Diciumnya Wilis. Lalu katanya, "Andaikan Kanda tidak sabar, hamba rela." Ia pasrah.

Tapi Wilis segera turun seraya katanya, "Perang belum usai."

Berbalik.

Ayu tersenyum lega.

***

Robbert Van de Burg sudah sampai di Pangpang dan meninjau langsung betapa perwiranya sendiri banyak yang mati dan sakit. Marah dan sedih campur-aduk dalam hatinya. Ia tidak bisa terima kekalahan VOC dari pribumi yang tidak beradab ini. Tidak beradab? Ah, ia sendiri tersentak. Penilaian yang keliru inilah sebab kekalahan dan kehancuran Kompeni selama ini. Mereka tidak lebih dungu dari orang-orang Mataram. Kendati pada telanjang dada, lakiperempuan, dan semua orang. Bangsawan atau kawula. Mereka berbagi suka dan duka bersama. Tidak ada perempuan yang cuma kerja di belakang. Semua laki-perempuan angkat senjata saat negeri mereka memerlukan. Dan mereka punya meriam, kanon, bedil, sama seperti Kompeni, kendati senjata-senjata lama.

Tidak! Aku tidak mau keliru lagi!

Gubernur Jawa bagian timur dan utara itu telah membentuk lima ribu tentara baru, tiga ribu di antaranya kulit putih. Di samping itu ia sendiri memimpin langsung komando atas peperangan yang direncanakan baik-baik. Ia juga mengangkat Kapten Heinrich sebagai perwira pelaksana di lapangan. Ia telah mengambil langkah diam-diam dalam mengirimkan pasukannya ke Blambangan. Setahap demi setahap. Jadi bukan merupakan gelombang pasukan yang besar. Semua itu dilakukan untuk mengelabui telik Bayu. Sebaliknya ia terus memantau tiap perkembangan di Bayu. Kendati memang sulit. Karena memang tidak banyak orang yang berani masuk ke sana sebagai mata-mata. Jelas yang dapat diketahui adalah, di garis depan telah disiapkan pagar hidup, yang terdiri dari ribuan tawanan yang dapat mereka tangkap pada bulan Desember tahun lalu. Kala segenap kekuatan laskar Bayu dikerahkan tanggal dua puluh Desember seribu tujuh ratus tujuh puluh satu, di mana VOC kehilangan banyak. Sudah dapat dipastikan jika VOC mendadak melakukan penyerbuan, maka mereka akan membunuh kawan-kawan sendiri. Sebab mereka tidak akan dapat berlari sekalipun tangan menggenggam senjata, dan leluasa dapat menembak, tapi leher mereka diberi kuk (semacam pasung) semacam kuk kerbau yang sedang membajak sawah. Tiap lima orang satu kuk. Akibatnya, jika ingin melakukan pelarian atau apa pun saja harus membuat teman lainnya sehati terlebih dahulu.

"Kita harus berhati-hati dalam serangan mendatang," kata Burg kala ia memimpin pertemuan di rumah Schophoff.

Sengaja Jaksanegara tidak diundang. Karena Schophoff memang ingin mendepaknya. Ia ingin mengosongkan jabatan adipati itu, supaya ia dapat lebih leluasa dalam menentukan pemerintahan di Pangpang. ?

"Kita harus mampu menembak jauh ke belakang garis pertahanan mereka. Memang susah. Kita harus menyeret meriam dan kanon sampai ke jarak di mana kita mampu mencapai garis belakang mereka. Itu yang pertama. Kedua, kita harus punahkan semua lumbung dan jika perlu ladang mereka."

"Itu juga berarti membiarkan teman kita yang mereka tawan akan kelaparan," Heinrich keberatan. "Tentu makanan yang tersisa akan dipergunakan untuk laskar mereka sendiri." "Jika demikian, kita harus mendekati perkubuan mereka.

Setelah itu kita serbu dan bakar semua lumbungnya."

"Kita tidak mungkin dapat menyisir jurang-jurang dan semak. Tentu penuh dengan jebakan." Schophoff kemudian menceritakan pengalaman perang Desember lalu. Perundingan berlangsung iama dan berbelit-belit. Tidak selalu mereka memeras otak di meja. Sering juga mereka gunakan untuk berjalan dan menjajagi medan. Belum pernah ada seorang gubernur turun ke medan seperti yang dilakukan Jan Pieter Zoen Coen dan Burg ini.

Akhirnya Burg memutuskan: perang parit! Belum pernah dilakukan. Jadi pasukan akan merangkak pelan-pelan lewat parit buatan. Kae-na itu perlu tenaga untuk menggalinya. Diputuskan bahwa tenaga penggali parit diminta dari Probolinggo dan Madura. Melalui parit-parit itu pula diseret persenjataan berat mendekati perkubuan musuh. Tentu memakan waktu. Tapi Burg merasa tidak ada jalan lain kecuali mempersempit ruang gerak musuh dengan menggali parit dari berbagai arah.

Pada penghabisan musim penghujan, penggalian parit pun dimulai. Itu juga dilakukan secara rahasia. Dan dari delapan arah menuju satu titik, Bayu. Walau beberapa parit juga ada yang mengarah ke Derwana dan Indrawana. Kini Burg tinggal berhadapan dengan peta di depan mejanya.

"Apakah Tuan percaya pada laporan istri Jaksanegara?" tiba-tiba ia menoleh pada Schophoff. "Jangan kita terisap ke dalam pertengkaran keluarga mereka yang cuma berkisar pada perkelaminan saja."

"Kami sudah pernah mengadakan perembukan langsung dengan penduduk Blambangan. Jadi kesimpulan istri Jaksanegara itu tidak salah, Tuan."

Burg merasa perlu mendengar langsung keterangan Rahminten sebagai saksi kuat. Dan Schophoff berjanji akan mempertemukan mereka. Namun Burg akan kembali ke Surabaya terlebih dahulu sampai pertengahan bulan Juli, sambil mempersiapkan bahan makanan untuk pasukan yang akan mulai dikerahkan naik bulan Agustus awal nanti.

Kesempatan satu bulan itu dipergunakan oleh Schophoff untuk mempersiapkan tuduhan tertulis disertai saksi-saksi kuat.

Maka ia perlu memberi tahu Rahminten agar mau membujuk Juru Kunci.

"Bagaimana caranya Tuan?" Rahminten agak bingung.

Kedatangan Schophoff di Pakis sudah bukan hal yang aneh lagi. Para dayang segera menyiapkan kamar yang dulu ditempati Bagus Puri. Setelah itu mereka diperintahkan menjauh. Kali ini pun keduanya bercakap di kamar dekat taman bunga. Angin dibiarkan masuk untuk mengusir kegerahan.

"Terserah bagaimana cara Tuan Putri..."

"Tuan tidak mencintai daku lagi?" Pandangan mata Rahminten sayu. Embusan napasnya harum di muka Schophoff. Tangan yang berbulu kasar dan perkasa itu kini merebahkannya ke atas pembaringan, seraya bisiknya, "Aku tidak akan pernah pulang ke Nederland. Aku ingin tetap bersamamu di sini. Justru itu kita perlu membujuk Juru Kunci. Biarlah ia secara sadar memberikan kesaksian dari tuduhan yang aku lancarkan. Ini perlu agar Jaksanegara bisa dibuang dari Blambangan, seperti Sutanegara. Cuma Tuan Putri yang bisa melakukannya "

Cinta terhadap keluarga membuat Rahminten harus mengorbankan segalanya. Itu sebabnya ia memerintahkan dayang Paniri untuk menyampaikan lontar pada Juru Kunci. Dengan pesan agar tidak seorang pun dapat melihatnya. Jika Paniti tidak patuh maka ia akan menerima hukuman. Ah, beruntung Paniti, karena bibinya bekerja sebagai dayang Juru Kunci. Bibinya yang gemuk dan berbibir tebal adalah kepala dayang istana Juru Kunci. Maka ia dapat menyamar sebagai dayang istana itu dan diberi tugas mengantar jamu senja hari. Jamu yang terbuat dari dua ekor anak tikus yang masih merah, dua telur bebek, serta madu. Juru Kunci selalu minum obat kuat macam itu jika hendak pergi tidur, sebab ia ingin menjadi pemenang di atas tempat tidurnya. Setelah meletakkan nampannya di atas meja, Paniti bersimpuh beberapa jarak dari Juru Kunci. Ia melirik ke segala arah. Sepi. Ia perhatikan Juru Kunci melahap semua yang dihidangkannya. Makanya orang ini selalu berminyak mukanya. Terlalu banyak makan jamu macam beginian. Ah, kenapa Yang Mulia memanggil Juru Kunci? Apa Yang Mulia sudah dengar bahwa dia hebat di tempat tidur? Apakah kurang dengan tuan besar itu, ya? Mukanya bopeng seperti arca kayu yang dimakan rayap begini? Tapi ia cuma seorang dayang yang cuma tahu melaksanakan tugasnya. Kala Juru Kunci menunjuk nampan sebagai isyarat agar diambil, dia memberanikan diri menyodorkan gulungan lontar kecil. Sambil menyembah ia berbisik,

"Ampuni, hamba, Yang Mulia. Ini dari Yang Mulia Rahminten." Segera ia mundur meninggalkan Juru Kunci yang terkejut. Setelah membaca ia bergesa meninggalkan kediamannya menuju ke Pakis. Kepada istrinya yang bekas istri ayahnya itu ia cuma memberi tahu bahwa ada panggilan mendadak. Perempuan Cina itu dengan setia mengantarnya ke gerbang.

"Tidak membawa pengawal, Yang Mulia?"

'Tidak. Ini amat tergesa!" Jawaban yang membuat istrinya tidak akan curiga. Dan beberapa bentar kemudian kemuraman senja menelannya dari pandangan siapa pun.

***

"Aku harus meninggalkan Bayu," kata Sratdadi pada Mas Ayu Tunjung di rumahnya. Ibunya kini sudah tinggal di Derwana bersama Ayu Prabu yang kini menjadi pemimpin di Derwana menggantikan Jagapati. "Aku tahu, kau tidak akan pernah menjawab cintaku. Tunjung, selama ini aku menunggu. Namun semakin aku sadari, aku tak layak menyuntingmu. Aku datang hanya untuk minta diri "

"Yang Mulia, jangan ucapkan itu. Sudah surutkah kesabaran dari hati Yang Mulia?" Ayu Tunjung terkejut sambil maju menangkap tangan Sratdadi. Kesendirian akhir-akhir ini membuatnya mawas diri. Ditambah kepergian Wilis berdua I dengan Ayu Prabu ke Bali. Memupuskan harapannya untuk menembus celah hati pemuda idamannya. Makin ia sadari bahwa ia tak punya apa-apa lagi kini. "Oh " Tiba-tiba

dadanya seperti tertimbun batu segunung. Air matanya mulai mengisi kelopak dan membuat bola mata yang bening itu berkaca-kaca.

Sratdadi terkejut melihat itu. Jadi salahkah pendapatku selama ini? Ia tarik tangan Ayu Tunjung sampai gadis itu menjatuhkan diri ke dalam pelukannya. Kepala bersandar di dada Sratdadi.

"Ke mana Yang Mulia akan pergi? Bawalah serta hamba "

"Tunjung. " Sratdadi mempererat pelukannya. "Aku

mendapat perintah untuk mengawal barang dagangan dari Bali bersama Lindu Segara ke Bengkulu. Lebih dari itu "

"Siapa yang memerintahkan itu?" "Ramanda, Wong Agung Wilis."

"Hyang Dewa Ratu! Yang Mulia tidak akan kembali?" Isak Mas Ayu Tunjung kian menjadi-jadi.

Sratdadi membelai kepalanya. Seraya menjawab, "Kembali.

Kembali sambil membawa senjata. Aku bertugas membeli senjata-senjata baru."

"Itu berbahaya, Yang Mulia. VOC selalu mengadakan penggeledahan di dekat Gresik. Mengapa tak membeli dari saudagar Cina saja?" "Lindu Segara akan berlayar melintas gelombang Samudra Kidul. Rasanya akan lebih aman. Tentu lebih lama karena gelombang yang besar."

"Oh ," Tunjung mengeluh.

"Aku tidak bisa membawamu, Kekasih. Kau sendiri punya tugas yang tidak ringan. Bukankah saat ini sedang panen? Kau harus sembunyikan makanan kita agar tidak dibakar lagi oleh Belanda. Percayalah, aku akan kembali dan kita akan berbahagia. Atau kita hidup di Bali setelah perang usai?"

Sepercik harapan membuat hati Tunjung berbunga kembali. Masa depan tentu menjanjikan harapan. Ia cium pipi Sratdadi. Ketegasan Sratdadi akan membuatnya dapat mengambil sikap jika Runtep datang lagi melamarnya. Ah, ia tahu, dalam tubuh Runtep tidak mengalir darah biru. Walau ia anak seorang yang telah melahirkan pahlawan-pahlawan di Blambangan. "Bali?" ulangnya. Negeri leluhur yang indah.

"Nah, selamat tinggal, Kekasih! Lindu Segara telah siap di Dermaga Plaosan." Kini Sratdadi menciumnya.

Tunjung mengikutinya sampai ke gerbang perkubuan.

Menyesal rasanya kenapa tidak sejak dulu menerima pemuda itu. Kenapa harus Wilis? Wajah mereka hampir tak berbeda. Kendati ia tak menjadi seorang paramesywari, barangkali akan lebih bahagia karena Mas Sratdadi seorang satria yang juga membrahmanakan diri. Tentu ia memiliki pengetahuan yang luas. Seorang yang berpengetahuan tinggi tentunya akan lebih bijak dalam menentukan segala hal. Juga dalam berumah tangga. Ia ingat ibunya anumerta. Hidup dalam kekecewaan karena punya suami seorang dungu. Tunjung berhenti di gerbang. Di atas kudanya ia memandang pemuda itu lenyap ditelan debu di kelokan.

Dua bulan berlalu. Kini memasuki bulan Sriwana (antara bulan Juli-pertengahan Agustus). Jangankan pulang, kabar pun tiada. Hari-hari berlalu dengan banyak kesibukan. Tapi ada yang menjengkelkan hatinya. Kehadiran Runtep yang selalu membantunya di tempat pekerjaan. Ah, apakah tak ada pekerjaan lain? Malam kebosanan mencekam. Pertanyaan Runtep menghantuinya. Adakah berita dari menteri mukha?

Pertanyaan yang mengandung harapan bagi Runtep sendiri. Jika Sratdadi mati ditelan gelombang, ia akan mewarisi perawan manis yang tiada bandingan itu. Kebosanan membuatnya dengan berani mendatangi Wilis. Ia minta izin menyiapkan cadangan makanan yang di Gunung Srawet. Dan ia menolak waktu Wilis akan memerintahkan Runtep menemaninya.

"Tidak, Yang Mulia. Biarlah anak itu menyiapkan makanan di sini dan Derwana serta Indrawa-na, andai saja sewaktu- waktu terjadi hal-hal yang di luar dugaan kita."

"Jagat Dewa! Yang Mulia akan pergi sendiri? Bukankah ada laporan telik bahwa Belanda mulai bergerak?"

"Hamba berangkat dengan lima orang pengawal putri yang berkuda. Mereka adalah penembak jitu yang terlatih."

Agak aneh sikap gadis itu akhir-akhir ini. Wilis tahu apa sebabnya. Tapi ia tak mungkin menolong. Maka ia izinkan. Perjalanan dari Bayu ke Gunung Srawet memakan waktu empat hari. Dan memang Ayu Tunjung bersama lima pengawalnya istirahat di Srawet. Anak Gendewa, Rontek, menggantikan ayahnya menjadi pimpinan, menyediakan tempat bermalam. Sehari mereka di sana. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Pfaos-an. Sebuah desa kecil yang dihuni oleh cuma beberapa keluarga. Tidak ada rumah-rumah yang besar dan bagus. Mengapa mereka memilih tempat ini? Apa begini macam dermaga yang sering dilaporkan itu?

Tak lebih dari pantai karang yang setiap saat diterjang gelombang raksasa. Sampai-sampai bumi yang dipijaknya serasa bergetar. Para pengawalnya yang juga masih gadis itu berdecak kagum terhadap kehebatan Hyang Maha Durga yang dipamerkan di atas samudra yang tanpa tepi itu. Tunjung memutuskan bermalam di situ. Jika perlu beberapa hari. Ia beri tahu bahwa mereka juga bertugas menjemput senjata yang akan tiba bersama Lindu Segara. Para pengawal senang ikut bermalam. Mendapat pengalaman baru.

Di sini pun hari-hari berlalu sepi. Malam dibunuhnya dengan sebuah kidung. Para pengawal jadi bertanya-tanya sesama mereka. Kenapa Tunjung makin nampak murung? Mereka perhatikan kidung yang ditembangkannya:

Kau yang di pulau jauh, di kasihmu hati berlabuh

di pandangmu hati terpaut karena janjimu hati bergelut,

Ah, mataku sayu menembus cakrawala dalam tanya, bila kau datang

sejuta rindu mengusik kalbuku menjelang datang esok cemerlang!

Penantian yang begitu membosankan kendati berhadapan dengan panorama indah. Penduduk sekitar tempat itu mengatakan pernah bersua dengan Mas Sratdadi dengan pimpinan mereka Lindu Segara. Orang menyebutkan, Lindu begitu menghormatinya. Dengan kata lain Sratdadi tidak menipu. Apa ia tenggelam di laut ini? Ah, aku akan menunggu di Songgon saja, putusnya.

Segera ia berkemas. Harap-harap cemas sambil berulang- ulang menoleh ke laut. Belum juga nampak tanda-tanda munculnya kapal yang membawa Sratdadi dari balik cakrawala. Tunjung sama sekali tidak tahu justru saat itu Derwana dan Indra-wana mulai ditembaki oleh peluru-peluru kanon. Satu tembakan meriam jatuh tepat di pasar Derwana pada pagi hari, saat ramai-ramainya orang berbelanja. Tapi Mas Ayu Prabu tidak menjadi terkejut. Sebab memang beberapa hari ini laporan telik terus-menerus mengalirkan berita bahwa lebih lima ribu orang Kompeni berbaris di Pangpang. Senjata-senjata berat dibawa pergi dari Pangpang tiap malam. Sejak tembakan pertama ia sudah memerintahkan seorang utusan rahasia ke Bayu.

Tapi tembakan tidak cuma menggetarkan Derwana, Indrawana, juga Bayu. Van de Burg memang tidak ingin adanya serangan yang terpusat hanya pada satu kantung. Ia memerintahkan agar Grajagan, Muncar, dan Sumberwangi dibumihanguskan. Untuk itu Kompeni harus berhadapan dengan laskar Bali yang oleh Ayu Prabu diberi wewenang mengawasi wilayah itu. Tentu, tidak mudah bagi Kompeni untuk mengalahkan laskar Bali yang punya semangat tinggi. Tapi sebagian dari mereka baru saja sembuh dari sakit.

Wabah yang disebabkan oleh perang terus memomok di Blambangan. Siapa pun wajar ketakutan terhadap wabah itu. Bahkan Gusti Tangkas sendiri belum pulih. Bukan cuma kekuatannya yang belum pulih, tapi juga pikirannya. Itu sebabnya laskar Bali terus terdesak dan akhirnya tidak mampu mempertahankan wilayah tersebut. Bahkan Gusti Tangkas sendiri tertembak waktu ia melintas ke Hutan Kepanasan utara.

Mundurnya laskar Bali yang kehilangan pimpinan itu memancing Kompeni mengejar. Dan pemburuan masuk belantara itu merupakan penyimpangan dari perintah Burg. Akibatnya lebih seribu lima ratus orang pemburu lenyap dimakan cula dan perangkap. Belum lagi perlawanan dari para petani yang sawah ladangnya dilanda perang. Bersenjatakan parang, pacul, tombak, bandil, batu, alu, lombok yang dicampur air, pokoknya apa saja yang bisa mereka pakai untuk mempertahankan diri.

Tentu merupakan perang yang tidak seimbang. Dan mengakibatkan jatuhnya korban laki, perempuan, anak-anak, nenek-nenek, dan kakek-kakek. Perang memang memusnahkan semua dan segala. Kasih merupakan mata semboyan kosong dalam perang. Dan Kompeni kian gila. Menjarah-rayah i semua harta dan wanita. Demikian pula di bagian utara. Pejarakan yang dikawal laskar Untun dengan cepat disapu oleh Kompeni. Asap hitam segera mengepul naik ke angkasa. Di utara, Kompeni membakar semua rumah dan huma dan manusia. Mati ataupun hidup. Schophoff yang memerintahkannya. Bau daging terbakar tercium sampai jauh seperti bau sate kambing. Seluruh bumi Blambangan berguncang. Untun, yang diangkat menjadi bekel Pejarakan itu pun gugur tanpa ampun. Pendapat Van de Burg bahwa kebijakan akan menaklukan keberanian, menjadi kenyataan.

Mas Ayu Prabu menerima laporan tentang semua itu. Masih ada sepercik berita yang membuatnya tersenyum, yakni tewasnya sekitar sembilan ratus tujuh puluh lima Kompeni yang bergerak dari Pejarakan ke selatan. Mereka disambut oleh laskar yang berjaga dibalik pohon-pohon besar dan semak belukar di sepanjang perjalanan mereka. Korban tetap juga besar meskipun menang. Kenyataan ini membuat Kapten Heinrich berpikir jauh lebih hati-hati. Kesukaran kedua yang dialami Kompeni adalah nyamuk yang menyerbu perkemahan mereka di mana-mana. Malaria menyertai nyamuk itu. Korban yang ditimbulkannya cukup banyak.

Dinding perkubuan Bayu, yang dibangun oleh Baswi dan seluruh anak buahnya, kini mulai ada yang runtuh. Demikian pula dinding kota sepanjang Derwana dan Indrawana. Akibat peluru-peluru meriam ditembakkan oleh penembak berpengalaman. Lubang demi lubang membuat Mas Ayu Prabu memerintahkan Undu menyergap pasukan meriam lawan.

"Inilah hamba, Yang Mulia! Mati-hidup demi Hyang Maha Dewa, hamba persembahkan hidup untuk Blambangan!"

"Dirgahayu Blambangan!" pekik Mas Ayu Prabu disambut gemuruh oleh semua orang. Undu berangkat dengan semangat tinggi tapi tanpa iringan genderang dan angklung seperti layaknya jagapati mancal (panglima berangkat ke medan laga) bertempur. Undu tahu persis, ia berkewajiban membungkam mulut meriam-meriam itu. Walau sebenarnya ia adalah pemimpin pasukan meriam. Tapi ia tidak akan pernah mampu membalas, jika tidak tahu persis kedudukan lawan.

Betapa terkejutnya Undu kala mendapat laporan bahwa VOC bergerak melalui parit-parit buatan. Di depan pasukan meriam ada rombongan penggali parit yang bekerja dengan tidak kenal lelah. Undu mengambil keputusan, membunuh semua penggali parit. Selain itu memerintahkan seorang caraka untuk melapor pada Ayu Prabu mengenai siasat baru yang dijalankan oleh Belanda itu. Dan Ayu segera meneruskan laporan itu ke Wilis. Maka Wilis pun memerintahkan Runtep melakukan hal yang sama dengan Undu.

Anak-anak kecil yang biasa menggembalakan kerbau, mendekati para penggali parit. Kompeni tidak curiga. Sebab memang sudah dekat dengan perkubuan dan perkampungan. Tentunya banyak anak-anak kecil yang tidak mengerti apa-apa itu bermain-main. Tetapi betapa terkejutnya Kompeni kala ternyata bumbung-bumbung pandang serta pelapah nipah yang mereka bawa itu menyembunyikan senjata. Dan secara mendadak dan tak masuk akal, anak-anak kecil itu membantai semua pekerja. Semua! Dan sesudahnya, semua menghilang di balik semak.

"Bagaimana bisa itu dipercaya!" Van de Burg berteriak. Sungguh tidak masuk di akalnya. Tapi itu kenyataan yang terjadi. Dendam pasukan Madura kian memuncak dan memancing mereka bertindak lebih brutal lagi. Tapi kini keadaan berbalik. Mas Ayu Prabu mengatasi mereka dengan gerombolan orang-orang berani mati. Dengan kemauan sendiri mereka mengenakan pakaian serba putih menyerbu ke kemah-kemah Kompeni.

"Dirgahayu Blambangan! Dirgahayu Wong Agung Wilis!" pekik mereka tiap kali dilanda peluru. Korban yang jatuh dari pihak Bayu malah dijadikan perlindungan oleh kawan-kawan mereka yang datang menyerbu mendekati parit-parit Belanda. Satu bulan berjalan dengan hujan peluru kanon di perkubuan maupun di Derwana dan Indrawana. Kini Wilis memerintahkan mencari jalan keluar ke Songgon. Terutama bagi mereka yang terluka. Hari-hari pertama merupakan kepanikan. Namun kebiasaan menolong mereka. Sampai akhirnya mereka mampu membalas serangan.

Di Pangpang, Burg merasa terganggu oleh kengerian betapa anak-anak dan wanita berpakaian putih-putih di semua medan maju menyongsong pelor lawan. Dan ketika sebuah tembakan meriam menghantam dinding bagian depan rumah Schophoff, ia segera diungsikan ke Pakis. Pakis tidak dilanda perang. Tentu Wilis menyusup ke Pangpang, pikirnya. Tapi bagaimana bisa, sedang Bayu semakin terkepung oleh parit- parit yang berisi pasukan artileri. Kendati mereka juga mampu membunuh bagian depan, tapi pasukan dan parit Kompeni berlapis-lapis.

Mas Ayu memutar otaknya dengan amat sangat. Ia perintahkan para tawanan bergerak ke pertahanan lawan. Mereka dijadikan perisai oleh laskar Ayu Prabu. Dari sela para tawanan itu laskar Mas Ayu menembak. Siasat ini membuat Kapten Heinrich panik. Kembali ia harus mundur dari lini depan. Apalagi setelah melihat di antara para tawanan itu terdapat ratusan kulit putih. Yah, kulit putih menembaki mereka. Ah, yang begini juga belum pernah dilakukan oleh siapa pun sebelumnya. Ah, kejam mereka itu. Memperlakukan tawanan seperti itu. Ia melihat sendiri, betapa jika tiga dari lima orang satu kuk itu mati, maka mereka akan sama-sama terguling. Yang masih hidup ikut teraniaya diinjak-injak barisan belakangnya.

Kejam, memang. Tapi itu imbalan kekejaman Colmond waktu memerintah di Blambangan. Bahkan menurut orang Blambangan itu belum seberapa, karena mereka tidak pernah memperkosa dan membunuhi gadis-gadis. Tapi pada malam harinya kala laskar Blambangan istirahat, Heinrich memerintahkan anak buahnya maju perlahan-lahan dan merangkak kembali dalam parit-parit. Ia mengambil putusan untuk mencapai jarak tembak yang pas. Walau malam itu sebenarnya Mas Ayu Prabu tidak istirahat. Sibuk mengirimkan laskarnya yang terluka ke Sempu dan Srawet.

Betul, pada esok harinya Mas Ayu yang sebenarnya telah lelah itu dikejutkan oleh berguncangnya bumi Derwana dan Indrawana. Dindingdinding tua pelindung kota runtuh bagai dilanda gempa. Heinrich tidak menghitung lagi berapa biayanya jika memuntahkan peluru begitu banyak. Yang penting hari itu seluruh bangunan yang ada di Derwana serta Indrawana harus ditumbangkan. Semua! Pasukan Mas Ayu membalas. Tapi mereka tak punya modal sebanyak VOC. Mereka tidak bisa menutup kekurangan mesiu mereka.

Tapi mereka tidak putus asa. Mas Ayu sudah memutuskan: perang puputan (perang habis-habisan menang atau mati).

Karena itu ia sendiri telah mengganti pakaiannya dengan pakaian putih. Kematian Undu dan berita terkepungnya Bayu, membuatnya bertekad mematahkan kepungan, lalu membantu Wilis di Bayu. Bukankah itu sangat penting? Menyelamatkan seorang pimpinan negara?

Bulan Badrawana (pertengahan bulan Agustus sampai pertengahan September, sedang pertengahan September sampai pertengahan Oktober disebut bulan Asuji) sudah berlalu. Dengan kata lain Mas Ayu Prabu telah bertempur lebih dari satu bulan penuh. Demikian pula Wilis di Bayu. Kompeni kian maju dengan membuat parit-parit baru mengitari perbentengan. Kendati ia masih mampu mengirim berita dan menerima berita dari Ayu Prabu melalui jalan tembus yang amat rahasia. Berita terakhir bahwa kekasihnya itu telah mengenakan pakaian putih, sungguh mendebarkan jantungnya. Memanglah suatu kenyataan yang bicara bahwa Burg lebih cerdik dari padanya. Burg memerintahkan agar anak buahnya sedapat mungkin menghindari pertempuran terbuka. Sebaliknya orang Blambangan kehabisan akal. Maka Ayu Prabu makin tidak kenal lelah.

Kendati pohon-pohon dan semua perisai telah tumbang, ia mengajak orang-orang Blambangan merangkak maju. Jumlah mereka kian berkurang dari hari ke hari. Yang mengungsi karena terluka kian banyak. Para tawanan yang dipergunakan sebagai perisai, juga makin banyak. Terutama karena kelaparan. Tidak sempat lagi memberi mereka makan. Usaha Schophoff, untuk membebaskan mereka akan sia-sia. Karena dalam hal menyergap, Blambangan lebih berpengalaman.

Namun demikian Schophoff mendengar laporan dari orang Bali yang tertangkap, bahwa pemimpin orang Derwana dan Indrawana ini sebenarnya seorang wanita. Itu sebabnya Kapten Heinrich menjadi malu. Ia bertekad akan memberi pukulan penghabisan akhir bulan September ini. Dan di samping tembakan kanon dan meriam yang tidak kendur, ia mulai membuat perang terbuka. Tepat tanggal sembilan Asuji dalam bulan Jawa, ia berhasil menembus Derwana. Tinggal puing semata. Semua penghuni telah menjadi mayat. Maka ia mengerahkan pasukannya ke Indrawana. Kini Ayu menyadari ia makin terdesak. Maka ia berusaha mengajak anak buahnya surut dan bergabung dengan Wilis di Bayu.

Tapi kala semua orang sudah masuk hutan, ia dan beberapa pengawalnya masih sibuk melindungi mereka dengan panah dan senapan. Dan sebuah peluru tepat menghantam bahunya. Matanya mendadak berkunang- kunang. Pengawalnya terkejut. Mereka segera menggendong tubuh Ayu yang berlumuran darah itu.

Dalam semak Ayu tidak menyia-nyiakan waktu yang ada. Ia segera merobek kainnya yang putih, lalu menulis di atasnya dengan darah sebagai tintanya, sedang ujung jari sebagai pena. "Ranti...," katanya kemudian pada seorang pengawal. Yang dipanggil mendekat.

"Kau tahu jalan ke Bayu, bukan?" "Hamba, Yang Mulia!"

"Tinggalkan aku di sini! Sia-sia kalian membawa aku. Berikan padaku panah dan senapan yang masih berisi. Sampaikan ini pada junjungan kita!"

Ranti mengerjakan perintah pimpinannya dengan tidak bisa membendung air matanya.

"Kau laki-laki Blambangan bukan?"

Orang itu mengangguk! Malu sebenarnya meninggalkan pimpinan yang harus di kawalnya dalam luka parah seperti itu.

"Kerjakan perintahku, sebelum mereka juga sampai di sini. Punah Blambangan! Punahlah daku. Pergi!" bentaknya setelah memberikan kainnya. Tinggal sebatas paha saja kini yang dipakainya. Masih lima orang pengawal menyertainya merangkak mundur. Sebuah peluru meriam jatuh cuma lima depa di belakangnya. Semua pengawalnya lumat. Sebatang pohon tumbang. Sebuah cabang yang patah terpelanting dan menyambar bagian belakang kepalanya. Mendadak pandangannya dipenuhi berjuta bintang yang berputar-putar, untuk kemudian tak lagi mampu melihat apa pun. Juga tak ingat apa-apa lagi.

Kala ia mampu membuka matanya, ia rasa semua tulang dan dagingnya sakit. Sukar bergerak. Dan betapa terkejut melihat sekelilingnya. Ia dalam kepungan Schophoff, Van de Burg, Juru Kunci, dan Heinrich di sebuah rumah sempit.

Tangannya terikat pada dua buah tiang di kiri-kanannya. Suara tawa menggelegak keluar dari mulut Schophoff.

"Ayu Prabu? Ah, sungguh anggun. Sungguh cantik. Lihat!!

Susunya begitu montok dan mulus” Lagi orang itu tertawa. Ayu Prabu memandangnya tajam. Dengan sisa tenaga yang ada. Ia mengutuk diri sendiri mengapa masih sempat hidup.

"Tak salah lagi." Juru Kunci juga maju. Tangannya meraba muka dan perut tawanan itu. Ayu Prabu meludah ke wajah Juru Kunci. Dan kala Juru Kunci mengusap ludah di mukanya, Ayu mengenakkan kaki dengan sisa kekuatannya, ke arah kemaluan orang itu. Teriak kesakitannya mengundang tawa teman-temannya. "Iblis, laknat!" tak habis-habis ia mengutuk di sudut ruangan.

"Pantas menjadi seorang pemimpin. Begitu galak seperti singa betina. Derwana, Indrawana, sudah jatuh ke tangan kami. Jika tahu bahwa yang memimpin seorang wanita tentu kami akan berlaku lembut." Burg tersenyum. Ia mampu berbahasa Jawa.

"Tapi kami sanggup menyembuhkan Tuan Putri. Dan Tuan Putri akan memimpin daerah ini iika mau bekerja sama dengan VOC."

Tiada jawaban kecuali meludah ke tanah sambil melengos. "Nona menghina." Schophoff juga bicara. "Lihat, kami

menolong Putri Rahminten dan akan membuang Jaksanegara

seusai perang." Juga tiada berjawab.

Sekali lagi Burg menawarkan, tapi tetap tiada P berjawab. Burg melihat, memang wanita ini tidak main-main. Ayahnya lari dari Banda. Maka Kapten Heinrich mulai mengayunkan tangannya. Rotan di tangan mulai melukai tubuh itu. Bertubi- tubi. Terkoyak-koyak kulit yang halus itu. Semua heran. Tiada teriakan. Tiada tangisan. Sekilas Ayu ingat pada ibunya. Ah, tertindih bebatuan! Punah semua!

"Nona tetap bungkam? Tunjukkan jalan yang aman menuju..." Tapi gadis itu meludah lagi. Darah meleleh dari mulutnya. "Kalian mendapat semua dari tubuhku. Tapi tidak dari mulutku," Ayu memotong kata-kata Heinrich.

"Baik! Luar biasa perawan Blambangan. Mungkin Nona menghendaki kepuasan di tempat tidur baru bicara?"

"Persundalan memenuhi otak kalian. Maka kalianlah biang semua sundal. Dan pemerintahan VOC tak lebih dari pemerintahan sundal!"

Keempat orang itu segera keluar meninggalkan Ayu Prabu.

Beberapa bentar Ayu mendengar detak kayu terbakar. Kemudian, asap memenuhi ruangan. Wajah Bunda tampak tersenyum di tempat tinggi. Mulia wanita itu. Tidak pernah membunuh. Tapi dibunuh. Kala asap makin penuh hawa panas kian tak tertahan. Maka untuk terakhir kalinya ia berteriak,

"Dirgahayu Blambangan! Demi Hyang Maha Durga!

Jayalah!! Jayalah Wong Agung Wilis."

Mengalirnya pengungsi dan orang yang luka ke Songgon, bukan cuma menyentakkan Mas Ayu Tunjung, tapi juga membuatnya khawatir. Maka ia memutuskan untuk masuk ke Bayu dengan membawa perbekalan makanan. Ia tahu persis bahwa jika perang berlangsung lama, maka perbekalan akan habis. Sementara ia harus lupakan lebih dahulu Sratdadi.

Tunjek, wakil Rsi Ropo di Songgon, tidak keberatan Mas Ayu Tunjung membawa perbekalan itu.

Jalur rahasia ia gunakan. Kendati begitu ia terus berpapasan dengan orang-orang yang luka. Ah, kian membanjir. Maka ia mencoba menanyakan kabar tentang pertempuran.

"Derwana, Indrawana, telah punah. Mas Ayu Prabu gugur "

"Hyang Maha Dewa! Apa katamu?!" "Betul, Yang Mulia " Tanpa kata ia melecut kudanya dengan diiringi keledai beban. Lima pengawalnya pun tak ketinggalan. Ia tahu Wilis sedang marah mendengar berita itu. Dan jika demikian akan membahayakan.

Dugaan Tunjung tidak keliru sama sekali. Begitu Ranti, pengawal Ayu Prabu menghadap dengan mempersembahkan kain putih, Wilis menjadi berdebar. Apalagi waktu membacanya,

"Kanda, tidak banyak waktu untuk berbicara tentang cinta.

Ah, kita sedang sibuk berperang. Tapi keadaan sekarang sangat tidak menentu. Mereka berkacak-pinggang dalam kemenangan, sedang hamba bermandi darah. Ah, rasanya impian sudah sampai di penghujung. Maut begitu cepat merenggutnya. Apa salahnya bila hamba katakan selamat tinggal. Kanda, cintaku, semua karya dari darma hanya untuk negeriku!"

Wilis terhenyak. Ia genggam kain yang ia tahu disobek oleh kekasihnya dari kain yang dikenakannya.

"Bagaimana keadaannya sekarang, Ranti?"

"Ampun, Yang Mulia." Ranti berbohong. Ia masih mengintip kala meriam jatuh di belakang Ayu Prabu.

"Jagat Dewa Bathara! Blambangan atau mati!" Wilis gusar.

Sekali lagi ia pandang kain putih bertuliskan darah itu. Beberapa bentar. Tangannya bergetar. Jiwanya membuncah. "Pertahankan tiap jengkal tanahmu! Demi kesucian Hyang Maha Dewa Ciwa!" teriaknya sambil berkuda mengelilingi perkubuan. "Jangan seorang pun berniat surut, kendati maut menjemput! Dirgahayu Wong Agung Wilis! Dirgahayu Blambangan!"

Heinrich sebagai perwira pelaksana sudah menurunkan perintah untuk mengerahkan seluruh kekuatannya yang tinggal separuh itu untuk mengepung Bayu. Ia harus berhasil menangkap kembali Wong Agung Wilis yang barangkali saja kini memimpin di sini. Ia berkeyakinan bukan Rempek yang menggerakkan kawula.

Tapi perjalanannya melewati belantara memakan waktu hampir satu minggu. Bukan cuma waktu. Tapi juga memakan korban yang tidak sedikit. Laskar Runtep mencegat mereka. Dan sungguh, ia tidak mengerti, mengapa mereka begitu berani mati. Dengan pakaian putih, ber-sumpingkan kembang semboja di telinga, mereka menyerbu dengan pedang, tombak, bedil, dan panah. Sebuah peluru sempat menyasar lengan kirinya. Darah mengucur membuatnya semakin kejam.

Schophoff dan Burg berada di barisan belakang. Burg ingat bahwa ia harus mencatat semua kejadian, lengkap dengan tanggalnya, untuk laporan ke Batavia. Juga sebagai catatan di museum negerinya, bahwa di negeri yang terbelakang, bahkan boleh dikatakan tidak beradab karena orang-orangnya masih telanjang dada itu, seorang gubernur perlu memeras tenaga dan otaknya. Ikut menerobos hutan dan mengayunkan pedangnya. Kini Bayu sudah dekat benar. Betapa inginnya ia melihat kembali wajah Wong Agung.

Sejak dua hari peperangan sudah tidak ada istirahatnya. Ia sendiri ikut merangkak dari satu parit ke parit lainnya.

Kejengkelan sering mengentakkan jiwanya. Peluru Wilis tidak kunjung habis. Degup jantungnya kian mengeras demi menerima laporan bahwa Heinrich terluka dan Letnan Ostrousky gugur.

Namun ia sadar, bahwa ia tidak boleh terpancing. Semua, ya, semua yang bertindak gegabah di Blambangan akan jadi mayat. Karena itu ia cuma memerintahkan agar tembakan kanon di pergencar.

"Jangan satu bangunan pun dibiarkan berdiri. Jika perlu, jangan ada satu pohon pun dibiarkan hidup. Apalagi hewan dan manusia. Kecuali jika mereka membuang senjata dan angkat tangan!" Harapan Burg bahwa peristiwa Lateng tahun seribu tujuh ratus enam puluh empat waktu Wong Agung Wilis tertangkap itu, tidak segera terjadi. Karena memang peluru meriam Bayu belum habis. Melihat mayat yang begitu banyak, Burg sangat menyesal. Sama sekali tidak ia harapkan. Karena ia ingin Wilis menyerah.

Hujan menandai hari itu. Tidak lebat memang. Tapi seluruh bumi tampak mendung. Harini tanggal sebelas Oktober tahun seribu tujuh ratus tujuh puluh dua Masehi, atau sekitar tanggal dua puluh tujuh bulan Asuji, tepatnya hari Budha Cemengan (Rabu Wage). Tapi perang tidak kunjung henti.

Sejak kemarin Wilis bersama beberapa orang terpilih bergerak di segala tempat. Ia mengambil keputusan untuk mematahkan serangan lawan dari punggungnya. Ia menyusup dalam semak dan tahu-tahu muncul di belakang lawan. Maka punahlah mereka sebarisan demi sebarisan. Terutama ia menyasar ke barisan kulit putih. Dendam mengatasi semua pertimbangan. Lupa bahwa akhirnya siasat itu diketahui juga oleh Van de Burg.

Kini parit-parit yang memanjang mengitari perkubuan itu penuh berisi manusia. Sebagian menghadap ke perkubuan Bayu sedang sebagian menghadap ke belakang. Hal yang demikian juga dilakukan oleh lapis berikutnya. Dan itu yang mengakibatkan semua pasukan berani mati Wilis terjebak dalam kepungan. Begitu mereka muncul dari semak, langsung menerima berondongan. Wilis sendiri langsung terhuyung begitu peluru merobek dada kanannya. Pengawalnya berteriak, "Yang Mulia!" Teriakan yang tulus telah membuat pengepungnya tahu bahwa yang sedang mereka hadapi dan roboh itu adalah Wilis.

'Tidak apa-apa! Maju terus! Blambangan atau mati!" Wilis bangkit dan menyerbu bagai setan. Langsung ke tengah parit.

Tembakan berhenti. Bayu kehabisan peluru. Itu sudah diperhitungkan oleh Wilis sendiri. Dalam parit ia dalam kepungan. Cuma bersenjata keris dan luka di dada yang terbuka lebar. Sebuah tebasan pedang dari belakang telah menyambar lengan kiri. Begitu keras. Sehingga lengan kirinya itu terlepas dari tubuhnya. Dengan satu lengan ia masih membunuh seorang opsir. Musuh berlarian menjauh. Wilis tinggal sendiri. Semua pengawal mati. Kala mengejar, sebuah peluru menembus paha kanannya. Sebuah lagi di perutnya.

Wilis terjungkal. Disambut sorakan. Letnan Moor mencoba mendekati orang yang roboh itu. Namun begitu dekat Wilis melompat dan menerkamnya. Tiap sentuhan keris Wilis berarti nyawanya tidak akan tertolong. Jasadnya akan berubah menjadi-biru. Benar-benar mengejutkan. Kembali dalam keroyokan. Sebuah tebasan dari belakang menghantam batang lehernya. Dan menggelindinglah kepalanya...

Mas Ayu Tunjung gemetar demi sampai di Bayu perang sudah usai. Kompeni sudah meninggalkannya. Mayat bosah- baseh. Mendung dan gerimis terus menandai hari-hari itu.

Setelah-memeriksa semua, ia tak dapat menahan air matanya. Bahkan menangis seperti anak kecil yang meraung-raung.

Menyesal tidak ikut punah. Terlebih lagi kala Parti, seorang pengawalnya, menemukan tubuh tanpa tangan kiri dan kepala, sedang tangan kanannya terikat kain putih. Ia segera melihat kain putih itu. Ternyata tulisan Ayu Prabu.

"Oh... Yang Mulia..." Ia merangkul tubuh itu. Darah telah beku. Orang yang dikaguminya, dicintainya. Meraung lagi. Tapi Bayu telah menjadi sunyi. Tak lagi berpenghuni. Tak lagi ada rumah berdiri. Pelan-pelan ia angkat tubuh itu. Dibantu para pengawal dinaikkan ke atas kudanya. Tubuhnya sendiri jadi lemas tanpa daya. Sejuta penyesalan menyatu. Bersama turunnya senja, Mas Ayu Tunjung pelan-pelan turun ke Songgon. Dari mulutnya keluar tembang yang lebih merupakan doa. Para pengawalnya membisu seribu bahasa. Sejarah harus mencatat! Sebelas Oktober seribu tujuh ratus tujuh puluh dua, Masehi! Hari punahnya... peradaban Hindu Ciwa terakhir di Jawa.

Ah, merah dubang air kinang
merah darahmu, merah pula bumimu merah pula api membakar tubuhmu Tapi mereka riang berebut emas menjarab-rayah semua-muaf
ya, semua-mua!
Semilir angin bertiup-tiup tiada
Bulan bundar punah jua ditelan awan Putih tulangmu, putih budimu
tapi lenyap dilanda petaka, seolah tanpa nama
Ah, tiada lagi harum bunga mawar merah yang mekar yang tersisa, suara burung hantu menyentak kalbu dendang gulana menghias mimpi...

0ooDewiKZoo0

Selesai