Gema Di Ufuk Timur Bab 16 : Pudar

Bab 16 : Pudar

Musim hujan memang datang terlambat tahun ini. Meski begitu mendung tak bisa terus-menerus menahan kandungannya. Pertengahan bulan Kar-tika atau kira-kira awal bulan November hujan pertama pun turunlah. Katak menyambut hujan itu dengan rombongan kesenian mereka.

Alun gamelan mereka terdengar di setiap sudut Blambangan sepanjang malam. Dan kegembiraan kelompok katak itu tidak berhenti di awal musim saja. Tapi malam-malam musim penghujan selalu mereka isi dengan alun melengkung gamelan mereka. Tiada malam tanpa sukacita.

Semestinyalah petani di Blambangan juga begitu. Karena hujan menjanjikan kehijauan bagi tumbuhan mereka. Lebih dari semua itu, kesuburan bagi tiap jengkal bumi Semenanjung Blambangan. Namun musim tanam kali ini tidak seperti saat-saat lampau. Tiada lagi tembang di bibir para pembajak sawah atau perempuanperempuan yang sedang menanam padi. Tiada lagi senyum manis perawan-perawan pengantar makan pagi dan makan siang, bagi bapak, ibu, atau saudara-saudara mereka yang sedang bergumul dengan lumpur itu. Pendek kata senyum dan kidung musnah dari bibir tiap kawula Blambangan. Sebagai gantinya adalah doa bagi arwah kedua pahlawan mereka. Sayu Wiwit dan Mas Ramad Surawijaya atau lebih dikenal sebagai Mas Dalem Puger.

Kedukaan makin bertambah kala mendengar lumbung persediaan makan bagi laskar Wong Agung Wilis dan Mas Ayu Prabu diserbu oleh VOC. Grajagan, Muncar, dan beberapa daerah pantai lainnya jatuh ke tangan Kapten Kreygerg. Tentu ini bukan sekadar menciutkan daerah kekuasaan Wilis, tapi juga merusak gudang perbekalan laskar Blambangan.

Cadangan makanan yang dikumpulkan oleh dan dari seluruh kawula. Kesedihan mendalam meliputi seluruh Blambangan, seirama dengan pergantian musim yang membuat mentari seolah pudar karena awan. Umbul-umbul hitam tampak terpancang di mana-mana di seluruh wilayah Blambangan. Tidak ada yang tahu siapa pemasangnya. Namun jelas itu merupakan tanda perkabungan secara menyeluruh. Jaksanegara memerintahkan agar wilayah yang dikuasai Kompeni dibersihkan dari umbul-umbul hitam itu. Apa yang terjadi kemudian sungguh mengejutkan pemerintahan Jaksanegara. Sekarang dicabuti, esok umbul- umbul itu muncul lagi. Begitu terus berulang.

Kendati saat-saat terakhir setelah kematian Biesheuvel ia tak pernah keluar rumah kecuali menghadap Schophoff, namun kini ia harus datang ke kediaman residen itu. Ia merasa kejadian ini tidak bisa dibiarkan.

"Selamat pagi, Tuan Jaksanegara " Schophoff tertawa,

seperti biasa. "Ada suatu penting maka pagi begini Tuan datang tanpa diundang?"

Sekilas Jaksanegara memperhatikan sekitarnya. Tidak ada perubahan. Masih seperti kala dihuni oleh Biesheuvel. Gadis pengipasnya yang berganti. Mereka adalah persembahan darinya.

"Tentu, Tuan. Apa Tuan belum menerima laporan tentang. "

"Tentang apa?" Mata biru Schophoff menajam. "Umbul-umbul hitam."

"Kami kurang menaruh perhatian atas semua itu." Kembali Schophoff terbahak-bahak. Ternyata tertawa merupakan warna hidup atau barangkali mendekati jatidirinya. Tapi dalam tindakan ia tidak kalah kerasnya dari Biesheuvel. Ia tidak sudi mengalami nasib seperti para pendahulunya.

"Tidak boleh tidak diperhatikan. Kemungkinan besar pemimpin terkemuka mereka. Dan "

"Kebiasaan Blambangan, Tuan." "Tapi Jagapati masih hidup," bantah Schophoff. "Sebelum Jagapati bergabung dengan mereka, tentunya

mereka sudah punya pimpinan. Hanya kebetulan Jagapati

bergabung, maka kini dia yang menonjol. Karena Jagapati berdarah Tawang Alun."

"Baik. Kita akan serbu Jagapati. Jika perlu kita bunuh ia di depan orang-orang Blambangan. Tapi „ untuk mengurangi kekuatannya, kita akan menyebar pengumuman pada seluruh penduduk Blambangan bahwa jika mereka tidak memerangi Belanda, maka mereka akan dibiarkan hidup aman dan damai. Bagi yang dulu jadi pengikut Jagapati tapi menyerah akan diberi pengampunan. Dan mereka akan memperoleh haknya kembali untuk menggarap tanah. Tapi dalam satu bulan ini jika mereka tidak menyerah berikut persenjataannya, maka VOC tidak akan memberikan pengampunan lagi."

"Bagaimana cara membuktikan bahwa mereka bersungguh- sungguh ?"

"Ha... ha... ha..." Schophoff mengangguk-anggukan kepala di sela tawanya. "Jika mereka dengan sendirinya mencabuti umbul-umbul hitam itu, berarti mereka tidak lagi patuh pada Jagapati."

Dan terjadilah yang direncanakan Schophoff. Para bekel diperintahkan mengumumkan maklumat residen ini ke setiap penjuru desanya dengan kawalan Kompeni dan punggawa kadipaten. Namun di mana pun saja kawula tidak menjawab barang separah jua. Juga tidak ada yang menyentuh umbul- umbul hitam. Bahkan kala mereka lewat di dekat umbul-umbul itu, semua menunduk dalam-dalam. Seolah lewat di depan benda yang teramat keramat. Itu sebabnya Schophoff segera menurunkan perintah pada Kapten Kreygerg dan komandan- komandan benteng di seluruh Blambangan agar menyiapkan penyerbuan begitu batas ketentuan habis. Ketentuan yang akan berakhir tanggal tiga belas Desember seribu tujuh ratus tujuh puluh satu. Memang berita kematian Mas Ramad dan Sayu Wiwit tidak bisa disembunyikan. Sekalipun pihak Bayu berusaha menyembunyikannya, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi semakin dirahasiakan, berita itu semakin merambat cepat seperti merambatnya angin yang membawa hujan ke tiap penjuru Blambangan. Tidak ada yang memerintahkan orang mengibarkan umbu-umbul. Tapi semua orang ingin menghormati Mas Dalem Puger yang pernah menggegerkan Blambangan karena menyerbu Benteng Banyu Alit dan menyebabkan komandan Van Reiyks luka parah dan akhirnya tewas. Apalagi dia adalah putra Patih Blambangan, Wong Agung Wilis.

Di Bayu tangis terdengar hampir di setiap rumah. Dupa dan kemenyan dibakar di mana-mana. Tantrini, ibu Mas Ramad tidak mau keluar dari pura untuk beberapa lama. Sedang Mas Ayu Prabu menyempatkan diri untuk bergabung dengan ibundanya. Tapi Tantrini adalah seorang brahmani yang mumpuni. Ia telah kehilangan banyak dalam perang ini. Ia tahu bagaimana mengunyah yang manis, dan ia tahu bagaimana mengunyah yang pahit. Maka kini dialah yang harus menyabarkan hati anak-anaknya. Mas Sratdadi dan Mas Ayu Prabu.

"Perang bukan untuk membalas dendam, Anakku. Bapak kalian mengajar bahwa perang bukan pembalasan dendam. Dan bukan untuk menyalurkan kebinatangan yang ada dalam diri manusia, baik itu berupa keserakahan maupun keinginan untuk memenangkan diri atas orang lain. Perang bagi kita lebih diperuntukkan demi menegakkan jatidiri suatu bangsa atau mempertahankannya. Karena itu tenangkanlah hati kalian. Barangsiapa tenang dalam segala hal, ia akan memperoleh kebijakan."

Kedua anak muda itu tertunduk. Juga Mas Ayu Tunjung. Kekaguman merayapi hati ketiganya. Yistyani menjemput mereka, untuk diajak bersama-sama ke pendapa. Wilis akan menyampaikan amanat penting. Tidak ada yang berani membangunkan mereka dari semadi.

Yistyani melihat kenyataan. Adiknya tegar. Kendati tak pernah belajar menjadi satria. Rupanya Tantrini benar-benar hidup di atas penghayatan jerhadap pengetahuannya sendiri. Ah, sebenarnyalah, barangsiapa yang tidak menghayati dan melaksanakan apa yang telah dipelajari dan diyakininya untuk membentuk jatidiri, maka ia telah menjadikan diri sendiri manusia mengibakan. Karena ia telah hidup dalam kesia-siaan.

Setelah saling berpelukan dan menyatakan belasungkawa, ia mengajak adiknya. Ketiga anak muda itu berjalan di belakang mereka. Lambat-lambat. Seperti rombongan siput. Kepala menunduk. Seolah mencari jarum jatuh di dalam debu. Para kawula juga menunduk hormat. Ikut berdu-kacita.

Di Derwana berita kematian Mas Ramad dan Sayu Wiwit diterima oleh Jagapati saat ia makan sore di istananya.

Didampingi oleji para selir dan istrinya kala Jagalara menghadap.

"Berita penting, Yang Mulia." "Apa itu?"

"Jember jatuh kembali ke tangan VOC. Demikian juga Puger dan Sentong serta Panarukan "

"Jagat Dewa! Lalu?"

"Yang Mulia Pangeran Puger gugur dan juga Ratu "

"Sayu Wiwit?" Jagapati tidak sabar. "Juga gugur."

"Drubiksa!" Tanpa sadar Jagapati berdiri. Tangannya bergerak di luar sadar. Memukul piring yang masih penuh makanan. Tak ayal semuanya berantakan. Dan semua istrinya terkejut. Suatu yang tak pernah dilakukan Rempek sebelumnya. Bangkit dan berjalan menuju beranda depan. Jagalara berjalan di belakangnya. Rasanya seperti mimpi. Jagapati baru bersua dua hari lalu di Bayu. Tapi kini kenapa ia bersama Mas Ramad di Jember? Mati bersama. Lebur tanpa bisa dirawat lagi?

Bukankah Mas Ramad berangkat tiga hari lalu? Jadi siapa yang dijumpainya beberapa hari lalu? Ah, aku perlu menanyakan ke Bayu, apa benar Sayu Wiwit mati?

"Kau percaya berita ini, Yang Mulia?" Jagapati bertanya pada pembantunya.

"Hamba tidak tahu."

"Kita pergi ke Bayu. Mari, Yang Mulia," ajaknya.

Bergesa mereka menyiapkan kuda mereka. Beberapa pengawal mengikuti mereka. Namun begitu mereka keluar dari lapangan, di depan istananya, Jagapati melihat laskarnya menaikkan umbul-umbul hitam.

"Siapa yang memerintahkan mereka?",

"Tidak tahu," Jagalara menjawab sambil menggeleng. "Undu barangkali?"

"Barangkali." Jagalara menatap pimpinannya. "Kita cari dulu dia."

Namun begitu kuda mereka berputar ke arah rumah Undu, seseorang menyapa dari balik pagar. Jagapati menghentikan langkah kudanya.

"Undu?"

"Hamba, Yang Mulia. Kita sedang berkabung. Akan ke Bayu? Tentu akan ada pertemuan," Undu bicara sambil menyembah. Jagapati mengernyitkan dahinya. Keremangan senja membuat perubahan wajahnya itu tidak begitu nampak. Ia heran Undu tahu banyak. "Jadi benar Sayu Wiwit tewas?" "Benar, Yang Mulia."

Kecurigaan dalam hati Jagapati kian bertambah. Tapi ia berusaha menahan hatinya. Ia perlu bertanya sendiri pada Rsi Ropo. Jika Rsi Ropo tidak dapat mempertanggungjawabkan, maka ia akan menanyakannya pada Wilis sebagai junjungan Bayu. Ia tidak suka dipermainkan oleh siapa pun.

Bagaimanapun ia bukan orang sembarangan yang boleh dipermain-mainkan.

"Baik. Aku akan ke Bayu. Undu, kau berjaga-jaga di sini!" Cepat sekali kuda rombongan lenyap dari pandangan Undu.

Keremangan senja pun segera berganti malam. Meski begitu kuda mereka tidak pernah terantuk. Deretan pohon-pohon tak terhitung jumlahnya yang telah mereka lalui. Juga tikungan.

Namun begitu, jarak tetaplah pemisah yang harus diatasi. Dan untuk itu manusia membutuhkan waktu. Maka keesokan paginya barulah mereka memasuki gerbang perkubuan.

Umbul-umbul hitam yang terpasang berjarak rapi di sepanjang jalan merupakan bukti kebenaran berita kematian kedua pemimpin laskar Blambangan itu. Keadaan benar-benar senyap. Sawah-ladang sepi dari petani. Semua seolah tak mempe-dulikan kehadirannya. Namun ia tahu persis bahwa di balik belukar sepanjang pinggir-pinggir jalan itu moncong- moncong bedil teracung ke dadanya. Karena itu ia menenangkan diri menuju pendapa di mana para pemimpin Bayu sedang berkumpul.

Rsi Ropo sedang memimpin doa. Beberapa saat kemudian ia duduk di barisan paling belakang. Tidak ada yang memperhatikan kehadirannya itu. Semua terpekur tasyakur khikmad. Dada Jagapati kian membuncah kala mendengar suara wanita seperti suara Sayu Wiwit yang dikenalnya menembangkan kidung.

Jika sedang berkinang,

Merahlah air ludah, merahlah darah... Merahlah Blambangan, menolak penjajahan! Dalem Puger menerjang!

Perang puputan.

Banyu Alit! Jember! Puger! Tetes darahnya... Merah membakar

Ah, Sayu Wiwit...

Bara di dadamu, di bumimu

Dan membaralah kawula! Membara!

Tiap tetes darahmu, untuk tiap jengkal tanahmu Hey tatsaka! (ular Biludak)

Jangan jual negeri ini! Jangan jamah Blambangan! Kau berhak berkacak pinggang

Tapi kami bermandi darah... Ah, kau berdiri di atas bara!

Selesai suara itu di susul suara beberapa wanita lain.

Setelah semua sudah, Wilis bangkit berdiri. Matanya bagai mentari kembar menyinari semua yang hadir. Jagapati buru- buru menunduk kala mata itu menyapukan pandang ke arahnya.

"Kita telah kehilangan banyak!" pemuda itu memulai. "Banyak sekali. Karena itu jangan main-main. Aku perintahkan pada setiap kawula Blambangan. Jika tidak ingin berperang demi bumi kelahirannya, supaya mengungsi! Sebab sesudah ini aku perintahkan pada semua-mua, bersiaplah melakukan perang!! Perang puputan! Menang atau mati! Dengar?"

"Dengar...," sahut semua orang. "Beritakan semua ini pada kawula. Dan... Yang Mulia Jagapati, segera setelah ini kembalilah ke Derwana! Beritakan ke seluruh bumi Blambangan! Ini perintahku! Pilih! Wilis atau Kompeni?" Seperti mendengar petir di siang bolong. Kagum luar biasa. Pemuda itu tahu bahwa dia hadir. Padahal ia diam-diam duduk di bagian belakang.

Maka tak ada jalan lain kecuali mengiakan. Tapi tiba-tiba ia ingin menyampaikan sesuatu.

"Tapi, Yang Mulia..." Ia mencoba membuka suara.

"Jika Yang Mulia menganggap daku junjungan Blambangan, maka tidak ada kata tetapi! Cuma ya atau tidak sama sekali."

"Sebentar saja."

"Perkabungan selesai sudah. Kendati umbul-umbul hitam tidak kita turunkan. Kita tak boleh terlalu lama berduka. Sebab itu akan membuat kita tawar hati. Dan barangsiapa tawar hati dan terus tenggelam dalam kedukaan, ia telah kehilangan kekuatannya. Jangan dulu persoalkan apa yang ada di hati.

Sebab paling lama lima hari lagi VOC dengan semua begundalnya akan datang menyerbu kita. Mereka akan pergunakan kesempatan kala kita berduka dan lemah. Apalagi batas waktu yang mereka tentukan akan habis dua hari lagi. Nah, simpanlah dulu apa yang di hati itu. Kita akan selesaikan sesudah perang."

"Ini masalah harga diri, Yang Mulia," Jagapati mencoba. "Baik. Aku sudah katakan, Yang Mulia adalah kepala

pemerintahan atau pratanda mukha Blambangan saat ini. Pilih,

kehilangan semua-mua atau harga diri itu! Di pundak Yang Mulia tersampir tanggung jawab mengusir Belanda ini.

Menyelamatkan dan mengamankan negeri serta isinya. Dan ingat, sekarang baru satu kakak Yang Mulia jatuh dalam kehinaan. Saatnya akan tiba, Yang Mulia Nawangsurya pun mempersundalkan dirinya!"

"Jagat Bathara!" Jagapati terlonjak.

"Semua terletak pada Yang Mulia sendiri. Jika tidak siaga sejak sekarang, maka semua perawan cantik kita akan jadi milik pemenang. Bukan cinta lagi yang bicara dalam suatu perkawinan. Tapi uang dan kekuasaan."

"Jagat Dewa!"

"Tidak cukup hanya dengan menyebut nama Hyang Maha Dewa, tapi kita harus bertindak. Nah, sekarang bubarlah!

Pergilah! Laksanakan perintahku! Ingat-ingat! Wilis atau Kompeni."

Mereka bubar dengan bekal hati yang tidak sama. Sekalipun tidak membantah lagi, Jagapati tetap dalam kekecewaan. Walau kagum terhadap penglihatan ke depan Wilis yang tajam itu.

Benar apa yang dikatakan Wilis di pertemuan terakhir itu.

Schophoff sudah menurunkan perintah resminya untuk menyerbu Bayu. Tanggal penyerbuan tertulis empat belas Desember tahun seribu tujuh ratus tujuh puluh satu. Tiga ribu orang naik dari Lo Pangpang di bawah pimpinan Kapten Kreygerg. Sedang dari Lateng dipimpin oleh seorang kapten dari Madura, Tumenggung Alap-alap, bersama dengan Letnan Schaar. Dua ribu orang berangkat dari Lateng. Juga Kapten Heinrich masuk dari Panarukan. Karena percobaannya masuk lewat Jember langsung mengalami kegagalan. Pasukannya banyak yang mati tanpa perang.

Bayu harus dikepung dari segala arah. Mereka harus dikejutkan justru saat mereka dalam suasana perkabungan. Schophoff ingin membalaskan sakit hati Biesheuvel dan para pendahulunya. Tentu Gubernur akan memujinya sebagai orang paling berjasa karena mampu mengalahkan Blambangan. Gebrakan pertama memang mengejutkan laskar Blambangan. Lembah Perangan, lembah yang terletak antara Gunung Sikep dan Gunung Merapi; dan Lembah Pengawinan yang terletak di utara Songgon, jatuh ke tangan pasukan gabungan Kompeni. Kreygerg memerintahkan anak buahnya mendirikan perkemahan di tengah-tengah perumahan penduduk. Sebagian lagi diperintahkan menembus ke Lembah Derwana melewati lembah di antara Gunung Pendil dan Gunung Merapi.

Memang ada jalan yang aman menurut laporan mata-mata.

Yaitu melewati sebuah kali kecil yang bermata air di Gunung Pendil. Mengalir di tempat berbatu padas. Bahkan kali yang di barat laut Derwana itu diapit oleh dua bukit padas curam dan tajam. Dan dari Lembah Perangan serta Pengawinan mereka melancarkan tembakan meriam-meriam dan kanon.

Namun tembakan meriam itu justru membuat Jagapati dan seluruh laskarnya bersiap di segala lini. Setiap jalan masuk disumbat dengan merobohkan pohon-pohon. Kentongan dan bende dipukul bertalu-talu. Tiap semak dijaga. Barisan pemanah bertengger di pohon-pohon besar seperti barisan kera dalam cerita Ramayana. Maka kini tergantung Kreygerg. Apakah ia akan mengulangi nasib Montro atau ia akan menang.

Tengah hari mereka masih menghujani Derwana dan Indrawana dengan tembakan. Dari tenggara, selatan, dan barat laut. Tapi lewat tengah hari Jagapati sudah habis sabarnya. Ia perintahkan membalas tembakan sambil bergerak maju. Undu serta Jagalara bergerak ke selatan dan tenggara, sedang Jagapati ke barat laut. Tiap tembakan dibalas dengan tembakan.

Dari balik semak anak panah beterbangan menghunjam ke arah pasukan Kompeni yang kelihatan. Jagapati masih belum menampakkan diri. Juga laskar Blambangan. Baru tampak berkelebatan dari balik pohon ke pohon lainnya. Seolah mereka bertempur melawan hantu. Tapi teriakan dan sorakan mereka terdengar jelas membahana di lereng-lereng bukit.

Juga memantul di pohon-pohon. Inilah siasat Jagapati. Supaya jika anak buahnya tertembak dan mengaduh musuhnya tidak mendengar. Sebaliknya, lawan akan bingung memilih sasaran.

Ternyata siasat Jagapati berhasil. Baik di selatan, di tenggara, maupun di barisan yang dipimpinnya sendiri. Kompeni mundur. Setapak demi setapak mereka mundur ke lembah Perangan serta lembah Pengawinan. Untung sekali, karena begitu senja turun Jagapati menghentikan serangan balik itu. Dengan hanya meninggalkan sedikit laskar pengintai, Jagapati memerintahkan semua orang kembali ke Indrawana dan Derwana.

Sampai di Derwana ia memerintahkan para selir memanggil para penabuh gamelan dan penari untuk merayakan kemenangannya, di samping untuk menurunkan ketegangan. Tentu saja hal itu menimbulkan rasa suka dan tidak. Yang suka memujinya sebagai orang bijak. Sanggup memberikan kesegaran jasmani dan batin. Tapi lebih banyak lagi yang mendatangi Undu. Di sela-sela teriakan kemenangan para pendukung Jagapati, Undu mendengarkan laporan beberapa orang.

"Apakah itu tidak membahayakan? Kita belum menang. Tapi sudah berpesta tari. Coba, Tuan, bagaimana jika ini didengar oleh junjungan kita?"

"Aku akan memperingatkannya. Tapi aku juga akan memerintahkan seorang untuk melapor pada pimpinan," jawab Undu sambil menarik napas panjang.

Wilis segera menerima laporan dari anggota telik perihal Jagapati, selain laporan dari anak buah Undu. Maka ia cepat- cepat memanggil Sratdadi, Mas Ayu Tunjung. Mas Ayu Prabu, serta Untun. Ia segera menguraikan kepada mereka semua ulah Jagapati.

"Ini bukan kebiasaan kita. Tentu tidak boleh kita biarkan." Wilis kemudian meminta pendapat semuanya.

"Memang bukan kebiasaan kita. Tapi kitalah yang menanam dia di Derwana dan kita pula yang mengangkatnya sebagai pratanda mukha Blambangan. Jadi kita memang perlu menyabarkan diri. Bukankah sebagai pratanda mukha ia boleh mengambil kebijakan sendiri sepanjang itu tidak merugikan kita?" Ayu Prabu mengajukan pendapatnya. "Tentu kita wajib memperingatkannya. Tapi jangan sampai menimbulkan anggapan bahwa dia kehilangan haknya sebagai seorang kepala pemerintahan." Wilis mengangguk-angguk mendengar itu.

"Baiklah. Kita akan coba meluruskannya. Kebiasaannya di Pakis masih terbawa. Dia memang suka sekali mendengarkan gamelan. Tapi kita telah kehilangan cukup banyak harini. Dua lembah yang kaya dan menyediakan cadangan makanan bagi kita. Gudang-gudang beras kita di Grajagan, Muncar, bahkan Sumberwangi telah dibakar oleh Belanda. Kini kita kehilangan lembah Pengawinan dan lembah Perangan. Maka kita harus mengadakan serbuan balik dan merebut kembali gudang- gudang pangan kita."

"Betul," Sratdadi mengiakan.

"Kita perlu menyiapkan diri. Hamba akan turun sendiri. Itu sebabnya, kita harus mencoba menghubungi Harya Lindu Segara di Nusa Barong serta Rencang Warenghay di Selat Madura supaya mengerahkan armadanya."

"Perlu waktu untuk menghubungi mereka," Untun menyampaikan pendapatnya.

"Kita akan menyerbu mereka enam hari mendatang. Di semua kedudukan! Jadi perang semesta itu tanggal lima bulan Pusa (tanggal 20 Desember tahun 1771) ini. Maka masih ada waktu memerintahkan telik kita menghubungi mereka. Untuk itu kita akan menyerbu kedudukan Kapten Kreygerg yang menduduki lembah Perangan, bersama Undu. Yang Mulia Sratdadi bersama Yang Mulia Ayu Tunjung ke barat Indrawana, menyerbu kedudukan De Kornet Tinne. Sedang Jagapati di bantu Jagalara menyerbu ke jurusan tenggara Derwana, di sana berhadapan dengan Tumenggung Alap-alap dari Madura, yang juga seorang kapten Kompeni. Sedang Yang Mulia..." dengan dagunya Wilis menunjuk pada Mas Ayu Prabu, "berhadapan dengan Schaar di selatan. Tentu akan dibantu oleh Untun. Kemudian perintahkan juga pada telik kita untuk menghubungi Harya Lindu Segara dan Warenghay secepatnya."

Kemudian sebelum membubarkan diri ia sekali lagi mengingatkan pada Mas Ayu Tunjung agar menyiapkan makan untuk laskar di dekat tempat-tempat pertempuran. Agar mereka dapat bertempur dalam waktu yang panjang.

"Aku bantu menyiapkannya," Sratdadi berbisik kala mereka meninggalkan tempat itu. Ayu Tunjung cuma tersenyum. Ah, manisnya senyuman itu di mata Sratdadi.

Kesibukan segera terlihat. Semua orang menyiapkan diri.

Mereka diberangkatkan secara diam-diam melewati jalan-jalan rahasia di hutan-hutan. Begitu pula cadangan makanan. Di siapkan secara diam-diam. Dilihat dari tempat tinggi maka gerakan mereka seperti semut yang sedang berpindah sarang. Sibuk memikul bahan makanan dan senjata melewati lorong- lorong terjal dan jurang-jurang, gerumbul belukar, duri rotan, serta rindangnya pohon-pohon raksasa.

Namun kesibukan mereka dikejutkan oleh suara-suara letusan dan dentuman meriam. Padahal mereka belum menerima perintah menyerbu. Dan bukankah harini baru tanggal tiga Pusa? (menurut sumber Belanda, tanggal 18 Desember 1771 Jagapati mengadakan serangan balasan) tanya Mas Ayu Tunjung pada Mas Sratdadi kala mereka meninjau cadangan makanan di tenggara Derwana. Mas Sratdadi tidak bisa menjawab. Maka ia memutuskan untuk mengintip Derwana. Dan dugaannya memang benar. Jagapati mengerahkan laskar besar.

Diiringi tambur dan gendang serta perangkat gamelan lainnya, laskar Jagapati berangkat ke medan laga. Jagalara dengan gagah berada di atas punggung kudanya.

"Dirgahayu Wong Agung Wilis! Dirgahayu Blambangan!" sorak mereka kala Jagapati keluar dari gerbang Derwana. Tersirap darah Sratdadi menyaksikan semua ini. Rempek mengenakan pakaian persis ayahnya. Memilih kuda yang juga berwarna persis kepunyaannya, yang juga sama dengan milik ayahnya. Cepat ia mencabut bedilnya dari sanggurdi.

"Jangan!" Ayu Tunjung memperingatkan sambil mendekatkan kudanya dan meraih bedil itu dari tangan Sratdadi.

"Ini nirneyana" (pembelotan, pembangkangan) geram Sratdadi. "Tidak taat perintah junjungan kita."

"Yang berhak menghukum pratanda mukha adalah raja.

Bukan kita."

Suara merdu itu meluluhkan hati Sratdadi.

"Biarkan peperangan harini berjalan di bawah pimpinannya.

Tapi lusa harus berjalan seperti rencana junjungan kita itu," lagi Mas Ayu Tunjung memberikan saran. Sratdadi mengangguk. Tapi jauh dalam lubuk hatinya sudah memutuskan: hukuman mati bagi tiap orang yang melakukan nirneyana. Tentu tidak ada yang tahu keputusan ini kecuali dirinya sendiri.

Keduanya melaporkan hal itu pada Wilis. Dan Wilis menganggap itu tidak akan didiamkan. Ia perintahkan Sratdadi untuk memberi peringatan pada Jagapati nanti sore, seandainya orang itu selamat pulang dari pertempuran.

Baik Belanda maupun Bayu mengakui bahwa serangan Jagapati itu merupakan kejutan besar. Apalagi laskar Bali yang tidak tahu keadaan itu membantu dan mengamuk dengan amat hebat. Memang jatuh korban banyak. Dari kedua pihak. Terutama di Hutan Kepanasan, di mana laskar

Bali bergerak. Letnan muda Ostrousky yang menghadang mereka terpaksa melarikan diri ke Lateng untuk meminta bantuan. Tumenggung Alap-alap marah bukan kepalang. Ia bersumpah akan menusuk masuk ke Derwana, apa pun yang terjadi. Ia ingin berhadapan dengan Jagapati seperti Karna bertanding dengan Harjuna dalam Bharata Yudha. Tapi hari itu perang cepat usai. Mentari pergi bersama sang kala.

Namun meninggalkan bangkai-bangkai yang sukar dihitung banyaknya.

Jagapati kembali menghibur laskarnya dengan tari dan nyanyian serta gamelan sampai tengah malam. Ia sendiri setelah berbincang-bincang dengan Jagalara dan istrinya, segera masuk ke pesanggrahan. Untuk mencegah kemungkinan yang tidak diinginkan, ia tidak tidur di istana Derwana. Ia tidur di pesanggrahan yang letaknya agak jauh dari istana.

Malam telah larut. Gamelan sudah berhenti. Kidung juga telah tiada. Sebagai gantinya rombongan katak melengkung berdendang riang menyambut hujan tengah malam. Udara dingin dengan angin musim penghujan menembus tiap pori kulit manusia. Lebah di sarangnya pun merapatkan diri untuk menciptakan kehangatan. Kala itu Mas Rempek berjalan seorang diri ke pesanggrahannya. Dan saat ia melangkah ke beranda rumah yang sunyi itu ia menjadi pucat seperti melihat hantu.

"Selamat malam, Yang Mulia," suara merdu menyapanya. Jagapati melangkah mundur. Mulutnya ternganga. "Jangan takut, Yang Mulia. Inilah hamba."

"Sayu Wiwit?"

"Inilah hamba. Bukan drubiksa. Bukan juga hantu." Marmi melangkah maju untuk menghilangkan keraguan Jagapati.

"Hyang Bathara! Kaukah itu?" Jagapati mengembuskan napas panjang sambil mengusap dahinya. Beberapa saat kemudian maju. Di bopongnya tubuh Marmi seperti menggendong boneka. Masuk. "Kau hidup kembali?" tanya Jagapati kala merebahkannya di pembaringan.

"Hamba belum pernah mati. Dan tidak akan pernah mati." "Lalu? Mengapa ada berita itu?" Jagapati kini membelai

rambut si gadis. Keharuman bau tubuh Marmi membuat ia terlena. Lupa mempertanyakan bagaimana cara gadis itu masuk, padahal pesanggrahan itu dijaga ketat. Lupa semua dan segala.

"Hamba sedang mengemban tugas lain." "Apa itu?"

"Rahasia. Kan kita sama-sama mengemban tugas?"

"Ah..." Lampu minyak kelapa ditiup angin yang berhembus melewati sela dinding bambu. Temaram samar bayang-bayang mereka bergoyang-goyang.

"Sekarang juga bertugas?" bisik Jagapati dalam tanya. "Hamba, Yang Mulia. Tapi agak berbeda dengan dulu. Kini

hamba mengemban dua tugas sekaligus. Pertama menanyakan, apa sebab Yang Mulia tidak mentaati perintah? Apakah ini nirneyana? Derwana ingin melepaskan diri dari Blambangan?"

"Hyang Bathara! Siapa yang menugaskan kamu?" Jagapati melepas pelukannya dan bangkit. Terduduk sambil napasnya agak terengah-engah. Matanya melotot memandang Marmi.

"Tidak perlu tanya siapa yang menugaskan hamba." Wanita masih terlentang sambil memamerkan paha yang tersingkap kainnya, saat Jagapati meraba paha itu tadi. Juga susunya tegak berbungkus kulit halus mulus tanpa cela. Kepala Jagapati berdenyut. Seperti jantungnya.

"Yang penting kita harus tahu negeri sedang membutuhkan pengabdian kita. Jadi negeri ini menugaskan hamba malam ini." "Kau menggurui aku, Wiwit." Jagapati bangkit. Kemarahan mewarnai dadanya. Ia menuju pintu untuk memanggil pengawal.

"Jangan lakukan itu, Yang Mulia! Nanti akan kecewa," cegah Marmi. Ia memiringkan tubuhnya sambil menyangga kepalanya dengan telapak tangan.

"Kau takut menerima hukuman dari pengawalku? Kau tidak layak tidur di pembaringanku, Wiwit. Dengan mereka...," kata Jagapati angkuh.

"Sayang sekali, Yang Mulia " Kini Marmi pun bangkit.

"Yang mengawal rumah ini sekarang bukan laskar dari Pakis. Mereka telah sejak tadi istirahat. Terlalu letih berperang tadi siang. Yang mengawal rumah ini diganti oleh laskar Mas Sratdadi, menteri mukha Blambangan."

"Jagat Dewa!"

"Hamba tetap dianugerahkan pada Yang Mulia malam ini.

Tapi dengan syarat, lusa Yang Mulia harus berangkat bertempur. Bertempur seperti halnya yang diperintahkan oleh junjungan kita, Yang Mulia Wilis. Dan inilah pesan beliau, Wilis atau Kompeni."

Lunglai seketika itu Jagapati. Kewibawaannya pudar. Wilis lebih hebat dari dirinya. Ia kini di bawah tekanannya. Melalui cuma seorang wanita lagi. Tidak berangkat sendiri, kendati yang diberi peringatan seorang pratanda mukha. Berdarah Tawang Alun lagi. Tapi ia tidak berdaya kini. Pesanggrahan dalam kepungan laskar Bayu. Jika ia menyeberang, maka nasibnya akan sama dengan Sutanegara. Ceylon!

"Baiklah!" putusnya kemudian. "Aku pilih Wilis. Aku akan bertempur lusa. Aku buktikan kesetiaanku pada Blambangan. Sekarang pergilah kau! Laporkan pada yang memerintahkanmu masuk ke tempatku. Aku setia."

"Yang Mulia, inilah hamba ," Marmi menyembah. "Pergilah, aku tahu kau bukan Sayu Wiwit. Tapi kau telik!

Telik Bayu. Telik Blambangan. Pergilah! Aku ingin beristirahat!"

Marmi menyembah sekali lagi lalu berlalu. Gontainya menyisir pandang Jagapati. Sebentar kemudian gadis itu ditelan kegelapan malam dan udara dingin yang disertai gerimis kecil. Harapan Jagapati untuk menjadi seorang raja atas dorongan Jagalara pudar. Wilis dan pengikutnya jauh lebih pintar daripada dirinya atau Jagalara. Udara makin dingin, gerimis tidak henti-hentinya menaburkan air membasahi bumi. Makin riuh bersahut-sahutan katak dan jangkrik. Juga makin riuh berbagai suara dan lamunan di angan Jagapati. Tapi yang pasti lusa ia ingin membuktikan bahwa ia bisa membunuh semua musuh yang mendekatinya.

Dan memang tidak kosong, begitu ayam jantan berkokok, laskar Blambangan bergerak. Tidak pedulikan nyamuk yang masih ganas menyerang mangsanya. Tidak peduli jalan-jalan masih gelap dan lembek seperti bubur. Semua bergerak ke arah yang telah ditunjukkan bagi mereka. Mereka tidak boleh terlambat. Begitu mentari menguak bumi, maka penyerbuan dimulai. Gusti Tangkas, panglima laskar Bali yang diperbantukan di Blambangan itu pun telah bergerak sesuai petunjuk Ayu Prabu. Sungguh seperti laron yang keluar dari sarangnya.

Kapten Kreygerg masih enggan melepaskan kemul saat lembah Perangan tempatnya berkemah dikepung oleh laskar Wilis. Akibatnya ia amat gugup kala sebuah peluru meriam mendarat tepat di samping perkemahan para perwira. Ia menjatuhkan diri dan merangkak mengambil pakaian dan senjatanya. Bergulingan ia mengambil sepatunya. Dan mengenakannya. Suasana begitu panik. Jerit teriak ketakutan bercampur doa mewarnai pagi itu. Kreygerg keluar dari kemahnya. Tahu-tahu sebuah peluru cetbang jatuh tepat di tengah kemahnya. Ketika ia toleh, tempat itu sudah terbakar. Ia mengumpat karena perintahnya ditelan suara tembakan yang datang dari segenap penjuru. Prajurit-prajuritnya seperti bingung berlarian ke segala arah. Beberapa saat saja Lembah Perangan yang luas itu menjadi seperti ngarai pembantaian, kendati akhirnya Kreygerg berhasil menenangkan anak buahnya dan membawa mereka berlindung di balik-balik pohon kelapa dan pohon besar lainnya. Ketika tembakan lawan tidak lagi terdengar, ia memerintahkan membalas tembakan itu.

Namun selang beberapa waktu lagi laskar Wilis juga kembali menembakkan meriam. Pohon tempat Kreygerg berlindung tersambar sebuah peluru kanon. Patah. Kreygerg lari. Namun cabang pohon itu sempat menyerempet kepalanya. Topinya yang berbulu dan berwarna hitam tidak tertolong lagi. Tertindih. Untung bukan kepalanya. Namun dari sebagian kecil kulit kepalanya yang terkelupas itu mengucurkan darah. Pedih. Dan hatinya berdesir.

Tengah hari mendung mulai mewarnai medan tempur. Pelan-pelan Kreygerg menarik diri. Lagi sebuah anak panah menyerempet dahinya. Tuhan! Ya, menyebut. Hujan menolongnya. Bersama beberapa anak buahnya ia mengundurkan diri ke Lo Pangpang.

Kreygerg mundur untuk merawat lukanya. Tapi di perjalanan ia sudah pingsan. Dan nasib - Kreygerg sudahlah bisa ditentukan karena panah yang menyerempet kepalanya adalah panah Wilis yang membawa racun warangan. Nasib De Kornet Tinne hampir tidak berbeda dengan Kreygerg kala Mas Ayu Tunjung dan Mas Sratdadi meneriakkan perintahnya.

Memang ia melawan habis-habisan. Karena sebagai perwira yang baru saja lulus dari Akademi Militer di Prancis, ia sangat malu jika mengangkat tangan pada pribumi yang tidak pernah sekolah.

Namun kemampuan seseorang tidak bisa semata-mata diukur dari tinggirendahnya sekolah. Juga nyawa manusia. Tidak bisa diselamatkan hanya oleh karena De Kornet Tinne lulusan sekolah Akademi Militer yang paling terkenal di seluruh Eropa. Dengan pedang terhunus, Tinne masuk ke medan tempur. Maka tak ayal lagi, laskar yang menyemut itu merubungnya seperti semut merubung sekerat tebu. Ia berteriak memaki. Tapi orang Blambangan tak mengerti bahasanya. Dan saat itulah, tanggal dua puluh Desember seribu tujuh ratus tujuh puluh satu, De Kornet Tinne tewas dengan lambung terburai di tangan orang-orang sudra di bumi Blambangan. Orang sudra yang tidak tahu membaca dan menulis. Tapi merekalah yang berjasa menyingkirkan De Kornet Tinne bagi Blambangan. Untuk kemudian bersatu kembali dengan Kreygerg di dunia yang lain. Dunia kematian.

Letnan Schaar agak berbeda nasibnya. Ia sempat melarikan diri ke dalam hutan. Bersama beberapa ratus anak buahnya.

Belukar dan pohon-pohon makin rapat. Semak yang harus ditembus makin rimbun. Ah, berapa lama lagi ia akan sampai di Benteng Lateng? Mereka semua sudah membuang senjata masing-masing. Berkali mereka menoleh. Kalau-kalau dikejar. Tiba-tiba saja mereka makin panik dan berteriak-teriak memohon ampun. Lebah yang bergantungan di sarang berpencaran memburu serta menyengat mereka. Gila.

Sungguh daerah laknat! kutuk mereka. Bagaimana bisa, sampai lebah pun tak sudi berdamai. Akhirnya keputusasaan menguasai pikiran mereka. Maka berlarilah mereka ke segala arah. Tanpa bisa memperhatikan keadaan jalan yang mereka lalui karena sibuk mengebas-ngebas-kan lebah.

Kini songga dan cula siap menumpas mereka. Jerit menyayat membuat Schaar menghentikan langkahnya. Sempat ia melihat seorang sersan berhenti dengan mata mendelik, tangan memegang perut yang tertembus bambu runcing. Bukan cuma seorang tapi beberapa puluh, di antaranya masih mengerang kesakitan. Dan entah beberapa puluh lagi yang terduduk memegangi paha mereka. Oh, Tuhan... mengapa harus begini? keluhnya. Ia sadar kini, nyawanya di ujung tanduk. Musnah sudah segala kepongahan dan keanggunannya. Sebagai gantinya ketakutan. Kini melangkah pun ia takut. Dan tiba-tiba ia terduduk karena terkejut mendengar sebuah jeritan beberapa orang bersama- sama.

Ditajamkannya pendengaran dan penglihatannya. Jauh di sebelah kanan sana tadi jeritan pendek itu terdengar. Perlahan ia melangkah untuk menengok. Sunyi kini. Lebah pun telah kembali ke sarangnya. Dan apa yang dilihatnya kemudian?

Puluhan lagi anak buahnya punah dalam jebakan harimau yang beralaskan bambu runcing. Ketakutan makin dalam. Melangkah saja takut.

Kini ia lunglai terduduk dan bersandar di bawah pohon.

Kedua kakinya ditekuk. Kepalanya dibenamkan ke lutut. Tangan merangkul kaki. Beberapa saat berdoa. Menangis. Berdoa lagi. Menangis lagi. Ketakutan yang tak teratasi ternyata membuahkan kehinaan yang tidak pernah ternilaikan. Tangis Schaar berhenti sesaat kala mendengar suara tawa yang berkepanjangan. Suara wanita.

'Ternyata kau cuma pandai menghina wanita, Schaar. Kau tak pernah pandai berperang. Percuma VOC membayarmu." Mas Ayu Prabu menampakkan diri. "Kau yang membunuh Ni Kebhi?"

"Ampun... bukan!" Schaar tak lagi kuat berlari.

"Kau akan berhadapan dengan Ni Kebhi. Mari kita pergi dari neraka ini. Mari! Berdirilah!" Mas Ayu Prabu mencabut pedangnya. Mau tak mau Schaar harus berjalan menurut perintah Ayu Prabu. Kini nasib Schaar sudah bisa ditentukan. Ia dihadapkan pada orang-orang yang pernah dipukulnya, diludahinya, diperkosanya, diinjaknya, dan dipermalukannya. Maka karma pun berlaku atas dirinya. Setiap orang diperbolehkan membalas sesuai dengan apa yang dilakukan Schaar atas dirinya. Aniaya dibalas aniaya. Schaar mati pelan- pelan. Semua perwira Belanda menemui nasibnya sendiri. Di bagian lain, Jagapati kehabisan peluru kala tengah hari. Tekadnya yang bulat untuk membuktikan pada setiap orang bahwa ia mencintai Blambangan, mendorongnya maju ke depan. Sayap kiri pasukan Kapten Alap-alap telah beradu senjata, satu lawan satu. Dentingan suara senjata memancing Alap-alap meneriakkan perintah untuk menyerbu maju. Alap- alap sama sekali tak takut pada senjata lawan. Karena di balik bajunya ia mengenakan baju tamsir yang terbuat dari kulit kerbau. Jadi ia merasa dirinya kebal. Jagapati mengawasi jalannya pertempuran dari punggung kudanya. Ia tahu persis Alap-alap tidak terpengaruh oleh tusukan lawan-lawannya. Ia pernah mendengar dari Jagalara bahwa orang itu mengenakan baju tamsir. Ia amati benar-benar. Tampan orang itu sebenarnya. Sayang kulitnya hitam.

”Baik. Aku akan hadapi dia”. Ia meraba tombaknya. ”Aku akan menghabisi riwayat pahlawan Madura itu”. Ia sentuhkan tumitnya ke perut kudanya. Seperti terbang kuda itu menerjang ke tengah pertempuran. Kumis kecil di bawah hidung mancung ternyata menimbulkan kesan tersendiri bagi Jagapati. Keris panjang di tangan Alap-alap juga menjadi titik pandang Jagapati.

"Alap-alap?" sapa Jagapati kala kuda keduanya sudah berdekatan. Mata Alap-alap menyala. Ia sudah memperkirakan bahwa sedang berhadapan dengan Rempek. Ia segera menyerbu tanpa banyak kata. Gebrakan pertama membuat Jagapati sibuk mengelak. Bahkan kala ia menusuk leher Alap- alap, orang itu menunduk sambil menusuk. Gugup. Kulit perut robek terserempet keris panjang itu. Darah mengucur. Alap- alap terbahak. Menusuk lagi. Namun kali ini Jagapati menjatuhkan diri sambil menusukkan tombaknya. Tepat lewat bawah pusar Alap-alap mata tombak itu menyobek lambungnya. Alap-alap terkejut dan berteriak. Semua pengawalnya heran. Orang yang kebal itu terjungkal dengan usus terburai kala Jagapati menarik kembali tombaknya. Jagapati tertawa. Namun sebuah letusan menghantam dadanya. Orang itu bergulingan di tanah. Namun segera bangkit kembali. Darah mengucur dari dada kanan atas yang terluka itu. Seorang pengawal buru-buru menolongnya naik ke atas kuda. Hujan mulai turun mengiringi mundurnya Kompeni ke Lateng. Dengan ketakutan mereka mengangkut mayat Kapten Alap-alap ke Lateng.

Orang kebal pun punah di Blambangan. Malah Jagapati tidak gugur sekalipun kena tembakan.

Pieter Luzac dan Schophoff tidak mampu berkata-kata melihat kenyataan ini. Laporan dari medan perang sungguh memalukan. Setelah keduanya memeriksa seluruh pasukan di barak-barak dan benteng-benteng, ternyata jumlah mereka tidak ada sepertiga dari semula. Para perwira juga banyak yang sakit. Perut mereka kebanyakan menjadi kembung, mual dan muntah, pusing berat dan wajah serta mata mereka memantulkan warna sedikit kuning. Juga para bintara dan prajurit. Satu demi satu harus menyerahkan diri pada maut.

Tabib dan ahli kesehatan yang didatangkan dari Surabaya tidak mampu menolong banyak. Maka ia memutuskan membatalkan rencana serangan selanjutnya. Laporan segera ia kirim pada Gubernur dan Gubernur Jenderal. Sebaliknya pihak Bayu harus kembali menaikkan umbul-umbul hitam.

Jagapati tak tertolong kendati sudah diusahakan untuk mengobatinya selama sehari dan semalam.