Gema Di Ufuk Timur Bab 14 : Mawar Berbisa

Bab 14 : Mawar Berbisa

Angin bertiup-tiup tiada. Tertahan dahan dan dedaunan. Namun tetap saja merambat ke mana-mana. Bukan cuma ke seluruh Blambangan, tapi juga ke Bali, Batavia, Surabaya, bahkan juga ke Makasar, dan Bengkulu. Dan angin itu merambat terus membawa bau mesiu. Berita kekalahan Kompeni yang dipimpin oleh Biesheuvel itu bukan cuma dibawa oleh burung-burung. Tapi juga oleh kaum pedagang dan kelasi-kelasi kapal dagang.

Van de Burg di Surabaya kurang percaya mendengar berita itu. Menurutnya peristiwa memalukan seperti itu hanya bisa terjadi sekali sepanjang sejarah Kompeni, yaitu di zaman Kapten Tack dijebak oleh Sunan Mas dan Untung Surapati di Kartasura dulu. Itu pun karena terjebak. Dikhianati! Nah, sekarang mana mungkin Kompeni bisa diundurkan cuma dalam waktu sehari? Apalagi harus kehilangan lebih dari lima ribu serdadu? Tapi ketidakpercayaan Burg tidak berlangsung lama. Karena utusan Letnan Steenberger dari Jember datang dan melapor keadaan di tempatnya bertugas. Mereka tidak bisa minta bantuan ke Pangpang, karena jalan ke Lo Pang- pang, terutama di daerah Panarukan, Wijenan, Candi Bang, telah jatuh ke tangan Sayu Wiwit dan Mas Ramad Surawidjaya.

Tidak berbeda halnya dengan Van de Burg, semua anggota Dewan Hindia dan Dewan Direktur di Batavia geleng-geleng kepala. Bahkan Gubernur Jenderal Van der Para mengumpat sejadi-jadinya. Ia mengancam akan memecat semua pejabat di Jawa bagian timur itu jika tidak mampu menggulung komplotan Rempek. . Suasana kelabu makin nampak di Jawa bagian timur karena orang-orang tertentu yang mengambil peruntungan dari suasana perang. Rencang Warenghay, seorang yang dilahirkan di Makasar, an telah lama diburu oleh pihak Kompeni karena dituduh sering membajak kapal-kapal dagang yang berhubungan dengan VOC, termasuk salah seorang yang mengambil peruntungan itu. Apaagi dia memang punya hubungan dekat dengan Agung Wilis di Mengwi. Bahkan boleh dikatakan punya kerja sama yang erat.

Rencang bersama anak buahnya menggunakan kesempatan itu untuk merompak Pantai Panarukan. Bahkan kadang berani menenggelamkan kapal perang VOC yang satu- dua berlayar di Selat Madura. Rencang Warenghay dibantu perompak-perompak Bugis dan pelaut-pelaut Bali yang menyamar menjadi bajak laut, mengganggu pelayaran di sepanjang Selat Madura. Ia menjadi lebih aman karena di sebelah selatan mendapat pangkalan di sepanjang Pantai Bali. Sedang di utara ia menyusup di Pantai Madura. Apalagi jika ia menyusup di pulau-pulau kecil seperti Pulau Kenari, ia bukan saja menjadi aman, tapi juga kemungkinan besar mendapat bantuan dari bekas pengikut Jangrana yang bersembunyi di sana. Mereka menguasai meriam-meriam yang ditempatkan oleh Sawunggaling. Semuanya itu membuat Rencang Warenghay bagaikan raja yang menguasai Selat Madura.

Di perairan Semarang pun bajak laut makin mengganas.

Kebanyakan mereka berpangkalan di pulau-pulau karang Karimunjawa. Tidak jarang mereka mengganggu kepentingan para pedagang Cina yang memang banyak menguasai perniagaan di kota itu, tapi juga mengganggu kepentingan bangsa kulit putih. Dua kali mereka menyerbu Pantai Semarang akhir-akhir ini. Tidak seperti biasanya cuma merompak harta benda. Yang dua kali ini bahkan berani menculik noni-noni dan nyonya-nyonya yang sedang pesiar di pantai.

Ternyata berita memang memegang peranan penting dalam jalannya roda kehidupan di muka bumi. Karena itu Dewan Hindia berpendapat: jika VOC ingin sepenuh-penuhnya menguasai Nusantara, maka VOC haruslah menguasai berita dengan sepenuh-penuhnya. Sebab dengan penguasaan atas berita, itu mengandung arti membenamkan bangsa Nusantara ke dalam lumpur ketidaktahuan. Dalam kedunguannya maka bangsa-bangsa Nusantara akan merangkak-rangkak di bawah kaki VOC, sebab pengetahuan adalah kekuatan, dan kekuatan adalah modal. Dan VOC yang lebih bermodal, maka VOC lebih berkuasa. Lebih berkuasa! Bahkan dari tiap raja di Jawa atau di seluruh Nusantara sekalipun. Bukan raja memang, tapi lebih kuasa dari raja.

Wong Agung Wilis di Bali bangga mendengar kabar mengenai peperangan itu. Ia tahu persis itu kerja anak- anaknya. Itu sebabnya ia mengulangi pendaratan laskar Bali di pantai selatan Blambangan yang saat ini dikuasai oleh Mas Ayu Prabu. Ingin rasanya menjadi muda kembali dan langsung memimpin pendaratan atau peperangan seperti dulu. Ingin juga rasanya menghukum para pengkhianat yang menjual bangsa dan negaranya pada kekuatan kulit putih itu. Maka setelah mendengar pemberitaan Tha Khong Ming, ia meminta Gusti Tangkas untuk kembali mendarat di Blambangan dengan membawa tiga ratus laskar Bali yang setia pada Wong Agung Wilis. Sudah berkali-kali laskar itu bertempur bersama Agung Wilis untuk mengamankan pantai utara Bali yang sering menjadi sasaran perompakan bajak laut Bugis.

Sebenarnyalah kabar angin lebih banyak dibawa oleh kaum pedagang. Apalagi pedagang senjata dan mesiu yang memang mengambil peruntungan dari perang itu. Karena itu VOC segera mencegah setiap pedagang yang masuk Batavia membicarakan yang mereka dengar dari pedagang-pedagang lain tentang peristiwa di semenanjung timur pulau Jawa itu.

Juga di seluruh wilayah kekuasaan Kompeni. Mereka khawatir, gerakan orang Blambangan itu diikuti atau ditunjang oleh raja- raja yang saat ini tidak menyukai kehadiran VOC di Hindia.

Angin memang boleh terus bertiup, tapi VOC harus menguasai berita.

Malam itu cukup membuat Biesheuvel tidak bisa tidur.

Takut menerima amarah sang gubernur jenderal. Tapi bagaimanapun juga ia akan berkilah, bahwa Blambangan memang tak bisa dipandang enteng. Keberanian mereka tidak kalah dengan laskar Untung Surapati yang terkenal itu. Dalam waktu singkat mereka membunuh begitu banyak pasukan Kompeni. Membuat pasukan takut dan putus asa. Bahkan di Blambangan ini pula pernah terjadi pembelotan para bintara Kompeni kulit putih. Tujuh puluh empat orang. Ah, bukankah itu belum pernah terjadi dalam sejarah perang Jawa? Jika bantuan dari Surabaya tidak cepat datang hampir boleh dipastikan ia bersama pasukannya akan hancur.

Betapa tidak? Sesudah perang ini, bukan saja petani yang tidak mempersembahkan hasil bumi dan ternaknya. Tapi juga para pedagang enggan melayani mereka. Warung tidak dibuka untuk pasukan Kompeni. Jika memesan makanan selalu dijawab habis. Juga kedai bahan mentah. Semua tidak menjual barang dagangannya pada Kompeni. Gila mereka itu!

Tha Khong Ming gelisah juga malam itu. Ia menunggu berita dari Ayu Prabu, apakah penda^ ratan Gusti Tangkas yang kedua ini gagal atau berhasil. Kegagalan mereka akan membahayakan kedudukannya di Blambangan. Mungkin saja ia bisa diseret dan tangan serta kakinya dibelenggu, bahkan lehernya dikalungi rantai, kemudian digiring ke Surabaya.

Betapa gilanya aku, mau melakukan pekerjaan semacam ini. Apa sebab? Demi apa? Apakah demi uang? Atau demi dendamnya pada VOC yang membunuh moyangnya di Batavia? Tentu bukan cuma karena uang. Tapi karena hati sudah mulai tertambat pada dara ayu yang tiada duanya itu. Memang cinta membuat orang sanggup melakukan kegilaan. Cinta pada apa saja. Itu sebabnya ia menanti sejak siang tadi kehadiran sang pujaan hati. Ah, apakah Mas Ayu Prabu mengerti?

Tapi siang itu Mas Ayu Prabu tidak datang. Cuma beberapa burung gelatik yang singgah di jendela rumahnya lalu lenyap lagi. Ingin ia menangkap burung yang berwarna kelabu dengan kalung hitam di lehernya, dan hiasan bayang-bayang mata putih, berbentuk segitiga dan memanjang sampai ke hampir belakang kepala. Ditambah lagi dengan mata hitam bundar seperti mata Mas Ayu Prabu. Juga paruhnya yang berwarna merah muda, seperti bibir Mas Ayu Prabu. Namun kala ia bergerak hendak menangkap, burung itu serta-merta terbang dengan lincahnya. Kaki burung itu juga nampak merah muda seperti paruhnya. Sungguh melengkapi keindahan yang tanpa cela. Sayang banyak orang-orang jail yang dengan sumpitnya membunuh dan memusnahkan makhluk-makhluk indah itu.

Tapi Tha Khong Ming tetap menyabarkan hatinya. Ia tetap menyediakan hadiah dan makanan khusus buat Mas Ayu Prabu. Untuk wanita semacam Mas Ayu Prabu tentu ia sanggup melakukan segala perkara. Itu sebabnya sejak siang matanya hampir tak pernah lepas dari gerbang. Tiap kali para pengawalnya membuka gerbang, hatinya berdebar-debar.

Tapi tiap kali pula ia menjadi kecewa karena yang masuk bukanlah Ayu Prabu. Kadang tukang rumput. Penarik pajak, atau pembawa belanjaan.

Beberapa waktu setelah senja barulah harapannya terpenuhi. Bintang-gemintang mulai menghias malam. Mas Ayu Prabu naik ke titian rumahnya. Dengan hati riang ia menyambut. Gadis itu datang dengan tanpa pengawal dan tanpa kuda. Tapi kakinya tidak berdebu. Tentu dia tidak menempuh perjalanan jauh. Barangkali kudanya ia titipkan di luar pagar rumahnya. Demikian pula para pengawalnya, pastilah siap di luar tembok rumahnya.

"Selamat malam, Tuan." Gadis itu lebih dulu berkata-kata.

Tergopoh Tha Khong Ming menjemputnya. Ah, tentu gadis ini sangat lelah. Mengatur pendaratan dan menempatkan mereka pada persembunyian yang telah beberapa lama dipersiapkan. Bagaimanapun juga. ia mengagumi gadis ini.

Bukan cuma kecantikannya, tapi juga kecerdasannya. "Selamatkah mereka semua?" cepat Tha Khong Ming menanya,

"Kita tidak sedang kerja bersama kerbau dungu Suratruna." Ayu Prabu tersenyum sambil menuju tempat yang ditunjukkan oleh Khong Ming. Di beranda belakang, menghadap petamanan. Beberapa buah lampu minyak buatan Cina menerangi tempat itu. Angin bebas menjamah mereka. Hanya ada satu bangku panjang model Eropa di beranda itu. Meja penuh hidangan. Makanan dan minuman. Tersungging senyuman di bibir Ayu Prabu. Tha Khong Ming menempatkan diri di sebelah kanan Mas Ayu.

"Terima kasih, Tuan. Bantuanmu begitu besar buat Blambangan. Dan lebih besar lagi buat diriku."

"Ah, belum seberapa " Mata Tha Khong Ming berbinar. Ia

melirik ke susu telanjang Ayu Prabu. Kulitnya mulus. Ia menelan ludah. Melirik lebih ke bawah. Pusar gadis itu juga telanjang. Hatinya berdesir. Kalung mutiara menghias leher jenjangnya. Gelang, pending, dan binggal emas sepertinya tak memberati langkahnya, walau melekat erat. Lebih mendebarkan, gadis ini sepertinya tak pernah berpisah dari keris kecil yang lebih tepat disebut cundrik, yang menempel di bawah pusarnya. Serta senjata laras panjang yang terbungkus kain batik yang diletakkan di sebelah kirinya.

"Malah hamba lebih banyak harus berterima kasih karena hasil bumi orang-orang Blambangan yang mengalir ke tempat hamba. Hamba akan terus berusaha mencarikan senjata dan mesiu baru," lanjut Tha Kong Ming sambil menyodorkan minuman. Anggur.

Tapi dengan senyum Mas Ayu menolaknya. "Kelapa muda "

"Bagaimana malam begini Yang Mulia mencari kelapa muda?" Tha Khong Ming mengerutkan kening.

"Jika tak ada persiapan tak apa. Tak perlu mengada-ada." "Di negeri hamba seorang putri seperti Yang Mulia minumnya pasti susu kambing. Tapi Yang Mulia lebih senang kelapa muda. Apa tidak ingin mencoba susu kambing? Di daerah Mataram sebelah barat, terutama daerah sekitar Gunung Slamet, orang juga minum susu kambing."

Mas Ayu tersenyum. Ingin juga ia minum susu kambing seperti kata Tha Khong Ming. Tapi sebagai kepala dinas rahasia, ia harus bersikap hati-hati. Itu sebab ia banyak menolak makan atau minum di tempat ini. Ia tidak ingin pengalaman Repi terulang terhadap dirinya. Ia mengambil kesimpulan, seorang lelaki yang memberikan perhatian terlalu banyak pada seorang wanita pastilah ada niat yang tersembunyi. Dan memang benar dugaan Ayu Prabu. Tha Khong Ming menyatakan cintanya satu bulan lalu. Tapi ia tidak mampu menjawab. Ia telah dipinang oleh junjungan Bayu, yang juga jatuh cinta padanya.

"Blambangan bukan seputar Gunung Slamet." Ayu Prabu memamerkan senyumannya. Senyuman yang meruntuhkan iman semua lelaki.

"Oh, betul, Yang Mulia... tapi apa jeleknya mencoba.

Mungkin berkhasiat."

"Ya   Mungkin saja. Kelapa muda pun berkhasiat." Lagi ia

tersenyum. Kini Khong Ming menawarkan makanan sambil menyatakan kegembiraannya atas keberhasilan pendaratan Gusti Tangkas yang tentunya atas kecerdikan Ayu Prabu.

Gadis itu cuma mengambil pisang susu. Ia tetap mencurigai setiap makanan. Dua ribu sembilan ratus tujuh puluhan pasukan Kompeni di bawah pimpinan Blanke mati kena racun orang Blambangan. Dan setiap kali melihat hidangan di atas meja, Ayu Prabu ingat Ni Repi. Keperawanan Repi musnah setelah ia diberi minuman dan makanan.

"Yang Mulia, apakah makanan kami tidak berkenan sehingga tak satu pun yang dijamah?" Tha Khong Ming agak kecewa. "Aku datang untuk menyatakan terima kasih, bukan untuk makan dan minum. Maafkan aku, Tuan. Aku sedang sibuk dengan perang."

"Perang memang menyibuki semua orang Blambangan. Tapi apakah Yang Mulia tidak berpikir untuk menghias hati dengan sebuah kisah yang indah?"

"Tiap orang menerjemahkan keindahan secara tidak sama dalam hidupnya. Ada yang mengatakan cinta sesama suami- istri atau muda-mudi adalah sesuatu yang indah. Tapi bukankah mengisi hidup adalah suatu keindahan yang tiada terkira-kira? Samsara Maha Cina juga yang mengatakan bahwa panggilan hidup adalah keindahan. Dan berbakti pada tanah kelahiran adalah salah satu panggilan hidup itu sendiri."

Tha Khong Ming menyebut dalam kejutnya. "Yang Mulia banyak membaca?"

"Dengan tanpa membaca orang akan tetap tinggal dalam kedunguan." Ayu Prabu bangkit berdiri. Ia hendak berpamit. Tapi pemuda di sampingnya itu segera menangkap tangannya. Dengan terkejut Ayu menatap mata sipit di hadapannya.

"Yang Mulia belum menjawab pinangan hamba. Yang Mulia meremehkan hamba?" Suara Tha Khong Ming sedikit bergetar. Tak dapat lagi menahan gejolak jiwanya. Sementara itu tangannya yang lain menggapai pundak Ayu Prabu. Bau arak tersembur dari napasnya yang memburu.

"Apakah aku perlu mengulang? Aku sedang sibuk dengan perang. Dan jawaban baru akan aku berikan seusai perang."

"Semua kekayaan hamba untuk Yang Mulia Jawab

sekarang."

"Lepaskan! Jangan main-main!" Ayu Prabu meronta.

Namun tangan pemuda itu makin perkasa. Kulit pergelangan tangan kirinya terasa pedih. Semakin berontak semakin pedih. Pemuda ini tentu terlatih silat, pikir Ayu Prabu. "Kurang sabarkah hamba menunggu? Lebih dua bulan "

"Tutup mulutmu!" Ayu Prabu mulai membentak. Sementara bintang-gemintang semakin banyak. Para penjaga rumah mulai mengantuk. Memang Tha Khong Ming memberikan air pala buat mereka.

Itu yang menyebabkan Tha Khong Ming berani dengan tenang melakukan tingkahnya. Tapi Ayu Prabu sudah sampai pada puncak kemarahannya. Kendati masih mencoba menyabarkan diri, mengingat jasa pemuda itu. Dan berulang kali peringatan keluar dari bibirnya yang mungil.

"Aku ingin membawa Yang Mulia ke surga dewa-dewa. Tidak hidup dalam kancah perang yang tiada habisnya. Hak Yang Mulia, sebagai wanita cantik untuk menikmati anugerah itu," kata Tha Khong Ming sambil mendesakkan tubuhnya, sehingga memaksa Ayu melangkah mundur. Pelan tapi pasti ia digiring ke dalam sebuah kamar. Kamar yang penuh perabot dan bau-bau harum. Dan Khong Ming mulai tersenyum.

Hatinya berbunga. Kamar ini penuh ramuan obat yang membangkitkan nafsu. Ramuan asli Tiongkok milik pendekar- pendekar cabul. Begitu menghirup bau dupa maka Ayu akan lupa daratan.

Ayu Prabu berdesir melihat keadaan dirinya yang kian terdesak. Kesabarannya habis. Secepat kilat ia mencabut keris kecil yang terselip di bawah pusarnya. Dengan tiada terduga keris itu berada di tangan kanannya dan seperti kilat menggores punggung Tha Khong Ming dari atas ke bawah.

Baju sutera kuningnya robek. Khong Ming melompat mundur sambil menjerit. Ayu Prabu terkejut. Ia melompat maju.

Kerisnya berlumuran darah. "Bukan begitu caranya mengais hati wanita Blambangan!" ujar Ayu penuh kekecewaan. Keris kecil masih digenggam sambil terus memandang Tha Khong Ming yang kesakitan. Tiba-tiba hati Ayu bergetar. Ia ingat kerisnya bermandi warangan. Dan tak ada satu makhluk pun akan hidup setelah tubuhnya mengidap warangan itu. Mati pelan-pelan jika lukanya tidak lebar.

"Tuan..." Pelan-pelan Ayu Prabu maju.

"Ah, Yang Mulia, ampuni hamba... hamba benar-benar mencintai..."

"Berhentilah bicara soal cinta itu!" Ayu Prabu menjadi iba. Air matanya meleleh dengan tanpa sadar. "Nyawamu dalam bahaya."

Muka Tha Khong Ming berubah. Kaget. Hatinya gundah seperti bergoyangnya api pelita yang tertiup angin. Ia cepat menuju ke tempat penyimpanan minuman. Dan minum arak yang berwarna merah beberapa gelas. Kepalanya pusing. Tapi sempat tersenyum memandang Ayu Prabu.

"Hamba akan tetap hidup. Seperti cinta hamba yang abadi."

Ayu Prabu tertunduk. Ia pandangi kerisnya. Sebentar ia hapus air matanya. Tampak Tha Khong Ming makin lemah. Menuju tempat penyimpanan senjata. Ayu terkesiap. Tha Khong Ming akan membunuhnya. Popor senjata berlaras panjang itu tampak terbuat dari emas. Kembali pelan-pelan Khong Ming mendekati Ayu Prabu. Tidak. Larasnya tidak tertuju ke dada Ayu Prabu * yang telanjang itu.

"Senjata kesayangan hamba. Bikinan Portugal. Hamba persembahkan untuk Yang Mulia. Terimalah, sebelum hamba mati penasaran." Tha Khong Ming berkaca-kaca kini.

Hati Mas Ayu Prabu seperti diremas-remas. Ia sarungkan kerisnya yang masih berlumur darah. Pelan. Tanpa kata ia terima bedil bertangkai emas itu. Tapi kini tangannya bergetar. Sinar mata sipit di bawah alis berbentuk golok itu kian memudar.

"Jangan takut, Yang Mulia. Jangan curiga " Ayu Prabu tahu persis. Tha Khong Ming sudah tidak berdaya apa-apa. Tubuhnya tentu kian melemas. Racun kian merambat ke seluruh tubuh. Kendati sudah berusaha dicegah oleh arak. Ah, ia tidak membunuhku. Ia benar mencintaiku.

Tapi ia tak tahu bagaimana mengutarakannya. Tulus hati pemuda ini... Ayu bergulat. Ingin ia menjatuhkan diri dalam pelukan perkasa pemuda Cina ini, namun bayang-bayang Wilis tiba-tiba saja muncul di angan-angan.

"Aku akan persembahkan kemenangan dan segala kehormatan ini bagimu...," ujar pemuda itu sambil menciumnya beberapa waktu yang lalu ketika akan berpisah. Yah, hati Ayu Prabu terombang-ambing. Andaikata sekarang ia menunjukkan sedikit kasih pada pemuda yang sekarat ini kan tidak apa-apa? tanyanya dalam hati. Memang tidak apa-apa, sudut hatinya menjawab. Ingat, dewa-dewa akan tetap menyaksikanmu. Bagaimana kau akan menjadi permaisuri Blambangan jika kau tidak kudus? tergagap sendiri.

Apa pun aku harus tetap keras, putusnya. Maka dengan pelan ia menerima persembahan itu. Ya, kemudian ia bimbing lelaki muda itu ke kamarnya. Sampai di pintu ia berkata,

"Obatilah luka Tuan. Jika tidak, tujuh hari lagi Tuan tak akan mampu melihat sinar mentari pagi. Selamat malam, Tuan."

"Yang Mulia..." Khong Ming ternganga.

"Tugas menanti. Terima kasih atas semua kabaikanmu."

Ayu Prabu membalikkan tubuh. Tanpa bisa dicegah oleh rintih mengiba Tha Khong Ming. Sementara penjaga gerbang semua tertidur...

***

Perjalanan pulang ke desa Sempu bukanlah hal yang mudah. Para pengawal sudah ia perintahkan untuk meninggalkannya. Ayu Prabu ternyata masih ingin memanjakan hati menelaah pengalaman barunya. Betapa kejamnya aku meninggalkan seorang yang berkajang dalam maut. Padahal ia sangat mencintaiku. Apa saja yang kuminta pasti dipenuhinya. Ah... Ayu Prabu berhenti lagi di sebuah tempat tersembunyi. Ia timang bedil bertangkai emas, pemberian Khong Ming. Tapi... busuk, kau! sendiri ia menyumpah. Berani me-nyiasatiku! Hampir aku mengalami seperti Repi. Dan alangkah ngerinya jika aku terpaksa kawin sebelum perang usai. Tentu Wilis akan marah. Pertama akan mengirim orang-orangnya untuk menghancurkan mahligai Tha Khong Ming. Ah, mengapa takut? Khong Ming akan mengajakku kabur dari Blambangan. Akibat kedua ini yang sangat tidak ia inginkan. Wilis akan kehilangan keseimbangannya sebagai pimpinan tertinggi di Blambangan. Itu mengandung arti kehancuran seluruh Blambangan. Berarti ia mengorbankan kepentingan yang lebih luas demi diri sendiri.

Sadar akan hal itu ia merasa tidak berdosa membunuh Khong Ming. Biar sebesar apa pun jasanya. Karena jasa itu berpamrih busuk. Menariknya ke pelaminan sebelum pernikahan resmi. Ayu Prabu bangkit dan berkuda kembali. Tapi seluruh permata yang menempel di tubuhnya menuntut agar dia kembali dan menyerah ke pelukan Khong Ming di pembaringan beralas sutera Cina. Drubiksa! ia mengumpat di sela derap kaki kudanya. Sebuah hati tidak cukup dibeli dengan permata dan uang! Tidak! Aku tidak pernah menjual diriku! Jika ukurannya permata, Sayu Wiwit pun menerima hadiah serupa. Menyakitkan juga rasanya menerima budi yang ditanam oleh orang lain. Tumbuhnya cinta adalah sebuah tuntutan nurani untuk membalasnya. Karena kodrat hidup adalah timbal-balik. Itu sebabnya ada hukum karma.

Tapi apa salahnya ia kembali? Toh saat ini Tha Khong Ming tidak akan mampu lagi menjamahnya. Ia sedang berjuang di antara hidup dan mati. Ah, belum tentu. Dia tadi minum arak. Siapa tahu arak itu memiliki khasiat penolak bisa? Nah, jika demikian halnya ia akan jatuh dalam lumpur perzinahan. Perzinahan? Atau persundalan? Ahai, Mas Ayu Prabu, sebenarnyalah hatimu sudah jatuh dalam perzinahan.

Perzinahan bukan sebatas dalam persetubuhan semata, tapi bisa juga dilakukan oleh hati, maupun cuma mata saja....

Drubiksa! Tidak Ayu menutup telinganya. Ia tidak ingin

mendengar tuduhan yang timbul dari hatinya sendiri itu. Ia lecut kudanya. Berlari, dan berlari! Tidak! Hatiku telah

kuserahkan pada Wilis!

Beberapa bentar kudanya berhenti. Meringkik dan kedua kaki depannya terangkat naik. Membuat Mas Ayu hampir jatuh. Naluri keprajuritannya membuat ia menarik senapan yang terselip di bawah sanggurdi. Setelah mengisi dengan peluru Ayu melompat turun. Dengan hati-hati ia menarik kudanya ke pinggir jalan untuk bersembunyi. Beberapa bentar tanpa suara dan kata. Nyamuk hutan mulai merubung. Ingin menikmati darahnya. Tidak ada yang lewat. Tapi ia tahu kudanya tidak pernah menipu. Cuma manusia yang pandai menipu. Lima belas bentar, dua puluh bentar Ayu Prabu

tetap mengamati. Tiba-tiba telinganya menangkap isak tangis wanita. Sayup. Merintih. Wanita? Atau suara ? Tidak! Aku

tidak pernah bersua makhluk halus atau drubiksa!

Ayu Prabu mulai mengendap-endap. Mendekati asal suara.

Pelan dan waspada. Pelatuk siap ditarik. Kegelapan menyulitkan penelitiannya. Tapi latihan telah menolong matanya. Bahkan kunang-kunang juga merupakan lampu bergerak pemberian Hyang Maha Dewa, bukan sekadar penghias malam. Suara itu makin jelas. Makin dekat. Mas Ayu tidak ragu, pasti suara wanita. Dan Jagat Dewa! Ayu Prabu

menyebut dalam hati. Bau darah merangsang hidungnya. Tentu wanita ini luka parah. Suaranya tentu masih muda.

Wanita muda itu terduduk bersandar pohon besar. "Siapa?" bisik Ayu Prabu.

Wanita itu tampak kaget mendengar sebuah suara. ' "Jangan takut! Aku melindungimu. Tunggu!" Ayu Prabu segera berlari seperti kijang mengambil kudanya. Setia dan cekatan kuda itu. Tangkas. Seekor kuda jantan berwarna hitam berbelang putih di tengah kepalanya. Cuma beberapa bentar sudah siap di tempat perempuan muda itu.

"Mari! Cepat sebelum Belanda datang!"

Sebagai jawabnya cuma rintihan tertahan. Ayu mengerti. Wanita itu tidak mempunyai kekuatan untuk berjalan sendiri. Cepat ia melompat turun lagi dan dengan susah-payah ia membimbing wanita itu. Mengandung? desisnya. Kemudian ia menepuk punggung kudanya. Memberi isyarat agar kuda itu berlutut. Ah, kuda itu begitu terlatih dan sabar. Rupanya tuannya sedang menolong seorang perempuan. Sungguh seperti sejiwa saja. Lupa sudah pada Tha Khong Ming. Dan cepat melesat pulang ke Sempu. Cukup jauh tempatnya.

Melewati belantara gelap. Tangannya yang halus mengandung kekuatan perkasa. Sambil menahan tubuh wanita di depannya agar tidak jatuh, ia mengendalikan kudanya.

Kala sinar mentari mulai menguak kegelapan, menghalau kabut dan keremangan, ia mulai memasuki desa kecil Sempu. Di belakang rumahnya ia mengalami kembali kesulitan yang hampir sama dengan pada saat ia menaikkan perempuan mengandung itu. Untung kudanya sangat mengerti akan kesusahan penunggangnya. Kembali ia dengan sabar berlutut. Memudahkan pekerjaan Mas Ayu yang sudah sangat letih.

Perempuan itu belum diam dari merintih. Sampai di dalam segera ia dibaringkan. Jendela segera dibuka. Keremangan telah terusir. Mas Ayu menyembunyikan kudanya terlebih dahulu. Sudah sangat letih ia. Pegal-pegal. Untung ada Repi yang sering memi-ptnya. Tapi wanita itu tentu sedang ke sungai. Maka Mas Ayu mampir di pancuran di mana Ni Repi biasa mandi.

Terkejut wanita itu melihat kehadiran Ayu Prabu dari semak. Tahu-tahu sudah menceburkan diri dan merangkulnya. Ia ingat kala bersua Bozgen.

"Ah, Yang Mulia..."

Tak urung dengan penuh kasih ia membantu Mas Ayu Prabu, membersihkan daki di punggung gadis itu dengan batu.

"Ada tamu. Kita harus segera membantunya. Tamu itu dalam kesulitan."

"Siapa, Yang Mulia? Tuan Ming?"

Memerah muka Ayu Prabu. Atau pikiran Repi memang selalu tertuju pada lelaki. Jika demikian halnya memang ia pantas disebut perempuan gatal. Tapi bukankah semua perempuan membutuhkan lelaki? Kenapa ia mengingkari? Ah, benarkah aku membutuhkan Ming? Segera ia bunuh kenangannya. Sebentar lagi pemuda kurang ajar itu akan mati! Mati pelan-pelan oleh bisa warangan. Obat hanya bisa menghambat saja. Tak mungkin mampu menangkalnya.

"Hush! Kau ini..."

"Semalam sudah berpuas-puas maka sekarang amat letih?" "Ah..."

"Mandi keramas untuk mengusir keletihan itu. Tentu, mana ada lelaki membiarkan tubuh yang seperti ini berlalu damai?"

"Macam-macam." Tapi tak urung Mas Ayu mesem.

"Setelah mandi dan segar akan disambung lagi di sini?" "Kau sudah gila barangkali!" Mas Ayu Prabu tak tahan. Ia

segera menceritakan apa yang ia alami semalam.

"Dewa Bathara! Yang Mulia membunuhnya?" "Karena aku bukan kuda betina yang binal. Kau tahu

binatang itu selalu mogok jika mencium bau pejantan. Maka aku tak suka kuda betina." "Lalu siapa yang di rumah dan jadi tamu kita sekarang?" "Menurut pengakuannya, ia adalah korban keganasan

lelaki." Mas Ayu Prabu menyudahi mandinya. Sambil berjalan

ia menuturkan pertemuannya dengan wanita yang mengaku bernama Ni Kebhi. Anak kepala desa Meniran dekat Gunung Sungkep. Dibawa dengan paksa ke Lateng untuk bekerja di benteng. Letnan yang sudah lama tidak bersua keluarga itu memperko-sanya. Letnan Schaar, komandan benteng itu.

Tidak cuma sekali dua. Akhirnya ia mengandung. Kandungan yang pertama berhasil digugurkan atas perintah Schaar. Tapi yang kedua, mungkin sudah terlambat, sehingga dukun tak sampai hati menggugurkan. Pengguguran gagal. Sang dukun dibunuh oleh Schaar. Juga perempuan muda itu berusaha dibunuh di tengah hutan. Tapi Hyang Maha Dewa masih melindungi nyawanya. Kala ia ditusuk, ia menghindar dan terkena lengan serta bahunya. Bersamaan dengan itu ada harimau lewat. Algojo yang diperintah Schaar takut dan lari. Mereka cuma berani membunuh orang yang tak berdaya.

Maka selamatlah nyawa Khebi.

Sesampai di rumah keduanya terkejut. Tangis bayi menguak pagi. Tergopoh Repi membantu persalinan itu. Mas Ayu tidak sempat lagi istirahat. Membantu membersihkan bayi dari lendir dan air kawah. Kendati ia tidak pernah melakukannya. Ia lihat bayi itu lahir sehat. Tapi kulitnya merah. Aduh! Kulit anak ini bule, pikir Ayu Prabu.

Sedang Repi memandikan Kebhi. Jijik sebenarnya ia melihat darah yang begitu banyak. Tapi rasa iba menghapus segala kejijikan. Tak urung mereka berdua menjadi dukun bayi.

Dukun yang tidak berpengalaman. Keduanya menjadi geli. Wanita yang merasakan kesakitan kala melahirkan. Bersusah kala mengandung. Ah, celakanya jika sudah merasakan elusan lelaki, wanita akan selalu birahi pada lakinya. Tapi Kebhi kali ini benar-benar merasa sakit. Sakit saat selaput keperawanannya robek oleh ulah Schaar, sakit karena terluka oleh pedang anak buah Schaar, terakhir sakit oleh karena terobeknya yoni (kemaluan (rahim) atau juga berarti lambang kesuburan bagi perempuan Ciwa) oleh anak Schaar yang ingin keluar dan menghirup keindahan dunia. Anak laki-laki lagi!

Kebhi merasa kini, lelaki hanya pandai menyakiti. Jika ia kuat dan tidak ada kedua wanita muda yang menolongnya itu, tentu anak lelaki berkulit bule itu akan dicekiknya. Kendati lahir dari rahimnya sendiri. Toh kelak akan menyakiti wanita juga.

"Biarkan dia hidup!" Ayu Prabu berkata setelah semua usai. "Biar semua manusia dan dunia tahu bahwa Belanda lebih kejam dari semua binatang. Harimau tidak pernah membunuh anaknya. Tapi Schaar bukan saja hendak melenyapkan Kebhi, wanita yang dihamilinya. Tapi juga janin yang adalah benihnya."

Semua terdiam mendengar suara ketus Ayu Prabu. Penuh nyala api.

"Harini adalah hari Respati Cemengan (kamis Wage). Hari baik untuk kelahiran seorang lelaki. Bersama merekahnya mentari. Biar anak ini kelak merekah seperti kembang mawar bagi tanah yang melahirkannya. Kita beri nama Sekar!" Ayu terkikik-kikik.

***

Baik Biesheuvel maupun Van de Burg di Surabaya, menilai, Blambangan negeri elok, penuh daya pikat tapi berbisa. Lebih tepat mereka menamai negeri ini sebagai mawar berbisa.

Betapa tidak? Bagi perdagangan candu negeri ini bisa mendatangkan banyak keuntungan bagi VOC. Belum lagi kesuburan tanahnya yang jauh lebih dibanding dengan Mataram. Mata-mata VOC pada zaman pemerintahan Wong Agung Wilis menggambarkannya sebagai putri cantik yang ramah. Mudah tersenyum pada siapa pun. Terbukti dengan banyaknya kapal yang berlabuh di dermaganya. Apakah itu kapal pedagang Portugis, Arab, Cina, Inggris, maupun Bugis. Kendati mereka selalu menindak tegas setiap kerusuhan yang terjadi. Walau barang sepele. Namun jika dirasa memunggungi pemerintahan Agung Wilis, maka cuma nama saja yang dapat pulang ke negeri mereka. Sebagai contoh pernah terjadi serombongan besar kapal-kapal Bugis membangkang membayar bea-cukai dan menolak meninggalkan pelabuhan karena ingin membeli barang-barang yang mereka butuhkan untuk dijual ke luar negeri, Wong Agung Wilis dengan tegas memerintahkan laskar laut Blambangan untuk membantai semua yang ada di kapal-kapal Bugis itu.

Sekarang mereka tak punya lagi laskar laut. Tapi sisa-sisa laskar laut yang tidak tertangkap Belanda pergi membawa kapal perang mereka dan menjadi bajak laut liar. Tidak jarang mereka bahu-membahu dengan Rencang Warenghay si Raja Selat Madura. Dan ini memang sangat menakutkan VOC. Ada terdengar berita, bahwa mereka telah melindungi pendaratan laskar Bali yang mendarat atas prakarsa Mas Ayu Prabu.

Kekuatan mereka tidak kurang dari sepuluh jung perang bekas milik kerajaan Blambangan. Di bawah pimpinan seorang pelaut muda anak Haryo Dento, yang bernama Harya Lindu Segara.

Tidak mudah mengumpulkan kembali sisa-sisa laskar laut yang telah menjadi liar. Karena ia tidak berpangkat laksamana seperti ayahnya. Maka ia harus memaksa mereka dengan beradu kekuatan dan keberanian supaya tunduk pada kepemimpinannya. Ternyata kepemimpinan di atas lautan bukan berdasar suka atau tidak suka, bukan pula atas kebebasan memilih, tapi ditentukan oleh siapa yang kuat dan menang. Atau siapa yang lebih pintar mensiasati. Tak ubahnya pada kepemimpinan ikan-ikan buas dan besar, yang selalu ditentukan lewat pertarungan. Inilah kehidupan bajak laut.

Lindu Segara telah membuktikan dirinya sebagai pemenang dalam tiap pertarungan yang panjang. Itu sebabnya ia tidak sempat membantu Wong Agung Wilis melawan Belanda. Sekaranglah waktunya. Dan itu sebabnya di selatan Jember kemarin ia menenggelamkan dua kapal dagang Belanda, dengan terlebih dahulu mengikat semua palautnya di atas geladak. Dan dia pula yang membantu Mas Ramad Surawidjaya menghancurkan pangkalan VOC di Nusa Barong. Nusa Barong yang kaya pohon mlinjo dan telor penyu itu kini telah menjadi daerah kekuasaan Mas Ramad. Dan tentu saja merupakan tempat berlabuh dan mangkal bagi Harya Lindu Segara. Di mata Mas Ramad, bagaimanapun juga, Lindu Segara adalah seorang pembajak. Kebiasaan meraihkan diri di atas laut akan membuatnya sukar patuh pada pimpinan. Apalagi sekarang dia atau Blambangan tidak punya apa-apa untuk menggaji laskar laut. Jika dalam keadaan tidak punya tapi memaksakan memberi pada orang lain, maka jelas itu merupakan kejahatan bagi diri sendiri. Ia akan mengada- adakan. Mungkin saja dengan jalan merampok, atau menipu, atau yang lebih halus dari semua itu, mencoba mengetuk pintu hati orang lain untuk ikut menyumbang ketidakadaan- nya. Jadi sekarang ia harus membiarkan Lindu Segara menjadi perompak. Ketidakberdayaan membuatnya membiarkan orang lain semau-mau berkiprah di kubangan dosa. Dan lebih dari itu, menerima persembahan dari hasil perompakan. Lalu apa bedanya aku dengan Raja Belanda? Tidak! Nanti jika kerajaan Blambangan berdiri kembali, mereka harus pilih. Meneruskan cara hidup sebagai raja laut atau tunduk pada pemerintahan Blambangan.

Sedang di Selat Madura yang lebih ramai lalu-lintasnya, Harya Lindu Segara menempatkan adiknya. Detya Jala Rante. Lebih muda dan berani. Kendati begitu harus berbagi kekuasaan dengan Rencang Warenghay, bajak yang berasal dari Bugis itu. Bahkan tidak jarang mereka bergerak bersama.

Seperti yang mereka lakukan pada saat pencegatan gugusan kapal perang Kompeni yang membawa pasukan di bawah pimpinan Letnan Imhoff dan Montro. Keduanya membawa tidak kurang dari tiga ribu lima ratus pasukan gabungan Madura, Pasuruan, Probolinggo dan Surabaya serta pasukan kulit putih sendiri. Pasukan Madura dipimpin oleh seorang kapten yang berkulit agak hitam, berhidung mancung. Di pinggangnya tergantung keris panjang bertangkai emas, sekalipun di tangannya selalu tergenggam senapan berlaras panjang dari Belanda. Di bawah hidungnya melintang sebuah kumis kecil. Bulu matanya lentik, alisnya tebal. Rupanya senang bersolek, karena di bawah bulu matanya diberi

bayang-bayang hitam. Mungkin ia memaksudkan supaya berkesan bahwa ia masih keturunan Arab. Bertopi laken hitam, yang dihiasi permata dan bulu burung merak. Memang tidak seperti layaknya orang Madura. Itu yang membuat dia sangat dikenal. Kapten Alap-alap. Semua orang Madura takut padanya. Ia terkenal pernah menggantung orang yang dituduh mata-mata Bali di muka umum. Dia tangan kanan Panembahan Rasamala di samping juga orang kepercayaan VOC.

Dan kali ini Alap-alap tidak habis mengerti, kenapa mereka harus melewati jalan laut? Kenapa takut dengan wanita? Ia dengar memang peristiwa hilangnya Steenberger. Ia juga tahu jatuhnya kota Panarukan, Wijenan, Candi Bang, Sentong, dan sekitar Bandawasa, ke tangan Sayu Wiwit, seorang brahmani dari sekitar Lateng yang telah membentuk diri menjadi satria. Laporan menceritakan bahwa ia berwajah manis, berambut ikal, dengan bulu mata lentik. Semampai dan ada tahi lalat dekat bibir sebelah atas. Sepertinya tidak masuk akal wanita seperti itu mampu merontokkan pertahanan Belanda.

Tapi pertanyaan Alap-alap segera terjawab kala mereka menyusuri Pantai Panarukan. Tidak urung lima kapal perang di gugus depan harus tenggelam karena dihujani meriam pantai. Belum-belum Kompeni sudah kehilangan sekitar tiga ratus lima puluh enam serdadunya. Letnan Imhoff tercenung. Karena itu ia meminta komandan kapal yang ditumpanginya memberi tahu di mana mereka akan didaratkan. Sekiranya masih jauh, ia menyarankan agar gugusan kapal-kapal Kompeni berlayar agak ke tengah. Di samping menghindari meriam tentu saja ada musuh lain yang tidak pernah dapat di lawan. Karang. Baik terhadap ombak atau terhadap apa pun, karang tak pernah gentar. Dan tak pernah bergeming. Jika ada kapal yang berani menabraknya, maka tanpa ampun kapal itu akan berakhir riwayat pelayanannya terhadap umat manusia.

Tapi nakhoda kapal bendera Belanda kurang setuju. Sebab pandangannya yang tajam melihat titik hitam di sebelah kiri depan. Ia memerintahkan kapal-kapal memasang meriam.

Semua kapal menunjukkan kesibukan. Meskipun nakhoda kapal bendera itu sudah mendapat keterangan bahwa Blambangan tidak memiliki kapal perang lagi, namun ia harus waspada terhadap bajak laut Rencang Warenghay yang memiliki tidak kurang dari lima jung perusak dilengkapi dengan persenjataan baru dari Portugal dan Inggris. Selain itu juga sudah terbetik berita tentang bajak laut baru yang juga memiliki banyak kapal perang. Kendati kapal-kapal mereka banyak yang tua dan senjata mereka umumnya bikinan Bali dan Aceh, namun akan merepotkan juga jika menyerang iring- iringan kapal Kompeni itu.

"Apa kita akan mendarat?" tanya Alap-alap pada komandan kapal yang ditumpanginya.

"Tidak tahu, Tuan. Tapi perintah dari kapal bendera menunjukkan isyarat supaya kami menyiapkan meriam- meriam kami."

Diam sebentar. Alap-alap memperhatikan laut biru di sebelah kanan kapalnya. Beberapa bentar berjalan ke buritan. Ia lihat air keriting berbuih diiris kapal. Kadang ikan lumba- lumba muncul di sebelah kanan lambung kapal. Berenang seiring kapal itu. Timbul-tenggelam seperti bercanda dengan kawan-kawannya. Ah, hitam bercampur kelabu warnanya.

Sebesar-besar kuda. Angin bertiup agak keras. Untung ia memberi pengikat bagi topinya. Asyik menikmati panorama itu, Alap-alap tak menyadari bahwa kapal-kapal itu tidak lagi berendeng. Tapi mulai membentuk suatu barisan bersusun, sehingga jika dilihat dari udara tak ubahnya cucut raksasa yang sedang mengambang. Kini kapal benderanya tidak menjadi pemimpin di tempat terdepan, tapi dilindungi oleh dua kapal yang menjadi cucutnya. Semua kelasi kembali tegang. Harus meninggalkan minuman atau kartu judi mereka. Semua harus siap. Baru beberapa bentar kemudian Alap-alap sadar. Perjalanan menuju Blambangan tidak semudah yang ia perkirakan semula. Dan ia memerintahkan semua pasukan yang ada bersamanya bersiap menghadapi semua kemungkinan. Sebab titiktitik hitam yang dilihat oleh komandan kapal bendera itu, telah menjelma menjadi gugusan kapal. Makin lama makin jelas. Kapal bendera menurunkan perintah agar gugusan kapal Kompeni siap mengubah bentuk jajar mereka sesuai dengan perintah yang akan diturunkan. Perang pastilah tak terelakkan, karena para pengamat di tiang agung memberi laporan dari arah lambung kanan juga terlihat titik-titik hitam mendekat.

"Gila!" teriak komandan kapal bendera. Tapi segera ia menurunkan perintah agar semua orang berdoa. Sementara itu kapal bendera pihak penghadang sudah memuntahkan meriam yang pertama. Luput. Tidak ada sasaran yang kena. Cuma jatuh di samping kiri kapal terdepan. Dan tanpa ampun kapal bendera Kompeni menurunkan perintah agar tembakan itu dibalas.

"Berani mereka melawan Kompeni? Ha... ha... ha...," teriak para kelasi melecehkan. Cuma sembilan jung tua. Apa artinya? Kompeni pernah menenggelamkan tidak kurang dari seribu tujuh ratus kapal Mataram waktu Sultan Agung menyerbu Batavia. Kini cuma sembilan? Sedang barisan kapal Kompeni sekarang tidak kurang dari tujuh puluh lima kapal. Namun suara tawa mereka segera berhenti kala peluru meriam yang kedua jatuh tepat di anjungan kapal terdepan. Peluru ketiga membuat air laut di kanan lambung kapal perang terdepan itu mem-buncah. Sekalipun terseok, kapal Belanda itu tetap maju. Namun kapal kedua dan ketiga melaju mendahului. Mengambil alih tugas jadi ujung tanduk. Kini mulai berhamburan peluru masing-masing pihak. Tapi pihak penghadang juga mulai menghamburkan cetbang. Senjata ini sudah kuno. Tidak digunakan lagi oleh orang Eropa. Tapi masih merepotkan gerak maju Kompeni. Dan secara tiba-tiba, muncul begitu banyak perahu-perahu nelayan. Kepada mereka diberi tembakan peringatan oleh kapal-kapal VOC. Tapi di bawah lindungan tembakan kapal-kapal Detya Jala Ran-te, ratusan kapal nelayan bergerak maju.

Dan siapa yang akan pernah menduga, bahwa perahu kecil yang bertomang bambu di kiri-kanannya itu setelah dekat menembakkan cetbang atau meriam berpeluru api. Gila!

Beberapa puluh kapal Kompeni menjadi panik karena layar mereka terbakar. Bahkan api tidak mudah dipadamkan dengan cepat, karena tembakan satu disusul oleh tembakan lainnya.

Dengan marah komandan kapal bendera memerintahkan penembakan semua kapal nelayan yang ada. Jarak semakin dekat. Warna bendera lawan juga nampak jelas. Berwarna merah dengan gambar kepala serigala hitam di tengahnya. Bendera laskar Blambangan. Juga perahu-perahu itu berbendera sama seperti kapal-kapal tua yang menyerang gugusan kapal-kapal Kompeni. Dan setiap kali mereka menembak, mereka meneriakkan, "Dirgahayu Blambangan! Demi Maha Dewa hancurlah kalian perompak!"

Bahkan ketika beberapa perahu menjadi berkeping-keping oleh meriam Kompeni, anak buah Jala Rante justru bertambah nekat. Makin banyak jumlahnya. Makin membabi-buta.

Bagaimanapun juga mereka menghambat gerakan kapal-kapal VOC. Sepuluh, dua puluh, dan terus masih bertambah lagi jumlah mereka yang tenggelam. Sedang pihak Kompeni sudah empat kapal yang mulai miring terbenam air. Perahu penolong sudah diturunkan. Namun segera didekati oleh perahu-perahu kecil Blambangan untuk kemudian dikirim ke dasar laut.

Perang tidak mengenal kasihan. Jala Rante menekankan supaya jangan ada di antara mereka yang menyerah. Sebab menjadi tawanan Kompeni akan menderita aniaya, menjadi pembuang tinja atau pengangkut bahan-bahan bangunan di benteng-benteng VOC. Setiap hari mereka yang di Surabaya digiring untuk dipertontonkan pada kawula Surabaya dengan tangan dan kaki dirantai. Setelahnya digiring ke pelabuhan sebagai pengangkut barang. Atau sebagian lagi digiring ke tempat di mana VOC menggali kali mir (kali buatan yang dipakai untuk pembuangan di kota) Dengan tangan dan kaki terbelenggu pula mereka harus menggali. Anjing-anjing bernasib lebih dari mereka. Di Surabaya, noni-noni suka bermain dengan anjing. Begitu cerita Jala Rante pada anak buahnya. Karena itu hanya ada satu pilihan, menang atau mati!

Sementara itu titik-titik hitam yang tadi terlihat jauh di lambung kanan kapal bendera juga makin dekat. Tujuh belas kapal perang Bugis dengan bendera hitam bergambar tengkorak. Dan begitu mereka mencapai jarak tembak, langsung membuka serangan ke arah Kompeni. Gila! Mereka dibuntuti. Atau rencana perjalanan mereka diketahui? Jika demikian tentu ada mata-mata bajak laut ini dalam tubuh Kompeni sendiri?

Melihat kenyataan ini, kapal bendera Belanda memerintahkan agar semua kapal menyebar dan menyerang ke segala arah. Suatu keuntungan besar bagi Kompeni, karena persenjataan mereka lebih baik dan lebih baru. Di samping itu, kapal-kapal mereka mampu berlayar lebih lincah dan lebih cepat. Perahu-perahu nelayan yang ditumpas makin banyak.

Tentu mengurangi jumlah penyerang kendati datang yang baru dan lebih berbahaya. Apa pun keadaan yang terjadi saat itu, peperangan tidak bisa dimenangkan dengan hanya bermodal keberanian. Di samping persenjataan yang lebih baru dan akurat daya tembaknya, Belanda juga memiliki segudang pengalaman. Mereka telah mengarungi samudra- samudra dunia dari ujung ke ujung. Mereka pernah melewati Tanjung Pengharapan yang konon kesohor berombak setinggi- tinggi bukit. Seberani apa pun Detya Jala Rante dan kawan- kawannya, mereka belum pernah melihat Tanjung Pengharapan. Belum pernah melintas Selat Gibraltar. Belum pernah lewat Laut Merah. Sedang pelaut bule itu? Pernah mengalahkan tempat-tempat tersebut. Bukan cuma gelombang yang mereka taklukkan, tapi juga bajak laut Baduy yang umumnya berasal dari

Libia dapat mereka terobos. Meriam Portugal di Goa dan Malaka, serta meriam-meriam musuh dagang utama mereka, Inggris pun tidak mampu berbuat banyak. Maka sekarang walau sulit, mereka mampu menunjukkan keunggulannya.

Sudah delapan memang yang tenggelam. Sedang dari pihak Jala Rante sudah dua kapal terkubur. Dan entah berapa lagi jumlah perahu nelayan yang nekat itu harus punah berkeping- keping.

Tapi Rencang Warenghay bukan bajak laut sembarangan. Ia lebih cerdik dari Jala Rante. Tidak berani menyerbu masuk, ia menjaga jarak. Jika ternyata kemungkinan menang tidak ada, ia siap melarikan diri. Dan orang-orang Belanda memang melihat perbedaan ini. Setiap kapal Blambangan makin nekat menyerbu. Bahkan yang sudah terseok pun berusaha menabrakkan kapalnya. Mereka memilih tenggelam bersama daripada menjadi tontonan. Alap-alap bergidik juga melihat kenyataan itu. Tambah empat lagi kapal VOC yang tenggelam. Apalagi kapal milik Madura atau Probolinggo dan Surabaya, sudah lebih dari sepuluh yang tenggelam. Sungguh suatu pertempuran laut yang tak berampun.

Jala Rante sendiri tak berniat surut. Kendati maut telah mulai melambai. Buritan kapalnya tertembak. Beberapa bagian mulai robek. Ia perintahkan anak buahnya maju. Jika sempat ia perintahkan melompat ke geladak lawan untuk mengamuk. Tapi kemungkinan untuk menerobos masuk mendekati kapal bendera lawan tidak mungkin lagi. Kapal itu dilindungi oleh puluhan kapal lainnya. Sebuah kapal yang berisi pasukan gabungan tidak sempat menghindar kala dalam jarak dekat kapal Jala Rante memuntahkan beberapa peluru meriam dan cetbang. Air-api menyerbu berbareng. Air dari lambung kapal yang robek, api dari geladak dan layar yang robek. Dalam sorak membahana anak buah Jala Rante membelokkan haluan kapal ke kiri. Satu tembakan musuh jatuh di atas geladak, tapi masih terbahak Jala Rante. Seperti sudah gila. Mungkin saja telah menjadi gila mereka itu. Batas ketakutan sudah habis. Di depan maut yang menjemput pun terbahak-bahak. Itu terlihat jelas oleh kapal-kapal yang sedang mengepungnya.

"Dirgahayu Blambangan! Demi Hyang Maha Qiwa!

Terpujilah mereka yang mati demi Blambangan, bumi leluhur kita!" teriakan Jala Rante terdengar mengguntur di sela dentuman meriam. Empat kapal lain melakukan gerakan yang sama. Mati di pertempuran adalah suci bagi lelaki £iwa. Dan tentu saja, meskipun mereka mampu menenggelamkan lima kapal lagi, mereka seperti anjing-anjing laut yang menghadapi kerumunan ikan-ikan hiu raksasa. Satu demi satu tak berdaya. Tapi tidak menyerah. Dengan meneriakkan, "Jayalah Blambangan," mereka berlompatan ke laut. Juga Jala Rante. Dia orang terakhir yang meninggalkan kapal setelah kapalnya berpusing seirama gelombang dan pusaran air.

"Berenanglah! Tapi jangan menyerah!" ucapnya. Belanda tak sempat melihat itu. Yang mereka lihat adalah pelan-pelan semua kapal berbendera merah dengan gambar kepala anjing itu tenggelam. Sementara itu tembakan Rencang Warenghay sudah memakan korban. Sebentar lagi mentari sudah bersembunyi di sebelah barat. Akan berbahaya jika pertempuran berlanjut malam hari. Rencang Warenghay dengan anak buahnya adalah bajak laut yang mendapat julukan Naga Laut Malam. Benar-benar mereka mampu bergerak seperti hantu di malam hari. Karena itu kapal bendera Kompeni memerintahkan segera mengepung Warenghay dengan gerakan tapal kuda.

Namun Warenghay bukan bajak laut yang baru belajar.

Pengalaman bertahun-tahun membuatnya segera menyadari jebakan yang dipasang gugus tengah Kompeni itu. Mereka pura-pura surut, namun sayapnya maju. Sehingga mereka mencip-takan garis lengkung. Dan makin lama akan makin cekung. Dengan ketiadaan pengalaman, Rencang Warenghay pasti akan terisap ke dalam cekungannya. Apalagi dua kapal Warenghay sudah tenggelam. Tapi justru kesempatan itu digunakan oleh Warenghay untuk mengambil ancang-ancang pergi sambil memuntahkan banyak peluru. Dan iring- iringannya akan mengambil arah berlawanan dengan Kompeni. Ia tahu Kompeni tak bisa dibendung. Apa yang dilakukan oleh rombongannya sekadar gangguan kecil. Tapi setelah melihat kerugian di pihaknya, ia segera mengambil keputusan merampok Pasuruan, Bangil, dan Gresik. Ia tahu, tak banyak kapal perang Belanda yang tersisa di ketiga kota pantai itu. Jika mungkin ia akan membakar habis ketiga kota itu. Selamanya tidak pernah ada bajak laut yang ramah.

Pimpinan gugusan kapal Kompeni tidak memperhitungkan itu. Tugasnya ialah mendaratkan pasukan di Teluk Meneng.

Daerah pantai yang masih dalam pengawasan pasukan Biesheuvel. Karenanya ia tak mengejar Warenghay. Waktu sangat berharga. Iring-iringan meneruskan perjalanan.

Membiarkan ikan-ikan di Selat Madura berpesta. Memakan bangkai-bangkai. Komandan itu tahu persis, anak buahnya yang tersisa kini sedang bersuka ria minum untuk menurunkan ketegangan. Sedang anak buah Alap-alap atau pasukan dari Surabaya, Sidayu, dan Pasuruan sedang berdoa. Laut yang indah, tapi selalu menyodorkan petaka.

*** Tak pernah terbayang sebelumnya oleh Imhoff dan Montro, bahwa mereka akan berlabuh di bibir sebuah dusun mungil.

Kesunyian menyambut mereka. Pohon-pohon bakau, kelapa, pisang, dan rumput-rumput serasa memandang barisan yang telah berkurang seperempat dari jumlah kala dibariskan di kota Surabaya dulu. Bergoyang melambai dibelai angin pantai, seolah menyapa dalam tanya: Dari mana datang? Inikah Blambangan?

Dalam kesenyapan mereka berbaris ke Pangpang untuk menghadap Residen Biesheuvel. Sedang kapal yang mengantar mereka segera bertolak setelah komandan gugus itu menyampaikan ucapan selamat pada para perwira Kompeni dan pribumi.

"Jangan pikirkan, apakah Blambangan calon kubur Tuan- tuan. Tapi lakukan segala dengan senang hati. Kita semua prajurit. Tidak perlu bertanya kapan dan di mana kita akan dikubur! Banyak sudah Kompeni yang terkubur. Mudah- mudahan Tuan-tuan tidak mengalami nasib sama dengan mereka. Seperti kami tahu, banyak orang pulang hanya tinggal nama saja di lautan. Tapi kami tidak kembali ke darat dengan ketakutan," Komandan itu memberi semangat.

Dalam perjalanan yang senyap itu, pikiran merambah kian kemari. Ucapan komandan kapal tadi memang memberi semangat. Tapi bagi sebagian pendengar menimbulkan kesan berbeda. Pesan agar mereka bersiaga dengan tanpa berisik atau bersorak selama bergerak ke Pangpang mengisyaratkan lambaian teman-teman mereka dari dalam kubur di bumi Blambangan. Diam-diam bulu roma mereka berdiri. Tapi Montro dan Imhoff tidak bisa mempercayai dongengan tentang ganasnya Bumi Semenanjung yang elok seperti mawar ini. Pepohonan begitu ramah menyapa. Burung-burung juga riang menyanyi. Apakah ini bukan pertanda bahwa ini negeri damai? Biesheuvel membikin laporan bohong! Memang di Panarukan dan di laut ada perang. Tapi di sini damai. Atau cuma tinggal daerah yang amat terbatas dikuasi VOC? Yang lain masih belum takluk? Jika demikian laporan pendahulu Biesheuvel yang bohong. Mereka tak sempat berpikir lebih jauh. Sebab berulang mereka harus melihat peta. Siapa tahu penunjuk jalan di depan itu juga pembohong? Bisa-bisa menjerumuskan mereka ke dalam jebakan. Tapi tidak setiap belokan memang betul seperti tertera di peta. Menurut laporan jalan itu memang masih sepenuhnya dikuasai Kompeni. Kendati begitu mereka harus berjalan sehari setengah malam untuk mencapai Pangpang.

Betapa jauh beda kota Lo Pangpang dan Surabaya atau Batavia. Kendati di sini VOC juga berusaha mendirikan loji-loji, dan gedung-gedung besar. Rumah Biesheuvel berukuran hampir sama dengan rumah seorang bangsawan di Mataram. Setidaknya berukuran lima atau enam kali rumah penduduk biasa di Blambangan. Sedang loji-loji milik orang-orang kulit putih yang berjajar rapi sepanjang jalan raya utama kota itu, berukuran lebih dari tiga kali rumah kawula. Tapi sekarang menurut pengamatan Montro lebih banyak yang. kosong. Anak buahnya nampak kuyu setelah menembus hutan dan rawa.

Bahkan perbentengan pun nampak lengang. Sungguh, membuat bulu roma Montro dan Imhoff berdiri. Namun segera terhapus kala para perwira handal diundang ke rumah Adipati Jaksanegara. Termasuk Alap-alap ikut diundang ke istana Jaksanegara. Dan di tempat itu mereka benar-benar merasakan istirahat. Betapapun mereka kagum pada kekayaan Jaksanegara. Kagum pada taman di mana mereka menginap. Kagum terhadap para perempuan yang melayani mereka saat selesai perundingan. Tukang pijit dengan wajah ayu dan jari- jemari halus seperti ini tentu sukar didapatkan di mana pun.

Sementara itu, Mas Ayu Prabu mengarahkan kudanya ke utara. Ia merasa perlu menjumpai Rsi Ropo di Songgon.

Semak-belukar tidak menjadi halangan bagi kuda yang tangkas itu. Ayu Prabu sudah mengalahkan gunjingan pribadinya. Ia sudah mengebaskan bayang-bayang Tha Khong Ming dengan mengirimkan Ni Repi serta Ni Kebhi dengan anaknya, Sekar, ke rumah mewah Cina muda itu. Ia berharap jika Tha Khong Ming bisa sembuh biarlah ia mengawini salah satu dari kedua wanita tadi. Apa pun adanya ia harus bertahan dalam kesuciannya, sehingga jika saatnya tiba, maka ia akan persembahkan mahkotanya untuk seorang suami. Dan dengan bertahan pada kesucian itu, ia akan tetap bebas mendarmabaktikan diri pada negara dan bangsanya. Pada Hyang Maha £iwa dan Blambangan yang suci.

Tapi kali ini Rsi sedang tidak ada di tempat. Memang akhir- akhir ini Rsi jarang tinggal di Songgon. Lebih mudah ditemui di Derwana. Rsi banyak memberi nasihat dan petunjuk pada Rempek yang telah menyatakan keinginannya membunuh Biesheuvel dengan tangannya sendiri. Sebab menurut pikir Jagapati atau Mas Rempek, Blambangan akan segera menang jika residennya mati.

"Tidak, Yang Mulia," jawab Jagalara dan Rsi Ropo hampir berbareng.

Kemudian Rsi Ropo yang melanjutkan. "Biesheuvel cuma seorang yang menerima gaji. Dia mati akan diganti lainnya. Apa yang kita lakukan kini, hanya menunjukkan pada dunia bahwa di bumi Nusantara ini tidak semua orang mau menjadi budak. Yah, Belanda sekarang menggempur kita dengan kekuatan senjatanya untuk menjadikan kita semua budak."

"Lalu apakah kita tidak bisa mengusir mereka?"

"Mereka hanya terusir jika yang di Batavia sudah terusir.

Sebab mereka adalah mata rantai yang bersambung satu dengan lainnya. Jika semua raja Nusantara ini bersatu, mengerahkan semua daya, uang, laskar, dan menyatukan sikap hati, maka tidaklah sukar mengenyahkan kaum bule itu!"

"Betul!" Jagalara kagum.

"Hyang Bathara!" Jagapati menarik napas panjang. "Jangan resah, Yang Mulia...," Jagalara menasihati. "Niat Yang Mulia untuk membunuh Biesheuvel tetap harus dilakukan. Kita akan menembus pertahanan mereka. Jika perlu kita melakukan penyamaran agar bisa masuk ke rumah Biesheuvel. Dengan matinya Biesheuvel, pasti Kompeni akan mendapat malu besar. Dan Belanda akan menyembunyikan mayat Biesheuvel rapat-rapat. Belum pernah terjadi seorang mayor mati di medan lagi sebelum ini. Untung tidak melakukannya. Juga Trunajaya yang mampu merobohkan kekuasaan Amangkurat yang sarat dengan kejijikan itu.

Sungguh, jika kita mampu membunuh seorang residen tentu merupakan kebanggaan tersendiri.”

Jagapati tertawa. Dan Rsi tersenyum. Senang melihat tekad Jagapati yang membara itu. Niat adalah landasan utama dari semuanya. Tanpa niat maka tidak akan terjadi apa-apa.

Setelah itu Rsi Ropo segera turun. Ia memerlukan diri lebih dulu lapor pada Wilis di Bayu. Wilis pun senang. Dan kepergian Ropo ke Bayu bukan semata menemui Wilis. Tentu ia ingin menyiram mawar yang sedang mekar dalam hatinya. Ia ingin menjumpai Mas Ayu Tunjung. Siapa tahu gadis itu segera memberikan kepastian. Namun kala ia sampai di Bayu, gadis itu masih berlatih menembak. Ia harus meneruskan perjalanan setelah lebih dahulu menghadap ibundanya, dengan berbekal sejumput doa agar Ayu Tunjung tidak jatuh hati pada pemuda lain. Ternyata gadis itu mampu membe- « lah hatinya. Kian lama, kian jadi kenangan di siang hari, impian di malam hari. ?».Itu sebabnya, Mas Ayu Prabu menemukannya di sebuah batu besar kala mencari-carinya.

Duduk menyendiri sambil melamun. Melamun membuat manusia masuk ke alam lain yang gaib. Penuh dengan pengandaian.

"Hyang Dewa Ratu, Kanda...”panggil Mas Ayu Prabu dari atas kudanya.

Mas Sratdadi terkejut. Namun segera menenangkan diri. "Tentu sesuatu yang penting telah membuatmu berkuda kemari. Apalagi berusaha menemukan persembunyianku."

Tapi Ayu Prabu memperdengarkan suara tawa. Naluri kewanitaannya menangkap sesuatu yang ganjil di wajah kakaknya.

"Lagi kasmaran?" ia segera menggoda. "Bahaya jika seorang rsi sedang gandrung. Dunia ilmu pengetahuan bisa jungkir-balik."

"Ha... ha... ha..." Sratdadi menutupi. "Atau sebaliknya?" Mukanya memerah. Tapi sekali lagi ia mencoba mengelak.

"Prabu mulai jatuh cinta pada Tha Khong Ming. Hati-hati, lho."

Mendadak wajah Ayu bermendung. Sambil turun dari kuda Ayu mencabut senapan Tha Khong Ming dan segera menuju tempat kakaknya duduk.

"Kau menembaknya?" Sratdadi menatapkan matanya.

Ayu menggeleng lemah. Tapi kemudian ia menceritakan semua yang terjadi.

"Hamba tidak tahu, apakah ia mencintai atau hanya minta imbalan dari kebaikan yang selama ini ia berikan. Tapi hamba bertekad, tidak memberi untuk kedua-duanya."

"Dia cukup tampan "

"Tapi negara membutuhkan hamba," gadis itu memotong. "Apa salahnya kau bercinta pada manusia dan negara?"

"Cinta yang dibelah akan menimbulkan ketidakadilan.

Memang cuma diri sendiri yang tahu. Sebab tidak mungkin sebuah hati mencintai dua hal sekaligus. Pasti yang satu akan dikalahkan. Jika kita lebih mencintai diri, maka cinta akan negeri akan berkurang. Karena kita takut kehilangan diri atau takut kehilangan cinta yang satu tadi. Bukankah kita telah menyetujui pendapat Yang Mulia Wilis, bahwa ketakutan adalah dosa?"

"Jagat Bathara! Ha... ha... ha... kau pandai mengajar." "Hamba tidak mengajar. Cuma berpendapat, bahwa

ketidakadilan bisa dimulai dari diri sendiri." "Jagat Dewa!" Sratdadi membenarkan.

"Apalagi setelah menerima laporan baru ini, hamba harus bisa mengebaskannya dari ingatan."

"Mengebaskan dari ingatan? Apakah itu adil? Dia begitu berjasa. Barangkali kau tidak pernah dengar, bahwa Sayu Wiwit dan Mas Ramad dalam melancarkan perangnya saat ini dibantu oleh ratusan orang Cina, ribuan orang Madura dart Surabaya atau Mataram yang membelot pada rajanya."

"Kita sudah memberinya imbalan dalam arti dagang. Kita harus tahu, untuk orang semacam

Tha Khong Ming semua diperhitungkan atas dagang. Dan laporan terbaru yang bisa kita sadap dari rumah Jaksanegara menyebutkan bahwa tanggal delapan bulan Asuji (bulan September-Oktober. Penyerbuan itu menurut catatan Belanda terjadi tanggal 22 September 1771) nanti Belanda di bawah pimpinan Letnan Imhoff akan menyerbu Derwana. Sedang Letnan Montro akan menyerbu perkubuan Bayu."

"Hyang Bathara! Dengan kata lain mereka sudah mencium adanya kekuatan kita di Bayu? Ada telik mereka dalam kita!"

"Wajar, setiap seteru menempatkan masing-masing teliknya. Apa yang patut diherankan? Dan yang patut kita perhatikan, bahwa Madura mengirim seorang gagah berani, Kapten Alap-alap. Siapa yang tak pernah dengar nama itu?"

. "Gagah berani atau kejam?" Sratdadi melecehkan. Namun semua laporan adiknya, membuat ia bangkit dan berganti pakaian. Rsi bukan begawan. Ia bisa setiap saat menjelma menjadi prajurit dan muncul di medan laga. "Aku perlu menyiapkan Bayu dan Derwana sekaligus. Siapa pun yang berani mengusik kita, harus mendapat pelajaran, Blambangan bukan Mataram!" geramnya.

"Hamba akan menggempur mereka dari belakang bersama penembak-penembak jitu Bali." Ayu Prabu berpamitan.

Kuda Sratdadi pun tidak kalah gagahnya dengan kuda Ayu Prabu yang hitam itu. Kendati warnanya coklat muda, kepalanya juga ditumbuhi bulu putih segitiga. Tepat di antara kedua telinga memanjang sampai ke tengah di antara kedua matanya. Begitu pula ujung belakang keempat kakinya dibungkus oleh bulu berwarna putih; Lebih gagah lagi karena Sratdadi tidak memangkas rambut kuda kesayangannya.

Dibiarkan seperti rambutnya sendiri. Menapaki lereng bukit dan melompati jurang atau rintangan cukup tangkas. Orang lain akan ngeri melihat tandang kuda itu. Yang lebih mengagumkan karena kuda itu seperti telah menyatu baik rasa dan kehendak dengan tuannya.

Sementara itu Biesheuvel di Pangpang semakin penasaran.

Betapa tidak. Ia mendapat laporan dari teliknya, bahwa kawula Blambangan sebelah b. rat telah bersepakat mengangkat Sayu Wiwit sebagai ratu mereka. Luar biasa pengaruh wanita itu. Apakah mungkin punya ilmu sihir, sehingga semua lurah, dan pemimpin masyarakat di Bondowoso, Sentong, Puger, bahkan Candi Bang mengakuinya sebagai ratu? Dengan kata lain, ? mereka tidak akan membayar pajak lagi pada VOC. Gila! Orang itu harus dihancurkan lebih dahulu. Tapi bukan oleh kekuatan yang sekarang terpusat di Pangpang dan Lateng. Karena itu ia segera memohon bantuan Surabaya untuk menggempur Jember dan daerah-daerah yang dikuasai Ratu Sayu Wiwit.

Dan Van de Burg memerintahkan Letnan Fischer dengan bantuan laskar Madura yang dipimpin langsung oleh Panembahan Rasamala serta Surabaya. Kesibukan seperti di Pangpang dan Surabaya terjadi juga di Bayu. Baswi maupun Yistyani dan beberapa tokoh tua lainnya segera diberi laporan akan rencana penyerbuan Montro itu.

"Belanda memang tidak pernah puas dengan hanya menduduki kota-kota besar kita. Mereka benar-benar ingin melalap tiap jengkal tanah kita. Tapi mereka akan tersandung batu!" Baswi geram. Matanya sudah kabur. Tangannya sudah gemetar karena ketuaan. Namun semangatnya tidak pernah surut. Yistyani benar-benar kagum. Ternyata perang yang berikut ini jauh lebih besar dari perang yang dilakukan oleh Wong Agung Wilis sendiri. Yistyani hampir yakin, bahwa tewasnya beberapa perwira Kompeni adalah karena kepala Baswi yang cemerlang. Kendati tangannya sendiri tidak berlumur darah.

"Hanya telik yang jitu yang dapat membawa mereka naik ke Bayu," Wilis menerangkan. "Namun kita tak boleh lengah. Memang bisa ditembus benteng kita. Tapi dengan pengorbanan besar. Artinya semua cula dan songga serta jebakan telah mereka isi dengan bangkai mereka!"

"Bagaimana dengan Derwana atau Indrawana?" "Mereka juga sudah siap. Hamba telah perintahkan

memasang para tawanan perang sebagai barisan terdepan. Di belakangnya para penembak jitu yang mengawasi para tawanan perang itu. Jika mereka tidak menembak maka kita yang akan melenyapkan mereka dengan panah beracun.

Setelah itu para penembak jitu akan memancing mereka dan bergerak mundur sambil terus menembak. Kami berharap Kompeni merasa menang dan mengejar masuk. Perasaan ingin lekas menang akan membuat mereka lupa dan masuk dalam jebakan songga serta cula beracun."

"Jagat Dewa Pramudita!" Baswi kagum.

Yistyani bangga. Anaknya telah matang untuk memimpin sebuah peperangan. Peperangan yang mempunyai beberapa maksud dan makna. VOC melakukannya dengan maksud merebut pasaran bagi barang dagangannya, atau merampas harta kekayaan dan hasil bumi penduduk, untuk menambah barang dagangannya dengan tanpa mem- > beli. Mengambil milik orang lain dengan paksa atau tanpa izin tentu merupakan kejahatan. Tapi semua orang tidak mau dikatakan sebagai penjahat, karena itu VOC juga tidak mengatakan dirinya jahat. Sebab para paderi mereka mengajar bahwa mereka sedang menerima berkat Allah. Adakah berkah itu diambil dengan tidak sah? Sebaliknya Blambangan melakukannya demi hak yang dilanggar. Bukan sekadar berebut kekuasaan antar para pembesar negeri. Wilis dengan seluruh pengikutnya berperang karena mengambil kembali hak Blambangan yang dirampas. Sama-sama mengambil, tapi punya arti yang tidak sama.

Pagi-pagi benar kala embun belum tersapu dari dedaunan, dari bumi Blambangan, Montro yang sejak kemarin sudah mendaki lereng Raung itu, memerintahkan agar anak buahnya bergerak. Karena hari itu tepat tanggal dua puluh dua September tahun seribu tujuh ratus tujuh puluh satu Masehi. Saat yang ditentukan untuk melakukan penyerbuan semesta di seluruh Blambangan. Dengan maksud supaya tidak ada saling membantu antara satu daerah dengan daerah lainnya. Dan penyerbuan memang dipusatkan ke dua tempat. Ke Bayu dan Indrawana serta Derwana. Saat itu ia disertai Sangkil, seorang perwira dari Surabaya, serta Vasco Keling. Juga seorang perwira, tapi tidak jelas asal-usulnya. Hanya kulitnya hitam- kelam serta rambutnya keriting. Dan perwira yang satu ini, mempunyai kesukaan melahap perempuan. Siapa pun perempuan di Jawa ini, bagi Vasco Keling tampak seperti bidadari. Ia kagum kenapa perempuan di sini rambutnya bisa begitu panjang. Kulitnya seperti kulit buah lang-sep?

Tapi pagi itu ia dan Montro menjadi amat terkejut. Juga seluruh anak buahnya. Peta menunjukkan Bayu masih jauh. Baru tengah hari nanti semestinya sampai. Kini secara mendadak mereka mendengar teriakan-teriakan kesakitan. Beribu anak panah berdesing menghujani mereka.

"Tiarap!!!" perintah Montro, kemudian diteruskan oleh pemimpin lainnya. Bersamaan dengan itu terdengar suara tawa berkepanjangan dari tempat yang agak jauh. Bergema di pohon-pohon, tebing-tebing, jurang-jurang. Suara lelaki dan perempuan. Ucapan selamat datang yang disampaikan dalam Melayu. Ah, Melayu yang jelek dan kaku.

"Selamat datang, Tuan-tuan! Inilah Negeri Bunga Mawar yang indah. Ha... Ha... Hi... Hi " kemudian lenyap.

Tak ada yang menjawab. Montro juga diam. Matanya mengamati tiap semak dan belukar. Tapi tiada tanda gerakan. Penasaran hatinya. Berapa orang yang menjadi korban hujan panah mendadak ini? Belum mampu menghitung. Tiap gerakan akan menimbulkan korban baru. Keringat dingin membasahi bajunya. Suara tawa dan panah kini sudah berhenti. Beberapa lama suasana hening dan mencekam merajai hutan itu. Dahan bergoyang. Burung kembali berkicau. Montro memerintahkan semua yang luka dikumpulkan.

Tembakan melindungi pengumpulan ini. Ternyata kebanyakan pemikul kanon dan mesiu yang tidak mampu bergerak lincah itu yang menjadi korban. Memang ada juga beberapa ratus prajurit gabungan mati. Mayat mereka menjadi biru. Semua prajurit tahu, panah-panah itu beracun amat keras. Dengan kata lain mereka yang saat ini terluka pun akan mati.

"Gila!" teriak Montro kalut. Juga yang terluka. Menangis sekeras-kerasnya. Takut menghadapi kematian. "Tembakkk!" teriak Montro. Dan terjadilah kehendaknya. Mereka menembak membabi-buta. Tiap gerumbul yang dicurigai mereka berondong berbareng. Kanon dan bedil sama-sama menyalak. Menggelegar. Mengejutkan semua satwa penghuni hutan. Tapi Montro tak peduli. Tindakan itu lebih ditujukan untuk menguatkan hati yang mulai kecut. Menghilangkan rasa takut yang menjamah tiap hati. Bahkan Montro sendiri menembak semau-mau. Tidak peduli apakah tembakannya hanya mengenai batang-batang pohon dan tiada berbalas.

"Stop!!!" teriaknya setelah puas dan berkeringat. "Ha... ha... ha... tahu rasa orang Blambangan! Jadi bangkai semua!"

Semua diam. Cuma sedikit yang ikut menyunggingkan senyum. Sebagian masih mengeluarkan keringat dingin. Belum pernah Montro mengalami kegilaan seperti ini. Kemudian ia perintahkan anak buahnya bergerak. Maju pelan-pelan. Apa yang mereka lihat? Tak ada mayat orang Blambangan. Cuma pepohonan yang tumbang. Ada bangkai ayam alas, kera, kijang, dan beberapa jenis binatang lainnya. Gila! Kalau cuma membantai kunyuk macam begini apa perlunya mengobral peluru kanon? Tapi bukan untung-rugi yang dimasalahkan.

Kepuasan yang membangkitkan keberanian yang sempat tercuri oleh hujan panah dan suara tawa. Hantu barangkali? Mereka maju terus dengan gerak yang lebih berhati-hati. Kini hutan di depan mereka lebih lebat. Setiap suara mereka curigai. Apalagi gerakan. Kendati gerak dedaunan yang cuma karena angin, telah membuat semua berdebar. Bahkan tidak sedikit yang menggeragap. Seperti dibayang-bayangi setan. Termasuk Montro, berapa kali sudah ia hampir memuntahkan peluru bedilnya hanya karena suara dahan jatuh atau ranting patah.

Langkah demi langkah menambah ketegangan. Aku bisa gila jika terus begini, pikir beberapa orang. Siapa yang tahan terus diperlakukan seperti r ini. Baru selesai mereka melamunkan begitu, kehebohan terjadi di sayap sebelah kiri. Serombongan lebah hutan menyerbu mereka. Sengatan mengarah pada muka, membuat mereka terbirit-birit.

Berlarian tidak tentu arah. Montro memaki mereka. Tapi beberapa bentar kemudian di sayap kanan pun terjadi kegaduhan serupa. Pasukannya jadi sukar dikendalikan. Hanya oleh serangan lebah hutan. Tidak sedikit yang berlarian tanpa , arah, bahkan menerjang barisan di belakangnya. Tapi ribuan tawon tetap mengejar.

"Tuhan...," Montro menyebut. "Belum pernah aku mengalami perang semacam ini...," akhirnya ia mengeluh. Namun keluhan itu tidak berlangsung lama. Sebuah anak panah berdesing tepat di sebelah kiri telinganya. Ia toleh. Menancap di sebuah pohon sonokembang. Kembali ia menggeragap. Dengan gemetar ia berseru agar setiap „ orang berlindung di balik pohon sambil bertiarap. Tapi perintah itu terlambat. Ribuan anak panah menghujani mereka dari segala penjuru. Kembali teriak kesakitan dan ketakutan memecah kesunyian hutan lereng Gunung Raung itu. Sebentar kemudian kembali suara tawa dan teriakan mengejek membahana.

"Datang mengantar nyawa. Ha... ha... ha Bodoh!!!"

Sungguh. Bukan bohong laporan Biesheuvel bahwa Kompeni berguguran seperti daun kering dengan tanpa peluru. Sekarang pun demikian. Montro sendiri mengalami. Sangkil bahkan terkena bahu kirinya. Montro hampir kehilangan akal. Saat pikirannya kalut ia menembak ke sebuah gerumbul. Tapi tembakannya sekarang mengenai sasaran.

Teriak kesakitan terdengar. Maka segera ia perintahkan untuk menembak dan menembak pada musuh yang tidak tampak itu. Teriak kesakitan yang terus terdengar membuat mereka menjadi bergairah memburu.

"Maju! Tembak! Serbu!! Bunuh!!!" Montro terus berteriak garang. Kejengkelan memuncak. Semua anggota yang terluka ditinggal dulu. Yang mati dilangkahi saja. Kesempatan untuk memusnahkan musuh harus digunakan sebaik mungkin.

Semakin maju teriakan kesakitan dan minta ampun semakin menjauh. Ah, mereka lari terbirit-birit! Kejar! Demikian perintah terus mengalir seperti air dari mulut Montro. Dengan penuh semangat mereka memburu. Untuk membalaskan sakit hati teman-teman mereka. Gerumbul semak dan belukar mereka tembus dan beberapa bentar setelah itu malapetaka yang lebih besar terjadi. Karena cula beracun dan songga orang-orang Blambangan menunggu justru menanti dibalik rimbunnya gerumbul. Sekali lagi para perwira Kompeni terperanjat. Ternyata mereka masuk dalam jebakan. Tahu- tahu beberapa ratus anak buahnya terkulai tanpa mampu bergerak. Menyadari keadaan itu ia memerintahkan semua orang berhenti.

Tapi belum pulih kesadaran mereka sambil memandangi mayat teman-teman mereka yang tertancap di songga- songga, bahkan masih ada yang berjuang untuk mencabut diri dari songga, Vasco Keling berteriak-teriak melihat Sangkil tergeletak dengan muka biru. Tiba-tiba mereka mendengar tembakan dari arah belakang mereka. Montro kian menyadari. Kini ia benar-benar terjebak. Tembakan lawan makin gencar. Bahkan kiai mulai terlihat orang-orang yang berpakaian Bali.

Oh, mereka dibantu laskar Bali. Dari sayap t kanan dan kiri pun terdengar tembakan. Vasco Keling berpaling ke arah itu. Perwira-perwira Madura di sayap kiri dan Surabaya di sayap kanan. Dengan jelas Montro dan Vasco Keling melihat. Orang Blambangan di depan mereka menembak sambil melompat dari satu pohon ke balik pohon lainnya. Maka ia perintahkan tiarap. Semua anak buahnya merayap sambil membalas tembakan musuh. Kini tidak bisa lagi mundur. ? Mas Ayu Prabu telah datang bersama anak buah Gusti Tangkas. Cuma tiga ratus orang jumlah mereka. Tapi merupakan laskar pilihan dan terlatih. Mampu digerakkan dalam segala keadaan dan segala waktu.

Kini Montro dan teman-temannya menjadi biawak. Melata dari satu semak ke belukar lain. Tapi justru itu mereka kini dengan mudah menjadi umpan cula-cula, besi pendek lancip dan , tajam pada ujungnya. Vasco Keling tampak terkapar meregang nyawa. Tanpa sadar Montro menitikkan air mata. Belum pernah ia mengalami perang yang sedemikian rupa. Maka kini ia perintahkan agar membuka kembali tembakan kanon. Jalan yang terbaik adalah mencari jalan keluar dari perang ini. Biar saja anak buahnya yang luka dan mati. Yang tersisa harus diselamatkan. Kendati peta menunjukkan bahwa mereka belum masuk wilayah Bayu. Maka dengan berdoa ia dan seluruh anak buah yang tersisa, apakah itu laskar Madura atau pasukan gabungan dari mana pun, bergeser ke kanan.

Rasanya dari kanan tembakan lawan kurang begitu gencar. Maka tembakan kanon sebagian besar harus ke arah kanan. Tapi sebagai muslihat tentu Montro juga memerintahkan agar sebagian menembak ke segala arah.

Tidaklah mudah mengundurkan diri dalam keadaan terkepung dan belum mengenal medan secara baik. Penunjuk jalan yang diberikan Jaksanegara ternyata tertembak dan sebagian terjebak hujan panah. Sebagian lagi mengangkat tangan. Ada beberapa yang membuang senjata dan pakaian mereka untuk kemudian berlari dengan tanpa mengenal tujuan. Montro betul-betul melihat semangat anak buahnya telah punah. Apalagi setelah bergeser ke kanan, makin lama makin nampak. Mereka tak berkesempatan makan siang.

Sampai mentari condong ke barat, barulah tembakan lawan berhenti. Dan Montro memerintahkan anak buahnya istirahat sebentar. Keringat memenuhi muka dan tubuh mereka.

Tegang dan takut membayang di setiap wajah.

"Sungguh memalukan. Dari mana mereka belajar perang?" Montro mondar-mandir di antara seluruh anak buahnya yang duduk lesu. Tinggal tujuh ratus kurang. Seribu punah dalam satu hari? Perang melawan Untung Surapati pun tidak seperti ini, kecuali di Bangil yang kemudian mengakibatkan gugurnya si Untung. Tapi ini lawan tersembunyi.

Tembakan dari pihak Bayu memang sudah berhenti agak lama. Apa sebab? Tanpa disangka, kala Baswi beranjak maju, sebuah peluru kanon jatuh tepat di depannya. Tak ayal, orang tua itu terpental ke udara dan jatuh kembali dalam keadaan sudah tak bernyawa. Wilis yang menerima laporan itu segera beringsut menuju tempat kejadian. Dan mau tak mau ia tertunduk melihat tubuh Baswi yang gempal itu hancur tersayat-sayat. Giginya berkerot. Matanya merah, memancarkan api. Beberapa ratus laskar Bayu nampak bergelimpangan. Laki-perempuan gugur seperti daun layu. Darah mereka membasahi bumi. Cepat ia perintahkan membawa mayat Baswi pulang untuk dibakar.

"Paling lama tujuh hari kita laksanakan pembakaran. Kita dalam perang! Kita tidak bisa tunggu lama. Karena mereka mulai mengusik Bayu!" Wilis kemudian memerintahkan semua orang menarik diri dari pertempuran. Dan mengumumkan masa perkabungan untuk seluruh Raung. Semua pemuka dipanggil.

Wilis merasa perlu mengajak semua orang Raung menghormati kepergian Baswi. Sekalipun orang tua itu tampaknya amat sederhana. Namun bukankah ia telah melahirkan nama besar bagi seluruh Bumi Blambangan? Wong Agung Wilis adalah muridnya. Kini dia sendiri, Wilis, adalah muridnya. Ia merasa perlu mengadakan upacara pembakaran yang lebih dari lainnya.

Sementara itu Letnan Imhoff mengalami hal yang serupa dengan Montro. Cuma ada sedikit perbedaan, yaitu waktu dia memberondong lawan dengan kanon dan bedil dan tembakan dari pihak lawan berhenti, anak buahnya maju dengan berani. Tapi setelah kira-kira seratus depa mereka mendapati mayat- mayat teman mereka sendiri yang dulu tertangkap oleh orang- orang Jagapati. Jadi tawanan perang mereka haruskah ikut bertempur? Melawan Kompeni? Masih terpana mereka memikirkan akal apa yang harus mereka gunakan untuk membalas Jagapati, serangan telah dibuka lagi oleh Jagapati dan Jagalara. Itu sebabnya Imhoff memerintahkan pasukannya mundur.

Jalan mundur yang tidak mudah. Dalam pengunduran diri itu entah berapa jumlah korban yang jatuh. Dan berapa lagi menyerah pada laskar Jagapati. Kesulitan mendatangkan keputusasaan. Imhoff sendiri hampir terjerembab ke dalam jebakan maut pengikut Jagapati. Dan sebelum ia keluar dari hutan Indrawana, sebuah anak panah meluncur dengan derasnya seperti kilat. Ia mengelak sambil menjerit. Menyebut nama Tuhan. Tapi ia sempat menjatuhkan diri. Dan anak panah itu cuma menyerempet pelipisnya, membuat luka kecil.