Gema Di Ufuk Timur Bab 13 : Tiada Lagi Bulan Bundar

Bab 13 : Tiada Lagi Bulan Bundar

Angin bertiup lembut. Mengusir kabut pagi yang enggan berlalu. Sekalipun malas, namun mentari tidak pernah ingkar dari kewajibannya. Menjanjikan lintasan demi lintasan. Yang kemudian disebut waktu. Tiap lintasan yang dibuatnya telah menambah usia zaman. Usia bumi, usia jagat dengan segala isinya.

Bukan cuma usia yang berubah. Keadaan pun berubah. Tiap lintasan waktu membawa perubahan yang selalu baru. Sebab kodrat mengharuskan semua yang ada dan yang pernah ada selalu berkembang. Selalu. Ya, selalu. Sebab dalam lintasan waktu juga berisikan pergeseran dan persinggungan. Membawa nilai-nilai baru dalam peradaban.

Itulah kehidupan. Tumbuh dan berkembang.

Memperanakkan dan diperanakkan. Manusia beranak manusia, hewan beranak hewan, pohon beranak pohon, dan... zaman beranak zaman. Demikianlah halnya, peradaban juga mengandung peradaban yang baru. Maka bukan musykil jika masyarakat juga beranak masyarakat. Ini berlaku di mana- mana, di atas bumi milik manusia. Demikian juga di Bumi Semenanjung—Blambangan....

Zaman Wong Agung Wilis sudah berlalu, kendati orang tidak pernah melupakannya. Bagi kawula Blambangan nama itu abadi. Terukir dengan tinta emas dalam hati mereka. Dan lenyapnya Wong Agung Wilis dari Bumi Blambangan membuat kawula tak ubahnya anak-anak ayam yang bingung karena kehilangan induknya. Dan mencari pegangan baru. Mencari kekuatan baru. Apa pun saja itu, asal bisa memberi perlindungan dan kekuatan, akan mereka percaya. Maka tak mengherankan jika berita-berita tentang hadirnya Wilis di Derwana dan melantik Mas Rempek yang kini diberi gelar Jagapati, dianggap sebagai hadirnya Wong Agung Wilis pribadi untuk melantik panglimanya. Apalagi pelantikan itu dipimpin oleh Rsi Ropo. Rsi Ropo? Siapakah yang tak pernah mendengar nama itu?

Seorang brahmana muda yang mampu meloloskan diri dari tiang gantungan. Seorang brahmana muda yang mampu mengubah hutan Songgon yang telah begitu lama tak berpenghuni menjadi daerah subur tanpa tandingan di Bumi Semenanjung Blambangan. Bukan cuma itu. Ternyata Rsi Ropo mampu membangkitkan hati orang Blambangan yang telah luluh oleh karena kalah dan terus-menerus kalah dalam perang. Kalah oleh Bali. Lalu oleh Belanda. Bahkan sebenarnya dari Songgon-lah terpantul gema nama besar Wong Agung Wilis.

Kabar pengangkatan Jagapati sebagai pemuka di Derwana, yang merambat bagai angin, meniupkan keberanian ke dalam dada tiap orang—-di samping juga menyebarkan sejuta tanya. Benarkah Agung Wilis yang mereka puja itu belum mati? Atau rohnya yang turun untuk memberi kekuasaan dan kekuatan pada Jagapati? Jika demikian Jagapati tentu akan menjadi orang sakti seperti halnya Wong Agung Wilis sendiri. Maka tiap orang Blambangan harus mendengar kata-katanya seperti mendengarkan Wong Agung Wilis sendiri.

Tapi di sisi lain orang mendengar kabar tentang Wong Agung Wilis yang sering mengusik kedudukan pasukan Kompeni di gardu-gardu penjagaan mereka. Walau kabar itu cuma cerita dari mulut ke mulut, namun itu cukup menggoyahkan kepercayaan kawula terhadap keterangan yang disebarkan pihak Jaksanegara dan Belanda bahwa Wong Agung Wilis sudah mati. Tertembak mati. Dan bangkainya barangkali telah menjadi makanan serigala.

Angin keberanian menjalar dari rumah ke rumah, menyentakkan tiap orang dari impian. Impian bahwa Jaksanegara dengan bantuan Kompeni akan membawa Blambangan menjadi suatu negeri khayalan para dalang. Negeri damai sejahtera, tenteram dan adil makmur. Negeri dongeng. Yang tidak pernah akan ada di muka bumi. Apalagi di Blambangan. Kawula menjadi makin sadar bahwa bantuan asing dari mana pun datangnya tidak akan dapat memberikan kesejahteraan. Bisa jadi makmur, keadilan belum tentu ada. Juga belum tentu sejahtera. Sebab pada hakikatnya hubungan antar niaga itu tidak pernah mengenal kejujuran. Apalagi keikhlasan. Tegasnya jika kaum bermodal hendak membantu orang yang kurang bermodal tentu juga bermaksud mengembangkan modalnya sendiri. Demikian pula dengan masuknya Kompeni di semenanjung Blambangan ini. Tentu bukan sekadar membantu, tapi bermaksud meluaskan jajahan. Ternyata hampir bisa dikatakan hukum bahwa si pandir dibodohi oleh yang cerdik, si lemah dilindas oleh yang kuat.

Itu sebabnya barangkali beberapa waktu lalu Rsi Ropo mengajar di Songgon,

"Jangan menjadi dungu. Sebab kedunguan akan menenggelamkan kamu ke alam mimpi yang tiada habis- habisnya. Dan jangan menjadi lemah, karena kelemahan membuat dirimu teraniaya dengan tiada berkeputusan. Jangan takut, sebab ketakutan akan membawa kamu pada kenistaan kekal."

Kata-kata Rsi Ropo itu ternyata tidak berhenti di Songgon saja. Seperti ada kuasa gaib yang mendorongnya, kata-kata itu menjalar ke setiap telinga orang Blambangan. Bahkan sampai juga ke telinga orang-orang yang sedang bekerja rodi. Baik mereka yang sedang bekerja di jalan-jalan raya, atau di benteng-benteng. Entah siapa yang meniupkan ke sana mula- mula. Tapi itu membangun semangat seorang pemuda bernama Tunjek untuk mempertahankan hidupnya. Sambil melirik kiri-kanan ia mulai berbicara pada teman yang bersamanya memikul batu dari kali untuk dibawa ke benteng. Ramud nama pemuda pasangannya itu. Keduanya telah amat kurus. Berkali mereka terhuyung dan jatuh. Sudah tiga hari mereka tidak makan. "Mud, masih kuatkah kamu?" bisik Tunjek di sela napas yang terengah-engah.

"Mungkin lusa aku sudah mati "

"Sstt jangan keras-keras. Nanti Kompeni-kompeni hitam

itu memperhatikan kita." Tunjek memperingatkan temannya "Aku sendiri juga tinggal dua hari." Anaknjuda itu diam sebentar. A Kembali menoleh kiri-kanan. Ia lebih leluasa karena di belakang Ramud.

"Depan ada orang, Mud?" bisiknya lagi.

"Jauh di depan. Ada apa?" Ramud balik tanya.

"Kita sama-sama akan mati. Seperti semua orang tua pendahulu kita. Dan semua akan dilempar ke hutan untuk umpan ular atau seri-gala."

"Lalu mau apa? Itu sudah ketentuan Hyang Maha Dewa." "Menurut Rsi Ropo, Hyang Maha Dewa tak pernah

menentukan bahwa kita akan mati seperti anjing kurap."

"Rsi Ropo?"

"Ya. Rsi Ropo. Suaranya berdengung sampai kemari.

Semalam ia berbisik kepada beberapa orang "

"Apa katanya?"

"Sama-sama mati, janganlah mati dalam kedunguan. Mimpi jika kita berharap belas kasihan mereka. Satu per satu kita akan mati."

"Jadi mati yang bagaimana pilihanmu?" "Jika kau setuju, kita lari saja."

"Hei?" Ramud terkejut.

"Jangan keras-keras! Dua hari lagi kita akan mati tanpa usaha sedikit pun untuk mempertahankan hidup kita. Jika lari, ada dua kemungkinan. Andai mati sekalipun kita sudah membela nyawa yang cuma segumpal ini. Tidak menyerah begitu saja pada kelaparan."

Ramud diam. Terjebak dalam renungan. Jadi selama ini mereka yang mati sebenarnya terjebak oleh kedunguan, kelemahan, dan ketakutan mereka sendiri? Ah, sekarang aku juga.

"Kenapa diam, Ramud?"

"Aku tak tahu bagaimana caranya. Dan aku tak tahu ke mana kita akan pergi?"

"Kita akan ke Songgon. Mohon perlindungan Rsi Ropo." "Mungkin empat hari kita baru mencapai Songgon.

Mungkinkah kita mampu bertahan empat hari?"

"Mampu atau tidak, yang penting kita telah berusaha." "Tapi begitu kita meletakkan batu ini dan melangkah,

peluru akan menembus dada kita."

"Tidak! Akan kita kelabui mereka. Kau masih kuat menggendong aku?"

"Barangkali masih kuat. Karena kulihat tubuhmu juga kurus."

"Baik. Jika demikian aku akan pura-pura mati. Kau harus melapor pada komandan jaga. Nah, biasanya pasangan si mati yang diharuskan mem-buang bangkai temannya ke tengah hutan. Kesempatan itu kita manfaatkan."

"Kita coba. Mudah-mudahan Hyang Durga memihak kita."

Dan terjadilah apa yang mereka rencanakan. Seperti yang sudah diduga maka komandan jaga yang biasa mendengar laporan semacam itu enggan melihat mayat dan memerintahkan Ramud membuang mayat temannya. "Tapi hamba tidak kuat, Tuan. Apakah harus memikul seorang diri?"

"Tidak peduli! Angkat, atau mati bersama!" "Ba... ba... baik, Tuan." Ramud kemudian mengendap- endap meninggalkan komandan jaga.

"Cepat kembali! He, jika tidak, kami bisa pecahkan kepalamu! Mengerti?" teriak komandan jaga itu menambahkan.

Ramud menoleh lagi. Mengiakan dengan hati berdebar. Tapi segera berlalu dan mendekati Tunjek yang terkapar di pinggir jalan. Pekerja rodi lainnya pada menyimpang tanpa berani menengok. Dalam hati tersembul tanya. Kapan aku menyusulnya? Pengawal tentu tidak mau berpanas-panas mendekati Tunjek. Sudah menjadi pemandangan umum orang mati setiap hari. Apakah karena kelaparan atau kelelahan yang tanpa batas.

Dengan perut lapar begitu ternyata tubuh Tunjek menjadi amat berat. Sekalipun tubuh itu sama kurus dengan dirinya. Sambil mengumpat lirih ia berusaha juga. Dan akhirnya berhasil memanggul Tunjek di pundaknya. Terhuyung-huyung ia menyeret kakinya menjauh dari tempat kerja rodi itu.

"Gila! Berat juga tubuhmu!" bisik Ramud sambil terengah- engah. Sedang Tunjek diam saja. Terkulai seperti daun pisang yang telah tua. Tapi ia belum berani membuka mata. Napas Ramud kian memburu. Kasihan ia. Maka ia bertanya dalam bisiknya,

"Sudahkah kita tidak terlihat oleh mereka lagi?" "Jangan main-main. Mereka masih mengawasi kita." "Ah... masuk ke semak-semak!"

Benar, Ramud memikul Tunjek ke balik pepohonan, sampai hilang dari pandangan para penjaga.

"Turun kamu, ah Rasanya aku mau mati," Ramud

menggerutu. Kemudian Tunjek turun dari gendongan. Ramud mengambil waktu untuk beristirahat. Demi kewaspadaan, Tunjek harus tertelungkup di rerumputan. Keduanya diam tanpa bisik. Telinga mereka ditajamkan untuk mengamati keadaan. Udara yang bertiup di sela pepohonan memberi kekuatan baru. Dan keduanya mulai mengharap-harap bisa bersua dengan Rsi Ropo di Songgon. Pengharapan yang menimbulkan kekuatan. Kekuatan membuat mereka mulai merangkak. Merangkak, menguak semak, onak-duri.

Lutut mereka mulai tersayat-sayat padas keras. Demikian pula telapak tangan mereka. Bahkan hampir seluruh tubuh sudah tersayat duri. Kala senja tiba mereka mulai berani berdiri. Dan kembali mengendap-endap. Menyelinap dari balik semak ke semak lainnya. Tubuh mereka makin lemas tanpa perbekalan makanan. Karena itu keduanya memutuskan memakan tunas penjalin muda. Mereka tahu tunas itu terasa agak manis dan mengandung air. Mereka tidak bisa memasak apa-apa karena tidak punya pemantik api. Kelaparan membuat mereka tak peduli terhadap duri yang melindungi tunas penjalin itu. Pokoknya dapat mengganjal perut mereka. Dan dari ujung penjalin muda yang dipatahkan mereka mendapat air bersih yang dapat mengobati dahaga. Sekalipun tidak memuaskan, tapi itu lebih bijaksana daripada mereka menemukan sumber air, sehingga mereka akan memenuhi perut kosong mereka sepenuhnya dengan cuma air. Malam tidak melunturkan niat mereka untuk menjauhkan diri dari benteng.

Untung rembulan menolong mereka. Sekalipun gangguan binatang malam, termasuk nyamuk, sukar ditolak. Mereka cuma mengumpat. Tapi tidak keras. Takut suara mereka kedengaran oleh para pemburu, sebab mereka memperkirakan pasukan penjaga sudah tahu pelarian Ramud. Dan memang kala malam tiba dan Ramud yang diperintahkan membuang mayat temannya itu belum kembali, komandan jaga menjadi berang.

Pencarian pun dilakukan. Di suruh ke hutan di mana masih banyak mayat yang belum dimangsa binatang buas banyak pengawal yang malas. Bau bangkai yang tidak sedap akan membuat mereka mual. Bahkan muntah-muntah. Maka pencarian tidak diteruskan. Mereka melapor bahwa keduanya sudah ditelan harimau, sebab harimau katanya suka makan bagian dalam organ tubuh mangsanya. Mereka memutuskan tidak perlu mencari lagi.

Perjalanan selanjutnya makin sulit. Menembus hutan yang belum pernah dilewati manusia. Keduanya bertekad menembus hutan itu, sebab Ramud tahu, jika mereka mampu menerobos hutan itu, mereka akan sampai di kawasan Songgon. Tapi tenaga keduanya sudah hampir tiada sama. sekali. Yang mereka miliki cuma pengharapan. Pengharapan membuat orang bertahan dalam aniaya. Ya, pengharapan!

Pada tengah hari langkah mereka makin berat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh. Kepala kian berdenyut.

"Ah, Ramud, mataku berkunang-kunang."

Tunjek berpegangan pada sebatang pohon langkap (sebuah pohon yang menghasilkan ijuk. Pohonnya seperti pinang atau aren)

Ramud menghentikan langkahnya. Ia sendiri serasa mau mati. Tapi ia tahu mereka sudah melewati bagian terberat dalam perjalanan mereka.

"Tunjek? Oh, kuatkan hatimu! Tidak lama lagi kita akan sampai di Songgon."

"Oh...," Tunjek mengeluh sambil menyandarkan kepalanya pada pohon langkap yang dipe-ganginya. Beberapa bentar kemudian terduduk. Kepalanya semakin berat.

"Ramud, lanjutkan perjalananmu sendiri. Mungkin aku tidak mampu lagi melanjutkan perjalanan "

"Jaraknya sudah amat dekat. Dengar suara perempuan berkidung. Mereka sedang bekerja di sawah. Tentu itu Songgon.” Tunjek memasang telinganya. Benar. Sayup di kejauhan ia dengar suara beberapa wanita menembangkan sebuah kidung. Bersama. Tentu mereka sedang bersuka cita.

Tembang yang tiada pernah ia dengar di Lateng maupun Lo Pangpang. Kidung pujian untuk Wong Agung Wilis. Samar ia masih juga mendengar suara tawa. Hatinya berbunga. Ia kumpulkan sisa tenaganya. Berdiri lagi. Ramud senang melihat itu. Dan mereka kembali berjalan. Saling memapah. Sama- sama terhuyung. Sama-sama terjatuh di sela pepohonan.

Saling membangkitkan semangat. Tapi bagaimanapun letih dan lemahnya mereka, suara tembang telah menimbulkan harapan yang hampir saja pudar. Pengharapan yang disertai ketekunan ternyata menimbulkan kekuatan.

Tenaga gaib yang ditimbulkan oleh pengharapan telah mendorong mereka mencapai tepian hutan. Namun itu merupakan tenaga terakhir yang tersimpan dalam tubuh keduanya. Suatu keuntungan besar mereka masih sempat berpikir sebelum jatuh ke bumi. Keduanya bersepakat untuk sama-sama berteriak minta tolong. Suara mereka mengagetkan beberapa wanita yang sedang bekerja di sawah. Dan tanpa persetujuan terlebih dahulu, para wanita itu meletakkan bibit padi yang sedang mereka tanam di lumpur dan berlari menuju arah datangnya suara. Tentunya para wanita yang menanam padi di sawah yang tempatnya sangat dekat dengan hutan itu. Hampir lima belas orang.

Sebentar saja beberapa orang memeriksa keadaan kedua orang itu. Namun beberapa bentar kemudian segera membuat tandu dari kayu yang mereka dapatkan dari hutan. Cekatan, seperti sudah terlatih, mereka beramai-ramai mengangkat kedua lelaki itu ke atas tandu lalu diusung ke desa Songgon. Tentu menarik perhatian. Tapi seperti sudah diatur, sekalipun ingin tahu, orang-orang tak bergeming. Hanya melihat sambil meneruskan pekerjaan masing-masing. Kedua pemuda itu terus mereka bawa ke Songgon. Dan langsung dihadapkan pada Rsi Ropo. "Jagat Pramudita! Anak ini kelaparan dan keletihan," ujar Rsi Ropo. "Basuh kepala mereka dengan air dingin!" perintahnya pada seorang cantrik. Kemudian pada para wanita yang membawa kedua pemuda itu ia berkata,

'Terima kasih! Andaikata kalian tidak segera menolong mereka, mungkin saja yang kita jumpai esok adalah mayat. Kalian telah memberikan hidup pada mereka. Ingat-ingat, sahabat sejati adalah sahabat dalam suka dan duka. Dan tidak ada kasih yang lebih besar dari seorang yang memberikan nyawanya buat sahabat-sahabatnya. Nah, kalian telah memberikan kasih."

Perempuan-perempuan itu menyembah kemudian menyingkir. Di luar pagar mereka berbisik satu dengan lainnya. Disusul derai tawa seperti murai berkicau sambung- menyambung dengan teman-temannya.

"Rsi belum juga beristri. Padahal ganteng begitu masa tidak laku?"

"Ah, kau ini Naksir rupanya. Kau tak lepas-lepas melihat

matanya yang tajam itu."

"Ti... tidak! Kau sih selalu melihat bibirnya " Sampai di

sawah mereka masih memperbincangkan sang rsi. Ada saja yang mereka bicarakan. Yang jelas mereka sangat suka bisa mendapat kesempatan bicara secara dekat dengan rsi, sebab tidak gampang bagi mereka untuk memperoleh kesempatan memandang orang itu dalam jarak dekat di siang hari. Apalagi bagi wanita. Rsi sering pergi meninggalkan Songgon. Memang terlalu berbahaya bagi rsi itu untuk selalu tinggal di tempat.

Setelah peristiwa penangkapannya oleh Jaksanegara beberapa waktu lalu, semua orang menjadi lebih berhati-hati.

Setelah mereka siuman Rsi memerintahkan agar keduanya diberi makan bubur dan minum air gula aren. Setelahnya kedua orang itu diberi waktu istirahat untuk memulihkan tenaga mereka. Setelah agak kuat mereka diperbolehkan jalan-jalan. Dan keduanya bersukacita tidak lagi bekerja rodi di bawah deraan cambuk Kompeni-kompeni hitam.

Beberapa hari kemudian baru mereka dapat bertemu dengan Rsi Ropo secara langsung sebe- c lum mereka ditempatkan di sebuah rumah dan diberi tanah garapan. Keduanya ditanya tentang asal-usul mereka dan tujuan mereka datang ke Songgon.

"Apakah kamu hendak memata-matai Songgon?" "Tidak, Yang Tersuci. Hamba ingin bergabung dengan

kawan-kawan di Songgon. Hamba ingin mencari kebebasan,"

Ramud menjawab.

"Kebebasan dicari? Kalian salah, Anak muda. Kebebasan itu diperjuangkan. Harus! Apalagi sekarang. Kebebasan kita telah dirampok oleh bajak laut berkulit putih. Dulu juga begitu. Jika orang ingin bebas harus memperjuangkan kebebasan. Itu sudah kodrat. Lihatlah, para penguasa negeri, tidak pernah memberi hak pada kawula untuk menyatakan pendapat. Itu merupakan bukti bahwa kebebasan dirampok dari waktu ke waktu. Bahkan para orang tua yang kebebasannya selalu dirampok oleh para penguasa balas merampok kebebasan anak-anaknya sendiri. Berabad-abad begitu, sehingga melahirkan adat-istiadat yang harus dipatuhi setiap orang."

"Hyang Bathara! Hamba tak pernah memperoleh pengetahuan semacam ini." Ramud kagum.

"Di sini kalian akan mendapat kebebasan. Hanya dalam beberapa hal kita harus mengalahkan kepentingan pribadi supaya dapat mensatura-sakan diri dengan yang lain.

Sanggup kau?"

"Hamba, Yang Tersuci," jawab keduanya.

"Kalian akan segera mendapat garapan untuk makanan kalian sendiri. Di sini, tak ada seorang pun yang mendapat makanan dengan tanpa meneteskan keringatnya sendiri. Kodrat mengharuskan begitu. Siapa yang malas, sebaiknya ia tidak makan."

"Hamba, Yang Tersuci. Tapi apakah kami yang bodoh ini boleh ikut belajar pada Yang Tersuci?"

"Apa yang kaukehendaki dariku?" Rsi Ropo menatapkan matanya yang bening.

"Pengetahuan," Ramud menjawab cepat.

"Hyang Bathara! Jagat Pramudita!" Rsi menyebut sambil berjalan mondar-mandir. "Zaman berubah cepat. Sudra pun haus pengetahuan. Baik! Setiap orang berhak mendapatkan pengetahuan itu. Tapi ingat-ingat! Pengetahuan bukan untuk membodohi mereka yang tak berpengetahuan. Sebaliknya dengan pengetahuan kalian harus menjadi sinar bagi teman- teman kalian! Mereka selalu hidup dalam ketidaktahuan dengan tanpa putus-putusnya. Dan jadilah mereka makhluk yang mengibakan. Lemah!"

"Hamba, Yang Tersuci."

Seorang cantrik kemudian diperintahkan membawa mereka ke barak para cantrik. Sejak saat itu keduanya bekerja sambil belajar. Dengan semangat dan kegembiraan yang tak terkira- kira mereka cepat dapat menyesuaikan diri dengan teman- teman sepadepokan.

Tidak pernah sedikit pun lupa bahwa mereka akan bertugas berat di kemudian hari. Bukan sekadar menuntut balas bagi kematian kedua orang tua mereka yang kelaparan. Tapi yang lebih penting dari semua itu, membantu memberikan penerangan bagi tanah kelahiran. 

***

Kota Lateng dan Lo Pangpang makin cantik saja.

Pembangunan loji-loji di tepi jalan raya utama makin banyak dan megah. Juga jalan-jalan makin rapi. Tidak ada lagi yang ditumbuhi rumput. Kereta dan pedati tidak pernah terganggu oleh lumpur maupun batu. Semua jalan raya diratakan dan diperlebar. Kerbau dilarang melewati jalan-jalan utama.

Karena bisa merusak jalan.

Bahkan khusus untuk kerbau yang akan berangkat dan pulang ke sawah, dibuatkan jalan tersendiri.

Kesan kemakmuran negeri sepertinya benar-benar tercermin pada wajah kota-kota di seluruh Blambangan. Inilah perubahan yang bisa dihasilkan oleh Jaksanegara dengan bantuan Kompeni. Dan atas permintaan Pieter Luzac, Jaksanegara memerintahkan orang mendirikan mesjid. Pieter Luzac sangat memperhatikan orang-orang Madura, Sidayu, serta Pasuruan yang sedang bertugas di Blambangan. Ini suatu pemandangan baru yang tidak pernah ada sebelumnya. Dan kawula Blambangan harus diam. Demi persahabatan.

Demi keamanan negeri. Demi kesetiakawanan. Kesetia- kawanan yang menghapuskan suatu kepribadian.

Bukan tanpa alasan Pieter Luzac memohon kepada Jaksanegara agar di Pangpang dan beberapa kota lagi dibangun mesjid. Bukan sekadar untuk kepentingan pasukan Madura dan pasukan gabungan lainnya. Lepas dari kepentingan itu, siasat Pieter Luzac mendapat pujian dari anggota pasukan gabungan. Mereka menganggapnya sebagai pimpinan yang tahu menghormati dan memperhatikan kepentingan rohani anak buahnya.

Namun demikian Biesheuvel tetap juga menanyakan tujuan anak buahnya itu.

"Begini, Tuan..." Pieter Luzac akhirnya menjelaskan siasatnya. "Kita pernah mendengar cerita tentang Ma San Pao, atau Cheng Ho yang menghancurkan Majapahit. Nah, maka Blambangan akan terpecah-pecah jika kita meniru apa yang pernah dilakukan laksamana besar Cina itu. Bukankah dengan begitu akan timbul saling permusuhan di antara mereka?' Kita akan dapat menaklukkan mereka dengan mudah. Untung, kan?"

"Itu akan menimbulkan antipati orang Blambangan pada Kompeni," Biesheuvel keberatan.

"Sebagian akan membenci kita. Itu wajar. Tapi paling tidak mereka telah kehilangan sebagian tenaga untuk berhadapan dengan kita. Maka dari itu, kita harus menekankan pada Jaksanegara supaya setiap lurah dan setiap narapraja melaksanakan rencana kita ini." 

"Kau ingat kegagalan Kertawijaya?" Biesheuvel mengerutkan dahinya.

"Karena Kertawijaya bukan pribumi. Itu kesalahan Tuan Gubernur Vos. Sekarang Tuan Gubernur Van de Burg tidak akan melakukan kesalahan yang sama."

"Aku akan laporkan siasatmu itu. Tapi kita harus mencoba suatu kebijakan baru. Kita perlu mendekati penduduk serta memberi tahu mereka agar tidak terjerat muslihat Rsi Ropo. Kita harus menugaskan orang untuk merayu mereka."

"Pengaruh Rsi Ropo begitu besar. Aku tidak begitu yakin pada siasat Tuan itu. Tapi jika orang Blambangan telah terbina, tentu tidak akan mendengar muslihat Ropo. Mereka Hindu, jadi mereka taat pada brahmana. Tuan harus tahu itu."

"Tuan cepat tanggap." Biesheuvel senang akan kecerdasan pembantunya itu. "Tapi aku takut pada pertumpahan darah. Pertumpahan darah yang merugikan keuangan VOC. Dan kita ingin supaya pembangkangan penduduk cepat berakhir."

Pieter Luzac terdiam. Ada benarnya pendapat pimpinannya. "Yah..." Pieter Luzac menarik napas. "Kita memang harus

melakukan banyak hal di Blambangan ini. Aku pikir yang

utama ialah membungkam mulut Rsi Ropo. Tuan, orang ini tak boleh kita biarkan terus-menerus mempengaruhi orang-orang Blambangan. Dia harus dibunuh. Bagaimanapun caranya." "Tuan bisa mencarikan dalih?"

"Mudah saja, Tuan. Bukankah Songgon tidak pernah terusik oleh anak buah kita? Nah, sejak sekarang harus kita masuki dan kita perintahkan mereka membayar pajak. Termasuk terhadap Rsi, akan dikenakan pajak. Jika dia menolak kita hukum gantung."

"Kita harus memberi tahu Jaksanegara tentang rencana ini.

Dialah yang harus mengumumkan pada orang-orang Songgon." Biesheuvel menyetujui.

"Dengan masuknya VOC di Blambangan, tentunya kita wajib menyumbang banyak hal pada peradaban. Lihat wanita- wanita Blambangan. Mereka telanjang dada. Pusar pun kadang tidak tertutup. Padahal mereka sudah/mengenal bedil dan meriam. Mereka tidak mengindahkan segi kesantunan.

Perempuan seharusnya lebih memperhatikan kesantunan."

"Ah... di samping seorang perwira yang cerdas, Tuan juga memperhatikan peradaban. Aku juga. Tapi aku pernah dibantah oleh mendiang Sersan Bozgen, bahwa kita ini sok santun, sok beradab. Merasa lebih beradab dari orang Blambangan yang telanjang dada. Menganjurkan mereka menutup perut dan susunya, padahal kita paling suka menelanjangi mereka di kamar kita."

"Setan!" Pieter Luzac mengumpat. Untung sersan itu sudah mati, pikirnya. Sesaat pikirannya melintas pada sersan itu.

Sersan yang pernah kawin dengan Repi di hadapan seorang penghulu. Dia menceritakan bahwa orang yang mengawinkannya itu sangat tidak suka melihat perempuan dengan busana yang kurang lengkap. Bahkan kepada istrinya, si penghulu memperingatkan, sebagai muslimat harus berpakaian lebih tertutup supaya tidak membangkitkan birahi lelaki yang bukan muhrimnya dan jangan banyak ke luar rumah sendirian. Tapi, ulas Sersan Bozgen, ternyata orang yang mengawinkannya itu menjadi terbeliak matanya kala memandang tumit istrinya. Cuma tumit. Bukan cuma terbeliak bahkan menelan ludah. Bozgen memperkirakan orang itu tentu suka meremas-remas susu yang masih kenyal di kamarnya. Ternyata Bozgen mendengar, istri orang itu berjumlah empat. Dan dua di antaranya masih berusia tiga belas dan dua belas tahun. Muridnya sendiri yang belajar mengaji padanya....

Jadi, jika demikian, ukuran kesusilaan bukan pada pakaian tapi pada kepala manusia sendiri. Pada hati manusia, bukan pada mulut manusia. Karena dunia penuh dengan kemunafikan. Lelaki Blambangan setiap hari melihat dada telanjang dan susu tergoler, tapi mereka tidak menyeret para perempuan itu semau-mau. Sedangkan dia? Ya, Pieter Luzac yang mengaku diri beradab ini? Juga Jaksanegara penguasa yang penuh senyum dan kesantunan itu? Munafik!! Tiba-tiba saja bayangan Bozgen membuat ia menggeragap. Berapa kali ia menerima persembahan gadis dari pribumi Blambangan? Ia lupa!

Biesheuvel sendiri jadi ingat pada Rsi Ropo. Pribumi satu itu dengan berani menuding mukanya. Bajak laut bertopeng!

Bertopeng santun! Penjahat selalu sok susila! Ternyata nilai itu bisa dibolak-balik. Bagi orang Belanda ia dianggap pahlawan, tapi bagi Rsi Ropo ia dianggap penjahat. Juga Kapten Tack.

Pahlawan bagi VOC, tapi penjahat di mata orang Jawa. Kedua orang itu terbenam dalam angan masing-masing. Suasana ruangan tempat mereka berunding menjadi sepi. Tanpa perbincangan. Namun mereka sebenarnya sedang berkata- kata dengan "aku" mereka masing-masing. Mungkin suasana beginilah yang disebut terbenam dalam keakuan. Dan siapa yang sedang terbenam dalam keakuannya, ia tidak akan pernah bersambung dengan lingkungannya.

Sebentar-dua bentar, kemudian menjadi dua puluh bentar, keduanya melamun. Tapi Biesheuvel lebih dulu sadar. Dan lebih dulu menyapa.

"Kita sama-sama melamun." Ia menghela napas. Pieter Luzac terkejut. Ia menghapus keringat dingin yang timbul sebesar biji-biji jagung di jidatnya. Kulitnya agak kemerah-merahan.

"Ah, Tuan... tahu-tahu Bozgen muncul bagai malaikat," katanya malu. Menyadari bahwa melamun adalah kesia-siaan.

"Biarlah orang itu! Yang penting sekarang kita memberitahukan rencana kita pada Tuan Schophoff dan Jaksanegara, agar segera dilaksanakan."

"Aku akan mengatur semua persiapannya, Tuan. Bahkan jika perlu mengawasi langsung persiapannya."

"Hati-hati, Tuan. Blambangan telah banyak memakan korban. Baik perwira maupun tamtama kita!"

Luzac meninggalkan ruang kerja Biesheuvel. Ia tak mengerti mengapa orang Blambangan yang kelihatan lebih tidak beradab itu sukar ditaklukkan? Apa dasar mereka melawan? Apa yang menjadi dasar keberanian mereka?

Dendam? Mungkin juga.

Beberapa hari setelah itu diumumkan ke seluruh pelosok Blambangan bahwa Patih Juru Kunci akan melakukan anjangkarya. Patih itu akan berbicara langsung dengan seluruh kawula, maka seluruh kawula nanti diharap berkumpul di pendapa-pendapa kelurahan yang akan disinggahi sang patih Blambangan.

Tentu saja berita itu merambat cepat ke mana-mana. Baru kali ini pembesar Blambangan di zaman pemerintahan Belanda mengadakan an-jangkarya. Tentu ada hal yang menarik. Maka seluruh orang dikumpulkan. Di samping berjuta tanya masih ada lagi kegiatan lain. Lurah-lurah yang sudah menerima kabar bahwa rumahnya akan disinggahi jadi sibuk menyiapkan hidangan, juga persembahan bagi sang patih untuk dibawa pulang ke Pangpang. Bahkan juga sebagian menyiapkan persembahan khusus... wanita cantik. Pendapa-pendapa dihias. Lampu-lampu jalan ditata rapi. Jalan-jalan kampung harus dibersihkan dulu dari rumput-rumput. Dengan demikian harus terkesan bahwa Blambangan telah menjadi negeri makmur. Lebih makmur dari masa ketika diperintah Wong Agung Wilis, musuh VOC. Pagar-pagar harus dikapur. Tidak boleh memasang umbul-umbul supaya terkesan bahwa sebenarnya mereka tidak siap menerima anjangkarya mendadak. Namun seakan-akan mereka memang baik dan patuh. Petani harus tetap bekerja di sawah. Kecuali jika terdengar bunyi kentongan yang ditabuh bertalu-talu, maka mereka semua harus segera meninggalkan sawahnya dan berkumpul di pendapa kelurahan.

Tentu saja semua pamong desa menjadi sibuk. Semua merajin-rajinkan diri. Suka atau tidak suka. Dan ada pekerjaan berat yang harus mereka lakukan, yaitu menjaga keamanan selama patih Blambangan berada di tempat mereka. Mereka takut kalau-kalau Wong Agung Wilis yang sekarang ini berada di mana-mana mendadak muncul dan membunuh sang patih, maka mereka akan menerima hukuman.

Dan anjangkarya itu dimulai dari ujung timur Tanah Semenanjung Blambangan. Dari satu desa ke desa lainnya. Dalam rombongan Patih tampak juga Schophoff sebagai perwakilan VOC. Sepanjang jalan yang mereka lalui tidak kelihatan persiapan apa-apa. Memang jalan-jalan lebih rapi dari biasanya. Juru Kunci dan Schophoff memuji kawula yang dinilai telah mulai menyadari arti pembangunan negeri.

Tidak seorang pun mengelu-elukan mereka di perjalanan. Bahkan cenderung lebih banyak yang tidak memperhatikan bahwa sedang ada pembesar negeri lewat. Padahal mereka dalam kawalan pasukan istimewa. Bahkan jika kawula melihat iring-iringan itu dari kejauhan, tampaknya mereka lalu sengaja menyimpang. Memang ada hal yang tidak disukai oleh kawula Blambangan. Yaitu jika mereka bertemu rombongan pasukan pendudukan dalam jumlah besar saja, maka kawula harus membuang senjata atau peralatan 4 apa saja yang mereka pegang sekurang-kurangnya satu depa dari jangkauan mereka. Di samping itu harus melepas topi atau destar yang sedang mereka pakai dan harus berlutut menyembah. Jika tidak maka popor bedil akan menghantam mereka. Itu sebabnya kawula lebih suka menyimpang daripada berpapasan.

Tentu saja hal itu membuat Schophoff curiga. Maka ia memerintahkan para pengawal agar lebih berhati-hati. Ia menganggap kawula Blambangan tidak ramah. Apalagi ketika mereka sampai di Grajagan. Bau ikan dan udang dijemur sangat mengganggu hidung Schophoff. Kulit kerang terserak bercampur tanah memantulkan sinar mentari. Menyilaukan mata. Pepohonan bakau hampir punah dibabat. Tidak pernah seorang pun berpikir bahwa bakau-bakau itu berguna untuk melindungi kelestarian pantai.

Pendapa kelurahan berada tak jauh dari pantai. Deburan ombak terdengar jelas. Di kiri-kanan rumah Lurah atau biasa dipanggil Buyut oleh orang kampung itu tumbuh beberapa pohon nyiur dan pisang. Rumput di ladangnya tidak dipangkas, karena memang disediakan untuk makanan kerbau dan kambing. Asap nampak mengepul menusuk langit dari dapur Bu Lurah. Tentu menyediakan masakan istimewa. Ada sayur rebung, nangka muda, ada ayam bakar, dan beberapa masakan yang terbuat dari daging kambing. Mereka tahu bahwa mereka tak boleh menyediakan daging babi. Sebab peraturan baru yang dikeluarkan oleh Jaksanegara mengatakan semua pamongpraja tidak boleh makan daging babi.

Begitu rombongan yang tidak kurang dari dua puluh lima orang itu tiba, Lurah menyambut dengan tergopoh-gopoh. Juga semua pembantunya. Kentongan dibunyikan tiga kali-tiga kali untuk memanggil petugas keamanan. Dan segera para petugas yang sudah ditunjuk datang mengepung rumah itu. "Assalamuallaikum... dan... eh... eh... selamat datang, Yang Mulia. Selamat datang, Tuan Besar " Lurah Enda

menyembah sambil ngelesot di lantai pendapa. Sulit bagi lurah itu untuk mengucapkan kata-kata pembukaan. Juru Kunci memaklumi, karena memang maklumat Jaksanegara masih baru. Kendati begitu ia ingin menggunakan ketakutan lurah itu untuk menanamkan wibawanya.

"Mualaikumsalam " balas Juru Kunci. "Sudah dengar

maklumat Yang Mulia Jaksanegara?" "Su... su sudah, Yang Mulia."

"Nah, Tuan, semua perintah sudah dilaksanakan di sini," ujar Juru Kunci pada Schophoff. Dan orang itu tertawa.

Rupanya tiada hari tanpa tawa bagi Schophoff. Kemudian mereka dipersilakan duduk. Dua puluh lima orang itu semua duduk. Ada sebagian yang diperintahkan berjaga-jaga. Ada yang duduk di kursi yang tersedia, ada pula yang di bangku panjang. Beberapa saat kemudian beberapa gadis dengan berkain model pinjungan keluar ke pendapa itu, menyuguhkan masakan, minuman, dan senyuman. Mata para prajurit Kompeni hitam jadi nyalang mengekor gerakan tiap gadis.

Mata Schophoff sendiri tampak berbinar. Tapi bau ikan masih saja merajai suasana dan merupakan tikaman yang menurunkan selera dan nafsu Schophoff. Mau tak mau rasa mual mengaduk perutnya. Schophoff mencoba mengatasinya dengan sering meludah. Walau itu bukan kebiasaannya, meludah di lantai. Maka ia tetap tak makan kala semua makan. Lurah agak kebingunan tamu agungnya tidak makan. Seorang gadis ia perintahkan mengantarkan minuman pada Schophoff yang duduk menyendiri. Schophoff terbahak-bahak. Dan tak ayal lagi ia menarik tangan perawan yang menyuguhkan minuman itu. Sebentar kemudian gadis itu telah terduduk di pangkuan Schophoff. Tiba-tiba saja gadis itu menjadi pucat dalam dekapan tangan besar dan berbulu kasar. Ia tak ubahnya boneka tanpa daya di pangkuan Schophoff.

Semua orang tak berani mencegah. Juru Kunci pun tidak.

Ia cuma mengalihkan pandangnya ke tempat lain. Namun terhenti menelan. Tiba-tiba saja bayangan Jagapati berkelebat di depannya sambil tersenyum melecehkan.

"Lihat, Juru Kunci! Itukah persahabatan? Lihat hartamu!

Lihat wanitamu! Semua dijarah-rayah oleh sahabat kalian. Dan kalian cuma mendapat uang yang sebenarnya cuma pinjaman! Pinjaman! Dengar, pinjaman! Dan loji-loji megah itu? Bukan milik kawulamu! Bukan milik orang Blambangan, tapi milik orang yang mengaku sahabat! Dan siapa yang menelanjangi perawan-perawanmu dan memperkosa mereka? Lihat!

Sahabat-sahabatmu. Dan jalan-jalan serta jembatan-jembatan itu? Tidak lain hanya untuk memperlancar gerakan mereka sendiri! Dan kau tidak pernah merasa sakit. Ha... ha... ha... dan tampaknya kau senang. Ha... ha..."

Juru Kunci terkejut. Terngiang tawa lepas Jagapati. Itulah sebabnya Jagapati alias Mas Rempek meninggalkan Pangpang. Sebentar Juru Kunci melirik Schophoff. Keringat dingin keluar di dahinya. Ia pejamkan mata agar tak melihat tingkah Schophoff itu. Ingin ia membela, tapi, semua pamong desa pun tak ada yang berani mencegah perbuatan Schophoff.

Beberapa bentar kemudian ia memerintahkan Lurah Enda untuk segera mengumpulkan kawulanya.

Schophoff agak kecewa kentongan ditabuh bertalu-talu.

Arak-arakan manusia segera memasuki pelataran. Tiap rombongan atau perorangan yang datang segera berjongkok. Di bawah terik mentari mereka berjongkok. Lelaki dan perempuan. Dengan destar kumuh dan dada telanjang. Sinar mata redup, kaki masih berlumpur. Sedang yang perempuan dengan sanggul di kepala bagian atas dan susu tergoler tanpa penutup dada. Sebagian lagi masih membawa cangkul.

Sedang yang dari laut masih membawa jala. Segala bau keringat menguap di bawah terik mentari. Menyatu segala aroma yang membuat Schophoff merasa makin teraniaya. Dengan malas ia menyingkirkan gadis yang ketakutan dari pangkuannya.

Lurah mulai memberikan pengarahan pada kawulanya. Memperkenalkan tamunya satu-satu. Tapi para kawula itu tetap bisu dalam jongkoknya. Tidak ingin memperhatikan siapa-siapa.

"Nah, Saudara-saudara, Yang Mulia Juru Kunci akan berbicara langsung pada Saudara-saudara!" Kemudian Lurah menyembah pada Juru Kunci, patih Blambangan. Seorang yang tidak terhitung tinggi tapi berukuran sedang. Tidak terlalu gemuk juga tidak terlalu kurus. Rambutnya tertutup destar. Tidak terlihat apa ikal atau tidak. Kulitnya sawo matang dan mukanya agak bopeng. Barangkali pernah sakit cacar pada masa kecilnya. Kumis jarang-jarang, sekalipun dipelihara.

"Orang ini sangat sakti," bisik seseorang pada teman yang berjongkok di sampingnya.

"Sakti? Menyamai Wong Agung Wilis?"

"Barangkali. Lihat... ceritanya ia pernah mati tujuh hari dan dalam kubur mukanya dimakan rayap. Terasa nyeri-nyeri, lalu ia bangkit kembali."

"Gila kau!" temannya mengumpat dalam bisik. Menahan senyum.

Ternyata suara Juru Kunci agak serak dan kurang enak didengar. Sekalipun begitu, ia tetap bicara sambil memutar- mutar wajah ke segala penjuru. Entah apa yang ia cari.

"Memamerkan mukanya yang bopeng!" bisik seorang perempuan pada teman di sampingnya. Namun ia tak berani memandang ke depan. Semua orang menundukkan kepala. "Kendati begitu banyak perawan cantik yang mau," balas satunya.

"Ah, mata duitan saja!"

Tidak berlanjut pembicaraan mereka. Seorang Kompeni mondar-mandir mengawasi mereka. Maka kini mereka harus mendengar rentetan kata-kata Juru Kunci.

"Saudara-saudara, kita sekarang sudah tidak perlu lagi berpikir tentang perang. Kita bangsa yang cinta damai. Di bawah kebijakan Yang Mulia Jaksanegara kita bisa membangun jalan-jalan raya dengan baik. Dan lihat pemandangan kota, loji-loji indah berderet. Nah, untuk membawa Blambangan menjadi negeri maju membutuhkan pengorbanan. Membutuhkan pengertian dan bantuan Saudara-saudara. Bangsa Belanda telah membantu kita mengusir laskar Bali yang menjajah kita. Maka mereka juga akan menolong kita dalam memerangi kemiskinan. Dengan bantuan mereka negara akan mencapai tingkat kemakmuran yang kita cita-citakan. Pendek kata akan menjadi suatu negeri adil makmur, tata tentrem kerta raharja." Juru Kunci menarik napas sebentar sambil melihat mereka yang berjongkok di hadapannya. Tapi tiada perhatian mereka terhadap kata- katanya. Menunduk. Dan tetap menunduk tanpa kata. Ia melanjutkan lagi, "Tapi tiada kebahagiaan yang kita peroleh dengan tanpa membayar. Kita hsrus juga membayar kebahagiaan itu dengan kerja sama. Karena itu kami meminta

kerelaan Saudara-saudara untuk membantu kami membangun benteng-benteng dan loji-loji. Kita juga akan membangun kembali pengairan yang selama ini menjadi tak teratur.

Bagaimana Saudara-saudara? Setuju?"

Tiada sahutan. Tiada yang menjawab. Semua orang menunduk. Yang petani maupun yang nelayan hanya berunding dengan mata. Juru ? Kunci mengernyitkan kening. Menunggu beberapa bentar. Tapi tetap bisu. Tampak olehnya mereka dibasahi oleh peluh mereka sendiri. Laki-perempuan, dipanggang mentari.

"Kenapa kalian diam? Kami bukan Wong Agung Wilis yang suka membunuh dan melindas. Jangan takut!" ujar Juru Kunci. Ia ingin membandingkan pemerintahannya yang menjanjikan kemakmuran seluruh kawula secara menyeluruh itu dengan Wong Agung Wilis yang menghukum banyak orang. Tapi ia sama sekali tidak menyadari bahwa kata-katanya justru menyakiti hati kawula. Maka mulut mereka kian rapat terkunci. Sejak ia memberikan salam, tiada seorang pun yang menjawab.

"Baiklah. Jika demikian aku ingin bertanya, siapa di antara kalian yang sanggup membantu kami membangun negeri ini? Bekerja di loji-loji buat sahabat-sahabat kita?"

Juga diam. Tidak seorang pun mendongakkan kepala. Juru Kunci mulai tersinggung atas perlakuan mereka. Matanya menyala memandang Lurah. Dan orang yang dipandangi menunduk. Takut. Bahkan jika dilihat dari ujung destarnya, tubuh Lurah Enda gemetar. Ya! Ia telah menjadi ketakutan karena sikap kawulanya yang membisu itu. Takut kena marah, takut kehilangan jabatan, takut kehilangan keenakan- keenakan! Tapi sejauh itu kawulanya tetap diam. Seperti sudah berjanji satu dengan lainnya.

"Kalian tidak layak kecewa terhadap pemerintahan sekarang." Patih Blambangan itu menyabarkan diri. "Mungkin saja karena kalian harus membayar pajak lebih banyak dari dulu, atau melakukan pekerjaan yang lebih berat dari dulu.

Tapi lihat kemajuan yang sudah kita capai! Kalian sekarang lebih dihargai dari dulu. Sekarang kalian boleh mengutarakan pendapat kalian langsung di hadapan Patih. Apakah ini pernah dilakukan oleh Wong Agung Wilis? Nah, kalian boleh menyatakan pendapat sejauh itu tidak mengganggu ketenteraman umum. Tidak menimbulkan keresahan dalam tata kehidupan Blambangan." Juga tiada berjawab. Kejengkelan Juru Kunci memuncak. "Baik jika demikian, aku menganggap kalian sudah

mengerti apa yang kami maukan. Aku menganggap kalian

bersedia dan aku akhiri pertemuan kita. Mulai besok kalian harus mengirimkan sedikitnya sepuluh orang ke Lateng. "

"Tunggu!" tiba-tiba seorang pemuda angkat bicara. Semua mata tertuju padanya. Tapi pemuda itu juga berjongkok seperti lainnya. Sehingga tidak mudah dilihat, apalagi ia bertopi lebar.

"Masih kurangkah pengorbanan kami untuk pembangunan?” tiba-tiba pemuda tadi bersuara keras. "Hampir semua yang dikirim ke Lateng atau ke Lo Pangpang untuk membangun benteng serta loji tidak kembali. Apakah yang demikian harus diteruskan?"

Orang bopeng itu tampak kebingungan. Maka ia menoleh pada Schophoff. Yang bersangkutan pun menjadi merah mukanya. Tidak terbayang-kan bahwa akan ada pertanyaan semacam itu. Tapi ia berjalan juga ke tempat Juru Kunci berdiri. Dengan kaki tegap yang direnggangkan ia berka-cak pinggang dan memandang semua orang. Mereka tertunduk kecuali pemuda yang tadi angkat bicara.

"Mereka semua masih bekerja di sana," Schophoff menerangkan kini. "Ada di tangsi-tangsi kami. Memang ada sebagian yang sakit. Kami akan rawat mereka baik-baik sebelum pulang ke keluarga masing-masing."

"Mereka akan pulang? Jadi tentang mayat-mayat di hutan- hutan Merawan-Kumitir itu cuma kabar burung?" Kembali pemuda bertopi lebar itu bertanya.

"Aku percaya itu kabar yang ditiupkan Mas Rempek. Jadi apa perlunya kalian tanggapi? Mas Rempek sengaja memecah- belah persatuan Blambangan demi kepentingan pribadinya," Juru Kunci yang menjawab kini. "Baik. Tapi ke mana semua perawan-perawan desa kami? Adakah juga Mas Rempek? Atau Yang Mulia mencari kambing hitam dan itu adalah Yang Mulia Rempek?"

Dada Juru Kunci berdesir. Sekejap aliran darahnya serasa berhenti. Berani benar sudra bicara semacam itu? Tentu ini anak buah Wong Agung Wilis. Maka tanpa sesadarnya ia menyebut,

"Ya Allah.... Ya Rabi " Kemudian ia menghela napas.

"Bagus. Kini jelaslah sudah bagi kami bahwa Yang Mulia dilahirkan di tanah Blambangan, tapi dengan ketidaktahuan dan ketidakacuhan itu telah menjadi orang asing di tanah yang melahirkan, membesarkan, menghidupi dan "

"Cukup!" Juru Kunci tak dapat menahan lagi. "Selayaknya kau ditangkap karena menghina penguasa negeri. Kau menampik uluran tangan pemerintah yang ingin membangun masa depan kalian bersama."

"Bersama?" Pemuda itu-itu juga yang angkat bicara.

Sedang yang lainnya makin membenamkan mukanya ke sela kedua dengkul mereka.

"Sejak Yang Mulia Jaksanegara tampil sebagai penguasa, sebenarnya kebersamaan di Blambangan telah ambruk!

Dengan dalih kerja sama 4 penguasa negeri ini telah menyerahkan kami ke tangan penguasa asing yang lebih bermodd dari para Yang Mulia! Sedang para Yang Mulia memperkaya diri dengan uang dari negeri-negeri asing itu! Lebih dari itu Yang Mulia telah menjual semua yang terbaik di Blambangan. Termasuk gadis-gadis!"

"Iblis!" Schophoff pun mengumpat.

Mendengar itu para pengawal mulai bergerak mendekati sang pemuda yang berjongkok di tengah kerumunan orang lain. Namun orang yang berjongkok paling belakang kini berdiri dan berseru, "Jangan lakukan itu! Pendapat pemuda itu adalah pendapat kami bersama." Dan sehabis kata-kata itu semua orang di baris terbelakang berdiri juga. Diikuti baris kedua, ketiga, dan seterusnya, sampai semua orang berdiri. Dan tanpa penghormatan lagi mereka bergandengan tangan satu dengan lainnya- lalu meninggalkan halaman pendapa kelurahan.

Sedang pemuda itu mereka lindungi di tengah barisan orang yang keluar.

"Berhenti!!!" teriak Schophoff keras. Sejenak mereka menghentikan langkah. Tapi tak kembali jongkok.

"Apa yang kalian kehendaki supaya kami bisa bekerja sama lagi?" Schophoff mencoba membujuk mereka.

"Bunuh Jaksanegara dan kembalikan Yang Mulia Sutanegara pada kami!" teriak mereka bersama. Laki- perempuan, tua-muda, petani, dan nelayan, menyatu dalam suara yang membahana. Itu saja yang mereka teriakkan berulang kali. Kemudian mereka mulai beranjak meninggalkan halaman kelurahan tanpa dapat dicegah lagi.

Lurah itu pun tidak mampu berbuat apa-apa. Di hadapan Juru Kunci ia tak ubahnya tikus tercebur ke minyak. Menoleh ke kiri kena marah. Ke kanan kena marah. Akibatnya ia tidak mampu menjawab. Kenyataan menunjukkan bahwa kawula tidak gampang menerima paksaan. Namun Juru Kunci dan Schophoff yang segera melanjutkan perjalanan menilai, tentunya pemuda tadi bukan sembarang sudra. Tidak ada sudra seberani itu.

Itu pengalaman pertama. Dan setiap ada yang pertama ada juga yang kedua dan ketiga. Demikian pula pengalaman Juru Kunci. Muncar, Grajagan, terus ke Lateng, hampir tidak berbeda. Jawaban yang diterima adalah ketidaksukaan pada Jaksanegara dan Belanda. Bahkan kala di pinggiran kota Lateng pembicaranya seorang wanita muda yang sangat cantik, Siapa saja akan menelan ludah memandang wanita itu. Bicaranya lancar, suaranya merdu. "Sebelum kekuatan asing masuk, negeri kita cukup maju dibanding Mataram. Perniagaan kita lebih baik. Justru sekarang kita menjadi susah. Kawula harus bekerja makin keras." Gadis itu memberikan suara yang mempengaruhi semua kawula Lateng yang kebetulan ikut hadir pada pertemuan itu.

"Lihat saja eloknya negeri kita sekarang! Kami sudah bersusah-payah mengatur ketenteraman negeri, tapi kalian kurang membantu dengan sepenuh hati. Kami tidak menuntut banyak. Yang kami butuhkan adalah keikutsertaan kalian dalam membangun negeri ini. Jangan pikirkan lagi yang lama itu. Sebab jika kita tak beranjak dari pikiran lama itu kita tidak akan pernah melangkah maju. Wong Agung Wilis telah membawa kita pada pertentangan yang tiada pernah henti.

Apalagi dengan kebijakan perniagaan yang tertutup di bawah kuasa mutlak kerajaan, maka kalian tidak akan pernah melihat di negara kita berdiri gedung megah milik perorangan seperti sekarang ini. Jadi jika kalian giat membangun maka keuntungan akan kita capai beberapa tahun lagi!"

"Mungkin di antara segala pemerintahan yang pernah ada di Bumi Blambangan ini, pemerintahan yang sekarang adalah yang terburuk!" sahut gadis yang bukan lain adalah Mas Ayu Prabu sendiri dengan keras. "Rupa-rupanya sudah jadi keahlian Yang Mulia Jaksanegara dan semua bawahannya memutarbalikkan keadaan. Bukankah masih segar dalam ingatan kita Wong Agung Wilis melindungi kawula dari pengisapan para narapraja atau orang-orang yang mencari keenakan pribadi? Jika Yang Mulia mengagungkan pembangunan sekarang ini, siapa yang merasakan hasil pembangunan ini? Siapa? Tidak ada satu pun kawula Blambangan menikmati loji-loji mewah itu! Sekalipun tangan mereka, keringat mereka, bahkan uang mereka, yang membangun gedung-gedung itu. Jadi apa artinya semua ini? Hijau bumi kita ini memang, biru laut kita, menjanjikan kemakmuran yang tiada berbanding. Namun selama pemerintahan di bawah nasihat atau pendapat pembohong dan perompak, maka pemerintahan itu akan menjadi pemerintahan yang jahat."

"Tutup mulutmu! Bibirmu terlalu mungil dan tipis untuk berbicara sekeras itu!" Juru Kunci tersinggung.

"Tentu Yang Mulia akan tersinggung," gadis ayu itu meneruskan. "Apalagi yang bicara cuma seorang wanita. Yang Mulia terbiasa menghina wanita. Karenanya merasa rendah menerima pendapat seorang wanita. Bagi Yang Mulia wanita tak lebih seonggok daging pemuas nafsu hewani Yang Mulia. Yang Mulia tak pernah ingat atau barangkali memang tidak pernah tahu bahwa kebesaran Majapahit dimulai sejak pemerintahan seorang wanita! Yang Mulia Tribuana Tunggadewi Bathara Istri?" Wanita muda itu tertawa.

Menyakitkan bagi Juru Kunci. Ia sama sekali tidak tahu siapa yang sedang bicara di tengah kerumunan kawula Lateng itu.

"Astaghfirullah al adzim... sundal dari mana kau menyusup ke tengah kawula Lateng?" Bibir Juru Kunci bergetar. "Tak pernah ada perempuan Blambangan yang dididik seperti kau!"

"Hanya penjahat dungu yang bisa bicara seperti itu, Juru Kunci!" Mas Ayu menghilangkan sebutan Yang Mulia. Muka Juru Kunci kian membara. "Pikiranmu dipenuhi persundalan sehingga mata dan telingamu tertutup oleh ketidaktahuan. Jika patihnya semacam kau ini, lalu bagaimana pula macamnya Jaksanegara yang sekarang ini menjadi penguasa tertinggi di bumi Blambangan?" Tertawa mengejek.

"Diam!!!" Juru Kunci membentak.

"Penguasa tanpa pengetahuan adalah penjahat! Dan dalam pikiran penjahat tak ada lain kecuali menipu, memaksa, merampas, dan bersundal! Nah, aku cukup panjang bicara tentang kebo-brokanmu. Sekarang biarkanlah aku pergi dengan damai. Tapi aku berpesan untuk kaudengar dan juga kausampaikan pada penguasa tertinggi bumi Blambangan ini, kawula tidak pernah suka pada kalian! Kalian telah membunuh begitu banyak saudara-saudara kami yang tanpa dosa."

"Kau harus ditangkap, Sundal!"

"Bila ingin selamat dan berkumpul kembali dengan kekasihmu yang bekas istri ayahmu dan juga jadi kekasih Biesheuvel itu, jangan mencoba menangkap seorang pun dari kami. Perintahkan para pengawal memunggungi kami! Atau kami membunuhmu serta Schophoff beramai-ramai, sekarang juga!"

"Apa kalian bilang?" Schophoff melompat dari duduknya. "Jangan kaget! Kami pun dapat melakukan apa saja yang

kalian lakukan." Bersamaan habisnya kalimat itu seluruh yang hadir bangkit berdiri. Tanpa bisa dicegah lagi. Mereka lebih berani dari yang di Muncar, atau Grajagan, atau Sumberwa- ngi, atau tempat lain yang sudah mereka datangi. Bahkan semakin menjauh, suara mereka semakin menggema, "Dirgahayu Wong Agung Wilis! Gantung Jaksanegara! Bunuh! Bunuh!"

Keringat dingin Juru Kunci keluar makin deras. Juga Schophoff. Ketawanya lenyap. Seorang wanita dengan bibir mungil mampu menggerakkan begitu banyak kawula. Atau mereka semua tertarik karena kecantikannya? Ah, siapa dia? Lurah yang ditanya hanya menerangkan bahwa wanita muda itu sering berada di warung di sudut jalan raya Lateng. Tapi Lurah sendiri mengaku tidak pernah kenal namanya.

Schophoff melihat dengan mata kepala sendiri, bukan cuma di ujung timur Blambangan orang tidak menyukai Jaksanegara, tapi juga di Jember, Lumajang, Puger, Panarukan, Wijenan, dan daerah-daerah lain di wilayah Blambangan. Schophoff melihat semua yang tak pernah ia bayangkan semula. Tanpa sadar lamunan mengajak ia kembali ke tanah airnya. Negeri di bawah air, Belanda. Beberapa puluh tahun silam mungkin hal serupa ini juga pernah terjadi. Kala bangsa Belanda ingin membebaskan diri dari cengkeraman bangsa Spanyol. Ia tidak ingat berapa tahun lalu. Tapi jelas bahwa bangsa Belanda di bawah seorang pemimpin yang penuh wibawa, Wilhelm van Oranye memekikkan kebebasannya. Apakah Wong Agung Wilis sama dengan Wilhelm van Oranye? Ia tidak tahu persis. Tapi kini ia sadar bahwa Belanda dan ia sendiri telah menjadi Spanyol atas Blambangan. Apakah memang kodratnya demikian? Manusia harus menindas dan ditindas?

Tentu Schophoff tidak bisa menjawab pertanyaannya sendiri. Sebab barangsiapa ingkar dari cita-cita kebebasannya maka ia tidak akan menghargai kebebasan orang lain.

***

Biesheuvel menggertakkan gigi kala mendengar laporan Schophoff tentang perjalanannya ke daerah-daerah. Hampir semua lelaki-perempuan membenci Jaksanegara. Bahkan yang menyakitkan hati, meminta kembalinya Sutanegara sebagai syarat dari mereka untuk berbaik kembali dengan VOC. Atau jika VOC menolak semua permintaan mereka, maka mereka akan memihak pada pemerintahan Wong Agung Wilis yang diwakili oleh Pangeran Jagapati di Derwana.

Gila!

Biesheuvel merasa ditantang. Apa hebatnya Rempek?

Seorang pribumi yang telanjang dada. Ia menghitung-hitung bulan dan tanggal. Pertengahan bulan Agustus tahun seribu tujuh ratus tujuh puluh satu. Ia segera panggil Pieter Luzac dan Schophoff.

"Tidak bisa tidak! Kita serbu mereka! Bulan ini juga!" kata Biesheuvel penuh keyakinan. Ia lulusan Akademi Militer di Prancis. Mengapa kalah dengan pribumi telanjang dada? "Siapkan pasukan kita. Kita berangkat ke Derwana!"

"Tetapi apakah tidak perlu menunggu bantuan dari Surabaya?" Pieter Luzac menanyakan. 'Tidak! Jika mereka datang, maka mereka tinggal memungut mayat Jagapati," jawab Biesheuvel tertawa.

Disambut tawa oleh Schophoff dan Pieter Luzac. Namun usai tertawa, mereka harus bekerja keras menghimpun dan mengatur siasat penyerbuan ke Derwana. Mereka sibuk mempelajari peta. Bahkan Juru Kunci dan Jaksanegara mereka perintahkan mencari penunjuk jalan. Sebab tanpa penunjuk jalan, mereka akan mudah tersesat. Untuk itu tidak semua orang menyediakan diri. Karenanya mereka menangkap beberapa pedagang Bali yang mereka perkirakan sering menjajakan dagangannya ke daerah itu. Demikian pula pedagang-pedagang Madura.

Benar memang dugaan mereka. Maka Biesheuvel memutuskan menyerbu dengan penunjuk jalan orang-orang Bali dan Madura itu. Tapi tentu saja mereka tidak akan menggunakan jalan semestinya. Gelombang demi gelombang pasukan Kompeni menyusup ke hutan-hutan. Biesheuvel ingin mengadakan penyerbuan mendadak. Dia ingin melihat Jagapati terbirit-birit ketakutan, atau menyembah memohon ampun dan menyembah kakinya.

Sementara itu Kopral Jarkawi bersama rombongan menyusup dari timur-utara. Kopral yang berasal dari Madura itu berkali-kali mengumpat karena harus menembus semak berduri. Di Madura tidak ada hutan selebat ini. Sial betul aku kebagian medan seperti ini. Mungkin lewat selatan tidak segelap ini. Ah, rotan lagi. Semak lagi. Malas juga rombongan itu menebang semak. Sudah setengah hari mereka melintasi jalanan sial itu. Tapi sampai senja mereka belum juga sampai di Derwana. Ah... tersesat barangkali. Mereka beristirahat makan. Bersama seratus orang lainnya ia beristirahat.

Pimpinan rombongan orang Si-dayu berpangkat letnan. Letnan Samirin.

Kopral Gimun dari Surabaya datang padanya saat menikmati pembagian minuman manis senja itu. "Bagaimana, Pral? Capek?"

"Bagaimana tidak capek? Di Madura tidak pernah jalan di tempat seperti ini."

"Tapi, lihat! Letnan kita tidak tampak lelah." "Yah. Apa ya rahasianya?"

"Oh, tidak tahu?"

"Tidak!" Jarkawi menjawab.

"Ceritanya begini. Waktu dia lahir, ia dibuang ke laut. Tapi malah jadi besar dan perkasa."

"Masya Allah Bagaimana bisa begitu?"

"Selama tiga hari dalam laut, ia merasa gatal-gatal.

Ternyata digerogoti teri (ikan kecil-kecil). Ia terkejut amat sangat dan melompat dari laut. Nah, lihat mukanya bopeng, kan? Itu dimakan kawanan teri di laut."

"Gila kau, Mun!" keduanya terbahak-bahak. Anak buah mereka heran melihat kepala regu mereka terbahak-bahak. "Mana ada anak kecil bisa hidup di laut "

Memang ada beberapa cara orang melepas lelah.

Menghibur diri dengan lawakan, atau dengan cara lain. Pokoknya yang enak saja. Setelah beberapa bentar beristirahat, mereka mendapat perintah untuk bergerak lagi, dengan tujuan agar tidak terlambat, dan bisa mengepung Derwana. Malam itu belum ada bedil yang meletup. Ternyata perjalanan masih jauh. Tengah malam semua pasukan diperintahkan istirahat. Justru saat itu anak buah Mas Ayu Prabu bergerak untuk mengamati gerakan pasukan Belanda.

Sedang Mas Ayu Prabu sendiri bergerak ke Bayu untuk melapor. Dengan kecepatan luar biasa kuda Mas Ayu yang terlatih dan terbiasa melewati jalan ke Bayu melesat bagai anak panah. Tentu mendahului gerakan pasukan Kompeni. Bagi orang Bayu, inilah yang ditunggu-tunggu. Mereka sudah terlalu lama menyiapkan diri untuk menghancurkan VOC.

"Selamat datang, Kekasih. Dirgahayu...," Wilis menyambut Ayu Prabu. Sementara itu Mas Ayu Tunjung menyimpan hatinya yang bergelora melihat kehadiran Ayu Prabu kembali di Bayu.

"Dirgahayu, Yang Mulia. Dirgahayu "

"Tentu ada yang penting, maka Yang Mulia naik?" "Ya. Kompeni bergerak."

"Inilah yang kita tunggu." Wilis tersenyum. Ia tahu tidak cukup waktu dua hari untuk menjangkau Derwana jika mereka berjalan melewati rimba dan paya-paya. Bukan cuma alam yang harus mereka hadapi. Tapi juga nyamuk dan lintah yang akan membuat mereka ketakutan dan berlumuran darah karena diisap oleh binatang-binatang yang menjijikkan itu.

"Undu, kau saat ini juga pergi ke Jember. Temui Yang Mulia Ramad, sampaikan supaya menyerbu Benteng Jember. Dan terus memulai peperangan. Kita beri pelajaran pada Steenberger di Jember!" Wilis memerintah pada anak Sardola.

"Hamba, Yang Mulia." Dan setelah menyembah orang itu berangkat. Gagah. Seperti ayahnya, tapi tidak bercodet di atas alisnya. Ah, ahli meriam itu kini telah meninggal karena sakit, atau barangkali karena tua?

Setelah itu Wilis sendiri memerintahkan semua orang Bayu bersiap.

"Saatnya telah tiba!" katanya setelah tiap kepala keluarga dikumpulkan. "Perang membela kehormatan negeri kita telah datang! Demi Blambangan, demi Hyang Maha Qiwa, kita berangkat bertempur!"

"Hamba, Yang Mulia!" "Ambil senjata kalian masing-masing! Semua! Laki- perempuan!" Beberapa saat ia menoleh pada Ayu Tunjung. "Mas Ayu Tunjung akan memimpin laskar wanita!"

"Dirgahayu! Dirgahayu!" teriak mereka bersama. Dan mereka bubar untuk mengambil senjata dan memberi tahu anak-istri mereka. Wilis sendiri segera melangkahkan kakinya ke rumah ibunya. Namun di ujung gang seseorang menyapanya,

"Yang Mulia...," Suara merdu setengah berbisik. "Siapa...?"

"Hamba," Mas Ayu Tunjung memberi hormat. "Ada apa?" Willis menghentikan langkahnya.

Mas Ayu Tunjung gugup sesaat. Menunduk. Menarik napas panjang.

"Ada apa?" ulang Wilis.

"Eh... Yang Mulia memilih hamba menjadi kepala laskar?" "Ya, laskar wanita! Kenapa?"

"Apakah sudah tepat?"

"Bukankah selama ini kau yang memimpin mereka?" "Iya... tapi..."

”Tapi apa?"

"Tidakkah lebih tepat kalau Mas Ayu Prabu?"

Wilis terkejut. Apa sebab gadis ini bertanya seperti itu? Tentu ada apa-apa. Tidak biasanya gadis ini menghadap.

"Yang Mulia?" Wilis menatap tajam. Beberapa bentar. Gadis itu menunduk. Wilis tetap menatapnya tajam. Hening beberapa saat. Ayu Tunjung melirik Wilis. Pemuda itu kini menarik napas. "Ayu Prabu bertugas di mana-mana. Ia memimpin pasukan di Lateng dan..."

"Tapi bukankah..." Suaranya berhenti di teng-gorokan. Air mata meluncur tak tertahan. Cepat gadis itu membalikkan tubuhnya lalu berlari.

"Yang Mulia..."

Tapi suaranya tak menghentikan langkah gadis itu. Sejuta tanya menoreh hatinya. Tapi ia merasa tak pantas mengejar gadis itu. Ia tak mau dalam keadaan perang begini disibuki oleh hal-hal yang tidak berarti. Ia menebak-nebak. Tentu ada pertengkaran antara dua gadis itu. Saling iri atau saling apa yang ia tidak tahu. Urusan wanita! Maka ia meneruskan langkah untuk menghadap Yistyani. Mohon restu.

"Aku lihat seperti Ayu Prabu naik?" Yistyani langsung bertanya sesudah Wilis menyembah.

"Ya. Membawa berita penting. Belanda sudah mulai bergerak."

"Ah, betapa hebatnya anak itu. Rasanya seperti tak mengenal lelah."

Hati Wilis melambung mendengar pujian untuk Ayu Prabu. Sewajarnya Ibu memujinya, Wilis bercakap sendiri dalam hati. Tapi tiba-tiba saja ia tidak bisa menahan hatinya. Dan ia ceritakan apa yang pernah ia alami sehubungan dengan kejadian yang baru saja lalu. Yistyani mesem mendengar itu. Tapi sekaligus kasihan. Wilis seusia begini belum lagi pernah tidur dengan wanita. Sampai-sampai ia tidak mengerti hati wanita. Sungguh berbeda dengan Wong Agung Wilis kala masih bernama Mas Sirna dulu. Sekilas ia mengingat masa lalunya.

Ia kemudian maju dan membelai kepala anaknya. Seperti pada anak kecil. "Lalu... kau cinta Mas Ayu Tunjung?" 'Tidak, Bunda. Hati hamba sudah tertambat pada Mas Ayu Prabu," jawab Wilis sederhana.

"Hyang Bathara! Jagat Pramudita!" Yistyani pura-pura kaget. Ia sudah tahu bahwa anaknya mencintai Ayu Prabu. Tentunya satu pilihan yang tepat. Kecantikan tanpa cela.

Tiada kukul di mukanya. Tiada bercak sedikit pun di kulitnya. Tapi, mungkinkah terjadi? Hati Yistyani berdebar-debar. Sri Maha Prabu Jayanegara Anumerta dari Majapahit terpaksa dibunuh oleh Tabib Tanca karena akan mengawini saudaranya sendiri, Sri Gayatri.

"Kenapa Ibu terkejut?" Pemuda itu heran.

"Ya. Ibu memang terkejut. Karena menurut penglihatan Ibu, Mas Ayu Tunjung juga mencintaimu, Nak. Kenapa tak kaupilih dia?"

"Ibu tidak setuju pada Mas Ayu Prabu?" Wilis berdebar, takut ibunya tidak setuju. Dan memang Yistyani kurang setuju jika Wilis menikahi Ayu Prabu. Kendati anak itu cantik tanpa cela. Tapi... sekali lagi Yistyani khawatir apakah mereka bukan satu ayah? Tentu ia tidak boleh menegangkan demikian pada anaknya. Sebab anak itu akan menanyakan, bukankah Erlangga juga kawin dengan saudara seayahnya? Yang kemudian melahirkan dua anak laki-laki yang membagi dua kerajaannya? Kini Yistyani dihadapkan pada kesulitan yang cukup pelik.

"Kenapa Ibu diam?"

"Tidak apa-apa, Anakku. Cinta adalah hak. Tiap hak harus dibela. Seperti halnya negeri ini.

Hak kita. Karena itu kita membelanya. Cinta adalah hak yang paling pribadi dan dalam. Ibu tidak layak melarangmu, Nak. Tapi aku cuma kasihan pada Mas Ayu Tunjung. Dan lihatlah Mas Ayu Prabu, seorang telik yang mungkin saja tiada duanya di Bumi Semenanjung ini. Dan seorang telik mempunyai kebiasaan yang sukar dipegang arahnya. Sukar diajak memecahkan soal-soal secara bersama karena ia biasa memecahkan soal-soalnya sendiri."

"Jagat Dewa! Benarkah itu, Ibunda?"

"Kau sendiri yang akan menilainya. Pikirkanlah dalam- dalam. Kau bisa memilih. Ayu Prabu atau Ayu Tunjung. Yang satu cantik, yang satu manis." Yistyani tersenyum untuk menghilangkan kecurigaan dalam hati anaknya.

Dan pemuda itu juga tersenyum lega. Tapi setelah meninggalkan ibunya dan pergi ke kandang kuda, pergolakan datang lagi mengacaukan hatinya. Mengapa Ibu tampaknya tidak setuju? Benarkah Mas Ayu Tunjung mencintainya? Jika demikian, kenapa ia tidak berterus-terang sejak dulu?

Sekarang ia sudah menjatuhkan janji pada Ayu Prabu. Dan bagi seorang satria janji itu dibawa mati.

Sampai di kandang kuda terpikir olehnya untuk pergi ke rumah Ayu Prabu. Ia ingin menjajagi sekali lagi, apakah benar ia bersedia menjadi seorang istri yang baik jika menang nanti? Ah, bukankah Ayu Prabu bersumpah, tidak akan kawin sebelum Blambangan kembali menjadi milik mereka. Ah, gadis itu lebih mementingkan negerinya dari dirinya sendiri.

Mengapa Bunda menganggapnya kebiasaannya sukar dipegang? Barangkali Bunda sudah tua sehingga tidak lagi mampu melihat segala sesuatu dengan akalnya? Kini bersama Utun, anak Tumpak, ia pergi ke rumah Ayu Prabu. Tapi yang ada cuma ibunya, Tantrini.

"Dirgahayu, Bibi. Mas Ayu ada?" tanyanya setelah menyembah.

"Oh, ampun, Yang Mulia. Dia baru saja turun kembali." "Jagat Dewa. Cepat amat."

"Dia merasa perlu melaporkan gerakan Belanda ini pada ayahnya, Yang Mulia Wong Agung Wilis."

"Dia akan menyeberang?" "Hamba tidak mengerti."

Kembali sepercik kekaguman memuncrat di hatinya. Kesungguhan hati Ayu Prabu membuatnya tidak kenal istirahat. Maka ia pun segera mengajak Utun Ke Derwana. Ia merasa perlu memheri semangat pada laskar yang hendak berhadapan dengan pasukan Kompeni. " Kedua orang itu berangkat setelah memberi tahu Baswi. Memang benar, kehadiran Wilis sangat penting. Semula Jagalara kurang percaya. Tapi demi melihat kawula Derwana menyambut anak muda itu dengan hangat dan hormat, maka ia merasa ketiga ratus anak buahnya tidak akan berarti apa-apa melawan dia.

Dengan senyum yang menawan semua orang, Wilis menaiki titian istana Jagapati, disambut oleh Jagapati dan Runtep serta Jagalara. Pekik-sorak membahana di sepanjang jalan antara Indrawana sampai ke Derwana, bukti kecintaan kawula Blambangan pada Wong Agung Wilis. Turunnya Wilis ke Derwana dianggap pengejawantahan Wong Agung Wilis secara pribadi. Dan mereka semua sudah tanggap. Wilis pasti membawa perintah mahapenting maka ia turun sendiri.

"Dirgahayu Wong Agung! Dirgahayu Blambangan!" teriakan-teriakan terus membahana sampai di gerbang istana.

Wilis membalasnya dengan lambaian tangan dan senyum yang selalu menghias bibir tipis, di bawah kumis kecil yang mulai kelihatan nyata. Mungkin saja anak muda itu akan berkumis tebal seperti Wong Agung jika sudah sampai pada usia yang mencukupi untuk itu. Kendati tampak ramah namun tidak mengurangi kewibawaan yang membuat Runtep menjatuhkan diri menyembah. Diikuti oleh Jagapati dan Jagalara.

"Dirgahayu!" sapa pemuda itu. Pending emasnya berkilau ditimpa mentari yang mencuri kesempatan menerobos masuk titian pendapa itu. "Dirgahayu!" sambut semua orang. "Penantian kita sampai pada saat terakhir, Yang Mulia," kata Wilis sambil berjalan ke tempat yang ditunjukkan Jagapati. Ah, istana bekas milik Macan Putih. Megah juga. Nanti jika Belanda sudah punah pasti akan dibangun lebih kokoh lagi. Dua pasang meriam bertengger di halaman tadi kala ia melewatinya. Jagalara dan Jagapati tentu yang memerintahkan pemasangan itu. Terkesan menyamai pusat pemerintahan Mataram di Jawa Tengah. Boleh saja meniru, pikir Wilis. Asal jangan meniru kebobrokan raja-rajanya. Atau barangkali mereka ingin menunjukkan padaku bahwa sebenarnya mereka lebih pintar mengatur dari aku? Ya pandangan mata mereka...

Tapi biar. Yang penting bukti, kawula Blambangan lebih mendengar aku dari mereka.

"Penantian?" Jagapati dan Jagalara mengulang berbareng. "Ya! Apa yang kita nantikan jika bukan saat melumat VOC

dengan seluruh kecoaknya?" Wilis tertawa. "Mereka sudah berangkat dua hari yang lalu menyetor nyawa."

Jagalara menilai betapa sombongnya anak ini. Sudah berapa pahlawan besar gugur di tangan Kompeni? Ia mulai tidak suka pada mimpi Wilis.

"Yang Mulia Jagapati dan Jagalara tentu kurang percaya. Kita akan buktikan. Para Yang Mulia, jika mereka bisa naik ke sini dengan jumlah lebih separuh dari waktu berangkat dari Pangpang, tentu Biesheuvel adalah seorang pilihan. Kendati begitu kita tidak boleh tetap duduk di sini. Karena siapa yang cuma duduk diam maka ia tidak akan pernah mendapat apa- apa. Nah, mari kita songsong mereka di luar Indrawana!"

Dengan hati berdebar Rempek memerintahkan semua istrinya mengangkat senjata. Dan ia memerintahkan sepuluh ribu pengawalnya menyebar ke semua penjuru. Wilis mengatakan mereka akan mendapat serangan dari segala penjuru. Kendati begitu, Wilis tampak tenang. Jagalara sama sekali tidak tahu apa sebabnya. Tapi ia bertekad berperang habis-habisan. Untuk menunjukkan kepada orang-orang Blambangan bahwa sebenarnya ia lebih patut dihormati dari pemimpin muda itu. Bagaimana bisa ia mengatakan Biesheuvel tidak bisa menembus ke Indrawana?

Tapi Wilis memang tidak omong kosong. Masih kira-kira berjarak seribu pai dari Indrawana dan Derwana, Biesheuvel sudah harus kehilangan seperempat bala tentaranya dengan damai. Aneh? Dengan tanpa letusan mesiu. Pasukan Bayu telah memasang beribu-ribu songga (bambu runcing yang dipasang miring untuk menjebak binatang buruan, misalnya: babi hutan, rusa) di seputar Derwana, Indrawana, dan Bayu. Songga yang ditempatkan sebegitu rupa dalam semak sehingga sama sekali tidak nampak bagi orang-orang asing. Akibatnya perut mereka tertembus ujung songga yang setajam sembilu. Begitu rapat mereka memasang songga- songga itu, sehingga barisan pertama, seperempat bagian dari seluruh bala tentara Kompeni harus berjuang melawan warangan (racun yang biasa dipakai untuk mencuci keris) yang membedaki ujung-ujung songga. Dan hampir boleh dikatakan tidak ada satu makhluk pun mampu bertahan hidup melawan warangan orang Blambangan.

Biesheuvel terkejut mendengar laporan itu. Ia memang berkuda di barisan paling belakang. Dengan penasaran ia perintahkan menarik mundur mereka yang kejang-kejang menghadap sang Pencabut Nyawa. Semula Schophoff terbahak-bahak mendengar sesuatu yang tampaknya mustahil. Kita bukan binatang yang tak mampu memilih jalan. Kenapa itu bisa terjadi? Pieter Luzac juga heran. Perintah kedua yang diterima oleh para pemimpin barisan terdepan usahakan menghindari semak-semak. Ingin Biesheuvel membakar saja tiap gerumbul belantara. Tapi itu hampir tidak mungkin. Hutan daerah ini begitu lebatnya.

Perjalanan diteruskan dengan lebih perlahan dan meninggalkan seperempat jumlah pasukan di garis belakang. Hampir setengah hari waktu yang mereka butuhkan untuk beringsut sejauh tiga ratus tombak saja. Biesheuvel dan para perwira VOC lainnya mengumpat. Ternyata Jagapati telah siap. Mereka tidak berani menggunakan pasukan pengawal Jaksanegara atau Juru Kunci. Takut disesatkan karena mereka pun orang-orang pribumi Blambangan. Siapa tahu mereka bersekongkol? Dan orang-orang Bali yang sekarang mereka jadikan penunjuk jalan ini? Apakah mereka tidak bersekongkol? Sengaja menyesatkan? Gila, pikir, Biesheuvel. Jika ini benar, maka Kompeni sedang terjepit.

Tidak ada lagi laporan tertusuk songga. Tapi begitu masuk jarak empat ratus tombak, mulai terdengar kembali jerit-jerit menyayat, membelah kesunyian rimba. Kini hampir seluruh barisan depan yang telah sangat lelah itu terperosok ke dalam lubang-lubang jebakan harimau. Tapi lubang itu dibuat begitu besar-besar dan dalam. Sedang di dasar jebakan yang ditimbuni tanah dan rumput sehingga begitu samar itu, telah menunggu barisan songga yang siap mengirim mereka ke akhirat.

Begitu rapi dan berlapis jebakan itu, sehingga sukar dibedakan mana jebakan mana yang bukan. Dan begitu anggota pasukan lapis ketiga bergerak mengerumuni teman- teman mereka yang terpeso-rok itu, gelegar meriam laskar Derwana yang pertama terdengar. Biesheuvel tersentak mendengar dentuman yang membahana itu. Seperti dalam mimpi. Dan sebelum ia tersadar, dentuman kedua, disusul ketiga, dan selanjutnya, membuat pasukannya tercerai-berai mencari perlindungan di balik pohon-pohon raksasa. Tidak kurang yang terkencing-kencing ketakutan. Teriakan menyebut nama Tuhan mereka masing-masing terdengar memilukan. Yang tidak sempat mengelak atau berlari, hancur berkeping-keping. Sewalang-walangl Perang selamanya ganas. Biesheuvel, Pieter Luzac, dan Schophoff sendiri terpaksa berlindung.

Sungguh di luar dugaan. Mereka telah siap. Bahkan tahu persis saat penyerangan yang mereka lakukan. Pasti mereka punya persekongkolan dengan orang dalam sendiri. Mungkin masih ada di antara Kompeni sendiri yang berkhianat, seperti Bozgen dan teman-temannya dulu? Konyol mereka itu!

Lega hati Biesheuvel. Ternyata tembakan meriam itu tak berlanjut. Tapi hatinya panas seperti panasnya mentari di bulan Agustus itu. Tentu saja Schophoff menyempatkan diri mencatat kejadian sial hari itu. Tahun seribu tujuh ratus tujuh puluh satu Masehi. Mereka telah kehilangan hampir lima ribu anggota pasukan sebelum menembakkan sebutir pelor sekali pun. Dengan penasaran Biesheuvel memerintahkan agar tujuh orang Bali yang menjadi penunjuk jalan itu dihukum mati.

Mereka dianggap menyesatkan pasukan Belanda dan sengaja memilih jalan salah agar mereka masuk jebakan orang-orang Bayu.

Jagalara dan Jagapati diberi tahu oleh Runtep supaya memerintahkan pasukan berjalan dengan menyelinap dari satu pohon ke pohon lain, kira-kira seribu langkah. Setelah itu berhenti dan setelah melihat kedudukan musuh mereka diperintahkan menembak. Sesudah penembakan meriam itu, Wilis dan Undu segera meninggalkan Derwana. Ia merasa yakin kali ini Biesheuvel tidak akan mampu mengalahkan mereka. Petunjuk selanjutnya akan diberikan oleh Runtep.

Kala Jagalara bersama rombongan membuka tembakan pertama Biesheuvel melihat kembali anak buahnya bercerai- berai. Bersama itu ratusan orang yang tertembak langsung rebah ke bumi. Biesheuvel memerintahkan agar membalas tembakan musuh. Sedapat mungkin. Tapi kejutan yang mereka alami telah menurunkan semangat tempur mereka. Mereka tidak mungkin lagi bergerak maju. Jagalara terbahak- bahak mengejek sambil memuaskan nafsu membunuhnya.

Sungguh ini kesempatan yang ia nantikan untuk membalas kekalahan demi kekalahan yang ia terima sepanjang pertempuran di Ngantang dan Malang Selatan bersama laskar Mlayakusuma. Juga pasukannya. Mereka tidak pernah berhenti memusuhi Belanda di mana pun.

Melihat kenyataan ini Schophoff meminta Biesheuvel mengundurkan pasukan. Meneruskan peperangan berarti bunuh diri. Apalagi keremangan mulai turun. Warna merah lembayung sudah menghias ufuk barat. Sedang lawan tampaknya benar-benar menguasai medan. Sekilas Schophoff melihat, bukan cuma lelaki yang bertempur. Wanita juga angkat senjata. Menembakkan bedil berlaras panjang.

Dan memang apa yang dilihat sekilas oleh Schophoff itu bukan sekadar bayang-bayang. Kaum wanita di Derwana maupun Indrawana bukanlah sekadar penunggu dapur dan pemo-mong anak. Mereka juga mengangkat senjata seperti halnya Tribhuana Tungga Dewi, Sri Maha Ratu Majapahit, kala menggilas pemberontakan Sadeng dari Blambangan. Bahkan tidak jarang dari mereka adalah jago-jago tembak.

Biesheuvel pun merasa aneh. Orang-orang Blambangan mampu menahan serangannya? Mampu menahan pengetahuan perang orang Eropa? Hampir-hampir tidak masuk akalnya. Orang-orang yang dianggapnya tidak beradab telah memusnahkan lebih lima ribu anak buahnya dalam waktu satu hari. Dan itu sebabnya ia memerintahkan anak buahnya sambil menembak kembali ke Pangpang. Perintah itulah yang ditunggu oleh anak buahnya, karena ketakutan merajai hati mereka.

Jalan balik ke Pangpang bukanlah hal yang mudah. Karena songga dipasang bukan hanya menghadap ke luar Derwana atau Indrawana. Tapi juga menghadap ke dua tempat yang menjadi tujuan penggempuran itu. Tak ayal, diburu berondongan peluru laskar Rempek, mereka banyak yang tersesat dan terjebak oleh songga-songga. Teriakan nyeri yang tertusuk songga membuat sebagian takut bergerak pulang dan menyerah pada laskar Jagapati yang mengejar mereka. Laskar Jagapati bersorak melihat Kompeni terbirit-birit. Jagalara mengajak mereka mengejar terus. Tapi Runtep segera mencegah. Pemuda itu menasihatkan supaya seluruh pasukan mengurus mereka yang menyerah itu saja.

"Kenapa tidak boleh mengejar terus? Ini kesempatan menghancurkan mereka sampai lumat." Jagalara tidak terima.

"Malam sudah mulai tiba. Kita tidak bisa membedakan mana jalan, mana jebakan. Hamba tidak ingin semua laskar kita menjadi korban senjata kita sendiri. Hamba percaya tidak akan lebih separuh dari mereka yang dapat kembali ke Pangpang," jawab Runtep.

Jagalara menjadi terkesiap. Dan betul, setelah ia memeriksa tempat bekas pertempuran dan korban dari pihak musuh, maka mau tidak mau ia memuji kecerdikan Wilis.

Hutan seputar ini penuh songga dan jebakan. Dan yang membuatnya bertanya, kenapa sebagian songga justru menghadap ke Derwana? Ah, andaikata ia dan pasukannya berani melakukan makar dan melarikan diri lewat hutan-hutan seputar wilayah ini, tentu tidak akan keluar dengan selamat. Dengan kata lain, ia tidak bisa bertempur seperti di Malang, atau Ngantang, atau Kediri. Di mana jika pasukan sekutunya terdesak, ia bisa melarikan diri dan mencari pengayoman baru, atau bergabung dengan laskar mana pun yang menentang VOC. Pokoknya mereka hidup dari perang itu. Jadi sekarang pilihannya hanya satu. Bertempur habis-habisan jika terdesak nanti. Kalau lari toh akan terperosok ke dalam lubang jebakan atau dimakan songga orang Blambangan sendiri.

Ada sebagian korban songga yang tidak sempat diangkut oleh Biesheuvel. Mengerikan. Perut terbelah oleh bambu runcing beracun. Sekitar lima ratus orang Kompeni yang digiring dengan tangan diikat tali di belakang pantat mereka. Juga leher mereka, dihubungkan satu dengan lainnya oleh tali seperti kerbau yang digiring pulang ke kandang. Perjalanan hidup anak manusia ternyata berliku-liku. Seperti halnya jalan yang mereka tapaki itu sendiri. Kemarin mereka masih bersuka ria di kedai-kedai minum Lo Pangpang atau Lateng. Bahkan tidak kurang-kurang yang masih mencolek-colek wanita Blambangan. Tapi harini mereka digiring di bawah laras bedil wanita-wanita telanjang dada. Tidak seorang pun berani melirik. Sebab itu akan membuat nyawa mereka langsung melayang.

Biesheuvel tidak tahu itu, karena ia langsung kembali ke Pangpang. Hatinya benar-benar gusar. Ia perintahkan penjagaan kota Pangpang diperketat. Semua anak buahnya cuma menunduk lesu. Dia berjalan mondar-mandir di kantornya. Kepalanya mulai berdenyut-denyut. Jauh malam ia belum kembali ke pembaringan. Demikian pula Schophoff dan Pieter Luzac. Masih menemani pemimpin mereka. Bisu tanpa kata. Sampai derap kuda pengawal batas kota mendebarkan hati mereka. Dan begitu pengawal itu mengetuk pintu ia segera keluar sambil bertanya, "Apakah mereka sudah melihat pasukan Rempek mengejar ke Pangpang?"

Begitu gugup Biesheuvel. Pieter Luzac dan Schophoff ikut menengok pengawal itu.

"Tidak, Tuan. Seorang sersan dari Jember menghadap." Pengawal itu sedikit menenteramkan hati Biesheuvel.

"Ada apa mereka kemari? Tidak tahu ada perang? Suruh ia kemari!"

Setelah menghormat pengawal itu pergi. Sebagai gantinya seorang sersan berkulit putih memasuki ruangan itu. Francois. Seorang keturunan Prancis.

"Selamat malam. Tuan." Hormat orang itu dengan bahasa Belanda yang masih sangat kaku.

"Apa kabar?" Biesheuvel tidak sabar.

"Ampun, Tuan. Dengan terpaksa kali ini saya laporkan bahwa benteng kita di Jember telah jatuh ke tangan orang- orang Blambangan. Mereka menyerbu dengan sangat mendadak."

"Gila!" Biesheuvel terperanjat. "Bagaimana keadaan Letnan Steenberger? Selamatkah dia?"

"Kami tidak tahu, Tuan. Mungkin saja sempat lolos "

"Kalian tidak melindungi komandan kalian?" Mata biru Pieter Luzac membelalak.

"Kami sibuk melindungi benteng. Tembakan begitu gencar.

Mereka bersorak gegap-gempita. Menakutkan. Rupanya pemimpin mereka seorang wanita. Kami dengar ia dipanggil 'Sayu Wiwit*. Seorang lagi pemuda dengan rambut ikal.

Begitu gembira mereka setelah kami meninggalkan benteng. Kami sempat mengintip. Ah, teman-teman Kompeni dibantai semau-mau. Bahkan yang menyerah sekalipun. Jalan-jalan ke Panarukan sudah diputuskan. Juga yang ke jurusan Puger serta Ambulu dan Lumajang. Kami sudah tak mampu lagi melindungi pos-pos yang lebih kecil. Jumlah mereka tak terhitung. Kendati kita menggunakan meriam, tapi semangat mereka tidak luntur oleh jumlah korban di antara mereka.

Bahkan sempat kami dengar teriakan mereka sebelum mati, 'Dirgahayu Wong Agung Wilis! Dirgahayu Blambangan!' "

Biesheuvel lemas terduduk. Kepalanya pening. Ia mengumpat sejadi-jadinya. Ternyata orang Blambangan lebih siap dari Kompeni. Tanpa menjawab pada Francois, ia meninggalkan ruangan menuju ke istananya sambil memukul- mukul kepala. Tidak! Ia tidak percaya kalau perang ini digerakkan oleh Rempek! Pasti ada orang lain di belakang Rempek. Baru dua bulan pembelotan Rempek itu. Mana mungkin menyiapkan peperangan sebegini hebat. Pusing.

Minum. Lalu tempat tidur dan... wanita...