Gema Di Ufuk Timur Bab 11 : Nyanyian Surga

Bab 11 : Nyanyian Surga

Dalam laporan yang dibacakan di depan sidang darurat Dewan Hindia, Biesheuvel menulis bahwa pembelotan yang dilakukan oleh serombongan bintara itu adalah karena mereka sudah jenuh bertugas di daerah Blambangan. Daerah yang sebenarnya sangat subur dan kaya. Banyaknya kematian orang-orang Belanda pada masa pemerintahan Colmond yang singkat telah membuat orang takut bertugas di Blambangan.

"Memang, tulis Biesheuvel selanjutnya, kematian-kematian mereka itu kami anggap aneh. Para pahlawan tidak mati dalam peperangan. Sepertinya digerogoti hantu satu per satu, dan tanpa ampun mereka mati konyol. Itu sebabnya banyak orang menjuluki daerah ini adalah negeri hantu.

Sebenarnyalah kami sudah mengirim permohonan mereka ke Surabaya. Tapi Tuan Gubernur J. Vos tidak pernah menjawabnya. Kami tahu Surabaya sedang dalam kesibukan amat sangat. Jadi kami tidak mendesaknya. Tapi kami mohon maaf jika ternyata kebijakan kami yang diilhami oleh kebijakan Tuan Gubernur telah membuahkan pembelotan yang memakan korban jiwa. Karena justru saat itu waktunya bersamaan dengan usaha pemberontakan pribumi yang dipimpin Rsi Ropo. Tapi dengan tanpa kebijakan dari Surabaya, artinya kami terpaksa tidak melapor lebih dulu bahwa kami berhasil memadamkan pemberontakan yang cukup membahayakan kedudukan VOC di daerah Semenanjung."

Banyak orang yang mendengar laporan itu mengangguk- angguk. Mereka memuji kecerdasan Biesheuvel yang telah mampu memadamkan pemberontakan dalam waktu singkat. Sebaliknya mereka saling bertanya, kenapa J. Vos lamban menurunkan keputusan. Apalagi setelah membaca laporan yang bahagian akhir.

Meskipun demikian kami tetap harus waspada dan akan mengeluarkan banyak biaya. Karena ternyatalah sebenarnya orang Blambangan tidak membenci VOC seperti yang diakui sendiri oleh pemimpin mereka, Rsi Ropo. Tapi orang-orang Blambangan sangat tidak suka diperintah oleh Kertawijaya. Mungkin sekali disebabkan oleh hal-hal yang kecil. Namun layak untuk diperhatikan. Misalnya larangan memelihara dan menyembelih babi, ternyata menyakiti hati orang-orang Blambangan.

"Sebenarnya pihak kami telah mengajukan usul yang ditandatangani Tuan Schophoff dan

Tuan Pieter Luzac supaya bekas patih Lo Pangpang, Tuan Jaksanegara, diangkat menjadi penguasa Blambangan. Karena menurut penilaian kami orang tersebut bisa bekerja sama dengan Kompeni. Tapi rupanya hal tersebut tidak berkenan di hati Tuan Gubernur J. Vos. Tentu kami tidak pernah menyalahkan' kebijakan beliau. Yang pasti itu bukan kebijakan yang salah, tapi Jzarena beliau tidak berada di lapangan sehari-hari."

"Sungguh sayang jika kita tidak mengelola dengan baik daerah yang berlembah hijau, bergunung biru, dan masih banyak daya yang akan dapat menambah perbendaharaan VOC."

Dewan Hindia merasa perlu mempertimbangkan laporan Biesheuvel. Oleh karena itu mereka segera mengadakan rapat dan menyampaikan situasi Blambangan pada Gubernur Jenderal. Walaupun mungkin saja bukan dikarenakan laporan Biesheuvel, tapi sejarah mencatat, awal Juli Gubernur Jenderal menurunkan perintah penggantian Gubernur Jawa Bagian Timur. J.Vos diganti Robert Van de Burg.

Orang ini lebih muda. Lebih tinggi dan tegap. Dalam mengambil keputusan lebih tegas. Gerakannya lebih lincah. Kendatipun mereka sama-sama memelihara kumis di bawah hidungnya yang mancung. Mata mereka sama-sama biru.

Namun Burg nampak lebih cekung. Giginya nampak lebih putih dan rapi. Yang tidak mengenakkan bagi Vos, kedatangan Van de Burg sepertinya tergesa-gesa. Akibatnya ia tidak sempat beranjangkarya ke daerah-daerah. Berpamitan merupakan alasan yang paling baik dalam beranjangkarya itu. Tentu sambil menyelam minum air. Berpamitan sambil minta tanda mata atau kenang-kenangan. Seperti para pejabat VOC lainnya, jika mereka cuti tentu akan membawa banyak kenang-kenangan ke negerinya. Dan jadilah mereka kaya.

Kekayaan dari kenang-kenangan yang bukan diserahkan dengan suka rela. Tapi diminta, untuk memberikan kenang- kenangan dan sangu. Jika ia tidak sempat cuti, maka istrinya akan membawa barang kenang-kenangan itu dengan ongkos dari para bupati. Itu sudah jadi semacam keharusan yang tidak tertulis, bahwa jika para pejabat VOC cuti dan pulang ke negerinya maka mereka akan diberi ongkos perjalanan oleh pejabat-pejabat pribumi. Mereka tidak perlu berpikir dari mana para pejabat pribumi itu mendapatkannya. Itu urusan mereka. Bukannya mereka tidak tahu bahwa penguasa pribumi memaksa kawulanya untuk memberikan persembahan tambahan bagi pejabat VOC yang cuti tadi. Dan itu sering- sering tidak dipercaya oleh kawula. Akibatnya ketidaksenangan terjadi.

"Ternyata ada Belanda hitam yang lebih jahat dari si bule sendiri!" begitu antara lain umpatan yang keluar dari sebagian besar kawula. Dan biasanya para pejabat bermanis-manis pada kawula seolah mereka dewa dari langit.

Namun kali ini J. Vos ketiban sial. Surat perintah Gubernur Jenderal harus dikerjakan secepatnya. Serah-terima jabatan dilakukan di Batavia. Itu sebabnya cuma sebagian kecil saja adipati yang sempat mempersembahkan kenang-kenangan. Sangat kecewa sebenarnya. Namun apa daya. Tidak ada kuasa yang lebih besar di bumi jajahan ini kecuali kuasa Gubenur Jenderal. Segera setelah timbang-terima Burg berangkat ke Surabaya. Pesta perkenalan dan ramah-tamah segera juga diadakan di kediaman Gubernur. Penyambutan memang meriah. Satu-satu para pejabat bersalaman dengan sang Gubernur. Setelah acara ramah-tamah maka Biesheuvel sebagai pejabat VOC di Blambangan memperoleh kesempatan untuk bertatap muka.

"Apa usul Tuan untuk kemajuan Blambangan?" Burg bertanya.

"Blambangan selalu panas. Kawula sewaktu-waktu siap bergolak jika Kertawijaya tidak segera diganti. Mereka tidak suka diperintah oleh orang yang bukan orang Blambangan."

"Jadi Kertawijaya harus diganti?" "Jika Tuan berkenan "

"Kami akan perhatikan dengan baik daerah Blambangan. Tapi bersabarlah barang sebulan dua. Kami akan atur supaya tidak ada kesan bahwa kita menilainya tidak becus. Ingat, Kertawijaya adalah orang Surabaya. Mereka juga berdarah panas. Nah, perlu ada kebijakan supaya tidak memancing pemberontakan orang Surabaya yang pernah menguras pembiayaan VOC. Bahkan kami dengar karena perang melawan Surabaya, VOC sekarang punya utang pada pemerintah Nederland. Baru dengar? Dan kita mendapat tugas memulihkan keuangan VOC itu."

"Baik. Hamba mengerti apa yang Tuan garis-kan."

"Jika terjadi sesuatu di Blambangan, cepat saja Tuan kirim berita. Kami akan segera menangani dengan sebaik-baiknya. Kami sangat tertarik atas laporan Tuan, bahwasanya Blambangan sebenarnya daerah kaya." Orang itu kemudian tertawa sambil memegang gelas minumannya. Biesheuvel juga tertawa. Puas. Sementara itu keceriaan juga melanda orang-orang Bayu. Banyak orang tidak tahu bahwa di lereng gunung itu terdapat suatu lembah hijau yang subur dan ada juga Benteng Bayu yang kokoh. Lebih dari itu ada pemerintahan yang mengendalikan jalannya roda pemerintahan di hampir seluruh wilayah Blambangan. Wilis sebagai junjungan yang mereka sembah. Kali itu juga sedang mengadakan pertemuan dengan para menterinya.

Yang paling nampak ceria Mas Ayu Prabu. Ia telah melaporkan jalannya pertempuran kecil dan pembelotan pasukan Kompeni sendiri. Semua orang tua mengaguminya.

"Belum pernah kami dengar sebelumnya," ujar Baswi yang sudah gemetaran karena tua. Temannya Sardola dan Tumpak sudah mati musim hujan lalu. Yistyani sendiri sudah sakit- sakitan. Terutama jika musim dingin dan angin. Tulang-tulang dan bekas lukanya terasa sangat nyeri. Tapi demi mendengar hasil kerja Mas Ayu Prabu ia rasanya mendapat kekuatan baru. .

"Hamba mengucapkan selamat," ujar Wilis. "Terutama untuk Yang Mulia Mas Sratdadi. Tidak semua orang berani melakukan hal seperti itu."

Mas Sratdadi tertawa. Bukan bangga. Tapi ramah. "Siapa pun yang mendapat kesempatan seperti itu akan

berani melakukannya. Apalagi jika kita selalu mengingat

ajaran Yang Mulia Ramanda Wong Agung Wilis, keberanian salah satu syarat untuk menang. Hamba tak mungkin dapat mem-porakporandakan Pangpang jika tidak ada Mas Puger."

Semua orang mencarinya. Tapi tak ada. Pemuda itu sudah kembali ke Jember. Semua orang tak tahu apa sebab dia tidak hadir. Tapi Mas Ayu tersenyum memandang semua orang mencari-cari kakaknya. Karena ia yang paling tahu hati kakaknya itu. "Baik. Yang Mulia Ramad tidak ada. Tapi selamatkah beliau?"

"Anak itu seperti dewa saja. Setelah membakar rumah Lie, ia membebaskan hamba. Sementara hamba mengawal Lie Pang Khong, ia sudah masuk rumah Biesheuvel. Setelah ayam mulai berkokok ia menghilang. Sementara hamba kembali ke Songgon untuk kemudian naik kemari."

"Luar biasa," desis semuanya. Yistyani juga tidak kurang- kurang kagumnya. Demikian pun Baswi. Ternyata pengalaman anak itu telah membuatnya mempunyai nilai tersendiri.

"Bagaimana cara kita menghubunginya?" tanya Yistyani. "Mas Ayu Prabu akan melakukannya."

"Baik. Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kita tidak boleh berhenti sebelum semua wilayah Blambangan kembali ke tangan kita."

"Yah. Itu suatu keharusan. Dan sebagai menteri mukha, hamba ingin melibatkan semua orang Blambangan untuk bergerak melawan VOC."

"Kita telah pernah gagal. Sutanegara dan Wangsengsari jadi korban," Wilis agak keberatan. Ia menghendaki penyerangan saja dari pada mengulur waktu.

"Penyerangan belum tentu menghasilkan suatu kemenangan. Jika kita kalah maka kita akan kehilangan daerah-daerah yang sekarang menjadi wilayah kita. Banyak bekel yang tidak mempersembahkan upeti pada Belanda tapi pada kita."

"Jadi, bagaimana?"

Sratdadi menoleh pada adiknya. Sambil menjelaskan bahwa yang diutarakan Mas Ayu nanti allalah hasil perundingan antara Mas Ayu Prabu dengan Wong Agung Wilis di Mengwi serta telah disetujui oleh Mas Ramad dan Sratdadi. "Yang Mulia bertemu dengan Wong Agung?" Wilis terlonjak dari duduknya. Yistyani dan yang lain pun tidak kalah kagetnya,

"Benar," Mas Ayu menegaskan. Kemudian ia menjelaskan perjalanannya mempersiapkan pembelotan beberapa puluh bintara Kompeni itu. Kemudian Wong Agung Wilis menyatakan keinginannya untuk menyeberang. Tapi baik Mas Ayu Prabu maupun istri mudanya, Ni Ayu Ratih, keberatan. Sebab Wong Agung nampak kurus dan tua. Lagi pula menurut keterangan istrinya, Wong Agung sering sakit. Tidak seperti masa mudanya.

"Luar biasa kau...," Yistyani memuji gadis itu. Tapi keinginannya untuk bersua dengan Wong Agung kian membara. Bagaimanapun juga tiap berita mengenai diri Wong Agung Wilis merupakan nyanyian surga bagi Yistyani dan Tantrini. Demikian pula bagi tiap pemujanya.

"Jadi Wong Agung Wilis sudah setuju Mas Rempek kita angkat menjadi Pratanda Mukha (kepala pemerintahan) yang berkedudukan di Derwana?" Wilis memandang Mas Ayu tajam- tajam.

"Benar, Yang Mulia. Karena beliau tidak ingin serangan Belanda mengarah langsung ke Bayu."

"Dewa Bathara!" tiap orang menyebut. Kagum terhadap kecerdikan Wong Agung Wilis.

"Selain itu, tentu kita perlu menyelamatkan Songgon sebagai sumber padi kita yang paling subur," Wilis menimpali. "Jadi bukan tanpa pertimbangan kita mengangkat Mas Rempek menjadi seorang pratanda mukha seperti yang diusulkan Yang Mulia Sratdadi serta Mas Ayu Prabu. Hamba setuju. Tapi masalahnya sekarang bisakah Mas Rempek kita ajak berperang melawan Belanda?"

"Bisa!" Sratdadi menjawab cepat. "Hamba senang mendengar kerja para Yang Mulia. Kendati masih muda, tapi cukup merepotkan VOC. Hamba percaya, jika ini bisa kita pertahankan, tidak mustahil VOC akan berhasil kita enyahkan," Baswi memperdengarkan pendapatnya. "Tapi jangan lupa, Mas Rempek sekarang ini adalah punggawa VOC juga. Maka, andai betul dia sudah memihak kita, tentu Biesheuvel tidak akan membiarkan dia menjadi kepala pemerintah tandingan. Hamba percaya, kita tidak akan membiarkannya bertempur sendiri. Apalagi di Indrawarna sekarang berbaris laskar Jagalara yang pasti akan melawan jika Kompeni datang. Tapi kita? Apakah kita sudah siap betul?"

"Persiapan sudah lama kita lakukan," jawab Wilis.

"Betul. Tapi ingat, yang kita harapkan dalam peperangan adalah pemenangan. Bukan kekalahan. Untuk menang harus ada persiapan sematang-matangnya. Bukan cuma persiapan senjata saja. Tapi juga pikiran, cadangan makanan, siasat "

"Kekuatan kita sekarang pasti lebih besar daripada waktu Ramanda Wong Agung Wilis berperang dulu," Mas Ayu Prabu menerangkan. "Kita punya pasukan di Jember, yang siap memukul Letnan Steenberger yang dipimpin oleh Sayu Wiwit dan Lebok Samirana. Dia seorang Madura yang membenci Belanda. Dia juga mempunyai senjata yang cukup. Lebih dari itu seorang pelaut Bugis yang bersahabat dengan Ramanda Agung Wilis menjanjikan membantu kita di laut. Pelaut itu bernama Rencang Waranghay. Jadi, tidak ada alasan kita untuk takut."

"Baiklah hamba setuju. Bagaimana dengan cadangan

makanan? Apakah cukup?"

Mas Ayu Tunjung menjawab pertanyaan itu. Puaslah semua orang mendengar laporannya bahwa dia sudah mempersiapkan cadangan di banyak tempat. Jika Bayu terpukul dan kita mundur ke Srawet, tentu kita punya cadangan makanan di sana. Di dekat Songgon pun ada. Gadis ini pun ternyata bukan cuma memiliki wajah yang memikat. Tapi juga kecerdasan yang cukup. Sratdadi adalah orang yang paling mengaguminya. Pertemuan memutuskan supaya Mas xAyu ataupun Sratdadi melaksanakan rencananya. Dan pertemuan bubar. Semua orang segera menuju ke pesanggrahan masing-masing. Kecuali Mas Sratdadi. Ia ingin segera meninggalkan Bayu. Kenapa? Tentu ia sendiri yang tahu.

Tapi Mas Ayu Tunjung berdebar demi melihat kuda Sratdadi melintas cepat meninggalkan perkubuan. Tentu pemuda itu menyimpan kekecewaan. Karena sampai kemarin waktu bersua dengan Ayu Tunjung, ia belum memperoleh jawaban. Ah, Mas Ayu Tunjung merenung sambil berjalan pulang. Tantrini sendiri pernah mengutarakan maksud anaknya itu. Dan ia belum memberikan kata putus.

Apa sebab? Mas Ayu merasa berada di simpang jalan. Ia melihat betapa tulus cinta Sratdadi. Tapi di lain pihak ia telah menambatkan hatinya pada Wilis. Pada malamnya ia berdoa lebih lama dari biasanya. Berdoa untuk Mas Sratdadi. Ya, Hyang Maha Durga, janganlah hatinya sampai putus. Sebab jika seorang menteri mukha sampai putus asa, maka hancurlah peperangan yang dipimpinnya. Tapi begitu turun dari pura ia terkejut mendengar suara berbisik-bisik. Suara lelaki dan perempuan. Ia jadi curiga.

Cepat ia menyelinap. Ia pura-pura duduk merenung menatap rembulan. Ia tahu jelas bahwa yang duduk berduaan di atas batu dekat pura itu adalah Wilis dan Mas Ayu Prabu.

Udara gunung tidak mempengaruhi kulit mereka. Kehangatan hati mengalahkan dinginnya malam.

"Kau mengagumkan sekali, Ayu. Ah, andai sekuntum bunga rasanya aku ingin memetikmu dan kupersembahkan pada ibunda," Wilis menyatakan perasaan hatinya. Sudah lama ia menunggu saat seperti itu. Ia dan Mas Ayu Prabu sama-sama terlalu sibuk. Diam sesaat. Suara jangkrik merupakan musik tersendiri yang menjadi penghias malam. Angin membelai rambut kedua muda itu.

"Yang Mulia..."

"Tentu kau terkejut. Tapi sudah sejak lama aku bertimbang, Ni Ayu. Dan aku tidak dapat lagi memungkiri kodratku sebagai lelaki yang membutuhkan wanita. Bukan cuma sebagai ibuku. Tapi juga seorang istri yang mampu mendampingiku memerintah Blambangan. Bagiku tidak ada yang cocok untuk menjadi seorang para-mesywari kecuali kau." Wilis menajamkan mata menatap Ayu Prabu. Sebaliknya wanita ini pun menajamkan matanya. Sepertinya saling menjajagi. Tapi keduanya sama-sama berdebar. Mas Ayu Prabu membiarkan Wilis memberanikan diri mengelus bahunya. Bahkan membelai rambutnya. Membuat hatinya berbunga-bunga. "Paramesywari ?"

"Ya, paramesywari," tegas Wilis. Nyanyian surga bagi Mas Ayu Prabu. Tapi hati Mas Ayu Tunjung seperti mendengar dentuman meriam. Gemetar seluruh tubuhnya. Membuat ia tidak menghiraukan gigitan semut di kakinya. Tak ada nyamuk mengusik. Rupanya nyamuk takut pada udara yang dingin.

Ribuan kilat seperti menger-jap-ngerjap di hadapan Ayu Tunjung. Kendati bulan dan bintang menghiasi angkasa. Ternyata Wilis tidak pernah menaruh perhatian padanya. Tapi ia belum beranjak. Ia ingin mendengar jawaban Mas Ayu Prabu. Gadis itu masih membisu sambil memandang tajam pada Wilis. Pemuka Raung yang disegani tiap orang itu kini melamarnya.

Tiba-tiba Wilis meraih kalung mutiara yang tergantung di leher Mas Ayu Prabu. Pemuda itu menghitung-hitung, berapa harga kalung ini? Bukan main. Dari mana gadis ini mendapatkannya? Seorang Raung yang bekerja keras selama sepuluh tahun sekalipun tak akan pernah bisa memilikinya.

Ayu Prabu berdebar lebih keras. Perhiasan itu memang mahal. Pemberian seorang pemuda Cina, Tha Khong Ming. Juga gelang dan binggal yang ia kenakan itu. Bahkan subang di telinganya.

"Kau makin cantik dengan..."

"Yang Mulia, hamba tidak suka menjadi paramesywari "

Wilis terkejut. Seperti ada seribu petir menyatu dan menyambarnya. Tanpa sadar ia tarik tangannya. Mas Ayu tersenyum.

Mas Ayu Tunjung juga jadi heran luar biasa. Begitu berani Mas Ayu Prabu menolak seorang junjungan. Semua gadis tentu ingin menjadi istrinya. Bukan cuma itu tentunya semua orang patuh dan mengiakan apa kemauan seorang junjungan. Tapi Mas Ayu dengan berani menolaknya.

"Kau menolak aku?" Suara Wilis gemetar menahan marah.

Tapi Mas Ayu tersenyum. Dengan ramah ia menjawab,

"Itu bukan pertanyaan yang bijak, Yang Mulia. Siapa berani menolak seorang junjungan dengan cara begini?"

Mata Wilis kian membara. Gadis ini tidak menjawab tapi malah mengejek. Mungkin karena ia bekas anak seorang patih amangkubhumi di Blambangan? Atau mungkin karena ia kaya?

Maka Wilis segera bangkit dan akan segera beranjak. Mas Ayu Prabu jadi terkejut. Wilis marah. Dengan cepat ia tangkap tangan pemuda yang sudah mulai melangkah.

"Yang Mulia..." Wilis menghentikan langkahnya. Tapi tidak menoleh. Kaku seperti patung.

"Akan ke mana, Yang Mulia?" Wilis tidak menjawab.

"Yang Mulia seorang pimpinan. Dan seorang pimpinan adalah orang bijak melebihi semua. Tapi kenapa kebijakan itu musnah dari ingatan Yang Mulia? Sampai-sampai bertanya pun seperti pertanyaan sudra yang tak pernah mengisi kepalanya dengan ilmu pengetahuan."

Masih saja mematung. Belum mau membalikkan badan.

"Apa pengetahuan telah membeku dalam kepala Yang Mulia?" pertanyaan yang menyakitkan sebenarnya. Gadis ini tak pandai bermesra, pikir Wilis. Demikian pula pikir Mas Ayu Tunjung. Tentu orang memilih aku jika ingin bermesra, gumam Tunjung dalam hati.

"Ingat, Yang Mulia, suatu pertanyaan pada setiap brahmana, yang harus kita jawab sendiri, apa gunanya pengetahuan yang cuma dibungkus dalam otak kita?"

Masih belum berjawab.

"Baiklah!" Mas Ayu Prabu menjadi jengkel. Ia melepas tangan Wilis. Sebaliknya ia yang akan beranjak meninggalkan Wilis. "Memang sukar bicara dengan seorang yang cuma bergantung pada perasaan. Silakan terus bergantung pada perasaan."

Wilis jadi terkejut. Cepat ia mengejar dan menangkap tangan Ayu Prabu. "Ke mana kau?"

"Apa perlunya terus bicara dengan patung." Mas Ayu berhenti. Tapi kini ganti ia yang membelakangi Wilis. Kalau Wilis melingkar untuk berhadapan, Mas Ayu kembali memutar tubuhnya.

"Siapa yang patung itu?"

"Siapa yang tidak pernah menggunakan pikirannya kuanggap patung," Ayu Prabu makin berani.

"Baiklah. Jika demikian kenapa kaupegang tanganku ketika aku akan meninggalkanmu? Padahal kau telah menolak aku?"

"Karena kau tidak tanya dulu kenapa aku menolak menjadi paramesywari. Dengar dulu alasannya." Mas Ayu masih saja membelakangi Wilis.

"Menyakitkan. Untuk apa didengar?" "Baru aku tahu, kau seorang pimpinan yang tidak pernah mau mendengar. Tapi cuma ingin didengar pendapatnya!

Tidak ada seorang bijak yang cuma mau mendengar suara hatinya sendiri.”

Wilis terpukul mendengar itu. Memang benar kata-kata itu. Ia telah kehilangan pertimbangan dari kepalanya yang bening.

"Ampuni aku...," Wilis mengalah. "Baiklah, aku dengar sekarang. Walau mungkin saja menyakitkan. Ternyata telinga tidak cuma digunakan untuk mendengar yang baik saja. Tapi juga yang pahit." Suasana hening lagi. Untuk beberapa bentar. Wilis menahan hati.

"Sudah kukatakan," Mas Ayu kini mulai bicara lagi. Mengusik keheningan malam. Tapi ia masih belum mau berbalik. Dan Wilis di belakangnya bagai bayang-bayang. ”Aku menolak menjadi paramesywari. Bukan menolak Yang Mulia." Suaranya tidak lagi galak. Wilis diam memperhatikannya.'

"Seorang paramesywari selalu diperbandingkan dengan para selir. Itu yang aku tidak mau. Tapi seorang istri tidak boleh diperbandingkan dengan siapa pun."

"Jagat Bathara!" Wilis maju selangkah. Ia tangkap kedua belah bahu Mas Ayu Prabu. Dengan halus ia cium bahu itu.'

"Yang Mulia...," Mas Ayu berdesis lirih.

"Percayalah, aku tak mungkin memperbandingkan cintaku," Wilis berbisik di telinga gadis itu. Dan Mas Ayu merebahkan kepalanya ke dada Wilis. "Yang Mulia... cinta boleh berjalan terus di hati kita, tapi panggilan hidup harus lebih dulu kita penuhi. Negeri ini belum lagi bebas. Karena itu hamba telah bersumpah di hadapan Hyang Durga, baru akan naik ke pelaminan jika umbul-umbul Jingga sudah berkibar kembali di Tanah Semenanjung ini. Cinta Yang Mulia hamba anggap sebagai nyanyian surga yang indah. Tapi belum di tangan hamba sekarang. " "Jagat Dewa! Ayu..."

"Yang Mulia, tidakkah kita akan malu menjadi penguasa tanpa negara? Nah, mari kita berjuang lebih dulu. Dan setelah menang kita menikah."

0oo0

Jaksanegara sudah diberi tahu oleh Pieter Luzac, bahwa Gubernur Robbert Van de Burg menerima saran dari Biesheuvel untuk mencopot Kertawijaya sebagai penguasa Blambangan. Maka ia harus mempersiapkan diri sebaik- baiknya. Jangan sampai seperti dulu. Karena keraguan tindakan atau ketidaktegasan terhadap Ropo, gagallah ia menjadi Tumenggung Blambangan. Mulai sekarang harus sudah memilih siapa yang layak mendampinginya sebagai patih Blambangan.

"Bagaimana jika hamba mengusulkan Mas Rempek?" "Kita harus mempertimbangkannya masak-masak. Mas

Rempek tidak mau memeluk Islam. Dan berani mencegah penangkapan Ropo beberapa waktu lalu. Apakah mungkin ia akan bekerja sama dengan VOC?" Schophoff meragukan.

"Ya... itu," Pieter Luzac menambahi, "Kami dengar dia adalah salah satu keturunan Tawang Alun. Dan dia tidak percaya Wilis sudah mati."

Jaksanegara menarik napas panjang. Memang ia melihat sikap Rempek terlalu kaku. Ia tidak pernah makan dan minum bersama di rumahnya.

Dan sekarang ini sebagai bawahannya, ia tidak mau meninggalkan igamanya yang lama. Sebenarnya ia tidak keberatan jika Rempek tidak diangkat. Tapi ia ingat Mas Nawangsurya. Kakak pemuda itu. Sekalipun usianya telah diatas dua puluh lima, wajahnya membuat ia tidak pernah dapat lupa. Apa akal? "Apakah tidak mungkin jika suatu ketika hamba dapat menjinakkannya?"

"Jika Yang Mulia yakin bisa, itu terserah," kata Schophoff. "Tapi jangan lupa, bagaimanapun ia adalah keturunan macan dan tampaknya berhati singa "

Sekalipun Schophoff suka tertawa dan memang suka bergurau, namun jelas itu merupakan isyarat. Isyarat untuk berhati-hati terhadap Rempek. Pieter Luzac menyebut orang itu sebagai anak binal. Jangan dimanja. Tapi bagaimanapun ia harus mencoba. Pikiran itu membuat ia mencoba melangkahkan kaki kudanya ke Pakis.

Bagaimanapun ia iri melihat Pakis. Tidak seperti kedatangannya yang. pertama. Sawah-sawah nampak lebih luas dari dulu. Pasarnya lebih ramai dari pasar Pangpang sendiri. Buktinya sampai sore hari pasar di Pakis masih saja banyak orang berbelanja. Juga masih banyak petani yang menjual hasil buminya. Jalan-jalan nampak lebih terawat rapi.

Semua orang yang melihat Jaksanegara datang menjadi heran. Mereka memandangnya dengan tanpa menghormat. Serombongan petani berpapasan dengan Jaksanegara, tidak memberikan penghormatan. Pengawal Jaksanegara menjadi amat terkejut melihat itu. Di Lo Pangpang semua orang berlutut menyembah jika mereka lewat. Tapi di Pakis menoleh pun tidak. Jaksanegara memeriksa diri. Apa sebab? Atau karena ia mengenakan baju kebesaran seperti halnya adipati Jawa lainnya? Mungkin saja karena ia tidak telanjang dada?

Yah, sepertinya mereka menganggapnya orang asing. Bahkan ketika sampai di depan istana Wiragunan (istana keluarga wiraguna) para pengawal tidak memberikan penghormatan semestinya. Ia ditahan di gerbang dan diminta turun dari kuda. Jaksanegara keberatan.

"Aku ingin bertemu dengan Yang Mulia Mas Rempek," ia berkata dari atas kudanya. "Siapakah Yang Mulia? Dari mana?" kepala penjaga bertanya.

Jaksanegara sungguh-sungguh tersinggung. Orang Blambangan bisa tidak mengenalnya. Ia pandang tajam-tajam penjaga itu. Namun mereka tidak gentar.

"Kau bukan orang Blambangan?" Jaksanegara mulai jengkel.

"Setiap tamu asing harus mengenalkan diri lebih dulu di samping harus mematuhi peraturan yang ada."

"Aku tanya, apakah kau bukan orang Blambangan?" "Hamba mendapat perintah dari Mas Rempek, untuk

melindungi keluarga Tawang Alun di Pakis ini. Jika ada orang

yang mencurigakan maka gerbang akan hamba tutup. Apalagi Yang Mulia bukan orang Blambangan "

"Tutup mulutmu!" Jaksanegara mulai naik darah. "Ada orang Blambangan yang tak kenal Jaksanegara? Belum dengar kau nama itu? Inilah orangnya."

"Sekali lagi, Yang Mulia, jangan marah." Orang itu tidak nampak terkejut ataupun menyesal. "Yang Mulia ada di Pakis dan bukan di Pangpang."

"Gila! Setan! Pakis adalah wilayah Blambangan! Kenapa tak menghargai satria Blambangan?"

"Kami tak melihat bahwa Yang Mulia satria Blambangan.

Karena pakaian Yang Mulia tak seperti umumnya satria Blambangan."

Jaksanegara tercenung melihat kenyataan itu. Ia telah menjadi orang asing di negerinya sendiri. Ingin ia kembali ke Pangpang segera. Ia menjadi malu, kepala penjaga di Pakis tidak memberikan penghormatan padanya. Huh, lihat nanti jika aku sudah jadi penguasa tunggal, kau harus bersimpuh! Bersimpuh menyembah kakiku! Tapi kali ini ia perlu menjumpai Mas Rempek. Maka ia turun dari kudanya. Setelahnya dalam iringan kepala pengawal ia naik ke pendapa. Gambar lambang Sonangkara masih tergantung di salah satu pilar pendapa itu. Setelah duduk di sebuah kursi kayu berukir, Mas Talip dan Rahminten keluar.

"Dirgahayu, Yang Mulia "

"Terima kasih." Matanya mengitari ruangan. Tapi Mas Rempek tidak muncul. "Mana para Yang Mulia lainnya?"

"Ada di wismanya masing-masing. Kebetulan yang ada di sini mewakili mereka. Kanda Bagus Puri sudah sering sakit," Mas Talip menerangkan.

"Suatu anugerah bagi kami menerima kunjungan mendadak seperti ini. Maafkan, kami tidak bisa menyambut sebaik-baiknya. Kami tidak tahu Yang Mulia akan datang." Rahminten juga turut bicara. Merdu suaranya. Biji mentimun berbaris rapi di sela bibir.

"Ah, biasa kami mengadakan perjalanan seperti ini. Apalagi beberapa hari terakhir ini Yang Mulia Mas Rempek tidak mengunjungi kami. Hamba rasanya seperti kehilangan saudara."

"Yah. Kami tidak tahu sebabnya. Mungkin peristiwa penangkapan Rsi Ropo itu menggores hatinya. Adik kami itu memang tak pernah menyembunyikan hatinya. Jadi ia dengan terus terang merasa khawatir akan keselamatan seluruh Blambangan yang memperlakukan seorang brahmana wenang-wenang," Rahminten menerangkan lagi.

"Dan nyatanya rsi itu bisa lolos dari benteng. ,"

menyambung Mas Talip.

"Itu yang ingin kami jelaskan pada Yang Mulia Rempek.

Bukan niat kami sebenarnya mencelakai Rsi Ropo. Tapi karena jawaban beliau membuat Tuan Biesheuvel marah. Tapi sekarang keadaan sudah pulih kembali. Komplotan Beglendeen dan Bozgen sudah dipatahkan. Mana ada kekuatan yang dapat mengalahkan VOC?" Jaksanegara tertawa. Ingin sebenarnya ia mengunjungi wisma Nawangsurya. Tapi tentu ia segan mengatakan terus-terang.

"Tapi bagaimana dengan Wong Agung Wilis? Apakah Belanda..."

Rahminten membuat Jaksanegara pucat. Matanya melirik kiri dan kanan. Talip dan Rahminten heran.

"Sebaiknya kita bicara lainnya saja," Jaksanegara setengah berbisik. "Belanda tidak suka kita menyebut nama itu. Jika sampai kedengaran kita membicarakannya, kita akan dihukum."

"Rupanya Belanda takut pada Yang Mulia Wong Agung Wilis."

Rahminten tidak menghiraukan peringatan Jaksanegara.

Tapi kembali Jaksanegara memperingatkannya. "Di sini tidak ada Belanda."

"Tapi tiap dinding bertelinga. Maka sebaiknya kita berhati- hati jika tidak ingin seperti Yang Mulia Sutanegara."

Semua terdiam. Mengingat nasib para satria itu. Semua menjadi iba. Sementara sore merangkak masuk senja.

Pembicaraan selalu menyita waktu. Bahkan sering orang melupakannya.

"Kami ingin mempersembahkan sesuatu pada seluruh keluarga Pakis." Jaksanegara tanpa menunggu jawaban bangkit dan menuju kudanya.

Dari bawah sanggurdi ia mengeluarkan sebuah bungkusan dari kulit kambing. Kemudian di hadapan kedua orang itu ia mengeluarkan enam bungkus dalam kain. Dan menyerahkannya pada Mas Talip. "Sekadar uang Belanda.

Enam keluarga enam bungkus," kata Jaksanegara menerangkan. Kedua orang itu menerima dengan mata bersinar.

"Masih ada lagi...," Jaksanegara tersenyum. "Tapi yang ini hamba persembahkan hanya untuk Yang Mulia Nawangsurya dan Yang Mulia Rahminten." Kemudian ia mengeluarkan dua buah kalung emas, dua pasang gelang, dua pasang binggal.

"Ah, Yang Mulia " Hati Rahminten amat gembira. Wanita

sering tidak bisa menahan diri melihat emas. "Terima kasih "

"Nah, sekarang hamba ingin bertemu dengan Mas Rempek."

Rahminten bangkit dan memanggil pengawal. Ia perintahkan memanggil adiknya. Dengan kuda orang itu segera berangkat. Malam mulai menggantikan senja. Rempek belum juga tiba. Rahminten kembali menimang-nimang perhiasan hadiah Jaksanegara itu. Kalau begitu Jaksanegara tentu orang terkaya di Blambangan.

Malam benar-benar tiba kala pengawal memberi tahu bahwa Rempek tidak ada di tempat. Jaksanegara menjadi agak bingung. Jika pulang ke Pangpang takut peristiwa di Hutan Kepanasan itu terulang kembali. Jika ingin bermalam di sini dan

pulang besok pagi tentunya harus dicarikan alasan yang tepat. Dan ia menemukan alasan itu. Ia harus menunggu Rempek. Karena ada pembicaraan penting yang hendak disampaikan pada Rempek.

Rahminten segera menyiapkan puri dalam taman Wiragunan itu sebagai tempat bermalam bagi Jaksanegara. Ia pasang lampu-lampu yang agak terang. Tamunya tamu agung dan kaya. Juga ia perintahkan seorang dayang menyiapkan makanan untuk bersantap malam. Juga pada kepala pengawal ia perintahkan untuk menyiapkan tempat bermalam bagi pengawal Jaksanegara. Setelah selesai semuanya ia mempersilakan Jaksanegara memasuki tamansari Wiragunan. Sementara kakaknya berpamitan akan membagikan hadiah itu pada saudara-saudaranya. Memang Rahminten sudah terbiasa mewakili keluarganya. Ia tidak seperti kakaknya, Nawangsurya, yang agak pemalu.

"Tentu tidak seindah taman di Lo Pangpang," gadis itu merendah. Warna-warni tumbuh-tumbuhan dan bunga dalam taman itu. Tapi karena malam maka tidak tampak jelas. Walau lampu dipasang tiap lima depa. Jalan yang mereka lalui ditaburi batu-batu kecil. Keduanya berjalan sebe- g lah- menyebelah. Bau harum bunga sedap malam menyatu dengan bau harum rambut Rahminten.

"Di sini tentu lebih indah," Jaksanegara menjawab pelan. "Kita berbelok ke kanan. Bersantap dulu di Puri Andrawina

(tempat untuk makan) setelah itu Yang Mulia bisa istirahat."

Kali ini Jaksanegara benar-benar tak berkutik. Lauk yang ada cuma daging babi. Dan sayur kacang, yang rupanya dimasak dengan amat tergesa. Jika ia menolak, maka akan menimbulkan kesan buruk bagi gadis itu. Maka walau ia sebenarnya sudah berusaha menjauhi daging babi, tapi di hadapan gadis itu ia harus memakannya.

"Ada yang hendak hamba bicarakan dengan Yang Mulia Rempek. Rahasia sebenarnya."

"Apa itu?"

"Dalam waktu dekat Kertawijaya akan diberhentikan dari jabatannya. Dan akan diganti putra Blambangan asli.

Bukankah ini merupakan petunjuk bahwa Belanda benar-benar ingin bersahabat dengan kita?" Jaksanegara tersenyum. "Hamba mengusulkan agar pemerintahan dikembalikan kepada keturunan Tawang Alun. Hamba telah berunding dengan putra Bapa Anti, Juru Kunci. Maka dari itu hamba ingin agar di antara keluarga Yang Mulia ada yang selalu berhubungan dengan kami dan sering bertemu dengan Belanda. Artinya kita harus menghilangkan kecurigaan mereka yang menganggap kita bersekongkol dengan Bali."

"Baiklah, Yang Mulia, hamba akan menasihati dia." "Sebenarnya Belanda sudah menyatakan keinginannya

untuk mengangkat hamba sebagai tumenggung. Hamba mengajukan syarat agar Blambangan disatukan lagi. Tidak ada Pangpang dan tidak ada lagi Lateng. Dan Belanda sudah setuju."

"Setuju?" Wanita itu kagum.

"Ya. Setuju. Jadi kita bisa memperoleh kembali wilayah kita dengan tanpa perang. Kita memperolehnya dengan jalan damai."

Wanita itu makin kagum. Kaya, bijak...

"Hamba lihat bahwa Yang Mulia Rempek lebih pantas dari hamba. Tapi Yang Mulia Rempek sukar mendekatkan diri pada Belanda. Apakah Yang Mulia setuju dengan pendapat hamba?"

"Hamba setuju. Peperangan tidak pernah membawa keuntungan. Negeri makin rapuh karena peperangan yang tidak kunjung henti. Hamba kira sudah waktunya kita memberi kesempatan bagi seluruh kawula untuk membangun negeri dengan damai."

"Rupanya kita malah bisa bekerja sama," Jaksanegara memegang tangan Rahminten. "Yang Mulia lebih cocok dari Yang Mulia Rempek. Apakah Yang Mulia bersedia mewakili keluarga untuk lebih sering bersama kami mengadakan banyak perundingan dengan Belanda?"

Gadis itu berpikir sejenak sementara kedua tangannya masih dalam genggaman Jaksanegara. Sebenarnya ia ingin berunding lebih dulu dengan seluruh keluarganya. Tapi ada yang ia khawatirkan. Jika Rempek tidak setuju pendekatan itu, maka seluruh keluarga akan kehilangan kesempatan. Dan akan musnahlah kesempatan keturunan Tawang Alun membangunkan kembali cakrawar-ti-nya. Apa salahnya jika pada keadaan mendesak demikian ia mengambil keputusan sendiri yang mungkin bisa membawa keuntungan bagi keturunan Tawang Alun? Ah, Jaksanegara ternyata membawa angin baru bagi kehidupan keluarga Tawang Alun. Bahkan roda sejarah bagi seluruh Blambangan. Ini juga nyanyian surga bagi negerinya.

"Apakah masih ada kesempatan bertimbang?" Ia memandang patih Blambangan itu.

"Bagi hamba tidak pernah ada keberatan. Tapi jika malam ini Yang Mulia memberi suatu keputusan tentu itu sangat baik bagi langkah hamba esok pagi." Jaksanegara melepaskan tangan yang digenggamnya. Tapi rasanya ia menyesal melepas tangan itu. Sekali lagi, setiap Jaksanegara memandang wanita cantik, maka angannya pasti sudah melayang ke pembaringan. Tapi kali ini ia harus hati-hati. Ia berhadapan dengan darah Tawang Alun. Karena itu jika ia bisa melakukan rencananya, maka ia akan menjadikan Rahminten paramesywari.

"Baiklah. Sementara hamba akan merundingkan kembali dengan seluruh keluarga, hamba menerima pendapat Yang Mulia. Mungkin cuma Mas Rempek yang keberatan. Nah, Yang Mulia malam sudah jauh. Silakan ke tempat istirahat."

Keduanya bangkit. Rahminten mengantar sampai di pintu.

Setelah itu ia sendiri pergi ke purinya. Jaksanegara memperhatikan lenggang putri itu dengan menelan air ludah. Pinggulnya bergoyang... kembali menelan ludah dan sepertinya ,ada yang mendorong, maka ia berjingkat mengikut.

Rahminten mencuci kaki di depan pintu purinya. Masuk, kemudian melepasi semua perhiasannya. Juga cundrik yang selalu terselip di depan perutnya. Setelah itu menimang- nimang pemberian Jaksanegara. Tersenyum sendiri. Ia coba untuk memasang di tubuhnya. Berputar-putar di depan cermin sebentar. Hatinya melambung selangit. Ternyata sekalipun sudah banyak memiliki emas, wanita tak pernah berhenti dari keinginan. Yah, keinginan adalah sesuatu yang tanpa batas. Tidak sama dengan hal lain, atau juga benda lain yang punya tepi. Keinginan tak pernah bertepi. Sekali manusia memanja keinginan itu, maka ia akan terus melambung dan terus melambung.

Setelahnya ia naik ke pembaringan. Beralas permadani buatan Mesir. Tidak segera tidur. Bayang-bayang Jaksanegara kini mulai menggoda angannya. Menggenggam tangannya.

Perang Wong Agung Wilis telah melenyapkan kesempat-annya untuk segera bersuami. Sebab calon suaminya tewas dalam perang itu. Demikian pula calon suami kakaknya, seorang perwira yang dihukum gantung oleh Wong Agung Wilis karena dituduh bersekongkol dengan Teposono. Kehangatan muncul kembali kala Jaksanegara menggenggam tangannya. Tapi ia sudah setengah baya. Sudah beranak-bini. Perempuan Blambangan tak pernah membedakan suaminya sudah beristri atau belum. Lelaki Blambangan boleh kawin berapa saja asal ia mampu menghidupi istrinya. Tapi... ah, ia ingat keputusannya tadi. Demi negara aku harus bertindak.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa setiap geraknya diintip oleh Jaksanegara dari celah dinding kayu ulin. Ingin Jaksanegara berterus-terang dan malam ini menikmati keperawanannya. Tapi mengingat para penjaga yang tidak ramah di gerbang depan itu, ia kehilangan keberanian untuk melakukannya. Sekali teriakan Rahminten terdengar di depan akan membuat ususnya terburai di lantai Puri Pakis. Pelan- pelan ia kembali ke puri yang disediakan baginya. Sampai keesokan paginya ia baru keluar. Rahminten sudah selesai mandi.

Ketika ia berpamitan, ia pesan jika dalam satu minggu Rempek tidak juga hadir maka sebaiknya salah seorang keluarganya mewakilinya. Rahminten mengiakan. Ia berharap bahwa apa yang direncanakan Jaksanegara mengembalikan Blambangan ke tangan wangsanya benar-benar dilaksanakan secara jujur.

Pertemuan dengan Rahminten membuat hati Jaksanegara berbunga-bunga. Sudahlah, walau ia tidak bisa memetik Nawangsurya, cukup adiknya saja. Ah, jika aku menjadi tumenggung dan para-mesywarinya keturunan Tawang Alun tentu kelak ia akan jadi raja besar seperti halnya Tawang Alun sendiri. Setidaknya ia akan mampu mengalahkan citra Wong Agung Wilis. Dan jika ada pertama tentu ada kedua, ketiga, dan seterusnya. Seminggu kemudian ia datang lagi dengan membawa hadiah yang lebih bagus. Dua minggu kemudian Rahminten dan Mas Talip ganti datang ke Pangpang. Walau Rempek juga sudah sering muncul. Bahkan Jaksanegara juga memperkenalkan Mas Talip dan Rahminten pada Biesheuvel serta Pieter Luzac dan Schophoff. Para pembesar Belanda nampak senang pada mereka yang dinilai amat lugu.

Sebulan sudah menunggu keputusan dari Surabaya, rasanya semua tidak sabar. Baik Biesheuvel sendiri maupun Jaksanegara. Ia khawatir semakin lama Kertawijaya memerintah di Blambangan, makin sulit Belanda mendekati hati kawula Blambangan. Gejala akhir-akhir ini makin memprihatinkan. Jumlah orang yang meninggalkan Pangpang dan Lateng serta kota-kota besar Blambangan lainnya makin menonjol. Tentu Biesheuvel dan pembantu-pembantunya merundingkan hal itu. Termasuk Kertawijaya dan Jaksanegara, Juru Kunci juga Mas Rempek, bahkan Rahminten serta dua kakaknya Mas Ngalit dan Mas Talip ikut diajak dalam perundingan.

"Mungkin karena makin banyak pendatang, maka mereka menjual tanah milik mereka dan pindah ke kota lain," Kertawijaya menyimpulkan.

"Tapi ada juga kami lihat rumah-rumah yang ditinggal begitu saja. Berarti tidak dijual. Dan banyak tanah yang kini ditumbuhi semak belukar. Beberapa tahun lagi akan jadi hutan kembali jika tidak digarap," Biesheuvel menjelaskan.

Beberapa waktu hening. Tidak ada yang memberikan pendapat.

"Jika demikian," Schophoff yang bersuara kini, "untuk menjaga keutuhan kota kita harus tangkap semua orang yang berangkat meninggalkan rumah dan ladangnya. Kita paksa mereka berladang kembali!"

"Pikiran yang bagus. Tapi seberapa jauh kita bisa mengawasi mereka?" Biesheuvel bertanya lagi.

"Kita kerahkan pasukan yang ada untuk menjaga mereka di sawah dan di ladang. Jika mereka membangkang dan tidak mau bekerja, kita hukum pukul dengan rotan punggung mereka," Pieter Luzac meramaikan perundingan.

"Sebenarnya ada hal penting yang harus kita perhatikan agar kawula Blambangan betah tinggal di rumah dan di ladang mereka. Kita harus mendengarkan pendapat mereka. Dan kita belajar memenuhi keinginan mereka. Walau tidak semua," Rempek memberikan pendapatnya.

"Apa yang mereka inginkan?"

"Dua hal yang mungkin bisa kita penuhi salah satu.

Pertama, sebagian dari mereka ingin diperintah kembali oleh Wong Agung Wilis. Atau yang kedua, mereka minta agar Yang Mulia Sutanegara dibebaskan kembali. Dan memerintah di Blambangan."

"Ya, Tuhan...," Biesheuvel menyebut.

"Ya, Allah...," Jaksanegara dan Juru Kunci dan Kertawijaya juga menyebut berbareng.

Bahkan Rahminten, serta Mas Ngalit, serta Mas Talip juga menyebut karena terkejut. Tidak ada yang menduga bahwa Rempek berani mengutarakan hal seperti itu. Bukankah jika memenuhi tuntutan pertama maka Belanda harus angkat kaki dari Blambangan. Sebab jika tidak, semua orang kulit putih akan digantung oleh Wong Agung Wilis. Jika memenuhi tuntutan kedua, berarti Belanda akan kehilangan wibawanya. Seorang yang sudah dijatuhi hukuman karena dituduh berkomplot dengan Mengwi diangkat kembali menjadi penguasa. Dan bukan tidak mungkin Sutanegara menyerahkan kembali kekuasaan pada Wong Agung Wilis.

Sesaat ruangan hening. Saling pandang satu dengan lainnya. Tapi tiba-tiba Schophoff bangkit berdiri dan terbahak- bahak. Katanya kemudian,

"Itu pendapat Tuan sendiri apa orang-orang Blambangan?" "Tentu bukan pendapat kami sendiri."

"Tuan setuju atas pendapat itu?"

"Tuan memeriksa hamba?" Rempek senyum. Ia belajar tenang. Tidak seperti beberapa bulan lalu. Pemeriksaan terhadap Rsi Ropo di hadapan matanya merupakan pelajaran berharga. "Asal demi kebaikan Blambangan, sikap hamba jelas,, setuju!"

Kembali, semua orang seperti disambar petir.

Terutama Rahminten. Ia yang sangat berharap adiknya itu menjadi penguasa di Blambangan. Tapi kekerasan hatinya itu. Seperti kata Jaksanegara. Rempek tetap saja keras kepala.

Ketegangan dihancurkan lagi oleh suara tawa Schophoff. Orang itu selalu tertawa memang.

"Tuan tidak hati-hati. Jika Tuan setuju, berarti Tuan tidak senang kawula tetap hidup dalam kedamaian. Kita tidak perlu mengulang mimpi yang lalu. Sia-sia. Mari kita membangun yang baru dengan orang-orang baru pula. Tidak baik mimpi seperti itu."

"Yah... Yang Mulia. Sebaiknya kata-kata itu Yang Mulia jauhkan saja dari kalbu Yang Mulia. Itu menyinggung perasaan," kini Kertawijaya bicara. Ia agak tersinggung. Dengan kata lain ia tidak disukai oleh orang Blambangan. "Hamba akan melakukan apa, saja demi kawula Blambangan," tambahnya.

"Yang Mulia tidak akan pernah melakukan apa-apa buat kami di Blambangan ini. Karena Yang Mulia lebih banyak berbuat untuk diri Yang Mulia sendiri," tegas Rempek.

"Yang Mulia tidak menghargai kerja kami?" "Kerja Yang Mulia bukan untuk Blambangan. Tapi untuk VOC. Bagaimana Yang Mulia dapat berbuat sesuatu bagi Blambangan, sedang Yang Mulia tak pernah mencintai Blambangan? Bagaimana bisa mencintai Blambangan jika kita tidak pernah sepatah pun bercakap dengan kawula Blambangan?"

"Kita sama-sama hamba VOC."

"Sama-sama hamba VOC tapi hati hamba, darah hamba, daging hamba, dan semua yang ada pada hamba adalah Blambangan. Sebaliknya Yang Mulia adalah benar benar hamba VOC yang baik."

"Yang Mulia!" Kertawijaya tersinggung. Jaksanegara juga.

Rempek menyiapkan dirinya. Tetap tersenyum. Jika aku ditangkap, aku akan bunuh orang sebanyak-banyaknya, pikir Rempek. Tapi bersamaan dengan itu seorang pengawal rumah Biesheuvel menaiki tangga di depan pendapa. Memberi hormat sebelum melaporkan bahwa ada surat dari Surabaya. Utusan Tuan Gubernur menunggu di luar.

"Bawa kemari suratnya. Persilakan tuan utusan itu istirahat. Persiapkan jamuan makan untuk beliau. Katakan kami masih ada rapat. Begitu selesai kami akan ke kamar beliau."

"Siap, Tuan." Orang itu pergi lagi dengan langkah tegap. Sekalipun ia seorang pribumi, tapi sudah dilatih melakukan tatacara VOC. "Pertikaian antara kita tidak perlu," Biesheuvel melerai kedua bangsawan itu. "Yang kami butuhkan ialah bagaimana memajukan Blambangan seperti daerah lainnya. Blambangan sudah sangat ketinggalan. Padahal Blambangan adalah negeri yang kaya."

Keduanya diam. Saling pandang dengan tajam. Saling mengancam dalam hati masing-masing.

Beberapa bentar lagi pengawal datang kembali mempersembahkan surat dari Surabaya.

Biesheuvel segera membuka gulungan surat ini. Dan membacanya sebentar. Setelah itu berkata,

"Ini keputusan penting. Dari Gubernur. Nah, silakan Tuan Pieter Luzac membaca dengan suara keras," ia menyerahkan surat itu pada yang diperintahnya. Dan Pieter Luzac segera melaksanakan tugasnya. Dan betapa terkejut Kertawijaya mendengar itu. Ia ditarik kembali ke Surabaya. Justru di saat Blambangan sedang dilanda kemelut. Selebihnya ada dua surat lagi. Yang satu pada Kertawijaya, yang isinya memerintahkannya untuk segera kembali. Yang kedua pada Jaksanegara supaya memangku jabatan tumenggung sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Kepada Jaksanegara diperintahkan supaya dalam waktu singkat segera dapat menenteramkan Blambangan. Kepada Kertawijaya diperintahkan kembali ke Surabaya bersama dengan Mayor Crooy sebagai utusan istimewa untuk menjemput Raden Kertawijaya.