Gema Di Ufuk Timur Bab 09 : Segumpal Mendung

 
Bab 09 : Segumpal Mendung

Pemerintah VOC menganggap dengan dibuangnya dua tumenggung serta seorang patihnya dan seluruh keluarganya ke Seilan akan menghentikan semua pembangkangan yang ada di Blambangan. Dan dengan begitu akan membuat orang Blambangan takut. Memang ketakutan orang Blambangan diperlukan oleh Kompeni. Dengan dicekam ketakutan maka mereka tidak akan berbuat apa-apa jika mereka diperlakukan dengan semau-mau. Selebihnya kawula Blambangan akan mengiakan terhadap semua kemauan pemerintah. Dan itulah yang disebut kekuasaan. Dalam banyak hal kekuasaan itu ternyata dibangun dan hidup di atas ketakutan banyak manusia. Bukan atas pendapat semua manusia. Dengan sengaja pemerintah Belanda menciptakan ketakutan secara tersembunyi, dan membiasakan orang menjadi takut dari waktu ke waktu, sehingga kelak berkembang menjadi semacam kesadaran untuk patuh. Patuh melakukan kewajiban yang harus mereka berikan kepada pemerintah VOC. Dan seperti daerah Jawa lainnya, maka Belanda ingin membuat kawula Blambangan menjadi seperti siput. Yang harus meng- kerut jika mendengar langkah dan detak sepatu orang-orang Belanda. Merunduk-runduk tidak berani memandang wajah siapa pun yang dianggap lebih tinggi derajatnya dari mereka. Belanda yang menciptakan begitu!

Bagi Mas Rempek peristiwa pembuangan itu memberikan arti yang lain. Matanya menjadi terbuka, bahwa tidak setiap sosok manusia di bumi Semenanjung ini boleh dipercaya. Di hatinya terukir berbagai tanya tentang Jaksanegara. Tentang Sanggawati. Tentang banyak orang yang menyebabkan ketiga satria Blambangan itu dibuang ke negeri yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan dalam hidup mereka. Lebih dari semua itu, merupakan pelajaran berharga. "Bahwasanya tindakan separuh-separuh lebih banyak mendatangkan kerugian daripada keuntungan. Dan siapa yang ingin rugi?

Karena barangsiapa melakukan segala hal dengan separuh- separuh, maka ia tak akan pernah sampai pada apa yang ia inginkan. Karena ia tidak pernah sepenuhnya benar.

Tidak demikian halnya Jaksanegara. Sebongkah kegembiraan memenuhi hatinya. Selangkah lagi ia akan menjadi penguasa tunggal di Blambangan. Tidak peduli hanya akan diberi pangkat adipati atau bupati. Apalagi Pieter Luzac dan Schophoff sebagai orang dekat Biesheuvel mengatakan bahwa mereka telah mengajukan usul pada Gubernur supaya Jaksanegara diangkat sebagai Adipati Blambangan. Dan untuk berita yang baru ia terima itu tentu ia mempersembahkan hadiah-hadiah istimewa pada keduanya walau waktu mempersembahkannya tidak sama. Dan saling tidak mengetahui. Tentu keduanya memberi pesan pada Jaksanegara agar tidak seorang pun tahu jika mereka menerima persembahan dari Jaksanegara.

Tapi banyak kali kenyataan tidak semanis impian. Karena dengan tegas Gubernur J. Vos menolak usul yang ditandatangani Pieter Luzac dan Schophoff dan diketahui oleh Biesheuvel. J. Vos menyatakan curiga terhadap setiap orang Blambangan. Sekalipun mereka sudah menjadi Islam seperti halnya penguasa Jawa lainnya namun mereka masih takut pada kaum brahmana. Sebagai bukti, menurut surat J. Vos pada Biesheuvel mereka tidak bertindak terhadap sepak- terjang Rsi Ropo di Songgon. Sehingga Songgon seolah daerah yang berdiri sendiri, di luar kekuasaan Blambangan.

Vos menerima laporan dari beberapa telik Sidayu yang pernah secara diam-diam menyusup ke Songgon.

Biesheuvel sangat terkejut karena surat Vos menyebutkan daerah Songgon tidak terlalu jauh dari Pangpang sebenarnya. Diperkirakan cuma dua jam perjalanan jika mereka menempuhnya dengan naik kuda. Dan karena itu sebagai ganti kedua tumenggung yang telah dijatuhi hukuman buang, Gubernur menunjuk Patih Surabaya, yaitu Raden Kertawijaya. Seorang yang tinggi besar menurut ukuran Jawa. Hidungnya mancung hain-pir seperti Arab. Barangkali saja memang keturunan Arab. Karena di Kartasura sekarang banyak saudagar keturunan Arab. Dan tidak mustahil jika , ada diantara mereka yang dekat dengan kraton dan berhubungan dalam banyak hal. Mula-mula mereka keluar-masuk istana hanya untuk menawarkan barang dagangan. Atau juga mereka merangkap menjadi pengajar bahasa Arab dan igama Islam.

Seperti hal lainnya maka hubungan yang dekat akan membuahkan sesuatu. Sebab kodratnya memang demikian. Maka itu sebabnya tidak mengherankan jika di Kartasura sekarang ada orang-orang Arab atau Cina yang bergelar seperti » layaknya bangsawan Jawa. Semula memang ditentang oleh beberapa bangsawan. Tapi dijawab oleh Susuhunan, raja-raja Jawa menerima gelar Sultan juga dari tanah suci Mekah. Kenapa mereka tidak boleh menerima gelar jika sudah bertalian darah dengan kita. Tidak ada salahnya anak-anak kita dikawin oleh mereka, titah Susuhunan dalam pembelaannya. Arab adalah bangsa mulia, keturunan Nabi besar Muhammad. Baik-baik saja itu terjadi.

Kertawijaya mengenakan ikat kepala berwarna merah soga.

Tepat di atas dahinya dihiasi bros yang bertahtakan intan, sehingga tampak berkilau-kilau. Bajunya hitam dan bagian depan dihias dengan benang-benang emas. Mulai ujung bawah sampai melingkari leher. Keris yang terselip di punggungnya membuat ia kelihatan gagah. Kulitnya tidak terlalu hitam. Namun tidak bisa dikatakan kuning. Dan namanya segera tersebar ke seluruh Blambangan karena ia mengadakan pesta minum serta tayuban (semacam pesta yang disertai tari pergaulan yang melibatkan tamu untuk menari bersama penari wanita) Ia mendatangkan tuak dari Gresik dan penari-penari dari daerah Surabaya. Juga penabuh dan gamelan, semua dari Surabaya. Kaya rupanya. Tentu saja itu mengecewakan Jaksanegara yang sudah mengimpikannya siang dan malam. "Belanda tak menggubris jasa kita," katanya suatu hari pada Mas Rempek dan Bapa Anti. Dan itu merupakan petunjuk pasti bagi Mas Rempek tentang pengkhianatan Jaksanegara pada Wangsengsari dan teman-temannya. Tapi seperti yang dikatakan Rsi Ropo, ia harus menjadi dewasa dan lebih dewasa lagi. Ia mendapat tugas dari Wilis supaya untuk sementara, sampai waktu yang ditentukan, harus hidup di dunia orang lain.

"Kita harus bersabar, Yang Mulia. Keinginan kita menyatukan kembali Blambangan telah tercapai. Masalahnya sekarang ini Blambangan diperintah oleh bukan orang Blambangan sendiri," Bapa Anti menasihati.

"Menurut Tuan Pieter Luzac, salah satu sebab tidak dipercayanya aku memegang kekuasaan tertinggi di Blambangan ialah karena Gubernur mendengar adanya Rsi Ropo di Songgon. Aku. belum pernah ke sana. Belum pernah mehhat Rsi Ropo. Apa saja kerjanya sehingga menarik perhatian Gubernur? Katanya dialah yang menghasut kawula untuk mempercayai bahwa Wong Agung "Wilis masih hidup, sekarang menjadi pemimpin Blambangan."

Tiba-tiba saja muka Bapa Anti berubah. Sedikit demi sedikit menjadi pucat. Rempek masih berusaha menahan hatinya.

Berdebar.

"Apa Bapa Anti tidak pernah tahu?" akhirnya Jaksanegara menanyakan.

"Yah... hamba..." Terhenti. Sekilas menoleh pada Rempek. "Kenapa? Tampaknya kok takut? Yang Mulia pernah

dengar?"

Kini Jaksanegara menoleh pada Rempek yang pura-pura memperhatikan ikan-ikan dalam kolam di seputar tempat mereka berunding. Ia menarik napas panjang sebentar. Rsi Ropo sendiri sudah memperkirakan. Akan datang pertanyaan semacam itu padanya. "Pernah dengar," katanya perlahan dengan suara parau. "Seperti orang lain pernah ke sana, hamba pun."

"Pernah ke sana?"

"Apa salahnya? Yang lain juga pernah ke sana. Ia rsi yang luar biasa. Memiliki pandangan tajam.

Matanya seperti mampu menembus wiswayana (Khatulistiwa) Lidahnya seperti dewa."

"Ya, Allah, kenapa Yang Mulia tidak melaporkan pada hamba? Dia orang yang dicurigai VOC."

"Apa salahnya dicurigai? Hamba tidak tahu itu. Baru sekarang hamba tahu adanya kecurigaan pada rsi itu. Lagi pula sudah agak lama hamba tidak ke sana. Barangkali Bapa Anti yang masih sering."

Seperti tertimpa batu segunung Bapa Anti mendengar namanya disebut oleh Mas Rempek. Sebelumnya dalam hati ia berdoa supaya Rempek tidak mengatakannya. Tapi doanya tidak didengar Yang Maha Tinggi. Kini Jaksanegara menoleh padanya. Bapa Anti cepat-cepat menunduk.

"Bapa Anti juga pernah ke sana?" "I... ia... iya..."

"Kenapa tidak pernah cerita?"

"Ampun, Yang Mulia... tidak apa-apa. Maksud hamba rsi itu tidak apa-apa "

"Tidak apa-apa bagaimana? Dia mampu membuat hamba gagal."

"Hamba rasa itu tidak beralasan."

"Apa pun kata Yang Mulia berdua, hamba akan pergi melihat. Membuktikan apakah Rsi Ropo membahayakan atau tidak. Jika benar hamba akan menangkapnya." "Menangkapnya?" tanya kedua orang itu berbareng.

Bapa Anti makin gemetar. Ia teringat rsi itu menuding hidungnya.

"Ya. Kenapa? Bapa Anti, tunjukkan jalan ke sana. Kita ajak beberapa laskar Madura yang bertugas mengawal rumah kita."

"Am... ampun, Yang Mulia... kaki hamba sedang sakit. Tak kuat jalan. Jika naik kuda pantat juga sakit," Bapa Anti mencari alasan.

Betapa heran Jaksanegara. Menjadi penunjuk jalan Belanda menyerbu Wilis dia tidak takut. Tapi sekarang takut.

Memang Jaksanegara tidak tahu apa yang dialami Bapa Anti akhir-akhir ini. Ia sering menerima kiriman sebah kotak dari orang yang mengaku Wong Agung Wilis. Apa isi kotak itu? Pernah isinya kepala seorang prajurit Madura. Pernah juga sekali berisi kepala seorang sersan Belanda yang beberapa hari sebelumnya diperkirakan tersesat di hutan waktu berburu. Dan dengan ketakutan amat sangat secara diam-diam ia dan anaknya mengubur kepala itu di tengah hutan. Lebih menakutkan lagi pesan orang bertopi lebar seperti laiknya petani Blambangan jika sedang bekerja di sawah. "Ingat, jika kau teruskan menjual bangsamu, maka tidak ada sulitnya membuat kepalamu seperti ini!"

"Baik, jika Bapa Anti tidak memiliki keberanian, maka aku mohon Mas Rempek menemani hamba." Jaksanegara menoleh pada Rempek. Dan Rempek tersenyum. Menyanggupi tapi dengan syarat tidak membawa prajurit ke Songgon. Jika itu dilakukan maka ia tak akan mau menjadi penunjuk jalan.

"Kenapa, Yang Mulia?"

"Daerah itu damai dan bersahabat. Tidak terlihat seorang pun bersenjata di sana. Seperti negeri kudus. Jangan dikotori dengan prajurit yang biasa menumpahkan darah. Hamba keberatan." "Kita akan pergi tanpa pengawal!?"

"Satu-dua orang boleh. Laskar Pakis siap mengawal kita."

Jaksanegara ragu. Namun ia menerima juga. Keinginannya untuk tahu siapa Rsi Ropo yang membuatnya gagal menjadi penguasa tunggal di Blambangan, begitu besar. Karenanya pada hari Radite yang telah ditentukan mereka sudah berada di Songgon. Sebab biasanya hari Radite merupakan hari di mana banyak orang berkumpul.

Jaksanegara melihat betapa berjubelnya orang di pendapa menunggu munculnya sang rsi. Bau keringat semua orang berbaur menyatu. Mata Jaksanegara memperhatikan ke segala penjuru.

"Lihat, Yang Mulia, semua mereka bersahabat. Berbagi makan dan minum bersama. Berbagi tawa secara tulus," Rempek menerangkan. "Dan telah kita lihat tadi, tidak ada senjata di pinggang semua orang. Pertanda di sini tak pernah ada pertumpahan darah."

Jaksanegara mengangguk. Ia memperhatikan para cantrik yang ramah terhadap semua orang dan mengatur semua tamu agar duduk dengan tenang. Dan tiap orang patuh, sekalipun harus berlama-lama menunggu. Tiba-tiba seorang perempuan yang masih sangat muda dan agak hitam manis muncul di tengah bale pracabaan itu. Sayu Wiwit, demikian nama yang diterangkan pada Jaksanegara oleh Mas Rempek. Dan apa yang dilakukan wanita muda itu?

"Saudara-saudara!"" suara wanita itu merdu didengar Jaksanegara. "Yang Tersuci Rsi Ropo masih bersemadi dan tidak bisa diganggu. Karena itu pertemuan kita hari ini diganti nanti hari Sukra (hari Jumat) mendatang. Semua dipersilakan meninggalkan tempat dan boleh datang pada hari Sukra yang akan datang." Kemudian gadis tadi menghilang ke dalam bilik. Dan semua orang bubar dengan tanpa kecewa. Tinggal Jaksanegara dan Rempek serta empat orang pengawalnya. "Kita tidak bisa memaksa, Yang Mulia," Rempek mengajaknya pulang. Namun Jaksanegara tetap diam dengan wajah merah padam.

"Hamba merasa dipermainkan."

"Bagaimana dengan ribuan orang yang pulang dengan tanpa desah. Yang ada cuma senyum. Senyum yang tulus. Tulus berdamai dengan keadaan yang mereka terima. Seperti sudah hamba katakan. Di sini tidak ada desah dan sakit hati. Yang ada damai sejahtera, maka jangan kita kotori keadaan seperti ini. Mereka tenteram tanpa kurang makan. Kita syukuri ini. Mengapa kita hendak mengusik yang telah menjadi baik seperti ini?" Rempek berusaha mendinginkan hati Jaksanegara.

"Tapi mereka tidak sama dengan kita. Kita adalah satria!" Napas Jaksanegara memburu. "Kita pembesar negeri. Kita pejabat yang mewakili kekuasaan di Blambangan."

"Lihat, tatanan di sini tak sama dengan Blambangan. Di sini tidak ada Belanda. Tidak ada laskar Madura, Sidayu, atau Probolinggo! Semua orang mengerjakan sawahnya sendiri.

Untuk sendiri dan untuk anak-istri mereka. Marilah kita pulang, Yang Mulia."

"Tidak! Menyesal tidak membawa laskar Madura itu. Jika ada mereka mungkin tak ada perlakuan semacam ini." Kemudian Jaksanegara bergerak maju. Melangkah ke pendapa dan berteriak,

"Rsi Ropo keluar kamu! Jaksanegara ada di sini. Belajarlah menghormat pada penguasa!"

Rempek buru-buru mencegahnya. Tapi Jaksanegara tetap tidak menggubrisnya. Seorang cantrik keluar menemuinya. Tanpa menyembah pada Jaksanegara. Menyakitkan.

"Ada apa, Yang Mulia?"

"Aku tidak membutuhkan kamu! Mana Rsi Ropo?" "Sudah dijelaskan tadi."

"Aku penguasa di Blambangan! Suruh dia keluar!" "Salah satu tugas brahmana adalah menyatu dengan

Penciptanya. Mendengar suara Penciptanya. Bukan mendengar suara hatinya sendiri. Dan bukan suara manusia lainnya."

"Apa? Dengan kata lain suaraku tidak didengarnya?" Suara Jaksanegara meninggi. Bersamaan dengan itu tangannya bergerak seperti kilat menempeleng sang cantrik. Tak ayal lagi cantrik itu terdorong selangkah mundur dengan muka merah bekas telapak tangan Jaksanegara. Dan saat itu Marmi yang dikenal sebagai Sayu Wiwit oleh Rempek keluar. Berpakaian seperti biasanya pakaian para sayu. Berjubah kuning dengan kalung emas yang tergantung sampai perut dan dihiasai medali bunga teratai.

"Sabar sedikit, Yang Mulia. Di sini tidak ada kebohongan.

Tidak perlu digunakan kekerasan seperti itu," suaranya merdu.

Semua menoleh padanya. Namun Jaksanegara maju dengan geram melihat wanita itu juga tidak menyembahnya.

"Menyembahlah!" teriaknya.

"Tidak ada brahmana menyembah satria," ujar wanita itu. "Apakah zaman sudah berbalik dan kehilangan kesusilaannya sehingga brahmana harus menyembah pada satria?"

"Iblis!" Jaksanegara mendekat. Tapi wanita itu diam dan tenang. Tapi apa yang dilakukan Jaksanegara di luar dugaan semua orang. Ia menarik jubah Sayu Wiwit sampai robek.

Tidak puas ia lepaskan jubah itu dan melemparnya ke atas tanah kendati berkali diperingatkan Rempek untuk berhenti.

Cantrik Janaluka dan Marmi yang mengaku sebagai sayu itu tetap diam. Dan kini mereka tidak mau menjawab lagi sepatah pun pertanyaan Jaksanegara. Sampai orang itu berkata, "Baik! Hari Sukra aku akan datang! Tapi jika Rsi Ropo tidak ada lagi maka Songgon akan kubakar!" Ia berbalik pergi.

Debar jantung Rempek tidak bisa tenteram kala mereka sudah keluar dari Songgon. Jaksanegara mengajak mereka melingkar ke utara melewati Hutan Kepanasan yang sudah ada jalannya. Tidak melewati belukar seperti waktu mereka berangkat. Jika ada tidak sesulit jika mereka langsung ke timur. Tapi memang jaraknya teramat jauh berbeda.

Seperti tidak mengenal lelah kuda mereka melewati jalan- jalan setapak. Tidak ada perkampungan. Melewati semak dan padas karang yang keras. Sebentar mereka berhenti di kali kecil yang mengalir jernih untuk memberi minum kuda mereka.

"Hamba khawatir, Yang Mulia," kata Rempek di tengah jalan.

"Aha... mereka tidak punya apa-apa selain doa. Apa yang kita takuti? Apalagi hamba sekarang tidak terikat oleh aturan harus meninggikan brahmana."

"Hamba khawatir hukum karma terjadi, Yang Mulia." "Tidak ada karma! Itu kebohongan!" Ketika senja hampir

tiba, mereka mulai memasuki Hutan Kepanasan. Semua orang

Blambangan tahu di situlah laskar Bali menderita kekalahan pertama digempur oleh laskar Madura dan sekutunya.

Sekarang di tengah hutan itu dibangun jalan menuju ke Lateng, melewati Lo Pangpang. Di jalan itu kuda bisa berjajar empat sekaligus.

"Jika Yang Mulia tidak lagi percaya karma, hamba tidak paksakan pendapat hamba. Tapi ingat, kita sudah mencoreng kedamaian di desa Songgon. Hamba khawatir berita perlakuan Yang Mulia ini didengar oleh seluruh kawula yang saat ini menumpuk berlaksa kekecewaan. Itu akan menjadi suatu kepundan. Dan seperti kepundan gunung berapi jika sudah membeludak, sukar diatasi." "Ha... ha... ha... ha... Yang Mulia di belakang kita ada Kompeni yang gagah perkasa. Tidak pernah kalah. Apa yang kita takutkan?" Jaksanegara menyambung lagi dengan tertawa berkepanjangan. Namun belum lagi senyap suara tawanya yang bergema di hutan sunyi itu, terdengar suara derap kuda menyusul mereka. Disusul sebuah letusan membuat mereka semua menghentikan langkah kuda masing-masing. Tiga orang penunggang kuda dengan senjata api berlaras panjang di tangan mereka. Seorang di antara mereka mengenakan ikat kepala merah soga dan rambut ikal terurai sampai ke pundak. Kedua ujung ikat kepalanya naik ke atas. Telanjang dada, sehingga nampak tubuh orang itu. Tidak terlalu kekar. Boleh dikatakan agak ramping sebagai seorang lelaki. Masih muda, sekitar dua puluh lima tahunan. Dengan gelang dan pending emas pada tangan dan pinggangnya. Kakinya juga mengenakan binggal emas. Pandangan matanya tajam.

Membuat Rempek terkejut. Seperti pernah mengenal wajah itu. Tapi ia ragu menyapa karena sikap pemuda itu mengancam mereka. Apalagi dua pengawalnya yang membawa senjata berjenis sama dengan senjata yang pernah ia terima dari Sayu Wiwit membuat hatinya berdebar. Bukan cuma itu, di sanggurdi mereka masih tampak satu perangkat anak panah dengan busurnya. Tombak lempar terselip beberapa buah. Juga sebilah pedang.

"Selamat sore, Jaksanegara." Suara pemimpin mereka dingin dan tanpa menyembah. "Dari mana kalian?"

"Siapa kalian?" Jaksanegara tidak menyadari keadaan. "Aku? Wilis. Nah, sekarang kau sudah tahu, aku

perintahkan kalian semua turun dari kuda dan menyembahku!

Karena aku berhak untuk itu."

Semua orang turun dari kudanya. Mas Rempek dan para pengawalnya. Namun Jaksanegara tidak. Pemuda itu tersenyum. "Kini aku tahu, semua orang tunduk pada penguasa Blambangan kecuali kau. Mas Rempek dan para pengawal tetaplah duduk! Jangan membuat aku curiga!" Suara itu tetap dingin. Kemudian pemuda yang mengaku bernama Wilis itu memberi isyarat pada seorang pengawalnya. Dan pengawal itu bergerak mendekati Jaksanegara dengan tali di tangan.

Jaksanegara terkejut dan menyepak kudanya.

Kudanya terkejut untuk kemudian berlari. Namun tali di tangan pengawal itu cepat diayunkan dan seperti buah nangka terjatuh dari dahannya, demikian juga tubuh Jaksanegara jatuh. Tali melingkar di tubuhnya. Wilis tertawa terbahak- bahak.

"Seret dia kemari!"

Tanpa ampun lagi, seperti batang pisang yang roboh ia diseret ke dekat kaki Wilis.

"Lepaskan bajunya, hadiah dari Belanda itu!" lagi perintah Wilis.

"Jangan! Ampuni aku..." Kini Jaksanegara gemetar. Tapi pengawal itu tetap tak mempedulikan ratapannya.

"Ha... ha... ha... ha..." Wilis tertawa lagi. Sementara semua orang Rempek ngelesot tanpa daya di bawah todongan bedil.

"Masih kau tak mengakui junjungan Blambangan?" Suara Wilis menekan lagi. Dan dengan wajah pucat Jaksanegara terpaksa menyembah.

"Ampun, Yang Mulia."

"Pandang wajahku!" bentak Wilis.

Dan dengan ketakutan luar biasa Jaksanegara mendongak. "Kumismu membuat kau nampak gagah. Tapi hatimu

sebesar biji sawi," ejek pemuda dengan sorot mata seperti

mentari pagi. "Cukur sebelah kumisnya!" perintah Wilis lagi pada pengawalnya.

"Aduh... ampun, Yang Mulia... Kenapa hamba dipermalukan?"

"Karena kau suka mempermalukan orang lain," jawab pemuda itu cepat. Dan pengawal itu menghunus pedangnya. Tanpa daya Jaksanegara menyerahkan kumis kebanggaannya sebelah kanan. Cuma sebelah kanan. Dengan pedang lagi.

Setelah pengawal itu selesai Wilis tertawa.

"Balikkan tubuhmu. Nah, kalian pandang ini wajah penjual negara dan bangsa!" Wilis berseru pada semua orang.

Rempek menahan geli sampai terasa sakit perutnya. Tapi harus ia pandangi wajah Jaksanegara jika itu tak ingin menimpa dirinya. Demikian pula para pengawal. Mereka takut aniaya menimpa diri mereka.

"Cukup! Sekarang dengarkan. Duduk yang baik kamu, Jaksanegara! Tak usah resah. Kudamu setia menunggu." Memang kudanya setia menunggu. Begitu ia terjatuh kuda itu berhenti.

"Hormatilah orang lain jika ingin dihormati. Kau, Jaksanegara, dengar?"

"Dengar, Yang Mulia."

"Tapi berapa orang yang kamu perhinakan dalam tamanmu? Berapa wanita cantik yang kau ambil dengan paksa dari suaminya?"

'Tidak ada "

"Kau berbohong? Kau telah bunuh Asuna, begitu kau lihat istrinya yang cantik dan molek. Dan untuk apa? Cuma penghias dan penunggu taman? Tidak! Untuk pemuas hawa nafsumu serta untuk menyuap bule-bule itu!" "Ampun, Yang Mulia." Wajahnya makin pucat. Bibirnya komat-kamit gemetar mendengar itu.

"Seharusnya matamu dicongkel sebelah!"

"Ampun, Yang Mulia...," Jaksanegara menyembah lagi sambil mencium kaki Wilis. Keringat dingin keluar membasahi tubuhnya. Wilis tersenyum dan tidak turun dari kudanya.

"Karena matamu pembuat kejahatan bagi dirimu sendiri!" "Ampun... ampun... ampun "

"Mas Rempek, pulanglah beserta seluruh pengawalmu!

Tinggalkan dia sendirian!"

"Hamba, Yang Mulia." Rempek seperti terbebas dari himpitan gunung. Segera ia dan seluruh pengawalnya pergi.

"Jangan menoleh lagi! Dan jangan berhenti sebelum sampai di Pakis. Ingat, pengawalku ada di mana-mana!"

"Hamba, Yang Mulia." Rempek tidak berani menoleh lagi. "Nah " Wilis memandang lagi pada Jaksanegara. "Kau kini

harus pulang sendiri. Pengawal! Ambil kerisnya, ikat tangannya, dan telanjangi dia!"

"Ampun, Yang Mulia " Tapi tak dapat berontak. Mengiba-

iba saja.

"Barangsiapa mempermalukan, ia sendiri akan mendapat malu, barangsiapa menyakiti, ia sendiri akan disakiti!"

"Ampun, Yang Mulia "

"Mulai sekarang kau harus belajar menghormati orang lain.

Brahmana dihormati karena pikiran dan pendapatnya, satria dihormati karena dia yang membela dan mengamankan negeri, sudra dihormati karena ia yang mengadakan pangan bagi semua orang. Nah, semua harus dihormati, karena semua orang memiliki kelebihannya masing-masing!

Mengerti?" "Hamba, Yang Mulia."

"Selamat malam, Jaksanegara, maafkan aku tak bisa mengantarmu ke rumah. Cukup nyamuk-nyamuk saja. Mereka akan menjadi teman setia. Mereka akan mengantarmu ke rumah. Tapi ingat pesanku, jangan minta tolong pada siapa pun jika kau mau tetap hidup sampai tua. Prajuritku ada di mana-mana. Di seluruh bumi Blambangan!"

"Hamba, Yang Mulia."

Wilis pergi setelah memerintahkan pengawalnya menaikkan Jaksanegara yang telah ditelanjangi itu ke punggung kudanya. Dan benar, ketika Jaksanegara mulai menyentuhkan tumit ke perut kudanya, nyamuk mulai menyerbu. Seperti kegelapan yang turun, mereka menerpa dan mulai mengisap darah. Dan membuat Jaksanegara ketakutan dan melarikan kudanya tanpa bisa dikendalikan. Padahal tangan Jaksanegara dalam ikatan. Ia mengumpat sejadi-jadinya. Namun beberapa pai sebelum masuk Lo Pangpang Jaksanegara tidak lagi mampu menahan kelelahannya. Jatuhlah ia dari punggung kudanya.

Berguling-guling di tanah. Dalam keadaan telanjang bulat. Kegelapan telah merajai suasana. Sungguh aniaya yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Ah... jika kelak ada kesempatan, ingin ia menghukum picis (hukuman dengan jalan mengikat terhukum pada tiang dan men-reh-noreh tubuh terhukum dengan pisau dan menciprati lukanya dengan air campuran garam dan asam) pemuda sialan tadi.

Walau dengan sakit dan letih ia berusahabangun kembali. Ah, kudanya tak mau kembali menjemputnya. Tapi nyamuk gila itu justru yang kembali. Apa daya. Ia tak mampu mengusir mereka. Kini pikirannya tertuju pada jalan yang akan ia tempuh untuk masuk rumahnya di tengah kota Lo Pangpang. Walau hari sudah malam tapi setidaknya ia harus melewati dua gardu penjagaan. Jika para penjaga ada, pasti akan mengenalnya. Malu. Lewat perkampungan kecil saja melintas ke kiri. Tapi ia juga khawatir dipergoki anjing yang membuat penduduk akan menengok dan melihatnya berjalan kaki sambil telanjang. Apa boleh buat. Ia lebih baik lewat perkampungan kecil daripada diketahui oleh serdadu-serdadu yang mungkin saja dengan berani akan menertawakannya.

Ah, bukan cuma nyamuk yang menganiayanya. Tapi juga anjing tak mau diajak berdamai.

Aniaya masih saja berlanjut sampai di gerbang rumahnya.

Pengawal gerbang rumahnya hampir-hampir tidak percaya bahwa ia adalah Jaksanegara. Bahkan sempat dihardik.

Untung saja anjing-anjing sialan itu datang lagi dan membuat para pengawal gerbang rumahnya bubar. Kini istrinya sendiri hampir-hampir juga tidak percaya. Namun begitu mengenal suaranya maka sang istri dengan gemetaran membuka ikatan di tangannya.

Suatu kejadian yang tak akan terlupakan sepanjang hidupnya. Karena setelahnya untuk beberapa minggu Jaksanegara tak berani tampil di muka umum. Juga tak berani menceritakan hal yang dialaminya itu pada siapa saja. Dan ia berpesan pada Mas Rempek yang datang keesokan harinya supaya tidak menceritakan pada siapa saja. Dan Rempek juga dimintanya untuk menjadi wakilnya dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Untuk itu Mas Rempek harus tinggal di Pangpang supaya tidak terlalu sukar jika ada panggilan sewaktu-waktu dari Biesheuvel. Rempek menyanggupi tapi ia minta sepuluh pengawalnya diizinkan berjaga di gerbang dan dekat tempat tidurnya.

"Yang Mulia tidak percaya?" tanya Jaksanegara. "Setidaknya untuk memberi ketenteraman pada istri

hamba."

"Baiklah." Jaksanegara yang telah mencukur kumisnya yang sebelah lagi menyerah. Sebab jika ia kecewa terhadap pengawal Rempek, maka ia juga kecewa pada pengawalnya sendiri yang takut pada anjing. Tapi perlakuan Wilis sungguh- sungguh menyakitkan. Suara tawanya, pandangan matanya, ah, semuanya...

Namun sudah tidak bisa dibantah lagi, sepan-jang-panjang jalan raya masih lebih panjang lidah manusia. Pengawal rumahnya tidak bisa tidak menceritakan apa yang mereka lihat pada teman-temannya. Dan suara bahak berkepanjangan di asrama mereka. Itu menarik perhatian teman lainnya, untuk kemudian sampai juga ke telinga perwiranya. Dan para perwira jadi teringat kejadian semacam itu juga menimpa Beglendeen. Maka tidak aneh jika akhirnya berita itu sampai juga ke telinga Biesheuvel. Itu sebabnya ia bersama Pieter Luzac segera bertandang ke istana Jaksanegara suatu sore.

Mas Rempek menyambutnya di pendapa. Biesheuvel heran masih ada pembesar Blambangan yang telanjang dada. Berarti belum Islam. Maka tidak heran jika tidak berani menindak Rsi Ropo. Termasuk Jaksanegara. Karena pembantu dekatnya masih berigama Ciwa yang dinilainya memiliki sifat keras dan suka menentang. Tapi Rempek mempersilakan terus naik ke taman. Jaksanegara menanti mereka di sana. Dan Jaksanegara minta maaf karena tidak bisa menjemput sendiri di pendapa karena sedang tidak enak badan. Namun demikian Biesheuvel sudah mengerti apa yang dimaksud dengan kata tidak enak badan. Memang mempunyai beberapa makna. Bisa berarti sakit. Bisa berarti malas. Dan bisa juga bermakna sedang tidak enak hati.

Melewati samping rumah kayu ulin yang besar. Biesheuvel melirik atapnya. Sirap. Bunga mawar melati menyuguhkan bau tersendiri, membuat rombongan senang melewati tempat itu. Angin senja mendayu mengirim berita, purnama akan tiba dan merajai alam. Burung-burung pada kembali ke dahan di mana ia biasa tidur. Sebagai gantinya kelelawar bersiap berangkat mencari makan. Ternyata kehidupan tidak pernah istirahat siang dan malam.

"Selamat sore, Yang Mulia...," Biesheuvel mendahului. "Selamat sore. Silakan duduk." Jaksanegara mempersilakan kemudian mempersilakan seorang selirnya menyiapkan minuman dan suguhan lainnya. Dengan bisikan ia memesan supaya diberikan yang istimewa. Artinya supaya dicampur dengan sedikit candu. Sejauh itu ia masih sedikit kecewa pada Mas Rempek yang belum mau minum apa pun yang dihidangkan padanya. Sebenarnya bukan tak mau. Tapi memang ada pesan dari Rsi Ropo lewat seorang pengawalnya supaya tidak makan sehidangan dengan Jaksanegara. Dan kini satria dari Pakis itu menjadi pendengar.

"Kami telah mendengar kejadian menyedihkan atas diri Yang Mulia itu. Sama dengan yang menimpa Beglendeen, perwira kami." Jaksanegara terkejut mendengar itu. Ia menjadi malu tak berdaya menghadapi cuma tiga orang, yang tahu bahwa ia harus pulang dengan telanjang bulat. Ia terdiam menahan malu. Apalagi kumisnya yang masih belum tumbuh sesubur biasanya membuatnya tidak bisa menipu.

"Apakah juga dilakukan oleh Wong Agung Wilis?" ' "Yah... barangkali hantunya.... Ya... barangkali hantu." "Hantu?" Biesheuvel dan Pieter Luzac mengulang

berbareng. Mereka teringat cerita semacam -itu di negeri

mereka juga ada. Dalam cerita Snow White ada seorang putri yang sudah mati hidup kembali. Di sini juga Wilis yang dikabarkan sudah mati hidup lagi, bahkan bisa mengganggu ketenteraman umum.

"Ya, Tuan. Mana ada manusia bisa hidup lagi. Agaknya mustahil jika Wong Agung Wilis mampu hadir di Blambangan kembali. Apalagi melihat caranya memperlakukan orang.

Mencurigakan."

"Coba, kami ingin dengar ceritanya!" Biesheuvel tertarik.

Dan mulailah Jaksanegara menceritakan semua yang ia alami. Tanpa ada yang ia kurangi sedikit pun. Setelah mendengar itu Pieter Luzac berkesimpulan bahwa orang yang mencegat Jaksanegara itu memang orang yang menguasai medan dan memiliki kemampuan bergerak sangat tinggi. Tak mustahil jika punya hubungan dengan Rsi Ropo. Apalagi Jaksanegara dianggap tidak lagi menghargai brahmana. Maka mereka membuktikan bahwa , hukum karma itu memang benar-benar ada dan wajib dipercayai. Tentu bukan hantu.

"Jika demikian, pada hari yang telah dijanjikan untuk menemui Rsi Ropo itu, Yang Mulia baiknya datang. Bawa serdadu kami untuk mengepung desa itu dan kita tangkap dia," Biesheuvel mengeluarkan pendapat.

Jaksanegara terkejut mendengar itu. Kembali ia berdebar.

Maka ia tak menjawab. Bahkan tertunduk.

"Kenapa, Yang Mulia takut?" Biesheuvel memperhatikan wajah Jaksanegara yang kembali menjadi pucat.

"Tidak... tidak, Tuan, hamba malu "

"Penangkapan terhadap dirinya adalah bukti kesungguh- sungguhan kita pada VOC. Belum tertutup kemungkinan Yang Mulia memangku jabatan adipati Blambangan. Kami dengar Gubernur Vos akan diganti. Kami akan laporkan bhwa Kertawijaya tidak becus kerja dan tidak disukai oleh orang Blambangan. Betul, kan?"

"Oh terima kasih, Tuan. Tapi bagaimana pendapat Yang

Mulia?" Jaksanegara menoleh pada Rempek. Sambil menarik napas panjang Rempek mengutarakan pendapatnya.

"Memang benar kawula Blambangan tak suka diperintah oleh orang asing," tegas Rempek jujur. Namun itu mengejutkan Biesheuvel. Bukankah dengan kata lain itu penegasan bahwa mereka tidak senang Belanda juga?

"Tentang penangkapan Yang Tersuci Rsi Ropo, sebaiknya dipikir masak-masak. Seperti hamba katakan beberapa waktu silam, Rsi tidak pernah mengajarkan apa-apa kecuali bagaimana menciptakan kedamaian di atas keadilan yang sesungguh-sungguhnya. Supaya setiap orang menerima apa yang memang menjadi haknya."

"Tetapi...," Biesheuvel menyahut. Ia tahu ke mana tujuan kata-kata Rempek. "Keadilan bukan hanya berarti menuntut dan menuntut hak saja. Mereka harus menyadari bahwa manusia juga dituntut oleh kewajiban. Itu baru adil yang sesungguhnya."

"Benar sekali, Tuan. Tapi apa yang aku lihat, yang diterima kawula Blambangan saat ini, lebih banyak "harus" dan "jangan", daripada menerima hak yang semestinya. Itu sebabnya timbul kekacauan, perampokan, dan

kemiskinan "

"Kami tak mau dengar semacam itu lagi!" Biesheuvel tersinggung. Apalagi dinilainya Rempek kurang santun dalam menyampaikan pendapatnya. Tapi Rempek juga tersinggung dan pelan-pelan ia menggeser kerisnya supaya lebih mudah jika ia memerlukannya. Jaksanegara yang melihat gelagat itu segera menengahi.

"Eh... begini, Tuan. Maafkan kami. Jika memang demikian kami akan undang beliau ke sini. Nah, kita akan menangkapnya di sini. Nah, Yang Mulia, ini tentu di luar tanggung jawab Yang Mulia, tapi tanggung jawab kami sendiri. Bila perlu Yang Mulia tidak perlu ikut."

Rempek mengerutkan gigi sambil memandang tajam pada Biesheuvel. Ingin rasanya ia mencekik leher manusia satu ini. Namun ingat lagi pesan Rsi Ropo, "Sekalipun kamu sudah bersenjata dan merasa laskarmu kuat, jika belum diperintah orang yang mengirim senjata itu, jangan kau bertindak sendiri. Bisa merugikan seluruh Blambangan. Karena yang mengendalikan kawula Blambangan bukan kamu, tapi Wilis. Ingat-ingat ini. Tunggu perintah Wilis."

Biesheuvel juga mulai tidak suka melihat mata Rempek seperti itu. Juga Pieter Luzac. Ia tidak pernah lupa betapa seorang gagah berani dan namanya masyhur dibantai di alun- alun Kartasura. Di Blambangan yang kelihatannya tanpa daya ini sudah memakan berapa perwira? Ia ingat sahabatnya Blanke, Kapten Reyks, semua tewas di tangan Wilis. Belum lagi lebih dari lima ribu pasukan tewas waktu perang dengan Wong Agung itu. Orang seperti Rempek tidak boleh dipercaya. Dan ia dengar bahwa Rempek masih berani mengibarkan Umbul-umbul Jingga di Pakis.

Sementara itu minuman terus disuguhkan. Dan malam mulai tiba. Kala Jaksanegara menawarkan pada Biesheuvel serta Luzac untuk bermalam di tamansarinya, Rempek meninggalkan tempat setelah lebih dulu berbisik pada Jaksanegara.

"Kenapa pulang?"

"Ah... kangen." Rempek tersenyum. "Di sini juga ada."

"Istri sendiri lebih bebas, Yang Mulia. Dan sudah berapa malam hamba tidak pulang. Dia kan juga rindu."

"Baiklah. Tapi esok pagi supaya sudah datang di sini. Biar Tuan Biesheuvel tidak curiga."

Rempek segera menyelinap dalam kegelapan. Tanpa pengawal ia pacu kudanya cepat-cepat. Ia harus beri tahu Rsi Ropo. Harus! Jangan sampai ada korban seperti Sutanegara lagi. Tidak ia tak rela jika hal itu terjadi pada Rsi Ropo. Ia langsung menuju ke barat, ke Songgon untuk menemui Rsi Ropo. Tidak ke Pakis untuk menjumpai istrinya. Ia sudah hafal benar jalan setapak yang merupakan jalan pintas menuju ke Songgon.

Kudanya seperti terbang. Namun rasanya masih tetap kurang cepat. Jarak tinggal seribu depa barangkali, tapi rasanya masih amat jauh. Kegelapan dan kesenyapan membuat keseakanan yang tidak sama dengan kenyataan. Apalagi kelelawar yang sering kali menyambar di depan hidungnya bukan cuma menimbulkan keseakanan. Namun juga membuat bulu romanya berdiri. Dan sedikit pergumulan terjadi dalam hatinya. Mungkinkah aku tersesat? Tidak!

Keraguan membuatnya menghentikan langkah kuda. Justru saat itu terdengar derap kuda menyusulnya.

"Selamat malam, Yang Mulia. Apa kabar?"

"Oh, sembah untuk Yang Mulia," jawab Rempek sambil masih duduk di atas kudanya. Walau belum melihat jelas siapa yang menyapanya, namun suaranya hampir-hampir ia tak akan pernah lupa. . . "Malam adalah larangan bagi siapa pun memasuki Songgon. Lupakah itu, Yang Mulia? Hamba sendiri tidak bisa memasukinya."

Wajah orang itu tetap tidak jelas, karena malam begitu pekat. Bulan yang sore tadi memancar tiba-tiba tertutup mendung. Ucapan orang itu mengejutkannya. Betul tidak seorang pun bisa masuk Songgon malam begini.

"Ada persoalan penting? Barangkali Jaksanegara sakit hati?

Dan akan membalas dendam pada Rsi Ropo? Ada rencana menangkap Rsi?"

"Hyang Bathara!" Rempek menyebut. Orang itu pun sudah tahu? Apakah ia menguping pembicaraan Jaksanegara dengan para tamunya?

"Kenapa Yang Mulia terkejut?"

"Dari mana Yang Mulia tahu semuanya itu?"

"Jaksanegara merasa bahwa di belakangnya ada Kompeni.

Tapi ia diperlakukan secara tidak santun oleh orang yang justru saat ini nama dan suaranya bergema di setiap hati kawula Blambangan. Lebih sakit lagi karena saat itu ia sedang kecewa serta baru saja melakukan hal tak senonoh atas orang-orang Songgon." "Jagat Bathara!" Lagi sebuah kekaguman terukir di hati Rempek. Ia melirik, tidak ada pengawal. Tapi remang-remang Rempek melihat senjata-senjata terselip di bawah sanggurdi. Selalu siap setiap saat.

"Benarkah itu?" Wilis bertanya.

"Tidak akan ditangkap di Songgon. Tapi akan diundang ke rumah Jaksanegara. Namun direncanakan terus ditahan."

"Hamba kira Yang Tersuci sudah mengetahui hal ini.Beliau akan penuhi undangan itu."

"Hyang Bathara! Tidak mungkin! Itu akan membahayakan Rsi."

"Mengapa Yang Mulia merisaukannya?"

"Hamba tak menghendaki korban seperti yang dialami oleh Yang Mulia Sutanegara lagi."

"Baik. Hamba akan sampaikan hal ini pada Rsi besok pagi- pagi benar, begitu kami memperoleh kelonggaran untuk masuk desa itu. Sekarang sebaiknya Yang Mulia pulang."

"Tapi..."

"Siapa pun akan mendapat kesukaran masuk desa itu pada malam hari. Karena itu tidak ada tetapi!" Wilis menegaskan. "Nah, selamat malam, Yang Mulia. Percayalah pada hamba." Kuda di depan Rempek berputar untuk kemudian menghilang dalam gelap. Beberapa bentar Rempek terma-ngu-mangu.

Ah... mereka orang-orang terlatih. Jika tidak ada pengkhianatan, mustahil bisa dikalahkan oleh Kompeni. Kembali seekor kelelawar menyadarkan lamunannya.

Berbeda dengan Rempek yang terus pulang ke rumahnya dan esoknya pagi-pagi benar berangkat ke rumah Jaksanegara, maka Mas Sratdadi yang baru saja bersua dengan Rempek itu melarikan kudanya ke desa Sempu. Ia harus memberikan perintah baru pada Mas Ayu. Desa itu terletak di r selatan kota Pangpang, tapi juga di utara kota Lateng. Memang tidak melalui jalan raya. Namun ia sudah sangat terbiasa. Dan malam baginya adalah sahabat. Apalagi mendung tertapis angin. Bintang mulai menampakkan diri.

Sebenarnya musim sudah menginjak awal kemarau. Tapi mendung masih sering memayungi Blambangan walau hampir-hampir tidak pernah menurunkan hujan. Cuma lewat rupanya. Itu membawa kegerahan amat sangat bagi tiap orang. Apalagi bagi Belanda.

Jurang demi jurang, belukar demi belukar telah ia lampaui.

Kini dengan tanpa ragu ia menerobos hutan lebat untuk sampai di belakang rumah adiknya. Tentu Mas Ayu sedang sendirian. Sayu Wiwit sudah di Jember. Ia mempersiapkan laskar di sana. Bersama Ramad Surawijaya. Sekali lagi kebiasaan memudahkan segala-galanya. Oleh karena kebiasaan pula ia tidak terlalu sukar mencapai belakang rumah adiknya.

Mas Ayu sendiri sudah siaga. Semua lontar yang ia pelajari segera disembunyikan di dalam bumbung kecil. Sebab jika ia sedang tidak melakukan kegiatan apa-apa maka ia mengisi waktunya dengan membaca lontar.

"Ayu...,"' suara berbisik di balik jendela kamarnya. "Oh... Kandakah itu?"

"Ya... inilah aku."

Jendela kamar segera terbuka dan Sratdadi segera melompat masuk. Berpelukan sebentar. Lalu keduanya duduk.

"Dirgahayu. Ada yang penting, Kanda?" "Ayu... aku akan menyerah."

"Kanda?!" Mas Ayu Prabu terkejut. Bangkit berdiri sambil menatap tajam pada kakaknya.. "Jangan terkejut. Duduklah dengan tenang!" Sratdadi menjelaskan. "Mereka akan menangkap Rsi Ropo. Jika Rsi Ropo melakukan perlawanan sekarang, maka kukira belum waktunya. Kita belum sepenuhnya siap. Jika kita bertempur, kita akan melakukan pertempuran semesta. Jadi perang lebih besar dari Yang Mulia Ramanda pernah lakukan. Sementara kita membangun laskar yang besar dan kuat dengan membuat nama Ramanda bergema di seluruh bumi kelahiran kita ini.

Jika Untung Surapati membunuh Kapten Tack dan Ramanda memusnahkan Blanke serta Kapten Reyks, maka kita harus mampu membunuh Biesheuvel si Mayor itu. Kita bunuh semua opsir Kompeni dengan semua begundalnya!"

"Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Kanda seorang menteri mukha akan menyerah? Yang mengatur seluruh jalannya peperangan akan menyerah?"

Sratdadi tertawa. Berdiri dan berjalan ke jendela. "Ternyata kau juga masih dungu. Sebagai Rsi Ropo aku

menyerah. Sementara itu kau harus mempergunakan Repi

agar menekan suaminya. Ia harus membebaskan Rsi Ropo. Di samping itu kau segera panggil Ramad untuk menggantikanku sebagai Wong Agung Wilis. Jika Bozgen gagal, maka Wilis harus bertindak. Sementara Bozgen harus memberi laporan di mana Rsi berada," Sratdadi menerangkan pelan-pelan di telinga adiknya. Kini Mas Ayu tersenyum. Menyenyumi diri sendiri. Kalah cerdik dari kakaknya.

Malam itu juga ia panggil Tunggul, seorang anak buahnya. Tunggul tinggal di dusun Sempu itu. Ia menurunkan perintah agar Tunggul pergi ke Jember menjumpai kakaknya. Tunggul tidak boleh istirahat. Ia hanya boleh ganti kuda esok pagi jika telah sampai di Pakis. Di sebelah timur pasar Pakis ada seorang penjual kuda. Orang itu bernama Ingas dan adiknya bernama Indreng. Dia akan menyediakan kuda yang masih segar bagi keperluan Tunggul mencapai Jember. Dan setelah itu di desa Sambi, ia akan dicegat oleh tukang pandai besi, yang juga akan menyediakan seekor kuda baginya. Sekali lagi di Sambi pun ia tidak boleh istirahat. Dengan begitu ia akan sampai di perguruan atau padepokan Sayu Wiwit sebelum mentari terbenam. Tentu ini membutuhkan kekuatan luar biasa dari Tunggul. Sehari semalam ia harus terus-menerus di atas punggung kuda. Dengan tiga kali berganti kuda, maka diharapkan ia akan dapat tetap berkuda dengan kecepatan tinggi. Tentu saja kuda yang terpilih.

Setelah menurunkan perintah pada Tunggul, Mas Ayu juga menurunkan perintah pada Mbok Suruh untuk memanggil Repi besok pagi-pagi benar. Perempuan setengah tua itu diperintahkan menjual sayur ke loji di Pangpang, di mana Repi tinggal bersama Bozgen. Ia sudah terbiasa melakukan tugas semacam itu. Dan Mas Ayu menunggu Ni Repi di sebuah kedai dekat pasar. Tentu saja Repi memenuhi panggilan itu setelah suaminya pergi ke tangsi.

Begitu sampai di kedai yang dimaksud, Repi terus saja masuk ke kamar tidur. Di mana sudah menunggu Ayu Prabu.

"Dirgahayu, Repi," Ayu Prabu menyapa dalam bisikan. Repi membalas sambil menyembah.

"Kau nampak makin cantik saja. Ah, Bozgen tentu makin sayang," Ayu Prabu menggoda,

"Yang Mulia ini bisa-bisa saja." Repi juga senyum. Tapi tetap berbisik-bisik. "Yang Mulia juga makin cantik. Rupanya juga sudah ada yang melamar "

Keduanya terkikik-kikik setelah Mas Ayu mencubit pantatnya. Namun setelahnya Mas Ayu segera memberitahukan apa yang ia kehendaki dari Repi, setelah menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas pengiriman senjata dari Bozgen beberapa minggu lalu. Mas Ayu Prabu menceritakan apa yang bakal terjadi atas Rsi Ropo dan karena itu Repi harus bertindak menolongnya. Jika usaha Bozgen dengan jalan damai nanti gagal, maka Wilis sendiri yang akan menyerbu benteng. Tentunya bukan hanya mengambil Rsi Ropo, tapi juga akan membinasakan semua yang ada di dalam benteng itu.

"Hamba kira Bozgen akan mau melakukannya, Yang Mulia.

Karena ia sendiri bilang pada hamba bahwa sangat dikecewakan oleh Biesheuvel. Bahkan ia menyatakan ingin bergabung dengan Mengwi. Blambangan ibarat neraka, katanya. Belum pernah terjadi ada kematian secara damai di Blambangan ini. Sebanyak tujuh puluh empat bintara mengajukan permohonan berhenti jika mereka tidak cepat- cepat dikembalikan ke Surabaya"

"Suamimu yang bilang seperti itu?" "Ya. Ia ingin membawa hamba ke Bali."

"Jika demikian aku segera akan mengirim berita ke Bali.

Tapi jika kalian akan menyelundup sebaiknya jangan berangkat bersama-sama. Kau tinggal dulu bersamaku, dan setelah itu aku mengirim kamu ke Mengwi."

"Hamba akan taat pada perintah Yang Mulia."

"Terangkan semua ini pada suamimu. Dan segeralah kirim berita jika ada perkembangan baru."

"Hamba, Yang Mulia. Suami hamba sangat kecewa atas hukuman yang dijatuhkan pada ayah hamba."

"Nah, jika demikian, sampaikan salam Wong Agung Wilis pada suamimu. Hati-hatilah. Segera pulang!"

"Hamba, Yang Mulia "

Pekerjaan bertambah lagi. Menghubungkan Bozgen dengan ayahnya. Mungkin bukan hanya Bozgen yang akan melakukan pembelotan. Mungkin saja, tujuh puluh empat perwira itu juga akan merencanakan pembelotan jika permohonan mereka tidak segera dikabulkan. Itu bukan hal yang mustahil jika berkembang menjadi pemberontakan. Karena memang mereka terlatih untuk itu. Kompeni memang dilatih untuk menjadi perompak yang menjarah dan menjarah terus. Bukan percuma mereka datang dari jauh. Berkedok pedagang dari seberang benua dengan mengarungi samudra. Dan bajak laut membiasakan diri untuk lebih banyak menggunakan bedil daripada kata-kata dalam menyatakan pendapatnya.

Itu sebabnya ia segera juga memberikan laporan ke Benteng Bayu di Raung. Bahkan ia merasa perlu memerintahkan penghubung lainnya untuk memberi tahu Panji Rana yang sekarang telah digelari nama Jagalara.

Supaya dengan demikian semua pasukan yang di Derwana dan Indrawana diperintahkan siaga menghadapi segala kemungkinan. Keadaan bisa berkembang ke arah yang tak terduga.

Semua yang dilaporkan Ayu Prabu memancing Raung mempersiapkan cadangan makanan dan prajurit lebih dari yang sudah-sudah. Dan dengan tambahan peluru serta senjata-senjata baru yang dikirim oleh Ayu Prabu, maka latihan pun dapat dilaksanakan lebih sering dan lebih baik. Yistyani menasihatkan agar semua orang mempersiapkan diri dengan lebih matang.