Gema Di Ufuk Timur Bab 08 : Petir Di Musim Kemarau

 
Bab 08 : Petir Di Musim Kemarau

Gema nama Wilis kian berdengung di setiap sudut Bumi Semenanjung Blambangan. Walau cuma tinggal gema. Namun nama itu ternyata mampu membangkitkan keberanian yang sirna karena keganasan perang. Perang yang tidak pernah membawa kemenangan bagi kawula Blambangan. Baik dengan Bali maupun melawan Belanda. Dan karena gema nama Wong Agung Wilis, kawula berani meninggalkan tanah garapannya dan masuk hutan membuka sawah baru dengan susah-payah. Semua dilakukan sebagai unjuk rasa ketidaksetiaan mereka pada pemerintahan VOC. Lebih dari itu gema nama Wong Agung Wilis mampu membuat mereka yang masih tersisa di perkampungan masing-masing berani menahan hasil buminya untuk tidak membayar pajak. Dan kian hari kian banyak orang yang membicarakan bahwa Wong Agung Wilis tidak mati. Tidak mati! Tidak mati!

Tapi di mana? Tidak ada yang tahu! Rempek sendiri tidak tahu, sekali pun ia sangat percaya. Dan ia memang menceritakan apa yang ia dengar dari mulut ke mulut itu pada Jaksanegara. Sekalipun ia tidak pernah menceritakan bahwa dari Rsi Ropo ia diberi tahu Wong Agung Wilis berkali-kali bersurat pada anak-anaknya. Itu menarik bagi Jaksanegara.

Jika Rempek bisa tahu, tidak mustahil . jika Bapa Anti juga tahu. Dan tentunya Wangsengsari maupun Sutanegara dan bangsawan lainnya juga tahu.

Setelah bersepakat dengan Bapa Anti maka ia mengundang Sutanegara dan Wangsengsari serta Suratruna. Dan ketiga orang itu memang sangat mengagumi taman milik Jaksanegara. Apalagi Jaksanegara telah berbaik hati menyediakan tempat agar mereka bermalam saja di situ karena hari telah larut malam. Bukan cuma tempat untuk bermalam. Tapi juga teman tidur malam itu.

"Berita-berita simpang-siur tentang Wong Agung Wilis memenuhi seluruh Blambangan. Bagaimana sikap kita sebagai pemerintah resmi?" pertanyaan Jaksanegara mengusik semua malam itu.

"Jika tidak ada api tentu tidak ada asap," Wangsengsari menjawab. "Maka aku juga percaya bahwa Wong Agung masih hidup."

"Hal itu tidak mustahil. Bukankah beliau memang memiliki syakti dari para dewa? Ingat? Cuma beliau berani menghukum mati seorang brahmana," Sutanegara mengingatkan. "Kita memang bukan apa-apa."

"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Di saat kita telah mengangkat sumpah menjadi punggawa Kompeni?"

"Itu... itu yang sukar. Tapi mari kita timbang, mana lebih menguntungkan, ikut Belanda atau Wong Agung. Selama pemerintahan Colmond hamba sudah kehilangan seorang anak gadis. ' Tewas dengan menyedihkan. Diperkosa sampai lumat. Belum lagi kerugian harta benda yang dialami oleh kawula Blambangan."

"Hamba rasa tidak ada untungnya mengikuti Belanda terus- menerus," Suratruna memberikan pendapat. "Sebaiknya kita sehati membantu pemerintahan Wong Agung Wilis. Demi keadaan seluruh bumi Blambangan."

"Bagaimana dengan igama yang telah kita peluk ini?" Jaksanegara masih bertanya sambil mempersilakan mereka minum arak wangi.

"Aku kira Wong Agung tidak akan terlalu keberatan. Kita akan memberitahukan apa saja yang telah terjadi atas kita," kini Wangsengsari memberikan ketegasan. "Aku sendiri telah kehilangan banyak. Coba anakku, si Repi, sudah tidak lagi bisa menghargai orang tuanya sendiri. Ia sekarang lebih suka tinggal bersama Bozgen. Lebih menyakitkan lagi karena perbedaan kekayaan antara Repi yang terus-menerus mendapat hadiah dari orang-orang bule itu, membuat iri hati saudara-saudaranya. Aku tidak mampu berbuat sesuatu, sebab kata Repi justru akulah yang menyebabkannya begitu. Ia telah sakit karena perbuatan Gubernur Vos."

Jaksanegara mendengar semua keluhan itu dengan saksama. Tidak salah. Setelah Belanda datang maka kebebasan tiada lagi. Jadi mereka sekarang ini ingin kembali mengambil apa yang pernah menjadi hak mereka. Barangkali inilah jalan baginya untuk menyatukan kembali Blambangan. Tapi mungkinkah dia menjadi penguasa tunggal di Blambangan? Jika benar-benar Wong Agung Wilis tidak mati seperti yang didengungkan banyak orang, maka tidak mungkin kekuasaan jatuh ke tangan orang lain. Sekarang bagaimana sikap yang harus ia tampilkan di hadapan semua undangannya itu. Harus mengiakan semua pendapat mereka. Itu tahap awal. Selanjutnya akan ditentukan kemudian. Dan acara makan dan minum berlangsung terus bagi mereka berempat. Jika arak habis maka seorang wanita muda yang terpilih mengantarkannya. Sate kambing juga telah tersedia sebagai teman minuman itu. Membuat tubuh mereka menjadi kian panas.

"Kita wajib membela kemiskinan yang melanda negeri ini. Para Yang Mulia lebih tua dari hamba sendiri, tentulah lebih bijak dalam mengambil langkah. Hamba tinggal mengikuti," Jaksanegara akhirnya tidak bertanya lebih lanjut.

"Kita harus menyatukan diri! Itulah langkah awal kita. Kita akan dukung semua usaha Wong Agung mengusir kembali Belanda. Blambangan harus bersih dari kekuatan asing!

Ternyata mereka tidak lebih dari pada iblis!" geram Wangsengsari.

"Kita tandai persatuan kita ini dengan mengangkat cawan bersama-sama." Jaksanegara tertawa. Semua mengangkat cawan dan kembali mereka meneguk isinya. Cawan demi cawan makin menghangatkan tubuh mereka. Tanpa sadar bintang juga bergeser ke barat menunjukkan waktu mulai larut. "Kita akan mendapat bantuan senjata dan laskar dari Bali.

Menurut Wong Agung dalam pesannya terakhir, ia akan mengirimkan tiga ratus orang dengan senjata lengkap. Seseorang yang bernama Gusti Tangkas akan dikirimkannya dari Jembrana," Sutanegara mulai tidak dapat menguasai diri.

Betapa terkejutnya Jaksanegara mendengar itu. Dengan kata lain mereka benar-benar ada hubungan dengan Bali. Apakah Wong Agung Wilis ada di Bali? Di Mengwi? Hah?

Rangkap berapa nyawa orang itu? Hatinya menjadi kian berdebar.

"Kapan itu dimulai?" ia mendesak.

"Hamba tidak tahu, Yang Mulia. Akan ada berita lebih lanjut," kata Sutanegara lagi.

"Siapa yang akan menyampaikan pada Yang Mulia?" "Itu yang kita semua tidak boleh tahu "

Walau mulai kehilangan kendali tapi ia ingat pada Mas Ramad, yang dengan mata berapi-api memesan agar ia tidak berkhianat. Pengkhianatan berarti kepalanya akan jatuh ke bumi.

"Yang Mulia, kita kan sudah satu...," Jaksanegara mencoba. "Ingat cara Wong Agung menyelesaikan masalah? Jika kita

tidak memegang janji kita padanya tentu kepala kita akan terpisah dari tubuh kita ini. Ingat, Yang mulia. Maafkan hamba."

Jaksanegara memahami kekhawatiran Sutanegara. Tapi ia tersenyum. Tidak sekarang mengetahuinya. Tapi mungkin lain kali. Atau nanti di tempat tidur. Karena itu pula ia berbisik pada seorang gadis yang akan diberi tugas untuk melakukannya sesaat ia mempersilakan tamunya untuk pergi beristirahat. Kala semua pergi tidur, semuanya diantar oleh wanita yang ditunjuk. Mereka mengantar sampai ke pembaringan. Walau biliknya berlainan, namun apa yang mereka lakukan sama.

Begitu memasuki bilik mereka mencuci kaki para tamu itu dengan air bunga. Setelahnya mereka menyembah.

"Hamba dipersembahkan pada Yang Mulia malam ini." Wangsengsari yang mendengar itu tidak tunggu lama lagi.

Sejak tadi memang kepalanya sudah berdenyut-denyut dan pikirannya ingin pulang menjumpai istri termudanya.

Barangkali pengaruh minuman dan daging kambing yang begitu banyak ia telan. Otot-ototnya mengeras. Dan kini seorang gadis siap mengendorkannya. Dalam hati ia memuji kebaikan hati Jaksanegara. Segera ia menggulingkan perempuan muda itu di pembaringan.

"Sabar, Yang Mulia " Perempuan itu melepas kembennya.

Berbeda dengan Suratruna. Ketika perempuan itu menyatakan tugasnya ia mengatakan bahwa ia belum mengantuk. Ia perintahkan perempuan itu keluar.

"Yang Mulia, hamba akan kehilangan segala-gala jika hamba tidak menyukakan hati Yang Mulia malam ini," perempuan itu menyembah lagi. Tangannya terasa dingin.

"Setan!" desis Suratruna.

"Kasihanilah hamba, Yang Mulia. Suami hamba telah mati dibunuh oleh para pengawal "

"Apa katamu? Suami mati?"

"Jangan keras-keras, Yang Mulia. Hamba juga bisa mati jika menceritakan ini."

"Hah ," Suratruna berdesah. Kemudian dengan berani

wanita itu berdiri. Dan berbisik ke telinga Suratruna bahwa di luar bilik ada berjaga laskar bayaran dari Madura. Jadj ia harus melakukan perintah Jaksanegara. Suratruna terdiam. Sekalipun ia mengutuk dalam hati.

Wanita itu melepas kancing bajunya. Dan melepaskan destarnya sesudah menyembah.

"Jangan!" bisiknya. "Aku tidak tidur."

"Hamba kurang cantik?" Wanita itu memandangnya. "Kau cantik. Tapi kau seumur anakku. Bagaimana

mungkin?" Keduanya terdiam.

"Karma apa yang akan kuterima jika aku lakukan ini? Aku belum pernah memperduakan cintaku. Nah, kita akan seperti ini saja sampai pagi." Ia kemudian mengelus kepala wanita itu. Dan perempuan muda itu tertunduk. Masih ada orang berhati mulia di zaman edan seperti ini. Tapi ia tahu persis, jika sampai ketahuan oleh Jaksanegara akan halnya seperti itu, maka nasib buruk akan menimpanya. Pernah ia lihat teman-temannya disiksa dengan jalan diperkosa secara bergantian oleh para pengawal dari Madura itu. Apa yang terjadi? Teman-temannya itu mati lemas. Maka ia harus berusaha. Ia melepas kembennya. Buah dadanya yang mulus terpampang jelas. Namun itu tak membuat Suratruna bergeming. Pemandangan seperti itu tidak asing bagi orang Blambangan. Susu adalah lambang kesuburan. Justru jika perempuan Blambangan tidak memamerkan susunya itu berarti hancurnya peradaban Blambangan.

Tiba-tiba ia berdiri dan melangkah dengan gontai menuju sudut ruang. Di situ terdapat meja kecil dan di atasnya ada dua cawan serta satu teko keramik buatan Cina. Perempuan itu menuangkan isinya. Seperti air gula aren. Kembali membawanya ke Suratruna.

"Pengantar tidur, Yang Mulia," wanita itu menyodorkan. "Kita sudah lelah. Hamba akan istirahat."

Suratruna menerimanya. Kali ini ia segera minum untuk menenangkan hatinya yang gundah. Sesaat setelah mengembalikan cawan, wanita itu membaringkan tubuh dengan tenang. Tertelentang dengan berbantal kedua telapak tangan.

Hal itu membuat susunya menonjol ke atas. Apalagi jika ia menarik napas panjang. Sebelah kakinya lurus, sedang sebelahnya ditekuk pada lututnya. Membuat kainnya sedikit tersingkap memamerkan paha yang mulus. Sedang Suratruna duduk di sampingnya. Berkali ia lirik gadis itu. Memejamkan mata. Lehernya jenjang berhias kalung emas. Suratruna memalingkan pandangan ke tempat lain.

Namun beberapa bentar kemudian suatu perasaan aneh merambati tubuhnya. Keringat mulai membasahi tiap lekuk tubuhnya. Napasnya memburu seperti kuda. Ia berusaha menahan gejolak hati itu. Namun makin ditahan suatu arus kuat mendorongnya untuk menoleh ke tubuh yang tergolek di sisinya. Tanpa sesadarnya ia menggeliat-geliat. Bangkit.

Berjalan hilir-mudik dalam bilik kecil itu.Tak sabar ia menuju tempat minuman di meja. Ia tuangkan secawan dan meneguknya sampai habis. Rasa segar mengganti haus.

Namun itu sebentar saja. Sesaat lagi arus kuat dalam tubuhnya menghebat. Gila! Belum pernah aku merasakan seperti ini. Arus itu seperti mendorongnya untuk kembali ke pembaringan. Dengan gemetar tangannya mengelus paha wanita muda itu. Gadis itu masih saja terpejam. Berkali ia menelan ludahnya. Napasnya tambah seperti kuda berlari jauh.

Kesabaran Suratruna habis. Ia bangunkan gadis itu. Pura- pura terkejut.

"Ada apa, Yang mulia?"

"Kau... Kau... tadi bertugas..." Suratruna menarik gadis itu. "Yang Mulia menolak hamba. Ampuni hamba, Yang Mulia."

"Sekarang tidak!" Dengan cepat Suratruna melepas pakaiannya dan kain gadis itu. Tentu saja apa yang ia alami tidak sama dengan yang dialami Sutanegara. Orang itu benar-benar sudah mabuk ketika memasuki biliknya. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh gadis yang bertugas menemaninya. Karena begitu dalam pelukannya, Sutanegara cepat menjadi padam dan mendusin. Usahanya untuk membangunkan kejantanan Sutanegara tidak banyak hasilnya.

Mendengar laporan macam itu Jaksenegara tertawa terbahak-bahak. Seperti tidak masuk akal seorang lelaki tidak melahap gadis montok yang disediakan untuknya. Tapi ia tidak marah. Setidaknya ia sudah mengerti bahwa Sutanegara memegang kunci. Sutanegara yang mempunyai hubungan langsung dengan orang-orang yang ingin menumbangkan kekuasaan Belanda. Itu masuk akal. Karena kematian anaknya meninggalkan segumpal dendam dalam hatinya. Sekalipun Colmond sudah ditarik dari Blambangan.

Namun keadaan berkembang cepat. Gejala makin tidak sehat mencurigakan semua pejabat VOC. Banyak orang Blambangan yang meninggalkan pekerjaannya di tangsi- tangsi, benteng-benteng, dan loji-loji. Tentu saja ini membuat Biesheuvel memangil semua bawahannya untuk diajak berunding. Dalam ruangan kerja yang dulu dibangun oleh Colmond ia juga memanggil Sutanegara dan Wangsengsari di samping Pieter Luzac dan Schophoff. Ia tidak mungkin tidak mempertanyakan semua keganjilan ini pada mereka.

"Ini harus diselidiki kenapa demikian. Jika tidak ada gerakan tersembunyi maka tidak mungkin mereka melakukannya secara serempak. Di seluruh Blambangan Bayangkan!" Biesheuvel menguraikan pendapatnya.

"Ada laporan dari beberapa mata-mata kita bahwa di masyarakat sekarang berkembang secara luas berita tentang Wong Agung," Schophoff menjelaskan apa yang ia dengar.

"Wong Agung? Siapa dia?" "Wong Agung Wilis yang telah pernah membunuh hampir tiga ribu tentara Kompeni di Blambangan. Tuan tidak dengar? Ketika orang tersebut pertama kali menyerbu benteng- benteng VOC tanggal dua belas Maret tahun seribu tujuh ratus enam puluh delapan yang lalu?" Pieter Luzac mengingatkan.

Karena memang ia mencatat kejadian itu dalam buku hariannya di Surabaya.

"Jadi dia bekas Patih Blambangan yang dilaporkan menentang rajanya sendiri itu?" ,

"Ya." Schophoff mengangguk.

Kemudian Biesheuvel menoleh pada Wangsengsari dan Sutanegara. Keduanya berdebar. Mendengar nama Wong Agung disinggung saja mereka sudah berdebar. Sekalipun mereka tak mengerti makna pembicaraan Biesheuvel yang berbahasa Belanda. Kemudian Biesheuvel menanya dalam Blambangan.

"Benar ada berita Wong Agung Wilis masih hidup?"

Keduanya sulit menjawab. Namun Wangsengsari segera menemukan akal.

"Justru inilah yang hendak kami tanyakan pada Tuan-tuan.

Apakah benar berita yang kami dengar bahwa Wong Agung Wilis masih hidup?"

Biesheuvel tampak mengerutkan kening. Pusing ia. Bukan hanya pertanyaan itu. Tapi sebenarnya akhir-akhir ini ia juga dipusingkan oleh hamilnya salah satu gadis pengipasnya.

Namun untung masih ada Bapa Anti yang sanggup menolong dan membawa gadis itu ke dukun untuk menggugurkan kandungannya. Jika tidak ia akan mendapat aib, punya anak dengan pribumi yang kurang peradabannya. Tentu ia akan menjadi bahan ejekan jika ke Batavia. 

"Yah... ini suatu kesulitan. Tapi aku tak percaya bahwa Wong Agung Wilis bisa hidup kembali di Blambangan." Ia bangkit. Perlahan berjalan mengitari meja pertemuan. Dua gadis pengipas mengikut ke mana pun ia bergerak seperti sepasang bayang-bayang.

"Tidak masuk akal," lanjutnya.

"Tapi kawula Blambangan mengenalnya sebagai seorang sakti yang penuh wibawa." Wangsengsari menceritakan. "Mereka percaya bahwa Wong Agung akan tetap hidup. Itu berarti perintah yang keluar dari mulut kami tidak akan pernah digubris oleh mereka/"

"Bedebah! Setan dari neraka mana ia itu? Punya wibawa demikian besar?"

"Wibawanya memang besar. Di Blambangan tidak pernah ada orang berani mengusik brahmana. Apalagi membunuhnya. Tapi Wong Agung berani melakukannya. Apa yang tidak pernah dilakukan lain orang, ia mampu melakukannya," Sutanegara menerangkan lagi.

Ada juga orang Blambangan yang berpengetahuan tinggi, pikir Biesheuvel. Ia menduga tentu Wong Agung Wilis sendiri meniupkan berita bahwa ia tidak mati. Ia bukan tidak dengar laporan pelarian Wong Agung Wilis dari Pulau Banda. Tapi sengaja ia menyembunyikannya. Jangan sampai ada orang Blambangan yang tahu bahwa Wong Agung mampu mengelabui dan membunuh beberapa serdadu Kompeni. Ia benar-benar menyesal kenapa tidak ada pengejaran terhadap manusia satu itu! Itu keteledoran!

Dan sekarang nyatalah kemampuan orang itu.

Mengguncangkan! Ya, mengguncangkan seluruh sendi kehidupan di Blambangan. Harus diakui kenyataan ini. Bibir anak-anak gembala menembangkan kidung tentang Wong Agung Wilis. Kelompok anak-anak muda hampir setiap saat menyanyikan pujian bagi Wong Agung Wilis. Seperti orang- orang Kristen menyanyikan mazmur bagi Tuhan. Semua itu merupakan petunjuk baru bagi Biesheuvel bahwa dia akan menghadapi banyak kesulitan. Namun ia bertekad akan mematahkannya. Ia harus mampu menghancurkan pendapat yang berkembang di masyarakat. Harus dibuka tabir bahwa Wong Agung akan mati dan pasti mati. Maka ia berkata pada Wangsengsari dan Sutanegara,

"Kita harus memberikan penyuluhan dan pendekatan pada masyarakat. Tidak ada orang yang dapat hidup kembali dari kematiannya. Jika perlu kita akan mengancam dengan hukuman berat bagi mereka yang sengaja menyebarluaskan berita bahwa Wong Agung Wilis masih hidup."

"Jika demikian kita harus membuktikan kubur Wong Agung!"

"Harus ada bukti kubur Wong Agung?"

"Ya. Jika tidak mereka tidak akan percaya Wong Agung bisa mati. Bahkan apa yang sampai di telinga kami, Wong Agung mampu mengubah dirinya menjadi beribu-ribu. Nah, di Blambangan akan muncul banyak Wong Agung Wilis," Wangsengsari kembali menjelaskan.

"Ha... ha... ha... ha... Tuan, sangat lucu." Terbahak Biesheuvel mendengar itu. Apalagi Schophoff. Terpingkal- pingkal dalam waktu yang agak lama. Sedang Pieter Luzac tersenyum. Wangsengsari sedikit tersinggung ditertawai begitu rupa.

"Mana ada dongengan seperti itu. Dongeng! Yang tidak akan pernah ada, ha... ha... ha... ha... Pokoknya dengan berbagai jalan kita harus membalut luka masyarakat Blambangan. Luka akibat tingkah Colmond. Ini yang harus kita hapus. Aku minta maaf pada mereka."

"Lalu apa jalan kita?" Pieter bertanya kini.

"Apa saja. Yang sifatnya pendekatan. Sehingga mereka kembali ke tangsi-tangsi, benteng-benteng, bahkan semua orang mau membayar pajak. Demi VOC kita kerjakan segala cara."

Semua diam. Ada yang menggaruk-garuk kepala.

Menggaruk-garuk jenggot. Tapi Schophoff meletakkan tangan ke pahanya sambil terus mengguncang-guncangkannya.

"Bagi Tuan berdua, adakan penyuluhan di daerah Tuan masing-masing. Dengan demikian mereka akan menyadari arti pajak bagi kepentingan keamanan mereka sendiri."

"Baik, Tuan," kedua tumenggung mengiakan. "Nah, Tuan-tuan boleh meninggalkan tempat ini."

Dan kedua orang itu pergi. Sesaat kemudian Biesheuvel menyuruh pengawal memanggil Beglendeen dan Bozgen sebagai orang-orang yang bertanggung jawab atas keamanan Pangpang.

"Kita harus kirimkan banyak mata-mata untuk mengawasi gerakan baru ini. Aku tetap tidak percaya Wong Agung Wilis tidak bisa mati. Kita harus cari orang itu sampai dapat. Kita awasi setiap orang yang datang dari Bali. Yang mencurigakan kita tangkap. Mungkin kita akan mendapat petunjuk di mana Wong Agung Wilis bersarang."

"Betul, Tuan," Pieter Luzac setuju.

"Tapi..." Schophoff menyela, "kita tidak akan bisa memakai orang kulit putih. Mereka sukar didekati orang kulit putih."

"Untuk itu kita akan belajar dari Bozgen. Bukankah dia menyimpan perempuan pribumi dalam lojinya?"

Schophoff terbahak-bahak. Suaranya seperti menggema di dinding rumah itu. Bersamaan dengan habisnya gema tawa Schophoff, Beglendeen dan Bozgen memasuki ruangan.

Keduanya menghormat pada ketiga orang atasannya. Setelannya dipersilakan duduk oleh Biesheuvel. "Letnan dan Sersan, aku ingin kalian mengerti keadaan gawat yang kita alami di Blambangan ini?" Biesheuvel memulai.

"Semua orang menyadari, Tuan. Negeri ini telah berubah jadi seperti negeri hantu yang menakutkan. Banyak orang kulit putih mati karena sakit. Mereka banyak yang minta dipulangkan ke Surabaya."

"Ya. Aku tahu soal itu, Tuan. Tapi kita toh prajurit. Yang makan gaji karena tugas yang kita emban. Karena itu kita harus tetap melakukannya sesuai dengan sumpah kita sendiri. Sumpah!" Biesheuvel menegaskan sambil menunjukkan kepalannya.

"Benar, Tuan. Tapi inilah kenyataan kita sekarang." "Bahaya yang lebih besar bukan dari hantu, tapi dari Wong

Agung Wilis. Sebab ia telah menghasut orang-orang untuk

tidak masuk kerja pada kita "

"Mereka tidak mau bekerja bukan berarti pembangkangan," Bozgen menjelaskan sekalipun tidak diminta. "Mereka takut pada dewa-dewa mereka. Kata mereka dewa-dewa marah.

Tidak ada lagi orang Blambangan yang mampu memberikan sesajian di pura-pura maupun candi- * candi. Mereka sudah terlalu miskin. Jadi dewa-dewa membunuhi orang-orang yang di loji atau benteng-benteng yang kata mereka adalah penyebab kemiskinan kawula Blambangan."

"Gila!! Orang Blambangan bisa berpendapat begitu?

Dengan kata lain mereka tidak bisa diajak bersahabat lagi?"

"Ya. Karena Belanda, yah, kita ini mengkhianati persahabatan dengan mereka," Bozgen menguraikan. Semua orang memandangnya heran.

"Menghianati?" desis mereka hampir berbareng.

"Ya. Pada mula kami datang, mereka menyambut dengan rasa persahabatan yang tinggi. Tapi Komandan Blanke mengotorinya dengan meminta anak gadis Mas Anom, orang yang sangat bersahabat dengan Kompeni dan membenci Bali. Selanjutnya, Tuan Colmond berbuat hal yang sama. Dia menarik pajak yang berlebihan dan di akhir pemerintahannya ia juga memperkosa..."

"Stop! Alkitab katakan kita harus menguasai bumi dengan isinya," Biesheuvel memotong.

"Tuan menyalahgunakan kekristenan? Alkitab harus dipelajari dengan baik dan teliti. Yesus ajarkan pada kita supaya kita mengasihi. Karena Allah adalah kasih. Dan dalam Injil Yohanes pasal lima belas ayat ketiga belas dikatakan: 'Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.' Nah, apa yang kita lakukan? Kita bersahabat dengan mereka hanya di bibir. Tapi pelaksanaannya tidak demikian. Inilah sebabnya kita gagal."

"Kau berkhotbah, Bozgen? Bukan di sini tempatnya!" Biesheuvel jengkel.

"Tuan sendiri yang menyinggung Alkitab. Saya tidak suka Alkitab diselewengkan. Apalagi untuk tujuan yang tidak benar."

"Kau dibayar bukan untuk berkhotbah! Tapi untuk kepentingan VOC. Kau harus tetap setia pada VOC. Dengan kata lain kau juga harus patuh pada atasanmu."

"Baik, Tuan." Bozgen diam. Kini ia melihat kenyataan, enaknya orang memegang jabatan yang lebih tinggi. Selalu saja memenangkan pendapatnya sendiri. Kalau perlu menginjak kebenaran. Bahkan kebenaran Alkitab sekalipun. Demi kewibawaan seorang atasan, kebenaran harus dikalahkan. Kewibawaan lebih penting dari kebenaran. Nah, kini ia mulai merasakan keharusan baru, mengiakan semua yang dikatakan seorang pejabat residen. "Kita tidak bisa salahkan Tuan Blanke maupun Tuan Colmond. Karena mereka jauh dari istrinya. Dan mereka menghadapi masalah-masalah pelik.

Jadi perlu hiburan untuk menurunkan tekanan darah yang meninggi. Kau sendiri kan begitu, Bozgen?"

"Tapi kami saling mencintai, Tuan," bantah Bozgen. "Kau tidak akan membawa pulang gundikmu itu ke

Nederland. Apa kata orang nanti jika kau mengawini wanita pribumi?"

"Apa salahnya...?"

"Kau akan membantah lagi? Yang penting sekarang lakukan perintahku. Pertama adakan pengawasan ketat terhadap tiap orang Bali. Yang dicurigai harus ditangkap, diperiksa, untuk memperoleh keterangan di mana Wilis berada!! Dengar kalian?"

"Baik, Tuan," jawab keduanya.

"Apanya yang baik?" Biesheuvel jengkel terhadap jawaban anak buahnya yang ia rasakan sekenanya itu.

"Oh... itu perintahnya yang baik," Beglendeen agak gugup. "Perintahnya baik! Jika tidak terlaksana dengan baik berarti

kalian yang tidak baik. Mengerti?"

"Mengerti, Tuan," kembali mereka menjawab bersama- sama.

"Perintah kedua, kirimkan mata-mata untuk menyelidiki siapa orang yang sengaja menyebarkan atau mendesas- desuskan nama Wong Agung Wilis di sini! Kalau ketemu tangkap mereka dan periksa sampai mengaku siapa yang memerintahkan mereka. Barangkali ada hubungan dengan

Wong Agung Wilis. Tahu kalian bahwa Wong Agung Wilis telah meloloskan diri dari Banda?" "Belum, Tuan."

"Nah, karena itu kerjakan semua perintahku. Kalian adalah prajurit Kompeni. Jelas?"

"Jelas, Tuan." Kembali mereka membuat diri seperti beo. "Apanya yang jelas?"

"Itu... suaranya, Tuan."

"Suaranya? Perintahnya tidak?" Suara Biesheuvel meninggi. Membuat muka Beglendeen makin tegang. Bozgen menahan senyum.

"Ya. Itu perintahnya." "Nah, pergilah kalian."

Di bawah sorot mata agak marah dari Biesheuvel keduanya meninggalkan ruangan. Memang rasanya tidak segarang Colmond, bisik Beglendeen pada Bozgen. Tapi cerewetnya itu, ah, hampir seperti nenek-nenek. Dan Bozgen tersenyum.

Sambil jalan ke loji masing-masing ia mengatakan bahwa sebenarnya ia kerasan tinggal di sini. Tapi sayang akhir-akhir ini ketegangan makin menjadi-jadi.

"Tentu saja kau kerasan. Kau punya gundik yang begitu molek. Eh... simpan baik-baik. Jangan sampai Tuan Biesheuvel lihat gundikmu. Bisa-bisa diambilnya."

"Tuan ada-ada saja "

"Kamu tidak percaya?"

"Tapi kami sudah terikat pada perkawinan. Jadi tak mungkin lagi melepasnya."

"Eh kamu?" Suara Beglendeen serak. "Di mana kalian

kawin? Tidak di gereja?"

"Di mana pun sama saja. Kami kawin di hadapan seorang penghulu di Probolinggo." "Penghulu?"

"Sudahlah... jangan dipersoalkan lagi. Kita menghadapi tugas yang berat. Anak buah kita semua telah kehilangan semangat. Kita hanya bisa mengerahkan laskar Madura dan Probolinggo atau Sidayu."

"Mereka juga yang kita kerahkan jadi mata-mata. Atau kita perlu berunding dengan Bapa Anti. Aha... dia orang paling setia. Ha... ha... ha... ha..." Beglendeen gembira.

"Itu juga baik." Kemudian mereka berpisah untuk kembali ke loji masing-masing. Namun Beglendeen tidak segera sampai di lojinya karena ia mampir dulu di sebuah kedai yang tampaknya agak ramai. Ternyata yang menjadi tamu di situ umumnya pedagang. Atau serdadu dari Sidayu yang umumnya lebih suka minum tuak. Mereka menghormat kala Beglendeen masuk. Matanya mengawasi seluruh ruangan sebelum ia mengambil tempat duduk. Ia tidak ingin duduk dekat tamu-tamu Cina. Sebab umumnya mereka suka berdahak. Lebih tidak tahan lagi jika mereka memuntahkan dahak semau-mau.

Di sudut ruangan ia mengambil tempat duduk. Udara bisa masuk dari jendela. Ah, tidak ada pribumi duduk di sini, pikirnya setelah melihat ke jendela. Anak-anak kecil bermain- main di halaman kedai itu. Umur mereka barang tiga sampai lima tahunan. Ah, telanjang bulat. Debu menyelimuti tubuh mereka. Beglendeen menoleh pada pelayan yang mendekatinya. Ia pesan sate kambing. Coba makan seperti orang-orang Sedayu atau Madura makan. Teman-temannya banyak makan roti dan keju tapi toh banyak yang mati sakit.

Kini ia memperhatikan para pedagang dan serdadu yang makan dan mabuk-mabukan. Agak tidak sabar ia menunggu makanan. Sekilas ia ingat temannya yang menjadi komandan Benteng Lateng, Van Schaar. Ia harus mengirim berita tentang apa yang diperintahkan Biesheuvel itu padanya. Ya, segera sore ini akan ia perintahkan orang berkuda, seorang ke Jember, menemui Letnan Steenberger, seorang lagi ke Lateng. Lateng lebih dekat dengan Sumberwangi, jadi sekaligus mengawasi nelayan dan pedagang dari Bali. Tiba- tiba ia panggil seorang prajurit Sidayu. Orang yang sedang asyik minum itu mendekat. Beglendeen menyampaikan perintah untuk memanggil Ge Dank dan Badeloens.

"Segera!"' katanya. "Kutunggu di sini. Dan jangan lupa, suruh mereka datang dengan kuda."

"Baik, Tuan."

Orang itu bergegas pergi. Sebagai gantinya pelayan membawa makanan dan minuman tiba. Ia pesan dua lagi, karena ia ingin anak buahnya nanti juga makan bersama sambil mendengar perintahnya. Dengan demikian mereka tidak kesal menjalankan perintah.

Tidak ada nyanyian musik di kedai itu. Yang ada berisik orang membicarakan apa saja. Yang pedagang bicara soal perdagangan, yang serdadu tertawa-tawa. Di dekatnya ada seorang yang baru masuk. Duduk memunggunginya. Ia perhatikan pakaiannya seperti pedagang dari India. Membawa sebuah benda panjang yang terbungkus kain. Ia tidak tahu apa itu. Barangkali barang dagangan atau bekal. Beberapa bentar lagi dua orang pembantunya datang. Melihat itu banyak serdadu yang segera membayar harga minuman dan pergi. Mereka agak segan ditunggui opsir kala minum. Tapi anak-anak di luar masih saja berlari-lari dan bermain-main.

Setelah mempersilakan duduk dan makan bersama, ia menyampaikan perintah Biesheuvel yang harus mereka sampaikan ke Jember dan Lateng. Kedua orang itu harus berangkat sekarang juga. Tidak boleh ditunda, kata Beglendeen sambil senyum. Rasanya tersumbat tenggorokan mereka mendengar perintah itu. Akhir-akhir ini mereka tidak begitu berani berkuda di hutan.

"Tapi ini perintah. Jika kalian tidak mau, yah..." Walau Beglendeen tak melanjutkan kata-katanya, mereka tahu apa isi kelanjutannya. Maka tak , ada kata lain kecuali mengiakan sambil nyengir. Setelah kenyang makan keduanya pergi. Beglendeen puas. Ia menoleh ke jendela untuk mengawasi kepergian mereka. Walau ia sudah mendengar derap kudanya. Tapi kebetulan saat itu beberapa anak berkejaran di dekat jendela. Beglendeen memperhatikan. Ia ingat anak-anaknya yang ia tinggal di Nederland. Jika Blambangan sudah aman ia akan bawa anak-anaknya kemari untuk melihat negeri yang elok inj.. Melihat pura. Melihat gandrung. Tapi semakin memperhatikan anak-anak itu Beglendeen menjadi merinding. Beberapa di antaranya berlari dengan lendir berwarna kuning campur putih kehijau-hijauan, menggantung di bawah hidung mereka. Lebih menjijikkan lagi karena beberapa dari mereka dikejar-kejar lalat ke mana pun mereka pergi. Ternyata tangan serta kepala mereka berborok- borok. Ah, Beglendeen memejamkan mata kala melihat sebagian dari mereka telinganya juga keluar lendir dengan warna yang sama dengan yang keluar dari hidung. Dan lalat itu... Mual merasuki perut Beglendeen. Ingin ia mengusir

anak-anak itu. Kejengkelannya mencapai puncak. Tiba-tiba ia berteriak sambil mengangkat bedilnya dengan laras tertuju pada anak-anak itu. Semua terkejut. Juga pemilik kedai. Tapi kala ia akan menarik pelatuk bedilnya, sebuah benda keras menempel punggungnya.

"Jatuhkan bedil itu! Mereka bukan ayam. Atau Tuan sendiri pergi ke neraka sekarang juga." Suara itu tegas dan dingin.

Beglendeen mengurungkan niatnya. Dan tanpa tertahan mualnya membuahkan muntahan. Tidak sempat mengumpat. Tapi ia buang juga senjatanya. Seseorang memungutnya.

Selesailah sudah.

Semua yang ditelannya keluar. Tapi ia tak berkutik dan menjadi tontonan para pengunjung yang masih tersisa. "Sekarang tinggalkan semua uang Tuan di atas meja.

Jangan main-main, Tuan sedang berhadapan dengan Wilis. Ya, Wong Agung Wilis. Dengar baik-baik. Wilis!"

"Wi..."

"Jangan banyak tanya! Tidak ada waktu bercanda." Bentakan orang itu membuat Beglendeen merogoh kantungnya. Tangannya gemetar mengeluarkan semua uangnya. Dan terdengar orang itu memanggil pelayan. Diperintahkan untuk mengambil semua uang di meja.

"Sekarang jalan ke pelataran!"

Dan Beglendeen melakukan perintah itu lagi. Setelah itu ia terpaksa menyerahkan tangannya diikat ke belakang pantat. Sebentar kemudian orang yang mengikatnya menjauh sambil memerintahkannya menoleh. Kini ia dapat melihat, orang itu adalah yang duduk memunggunginya tadi. Matanya tajam, dengan kumis di bawah hidungnya. Tidak begitu tebal. Kini orang itu telah melompat ke atas punggung sebuah kuda Sumba yang gagah. Ternyata benda yang terbungkus kain itu adalah senjata laras panjang bikinan Inggris.

"Selamat tinggal, Tuan. Dan berjalanlah pulang ke tangsi! Dan jangan suruh siapa pun membuka ikatan itu! Siapa pun! Biarlah Biesheuvel percaya bahwa Wilis tidak mati. Ia akan hidup selamanya di Bumi Semenanjung ini! Dengar, hai kawula Pangpang! Siapa pun yang berani membuka ikatannya akan terjungkal mencium bumi dengan tanpa nyawa!" Orang itu berteriak keras. Sebentar kemudian menyentuhkan kaki ke perut kuda. Dan kuda itu mulai melangkah untuk kemudian kabur ditelan debu yang mengepul.

Beglendeen penasaran. Ternyata tidak seorang pun di kedai itu yang berani menolongnya. Semua malah menonton. Terpaksa ia berjalan ke kantor Biesheuvel seperti perintah Wilis. Ia pikir, barangkali dia adalah orang VOC pertama yang tunduk diperintah pribumi. Semua orang yang berpapasan dengannya heran tapi tak berani berbuat apa-apa. Beglendeen tertunduk dengan muka merah. Pribumi tidak beradab- sanggup mempermalukan yang lebih beradab. Beberapa jarak kemudian beberapa ekor anjing mulai menguntitnya sambil menyalak-nyalak. Gila. Ia berhenti dan menoleh. Ingin ia menendang anjing-anjing itu. Tapi mereka juga berhenti sambil tetap menyalak. Menarik perhatian kawanan anjing lainnya. Beglendeen dikelilingi anjing-anjing yang menyalak- nyalak. Ia ingin menutup telinga. Tapi tidak bisa. Berlari.

Mereka tetap membuntuti. Beberapa laskar Madura ingin menolongnya. Tapi kawanan anjing itu tampak galak, membuat mereka ikut panik. Akan menembak takut mengenai Beglendeen yang sedang pontang-panting itu. Penjaja gerbang Biesheuvel menemukan akal dan menembak ke udara kala Beglendeen sampai di gerbang itu.

Dengan napas tersengal-sengal, keringat sebe-sar-besar biji jagung, Beglendeen melaporkan apa yang baru dialaminya.

'Tidak masuk akal Agung Wilis bisa di sini!" Biesheuvel geleng kepala. "Dan anjing-anjing itu tentu kebetulan saja!" Pernyataan Biesheuvel i membuat Beglendeen kecewa.

Dengan kata lain ia menganggap aku ini pembohong? Biesheuvel, memang kau harus mengalami sendiri supaya matamu celik! Beglendeen terus mengumpat dalam hati ketika diantar pulang ke lojinya oleh pengawal benteng.

Laporan-laporan berikut datang seperti petir di musim kemarau. Rombongan peronda di serbu oleh babi hutan. Akibatnya mereka terbirit-birit dan banyak senjata mereka hilang.

Laporan dari Lateng lebih mengherankan lagi. Rombongan penarik pajak yang dikawal satu regu Kompeni tercerai-berai karena dikejar oleh beberapa kerbau liar. Peristiwa yang membuat penarik pajak takut berkeliling. Biesheuvel jadi pusing. Bapa Anti juga. Maka ia sendiri memerlukan pergi ke Lateng untuk membuktikan. Tapi waktu di Pangpang ia berpapasan dengan kerbau yang sedang pulang ke kandangnya, tidak terjadi seperti yang dilaporkan. Mungkin saja laporan itu ? sekadar kebohongan. Aneh. Akhir-akhir ini di Blambangan jadi penuh sas-sus.

Sebenarnya itu bukan kejadian aneh. Anak buah Mas Ayu Prabu menemukan cara untuk melatih kerbau-kerbau yang biasanya patuh dan bersahabat itu, menjadi liar dan galak. Suatu kali mereka datang dengan berpakaian Kompeni, dan menggunakan wangi-wangian di tubuh mereka, kemudian mengikat serta menyiksa kerbau-kerbau itu dengan luar biasa. Terutama kerbau jantan. Lain kali mereka datang lagi dengan pakaian petani. Sambil mengelus kepala kerbau-kerbau yang teraniaya itu dengan kasih, mereka membebaskannya.

Begitulah, latihan yang dilakukan berulang kali itu menanamkan dendam di hati para kerbau. Kemudian Mas Ayu Prabu menurunkan perintah pada para petani agar tidak mengikat kerbau-kerbau yang akan berangkat atau pulang kerja di sawah. Apalagi yang sedang digembalakan.

Itulah awal kejadian yang mengejutkan semua orang. Apa tujuan Mas Ayu Prabu dari semua akal-akalannya itu? Tak lain untuk mengendor-kan ketatnya patroli Belanda. Dengan begitu akan memudahkan pendaratan laskar Bali yang akan dipimpin Gusti Tangkas. Pengiriman laskar Bali itu atas permintaan Sutanegara. Mas Ayu Prabu telah menyampaikan permintaan itu pada Wong Agung Wilis, yang bersedia mengirim tiga ratus orang. Bagi Wong Agung Wilis itu merupakan kesempatan menghantam Belanda. Kini pasukan sudah bersiap di Jembrana. Tinggal menunggu isyarat dari Mas Ayu Prabu. Mereka merencanakan pendaratan di Pantai Grajagan. Namun Gusti Tangkas jadi amat heran, Mas Ayu tidak kunjung mengirimkan utusannya.

Mereka tidak pernah tahu bahwa bersamaan dengan waktu Ayu Prabu menyiapkan dan mengamankan daerah pendaratan, seorang pedagang yang dulu pernah mendapat keleluasaan oleh Colmond, yaitu Lie Pang Khong, sedang menghadap Letnan Schaar di benteng Kota Lateng. Orang itu bertubuh gemuk, tidak terlalu tinggi, hidungnya agak pesek, dan matanya sipit. Setelah melewati beberapa tatacara dan penjagaan ia diizinkan masuk benteng dengan syarat harus berjalan dengan kepala tertunduk. Tidak boleh memperhatikan kiri dan kanan. Tidak boleh berdahak. Dia digiring melewati lorong-lorong yang'agak gelap. Belok kiri, belok kanan, belok kiri lagi. Dan entah berapa kali lagi ia harus berbelok-belok. Ia tidak ingat. Tentu semua itu merupakan aniaya bagi Lie Pang Khong. Apalagi ^ mencegah kebiasaan berdahak selama ada di lingkungan benteng.

"Duduk!" Suara Van Schaar dingin. Matanya tajam mengawasi tamunya. "Ada apa?"

"Sebelum menghadap Tuan Biesheuvel untuk memperpanjang izin tinggal di Lo Pangpang, saya ingin menyampaikan berita yang mungkin amat penting untuk segera ditangani."

"Apa itu?" Schaar mengerutkan dahinya. Penuh perhatian. "Begini, Tuan..." Cina itu menelan ludah menahan

keinginan berdahak. "Di Jembrana, kami melihat persiapan

laskar Bali akan mendarat di Blambangan."

"Apa kon (kamu (diambil dari bahasa Surabaya, karena Schaar pernah bertugas di Surabaya) bilang? Pasukan Bali akan menyeberang?"

"Saya berani bersumpah, Tuan. Banyak jumlah mereka." "Jika demikian kon harus lapor ke Pangpang. Dan kon akan

diantar oleh Pembantu Letnan De Kornet Tine. Nah, tunggulah di luar."

"Ya, Tuan. Terima kasih." Orang itu kemudian buru-buru meninggalkan Van Schaar. Ingin ia segera melepaskan segala aniaya di luar benteng. Benteng yang mengharuskannya berjalan tertunduk tanpa menoleh kiri dan kanan. Jika sepuluh hari saja ia diperakukan seperti itu mungkin saja ia akan menjelma menjadi babi. Leher sukar ditekuk.

Sepeninggal Lie Pang Khong, Schaar memanggil pembantu letnan, De Kornet Tine dan Ostransky. Kepada mereka ia terangkan laporan Lie Pang Khong.

"Karena itu kamu menghadap Tuan Biesheuvel." Ia menunjuk De Kornet. Dan orang itu menghormat lalu pergi setelah menerima petunjuk lanjutan. Kemudian Schaar memerintahkan Ostransky memperketat penjagaan pantai dan meminta pengawalan laut dari armada yang ditempatkan di Sumberwangi. Tentu saja semua itu mereka kerjakan dengan tanpa gerakan yang berbondong-bondong. Namun demikian penjagaan pantai yang begitu rapat membuat Mas Ayu menjadi curiga. Dan itu sebabnya ia tidak segera mengirimkan utusan.

Kecurigaan Mas Ayu sangat beralasan. Karena setelah ia berusaha menghubungi Sutanegara, ternyata orang itu tidak ada di tempat. Menurut istrinya, sehari setelah Jaksanegara bertamu ke Lateng, Sutanegara dijemput oleh Van Schaar dan tidak kembali.

"Apa ia ke benteng?" Mas Ayu memburu.

"Menurut Sutanegara sebelum pergi ia memberi tahu bahwa ada panggilan mendadak ke Pangpang."

"Sendiri beliau ke sana?" "Bersama Patih Suratruna."

"Hyang Bathara!" Mas Ayu berdebar. Ia mendapat firasat buruk. Maka segera ia minta permisi. Tentu rumah ini dalam pengawasan, pikirnya. Dan segera ia mengirimkan utusan ke Pangpang untuk menyelamatkan Wangsengsari. Namun terlambat. Wangsengsari juga sudah dipanggil menghadap Biesheuvel dan belum kembali. Hujan sudah tiada turun lagi kala itu. Orang-orang Blambangan tiga belas hari lagi merayakan hari raya Waisaka. Memang tidak besar-besaran hari macam begitu. Apalagi dalam kesulitan pangan seperti itu. Jadi menurut orang Blambangan bulan itu adalah bulan Wisaka. Sedang menurut orang Belanda adalah pertengahan Mei.

Ya, pertengahan Mei seribu tujuh ratus tujuh puluh satu tahun Masehi kala Wangsengsari, Sutanegara, dan Suratruna menerima keputusan dibuang ke Seilan karena Dewan Hindia di Batavia menganggap mereka melakukan pengkhianatan terhadap pemerintahan agung VOC di Batavia. Ada beberapa istri dan anak-anak mereka yang harus mengawal orang tua mereka ke pembuangan.

Apa pun pembelaan mereka, namun saksi dan bukti cukup banyak. Ketiganya tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa Jaksanegara yang begitu baik dan akrab pada mereka itu adalah antek VOC. Karena mereka tak tahu maksud tersembunyi Jaksanegara, yaitu menjadi penguasa tunggal di Bumi Semenanjung. Ya, keinginan hati untuk merajakan diri sendiri telah mengorbankan kerabat, sahabat, dan adat.

Saksi lain, Lie Pang Khong, juga orang yang sering mempersembahkan berbagai macam hadiah. Bagaimana mungkin orang sebaik itu menjadi saksi yang memberatkan? Apalagi setelah orang ketiga yang dijadikan saksi adalah anak Wangsengsari sendiri. Anak perempuan dari istri kedua Wangsengsari, Mas Sanggawati. Anak itu memang sering ikut menemani bapaknya menemui tamu. Tidak tahu bahwa anak itu juga sering menerima tamu jika Wangsengsari tidak ada. Karena iri terhadap Repi yang memperoleh kebebasan dan kekayaan, maka ia berusaha memperoleh yang seperti adiknya dengan caranya sendiri. Tanpa setahu Wangsengsari ia sering berhubungan dengan Lie Pang Khong atau Pieter Luzac. Atau kadang juga dengan Biesheuvel sendiri, demi emas dan uang. Sanggawati akhirnya tidak mungkin mampu membebaskan diri karena keinginan-keinginannya makin bertambah tiap hari.

Saat yang membuatnya berdiri di simpang jalan ialah kala ia berjumpa dengan Jaksanegara. Candu menjeratnya dan membuat ia harus mengiakan semua perintah Jaksanegara. Dan kala Wangsengsari bersama lainnya dilayarkan maka ia diberi hak untuk menguasai rumah bapaknya. Dengan begitu ia makin bebas melakukan segala langkah untuk memanjakan kejalangannya.

Peristiwa itu tidak hanya membuat Mas Ayu membatalkan isyarat yang semestinya ia kirimkan. Tapi membuat ia harus menghitung berulangkali setiap langkah yang ia ambil.

Langkah pertama tentu saja ia mengirim berita pada Mas Ramad Surawijaya dan Sayu Wiwit serta Rsi Ropo. Langkah kedua harus segera memberi tahu Wong Agung Wilis di Mengwi.

Demi langkah kedua itu ia kembali memasuki gedung Tha Khong Ming di Sumberwangi. Tidak sukar baginya memasuki rumah tersebut karena semua penjaga memang anak buahnya sendiri. -Tapi nampaknya Tha Khong Ming amat gugup. Tha Khong Ming sama sekali tak menduga mendapat kunjungan mendadak malam-malam begitu. Tapi bagaimanapun juga ia tak mampu menyembunyikan kegembiraannya.

"Selamat malam, Yang Mulia. Datang sendiri?"

"Ya. Datang sendiri." Gadis itu senyum sambil menajamkan matanya. Mata itu seperti mampu memantulkan cahaya lampu-lampu di sekitarnya.

"Tidak seperti biasa. Tentu amat penting?" Tha Khong Ming mempersilakannya duduk. Kemudian ia mengambilkan minuman. Arak putih buatan Cina. Menuangkan dalam cawan. "Ini untuk penghangat badan. Tentu Yang Mulia kedinginan.

Malam-malam begini berkuda." Ia menyodorkan cawan itu. "Terima kasih, Tuan. Aku sejak siang di kedai itu. Sengaja datang malam-malam ke tempat ini. Memang sengaja. Karena ada sesuatu yang penting hendak kuutarakan?" Kembali gadis itu memamerkan lesung pipit dan sinar matanya. Hati Tha Khong Ming meriup-riup seperti pelita dihembus angin perlahan-lahan.

"Apa itu, Yang Mulia?" Tha Khong Ming berbisik sambil mengambil kesempatan untuk mendekatkan tempat duduknya di sebelah kursi Ayu Prabu. Bahunya menyentuh sedikit bahu Ayu Prabu. Berdebar.

"Apa Tuan belum dengar?"

"Apa itu?" tanyanya sambil minum. "Sutanegara ditangkap."

"Hai?" Alis Tha Khong Ming sedikit terangkat.

"Tidak perlu terkejut." Gadis itu tetap saja tersenyum. "Lalu apa ia tidak membongkar rahasia kita?"

"Kau takut?" Kini gadis itu membalikkan badan dan kembali menatap matanya. Dekat sekali jarak mereka. Pertanyaan yang membuat Tha Khong Ming malu. Gadis yang ia puja ini ternyata sangat pemberani. Ah... seperti bapaknya. Kini debar jantungnya mengeras. Dalam keadaan hening rasanya suara debaran itu terdengar oleh telinganya sendiri. Tapi akan celaka jika didengar oleh Ayu Prabu. Maka cepat-cepat ia tersenyum dan menjawab,

"Tidak, Yang MuHa. Eh... mari minum, jangan segan, Yang Mulia. Bukankah kita sahabat dekat?"

"Persahabatan belum tentu harus ditandai dengan minuman," kata gadis itu tegas. Walau tetap saja bibir mungilnya berhiaskan senyum. "Sebenarnyalah persahabatan harus ditandai dengan kasih setiap waktu. Dan sahabat sejati sanggup menjadi saudara dalam masa sulit." "Ah... Yang Mulia tidak mempercayai hamba?" Tha Khong Ming seperti hanyut dalam gelombang. Ia berusaha menebak arah pembicaraan gadis itu.

"Aku memang tidak dapat memastikan apakah kau bisa dipercaya atau tidak. Sebab kau seorang pedagang. Lelaki pedagang." Ayu mencoba mengetuk pintu hati Tha Khong Ming untuk „ menguak kesetiaan lelaki itu. Sementara malam kian larut. Penjaga pintu di luar berjalan mondar-mandir untuk menghindari kantuk. Dalam hati terpecik sedikit tanya. Apa saja yang dikerjakan wanita itu dalam gedung bersama lelaki yang tinggal sendirian? Ingin rasanya ia meninggalkan gerbang dengan temannya yang sedang mengantuk untuk mencoba mengintip ke balik jendela. Tapi ia tak berani. Ayu Prabu adalah wanita terlatih yang mempunyai telinga seperti dewa. Itu yang menyebabkan pemuda-pemuda Raung atau Sempu atau Songgon yang jatuh cinta padanya tidak berani melamar. Apalagi ia adalah putra Wong Agung Wilis.

"Sekalipun begitu, hamba ingin membantu perjuangan kawula Blambangan. Dan sedikit demi sedikit hati hamba terpaut oleh Blambangan."

Ayu Prabu tersenyum mendengar itu. Ia tahu persis, pemuda itu ingin mengatakan yang lain. Ia bukan terpaut dan tertarik oleh perjuangan kawula Blambangan, tapi oleh dirinya. Itulah naluri kewanitaan.

"Senang sekali mendengarnya, Tuan. Tapi aku ingin bukti." "Apa yang harus hamba kerjakan supaya bisa menjadi bukti

dari cinta hamba pada Blambangan." Tha Khong Ming makin berani. "Masuk sumur? Boleh saja asal itu perintah Yang Mulia," senyumnya sambil menembuskan pandang. Namun gadis itu tidak mau berpaling ke tempat lain. Ia tantang Tha Khong Ming beradu pandang. "Aku minta kau pergi ke Mengwi. Jika perlu malam ini kau turun ke laut. Karena aku perlu menyampaikan berita buat Ramanda."

"Ke Mengwi?"

"Sanggup?" gadis itu masih menatap sambil terus senyum. Ah, siapa yang berani menolak permintaan gadis ini? pikir Tha Khong Ming.

Ingin ia mendekap dan melumat bibir mungil yang mengundang kerinduan itu.

"Sanggup, Yang Mulia. Lalu apa yang harus hamba sampaikan? Apa hanya pesan?" Tha Khong Ming tidak pikir panjang. Ia merasa mampu menembus barisan armada Kompeni.

"Ini lontarku untuk beliau." Mas Ayu menyerahkan tusuk kondenya. Semula Tha Khong Ming terkejut. Tapi Mas Ayu segera bangkit dan katanya, "Kau tidak perlu tahu isinya.

Ramanda* sudah tahu bagaimana membuka tusuk konde itu." Kini gadis itu dengan berani memegang bahu Tha Khong Ming yang masih duduk sambil berkata lagi, "Terima kasih, Pahlawan!"—kemudian berbalik hendak pergi. Tapi langkahnya yang ketiga ditahan oleh suara Tha Khong Ming.

"Tunggu, Yang Mulia. Hamba akan pergi malam ini juga.

Tapi hamba mohon selama hamba tiada, rumah ini tetap dalam pengawasan Yang Mulia." Kemudian Tha Khong Ming menunjukkan sebuah kamar kosong. Tapi tetap terawat bersih. "Sebab dalam waktu dekat hamba akan menerima tamu dari Surabaya. Paman hamba. Jika rumah ini kosong maka beliau akan marah besar," sambung Tha Khong Ming.

"Ahai, kau tahan aku? Baik. Tapi jangan terlalu lama, sebab banyak pekerjaan yang harus kukerjakan. Nah, besok pagi saja aku akan datang. Sekarang aku pergi dulu. Selamat malam." Tha Khong Ming memandangi punggung gadis itu. Ah... mengundang sejuta angan.