Gema Di Ufuk Timur Bab 07 : Teka-Teki

 
Bab 07 : Teka-Teki

Pergeseran bintang-bintang memang tampak lamban dari bumi. Seperti siput yang merangkak. Mungkin saja lebih lamban. Namun jika ia telah menghabiskan perjalanannya dari ufuk timur ke ufuk barat, berarti ia telah menambah usia bumi. Dan semakin tua usia bumi, semakin kaya bumi akan cerita tentang kisah anak manusia.

Yang dialami oleh Biesheuvel adalah kisah tersendiri. Dia menerima warisan yang dilaporkan oleh Colmond bahwa keadaan seluruh Blambangan beres. Aman dan baik. Namun demikian ketika ia menginjakkan kaki di bumi Blambangan, seusai timbang-terima di Surabaya, ia menjadi amat heran. Tidak ada penyambutan baginya. Tidak oleh kawula Blambangan, tidak juga oleh pasukan kehormatan. Para tumenggung dan para pembantunya menyambutnya di rumah karesidenan. Ia berunding dengan Schophoff. Namun pembantunya itu juga tidak mendengar apa-apa tentang Blambangan. Tidak ada pesta seperti lazimnya menyambut residen baru di mana-mana di daerah Jawa lainnya. Kenapa tanah semenanjung yang hijau ini begini sunyi? Kecurigaan Biesheuvel timbul. Inikah yang dinamakan baik dan aman oleh Colmond ketika melapor kepada Gubernur? Mungkin saja ini bukan warisan yang baik.

Karena itu keduanya bersepakat akan mengadakan penyelidikan. Terutama ke tangsi-tangsi Kompeni terlebih dahulu. Baru ke daerah-daerah. Karena baik Sutanegara maupun Wangsengsari melaporkan baik dan aman, hanya panen akhir-akhir ini tidak begitu berhasil karena dimakan hama. Atau memang sudah menjadi kebiasaan kawula Blambangan berhemat dan tidak mengadakan pesta? Jika demikian halnya maka seharusnya kawula Blambangan adalah orang-orang terkaya di dunia. Tapi kenapa banyak rumah mereka yang nampak kumuh? Anak-anak kecil kurus-kurus dan berkemul debu, kala bermain-main di jalan? Bukankah itu menandakan kemiskinan?

Begitu banyakkah biaya pasukan pendudukan yang harus dipikul kawula Blambangan maka mereka menjadi miskin? Dan apa yang dilihatnya di tangsi-tangsi? Begitu banyak pasukan Kompeni menderita sakit. Penyakit aneh yang membawa kematian. Ada yang demam dan muntah-muntah, terutama di daerah Pangpang, yang kemudian berakibat kematian. Ada juga yang demam dengan kulit berbintik-bintik merah, akhirnya kulit mereka menjadi biru dan mati. Demikian juga di Benteng Banyu Alit. Penyakit serupa mengurangi jumlah penghuni benteng.

Di daerah Lateng dan Jember dan Lumajang jenis penyakitnya tidak sama seperti daerah lain. Sebagian mati karena kencing nanah. Tapi sebagian lagi mati karena muntah dan berak. Letnan Beglendeen menyebutkan bahwa sebenarnya Blambangan yang dulunya daerah hijau yang ramah telah menjelma menjadi daerah hantu setelah Colmond melarang memberi makan pekerja-pekerja.

"Keterlaluan!" Biesheuvel geleng kepala.

"Semua itu mengakibatkan banyak orang mati kelaparan. Ribuan orang. Mungkin saja arwah mereka menuntut balas."

Berdiri bulu roma Schophoff mendengar itu. Walau setengah tidak percaya. Dan kala ia melakukan peninjauan ke kampung-kampung maka yang menyambut kedatangan Schophoff, seorang tinggi besar dengan kumis lebat itu, cuma gerombolan anjing yang menyalak tanpa henti dan menunjukkan taringnya yang lancip. Walau ia terbahak-bahak atas perlakuan gerombolan anjing padanya, ia sempat terbirit- birit juga ketika anjing-anjing itu berusaha melompati kudanya. Dan dengan terbahak-bahak pula ia melapor pada Biesheuvel pengalaman yang mungkin baru pertama kali itu dialaminya. Banyak desa atau kampung yang telah menjadi kosong. Itu yang menyebabkan Beglendeen menyebut Blambangan sebagai daerah, hantu.

Lebih mengherankan lagi bagi Biesheuvel banyak Kompeni memilih tidur di tangsi atau di benteng-benteng daripada mengawasi penarikan pajak atau melakukan perondaan.

Apalagi pada malam hari. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengajukan permohonan agar dapat ditarik dari Blambangan dan dipindahkan ke tempat lain. Ketakutan telah melanda di mana-mana. Maka terpaksa pasukan Madura atau Probolinggo yang diperintahkan melakukan perondaan.

Sungguh warisan yang kurang menyenangkan bagi Biesheuvel.

Pieter Luzac tiba di Pangpang bulan Desember tahun seribu tujuh ratus tujuh puluh sembilan Masehi.

Melihat kenyataan itu maka Biesheuvel segera mengumpulkan semua pembantunya dan semua bekas pembantu Colmond. Gadis pengipas juga diwariskan oleh Colmond ketika ia meninggalkan Blambangan. Untuk orang Belanda perawakan Biesheuvel sebenarnya tidak terlalu tinggi. Gerakannya lebih lincah daripada Colmond. Ia memang lebih banyak tersenyum. Dari wajahnya tidak nampak pemberang. Mukanya halus tanpa kumis dan jenggot. Hidung mancung dan bermata biru.

"Tuan-tuan..." ia memulai pertemuan pertamanya. "Aku dan Schophoff serta Tuan Pieter Luzac adalah petugas baru di tempat ini. Sedang Tuan-tuan telah lama. Kami perlu mendapat tahu dari Tuan-tuan tentang banyak hal mengapa Blambangan menjadi daerah yang benar-benar mengerikan."

Baik Van Beglendeen sebagai seorang perwira maupun Sersan Kepala Bozgen yang mewakili para bintara saat itu menuding kesewenang-wenangan Colmond yang menjadi sebabnya. "Orang-orang Blambangan sama sekali tidak diberi napas," ujar Van Beglendeen. "Belum lagi pemerkosaan yang dilakukan terhadap perawan-perawan oleh Colmond."

"Nah, di Blambangan juga banyak orang-orang Cina.

Bagaimana dengan mereka?"

"Umumnya mereka adalah rekan dagang Tuan Colmond.

Kami tidak tahu banyak tentang mereka," Sersan Bozgen yang menjawab kini.

Ketiga orang pejabat baru itu terbelalak.

Namun Schophoff yang dalam duduknya tidak pernah bisa tenang karena gerah segera tertawa. Dan setiap kali mengawali atau mengakhiri kata-katanya Schophoff selalu tertawa. Kakinya selalu goyang jika duduk di atas kursi. Dan jika bicara selalu menggerak-gerakkan tangannya ke sana kemari seperti seorang pendeta yang sedang berkhotbah.

"Jika demikian kita akan bisa menggalang persaudaraan dengan Cina-Cina itu. Ha... ha... ha...," katanya.

"Baik. Kami senang sekali mendengar banyak keterangan dari Tuan-tuan. Sekarang apa pendapat Tuan-tuan supaya VOC berhasil di sini seperti di daerah-daerah lain di Jawa?"

"Kita harus hentikan kekerasan dan kita harus lebih mendekati para satria Blambangan. Kita minta mereka memperbaiki kehidupan sehingga kawula tenang bekerja kembali di sawah-sawah tanpa takut," Van Beglendeen memberikan saran. "Ada banyak satria, dan bangsawan Blambangan lainnya yang bisa kita ajak bekerja." Beglendeen menelan ludahnya. Kemudian menoleh pada Bozgen sebentar untuk kemudian melanjutkan.

"Seorang yang bernama Bapa Anti... Tentunya Tuan sudah dengar nama itu. Orang yang amat dapat dipercaya di samping semua satria yang saat ini bekerja sebagai pegawai Kompeni." Tiga orang itu, kecuali Schophoff, mengangguk-angguk. Sedang Schophoff tersenyum seperti menahan keinginan untuk tertawa. Kakinya tetap bergoyang-goyang.

Kemudian Biesheuvel menoleh pada yang lain-lain. Diam tanpa jawab. Biesheuvel menoleh pada Bozgen. Memberi tanda agar Bozgen memberikan sarannya.

"Kita wajib kembali memberikan makan yang baik buat para pekerja. Agar benteng-benteng segera selesai. Walau tinggal sedikit saja yang belum selesai. Namun ini kita utamakan. Jika tidak demikian kita akan sulit mencari pembantu-pembantu rumah tangga, maupun juru-juru masak bagi kepentingan tentara kita. Sebelum ini tidak ada permusuhan dari mereka. Namun setelah kita gagal membina persahabatan dengan mereka maka larilah mereka dari kita."

"Jika semua usul Tuan-tuan ternyata dapat memajukan VOC di Blambangan seperti daerah lain di Jawa ini, maka kami terima dengan baik. Nah, setelah pertemuan ini kita akan undang semua penguasa pribumi. Tuan Bozgen, suruh anak buahmu mengundang mereka agar berkumpul di Lateng."

"Baik, Tuanku."

Perundingan berjalan panjang. Dan setelah melalui beberapa kali istirahat dan makan sederhana, mereka menyelesaikan perundingan. Ditutup oleh Biesheuvel dengan permintaan agar semua orang bekerja baik-baik demi kemajuan VOC yang membayar mereka.

Hari itu Repi memang sedang berada di loji Bozgen. Sejak perkawinan mereka di Probolinggo, dia sering tidur di loji.

Dengan senyum ia menyambut dan membukakan pintu bagi Bozgen.

"Malam amat? Apa saja yang dibicarakan? Aku sampai resah. Takut kalau kau berbelok ke rumah gadis lain."

Bozgen tertawa lirih, kemudian mencium pipi Repi. "Cemburu?"

"Dulu tidak. Tapi sekarang?"

Bozgen melepas sepatunya. Kemudian ke kamar mandi sementara Repi menyiapkan anggur dan makanan kecil di meja kecil dekat tempat tidur mereka.

"Kapan kita punya anak?" tiba-tiba Bozgen bertanya sambil merebahkan diri.

"Sudah ingin punya anak?" Repi tertawa lirih sambil mempermainkan bulu-bulu di dada Bozgen dengan jari- jemarinya yang runcing bagai duri itu.

"Yah..." Bozgen menatap istrinya.

"Tuhanmu belum memberikan anak pada kita..." Repi kembali tertawa lirih. Kini ia merebahkan kepalanya di dada Bozgen. Ia ingin mendengar kata hati Bozgen. Anak? tanya Repi pada hatinya sendiri. Benarkah orang ini ingin punya anak? Aku yang belum ingin. Dan memang itulah kata hati Repi yang sebenarnya. Maka ia sering meminum jamu nanas muda serta ramuan lain. Bahkan jika hatinya ragu maka ia pergi ke tukang pijit untuk memijit perutnya, agar tidak dibuahi oleh benih Bozgen. Apa kata orang jika ia beranak bule?

"Tapi malam ini aku benar-benar gelisah. Apa sih yang dibicarakan? Jangan-jangan residen baru ini sama rakusnya dengan Colmond."

"Tidak..." Kemudian Bozgen menceritakan semua pembicaraan pada perundingan itu.

"Ah... kau suamiku. Belalah kawulaku yang miskin. Kasihan mereka "

"Jangan khawatir, manis "

0oo0 Berbeda di Pangpang atau Lateng, berbeda pula di Songgon. Mas Rempek benar-benar merasakan itu. Di sini ia tidak mendengar tangisan bocah yang melolong-lolong karena lapar di waktu pagi.

Sepanjang jalan sawah menguning dan semua orang, laki- perempuan, berbagi suka dan duka bersama. Tiada wajah mendung. Cuma sebuah padepokan. Kenapa ini tidak merata ke seluruh Blambangan? Apakah benar panen selalu gagal di Blambangan karena penguasa mereka telah memunggungi leluhur mereka? Sedangkan di Songgon orang patuh pada Hyang Maha ciwa? Ia menjadi iri.

Di Pakis orang tetap menyembah ciwa. Tapi tetap saja tidak ada keceriaan seperti di Songgon. Apa rahasianya? Ah... mungkin karena orang Songgon tidak terjamah VOC. Tidak membayar pajak. Tidak mempersembahkan upeti. Ah... betapa indahnya jika kawula Blambangan bisa kembali berbagi tawa seperti di zaman Wong Agung Wilis....

Resi Ropo menyambutnya di pendapa sebagaimana biasa. Kali ini Rempek harus memberikan suatu keputusan pada Resi Ropo. Ia telah mengambil keputusan untuk setuju dengan semua saran Resi Ropo dan bersedia menjadi murid Rsi itu.

"Sungguhkah itu?" tanya Resi menyelidik. "Ya. Hamba berjanji."

"Baik. Jika demikian Yang Mulia sekarang harus mulai menyusun kekuatan. Memulihkan kebesaran Blambangan tidak mungkin cuma dengan kata-kata. Tapi juga harus dengan kekuatan senjata."

"Yang Tersuci memaksudkan supaya hamba menyusun laskar?"

"Ya."

"Hamba tak punya uang untuk membiayai mereka. Hamba juga tak tahu dari mana mendapatkan senjata." "Ha... ha... ha..." Resi tertawa. "Bumi Blambangan menyediakan makanan bagi tiap orang. Tapi makanan itu lebih banyak diberikan pada si bule dan orang-orang yang tidak meneteskan keringatnya. Yang Mulia sendiri seharusnya juga meneteskan keringat buat tiap suap nasi yang masuk ke mulut Yang Mulia. Namun Yang Mulia selama ini cuma minta dan minta dari orang-orang tak berdaya."

"Yang Tersuci..."

"Yang Mulia menanyakan dari mana hamba makan? Yang Mulia akan menerima jawaban bila Yang Mulia tinggal di tempat ini barang lima hari."

"Jagat Dewa! Yang Tersuci juga bekerja di sawah?" "Kenapa tidak? Brahmana yang baik bukan cuma mampu

memberikan khotbah dan nasihat. Tapi juga mampu melakukan apa yang diucapkannya sendiri."

"Jagat Bathara!" Rempek benar-benar kaget. Dengan kata lain juga punya laskar, karena dia juga menasihatkan pada Rempek agar membangun laskar. Dan tidak ada laskar tanpa senjata. Dari mana? Tentu tidak mudah untuk mendapatkan keterangan.

"Baiklah, Yang Tersuci. Hamba percaya dan hamba akan mencoba. Tapi bagaimana caranya hamba harus mendapatkan senjata bagi orang-orang Pakis?"

"Karena Yang Mulia sudah berjanji, maka ingat, setiap pengkhianatan akan dibayar dengan leher. Tapi saat ini Yang Mulia belum bisa mengambil sendiri senjata itu. Yang Mulia akan menerima di istana Yang Mulia."

"Orang mengantar ke sana?" "Ya."

"Jagat Dewa! Itu bahaya. Dengan mudah akan diketahui Belanda!" "Jangan takut. Penjaga Yang Mulia sendiri tidak akan tahu."

Hati Rempek berguncang keras. Bagaimana mungkin penjagaku sendiri tak akan tahu? Punya ilmu apa Resi Ropo ini? Begitu tinggikah ilmu sihir Resi Ropo?

"Tetapi ingat, Yang Mulia. Jika itu sudah terjadi, walaupun Yang Mulia pada kenyataannya bekerja pada Belanda, sebenarnya Yang Mulia adalah punggawa dari Yang Mulia Wilis yang saat ini menjadi junjungan setiap orang Blambangan.

Karena itu jika Yang Mulia ingkar pada janji dan tidak setia pada Blambangan, jangan heran akan kedatangan mertalutut dengan tiba-tiba di istana Yang Mulia sendiri."

"Baik, Yang Tersuci." Hati Rempek berdebar. Kemudian timbul pertanyaan baru dalam hatinya, mungkinkah yang membuat kematian orang-orang Belanda di benteng-benteng saat ini juga mertalutut Wilis? Benar-benar teka-teki.

"Sekali lagi hamba seorang brahmana. Bukan hak hamba memberikan senjata itu. Hamba akan menyerahkan pada satria lainnya yang juga ingin membangun kembali cakrawarti (kejayaan,dalam hal ini bisa juga berarti citra) Blambangan."

"Satria..."

"Ya, peperangan bukan kewajiban brahmana. Tapi satria. Jadi Yang mulia tidak sendiri. Tunggu waktunya. Asal Yang Mulia benar-benar setia maka Yang Mulia akan tahu mereka satu-satu."

"Baiklah, Yang Tersuci. Jadi tugas hamba adalah membangun laskar di Pakis."

"Bukan cuma di Pakis. Jika perlu di seluruh wilayah Blambangan. Sehingga jika saatnya tiba, maka dengan mudah Yang Mulia memukul VOC di seluruh Blambangan. Tapi kerjakanlah dengan hati-hati dan teliti. Jangan mudah percaya pada orang yang ada di seputar Yang Mulia sendiri. Bahkan pada istri sendiri sekalipun. Apalagi istri Yang Mulia ada tiga orang. Hamba khawatir di antara mereka malah ada yang iri hati dan bersaing untuk memperebutkan cinta Yang Mulia."

Bukan main pandita satu ini, pikir Rempek. Dia tahu sampai sekecil-kecilnya tentang diriku. Dan "Sampai pulang ia belum mampu memecahkan teka-teki dari mana pandita itu bisa tahu segala? Inikah kelebihan brahmana dari seorang satria? Tapi tentunya tidak ada pengetahuan yang turun begitu saja dari langit. Resi Ropo pasti mendapatkannya dengan jerih-payah. Resi bukan hanya berani dalam kata-kata, tapi ternyata memiliki kecermatan seperti prajurit. Dari mulutnya ia pernah mendengar nama lain disebut kala Repi datang untuk minta pendapat pandita itu. Mas. Ayu Prabu dan Sayu Wiwit.

Sepertinya ia pernah mendengar nama Mas Ayu Prabu. Bukankah ia putri Wong Agung Wilis? Ia mencoba mengingat dalam perjalanannya pulang. Walau ia belum pernah melihat orangnya, ia pernah juga mendengar nama itu. Lalu apa hubungan pandita Songgon itu dengan Mas Ayu Prabu? Di mana Ayu Prabu sekarang? Aku akan mencoba bertanya pada Repi. Tapi bagaimana bisa bersua dengan Repi? Tidak gampang bersua dengan perempuan Islam. Mereka dilarang menerima tamu seorang lelaki. Apa akal? t

Tapi jika Rsi Ropo tahu aku menyelidikinya, bisa bahaya.

Apa bukan dia sendiri sebenarnya yang bernama Wilis? Kenapa Blambangan kini penuh dengan teka-teki? Bingung. Itu membuat ia sulit tidur. Istri tertuanya, Ni Ayu Manikem, curiga. Jangan-jangan Rempek jatuh hati pada wanita baru lagi. Sebab begitulah kebiasaan Rempek jika sedang gandrung dan akan kawin lagi. Tapi kali ini perkiraan Manikem keliru.

Rempek gelisah akan menerima tamu yang mengantarkan senjata padanya. Jika ketahuan? Bukankah bisa celaka seluruh keluarga di Pakis?

Sebenarnyalah bagi kawula Blambangan tidak mudah untuk mendapatkan senjata. Walau Mas Ramad menghimpun banyak pandai besi yang dapat menempa baja menjadi senjata, tapi mereka sukar membuat bedil sendiri. Jika Belanda tahu maka akan memancing kecurigaan yang membahayakan. Mas Ramad tahu bahwa mereka sedang mempersiapkan diri. Jika persiapan belum matang tapi peperangan sudah datang, maka itu akan sangat tidak menguntungkan. Jalan keluarnya ialah berusaha membeli senjata. Itu sebabnya Mas Ayu Prabu ditugaskan untuk pekerjaan itu. Karena memang dialah Kepala Dinas Rahasia Bayu. Dan tentu saja itu bukan pekerjaan ringan.

Itulah sebabnya Mas Ayu Prabu sering menghubungi Tha Khong Ming baik di kedai yang memang semua pelayannya adalah anak buah Mas Ayu Prabu, maupun di rumah Tha Khong Ming, Mas Ayu atau Sayu Wiwit belum berani menunjukkan pusat kegiatannya, dusun Sempu. Apalagi jika ditanya tentang Wilis, maka ia akan selalu mengelak.

Demikian juga kala siang itu Tha Khong Ming menanyakan Mas Sratdadi.

"Sampai sekian lama hamba di Blambangan, belum pernah bersua dengan beliau. Padahal tugas Hamba dari Yang Mulia Wong Agung Wilis adalah menemui beliau."

"Hyang Dewa Ratu, tidak cukup dengan hamba atau Kanda Mas Dalem Puger?" Ayu Prabu tersenyum.

Mata sipit Tha Khong Ming berkedip-kedip penuh makna. Senyum Mas Ayu mampu merapuhkan iman lelaki mana pun.

"Bukan begitu, Yang Mulia...," katanya sambil menyodorkan daging babi panggang di meja ke dekat Ayu Prabu yang sengaja datang dengan tanpa pengawalan siapa pun. Tidak dengan Sayu Wiwit. Karena gadis itu mempunyai tugas sendiri.

"Hamba takut dianggap menyalahi tugas yang dipercayakan sekian lamanya." "Sejak kapan Ramanda tidak mau dengar Mas Ayu Prabu?" kembali gadis itu memamerkan deretan mutiara di sela bibirnya. Rapi berbaris. "Katakan pada Ramanda, Kanda Sratdadi sedang sibuk berperang. Tak ada kesempatan menghirup harumnya arak dan indahnya rembulan. Kakanda mohon ampun."

Muka Tha Khong Ming berseri menyusul suara tawa ramah seraya berkata,

"Jika Yang Mulia Sratdadi tidak berkenan menjumpai hamba di Lateng, baiklah hamba ingin menghadap beliau. Di mana beliau berada. Itu yang jadi soal."

"Maafkan aku, Tuan." Kini Ayu menatap wajah tampan di hadapannya itu dengan tajam.

Ah... hati Tha Khong Ming jadi berdesir. Mata itu tak ubahnya bintang kejora.

"Bukannya kami tidak percaya, tapi Kanda Sratdadi memang aneh. Jangankan orang lain. Kami sendiri sukar menjumpainya. Beliau datang sebentar lalu menghilang lagi. Cuma sebentar."

"Ah... maaf, Yang Mulia, hamba terlalu mendesak. Inilah beratnya memikul beban dari seorang yang hamba kagumi."

Keduanya tertawa ramah. Para pelayan tidak ada yang berani mendekat jika tidak dipanggil. Bahkan ruangan itu sepi dari pelayan. Jika Tha Khong Ming memerlukan, mereka dipanggil melalui jendela kecil di dinding yang berhadapan dengan Mas Ayu.

"Hamba senang bersahabat dengan Yang Mulia. Wong Agung juga senang mendengar berita tentang Yang Mulia."

"Terima Kasih. Tapi saat ini ada yang hamba ingin pinta dari Ramanda. Hamba percaya beliau lebih mudah mendapatkannya." "Apa yang dikehendaki "

"Senjata dan peluru "

"Sudah hamba duga, Yang Mulia. Sebenarnyalah hamba sendiri sudah berpikir tentang itu. Sebagai sahabat tentunya hamba ingin mempersembahkan sesuatu sebagai tanda persahabatan kita ini. Bukan suap, Yang Mulia. Sungguh- sungguh hamba ingin kita bersahabat secara tulus."

"Persahabatan tulus hanya bisa terbina jika manusianya dipersatukan dalam satu kepentingan yang sama."

"Oh... jadi "

"Ya, jika kepentingan kita berbeda maka persahabatan itu akan menjadi semu."

Gila! pikir Tha Khong Ming. Cerdas juga gadis ini. Tidak menyesal Wong Agung memiliki anak seperti ini. Dan kekaguman Tha Khong Ming kian merambat naik.

"Baik, lepas dari semua kesimpulan Yang Mulia, tapi saat ini hamba memiliki dua ratus lima puluh pucuk senjata laras panjang bikinan Inggris. Soalnya tinggal bagaimana mengangkutnya."

Bukan main orang ini. Punya senjata sebegitu banyak?

Bukan cuma ingin mencari kekayaan di Blambangan. Rupanya juga ingin membangun laskar? Untuk apa? Merampok seperti Kompeni? Inilah belang sebenarnya dari kekuatan modal.

Mula-mula ingin berdagang. Lama-lama ingin menguasai. Tapi ia tidak peduli. Sekarang ia diperintahkan mencari senjata.

Bukankah orang-orang disekitar Tha Khong Ming adalah anak buahnya? Namun demikian ia tahu gemerincingnya uang akan membelokkan kesetiaan mereka.

"Senang sekali menerima hadiah itu. Lalu dengan apa kami akan membalasnya?" Kembali Mas Ayu memamerkan lesung pipitnya. "Sahabat yang baik tidak membutuhkan balas bagi apa pun yang telah dikorbankannya bagi seorang sahabat."

"Terima kasih, Tuan. Kami akan mengambilnya besok dan...?"

"Beri kesempatan hamba mengantar ke tempat Yang Mulia "

"Tidak keberatan?"

"Dengan senang hati." Cina ini berharap mengetahui tempat tinggal Mas Ayu. Siapa tahu jika ada waktu senggang bisa berembuk soal-soal pribadi.

"Baik, Tuan. Hamba tunggu di Pakis. Sudah tahu? Tapi lebih baik Tuan mengawasi dari jauh saja. Nanti begitu masuk ke tanah perdikan Pakis ada rombongan gandrung (kesenian tari-tarian di Blambangan) yang akan menjemput. Mereka akan bertindak sebagai pemandu bagi rombongan Tuan agar bisa masuk ke tempat di mana kami menyimpan senjata itu."

"Hamba akan perhatikan semua petunjuk ini." Mata sipit itu semakin berbinar. Dan kala ia menyodorkan arak wangi dari Cina Mas Ayu menolaknya dengan halus.

"Maafkan, bukan menolak persahabatan Tuan. Tapi hamba sedang bertugas. Nah, hamba akan segera pergi untuk mengatur penyambutan bagi Tuan besok. Yah, senja hari hamba menunggu di tapal batas tanah perdikan itu."

Bukan main kaget Tha Khong Ming. Gadis ini benar-benar menjaga dirinya agar tidak mabuk.

"Tunggu sebentar, Yang Mulia. Ada bingkisan buat Yang Mulia secara pribadi. Jangan tolak ini." Kemudian Tha Khong Ming bergerak lincah membuka pintu, dan keluar lagi membawa dua kotak kayu yang berukir. Yang satu dipelipit emas di sudut-sudutnya. "Nah... ini untuk Yang Mulia. Satunya ini untuk Yang Mulia Sayu Wiwit."

"Apa ini?" gadis itu memperhatikan wajah Tha Khong Ming lalu membetulkan letak cundriknya.

"Tentu saja bukan ular dan kalajengking. " Pemuda Cina

itu terbahak-bahak. Kemudian dengan amat ramah ia mengantar Mas Ayu ke pintu gerbang. Namun demikian hatinya berdoa, kapan aku bisa lebih leluasa berbicara dengannya? Dari ke hari, gadis itu menghias dinding hatinya. Dan ia mulai memperbandingkan dengan gadis-gadis sebangsanya yang pernah ia temui. Ah rasanya tak ada

yang sebebas dia. Mungkin cuma mereka yang pandai silat. Atau gadis ini juga pandai silat? Memiliki keberanian yang luar biasa. Tapi umumnya orang yang ia temui di sini begitu bebas bicara. Senang bergaul dengan siapa saja.

Mas Ayu Prabu tidak langsung pulang ke Sempu. Tapi ia berkuda ke Songgon. Kuda hitam berpetak putih di kepalanya itu seperti tak pantas dikendarai oleh seorang gadis molek seperti Ayu Prabu. Tentu orang akan bertanya apakah tidak akan lecet tangannya yang halus itu memegang tali les (kendali). Tapi semua pertanyaan itu sirna begitu perawan itu melompat di atasnya. Dengan sangat berani Ayu Prabu menempuh hutan-hutan. Sebab ia tidak ingin melewati gardu penjagaan pasukan Madura dan Kompeni. Karena itu pula ia harus berani menerjuni jurang-jurang dan melompati banyak rintangan. Kini ia menembus hutan ke utara. Berbelok ke barat.

Duri rotan bukan halangan untuk mencapai Songgon sebelum mentari tenggelam. Ia harus mendengar laporan Sayu Wiwit. Ia harus mencari seorang gadis penari yang wajahnya mirip Sayu Wiwit dan akan bertindak sebagai Sayu Wiwit. Dan Sayu Wiwit harus melatih gadis itu sebaik mungkin. Langkah yang dianggap lucu oleh Sayu Wiwit. Ini mengundang kekhawatirannya. Jangan-jangan yang dihadapinya adalah Mas Ayu yang palsu. Sayu Wiwit tersenyum sendiri. Apa rencana Mas Ayu ini?

Siapa yang jadi penabuh? Tentu orang Sempu. Semprul jadi pengendangnya. Ia memang terlatih untuk itu. Angklung yang penyangganya dihias dengan kayu yang diukir gambar Antareja ditabuh oleh Bence, angklung yang penyangganya dihias dengan gambar Gatotkaca ditabuh oleh Da-res, sedangkan gong ditabuh oleh Nuri. Dan ada peralatan lain yang masih harus ditabuh oleh beberapa orang.

Ketika mentari condong ke barat, Mas Ayu Prabu benar- benar telah sampai di Songgon. Ia tidak menuju ke padepokan. Tapi ke sebuah rumah yang juga cukup besar di ujung selatan desa itu. Semua yang akan bertugas besok sudah menunggunya. Keringat dan debu menyelimuti seluruh tubuhnya. Demikian pun kudanya.

"Dirgahayu!" katanya begitu memasuki ruangan. Dan semua orang membalasnya dengan ucapan "Dirgahayu", yang juga berarti doa agar panjang umur. Mas Ayu tidak mandi terlebih dulu.

"Aha... bagaimana, Sayu Wiwit?"

"Hamba telah mendapatkan. Ini dia Ni Marmi. "Bagus. Ni Marmi sudah berlatih?" gadis itu bertanya

langsung pada Marmi.

"Hamba, Yang Mulia," Marmi menyembah. Ia telah diberi tahu siapa Mas Ayu.

"Baik sekali. Untuk semua? Apa sudah tahu tugas masing- masing? Kau, Semprul, yang akan menjadi kepala rombongan?"

"Hamba, Yang Mulia."

"Aku dan Sayu Wiwit akan mengawal kalian. Nah, kala di batas kota kalian akan bergabung dengan pembawa senjata itu. Tha Khong Ming memimpin sendiri rombongan itu. Jika Ming bertanya tentang aku, katakan bahwa aku di dalam puri. Di gerbang puri kalian harus berhenti sebentar. Bunyikan gendang. Beri tahu pada penjaga bahwa kalian sudah dibayar oleh Mas Rempek. Rempek akan menunggu kalian. Dan jika di depan Rempek Khong Ming menanyakan aku, katakan bahwa aku tidak ingin menemuinya di istana Rempek. Katakan, aku akan menunggu dia satu minggu lagi di kedai di Sumberwangi."

"Hamba, Yang Mulia."

"Perlu kauketahui bahwa Rempek belum mengenal aku. Tha Khong Ming belum kenal Rempek dan tidak tahu bahwa senjata itu untuk Rempek. Ingat tugas kalian adalah mengantar senjata. Kalian adalah orang-orang sandi!"

"Hamba, Yang Mulia."

"Nah, aku akan menghadap Rsi lebih dulu. Kita perlu mohon doa restu beliau. Agar perjalanan kalian selamat."

Kudanya sudah enggan melangkah kala Mas Ayu naik kembali. Namun kepatuhan kuda itu memang teruji.

Sepertinya ia sudah menyatu dengan jiwa tuannya. Kendati keremangan telah turun. Kawula Songgon tidak menyambutnya. Namun semua orang tidak berusaha menghadangi nya kala ia melangkah lamban. Ya kuda itu seperti sudah kehabisan tenaga. Lamban. Seperti takut terperosok ke dalam lumpur. Masuk regol pun tidak seorang cantrik pun menghadangnya. Bahkan mereka menghormat. Ia cuma membalas, mereka dengan senyuman.

Ia turun di samping pertapaan. Terus ke perigi dan mandi.

Menyegarkan tubuh. Kepalanya juga ikut segar. Salah satu tugas yang dibebankan padanya hampir mendekati penyelesaian. Ia tak usah berpikir bagaimana caranya Tha Khong Ming membawa senjata itu ke Pakis. Tentunya Tha Khong Ming bukan orang sembarangan. Ia mampu menerobos barisan penjaga pelabuhan dengan mudah. Tentu ia akan mampu membawa barang-barang itu ke Pakis.

Setelah tubuhnya segar kembali ia membawa kudanya ke istal dan menyerahkan kudanya untuk diberi makan oleh penjaga kandang itu. Setelahnya ia menjumpai Rsi Ropo di ruang tengah. Tidak seorang pun melarangnya. Membuktikan bahwa ia sudah terbiasa masuk ke sini.

"Dirgahayu, Kanda. Sembah untuk Yang Tersuci," ia menyembah.

"Dirgahayu, Adikku. Duduklah." Rsi menyodorkan sirih pada adiknya. Memang sukar dikenali jika tidak diteliti sungguh- sungguh.

"Ah, Kanda, Tha Khong Ming mendesak terus untuk bersua dengan Kanda."

"Ha... ha... ha... Kita harus pandai-pandai menjaga diri.

Sebab kekuasaan di tangan musuh. Bukan mudah membangunkan kawula yang terus-menerus kalah."

"Tapi sekarang ini kebencian pada VOC kian meradang." "Itu belum berarti mereka mau kita ajak mengusir VOC,"

kembali Ropo menerangkan. "Kita tahu mereka banyak yang

menyingkir ke hutan. Dan apa yang mereka lakukan untuk mempertahankan hidup mereka? Tidak kurang-kurang yang menjadi perampok. Artinya mereka menjadi momok bagi sesama kawula. Sesama sudra yang juga diinjak oleh Kompeni."

"Jadi bagaimana dengan keinginan Ayahanda?" . "Aku percaya Ayahanda bukan orang tolol. Kekalahan

adalah guru terbaik. Jika Tha Khong Ming memang memaksa, aku hanya akan menjumpai dia sebagai Rsi Ropo. Dan bukan sebagai Sratdadi." Keduanya tertawa. Dan kemudian mereka merundingkan bagaimana caranya membuat kawula Blambangan bangkit kembali melawan Belanda.

"Semula hanya Ramanda yang dapat memimpin seluruh kawula Blambangan," Mas Ayu berpendapat. "Hamba lihat Kanda pun mampu untuk itu. Tapi mengingat Kanda sudah menjadikan diri brahmana, maka tidak layak jika Kanda sendiri yang memimpin."

"Cukup Wilis di Raung. Ia mumpuni. Tapi karena keadaan sekarang lebih sulit daripada zaman Ramanda, maka kita perlu membuat Wilis lebih banyak."

"Bagaimana mungkin?"

"Kau mampu menciptakan Sayu Wiwit lebih dari satu. Kenapa tidak bisa bikin Wong Agung Wilis juga lebih dari satu?"

Keduanya tertawa lagi. Setelah itu Mas Ayu menceritakan betapa Tha Khong Ming mulai tertarik padanya. Ia mulai menghadiahkan sesuatu untuk dia dan Sayu Wiwit. Mas Ayu mengambil kotak pemberian Khong Ming dan membuka untuk melihat isinya. Sudah diduga sebelumnya bahwa isinya adalah perhiasan. Tapi kali ini membuat keduanya betul-betul terkejut. Kalung mutiara serta gelang emas. Bukan cuma itu, kutang rantai emas yang kala itu biasa dipakai hanya oleh permasuri raja-raja Ciwa. Gila! Dari mana Tha Khong Ming membeli ini? Dan tentunya Tha Khong Ming sudah sangat berpengalaman memberikan hadiah pada wanita-wanita.

"Ini membuat kita harus semakin hati-hati padanya, Ayu." "Hamba, Kanda."

"Seorang yang mulai bangga dengan pujian dan senang akan segala hadiah, ia mulai meletakkan kakinya di lumpur kehinaan." Ropo menggaruk-garuk jenggotnya yang tidak gatal dengan telunjuknya. "Hamba, Kanda."

"Ingat-ingat ini, Ayu! Bukan aku melarang kau menerima hadiah dan sanjungan. Kau tak akan bisa menghindarinya. Itu kodrat karena Hyang Maha Dewa menganugerahkan padamu wajah cantik seperti itu. Dan kodrat pula setiap lelaki memuji dan menyanjung wanita cantik. Tapi jangan lupa semua itu dengan satu tujuan. Menyeretmu ke tempat tidur! Kau boleh jinak tapi tidak berarti boleh menyerah!"

"Hamba, Kanda."

"Aku juga tidak melarang jika suatu ketika kau jatuh cinta padanya. Cinta adalah kodrat yang juga sukar dikebaskan dari kehidupan kita. Cinta adalah kebutuhan yang tidak nampak.

Namun itu tidak boleh membuat kau mengesampingkan cinta akan negeri yang sedang membutuhkan uluran tanganmu ini."

"Hamba, Kanda," Ayu membenarkan semua perkataan kakaknya dan ia berpikir sudah cocok kakaknya menjadi seorang brahmana. Maka ia menyatakan pendapatnya itu. Disambut dengan gelak terbahak. "Aku seorang rsi! Dan aku pandita! Tapi bukan seorang begawan. Ha... ha... ha... satria yang membrahmanakan diri harus mampu mengatasi banyak kesukaran. Dari berpakaian pun sudah merupakan kesukaran. Apalagi bertingkah laku." Kembali keduanya bergelak. Setelah melaporkan apa yang akan mereka lakukan esok, Ayu berpamitan. Ia akan menyampaikan hadiah Tha Khong Ming pada Sayu Wiwit.

Kegelapan sudah merajai alam. Namun itu tak membuat Ayu sulit mencari pondokan di mana Sayu Wiwit menginap. Karena rumah itu memang disediakan untuk mereka jika sedang datang. Kebiasaan memang memudahkan segala- galanya. Memang memerlukan kewaspadaan yang lebih dari biasanya. Namun Ayu Prabu sudah menerima latihan cukup sebelum mendapat tugas sebagai kepala sandi Bayu. "Dirgahayu, Yang Mulia." Sayu Wiwit membuka pintu begitu mendengar langkah Ayu Prabu.

"Ah, belum tidur?"

"Yang Mulia lebih letih dari hamba. Tapi Yang Mulia juga belum istirahat."

"Pengabdian tidak mengenal lelah. Ingat, kita sedang berperang."

"Suatu semboyan untuk menghilangkan kelengahan." "Kelengahan mengundang macam-macam bahaya." Mas

Ayu mencuci kaki dan setelah itu langsung menuju tempat

tidur. Sayu Wiwit memandangnya penuh keheranan. Ayu membawa dua kotak. Yang satu lebih besar dari lainnya.

"Sayu...," panggil Ayu waktu merebahkan diri di tempat tidur yang terbuat dari bambu dan beralas tikar pandan itu.

"Hamba, Yang Mulia," jawab gadis itu sambil mendekat. Ia sempatkan pula mengambil pelita untuk menambah penerangan dalam kamar tidur. Mungkin saja Ayu Prabu ingin membaca lontar seperti biasanya jika mereka pergi tidur. Baca lontar sebagai pengantar tidur.

"Tha Khong Ming memberi hadiah pada kita. Kau yang ini." Ayu Prabu menyerahkan kotak yang lebih kecil. "Aku tidak memilih-milih, Sayu. Itulah memang bagianmu menurut Tha Khong Ming."

Ketika Sayu Wiwit membuka kotak itu ia pun terkejut. "Jangan kaget, Sayu. Dan jangan ditolak. Itulah lelaki. Jika

sedang menginginkan sesuatu dari kita maka mereka

membuat kita melambung ke langit. Tapi di balik itu mereka menyediakan lumpur kubangan yang busuk."

"Tapi hamba tidak memerlukan itu, Yang Mulia. Hamba seorang sayu."( wanita yang disucikan demi kepentingan keagamaan Ciwa) "Cuma orang yang mengerti dan mau mengerti dapat menghargai kesucian. Tapi lelaki tidak mau mengerti apa arti namamu. Tidak akan mau tahu kekudusan. Sebab mereka lebih banyak dikuasai nafsu untuk menyeret kita ke atas tempat tidur."

"Nah... kita kembalikan dan..."

"Tha Khong Ming tidak memerlukan penjelasan itu. Ia cukup tahu. Karena ia cukup lama berkelana di Bali. Dan tidak perlu malu menerima ini. Kita wanita yang sama dengan Repi. Sama dengan Marmi. Kita memerlukan perhiasan ini untuk memperindah tubuh kita. Jangan lupa, indah itu menyenangkan. Buta jika tidak sependapat dengan ini."

Sayu Wiwit tertunduk. Menimang-nimang kalung dan gelang emas yang baru ia miliki saat ini.

"Itu sebabnya aku menciptakan Sayu Wiwit baru. Kau harus kudus sampai waktu yang ditentukan. Padahal siapa yang tak pernah dengar itu Rempek? Aku memberimu tugas. Namun aku harus menjagamu. Kecuali jika kau sendiri yang menghendaki karena kau sudah membutuhkan..."

"Ah..."

"Kita tak perlu ingkar. Saatnya kita memerlukan cinta. Itu kodrat. Semua, sekali lagi semua yang di bumi ini membutuhkan cinta. Siapa bilang binatang tak membutuhkan cinta? Kerbau dan anjing, bahkan ayam pun sering kita lihat terlibat dalam perkelahian karena cemburu. Cemburu pada binatang adalah penampilan cinta yang sederhana. Sangat sederhana bahkan."

"Hyang Dewa Ratu, begitu jauh Yang Mulia meneliti sesuatu kejadian."

"Jika kita ingin menjadi bijak kita harus meneliti semua kejadian dan gejolak alam." Ayu membaringkan diri. Dengan kasih Sayu Wiwit memijit- mijit kakinya. Ia pandangi langit-langit dan melirik mengelilingi ruangan. Banyak jalur-jalur sarang labah-labah. Debu juga bertempelan di mana-mana. Ah... tidak pernah dibersihkan.

Tiba-tiba saja suara hujan turun di luar rumah menghentikan nyanyian binatang malam. Makin lama makin lebat.

"Meneliti juga salah satu cara untuk belajar," lanjut gadis itu. Tanpa mempedulikan hujan.

Sayu Wiwit mengakui sekalipun ayahnya seorang brahmana tapi belum pernah memberikan pelajaran seperti yang diajarkan Ayu padanya. Ia tidak tahu bahwa anak-anak Wong Agung Wilis memang dipersiapkan. Kepergian mereka ke Raung bukan untuk melarikan diri dari peperangan. Tapi mempersiapkan diri. Siap secara pribadi maupun secara keseluruhan sarana perjuangan. Apalagi setelah mereka tahu ayah mereka yang begitu mereka hormati karena kemampuannya itu kalah. Maka Sratdadi sebagai putra tertua mengajak seluruh saudaranya bekerja dengan cara yang lebih cermat dan lebih banyak menggunakan laskar sandi.

Membangun kekuatan di bawah mata pasukan pendudukan bukanlah hal yang mudah.

"Setelah peristiwa pertemuan Sayu Wiwit itu dengan Rempek besok, maka kau harus siap. Karena namamu akan lebih banyak dikenal. Ingat, kau akan dikenal. Ingat, banyak orang ingin dikenal. Dan karenanya banyak yang berusaha untuk mencari nama. Nah, dalam mencari nama inilah... sekali lagi dalam usaha mencari nama inilah tak kurang-kurang yang menempuh jalan keliru. Ada berapa banyak manusia di Blambangan yang karena mencari nama menjual bangsa dan negaranya? Juga berapa banyak orang yang memamerkan keperempuanannya di depan umum untuk merangsang kelelakian?"

"Hyang Dewa Ratu! Kenapa manusia menjadi tidak takut lagi pada Hyang Maha Dewa? Bukankah itu meruntuhkan suatu peradaban yang telah disusun dan dibangun oleh leluhur kita?"

"Mendapat nama erat hubungannya dengan keenakan.

Setiap orang memburu keenakan. Siapa pun yang ingin keenakan pribadi akan terjerat oleh keinginannya sendiri. Maka ia akan melupakan nilai-nilai luhur dari suatu budaya. Bahkan cenderung ingin memusnahkannya. Dan setiap orang akan dijerat oleh keinginan hatinya sendiri."

"Hyang Dewa Ratu!"

"Karena itu bersiaplah! Tugasmu akan lebih' berat. Karena nama itu. Nama akan membuat hati berbunga-bunga. Tapi juga merupakan tanggung jawab. Kau bisa pertahankan nama itu dengan karya dan darma. Sebab tiap orang mendapatkan nama itu hanya dengan karya dan dharma."

"Hamba, Yang Mulia." - "Masih ada setengah hari besok untuk memperr siapkan Marmi. Sendiri aku akan mempersiapkannya. Sekaligus membentuk hatinya agar menjadi setia pada kita."

"Hamba, Yang Mulia."

"Kita istirahat. Memulihkan tenaga kita." "Hamba, Yang Mulia."

Tha Khong Ming tentu tidak bisa berpakaian seperti layaknya orang Blambangan. Kulitnya tidak bisa disembunyikan. Karena itu ia berpakaian seperti orang Madura. Bersama sepuluh orang pemikul barang ia berangkat membawa pesanan Ayu Prabu ke Pakis. Lima puluh depa di muka ia menempatkan seorang pemandu dan seorang pembawa kerincingan besi. Dengan maksud jika melihat sesuatu yang membahayakan maka ia akan menabuh kerincingan besi sambil meneriakkan, "Pijit! Pijit!" seolah dia menawarkan pijit pada orang. Sedang dua puluh lima depa di belakang pemandu tersebut-ada dua orang lagi yang akan berusaha menarik perhatian atau melakukan apa saja yang menghambat musuh yang mungkin akan berpapasan, memberi kesempatan pada para pemikul untuk bersembunyi dalam semak. Sedangkan Tha Khong Ming berjalan dua puluh lima depa di belakang mereka. Pemandu sudah tahu persis mana daerah penjagaan dan mana yang bisa dilalui. Sekalipun mereka berangkat pada dinihari sebelum ayam berkokok namun baru sampai di tapal batas Pakis pada waktu mentari telah condong ke barat. Tha Khong Ming menghitung berapa jarak yang telah ditempuhnya? Barangkali ada empat puluh lima ribu depa. Hanya karena ingin tahu secara pasti di mana Ayu Prabu tinggal, ia harus menempuh perjalanan yang begitu jauh dan melelahkan. Ia bertanya pada dirinya sendiri.

Mungkinkah aku sudah jatuh cinta? Atau ini awal dari jatuh cinta sehingga aku ingin tahu banyak tentang dia.

Bukan cuma jarak yang menjadi persoalan dalam perjalanan itu. Tapi perondaan yang sewaktu-waktu bisa saja muncul di tengah hutan. Karena itu mereka harus sangat waspada. Apalagi jika sedang melewati tikungan. Tapi untung si tukang pijit sangat pintar. Acapkali mereka pura-pura menanyakan alamat seseorang yang sudah memesan sang tukang pijit untuk datang. Maka kesempatan menjadi cukup bagi para pemikul untuk masuk semak-semak.

Dan para peronda sendiri tidak begitu suka terlalu lama di hutan-hutan. Bau busuk bangkai dari orang-orang yang kelaparan atau teraniaya pada masa Colmond masih mewarnai hutan-hutan lebat di Blambangan. Itu yang menyebabkan banyak peronda takut masuk hutan. Dan itu melicinkan jalan rombongan Tha Khong Ming. Apalagi disertai gerimis yang sering turun. Kompeni tidak ingin menjadi pilek. Mereka berpendapat bahwa orang Blambangan tidak mungkin berani melakukan sesuatu mengingat kematian teman-teman mereka yang begitu banyak. Kini Khong Ming telah benar-benar tiba di batas kota Pakis. Dan ia melihat Sayu Wiwit berpakaian seperti penari. Maka ia memberi hormat dan wanita muda itu juga membalas sambil senyum. Sesuai dengan petunjuk Ayu Prabu, Khong Ming tidak boleh terlalu dekat dengan rombongan penari itu. Namun para pemikul senjata dalam kotak-kotak kayu itu diminta bergabung. Khong Ming menyusul dalam beberapa jarak sampai di depan kediaman Mas Rempek. Dipagari tembok setinggi dua depa. Dan ada penjagaan di gerbangnya.

Semprul menabuh gendangnya keras-keras. Seorang penjaga segera mendekati setelah angklung juga dibunyikan.

"Apa maksud kalian menabuh di sini?"

"Maaf, Tuan. Kami sudah ada janji dengan Yang Mulia Rempek beberapa waktu lalu. Karena itu kami hanya akan mengingatkan."

"Sudah berjanji? Beliau menyuruh kalian datang?" Penjaga itu agak takut. Ia tahu Rempek suka sekali dengan gandrung.

"Masuk! Masuklah! Terus ke pendapa!" "Terima kasih."

Semua orang masuk dengan memikul barang masing- masing. Tha Kong Ming segera ikut memikul beban untuk dapat lebih aman. Sekilas penjaga curiga. Namun tidak sempat menahannya. Para pemikul bergesa mendahului para penabuh.

Begitu mendengar suara angklung Mas Rempek keluar dari kamarnya. Namun betapa kagetnya setelah sampai di pendapa melihat rombongan gandrung itu sudah ada di situ. Semua orang menyembah.

"Siapa yang mengizinkan kalian masuk?" Mukanya merah di bawah sinar pelita. Sayu Wiwit yang sebenarnya adalah Marmi maju sambil menyembah. "Ampunkan kami, Yang Mulia. Kami diperintahkan menyampaikan pesanan Yang Mulia."

Kemarahan Rempek turun seketika itu juga kala mendengar suara Marmi. Mata gadis itu mengerjap-ngerjap mendebarkan hati. Ia tajamkan mata dan pendengarannya. Pesanan? ia mengulang dalam hati. Ia mengingat-ingat untuk sesaat.

Namun tidak bisa memecahkannya. Maka tanyanya,

"Apa itu?" seraya berbisik. Matanya liar mengawasi rombongan penabuh. Matanya menangkap Tha Khong Ming.

"Yang Mulia bisa melihat sendiri pesanan itu," Marmi menjawab. Rempek mendekati sebuah peti yang ditunjuk Marmi.

"Buka!" perintah Marmi. Dan saat itulah Tha Khong Ming berdiri dan maju. Rempek menatapnya tajam. Namun dengan cekatan orang itu membuka peti. Jerami melapisi bagian atas. Ming menguakkannya. Setelah itu ada kain sutera. Rempek seperti tak sabar. Namun setelah kain sutera itu terkuak ia melihat tumpukan senjata api berlaras panjang buatan Inggris.

"Jagat Dewa!" ia menyebut. Dan ingatannya tertuju pada Ropo, rsi di Songgon. Tha Khong Ming menutup kembali.

"Siapa namamu?" Rempek bertanya pada Marmi. "Sayu Wiwit."

"Sayu Wiwit?" Debar jantung Rempek mengeras. Sayu Wiwit? Ini yang disebut-sebut Rsi Ropo dulu?

"Ya. Hamba Sayu Wiwit."

"Maafkan aku! Ahai, membawa rombongan gandrung. Sayu Wiwit menjadi gandrungnya ?"

"Cuma dalam rangka mempersembahkan pesanan ini.

Hamba tak akan menari di sini. Karena memang hamba bukan penari. Hamba cuma menjalankan perintah. Dan setelah selesai harus kembali untuk tidak mengundang kecurigaan."

"Siapa yang memerintahkan kalian?"

"Mas Ayu Prabu." Makin kaget Rempek mendengar itu. Apa hubungan Ropo dengan Ayu Prabu? Tapi bukan cuma

Rempek yang kaget. Tha Khong Ming juga tak kurang-kurang

kagetnya. Mendengar itu ia tahu bahwa ini bukan rumah Ayu Prabu. Gila! Aku diperdaya oleh wanita itu. Dan senjata ini bukan untuk Ayu Prabu sendiri. Tapi untuk Mas Rempek. Gila! ia mengumpat dalam hati.

"Lalu?"

"Hamba akan mohon diri."

"Itu akan makin mencurigakan. Marilah ke taman dan tabuhlah angklung ini barang beberapa bentar. Siapa tahu di antara mereka ada yang tidak setia?" Rempek menunjuk penjaganya sendiri.

"Dan marilah kita bawa kotak-kotak itu ke ruang belakang."

Semua membenarkan. Kotak-kotak diangkut ke ruang belakang. Sambil menikmati suara angklung mereka dijamu di taman. Tidak banyak yang bisa dinikmati di taman itu.

Mendung menggantung tebal sehingga kegelapan menyelimuti alam. Para istri Rempek juga ikut menjamu mereka.

Tha Khong Ming mendekati Sayu Wiwit dan bertanya tentang Ayu Prabu, maka dijawab seperti pesan bahwa Tha Khong Ming akan berjumpa dengan gadis itu barang lima hari lagi di kedai Sumberwangi. Ketika pulang ke Sumberwa-ngi bersama rombongannya, Tha Khong Ming tetap menyembunyikan kekecewaannya. Sedang Jlempek sendiri gagal menjajagi di mana sebenarnya Ayu Prabu tinggal.

0ooo0 Setiap keadaan menumbuhkan pemikiran yang tersendiri. Lingkungan memang mempengaruhi jalan pikiran manusia, demikian ungkapan seorang bijak. Demikianlah kenyataan yang dialami Jaksanegara. Kebiasaan melihat dan berkumpul dengan penguasa Kompeni membuatnya mendapat keinginan baru. Ditambah lagi betapa sulit ia mendekati Nawangsurya. Asmara merrrang tak memandang usia. Sekalipun usianya sudah lebih empat puluh tahun, namun keinginan untuk memetik bunga Pakis itu tetap ada. Jangankan membawanya ke pembaringan, mencari kesempatan untuk berdekatan pun sukar. Lain halnya jika ia adalah penguasa tunggal di Blambangan. Maka harus terjadi semua yang ia maukan.

Soalnya sekarang ada Wangsengsari, Sutanegara, dan Suratruna. Memusnahkan mereka bukan hal yang mudah. Ah... betapa enaknya jika aku seperti Mangkuningrat? Semua yang ada di Bumi Semenanjung ini akan jadi milikku. Yang terbaik sekalipun.

Tapi sekarang tak mungkin lagi menjadi seseorang seperti Prabu Mangkuningkrat. Ada Belanda di Bumi Semenanjung. Dulu Mangkuningrat dengan mudahnya memanjakan diri sendiri. Yah, Belanda! Aku tak memiliki laskar untuk menaklukkan Sutanegara dan Wangsengsari. Satu-satunya jalan harus menggunakan kekuatan Belanda yang kini menguasai Blambangan. Nah, aku harus mendekatkan diri pada Belanda dengan mengiakan semua yang mereka maukan. Bahkan lebih dari itu Jaksanegara sangat memanjakan Belanda. Ia sering mengundang makan dan minum para opsir. Ia juga memperluas tamansarinya, dan menambah perbendaharaan taman itu dengan sejumlah wanita muda yang cantik-cantik. Dengan kecantikan taman dan penghuninya itu membuat beberapa pejabat seperti Biesheuvel, Schophoff, Pieter Luzac, atau beberapa perwira lainnya senang menerima undangan jamuan makan dari Jaksanegara. Bapa Anti adalah salah seorang pembantunya yang paling cakap menjadi penghubungnya. Menurut Jaksanegara, Bapa Anti adalah orang yang mampu mengantar banyak satria Blambangan untuk menjadi penguasa. Seperti Mas Anom dan Mas Weka. Sekalipun kemudian digusur oleh hadirnya Wong Agung Wilis kembali di Blambangan beberapa tahun lalu. Tentunya Bapa Anti tidak akan sulit mengantarnya ke jenjang tertinggi bagi seluruh pribumi Blambangan itu.

Bagaimana dengan pembantunya? Mas Rempek yang sudah terlanjur menjadi pembantunya? Pemuda itu berdarah Tawang Alun. Apa tidak akan menimbulkan kesulitan di masa mendatang? Ia harus bersekutu dengan pemuda yang tampaknya mudah mempengaruhi orang lain itu. Apalagi ia menginginkan Nawangsurya. Tentu harus pandai-pandai merangkul Rempek, agar dengan demikian akan lebih mudah mendekati gadis yang mengganggu tidurnya itu. Maka suatu senja ia sengaja mengundang Mas Rempek ke tamansari-nya. Dan dengan tanpa curiga semenir pun Rempek menghadirinya. Pengawalnya berjaga di luar taman.

Kedatangannya juga salah satu kepatuhannya pada atasan. Orang ciwa telah membiasakan diri untuk patuh.

Rempek menyebut dalam hatinya ketika melihat taman yang begitu luas. Berbagai macam anggrek terkumpul dan bertempelan di pohon-pohon mahoni dan kenanga. Kehijauan makin subur di musim penghujan seperti saat itu.

Burung-burung berdatangan tanpa dipelihara, namun menjadi pelengkap yang manis bagi taman itu. Dalam taman itu berdiri juga beberapa rumah yang tidak begitu besar dan berdinding kayu ulin. Sekitar delapan rumah. Beratap ijuk hitam yang nampak begitu serasi dengan hijaunya daun dan rumput serta merahnya bunga. Di tengah taman ada satu bangunan seperti pendapa tanpa dinding. Beratap ijuk dan berlantai kayu ulin yang dilam-bari permadani merah. Lebih mempesona lagi karena bangunan itu dikelilingi kolam yang berair jernih dan banyak ikan emas serta beberapa jenis ikan peliharaan lainnya.

Melewati sebuah jembatan bambu Rempek mencapai tempat itu. Sebuah meja yang penuh hidangan telah tersedia di samping beberapa tempat duduk kosong. Ah, betapa tempat inii seperti milik dewa-dewi. Jaksanegara duduk sambil tersenyum. Di sampingnya juga duduk seorang perempuan muda cantik. Belum lagi dua orang yang bertugas sebagai tukang kipas.

Gila! gumam Rempek dalam hati. Berapa uang orang ini untuk menghidupi begitu banyak wanita cantik? Dari mana ia mendapat uang sehingga mampu membangun tamansari yang hampir menyamai taman milik Ken Dedes?

"Senang sekali dapat kunjungan Yang Mulia," Jaksanegara mendahului karena ia melihat Rempek agaknya terbengong- bengong.

"Oh... terima kasih, Yang Mulia."

"Silakan duduk. Hamba pikir akan datang bersama istri atau saudara-saudara keluarga Pakis lainnya."

"Untuk urusan tugas tak baik mengajak keluarga” "Haha... ha... ha... ha... tidak begitu penting sebenarnya."

Jaksanegara kembali tertawa. Mengelus kumisnya sebentar. Membetulkan letak destarnya sebentar dan kembali bicara,

"Tapi ini menyangkut masa depan Blambangan. Yah... masa depan negeri kita. Tentunya menarik jika kita semua ikut bicara. Maksud hamba jika Yang Mulia sekeluarga ikut berembuk. Bukankah keluarga Yang Mulia lebih dekat pertaliannya dengan wangsa Tawang Alun daripada kami?"

Sedikit berdebar hati Rempek mendengarnya. Tapi memang semestinya akan sangat menarik. Di saat seperti ini ada orang mengajak berembuk soal Blambangan yang telah runtuh ini. "Tentunya para Yang Mulia akan membangun kembali wangsa Tawang Alun yang porak poranda, bukan?"

"Hamba kurang tahu, Yang Mulia. Tapi kami belum pernah membicarakannya." Mata Rempek liar melirik kiri-kanan. Dan Jaksanegara mengerti apa yang dikhawatirkan Rempek.

"Di sini aman, Yang Mulia. Jangan khawatir. Hamba menjamin."

Walau begitu Rempek masih saja membetulkan letak kerisnya. Satria harus bersiap jika sewaktu-waktu ada sesuatu, pikirnya.

"Tidak seharusnya Blambangan terpecah seperti sekarang ini. Kita tak tahu jelas siapa yang salah. Tapi kita yang memikul akibatnya. Seluruh kawula juga. Tapi aniaya ini akan terobati jika kita dapat mempersatukan kembali Blambangan."

"Betul, Yang Mulia." Rempek masih saja melirik kiri-kanan.

Kadang matanya tertuju pada para wanita yang mengitari Jaksanegara. Semua berkemban. Mereka telah tidak sama dengan kebanyakan orang Blambangan. Walau makan dari hasil bumi Blambangan, dan minum air Blambangan. Juga Jaksanegara telah berpakaian tidak seperti umumnya satria Blambangan. Orang begini akan bicara masa depan Blambangan? Mungkinkah masih ada cinta untuk negeri ini dalam kalbunya? Aku harus hati-hati. Rsi Ropo mengatakan, tak seorang pun yang telah menikmati keenakan karena kerja sama dengan Kompeni dapat dipercaya. Orang demikian biasanya cenderung mengulur keenakan yang dinikmatinya agar berlangsung lebih lama tanpa mempedulikan aniaya yang dirasakan orang lain.

"Tentunya tidak ada orang lain yang memperhatikan kecuali kita. Jadi Blambangan harus diperintah oleh satu orang raja dan seorang patih." "Apakah itu mungkin, Yang Mulia? Tampaknya sulit jika masih ada Belanda di sini. Karena Belanda-lah yang memecah Blambangan menjadi dua."

"Jika Belanda angkat kaki maka Bali akan mengirimkan laskarnya. Maka sebaiknya biarlah Belanda di sini memayungi kita."

"Jadi bagaimana rencana Yang Mulia. Hamba maksud bagaimana cara kita agar mempersatukan Blambangan?"

"Ini yang perlu kita bicarakan. Kita harus menghindari perang melawan Belanda. Kawula Blambangan sudah begitu menderita. Dari waktu ke waktu didera perang. Mereka harus diberi kesempatan untuk menikmati keindahan hidup. Dan itu baru akan mereka alami jika mereka hidup di sebuah negeri yang damai, yang perniagaannya maju."

"Indah sekali impian Yang Mulia itu." Rempek menarik napas panjang. Sementara itu seorang perempuan muda keluar dari sebuah rumah tak jauh dari tempat mereka berunding itu dengan membawa sebuah guci kecil. Rempek tahu bahwa itu arak. Guci keramik bikinan Cina. Demikian pun beberapa cangkir yang ditaruh di atas meja itu. Dari Cina.

Namun Rempek kurang begitu tertarik untuk memperhatikan wanita pembawa minuman itu. Bayangan wajah Rsi Ropo berulang muncul di bayang-bayang senja yang mulai menghilang. Setiap pengkhianatan harus dibayar mahal.

Jatuhnya leher Yang Mulia ke atas bumi yang memberi makan pada Yang Mulia sendiri. Dan ia menyadari, tak mungkin dapat berlari. Pengawalnya tak mampu melihat pengiriman senjata masuk ke istananya. Apalagi melindunginya dari mertalutut Wilis. Jangan-jangan di antara wanita cantik itu ada juga orangnya Wilis.

"Ya... setuju kan, Yang Mulia, jika kita mencoba mewujudkannya?"

"Hamba membantu sepenuhnya usaha itu." "Inilah yang hamba tunggu, Yang Mulia. Kita harus menerangkan pada kawula Blambangan, bahwa kita harus berbagi anugerah dengan Belanda. Hasil panen kita harus dibagi dua. Karena mereka yang menjaga ketenteraman negeri dari incaran Bali. Jangan lupa orang Bali selalu mengancam dari saat ke saat," Jaksanegara meneruskan lagi. Beberapa bentar lagi pelita mulai dipasang. Kegelapan membuat ikan-ikan di kolam tidak tampak lagi. Burung-burung juga berhenti berkicau. Sebagai gantinya suara jangkrik, katak, dan beberapa jenis binatang malam lain.

"Hamba perhatikan dan pikirkan semua cita-cita Yang Mulia ini. Kemudian hamba akan bicarakan pada Kanda Mas Talip, Mas Nawang-surya, atau juga yang lain-lain. Bahkan mungkin Kanda Bagus Puri."

"Artinya Pakis akan membicarakannya?" "Ya."

"Mudah-mudahan semua setuju."

"Yang menjadi masalah bagi hamba adalah cara.

Bagaimana caranya, itu yang belum tahu."

"Jika perlu hamba akan bicarakan ini dengan para tumenggung. Nah, jika mereka semua setuju, tentu semuanya akan berlangsung amat mudah."

"Itu mungkin yang terbaik. Sebagai pembantu patih, hamba akan patuh. Hamba akan lakukan apa yang harus hamba lakukan untuk negeri ini."

"Kita mengikat janji, Yang Mulia. Kita bahu-membahu. Mari kita minum bersama."

"Maaf, Yang Mulia. Hamba melihat butiran candu di meja." Rempek menunjuk beberapa gelintir benda yang sebesar- besar kelingking, terbungkus daun lontar dengan amat rapi. Ia tahu itu candu yang juga biasa dipakai untuk upacara keagamaan. Namun beberapa orang tidak menggunakan sebagai alat upacara keagamaan. Tapi untuk mendapat kekuatan baru. Keindahan baru.

"Hamba tidak biasa memakan milik dewa-dewa itu." "Kenapa tidak? Kita akan mendapat kekuatan seperti para

dewa."

"Apa pun kata orang, hamba tidak ingin memakannya. Nah... Yang Mulia, hamba mohon diri. Selamat malam." Ia bangkit kemudian berlalu. Jaksanegara kecewa melihat itu. Ia ingin Rempek menemaninya minum sampai jauh-jauh malam. Kalau mungkin bermalam di situ. Tapi tak lama kemudian kekecewaannya terobati dengan datangnya Bapa Anti. "Ah... kebetulan. Kita minum sampai puas. Hamba ingin ditemani Mas Rempek tapi dia menolak."

Bapa Anti tertawa mendengar itu.

"Tentu. Ia tak berani makan candu, Yang Mulia. Apalagi ia sekarang sering datang ke Songgon."

"Songgon? Desa tua..."

"Sekarang menjadi daerah perdikan yang makmur. Semua kawulanya tidak terikat dengan peraturan di Blambangan."

"Ya, Allah. Siapa pemimpin mereka?"

"Seorang rsi yang masih sangat muda. Ia memiliki pengamatan yang amat tajam. Padahal jaraknya puluhan ribu tombak dari sini. Tapi hampir semua kejadian penting ia tahu."

"Iblis dari mana dia itu? Pernahkah Yang Mulia ke sana?" "Pernah..." Bapa Anti kemudian menceritakan

pengalamannya dan apa yang ia lihat di sana.

"Jadi sudah banyak orang yang ke sana? Dan apa kata Yang Mulia tadi? Dia katakan Wong Agung Wilis masih hidup? Dan banyak orang percaya? Mustahil! Itu cerita mustahil!" "Memang kelihatannya mustahil. Tapi Yang Mulia Sutanegara membenarkan bahwa sebenarnya Wong Agung Wilis masih hidup di Bali."

"Gila! Rangkap berapa nyawanya? Hah!" Jaksanegara benar-benar terkejut. Jika cerita itu benar maka keinginannya untuk menjadi penguasa tunggal di Blambangan akan gagal. Kawula tidak akan patuh pada siapa pun jika ada Wong Agung Wilis.

"Kita tidak perlu resah, Yang Mulia. Andaikata benar Wilis masih hidup, apa ia mampu mengalahkan VOC? Pengalaman menunjukkan bahwa ia kalah. Siapa yang tak dengar itu orang gagah berani, Untung Surapati? Juga mati di tangan Belanda."

"Tapi belum ada ceritanya orang mati hidup lagi. Padahal Rsi Ropo mengatakan Wilis tidak akan mati sepanjang segala zaman."

"Cuma para dewa yang tak pernah mati. Kita akan bertanya besok pada Yang Mulia Wangsengsari. Apa beliau dengar tentang ini."

"Ya. Malam ini kita minum-minum." Jaksanegara menyodorkan minuman. Bapa Anti pun ternyata sudah biasa minum arak yang dicampur candu...

Sementara itu Rempek dengan para pengawalnya telah meninggalkan Pangpang. Namun di tengah jalan Rempek memerintahkan sebagian pengawalnya pulang untuk memberi tahu istrinya bahwa malam ini Rempek akan ke Songgon. Ada beberapa hal yang perlu ia tanyakan pada Rsi Ropo.

Kendatipun malam kian naik, ia tak peduli. Bulan memancar terang, awan-awan putih berkejaran di udara tanpa mengenal lelah. Cuma dua pengawal yang dibawanya.

Demikian pula kuda Rempek. Tanpa mengenal lelah berlari terus dalam usaha mengalahkan jarak yang membatasi Rempek dengan Rsi Ropo. Tidak peduli apakah ia harus melewati jalan yang sulit. Jalan mendaki, menurun berbatu- batu, jalan setapak penuh onak dan ilalang, terus diterjangnya. Akhirnya Songgon dijangkaunya. Namun begitu ia mencapai rumah pertama di ujung desa, seseorang menahan langkah kudanya.

"Selamat malam, Yang Mulia," seorang petani bertubuh gempal menyembahnya. "Akari menghadap Rsi-kah? Begini malam?"

"Ada sesuatu yang penting hendak kubicarakan." 'Tidakkah bisa ditunda esok pagi? Kami menyediakan

tempat jika Yang Mulia perlu istirahat."

"Jagat Dewa!" Rempek menyebut. Bukan kebiasaan sudra menahan satria. Tidak ada sudra memiliki keberanian seperti itu.

"Apa keberatanmu, Ki Sanak?" Rempek mengernyitkan dahinya.

"Desa kami tidak pernah terusik langkah orang asing di malam hari. Apalagi derap kuda." Orang itu tetap tenang. Matanya menatap tajam pada ketiga orang penunggang kuda itu.

"Aku kauanggap asing? Songgon tidak terpisah dari Blambangan?"

"Bagaimana kami harus satu dengan Blambangan yang terpecah-pecah? Bagi kami Blambangan yang tidak tunduk pada pemerintahan Willis .maka ia adalah asing."

"Jagat Dewa! Justru itu yang hendak aku bicarakan. Baik!

Aku akan turun dari kudaku. Biar kuda itu di sini dan aku berjalan kaki ke padepokan."

"Sudah hamba katakan. Tidak ada langkah orang asing pernah mengusik tempat ini malam hari. Jika Yang Mulia memaksa, maka ini yang pertama kali terjadi. Dan Yang Mulia akan melihat kenyataan pahit. Yang Mulia tetap tidak akan bersua Rsi. Bahkan mungkin untuk selamanya."

"Hyang Bathara!" Rempek kian terkejut atas jawaban itu.

Juga para pengawalnya. Jawaban yang mengandung ancaman. Dengan kata lain di sini ada kekuatan yang akan bertindak jika ia memaksa masuk. Lalu ini pertapaan macam apa? ? Ingin ia melompat turun membunuh petani itu. Namun indria keenamnya memperingatkan supaya ia tidak gegabah. Tidak mendengar kata hati semata. Sebab di dalam rumah di ujung jalan itu, baik di sebelah kiri dan kanan, ada prajurit rahasia yang menyamar menjadi petani. Dengan mata berkilat-kilat menahan marah dalam dadanya, Rempek menyerah.

Dugaan Rempek tidak meleset. Ketika ia dibawa ke rumah di ujung jalan itu, maka tidak ada seorang pun wanita.

Mungkin petani itu tidak beristri. Tapi yang lebih membuatnya curiga adalah tiga orang lelaki lain yang duduk di tikar pandan. Semua sedang berkinang.

"Selamat malam, Yang Mulia," sambut mereka berbareng. "Selamat!" Rempek kesal. Untuk kesekian kali ia harus

mengerjakan sesuatu yang tidak ia maukan. Untuk

mengurangi kekesalan hatinya ia segera berbaring. Ia tidak mungkin kembali ke Pakis dengan kepala yang dibebani tanya. Berbaring memandang ke langit-langit yang tidak nampak secara jelas karena penerangan tidak terlalu banyak dalam ruangan itu. Padahal bulan memancar, terang di luar. Namun semuanya jadi diam. Keheningan merajai alam.

Beberapa bentar kemudian Rempek mendengar di luar suara bisik sepasang manusia. Langkahnya belum terdengar, namun percakapan mereka kian lama kian jelas. Suara seorang lelaki dan seorang lagi perempuan. Rempek menajamkan telinga. Ia lirik seorang di antara para petani yang dalam biliknya bangkit. Dua lainnya ikut bangkit dan mengintip di balik pintu. Keduanya membawa benda yang terbungkus kain kumuh. Rempek cuma memperkirakan itu senjata laras panjang. Rempek kian berdebar. Ah, andaikata tadi ia berani menikam petani yang menghadangnya, hampir dapat dipastikan istrinya bakal jadi janda. Gila, tempat ini mengandung banyak hal yang tersembunyi. Seorang yang terdahulu dengan cepat menyelinap ke luar. Rempek tidak bergerak.

"Selamat malam, Yang Mulia," terdengar suara petani tadi. "Selamat malam. Aku akan berangkat malam ini bersama

Sayu Wiwit." Suara lainnya pelan. Tapi malam begitu sepi. Memudahkan telinga Rempek memantau kata-kata mereka.

"Yang Mulia memerlukan kuda? Baik, hamba akan ambilkan. Sebab hamba khawatir keliru ambil," petani tadi berbisik.

"Keliru?"

"Ya. Dengan kepunyaan Mas Rempek."

"Mas Rempek ada di sini? Akan menghadap Rsi? Bersama kami Rsi sedang keluar. Beliau ke barat. Beliau akan naik."

"Kapan baru akan turun?"

"Jika tak terjadi sesuatu esok malam baru akan sampai di sini. Kami tidak menduga Mas Rempek datang hari ini. Sebab laporan mengatakan bahwa ia sedang bersama Jaksanegara malam ini. Ah... dia terlambat. Baik! Itu urusan para cantrik besok! Mana kuda kami."

Orang itu menjauh. Sebentar kemudian terdengar langkah dua ekor kuda. Dan beberapa bentar kemudian berderap menjauh...

Kekesalan Rempek menjadi genap. Tapi tetap tak berani berkutik. Dua orang yang di balik pintu itu lebih dulu berbaring di tikar yang tak jauh dari pintu. Benda yang terbungkus kain kumuh itu mereka letakkan di samping mereka masing- masing. Ternyata dua rumah yang saling berhadapan di ujung jalan ini gardu jaga orang-orang Songgon. Tampaknya memang tak pernah ada pengawalan di sini, tapi jika ada sesuatu maka Rempek yakin sewaktu-waktu bermunculan pengawal-pengawal yang tidak mustahil bersenjata lengkap. Kepala Rempek sibuk menebak-nebak. Kemana ya Rsi Ropo? Ke atas? Tentu ini kata sandi. Rsi masih punya pimpinan yang lebih tinggi. Bisa, ya! Bisa diterjemahkan begitu. Atau ke pusat mereka di sebuah gunung yang letaknya lebih tinggi dari Songgon.

Buntu jalannya melacak Rsi Ropo, kini hatinya mempertanyakan siapa yang pergi bersama Sayu Wiwit tadi. Mengapa di sini? Ke mana pula mereka itu? Juga sukar menduga. Ingin ia bangun membuntuti kedua orang tersebut. Gila! Apa sebab keinginan semacam itu timbul? Apakah karena kemanisan Sayu Wiwit yang mengguncang hati? Senyum, mata, dan bibir tipisnya? Ah... bukan! Ia menjadi terombang- ambing oleh teka-teki. Dan ia harus berusaha memecahkan teka-teki itu. Aku, satria! Kenapa kalah oleh teka-teki?

Andaikata ia mampu mengikuti perjalanan dua insan yang menguak kesunyian malam, di bawah bulan purnama serta awan putih berkejaran seperti anak-anak kecil yang sedang bercanda itu, maka semua teka-tekinya mungkin akan musnah. Angin bertiup perlahan membelai keduanya. Rambut Sayu Wiwit berkibar seperti bendera. Keduanya tidak memacu secara cepat. Seperti orang yang sedang bersantai. Kendati begitu debu mengepul di belakang kuda mereka bagai asap. Membubung ke angkasa dan jatuh kembali bersama lembabnya udara ke daun-daun, dahan-dahan, atau bebatuan.

"Aku melihat banyak kemajuan dalam dirimu, Wiwit," Ramad membuka percakapan.

"Berkat, Mas Ayu " "Sepandai-pandai Mas Ayu, tapi jika kau sendiri bukan merupakan tanah subur untuk ditanami maka sia-sialah kerjanya. Ia tidak akan memetik buahnya."

Wiwit malu mendengar itu. Andai bukan malam hari tentunya Ramad akan dapat melihat perubahan wajah Wiwit. Memerah. Senang mendengar pujian dari seorang pemuda seperti Ramad.

"Kali ini kau mendapat tugas mengawasi Jember dan aku daerah Puger serta daerah selatan lainnya. Jadi kita tidak terlalu jauh jika dibanding tempat Mas Ayu di Sumberwangi."

"Rasanya hamba belum mampu."

"Kau akan mampu. Pada saatnya kau akan berhadapan dengan Letnan Steenberger, komandan tangsi Belanda di Jember."

"Seperti mimpi saja. Seorang sayu, yang seharus tinggal di pura, kini harus berkuda berpuluh-puluh ribu depa jauhnya.

Belum lagi tugas yang harus hamba emban. Semestinya tangan ini dipergunakan hanya untuk menyiapkan kemenyan, dupa, dan kembang, tapi sekarang harus memegang senjata. Juga mulut ini, biasanya cuma untuk berdoa, tapi sekarang..."

"Keadaan memerlukan kau berubah demikian. Aku tak tahu mana lebih baik, duduk berdoa saja, tidak melakukan sesuatu apa pun sementara orang lain memperkosamu, menginjak kepalamu dan bangsamu, dengan kau bertandang mengangkat senjata!" .

Sayu Wiwit terdiam. Bunyi langkah kuda mereka makin jelas. Mulai menapak daerah berbatu-batu.

"Ternyata kesucian tidak cukup dibela hanya dengan doa," lagi Ramad berkata. "Kesucian harus dijaga dengan suatu tindakan nyata. Karena pada perkembangannya manusia kian jauh dari keadilan yang sebenarnya. Semua berkata memihak keadilan. Keadilan dari sudutnya sendiri-sendiri." "Tidak, Yang Mulia. Keadilan di mana pun sama. Siapa bersalah dia menerima hukuman," bantah Sayu Wiwit.

Sementara itu bulan kian bergeser ke barat.

"Adilnya begitu. Tapi kenyataan yang berlaku di bumi Blambangan tidak demikian. Orang yang membela haknya sendiri dihukum. Tidak dengar kau kejadian di desa Meneng beberapa waktu lalu?"

"Apa itu?"

"Sibun dipaksa menggantung diri oleh bekel. Sebab bekel desa itu takut disiksa Kompeni karena Sibun tidak mau pergi kerja paksa di Benteng Pangpang. Inikah keadilan yang sama dengan keadilan kita? Dan ada berapa wanita muda harus mati karena membela kehormatannya? Inikah keadilan?

Keadilan di mata perampok tidak sama dengan keadilan di mata kita."

"Dewa Bathara!" Wiwit kagum pada pengamatan Ramad. Ternyata bukan cuma Ayu Prabu yang memiliki pengamatan tajam. Tiga orang yang pernah ia temui dan semua putra Wong Agung Wilis, semua memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Lalu bagaimana dengan junjungan mereka yang disebut-sebut dengan nama Wilis itu? Jika para pembantunya sudah seperti ini, ah... tentunya orang itu jauh lebih dari Ramad.

"Tapi hamba seorang sayu. Hamba harus jujur pada Yang Mulia, bahwa hamba takut membunuh. Takut berperang, takut berdosa. Takut merusak kesucian "

"Wiwit, itu barangkali yang membuat kau tidak menjawab aku ketika aku menyatakan cintaku." Ramad memandang Wiwit sambil memperlambat langkah kudanya. Kiri-kanan mereka ternyata padang rumput yang luas. Sayu Wiwit berdebar demi memandang sekitarnya. Kuda mereka berjajar. "Jika memang kesucian dan keluhuran nilai kehidupan bisa dipertahankan cuma dengan doa, semestinya tidak perlu ada cerita tentang 'perang Barata Yudha. Dan tidak usah ada Bhagavat-gita. Perang bukan dosa!" lanjut Ramad. "Tapi penyebab perang itu. Sebab pada umumnya perang bersumber dari keinginan yang tidak terpenuhi dengan jalan damai. Bukankah kita ini sebenarnya sekadar alat di tangan Hyang Maha Dewa? Dan adakah kebahagiaan yang lebih besar dari memenangkan pertempuran membela kebenaran?" "Hyang Dewa Ratu! Yang Mulia membaca Bbagavatgita ?"

"Ingatkah kau dalam percakapan kedua sloka ketiga puluh tiga mengatakan:

'atha chet tvam imam dharmyam samgramam na karishyati tatah svadharmam kirtim cha hitva papam avapsyasi'

yang artinya:

'tetapi jika engkau tiada melakukan perang menegakkan kebenaran ini meninggalkan kewajiban dan kehormatanmu maka dosa papalah bagimu.'

Nah, dengan kata lain jika kau menolak berperang dan membunuh demi kebenaran maka dosa telah kau perbuat."

"Hyang Dewa Ratu!" Wiwit menarik napas panjang. Buah dadanya naik-turun. Kekaguman Sayu Wiwit pada Ramad kian naik pula. Sesaat ia pandang Ramad. Namun kemudian tertunduk. Malu. Betapa tidak. Ia seorang satria memiliki pengetahuan seperti brahmana.

"Ampuni hamba, Yang Mulia. Hamba terbuka kini. Hamba tak takut lagi. Tapi nanti di Jember kan hamba belum punya tempat? Juga teman?"

"Langkah kuda kita kian perlahan. Lihat bulan juga tepat di atas kepala kita. Sudah jauh sekali kita berkuda ini. Kita akan istirahat. Setuju kau?"

"Yang Mulia pemimpin hamba. Hamba menurut." Mereka berkuda sebentar lagi. Di depan mereka ada sebuah gubuk kecil. Sayu Wiwit heran. Tampaknya Mas Ramad sudah amat menguasai daerah itu. Keduanya turun. Lepaskan begitu saja kuda mereka setelah mengambil seluruh perbekalan di bawah sanggurdi.

"Daerah ini tidak dalam pengawasan Belanda."

"Hamba tak melihat rumah-rumah. Kita berada di tengah padang rumput yang begini luas. Seperti impian."

Keduanya menaruh perbekalan dalam gubuk kecil yang tidak terbagi dalam bilik-bilik. Ramad menceritakan bahwa gubuk itu didirikan oleh anak buahnya yang bertugas di Jember. Mereka selalu istirahat dalam gubuk yang dinding dan atapnya juga terbuat dari ilalang. Tiada jendela. Sinar rembulan masuk melalui pintu. Daun pintu itu pun terbuat dari ilalang. Ada sebuah balai-balai bambu di dalamnya. Keduanya duduk di balai-balai itu.

"Pertanyaan hamba belum, terjawab," Sayu Wiwit memulai setelah mereka minum dan sedikit makan.

"Kau akan berada di pinggiran kota Jember. Sesuai namamu, kau akan memimpin sebuah padepokan. Dan kau akan mengajar di sana. Sepuluh murid membantumu.

Ditambah tujuh wanita yang juga akan menjadi murid dan temanmu. Aku akan selalu menghubungimu dan •juga akan menyampaikan perintah dari Ayu Prabu maupun dari Bayu. Sedang pembantuku di Jember bernama Lebok Samirana."

"Hamba juga menyiapkan laskar bersama Lebok Samirana?"

"Tugas utama kita adalah. itu. Yang kedua mempersiapkan cadangan makanan untuk masa perang nanti."

"Sungguh tak terpikirkan hamba akan memikul beban seperti itu." "Berbahagialah orang yang mendapat kesempatan mempersembahkan karya dan darmanya bagi kemanusiaan."

"Dan hamba tidak mimpi bahwa akan mendapat tantangan begitu besar dalam hidup sehingga membuat hamba bergabung dengan Yang Mulia.

"Tantangan adalah salah satu keindahan dalam kehidupan.

Apakah kau menyesal?"

"Tidak! Tapi memang ada sebuah pertanyaan yang disusul dengan pertanyaan lainnya dalam hati ini. Mengapa keluarga- keluarga mesti hancur di Blambangan? Mengapa Hyang Durga izinkan itu terjadi? Bukankah bila keluarga-keluarga sudah hancur, peradaban juga lebur? Dan jika demikian maka peraturan dengan mudahnya dikuasai tirani jahat. Ah, Yang Mulia... kenyataan sekarang tiada terelakkan sebagai akibat bersimaharajalelanya tirani jahat, maka perempuan telah menjadi jalang. Apakah jadinya bila perempuan telah menjadi jalang? Ketiadaan susila akan melanda semua kasta."

"Kau benar, Wiwit. Malah aku mengkhawatirkan adanya peralihan peradaban. Peradaban leluhur sudah dianggap kenisbian dan ketertinggalan. Kemudian kita dipaksa menyerap kebudayaan asing. Apakah orang asing akan memberikannya? Aku kira yang mereka berikan adalah ampasnya. Apa yang terbuang di negeri mereka, itulah yang mereka berikan."

"Mungkin itu salah satu sebab Malaka tidak pernah menang, Surabaya kalah, Untung Surapati juga punah, dan semua yang melawan bule binasa. Persenjataan mereka selalu baru dan lebih baik dari kita. Kita banyak yang membeli dari mereka."

"Benar. Salah satu sebab. Karena itu kemarin Ayu minta si Repi merayu Bozgen untuk mengumpulkan senjata-senjata yang di tinggal mati oleh serdadunya, untuk diberikan pada kita." "Sudah sejauh itu? Apakah Bozgen mau melakukannya?" "Kita berdoa. Cinta itu indah, mengalahkan semua kecintaan yang ada. Dan karena itu cinta mengalahkan semua-mua."

"Ah..." Wiwit tertawa lirih. Kemudian dia bangkit berdiri dan menuju pintu. Perlahan. Bulan telah condong ke barat. Udara di padang rumput itu terasa dingin. Embun mulai menitik dari langit. Sayu Wiwit melangkah ke luar. Perlahan. Seolah takut bumi yang dipijaknya merupakan endapan lumpur yang dapat me-1 nyedotnya ke dasar bumi. Sayu Wiwit tertunduk.

Merenungi sesuatu. Cinta.

Cinta adalah sesuatu yang indah dan sangat diperindahkan. Lubuk hatinya tersentuh. Ia ingat jika ia sedang dekat dengan Mas Ramad seperti ini hatinya melambung. Apalagi jika sedang berjalan di sampingnya dan Mas Ramad membuat banyak lelucon. Bila berjauhan, semua yang ada dalam diri Ramad muncul dalam impiannya. Inikah j cinta? Jika saling bersua ingin rasanya ia berlari memeluk pemuda itu. Tapi... sebandingkah aku dengan dia? Adiknya adalah guruku.

Sedangkan ia sendiri memiliki pengetahuan seperti para dewa. Dan mereka berdua sepertinya menyimpan teka-teki yang harus dipecahkan banyak orang. Aneh.

Dan jika ia bertanya pada Ayu Prabu tentang siapa Rsi Ropo yang wajahnya mirip Mas Ramad ia akan diketawai. Kau lagi gandrung padanya? Suatu pertanyaan yang membuatnya tersipu. Dan tidak berani mengejar dengan pertanyaan berikut.

Tanpa sadar langkahnya kian menjauh dari r gubuk. Dan ia juga tidak menyadari bahwa Mas Ramad mengekornya bagai bayang-bayang. Sampai ia berhenti pada tempat yang agak tinggi. Sekilas ia perhatikan sekitarnya. Rumput yang diinjaknya menjadi basah. Bukan oleh hujan. Tapi embun.

"Ada apa engkau ke sini, Wiwit," sapa Ramad mengejutkan. Ia berbalik. Tubuh pemuda itu dekat sekali. Mata mereka beradu. Bulan tersenyum memandang mereka.

"Yang Mulia mengikuti hamba?"

"Karena kau baru pertama kali menginjakkan kaki di sini. Aku bukan menganggapmu anak kecil, tapi di daerah asing dengan tanpa senjata kau bisa tidak sampai pada tugas yang dibebankan di pundakmu."

"Oh... terima kasih, Yang Mulia. Keindahan tempat ini membuat hamba tertarik untuk..."

"Keindahan selalu menyenangkan siapa saja, * dan kapan saja. Tak peduli malam telah larut dan N pagi siap memeluk bumi."

Sesaat keduanya diam lagi.

"Kau agak gegabah berjalan tanpa kesadaran tinggi. Kau tidak takut binatang buas?"

"Di dekat seorang perkasa tidak perlu takut." Wiwit tersenyum.

"Kau bercanda, Wiwit?" Mas Ramad menangkap bahu Sayu Wiwit dengan kedua lengannya. Mengguncangkannya perlahan. Ia pandang dengan tajam. Gadis itu tetap memamerkan bibirnya yang seperti kulit buah manggis sedang merekah. Mendebarkan hati.

"Damai merasuki hati jika dekat dengan Yang Mulia.

Kenapa ini dianggap bergurau? Dan hamba kira semua orang merasakan begitu. Yang Mulia... betapa teman-teman gadis hamba di Sempu akan menjadi iri jika mehhat hamba berduaan dengan Yang Mulia. Tapi ampuni hamba, karena hamba tak berani menerima anugerah cinta Yang Mulia. Bagi hamba Yang Mulia adalah bintang cemer-lang."

"Ha... ha... ha... ha... Jika demikian kau adalah rembulan." Mas Ramad menarik bahu itu lebih dekat ke dadanya. "Yang Mulia..."

"Kau mengalami banyak hal yang hampir sama dengan aku. Mengapa kau mau dibatasi oleh pagar kasta dan..."

"Kecerdasan Yang Mulia melebihi banyak brahmana.

Bagaimana hamba akan mensejajarkan diri?"

"Sebenarnyalah cinta sejati itu tak dapat dibatasi oleh apa pun juga. Pagar, gunung, samudra, dan jarak tidak akan dapat memisahkan yang sedang bercinta. Kecuali jika cinta itu main- main.

Yah... permainan cinta tak mengenal pengorbanan.

Berbeda dengan cinta kudus." "Apakah ini bukan mimpi?"

"Ini bukan hanya mimpi! Pagi yang dini ini menjadi saksi!

Sayu Wiwit, percayalah!"

"Yang Mulia..." Sayu Wiwit menjatuhkan kepalanya ke dada Ramad. Seolah ingin mendengar suara hati Ramad. Sementara kabut mulai menyelimuti bumi. Bahkan seperti ingin membungkus keduanya. Ramad memeluk makin erat, pagi kian mendekat. Bumi membisu.

"Lupakanlah semua itu. Lupakanlah kasta! Lupakanlah segala kebisaan dan kemampuan yang memisahkan manusia. Hapuslah semua kesan! Mari kita sama-sama melangkah, menjelang mentari pagi yang cemerlang."

"Berbagi tangis dan tawa bersama?" Wiwit berbisik. "Bukan tangis dan tawa. Tapi duka dan suka. Bagi satria

apalagi brahmana tidak ada tangis. Sebab ia sudah

menimbang setiap langkahnya. Juga tidak pernah ada penyesalan."

"Sudahkah Yang Mulia mempertimbangkan keputusan Yang Mulia?" "Kau sendiri bagaimana? Apakah dengan perasaan kau menerima aku?"

"Tidak. Namun cuma satu yang hamba takutkan..." "Aku tidak mungkin memperbandingkan wanita secantik

kamu dengan wanita lainnya," Ramad memotong cepat..

"Ah... Yang Mulia." Wiwit mengalungkan tangannya ke leher Mas Ramad. Dan mendekatkan muka Ramad ke mukanya sendiri. Di bawah kesepian bumi dan dibungkus kabut tebal mereka saling berpelukan dan berciuman.

Menyatakan semua yang terpendam sekian lama sejak perjumpaan mereka yang pertama.