Gema Di Ufuk Timur Bab 06 : Sapaan Dari Seberang

 
Bab 06 : Sapaan Dari Seberang

Siapa akan pernah menduga bahwa rumah besar yang berdiri tepat di tengah desa Songgon itu akan menjadi tempat dari awal titik balik pandangan Suratruna maupun Sutanegara. Pandita muda itu bukan cuma mengagumkan. Tapi juga menarik hati setiap orang yang datang kepadanya. Begitu juga kala ia menerima kehadiran dua orang pembesar dari Lateng itu.

"Dirgahayu, Yang Mulia. Senang sekali menerima kedatangan para Yang Mulia. Burung-burung juga senang berkicau menyambut," Resi Ropo memulai setelah mereka dipersilakan bersirih terlebih dahulu.

"Terima kasih, Yang Tersuci. Kami pikir, kami amat mengganggu. Namun kami sangat perlu bersua dengan Yang Tersuci secara pribadi. Para pedagang, petani, dan semua orang bercerita tentang kemampuan Yang Tersuci.

Kemampuan menolong banyak orang untuk memecahkan kesulitannya."

"Kemampuan? Bukankah setiap orang memiliki kemampuannya sendiri? Ahai... Yang Mulia memang tidak lupa adat kita walau Yang Mulia berdua sudah menjadi Islam. Tapi Yang Mulia sudah mulai pandai berpura-pura. Maksud hamba berbasa-basi." Resi tertawa ramah.

"Bukan basa-basi, Yang Tersuci, hamba memang mendengar itu. Dan hamba datang untuk memohon pertolongan "

"Hamba tidak keberatan untuk menolong. Itu kewajiban hamba. Tapi terlebih dahulu hamba ingin menekankan bahwa sebenarnyalah para Yang Mulia tidak memerlukan pertolongan hamba jika Yang mulia dapat menghimpun kemampuan yang tersembunyi dalam tubuh Yang Mulia sendiri. Kemampuan itu bukannya tidak ada. Tapi belum digali." "Ampun, Yang Tersuci. Hamba tak mengerti apa yang dimaksudkan. Hamba memang tidak berdaya."

"Ketidakberdayaan adalah dosa! Sebab dengan demikian dia tidak menghargai Hyang Maha Dewa yang memberikan kemampuan. Dan barangsiapa membiarkan dirinya hidup dalam ketidakberdayaan maka ia mendurhakai Pencipta-nya."

"Ampun, Yang Tersuci "

"Hyang Maha Dewa begitu murah. Yang Mulia masih menganggap diri tidak berdaya? Yang Mulia telah menerima Mas Dalem Puger yang mampu mengalahkan mati itu, bukankah itu anugerah yang luar biasa? Juga Tha Khong Ming yang membawa berita dari Yang Mulia Wong Agung Wilis.

Bukankah itu kekuatan yang luar biasa untuk memusnahkan kerakusan Kompeni. Ya, Kompeni yang menginjak kehormatan tanah leluhur serta pribadi Yang Mulia?"

Ternganga mulut dua satria itu mendengarnya. Ropo tahu ia menerima tamu? Dari siapa orang ini tahu? Maka Sutanegara memandang tajam-tajam pada Ropo. Tapi pandangan mata pemuda yang mengenakan jubah kuning itu kembali melindas. Ia serasa tak berani beringsut sedikit pun. Ropo kemudian kembali tertawa.

"Yang Mulia curiga pada hamba maka memandangi seperti itu? Ha... ha... ha Brahmana Ciwa pantang berdusta. Tidak

layak mencurigai hamba. Dalam jiwa bersih akan lahir tindakan yang bersih pula. Masih ingat akan ajaran karma ? Niat jahat akan melilit diri sendiri. Sebab setiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri."

"Ampun, Yang Tersuci " Dua orang itu saling lirik. Bibir

mereka komat-kamit tanpa kata.

"Seperti Kompeni yang memiliki niat jahat itu, maka mereka juga akan menanggung kejahatannya. Hari-hari terakhir ini jurang di Merawan penuh dengan bangkai putra-putra Blambangan. Semuanya mati seperti anjing kurap kelaparan. Siapa yang bertanggung jawab atas semua kematian itu?"

Diam sebentar. Sepi.

"Kompeni juga akan membayar mahal," lanjut Resi Ropo.

Tangannya memungut sirih. "Lihat saja sekarang, berapa orang bule yang mulai ikut mati? Walau mereka tidak ikut kelaparan. Tidak ikut mengangkut batu. Tidak ikut menerima cemeti prajurit Madura atau Probolinggo atau Pasuruan ketika lutut mereka mulai gemetar mengangkut kayu-kayu dari hutan. Tidak dibakar terik mentari membangun perkubuan.

Tapi mereka juga mulai ikut mati. Juga pasukan gabungan, berapa yang mati karena sakit mendadak? Adakah Yang Mulia tak mendengar semua itu?"

"Ti... ti... tidak, Yang Tersuci."

"Itu salah satu sebab Yang Mulia menjadi tidak mampu. Bukankah Hyang Maha Ciwa menganugerahkan telinga yang sama? Tapi sayang, telinga Yang Mulia tidak untuk mendengar berita. Dan hanya dipergunakan untuk mendengar gemerin- cingnya emas dan uang."

"Ampun, Yang Tersuci."

"Menyakitkan memang. Tapi ini perlu hamba sampaikan supaya mulai sekarang Yang Mulia mendengar. Mendengar dan melihat! Barangsiapa tidak mendengar dan tidak melihat, maka ia tidak mengamati kehidupan. Dan barangsiapa tidak mengamati ia tidak pernah belajar mengerti kehidupan."

"Mungkin sudah takdir "

"Bohong! Itu ucapan penipu! Kita disuruh puas dengan kemelaratan kita, kesudraan kita, kekalahan kita karena sudah takdir Itu kata-kata hiburan. Atau juga patokan supaya kita tidak melangkah ke depan. Ha... ha... ha... Sejak kapan Yang Mulia belajar seperti itu?"

Sutanegara tersipu malu. Juga Suratruna. "Apakah memang sudah takdir jika Repi, putri Tumenggung Lo Pangpang, ditiduri oleh Vos dan diperkosa habis-habisan tiga hari tiga malam itu?" Berhenti sejenak.

Dan kedua orang itu menelan ludahnya. Dua satria Lateng itu makin terlonggok-longgok. Ropo juga tahu kejadian itu?

"Apakah juga takdir jika sekarang Repi jatuh ke tangan pemuda bule yang bernama Bozgen dan mereka sekarang ini hidup seperti suami-istri di luar perkawinan? Itu cuma akal- akalan manusia yang mencari keenakan! Tentu ada yang diuntungkan dan dirugikan. Aha... mungkin ini pula rupanya yang membuat Yang Mulia tidak berbuat sesuatu kala putri tersayang Lateng diangkut ke Pangpang?"

"Yang Tersuci juga tahu itu...," Sutanegara tak dapat menahan hatinya lagi. Kini matanya menatap penuh harap.

"Dengar! Kenapa tidak? Itu sebagai salah satu karma dari keberanian Yang Mulia menandatangani perjanjian damai serta sedia bekerja pada VOC. Akibatnya? Ketidakberdayaan."

Kini Sutanegara mengangguk-angguk dan tunduk. Wajah putrinya yang menangis dan meronta kini membayang di pelupuk matanya. Tanpa sadar air matanya mengalir di pipi. Suratruna juga ikut sedih.

"Tidak perlu lagi ditangisi. Ini imbalan dari ketidakpekaan Yang Mulia memandang dan mendengar. Celaka, telinga Yang Mulia hanya dipergunakan mendengar desah wanita muda di tempat tidur Yang Mulia, tapi tak mendengar jerit putri Yang Mulia yang masih sebelas tahun itu diperkosa di ranjang drubiksa buas seperti Colmond?"

"Yang Tersuci..." Tubuh Sutanegara terguncang karena tangisnya. Orang setinggi itu, sebesar itu, menangis!

"Memang Yang Mulia datang pada hamba untuk menanyakan apa benar Wong Agung Wilis masih hidup? Dengar baik-baik, para Yang Mulia. Wong Agung Wilis tak pernah mati di hati kawula Blambangan. Sekalipun Yang Mulia memerintah Blambangan, tapi kawula akan lebih taat pada pemerintahan yang sebenarnya. Yaitu pemerintahan Wilis."

"Wilis kembali memerintah?"

"Ya! Mereka akan berhenti menyerahkan pajak jika sudah ada perintah dari Wilis. Sebentar lagi akan tiba saatnya."

"Yang Tersuci, benarkah ini?" Suratruna makin kaget. "Sudah kukatakan. Yang Mulia tidak pernah melihat

sekeliling Yang Mulia sendiri. Coba hamba ambil contoh. Yang

Mulia Sutanegara ini, pasti belum mendengar bahwa Ni Ayu Karisyati sudah mati di atas tempat tidur Colmond. "

"Ya, Allah benarkah ini?"

"Tidak percaya boleh. Tapi pulanglah sekarang, maka Yang Mulia akan menerima pemberitahuan dari Colmond. Hamba tak tahu apa alasan yang akan diberikan Colmond. Tapi kita semua bisa mengerti, betapa gadis cilik umur sebelas tahun diperkosa oleh binatang buas seperti Colmond. "

"Tidak!" Sutanegara berdiri. Melangkah gontai, diikuti oleh Suratruna dan pandangan mata Ropo. "Tidak, Anakku!" kembali ia berdesis lirih di regol rumah besar milik Ropo. Para cantrik memperhatikannya. Sebelum ia naik ke kudanya, ia sempatkan melihat kembali ke pendapa. Tapi Ropo tidak ada. Ketika ia ingin kembali dan minta kepastian akan apa yang didengarnya seorang cantrik mendekatinya.

"Sudah cukup. Resi tidak akan menemui Yang Mulia kembali."

Ia pandangi cantrik itu. Berkulit sawo matang. Tangannya kekar dan bergelang akar hitam di sebelah kanannya. Seperti prajurit, pikirnya. Ia akan melangkah dengan tidak menggubris cantrik itu. Namun sekali lagi suara mantap cantrik itu menghentikan langkahnya. "Yang Mulia akan menyesal jika memaksa." Seperti kena wibawa Sutanegara tidak membantah. Ah... tidak berani!

Keluar dari desa Songgon ia bingung. Haruskah ia mampir ke Lo Pangpang dan menghadap Mayor Colmond? Ia ragu.

Jika Resi Ropo ternyata tidak benar, maka Colmond akan menjadi amat marah. Namun demikian mengingat semua yang diucapkan Ropo mengenai keadaan yang telah ia alami tidak meleset, tentunya tak usah lagi diragukan.

Memang ada dua kemungkinan. Ropo hendak mengadu dia dengan Belanda atau benar-benar ingin menolongnya seperti katanya tadi. Lagi Wilis. Wilis yang memerintah atas seluruh Blambangan. Tidak mengakui pemerintahannya di Lateng dan Wangsengsari di Lo Pangpang. Apa benar Wong Agung Wilis dia itu? Dan jika ia melewati kampung-kampung, sawah- sawah, akan mendengar tembang yang menyebutkan bahwa Wong Agung Wilis tidak mati. Dan itu mulai juga dikidungkan oleh anak-anak gembala. Bahkan juga gadis-gadis cilik yang sedang mencari kayu di tepi hutan.

Agung Wilis...

Aram mundur, awak ajur Uang kubure... (pantang mundur dan tiada berkubur)

Demikian antara lain bunyi syair yang sempat ia tangkap.

Ia tahu persis apa artinya itu. Jika diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari di Blambangan, Uang kubure berarti 'tidak pernah mati' atau 'tidak berbekas’. Dan itu menunjukkan betapa cintanya kawula Blambangan terhadap Wong Agung Wilis. Terutama orang-orang di sekitar desa Songgon. Ah, rupanya banyak perkampungan baru. Tahukah Wangsengsari akan hal ini? Pernahkah petugas pajak Lo Pangpang datang ke desa yang subur ini? Ah... sepertinya tak terusik oleh tangan- tangan si bule.

Suratruna membuatnya tidak jadi ke Lo Pangpang. Dan mereka bergesa pulang. Namun demikian berdua telah bersepakat untuk semakin berhati-hati terhadap siapa pun. Semua orang kian sulit ditebak. Orang Blambangan sedang terbagi dua. Pihak Kompeni dan Wilis. Tapi siapa Wilis sebenarnya? Benarkah dia Wong Agung Wilis yang pernah menjadi Patih Amangkubhumi Blambangan. Jika benar dia... ah, tidak ada orang yang bernyawa rangkap. Dia sudah mati. Jika tidak karena kelaparan pasti sudah tertembus pelor Belanda. Nah, sekarang terbuktilah kebohongan Resi Ropo dan Mas Ramad serta Tha Khong Ming. Persekongkolan penipu.

Namun hatinya kembali berdebar kala sampai di pendapa istananya Bapa Anti sudah duduk bersama Jaksanegara.

Suratruna tetap menemaninya. "Assalammualaikum..." sapa Bapa Anti.

"Mualaikum salam Sudah lama?" Sutanegara kemudian menjabat tangan kedua tamunya. Demikian pula Suratruna.

Para istri Sutanegara tidak boleh ikut menemuk- Walau Sutanegara r tidak ada mereka hanya bisa mempersilakan tamunya dari balik kisi-kisi bambu. Atau ada juga yang cuma di balik tirai. Ahai, peradaban baru bagi para satria Blambangan.

"Sudah cukup lama. Sudah lelah menunggu,"

Jaksanegara tertawa. "Sampai-sampai kami ingin mencari ke mana para Yang Mulia pergi."

"Cuma memeriksa daerah kami," Suratruna menyahut lebih dulu. "Sebab akhir-akhir ini banyak terjadi penjarahan oleh perampok yang nekat."

"Benar, Yang Mulia. Mungkin itu tak terjadi di Pangpang," Sutanegara menimpali. "Tapi kedatangan para Yang Mulia amat mengejutkan. Adakah berita penting?"

Pertanyaan itu meluncur dengan tanpa dipikir.

Sebenarnyalah bukan pertanyaan istimewa. Namun mampu menghapus senyum semua orang-. Dan tiba-tiba saja bayangan wajah Rsi Ropo muncul di angan Sutanegara. Sebentar kemudian bayangan anaknya. Lama kemudian barulah Bapa Anti menjawab.

"Sebenarnyalah, Yang Mulia, kami mendapat perintah dari Tuan Mayor Colmond untuk membawa berita bagi Yang Mulia."

"Berita tentang apa?"

"Dua hari lalu, tiga orang yang biasa bertugas sebagai jagal sapi untuk dapur Kompeni masuk kamar Ni Ayu Karisyati dan di luar dugaan memperkosa putri Yang Mulia sampai meninggal "

"Apa Katamu, Bapa Anti?" Sutanegara bangkit dari tempat duduknya. "Anakku mati?"

"Dibunuh orang. Dan orang itu telah ditembak oleh Mayor.

Mayor sangat menyesal atas kejadian ini. Dan minta maaf."

"Dibunuh orang?" Sutanegara terkulai kembali lemah di tempat duduknya. Marah, menyesal tapi tidak berani, menjadi satu. Melahirkan ketidakberdayaan. Namun kemudian segera ia ingat pada Rsi Ropo.

"Akhir-akhir ini memang sering kita mendengar hal yang aneh-aneh. Sebenarnyalah Belanda ingin memajukan negeri kita. Tapi kita malas bekerja. Aneh, para pekerja selalu nekat, mereka memilih tidak mau makan, bahkan dilecut sampai mati daripada membangun benteng dan loji serta jalan-jalan.

Bukankah itu kebodohan?" Jaksanegara berusaha mengalihkan kesedihan Sutanegara.

"Bahkan mulai ada yang berani melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang mau membangun negeri dalam arti kerja sama dengan Kompeni," lagi Jaksanegara meneruskan kesimpulan yang diberikan Colmond padanya. Tapi Sutanegara sudah tak mampu mendengarnya dengan baik. Telinganya seperti mendengung. Suara Resi Ropo pantul-memantul di dinding hatinya. Menimbulkan gema yang tiada kunjung henti. Belanda yang datang baik dengan cara perorangan maupun dalam kelompok-kelompok adalah gelombang perompak rakus yang tidak kenal ampun.

Membantu dan kerja sama sekadar tipu muslihat untuk menutupi keganasannya.

Dalam diam Sutanegara menyimpulkan. Belanda tidak ada yang baik. Dan untuk ketidakbaikan itu ia harus membalasnya. Bukankah mulut Colmond sendiri yang mengatakan, anak Tuan akan aman. Tapi masuk akalkah jika anak itu—yang ditempatkan di kamar Colmond—bisa mati terbunuh oleh orang lain? Maka Sutanegara hanya diam mendengar ocehan Jaksanegara. Bungkam seribu bahasa.

"Kami ikut berdukacita. Mudah-mudahan arwah Ni Ayu diterima di sisi Tuhan. Karena pengabdiannya buat negeri amat besar," lagi Jaksanegara mengoceh. Dan ketika kedua orang itu meninggalkan pendapa ia telah sampai pada keputusan akan memusnahkan Colmond dari Blambangan. Kalau perlu ia akan membunuhnya dengan tangannya sendiri.

"Tidak mungkin kita melakukannya sendiri, Yang Mulia," Suratruna menasihati.

"Lalu?"

"Kita akan berunding dengan Resi Ropo yang pasti didukung oleh suatu kekuatan."

"Dari mana Yang Mulia tahu?"

"Keberanian yang ditampilkan dengan cara seperti itu mustahil tanpa latar belakang. Dan kita juga akan membicarakannya dengan Mas Ramad, yang pasti juga memiliki kekuatan tersendiri. Nah, kita perlu menghimpun juga kekuatan dengan Tha Khong Ming. Jika semua kekuatan bergerak bersama, apa sukarnya mengusir Colmond dari sini." "Benar juga. Kita tunggu mereka."

Namun demikian penantian selalu membuat hati siapa pun resah. Dalam beberapa hari terakhir. Malam sukar memejamkan mata. Siang juga tidak enak makan. Para istri tidak berani mendekat. Kupu-kupu di taman yang sedang hinggap di bunga-bunga tidak lagi menarik hatinya. Juga burung-burung kecil tidak mampu menghibur, bahkan suara yang sedikit berisik membuat telinganya sakit. Penantian melahirkan seribu angan. Namun semuanya musnah kala saatnya tiba.

Jika Bhoe Joek Ie cuma diberi hak menyewa, Tha Khong Ming diizinkan membeli tanah dan rumah yang cukup besar. Kebetulan rumah tersebut adalah bekas milik Martana, pedagang yang ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh Wong Agung Wilis. Maka ketika ia masuk ke rumah itu ia melihat halamannya cukup luas. Berpagar mirip kelenteng, dengan gerbang yang bisa tertutup rapat. Cocok dengan seleranya, maka berapa pun uang yang diminta oleh Suratruna ia tidak lagi menawarnya.

Pertemuan selanjutnya berada di rumah itu. Ramad, Mas Ayu Prabu, serta Sayu Wiwit sudah hadir juga tepat pada waktunya. Demikian pula Suratruna maupun Sutanegara. Tha Khong Ming sebagai tuan rumah sekarang, tampak sibuk membungkuk-bungkuk hormat. Menyiapkan tempat duduk sendiri. Juga menyiapkan minuman sendiri.

"Maafkan, para Yang Mulia, hamba masih belum beristri.

Jadi semua harus sendiri. Juga belum ada pelayan."

"Kami akan mengirim orang untuk bekerja pada Tuan," Ayu Prabu mendahului semua orang. Dan Mas Ramad menyetujui.

"Terima kasih. Itu yang kami harapkan dalam waktu dekat ini. Tentunya akan mempermudah semua usaha kita." Tha Khong Ming mengambil tempat duduk setelah semuanya beres. Mereka mengelilingi meja bundar yang cukup besar. Dengan kursi-kursi ukiran peninggalan Martana. Ruangan sebesar tujuh kali delapan depa. Belum ada hiasan atau gambar apa pun yang tertempel di dinding.

"Hamba tidak sabar menunggu. Karena hamba mempunyai persoalan."

"Yah. Kami tahu, Yang Mulia akan mempersoalkan kematian Ni Ayu," Mas Ramad memotong.

"Ya, Allah... Yang Mulia juga tahu itu?" Sutanegara kaget luar biasa.

"Siapa yang tak dengar peristiwa pembunuhan itu." "Ya, Tuhan... dosa apa yang kulakukan maka aib harus

kupikul seperti ini?" Sutanegara bicara pada diri sendiri.

"Sebelum kita melanjutkan pembicaraan, ada baiknya hamba terlebih dahulu menyampaikan surat dari Yang Mulia Wong Agung."

"Ya...," semua bicara serentak.

Sutanegara seperti tersentak kembali mendengar nama Wong Agung Wilis disebut. Maka ia mengikuti langkah Tha Khong Ming dengan pandangan mata. Ia menuju ke tumpukan kain sutera yang akan dijajakan ke seluruh negeri. Ia mengambil segulung dan membukanya. Di dalam gulungan itu ada gulungan sutera yang tidak lebar. Semua orang memuji kecerdikan Tha Khong Ming. Petugas syahbandar tidak mene- mukan apa-apa waktu menggeledahnya di dermaga. Gila!

Suratruna mengumpat dalam hati. Siapa yang sudi membuka tiap gulungan sutera segitu banyak.

Sambil tertawa ramah Tha Khong Ming menyerahkan surat sutera dan ditulis dengan tinta bak Cina itu pada Mas Ramad. Kita semua perlu tahu isi surat beliau itu, Tha Khong Ming mengutarakan pendapatnya. Dan semua menyetujui. Cukup panjang ketika lembaran sutera itu dibuka. Mas Ramad mulai membaca dengan teliti dan dengan suara yang tidak terlalu keras, setelah terlebih dahulu Ayu Prabu bersama Sayu Wiwit melakukan pemeriksaan terhadap sekeliling ruangan bahkan sekeliling rumah. Kini Tha Khong Ming mengagumi kejelian Mas Ayu Prabu. Tentu mereka bukan orang sembarangan, pikirnya.

"Anakku, Ramad Surawijaya" demikian surat itu memulai. "Pertempuran sudah berakhir. Tapi itu tak berarti

peperangan sudah berhenti. Aku senang kau belum gugur. Kau anakku. Kakakmu Mas Toyong dan Berod sudah mendahului kita. Yah... kamu salah seorang yang mampu mengalahkan mati. Nah, surat ini harus kamu beri tahukan pada ibumu di Raung serta Yistyani dan Wilis."

Sampai di sini Suratruna mengerutkan dahi. Begitu juga Sutanegara. Dengan kata lain Agung Wilis sudah menyiapkan keluarganya sebelum menyerbu Belanda. Betapa hebatnya orang itu. Kemudian ia mendengar lebih teliti lanjutan surat itu.

"Kelaparan bagi seluruh laskarku, membuat aku melakukan kenekatan yang membuat aku tertangkap pada hari kelima belas bulan Jita (bulan mei) dan aku dibuang ke salah satu pulau di utara Batavia. Pulau Edam. Aku tahu dari orang-orang yang sudah lama menghuni pulau pembuangan itu. Namun tak lama setelah itu aku dilayarkan ke Banda. Melalui gelombang laut yang besar dan selalu dalam kawalan yang ketat, aku mendarat di pulau yang sudah dihuni oleh banyak terhukum. Orang-orang Mataram dan Surabaya dan banyak orang Portugis di pulau itu. Semua bercampur menjadi satu.

Laki-Perempuan. Namun demikian aku tidak pernah melupakan tanah kelahiranku, Bumi Semenanjung, Blambangan. Itulah sebabnya kala aku mendapat kesempatan untuk membuang mayat temanku di laut aku memberanikan diri untuk pura-pura mati supaya aku dibuang ke laut. Itu sudah merupakan kebiasan di penjara kami. "Yang mati akan menjadi santapan ikan-ikan besar di laut ganas dengan ombak yang setinggi-tinggi bukit. Dua orang teman menyertaiku dalam rakit. Juga tiga orang pengawal bersenjata. Aku berdoa, mohon kekuatan pada Hyang Maha Durga. Durga Mahisa Sura Mardhini! Saat aku sudah sampai pada puncak semadiku, aku melompat dan merampas pedang seorang pengawal. Juga dua temanku bergerak cepat. Mereka semua menjadi makanan ikan pengganti diriku. Laut dan gelombang menjadi musuh baru kini. Untung aku pernah belajar Yudisa (ilmu pergeseran bintang-bintang dan perbintangan) sehingga aku tak kehilangan arah.

"Tapi pelor sempat merobek dadaku. Ini juga persoalan. Temanku memberiku semangat, agar aku tetap hidup. Yah, aku akan tetap hidup. Setelah berhari-hari menahan lapar karena tak punya bahan makanan, dan menahan haus, maka salah seorang temanku mati. Berkali aku harus menghadapi ini. Lapar.

"Doa tidak pernah berhenti dari mulutku. Semadi dari waktu ke waktu membuat aku mampu mengatasi mabuk laut yang mematikan. Dan Hyang Durga adalah Maha Pengasih. Satu pagi aku melihat daratan. Entah berapa hari aku terkatung antara hidup dan mati.

"Aku tidak tahu nama tempat aku mendarat. Pantainya penuh kelapa. Orang-orang di pantai

itu amat bersahabat. Temanku memilih tinggal daripada meneruskan perjalanan. Nelayan di situ mengantar aku ke Mengwi. Sekarang aku tetap hidup. Dan aku tidak akan pernah berhenti berperang melawan Belanda. Karena aku tahu anak-anakku adalah penyambung hidupku, dan kau tak pernah kalah. Kapan dan di mana saja."

"Dirgahayu," Mas Ayu Prabu bersorak begitu Mas Ramad selesai membaca. "Dirgahayu Wong Agung Wilis!" Sayu Wiwit menyebut dalam hati. Dan tidak mampu menutup kekagumannya. Demikian pula lainnya. Bahkan Tha Khong Ming sendiri. Waktu ia dikenalkan oleh Cokorda Dewa Agung Mengwi, ia sudah kagum melihat pandangan mata orang tua itu. Kini mendengar sendiri, bagaimana Wong Agung Wilis memperjuangkan hidupnya. Layak disebut sebagai orang besar di Blambangan.(Menurut catatan Belanda Wong Agung Wilis meninggal akhir tahun 1780 di Mengwi)

"Kita tidak boleh hanya terpana mendengar kisah ini. Tapi yang lebih penting dari semua itu adalah amanat yang terkandung di dalamnya," Mas Ramad mengingatkan. "Wong Agung Wilis tak pernah mati!"

"Ya. Hamba setuju dan hamba ingin membantu sepenuhnya perjuangan para Yang Mulia” Khong Ming menyatakan dirinya.

"Hamba akan membawa surat ini pada ibunda. Tapi sebelum itu kita akan bicara soal yang ditanggung oleh Yang Mulia Sutanegara. Colmond harus kita punahkan," Ramad berapi-api.

"Ya, tapi mungkinkah kita melakukannya? Kita tidak bisa menembus pejagaan ketat kediaman Colmond. Dan kalau itu kita lakukan maka balatentara Kompeni akan berbondong- bondong dari seluruh wilayahnya," Tha Khong Ming memberi pendapat lagi.

"Kita harus lebih dahulu mempersiapkan diri memasuki perang besar. Tidak asal serbu," Ayu Prabu memberi pendapat pula. "Tapi hal ini bukan berarti kita berbelit dalam persiapan," lanjutnya.

"Artinya kita harus membangun laskar baru?" Sutanegara kurang mengerti. Karena ia memang tidak pernah belajar berperang. . "Laskar sudah ada. Tapi kita agaknya kurang persenjataan. Kurang persiapan dan perhitungan secara matang. Tapi kita akan mencoba, membuat kejadian anak Yang Mulia ini sebagai alat untuk menyingkirkan Colmond yang telah membunuh banyak kawula kita melalui meja," Ayu Prabu menguraikan pendapatnya. Dan Tha Khong Ming mengangguk-angguk kagum. Walau Sutanegara dan Suratruna sama sekali belum menangkap arti kata-kata Mas Ayu.

"Hamba bisa membantu. Hamba punya paman yang mempunyai hubungan baik dengan Gubernur Vos. Karena itu Yang Mulia harus melaporkan kejadian ini pada Gubernur Vos. Buat surat laporan."

"Apakah itu tak melanggar "

"Kita harus lakukan ini, Yang Mulia. Melanggar atau tidak itu bukan urusan kita. Mereka telah lebih dulu melanggar hak kita sebagai manusia."

"Baiklah. Kita akan coba."

Setelah minum dan makan ala kadarnya mereka bubar.

Mereka diberi tahu bahwa pemilik kedai makanan dan minuman di ujung jalan dekat rumah Tha Khong Ming itu adalah anak buah Mas Ayu Prabu. Sutanegara makin menyadari bahwa orang-orang Wilis berada di mana-mana. Dan Suratruna juga merasa bukan apa-apa dibanding anak- anak muda itu.

Dan Tha Khong Ming tidak main-main. Ia berlayar ke Surabaya untuk membuktikan ucapannya. Bagaimanapun ia tidak pernah lupa cerita orang-orang bahwa kakek dan neneknya diikat oleh Kompeni di Batavia bersama ribuan orang Cina lainnya. Mereka diseret ke pantai dengan kuda untuk kemudian diberondong peluru. Satu-satu rebah. Untuk kemudian terseret ke laut oleh gelombang "pasang.

Dendam itu tidak akan lepas turun-temurun. Dan karenanya ia harus membantu Blambangan walau ia tidak akan melepas siasat mencari keuntungan dalam perniagaannya. Dan semua yang dilakukannya juga mendapat dukungan, bahkan biaya, dari pamannya di Surabaya, Thong Ping Hong.

Thong Ping Hong sudah tua. Badannya gemuk. Tinggi- besar dengan rambut dikuncir seperti halnya Tha Khong Ming. Berpakaian sutera hitam dengan gambar naga di dadanya.

Kendati sudah tua tapi masih mampu bergerak lincah. Menunjukkan orang itu cukup terlatih. Rumahnya penuh hiasan yang sukar ditebak maknanya. Gambar persegi lima dan kepala harimau menggigit pedang serta cermin dan yosua atau dupa ratus berjejer di dinding depan pintu rumahnya.

Hiasan bulat-bulat seperti bola merah-biru dan kuning bergantungan di langit-langit rumahnya. Belum lagi lukisan- lukisan yang memang dia bawa dari negeri leluhurnya bertempelan di dinding. Semua punya makna sebagai penolak bala.

Dalam bahasa Cina Hokian, keduanya terlibat dalam percakapan ramai. Sambil menghadapi makanan dan minuman di meja, sumpit di tangan, mereka merundingkan kepentingan Tha Khong Ming.

"Kau memperoleh izin tinggal tetap di Blambangan itu luar biasa. Bayangkan, kita semua dengar, Bhoe Joek Ie yang menghadap langsung pada Colmond tidak bisa mendapat-izin tinggal tetap. Tapi kau..." Pamannya terkekeh-kekeh bangga. Berhenti sebentar, terdengar ia mengeluarkan suara aneh dari mulutnya. Ternyata ia sedang menghimpun dahak dari tenggorokan dan hidungnya untuk mengumpul di mulutnya, kemudian diludahkan ke dalam tempolong yang sudah disediakan.

"Karena kami sudah lebih dulu berkenalan dengan Wong Agung Wilis di Mengwi. Dan ternyata nama Wong Agung masih dihormati di seluruh Blambangan."

"Hayah... krueek... krueek," berdahak lagi, "hebat! Aku senang mendengarnya." "Nah, dengan demikian hampir dapat dipastikan di Blambangan akan terjadi peperangan "

"Kita jual senjata pada mereka," sahut orang tua itu cepat.

Mata sipitnya berbinar. "Untung besar itu. Sambil melampiaskan dendam kita mendapat uang. He... he... he "

dan mengulangi berdahak.

Tha Khong Ming memungut bakwan dengan sumpitnya.

Sambil mengunyah ia berkata,

"Agung Wilis akan membeli senjata pada kita dan akan meminta pada kita untuk menyelundupkannya ke Blambangan."

"Uh, itu pekerjaan berat."

"Tapi menyenangkan. Betapa senangnya bila kita berhasil mengelabui Kompeni. Membantu orang Blambangan adalah salah satu panggilan. Dan setiap panggilan hidup itu indah."

"Ya. Lalu sekarang apa kerjamu ke Surabaya ini. Cuma memberi tahu keadaanmu di Blambangan? Sumberwangi?"

"Tidak. Kami akan minta tolong pada Paman sebagai ganti orang tua kami."

"Apa yang bisa kukerjakan?" Orang itu memandang tajam- tajam keponakannya setelah berdahak untuk kesekian kalinya.

"Bhoe Joek Ie dan Lie Pang Khong menguasai perniagaan di seluruh bumi Blambangan karena ia punya hubungan dengan Colmond. Dan izin tinggal kami di Blambangan akan tergoyah jika Colmond bertindak. Nah, karena itu kita berkepentingan menyingkirkan Mayor itu dari bumi Blambangan. Tentu tidak dengan membunuhnya. Sebab itu akan mengobarkan perang."

"Bisa. Bisa diatur. Aku akan menghadap Vos. Aku yang mngatur di sini. Tapi punyakah kau alasan yang mungkin sekali memudahkan berhasilnya rencana ini?" "Ada..." Dengan bersemangat Tha Khong Ming menceritakan kejadian yang terakhir di Blambangan. Termasuk matinya anak Sutanegara .

"Ah... itu bagus sekali. Kau punya bukti?"

"Ada ini surat pengaduan yang ditulis oleh Tumenggung Sutanegara. Tapi dia tidak berani menyampaikannya sendiri." Ia menyerahkan surat pengaduan itu pada pamannya.

Pamannya terbahak-bahak melihat itu. Ia berulang-ulang memuji Tha Khong Ming.

"Sekarang kau boleh menunggu hasilnya sambil bekerja di rumahmu. Aku akan bekerja."

Puas hati Tha Khong Ming. Ia tahu, pamannya tidak menipu. Ia kemudian meninggalkan Surabaya untuk menuju Mengwi. Ia harus menceritakan pada Wong Agung Wilis bahwa ia telah berunding dengan Mas Ayu Prabu serta Mas Ramad untuk memusnahkan Colmond.

Sementara itu Sayu Wiwit sudah menurunkan perintah pada Repi untuk menguji kesetiaan Bozgen. Jika perlu meminta Bozgen membunuh i Colmond. Sayu Wiwit tahu persis Bozgen benar-benar tergila-gila pada Repi. Barangkali saja itu yang pertama kali Bozgen. mengenal wanita.

Sebagaimana biasa sebelum menemui Repi, Bozgen permisi lebih dahulu pada Tumenggung Wangsengsari. Karena itu pula bagi banyak orang hubungan kedua muda-mudi itu tidak lagi menjadi rahasia. Walaupun kedatangan Bozgen selalu malam atau senja. Begitu pula jika ia ingin membawa Repi ke lojinya. Pasti dilakukan dengan tanpa setahu banyak orang. Namun sepanjang-panjang jalan masih panjang tenggorokan. Di antara istri atau anak-anak Wangsengsari sendiri tentu ada yang iri. Iri terhadap perhiasan yang dipakai Repi. Iri terhadap kebebasan Repi. Apalagi sekarang Repi dibuatkan rumah sendiri walau masih dalam lingkungan tembok katumenggungan. Tak urung dari balik tirai mereka saling berbisik.

"Ah, enaknya punya wajah cantik. Dapat suami bule." "Suami apa?" yang lain membantah. "Suami-suamian."

Terdengar kikik-kikik di balik tirai itu. Mereka mengintip kedatangan Bozgen.

"Salahnya kamu tidak jadi penari "

Bozgen senja itu ingin membawa Repi ke rumahnya. Sudah satu minggu ia tidak berjumpa. Beberapa hari ini Repi tidak ada di rumahnya. Sedang ia sendiri tidak punya kesempatan mencari, karena sibuk mengatur penjagaan setelah peristiwa kematian anak Tumenggung Lateng. Dikhawatirkan ada pembalasan dendam.

Tapi sudah berjalan sebulan lebih tidak ada gejala pembalasan dendam itu. Namun yang memusingkan Colmond angka kematian kian meningkat. Baik mereka yang bekerja di benteng-benteng maupun para anggota Kompeni sendiri. Dan mulai banyak desa yang menjadi sepi karena ditinggal pergi oleh penduduknya. Ke mana mereka itu? Tidak ada yang tahu. Karena mereka meninggalkan tempat tidak secara berbondong-bondong. Sawah banyak cuma ditunggui kerumunan anjing. Ada pula sawah yang pada siang hari masih belum dipanen, namun ketika ditengok oleh pamong desa karena pemiliknya sudah meninggalkan rumah, ternyata buah padinya sudah lenyap tanpa bekas seperti dimakan ulat. Semua laporan ini menyebabkan Colmond memerintahkan pengawasan siang dan malam. Bukan cuma itu. Tapi mencoba melacak ke mana perginya orang-orang itu.

Pintu rumah Repi tertutup. Bunga-bunga di luar tertiup angin senja. Keremangan turun perlahan menguasai bumi. Dengan hati-hati Bozgen mengetuk pintu. Tidak ada yang menyahut. Sekali lagi. Dan berkali lagi ia mengetuk. Pintu masih juga tertutup. Ke mana Repi? Ayahnya bilang ada. Ia menunggu sebentar. Tak sabar. Mondar-mandir di depan pintu. Repi tak juga keluar. Pertanyaan yang timbul berkembang bukan ke mana Repi pergi. Kini berubah, mengapa Repi tidak muncul. Menghindari? Punya kekasih baru? Seribu pertanyaan mendorong keinginannya untuk mencoba masuk. Ternyata pintu tidak terkunci. Perlahan ia melewati ruangan demi ruangan dan mencapai kamar tidur Repi. Ternyata wanita itu sedang tertelungkup di atas tempat tidurnya. Tempat tidur dengan alas sutera biru muda bikinan Cina. Semua perabotnya pemberian Bozgen. Juga cermin besar yang berbingkai emas itu pemberian Bozgen.

Repi tetap tidak bergerak waktu Bozgen duduk di tepi ranjangnya. Mukanya tampak mendung. Bahkan ia juga tetap diam kala Bozgen membelainya.

"Ada apa?" Bozgen tidak dapat menahan hatinya.

Diam. Kembali Bozgen berbisik di telinganya. Repi tetap diam. Bahkan kini meneteskan air mata. Bozgen menjadi bingung. Ia mencoba mengelusi punggungnya. Repi tampak terisak.

"Bicaralah, Repi. Apa sebabnya kau menangis? Sakit?" Menggeleng.

"Lalu kenapa kau ini?"

"Tuan... apakah Tuan mencintaiku?"

"Ya, Tuhan... kenapa kau tanyakan lagi? Kurangkah pengorbananku buatmu?"

"Cinta tidak bisa diukur oleh permata dan benda. Tidak juga cuma dengan kata-kata." Repi masih belum berbalik.

Bozgen mencoba merebahkan diri di samping Repi. Ia hapus air mata Repi. "Kau istriku, Repi. Tidak layak bicara seperti itu."

"Kita tidak terikat oleh hukum. Hindu tidak. Islam pun tidak.

Apalagi hukum negerimu." "Ya... kalau begitu kita akan pergi ke Probolinggo. Aku kenal seorang kiai yang bisa mengukuhkan perkawinan kita. Di sini belum ada seorang kiai. Nah, bukankah kau Islam?"

"Ya, bapakku sekarang Islam. Aku juga harus mengikutinya. Walau aku sama sekali tidak mengerti apa itu Islam. Tapi kenapa kita harus kawin dengan hukum Islam? Tidak hukum negerimu? Dengan kata lain kau hendak meniru Vos. Kau tidak mau bertanggung jawab terhadap orang yang saat ini kau anggap istrimu? Atau kau akan seperti Colmond...?"

"Berhentilah kau berbicara seperti itu, Manisku..."

"Siapa yang tidak takut dibunuh seperti Ni Ayu Karisyati?" "Jangan samakan aku dengan Mayor "

"Begitu Colmond, begitu pula Vos, apakah tidak begitu juga dengan semua orang Belanda? Perampas dan pemerkosa!

Ternyata tidak ada Belanda yang baik." Repi menjadi berapi- api. Ia kini bangkit. Duduk bersandar dinding. Bozgen menjadi terkejut.

"Sekarang Belanda menyebarkan berita bahwa Ni Ayu dibunuh oleh orang lain. Dan mana orang lain itu? Mana? Dibunuh oleh Colmond? Barangkali anak yang masih ingusan dapat mempercayai itu. Tapi semua orang yang sudah bisa berpikir pasti tidak akan mempercayainya. Nah jika kau

memang suamiku, benarkah kata-kataku ini?"

Bozgen menghela napas panjang. Tidak ia kira bahwa senja itu merupakan neraka baginya. Ia mengerti benar bahwa jika mengiakan kata-kata Repi, berarti ia mengingkari sumpah jabatan. Jika tidak mengiakan maka akan kehilangan cinta.

Kehilangan kenikmatan, kemesraan. Ia berada di simpang jalan. Dan teringat salah satu hukum Taurat yang tertulis dalam Alkitab-nya yang mengatakan, "Jangan berdusta "

Repi menyalakan pelita ketika ia masih memandangi langit- langit. "Kenapa diam?" Repi mendesak.

Sekali lagi Bozgen menarik napas panjang. Namun ia telah memilih.

"Kau benar!" katanya sambil berpikir dari mana perempuan itu tahu.

"Apakah menurutmu itu bukan kejahatan?" "Ya."

"Dan kau diam saja. Kau ikut menyebarkan kebusukan itu?" Repi kian mendesak.

Kini Bozgen menjadi berkeringat. "Maafkan aku, Repi. Aku cuma bawahan."

"Saat ini kau boleh memilih..." Repi selesai menyulut pelita.

Dan kemudian tidak kembali lagi ke ranjang. Tapi duduk di kursi.

"Apa yang harus kupilih?" "Aku atau Colmond." "Maksudmu?"

"Aku adalah orang Blambangan. Karena itu jika kau cinta aku, kau harus cinta pada Blambangan. Dan kau harus menyingkirkan Colmond dari bumi Blambangan!"

"Hei... apa katamu?" Bozgen melompat bangun. Napasnya mengencang. Dengan matanya yang biru ia pandang Repi tajam-tajam. Mata mereka beradu. Repi mengumpulkan seribu keberanian di dadanya.

"Aku cinta kau, Repi. Tapi aku tak mungkin membunuh Mayor Colmond."

"Selama Colmond ada di bumi Blambangan ini maka aku tidak mungkin menjadi istrimu. Kau tahu kenapa aku pergi beberapa hari yang lalu? Dan kenapa aku sering pergi meninggalkan rumah? Sebab aku menghindari Colmond. Berapa kali ia memerintahkan orang tuaku untuk mengantar aku ke rumahnya? Dan demi cintaku padamu aku harus meninggalkan rumah."

"Jadi..."

"Yah. Aku tak mau mati di tangan Colmond.Nah, buktikan jika kau mencintai aku. Aku tak mungkin menghindar terus- menerus. Orang tuaku bisa dibunuhnya."

Bozgen terduduk dengan lunglai. Ia bersaing dengan komandannya sendiri. Ah... jika ia tahu Repi menghindari Colmond karena dirinya, maka tak mustahil jika satu ketika Colmond akan membunuhnya dengan cara lain. Apa akal? Kubunuh? Bahaya. Ada jalan. Aku akan melaporkan kejadian ini ke Surabaya. Bukankah ini menyangkut putra tumenggung? Sekalipun ia pribumi, ia adalah pegawai Kompeni. Tak bisa diperlakukan seperti itu.

"Repi..."

"Ya. Kau akan meninggalkan aku?"

"Tidak!" Kini Bozgen bangkit mendekati Repi. "Aku akan menyingkirkan Colmond dari Blambangan. Tapi aku perlu bantuanmu."

"Apa yang harus kukerjakan? Meracun Colmond?"

"Tidak! Jangan kawatir. Kita tidak akan membunuhnya. Kita ajukan persoalan ini pada Gubernur di Surabaya. Nah, karena itu aku butuh pengaduan dari Sutanegara. Bisa kau mendapatkannya?"

"Aku sudah punya surat itu. Karena memang aku simpan sebagai bukti jika aku tidak percaya bahwa Ni Ayu mati di tangan Colmond." Repi kemudian kembali menuju tempat tidurnya. Jari-jarinya yang runcing ia pakai menyingkap tempat tidur dan mengambil segulung sutera, dan menyerahkannya pada Bozgen. Bozgen membuka gulungan itu. Ditulis dengan tinta bak Cina hitam. Dan ia baca. Betul, sekalipun dalam bahasa Blambangan tapi jelas menyebutkan isi pengaduan Sutanegara. Ia tersenyum. Akan tetapi apakah ia akan berhasil? Ia akan bertaruh. Ia pertaruhkan nyawanya. Ia akan mengambil cuti dan pergi ke Surabaya untuk menghadap Gubernur. Yah... setelah itu ia akan mengajak Repi kawin di Probolinggo.

"Aku setuju itu. Tapi sekarang tinggalkan tempat ini. Aku tak mau kau jamah sebelum Colmond benar-benar tersingkir."

"Repi..."

"Aku tidak percaya lagi pada Belanda... Kecuali jika kau sudah membuktikan kata-katamu."

"Repi..."

"Ampuni aku, Bozgen. Besok jangan ke sini lagi karena aku akan pergi untuk menghindari siapa pun. Colmond dan kau."

Pandangan Bozgen menjadi nanar. Wanita itu menjadi keras. Dan dengan gontai ia harus pergi. Gagallah keinginannya untuk bermesra dengan kekasihnya. Maka ia mengambil keputusan segera meninggalkan Blambangan. Cinta memang mengalahkan segala-gala.

0oo0

Bulan terbit tengah malam dengan wajah pucat, menandakan saat itu tanggal sudah tua bagi bulan Jawa. Bulan Badrawana atau bagi penanggalan yang dipakai oleh Belanda tanggal muda bulan September. Bukan bulan sumbing. Malah tampaknya seperti bibir seorang gadis yang sedang tersenyum. Colmond mengumpat dalam hati.

Bulan itu serasa mengejeknya. Ia merasa masa jabatannya di Blambangan terlalu singkat. Ia sangat kecewa. Karena dengan keluarnya dari Blambangan maka berarti ia berpisah dengan Bhoe Joek Ie dan Lie Pang Khong yang menjadi sumber duit baginya.

Tentu ada yang tak beres. Apa salahku? Setoranku tidak pernah kurang dari ketentuan. Tapi kau membunuh begitu banyak pribumi Blambangan. Dan kau membiarkan orang- orang Belanda sendiri mati satu-satu karena penyakit aneh. Bahkan kau tidak melaporkan itu. Semua kau laporkan baik- baik. Dan kau telah memperkosa anak tumenggung sampai mati. Gadis di bawah umur lagi! hatinya sendiri menuduh. Dan semua pasti ada hubungannya. Pasti ada yang melapor ke Surabaya. Mungkin saja Bozgen yang mengambil cuti beberapa minggu yang lalu. Tapi kini sia-sia andaikan ia panggil Bozgen. Ia tidak berhak lagi memarahi Bozgen karena perintah timbang-terima sudah tiba. Ia akan diganti oleh Biesheuvel. Orang itu dengan resmi akan menduduki jabatan "Residen” di Lo Pangpang. Bukan cuma itu. Dikirim pula sebagai pembantu Biesheuvel, Schophoff.

Apalagi disusul surat keputusan yang menyebutkan bahwa masih akan datang lagi Pieter Luzac bulan Desember mendatang sebagai pembantu residen juga. Ada dua pembantu residen. Mungkin seorang akan ditempatkan di Jember dan seorang lagi di Sumberwangi. Semua itu dilakukan untuk menghindari kesewenang-wenangan. Bukan cuma kesewenang-wenangan seperti yang dikerjakan Colmond, tapi juga menghindari penyalahgunaan kekayaan kawula Blambangan oleh perorangan. Kekayaan yang semestinya bisa diulur untuk pembayaran pajak jangka panjang, harus habis karena dikuras secara tidak henti-henti oleh perorangan- perorangan yang sedang memegang kekuasaan. Ternyata kawula Blambangan sekarang tidak hanya harus membayar pajak pada VOC dan mempersembahkan upeti pada para tumenggung, tapi juga harus memperkaya perorangan- perorangan yang memiliki sedikit kekuasaan di atas mereka. Bulan pucat bagi sementara orang di Blambangan bisa berarti lain. Sementara Colmond kecewa, sedih, marah menjadi satu, orang lain tersenyum samar. Tha Khong Ming membuktikan hasil kerjanya pada Mas Ramad dan kawan- kawannya. Demikian pula Bozgen. Ia membuktikan diri pada Repi bahwa sekalipun ia seorang bawahan, namun mampu mengusir atasannya. Dan itu melicinkan jalan perkawinannya di depan penghulu di Probolinggo. Bagaimanapun ia menyumbangkan suatu bukti bagi kebenaran pendapat sementara orang bahwa cinta mengalahkan segala-galanya. Cinta membuat mata banyak orang tertutup. Tidak kurang- kurang manusia memburu suatu yang mereka namakan puncak cinta... di atas tempat tidur.

Tidak banyak orang tahu nasib Colmond kemudian. Tapi bagaimanapun, ditariknya Colmond ke Surabaya memberi napas sedikit lebih lega bagi seluruh kawula Blambangan. Resi Ropo menyambut berita dengan sangat gembira. Dan ia memerintahkan segera meneruskan berita itu ke Raung.

Kepucatan bulan menggambarkan bahwa walau Blambangan boleh tersenyum namun masih harus prihatin karena masih ada pekerjaan besar di pundak mereka. Mengusir VOC dari bumi Blambangan.