Gema Di Ufuk Timur Bab 05 : Puting Beliung

 
Bab 05 : Puting Beliung

Terik mentari kian menyengat bumi. Langit bersih. Awan putih terbang berarak tidak menghalangi panas yang membakar kulit manusia dan bumi. Pematang-pematang sawah menjadi sepi. Sepi dari rumput yang hijau. Sepi dari kidung anak gembala. Panen tak sebaik tahun-tahun I sebelumnya. Musim kemarau serasa amat panjang. Aniaya yang juga dirasakan oleh unggas dan ternak. Dan kawula Blambangan pun manusia seperti halnya yang lain. Maka tiap kegagalan akan membuahkan kambing hitam.

Kawula Blambangan menganggap kegagalan panen dan kesulitan yang mereka alami akhir-akhir ini disebabkan oleh kutukan Hyang Maha Ciwa. Karena kekudusan tanah ini musnah. Para dewa telah marah pada Blambangan. Hyang Maha Ciwa menghukum tiap pelanggaran terhadap kekudusannya. Dan dari mulut ke mulut orang mulai menuding kesalahan para bangsawan yang berpaling dari Dewa Ciwa dan telah menjadi Islam. Terlebih lagi karena para pemimpin Blambangan sekarang mendiamkan saja orang- orang asing berbuat semau-mau atas tanah kelahiran mereka. Kawula Blambangan tidak pernah menyadari dengan tiadanya Wong Agung Wilis, sebenarnyalah Blambangan sudah menjadi budak dari tiap orang asing yang mangkal di bumi semenanjung itu. Ketidakmengertian memang akan membuahkan kesalahpahaman. Dan kesalahpahaman membuahkan kambing hitam. Masyarakat memang telah menjadi sakit.

Akibat dari semua itu, kawula Blambangan tidak perlu meneliti bagaimana asal-usulnya, maka tiba-tiba saja di sebuah desa tua, muncul seorang brahmana muda yang bernama Rsi Ropo. Rambut Resi muda itu ikal, terurai sampai ke bawah pundaknya. Kulit kuning dengan mata bersinar di bawah alis hitam tebal. Berjubah sutera hitam buatan Cina dengan kalung panjang dan lencana kembang teratai mekar yang terbuat dari emas sebesar telapak tangan tergantung di depan pusarnya. Kumis kecil menghias wajahnya yang bersih tanpa cela. Hidung mancung dan bibir mungil. Tubuhnya tidak nampak kekar. Namun gerakannya lincah seperti kijang.

Desa tua itu bernama Songgon. Berada di tengah rimba dan terletak di sebelah barat Lo Pangpang. Desa tua itu dipagari dinding batu berlumut tebal. Cukup luas. Konon menurut cerita dari mulut ke mulut desa itu dulu didirikan oleh Sri Macan Putih leluhur raja-raja Blambangan, kala ia menunggu waktu hendak bertapa. Kebenarannya tidak ada yang tahu.

Sang Resi dikabarkan memiliki banyak cantrik (mahasiswa, murid), pria dan wanita. Dan yang paling menjadikan tanda tanya bagi setiap kawula yang pernah berkunjung ke sana, selalu mendapat makan «dengan sekenyang-kenyangnya.

Setiap hari Radite (minggu) malam Resi memberikan pengajaran untuk umum. Ratusan bahkan ribuan orang berjubel memenuhi bale pacrabaan (bangsal untuk mengajar di sebuah pertapaan). Kadang meluber ke halaman. Kadang hanya mendapat tempat di bawah pepohonan. Di antara para pengunjung terdapat juga para satria. Juga tidak jarang orang melihat Mas Rempek dan Nawangsurya serta Mas Ayu Rahminten. Semua orang mengagumi rsi itu. Walau masih muda namun dia seperti tahu setiap kejadian di bumi Blambangan.

Para cantrik tidak setiap waktu harus duduk di bale pacrabaan. Karena pada hari-hari di mana mereka tidak menerima pelajaran, mereka harus mencangkul di sawah. Cukup luas sawah yang terbentang menghijau di desa maupun di luar perbatasan desa. Adalah merupakan pertanda bahwa makanan berlimpah di padepokan itu. Bagaimanapun juga Rempek bertanya dalam hati, dari mana mereka mendapatkan dana. Setiap pekan mereka memberi makan ribuan tamu.

Cukupkah sawah yang ada di Songgon ini? Itukah alasan maka mereka membuka sawah dan perladangan baru di luar pagar padepokan?

Tapi kawula Blambangan yang kebetulan memiliki kesempatan berkunjung ke sana menilai betapa suburnya padepokan ini. Tentu semua ini terjadi karena anugerah Hyang Maha Dewa yang mengasihi Rsi Ropo. Rsi muda yang menjaga kekudusan itu. Tidak seperti wilayah Blambangan lainnya. Di gerbang desa Songgon ini masih jelas terpampang lambang lingga-yoni atau lambang kesuburan bagi penganut Ciwa. Maka tak mengherankan jika setiap ajaran Resi Ropo mendapat sambutan. Bahkan cerita tentang rsi muda itu merambat dari satu telinga ke telinga lainnya. Mengundang keinginan tiap orang untuk membuktikannya.

Demikianlah sehingga pada suatu hari Bapa Anti juga tertarik untuk tahu siapa sebenarnya Resi Ropo. Maka di pertemuan Radite, mulai sore ia sudah bersila di deretan terdepan. Di belakangnya para cantrik sibuk mengatur orang- orang yang berdesak takut tidak mendapat tempat. Sambil menunggu ia sempat mengamati keadaan. Cukup luas bale pacrabaan itu. Sebuah pendapa berlantai tanah liat. Beratap ilalang. Di hadapan Bapa Anti juga ada rumah kayu yang cukup besar. Mungkin di situlah tinggal Rsi Ropo. Mata Bapa Anti juga menangkap adanya beberapa bangsawan Pakis duduk di tengah-tengah sudra. Senja obor-obor dinyalakan oleh beberapa cantrik. Suara seperti lebah berdengung mewarnai penantian. Tiap orang bercakap dengan teman yang duduk di sebelahnya.

Setelah senja berlalu Resi Ropo keluar dengan iringan beberapa cantrik. Kemudian dengan gerakan lincah ia duduk di kursi yang terbuat dari balokan kayu bundar. Setelah mengucapkan mantra ia mulai berbicara.

"Dirgahayu!" teriak orang muda yang berwajah seperti Dewa Kamajaya itu. "Dirgahayu!!" sahut semua orang. Setelah itu semua terdiam. Seperti terkena wibawa sang Rsi.

"Hyang Maha Ciwa mengasihi kita semua. Maka sebaliknya kita membalas kasih itu dengan darma dan karya yang baik. Setiap ketidakbaikan, ketidaksetiaan, akan mendapat karmanya sendiri." Tiba-tiba orang muda itu berdiri. Dan semua orang berdebar kala matanya menatap tajam pada setiap orang. Seolah mata itu mampu menembus kegelapan petang. Dan menusuk hati setiap orang. Kemudian ujung jarinya menunjuk seorang wanita muda yang bersimpuh di tengah kerumunan pendengar. Tiap orang mengikuti arah telunjuknya.

"Kamu! Kemarilah!"

Wanita itu menoleh kiri dan kanan. Kalau-kalau ada orang lain yang dimaksud sang Rsi. Juga teman-teman di sampingnya melakukan hal yang sama. Tapi...

"Tidak! Kamu, kemarilah!" perintah Resi Ropo.

Dengan kaki bergetar wanita muda itu berdiri dan maju. "Ni Repi!" Resi tersenyum setelah gadis itu di depannya.

Semua mengagumi kecantikannya. Kini tampak gugup. Sang

Resi tahu ia bernama Repi. Maka dengan gugup ia mengangguk.

"Jangan takut! Hatimu bersedih memikirkan nasibmu?"

Gadis itu kian takut. Mengangguk lagi. Semua orang kian kagum pada Resi Ropo. Juga Bapa Anti terheran-heran.

"Hyang Maha Ciwa akan mengampunimu asal kau mau mempersembahkan karya dan darmamu untuk Hyang Maha Ciwa."

"Ham... hamba, Yang Tersuci " "Jangan lagi pikir ayahmu! Tiap orang akan menerima karmanya sendiri! Kau disakiti Gubernur Vos? Perawanmu hilang? Itu pun karma untuk tiap langkah ayahmu! Dengar?"

"Hamba, Yang Tersuci." Repi kian gugup. Resi Ropo seperti dewa.

"Sebab apa yang tiada, tak akan pernah ada, apa yang ada tak akan pernah berhenti ada. Kedua hal ini hanya dapat dimengerti oleh orang yang memburu dan melihat kebenaran. Maksud semua ini ialah jika pernah ada kejahatan tentunya kejahatan itu tak akan pernah berhenti untuk ada. Dan pemerkosaan atas manusia yang lemah adalah kejahatan.

Kukatakan pemerkosaan karena kamu masuk kamar Vos bukan maumu! Ada yang membawamu ke sana. Betul!?"

Repi mengangguk lagi. Malu dan takut menjadi satu. Sekali lagi semua tertegun. Termasuk Bapa Anti.

"Kamu mau mempersembahkan darmamu untuk Hyang Maha Ciwa? Untuk kesucian bumi Blambangan ini?"

"Apakah hamba masih layak...?"

"Semua orang layak asal mau. Letaknya ada di kemauan." "Hamba, Yang Tersuci."

"Besok kau akan didatangi oleh seseorang yang akan memberimu petunjuk bagaimana caranya."

"Tapi hamba tinggal di istana yang dijaga dan dikawal." "Hyang Maha Dewa sanggup menembus tembok

rumahmu!" tegas pemuda itu sambil tersenyum. "Kembalilah ke tempatmu! Dan..." Kini Resi Ropo memandang Bapa Anti tajam-tajam. Jantung Bapa Anti seperti mau copot. Apalagi telunjuk sang Resi menuju ke dahinya. "Ham... ham... hamba, Yang Tersuci?" tanyanya sambil menyembah. "Ya. Duduklah saja! Kau Bapa Anti? Aha... jangan bohong!

Kebohongan akan membuat kau tidak mampu menemui istrimu yang muda dari Cina itu!"

"Be... tuuul... Yang Ter..."

"Jangan gugup! Aku seorang brahmana. Aku tidak pernah memberikan hukuman pada siapa pun. Aku tanya mengapa kau masuk dengan penyamaran? Menyelidik?"

"Ti... ampunkan hamba, Yang Tersuci. Hamba tidak bermaksud menyelidik."

"Apa tujuanmu? Kau tidak pernah kekurangan dan kesusahan. Sekalipun seluruh kawula saat ini tidak bisa merasakan hasil panen dengan semestinya, namun kau tetap kenyang. Apa tujuanmu kemari?" Rsi Ropo mendekatinya.

Semua orang mengawasi. Bapa Anti tertunduk. Matanya layu. Tak berani menatap pandangan sang Resi.

"Atau kau akan menyerahkan aku seperti menyerahkan Ni Repi?"

Seperti disambar petir di musim kemarau saja Bapa Anti mendengar itu. Rempek juga tidak kurang terkejutnya.

Dengan saudara-saudaranya ia saling pandang. "Am... ampun, Yang Tersuci. Tidak!"

"Lalu apa tujuanmu? Lihat itu para satria lainnya! Mereka tetap mengenakan pakaiannya sebagai satria. Atau barangkali kau sudah malu mengenakan pakaian satria Blambangan? Kau ingin memakai pakaianmu sebagai punggawa Kompeni? Jika demikian kau tidak sepatutnya masuk kemari. Mas Rempek juga satria. Dia juga punggawa Kompeni. Tapi hadir di sini dengan pakaian satria Blambangan." Resi diam sebentar.

Ah... mimpi apa aku dilecehkan pemuda ini, gumam Mas Rempek dalam hati. Tapi bagaimanapun juga kekaguman membersit di hatinya seperti kekagumannya pada Wong Agung Wilis. Sedang Bapa Anti diam seribu bahasa. "Kurangkah kau menyerahkan putra-putra terbaik Blambangan ke pelor Kompeni?" Ropo bicara lagi. "Tidakkah kau dengar tangis istri dan anak-anak yang ditinggal suami dan ayah mereka yang mati bagai anjing kurap kelaparan di benteng-benteng Kompeni? Apakah macam ini satria Blambangan yang tidak pernah menyerah itu? Membawa bendera putih ke Surabaya, sementara teman-temannya bertahan di rimba raya? Inilah sebabnya Blambangan dikutuk oleh dewa-dewa. Karena kita sudah memunggungi leluhur dan Hyang Maha Ciwa."

"Hamba cuma menjalankan perintah dari Yang Mulia Mas Anom dan Mas Weka."

"Semula memang betul. Tapi belakangan tidak. Kau telah merasa keenakan bergandengan tangan dengan orang-orang asing. Mana mungkin kau mau mengebaskan keenakan itu? Siapa yang mengutamakan keenakan pribadi, mengorbankan lainnya! Kau telah mengorbankan segala-gala, milik Blambangan."

"Ampun, Yang Tersuci."

"Dosa yang tak terampunkan adalah pembunuhan!

Pembunuhan! Apalagi pada seorang brahmana yang anaknya akan diserahkan pada kerbau bule sebagai budak nafsu. Bapa Anti, masih ingatkah kau?"

"Ampun, Yang Tersuci." Hati Bapa Anti kian menciut. "Sebenarnyalah dosamu tak terampunkan. Tapi aku bukan

orangnya! Penghukuman dilakukan oleh mertalutut (algojo)

bukan oleh pandita. Jangan minta ampun padaku. Mintalah pada Hyang Maha Ciwa dan pada seluruh leluhur yang telah bersimbah darah dan peluh membangun Blambangan. Lebih dari itu kau juga harus minta ampun pada seluruh kawula, karena mereka telah kehilangan anak-anak gadis serta harta benda, bahkan suami atau anak lelakinya. Jika itu tak kaulakukan maka kau tak akan sanggup lagi keluar dari rumahmu. Sejak sekarang kau akan dibayangi wajah tiap orang yang pernah kauserahkan untuk dipenggal kepalanya. Tiap wanita yang kau serahkan untuk diperkosa. Dan kau juga akan dibayangi oleh Yang Mulia Wong Agung Wilis! Kau pikir beliau sudah mati? Jangan mimpi! Lihat sebentar lagi ada sepuluh, atau mungkin bisa seratus. Ingat ia telah pernah ada dan tidak akan pernah berhenti ada. Dengarkan hai semua yang bertelinga!" Ropo kemudian beralih memandang semua orang.

Semua tertegun. Rempek juga kaget mendengar itu. Agung Wilis belum mati? Ia bisa menjelma menjadi seratus? Semua orang saling pandang. Ropo tersenyum dan meneruskan kata- katanya.

"Apakah kalian tidak percaya? Wong Agung adalah orang yang telah mendapat syakti dari para dewa. Karena itu ingatlah selalu apa yang pernah diajarkan dan yang diperintahkan. Dirgahayulah Blambangan! Dirgahayulah Wong Agung Wilis!"

Di antara sekalian orang Rempek-lah yang paling berdebar.

Mungkinkah Wong Agung Wilis hidup kembali? Manusia dengan seribu nyawa? Tapi bagaimanapun aku harus mendekati Resi Ropo secara pribadi. Dan ia masih ingat betapa pemuda itu berwajah mirip Agung Wilis. Ya, gaya bicaranya, ya gerakannya, ya sinar matanya. Apakah mungkin Ropo adalah Wilis sendiri? Tapi kenapa begitu muda? Apakah Wong Agung Wilis memiliki amerta (obat awet muda). Aku tak mau berteka-teki, putusnya sendiri. Itu sebabnya malam itu ia tidak pulang ke Pakis. Bersama Nawangsurya dan Rahminten ia bermalam di Songgon. Agak sukar memang mencari penginapan di sini. Setiap orang sepertinya sudah dilatih untuk ramah tapi sulit mempercayai para tamu. Akibatnya ia terpaksa minta tolong pada seorang cantrik yang bernama Janaluka. Ia diperbolehkan menginap di rumah Janaluka dengan satu syarat, jika malam mendengar suara apa pun tetap tidak boleh keluar untuk menengok. Sekalipun barangkali saja itu menakutkan. Atau terdengar aneh.

Malam berlalu bisu. Meski begitu ketiga orang satria dari Pakis itu tak mampu memejamkan mata. Sampai keesokan harinya, yaitu hari Soma (Senin), Rempek minta izin untuk bersua dengan Resi Ropo secara pribadi.

"Mas Rempek? Bagus, biarkan dia menemui aku!"

Ketiga orang itu tidak diterima di bale pacraba-an. Tapi di ruang depan rumah Resi Ropo. Tidak seorang pun menemani Resi ketika berhadapan dengan ketiga satria Pakis itu. Di ruangan besar dan bersih, dengan amben (balai-balai yang terbuat dari bambu) besar diletakkan di sudut ruangan. Ropo duduk di amben, dengan tenang ia mengunyah sirih. Ketiga tamunya juga dipersilakan duduk di amben dengan alas tikar.

"Dirgahayu, Para Yang Mulia!" pembukaan Ropo. "Silakan duduk."

"Dirgahayu, Yang Tersuci," ketiga orang itu menghormat. Ramah juga pemuda ini, pikir Rempek. Tidak seperti waktu di bale pracabaan.

"Tidak biasa para satria mengunjungi hamba secara begini. Tentu ada hal yang amat penting. Atau barangkali Yang Mulia tersinggung atas perkataan hamba kemarin?" Ropo tertawa ramah.

"Ampun, Yang Tersuci, hamba sama sekali tidak tersinggung. Kami, yah... kami tidak tersinggung. Tapi banyak hal yang tak dapat kami pahami. Yang Tersuci mengetahui banyak tentang semua kejadian," Rempek jadi juru bicara.

Dua kakaknya menahan hati.

"Sewajarnya brahmana mengetahui semua kejadian di negerinya. Brahmana yang tak memperhatikan keadaan negerinya, sebenarnyalah ia telah hidup dalam dosa. Apa artinya pengetahuan tinggi yang cuma dikepal dalam otak?" "Tidakkah Yang Tersuci menyadari, itu membahayakan ketenteraman negeri?" Nawangsurya yang bicara kini.

Sebelum menjawab Rsi Ropo menyodorkan kinangan.

Bergantian mereka bertiga memungut sirih dan gambir serta kapur untuk berkinang. Sambil menarik napas panjang Ropo menjawab..

"Membahayakan ketenteraman negeri? Bukan hamba yang membuat ketidaktenteraman negeri ini. Tapi para satria yang saat ini duduk di singgasana. Mereka berdalih membangun kembali negeri ini dengan bantuan asing. Dan apa kerja orang-orang asing itu di sini? Menjarah-rayah kekayaan kawula yang telah miskin."

"Jagat Dewa! Ketatanegaraan adalah urusan satria.

Mengapa Yang Tersuci mencampurinya?" Rempek menjajagi makin dalam.

Kembali Rsi Ropo tertawa. Giginya berbaris rapi di sela bibirnya. Kemudian ia meludah di tempolong atau tempat pembuangan ludah yang memang sudah disediakan. Merah warna ludahnya.

"Hamba tak mencampuri ketatanegaraan. Yang hamba masalahkan adalah kesejahteraan seluruh kawula Blambangan. Bukankah ini urusan semua orang yang berpikir tentang kesejahteraan itu?" Rempek dan kedua kakaknya saling pandang

"Berapa banyakkah kawula Blambangan yang tewas disembelih karena tidak kuat lagi melakukan tugasnya mengangkut batu ke Banyu Alit atau benteng-benteng lain? Ah... siapa yang membela mereka? Tidak ada! Semua satria Blambangan terbuai dalam dekapan penari-penari yang dapat mereka beli dengan uang hasil penjualan negeri ini pada bangsa asing. Banyak orang yang sekarang ini digelari putra terbaik Blambangan oleh Gubernur Vos. Wangsengsari menerima penghargaan dan uang karena anaknya ditiduri selama dua hari tiga malam oleh sang Gubernur."

"Hyang Dewa Ratu..." Rahminten bersama Nawangsurya menyebut.

"Putra terbaik bukanlah yang cuma mampu duduk di singgasana. Tapi yang mampu mempersembahkan segala karya dan darmanya!"

"Bagaimana dengan kami?"

"Yang Mulia bisa menilainya sendiri." Memerah muka Rempek. Kumisnya serasa mampu berdiri. Ia tajamkan matanya. Namun Ropo tidak bergeming sedikit pun. Matanya seperti mengeluarkan sinar, membuat Rempek harus tertunduk mencari pegangan. Ia pilin kumisnya. Kini ia mengakui bahwa anak muda itu memiliki kewibawaan yang melebihi dirinya.

"Baiklah. Jika demikian masih ada hal yang tidak hamba mengerti. Apakah Wong Agung Wilis belum gugur? Jika demikian beliau seorang pengecut. Yang lain terperangkap dalam kelaparan sedang beliau tetap hidup."

Buat sesaat muka Ropo berubah. Matanya sempat bermendung. Namun kembali mata itu mengerjap seperti ada sinar kilat. Sambil tersenyum ia menjawab,

"Dulu ia memimpin perlawanan terhadap perompak asing.

Sekarang pun juga. Lalu di mana letak kepengecutannya? Bahkan sekarang ia ada di mana-mana. Di setiap sudut Blambangan. akan muncul Wong Agung Wilis. Termasuk dalam diri Yang Mulia! Jika... sekali lagi, jika saja Yang Mulia tidak keberatan mengulurkan tangan untuk membela kawula yang sedang tersungkur di jalan-jalan karena kelaparan. Yang Mulia mau membuka telinga untuk jerit mereka yang diperkosa di loji-loji, yang dibakar lumbungnya, yang dicambuk punggungnya " "Yang Tersuci, hamba tidak punya laskar yang dapat dihadapkan pada pasukan pendudukan ini," Rempek memotong. Dadanya membara.

"Sekarang Yang Mulia tidak punya. Memang."' Ropo diam sebentar. Ia pandang tajam-tajam Rempek. Seperti ingin menyelam lebih dalam ke hati Rempek. "Yang penting," lanjutnya lagi, "ada tiga hal yang harus menjadi milik Yang Mulia. Kemauan, keberanian, dan kesehatan. Kemampuan dan kekuatan cuma akan mengikut pada ketiganya itu."

"Sukar untuk dimengerti "

"Tidak ada yang sukar. Pertimbangkanlah, Yang Mulia. Jika Yang Mulia mau, maka Wong Agung Wilis akan hidup dalam sanubari Yang Mulia seperti halnya pada diri hamba sekarang ini. Juga di hati banyak pemuda yang nanti akan Yang Mulia kenal dan ketahui bila saatnya tiba. Tentu membutuhkan waktu. Tidak sekarang."

"Jagat Dewa... Wong Agung Wilis bisa hidup dalam diriku?

Dalam diriku?" Rempek berbicara pada diri sendiri dengan tanpa sesadarnya. Angannya melambung. Terbayang wajah Wong Agung yang dikaguminya itu.

"Tidak mustahil," Ropo meyakinkan. Dan ia melihat Rempek tersenyum. Dengan wajah cerah ia melihat saudara- saudaranya.

"Hamba akan bertimbang, Yang Tersuci." Rempek kemudian minta diri.

"Barangsiapa menyadari panggilan hidup ia akan melihat suatu keindahan yang tanpa tara. Tapi siapa yang bekerja tanpa panggilan hidup dan hanya sekadar untuk memuaskan hati orang lain demi kepentingan diri sendiri adalah lonte!

Sundal!" Ropo menasihatinya lagi, sebelum Rempek meninggalkan tempat. "Sekarang ini persundalan sedang diusahakan untuk menjadi semacam budaya baru di Blambangan. Memuaskan hati orang lain dan mengalahkan pendapat sendiri, itulah yang sedang terjadi!"

"Hamba, Yang Tersuci."

"Ingat-ingat, Yang Mulia, Blambangan memanggil putra- putra terbaiknya. Putra yang mampu mengebaskan perbudakan dari pundak bangsanya. Bangsa yang sedang diusahakan untuk menjadi budak! Budak dari sekalian bangsa!"

0oo0

Berbeda dulu berbeda pula sekarang. Kawula Blambangan tak pernah lagi melihat laskar Blambangan meronda di jalan- jalan. Tidak juga berjaga di gardu-gardu. Juga di barak-barak asrama tidak terlihat adanya laskar Blambangan. Yang ada cuma pasukan kulit putih dan Madura serta sebagian orang Probolinggo dan Pasuruan. Yang hampir semua juga orang Madura. Lalu apa arti kerja sama yang ditiupkan ke segala pelosok Tanah Semenanjung oleh Bapa Anti dan Jaksanegara atau para satria lainnya?

Setiap hari kabar kematian orang-orang yang bekerja sebagai tukang pembuat benteng atau pengangkut pasir dan batu kian keras menggema di telinga para kawula. Satu kematian disusul kematian yang lain. Setiap malam para pekerja diperintahkan membuang mayat teman mereka sendiri ke sungai atau jurang-jurang di hutan. Pada awalnya rombongan serigala dan pemakan bangkai lainnya siap membersihkan jurang-jurang itu. Dengan lahap mereka menyantap habis bangkai-bangkai. Tapi karena kian hari kian menumpuk, maka mereka kekenyangan. Dan tidak mampu menghabiskan semuanya. Dan pembusukan segera terjadi.

Bangkai-bangkai yang matinya karena kelaparan itu membusuk. Dan pembusukan mengundang lalat. Yah... lalat.

Namun begitu pengiriman tenaga kerja ke loji-loji dan benteng-benteng tidak pernah berhenti selama pembangunan belum selesai. Bukan cuma itu! Pendanaan juga harus dipikul oleh kawula Blambangan. Seorang pun tidak boleh lepas dari pembayaran pajak. Pajak untuk membiayai pembangunan dan menghidupi Kompeni. Karena itu pula pengawasan penarikan pajak dari rumah ke rumah makin ketat. Bahkan tidak jarang pasukan asing itu menengok langsung ke lumbung-lumbung milik kawula. Tak heran setiap kali ada ronda, di belakang pasukan peronda selalu ada iringan pedati penuh dengan padi dan palawija rampasan milik kawula.

Demikianlah sore itu Sersan Kepala Bozgen yang masih muda pulang dari mengepalai pasukan yang mengawal penarik pajak dari rumah ke rumah di Lo Pangpang. Walau masih muda ia telah mendapat sebuah loji sendiri. Seperti halnya bintara lainnya. Setelah menyerahkan hasil rampasan pada Mayor Colmond ia berkuda menuju lojinya. Entah apa sebab ia menyimpang, ingin melihat-lihat dan mencari udara segar. Ia nikmati benar-benar rimbunnya pepohonan yang tidak ia lihat di negeri ibunya. Hijaunya lumut, rumput, serta merahnya mentari senja yang mengintip di puncak gunung sebelah barat itu, juga tak pernah ia lihat di negerinya.

Kudanya berlari terus dengan perlahan. Membawanya ke kejernihan air kali yang berbatu-batu. Ia berhenti. Beberapa bentar ia terpatri memandangi batu-batu besar ditengah maupun tepi kali itu. Ah... Tuhan Maha Besar... sebutnya dalam hati. Angannya tiba-tiba melambung pada papanya. Seorang pendeta yang selalu mengasihinya dengan tulus. Dari papanya ia tahu semua yang indah ini ciptaan Tuhan. Dari Tuhan untuk manusia. Karena Tuhan itu kasih adanya. Dan karena itu Tuhan memerintahkan supaya manusia mengasihi sesamanya sebagai manusia. Tiba-tiba ia tersentak. Wajah Papa yang penuh kasih, dan muka bersih seperti bayi itu tersenyum padanya. Ya, Bozgen. Tuhan perintahkan pada kita: 'Kasihilah Tuhan Allah-mu dengan segenap hati dan jiwamu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti mengasihi dirimu sendiri.' Lalu apa yang telah kuperbuat selama ini? Apakah aku sudah melakukan firman Tuhan ini dengan setia? Ah... Papa, maafkan aku. Aku seorang prajurit yang harus patuh pada atasanku.

Patuh pada atasan? Tidak kepada Tuhan? Wajah yang putih suci itu tersenyum. Matanya biru menembus jantung. Yah... ampunkan aku, Papa, aku dibayar oleh VOC. Aku bukan pendeta! Yah... aku bukan pendeta. Wajah itu tersenyum lagi. Namun segera lenyap dalam buih putih dari air yang menghempas batu-batu. Tiba-tiba suara papanya seperti bergema di kesunyian alam dengan ditemani desir air, "Bozgen kau sekarang bukan lagi anak Allah! Tapi anak setan! Yang datang ke negeri orang untuk mencuri dan merampok! Anak setan!"

Hati Bozgen berdebar. Aku anak setan? Anak iblis? Aku bukan lagi Kristen? Lalu bagaimana dengan Mayor Colmond yang memerintahkan aku? Bagaimana dengan Gubernur Vos? Bagaimana dengan Gubernur Jenderal Van Der Para? Jika demikian mereka semua telah menjadi anak setan? Anak setan! Napas Bozgen memburu. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Kembali matanya menatap air jernih. Ah... ingin ia mencoba mandi. Tapi itu bukan kebiasaannya. Ia menoleh kiri dan kanan, kalau-kalau ada orang. Cuma rumput dan pepohonan yang memperhatikannya. Ke atas, langit biru dengan awan putih yang berarak-arak. Tapi sebersih apa pun air sungai tetap kotor. Di rumah kan ada sumur. Yah... namun ia ingin mencoba. Pribumi mandi di sungai juga tidak apa-apa.

Ia lepaskan sepatu, baju, dan celananya. Ia titipkan pada kudanya. Sebelum menuruni tebing dan menuju batu besar yang memungkinkan ia akan terlindung bila kebetulan ada orang lewat, ia menyempatkan diri memeluk leher kudanya serta mengelus kepalanya. Dan kuda itu seperti mengerti apa kehendak tuannya. Mengerdipkan matanya sebentar kemudian menikmati rumput yang tumbuh. Bergesa Bozgen turun tebing. Agak sakit telapak kakinya menginjak kerikil-kerikil. Namun keinginan mencapai batu besar itu menyingkirkan rasa nyeri di telapak kaki. Tapi begitu ia mencapai batu besar dan akan segera menceburkan diri ke air, sebuah jerit tertahan wanita mengejutkannya. Segera ia menutup bagian tubuhnya yang terlarang. Dan jika ia balik maka kian malu. Ia putuskan loncat dan membenamkan diri di air. Tapi wanita itu juga sedang berendam dalam air. Sama- sama tidak mampu berbuat apa-apa. Dengan pucat wanita yang ternyata masih sangat muda itu memandangnya.

"Maaf... maaf...," Bozgen mendahului dalam bahasa Blambangan. ”Ti... tidak tahu ada orang mandi."

Wanita itu masih belum menjawab. Matanya agak liar seperti mencari jalan untuk lari. Tapi rupanya agak repot karena kainnya berada agak jauh darinya. Sama-sama malu. Namun Bozgen segera memberanikan diri setelah beberapa bentar mengamati wajah gadis itu ia berkata,

"Tuan Putri... Ni Repi?"

Wanita itu kian terperanjat. Maka ia mengamati wajah bule itu. Masih muda dan tampan.

"Ampunkan, aku tidak tahu Tuan Putri sedang mandi. Tapi... hamba dengar sudah beberapa waktu Tuan tidak pulang?"

"Eh... eh... hamba biasa tidak pulang jika sedang menari," Repi menjawab sekenanya.

"Ahai... habis menari?" Bozgen makin berani. Atau barangkali lupa pada ketelanjangannya. Dan tiba-tiba saja kecantikan Repi mengalahkan perasaan malunya.

"Tapi ini sudah senja. Baru mandi? Kenapa? Dan tempat ini jauh dari rumah Tuan Putri."

"Eh... hamba baru... pulang." Wanita itu beringsut ke belakang. Tapi tetap dalam air. "Jangan takut!" Bozgen mendekat. "Aku tidak sengaja. Tapi ini saat yang kebetulan. Tuhan mempertemukan kita. Aku sudah lama ingin bersua dan bercakap-cakap dengan Tuan Putri."

"Maaf, Tuan... tidak layak kita bercakap-cakap dalam keadaan seperti ini."

"Baik, kita akan ke loji. Pejamkan mata Tuan Putri! Aku akan naik," ujar Bozgen.

Lega hati Repi. Dan ia lakukan apa yang diminta Bozgen.

Tapi begitu ia memejamkan matanya, tampak Sayu Wiwit dan Mas Ayu Prabu tersenyum padanya.

"Saatnya telah tiba! Tanah airmu menanti. Apa pun harus kita lakukan untuk kepentingan tanah kelahiran kita. Cuma itu cara kita untuk menebus dosa yang pernah kita lakukan. Cari keterangan sebanyak-banyaknya dari pihak Belanda dan kirimkan pada kami. Selanjutnya kerjakan semua yang diperintahkan junjungan kita yang saat ini telah membentuk pemerintah bayangan di Raung. Yahh... Benteng Bayu. Tapi ingat! Tiap pengkhianatan akan kamu bayar mahal!"

Dan ia segera mengenakan kainnya, untuk kemudian naik tebing menyusul Bozgen. Sementara itu Bozgen telah siap. Dan dengan sigap ia mengangkat tubuh Repi ke atas kudanya. Rambut basah tidak menjadi soal bagi Bozgen untuk duduk di belakang tubuh Repi. Debar jantung mudanya mengencang.

Ah... tak heran Gubernur Vos sangat tergila-gila padanya. Walau kegelapan telah turun ia masih mampu memperhatikan tiap lekuk tubuh gadis itu dari belakang. Tak ada yang sempat memperhatikan kala ia masuk kota. Semua orang takut mendengar derap kuda. Lebih baik menutup pintu. Dan ia tidak turun di gerbang lojinya. Terus menuju teras. Ia lebih dulu melompat setelannya menurunkan Repi. Kuda dibiarkan lepas di halaman. Ia membimbing tangan Repi masuk ke ruang tamu. "Tentu Tuan Putri kedinginan," ujarnya setelah menyilakan Repi duduk. Kemudian ia menyalakan pelita terlebih dahulu sebelum mengambil anggur hadiah dari Bhoe Joek Ie. Repi tidak lagi canggung menerima minuman orang kulit putih yang biasanya memabukkan. Ia sempat memperhatikan ruang tamu itu. Tidak seluas milik J. Vos atau Colmond memang. Namun tetap saja rapi jika dibanding rumah milik Tumenggung Wangsengsari ayahnya. Ada gambar Gubernur Jenderal Van Der Para di atas pintu masuk kamar yang lain. Tapi ia tak tahu gambar siapa itu. Ada beberapa keramik Cina tertempel di dinding yang dikapur putih. Mungkin luas ruangan itu ada enam kali empat depa. Bersih lagi.

"Minuman ini untuk menghormati persahabatan kita yang pertama. Jangan ditolak Tuan Putri."

"Tak ada alasan hamba menolak," jawab Repi tanpa beban. Dan memang ia tak perlu merasa berdosa. Bukankah bapanya sendiri telah mengajarinya berdosa? Bapanya telah minum minuman seperti itu. Dan kala ia ditiduri oleh Vos, bapanya sendiri tidur dengan gadis lain.

"Ahai... senang rasanya." Kemudian mereka sama-sama minum arak wangi itu. Ah... rasanya lebih segar dari yang diberi oleh Vos dulu. Rupanya Bozgen sendiri masih asing dengan minuman itu. Mukanya tiba-tiba memerah.

"Apa yang hendak Tuan katakan?"

Tiba-tiba saja Bozgen menangkap tangan wanita itu.

Senyum. Tangannya bergetar. Tangan Repi terasa hangat. Ia menarik tubuh wanita itu ke pangkuannya.

"Tuan..."

"Ah... salahkah aku jatuh cinta pada Tuan Putri?" Ia mencium pipi wanita itu seperti mencium boneka. Susu Ni Repi menyentuh dadanya. Menimbulkan rasa hangat. "Oh... Tuan... Tuan hendak membicarakan sesuatu denganku, bukan? Bukan untuk begini?" Ia ingin mengelak dan menolak. Namun wajah Sayu Wiwit dan Mas Ayu Prabu nampak senyum padanya. Lakukan itu asal demi negerimu. Inilah kesempatan. Yah, inilah! Tapi ingat tiap pengkhianatan harus...

Sebuah ciuman kembali mendarat. Bukan di pipinya. Tapi di lehernya yang jenjang. Kumis dan jenggot yang baru tumbuh kasar membuat Ni Repi mengeluh tertahan.

"Tuan.... ah... belum menjawab?"

"Yah... aku jatuh hati sejak melihat Tuan Putri yang pertama dulu."

"Tapi hamba tak bersedia diperlakukan seperti oleh Tuan Vos dulu. Ah... Tuan, hamba sudah sakit oleh perlakuan itu. Jangan lagi melukai hati hamba—"

"Ah... Tuan Putri... dia seorang gubernur. Jangan marah. Aku benar-benar..." Tangannya meraih minuman sekalipun masih memangku tubuh Repi. Tangannya yang perkasa itu menuangkan minuman Cina lagi.

Repi bangkit.

"Apa bedanya Tuan dengan bangsa Tuan lainnya? Karena Tuan sedang memerlukan tubuhku maka Tuan bilang cinta. Sudah itu?"

Bozgen benar-benar terkejut. Tapi ia tersenyum.

"Demi Allah-ku maka aku bersumpah. Aku akan minta izin untuk mengawini Tuan Putri. Itu memang tidak lazim menurut VOC. Tapi aku akan membela hakku sebagai manusia sampai titik darah terakhir."

Melambung angan Repi. Inilah awal, pikirnya. Bozgen akan berada di telapak kakinya. Maka setelah sekali lagi ia mencoba dan mendengar sumpah setia Bozgen, ia menerima gelas yang kedua.

"Malam ini tidur di sini saja." Tiba-tiba Bozgen mengangkatnya seperti mengangkat boneka. Bulu-bulu kasar di tangan Bozgen menggelitik. Dengan perlahan Bozgen meletakkan tubuh Repi di tempat tidur empuk beralas sutera putih. Berbeda dengan Vos dulu ia hampir tak menyadari sama sekali apa yang dilakukan pada dirinya. Ia baru sadar esoknya, dan dengan menyesal membersihkan bercak darah yang membeku menodai pahanya. Belum habis rasa sakitnya Vos mengulangi dan mengulangi lagi pada siang dan malam harinya. Tangisnya tidak mendapat perhatian dari sang Gubernur yang terhormat itu.

Kali ini ia merasakannya dengan sadar. Betapa hangat pelukan Bozgen. Dan ia menggelinjang karena ciuman yang berulang membuat napasnya memburu seperti kuda betina. Belum lagi minuman keras yang membuat keduanya sama- sama mabuk. Belum lagi tangan Bozgen yang dengan rajinnya meraba ke hampir seluruh bagian tubuhnya. Ia makin melambung seperti terbang di awang-awang.

0oo0

Bulan Jawa disebutkan sebagai bulan Sriwana, sedang bulan di penanggalan Masehi disebut sebagai bulan Agustus ketika seluruh Blambangan dicekam tanda tanya besar. Ni Ayu Karisyati, anak Tumenggung Sutanegara, oleh Colmond diminta beberapa hari lalu sebagai upeti. Gadis yang baru berumur sebelas tahun. Memang orang tak akan ingkar bahwa anak itu akan tumbuh menjadi sekuntum bunga yang luar biasa eloknya. Semua orang menjadi terpana mendengar itu.

Kisahnya menjadi buah bibir setiap kerumunan orang.

Apakah satria, brahmana, tak terkecuali sudra. Perawan suci upeti bagi Colmond. Dan kisah itu berawal dari kunjungan Mayor Colmond ke Sumberwangi dan Lateng beberapa hari lalu. Yah, beberapa hari lalu. Anak itu masih tampak ke pasar. Walau ia tidak mengenakan pakaian seperti umumnya satria Blambangan. Ia harus berkemben di dadanya. Namun ia masih suka bermain dengan anak-anak satria Blambangan lainnya. Yang membuat ia kelihatan lebih dewasa dari usianya sendiri ialah karena ia suka berkinang. Membuat bibirnya yang mungil merah seperti delima.

Colmond melihatnya waktu ia akan pergi bermain. Dan langsung memintanya pada Sutanegara. Tentu saja, walau keberatan, Sutanegara tak berani menolak. Karena sebelumnya Colmond sudah berang dan menegur Sutanegara dalam hal penyelenggaraan pajak. Sutanegara dinilai kurang menunjukkan kesetiaannya pada VOC. Bukan cuma itu, Colmond sendiri membakar beberapa lumbung kawula vang tidak terisi padi. Cuma terisi ubi, gembili, serta macam-macam tanaman lain yang tidak laku jika dijual ke pasaran Kompeni.

"Kenapa banyak orang tidak menanam padi? Apa Kompeni disuruh makan kelapa? Tuan Tumenggung tidak periksa itu sawah-sawah mereka?"

"Sudah, Tuan. Tapi padi mereka sudah habis untuk bayar..."

"Tidak bisa! Itu menunjukkan orang Blambangan malas!

Kikir! Tidak tahu diri! Mereka harus!—harus!—harus!— disadarkan untuk dengan rela hati membayar pajak. Pajak! Sekali lagi pajak!" Colmond bertolak pinggang dan berjalan mondar-mandir di pendapa Katumenggungan Lateng itu..

"Sungguh... sungguh, sudah..."

"Bohong! Mereka tanam ubi jalar. Itu bukan makanan Kompeni! Itu makanan babi! Atau Tuan sengaja suruh mereka tanam demikian? Supaya Kompeni lapar? Tuan hendak memberontak? Tuan hendak membikin gara-gara?" Serentetan tuduhan mengalir dari mulut Colmond sambil terus menuding- nuding dengan telunjuknya. Tangan kiri-kanannya pun tak berhenti bergerak bergantian pada waktu ia bicara. "Tidak, Tuan." Kini Sutanegara jadi gemetar. Ia tahu tak ada kekuatan yang akan dapat melawan Kompeni. Keringat dingin keluar. Bersamaan dengan itu Ni Ayu Karisvati keluar ke halaman. "'

"Siapa itu?" Colmond bertanya sambil menunjuk Karisyati. Sekilas Colmond melupakan Bhoe Joek Ie. Bukan cuma Bhoe Joek Ie saja sekarang, tapi juga Lie Pang Khong yang kini tinggal di Lo Pangpang, punya hubungan gelap dengan Colmond. Itulah sebabnya ia harus memburu lebih banyak lagi masukan barang agar dapat memenuhi, permintaannya dan juga memenuhi jatah pajak yang ditetapkan oleh Gubernur Surabaya.

"Itu? Anak hamba " Sutanegara menyesal kenapa anak

itu tak bisa menahan diri untuk diam dalam kaputren.

"Anak itu kami bawa ke Lateng. Sampai Tuan dapat menyadarkan kawula Tuan."

"Anak itu " Wajah Sutanegara makin pucat.

"Jangan khawatir. Ia akan tinggal selalu dekat dengan aku. Ia akan diperlakukan baik-baik. Dan akan kembali ke Lateng setelah Tuan memenuhi kewajiban. Panggil anak itu!"

Dan terjadilah kehendak Colmond. Inilah harga kerja sama dengan pasukan asing. Tak peduli apakah gadis itu menangis terus atau Sutanegara tercenung bagai tersadar dari sebuah mimpi buruk, kehendak Colmond tidak bisa dicegah. Belum habis ketertegunan Sutanegara, penjaga gapura datang melaporkan kedatangan tiga orang berkuda.

"Siapa?"

"Tidak tahu, Yang Mulia. Dua orang wanita cantik dan seorang pria. Semua mengenakan busana satria Blambangan."

"Satria?" "Ya. Yang seorang mengingatkan kita pada wajah Yang Mulia Wong Agung Wilis."

"Apa katamu? Seperti Wong Agung Wilis? Jika demikian suruh mereka masuk segera."

Pengawal itu berbalik. Dan beberapa bentar kemudian Sayu Wiwit bersama Mas Ayu Prabu serta Mas Ramad Surawijaya.

Sutanegara ingat benar pemuda ini yang dipanggil orang Mas t Dalem Puger. Mereka masih hidup? Semua orang tentu mengira bahwa pemuda ini sudah tewas bersama Mas Berod dan Mas Toyong yang juga anak Wong Agung Wilis. Hati Sutanegara sedikit berdebar. Tiga orang itu melangkah gagah.

Meniti trap pendapa dan dengan tanpa penghormatan berdiri di depan Sutanegara.

"Selamat sore, Yang Mulia. Dirgahayu...," salam Mas Ramad Surawijaya membuktikan bahwa ia bukan hantu.

"Selamat... Yang Mulia, eh... silakan duduk," gugup menerima pandangan tajam ketiga orang itu.

"Tidak usah gugup. Kami datang untuk merundingkan suatu hal yang amat penting. Penting bagi kita semua. Penting bagi seluruh Tanah Semenanjung Blambangan. Kami bukan akan minta tahta Blambangan. Nah, mari kita bicara baik- baik," Ramad menerangkan.

"Ba... baik, Yang Mulia. Tetapi... siapakah sebenarnya para Yang Mulia ini? Dan apa perlunya datang kemari?"

"Mari kita duduk baik-baik dulu," Mas Ramad mengajak. Dan bertiga mereka duduk di pendapa. Cukup besar. Tapi bentuknya sudah sama sekali berubah. Tidak seperti zaman Prabu Mangkuningrat. Tak ada lagi lambang Sonangkara (gambar kepala anjing hitam di atas dasar merah sebagai lambang Blambangan) di pampang dalam ruangan itu. Yang ada sebuah gambar bulat terukir tulisan bahasa Arab yang tidak dimengerti maknanya baik oleh ketiga orang tamu muda itu, maupun oleh Sutanegara sendiri. Namun di dinding sebelah kiri ketiga tamu itu dapat membaca sebuah silsilah yang ditulis dalam bahasa Blambangan. Silsilah Sutanegara. Sutanegara ke atas yang disangkutkan bahwa Sutanegara masih keturunan Tawang Alun dan masih lagi diurut ke atas. Di atas sendiri di tulis Bhree Wijaya! Ahai, Sutanegara masih keturunan raja-raja Majapahit?

Apa benar begitu? Kemarin ketika menemui Wangsengsari di Lo Pangpang, mereka juga melihat silsilah serupa. Juga menyebutkan bahwa Wangsengsari ternyata juga masih keturunan Tawang Alun. Bahkan juga keturunan Bhree Wijaya. Terdapat juga di rumah Suratruna, Patih Lateng yang sering tinggal di Sumberwangi. Apa arti semua itu? Rupanya seluruh orang yang rasa dirinya besar selalu mencoba mencatut nama besar raja-raja Majapahit. Dengan demikian orang itu berharap supaya semua orang menghormatinya karena dia masih berdarah Majapahit. Orang yang ingin mendapat kebesaran tanpa perjuangan, pada hakikatnya penjahat!

Sutanegara mengambil tempat duduk sambil menarik napas panjang kala ketiga orang itu memperhatikan silsilahnya.

"Eh... itu silsilah... dari ayah hamba. Jadi..."

"Jadi kita masih sedarah!" Mas Ramad memotong. "Hamba adalah putra Wong Agung Wilis! Ramad

Surawijaya!"

"Oh... ampunkan hamba," Sutanegara menyembah. Dalam hati ia sudah mengira bahwa pemuda gagah berani ini pasti anak Wong Agung Wilis.

"Berdirilah, Yang Mulia! Tak perlu itu! Pembunuhan terhadap puluhan ribu putra-putra terbaik bumi semenanjung ini tak bisa dibayar dengan hanya sembah dan permohonan ampun!" Mas Ramad menajamkan mata. Sutanegara yang telah pupus oleh tindakan Colmond beberapa hari lalu, kini kian kehilangan tenaganya. Walau cuma untuk mendongak saja. Tubuhnya gemetar. Ia merasa seperti Rahwana dalam cerita wayang purwa yang akan terjepit oleh dua gunung batu.

"Hamba tak ikut membunuh..."

"Memang, Yang Mulia!" Kini Mas Ayu Prabu yang berbicara.

Walau begitu ia tetap tak berani memandang wajah mereka bertiga.

"Tapi tanda tangan Yang Mulia yang menyetujui kerja sama dengan Kompeni telah mengakibatkan penjarah dan perampasan milik sudra yang tak berdaya. Akibat yang lebih jauh dari itu, kematian demi kematian jatuh tanpa dapat dicegah! Tak sadarkah?"

Suara itu memang enak didengar. Tapi sungguh mengguncangkan kalbu. Ia tahu kata-kata itu pasti berekor.

"Semua berjalan di luar kemauan hamba..."

Bertiga mereka tertawa. Hati Sutanegara kian meriup-riup.

Ingin ia mengusir mereka. Tapi tak ada keberaniannya. Seorang seperti Mas Ramad berani masuk ke sini bukan tanpa perhitungan.

"Satria harus menggunakan nalarnya yang bening sebelum mengambil suatu sikap," kembali

Mas Ayu Prabu berkicau. "Apalagi, Yang Mulia berdarah Majapahit! Leluhur kita tidak pernah mengajarkan pada kita untuk memiliki jiwa seperti siput. Lelaki Ciwa dilahirkan untuk perang. Untuk melawan dan menantang tiap kesulitan. Bukan menjual diri pada orang asing."

"Ampun, Yang Mulia "

"Apalagi merelakan anak kandungnya diperkosa oleh bangsa asing dengan semau-mau. Tak ubahnya ayam yang membiarkan telurnya sendiri diambil makhluk lain dan dimusnahkan dari kemungkinan untuk menikmati hidup masa mendatang! Barangkali induk ayam masih lebih baik. Ia membela jika anaknya diganggu."

"Ampun, Yang Mulia. Hamba menjadi bingung. Lalu apa yang harus hamba lakukan sekarang?"

"Baik." Kini Mas Ramad yang bicara kembali. "Apa yang akan Yang Mulia lakukan jika Wong Agung Wilis datang kembali?"

"Wong Agung Wilis datang kembali? Mimpikah hamba ini siang-siang mendengar kabar seperti ini?"

"Tidak, Yang Mulia! Wong Agung Wilis tidak pernah mati.

Beliau akan kembali memerintah di seluruh wilayah Blambangan. Sekarang baru sebagian. Dengar, Wong Agung Wilis tidak akan mati. Dan akan ada di mana-mana, di seluruh wilayah Blambangan ini."

Sutanegara sungguh menjadi bingung. Tapi tak urung menjadi takut juga. Mungkin saja Wong

Agung Wilis mempunyai seribu nyawa sehingga ia tak mempan terkena pelor Kompeni. Atau ia hidup kembali seperti raja kera yang berdarah putih dalam cerita wayang purwa, yang bernama Subali?

"Ya... Allah, Ya... Rabi". Ia mulai dapat menyebut dalam Islam. "Baik hamba akan dengar dan menurut seluruh perintah para Yang Mulia."

"Bukan itu yang kami harapkan. Kami menghendaki Yang Mulia kembali mencintai tanah kelahiran Yang Mulia. Jika Yang Mulia tunduk pada Wong Agung, belum tentu Yang Mulia mengasihi negeri ini. Sebaliknya jika Yang Mulia mengasihi negeri ini, maka pasti Yang Mulia bersetia kawan dengan kami. Dan tunduk pada pemerintahan Wong Agung Wilis."

"Yah... hamba akan setia pada negeri Blambangan ini." "Hyang Maha Dewa menyaksikan pembicaraan kita ini. Walau Yang Mulia sekarang ini seorang Islam, kami tidak ambil peduli."

"Hamba bersumpah."

Bersamaan dengan itu pengawal gerbang kembali menghadap dengan berita bahwa Suratruna datang menghadap bersama seorang tamu asing. Pedagang Cina. Sutanegara memandang ketiga tamunya. Namun Mas Ramad memberikan persetujuan agar Suratruna bersama tamunya itu diperbolehkan masuk. Maka mereka pun diperkenankan masuk. Dan tamu itu segera menjadi perhatian. Berkulit kuning, mata sipit. Rambutnya hitam pekat dan dikuncir di belakang kepala. Cukup panjang. Sampai di punggungnya.

Wajahnya bersih tanpa kumis menggambarkan bahwa usianya masih muda. Di balik sutera kuning yang membungkus tubuhnya, terdapat tubuh bidang dan otot-otot terlatih. Orang itu mampu berbahasa Blambangan dan memperkenalkan diri dengan nama Tha Khong Ming.

Tidak telanjang kaki seperti umumnya satria Blambangan.

Ia datang dari Bali dengan membawa berita yang mengejutkan semua orang. Dengan tanpa keraguan atau curiga pada siapa pun ia mengatakan bahwa ia diutus oleh Wong Agung Wilis yang berada di Mengwi untuk menemui Sutanegara dan Suratruna. Mas Ramad dan Mas Ayu Prabu menahan hatinya. Ah, jangan-jangan hanya pancingan Belanda. Tapi sebenarnya hati mereka seperti gelombang Laut Kidul yang menggelora.

"Tentu para Yang Mulia tidak akan begitu saja percaya. Tapi hamba membawa bukti. Surat beliau untuk Yang Mulia Sutanegara." Kemudian dengan tanpa menunggu jawaban ia mengambil segulung lontar yang ia letakkan dalam ikat pinggang suteranya. Dengan penuh kebimbangan Sutanegara menerimanya. Seperti mimpi saja, ia membuka dan mengolesi lontar itu dengan bubukan kapur. Tanpa ada yang menyuruh Mas Ayu Prabu dan Mas Ramad bergerak untuk ikut membaca. Sedang Sayu Wiwit tetap mengawasi semua kejadian dengan saksama. Tha Khong Ming sendiri tidak mencegah orang lain yang ikut membaca lontar itu. Dengan suara bergetar Sutanegara membaca:

"Yang Mulia Sutanegara, Sekalipun aku tidak berada di Blambangan, namun sebenarnyalah aku tidak pernah dapat dipisahkan dari bumi kelahiranku. Aku masih hidup sampai sekarang. Karena itu aku tetap merupakan sebagian dari Blambangan sendiri. Dan selama aku masih hidup aku tidak akan membiarkan tanah kelahiranku dirampok, dirampas, diperkosa semau-mau oleh perompak-perompak bule itu. Aku tahu Yang Mulia melakukan semua yang telah terjadi bukan dengan semau Yang Mulia sendiri. Karena itu pertemukanlah Tha Khong Ming dengan anakku Mas Sratdadi. Aku tahu dia masih hidup sementara aku belum mendengar berita tentang istri dan anak-anakku.

Di samping itu, untuk memudahkan hubungan kita selanjutnya, berilah Tha Khong Ming kemudahan untuk bergerak di wilayah Lateng. Jika perlu bantulah ia agar dapat masuk ke wilayah Wangsengsari.

Dirgahayulah, Yang Mulia. Dirgahayulah Blambangan!"

Kepala Sutanegara menjadi berdenyut-denyut.

Persoalannya kian menjadi rumit. Ini tulisan tangan Wong Agung Wilis sendiri. Menulis dari ibukota Mengwi. Tanpa sadar butiran keringat sebesar-besar biji jagung bermunculan di kening dan dahinya. Ia pandang Suratruna. Dan orang itu memberikan pertimbangan,

"Kita tidak perlu lagi menyangsikan. Bukankah di sini ada Yang Mulia Mas Ramad dan Mas Ayu Prabu? Mereka juga menceritakan pada hamba bahwa Yang Mulia Wong Agung Wilis tidak mati. Kita harus percaya. Dan kita perkenalkan saja mereka dengan Tuan Tha Khong Ming. Hamba percaya para Yang Mulia ini tahu ai mana Mas Sratdadi berada." "Oh... betul-betul seperti dongeng. Ampuni kami. Baiklah, Tuan Ming. Secara kebetulan Tuan bertemu dengan putra Yang Mulia Wong Agung Wilis. Mari, Yang Mulia, silakan saling berkenalan," kata Sutanegara kemudian pada semua tamunya. Tha Khong Ming segera berhadapan dengan Mas Ramad.

Alangkah terkejut hatinya ketika memperhatikan pandangan mata Mas Ramad yang tajam seperti Wong Agung Wilis yang kini tinggal di sebuah puri di Mengwi. Bahkan wajahnya pun sama. Cuma yang seorang sudah tua dan yang seorang masih muda.

"Dirgahayu, Yang Mulia ," ia lebih dulu menghormat. Ia

mendengar dari Wong Agung betapa salah seorang putranya yang diberi nama Ramad dan bergelar Pangeran Dalem Puger adalah pemberani dan gagah perkasa.

"Dirgahayu ," Ramad tetap menajamkan mata. "Senang

bertemu dengan Tuan. Aku akan mengusahakan sebuah rumah untuk Tuan di wilayah Sumberwangi. Tapi dalam perniagaan Tuan akan bersaing dengan Bhoe Joek Ie serta Lie Pang Khong yang mendapat bantuan penuh dari Mayor Colmond."

"Ahai, Colmond? Itu tidak soal. Kita akan mengusahakan mengusir dia dari Blambangan. Hamba punya banyak teman yang bisa kita mintai tolong untuk mengerjakan semacam itu di Surabaya. Jangan khawatir."

Mas Ramad dan Ayu Prabu serta Sayu Wiwit mengerti benar apa arti perkataan Tha Khong Ming. Tentu ia mempunyai hubungan dengan Vos sebagai atasan Colmond. Ahai, betapa licinnya orang ini. Tapi bagaimana mereka bisa berkenalan dengan Ramanda? Mas Ayu Prabu lebih dulu memecahkan teka-teki itu. Jika Wong Agung ada di Mengwi maka ia sengaja tidak menggunakan orang Bali untuk memasuki istana Sutanegara. Pertama, akan membuat Sutanegara yang telah beralih agama ketakutan. Kedua, akan membangkitkan kecurigaan Kompeni. Namun demikian ia merasa perlu menyelidiki Tha Kong Ming lebih teliti.

"Baik. Aku percaya itu. Yang Mulia...," Mas Ramad kemudian menoleh pada Sutanegara. "Kita akan berhubungan kemudian. Setuju?"

"Hamba, Yang Mulia. Akan hamba bantu semua keperluan Yang Mulia."

"Bukan keperluan hamba. Tapi seluruh Blambangan. Ingat, kali ini Wong Agung Wilis tidak akan memberi ampun terhadap setiap pengkhianatan! Kepala Yang Mulia tetap menjadi taruhan. Demi Blambangan, demi Hyang Maha Ciwa, orang- orang kami tak segan melakukannya setiap saat."

"Tapi di mana hamba dapat menghubungi Yang Mulia jika sesuatu yang penting akan hamba sampaikan pada Yang Mulia."

"Di jalan menuju pasar, tidak jauh dari sini, ada pandai besi. Yang Mulia bisa bertanya pada Gimbrus bagaimana caranya menghubungi hamba."

"Baik, Yang Mulia. Dan untuk Tuan Tha Khong Ming?" "Biar kami yang mengatur."

"Tapi kali ini hamba harus bersua dengan Yang Mulia Sratdadi. Ini amanat Yang Mulia Wilis."

"Tidak cukup denganku? Katakan pada Ramanda, inilah aku, Mas Dalem Puger!"

"Baik, baik, Yang Mulia. Hamba akan kembali menghubungi sepuluh hari lagi."

"Tuan akan mendapat rumah di Sumberwangi sepuluh hari lagi. Aku akan menunggu di rumah Yang Mulia Suratruna.

Nah, dirgahayu. Aku akan pergi dulu." Ketiga orang itu pergi dengan tanpa memberikan penghormatan. Tha-Kong Ming memperhatikan punggung mereka yang telanjang. Mengagumkan keberanian mereka. Dan setelah Tha Khong Ming pergi dengan meninggalkan hadiah sekadarnya, Sutanegara seperti bangun dari mimpi.

"Sungguh membingungkan, Yang Mulia." "Kita sedang menghadapi persekongkolan." Suratruna menjawab. "Kita harus hati-hati. Hamba sendiri tidak berani menolak Tha Khong Ming. Ingat, jika benar Wong Agung masih hidup, kita bisa mati jika menolaknya."

"Tapi mungkinkah Wong Agung Wilis masih hidup? Sulit memecahkan teka-teki ini."

"Yah... memang sulit untuk dipecahkan. Tapi... hamba dengar ada seorang rsi yang sangat bijak di Songgon.

Bagaimana pendapat Yang Mulia jika kita melangkahkan kaki ke sana. Pandita muda itu bernama Rsi Ropo. Para kawula sangat menghormatinya. Ia mempunyai pandangan tajam.

Mampu melihat apa yang terjadi di balik Wiswayana (khatulistiwa) sekalipun."

"Apa betul begitu?"

"Kita perlu membuktikan sendiri, Yang Mulia." "Hamba setuju, Yang Mulia. Semoga Allah memberi

petunjuk."