Gema Di Ufuk Timur Bab 04 : Perjumpaan

 
Bab 04 : Perjumpaan

Dilihat dari jauh Gunung Raung tampaknya sangat dekat dengan Gunung Sukep atau Gunung Pendil. Bahkan dari Sumberwangi atau Lateng seperti tiga raksasa biru yang sedang diam berhadap-hadapan. Tapi jika didekati jaraknya menjadi amat jauh. Bahkan jarak antara mereka dipisahkan oleh lembah dan ngarai hijau yang teramat subur.

Jarak. Jarak selalu ada. Tapi semua jarak bisa diatasi.

Kecuali jarak dengan cakrawala. Dari zaman ke zaman manusia yang merupakan makhluk sempurna dan dapat menyempurnakan diri itu tetap saja tak mampu mengatasi jarak antara dirinya dengan cakrawala. Tiap kali didekati, bahkan diburu, dia selalu pergi, dan menciptakan jarak baru. Jarak yang panjangnya sama dengan semula. Ada seorang pelaut yang ingin menjangkau ufuk. Namun kian diburu kian menjauh.

Lain ufuk lain Bayu. Jarak ufuk tak mampu dipecahkan oleh siapa pun. Namun jarak antara

Lateng-Bayu, Atau Lo Pangpang-Bayu akan* dapat diatasi dengan cuma jalan kaki. Karena memang takkan lari gunung dikejar. Dan dengan bantuan Mas Ayu Prabu, Yistyani kembali menapakkan kakinya di lereng Raung sebelah timur di mana didirikan Benteng Bayu. Tentu saja kehadiran Yistyani membuat semua orang Bayu gembira. Wilis segera berlari meninggalkan pekerjaannya di sawah demi mendengar kabar bahwa ibunya tiba. Seperti anak kecil layaknya. Cangkul dan sabit hampir saja ketinggalan. Beberapa saat kemudian ia terpaksa kembali mencebur ke dalam lumpur.

Baswi dan Sardola juga segera menyiapkan diri di pendapa Pertapaan Raung. Yistyani melihat rambut kedua orang itu telah memutih. Bahkan alis, kumis-cambang, serta jenggot mereka juga w telah memutih. Namun badan mereka masih nampak gempal. Sisa-sisa keperkasaan masih membayang tegas. "Dirgahayu, Yang Mulia," kedua orang itu menyembah. ”Dirgahayu...," balas Yistyani yang naik pendapa bersama

Mas Ayu Prabu dan Sayu Wiwit. Tantrini, istri Wong Agung

Wilis, juga menyambut kedatangan kakaknya di pendapa itu. Ia memeluk dan mencium Yistyani.

"Hawa pegunungan menahanmu untuk tetap awet muda. Kendati anakmu sudah banyak. Juga Tuan Baswi dan Sardola masih kokoh."

"Ah... kau juga masih ayu," Tantrini membalas. "Kami dengar kau selamat. Kami sangat senang. Tapi kami menunggu saat yarig baik untuk memboyongmu ke Bayu. Ah, ternyata kau sudah sehat dan mampu berjalan kemari."

"Berkat anakmu yang hebat ini bersama Sayu Wiwit yang manis itu " Yistyani menuding pada dua gadis pengiringnya.

Ayu Prabu dan Sayu Wiwit segera menyembah pada semua orang. Bersamaan dengan itu Wilis tiba dan segera menyembah kaki ibunya. Dengan bahagia Yistyani membelai rambut anaknya. Rambut yang mengingatkan Yistyani pada rambut Wong Agung Wilis. Juga hidung dan matanya. Tidak banyak berbeda dengan pujaan hatinya kala masih muda. Tapi Yistyani segera sadar. Masa mudanya telah berlalu dan tidak akan kembali lagi. Karenanya ia bertekad membentuk anaknya menjadi pengganti bukan sekadar mewarisi namanya. Tapi juga segalanya. Karena Blambangan sedang membutuhkan Agung Wilis yang baru. Tapi apakah dia bisa memiliki wibawa seperti Wong Agung Wilis? Itu yang menjadi pertanyaan Yistyani.

"Perang telah menyusahkan semua orang," Yistyani berkata lagi setelah semua duduk di pendapa itu. "Aku tidak menyangka kau kehilangan ketiga anakmu di samping suami " Yistyani menarik napas panjang. Semua juga diam.

Menunduk seperti mengheningkan cipta. Namun beberapa bentar kemudian Yistyani melanjutkan, "Sama sekali tidak kami duga bahwa Mas Kenceling, Mas Toyong, dan Mas Berot gugur dalam pertempuran singkat yang..."

"Sudahlah... semua juga akan mati," Tantrini memotong penyesalan kakaknya yang berlanjut itu. "Kekalahan adalah salah satu sisi peperangan. Jika kita tak pernah berperang maka kita tak pernah merasakan suatu kekalahan atau kemenangan."

"Hyang Dewa Ratu! Kau telah mencapai puncak semadimu (di sini maksudnya pemusatan pikiran pada kesadaran terhadap Brahman (Yang Langgeng dan Maha Tahu) dengan jalan meditasi terus-menerus dan mendalam)”

"Di kesunyian Bayu ini aku telah memperoleh banyak kesempatan untuk memusatkan diri pada kebrahmanianku, sehingga aku tidak lagi dipengaruhi oleh perasaan atau pikiran yang diburu oleh kekayaan, kenikmatan, serta kekuasaan.

Jangan lupa orang yang masih memikirkan hal-hal seperti itu tidaklah mungkin bisa memusatkan dirinya."

"Hyang Dewa Ratu!" Yistyani gembira melihat kemajuan adiknya. Tentu ia membaca banyak lontar.

"Engkau sungguh luar biasa. Tapi lupakah kau bahwa kekuasaan diperlukan untuk membasmi kekejian?"

"Jika semua orang memelihara yoganya, maka ia akan bersatu dengan budi suci. Siapa yang menyatu dengan budi suci, akan terbebas dari baik dan buruk." Tantrini tersenyum, ramah. "Dengan apa aku melindas kesedihan karena kehilangan suami dan anak-anakku? Hanya dengan yoga semadi, jika aku mampu menyatu dengan Hyang Maha Dewa, maka aku tiada lagi mengharap sesuatu. Aku terbebas dari ikatan keduniawian dan mencapai tempat di mana duka nestapa tiada."

"Tantrini..." Sekali lagi Yistyani merangkul dan mencium adiknya. "Kau telah menemukan dirimu sendiri " "Terima kasih, Yang Mulia." .

Semua orang memandang mereka. Ikut terharu. Yistyani nampak lebih kurus. Ubannya nampak mulai menyubur.

Sedang Tantrini nampak segar walau anaknya lebih banyak. Enam orang. Dan semua telah remaja. Baswi kemudian mengajak mereka berkinang. Sambil menceritakan bahwa istrinya, Sedah Lati yang adalah sahabat Yistyani, telah meninggal beberapa waktu sebelum perang. Ayu Citra, istri Sardola pun sudah mati karena penyakit batuk. Sesaat wajah Yistyani mendung. Berarti tinggal seorang temannya yang dulu -pernah sama-sama menjadi selir Kuwara Yana yang masih hidup. Ah, dunia dengan isinya sedang binasa, kata Yistyani dalam hati. Siapa yang lahir akan binasa.

"Anakku," Yistyani menoleh pada Wilis, "sudahkah engkau siap? Lihat, Blambangan sedang diacak-acak oleh bangsa lain."

"Hamba siap. Demi Hyang Maha Dewa, demi Blambangan." "Bagus! Itu adalah impianku, Anakku." "Kita telah

kehilangan banyak, Yang Mulia. Karena itu kita harus kembali menyusun kekuatan dan siasat," Sardola menasihati. Semua menoleh padanya. Usia telah membuat Sardola lebih bijak dari dahulu. "Kita perlu menyusun kekuatan berlapis seperti yang disusun oleh Yang Mulia Agung Wilis. Kita perlu mendirikan lagi perkubuan di luar Bayu. Sebab jika kita terdesak, maka musuh tidak langsung menusuk jantung kita. Apa sebab?" Sardola berhenti lagi sebentar. Menarik napas sambil memandang semua orang. "Kita boleh punah.' Tapi anak-anak kita harus dapat selamat dan melanjutkan peperangan."

"Dewa Bathara!" Baswi menyebut. "Kau masih cerdas "

"Bukan cuma menyusun kekuatan berlapis," Mas Ayu Prabu ikut bicara, "tapi kita perlu memperluas arena peperangan.

Dengan demikian perhatian Belanda akan terpecah ke semua penjuru. Kita perlu mengadakan hubungan dengan negeri- negeri lain yang juga sedang melawan VOC. Kita perlu belajar dari Tumenggung Wira-negara dari Pasuruan atau Tumenggung Jangrana yang terkenal dengan sebutan Sawunggaling itu. Mereka melibatkan orang-orang Makasar, Madura, Sumba, Ternate, dan Bali di samping kawula negeri mereka sendiri. Kenapa kita akan berperang sendiri?"

"Hebat...!" Baswi memuji sambil tertawa terbahak-bahak. "Benar-benar tidak percuma Yang Mulia menjadi putri Agung Wilis. Tapi saat ini kita sedang terkepung. Dari darat dan dari laut. Ke Bali tidak mungkin. Ke Surabaya? Semua sudah kalah."

"Kakang Mas Ramad Surawijaya telah berunding dengan hamba bahwa beliau akan mengajak sisa-sisa laskar Yang Mulia Mlayakusuma, yang gugur di Ngantang untuk bergabung dengan kita."

"Dewa Bathara!" semua orang menyebut. Semua terkejut. Anak-anak Wong Agung Wilis tidak pernah lupa memikirkan bagaimana menyusun kekuatan melawan Belanda. Mengusir penjajah!

"Ampuni kami jika tidak memberi laporan terlebih dahulu. Tapi kami pikir sebagai telik sandi (mata-mata) kami boleh mengambil keputusan mendadak di mana sangat diperlukan."

Sebenarnyalah Wilis, sebagai pemuka di Raung cukup tersinggung atas ulah mereka. Namun sekarang yang bicara adalah Ayu Prabu. Seorang gadis idaman setiap pria. Maka ia membunuh ketersinggungannya itu. Bahkan tersenyum dan kemudian bertanya, "Lalu apakah cukup kita berhubungan dan menampung mereka?"

"Kita akan menempatkan mereka di kota-kota lain. Misalnya Jember, Bondowoso, atau beberapa tempat lain untuk mengobarkan perlawanan terhadap VOC. Sedang untuk pembiayaan kita perlu berhubungan dengan Bali atau negara lain yang saat ini juga melawan VOC." "Suatu pendapat yang bagus," Yistyani ikut memuji.

Sementara itu Wilis semakin kagum dan tertarik pada Ayu Prabu.

"Bagaimana kita bisa menghubungi Bali?"

"Ada banyak jalan. Tapi tentu kita perlu minta kesediaan Yang Mulia Ayu Tunjung sebagai putri Yang Mulia Ayu Candra yang masih berdarah Mengwi."

"Aku?" Ayu Tunjung heran. "Bukankah aku telah menjadi orang Bayu?"

Semua orang tersenyum padanya. Ia jadi serba salah dipandang semua orang. Terutama hatinya menjadi amat berdebar jika Wilis yang memandangnya.

"Ya! Yang Mulia...," Ayu Prabu menjawab cepat.

"Baiklah!" Wilis memutuskan. "Nanti sore kita akan bertemu lagi di sini untuk berunding. Kita perlu mengadakan pembagian tugas sebaik-baiknya."

"Tentu saja bukan sekadar pembagian tugas," Baswi ikut bicara. "Tapi hamba setuju diadakan alih tugas dan tanggung jawab."

"Bukan pergeseran maksud hamba...," Wilis menukas. "Tidak ada pergeseran!" tegas Baswi. "Yang ada alih tugas.

Misalnya, hamba akan menyerahkan tanggung jawab pada Runtep, anak hamba. Bukan berarti hamba akan lari dari tanggung jawab. Demikian pula Sardola pada Undu, Tum-pak pada Utun. Percayalah, kami akan terus mendampingi dan melatih mereka."

"Baik. Aku setuju. Tapi sekarang kita akan beristirahat. Aku percaya, Bunda dan Yang Mulia Ayu Prabu masih lelah karena perjalanan yang jauh."

Mereka segera menuju pesanggrahan masing-masing. Mas Ayu Prabu mengajak Sayu Wiwit bermalam di pesanggrahan ibunya. Tantrini menggandeng anaknya dengan penuh kerinduan. Ia tidak menduga anaknya seperti ayahnya. Lebih memikirkan negeri dari diri sendiri. Tapi bagaimanapun ia harus merelakan karena itu tahu bahwa membela kepentingan orang banyak adalah panggilan hidup.

Mas Ayu Prabu dan Sayu Wiwit ingin benar-benar menggunakan waktu mereka untuk menikmati segarnya udara pegunungan. Sehari-hari mereka harus berhadapan dengan ketegangan. Karena mereka harus memata-matai gerakan Belanda di Blambangan. Suatu pekerjaan yang selalu berhadapan dengan bahaya. Di Bayu keduanya bisa mendapat sedikit kedamaian.

Namun rasanya waktu terlalu cepat berjalan. Belum lagi mereka puas menikmati indahnya alam serta bergurau bersama ibunda Ayu Prabu, mentari sudah hampir tenggelam di punggung bukit.

Itu berarti mereka harus siap menghadap ke pendapa untuk mengikuti persidangan seperti yang telah ditentukan. Barangkali Wilis sendiri belum puas melepas rindu pada ibunya atau mendengar cerita pengalaman ibunya. Tapi apa pun keadaannya Wilis juga harus menyiapkan diri. Semua pemimpin Bayu harus menyiapkan diri.

Yistyani sendiri belum sempat ke mana-mana. Bahkan menengok satu-satunya sahabatnya yang tersisa, Jenean, pun tidak sempat. Namun sebelum berangkat ke pendapa ia sempatkan untuk sekilas mengingat suami Jenean. Mandrawa namanya. Dulu ia pemuda yang berwajah buruk di Raung. Tak seorang pun gadis yang mau mendekatinya. Ah, kenapa Jenean yang jelita itu mau menjadi istrinya? Apakah ia putus asa? Kenapa ia tak memilih Tumpak yang pernah mendekatinya? Berbagai tanya yang tiada berjawab. Yistyani memang tak mampu memecahkan rahasia ini. Memang hidup berisikan jutaan kemungkinan yang sulit ditebak. Juga Tumpak, kenapa tak jadi mengawini Jenean? Dan kemudian mengawini Santi, perempuan bekas mata-mata Ni Ayu Candra yang ditangkap oleh orang-orang Wong Agung Wilis? Heran....

Kendati begitu Yistyani ingin berbincang. Melepas rindu. Rindu kembali bergurau bersama seperti masa muda dulu.

Bersama Wilis ia mencoba menengok keadaan Raung dari tempat yang agak tinggi. Rumah-rumah berjajar rapi walau banyak di antaranya yang tambahan baru. Tapi bentuknya tetap seperti dulu. Tidak ada yang berubah menjadi loji.

Memang Bayu belum terjamah loji. Ia tidak mampu menghitung jumlah pohon yang ada di situ. Apakah kian bertambah seperti pertambahan penduduknya? Atau makin berkurang? Biasanya makin padat penduduk makin kuranglah keseimbangan. Setiap ketidakseimbangan alam selalu diikuti kemarahan alam itu.

Di pendapa tidak nampak adiknya, Tantrini. Sebagian besar pemimpin Bayu sudah hadir. Namun begitu keduanya menapaki tangga pendapa tiba-tiba Runtep datang melapor bahwa ada serombongan pasukan mendekati perkubuan. Tapi tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang. Bahkan mereka mulai menyulut obor.

"Siapa mereka?" Wilis terkejut.

"Tidak tahu, Yang Mulia. Tapi hamba sudah menyiapkan pasukan sebab jumlah mereka cukup banyak."

"Tahan mereka di gerbang! Aku akan menyiapkan seluruh kawula dan pasukan induk untuk menghadapi segala kemungkinan."

"Hamba akan sambut mereka." Ayu Prabu segera bangkit diikuti Ayu Tunjung dan Sayu Wiwit.

"Baiklah!" Wilis tidak bisa menahan.

Secepatnya mereka merapikan barisan. Memang kawula Bayu sudah terlatih menghadapi pendadakan semacam ini. Tidak nampak kepanikan. Secepatnya mereka menyusup ke semak dan tempat yang terlindung sambil menyiapkan semua senjata mereka. Bahkan anak-anak kecil yang suka bermain di halaman itu pun sudah dilatih menghadapi semua kemungkinan. Maka perkubuan segera menjadi sepi. Kendati biasanya mereka masih bermain-main di halaman. Lebih "dari itu kepada mereka juga sudah diberi tahu bahwa VOC adalah penyebab tersitanya sebagian waktu bermain mereka.

Sementara itu pasukan manca yang ternyata tidak berpakaian Kompeni, makin mendekati perkubuan. Paling depan seorang pria berkuda dengan membawa bendera putih. Di belakangnya dua orang berkuda sebelah-menyebelah. Dari kejauhan yang seorang telanjang dada. Semuanya tidak siap tempur. Tidak ada sorakan sekalipun arak-arakan mereka cukup panjang. Tapi regu pengintai belum melaporkan jumlah mereka secara pasti. Sebab debu menutupi pandangan mereka. Melihat kenyataan itu Mas Ayu Prabu jadi berdesir.

Maka ia berkata,

"Kalian siap di sini! Biar aku sambut mereka!"

"Jangan! Siapa tahu mereka cuma menipu," cegah Ayu Tunjung.

"Jika mereka menipu maka akan segera ketahuan. Begitu mereka membunuh aku maka kalian boleh bertindak." Ayu Prabu sudah melompat ke atas kudanya. Dan Sayu Wiwit pun tidak mau ketinggalan.

"Wiwit...," Suara Ayu Prabu mencegah.

"Hamba akan tetap menyertai, Yang Mulia," gadis itu tetap pada pendiriannya.

Ketika kuda mereka telah melompati gerbang Wilis sampai di tempat itu. Suaranya tak mampu menghalangi langkah kuda kedua gadis itu. Ia ingin menyusul mereka. Tapi Mas Ayu Tunjung segera menangkap tangannya. "Tidak perlu, Yang Mulia. Karena mereka membawa bendera putih."

"Jagat Bathara! Siapa mereka?"

"Kita tunggu di sini, Yang Mulia. Jika mereka berbuat yang tidak-tidak terhadap Mas Ayu Prabu, kita habiskan saja semuanya!"

Dengan hati berat Wilis mengiakan. Tapi Mas Ayu Prabu... kenapa harus kamu yang maju berkorban. Kenapa tidak orang lain? Diam-diam timbul rasa was-was. Maka ia segera memerintahkan orang untuk membuntuti Ayu Prabu dari dalam semak. Dan di luar perbentengan ia juga memerintahkan gelar perang Sapit Urang secara rahasia. Dan merayaplah orang-orang mengepung kiri-kanan jalan. Kendati gelap dan terganggu oleh nyamuk.

Tanpa rasa gentar dan ragu Ayu Prabu mengarahkan kudanya berhadapan dengan pasukan yang baru naik. Semua yang melihat menjadi kagum pada ketenangannya. Bukan cuma orang-orang Bayu yang kagum, tapi juga pemimpin rombongan yang berkuda di belakang orang yang membawa bendera putih itu. "Cuma dua orang. Atau kebiasaan orang Bayu macam begitu?" tanya Panji Rana pada Mas Ramad yang berkuda di sampingnya.

"Tidak! Sekarang ini mereka tidak tahu bahwa Tuan datang bersama hamba. Mungkin saja mereka curiga dan perlu bersikap hati-hati."

Panji Rana tertawa. Ia memuji kewaspadaan orang Bayu. Setelah jarak mereka dengan dua orang berkuda itu dekat Ramad meminta agar Panji Rana memerintahkan pasukannya berhenti. Orang yang mengenakan pakaian seperti seorang pangeran dari Madura itu segera memerintahkan pasukannya untuk berhenti. Suaranya mengguntur di lereng-lereng bukit. Mas Ayu terkejut mendengar suara yang mengguruh itu. Namun ia tak berhenti. Diam-diam menyiapkan senjatanya. Diikuti oleh Sayu Wiwit.

Semua anggota pasukan Panji Rana tegang. Mereka tak diperbolehkan mempersiapkan senjata agar tidak menimbulkan kecurigaan. Mas Ramad Surawijaya tahu persis, sekalipun belum memasuki perkubuan, ratusan moncong senjata teracung pada mereka. Karenanya ia meminta semua orang tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun. Setelah kedua penunggang kuda itu benar-benar dekat, Mas Ramad menyapa,

"Dirgahayu!".

"Hai..." Mas Ayu terkejut. "Kandakah itu?"

"Ya, inilah daku, Adinda " Mas Ramad gembira. Ia tidak

dapat melihat wajah Mas Ayu Prabu dengan jelas karena keremangan cenderung menjadi gelap.

Namun semua pasukan Panji Rana, bahkan Panji Rana sendiri pun amat kagum melihat wanita melompat turun begitu tangkasnya dari punggung kucla. Mengingatkannya pada leluhurnya, Roro Gusik, istri Tumenggung Wiranegara. Wanita cantik, berani, dan cerdas. Roro Gusik, wanita hebat yang tak pernah menonjolkan diri. Namun mampu mengilhami semangat Untung Surapati dalam memperjuangkan hidup maupun negaranya. Rupanya di Blambangan ini banyak juga Roro Gusik-Roro Gusik...

Mau tak mau Wilis memerintahkan penundaan sidang para pemimpin Bayu. Mereka harus menempatkan pasukan yang baru tiba bersama Mas Ramad. Ternyata mereka adalah gabungan sisa laskar Pangeran Mlayakusuma, cucu Tumenggung Wiranegara yang gugur di Ngantang, Malang, dengan pelawan dari Mataram, sisa pasukan Pangeran Blitar dan Pangeran Singasari yang juga gugur di Malang Selatan waktu melawan Belanda. Selebihnya adalah pelawan dari Surabaya, Makasar, dan Madura. Sedang Panji Rana sendiri mengaku masih keturunan Untung Surapati.

Bagaimanapun Baswi dan pemimpin lainnya gembira dengan kedatangan mereka. Mereka adalah orang-orang yang selalu melawan VOC di mana pun mereka berada. Jadi mereka, adalah orang-orang yang berpengalaman perang.

Bahkan menurut pengamatannya mereka adalah orang-orang yang hidup di atas perang. Kedengarannya aneh, manusia hidup di atas perang. Jadi mereka selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, satu negeri ke negeri lain. Pokoknya di mana ada perlawanan terhadap VOC mereka selalu hadir selama mereka masih hidup.

Tentu bukan hanya tempat, tapi juga makanan harus disediakan secara mendadak untuk mereka. Dalam hal ini Mas Ayu Tunjung adalah orang yang paling sibuk. Sebab ia diangkat sebagai menteri cadangan negara bagi pemerintahan Blambangan di pengasingan. Ternyata ia mewarisi kecerdasan yang dimiliki ibunya, Ni Ayu Candra. Dan memiliki wibawa yang tersendiri. Akibatnya pemuda yang ingin mendekatinya agak segan. Walau mereka tentu mengidamkan untuk dapat memetik kembang yang berkulit hitam manis, berhidung mancung, dengan rambut ikal hitam. * Kulitnya hampir tiada cela. Susunya mulus dan padat, pertanda ia gadis yang bakal membawa kesuburan bagi suaminya. Bagi sementara orang dia benar-benar penjelamaan Dewi Tari. Jari-jemarinya runcing seperti duri pohon salak, kendati begitu terlatih menarik picu senapan. Murah senyum, dengan mata yang selalu bersinar. Di mana saja ia nampak bergembira. Seolah kematian bapaknya di Pantai Seseh, atau kematian ibunya di medan pertempuran Banyu Alit tidak memberikan kedukaan mendalam. Itu menunjukkan betapa ia telah dapat berdamai dengan keadaan dan ia telah mampu menyerap pengetahuan dari Weda dengan sebaik-baiknya. Itu sebabnya ketika memerintahkan pemuda-pemudi menyiapkan dapur umum secara mendadak, tidak ada yang mengeluh. Terutama para pemuda, rasanya mereka ingin berebut pekerjaan supaya dilihat oleh Mas Ayu Tunjung bahwa dialah yang paling giat. Semua orang ingin menarik perhatian gadis itu. Andaikata harus mati sekalipun asal untuk kepentingan gadis itu rasanya mereka akan berebut.

Setelah mengatur orang-orang yang harus bekerja di dapur umum secara bergiliran sampai esok, Mas Ayu Tunjung bergesa ke pendapa pertapaan untuk menghadiri pertemuan terbatas para pemimpin Bayu.

"Nah, Saudara-saudara...," Wilis memulai setelah semua pemimpin berkumpul. "Pertama hamba mengucapkan selamat datang pada Yang Mulia Ramad yang belum pernah naik ke Bayu sejak perang berhenti. Kami semua mengagumi usaha Yang Mulia untuk terus menghimpun kekuatan para pelawan Belanda. Lebih dari itu, tidaklah berlebihan jika hamba mewakili semua pemuka Raung untuk menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya."

"Ah... jangan terlalu, Yang Mulia. Apa hebatnya cuma menambah jumlah pasukan. Hamba belum pernah memenangkan peperangan. Yang penting adalah apa yang bakal kita kerjakan. Bukan menilai apa yang sekarang kita capai."

"Betul," Mas Ayu Tunjung kini bicara. Suaranya merdu menarik semua orang. "Dalam tiap peperangan, kita selalu dikalahkan oleh kurang mampunya kita dalam pengadaan pangan. Kita lihat pengalaman Sultan Agung dari Mataram yang tidak mampu mempertahankan lumbung padinya."

"Baiklah, Yang Mulia. Itu benar. Mari kita sama-sama memikirkan usul Yang Mulia Tunjung ini." Wilis diam sesaat, melihat yang lain-lain. Tapi semuanya diam. Menunggu kebijakannya. "Baiklah," katanya kemudian, "hamba sudah berunding dengan Kakek Baswi serta Yang Mulia Sratdadi dan memutuskan sejak sekarang hamba mengumumkan perang melawan Belanda. Tapi itu bukan berarti kita harus menggempur kedudukan Belanda sekarang. Kita akan lakukan siasat. Bukan dengan nafsu kita berperang. Hamba ingin mengingatkan pada Bhagavadgita percakapan * ketiga, sloka dua puluh enam yang berbunyi:

na buddhi bhedam janayed ajnanam karma sanginam Josyayet sarva karmani vidvan yuktah samacharan

artinya:

janganlah mereka yang bijaksana membingungkan yang bodoh dengan bekerja bernafsu

melainkan membiarkan semua bekerja sambil memberi contoh bekerja, berbakti.

"Di sini ada dua hal yang harus kita kerjakan. Menjadi orang bijak dengan bekerja tanpa bernafsu. Maksud hamba kita harus mempersiapkan serapi mungkin peperangan ini. Termasuk mempersiapkan cadangan makanan. Bukan cuma mengadakan makanan tersebut, tapi juga menyimpannya. Itu bukan pekerjaan mudah. Yang kedua mengajak semua orang terlibat dalam pengusiran Belanda dari bumi kelahiran kita.

Bukan cuma itu, jika kita bisa, kita memang perlu mengimbau Bali yang menguasai Lombok itu agar bersedia terlibat dalam perang melawan Belanda. Lebih bagus lagi membina persekutuan dengan Inggris yang juga merupakan saingan VOC."

"Bagus," Baswi memuji. Ternyata Wilis mempunyai wawasan yang jauh. "Semuanya tepat," katanya lagi. "Tapi sekarang ada yang terpenting dari semua itu: membangkitkan kembali semangat kawula Blambangan yang hampir punah karena kekalahan terus-menerus. Dan tugas untuk itu sebaiknya kita percayakan pada putra-putra Wong Agung Wilis." "Apakah tidak ada orang lain?" Mas Sratdadi mewakili adik- adiknya.

"Akan lebih bijak jika para Yang Mulia yang melaksanakan tugas ini. Bagaimanapun kawula Blambangan masih mencintai Agung Wilis. Apa salahnya jika kita menggunakan pengaruh Yang Mulia Agung Wilis itu untuk mempersatukan kembali kawula dalam melawan VOC?"

"Hamba setuju!" Wilis memberikan kata putus. Yistyani juga mendukung.

"Terima kasih, jika kami masih mendapat kepercayaan untuk menyumbangkan darma kami pada Blambangan," kembali Sratdadi mewakili saudara-saudaranya. "Sekarang hamba ingin * mengusulkan penempatan pasukan Panji Rana yang naik ke sini bersama Adinda Mas Ramad."

"Itu juga jadi pikiran hamba. Karena itu hamba ingin mendapat persetujuan Yang Mulia Ramad andai hamba akan menempatkan mereka di Indra-wana. Suatu lembah yang terletak di antara Gunung Sukep, Gunung Pendil, dan Gunung Merapi. Di atas Indrawana sebelah utara ada hutan yang hampir serupa dengan Indrawana yang bernama Derwana.

Daerah itu mungkin saja bekas kota yang ditinggal penduduknya. Nah, apa : jeleknya jika kita bangun kembali kota yang mati itu. Mungkin saja masih ada bekas-bekas sawah dan saluran air yang bisa kita manfaatkan kembali."

"Jagat Bathara!" Baswi dan Sardola menyebut berbareng. Anak muda itu menguasai medan. Mereka yang begitu lama tinggal di Raung tidak tahu ada kota mati di dua tempat itu.

"Kota? Kota mati?" Baswi bertanya. Yistyani pun tidak kurang kagumnya.

"Ya. Menurut lontar yang hamba temukan di sana, dua kota itu bekas tempat persembunyian Yang Mulia Macan Putih Sorga. Saat itu beliau sedang terdesak dan dalam kesedihan mendalam.

Maka mengasingkan diri di Indrawana untuk kemudian membangun pertapaan di Derwana. Tapi pengikutnya makin banyak, dan tempat itu makin ramai. Jadilah pusat pemerintahan dalam pengasingan. Hamba kira kita akan lebih gampang membuka daerah itu daripada harus membuka hutan baru. Tentu pohon-pohon di sana tidak sekuat dan setua hutan lainnya."

"Hamba setuju. Kita akan punya dua kota yang akan dapat kita gunakan sebagai pijakan jika menyerbu Pangpang," Ramad cepat-cepat memberi dukungan sebelum yang lain bicara. Semua orang memandangnya lagi. Seorang pemuda yang wajahnya mirip Wong Agung Wilis dan pikirannya selalu sukar ditebak oleh siapa pun. Bahkan jika punya kemampuan sukar dibelokkan.

"Kita bukan cuma punya dua. Tapi tiga. Ada satu daerah lagi yang sekarang sebenarnya sudah dibuka oleh Yang Mulia Sratdadi. Pertapaan Songgon yang juga bekas pertapaan Prabu Tawang Alun Sorga "

"Hyang Bathara!" sebut semua orang. "Belum pernah dilaporkan oleh Yang Mulia Sratdadi."

"Memang tidak dilaporkan pada siapa pun kecuali pada hamba. Sebab Yang Mulia Sratdadi melakukan gerakan rahasia. Tak semua orang boleh tahu," tegas Wilis.

"Baiklah...," Baswi tambah kagum terhadap kecermatan Sratdadi. Ternyata anak-anak itu telah belajar banyak dari kekalahan bapak mereka. "Lalu kapan kita mulai mengerjakan rencana kita?"

"Secepatnya. Sekaligus kita kerahkan laskar Panji Rana.

Bersama mereka akan berangkat Runtep dan Undu. Tapi mari kita beri kesempatan laskar Panji Rana berkenalan dengan kita. Barang dua hari atau tiga hari lagi baru kita berangkat ke Indrawana."

"Tapi mereka orang-orang berdewa satu...," Mas Ayu Tunjung keberatan. Demikian pula Sardola.

"Dalam menghadapi perang besar kita memerlukan persatuan dan kesatuan. Kita harus mengesampingkan terlebih dulu pandangan tiap pribadi. Termasuk igama. Yang penting kita semua, harus sehati sepikir. Meminta kembali tanah kelahiran kita dari bangsa asing. Yang penting dalam hati x kita masing-masing ada kata: Kembalikan Blam- banganku! Kembalikan Nusantaraku!" jawab Wilis sambil tersenyum. "Apakah Islam, Hindu, asal melawan Belanda, tidak akan jadi soal."

Semua terdiam. Keputusan Wilis sulit dibantah. Karena memang tidak menyimpang dari siasat kekuasaan. Setelah menjatuhkan perintah, ia bangkit bersama ibunya. Sedang Mas Ramad ditemani adiknya, Mas Ayu Prabu, menghadap ibunya. Beberapa jarak di belakang mereka berjalan Mas Ayu Tunjung dengan ditemani oleh Mas Sratdadi. Memang sejak naik ke Raung, ia tinggal bersama Tantrini. Bahkan gadis itu berguru pada Tantrini. Dia benar-benar merasa begitu besar kasih Tantrini. Tidak beda dengan anak-anaknya sendiri.

"Tidak terduga Yang Mulia mampu membangun satu kota tanpa bantuan orang-orang Bayu. Bahkan dengan tanpa sepengetahuan siapa pun," puji Ayu Tunjung pada Sratdadi. Pujian yang membuat setiap pemuda melambung. Udara gunung menyapu wajah mereka. Sejuk. Senyum tersungging di bibir Sratdadi.

"Ah... Yang Mulia lebih hebat. Mampu mengatur cadangan makanan untuk orang beribu-ribu. Bahkan yang mengagumkan bisa mengerahkan tenaga sukarela untuk dapur umum dalam pen^ dad,akan semacam sekarang." "Wbou... apa artinya dibanding dengan seseorang yang membangun kota? Seperti Raden Wijaya, leluhur raja Majapahit?"

"Tapi, barangkali bukan untuk menjadi raja seperti Raden Wijaya. Memang sayang, hamba bukan Raden Wijaya "

"Apakah pembangunan kembali Songgon semata-mata untuk pijakan menyerbu Belanda seperti kata Yang Mulia Ramad tadi?"

Keduanya sudah mendekati rumah Tantrini. Mas Ramad dan Ayu Prabu sudah berbelok ke halaman. Tiba-tiba Mas Ayu Tunjung teringat pada mereka yang bekerja di dapur umum. Ingin ia menengok mereka lebih dahulu untuk mengatur persiapan makan pagi bagi pasukan Panji Rana. Maka sebelum Mas Sratdadi menjawab, ia berpamitan. Tapi pemuda itu ingin menyertainya.

Entah apa yang mendorongnya? Mereka sama-sama diasuh oleh Tantrini pada masa kecil. Tapi sekarang ada perasaan aneh menyelimuti hatinya. Kasihnya bukan lagi seperti kakak- adik. Tapi ia tidak dapat memungkiri bahwa hatinya mulai tertarik pada Ayu Tunjung. Sedikitnya ia ingin berlama-lama di dekat Mas Ayu Tunjung. Karena itu keduanya tidak berbelok, tapi terus. Mendaki. Karena dapur yang didirikan letaknya di atas bukit dekat mata air.

"Memang bukan semata untuk itu," pemuda itu meneruskan.

"Lalu?" Gadis itu mengerutkan kening.

"Hamba ingin tahu apakah benar para pemuka seperti Suratruna atau Sutanegara atau yang lain-lain benar hidup dari menjual bangsa dan negaranya. Atau mereka melakukan hanya karena terpaksa? Dan mereka tidak bergabung dengan kita karena tidak tahu? Hamba akan mencoba bicara dengan mereka semua dari Songgon. Setidaknya kita akan tahu secara persis, mana orang pribumi yang memusuhi Blambangan sendiri. Hamba menyadari dalam satu tubuh ada tangan, yang perkasa seperti halnya Adinda Ramad, ada kepala yang cemerlang seperti Yang Mulia Wilis, ada pula mulut yang lantang. Barangkali hamba lebih cocok menjadi mulut yang pekerjaannya berseru-seru. Yah, sekadar berseru-seru."

"Yang Mulia merendahkan diri. Padahal pekerjaan itu amat berbahaya. Hanya bisa dikerjakan oleh seorang yang bijak dan berani luar biasa."

Sratdadi tertawa. Lirih tapi ramah. Sementara itu langkah mereka telah sampai ke dapur umum. Dan Mas Ayu Tunjung tak mengerti makna tawa Sratdadi. Semua pemudi dan pemuda berhenti sejenak dari pekerjaan mereka masing- masing. Terpana oleh pasangan muda itu. Seperti dewa-dewi turun dari kahyangan. Beberapa bentar baru tersadar setelah Sratdadi memberikan salam "Dirgahayu!" pada mereka.

"Dirgahayu...," jawab mereka berbareng. "Senang sekali melihat kalian bergotong-royong

mempersiapkan makan untuk saudara-saudara kita yang baru

datang itu. Dan jangan anggap mereka sebagai tamu. Tapi anggap mereka sebagai sahabat. Sahabat seperjuangan, sependeritaan." Sratdadi melangkah ke sebuah tungku yang apinya hampir habis. Ia mengambil beberapa potong kayu, dimasukkannya ke mulut tungku itu.

Penjaga tungkunya menjadi tersipu. Beberapa bentar kemudian para pemuda sudah merubung keduanya. Kendati Mas Sratdadi adalah menteri mukha (menteri pertahanan) pemerintah bayangan dalam pengasingan untuk menggantikan pemerintahan Wong Agung Wilis yang dihancurkan oleh Belanda, namun pemuda itu terlalu sering meninggalkan Raung. Kabarnya sering masuk ke Lateng dan kota-kota besar lainnya. Setidaknya mereka ingin mendengar langsung berita mengenai Blambangan seutuhnya dari mulut Sratdadi. "Sahabat yang baik adalah sahabat dalam suka dan duka," Ayu Tunjung menyambung. "Karena itu mereka kita bantu, dengan sepenuh hati." Gadis itu tersenyum. Melirik Sratdadi.

"Dan..." kini Sratdadi bersuara, "sahabat sejati adalah orang yang rela memberikan nyawa bagi sahabatnya."

"Kapan kita akan mengusir Belanda dari Blambangan?" seorang pemuda nyeletuk.

"Aha... Saudara bersemangat sekali. Tentu Saudara akan menjadi pahlawan yang gagah berani!" Sratdadi memuji. "Tapi perang belum akan kita lakukan- sekarang. Kita sedang menyusun kekuatan. Setelah tiba saatnya kita akan gempur mereka. Bukan cuma kita yang harus berperang. Tapi setiap orang yang lahir, makan dan minum di atas bumi Blambangan, harus memberikan pengabdiannya buat kebebasan dan kesucian negeri tercinta ini."

"Tapi mereka telah berkhianat!" sambung lainnya. "Kita tidak melihat sesuatu dengan mata yang jernih.

Sebenarnyalah tidak semua orang suka bekerja pada VOC.

Mereka adalah orang yang dipaksa, dicambuk, dan tidak ada jalan lain kecuali mengiakan apa yang dimaui VOC. Seharusnya kita menaruh kasihan pada mereka. Kita perlu mengajak mereka membela hak mereka sendiri."

"Jadi, masih mungkin mereka bersatu dengan kita?" "Pada hakikatnya kita satu dengan mereka. Hanya tempat

yang berbeda. Tapi kepentingan kita satu, mengusir penjajah."

"Nah, Saudara-saudara, kita sudah mendengar keterangan dari Yang Mulia Menteri Mukha sendiri. Tentu kewajiban kita sekarang adalah berlatih, bersiap, dan berjaga-jaga. Yang terpenting dari semua itu ialah menjaga dan membina persatuan." Semua pemuda dan pemudi itu mengangguk-angguk.

Apalagi setelah mendapat penegasan dari Mas Ayu Tunjung.

"Ada kalanya kita menarik pelatuk senjata, tapi ada kalanya kita harus memberikan air sejuk bagi mereka yang dahaga di terik mentari kemarau."

Selesai ucapan itu, Mas Ayu mengatur siapa-siapa yang boleh istirahat, dan siapa-siapa yang harus menyiapkan makanan bagi pasukan Panji Rana besok pagi. Untuk kemudian kembali ke rumah Tantrini. Mereka biasa melakukan doa malam bersama di pura yang terletak di depan rumah.

"Yang Mulia tampaknya begitu akrab dengan mereka," Sratdadi memulai lagi dalam perjalanan pulang.

"Ah, kita sama-sama saja. Hamba juga lihat Yang Mulia pandai bergaul. Mereka sangat senang mendengar Yang Mulia bicara. Apalagi para gadis "

Sratdadi terdiam mendengar itu. Ingin ia masuk persoalan yang sudah umum, namun sukar untuk memulainya.

Persoalan cinta. Barangkali berperang lebih mudah dari bercinta. Mungkinkah orang perlu punya penasihat dalam bercinta? Seperti raja yang punya menteri pakira-kiran makabehan (menteri yang mendampingi raja merancang garis besar haluan negara dan mengamati pelaksanaannya) Ia memang perlu penolong. Ia tidak punya keberanian mengutarakan cintanya pada Mas Ayu Tunjung. Ia bukan Arjuna, tokoh wayang purwa itu. Unggul di medan laga dan unggul dalam bercinta. Menyesal kenapa ia menjadi siput di hadapan Mas Ayu. Satu-satunya orang yang bisa menolong pasti ibunya. Siapa lagi kalau bukan ibunya yang bisa ia minta untuk melamar putri Mangkuningrat itu?

Dan ibunya tersenyum mendengar permintaan anaknya. Mengapa anak ini tidak seperti ayahnya dulu? Salahkah aku mendidik anakku maka ia tidak seperti ayahnya?

"Apakah Ibu tidak setuju?" Sratdadi memandang ibunya. "Anakku, Ibu sangat setuju. Kau tampak serasi dengannya.

Tapi..."

"Kenapa tetapi?"

"Kau ini anak singa, Anakku. Bapakmu adalah pahlawan di mana pun dia berada. Termasuk dalam cinta. Bapakmu mampu menggedor hati Ibu dengan berani. Ya, dengan berani ia melamar ” Tantrini membelai rambut anaknya. "Kau juga harus berani! Berani, sekali lagi berani! Apa artinya kau punya pendapat jika kau tak berani mengutarakannya? Pendapatmu akan tinggal jadi khayalan tanpa makna. Demikian pula cinta. Cinta bukan khayal tanpa makna. Cinta adalah perpaduan dua hati yang saling membutuhkan dan saling mengasihi. Nah, utarakanlah secara jantan. Maka hatinya akan tergedor. Tapi jangan memaksa! Sebab memaksa adalah serendah- rendahnya peradaban."

"Hyang Bathara!" Sratdadi menyebut. Sambil menarik napas panjang ia berdesis, "Hamba takut ditampik "

"Itu berarti kau takut belajar pada keadaan yang buruk atas dirimu. Satria yang busuk adalah satria yang malu belajar dari kegagalannya. Maka ia akan menutupi segala kegagalan itu dengan banyak cara. Memaksa, memperkosa, jika perlu membunuh. Kau bukan satria semacam itu. Karena kau juga seorang brahmana. Anakku, brahmana adalah seorang bijak. Bagaimana kau akan dapat memberikan jalan keluar pada seseorang yang akan bunuh diri karena putus cinta jika kau sendiri tidak pernah mengalami bagaimana rasanya ditampik oleh seorang gadis "

"Jagat Dewa! Ibunda, ampunkan hamba. Hamba akan mencoba."

"Lamarlah, Anakku. Setelah itu Ibu akan bicara padanya." "Hamba, Ibunda." Sratdadi tidak mampu memejamkan matanya malam itu. Berkali ia bangkit dan melakukan yoga. Ibunya tahu, anak itu sedang menenangkan hati. Memang Sratdadi akhirnya mengambil kepu-tusan untuk menuruti nasihat ibunya. Tapi tidak bisa keesokan harinya. Juga tidak bisa lusa. Karena mereka sedang sibuk dengan teman-teman baru. Apalagi Sratdadi harus membagi tugas pada Runtep yang akan memimpin rombongan ke Indrawana.

Setelah rombongan itu berangkat maka Sratdadi baru mengambil kesempatan untuk menjumpai Mas Ayu Tunjung. Kebetulan gadis itu sedang melepas lelah seusai berlatih menembak. Keringat membasahi dahinya, sedang mukanya agak memerah membuat wajahnya nampak semakin manis.

"Ahai, Yang Mulia kecapekan?" Sratdadi mendekati gadis yang sedang duduk sendirian di bawah pohon sonokembang itu.

"Yang Mulia mengejutkan "

"Menyendiri dan melamun tentu ada sesuatu yang dipikir?" "Biasa, terlalu letih tiga hari ini mempersiapkan anak-anak

melayani pasukan Panji Rana. Tapi bersua dengan para

pahlawan seperti itu seperti mendapat kekuatan dan semangat baru."

Sratdadi duduk di samping putri itu. Angin pegunungan membelai keduanya. Sratdadi memandangi gadis itu seperti tak jemu-jemunya.

Tiba-tiba saja jantung Mas Ayu berdesir. Namun ia mencoba tersenyum.

"Rasanya tidak seperti biasa Yang Mulia memandang hamba sedemikian rupa," Tunjung memberanikan diri.

Sratdadi mempertahankan diri agar tidak gugup. Berkali ia ingat ibunya berkata, "Kau anak singa, Nak." Mungkinkah singa beranak kucing? Tiba-tiba terbayang wajah ayahnya. Manusia berlidah dan berwajah dewa. Mampu merontokkan iman semua perawan termasuk ibunya yang jelita. Maka,

"Benar. Ada yang istimewa. Mudah-mudahan Yang Mulia tak marah mendengarnya," katanya sambil memandang mata Tunjung.

"Apa itu?" Tunjung mengerutkan kening. Tapi dengan begitu wajahnya kian menarik. Matanya jernih dengan bola mata hitam menghias muka yang lonjong seperti telur ayam.

"Semula hamba mengira, seorang menteri mukha adalah seorang pemberani. Paling perkasa dalam suatu negeri. Tapi ternyata tidak. Mungkin saja hamba mampu mengatur jalannya peperangan tapi ternyata hamba tidak berani pada saat hendak menyatakan cinta "

Tiba-tiba tawa Mas Ayu Tunjung meledak. Terkikik-kikik. Ia pandang pemuda di sampingnya dengan perasaan aneh.

"Mengapa tertawa?" Sratdadi sungguh-sungguh.

"Mustahil. Sungguh mustahil. Yang Mulia mampu membangun kembali Songgon namun tidak mampu membangun cinta?"

"Seperti hamba katakan tiga hari lalu, hamba bukan Ra "

"Andaikata Yang Mulia Raden Wijaya apa yang akan Yang Mulia kerjakan sehubungan dengan cinta itu?" Mas Ayu Tunjung memancing. Begitu derasnya pertanyaan itu sehingga tak sempat lagi Sratdadi berpikir panjang. Maka,

"Hamba akan memboyong Mas Ayu Tunjung sebagai permaisuri kerajaan "

"Hai!" Tunjung terkejut. "Benarkah yang kudengar ini?" Debar jantungnya mendadak seperti berpacu. Sratdadi sendiri seperti menyesal. Takut melukai gadis itu.

"Kita sudah seperti saudara kandung, Yang Mulia. Apakah tak mungkin kasih Yang Mulia itu dikarenakan suatu perasaan bersaudara yang amat mendalam? Pertimbangkanlah keputusan itu, Yang Mulia. Hamba takut, akan menyesal di belakang hari."

Keduanya terdiam. Di kejauhan kuda Sratdadi meringkik. Tidak sabar menunggu tuannya yang akan mengajaknya ke Songgon hari ini juga.

"Ya. Memang kita seperti saudara kandung. Tapi bukan saudara kandung. Ampunkanlah hamba, Yang Mulia, seandainya keterusterangan ini melukai hati Yang Mulia, karena sudah ada pemuda lain yang mengisi. Tapi inilah hamba " Diam lagi beberapa bentar. Keheningan diisi oleh

suara angin yang menggoyang dahan dan dedaunan. Mas Ayu Tunjung seperti berayun-ayun di puncak cemara yang sedang dipermainkan angin. Antara bahagia dan takut menyatu dalam kalbu.

Dengan matanya yang bening ia pandang Sratdadi tajam- tajam. Tapi dalam pandang mata | pemuda itu muncul bayangan lain. Bayangan Wilis. Sebentar hilang. Sebentar muncul. Ah, mengapa demikian? Ternyata saat ini ia berada di simpang jalan. Ke mana ia harus melangkahkan pilihan? Tiba- tiba matanya jadi basah. Ia menggelengkan kepala. Bukan untuk menjawab pertanyaan Sratdadi. Untuk mengusir pergumulan di hati. Tapi ia tahu tak boleh melukai hati pemuda di sampingnya. Kehancuran hati Sratdadi berarti pula kehancuran Songgon. Bahkan mungkin saja kehancuran Bayu, yang melimpahkan kepercayaan atas pimpinan suatu laskar yang akan dihadapkan pada Belanda.

"Sekali lagi, Yang Mulia, ampuni hamba. Andai benar sudah ada yang mengisi hati Yang Mulia, maka hamba akan bawa pengalaman ini pulang ke Songgon. Tapi hamba ingin tetap menitipkan Ibu. Anggaplah dia sebagai ibu Yang Mulia sendiri."

"Yang Mulia jangan tergesa mengambil kesimpulan.

Bukan maksud hamba melukai hati. Tapi bukankah kita ini satria? Dan tiap satria harus bertimbang sebelum memutuskan. Berikanlah pada hamba waktu untuk bertimbang. Kiranya tidak akan ada kata terlambat untuk sebuah perkawinan. Jangan marah, Yang Mulia. Hamba tidak pernah pergi ke mana pun kecuali

Bayu. Maka tak perlu curiga. Sebaliknya hambalah yang harus bertimbang semasak-masaknya. Begitu banyak mata gadis mengincar Yang Mulia." Mas Ayu Tunjung tersenyum. "Tentunya hamba tak ingin mengulangi pengalaman Kanda Ayu Telaga dan Mas Ayu Bali "

"Baiklah." Sratdadi memberanikan diri menggapai telapak tangan Mas Ayu Tunjung. Meremas jemari runcing. Dua hati saling berdebar. "Hamba akan pergi sekarang. Hamba "sudah minta diri pada Ibunda. Tak ada jeleknya bukan jika minta diri pada seorang saudara dan juga seorang kekasih?"

"Ah, Yang Mulia selamat berjuang." Mas Ayu

memejamkan mata untuk menahan getaran jiwanya, sambil menghela napas panjang. Tapi ia menjadi amat terkejut. Tiba- tiba saja kehangatan menyentuh pipinya. Sratdadi memberanikan diri menciumnya. Tidak lama memang. Tapi perasaan aneh merambati kalbunya. Pipinya merona. Sratdadi berdiri. Melepaskannya sambil kembali mengucapkan: selamat, tinggal, Kekasih  

Mas Ayu bagai terpatri di bumi. Ia pandangi tiap langkah Sratdadi menuju kudanya. Seperti dalam mimpi. Kini pemuda itu sudah dekat benar dengan kudanya. Ingin ia mengatakan sesuatu. Tapi kerongkongannya serasa tersumbat. Cuma bibirnya yang bergerak-gerak. Dan Mas Sratdadi seperti telah keluar dari satu lubang maut, kini ia melompat gagah ke atas punggung kuda dawuk. Dan mulai melangkah lamban. Mas Ayu tetap terpatri. Sampai Sratdadi lenyap dari pandangan ditelan debu. Ia meraba pipinya Kehangatan masih saja

membekas. Untuk yang pertama ia merasakan. Ia lihat tangannya. Keringat dingin Sratdadi masih belum hilang. Ah, mimpikah aku? Cepat ia melangkah ke pancuran. Ia belum mandi waktu dicium tadi. Tapi nanti bekas ciuman ini lenyap. Seperti Sratdadi sendiri. Tapi bagaimana dengan Wilis?

Masihkah ia mengharapkannya? Ia juga seorang pemuda yang penuh pesona. Mampukah ia menghapus Wilis dan menggantinya dengan Sratdadi?

Bukan cuma Mas Ayu yang sedang gundah memikirkan Wilis. Tapi juga Yistyani ibunya. Sebagai seorang ibu yang mengharap agar di masa mendatang anaknya menjadi seorang pemuda pengganti Wong Agung Wilis. Ia sibuk mondar-mandir berjalan ke setiap sudut perkubuan Bayu. Sibuk menimbang-nimbang.

Tatkala sudah kembali ke kamarnya, Yistyani tidak segera bisa tidur. Pikirannya mencerna apa yang ia dengar pada siang dan petang kala ia mengikuti pertemuan para pemuka Raung. Dalam mawas diri ia sempat membanding-bandingkan antara Wilis anaknya dengan Wong Agung Wilis. Ah... anak itu tidak menonjol seperti halnya Wong Agung. Anaknya belum memiliki wibawa seperti Wong Agung. Apa sebabnya?

Mungkinkah di sini juga berkumpul anak-anak Wong Agung Wilis yang rata-rata juga memiliki kecerdasan seperti bapaknya? Ia memberi nama anaknya dengan nama Wilis dengan maksud agar dapat mengambil-alih citra Wong Agung Wilis. Kini ia menyadari citra tidak ditentukan oleh sebuah nama. Tapi karya dan darma. Ia tidak boleh cemburu pada anak-anak adiknya. Justru mereka yang akan dapat menjadi penggerak laskar Bayu untuk melindas kedurjanaan. Justru ia harus menyatu dengan anak-anak adiknya. Apa jalannya?

Ah... alangkah baiknya jika ia mengikat mereka dengan darah? Menjodohkan anaknya dengan Mas Ayu Prabu, putri satu- satunya Wong Agung Wilis. Tapi...? Anak siapakah Wilis ini?

Wajahnya mirip sekali dengan Wong Agung Wilis. Mungkinkah anak Andita, suaminya? Ia ingat Jenean yang selalu menggodanya pada masa mereka masih muda, berapa kali kau ditiduri Pangeran maka anakmu persis sekali? Ia membisu dan tersenyum dalam perasaan malu. Jadi apakah ia harus menjodohkan anaknya dengan Mas Ayu Prabu? Lalu bagaimana caranya membangun wibawa anaknya?

0oo0

Waktu berjalan terus. Demikian pula pemerintahan di Blambangan berjalan terus. Pesta tidak ada lagi. Yang tersisa adalah tangis para gadis yang kehilangan keperawanannya. Anak-anak gembala yang kehilangan kerbau, atau sapi, atau kambing yang dipotong dan dipersembahkan untuk kepentingan laskar pendudukan.

Suara berderit kereta ditarik kuda maupun sapi dan kerbau hampir tak putus-putus sepanjang hari. Hilir-mudik mengangkut batu untuk membangun benteng dan loji-loji.

Juga kaum lelaki bekerja menata dan menyusun batu-batu itu untuk membangun semua benteng VOC di Lo Pangpang, Kuta Lateng, Banyu Alit, dan di mana saja .yang dianggap perlu oleh Belanda. Siang dan malam tanpa henti. Bukan cuma itu. Tanpa makan! Di bawah todongan laras bedil.

Setiap desa harus menyerahkan sedikitnya sepuluh lelaki dan lima perempuan untuk kepentingan Kompeni. Di Pangpang semua berjalan amat mulus. Colmond memuji Jaksanegara sebagai pegawai yang cakap dan baik. Sedang Suratruna dan Sutanegara ia nilai terlalu lamban. Maka sering dia memerintahkan anak buahnya untuk memberikan peringatan. Laporan menunjukkan pengiriman tenaga pembangunan benteng di Kuta Lateng sering tidak memenuhi jatah yang ditentukan. Juga pengiriman makanan untuk pasukan Kompeni dianggap kurang memenuhi. Sutanegara adalah orang yang tidak tulus dan tidak jujur. Di kediamannya yang sudah lebih indah dari dulu karena pembangunannya sudah rampung, Colmond kini tidak lagi dikipasi oleh dua orang lelaki yang telanjang dada. Tapi dua gadis cantik yang selalu mengekornya bagai bayang-bayang. Bapa Anti yang mencarikan. Anak Bekel Sukun dan anak Bekel Panarukan. Ayah kedua anak itu tak mampu menolak. Apa pun yang diminta Bapa Anti demi kepentingan Kompeni harus dipenuhi. Jika tidak... tiang gantungan di depan umum menunggu mereka.

Hari itu di kediamannya Colmond tampak menerima seorang tamu yang mengenakan pakaian sutera kuning, bermata sipit dengan rambut panjang dikucir di belakang kepalanya. Kumisnya panjang dengan ujungnya turun ke bawah menutup ujung-ujung bibirnya. Jenggotnya juga panjang dan lurus terurai sampai di pangkal lehernya.

Badannya tidak terlalu gemuk. Tangan kirinya selalu memegang honcoe (alat untuk mengisap tembakau; bentuknya seperti pipa, tapi pada ujungnya lebih besar, berbentuk seperti belanga). Dan sebentar-sebentar ia mengisap honcoe itu. Setiap kali isapan mengeluarkan suara seperti air mendidih yang ditaruh dalam bumbung. Orang itu tak pernah bisa berpisah dengan candu.

Bhoe Joek Ie tampak lebih banyak tersenyum dan terbongkok-bongkok kala berbicara. Matanya yang sipit berkali-kali mencuri pandang ke arah susu kedua gadis pengipas di kiri-kanan Colmond. Dan setiap kali melirik, setiap kali pula ia menelan liurnya. Bukan cuma itu aniaya yang dialami Bhoe Joek Ie. Pada waktu masuk ia sudah mendapat peringatan dari para pengawal, selama perundingan atau selama ada di kediaman Colmond dilarang berdahak.

"Apa yang bisa aku kerjakan jika kita mengadakan kerja sama, Tuan?" Colmond sampai pada persoalannya setelah berbasa-basi pada pembukaan. Colmond sudah mulai lancar berbahasa Blambangan. Bhoe Joek Ie pun menjawab dalam Blambangan yang baik, walaupun cedal. Sukar mengucapkan er...

"Tentunya kami membutuhkan kemudahan-kemudahan.

Yah, kami sangat berharap agar Tuan Mayor dapat membantu kami untuk mendapatkan tanah, agar kami dapat menampung hasil bumi yang telah kami beli dari kawula Blambangan dan akan kami jual ke luar negeri."

"Daerah mana yang Tuan pilih?" Colmond menyodorkan minuman yang disambut dengan tawa terkekeh oleh Bhoe Joek Ie.

"Sumberwangi. Yah.,. di kota pelabuhan itu." "Aha... sayang, kenapa tidak di Lo Pangpang saja?"

"Begini, Tuan Mayor, dari Lo Pangpang ini ke Sumberwangi masih cukup jauh. Jika kami ingin berlayar malam hari atau jika kapal-kapal kami tidak bisa memuat seluruh hasil bumi itu, maka akan menyulitkan pengawasan. Karena itu tempat penimbunan harus dekat dengan tempat kapal kami bersauh."

"Aku mengerti itu, Tuan. Tapi daerah itu ada dalam kekuasaan Patih Lateng, Tuan Suratruna."

"Apa tidak bisa diatur?" Cina itu mengernyitkan keningnya.

Colmond terdiam. Tiba-tiba ia mengangguk-angguk. Entah pada anggukan ke berapa dia berhenti dan menoleh pada salah seorang gadis pengipasnya. Tersenyum. Sepertinya ia jemu melihat tamunya dan ingin hari menjadi cepat malam. Tapi tamu ini amat penting untuk diperhatikan. Ia mendatangkan banyak uang yang akan membuatnya kaya saat ia pulang kembali ke Nederland nanti.

"Bisa. Bisa." Ia bangkit berdiri. "Tapi tentu Tuan terkena peraturan yang berlaku di seluruh bumi Blambangan sekarang." Cina itu kembali terkekeh. Dan setiap kali pula mengisap honcoe-nya. Dan mata Colmond sempat melotot kala Cina itu tidak semaunya terbatuk-batuk. Colmond siap mengusir jika orang itu berdahak di depannya. Bhoe Joek Ie secepatnya berusaha menahan batuk sialannya yang mungkin bisa membatalkan rencananya.

"Maaf... maaf, Tuan. Ya, ya... kami sanggup mematuhi peraturan yang berlaku di Blambangan."

"Ha... ha... ha... sudah tahu bahwa tidak ada seorang pedagang pun boleh membeli barang-barang itu langsung dari pribumi. Jadi Tuan hanya boleh membeli dari kami. Mengerti?"

"Ya, kami mengerti." Bhoe Joek Ie berkali-kali mengangguk terpaksa.

"Atau begini, Tuan Bhoe Joek Ie, aku akan membantu dengan barang-barang yang sebagian adalah milikku pribadi. Aku akan jual pada Tuan dengan harga yang lebih murah dari harga yang ditetapkan Batavia."

"Itu juga bagus. Kami senang. Tinggal sekarang kita bicara soal tempat penimbunan itu."

"Ya... begini, Tuan. Untuk sementara aku izinkan, tapi bukan membeli tanah itu. Hanya menyewa. Hal ini untuk menjaga agar tidak mengundang perang baru. Ya menyewa

kan tak apa asal waktunya lama. Aku akan menekan Suratruna untuk menandatangani surat penyewaan dalam jangka panjang. Tapi yah, ha... ha... ha asal Tuan ngerti

saja. Semua itu ada harganya."

"Baik, Tuan," Bhoe Joek Ie menyanggupi.

"Sekali lagi, Tuan, jangan menyalahi perjanjian. Tuan akan memikul tanggung jawab Tuan sendiri."

"Kami berjanji, Tuan Mayor." Bhoe Joek Ie berdiri. Setelah itu dia mengulangi kata-katanya di awal pertemuan tadi, bahwa oleh-oleh yang ia bawa tadi kurang berharga. Dan jangan diartikan mengupah jasa Colmond. Tapi itu sekadar oleh-oleh dari seorang sahabat baru. Hati Colmond melambung mendengar itu. Pegawai Kompeni, termasuk dirinya adalah orang-orang jujur. Tak pernah makan suap. Karena itu pegawai Kompeni tidak boleh dihinakan oleh siapa pun.

Sepeninggal Bhoe Joek Ie ia segera memanggil Letnan Beglendeen. "Letnan harus pergi ke Lateng dan Jember. Letnan harus menurunkan perintah pada Letnan Schaar di Lateng dan Steenberger di Jember untuk meneliti dengan sungguh-sungguh pembayaran pajak wajib yang ditentukan oleh Batavia. Di samping pembayaran pajak daerah untuk kepentingan pasukan kita. Jika tidak memenuhi jatah yang ditentukan harus digeledah di lumbung-lumbung. Mereka tentu menyembunyikan cadangan makanan mereka. Mustahil jika mereka tak bisa membiayai kita. Blambangan begini subur." "Baik, Mayor."

"Pembangunan benteng supaya dipercepat. Kita berpacu.

Jangan sampai benteng belum selesai orang Blambangan berontak lagi. Mereka tidak bisa dipercaya. Ingat, korban orang-orang Belanda cukup banyak. Mereka bisa membunuh dengan tanpa melakukan perang. Ah... ingat tiga ribu orang tewas tanpa perang? Bahkan Mayor Van Coop a Groen juga tewas setelah sampai di Surabaya."

"Baik, Mayor," kembali Beglendeen mengia-kan dengan sikap sempurna. Tak berani ia melirik dua gadis cantik yang berdiri dengan telanjang dada di kiri-kanan Colmond itu. Jika ada yang membuatnya mencuri pandang maka cepat-cepat ia melarikan matanya yang biru itu ke arah lain. Mungkin saja ia pura-pura memperhatikan pilar-pilar atau deretan bedil yang berderet diatur berdiri di sudut ruangan.

"Katakan juga pada Sutanegara, Juli nanti aku akan mengadakan peninjauan langsung ke daerah-daerah. Dan aku ingin melihat pada bulan itu benteng di Lateng sudah selesai." "Baik, Mayor." "Pergilah!"

Beglendeen menghormat lalu berbalik. Dan Colmond memandang punggung anak buahnya itu sambil tersenyum.