Gema Di Ufuk Timur Bab 02 : Sejumput Harapan

 
Bab 02 : Sejumput Harapan

Gelegar meriam sudah berhenti. Namun belum berarti perang usai. Kota Lateng memang sepenuhnya sudah dikuasai Kompeni. Demikian juga kota-kota besar Blambangan lainnya. Kawula dengan bertekuk lutut dan kepala tertunduk diharuskan menyambut pasukan Kompeni dan Madura yang berbaris memasuki kota-kota terbesar Blambangan. Umbul- umbul Jingga tidak boleh berkibar lagi. Sebagai gantinya bendera merah-putih-biru mengangkasa.

Tiap kekalahan harus dibayar mahal. Sekalipun sebagian satria Blambangan boleh sedikit berbangga karena mereka melawan. Melawan! Kala barisan itu memasuki bumi Blambangan masih tercium bau anyir. Bau darah satria dan pahlawan Blambangan. Dan beberapa hari setelah menguasai ibukota, VOC segera menyusun dan membenahi pemerintahan.

Tapi lain di kota, lain pula di desa. Walau di beberapa desa memang masih tampak bekas-bekas peperangan. Sawah belum lagi ada yang menghijau. Kedai juga belum ada yang buka. Pohon-pohon yang pernah ditumbangkan di jalan-jalan masih belum disingkirkan. Bunga-bunga hampir tiada lagi.

Tiap orang masih seperti dalam mimpi. Mimpi buruk. Perang singkat yang memakan korban banyak. Mereka tidak perlu menghormat pasukan musuh. Karena musuh masih membenahi kota-kota besar yang direbutnya. Terutama Lo Pangpang dan Lateng. Lebih mencekam lagi bagi seluruh kawula, bahkan juga orang-orang Raung yang terluput dari perang itu, ialah berita tentang hilangnya Wong Agung Wilis. Ada yang memberitakan bahwa ia mati. Tapi setelah perang usai, tiada mayat Wong Agung Wilis di antara tumpukan mayat yang berserak di hampir seluruh bagian kota Lateng. Ada sebagian yang menceritakan bahwa patih Blambangan itu tertembak di Lateng, tapi muksa atau hilang dari pandangan para pengawalnya sebelum rebah ke bumi. Sekalipun begitu ada juga desa-desa yang tidak terjamah oleh perang, walau mereka juga mengirimkan putra-putranya untuk ikut bertempur. Salah satu di antara beberapa desa itu ialah desa Sempu. Suatu desa yang rupanya baru saja dibangun. Penduduknya belum sebanyak desa-desa lain di Blambangan. Entah berapa jarak desa itu dengan Lateng. Tapi letaknya di sebelah barat daya Lateng.

Rumah-rumah yang berdiri di kiri-kanan jalan selebar dua depa tidak begitu besar. Tampaknya dibangun secara acak. Tidak ada yang berdinding kayu seperti umumnya rumah- rumah kawula Blambangan. Belum ada sawah di sekitar perkampungan itu. Rupanya penduduk masih mulai membuka ladang dan menanam ubi jalar, jagung, ketela, dan kacang- kacangan. Tanaman yang bisa berbuah dalam tiga bulan.

Di penghujung deretan rumah-rumah itu ada sebuah rumah yang besarnya dua kali lebih besar dari lainnya. Namun bentuknya sama seperti lainnya. Juga dindingnya terbuat dari gedek (dinding yang terbuat dari anyaman bambu). Tiangnya dari bambu. Demikian pula atapnya dari ilalang. Dalam rumah yang berada di tepi hutan itu cuma ada satu bilik untuk tidur. Sedang satu lagi ruangan besar yang bisa digunakan untuk berbagai macam kegiatan. Tidak sama seperti kebanyakan rumah Blambangan, rumah ini berjendela.

Sebuah tempat duduk ditempatkan di tepi ruangan yang lebar. Berhadapan dengan tempat duduk itu hamparan tikar pandan yang cukup banyak. Sedang tempat duduk itu sendiri dibikin dari bambu. Kursi bambu. Jika orang melihat, di belakang rumah itu ada jalan setapak menembus rimba belantara.

Demikian pula di sebelah kanan rumah itu. Terdapat bukit batu dan padas. Rumput pahitan menjalar subur di sela bebatuan. Dan setiap hari rumah itu kelihatan sepi. Karena memang penghuninya cuma dua orang gadis. Sayu Wiwit dan Mas Ayu Prabu. Kala siang hari mereka jarang sekali di rumah. Teman sekampung mereka tidak tahu ke mana mereka pergi. Mereka tak pernah diberi tahu kegiatan kedua gadis itu.

Namun karena kebaikan hati keduanya yang sering menolong penduduk di sekitarnya maka mereka menjadi segan. Bahkan apa saja yang diperintahkan kedua gadis itu pasti mereka- lakukan.

Penduduk sendiri selalu datang pada kedua orang itu jika ada kesulitan apa-apa. Dan hampir tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi jika Mas Ayu Prabu atau Sayu Wiwit turun tangan. Karenanya pula mereka tak segan membiarkan anak- anak remaja ataupun yang sudah menjelang dewasa menjadi murid kedua gadis itu. Dua orang gadis yang memiliki wibawa seperti bidadari.

Pada umumnya mereka tak berani bertatap pandang dengan Mas Ayu Prabu. Ah... mata gadis itu, desis seorang pemuda desa Sempu. Seperti bintang timur. Apalagi dilindungi oleh alis yang seperti gambar bulan tanggal satu serta bulu mata yang lentik. Lesung pipit selalu menghias pipinya yang seperti buah tomat dibelah itu, jika ia sedang tersenyum.

Apalagi jika ia tertawa. Barisan mutiara berderet di sela kedua bibir tipis yang merekah seperti warna kulit manggis terbelah. Lehernya jenjang bergaris-garis samar dihiasi kalung emas yang tidak pernah dimiliki oleh sudra. Rambutnya hitam-pekat sangat berlawanan dengan warna kulitnya yang seperti kulit buah duku.. Susunya tegak disangga kutang rantai emas, menunjukkan gadis ini seorang ksatria. Telanjang dada sampai pusarnya. Sebagai pengikat kain penutup bagian bawah tubuhnya adalah sutera putih yang dililitkan pada pinggang.

Keris terselip menyilang di depan perutnya.

Berbeda dengan Mas Ayu Prabu, rambut Sayu Wiwit lebih ikal. Kulit agak sawo matang.Tanpa lesung pipit di pipi. Namun di atas sebelah kanan bibirnya ada tahi lalat kecil seperti titik hitam yang membuatnya lebih menarik. Wajahnya tampak lebih periang dan senyumnya murah. Cara mereka berpakaian hampir sama.

Pagi itu Sayu Wiwit pergi mendahului Mas Ayu Prabu. Sedang Mas Ayu Prabu masih ingin membaca Weda yang belum terselesaikan. Penduduk desa Sempu sudah sejak tadi pergi ke ladang. Kicau burung masih juga riuh walau mentari sudah mulai naik. Anak-anak kecil ramai bermain di jalan- jalan. Saat begitu tiba-tiba saja telinga Mas Ayu Prabu menangkap suara derap kuda. Ia tajamkan telinganya. Makin dekat. Dari arah hutan di belakang rumahnya.

Bergegas ia keluar dan dari halamannya ia meneriaki anak- anak supaya segera bersembunyi. Tak ayal seperti anak-anak ayam yang berlarian mencari perlindungan di bawah sayap induknya, anak-anak kecil itu masuk rumah. Sebentar kemudian bersama-sama dengan ibu mereka menghilang dalam semak belukar. Orang-orang Sempu sudah dilatih oleh Mas Ayu Prabu untuk mencurigai semua dan segala.

Juga lelaki yang di ladang. Segera hilang tanpa bekas.

Sedang Ayu Prabu dengan tenang menyiapkan senapannya menyongsong ke arah suara derap kuda. Makin dekat. Dan kian lamban langkah kuda itu. Ayu Prabu juga kian masuk dengan senapan teracung. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Sampai saat dua ekor kuda tersembul di hadapannya.

"Berhenti!" perintahnya dengan bahasa Blambangan.

Seorang wanita muda melompat turun.

"Ampuni hamba, Yang Mulia," Sayu Wiwit menyembah, "tak biasanya kita membawa kuda ke sini. Tapi sekarang terpaksa. Hamba menemukan seorang wanita yang terluka parah di pusaran air Kali Setail."

"Ah... kamu membuatku terkejut." Mas Ayu Prabu menarik napas panjang sambil menjauhkan telunjuk dari pelatuk bedilnya. "Maafkan hamba "

"Masih hidup?"

"Hamba sudah mengeluarkan semua air yang ada dalam perut wanita ini. Jika kita bertindak cepat ada kemungkinan masih bisa ditolong. Walau mungkin paru-parunya sudah mengisap. "

Ayu Prabu tidak mendengar kelanjutan kata-kata Sayu Wiwit. Karena ia sudah mengajak membawa wanita yang tertelungkup di punggung kuda itu ke gubuk mereka. Dan Mas Ayu terpekik lirih demi menurunkan wanita itu.

"Yang Mulia Yistyani ," desisnya perlahan. Sekuat tenaga

keduanya mengusung Yistyani masuk ke gubuk untuk kemudian mereka baringkan di tempat tidur yang terbuat dari bambu. Bilik tempat mereka kini ditempati oleh Yistyani.

"Pergi, kembalikan kuda itu ke kandangnya!" bisik Mas Ayu memerintah. Wiwit melaksanakan setelah berhamba lebih dulu. Sesaat kemudian Ayu Prabu meniup seruling dengan nada tinggi. Ternyata merupakan isyarat bagi orang-orang yang bersembunyi untuk keluar dan keadaan dinyatakan aman.

Beberapa lama setelahnya suasana menjadi kembali ceria. Anak-anak terdengar bermain di jalan-jalan. Mas Ayu sempat menengok mereka. Anak-anak yang telanjang bulat pada berlarian. Riang. Tidak ingat lagi apa yang baru terjadi. Juga tak ingat ketegangan. Tak juga peduli pada debu yang menyelimuti mereka. Bahkan tidak jarang dari mereka yang dikejar-kejar oleh lalat karena sejak kemarin tidak mandi. Atau barangkali ada yang berbau anyir karena lendir yang menggantung tebal di bawah hidung mereka. Ada juga yang berdiri saja mengawasi teman-temannya sambil menggigit jari di bawah pohon mahoni. Mungkinkah aku dulu seperti mereka? tanya Mas Ayu dalam hati. Tapi ia tidak sempat mengawasi mereka lama-lama. Teringat pada Yistyani yang terkapar tanpa daya di pembaringan.

Dirabanya tubuh itu. Panas. Ah... panas tinggi. Kemudian ia bergesa mengambil kain yang tidak terpakai lagi, mencelupnya ke dalam air. Dan ditaruhnya di atas kepala Yistyani.

Diamatinya luka di bahu sebelah kiri Yistyani. Rupanya sobek karena peluru. Mungkin inilah sebabnya Yistyani menjadi pingsan. Luka itu robek lagi karena benturan dengan benda keras. Dibersihkannya luka itu. Setelahnya ia mencari daun lamtoro dan kunyit, ditumbuknya menjadi satu. Kemudian ia membubuhkan bubukan lamtoro dan kunyit itu ke luka Yistyani.

Sedang ia sibuk memikirkan bagaimana cara untuk segera membuat Yistyani sadar, Sayu Wiwit telah tiba kembali.

"Terima kasih, Wiwit, kau telah menyelamatkannya "

"Cuma kebetulan saja. Hamba pikir Hyang Maha Dewa sendirilah yang mengerjakan segala sesuatunya. Hamba cuma pelaku saja." Sayu Wiwit tersenyum.

"Jika kita berhasil menolong beliau, maka ini akan sangat berarti bagi kawula di Blambangan."

"Ya, kita harus berusaha dan berdoa." Tanpa janji mereka melangkah bersama menuju ke bilik. Dan juga sama-sama mengulurkan tangan. Meraba tubuh Yistyani. Seorang di kepala dan seorang lagi di leher.

"Masih ada harapan," Sayu Wiwit berbisik sambil terus memperhatikan tubuh Yistyani. Sebentar kemudian memegang pergelangan tangannya. Sedang Ayu Prabu memperhatikannya dengan saksama. Sayu Wiwit kemudian mengambil kayu cendana dan mendekatkannya pada hidung Yistyani. Beberapa bentar. Tapi belum juga membawa kemajuan. Yistyani tetap tergolek seperti boneka. Sementara Ayu Prabu memijit-mijit kepala Yistyani. "Barangkali sudah sejak tadi malam tak sadarkan diri.

Untunglah sekarang napasnya sudah mulai teratur," ujar Sayu Wiwit lagi. "Sebaiknya kita berdoa. Kita membaca Lokananta (mantra pelebur dosa) untuk beliau."

Keduanya segera menyiapkan perapian. Menyiapkan dupa dan kayu setanggi. Setelah semuanya siap, mereka segera duduk di hadapan pembaringan Yistyani dengan membakar kemenyan, kayu setanggi dan dupa. Segera saja bau-bau wangi menusuk hidung.

Ruangan yang tidak seberapa luasnya itu mulai penuh asap putih yang mengepul dan mengitari isi ruangan. Pelan sekali asap putih gumpal demi gumpal melayang ke atas. Mentok di langit-langit, turun lagi, mentok lagi di dinding. Beredar-edar diiringi nyanyian Lokananta yang keluar dari mulut mungil kedua gadis itu. Bau harum dupa dan kayu setanggi bercampur bau kemenyan merangsang hidung Yistyani.

Merasuk terus masuk mempengaruhi saraf membuat Yistyani merintih untuk yang pertama. Ini membuat kedua gadis itu kian bersemangat menyanyikan doa mereka. Ternyata Hyang Maha Dewa mendengar doa mereka.

Berdoa. Itulah usaha terakhir mereka. Doa merupakan pelarian dari keputusasaan manusia. Di saat semua daya sudah tiada, maka manusia cenderung mencari gegayutan. Gegayutan pada apa saja. Jika perlu pada sesuatu yang belum pernah dikenalnya sekalipun. Bahkan pada kegaiban. Alam gaib. Alam yang tak pernah terselidiki oleh manusia. Dan jika mereka memperoleh apa yang mereka maui, mereka akan mempercayai bahwa hasilnya itu merupakan mukjizat.

Beberapa bentar lagi Yistyani mulai menggeliat. Menambah semangat kedua gadis itu. Mendoa. Makin keras. Makin merdu. Sampai akhirnya Yistyani membuka matanya. Dalam hati mereka bersorak. Tapi doa mereka belum habis.

Sementara Yistyani menenangkan hatinya. Sebagai brah-mani ia cepat tahu ada suara yang menyanyikan Lokananta untuknya. Namun sampai mereka selesai berdoa ia tetap tidak mampu memperoleh tenaganya kembali.

"Di manakah aku?" Pertanyaan pertama muncul kala ia melihat dua gadis itu berdiri di sampingnya.

"Yang Mulia tidak perlu memikirkan di mana Yang Mulia berada kini. Yang Mulia perlu istirahat. Jika sudah sembuh tentu yang Mulia akan tahu di mana Yang Mulia berada kini."

"Ah... terima kasih." Yistyani berusaha memperbaiki letak kepalanya sendiri. Tapi masih juga belum mampu. Kedua gadis itu serempak menolongnya. Dengan mata sayu Yistyani berusaha mengenali mereka. Namun ingatannya belum pulih. Maka ia bertanya lagi.

"Dengan siapakah aku berhadapan?"

"Tentu Yang Mulia tidak ingat pada hamba," Mas Ayu menjawab. "Hamba adalah Ayu Prabu, anak Wong Agung Wilis."

"Hyang Dewa Ratu! Anakkukah ini?" Yistyani terkejut. "Hamba, Yang Mulia. Anak Ibu Tantrini."

"Yah... Dewata masih menolong aku," rintih Yistyani. "Lalu siapakah yang satu ini?"

"Dia... Sayu Wiwit. Anak Dang Culas yang mati dibunuh oleh Bapa Anti. Dang Culas adalah seorang brahmana yang tinggal di Pangpang. Beliau tidak setuju Bapa Anti bekerja sama dengan Mas Anom menjual negeri kita pada Belanda. Namun Bapa Anti yang sebenarnya murid Dang Culas tidak mau dengar gurunya. Bahkan suatu hari Bapa Anti mulai kurang ajar dan meminta Wiwit sebagai putri satu-satunya Dang Culas untuk dipersembahkan pada Blanke, komandan Kompeni."

"Sekali orang hidup dalam pengkhianatan, untuk seterusnya dia akan berjalan dalam pengkhianatannya" Yistyani mulai mampu berkata-kata. Sementara itu Sayu Wiwit menumbuk beras dan kencur. Setelah itu disedu dengan air dan meminumkan jamu itu pada Yistyani. Setelahnya seluruh tubuh Yistyani diolesi dengan ampas bubukan beras kencur.

"Biar cepat segar kembali, Yang Mulia."

"Terima kasih, Wiwit." Yistyani ingin lebih tahu tentang Sayu Wiwit. Nama "Sayu" tentunya ada makna tertentu.

"Yah... seperti sudah diceritakan tadi oleh Yang Mulia Mas Ayu Prabu, maka tambahannya cuma serentetan cerita yang kurang menyenangkan. Namun bila Yang Mulia suka mendengar pula maka... baiklah hamba akan cerita." Sayu Wiwit menarik napas panjang. "Cuma saja jika bercerita nanti hari cepat menjadi sore," Gadis itu bercanda. Disambut tawa oleh Yistyani dan Ayu Prabu. Setelah itu mulailah Sayu Wiwit bercerita sambil meneruskan mengoles tubuh Yistyani.

"Lenyapnya Yang Mulia Wong Agung Wilis dari bumi Blambangan ternyata membawa akibat yang amat buruk bagi kawula. Apa yang bisa dilakukan kawula? Kecuali mengharapkan perbaikan nasib. Hadirnya laskar Bali saat itu dianggap bisa memberikan perlindungan untuk kawula. Tapi harapan tidak pernah menjadi kenyataan. Laskar Bali membawa kekecewaan bagi hampir seluruh kawula Blambangan. Kami semua tahu perjuangan Yang Mulia Paramesywari dan Yang Mulia sendiri. Tapi karena kita memang tidak memiliki laskar yang cukup kuat untuk melindungi kawula maka kita tak berdaya melihat segala ulah mereka.

"Di bawah pimpinan Panigro dengan penunjuk jalan Bapa Anti, Kompeni masuk ke Blambangan. Laskar Bali porak- poranda sampai kemudian

Yang Mulia Wong Agung Wilis tiba-tiba muncul kembali di Blambangan. Semua orang bersukacita. Semua orang mengikuti beliau menggempur Kompeni. Kita ingat waktu itu adalah bulan Palguna. Kalau hamba tidak salah ingat hari itu adalah tanggal 27 Palguna (kira-kira sama dengan tanggal 12 Maret. Catatan pihak Belanda menyebutkan gerangan Wilis Sebagai 12 Maret 1768) .Dan Blambangan menang.

"Namun kita semua masih ingat beberapa bulan berikutnya yaitu bulan Jita, Kompeni mulai menang kembali. Bahkan pada tanggal 3 bulan jita (kira-kira tanggal 18 Mei. Sebab Belanda mencatat tanggal 18 Mei 1768 VOC membakar kota Lateng).

Kompeni membakar semua sawah di Lateng sementara berita yang kita dengar Wong Agung terkepung dalam kota. Api menjalar terus ke dalam kota dan karena laskar kita kelaparan maka beberapa hari setelah pembakaran itu Wong Agung diberitakan gugur.

"Kemenangan mereka adalah mimpi buruk bagi kita. Termasuk hamba. Bapa Anti mempunyai tugas baru. Di samping harus memberi makan laskar Madura dan Kompeni, ia juga harus mempersembahkan gadis-gadis sebagai pelepas lelah. Harga suatu kekalahan tidak hanya dibayar dengan harta benda dan nyawa. Tapi juga kerusakan moral dan akhlak. Terlebih lagi musnahnya suatu peradaban.

"Orang tidak menghargai brahmana lagi. Orang suka semua yang dibawa oleh bangsa bule ini. Dan hamba tidak rela menjadi budak. Apalagi budak nafsu. Blambangan boleh mereka kuasai. Tapi hamba tidak pernah kalah. Bapa Anti menyeret Bapa Culas gurunya sendiri. Dan Bapa meneriaki hamba supaya pergi sebelum beberapa butir peluru mencabut nyawanya. Hamba mengintip dari belukar. Ah, Bapa telah berlumuran darah. Sebentar kemudian rebah di tanah.

Beberapa murid lainnya juga harus mati. Sedang kaum wanita diseret. Entah dibawa ke mana. Yang tersisa mengikut hamba di sini.

"Secara kebetulan hamba berjumpa Yang Mulia Mas Ayu Prabu yang sedang mengintai peperangan. Semua heran seorang wanita muda mengintai peperangan. Tapi itu kenyataan. Menarik perhatian hamba. Setelah peperangan usai kami bergabung dan membangun perkampungan ini. Yah... perkampungan kecil."

Sayu Wiwit selesai bercerita. Mas Ayu Prabu memerintahkannya juga menghentikan tangannya yang memijit Yistyani. Setelah itu Mas Ayu Prabu menyodorkan sirih dan kapur. Gembira sekali Yistyani menerima kinangan itu.

Sudah beberapa lama ia tidak sempat berkinang.

"Jadi Raung sudah tahu kekalahan kita?" tanya Yistyani sambil mengunyah sirih, pinang, dan kapur yang diracik menjadi satu. Ia Seperti mendapat kekuatan baru setelah menelan air liurnya sendiri yang mengandung cairan kinang itu. Matanya tampak mulai bersinar kembali.

"Sudah," Mas Ayu Prabu menjawab. "Kami sudah tahu Pramesywari gugur. Kami dengar Yang Mulia tertembak. Tetapi kami tidak tahu kelanjutan nasib Yang Mulia. Juga nasib Ramanda, Wong Agung Wilis."

"Jika demikian mengapa bala bantuan tidak datang?" "Siapa bilang begitu?" kilah Ayu Prabu. "Sebelum Ayahanda

mengepung Banyu Alit, Kanda Mas Sratdadi dan Mas Ramad

menghancurkan Wijenan, Pangpang, dan bahkan Jember. Peperangan ada di mana-mana. Cuma kita kalah dalam persenjataan dan jumlah pasukan. Kita dikeroyok dari Madura, Pasuruan, Sedayu, dan sebagian lagi Mataram serta Belanda sendiri. Itu sebabnya Tuan Baswi memerintahkan kami mundur."

"Ah... mereka terlalu kuat."

"Ya. Apalagi dibantu oleh orang-orang Blambangan sendiri yang sudah berpaling pada mereka." Mas Ayu gemas. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sementara Wiwit duduk di pembaringan Yistyani sambil terus mengelus dagunya. Atau kadang mempermainkan dua ujung kukunya sehingga mengeluarkan bunyi tik-tik pelan. "Ah... dalam setiap zaman selalu ada orang-orang yang menganggap bangsanya sendiri sebagai tabung kosong melompong yang perlu diisi. Dan diisi dengan semua yang datangnya dari asing. Sekalipun harus dibayar dengan amat mahal. Coba saja kalian meniti masa lalu kita dengan membaca lontar. Maka kita akan tahu bahwa kita sendiri sebenarnya guci yang sarat dengan ratna manikam."

Kedua gadis itu mendengar dengan amat saksama. Dan mereka kian gembira. Ingatan Yistyani kian pulih.

"Sayang, banyak orang menutup mata. Apa sebab?

Barangsiapa yang mementingkan diri sendiri maka ia akan menutup mata dan telinga pada kenyataan. Mereka tak mampu menggunakan kekayaan yang ada. Jangankan menggunakan. Menghargai pun tidak mampu. Siapa yang tidak menghargai miliknya sendiri maka ia juga tak akan menggunakannya. Dan yang paling menyedihkan ialah jika kelak guci itu digali dan dimanfaatkan oleh mereka yang sebenarnya tidak berhak."

Untuk kesekian kalinya kedua gadis itu mengangguk- angguk. Yistyani mempunyai wawasan ke. depan yang cukup jauh. Ah... inilah brahmani. Keduanya menjadi iri pada pengetahuan yang dimiliki Yistyani. Beberapa bentar lagi Ayu Prabu menghidangkan makanan. Keduanya tidak biasa makan siang di rumah. Namun mereka memiliki banyak persediaan makanan. Tak ada beras pada mereka. Cuma ubi jalar, daging rusa yang sudah dikeringkan, daging babi hutan, atau hasil buruan lainnya.

Sementara itu Sayu Wiwit membersihkan tubuh Yistyani dengan air hangat. Dan setelah makan, Yistyani diberi waktu beristirahat. Dan keduanya pergi sampai senja hari. Apa yang mereka kerjakan? Yistyani tidak tahu. Sebelum pergi tidur kedua gadis itu meminta Yistyani menceritakan pengalamannya sejak meninggalkan Lateng. "Yah... kita telah kalah," Yistyani memulai sambil menarik napas panjang. Ia duduk di pembaringan sambil bersandar ke dinding. Menatap lampu-lampu minyak yang menerangi ruangan. Sementara itu bintang-bintang di luar berkelap-kelip seperti mata penari. Angin bertiup perlahan menggerakkan ranting dan daun. Tak jarang pula menembus dinding gedek rumah kecil itu untuk menggoyangkan api pelita. Melambai mengundang kegaiban di hati tiga wanita itu. Ditambah desir yang membelai rambut dan tengkuk mereka. Namun Yistyani tetap saja meneruskan kisahnya. Dan pada saat ceritanya sampai pada perjumpaannya dengan Sarmanja, kedua gadis itu terkikik-kikik.

"Kenapa tertawa?"

"Yang Mulia masih cantik," Sayu Wiwit bercanda. "Wajar jika Sarmanja tergila-gila."

"Ah... cuma lelaki rakus yang tak tahu diri saja. Sudah berapa umurku?" Yistyani tersenyum. Tanpa sadar tangannya bergerak membetulkan letak rambutnya yang tertiup angin. Tapi bagaimanapun juga hatinya sedikit kembang. Ia hampir merasa pasti masih memiliki sisa-sisa kecantikan. Andaikata tidak malu tentulah ia pergi untuk becermin.

"Tidak pernah ada perondaan Kompeni masuk ke sini?" tanya Yistyani menutup ceritanya.

"Belum pernah. Kenapa tanya demikian?" Ayu Prabu balik bertanya.

"Apakah kau tidak sadar bahwa sekalipun Blambangan mereka kuasai kita belum kalah?"

"Ya."

"Karena itu mereka selalu memburu kita. Agar kita sujud di kaki mereka. Jika tidak tentu kita harus mereka bunuh. Nah, hidup adalah mengalahkan dan dikalahkan "