Geger Tarumanegara Bagian 3

Bagian 3

Abilawa tertegun mendapat pertanyaan dari salah satu muridnya itu, sebab sejak pucuk pimpinan Tarumanagara dipegang langsung oleh Tumenggung Jari Kambang hubungan antara padepokan Ciampea dan keraton Tarumanagara terputus, Tumenggung Jari Kambang lebih mementingkan dan mengedepankan orang-orang Sriwijaya yang hendak mengabdi pada Tarumanagara. “Parwata dan kalian semua, sejak pusat kekuasaan Taruamanagara dipegang tumenggung Jari Kambang hubungan antara padepokan Ciampea dan keraton Tarumanagara terputus, Tumenggung Jari Kambang lebih mementingkan orang-orang Sriwijaya daripada penduduk asli Tarumanagara.”

“Satu ketika kita harus melawan mereka, guru.” “Maksudmu?”

“Kita galang persatuan, membentuk pasukan tangguh dan merebut kembali tanah Tarumanagara dari Sriwijaya.”

“Betul guru,” jawab semua murid padepokan

Ciampea.

“Kami siap berada di garis depan,”

“Kami siap berkorban demi Tarumanagara,”

Abilawa tersenyum mendengar celotehan murid- muridnya.

“Saya bangga dengan semangat kalian, namun semangat saja belum cukup, kita harus memiliki persiapan matang dan rencana jitu.”

“Betul apa yang guru kalian katakana…!” sebuah teriakan terdengar menggema di seantero padepokan Ciampea disusul berkelebatnya beberapa sosok yang kini telah berada lima langkah di hadapan Abilawa dan murid-muridnya, seorang lelaki jangkung dengan gelang akar bahar melingkar di ke dua tangan dan kakinya berjalan cepat mendekati Abilawa.

“Sempani,” guma Abilawa.

“Ahh, lama sekali kita tidak jumpa Bilawa.” “Sempani ada apa kau ke mari?”

“Aku mengajak mu menundukan para rampok yang ada di hutan Kamunda,”

“Saya tidak bisa, Sempani.”

“Kenapa, Bilawa? apa kau sudah melupakan

persahabatan kita.”

“Bukan begitu, Sempani.” “Bilawa, kita tundukan pemimpin rampok itu kita galang kekuatan untuk melawan Sriwijaya,”

“Tapi bukan begitu caranya, Sempani.” “Maksud mu?”

“Saya dengar kau mengambil harta benda

penduduk dengan semana-mena.”

Kebo Sempani tertegun mendengar perkataan Abilawa, lelaki jangkung itu pandang dengan tajam Abilawa yang juga memandang dirnya dengan tenang, senyum simpul menyeruak dari sudut bibir Sempani.

“Bilawa, bukankah sebuah perjuangan butuh

pengorbanan dan biaya yang tidak sedikit.”

“Tapi tidak dengan menyengsarakan penduduk.” “Aku hanya mengambil sebagian saja, demi

perjuangan melawan Sriwijaya.”

“Tetap saja, penduduk yang menangung akibatnya, Sempani.”

“Dasar pengecut kau, Bilawa.”

“Jaga bicara mu tuan Sempani,” tandas salah satu murid padepokan Ciampea.

“Kau mau melawan ku, majulah…,” sergah

Sempani.

“Cukup Parwata,” sela Abilawa demi dilihatnya Sempani dan Parwata saling pasang kuda-kuda penyerangan.

“Sempani, saya minta tinggalkan padepokan

Ciampea dengan damai,”

“Kau mengusir ku, Bilawa?”

“Bukan begitu Sempani, tapi…,”

“Ah, sudahlah…,  percuma aku bicara dengan mu,” pungkas Sempani kemudian berlalu meninggalkan padepokan Ciampea diikuti seluruh anak buahnya.

“Guru mengapa diam saja dihina orang itu?”

“Sudahlah Parwata, kalian boleh istirahat,” ujar Abilawa dijawab anggukan hormat murid-muridnya yang tampak berjalan menuju barak-barak yang bertebaran mengelilingi bangunan utama padepokan Ciampea seiring rembang petang yang mulai melingkupi kawasan tersebut.

**

Niluh Arundaya dan Candrika berdiri kukuh di tepi telaga Bojong Mangu, ke dua sejoli itu terlihat menarik napas panjang berulang-ulang sejurus kemudian tanpa ragu ke duanya menceburkan diri ke dalam telaga meninggalkan semburat air yang bergelombang menerpa bebatuan di pinggirnya, mereka berenang dan menyelam hingga ke dasar,  benar  apa yang dikatakan gadis itu kemarin begitu sampai di dasar telaga tubuh ke duanya seakan ada yang menarik, tarikan itu merupakan arus air yang menuju sebuah celah di dinding batu padas, Niluh Arundaya memberi isyarat pada Candrika, ke duanya lantas berenang melewati celah kemudian berenang ke atas dan akhirnya menyembul di permukaan air.

Candrika begitu takjub dengan pemandangan sekelilingnya, sejauh mata memandang tampak gerumbul pepohonan bakau dan kayu api-api berderet mengelilingi sebuah muara, di sebelah kiri terbentang laut luas dengan gemuruh ombak menerpa karang- karang terjal, pemuda itu begitu kagum, selama hidup baru kali ini dia bisa melihat dunia luar selain di dunia bawah tanah tempatnya tinggal selama tiga belas tahun bersama Niluh Arundaya dan ibunya serta beberapa kerabat Kraton juga para penduduk Tarumanagara.

“Kita mau kemana Arundaya?” “Kota Raja Tarumanagara,”

“Hah, kita bisa ditangkap prajurit Keraton.”

“Kau tidak usah khawatir Candrika, mereka pasti sudah melupakan kita, bukankah waktu Tarumanagara ditaklukan Sriwijaya kita masih kecil.”

“Baiklah…,”

Niluh Arundaya tampak tersenyum, dara ayu itu kemudian melangkahkan kakinya menuju selatan menyusuri sugai Candrabaga yang terdengar bergemuruh begitu alirannya sampai ke muara. Matahari tepat di ubun-ubun ketika ke dua sejoli itu sampai di sebuah perkampungan yang sepertinya habis kebakaran, di beberapa tempat sisa-sisa puing bangunan teronggok mengepulkan asap putih meruar ke udara, beberapa lelaki tampak mengorek sisa puing yang masih bisa diselamatkan.

“Sampurasun…,” sapa Niluh Arundaya dan

Candrika.

“Rampes…,” jawab beberapa orang.

“Apakah betul kampung ini bernama Muara

Gembong?”

“Benar sekali Kisanak,”

“Sepertinya habis kebakaran, paman.” “Bukan, tapi sengaja dibakar.”

Candrika dan Arundaya tertegun mendengar jawaban lelaki itu, tak lama seorang tua berjenggot putih dengan selempang kain sarung menghampiri ke duanya.

“Sampurasun…,” “Rampes…,”

“Saya Waranggana, kepala kampung Muara Gembong.”

“Oh, apakah benar kampung ini sengaja dibakar?”

“Benar anak muda.”

“Oleh siapa ki?” kata Niluh Arundaya.

“Grombolan Sempani.”

“Siapa gerombolan Sempani itu ki?”

“Mereka mengaku pejuang kemerdekaan Tarumanagara, tapi sepak terjangnya seperti perampok. Anak muda berdua ini mau kemana?”

“Kotaraja Tarumanagara ki,” “Hati-hatilah dijalan.”

“Baik ki, terimakasih.”

Orang tua bernama Waranggana tersenyum dan menganggukkan kepalanya, setelah dirasa cukup Niluh Arundaya dan Candrika kembali meneruskan perjalanan. Seribu langkah meninggalkan kampung Muara Gembong, mereka kembali memasuki sebuah hutan lebat penduduk sekitar menyebutnya hutan Kamunda.

“Candrika apa kau mendengar sesuatu?” “Yah, sepertinya sebuah pertempuran.”

“Ayo kita lihat,”

Candrika mengangguk, mereka mengendap- endap diantara rumpun semak perdu begitu menyibak diantara tanaman talas hutan, di depan sana ke duanya menyaksikan puluhan orang sedang bertempur.

Seorang laki-laki jangkung bersenjatakan golok tengah bertarung melawan lelaki bertubuh kekar bertampang sangar, senjata yang digunakan lelaki kekar itu berupa trisula kembar sedang di sekelilingnya puluhan lelaki tengah berjibaku menggunakan senjatanya masing-masing.

“Siapa mereka?” bisik Niluh Arundaya.

“Dilihat dari tampangnya lawan lelaki jangkung itu mungkin gembong perampok,” balas berbisik Candrika.

Ke duanya terus menyaksikan jalannya pertempuran, lelaki bertampang sangar dengan senjata trisula kembar terus menggempur lelaki jangkung bersenjatakan golok dengan cepat.

“Sempani kenapa terus menghindar, kau takut?” “Jaga bicara mu, Sagala…, lihat golok.”

Golok di tangan Sempani berkiblat ke depan tapi dengan tangkas ditangkis oleh Sagala mengunakan trisula kembar yang disilangkan sembari melancarkan tendangan ganda, ke duanya terus beradu jotos, beradu tendangan dan tusukan senjata sedang pertempuran antara anak buah Sempani dan anak buah Sagala juga terlhat seru, masing-masing mengandalkan ilmu kanuragan yang dikuasainya.

“Candrika lihat, lelaki dengan gelang akar bahar itu mulai mendesak lawannya,” gumam Arundaya. “Sebenarnya kanuragan yang dimiliki lelaki kekar

bertampang sangar itu di atas lawannya, sayang dia terlalu emosi pukulannya jadi mengambang.”

“Kau benar Candrika, kalau saja dia sedikit meredam emosinya pukulan dan tendangannya pasti lebih bertenaga.”

“Lihat, lelaki dengan gelang akar bahar itu telak menyarangkan pukulannya ke dada lawan.”

Sagala terhuyung ke belakang, dadanya terasa sesak namun belum menata kuda-kudanya kembali Sempani menyarangkan tendangan beruntun ke dada lawan dan diakhiri tendangan melingkar serta jatuhan tumit telak melanda kepala Sagala, gembong rampok hutan Kamunda itu duduk bertekuk lutut, lelehan darah mengalir dari sudut bibirnya, dia terluka dalam.

“Menyerahlah Sagala…!” bentak Sempani sembari

menempelkan badan golok ke pangkal leher Sagala.

“Baik aku menyerah, Sempani.”

“Bagus…, hai…hentikan pertempuran pemimpin kalian sudah kalah…!” teriakan Sempani, sontak pertempuran seru itu terhenti seketika.

“Sagala mulai saat ini kau menjadi bawahan ku,” “Baik, baik…, Sempani.”

“Bagus,”

“Ketua kami menangkap mata-mata…!” terdengar teriakan dari samping kanan disusul beberapa orang dengan golok ditangan menggiring dua orang muda-mudi yang tak lain dari Niluh Arundaya dan Candrika.

“Ketua kami melihat ke dua orang ini mengintip jalannya pertempuran, aku yakin mereka mata-mata Sriwijaya.”

“Apa benar begitu hah…!”

“Dusta, kami hanya kebetulan lewat di tempat

ini,” sentak Niluh Arundaya.

“Welehhh…, galak juga kau gadis manis, jaga bicara mu, kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa ha…!” “Cukup Lembong, bukan begitu memperlakukan seorang gadis.”

“Baik, ketua.”

“Sudah, kau urus Sagala dan anak buahnya, aku mau bicara dengan mereka.” Lembong mengangguk kemudian berlalu meninggalkan Sempani yang mendatangi Niluh Arundaya dan Candrika.

“Maapkan kelakuan anak buah ku tadi.” “Tidak apa,” sela Niluh Arundaya ketus.

“Perkenalkan aku Kebo Sempani, pemimpin

pejuang Tarumanagara,” “Benarkah?”

“Betul, memang kenapa?”

“Jadi kau orangnya yang mengaku pejuang Tarumanagara?”

“Memang itu adanya.”

“Merampas harta benda rakyat berkedok perjuangan,”

“Hey…, jaga bicara mu nona.” “Aku Arundaya.”

“Kau salah paham nona Arundaya.” “Panggil aku Arundaya saja.”

“Baik, kau salah paham Arundaya, kami pejuang Tarumanagara yang sedang menyusun kekuatan menggalang pasukan untuk membebaskan Negri kami dari penjajahan Sriwijaya, dan sudah barang tentu perjuangan kami membutuhkan sokongan dana yang

tidak sedikit.”

“Tapi mengapa rumah penduduk kalian bakar juga?” sela Candrika.

“Begini, oh iya siapa nama kisanak?” “Candrika.”

“Begini Candrika, mereka itu sudah kena hasut orang-orang Keraton, sebab orang Keraton tidak mendukung kami, sedang kami butuh dukungan orang Keraton yang masih setia dengan Tarumanagara, dan juga yang jadi sasaran kami itu orang-orang Sriwijaya.” “Jadi benar kalian ini pejuang Tarumanagara?”

Sempani tampak mengangguk mantap.

“Sebenarnya kami juga penduduk asli Tarumanagara,”

“Oh ya….”

“Aku adalah putri mendiang Senapati Benanda.” “Oh benarkah…?”

“Kau lihat pedang ini, ini warisan dari ayah ku,” sela Niluh Arundaya sembari mengangsurkan pedangnya, pada warangka dan badan pedang terdapat tanda seekor lebah, lambang kerajaan Tarumanagara.

“Maapkan kelancangan kami, tidak tahu berhadapan dengan siapa,” kata Sempani.

“Sudahlah, tidak perlu basa-basi.”

“Maap Gusti Ayu, bersediakah menjadi pemimpin

kami.”

“Aku tidak tertarik, tapi jika benar kalian pejuang

Tarumanagara maka kalian sahabat kami.” “Terimakasih Gusti Ayu Arundaya.”

“Nah selamat tinggal kami akan meneruskan perjalanan.”

“Hendak kemanakah Gusti Ayu ini?”

“Ibukota Tarumanagara, menemui seorang kerabat.”

“Baik, selamat jalan.”

Niluh Arundaya mengangguk, tak lama gadis manis itu berlalu meninggalkan  hutan  Kamunda bersama Candrika diiringi senyum  simpul  Kebo Sempani, ke duanya tidak pernah tahu keputusannya bersahabat dengan Sempani satu ketika menuai bencana yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya.[] Misteri Datura Metel

Hujan lebat mengguyur bumi Tarumanagara, kilat melintas cepat disusul guntur menggelegar bersahut-sahutan, di dalam rumah Rakeyan Kanuruhan Rajendra lelaki gagah pemilik pandangan teduh itu tampak duduk bersila di ruang tamu, matanya terpejam dadanya naik turun teratur sepertinya pejabat tinggi Tarumanagara itu tengah bersemadi mengheningkan cipta, rasa, asa dan karsanya pada sang pengatur jagat. Tidak berapa lama dari dalam bilik terdengar lengking suara tangis bayi yang sangat keras, di luar hujan semakin deras mengguyur bumi, di angkasa kembali kilat melintas cepat disusul gelegar halilintar sebanyak tujuh kali berturut-turut. “Gusti Rakeyan, selamat anakmu perempuan

cantik seperti ibunya,”

“Terimakasih nona Chao-Xing,” “Kalau begitu wo pamit,”

“Masih hujan nona Chao-Xing, tunggulah

beberapa saat lagi,”

“Tidak mengapa Gusti Rakeyan, bo’bo Li sudah menunggu wo.”

“Sekali lagi saya ucapkan terimakasih telah membantu proses kelahiran istri saya,”

“Kalau boleh wo tahu diberi nama siapa anak Gusti Rakeyan itu?”

“Saya membrinya nama Arimbi.” “Nama yang bagus,”

Rakeyan Kanuruhan Rajendra mengangguk semantara Chao-Xing bergegas keluar dari rumah, di luar hujan semakin deras namun seperti tidak memperdulikan alam sekitar gadis keturunan itu melangkah pelan menembus hujan yang semakin lebat, langkah kakinya dipercepat manakala wuwungan rumah sinse Li Sizen mulai tampak di kejauhan.

“Chao-Xing bagaimana proses kelahiran istri tuan

kanuruhan?”

“Lancar bo’bo Li.”

“Bagus, ni dekati terus keluarga itu sebab mereka tahu sedikit tentang kita,”

“Baik bo’bo Li.”

Sinse Lisizen mengangguk senang, setelah keponakannya itu berlalu masuk ke dalam bilik tabib Kerajaan itu keluar rumah dan tertegun di ambang pintu ketika lima orang prajurit Tarumanagara sudah berdiri di hadapannya.

“Ada apa prajurit?”

“Tuan Li dipanggil ke Istana oleh tuan

Tumenggung Jari Kambang.”

“Baik, tunggulah sebentar wo akan bersiap-siap.” “Baik tuan Li,” Sinse Li Sizen bergegas masuk tak lama tabib kerajaan itu keluar sambil membawa bungkusan, ke dua prajurit Tarumanagara segera membantu sinse Li Sizen naik ke atas kereta kuda, kereta itu pun berjalan pelan menembus  lebatnya  hujan menuju  istana Tarumanagara.

“Silahkan duduk dengan nyaman sinse Li.” “Terimakasih tuan Tumenggung.”

“Bagaimana perkembangan pasukan khusus itu?” “Semua berjalan dengan baik selama bahan baku

anggrek hitam masih berlimpah tuan Tumenggung,” “Bagus, lalu bagaimana dengan Baginda

Linggawarman?”

“Satu purnama lagi efek datura metel akan hilang, wo harus memberikannya kembali.”

“Pastikan semuanya dalam kendali mu dan atas

sepengetahuan ku, kau mengerti sinse Li?” “Hamba, tuan Tumenggung,”

“Bagus, sekarang kau boleh kembali ke rumah mu.” “Terimakasih tuan Tumenggung,”

Tumenggung Jari Kambang tersenyum, setelah sinse Li Sizen meningalkan balerung Istana, bangsawan Sriwijaya yang ditugaskan Prabu Dapunta Hyang Srijayanasa menjadi pemimpin tertinggi di Kerajaan Tarumanagara itu memerintahkan salah seorang prajurit memanggil Senapati Ampal.

“Senapati Ampal, kau sudah berhasil menumpas

grombolan pengacau itu?”

“Ampun kakang Tumenggung, grombolan Sempani sangat licik, lihai dan licin bagai belut,” ujar Senapati Ampal.

“Maksud mu?”

“Mereka selalu berpindah-pindah tempat

persembunyian.”

“Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya kau

harus membereskan masalah ini.” “Baik kakang Tumenggung,”

“Jangan kecewakan aku lagi, laksanakan tugas mu dengan baik.”

“Sendika kakang Tumenggung,”

Tumenggung Jari Kambang megibaskan tangan kananya, Senapati Ampal surut ke belakang dan segera berlalu meningalkan balerung istana.

**

Rakeyan Kanuruhan Rajendra tertegun bilamana prajurit jaga mengabarkan adanya dua orang muda- mudi yang berkenan menghadapnya, dengan penuh tanda tanya perwira tinggi Tarumanagara itu bergegas menuju pendopo dimana ke dua muda-mudi tersebut menungunya.

“Sampurasun Gusti Kanuruhan,” “Rampes…, silahkan duduk.”

“Terimakasih Gusti Kanuruhan.”

Kanuruhan Rajendra menganguk, menyuruh seorang abdi dalem mempersiapkan minuman bagi tamunya. Dipandangnya ke dua muda mudi itu dengan saksama sepertinya pejabat tinggi Tarumanagara itu ingat akan sesuatu.

“Siapakah anak muda berdua ini? ada keperluan

apa menghadap saya.”

“Hamba bernama Candrika, mengantar Niluh Arundaya menghadap Gusti Rakeyan.”

“Candrika, apakah kau anak mendiang

tumenggung Rekso Tajem?”

“Benar Gusti Rakeyan,”

“Dan kau cah ayu Niluh Arundaya putri mendiang Senapati Benanda?”

“Hamba mengaturkan sembah paman Rakeyan.” “Duh penguasa jagat raya…, syukur kalian

selamat. Kemana saja kalian selama ini?”

“Itulah paman Rakeyan maksud dan tujuan kami datang kemari mau mengabarkan sesuatu.” “Tunggu sebentar,” sela Rakeyan Kanuruhan Rajendra lelaki gagah pemilik tatapan teduh itu melangkah mendekati jendela melongokkan kepalanya memandang ke kanan dan ke kiri, setelah dirasa aman segera menutupnya.

“Kalian yakin tidak ada yang mencurigakan ketika datang ke rumah saya,”

“Maksud paman Rakeyan?”

“Mata-mata Sriwijaya memiliki banyak alasan untuk menjebloskan orang-orang yang dicurigainya.”

“Paman rakeyan, kami datang ingin menyampaikan sebuah surat dari ibunda saya,” sela Niluh Arundaya kemudian memberikanya pada Rakeyan Kanuruhan Rajendra yang langsung membacanya.

“Jadi selama tiga belas tahun ini kalian hidup di bawah tanah Tarumanagara?”

“Benar  paman Rakeyan,  dan ini  peta dunia bawah tanah Tarumanagara itu,” ujar Niluh Arundaya sambil menyerahkan sebuah gulungan yang ditempatkan di bumbung bambu.

“Pertahanan yang sempurna,” gumam Rakeyan Kanuruhan Rajendra setelah melihat gulungan peta yang diberikan Niluh Arundaya.

“Lalu apa yang harus kami lakukan?”

“Semantara kalian tinggal bersama saya sambil menyusun rencana.”

“Baik paman Kanuruhan,”

Rakeyan Kanuruhan Rajendra tersenyum, pejabat tinggi Tarumanagara itu mempersilahkan Niluh Arundaya dan Candrika beristirahat, luput dari pengamatan, satu sosok tampak melesat meninggalkan wuwungn rumah menuju selatan.

Sinse Li Sizin barusaja sampai di kediamannya setelah menghadap Tumenggung Jari Kambang di Istana, lelaki paruh baya itu sedikit kaget bilaman sang keponakan Chao-Xing tampak menghampirinya, dara ayu berkulit putih dengan lesung pipit di ke dua pipinya itu tampak memberi penghormatan sebelum angkat bicara.

“Apa yang akan ni laporkan?”

“Sepekan lagi Baginda Linggawarman harus minum ekstrak datura mentel, tapi persediaan bahan bakunya hampir habis bo’bo Li.”

“Pergilah ke hutan Kamunda.”

“Baik bo’bo Li,” ujar sang dara kemudian bangkit dari duduk dan memberikan penghormatan.

“Iblis Bisu akan menemani mu.” “Tapi bo’bo….”

“Jangan membantah, grombolan Sempani makin meresahkan.”

“Baik bo’bo Li,” pungkas sang dara yang kembali memberikan penghormatan sebelum pergi meninggalkan ruangan peribadi tabib kerajaan tersebut.

Semantara itu di bilik pribadi Prabu Linggawarman, Raja Kerajaan Tarumanagara itu tampak terbaring lemah di peraduannya, siang malam sang permaisuri dengan setia menemani, pun dengan Rahardian Tarusbawa bersama sang istri dewi Matasih, para abdi dalem, emban dan beberapa orang pengawal yang ditugaskan Tumenggung Jari Kambang untuk memantau perkembangan kesehatan sang Prabu.

Sudah tiga belas tahun sejak Kerajaan Tarumanagara diduduki balatentara Sriwijaya, tiap tahun di bulan Sembilan orang-orang kepercayaan Tumenggung Jari Kambang secara bergiliran memberikan ramuan obat pada sri Baginda, jika terlambat prilaku Raja Tarumanagara itu bertindak layaknya orang mabuk, berterik-teriak, memaki tak jelas dan prilaku kasar lainnya, semua itu  akan kembali normal bila sang Prabu meminum ramuan yang diracik oleh sinse Li Sizen tersebut.

“Sepekan lagi, baginda harus minum ramuan.”

Kata seorang tabib kerajaan suruhan sinse Li Sizen sambil memberikan tabung kecil dari bambu pada permaisuri.

“Terimakasih,” ujar permaisuri yang langsung

memasukan tabung bambu ke dalam lengan jubahnya.

“Kalau begitu saya pamit,” “Silahkan.”

Tabib kerajaan menghaturkan sembah lalu beringsut mundur, diambang pintu kembali sang tabib melakukan sembah kemudian berbalik dan meningalkan ruang peraduan raja.

“Rahardian Tarusbawa, sampai kapan Baginda

terus diperlakukan seperti ini,”

“Bersabarlah bunda Permaisuri, salah seorang kepercayaan saya tengah menyelidiki kandungan yang terdapat di dalam ramuan itu.”

“Apakah sudah ada hasil?”

“Kita tunggu sebentar lagi ibunda permaisuri,”

Desiran angin terdengar bersamaan dengan munculnya satu sosok bercaping lebar dari atas wuwungan, menghaturkan sembah pada baginda Lingawarman dan permaisuri.

“Apa yang akan kau laporkan, telik sandi Yuda Karna?”

Sosok bercaping lebar serahkan selembar daun rontal pada Rahardian Tarusbawa, setelah membaca isinya daun itu lantas diremasnya hingga menjadi serpihan.

“Lanjutkan tugas mu, Yuda Karna.”

Kembali orang berjubah dan bercaping lebar haturkan sembah sebelum melesat ke wuwungan, sosoknya raib begitu saja dari hadapan orang-orang yang masih mengelilingi peraduan raja.

“Ibunda permaisuri, hamba pamit ada sesuatu yang harus hamba kerjakan.”

“Lakukan yang terbaik demi Baginda.”

Rahardian Tarusbawa mengangguk setelah menghaturkan sembah pada Baginda Raja dan Permaisuri lelaki gagah itu melangkah pelan meninggalkan ruang pribadi Prabu Linggawarman, luput dari perhatian semua orang setelah kepergian Rahardian Tarusbawa seorang emban dalem tampak bergegas meninggalkan ruang pribadi Raja menuju ke satu tempat, emban dalem itu berhenti tepat di sebuah bangunan, mengetuk pintu tiga kali tak lama terdengar suara dari dalam.

“Sandi…,”

“Anggrek hitam,”

Dinding bangunan bergeser ke kiri, emban dalem langsung masuk seiring menutupnya kembali dinding di belakangnya. Di dalam ruangan beberapa orang duduk berhadapan, di depan mereka tampak sinse Li Sizen.

Tabib Kerajaan itu tampak megangkat satu tangannya.

“Ada berita apa emban dalem?”

“Telik sandi Yuda Karna menyampaikan pesan lewat daun rontal.”

“Cerdik sekali dia,” gumam sinse Li Sizen. “Baiklah, kau boleh kembali.”

Emban Dalem mengangguk kemudian berbalik meninggalkan ruang pertemuan sinse Li Sizen dengan beberapa orang kepercayaannya.

“Belati Terbang, kau tahu tugas mu.”

“Sudah lama aku menantikannya, sinse Li.” “Bagus, kerjakan sekarang.”

Lelaki bercadar hitam itu bangkit dari duduk berjalan pelan menuju dinding batu di sebelahnya, sosoknya menghilang di sebuah lorong gelap.

“Giok Merah, bagaimana perkembangan laskar

anggrek hitam?”

“Semakin hari kemampuan mereka meningkat dengan tajam.”

“Bagus, tapi kita harus tetap waspada, Nyai Tenung Ireng tentu tidak akan tinggal diam setelah Iblis Bisu bergabung dengan kelompok kita.”

“Apa tindakan kita selanjutnya, sinse Li?” “Selama mereka tidak macam-macam kita

biarkan saja dulu.”

“Baik.”

“Pertemuan hari ini selesai, kalian harus siap jika

sewaktu-waktu wo panggil.”

“Baik sinse Li,” jawab semua orang yang hadir, tak lama pertemuam itupun bubar, seorang lelaki mata sipit dengan rambut digelung ke atas tampak menghampiri tabib Kerajaan tersebut.

“Koko Li, bisa kita bicara?”

“Ada apa lagi didi Laozi, bukankah sudah wo katakana ni belum waktunya mengelola perkebunan itu.”

“Tapi, mengapa justru Chao-Xing yang koko Li

percaya mengelolanya?”

“Ni iri dengan anak sendiri?”

“Bukan begitu koko Li, tapi….”

“Sudahlah didi Laozi, seharusnya ni mendukung prestasi Chao-Xing.”

Lelaki bermata sipit dengan rambut digelung ke atas itu hanya menganguk kemudian berlalu meninggalkan sinse Li Sizen yang masih duduk tenang- tenang di lantai beralas kain tebal.

**

Matahari mulai bergeser ke barat ketika Rahardian Tarusbawa sampai dihulu sungai Candrabaga, menantu Prabu Linggawarman itu memutuskan menunggu di bawah pohon rindang di tepi sungai, tidak menunggu lama dari balik pohon perdu muncul seorang lelaki paruh baya berselempang kain sarung.

“Rahardian Tarusbawa,”

“Benar, apakah Kisanak yang meminta saya

datang ke tempat ini?”

“Betul tuan Rahardian, hamba Timo.”

“Ada perlu apa Kisanak Timo dengan saya?” “Datura metel.”

“Apa itu Kisanak?” Tap…!

Rahardian Tarusbawa terkejut bilamana lelaki bernama Timo mengeluarkan darah hitam dari mulutnya, perlahan tubuh Timo merosot ke bawah dan ambruk di tanah, sebilah belati menancap di punggung kiri nya.

“Kisanak Timo….” Triiing…!

Rahardian Tarusbawa terkesiap, di hadapannya sudah berdiri membelakanginya seorang bercaping lebar dengan sebilah pedang  terhunus,  sebilah  belati tergeletak di tanah.

“Telik sandi Yuda Karna.”

“Menepilah tuan Rahardian Tarusbawa, orang ini

bagian ku.”

Rahardian Tarusbawa segera berlalu dari tepi sungai Candrabaga berbarengan dengan munculnya seseorang bercadar hitam dengan puluhan belati terselip di pinggangnya.

“Belati Terbang.”

“Akhirnya kau menunjukan diri Yuda Karna.” “Kemana saja kau selama ini, aku….”

“Tidak usah basa basi, aku ditugaskan untuk membereskan mu.”

“Siapa yang menyuruh mu?”

“Kau bicara saja dengan belati ku ini.”

Belum kering ucapan telik sandi Yuda Karna, orang bernama Belati Terbang itu sudah menggempurnya dengan jurus-jurus mematikan, tubuhnya berjumpalitan sambil melemparkan puluhan belati pada telik sandi kepercayaan Prabu Linggawarman tersebut.

Bilah pedang di tangan telik sandi Yuda Karna berputar bagai baling-baling, puluhan belati langsung luruh ke tanah, sebagian menancap dalam di batang pohon sisanya melesat entah kemana, mengetahui jurus pembukanya dimentahkan lawan Belati Terbang segera robah pola seranganya, masih menggunakan belati andalannya tubuhnya tampak berdiri kukuh, hal yang sama dilakukan telik sandi Yuda Karna, dia tahu lawan mengajaknya duel di alam pikir.

Sudah hampir sepenanakan  nasi  tubuh  telik sandi Yuda Karna dan Belati Terbang berdiri kukuh saling berhadapan, suasana alam sekitar mendadak hening hanya gemuruh sungai yang terdengar namun sejatinya pertempuran sengit tengah berlangsung seru di alam pikir, ke dua mata pendekar itu terpejam rapat bulir-bulir keringat tampak merembes membasahi badan semantara hembusan angin timur mengibarkan baju dan rambut ke duanya.

Belati di tangan kanan dan kiri Belati Terbang menderu silang menyilang, menusuk atas bawah kiri dan kanan menciptakan pola jurus swastika kembar menyerang secara beruntun telik sandi Yuda Karna yang bersenjatakan pedang tipis memapasi semua serangan Belati Terbang, sebuah tendangan beruntun melanda dada telik sandi Yuda Karna.

Tubuh telik sandi Yuda Karna yang sedari tadi diam bagai patung sedikit goyah, kakinya surut ke belakang dua tindak namun kembali berdiri kukuh menata kuda-kuda pertahanan yang lebih mantap, perlahan tubuh ke dua pendekar yang sedari tadi diam bagai patung itu sama sama membuka mata.

“Yuda Karna kenapa kau setengah hati menghadapi ku?”

“Kita ini sahabat, kenapa kau begitu bernapsu

mau mencelakai ku?”

“Persetan dengan persahabatan, kau menjegal langkah ku menjadi orang kepercayaan Gusti Prabu Linggawarman.”

“Kau salah paham sahabat.”

“Aku bukan sahabat mu lagi.” “Kita orang Tarumanagara, sama-sama murid eyang Jalatunda seharusnya bahu membahu mengusir Sriwijaya dari tanah Taruma bukan sebaliknya.”

“Aku tidak mau mendengar  kotbah  mu,  ingat satu ketika aku akan membuat perhitungan kembali dengan mu,” pungkas Belati Terbang kemudian sosoknya melesat meninggalkan telik sandi  Yuda  Karna  yang masih diam terpaku di tempatnya, dari balik gerumbul pepohonan muncul Rahardian Tarusbawa.

“Sebelum tewas kisanak ini mengatakan datura metel, apakah kau tahu artinya Yuda Karna?”

“Itu nama tanaman beracun dan sangat memabukan.”

“Apakah ramanda Prabu terkena pengaruh tanaman itu,” gumam Rahardian Tarusbawa. Telik sandi Yuda Karna perhatikan lebih saksama jasad Timo, sudut matanya membentur tangan kanan Timo yang seperti menggenggam sesuatu, ketika dibuka satu ruas bambu kecil tampak di sana.

“Apa itu Yuda Karna?”

“Ini extrak datura metel,” desis telik sandi Yuda Karna. “Kau tahu penawarnya?”

“Menurut mendiang eyang Jalatunda penawar racun datura metel adalah air kelapa hijau dan extak jahe.” ini.” “Kalau begitu jangan buang waktu lagi.”

“Baik, sebelumnya mari kita urus jasad kisanak Rahardian Tarusbawa dan telik sandi Yuda Karna kemudian mengurus jasad Timo dengan layak setelah itu mereka meninggalkan kawasan hulu sungai Candrabaga.[] Pertempuran Di Bukit Sanca

Hembusan angin selatan mengibarkan ujung rambut Chao-Xing, dara cantik dengan lesung pipit di ke dua pipinya itu tersenyum bilamana di hadapannya terbentang satu tanaman rambat dengan bunga berbentuk terompet besar berwarna putih, inilah tanaman rambat memabukan yang disebut datura metel, gadis ini tidak mau gegabah dia tahu apa resiko tumbuhan tersebut, hampir seluruh bagian tanaman itu berbahaya baik akar, daun, batang, bunga bahkan buahnya. Chao-Xing masih ingat betul ketika pertama kali menyuruh Iblis Bisu mengambil tanaman tersebut dan tanpa sengaja  Iblis  Bisu  memakan  buahnya, pemuda berwajah pucat itu ditemukan terkapar di sebuah selokan, dari mulutnya terdengar racauan tidak jelas, selama seminggu Iblis Bisu seperti hidup di alam lain, baru dapat disembuhkan ketika sinse Li Sizen mengobatinya dengan metode tusuk jarum.

“Iblis Bisu, ni masih ingat dengan tanaman ini?” kata Chao-Xing dijawab anggukan dan gelengan manakala sang dara bermaksud memetik buahnya.”

“Jangan khawatir, bo’bo Li sudah mengajarkan wo tehnik memetik tanaman ini dengan aman,” sela sang dara kemudian melepas selendang merah yang melilit di pinggangnya, dengan cepat gadis itu kibaskan selendang pada tanaman beracun tersebut, begitu Chao-Xing menarik selendangnya puluhan buah datura metel ikut tertarik, melayang di udara lalu masuk ke dalam keranjang yang digendong Iblis Bisu.

“Au.., au.., au,” terdengar gumam Iblis Bisu sambil mengacungkan ke dua jempol sedang Chao-Xing tersenyum dan tertawa-tawa riang, gadis itu terus mengisi kerajang dalam gendongan Iblis Bisu dengan buah, daun, batang dan akar tanaman datura metel hingga tak terasa matahari mulai bergulir ke barat, hembusan angin mulai dingin sedang titik-titik air dari angkas mulai turun membasahi rerumputan.

“Sepertinya mau hujan, baiknya kita pulang.”

Iblis Bisu menganguk, ke duanya lantas bergegas melangkahkan kaki  meningalkan pinggir  hutan Kamunda, namun belum jauh meningalkan kawasan tersebut tiga orang telah  menghadangnya,  melihat gelagat kurang baik Iblis Bisu dengan cepat berdiri membelakangi Chao-Xing semantara ke tiga orang yang baru datang itu terlihat hunus senjata masing-masing.

“Wah.., wah, semakin hari kalian semakin mesra saja, beruntung sekali kau Iblis Bisu,” kata seorang perempuan berjubah hitam dengan ronce bunga kantil di sanggulnya.

“Nyai Tenung Ireng, jaga bicara ni’…!”

“Nona Chao-Xing kami ada urusan sedikit dengan Iblis Bisu, jadi kami harap nona jangan ikut campur,” sela warok Sampar Kombayoni.

“Iblis Bisu bagaimana keputusan mu?”

“Sudahlah datuk Jerangkong Hitam, kita tidak usah basa-basi sudah jelas pemuda muka pucat ini menaruh hati pada gadis ini,” cibir warok Sampar Kombayoni membuat wajah pucat Iblis Bisu bersemu merah, entah pemuda berwajah pucat ini malu, jengah atau marah. 

“Jaga ucapan kalian…!” tandas Chao-Xing yang sudah melepas selendang merahnya namun segera dihalangi Iblis Bisu, pemuda muka pucat itu terlihat menggelengkan kepala beberapa kali sambil telunjuk kanannya menyentuh dada kemudian ditudingkan pada ke tiga orang yang ada di hadapannya.

“Mau jadi pahawan kesiangan rupanya kau Iblis Bisu,” tandas Nyai Tenung Ireng yang tampak memasang kuda-kuda penyerangan selendang hitam diputar- putarnya dengan cepat menimbulkan suara yang menggidikan, warok Sampar Kombayoni dan datuk Jerangkong Hitam pun segera mengeluarkan senjata masing-masing, melihat hal itu Iblis Bisu raih rantai baja yang menyelempang di bahunya, detik berikut ke empat pendekar itu terlibat pertarungan sengit.

Tongkat besi datuk Jerangkong Hitam menderu menusuk ke depan replek Iblis Bisu geser badannya ke kanan, deru angin satu senti lewat di dada Iblis Bisu disusul serangan beruntun warok Sampar Kombayoni yang bersenjatakan trisula kembar dan gempuran bertubi-tubi selendang hitam Nyai Tenung Ireng.

Pertarungan sudah berjalan lima ratus jurus.

Setangguh apapun seseorang, jika digempur terus-menerus tanpa jeda tentu akan kebobolan juga, pun dengan kondisi Iblis Bisu, perlahan tapi pasti pertahannnya mulai kendor, patukan ujung selendang Nyai Tenung Ireng melanda punggung pemuda muka pucat itu hingga terjerembab ke depan disusul tendangan melingkar warok Sampar Kombayoni memaksaIblis Bisu berlutut di tanah kesempatan itu tidak disia-siakan datuk Jerangkong Hitam tongkat besinya tampak menderu mengincar leher, melihat nyawa Iblis Bisu di ujung tanduk tanpa pikir panjang Chao-Xing yang sedari tadi hanya jadi penonton berkelebat masuk arena pertarungan, di tangan kanannya kini tergenggam pedang tipis dengan senjata itu Chao-Xing mengamuk sejadi-jadinya, sayang kemampuan olah kanuragan gadis itu jauh di bawah lawan-lawannya, dalam beberapa jurus keponakan sinse Li Sizin itu dapat dilumpuhkan.

“Habisi ke duanya,” tandas Nyai Tenung Ireng. “Tapi Nyai, bagaimana jika sinse Li tahu, dia

keponakan tabib kesayangan Tumenggung Jari

Kambang,”sela warok Sampar Kombayoni.

“Baiklah, habisi Iblis Bisu dan tinggalkan gadis

itu.”

“Dengan senang hati,” ujar warok Sampar

Kombayoni, matanya tajam memandang Iblis Bisu yang sudah tidak berdaya, tangan kananya siap tusukkan trisula ke dada sebelah kiri pemuda berwajah pucat tersebut.

Bresss…!

Trisula warok Sampar Kombayoni menusuk angin, sedang Iblis Bisu dan Chao-Xing sudah raib dari pandangn ke tiga lawannya.

“Apa yang terjadi…!” sentak warok Sampar

Kombayoni.

“Mereka disambar dua bayangan,” sela datuk

Jerangkong Hitam.

“Hebat sekali ke dua orang itu,” gumam Nyai

Tenung Ireng.

“Siapa mereka nyai?”

“Sudahlah, satu ketika kita akan tahu.” “Apa rencana kita Nyai?”

“Kita tunggu perkembangan selanjutnya.”

Ke tiganya tampak mengangguk lalu dalam satu jejakan kaki ke tanah sosoknya sudah jauh terlihat menuruni bukit.

Di sebuah sungai kecil dua bayangan yang mendukung Iblis Bisu dan Chao-Xing hentikan lari, pada sebuah batu datar di  pinggir  sungai  tubuh  pemuda muka pucat dan keponakan sinse Li Sizen itu dibaringkan.

“Bagaimana kondisinya Candrika?”

“Pemuda ini menderita luka dalam yang sangat parah, tiga pukulan beruntun melanda tubuhnya,”

“Bagaimana dengan gadis ini?” “Hanya luka ringan saja,”

“Apa yang harus kita lakukan, Candrika?” “Kita bawa mereka ke rumah tuan Rakeyan

Kanuruhan Rajendra.”

“Baiklah,” ujar Niluh Arundaya kemudian meletakkan kembali tubuh Chao-Xing di pudak kirinya sedang Candrika melakukan hal yang sama pada Iblis Bisu, tidak menunggu lama ke duanya sudah jauh meninggalkan tepi hutan Kamunda seiring rembang petang melingkupi kawasan tersebut.

**

Iblis Bisu merasakan semua tulang persendiannya sakit, pemuda muka pucat itu baru saja siuman dari pingsan, sinse Li Sizen tampak mencabut beberapa jarum pada tubuh nya.

“Jangan banyak gerak dulu Iblis Bisu, tubuhmu masih lemah.”

Pemuda muka pucat layangkan pandangan ke segala arah, sepertinya dia sedang mencari sesuatu.

“Tidak usah risau, Chao-Xing selamat.”

Iblis Bisu terlihat menanyakan sesuatu dengan bahasa isyarat pada sinse Li Sizen.

“Kau pingsan selama tiga hari, Chao-Xing sudah menceritakan semua kejadiannya pada wo.”

Iblis bisu hanya menganguk.

“Untuk sementara kau tinggal dulu di rumah tuan Kanuruhan Rejendra.”

Iblis Bisu kembali mengangguk, bersamaan dengan beberapa orang masuk ke dalam bilik.

“Mereka lah yang telah membawa mu kemari,” kata Rakeyan Kanuruhan Rajendra, Iblis Bisu tampak menghaturkan terimakasih dengan bahasa isyarat pada Candrika dan Niluh Arundaya.

“Baiklah, wo pulang dulu, titip Iblis Bisu tuan Rakeyan,” kata sinse Li Sizen dijawab anggukan Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

**

Laporan sinse Li Sizen mengenai penyerangan yang dialami Chao-Xing dan Iblis Bisu ditanggapi Tumenggung Jari Kambang dengan cepat, petinggi Sriwijaya yang ditugaskan Prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa mengelola pemerintahan Tarumanagara itu segera menggelar siding istimewa, hadir dalam pertemuan hari itu Rahardian Tarusbawa, Rakeyan Kanuruhan Rajendra, Senapati Ampal, Nyai Tenung Ireng, warok Sampar Kombayoni, Datuk Jerangkong Hitam dan seluruh pejabat tinggi Tarumanagara dan Sriwijaya. Suasana sontak hening bilamana Tumenggung Jari Kambang hadir dan duduk di kursi yang sudah dipersiapkan.

“Para pejabat Keraton yang aku hormati, pertemuan hari ini akan membahas permasalahan yang menimpa bumi Taruma,” ujar Tumenggung Jari Kambang sambil memandang semua orang yang ada di hadapannya satu per satu, pejabat tinggi Sriwijaya atas Tarumanagara itu hentikan sejenak kalimatnya begitu semua yang hadir mulai tenang Tumenggung Jari Kambang kembali melanjutkan kalimatnya.

“Gerakan kelompok Sempani semakin merajalela, korbannya bukan lagi orang-orang Sriwijaya tapi kawula Tarumanagara pun sudah kena imbasnya.  Jadi,  aku tidak mau lagi mendengar sesama kawan saling sikut kalian harus bersatu, maka aku putuskan hari ini kita gempur markas mereka yang ada di bukit Sanca,” kembali  Tumenggung Jari Kambang hentikan kalimatnya.

“Senapati Ampal akan memimpin kalian dalam penyerbuan itu.”

“Sendika kakang.”

“Dan untuk mu, sinse Li. Persiapkan pasukan

anggrek hitam, bantu pasukan Senapati Ampal.” “Baik tuan tumenggung.”

“Nah, pertemuan hari ini cukup,” tandas Tumengung Jari Kambang kemudian bangkit dari duduknya.

“Tumengung, bagaimana dengan keponakan wo?” sela sinse Li Sizen sembari menangkupkan ke dua telapak tangannya di depan dada.

“Sudahlah sinse  Li,  bukankah  sudah  aku tegaskan kalian harus bersatu,” tandas Tumenggung Jari Kambang kemudian berlalu meningalkan balai pertemuan. Sinse Li Sizen hanya mampu menarik napas panjang sedang ke tiga pendekar yang menyerang keponakan dan Iblis Bisu tampak tenang-tenang saja di tempatnya.

“Urusan kita belum selesai…,” desis sinse Li Sizen begitu langkah kakinya melewati Nyai Tenung Ireng, Warok Sampar Kombayoni dan Datuk Jerangkong Hitam yang terlihat tersenyum simpul penuh kelicikan.

**

Matahari merambat naik ketika pasukan Keraton Tarumanagara di bawah komando Senapati Ampal mulai bergerak meninggalkan pintu gerbang utama, tujuan pasukan itu bukit Sanca yang disinyalir sebagai markas gerombolan Sempani, menunggang kuda berbulu hitam Senapati Ampal tampak gagah di garis paling depan, di belakangnya Rahardian Tarusbawa, Rakeyan Kanuruhan Rajendra masing-masing menunggang kuda berbulu coklat belang putih, di susul ke tiga pendekar Nyai Tenung Ireng, Warok Sampar Kombayoni dan Datuk Jerangkong Hitam menunggang kuda berbulu coklat gelap, ikut serta lima ratus prajurit khusus Tarumanagara bersenjatakan tameng dan tombak panjang berjalan gagah di barisan belakang, terakhir sekitar lima puluh orang yang disebut pasukan Anggrek Hitam berjalan pelan dibaris paling belakang dibawah komando sinse Li Sizen yang menunggang kuda berbulu putih.

Diantara pasukan Keraton yang disiapkan dalam penyerangan, pasukan yang dipimpin sinse Li Sizen lah yang paling mengundang perhatian.  Pasukan khusus yang diberi nama Anggrek Hitam itu terdiri dari barisan pemuda-pemuda tanggung berumur sekitar tujuh belas hingga delapan belas  tahun,  tubuh mereka dicat warna ke emasan telanjang dada dan tanpa membawa senjata. Di atas punggung kuda, sesekali sinse Li Sizen menatap tajam punggung ke tiga seterunya dengan tajam, tabib kerajaan itu tidak habis pikir mengapa Tumenggung Jari Kambang seperti melindungi ke tiga pendekar itu. “Kalian tidak akan lolos dari wo,” gumam sinse Li

Sizen sambil menjalankan kudanya dengan tenang.

Pasukan Keraton Tarumanagara mulai bergerak meninggalkan pintu gerbang utama menuju selatan, iring-iringan yang sangat panjang itu bak ular meliuk diantara bukit-bukit terjal, kadang menelusup semak, merambah rawa-rawa, naik turun bukit menyeberang sungai-sungai dan ketika matahari tepat di titik tertinggi pasukan besar itu sudah sampai di kaki bukit Sanca, rupanya Tumenggung Jari Kambang sudah habis kesabarannya ia mengerahkan segenap kekuatan pasukan Tarumanagara, apalagi tiga hari yang lalu utusan Prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa memberikan ultimatum atas kondisi keamanan Tarumanagara yang mulai tidak stabil.

“Tuan Tumenggung, Baginda Raja Dapunta Hyang Sri Jayanasa memberi waktu satu purnama, jika gagal andika akan ditarik kembali ke Sriwijaya,” ujar utusan itu dingin.

“Baik, aku laksanakan titah baginda dengan taruhan nyawa ku,” tandas Tumenggung Jari Kambang datar.

Dalam situasi tertekan kadang seseorang akan berbuat apa saja untuk mempertahankan dirinya, situasi itu dimanfaatkan kelompok Nyai Tenung Ireng Cs untuk mempengaruhi Tumenggung Jari Kambang. Dengan kelihaiannya berdiplomasi, merangkai kata-kata manis serta sedikit ilmu tenung akhirnya Nyai Tenung Ireng Cs kembali mendapat tempat istimewa di mata pembesar Kerajaan Sriwijaya tersebut.

Semantara itu di puncak bukit Sanca, Niluh Arundaya dan Candrika tampak berbincang serius dengan Sempani, dara ayu itu sengaja menemui Kebo Sempani yang sudah dianggap sebagai sahabat karena kesamaan misi dalam rencana merebut kembali tanah Taruma dari Sriwijaya untuk memberi peringatan mengenai penyerangan besar-besaran oleh pihak keraton Tarumanagara.

“Akan aku sambut dengan meriah para penjajah itu,” tandas Sempani sembari mengepalkan ke dua telapak tangannya.

“Jangan gegabah Sempani, jumlah pasukan Keraton lebih banyak dari anggota mu,” sela Candrika dijawab anggukan mantap Niluh Arundaya.

“Lagi pula tindakan anak buah mu yang kelewat

batas, harus diluruskan.” Sela Niluh Arundaya. “Maksud Gusti Ayu?”

“Tujuan kita adalah mengusir orang Sriwijaya tapi mengapa kawula Tarumanagara juga ikut jadi korban.”

Kebo Sempani tertegun beberapa kejap, tak lama senyumnya mengembang dari sudut bibirnya.

“Gusti Ayu, perjuangan ini membutuhkan biaya yang banyak, aku hanya meminta sumbangan sedikit dari penduduk Tarumadesya, apa salah?”

“Tidak salah selama memakai cara santun,” sela

Candrika.

“Jika kau di posisi ku apa yang akan kau lakukan?” ujar Sempani sambil menatap tajam pemuda dengan alis saling bertaut tersebut, Candrika tidak mau kalah balas menatap tajam pada Sempani, disaat seperti itu salah satu anak buah Sempani menerobos masuk, dengan napas masih terengah-engah disambarnya kendi di atas meja lalu diteguk isinya sampai tandas.

“Sagala, sudah aku katakana jangan masuk sebelum aku panggil.”

“Maapkan aku tuan Sempani, kondisinya gawat.” “Apakah pasukan Keraton sudah datang?”

“Jumlah mereka ribuan tuan Sempani, baiknya

kita menghindar.”

“Akan aku tunjukan siapa kita…!” “Tuan Sempani.”

“Siagakan pasukan, Sagala…!” “Baik…, baik tuan Sempani,” ujar Sagala kemudian lelaki kekar itu tanpa membuang waktu turun dari rumah panggung tanpa melalui tangga dan dengan segera mempersiapkan pasukan.

“Sempani kau menantang maut,” desis Niluh

Arundaya.

“Pergilah jika Gusti Ayu takut,” tandas Sempani yang dengan langkah pasti turun dari rumah panggung dan bergabung dengan ratusan anak buahnya yang sudah siaga di pelataran rumah. Tak menunggu lama terdengar denting senjata tajam beradu, pertempuran sengait di puncak bukit Sanca antara pasukan Keraton dan anak buah Sempani berlangsung dengan sengit.

“Bagainana ini Candrika?”

“Kita tidak mungkin melawan pasukan Keraton

untuk sekarang ini,”

“Lalu, kita biarkan saja mereka dibantai pasukan Keraton.”

“Itu sudah resiko mereka, lagipula tuan Kanuruhan Rajendra ikut serta dalam penyerangan ini.”

“Baiklah, kita jangan buang waktu,” sela Niluh Arundaya dan dengan sebat lesatkan badan keluar dari pintu belakang, namun alangkah terkejutnya ke dua sejoli ini ketika satu sosok tinggi besar telah menghadang langkah mereka.

“Jadi kau yang bernama Kebo Sempani?!” sentak

orang tersebut yang tak lain dari Senapati Ampal.

“Bukan…,”

“Sudah ketangkap basah masih mungkir, nyali

kalian besar juga.”

“Aku bukan Sempani, kami….”

“Jangan banyak mulut, jaga serangan ku Sempani…!” bentak Senapati Ampal yang dengan cepat lancarkan serangan beruntun pada Candrika yang disangka Sempani oleh Senapati Ampal dan pertarungan seru pun tak terhindarkan lagi, sedang Niluh Arundaya dengan cepat kerahkan jurus pedang menghadapi gempuran prajurit-prajurit Keraton.

Rakeyan Kanuruhan Rajendra yang tengah bertarung dengan anak buah Sempani tertegun bilamana melihat Niluh Arundaya dan Candrika ada diantara para pengacau kerajaan itu,  berbagai praduga muncul  di benak petinggi Kerajaan Tarumanagara tersebut, perlahan Rakeyan Kanuruhan Rajendra berusaha mendekati Niluh Arundaya dan Candrika.

“Tinggalkan tempat ini segera…,” bisik Rakeyan Kanuruhan Rajendra pada Niluh Arundaya sambil membuka jalan gadis itu keluar dari kepungan prajurit Keraton, tanpa membuang waktu Niluh Arundaya kelebatkan tubuh menembus brikade dan berhasil keluar dari kepungan, tubuhnya melenting ke atas jungkir balik berkali-kali di udara dan dalam waktu singkat sudah keluar dari arena pertempuran yang semakin sengit, sudut mata gadis itu sempat melihat Candrika yang masih bertempur mati-matian menghadapi Senapati Apal.

“Celaka, pemuda itu bukan tandingan Senapati Ampal,” keluh Rakeyan Kanuruhan Rajendra, namun perwira tinggi Tarumanagara itu tidak bisa berbuat apa- apa begitu tubuh Candrika terlempar dan terbanting ke tanah dengan keras akibat ajian Lindu Karang tepat bersarang di dadanya.

Di tempat lain pasukan pendekar yang dipimpin Nyai Tenung Ireng mengamuk sejadi-jadinya, Warok Sampar Kombayoni, Datuk Jerangkong Hitam seakan berlomba membantai anggota Kebo Sempani tanpa ampun sepertinya mereka mau menunjukan ketangguhan pasukan yang dipimpinnya pada Senapati Ampal dan sinse Li Sizen yang jadi sainganya berebut pengaruh di mata Tumenggung Jari Kambang.

Melihat banyak anak buahnya yang terbunuh, Sempani segera memerintahkan sisa-sisa anak buahnya mundur apalagi dilihatnya pasukan aneh yang dipimpin seorang tua berjubah putih dengan garang mengobrak- abrik brikade pertahanan pasukannya hingga kocar- kacir.

“Mundurrrr…!”

Tanpa dikomando dua kali, sisa-sisa pasukan Sempani secara bertahap mundur teratur dan secara aneh lenyap di balik sebongkah batu padas yang merupakan jalan rahasia untuk meloloskan diri.

“Aneh sekali, mereka lenyap begitu saja ketika melewati gerumbul semak ini,” geram Senapati Ampal.

“Lalu apa rencana kita selanjutnya tuan Senapati?”kata Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

“Gerombolan pengacau itu sudah kita obrak- abrik bahkan pemimpinnya Kebo Sempani tewas di tangan ku,” ujar Senapati Ampal pongah membuat Rakeyan Kanuruhan Rajendra tertegun.

“Rupanya Senapati Ampal menduga Candrika adalah Sempani, kasihan sekali anak itu,” membhatin Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

“Ada apa tuan Kanuruhan? sepertinya kau

memikirkan sesuatu.”

“Ah, tidak apa-apa tuan Senapati.”

“Baiklah, kita kembali ke Keraton, prajurit bakar

markas pengacau itu!” teriak Senapati Ampal.

“Baik tuan senapati,” sela beberapa prajurit, tidak menunggu lama kobaran api  telah  melahap  habis seluruh bangunan yang berada di puncak bukit Sanca.

**

Hari berganti begitu cepat, tidak terasa sudah hampir empat hari Candrika pingsan, terbaring lemah di atas sebuah amben kayu, tubuh pemuda itu  sangat dingin dan napasnya begitu pelan, dengan setia Niluh Arundaya menemaninya, gadis ayu dengan lesung pipit di ke dua pipinya itu sesekali mengusap air mata yang melelah melewati pipinya yang ranum, sedang sinse Li Sizen dengan sekuat tenaga berusaha menyadarkan pemuda itu. Tabib kerajaan ini baru tahu, bahwa yang disangka Sempani itu adalah Candrika teman Niluh Arundaya yang masih berkerabat dengan Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

Sehari setelah pasukan Kraton berhasil memporak-porandakan bukit Sanca, Rakeyan Kanuruhan Rajendra meminta tolong Iblis Bisu untuk membawa jasad Candrika yang diduga tewas, tapi ternyata pemuda itu hanya pingsan saja dengan luka dalam serius akibat ajian Lindu Karang milik Senapati Ampal yang bersarang telak di dadanya.

“Bagaimana sinse Li?” tanya Niluh Arundaya

sembari menyeka air di sudut matanya.

Sebelum menjawab tabib Kerajaan itu tampak menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan pelan, ditatapnya dara ayu pemilik lesung pupit tersebut dengan gundah, kepala tabib itu tampak menggeleng pelan.

“Saya mohon tolonglah dia sinse….”

Kembali sinse Li Sizen manarik napas dalam sebelum bicara.

“Hanya ada satu cara, tapi….” “Tapi kenapa sinse Li?”

“Candrika akan lupa jati dirinya.”

“Kenapa bisa begitu sinse?” sela Rakeyan Kanuruhan Rajendra yang duduk bersila di atas tikar pandan bersama sang istri sambil memangku Arimbi yang berusia satu bulan, bayi perempuan mungil itu begitu damai tertidur dalam dekapan hangat sang ibu, sedang di sudut ruangan tampak Chao-Xing sedang menumbuk beberapa ramuan di bantu Iblis Bisu.

“Seluruh organ dalam Candrika hancur begitu pun sisitim persyarafan yang ada di otaknya, hanya dengan metode tusuk jarum khusus dia dapat

diselamatkan,”

“Baiklah sinse, yang penting Candrika dapat diselamatkan,” sela Niluh Arundaya pilu. “Walau nantinya dia tidak mengenali mu lagi, Niluh…,” gumam sinse Li Sizen.

Niluh Arundaya tampak menggigit bibir bawahnya dengan sejuta rasa menggelayuti bhatin, perlahan kepalanya mengangguk.

“Apapun yang terjadi, aku tetap mencintai mu dengan ikhlas Candrika…,” jerit pilu Niluh Arundaya dalam hati.

“Baiklah…,” gumam sinse Li Sizen. “Chao-Xing….”

“Wo, bo’bo Li….”

“Siapkan extrak la’n hua’.” “Baik bo’bo Li.“

Chao-Xing terlihat mengambil sesuatu dari dalam buntalan ramuan milik sinse Li Sizen, sekuntum bunga anggrek berwarna hitam, anggrek yang sudah dikeringkan itu dimasukkan dalam penumbuk obat dari batu pualam, dilumat dengan air hingga jadi bubuk kemudian diserahkannya pada sinse Li Sizen.

“Niluh…, kau sudah siap?”

Niluh Arundaya hanya mengangguk lelah, sementara sinse Li Sizen secara pelan-pelan mengeluarkan sebuah jarum panjang tipis dari balik lengan jubahnya, jarum tipis yang hampir tak terlihat saking tipisnya itu direndam dalam ramuan anggrek hitam, beberapa detik kemudian dengan yakin sinse Li Sizen menusukannya pada pelipis kiri Candrika hingga seluruh jarum itu tembus masuk ke dalam kepala pemuda yang masih terbaring lemah di atas amben kayu.

Sebuah raungan panjang terdengar dari mulut Candrika, pemuda dengan sepasang alis saling bertaut itu mendadak duduk, matanya nyalang menyapu sekeliling kemudian meredup lalu terpejam kembali seiring dengan tubuhnya yang kembali rebah di atas amben. “Besok dia akan menjadi manusia baru,” gumam

sinse Li Sizin.

“Sinse bagaimana kalau Senapati Ampal tahu,