Geger Tarumanegara Bagian 2

Bagian 2

“Silahkan duduk kembali tuan-tuan.”

“Kau sudah gila sinse, mengundang kami di

sarang harimau.” “Tempat terbaik di dunia adalah sarang musuh, bukankah begitu tuan senapati Ampal?”

“Bagaimana pekerjaan kalian?”

“Sesuai dengan rencana tuan Tumenggung Jari Kambang.”

“Bagus, tunggu aba-aba selanjutnya dari kami.” “Baik tuan Tumenggung.”

Terdengar kegaduhan di luar bangunan, Senapati Ampal dan Tumenggung Jari Kambang yang tengah menyamar sontak bangun dari duduk dan mempesiapkan senjata masing-masing.

“Tenang tuan-tuan, masalah biasa.” “Maksud mu?”

“Itu salah satu pekerja yang keracunan.”

“Segera kau urus secepatnya sinse, begitu hari penyerangan tiba mereka harus sudah siap.”

“Tidak usah khawatir tuan Tumenggung,” “Baiklah kami pamit.”

“Silahkan…,”

Sebelum keluar dari bangunan, ke dua perwira Sriwijaya itu melongokkan kepala masing-masing di ambang pintu begitu dirasa aman ke duanya langsung melesat meninggalkan kediaman sinse Li Sizen, semantara tabib Kerajaan tersebut dengan tenang mendatangi sumber kegaduhan.

“Bawa ke ruang pemulihan,” kata sinse Li Sizen

setelah melakukan ritual tusuk jarum.

Empat orang prajurit Tarumanagara segera menggotong orang tersebut ke belakang bangunan utama, di bawah pohon waru salah satu prajurit menggeser gentong besar ke kiri terdengar suara desisan seiring membukanya sebuah lobang dengan beberapa anak tangga menuju ke bawah ke empat prajurit itu langsung masuk  ke  dalam dan secara otomatis  lobang itu menutup kembali.

Setelah menuruni beberapa anak tangga sampai ke dasar lubang, ke empatnya sudah berdiri di depan pintu besi salah satu prajurit mengetuk hendel sebanyak lima kali, sebuah lubang seukuran mata bergeser ke samping.

“Sandi…?” terdengar suara dari balik pintu besi. “Anggrek hitam,”

Desiran terdengar seiring bergesernya pintu besi ke samping kiri, ke empat prajurit Tarumanagara itu langsung menggotong orang yang pingsan tersebut ke dalam.

“Letakkan di pojok sana,”

Sosok lelaki pingsan itu diletakan di atas bale kayu, ternyata dia tidak sendirian ada puluhan sosok lain terbaring di atas dipan, setelah dirasa cukup ke empat prajurit itu kembali ke permukaan tanah.

Semantara itu di kedaton Tarumanagara, sang Prabu Linggawarman terbaring di atas peraduannya, Raja Tarumanagara itu jatuh sakit setelah pulang dari ladang perburuan, seluruh abdi dalem sontak geger dengan sakit yang tiba-tiba menyerang Rajanya, dua orang tabib kerajan dan sinse Li Sizen segera dibawa menghadap ke Kedaton, dengan cekatan sinse Li Sizen meracik beberapa ramuan di bantu ke dua tabib Kerajaan.

“Bagaimana sinse Li?”

“Baginda, hanya kecapean saja tuan kanuruhan Rajendra.”

“Kenapa belum sadar juga?”

“Obat yang hamba racik sedang bekerja, sebentar lagi baginda bangun.”

“Sinse tolong Raja mu,” “Baik gusti permaisuri.”

“Bila baginda Raja tidak tertolong, kau tahu

resikonya sinse?”

“Hamba mengerti tuan Senapati Perkutut Kapimonda.”

Hampir sepenginangan baginda Raja Linggawarman terbaring lemah, tiga buah jarum tertancap di tubuh Raja Tarumanagara itu, beberapa saat kemudian jari-jemari Prabu Linggawarman bergerak ke dua bola matanya terbuka,  senyum  keharuan langsung terbersit dari bibir permaisuri yang masih memangku kepala suaminya.

“Kanda, kau sudah siuman kanda…,” “Dinda apa yang terjadi?”

“Kanda pingsan,” sela sang permaisuri sembari

mengelus lembut kening suaminya.

“Sinse terimakasih.”

“Itu sudah kewajiban hamba baginda,” kata sinse Li Sizen yang tengah mencabuti jarum di tiga titik tubuh Raja Tarumanagara itu.

“Tehnik tusuk jarum itu sangat bagus, tubuhku langsung segar seperti sedia kala,” gumam Prabu Linggawarman yang kini sudah mampu duduk di pinggir peraduan Raja.

“Syukurlah Baginda, kalau begitu hamba pamit.” “Sekali lagi aku ucapkan terimakasih, sinse Li.”

“Hamba, Baginda…,” ujar sinse Li Sizen, tabib Kerajaan itu mundur menghaturkan sembah sekali lagi sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu diiringi ke dua tabib kerajaan.

“Ada yang ingin kau laporkan Senapati Perkutut Kapimonda?”

“Hamba Baginda Raja,” “Silahkan,”

“Setahun belakangan ini penduduk tarumadesya gempar, pemuda-pemuda usia tujuh belas tahunan menghilang, baginda.”

“Menghilang?”

“Beberapa orang melaporkan, mereka diculik kala

sedang bekerja di ladang.”

“Siapa yang menculik mereka?”

“Belum terungkap baginda, menurut saksi mata pemuda-pemuda itu menghilang begitu saja ketika sekelbatan bayangan menebar asap hitam datang secepat kilat.” ini.” “Rahardian Tarusbawa.” “Hamba ayahanda rabu.”

“Bentuk pasukan khusus menangani masalah

“Sendika ayahanda Prabu.”

“Rakeyan Kanuruhan Rajendra, bagaimana situasi perbatasan?”

“Masih relatip aman, Baginda.”

Baginda Raja Linggawarman tampak mengangguk, pandangannya kemudian tertuju pada sosok lelaki berselempang kain putih yang tampak menghaturkan sembah.

“Ada yang ingin kau sampaikan, Senapati

Benanda?”

“Hamba Baginda, kondisi beberapa pasukan kita

belakangan ini mulai menurun.” “Menurun?”

“Hamba Baginda, para prajurit kita mendadak sakit, tubuh mereka lemah.”

“Kenapa kau tidak serahkan masalah ini pada sinse Li Sizen?”

“Sudah Baginda.”

“Lalu apa masalahnya?”

“Sinse Li Sizen menduga masalah itu akibat makanan yang mereka konsumsi.”

Sri Baginda Raja Tarusbawa tercenung beberapa kejap, sematara kasak-kusuk dan bisik-bisik beberapa bangsawan Tarumanagara terdengar bagai dengungan tawon.

“Telik sandi Yudha Karna,” “Hamba Baginda.”

“Kau selidiki dapur istana,” “Sendika Baginda.”

“Pertemuan hari ini cukup, silahkan kembali pada tugas masing-masing.”

“Sendika baginda…!” Para bangsawan Tarumanagara pun bubar meningalkan peraduan Baginda Raja Linggawarman, Raja Tarumanagara ini bangkit dari tempat tidur dipapah sang permaisuri dan beberapa emban dalem menuju tempat kelangenan Raja disebuah telaga buatan yang di sebut segara yaksa, Sang Raja rupanya hendak berangi-angin sejenak mengistirahatkan pikirannya yang sedang suntuk, kicau prenjak di dahan mahoni sedikit melonggarkan gejolak dalam dadanya.

**

Tiga hari lamanya telik sandi Yudha Karna mengamati dapur istana, pemuda tegap pemilik alis tebal ini memang seorang  telik sandi  mumpuni  dan tahuan uji, berbagai kasus pelik berhasil dipecahkan dengan kecerdasan pola pikirnya yang matang, intuisi tajam juga kesabaran luar biasa, tak jarang dalam melakukan tugas telik sandi Yudha Karna rela menunggu berhari-hari sasarannya bagai seekor  laba-laba  mengintai  mangsa dan target penyelidikannya kali ini adalah dapur istana sesuai petunjuk tabib Kerajaan sinse Li Sizin, dan pada hari ke tujuh setelah dirasanya cukup bukti maka ia melaporkannya pada Baginda Raja Linggawarman, Baginda Raja Linggawarman memerintahkan Senapati Benanda menangkap kepala juru masak Kerajaan Kim Myong.

Dengan ke dua belah tangan dirantai kepala juru masak Kerajaan itu bersimpuh di hadapan peradilan Kerajaan Tarumanagara.

“Kim Myong kau dinyatakan bersalah sebab dengan sengaja mencampur datura metel pada makanan hingga para prajurit Tarumanagara menjadi lemah,” ujar sang hakim Kerajaan.

“Dan kau juga yang mencampur tanaman berbahaya itu pada makanan sri baginda?”

Kim Myong terpana di tempatnya, sebelum menjawab diliriknya sinse Li Sizin yang juga hadir, tabib Kerajaan itu balas menatap Kim Myong dengan pandangan dingin.

“Tanaman itu dari sinse Li Sizin.” Tandas Kim Myong membuat para hadirin tertegun, guman bagai dengungan tawon terdengar dari orang-orang yang hadir di tempat itu.

“Sinse Li Sizin, benar apa yang dikatakannya?” “Fitnah keji, tuan hakim, mana mungkin hamba

melakukan hal itu.”

Kembali Myong Kim menatap sinse Li Sizin yang balik memandangnya dengan tenang.

“Kim Myong untuk semantara kau dipenjara sampai kasus ini jelas,” sela hakim Kerajaan, persidangan Kerajaan pun selesai dengan digiringnya Kim Myong sang jurumasak ke ruang tahanan bawah tanah seiring rona jinga di ufuk barat.

**

Malam semakin larut, penduduk Kota Raja Tarumanagara sudah terlelap ke alam mimpi, binatang malam mulai keluar mencari mangsa di angkasa bulan sepotong tertutup mega-mega hitam, rinai hujan mulai turun semakin lama semakin lebat semantara itu di kediaman Rakeyan Kanuruhan Rajendra lelaki gagah pemilik tatapan teduh itu sedang berbincang dengan sang istri ketika dirasa ada yang tidak beres dengan sekali kelebatan badan tubuhnya tampak menerobos jendela, tak lama petinggi Tarumanagara itu sudah berdiri di hadapan sosok bayangan hitam yang terkejut melihat kehadirannya.

“Siapa kau? berani-beraninya menyatroni rumah ku.” “Ini hamba tuan Rakeyan, Razep Govinda.” “Tukang cukur Kerajaan?”

“Benar Rakeyan.” “Mari kita turun,” Razep Govinda hanya mengangguk, tak lama ke duanya telah berada di ruang tamu Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

“Siapa dia kanda?”

“Oh, dia ini Razep Govinda tukang cukur istana,

dinda.”

“Maapkan hamba malam-malam mengganggu

gusti berdua.”

“Saya turut prihatin dengan teman mu itu,” sela Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

“Justru karena sebab itu hamba menghadap tuan Rakeyan, hamba mohon perlindugan.”

“Perlindungan dari apa?” “Sinse Li Sizin.”

Dengan singkat Razep Govinda menceritakan semua hal tentang siapa jati dirinya, dan misi yang diemban ke dua temannya tersebut Sinse Li Sizin dan Kim Myong, Rakeyan Kanuruhan Rajendra tertegun begitu Razep Govinda selesai bercerita, lelaki gagah itu kemudian berdiri melangkah pelan mendekati jendela, di luar hujan semakin lebat mengguyur bumi.

“Tarumanagara telah disusupi musuh dalam selimut,” gumam Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

“Tuan harus bertindak, mungkin sasaran

berikutnya adalah hamba.”

“Baginda Linggawarman begitu mempercayainya.” “Lalu bagaimana dengan hamba, tuan.”

“Pulanglah, beberapa prajurit akan menjaga mu.” “Bagaimana kalau hamba pindah ke rumah gusti

rakeyan.”

“Dia akan curiga Razep, saya akan menjamin keselamatan mu.”

“Baik gusti rakeyan, terimakasih.”

Rakeyan kanuruhan Rajendra hanya mengangguk, tak lama dikawal sepuluh prajurit Tarumanagara tukang cukur Kerajaan itu kembali ke rumahnya, saat itulah sekelebatan bayangan hitam meninggalkan rumah Razaep Govinda begitu iring- iringan sampai di teras rumah, bayangan hitam yang sedari tadi menyatroninya kini sudah berada di sebuah ruangan tertutup.

“Bagaimana penyelidikan mu?”

“Benar apa yang dikhawatirkan sinse, Razep Govinda meminta perlindungan Rakeyan Kanuruhan Rajendra.”

“Kurangajar, pasti dia sudah menceritakan

semua rencana kita.”

“Aku siap melenyapkan nya.”

“Jangan dulu, waktunya belum tepat.”

“Tapi keberadaan kita telah tercium musuh.”

“Kita masih dipercaya oleh baginda, kau tenang saja.” Orang bercadar hitam itu hanya mengangguk.

“Kau tetap awasi dia.” “Baik sinse.”

Setelah berkata seperti itu sosok bercadar hitam tersebut melesat keluar dari bangunan yang ternyata sebuah goa buatan.

“Aku harus bertindak cepat…,” gumam sinse Li Sizin, kemdian tabib kerajaan itu bergegas ke belakang bangunan se ekor merpati diterbangkannya di tengah guyuran hujan yang semakin lebat.

**

Hari masih berembun ketika penduduk kotaraja Tarumanagara dikejutkan oleh suara kentongan yang dipukul terus menerus tanpa jeda, tidak menunggu lama dari dalam rumah berhamburan ratusan penduduk Tarumadesya masuk ke dalam benteng, pintu gerbang utama berderit terbuka dan dengan tergesa semua penduduk masuk, mereka tahu tanda kentongan itu merupakan situasi darurat perang ketika Sriwijaya menyerang Tarumanagara setahun yang lalu, apakah Sriwijaya kembali menyerang?[] Mendung Bergulung Di Langit Taruma

Pulau Rakit meremang dalam kabut dini hari deburan ombak terdengar bergemuruh memecah karang- karang yang banyak terdapat di perairan laut jawa tersebut, dalam keremangan suasana dan dinginnya udara puluhan orang tampak terombang-ambing dipermainkan ombak, mereka tidak lain dari pasukan Sriwijaya yang setahun lalu gagal menaklukan Kerajaan Tarumanagara, kala itu setelah gagal menaklukan Tarumanagara sang prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa menarik seluruh pasukan meninggalkan tanah Taruma namun rupanya Raja Sriwijaya itu  membawa pasukannya ke pulau Rakit, memberikan mandat pada Tumenggung Jari Kambang dan Senapati Ampal untuk melatih lebih keras pasukan Sriwijaya yang kelak di kemudian hari akan membuat perhitungan kembali dengan Tarumanagara sedang dirinya sendiri bertolak pulang ke Kerajaannya Sriwijaya.

“Kakang Tumenggung, apa kita tidak terlalu

keras pada mereka?” “Apa maksud mu, Senapati Ampal?” balik

bertanya Tumenggung Jari Kambang.

“Setahun belakangan ini prajurit-prajurit kita banyak yang tewas akibat latihan yang terlalu berat.” Sebelum menjawab pernyataan Senapati Apal,

perwira tinggi Sriwijaya itu menjumput sebatang ilalang dan dengan sebat dilemparkannya tepat menancap di sebuah dahan kayu api-api.

“Kau lihat, ilalang ini tetap utuh tapi mampu

menembus kerasnya batang kayu api-api.”

“Saya belum paham, kakang Tumenggung.”

“Bukan kuantitas yang diperlukan prajurit kita saat ini tapi kualitas, apa sekarang kau mengerti senapati?”

“Sekarang saya paham, kakang Tumenggung.” “Bagus, tingkatkan lagi latihan para prajurit

kita.”

“Baik,” sela Senapati Apal kemudian lelaki kekar

pemilik tatapan setajam sembilu itu bergegas ke tepi pantai dari sana perwira nomor dua Kerajaan Sriwijaya itu berterik-teriak memberikan komando pada seluruh pasukan Sriwijaya yang masih terombang-ambing dipermainkan ganasnya gelombang laut jawa.

“Menyelam lebih lama…!” teriak Senapati Ampal sembari merentangkan anak panah.

Puluhan prajurit itu sontak menengelamkan dirinya lebih dalam ke dasar laut, hampir sepenginangan belum  ada tanda-tanda satu prajurit yang  muncul mereka tahu konsekuensi yang akan diterima jika belum ada aba-aba selesai, anak panah yang direntangkan Senapati Ampal dengan tidak ada kata ampun menancap di kepala mereka seperti yang dialami beberapa teman mereka yang banyak tumbang akibat latihan tersebut.

“Selesai…!”

Sontak dari dalam laut muncul puluhan kepala prajurit Sriwijaya denga wajah penuh kelegaan.

“Bagus…!” Sorak-sorai terdengar dari bibir prajurit Sriwijaya ketika Senapati Ampal meneriakan kalimat tersebut.

“Senapati Ampal kemari…!” terdengar teriakan dari pondok yang berada di tepi pantai, tergesa Senapati Ampal mendatangi sumber suara tersebut.

“Ada apa kakang Tumenggung?”

“Sinse Li Sizen mengirim khabar,” ujar Tumenggung Jari Kambang sembari mengelus badan burung merpati.

“Apa isinya kakang?”

“Razep Govinda berkhianat.” “Lalu apa tindakan kita?”

“Siapkan pasukan katak.” “Baik kakang.”

“Jangan lupa beri peringatan pada Tarumanagara, sesuai perintah baginda Dapunta Hyang, tiga hari lagi kita diperintahkan menyerang.”

“Apakah tidak sebaiknya kita serang secara mendadak?”

“Senapati, kita ini ksatria Sriwijaya bukan perampok.”

“Saya mengerti kakang Tumenggung.” Tumenggung Jari Kambang tampak mendengus gusar, bagaimanapun juga dia harus memberi contoh yang baik bagi anak buahnya, peraturan dan etika perang sudah merasuk dala jiwanya ketika dia masih jadi prajurit bawahan.

**

Prabu Linggawarman tertegun beberapa kejap setelah menerima surat peringatan dari Prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang akan melakukan penyerangan kembali pada Tarumanagara, saat itu juga Sang Raja memerintahkan Senapati Perkutut Kapimonda dan Senapati Benanda mempersiapkan pasukan, Rahardian Tarusbawa kembali mendapat tugas mengamankan penduduk kota raja dan Rakeyan Kanuruhan Rajendra diperintahkan untuk berkoordinasi dengan Raja-Raja bawahan untuk mengirimkan bantuan memperkuat Tarumanagara.

Penduduk kotaraja Tarumanagara kembali resah begitu mendengar khabar Sriwijaya kembali mempersiapkan penyerangan, begitu terdengar kentongan dipukul terus-menerus tanpa jeda, sontak semua penduduk Tarumanagara berhamburan dari kediamannya menuju ibukota Tarumanagara, begitu pintu gerbang utama dibuka maka berhamburan para pengungsi masuk ke dalam benteng yang sudah dipersiapkan jika sewaktu-waktu ada keadaan darurat, tua muda anak  anak  dan para wanita bahkan  orang sakit pun dibawa dengan tandu menuju tempat perlindungan.

“Mengapa kita bersama mereka ditempat ini ayahanda?”

“Arudaya, kau jaga ibundamu.” “Ayahanda mau kemana?”

“Ayah ada tugas dari Baginda Raja, ingat pesan

ayah jaga ibunda mu.”

“Baik, ayahanda.”

Senapati Benanda menganguk, ditatapnya bocah perempuan lima tahun itu dengan berbagai perasaan.

“Hati-hati kanda,” gumam sang istri yang dijawab anggukan pelan dan tatapan teduh, lelaki gagah ini berusaha menenangkan keluarga kecilnya itu dengan merengkuh ke duanya  dalam  pelukan,  setelah itu dengan langkah pasti Senapati Tarumanagara itu berjalan menuju pasukannya yang sudah berbaris rapih di alun-alun.

“Bagaimana kesiapan pasukan kita, adhi Benanda?”

“Semua sudah siap kakang Senapati Perkutut Kapimonda,”

“Waktu kita semakin sempit, apakah sudah ada

khabar dari rakiyan kanuruhan Rajendra?”

“Beliau belum kembali kakang Senapati,” “Ini aneh, tidak seperti biasanya.” “Maksud kakang Senapati?”

“Seharusnya Rakeyan Kanuruhan Rajendra sudah kembali bersama pasukan bala bantuan dari Raja-Raja bawahan.”

“Lalu apa rencana kakang Senapati?” “Panggil telik sandi Yuda Karna?”

“Baik kakang…,” ujar Senapati Benanda yang memerintahkan salah satu prajurit Tarumanagara untuk memanggil telik sandi Yuda Karna, tidak berapa lama pemuda gagah itu telah menghadap Senapati Perkutut Kapimonda.

Semantara itu Pasukan Sriwijaya dibawah komando Tumenggung Jari Kambang dan Senapati Ampal sudah berada di kawasan sungai Ciaruteun, mereka kembali mendirikan basis pertahanan di tempat itu. tiba.” “Khabarkan pada Sinse Li Sizen waktunya sudah

“Baik tuan tumenggung,” ujar seorang bertudung lebar yang sosoknya dalam sekejap telah melesat diantara lebatnya pepohonan.

“Senapati Ampal, bagaimana dengan pasukan katak?”

“Mereka sudah berada di sekitar sungai yang melewati istana.”

“Tidak sia-sia latihan yang mereka jalani dalam

setahun ini.”

“Betul kakang tumenggung, kemampuan berenang, menyelam dan bertahan dalam air selama berjam-jam patut diacungi jempol.”

“Bagus persiapkan segala sesuatunya dengan

matang, besok kita gempur ibukota Tarumanagara.” “Baik kakang tumenggung,”

Tumenggung Jari Kambang tampak mengangguk, pembesar Sriwijaya itu lantas berjalan pelan sembari mengacungkan tombak disambut gegap gempita ribuan pasukan Sriwijaya, langit perlahan redup sinar mentari terhalang mega-mega hitam detik berikut diawali sambaran kilat dan gelegar halilintar, hujan deras mengguyur kawasan sungai Ciaruteun dengan lebat.

**

Sepekan sebelum pasukan Sriwijaya mambangun basis pertahanan, senja itu di padepokan Ciampea Senapati Perkutut Kapimonda, guru besar padepokan yang tengah memberi wejangan ilmu kanuragan pada anak muridnya, lelaki gagah itu dikejutkan dengan melesatnya satu bayangan putih yang langsung  hinggap di lengan kirinya,  setelah diamati  sejenak  tampak sebuah gulungan diambilnya gulungan dari ruas bambu kecil yang terikat di kaki merpati tersebut kemudian dibacanya, desahan berat terdengar dari rongga dada Senapati Perkutut Kapimonda.

“Ada apa paman guru?”

Kembali, sebelum menjawab pertanyaan orang Senapati Perkutut Kapimonda menarik napas panjang ditatapnya semua anak muridnya dengan saksama.

“Murid-murid ku, Sriwijaya kembali mengirim tuntutan pada Tarumanagara,  dengan  ini  aku mandatkan pada Abilawa sebagai wakil ku,” Senapati Perkutut Kapimonda hentikan sejenak kalimatnya menunggu reaksi dari semua murid padepokan Ciampea.

“Maap guru,”

“Silahkan Siwalan,”

“Kenapa kami tidak dilibatkan seperti setahun yang lalu?”

“Kalian tidak perlu tahu apa alasannya, yang jelas mulai hari ini Abilawa aku angkat menggantikan diriku,” tandas Senapati Perkutut Kapimonda.

“Ayah, saya ikut.”

“Kau tetap di sini Kinanti, bantu Abilawa.” “Tapi ayah,”

Gadis ayu dengan gigi gingsul menawan itu hentikan kalimatnya begitu tatapan tajam Senapati Perkutut Kapimonda tertuju pada dirinya, dia tahu

ayahnya paling tidak suka dengan kata ‘tapi’. “Baiklah, ayah…,”

“Bagus, Kinanti,” pungkas Senapati Perkutut Kapimonda, lelaki gagah itu lantas memasuki bilik pribadinya, setelah memakai baju zirah Senapati Tarumanagara itu kini telah berada di atas punggung kuda, sebilah tombak panjang tergenggam ditangan kiri sedang tameng bulat diselempangkan di punggungnya.

“Kinanti ingat pesan ayah.” “Baik ayah,”

“Abilawa.”

“Saya paman guru,”

“Jaga Kinanti dan seluruh anak murid padepokan Ciampea.”

“Baik paman guru.”

“Bagus…,”  pungkas  Senapati  perkutut Kapimonda dan dengan sekali hentakan kuda jantan berbulu coklat itu melesat bagai angin meningalkan debu beterbangan dibelakangnya.

“Kakang Bilawa, saya akan menyusul ayah,” “Kinanti ingat pesan ayah mu,”

“Saya khawatir dengan kesehatan ayah,” “Tapi…,”

“Sudahlah…, saya pergi sendiri juga tidak apa- apa.” Sela gadis ayu ini ketus lantas masuk ke dalam bilik dan keluar telah berganti baju kependekaran dengan cepat naik ke punggung kuda tunggangannya.”

“Kinanti tunggu….”

Gadis itu tidak memperdulikan panggilan Abilawa, dengan cepat ia menghentak tali kekang kuda yang meringkik panjang sambil mengangkat tinggi-tinggi kaki depannya, detik berikut kuda jantan berbulu putih itu melesat laksana angina menyusul sang ayah menuju ibukota Tarumanagara.

“Kenapa jadi begini,”

“Ketua bagaimana ini?’ “Caraka dan kau Siwalan, tugas kalian sekarang adalah menjaga padepokan selama saya tidak ada.”

“Baik ketua…,”

Abilawa mengangguk kemudian naik ke punggung kuda warna hitam lantas memacu binatang itu secepat kilat menyusul Kinanti yang sosoknya kini terlihat jauh meninggalkan perbatasan padepokan Ciampea.

**

Suasana masih berembun, kabut tipis melayang- layang diantara pepohonan, di cakrawala timur seleret jingga mulai tampak memecah kaki langit, dalam suasana dingin mencucuk sum-sum itu  pasukan Sriwijaya telah berada seribu langkah di depan pintu gerbang utama ibukota Tarumanagara yang dipisahkan oleh aliran sungai Citarum yang saat itu tengah pasang, gemuruh suara air sungai terdengar dahsyat menerpa bebatuan.

Prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa terlihat gagah duduk di atas punggung gajah sementara ribuan prajurit Sriwijaya berbaris rapat di belakangnya.

“Nyai Tenung Ireng, bagaimana persiapan pasukan mu?”

“Hamba Gusti Prabu,” ujar Nyai Tenung Ireng, tokoh silat golongan hitam ini menyembah sebelum menjawab pertanyaan Prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

“Warok Sampar Kombayoni, Datuk Jerangkong Hitam dan Iblis bisu sudah mulai bergerak menyusup dari arah belakang kedaton Gusti Prabu.”

“Kalian sudah menemukan jalan masuk?”

“Pasukan katak menemukan jalan masuk di bawah tebing batu, Gusti Prabu.”

“Tumenggung Jari Kambang.” “Hamba Gusti Prabu.” “Kirim prajurit penghubung untuk menemui sinse Li Sizin, begitu pintu gerbang utama jebol saat itulah dia bergerak.”

“Baik gusti prabu,” ujar Senapati jari Kambang lantas pacu kuda tunggangannya ke belakang pasukan induk.

“Senapati Ampal.”

“Hamba Gusti Prabu,”

“Siapkan glondongan kayu jati mesiu, dan tunggu

aba-aba ku.”

“Hamba Gusti Prabu,” sembah Senapati Ampal lalu bergerak cepat ke sayap kanan pasukan, tidak menunggu lama dari kerumunan prajurit Sriwijaya sebuah gelondongan kayu jati dengan api menjilat-jilat di ujungnya sudah siap menjalankan tugas, ternyata gelondongan kayu jati pendobrak pintu gerbang itu tidak cuma satu tapi sepuluh,dipastikan begitu ujung gelondongan kayu jati menyentuh pintu gerbang yang terbuat dari baja maka bahan peledak yang terdapat di dalam gelondongan kayu jati itu akan bekerja.

Semantara itu di dalam benteng pertahanan Tarumanagara, kesibukan mulai tampak beberapa prajurit penghubung hilir mudik memberikan informasi, satuan-satuan kepala pasukan sibuk mengatur pormasi pertahanan, pasukan panah bersiaga di tiap sudut benteng juga di atas pintu gerbang utama, luput dari kesibukan para perwira Kerajaan Tarumanagara di dalam peraduan sang Prabu Linggawarman kembali jatuh sakit dan sinse Li Sizin kembali dipercaya mengobatinya, dan seperti biasa setelah tabib kepercayaan sri baginda itu melakukan pengobatan tusuk jarum, berangsur-angsur kondisi prabu Linggawarman kembali pulih walau masih lemah beliau segera mengadakan pertemuan agung.

“Rakeyan Kanuruhan Rajendra bagaimana laporan mu,” “Hamba Baginda, seluruh kerajaan bawahan sudah hamba hubungi namun ada sesuatu yang masih mengganjal pikiran hamba,”

“Apa itu ?”

“Hamba perhatikan Kerajaan Jong Kidul, Jong Kulon dan Jong Lor seperti separuh hati mendukung Tarumanagara,”

“Bagaimana menurut mu, paman Senapati Perkutut Kapimonda?”

“Hamba Gusti Prabu, memang sudah lama ke tiga

kerajaan bawahan itu selalu terlambat mengirim upeti,” “Yah, seperti sekarang ini mereka belum juga

mengirim pasukannya,”

“Lalu apa kebijakan Baginda?”

“Kita tunggu laporan telik sandi Yuda Karna,” gumam Sri Baginda Linggawarman, saat itulah dari balik tirai singasana muncul telik sandi Yuda Karna, pemuda gagah itu tampak membuka tudung lebar yang menutupi kepalanya, telik sandi Yuda Karna memang diberi wewenang khusus oleh Prabu Linggawarman untuk melapor kapan saja dan di  mana  saja  serta muncul dalam kondisi apapun.

“Apa laporan mu, Yuda Karna?”

Sebelum menjawab telik sandi Yuda Karna tampak menyembah.

“Hamba gusti prabu, pasukan Sriwijaya mendirikan basis pertahanan di seberang sungai Citarum.

“Lalu bagaimana penyelidikan mu terhadap ke

tiga kerajaan bawahan itu.”

“Mereka terang-terangan membelot dan

bergabung dengan Sriwijaya.”

Sang Prabu Linggawarman tertegun mendengar laporan telik sandi Yuda Karna, dugaannya selama ini menjadi kenyataan.

“Terimakasih atas laporan mu, teruskan penyelidikan.” “Hamba gusti Prabu,” sembah telik sandi Yuda Karna, pemuda gagah itu kembali menutup kepala dengan tudung kemudian sosoknya melesat cepat ke balik tirai di samping kiri singgasana.

“Baiklah mari kita songsong pasukan Sriwijaya itu,” “Sendika gusti prabu,”

Pertemuan itu pun disudahi, sementara di atas benteng Senapati Benanda tampak mengamati sekeliling dengan pandangan matanya yang tajam, di seberang sungai tampak ribuan pasukan Sriwijaya dengan membawa rontek, umbul-umbul dan panji-panji kebesaran berupa bunga teratai dalam lingkaran hitam berkibar-kibar ditiup angin timur.

Prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang duduk di atas punggung gajah tampak memberikan aba-aba dimulainya serangan.

Diawali tiupan terompet dari kerang sekitar lima puluh prajurit pembawa kayu jati gelondongan mulai bergerak diapit pasukan tameng dan tombak yang langsung disongsong pasukan panah Tarumanagara, beberapa prajurit Sriwijaya terkapar namun segera digantikan prajurit yang baru, begitu seterusnya dan disaat melewati jembatan dimana pasukan puser banyu berada, gelondongan kayu jati itu dilepaskan seiring membukanya lubang jebakan tak ayal pasukan puser banyu tertimpa gelondongan kayu jati diiringi ledakan keras menghancurkan jembatan.

“Gusti Prabu mereka berhasil melumpuhkan pasukan puser banyu,” seru Senapati Benanda.

“Hujani terus dengan panah api,” “Baik gusti Prabu,”

Tak berapa lama langit seakan tertutup ribuan panah api laksana curahan hujan dari langit menyerang pasukan Sriwijaya, kembali pasukan tameng Sriwijaya muncul sambil melindungi lima puluh pasukan pembawa gelondongan kayu jati yang kali ini pasukan panah Sriwijaya membalas serangan, akibatnya sangat mengerikan tubuh-tubuh prajurit Sriwijaya dan Tarumanagara bertumbangan meregang nyawa dan yang lebih mengagetkan lagi dari dalam sungai muncul ratusan prajurit katak Sriwijaya yang membawa tangga- tangga bambu panjang.

“Gusti Prabu benteng alami kita kebobolan,” lapor

Rakeyan Kanuruhan Rajendra.

“Serang terus dengan panah api, pertahankan benteng utama,” tandas Prabu Linggawarman, Raja Tarumanagara itu lantas bangkit dari kursi kebesarannya mendadak tubuh Prabu Linggawarman limbung, Rahardian Tarusbawa yang berada di samping dibantu Rakeyan Kanuruhan Rajendra dan beberapa prajurit segera memapahnya ke peraduan raja.

“Apa yang ayahanda Prabu rasakan?” “Panggil sinse Li Sizin, cepat!”

Rahardian Tarusbawa segera memrintahkan seorang prajurit menjemput sinse Li Sizin, namun tabib kerajaan kepercayaan raja itu sudah tidak ada di kediamannya.

“Celaka apa yang terjadi,” gumam Rahardian Tarusbawa. Saat itulah dari langit-langit kedaton muncul telik sandi Yuda Karna.

“Apa yang terjadi Yuda Karna?”

“Sebaiknya gusti prabu mengungsi,” “Maksud mu?”

“Waktunya sangat sempit untuk hamba jelaskan,” “Baiklah kau selamatkan permaisuri dan kerabat

keraton lainnya, saya segera mengungsikan ayahanda

prabu ke tempat aman,”

“Baik gusti Rahardian Tarusbawa,”

Rahardian Tarusbawa mengangguk, dibantu Rakeyan Kanuruhan Rajendra serta beberapa prajurit khusus kerajaan Tarumanagara Prabu Linggawarman segera dibopong memasuki sebuah pintu rahasia yang berada di bawah singgasana Raja, semantara telik sandi Yuda Karna segera melesat ke kaputren dimana peraisuri dan istri Rahardian Tarusbawa Nyimas Matasih serta beberapa kerabat keraton tinggal, namun betapa terkejutnya telik sandi Yuda Karna ketika sampai di kaputren puluhan prajurit Sriwijaya di bantu empat orang dari golongan hitam yang tak lain dari Nyai Tenung Ireng, Warok Sampar Kombayoni, Datuk Jerangkong Hitam dan Iblis Bisu tengah bertempur dengan prjurit penjaga kaputren, jumlah yang terbatas membuat pertempuran itu berlangsung cepat dalam waktu singkat kaputren sudah diduduki prajurit Sriwijaya.

“Celaka, “ gumam telik sandi Yuda Karna, pemuda gagah itu lantas lesatkan badan kembali ke ruang singasana dan menyelinap masuk melalui pintu rahasia yang berada di bawah singgasana.

Pertempuran terus berlangsung seru, matahari tepat di ubun-ubun ketika pintu gerbang utama ibukota Kerajaan Tarumanagara jebol dihantam gelondongan kayu jati berisi bubuk mesiu, dari dalam sungai kembali muncul pasukan katak Sriwijaya dengan membawa tangga-tangga panjang dan tali temali, dengan ke dua benda itu benteng Tarumanagara dapat dilalui dengan mudah, melihat hal itu Senapati Benanda segera turun gelanggang. Menunggang kuda berwarna coklat belang putih Senapati Kerajaan Tarumanagara itu bergerak cepat memimpin pasukannya menyongsong serbuan musuh yang datang bagai air bah.

Di tempat lain, Senapati Perkutut Kapimonda tengah bertarung melawan Senapati Ampal. Senapati Kerajaan Sriwijaya itu bagai se ekor singa menerjang Senapati Tarumanagara tersebut dengan jurus-jurus andalannya.

“Keluarkan seluruh kemampuan mu, Perkutut Kapimonda!” seru Senapati Ampal sambil berjumpalitan menghindari tusukan keris lawan. “Jangan banyak cakap, tahan keris ku ini…!” sentak Senapati Perkutut Kapimonda yang kembali memainkan jurus-jurus Sunda Buhun tingkat lima. Duel antara ke dua kesatria itu semakin sengit.

Senapati Benanda yang tengah berjibaku dengan Tumenggung Jari Kambang mulai kewalahan menghadapi jurus-jurus aneh milik Tumenggung Kerajaan Sriwijaya itu, gempuran terus-menerus yang dilakukannya seakan dapat dimentahkan Tumenggung Jari Kambang yang hanya menggeser sedikit badannya tapi dilain kejap puluhan bayangan lengan bagai kilat menggedor pertahanan Senapati Benanda.

“Menyerahlah senapati Benanda,” geram

Tumenggung Jari Kambang.

“Celaka, tangguh sekali tumenggung ini,” keluh Senapati Benanda dalam hati, namun sebagai seorang kesatria pantang menyerah sebelum tumbang, pantang mati sebelum ajal merupakan palsafah hidupnya sebagai seorang prajurit.

“Hahaha…, aku puji keteguhan hati mu senapati,” ujar Tumenggung Jari Kambang yang mulai meningkatkan serangannya, rupanya petinggi Sriwijaya itu ingin segera menyudahi pertarungannya dengan Senapati Benanda, maka diawali raungan keras membelah jagat keris dalam genggaman tangan

Tumenggung Jari Kambang lenyap dari pandangan mata, seberkas sinar perak menyilaukan mengaburkan pandangan mata Senapati Benanda, Senapati Kerajaan Tarumanagara itu terkesiap, sebelum  menyadari  apa yang terjadi sebuah sentuhan dingin membeset lengan kanan Senapati Benanda.

“Apa yang terjadi, kenapa pandangan mata ku gelap,” keluh Senapati Benanda. Rasa dingin di pangkal lengan Senapati Benanda terus menjalar ke telapak tangan, keris dalam genggamannya bergetar hebat, saat itulah sebuah tusukan berhawa sangat panas dirasakan menembus jantungnya. Tubuh Senapati benanda tampak berlutut di rerumputan, keris dalam genggaman tangannya lepas entah kemana.

“Arundaya…,” gumam Senapati Benanda setelah itu tubuhnya terkapar di atas rumput dengan bilah keris menancap tepat di dada kirinya.

“Lihatlah Senapati Perkutut Kapimonda, tumengung Jari Kambang berhasil membereskan Senapati Benanda, apa kau pun mau menyusulnya?” Senapati Perkutut Kapimonda tertegun dengan kematian Senapati Benanda, maka dengan secepat kilat dia sarungkan keris dan pasang kuda-kuda kokoh.

“Haa, kau mau mengadu ilmu kedidjayaan dengan ku?” sela Senapati Ampal yang juga segera mengembangkan tangan dan mengokohkan kuda-kuda pertahanan.

“Ajian Lumampah…!” teriak Senapati Perkutut

Kapimonda.

“Ajian Lindu Karang…!”menyusul Senapati

Ampal.

Duaaaarrrr…!

Dua buah pukulan mengandung tenaga dalam tingkat tinggi saling berbenturan, menimbulkan ledakan dahsyat memekakan telinga, beberapa prajurit yang dekat dengan pertempuran ke dua kesatria itu ambruk muntah darah lalu tumbang untuk selama-lamanya.

Senapati Perkutut Kapimonda terpelanting ke belakang, berguling-guling lalu tubuhnya ambruk setelah menabrak pohon.

“Ayahanda…!”

Sebuah teriakan terdengar bersamaan menghamburnya satu sosok dara ayu yang langsung merangkul tubuh Senapati Perkutut Kapimonda.

“Ki…, Kinanti, kenapa kau kemari?” terbata-bata Senapati Perkutut Kapimonda, sudut bibirnya meleleh darah hitam.

“Ayahanda, kau terluka dalam?” “Kinanti, cepat pergi…, dia bukan lawan mu,” sentak Senapati Perkutut Kapimonda begitu melihat Kinanti dengan pedang terhunus melompat di hadapan Senapati Ampal yang tampak berdiri kukuh, ke dua kaki kesatria Sriwijaya itu melesak ke dalam tanah sebatas lutut sedang ke dua telapak tangannya masih mengembang membentuk cakar.

“Kau telah melukai ayahanda ku, aku mengadu jiwa dengan mu…!” sentak Kinanti, dara ayu itu tidak memperdulikan kondisinya, darahnya mendidih melihat ayahnya terluka saat itulah seekor kuda melesat dan dengan kecepatan yang sulit diikuti pandangan mata, penunggang kuda itu menyambar tubuh Kinanti dan Senapati Perkutut Kapimonda kemudian membawanya meningalkan gelanggang pertempuran.

“Siapa orang itu, cepat sekali gerakannya.” Gumam Senapati Ampal. Semantara pertempuran antara pasukan Sriwijaya dan pasukan Tarumanagara masih berkecamuk dengan sengit, saat  itulah  dari  arah  yang tak terduga melesat ratusan pemuda telanjang dada berlumuran warna keemasan dan dengan tanpa aba-aba menyerang pasukan Tarumanagara, pasukan yang baru datang itu bertarung tanpa mengenal takut, walau puluhan panah menancap di tubuh tapi dengan beringas terus bertempur seakan tidak merasa sakit ketika sejata- senjata lawan bersarang di tubuhnya.

Matahari mulai bergeser ke barat, pertempuran antara pasukan Sriwijaya dan Tarumanagara mulai memasuki babak penentuan, semantara itu Rahardian Tarusbawa, Rakeyan Kanuruhan Rajendra dan beberapa prajurit khusus Tarumanagara yang menggotong tubuh prabu Lingawarman tertegun begitu keluar dari lorong rahasia dibawah tebing beberapa prajurit Sriwijaya dibawah komando Nyai Tenung Ireng, Warok Sampar Kombayoni, Datuk Jerangkong Hitam dan Iblis Bisu sudah mengurungnya dengan rapat. “Percuma melawan, menyerahlah…!” Sentak Nyai Tenung Ireng.

Rahardian Tarusbawa dan Rakeyan Kanuruhan Rajendra saling pandang namun detik berikut ke dua kesatria Tarumanagara itu cabut senjata masing-masing dan dengan gagah berani menyongsong musuh yang ada di hadapannya, pertarungan yang tak seimbangpun pecah di depan lorong rahasia.

Keris di tangan Rahardian Tarusbawa menusuk ke sana ke mari, lima prajurit Sriwijaya paling depan ambruk sembari memegang dadanya, begitupun Rakeyan Kanuruhan Rajendra dengan senjata keris di tangan kanan dan pedang di tangan kirinya dengan gagah berani menerjang serbuan prajurit Sriwijaya, tiap kerisnya berkelebat lima sampai sepuluh prajurit Sriwijaya ambruk mandi darah.

“Iblis bisu, bereskan Mantri Kanuruhan itu,” tandas Nyai Tenung Ireng dijawab anggukan pemuda berwajah pucat yang tanpa membuang waktu lesatkan tubuh menyerang Rakeyan Kanuruhan Rajendra, sedang Datuk Jerangkong Hitam kini berhadapan dengan Rahardian Tarusbawa semantara Warok Sampar Kombayoni dan Nyai Tenung Ireng menghadapi pasukan khusus Tarumanagara.

Pertempuran di depan lorong rahasia begitu sengit, sejata rantaim baja Iblis bisu menderu-deru mengincar titik lemah Rakeyan Kanuruhan Rajendra yang tampak jungkir balik mengindari senjata maut tersebut, tidak kalah serunya pertarungan antara Rahardian Tarusbawa dan Datuk Jerangkong Hitam, tokoh sakti dari lembah sungai Gomati itu begitu bernapsu menyerang Rahardian Tarusbawa dengan senjatanya berupa tongkat besi berwarna hitam.

Nyai Tenung Ireng dan Warok Sampar Kombayoni yang  telah memberseskan  pasukan khusus Tarumanagara melihat pengawalan Prabu Linggawarman agak kendor, kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh ke dua tokoh sakti itu, maka dengan mengandalkan ajian pamungkas masing-masing prajurit pengawal Prabu Linggawarman dapat dibereskan dengan cepat.

“Hentikan pertempuran…, atau Raja kalian tewas sia-sia…!” teriak Nyai Tenung Ireng sembari melibatkan selendang hitam pada leher Prabu Linggawarman.

Tidak ada pilihan bagi Rahardian Tarusbawa, Rakeyan Kanuruhan Rajendra kecuali menyerah demi keselamatan Prabu Linggawarman yang terbaring lemah di atas tandu dengan leher masih terlibat selendang.

“Buang senjata kalian, atau prabu Linggawarman tewas sia-sia,” ancam Warok Sampar Kombayoni. Tidak dikomando dua kali, seluruh prajurit Tarumanagara segera membuang senjata mereka masing-masing ke tanah, dibawah todongan senjata lawan seluruh sisa-sisa pasukan Tarumanagara itu dikumpulkan dan digiring ke ruang penjara bawah tanah.

“Apa khabar adinda Tarusbawa…?”

Rahardian Tarusbawa tersentak bilaman sebuah suara yang tidak asing dan sosok tubuh yang sangat dikenalnya berdiri tiga langkah dihadapannya.

“Kanda Dapunta Hyang,”

“Atas nama ramanda prabu Linggawarman aku menuntut penaklukan Tarumanagara pada adinda Tarusbawa untuk kebesaran Sriwijaya,”

“Kanda Dapunta Hyang…,”

“Cepat katakan adinda Tarusbawa atau ramanda

Linggawarman tewas sia-sia.”

Rahardian Tarusbawa tampak mendengas gusar, namun begitu melihat anggukan Rakeyan kanuruhan Rajendra, menantu Prabu Linggawarman itu akhirnya pasrah.

“Baik, atas nama ramanda prabu Linggawarman

Tarumanagara takluk dan mengakui kebesaran

Sriwijaya,”

“Bagus…,” “Sekarang cepat tolong ramanda Prabu,”

“Itu hal mudah adinda Tarusbawa, sinse Li Sizen akan mengurusnya.”

Rahardian Tarusbawa tersentak, dalam hati dia bergumam ternyata benar sinse Li Sizen ikut andil dalam masalah ini.

“Dengarkan sabdaku adhi Tarusbawa, mulai sekarang Tarumanagara adalah kerajaan taklukan dibawah Sriwijaya, aku akan menempatkan orang-orang kepercayan untuk menjadi pemimpin tertinggi di Tarumanagara, kalian para bangsawan tetap memegang jabatan penting dengan posisinya masing-masing, tapi ingat semua keputusan Negara harus atas izin ku melalui orang-orang kepercayaan ku,”

“Baiklah kanda Dapunta Hyang,”

“Satu lagi, mulai sekarang biasakan memanggilku gusti Prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa.”

“Baik, gusti prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa.” “Bagus…, bagus. Bawa ayahanda Prabu

Linggawarna ke tempat sinse Li Sizen.”

Tanpa diminta dua kali, dibawah todongan senjata pasukan Sriwijaya, Rahardian Tarusbawa, Rakeyan Kanuruhan Rajendra dan Prabu Linggawarman yang masih dalam  kondisi  lemah dan tidak  sadar ditandu menuju kediaman tabib kerajaan Sinse Li Sizen.

Rembang petang mulai melingkupi kawasan kota raja Tarumanagara, di langit mendung hitam bergulung- gulung, rintik hujan mulai  turun seakan ikut prihatin atas jatuhnya Kerajaan besar tersebut, dalam tahun 686 Kerajaan Tarumanagara takluk di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. [] Pesona Bawah Tanah Tarumanagara

Siapa yang mengira, Tarumanagara Kerajaan termasyur di zaman pemerintahan Prabu Purnawarman harus takluk dan menjadi negri bawahan Kerajaan Sriwijaya di zaman Prabu Linggawarman, Negri yang dirintis dengan susah payah oleh Maharesi Jayasingawarman itu akhirnya harus mengakui kebesaran Sriwijaya. Namun sesungguhnya niat Prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa menaklukan Tarumanagara yang notabene adalah Negri mertuanya itu bukan untuk dikuasai atau dimusnahkan  tapi sekadar meminta pengakuan akan kebesaran Sriwijaya.

Maka untuk menarik simpati rakyat Tarumanagara Prabu Dapunta Hyang Srijayanasa tetap menempatkan para pejabat dan bangsawan Tarumanagara menduduki posisinya masing-masing dengan catatan semua keputusan Negara harus mendapat persetujuan Sriwijaya melalui orang-orang kepercayaan Prabu Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang ditempatkan ditubuh pemerintahan Tarumanagara seperti Senapati Ampal sebagai wakil dari Tumenggung Jari Kambang yang kini menjabat sebagai pemimpin tertinggi Tarumanagara.

Rajendra tetap menjabat sebagai mentri atau Rakeyan Kanuruhan sedangkan Rahardian Tarusbawa menantu Prabu Linggawarman tetap diperbolehkan menempati Kedaton Tarumanagara bersama Prabu Linggawarman yang saat ini kondisinya sedang sakit keras, juru masak Kerajaan Kim Myong dibebaskan dari penjara mendapatkan jabatannya kembali semantara tukang cukur Kerajaan Razep Govinda keberadaannya belum diketahui, pemuda itu menghilang tanpa jejak setelah perang usai dan tidak seorang pun tahu dimana dia sekarang.

Pusaran waktu terus berjalan mengikuti kodrat dan putaran zaman, kehidupan kawula Tarumanagara yang selama perang dicekam rasa ketakutan berangsur- angsur membaik, pulih seperti sediakala, para pedagang mulai menggelar dagangannya di pasar, para petani kembali menggarap sawah, anak gembala riang menggembalakan ternak di padang rumput, kehidupan pun berjalan dengan damai, penduduk Tarumanagara sudah melupakan peristiwa peperangan itu.

Tiga belas tahun berlalu dengan cepat, di kedalaman lima ratus meter bawah tanah Tarumanagara sebuah pemandangan tak lajim terhampar bagai dongeng seribu satu malam, siapa mengira, dibawah tanah Kerajaan Tarumanagara yang diduduki Sriwijaya itu ada kehidupan lain, dunia lain bawah tanah terbentang luas sejauh mata memandang, seperti lazimnya di permukaan tanah Negri bawah tanah Tarumanagara itu tidak kalah indahnya.

Puluhan tahun ke belakang di zaman Raja Purnawarman, dalam tahun 395 sampai dengan 434 Masehi sang Baginda membangun ibukota kerajaan baru yang terletak lebih dekat ke pantai diberi nama Sundapura, nama Sundapura mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman pada tahun 397 Masehi untuk menyebut ibukota Kerajaan yang didirikannya. Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3 (halaman 159-162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 Raja daaerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (teluk lada, Pandeglang) sampai ke Purwalingga (Purbalingga) di Jawa Tengah.

Secara tradisional Ci Pamali (kali Brebes) dianggap batas kekuasaan Raja-Raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.

Dalam tahun yang sama setelah dua puluh dua tahun masa pemerintahannya, Sang baginda Purnawarman memugar sebuah lokasi perlindungan bawah tanah yang dibuat oleh leluhurnya terdahulu sebagai tempat berlindung ketika Negara sedang genting.

**

Mata pemuda gagah dengan alis saling bertaut itu terus mengawasi permukaan telaga yang ada dihadapanya, sudah hampir satu jam dia melakukan hal itu, paras wajahnya mulai berobah cemas bilamana pantulan cahaya matahari yang membias dari langit- langit goa mulai meredup.

“Kenapa lama sekali,” gumam pemuda ini sambil mondar-mandir di hadapan telaga. Selang berapa lama, dari dalam telaga tampak gelembung-gelembung kecil disusul menyibaknya permukaan telaga, sesosok tubuh muncul dari dalam air.

“Arundaya, kau sudah menemukannya?” kata sang pemuda dijawab senyum manis gadis ayu yang baru muncul dari dalam telaga tersebut.

“Dugaan ku benar, telaga ini menghubungkan kita dengan dunia luar Candrika.”

“Maksud mu?”

“Di dasar telaga ini ada celah seukuran manusia dewasa, begitu melewatinya kita akan berada di sebuah muara, dibalik goa ini ada sebuah pantai yang indah.” “Benar begitu?”

“Kalau tidak percaya coba saja,”

“Besok sajalah, hari mulai senja baiknya kita kembali ibu mu pasti cemas.”

“Ayolah…,” sela sang gadis kemudian berlalu meningalkan gua cadas diiringi sang pemuda, setiba di luar gua hari mulai petang pelita-pelita dari minyak jarak sudah menerangi rumah-rumah penghuni dunia bawah tanah tersebut, seorang perempuan paruh baya menyongsong kedatangan sang gadis di depan pintu rumahnya.

“Darimana saja kau cah ayu?” “Bojong Mangu, ibunda.”

“Kau ke gua itu lagi?” “Iya ibunda.”

Permpuan paruh baya yang masih tampak segar itu terlihat menarik napas dalam, dipandanginya anak gadisnya itu dengan saksama.

“Mungkin sudah waktunya,” gumamnya. “Maksud ibunda?”

Perempuan paruh baya itu berjalan ke sudut ruangan, dari dalam lemari kayu diambilnya sebuah gulungan yang diberikannya pada sang anak.

“Bukalah Arundaya,” “Apa ini ibunda?”

“Sebuah peta, rute jalan rahasia yang diberikan mendiang ayah mu tiga hari sebelum pasukan Sriwijaya menaklukan Tarumanagara.”

“Maksud ibunda memberikan peta ini pada saya, apa bu?”

“Tiga belas tahun yang lalu disaat mendiang ayah mu mengungsikan kita ke tempat ini, beliau sempat berpesan agar memberikan gulungan peta itu setelah

usia mu menginjak tujuh belas tahun.” “Ayah…. “

“Sudahlah Arundaya, ayah mu gugur sebagai

seorang kesatria Tarumanagara yang gagah berani, mungkin dengan peta itu beliau ingin kau meneruskan

perjuangannya.”

“Baiklah ibunda.”

Wanita paruh baya istri mendiang Senapati Benanda hanya mampu mengangguk, dipeluknya Niluh Arundaya dengan kasih, malam semakin larut, penghuni dunia bawah tanah Tarumanagara  sudah  lelap  terbuai ke alam mimpi. Esoknya, Niluh Arundaya menemui Candrika.

“Kalau kita perhatikan, jalan menuju dunia luar ada dua,” gumam Candrika matanya tidak lepas memperhatikan gulungan kain yang dihamparkan di atas batu.

“Kau benar Candrika, jalan keluar itu melaui telaga di gua Bojong Mangu dan sebuah tebing terjal.” Sela Niluh Arundaya.

“Menurut peta, dibalik celah sempit di dasar telaga gua Bojong Mangu itu ada jalan tembus ke pantai yang bernama Muara Gembong.”

“Yah kau benar, dan jika kita melewati tebing terjal kita akan sampai di alun-alun utara kota raja Tarumanagara.” Timpal Niluh Arundaya.

“Dan kau sudah pernah melihat pantai itu bukan?”

Niluh Arundaya menganguk, senyum terkembang dari bibirnya yang tipis sesaat ke dua anak muda yang mulai menginjak dewasa itu saling bertatapan, geletar aneh merambah relung-relung simpul syaraf ke duanya.

Semantara itu nun jauh disana, disebuah lereng pegunungan Salak seorang pemuda tampan berparas gagah tengah berlatih ilmu kanuragan di sebuah air terjun, laksana burung sikatan  tubuh  pemuda  itu jungkir balik di udara dan ketika merentangkan ke dua tangannya ke atas puluhan daun kering yang akan jatuh tampak tertahan, berputar-putar cepat mengikuti gerak tangannya ketika tangan itu dihentakkan ke depan puluhan daun kering itu melesat, menancap dalam di dinding batu cadas setengahnya.

“Taruma…, cukup.”

“Baik paman, edhaaaa…,” dalam satu hentakan tubuh pemuda itu melenting ke atas jungkir balik di udara beberapa kali kemudian mendarat dengan enteng di pinggir sungai.

“Paman Udayana.”

“Hehehe…, semakin hari ilmu ringan badan mu

semakin maju Taruma,”

“Ini semua berkat paman Udayana yang terus membimbing saya, paman dari mana?’

“Pasar Gelino, Taruma.”

Masih dengan terkekeh-kekeh Udayana berlalu meninggalkan Taruma yang masih berada di pinggir sungai air terjun, lelaki paruh baya yang masih tampak kekar itu tertegun bilamana kembali ke pinggir sungai dilihatnya Trauma sedang memperhatikan kotak kecil berwarna hitam.

“Kau masih menyimpannya, Taruma?”

Pemuda itu terkejut, senyum simpul mengembang dari sudut bibirnya.

“Paman, bagaimana kabar Niluh Arundaya

sekarang ya?”

“Ahh, paman juga tidak tahu Taruma, sudah tiga belas tahun kita meninggalkan Tarumanagara, kalau dia selamat mungkin umurnya sekarang tujuh belas tahun dan sudah menjadi gadis yang sangat cantik, hehehe….”

“Paman, saya ingin mencari Arundaya.” “Belum waktunya, Taruma.”

“Kenapa paman?”

“Kau belum menyelesaikan semua isi kitab eyang Jalatunda itu.”

“Baiklah, paman Udayana.”

Udayana kembali terkekeh-kekeh, kemudian lelaki paruh baya itu berlalu meninggalkan Taruma yang masih termenung di tepi sungai air terjun sembari memandangi kotak kecil berwarna hitam di telapak tangan kanannya, kotak itu pemberian Niluh Arundaya sahabat kecilnya dulu.

Semantara itu di suatu tempat dalam waktu yang hampir bersamaan, di halaman sebuah padepokan yang bernama Ciampea, Abilawa sang guru besar tengah melatih anak-anak muridnya. Tiga belas tahun yang lalu ketika terjadi peperangan antara pasukan Tarumanagara melawan balatentara Sriwijaya, Abilawa berhasil menyelamatkan Senapati perkutut kapimonda dan anaknya Kinanti, sayang walau Abilawa berhasil membawa gurunya itu ke padepokan Ciampea, nyawa Senapati Perkutut Kapimonda tidak bisa diselamatkan namun sebelum ajal menjemput Senapati Kerajaan Tarumanagara itu sempat melantik Abilawa sebagai penggantinya, sedangkan Kinanti, gadis ayu pemilik gigi gingsul itu memutuskan mengembara, berguru pada tiap tokoh-tokoh sakti yang dijumpainya, Kinanti bertekad satu hari nanti dia akan memperjuangkan kemerdekaan Tarumanagara dari cengkeraman Kerajaan Sriwijaya.

“Murid-murid ku, kalian harus tekun

memperdalam ilmu silat Sunda Buhun ini,” kata Abilawa

pada satu sore yang sejuk.

“Guru, boleh saya bertanya.” “Silahkan Parwata,”

“Apakah kita akan menjadi prajurit Tarumanagara jika ilmu Sunda Buhun kami sudah mencapai tingkat tiga?”