-->

Dewi Penyebar Maut Eps 10

Dewi Penyebar Maut Eps 10

1. ROTA DAN ROGA

ANGIN menderu menerpa semak-semak di bibir jurang Kali Putih yang dari atas seakan tak berdasar itu. Perla- han dan hati-hati, namun dengan gerak lemah gemulai, Rebeg mendahului Tun Kumala turun—menyelinap di antara semak-semak liat dan lebat, terkadang terpeleset oleh tanah berpijak yang gembur dan berkerikil. Wajah- nya selalu tersenyum dan tampaknya ia bangga sekali karena kali ini ada lelaki lain yang juga ketakutan di tempat itu—Tun Kumala. Dua orang lainnya, walaupun tampak ketakutan, adalah perempuan. Dadap dan Teki. Di kejauhan dan di tempat yang agak tinggi serta ter- sembunyi di balik sebatang pohon liar besar, Buyut Pa- galan dan buyut-buyut lainnya, Buyut Tantram, Gitra, dan Sumbing, memperhatikan rombongan aneh itu. Ju- ga si lelaki berpakaian kasar dari Trang Galih, Ki Jalak

Katenggeng.

Agak jauh dari mereka, para prajurit setia me- nunggu, tersembunyi di dalam semak-semak.

“Mereka sudah hampir sampai ke Karang Bajul Putih itu,” bisik Buyut Sumbing.

Di kejauhan, tampak Rebeg keluar dari kungkungan semak-semak dan kini berjalan betul-betul pada bibir jurang. Berturut-turut muncul Tun Kumala, Dadap dan Teki. Dari kejauhan tampak mereka terengah-engah.

“Ya,” sahut Buyut Pagalan singkat. Dari jauh tampak jelas batu karang berwarna putih, yang menjulur ke te- ngah mulut jurang yang ternganga. Buyut itu pun ber- paling pada Jalak Katenggeng.

“Adi Jalak Katenggeng,” suaranya dipertegas walau- pun masih terasa bergetar, “mohon perhatikan apa yang akan terjadi nanti ”

“Apa yang akan terjadi, Kakang Buyut?” Utusan dari Trang Galih itu mendekat. Sikapnya pun kini semakin akrab.

“Aku akan melaksanakan kehendak Ratu Sepuh. O- rang itu akan kusingkirkan. Dan untuk itu aku harus menghukum orang yang mencelakakannya. Yaitu pu- traku sendiri.” Buyut Pagalan berhenti sejenak. “Jadi... aku... masih menghormati Ratu Anom.”

“Aku akan mencatat hal  itu  baik-baik,  Kakang Buyut, jika nanti memang begitu kejadiannya.” Jalak Katenggeng tersenyum tipis. “Pasti kau bisa mempero- leh anugerah dari kedua pimpinan kita itu. Persoalan- nya kini... betulkah itu akan terjadi?”

“Pasti, pasti...” Buyut Katenggeng mengusap keringat di dahinya dan menajamkan matanya melihat ke kejau- han.

Rebeg dan Tun Kumala sudah berdiri di tepi Karang Bajul Putih. Karang itu bagaikan sekeping papan batu besar, putih, menjulur ke mulut jurang yang ternganga. Jurang itu begitu dalam hingga dasarnya tak terlihat. Hanya gelap jauh di bawah sana. Dan angin menerpa begitu keras. Destar di kepala Tun Kumala melecut- lecut, sementara Rebeg sekali-sekali membetulkan ikat kondenya yang terbuat dari emas.

“Di sinilah, Tuan,” kata Rebeg, berpegangan pada se- rumpun semak-semak kecil. “Cinta terbukti lebih agung daripada keinginan untuk hidup. Mereka yang benar- benar mengagungkan cinta, tak gentar harus hancur berantakan di dasar jurang sana. Ah, aku begitu me- nyesal kenapa dahulu keinginanku untuk hancur di sini tidak terlaksana.” Rebeg menggelengkan kepala, benar- benar sedih.

“Aku juga menyesal,” tambah Dadap, terengah- engah, mengusap kulitnya yang dirobek duri di sana- sini. “Mestinya Tuan hancur saja dulu hari itu, jadi ka- mi tak usah susah payah kemari ”

“Tapi belum terlambat kok, Tuan,” kata Teki. “Sila- kan lho... tinggal melangkah ya. paling cuma tiga lang-

kah ”

“Jangan, Bibi, jangan berkata begitu!” Tun  Kumala tak berani melihat ke depan. Ia pun berpegang erat-erat pada sebatang perdu. “Hal seperti ini bukanlah ma- inan.”

“Ya, Tuan Kumala benar, Bibi... sebab... ah, mana orang seperti kalian mengerti hal pelik ini. Jika kalian takut lebih baik mundur sana, yang jauh ” Dengan ge-

rak lemah gemulai Rebeg melambaikan tangannya ke arah kedua wanita yang secara sukarela menjadi peng- iring Tun Kumala itu.

Tetapi gerakannya itu membuat ia menengok ke arah belakang, dan ia terkejut. Dari balik semak-semak tiba- tiba telah muncul Rota dan Roga, prajurit kepercayaan Buyut Pagalan. Dan keduanya bekerja cepat.

Rota menebas semak-semak yang jadi pegangan Tun Kumala. Roga dengan merendahkan diri ke tanah, men- cengkeram tanah untuk pegangan, menghajar kaki Tun Kumala dengan sapuan berantai. Tun Kumala menjerit. Pegangannya terlepas dan saat ia terhuyung, tendangan rendah Roga membuatnya terpental.

Rebeg ikut menjerit. Namun ia tak punya kesempa- tan untuk melindungi Tun Kumala. Atau ia tak punya kemampuan untuk itu. Pedang Rota yang menebas se- mak-semak tadi berputar langsung mengancam perut Rebeg. Dan secara serta-merta Rebeg melompat mun- dur ke tengah mulut jurang yang ternganga!

Dadap saat itu juga menjatuhkan diri seraya menca- but golok besarnya. Namun perhatiannya terpecah pada Tun Kumala dan Rebeg yang sudah terpental ke arah jurang. Ia cepat menurunkan golok, tendangan Rota te- lak mengenai perutnya. Ia mengaduh pelan, dan men- coba menjaga keseimbangan. Sambil berpegangan den- gan dua tangan di tanah Rota menendang Dadap den- gan kedua belah kakinya. Dan Dadap pun menjerit mengejar Tun Kumala. Teki begitu tertegun hingga de- ngan mudah Roga meninju punggung wanita itu hingga terlontar jauh.

“Hhh, sudah selesai tugas kita, Di?” tanya Roga sam- bil terengah-engah.

Rota terbaring di bibir tebing melongok ke arah keke- laman jurang di bawahnya. Ia pun membalikkan diri hingga kini menengadah. Lemas.

“Huh. Kukira mereka semua pasti lumat di sana, Kang,” jawabnya kemudian.

“Juga... Tuan Muda?” tanya Roga.

“Juga.” Rota mengangguk, bangkit kini. Terpekur se- dih.

“Kenapa? Kau takut amarah tuan kita?” Roga begitu lama bekerja dengan Rota hingga tahu benar perasaan hati sahabatnya ini.

“Tidak. Aku... aku takut pada amarah Nyai Buyut   ”

Rota berdiri. Jauh di puncak sana, beberapa sosok tu- buh tampak berkumpul di bawah pohon liar besar. Buyut Pagalan dan lain-lainnya itu. Rota melambaikan tangan, menandakan bahwa tugasnya telah selesai. Se- seorang di atas sana membalas lambaiannya.

“Nyai Buyut?” Roga tertawa. Mengusap pedangnya. “Aku telah berjanji untuk menjaga keselamatan tuan

muda kita.” Rota sesaat tertunduk, merenungi bibir ju- rang. Tak terdengar apa pun dari sana kecuali deruan angin. Kemudian dadanya yang bidang seolah terangkat oleh hirupan napas panjang.

“Kaubilang kesetiaan kita hanya pada Sang Buyut ki- ta.” Roga pun mulai melangkah naik. “Tapi aku telah berjanji pada Nyai Buyut,” sahut Ro- ta seakan mengeluh. Ada sesuatu pada suara sahabat- nya itu yang membuat Roga tiba-tiba berpaling. Dan ti- ba-tiba ia tertawa.

“Ah, kalau begitu... mungkin betul desas-desus yang kudengar selama ini namun sulit kupercaya?” tanya Roga, dengan nada masih tertawa.

Rota bersandar ke dinding cadas, menengadah ke la- ngit yang kini membiru. Keringat mengkilap di dahinya. Diterpa angin yang menderu-deru.

Hilang tawa dari wajah Roga. Sekilas ia menoleh ke atas. Orang-orang di atas sana tampak tak sabar me- nanti mereka, melambai-lambaikan tangan.

“Di, aku sudah bagai saudara kandungmu... apakah kau menyimpan suatu rahasia yang bahkan aku pun tak kauberitahu?” tanya Roga bersungguh-sungguh.

“Ya, Kang, maafkan aku.” Rota menghantam dinding batu tempatnya bersandar. Batu pun berantakan ron- tok.

Roga menghela napas panjang. Kemudian berkata, “Baiklah. Jika kau tak mau aku tahu rahasiamu... ya sudah. Tapi kita harus cepat-cepat ke atas sana.”

“Kang... justru... sekarang ini aku tak bisa menahan lagi rahasia itu darimu....” Tiba-tiba Rota mencengke- ram Roga.

“Apa maksudmu, Di?”

“Kang... Rebeg... tuan muda kita... sesungguhnya bukanlah putra Sang Buyut...,” kata Rota lemah.

“Apa?” Roga tentu terkejut.

“Ya... ya... Nyai Buyut... dan aku... sesungguhnya... ah... Rebeg adalah anakku, Kang!”

Roga agaknya sudah menduga pengakuan ini. Ia menatap Rota dalam-dalam. Kemudian menghela napas panjang. “Aku tak tahu apakah itu urusanku, Di. Kubilang... kau bagai saudara kandungku... jika memang sudah terlanjur begitu... aku sebagai saudara tuamu seharus- nya menghukummu. Tak layak kau sampai punya kela- kuan seperti itu. Tetapi... juga sebagai saudaramu... dan karena sudah terlanjur kaulakukan... mungkin aku wajib melindungimu juga....” Kembali Roga menghela napas panjang. “Kaulihat betapa bingungnya aku?”

“Aku tak mau kau bingung, Kang. Aku tak berani minta kau melindungiku. Hanya... kuharap kau me- ngerti perasaanku... jika kelak... kelak aku berbuat se- suatu yang... di luar jalur ”

“Maksudmu?”

“Tuan kita, Sang Buyut, begitu kejam. Ia telah me- maksaku untuk membunuh anaknya sendiri, yang se- sungguhnya adalah anakku. Aku sudah melaksanakan tugasku sebagai prajurit. Kau tak bisa menyangkal itu kan, Kang?”

“Hm.”

“Aku akan menahan diri. Jika. jika ia masih keterla-

luan mengumbar kemurkaannya... maka aku mungkin tak bisa menahan diri, Kang.”

Kedua orang itu tiba-tiba berhenti. Saling pandang. “Aku tak bisa menjanjikan apa-apa padamu, Di,” ka-

ta Roga akhirnya. “Tetapi aku seorang prajurit. Aku ha- rus melakukan tugasku. Kau begitu juga. Apa pun yang kauperbuat... sesungguhnya kau telah melanggar hak- mu. Tindakan Sang Buyut tak bisa kauanggap tindakan pribadi. Itu adalah tindakan pimpinan. Sedangkan kau, kau yang semestinya melindungi Nyai Buyut    kau telah

berbuat salah besar. Jadi, kuperingatkan, Di, jangan punya pikiran yang aneh-aneh.”

Rota memandang sahabatnya dengan pandang tajam tak berkedip. Roga pun tak mau kalah membalas tegas pandangan itu. Akhirnya Rota yang berpaling.

“Baiklah, Kang... jika itu maumu. Kelak kalau kita harus berhadapan sebagai lawan, aku hanya bisa mo- hon belas kasihanmu.” Rota melanjutkan perjalanannya melata di tebing terjal itu. Roga beberapa saat mere- nung. Kemudian ia pun mengikuti Rota.

2. PERANG TANDING

TANAH lapang itu terpencil. Dikelilingi batu-batu raksa- sa serta pepohonan besar serta rapat. Ini adalah daerah tak bertuan yang menjadi perbatasan desa Uteran yang menjadi pusat pemerintahan daerah Akuwu Uteran.

Di pinggir tanah lapang itu sekelompok lelaki me- nunggu. Bersenjata lengkap, dan siap. Lengkap pula dengan umbul-umbul besar Reta-Seta, pertanda naung- an kewibawaan Wilwatikta serta umbul-umbul Akuwu Uteran sendiri yang berwarna kuning kemerahan. Aku- wu Tunggul Seloka ada di sana. Tua, namun gagah dan berwajah dalam. Di sampingnya, Juru Wira Prakara masih bertengger di atas kudanya. Bukan hanya untuk gagah-gagahan saja, tetapi juga karena masih terlalu capek untuk turun. Di sampingnya berdiri prajurit ke- percayaannya, Ki Gubar, yang bukan saja siap melin- dungi junjungannya, tetapi juga siap membantunya tu- run dari kuda, jika perlu. Namun sesungguhnya, seba- gai layaknya para ksatria muda Wilwatikta, Juru Wira Prakara adalah seorang prajurit cukup tangguh dan tangkas di atas punggung kuda. Bentuk tubuhnya yang kurang menguntungkan itu diimbangi oleh kelihaiannya berkuda serta kuda yang memang sudah terlatih dan terawat.

Di sekitar mereka para prajurit Uteran juga bersiaga. Sedang jauh di tepi lapangan, para prajurit yang bukan inti menunggu di keteduhan pepohonan.

“Wuah, mana mereka, Akuwu?” desah Juru Wira Prakara dari atas kudanya. Napasnya masih terengah- engah. “Orang lucu yang tadi datang menantang itu apa benar orang dari Pagalan? Jangan-jangan hanya badut, hi hi hi ”

“Itu tadi adalah Ki Roga, Gusti.” Ki Gara, seorang prajurit Uteran yang berada di belakang Akuwu Tunggul Seloka tak tahan untuk tidak menjawab. “Dan dia terke- nal sebagai seorang prajurit yang dug-deng!”

“Apa benar?” Wira Prakara tertawa lagi.

“Itu mereka datang, Junjungan,” tukas Ki Tunggul Seloka, sedikit tak senang prajuritnya ditertawakan.

“Ah, ya! Mereka membawa bendera berontak, heh?” Wajah Juru Wira Prakara yang tadi berseri muram se- ketika.

Di kejauhan, muncul dari balik pepohonan raksasa, memang telah tampak sebatang umbul-umbul tunggal berwarna merah darah, dibawa oleh seorang prajurit berjalan kaki. Dan tak jauh di belakangnya segerombol penunggang kuda juga muncul.

Akuwu Tunggul Seloka mengernyitkan kening.

“Yang berkuda di depan itu, Gusti, dari kiri adalah buyut-buyut Tantram, Gitra, Pagalan, dan Sumbing,” kata Tunggul Seloka. “Hamba tak mengenal orang yang kelima. Aneh. Ia tidak berpakaian sebagai seorang pra- jurit ataupun bahkan warna-warna daerah sini. Tetapi ia berani berkuda sederet dengan para buyut itu.”

“Hmh.” Wira Prakara menudungkan tangannya pada matanya. “Mungkinkah itu jago andalan mereka? Hh, apakah dia antek Dewi Candika? Hmh. Dua orang di be- lakang mereka itu... aku kenal. Satunya si badut Roga itu, bukan?”

“Benar, Junjungan. Tampaknya mereka telah begitu yakin akan kekuatan mereka... hingga merasa cukup hanya membawa orang sebanyak itu.”

“Itulah takabur. Rasanya menghancurkan mereka bagai melumat buah ranti saja!”

Tak terasa Akuwu Tunggul Seloka melihat pada para prajurit di dekatnya. Para buyut itu terkenal sakti-sakti. Mampukah mereka berbuat banyak dalam perang tan- ding?

Gara agaknya merasakan lirikan junjungannya. Ia menghela napas panjang dan maju mendekat. “Jika Junjungan memperkenankan, biar hamba jadi tumbal Uteran, dan akan  hamba  coba  melawan  para  buyut itu ”

“Ah, kalau cuma mereka saja, si Gubar juga mampu melindasnya. Betul, Gubar?” tegur Juru Wira Prakara pada prajurit kesayangannya.

“Jelas, Gusti.” Ki Gubar langsung menghunus  pe- dang panjangnya. “Takkan malu hamba belajar di Wil- watikta, Gusti!”

“Bagus. Jika kau berhasil membunuh salah  satu buyut itu, desanya boleh kaumiliki, Gubar!” Wira Praka- ra tertawa.

Tunggul Seloka sekilas memandang gusar pada Juru Wira Prakara, tetapi kemudian ia hanya berkata pada Gara, “Janji yang sama untukmu, Gara. Juga Sora dan Kosa. Siapa pun yang mampu membunuh salah satu buyut itu akan memperoleh desanya.”

“Terima kasih, Junjungan!” serentak prajurit yang bernama Gara, Sora, dan Kosa menyahut dan berdatang sembah. Berempat dengan Gubar mereka pun maju menghadang di depan kedua junjungan itu.

Sementara itu rombongan para buyut tadi telah tiba dan berhenti sekitar sepuluh langkah di hadapan rom- bongan Akuwu Uteran. Beberapa saat kedua rombongan itu hening. Yang terdengar hanyalah desah angin dan ringkikan kuda, serta kepakan umbul-umbul tertiup angin.

Kemudian Juru Wira Prakara agaknya tak kuat lagi, membentak, “Keparat kalian! Berani memasang umbul- umbul membangkang di hadapan sang Reta-Seta?”

“Kami memutuskan memisahkan diri dari Wilwa- tikta. Kalianlah sesungguhnya yang harus menurunkan umbul-umbul!” sahut Buyut Pagalan dengan galak dan memakai bahasa kasar.

“Wuah! Buyut Pagalan! Berani kau berkata seperti itu di hadapanku?” Tunggul Seloka kini tersinggung ju- ga.

“Kenapa tidak?! Semestinya, mulai sekarang kau yang menganggap aku sebagai junjunganmu, Tunggul Seloka!” sahut Buyut Pagalan berani.

“Weladalah! Jadi sudah kauputuskan untuk meng- adu kadigdayan dengan kami, huh, Buyut Pagalan?” ge- ram Tunggul Seloka, menggamit tombaknya.

Buyut Pagalan tertawa, melompat turun dari kuda- nya dan melambaikan gadanya. “Sudah wajar jika yang kuat menguasai yang lemah. Hayo, majulah kau, Tung- gul Seloka!”

“Keparat kau!” Tak tahan lagi Gara melompat maju, langsung membabatkan pedang. Tetapi sambil tertawa Buyut Pagalan telah berputar pada kakinya dan gada- nya yang terbuat dari besi menghajar keras pedang Ga- ra.

“Gusti Akuwu, biar hamba bereskan mereka!” Sora dan Kosa berseru hampir bersamaan dan menghambur maju menyerang buyut-buyut lain yang masih berada di atas kuda. Buyut Sumbing berseru terkejut. Kudanya mendompak keras ke atas karena dengan telak ujung tombak Sora berhasil menyambar, mengiris leher kuda itu.

“Keparat, kau!” Buyut Sumbing memaki dan lang- sung melompat menubruk ke arah Sora dengan masing- masing tangan menggenggam keris kembar. Sementara itu Buyut Tantram telah mendahului melompat turun dari kuda dan menyambut pedang Kosa dengan pedang pula.

“Hei, kalau begini... kau  lawan  aku,  hah?”  Gubar pun maju dan menudingkan pedangnya pada Roga yang berada di belakang Buyut Gitra.

“Eh, kau tidak menantang aku, kunyuk?” Buyut Gi- tra menahan Roga agar tidak maju. Dengan tenang buyut ini turun menguraikan senjata cambuknya yang bermatakan ujung keris. “Maju sini, biar aku sabet pan- tatmu beberapa kali!” Dan cambuknya betul-betul mele- sat melecut mengarah dada Gubar.

“Hmm, rame, rame....” Juru Wira Prakara memutar kudanya mundur, matanya menyipit mengawasi mereka yang sedang bertempur. Dan Jalak Katenggeng. Beta- papun naluri keprajuritannya mengatakan pastilah rombongan para buyut ini menyimpan sesuatu andalan. Dan yang aneh di antara mereka hanyalah orang berpa- kaian kasar ini.

Jalak Katenggeng seolah tak memperhatikan dirinya diperhatikan Juru Wira Prakara. Ia memperhatikan em- pat pasang orang yang sedang bertempur itu.

Gara lawan Buyut Pagalan. Buyut Pagalan setangguh senjatanya. Gada besinya lugas menghajar dan menge- jar, gerakannya yang patah-patah semua memiliki hawa penghancur dahsyat. Buyut ini agaknya merasa gembi- ra mendapat lawan setimpal. Dan memang pedang Gara begitu lincah. Begitu indah. Dan selalu mengancam.

Hampir tak terlihat Jalak Katenggeng menggelengkan kepala. Rota yang berada di sisinya menangkap kernyit di kening utusan Trang Galih itu. Diam-diam tangannya yang mengepal hulu pedang mencengkeram makin ke- ras.

“Kenapa, Rota?” bisik Jalak Katenggeng tanpa me- lirik.

“Gusti Buyut mestinya tidak mengikuti irama pe- dang,” gumam Rota. “Pedang itu bukan pedang pusaka. Sebaiknya dilabrak saja.”

“Aha!” Jalak Katenggeng manggut. “Pikiranmu tepat. Kau selalu mengutarakan pikiranmu  pada  Sang Buyut?”

“Jika beliau memintanya,” sahut Rota, seolah menye- sal berbicara terlalu banyak.

“Sayang. Semestinya beliau lebih sering mendengar- kanmu,” Jalak Katenggeng memperkeras suaranya. “Ba- gaimana tentang Buyut Sumbing?”

Rota diam.

“Rota, aku bertanya padamu!” bisik Jalak Kateng- geng.

“Kakang Roga lebih ahli dalam ulah tombak,” sahut Rota.

“Tapi dia diam. Dan kau yang kutanya,” sahut Jalak Katenggeng. “Tadi pun kau tak minta izin dia untuk menjawabku. Dan kurasa... sudah banyak hal yang kaulakukan tanpa minta persetujuan Roga. Ya, kan?”

Suara Jalak  Katenggeng  terasa  bernada  mengejek.

Rota mengertakkan gigi.

“Hamba tidak wajib menjawab pertanyaan Tuan. Hamba adalah bawahan Sang Buyut,” sahut Rota ge- ram.

“Ah, kau sungguh jeli. Kau tak mau memberi jawab- an karena kau yakin Buyut Sumbing akan roboh?” Sua- ra Jalak Katenggeng semakin mengejek.

Tetapi kata-kata itu terjadi. Tadinya Buyut Sumbing memang begitu gagah. Keris kembar di kedua tangannya gesit sekali mengiringi ge- rak ujung tombak yang bertangkai panjang itu. Namun Sora makin lama makin hebat gerak tombaknya. Sesaat berputar bagai baling-baling. Sesaat mengejar bagai ular. Dan Buyut Sumbing jadi terengah-engah. Dan mundur.

“Sang Buyut dari Sumbing terkenal dengan ulah jurit khas Hutan Sela. Ia pasti bisa menyelamatkan diri,” se- tengah kesal Rota berkata agak keras.

Dan agaknya kata-kata ini didengar oleh Buyut Sum- bing. Ia mengubah gerakannya. Kini badannya mem- bungkuk, gerakannya lebih merapat ke tanah hingga menyulitkan senjata panjang Sora.

Jalak Katenggeng tertawa.

“Matamu sungguh tajam, Prajurit. Tentang Buyut Tantram?” Jalak Katenggeng terus mengejar.

Juru Wira Prakara sementara itu tiba-tiba memper- oleh suatu pikiran aneh. Perang tanding memang ber- langsung seperti perang tanding. Tetapi orang asing itu agaknya tidak mau segera turun tangan karena... ya, mungkin ia sedang mengulur waktu!

Tapi... mengulur waktu untuk apa?

Sesaat ia memandang berkeliling. Di depannya ramai oleh bentakan dan entakan mereka yang sedang ber- tempur. Di pihak ‘sana’ yang tidak bertempur tinggal sekitar dua puluh orang prajurit. Mereka dalam kea- daan menunggu. Dua puluh orang! Mungkinkah?

Tak terasa Juru Wira Prakara berpaling ke arah garis hutan jauh di belakangnya. Di sana memang terdapat pasukan utama dari Uteran, yang siap menyerbu jika ia memberi tanda. Mengapa musuh hanya membawa se- jumlah sangat kecil pasukan?

Tiba-tiba ia merinding. Mungkin musuh memang mengulur waktu. Pasukan mereka yang lebih besar akan secara sembunyi menyu- sup hutan untuk menyergap pasukan dari Uteran dan Wilwatikta yang tersembunyi di hutan!

“Akuwu! Tunggu apa lagi. Hayo, habiskan mereka!” Juru Wira Prakara tiba-tiba mengentak kudanya, me- nerjang langsung ke arah Jalak Katenggeng.

“Biar hamba, Gusti!” Akuwu Tunggul Seloka berte- riak mencegah. Namun terlihat ketangkasan Sang Juru dalam berkuda. Kedua tangannya tak lagi mengenda- likan kuda itu. Dan sang kuda agaknya sudah begitu terlatih hingga terjangannya terarah—menumbangkan musuh atau memberi kesempatan bagi tuannya untuk mempergunakan senjatanya. Senjata Juru Wira Prakara sendiri juga khas—sebilah pedang yang berwarna kehi- jauan di tangan kanan, dan perisai dengan mata tom- bak di tengah lingkaran permukaannya.

Sekali terjang, Rota dan Roga melompat serentak ke pinggir. Dan Rota langsung dicecar sambaran pedang hijau yang menyinarkan bau harum itu, sementara dengan mudah serangan Roga ditangkis dengan perisai yang sekali-sekali bahkan ikut menyerang!

“Kau mengantar nyawa, Orang Wilwatikta!” Jalak Ka- tenggeng tertawa. Dengan sekali gerak ia melepaskan kain yang tadi melilit pinggangnya. Kini ia hanya berca- wat. Dan kainnya tadi diputarnya di atas kepalanya.

“Jangan kurang ajar!” Saat itu Tunggul Seloka me- nyerbu masuk dengan tombaknya. Tombak berujung logam kemerahan itu sudah begitu terkenal sebagai pe- nakluk musuh. Tanpa banyak bunga-bunga tombak itu pun langsung ke dada Jalak Katenggeng.

Jalak Katenggeng membuat gerakan yang menyebab- kan Juru Wira Prakara tertegun.

Dua langkah  ke  kiri,  sekali  memutar  tubuh  dan mundur selangkah untuk maju dua langkah lagi. Agak lucu. Karena itulah Juru Wira Prakara ingat sekali. Itu langkah Ra Sindura dulu!

Dengan gerakan tadi, Jalak Katenggeng lolos dari tombak Tunggul Seloka, lolos dari terjangan kuda Juru Wira Prakara, lolos dari sambaran si pedang hijau, dan

... kainnya langsung melibat kaki depan kuda Sang Ju- ru!

Juru Wira Prakara menjerit. Kudanya bagaikan di- sambar kekuatan dahsyat. Meringkik keras dan terem- pas hebat! Juru Wira Prakara sendiri telah melompat dan mengguling pergi. Tanah tempat dia jatuh berde- bum mengepulkan debu oleh hantaman ujung kain Ja- lak Katenggeng. Juru Wira berguling cepat ke kiri, pe- dang hijaunya langsung menebas Rota. Rota tenang me- lompat dan balas menyerang Sang Juru yang masih ter- geletak di tanah.

Tombak Tunggul Seloka menderu berputar beralih mangsa. Tangan Rota bergetar nyeri saat pedangnya di- hantam tombak itu. Dan secepat kilat ujungnya pun ti- ba-tiba meluncur ke arah dada Rota.

“Huh!” Tiba-tiba saja Jalak Katenggeng menggeram dan kainnya menghantam tombak Tunggul Seloka. Rota sesungguhnya sudah menerima nasib. Sambaran tom- bak itu begitu deras dan kuat. Takkan mungkin ditang- kis! Namun sungguh ajaib. Kain Jalak Katenggeng agak- nya lebih tangguh. Tombak itu terhantam pergi dan Ro- ta tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Pedangnya me- luncur cepat menyusur batang tombak serta langsung terhunjam di pangkal lengan Akuwu Tunggul Seloka.

Akuwu itu tampak tertegun sesaat. Memandang tak percaya pada pedang yang tertancap di tubuhnya. Ke- mudian ia terhuyung roboh.

“Hei! Hentikan pertempuran! Akuwu Tunggul Seloka telah tewas!” Jalak Katenggeng berteriak nyaring.

Semua memang kemudian tertegun. Berhenti. Ber- paling.

“Duh, Gusti!” terdengar seru Gara perlahan. Dan ti- ba-tiba ia kalap. Buyut Pagalan yang juga tertegun, tak melihat gelagat. Gara menebas dengan pedangnya. Dan Buyut Pagalan pun roboh dengan dada terbelah.

“Amuk! Bela gugurnya Sang Akuwu!” pekik Gara, menghambur menyerbu Jalak Katenggeng.

“Hei, kau pun harus mampus!” pekik Rota dan Roga bersamaan, melihat Buyut Pagalan roboh. Tebasan pe- dang mereka berdua menghadang Gara. Tapi Gara me- lompat menghindar untuk langsung menubruk Jalak Katenggeng.

“Hah, dengar dulu! Dengar, Para prajurit Uteran!” Ja- lak Katenggeng berteriak lagi, sementara kainnya di- putarkannya melibat pedang Gara. “Berhenti! Tak ada gunanya kalian bertempur!”

“Hah. Bagi prajurit Wilwatikta, tak ada kata tak ber- guna jika untuk membela negara!” geram Juru Wira Prakara bangkit. “Kau yang tak tahu besarnya langit perkasanya Mahameru Biar kau bisa bergerak segesit

burung branjangan, kau yang hanya beberapa gelintir ini bisa berbuat apa lawan barisan pendam kami, hah?” Geram pedang hijaunya ditebaskan pada Jalak Kateng- geng.

Kembali Jalak Katenggeng mempertontonkan lang- kah-langkah anehnya, dan ia tertawa. “Barisan pendam mana yang kaumaksud, Juru. Lihat hutan tempat bari- sanmu bersembunyi... mungkinkah bala bantuan itu yang kaumaksud?”

Ada nada tertawa di ucapan Jalak Katenggeng. Tak terasa Juru Wira Prakara menoleh. Demikian pula yang lain. Hutan di kejauhan itu sepi. Terlalu sepi. Para praju- rit yang tadi ada di sana tampak terkapar di tanah. Dari jarak sejauh ini, mereka tampak tidur.

“Mereka takkan bisa membantumu, Juru. Lebih baik kau bergabung saja dengan kami,” kata Jalak Kateng- geng.

Sunyi sekali kemudian. Orang-orang Uteran dan Wilwatikta. Apakah... orang-orang itu... telah... tewas?

Tidak. Atau... setidak-tidaknya belum semua. Sebab tiba-tiba dari balik pepohonan hutan sepucuk umbul- umbul berwarna merah dan putih, muncul!

“Ah!” seru Juru Wira Prakara lega. “Lihatlah... sang Reta-Seta masih berdiri!” Dan Sang Juru yang bertubuh bundar gempal itu tertawa terkial-kial. Jalak Kateng- geng sesaat tampak mengernyitkan keningnya. Ada se- suatu yang tak beres di sana. Mestinya bukan Sang Re- ta-Seta yang muncul. Tetapi bendera merah tanda be- rontak.

“Hayo! Kau saja yang menyerah, Orang gila! Mungkin bisa kaupilih cara matimu nanti!” kata Sang Juru.

Tiba-tiba saja, Rota bertindak. Ia tak tahu siasat apa yang sedang dilakukan Jalak Katenggeng. Tetapi agak- nya siasat itu gagal. Dan di depan kakinya tergeletak buyutnya. Bermandikan darah. Tak bernapas.

“Mati untuk Sang Buyut!” Rota berteriak, dan dengan beringas ia menyerbu Juru Wira Prakara.

Juru Wira Prakara tentu saja waspada terhadap se- rangan gelap macam ini. Perutnya seakan dipasangkan- nya untuk menjadi sasaran empuk pedang Rota. Tetapi sebelum pedang Rota sampai pedang hijaunya telah menyambar. Rota sampai menjerit keras. Saat itu, se- mua orang telah bergerak lagi. Dan Jalak Katenggeng menghantam pedang Juru Wira dengan kainnya. Dan kini ia mengamuk dengan hebat. Ia tak melulu melayani seorang lawan. Dengan gerakannya yang aneh seolah ia berada di semua tempat, membantu para buyut yang mungkin sedang tertekan atau menggebuk lawan yang lengah. Jeritan-jeritan maut terdengar. Akhirnya sunyi kembali.

“Bagaimana, Juru?”

Suara itu adalah suara Jalak Katenggeng.

Kembali, makin banyak tubuh bergelimpangan. Yang berdiri hanyalah orang-orang yang berontak. Dan Juru Wira Prakara yang masih memegang pedang namun da- ri tubuhnya mengucur darah dari beberapa tempat.

“Kau belum membunuh ksatria Wilwatikta. Kau ma- sih punya kesempatan bertobat dan diampuni,” sahut Juru Wira Prakara tersengal-sengal. “Juga...  siapa  pun di belakangmu... terutama yang gerakannya seperti ka- mu itu... sungguh menjijikkan...,” Juru Wira Prakara berbicara kacau bagai orang demam.

“Kau tidak paham. Kau yang harus menyerah!” kata Jalak Katenggeng.

“Tidak!” Perlahan Juru Wira Prakara mengangkat pe- dang hijaunya. “Juga kalian semua... kembalilah takluk pada wibawa.... Wilwatiktaaaaaaaaaa!” sambil menjerit keras Juru Wira Prakara menyerbu Jalak Katenggeng. Tapi baru berjalan dua langkah, pedang Rota telah membabatnya dari belakang. Dan ia terguling tumbang.

Sunyi lagi.

Semua yang ada memandang pada Jalak Kateng- geng.

Jalak Katenggeng sendiri merenungi hutan di kejau- han. Apa yang terjadi di sana? Umbul-umbul Reta-Seta yang tadi berdiri megah di antara pepohonan, entah se- jak kapan telah lenyap. Apakah tadi memang ada praju- rit Wilwatikta yang masih hidup? Dan, ya, mengapa orang-orangnya tidak muncul. Mungkinkah mereka se- mua tewas? Atau... yah, mungkin di sana juga ada per- tempuran habis-habisan. Dan ada seorang prajurit yang masih hidup. Namun kini mungkin melarikan diri saat melihat apa yang terjadi di tengah lapangan ini. Me- mang, jika pimpinan telah tiada, dan ia hanya sendiri, mau apa lagi? Yang jelas, memasuki hutan itu saat ini mungkin kurang bijaksana. Biarlah ia menunggu bebe- rapa saat, apa yang akan terjadi.

Roga akhirnya memberanikan diri bertanya, “Tuan... lalu kami bagaimana?”

Jalak Katenggeng tersentak dari renungannya.

“Ah, ya. Kalian memang bukan pemimpin. Hanya pe- mimpi!” Ia berpaling memandangi para buyut itu satu per satu. Mereka gelisah. Mungkin pikiran untuk beron- tak sesungguhnya tak ada pada mereka. Mungkin ha- nya karena desakan Buyut Pagalan saja. Dan kini me- reka ketakutan. Hanya satu yang dilihatnya tak terpen- garuh. Bahkan mungkin ia sedang melamun. Rota, pen- gawal Buyut Pagalan. Laki-laki itu malah bermain tanah dengan jari kakinya. Dan menghela napas panjang.

“Kalian harus punya pemimpin. Pertempuran terbu- ka tak bisa dihindarkan. Siapa yang akan kalian pilih?” tanya Jalak Katenggeng.

Para buyut itu saling pandang sesaat. Kemudian tunduk lagi. Dan Rota saja yang mengangkat muka, me- lihat ke arah perbukitan yang menyembunyikan jurang Kali Putih.

“Ah, rasanya tak ada di antara kalian yang berani ja- di pemimpin?” tanya Jalak Katenggeng. Bahasanya su- dah kasar. Lagunya melecehkan. Namun tak ada yang tersinggung. Semua sudah tahu kehebatannya.

“Baiklah. Kukatakan di sini, kemenangan kali ini adalah kemenangan besar. Trang Galih tidak akan me- nyia-nyiakan kemenangan ini. Kami akan segera mengi- rim pasukan ke sini. Nah, siapa yang mau jadi pimpi- nan di sini?”

Tak ada yang menjawab. Satu per satu Jalak Ka- tenggeng menatap wajah-wajah di depannya. Dan satu per satu orang-orang itu menundukkan muka, kalah wibawa. Tapi ada seorang yang tak berkedip meman- dangnya. Rota.

Rota sesungguhnya memandangi perbukitan jauh di belakang Jalak Katenggeng. Perbukitan yang menyem- bunyikan Kali Putih. Pandangannya kosong. Namun ia tak berkedip membalas pandangan Jalak Katenggeng.

“Kau... kau pengawal Buyut Pagalan, bukan?” tiba- tiba Jalak Katenggeng bertanya hampir membentak.

“Hhhah?” Sesaat Rota tersentak dari lamunannya. “Tuan berbicara padaku?”

“Ya, benar. Majikanmu tewas. Apa yang ingin kau- lakukan?” tanya Jalak Katenggeng.

“Mungkin aku akan membalas dendam,” kata Rota lemah dan perlahan berjalan mendekati mayat Buyut Pagalan. Jalak Katenggeng mengikuti langkahnya.

“Tapi pada siapa?” Rota bergumam, membersihkan tubuh bekas majikannya. “Mereka yang bertanggung jawab atas kematiannya sudah tewas semua.”

“Kau bisa meneruskan cita-citanya,” kata Jalak Ka- tenggeng.

“Cita-citanya hanyalah impiannya. Bagaimana aku harus meneruskan impian orang lain?”

“Cita-citanya adalah keinginan untuk meluaskan ke- kuasaan, meluhurkan namanya. ”

“Aku tak berniat untuk itu,” sahut Rota.

“Bagaimana kalau kau kuangkat menjadi akuwu daerah ini?”

Pertanyaan itu bagaikan petir menyambar di tengah hari bolong. “Ah, kedudukan hanyalah sementara saja. Dan ke- dudukan hanyalah kesepakatan dari rakyat. Aku tak mau semua itu.”

“Aku suka kejujuranmu. Itu kaumiliki lebih besar dari yang dimiliki lainnya. Aku makin yakin, kau pantas jadi akuwu di daerah ini.”

“Tunggu, Tuan. Tuan tak berhak mengangkatku menjadi apa pun. Masih banyak yang lebih berhak.”

“Lihat saja. Apakah ada yang tidak setuju?”

Hening. Mata Rota heran memandang berkeliling. Orang-orang gagah itu tampak kuyu. Dan Jalak Ka- tenggeng begitu perkasa mengawasi mereka, sebelah tangan bertolak pinggang, tangan yang lain menyangga dagu.

“Bagaimana? Ada yang tidak setuju?” tanya Jalak Katenggeng lagi. Membentak dengan halus.

Tiba-tiba para buyut yang tersisa itu menekuk lutut, bersimpuh dan menyembah pada Rota.

“Hei, hei, maaf... tunggu, Tuan-tuan...,” Rota begitu gugup. “Kakang Roga... jangan!” serunya pada sahabat- nya yang terakhir menunduk berlutut.

“Tuan-tuan... Sang Buyut junjunganku... jangan berbuat begitu... aku tak berani menerima sembah Tuan-tuan semua!!” Rota berusaha mencegah terus.

“Mereka mengakuimu sebagai pimpinan. Dan itu tak bisa kauubah lagi.” Jalak Katenggeng tersenyum. “Lebih baik terima sajalah kehormatan ini.”

“Tidak, tidak... Tuan-tuan keliru   ”

“Mereka hanya akan mendengarkan perintahmu, bu- kan permohonanmu,” tukas Jalak Katenggeng.

“Kalau begitu, kuperintahkan Tuan-tuan berdiri dan jangan menganggap diriku sebagai apa pun!” Rota ham- pir berteriak.

“Perintah takkan mereka penuhi,” kata Jalak Ka- tenggeng.

“Tidak! Pokoknya tidak!” Rota hampir putus asa. De- ngan mata menyala ia menatap Jalak Katenggeng. Jalak Katenggeng tertawa. “Ayolah. Serang aku. Dan aku tak- kan melawan. Jika aku tewas di tanganmu, hormat me- reka padamu akan melangit!”

“Tapi... aku tak ingin jadi apa pun!” teriak Rota. “Sang Rajasa dahulu mungkin juga berkata begitu...”

Tenang Jalak Katenggeng mendekati kudanya. “Toh ak- hirnya beliau menurunkan raja-raja besar di tanah Ja- wa.”

Rota kehabisan kata-kata, terpukau memperhatikan Jalak Katenggeng menaiki kudanya. “Aku akan segera kembali, membawa bantuan yang Tuan perlukan, Aku- wu.”

“Tuan takkan bisa mencegahku menyerahkan diri pada Wilwatikta!” seru Rota.

“Tentu. Tapi aku yakin, Tuan takkan melakukan itu.” Jalak Katenggeng memutar kudanya. Memperhatikan para buyut itu. Kemudian ia mengangguk. Memacu ku- danya menuju hutan.

Lama sekali Rota berdiri termenung. Sementara para buyut dan Roga masih mematung menunduk, bersim- puh.

Begitu besar perubahan kejadian ini. Buyut Pagalan tewas. Si Rebeg lenyap. Ah. Dan mungkin pemuda itu adalah anaknya! Dan... kini... dia jadi akuwu? Begitu gampang? Apakah ini bukan hanya mimpi?

“Kakang Roga...,” ucapnya perlahan, tak sengaja. “Daulat, Junjungan....” Roga betul-betul menyem-

bah!

“Kau jangan mempermainkan aku!” dengus Rota. “Kehendak dewata juga yang mempermainkan Tuan,

Junjungan,” sembah Roga. “Dan hamba akan mengikuti apa yang digariskan dewata.”

“Maksudmu... kau akan menganggap aku sebagai... akuwumu?” tanya Rota perlahan.

“Benar, Junjungan.”

“Apakah semua orang akan menerima itu?”

“Anggap saja itu sebagai cobaan dewata, Junjungan. Hamba akan menjunjung segala titah Tuan. Tapi kalau kemudian, ada yang tidak setuju, dan Tuan jatuh dari kedudukan itu... maka itulah bukti bahwa dewata telah mengambil kembali kurnia pada Tuan.”

“Ah, kau benar.” Tiba-tiba Rota tampak begitu lega. “Kau benar. Kita anggap ini suatu ujian. Dan aku akan mencoba untuk kalah. Aku akan berbuat banyaaak hal yang menyalahi peraturan. Biar dewata murka. Biar manusia-manusia memusuhiku. Biar aku terbangun dari mimpi ini.”

“Hamba tentu setuju, Junjungan,” Roga menyembah rendah.

“Para buyut juga setuju? Katakanlah terus terang. Satu saja di antara Tuan menyatakan ragu, aku rela mundur saat ini,” kata Rota memandang para buyut.

“Hamba setuju,” sembah buyut Tantram. “Hamba setuju,” sembah buyut Sumbing. “Hamba setuju,” sembah buyut Gitra.

“Junjungan, Tuan perintahkan apa saja pada  ham- ba, dan hamba akan buktikan bahwa kesetiaan hamba bukan di mulut saja. Misalnya,” Roga tersenyum, “boleh Paduka perintahkan agar hamba loncat ke Kali Putih. Dan itu pasti hamba lakukan.”

“Sungguh?” Tiba-tiba mata Rota bersinar tajam. “Itu suatu cara menguji yang tepat sekali, Kakang Roga. Sungguh usul bagus!”

“Jadi Paduka akan menitahkan hamba meloncat ke Kali Putih?” Roga agak mengernyitkan kening. “Ya,” jawab Rota tegas. Matanya tajam memandang Roga. Para buyut pun tegang memandang Roga.

“Baiklah. Jika itu yang Paduka perintahkan, maka tentu hamba akan melakukannya,” kata Roga kemu- dian.

“Bagus. Sementara itu... Buyut Tantram dan Sum- bing... kalian cepat pulang dan bawa pasukan besar menghadang di Bukit Rambut. Kurasa Uteran akan se- gera mengirimkan pasukan penumpas. Buyut Gitra... kauambil pasukanmu untuk mengawalku.” Ia terme- nung merenungi Jalak Katenggeng yang di kejauhan tampak telah memasuki hutan. “Kalian goblok semua,” gumamnya. “Dengan dukungan orang seperti dia, se- mua orang bisa jadi akuwu. Bahkan lebih dari itu. Tapi kalian tak mau menggunakan kesempatan itu.” Ia ber- henti sejenak. “Entah apa yang terjadi di sana. Hanya aku yakin, apa pun pasti akan bisa dibereskannya. Ka- renanya... kalau kelak kita menyerang ke Uteran, maka Uteran akan menerima kita sebagai penguasa baru. Dan namaku akan berbunyi... Tunggul Reta... untuk men- gingat banjir darah merah di padang ini. Ayo!”

3. PANEMBAHAN MEGATRUH

JALAK KATENGGENG berhenti di tepi hutan. Di sini memang telah tampak beberapa tubuh bergelimpangan. Tak ada yang dikenalnya. Ia pun masuk hutan.

Hutan itu hanya hutan kecil. Pepohonannya tidak begitu rapat, walaupun memang tumbuh besar bagai raksasa. Suasana memang remang-remang oleh rim- bunnya dedaunan. Namun tidak terlalu menyeramkan.

Jalak Katenggeng menjalankan kudanya perlahan di antara semak-semak dan pepohonan besar.

Ia tak  pernah  merasa  takut.  Namun  tiba-tiba  saja dadanya serasa berdebar keras. Bukan oleh beberapa sosok tubuh yang terbujur di antara pepohonan itu dan dikenalnya sebagai bagian dari pasukan sandi yang se- lalu mengiringinya. Tetapi oleh bau wangi kayu cendana yang tiba-tiba menusuk hidung.

“Dewata melahirkanmu di bumi ini, di sini....” Tiba- tiba suara itu seakan begitu saja menembus otaknya. Seolah bukan lewat telinga. Tapi seperti sesuatu pikiran yang muncul mendadak. “Dan bumi ini memberimu makan... memberimu hidup ”

Blingsatan Jalak Katenggeng melirik ke kiri dan ke kanan.

“Dewata juga memberimu raja.  Serta  pemerintah- an ” Heran. Apakah ia memikirkan ini, atau seseorang

berbicara padanya.

“Selama bumi ini masih menghidupimu   selama ra-

jamu masih melindungimu... mengapa kau mencoba merusak tatanan jagat?”

“Siapa kau?” Jalak Katenggeng berseru parau. “Apakah kau percaya jika kukatakan bahwa aku ka-

ta hatimu?” suara itu seolah begitu saja terngiang da- lam hatinya.

“Aku takkan selicik kau... tak berani menampakkan diri....” Jalak Katenggeng diam-diam mengerahkan ke- kuatan dalamnya.

“Jelas. Jadi... kauakui kau jauh lebih licik dari aku

....” Suara itu seolah tertawa. Kemudian bernada sedih. “Kau telah mencuri ilmu, itu bisa kumengerti. Tetapi kau mengorbankan orang-orangmu untuk mati    itu

membuatku sedih. Lebih sedih lagi     kau seolah bang-

ga akan siasatmu.”

“Mereka prajurit. Mati di medan laga adalah bangga. Dan... bukankah kau yang membunuh mereka? Lalu...

mengapa kau seolah tak berdosa? Bahkan kuyakin kau membunuh mereka dari persembunyianmu!”

“Untuk apa aku berdebat denganmu?! Pencuri kecil seperti engkau, mana bisa mendapat anugerah untuk bertemu denganku? Aku tidak takabur. Memang begitu- lah keadaannya. Jika orang yang mengajari ilmumu itu memperolehnya dari jalan yang lurus, maka suatu saat engkau pasti takluk dan bertobat, karena ilmuku bu- kanlah ilmu sesat. Jika orang yang mengajarimu me- mang berniat jahat, kau dan dia akan hancur. Aku sa- ma sekali tak usah bertindak. Katakan saja pada guru- mu. Kau telah mendengar suara Megatruh.”

Dan tiba-tiba, suasana sunyi mencekam. Jalak Ka- tenggeng merasa bahwa siapa pun orang yang berbicara tadi—entah orang, entah gandarwa—telah pergi.

Megatruh. Suara itu tadi menyebut nama tersebut. Dan nama ini pernah didengarnya di Trang Galih. Tidak secara langsung, memang. Sekali pernah didengarnya dari Ratu Sepuh. Sekali dari Sang Nagabisikan sendiri. Dan semuanya berkenaan dengan ilmu yang dipelaja- rinya.

Jalak Katenggeng memperhatikan tangannya dengan kedua tinju terkepal keras. Ia merasa dirinya begitu he- bat. Dengan lambaran ajiannya, pukulan yang dilontar- kannya akan membawa perbawa panas yang hebat. Bahkan pernah dilihatnya Sang Nagabisikan membakar batu karang dengan pukulan dahsyatnya. Apakah ini ilmu curian? Jika ya, bisa dibayangkan kehebatan ilmu aslinya.

Dan orang yang bernama Megatruh itu.

Kembali bulu kuduknya berdiri. Ditendangnya perut kudanya dengan tumit. Dan kuda itu berjalan perlahan. Ke mana?

Semestinya ia harus ke Uteran. Dengan pasukan sandinya. Dan membuat kacau di sana hingga para buyut nantinya leluasa menyerbu ke sana.

Tapi... tiba-tiba jantungnya serasa berhenti berdetak. Entah bagaimana, sekitar sepuluh langkah dari tempat- nya berada, seorang lelaki tua berpakaian hanya lilitan kain putih di tubuh, berdiri memandangnya.

Orang itu masih cukup jauh. Di balik semak-semak lagi. Tetapi pandangannya begitu tajam, seolah menem- bus dada Jalak Katenggeng.

Apakah orang ini... Megatruh?

“Siapa kau?” tanya Jalak Katenggeng memberanikan diri, perlahan turun dari kuda.

“Ternyata bukan kau...,” orang tua itu seolah berbi- sik.

“Sss... siapa?” tanya Jalak Katenggeng lagi. Dia agak lega. Jelas orang ini bukan orang yang suaranya dide- ngarnya tadi. Kalau tidak, mengapa ia tampak ragu- ragu?

“Tidak... bukan kau yang memancarkan keharuman ini....” Orang tua itu tampak menghela napas panjang, dan berpaling. Tapi orang itu agaknya sejenak ragu. Mengernyitkan alisnya yang putih dan memandang lagi pada Jalak Katenggeng.

“Mengapa kau ada di sini?” si orang tua bertanya. “Kenapa?”

“Apa hubunganmu dengan orang-orang yang ber- sembunyi serta kemudian membunuh orang-orang Wil- watikta?”

“Mengapa kau bertanya?”

“Sebab... aku yang membunuh mereka. Memang bu- kan urusanku. Tapi aku tak rela ada orang dibunuh se- cara sembunyi-sembunyi. Nah, apa hubunganmu de- ngan mereka?”

“Kaubunuh?” Jalak Katenggeng bertanya heran. Orang itu begitu kurus hingga menginjak kotoran pun rasanya tak akan gepeng.

“Sesungguhnya aku tak tega. Dan aku tahu itu ber- dosa. Aku terlalu terlibat dengan perasaan duniaku ”

Orang itu betul-betul menunduk, mengeluh. “Aku sung- guh berdosa... dan patut dihukum dengan hukuman dewata yang terberat ”

“Apakah... apakah dosamu itu... jika aku boleh ber- tanya?” Jalak Katenggeng merasa lebih baik ia meng- ulur waktu. entah untuk apa.

“Pertama, aku telah marah,” orang itu berkata sedih. “Marah?” Jalak Katenggeng benar-benar heran. “Kau

... seorang brahmana?” Matanya mengernyit memper- hatikan orang di depannya, mencari tanda-tanda kasta brahmana. Namun tanda-tanda itu tak ada.

“Kedua, aku meninggalkan kebrahmanaanku, dan lebih berpikir bagai seorang ksatria. aku tak rela nega-

raku dirongrong orang.  ”

“Ah... kurasa dosa itu tak begitu besar. Malahan, mungkin bukan dosa. Bagaimana kau bisa merasa pas- ti?”

“Keluarga besarku porak-poranda. Dan aku marah. Kulihat orang membunuh prajurit Wilwatikta. Dan aku ingin juga membunuh. Aku begitu malu pada diriku.”

“Aku tak tahu apa-apa tentang ini. Mungkin kau ha- rus melakukan upacara sesuatu.”

“Ya. Aku harus berkorban. Aku harus mengorbankan semua yang kuanggap merongrong Wilwatikta. Terma- suk kau!”

“Apa... apa maksudmu?” Entah kenapa,  di dada Ja- lak Katenggeng kini timbul rasa takut lagi. Padahal orang tua itu tampak sabar sekali. Dan lemah.

“Kau memusuhi  Wilwatikta.  Jadi  kau  musuhku.

Ikutlah aku  ”

“Untuk apa...  dan  kau  siapa?”  Jalak  Katenggeng menggeser kaki memasang kuda-kuda.

“Untuk sasaran latihan. Aku baru dapat murid baru.

Ia tak punya lawan tanding. Ikutlah aku.” “Kau gila!”

Tiba-tiba tangan orang tua itu meluncur. Masih jauh, tadinya. Dan Jalak Katenggeng tadinya tak hendak ber- gerak. Tetapi mendadak saja tangan orang itu ternyata begitu dekat dengan mukanya. Sekilas Jalak Kateng- geng melihat gerakan kaki si orang tua. Inilah gerakan menggeser tubuh yang juga dipelajarinya. Hanya yang ini begitu sempurna. Si tua sama sekali tak tampak bergerak!

Putus asa Jalak Katenggeng menghantam tangan itu sambil menggeser kakinya pula.

Pukulannya mengena angin, sedang mendadak saja rambutnya tercengkeram dan dientak. Hawa panas membuatnya langsung pingsan.

4. DI DASAR KALI PUTIH

TEMPAT itu begitu jauh di kedalaman bumi, tertutup pula oleh rimbunnya semak-semak di dinding tebing ju- rang, hingga memang dari atas tak tampak.

Kali Putih hanya sebuah kali kecil, deras di antara padas. Ada ruang terbuka sedikit. Dan beberapa tulang kerangka manusia melumut. Tempat ini memang tepat di bawah Karang Bajul Putih. Beberapa orang memang telah ada yang melompat dari atas sana. Dan hancur.

Tidak Tun Kumala.

Ia kini duduk di batu menekap muka.

Di belakangnya, di dalam ceruk di dinding batu ter- baring seseorang dengan tubuh hampir penuh dibebat kain dan bau obat-obatan menusuk hidung. Orang itu terbalut hampir rata, dari ujung kaki ke ujung kepala. Hanya hidung dan mulutnya yang tampak. Dan ini me- nunjukkan bahwa orang itu wanita. Kulitnya kehita- man. Lembut. Mungkin cantik. Dan Tun Kumala— sebagai Rara Sindu—seakan pernah melihatnya.

Ia sendiri hampir tak tahu apa yang terjadi. Ia jatuh dari atas sana. Jauh di tempat yang dari sini hanya me- rupakan satu titik biru di tengah kegelapan yang mirip gua. Dia jatuh bersama Rebeg. Teki. Dan Dadap.

Entah bagaimana, ia selamat. Ditolong oleh  orang tua itu. Tetapi si orang tua hanya bisa menangkap diri- nya. Yang lain, katanya, tidak tertangkap. Tewas.

Ia tak habis berpikir. Orang di atas itu, mungkin per- lu membunuh dia. Mungkin mereka sudah  tahu  ia orang Wilwatikta. Tetapi kenapa Rebeg dan lainnya ha- rus dibunuh juga?

Lalu, kalau memang ia harus dibunuh, mengapa ha- rus dibuang ke tempat ini?

Siapakah orang tua itu?

Ia belum sempat bicara. Orang itu sudah pergi. Tidak. Tahu-tahu si orang tua telah berada di situ.

Menyeret sebuah tubuh.

Tun Kumala ketakutan segera berdiri.

Orang tua itu lama memandangnya. Kemudian ia memeriksa wanita yang dibalut-balut itu.

“Dia sadar?” tanya si tua kemudian.

“Dia... dia minta air...,” Tun Kumala tergagap. “Kauberi?” Si tua mengernyitkan kening. “Aku... aku tak berani... lancang ”

“Hm. Bagus. Ia memang tak boleh terkena air. Sa- yang obat-obatan yang ada di daerah sini semua tak memadai. Tak ada gunanya kucuri,” orang tua itu ber- sungut-sungut.

“Si... siapakah  Tuan?” Tun Kumala memberanikan

diri. “Untuk apa kau tahu? Mungkin kau menyesaliku ka- rena bunuh dirimu tak terlaksana.”

“Aku bukan bunuh diri. Aku didorong oleh seseo- rang. Kami semua....” Tun Kumala menundukkan ke- pala.

“Semua temanmu tewas. Atau... mungkin lawanmu juga ikut jatuh? Dua perempuan. Satu lelaki. Itu yang tewas. Aku heran juga. Kalau kalian bunuh diri bersa- ma... sungguh kecewa tiga wanita membelai kematian pria yang hanya seperti itu.”

“Hanya seperti itu bagaimana? Eh... jadi... Tuan tahu aku... wanita?” Gugup Tun Kumala memperhatikan pa- kaiannya. Masih rapi, walaupun sobek di sana-sini.

“Tak sulit menerka kau wanita, walaupun aku tak usah membuka pakaianmu.” Si tua berpaling, dan me- nengadah ke kegelapan di atas mereka.

“Terima kasih.” Tun Kumala menunduk tersipu. “Sedang lelaki itu... tadinya dia juga kukira perem-

puan.”

“Ah. Tetapi ia punya selera seni tinggi... walaupun ya... sangat tak terpelajar....” Tun Kumala masih me- nunduk. Dan terpandang olehnya orang yang dibawa si tua tadi. Dan ia terkejut. “Heh?”

“Kenapa? Kau kenal dia?”

“Dia juga jatuh dari... atas sana?”

“Tidak. Aku yang membawanya dari hutan kecil per- batasan Uteran.”

“Dia... pembantu para pemberontak itu....”  Sesaat Tun Kumala terkejut sendiri dan matanya terbelalak memandang si tua.

“Kenapa?”

“Aku belum tahu siapa Tuan ”

“Aku juga belum tahu siapa kau. Dan aku tak ber- tanya.” Si tua duduk di tanah kini. Bersila dalam suatu sikap doa dan memejamkan mata.

Keheranan Tun Kumala memperhatikannya. Tak la- ma. Si tua membuka mata dan menggelengkan kepala.

“Tak berguna, tak berguna, tak berguna...,” gumam- nya.

“Apa yang tak berguna?” tanya Tun Kumala.

“Aku orang yang gagal...,” si tua terus bergumam, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Sangat gagal...”

“Maaf, apakah Tuan seorang... guru?” Tun Kumala ragu-ragu.

“Tak ada gunanya. Semua yang ada padaku dulu ha- nya mirip pakaian. Yang bisa robek. Dan kini aku com- pang-camping.” Tiba-tiba si tua seakan menggigil. Ma- tanya terbelalak dan seakan dipaksa untuk dipejamkan. Dan ia pun berteriak-teriak. “Tidak! Aku tak berguna... aku tak layak jadi manusia... aku tak layak jadi manu- siaaaaaa!” teriakannya tiba-tiba mengentak dahsyat. Tun Kumala merasa dadanya bagaikan disodok kekuat- an dahsyat dan ia menjerit terpental membentur tebing.

Si tua semakin menggila. Mendadak melompat berdi- ri, pasang kuda-kuda dan dengan gerakan gesit yang menimbulkan badai ia menendang dan menghantam ki- ri-kanan.

“Jangaaan!” jerit Tun Kumala. Gugup ia berlari menghindar. Kakinya terantuk batu dan ia tercebur ke dalam kali. Ia tak berani segera keluar dari kali itu. Si tua seolah mengepungnya dengan pukulan-pukulan dahsyat dan tendangan hebat. Hawa pukulan bersim- pang-siur, dan ia terpaksa harus terus menunduk me- rendamkan kepalanya.

Sekali-sekali ia memang harus megap-megap menge- luarkan kepala dari air. Dan ia bagaikan tersambar ha- wa panas yang dahsyat mengepungnya.

Ada yang membuatnya lebih terkejut. Gerakan dan tata gerak orang tua itu. Sangat mirip dengan tata gerak yang biasa dilatih oleh kakaknya, Ra Sindura.

Heran.

Agaknya semua yang memiliki ilmu ini gila, sungut Tun Kumala saat ia kembali menenggelamkan kepala- nya. Wanita di hutan itu. Orang tua ini. Dan ya, kakak- nya sendiri.

Ia menjulurkan kepalanya lagi. He. Kok tenang?

Dia makin keluar. Ah, orang tua itu ternyata sedang terduduk. Dan menangis mengguguk.

Sesaat Tun Kumala diam. Ragu-ragu. Tapi ya.  Tak ada pukulan dahsyat lagi. Hanya suara tangis penuh penyesalan itu. Perlahan Tun Kumala keluar dari air. Sesaat ia berdiri dengan badan dan pakaian basah kuyup di tepi kali. Si tua itu terus menangis menggu- guk. Sementara orang yang tadi dibawa si tua tetap ter- baring tak bergerak.

Apa yang terjadi?

Perlahan Tun Kumala melangkah mendekat. Seluruh bajunya memang basah kuyup hingga kini jelas bentuk kewanitaannya. Dan ia tak sadar akan hal itu.

Si tua masih menangis mengguguk.

“Tuan... maafkan... jika aku telah membuatmu gu- sar... tapi aku... aku tak tahu apa salahku...” Tun Ku- mala semakin mendekat. “Apa pun salahku... tolong di- maafkan ”

Orang tua itu tetap menangis.

“Katakan apa yang terjadi, Tuan. Tuan telah menye- lamatkan nyawaku Apa saja yang Tuan inginkan pas-

ti akan kulakukan demi membalas budi itu.”

“Huh... kau masih anak ingusan... kau tahu apa   ?!”

Si tua agaknya sadar kini. Ia berdiri, membelakangi Tun Kumala.

“Coba saja ceritakan.... Paling tidak itu akan meri- ngankan beban Tuan,” Tun Kumala memohon.

“Huh...,” orang tua itu mendengus.  Dengan  kakinya ia menggulingkan tubuh Jalak Katenggeng di tanah. “Bangsat-bangsat seperti ini yang merusakkan kehidu- panku!”

Agaknya ia akan berkata sesuatu lagi, tetapi tiba-tiba ia jatuh terguling. Tun Kumala menjerit terkejut. Ia tahu orang tua itu pasti sangat tangguh dalam ulah keperwi- raan. Tetapi tergulingnya betul-betul terguling bagai orang yang tak punya kekuatan apa pun.

“Tuan...,” rintihnya perlahan, sesaat termenung ge- metar dan menggeletar kedinginan. Memang aneh. Tadi hawa pukulan orang itu memberi wibawa panas dan ki- ni tiba-tiba hawa dingin begitu menusuk.

“Tuan...,” panggilnya lagi, melangkah mendekat, mendekap dadanya yang basah kuyup juga.

Si tua berpaling. Tampak berat sekali.  Wajahnya yang biasanya menggambarkan welas asih—dan ke- murkaan waktu ia marah tadi—kini melambangkan ra- sa terkejut yang amat sangat.

“Jangan mendekat...,” bisik si tua, membuat Tun Ku- mala menghentikan langkah. “Kurang ajar...,” desisnya lagi.

“A... ada apa, Tuan?” tanya Tun Kumala.

“Kau tak mengerti... Aku yang setua ini bahkan kena terperdaya.”

“Apa?”

“Sudah kubilang...” Orang itu seakan hendak marah. Tetapi tak jadi. Ia menghela napas dalam-dalam. Be- ringsut bersila. Bersandar ke dinding tebing. Memejam- kan mata.

Sesaat sunyi di tempat itu. Tun Kumala berdiri ke- bingungan. Tiga tubuh berdiam diri. Si wanita yang tu- buhnya terbalut rapat. Lelaki kasar dari Pagalan  itu. Dan si orang tua yang agaknya bersemadi.

Apa yang akan dilakukannya? Siapa mereka? “Dahulu  aku  adalah  seorang  ksatria...,”  tiba-tiba si

tua menggumam lemah, seolah membaca pertanyaan di benak Tun Kumala. “Dalam tugasku menumpas pembe- rontakan Wirabhumi... aku terpaksa menumpas keluar- ga  terdekatku...  dan  aku  sangat  menyesal       Waktu

itu    aku rasanya rela ikut membakar diri bersama me-

reka. Aku dan seluruh keluargaku sangat menyesal. Kami rela mengorbankan diri untuk menebus apa yang telah kami perbuat. Tapi    Sang Ratu tak mengizinkan.

Dan perintah Sang Ratu adalah sabda para dewa. Na- mun aku memilih mundur dari dunia keksatriaanku...

dan kutemukan guru yang tepat, yang begitu berbudi menurunkan segala ilmunya....” Si tua mencoba mem- buat gerakan menghormat. “Kemudian kami hidup ten- teram... menyingkir dari dunia ramai.... Tapi dewata menghendaki lain...” Di sini napasnya agak tersengal- sengal dan ia harus memejamkan matanya lama sekali. Tun Kumala benar-benar bingung. Apa yang dikehen- daki orang tua ini? Bercerita tentang riwayat hidupnya karena ia akan mati?

“Tidak... aku takkan mati... dan itulah yang sangat kusesali...,” kembali si orang tua seolah mampu mem- baca pikiran Tun Kumala. “Jika saja mereka hanya menghendaki aku dan keluargaku... aku rela. Tetapi mereka ternyata ingin merongrong Wilwatikta. Dan itu aku tak suka. ,” suara si tua bergetar bersemangat.

“Tuan... siapa pun Tuan... agaknya Tuan sangat mencintai Wilwatikta... seperti aku juga.... Jadi beristi- rahatlah dulu,” bujuk Tun Kumala.

“Aku tahu  kau  mencintai  Wilwatikta...  hanya  aku pun tahu kau tak ada gunanya,” si tua hampir tertawa. “Seorang wanita muda yang kosong, yang hanya mengi- kuti keinginan hati, tanpa bisa menimbang kemampuan diri ” Kata-kata itu terasa pedas di telinga Tun Kuma-

la.

“Kau juga keras kepala... itu aku tahu ” Si tua ter-

batuk-batuk.

“Siapakah sebenarnya Tuan?” tanya Tun Kumala mendekat lagi.

“Aku orang yang gagal   aku tak kuasa menahan di-

ri. Aku ingin bangkit membela Wilwatikta lagi. Dengan kekuatan raga! Dan aku telah mengorbankan sekian ba- nyak muridku. Alih-alih bertobat, aku merasa kepalang tanggung. Dan akan kutinggalkan ini semua. Untuk membalas dendam!” Kembali napasnya tersengal-se- ngal.

“Kata-kata itu memang tak sepatutnya keluar dari mulutku. Tapi sudah begitu jauh aku berdosa.”

“Apa sebenarnya yang terjadi?”

“Mereka telah membunuh. Membunuh membabi- buta. Semua yang ada hubungan keluarga denganku. Mereka... membunuh... murid-muridku tercinta. ,” sua-

ra si tua hampir menangis.

“Apakah... apakah yang Tuan maksud... Dewi Can- dika?” tiba-tiba Tun Kumala bertanya.

“Kau cerdas, Gadis.”

“Jadi... Tuan pasti... ada hubungan dengan Sang Bhre Daha?” Selangkah Tun Kumala mundur meng- hormat.

“Benar...” Tiba-tiba si tua membuka mata dan me- lirik tajam pada Tun Kumala. “Kau sangat terpelajar. Kuduga kau pasti masih punya hubungan erat dengan kalangan istana?”

Sesaat Tun Kumala ragu-ragu. “Aku bisa menduga. Kau mencoba berpakaian seba- gai orang Melayu. Jadi... mungkin kau memperoleh pa- kaian itu dari keluarga dekatmu. Sebab kulihat gerak- gerikmu bukanlah orang pesisir. Itu berarti, orang yang memberimu pakaian itu adalah salah seorang prajurit yang pernah ikut ke Tumasik. Pasukan terakhir yang dikirim ke Tumasik adalah pasukan Kuripan. Kau ber- asal dari Kuripan.”

“Oh.” Tun Kumala agak terkesan juga oleh tepatnya tebakan si orang tua. “Tuan... Tuan seorang ksatria... kemudian... mengundurkan diri dari dunia ramai... ke- mudian... ah, aku tak bisa mengikuti kecerdasan Tuan.” “Kau telah  menebakku  berkeluarga  dekat  dengan Bhre Daha. Itu saja sudah hebat.” Si tua seakan ter-

senyum.

“Ada lagi... nama Tuan... pasti Panembahan Mega- truh!” tiba-tiba Tun Kumala berkata. Ia ingat gerakan si orang tua tadi yang mirip gerakan kakaknya. Dan ia hanya tahu bahwa kakaknya berguru pada seseorang bernama Panembahan Megatruh. Panembahan itu pas- tilah setua ini. Dan pasti inilah dia.

Dengan bangga Tun Kumala memandang si orang tua. Bukannya tidak mengharap pujian.

Tetapi si tua tak memujinya. Ada bayangan senyum di bibirnya yang pucat. “Kalau aku Sang Panembahan, Anak goblok... mungkinkah aku berbuat begitu banyak kesalahan?”

Tun Kumala mengernyitkan kening. Jadi tebakannya salah. Tapi ia tak suka dikatakan ‘goblok’.

“Tapi Sang Panembahan toh manusia juga... sekali waktu pasti berbuat kesalahan. Bahkan para dewa pun bisa berbuat salah!” dengusnya gusar.

“Kau tak perlu gusar. Kau juga manusia. Salah tebak saja tak apa. Tapi... bagaimana kau bisa mengenal na- ma guruku yang berbudi itu?” Si tua memandang tajam lewat bulu matanya yang memutih.

“Apakah Tuan tak ingin menebaknya?” tukas Tun Kumala.

“Yang ini agak sulit. Sang Panembahan hampir tak pernah menampakkan diri. Hampir tak pernah dibica- rakan orang. Kalau toh beliau punya murid baru... itu aku takkan tahu... karena sudah kutinggalkan belasan tahun silam.” Si tua tampak termenung-menung. “Tapi kalau kau dari kalangan istana... mungkin juga kau mendengarnya dari ayahmu atau kakekmu.” Si tua menggelengkan kepala, seolah ingin membuang perca- kapan tak berguna itu. “Tadi kausebut Dewi Candika. Dari mana kau tahu?”

“Terjadi bencana di istana Kuripan. Mmmm... Ra- kryan... Rakryan... Rakryan Rangga tewas Kemudian

sang permaisuri kedua juga.... Dan... dan kata orang yang membunuh adalah Dewi Candika. ”

“Hm   ” Kembali si tua tajam mengawasi Tun Kuma-

la. “Apakah Sang Rakryan atau Sang Dewi ada hu- bungannya denganmu?”

Tun Kumala kembali tertegun.

“Bagaimana Tuan tahu?” tanyanya akhirnya.

“Getar suaramu tak bisa kausembunyikan, Gadis. Bahkan aku tahu... entah bagaimana kedua orang itu sangat kaupikirkan. Entah bagaimana, mereka ada hu- bungannya.... Apakah Rakryan Rangga itu ayah Sang Dewi?”

“Bukan... bukan...,” Tun Kumala tergesa menukas.

Apakah ia bisa mempercayai orang ini?

“Tak usah kau ragu-ragu bercerita padaku, Gadis...

seperti juga aku tak ragu menceritakan ihwalku pada- mu. Aku merasa percaya padamu     Dan toh kalau ter-

nyata kau tidak bisa kupercaya.   melanggar pantangan membunuh sekali lagi tak apa-apa lah   ”

“Tuan... begitu jauh... meninggalkan... batasan seo- rang guru?” tanya Tun Kumala ragu.

“Aku memang tak layak diampuni lagi. Jadi   biarlah

aku berbuat dosa sebanyak-banyaknya hingga di peniti- san berikutnya aku akan mendapat hukuman seberat- beratnya.”

“Sebetulnya apa yang telah Tuan lakukan?”

“Aku? Hhh. Apa yang belum kulakukan!” Kembali si orang tua berwajah masam. “Aku membiarkan murid- muridku dibantai orang. Aku lari. Aku sembunyi !” Ti-

ba-tiba si tua menangis lagi.

“Maka lebih baik Tuan menebus dosa dengan bang- kit kembali... dan bukannya berputus asa!” tukas Tun Kumala.

“Anak ingusan! Dengan berbuat itu pun aku juga berbuat dosa!” Tiba-tiba si tua meringis. “Dan mungkin juga untuk itu aku tak mampu.”

“Tak mampu? Tetapi Tuan begitu sakti!”

“Kau hanya tahu kulit luarnya, Gadis,” si tua tampak mengeluh. “Si bangsat yang mengajarkan ilmu palsu pada orang ini sungguh jahat. Ternyata ia telah me- nanamkan racun Kunjana Papa pada muridnya ini. Se- macam daya tolak jika dia, misalkan, tewas oleh pemilik ilmu yang dijiplaknya. Sungguh jahat ”

“Apakah... apakah berbahaya?” Tun Kumala jadi sa- ngat khawatir.

Sesaat si orang tua terdiam. Seolah menikmati nada khawatir pada pertanyaan Tun Kumala itu. “Tidak,” ak- hirnya ia menjawab. “Bagiku sih tidak     Tapi paling ti-

dak aku harus mengumpulkan kekuatan selama empat puluh hari untuk bisa pulih... dan itu.   itu berarti bebe-

rapa pekerjaanku terbengkalai     ” Ia melirik pada wani-

ta yang dibalut dan kemudian pada Jalak Katenggeng yang rupanya masih pingsan.

“Sedang aku... aku harus segera pulang ke Kuri- pan.... Harus...,” Tun Kumala berkata ragu-ragu.

“Tidak. Kau tak bisa pergi ke mana-mana. Pertama, kau takkan mampu pergi keluar dari daerah ini. Kedua, jika kau memang dijebloskan orang kemari, maka kau akan bertemu dengan orang-orang itu. Ketiga, kau ha- rus membantu aku,” kata si tua.

“Harus?” tanya Tun Kumala heran.

“Sudah kubilang. Aku tak terikat lagi oleh basa-basi kesopanan. Kalau perlu akan kupaksa kau tinggal di si- ni,” sahut si tua bernada keras.

“Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulut Tun Kumala. “Lalu... apa yang harus kulakukan?”

“Engkau mau?” “Terpaksa, kan?”

“Baik. Pertama, kauganti pakaianmu. Kau bisa sakit memakai pakaian basah seperti itu. Lagi pula  aneh. Huh, ada anak perempuan berambut sependek itu. Sungguh menjijikkan.”

“Aku tak membawa ganti    ” Tak terasa Tun Kumala

meraba kepalanya. Destarnya entah sudah hilang di mana.

“Di balik batu itu ada buntalan bawaanku. Ada bebe- rapa kain. Bisa kaupakai sementara pakaianmu kauke- ringkan.”

Tun Kumala beberapa saat tak beranjak. “Apa lagi?”

“Aku belum kenal Tuan ,” katanya hampir berbisik.

“Huh... ya  ” Si tua tepekur. “Aku dulu guru dengan

banyak murid. Kini aku orang berdosa dengan banyak dosa. Aku bukan Resi Rhagani lagi. Panggil saja aku Arhagani. Panggil saja aku ‘Paman’. Itu pun jika kau sudi.” “Namaku... namaku Tun Kumala...” Tun Kumala me- nundukkan muka.

“Pasti bukan nama sebenarnya?” “Bukan.”

“Dan kau akan lari dariku jika ada kesempatan?” Si tua seakan tersenyum, dan sekali lagi berhasil memba- ca pikiran Tun Kumala.

“Aku merasa diriku hanyalah tawanan Tuan... eh, Paman,” kata Tun Kumala.

“Aku suka anak muda yang suka berterus terang. Baiklah. Jika kau mau lari, larilah. Tetapi jika sampai ketahuan olehku, akan kubuntungkan kakimu,” kata- kata itu tegas sekali.

“Apa... apa yang akan kita lakukan dengan mereka?” Tun Kumala menunjuk pada si wanita dibalut dan Ja- lak Katenggeng.

“Wanita itu... seorang prajurit. Kutemukan di... he, di Kuripan! Mungkin kau kenal dia?” Matanya bersinar menyelidik Tun Kumala.

“Jika bungkus mukanya dibuka, mungkin ya.” Tun Kumala mengangguk berterus terang. “Kenapa dia?”

“Itu yang ingin kuketahui. Ia tak sadarkan diri terus. Ia terkena ilmu simpanan keluarga kerajaan. Jadi ada dua kemungkinan. Mungkin ia berontak. Mungkin ada keluarga kerajaan yang berkhianat dan ia memergo- kinya. Aku sedang berusaha  menyembuhkannya.”  Si tua yang memang Resi Rhagani itu menggelengkan ke- pala. “Kuragukan kemampuanku.  Dan  obat-obatan yang ada di sini pun tak lengkap.”

“Jika aku harus membantu Paman dalam hal obat- mengobat... kurasa sia-sia.... Aku tak tahu obat-obatan sama sekali.”

“Sekali pandang pun orang tahu kau agak tolol,” kata Arhagani. “Bukan itu. Kau hanya akan kuajari suatu mantra... agar paling tidak kau cukup kuat jika harus melakukan hal-hal yang berbahaya. ”

“Misalnya?”

“Misalnya,  mungkin  si  maling  kecil  itu  berontak...

dan aku sedang harus istirahat... atau kau harus cari

makanan di hutan dan bertemu dengan harimau atau

... kau ingin mencoba melarikan diri tapi tak punya il- mu nah, bukankah berguna?”

“Paman akan mengajariku silat?” tanya Tun Kumala. “Seperti ilmunya. Panembahan Megatruh?” Tun Kuma-

la tak habis pikir. Mengapa orang ingin mengambilnya sebagai murid? Seperti wanita tua itu dulu. Orang yang menyebut dirinya Nyai Gadung itu.

“Kaukira mudah? Paling hanya akan kuajarkan be- berapa cara menendang telak saja. Bagaimana?”

“Dan aku boleh lari jika aku suka?”

“Dan kau boleh lari jika kau suka. Tapi akan kuke- jar, tentu. Dan pada hakikatnya... kau bukanlah orang yang tegaan.”

“Maksud Paman?”

“Aku sedang sakit. Kau takkan tega meninggalkan aku.”

“Hm...” Tun Kumala berpikir-pikir. Benar juga. Lagi pula si tua ini telah menyelamatkan nyawanya.

“Baiklah. Lagi pula, Paman telah menyelamatkan nyawaku.”

“Tapi ingat... sekali kau setuju, kau harus jadi mu- ridku, dan kau harus patuh pada kata-kataku.”

“Itu aku tak bisa menjanjikan. Siapa tahu aku Pa- man suruh mencuri ayam, misalnya. Bukan karena mencuri itu tak boleh. Tetapi rasanya aku tak akan mampu melakukannya ”

“Boleh saja.   ”

“Dan Paman tak perlu tahu tentang asal-usulku?” “Yang kuketahui sudah cukup. Kau dari keluarga yang dekat dengan istana. Kau baik hati. Itu sudah cu- kup bagiku.”

“Baiklah. Mulai saat ini Paman boleh menganggapku murid... yang boleh lari kapan saja.”

“Tentu, tentu... dan jangan kaukira sangat  mudah jadi muridku.” Si tua agak tersenyum.

“Mengapa?” tanya Tun Kumala heran.

“Kau lihat aku tadi. Pada hakikatnya racun Kunjana Papa membuat orang lupa akan dirinya. Dia bisa meng- amuk. Dia bisa berbuat seperti orang mabuk. Dia bisa tiba-tiba tidur. Dan banyak lagi.” Si tua tampak muram. “Apakah itu akan terjadi pada diri Paman?” tanya

Tun Kumala khawatir.

“Paling tidak lima hari sekali, Gadis... dan kau harus menjaga agar aku tak berbuat yang tidak-tidak ”

“Ah... aku... aku ” Tun Kumala kebingungan.

“Kau harus menghitung hari dengan tepat. Jika hari itu datang... kau harus ikat aku. Ah, ah... kau benar, tali macam mana yang bisa kuat menahanku? Lebih baik kau lari bersembunyi saja, Gadis.   sejauh-jauh-

nya... sampai masa itu lewat. Kau ingat tadi     masa itu

takkan lama. Namun, kalau aku mau, aku bisa melom- pati tebing ini sampai ke ujung atas sana. Jadi me- nyingkirlah.”

“Agaknya Paman sayang juga padaku,” sindir Tun Kumala.

“Hanya karena aku harus tergantung padamu, Ga- dis. lain tidak. Nah, pergi tukar pakaian sana. Dan tu-

tupi kepalamu itu. Sungguh menjijikkan.”

Orang tua yang kini menamakan diri Arhagani itu pun berpaling, berjalan tertatih-tatih ke sebuah celah di dinding tebing. Dikeluarkannya sebuah buntalan besar. Dibukanya di tanah. Ternyata isinya berbagai obat-obat- an. Ia menggelengkan kepala. Kecewa.

Ketika Tun Kumala kembali dengan memakai kain pertapaan yang dililitkan di seluruh tubuhnya dan ke- pala diikat selendang, Arhagani berpaling. Dan tiba-tiba tertawa lepas.

“Kenapa?” tanya Tun Kumala heran.

“Gadis, kau sungguh lucu. Baru kali ini aku tertawa lepas setelah hampir sekitar tiga puluh tahun aku ter- kungkung oleh tata kehidupanku. Kau sungguh campur aduk. Murid pertapa, bukan. Sudra, bukan. Ksatria apa lagi. Pelayan juga bukan. Gundulmu lucu. Wajahmu tampan. Tapi kalau orang bertemu denganmu di malam hari pasti ketakutan. Kau sungguh seperti gandarwa yang lemah. Bagaimana kalau kupanggil kau Gemut? Toh aku tak mau keliru memanggilmu pria, padahal aku tahu kau wanita?”

Gemut memang berarti ‘lemah’. Sesaat merah pipi Tun Kumala mendengar uraian itu. Namun, ya, apa gu- nanya sebuah nama bagus dalam keadaan seperti ini.

“Baiklah. Gemut namaku. Dan Paman adalah pa- manku. Nah, apa yang harus kulakukan?”

“Sudah kuramu obat untuk wanita itu. Sedang si ja- hanam itu sudah kuberi obat pingsan lagi. Kaubuka pembalut si wanita.”

Begitu pembalut muka si wanita dibuka, Tun Kuma- la, atau kini bernama Gemut, menjerit lemah.

Muka wanita itu bagaikan tertutup seluruhnya de- ngan ramuan obat-obatan yang sudah meleleh dan me- nutupi seluruh wajah. Wajah itu sendiri tampak me- ngerikan. Kulitnya seakan bekas luka bakar. Ketika ra- sa takut Gemut sedikit menyusut, terpandang olehnya kalung keprajuritan di leher wanita itu. Hanya satu wa- nita prajurit yang pangkatnya setinggi ini.

“Kakangmbok Madri!” serunya perlahan. “Kau kenal?” tanya Arhagani.

“Ya. Wajahnya memang rusak... tapi kalung ini... ha- nya satu prajurit wanita di Kuripan yang berhak. Ia Ka- kangmbok Madri, pengawal pribadi  Gusti  Dewi  Mali- ni ”

“Apa benar?” Arhagani tampak tertarik. Mendekat. “Ya. Aku yakin... dia... dia sering...” Tiba-tiba Gemut

menutup mulut.

“Aku tahu. Dia sering datang ke rumahmu. Aku bisa menerka selanjutnya,” kata Arhagani.

“Apa?” Gemut mengernyitkan kening.

“Kau pasti punya kakak pria. Dan kakak priamu itu pasti kekasih Sang Dewi!” Tiada rasa bangga di suara Arhagani waktu menebak ini.

“Tidak!” tukas Gemut gusar.

“Aku pun tak suka itu terjadi, Gemut....” Arhagani menunduk. “Tetapi itu terjadi. Di mana-mana. Juga di zamanku. Kalau kau ingin merasa sedikit lega. itu ter-

jadi pula pada diriku. Hingga aku mengundurkan diri dari dunia ramai.”

“Oh, maafkan aku, Paman....” Gemut ikut menun- duk.

“Tak apa. Yang jadi persoalan sekarang    mungkin

agak jelas. Seorang dari kalangan istana telah membu- nuh Madri. Mungkin untuk menutup mulutnya.”

“Tak mungkin itu Kakang Sindura!” tiba-tiba tercetus nama itu. Dan Gemut langsung menyesal.

“Itu nama kakakmu?” Arhagani memperhatikan Ge- mut.

“Ya. Begini... Kakang Sindura... dituduh membunuh sang permaisuri kedua. ” Tiba-tiba Gemut menangis te-

risak-isak. “Dan... Kakangmbok Madri adalah saksi utamanya ”

“Apakah... terus  teranglah,  mungkinkah  kakakmu yang menyerang Madri ini?” Tiba-tiba Arhagani bersikap bersungguh-sungguh.

“Rasanya tak mungkin. Kakang Sindura langsung dimasukkan tahanan. Bahkan kami pun tak tahu ia di- tahan di mana. Biasanya memang dikirim ke Wilwa- tikta.”

“Kakakmu itu bisa berhubungan kasih dengan Sang Dewi. Pasti kedudukan keluargamu tinggi. Mungkin ayahmu yang membunuh Madri?”

Tiba-tiba tangis Gemut menjadi-jadi.

“Tak usah menangis!” tukas Arhagani. “Tangismu takkan bisa membetulkan lagi apa yang salah!”

“Bukan... bukan itu yang kutangisi.... Ayahanda... Ayahanda... adalah Rakryan Rangga... dan beliau... be- liau telah tewas bahkan sebelum Sang Dewi tewas!”

“Oh!” Arhagani mengelus-elus jenggotnya yang putih.

Kali ini tebakannya agaknya keliru semua.

“Apa sebenarnya yang terjadi?” tanyanya akhirnya. “Paman tak bisa menebak, kan?” Dalam sedihnya

Gemut masih bisa menggoda Arhagani. “Aku kan bukan dewa,” sahut Arhagani.

“Aku hanya dengar dari Paman Rakryan Mapatih   ”

Gemut berhenti sejenak. Oh. Sejak kapan ia telah ber- pisah dengan Rakryan Mapatih? Pasti sudah lamaaaaa sekali. “Ramanda Rangga dipanggil ke istana. Dan tewas di jalan.Dan ternyata tak ada yang memanggil ke istana. Kemudian... Kakang Sindura menyelidik ke istana. Tak ada yang tahu yang terjadi. Putra Rakryan Tumenggung diketemukan tewas. Sang Dewi juga tewas. Kakang- mbok Madri menuduh yang menewaskan adalah Ka- kang Sindura ”

“Hm ” Arhagani mencoba mengingat-ingat sesuatu.

“Aku     aku kemudian bertekad untuk mencari pem-

bunuh  sebenarnya...  guna membebaskan  Kakang  Sin- dura. Untuk itu kupotong rambutku... yang Paman bi- lang menjijikkan dan membuatku tampak lemah dan... tolol”

“Hm, tidak, Gemut.... Kau memang masih tampak lemah dan tolol... tetapi dari ceritamu tadi  aku yakin kau adalah gadis yang cerdas, berani, tabah dan setia. Katakan padaku... apakah kakakmu dituduh berdasar- kan tanda-tanda yang ada pada korban-korban?”

“Ya... ya... seingatku demikianlah yang diceritakan oleh Paman Mapatih.” Gemut mengangguk berkali-kali. “Semua menuduh kakakku karena bahkan luka di tu- buh Ayahanda adalah khas bekas pukulan kakakku....

Itu sungguh tak masuk di akal, bukan?”

“Kurasa ini memang siasat Dewi Candika. Muridku yang sangat berbakat, Uttara juga mengalami fitnah yang sama. Lalu siapa yang mencelakakan Madri?”

Sementara itu Madri telah hampir terbuka semua, dan hati-hati Arhagani mengerik bekas obat yang me- nempel di tubuh wanita itu.

“Tak bisakah ia ditanyai?” tanya Gemut, memperha- tikan Madri yang masih menutup mata rapat-rapat.

“Coba tanyai dia... mungkin ia percaya padamu,” bi- sik Arhagani.

“Aku yakin... Raden Sindura yang membunuh Gusti Dewi,” Madri berkata sangat lemah. “Aku harus meng- hukumnya ”

“Hukum akan dijatuhkan oleh dewata. Dia yang ber- salah tak akan bisa lari,” kata Arhagani begitu lembut hingga Gemut tercengang. “Kami tak ingin tahu tentang itu. Kami ingin tahu siapa yang mencelakaimu.”

“Itu aku tak tahu   ”

“Dia pasti bangsawan tinggi. Di Kuripan mungkin hanya ada satu-dua orang saja yang punya ilmu ini,” bisik Arhagani lagi. “Itu aku tak tahu    ”

“Ada dua kemungkinan. Kau sesat hingga harus di- binasakan. Atau ia yang sesat dan kau memergokinya.”

“Itu aku tak tahu   ”

“Ini sangat penting. Kau prajurit Wilwatikta. Kau me- ngerti kepada siapa kau harus setia,” bisik Arhagani la- gi.

“Aku tahu. Dan kau tak akan tahu.” Madri pun me- mejamkan matanya lagi.

Arhagani termenung. Menggelengkan kepala.

“Aku punya dua tawanan. Tapi aku tak terbiasa me- nyiksa orang untuk memeras keterangan dari mereka,” keluhnya.

“Jangan Paman siksa Kakangmbok Madri,” dengus Gemut. “Kalau orang itu sih... boleh Paman potong ka- kinya sedikit-sedikit sampai ia ngaku. Aku tak peduli.” Ia memalingkan kepala kepada Jalak Katenggeng.

“Rasanya ia memang punya kedudukan cukup tinggi hingga perlu dipasangi racun Kunjana Papa.” Arhagani mengangguk. “Sudah. Lumuri tubuh Madri dengan obat ini. Aku akan mencoba mencari ikan.”

“Paman makan ikan?” Gemut heran. Arhagani tidak menjawab.

5. DI PUNCAK TRANG GALIH

DI PUNCAK bukit Trang Galih. Bukit padas berbatu ter- jal berbongkah-bongkah raksasa. Wara Hita berdiri me- renungi langit yang membiru di sekelilingnya. Di ka- kinya hanya batu-batu cadas. Baru kemudian di kejau- han hutan hijau mulai menghampar.

Ia yang di kalangan keluarga istana mulai ditakuti sebagai penyebar maut tanpa kenal ampun, saat itu sangat cantik dan segar dengan pakaian serba biru. Se- lendang suteranya juga biru melambai perlahan ditiup angin. Seperti juga rambut hitamnya yang saat itu ter- gerai lepas.

Matanya yang bulat hitam indah mengawasi tajam sekelilingnya. Tapi ia tak memandang apa pun.

Tiba-tiba saja Nagabisikan telah ada di belakangnya. Dan seolah bermata di punggungnya, Wara Hita lang- sung bersimpuh tanpa memalingkan tubuh.

“Kau gelisah, Nanda Ratu,” kata Nagabisikan, desis ucapannya membuat jenggot dan kumis putihnya terbe- lai.

“Hamba gelisah, Guru, karena segalanya tidak sesuai dengan jangka waktu yang kita tentukan,” sahut Wara Hita.

“Aku tahu bukan itu yang kaupikir....” Nagabisikan melangkah mendekat. “Jadwal waktu itu sendiri se- sungguhnya masih tepat. Dan kita tak boleh tergesa- gesa. Dua-tiga tahun kauperlukan untuk mengacaukan para penguasa hingga mereka tak bisa memerintah dengan baik. Kemudian kaugebuk mereka dengan pasu- kanmu yang terlatih. Itu yang jadi rencana kita semula.” “Mohon ampun jika hamba terlalu terburu-buru,

Guru. ” Wara Hita tunduk.

“Ilmumu sudah cukup memadai, tapi ada yang telah mengganggu pikiranmu.”

“Banyak  yang  hamba  pikir  gagal...  misalnya. hi-

langnya pemuda tahanan dari Rahtawu itu.” “Ah. Tara, namanya?”

“Benar, Guru. Seluruh hutan telah kami periksa. Ia lenyap tak berbekas.”

“Dan apa yang kaurisaukan? Mungkin ia jatuh, te- was dan dimakan harimau.”

“Guru juga yang maha mengetahui ”

“Ya. Dan aku tahu bukan itu yang kaupikirkan.” “Apa kiranya itu, Guru?”

“Aku telah mendengar tentang pertemuanmu dengan seorang pemuda tanah seberang... Tun Kumala.”

“Ah. Bibi Wara Huyeng agaknya telah bercerita berle- bihan.”

“Mungkin. Tetapi kudengar kau telah memerintah- kan beberapa orang untuk mencari orang itu.”

“Hamba hanya ingin menawannya, Guru.” “Sesungguhnya hatimu yang telah tertawan padanya.

Kau telah bentrok dengannya. Toh kau masih terus mengingatnya. Dan merindukannya.”

“Mohon ampun, Guru  ”

“Itu sangat melemahkanmu, Ananda Ratu. Dan itu bisa jadi halanganmu terbesar kelak.”

“Hamba mohon petunjuk, Guru.”

“Sudah waktunya Nanda Ratu bergerak lagi. Upacara di Wengker sudah dekat. Kita akan berangkat ke sana. Sementara bibimu si Huyeng akan menyebar ketakutan di ujung timur.”

“Baiklah, Guru, segala titah akan hamba junjung.” Wara Hita makin tunduk menyembunyikan perasaan hatinya.

“Kita berangkat nanti malam.”

Dan Nagabisikan lenyap secepat ia muncul tadi. Wara Hita lama termenung-menung.

Betulkah ia masih mengenang Tun Kumala? Memang. Ia harus akui itu. Pemuda itu memang ti-

dak gagah. Tidak perkasa. Bahkan terlalu gemulai. Tapi justru pada kegemulaian itu Wara Hita menemukan se- suatu yang tak ada pada pemuda lain.  Dan  sesuatu yang sangat menarik hatinya.

Didengarnya suara napas orang yang terengah-engah memanjat puncak itu.

Wara Huyeng. Lengkap dengan berbagai perhiasan mencorong. Serta tata rias mencolok.

“Anakmas... melamunkan pemuda seberang lagi?” tanya Wara Huyeng langsung.

“Bagaimana Bibi bisa tahu?”

“Mudah. Jika Anakmas menyendiri pastilah untuk menyembunyikan sesuatu. Tetapi kisah asmara jangan harap lolos dari pandang mata hamba!” Wara Huyeng tertawa terkikik-kikik.

“Aku memang tak bisa melupakan anak muda itu,” kata Wara Hita hampir mengeluh.

“Dia memang tampan... tapi bukan pria idaman....

Percayalah, orang macam itu hanya akan mengecewa- kan dirimu saja. Dia sombong karena tampan. Dia terla- lu tampan untuk jadi pria sejati. Lebih baik cari yang lain.”

“Entah kenapa, walaupun dia sudah menyakiti hati- ku, dia saja yang kuingat.”

“Dia akan sombong padamu. Jual mahal.” Wara Hu- yeng mencibir.

“Mungkin,” kata Wara Hita lemah.

“Tapi   kenapa bersedih? Cari saja dia. Seret kemari.

Biar nanti kuajari cara bercinta.” Wara Huyeng agaknya kasihan juga melihat wajah Wara Hita.

“Takkan semudah itu....” Wara Hita menengadah, memperhatikan seekor burung putih yang terbang sen- diri mengarungi langit biru lepas.

“Kaupikir    wanita tua jelek itu akan menghalangi ki-

ta? Huh. Dia memang sakti.” Wara Huyeng memperha- tikan tubuh Wara Hita. “Tapi... toh Sang Guru berhasil menyembuhkanmu. Memulihkanmu. Menolak hawa ra- cunnya. Itu saja bukti bahwa Sang Guru sanggup menghadapinya. Dan Sang Guru sendiri bersabda    wa-

nita itu bukan siapa-siapa... tak perlu ditakuti. Kau- pinta pada Sang Guru untuk mencarinya.” “Sang Guru tak setuju.” Bagaikan perawan pemalu Wara Hita mempermainkan ujung selendang suteranya. “Itulah yang kupikirkan, Bibi.”

“Gampang. Kita berangkat sendiri!” Wara Huyeng benar-benar tak tega melihat Wara Hita bersedih.

“Itu pun tak gampang. Aku harus segera berangkat ke Wengker, ikut  mengacau  jalannya  Upacara  Sra- dha ”

“Huh. Senang juga. Maksudku, bagiku    aku tak ta-

han berada di tempat sunyi seperti ini     ” Wara Huyeng

kebingungan kini.

“Bibi tidak ikut ke sana.  ”

“Hah?”

“Bibi harus bergerak ke timur. Menyebarkan ketaku- tan di antara keluarga Wilwatikta.” Tiba-tiba mata Wara Hita bersinar saat ia berpaling memperhatikan Wara Huyeng.

“Apa?” tanya Wara Huyeng heran.

“Bibi bisa mencari pemuda itu!” Wara Hita berkata tegas tak malu-malu kini. “Hubungi Emban Layarmega dan anak buahnya. Sebar mata-mata. Bawa dia ke Wengker bertemu denganku.”

“Emban Layarmega sudah terpaksa mundur bersem- bunyi,” kata Wara Huyeng. “Pasukan Kuripan telah mengobrak-abrik tempatnya.”

“Mereka bersembunyi di desa Ketrawa. Di bawah Gunung Hamba.”

“Hm. Jadi itu tugas hamba?”

“Jadi itu tugas Bibi.” Wara Hita mengangguk man- tap. 6. AHIRENG DAN TURI

PUNCAK bukit itu dingin. Sepi. Hijau. Rimbun. Dan di pagi itu mestinya suasana lebih dingin dan sepi. Tetapi di tanah lapang di antara gerombolan semak-semak ti- dak sesepi itu. Bentakan-bentakan gempuran hantam- an pertempuran terdengar riuh.

Dua orang sedang bertarung.

Seorang pemuda berkulit hitam-legam, hanya me- makai cawat, bergerak gesit sekali. Langkah-langkah kakinya hampir tak terlihat, tetapi tubuhnya seakan melesat ke sana kemari bagaikan terbang dan hanya di- kendalikan pikiran. Hantaman-hantaman tinjunya juga membawa wibawa angin dahsyat yang menggetarkan pepohonan yang berada di sekitar pinggir lapangan.

Lebih mengherankan adalah lawannya.

Ia seorang gadis. Paling tidak bentuk tubuh dan rambutnya menunjukkan ia seorang gadis. Kulitnya merah tembaga, tampak jelas karena pakaiannya yang compang-camping. Dan rambutnya berantakan tak te- ratur. Gerakannya tampak jauh lebih gesit dari gerakan si pemuda. Tapi jelas terlihat ia sengaja menghindar te- rus. Atau, sekali-sekali, bahkan seolah-olah memasang dirinya untuk menerima hantaman dari si pemuda. Dan jika itu terjadi, maka tubuhnya seakan terempas keras membentur apa saja yang kebetulan ada di bela- kangnya. Begitu dahsyat. Tapi ia bagaikan kebal. Mem- bal berdiri dan langsung melesat menghindar lagi. Me- reka telah bertempur dari sejak matahari belum terbit tadi. Dan kini matahari telah sedepa di atas kaki langit.

“Tunggu, kita berhenti dulu,” tiba-tiba si pemuda berteriak dan tubuhnya terpental mundur berputar di udara dan berdiri tegak, tetap teguh dalam kuda-kuda.

Si wanita  langsung  berhenti.  Begitu  saja.  Dan  tak terlihat napasnya terengah-engah sedikit pun walaupun gerakan sebelumnya adalah gerakan yang sangat cepat.

“Kau hebat... istirahatlah.” Si pemuda bersila berse- madi, menghirup udara dalam-dalam. Seluruh tubuh- nya berkeringat berkilauan dan seakan ikut mengisap apa saja.

Si wanita hanya memperhatikannya. Kemudian ber- jalan ke bawah sebatang pohon besar. Dari balik batang pohon yang sangat besar itu muncul seorang lelaki tua membawa sebuah kendi.

“Jingga, kau mau minum?” tanya orang tua itu.

Si wanita hanya memandangnya. Muka dan seluruh tubuhnya memang berwarna merah jingga dan aneh serta seram. Namun matanya begitu bening dan tajam. Sementara raut muka dan tubuhnya sesungguhnya me- nunjukkan kecantikan.

“Aku hanya menawarimu minum,” si tua bersungut, surut mundur ketakutan oleh pandang tajam itu.

“Turi, kau minumlah   ” Si pemuda sementara itu te-

lah mengorak sila dan berdiri.

Wanita itu, yang dipanggil ‘Jingga’ karena kulitnya, memang Turi—murid Padepokan Rahtawu yang telah begitu banyak mengalami penderitaan. Ia terjeblos jadi anak buah Emban Layarmega. Ia dijebloskan ke Sumur Hitam. Ia bertarung dengan ular raksasa, Ki Gong. Ia menyerap darah ular tersebut hingga makin hari kulit- nya makin merah. Dan kemudian ia telah diambil oleh si Buyut—wanita penuh rahasia yang bercita-cita meng- angkat muridnya ke tahta Wilwatikta. Ahireng, sang murid, memang harus menyerap ilmu simpanan keluar- ga kerajaan, Wajraprayaga, dan salah satu caranya ada- lah menggebuki Turi yang telah menyerap semua darah Ki Gong. Dengan cara itu memang setiap saat Ahireng memperoleh imbasan ilmu tersebut. Namun ada yang tidak diketahui si Buyut. Turi telah mempelajari ilmu Coban Saleksa. Apa pun yang terjadi di sekelilingnya secara serta-merta tercatat. Dan dise- rap.

Turi masih tampak tolol dan mengibakan hati. Na- mun kekuatannya pun semakin bertambah. Hanya ka- rena ilmu simpanan Emban Layarmega-lah maka ia masih tak mampu menggunakan kehebatannya itu.

Turi tertegun mendengar sapaan Ahireng. Suara Ahi- reng baginya selalu terdengar begitu sejuk. Lembut. Ti- dak seperti suara orang-orang lain yang seakan selalu menghardik dan mengejeknya. Tetapi ia tetap diam di tempatnya.

Ahireng mengambil kendi dari tangan si pelayan tua.

Dan mengulurkannya pada Turi.

“Minumlah,” katanya. Dan sengaja kendi itu dilun- curkannya dengan dorongan tenaga dari telapak ta- ngannya.

Turi seakan tak bergerak. Tetapi sesungguhnya jari tangannya menyentil. Dan kendi tersebut naik. Tepat berhenti di depan mulutnya, menukik dan mengucur- kan air.

Turi minum dengan puas. Dan membiarkan kendi tersebut jatuh pecah berantakan di tanah.

Ahireng tak mempedulikan itu. Memang setiap kali begitu. Dan si pelayan tua memang membawa beberapa kendi.

Ia duduk di bawah pohon. Dengan pedang hitamnya ia membuat beberapa goresan di tanah. Turi datang mendekat.

“Kita main ‘catur’, Turi. Kau ambil batu, aku potong- an kayu,” kata Ahireng.

Turi mengangguk. Matanya yang indah di muka me- rah itu seakan bersinar gembira sesaat. Ia memang su- ka permainan ini. Permainan apa saja. Dan Ahireng ta- hu benar sifat Turi kini. Turi seakan kembali menjadi anak kecil. Bermain merupakan hadiah yang sangat di- dambakannya. Bukan makan. Bukan minum. Bukan beristirahat.

“Aku pun senang bermain denganmu, Turi,” kata Ahireng. “Kalau kalah kau tak marah,  kalau  menang kau tak mengejekku. Dan biar aku curang pun kau tak mengeluh. Kalau saja adikku seperti kau...” Tiba-tiba Ahireng tertegun. Ia memang terbiasa berbicara sendiri sepeninggal si Buyut. Turi tak pernah bersuara.

“Tidak... adikku tak akan seperti kau. Dia cantik. Dia sakti. Walaupun dia juga hitam.  Kau  jelek.  Dan  me- rah ”

Turi menjalankan buah caturnya.

Sembarangan Ahireng juga menjalankan buah catur- nya.

“Entah   apakah ia mau mengakuiku sebagai kakak-

nya. Tapi, dia harus. Suatu saat kelak aku akan jadi ra- ja. Dan dia kuperintahkan untuk mengakuiku sebagai kakaknya.”

Turi menjalankan buah caturnya lagi. Ahireng berpikir sejenak.

“Ya. Jika aku jadi raja, tak jadi soal apakah aku hi- tam atau jelek. Aku akan punya permaisuri cantik. Hh. Dulu kau juga cantik, Turi sewaktu di rumah Emban

Layarmega. Kau ingat? Dan kau baik hati padaku   ”

Turi seakan tak memperhatikan kata-kata Ahireng, ia lebih memperhatikan gerakan catur pemuda itu. Dan menjawabnya.

“Tapi... jika aku jadi raja... aku hanya ingin punya permaisuri  ” Ahireng tiba-tiba tertegun. Sekilas ia meli-

hat sesaat Turi seakan tertarik pada kata-katanya. Dan mata hitam indah itu seakan bersinar. Betulkah? Sulit untuk membuat Turi tertarik pada sesuatu. Mengajak- nya bermain adalah salah satu temuannya. Apakah ada hal lain yang menarik perhatian Turi? Mungkinkah ga- dis ini... cemburu?

“Aku ingin punya permaisuri secantik... secantik Buyut...,” Ahireng sengaja berkata. Dan memang kata- kata itu keluar dari hatinya. Ia tak pernah tahu bagai- mana bentuk tubuh atau wajah si Buyut yang menjadi gurunya. Tapi entah kenapa setiap kali ia semakin rin- du pada sang guru. Dan juga ia bisa melihat bahwa ta- ngan-tangan Turi gemetar. Mungkinkah ia memang cemburu?

“Si Buyut entah ke mana saja pergi. Kaupikir sudah berapa lama ia pergi, Turi?” tanya Ahireng menggoda.

Turi tak menjawab. Sekilas ia hampir terlihat meng- gigit bibir bawahnya, seolah menahan hati. Ini permai- nan baru bagi Ahireng. Mungkin ia bisa mempermain- kan Turi lebih jauh.

“Kau tahu tidak, Turi... di balik kerudung dan pa- kaian yang menutupi dirinya, si Buyut pastilah sangat cantik. Bahkan walaupun sudah tua,  namun  beliau pasti jauh lebih cantik darimu saat kau cantik  dulu! Nah, apa lagi yang kucari? Sang Buyut sakti. Pandai. Cantik. Bukankah sangat tepat jadi permaisuriku ke- lak? Sementara kau... mungkin masih terus jadi umpan pukulan tukang pukul kami, hi hi hi hi....” Ahireng menjalankan buah catur sambil melirik Turi.

Turi masih menggigit bibir. Membalas gerakan tadi. “Kami akan menjadi raja dan ratu bagaikan Kama-

jaya dan Kamaratih! Bagaikan dewa dan dewi dari ka- yangan. Tak apalah dewanya agak hitam sedikit. Tapi dewinya begitu cantik, apa bisa dikatakan orang?”

Tiba-tiba Turi mengentak berdiri. Matanya yang hi- tam memancar marah. Ia mengentakkan kaki. Agaknya pujian terus-menerus pada si Buyut tak tertahan lagi olehnya.

“Kenapa, Turi?” Ahireng tertawa, masih juga duduk. “Kau tak mungkin menang atau... hei, kau  iri  karena aku memuji-muji kecantikan Sang Buyut?”

“Hhh!” Baru kali ini Turi bersuara. Ia mengentakkan kaki lagi dan pergi meninggalkan Ahireng.

“Hei, Turi, kembalilah. Ini adalah kenyataan. Sang Buyut lebih cantik dari kamu. Kenapa kamu harus iri?” Ahireng berteriak, makin senang menggoda.

Ia tertegun. Tiba-tiba saja Turi lenyap.

Ia saat itu sudah tahu, Turi punya ilmu gerak lari yang sangat ajaib. Mungkin yang dibilang gurunya Sura- Caya. Ia pun sudah selalu berusaha menirukannya. Ta- pi sejauh itu mungkin ia hanya bisa meniru kulitnya. Sedang ilmu murninya... seperti barusan. Tiba-tiba le- nyap!

“Hei, Turi! Kembali!” teriak Ahireng berdiri. Setelah berhari-hari mengajaknya ‘berlatih’, Turi sesungguhnya tak perlu dijaga lagi. Tak pernah pergi meninggalkan sanggar di gunung terpencil itu. Bahkan sekali-sekali Turi pergi sendiri. Namun selalu kembali. Memang dae- rah di sekitar itu hanya hutan rimba. Tapi kali ini Ahi- reng khawatir juga.

“Turi! Ayo kembali. Kita teruskan catur ini!” teriak- nya. Tak ada jawaban.

“Ini rajamu sudah tersudut. Satu langkah lagi pasti keok!” teriak Ahireng lagi.

Tak ada jawaban.

“Ayo, cepat... kita mulai lagi, ya... aku korbankan tiga anak buah dulu ”

Tetap tak ada jawaban.

Ahireng gelisah. Ia berpaling pada pelayan tua yang setia menungguinya. “Kek. Kaulihat ke mana dia pergi tadi?” tanyanya. Si kakek menggelengkan kepala.

“Sialan. TURIIIII!” teriak Ahireng mengerahkan sua- ranya. Kemudian tubuhnya melesat. Cepat sekali me- nembus pepohonan rimba dan memotong beberapa ja- lan setapak yang biasa mereka lewati jika pergi dari sanggar ke tempat ini. Tak ada tanda-tanda keberadaan Turi.

“TURIIII!” ia berteriak, berdiri di atas sebatang dahan pohon raksasa.

Tak ada jawaban.

Ahireng melompat turun dan berlari ke lapangan ke- cil tempat mereka berlatih tadi. Si pelayan tua sedang bersandar ke pohon dan terkantuk-kantuk. Maklum. Ia pun harus berangkat ke tempat itu sejak hari gelap tadi.

“Kek! Turi kembali?” bentak Ahireng. “Tidak itu!” Si kakek terkejut terbangun. “TURIIII!” teriak Ahireng.

Hanya gemanya sayup-sayup terdengar jauh. “Celaka,” keluh Ahireng. Ia tak mengerti. Masa per-

soalan seperti itu saja membuat Turi begitu marah? Pa- dahal biasanya dimaki-maki dan dibentak-bentak seper- ti apa pun dia diam saja.

“TURIIIII!” Tak ada jawaban. Ahireng berpaling lagi pada si kakek.

“Aku akan ke sanggar. Kauikuti perlahan-lahan. Dan lihat-lihat, ya? Kalau kaulihat Turi, bujuk dia pulang!”

“Kkkalau ketemu macan?” tanya si kakek ketakutan. “Sungguh untung kau bisa dimakannya!” sahut Ahi-

reng geram. Dan ia melesat pergi.

Ke mana Turi pergi? Mungkinkah ke sendang di atas gunung itu? Ya. Di sana ada sumber air panas. Turi memang sering berendam di sana. Dan sesaat pikiran Ahireng teringat pada seorang gadis yang dipergokinya sedang berendam di sendang air panas itu. Cepat ia ber- lari, bahkan berkali-kali harus melompat melesat mele- wati dahan-dahan pepohonan raksasa.

Beberapa saat ia sudah tiba di tempat itu. Di sini hawa agak hangat dan tumbuh bunga-bunga liar ber- warna cerah. Turi senang main dengan  bunga-bunga itu. Tetapi kini tak ada seorang pun di situ.

“TURIIIII!” teriaknya lagi. Tak ada jawaban. Gila!

Betapa cepatnya lari gadis itu hingga sekilas saja ia tak bisa mencari jejaknya? Apakah Turi menyembunyi- kan kesaktiannya yang asli? Mereka memang biasa ber- kejaran, tetapi Ahireng tak pernah benar-benar sampai tertinggal.

Atau... mungkinkah karena daya amarah yang amat sangat membuat Turi memperoleh kekuatan yang luar biasa dahsyat? Hingga mampu berbuat lebih dari bi- asanya?

He. Kalau benar itu... apakah Turi cemburu? Turi cemburu? Apakah sesungguhnya diam-diam Turi me- nyukainya? Kalau saja dalam keadaan biasa, mungkin Ahireng akan tertawa. Sungguh lucu jika gadis merah itu menyukai pemuda yang sehitam dia.

Tapi kemungkinan itu memang ada.

Ahireng berlari menuruni gunung lagi. Ke tempat mereka tadi berlatih.

Dilihatnya si kakek sedang duduk di tengah lapang- an. Tampaknya kebingungan.

“Hei, kau belum juga pergi?” hardik Ahireng.

“Takut kalau bertemu macan, Den,” kata si kakek gemetar.

“Kau tahu di sini tak ada macan!” tukas Ahireng. “Tapi tadi waktu kutanya, Raden bilang ada,” si ka-

kek bingung. “Tolol. Aku hanya bercanda.” Dan Ahireng tertegun lagi. Mungkin ia tadi memang bercanda. Tapi Turi menganggapnya ia berkata sebenarnya.

“TURIIII! AKU HANYA BERCANDAAAAA!” teriaknya.

“Hamba rasa Turi tidak takut pada macan, jadi tak penting baginya Tuan bercanda atau tidak,” kata si ka- kek.

“Aku bukan bicara tentang itu!” tukas Ahireng.

“Lagi pula waktu Tuan bicara tentang macan, si Jing- ga itu telah pergi!” kata si kakek lagi.

“Diam!” bentak Ahireng. “Kau cepat berangkat sana!”

Ahireng melompat ke atas dahan pohon. Berteriak lagi, “TURIIIIIII! AKU HANYA BERCANDAAAAAA! ENG- KAU TIDAK JELEEEEEK!”

Ia ingat kata-katanya tadi tentang si Buyut. “KAU TIDAK LEBIH JELEK DARI SANG BUYUUUUUT! PU- LANGLAH! DAN BANDINGKAN... SANG BUYUT PASTI JAUH LEBIH JELEK DARIMUUUUU!!!”

“Bagaimana kau bisa tahu?” tiba-tiba terdengar sua- ra lembut di sampingnya.

Ahireng terkejut. Apakah itu tadi suara Turi? Ia tak pernah dengar Turi berbicara.

Ia memilih pura-pura tak mendengar. Ia melompat turun ke tanah.

Si kakek masih di tengah lapangan.

“Kau lihat Turi, Kek?” Ahireng memperkeras sua- ranya.

“Mungkin sudah dimakan macan,” sungut si kakek. “Sesungguhnya ia itu cantik sekali. Coba kalau se-

ring mandi. Mungkin warna merahnya bisa hilang,” kata Ahireng lagi sambil terus memasang telinga. Ia yakin ada seseorang di dekat mereka. “Kalau tampak wajah aslinya, mana mungkin Sang Buyut bisa bertanding ke- cantikan dengannya?” “Apakah kau telah pernah melihat wajah Sang Buyut?” suara lembut itu terdengar begitu dekat.

“Tentu, dulu waktu...” Ahireng berpaling dan ter- tegun. Di hadapannya berdiri gurunya. Sang Buyut!

Bersambung ke jilid 11