-->

Dewi Penyebar Maut Eps 09

Dewi Penyebar Maut Eps 09

1. PERTEMUAN

SEORANG lelaki berdiri di atas bukit. Di sekitarnya ter- hampar kehijauan hutan belukar. Puncak-puncak po- hon bergelombang. Menjauh. Hingga kaki langit.

Hanya bukit ini yang tampaknya tertinggi.

Tapi itu hanya pada pandangan si lelaki itu. Ia tahu. Tanah yang menjadi dasar bukit itu adalah punggung Gunung Kala Hut. Hingga pastilah ada yang lebih tinggi dari puncak bukit tempatnya berdiri.

Lelaki itu tua hanya karena tampak dari rambutnya yang berkibar panjang dibiarkan tanpa gelung. Rambut itu putih bagai kapas di pintalan. Tubuhnya tegak- tegap. Hanya berbalut kain putih kasar. Matanya pun dilindungi oleh alis tebal putih.

Dan mata itu terpejam. Keningnya berkerut. Ia adalah Panembahan Megatruh.

Beberapa hari ia telah mengembara, mencari warta. Terutama tentang istrinya, Nyai Rahula, yang kabur ha- nya karena mengikuti watak kekanak-kanakannya. Ki Megatruh juga memasang telinga tentang adiknya, Nyai Sinom, beserta suaminya, Ki Mahendra, yang menjadi gara-gara ini semua.

Tapi sampai saat itu tak ada keterangan sedikit pun yang bisa memberinya petunjuk.

Mungkinkah ia salah mengambil arah?

Tadinya ia menduga bahwa Nyai Rahula akan pergi ke arah Bala Latar, karena di sana tinggal beberapa ke- luarganya. Keluarga jauh. Bahkan mungkin sesungguh- nya tak ada hubungan keluarga sama sekali. Hubungan yang ada mungkin hanya karena dahulu Nyai Rahula dilahirkan di desa itu.

Tapi tak ada berita tentang wanita tua berambut pu- tih perkasa itu. Dan ia tertarik untuk mengunjungi bukit ini.

Ini adalah salah satu tempat yang sangat berarti da- lam hidupnya. Di sini dulu... entah berapa puluh tahun yang lewat... Sang Brawijaya berkenan menganuge- rahkan cincin Naga Wilis, perlambang terima kasih ter- tinggi Wilwatikta atas keberhasilannya memadamkan pemberontakan Nagabisikan.

Ah. Betapa cepatnya waktu berlalu.

Siapa yang kini berada di tahta Wilwatikta?

“Aku, Kakang Megatruh,” seolah terdengar sebuah suara menjawab.

“Siapa?” Ki Megatruh tertegun. Ia heran. Bukannya terkejut. Daerah sekelilingnya sepi. Tak ada manusia se- orang pun. Dan dengan telinganya yang begitu terlatih, rasanya tak ada sesuatu pun yang bisa bergerak sejauh lima puluh langkah darinya tanpa diketahuinya.

“Di Kediri seorang sakti menyembunyikan diri...” sua- ra itu bagai berlagu.

Ki Megatruh langsung menjatuhkan diri dan bersim- puh. Menunduk menyembah ke arah timur. Dan meng- gumamkan baris sambungan lagu tersebut, “Dan mata- hari pun malu menerangi hari...”

Lagu itu adalah lagu pembukaan pembacaan riwayat berdirinya kerajaan Wengker. Pikiran Ki Megatruh lang- sung terpaut pada salah satu pangeran kerajaan kecil itu, yang dulu pernah mengikat persaudaraan dengan- nya. “Sang Ahulun-kah?” tanyanya agak ragu, meng- ingat apa yang ditanyakannya sebelumnya. Walaupun hanya dalam hati. “Mohon ampun jika sanghulun salah berucap.”

“Jangan memakai banyak basa-basi.” Suara itu en- tah terdengar oleh telinga, entah terdengar hanya di ha- ti. Ki Megatruh sendiri tak tahu. Ia hanya memandang ke suatu titik kosong di sebelah timurnya. “Kau masih anak desa yang begitu kebingungan masuk istana hing- ga sepuluh hari tak bisa  makan....” Suara itu, atau ke- san suaranya, seolah tersenyum.

“Dan Paduka masih pangeran kecil nakal yang baru tahu ada hewan bernama cengkerik di dunia ini,” sahut Ki Megatruh dengan senyum pula di balik jenggot pu- tihnya.

“Kini kami duduk di tahta Wilwatikta, tapi masih ba- nyak yang tiada kami ketahui.”

“Sang Ahulun dengan mudah menemukan sanghu- lun,” sahut Ki Megatruh.

“Kau sendiri yang menemukan dirimu.... Kau begitu terharu oleh sesuatu hingga kesedihanmu sampai pa- daku. Justru pada saat aku memikirkanmu. Katakan, apakah kau berbahagia, Kakang?”

“Hamba terpencil di pucuk gunung. Tetapi  hamba tak kekurangan suatu apa pun. Itu pun berkat restu Paduka yang telah melindungi negara ini dengan kese- jahteraan.”

“Justru aku harus berterima kasih padamu. Berkat bantuan rakyat kecil seperti kau-lah, maka Wilwatikta masih berdiri. Dan ini bukan kata-kata kosong. Siapa belum pernah mendengar nama Singa Bramantya?”

“Ahulun, justru di situlah letak kekosongan nama. Hamba merasa belum cukup berbakti pada negara ini,” sembah Ki Megatruh menyembah tempat kosong.

“Ah. Kalau aku tak kenal sifatmu, maka pastilah aku akan mengira kau sekadar merendahkan diri agar men- dapat hadiah yang lebih tinggi...,” suara itu bagai terta- wa.

“Kiranya dijauhkan sifat seperti itu dari hamba, Sang Ahulun...”

“Mengapa kami tak pernah mengetahui di mana kau berada?” tanya suara itu. “Kau pun tak pernah memi- kirkan kami hingga tak terjalin hubungan sukma seperti sekarang ini.”

“Mungkin karena hamba sekeluarga tak pernah me- mikirkan pribadi Paduka. Tak terpikir oleh hamba bah- wa Paduka-lah yang berada di tahta Wilwatikta. ”

“Yah... memang...,” suara itu seakan mengeluh. “Se- sungguhnya bukan kami-lah yang mewarisi tahta ini. Hanya suatu kebetulan,  maka  keturunan  langsung Sang Rajasa harus terhenti. Tapi    aku berusaha meng-

hubungimu, Kakang Megatruh. Ratusan orang kuse- barkan. Tak ada hasilnya. Kemudian    sengaja kami se-

barkan Kidung Singa Bramantya dan Kidung Kidang Brangah. Kedua Kidung itu kukira tersebar luas dengan cepat.”

“Sang Ahulun masih nakal seperti dulu.” Ki Megatruh tertawa. “Tetapi tempat kami terpencil ”

“Itu sudah kami pikirkan. Aku tahu kau punya ba- nyak murid. Tapi muridmu pun selalu menutup diri. Maka siasat kami adalah kuharap kau berlapang dada

... membuat kacau kedua kidung itu. Zamannya kami buat keliru. Nama-nama tokoh pun kami campur-aduk- kan. Juga beberapa kejadian. Walaupun cerita uta- manya tak mengingkari sejarah yang pernah terjadi. Mengertikah kau?”

“Ah, ya. Kemungkinan muridku mendengar dan ma- rah membantah cerita itu?” Ki Megatruh tertawa lagi. “Kurasa murid-muridku takkan segoyah itu kepribadi- annya.”

“Kau belum kenal kenakalanku, Kakang Megatruh....

Di akhir kedua kidung itu kami perintahkan menulis bahwa... ha ha ha ha.   kau kawin dengan Dinda Pitalo-

ka, Dinda Sinom kawin dengan Kakang Tantri, dan Dinda Mahendra dengan Dinda Rahula... ha ha ha  ”

“Ya Dewa!” Ki Megatruh kini betul-betul terkejut. “Begitulah, Kakang... kurasakan bahkan kau sendiri memendam gejolak rasa kaget. Apalagi muridmu. Tapi... atau kau tak punya murid... atau muridmu betul-betul gemblengan... sampai kini pun belum seorang pun dika- barkan mengamuk karena isi kedua kidung tersebut.”

“Paduka betul-betul masih sangat nakal!” keluh Ki Megatruh. “Jika kedua kidung itu tersebar, pasti sangat sulit untuk membetulkannya lagi!”

“Salahkan muridmu, Kakang Megatruh, mestinya mereka langsung membantah kedua kidung tersebut.”

“Tapi... sebetulnya mengapa Sang Ahulun ingin sekali menghubungi hamba?” Ki Megatruh mengerutkan ke- ning. “Sunguh kenakalan Sang Ahulun hanya bisa di- tandingi oleh adik hamba, Nyai Sinom ”

“Ah. Jadi Dinda Sinom benar-benar telah berkeluar- ga? Hh... hh... hhh Suami mana yang tahan padanya?

Ah, Kakang, ceritakan apa saja yang terjadi dengan ka- lian.”

“Rasanya, hamba tak akan kuat melakukan hubung- an ini terlalu lama, Sang Ahulun... ilmu hamba jelas takkan bisa mengikuti ilmu Paduka ”

“Tak apa. Ceritakan dengan singkat.”

“Sehabis pertempuran besar di Bengawan Bera Ran- tas itu yang tinggal di antara kami adalah hamba sen-

diri, Dinda Sinom, Dinda Mahendra, dan Dinda Rahu- la.”

“Wah. Dalam Kidung Singa Bramantya dan Kidung Kidang Brangah yang kami sebarkan, kalian masih be- renam! Ha ha ha....” Suara di dalam batin Ki Megatruh itu seakan tertawa.

“Kami berempat kemudian saling mengikat hubung- an kekeluargaan. Dinda Sinom dan Dinda Mahendra te- lah dikaruniai seorang putra.... Kami yang lain belum begitu diberkati ” “Ah. Lalu putra Dewi Kumbini?”

“Hamba tak pernah mendengar beritanya.”

“Sayang. Sesungguhnya ia juga memiliki garis darah langsung dari Sang Rajasa. Eh. Mungkin kau belum ta- hu bahwa... Sang Nagabisikan pun masih hidup?”

“Wah. Betulkah?”

“Kaukira orang sesakti itu bisa runtuh hanya karena tersiram air Bengawan Bera Rantas?”

“Hamba bersyukur... tak sepatutnya manusia de- ngan ilmu setinggi itu lenyap begitu saja,” Ki Megatruh berkata bersungguh-sungguh. “Mungkin sarika kini cu- kup berpandangan luas untuk merundingkan ilmunya denganku... demi kesejahteraan isi jagat.”

“Kurasa tidak semudah itu, Kakang... aku merasa- kan getaran dendamnya... dan kelicikan Waspada-

lah... aku harap... kau bisa menemuiku... Kakang   ”

Dan hubungan aneh itu terputus.

Ki Megatruh merasa dirinya lemah lunglai. Begitu banyak ia mengerahkan tenaga untuk memusatkan pi- kiran tadi.

Ah. Apa sebenarnya yang terjadi?

Ia tahu. Di dunia ini ada semacam ilmu yang berna- ma ‘meraga sukma’. Sukma seseorang bisa direnggut dari jasmaninya dan sanggup bepergian jauh. Suk- manya jadi raga, tapi toh tetap sukma yang tak bisa di- lihat, diraba, atau didengar. Sukma itu baru bisa meng- hubungi seseorang yang memang sukmanya siap dihu- bungi. Seperti dalam mimpi, misalnya. Atau dalam kea- daan sama-sama secara dalam memikirkan sesuatu. Seperti Ki Megatruh tadi.

Tapi... akhirnya toh semuanya serasa mimpi. Betul- kah pembicaraan tadi terjadi?

Ki Megatruh mengorak silanya dan berdiri. Rambut putihnya berderai dibelai angin. Ia menghirup udara se- gar dalam-dalam.

Ia harus percaya bahwa pertemuan tadi terjadi. Dan mungkin terjadi.

Sang Pangeran kecil yang dulu sangat nakal itu me- mang berbakat sakti  dari semula. Kemudian, mungkin ia jadi Bhre Wengker. Untuk kemudian naik tahta Wil- watikta. Dia yang bergelar Sang Hyang Purwawisesa.

Kembali Ki Megatruh menghela napas. Kalau Sang Maharaja benar-benar menyiarkan kedua kidung yang porak-poranda itu... wah, pasti akan hebat jadinya. Te- rutama kalau Sinom tahu!

Pertanyaannya, sekali lagi, betulkah pertemuan tadi terjadi?

Ki Megatruh menghela napas panjang. Perlahan ta- ngannya mengusap pangkal lehernya.

Dahulu, begitu banyak kalangan istana yang menge- nalnya. Sang Brawijaya sendiri memberinya tanda pe- ngenal yang mewajibkan semua orang tunduk padanya. Bahkan, anehnya, itu termasuk Sang Brawijaya sen- diri—yang pernah dilakukannya di perang besar padang Bera Rantas, saat ia ingin melarang Sang Maharaja ma- ju berperang memimpin pasukan sendiri. Sekarang... siapa mengenal dirinya? Ya. Siapa bisa mengenal diri- nya? Nama-nama besar yang lalu, hanya nama kosong saja kini.

Tangannya mengusap terus pangkal lehernya. Dan tiba-tiba, sedikit demi sedikit, kulit di pangkal leher itu seakan terkelupas. Semakin lebar. Semakin lebar.

Kedua tangannya berhenti sesaat.

Untuk apa ia menyembunyikan keburukan ini? Mungkin untuk menenteramkan hati istrinya. Mungkin hanya untuk memuaskan hati adiknya, Rara Sinom, waktu itu. Mungkin juga demi permintaan Tantripala si maha tabib. Atau desakan Mahendra yang mungkin ha- nya ingin melucu.

Walaupun ia tak memakai ini, toh orang takkan mengenalnya. Walaupun ia memakai ini, apakah itu be- rarti ia akan mengizinkan keburukan disembunyikan?

Kedua tangannya mencengkeram sobekan kulit di lehernya. Dan diangkatnya ke atas.

Kulit itu terkelupas. Kemudian... lehernya. Dan... mukanya. Dan... rambutnya.

Ki Megatruh berdiri dengan angin menerpa wajah as- linya. Wajah buruk bercoreng-moreng bekas luka bakar. Batok kepala hitam di mana rambut takkan tumbuh.

Ia ingin menemui jatidirinya.

***

Jauh di sebelah timur, di menara pemujaan, Sang Ma- haraja penguasa Wilwatikta, Sang Prabu Hyang Purwa- wisesa, roboh saat bersemadi. Beberapa pendeta pen- dampingnya sangat terkejut dan gugup berusaha mem- bangunkan Sang Prabu.

Suara pepujian mengalun bersamaan empasan na- pas lega.

Dan Sang Maharaja membuka matanya. “Tak apa- apa... aku tak apa-apa...,” sabda Sang Raja lemah. “Aku bahkan gembira... aku baru bersua... sahabat lama ”

2. PERJALANAN

BEBERAPA saat hening. Tun Kumala berdiri terpaku, setelah mengucapkan kata-kata yang serasa dibisikkan orang padanya. Saat seperti itu ia benci pada pakaian ‘Tanah Seberang’ yang dipakainya. Matahari telah ting- gi, dan panasnya menusuk kulit.

Agak jauh darinya, Nyai Gadung dan Ni Gori mena- han napas, memperhatikan ‘Wisti’ dan Wara Huyeng. ‘Wisti’ tampak pucat. Dan tangan kirinya begitu ge- metar hingga ia memerlukan memegang pundak Wara Huyeng. Ia tak punya pikiran lain. Tun Kumala begitu fasih melafalkan kata-kata pertama ajaran Wajrapra- yaga.

Beranikah ia menerjangnya? Ia melirik Wara Huyeng. Wara Huyeng masih memperhatikan Tun Kumala dan kemudian berbisik, “Angin kuat, Junjungan.”

“Huh. Kaukira itu sudah benar?” tiba-tiba Wisti men- cibir. “Coba. Di manakah Sang Matahari berada?”

Inilah kata-kata sandi bersayap tentang tenaga da- lam Wajraprayaga.

Tun Kumala tertegun. Bagaimana ia harus menja- wab? Dan sekali lagi terdengar suara desis. Ia pura- pura membungkuk mengambil batu, dan suara itu ter- dengar jelas.

“Saat Sang Khrisna berada di Kapila, siapa memerlu- kan matahari?” terdengar seseorang membisikkan kata- kata itu di telinganya. Dan dengan lantang ia pun mengulangi kata-kata itu.

Sekali lagi, Wisti terpaksa mundur selangkah.

Ia melirik pada Nyai Gadung. Wanita tua itu sedang membungkuk memeriksa kaki ‘anak’nya, Ni Gori, yang tampak sekali sangat bingung mendapat perawatan dari ‘ibu’nya itu. Tadi sekilas ia melihat Nyai Gadung meng- gerakkan bibir. Tetapi itu mungkin hanyalah mantra untuk menyembuhkan sakit kaki Ni Gori.

Dan tiba-tiba Nyai Gadung berpaling padanya, terta- wa.

“Aku bukanlah ahli ilmu sesat itu,” orang tua itu berkata. “Tapi seperti layaknya ilmu sesat, sikap si pe- milik tidak menggambarkan kekuatan ilmu yang dimili- kinya. Nasihatku... kalau kau nggak percaya... coba saja terjang dia... aku ingin lihat tontonan menarik!” Wisti tak menjawab. Pipinya panas. Pipi yang kuning keputihan itu memerah ranum. Matanya yang indah ki- ni memperhatikan Tun Kumala.

Ia benci pada pemuda yang agaknya mempermain- kannya itu. Tetapi tiba-tiba juga muncul rasa ingin me- milikinya. Pemuda ini sungguh lain dari yang lain.

Lebih tampan. Lebih aneh. Lebih tak terduga. Dan mungkinkah... ilmunya juga berlebih?

Kalau itu semua benar, tidakkah layak ia menjadi pendampingnya?

Ia orang seberang. Tapi dengan memiliki Wajrapra- yaga, mungkin ia masih dari keluarga dekat istana. Wa- lau... mungkin juga pemuda itu, seperti dirinya, mencu- ri ilmu langka itu hanya untuk masuk ke dalam istana.

Saat itu Tun Kumala pun memandang padanya.

Dan kedua pasang mata indah, hitam, bersinar ta- jam itu bentrok.

Kemudian masing-masing sama-sama memalingkan muka.

Tun Kumala tak tahan menerima tatapan orang be- rilmu setinggi Wara Hita. Wara Hita tak tahan menerima tatapan ‘pemuda’ impiannya.

Ini tak lepas dari pandang mata Wara Huyeng. “Junjungan, sudahlah...,” bisik Wara Huyeng sambil

terus memperhatikan Tun Kumala. “Ikan kecil seperti ini tak usah banyak dipikirkan. Kita bisa mengail di tempat lain!”

“Benar. Yang ini banyak durinya....” Nyai Gadung tertawa.

“Baiklah.” Wisti alias Wara Hita mengertakkan gigi, mengepalkan tinju, mengentakkan kaki. Batu di bawah kakinya hancur seketika.

“Aku kelak... akan... mencarimu... Tun!” katanya se- dikit gemetar saat ia memutar badan dan dengan lang- kah gagah pergi mendekati kudanya. Wara Huyeng pun mengangkat bahu, dan tak acuh juga berpaling, berja- lan dengan lenggang berlebihan serta melompat lang- sung ke punggung kudanya. “Mayat-mayat ini biarkan saja, ya,” pesannya pada Nyai Gadung. “Lima hari lagi aku mau ke sini untuk memakannya, hi hi hi hi....” Ia tertawa membelokkan kudanya.

Untuk terakhir kali Wisti memperhatikan Tun Kuma- la dari atas punggung Tatit Ketiga. Kemudian ia berkata pada Nyai Gadung, “Wanita tua... guruku pasti ingin sekali berkenalan denganmu ”

“Jelas.” Nyai Gadung tertawa. “Melihat hasil ajaran- nya padamu, tak pelak lagi pastilah ia harus berguru kembali. Mungkin pembantu anakku bisa menerimanya sebagai murid, hi hi hi hi ”

“Hm! Ke mana pun kau pergi, kami pasti bisa menca- rimu. Jadi, suatu saat kata-katamu itu harus kaubuk- tikan....” Kembali Wara Hita memutar kudanya dan mencuri pandang pada Tun Kumala. Saat itu pun Tun Kumala sedang memandang padanya, bahkan seakan ingin mengatakan sesuatu.

“Saudara Wisti  ,” kata Tun Kumala lemah.

“Sudahlah... lain kali saja kita bicara....” Ingin Wisti mengeluarkan kata-kata ancaman atau makian. Tetapi yang keluar hanyalah itu. Ia memutar kuda lagi, melirik pada, Tun Kumala, dan menggertak kuda tersebut hing- ga langsung melesat berderap menaiki lereng tebing. Wara Huyeng tertawa menyusul.

Beberapa saat kemudian, kembali lembah itu hening. Kemudian Tun Kumala menghela napas panjang. Se- saat ragu-ragu. Tapi ia berjalan cukup mantap menuju kudanya, yang seperti kuda-kuda lainnya enak-enak merumput tanpa memperhatikan kejadian di sekeliling mereka. Ia pun jadi merasa tak enak lagi. Kuda ini se- sungguhnya bukan miliknya. Mungkin milik Wisti. Yang jelas, mereka yang mengantarkannya kini telah terkapar kehilangan nyawa.

“Hei, mau ke mana kau?” Nyai Gadung berseru he- ran.

“Oh, maaf, Bibi...” Tun Kumala berhenti sesaat. “Aku rasa... sebaiknya aku pergi saja. Terima kasih atas ban- tuan Bibi dan... Adik Gori. Jelas aku tak bisa membalas budi Bibi. Jika... jika Bibi ke Kuripan, mampirlah ke... ke rumah Rakryan Rangga. Aku... aku pernah tinggal di rumah itu dan... Nyai Rangga kenal aku Katakan Bibi

pernah menolong aku... mungkin beliau ingin mengu- capkan terima kasih ”

“Anak muda, tenangkan pikiranmu.” Nyai Gadung mengerutkan kening. “Anggap saja aku tak pernah me- lakukan apa pun... jadi kau tak usah merasa berutang budi padaku, apalagi sampai kau merasa harus memba- lasku dengan harta dunia. ”

“Terima kasih jika Bibi berpikiran begitu     ” Tun Ku-

mala sesaat memainkan tali kekang kudanya. “Terus- terang, tanpa bantuan Bibi mungkin aku sudah jadi korban mereka. Tetapi, terus-terang, jika Bibi tidak ikut campur, maka peristiwa ini   bahkan sampai terjadinya

korban nyawa. mungkin tak pernah terjadi.”

“Hei, jadi kau menyalahkan Jun... ibuku?” Ni Gori geram berdiri. Ia hampir roboh kembali, tetapi dengan mengertak gigi wanita muda itu berhasil memasang tampang marah.

“Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, Adik manis.” Tun Kumala mencoba tersenyum. “Ini semua juga ka- rena kegemaranku ikut campur urusan orang... serta...

ketidaksetiaanku pada kata-kata dan tekad yang ku- miliki. Kalau ada yang patut dihukum, maka akulah itu. Kalau aku teguh akan janjiku pada mereka, mestinya aku tak usah memperhatikan kalian. Kalau aku mengi- kuti perasaan hatiku terhadap kalian, mestinya aku te- gas menolak mereka. Dan aku tak melakukan kedua- nya.”

Tiba-tiba Tun Kumala termenung.

Banyak yang tak dilakukannya. Ia bertekad untuk mencari keterangan tentang fitnah yang diderita ka- kaknya. Dan sampai memperoleh pengalaman sepahit ini ia tak memperoleh keterangan apa-apa. Bahkan ia hampir kehilangan nyawa. Yang jelas, ia telah kehilang- an Rakryan Mapatih.

Tak peduli akan pelototan Ni Gori, Tun Kumala me- rangkap tangan. Hampir saja ia memberi salam sembah sebagai layaknya orang Jawa. Tetapi ia ingat peran yang sedang dilakukannya. Dan ia hanya mengangkat tangan itu setinggi dada. Kemudian ia menaiki kudanya.

“Kau...” Hampir  Ni  Gori  mendamprat  Tun  Kumala.

Tapi Nyai Gadung memberi isyarat mencegahnya.

Dengan diam mereka memperhatikan Tun Kumala mengendarai kudanya menaiki tebing. Dan masuk ke dalam hutan.

“Junjungan, manusia tak bertulang seperti dia untuk apa dikasihani?” geram Ni Gori.

Tak ada jawaban.

Terkejut Ni Gori menoleh. “Junjungan!” jeritnya, ia melangkah dan roboh di sisi Nyai Gadung yang terba- ring pucat di tanah berbatu.

“Junjungan!” bisik Ni Gori, bingung.

“Gori... bawa aku ke tempat teduh... cari tempat sembunyi untuk beberapa hari ini,” bisik Nyai Gadung dengan mata terpejam rapat menahan sakit. “Sesung- guhnya aku roboh sedari tadi.... Bhirawadana mereka cukup kuat, walaupun agaknya palsu. Kalau saja me- reka menyerangku tadi, pastilah aku takkan bisa sela- mat.... Karena itulah tadi kugunakan anak muda itu untuk menggertak mereka. Ugh...” Sesuatu bergerak di dada Nyai Gadung, dan setitik darah muncul di sudut bibirnya. “Yang bernama Wisti itu cukup kuat. Bawa aku cepat menyingkir, Gori.... Sayang... Sayang si Tun tadi tak mau ikut kita. Sesungguhnya... aku ingin dia jadi muridku... untuk kuadu dengan murid Dinda Si- nom, agar tahu dia, betapa ilmuku pun sanggup mela- wannya ”

“Guru... jangan terlalu banyak bicara, Junjungan...

biar hamba dukung... mohon ampun, Junjungan   ” Ni

Gori mengerahkan tenaga. Ia terhuyung ketika meng- angkat tubuh Nyai Gadung.

“Sayang anak itu terlalu keras kepala... ugh     Nanti

kalau... aku sudah sembuh... biar kita ikuti lagi dia    ”

***

Beberapa lama Wara Hita terus memacu kudanya. Me- nutup mulut rapat-rapat. Tak mempedulikan Wara Hu- yeng yang beberapa kali mencoba mengajaknya berbica- ra. Kemudian mereka melewati puncak sebuah bukit kapur. Tiba-tiba saja Wara Hita membelokkan kuda pu- tihnya ke segerombolan semak belukar, berhenti dan...

tubuhnya terhuyung jatuh dari punggung kuda! “Anakmas!” Wara Huyeng menjerit terkejut, melom-

pat cepat menyambar tubuh junjungannya itu. Ia cukup sebat hingga Wara Huyeng tak sampai terempas ke ta- nah. “Anakmas. kenapa?”

Wajah Wara Hita pucat-pasi. Napasnya tersengal- sengal. Ia menekap dadanya dan memberi isyarat agar Wara Huyeng mendudukkannya di bayang-bayang per- du.

“Anakmas...” Gugup Wara Huyeng mencoba mene- gakkan duduk Wara Hita. Dan kali ini wanita setengah tua yang biasanya cerewet dan ceriwis itu tampak begi- tu kebingungan. Dengan cepat ia memijit beberapa ba- gian tubuh Wara Hita.

Wara Hita masih juga tersengal-sengal.

“Anakmas... aku tak bisa menemukan apakah Anak- mas terluka ataukah cedera... ada apa sebenarnya?” Wara Huyeng mencoba-coba terus.

Wara Hita memejamkan mata rapat-rapat. Keringat mengucur deras di dahinya yang mulus licin. Wara Hu- yeng menjilat keringat itu dan berpikir-pikir. “Tidak... kau pun tak terkena racun... dan jalan darahmu tak terganggu... lalu kenapa?”

“Ugh!” Tiba-tiba Wara Hita terbatuk, dan darah segar terlempar dari mulutnya.

“Anakmas!” Wara Huyeng menjerit.

Tetapi kini Wara Hita agaknya lebih tenang. Pipinya mulai memerah, dan ia memejamkan mata bersemadi. Melihat ini Wara Huyeng merasa sedikit lega. Ia pun mundur, menuntun kedua kuda mereka ke sebatang pohon, mengikatnya, dan kembali memperhatikan Wara Hita. Diusapnya keringat yang mengucur di muka Wara Hita. Diambilnya selendangnya dan direntangkan di ranting-ranting di atas Wara Hita hingga gadis yang berpakaian pria itu terlindung dari panas matahari.

Kemudian ia menunggu.

Tak berapa lama, Wara Hita membuka matanya. “Anakmas... apa yang terjadi?” tanyanya.

“Bibi... wanita tua itu sungguh hebat.... Tanpa me- nyerangku ia telah membuat berantakan semua tata kehidupan di dalam tubuhku. Hanya dengan menangkis Bhirawadana-ku! Aku... aku yakin dia tidaklah sesakti Guru Yang Mulia... namun jelas ia jauh di atas Resi Rhagani,” kata Wara Hita berbisik.

“Kalau begitu ia harus kita kejar... dan tangkap!” ka- ta Wara Huyeng bersemangat. “Orang semacam dia akan sangat berbahaya kelak... dan mungkin dia me- mang sedang memata-matai kita?”

“Kurasa tidak... ia hanya kebetulan lewat dan... ugh

... kita takkan mampu menaklukkannya.... Lebih baik kita menghaturkan hal ini pada Bapa Guru. Itulah se- babnya aku tadi... terpaksa menahan diri.”

“Ugh ya... Tun Kumala tadi memang ranum ya....

Tinggal dipetik... eh, kabur!” Cepat sekali Wara Huyeng lupa akan penderitaan junjungannya itu. “Tapi Anak- mas tak usah memperhatikan dia. Apa enaknya wajah tampan kalau badannya... huh... lha kurus begitu kok. Nanti  saja  kalau  kita  sudah  menguasai  Wilwatikta...

huh, minta sebelas pangeran yang setampan Tun Ku- mala pun gampang! Kuat-kuat lagi!”

Wara Hita memejamkan mata dan mencoba perna- pasannya. “Aku begitu lemah, Bibi... kurasa bergerak pun aku tak mampu... dan... ugh pandanganku begitu

kabur  Bibi!” Wara Hita memijit-mijit kepalanya.

“Anakmas!” Wara Huyeng membantu memijit Wara Hita.

“Bibi... tolong bawa aku pulang ke Trang Galih....

Bawa aku segera ke Bapa Guru ”

Dan Wara Hita pun roboh pingsan.

***

Desa itu lumayan besarnya. Ada pasar yang ramai. Tapi Tun Kumala yang berada di punggung kuda tak tahu ia berada di mana. Ia tahu nama desa itu hanya dengan bertanya pada seorang anak-anak. Desa Mega Wetan. Dan puncak gunung di belakangnya adalah Gunung Lawu. Hanya itu.

Ia tak bisa bertanya lebih lanjut. Anak itu tak tahu kota mana yang terdekat. Atau ini di daerah mana. Su- litnya lagi, Tun Kumala terkadang merasa dirinya ha- nyalah seorang gadis remaja. Jelas tak berani bertanya pada orang-orang dewasa yang tak dikenalnya.

Hanya karena pakaiannya yang sedikit anehlah ma- ka ia tadi didekati oleh anak-anak. Dan ia memberani- kan diri bertanya pada mereka.

Kemudian ia merasa lapar. Ia memang membawa uang. Bahkan kemarin kenakalannya mampu muncul saat sesungguhnya pikirannya sedang kacau. Ia meng- ambil ikat pinggang si Kusya yang ternyata berisi berba- gai peralatan keperluan sehari-hari. Termasuk uang. Ikat pinggang kulit lebar itu juga diambilnya karena da- pat mengurangi rasa pegal di pinggangnya karena diko- cok gerakan kuda. Juga karena di kepala ikat pinggang itu terdapat hiasan logam yang berukir indah, bergam- bar ular kecil bersayap.

Ia punya uang. Tapi beranikah ia pergi ke warung?

Karena itulah ia beberapa lama mematung di atas punggung kudanya.

Sudah sehari semalam ia berjalan sejak meninggal- kan Nyai Gadung dan peristiwa yang begitu mena- kutkan itu. Ia tak tahu arah. Asal ke arah timur, dengan harapan bisa mencapai suatu tempat yang dikenalnya. Tadi malam ia bermalam di hutan, di atas pohon. Sung- guh tak menyenangkan. Ia ketakutan terus. Tak bisa ti- dur. Dan kelaparan.

Agaknya ia harus makan. Dan mungkin istirahat la- gi. Dan bertanya arah yang harus ditempuhnya.

“Hei, minggir! Ini jalan kakekmu, apa!” suara bentak- an keras membuatnya tersentak.

Tun Kumala terkejut dan meminggirkan kudanya. Dilihatnya tiga orang penunggang kuda telah berhenti di belakangnya. Dua di antaranya memakai kain merah, bertubuh besar pendek, dan tampak kasar. Yang seo- rang lagi seorang pria berumur yang tampaknya kaya, kumis dan jenggotnya terawat rapi, gelung rambutnya diikat oleh gelang emas.

“Huh, orang asing lagi,” gerutu orang yang memben- taknya tadi, seseorang dengan dada lebat oleh rambut. “Cari apa kau sampai sejauh ini ke pedalaman?”

“Sudah, Rota, lanjutkan perjalanan!” tukas si orang kaya.

“Pokoknya jangan sampai kau berada kurang dari lima langkah dari junjunganku, Buyut Pagalan, me- ngerti!” Yang bernama Rota menghantam kuda Tun Ku- mala dengan pangkal tombak panjang yang dibawanya, kemudian menggertak kudanya sendiri.

Orang kaya itu, yang mungkin adalah Buyut Pagal- an, juga melotot marah pada Tun Kumala sebelum me- lanjutkan perjalanan mengikuti kedua pengawalnya.

Tun Kumala memijit-mijit kepalanya. Pusing. Me- ngantuk. Lapar.

Ia menjalankan kudanya.

Tahu-tau ia telah berada di pasar, dan  sadar  akan hal itu karena kudanya hampir menubruk seorang wa- nita penjual daun.

“Oh, maaf, Bibi, maaf... aku begitu mengantuk...,” gugup Tun Kumala meminta maaf.

“Tak apa, Tuan... rasanya cukup lumayan mati diin- jak kuda seorang tuan yang kaya dan tampan. Bukan begitu, Teki?” Penjual daun yang bertubuh nyaris bulat itu terpingkal-pingkal oleh leluconnya sendiri.

“Jangan sembrono, Dadap,” rekannya menyahut, memperhatikan Tun Kumala dengan mata yang dikeli- lingi keriput. “Mungkin Tuan ini tamu dari seberang lautan... bisa-bisa kau dibeli, dibawa pulang, dijadikan tontonan, lho!”

“Aduuuh, ya jangan. Si embok ini jangan dibawa ya, Tuan, ya... nanti malah membuat repot! Lha orang ma- kanan aku banyak sekali kok, hi hi hi hi....” Dadap si gendut itu terpingkal-pingkal lagi. “Eh, ngomong-ngo- mong, beli ya dagangan embok ini? Daun bagus kok, Tuan.”

“Ngawur, lha Tuan setampan itu kausuruh beli daun, lha buat apa? Apa buat mbungkus kamu?” tukas si Te- ki.

“Eala... ya siapa tahu... barangkali hanya ingin mem- beri hadiah pada si gendut ini... hi hi hi hi. Apa di se-

berang kalau makan tidak dibungkus daun, Tuan?” Da- dap ini agaknya memang sangat berani omong.

“Ya sama saja, Bibi.” Tun Kumala tersenyum. Dan senyum ini langsung membuat si Teki hampir terjung- kal karena kesengsemnya. “Ngomong-ngomong. di ma-

na ya aku bisa membeli makanan?”

“Aduh, Gusti, Dadap! Dadap! Lihat itu tadi? Tuan ini tersenyum padaku! Aduh, Dadap, coba cubit aku aku

ini ngimpi tidak sih?” si Teki gugup berkata pada rekan- nya, begitu ramai hingga orang-orang di sekelilingnya berhenti dan memperhatikannya.

“Hus, Teki, jangan ribut! Tuan itu sih tersenyum pa- damu hanya karena ingin kenalan denganku, kan begi- tu ya, Tuan, ya?” ternyata Dadap ini juga genit.

“Ah, aku memang ingin berkenalan dengan kalian berdua. Tapi... di mana aku bisa makan?” tanya Tun Kumala sabar.

“Waaah, kalau Tuan mau menunggu dan berjalan agak lama, mari ke rumah hamba sajalah... biar nanti kusembelihkan kambing,” kata si Dadap.

“Gila kau, Dadap    kaukira suamimu akan diam saja

melihat kau membawa tuan setampan ini?” tukas Teki. “Lebih baik ke rumah hamba saja, Tuan ”

“Kau lebih gila! Suamimu kan juga cemburuan!” kata Dadap.

“Ya, tapi kau tolol. Kau tadi kan cuma mau menyem- belih kambing?” kata Teki.

“Lalu?” kata Dadap.

“Kalau aku... kusembelih dulu suamiku, kemudian kusembelih kambing dan ayam untuk tuan ini... nah, lebih aman, kan?” Teki tertawa terpingkal-pingkal.

“Sudahlah, Bibi... aku lapar sekarang, ke mana aku harus pergi? Maksudku, ke warung yang ada di sekitar sini saja.” Tun Kumala hampir putus asa.

“Baik, akan hamba antarkan, Gusti.... Dadap, kau tunggu daganganku!” Teki berdiri.

“Enak saja. Biar aku saja yang mengantarkan!” Da- dap juga berdiri.

“Nggak! Kan aku yang tadi hampir ketabrak kuda- nya!” bantah Teki. “Awas, berani mendekati tuan ini... Nih!” Ia mengeluarkan sebilah golok dan mengacung- kannya pada Dadap.

“Eh, kaukira aku takut, ya?” Dadap tak mau kalah, langsung mencabut pisau besar yang tersisip di antara daun-daunnya.

“Tunggu, tunggu, Bibi-bibi... tak usah bertengkar... begini saja, Bibi berdua boleh mengantarkan aku... ba- gaimana?” Tun Kumala tergesa-gesa mencegah terja- dinya pertarungan antar rekan itu.

Sesaat Dadap memandang Teki. Kemudian ia meng- anggukkan kepala, menyisipkan pisau besarnya di seta- gen-nya. “Boleh. Tapi aku yang di kiri.” Ia melotot pada Teki.

“Tak apa. Dia lebih tampan dari kanan,” sahut Teki. “Ayo berangkat, Tuan!”

“Eh, eh... ya... baiklah   ” Tun Kumala ikut gugup. Ia

kini bagaikan seorang pembesar yang berjalan dikawal oleh dua orang wanita aneh itu, yang seorang gendut bundar, yang seorang kurus berkeriput. Dan ia cang- gung duduk di atas kudanya yang berjalan selangkah- selangkah. Orang-orang yang mereka lewati jelas-jelas tercengang dan memperhatikan mereka serta membica- rakan mereka. Ada juga yang jelas-jelas menertawai me- reka. Teki dan Dadap tidak peduli, bahkan bangga tam- paknya. Tun Kumala sendiri yang semakin bingung.

Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah rumah besar dengan halaman luas. Halaman itu tampak tak terurus, rumput tumbuh membelukar. Pendapanya di- ubah menjadi semacam warung. Dan tepat di depan wa- rung itu beberapa kuda tertambat. Bau kotoran dan kencing kuda menusuk hidung.

“Eh, tempat apa ini?” Tun Kumala mengerutkan ke- ning.

“Ini rumah penginapan punya Ki Gebang, Tuan. Sa- ngat terkenal,” kata Dadap. “Semua orang yang akan ke Wengker dengan menembus gunung itu selalu berma- lam di sini untuk menunggu kawan jalan bersama.”

“Ya. Karena banyak orang bepergian mampir di sini, masakan Ki Gebang sungguh hebat... maklum harus memenuhi selera berbagai macam lidah!”

“Pasti lezat!” Dadap mengiyakan kata-kata Teki tadi. “Tapi... kotor... dan bau...,” kata Tun Kumala ragu. “Ah, tak usah kuatir... Ki Gebang punya ruangan

khusus di dalam sana... Enak. Aku sering jual daun ke sini kok.... Ayo!” Dadap menyeret tali kekang kuda Tun Kumala.

Di pendapa luar itu telah duduk beberapa orang le- laki sedang makan atau minum. Tadi mereka ribut se- kali. Tetapi begitu Tun Kumala dan kedua ‘pengawal’nya muncul, semua terdiam, tercengang memandangnya.

“Hei, apa-apaan ini memelototi Tuanku, heh?” ben- tak Teki yang mukanya penuh keriput mencoba berla- gak garang.

Seorang pria tua tertawa terkekeh-kekeh. “Eh, Ne- nek, kalau kami menonton tuanmu, itu sih wajar. Apa disuruh memandangimu? Nah, itu sih gila namanya, he he he ”

Orang lain pun hilang rasa tercengang mereka dan serentak tertawa.

“Diam!” Dadap mengentakkan kaki hingga lantai pendapa itu bergetar keras. “Kek, jangan ganggu te- manku ini, ia sudah ada yang punya!”

“Ya ampun? Betulkah? Kasihan amat lelaki yang ha- rus menderita menjadi suaminya!” Dan si kakek itu ter- tawa lagi.

“Sialan!” Tiba-tiba Dadap melecutkan tangan. “Sua- minya juga suamiku, tahu!” Entah bagaimana pisau be- sar yang tadi di pinggangnya telah berada di tangan dan melecut ke gelung orang tua itu.

Si lelaki tua menjerit. Rambutnya semburat bubar berantakan terpapas oleh pisau Dadap. Ia menjerit-jerit terus sampai Dadap kembali membentaknya. “Diam!”

“Sekali lagi kau berani menertawai kami, lehermu akan kupendekkan tiga jari. Kaudengar itu, Kek?” an- cam Dadap pada si lelaki tua.

“Dengar, dengar, dengar....” Si kakek mengangguk- angguk sampai tiga kali.

“Bagus. Sekarang... di mana Ki Gebang?” tanya Da- dap sombong. Sesaat semua terdiam. Kemudian si tua itu mengangkat muka, berkata memelas, “Ad... ada di dalam... tapi... tapi ada tamu... galak-galak ”

“Kurang ajar! Kaupikir ada yang lebih galak dari ma- duku yang galak ini?” Teki pun mengeluarkan pa- rangnya. “Lagi pula, apa urusanmu?”

“Ya. Tamunya harus minggat dari sini. Ki Gebang!” Dadap berteriak. “Aku bakar rumah ini kalau ia tak mau melayani kami!” Dengan langkah lebar Teki masuk. Dadap me- mainkan pisaunya sesaat kemudian menyusul  Teki. Tun Kumala tak bisa berbuat lain. Dengan kikuk ia pun ikut masuk.

Bagian dalam rumah itu luas, sejuk dan sedikit rapi. Ada semacam meja pendek di tengah ruangan, dan dua orang pria ada di sana. Seorang, Tun Kumala langsung kenal.

Buyut Pagalan. Di hadapannya, melayani buyut itu makan, tampak seorang pria bertubuh hampir sebun- dar Dadap.

Dan tiba-tiba di hadapan Tun Kumala muncul Ki Ro- ta, pengawal Buyut Pagalan.

“Huh, mau apa kau?” tanya Ki Rota sambil memelin- tir kumisnya, sementara sebelah tangannya bertolak pinggang di dekat hulu kelewang dan matanya membe- lalak tajam.

“Eh, kau siapa?” Dengan geram Dadap  mendorong dada Ki Rota yang bidang penuh  bulu  itu.  Dan  akibat- nya ia terempas terbanting ke lantai dengan suara ber- gedebug keras.

“Jangan ikut campur, Perempuan!” bentak Ki Rota. “Kurang ajar!” Tubuh bundar Dadap melompat dari

lantai langsung berdiri dan memasang kuda-kuda. “Kau belum kenal si Kembar-Tapi-Tak-Sama Dadap dan Teki, huh! Ki Gebang, usir tamu monyet ini atau kurobohkan rumahmu!” pekik Dadap.

“Bangsat!” Ki Rota tak tahan, langsung melancarkan dua tinju berturut-turut, lurus menghunjam ke ulu hati Dadap. Tapi kini Dadap telah siap. Dengan tangan ter- tekuk ia menangkis pukulan itu, dan kakinya menghan- tam keras kaki Ki Rota.

Ki Rota menjerit, terbungkuk, dan Dadap langsung menyodokkan telapak tangannya keras-keras ke dada Ki Rota. Ki Rota terpekik perlahan, balas menendang. Dadap telah memperkirakan itu. Tubuhnya yang bun- dar berputar deras dan balas menendang. Bahkan tak sungkan-sungkan ia membabat Ki Rota dengan pisau lebarnya.

Teki dan Dadap bukanlah pendekar sakti. Tetapi me- reka adalah istri-istri seorang berandal yang pernah ma- lang-melintang mengacau dunia di kaki Gunung Lawu. Ki Lejong kini memang tak bisa berbuat banyak lagi se- jak salah satu kakinya dibabat kutung oleh seorang prajurit wanita dari Kuripan. Dan kini ia tinggal men- gandalkan hidupnya dari mata pencaharian kedua is- trinya, berjual daun pisang. Iseng-iseng ia mengajar ke- dua istrinya itu gerak-gerak bela diri yang disesuaikan dengan pekerjaan mereka; mencari daun pisang. Maka Teki dan Dadap sangat ahli mengambil keuntungan dari senjata mereka, parang dan pisau yang berdaun lebar. Bagaikan daun pisang yang lebar, kedua senjata itu se- lalu ditebaskan miring, dan gerak melayangnya bisa menambah tenaga tebasan serta keluwesan untuk be- rubah arah. Ini didukung pula oleh ilmu loncat tinggi yang digunakan kedua wanita itu untuk memotong daun-daun pisang yang tinggi—dahulunya mereka me- makai galah, namun Ki Lejong mengajari mereka me- lompat, menebas daun dan menangkap daun itu sebe- lum rusak terbanting ke tanah. Semua memang gerak alami, dan tak berlambarkan kesaktian apa pun. Tetapi itu telah membuat Ki Rota kalang-kabut!

Ruang dalam itu tentu saja sangat ribut. Dadap te- rus membentak, memaki, dan menjerit. Ki Rota demi- kian juga. Tun Kumala sesungguhnya ingin berteriak agar Dadap menghentikan perkelahian. Namun sebagai seorang gadis yang dididik kesopanan maka ia menahan diri dan mundur bersandar ke sebuah tiang besar, di tempat yang agak gelap. Ia tak tahu harus berbuat apa, dan mungkin juga ia tak mampu berbuat apa-apa. Hanya sejak kecil ia sering mengikuti kakaknya berlatih silat hingga sedikit-banyak ia bisa menilai bahwa Dadap tidak terdesak dan kalaupun Ki Rota itu, atau kawan- nya, menyerangnya, mungkin ia pun masih bisa mem- pertahankan diri —asal terbatas pada ilmu silat tanpa lambaran kesaktian apa pun.

Teki juga sangat ribut memberi komando pada ma- dunya atau memaki-maki membuat panas hati Ki Rota.

Buyut Pagalan sendiri berlagak tak acuh, menerus- kan makannya. Demikian juga Ki Gebang yang bundar. Di luar ruang orang-orang pun banyak berkumpul me- nonton.

Tiba-tiba mata Ki Gebang yang sipit di antara pipinya yang tambun sedikit melebar saat memperhatikan Tun Kumala. Dan ia pun membisikkan sesuatu pada Buyut Pagalan.

“Eh, Ki Gebang! Jangan pakai bisik-bisik, ya!” bentak Teki yang melihat gerakan itu. “Pasti kau akan tawar- kan kami pada tamu cacingan itu. Huh, jangan harap! Suami kami masih cukup gagah, tahu! Coba  suruh ma- ju tamumu itu, biar kucincang-cincang badannya jadi empat belas! Atau kau sendiri yang mau maju?”

“Rota, berhenti dan mundur!” tiba-tiba Buyut Paga- lan membentak, berdiri.

“Gampang saja ngomong!” kata Teki. “Tinggalkan du- lu kakimu!” teriaknya pada Ki Rota.

Ki Rota merasa serba salah. Ia tahu, jika dilanjutkan pasti ia bisa merebut kemenangan. Ia merasa betapa ge- rakan-gerakan Dadap terbatas, walaupun semuanya berbahaya. Tapi kini ia diharuskan mundur. Sesaat ia bimbang, dan ini digunakan oleh Dadap untuk men- cecarnya.

“Maaf, Tuan, harap perintahkan orangmu mundur,” kata Buyut Pagalan pada Tun Kumala.

Tun Kumala sangat setuju usul ini. “Bibi, hentikan dan mundurlah!”

“Dia harus berikan kakinya!” teriak Dadap, terus menerjang.

“Hentikan!” kini Tun Kumala membentak.

Dan suara ini agaknya sangat berpengaruh. Dadap sesaat merunduk, kemudian meloncat tinggi berputar ke belakang, meninggalkan Ki Rota hampir terjerumus terbawa tenaganya.

“Hah, masih untung tuan ini bermurah hati.” Dadap terengah-engah berdiri gagah. “Gimana? Kau majikan- nya mau ganti maju?” Ia menuding Buyut Pagalan de- ngan pisaunya.

“Rota, kau mundur. Gebang, suruh semua orang itu keluar,” perintah Buyut Pagalan berwibawa. “Juga ke- dua wanita itu.”

“Enak saja!” tukas Teki. “Kau  mau  meracuni  tuan ini, apa? Kau saja yang pergi!”

“Tuan, aku ingin bicara denganmu. Rahasia. Mohon kedua pengawalmu Tuan perintahkan keluar.” Buyut Pagalan memakai bahasa separuh kasar separuh halus terhadap Tun Kumala.

“Tuan, aku tidak punya urusan dengan Tuan,” kata Tun Kumala menggagahkan diri, merasa ia harus me- menangkan Teki dan Dadap karena kedua orang itu te- lah bercapai lelah untuknya. “Aku datang hanya untuk makan. Dan kedua orang ini sahabatku. Mereka boleh tinggal atau pergi sesuka hati mereka. Kalau mereka pergi, aku pun pergi!”

“Tuh dengar nggak.” Dadap tertawa. “Ayo, manusia pesolek, kau saja yang minggat dari sini!” “Tidak, Bibi, biar kita saja yang mengalah....” Tun Kumala pun berpaling untuk meninggalkan tempat itu.

“Tunggu,” Buyut Pagalan cepat mencegah. “Baiklah, sesuka hati Tuan. Mari, silakan duduk Gebang, kelu-

arkan hidangan!”

Tun Kumala menghela napas panjang. Untung juga peristiwa itu berakhir dengan mudah. Ia memberi isya- rat pada Teki dan Dadap agar menahan diri, dan ingat bahwa dirinya seorang ‘Tuan’ maka ia  pun  membawa- kan sikap gagah, duduk di lantai di hadapan Buyut Pa- galan yang juga telah duduk.

Teki dan Dadap duduk seenaknya. Mereka cukup tahu diri untuk tidak duduk di dekat Tun Kumala.

Ki Gebang sendiri telah mundur mengusir orang- orang yang tadi menonton, kemudian mencari hidang- an, mungkin.

3. PEMBERONTAKAN?

BEBERAPA saat sunyi. Yang terdengar hanya bisik-bisik dan cekikikan Teki dan Dadap yang bersandar pada dinding kayu dan duduk sangat tidak sopan. Rota dan rekannya duduk menjauhi tempat Buyut Pagalan dan Tun Kumala duduk. Kedua orang itu terdiam. Kemu- dian Ki Gebang muncul diiringi dua orang pelayan yang membawa dua nampan penuh dengan hidangan, dita- ruh di depan Tun Kumala dan Buyut Pagalan.

“He, Ki Gebang! Jangan lupa kami, lho! Awas!” teriak Dadap.

“He-eh! Jangan pikir kami ini hanya penjual daun, lho!” kata Teki.

“Enak saja. Selama ini kami menyamar, tahu! Hihi- hi ” Dadap tertawa terkikik. “Sekarang kau harus tahu,

semua tingkah lakumu sudah kami catat!” “Waduh, kurasa aku tak pernah berbuat salah, Da- dap!” kata Ki Gebang gugup.

“Itu sih urusan tuanku. Pokoknya sekarang, hidang- anku mana!” bentak Teki.

“Baik, baik....” Ki Gebang betul-betul bergegas ke- luar.

“Silakan, Tuan,” Buyut Pagalan menyilakan Tun Kumala makan. Dan tak sungkan-sungkan lagi Tun Ku- mala mengambil sepotong paha ayam panggang, sambil berpaling pada Dadap dan Teki dan berkata, “Aku du- luan ya, Bibi ”

“Silakan, silakan.” Dadap tertawa. “Makan yang ba- nyak biar sekuat suamiku, Tuan, hi hi hi ”

“Apakah Tuan benar akan membiarkan mereka ting- gal di situ dan mendengarkan pembicaraan kita?” tanya Buyut Pagalan.

“Aku tak mau menyimpan rahasia dari mereka,” kata Tun Kumala. Saat itu pelayan masuk lagi dan memba- wa makanan untuk Teki dan Dadap yang langsung me- lahap dengan suara sangat ribut.

“Baiklah, mungkin Tuan berani bertanggung-jawab untuk itu.” Buyut Pagalan agak gelisah, tetapi ia melan- jutkan makannya. “Pertama, bolehkah aku mengetahui nama Tuan?”

“Boleh saja. Asal Tuan juga  menyebutkan  nama Tuan lebih dahulu,” Dadap menyela sebelum Tun Ku- mala menyahut. “Hati-hati, Tuan, orang ini tampangnya lebih mirip berandal rampok dari Gunung Lawu!”

“Ya, kami hapal benar tampang berandal-berandal rampok Gunung Lawu. Suami kami saja pernah jadi be- randal. Nggak nyombong lho!” kata Teki.

“Baiklah. Namaku Pragosa, buyut dari Pagalan. Itu pengawalku, Rota dan Roga. Kami biasanya mendapat perintah langsung dari Trang Galih. Dan Tuan?” “Namaku Kumala, dari seberang. Aku tak pernah mendapat perintah dari Trang Galih,” Tun Kumala ber- terus-terang. “Kedua bibi ini...”

“Kami pun tak pernah menerima perintah Trang Ga- lih. Apaan itu? Kalau perlu apa-apa langsung kami ker- jakan, pakai nunggu-nunggu perintah segala!” Dadap tertawa. “Kau pernah dapat perintah dari Trang Galih, Teki?”

“Kok nggak pernah, itu?” Teki berbicara dengan mu- lut penuh. “Selama ini kok Trang Galih yang kita perin- tah. Ya nggak, Dadap?”

“Ya iya saja, biar gampang!”

“...namanya Bibi Dadap dan Bibi Teki...,” Tun Kuma- la menyelesaikan kalimatnya.

“Wah...” Buyut Pagalan sedikit terkejut. Kemudian ia menunjuk hiasan pada ikat pinggang merangkap tem- pat berbagai keperluan di pinggang Tun Kumala. “Tapi... kurasa ular terbang itu terbang tak terlalu tinggi ”

“Apa? Oh...” Sesaat Tun Kumala bingung, kemudian tertawa ketika sadar bahwa yang dibicarakan Buyut Pa- galan adalah ikat pinggangnya. “Oh, ini kukira ini ter-

serah bagaimana aku memakainya. Kalau perlu terbang ke langit, ya, bisa saja!” katanya tertawa.

Tampak Buyut Pagalan terkejut.

“Apakah ular itu dari Pasukan Badai?” tanyanya he- ran.

“Mungkin. Yang jelas, dari Kusya. ,” kata Tun Kuma-

la tak peduli.

“Di manakah Tuan terakhir bertemu dengannya?” Sesaat Tun Kumala tertegun. Baru kini ia sadar bah-

wa mungkin sekali buyut ini adalah sahabat karib Ku- sya. Jika diberitahukannya tentang apa yang terjadi de- ngan Kusya mungkin orang ini akan membalas.

“Oh, terakhir kali aku bertemu dia di rumah Emban Layarmega di Kuripan!” jawab Tun Kumala. “Kenapa kau berani bertanya begitu teliti?”

“Ah, tak apa, Tuan... hanya ingin tahu saja.” Buyut ‘keder’ juga oleh pertanyaan tajam Tun Kumala, walau- pun diucapkan dengan lemah lembut.

Justru kelemah-lembutan inilah yang membuat Buyut Pagalan hampir mati ketakutan.

Daerah itu adalah daerah sebelah timur Gunung La- wu. Trang Galih, yang merupakan pusat pergerakan Dewi Candika, ada di sebelah selatan. Walaupun kedua tempat itu dipisahkan oleh jarak dan jurang serta hutan belukar menyeramkan, pengaruh pasukan Dewi Can- dika sudah sampai pula kemari.

Inilah yang kemudian menimbulkan salah pengertian di pihak Buyut Pagalan.

Dengan janji muluk-muluk, di antaranya kedudukan wadana jika gerakan mereka berhasil kelak,  maka Buyut Pagalan mengajukan diri sebagai salah satu ‘sumber’ gerakan. Dengan pengaruh hubungan keke- luargaan, harta, serta kekerasan, ia berhasil menghim- pun beberapa desa di wilayah kawedanan Gemarang. Salah satu penghubung gerakan itu adalah Kusya, yang memberitahunya tentang seluk-beluk gerakan dan ting- katan-tingkatan. Mereka yang bertanda ular laut sudah menempati kedudukan tinggi. Ular laut terbang lebih tinggi lagi dan tergantung dari kedudukan ular tersebut pada kepala ikat pinggang.

Tadi Tun Kumala berbicara tentang Kusya seolah ia berbicara tentang pesuruh saja. Dan tentang keduduk- an ular terbang, ia berkata boleh menaruhnya semau- nya. Kemudian gerak-gerik dan suara Tun Kumala yang lemah lembut membuat Buyut Pagalan berpikir... ja- ngan-jangan inilah Dewi Candika sendiri. Atau paling tidak salah satu pembantu dekatnya! Ya. Kalau Dewi Candika digambarkan sebagai bidadari cantiknya, tak mengherankan bila pembantunya setampan ini. Lalu... apa maksud kedatangan orang setinggi itu dalam urut- an pergerakannya?

Juga kedua wanita yang ia tahu hanyalah penjual daun. Sangat mungkin keduanya mata-mata Trang Ga- lih. Ia tahu di sana telah dilatih sebuah pasukan wa- nita. Bukan tidak mungkin sesungguhnya baik Teki ataupun Dadap adalah anggota pasukan itu.

Kedua hal tadi—kehadiran Tun Kumala dan adanya kedua wanita mata-mata itu—mengarah ke satu penger- tian: mungkin Trang Galih tidak mempercayai kemam- puannya.

Ini cocok dengan keadaan sebenarnya.

Dari enam belas desa di bawah Akuwu Uteran, ia ba- ru berhasil mempengaruhi sepuluh desa. Dan ini bisa dianggap suatu kegagalan.

Bahkan, keadaan makin genting. Akuwu Uteran te- lah minta bantuan pasukan kawedanan untuk menum- pas sepuluh desa pembangkang itu.

Masih untung semua kegentingan itu hanya berada di kalangan para buyut serta pengawal mereka. Pendu- duk memang belum banyak yang tahu. Tetapi di situlah sulitnya. Akan memihak siapa mereka kalau sebelum kekuasaan tertanam muncul tekanan dari kawedanan?

Mungkin pejabat tinggi dari Trang Galih ini akan membantunya. Ya. Itu pun mungkin. Tapi itu bisa me- nyebabkan ganjaran yang diterimanya dikurangi!

“He, jangan melongo saja, Buyut! Makananmu habis baru tahu, lho! Tuan kami biar tampan makannya ba- nyak kok!” Dadap tertawa mengejek.

“Oh, ya, silakan makan, Paman, aku memang sangat lapar, jadi maaf, jika aku berlaku tidak sopan,” kata Tun Kumala dengan bersungguh-sungguh. Memang, ra- sa laparnya serta lezatnya hidangan Ki Gebang mem- buat ia lupa akan tata susila.

“Tuan, bolehkah kita berbicara sementara Tuan ber- santap?” Bahasa Buyut Pagalan sedikit berubah, lebih halus. “Hamba sudah makan tadi... dan rasanya keha- diran Tuan bisa mengubah apa yang telah disepakati oleh Sepuluh Sumber Kecil.”

“Ah. Boleh saja. Memang kalau kecil, walaupun se- puluh sumber, tak akan menghasilkan sebuah sungai besar,” sahut Tun Kumala sekenanya.

“Itulah... karenanya, hamba mohon kita bisa bicara berdua saja,” bisik Buyut Pagalan.

“Seperti kukatakan, apa yang terjadi di sini tak kutu- tupi dari keduanya. Dan keduanya  sudah  tahu  apa yang terjadi di sini. Untuk apa disembunyikan?” jawab Tun Kumala penuh teka-teki. Kini perutnya telah ke- nyang. Hampir ia berdiri untuk membereskan peralatan makan di hadapannya. Tetapi tidak. Ia adalah seorang muda yang mestinya berandalan kalau mengingat ke- dua ‘pengawalnya’ yang seperti setan itu. Maka ia pun mengusap mulut dengan kainnya dan mundur untuk bersandar ke sebuah tiang, dengan kaki terangkat ku- rang ajar.

“Katakan apa yang ingin Paman katakan, atau biar- kan aku tidur,” katanya lagi. Dan ia betul-betul meng- uap. Lebar-lebar.

“Hmm... anu... baiklah...” Buyut Pagalan beringsut mendekat. “Hamba sesungguhnya... terus-terang... ha- rus mengakui kegagalan hamba. Untuk itu hamba mo- hon diampuni. Kalau saja Akuwu Uteran tidak menda- pat dukungan orang luar... pasti ia sudah bergabung dalam kesetiaan kita. ”

“Paman bilang... Akuwu Uteran jadinya tidak setia?” Tun Kumala mengerutkan kening. Sebagai putri rangga dan adik Sindura yang sangat memikirkan keutuhan negara, ia terbiasa berbicara tentang pergolakan negeri. Ia tahu, karenanya, tentang banyaknya daerah yang di- ragukan kesetiaannya. “Dan Paman tentu dibujuknya ikut?”

“Be... benar, Tuan... tapi hamba dan sepuluh buyut lainnya tetap bersatu... dan sesungguhnya akan bisa dengan mudah merebut tampuk pimpinan di Uteran, tapi... sang akuwu, seperti kata hamba tadi, dapat ban- tuan dari luar dan sudah minta pertolongan dari kawe- danan Gemarang.”

“Huh?” Tun Kumala tampak sangat heran. “Paman maksud Wadana Gemarang juga ikut berontak?”

“I... iyya...” Sesungguhnya Buyut Pagalan makin bi- ngung. “Dan hamba beserta yang lain tak berani mela- wannya. Yang hamba kuatirkan... alih-alih kami men- coba menaklukkan mereka, mungkin merekalah yang menaklukkan kami. Untuk itu...” Buyut Pagalan melihat kiri-kanan, “kami memutuskan untuk menyerang ke Uteran. Langsung. Jika Uteran dapat kami rebut, pasti tak sulit menguasai buyut lainnya... dan kami bisa se- dikit lega saat menyerang ke Gemarang nanti.”

“Bagus juga... tapi apakah Paman tidak berusaha meminta bantuan ke kabupaten?” Tun Kumala menge- rutkan alisnya.

“Hamba... hamba tak tahu harus menghubungi sia- pa....” Buyut Pagalan kembali memperhatikan Tun Ku- mala. “Pikiran hamba... sementara kami mencoba hu- bungan dengan pusat, peristiwa ini kami coba kami ta- ngani sendiri... dengan bantuan Tuan, pastilah kita sanggup mengalahkan Akuwu Uteran.”

“Semangatmu hebat, Buyut, pasti kelak kau mempe- roleh hadiah.” Kembali Tun Kumala menguap lagi.

“Jadi Tuan  bersedia  memimpin  kami?”  tanya  Buyut Pagalan dengan mata lebar.

“Bolehlah. Aku punya banyak kenalan di Kuripan, kalau perlu mereka boleh datang.” Tun Kumala betul- betul sangat mengantuk.

“Hamba rasa tak perlu mendatangkan orang Kuri- pan,” Buyut Pagalan hati-hati berkata. Mungkin juga pemuda di depannya ini sedang mengujinya. Atau bah- kan sedang memberinya peringatan bahwa sesungguh- nya ia tak layak jadi wadana hingga harus digantikan dengan orang Kuripan. “Hamba yakin orang-orang di bawah hamba sanggup dikerahkan  untuk  keperluan itu. Yang jadi ganjalan hanyalah orang luar yang di- panggil Akuwu. Dan itu hamba yakin bisa dibereskan dengan kehadiran Tuan.”

“Tentu, tentu...” Tun Kumala menguap lagi.

“Kalau begitu... biar nanti malam hamba kumpulkan semua buyut yang telah sepakat, dan kita berangkat melabrak akuwu itu?” tanya Buyut Pagalan penuh ha- rap.

“Bisa, bisa... asal aku boleh tidur dulu.”

“Tentu, tentu...” Buyut Pagalan cepat berpaling dan berteriak memanggil Ki Gebang, “Gebang! Siapkan per- aduan buat junjungan kita ini!”

“Enak saja! Junjungan siapa, huh! Merebut junjung- an orang!” Dadap yang sedari tadi terdiam terkantuk- kantuk juga langsung sadar dan bangkit. “Ayo, Teki, siapkan kamar! Tuan... kali ini yang menemani Tuan ti- dur aku atau Teki? Teki selalu mendengkur kalau tidur, lho!”

“E, e, e... fitnah itu!” tukas Teki. “Justru dia... kalau tidur, wah, banjir!”

Tun Kumala betul-betul mengantuk. Ia bangkit dan berkata, “Sudah, sudah. Pokoknya kalian berjaga di pin- tu dan jangan biarkan orang membangunkanku. Ayo!” Agak terhuyung ia berjalan mengikuti Ki Gebang yang sudah muncul.

Seperginya mereka, Buyut Pagalan termenung. Siapa sih sebenarnya orang muda itu?

“Rota, ke sini kau!” setengah berbisik ia memanggil pengawalnya.

“Hamba, Junjungan.” Ki Rota mendekat.

“Bagaimana pandanganmu tentang... orang itu?” Buyut Pagalan berbisik.

“Kuda dan semua barangnya telah hamba selidiki,” Ki Rota juga berbisik. “Sepertinya... ia memang dari Trang Galih, Junjungan. Tapi... ada sesuatu yang aneh pada beliau... hamba tak mengerti apa.”

“Ya, aku juga merasakan itu. Yah, mungkin nanti malam kita tahu belangnya. Kalau dia belang.”

“Nanti malam?”

“Ya. Akan aku ajak dia melabrak ke Uteran. Hubungi Buyut Tantram, Gitra, dan Sumbing. Minta mereka membawa orang-orang secukupnya untuk berkumpul di Padas Putih, di pinggir kali. Nanti malam. Katakan, mungkin kita langsung menyerang ke Uteran.”

“Buyut-buyut lain?”

“Aku akan minta mereka untuk bersiap-siap. Kalau- kalau jago kita ini keok dan mungkin Uteran akan me- nyerbu kemari. Cepat, pergilah!”

“Hamba, Junjungan...,” Ki Rota menghaturkan sem- bah dan mundur.

Beberapa saat kemudian Ki Gebang muncul, men- dekat.

“Bagaimana pendapatmu, Gebang? Tentang...” Buyut Pagalan melirik ke ruang dalam.

“Ada yang tidak hamba mengerti. Tampaknya beliau begitu lemah lembut hingga mungkin tak punya kesak- tian apa pun. Tetapi walaupun begitu ada sesuatu wi- bawa yang membuat orang tak berani berbuat apa pun padanya,” kata Ki Gebang hampir berbisik.

“Aku pun merasa begitu.” Buyut Pagalan termenung. “Baiklah. Kita saksikan saja nanti. Tolong awasi gerak- gerik mereka, Gebang, aku akan menghubungi yang lain.”

“Baik, Buyut.”

Buyut Pagalan berdiri.

4. DI UTERAN

RUMAH Akuwu Uteran layak sebagai tempat tinggal akuwu. Luas halamannya. Berpagar tembok kokoh tinggi. Dengan rumah-rumah besar dan pendapa luas.

Lewat tengah malam.

Beberapa ekor kuda berjalan gontai masuk ke dalam halaman. Beberapa belas prajurit berkuda. Dan bebera- pa belas juga prajurit jalan kaki. Para pembantu Akuwu pun berhamburan keluar untuk menyambut dan mera- wat kuda-kuda itu. Para prajurit berkuda beristirahat di pendapa. Dua orang gagah berjalan langsung ke rumah dalam. Seorang tua, namun jelas berjalan masih tegap. Dialah Ki Tunggul Seloka, akuwu di Uteran. Beberapa langkah di depannya, jaraknya menandakan hormat, berjalan seorang muda yang nyaris bundar. Ia adalah seorang Juru. Juru Wira Prakara dari Gerati. Putra Ra- kryan Demung Kuripan.

Wira Prakara duduk di tengah ruang dalam. Bersan- dar ke tiang. Terengah-engah. Udara dingin, namun ia harus mengusap keringat.

Seorang pelayan wanita cepat datang menghidang- kan ‘kendi’ berisi air dingin. Wira Prakara langsung me- reguknya.

“Huh, kurang ajar. Mengapa tidak menghajar mereka saja di Pagalan?” tanya Wira Prakara terengah-engah. “Di malam seperti ini, Tuan? Bisa kita habis... kalau

tidak dihajar pasukan Pagalan, mungkin juga dimakan harimau! Lagi pula, jika kita memang niat menyerbu ke sana, kita harus mengadakan persiapan lebih lengkap,” kata Akuwu Uteran.

“Huh! Aku juga tak suka  dimakan  macan...  lebih baik kita makan macannya, eh, Akuwu ya? He he he. Ya, kau benar. Persediaan harus lebih lengkap. Teruta- ma makanannya. Jangan dilupakan. Masa malam- malam begini kau hanya bisa menghidangkan air di- ngin! Memangnya tak ada makanan?” tanya Juru Wira Prakara mengusap bibirnya.

“Memang persediaan makanan sudah  hamba siapkan untuk berjaga-jaga kalau-kalau tempat ini dike- pung oleh orang-orang liar itu. Begitu juga semua ba- han obat-obatan. Kami sudah kumpulkan di lumbung. Untuk bertahan ataupun menyerang, lebih dari cukup!”

“Kalau begitu, bakar saja Pagalan!”

“Gusti Wadana berpesan, selama masih bisa diajak berunding, orang-orang selatan itu harap dilunaki saja

... kalau perlu sekali, tangkap saja para pentolannya ”

“Ah, Wadana Gemarang memang terlalu malas.” Ju- ru Wira Prakara menghirup minuman di depannya. “Terlalu gemuk. Ingat kata-kataku, Akuwu. orang ma-

cam itu takkan pernah naik pangkat jadi juru   ”

Akuwu Uteran tak menjawab. Ia hanya melirik juru di depannya itu. Nyaris bundar. Namun jelas ia seorang juru. Walaupun tentu saja ia tahu bahwa juru yang di depannya ini tidak merangkak dari bawah, melainkan dijatuhkan dari atas. Siapa tidak tahu bahwa Juru Ge- rati, Wira Prakara, adalah putra Rakryan Demung yang juga ayah dari selir terkasih yang dipertuan di Kuripan? Agak mengherankan juga kenapa si juru yang gemuk ini mau bersusah payah datang ke Uteran yang terpencil. Dan bukannya Wadana Gemarang sendiri yang datang.

“Gusti Juru... sesungguhnya peristiwa sekecil ini tak perlu ditangani oleh Paduka... sungguh memalukan,” sembah Akuwu Uteran.

“Aaaah... begitulah para ksatria Wilwatikta, Akuwu... jika ada pembagian harta mereka tak bergairah, tetapi jika tugas menanti, wah, semua berebut!” Dan Wira Prakara tertawa terkiyal-kiyal. “Tapi ada sebab lain, Akuwu... aku memang sedang mengejar seseorang,” Wi- ra Prakara merendahkan suaranya seolah takut kalau terdengar orang lain. “Kaudengar desas-desus tentang Dewi Candika?”

“Benar, Gusti.” Akuwu Uteran juga tampak ketakut- an. “Apakah... apakah dewi itu datang kemari?”

“Mungkin. Tapi kau tak perlu kuatir. Yang diincarnya hanyalah mereka yang berdarah langsung keturunan Sang Rajasa. Nah. Ada untungnya bukan, kau berasal dari rakyat jelata? He he he he...”

“Lalu... kenapa Paduka datang kemari? Rasanya ter- lalu tinggi kalau hanya untuk mengurus pemberontak- an sepuluh desa kecil terpencil saja. ”

“Itulah. Terakhir kali kami melihat tanda-tanda bah- wa Candika ada di Kuripan. Bahkan telah berhasil me- lumpuhkan Sang Mapatih!” Mata Wira Prakara membe- lalak. “Namun ketika aku dan pasukanku datang ke tempat itu, ternyata tempat itu telah kosong.”

“Lalu   Gusti mengejar kemari?”

“Yaaah   begitulah. Rakryan Mapatih yang memerin-

tahkan... jadi aku harus menurutinya. Kalau tidak, woooo... bisa-bisa aku terus jadi juru seumur hidup. Lho. Apa enaknya? He he he he. ”

“Wah... jika Sang Dewi Candika melarikan diri dari Paduka, padahal Sang Mapatih berhasil dikalahkan- nya... jelas Paduka lebih dahsyat dari Sang Mapatih, bukan? Ya, pasti, tak lama lagi Kuripan punya mapatih baru kalau begitu!”

“Ha ha ha... kau cerdik, Akuwu. Kalau itu terjadi, pasti kau pun akan kecipratan anugerah... jangan kua- tir!”

“Tapi, betulkah Sang Dewi Candika lari dari Padu- ka?”

“Mungkin. Mungkin juga. Ya, bukannya tidak mung- kin. Sebab... begini. Semua tahu kesaktian Paman Ma- patih. Nah, kalau beliau sampai roboh dan hampir tak bisa bangkit lagi... bisa ditarik kesimpulan pastilah la- wannya kemungkinan luka parah juga. Ya toh? Dalam keadaan begitu, mungkin saja kau sendiri pun sanggup mengalahkannya. Siasat yang harus dipakai tentunya, kejar terus, jangan sampai ia punya kesempatan memu- lihkan tenaga. Nah. Dari hasil penyelidikan mata-mata negara, ada dua orang manusia meninggalkan tempat itu. Terus kami lacak. Memerlukan ketekunan selama beberapa hari pelacakan untuk akhirnya kami menda- pat kesimpulan bahwa kedua orang itu berada di dae- rah selatan ini... dan Wadana Gemarang sekalian minta tolong untuk membereskan kesulitanmu. Yah. Sekali rengkuh tiga-empat pulau terlampaui, bukankah begi- tu?”

Beberapa saat Akuwu Uteran termenung. Kemudian hampir berbisik bertanya, “Apakah tidak mungkin bah- wa... Buyut Pagalan mendapat dukungan Dewi Can- dika?”

“He he he... bukan  kamu saja yang cerdas untuk bi- sa memikirkan hal itu, Akuwu....” Juru Wira Prakara tertawa. “Ingat, kesulitanmu dengan sepuluh desa sela- tan itu bermula jauh sebelum ini. Satu. Kedua,  ingat pula bahwa ternyata tadi buyut jahanam itu tak meme- nuhi janjinya untuk bertemu dengan kita. Artinya, mungkin ia tak punya hubungan apa pun dengan Dewi Candika. Atau, ia memang punya hubungan, namun karena Dewi Candika cedera berat maka tak berani da- tang. Yang berarti bahwa Dewi Candika ada di sini. Ka- rena itulah tadi aku mengusulkan kita menyerbu ke se- latan saja. Kemungkinan lain, mungkin ia telah men- dengar kedatanganku, lha ya lalu ketakutan.”

“Yang hamba pikirkan... mengapa mereka dulu be- rani menerima undangan hamba untuk merundingkan persoalan yang hanya berarti satu: perang tanding.”

“Jelas. Karena mereka tahu kau tidak bisa apa-apa. Iya, kan? Kau tak bisa apa-apa kan, Akuwu? Coba... ta- di sore saja... istrimu manggang ayam untuk santap- anku... masa bulunya masih lengkap. Dikira aku ini musang apa? Itu baru istrimu. Kamu mestinya apalagi, ya toh? Tapi... ehm, ehm, aku kok lapar ya? Ayam pang- gangnya yang tadi masih apa?”

“Mohon ampun, Gusti Juru. Nanti akan hamba te- ngok ke dalam ”

“Ya, sekarang saja. Sekalian ya, siapkan semuanya. Juga sayurnya yang tadi ya... dan jangan lupa tuak-

nya! Huh. Kok dingin sekali. Dan... panggilkan penga- walku. Ki Gubar. Paling sudah tidur dia. Bangunkan sa- ja.”

“Baik, Gusti.” Ki Tunggul Seloka, akuwu Uteran, menghaturkan sembah dan mundur.

Berjalan di kegelapan ia memikirkan betapa orang- orang di kedudukan pimpinan kerajaan tingkahnya hampir mirip semua. Memang masih tangguh untuk ja- batannya, tetapi kebanyakan sudah mulai lebih mengu- tamakan bersenang-senang. Hanya seorang pejabat yang dikenalnya, yang tampaknya bertabiat lain. Ra Sindura, seorang pimpinan pasukan kerajaan. Saat itu Ra Sindura dan pasukannya bertugas mengamankan daerah yang akan dilalui Sang Raja dalam perjalanan tamasya ke laut. Dan ksatria itu tampak sederhana, mudah menyatu dengan penduduk desa. Tapi yah, mungkin juga itu hanya bersandiwara.

Tiba-tiba ia tertegun. Ia sedang berada di bawah bayang-bayang rumah besar dan lumbung padi serta kandang kuda. Keadaan begitu gelap. Di kejauhan, de- kat gapura, para prajurit bergerombol mengelilingi api unggun. Ada yang tidur menggeletak di tanah. Ada yang duduk terkantuk-kantuk. Ada yang bersandar ke tem- bok. Dan mereka berbicara dengan suara mengantuk. Dari rumah besar ia mendengar beberapa suara deng- kur halus. Dan di kandang kuda beberapa ekor kuda agaknya gelisah mengentak-entakkan kaki.

Tadi seolah-olah ia melihat sebuah bayangan menye- linap.

Bulu kuduknya berdiri. Tetapi ia sesungguhnya tak takut. Perlahan tangannya mencabut keris di pinggang- nya.

“Kau berada di tempat Akuwu Uteran,” ia berkata mantap. “Jika kau tak menampakkan diri, maka jangan salahkan kelancangan kerisku!”

Tak ada jawaban. Tak ada gerakan apa pun. Sedikit suara gemerisik dari arah lumbung. Tapi mungkin itu hanya khayalannya belaka. Perlahan ia beringsut dalam kegelapan ke arah lumbung.

Di pinggir pintu lumbung seseorang terbaring meng- geletak. Ki Tunggul Seloka terperanjat sejenak. Tetapi didengarnya orang itu masih bernapas teratur. Agaknya tidur. Sedikit lega Akuwu Uteran itu maju. Remang- remang dikenalnya orang itu, Sara, salah seorang praju- ritnya. Memang dalam keadaan nyaris genting itu lum- bung diperintahkannya dijaga. Tetapi Ki Sara ini agak- nya hanya pindah tempat tidur saja. Hampir didepak- nya prajurit itu. Kemudian dilihatnya pintu lumbung terbuka.

“Hah?” Ki Tunggul Seloka berseru heran.

Tapi ia bukanlah seorang penakut. Cekatan ia me- lompat masuk, langsung merapat ke dinding.

Di dalam gelap. Tunggul Seloka menahan napas. Tak terdengar suara apa pun. Ketika matanya sudah terbia- sa dengan kegelapan, ia pun tak melihat sesuatu yang mencurigakan. Nalurinya mengatakan tak ada manusia lain di tempat itu kecuali dirinya. Tapi ia tak mau meng- ambil risiko. Ia melompat ke luar, langsung bersuit me- manggil para prajuritnya.

Beberapa orang memang berlari mendatangi men- dengar suitan khusus itu. Yang lain dengan patuh tetap pada tempatnya sesuai peraturan.

Yang datang dengan membawa obor adalah Ki Gara dan enam orang bawahannya.

“Ada apa, Junjungan?” tanya Ki Gara ketika menge- nali Ki Tunggul Seloka yang tadi berdiri di balik tiang rumah besar.

“Seorang memeriksa Sara. Gara, kau ikut aku ma- suk. Yang lain berjaga-jaga!” Kembali Tunggul Seloka masuk ke dalam lumbung, kini diiringi oleh Ki Gara yang membawa obor.

Sekilas tak terlihat sesuatu yang mencurigakan. Tumpukan padi dan palawija padat sampai ke bubung- an.

“Ada apa gerangan, Junjungan? Kenapa si Sara?” bi- sik Gara.

“Hmmh. Lihat!” Tunggul Seloka menunjuk ke tiang besar dekat tumpukan tertinggi padi.

“Hamba tak melihat apa-apa,” bisik Gara.

“Memang. Di situ sesungguhnya tersimpan bungkus- an obat-obatan untuk peperangan. Dan bungkusan itu tiada,” sahut Tunggul Seloka.

“Ya Gusti! Benar!” seru Ki Gara. Cepat ia menaruh obor di dinding dan melompat memanjat tumpukan pa- di. Beberapa saat memeriksa di atas, ia melompat lagi turun.

“Tak berbekas apa pun,” bisik Ki Gara. “Tapi... siapa- kah begitu kesudian mencuri obat-obatan?”

“Apakah kau tak mengerti? Ini obat-obatan khusus untuk peperangan. Obat luka dan racun. Dan karena keadaan kita memanas, aku telah memerintahkan memborong sebanyak mungkin obat-obatan itu dari daerah sekitar tempat ini. Kini semuanya hilang. Apa- kah tak terpikir olehmu bahwa kemungkinan lawan kita yang mencurinya?” kata Ki Tunggul Seloka.

“Ya, Gusti! Junjungan benar...,” bisik Ki Gara.

“Dan siapa pun yang melakukannya, berhasil masuk melewati kalian semua. Nah, bukankah itu berarti ia sakti sekali?”

“Dan kemungkinan dia berpihak pada... para buyut dari selatan?” Ki Gara membelalakkan matanya.

“Cepat kausuruh orang-orang menyebar mencari je- jak. Jangan lupa penjagaan di sini. Berangkat!” desis Akuwu Tunggul Seloka. Ki Gara dan kawan-kawannya bergegas pergi.

“Heh, ada apa ini, hah? Bukankah kau kuminta mengambilkan makanan?” Ternyata Juru Wira Prakara ikut datang mendekat. Lengkap dikawal oleh lima orang prajurit dari Kuripan.

“Mohon ampun, Junjungan, agaknya kita baru saja kemasukan musuh tangguh,” sembah Akuwu Uteran.

“Hah?” Gubar, salah seorang pengawal Wira Prakara, cepat menunduk memeriksa Ki Sara. Ia berkata seolah bergumam, “Orang ini terkena ajian penidur yang sa- ngat ampuh, Gusti, dan agaknya orang yang melaku- kannya tidak tega untuk membuatnya cedera.” Gubar melompat masuk ke dalam lumbung, dan tak berapa lama keluar lagi, berkata, “Orang yang masuk bertubuh sangat ringan, Gusti... dan tidak membawa senjata ta- jam. Tali gantungan bungkusan obat itu diputuskan de- ngan tangan.”

“Ah, bagus!” senyum Wira Prakara.

“Hamba tidak mengerti, Gusti,” kata Tunggul Seloka. “Aku tak yakin ini perbuatan sepuluh buyut dari se-

latan. Tetapi, mungkin juga orangnya kemudian mem- bantu mereka....” Wira Prakara terus tersenyum penuh arti.

“Dan siapakah orang itu, Gusti?” tanya Tunggul Se- loka.

“Dewi Candika,” kata Wira Prakara mantap. “Dia wa- nita, maka mungkin ia tega membunuh, tetapi tidak te- ga menyiksa. Badannya ringan. Dan agaknya ia luka parah hingga memerlukan bahan obat-obatan. Karena yang dicurinya kemungkinan adalah obat-obatan biasa, maka bisa ditarik kesimpulan  ia  sudah  putus  asa... mau mencoba segala obat. Nah, kalau orang macam ini membantu pihak lawan, silakan.”

“Jadi bagaimana, Junjungan?” tanya Tunggul Se- loka.

“Suruh cari jejaknya, kita kejar!” kata Wira Prakara berapi-api. “Atau... besok pagi kita labrak daerah sela- tan. Kalau kau tidak tega pada pertempuran terbuka, ajak mereka untuk perang tanding!”

Ki Gubar, pengawal Juru Wira Prakara, mengang- guk-angguk dengan perasaan bangga, seolah usulan ta- di takkan tertandingi oleh usulan siapa pun. “Ya, kita hajar saja daerah selatan itu.”

“Tapi...” Akuwu Uteran tampak masih sangat ragu- ragu.

“Jangan kuatir, Gusti Akuwu,” sembah Ki Gubar. “Para prajurit Kuripan ada di sini. Tak ada yang perlu ditakutkan.”

Akhirnya sang akuwu pun menganggukkan kepala perlahan.

5. ORANG TRANG GALIH

DADAP dan Teki berdiri gagah di kiri-kanan pintu bilik itu. Masing-masing dengan membawa parang besar dan pisau lebar terhunus mengancam. Dan masing-masing menyeringai kurang ajar.

Di depan mereka berdiri, paling depan, Buyut Paga- lan, dengan sikap berusaha keras menahan sabar. Ke- mudian Ki Gebang yang kebingungan. Rota dan Roga yang tampak sangat gemas. Serta beberapa orang praju- rit desa.

“Perempuan... dengar...” Buyut Pagalan akan mulai, tetapi langsung ditukas Dadap.

“Pokoknya tidak!” kata Dadap tegas. “Tak seorang pun membangunkan pujaan kami! Sebelum beliau ba- ngun sendiri!”

“Tetapi, Perempuan, dengar! Junjunganmu itu mes- tinya bangun tadi malam untuk membantu aku!” kilah Buyut Pagalan.

“Apa urusanku? Pokoknya beliau jangan diganggu!” Teki ikut berbicara.

“Ya! Kalau perlu, langkahi dulu mayatku!” kata Da- dap.

“Wah, itu sih jelas sulit, Dadap   ” Teki tiba-tiba ter-

tawa geli.

“Kenapa? Karena aku sakti?” tanya Dadap.

“Bukan. Karena kau begitu bundar! Siapa bisa me- langkahi mayatmu dengan mudah? Hi hi hi hi...” Teki tertawa-tawa.

“Kurang ajar! Pokoknya nggak boleh!” Dadap bersike- ras.

“Dengar dulu, Dadap, Teki... kan beliau itu bukan majikanmu?” Ki Gebang ikut berbicara.

“Jelas bukan, ya, Teki   ” Dadap tertawa pada Teki.

“Ho-oh! Beliau kan pujaan, wiuw! Tampannya seperti Batara Kamajaya turun ke dunia!” kata Teki.

“Ya benar,” kata Dadap. “Kalau Ki Gebang seperti dia sih... separuuuuuh saja, wah, bisa kami ikut Ki Ge- bang!”

“Ahhh, minggir kau!” Ki Roga geram maju ke depan. Tapi gerakannya terhenti karena kedua senjata Dadap dan Teki menghadangnya.

“Hah, kalian kira kalian bisa menahanku?” geram Ki Roga.

“Mungkin tidak bisa,” kata Dadap.  “Tapi  kaukira tuan yang di dalam itu akan berdiam diri saja?”

“Ho-oh, bukankah bahkan Gusti Buyut tak berani melanggar perintahnya, kenapa kau berani?” tanya Te- ki.

“Nyawamu rangkap, apa?” goda Dadap.

“Aku hanya minta kau membangunkan beliau, Pe- rempuan,” kata Buyut Pagalan. “Sudah hampir sehari semalam beliau tidur!”

“Bagaimana Gusti Buyut bisa mengatur tidur beliau,” kata Dadap. “Orang besar tidur semaunya. Mau empat puluh hari empat puluh malam, apa salahnya.”

“Ya, tetapi ini untuk keperluan beliau juga! Katakan pada beliau, jika tak segera jaga maka rencana Trang Galih akan gagal!”

“Hamba tak peduli itu, Buyut... pokoknya pujaan kami harus istirahat. Tak seorang pun boleh menggang- gu.”

“Ya,” sahut Dadap. “Ini juga untuk keperluan kalian juga ”

“Aku tak punya kedudukan apa pun yang membu- atku takut pada siapa pun,” kata Ki Gebang menyela. Dan ia maju, berkata lagi, “Rota, Roga, kalian tahan ke- dua perempuan ini, biar aku menerobos masuk.”

“He, kau tak takut?” Dadap gugup  juga  melihat orang ini nekat.

“Seperti kubilang tadi, aku tak punya  tanggungan apa pun pada siapa pun,” kata Ki Gebang. “Aku bisa masuk lewat depan, atau samping. Kalian akan terta- han oleh Rota dan Roga di sini!”

“Bisa kubakar habis rumahmu, Ki Gebang!” Teki menjerit tinggi.

“Tak apa, aku pun sudah bosan akan rumah ini. Ro- ta, Roga, majulah!” kata Ki Gebang.

Rota dan Roga memandang Buyut Pagalan minta persetujuan. Buyut Pagalan sejenak merenung. Kata- kata Ki Gebang benar. Kalaupun tindakannya salah, maka marah orang Trang Galih itu mestinya hanya ter- tuju pada Ki Gebang, dan yang lain boleh  selamat. Buyut Pagalan perlahan mengangguk.

Rota dan Roga melompat maju. Memasang kuda- kuda di depan Dadap dan Teki. Dadap dan Teki pun langsung bersiap.

“Aku takkan mengampunimu, lho! Kuiris hidungmu!” kata Dadap.

“Ya. Aku potong-potong pipimu yang tembem itu, Ro- ga!” kata Teki.

Kemudian semua terpaku. Pintu bilik itu berdesir berderit bergeser. Dan Tun Kumala berdiri di ambang pintu.

“Hohhhahem! Ada apa sih ribut-ribut?” kata Tun Ku- mala sambil mengusap-usap matanya.

“Oh, Junjungan, oh, Pujaan, oh, Gusti...,” kata Da- dap menyembah-nyembah langsung.

“Oh, Dewata, oh, Matahariku, oh, Bintangku...,” Teki tak mau kalah. Sementara itu baik Buyut Pagalan atau- pun Ki Gebang jadi salah tingkah, sedang Rota dan Ro- ga geram mundur dan menundukkan kepala, me- nyembah dan duduk.

“Ada apa ini? Oh, aku kok masih mengantuk sekali!” kata Tun Kumala. Ia benar-benar mengantuk. Begitu le- lah jiwa-raganya oleh perjalanan dan berbagai peristiwa yang menekannya. Ia tak ingat bahwa dirinya telah ti- dur hampir sehari semalam terus-menerus. 

“Itu, Gusti, mereka akan merampok Gusti!” kata Da- dap.

“Ya. Mereka akan mendobrak pintu bilik untuk mengambil semua harta Gusti!” tambah Teki.

“Kalau perlu kami akan digantung tinggi-tinggi!” tam- bah Dadap.

“Cuma... mereka takut kalau nggantung si Dadap ini... mana ada tali yang kuat, hi hi hi...,” kata Teki.

“Maaf, Tuan... sesungguhnya tidak begitu....” Buyut Pagalan begitu gusar hingga merah padam mukanya.

“Lalu gimana, hayo! Buyut ini omongnya memang nggak bisa dipegang, kok!” kata Dadap.

“Sudah, sudah, kau diam dulu, Bibi.” Tun Kumala bingung juga mendengar suara kedua orang yang sa- ngat berisik itu. “Buyut, apa maumu?”

“Yah. Tuan kan berjanji akan membantu kami mene- mui orang-orang Uteran itu...,” kata Buyut Pagalan.

“Lha itu kan nanti malam, toh?” tanya Tun Kumala heran.

“Nanti malam bagaimana... ya tadi malam!” kata Buyut Pagalan kesal. “Tadi malam? Heh. Hari ini besok? Eh, maksudku... aku mulai tidur kemarin? Ya, ampun! Mengapa tak kau- bangunkan aku, Bibi?” tanya Tun Kumala pada Dadap.

“Dia yang nggak boleh!” Dadap menudingkan pa- rangnya ke muka Teki. “Katanya wajah Paduka begitu manis saat tidur. Tampan, manis, cantik, ayu ”

“Husy. Itu kan kalau perempuan, kataku! Hamba bi- lang, kalau Paduka perempuan, aduh, pasti cantiiiiik sekali!” kata Teki. “Persis seperti Gusti Dewi Sekartaji zaman dahulu.”

“Memang kau pernah melihat Gusti Dewi Sekartaji?” sela Dadap.

“Ya persis seperti tuan ini,” kata Teki yakin.

“Wah, aku menyesal sekali telah ketiduran, Paman. Para buyut lainnya? Di mana mereka?” tanya Tun Ku- mala, kini benar-benar bangun.

“Di Kali Putih, Tuan, berjaga-jaga kalau-kalau lawan menyerbu kemari. Tapi agaknya lawan sudah mencium kehadiran Tuan hingga mereka tidak muncul Kalau

saja tadi malam Tuan hadir, pasti mereka telah takluk dan Uteran jatuh ke tangan kita! Huh!” kata Buyut Pa- galan.

“Ah. Maaf, Paman   aku memang capek sekali. Baik-

lah, segera setelah aku mandi kita akan berkunjung ke Uteran, bagaimana? Mungkin Akuwu Uteran bisa aku ajak berbincang-bincang agar mengubah niatnya,” kata Tun Kumala. Dikeluarkannya dua keping uang perak dari ikat pinggangnya, ditimang-timangnya sesaat. Se- keping dilemparkannya kepada Ki Gebang. “Paman, to- long sediakan bilik mandi. Awas. Jangan sampai ada yang mengintip, aku akan melakukan suatu ilmu ke- saktian   yang mengintip bisa langsung buta! Kemudian

siapkan juga makanku. Bibi berdua.  ” sekeping lagi di-

lemparkannya  pada  Dadap  dan  Teki,  “...terima  kasih banyak atas bantuan kedua Bibi. Bibi semalaman tidak pulang, ya? Nah. Mudah-mudahan uang itu cukup un- tuk ganti rugi Bibi berdua, dan harap pulang saja ”

“Tidak, Tuan... biarkan Bibi ikut Tuan terus sampai Bibi bosan....” Tiba-tiba Dadap bersimpuh di hadapan Tun Kumala dan menyembah kakinya. “Hamba yakin Dewata telah mengirimkan Paduka agar hamba ikuti sampai mati. Teki saja usir, Tuan ”

“Enak saja! Aku juga ikut Tuan! Awas kalau tidak bo- leh hamba bunuh diri! Benar!” kata Teki bersungguh-

sungguh.

“Tapi kalian punya keluarga, punya suami..!.” Tun Kumala jadi ragu.

“Ah, tidak, ah. Hamba ikut saja, biar suami gila itu dilayani si Teki saja!” kata Dadap.

“Enggak, juga! Hamba ikut! Kalau perlu biar hamba bacok dulu suami hamba itu agar Tuan tidak takut!” kata Teki.

“Pokoknya hamba ikut!” tegas Dadap. “Hamba juga!” tegas Teki.

Beberapa saat Tun Kumala ternganga tak bisa berbi- cara apa pun. Kemudian ia ingat bahwa mestinya ia be- randalan. Maka ia hanya mengangkat bahu. “Mandiku dan makanku, Paman!” katanya pada Ki Gebang.

***

Buyut Pagalan berjalan mondar-mandir di pendapa ru- mahnya. Dengan kekayaan dan kekuasaan yang ada, tempat tinggal buyut itu sudah mirip tempat tinggal seorang akuwu. Luas. Dengan pagar kokoh bagai ben- teng. Sebentar-sebentar ia menengok ke arah keduduk- an matahari. Orang Trang Galih itu menjanjikan akan berangkat ke Padas Putih menjelang sore nanti.

Buyut Pagalan gemas. Mengikuti gerakan ini sesung- guhnya baginya hanya suatu siasat. Biarlah ia nanti bi- sa merebut kekuasaan kecil di daerah ini dengan du- kungan Trang Galih. Kelak, ia yakin, kalaupun kelom- pok Trang Galih menang, suatu saat ia akan bisa mele- paskan diri. Dan menjadi raja kecil. Yah. Mengapa ti- dak? Arok telah mengukir sejarah sendiri. Mengapa ia tak bisa?

Didengarnya langkah kaki mendekat. Ternyata istri- nya.

“Santapan sudah tersedia, Kakang,” Nyai Buyut membungkuk hormat.

“Hm,” jawab Buyut Pagalan. Satu hal yang agak mengganjel hatinya. Kalau ia kelak melesat merebut wahyu, apakah pantas untuk terus didampingi wanita desa ini? Ah. Itu soal mudah. Dan memang sudah di- pikirkannya sejak dulu. Malah... mungkin ini juga pen- dorong segala niatnya.

Suatu saat ia berkunjung membawa upeti untuk Akuwu Uteran. Dan karena panen waktu itu memang berlimpah, ia terpaksa mengantar upeti itu langsung ke rumah dalam sang akuwu. Di sana ia bertemu pandang dengan Ken Ratri, putri sang akuwu. Ah. Seperti Arok dulu, ia langsung punya impian untuk suatu waktu nanti, Ratri akan mendampinginya. Mungkin soal umur Ratri sudah pantas jadi anaknya. Tapi soal kecantikan... Ratri pantas jadi seorang permaisuri.

“Kakang...” Nyai Buyut mengulang.

“He-eh. Sudah dengar,” tukas Buyut Pagalan kaku. “Hanya mohon ampun... mungkin bumbu untuk da-

ging kijang itu tak sesuai dengan selera Kakang,” kata Nyai Buyut lirih.

“Hh. Kenapa?”

“Kakang sendiri tahu... bumbu yang Kakang ingin- kan adalah bumbu khusus kalangan istana... mana di desa ini ada semuanya! Kakang juga aneh... akhir-akhir ini kok minta hidangan yang langka-langka. ”

“Ha, orang aku ini hidup   ya selama masih hidup ya

ingin mencicipi apa yang belum pernah kucicipi.”

“Tapi apa ya.  kalau mau meniru hidangan-hidangan

kerajaan   apa nanti tidak kuwalat?”

“Aku tidak melihatnya dari situ, Nyai! Mungkin de- ngan makanan seperti itu derajatku akan naik. Lho, apa kamu tidak ikut girang kalau begitu?”

“Girang  ya  girang,  Kang,  tetapi     kadang-kadang

hamba takut!”

“Takut itu urusanku. Kau hanya ikut numpang saja, aku mukti kau mukti, aku mati kau mati. Sudah jangan ngomong lagi....” Buyut Pagalan dengan langkah lebar menuju ruang dalam.

Santapan siang yang disiapkan oleh Nyai Buyut se- sungguhnya sangat istimewa. Diam-diam dalam hati Buyut Pagalan memuji sang istri. Ia juga tak tahu apa yang kurang pada daging kijangnya. Begini saja sudah enak, apalagi kelak kalau bumbunya sudah lengkap. 

“Ke mana lagi si Rebeg?” tanya Buyut Pagalan di an- tara suapan nasinya.

“Sejak Kakang membentuk pasukan itu, si Rebeg ti- dak pernah pulang,” sahut Nyai Buyut. Rebeg adalah putra mereka.

“Bagus. Biarkan dia mengenyam kehidupan kepraju- ritan. Mungkin sangat dibutuhkannya nanti.”

“Bukan ikut berlatih dengan para prajurit, Kakang...

Dia... dia di sana hanya.  ” Nyai Buyut ragu-ragu mene-

ruskan perkataannya.

“Hanya apa?” bentak Buyut Pagalan.

“Di  sana...  dia  suka  menembang  dan  menari     ka-

tanya.   ia senang karena para prajurit suka mendengar

tembangnya  dan  menonton  tariannya!”  Suara  Nyai Buyut makin lemah.

“Apa?” Buyut Pagalan sangat terkejut. “Dia menem- bang dan menari di depan prajurit-prajurit desa itu?”

“Benar, Kakang... dan ia sangat gembira... dan para prajurit itu senang ”

“Bajingan! Itulah sebabnya tiap aku ke perkampung- an prajurit itu ia tak pernah kutemukan, hah? Ia sem- bunyi, hah?”

“Ia tahu Kakang tak akan setuju.”

“Bukan hanya tidak setuju, jika kulihat ia menari...

huh... putra Buyut Pagalan menari! Bisa kubunuh dia! Itu sebabnya, yah, tiap kali para prajurit itu selalu ter- tawa-tawa jika aku datang, hah? Aku mau anakku jadi prajurit, jadi ksatria, jadi jago! Bukan jadi penari! Kau memang tak bisa mendidik anak!” geram Buyut Pagalan menghantam meja pendek tempat makanan. Tapi, yah, mengapa ia menyesal. Dari kecil anak itu memang me- nunjukkan tanda-tanda untuk lebih bersifat kewanita- an. Hmh. Ini juga alasan mengapa ia membutuhkan Ra- tri. Ia harus segera mendapatkan gadis itu. Kalau kela- maan    yah, mana bisa ia melihat ketampanan anaknya

dengan Ken Ratri nanti.

“Kalau ia pulang, jangan boleh dia pergi lagi. Kalau perlu, suruh Rota mengikatnya di belakang. Mengerti?”

“Tapi, Kakang  !” Kata-kata Nyai Buyut terputus oleh

suara derap kaki kuda memasuki halaman depan. Ke- dua orang itu bagai patung beberapa saat.

Kemudian terdengar beberapa langkah tegap. Rota dan seorang prajurit muncul, bersimpuh menyembah.

“Ada apa, Rota?” geram Buyut Pagalan.

“Buyut Sumbing ingin menghadap, Junjungan, be- serta seorang yang membawa berita sangat penting,” sembah Rota.

“Hmmmh...” Buyut Pagalan berpikir sejenak. “Suruh mereka masuk ke sini.” Ia paling senang pamer gaya hi- dupnya pada sesama buyut, untuk menunjukkan bah- wa ia di atas mereka. Tak mungkin makanan seperti yang dihadapinya ini pernah dilihat oleh buyut mana pun.

“Baik, Junjungan,” sembah Rota, mundur.

“Hayo, bawa hidangan lainnya kemari, cepat... juga beberapa piring perak... taruh saja di situ,” bisik Buyut Pagalan.

Sesaat Nyai Buyut tercengang, tetapi kemudian mengangguk dan mundur.

Buyut Sumbing orangnya tinggi besar penuh bere- wok. Dia masuk dengan langkah lebar dan suara tawa yang membahana.

“Ha ha ha ha... kebetulan kau sedang bersantap, Kang, ha ha  ha, lha  haku juga  sedang lapar-laparnya, ha ha ha, boleh langsung ikut ni, Kang, ha ha ha ha ”

“Silakan,  Di,  silakan,  hayo,  jangan  malu-malu  ”

Buyut Pagalan dalam hati berkata, buyut kurang ajar ini nanti yang pertama kali akan disingkirkannya. Ke- mudian ia tersentak melihat orang yang datang bersama Buyut Sumbing itu.

Orang ini juga gagah dan besar. Yang agak aneh ada- lah bahwa ia hanya menutupi diri dengan kain kasar. Dua bilah pedang terselip di pinggang. Dan ikat ping- gang dengan kepala bergambar ular terbang. Tinggi.

“Eh, maaf   kiranya ada tamu dari jauh?” Gugup kini

Buyut Pagalan setengah berdiri menyambut.

“Duduk saja, Buyut, biarkan aku juga ikut makan,” orang itu berbicara dengan bahasa setengah kasar dan langsung duduk di saat Nyai Buyut datang dengan membawa tambahan hidangan. Buyut Sumbing pun ikut duduk. “Ha ha ha.... Kakangmbok   santapan yang

kausiapkan untuk Kakang Buyut sungguh istimewa, ha ha ha.... Haku menyesal dulu bukan haku yang mela- marmu, ha ha ha ha.... Haduh, haduh, hidangan hapa hini,  harumnya  hmmmmhhhh...  ha  ha  ha      Jangan

hukum haku jika haku habiskan hini semua ya, Ka- kang, ha ha ha.    Hayo makan!” Tanpa cuci tangan lagi

Buyut Sumbing langsung menyambar piring dan meng- hajar hidangan yang ada.

“Tunggu, Di... mungkin kau lupa memperkenalkan tamu kita....” Buyut Pagalan saat ini tak bisa berbuat kasar pada rekannya ini, ia masih memerlukan mereka.

“Hah? Ho, ya! Hini.... ha ha ha... hini tamu dari Trang Galih, Kang.... Beliau ini kenal namamu, lho Kang... tetapi datang lebih dahulu padaku ya huntuk bertanya-tanya tentang kamu ha ha ha.  ya aku bilang

ha ha ha      Haem, nyem, nyem, wuah, henaknya!” kata

Buyut Sumbing sambil makan.

“Maaf, Tuan, siapa nama Tuan?” tanya Buyut Paga- lan langsung pada tamu tadi, dengan bahasa setengah kasar pula.

“Namaku Jalak Katenggeng. Menurut laporan Kusya, Kakang Buyut Pagalan akan menjadi pimpinan sumber kecil di sini?” sahut orang itu.

“Benar, Tuan... dan Kusya adalah...” Buyut Pagalan jadi sangat berhati-hati.

“Kusya hanya salah satu prajurit. Aku salah satu ke- pala Pasukan Badai.” Seolah tak sengaja Jalak Ka- tenggeng mengangkat bagian kainnya yang menutupi kepala ikat pinggangnya.

“Waduh, mohon maaf jika sambutan hamba kurang tepat.” Buyut Pagalan jadi gugup. “Hamba tak tahu ”

“Tak apa. Aku hanya orang peperangan. Kakang Buyut tak perlu berbasa-basi denganku.”

“Maksud kedatangan Tuan?”

“Tadinya hanya ingin meninjau saja   ” “Kenapa bukan sang Kusya saja yang datang?” sela Buyut Pagalan saat Jalak Katenggeng seakan tak mau melanjutkan kalimatnya.

“Kusya telah tiada,” terasa getar dendam di suara itu. “Demikianlah. Aku sesungguhnya hanya ingin meninjau dan mengabarkan hal ini padamu. Kemudian... kude- ngar ada seseorang yang mengaku orang Trang Galih datang kemari?”

“Be... benar... Tttuan    Kkatanya namanya Kkkuma-

la... sssekarang tinggal di rumah Ki Gggebang      Boleh

kupanggil dia?” Tiba-tiba saja keringat dingin Buyut Pa- galan muncrat, dan ia tak berminat lagi pada hidang- annya sementara Buyut Sumbing tanpa tata krama lagi menyikat semua yang tampak.

“Tidak usah. Tadi pun aku sudah menyelidikinya da- ri jauh. Dari apa yang kudengar di Trang Galih, lang- sung dari junjungan kita,” Jalak Katenggeng membuat gerakan menyembah, “maka aku berani bertaruh justru orang itulah yang telah menewaskan si Kusya!”

“Wah! Sang Kusya tewas oleh   dia?” Bagi Buyut Pa-

galan jelas Kusya begitu sakti mandraguna.

“Juga tiga orang prajuritnya.” Jalak Katenggeng mengangguk.

“Wah!” Hanya itu yang keluar dari mulut Buyut Pa- galan. Buyut Sumbing sibuk makan.

“Apa sesungguhnya yang akan dilakukannya di si- ni?” tanya Jalak Katenggeng.

“Itulah yang membuat  hamba heran....  Ddia.    ddia

mau membantu kami menaklukkan Uteran! Dan hamba perlu bantuan karena... karena hamba dengar Uteran telah mendatangkan pasukan dari Wadana Gemarang

....” Buyut Pagalan makin gugup. “Apakah... apakah ia orang Wilwatikta?”

“Itu yang aku belum jelas,” kata Jalak Katenggeng. “Menurut penilaian Sang Dewi, orang ini adalah orang bebas. Tapi aku mendapat bisikan dari Ratu Sepuh, orang ini harus dilenyapkan saja... tapi tanpa sepenge- tahuan Ratu Anom. Ini yang menyulitkanku....”  Tiba- tiba matanya memandang tajam pada Buyut Pagalan.

“Jjjadi... jadi hamba harus membunuh dia?” tanya Buyut Pagalan gugup.

“Ratu Sepuh berpendapat Ratu Anom menyukai orang ini. Jadi, siapa pun yang membunuhnya, atau mencederainya, akan kena pembalasan dendamnya!”

“Wah!” seru Buyut Pagalan.

“Tapi Ratu Sepuh berpendapat, orang ini harus di- singkirkan!”

“Wah!”

“Kau mau melakukannya?” Jalak Katenggeng menyi- pitkan mata tetapi terus memandang tajam pada Buyut Pagalan.

“Ampuuun... bagaimana  hamba  harus  berbuat....

Hamba ingin mendirikan jasa, tetapi jasa itu sendiri adalah pengorbanan....” Buyut Pagalan hampir mena- ngis.

“Semua perjuangan menghendaki pengorbanan,” ka- ta Jalak Katenggeng tenang.

“Mungkin... mungkin Buyut Sumbing bisa melaku- kannya... mungkin salah satu prajurit kami mung-

kin ”

“Apa pun yang terjadi di sini, Buyut, adalah tang- gung  jawabmu.  Dan  kau  yang  bertanggung  jawab ”

Dingin sekali kata-kata Jalak Katenggeng. “Tapi... tapi ”

“Kalau begitu kau tidak patut menjadi pimpinan sumber. Buyut Sumbing...” Jalak Katenggeng berpaling pada Buyut Sumbing.

“Yah? Yah... hah hah hah... pedhazzzz... hada hapa, hah?” Buyut Sumbing hampir tak bisa menjawab ka- rena mulutnya terlalu penuh.

“Mohon ampun, Tuan... hamba kira... baiklah... hamba akan melakukannya,” buru-buru Buyut Pagalan menyela. “Hanya... hamba mohon... caranya terserah hamba dan... dan... mohon hal ini dirahasiakan... po- koknya kan... orang itu tersingkir ”

“Hah, pikiranmu jalan juga, Kakang.” Untuk pertama kalinya Jalak Katenggeng tersenyum. “Orang  seperti kau inilah yang sangat kita butuhkan. Aku bersedia membantumu. Aku bersedia merahasiakan. Yang lain juga pasti bersedia. Hanya jika entah bagaimana Ratu Anom mengetahuinya, maka itu sudahlah nasibmu.”

“Bbe... benar, Tuan  ”

“Panggil saja aku sebagai saudara mudamu. Kita se- mua adalah seperjuangan, bergandeng tangan, tak ada yang tinggi dan yang rendah. Tinggi martabat  kita hanya ditentukan oleh jasa kita. Begitu juga anugerah yang nanti kita terima. Panggil saja aku Di.” Kini Jalak Katenggeng mulai makan. “Mmmhh... hebat sekali ma- sakan ini... sekali aku pernah merasakannya sewaktu bertugas di kepatihan di Wilwatikta. Itu pun hanya sisa santapan Sang Mahapatih! Juru masakmu hebat, Ka- kang Buyut. ”

“Istri hamba sendiri, Tt... Dimas Jalak Kateng- geng....” Sulit sekali bagi Buyut Pagalan untuk mengu- capkan nama itu. “Rrrencana kami rencana kami nan-

ti malam akan menantang orang-orang Uteran di Padas Putih.... Untuk... untuk mengurangi korban di pihak rakyat kecil.... Dddan... taddinya aku harapkan      orang

itu... orang itu akan sanggup mengalahkan jago Ute- ran.... Tapi sekarang ”

“Kausingkirkan orang itu. Biar aku yang jadi jagomu, Kakang,” kata Jalak Katenggeng. “Ttterima... terima kasih, Dimas... aku sudah sedikit lega kkini.... Kkkalau begitu... ttolong... tolong nanti ikut rombongan kami, tapi... tapi jangan tunjukkan bahwa Dimas datang dari Trang Galih ”

“Boleh, boleh   lalu apa rencanamu nanti?”

“Aku... aku belum memikirkannya... Dimas  ” Buyut

Pagalan termenung. Nafsu makannya hilang.

Bagaimana ia harus menyingkirkan Tun Kumala? Bagaimana nanti rahasia tentang itu tertutup? Siapa sebenarnya Tun Kumala yang disukai oleh Ratu Anom tetapi dibenci oleh Ratu Sepuh?

Apa pun yang dilakukannya, pasti ia akan mendapat hukuman jika Sang Ratu Anom tahu. Ia harus menun- jukkan bahwa ia berani pula berkorban demi mengikuti kemauan ratunya. Ia harus menunjukkan bahwa ia murni tidak tahu-menahu dalam peristiwa itu, bahkan mungkin ia telah berkorban terlalu banyak untuk Sang Ratu hingga mungkin Sang Ratu mau berbelas kasihan padanya. Itu pun kalau ketahuan.

Apa yang membuat pengorbanannya begitu besar?

Ah. Si Rebeg. Si Rebeg! Tiba-tiba mata Buyut Pagalan bersinar. Semua orang pasti yakin bahwa sang buyut mencintai putranya itu. Tak akan ada yang tahu bahwa ia merasa Rebeg adalah kegagalannya yang terbesar.

Tapi Rebeg bersikap kewanitaan. Mana mungkin ia bisa membunuh Tun Kumala yang begitu jago hingga Kusya pun jadi korbannya?

Ah. Mungkin bisa dipikirkan nanti.

“Nyai...” Tiba-tiba ia berpaling pada istrinya yang tanpa bersuara meladeni mereka yang sedang makan.

“Ya, Kakang,” Nyai Buyut beringsut maju.

“Suruh Rota mencari Rebeg sampai ketemu, bawa ke rumah belakang. Aku akan menemuinya di belakang....

Dan ingat. Jangan berkata pada siapa pun tentang apa yang kaulihat dan kaudengar di sini. Mengerti?” “Mengerti, Kakang. Kalau menghendaki apa-apa, biar

nanti kusuruh Suti melayani Kakang di sini....” Nyai Buyut pun beringsut mundur dan keluar.

Buyut Pagalan menghela napas panjang.

6. DI PADAS PUTIH

REBEG tunduk bagai menghunjam bumi di depan ayahnya. Sangat berbeda dengan keadaan sang ayah, maka Rebeg ini bertubuh semampai, lemah gemulai, ha- lus, dan penuh perhiasan. Gelang-gelang di tangannya gemerincing setiap tangannya bergerak, anting-anting di telinganya gemerlap jika kepalanya bergoyang. Dan ia tak pernah lupa tersenyum.

“Rebeg, kudengar kau tak pernah pulang, huh?” Buyut Pagalan menggeram. Mereka hanya berdua di bi- lik itu.

“Kata ‘kudengar’ itu sungguh tepat, Ayahanda...,” se- nyum Rebeg.

“Maksudmu?”

“Itu berarti Ayahanda juga begitu jarang berada di rumah. Hanya mengetahui keadaan hamba dengan ja- lan mendengar dari orang lain. Nah, kalau Ayahanda saja tak betah di rumah, bagaimana pula dengan ham- ba yang ingin selalu mencontoh Ayahanda... sebagai- mana Ayahanda kehendaki?” suara Rebeg lancar, mer- du dan berlagu.

“Aku ingin kau mencontoh... kegagahanku, kesakti- anku, wibawaku!” kata Buyut Pagalan gusar.

“Hal itu belum pernah kudengar sebelumnya, Aya- handa!” senyum Rebeg, sungguh menyakitkan mata Buyut Pagalan.

“Pokoknya mulai  sekarang  kau  kularang  pergi  ke perkampungan para prajurit itu!” Buyut Pagalan kehi- langan bahan untuk marah.

“Itu pun Ayahanda yang menginginkannya. Ingatkah Ayahanda?”

“Aku suruh kau berada di sana untuk belajar ulah keprajuritan, bukan untuk menembang, menari, meng- hibur mereka!”

“Tapi agaknya mereka lebih suka tembang dan tari- ku, Ayahanda, dan bukankah Ayahanda selalu bilang aku harus menimbulkan kekaguman di setiap orang?”

“Mereka bukan kagum, mereka mengejekmu!” “Antara kagum dan mengejek, hanya ada suatu garis

tipis. Bagaimana orang bisa mengejek kalau sesuatu ti- dak cukup kuat untuk bisa menembus lingkup perhati- annya, menyebabkan ia tergerak untuk berbuat sesua- tu? Dan itu artinya kekaguman!”

“Diam! Kaukira kau besok jadi apa huh?” gerutu Buyut Pagalan.

“Jadi apa pun... jika hamba puas dan bangga, bu- kankah itu sudah cukup?”

“Sudah, sudah, sudah! Kau diam, dan dengar bica- raku!” bentak Buyut Pagalan.

Beberapa saat mereka hening. Wajah Buyut Pagalan berkerut-kerut seolah berpikir berat.

“Dengar... nanti sore kau harus ikut aku. Kita ada seorang tamu terhormat. Dan... beliau ingin meninjau Padas Putih. Kau tentunya pernah dengar bahwa ke- mungkinan orang Uteran akan menyerbu kemari, bu- kan? Sudah. Tak usah ngomong. Aku tahu kau tak su- ka perang. Tamu kita ini juga tak suka perang. Kare- nanya aku ingin kau menemaninya terus. Dan mengikat perhatiannya. Sebab bisa-bisa ia akan mengacaukan rencana perang kami. Kau pasti menyukainya.”

“Oh, mudah-mudahan  benar  begitu.  Banyak  yang Ayahanda bilang aku akan suka tetapi ternyata malah tidak,” kata Rebeg.

“Lihat sajalah nanti   ”

“Dan hamba hanya menemaninya?”

“Kami akan ke Padas Putih, sesungguhnya untuk bertempur. Tetapi, seperti kataku tadi, dia bisa merusak rencana kami. Jadi, kauikuti dia terus, kauajak dia bi- cara terus, kauikat perhatiannya. dan kalau bisa, kau-

ajak dia menjauh dari kami saat kami berada di Padas Putih nanti.”

“Wah, kalau saja hamba boleh menari, Ayahanda, pasti perhatiannya takkan terpecah lagi. Mengapa ia ha- rus ikut ke Padas Putih?”

“Karena ia mengingininya! Nah, sampai di sana, kami sesungguhnya akan ke arah hilir, untuk bertemu dan perang tanding dengan orang-orang Uteran.”

“Aduuuuh! Seraaaaam!” Rebeg tampak ketakutan. “Ya. Kau tak usah melihat. Kaubawa tamu kita ini ke

Ujung Bajul Putih. Ya, pasti ia begitu tertarik hingga tak sempat lagi berpikir tentang kami   ” Diam-diam Buyut

Pagalan melirik putranya.

“Ujung Bajul Putih? Oh, ya, ya, pasti dia tertarik...

begitu banyak kisah asmara berakhir  sedih  di  sana...

sedih namun indah     Ah, bahkan kisah sepasang bang-

sawan muda juga.    Ayahanda ingat, putri Demang Wa-

ru itu... Wah, ya... kalau tamu kita itu orang kota, mungkin beliau juga tertarik bahwa cinta mempunyai warna yang sama walaupun itu berada di pucuk gu- nung.... Ya, Ujung Bajul Putih banyak bercerita bagai- mana pasangan-pasangan yang terpaksa putus cinta karena... karena kekejaman orangtua mereka.  ” kali ini

Rebeg yang melirik ayahnya, “melawan maut dengan melompat dari karang yang disebut Ujung Bajul Putih itu dan hancur berkeping-keping di dasar jurang di ba- wahnya. Oh, indah sekali. Pasti dia tertarik pada kisah- kisah itu. Dan oh, pasti ia lebih tertarik lagi kalau kuka- takan bahwa aku pun pernah hampir diabadikan di ka- rang itu Ayahanda ingat, sewaktu Ayahanda menolak

keinginanku untuk belajar menari dan aku akan me- lompat bunuh diri pula dari karang itu?”

“Aku ingat,” kata Buyut Pagalan singkat. Dalam hati ia menambahkan betapa ia menyesal karena waktu itu ia menghalangi Rebeg bunuh diri.

“Indah, indah... suatu hari akan kukarangkan tem- bang untuk memuliakan Ujung Bajul Putih yang meru- pakan titik lompatan para putus cinta untuk menuju surga! Oh, baiklah, Ayahanda, kalau aku hanya bertu- gas begitu, aku sangat bersedia!”

“Baiklah. Kau siap-siap, minta bekal pada ibumu.

Sebentar lagi kita akan berangkat.”

“Baik, Ayah!” Rebeg bersujud menyembah ayahnya yang bergegas meninggalkan tempat itu dengan wajah masam.

“Rebeg?” terdengar bisikan dari luar.

“Ibu?” Rebeg bangkit dengan mata bersinar. Memang Nyai Buyut yang kemudian masuk.

“Kau diapakan oleh ayahmu?”

“Oh, tidak diapa-apakan, Bu. Mungkin Ayahanda malah berubah sikap. Beliau memberi hamba tugas yang bagus sekali... menghibur seorang tamu dengan berbagai cerita... terutama cerita tentang Ujung Bajul Putih!” Rebeg tertawa memperlihatkan giginya yang se- lalu putih bersih dan rata.

“Ujung Bajul Putih?” Nyai Buyut termenung. “Bu- kankah itu batu karang di atas Padas Putih yang sering digunakan orang untuk bunuh diri?”

“Benar, Ibu... dan pasti banyak yang bisa kucerita- kan ” “Tapi, Rebeg, apakah tak berbahaya bagimu?” Nyai Buyut mengerutkan kening.

“Bahaya apa? Tentu tidak, Ibunda. Mudah-mudahan tamu ini benar-benar tak suka perang, dan mungkin sepengertian denganku.”

“Rebeg, kau harus sangat berhati-hati, Nak....” Tiba- tiba air mata berlinang dari mata Nyai Buyut.

“Ah, Ibu tak usah kuatir.... Ayo, tolong aku me- nyiapkan perbekalan, Bu.”

“Kau harus hati-hati, Nak,” bisik Nyai Buyut lagi.

***

Mereka berkumpul di sebuah tempat terbuka di antara semak belukar. Jauh di depan mereka tampak jurang curam mendalam. Dindingnya penuh tetumbuhan hing- ga jurang itu gelap, bahkan di tengah hari bolong ini. Jauh di bawah sana, di dasar jurang itu dan tak terlihat dari atas, mengalir Kali Putih yang menjadi batas dua buah desa—dan kini menjadi batas pertentangan antara para buyut yang terpengaruh Buyut Pagalan dan me- reka yang masih setia pada Akuwu Uteran.

Tun Kumala duduk tegak di kudanya. Rambutnya yang sangat pendek tersembunyi di balik destar sutera hitam yang melambai-lambai oleh belaian angin. Di sampingnya Rebeg berada di atas punggung kuda juga. Tidak gagah, tetapi enak dipandang, begitu serasi anta- ra sikap, pakaian, dan kudanya. Tun Kumala langsung suka pada pemuda yang begitu banyak bercerita ini. Sopan-santun. Lembut. Berperasaan halus. Lemah ge- mulai, dan agaknya terpelajar juga. Sepanjang perjala- nan tadi mereka bercerita dan bercanda. Begitu akrab.

Di depannya berdiri para buyut, Pagalan, Tantram, Gitra, dan Sumbing. Dan yang agak aneh adalah seo- rang lelaki yang berada di dalam rombongan buyut itu tetapi tampaknya sangat lain dari mereka semua. Ber- pakaian kain kasar, lebih banyak diam, dan tampak sangat dihormati. Tun Kumala pun tak terlalu peduli dengan orang ini, karena ia begitu asyik berbincang- bincang dengan Rebeg.

Agak jauh dari mereka beberapa orang prajurit desa yang dengan penuh kewaspadaan menunggu, sementa- ra Dadap dan Teki berulang kali mengganggu kesabaran mereka. Tetapi lebih sering mereka menggoda Rebeg yang mereka anggap kini sebagai saingan besar dan be- rat dalam merebut hati Tun Kumala.

“Di balik perbukitan itulah kedudukan akuwu di Ute- ran,” kata Buyut Pagalan menuding, memajukan ku- danya mendekati kuda Tun Kumala dan Rebeg. “Peng- halang utama kami jika kami menyerang ke Uteran. Ja- lan satu-satunya lewat sana. Atau, jika berani meng- hadapi kemungkinan mati konyol, mungkin bisa menje- lajah dasar jurang Kali Putih itu. Sampai sekarang be- lum ada yang berani melakukan itu. Lewat bukit sana itu, pasukan Uteran bisa menghujani kita dengan pa- nah dan batu, dan habislah kita.” Buyut Pagalan kemu- dian mendeham dan melirik pada Rebeg.

“Apa yang kita lakukan kini, kalau kita tak bisa me- nyerbu ke sana?” tanya Tun Kumala.

“Makanya tidak usah perang, kalau boleh hamba bi- lang, damai saja, damaiiii saja,” kata Rebeg tersenyum.

“Idih. Biar tidak diupah mau rasanya mengiris bibir- nya yang mancung itu,” gerutu Dadap pada Teki.

“Dalam hal ini aku terpaksa setuju, Dadap. Orang itu merusak pasaran saja,” sahut Teki.

“Rasanya aku setuju. Tetapi akuwu Uteran itu me- mang harus ditegur. Mungkin kalau aku dan Adik Re- beg ini pergi ke sana kita bisa membujuknya untuk ber- damai?” tanya Tun Kumala. “Bisa juga.” Buyut Pagalan menunduk berpikir-pikir. Yang lain semua diam, agaknya menunggu keputusan- nya. “Tetapi mereka licik. Jika mereka meracuni Tuan, atau menjebak Tuan... habislah kita.  Mungkin  lebih baik siasat kita semula saja.... Kita panggil mereka ke- mari untuk perang tanding, tetapi nanti Tuan bisa ber- kesempatan berbicara dengan mereka... dan mungkin mereka terbujuk. Bagaimana? Dengan begitu kita tak membahayakan kedudukan kita!”

“Bisa juga begitu....” Tun Kumala mengangguk-ang- guk, dia juga lega bisa mengulur waktu.

“Biar Rota dan Roga berangkat sebagai duta kita ke Uteran. Sementara itu kita beristirahat di bawah pohon besar itu. Rebeg, mungkin sambil menunggu kau bisa membawa tuan tamu kita untuk... mmm, mencari bu- nga liar, misalnya, atau menangkap kupu-kupu yang indah....” Buyut Pagalan mencibir saat mengucapkan kata-kata itu.

“Oh, ya, Junjungan... hamba tahu ada sesuatu yang sangat menarik di sini. Karang Ujung Bajul Putih... co- ba... Tuan lihat ke sana... tuh... di sana itu... lihat  sesu- atu yang putih di antara semak-semak itu?” Rebeg me- nuding ke dinding jurang nyaris dekat kakinya, semen- tara Rota dan Roga telah berlalu.

Tempat yang ditunjuk Rebeg memang agak sulit dili- hat. Dinding jurang di tempat itu nyaris tegak lurus menghunjam ke kedalaman yang gelap tak terlihat. Dan di tubir jurang di sebelah sana terlihat sebentuk batu karang, bagaikan sekeping papan putih, menjulur ke udara.

“Sambil menunggu, mari kita ke sana. Tempat itu tempat bunuh diri banyak sekali pasangan yang putus cinta. Mereka berdiri di ujung karang itu, kemudian berdua melompat ke dalam jurang. Pasti hancur. Tapi tak ada orang yang pernah memeriksa dasar jurang sa- na,” kata Rebeg, turun dari kuda.

“Aku ikut,” kata Dadap. “Rasanya aku mau  bunuh diri nih!”

“Woalah! Paling kau membal ke atas lagi kalau terjun ke sana!” ejek Rebeg.

Bersambung ke jilid 10.