Dewi Penyebar Maut Eps 08

Dewi Penyebar Maut Eps 08

1. GADIS DI PUNCAK BUKIT

UDARA sejuk pegunungan semakin sejuk terasa pada diri Ahireng yang panas karena baru menggunakan il- mu larinya itu. Ada beberapa hal yang membuatnya berlari. Dan berlari sepenuh tenaga. Berlari sepenuh ke- cepatan.

Untuk pertama kali dalam hidupnya ia mencuri lihat seorang wanita yang sedang mandi. Memang tak se- ngaja. Dan ia tak tahu siapa orang itu. Ia hanya melihat punggungnya. Dan sekilas mata bening di antara se- mak-semak. Serta sekilas tumpukan kain kelabu. Ha- nya itu.

Namun jantungnya sudah merasa akan copot.

Ia makin heran apa yang terjadi pada dirinya. Tiba- tiba saja ia tertarik pada lawan jenisnya. Bukan hanya lawan jenis semata-mata, tetapi ia justru tertarik pada si Buyut. Orang yang membesarkannya sejak ia bayi. Orang yang mengajarinya segala ilmu. Orang yang sela- lu dan selalu menekannya dengan berbagai tugas dan keharusan. Orang yang tak pernah dilihatnya mukanya. Atau bentuk tubuhnya.

Bahkan waktu ia mencuri lihat wanita muda yang sedang mandi itu, tak timbul pikiran apa pun. Kecuali heran. Siapa orang itu.

Sebab kedua ia lari begitu kencang juga karena ia tak ingin dipergoki oleh wanita tadi. Siapa pun dia. Dan di mana pun dia sekarang.

Dan sebab berikutnya adalah, ia tak ingin dipergoki oleh Ki Prutung, pelayan merangkap pengawal pe- sanggrahan si Buyut yang berada di tempat terpencil itu.

Ahireng dibawa ke pesanggrahan itu oleh si Buyut, untuk menghindari kemungkinan pertemuan dengan khalayak ramai di persembunyian mereka di Bengawan. Dan mereka meninggalkan tempat itu karena kini tak ada Ki Gong, si ular raksasa, untuk disadap darahnya. Dan karena mereka telah membawa lari Turi, anak buah Emban Layarmega yang cantik dan muda itu.

Sesungguhnya Ahireng merasa sedikit lega. Kini ia tak usah menahan diri dan berbuat sebagai orang tak bermartabat, sebagai penjaga Sumur Hitam. Kini ia be- bas berlatih tanpa takut diketahui orang banyak. Tapi agaknya kini si Buyut akan lebih ketat dan lebih dekat mengawasinya. Memang berat. Tapi cukup menyenang- kan bagaimana ia bisa berada dekat si Buyut selalu.

Sedang Turi? Entah bagaimana nasib anak itu kelak. Sewaktu Ahireng masih menjadi penjaga Sumur Hitam, Turi adalah gadis yang tidak terlalu cantik. Tetapi me- narik dan selalu bersikap bersahabat padanya, walau- pun sesungguhnya gadis itu sering hanya termenung- menung sementara ia berceloteh tak keruan. Saat itu pun, ia tak tertarik oleh wajah atau bentuk tubuh Turi, yang dikatakan orang sebagai kembangnya rumah suka Nyai Emban Layarmega. Dan kini, Turi masih berben- tuk wajah dan tubuh yang sama. Namun kini kulitnya merah kehitaman. Begitu mengerikan.

Ahireng pun sesungguhnya tak ngeri melihat Turi saat ini. Sebab ia tahu mengapa Turi jadi seperti itu. Ia sendiri, kulitnya hitam-legam karena pada saat-saat ter- tentu ia harus diusapi darah Ki Gong. Sementara Turi... agaknya gadis itu pun tak peduli pada keadaannya. Bahkan agaknya tak peduli pada apa pun. Walaupun tiap saat ia dihajar oleh si Buyut dengan berbagai puku- lan maut dari Wajraprayaga. Dan agaknya, anehnya, berbagai pukulan itu serasa tak berbekas pada Turi.

Turi lebih banyak diam. Termenung. Dan sesekali menjerit. “Dari mana kau?” tiba-tiba sebuah suara memben- tak.

Ahireng terperanjat. Ia baru saja melompati pagar pesanggrahan yang tinggi itu, masuk ke halaman da- lam.

Di kegelapan bayang-bayang pendapa, si Buyut ber- diri. Seperti biasa dengan seluruh tubuh tertutup oleh kain berkerombongan.

Ahireng masih terperangah. Mungkin otaknya mem- permainkan dia. Seolah si Buyut memancarkan bau ha- rum segar. Dan kain yang dipakai sebagai jubah itu... serasa pernah dilihatnya. Ah. Mungkin kali ini si Buyut kebetulan mengganti jubahnya, karena di sini banyak pelayan, tidak seperti di tepi Bengawan sana.

“Kau makin hari makin tolol, Ahireng,” dengus si Buyut.

“Ampun, Buyut... hamba baru saja berlatih di luar, dengan Ki Prutung,” sembah Ahireng. Dan pada saat yang sama terdengar suara seseorang menjejakkan kaki di belakangnya. Ki Prutung. Terengah-engah.

Agaknya si Buyut tak perlu menanyai Ahireng lebih lanjut.

“Kau ke sanggar. Aku berpikir kau cukup kuat untuk menerima Wejangan Wajraprayaga sekarang,” kata si Buyut, dan entah kenapa suara itu terdengar seakan sedih.

“Buyut... apakah... aku... mampu...?” terbata-bata Ahireng berkata.

“Mampu atau tidak, baru bisa kautentukan setelah kaulakukan. Siapkan dirimu....” Si Buyut akan berpa- ling. Tetapi ia tertegun. Seorang pelayan muncul mem- bawa seekor burung merpati.

“Ada apa, Pradwa?” tanya si Buyut.

“Ampun, Junjungan... ini baru saja datang.” Ki Pradwa mengangsurkan merpati itu pada si Buyut. “Hmmm...” Si Buyut tertegun membaca surat yang

ada pada kaki merpati itu. “Baik, Pradwa, Prutung. Ka- lian boleh pergi. Tunggu aku di halaman belakang nanti sebelum matahari terbenam. Bawa juga Ki Pragota.”

Tak memperhatikan mereka lagi, si Buyut berpaling, dan berjalan menuju ruang dalam, memberi isyarat pa- da Ahireng untuk ikut.

Ahireng mula-mula berjalan menunduk agak jauh di belakang si Buyut lewat gang-gang panjang di pe- sanggrahan besar itu. Kemudian matanya menangkap sesuatu yang agak aneh di lantai batu tempat mereka berjalan. Mungkin biasa. Mungkin juga luar biasa.

Ada tetes-tetes air. Sangat kecil. Di ujung jubah ba- gian belakang si Buyut. Dan. Ya. Kerudung yang menu- tupi kepala itu juga sedikit basah saat mereka melewati bagian lorong di mana cahaya matahari bisa masuk.

Ah, kenapa ia memperhatikan itu. Tentu saja si Buyut sekali waktu harus mandi.

Tapi, benarkah itu memang tak berarti?

Wanita muda yang tadi mandi di atas puncak gu- nung itu. Ahireng makin ingat. Kain yang dilihatnya. Mirip jubah itu. Tapi... yang di sana tadi seorang wanita muda. Sedang si Buyut.... si Buyut pastilah sudah tua. Jika ia punya ibu, maka pastilah ibunya setua si Buyut. O, ya. Bagaimana adiknya?

Mereka menaiki tangga batu menuju menara sang- gar. Dan tak sekali pun Ahireng berhasil melihat kilasan kaki si Buyut. Walaupun dari bekas di batu, memang tampak kaki itu basah. Kalaupun si Buyut tadi mandi di puncak gunung itu, betapa cepatkah ia harus berlari agar tiba di sini dalam keadaan masih basah? Tapi mungkin itu bukan hal yang sulit bagi si Buyut.

Mereka berhenti sejenak di serambi pertama. Si Buyut bersandar ke pagar batu serambi, mengamati alam sekelilingnya. Ahireng menunggu dari jarak jauh.

“Mm... sungguh, tak kukira. Orang yang tadi malam bertarung denganku ternyata Rakryan Mapatih!” gu- mam si Buyut seolah pada dirinya sendiri.

“Hamba tak mengerti, Buyut,” ucap Ahireng ragu- ragu.

Si Buyut melemparkan padanya gulungan lontar yang tadi ada di kaki merpati. “Baca sendiri.”

Surat itu cukup panjang.

Buyut,

Tadi malam Rakryan Mapatih Kuripan bertarung de- ngan seseorang yang selama ini dikenal sebagai wanita gelap dengan julukan Candika, di tikungan Bengawan dekat Gelagah dan Jurang Telu. Rakryan Mapatih luka berat. Mungkin kesempatan baik untuk memperkuat Dharmaputra kita. Rakryan Kanuruhan akan menggem- pur tempat tersebut. Hamba sendiri akan pergi ke Wilwa- tikta untuk minta bantuan dan menjemput Ra Sindura. Hamba sangat yakin Ra Sindura akan menghalangi ge- rakan kita. Mohon petunjuk agar dalam perjalanan kem- bali ke Kuripan ia menemui kecelakaan.

Tentang Candika itu, tak ada keterangan yang dapat diandalkan tentangnya. Agaknya ia pun memusuhi Wil- watikta. Mungkin bisa menjadi saingan berat kita nanti. Hamba rasa, kita bisa meniru siasat Ra Wijaya zaman dahulu. Mengajaknya bergabung, untuk kemudian di- singkirkan. Untuk itu hamba akan berusaha berhubung- an dengannya. Atau mungkin Buyut sendiri dapat me- lakukannya.

Mpu Gagarang. “Tapi... tempat itu adalah...” Ahireng heran.

“Tepat. Agaknya Rakryan Mapatih mengira ia ber- hadapan dengan Candika.... Entah siapa orang itu, na- mun yang pasti ia ditakuti sampai-sampai Kuripan ha- rus minta bantuan Wilwatikta. Untung kita sudah pergi dari tempat itu. Rakryan Kanuruhan Kuripan sudah lama tak memegang pasukan, namun ia patut dikagumi ketelitiannya. Mpu Gagarang pun benar. Saat inilah pa- ling tepat untuk menancapkan kuku Dharmaputra. Ha- ri ini di Kuripan. Besok di Wilwatikta. Dan lusa di du- nia!”

Ahireng merasakan suara itu gemetar. Kemudian muka berkerudung itu berpaling padanya. “Dan semua itu hanya untukmu, Tolol. Jangan sampai kau menge- cewakan aku!” si Buyut berdesis lemah.

“Hamba mengerti, Buyut,” gemetar Ahireng menya- hut.

“Kau terpaksa menghafalkan Wejangan nanti sendiri. Besok pagi aku harus ke Wilwatikta. Ada beberapa uru- san. Mencari tahu tentang Candika itu, jika ia belum tertangkap oleh pasukan Kuripan. Menghubungi bebe- rapa tokoh Dharmaputra kita. Serta permintaan Mpu Gagarang tentang Sindura. Sungguh sayang sebetulnya. Anak muda itu sungguh berbakat.”

Dalam hati Ahireng mengetahui bahwa di dalam ha- tinya si Buyut mungkin mencerca dirinya. Tapi panda- ngan matanya malahan tertuju pada titik-titik air dekat ujung jubah si Buyut.

Dalam hati pula ia berkata, gadis di puncak gunung tadi terpaksa meninggalkan mandinya dengan sangat tergesa-gesa.

“Ada yang ingin kupesankan padamu, tentang gadis merah itu... Turi. Turi namanya, bukan?” kata si Buyut. “Anak itu memang luar biasa. Ia memang terpengaruh oleh suatu kekuatan rahasia, entah obat, entah ilmu mengubah sukma. Ia tak tahu siapa dirinya, ia tak tahu apa kemampuannya. Dan sesungguhnya aku curiga ia punya kemampuan besar. Sesekali seakan terlihat ge- rak ilmu Sura-Caya. Sesekali muncul hawa pukulan Bhirawadana. Juga tendangan berbobot Bantala Li- wung. Itu semua adalah ilmu-ilmu yang diturunkan oleh Sang Singa Bramantya Megatruh. Apakah orang sakti ini juga telah menurunkan murid-muridnya untuk mencari pengaruh? Dan lebih penting lagi, apakah Turi ini salah seorang muridnya?”

“Dia dibawa ke Emban Layarmega oleh Ra Wirada, putra Mpu Gagarang. Mungkin Buyut bisa menyelidiki pada beliau,” usul Ahireng.

“Benar.” Mereka berhenti lagi di serambi dua. “Tapi sementara itu, ketahuilah... tubuh Turi telah diresapi darah sakti Ki Gong. Dan kita tak bisa mencabutnya kembali. Sesungguhnya lebih baik bila ia dimatikan sa- ja. Namun, aku merasakan, jika kita gempur dia, maka badannya memancarkan hawa penolak. Secara serta- merta. Dan hawa penolak inilah yang harus kita sadap. Untuk itulah, walaupun kau belum siap, terpaksa kua- jarkan Wejangan padamu. Tugasmu kemudian, di samping menghafalkan Wejangan itu, setiap saat kau harus menghajar Turi. Dan kau akan memperoleh man- faat yang tak ternilai.”

“Sungguh petunjuk Buyut akan hamba laksanakan,” sembah Ahireng.

“Bagus. Hitung-hitung kau berlatih. Kau harus me- ngeluarkan segenap kekuatan dan ilmumu. Tak usah khawatir. Darah sakti Ki Gong melindunginya.”

Mereka telah tiba di puncak menara sanggar, di de- pan ruang semadi. Si Buyut berhenti sejenak dan meng- ucapkan mantra pembukaan di depan meja semadi yang terbuat dari batu. Mata Ahireng terbelalak. Di meja itu tergeletak sekuntum bunga. Merah darah. Yang juga tumbuh di sumber air panas di puncak gunung itu.

Kembali diam-diam Ahireng memperhatikan si Buyut. Siapa gerangan dia?

“Ada yang kaupikirkan?” tiba-tiba si Buyut bertanya tanpa menoleh kepadanya.

“Oh... eh... anu... tidak ” Ahireng begitu gugup.

“Kau tak bisa berdusta,” desis si Buyut, masuk ke dalam kelamnya ruang semadi. “Dan kau harus me- ngosongkan pikiranmu dari apa pun jika kau ingin we- jangan ini masuk dalam dirimu.”

“Hamba memikirkan   adik hamba. Jika dia memang

adik hamba. mengapa ia tidak muncul?” tanya Ahireng

mencari-cari.

“Ia memang adikmu. Dan ia lebih cerdas darimu. Ja- di kau tak usah mengkhawatirkan dia. Sudah. Tanggal- kan semuanya.” Suara itu bergema di ruangan kecil dan gelap itu. Sangat gelap. Ahireng tak bisa melihat apa pun. Tak urung ia toh merasa malu saat mencopot kainnya.

***

Ahireng mengusap keringatnya. Mengisap-isap napas. Meregang-regangkan tangan.

Di depannya, Turi bagai teronggok. Ketakutan. Ngeri memandangnya. Dengan kedua tangan bersilang di de- pan mukanya. Melindungi mukanya.

Rambutnya berantakan. Kain yang membalut badan- nya pun tak keruan. Dan terlihat jelas kulitnya yang kemerah-merahan. Bukan warna takut. Atau marah. Memang itu warna kulitnya kini.

Ahireng memperhatikannya. Dan matanya bentrok dengan mata yang bening, walaupun ketakutan. Dada Ahireng berdebar keras. Dan dia-lah yang ke- takutan kini. Mata itu tajam. Mata itu menusuk. Berte- naga.

Tak pelak Turi memang sangat bertenaga luar biasa. Sesuai petunjuk si Buyut, maka lima hari berturut- turut ia menggempur gadis itu dengan berbagai ilmu- nya. Mula-mula tak tega memang. Tetapi ternyata han- taman yang berapa pun dahsyatnya tak bisa menghan- curkan Turi. Gadis itu mungkin tertendang hingga membentur tembok. Terbanting hingga lantai batu pe- cah. Tertinju hingga badannya meliuk-liuk. Tersiksa memang. Tetapi tubuh Turi tetap utuh.

Dan sesuai dengan ajaran si Buyut, tiap saat suatu tenaga baru serasa mengalir merasuki tubuh Ahireng. Membuatnya semakin mantap menghajar Turi. Dan ha- jaran itu membuatnya semakin bertenaga lagi. Dan ber- tenaga lagi.

Sudah lima hari sepeninggal si Buyut. Dan Turi tetap juga seakan tak terpengaruh oleh dahsyatnya hanta- man-hantaman Ahireng. Bahkan para pelayan pun kini tak tahan melihat adegan penyiksaan yang aneh itu. Mereka selalu menghindari lapangan tengah pesanggra- han saat matahari mulai muncul di atas punggung gu- nung sampai nanti tengah hari. Mereka memilih bekerja di bagian rumah lainnya. Kecuali Pradwa, Prutung, dan Pragota yang bertugas menemani perjalanan si Buyut.

“Tak usah kau begitu ketakutan, Turi,” akhirnya Ahi- reng berkata, tak betah menerima pandangan tajam ga- dis itu. “Kau toh tak cedera sedikit pun!”

Seperti hari-hari sebelumnya, Turi hanya meman- dang curiga pada Ahireng.

“Ah.” Ahireng terpaksa berpaling, berjalan ke tepi la- pangan untuk mengambil kendi. Diminumnya air kendi berteguk-teguk. “Aaaah!” Ia mengusap mulutnya yang basah. Di seberang halaman Turi terus memperhatikan- nya. “Hei, kau mau?” teriak Ahireng.

Turi hanya memperhatikannya.

“Gila!” desis Ahireng. Dan tiba-tiba dilemparkannya kendi itu ke arah Turi. Tidak secara tepat ke Turi. Se- sungguhnya ia ingin memancing agar setidak-tidaknya sesaat dua saat mata Turi akan beralih darinya.

Yang dilihatnya cukup mengejutkan.

Entah bagaimana tubuh Turi begitu saja melesat di tanah. Berputar sesaat. Dan tangannya dengan tepat dan cepat, hampir tak terlihat, menyambar kendi itu. Langsung meminumnya.

Ini bukan sesuatu yang aneh jika Turi minum. Tetapi gerakan itu tadilah yang membuat Ahireng membela- lakkan mata. Pertama, gerak tadi dilakukan oleh bebe- rapa jari kaki saja. Kedua, beberapa kedudukan gerak- an jelas adalah kedudukan suatu siasat lari rahasia. Ke- tiga, gerak tangan Turi sendiri sangat aneh. Sesaat ken- di itu seakan ditahan oleh tebasan telapak tangan hing- ga bagai tergantung di udara. Kemudian suatu tekukan jari telunjuk membuat kendi tersebut melonjak dan ja- tuh. Suatu permainan tenaga tak terlihat yang begitu mantap!

“He, kau punya ilmu lari?” tak terasa Ahireng ber- tanya. Bahwa kemungkinan Turi memiliki ilmu kesak- tian, Ahireng bisa menduga kemungkinan ini karena rendaman darah Ki Gong. Tetapi yang pasti tak ada il- mu lari di darah itu.

“Ayo main kejar-kejaran,” ajak Ahireng. Ia memang sudah mulai bosan akan acaranya setiap hari. Dan mendadak saja ia merasa rindu pada si Buyut. Entah apa yang membuatnya rindu.

Dengan pedang hitamnya Ahireng membuat bebe- rapa garis di tanah hingga terbentuklah petak-petak mainan yang biasa dimainkan oleh anak-anak. Dan dari sudut matanya Ahireng melihat bahwa mata Turi pun bersinar, mengenali permainan ini.

“Nah, kau jaga di sini ” Ahireng menuding ke garis

jaga. “Dan aku akan lari menyeberang. Kau mengerti?”

Kali ini Turi tidak memandangnya. Dia langsung bangkit. Dan berjalan ke arah yang ditunjuk Ahireng.

“Bagus. Yuk mulai main, yuk!” Ahireng jadi begitu le- ga. Tak lama, mereka berdua telah asyik bermain.

2. TAMU SANG TUMENGGUNG DI ALUN-ALUN Wilwatikta.

Tandu itu berhenti di sudut jalan. Sebuah iring-iring- an panjang telah membuat jalan di depannya tertutup. Terutama oleh beberapa orang prajurit pengawal yang tak segan-segan menggunakan tangkai tombak mereka untuk menghalau orang-orang yang datang mendekat. Serta beberapa ekor gajah yang membuat orang banyak bergerombol menonton.

Di sekeliling tandu itu adalah Ki Prada, Ki Prutung, dan Ki Pragota. Mereka melihat getaran di layar depan tandu dan segera mendekat.

“Ada apa?” tanya Buyut dari dalam tandu.

“Hamba dengar itu rombongan dari Palembang... te- rutama melihat adanya gajah-gajah itu,” bisik Ki Pru- tung.

“Hhh... apakah Arya Damar sendiri yang datang ke- mari?” tanya si Buyut.

“Menurut keterangan yang hamba peroleh... Sang Adipati tidak ada dalam rombongan. Yang ada adalah kedua putra beliau,” sembah Ki Prutung.

“Ah. Arya Damar sudah punya anak? Dua?” Suara si Buyut terdengar sungguh heran. “Wah... gembala hutan itu pastilah mencoba mengambil hati Sang Raja. Dan... kukira ia akan berhasil pula, Prutung. Tak adakah jalan lain ke Tumenggungan?”

“Kita bisa melewati pasar... tetapi Paduka tahu beta- pa baunya tempat itu.”

“Tak apa. Bawa aku lewat sana. Bau anak-anak hu- tan itu, jauh lebih kubenci. Ayo berangkat!”

Ki Prutung memberi isyarat agar para pengusung tandu berdiri.

Berbarengan dengan bergeraknya tandu si Buyut yang berputar dan berjalan meninggalkan tempat itu, seorang wanita tua berlengan satu juga tiba-tiba berdiri. Ia berkain compang-camping. Badan dan kainnya me- nunjukkan ia dari kalangan miskin. Mukanya tak me- nunjukkan tanda-tanda kasta. Seorang wanita lain yang tak kalah kotor dan compang-camping dari wanita tua itu juga berdiri, dan bergegas mengikuti si wanita tua.

Si wanita tua dengan muka menunduk, berjalan ce- pat pula mengikuti langkah cepat para pengusung tan- du, berusaha menjauhi orang-orang yang kebetulan be- rada di dekatnya.

Wilwatikta memang ramai. Jalan-jalan besar diisi dengan berbagai orang lalu-lalang. Berbagai bangsa. Berbagai kasta. Kendaraan dan hewan tunggangan pun hilir-mudik, disela oleh tukang-tukang teriak yang me- neriakkan dagangan warung majikan mereka.

Tandu yang dinaiki si Buyut bisa bergerak cepat di antara keramaian ini. Terutama karena Ki Prutung serta Ki Pragota yang berjalan di depan tak pandang bulu— barang-siapa yang berani berada di depan tandu me- reka labrak hingga tunggang-langgang. Beberapa orang pun mencoba untuk marah dan melawan. Namun Ki Pradwa kemudian turun tangan, menghantam siapa pun yang melawan dengan pukulan tunggal yang selalu membuat orang pingsan seketika.

Ini semua tak luput dari perhatian wanita berke- rudung compang-camping dan bertangan satu yang ber- jalan agak jauh di belakang tandu itu. Wanita tua ini juga mengherankan. Terlihat tua jika sekilas kain ke- rudungnya tersingkap, terlihat cukup ‘subur’ badannya walaupun compang-camping. Ia bisa bergerak gesit na- mun seolah tanpa banyak bergerak. Demikian juga wa- nita yang sama gembelnya, yang tak pernah terlalu jauh, tapi juga tak pernah terlalu dekat, di belakangnya. Mereka bergerak bagaikan bayang-bayang tak berwu- jud. Menyelinap di antara manusia dan benda. Seolah tanpa tenaga dan usaha.

Dan mereka baru berhenti, saat di kejauhan tandu yang membawa si Buyut berhenti di depan pintu besar ketumenggungan Wilwatikta.

Seorang dari dua orang pengawal pintu besar itu ma- ju dan menemui Ki Prutung yang berada di depan.

“Semoga Dewata melindungimu,... Ki Sanak, dari mana dan apakah akan berkunjung ke junjunganku Sang Tumenggung?” tanya orang itu.

“Kami dari Marawas, dan tuanku ini memang ingin berkunjung pada Sang Tumeng gung, maka tolong bu- kakan pintu,” sahut Ki Prutung.

“Junjunganku tak banyak mempunyai waktu untuk para tamu. Seingatku beliau tak punya sahabat yang tinggal di Marawas. Apalagi seorang wanita. ” Tadi saat

mengatakan ‘tuanku ini’ memang Ki Prutung menggu- nakan kata yang menunjukkan jenis wanita. Orang tadi pun berhenti sesaat seolah ingin agar kata-katanya di- mengerti oleh Ki Prutung. Bisa dimengerti, mungkin. Ki Prutung berpakaian bagai orang desa. Dan Marawas adalah sebuah tempat yang sama sekali tak dikenal. Tetapi Ki Prutung agaknya tak mengerti kata-kata orang itu. Ia mengulurkan tangan dan menepuk bahu si pengawal.

“Ki Sanak, sekarang tugasmu hanya satu. Buka pin- tu itu.”

“Eh...” Si pengawal menggoyangkan bahu dan tangan Ki Prutung yang berat meleset ke samping. Dengan se- belah tangan ia memberi isyarat pada temannya, de- ngan tangan yang lain ia memutar batang tombak hing- ga tombak panjang tersebut kini melintang menjadi ba- tas antara dirinya dan Ki Prutung.

Beberapa orang yang tadi duduk-duduk di bawah pohon di seberang jalan kini berdiri. Dan mereka pun bersenjata. Mendekat. Mengepung.

“Maaf, Ki Sanak... mungkin memang begitu adat Ki Sanak di... di Mawaras, eh... di mana tadi... ya di tempat yang Ki Sanak sebutkan tadi.... Tetapi di sini, di kota besar yang segalanya diatur oleh peradaban tata sopan santun ini tidak begitu    Pertama, seorang tamu harus

dikenal oleh tuan rumahnya. kedua, seorang tamu ha-

rus mengenal tuan rumahnya... ketiga, seorang tamu harus memperkenalkan diri terlebih dahulu pada tuan rumahnya, keempat ”

“Adatku hanya satu,” tukas Ki Prutung. “Aku hormat pada tuan rumah, tapi pada anjing penjaganya tanda pengenalku hanya ini!” Ki Prutung mengacungkan tin- junya yang nyaris sebesar kelapa cengkir ke depan hi- dung pengawal itu.

Dan pengawal tersebut betul-betul mencium tinju itu serta berkata, “Wah, bagus juga tanda pengenalmu, Ki Sanak. Tetapi orang bisa bingung, namamu ‘si Tinju Bau’, ataukah ‘si Kepalan Penuh Kudis’ atau apa. ”

Orang itu tertawa. Dan orang-orang di sekeliling mereka juga tertawa. Seseorang malah menambahkan, “ si Se- kepal Kudis Penuh Bau!” Dan tawa pun semakin berde- rai-derai.

Seperti biasa Ki Pradwa langsung maju dan men- gayun tinju. Tetapi si pengawal dengan gerak aneh men- jatuhkan diri sampai terduduk di tanah dan memutar tombaknya datar dengan tanah. Gerakannya cepat dan beruntun.

Beberapa saat Ki Pradwa memang kehilangan ke- sempatan menyerang. Ia jadi sibuk menghindar, berlon- cat-loncat cepat, sementara ujung tombak si pengawal seakan terus mengejar. Dari kejauhan Ki Pradwa jadi seperti seorang anak yang bermain lompat tali. Dan ka- wan-kawan si pengawal agaknya melihat ini pula dan mereka, orang-orang yang cukup berumur, berteriak- teriak menyanyikan sebuah lagu anak-anak yang biasa untuk mengiringi permainan itu:

“Satu dua tiga, lompat-lompat kuda,

kudanya kuda Sumba, yang naik orang gila, lah lah lah lah lah lah

bikin tertawa bocah-bocah!”

Ki Pradwa berusaha melompat lepas. Ketika belum juga berhasil, Ki Prutung jadi tak sabar. Dengan gusar ia menendang Ki Pradwa, dan langsung menerjang si pengawal. Si pengawal yang sedang asyik melayani Ki Pradwa jadi berantakan geraknya. Namun sigap ia mengubah kedudukan, dan sambil terus berjongkok tombaknya kini menghalangi majunya Ki Prutung. Ki Pradwa sendiri telah terpental oleh tendangan Ki Pru- tung, jatuh di antara gerombolan kawan si pengawal dan langsung mengamuk.

“Hentikan!” Tiba-tiba terdengar bentakan dari pintu gerbang. Perlahan. Namun sangat berwibawa. Di pintu berdiri seorang pria setengah umur. Gagah.

Bangsawan.

Para pengawal langsung berhenti dan mencoba me- nyingkir, dengan akibat beberapa orang dari mereka ha- rus menerima tendangan dan tinju Ki Prutung dan Ki Pradwa yang tak mau berhenti. Lawan Ki Prutung sen- diri dengan tangkas telah berguling cepat di tanah dan melompat ke samping bangsawan itu.

Ki Prutung sendiri cepat bersimpuh melihat si bang- sawan.

“Maafkan hamba, Sang Tumenggung, hamba... ham- ba hanya ingin mencoba orang-orang baru ini,” sembah Ki Prutung.

Bangsawan itu tertawa tak bersuara. “Nah. Kalian agaknya sudah saling kenal kalau begitu. Prutung, ini memang Kepala Pengawal Luarku yang baru. Ki Bete namanya. Dia pernah menaklukkan gunung menjajah lembah untukku. Jadi kau harus hati-hati padanya. Bete, kauingat-ingat muka orang ini. Mungkin kau bisa mengalahkannya, tetapi wibawa junjungannya sanggup melumatkanmu. Kau mengerti? Sudah. Minggir semua!” Dengan langkah tegap sang bangsawan berjalan mendekati tandu yang sementara itu masih berada di

atas bahu pemikulnya.

“Apakah Dinda Dewi yang mengunjungiku hari ini?” bisik Sang Bangsawan dekat-dekat dengan tirai penu- tup tandu.

“Benar, Kakang... mestinya Kakang lebih banyak mengajarkan sopan santun pada para pengawalmu itu,” dari dalam tandu terdengar bisikan lembut.

“Mereka orang baru. Dan orangmu pun kasar sekali. Tetapi mengapa kita pertengkarkan itu. Dinda Dewi ten- tunya ingin segera beristirahat di dalam?” bisik sang bangsawan lagi. “Mari. Silakan ” sang bangsawan ber- paling pada para pengawalnya. “Gantikan para pemikul tandu ini. Bawa junjunganmu ke dalam.”

Dari kejauhan kedua wanita compang-camping tadi memperhatikan tandu si Buyut dibawa masuk. Dan kembali depan pintu gerbang itu sepi. Para pengawal pun kembali berkumpul-kumpul di bawah pohon.

“Itu Rakryan Tumenggung Wilwatikta, Mpu Gagak Sagara,” si wanita lengan buntung berbisik pada rekan- nya. “Siapa tamunya, aku sungguh ingin tahu.”

“Melihat terjadinya salah paham tadi, mungkin para pengawal itu belum tahu siapa tamu mereka,” sahut re- kannya.

“Yah. Aku hanya curiga, orang di tandu itu pastilah seorang wanita muda yang perkasa dan cantik. Kucium wangi tubuhnya, kulihat keperkasaan para pengawal- nya... dan rasanya sulit mencari wanita cantik yang perkasa... kecuali Dewi Candika ”

“Jadi jun... eh... maksud hamba... eh, maksudku...

anu Kakang Kara, itukah Dewi Candika?”

“Sodra... kau mestinya kuhukum mengisi sumur,” kata si Lengan Tunggal. “Penyamaranku kukira cukup sempurna. Beberapa kenalanku tak mengenaliku lagi.”

“Biasa, Kakang... begitu kita jadi pengemis, siapa mau kenal dengan kita lagi. Kecuali kalau Gus. eh, ke-

cuali kalau Kkk... Kakang Rhaga memergoki kita....

Nah. Bukan saja kita ketahuan, kita juga akan kena murka ”

Si Lengan Tunggal menghela napas, diam-diam memperhatikan lengannya yang buntung.

“Aku memang tak sabaran. Aku harus segera menge- tahui siapa Dewi Candika ini. Apa maunya memusuhi keluargaku. Sampai murid-muridku. Sungguh sayang bahwa guru kami yang begitu berbudi, Panembahan Megatruh, telah tak ada di tempatnya. Kalau saja kita bertemu beliau, kita takkan usah menyamar sehina ini. Tapi... ya, mungkin dahulu kami berbuat suatu dosa hingga harus sedemikian papa ”

“Rencana Kk... Kakang kini?” Wanita yang satunya agaknya tak mau mengungkit-ungkit masa lalu lebih jauh lagi.

“Kita kembali ke penginapan. Nanti malam, akan ku- tengok wanita itu.”

“Tapi kalau wanita itu memang Dewi Candika. dia

toh bukan tandingan Kakang ”

“Mungkin. Tapi setidak-tidaknya sudah kuketahui dia. Dan kita bisa cari bantuan nanti.”

***

Di dalam rumah Tumenggung Gagak Sagara.

Ada sebuah bilik kecil. Di atas menara pemujaan.

Tertutup rapat.

Si Buyut mencopot satu per satu kain yang mem- bungkus dirinya. Dan tampillah seorang wanita. Dengan kulit kuning langsat. Tubuh indah semampai. Rambut hitam-legam kemilau tergerai lembut.

Dan wajah cantik bermata tajam berkilauan.

Sulit untuk memperkirakan usianya. Ia mungkin sa- ngat muda.

Kemudian ia mendeham.

Pintu pun bergeser terbuka. Dan Mpu Gagak Sagara masuk.

Duduk tunduk menghaturkan sembah. Walaupun setelah itu pembicaraan lebih akrab. Dengan bahasa kasar dan nyaris tanpa basa-basi.

“Dinda Dewi, sungguh mengejutkan kehadiranmu. Apakah ada hubungannya dengan para putra Arya Da- mar itu?” tanya Mpu Gagak Sagara.

“Tidak dan ya. Aku datang kemari untuk suatu urus- an lain. Baru tadi di alun-alun kulihat rombongan yang kata orang adalah rombongan para putra Arya Damar.”

“Dinda Dewi tak bertamu kukira belum ada setahun. Dan kulihat... sudah terlihat begitu muda! Apakah ini akibat Ilmu Wajraprayaga itu?”

Yang disebut ‘Dinda Dewi’ menghela napas panjang. “Dari semula, guruku yang bagaikan dewa itu memang berpesan... ilmu Wajraprayaga yang murni adalah ilmu sesat. Itu pulalah sebabnya, dalam perjalanan ilmu ter- sebut orang lebih suka mengambil sebagian dari ilmu itu saja. Atau mencoba mencampurnya dengan ilmu asli Tanah Jawa.”

“Kalau akibat ilmu sesat itu membuat kita makin muda, aku pun tak menolak!”

“Itu hanya terjadi pada si pengajar Wajraprayaga. Bukan pada semua orang yang menganutnya. Dan ini pun akibat kutukan bahwa seorang murid Wajrapra- yaga harus membunuh gurunya untuk menyempurna- kan ilmunya. Sang Wajraprayaga sendiri membunuh gurunya. Dan karena kutukan sang guru yang menga- takan bahwa hal itu akan terulang dan terulang lagi... maka ia menyisipkan ilmu yang membuat seorang peng- ajar Wajraprayaga makin lama makin muda agar jika kemudian sang murid berusaha membunuh sang guru maka sang guru sudah siap sedia.”

“Apakah... muridmu sudah siap melakukan itu?” ta- nya Mpu Gagak Sagara perlahan ketika melihat Sang Dewi terdiam beberapa saat.

“Itu akan terjadi, kalau sang murid mencapai tingkat ilmu sembilan persepuluh. Dan muridku saat ini sung- guh tak berbakat... walaupun dibantu darah ular Kapi- la.   Lagi pula itu hanya terjadi pada guru pria dan mu-

rid pria. Belum pernah ada murid wanita atau guru wa- nita sebelum aku. Hanya... susutnya umurku agak mengganggu juga. Masih untung Kakang Rangga sudah tiada... dia pasti tahu perubahan diriku, walaupun aku selalu mengeram diri dalam kegelapan ”

“Ya, tewasnya Dinda Rangga cukup banyak memban- tu kita walaupun tentu saja aku ikut berdukacita un-

tuk itu, Dinda Dewi,” Mpu Gagak Sagara cepat-cepat menambahkan saat tiba-tiba terlihat mata si Buyut yang dipanggilnya ‘Dinda Dewi’ itu sesaat memancar ta- jam.

“Mungkin kehendak Dewata sudah begitu.” Si Buyut yang ternyata cantik itu menundukkan muka. “Aku sungguh mencintainya. Memang... dalam satu hal hi- dupku sungguh tersiksa. Sebagai penerus darah Sang Rajasa, aku terpaksa teguh menentang Sang Raja yang teguh didukungnya. Suatu hal yang sangat-sangat sulit, Kakang. Aku hanya dapat penghiburan bahwa jika ke- lak terjadi bentrokan, maka aku tak usah turun tangan melawannya. Adalah si Angragani nanti yang harus tu- run tangan. Aku tak mengerti. Kenapa justru anak itu yang terpilih....” Si Buyut tampak melamun. “Bisa kau- bayangkan pengorbananku.... Setiap saat aku harus pergi meninggalkan keluargaku, dan merawat anak itu dari bayi... harus membiasakannya hidup sengsara, yang berarti aku harus ikut hidup sengsara. Betapa su- litnya untuk setiap saat harus berubah    Sekali jadi to-

koh Dharmaputra yang sedang menghimpun kekuatan, sekali harus menjadi istri seorang yang sangat mem- benci Dharmaputra itu sendiri. Dan aku harus mene- kan semua yang ada pada diriku... ilmuku, kesaktian- ku, dari pandang mata sakti suamiku. Dan kemudian, kemungkinan kelak aku harus berhadapan dengan me- reka. ” Kembali si Buyut yang cantik itu berdiam agak

lama. “Mereka yang kucintai akan jadi musuhku. Sua- miku. Kedua anakku.” “Itulah yang dihadapi Sang Arjuna menjelang Bha- rata Yudha, Dinda Dewi,” Sang Tumenggung mencoba menghibur.

“Aku tahu. Aku hanya berharap di penitisan berikut- nya aku bisa menebus dosaku pada mereka....” Mata indah itu tampak mulai berkaca-kaca. “Dalam kehidu- pan ini biarlah kubayarkan utang nenek moyang kita... justru karena hanya akulah yang mampu berbuat un- tuk itu ”

“Semua perjuangan mengharapkan pengorbanan,” Sang Tumenggung mencoba menghibur. “Dan sungguh menyesal aku hanya bisa membantumu dengan doa restu saja. Sampai sejauh manakah kemajuan Angra- gani saat ini?”

“Kalau aku mengukur kemajuannya, aku bisa putus asa.” Si Buyut menengadahkan kepala, menekuri langit- langit. “Kurasa, wahyu kerajaan mungkin turun bukan berdasarkan keturunan. Angragani memang keturunan langsung Sang Rajasa. Tapi... kadang-kadang aku pu- nya perasaan, ia takkan punya kekuatan untuk memi- kul tanggung jawab sebagai penguasa jagat. Aku telah berusaha menggemblengnya. Mengisinya. Tapi ”

Kedua orang itu lama terdiam. “Kudengar ”

“Dinda Dewi ”

Mereka berbicara bersamaan dan berhenti bersa- maan. Kemudian si Buyut memberi isyarat agar Tu- menggung Gagak Sagara melanjutkan kata-katanya.

“Dinda Dewi... ada berita yang harus kusampaikan.

Mungkin kurang enak didengar.” “Ya?”

“Kalau berbicara tentang wahyu kerajaan    makin

santer desas-desus bahwa Wilwatikta akan kehilangan wahyu itu... dan pamor Wilwatikta akan hilang lenyap tertelan bumi.... Aku... aku menghubungkan ini dengan kedatangan agama baru di pesisir. Pengikutnya makin banyak. Dan mereka mulai banyak menguasai kendali perdagangan. Dan... mereka dibiarkan saja.”

“Apakah mereka punya kekuatan?”

“Para bangsawan pesisir mulai mendukungnya. Dan

...” sesaat Tumenggung Gagak Sagara tertunduk, “bah- kan beberapa bupati dan pangeran. Di antaranya, ke- dua putra Arya Damar itu ”

“Hm. Jelas. Mereka pasti akan mencoba memperoleh lebih banyak.”

“Dinda Dewi tadi berkata bahwa maksud Dinda da- tang ke Wilwatikta ini bukanlah urusan mereka?”

“Memang. Aku juga bukan datang untuk berkeluh- kesah pada Kakang.”

“Aku tahu. Di antara kita, Dinda Dewi memikul be- ban terberat, yaitu mendidik Angragani. Kalaupun ber- keluh-kesah, maka kukira itu pun wajar.”

“Aku ingin mengadakan pertemuan di antara para tokoh Dharmaputra kita. Aku merasa, keadaan sede- mikian rupa, bahwa bukan kita saja yang bersiap-siap merebut wahyu kerajaan. Ada aliran kepercayaan baru itu. Kemudian apa yang dinamakan Dewi Candika. Dan yang pasti, Wilwatikta sendiri tak akan tinggal diam.”

“Jika Dinda Dewi menghendaki, dalam lima hari ini bisa kukumpulkan semua tokoh dari Daha, Jenggala, Tuban, Lamongan, Galijao. Itu adalah tokoh-tokoh yang mampu menggerakkan lebih dari seribu orang dari mas- ing-masing daerah. Tapi kukira mereka belum siap un- tuk bergerak.”

“Aku tahu. Namun... aku tak mau mengulur waktu lagi. Sebelum Pesta Sradda Besar, kita harus sudah ber- gerak. Tak peduli Angragani siap atau belum. Itu ter- paksa kita lakukan. Kalau tidak kita akan kedahuluan.” “Baiklah. Akan kukumpulkan mereka. Di Pesanggra- han Sanggan?”

“Ya. Yang kedua sungguh berat.” “Kalau boleh aku bertanya?”

“Kuripan merupakan salah satu pokok kekuatan ki- ta. Saat ini hampir kita kuasai. Tadinya penghalang utama adalah Sang Mapatih. Dan Kakang Rangga. Ka- kang Rangga tiada. Rakryan Mapatih secara tak sengaja kulumpuhkan. Tetapi sebelumnya ia masih punya wi- bawa untuk minta bantuan ke Wilwatikta. Dan me- manggil seseorang yang sangat kutakuti jika harus jadi musuhku.”

“Tak kukira kau takut seseorang?” Tumenggung Ga- gak Sagara benar-benar heran.

“Ra Sindura. Anakku sendiri.” Si Buyut tunduk da- lam-dalam. “Aku bisa memusnahkannya dengan sekali menjentikkan jari. Tapi ia anakku!”

Mereka pun hening lagi.

“Rakryan Mapatih berhasil meyakinkan Panca Ring Kuripan bahwa Ra Sindura tak bersalah. Bukan saja bebas, ia dipanggil untuk mengamankan Kuripan. Me- mang kepercayaan Raja yang lima tinggal Mapatih, Ra- kryan Demung, Rakryan Kanuruhan, dan Rakryan Tu- menggung. Dan Rakryan Mapatih mungkin lumpuh. Namun aku yakin Sindura akan sanggup membuat ge- rakan kita sulit.”

“Dan Dinda Dewi tak mau membuatnya cedera?” “Sedikit pun tidak.”

“Susah memang. Siapa yang akan mengabarkan ten- tang itu ke Wilwatikta?”

“Rakryan Tumenggung. Ia harus menyampaikannya, kalau tidak, Rakryan Mapatih akan curiga.”

“Kita tidak bisa membuat Adhijaksa tak melepaskan Ra Sindura?” “Kaupikir Adhijaksa bisa kaupengaruhi?”

“Aria Dewaraja Mpu Aditya memang sulit dipengaru- hi dengan ancaman ataupun harta benda. Tetapi... den- gan... rupa cantik... mungkin ”

“Dan... Kakang pikir   tak ada wajah lebih cantik da-

ri wajahku yang tua ini?” Tiba-tiba si Buyut tersenyum. “Semua orang akan mengira usia Dinda Dewi tak le-

bih dari dua puluh tahun.”

Tiba-tiba tertawa si Buyut berderai-derai. Kemudian hening lagi.

“Tapi pikiranmu menarik juga, Kakang. Tak ada orang lain yang mengetahui wajahku sebenarnya. Tapi...

apakah lalu aku harus menjadi miliknya?”

“Itulah halangannya. Mungkin lebih baik kita mencu- lik Ra Sindura dalam perjalanan pulang ke Kuripan. De- ngan demikian, orang-orang Kuripan akan makin man- tap dengan keterlibatan suatu kekuasaan yang mem- bantu mereka.”

Kembali si Buyut termenung. Dan akhirnya meng- angguk.

“Ya. Kukira itu jalan terbaik,” katanya. “Ada apa lagi, Dinda Dewi?”

“Aku memikirkan anakku yang satunya.” Si Buyut cantik menundukkan muka. “Sindura bisa kita tahan dan sembunyikan. Mungkin dia akan bisa menahan de- rita itu. Atau kita kirim dia ke Tumasik. Dan hidup ba- hagia di sana. Mungkin ” Pandangannya menerawang.

“Tetapi Rara Sindu   Ah, kau tak mengerti, Kakang, be-

tapa keras hati anak itu, dan jika dia hancur, maka dia akan hancur berantakan.”

“Ah. Anak perempuan toh mudah diatur.”

“Rara Sindu tidak. Bahkan sekarang pun aku tak ta- hu ia ada di mana. Terakhir kali ia memotong rambut- nya dan bersumpah untuk membebaskan kakaknya serta membalas dendam kematian ayahnya. Terakhir kali ia pergi dengan Rakryan Mapatih. Mungkin Mapatih tahu di mana dia. Aku harus menemukannya....” Dan dari mata yang indah itu mengalir dua butir air mata cemerlang.

“Aku akan menyebar orang untuk mencari kabar tentang dirinya, Dinda Dewi,” kata Tumenggung Gagak Sagara.

“Yah. Yang ketiga, putra-putra Arya Damar itu. Kita harus menghentikan pengaruhnya. Dan ini tugasmu. Kau harus bisa masuk ke kedaton, Kakang.”

3. SERANGAN GELAP

PURI itu gelap.

Dan malam memang telah larut.

Halaman luasnya seakan penuh bayang-bayang po- hon besar yang makin membuat gelap suasana.

Hanya ada penerangan lemah di pendapa. Dan bebe- rapa orang sedang duduk menghadap sang menteri wredda, Sang Dewaraja Mpu Aditya.

Di hadapannya duduk Tumenggung Kuripan, Mpu Gagarang, dan beberapa orang ksatria muda.

“Gagarang, ini terakhir kali kau bisa memaksaku menghadap Sang Maharaja di saat yang sudah begini larut,” kata Mpu Aditya di antara kunyahan sirihnya. “Kalau kau tak menggunakan nama besar Bhre Kuri- pan, sudah kupenggal langsung kepalamu.”

“Mohon ampun, Dewaraja, tetapi pesan yang hamba bawa memang sangat penting,” sembah Rakryan Tu- menggung dari Kuripan.

“Tak usah kauingatkan itu. Aku tahu!” Mpu Aditya meludah. “Dan kau harus tahu bahwa aku juga dimur- kai Sang Raja! Mengerti kau?” “Mohon ampun, Dewaraja!”

“Sang Raja untung sekali sangat tertarik pada kea- daan saudara beliau di Kuripan. Maka akan dikirimkan segera putra Sang Raja sendiri, Pangeran Jimbun.”

Mpu Aditya mengangguk pada anak muda di sam- ping Mpu Gagarang.

Dalam suasana remang-remang tampak pemuda itu berkulit kuning langsat. Wajahnya tampan. Dan pada badannya nyaris tak ada perhiasan.

Mpu Gagarang melirik pemuda itu. Boleh dikata ku- rus. Menginjak tanah pun mungkin tak berbekas. Dan ia akan diutus mengamankan Kuripan dari gangguan Dewi Candika?

“Bukannya hamba sok pintar, Junjungan... namun apakah tidak lebih baik jika Pangeran Jimbun diiringi oleh seorang panglima lain? Maksud hamba... apakah tidak terlalu berlebihan jika seorang pangeran turun tangan untuk persoalan sekecil ini?”

“Jangan banyak omong!” tukas Mpu Aditya setengah membentak. “Kalau kau meragukan ketangguhan Sang Pangeran, bilang saja, biar kau mencobanya di luar. Be- rani kau?”

“Mohon ampun, Junjungan, tentu saja tidak,” sem- bah Mpu Gagarang dalam-dalam.

“Bagus. Layani beliau baik-baik selama perjalanan ke sana. Aku juga sudah mendengar tentang Dewi Candika ini. Sungguh kurang ajar. Apa maunya, huh? Apa mau- nya? Menurut laporan sudah 436 jiwa tewas di tangan- nya. Benar itu, huh? Benar itu, huh? Bagaimana, Man- tri?”

“Sudah 450 orang, Gusti,” seorang punggawa tua yang duduk di belakang Mpu Aditya berkata. “Tapi itu hanya desas-desus. Hamba tak yakin itu semua korban dari orang yang dinamakan Dewi Candika itu. Di Ang- kusa, misalnya, 30 orang tewas bersamaan karena ma- kan rujak kecubung. Terus... didesas-desuskan itu per- buatan Dewi Candika. Lalu...”

“Jika kau tidak kusuruh bercerita, lebih baik kau di- am! Mengerti? Atau kau memang mau kugantung?” tu- kas Mpu Aditya garang.

“Mohon ampun, Gusti!” orang tua itu gugup me- nyembah.

“Pokoknya banyak. Dan tak ketahuan ia berpusat di mana. Kalau kalian di Kuripan tidak goblok, mungkin juga ia bisa kita tangkap di sana.”

“Kami mohon petunjuk, Dewaraja,” sembah Mpu Ga- garang.

“Ikuti saja petunjuk Pangeran Jimbun. Begitu juga kau, Sindura!” bentak Mpu Aditya pada pemuda di sam- ping Pangeran Jimbun.

Pemuda ini memang Ra Sindura. “Daulat, Gusti.”

“Kau dibebaskan karena permintaan Mapatih tolol itu. Mestinya... huh. Kalau menurut aku sih... langsung saja digantung. Bukankah begitu, Gagarang?”

“Kalau mengikuti perasaan hati hamba, begitulah, Junjungan ”

“Pah! Kalau kau berani mengikuti perasaan hatimu, kau yang akan kuperintahkan digantung, mengerti?” tukas Mpu Aditya geram. “Kau, Sindura. Dan Pangeran. Besok pagi segera saja berangkat. Pangeran, Tuan boleh membawa dua puluh orang prajuritku. Selebihnya ter- serah kalau Tuan akan membawa orang Palembang. Sudah. Semua pergi sana. Ini waktunya tidur, tahu!”

Dan tanpa basa-basi lagi Mpu Aditya bangkit, berja- lan tertatih-tatih meninggalkan tempat itu, diikuti oleh para pengiringnya.

Di tempat itu kini tinggal beberapa orang. Tumeng- gung Kuripan, Mpu Gagarang. Pangeran Jimbun. Dan Ra Sindura. Serta beberapa orang pengiring Pangeran Jimbun.

Sesaat hening.

Kemudian Mpu Gagarang mengorak sila dan berjalan jongkok duduk di tempat Mpu Aditya tadi.

“Hamba kira jelas, Pangeran,” katanya pada Pange- ran Jimbun. “Kita harus segera berangkat.”

“Tunggu, Paman,” nada suara Pangeran Jimbun kini jelas terdengar. Dan jelas agak aneh, seakan sangat su- lit mengucapkan kata-kata dalam bahasa Jawa. “Hari telah larut. Tapi belum pagi. Anak buahku sangat lelah. Biar mereka istirahat agak lama. Mungkin sehabis... mmmhh, sehabis subuh kita berangkat. Mereka bisa bergerak cepat. Kalau Paman setuju, kita bisa berang- kat sekarang. Bertiga. Dengan Dinda Sindura. Anak bu- ahku bisa menyusul kemudian. Bisa dipimpin oleh adikku, Pangeran Kusen. Bagaimana?”

Lucunya nama-nama orang seberang ini, pikir Tu- menggung Kuripan. Tapi di mulut ia berkata, “Hamba kira itu sudah lebih dari cukup, Pangeran, kalau meli- hat betapa kepercayaan Sang Dewaraja pada Pangeran.” Dan dalam hati ia menyatakan biar anak muda ini tahu rasa nanti.

Pangeran Jimbun berpaling pada Ra Sindura. “Aku sendiri tak yakin bahwa aku bisa menaklukkan Dewi Candika. Dan aku hanya memulangkan semua persoa- lan ini kepada Gusti Yang Maha Tinggi. Kita hanya ma- nusia. Mungkin Allah subhanahu wa taala telah mengi- rim bencana ini untuk memberi peringatan pada kita. Kalau aku bertemu dengan Dewi Candika, kemungki- nan aku akan ajak berunding dia, dan kutanyakan me- ngapa ia berbuat ini semua. Sementara ini, hanya kau yang pernah bertemu dewi itu, bukan? Kalau ketera- ngan yang kudengar benar. Bagaimana pendapatmu tentang dia?”

“Yang jelas tampaknya Dewi Candika sangat sakti, Pangeran,” sembah Ra Sindura. “Kulihat ia mengguna- kan ilmuku. Rasanya ia paling tidak setara dengan gu- ruku yang mulia.”

“Kesaktian dan ilmu hanyalah anugerah Tuhan. Ter- gantung bagaimana kita memanfaatkan anugerah itu. Jika keliru, pasti hukuman Tuhan pun akan menim- panya,” kata Pangeran Jimbun. Tumenggung Kuripan mengerutkan kening. Banyak sekali kata-kata pangeran ini yang tak bisa dimengertinya. Apakah ini kata-kata Tanah Seberang? Atau zaman ini semua pangeran ber- bicara seperti itu? Mungkin patut disimak untuk me- nyombongkan diri nanti. “Dan kau tak bisa memper- kirakan apa yang mendorongnya bertindak seperti itu?” 

“Tidak, Pangeran. Hanya agaknya dia memusuhi ke- luarga istana Wilwatikta. Jadi... kemungkinan hanyalah keinginan untuk berkuasa saja.”

“Baik. Kudengar juga kau merupakan tokoh muda Kuripan. Jadi kau pastilah ‘punya isi’?”

“Hamba tak berani membicarakan hal itu, Pangeran. Apa pun ilmu yang hamba miliki, pastilah hanya setipis debu yang ada di kaki Tuan,” sembah Ra Sindura.

“Ayahanda Dipati mengajariku beberapa ilmu dari Jawa. Tetapi segalanya aku kira hanya bisa berjalan jika dilandasi ilmu dari Allah. KepadaNya-lah kita meng- harapkan perlindungan, lebih dari segala ilmu yang ada di dunia ini. Paman Tumenggung, apakah Paman masih ingin berangkat sekarang juga?”

“Hamba rasa ada baiknya, Pangeran,” Tumenggung Kuripan mengorak sila.

Mereka meninggalkan puri gelap itu. Dua orang pra- jurit Kuripan berjalan terkantuk-kantuk membawa obor di depan. Kemudian Pangeran Jimbun yang diapit oleh Mpu Gagarang dan Ra Sindura. Dan di belakang me- reka berjalan beberapa orang pengawal, anak buah Tu- menggung Kuripan dan Pangeran Jimbun.

Kota besar itu gelap. Sunyi. Di kejauhan terdengar suara angklung pengiring tarian dari daerah selatan. Mungkin dari lapangan di Pasar Besar. Juga terdengar salakan serta ramainya anjing berkelahi. Entah di ma- na.

Rombongan kecil itu bergerak dari lorong ke lorong menuju tempat peristirahatan para tamu negara. Tiba- tiba saja Pangeran Jimbun yang memegang untaian tas- bih mendadak memecahkan salah satu biji tasbih itu dan melemparkannya ke depan.

Hanya Ra Sindura melihat gerakan itu. Dan melihat akibatnya.

Dari kegelapan tadi telah melesat sebilah tombak pendek ke arah si pembawa obor. Cepat. Dan hampir tak terlihat. Tapi lebih cepat lagi gerakan tangan Pa- ngeran Jimbun. Dan butiran tasbihnya. Yang tepat me- ngenai tombak pendek tadi. Hingga melesat menancap ke tanah.

“Awas!” Ra Sindura serta-merta melompat maju.

Sesaat hening. Kemudian, tahu-tahu mereka telah dikepung oleh segerombolan orang dengan kepala dibe- bat kain hitam. Semuanya bersenjata tajam mengkilat.

“Kurang ajar!” bentak Tumenggung Kuripan. “Di sa- rang harimau kalian berani berlagak? Bunuh diri saja- lah!”

“Hhah, hhah!” Seorang bertubuh tinggi besar agak- nya adalah pemimpin orang-orang itu. Dan ia memberi isyarat.

Sambil menjerit keras, mereka menerjang. Tak tang- gung-tanggung, dua prajurit pengawal langsung roboh. Tumenggung Kuripan yang tua itu ternyata sangat gesit. Sambaran sebilah pedang diloncatinya dan kakinya langsung menendang kepala si penyerang hingga ber- derak pecah.

“Oh, terlalu keji,” Pangeran Jimbun sempat berkata sebelum menundukkan badan menghindari sambaran sebentuk gada rantai besi. Gerakan yang tiba-tiba itu seakan menimbulkan gaya tarik hingga si penyerang seakan tanpa sebab tersungkur menyodorkan kepala- nya ke depan Pangeran Jimbun. Sekali tepuk dengan te- lapak tangan yang menggenggam tasbih membuat si penyerang langsung roboh tak bersuara.

Yang aneh, sebagian besar penyerang langsung me- ngepung Ra Sindura dan menyerangnya dengan gerak- an-gerakan terpadu. Dan jelas gerakan-gerakan terse- but terukur, teratur, dan terlatih.

Beberapa saat Ra Sindura terdesak. Terutama oleh si Tinggi Besar yang setiap pukulannya membawa perba- wa angin dahsyat. Bahkan Sura-Caya-nya serasa ham- pir punah, seolah orang itu tahu ke mana ia akan men- gubah langkah.

Ra Sindura agak terkesiap. Berapa lamakah ia dita- han, meringkuk di dalam sumur tahanan, maka ia su- dah sedemikian kaku dalam bergerak?

Sesungguhnya bukan demikian. Gerakan para pe- ngepungnya memang sangat terencana. Dan dalam ke- gugupan sesaat, Ra Sindura yang berpengalaman dalam pertempuran segera melihat bahwa ada seseorang yang mengendalikan para pengepungnya itu. Bukan si Tinggi Besar.

Seseorang yang sesungguhnya sangat mencolok. Ia memakai kain yang membelit seluruh tubuhnya. Long- gar, tapi rapat. Tubuhnya lebih kecil dari orang-orang lain yang bertelanjang dada. Dan ia tak pernah men- dekat. Hanya sekali-sekali bertepuk dan menjentikkan jari. Suara inilah yang kemudian membuat si Tinggi Be- sar mengubah gerakan, menghadang Sindura. Dan ini membuat orang lain mengubah gerakan pula.

Melihat itulah, cepat Ra Sindura mengubah siasat. Ia hampir tak menghiraukan para penyerang yang dekat dengannya. Beberapa kali ia berguling di tanah. Bukan hanya untuk menghindar, tetapi untuk meraup kerikil yang ada di tanah, menggenggamnya dan kemudian da- lam berbagai kesempatan melontarkannya dengan ke- cepatan dan tenaga kuat ke arah si Hitam.

Pada awalnya Sindura seakan mendengar suara se- ruan kaget seorang wanita. Tapi kemudian ia tak bisa memikirkan hal itu lagi. Si Tinggi Besar agaknya khawa- tir akan serangan terhadap si Hitam itu, hingga seolah tanpa rencana ia mengerahkan yang lain untuk meng- gempur Sindura lebih hebat.

Dan ini makanan empuk bagi Sindura. Begitu gerak- an teratur lawannya ditinggalkan, ia mengubah Sura- Caya dengan langkah-langkah Bantala Liwung yang ga- nas. Langsung terdengar beberapa jeritan saat tendang- an dan hantaman Sindura telak mengenai sasaran.

Dari sudut matanya Sindura pun melihat Pangeran Jimbun berhasil merobohkan beberapa penyerangnya dengan gerakan yang tampaknya hanya mengandalkan ketangkasan saja.

“Pilihan sasaranmu sungguh tepat, Dinda Sindura!” terdengar pangeran itu berseru dengan lagu bahasanya yang aneh. Dan sambil merobohkan seorang penyerang lagi ia cepat memungut beberapa senjata yang terlempar di tanah, serta melemparkannya pada si Hitam.

Si Tinggi Besar jadi tambah kalut. Dan barisannya pun nyaris rusak. Sindura berhasil menyerbu keluar dari kepungan dan kini melompat untuk menerjang si Hitam yang mulai kecipuhan oleh gangguan lemparan Pangeran jimbun.

Agaknya si Hitam pun melihat Sindura mencoba mendekat. Dan ia mengubah gerakannya. Mendadak saja ia melompat mundur dan menerjang Pangeran Jim- bun!

Hantaman yang dilontarkan si Hitam ternyata dilam- bari sebuah tenaga dahsyat. Pangeran Jimbun terpaksa menjerit saat dadanya bagaikan dihantam palu godam dahsyat.

“Pangeran!” jerit Sindura. Sesaat ia lengah. Hantam- an seorang pengepungnya membuat pelipisnya retak. Dengan geram Sindura menendang orang itu sekuat te- naga. Jeritan kerasnya menutupi pekikan mundur dari si Hitam.

Dan sesaat kemudian tempat itu sunyi.

“Pangeran!” Sindura cepat menghampiri Pangeran Jimbun yang terengah-engah bersandar di bawah seba- tang pohon.

“Aku tak apa-apa,” kata pangeran itu meringis. “Da- daku serasa terbakar. Tapi insya Allah takkan apa-apa

... periksa orang-orang kita ”

Mereka dikejutkan oleh beberapa teriakan pendek. Dan ketika mereka menoleh terlihat Mpu Gagarang se- dang menginjak hancur leher salah seorang penyerang yang tadi pingsan.

“He! Paman Tumenggung! Hentikan!” teriak Pangeran Jimbun mencoba bangkit. “Jangan bunuh mereka!”

“Ah, kotoran dunia seperti mereka ini untuk apa!” kata Tumenggung Kuripan geram. “Dua orang kita ter- bunuh. Dan mereka berani menyerang seorang pange- ran Wilwatikta! Di Wilwatikta! Sungguh berani mati! Ji- ka mereka tidak dibunuh, akan makin banyak orang yang sekurang ajar ini!” “Tapi, Paman...” Pangeran Jimbun dengan bantuan Sindura kini berdiri. “Kita bisa menanyai mereka ”

“Tetapi untuk apa, Pangeran? Jelas mereka beron- tak. Habis perkara,” sahut Tumenggung Kuripan.

Pangeran Jimbun menghela napas panjang. “Baik- lah. Dasar takdir mereka. Tapi ingat, Paman, kata-kata Paman Mantri Wredda tadi. Tak boleh ada yang bertin- dak sebelum minta izin padaku. Dinda Sindura, siapa kira-kira mereka?”

Sindura dibantu beberapa prajurit memeriksa mayat para pengepung yang tertinggal. Tak ada tanda-tanda apa pun di badan ataupun pakaian mereka.

“Agaknya mereka orang Wilwatikta sini, Pangeran,” kata Sindura kemudian. “Tak ada tanda-tanda khusus. Tapi kain mereka kukira batikan setempat.”

“Mereka pasti bukan perampok. Tak mungkin pe- rampok begitu berani bertindak di Wilwatikta. Dan...

pukulan orang itu tadi   kurasa itu sangat mirip dengan

ilmu pukulan yang pernah diperlihatkan oleh Ayahanda Dipati. Ayahanda tidak menguasainya dengan baik, te- tapi gerakannya tepat. Jadi... aku tak percaya, tetapi agaknya penyerang kita adalah keluarga istana.”

Suasana terasa makin hening. Di kejauhan terdengar suara orang berlari. Para pengawal yang tidak cedera segera bersiap-siap. Tetapi Pangeran Jimbun tenang sa- ja. “Itu langkah lari prajurit,” katanya. “Pasti pasukan ronda.”

“Keluarga istana? Dan mereka agaknya mengarah aku?” Ra Sindura bertanya-tanya.

“Itu juga aneh. Aku tak begitu disukai di kalangan is- tana. Mungkin juga, karena kau tampak lebih tampan dariku, kau dikira aku ” Pangeran Jimbun tertawa.

“Wah, mungkin juga.” Sindura mengernyitkan ke- ning. Siapa yang punya niat jahat terhadapnya? “Ayolah melanjutkan perjalanan,” akhirnya Pangeran Jimbun mengajak.

4. KEBAKARAN!

BEBERAPA bayangan hitam memasuki puri ketumeng- gungan. Wilwatikta. Beberapa di antara mereka lang- sung lenyap. Dua bergegas ke menara pemujaan.

Di kamar rahasia menara itu mereka bertemu. Tu- menggung Gagak Sagara dan si Buyut yang cantik.

Dalam cahaya remang-remang mereka sesaat saling pandang.

“Itu tadi putramu? Si Sindura?” Tumenggung Gagak Sagara mulai bersuara.

“Ya,” sahut si Buyut singkat. Ia tampak termenung. “Dinda tak bisa mempengaruhinya untuk memasuki

Dharmaputra kita?” tanya Sang Tumenggung lagi.

Si Buyut agaknya merasa pertanyaan itu tak perlu dijawab. Ia memperhatikan suatu goresan kecil di ta- ngannya. Diusapnya. Dan goresan tadi lenyap.

“Pemuda yang melemparku tadi, siapa dia?” akhirnya ia bertanya. “Ia begitu kuat. Lemparannya menerobos lingkaran pelindungku. Dan hantamanku rasanya tak berbekas.”

“Kurasa ia salah satu putra Arya Damar itu, Dinda. Mungkin yang tua. Lemparan tombakku juga dipunah- kannya. Mudah-mudahan Mpu Gagarang ikut mele- nyapkan jejak kita.”

“Aku yakin itu. Yang aku pikirkan, Sindura pasti bisa memikirkan apa yang telah terjadi. Dan ia akan lebih bersiaga nanti. Kemudian... anak Arya Damar itu di luar perhitunganku.” Tiba-tiba si Buyut terdiam dan cepat menutupi mukanya dengan kerudungnya. “Ada orang datang!” Tumenggung Gagak Sagara mengibaskan tangan dan satu-satunya lampu yang ada di ruangan itu padam. Berdua mereka mengintip ke luar.

Pekarangan luas itu tampak sepi. Remang-remang. Gelap. Tumenggung Gagak Sagara hampir saja meragu- kan ketajaman telinga adiknya saat tiba-tiba saja dili- hatnya sebuah bayangan bergerak di bawah pohon sa- wo kecik di halaman belakang.

“Ke mana penjaga?” bisik Gagak Sagara dengan ke- ning berkerut.

“Ilmu sirep-nya lumayan juga,” bisik si Buyut. “Kau temui dia.”

Sekali bergerak, Tumenggung Gagak Sagara telah tak ada di situ. Ia menyelinap ke luar, kemudian melompat ke atap bangunan di sebelah pemujaan tadi, dan me- lompat turun ke tanah. Tanpa bersuara sedikit pun.

Di sebuah lorong dilihatnya seorang penjaga tergele- tak. Pulas tertidur. Dan ia bergerak lebih cepat.

Bayang-bayang tadi dipergokinya di halaman dalam, merapatkan tubuh ke sebuah tiang. Agaknya orang itu ragu harus ke mana.

“Ehm,” Tumenggung Gagak Sagara mendeham.

Dan sebagai balasannya mendadak saja tiga buah peluru terbang melesat cepat ke arahnya. Sang Tu- menggung tertawa pelan, mengulurkan tangan. Dengan gesit tiga buah titik yang hampir tak terlihat di dalam gelap itu disambarnya. Sesaat ia terkejut. Lemparan itu agaknya dilambari tenaga penuh hingga tangannya te- rasa perih.

“Hah, segala ilmu murahan Madakari berani kaupa- merkan di sini?” Gagak Sagara berkata mengejek. Me- mang ilmu lempar tadi adalah ilmu lempar yang biasa dimiliki oleh seorang anggota pasukan Bhayangkara. Bukan ilmu yang aneh. Hanya tenaga lemparannya membuat Gagak Sagara sesungguhnya kagum bercam- pur khawatir. Jika yang dihadapinya itu seorang anggo- ta pasukan Bhayangkara, mengapa datangnya diam- diam? Lalu, dengan kekuatan sebesar itu, pastilah ting- kat kepangkatannya di istana pun tinggi. Apakah pihak istana sudah mencurigainya? “Tunjukkan mukamu!”

Orang itu tidak menjawab. Tiba-tiba ia melompat ke dalam kegelapan. Dan kembali beberapa peluru terbang menerjang Gagak Sagara.

Kali ini Gagak Sagara tidak mau ambil risiko. Ia telah mencabut kerisnya, dan dengan ketajaman mata dan te- linganya ia menghantam peluru-peluru yang menyam- bar datang sambil merangsek maju.

Dan ternyata orang itu lenyap.

Gila, kata Gagak Sagara dalam hati. Begitu cepatkah orang itu bergerak?

“Huh. Ini sarangku, aku tahu setiap sudutnya... kau mau sembunyi di mana?” geram Gagak Sagara mencoba memancing orang itu keluar.

“He...” Baru akan melangkah lagi, Tumenggung Ga- gak Sagara jadi sangat terkejut. Terdengar beberapa le- dakan hebat sekaligus. Dan api pun mendadak berko- bar hebat di empat penjuru pekarangan.

“Gila!” desis Tumenggung Gagak Sagara. “Berani be- nar kau!” Sambil menjerit hebat ia melompat tinggi ke atas bubungan atap terdekat.

Bau belerang menyesakkan dada. Dan kobaran api dengan cepat membesar hingga keadaan pun terang- benderang.

Heran. Para prajurit dan penghuni puri serasa tak ada yang terjaga. Hanya kobaran api yang membuat bayang-bayang bergerak ribut. Dan dari luar puri orang- orang pun ribut berdatangan. Suara kentongan pun di- pukul bertalu-talu. Hah. Sedemikian kuatnyakah ajian pembuat orang tidur yang disebarkan musuh?

Di luar puri tampak beberapa belas orang telah be- rusaha memadamkan kebakaran. Dan puluhan orang lagi berlarian mendekat.

Tiba-tiba dari sudut matanya ia melihat seseorang bergerak. Bagaikan namanya, Gagak Sagara langsung melompat menyambar dengan kegemasan dan kecema- san mengingat apa yang mungkin terjadi pada keluar- ganya.

Sebuah hantaman dahsyat membuatnya terhuyung hampir masuk api.

“Siapa kau?” bentaknya.

“Tak perlu kau tahu!” orang itu mendesis tak jelas. Ia jelas seorang wanita. Berpakaian compang-camping. Tangannya melemparkan beberapa peluru api dan ia menghantam.

Sekali lagi Sang Tumenggung terkesiap. Semua gera- kan orang itu khas gerakan perwira Bhayangkara. Se- derhana. Namun ganas. Dan sangat bertenaga.

Walaupun begitu, rasanya takkan sulit bagi Sang Tumenggung untuk mengatasi orang itu. Sebaliknya, rasanya tak mungkin orang itu bisa menaklukkan Sang Tumenggung. Namun, di benak Sang Tumenggung begi- tu banyak pikiran berkelebat. Keluarganya. Terutama putrinya. Harta bendanya. Rahasianya. Rumahnya. Dan puluhan orang yang hiruk-pikuk di luar puri, bahkan berusaha merobohkan puri dalam usaha membantu memadamkan kebakaran.

Beberapa saat Gagak Sagara hanya bisa menahan serangan. Kemudian dari sudut matanya ia pun melihat bahwa ‘si Buyut’ pun telah terlibat pertempuran mela- wan seseorang. Mereka bertarung di atas atap dekat menara pemujaan, dengan kobaran api di sekeliling me- reka.

Dalam hati Gagak Sagara mengeluh. Bagaimana kea- daan keluarganya?

Dalam keadaan bimbang itulah sebuah sapuan kaki yang hebat membuat Sang Tumenggung terpelanting. Disusul hantaman telak tepat menerjang lambung.

Gagak Sagara membentak keras, memperkuat per- lindungan diri terhadap serangan berikutnya. Tapi la- wannya tidak langsung menyerang. Sebat tangannya bergerak dan sebilah pedang panjang muncul, siap di- tetakkan ke kepala Sang Tumenggung.

Saat itu Sang Tumenggung telah pasrah. Namun saat itu pula puri depan roboh, bersamaan dengan ber- kelebatnya tiga buah bayang-bayang melesat masuk menerjang kobaran api.

“Tahan!” seseorang menjerit, dan Sang Tumenggung melihat pedang lawannya terhantam oleh sebutir batu, tertepis ke kiri.

Seorang pemuda berdiri di antara Sang Tumenggung dan penyerangnya, gagah menghadang dan berseru pa- da rekan-rekannya, “Paman Tumenggung! Bangunkan orang puri. Dinda Sindura, bantu bibi itu!”

Pemuda itu pun langsung menyerang lawan Sang Tumenggung. Namun agaknya sang lawan telah melihat gelagat. Sebat ia melemparkan beberapa benda. Seketi- ka itu juga di sekitar itu terdengar berbagai letusan pendek, asap tebal mengepul, dan bau belerang menye- sakkan dada. Juga terdengar sebuah suitan panjang.

Sementara itu Sindura telah melompat berlari me- nyeberangi halaman, menembus kepulan api dan asap. Di halaman itu pun telah penuh oleh orang-orang yang mencoba membantu memadamkan api atau sekadar menonton. Bahkan ada pula yang malah berniat jahat, menggunakan kesempatan untuk memasuki rumah Sang Tumengung.

Di halaman belakang sesaat Ra Sindura tertegun. Pangeran Jimbun tadi memang berteriak meminta agar ia membantu si ‘bibi itu’. Yang mana yang harus diban- tunya?

Di situ sedang bertarung dua sosok bayangan. Ke- duanya menutup muka dengan selembar kain gelap. Bedanya, seorang menutupi seluruh tubuhnya dengan semacam jubah. Yang satu lagi bertangan satu dan ber- jubah compang-camping.

Ada yang langsung menarik perhatian Sindura. Si Tangan Satu itu jelas sangat terdesak. Dan... si Tangan Satu itu memakai tata gerak Bantala Liwung! Bahkan hawa pukulannya juga menyiarkan perbawa ilmu ke- saktian Bhirawadana. Juga, orang ini jelas wanita....

Entah bagaimana pada jarak sejauh itu dan suasana penuh asap seperti itu Pangeran Jimbun bisa mengeta- hui bahwa orang ini seorang wanita.

Itulah berbagai pikiran yang berkelebat di benak Ra Sindura. Dan ia mengambil kesimpulan, si Tangan Satu itulah yang perlu dibantu!

Ia pun langsung menerjang masuk. Dengan mempe- roleh akibat yang sangat di luar dugaan.

Pada saat tubuhnya melesat dari tanah, si Tangan Satu memutar tubuh untuk menghindari serangan la- wan dan menghantam Sindura dengan sepenuh tenaga. Sebaliknya si Jubah Hitam saat itu juga tampak gugup dan menyia-nyiakan kesempatan emas untuk memati- kan lawan dan malah berpaling untuk menghadang se- rangan si Tangan Satu pada Sindura!

“He!” Sindura berseru terkejut. Serangan si Tangan Satu itu begitu dahsyat dan cepat. Ia mencoba meng- hindar namun tak urung ia merasa betapa pukulan itu akan sanggup masuk dan menghantamnya. Ia masih sempat berteriak, “Singa Bramantya!” sebagai tanda pengenal sesama murid Panembahan Megatruh. Namun dadanya telah mulai sesak oleh hawa panas pukulan Bhirawadana, dan hampir ia roboh. Saat itulah hanta- man si Jubah Hitam datang untuk menghadang kelan- jutan pukulan si Tangan Satu.

Si Tangan Satu mungkin terkejut oleh seruan Sindu- ra. Hantaman si Jubah Hitam nyaris masuk. Namun Sindura ternyata berhasil memperkokoh kuda-kudanya dan langsung menghantam si Jubah Hitam untuk me- lindungi si Tangan Satu!

“He!” terdengar seruan tertahan, kini dari si Jubah Hitam. Hantaman Sindura agaknya tak terduga oleh- nya. Pada saat yang sangat tepat ia memutar diri hingga hantaman bertenaga dari Sindura bukan hanya tidak mengenai dirinya, tetapi langsung tersalur menghantam si Tangan Satu!

“Murid murtad!” Si Tangan Satu kecipuhan meloncat mundur. Jika tadi si Jubah Hitam menghantamnya, paling tidak ia siap menerima. Tapi dengan pantulan pukulan dari Sindura dirinya seakan terkurung dua ke- kuatan dahsyat. Walaupun ia berhasil keluar dari ka- langan, tak urung terdengar derakan tulang patah dan darah muncrat dari mulutnya. Terengah-engah ia ter- kapar di tanah. “Ja... jadi kau... antek... si... Candika itu... hah?”

Sindura terpaku. Candika? Orang berjubah hitam itu? Ia berpaling. Tapi si Jubah Hitam telah lenyap da- lam kepulan asap. Dan ketika ia akan berpaling lagi, di- rasakannya tiupan angin peluru rahasia. Dia melompat mundur saat beberapa ledakan terdengar. Asap me- ngepul dan bau belerang menyesakkan napas.

Seseorang melompat dan menyambar si Tangan Sa-

tu. 5. ALHAMDULILLAH!

“BAGAIMANA Sang Pangeran sendiri bisa turun tangan membantu keluarga hamba dari kemusnahan, pastilah itu, sudah kehendak Dewata. Hamba hanya mampu mengucapkan terima kasih, lain tidak, dari hamba seke- luarga semua,” sembah Tumenggung Gagak Sagara sambil mendekap putrinya yang baru berumur lima ta- hun dan menangis tersedu-sedu di pangkuannya. Me- reka berada di pendapa depan. Keluarga Sang Tumeng- gung hampir semua ada di situ. Juga Pangeran Jimbun, Tumenggung Mpu Gagarang, Ra Sindura, dan beberapa pengikut mereka. Di luar asap masih mengepul di an- tara puing-puing, dan prajurit ketumenggungan sedang berusaha membersihkan semuanya dengan bantuan beberapa puluh obor.

“Syukur alhamdulillah kami kebetulan berada di de- kat sini, Paman Tumenggung.” Pangeran Jimbun ter- senyum. “Agaknya keamanan di Ibukota ini sudah sa- ngat rapuh. Kami baru saja diserang oleh serombongan orang-orang yang memakai tutup muka    Mungkin ju- 

ga orang-orang itu pula yang menyerang Paman.” “Wuah! Mereka berani berbuat begitu di Ibukota ini?”

Gagak Sagara tampak sangat terkejut. “Apakah wibawa Wilwatikta sudah sedemikian lunturnya?”

“Aku sedang akan berangkat ke Kuripan, mungkin sudah tinggal nama saja jika tidak terlindung oleh ke- tangkasan Dinda Sindura ini.” Pangeran Jimbun me- noleh pada Sindura yang tampak termangu-mangu. “Keponakan Paman Tumenggung ini betul-betul pemu- da yang luar biasa.... Kalau saja ada sepuluh pemuda macam dia, insya Allah Wilwatikta akan kembali pa- mornya seperti di zaman Sang Hayam Wuruk dahulu.”

“Ah, aku sampai lupa pada keponakanku sendiri. Bagaimana kau bisa berada di Wilwatikta ini, Sindura? Dan bagaimana keadaan ibu serta adikmu?” tanya Ga- gak Sagara dan sesaat matanya yang bersemu merah bersinar tajam.

“Mohon ampun, Paman... sebetulnya hamba sudah beberapa hari ini ada di Wilwatikta, sebagai tahanan is- tana,” kata Sindura perlahan.

“Hah? Apa?” Gagak Sagara tampak benar-benar ter- kejut.

“Memang ini rahasia istana... tetapi kini hamba telah dibebaskan... dan akan mengiringi junjungan hamba, Sang Pangeran, ke Kuripan ”

“Oooh, begitu.... Aku tak tahu apa yang jadi kesala- hanmu, Sindura, tetapi jika kau dalam naungan Sang Pangeran pastilah kelak kau akan kelunturan berkah- nya, begitu!” Sang Tumenggung memelintir kumisnya.

“Mudah-mudahan demikian, Paman. Mmhhh    ada

yang ingin hamba tanyakan   siapa bibi bertangan satu

yang tadi bertarung di dekat menara pemujaan, Pa- man?” tiba-tiba Sindura mengalihkan pembicaraan.

“Wuah, aku tidak tahu, Sindura. Aku hanya melihat sekilas sementara pengacau lainnya menyerang dan membakar rumahku. Pastilah dia ikut rombongan pe- rampok itu... hmhh, dasar kurang ajar! Kalau saja aku tidak terikat oleh kobaran api, pasti sudah kutangkap dia!” kata Sang Tumenggung geram.

“Jadi dia boleh dibilang musuh, Paman? Maksud hamba, dalam peristiwa ini?” Terdengar suara Sindura begitu berhati-hati hingga Pangeran Jimbun pun me- noleh memperhatikannya.

“Aku tak mengerti, dia menyerang ketumenggungan ini karena benci padaku atau karena cinta hartaku, hhh! Kukira dia hanya maling murahan. Mungkin ia mendengar barang pesananku dari Palembang telah da- tang bersama rombongan Sang Pangeran Jimbun. Mungkin itu pula sebabnya Paduka diserang, Pange- ran.”

“Mohon ampun, Paman... jika wanita tangan satu itu musuh...” Sindura matanya bersinar tajam seolah ia menemukan pribadinya kembali sebagai salah seorang benteng Kuripan.

“Maling kecil,” tukas Gagak Sagara.

“Ya, maling kecil dalam istilah Paman.... Jika dia maling kecil, siapa wanita berjubah hitam yang berusa- ha menangkapnya?”

Sesaat Sang Tumenggung tertegun, perlahan meng- angsurkan putrinya pada salah seorang emban. Mata- nya melirik tajam pada keponakannya itu. “Mmmh, en- tahlah... mungkin dia seorang pendekar berbudi yang kebetulan lewat Aku tak kenal dia.”

“Aku kenal dia, Paman dia salah seorang yang me-

nyerang kami. Dia bahkan, kukira, dalang penyerangan itu!” Kata-kata Ra Sindura sudah mirip tuduhan.

“Sindura, apa maksudmu?” Di luar masih hiruk-pi- kuk, tetapi pendapa itu serasa hening oleh dinginnya nada tanya Sang Tumenggung.

“Hamba hanya heran. Jika si Tangan Satu jahat, pastilah si Jubah Hitam baik. Tetapi hamba yakin si Jubah Hitam-lah penyerang kami. Jadi dia jahat. Jadi...

si Tangan Satu mungkin baik!” Ra Sindura mengakhiri kata-katanya dengan menarik napas panjang.

“Sindura, kamu jangan menarik kesimpulan yang tak keruan. Aku sama sekali tak kenal keduanya. Mungkin saja mereka berdua sesama maling yang men- coba berebut hartaku!” tukas Sang Tumenggung.

“Mungkin juga,” Sindura menunduk. “Hanya. ”

“Hanya apa lagi?” tanya Gagak Sagara agak sengit. “Hamba melihat jelas si Tangan Satu tadi menggu- nakan ilmu tenaga Bhirawadana dan tata gerak Bantala Liwung. Lebih dari itu, ia menegurku sebagai seorang murid murtad karena dikiranya aku membela si Jubah Hitam. Ia mengenaliku sebagai murid Panembahan Me- gatruh. Setahu hamba, belum ada murid guruku yang mulia begitu jatuh hingga jadi maling kecil.”

“Sindura, kau masih hijau. Bagaimana kau bisa me- narik kesimpulan begitu mudah?” desis Sang Tumeng- gung.

“Mohon ampun jika itu kekeliruan hamba, Paman,” Sindura menyembah dalam-dalam. “Tetapi si Tangan Satu itu memanggil si Jubah Hitam sebagai... Candika!”

Nama itu bagaikan meledak dalam pertemuan terse- but. Semua memandang Sindura.

Kemudian diam-diam Sang Tumenggung tertawa. Mula-mula ditahan. Kemudian meledak terpingkal-ping- kal. Semua saling pandang. Kecuali Sindura yang masih menunduk dalam-dalam.

“Maaf, Sang Pangeran... keponakanku ini memang lucu,” akhirnya Sang Tumenggung bisa menghentikan tawanya. “Sindura... lalu kau menyimpulkan bahwa aku komplotan si Candika itu? Sindura, Sindura... ini yang namanya dunia terbalik! Jangan akal budimu tertutup rasa dendammu oleh kematian ayahmu. Jangan akal budimu tersaput oleh kekesalan atas tuduhan pada di- rimu. Enak saja kau mengambil kesimpulan begitu jauh!”

“Hamba tak berani, Paman... tapi hamba juga tak be- rani mengabaikan hal-hal yang aneh seperti itu. Biarlah itu semua hamba simpan dalam ingatan hamba saja,” Sindura menghaturkan sembah.

“Darah muda memang selalu panas, dan tak sabar untuk mengambil pertimbangan yang baik. Semoga Sang Pangeran punya kesabaran untuk kauikuti, Sin- dura,” kata Sang Tumenggung.

“Aku pun masih hijau, Paman,” Pangeran Jimbun mencoba meredakan kekakuan yang terjadi. “Jadi, mungkin banyak nanti tindakan salah yang kulakukan. Tetapi itu takkan mengurangi keberanianku untuk ber- buat salah. Karena berani berbuat salah adalah salah satu landasan agar kita bisa maju. Bukankah demi- kian? Nah, Paman... Paman harus beristirahat, semen- tara kami harus berangkat. Kupikir, inilah saat yang te- pat untuk berpamitan....” Pangeran Jimbun mengorak silanya.

***

Si wanita jembel bertangan satu itu memejamkan mata rapat-rapat, mengerahkan segenap kekuatan batinnya. Dan rekannya mengurut-urut punggung serta pinggang- nya, juga sambil menyalurkan tenaga dalamnya.

Mereka berdua berada di dalam sebuah gua sempit di pinggir sungai. Suasana pun gelap-gulita.

Akhirnya si Tangan Satu membuka matanya.

“Tak ada gunanya, Sodrakara,” katanya lemah. “Aku telah memaksa diriku untuk mengeluarkan tenaga ter- akhirku. Padahal... sesungguhnya... tenagaku sudah tiada sama sekali.... Aku hanya selongsong kulit buruk yang tak ada isinya,” orang tua itu tersengal-sengal. “Kekecewaanku hanyalah... aku habis di tangan seorang murid durhaka... tak peduli siapa pun dia ”

“Junjungan... percayalah pada kekuatan Paduka...

dan kemurahan hati Dewata,” sembah rekannya, dan mencoba mengurut punggung si Tangan Satu.

“Dengarkan baik-baik... Sodrakara   mungkin ini ka-

ta-kata terakhirku    Carilah jalan agar kau bisa mene-

mui Kakang Resi Rhagani... usahakan agar para murid Rahtawu bisa berkumpul lagi.... Aku yakin kunci raha- sia Dewi Candika ada pada Tumenggung Gagak Sagara. Kemudian... carilah siapa pemuda yang sanggup melan- carkan aji Bhirawadana itu... rasanya tak sulit.   Guru

kami yang mulia pasti tahu... pemuda itu cukup tinggi tingkatannya. Sayang anak itu membantu Candika....

Lalu... carilah Tari... suruh dia mencari Dahnyang Kali Lekso, suruh bilang dialah pewaris Wesi Kuning ”

“Junjungan!” wanita yang dipanggil Sodrakara itu menjerit.

Si Tangan Satu mengembuskan napas terakhirnya.

Sesaat Sodrakara termangu-mangu. Kemudian ia menjerit keras. Berlari menghambur ke luar. Ke dalam kekelaman malam.

***

Angin malam seolah berhenti saat Sang Maharaja me- langkah. Semua suara pun mendadak sunyi ketika Sang Maharaja bersabda. Wewangian alam malu meng- undurkan diri oleh keharuman yang memancar dari tu- buh Baginda. Kekelaman pun sirna saat pandangan Ba- ginda terpancar.

Baginda berada di lantai ketiga istana, bersandar pa- da pagar serambi di lantai itu. Malam di sekelilingnya tidak menyembunyikan tubuhnya yang langsing se- mampai. Sekali Sang Maharaja Hyang Purwawisesa mengangkat kepala, mengamati langit yang hitam. Bin- tang Waluku sudah bergulir ke kaki langit.

“Paman Aditya... kamukah itu?” Sang Maharaja ber- sabda.

“Daulat, Sang Ahulun,” sembah Menteri Wredda De- waraja yang beringsut jongkok di lantai, mendekat.

“Kamu telah menyuruh pergi putra si Damar?” tanya Sang Maharaja.

“Daulat, Sang Ahulun,” sembah Sang Menteri Wred- da. “Sang Pangeran telah berangkat malam ini juga me- nuju Kuripan.”

“Apakah ada kesulitan?”

“Mohon diampun, Sang Ahulun, rasanya tidak.” “Agamanya yang baru?”

“Memang Sang Pangeran merasuk agama baru itu, Sang Ahulun. Dan tampaknya betul-betul merasukinya. Rasika menolak beberapa upacara keagamaan yang me- nyangkut keperluan pengukuhan kepangeranan sarika.” “Hm...” Sang Maharaja menghela napas panjang.

Pandangannya menerawang langit hitam. “Anak itu ter- nyata bukan yang kita tunggu, Paman,” sabdanya ke- mudian seolah mengeluh. “Kita mengharapkan mun- culnya bintang baru keturunan langsung Sang Kertara- jasa... tapi agaknya itu tak terjadi saat aku masih bisa menatap langit. ”

“Mungkin tanda-tandanya belum Sang Ahulun per- oleh,” hibur Menteri Wredda.

“Atau memang tak akan muncul. Anak Arya Damar itu malah mungkin akan membakar Wilwatikta.”

Begitu Sang Maharaja berhenti bersabda, sayup- sayup terdengar suara ledakan perlahan, dan di langit sebelah utara terlihat api berkobar merah.

Sang Menteri Wredda sesaat tertegun, kemudian me- nyembah dalam-dalam. “Sabda Paduka sungguh sabda Dewata, Sang Ahulun” sembahnya.

“Tak usah mengerahkan pasukan pengawal, Paman

... api itu tak akan mencapai tempat ini. Seperti putra Arya Damar nanti... api itu pun akan segera padam. Tentang Dewi Candika itu siapa sebenarnya dia?”

Api di sebelah utara itu berkobar membesar. Menteri Wredda Dewaraja melirik sebentar ke arah api tersebut, baru menjawab, “Menurut kabar yang dibawa angin, dia adalah seorang pembenci keturunan Sang Kertarajasa. Mengapa demikian, entahlah. Dalam urutan keturunan, maka tersebutlah keluarga Yang Mulia Bhre Daha ada- lah yang terdekat. Disusul oleh keluarga Bhre Kuripan. Dan Paduka sendiri, yakni keluarga Wengker. Hamba dengar, Dewi Candika ini memakai siasat ‘makan bubur panas’. Yang kecil-kecil dan yang di pinggir dahulu yang jadi sasaran. Makin lama makin ke tengah, pada saat yang di tengah itu sudah dingin dan mudah dimakan.”

“Dan kita belum tahu siapa Candika itu?”

“Hamba dengar dari Ra Sindura, orang itu sangat cantik.”

“Sindura?”

“Benar, putra Rakryan Rangga Kuripan.”

“Oh, dia...” Sang Maharaja memejamkan matanya beberapa saat. “Ya. Seorang pemuda yang cerdas. Sa- yang tak ada tempat baginya kelak di Wilwatikta.” Sang Raja memperhatikan kobaran api yang kini mengecil di kejauhan itu. “Baiklah. Kurasa tak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Persiapkan perjalanan kita ke Wengker serta Upacara Sradda. Awasi terus putra si Damar itu. Mungkin bisa dipetik di kemudian hari.”

“Dipetik?” Menteri Wredda Dewaraja ingin bertanya lagi, tetapi Sang Maharaja telah berpaling dan itu berar- ti ia harus mengundurkan diri.

***

Mereka beristirahat di tepi sungai. Sindura duduk di ba- tu, dekat api. Dia merenungi Pangeran Jimbun dan be- berapa pengikutnya yang sedang bersembahyang su- buh.

Mereka membuat gerakan-gerakan yang aneh di ma- ta Sindura. Bersama-sama. Menggumamkan kata-kata yang aneh.

Kemudian selesai. Pangeran Jimbun berjalan men- dekati Sindura yang kini merenungi kobaran api. Sindu- ra cepat beringsut, namun Sang Pangeran mence- gahnya, dan malah duduk di sampingnya, di sebatang kayu kering.

“Apa yang kaupikirkan?” tanya Sang Pangeran. “Kau memikirkan keluargamu?”

“Sang Pangeran sungguh waspada,” kata Sindura agak heran.

“Begini, Sindura... kuharap kau memenuhi permin- taanku,” kata Sang Pangeran.

“Permintaan yang mana, Pangeran?”

“Aku hanya pangeran tanah seberang. Ayahku pun sesungguhnya hanyalah orang buangan. Beliau dilem- par ke Palembang hanya karena Sang Maharaja tidak yakin, betulkah beliau dialiri darah murni keluarga Wil- watikta. Dari pihak ibu... aku lebih jauh lagi. Ibuku bu- kan dari Tanah Jawa. Karenanya... kuminta kau tidak memanggilku sebagai ‘Pangeran’. Kalaupun kedudukan- ku tinggi, paling tinggi pastilah setaraf putra seorang rakryan. Seperti kau. Jadi... panggil aku sebagai ‘Kanda’ saja. Dan nama yang diberikan Ayahanda Adipati pada- ku adalah Patah. Raden Patah, karena kebangsawanan ayahandaku. Kau pun boleh memanggilku dengan na- ma itu.”

“Hamba tidak berani ”

“Harus. Untuk membuatmu sedikit lega, bolehlah ini kauanggap sementara saja. Sebab aku punya renca- na.... Aku merasa aku lahir di dunia ini demi meng- emban tugas dari Yang Maha Besar. Aku harus ikut menyebarkan agama Allah pada penduduk Tanah Jawa. Untuk itu mungkin aku harus melawan banyak tan- tangan. Mungkin aku harus membentuk barisan. Pasu- kan, mungkin. Dan jika saat itu tiba, hanya karena ja- lur wibawa jabatan yang ada, kau boleh memanggilku lain.”

Sindura melirik pemuda di sebelahnya itu. Sinar api menerangi wajahnya yang berkulit cerah dan tampan itu. Matanya yang agak sipit terlihat lebih sipit lagi ke- tika menentang api. Tapi terlihat bahwa mata itu bersi- nar-sinar tajam dengan kemantapan pribadi.

Dan wajah itu menoleh padanya. Dengan suatu se- nyum hangat.

Tak terasa Sindura bersimpuh menyembah. Kemu- dian bangkit dan duduk di samping pangeran dari Pa- lembang itu. Menepuk paha Sang Pangeran dan berka- ta, “Jika itu yang Kakanda Patah kehendaki, baiklah. Hanya... nama itu sungguh asing di lidahku.”

Raden Patah tertawa.

“Itu adalah sebuah nama dalam bahasa negara dari mana agamaku berasal,” katanya. “Kelak, pada wak- tunya, akan kuceritakan lebih banyak tentang agamaku itu. Sekarang katakan, apa yang kaurenungkan?”

“Kanda menebak tepat tadi,” kata Sindura. “Ke- luargaku.”

“Ayahandamu sudah almarhum, bukan? Maksudku, sudah tiada?”

“Benar. Aku bahkan tidak tahu apakah upacara penghormatan kepergiannya sudah dilakukan. Dan oleh siapa. Uwa Mapatih begitu keras. Aku, sebagai putra le- laki keluargaku, tak bisa menghadiri upacara apa pun. Kalau itu ada. Hanya karena tuduhan yang tidak be- nar!”

Di seberang api, Tumenggung Kuripan, Mpu Gaga- rang, tiba-tiba bangkit dan meninggalkan lingkaran ca- haya api ungun.

“Paman Tumenggung agaknya tak pernah bisa mene- rima kenyataan bahwa bukan aku yang membunuh pu- tranya,” gumam Sindura. “Apakah kau yakin bukan kau yang membunuh- nya?” tanya Raden Patah.

“Hamba yakin. Dan menurut berita, Rakryan Mapa- tih juga berhasil membuktikannya. Sungguh menge- rikan, kalau benar bahkan Uwa Mapatih tak sanggup menghadapi Candika,” kata Sindura.

“Aku belum pernah berhadapan dengan wanita per- kasa,” kata Raden Patah. “Biasanya karena kita me- mandang rendah lawan, maka lawan berhasil mengecoh kita.”

“Padu... eh, Kanda lihat ketiga wanita di tempat Ra- kryan Tumenggung Wilwatikta tadi... yang berhadapan dengan Rakryan Tumenggung dan yang bertangan sa- tu? Juga yang berjubah hitam?”

“Ya, mereka agaknya punya kekuatan gaib... walau- pun sesungguhnya kita pun tak usah takut, karena ke- kuatan Allah lebih dari segala-galanya.”

“Tapi yang bertangan satu itu... siapa dia?” Sindura menekap kepalanya. “Guruku hanya bercerita tentang Resi Rhagani dan Bibi Madraka... tetapi tak pernah gu- ruku berkata tentang seorang murid bertangan satu. Kalau melihat kesaktiannya, pastilah bibi bertangan sa- tu itu memperoleh ilmu langsung dari guruku yang mu- lia.” Sindura menggelengkan kepala. “Sebaliknya, si Wanita Berjubah Hitam itu menghantamnya dengan sa- ngat telak. Jelas betapa tingginya ilmu si Hitam itu. Jika dia Dewi Candika, rasanya tak akan ada yang bisa me- nandinginya... dan mungkin tak ada gunanya kita ke Kuripan ”

Beberapa saat Raden Patah merenungi kata-kata Sindura. Kemudian ia mengangguk. “Jika si Jubah Hi- tam itu benar Candika, mungkin ia sudah tahu maksud kita dan mungkin kau yang diincarnya. Karena kukira sampai saat ini hanya kaulah saksi hidup tentang Can-  dika itu. Dalam hal ini, tak ada salahnya kita mene- ruskan perjalanan ke Kuripan. Pertama untuk menyeli- diki perkembangan selanjutnya di sana. Mungkin juga Rakryan Kanuruhan paling tidak bisa memberi kepas- tian apakah Candika lolos dari kepungannya. Kedua, kuharap Candika akan terus mengincarmu. Jadi, kau kita gunakan sebagai umpan. Dan ini memberiku suatu pikiran baru. Agar umpan gampang mengena, lebih baik kita berdua pergi lebih dahulu ke Kuripan. Jika me- mang Candika dan rombongannya mengincarmu, meli- hat kita hanya berdua, dan mereka mungkin tak tahu siapa aku, maka mereka akan lebih bergairah untuk menyerang kita.”

“Hamba setuju itu, Kanda!” kata Sindura langsung. “Bisa kita katakan pada orang-orang bahwa aku begitu rindu pada ibuku hingga aku harus berangkat lebih ce- pat,” ia menambahkan dengan berbisik. Dan tiba-tiba tertegun. “Jika Kanda ingat apa kata-kata Rakryan Tu- menggung Wilwatikta tadi, apakah Kanda merasakan sesuatu yang aneh?”

“Ya. Aku pun merasakannya,” sahut Raden Patah. “Apa?” Sindura betul-betul heran. Apakah pangeran

ini begitu cerdas ataukah ia mempunyai daya pengliha- tan gaib?

“Pertama beliau heran mengapa kau ada di Wilwa- tikta,” kata Raden Patah. Dan Sindura betul-betul ter- cengang. Memang itu yang sedang dipikirkannya. “Ke- mudian, pada saat beliau panas oleh tuduhanmu, be- liau mengatakan tentang kematian ayahmu dan tudu- han pada dirimu. Sesuatu yang mengisyaratkan bahwa beliau sebenarnya paling tidak mengetahui apa yang te- lah terjadi ”

“Pang Kanda, apakah Kanda memiliki ilmu meram-

al?” tanya Sindura heran. “Tidak lebih darimu, Sindura. Kau pun pengamat yang teliti.” Raden Patah tersenyum. “Tetapi sesung- guhnya itu tak berarti apa pun. Beliau mungkin tak in- gin menyakiti hatimu. Tapi yah... dalam keadaan seperti ini, semua hal patut dicurigai.”

Mereka berhenti sejenak. Rakryan Tumenggung Ku- ripan muncul dari arah sungai. Raden Patah berdiri.

“Paman Tumenggung, aku ada usul,” katanya. “Kami akan berangkat lebih dulu. Aku dan Dinda Sindura. Ti- dak apa-apa. Hanya kurasa dengan hanya berdua kami bisa bergerak lebih cepat. Paman Tumenggung dan orang-orangku menyusul. Tak usah terburu-buru. Kami pun takkan terlalu jauh di depan Anda semua.”

“Tetapi... kenapa begitu mendadak....” Rakryan Tu- menggung Kuripan tampak jelas sangat kaget.

“Tak ada alasan yang khusus, hanya Dinda Sindura ingin segera bertemu dengan ibunya. Orangku, Iksan, dapat Paman percayai untuk memimpin yang lain. Ik- san, ambil kudaku dan siapkan kudamu untuk tung- gangan Dinda Sindura ini.”

“Baik, Junjungan!” Seorang pria bertubuh kecil de- ngan destar warna merah bergegas pergi ke tempat ku- da tertambat.

“Tapi, Pangeran...” Tumenggung Mpu Gagarang ingin bicara lagi.

“Sudahlah, Paman, tak apa-apa. Aku yakin kami ber- dua bisa saling menjaga. Apalagi jalan ke Kuripan kan ramai Eh, Dinda Sindura, ada yang kaupikirkan?” ta-

nya Raden Patah sambil membetulkan ikat pinggang- nya.

“Mmm... Pa. Kakanda telah menebak tepat lagi,” ka-

ta Sindura gugup. “O, ya? Apa lagi?”

“Bahwa aku ingin segera bertemu ibuku,” Sindura pun merapikan letak kerisnya.

“Ah, itu kan mudah ditebak. Dinda sudah lama me- ninggalkan Kuripan. Dan Dinda belum beristri. Nah, pasti yang dirindui ibu, bukan?” Raden Patah tertawa.

“Bukan hanya itu. Saat aku bertempur dengan si Jubah Hitam tadi... entah bagaimana... aku seolah men- cium keharuman yang biasa dipakai ibuku ”..Sindura

termenung.

“Ah, Dinda Sindura. Itu pasti hanya khayalanmu be- laka.”

“Tidak. Aku sangat yakin itu bau harumnya ibuku. Cuma... rasanya memang tak mungkin. Karena itulah...

aku jadi ingin segera bertemu beliau”

6. TUN JADI REBUTAN

KITA melangkah surut ke belakang. Ke buku keenam. Ke suatu tempat di tengah hutan lebat di daerah sela- tan.

Ke sebuah pertempuran aneh.

Ada Tun Kumala di sana, si Rara Sindu yang me- nyamar menjadi pria dari tanah seberang. Ada Wisti, pemuda yang mengaku saudagar wewangian dari Tosa- ri, dan sesungguhnya adalah Dewi Wara Hita alias Sang Candika sendiri. Ada pula Nyai Gadung, wanita tua per- kasa yang sesungguhnya adalah Nyai Rahula, istri Pa- nembahan Megatruh yang walaupun sudah tua, masih bisa terbakar rasa sakit hati dan pergi meninggalkan suami hanya karena urusan sepele. Ada Wara Huyeng, bibi dan tangan kanan Wara Hita.

Dan para pelengkap penderita. Kusya, Ugra, Kena, dan Santen. Anak buah Wara Hita yang bertugas mem- bawa Tun Kumala ke sarang Wara Hita. Dan Ni Gori, pelayan Nyai Gadung. Ketika mereka kita tinggalkan, mereka sedang terli- bat pertempuran aneh.

Sesungguhnya yang bertempur adalah Wara Huyeng dan Nyai Gadung. Tapi pada suatu kesempatan, untuk mengalihkan perhatian Nyai Gadung, Wara Huyeng menghantam Tun Kumala dengan selendang birunya. Tun Kumala jelas tak mengerti datangnya bahaya. Ni Gori terpaksa bertindak. Bersamaan dengan Wisti alias Wara Hita yang tak mau ‘pemuda’ pujaannya hancur oleh ketegaan Huyeng. Dan ini berekor panjang.

Ni Gori terpaksa menyapu Tun Kumala. Tepat saat Wara Hita mendatangi untuk menyelamatkan si Tun. Ni Gori merasa akan diserang, dan secara serta-merta me- nyambut kedatangan Wara Hita dengan serangan. Wara Hita merasa diserang, langsung menyambutnya dengan perlindungan tenaga dan menyiapkan pukulan maut untuk Ni Gori. Tun Kumala, sekali ini, tahu gelagat. Ti- dak seperti biasanya ia melihat bahwa gerakan Wisti merupakan ancaman bagi Ni Gori. Tak berpikir panjang ia menutupi tubuh Ni Gori yang terjatuh dengan tubuh- nya, mengira paling-paling hanya gebukan yang mem- buat rasa sakit sedikit. Hanya itu. Lain dengan Nyai Gadung. Ia bisa merasakan wibawa pukulan Wisti yang terarah ke Ni Gori dan kini merangkum Tun Kumala pu- la. Itu pukulan dengan wibawa maut yang sangat, men- gingatkan dirinya pada pukulan seseorang. Pukulan itu akan sanggup menghancurkan Ni Gori dan Tun Kumala sekaligus. Ia sedikit tak peduli dengan Tun Kumala. Te- tapi Ni Gori adalah pelayan yang dikasihinya. Terpaksa ia memecah perhatian, melontarkan kayu membara yang dipakainya sebagai senjata guna melawan Huyeng ke arah Wara Hita. Dan ini membuka pertahanan di- rinya terhadap serangan dari Wara Huyeng.

Terdengar beberapa jeritan sekaligus. Wisti alias Wara Hita menjerit karena bara api tepat menghantam telapak tangannya yang sedang menghan- tam dengan ajian Wajraprayaga. Semestinya saat itu tak ada apa pun yang sanggup menyakitinya. Tetapi ter- nyata potongan kayu dengan ujung membara itu sang- gup menembus perlindungan dirinya, dengan panas yang begitu menusuk—dia yang sanggup memanggang tangannya di api berkobar semalam suntuk! Ini saja su- dah membuatnya sangat terkejut. Lebih terkejut lagi ia oleh gerakan berikutnya.

Tadi Wara Huyeng telah menjerit gembira karena me- rasa yakin selendangnya yang berbobot permata akan langsung menembus pertahanan Nyai Gadung yang lengah dan menerobos dadanya. Tapi pada saat yang sangat genting itu, Nyai Gadung mengeluarkan ilmu yang sesungguhnya bukan ilmu kadigdayan. Sewaktu kecil, Nyai Gadung adalah anak seorang warok yang bersenjata cambuk dari pintalan serat tebal sekali. Un- tuk menghibur si kecil ini, yang agak langka ada pada keluarga besar warok, sang ayah sering menirukan ge- rak-gerik cambuk itu, yang memang lucu jika diberdiri- kan. Dan si kecil pun diajari gerakan itu, berbagai gerak akrobatik yang mengandalkan kelenturan tubuh. Hanya untuk pelewat waktu saja. Tapi kali ini gerakan tersebut jadi sangat berarti.

Pada saat ujung selendang Wara Huyeng hampir me- ngenai dadanya, dada itu seakan-akan bisa ditarik ke dalam hingga melesak masuk sampai beberapa jari. Kemudian dengan bertumpu pada ujung jari kaki, tu- buh Nyai Gadung meliuk tiga kali bagai geliatan cacing. Sambaran selendang Wara Huyeng hanya berhasil me- robek kain penutup dada Nyai Gadung. Wara Huyeng sendiri bagai tertarik oleh tenaga yang dikeluarkannya, dan sesaat ia terhuyung ke depan. Nyai Gadung yang sangat khawatir akan keadaan Ni Gori, dengan gemas meloncat tinggi dan menendang wanita baju biru itu, sambil menggeser kedudukan agar bisa menyerang Wara Hita.

Wara Hita yang tadi tersentak oleh serangan balik Nyai Gadung, kini telah bersiap. Ia melihat wanita tua ini punya ‘isi’ dan itu sesuatu yang sangat tidak dis- ukainya. Ia menyalurkan aji sadapan gurunya, Wajra- prayaga, ke seluruh tubuhnya.

Sementara itu dengan gerak Bantala Liwung palsu pula Wara Huyeng telah memutar tubuh dan siap menghantam dengan... Bhirawadana! Melihat sekilas sikap dan getar wibawa hawa pukulan yang akan ter- lontar, Nyai Gadung sangat terkesiap. Sekilas terasa ia seolah berlatih di Tasik Arga. Seolah ia berlatih dengan suami dan adik iparnya, yang mencoba kedua ilmu itu untuk mencoba menciptakan ilmu yang lebih tangguh. Ia selalu ditempatkan dalam kedudukan terdesak hing- ga bisa dicarikan kemungkinan untuk mengatasi desak- an tersebut. Seperti saat ini. Dan, lawan yang dihadapi- nya bukan suaminya serta bukan adik iparnya. Sekilas saja ia tahu bahwa banyak kekeliruan yang dibuat oleh kedua lawan itu.

Ia membalas ganas dengan gerakan Rahula Arani an- dalannya. Disambarnya dua batang ranting kering. Di- angkatnya tinggi-tinggi dengan hanya berdiri dengan kaki kiri, sementara seluruh tenaganya tersalur di ke- dua rantingnya. Dan sambil membentak dahsyat ia me- nyerang ke kedua arah!

Dan sekali lagi, Tun Kumala ikut campur.

Tadi sesak napasnya oleh hantaman dahsyat Wara Hita. Dengan gangguan dari Nyai Gadung, memang se- bagian besar daya pukulan Wara Hita punah. Sedikit pusing ia mengangkat kepala, mengusap rambutnya yang sangat pendek sementara ikat kepalanya entah terbang ke mana. Dan samar-samar ia melihat tiga orang yang agaknya saling siap membantai itu.

“Hei, jangan!” teriaknya, meloncat berdiri. Saat itulah tiga tenaga dahsyat terlontar.

Tun Kumala tepat berdiri menutupi Nyai Gadung. Hantaman Wara Huyeng langsung menghantam dada- nya. Pada saat yang sama Rahula Arani pun dilontarkan oleh Nyai Gadung. Dan ilmu tenaga rantai ini tak kenal pelindung, dapat menikung menghantam ke balik suatu perisai bila perlu. Saat pandangan lawan terhalang oleh Tun Kumala, maka ranting di tangan kanan Nyai Ga- dung menghajar kepala Wara Huyeng, sementara yang kiri menusuk ke arah Wisti alias Wara Hita.

Wara Hita sempat tertegun oleh munculnya Tun Ku- mala di daerah pandangannya. Ia tak mengubah tena- ganya. Ia hanya mengubah gerakan. Cepat membung- kuk dan menghantam Nyai Gadung lewat bawah kaki Tun Kumala.

Terdengar jeritan hampir bersamaan.

Wara Huyeng terpental mundur sambil menekap mu- kanya yang serasa hangus oleh lecutan panas ranting Nyai Gadung. Wara Hita roboh dengan tangan menekap dada. Dari bahunya darah terlihat melebar membasahi baju. Dan Nyai Gadung sendiri jatuh terduduk dengan bibir rapat menahan sakit.

Tun Kumala yang terlempar ke samping cepat berdiri dan roboh lagi. Kakinya serasa kehilangan tulang. Ada- lah Ni Gori yang dengan susah payah merangkak meng- hampiri Nyai Gadung.

“Guru...,” bisiknya.

Nyai Gadung memberi isyarat agar Ni Gori diam. Kemudian ia menuding pada Wara Huyeng, bertanya serak, “Kau... murid... siapa?” Kalau mengikuti kemauan hatinya, mau rasanya Wa- ra Huyeng langsung menerjang saja. Tetapi mukanya terasa sangat pedas panas. Dan ranting kayu di tangan Nyai Gadung teracung begitu tepat. Kemana pun ia me- nerjang, ranting kayu itu akan menyambutnya dengan maut.

“Kau nenek tua mau mampus,” desis maki Wara Hu- yeng. “Tak perlu kau tahu siapa guruku. Toh sebentar lagi kau hancur jadi makanan cacing!”

“Dasar bocah ingusan.” Nyai Gadung meringis. “De- ngar. Kalau kaumaksudkan pukulanmu itu Bhirawada- na, maka itu sungguh menggelikan. Mirip pun tidak! Jadi, gurumu itu kalau tidak tolol ya gila. Teruskan saja berlatih seperti itu. Dan umurmu takkan lebih dari dua bulan, mengerti!”

“Nenek tua tahu apa, kau!” Wara Huyeng geram me- lompat. Tapi terpaksa tertegun. Nyai Gadung tidak ber- anjak. Namun ranting di tangannya dengan tepat mene- bak ke mana Wara Huyeng akan berada.

“Majulah, tolol, dan kuhancurkan kepalamu yang tanpa otak itu,” kata Nyai Gadung, bengis dan penuh perasaan. Sekilas timbul kebenciannya pada Bhirawa- dana yang dianggapnya palsu ini. Ia menghormati Bhi- rawadana pada bentuk aslinya, karena itu adalah citra dari sosok suaminya. Sedang Bhirawadana di tangan Nyai Sinom lebih bersifat tidak bersungguh-sungguh, bercanda dan kadang-kadang gila. Maka Bhirawadana Wara Huyeng, yang di mata orang awam mungkin su- dah sempurna namun di mata seorang seperti Nyai Ga- dung jelas banyak kekeliruannya itu, mengingatkannya pada orang yang tak disukainya, Nyai Sinom. Ia pun mengertak gigi menunggu.

“Tunggu, tunggu... ini hanya kesalahpahaman... ke- napa harus dilanjutkan dengan permusuhan berat. Saudara Wisti, sudahlah... kapan-kapan saja aku ber- kunjung ke tempatmu....” Susah payah Tun Kumala bangkit. Kakinya masih terasa sangat lemas.

“Tidak, sebaiknya kau ikut kami,” kata Wisti tegas. Matanya bersinar tajam. Bukan karena Tun Kumala, te- tapi karena wanita tua itu ternyata begitu mengenal Bhirawadana. Hanya ia tahu agaknya wanita tua ini jauh di atas Resi Rhagani ataupun Bibi Madraka yang masih bisa dipermainkannya. “Pertama, kau sudah ber- janji akan mengunjungiku. Kedua, aku sudah datang kemari untuk menjemputmu. Seyogyanya kau tak me- nyalahi janjimu. Sebagai laki-laki, alangkah naifnya jika seenaknya kau mengubah janji.”

“Ya... betul juga....” Sesungguhnya Tun Kumala ha- nya ragu-ragu bagaimana caranya agar kedua pihak ti- dak meneruskan pertempuran. “Baiklah... asal... kalian tidak mengganggu bibi ini, boleh aku ikut denganmu   ”

“Tidak,” tukas Ni Gori. “Sedikit-banyak kami sudah berkorban bagi Tuan, membela Tuan   dan Tuan akhir-

nya toh akan ikut mereka?”

Tun Kumala tergagap. Betul juga. Lagi pula dilihat- nya walaupun masih berdiri gagah Nyai Gadung tampak tak bebas bergerak.

“Kau tampaknya orang baik-baik, Tuan    kuharap

kau tak bergaul dengan mereka,” desis Nyai Gadung. “Hei, kau nenek tua usil amat sih... dia toh belum

tentu jadi menantumu kok enak saja kau meributkan

dia!” tukas Wara Huyeng waspada, mencari kedudukan baru.

“Dia toh bukan majikanmu, kenapa kau begitu memberatkan dia, sih?” Ni Gori mencoba bersuara ke- tus.

“Jangan dikira kalau dia mengikuti nenekmu itu dia akan kesudian ia melirikmu, huh?” dengus Wara Hu- yeng.

“Sudah, sudah... Dengar, Saudara Wisti, walaupun kita baru jumpa, aku merasa kita sudah bersahabat be- gitu lama. Rasanya jika kita berpisah untuk beberapa waktu lagi, tak apa-apa. Sebaliknya bibi ini... terus te- rang... aku memang telah berutang budi pada mereka. Tolong, biarkan kami pergi,” pinta Tun Kumala.

“Tidak!” Wisti berkata dengan mata beringas. Ia pun memberi isyarat agar para anak buahnya mulai menge- pung. “Kau ikut kami, atau kalian semua boleh pergi tanpa nyawa.”

“Lho, lho, jangan begitu... wah, repot.... Bibi, bagai- mana kalau kita semua ikut mereka saja?” bingung Tun Kumala memohon pada Nyai Gadung.

“Kami tak akan bisa bergaul dengan sekelompok ba- jul, Tuan... Tuan pun tidak. Jangan takut. Ia hanya menggertak sambal saja. Mana berani ia maju hanya dengan ilmu palsu itu? Bahkan ilmu Wajraprayaga pun terbalik-balik!”

Kata-kata Nyai Gadung itu bagaikan halilintar me- nyambar di siang bolong. Tadi Wara Hita masih ragu- ragu akan ketangguhan Nyai Gadung. Kini ternyata wa- nita tua itu begitu luas pengetahuannya, hingga dengan sekilas melihat ia tahu ilmu yang digunakannya. Ini se- sungguhnya tak perlu diherankan. Pada dasarnya Wa- jraprayaga adalah ilmu para pangeran di keraton Wil- watikta, sementara Nyai Gadung, sewaktu masih ka- nak-kanak, adalah adik angkat seorang pangeran yang sangat badung.

Mata Nyai Gadung yang jeli juga melihat perubahan di wajah Wara Hita, maka ia pun tertawa mengejek, “Hi hi hi... jangan kaukira kau sudah bisa membakar langit, tolol. Apa pun yang akan kaulakukan aku bisa memu- nahkannya dan bahkan menghancurkanmu. Seranglah aku!” Perlahan Nyai Gadung melangkah, menyisihkan Ni Gori. “Ayo, siapa mau maju lebih dahulu?”

Melihat ini tiba-tiba Wara Hita memberi isyarat pada Kusya untuk menyerang, sementara kerjapan matanya meminta Wara Huyeng mundur menjaga dirinya.

Kusya melihat sesungguhnya ia pasti bukan tanding- an si nenek. Tetapi ia merasa bahwa ia harus mendapat hukuman, dan inilah hukumannya.

“Butsir!” ia menjerit tiba-tiba. Dan ketiga rekannya langsung menerjang dari kedudukan masing-masing dengan keris terhunus karena senjata utama mereka te- lah rontok sebelumnya. Mereka berlompatan ganas. Me- nerjang seolah tanpa memperhatikan keamanan diri. Ni Gori menjerit mencoba mempertahankan diri dengan melempar-lemparkan batu dan pasir. Tun Kumala ter- bengong-bengong ketakutan melihat keempat orang ka- sar itu berlompatan tak keruan sambil menjerit-jerit se- ram. Nyai Gadung tenang saja. Beberapa kali tangannya bergerak. Kedua ranting di tangannya meluncur cepat. Menghantam kepala Santen dan Kena. Kedua orang itu roboh terempas sementara kedua ranting tersebut me- luncur balik ke tangan Nyai Gadung. Inilah Rahula Ara- ni di puncak keunggulannya, di mana senjata yang dile- pas bagaikan terikat dengan rantai dan masih bisa dita- rik kembali oleh suatu tenaga yang tak terlihat.

Kusya baru saja menjejakkan kaki di dekat Nyai Ga- dung. Dan ia begitu lega bisa menghindari sebilah rant- ing nenek itu. Namun, ketika ia melompat untuk menu- sukkan kerisnya pada wanita tua yang sedari tadi tak beranjak dari tempatnya itu, ranting kedua menyusul dari arah kiri, langsung menembus dadanya. Ugra ter- kejut hingga terpeleset. Ia terlambat menoleh. Ranting Nyai Gadung menghantam pecah kepalanya.

Nyai Gadung menyeringai. “Ini adalah pertama kali aku membuka pantangan membunuh. Kau sungguh te- gaan membiarkan anak buahmu mati konyol. Orang macam begitukah yang ingin kauajak bersahabat, Tuan?” ia bertanya pada Tun Kumala.

Lama sekali Tun Kumala tak bisa berbicara. Wajah- nya pucat-pasi, bibirnya bergetar keras. Dan semua orang menunggu.

“Bagaimana, Tuan? Dan bagaimana, kalian tukang palsu ilmu orang?”

“Aku... aku tak bisa mengerti ini...,” hampir Tun Ku- mala menangis. “Hanya karena perkara kecil, kalian te- ga main bunuh! Tidak! Aku takkan mau ikut siapa pun! Semua menyimpan nafsu ganas di balik keramahan dan kelemahlembutan. Huh! Apa sebenarnya aku ini hingga jadi rebutan?” geram sekali Tun Kumala membanting kaki dan mengangkat kepala gusar. “Kalau saja Pa- man... pamanku di sini, pasti kalian langsung dijadikan mangsa harimau di istana!” Ia teringat akan Rakryan Mapatih. Di mana dia? Belum juga nyusul? Ia dulu memang bertekad untuk mencari jejak si Candika yang mencelakakan kakaknya. Dan ia bertekad untuk meng- hadapi tantangan macam apa pun. Pengalaman di tem- pat Nyai Emban Layarmega sudah membuatnya me- rinding. Ini lagi... pakai pembunuhan segala. Ih!

“Nenek, bangsa cecunguk rendahan memang mudah kautaklukkan. Tapi mampukah kau menundukkan ka- mi berdua, walaupun kaubilang ilmu kami palsu?” Wara Huyeng bertanya bersungguh-sungguh, seraya meng- ambil kedudukan menyerang.

“Majulah. Sekali pantangan membunuhku kuabai- kan, aku akan membunuh terus, tak peduli cecunguk rendahan ataupun tinggian,” kata Nyai Gadung, meng- geser kaki pula.

“Aku punya usul lebih baik,” tukas Wisti alias Wara Hita dingin. “Aku merasa kita berdua dipermainkan o- rang tanah seberang itu!” Jarinya tegas menuding Tun Kumala. Matanya pun beringas kini. Maksudnya tak kesampaian, jadi Tun Kumala harus dibinasakan. “Kita baik-baik mengundang dia sebagai tamu. Kita bahkan bertarung. Anak buahku bahkan tewas. Semua gara- gara dia. Kini enak saja dia meninggalkan kita. Aku usulkan, kita binasakan saja dia. Jadi di antara kita bo- leh dibilang tak ada ganjelan apa pun! Bagaimana?”

“Hah?” Nyai Gadung terkejut.

“Apa?” Tun Kumala lebih lagi terkejut.

“Ya,” kata Wisti lagi, merapikan kain agar bisa berge- rak leluasa jika nanti terjadi pertempuran. “Aku tidak tahu siapa kau, Bibi... yang pasti, kau gagah, kau sakti. Kau tahu dengan tepat kelemahan ilmuku. Kurasa, kau bahkan patut jadi guruku. Paling tidak, bersahabatlah. Karena orang gagah lebih patut berteman dengan orang gagah. Bukan orang lemah seperti dia.” Jarinya menu- ding lurus pada Tun Kumala. “Satu-satunya halangan hanyalah dia. Karena itu, mari kita binasakan dia. Kita jadikan dia sasaran untuk mencoba ilmu kita. Untuk apa kita bertengkar, kalau kita sama-sama tak dapat?”

“He, sedemikian liarnya kau...” Tun Kumala sampai tak bisa menemukan kata-kata yang tepat.

“Anak buahku mungkin jahat, tetapi mereka toh me- laksanakan perintahku. Tapi orang ini... ia tak punya pendirian! Dan itu jauh lebih jahat! Dengar. Bibi tadi bi- lang Wajraprayaga-ku tidak benar. Coba. Akan kuhan- tam dia dengan Wajraprayaga palsuku, dan Bibi kata- kan mana yang tidak benar!”

“Eh, kau ini bagaimana sih? Enak saja kau membua- tku sebagai korban! Gara-gara kau tak berani melawan Bibi ini saja...” Tak urung Tun Kumala khawatir. Ba- gaimana kalau Nyai Gadung menyetujui rencana gila Wisti? Diam-diam ia melirik orang tua itu.

Nyai Gadung tertawa tak bersuara. Kini ia bersandar pada bahu Ni Gori. Tetapi kedudukan kakinya masih mantap. “Usul yang bagus, Tuan,” katanya, membuat Tun Kumala sangat terkejut. “Kau boleh memukulnya. Tapi bagaimana kalau ia membalas pukulanmu? Kau- kira ia tak mampu berbuat itu?”

“Dia? Membalasku? Sungguh geli!” Wisti betul-betul tertawa. “Kuperhatikan dari tadi, ia sesungguhnya ko- song! Tun Kumala, kau toh tak bisa apa-apa, bukan? Walaupun... bisa, takkan ada gunanya. Malah akan membuat permainan ini menyenangkan, bukan?”

“Memang,” kata Nyai Gadung. “Apalagi jika ia juga membalas dengan Wajraprayaga!”

“Dia... mengerti Wajraprayaga?” Tiba-tiba Wisti ter- tawa terbahak-bahak. Sangat geli sekali.

“Inanugrahanta sira sang hyang amrtasan-jiwani, ha- jining manghuripaken mati...” Ragu-ragu tapi jelas, Tun Kumala menggumam. Sesungguhnya kata-kata ini ha- nyalah suatu kalimat dari suatu kisah. Sederhana. Na- mun sesungguhnya adalah awal pelajaran Wajrapra- yaga, yang kemudian berlanjut dengan ilmu utama pemberi nyawa dan pencabut nyawa.

Tentu saja Wisti alias Wara Hita yang dilolohi Wajra- prayaga dari Nagabisikan sangat terkejut. Kalimat itu sangat ia hafal. Dan Tun Kumala dapat mengatakannya dengan jelas!

Bersambung ke jilid 9