Dewi Penyebar Maut Eps 07

Dewi Penyebar Maut Eps 07

1. KI GONG MINTA KORBAN?

GELAP sekali. Dan busuk. Busuk sekali. Tapi juga di- ngin. Dingin sekali. Dan ia terayun-ayun. Ribut sekali. Sesuatu melintang di dadanya. Berat sekali.

Tari mencoba membelalakkan matanya. Apakah ia buta? Apakah kelopak matanya tak bisa dibuka lagi?

Tidak. Ini hanya karena gelap saja. Dan di dadanya ini... ih! Hampir Tari pingsan lagi. Didorongnya batang tubuh yang licin dan basah itu ke samping.

Ia hampir pingsan lagi? Jadi tadi ia  pingsan?  Dan ini... heran. Semuanya kini kembali jelas di ingatannya.

Ia berada di sebuah ruang di rumah Emban Layar- mega. Ia harus meladeni seorang pria muda dari sebe- rang. Tun Kumala. Padahal ia tertarik pada Wisti, sau- dagar wewangian dari Tosari itu. Kemudian... kemudian ternyata Tun Kumala mengenali kalung kayunya. Ka- lung kayu itu. Tak terasa Tari meraba lehernya. Heran. Kalung kayu itu masih ada. Siapa yang menaruhnya kembali di lehernya? Ataukah, memang tidak terlepas?

Kalung itu... dengan kalung itu Tari serasa punya hubungan dengan masa lalunya yang gelap. Dan Tun Kumala mengenalinya. Maka ia menanyakannya. Sete- lah itu... terjadi pergulatan dengan Tun Kumala. Tapi... Bima datang melerai. Dan menghukumnya. Dengan menceburkannya ke dalam Sumur Hitam. Kemudian... Ah. Ia ingat. Sumur Hitam. Itu untuk menghukum anak buah Bibi Layarmega yang dianggap kurang bisa me- muaskan para tamu. Dengan cara kurang ajar, misal- nya. Atau membuat malu mereka. Atau... banyak kesa- lahan lain yang bisa diganjar hukuman dimasukkan ke Sumur Hitam. Sumur itu dijaga oleh seseorang yang berkulit hitam-legam. Ahireng. Mungkin Ahireng ingin berbuat baik padanya. Mungkin juga lupa. Pintu sang- kar besi tempat orang yang dihukum diturunkan ke da- lam Sumur Hitam ternyata tidak dikunci. Mungkin su- paya ia bisa lari? Siapa yang bisa lari dari Sumur Hi- tam? Sumur itu bagaikan sampai ke pusat bumi. Begitu dalam. Gelap. Kelam. Hitam. Dan... ada Ki Gong di sa- na.

Ki Gong adalah seekor ular raksasa. Biasanya berada di dasar sumur. Biasanya hanya untuk menakut-nakuti si terhukum. Buas memang, tetapi sesungguhnya ia takkan bisa menyantap orang yang ada di dalam ke- rangkeng.

Tapi kali itu pintu kerangkeng terbuka. Dan Ki Gong berhasil menyerbu masuk.

Jelas, Tari merupakan makanan empuk. Ia  sudah lupa semua ilmu silatnya. Namun dalam keadaan ba- haya yang begitu mengancam itu ternyata secara wajar muncul kekuatan dan ketangkasan yang sudah begitu tertanam dalam diri Tari.

Dengan cerdik Tari berhasil menyumpal mulut si ular. Kemudian menoreh lehernya dengan tusuk ge- lungnya. Menorehnya. Agaknya sampai leher ular rak- sasa itu putus.

Ihh. Sampai di situ yang diingatnya. Kemudian... mungkin ia pingsan. Dan kini tampaknya ia sadar. Da- lam kegelapan. Dengan bangkai ular itu di dadanya.

Tari mendorong tubuh berat dan licin itu. Mendorong terus. Hingga semuanya jatuh dari kerangkeng. Ber- gedebug di dasar. Ah. Dasar sumur itu mungkin tak ter- lalu jauh dari kerangkeng.

Dan... apa gunanya ia selamat?

Tubuhnya terasa lengket. Entah berapa lama dirinya tersembur oleh darah Ki Gong. Baunya sangat amis.

Ia menengadah. Mungkin. Jauh tinggi di sana. Kege- lapan seakan menipis menjadi kelabu. Bulat. Ah. Itulah pasti mulut sumur. Sudah kelabu. Sudah pagi? Berapa lama ia tak sadarkan diri. Di sini?

Sayup-sayup terdengar kokok ayam. Jauh dari mu- lut sumur. Ah. Ya. Sudah pagi. Pagi kapan?

Bau amis yang menusuk hidung hampir membuat- nya lemas dan roboh. Bagaimana cara naik ke sana?

Mungkin dengan tali yang berada di atas kerang- keng. Ya. Itu cara yang baik.

Tari meraba-raba hingga menemui pintu. Kemudian ia memegang dua batang terali besi. Dan mengangkat dirinya ke atas.

“Hei!” seru Tari terkejut. Tiba-tiba saja badannya sea- kan didorong ke atas. Keras. Hampir saja ia terlempar jatuh. “Ugh. Ada apa?” Bingung Tari. Ia merasakan sua- tu tenaga. Dahsyat. Hebat. Tenaga itu tersalur lewat tangannya. Dan saat ia tadi mengerahkan tenaga untuk mengangkat dirinya, maka tenaganya keluar berlebihan.

Ah. Mungkin itu hanya bayangannya saja.

Tari meraba-raba. Dan tangannya menemukan tali yang menggantungkan kerangkeng itu ke kerekan di atas sana. Ah. Tak terlihat. Begitu tinggi dan begitu ge- lap.

Dipegangnya tali itu erat-erat. Kemudian perlahan ia berdiri. Kerangkeng itu bergoyang. Tari makin erat me- megang talinya. Kemudian ia menarik tali itu.

“Ugh!” ia berseru terkejut. Kemudian menjerit. Tali sebesar kepalan yang dipegangnya terasa terguncang. Dan kerekan jauh di atas sana ternyata telah jebol dari palang kayunya!

“Aiii!” Tari menjerit keras dan terbanting ke kerang- keng, sementara kerangkengnya pun terempas ke ba- wah.

Kerangkeng itu bergedebam di dasar sumur yang kering dan ternyata penuh tengkorak dan tulang- belulang manusia... serta tubuh Ki Gong. Tulang-tulang itu berderak patah oleh kerangkeng besi, dan tubuh Ki Gong menjadi peredamnya. Suaranya memualkan. Dan bau pun kembali bagaikan meledak. Tari yang tadi te- rempas ke terali besi, kemudian tertimpa gulungan tali, diserbu oleh bau sebusuk itu... rasanya langsung le- nyap nyawanya.

Kerangkeng itu agak miring. Tari gugup mencoba duduk. Ugh. Bau itu begitu menusuk hidung. Ia terpak- sa menutup hidungnya. Ia terpaksa menahan napas- nya. Beberapa kali ia megap-megap tak tahan. Tapi, he, serasa makin lama makin mudah. Dan makin lama ia makin tahan menahan napas. Pernapasannya makin te- ratur. Asal bau busuk itu hilang... ah, begitu ia memi- kirkan hal itu, bau tersebut memang lenyap!

Pikirannya serasa semakin jernih. Ia dapat duduk di atas kerangkeng itu. Bersila. Menutup mata. Mengatur pernapasan. Dan dengan wajar—tanpa disadarinya— maka ia telah menggunakan ilmu pernapasan dan ilmu semadi dari Perguruan Rahtawu!

Dan tanpa disadarinya pula, ilmu  Coban  Saleksa yang pernah diterimanya dari Bibi Madraka mulai mengalir dalam urat nadinya.

Ilmu itu tidak membuka pengaruh ramuan kuat Em- ban Layarmega. Tetapi secara tak disadarinya maka hampir seluruh kepandaian dan tenaga dalamnya pulih. Walaupun jelas ia tak tahu apa artinya semua itu bagi dirinya.

Dirinya terasa panas. Panas sekali. Serasa ada api menggumpal dalam perutnya. Bergerak terus. Berputar terus. Meledak-ledak. Ia begitu panas. Begitu PANAS. BEGITU PANAS!

Dan ia mulai berdesah-desah. Kemudian menjerit. Menjerit-jerit. Tubuhnya serasa akan meletus oleh hawa panas itu. Dadanya begitu sesak!

Tangannya mulai tak bisa dikendalikannya. Mereng- gut kemben yang menutupi dadanya. Merobeknya sekali renggut. Dan ia masih kepanasan. Masih kepanasan. Masih KEPANASAN!

Padahal stagen dan kainnya pun telah lama terlepas. Oh,  tapi  hawa  panas  ini  masih  juga  menyiksa.  Ia  in- gin mandi. Ia ingin menceburkan diri ke air Telaga Biru. Sekilas ia hampir pingsan memikirkan kenapa nama itu terlompat begitu saja di benaknya. Tapi ia panas. PA- NAS! Ia harus terjun ke air! Ke Telaga Biru! Harus! Dan ia pun meloncat. Terjun ke dalam kegelapan di bawah kerangkeng itu. Badannya langsung terempas dalam kubangan darah Ki Gong yang bercampur lumpur  ber- bau busuk. OooOOoooOoooOooo OOhhh! Baunya me-

mang tak tertahankan.

Tetapi lumpur dan darah Ki Gong begitu menyejuk- kan. Tari berguling-guling dalam kesejukan itu sambil menahan napas. Mengatur napas. Mengendalikan per- napasannya.

Begitulah. Tanpa berbusana, dalam kegelapan Su- mur Hitam. Tari tak sengaja menyalurkan Coban Sa- leksa.

Dan waktu pun berlalu.

Malam itu terang bulan. Nyai Emban Layarmega dan Bima perlahan menaiki bukit di belakang rumah Nyai Emban. Mereka berjalan perlahan. Karena malam begi- tu indah.

Langit jernih, bintang-bintang hampir tak tampak oleh terangnya sang purnama. Di bawah, rumah Emban Layarmega yang terkenal itu bagaikan bermandikan ca- haya. Obor dan lampu ada di sana-sini. Juga terdengar kegembiraan tawa ria para pria yang sedang menikmati malam mereka. Dan suara tetabuhan mengiringi tarian para pemabuk.

Berhenti sesaat di punggung bukit, Layarmega bisa melihat bagian kota. Diterangi oleh purnama. Rumah dan pepohonan bagai disepuh perak. Sayup-sayup ter- dengar suara anak-anak bermain. Begitu damai. Tak te- rasa Emban Layarmega menghela napas panjang.

“Ada yang Paduka pikirkan, Junjungan?” tanya Bima yang dengan sopan selalu menunggu pada jarak yang cukup jauh jika Layarmega berhenti.

“Kedamaian ini, Bima,” kata Layarmega, menghirup hawa malam yang segar sedalam-dalamnya. “Dan aku jadi tidak mengerti, mengapa orang harus mengorban- kan segala-galanya untuk menguasai dunia ini Apa-

kah mereka mengira mereka lebih pandai daripada Sang Mahesywara dalam mengatur jagat raya ini ”

“Junjunganku agaknya berbicara tanpa dipertim- bangkan, tidak seperti biasanya,” Bima yang bertubuh tinggi besar ini tampak begitu tunduk luruh di hadapan Layarmega.

“Aku mengerti, Bima... tapi ini pendapat pribadiku. Dan sering aku berpikir, alangkah senangnya jika aku

lebih sering lagi menikmati kepribadianku sendiri, tanpa harus diatur oleh orang lain.”

Beberapa saat hening. Yang terdengar hanya desir angin di pohon sawo dekat mereka berdiri.

“Junjunganku punya kekuatan, Junjunganku punya sandaran... rasanya tidak akan sulit jika ingin menjadi manusia bebas,” kata Bima kemudian dengan suara be- rat.

“Di situlah letak kesulitannya, Bima,” Emban Layar- mega menunduk, membetulkan letak selendang yang menutupi bahunya. Sambil berjalan perlahan ia pun berkata, “Semua yang ada di dunia ini pun diciptakan untuk saling tergantung. Tak ada yang benar-benar be- bas. Merdeka. Aku pun sudah merupakan salah satu bagian dari dunia itu.”

Mereka telah sampai ke rumah hitam di bawah bayang-bayang pohon besar di puncak bukit itu. Ru- mah tempat Sumur Hitam berada.

Dari balik bayang-bayang Ahireng muncul dan mem- bungkuk memberi hormat.

“Harum Junjungan sungguh memberi tempat ini ke- indahan yang lebih dari yang bisa diberikan purnama,” kata Ahireng. “Sungguh suatu kunjungan yang tak be- rani hamba impikan, hingga terpikir oleh hamba mung- kinkah Junjungan akan menjatuhkan hukuman pada hamba... memenggal kepala hamba misalnya. ”

“Tak usah banyak omong, Orang hitam,” Bima me- nukas. “Dan tidak pantas bagimu untuk memakai kata- kata yang berbunga-bunga.”

“Ah, Bima, bagimu tentu sudah terbiasa bertemu de- ngan junjungan kita, tetapi bagiku ini bagaikan mimpi kejatuhan bulan! Itu saja sudah merupakan alasan cu- kup untuk menjadi gila, bukan?” suara serak Ahireng tertuju pada Bima, tetapi matanya masih tertuju pada Layarmega. Dan sungguh aneh, kedua mata itu tampak putihnya saja di muka yang hitam-legam.

“Sudahlah, Bima, biarkan Ahireng menyatakan pen- dapatnya,” suara Layarmega, tersenyum. “Kunjunganku kemari memang luar biasa, Ahireng aku ingin menin-

jau salah seorang anak buahku yang telah salah jalan dan harus menjalani hukuman di sini. Dan kudengar beberapa kali kau menolak mengangkatnya ke luar ka- rena kau hanya ingin menerima perintah itu langsung dariku.”

“Mohon diampun, Junjungan, bukan hanya meno- lak, bahkan hamba pun terpaksa harus adu kekuatan dengan Sang Bima ini, he he he.... Cuma, belum ada kepastian siapa yang menang, Sang Bima sudah mun- dur lebih dahulu. Mungkin Junjungan harus mengganti pengawal utama Junjungan ini, he he he he. ”

“Kau harus tahu diri, Ahireng, orang seperti Bima punya wawasan luas. Dalam suatu pertempuran, me- nang atau kalah adalah suatu pilihan, bukan lagi suatu keadaan yang dipaksakan padanya,” kata Layarmega. Ia kini membelakangi sinar bulan purnama hingga wajah- nya tertutup bayangan. Tidak nyata apakah ia terse- nyum atau tidak. Tetapi suaranya begitu merdu terde- ngar. “Kau tahu, anak buahku itu dibawa sendiri kema- ri olehnya, dan ia sendiri yang memintanya, mengapa tak kauberikan?”

“Karena hamba begitu menghormatimu, Junjungan,” kata Ahireng tegas. “Hamba tahu anak buah yang diba- wa kemari itu adalah anak buah kesayangan Paduka. Jadi ada dua hal: Bima terlalu iri padanya hingga ia menyiksanya, atau Paduka memang menghendaki ia mendapat hukuman yang sangat berat. Sewaktu mem- bawanya kemari, Bima tidak mau memberikan ketera- ngan sejelasnya, dan rasanya hamba takkan kuasa me- nolaknya, toh kalaupun waktu itu ia berhasil hamba tundukkan ia bisa saja membawa Ni Turi ke penyiksaan lainnya. Lain dengan waktu mau mengambil. Ni  Turi ada di dalam Sumur Hitam. Bertempur tujuh hari tujuh malam pun hamba ladeni. Hamba pikir Bima juga pu- nya pikiran waras. Hamba minta agar Paduka sendiri yang datang mengambil anak itu. Jika ia ngotot me- nolak, maka terbukti bahwa perintah untuk menghu- kum Ni Turi bukan dari Paduka.”

“Bagaimana jika aku begitu sibuk hingga tak sempat memenuhi permintaanmu itu?” tanya Emban Layarme- ga.

“Maka hamba  bisa  yakin  bahwa  anak  buah  yang menjalani hukuman itu sama sekali tak berarti bagi Pa- duka, hidup-matinya sudah tak berarti lagi,” sembah Ahireng. “Jadi bagi hamba pun tak ada artinya ia hidup, mati atau dimakan manusia raksasa ini. Heh heh heh heh ”

“Mestinya kau juga dilemparkan ke dalam Sumur Hi- tam itu baru tahu rasa!” geram Bima.

“Bagi hamba, Sumur Hitam bukanlah apa-apa. Bah- kan Ki Gong pun bukan apa-apa. Kami malah bersau- dara, he he he he.... Ki Gong sakti sekali lho, Junjung- an, jadi biar ular hamba akui sebagai saudara.”

“Sakti bagaimana?” tanya Emban Layarmega sabar. Ia tahu Ahireng sangat jarang memperoleh teman bica- ra, karenanya bisa dimaklumi jika kali ini ia begitu giat berucap.

“Dia adalah keturunan langsung dari ular sakti yang ada di Pura Kapila, yang konon merupakan tempat tidur Sang Hyang Wisnu sendiri. Telurnya dibawa ke tanah Jawa ini oleh Sang Agastya sendiri. Ki Gong adalah ke- turunan ketujuh dari ular Kapila tersebut dan selama

ini turun-temurun ular tersebut bertapa untuk menjel- ma menjadi manusia. Konon dari lahir ke lahir  lagi, sang ular menerima puluhan kesaktian dari Sang Ma- hesywara yang ingin membujuknya agar ia melepaskan niat menjadi manusia.”

“Ahhhhhh! Jangan hiraukan orang gila ini, Junjung- an. Ayo masuk saja!” geram Bima.

“Ah, kalau Tuan tidak percaya kesaktian Ki Gong, coba masuk ke dalam sumur itu. Dan coba bunuh dia. Paling-paling kepala Tuan remuk oleh sabetan ekornya,” kata Ahireng.

“Untuk meremukkan kepalamu, aku tak memerlu- kan Ki Gong,” desis Bima.

“Sudahlah. Aku ingin melihat kembali anak buahku itu, Ahireng. Bawa dia keluar,” kata Emban Layarmega. “Silakan menunggu, Junjungan....” Ahireng mem-

bungkuk rendah-rendah dan mundur.

Tak lama terdengar ia memantikkan batu api. Dan sebatang obor pun menyala. Rumah hitam itu tak begi- tu hitam lagi.

Emban Layarmega berhenti, dan membelakangi ru- mah hitam itu. Sebab dari tempat itu pun bau tak se- dap sudah mulai terisap.

Kemudian terdengar jeritan terkejut Ahireng.

Bima langsung tersentak menegakkan tubuh mende- ngar itu. Emban Layarmega menoleh tajam.

“Junjungan!” Ahireng muncul dari dalam rumah hi- tam. Tergopoh-gopoh. Ketakutan. “Junjungan! Tali ke- rangkeng putus!”

“Apa?” Bima langsung melompat berdiri dan berlari masuk ke dalam rumah hitam itu.

Hanya ada sebuah ruangan tengah. Dan di tengah ruangan tadi ada sebuah sumur besar. Tiang yang me- nyangga kumparan tali untuk menarik atau menurun- kan kerangkeng patah. Patah!

Cepat Bima memeriksa tiang itu. Dan menjenguk ke dalam sumur. Di sana hanya terlihat hitam-kelam. Bah- kan obor yang diangkatnya tinggi-tinggi tak memban- tunya menunjukkan ada apa di sana. Baunya menusuk hidung.

Di belakangnya terdengar langkah Emban Layarmega berlari kecil mendekat.

“Junjungan, jangan mendekat. Baunya tak sedap se- kali!” desis Bima.

“Ini luar biasa,” bisik Ahireng gemetar. “Biasanya baunya tidak bisa naik dan keluar seperti ini!”

“Apa... apa yang terjadi? Masakan kau tak tahu bah- wa talimu putus? Mungkin karena itu kau tak memper- kenankan aku masuk?” Tiba-tiba Bima membalik dan menyambar leher Ahireng, hampir mencekiknya.

“Akk... akkku tak pernah masuk ke... kkke sini jika tidak untuk menarik atau menurunkan hukuman!” te- riak Ahireng, kali ini tidak melawan. “Hatiku tidak sekeji kamu!”.

“Kau sekarang masuk!” Bima langsung mengangkat Ahireng untuk dilemparkan ke dalam sumur.

“Jangan, Bima!” cegah Emban Layarmega yang me- nekap hidung dengan selendangnya dan mencoba meli- hat ke dalam sumur. “Ahireng! Ini baru kauketahui se- karang ini?”

“Jawab!” Bima membanting Ahireng ke lantai.

“Bbe... benar, Junjungan... hhhamba ttak pernah masuk kkke... kke sini jika tidak...”

“Dan Turi sudah hampir lima hari di sana!” Emban Layarmega membelalakkan mata. “Bima, coba panggil dia!”

Bima mengumpulkan kekuatan dan berteriak di pinggir sumur, “TURRRRIIIIIIII!”

Suara itu bergema bersahut-sahutan di dalam su- mur. Mereka sejenak terdiam mendengarkan. Tak ada sahutan.

“Jjjikkka... jika tali putus... tak mungkin ia ssse... se- lamat...,” bisik Ahireng. Sekarang tidak setegas tadi dan dalam cahaya obor tampak kulit mukanya yang hitam- legam mengkilap oleh keringat.

“Aku akan turun!” Bima jelalatan mencari-cari se- suatu di ruang itu. Tak ada tali. Ia melompat ke bibir sumur, mencoba melihat ke dalam dan mengangkat ob- or tinggi-tinggi. “Berapa dalam sumur ini?”

“Se... seratus ddua... dua ratus deppa... akku... aku tak tahu...,” kata Ahireng masih gemetar.

“Mungkin kau membunuhnya!” tiba-tiba Bima meng- geram dan menyambar Ahireng. Tetapi dalam ketakutan atau kekagetannya, Ahireng ternyata tetap waspada. Dan kuat. Cekatan ia menggulingkan tubuh ke tanah. Ketika Bima menghajar dengan tendangan beruntun maka dengan berani Ahireng menghadang tendangan tersebut dengan tebasan tangannya. PRAKKK!!!!

Bima terlompat mundur. Ahireng berguling ke sam- ping dan berdiri dengan badan membungkuk rendah memasang kuda-kuda.  Dari  mulutnya  terdengar  desi- san melengking bagaikan seruling, “Auuuiiiiieeeeiiiiiii. ”

sementara tangan kanannya bergerak di atas kepa- lanya. Perlahan. Mengancam.

“Bangsat! Berani melawan, kau?” geram Bima. “Junjungan! Hamba tidak bersalah!” Masih meren-

dahkan badan Ahireng menukar kedudukan kakinya, bergeser ke samping. “Aku tidak bersalah! Tali itu putus sendiri! Aku... hamba memang tidak pernah memerik- sanya, tetapi bukan hamba yang memutuskannya!”

“Kau cepat cari tali, dan cepat turun ke sana!” geram Bima, juga mengubah kedudukan kakinya hingga ia da- lam keadaan siap menerjang Ahireng.

“Tidak ada gunanya, Junjungan... jika... jika tali itu putus... siapa pun yang jatuh akan jadi mangsa  Ki Gong!” desis Ahireng.

“Kau pantas jadi santapan Ki Gong!” tiba-tiba Bima menerjang. Kakinya yang besar itu gesit melesat ke de- pan. Disusul oleh injakan mengentak menghajar bumi. Ahireng telah tak ada di tempatnya. Dan dia pun tidak tinggal diam. Sambil menghindar tangannya bergerak cepat menghujani tubuh Bima dengan tebasan dan tu- sukan.

“Hentikan! Hentikan!” jerit Emban Layarmega, keras, melengking, berulang-ulang.

Tapi tak ada yang memperhatikan. Kedua orang itu bertarung makin seru. Satu-dua tiang berderak patah kena terjang mereka. Dan atap pun mulai  berderak akan roboh.

“Hentikan!” teriak Emban Layarmega lagi.

Sebuah tendangan Bima yang luput mengenai Ahi- reng menghantam tiang utama rumah itu. Dan rumah tersebut pun berderak roboh!

“Aiiiii!” Emban Layarmega menjerit, menutup kepa- lanya dengan tangan.

“Junjungan!” teriak Bima terkejut. Dan sebagai aki- batnya, tendangan Ahireng telak menghantam lambung- nya. Bima menjerit, namun ia tak menghiraukan rasa sakit yang begitu sangat itu. Ia langsung menubruk Emban Layarmega dan melindunginya dengan badan- nya yang besar dan lebar, membawanya melesat  ke luar, menembus runtuhan kayu-kayu dan atap rumbia.

Bima terguling-guling di tanah, masih terus mende- kap Emban Layarmega. Di belakangnya rumah hitam tadi berderak roboh dengan suara gemuruh.

“Junjungan?” Bima merebahkan Emban Layarmega ke rerumputan. Wanita itu pingsan. Darah mengalir di dahinya. “Junjungan...,” bisik Bima lagi.

Di belakangnya terdengar kayu-kayu dilempar-lem- parkan. Dan Ahireng muncul dari balik reruntuhan.

“Kau... kau menghancurkan rumahku...,” desis Ahi- reng, berjalan terhuyung ke arah Bima. Cahaya bulan bersinar di pedang panjang warna hitam yang diba- wanya, entah diperolehnya dari mana. “Kau... mungkin membuat Ki Gong menjadi ketakutan... dan aku tak su- ka itu ”

“Junjungan...,” bisik Bima tak menghiraukan Ahi- reng, diusapnya darah di dahi junjungannya.

“Kau harus mati, keparat!” pekik Ahireng. Dan pe- dang panjangnya menyambar cepat ke arah leher Bima. “Kau keterlaluan!” jerit Bima. Ia langsung meloncat tinggi, lebih tinggi dari garis tebasan pedang Ahireng. Dan begitu menginjak tanah, tangan Bima telah meme- gang sebilah keris. “Kurajam kau, jahanam!” jeritnya. Kerisnya langsung menyerang.

Ahireng tertawa di hidung. Dengan nekat ia menebas Bima. Bima tak gentar. Dihantamnya ujung pedang de- ngan gagang kerisnya. Kemudian tubuhnya berputar di udara, mengikuti gerak pedang.

Pertandingan bersenjata itu langsung berkecamuk. Bima kalap kini. Walaupun senjatanya pendek, tapi ge- sit sekali ia berlompatan ke kiri dan ke kanan, ke bawah dan berguling, mengikuti dan menghindari tebasan Ahi- reng.

“Ooooooh...” Emban Layarmega perlahan mengang- kat kepalanya. Beberapa saat pandangannya kabur. Kemudian dia melihat di dalam sinar bulan purnama dua bayang-bayang begitu gesit saling sambar dan hin- dar, diiringi bentakan-bentakan dan dengus napas pe- nuh dendam.

Bima. Dan Ahireng.

Bima. Sudah begitu lama lelaki itu mengikutinya. Ia tahu ketangguhannya. Tapi sebegitu lama ia tak bisa menundukkan Ahireng? Seorang yang mungkin hanya setara dengan pelayan? Hanya seorang penjaga hala- man. Dan Bima rasanya tak sanggup cepat mengalah- kannya.

Ahireng sendiri aneh. Pedangnya itu. Dan gerakan- nya. Ahireng diwarisinya dari pemilik tempat ini yang terdahulu. Seperti juga ia mewarisi nama Layarmega ini. Tak banyak yang diketahuinya dari hambanya yang hi- tam itu. Hanya bahwa ia memang penjaga Sumur Hi- tam. Sejak dahulu kala.

Tetapi agaknya Ahireng bukan orang biasa. Perlahan Emban Layarmega terhuyung berdiri. Ia memikirkan hal lain.

Turi. Atau siapa pun sebenarnya gadis itu. Bagaima- na nasibnya? Ia tahu apa akibatnya jika seseorang ditu- runkan ke Sumur Hitam. Jika selamat, mereka akan dikeluarkan dengan pribadi yang hancur—tak akan be- rani berontak lagi.

Ia hampir tak percaya sewaktu dulu ia dilapori Bima tentang Turi. Tapi, ya, ia setuju bahwa tindakan Turi bi- sa membahayakan usahanya. Ya, ia setuju untuk  itu Turi harus dihukum. Namun, ia juga ingat bahwa Turi punya ciri-ciri yang begitu dekat dengan ciri-ciri seorang Stri Ardanareswari. Seorang wanita yang mungkin dila- hirkan untuk berderajat sangat tinggi. Kemudian ia i- ngat asal-usul Turi. Bahwa gadis itu adalah hasil te- muan Ra Wirada, putra Rakryan Tumenggung, Mpu Ga- garang. Sementara Ra Sindura, pemuda putra Rakryan Rangga yang didesas-desuskan sebagai calon kuat un- tuk menjadi bintang Kuripan, merasa mengenalinya.

Untuk itulah Turi, atau siapa pun nama sebenarnya, selalu harus dijejali dengan obat Pelupa Diri. Dan kea- daan agak berubah karena Ra Wirada tewas sementara Ra Sindura terpaksa ditahan sebagai pembunuhnya. Memang Emban Layarmega tahu bahwa ini semua ada- lah gara-gara junjungannya, Dewi Wara Hita, yang dide- sas-desuskan sebagai Dewi Candika—dewi penyebar maut. Namun... di luar itu semua sesungguhnya Emban Layarmega telah merasa begitu senang pada Turi. Bah- kan mulai membayangkan kemungkinan Turi menjadi Layarmega berikutnya.

Tiba-tiba Layarmega tertegun.

Bima bergerak cepat mendesak Ahireng. Dan tiba- tiba saja Ahireng menghunjamkan pedang hitamnya ke tanah. Tepat menghalangi keris Bima untuk bergerak maju. Dan dengan suatu gerakan aneh, Ahireng meng- gunakan gagang pedangnya sebagai tumpuan. Dan tu- buhnya berputar, terlontar. Tinggi. Dan ia memekik me- lengking saat tubuhnya masih di udara. Bima dengan sigap menjatuhkan diri untuk menerima serangan Ahi- reng.

Serangan Ahireng datang begitu cepat. Pekiknya pun menggetarkan dada. Tangannya terjulur kaku meng- hantam keris Bima ke pinggir dan langsung menerkam leher lelaki bertubuh tinggi besar itu.

Bima membentak keras. Dan menjerit. Tinjunya menghajar Ahireng. Ahireng bagaikan terlempar. Namun Bima juga langsung terempas terkapar dengan leher ro- bek lebar.

“Peksayomaya!”

Suara itu bukan datang dari Emban Layarmega.

Suara itu datang dari pohon besar yang menghitam di cahaya bulan.

Ahireng tampak terkejut. Ia kini telah berdiri dekat tumpukan reruntuhan rumahnya.

“Siapa?” tanyanya serak. Tak ada jawaban.

Tiba-tiba Ahireng meloncat. Menyambar dan menca- but kembali pedang hitamnya. Dan melompat mundur. Menjauh.

“Aku tak punya waktu untuk menemuimu!” teriak- nya lagi. Dan ia memutar diri. Berkelebat. Dan lenyap.

Emban Layarmega tak memperhatikan itu semua. Ia telah menubruk Bima, memeriksa leher lelaki itu.

“Bima... Bima...,” bisiknya.

“Dia tak akan mati,” terdengar suara di belakangnya. Emban Layarmega terkejut. Menoleh.

Sesosok lelaki berdiri di sana.  Mata Emban Layarme- ga sudah terlatih unjuk mengenal wajah orang. Wa- laupun orang itu membelakangi bulan  dan  mukanya tak terlihat.

“Tuan... Aria Sampana,” bisiknya seakan bertanya. “Yang dulu datang bersama... pemuda Tumasik itu?”

“Ya. Dan beberapa kali aku datang ke rumahmu, Emban, untuk menanyakan temanku itu ” Orang tadi

memang Aria Sampana, atau Rakryan Mapatih Kuripan yang sedang menyamar. Dengan tenang ia duduk di samping Emban Layarmega, memeriksa luka di leher Bima. “Orang ini kuat, dan cukup gesit. Untung. Pada orang lain, pukulan cakar besi itu pasti bisa memu- tuskan lehernya. Beri dia obat-obatan luka biasa. Dan dia pasti sembuh. Ia pun hanya pingsan biasa.”

Emban Layarmega tak berbicara lagi membebat leher Bima.

“Tuan seorang saudagar?” tanya Layarmega.

“Aku begitu sering berkeliling, hingga tahu sedikit tentang beberapa ilmu untuk membunuh orang.” Dari suaranya, mungkin Aria Sampana tersenyum. “Aku khawatir tentang temanku itu. Sudah lima hari tidak muncul di pemondokan kami. Ya, ya, ya.   aku tahu kau

telah berkata kau tak tahu apa-apa... dan bahwa te- manku itu pergi bersama.   Wisti, saudagar minyak wa-

ngi itu. Tapi ke mana? Dan siapa Wisti itu?”

“Sudah kukatakan, aku tak tahu.” Emban Layarme- ga bisa menguasai diri kini. “Dan maaf, sesungguhnya

Tuan telah memasuki bagian halaman rumahku yang sesungguhnya tertutup untuk umum.”

“Ahhh! Misalkan aku tak muncul, kalian berdua mungkin telah dibunuh oleh si Hitam tadi itu. Ah, ya. Siapa sesungguhnya dia? Anak buahmukah?”

“Agaknya Tuan lebih kenal dia?”

“Aku pernah melihat gerakan itu. Dulu sekali. Kura- sa gerakan tadi sudah lenyap. Ah, ya...” Tiba-tiba Aria Sampana melihat berkeliling. “Mestinya kukejar dia... tapi aku tak berani. Tadinya akan kuajak Bima ini un- tuk mengejarnya.”

“Bantu aku membawa Bima ke rumah. Aku punya anak buah banyak. Mungkin mereka bisa membantu Tuan.” Emban Layarmega memperhatikan Aria Sampa- na.

“Itu tak penting. Yang penting, beri keterangan lebih jelas tentang temanku itu. Atau tentang Wisti.  Kalau aku harus berangkat ke Tosari untuk menyelidikinya, aku akan berangkat. Tapi dari penyelidikanku, di Tosari tak ada saudagar wewangian bernama Wisti.”

“Aku tak pernah... terlalu teliti menyelidiki... langga- nanku,” kata Emban Layarmega.

“Kudengar ada orang bertanya-tanya tentang diriku,” kata Aria Sampana.

“Tuan langganan baru kami. Aku patut menyelidiki apakah... Tuan bisa menjadi langganan yang mengun- tungkan. Itu memang biasa kulakukan,” kata Emban Layarmega, perlahan menaruh kepala Bima di rumput. “Dan hasil penyelidikanku rupanya tidak lengkap. Tak ada yang mengatakan bahwa Tuan sanggup menyelun- dup masuk dan bersembunyi di pohon di luar pengeta- huan Bima.”

“Aku hanya saudagar biasa. Dan itu berarti aku ha- rus bisa membela diriku sendiri. Tidak seperti kau yang bahkan punya pasukan kecil untuk melindungi diri. Tapi... aku bukannya tak punya pengaruh, Emban. Be- sok pagi aku akan kembali. Dan aku akan bertanya ten- tang kawanku itu. Dan kau harus sudah punya jawa- ban. Kalau tidak... aku akan minta seseorang yang pu- nya kekuatan besar untuk membuat hidupmu sulit. Ba- gaimana? Mungkin sekarang saja akan kaukatakan?”

“Tidak, Tuan, aku tidak tahu apa-apa,” kata Emban Layarmega lemah, mundur. “Jika Tuan ingin menyu- litkan aku... silakan. Aku memang tak bisa apa-apa, te- tapi kemungkinan Dewata Mulia Raya akan melin- dungiku. ”

“Kita lihat saja nanti, Nyai   ” Aria Sampana tertawa.

“Bima, kau tak perlu pura-pura pingsan. Kaudengar semua kata-kataku tadi. Jadi, kau juga harus bersiap- siap menjawab pertanyaanku besok. Dan o, ya, katakan pada anak buahmu yang matanya juling itu, kalau mengikuti aku jangan terlalu mencolok. Agak jauh se- dikitlah! Sudah, Nyai, aku akan mengejar orang hitam itu tadi.”

Dan Aria Sampana berjalan berlenggang meninggal- kan tempat itu.

2. GADIS GALIJAO

AHIRENG berhenti. Badannya merapat ke dinding teb- ing. Tebing itu adalah punggung bukit kecil tempat Su- mur Hitam berada. Di situ gelap. Sinar bulan tak men- capainya. Suara kegembiraan di rumah Emban La- yarmega juga tak terdengar. Apalagi kegiatan di Kuri- pan.

Perlahan Ahireng menyusupkan pedang hitamnya ke kainnya. Dan melongok ke balik sudut tebing.  Sunyi. Tak ada yang mengejarnya.

Peksayomaya. Orang tadi mengenal gerakannya. Pa- dahal... rasanya tak mungkin setelah sekian puluh ta- hun orang masih mengenal gerak Burung Besi. Siapa- kah orang itu? Mengapa ia tak mengejar? Mungkinkah ia juga mengenal siapa pemakai gerak itu?

Ahireng tengadah  menyandarkan  kepala  di  dinding tebing. Pedangnya telah diselipkannya di ikat pinggang- nya. Ia mengusap muka. Muka itu basah kuyup oleh keringat, walaupun hawa begitu dingin.

Wuah! Ia tak peduli akan apa yang terjadi pada diri- nya. Tetapi... apa yang terjadi dengan Ki Gong?

Ahireng tiba-tiba tersentak dari sikap pasrahnya. Ia tidak boleh tinggal diam. Ia harus segera mengabarkan hal ini. Dan Ahireng pun segera berlari.

Ia berlari di jalan setapak. Menembus semak-semak. Mukanya yang hitam mengkilap oleh keringat tertampar pedas dahan-dahan keras.

Dan ia terus berlari.

Jelas ia menjauhi jalan ramai. Ia menuruni tebing. Hingga ke dasar, ke tepi sungai kecil yang merupakan saluran pembuangan air dari keraton.

Jalannya bukan jalan manusia. Ia menyelinap di an- tara celah sempit. Menyuruk di rerambatan rapat. Beru- lang kali menengok ke belakang. Dan yang dilihatnya hanyalah kegelapan.

Sampai kemudian ia sampai di tepi bengawan. Sea- kan tiba-tiba saja dunia terbuka di depannya. Ia me- nunduk. Mempertajam telinga. Terdengar desah air bengawan. Dan di hutan seberang suara kera liar tiba- tiba ribut.

Ahireng berlari kecil sepanjang tebing. Dan tiba-tiba berhenti.

Ada desir pasir yang tak pada tempatnya.

Ahireng langsung melompat ke dalam kegelapan bayang-bayang.

Sunyi. Kemudian...

“Untuk apa  kau  kemari?”  sebuah  suara  terdengar.

Dari kegelapan juga.

“Siapa kau?” Ahireng berbisik. Matanya nyalang. “Pergi,” suara itu tegas. “Kau yang pergi....” Perlahan Ahireng mencabut pe- dang hitamnya. Ia tak boleh membuang waktu dengan pertarungan panjang. “Hh.”

Hanya dengus itu. Dan tiba-tiba saja sesosok tubuh muncul, menebas dengan sebatang senjata panjang.

“Ugh!” Ahireng terkejut, langsung menekuk lutut sambil mengangkat pedangnya. Dencing pedang mela- wan senjata tadi terdengar nyaring. Dan Ahireng makin terkejut. Tenaga lawan begitu kuat hingga tangannya te- rasa panas.

Dengan memegang gagang pedang erat-erat dengan kedua tangannya Ahireng membabat sekuat tenaga. Lincah sekali bayang-bayang itu melompat dan senja- tanya menyambar, mendengung. Ahireng terpaksa me- lompat mundur berguling sambil langsung mengirimkan suatu tusukan. Lawannya ternyata tidak turun di tem- pat yang diperkirakannya, kembali malah balas mem- babat.

“Ugh, kau orang Galijao!” desis Ahireng. Ia mengenal gerakan gesit lawannya. Hanya itu. Itu sama sekali tak bisa menolongnya dari rangsakan serangan beruntun senjata bertangkai panjang itu.

“Karena kau tahu itu, kau harus mampus!” bayang- bayang tadi menyahut. Terdengar suaranya tetap man- tap, napasnya teratur. Sama sekali tidak terlihat betapa pertarungan itu melibatkan berbagai gerakan yang me- meras tenaga dan kelincahan. Dan kini Ahireng jadi ya- kin. Lawannya seorang wanita!

Wanita mana yang... ugh! Trang! TRANG! Pedang Ahireng terpukul lepas dari tangannya saat ia tadi se- dikit lengah!

Dan besi dingin menempel di lehernya.

“Kau sudah berani masuk kemari, dan kau tahu aku dari Galijao. Kau patut mati!” Bayangan itu menarik senjatanya sedikit mengambil ancang-ancang untuk membabat leher Ahireng.

“Jangan!” terdengar bisikan lembut. Dan mata Ahi- reng yang sudah terbelalak menantikan datangnya pa- rang melengkung di ujung tombak lawan untuk mem- babat lehernya makin terbelalak.

Dilihatnya sebutir batu kerikil. Melesat cepat. Namun cukup jelas. Membentur badan parang melengkung itu. Dan membuatnya bergetar. Dan hampir terlepas.

Ahireng cepat berguling. Melompat, menyambar pe- dangnya yang terjatuh tadi.

“Siapa?” tanya penyerang Ahireng. Dengan suara ge- metar.

Kini Ahireng bisa melihatnya. Seorang wanita berpa- kaian keprajuritan. Dengan penutup punggung terbuat dari kulit berwarna gelap.

Sunyi.

Di situ seakan hanya mereka berdua.

“Tujuh bunga terpendam di Badander,” terdengar suara lembut itu tiba-tiba. Tak tahu dari arah mana.

Tapi mendengar itu, lawan Ahireng langsung mengo- rak sikapnya. Tombak dengan ujung melengkungnya berputar dan berhenti dalam sikap menghormat di balik tubuhnya.

“Hamba tidak tahu,” katanya terdengar sangat takut. Tak terdengar apa pun lagi. Beberapa saat.

Kemudian prajurit wanita itu memberi isyarat de- ngan gerakan tangan kirinya. Mempersilakan Ahireng berlalu.

Ahireng pun tak menyia-nyiakan waktu. Ia meng- angkat pedangnya memberi hormat. Dan melompat ke dalam gelap.

Si prajurit wanita masih agak lama berdiri mematung di situ. Bagaikan bayang-bayang. Tali pengikat gelung- nya berkibar ditiup angin. Kulit kambing penutup ba- hunya tidak menutupi bentuk dadanya yang indah dan terpeta di bayang-bayang.

Dan tiba-tiba saja tubuh itu seakan meledak. Men- dadak saja ia melompat, menekuk kaki, membabat, ber- putar, membentak, dan menerjang. Gerakannya begitu cepat, namun terpatah-patah, dan setiap ayunan senja- tanya menyiarkan hawa maut. Makin lama makin cepat. Kakinya menghentak, membentuk kuda-kuda kuat.

Ia agaknya sedang berlatih. Dan seakan melam- piaskan suatu kegeraman yang terpendam. Makin lama makin geram. Makin lama makin terpendam. Makin in- gin dilepas dilampiaskan.

Sampai akhirnya. Ia meloncat tinggi. Tubuhnya ber- putar di udara. Dan tombaknya membabat berputar ba- gaikan kitiran. Kemudian menghajar sebuah batu besar di tepi sungai itu.

Benturan keras terdengar. Dan ujung batu itu terpa- pas putus bagaikan sepotong tahu. Dan sesosok baya- ngan terguling menjauh menjerit parau.

“Siapa kau?” bentak si prajurit wanita.

“Aduh, ampuuun, ampuuun, aku tak sengaja  meli- hat Tuan berlatih... sungguh... aku cuma... aku cuma bersembunyi... aku dikejar orang... sungguh!” Orang itu terbongkok-bongkok memegang perutnya. Entah ba- gaimana tahu-tahu parang melengkung di ujung tom- bak prajurit wanita itu telah melingkari lehernya.

“Namamu?” tanya si prajurit wanita.

“HHhamba... Sss...  Sampana...  ssaudagar  saja.  ”

Orang itu makin gemetar. “Tolong... hamba dike    dike-

jar orang    ”

“Sejak kapan kau ada di situ?” si prajurit wanita ber- tanya.

“Bbba... baru...  Lli...  lihat  orang  yyang  mengejar hhamba dattang.......... aduuuh... tolong.”

Sesaat Sampana merasakan parang bengkok itu me- nekan ke lehernya. Serasa leher itu sudah tembus. Te- tapi tidak. Tombak itu berputar lagi. Mengambil sikap menunggu di punggung si prajurit wanita.

Memang. Di tebing di kejauhan, sebuah obor tampak bagai berloncatan dibawa pemegangnya menuruni teb- ing. Dan suara beberapa orang berteriak. Dan suara be- berapa kaki berlari.

“Kau jangan lari!” Si prajurit mengayunkan tombak- nya. Ujung tombak menyambar ke arah kaki Sampana, tepat saat Sampana ketakutan menggulingkan tubuh ke samping. Bagai tak sengaja, gerakan itu menyelamatkan kakinya. Dan Sampana berguling lebih cepat dari ayu- nan tombak berikutnya.

Sebelum si prajurit wanita sempat mengejar, orang- orang itu telah tiba.

Mereka berempat. Lelaki-lelaki kasar. Dipimpin oleh seorang berbadan tegap yang membawa gada besi.

“Heh, kau. Minggir!” bentak orang itu, melihat tom- bak panjang yang dipegang melintang di depan dada si prajurit wanita.

“Kalian terpaksa kubunuh,” si prajurit wanita berka- ta tenang dan menggeser kaki kanannya mundur, me- masang kuda-kuda.

“Kau? Membunuh kami? Huahahaha... ekh!”  Orang itu tak sempat menyelesaikan tawanya. Tombak si pra- jurit wanita telah menyambarnya. Ia memaki, mencoba menangkis dengan gada besinya. Tetapi ujung tombak itu telah menyambar ke kiri dan kanannya. Si peme- gang obor roboh. Sesaat gelap-pekat karena obor yang dipegangnya tiba-tiba padam. Dalam kegelapan terde- ngar jeritan maut hampir serempak. Kemudian sunyi.

Ketika kegelapan  karena  silau  obor  mereda  dan  re- mang-remang kembali, tampak si prajurit wanita berdiri tegar menggosok parang di ujung tombaknya pada pasir di tepi bengawan. Sampana agaknya tak mengira si pra- jurit wanita akan begitu cepat menyudahi pertempuran- nya. Ia tadi tak segera lari karena mengira si prajurit wanita akan memerlukan bantuannya. Dan kini ia ter- perangah.

“Hei, kuberi kau kesempatan untuk lari...,” Si praju- rit wanita kini mendekatinya.

“Oh... tak kukira... kau begitu... hebat.... Hei, kude- ngar di keraton ada seorang prajurit wanita kesayangan sang Raja. Namanya... Ddd... Darmi?” Agak ketakutan Sampana bergeser ke balik sebuah batu besar setinggi pinggangnya di tepi bengawan.

“Madri. Itu aku.” Si prajurit wanita memutar tom- baknya sekali. “Kau kenal aku. Kau pun harus mati!”

“Aku kenal kau... maka aku harus mati? Belum per- nah aku mendengar peraturan macam itu. Di mana pun juga! Selama aku menjadi saudagar keliling ini... belum pernah! Dan aku sudah banyak berkeliling, lhoh! Per- nah ke Bantayan, Wandan... bahkan ke  Udamakatra- ya... kau tahu tidak bahwa...”

“Diam!” bentak Madri. “Kau harus mati!” Dalam re- mang kegelapan, tombaknya berayun. Mendengung. Sampana berteriak kaget. Cepat menjatuhkan diri. Pa- rang melengkung di ujung tombak Madri, menyisir tipis batu yang dipakainya berlindung. Saat itu pun Madri te- lah meloncat tinggi. Dan dari atas tombaknya menyam- bar lagi.

“Mati aku!” teriak Sampana. Ia menggulingkan diri lagi ke arah bengawan. Badannya sudah masuk ke da- lam air. Madri mengejar.

Dan terjadilah suatu keanehan. Setidaknya bagi Ma- dri. Tempat kakinya akan berpijak sudah sangat diperhi- tungkannya. Tetapi begitu kaki itu akan menapak, ge- rakan kaki Sampana membuat sebutir batu terlontar ke tempat itu. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Madri terpeleset!

Tidak itu saja. Sampana yang terbaring di air pinggir bengawan, seakan membabi-buta melemparkan segeng- gam pasir. Dan pasir basah itu tepat menghantam mata Madri. Pedas. Menyengat.

Kemudian... terasa tombaknya dirampas. Begitu mu- dah. Dan pangkal tombak menghantam pangkal teng- kuknya. Perlahan. Namun membuat ia pingsan.

3. SI BUYUT

RUANG itu gelap remang. Sebuah celah sempit di dalam tanah.

Agak pengap oleh bau asap biji jarak yang dijadikan pelita.

Ahireng menunduk. Terengah-engah. Pedang hitam- nya tergeletak di depannya. Ia menunduk. Dan ter- engah-engah. Bukan karena capek. Tapi ketakutan.

Wanita yang berada di depannya tak pernah dilihat- nya mukanya. Sejak dulu. Sejak ia sudah lupa. Tahu- tahu ia adalah seorang anak kecil. Dan diberi berbagai pelajaran. Berbagai ilmu. Dan ditanamkan pengertian bahwa ia adalah seorang besar. Sangat besar.

Wanita itu selalu menutup dirinya begitu rapat. De- ngan jubah yang membungkusnya dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Dan mukanya tertutup oleh bayang-bayang kerudung. Hanya matanya yang tajam bersinar menusuk. Juga suaranya. Wanita itu sungguh berilmu. Yang diajarkannya bu- kan hanya ilmu kadigdayan. Tetapi juga ilmu pemerin- tahan. Ilmu tatacara keraton. Dahulu Ahireng tak me- ngerti untuk apa ia belajar semua ini. Tetapi makin la- ma ia makin tahu. Setidak-tidaknya punya dugaan.

Wanita itu membuat ia yakin, dialah pewaris Wilwa- tikta.

“Ternyata melawan prajurit wanita itu saja kau tak mampu,” terdengar wanita itu berkata. Suram. Seram.

“Hamba memang belum siap. Dan bodoh,” Ahireng begitu sopan di sini. Suaranya pun jadi seakan terpela- jar. “Mohon diberi hukuman yang berat, ya, Buyut.”

Ia selalu memanggil wanita itu “Buyut”. Entah kena- pa. Dan sejak dulu ia tak berani bertanya. Tak berani ingin tahu. Pertanyaan tentang pelajaran diterima de- ngan senang hati. Pertanyaan tentang hal-hal sepele, dihadiahi gebukan.

“Kesalahanmu pasti bukan itu saja,” si Buyut berka- ta dingin.

“Paduka begitu berpandangan tajam,” Ahireng seolah mengeluh. “Hamba tak berani menghaturkan apa yang terjadi ”

“Tentang Ki Gong?” “Buyut begitu waskita.”

Sesaat si Buyut terdiam. Tubuhnya bergerak sedikit seolah tubuh itu bergeser untuk bisa melihat Ahireng lebih jelas.

“Terakhir kaukatakan, Ki Gong mungkin mendapat santapan seseorang yang luar biasa. Seorang ardana- reswari?”

“Begitulah. Mungkin dugaan hamba bahwa orang itu adalah ardanareswari benar... kerangkeng tempat mengulurkan korban runtuh dan... Bima mengobrak- abrik rumah hamba ” “Dan melawan tukang pukul pasar itu engkau lari?” “Bukan dia... Buyut... seseorang mengenali gerak

Peksayomaya hamba,” gemetar suara Ahireng.

“Hm...” Ternyata hanya itu tanggapan dari si Buyut.

Kemudian dia seolah menghela napas panjang. “Siapa orang itu?”

“Hamba tak mengenalnya, Buyut. Hamba begitu ter- kejut. Hamba patut dihukum....” Ahireng makin dalam menundukkan kepala.

“Kau sungguh mengecewakan. Bahkan melawan adikmu sendiri kau tak mampu,” si Buyut sekali lagi seolah mengeluh.

“A... adik hamba?” Tak terasa Ahireng berani meng- angkat muka. Tapi ia tak bisa melihat  apa-apa.  Wajah di bawah bayang-bayang kerudung itu hanya gelap- pekat. “Ddd... dia?”

“Ya. Sudah waktunya kau mulai mengumpulkan orang. Dan adikmu merupakan pilihan utama untuk membantumu. Waktunya sudah tiba. Tapi kau belum siap.”

“Adik hamba... tapi... dia orang... Galijao!”

“Kau jelas belum siap. Ada persoalan besar. Tapi kau terpukau oleh berita kecil itu. Dan kau tak memperca- yaiku? Mungkin lebih baik kau kubunuh sendiri dari- pada kelak mengecewakan dan memalukan aku,” begitu dingin kata-kata itu.

Ahireng langsung bersujud menempelkan mukanya di tanah.

“Hamba memang patut mati, Buyut! Mungkin di pe- nitisan mendatang baru bisa membuat Paduka gembi- ra!” katanya.

“Hm...” Agaknya si Buyut kehabisan kata-kata untuk memarahi Ahireng. Kembali ia terdiam.

“Apa yang terjadi dengan Ki Gong?” tanyanya kemu- dian.

Beberapa saat hening.

“Ahireng, aku bertanya padamu!” si Buyut hampir membentak.

“Ampuuun, Buyut!” Kembali Ahireng menundukkan kepala dalam-dalam.

“Ah. Kenapa justru kau yang kuperoleh....” Si Buyut menghela napas panjang. “Dan aku telah bersumpah untuk membawamu ke tahta Wilwatikta!”

Ahireng hanya bisa menunduk.

Dan tiba-tiba saja si Buyut ‘meledak’. Tiba-tiba  saja ia melabrak Ahireng. Ahireng hampir tak berjaga-jaga. Memang cukup gesit ia mengangkat tangan untuk me- nangkis. Tetapi tendangan si Buyut masuk merangsak. Menghantam, menendang. Sekali Ahireng menjerit. Te- tapi ia mengerti si Buyut sedang mengujinya. Maka di tempat sempit itu ia mencoba bergerak gesit.

Jelas sesungguhnya sia-sia. Si  Buyut  gerakannya jauh lebih gesit. Serangannya jauh lebih berat. Hanta- mannya membawa angin berwibawa prahara. Dinding pun bergetar. Namun Ahireng terus melawan.

Hanya sekitar enam belas jurus.

Dan ia roboh tak berdaya dengan jari si Buyut siap mencabut nyawanya.

“Huh. Tak ada kemajuan!” Si Buyut geram menarik tangannya. “Bahkan tenagamu pun tidak tambah.”

Mendadak si Buyut bersila di hadapan Ahireng. Ta- ngannya terulur menampar keras bahu Ahireng dan menempel di sana. Ahireng bagaikan terkena tampar keras melonjak bergerak. Duduk langsung mengambil sikap bersemadi. Ia pun mengulur tangan dan menam- par bahu si Buyut. Mereka berdua berhadapan. Ber- pegangan. Dan hening.

Tak berapa lama hawa pun terasa makin panas. Nya- la dian bergerak-gerak gelisah. Keringat mengucur dari tubuh Ahireng. Wajahnya tampak menahan rasa kesa- kitan yang amat sangat.

Tapi ia sekuat tenaga menahan rasa sakit itu. Ter- ingat olehnya tentang suatu pagi. Mungkin ingatan per- tama tentang dirinya. Mungkin saat itu ia baru berumur empat tahun. Ia masih dituntun. Oleh  si  Buyut.  Si Buyut yang bahkan waktu itu pun telah memakai jubah dan kerudung.

Ia dituntun saat matahari akan terbit. Hawa sangat dingin. Dan ia menangis. Sebagai akibatnya ia dipukul dengan lidi. Kemudian ia ditelanjangi. Dituntun di jalan berpasir. Jalan penuh pasir. Dan memang hanya ada pasir. Laut pasir. Sangat dingin. Dan pasirnya seakan merajam kakinya.

Ia berjalan sangat jauh. Sampai ke tepi sebuah ka- wah. Dengan api berkobar ganas di bawah. Mungkin saat itu ia sudah beku mati kedinginan. Dan si Buyut melemparkannya ke dalam kobaran api.

Ia menjerit keras. Keras sekali. Dan ia terengah-engah.

Si Buyut mencengkeram bahunya. Keras sekali. Te- naga panas mengalir dari cengkeraman itu. Memasuki tubuhnya. Mengalir cepat di dalam tubuh. Bergolak. Bergelora.

Ia terengah-engah.

Kemudian sayup-sayup terdengar suara gurunya, si Buyut. Lembut. Tidak membentak. Halus merasuk.

Si Buyut menyalurkan pemahaman ilmu Wajrapra- yaga.

Entah berapa lama. Ahireng kemudian merasa diri- nya begitu kosong, tetapi serasa penuh berisi. Begitu lemas, tetapi serasa segar. Begitu tak berdaya, tetapi begitu perkasa. Ia mengorak sila. Membuka mata. Ia sendiri.

Bilik di dalam tanah itu kosong.

“Terima kasih, Buyut,” ia bersujud menyembah be- kas tempat si Buyut.

Lama ia merenung. Seharusnya ia meneruskan se- madinya. Tetapi begitu banyak pikiran membuat otak- nya kalut.

Betulkah wanita dari Galijao itu adiknya? Adiknya? Apakah ia juga berdarah Galijao? Lalu bagaimana si Bu- yut merasa yakin dirinya adalah pewaris tahta Wilwa- tikta?

Kalau gadis Galijao itu adiknya... mengapa ia begitu perkasa? Siapa gurunya? Apakah si Buyut juga? Lalu, mengapa dirinya sendiri begitu... bebal?

Benarkah ia begitu bebal?

Ia mengangkat kepala. Dilihatnya bayangan dirinya di dinding. Apakah mukanya buruk? Hitam? Dan gadis itu begitu cantik? Memang. Madri berkulit gelap. Tapi cantik.

Cantik. Ah. Mengapa kemudian terpikir olehnya si Buyut. Berapakah usia wanita itu? Ia tak tahu pasti. Ia seolah mengenalnya sejak ia bayi. Tapi, kini, serasa si Buyut tak pernah mewakili suatu usia.

Dan... serasa cantik. Walaupun ia tak pernah bersi- kap manis padanya. Walaupun dia tak pernah melihat muka si Buyut.

Mungkin sudah tua. Tetapi si Buyut selalu mening- galkan suatu keharuman yang khas.

Tiba-tiba Ahireng mengangkat muka. Betulkah teli- nganya?

Sayup-sayup terdengar bentakan. Ia kenal benar. Itu suara si Buyut. Dan si Buyut seingatnya tak pernah membentak orang lain. Bahkan mungkin juga tak per- nah bertemu dengan orang selain dia.

Ahireng sekali lagi menyembah. Dan berlari ke luar.

4. MAKHLUK ANEH

TIBA-TIBA saja langit gelap.

Dua bayangan berdiri di tepi bengawan.

Seorang dengan tubuh tertutup jubah gelap seluruh tubuhnya. Jubah itu berlambaian  ditiup  angin  dingin. Si Buyut.

Dan seorang pria setengah umur yang dalam kegela- pan tampak tak menunjukkan tanda-tanda berasal dari kasta ksatria. Bahkan mirip seorang saudagar. Aria Sampana.

Dan di balik semak-semak, Ahireng menahan napas. “Aku tak tahu daerah ini terlarang... maafkan aku,”

kata Aria Sampana merendah membungkuk-bungkuk. Ahireng mengernyitkan mata di kegelapan. Betulkah itu orang yang tadi memergoki gerakan Peksayomaya-nya?

“Aku tidak melarangmu. Aku hanya ingin tahu. Kau datang dari arah sana. Dan kau mengaku tak bertemu seorang pun. Kau dusta. Dan aku paling tidak suka pendusta,” kata si Buyut.

Siapa, pikir Ahireng. Ah. Pasti Madri. Ya. Orang itu seharusnya melewati Madri.

“Aku memang tidak melihat siapa pun!” bantah Sampana.

“Dan kaubilang kau turun ke bengawan ini tanpa ke- inginan apa pun?” tanya si Buyut.

“Tepat. Aku hanya mencoba mencari jalan ke kota. Kupikir aku bisa menyeberang di tikungan itu, kemu- dian naik ke desa Gelagah. Dan sampailah aku di Ju- rang Telu. Betulkah?” Sampana begitu ramah. “Hh.”

Jawaban yang bukan jawaban. Dan dalam remang- remang malam Ahireng melihat bagian jubah sebelah kiri bawah seakan bergoyang terkena angin. Namun ia tahu. Itu bukan angin. Si Buyut akan melancarkan se- rangan.

Celakanya, orang yang di hadapannya itu tidak tahu! Atau, setidak-tidaknya begitulah menurut pandangan Ahireng. Sampana dengan santai terus berkata, “Terus terang... anu... ada sedikit persoalan... terus terang... hhh... aku tak berani lewat jalan biasa karena...  yah... ada suatu persoalan kecil ”

Saat itu si Buyut telah melebarkan kaki. Tangannya perlahan terangkat. Tangan kiri perlahan mengacung ke depan. Tangan kanan terangkat seakan untuk menam- par. Dan Sampana yang sedang asyik berceloteh pun melihat gerakan ini dan tertegun.

“He. kenapa Tuan?” tanya Sampana.

Halilintar Wajraprayaga!

Wajraprayaga adalah ilmu gaib. Wajraprayaga ada- lah ilmu yang diciptakan oleh Wajraprayaga sendiri. Wa- jraprayaga konon meninggalkan negeri bangsa berkulit hitam di Atas Angin guna menyempurnakan ilmunya— dengan cara harus membunuh gurunya sendiri. Konon pula, Wajraprayaga berhasil. Gurunya adalah Sang Agastya, gembala ular sakti dari Kapila—yang di anta- ranya menurunkan Ki Gong. Menurut kisah, Sang Agas- tya datang ke Tanah Jawa dalam rangka mengejar salah satu keturunan ular sakti Kapila tersebut. Kemudian dalam perjalanan Sang Agastya pernah menjadi guru besar di Wilwatikta. Sampai akhirnya Wajraprayaga me- nyusulnya. Dan membunuhnya. Dan berhasil menggan- tikan kedudukannya sebagai guru besar. Di istana Wilwatikta itulah Sang Wajraprayaga me- ngembangkan ilmunya, yang konon hanya diturunkan pada Pangeran Pati, sang putra mahkota, saja. Sang Wajraprayaga pun menuliskan ilmu-ilmunya itu.

Kemudian Sang Wajraprayaga lenyap. Namun buku- nya masih. Ilmunya masih. Hanya, dari tahun ke tahun ilmu itu makin pecah berhamburan.

Ada ilmu kadigdayaan. Ada ilmu peperangan. Ada ilmu ulah kewiraan.

Ahireng berpendapat, si Buyut menguasai semuanya. Dalam ilmu silatnya,  ada  Wajraprayaga  Halilintar. Ada Wajraprayaga Halimun. Ada Wajraprayaga Gunung.

Ada Wajraprayaga Air Bah.

Konon, ilmu yang berpencaran itu makin menjauhi aslinya. Kebanyakan kalangan istana menguasai yang semu-semu saja. Dengan menggunakan istilah yang makin lama makin jauh dari sumbernya.

Dan si Buyut, menurut pandangan Ahireng, mengu- asai aslinya.

Dengan pekikan melengking si Buyut melontarkan hantaman tenaga gaibnya.

“Hei, jangan!” teriak Sampana, dan secara aneh me- nekuk tubuhnya ke belakang. Betul-betul tubuhnya ba- gai patah di pinggang! Dan sinar biru yang seakan muncul dari tangan si Buyut melesat begitu saja mele- wati tempat yang semestinya adalah tempat dada Sam- pana.

“Huhh!” bentak si Buyut, memutar tubuh, mengang- kat kaki dan siap melontarkan pukulan gaib keduanya.

Wajraprayaga Gunung!

“Ampun!” Sampana berguling di pasir dan melejit le- pas saat hantaman jarak jauh si Buyut memberi perba- wa dentuman dan bumi pun serasa terguncang.

“Huhhh!” bentak si Buyut lagi, kembali memutar tu- buhnya.

“Hei, jangan pukul aku lagi!” Sambil berbaring di pa- sir Sampana melemparkan beberapa butir batu kecil. Seakan serabutan. Tapi bahkan di mata Ahireng pun tampak bahwa si Buyut terkejut.

“Huhhhh!” bentak si Buyut, agak tergesa. Tangannya berputar cepat di depan dada. Wajraprayaga Bintang!

Batu-batu itu melaju bagai peluru. Semua terhantam hancur. Namun si Buyut tampak makin terkejut. Dua butir batu hampir saja lolos menghantam dadanya. Dua kedudukan bintang terpaksa dilepaskannya untuk me- nyambar kedua batu tersebut. Akibatnya ia terhuyung mundur satu langkah. Dan tangannya terasa pedas pa- nas.

“Hei, siapa kau!” bentak si Buyut, dan diam-diam tangannya menyentil. Sebelum suaranya selesai, kedua butir batu itu telah melesat cepat mendahului. Sampa- na mungkin telah memperkirakan hal itu. Gerakannya menunjukkan ia tepat menghindar. Namun ia tak mem- perkirakan kecepatan si batu. Tahu-tahu ia merasa ha- wa panas mengancam dua titik di dadanya. Titik maut! Tak terasa ia menggenjot tenaga, dan tanpa terasa mu- lutnya berteriak “PRATAPAAAAA!”

Tak urung tubuh itu bagaikan terlanggar hantaman dahsyat. Terdorong hebat. Terbang melesat. Dan amblas di tengah bengawan yang mengalir deras. Lenyap.

Si Buyut bagai terbang melompat ke tepi bengawan. Tetapi Sampana sudah tak terlihat. Hanya golakan air hitam-pekat di tengah sana.

“Huh!” terdengar si Buyut mengeluh. Ujung jubahnya basah oleh percikan air. “Kemari kau, Ahireng!” katanya kemudian berat.

Di persembunyiannya Ahireng terperanjat. Ia tak menduga gurunya mengetahui dirinya. “Buyut?” Ragu-ragu ia keluar.

“Kau tahu siapa itu tadi?” tanya si Buyut tanpa me- noleh.

“Ttt... tidak, Buyut.... tapi... tapi agaknya dialah yang mengenali Peksayomaya-ku.” Ahireng membungkuk- bungkuk mendekat.

“Hmmm... aneh. Ia memiliki Lembu Sakilan. Dan aji- an itu hanya dimiliki oleh orang-orang sangat pilihan saja. Namun sejak lenyapnya Sang Mahapatih Gajah Mada... ajian itu tak pernah kudengar.  Anehnya  lagi, aku tak kenal mukanya. Pemilik Lembu Sakilan, siapa pun dia, pastilah kukenal. Ini aneh. Atau... mungkinkah orang itu memiliki seni tatarias yang tinggi?” Si Buyut seolah berbicara sendiri. “Lebih aneh lagi... Madri tidak muncul. Ah, gila!”

“Apa, Buyut?”

“Orang itu datang dari sana. Seharusnya ia bertemu dengan Madri. Ia tak mengaku. Dan Madri tidak mun- cul. Jadi... mungkin Madri...” Baru kali ini Ahireng me- lihat si Buyut ragu-ragu. Ia menelengkan kepala seolah ingin mendengarkan lebih jelas. Kemudian ia menang- kupkan dua buah jari di mulutnya—walau tak tampak apakah itu betul mulut atau tidak. Kemudian ia bersuit. Keras sekali. Dada Ahireng seakan hampir pecah.

Sunyi kemudian.

Si Buyut menggelengkan kepala. Tak ada sahutan. “Apakah... kita... cari?” tanya Ahireng ragu-ragu. “Kurasa tak ada gunanya,” kata si Buyut akhirnya.

“Jika ia ada di daerah sini, ia pasti mendengar. Dan da- tang. Jika ia cedera, atau tertawan, dan disembunyi- kan... membuang-buang waktu untuk mencarinya. Ayo. Kita mengunjungi Ki Gong.”

“Tapi Ki Gong...”

“Ki Gong  adalah  gurumu  juga.  Ingat?  Kita  harus memanfaatkannya selagi ia baru kenyang bersantap. Hayo!”

Si Buyut langsung lenyap. Berangkat. Sesaat Ahireng tertegun.

Memang gua tempat tinggal si Buyut sesungguhnya berhubungan dengan Sumur Hitam. Kedua tempat itu dihubungkan dengan suatu lorong bawah tanah. Na- mun lorong itu begitu banyak bercabang untuk me- ngacaukan orang yang secara tak berhak memasuki lo- rong tersebut. Itulah sebabnya Ahireng tidak pernah be- rani turun di Sumur Hitam untuk muncul di tempat si Buyut. Ia pasti tersesat!

Pada saat-saat tertentu, si Buyut membawa Ahireng ke dalam lorong itu. Ke salah satu lorong. Dan tahu- tahu sudah berhadapan dengan Ki Gong. Ini merupa- kan salah satu saat yang sangat menakutkan bagi Ahi- reng.

Di salah satu lorong itu, si Buyut akan menyihir Ki Gong untuk diam. Tidur. Kemudian ia akan mengambil sebagian darahnya. Dan dimandikan pada Ahireng.

Karena itulah Ahireng makin lama makin hitam. De- ngan maksud agar makin lama kesaktian Ahireng ma- kin tebal. Walaupun mungkin hasilnya tidak seperti itu. Mungkin ramuan yang dilemparkan Ahireng pada saat- saat tertentu pada Ki Gong kurang berkhasiat. Mungkin otak Ahireng memang bebal.

Dan itulah yang saat ini akan terjadi.

Tak ada gunanya Ahireng membantah. Si Buyut te- lah tak di depannya. Bergerak bagaikan bayang-bayang melayang di antara bebatuan dan semak-semak. Dan menghilang di dinding tebing.

Ahireng cepat mengejar.

Ia harus bergerak cepat. Si Buyut tak pernah me- nunggunya. Masuk ke celah tersembunyi tempat perte- muan mereka. Kemudian si Buyut dengan kekuatan raksasa mendorong sebuah batu besar di dinding gua. Dan Ahireng harus cepat-cepat melompat masuk celah sebelum batu itu serta-merta menutup kembali dan takkan mampu dibukanya sendiri.

Si Buyut berjalan cepat di lorong gelap. Membawa obor, memang, tetapi sangat kecil. Tubuhnya yang ber- jubah gelap bagaikan makhluk halus meluncur. Cepat, memilih lorong-lorong yang tepat. Sekejap pun tak per- nah tampak ragu.

Ahireng harus berusaha terus berada di dekatnya. Kalau tidak, sudah pasti ia akan tersesat. Begitu ba- nyak cabang, begitu banyak lorong yang hanya cukup untuk lewat tubuhnya. Semuanya mirip.

Biasanya, Ahireng mencoba untuk mengingat-ingat lorong-lorong itu, walaupun selalu tak berhasil. Tetapi kini pikirannya begitu kacau.

Tentang adiknya. Atau... adiknyakah itu?  Di  mana dia kini?

Dan tentang... ah. Sosok tubuh berjubah yang berge- rak cepat di depannya itu terlihat begitu menarik. Me- ngapa ia berpikir seperti ini? Apakah karena sejak ia ‘bertugas’ di tempat Emban Layarmega ia hanya melihat orang bermesraan, hingga kini ia pun ingin menikma- tinya. Tetapi... mengapa justru pada si Buyut ini ia ter- tarik? Padahal ia tahu si Buyut pastilah setua ibunya, kalaupun ia punya ibu. Ah.

Entah sudah berapa tikungan. Berapa cabang dile- watinya. Tahu-tahu ia berada di tempat itu.

Pastilah ini suatu tempat jauh di bawah rumah Em- ban Layarmega. Mungkin di perut bukit yang ada di ha- laman belakang rumah itu. Di sini lorong meluas men- jadi gua. Basah. Lembab. Berbau busuk. Berdinding ba- tu cadas hitam. Gua itu dasarnya hampir berbentuk lingkaran. Di tengah-tengah terdapat sebuah batu berbentuk meja. Permukaannya cukup luas untuk tidur seorang dewasa. Dan seekor ular besar.

Si Buyut meletakkan obornya ke dinding. Ahireng tahu apa yang harus dilakukannya.

Ia pergi ke meja itu. Satu per satu seluruh pakai- annya dicopotnya. Entah kenapa pula tiba-tiba kini ia merasa malu. Diliriknya si Buyut. Wanita itu sedang memusatkan pikiran untuk mengerahkan tenaga. Di dinding gua ada sebuah  batu besar nyaris bulat. Batu ini harus digeser. Dengan kekuatan sangat besar. Dan dari dalam sana akan tersebar bau sangat busuk. Ke- mudian Ki Gong sendiri muncul.

Terkadang di saat-saat seperti itu, Ahireng sangat in- gin lari saja. Kadang-kadang terpikir olehnya, baiklah, ini untuk terakhir kalinya saja. Dan ia akan melarikan diri.

Tetapi ia takut. Atau, ada rasa takut yang lebih besar lagi dari itu semua. Ia tahu, ke mana pun ia  lari,  si Buyut akan menemukannya. Dan entah hukuman apa yang akan diterimanya. Kedua rasa takut itu terus menguasai dirinya. Ya. Mungkin karena itulah kesak- tian yang diturunkan si Buyut tak pernah bisa merasuk sempurna ke dalam dirinya.

Ia tertegun. Sepotong kain terakhir masih menutupi pinggangnya. Kenapa kini ia begitu malu? Dilihatnya si Buyut toh tak memperhatikannya. Nanti, memang. Nan- ti si Buyut akan mengoleskan darah Ki Gong ke seluruh tubuhnya. Seluruh tubuhnya!

Apa perasaan si Buyut waktu itu? Tentu ia tak tahu, apa yang tergambar di wajah yang selalu tertutup ke- rudung itu. Dan usapannya pun tak menggambarkan perasaan apa pun. Ahireng lebih lama tertegunnya. Si Buyut telah men- dorong batu penutup. Ah. Inilah saat paling mengerikan bagi Ahireng. Di dinding kini terlihat sebuah lubang. Dan bau busuk mulai tersiar. Ini memaksa Ahireng un- tuk menggunakan latihan pernapasannya. Mungkin hal ini memang telah diatur oleh si Buyut.

Ada yang tidak beres.

Lubang hitam itu tetap hitam. Tidak muncul cahaya hijau yang mewakili mata Ki Gong. Tidak ada desis sua- ranya.

Mungkinkah Ki Gong sedang tidur?

Ki Gong belum juga muncul. Si Buyut pun mulai ter- lihat tergoda kesabarannya.

Tiba-tiba si Buyut melompat dan menyambar pedang hitam milik Ahireng. Kemudian ia melompat lagi ke de- pan lubang, serta memainkan pedang tersebut dengan sangat cepat. Di tangan si Buyut pedang tersebut me- ngeluarkan bunyi bersiul berlagu, melengking bagai se- ruling. Sesuatu yang memang biasa  dilakukannya jika Ki Gong kadang-kadang malas keluar.

Ki Gong masih juga belum mau keluar.

Ini sangat aneh. Ahireng memakai kembali kainnya dan melangkah mendekat.

“Ki Gong, keluar kau!” bentak si Buyut kini. Sua- ranya tidak keras. Tetapi memberi perbawa menghan- tam dada. Kalau di atas sumur sana ada orang, pikir Ahireng, pastilah merasakan perbawa itu walaupun mungkin tidak mendengar suaranya. Ah, ya. Bagaimana kalau seseorang telah menuruni sumur dan mencoba menolong Turi? Apakah kiranya ada yang berani? Ra- sanya tidak. Kalaupun ada, pasti sudah punah oleh Ki Gong. Kalaupun ada yang lolos... Ah. Rasanya tak mungkin.

“Ki Gong. Aku datang!” kata si Buyut akhirnya. Dan ia akan melangkah masuk ke dalam lubang di dinding itu.

Tetapi ia menjerit. Si Buyut benar-benar menjerit ka- get! Ini saja sudah suatu keajaiban yang sangat langka terjadi. Tapi, kalau ada sesuatu yang bisa membuat si Buyut kaget, pastilah itu bisa membuat Ahireng jatuh pingsan!

Dan memang Ahireng hampir pingsan.

Dari dalam lubang itu mula-mula muncul sesuatu makhluk. Dalam remang-remang cahaya obor yang kecil tak terlihat itu makhluk apa: seakan bulatan gelap de- ngan bulu panjang mencuat tak keruan. Saat dada Ahi- reng agak tenang, baru ia sadar bulatan itu adalah ke- pala yang sungguh menyeramkan: muka warna merah gelap, mata memancar cemerlang, dan rambut hitam. Dan tubuh yang mengikuti kepala itu tak kurang se- ramnya. Semula Ahireng menyangka, mungkin  kepala Ki Gong sudah menjadi kepala manusia seperti di do- ngeng. Tubuh itu telanjang. Mengkilap oleh sinar lemah obor. Semu merah. Semu hitam. Benar-benar telanjang. Bagaikan ular.

Tapi kemudian makhluk itu berdiri. Bersandar ke dinding gua di samping lubang itu. Dan, tampak ia pun sangat ketakutan. Dadanya yang busung terengah- engah. Dan sekali lagi tampak, seluruh tubuhnya ber- warna kemerahan.

“Siapa kau?” bentak si Buyut. Makhluk itu diam.

“Siapa kau!” bentak si Buyut, melangkah mundur menyiapkan  pedang. Siapa pun  makhluk itu,  agaknya ia telah lolos dari Ki Gong. Dan itu berarti seseorang yang luar biasa.

Makhluk itu masih diam. Matanya membelalak. Ta- kut. Gelisah. Tapi bersinar sangat tajam. Tiba-tiba si makhluk melihat Ahireng. Dan jelas tam- pak rasa terkejutnya kini bercampur malu. Tangannya ditakupkan ke dada dan ia memalingkan tubuh ke din- ding.

“Kau tidak menjawab. Berarti kau tidak ada di dunia ini!” si Buyut berkata gemas. Dengan geram ia melem- parkan pedang hitam Ahireng.

Kembali terjadi keajaiban. Kecepatan dan ketepatan melempar si Buyut jelas tak bisa ditandingi siapa pun, kecuali Dewa Indra turun ke bumi. Namun makhluk itu menjerit dan melangkah sedikit, memiringkan tubuh se- dikit, serta membungkuk. Pedang itu pun tertancap ke dinding. Bergetar panjang mendengung.

“Hei. Kau kenal Sura-caya?” si Buyut berseru heran. Ahireng ternganga. Ia pernah mendengar ilmu itu.

Betulkah makhluk itu tadi bergerak?

Si makhluk hanya membelalakkan mata.

“Kau mata-mata, ya?” Si Buyut mengubah letak kaki. “Buyut... jangan...,” hampir tak mampu Ahireng ber-

bisik.

Si Buyut tak memperhatikannya. Tiba-tiba saja tu- buh berjubah itu berputar, dan dua buah lengannya menghantam ke depan.

Bayu Wajraprayaga! Hantaman tenaga angin puyuh! Tak terasa Ahireng memejamkan mata. Pastilah makh- luk itu hancur berantakan dan darahnya memuncrat membasahi dinding gua.

“Huh!” terdengar si Buyut mendesis.

Ahireng membuka mata. Si makhluk tidak di tem- patnya. Ia berada di seberang ruangan... di atas dinding!

“Huh!” kembali si Buyut menghantam.

Angin pukulan membuat dinding gua bergetar. Tapi makhluk itu telah meloncat ke sudut. Merapat ke din- ding, ketakutan. Ketakutan! Ahireng terpukau. Sebagai orang yang mampu beberapa kali menghindar dari hantaman dah- syat si Buyut, maka sepantasnya makhluk itu paling ti- dak punya semangat—kalau bukan untuk melawan ya untuk melarikan diri. Gerakannya, walaupun sangat cepat namun sama sekali tidak menggambarkan tata- gerak silat yang dasar sekalipun. Semua lebih mirip ge- rak serta-merta saja. Tanpa dipikirkan. Namun, dengan tenaga yang dahsyat!

Agaknya si Buyut pun menyadari hal ini. Ia meng- hentikan gerakannya untuk memberi hantaman me- musnahkan. Beberapa lama wanita berkerudung itu menatap si makhluk. Kemudian ia berkata rendah, “Siapa kau?”

Makhluk itu tak menjawab. Wajahnya yang tak ke- ruan semakin tampak ketakutan. Kedua tangannya bingung menutupi dirinya.

“Siapa kau?” ulang si Buyut.

“Tunggu, Buyut!” Tiba-tiba Ahireng teringat sesuatu. Walaupun mukanya begitu seram, makhluk di depan- nya mirip Turi!

“Tt... Turi... kitakah itu?” tanya Ahireng ragu-ragu. Dan jelas terlihat, makhluk itu pun tertegun. “Tu... ri...?” ia seakan berbisik.

“Ya... kita adalah Turi, kan?” Ahireng begitu sesak bernapas.

“Turi...” Si makhluk masih ragu, makin merapat ma- lu. “Kita kenal dia?” bisik si Buyut kini.

“Yah... dia... anak buah Emban Layarmega... yang... yang dihukum untuk dimasukkan ke dalam Sumur Hi- tam...,” bisik Ahireng.

“Yang... katanyu adalah ardanareswari?”

“Yah... tapi... dia begitu berubah.” “Dia... begitu dahsyat... tapi begitu... ah, mungkin- kah...” Si Buyut menggelengkan kepala, memperhatikan si makhluk terus. Kemudian perlahan diangsurkannya pedang hitam ke tangan Ahireng. “Jaga dia. Panggil aku jika ia menyerangmu. Habisi dia kalau ia menyerang- mu.”

Dan dengan waspada si Buyut merambat ke lubang di dinding gua. Sekilas ia memandang si makhluk, ke- mudian ia lenyap di dalam sana.

Ahireng ketakutan terus mengawasi si makhluk. “Kau... Turi...,” Ahireng agak tegas berkata. “Turi...,” si makhluk seakan mengulang.

“Ya...” Sesaat Ahireng bingung. Kemudian ia me- nyambar selembar kainnya, dan dilemparkannya pada makhluk itu. Dan ternyata si makhluk tampak begitu lega. Menerima kain tadi. Dan membelitkannya di tu- buhnya. Kemudian ia berkata pelan, “Turi...”

“Ya... Turi... apa... apa...” Sesaat Ahireng bingung. Ia biasa memakai bahasa tertinggi jika berbicara dengan Turi. Apakah ia harus melakukannya? Lebih baik tidak.

“Apa yang terjadi?”

“Apa yang terjadi...?” keluh si makhluk. Memang ia yang biasa dikenal sebagai Turi. Dan sesungguhnya bernama Tari.

“Engkau dimasukkan ke Sumur Hitam...,” kata Ahi- reng, ragu-ragu.

“Ia telah membunuh Ki Gong!” desis si Buyut yang baru muncul dari lubang di dinding. Suaranya begitu dingin. “Dan ia telah membenamkan diri dalam darah ular sakti itu!”

“Hah? Ki Gong!” Tari terlihat sangat ketakutan men- dengar nama itu.

“Ya, kau membunuh Ki Gong,” kata si Buyut dengan suara dalam bergema. “ Kau... membunuh... Ki... Gong!” Suara itu seolah mendengung di telinga Ahireng. Dada- nya bagaikan dihantam palu godam. Agaknya si Buyut sedang menjalankan ilmu merebut sukma-nya.

“Aku... membunuh... Ki... Gong.... Oh. Siapa Ki Gong?” Tari kebingungan.

“Ya. Dan kau harus dihajar untuk itu! Tunduk!” ben- tak si Buyut.

“Aku... harus... di... hukum....” Tari begitu lemah. Ia berusaha melawan. Tapi kekuatan si Buyut begitu be- sar. Ia menunduk. Ia tunduk. Membungkuk.

Si Buyut seakan meledak amarahnya. Tiba-tiba saja ia melompat. Dan menendangi tubuh Tari sejadi-jadi- nya.

“Kau harus dihukum! Kau harus  dihukum!”  bentak si Buyut berkali-kali, menendang punggung Tari berka- li-kali. Tari terlempar. Tari terbanting. Tari terkapar membentur dinding. Dan si Buyut terus menghantam- nya.

“Buyut! Jangan!” teriak Ahireng.

“Mati kau! Mati kau! Mati kau!” Si Buyut tak peduli dan terus menghajar Tari.

“Buyut, jangan!” Ahireng menjerit tak tahan, gugup ia pun menubruk si Buyut dan mencengkeram tangan gurunya itu. “Jangan, Buyut... Jangan!”

“Manusia tak berguna. Minggir!” Si Buyut memutar tubuh dan menampar muka Ahireng. Ahireng terpental terbanting ke dinding. Dan diam. Terpesona. Tak berge- rak bagai pingsan.

Bukan karena pukulan itu. Tapi baru kali inilah ia berani menyentuh si Buyut dan mampu memegang ta- ngannya. Dalam keadaan setegang itu pun Ahireng me- rasakan... tangan di balik jubah panjang itu lembut. Wangi. Dan sekilas tadi terlihat pancaran mata indah di muka berkerudung yang sesaat begitu dekat dengan- nya.

“Kau tak tahu... Ah... tak guna mengatakannya pa- damu. Kau begitu tolol!” Si Buyut terdengar sangat me- nyesal sekali, berpaling menghadap dinding, menun- duk. Di sudut sana Tari terkapar dengan mata membe- lalak ketakutan.

“Ada sesuatu yang aneh pada gadis ini,” kata si Buyut, kini dengan nada datar lagi. “Dia beberapa kali menerima pukulanku. Tapi kaulihat. Dia tidak cedera. Masih utuh. Kau tahu artinya itu?”

Ahireng masih terpesona memandang si Buyut.

“He. Kau dengar kata-kataku?” geram si Buyut mur- ka.

“Oh, ampuun, Buyut... Hamba... ugh... kerongkong- an hamba rasanya... tercekik...,” gugup Ahireng mencari alasan.

“Hanya tamparan biasa, dan kau tak sanggup mene- rimanya. ” Si Buyut akan berpaling. Tapi mungkin ter-

pandang olehnya sinar mata Ahireng yang begitu meme- las. Terpikir olehnya, mungkin karena ia begitu bernaf- su menghajar makhluk aneh itu maka kekuatan yang dihantamkannya pada Ahireng terlalu berat.

“Coba kulihat,” akhirnya ia berkata, menghampiri Ahireng, membungkuk. “Pejamkan matamu!” Tangan- nya terulur meraba leher Ahireng. Ahireng tak berani ti- dak, memejamkan mata. Namun hidungnya kembali menghirup keharuman yang begitu menawan. Bukan harum wangi bunga atau minyak yang biasa dipakai oleh anak buah Emban Layarmega. Mungkin ini bau rempah-rempah atau zat-zat penawar racun. Namun te- tap saja di hidung Ahireng terasa harum. Dan sentuhan tangan yang biasa dikembangkan untuk ulah pukulan dan ulah senjata itu terasa lembut. Kemudian terasa hawa hangat penyembuhan tersalur ke kerong- kongannya.

“Engkau hanya manja!” tiba-tiba bentakan keras membuyarkan impian Ahireng. Dan kembali tamparan keras menyengat pipinya. “Ayo kembali ke atas!”

Si Buyut kembali ke tempat Tari, mencengkeram rambut gadis yang tak berbusana itu dan menyeretnya di lantai gua yang penuh batu tajam tersebut. Si Buyut bergerak cepat sekali di antara berbagai lorong, diikuti terengah-engah oleh Ahireng.

5. JNANA PICACA

DI KAPATIHAN Kuripan.

Mereka telah berkumpul sejak malam tiba. Dan kini sudah lewat tengah malam.

Agak lumayan juga Nyai Patih pandai membuat para tamu itu betah. Dengan makanan dan minuman kege- maran Rakryan Mapatih sendiri. Bahkan seperangkat mainan dadu. Serta seorang penari yang agak nakal jika Nyai Patih masuk ke Rumah Dalam.

Namun akhirnya mereka tak sabaran juga.

Mereka adalah Rakryan Tumenggung: Mpu Gaga- rang; Rakryan Kanuruhan: Mpu Gatra; dan Juru Wira Prakara yang mewakili ayahnya, Rakryan Demung.

Rakryan Mapatih mengundang mereka untuk me- rundingkan sesuatu malam itu. Sesuatu yang sangat penting, katanya.

“Wuahhh... lha kalau kita harus menunggu terus di sini... apa lebih baik kita tidur saja di Rumah Dalam, Kakang Kanuruhan?” akhirnya Mpu Gagarang berkata agak kurang ajar, setelah menguap beberapa kali. “Be- sok aku akan pergi berburu, he... Kakang Kanuruhan mau ikut apa?”

“Heheh lha mau berburu apa lho, Yayi Tumeng- gung... macan ompong seperti aku ini apa tidak malah nakut-nakuti binatang buruan      Dari jauh mereka kan

sudah  dengar  gemertak  tulang  tuaku  ini,  he  he  he....

Nduk    minumnya lagi sini!” sahut Rakryan Kanuruhan

dan mengulurkan mangkuknya pada si penari yang su- dah capek menari serta menembang dan kini merang- kap jadi pelayan di antara kantuknya yang tak terta- hankan.

“Ya susah... si Juru ini begitu bulat juga membuat takut buruan... hua ha ha ha.... Tapi yang jelas, nggak takut kelaparan kalau tersesat ya, Kakang, tinggal kita iris saja perutnya sedikit-sedikit... terus dipanggang, wuah, pasti sedap! Ayahmu dulu memberimu makan apa to, Le?”

“Seingat hamba, ya biasa-biasa saja, Uwa Tumeng- gung, tetapi memang agaknya bakat hamba untuk men- jadi seperti ini,” Juru Wira Prakara yang berbadan bulat ini masih bisa menguasai diri dan berbicara dengan lengkap.

“Huh... rasanya tak ada anak muda yang sesempur- na anakku, Ra Wirada. ” Tiba-tiba lenyap kegembiraan

di wajah Rakryan Tumenggung. Wajahnya jadi muram. Matanya berapi, dan dengan gemas dibantingnya dadu di tangannya. “Wirada...” Tangannya mengepal keras dan mendadak dihantamnya tiang agung yang disanda- rinya. Ruang pertemuan itu berderak seakan hendak roboh dan sesaat lampu-lampu yang ada hampir padam terguncang.

“Huh! Bangsat Sindura itu    belum puas jika aku be-

lum minum darahnya! Anakku lelaki satu-satunya, ca- lon pahlawan Wilwatikta.  terpaksa harus pupus oleh si

Busuk itu! Huh! Kalau pertemuan kali ini jadi berlang- sung, Kakang Kanuruhan, aku akan mendesak agar Dinda Mapatih memberi penjelasan dan keputusan: di mana Sindura kini, dan kapan ia dihukum picis. Ka- kang harus membantuku mendesak Dinda Mapatih, huh?”

Rakryan Kanuruhan tidak tunduk oleh pandang ma- ta berapi-api Rakryan Tumenggung. “Itu aku tidak tahu, Dinda Tumenggung. Dinda Mapatih punya banyak per- timbangan. Dan kurasa banyak pula benarnya. Mung- kin Dinda harus minta jaksa di Wilwatikta guna menun- tut keadilan untuk anakmu si Wirada itu.”

“Ahhh... Kakang Kanuruhan dari dulu memang ber- sikap terlalu banyak pertimbangan! Ragu-raguuuuu te- rus. Karena itu Kakang tak pernah ditimbang-timbang untuk dijadikan Mapatih, tahu! Huh. Buat keturunan pun Kakang tak mampu!” gerutu Rakryan Tumenggung yang sudah sangat dipengaruhi tuak.

Rakryan Kanuruhan hanya tertawa. “Jika kau seperti aku, Dinda, telah lolos dari maut peperangan sebanyak

56 kali, Dinda, mungkin kau pun merasa bahwa me- nikmati hidup ini suatu anugerah tak terhingga... untuk apa memikirkan yang lain? Huh. Siapa itu?”

Mereka semua mengangkat kepala dan berpaling ke halaman depan. Terdengar ada sedikit keributan di sa- na, seolah para prajurit penjaga gerbang sedang men- cegah seseorang masuk. Kemudian di remang-remang halaman depan itu tampak sesosok bayang-bayang ter- huyung mendatangi.

“Wuah! Dinda Patih!” Rakryan Kanuruhan terkejut dan cepat bangkit menyambut kedatangan orang tadi, yang memang adalah Rakryan Mapatih Kuripan.

“Dinda basah kuyup tetapi begini panas!” seru Ra- kryan Kanuruhan heran saat ia menyambut tubuh Ra- kryan Mapatih yang akan roboh. “Prajurit! Cepat hatur- kan berita ini pada gustimu di Rumah Dalam, dan siapkan tempat istirahat!”

Para punggawa yang masih jaga segera juga ber- hamburan sibuk.

“Aku tidak apa-apa, Kakang... maaf, terlambat...” Rakryan Mapatih akan mengatakan sesuatu, tetapi ia kemudian terkulai pingsan di tangan Rakryan Kanuru- han.

“Dinda Tumenggung...” Rakryan Kanuruhan minta bantuan.

“Biar kubantu, Uwa,” Juru Wira Prakara menye- diakan diri. Dan berdua mereka mengangkat Rakryan Mapatih ke Rumah Dalam.

Rumah besar itu segera saja begitu sibuk.  Tetapi Nyai Mapatih cukup tenang. Dan ketika semua sudah siap, ia pun mengundurkan diri, meninggalkan sang suami beserta ketiga tokoh utama Kuripan itu—wa- laupun Juru Wira Prakara hanya mewakili ayahnya.

Pintu bilik bergeser. Juru Wira sangat terperanjat. Tidak demikian dengan Rakryan Kanuruhan dan Ra- kryan Tumenggung. Seperti dugaan mereka, Ki Wadda, tabib terkenal di kota itu, muncul. Ki Wadda menyem- bah tiga kali baru maju dan memeriksa Rakryan Mapa- tih dengan teliti.

Kemudian Ki Wadda termenung. Lama. Menggeleng- kan kepala. Dan membungkuk untuk memeriksa jempol kaki Rakryan Mapatih.

Kembali ia termenung. Memejamkan mata.

“Kenapa beliau, Kakek Obat?” tanya Juru Wira tak sabar. Seperti anak-anak keluarga terpandang lainnya, sedari kecil Juru Wira ini memang dipegang oleh Ki Wadda. Dan nama yang diberikan anak-anak pada ta- bib tua ini memang ‘Kakek Obat’. “Kau tak mampu me- nyembuhkannya?” “Juru, kau bukan anak kecil lagi,” tegur Rakryan Kanuruhan berbisik. Maksudnya, Juru Wira seharus- nya lebih bisa menahan diri. Dan, tidak memakai kata- kata kekanak-kanakan itu. Apalagi, dengan  kalimat yang terlalu menantang itu.

“Rasanya hamba memang takkan bisa menyembuh- kan Gusti Mapatih, Gusti Rakryan,” terdengar suara Ki Wadda bagai bisikan angin, mendesis di antara kumis putihnya yang berhamburan. “Benar, Gusti... Gusti Ma- patih agaknya mendapat hantaman dahsyat. Berkat ke- saktian beliau, maka dari luar tak terlihat  kerusakan apa pun. Tetapi bagian dalam tubuhnya banyak yang rusak. Dan keracunan oleh suatu hawa yang aneh.”

Baru sekarang Rakryan Kanuruhan tampak terkejut. Ia menyembah sekali pada tubuh Rakryan  Mapatih yang berbaring itu dan memegang pangkal lehernya. Ia berpikir lama. Kemudian mengangguk. “Kau benar, Wadda, Sang Mapatih agaknya baru bertempur. Teta- pi... siapa di negeri ini yang sanggup mencederai beliau separah ini?”

Rakryan Kanuruhan saling pandang dengan Rakryan Tumenggung.

“Kita harus segera menghaturkan hal ini pada Sang Raja,” bisik Rakryan Tumenggung.

“Malam ini juga? Dengan kemungkinan mati digan- tung karena mengganggu ketenangan Baginda beradu?” balas Rakryan Kanuruhan. Dan tiba-tiba keduanya ber- paling pada Juru Wira Prakara.

“H...hh... hamba?” tanya Juru Wira Prakara terga- gap.

“Dinda Rakryan Tumenggung benar,” bisik Rakryan Kanuruhan. “Betapapun, Wira Prakara adalah saudara selir terkasih Baginda. Walaupun telah tiada.”

“Inilah kesempatan bagimu untuk menonjolkan diri, Juru,” bisik Rakryan Tumenggung. “Sudah waktunya negeri ini mempunyai seorang rakryan yang masih mu- da. Siapa lagi kalau bukan kau!”

“Baik... baiklah  ” Juru Wira Prakara masih bingung

tampaknya. “Tapi   apa yang harus hamba katakan?”

Rakryan Tumenggung menggaruk-garuk bagian be- lakang telinganya. “Ya. apa?”

“Tidak dapatkah kau membuat Gusti Mapatih sa- dar?” tanya Rakryan Kanuruhan pada Ki Wadda.

“Dapat, tetapi mungkin akan sangat mengganggu kekuatan beliau nantinya,” bisik Ki Wadda. “Bukankah Paduka hanya ingin mengetahui apa yang terjadi pada beliau? Dari mulut beliau sendiri?”

Sesaat Rakryan Kanuruhan terdiam. Dipandangnya Ki Wadda beberapa lama. Kemudian ia berpaling pada tubuh Rakryan Mapatih yang terbujur bagai tidur di de- pannya. Dan ia menghela napas panjang.

“Maksudmu dengan... Jnana Picaca?” bisiknya per- lahan, tangannya meraba jenggotnya yang panjang. “Kau sadar akan akibatnya, jika itu kaulakukan pada gustimu Mapatih?”

Ki Wadda tertunduk. Jnana Picaca adalah ilmu sim- panannya. Semacam ilmu hipnotis di mana ia memasu- ki raga seseorang untuk menyuruh orang itu berbicara. Jika orang itu memiliki tenaga kejiwaan yang kuat, be- sar kemungkinan ‘jiwa’nya sendiri takkan bisa kembali. Jelas Rakryan Mapatih seorang yang punya kekuatan, batin besar.

“Hamba sadar akan hal itu, Gusti,” sembah Ki Wad- da. “Namun, hamba kira keterangan Gusti Mapatih jauh lebih penting dari nyawa hamba.”

“Hmmm... dan kau sadar bahwa gustimu Mapatih jauh lebih penting darimu?” tanya Rakryan Kanuruhan lagi. “Hamba tahu itu, Gusti, dan hamba sanggup me- ngorbankan diri hamba daripada membuat Gusti Mapa- tih cedera,” sembah Ki Wadda.

“Baiklah. Jika sesuatu terjadi denganmu, aku akan mengurus seluruh keluargamu. Rakryan Tumenggung dan Juru Wira Prakara menjadi saksinya,” kata Ra- kryan Kanuruhan.

“Terima kasih, Gusti,” sembah Ki Wadda.

“Mulailah.” Rakryan Kanuruhan mundur hingga ber- sandar ke dinding. Rakryan Tumenggung mengikutinya. Sesaat Juru Wira Prakara kebingungan. Tetapi kemu- dian tubuh bundar itu pun mundur.

Ki Wadda telah mengeluarkan berbagai peralatan da- ri kantongnya. Dan sesaat asap dupa telah mengepul membuat wangi udara di situ, dan ia pun khusyuk ber- semadi.

“Apa yang terjadi, Paman?” bisik Juru Wira Prakara pada Rakryan Tumenggung.

“Kau diam, Juru, jika sampai Ki Wadda terganggu, bisa berbahaya bagi Sang Mapatih!” bisik Rakryan Ka- nuruhan sambil memelototkan matanya.

Juru Wira Prakara terdiam.

Sunyi. Di kejauhan sayup-sayup terdengar suara ayam jantan berkokok.

Ki Wadda masih menggumam dan memejamkan ma- ta di depan kepulan dupa.

Juru Prakara jadi salah tingkah.

Dan tiba-tiba...  kepala  Rakryan  Mapatih  bergerak.

Matanya terkejap.

Dan ia berbicara!

“Kakang Kanuruhan... Dinda Tumenggung... Kakang Demung...,” bisiknya lirih.

“Ayahanda tidak hadir, Paman...,” gugup Juru Wira Prakara berkata. Namun ia langsung terdiam disodok oleh Rakryan Tumenggung.

“Dinda Mapatih, jangan buang-buang tenaga... apa yang terjadi?” tanya Rakryan Kanuruhan. Kepada Ki Wadda.

“Orang itu, pastilah yang memakai julukan Dewi Candiku, ...Candika...,” bisik Rakryan Mapatih lemah. “Di bengawan... antara Gelagah danJurang Telu.... Dia... sangat... sakti... Ugh!” Tiba-tiba Rakryan Mapatih terba- tuk. Dan Ki Wadda muntah darah!

“Kakek Obat!” Gugup Juru Wira Prakara hendak bangkit. Tapi tubuhnya yang bundar itu membuat ia sulit bergerak. Dan sebelum bangkit Rakryan Tumeng- gung telah mengulurkan tangannya yang kurus kering namun bertenaga untuk menekan orang muda itu.

“Perintahkan pasukan mengepung daerah itu     Ka-

lian takkan punya panglima yang bisa mengalahkan- nya... paling tidak usir dia... jaga keluarga istana    min-

ta bantuan ke Wilwatikta.... Lepaskan Sindura... dia ti- dak bersalah.... Madri adalah anak buah Candika.  Pas-

ti Madri yang membunuh Dewi Malini... dan Wirada    ”

Rakryan Mapatih berbicara cepat sekali walaupun tanpa tenaga.

“Sindura tak bersalah? Tak mungkin!” bantah Ra- kryan Tumenggung.

“Aku tawan Madri    kusembunyikan di dekat daerah

itu... carilah.... Lepaskan Sindura... suruh dia mencari adiknya... Tun... Tun Kuma... Ugh! Ugh!” Kembali Ra- kryan Mapatih terbatuk-batuk. Kembali Ki Wadda mun- tah darah. “Tanya... tanya Emban Layarmega.   awasi

dia... dia punya... pasukan terpendam... mungkin dia...

salah satu mata rantai Darma Putra... Ugh! Ugh! Ugh!” Batuknya menjadi-jadi. Dan Ki Wadda yang memejam- kan mata pun menjadi-jadi memuntahkan darah. Dan roboh! Bahkan kedua rakryan tua itu pun terkejut. Tetapi mereka sanggup mengekang mulut, tidak seperti Juru Wira Prakara yang menjerit keras dan... ikut roboh ter- pental ke samping!

Sunyi. Rakryan Mapatih terbujur diam. Ki Wadda terbaring dalam kubangan darah muntahannya. Juru Wira Prakara telentang dalam kedudukan yang aneh: kedua kakinya di atas dan dalam keadaan bersila.

Beberapa saat berlalu. Kemudian Rakryan Kanuru- han menyembah sekali, berjalan jongkok memeriksa Rakryan Mapatih. Agak lama ia memeriksa leher Sang Mapatih. Dan ia mengangguk-angguk, berpaling pada Ki Wadda.

“Bagaimana, Kakang?” bisik Rakryan Tumenggung. “Ki Wadda menjalankan tugas terakhirnya,” bisik

Rakryan Kanuruhan. “Dinda Mapatih... mungkin terto- long... tapi kurasa macan Kuripan itu takkan bertaring lagi. Sehebat itukah Dewi Candika?”

“Kakang percaya akan apa yang dikatakannya... ten- tang Sindura, Wirada... Madri?” tanya Rakryan Tumeng- gung.

“Aku percaya,” Rakryan Kanuruhan berkata perla- han. Berjalan berjongkok ia mencoba menegakkan kem- bali duduk Juru Wira Prakara. Ia harus menggunakan tenaga. Dan Juru Wira Prakara duduk tanpa sadarkan diri. Rakryan Kanuruhan menggelengkan kepala berpa- ling pada Rakryan Tumenggung lagi.

“Dinda Mapatih memang punya harapan pada Sin- dura, tetapi itu tidak akan membutakan rasa keadilan- nya. Lagi pula, ia tahu ini kesempatan satu-satunya un- tuk menyatakan apa yang dilihatnya. Sebenarnya. Jadi, kuharap Dinda bisa menerima kenyataan ini. Tentang Sindura. Tentang Wirada. Tentang... Candika.”

Rakryan Kanuruhan mengepalkan tinju. “Kalau Din- da Tumenggung tak berkeberatan, biar aku yang me- mimpin pasukan ke bengawan itu. Untuk itu... aku ter- paksa meminjam pasukanmu. Dan pasti pasukan Kapa- tihan juga ingin membalas aib ini.”

“Aku bisa pergi dengan Kanda,” kata Rakryan Tu- menggung.

“Kurasa, Dinda lebih baik pergi ke Wilwatikta. Meng- haturkan ini semua pada Sang Mahapatih. Minta petun- juk beliau. Dan minta pembebasan Sindura. Rasanya Kuripan akan betul-betul kosong tanpa anak muda se- perti Sindura. Dan... ah...” Rakryan Kanuruhan meng- hela napas panjang. “Yah... sesungguhnya Wirada dan Sindura bisa bergabung untuk menjadi bintang kembar Kuripan.”

“Kalau memang anakku tewas oleh Candika, sela- yaknya jika aku berusaha membalas sakit hatinya. Atau menyusul dia lewat tangan yang sama.” Gigi Rakryan Tumenggung gemertak.

“Karena itulah, lebih baik kau yang ke Wilwatikta. Kau akan sangat dipengaruhi perasaanmu. Sementara orang Wilwatikta akan lebih yakin akan keputusan pembebasan Sindura karena kau sendiri yang memin- tanya.”

“Aduuuuh... apa yang terjadi?” Kata-kata Rakryan Kanuruhan terputus oleh bangunnya Juru Wira Praka- ra yang kemudian langsung melompat mundur melihat keadaan Ki Wadda.

“Paman... Uwa... apa yang terjadi?” tanyanya gagap. “Tidak apa-apa... Uwamu mendongeng dan kau terti-

dur,” kata Rakryan Tumenggung ketus.

“Kau cepat pergi ke Rumah Dalam. Minta Bibimu un- tuk merawat Sang Mapatih. Kemudian minta para pim- pinan pasukan Kapatihan berkumpul di depan. Kau mengerti itu semua? Nah, kau tunggu aku di depan. Be- rangkatlah.”

Masih kebingungan Juru Wira Prakara berangkat. “Dinda Tumenggung, aku minta Dinda memerintah-

kan tiga pasukan Dinda berkumpul di alun-alun. Dua kelompok pasukan lagi harus mengiringi Dinda ke Wil- watikta. Berangkatlah sekarang juga. Aku akan meng- hadap Sang Raja sebelum berangkat ke bengawan. Dan akan kuhaturkan apa yang terjadi.”

“Baiklah. Jika Kakang sanggup, jangan bunuh Can- dika itu. Aku akan sangat berutang budi pada Kakang, jika aku sempat menyiksanya,” kata Rakryan Tumeng- gung geram.

“Akan ku usahakan, Dinda. Walaupun mungkin un- tuk itu kepalaku akan menggelinding. Berangkatlah.”

Kedua rakryan itu saling memegang bahu.

6. SIASAT NYAI TUMENGGUNG

AYAM berkokok untuk ketiga kalinya saat kuda Ra- kryan Tumenggung memasuki halaman rumah Ketu- menggungan. Dua orang prajurit yang terbangun dari tidur mereka oleh gedoran tinju pengawal Rakryan Tu- menggung segera memegangkan kendali kuda itu.

“Panggil Lengsong, Pasong, dan Lobar,” perintah Sang Tumenggung entah pada siapa. “Palana dan Mayang suruh masuk ke dalam.”

Dan tanpa menoleh lagi Sang Tumenggung bergegas masuk ke Rumah Dalam.

Walaupun matahari belum terbit, Nyai Tumenggung telah berdandan rapi berbau wangi, duduk di Ruang Dalam, menunggu. Empat orang selir juga ada di sana, segar dan harum. Nyai Tumenggung yang tua itu lang- sung menyambut kedatangan Rakryan Tumenggung, membawanya ke tempat duduk yang beralaskan belu- dru. Para selir yang muda-muda dan cantik-cantik itu agaknya sudah terlatih. Seorang segera membasuh kaki Sang Tumenggung dengan air mawar hangat. Seorang menghaturkan minuman mengepulkan asap. Seorang membawakan kain lembut penyeka keringat. Sementara seorang lagi menunggu dengan nampan berisi juadah.

“Pergi semua! Kecuali Nyai Tumenggung,” Rakryan Tumenggung menggeram. Kata-kata yang sangat lain dari biasanya ini membuat semua yang ada di situ ter- cengang. Tetapi kerdipan mata Nyai Tumenggung mem- buat semua segera bergegas pergi.

“Selamat datang Kiai, apa kiranya yang  membuat Kiai begitu muram?” bisik Nyai Tumenggung setelah semua orang pergi. Ia pun menyembah dan bangkit un- tuk memijit-mijit bahu suaminya.

“Siapa sebenarnya Candika itu?” kata Rakryan Tu- menggung bagaikan mengeluh. “Dia membuat keka- cauan saat kita merasa hampir siap. Ini sangat menga- caukan rencana.     Di satu pihak, mungkin ia membuat

Wilwatikta lemah. Di pihak lain    ia juga membuat Wil-

watikta berwaspada. Dan mencurigai siapa pun. Juga, seandainya kita berhasil, ada di pihak manakah dia?”

“Bagaimana kalau  kita  ajak  saja  dia  bergabung...

kemudian toh lebih mudah menyingkirkannya setelah kita berhasil nanti, karena saat itu kita kan sudah tahu siapa dia.”

Sesaat Rakryan Tumenggung memejamkan mata. “Kau sudah tua, Nyai, tidak sesegar selir-selir itu. Tapi otakmu sungguh cantik! Pikiran yang sangat bagus.”

“Ah, soal seperti itu Junjungan sendiri pasti bisa memikirkannya.” Nyai Tumenggung tersenyum. “Apa- kah ada kesulitan lainnya, Kiai? Apa lagi yang dibuat si Candika itu hingga mengurangi selera Kiai?” “Candika mungkin tidak akan semudah itu kita ti- pu.” Sang Tumenggung mengerutkan kening. “Ia berha- sil membuat Rakryan Mapatih cedera dalam.”

“Hah? Benarkah?” Nyai Tumenggung benar-benar terkejut.

“Ya. Dan saat ini, Rakryan Kanuruhan sedang me- nyiapkan pasukan untuk mengusik Candika. Jika  be- nar Candika yang melumpuhkan Rakryan Mapatih, ku- rasa tugas itu takkan berhasil. Dan karena itu pulalah aku harus ke Wilwatikta. Minta bantuan dan minta agar Sindura dibebaskan.”

“Sindura dibebaskan?” Nyai Tumenggung begitu ter- kejut hingga berhenti memijit.

“Ya. Madri ternyata adalah antek Candika. Karena- nya Rakryan Mapatih berpendapat kesaksian Madri da- hulu dusta. Berarti Sindura tak bersalah.”

“Wah, anak muda itu mampu jadi penghalang, Kiai. Baik bagi gerakan kita yang gelap ataupun gerak maju Kiai di Istana.”

“Aku tahu, Nyai    Apa yang bisa kulakukan?”

“Mungkin Kiai mesti minta tolong si Buyut,” kata Nyai Tumenggung dengan hati-hati.

“Ah?” Rakryan Tumenggung menelengkan kepala. “Toh Kiai juga harus memberi tahu beliau tentang

perkembangan Candika. Ya. Mungkin bisa Kiai usulkan, agar si Buyut menolong Candika yang sebentar  lagi akan digempur pasukan Wilwatikta. Dengan demikian...

bukankah Candika akan berutang budi hingga mungkin mau bergabung?” Nyai Tumenggung mengulurkan mangkuk minuman hangat yang diterima sambil terme- nung oleh Rakryan Tumenggung. “Atau kalau perlu, hancurkan sekalian Candika itu! Atau kita pancing agar Sindura terjebak oleh Candika. Selesai semuanya, bu- kan? Tak perlu Kiai terlalu bingung? Atau si Buyut sen- diri bisa membereskan Sindura. Semuanya terserah si Buyut. Tapi Kiai sudah mendirikan jasa dengan mem- berinya berita dan usulan ini, bukan? Nah, tunggu apa lagi?”

“Nyai... kalau saja umurmu tak usah  tambah,  dan kau masih semuda dan secantik dulu... akan kuusir se- mua selirku....” Rakryan Tumenggung kini tersenyum dan memegang tangan Nyai Tumenggung yang memijit- nya. “Aku akan ke Wilwatikta. Kau ingin kubelikan apa di sana?”

“Ah, Kiai... aku sudah tua. Kurasa aku tak perlu apa- apa. Hanya... maukah Kiai memikirkan permintaanku tentang si Rami?”

“Hm...” Tiba-tiba wajah Rakryan Tumenggung mu- ram. Dan melihat ini Nyai Tumenggung buru-buru me- nekuk lutut dan menyembah.

“Maafkan hamba, Kiai... mestinya hamba tahu ini bukan waktunya membicarakan tentang hal itu. Hanya menurut hamba, selir Paduka yang satu itu merasa ter- lalu Tuan kasihi hingga berani kurang ajar pada hamba. Tapi, biarlah lain kali saja hal itu kita bicarakan ”

“Tidak, Nyai, kau benar. Sepulang aku dari Wilwatik- ta, aku akan menyuruh pulang si Rami itu. Mulai seka- rang pun, ia harus tinggal di Rumah Luar saja,” kata Rakryan Tumenggung dengan nada berat.

“Paduka memang sangat bijaksana, Kiai. Apakah bo- leh hamba ambilkan seekor burung untuk mengirimkan pesan Kiai pada si Buyut?” kata Nyai Tumenggung ter- senyum.

“Tepat sekali, Nyai. Ambillah!” 7. DI PASANGGRAHAN

AHIRENG membuka matanya sambil menghirup dalam- dalam hawa sejuk pegunungan ini. Matahari pagi me- nyinari tubuhnya yang hitam berkilauan oleh keringat. Sekitarnya alam hijau segar. Langit pun  biru  dalam. Dan harum bunga liar memenuhi udara.

Ini memang di pegunungan. Semalaman tadi ia, si Buyut, dan makhluk aneh yang ia tahu bernama Turi itu harus mengadakan perjalanan cepat. Menurut perhi- tungan si Buyut, tepi bengawan tempat mereka sembu- nyi itu tak ada lagi gunanya, toh Ki Gong telah tiada. Dan ada kemungkinan orang akan datang untuk me- nyelidiki kematian orang-orang yang dibunuh Madri itu. Tempat ini bagaikan tempat peristirahatan keluarga bangsawan. Besar, teratur rapi. Dengan beberapa pe- layan yang aneh: bertubuh kasar, tinggi besar, berwajah seram, tak pernah berbicara. Tapi semua takut pada si

Buyut.

Ahireng selesai berlatih. Dan ia melompat ke pagar kayu yang mengurung halaman tempatnya berlatih. Ia bertekad untuk menempa dirinya sebaik mungkin... ka- rena ia tak usah lagi menunggui Ki Gong di tempat Em- ban Layarmega.

Oh. Belum pernah ia berada di tempat seindah dan sesejuk ini. Dan luas sekali.

Ahireng melompat turun di luar pagar. Segera dide- ngarnya seseorang melompat di belakangnya. Terkejut Ahireng berpaling.

Ternyata Ki Prutung, salah seorang pelayan yang agaknya merangkap menjadi pengawal.

“Oh. Selamat pagi, Ki. Aku mau jalan-jalan, ya?” sa- pa Ahireng ramah. Ki Prutung tidak menjawab. Ia hanya menuding ke balik pagar.

“Oh, aku harus kembali ke sana?” tanya Ahireng se- telah tertegun sesaat. “Nanti sajalah, Ki, aku mau jalan- jalan dulu. Hitung-hitung latihan!”

Kembali Ki Prutung menuding ke dalam.

“Tidak, Ki. Si Buyut juga tidak ada. Biar aku jalan- jalan.”

Ki Prutung bersedekap di hadapan Ahireng. Kembali menggelengkan kepala.

“Hei, kalau kau bersikeras melarangku, aku nekat la- ri, lho!”

Ki Prutung agaknya bersikeras.

“Baiklah kalau begitu, bersiaplah untuk menahan- ku.” Ahireng melompat ke pinggir. Dan tahu-tahu Ki Prutung telah ada di hadapannya. Cepat ia memutar tubuh, melompat ke arah yang berlawanan. Ki Prutung pun ada di sana.

“Kau mau main-main, ya?” geram Ahireng. Dan ia mulai melakukan langkah-langkah dasar Wajraprayaga- nya. Heran, Ki Prutung dengan gerak mantap mampu mengimbanginya.

“He, hebat kau ya!” seru Ahireng, mulai menambah tenaga dan kecepatan gerakannya. Dan makin lama ia makin gembira. Memang Ki Prutung bisa melayaninya, tetapi jelas bahwa makin lama ia berhasil menindih orang seram itu. Makin lama ia makin merasa yakin bahwa sesungguhnya ia menguasai ilmunya dengan baik. Hanya, sedari dulu ia hanya berlatih dengan si Buyut. Karenanya ia merasa selalu salah. Sampai-sam- pai saat menghadapi... adiknya? Ia juga terdesak terus. Kini tanpa beban ia merangsek Ki Prutung. Dan terlihat kini betapa kegagahan Ki Prutung makin lama makin tertekan, sampai akhirnya rangkaian pukulan dan ten- dangannya membuat pelayan merangkap pengawal itu sama sekali tak berkutik!

“Sudahlah!” Tanpa pedang, Ahireng melakukan gerak Peksayomaya. Tubuhnya mendadak melesat ke udara, berputar dan mendarat jauh dari tempat Ki Prutung. “Kalau mau berlatih ilmu lari, ikutilah aku!”

Ahireng sedang gembira. Tubuhnya melesat cepat seolah tidak mengambah tanah. Sekilas ia melirik ke be- lakang, Ki Prutung memang berusaha mengejar, tetapi rasanya tak akan mampu. Baiklah. Ia akan berlari sam- pai ke puncak bukit sana itu, kemudian meluncur ke jurang di baliknya, dan jika ia berlari ke arah kanan mengikuti punggung bukit, pastilah ia akan sampai di pasanggrahan tadi.

Ahireng berlari dan makin gembira akan kemajuan- nya sendiri. Mungkin dari dulu persoalan dengannya hanya rasa kepercayaan diri. Lihat, betapa ia bisa mele- sat di antara pepohonan hampir tanpa menyentuh da- han sedikit pun. Kemudian menerobos semak-semak tanpa bersuara. Dan... he, dia sudah sampai di puncak bukit.

Di mana Ki Prutung? Pasti jauh entah di mana.

Hmm. Pemandangan di sini lebih indah lagi. Jurang padas hitam mengkilap tampak jauh di sana. Pohon- pohon rimbun. Angin sejuk membuat badannya yang panas karena berlari tadi terasa segar. Dan merdunya angin... he, apakah ia mimpi? Ia serasa mendengar merdunya suara seorang gadis menyanyi. Menyanyi di tengah hutan di puncak gunung ini? Pastilah itu per- mainan khayal belaka.

Tapi tidak. Ia yakin suara itu ada. Mungkin dari jauh... dibawa angin.... Ah. Agak jauh dari tempatnya berdiri terlihat suatu kepulan tipis asap atau uap. Ahi- reng pernah dengar tempat ini memang memiliki ba- nyak sumber air panas. Tapi mana mungkin ada seseo- rang mandi di sumber air panas yang terpencil seperti ini? Mungkinkah peri?

Atau bidadari?

Ahireng tak berpikir lagi segera berlari ke arah kepul- an uap itu.

Ternyata tempat tersebut tak semudah dicapai se- perti yang dilihatnya tadi. Ia harus berloncatan di anta- ra jurang-jurang kecil, berjumpalitan di dahan raksasa, menerobos semak-semak berduri.

Dan tiba-tiba saja Ahireng tertegun.

Jika tadi berada di dunia penuh kehijauan, tiba-tiba saja di depannya membentang dunia merah: bunga- bunga besar merah terhampar, dengan berbagai semak berdaun kemerahan, dan asap yang mengepul dari se- buah sumber air panas.

Dan... di sumber air panas itu!

Sumber air panas itu sendiri agaknya ada di dinding jurang kecil itu. Mancur menggelegak ke kolam kecil di bawahnya, mengepulkan asap bagai tabir putih.

Kolam itu cukup besar. Dan indah karena beberapa semak di pinggir kolam agaknya tahan panas dan men- julurkan dahannya ke air, penuh pula dengan bunga- bunga berwarna merah berbentuk semburan bintang. Di antara hijaunya daun, merahnya bunga, dan tabir asap putih itu suatu pemandangan membuat jantung Ahireng seakan langsung lumpuh.

Seorang wanita sedang menikmati mandi di ke- hangatan air kolam itu. Dari tempat Ahireng terlihat be- tapa indah tubuh wanita itu, betapa halus mulus kulit- nya, saat ia merendamkan diri hingga ke batas pung- gung. Memang, sayang sekali wanita itu selalu membe- lakangi Ahireng, tetapi dari bentuk tubuh dan mulus- nya kulit, Ahireng bisa membayangkan bahwa wanita itu masih muda dan cantik!

Ahireng betul-betul menahan napas, takut kalau sampai deburan jantungnya terdengar oleh si wanita. Ingin rasanya ia maju mendekat setiap saat wanita itu membenamkan diri hingga tinggal rambutnya yang hi- tam-legam kemilau itu saja yang tampak mengambang di air.

Tetapi... betulkah itu manusia?  Manusia,  secantik itu, selembut itu, berani bersendirian di tempat seliar ini? Tak ada siapa pun atau apa pun yang tampak di sekitar tempat itu. Hanya dekat tepi kolam, di antara semak-semak merah yang tinggi, Ahireng seperti meli- hat setumpuk kain berwarna kelabu. Mungkin juga pa- kaian peri, atau bidadari ini.

Ah, coba menoleh kemari barang sesaat, pikir Ahi- reng.

Harapannya mungkin akan terkabul. Wanita itu ber- jalan di air setinggi dadanya untuk mendekati tempat pakaiannya. Pasti nanti ia harus naik ke darat. Pasti paling sedikit ia akan menoleh kemari.

Seakan mendengar kata hati Ahireng, wanita itu ti- ba-tiba berhenti. Dan membenamkan diri hingga wa- laupun kemudian ia memang menoleh ke arah Ahireng, mukanya tertutup oleh semak-belukar. Hanya matanya yang bulat, hitam, berkilau bening di antara semak- semak merah itu.

Oh. Apakah dia telah mengetahui kehadirannya? ke- luh Ahireng.

Untung. Ternyata tidak. Atau... entahlah. Tapi di ke- jauhan ia memang mendengar seseorang berteriak. Ma- sih sangat jauh. Tapi jelas mendatangi.

Si Prutung itu! keluh Ahireng. Perlahan ia mencoba memutar kepalanya untuk melihat ke arah suara Pru- tung tadi. Masih jauh, dan ia memang tersembunyi, te- tapi sungguh berabe jika ia kepergok melihat orang se- dang mandi.

Agaknya si Prutung salah jalan. Suaranya seperti menjauh kini. Sedikit lega Ahireng menoleh kembali ke kolam air panas di bawahnya itu. Dan ia terperanjat. Orang itu sudah tak ada! Tempat itu sunyi. Kosong.

Hampir Ahireng tak berani bernapas. Bagaimana ka- lau wanita itu tiba-tiba ada di sampingnya atau di bela- kangnya. Ia sama sekali tak berani bergerak.

Sesaat. Dua saat. Ia menunggu. Tak ada suara apa pun kecuali desir air panas di bawah itu dan teriakan Prutung yang makin jauh. Agaknya tersesat bangsat itu, geram Ahireng. Perlahan Ahireng melirik ke sekeliling- nya.

Tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.

Ahireng bangkit. Mungkinkah itu tadi memang bida- dari yang kini sudah terbang pergi? Ia bergerak lagi. Tak ada suara lain. Ia berdiri. Masih sunyi. Suara Prutung sudah tak kedengaran lagi. Ahireng memberanikan diri keluar dari semak-semak. Selangkah. Dua langkah. Ah. Kenapa ia begitu berhati-hati. Ia pun melompat turun. Berlari cepat mendekati kolam. Dan berhenti mema- tung.

Tak ada tanda apa-apa di sana. Ahireng melompat ke tepi kolam. Memperhatikan tanah dengan saksama. Tak ada barang terjatuh sedikit pun.

Ah. Ke mana ‘dia’ pergi? Siapa? Dan bagaimana bisa secepat itu?

Gemas Ahireng menyambar semak-semak bunga di dekatnya. Ia menjerit kecil. Ternyata semak-semak itu berduri. Hampir saja diamuknya semak tersebut. Tapi matanya yang tajam melihat bekas tangkai bunga yang dipetik. Ah. Wanita itu masih sempat memetik bunga dan membawanya pergi, secepat itu? Mungkinkah ia makhluk halus?

Geram Ahireng pun memetik sekuntum. Dan ia me- lompat melesat pergi dari tempat itu.

Bersambung ke jilid 8.