-->

Dewi Penyebar Maut Eps 02

Dewi Penyebar Maut Eps 02

1. HUKUMAN

PENDAPA depan Padepokan Rahtawu sunyi senyap ki- ni. Angin pun sampai terdengar menderu di sudut- sudut atap. Angin dingin yang biasanya membawa alu- nan doa. Hingga sayup-sayup menjauh.

Kini angin itu hanya membawa suara dari luar. Sua- ra ratap tangis. Suara makian. Kemudian suara kaki- kaki yang berjalan menuju pendapa.

Di pendapa sendiri sunyi.

Semua yang ada di situ bagai patung.

Suranggana, dengan kepalanya yang hitam berhias rambut tak keruan. Dan aliran darah yang terus me- ngucur dari bagian belakang kepalanya. Berdirinya ti- dak mantap. Setiap saat ia pasti tumbang. Tapi mata- nya beringas merah. Membara. Marah. Mulutnya mena- han rasa sakit. Tangannya teracung. Telunjuknya kaku mengarah pada Tara.

Tara juga bagai patung.

Tapak kakinya memang sudah dalam kedudukan ge- rak Sura-caya, siap untuk menghindar dari serangan pihak mana pun. Tetapi kaki-kaki itu nampak lemas. Tak ada otot yang tegang yang menandakan tenaga akan tersalur dan kaki terangkat. Pandangan matanya pun tidak tertuju pada Suranggana yang seakan hendak melahapnya. Ia pun tidak memandang pada Anengah yang walaupun berada di lantai siap terbang setiap saat, dengan kaki akan langsung menebas lehernya.

Rasanya hanya Anengah yang paling hidup. Matanya liar. Hidungnya kembang-kempis. Jari-jemari yang me- nahan tangannya di lantai gemetar. Dan setiap otot di kakinya menegang, menghimpun kekuatan dahsyat un- tuk membunuh dalam sekali pukul.

Bahkan Rangga Prawangsa yang galak itu rasanya kalah angker dengan Anengah. Perwira Daha itu kini berada di belakang Tara, siap untuk meringkusnya lagi setelah tadi dengan mudah mengibaskannya. Rangga Prawangsa bertekad untuk menjalankan tugasnya de- ngan baik. Dan tugas itu adalah melindungi Resi Rha- gani. Apa pun yang terjadi. Ia tahu Tara adalah murid Resi Rhagani. Tetapi jika keadaan memerlukan, ia tak- kan segan menghajar anak itu.

Resi Rhagani paling mirip patung. Ia memejamkan mata. Ia menyusun jari, merapatkan tapak tangan. Ia berdiri tegak. Tak bergerak.

Yang lain diam, namun gelisah. Tari merangkul se- buah tiang agung. Mukanya rapat ke kayu itu. Matanya bingung memandang Tara. Mulutnya ternganga seolah ingin meneriakkan sesuatu. Lati dan Rati berada di pinggir. Berangkulan. Memandang ke Tara dan Surang- gana. Pawungsari dan Dwaralika kebingungan.

Makin banyak keluarga padepokan yang berdatang- an ke pendapa itu. Mereka memang hanya berhenti di tepi lantai pendapa. Kemudian diam.

“Aku mohon Panembahan...” terdengar suara serak Suranggana kini bergema. Susah sekali ia mengelua- rkan kata-kata. “Cabut nyawa murid durhaka ini. Dia punya ilmu tinggi, namun tak dapat menggunakannya. Dia perkasa, namun tak tahan melihat wajah cantik hingga melupakan semua saudaranya. Bunuh dia, Pa- nembahan!”

Dan Suranggana roboh. Beberapa orang akan meno- longnya. Tetapi ia mengangkat tangan mencegah. Susah payah ia merayap hingga mencapai kaki Resi Rhagani. Dipegangnya kaki itu dengan tangannya erat-erat.

“Belasan tahun, puluhan tahun... aku mengabdi pa- da Tuan, Panembahan...  aku  tak  mau  Tuan  keliru... aku tak mau Tuan memperoleh malapetaka hanya ka- rena keliru menilai orang. Muridmu si Tara itu... tidak punya hati. Tuan akan menyesal jika masih membiar- kannya hidup. Suatu hari dia akan... mampu mengor- bankan saudara-saudaranya lagi... O, Panembahan...”

Dan Suranggana roboh lemas. Tak bergerak lagi. Ma-

ti.

Seorang warga padepokan yang berada di luar pen-

dapa berlutut, sujud mencium tanah. Dan ia berseru, “Derita kami begitu dalam, Guru... hukumlah Tara!”

Dan gerakan serta suaranya satu per satu ditiru oleh yang lain. Tak lama orang-orang yang mengelilingi pen- dapa itu telah bersujud sambil berseru bagaikan ber- nyanyi, “Hukum Tara! Hukum Tara! Hukum Tara!”

Tara bagaikan tersentak dari mimpi. Matanya beri- ngas memandang ke kiri ke kanan. Dan tiba-tiba ia pun menubruk kaki Resi Rhagani yang masih digenggam Suranggana.

“Guru... hukumlah aku jika aku bersalah... tapi  aku tak merasa bersalah, Guru!” teriak Tara mencoba meng- atasi galau di luar itu.

“Suranggana telah tewas,” baru kemudian Resi Rha- gani terdengar suaranya. “Ia merasa pasti akan sesuatu. Dan ia mati dengan rasa pastinya itu. Kau harus berce- rita dengan jelas. Untuk itu kautenangkan diri lebih da- hulu. Dwaralika, Pawungsari, bawa Tara ke Ruang Sunyi. Yang lain...” Resi Rhagani memperkeras sua- ranya hingga menindih suara galau yang ada dan se- mua diam untuk mendengarkannya, “Padepokan kita telah tertimpa malapetaka dahsyat. Kita belum tahu apa yang terjadi. Untuk itu Tara akan kita periksa nanti. Yang jelas, ini mungkin ada hubungannya dengan peta- ka yang menimpa guru kalian—Madraka. Uruslah me- reka yang tewas. Dan waspada serta lipat-gandakan penjagaan. Malam nanti kita akan melakukan upacara untuk mengiringi mereka yang menghadap para dewata. Kemudian kita bicarakan apa yang terjadi.”

Dengan menunduk Resi Rhagani meninggalkan tem- pat itu. Dwaralika dan Pawungsari memberi isyarat pa- da Tara untuk ikut mereka. Ketika Tara tak bergerak, Anengah dengan geram berdiri dan menyeret pemuda itu.

Di luar, sebuah batu pertama terlempar pada Tara. Kemudian menyusul batu-batu lainnya. Hujan batu di- iringi hujan makian. Tara dengan gugup mencoba me- nangkis semua lemparan itu. Dwaralika dan Pa- wungsari pun terpaksa melindunginya. Namun mereka kewalahan. Akhirnya mereka hanya bisa menyeret Tara untuk berlari secepatnya.

Terengah-engah mereka mencapai bangunan yang berisi Ruang Sunyi. Ruang itu berada di bawah tanah, tempat Sang Resi biasa menyepi untuk menekuni il- munya.

Dwaralika dan Pawungsari berhenti sejenak mem- perhatikan apakah orang-orang mengejarnya. Tidak. Agaknya mereka masih berada di halaman depan. Dan kini mereka mungkin sibuk mengurusi mayat-mayat.

“Buka pintunya, Dinda Pawungsari,” kata Dwaralika. Diperhatikannya Tara. Pemuda itu lemas. Matanya kini kosong tak bercahaya. Pasrah.

“Sebetulnya apa yang terjadi, Tara?” tanya Dwaralika sementara Pawungsari membuka pintu—sebuah pintu kayu yang besar dan berat. Tara diam saja.

“Kau perlu menjawab. Bukan untuk menyelamatkan nyawamu, tetapi agar kita tahu apa yang terjadi. Agar kita bisa mencegahnya.”

Tara diam saja. Anengah muncul. Badannya penuh keringat. Dada- nya kembang-kempis menahan marah.

“Tara! Betulkah kata Paman Suranggana tadi?” ben- tak Anengah.

Tara diam saja.

“Bangsat cilik... jawab!” dengan geram Anengah me- nampar Tara. Tapi Dwaralika dengan tangkas menang- kis tamparan itu.

“Sabar, Anengah, akan kita bicarakan nanti,” kata Pawungsari.

“Paman tadi dengar kata Paman Suranggana? Beliau merasa pasti si kunyuk kecil ini penyebab kematian ta- di!” sahut Anengah geram.

“Aku tahu. Tapi kita harus mempelajari dulu apa yang terjadi.” Dwaralika mendorong Tara masuk. Pa- wungsari langsung menuntun Tara masuk dan menu- runi tangga. Dwaralika menutup pintu bangunan serta berdiri menghadang di depan Anengah. “Sementara itu kita tak bisa sembarangan menjatuhkan hukuman!”

“Ah, itu semua hanya membuang waktu!” geram Anengah. “Paman sendiri tahu, ia suka bersikap manis pada Bapa Guru dan Bibi Madraka, hanya agar mempe- roleh ilmu lebih banyak! Kesetiaannya tak ada. Dan itu berbahaya, bukan?”

“Benar, tapi yang berhak memberi hukuman hanya Gusti Panembahan,” kata Dwaralika.

“Sekali lagi, itu hanya membuang waktu!” dengus Anengah.

Dwaralika sesaat memperhatikan Anengah. “Ane- ngah, kenapa kau tiba-tiba berubah? Biasanya kau wa- laupun kaku tetapi punya perasaan adil, dan tidak begi- tu serampangan dalam menjatuhkan putusan.”

“Aku tidak apa-apa! Hanya aku tak rela jika saudara- saudaraku tewas tanpa pembalasan!” “Kepada siapa? Yang jelas bukan Tara yang membu- nuh orang-orang itu!”

“Tapi mungkin Tara sudah bisa melakukan pembala- san itu tanpa harus menunggu segala macam urusan— kalau saja ia memang punya maksud untuk membalas dendam! Jadi Tara jelas bersalah!”

“Tiba-tiba rasa dendam menyelimuti hatimu. Apakah itu yang kaupelajari di sini?”

“Paman bukan guruku, tak usah Paman menggurui- ku.”

“Bagus jika kauingat bahwa kau patut patuh pada gurumu. Dan gurumu menghendaki perkara ini dibica- rakan lebih dahulu!”

“Dinginkan kepalamu, Anengah,” Pawungsari telah keluar dari Ruang Sunyi, dan memalang pintunya dari luar. Memang sesungguhnya Ruang Sunyi itu serbagu- na—untuk menyepi atau mengucilkan seseorang. Ada kalanya seorang siswa harus merenungkan kekeliruan- nya hingga terpaksa dikucilkan di sini. Di bawah tanah, ada tiga tingkat ruangan, bersusun ke bawah. Untuk kekeliruan yang sangat berat, maka siswa yang ber- sangkutan ditempatkan dalam ruangan yang hanya cu- kup untuk duduk bersila. Ruang di atasnya agak lega. Ruang ketiga yang tepat berada di bawah permukaan tanah sudah cukup lega dan bahkan penghuninya bo- leh menikmati cahaya lampu, buku-buku agama, serta makanan atau minuman. Di sini sesungguhnya Sang Resi biasa menyepi—bukan karena menjalani hukuman tapi hanya untuk lebih memusatkan pikirannya pada sesuatu. Bangunan yang berada di atas tanah berupa ruangan untuk berdiskusi—sebuah ruang yang lega dengan jendela berterali bambu dan dinding bambu dengan pintu kokoh.

“Tara berada di ruang terbawah. Dia toh tak akan bi- sa ke mana-mana. Jika kau ingin menghukumnya, ma- sih ada saatnya nanti.”

“Aku tak mengerti Paman berdua. Sama sekali tak mengerti. Bukan hanya rasa keadilan... tetapi toh Pa- man berdua seharusnya mencoba membalaskan kema- tian Paman Suranggana!” kata Anengah.

“Aku mengerti bahwa mungkin kau akan menjadi pe- mimpin para siswa di sini,” kata Pawungsari dingin. “Aku mengerti rasa tanggung jawabmu besar. Rasa per- saudaraanmu tebal. Tapi selama kau belum resmi men- jadi pemimpin di sini, kuharap kau menunggu apa yang akan dikatakan Sang Panembahan nanti. Ayo, Dinda Dwaralika ”

Pawungsari menggamit Dwaralika. Dwaralika mena- tap tajam pada Anengah dan berdua melangkah pergi.

Anengah masih lama termenung di depan pintu vang terpalang itu. Matahari telah tinggi. Dari sudut matanya ia melihat sesosok bayang-bayang orang di balik bayang-bayang lumbung padepokan. Ia menghela napas panjang dan berkata seorang diri, “Hhh... betapa berat cobaan untuk Guru. Dan saat aku ingin mencoba meri- ngankannya, ada saja orang yang tak mengerti. Ah, ka- lau saja aku punya kekuasaan yang lebih besar Pasti

penyebab malapetaka ini sudah lama aku ringkus!”

Ia berbalik. Dan melangkah meninggalkan  tempat itu. Sengaja ia berjalan ke samping lumbung. Dan ia bertemu dengan Rangga Prawangsa yang tampaknya sedang berjalan menunduk tenggelam dalam pikiran da- lam.

“Oh, Tuanku Rangga... tuanku belum memperoleh tempat untuk istirahat?” tanya Anengah. “Maaf jika tak ada yang memperhatikan Tuan. Aku harus mengatur persiapan upacara nanti malam.”

“Tak apa. Sebagai seorang bekas prajurit tentu saja aku tak kaget akan ketidaknyamanan tempatku berada. Mhhh... ya. Namamu Anengah, bukan? Dari manakah asalmu?”

“Mohon diampun, Tuan... menurut cerita Bibi Ma- draka hamba ditemukannya dekat Hutan Lawor... ma- sih berumur dua tahun, demikian kata pwangkulun. Hamba tak berani menanyakan lebih lanjut tentang as- al-usul hamba... tetapi Hutan Lawor adalah daerah Da- ha, bahkan merupakan jalan besar ke Daha dari Kota- raja. Bukan tidak mungkin hamba mempunyai ayah-ibu di Daha. Dan rasanya hal itu tak terlalu sukar untuk diselidiki.”

“Lalu Uttara?” Rangga Prawangsa bersandar ke din- ding lumbung untuk menghindari terik matahari.

“Tara hampir mirip riwayatnya dengan hamba,” Ane- ngah seakan mendengus. “Hanya menurut cerita Bibi Madraka dia ditemukan di Kamal Pandak, di tepi Su- ngai Bara. Riwayat hidupnya pun gelap ”

“Aku tadi menyaksikan kalian bertarung. Kepandai- an kalian berimbang?” Rangga Prawangsa menyipitkan matanya agar tak tampak bahwa matanya itu melirik memperhatikan wajah Anengah. Anengah tampak se- makin berwibawa dengan alis mata tebalnya berkerut. Dadanya yang berhias bulu dada kini bersimbah peluh, mengkilap dalam sinar matahari, memperlihatkan dada yang lebar dan tangguh kokoh. Dengan tubuh tinggi be- sar dan cara berdirinya yang tegak itu, Anengah lebih cocok untuk menjadi seorang panglima perang, pikir Rangga Prawangsa. Atau... memangkah anak ini ketu- runan seorang ksatria Daha? Lebih-lebih lagi jika dikait- kan dengan perhatian Bhre Daha pada murid muda di Padepokan Rahtawu... apakah hubungannya lebih erat dari yang bisa diduganya?

“Guru sangat adil  dalam  memberi  pelajaran,”  kata Anengah. “Tak ada siswa yang memperoleh lebih, tak ada yang kurang. Pada akhirnya tergantung dari para siswa itu sendiri. Mungkin apa yang dipelajari Tara sa- ma dengan apa yang aku pelajari. Pada akhirnya, Guru sendiri yang menentukan siapa yang sudah cukup ma- tang untuk memperoleh ilmu-ilmu yang tinggi. Sebagai gambaran saja... Guru telah menurunkan Dharmacakra padaku. Sedang pada Tara belum.”

Kembali Rangga Prawangsa memperhatikan Ane- ngah. Terdengar nada sedikit menyombong pada anak muda itu. Atau, memang demikianlah sifatnya?

“Oh, ya. Bagaimana dengan siswa-siswa putri?” ta- nya Rangga Prawangsa.

“Mereka sesungguhnya hanyalah separuh siswa. Me- reka asuhan Bibi Madraka. Tetapi Bapa Guru kami de- ngan murah hati menganugerahi mereka dengan ilmu- ilmu Padepokan Rahtawu. Sebulan sekali mereka diba- wa kemari oleh Bibi Madraka. Ini sesungguhnya kebia- saan Bapa Guru dan Bibi Guru dari dulu. Ilmu pwang- kulun berasal dari satu sumber yang juga kakak-adik pria dan wanita. Maka pwangkulun berdua ingin meles- tarikan kebiasaan itu.”

“Berapa jumlah mereka?”

“Mereka sesungguhnya...” Tiba-tiba Anengah berhen- ti berbicara. Beberapa orang wanita muncul membawa tempat padi. Di antara mereka tampak Tari yang ma- tanya bengkak karena menangis. Wanita-wanita lain adalah anggota Padepokan Rahtawu sendiri. Mereka le- wat di depan Rangga Prawangsa dan Anengah, diam- diam membungkuk memberi hormat. Mereka kemudian menaiki tangga ke pintu lumbung

“Katamu tadi...” Rangga Prawangsa mengingatkan Anengah saat para wanita itu sudah masuk ke dalam lumbung. “Mmmh, maaf, Tuanku Rangga... tidak enak rasanya kita berbicara di sini sementara semua orang bekerja. Hamba akan pergi ke depan dulu...,” Anengah mengi- syaratkan sembah dan bergegas pergi.

Rangga Prawangsa termenung-menung sejenak, memperhatikan kepergian Anengah. Kemudian ia mem- perhatikan pintu lumbung yang tinggi itu. Dan akhirnya ia menggelengkan kepala, berjalan menunduk ke ba- ngunan yang memiliki Ruang Sunyi itu.

Lama ia berdiri di depan bangunan tersebut. Sampai kemudian terdengar langkah kaki mendatangi. Ternyata Tari. Gadis itu terlihat terkejut melihat Rangga Pra- wangsa ada di situ. Ia bergegas menunduk menyembah dan akan berlalu. Tetapi Rangga Prawangsa mencegah- nya.

“Tunggu, bukankah kau yang bernama Tari?” sapa Rangga Prawangsa.

“Benar, Tuanku Rangga... namun mohon  maaf, hamba tak punya waktu untuk berbicara. Mohon beribu maaf, Tuanku, hamba berlalu....” Dan Tari bergegas pergi.

Rangga Prawangsa ternganga. Gadis itu tidak secan- tik putri-putri Daha, memang, tetapi ada sesuatu yang sangat menarik padanya. Pandang matanya yang tajam, sikap wajahnya yang anggun. Bahkan pada saat mem- bungkuk memberi hormat terasa bahwa hal itu seakan dipaksakan. Juga jalannya... seakan tak acuh pada sia- pa pun.

Dia akan menanyakannya pada Resi Rhagani nanti.

Malamnya, upacara untuk mendoakan para sukma yang telah meninggalkan badan kasar mereka berjalan khidmat. Dan mengharukan. Di antara doa yang diba- cakan dan dinyanyikan bersama, teralun pula lengking- an tangis dan alunan ratapan. Ditambah dengan hawa yang terasa luar biasa dinginnya, dan cuaca yang gelap pekat, api unggun di halaman depan padepokan itu se- rasa tertelan cerianya. Upacara berlangsung terus hing- ga menjelang fajar, dan kemudian satu per satu jasad mereka yang gugur diangkat ke luar untuk disemayam- kan di halaman candi di luar lingkungan padepokan guna menantikan upacara selanjutnya. Di pendapa de- pan, Resi Rhagani berdiri sunyi memperhatikan para warga padepokan hampir tanpa suara mengalir ke luar padepokan dengan membawa berbagai peralatan upaca- ra. Tidak seperti biasanya pada upacara keagamaan, maka beberapa warga padepokan telah mempersenjatai diri dan mengikuti rombongan yang keluar itu sebagai pengawal. Di atas pagar padepokan pun terlihat bebera- pa orang berjaga-jaga.

Akhirnya halaman depan itu sunyi. Dan gelap. Ha- nya beberapa obor yang masih menyala. Itu pun di tem- pat-tempat yang berjauhan. Ini membuat orang-orang yang berada di pendapa itu bagaikan sosok-sosok bayangan seram.

Mereka adalah Resi Rhagani, Dwaralika, Pawungsari, Kanigara, Sodrakara, Tari, Anengah, dan Rangga Pra- wangsa.

“Mari ke ruang baca... ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian,” kata Resi Rhagani hampir berbisik. Dan ia mendahului pergi. Langkahnya gontai, lemah. Dwa- ralika dan Pawungsari terlihat selalu bersiap di kiri- kanan junjungan mereka ini.

Ruang baca itu luas.  Beberapa bumbung teronggok di sudut, berisi gulungan-gulungan lontar tentang ber- bagai hal. Ada alas lantai yang empuk di situ. Dan lam- pu buah jarak yang tertancap di beberapa tempat di dinding membuat tempat itu terang-benderang. Resi Rhagani memberi isyarat agar mereka duduk melingkar. Tak ada yang memiliki kedudukan lebih tinggi.

Beberapa saat sunyi. Dari luar sayup-sayup terde- ngar nyanyian doa pelepas mereka yang pergi.

“Kita semua berkumpul di sini. Kuharap kita telah mewakili semua warga padepokan. Dan seorang orang luar,” Resi Rhagani berbicara lirih. Matanya menyapu semua yang ada di situ. “Dwaralika dan Pawungsari me- wakili kepercayaan warga padepokan yang bukan siswa. Kanigara dan Anengah mewakili para siswa. Sodrakara dan Tari mewakili siswa-siswa putri. Tuan Rangga me- wakili kepentingan Wilwatikta. Dan aku ingin menjadi wakil dari kehendak Hyang Agung. Tapi semuanya pu- nya hak sama. Semua punya hak mengatakan penda- pat. Dan apa pun keputusan yang kita ambil, akan kita ambil berdasarkan kesepakatan kata.”

Hening lagi.

“Aku telah berbicara panjang-lebar dengan Tara. Se- mestinya ia diwakili di sini. Tapi ia telah melimpahkan kepercayaannya padaku,” kata Sang Resi lagi. “Kuharap semuanya mengerti hal ini.”

Yang terdengar hanyalah gemerisik lampu di dinding serta alunan lagu sedih dari luar.

“Singkatnya... menurut pengakuan Tara... ketika ia dan Suranggana tiba di tempat ini, didapatinya mayat- mayat bergelimpangan. Tak ada bekas luka ataupun se- suatu yang aneh. Pada wajah mereka yang meninggal hanya terlihat air muka ketakutan yang amat sangat. Ketika aku selidiki, ini adalah akibat Upas Gemet ting- kat tujuh. Sangat berbeda dengan Upas Gemet yang me- ngenai Dinda Madraka....” Sang Resi berhenti sebentar. Bibi Madraka telah tiba siang tadi dan kini dirawat di asrama wanita. “Upas Gemet tingkat tujuh ini sanggup membunuh dengan hanya menempel pada kulit kor- bannya. Menurut Tara tidak ada pertanda perkelahian sebelumnya. Jadi, kemungkinan si pembunuh dapat mendekat tanpa dicurigai atau dapat bergerak sangat cepat. Melihat wajah si pembunuh serta kesaktiannya kemudian, Tara berpendapat kedua hal itulah yang ter- jadi.”

Dalam kesunyian itu keras sekali terdengar Tari menghela napas panjang. Ia sendiri kaget karena itu.

“Saat itu, Suranggana dan Tara kemudian memutus- kan untuk langsung menyelidiki. Tara dari bagian bela- kang padepokan, Suranggana dari bagian depan. Tara menemukan pembunuh itu di puncak Menara Pemu- jaan. Tara bertarung melawan orang itu. Orang itu sa- ngat cantik. Dan sangat sakti. Suatu saat ia sudah hampir bisa membunuh Tara. Tapi pada saat itu Su- ranggana datang dari belakangnya. Dan melepaskan pe- luru andalannya. Orang itu roboh.”

Resi Rhagani memandang ke arah langit hitam yang tampak dari celah-celah dinding.

“Di sinilah terjadi kesalahpahaman yang berbuntut sampai sekarang. Tara memang punya kesempatan un- tuk membuat orang itu cedera. Paling tidak melumpuh- kannya. Tara tidak melakukannya. Katanya ia tak me- ngerti mengapa itu yang terjadi. Katanya, mungkin juga ia terpengaruh oleh kecantikan orang itu. Atau, mung- kin karena ia merasa sesungguhnya ia tadi diberi ke- longgaran untuk bisa hidup sampai saat itu. Yang jelas, ia juga punya pikiran untuk menangkap orang itu hi- dup-hidup. Itu semua terjadi dalam waktu sesaat. Ke- mudian muncul Suranggana. Ia langsung akan mem- bunuh atau paling tidak mencederai orang itu dengan kerisnya. Tara mengaku mencegah Suranggana. Dan ti- ba-tiba orang itu menyerang Suranggana. Hingga Su- ranggana cedera berat. Dan tewas. Nah, kita berkumpul di sini untuk menentukan, apakah Tara bersalah. Dan apa hukumannya. Coba Tuan Rangga, sebagai orang luar, menyatakan pendapatnya.”

Semua berpaling pada Rangga Prawangsa. Rangga ini salah tingkah juga sedikit. Ia mendeham dan memelintir kumisnya. Namun akhirnya ia berbicara.

“Bagiku... kesalahan Tara hanya satu. Ketika ia ke- mudian sadar, mestinya ia langsung mencari  jejak orang itu. Atau cepat lapor pada Sang Resi,” Rangga Prawangsa berbicara pada semuanya.

“Ia mencoba menolong Suranggana. Tapi begitu sa- dar, Suranggana menyerangnya. Dan menuduhnya ber- komplot dengan pembunuh itu. Tara terguncang. Ka- rena itulah tindakannya bagai orang mabuk. Dan ia ha- rus mempertahankan diri dari serangan Suranggana,” jawab Resi Rhagani.

“Jika begitu... kekeliruan Tara  hanyalah  usianya yang masih muda. Dan pengalamannya yang masih ku- rang. Untuk itu ia tak bisa disalahkan. Kalau aku di- tanya, semestinya ia dibebaskan saja. Kalaupun dihu- kum, maka ia harus mencari si pembunuh. Hanya dia yang pernah melihat mukanya,” kata Rangga Prawang- sa, matanya tajam melihat berkeliling. “Itu pendapatku. Lebih dari itu, aku ingin menyatakan suatu hal. Racun Upas Gemet itu. Siapa yang pernah memilikinya?”

“Itu yang membuatku heran dari tadi,” Resi Rhagani berkata perlahan. “Tuan datang dari Daha membawa berita tentang kemungkinan keturunan Wirabhumi membalas dendam. Yang aneh adalah... keluarga Wira- bhumi tak pernah menggunakan racun. Justru salah seorang lawan keluarga Wirabhumi-lah yang terkenal sebagai pemakai racun. Juru Pajarakan menggunakan- nya. Juga semua keluarga beliau. Tetapi keluarga ini sangat memusuhi keluarga Wirabhumi. Kedua puteri- nya...” Resi Rhagani tak melanjutkan perkataannya. “Kau bagaimana, Dwaralika?”

“Ampun, Panembahan. Hamba belum bisa menyerap pelajaran yang Paduka berikan,” Dwaralika menyem- bah. “Hamba seorang prajurit. Pemikiran hamba pemi- kiran prajurit. Tara melakukan kesalahan yang sangat berat, yaitu memberi kesempatan pada musuh untuk menguasainya. Jika musuh tidak memberi ampun pa- danya, pasti ia sudah dibunuh. Jadi... hamba kira hu- kuman itulah yang patut untuknya.” Semua orang me- mandang terkejut pada Dwaralika. Terutama Anengah. Ia sama sekali tak menyangka sikap Dwaralika akan begitu. Terutama jika mengingat pembicaraannya tadi siang. “Itu pun... jika pertemuan ini menyetujuinya.”

“Mohon ampun, Panembahan... sebagai seorang pra- jurit juga, hamba sangat setuju pada pertimbangan dan keputusan Dwaralika,” sembah Pawungsari.

“Hm...” Resi Rhagani mengangguk-angguk. “Sodraka- ra?”

“Si pembunuh sangat tak kenal ampun. Dan agak- nya ada hubungan dengan si Buruk Muka yang telah membuat cedera Guru junjungan hamba,” sembah So- drakara. “Tara telah memberi kesempatan pada makh- luk itu untuk tetap bebas merajalela. Ia harus dihukum. Apa hukumannya, terserah,” sembah Sodrakara.

“Yang hamba takutkan adalah semua tindakannya menunjukkan Tara tidak pantas merasuk ilmu-ilmu tinggi yang diajarkan Guru,” sembah Anengah tidak menunggu untuk ditanya. “Jika hatinya selemah itu, untuk apa ia mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Dan jika hatinya tidak lemah, kemungkinan ia dikuasai oleh ha- srat buruk setelah melihat wajah cantik. Ini berarti ia tidak punya pribadi yang baik. Dan ini akan sangat ber- bahaya nanti jika ia berhasil menguasai ilmu Guru. Pendapat hamba, binasakan dia sebelum jadi burung garuda!”

Hening. Semua menunggu Kanigara dan Tari. “Mohon diampun, Bapa Guru,” akhirnya Kanigara

berbicara. “Hamba sudah mengenal Tara dari kecil. Ia punya banyak kelemahan. Yang tampak jelas ialah bah- wa ia adil, baik hati, dan tidak tegaan. Hamba yakin Tara tidak punya maksud apa-apa saat ia meloloskan pembunuh itu. Mungkin ia merasa tidak adil untuk me- nyerang orang yang tak sadar. Mungkin ia hanya ingin membalas budi. Mungkin... ia memang tidak tega. Se- mua itu toh sifat yang baik. Jadi kurasa... Tara jangan dihukum berat. Berilah dia wejangan. Dan pengertian tentang pahitnya hidup di dunia ini.”

“Hm... ya...,” Sang Resi mengangguk-angguk. Kini beliau memandang Tari. “Dan kau, Tari?”

“Kakang... Tara... masih sangat muda... sarika* be-

lum tahu... lebih mendalam... tentang hubungan antar manusia di dunia ini.... Dia masih... boleh dikata anak- anak! Tak pantas ia diberi tanggung jawab.... Harap... harap ia diampuni!” Tiba-tiba Tari menekap mukanya dan berlari keluar dari ruang baca itu. 

“Tari!” panggil Resi Rhagani. Tetapi Tari telah hilang di kegelapan malam.

*  beliau 2. PENGEMBARA

TARI berdiri sendiri. Ini puncak Batu Hitam, salah satu puncak bukit tertinggi di Rahtawu. Ia tak bisa melihat apa-apa. Sekelilingnya gelap-pekat. Langit pun gelap. Mungkin awan di atas sana. Atau mendung. Bintang- bintang pun tak terlihat.

Sering Tara berada di sini. Pemuda itu memang yang menunjukkannya tempat ini. Memang mereka tidak berdua—tiba-tiba pipi Tari terasa panas. Para murid Madraka tak boleh berdua saja dengan murid pria Resi Rhagani. Tapi... walaupun mereka bertiga atau berem- pat, sering Tari merasa bahwa Tara hanya memperhati- kan dirinya. Memang Tara mungkin bercanda dengan Lati. Atau dengan Gendar. Tapi Tari seakan tahu bahwa sesungguhnya candaan Tara itu ditujukan padanya.

Sebulan lalu Tara mengajarkan tata gerak Birawa- dana Pria. Dan itu memang ditugaskan oleh Sang Resi. Tari merasa jika Tara yang mengajar, maka seakan ti- dak belajar, segalanya bisa muncul sendiri. Lain dengan jika Anengah yang mengajar. Segalanya terasa kaku, le- bih kaku lagi karena semua seakan melihat bahwa Ane- ngah hanya memperhatikan dirinya. Saat itu Tara juga mengajarkan sedikit ilmu bintang. Ditunjukkannya bin- tang Jaka Belek. Bintang Weluku. Bintang Gubuk Pen- ceng. Dan ah... berbagai ilmu pertanian yang berkenaan dengan bintang. Lancar sekali Tara berbicara. Begitu enak didengar hingga Tari tak bisa menangkapnya. Ia lebih kesengsem mendengarkan suara Tara yang bagai- kan berdendang.

Saat itu, tiba-tiba saja Tara terdiam. Memang ada sekilas garis terang di langit. Meluncur dari selatan ke arah barat laut. Dan ketika ditanya kenapa ia terdiam, maka Tara hanya berkata bahwa akan terjadi peruba- han besar-besaran dalam kehidupan mereka.

Inikah perubahan yang dimaksudkannya itu? Bahwa ia akhirnya... harus mati dihukum?

Angin dingin meniup pipi Tari. Beberapa lembar ram- butnya membelai mukanya. Tari hampir terisak. Tapi, kenapa? Ia baru kenal Tara sejak... mungkin tiga tahun yang lalu. Itu pun hanya sebulan sekali. Mengapa ia be- gitu sedih?

Terdengar langkah kaki di belakangnya. Tari heran.

Tapi ia langsung bersimpuh di batu hitam.

“Bibi Guru... Padukakah itu?” tanyanya. Bibi Madra- ka memang selalu dipanggil “Bibi” oleh murid-murid- nya, sebab secara resmi mereka adalah murid Resi Rha- gani—walaupun sesungguhnya lebih dari sembilan per- sepuluh pelajaran yang mereka dapat diperoleh dari Bi- bi Madraka.

“Ya, Tari...,” suara itu lembut. Dengan getaran le- mah. Tari terkejut. Berpaling.

Bibi Madraka bagaikan bayang-bayang putih. Bagai- kan hanya jubah putih melambai lemah. Bagaikan bu- kan manusia. Apalagi tangan kanannya kosong.

“Bibi Guru... mengapa... Bibi kemari....” Ketakutan Tari mendekat bersimpuh di kaki gurunya.

“Karena kudengar kau menderita kesedihan yang amat sangat, Tari....” Dengan tangan kirinya Bibi Ma- draka membelai kepala Tari.

“Tapi... Bibi masih luka parah   ”

“Ah, apakah kau meremehkan daya penyembuhan Bapa Gurumu, Tari? Aku sudah kuat untuk berjalan kemari.”

“Tapi keadaan sangat berbahaya.”

“Kalaupun aku tewas, aku rela. Kematianku mung- kin adalah kehendak Dewata... untuk apa kuberatkan? Yang jadi pikiranku adalah kau. Kau sesungguhnya punya masa depan yang bisa kuandalkan. Pribadimu baik, kecerdasanmu baik. Aku tak ingin kau merusak dirimu, merusak masa depanmu hanya oleh persoalan kecil ini.”

“Kakang Tara adalah sahabat baikku, Bibi... ini bu- kan persoalan kecil ”

“Kaulihat tangan kananku, Tari?” “Ya, Bibi ”

“Kau tahu kenapa Bapa Gurumu memotong tangan- ku itu?”

“Ya, Guru. Agar racun tidak menguasai bagian tubuh yang lain.”

“Apakah aku sayang pada tanganku itu?” “Tentu, Bibi.”

“Dan Bapa Gurumu tahu hal itu?” “Tentu, Bibi.”

“Toh ia masih memotongnya juga. Demikian juga ka- kangmu Tara. Kurasa... semua orang  menyukai  anak itu. Bapa Gurumu juga sayang padanya. Tapi ada suatu hal yang tak bisa diperbaiki dalam sikap seseorang. Ada kelemahan Tara yang akan berbahaya jika dibiarkan te- rus berkembang nanti. Setidak-tidaknya, begitu yang kaudengar dalam pembicaraan tadi. Kau tentu punya pendapat lain. Tapi kita sudah terbiasa mengikuti apa yang disepakati oleh pertemuan ”

“Bibi setuju Kakang Tara dihukum mati?”

Bibi Madraka menghela napas. “Sesungguhnya, ini adalah urusan di dalam rumah Kakang Resi. Kau dan aku, hanyalah tamu. Seperti juga orang yang dari Daha itu. Kalau kau, Sodrakara, orang Daha itu keluar, bera- pa orang di pertemuan itu yang membela Tara? Sesung- guhnya mereka dapat mencapai sepakat bulat, Tari ”

“Tapi, Bibi  ” “Sudahlah, Tari, sesungguhnya aku datang kemari untuk suatu maksud lain. Aku meninggalkan padepo- kan bukannya tidak diketahui oleh Bapa Gurumu, ataupun bibimu Sodrakara. Ada sesuatu yang ingin ku- sampaikan. Tindakan Kakang Resi memang cukup te- pat. Nyawaku akan tertolong. Tapi betapapun bagian tubuhku yang lain akan terkena. Terutama otakku. Aku tak bisa merasa pasti bahwa apa yang aku miliki bisa kusampaikan padamu... jika aku harus menunggu. Ka- renanya, bersiaplah untuk menerima wejanganku ten- tang ilmu Coban Saleksa.”

“Ilmu Coban Saleksa?”

“Ya. Ini bukan ilmu kewiraan. Ini bukan ilmu kesak- tian. Tetapi lebih mirip sebagai ilmu untuk menjaga diri. Menurut cerita guruku yang begitu berbudi, Danyang Sinom, beliau pernah terkena suatu penyakit yang amat berat. Untuk pengobatannya beliau harus memusatkan perhatiannya. Tetapi selalu tak berhasil. Kemudian ka- kak beliau, Panembahan Megatruh, menciptakan suatu ilmu guna pemusatan perhatian itu. Karena beliau menciptakannya di antara air terjun Seribu, maka ilmu itu dinamakannya Coban Saleksa. Ilmu itu akan mem- buka aliran-aliran hidup dalam tubuhmu. Membuka otakmu. Membuat kau mudah  mencapai  ilmu-ilmu yang kelak kemudian kaupelajari. Di samping itu, kare- na lancarnya peredaran kehidupan dalam  tubuhmu, kau akan punya suatu daya tolak yang luar biasa. Te- rus terang, karena ilmu itulah aku kini masih hidup. Kakang Resi dalam gugupnya mungkin lupa akan ilmu itu. Dengan diputuskannya salah satu aliran kehidu- panku, maka ilmu itu sudah pecah. Dan... aku akan terpaksa meninggalkanmu.”

“Bibi!” Tari sangat terkejut, merangkul kedua kaki gurunya. “Kau bukan anak kecil lagi, Tari,” suara Bibi Ma- draka terdengar tegas. “Mundur dan lakukan langkah penyucian yang tujuh!”

“Bibi...” Tiba-tiba air mata membanjir di pipi Tari. Ia tidak bergerak dari tempatnya.

“Ya, Tari   ”

“Bukan hamba ingin melawan kehendak Guru   tapi

hamba merasa... begitu sedikit waktu hamba untuk berbakti kepada Guru, untuk berterima kasih pada Guru. Kalau itu pun tak bisa hamba lakukan, bagaima- na jika hamba berterima kasih pada orang tua hamba? Tapi... hamba pun  tak tahu siapa dan  di  mana  mere- ka ”

Bibi Madraka merenung sejenak. Memang semua murid yang diambilnya kebanyakan tak mengenal orang tua mereka. Selalu diambilnya pada waktu mereka sa- ngat kecil.

“Bahkan Bapa Gurumu tidak tahu siapa engkau, Ta- ri. Jika kau memang bersikeras ingin mengetahui asal- usulmu, pergilah ke Gunung Lawu dan temui eyang- eyang gurumu... Panembahan Megatruh atau Danyang Sinom. Jika kau berkata bahwa kau telah memperoleh izin dariku, maka mereka akan memberitahukan ten- tang ayah dan ibumu.”

Kini Tari termenung. Kemudian ia berdatang sembah dan mundur, menggumamkan mantra penyucian diri.

Tak berapa lama guru dan murid itu sudah melupa- kan keadaan di sekeliling mereka. Dengan sabar dan je- las Bibi Madraka menguraikan apa saja tentang Coban Saleksa. Bacaan ilmu itu sendiri berbentuk kidung hingga agak mudah dihapalkan oleh Tari. Keterangan tentang kata-kata yang ada di dalamnya memang agak lama baru merasuk. Kemudian disusul oleh berbagai la- tihan pernapasan dan penerapan laku. Dan akhirnya, ketika di ufuk timur fajar mulai me- nyingsing, terdengar Bibi Madraka berkata lemah, “Se- mua sudah kaumiliki Tari, kau tinggal melatihnya saja. Jika itu sudah kaukuasai, maka... tanpa petunjukku pun kau akan bisa menguasai banyak ilmu. Sekarang, bersemadilah untuk memulihkan kekuatanmu.”

“Baik, Bibi.” Tari menutup mata, mengatur letak ta- ngan dan kakinya. Kemudian ia mematikan diri terha- dap apa saja yang terjadi di sekelilingnya.

Sinar matahari mulai menyentuh punggungnya saat Tari memutuskan untuk membuka semadinya. Dihi- rupnya udara sejuk dalam-dalam. Seluruh tubuhnya te- rasa segar. Penuh semangat. Dan hati murungnya sea- kan lenyap. Dengan gembira ia langsung meloncat ber- diri dan berkata, “Bibi... begitu besar kebaikan hati Pa- duka...” Ia tertegun.

Di depannya bukan Bibi Madraka. Di depannya ber- diri Anengah. Pemuda itu tampak gagah dan seram. Badannya berkeringat walaupun hari pagi dan hawa be- gitu dingin. Bertelanjang dada dengan sinar matahari menonjolkan keperkasaannya. Dan dada itu kembang- kempis menahan suatu perasaan hati. Lebih aneh, di tangannya terpegang pedang telanjang.

“Kakang Anengah!” seru Tari kaget. “Di mana dia?” tukas Anengah tegas.

“Dia? Jangan kurang ajar, Kakang Anengah, kenapa begitu kasar dengan Bibi Guru?”

“Bibi Guru siapa? Oh, ya, bahkan Bibi Guru juga tak ada. Di mana dia?”

“Lho. Dia siapa? Kau maksud pwangkulun guru ki- ta?” Tari menjelaskan.

“Jangan bergurau. Aku mencari dia. Si Tara!” bentak Anengah.

“Lhoh!” Tari makin terkejut. Mulutnya ternganga le- bar. “Kaumaksud... Kakang Tara?”

“Goblok banget kau ini. Ya! Tara! Jangan pura-pura tak mengerti!”

“Aku memang tak mengerti! Aku berada di sini se- malaman dengan Bibi Madraka!”

“Lalu di mana pwangkulun?”

“Aku tak tahu. Aku baru saja semadi   ”

“Huh. Jawaban ngawur... sudah. Sekarang, di mana Tara?”

“Aku tak tahu!” Tari menegaskan. “Apakah   apakah

dia melarikan diri?”

“Jangan pura-pura tak tahu. Kau pasti yang meno- longnya. Dan pasti kauajak kemari. Ada jejaknya me- nuju tempat ini!”

“Tak mungkin. Kalau memang begitu, pasti paling ti- dak ia akan membangunkan aku.”

“Mungkin juga sebetulnya kau tak bersemadi. Hanya pura-pura saja. Sesungguhnya pasti kausembunyikan. Ada dua jejak menuju kemari. Jejakmu. Dan jejak Tara. Dengar, Tari. Jangan bersifat kekanak-kanakan. Semua menjatuhkan hukuman mati pada Tara. Kalaupun kau menolongnya sekarang, suatu saat hukuman itu pasti jatuh ke kepalanya, tahu! Jadi katakan. Di mana kau- sembunyikan dia!”

“Aku tak tahu!”

“Aku tahu kau memang murid terkasih Sang Resi. Tapi kau telah menggagalkan kehendak beliau! Jadi, jangan membuat beliau marah. Mana dia!”

Sikap Anengah membuat Tari meluap marah. Tak te- rasa ia bertolak pinggang. Suaranya sedikit gemetar saat berkata, “Kakang Anengah. Kalau kau  menuduh aku berdusta, lebih baik kita tak usah berbicara lagi.”

Dengan geram Tari berpaling dan melangkah pergi. Sekilas saja Anengah telah berada kembali di depannya. “Aku tidak menuduhmu berdusta. Aku  hanya ber- tanya di mana Tara!”

“Dan aku bilang tidak tahu! Aku semadi semalaman di sini. Tanyakan pada Bibi Guru kalau tak percaya.”

“Enak saja. Bibi Guru juga tak ada.”

“Kalau begitu minggir saja, aku benar-benar tak ta- hu.”

“Paling tidak kau harus menghadap Bapa Guru lebih dahulu.”

“Kalau saja tidak kausuruh, sesungguhnya aku me- mang akan menghadap pwangkulun. Sekarang... jika aku ke sana, kaukira aku takut padamu!” Tari mencibir. “Dasar kau masih anak-anak,” dengus Anengah. “Ini

bukan soal takut atau tidak. Ini soal tanggung jawab!”

Lama mata bulat Tari menatap Anengah. Kemudian ia pun mendengus. “Benar kata Lati.”

“Apa?” Anengah heran.

“Sikapmu berubah sejak kedatangan Rangga Pra- wangsa.”

“Apa maksudmu?”

“Kau tahu Bhre Daha mengirim Rangga Prawangsa kemari antara lain untuk menyelidiki keadaan siswa termuda Bapa Guru. Tuan Rangga tak mengetahui na- ma siswa yang dimaksud oleh Bhre Daha. Kini kau ber- sikap penuh kematangan dan penuh tanggung jawab. Untuk menarik perhatian sarika!”

“Gila!” desis Anengah. Marahnya meledak. Tapi bi- birnya terlihat gemetar menahan suatu perasaan yang bukan kemarahan. Kata-kata Tari telak mengenai sasa- ran. Dan ketajaman pandangan serta ketajaman lidah gadis itu betul-betul terhunjam di hatinya. Dengan ge- ram dia berkata, “Tari! Dalam urutan, aku adalah ka- kakmu. Aku berhak  menghukummu  sesuka  hatiku. Kau betul-betul bandel. Sekarang kuperintahkan pada- mu, katakan di mana Tara atau kuseret kau ke hada- pan Bapa Guru!”

“Kaukira aku takut?” tantang Tari nekat. Ia marah pada sikap Anengah. Ia marah karena Anengah tidak membela Tara. Ia marah karena ia mengira Anengah bersikap tidak jujur dalam hubungan dengan utusan Bhre Daha. Ia ingin melampiaskan kebuntuan hatinya pada sesuatu. Dan sesuatu itu saat ini adalah Anengah. Ia nekat.

“Gila!” desis Anengah. Gemetar tangannya menahan diri. Sesaat seolah-olah akan menerjang Tari. Tapi ke- mudian ia seakan menelan kemarahannya. “Baiklah. Aku tak ingin bertengkar dengan anak kecil. Sesukamu- lah. Tapi aku akan mencari Tara. Pasti kutemukan!”

Beberapa saat mata Anengah bagaikan membakar Tari. Kemudian ia berpaling dan berlari ke arah timur.

Lama Tari termenung. Ada yang rasanya kurang pas.

Berbagai perasaan berkecamuk di dalam dirinya.

Pertama, betulkah Tara hilang? Atau melarikan diri? Atau... pokoknya lolos dari hukuman? Melarikan diri rasanya tidak mungkin. Ruang Sunyi sulit untuk dite- robos, apalagi kini dijaga ketat. Lagi pula, rasanya Tara tak akan sepengecut itu... melarikan diri dari tanggung jawab. Lalu ke mana? Kedua... di mana Bibi Madraka? Mustahil Anengah tak menemukannya? Ketiga... bagai- mana pribadi Anengah sesungguhnya? Ia merasa tadi saat ia menuduh, pemuda itu tampak terpukul. Tetapi ternyata ia dapat menguasai diri. Mungkinkah ia tidak berhati serendah itu? Keempat... ia sesungguhnya se- dang bergembira karena telah memiliki ilmu Coban Sa- leksa. Memang ia masih banyak harus berlatih. Yang je- las, ini suatu langkah yang hebat!

Angin bertiup keras. Rambutnya yang terurai agak lengket oleh keringat. Ia berpaling ke arah barat. Agak jauh di bawahnya, terlihat menara pemujaan. Dan Pa- depokan Rahtawu.

Tempat itu tak akan sama lagi. Apa pun yang terjadi nanti, semua kenangan manis tentang tempat itu akan terhapus. Mungkin ia akan membenci tempat itu.

Apakah lebih baik jika... jika ia tidak mengunjungi tempat itu lagi? Ia bisa memohon pada Bibi Madraka agar mulai saat itu ia tak usah pergi ke Rahtawu lagi. Lebih baik mengikuti Bibi Madraka mengembara saja.

Tiba-tiba ia terkejut. Ada sesuatu yang aneh pada padepokan di bawahnya itu. Tak ada asap mengepul. Ini aneh. Isi padepokan itu masih cukup besar. Dan me- reka pasti menghendaki makan. Tapi dapur sama sekali tak berasap. Mungkinkah karena sedang berkabung? Yang aneh lagi... ya... Tari mencoba mempertajam pan- dangan matanya. Tapi benar. Tak ada satu pun orang tampak di halaman padepokan. Tak ada satu pun! Hei.

Cepat Tari berlari turun. Ada jalan setapak memang, tapi jalan itu harus melewati berbagai semak-semak dan batu-batu besar. Dengan gesit Tari berlompatan da- ri batu ke batu atau melesat menerobos semak-semak.

Dadanya semakin berdebar sewaktu ia semakin de- kat. Padepokan itu sangat sunyi.

Di depan gapura ia ternganga. Gapura itu pun ter- nganga.

Di halaman hanya ada beberapa belas ekor ayam. Dan di lapangan ada beberapa ekor kambing. Tak ada seorang manusia pun.

“Hei...” Tari melompat masuk. Gugup ia berlari me- nyeberangi halaman. Tak ada orang. Ia masuk ke pe- mukiman para wanita. Tak ada orang. Dapur pun sepi. Tak ada orang!

Tari berlari sampai ke halaman belakang. Ia masuk ke biliknya. Bilik-bilik orang lain kosong. Barang-barang yang ada hanyalah barang yang tak terlalu diperlukan.

Terdengar suara seseorang bergerak di luar bilik. Tari cepat melompat ke luar lewat jendela.

Seseorang memang  berdiri  di  halaman  samping.

Anengah.

“Kau?” Tari setengah bertanya setengah memanggil. “Mereka sudah pergi. Kalau kau tadi cepat-cepat pu-

lang mungkin kau masih bertemu dengan Bapa Guru,” kata Anengah.

“Mereka... pergi ke mana?” Tari makin heran.

Anengah duduk di pagar dalam, mempermainkan pedangnya.

“Tadi malam, Bapa Guru memutuskan untuk me- ninggalkan padepokan ini...,” kata Anengah perlahan. “Rombongan demi rombongan berangkat. Tujuannya berbeda-beda. Hanya kepala rombongan kecil saja yang tahu mereka akan ke mana. Rombongan Bapa Guru te- rakhir berangkat. Pagi tadi, sesungguhnya sebelum ka- mi berangkat, Tara harus dihukum mati. Ternyata ia hi- lang.” Anengah terdiam sesaat. “Juga ketahuan bahwa kau tidak ada. Juga Bibi Guru. Aku ditugaskan menca- rimu. Yang lain langsung berangkat sambil mencari Tara.”

“Tadi kau menyuruhku menemui Bapa Guru!” tuduh Tari.

“Saat itu... mungkin kau masih bisa mengejar Bapa Guru. Kau tak bertanya di mana pwangkulun. Kau lang- sung menuduhku yang bukan-bukan. Terus terang, se- sungguhnya ingin kau kutinggalkan saja. Hanya... aku tak tega.”

“Ke mana Bapa Guru?”

“Tak ada yang tahu. Bapa Guru tak ingin jatuh kor- ban lebih banyak lagi.”

“Lati? Rati?” “Aku tak tahu. Tak akan ada yang tahu. Kecuali rom- bongan itu sendiri. Dan mungkin Bapa Guru.”

“Kakang sendiri... mau ke mana?” Tari bingung. Anengah lama tak menjawab. Ia turun dari pagar.

Berjalan menunduk di  antara  bangunan-bangunan yang kosong. Sebuah batu ditendangnya. Batu itu ter- lontar dan pecah berkeping-keping. Ia berpaling. Berja- lan mendekati Tari.

“Aku tak tahu. Perintah Bapa Guru agak membi- ngungkan. Aku harus mengikutimu. Sungguh. Tak pe- duli ke mana pun kau pergi. Tugas utamaku mencari Tara. Dan menghukumnya. Tugas kedua, mengikuti. Hanya itu.”

“Aneh!”

“Memang.”

Keduanya termenung.

“Aku akan pulang ke...” Tari ragu-ragu.

“Itu adalah salah satu tempat yang dilarang dikun- jungi oleh Bapa Guru. Pusat perguruanmu mungkin adalah sasaran penyebar maut itu...,” tukas Anengah.

“Mungkin Bibi Madraka pulang ke sana.”

“Bibi Madraka entah pergi ke mana. Mungkin telah diberi tahu Bapa Guru terlebih dahulu.”

“Aku akan pulang. Aku tak peduli. Mungkin Bibi Ma- draka juga pulang ke Walirang. Dan mungkin sarika* memerlukan bantuanku,” Tari mengambil keputusan.

“Bapa Guru berkata tempat itu harus dihindari,” ka- ta Anengah.

“Aku lebih khawatir akan keadaan Bibi Madraka.” “Kau berani menyalahi kata-kata Bapa Guru?”

Tari menunduk. Kemudian mengangguk. “Tak apa. Aku tak punya maksud durhaka. Aku hanya ingin me-

*  beliau nemui Bibi Madraka. Bapa Guru akan mengerti.”

Tari bergegas ke asrama tempat ia tinggal. Diambil- nya beberapa lembar kainnya, beberapa peralatan un- tuk bepergian jauh yang biasanya dibawa oleh teman- temannya serombongan, sebuah topi pandan lebar, alas kaki, karung beras, air... dan ia merenungi tongkat yang biasa dibawa oleh Bibi Madraka. Tongkat dari jantung kayu asam. Hitam mengkilap. Lurus dan keras. Ia me- mutuskan untuk membawa tongkat yang oleh kawan- kawannya diberi julukan “si Galih” itu. Si Galih dahulu sering dipakai untuk menghukumnya jika ia salah ge- rak. Dan akhir-akhir ini dipakai untuk membantu Bibi Madraka berjalan. Bukan karena sang guru itu harus bertongkat, tetapi sekadar penopang serba guna saja. Kadang-kadang bahkan bisa dipergunakan untuk senja- ta.

Agak lama Tari memperhatikan tongkat itu. Hitam. Halus. Mengkilap. Entah sudah berapa tahun umurnya. Seingat Tari, sewaktu ia baru mulai diberi pelajaran tata gerak, tongkat itu sudah ada. Pada umur lima tahun, saat ia menerima pelajaran melompat, tongkat itu men- jadi palang penghalang untuk loncatannya. Dan saat ia mulai belajar memainkan senjata pada umur delapan tahun, gurunya sering mengumpamakan tongkat itu pedang. Atau tombak. Atau sekadar tinju lawan.

Kapankah tongkat ini akan kembali ke tangan pe- miliknya?

Tari tersentak dari lamunannya. Sayup-sayup dide- ngarnya suara seruling.

Anengah tak dapat bermain suling. Atau, paling tidak tidak semerdu itu. Tara... ya, dia pandai bermain suling. Tapi tak mungkin dia. Orang lain yang pandai bermain suling adalah... ah, itu pun tak mungkin. Si Gita, putra Paman Kanigara. Tapi Gita masih kecil. Sedang lagu ini... rasanya terlalu sulit bagi seorang anak gembala se- perti Gita.

Tari bergegas keluar. Ke halaman yang begitu sepi. Suara itu datang dari arah depan. Dengan membawa buntalan barang-barang serta tongkatnya, Tari berlari ke depan.

Anengah berdiri di tengah pintu gerbang. Menghadap ke luar. Dan di tengah padang rumput di depan pintu gerbang itu, seseorang tampak duduk bersila di tanah. Meniup seruling.

3. TANTRI

“SIAPA DIA?” bisik Tari yang tak bersuara berdiri di be- lakang Anengah.

“Aku tak tahu. Dia belum mau berbicara. Entah ka- wan, entah lawan.”

“Kurasa ia tak bermaksud jahat pada kita,” bisik Tari lagi. “Kalau tidak, kenapa ia menampakkan diri begitu saja? Dan lagu yang dimainkannya adalah Kidung Sri Gandra. Kidung itu berisi pesan persahabatan. Agaknya ia ingin bersahabat.”

“Dasar kau tak punya pengalaman. Bisa saja ia me- nipu.”

“Kedengarannya ia orang yang terpelajar. Dan jujur.

Pasti ia bukan orang tidak baik.” “Biar kutanyai dia. ”

“Jangan. Biar diselesaikannya dulu lagu itu.” Baru saja Tari selesai berkata begitu, irama seruling berubah. Seakan gembira. Seakan tertawa. “Hei, ini bukan Ki- dung Sri Gandra,” bisik Tari pada Anengah. “Sri Gandra tak bisa dimainkan selincah itu. Aku tahu. Bibi Madra- ka sering menyanyikannya untukku waktu aku masih kecil.”

Irama yang dilagukan masih lincah dan riang. Ber- lompat-lompat. Menggerakkan hati.

“Ah. Aku tahu. Ini lagu para nelayan di daerah Hu- jung Galuh. Aku ingat betul. Beberapa tahun yang lalu aku diajak Bibi Madraka menyusuri Sungai Suwarna. Dan di Hujung Galuh ada pesta besaaar sekali. Sebuah kapal besar baru merapat. Para nelayannya berpesta- pora, dan lagu itu dimainkan. Lucu. Para wanitanya menari dengan gaya yang aneh. Hanya maju-mundur dan melenggang-lenggang. Bahasa mereka agak lain dengan kita. Apakah orang ini dari sana.”

Terdengar lagu berubah lagi. Kini mengalun-alun. Seakan tiupan angin. Di sela sekali-sekali oleh lengking- an tinggi bagaikan pekikan burung camar. “Ah, seperti di laut, ya,” bisik Tari.

“Huh. Kau pernah ke laut?” tanya Anengah, sedikit terlihat rasa irinya.

“Pernah saja! Waktu itu aku berangkat dari Hujung Galuh,” Tari tak menyembunyikan rasa  bangganya. “Kau saja yang seperti katak di bawah tempurung. Kami murid-murid Bibi Madraka sudah berkunjung ke mana saja!”

“Makanya ilmu kalian tak maju-maju,” dengus Ane- ngah.

“Daripada maju tapi tak tahu utara-selatan,” tukas Tari asal membantah saja, kekanak-kanakannya mun- cul. “Kau pernah ke Kembang Putih, ke Kamal Pandak? Tak mungkiiin!”

“Tapi kau ke tempat-tempat itu paling juga hanya meminta-minta belas kasihan orang. Apa enaknya! Ja- lan jauh, capek, makanan tak keruan!” Anengah juga lupa akan ke “angkeran” dirinya. Ia meladeni gaya ke- kanak-kanakan Tari. Sesaat Tari tercengang juga meli- hat gaya berbicara Anengah. Belum pernah Anengah begitu bebas berbicara. Bebas dalam arti tidak terlalu terkungkung oleh kepura-puraan dan basa-basi. Ya. Mungkin itu yang terjadi. Mungkin Anengah bersikap angkuh dan sok berwibawa untuk membedakan dirinya dari siswa lain. Terutama Kang Tara yang selalu ber- canda dan ceria. Mungkin... karena  sekarang  merasa tak ada saingan, Anengah bisa kembali pada pribadi yang menyenangkan. Tapi... rasanya tak akan ada yang bisa menggantikan kedudukan Kang Tara.

“Anak tolol, apa yang sedang kaurenungkan?” tiba- tiba Anengah bertanya. Dan Tari tersentak dari lamu- nannya. Dirasakannya betapa janggalnya mereka. En- tah bagaimana ia dan Anengah telah duduk seenaknya di telundakan pintu gerbang, berhadapan, seolah-olah tak ada hal lain yang harus mereka perhatikan.

“Jika kau memang maju, coba bagaimana kau bisa melakukan langkah ke-26 dari Sura-caya tanpa tangan- mu harus terangkat, hayo!” Tari melanjutkan suasana yang mereka buat itu. Ia bersandar ke gapura, duduk seenaknya dan tak menghiraukan suara seruling yang mendayu-dayu itu.

“Mudah saja. Kautekuk kaki kananmu, kauputar bahumu ke kiri, dan dengan menggelengkan kepala ke kanan maka tubuhmu akan maju ke depan tanpa ta- nganmu terangkat. Itu pun kalau kau sudah  melaku- kan langkah sebelumnya dengan benar. Jangan tanya- kan langkah sebelumnya, sebab kemungkinan kau ti- dak mengujiku, tetapi memang bertanya!”

“Gila apa! Untuk apa bertanya padamu,” Tari menci- bir.

“Hei, tanya saja padaku!” tiba-tiba sebuah suara me- lengking terdengar. Keduanya menoleh. Ternyata orang yang meniup seruling itu telah mendatangi. Dan kini ti- dak meniup seruling lagi. Dan kini tampak bahwa orang itu bukannya orang dewasa, tetapi seorang anak lelaki yang kemungkinan baru berumur sekitar dua  belas atau empat belas tahun. Wajahnya tampan sekali, ma- lah mendekati cantik. Kulitnya kuning bersih. Matanya bersinar-sinar. Ia memakai kain yang tampaknya sudah berpuluh tahun tidak dicuci. Selembar kain kasar me- nutupi dadanya yang terbuka. Kainnya hanya diikat dengan tali. Dan di tali itu terselip seruling putih dan sebuah kantungan bekal. “Tanya saja padaku, pasti aku jawab!”

“Apakah kami mengajak bicara kanyu*?” sela Ane- ngah. Kini sudah berubah lagi. Kini seperti biasa: tajam, mantap, bersungguh-sungguh.

“Tentu saja tidak, tetapi kalau tidak dimulai seka- rang, kapan lagi. Sejak tadi aku  menunggu  ditegur. Wah, di sini kok sepi. Kabar yang kuterima mengatakan di sini ramai!” anak itu menjawab seenaknya.

“Ramai karena apa?” Anengah tampak curiga. Dan Tari bisa melihat bahwa tekanan yang beberapa saat ini dirasakannya mulai muncul di wajahnya: marah, kesal, putus asa, dan ketegangan. Pedang telanjangnya telah diselipkan tanpa disarungkan ke ikat pinggangnya. Tapi tangan kirinya seolah tak sengaja mendorong hulu pe- dang itu hingga maju dan mudah dicabut kapan saja. Dalam hati Tari merasa bahwa ketegangan Anengah pastilah sudah pada puncaknya. Anengah yang biasa angkuh itu... masakan kalau perlu menghadapi anak ini harus menggunakan pedang?

“Ya karena ada orang.  Benar  bukan,  Kak...?”  anak itu meringis pada Tari. Giginya putih bersih, rata, dan bibirnya bahkan sedikit memerah. “Lha kalau di hutan

* kamu kadang-kadang memang ramai... tapi ramainya hutan lho, kan tidak cocok bagi kita manusia! Masa aku harus berbicara dengan harimau, kijang... masih untung. Lha kalau bicara dengan ular pakai bahasa apa, hayo!”

“Siapa dan dari mana kanyu?” Anengah sama sekali tidak tergoda untuk tersenyum, walaupun Tari hampir terkikik oleh lagu bicara anak itu yang begitu aneh.

“Namaku Tantri. Boleh dikata aku ini  anak  angin, tak pernah punya tempat tinggal. Jadi kalau ditanya da- ri mana, yah... bagaimana, ya... pertanyaannya jangan sulit-sulit ah. Kita sendiri siapa?” ia balas bertanya. Ta- pi pada waktu bertanya siapa lawan bicaranya itu, anak tadi tidak menghadap Anengah, malah menoleh pada Tari.

“Hei, kanyu bertanya padaku atau padaku?” Tari mencoba melepaskan beban di hatinya dengan menga- jak berbicara ringan dengan anak ini.

“Benar, pada kita dan pada kita,” anak itu tertawa mendengar permainan kata Tari. Kita memang berarti kau ataupun aku. “Suaranta bagus. Aku senang men- dengarnya. Pikiranta indah, aku suka melihatnya. Pe- ngalamanta luas, aku suka berkelana di dalamnya ”

Mau tak mau Tari tertawa mendengar gaya bicara anak itu. “Namamu Tantri? Namaku Tari. Dan ini ”

Kata-kata Tari terputus. Anengah melompat ke anta- ra Tari dan Tantri, kakinya melecut ke arah tangan Tan- tri. Tantri menjerit keras. Tubuhnya yang kecil terlem- par terpental dan jatuh terkangkang di tanah.

“Kakang Anengah!” Tari berteriak langsung melompat mencegah tendangan kedua Anengah.

“Kau lupa peristiwa yang baru terjadi. Dan kau begi- tu saja mempercayai orang,” dengus Anengah dengan sikap masih akan melancarkan serangan. “Yang mem- bunuh begitu banyak saudara-saudara kita adalah seo- rang wanita cantik yang katanya mirip bidadari. Apa susahnya bagi seorang anak untuk mencabut nyawa ju- ga?”

Tari menelan kembali kata-kata marah yang akan disemburkannya. Betapapun Anengah benar. Ia tak kenal anak ini. Dan kemungkinan bahwa anak ini juga diperalat oleh siapa pun yang memusuhi padepokan ini masih ada. Tari melangkah mundur. Diliriknya anak yang mengaku bernama Tantri itu berguling-guling di tanah sambil memegang tangan kanannya yang tadi terkena tendangan Anengah. Dan anak itu menangis!

“Hu hu huuuu... kalian sungguh galak..., sungguh tidak sesuai dengan... dengan... sebagai murid-murid padepokan yang mestinya... mestinya belajar mengasihi sesamanya, hu hu huuuu. Makanya tempat kalian sepi begini... paling semua orang lari, habis... habis kalian galak sih. Huhu huuuu... walaupun kalian jaga kaki gunung ini dengan pagar betis pun... pasti orang akan lari semua. Hu hu hu... tapi, eh, isi padepokan ini kan tinggal kalian berdua toh? Lalu... untuk apa kaki gu- nung kalian jaga?” dari menangis Tantri mengubah si- kap jadi bertanya. Dia kini sudah berdiri sambil terus mijit-mijit tangan kanannya. Tari melihat tangan itu mulai memerah bagai terbakar. Itulah akibat tendangan Birawadana Anengah tadi.

“Apa katamu?” tangan Anengah secepat kilat melun- cur dan menyambar kain pembungkus badan Tantri.

“Eh, eh, apa aku salah bicara ya?” Tantri sangat ke- takutan.

“Kaubilang kaki gunung ini dijaga?” Anengah meng- guncang-guncang tubuh anak itu.

“Be... benar! Apanya yang aneh? Kita pasti tahu itu, kan?”

Baru kini Tari sadar mengapa Anengah tampak begi- tu gusar.

“Siapa yang menjaga? Di mana?” tanya Anengah. “Eh, eh, jadi bukan kita? Orangnya galak-galak... di

hutan yang ada jalan setapaknya ke Kojajar?” “Apa yang mereka lakukan?”

“Tadinya mereka melarang aku naik. Aku bilang aku cari kambingku yang lepas. He he he he... aku pandai bermain sandiwara lho! Dulu di...”

“Apakah mereka memakai seragam? Mereka mema- kai tanda-tanda?” tukas Anengah. Tari ikut tegang mengikuti pembicaraan ini.

“Seragam? Tidak... tidak kok. Mereka malah lebih mirip perampok. Mukanya menyeramkan, pakaiannya tak keruan... cuma, pemimpinnya naik kuda. Dan di pe- lana kuda itu aku lihat cap bergambar.... Ya, ada gam- bar mirip Candrakapala...” Dan Tantri menirukan Can- drakapala itu, yaitu tengkorak yang bertaring.

“Candrakapala? Lambang Kadiri dulu?” Tari ikut berbicara. “Lambang itu sudah lama hilang.”

“He he he... aku juga bilang mirip. Rasanya sih bu- kan lambang Kadiri kok. Kalau Kadiri lambangnya begi- ni,” Tantri membelalakkan matanya lebar-lebar.

“Apa kata mereka?” Anengah masih mencengkeram kain pembalut badan Tantri.

“Wuah. Mereka galak. Lebih galak dari kita,” kata Tantri. “Mula-mula aku tak boleh masuk. Kemudian mereka memperbolehkan aku masuk. Tapi pemimpin- nya bilang,  barang siapa yang sudah naik gunung ini, tak boleh keluar lagi. Harus dibunuh. Serem, ya? Me- ngapa kita buat peraturan aneh itu?”

Anengah mengempaskan Tantri ke tanah. Gemas ia berbalik menghadap pintu gerbang padepokan. Ta- ngannya mengepal keras. Tubuhnya tampak tegang. Mau tak mau Tari harus berpendapat bahwa saudara seperguruannya ini terlihat sangat memikirkan pergu- ruannya.

Kemudian Anengah berpaling lagi. Wajahnya begitu muram.

“Bapa Guru memerintahkan aku untuk selalu men- jagamu, mengikutimu. Kau kularang pulang ke Wali- rang, karena itu larangan Bapa Guru. Kau tampaknya kurang percaya padaku. Baiklah,” Anengah menghela napas panjang, “aku akan melanggar perintah Bapa Guru. Harapanku hanyalah, suatu saat  pwangkulun akan memberiku ampun. Tugas utamaku mencari Tara, itu akan kulaksanakan. Tugas keduaku menjaga eng- kau, tapi karena kau tak peduli, biar kulanggar  tugas itu. Aku rasa ada tugas lain yang lebih penting. Yaitu... mencari siapa sebenarnya yang begitu membenci Rah- tawu hingga ingin membasmi kami sedemikian rupa. Nah, sekarang terserah kau, Tari. Jika kau pergi sendiri, dan suatu saat menemui kesulitan, hubungi aku de- ngan getaran batinmu. Jika kau tewas di tangan seseo- rang, aku akan membalaskan dendammu. Terserah kau mau ke mana.”

“Tunggu, Kakang Anengah,” Tari cepat mencegah saat Anengah akan berpaling pergi. “Maafkan aku tadi... begitu kasar padamu. Aku tahu... kau tertekan oleh pe- ristiwa ini. Aku pun demikian. Kita bersaudara, tak ada yang bisa memutuskan persaudaraan kita. Apalagi hanya dengan pertengkaran kecil itu.”

“Lalu?” hidung Anengah mengembang karena mena- han haru.

“Kau lebih tua dari aku. Aku akan ikut kau. Asal kita segera berangkat.”

“Aku ikut,” kata Tantri. “Aku bisa mati kalau harus melewati orang-orang di kaki gunung itu.”

“Dengar. Aku  masih  mencurigaimu,”  dengus  Ane- ngah.

“Aku... aku betul-betul orang baik-baik kok. Aku ke- mari hanya... ingin minta makan dan minum serta tem- pat istirahat beberapa hari. Itu saja. Benar. Kudengar Padepokan Rahtawu sangat murah memberi dana ”

“Sudahlah, kalau kau mau ikut, ikutlah...  tapi  ja- ngan bikin gara-gara, ya!” Tari menggamit tangan Tantri agar mendekat untuk menghindari sambaran tangan Anengah.

“Hm, Tari, kau tak boleh begitu saja mempercayai orang. Kauperhatikan dia terus. Jika dia berbuat sesua- tu yang mencurigakan, bunuh. Tunggu, aku akan men- gambil perbekalan.”

Beberapa saat kemudian, mereka bertiga sudah da- lam perjalanan turun gunung. Anengah kini mengena- kan pakaian petani, dengan caping lebar, kain  kasar, dan buntalan perbekalan di punggungnya. Pedangnya dibungkus kain dan dijadikan pemikul buntalan tadi. Tari juga berpakaian serupa. Tongkat si Galih dijadikan kayu pemikulnya. Tantri tentu saja tak berubah penam- pilannya. “Untuk apa menyamar. Walaupun kita me- nyamar pun orang takkan percaya kita petani. Aku sen- diri... tanpa menyamar orang pasti mengira aku orang gila. Ya toh?” katanya.

Menjelang sore hutan yang mereka tempuh mulai menipis.

“Hei, bukankah ini jurusan ke Kojajar?” tanya Tantri tiba-tiba. “Di ujung jalan ini dijaga manusia galak!”

Anengah tak menjawab.

“Kakang Anengah ingin menyelidiki mereka,” bisik Tari. “Dan kurasa sarika ingin melampiaskan kemara- hannya pada seseorang. Aku juga begitu.”

“Kita labrak mereka?” Mata Tantri bersinar. “Ya. Kau takut?” “Takut sih tidak. Tapi aku tak bisa berkelahi. Aku nonton saja, ya? Kalau kita berdua kalah, aku  pura- pura tidak kenal, jadi tak ikut ditangkap, ya?”

“Kalau memang terjadi pertempuran, kau lari saja.

Ingat, ya?”

“Boleh!” Tantri mengeluarkan serulingnya, dan sam- bil berlari-lari kecil ia meniupkan lagu gembira pada se- rulingnya.

Anengah yang tak sabar telah menggunakan ilmu ja- lan cepatnya. Tari harus mengikutinya, maka ia pun menggunakan ilmu yang sama. Tantri sendiri agaknya tak memiliki ilmu apa pun, jadi ia harus berlari-lari ke- cil.

Waktu Tantri meniup seruling sambil berlari-lari ke- cil, Anengah melirik tajam pada anak itu. Dan pandan- gan matanya bertemu dengan pandang mata Tari. Jika memang Tantri tak punya ilmu, paling tidak ia harus te- rengah-engah. Kini dengan enak ia malah meniup serul- ing.

Tiba-tiba Anengah berhenti dan menjulurkan kaki- nya. Tari dengan mudah melewatinya. Tetapi Tantri langsung jatuh terbanting tunggang-langgang memben- tur kaki Anengah.

“Hei, kalau berhenti jangan terlalu tiba-tiba. Wah, benjol kepalaku ini....” Tantri mengusap-usap dahinya yang terbentur pohon. Tari memperhatikannya. Ane- ngah mengangkat bahu. Ia merasakan dari benturan tadi bahwa Tantri tak punya tenaga apa pun. Aneh juga. Mereka melanjutkan perjalanan. Jalan kini kian me-

lebar. Pepohonan pun kian menipis.

“Itu mereka,” tiba-tiba Tantri berkata. Mereka ber- henti. Di depan sana hutan berakhir. Jalan yang me- reka lalui melebar di sebuah padang rumput kecil. Di sisi padang rumput itu ada serumpun pohon bambu. Rindang sekali. Dan beberapa lelaki duduk-duduk di sana. Tak jauh dari mereka berkumpul beberapa ekor kuda. Kemunculan Anengah, Tari, dan Tantri dari da- lam hutan langsung membuat orang-orang itu berdiri. Dengan sikap garang mereka mengambil kedudukan di ujung jalan itu, hingga ke mana pun ketiga orang itu pergi maka dengan mudah dapat mereka tangkap.

Tapi Anengah dan Tari bukanlah orang yang mudah ditakut-takuti. Mereka tidak lari. Dengan tenang berja- lan mendekat.

“Hei, kamu!” seorang bertubuh tinggi besar dengan rambut tumbuh hampir di seluruh tubuh membentak. “Dari mana, hei?”

“Siapa kalian?” bentak Anengah tak kurang galak- nya.

“Monyet! Aku bertanya padamu, hei!”

“Terserah. Kalau kau tak mau menjawab, aku juga tak mau menjawab!” sahut Anengah. Kedua orang itu langsung berbicara dengan bahasa kasar, tidak seperti biasanya jika seseorang jumpa di jalan dengan orang lain.

“Monyet! Namaku Kala Modot, kau pasti sudah de- ngar nama itu bukan? Aku raja perampok di daerah ini. Nah, jawab pertanyaanku tadi!”

“Jika kau raja, mengapa kau merampok?  Jika  kau raja perampok, jelas kami bukan rakyatmu, kami bukan perampok kok!” Tantri ikut berbicara. “Lagi pula, jadi raja perampok saja kok bangga sih?”

“Pokoknya, serahkan semua hartamu. Cepat!” geram perampok yang bernama Kala Modot itu. “Lebih bagus lagi, serahkan kepala kalian!”

“Kau terlalu serakah,” dengus Anengah. “Ketahuilah, ini masih daerah pengaruh Padepokan Rahtawu. Dan sebagai murid Rahtawu, aku tak rela daerah ini dikotori oleh orang-orang macam kau!”

“Weeee lhah! Kau murid Rahtawu! Wah, wah, wah, untung besar ini kita, kawan-kawan ” Kala Modot ter-

tawa dan berpaling pada kawan-kawannya. “Dapat ma- kanan besar kita kali ini. Ha ha ha... Anak bagus, se- rahkan dirimu baik-baik saja ya, sayang kulitmu jika pecah ” ia tertawa pula pada Anengah.

“Hari ini aku melanggar pantangan membunuh,” ka- ta Anengah dingin. “Akan kubasmi kalian semua. Tapi jika kalian mau berterus terang tentang siapa yang me- nyuruh kalian berada di sini, mungkin nyawa kalian masih bisa kuampuni.”

“Weeee lhah! Lha ini lucu    kamu itu aku yang ngan-

cam, Nak! Kamu tidak pantas mengancam orang! Sini...

mana lehermu biar kupotong sendiri sini     ” Kala Modot

tertawa mengulurkan tangannya. Akibatnya hebat. Ta- hu-tahu saja orang bertubuh tinggi besar itu terbanting begitu keras hingga suaranya membuat kuda-kuda menjerit.

“Bangsaat. Monyet! Celeng!” Kala Modot memaki- maki bangkit. “Kamu tak bisa disayang, yah! Kawan- kawan gempur!”

Serentak sekitar sembilan orang maju menerjang Anengah. Dengan tenang Anengah menggeser kaki. Dan ketika ia memutar tubuh maka dua-tiga penyerang tunggang-langgang kena sambaran tinju dan kakinya. Tari segera meletakkan buntalannya dan dengan tong- kat si Galihnya ia menghantam roboh tiga orang pe- nyerang. “Tantri, minggir kau!” teriak Tari sambil me- robohkan lawannya yang keempat.

“Uupps!” Kala Modot terkejut. Enam orang kawannya telah roboh dalam gebrakan pertama! Mereka langsung bangkit dan mengepung Anengah, Tari, dan Tantri.

“Cincang mereka!” teriak Kala Modot. Ia pun meng- hunus sebilah pedang panjang. Udara pun langsung te- risi oleh kilatan berbagai senjata lainnya. Parang. Pe- dang. Tombak. Gada besi. Keris. Dan mereka langsung menyerbu Anengah.

“Minggir, Tantri.” Dengan lembut Tari menendang Tantri hingga anak itu terlempar ke pinggir, sementara ia langsung melompat menghadang. Gerak kaki Sura- caya yang dipakainya begitu lembut. Ia bagaikan me- nari. Ke kiri. Ke kanan. Maju. Mundur. Dan setiap gera- kan berarti satu serangan lawan digagalkan. Anengah menggunakan tata gerak yang sama. Tetapi gerakannya begitu mantap dan gagah. Dan tak segan-segan ia me- lontarkan tendangan yang pasti disusul oleh jeritan se- ram. Juga derakan patah berbagai senjata tadi. Bahkan gada besi yang pemiliknya sudah gembira karena gada tersebut berhasil menyentuh bahu Anengah, tiba-tiba meledak patah oleh gerakan bahu itu.

Orang-orang itu kemudian bergelimpangan di tanah. Masing-masing paling sedikit meringis kesakitan. Ada yang pingsan. Ada yang berputar-putar dengan kaki pa- tah. Kala Modot tak bisa berbuat apa-apa. Perutnya di- injak oleh Anengah.

“Jika aku tekan sedikit lagi, perutmu akan meletus, kau tahu itu?” kata Anengah geram. Wajahnya sangat seram karena terkena percikan darah dan mengkilap oleh keringat, matanya memancarkan amarah. “Siapa yang menyuruh kalian berada di sini?”

“Aku... akhhhh... jangan! Jangan!” agaknya Kala Modot akan berdusta tetapi Anengah memperkeras te- kanannya.

“Hi hi hi hi... banyak mainan nih....” Tantri berlom- patan ke sana kemari mengambil berbagai potongan senjata yang berserakan di tanah. “Lumayan... lain kali cari yang banyak tombaknya, ya, bisa buat lempar- lemparan lho,” katanya pada Tari.

Tari tak memperhatikan dia. Baru kali ini ia berta- rung melawan orang yang tak dikenalnya, dan dengan semangat untuk betul-betul membela diri atau terbu- nuh. Dadanya berdebar keras. Matanya jalang melirik ke mana-mana. Beberapa orang masih tergeletak. Bebe- rapa orang mencoba bangkit. Seseorang sedang ter- huyung-huyung berdiri dan jatuh menimpa temannya. Mereka saling memaki.

Heran. Kuda-kuda itu begitu tenang.

Dan Tari melihat seorang lelaki gemuk pendek di an- tara kuda-kuda tersebut. Menenangkan mereka. Lelaki itu tak keruan mukanya, badannya, dan pakaiannya. Serba kumal dan dekil.

“Kau masih belum mau berbicara?” bentak Anengah lagi.

“Aku... aku... aku disuruh oleh...”

Dari sudut matanya Tari melihat sesuatu melesat ce- pat ke arah Anengah. “Awas!” ia berteriak dan melompat tinggi. Benda itu datang dari si Gendut yang berada di antara kuda-kuda tadi. Di udara Tari berputar dan ka- kinya menendang benda tadi. Ia menjerit. Kakinya tera- sa panas. Tetapi benda itu berhasil ditendangnya jatuh. Menancap di tanah. Sebilah keris pendek! Tari menda- rat di tanah dan terpaksa langsung berkelit karena ter- nyata orang gendut itu telah melayang ke arahnya! Tin- ju Tari beradu dengan tubuh si Gendut. Kembali ia menjerit. Serasa meninju batu! Tari berputar. Melang- kah mundur untuk mengambil  kuda-kuda berikutnya. Si Gendut menginjak tanah langsung mengirimkan ten- dangan terbang ke arah Anengah. Anengah membentak keras. Menginjak Kala Modot dan menerima tendangan si Gendut di udara. Terdengar Anengah menjerit. Dia terbanting ke samping namun cepat melompat berdiri. Mereka berdiri bagaikan patung-patung kaku. Si Gendut tegar diam, tak memandang pada siapa pun. Anengah dengan kuda-kuda menyerangnya, meman- dang Si Gendut heran. Tari masih dalam kedudukan se- tengah menarinya, melirik pada Anengah. Ada yang aneh. Kenapa orang itu tidak maju lebih dahulu, dan malah menjaga kuda. Lemparannya tadi membuat kaki Tari kesakitan. Apalagi benturannya. Jelas orang ini le- bih berilmu dari Kala Modot.

Dan kini Kala Modot juga mengguling minggir. “Siapa kau?” tanya Anengah.

“Tak ada gunanya kujawab. Toh kau akan mampus!” si Gendut langsung menerjang.

Anengah sudah bersiaga. Ia memutar tubuh ke kiri. Mestinya serangan si Gendut, betapapun  cepatnya, akan membentur angin dan Anengah akan punya ke- sempatan menabas pinggangnya. Tetapi si Gendut sea- kan tahu gelagat. Ia memberatkan tubuh hingga dirinya menyentuh tanah sebelum waktunya dan sambil berte- riak nyaring tangannya menusuk ke depan. Anengah dalam keadaan genting. Namun ia sempat membuang diri, berguling menjauh. Si Gendut seakan terpental sendiri... ke arah Tari. Gugup Tari melompat mundur, namun terlambat. Sebuah tamparan keras mengenai pipinya. Tari menjerit. Pipi itu serasa terbakar. Tubuh- nya berputar bagai gasing dan roboh. Ia terpaksa bergu- lingan tiga-empat kali. Dadanya begitu sesak. Dan cepat ia bersila untuk mengatur kembali napasnya—sesuatu yang biasa dilakukannya dalam latihan. Tetapi ini bu- kan latihan. Kala Modot yang sudah bangkit sambil me- nyeringai mendekatinya dengan pedang terhunus—Kala Modot pun tak sadar bahwa pedangnya itu sudah pa- tah.

“Tari!” jerit Anengah memperingatkan. Ia melesatkan tubuhnya untuk menghadang. Tapi si Gendut lebih da- hulu menghadangnya, memasang kaki hingga perut Anengah terancam jebol. Putus asa Anengah memaksa- kan kakinya menyambut kaki si Gendut sementara ta- ngannya gesit melemparkan keris pendek ke arah Kala Modot.

Tiga jeritan terdengar sekaligus. Anengah yang me- nyalurkan tenaga Birawadana pada kakinya menjerit karena dirasakannya kaki itu bagaikan masuk ke dalam kobaran api—padahal, mestinya tendangannyalah yang memancarkan wibawa panas. Kala Modot menjerit ka- rena punggungnya terhajar keris terbang Anengah. Dan Tantri menjerit karena pedang buntung Kala Modot menghajar kepalanya—agaknya Tantri ingin menolong Tari, ia lari ke antara Tari dan Kala Modot, dan saat pe- dang Kala Modot terlepas karena pemiliknya terhajar keris terbang Anengah, maka kepala Tantri terlempar pedang buntung itu.

Anengah jatuh terguling-guling. Si Gendut tertawa terbahak-bahak. “Hua ha ha ha ha... hanya sedemikian saja kesaktian anak Rahtawu, hah? Hua ha ha ha ha...” Tari sudah terlanjur menjalankan ilmu pernapasan- nya. Ia hanya bisa semakin memusatkan perhatian agar

pemusatan pikirannya tak terpecah.

Kala Modot berguling-guling di tanah, memegang ba- hunya yang bersimbah darah.

Tantri terlihat kebingungan membawa kumpulan po- tongan senjata yang tadi dipungutinya.

Si Gendut sesaat memperhatikan Anengah. Anengah rasanya tak akan berbahaya baginya. Saat itu juga ter- lihat kaki Anengah melepuh bengkak. Sambil tertawa si Gendut berpaling pada Tari. Terus tertawa terpingkal- pingkal ia mendekati gadis itu. “Hua ha ha ha... kalau gadis seperti engkau dikumpulkan... hua ha ha ha... ra- sanya masih cukup indah buat pajangan, hua ha ha...” Melihat si Gendut mendekat, Tantri mengkeret keta-

kutan. “Hei, jangan ribut saja!” serunya gugup, tangan- nya memeluk berbagai potongan senjata. “Kalau sudah menang ya sudah. Tidak ada acara untuk tertawa kena- pa sih!? Diam! Saudaraku ini sedang tidur!”

Si Gendut seolah tak acuh menendang Tantri. Tantri terpental tinggi. Potongan senjata yang dipegangnya terhambur berantakan, meluncur ke arah si Gendut. Potongan-potongan senjata itu memang tak terarah. Ge- rakannya pun pelan tak bertenaga. Jadi si Gendut tak menghiraukannya, tetap melangkah ke arah Tari.

Tiba-tiba si Gendut tertegun. Sebilah potongan tom- bak menimpa tengkuknya. Tidak keras. Tapi terasa sa- kit sekali. Dan ini aneh, sebab si Gendut merasa dirinya sudah kebal. Belum selesai terkejut, sekeping potongan pedang mental ke arah kakinya, sekitar tiga jari di ba- wah tempurung lutut. Disusul oleh pegangan pedang yang menimpa dada sebelah kirinya. Hanya menyerem- pet memang. Tapi hampir saja ia menjerit. Dan ia roboh. Kakinya serasa tak bertulang.

Sementara itu, Tantri yang terlempar ke atas, jatuh tepat menimpa Tari. Entah bagaimana Tari terguncang tersadar dari semadinya. Terkejut dilihatnya dirinya di- peluk rapat oleh Tantri.

“Kurang ajar!” desisnya. Gemas ia melemparkan Tan- tri ke samping. Dan sadarlah ia bahwa Tantri sesung- guhnya sudah tak sadarkan diri! Dirabanya nadi di leh- er Tantri. Masih hidup, walaupun terlihat anak itu seo- lah-olah sudah tak bernapas lagi. Cepat berpaling, Tari melihat si Gendut sedang bangkit dengan heran. Sesaat ia memandang potongan-potongan senjata yang berte- baran di tanah sekelilingnya, sesaat ia memandang Tan- tri yang tertelungkup di tanah tak sadarkan diri. Dan di sana, Anengah terengah-engah mencoba mencegah ha- wa panas yang merambat naik dari kakinya yang mele- puh.

Si Gendut menggeleng. Pasti tadi tempat-tempat ter- peka di tubuhnya itu kena secara tak sengaja. Sekarang yang penting si gadis itu harus diringkus. Sial. Kala Modot ternyata tak berguna sama sekali. Bajingan itu beserta anak buahnya masih terguling-guling menahan kesakitan di tanah.

Tari juga mengguncangkan kepalanya. Pusing sekali. Tetapi lebih dari itu ia mendengar sebuah suara lembut di telinganya, “Awas, si Gendut itu memiliki ilmu Sasra- dahana yang sangat mirip dengan Birawadana-mu. Ke- lemahannya ada di bawah ketiak kirinya. Saat dia akan melontarkan ajiannya, tempat itu tak terjaga. Kau- gunakan langkah ke-39 Sura-caya untuk  memancing dia berpaling ke arah kananmu. Kemudian kau serang ubun-ubunnya dengan pukulan Bantala Liwung. Dia akan merasa mendapat lowongan. Dan dia akan meng- angkat tangan kirinya. Saat itu gunakan tendangan Bantala Liwung ke-12.”

Siapa yang berbisik? Atau... betulkah itu bisikan? Heran Tari melihat ke kanan dan ke kiri. Tak ada orang yang mungkin bisa dicurigai. Tantri pingsan. Anengah jauh di sana. Lalu siapa? Tak mungkin si Gendut itu. Tapi... betulkah itu tadi suara? Bukan hanya khayalan- nya belaka?

Ia tak sempat berpikir. Sekilas dilihatnya si Gendut telah meloncat menerjangnya. Tari berguling ke kiri. Me- lompat berdiri dan berputar ke kanan. Sebuah pukulan dilancarkannya sambil menjerit keras. Si Gendut mene- rimanya dengan tersenyum mengejek. Tari cepat me- narik tangannya. Ia pernah mendengar tentang ilmu Sa- sradahana. Sungguh berbahaya kalau memang itu yang dihadapinya. Ia berputar mundur. Cepat kedudukan kakinya berubah. Kaki kirinya melecut ke udara dan tubuhnya berputar. Itulah langkah ke-39. Dan benar juga. Si Gendut terpaksa berpaling ke kanan, karena se- rangan berikutnya mungkin adalah tendangan lurus ke lambungnya. Tapi Tari tidak melanjutkan gerakan ka- kinya. Tangannya tertekuk. Jari-jarinya berkumpul ra- pat mengancam kepala si Gendut. Si Gendut berteriak menggelegar mengangkat tangan kiri untuk menghan- tam kepala Tari.

Tapi tendangan kilat Bantala Liwung ke-12 telah mendahuluinya.

4. CANDIKA

TERIAKAN si Gendut begitu keras. Hingga daun-daun kering di hutan itu serasa rontok. Dan ia melompat tinggi, badannya melengkung menahan sakit. Ia jatuh bergedebum di tanah, masih menjerit panjang, kemu- dian berguling-guling cepat sekali.

Tari sendiri ternganga melihat hasil serangannya. Rasanya mudah sekali. Dan ia juga merasa bahwa ten- dangannya telak mengena. Tapi kenapa begitu mudah? Apakah itu karena bisikan lembut tadi? Tapi... bisikan- kah itu? Atau mungkin hanya hubungan batin? Jika bi- sikan mestinya ia mengenal suaranya. Lagi pula... siapa yang berbisik?

“Tolol! Cepat habisi dia!” ia serasa mendengar. Sekali lagi ia celingukan. Siapa yang berbicara? “Cepat, habisi dia!” seru suara itu lagi. Tak terasa Tari mencabut ke- risnya. Tapi ia tertegun. Tidak. Ia tak akan membunuh orang! Walaupun si Gendut itu musuh... ah. Membu- nuh? “Tolol, mengapa ragu-ragu?”

Sial! Siapa sih yang berbicara? Tari berpaling. “Sudah. Kesempatanmu sudah lewat!” terdengar su-

ara itu lagi.

Tari berpaling. Dan terkejut. Si Gendut telah lenyap! “Tari... tangkap pemimpinnya!” keluh Anengah me-

maksa diri. Tangannya sibuk mencoba menghentikan rambatan panas. “Cepat!”

Ini perintah jelas. Jelas pula siapa yang bersuara. Cepat Tari melompat pada Kala Modot. Diinjaknya leher orang itu.

“Cepat katakan, siapa yang menyuruhmu!” geram Tari.

Sebutir batu melesat cepat dari dalam hutan menuju Tari. Tari terkesiap. Belum sempat ia memutuskan akan berbuat apa, terlihat sebuah titik hitam lagi meluncur. Anengah pun melihat ini. “Awas, Tari!”

Pada saat kritis itu Tari tiba-tiba teringat gerakannya tadi sewaktu ia “mengalahkan” si Gendut. Cepat tubuh- nya berputar, melesat ke atas hingga terhindar dari se- rangan batu yang tertuju ke arahnya. Dan dalam gera- kan hampir tak terlihat tangannya tertekuk  turun. Ujung kerisnya tepat menerima batu yang tertuju pada Kala Modot. Tari berteriak terkejut. Getaran pada keris- nya begitu kuat hingga sewaktu jatuh ia limbung. Agak gugup ia berdiri menghadap ke hutan, berseru. “Hai, orang gagah! Keluarlah!” Saat itu juga, walaupun se- dang terancam maut, Tari malu sendiri. Ucapan seperti itu belum pernah diucapkannya, dan hanya didengar- nya dari dongeng-dongeng kepahlawanan yang dicerita- kan oleh Bibi Madraka.

Bibi Madraka! Hei, mungkinkah gurunya itu yang memberinya petunjuk tadi? Dari mana? Apakah dengan hubungan batin? “Tari, aku jaga dia.  ” Anengah berhasil merayap dan

kini telah mencengkeram leher Kala Modot. “Kauawasi hutan itu... agaknya itu tadi si Gendut. Ia sudah lum- puh, takkan berani ia memunculkan diri di sini. Hh. Baru tahu rasa dia, dikiranya murid Rahtawu mudah ditakuti begitu saja?” Anengah berbicara gagah. Tetapi Tari tahu bahwa sebetulnya itu hanya untuk menutupi kelemahannya.

Tari mengangguk. “Ya, kukira ia takkan berani ke- luar lagi,” katanya keras-keras. “Apa unggulnya Sasra- dahana sih kalau dibandingkan Birawadana? Tak ada seujung kuku hitam!”

Dengan gaya gagah Tari menghampiri Anengah. Di- am-diam diulurkannya dua butir obat penawar luka pa- da saudara seperguruannya itu. Beberapa anak buah Kala Modot mulai bangun. Tapi dengan sekilas pandang saja Tari melihat bahwa mereka takkan berani maju la- gi. Anengah mencengkeram buah jakun di leher Kala Modot.

“Jika kau kubunuh, maka itu terlalu enak bagimu,” bisik Anengah. “Aku yakin majikanmu akan lebih se- nang jika kau mampus. Sebaliknya, aku ingin kau tetap hidup dan menderita. Kau tahu, murid Rahtawu diajari seribu dua ratus empat puluh dua cara untuk menyiksa orang. Masing-masing cara sanggup membuat rambut- mu rontok ketakutan. Sebelum itu kulakukan, cepat kaukatakan siapa yang menyuruhmu!”

Tari sedikit ternganga. Betulkah Bapa Gurunya me- ngajar cara menyiksa orang? Ia tak percaya. Tetapi Ane- ngah tampak bersungguh-sungguh.

“Aku... aku...” Kala Modot megap-megap. Tapi kem- bali Tari terkejut. Tiga butir batu kini meluncur cepat ke arahnya. “Awas, Kakang!” teriak Tari. Ia sudah tahu bahwa batu-batu itu dilempar dengan kekuatan tinggi maka kini ia memasang kuda-kuda kokoh serta meng- gunakan kerisnya hanya untuk membuat batu-batu ta- di terserempet dan berganti arah, tidak untuk meng- hancurkannya.

Usaha pertamanya berhasil, walaupun tangannya te- rasa ngilu.

“Kakang Anengah, apakah kukejar saja dia?” bisik Tari. Kedudukannya sulit. Anengah jelas tak bisa ba- nyak bergerak dengan kaki yang melepuh bengkak itu. Tari sendiri jika harus melayani serangan jarak jauh itu pasti akan kecipuhan.

“Hei, kok sepi sekali... yang berkelahi sudah selesai ya?” tiba-tiba Tantri menggeliat bangun, meraba-raba seluruh tubuhnya. “Sialan si  Gendut  tadi.  Dikiranya aku ini bola Cayitra apa, enak saja  ditendangi.  Mana dia, biar aku hajar nanti... hayo... mana dia...?” Tantri memunguti lagi potongan-potongan senjata yang tadi berantakan. “Habis mainanku... mana dia, Kak Tari?”

“Awas, Tantri!” Tari berseru. Beberapa butir batu kini melesat dari hutan. Arahnya tak keruan. Ada yang ke Tari, ada yang ke Anengah, ada yang ke Kala Modot, ada yang ke Tantri. Dan ke beberapa anak buah Kala Modot yang kebetulan sudah berdiri.

Anengah berguling ke tanah sambil menyeret Kala Modot. Tari tidak berani lagi berbenturan dengan keku- atan dahsyat itu. Ia pun bergeser menghindar. Anak buah Kala Modot ada yang sempat melihat luncuran ba- tu-batu tadi. Tapi mereka tak terlalu gesit dalam meng- hindar. Seorang menjerit dengan lengan patah. Tiga orang tak sempat lagi menjerit. Langsung roboh tak ber- gerak. Tewas.

Adalah Tantri yang paling ribut. Batu yang tertuju padanya agaknya tidak bertenaga. Sekilas Tari melihat batu itu hanya membentur punggungnya. Dan jatuh. Tapi Tantri menjerit-jerit seolah-olah tubuhnya terluka parah. Ia berteriak-teriak kalang-kabut, “Kurang ajar! Kura-kura! Kadal! Kutu kepala! Siapa yang melempar- lempar, ya! Tak punya adat! Kurang tata susila! Melem- par tanpa bilang-bilang lebih dahulu! Pengin tahu rasa- nya dilempar tak diberi tahu dulu, ya? Nggak enak, lho rasanya, nggak enak! Pengin tahu, ya? Pengin tahu, ya!” Dan dengan gemas ia serabutan melemparkan apa saja yang dibawanya ke arah hutan. Lemparannya memang lemparan ngawur, sama sekali tidak memakai ilmu me- lempar. Berbagai potongan senjata itu meluncur se- enaknya, sesuai sifat masing-masing. Potongan pedang terlempar miring dan bagaikan melayang melengkung menyisir udara. Ujung tombak bukannya meluncur te- tapi berputar-putar bagaikan sepotong ranting tua saja. Gagang pedang melambung tinggi sekali. Bahkan ada potongan tangkai tombak yang hanya melesat ke atas dan kembali menimpa punggung Tantri sendiri yang tentunya makin kalang-kabut memaki-maki. Ia makin beringas melemparkan apa saja yang bisa dipegangnya ke hutan.

Sesuatu membuat Tari tertegun. Lemparan-lemparan Tantri jelas tanpa aturan. Dan tak bertenaga. Apakah memang kebetulan bahwa semua benda yang dilempar- nya ternyata bisa meluncur jauh hingga masuk ke hu- tan? Seperti bilah pedang tadi. Karena pipih dan ber- permukaan lebar, mungkin secara wajar bisa melayang hingga mencapai jarak jauh melebihi tenaga lempa- rannya. Kemudian potongan tombak. Karena berputar- putar berhasil mencapai jarak jauh juga. Ah, ya. Pasti hanya kebetulan saja.

“Hayo, lempar lagi kalau berani!” tantang Tantri.

Tak ada jawaban tentunya. Dan mereka pun me- nunggu. Yang terdengar hanyalah teriakan anak buah Kala Modot yang kesakitan. Sementara beberapa yang mulai sadarkan diri lagi agaknya tak berani bangkit.

“Hei, gandarwa jelek! Hayo lempar aku!” teriak Tantri lagi. Suaranya sampai bergema. Tak ada jawaban. Tan- tri mengangkat bahu, tertawa berpaling pada Tari, “Hah, siapa pun si jahat itu,  Kak, dia  sudah  ketakutan. Jadi tak usah khawatir lagi. Orang ini mau diapakan? Di- sembelih? Wah, sayang, pedangku habis. Barangkali orang ini masih enak ya disate, he he he... atau dima- kan mentah-mentah, kulitnya diiris kecil-kecil terus di- beri jeruk nipis... ihhh, sedap! Kita coba, yuk!” Ia betul- betul menunduk mencengkeram kumis Kala Modot yang memang sangat tebal dan merenggutnya keras- keras. Dan Kala Modot yang punya tampang kebal sega- la siksaan itu ternyata menjerit-jerit bagaikan anak ke- cil!

“Wadauuuuu! Wadauuuuu! Ampuuun! Ampuuun..., hu hu...”

“He he he... ini baru kutarik kumisnya, lho! Kadang- kadang agar orang mengaku harus ditarik lidahnya, te- rus diulur dan dibelitkan di pohon klampis yang penuh duri. Wuuuuih! Pasti langsung mengaku!” kata Tantri bangga. “Kak Tari, kita mau tanya apa?”

Tari masih memperhatikan hutan dari mana tadi se- rangan datang beruntun. Ia tak mau lengah. “Kakang Anengah, bagaimana?” bisiknya.

Anengah memasang telinga beberapa saat. Perlahan ia mengangguk. “Agaknya musuh yang tak kelihatan itu memang sudah tidak ada, Tari. Tapi jangan lepas ke- waspadaan. Sementara aku...” Anengah lemah meman- dang kedua kakinya. Sulit untuk digunakan.

“Setengah hari perjalanan dari sini ada sebuah desa

—Mirejo. Aku kenal buyut-nya. Bibi Madraka...” agak tersedak Tari mengucapkan nama itu, “sering bermalam di rumahnya dalam perjalanan ke Rahtawu. Kami biasa disambut dengan baik. Barangkali lebih baik bila kita melanjutkan perjalanan. Orang ini kita bawa. Dan bisa kita tanyai di sana. Bagaimana?”

“Bagus, bagus!” sahut Tantri. “Lebih bagus lagi jika kita naik kuda. Kan bisa lebih cepat!” Matanya cemer- lang bangga memberi usulan yang dianggapnya cemer- lang.

“Ya, benar,” kata Anengah mengangguk. Kepada Kala Modot ia berkata, “Cepat perintahkan anak buahmu membawa semua kuda itu kemari. Kau ikut kami. Yang lain bisa kami ampuni.”

“Tentunya yang belum mati lho, he he he he...” kata Tantri.

Tak berapa lama, mereka telah melanjutkan perja- lanan. Tari, Tantri, dan Anengah. Ketiganya di pung- gung kuda. Anengah memang agak sulit, tetapi dapat dipaksakannya. Kala Modot diikat di pelana kuda. Di- dampingi oleh Tari yang selalu siap dengan si Galih-nya. Ada tiga ekor kuda lagi yang mereka bawa. Menurut pi- kiran Tari ini untuk oleh-oleh si buyut, atau kepala de- sa, Mirejo itu.

Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Tantri me- ngoceh. Sedikit terhibur rasanya perasaan hati Tari. Pengetahuan Tantri sangat luas. Berbicara tentang apa pun bisa. Sayang bahwa berbicara apa pun ia selalu menyelipkan hal-hal yang dianggapnya lucu.

Menjelang sore daerah semak belukar telah mereka tinggalkan. Ladang-ladang luas terhampar. Dan di ba- wah mereka tampak sebuah desa.

“Itu Mirejo,” kata Tari. Jelas terdengar nada lega di suaranya. Sepanjang perjalanan tadi ia merasa begitu tegang.

“Belum tentu kita aman,” bisik Anengah. “Yang pen- ting, kakiku harus segera sembuh. Setelah itu barulah aku merasa lega.”

“Tentu saja, siapa bisa merasa lega kalau kakinya sakit!” sela Tantri, tertawa.

Ketika rombongan itu mulai memasuki desa, maka orang pun geger. Anak-anak kecil berhamburan datang menonton. Orang-orang dewasa tadinya berhamburan datang, namun melihat si Kala Modot mereka tertegun dan cepat bubar. Sebagian berlari mendahului pergi ke rumah buyut.

Rumah buyut halamannya luas. Dipagari dinding ta- nah yang tinggi. Dan tampak dikawal oleh beberapa orang penduduk desa bersenjatakan tombak. Mereka langsung mengelilingi Tari dan kawan-kawan.

“Paman Wirot, Paman masih ingat aku?” Tari me- lompat turun dari kudanya, berbicara pada salah seo- rang pengawal itu. “Aku ingin bertemu dengan Sang Wi- rak.”

Lama Wirot tak menjawab. Ia memperhatikan Kala Modot yang melotot padanya.

“Hei, rambut api, kau ditanya dengar tidak?” teriak Tantri kurang ajar. Rambut Wirot memang kemerah- merahan.

“Tantri!” cegah Tari.

Tapi Wirot juga tak memperhatikan Tantri.

“Buyut Wirak tak bisa menemui siapa pun,” katanya kemudian. “Sarika sedang bersiap untuk menghadap Akuwu.”

Tari tertegun. Belum pernah sambutan terhadapnya begitu dingin. Tapi Tantri telah menyahut, “Kebetulan kalau buyut itu pergi. Kita hanya mau pinjam tempat- nya kok, untuk menyiksa orang ini!”

“Kalau begitu, silakan melanjutkan perjalanan,” kata Wirot. “Kurang ajar!” bentak Tantri. “Kau tak kenal para orang besar dari Rahtawu ya? Tadi si gandarwa Kala Modot ini menghadang kami dengan empat puluh dela- pan orang pengikut. Toh sarika berdua ini sanggup menghancurkan mereka, dan bahkan menawan pemim- pinnya! Hayo. Apa kalian bisa menirukan kemampuan itu? Tak mungkin, kan? Nah, kalau kau melarang, apa sulitnya sih merobohkan rumah ini!”

Wajah Wirot makin muram. Ia merenungi kaki Ane- ngah yang terjuntai dari kuda. Hampir menggumam ia berkata, “Para murid Rahtawu memang sangat kami hormati, tetapi janganlah menyulitkan kami yang kecil ini. Kami silakan melanjutkan perjalanan.”

“Gila! Itukah keputusan buyut-mu yang tak keruan rupanya itu?” teriak Tantri. “Wah ini keterlaluan. BUYUT WIRAAAAK!” tiba-tiba Tantri berteriak keras se- kali. “BUYUT WIRAAAK! KELUAR KAUUU!”

“Tantri!” Tari berseru terkejut, bahkan langsung me- narik anak itu turun dari kudanya. “Kau gila! Jangan begitu tidak sopan!”

Tetapi Tantri tak peduli. Ia masih berteriak, “BUYUT WIRAAAK! DESAMU INI BUKAN KUDADU, TAK SULIT BAGI KAMI UNTUK MERATAKANNYA DENGAN TANAH!”

“Oh, maafkan kami, Paman Wirot,” gugup Tari me- nyusun tangan menghadap Wirot. “Ampuni kesalahan saudara kecil ini, Paman ”

“Tidak, dia benar, ini bukan Kudadu, tapi kami wajib memberi perlindungan bagi siapa pun yang memerlu- kannya,” tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah. Dan di pintu berdiri Buyut Wirak, seorang tua yang ma- sih gagah dan tegap.

“Mereka betul-betul membawa Kala Modot, Buyut,” kata Wirot.

“Yang sudah terjadi, terjadilah. Suruh anak buahmu memperkuat penjagaan desa, Wirot. Suruh semua orang berada di dalam desa sebelum matahari terbenam. Ke- mudian kau masuk ke dalam untuk berbicara dengan tuan-tuan ini ”

Bagian dalam rumah buyut itu luas. Dingin. Tinggi langit-langitnya. Mereka duduk di lantai, masing- masing menghadapi semangkuk minuman panas. Ane- ngah masih harus bersandar ke tiang agung. Kala Mod- ot diikat pada sebuah tiang dijaga oleh Tantri yang suka menggodanya dengan, misalnya saja, mencabuti bulu di bawah ketiaknya.

“Maafkan kami, murid-murid Rahtawu,” kata Buyut Wirak. “Jika kami tidak terlalu bersahabat, maka itu ka- rena kami mencoba melindungi penduduk desa ini.”

“Dalam hal apa, Buyut?” tanya Tari.

“Yang Tuan-tuan bawa ini adalah kepala perampok yang terkenal di daerah ini. Terkenal jahatnya. Terkenal kejamnya. Terkenal saktinya. Terkenal sangat banyak anak buahnya. Aku tidak takut, tetapi penduduk sangat ngeri memikirkan pembalasan yang akan dilakukan anak buahnya pada desa ini. Kita tentunya maklum, bukan?”

“Kami... tidak tahu siapa Kala Modot ini,” kata Ane- ngah sambil meringis menahan sakit. “Kami ingin tahu. Dia telah menutup pintu masuk ke Rahtawu. Bahkan kami pun ingin dihalanginya. Kami... tentu saja ingin

tahu kenapa.  ” Ia memandang pada Kala Modot.

“Jika Buyut takut pembalasan anak buah monyet rambut berantakan ini, tenang sajalah.” Tantri mengilik- ilik hidung Kala Modot dengan sebatang lidi. “Dedeng- kotnya saja berhasil kami tawan kok    apalagi para ce-

cunguknya! Hei, Kala Modot. Kau mau mengaku kan kini? Kau mungkin kebal, tapi kalau lidi ini kudorong terus, teruus, teruuus ke dalam hidungmu... apa tidak muncul di telinga?”

“Yang kupikirkan... Kala Modot memang perampok besar. Tapi sampai dia berani menentang Rahtawu, ma- ka mestinya ia punya tulang punggung sangat kuat,” kata Buyut Wirak perlahan. Mata tuanya kemudian te- rangkat. Dari bawah alisnya yang putih dan lebat hing- ga hampir menutup mata ia memperhatikan Kala Mod- ot. “Aku sudah tua. Apa pun balasanmu,  Kala Modot, aku tidak peduli. Aku hanya tak ingin desaku ini men- dapat kesulitan. Kuharap kau bisa mengaku tanpa ha- rus disiksa. Agar dendammu tak terlalu tertuju pada desa ini. Agar sukmamu memperoleh jalan lurus dan lapang.”

“Sudah! Jangan banyak bicara lagi. Biar aku yang menanggung dosa jika si Kala Modot ini mendendam!” Tantri mencengkeram leher Kala Modot dan bersiap un- tuk menghunjamkan lidinya ke lubang hidung  orang itu.

“Tantri! Jangan!” cegah Tari.

Tapi Kala Modot telah menjerit keras, “Ampun! Ja- ngan! Ampun!” Dan ia menangis tersedu-sedu ketika Tantri melepaskan cengkeramannya. Betul-betul mena- ngis dengan air mata bercucuran!

“Hi hi hi... kau cengeng juga ya?” ejek Tantri. “Hayo, sekarang ngaku!” Main-main Tantri melecutkan lidinya pada leher Kala Modot. Sekali lagi Kala Modot menjerit keras. “Jangan... jangaaan...” Ia sampai terengah-engah ketakutan. Tantri berdiri. Berkacak pinggang. Terse- nyum.

Saat itu hari telah gelap. Beberapa pembantu rumah tangga telah menyalakan lampu-lampu biji-bijian. Lidah api lampu itu bergoyang-goyang. Sinarnya kemerahan. Dan itu membuat Tantri yang kini bertelanjang dada ba- gaikan patung tembaga. Wajahnya tampak manis. Ma- tanya bersinar nakal. Tari yang memperhatikan  anak itu mau tak mau merasa sedikit kagum. Ulah api lampu membuat Tantri bagaikan patung Sri Kameswara waktu muda. Matanya pun bagai memancarkan api. Berwiba- wa. Kejam.

Agaknya Kala Modot juga merasakan hal itu. Ia tun- duk. Wajahnya yang seram kini luruh dan kuyu.

“Aku akan bercerita,” katanya lemah.

“Terserah,” goda Tantri. “Asal jangan cerita tentang Binatang Yang Lima saja.” Ia tertawa membicarakan se- buah dongeng yang sering diceritakan para ibu kepada anak-anak menjelang tidur. “Dan ingat, kalau kau ber- dusta sedikiiiit saja, lidiku ini akan tahu.”

Kala Modot menghela napas panjang. Kemudian ia mulai bercerita.

Beberapa bulan yang lalu, hidupnya begitu tenang. Tenang dalam dunianya, tentu. Penuh hiruk-pikuk pe- rampokan, penuh hura-hura kenikmatan merasakan hasil rampokan, gegap-gempita dengan pertarungan- pertarungan yang baginya begitu memuaskan.

Kemudian ia mendengar sahabat karibnya, Begal Singandaka dari Gunung Lejar mendapat musibah. Sa- rang Singandaka telah diobrak-abrik oleh sepasukan bhayangkara dari Daha. Bahkan istrinya, Ken Lum- bang, ditawan oleh pasukan tersebut untuk dibawa ke kotaraja. Kala Modot langsung mengerahkan anak buahnya mengejar. Dalam gerebekan di tepi Bengawan, Kala Modot berhasil merebut kembali Ken Lumbang.

“Huh, apa susahnya sih mengalahkan pasukan bhayangkara dari Daha? Jangan kau begitu bangga!” tukas Tantri menendang paha Kala Modot. Kembali Kala Modot menjerit kesakitan. “Aku yakin dengan satu tan- gan terikat pun Kak Tari sanggup menghancurkan se- puluh pasukan. Jangan kata hanya satu! Jadi tidak usah bangga ya!” bentaknya.

“Ba... baik... baik...,” kata Kala Modot setengah me- ngeluh.

Ken Lumbang dan dua orang pengikutnya segera di- larikannya ke Selagung. Salah seorang pengikut Ken Lumbang itu selalu berkerudung penutup muka. Dan baru kemudian Kala Modot tahu bahwa sesungguhnya Ken Lumbang juga tak kenal wanita yang tak tampak mukanya itu. Menurut Ken  Lumbang,  suaminyalah yang membawa wanita tersebut. Dianggapnya sebagai rampasan saja. Hanya... sering kali wanita itu tak mau melakukan tugasnya sebagai budak.

Tapi saat itu keanehan tersebut tak terpikirkan oleh Kala Modot. Ia begitu gembira bisa selalu dekat dengan Ken Lumbang. Dan agaknya Ken Lumbang pun memba- las perasaan hatinya.

“Dasar binatang terendah martabatmu!” dengus Tan-

tri.

Istri Kala Modot sendiri, Ken Hangi, tentu saja me-

rasa tak senang. Tapi Kala Modot tak peduli. Ken Lum- bang begitu cantik dan begitu pandai memuaskan ha- tinya. Sampai suatu malam...

Ken Hangi memergoki Kala Modot sedang berme- sraan dengan Ken Lumbang. Ken Hangi meluap dan menyerang Ken Lumbang. Kala Modot tak tahan dan menghajar Ken Hangi habis-habisan.

Ken Hangi malam itu lari dari Selagung. Dengan an- caman akan membalas dendam. Kala Modot tak peduli. Ia tahu siapa Ken Hangi. Dan keluarganya. Ia juga ya- kin akan ketenarannya sebagai tokoh berandal di Sela- tan. Kepada siapa pun Ken Hangi minta bantuan, rasa- nya Kala Modot akan bisa menyambutnya dengan ter- tawa. Tapi akhirnya ia tidak tertawa. Ken Hangi tak be- rapa lama datang lagi. Bersama wanita yang selalu me- nutup muka itu. Diikuti seseorang yang bertubuh gen- dut. Mula-mula Kala Modot juga masih tertawa. Kemu- dian wanita asing itu membuka tutup mukanya. Kala Modot terpesona. Wanita itu begitu cantik.

“Seperti bidadari?” sela Tari tak sengaja. Ia teringat akan cerita Tara. Tapi tadi tempat itu begitu sunyi oleh cerita Kala Modot hingga Tari sendiri terkejut oleh sua- ranya. Kemalu-maluan ia memandang Anengah. Ter- nyata Anengah juga sedang memandang padanya. Agaknya Anengah pun berpikir serupa. Pastilah wanita itu adalah wanita yang telah membawa pralaya di Rah- tawu.

“Seperti bidadari,” kata Kala Modot lemah.

“Enak saja!” dengus Tantri. Dan sekali lagi leher Kala Modot menjadi korban cambukan lidi anak itu. Tari kembali heran. Orang segalak Kala Modot toh terpaksa menjerit-jerit hanya karena cambukan sebatang lidi di tangan seorang anak kecil! “Tak ada yang secantik bida- dari kecuali Kak Tari! Ya toh? Ayo, jawab, iya nggak?” Tantri mengacungkan lidinya.

“Iya! Iya!” jerit Kala Modot ketakutan. Tantri tertawa terkekeh-kekeh. Kini Buyut Wirak juga memperhatikan Tantri dari balik alis matanya yang putih dan gondrong itu. Dan orang tua itu pun memandang Anengah. Tari bisa melihat pertanyaan di mata tua itu. Betulkah Tan- tri juga murid Rahtawu? Tampaknya kok terlalu... ku- rang ajar.

Tari mencoba menghindari pandangan mata orang tua itu. “Lalu?” akhirnya ia bertanya.

Kala Modot kemudian semakin tercengang. Si Gen- dut yang tadinya dikiranya takkan lebih gesit dari see- kor kerbau tambun itu ternyata sanggup membuat se- mua anak buah Kala Modot tunggang-langgang. Bah- kan Kala Modot pun ternyata tak sanggup berbuat apa  pun.

“Puih! Begitu kau berani melawan Kak Tari! Dengar, Kek Buyut, dengan mata tertutup saja si Gendut itu menggelinding ditangani Kak Tari! Apalagi dia ini!” kata Tantri.

“Tantri!” desis Tari.

“Kenapa? Kan memang begitu tadi. Tanya saja si Ka- la Modot ini. Iya kan, Dot?” Tantri tertawa pada Kala Modot.

“Iya! Iya!” Kala Modot cepat-cepat mengangguk. Tan- tri tersenyum puas.

Kala Modot melanjutkan ceritanya.

Para berandal Selagung mencoba mengeroyok kedua orang itu. Dua puluh tiga orang. Mereka adalah para dedengkot rampok yang bahkan ditakuti oleh pasukan bhayangkara. Tapi mereka dipermainkan dengan mu- dah oleh si Gendut dan wanita itu. Terutama wanita itu. Senyumnya saja sudah sanggup untuk membuat orang tertegun. Harum badannya membuat orang pusing. Dan sambaran selendangnya bahkan dapat membuat pohon roboh!

“Sudah! Jangan terlalu memuji! Bisa kupuntir kepa- lamu agar kau hanya bisa memandang Kak Tari saja seumur hidup!” tukas Tantri.

“Siapa namanya?” tanya Anengah lemah.

“Dia... dia tak menyebutkan namanya, tapi... tapi wanita itu tanpa berkedip telah membunuh sembilan belas orang anak buahku, dan sepak terjangnya kemu- dian... Jika kau salah menoleh saja, jika ada sedikit saja gerakanmu yang tak disukainya, maka ia akan lang- sung mencabut nyawamu....” Kala Modot termenung. “Ken Lumbang dipukul pecah kepalanya hanya karena berani minum sebelum wanita itu minum! Padahal me- reka berada di tempat yang sangat berjauhan!” tri. “He, kau menyesali kematian wanita itu?” tanya Tan-

“Tidak. Sekadar gambaran mengapa kemudian diam- diam ia diberi julukan... Candika... Dewi Pencabut Nya- wa!” Kala Modot menundukkan kepala.

Beberapa saat tempat itu sunyi. Tari yang tak tegaan mengambil tempurung tempat air dan memberi minum Kala Modot. Kala Modot melirik Tantri.

“Untuk apa lihat-lihat segala?” dengus Tantri. “Mau menolak pemberian Kak Tari? Bisa kulubangi lehermu, tahu?”

Tergopoh-gopoh Kala Modot minum air yang diso- dorkan Tari ke mulutnya.

Kala Modot melanjutkan ceritanya.

Dewi Candika—nama itu kemudian menjadi sema- cam nama rahasia yang dipakai oleh kalangan hitam — ternyata tidak hanya menghukum Kala Modot untuk perbuatannya pada Ken Hangi. Bahkan Ken Hangi pun akhirnya tewas di tangannya. Maksud utamanya ter- nyata adalah mengumpulkan semua jago-jago kalangan hitam. Dan hanya yang betul-betul jago saja yang di- kumpulkannya. Mereka yang dianggap lemah langsung dihabisi.

“Si Gendut... siapa namanya?” tanya Tari. Ia teringat pada peristiwa di Telaga Biru dulu. Mungkinkah si Gen- dut ini sama orangnya dengan si Buruk Muka yang di- temuinya di sana itu? Tari memalingkan muka. Me- mandang ke luar. Dari Jendela terlihat di luar gelap. Hanya agak jauh di sana, beberapa orang tampak mon- dar-mandir dengan membawa obor. Dari sini pun terli- hat bahwa orang-orang itu bersenjata. Sesuatu yang tak biasa terjadi di desa Mirejo ini.

“Kami tak pernah tahu namanya,” kata Kala Modot. “Mereka tak pernah berbicara. Hanya saling pandang dan masing-masing tahu apa yang  harus  dilakukan. Dan yang mereka lakukan biasanya sungguh mengeri- kan,” Kala Modot berhenti sesaat. Dipandangnya Tari yang kini semakin tertarik melihat ke luar jendela. “Aku pun biasa membunuh tanpa berkedip. Tapi aku masih pilih-pilih. Sarika tidak. Seakan-akan tak ada maksud sama sekali. Asal ia ingin membunuh, dibunuhlah.”

“Lalu... apa hubungannya dengan Rahtawu?” tanya Tari yang kini telah berdiri di depan jendela, membela- kangi yang lain.

“Itulah. Semua gerombolan yang dikumpulkannya diberi tugas satu. Kepung Gunung Rahtawu. Jangan sampai ada yang berhasil lolos turun gunung dalam keadaan hidup,” kata Kala Modot lemah.

“Dan kau mau saja menerima perintah gila seperti itu?” tanya Tari dari jendela. “Kau toh tahu orang-orang bagaimana yang tinggal di Rahtawu. Harta kami tak pu- nya. Dendam rasanya tiada. Dan kau memusuhi kami?” “Aku... kami terpaksa. Semua yang berada di bawah kekuasaannya memiliki sesuatu kelemahan. Dan justru kelemahan-kelemahan kami itulah yang dikuasainya.

Dan kami tak bisa berbuat apa-apa kecuali melakukan apa perintahnya,” kata Kala Modot menunduk.

“Dan kelemahanmu apa, Kala Modot, hingga kau be- rani memusuhi Rahtawu?” tanya Anengah.

“Awas!” tiba-tiba Tari berseru. Semua terkejut, tetapi terlalu terkejut untuk bergerak. Tari sendiri menjatuh- kan diri ke belakang dan berguling ke kiri.

Tari merasakan sambaran panas. Dan sebilah tom- bak menancap di dada Kala Modot. Melesat menderu lewat tempat tadi Tari berdiri. 5. PERJALANAN

TIBA-TIBA saja di situ telah berdiri seseorang. Seorang wanita yang berpakaian pria dengan memakai jubah berwarna biru laut yang mengkilap serta menutupi se- luruh tubuhnya. Ikat kepalanya berkilauan terkena si- nar kemerahan lampu yang ada. Wajahnya tak jelas. Te- tapi dalam pandangan sekilas Tari melihat bahwa tak mungkin orang ini yang dijuluki “bidadari” baik oleh Tara ataupun Kala Modot. Wajahnya memang tidak bu- ruk, tetapi jelas sudah tua.

“Kelemahannya adalah... ia terlalu sayang pada nya- wanya,” kata orang itu serak. “Kalau nyawanya teran- cam, maka ia akan lebih suka melakukan apa saja. Asal ia selamat. Sekarang, ia terpaksa melepaskan apa yang paling disayanginya itu. Seperti semua yang ada di sini.” Matanya menyapu orang-orang yang ada. “Kalian semua jelas harus mati. Kalian anak-anak Rahtawu, memang sudah digariskan untuk hanya bernapas sampai  saat ini. Buyut Wirak, kau orang tua tak tahu diri. Berani menerima orang yang jelas tidak kami sukai. Kau dan semua penduduk desa ini, harus menanggung huku- mannya.”

“He, aku bagaimana?” Tantri tertawa mendekat, mengayun-ngayunkan lidinya. “Aku bukan orang Rah- tawu. Juga bukan orang Mirejo. Nah, lalu apa salahku, apa hukumanku, siapa pembelaku, siapa yang berani menghukumku, dan bagaimana kalau aku lalu...” se- mentara bicara dan tertawa serta mendekat tadi Tantri seolah tak acuh mengeluarkan seruling yang selama ini diselipkannya di pinggangnya, “...melarikan diri?” Dan tiba-tiba saja Tantri mematahkan seruling itu menjadi dua. Dari patahan seruling tadi terlontar dua butir bula- tan putih, yang melesat cepat—sebutir terbanting mem- bentur lantai, sebutir lagi melesat ke arah wanita tua itu.

Tari yang saat itu masih terbaring di lantai tak sem- pat menjerit. Terdengar ledakan keras saat butiran per- tama membentur lantai. Asap tebal pun langsung meng- gumpal. Tebal. Besar. Berkembang cepat. Butir yang sebuah lagi telah ditampar oleh si wanita tua. Menyusul ledakan kedua yang terjadi karenanya. Menggelegar. Dan menyemburkan api.

Suatu bau yang menusuk hidung menyesakkan da- da. Pandangan pun terhalang oleh asap yang tebal pe- kat. Kegelapan yang ditingkah semburan api. Me- nyambar dan mengobar.

Tari mencoba melompat berdiri. Seseorang tiba-tiba memegang tangannya. Serta-merta Tari memutar tu- buhnya untuk melancarkan tendangan Bantala Liwung- nya. Tetapi orang itu agaknya mengenal sekali gerakan tersebut, walaupun sama sekali tak terlihat.

“Ayo lari!” didengarnya seseorang berbisik tergesa- gesa. Suara Tantri. Dan tangannya pun ditarik. Hampir saja Tari memutar tangan serta membanting tangan yang memegangnya. Tapi entah kenapa puntirannya punah dengan sendirinya. Dan serasa tak bertenaga ia melompat bersama Tantri. Keadaan begitu gelap, hingga batang hidung sendiri pun tak terlihat. Dan  bau  asap itu begitu tajam hingga Tari tak berani bernapas. Tapi dengan mudah Tantri menemukan jendela itu. Sesaat Tari ingin meronta melepaskan diri. Namun pegangan tangan kecil Tantri begitu aneh. Tidak keras, tetapi juga tidak mudah dilepas.

“Cepat,” bisik Tantri lagi, hanya terdengar suaranya dan terasa pegangan tangannya. Sementara itu di bela- kang terdengar jeritan dan makian. Hiruk-pikuk yang semakin ramai karena beberapa belas orang berlompa- tan. Agaknya mereka ingin masuk ke dalam, tapi karena begitu gelap tak urung dinding dan tiang terhajar oleh mereka. Dan barang-barang pun berantakan. Disusul oleh api yang tiba-tiba berkobar merajalela. Tari sudah melompati pagar rumah Buyut Wirak saat rumah besar itu roboh.

“Kakang Anengah!” seru Tari sesaat waktu mereka berdua bertengger di atas pagar yang dibuat dari tanah kering.

“Jangan dipikirkan,” desis Tantri sambil terus me- nyeret Tari. “Bahaya jika kita menunggu. Kakakmu kan sudah cukup besar. Pasti ia bisa menolong dirinya sen- diri. Kita yang kecil-kecil ini harus saling tolong. Dan kalau merasa tak kuat, harus lari. Ayo!”

Tantri menariknya. Mau tak mau Tari pun terpaksa ikut meloncat turun. Dan dirinya terus diseret berlari.

Desa itu kalang-kabut. Orang-orang berlarian. Besar- kecil berhamburan. Semuanya saling teriak. Semuanya menjerit-jerit. Di belakang mereka rumah Buyut Wirak tampak berkobar. Api menggunung membesar. Suara tong-tong pun membuat suasana makin mencekam. Beberapa lelaki bersenjata meneriakkan perintah-pe- rintah untuk mengatur orang-orang lain. Tapi terdengar juga hardikan-hardikan keras. Dari sudut matanya Tari melihat ada serombongan orang lagi muncul. Yang ini membuat kacau suasana. Mereka bukan saja mengha- langi orang-orang yang mencoba memadamkan api, te- tapi juga malah secara membabi-buta menerjang orang- orang Mirejo. Mereka pun tidak pilih-pilih. Asal ada makhluk yang bisa bergerak, mereka labrak. Dan me- mang bukan manusia saja yang kini berada di jalan- jalan desa Mirejo. Ternak peliharaan juga ikut-ikut membuat ramai. Ternak-ternak ini pun menyumbang- kan suara-suara mereka yang hiruk-pikuk.

Tari ditarik Tantri berlari menjauhi jalan utama. Me- reka memasuki lorong-lorong kecil dan gelap di antara rumah-rumah. Beberapa kali Tantri harus mengguna- kan si Galih untuk menyelamatkan diri dari benturan melawan orang-orang yang datang dari depan. Tari sen- diri sudah lupa akan tongkat itu. Rupanya Tantri sem- pat menyambarnya dan kini menghantam siapa saja yang mencoba mendekati mereka.

Ini tidak benar, pikir Tari sambil berlari. Mengapa ia melabrak orang-orang desa ini? Mengapa ia lari tanpa tahu mengapa? Lebih buruk lagi: mengapa ia lari me- ninggalkan saudara seperguruannya dalam keadaan bahaya?

Tari menghentikan langkah. Tantri yang beberapa saat yang lalu telah melepaskan pegangannya untuk le- bih leluasa membuka jalan di depan terpaksa berhenti tiba-tiba di ujung sebuah gang.

“Ayo!” teriak Tantri, melompat ke kiri dan mera- patkan diri ke sudut sebuah rumah untuk menghindar dari sebuah keluarga yang menghambur masuk ke gang itu.

“Tidak, aku harus menolong Kakang Anengah!” jerit Tari dan berbalik serta mencoba berlari ke ujung gang.

“Tunggu!” teriak Tantri. Kakinya terulur. Dan Tari ja- tuh tersungkur. Keras. Mukanya terbanting ke dalam sebuah kubangan kecil berlumpur. “Maaf,” Tantri cepat membangunkannya. “Jika kita kembali ke sana, kita tak akan bisa kembali lagi ke mana pun!”

“Tapi aku harus menolongnya!” Tari mengibaskan tangan Tantri, sambil mencoba mengusap lumpur yang ada di mukanya.

“Itu tindakan sia-sia,” kata Tantri menghadang di depan Tari. “Dan melakukan tindakan yang kau tahu hasilnya sia-sia adalah... sia-sia!” kata Tantri lagi.

“Tapi aku harus tahu apa yang terjadi padanya,” ti- ba-tiba ada suatu perasaan yang begitu mencekam. Ka- lau terjadi sesuatu dengan Anengah, sesuatu yang... yang... Tari tak berani memikirkan lebih lanjut. Mung- kin ia dan Anengah saja yang selamat turun dari Rah- tawu. Dan jika Anengah tiada...

“Aku harus melihatnya!” teriak Tari, langsung lari. “Tunggu,” Tantri mencoba menghadang lagi. Tapi de-

ngan gerakan Sura-caya Tari berhasil menghindar ke ki- ri. Tantri tidak gugup. Cepat ia menyodorkan si Galih ke kanan, sementara tubuhnya melesat ke depan dan tan- gannya terentang lebar. Tari tak menghentikan lang- kahnya. Akibatnya Tantri harus menjerit keras. Lang- kah kaki Tari secara tak sengaja telah membentur dada Tantri. Tari melompat lagi ke depan, sementara Tantri berputar untuk melenyapkan dampak benturan kaki Tari tadi. Ia pun menjatuhkan diri dan tangannya ter- ulur menyambar ujung kain Tari.

Tari terpaksa berhenti. Jika ia meneruskan langkah- nya, akibatnya jelas. Tantri tak akan melepaskan ujung kainnya. Dan pasti kain itu akan terenggut lepas dari tubuh Tari. Dalam sesaat itu pertimbangan rasa malu muncul secara wajar. Dan Tari berhenti. Yang membuat ia heran adalah... bagaimana Tantri bisa mengulurkan tangan pada saat yang tepat hingga sanggup menyam- bar kain Tari? Pada galibnya gerakan Sura-caya tak ter- duga dan tak bisa dihadang. Kecuali oleh seseorang de- ngan kemampuan tinggi. Kini baru Tari sadar. Kemung- kinan Tantri ini orang yang berkemampuan tinggi!

“Hei, jangan memandangku seperti itu!” kata Tantri, dan memang, beberapa saat tadi Tari memandangnya bagaikan baru kali itu ia melihat Tantri. Ia mengulurkan tangan, menarik Tari ke pinggir agar terhindar dari tu- brukan dengan orang-orang yang bagaikan mengalir di gang itu.

“Aku... aku ingin tahu nasib Kakang Anengah,” kata Tari lemah.

Sesaat Tantri tampak berpikir. Kira-kira begitulah. Sebab tempat itu begitu gelap. “Baiklah,” akhirnya Tan- tri berkata. “Ayo ikut aku.” Tantri berlari ke ujung gang. Kini tanpa ditarik pun Tari mengikuti anak itu. Mereka merambat di dinding-dinding rumah, menghindari o- rang-orang yang berlarian lintang-pukang. Di jalan utama terlihat suatu pertempuran kecil. Beberapa pria desa bertarung melawan orang-orang yang tampaknya memang ahli bertarung. Senjata mereka sekali-sekali tampak berkilau di sinar api yang kini telah melahap dua buah rumah di samping rumah Buyut Wirak. Se- saat Tari berhenti.

“Kita tak bisa membantu mereka,” kata Tantri. “Ayo!”

Tantri melompat ke beranda sebuah rumah. Berdiri di pagar beranda itu. Dan melompat ke atap. Tari me- nyusulnya. Mereka berlompatan dari atap ke atap. Atap- atap ijuk itu sering membuat Tari hampir terjerumus. Tetapi ia lebih memperhatikan gerakan-gerakan Tantri. Dengan mengingat cerita Bibi Madraka, mungkin ia bisa mengira-ngira apakah Tantri memang orang yang ber- kemampuan tinggi.

Tetapi ia tak melihat hal yang luar biasa dari gerakan Tantri. Gerakannya bahkan mirip gerakan orang yang tidak menguasai tata gerak kewiraan. Beberapa kali tampak ia terpeleset. Beberapa kali hampir terjerumus. Beberapa kali lompatannya ke atap rumah yang lain hampir tidak sampai.

Tantri mendekam di puncak atap rumah di seberang rumah Buyut Wirak. Tari pun berjongkok di sebelahnya. Ia harus berusaha keras menindih perasaannya. Halaman rumah Buyut Wirak terang-benderang. Be- lasan orang mencoba memadamkan api. Beberapa orang lagi mencoba menghalangi mereka yang ingin memadamkan api. Dan orang-orang ini, walaupun pen- duduk desa, agaknya tahu apa yang mereka lakukan. Kelompok pendatang agak kesulitan menghadapi me- reka.

“Mereka takkan bertahan lama,” bisik Tantri. “Tapi lumayan juga anak buah Wirot itu. Yang mereka hadapi adalah gerombolan perampok-perampok dari Hutan Kumbina.”

“Bagaimana kau tahu?” tanya Tari, matanya nyalang mencari-cari kalau-kalau terlihat Anengah. Ada suatu rasa sakit dalam perutnya. Memikirkan apa yang terja- di, apa yang mungkin terjadi dengan Anengah.

“Itu Ula Bandotan,” kata Tantri, menunjuk pada seo- rang lelaki bertubuh pendek yang dengan gesit menabas siapa saja yang berada di dekatnya. Dia pimpinan para perampok di hutan itu.

“Dan orang berbaju biru itu? Siapa dia?”

“Wuah! Dia berita buruk! Aku kenal dia... lebih baik lari saja kalau kau seorang lelaki.  Dewasa  ataupun anak kecil baginya sama saja. Asal lelaki dan dia suka... hhh... Dia tak akan mau melepaskanmu!” Tantri tak te- rasa memperendah suaranya.

“Kau takut padanya?”

“Tentu! Kaukira aku ini apa, huh? Mana aku berani menghadapi orang sesakti dia... aku toh bukan murid Rahtawu!”

Tari melirik Tantri. Apakah anak ini mengejek?

“Aku harus turun. Aku harus tahu nasib Kakang Anengah,” kata Tari.

“Celaka!” tiba-tiba Tantri mengeluh. “Ilmu pendenga- rannya sungguh tajam!” “Apa?” bisik Tari.

Tantri tidak menjawab. Tari pun lupa menunggu ja- waban. Di bawah sana terjadi sesuatu.

Dari balik kepulan asap, Tari melihat tiba-tiba saja muncul cahaya kebiru-biruan di beranda rumah Buyut Wirak yang seluruhnya sudah diliputi api itu. Si Jubah Biru muncul!

Berdiri tegak. Tak peduli. Si Jubah Biru seolah me- mandang ke arah mereka yang bersembunyi di atas atap. Jubah birunya melambai-lambai mengikuti koba- ran api di sekelilingnya. Bagaikan kena angin. Birunya kemilau bermain di cahaya kobaran api yang merah- kuning. Dan baik si jubah maupun pemiliknya sama sekali tak terganggu oleh api. Ada hal lain yang lebih menarik perhatian Tari. Orang itu menyeret seseorang— Anengah!

Ya. Anengah. Dari kejauhan memang tampak kain Anengah terbakar di sana-sini. Juga terlihat luka bakar di tubuhnya. Tapi jelas pemuda itu masih hidup. Dan masih bersemangat. Sekilas terlihat betapa Anengah mencoba melancarkan salah satu pukulan melengkung Bantala Liwung ke arah pinggang si Jubah Biru. Tapi je- las Anengah tak memiliki kuda-kuda yang kuat sebagai landasan. Dan dalam  keadaan seperti itu tak mungkin ia bisa mengerahkan tenaga. Si Jubah  Biru  menoleh pun tidak.

“Kakang Anengah!” tak terasa Tari berdesis. “Jangan!” Tantri tergesa mencegah. Tapi terlambat.

Bahkan dari jarak sejauh itu, dari balik kepulan asap dan di tengah hiruk-pikuk memekakkan telinga itu si Jubah Biru kini seakan tahu lebih persis lagi dari mana asal bisikan tadi. Dan ia tertawa. Suaranya serasa pe- cah. Serak. Tidak keras namun terdengar jelas.

“He he he... agaknya kau masih di situ, anak manis?” katanya serak, melemparkan Anengah kepada salah seorang anak buahnya dan turun ke halaman. Berjalan perlahan ke arah rumah tempat Tari dan Tantri ber- sembunyi di atapnya. “Jangan-jangan kau memang sayang padaku, anak manis, walaupun kau berulang kali lari dariku. Kau tadi sudah kuberi kesempatan un- tuk lari... eh, masih juga kau kembali. Sekarang... yah, apa boleh buat... tak bisa aku berbuat pura-pura tak kenal padamu, anak manis!”

Tantri menepuk punggung Tari, dan mendahului me- loncat turun ke bagian belakang rumah. Tari heran, tapi ia segera menyusul.

Tantri begitu bersungguh-sungguh.  Dan ketakutan. Ia menggamit Tari untuk bersembunyi di balik tumpu- kan kayu kering di kandang. “Dengar baik-baik. Kita harus berpisah,” bisik Tantri. “Aku yakin aku akan ber- hasil ditangkapnya. Aku tak ingin kau ikut tertangkap bersamaku. Tapi aku pasti lolos. Kau pergilah ke arah barat. Mungkin sebelum mencapai Kotaraja, aku akan berhasil menyusulmu. Kalau tidak, teruslah ke Kapan- jian. Dekat Desa Pakisaji ada sebatang pohon beringin putih. Tunggu aku di sana. Jangan khawatir tentang Kakang Anengah. Aku akan menolongnya. Pergilah ce- pat!”

Tiba-tiba Tantri mengulurkan tangan. Ujung jarinya seolah tak sengaja menyinggung sebuah titik di ping- gang kiri Tari. Terasa suatu getaran yang tajam dan me- nyengat. Mau tak mau Tari terpaksa meloncat. Meloncat dengan sepenuh tenaga!

Bahkan sebelum Tari menyentuh tanah kembali, ter- dengar suara gedubrakan hebat. Rumah yang tadi me- reka naiki terguncang hebat. Bagian depan rumah itu roboh berantakan! Dan di antara ributnya suara gemu- ruh rumah rubuh itu suara serak tadi terdengar jelas, “Hei, anak manis, kau masih ingin main sembunyi- sembunyian?”

“Aku di sini, Betari!” Tantri berteriak meloncat me- ninggalkan kandang dan menghantam sudut belakang rumah itu. Dengan suara gemuruh robohlah rumah ter- sebut. Tari tak sempat berpikir lagi. Ia jatuh di luar pa- gar, dekat sebuah lumbung. Belum kokoh berdirinya, tiga orang lelaki bersenjata berloncatan menerjang. Ge- lap memang, tapi Tari bisa melihat bahwa salah seorang di antaranya adalah orang yang tadi ditunjukkan Tantri sebagai si Ula Bandotan. Dalam gelap senjata rantai be- si hitamnya tak terlihat. Tetapi Tari mendengar desir senjata itu lebih dahulu dari desir pedang dan tombak yang tertuju juga padanya. Tari menekuk kaki kiri. Ba- dannya melengkung dan berputar. Tangan kanan cepat menabas sementara tangan kiri turun untuk bersiap- siap menjadi tumpuan. Jurus ke-11 Bantala Liwung ini memang ampuh untuk kepungan dari tiga penjuru. Ula Bandotan cekatan menggulingkan diri ke kiri dan ke be- lakang. Tak urung kaki kanan Tari berhasil mengganjal lompatan mundur Ula Bandotan hingga benggolan pe- rampok itu sesaat agak terhuyung berdirinya. Saat yang hanya sekejapan mata itu digunakan Tari untuk memu- tar dirinya bagaikan baling-baling. Kini dada Ula Bando- tan terkena dengan telak. Kedua temannya lebih dahulu telah tersungkur dan terpental menubruk tiang kan- dang. Tangan kiri Tari yang menyangga tubuhnya kini telah melancarkan sambaran langsung. Tinju kecilnya berhasil membuat tombak lawan yang diangkat untuk menangkis patah menjadi dua. Tangan kanannya me- nyambar ujung tombak yang langsung digunakannya untuk menyerang Ula Bandotan. Ula Bandotan gesit se- kali berputar-putar dekat tanah. Namun gerakan dara Rahtawu ini lebih cepat. Sekali tombak yang sangat pendek di tangan Tari berhasil mengikat rantai Ula Bandotan. Sesaat Ula Bandotan menyeringai riang di kegelapan. Anak tak tahu diuntung ini ingin mengadu tenaga dengannya? Boleh coba!

Namun Ula Bandotan terkejut. Ternyata Tari tidak mengadu kekuatan, tetapi malah meminjam tenaga Ula Bandotan! Tubuh kecil Tari bagaikan terbang melewati kepala Ula Bandotan dan melesat ke atas kandang. De- ngan kegemasan luar biasa dari atas kandang Tari membantingkan tombak buntungnya pada Ula Bando- tan yang masih bergulingan di tanah.

“Ampun!” terkesiap Ula Bandotan. Rasanya takkan mungkin ia menghindari serangan itu. Tapi ia biasa berpikir cepat. Kakinya menendang. Temannya yang se- dang mendekat untuk mengejar Tari terbanting. Tepat menerima ujung tombak yang dilemparkan Tari.

***

Hari pasaran di Angkusa. Tari duduk di bawah sebatang pohon di pinggir pasar. Ramai sekali pasar itu. Para pe- tani dari daerah sekitar kota kecil tersebut seakan tum- pah ke sana. Membawa apa saja yang mereka anggap bisa dijual. Hasil pertanian. Hasil peternakan. Hasil ke- rajinan. Ah, alangkah senangnya kalau ia masih berada bersama saudara-saudara seperguruannya.

Tari sangat rindu pada mereka. Tari sangat rindu pada gurunya, Bibi Madraka. Bibi Madraka selalu keras dalam mengajar. Tetapi dalam perjalanan maka ia sa- ngat berubah. Ia bagaikan seorang ibu yang sangat memanjakan anak-anaknya. Tari dan lainnya selalu di- biarkan berbuat apa saja. Dengan batasan: mereka ha- rus bisa bertanggung jawab akan apa yang terjadi. Di- am-diam Tari tersenyum. Ia ingat dulu, tepat di hari pa- saran seperti ini, Lati yang bertubuh tinggi besar terta- wa lucu melihat tingkah laku seekor anak kambing. Seorang pemuda tani salah mengartikan tawa ini. Pe- muda itu mengira Lati tertawa padanya. Dan ia tak mau melepaskan Lati lagi. Mengikuti terus ke mana rom- bongan Bibi Madraka itu pergi. Dengan tekun ia terus mencoba menjalin hubungan dengan Lati, mengajaknya bicara. Membelikannya makanan. Memberinya pakaian. Mula-mula Lati memang senang juga mendapat perha- tian begitu besar. Tapi kemudian ia menjadi sebal. Apa- lagi saudara-saudara seperguruannya tak habis- habisnya menggodanya. Apalagi karena Lati memang tak menaruh perhatian pada pemuda itu. Apalagi si pemuda makin lama makin mendesak. Mula-mula Lati menolak secara halus. Kemudian menghardiknya. Bah- kan akhirnya terpaksa memukulnya. Si pemuda tak pe- duli. Terus mengikutinya hingga sampai ke Kambang Putih. Lati saat itu sudah sangat putus asa. Semua sau- dara seperguruannya tak mau membantu. Bibi Madraka tak mau membantu. Bibi Sodrakara juga tak mau mem- bantu. Akhirnya terpaksa Lati menegakan hatinya un- tuk menipunya. Ia naik ke sebuah kapal layar di Kam- bang Putih. Kapal itu akan berlayar ke Melayu. Dan di tengah laut Lati terjun ke laut. Berenang semalaman hingga mencapai daratan kembali. Untuk berenang se- jauh itu memang Lati sanggup. Dan ia tahu si pemuda tak bisa berenang.

Lati memang keji, tak terasa Tari tersenyum. Tapi senyum itu langsung lenyap. Dan ia mengerutkan ke- ning. Lati begitu berkepribadian. Sementara dia sendiri? Tari menghela napas panjang. Apa yang telah dila- kukannya beberapa hari terakhir ini? Perguruannya ter- timpa bencana. Dan ia tak berbuat apa pun. Bahkan ia tak tahu ke mana yang lain pergi. Bahkan ia merasa menyayangkan seseorang yang sudah berat disangka sebagai berkhianat pada perguruannya. Dalam hal ini mungkin ia bisa dianggap benar, sebab Tara belum ter- bukti bersalah. Tetapi kemudian... ia telah begitu saja meninggalkan saudara seperguruannya dalam keadaan menderita di tangan pihak yang bermusuhan... dia telah percaya saja pada seseorang yang baru saja dikenal- nya... ya bahkan orang itu adalah seorang anak. Ya. Mengapa ia bahkan mengikuti permintaan Tantri sepe- nuhnya? Tiga hari ini ia telah berjalan ke arah barat. Ti- ga hari ini ia sesungguhnya melarikan diri. Tanpa ke- luar pikiran untuk, misalnya, mencari berita tentang Anengah. Atau mendengar-dengarkan kabar tentang adanya orang-orang Rahtawu. Aneh juga. Sepanjang perjalanan ia tak mendengar berita apa pun tentang Rahtawu. Juga tidak tentang Candika. Hanya... ya. Ada berita tentang kematian-kematian aneh di sana-sini. Serta berita kejahatan yang meningkat. Bahkan selalu kehadirannya di sebuah desa disambut dengan kecuri- gaan. Untung juga bekal yang dibawanya cukup. Ia be- lum perlu meminta derma seperti yang dilakukannya bi- la mengadakan perjalanan dengan Bibi Madraka.

“Hai, anak manis, kanyu tentunya sedang memimpi- kan betapa senangnya jika semua ternaknyu terjual ha- bis, ya?” tiba-tiba sebuah suara menembus lamunan Tari.

Tari tergagap sadar. Dan terkejut. Di depannya ber- diri tiga orang lelaki. Seorang pemuda berwajah tampan, berkulit kekuningan, dengan badan penuh perhiasan. Dialah yang tadi bicara. Senyumnya masih terpaku di bibir yang berkumis tipis itu. Dan matanya cemerlang bersenyum nakal.

Agak di belakang si pemuda, berdiri dua orang yang bertampang lucu. Seorang bertubuh bulat bundar. Mu- kanya juga bundar. Matanya bundar terbuka lebar. Mu- lutnya terbuka membentuk suatu kebundaran. Melongo terus. Yang satu kurus tinggi. Segalanya kurus. Muka- nya kurus, giginya menongol ke depan, bibirnya seakan terus tersenyum.

“Ah, Raden, memang cukup manis, tetapi anak ini tampaknya begini tolol. Apakah Raden masih ingin ber- cengkerama dengannya?” si Bulat tertawa terkekeh- kekeh sambil terus memperhatikan wajah Tari.

“Bagi junjungan kita, yang penting kan bukan tolol- nya, Yoni,” sahut si Kurus. “Malah semakin tolol, sema- kin gembira, bukan, Raden? Hi hi hi hi ”

“Wuah, tapi kalau terlalu tolol ya kita juga yang jadi korban, Lingga,” si Gendut makin membundarkan mu- lutnya. “Harus jadi percobaan! Lagi pula ini pasti anak petani bawang dari Ara Plasa. Waduh. Baunya sungguh menusuk hidung!”

Ketiga orang itu tertawa. Tari terkesiap mendengar nama panggilan kedua orang itu. Dan sikap si pemuda juga terlalu... genit! Kalau ada Lati, mungkin pemuda itu akan langsung kena tendang. Tapi Tari tak mau mencari gara-gara. Diangkatnya buntalan bekalnya dan ia berdiri. Tapi begitu ia berpaling, si pemuda melompat ke depannya. Menghadang.

“Hei, mau ke mana, anak manis? Ikut aku saja ke Tumenggungan. Ayo. Bawalah ternakmu. Kubeli semua- nya!” kata si pemuda. “Ayolah!”

“Wah, ikut saja,” kata orang yang dipanggil Lingga. “Tak sembarang orang bisa memperoleh anugerah ke- nikmatan dari Tumenggungan lho!”

Tari tertegun. Lingga dan Yoni nampaknya ingin menghalanginya melangkah dari situ. Ke mana pun.

Bersambung ke jilid 3Dewi Penyebar Maut Eps 03

1. DI TUMENGGUNGAN

PASAR ANGKUSA. Di hari pasaran. Seperti juga pasar- pasar di kota kecil lainnya. Di hari pasaran. Ramai. Hi- ruk-pikuk. Beraneka macam manusia ada di sana. Para petani membanjiri pasar itu. Menjual hasil bumi me- reka. Menjual hasil ternak mereka. Dan membeli ba- rang-barang yang mereka butuhkan. Atau tak mereka butuhkan.

Orang kota juga berdatangan. Mencoba membeli ba- rang-barang dengan harga serendah mungkin. Atau... sekadar tampil saja di pasar itu. Untuk melihat-lihat. Dan untuk dilihat-lihat.

Tari ada di pasar itu. Sekadar untuk melihat-lihat. Terutama untuk melenyapkan rasa gundah di hatinya. Hati gadis itu memang tak keruan. Prahara telah meng- hancurkan perguruannya. Padepokan Rahtawu entah kapan akan bangkit lagi.

Apa yang sudah dialaminya sungguh dahsyat.

Mula-mula saudara seperguruannya  hilang lenyap. Kemudian gurunya sendiri telah diserang orang tak di- kenal hingga akhirnya lengan kanannya harus dipotong. Lebih mengerikan lagi, seseorang telah mengamuk di Padepokan Rahtawu. Puluhan warga Rahtawu tewas. Tara, salah seorang saudara seperguruan yang cukup menarik perhatian Tari, telah dituduh berhati terlalu lemah menghadapi orang yang membunuh begitu ba- nyak warga Rahtawu. Tara diputuskan untuk dihukum mati. Tapi malam itu juga terjadi perubahan. Resi Rha- gani memerintahkan warga yang masih hidup untuk “melenyapkan” diri. Perintah rahasia ini sudah disusun sejak belasan tahun berselang. Para angkatan tua tahu dengan jelas ke mana mereka harus pergi untuk me- nyembunyikan diri. Angkatan muda seperti Tari yang tertinggal sendiri tentu saja tak tahu ke mana mereka.

Tari memang akhirnya ditemani oleh saudara seper- guruannya, Anengah. Dan kemudian oleh seorang pe- ngembara kecil bernama Tantri. Mereka mendapatkan bahwa seseorang benar-benar mendendam pada warga Rahtawu khususnya. Dan keluarga sanak keturunan Raden Gajah pada umumnya. Seseorang yang dijuluki Dewi Candika mulai meminta korban. Banyak-banyak. Di kaki Gunung Rahtawu saja mereka harus bentrok dengan kaki-tangan Dewi Pencabut Nyawa itu. Dan di desa Mirejo mereka bentrok lagi.

Tari mencurigai kemampuan Tantri. Dan ternyata Tantri memang mempunyai kemampuan sangat luar bi- asa. Namun ternyata bahkan Tantri takut pada seorang wanita separuh baya yang memakai jubah biru. Tantri memang akhirnya terpaksa mengorbankan diri untuk ditangkap si Jubah Biru agar Tari bisa lolos.

Tari memang lolos. Tetapi hatinya jadi sangat terte- kan.

Ia lolos. Dengan membawa berbagai perasaan berdo- sa. Pertama, ia tak berusaha berbuat apa pun untuk mencari keterangan tentang siapa yang sebenarnya me- runtuhkan Rahtawu. Kedua, ia mau saja mengikuti pe- tunjuk seseorang yang baru saja dikenalnya. Ketiga, ia meninggalkan Anengah dalam keadaan luka di tangan pihak yang tampaknya sangat bermusuhan.

Kini ia berada di pasar Angkusa. Untuk menonton keramaian pasar agar hatinya sedikit tenang. Dan, toh tidak tertutup kemungkinan bahwa di hari pasaran yang ramai ini muncul salah seorang warga Rahtawu... atau, mungkinkah mereka betul-betul telah mele- nyapkan diri dengan masuk ke dalam bumi?

Di pasar itu ia menonton. Dan juga ditonton.

Ada seorang pemuda. Bertampang sangat kaya. Ber- wajah cukup tampan. Dengan kumis tipis yang nakal. Dan pemuda itu diiringi oleh dua orang yang memiliki nama julukan yang berbau “kotor”. Masakan seseorang benar-benar punya nama Lingga dan Yoni? Mungkin ju- ga julukan, karena bentuk tubuh kedua orang itu me- mang sangat aneh. Lingga kurus kering dan tinggi. Yoni bulat bundar dan gendut.

Mereka menggoda Tari. Dan Tari berpendapat, tak ada gunanya meladeni mereka. Maka ia bangkit dari duduknya, mengambil buntalan bekalnya, dan bersiap untuk pergi. Tapi Lingga, Yoni, dan pemuda itu meng- halanginya.

“E, e, e, mau ke mana, anak manis? Kita kan belum selesai berbicara?” si pemuda dengan genit mengha- dang, melemparkan ujung selendangnya yang terbuat dari kain sutera Cina. “Kau tampak lapar. Ayo makan- makan dulu di warung... atau, bagaimana kalau ikut ke rumahku?”

“Benar, jadi kau bisa makan mewah sebelum kau dimakan oleh kemewahan Sang Raden, he he he he...,” si Yoni tertawa terkekeh-kekeh sambil menutupi mulut- nya dengan tangannya.

“Tapi apa bisa dia makan mewah, Yoni,” kata Lingga. “Perutnya pastilah tak terbiasa dengan makanan halus seperti kita.”

Tari tak menjawab. Ia menggigit bibir bawah dan ber- paling. Kembali si pemuda menghadang di depannya.

“Eh, kau benar-benar mau pergi tanpa bicara de- nganku?” kata si pemuda kini dengan nada dingin. Dan dari sudut matanya Tari melihat bahwa beberapa orang telah berkumpul untuk menonton. Mereka agaknya tak akan menolongnya. Mereka bahkan bersikap menikmati tontonan yang menyenangkan.

“Maaf, aku harus pergi,” kata Tari akhirnya. Si Galih tertinggal di desa Mirejo. Ia terpaksa memanggul bunta- lannya. Matanya waspada memperhatikan pemuda itu.

“Ck, ck, ck... bukan begitu mestinya berhadapan denganku, Manis. Kau pasti dari pucuk gunung ya, kok belum kenal Wirada, putra Rakryan Tumenggung Kuri- pan?” Lingga tertawa sekali lagi sambil melihat berkeli- ling. Dan memang nama itu cukup berpengaruh pada beberapa orang yang berdiri menonton. Si pemuda pun bertolak pinggang dan memandang berkeliling dengan bangga. Tentu saja nama itu tak ada artinya bagi Tari.

“Aku sangat berterima kasih bisa berjumpa sarika,” kata Tari kepada Lingga, dengan sikap semanis mung- kin. “Tapi aku ada keperluan lain. Maafkan.”

“Mengapa kau tak bicara langsung denganku, Ma- nis?” goda si pemuda yang ternyata bernama Wirada itu.

“Hamba hanya seorang petani tak punya,” kata Tari lagi. “Dan hamba tak tahu tatakrama. Mana hamba be- rani berbicara dengan Paduka. Maka, biarkan hamba lewat, Rakryan.”

Tari sendiri merasa kaku. Ia tahu kalimat yang baru diucapkannya terasa luar biasa jeleknya. Tapi hanya itu yang terpikir olehnya. Walaupun kini ada orang yang menghadang, ia memang tak merasa takut. Tetapi ia harus memikirkan apa dampaknya jika ia, misalnya, melawan. Agaknya pemuda itu putra seorang tumeng- gung. Dan kita harus berhati-hati menghadapi keluarga atau handai-tolan seorang pejabat tinggi. Itulah yang se- lalu diajarkan oleh Bibi Madraka jika mereka sedang da- lam perjalanan keagamaan.

“Maaf, Raden, hamba ada keperluan lain. Betul-betul tak bisa hamba memenuhi panggilan Raden. Sungguh hamba tak terlalu beruntung,” kata Tari dengan sikap betul-betul merendah. Kalau ia bisa memaki, mau rasa- nya ia memaki dirinya seberat-beratnya.

Orang yang dipanggil Lingga tertawa hingga perutnya yang buncit cacingan terkiyal-kiyal. “Eh, Raden, kau- dengar itu? Aku yakin dia memang anak desa Ara Plasa! Wah, gadis-gadis daerah itu terkenal panas lho, Raden. Panas dan pedas. Sungguh rugi kalau Raden tak me- makannya...  eh,  maksudku,  mengundangnya  makan, he he he ”

“Namamu siapa sih, anak perempuan?” tanya si Gendut yang dipanggil Yoni.

Tari memandang pemuda itu. Dengan demikian ia ingin memberi kesan bahwa ia sangat menghormati pu- tra tumenggung itu. Ia bisa menebak bahwa baik Lingga maupun Yoni hanyalah pelayan saja, kalau perlu tak usah diperhatikannya. Mudah-mudahan dengan demi- kian putra tumenggung itu akan sedikit lunak padanya.

Memang. Si pemuda tampak tersenyum bangga. “Jawablah pertanyaannya,” katanya angkuh.

“Tapi... hamba belum tahu nama harum rahadyan sanghulun,” kata Tari sambil mencari-cari akal.

“Ah, kau kan sudah dengar... atau tanyakan pada siapa saja di pasar ini,” Yoni tertawa.

“Kami berdua pun terkenal, lho! He he he. ,” si Ling-

ga juga tertawa. “Tanyakan juga pada semua orang di pasar ini. Terutama si Yoni ini, dia tidak pernah bayar jika beli apa pun!”

“Enggak kok, itu kan karena orang-orang merasa be- rutang budi padaku. Lha pasar ini milik... anu, milik rahadyan ini kok.”

“Hamba betul-betul harus pergi, Raden,” Tari pura- pura tak menghiraukan kedua orang ini.

“He, jangan pergi! Lingga, Yoni, jangan bercanda. Ka- takan padanya siapa aku ini, he,” kata si pemuda.

“Dasar anak  desa  tuli  kok,  Raden,”  gerutu  Lingga. “Dengar, Anak perempuan, kau ini tidak cantik, tahu! Kalau majikanku mau, sehari sarika sanggup memper- oleh tujuh orang gadis seperti kau, tahu! Itu pun hanya dalam sehari!”

“Ho-oh!” kata Yoni. “Ho-oh, ya, Lingga?”

“Aku tak punya waktu...,” Tari berlagak hendak per- gi, seolah tak sabar mendengarkan kedua orang hamba itu.

“Jangan. Lingga, jangan  banyak  ngomong,”  bahkan si pemuda pun tak sabar.

“Baik, baik, Raden,” Lingga bergegas berkata. “Cuma

... tampaknya gadis ini hanya akan membawa mala- petaka saja. Lihat saja, masakan ada anak perempuan desa secerewet ini... pasti di desanya tidak laku.”

“Benar, pastilah ia dibawa ke sini oleh orang tuanya untuk dijual. Gadis secerewet ini mana ada yang mau. Sudahlah, Raden, berikan saja padaku!” kata Yoni.

Sungguh menyebalkan, pikir Tari. Mereka semua, ia dan ketiga orang itu, seperti tontonan saja. Makin lama makin banyak orang yang datang menonton. Hanya ka- rena mungkin mereka tak punya kerjaan saja. Beberapa prajurit yang menjaga keamanan pasar bahkan tampak tersenyum-senyum pada Lingga dan Yoni, membuat ke- dua orang ini semakin berani. Melihat gerak-gerik si pemuda kaya itu, Tari yakin dengan tiga kali gerak saja si pemuda dapat dirobohkannya. Tapi jika ini memang daerah si anak tumenggung itu, bisa ramai kejadiannya nanti. Bisa-bisa ia dikeroyok orang satu pasar yang pas- ti akan berebut jasa membantu si pemuda. Dan walau- pun ia tak menggebrak si pemuda, pasti akan sulit un- tuk meloloskan diri dari mereka.

“Kura-kura juga kalian berdua!” maki si pemuda. “Kalian mau kucincang?” si pemuda betul-betul meng- hunus pedangnya. Tapi agaknya lebih untuk memamer- kan betapa hulu pedang itu berhiaskan butir-butir ber- lian gemerlap. Sempat juga Tari berpikir apa gunanya permata gemerlapan itu seandainya pedang tadi digu- nakan dalam pertempuran.

“Ampun, Raden   ” Si Yoni memegang kepalanya.

“Aku juga minta ampun. Raden...” Lingga mundur cepat-cepat. “Anu... gadis cerewet, tuanku ini bernama Raden Wirada. Kauingat-ingat itu. Sarika putra Rakryan Tumenggung Kuripan. Nah, kalau mau pingsan cepat- cepat pingsan situ tak tiap hari lho kau bisa bertemu

dengan orang tampan... apalagi seorang anak tumeng- gung. Tumenggung, lho! Mimpi apa kau semalam!”

“Kalau begitu maafkan semua kekurang-ajaran ham- ba, rahadyan sanghulun,” Tari langsung menjatuhkan diri ke tanah dan menghaturkan sembah. Ah, sesung- guhnya tak sudi ia berbuat seperti itu. Tetapi memang begitulah jika mau lolos tanpa banyak berkorban. Kor- ban perasaan sih boleh. Tetapi ternyata Raden Wirada itu tidak puas hanya dengan korban perasaan. Ia terta- wa keras sambil mengelus kumisnya yang tipis. Dan ia mendekat hingga tinggal berjarak satu langkah dekat Tari yang bersimpuh di tanah itu.

“Kau anak perempuan desa yang tolol, agaknya cu- kup punya bakat untuk diajar sopan santun, ya,” Raden Wirada tersenyum-senyum. “Dan mukamu... ya, kalau sudah diberikan pada Emban Ulan, pastilah kau tak ka- lah dengan putri pingitan, he he he.... O ya, siapa na- mamu?”

“Nama hamba.   Turi, Raden,” Tari sedikit gugup ber-

dusta. “Hamba memang dari    Ara Plasa. Sungguh ber-

kah Dewata hamba dapat berbicara dengan rahadyan sanghulun. Tapi hamba harus segera pergi ”

“Oho, itu tidak boleh... itu tidak boleh,” kata Raden Wirada dengan tangan kiri di pinggang dan tangan ka- nan mengacungkan sebatang jari. “Aku akan sangat tersinggung bila kau tak ikut aku. Dan kalau aku ter- singgung, wah, sangat menyeramkan, ya!” Ia mengang- gukkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, setuju dengan pernyataannya sendiri.

“Tapi hamba harus segera pergi... saudara hamba menunggu hamba di Bulak Amba. Mereka... sedang mengantarkan kerbau yang baru kami jual,” kata Tari. Mungkin dengan memberi kesan bahwa ia punya sau- dara lelaki dan bahwa ia baru menjual kerbau akan di- peroleh kesan bahwa ia bukannya tanpa pelindung dan ia bukannya tak berharta. Tapi ternyata harapannya gagal. Raden Wirada malah besar tertawanya. “Ha, ba- gus, kalau kau punya saudara lelaki... ya baguslah. Biar ia jadi prajurit, jadi selalu dekat denganmu... dan kau ikut ke Tumenggungan.”

Bingung Tari. Rasanya tak ada jalan lain untuk me- loloskan diri dari pemuda hidung belang ini.

“Be... begini...” Tari berpikir cepat. Ia harus mengha- jar pemuda ini. Tetapi tidak di sini. “Bagaimana kalau kita pergi ke Bulak Amba dulu... baru kemudian  pergi ke istana rahadyan sanghulun? Pasti ayah hamba juga sangat gembira hamba mendapat panggilan dari raha- dyan sanghulun.”

“Kau pasti akan berkata bahwa ayahmu galak, ya? He he he... jangan khawatir, aku sudah sering makan bapaknya gadis-gadis kok.... Ayo jalan. Biar kami antar ke sana. Lingga, Yoni, kudaku. Lalu kalian berdua naik kuda Yoni. Biar anak manis ini naik kuda Lingga.”

“Walah, sudahlah, Raden, untuk apa Raden ber- main-main dengan anak ini. Lebih baik kita main ke rumah Bibi Layar, sudah jelas dapat makanan, gadis- nya cantik-cantik... wangi lagi,” gerutu Lingga.

“Benar, Raden.” “Pokoknya kalian tutup mulut!” gemas Raden Wirada memukul Yoni dengan sarung pedangnya. “Cepat jalan!” Terpaksa Lingga dan Yoni bergegas pergi. Raden Wi- rada tersenyum pada orang-orang yang menonton di se-

keliling mereka.

Kemudian ia berpaling memperhatikan Tari. “Coba berdiri,” katanya.

“Biarlah hamba duduk, Raden,” kata Tari.

“Kalau aku berkata berdiri... maka kau harus berdiri. Kau ingat itu, ya. Ayo berdiri,” Raden Wirada menjen- tikkan jarinya. Ragu-ragu Tari berdiri.

“Ah... orang-orang itu buta,” Raden Wirada mengge- lengkan kepala. “Sedikit dirawat saja kau akan jadi se- cantik bidadari. Jangan khawatir. Kau akan memper- oleh baju bagus, kain bagus... pokoknya lengkap!”

Mereka berkuda santai. Angkusa memang kota kecil. Hanya sebuah tempat perhentian besar antara Kuripan dan kotaraja Singasari. Namun agaknya sejauh itu dari Kuripan, Raden Wirada cukup dikenal. Mungkin karena itulah Wirada mengendarai kudanya dengan santai saja. Ia menikmati penghormatan yang diberikan oleh orang- orang di pinggir jalan. Ia menikmati keadaan di mana orang-orang menyingkir memberinya jalan.

Tetapi ternyata ada seseorang yang tak mau me- nyingkir.

Hampir di ujung jalan kota, jalanan tiba-tiba sangat menurun. Kiri-kanan jalan sudah mulai sepi. Rumah- rumah sudah sangat jarang.

Di tepi jalan itu ada sebatang pohon besar. Dan seo- rang lelaki berdiri di bawah pohon tersebut. Mengelus- elus kudanya.

Lelaki itu tidak terlalu luar biasa. Muda. Gagah. De- ngan wajah keras. Kulitnya berwarna agak gelap. Kain- nya sederhana walaupun tampak berharga sangat mah- al. Dan memiliki disain yang menunjukkan bahwa pe- makainya keturunan bangsawan.

Kudanya yang tampak luar biasa. Tinggi besar mele- bihi rata-rata kuda yang ada. Berwarna hitam gelap se- luruhnya. Sama sekali hitam. Surinya panjang berjurai di kiri-kanan leher, dikepang kecil-kecil hingga tampak rapi dan indah. Ekornya dipotong pendek, hingga ting- gal sekitar satu jengkal dari pangkal ekor. Kakinya tam- pak kuat dan tangkas. Kepalanya terangkat tinggi me- mandang ke sekeliling dengan gagah dan tak acuh.

Dan orang itu tidak minggir saat melihat Raden Wi- rada dan pengiringnya. Ia tidak juga langsung berjong- kok seperti rakyat biasa. Lingga agaknya masih kesal karena harus berboncengan dengan Yoni, dan mungkin karena duduk di belakang Yoni tak bisa melihat jelas, maka ia langsung menghardik, “He, kunyuk tak punya mata!” katanya. “Tahukah kau siapa yang lewat?”

“Orang yang akan modar jika tidak segera meng- gelinding turun dari kuda itu,” si pemuda menjawab. Suaranya tenang dan berat.

“Yoni, Lingga, kalian yang tidak bermata. Ini Kakang Sindura!” kata Raden Wirada. Sambil mencoba terse- nyum tak acuh. Tapi tidak turun dari kuda. Sebaliknya Lingga dan Yoni betul-betul gugup berebut melompat turun hingga kuda mereka sesaat mendepak-depak tak keruan.

“Kau sih punya punggung sebesar gentong!” hardik Lingga ketus.

“E, e, e, kok nyalahin aku. Kepalamu kan ada di atas kepalaku! Sembah bekti, Raden,” Yoni tergesa-gesa me- nyembah. Lingga harus menghindari kaki kuda dulu sebelum punya tempat yang baik untuk menyembah.

Orang yang dipanggil Sindura itu sesungguhnya ti- dak memperhatikan kedua orang itu. Keningnya ber- kerut dan matanya tajam memandang Tari.

Melihat pandang mata itu, Yoni langsung menghar- dik Tari, “Anak dusun, cepat turun kau!”

“Tak usah, kami sedang tergesa-gesa,” kata Raden Wirada dengan mata nakal dan suara sedikit gemetar. Mungkin ia memberanikan diri untuk mengatakan itu. “Turi, sarika ini adalah kakakku, Ra Sindura, putra Ra- kryan Rangga dari Kuripan juga. Kakang Sindura ini suka mengembara, Turi, untung juga aku menemukan kau lebih dulu dari sarika, he he he. Dia lumayan juga bukan, Kakang Sindura? Namanya Turi. Anak dari desa Ara Plasa. Ia akan memperkenalkan aku dengan orang tuanya. Yah... Kakang tahu toh desas-desus tentang di- riku? Cuma sesungguhnya banyak desas-desus itu tak bisa dipercaya. Pasti yang menyebar desas-desus terse- but orangnya tolol sekali. Eh, Kakang Sindura selalu berkata ingin menjaga keamanan negara... mungkin bi- sa mencari sumber desas-desus itu?”

“Sudah kutemukan dan itu sama sekali tidak lucu,” kata Ra Sindura sambil terus memperhatikan Tari. “Aku mendapat keterangan bahwa penyebar desas-desus ten- tang dirimu adalah kau sendiri. Terutama lewat kedua kaki-tanganmu itu.”

“Lho, kami jangan dilibatkan, Raden,” sembah Yoni “Lagi pula, apa tidak lucu jika kami betul-betul jadi

kaki-tangan. Lha kakinya selangsing aku kok... tangan- nya seperti kura-kura ini... apa tidak terguling-guling, Raden?”

“Suatu hari kau akan menyesal punya pelayan seto- lol kedua orang itu,” Ra Sindura masih terus memper- hatikan Tari. Tari terpaksa menunduk. Pandang mata pemuda itu begitu tajam dan berwibawa. “Kalian mau ke mana?”

“Oh, sekadar jalan-jalan     Kakang Sindura tak usah ikut. Hanya jalan-jalan saja kok,” jawab Wirada.

“Hh,” dengus Ra Sindura. Kemudian dengan sekali lompat ia telah duduk lunak di punggung kudanya. Me- mutar kuda tersebut hingga menghadap ke arah yang berlawanan dengan kuda-kuda Wirada. “Aku sama se- kali tidak akan menyesal jika kau tertimpa malapetaka, Wirada,” katanya dengan nada dingin. “Hanya kuin- gatkan... tentang desas-desus lainnya. Tentang seorang wanita yang haus darah dan telah membunuh banyak orang di kalangan keluarga Wilwatikta. Menurut desas- desus orang itu muda. Cantik. Dan aku sudah menyeli- diki bahwa desas-desus itu bukan sekadar desas-desus murah seperti yang kaubikin. Semoga kita masih bisa bertemu lagi.”

Tanpa ancang-ancang, kuda itu langsung melesat bagai terbang.

2. ASAP KUNJANA

MEREKA sampai ke sebuah tanah lapang. Tari tahu ta- nah lapang itu sebab tadi pagi ia memang lewat situ da- lam perjalanan masuk ke dalam kota. Sebuah tanah la- pang yang sangat luas. Bahkan sesungguhnya adalah padang rumput liar yang masih penuh semak belukar di sana-sini. Dan tempat itu sepi. Hanya sebuah jalan se- tapak membelah padang rumput itu. Jauh ke tepi pa- dang rumput di kaki gunung sana. Jalan besar sendiri, jalan besar menuju Singasari, membatasi tepi kiri pa- dang rumput yang juga berbatasan dengan hutan.

“Mana ayahmu, mana kakakmu?” tanya Yoni yang kesal dua kali lipat karena harus berbagi punggung ku- da dengan Lingga.

“Mungkin ada di kali sana,” kata Tari. “Biar kucari mereka.” Tari akan membelokkan kudanya. “E, e. Mau ke mana kau, enak saja pergi....” Lingga melompat turun dari kuda dan bergegas memegang tali kendali kuda yang ditunggangi Tari. “Ini kudaku, tahu. Jangan coba-coba jadi maling kuda di hadapanku, ya... aku dulu sudah tujuh tahun lho berpengalaman sebagai maling kuda ”

“Aku hanya mau ke sungai, lain tidak,” kata Tari seo- lah tersinggung. “Kalau tidak boleh pergi ya sudah. Kita tunggu saja di sini. Siapa kesudian pada kuda butut ini....” Tari betul-betul turun dari kudanya. Tempat ini sangat sepi. Mungkin di sini ia bisa melampiaskan ke- dongkolan hatinya yang sudah tertumpuk dari tadi. Ka- lau manusia-manusia kurang ajar ini mau diusir secara baik-baik, maka ia akan melepaskan mereka. Tetapi jika tidak, yah, hitung-hitung latihan. Tampaknya sih mere- ka takkan terlalu tangguh. Tapi bagaimana kalau du-

gaannya itu keliru dan ternyata ketiga orang itu bisa menguasainya? Yah. Memang bisa kacau. Tak ada sa- lahnya untuk mencoba.

“Raden, bagaimana kalau Raden kembali saja?” Tari mencoba bermanis budi pada Wirada. “Mungkin ayah atau kakakku masih agak lama. Biar kutunggu di sini. Raden pulang saja. kasihan kalau terkena panas di si-

ni.”

“E, dasar anak kurang ajar, Raden. Coba  ternyata

ia hanya ingin diantarkan saja ke sini, dasar  kurang ajar! Bagaimana kalau hamba hajar saja, Raden?” Yoni sungguh gemas. Ia melompat turun dari kuda hingga terasa bumi seakan terguncang.

“Tunggu, Yoni,” kata Raden Wirada yang masih bera- da di punggung kuda. “Turi... betulkah kau berdusta kepada kami?”

“Tidak, Raden, aku memang menunggu kakakku di sini,” kata Tari. “Kenapa di tempat yang sesepi ini? Apakah kau tak takut pada orang jahat?”

“Raden, selama hamba tidak bermaksud jahat pada orang lain, maka hamba yakin hamba tidak dijahati orang lain,” sahut Tari.

Lingga dan Yoni tertawa terbahak-bahak. “Bagaima- na kalau justru kami yang akan menjahatimu?” tanya Lingga.

“Rasanya tak mungkin,” kata Tari tersenyum lembut. “Terutama karena di sini ada Raden Wirada. Sarika pas- ti takkan membiarkan kau berbuat jahat.”

Lingga akan berbicara, tapi dicegah oleh isyarat Wi- rada.

“Aku memang tak mau kau diganggu orang jahat, Turi, aku begitu sayang padamu,” kata Raden Wirada dengan senyum yang justru menyebalkan hati Tari itu. “Karenanya, jika sesungguhnya kau menipu kami, dan di sini tak akan ada ayah atau kakakmu, tak apalah. Hanya, terlalu kasihan bila kau sendirian di tempat sepi ini. Jadi, ya, ayo ikut aku saja. Di istanaku kau pasti senang... semua kehendakmu pasti terlaksana!”

Sebagai seorang gadis yang tahu sopan santun maka Tari sama sekali tak berani mengangkat muka melihat wajah Wirada. Tapi ia bisa membayangkan pemuda itu tertawa mengejek.

“Terima kasih, Raden... hamba kira tak usah. Hamba datang dari pucuk gunung, tak tahu  sopan  santun, nanti malah memalukan jika ikut ke istana. ”

“Tentang itu kau tak usah khawatir   siapa yang be-

rani mengganggumu biar kulumat kepalanya,” kata Ra- den Wirada tersenyum.

“Terima kasih, Raden... tapi lebih baik hamba tidak menghadap ke istana. Kalau ayah atau kakakku datang bagaimana?” “Aku yakin mereka tak akan datang, Turi, sebab me- reka hanya ada dalam khayalanmu...” Dan meledak ta- wa Wirada. “Jangan mungkir, Turi, sesungguhnya su- dah dari tadi aku tahu kau menipu aku.”

“Iyak apa benar, itu, Raden?” tanya Lingga.

“Kalau benar sih keterlaluan berat,” kata Yoni. “Ma- sakan kami terpaksa berkuda bersama... sungguh ke- terlaluan! Raden mungkin belum pernah tahu rasanya mendekap Lingga. Suatu pengalaman yang sama sekali tidak menyenangkan, Raden. Berkeringat, bau, tulang melulu... dan ternyata sesungguhnya itu tak perlu! Ka- lau tahu dari tadi kan lebih baik hamba tinggal saja di pasar. Tidak usah capek, bisa cepat kenyang... po- koknya yah...”

“Pokoknya kau mau dihukum kisas, bukan?” tanya Wirada kesal.

“O, lha ya jangan begitu, Raden.... Ini...  Raden  kok jadi pemarah sekarang, ya Lingga. Mulai hari ini lho si- kapnya kok maraaaah terus!” kata Yoni.

“Diam kalian!” bentak Raden Wirada, betul-betul tampak gusar. Lingga dan Yoni mengkeret seketika. Kemudian Wirada berpaling pada Tari. Wajahnya yang tampan tersenyum. “Nah, kau, Turi.  Sekarang...  kau mau ikut aku kembali ke Tumenggungan, bukan? Ku- kira tak ada halangan untuk itu. Ayahmu tidak. Kakak- mu pun tidak.”

“Ya, kau harus ikut, tidak boleh tidak,” kata Yoni ta- kut-takut, melirik pada Wirada.

“Benar, boleh tidak boleh, kau harus ikut,” kata Lingga melihat Yoni tidak dibentak oleh majikannya.

“Kenapa?” Tari heran.

“Kok tanya kenapa. Kan sudah jelas. Sudah jelas kan, Yoni?”

“Jelas sudah jelas. Mmmh, kau harus ikut karena... yang memintamu adalah Raden Wirada!” Yoni gembira sekali bisa memperoleh alasan itu.

“Benar. Dan Raden Wirada tak pernah tidak terpe- nuhi permintaannya,” kata Lingga. “Jangan coba-coba menolaknya. Jangan!”

“Kenapa? Justru aku mau menolaknya,” kata Tari. “Kan tidak lucu... tak mau bertamu, dipaksa-paksa ber- tamu ”

“Aku tidak memaksamu, Turi... hanya, kau harus ikut. Bisa menyesal kalau tidak.”

“Bukan hamba ingin menentang Paduka, Raden, tapi hamba memang ada keperluan lain,” kata Tari sambil menekan perasaan malunya.

“Jika ada aku, Turi, maka keperluanmu hanyalah sa- tu... memuaskan hatiku. Nah, kau ingin ikut aku atau tidak? Terus terang saja, Turi. Biar aku juga tak ragu- ragu melayanimu.”

“Sudah kukatakan, Raden  hamba tidak bisa,” kata

Tari.

“Jika kau memang ingin mengatakan kau tidak bisa sewaktu kau berada di pasar, mungkin kau bisa sela- mat. Tetapi di padang rumput seluas ini... sesepi ini...

siapa yang akan menolongmu?” tanya Wirada.

Diam-diam Tari mempersiapkan diri, merapikan kainnya dan berdiri dalam kuda-kuda. “Memang tak ada, Raden, kecuali aku sendiri. Ayahku mengajariku mandiri. Jika Raden berkenan, biarlah aku pergi dari sini.”

“Wah ini makanan empuk, biar aku yang menangani- nya, Raden!” kata Lingga melihat ada kesempatan un- tuk merebut hati majikannya.

“Lebih  baik aku saja, ayo beri aku hadiah, majikan, he he,” kata Yoni. “Terlambat juga tak menguntungkan. Biar uangnya buat beli wanita lagi.” “Wala, wala, Yoni, mengapa omonganmu tak keruan begitu. Minum tuaknya besok, mabuknya sekarang!” Lingga tertawa. “Jangan berikan ke dia tugas ini, Raden. Raden lihat, belum apa-apa kainnya sudah basah!!”

Memang, sesungguhnya tiba-tiba saja ada rasa keta- kutan yang mencekam hati Yoni saat pandang matanya bertemu dengan pandang mata Tari. Tak terasa omong- annya jadi tak keruan dan tak punya arti. Ia segera me- nenangkan diri dan menekan perasaannya itu dengan tertawa. “He he he, aku hanya khawatir tak bisa mena- han diri, Raden... perempuan desa ini apakah cukup berharga untuk selera Paduka, Raden... apa tidak lebih baik dikasari saja?”

“Dia memang tidak seindah Ndari, Yoni, tapi aku menginginkannya utuh,” kata Wirada masih  duduk enak di punggung kudanya. Ia juga merasa  sesuatu yang aneh. Seolah-olah menghadapi lawan yang sangat tangguh. Hatinya gelisah. Diperhatikannya setiap gerak Tari. Dan diam-diam tangannya masuk ke sela-sela kain ikat pinggangnya. Mengambil sebutir peluru asap andal- annya—untuk menghadapi wanita yang sangat diingin- kannya, bukan menghadapi lawan tangguh di per- tempuran!

Tari sendiri merasa bahwa waktu untuk bermain- main telah habis. Ia mundur tiga langkah dan seolah wajar memiringkan tubuhnya ke kiri. Pada mata awam, tampak ia hanya ingin berbicara dengan Wirada. Se- sungguhnya ia telah ada pada kedudukan kuda-kuda yang kuat untuk menghajar Yoni dengan tendangan Bantala Liwung yang dahsyat. “Terima kasih atas perha- tian Raden untuk mengantarkan hamba ke tempat ini.” Tari menunduk dengan gerakan menyembah. “Kini hamba mohon diri.”

“Jangan terlalu cepat, Genduk,” ejek Yoni, dan ia ma- ju dengan tangan terentang seolah akan menangkap ayam. “Jika Raden Wirada menghendaki kau pulang dengan sarika, maka kau harus pulang dengan sarika.”

“Jangan mendekat lagi, Paman,” ancam Tari dengan nada dingin. Sikapnya namun masih tetap ramah.

“Alaaa, jangan jual mahal-lah,” Yoni tertawa, meng- ulurkan tangannya.

Kemudian, andaikan saat itu ada petir menyambar pun, Yoni tak akan sekaget itu. Mendadak saja Tari mengangkat tangan kiri. Sesaat pandangan Yoni ter- pancing gerakan ini. Ia sama sekali tak melihat Tari memutar tubuh dan sebuah tendangan meliuk lang- sung menghajar dadanya yang tambun.

Yoni menjerit terkejut dan sakit. Sapuan kaki kanan Tari menyusul. Tubuh bundar bulat Yoni seakan te- rangkat ke udara dan jatuh berdebum keras sekali. Tari mundur satu langkah dan bersikap seolah tak ada apa- apa.

“Kurasa Raden dan kedua Paman tak usah mengan- tar terlalu jauh.” Tari membungkuk dan berpaling.

Beberapa saat Raden Wirada dan Lingga memang terpukau. Gerakan Tari begitu cepat hampir tak terlihat. Tapi Wirada segera sadar dan berseru pada Lingga, “Ayo Lingga, tangkap dia!”

Tanpa disuruh pun Lingga mungkin telah melabrak maju. Yoni mungkin selalu bersaing dengannya dalam banyak hal, tetapi mereka berdua telah bersahabat se- lama puluhan tahun. Ia tentu tak tega melihat teman- nya terbanting begitu saja. Dan Lingga sudah langsung tahu bahwa Tari memang cukup “berisi”.

Gerakan Lingga cukup aneh. Dengan kaki-kakinya melangkah panjang, ia seolah bergerak tak menentu di kiri-kanan Tari. Tiba-tiba saja tangannya terulur cepat bergantian. Hampir rambut Tari kena diraihnya. Tapi kini Tari sudah bersiap, dan segenap indrianya matang menghadapi serangan. Wajar saja ia merunduk, memu- tar tubuh dan melompat ke kiri. Dua buah tendangan beruntun dilancarkannya. Tidak sepenuh tenaga. Ling- ga terkejut. Tapi dengan kaki-kakinya yang panjang ia masih sanggup menghindar. Bahkan serangan balasan pun dilancarkannya.

Betapa pun “genitnya” Wirada, ia adalah seorang ksatria dan prajurit. Hatinya gembira melihat pertaru- ngan sengit itu. Sambil terus menggenggam sebutir pe- luru asap andalannya, ia melompat turun dari kuda, menerjang Tari sambil berseru pada Lingga,  “Minggir dulu, Lingga!”

Dengan sukacita Lingga membanting diri ke kiri dan menggelinding menjauh. Wirada sendiri tak segan-segan melancarkan serangan sengit  beruntun,  mengurung  Ta- ri  dari  segenap  penjuru  dengan  ancaman   pukulan maut.

Makin lama Wirada makin heran. Memang ia bukan- nya jago Kuripan, tapi paling tidak di antara para ang- katan muda ksatria Kuripan dia salah satu yang sangat diandalkan. Tapi ini... melawan seorang gadis desa saja napasnya sedemikian sesak? Tari tidak hanya meng- hindar dan meloloskan diri dari kurungan ancaman se- rangan Wirada, tetapi dengan dahsyat ia membalas. Dan ia melakukannya dengan sepenuh hati. Segala ke- marahannya yang tadi terpendam kini terlampiaskan sepuas-puasnya.

Lingga yang sedang membantu Yoni berdiri sangat terkejut melihat pertempuran itu.

“Hei, Yoni... kaulihat sesuatu yang aneh?” bisiknya pada Yoni.

“Ya, bintang-bintang mengelilingi kepalaku,” kata Yoni sambil memijit-mijit perutnya. “Dan... kau pakai minyak apa, Lingga? Aku jadi ingin muntah   ”

“Tolol, lihat sang Raden itu,” Lingga mengguncang sahabatnya.

“Kenapa dia? Rupanya tetap sama, hanya sekarang dikelilingi bintang-bintang dan aku kepingin muntah ”

“Jangan ngaco! Lihat, junjungan kita tak bisa menga- lahkan gadis itu!”

“Salahnya sendiri, tenaganya sering dihamburkan- nya di tempat Bibi Layarmega sih.”

Dengan gemas Lingga meremas kepala Yoni dan me- mutarnya menghadap ke arah pertempuran yang se- dang terjadi. “Lihat itu dan dengarkan baik-baik, Tolol. Jangan bicara dulu. Lihat. Junjungan kita terdesak oleh gadis itu. Sarika kini hanya bisa bertahan. Dan perta- hanannya pun kedodoran. Kaulihat itu?”

“Lihat saja. Kaukira aku buta?” “Bagus. Apa lagi yang kaulihat?”

“Sialan. Bagaimana sih cara gadis itu mengikat kain- nya? Bahkan saat menendang tinggi pun kakinya masih tertutup rapat!”

“Goblok. Lihat gerakan si gadis!”

“Mmmmm, sangat menggiurkan    Heran, padahal ia

tak begitu cantik kan, Lingga?”

“Sekali lagi kau ngomong tak keruan, kusembelih kau!” kata Lingga geram. “Kau lihat gerakan kaki dan kepalan gadis itu. Aku seperti pernah melihatnya. Siapa ya?”

“Hei, kau benar!” tiba-tiba Yoni betul-betul sadar. Ia duduk tegak, matanya separuh dipicingkan memperha- tikan setiap gerakan Tari. Lama ia merenung, sambil memukul-mukul kepalanya. Lingga yang ikut terpesona tak terasa ikut pula memukul-mukul kepala Yoni. Dan Yoni tak merasakannya.

“Aku tahu!” tiba-tiba Yoni dan Lingga berseru bersa- ma.

“APA?” tanya Yoni dan Lingga. Bersamaan. “Kau dulu,” kata Lingga.

“Pada pesta bulan Cayitra...,” kata Yoni.

“Ada pertandingan kewiraan antara para ksatria Ku- ripan—,” sahut Lingga.

“Dan hampir saja junjungan kita jadi juara,” kata Yoni.

“Tapi Raden Sindura membikin kacau dengan maju ke panggung...”

“Dan mengalahkan Raden Wirada...”

“Dengan gerakan yang mirip gerakan gadis itu!”

Kedua orang itu saling pandang. Kemudian mereka mengamati lagi pertarungan antara Tari dan Wirada. Kini jelas-jelas Wirada telah terdesak. Dan kini terlihat gerakan Tari semakin mirip gerakan Ra Sindura. Ini bi- sa berarti besar. Mungkinkah gadis itu satu perguruan dengan Sindura? Bahkan, mungkinkah Sindura me- mang menjebak mereka?

“Gunakan, Raden!” teriak Lingga tiba-tiba. Ia sudah melihat dari tadi bahwa  Wirada menggenggam  sesuatu. Ia memikirkan suatu peluru  rahasia.  Entah  apa.  Tapi saat keadaan genting seperti itu mungkin sesuatu yang sangat tidak terduga bisa menolong.

Wirada memikirkan hal yang sama. Tadi ia mencoba terus bertahan diri hanya karena terdorong oleh rasa ingin tahu yang amat sangat, di samping ia juga bisa menikmati suatu pertarungan yang begitu menantang- nya untuk mengerahkan segenap kebisaannya.

Teriakan Lingga membuat ia sadar. Pertarungan ini bukan untuk dinikmati, tetapi untuk dimenangkan. Ji- ka ia sampai jatuh, maka akibatnya akan sangat besar!

Diam-diam ia meremas peluru rahasianya, memutar tubuh sambil menghindari serangan Tari, dan seraya melecutkan tangan kanan sebagai suatu serangan, ta- ngan kirinya menjentrikkan peluru yang telah diremas- nya itu.

Sesungguhnya Tari sudah menduga bahwa lawannya akan melontarkan serangan dengan senjata rahasia. Ia pun sudah bersiap dan berwaspada. Jika peluru itu ber- bentuk benda padat, mungkin bisa ditangkap atau di- tangkisnya. Tetapi peluru itu menghambur langsung mengepul menjadi asap biru yang langsung menyelimuti dirinya. Tak sempat lagi Tari menutup pernapasannya. Kakinya pun langsung terasa lemas. Kepalanya terasa diliputi oleh rasa kantuk yang amat sangat. Jadi sebegi- tu berat! Tiada rasa sakit. Malah terasa nyaman sekali. Dan semua ototnya pun jadi kendur. Lemas. Dan ia ro- boh.

Sesaat tempat itu sepi. Wirada berdiri terengah- engah mengembalikan pernapasannya. Lingga berdiri di belakang Yoni yang sedang akan bangkit berdiri. Semua terpukau. Tubuh Tari tergeletak di depan mereka. Tidur nyenyak.

“Wuala, walaaa hebat sekali peluru Raden ini    Begi-

tu cespleng! Lebih hebat dari yang dulu. Apakah ini cip- taan Bibi Emban Layarmega yang terbaru?” tanya Ling- ga, perlahan menghampiri Tari.

“Benar, Lingga, Bibi Emban menamakannya Butir Asap Kunjana. Kau tahu... Bibi Emban membuatnya karena sarika tahu kegemaranku. Peluru ini sesung- guhnya untuk menidurkan gadis-gadis yang aku sukai tetapi tak mau diajak kerja sama dengan baik. Sama sekali tak kuduga bahwa peluru ini akan kugunakan dalam pertempuran. Tetapi hasilnya cukup lumayan, bukan? Kukira untuk kelak pun aku bisa mengguna- kannya sebagai senjata rahasia. Bagaimana pendapat- mu, Lingga?” “Mungkin juga benar, Raden... agaknya Dewata me- nuntun tangan Raden... tapi, maafkan hamba, ini me- mang suatu kebetulan. Memang Bibi Emban Layarmega menciptakannya untuk menaklukkan gadis. Bagaimana kalau lawan Paduka seorang pria? Apakah masih tetap ampuh?”

“Kau benar. Kita harus mencobanya,” kata Wirada berpikir-pikir.

“Setuju, Raden... dan untuk mencobanya, jangan tanggung-tanggung... cobakan saja pada pria yang tu- buhnya besar luar biasa, jadi kita tahu kekuatan Butir Asap Kunjana itu bagaimana. Nah, paling tepat, cobalah pada Yoni ini, Raden!”

“E, e, e, Tunggu dulu!” susah payah Yoni berdiri. “Tunggu dulu! Kita pikirkan hal lain yang lebih penting, Raden. Soal mencoba sih gampang. Ini... mari kita urus gadis ini dulu. Apakah kita biarkan tergeletak saja di si- ni? Hamba usulkan, bawa saja ke rumah hamba. Biar hamba urus. Kebetulan istri hamba yang cerewet itu se- dang pergi ke Gaundang. Dengan anak-anaknya. Jadi rumah hamba sepi, Raden.”

“Enak saja. Itu memang penting. Tapi tidak harus di rumah Yoni. Hamba bisa jadi iri, lho. Disimpan di istana Paduka juga tidak aman. Jika ramanda Paduka tahu, wah, bisa-bisa Raden gigit jari. Dan ada hal yang lebih penting... tidakkah Raden merasakan keanehan gera- kan gadis ini?”

“Ya. Benar. Tapi aku masih belum menemukan kea- nehan apa itu sebenarnya,” Raden Wirada berpikir- pikir.

“Raden, kami berdua melihat jelas semua gerakan- nya, dan kami berdua sependapat... gerakannya mirip gerakan Raden Sindura!” kata Lingga.

“Apa?” Raden Wirada betul-betul terkejut. Diperhati- kannya Tari. Kemudian ia saling pandang dengan kedua pembantunya.

“Ya ampun. Benar juga!” bisiknya perlahan. “Lalu... wah, ada hubungan apa antara gadis ini dengan Kakang Sindura?”

3. EMBAN LAYARMEGA

LAMA juga ketiga orang itu saling pandang. Padang rumput itu sunyi. Memang bukan waktunya orang be- pergian. Lingga memecahkan kesunyian itu dengan ber- tanya, “Berapa lama ia akan tidur?” sambil menoleh ke arah Tari yang masih tergeletak.

Kini yang lain seakan baru teringat pada Tari. Tari tergeletak. Setengah telentang. Dadanya membusung menantang. Dan kainnya sedikit tersingkap memperli- hatkan betis yang mulus dan halus. Namun entah ba- gaimana Raden Wirada yang terkenal hidung belang itu kini tak bernafsu lagi.

“Ada hubungan apa dia dengan Kakang Sindura?” ia mengulangi pertanyaan tadi. Perlahan.

“Tadi sewaktu Raden Sindura melihatnya, ia tak me- nunjukkan perasaan apa pun,” kata Yoni.

“Tapi Raden Sindura terkenal dengan pasukan pen- damnya,” kata Lingga. “Mata-matanya tersebar di mana- mana.”

“Sayang juga jika ia dibuang begitu saja,” sifat buruk Raden Wirada agaknya kembali.

“Kembali ke pertanyaan tadi... berapa lama ia akan tidur?” tanya Yoni.

“Maksudmu, mungkin Raden Wirada bisa mema- kainya saat ia belum sadarkan diri?” tanya Lingga.

“Kalau sarika tidak mau, aku kan tidak menolak,” kata Yoni tertawa terkikik. “Dia akan tidur sampai sepemakanan sirih,” kata Wi- rada sambil berpikir-pikir. “Setelah itu ia tak akan ber- tenaga sampai sekitar semalaman. Kemudian seluruh tenaganya akan pulih. Kalau kita akan menikmatinya, mungkin sewaktu tenaganya belum pulih semua. Yang jadi persoalan kini, siapa dia! Kalau dia, misalnya, sau- dara seperguruan Kakang Sindura, maka kita akan mendapat kesulitan. Walaupun dia kita lenyapkan,” Wi- rada mengangguk ke arah Tari, “Toh tadi Kakang Sin- dura melihatnya bersama kita.”

“Bingung, ya, Lingga?” tanya Yoni.

“Kau mungkin tidak. Aku jelas bingung,” kata Ling-

ga.

“Tapi Raden kita pasti tidak bingung,” kata Yoni me-

mandang pada Wirada.

“Jelas. Dia kan majikan. Majikan tidak boleh bingung lho. Kalau tidak orang bisa jadi bingung. Yang mana yang majikan yang mana yang pembantu,” kata Lingga.

“Kalau soal itu sih, jelas, aku tidak bingung,” kata Yoni.

“Lalu yang kaubingungkan apa?” tanya Lingga. “Kamu ini bingung apa? Tentang itu aku masih bi-

ngung!”

“Sudah. Jangan omong tak keruan. Bikin bingung orang saja,” sungut Wirada. “Kita tak bisa membawanya ke Tumenggungan. Pertama, Ramanda akan ribut. Ke- dua, kemungkinan Kakang Sindura akan datang dan mungkin akan curiga melihat gadis ini.”

“Jadiii...” Lingga dan Yoni berkata bersamaan.

“Kita bawa saja dia ke tempat Bibi Emban Layarme- ga,” kata Wirada dengan gembira. “Pertama, Bibi Emban selalu mencari orang baru bagi wisma-nya. Kedua, Bibi Emban punya cukup ilmu untuk menjinakkan anak ini. Ketiga, karena aku yang titip, maka aku akan mempero- leh kesempatan utama dengan gadis ini. Keempat, siapa pun dia, dengan garapan Bibi Emban maka Kakang Sindura akan tak tertarik lagi pada gadis ini. Jadi kita bebas!”

“Dengan kemungkinan kita mendapat imbalan dapat menginap di sana tanpa bayar!” kata Lingga dengan ma- ta bersinar-sinar.

“Ingat waktu dulu kita boleh menginap tanpa bayar?” Yoni menggelengkan kepala. “Bibi Emban memberi kita si Truni... wuah! Seminggu aku muntah-muntah terus!”

“Muntahmu kan memang karena rakus makan kela- pa busuk!” tukas Lingga.

“Susahnya, hidangan yang ada hanya itu,” kata Yoni. “Di situlah letak kerakusanmu, Kawan,” kata Lingga.

“Waktu itu aku juga dihidangi kelapa busuk... hhh...” “Kautolak?” tanya Yoni.

“Tentu tidak. Aku minta lagi,” Lingga tertawa. “Lha enak kok. Perkara muntah sih gampang... semua orang juga pernah muntah, kan? Untuk apa dirisaukan amat sih?”

“Ingin kubuat kalian berdua muntah-muntah semua.

Sekarang!” sungut Wirada. “Yoni!” “Saya, Raden?”

“Iya. Kau harus muntah sekarang!” kata Lingga. “Bukan, Tolol! Kau pergi ke arah utara. Sampai ti-

kungan itu. Cari pedati. Rampas! Ngerti?” kata Wirada. “Jangan berbelas kasihan lagi. Kalau tidak boleh diram- pas... ya beli saja. Nih uangnya!” Wirada melemparkan sekantung uang pada Yoni. “Ayo cepat!”

“Ba... baik, Raden!” gugup Yoni melompat ke atas kudanya dan berpacu pergi.

“Kau, Lingga. Kau naik ke atas bukit itu dan lihat ka- lau ada yang datang. Jika kami siap berangkat, kau ce- pat bergabung dengan kami, ya!” Beberapa saat kemudian, sebuah pedati tua telah berderak-derak ditarik seekor sapi menuju Kuripan. Yo- ni duduk di tempat mengemudi. Di dalam pedati itu ter- bujur Tari yang masih tertidur pulas. Yoni terus- menerus mengeluh. Sapi itu malas berjalan. Sulit dike- mudikan. Lingga sekali-sekali menggoda Yoni. Tetapi sesungguhnya matanya terus mengawasi kiri-kanan.

Mereka memasuki kota menjelang sore. Dan Wirada langsung membawa pedati itu ke tempat Emban Layar- mega. Lewat belakang.

Kebanyakan orang-orang lewat pintu belakang jika datang ke tempat Emban Layarmega. Tempat Emban Layarmega adalah rumah hiburan bagi para lelaki iseng. Rumah hiburan ini begitu terkenal hingga sering juga para pejabat atau saudagar Wilwatikta datang kemari. Dan tempat ini langganan Wirada.

Beberapa orang wanita menyambut kedatangan Wi- rada dan kawan-kawannya di halaman depan.

“Aduuuh, sudah lama tidak kemari, Raden... hamba semua jadi sangat rindu. Aduh, nanti biar hamba yang meladeni Raden, ya.”

“Aku ingin bertemu dengan Bibi Layarmega sendiri,” kata Wirada.

“Bibi Emban sedang istirahat, Raden... aku saja ya yang melayani? Kan Bibi Emban sudah tua, apa enak- nya?!” Seorang wanita bertubuh kecil mungil mera- patkan tubuhnya pada kaki Wirada yang belum turun dari kudanya.

“Ha, kau agaknya orang baru ya di sini,” kata Lingga. “Belum tahu gaya permainan Bibi Layarmega?  Biar tua... tarikannya! Kalian orang baru tak ada seujung kukunya!”

“Idiiiih, coba dulu baru ngoceh, Kang!” si wanita ber- kata genit. “Kalau coba sih boleh-boleh saja... asal cuma-cuma lho. Sekarang?” tanya Yoni dari atas pedatinya.

“Idiiiiih, enak saja. Ayahku bilang, aku tak boleh main-main dengan tukang pedati... bau sapi, lho, bau sapiiiii!” wanita itu makin genit melenggak-lenggokkan tubuhnya. Wanita-wanita lainnya tertawa-tawa bermain dengan kaki Wirada dan Lingga.

“Siapa namamu?” tanya Wirada.

“Menir Dadu.” Si wanita menggoyang-goyangkan ke- palanya seperti menari. “Hamba yang melayani Paduka, ya?”

“Dengar baik-baik. Kaupanggil Bibi Emban Layarme- ga sekarang juga.  Dengar? Sekarang!  Minta temui aku di halaman dalam.”

“Idiiih, Raden. Bibi Emban sedang beristirahat... bi- sa-bisa dipenggal kepalaku membangunkan sarika.”

“Bilang yang memanggilnya adalah Raden Wirada. Bisa tamat riwayatmu di sini jika kau tidak melakukan perintahku ini, tahu? Ayo, sudah. Yang lain bubar!”

Suara Wirada memang cukup berwibawa. Wanita- wanita penghibur itu segera berhamburan masuk kem- bali.

Wirada memberi isyarat untuk membawa pedatinya masuk ke halaman dalam. “Rumah” Emban Layarmega bertingkat dua, dan membentuk bangunan seperti em- pat persegi panjang mengelilingi sebuah halaman da- lam. Di halaman dalam yang luas ini terdapat semacam taman yang penuh dengan bunga dan pepohonan. Se- buah kolam dengan air mancur membuat taman tadi semakin asri. Semerbak harum bunga dan gemericik desir air mancur sungguh menyejukkan hati.

Wirada turun dari kudanya, dan membasuh muka di air mancur tadi. Menghela napas panjang ia duduk di salah satu batu hias. Yoni dan Lingga tahu gelagat. Jika majikan mereka termenung-menung seperti itu lebih baik tidak bersuara.

Bau wangi yang menusuk hidung mengawali mun- culnya seorang wanita setengah umur yang melangkah agung masuk ke dalam taman itu lewat tangga dari lan- tai dua. Bau harum ini agaknya tidak cukup untuk membangunkan Wirada dari lamunannya. Si wanita tersenyum dan berdiri di samping Wirada, bermain- main dengan sekuntum bunga.

“Apakah taman ini begitu jauh lebih indah dari ta- man di Tumenggungan hingga Raden begitu keseng- sem?” tanya si wanita.

Wirada tergagap dan langsung berdiri. Kini Emban Layarmega mundur selangkah dan menghaturkan sem- bah.

“Bibi, aku mohon pertolonganmu,” kata Wirada. “Kapan Paduka tidak minta pertolongan pada ham-

ba, Raden?” Emban Layarmega tersenyum. Walaupun sudah setengah umur wanita ini masih tampak cantik.

“Kali ini sangat penting,” Wirada berjalan beberapa langkah dan duduk di cabang rendah sebatang pohon bunga. “Dan ada pula sangkut-pautnya denganmu.”

“Wah. Ada apa itu gerangan?”

“Bibi tahu, Bibi telah memberiku beberapa butir Asap Kunjana.”

“Ah, memang Paduka saja yang hamba sayangi dari semua langganan hamba, Raden. Sungguh. Hanya sa- tu,” Emban Layarmega tersenyum.

“Aku berterima kasih, Bibi. Persoalannya kini... aku tertarik pada seorang gadis, dan ternyata gadis itu sungguh tangguh dalam ulah kewiraan. Aku berhasil menjatuhkannya dengan Asap Kunjana.”

“Lalu?”

“Lalu... banyak persoalan. Pertama, bagaimana kalau si gadis nanti sadar... dia pasti mengamuk. Dia begitu tangguh.”

“Mudah,” kata Bibi Layarmega.

“Kemudian, kalau aku sudah bosan padanya, ku- buang ke mana ”

“Jika dia sangat cantik, berikan padaku.” Emban Layarmega mengangguk.

“Ketiga, gadis itu ada sangkut pautnya dengan Ka- kang Sindura.”

Beberapa saat keduanya terdiam.

“Tapi Raden tidak yakin Raden Sindura mengenal- nya?” Emban Layarmega menebak.

“Memang. Tapi bisa juga ia berpura-pura. Mereka bertemu. Dan Kakang Sindura lama memandangnya.”

“Jadi maksud Raden aku harus menyembunyikan-

nya sampai nanti Raden bosan padanya.   lalu mungkin

melenyapkannya atau menawarkannya pada siapa pun dengan syarat Raden Sindura tak bisa mengenalinya, atau...” mata Layarmega bersinar, “... dia tidak menge- nal Raden Sindura.”

“Tepat sekali, Bibi. Hanya, kalau bisa jangan dile- nyapkan, atau jangan dijajakan di tempat  lain.  Aku akan lama sekali menyukainya.”

“Ah, kalau begitu pastilah orang ini istimewa sekali. Dan itu berarti usahaku tak akan merugi karena menja- jakannya bukan, Raden?”

“Aku akan cemburu setengah mati, tapi aku rasa itu imbalan yang pantas untuk usaha Bibi.”

“Terima  kasih,  Raden.  Rencana  Bibi  adalah     Bibi

punya ramuan untuk menghilangkan ilmu seseorang. Sayangnya ilmu itu tak bisa dilenyapkan sama sekali dan seterusnya, hanya sementara. Tapi itu kurasa cu- kup untuk mengikat dewi pujaan Raden itu. Kemudian, kuberi ia ramuan pelupa, hingga ia akan lupa akan se- gala kisah hidupnya selama ini. Ia bahkan takkan me- ngenal Raden lagi.”

“Itu lebih baik, Bibi, tapi jangan hilangkan apinya, ya,” kini mata Wirada yang bersinar-sinar.

“Tentu, tentu, Bibi kan tahu selera Raden   Nah, bo-

leh aku melihat permata hati Raden ini?”

“Silakan, Bibi,” Wirada mendahului Emban Layarme- ga, menuju ke pedati. Lingga dan Yoni nyengir-nyengir ketika Emban Layarmega lewat di dekat mereka. Emban Layarmega menghadiahi mereka dengan belaian di janggut mereka, yang membuat kedua orang  itu  sema- kin salah tingkah.

Wirada membuka kain tutup belakang pedati. Em- ban Layarmega menjenguk ke dalam, dan terlihat rasa terpesonanya.

“Wah, Raden, di mana Raden peroleh gadis ini?” ta- nyanya dengan suara sedikit gemetar.

“Ia mengaku bernama Turi, dari Ara Plasa. Kenapa?” “Raden, hamba tahu benar ciri-ciri wanita... dan ga-

dis ini... dia memiliki ciri-ciri yang sangat khas! Ciri- cirinya hampir mendekati ciri-ciri seorang Stri Arda- nareswari.” Dengan agak gemetar Emban Layarmega mengambil tangan Tari yang lemas itu dan memperha- tikan garis-garis di telapak tangannya. Lama ia mere- nungi telapak tangan itu, memberi isyarat agar Wirada diam. Kemudian ia menggelengkan kepala. “Sayang se- kali. Garis kehidupannya menunjukkan banyak halan- gan baginya untuk memenuhi persyaratan hingga ia menjadi wanita utama sepenuhnya.”

“Berarti... campur tanganku pada perjalanan hidup- nya kemungkinan sudah dikehendaki Dewata?” tanya Wirada.

“Memang mungkin.”

Wirada ingin bicara lagi. Tetapi Emban Layarmega agaknya sedang berpikir dalam. Jadi ia ikut diam. “Begini saja, Raden. Paduka istirahat dulu... di Tu-

menggungan atau di sini, silakan. Sementara itu hamba akan menyiapkan gadis ini untuk Paduka,” akhirnya Emban Layarmega berkata.

“Itu pun baik, Bibi. Aku sungguh lelah bertarung de- ngannya tadi. Kalau begitu, aku akan pulang saja. Nanti malam aku akan kemari untuk menjenguknya. Ingat, jangan berikan dia pada orang lain sebelum aku bosan, lho! Ayo, Lingga... Yoni...”

Wirada segera melangkah pergi. Emban Layarmega minggir dan membungkuk menyembah.

“Wah, cuma begitu saja?” keluh Yoni.

“Kalau mau tambah gebukan  sih, tinggal  saja terus di sini,” Lingga bergegas mengejar Wirada.

Tempat itu sepi kini. Jika Emban Layarmega berada di luar, maka anak buahnya tak ada yang berani me- nampakkan diri atau bersuara, jika belum ada perintah untuk itu. Kemudian Emban Layarmega bertepuk em- pat kali.

Seorang lelaki tinggi besar dengan dada bidang lebat dengan rambut muncul, menundukkan kepala rendah- rendah memberi sembah.

“Bima, bawa orang yang ada di dalam pedati itu ke Ruang Hening,” perintah Emban Layarmega. “Kemudian kaukirim kabar ke Selampang bahwa aku minta perte- muan dengan junjunganmu Putri Sepuh.”

“Baik, Junjungan,” sembah Bima, sekali lagi mem- bungkuk dan mengambil Tari.

Ruang Hening adalah sebuah ruang khusus. Di su- dut rumah Emban Layarmega itu terdapat semacam menara. Di sinilah Emban Layarmega biasa bersemadi. Atau menerima tetamu khusus. Dan... yang tak pernah diperhatikan orang biasa: dari Ruang Hening ini terda- pat lorong pandangan yang bebas ke arah istana Kuri- pan. Di menara kecil ini terdapat beberapa ruangan. Yang sesungguhnya bernama Ruang Hening berukuran luas. Lantainya ditutupi permadani tebal. Dindingnya dari kayu berukir dan berhias tirai-tirai kain tenun.

Tari dibaringkan di tengah ruangan. Masih tertidur nyenyak. Emban Layarmega duduk di sampingnya. Me- renunginya.

Seakan tak berpikir, tangannya membelai anak ram- but di dahi Tari. Dan ia menghela napas lagi.

“Nasibmu sungguh tak beruntung,” Emban Layar- mega berkata pada dirinya sendiri. “Kau juga harus me- ngalah pada junjunganku. Tidak boleh ada Stri Arda- nareswari lain kecuali sarika. Mungkin benar kata Wi- rada. Kau digariskan Dewata untuk jatuh ke tangannya. Dan batallah kau jadi wanita utama. Lagi pula... jika kau benar satu ilmu dengan Sindura, jelas kau harus jadi musuh kami. Jadi, aku takkan menyesal.”

Emban Layarmega berdiri. Masuk ke ruang sebelah. Di situ terdapat rak-rak dan laci-laci. Penuh  ramuan dan racikan obat-obatan. Diambilnya beberapa bungkus dan ia pergi ke ruangan lain lagi.

Semua dikerjakannya sendiri. Menyulut api. Mengge- rus. Meracik. Mengaduk. Di luar sudah gelap saat ak- hirnya Emban Layarmega kembali ke ruangan tempat Tari menggeletak. Ditaruhnya dua mangkuk ramuan dekat kepala Tari.

“Nah, minumlah ini,” Emban Layarmega mengangkat kepala Tari dan memaksanya minum dari mangkuk per- tama. Bagai orang mimpi Tari minum cairan tersebut. Sampai habis.

“Ah, kau memang anak baik. Bagus, bagus. Jika kau bangun nanti mungkin kepalamu sedikit pusing. Yang jelas kau takkan bisa lagi sembarangan memukul orang, ya!” diusapnya sebagian cairan yang tertumpah di bibir Tari. “Dan kini, minum yang ini...”

Kembali ia mengangkat kepala Tari dan meminum- kan cairan yang kedua. “Ini akan membuatmu lupa... juga pada namamu sendiri. Nah, ayo, minumlah ” Se-

perti tadi, dengan mudah Layarmega menuangkan cai- ran tadi ke mulut Tari. Tari meminumnya.

“Nah, sekarang tidurlah, anak manis. Malam nanti kau harus bertugas.” Emban Layarmega berdiri, meng- usap keringat dan keluar.

Di tangga menuju ruang bawah ia tertegun. Terde- ngar suara seseorang yang sangat dikenalnya. Sindura.

Sindura seorang pemuda yang sangat disegani di Ku- ripan. Sebagai putra Rakryan Rangga, maka ia sangat berpengaruh—lagi pula namanya tak pernah tercemar, tidak seperti Wirada yang sudah dikenal sebagai hidung belang kelas berat. Jika orang  melihat  Sindura masuk ke tempat Emban Layarmega, tak ada yang menduga buruk. Ke mana pun Sindura pergi selalu untuk kepen- tingan negara. Dan ini sungguh membuat Emban La- yarmega benci pada pemuda itu.

Ia menggamit seorang pelayan yang kebetulan lewat. “Ada apa di luar sana? Kok ada suaranya Raden Sin-

dura?” tanya Emban layarmega.

“Benar, Junjungan,” kata pelayan itu. “Tuanku Ra- den Sindura ingin bertemu dengan Paduka. Tapi dita- han oleh Sang Bima.”

“Hm. Bilang pada Sang Bima aku akan menemui Ra- den Sindura sendiri di Ruang Biru. Sementara itu, min- ta agar Sang Raden menunggu sebab aku akan mem- bersihkan diri lebih dahulu. Mengerti?”

“Baik, Junjungan.” Pelayan itu pergi.

Perlahan Emban Layarmega berjalan ke kamar pri- badinya. Mengapa Sindura mengunjunginya?

4. RA SINDURA

KEHADIRAN Ra Sindura membuat suasana ruang teri- ma tamu tempat itu agak sepi. Beberapa orang pria memilih lebih baik langsung saja membawa pasangan pilihannya ke ruang-ruang dalam. Beberapa orang ka- sar mencoba sok aksi, ribut-ribut seolah tak meman- dang sebelah mata pun  pada Ra Sindura. Namun saat Ra Sindura memandang dengan kedua belah matanya pada mereka, maka mereka langsung mengkeret. Ada seorang pedagang dari luar daerah yang mungkin belum kenal Ra Sindura. Ketika dirasakannya kawan wanita- nya agak kurang bebas melayaninya dan ia tahu ini ka- rena kehadiran Ra Sindura, ia langsung mendekati pe- muda itu.

“Hei, kau suami perempuan di sana itu? Kalau iya, jangan ganggu dia, huh? Dia kan sedang cari duit. Dan dia cari duit karena kau terlalu nggak punya otak untuk cari duit sendiri? Atau kau memang tak punya daya un- tuk bekerja, huh? Hei, jangan diam saja... kau ingin ku- lempar ke luar? Kau mengganggu seleraku saja!”

Ra Sindura diam saja. Matanya yang cemerlang saja yang menatap tajam pada orang itu. Beberapa lama orang itu salah tingkah. Mau bicara kasar, pandang ma- ta itu begitu menusuk. Mau bertindak kasar, ia tidak yakin dapat mengalahkan si pemuda. Akhirnya dengan tertawa tak punya arti ia meninggalkan Ra Sindura.

Bima memperhatikan itu semua dari balik ambang pintu dalam. Tak terbayang perasaan hatinya. Tapi se- saat matanya bersinar. Dan ia bergerak sedikit untuk memelintir kumisnya yang sebesar tinju. Ia mengagumi pemuda pendiam itu. Beberapa wanita mencoba menarik perhatian si pe- muda. Ada yang mungkin belum tahu dan dijebak oleh kawan-kawannya untuk mendekati Sindura. Ada yang sudah tahu dan ingin menggoda saja. Golongan ini tahu bahwa Ra Sindura bertabiat aneh—ia tak pernah berla- ku kasar pada wanita mana pun. Pernah seorang pen- curi yang berhasil masuk ke istana tersudut ketika di- kejar oleh Sindura. Dengan putus asa istri si pencuri kemudian memohon agar Sindura memberi kelonggaran pada suaminya. Sindura melepaskan si pencuri—paling tidak memberinya waktu sehari semalam untuk melari- kan diri darinya. Sang pencuri tahu diri. Ia memilih me- nyerah saja. Ia tahu, jika Sindura berniat untuk me- nangkap seseorang, maka tak ada yang bisa menghen- tikannya. Lari ke Tumasik pun dikejarnya.

Dari balik pintu itu Bima melihat seorang pelayan menaruh guci arak baru di depan Sindura. Ini kelema- han Sindura. Ia sangat suka arak. Tapi ini juga kelebi- hannya. Belum pernah terdengar cerita Sindura mabuk. Tingkahnya selalu mantap dan tepat. Bicaranya selalu teratur. Tak peduli betapa banyak arak direguknya.

Bima juga mengagumi sifat itu. Suatu angin harum membuat Bima berhenti memperhatikan Sindura. Tan- pa menoleh pun Bima tahu. Emban Layarmega. Bima menoleh. Emban Layarmega sedang menuruni tangga kiri. Diiringi dua orang pelayan. Menyapa tetamunya ki- ri-kanan. Bima dari kejauhan membungkuk memberi hormat. Emban Layarmega memberinya isyarat agar mendekat.

“Apa yang ditanyakannya?” bisik Emban Layarmega. “Dia tidak bertanya apa-apa, Junjungan,” bisik Bima

pula. “Sarika hanya ingin bertemu dengan Junjungan. Tapi mata sarika begitu tajam. Dan bisa bertanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, serta memperoleh ja- waban sebanyak-banyaknya.”

“Berita untuk Putri Sepuh sudah disampaikan?” “Sudah. Berita dari sana... Putri Sepuh mungkin a-

kan berkunjung kemari.”

“Hm.” Ini berita baru. Kunjungan Putri Sepuh selalu menuntut sesuatu. Darinya. Atau dari orang lain. Ia ha- rus mempersiapkan diri.

“Kau sudah bersiap-siap untuk itu?” “Sudah, Junjungan, seperti biasanya?”

“Seperti biasanya,” Emban Layarmega berpikir seje- nak. “Mungkin kau harus menjauh  jika  Putri  Sepuh ada. Kau dan Putri Sepuh tak pernah sepakat dalam hal apa pun.”

“Maafkan seleraku. Tak pernah sesuai dengan selera Putri Sepuh.” Bima yang tinggi besar itu menunduk kemalu-maluan.

“Kuharap sekali waktu kau akan mengalah padanya. Kau tahu, akulah yang harus repot jika kau bersiteguh menolak kemauannya.” Emban Layarmega tersenyum pahit. “Iringi aku menemui Ra Sindura. Pelayan, kau- siapkan Ruang Biru.”

Seperti layaknya, Emban Layarmega bersimpuh di hadapan Ra Sindura, menghaturkan sembah. Di bela- kangnya Bima telah duduk bersila.

“Tak usah terlalu banyak peradatan, Bibi,” kata Ra Sindura. “Tak banyak yang bisa kauperoleh dengan ber- sikap terlalu hormat padaku.”

“Hamba mengerti, Raden, karena itulah sembah hormat hamba tulus dari hati. Terus terang, tak banyak pejabat kerajaan yang benar-benar hamba hormati,” ka- ta Emban Layarmega.

“Mudah-mudahan dalam hal lain pun kau berterus terang, Bibi.” Sindura berdiri. “Di mana kau akan meng- ajakku berbicara?” “Mari hamba antarkan, Raden.”

Ruang Biru adalah ruang yang sangat khusus. Me- nurut desas-desus bahkan sang Mahapatih Gajahmada pernah dihibur di ruang ini. Tentunya oleh Nenek Em- ban Layarmega. Emban Layarmega sendiri pastilah be- lum lahir saat itu.

Ruang Biru. Indahnya menyamai keindahan ruang istana. Namun Bima melihat bahwa keindahan ini ma- lah membuat Ra Sindura seakan muak. Ia duduk see- naknya, di kepala ukiran naga yang menghias empat tiang utama ruang itu. Emban Layarmega duduk di de- pannya.

“Bibi, kedatanganku kemari untuk memberi peringa- tan,” kata Ra Sindura tanpa basa-basi lagi. “Keamanan anggota keluarga kerajaan sedang terancam. Ada seke- lompok manusia yang tak tahu budi telah bergerak un- tuk membunuh anggota keluarga kerajaan itu. Kami bukannya takut. Dan kami yakin mereka akan segera ditumpas. Kemudian... ada desas-desus bahwa kelom- pok Dharmaputra bergerak lagi menggunakan keadaan ini.” Tampak sekali Ra Sindura sangat membenci ke- lompok ini. Ia bahkan harus meneguk araknya, seolah untuk mencuci bekas kata itu di mulutnya. “Manusia- manusia kotor itu sekali waktu akan kami tumpas. Dan waktunya sudah sangat dekat. Percayalah.”

Mungkin Ra Sindura tak begitu yakin akan apa yang dikatakannya. Ia berdiri dan pergi ke jendela. Di luar malam hitam. Kotaraja Kuripan tidak begitu gemerlap seperti Wilwatikta. Tapi anginnya sangat segar. Kembali Ra Sindura mereguk araknya.

Memang sesungguhnya ia tak begitu yakin bisa me- numpas kelompok Dharmaputra secara cepat. Ini ada- lah kelompok orang-orang yang merasa sakit hati terha- dap keluarga istana. Dan karena sakit hatinya sakit hati pribadi, maka intinya adalah bahkan orang-orang yang sangat dekat dengan kalangan yang berkuasa. Sulit un- tuk diselidiki. Mereka begitu pandai menutup diri. Sulit untuk ditindak. Banyak di antara mereka punya kedu- dukan sangat tinggi. Hampir semua keluarga dekat sen- diri.

Lebih mudah menghadapi gerakan yang benar-benar datang dari luar. Seperti yang didesas-desuskan orang tentang Dewi Candika ini.

Tiba-tiba Ra Sindura berpaling. Begitu cepat hingga masih sempat menangkap mata Emban  Layarmega yang tertuju padanya. Masih sempat menangkap baya- ngan senyum di wajah wanita itu.

“Apa yang kau pikirkan, Bibi, aku tidak tahu. Tapi terimalah peringatanku ini. Dengarlah baik-baik. Ja- ngan sampai aku melihat tanda-tanda bahwa kau, atau orang-orangmu, siapa saja, tidak setia pada Wilwatikta. Aku tak perlu bukti. Yang kuperlukan adalah perasaan hatiku. Aku akan berusaha menimbang seadil mungkin. Timbangan itu sangat peka. Sedikit saja terguncang, penilaianku padamu bisa berubah. Dan aku tak segan- segan menyuruh tutup usahamu yang turun-temurun ini. Kaucamkan itu?”

“Hamba mengerti, Raden,” sembah Layarmega, me- nunduk dan berharap pemuda bermata tajam itu tak bisa menangkap apa yang dipikirkannya tadi. Seperti kata Bima, Sindura tak usah bertanya. Dengan ma- tanya ia bisa memperoleh jawaban sebanyak-banyak- nya.

“Kuharap begitu,” kata Sindura. “Anggap saja ini per- ingatan terakhir. Jika kau ingin berada di pihak lawan Wilwatikta, lakukan. Tapi lakukan sebaik-baiknya, agar kau tidak hancur secara konyol. Yang kedua, tempatmu ini sering dikunjungi orang. Terutama orang luar dae- rah. Terutama orang asing. Tunjukkan kesetiaanmu de- ngan melaporkan hal-hal yang kauanggap perlu kaula- porkan. Tanpa harus kukatakan, kau pasti tahu, beta- papun ketatnya kau memilih pengikutmu, salah satu di antara mereka adalah orangku. Jadi, hati-hatilah.”

“Baik, Raden,” Emban Layarmega berdatang sembah lagi.

“Ada lagi. Adik Wirada tadi datang kemari membawa seorang wanita. Siapa dia? Dan di mana dia sekarang?”

Pertanyaan ini sudah diharapkan Emban Layarmega dari tadi. Tak urung terkejut juga ia oleh pertanyaan yang begitu menusuk itu. Namun ia tak menyembunyi- kan rasa terkejutnya.

“Raden, sulit hamba menyawab pertanyaan ini tanpa menyalahi janji hamba pada Raden Wirada,” kata Em- ban Layarmega.

“Katakan saja. Aku yang bertanggung jawab pada Adinda Wirada.”

“Baik, Raden. Sesungguhnya hamba tak mau mem- buka rahasia langganan hamba... tapi Raden begitu me- maksa,” Emban Layarmega menunduk. “Gadis itu tadi ditemukan oleh Raden Wirada di pasar. Raden tahu sendiri sifat Raden Wirada. Sarika senang pada si gadis dan akan diminta langsung ke orang tua si gadis di Ara Plasa. Tetapi di Bulak Amba si gadis kambuh penyakit- nya. Penyakit ayan,” Emban Layarmega menghela napas panjang. “Mungkin karena tahu dirinya berpenyakit yang begitu berbahaya itulah maka tadinya si gadis be- gitu mudah menerima penawaran Raden Wirada. Raden Wirada begitu ketakutan, ia kemudian membawa si ga- dis kemari. Memang hamba bisa mengobati untuk se- mentara, Raden. Dan memang... sesungguhnya ada maksud hamba untuk mengambil gadis itu  sebagai anak buah hamba... rupanya memang lumayan. Tapi melihat penyakitnya yang kambuhan, dan juga berke- naan dengan peringatan Raden tadi... entahlah. Nanti akan hamba tanyakan pada si gadis jika ia telah sadar- kan diri.”

“Sekarang ia tak sadarkan diri?” Sindura mereguk araknya banyak-banyak.

“Benar. Raden sudi memeriksanya?” Emban Layar- mega berjudi dengan nasib. Mungkin karena ditantang begitu maka Raden Sindura tak mau memeriksanya. Mungkin juga mau. Keuntungannya hanyalah, ia mung- kin bisa memberi kesan bahwa ia benar-benar terbuka.

“Baik. Mana dia. Mari kulihat,” di luar dugaan Raden Sindura langsung berdiri dan pergi ke pintu. Sesaat Bi- ma berpandangan dengan Emban Layarmega. Tapi Em- ban Layarmega mengangguk. Ia yakin akan kekuatan ramuannya.

Keyakinan Emban Layarmega beralasan. Tari telah bangun. Tapi ia tampak begitu lemah. Dengan kekua- tannya yang masih ada ia telah berhasil menarik dirinya hingga berhasil bersandar ke dinding. Ketika Ra Sindu- ra dan Emban Layarmega masuk, ia mengawasi dengan pandang mata curiga.

“Tantri?” bisik Tari lemah.

Kini Emban Layarmega terkejut. Gadis itu mengu- capkan sebuah nama. Entah nama siapa. Tapi itu be- rarti ia ingat sesuatu. Sedang menurut aturan, seha- rusnya ia lupa segala-galanya.

Yang terjadi sesungguhnya di luar dugaan Emban Layarmega yang paling berani. Ia tentunya tidak tahu bahwa pada diri Tari telah tertanamkan ilmu Coban Sa- leksa. Dalam keadaan tak sadar, ternyata ilmu itu ma- sih bekerja. Seperti juga ilmu tersebut sanggup men- dengar suara selembut apa pun di antara bahana keri- butan, ilmu itu walaupun melemah menganggap rasa kantuk akibat Asap Kunjana sebagai tabir yang harus ditembus. Sementara tubuhnya melemas, indria pen- dengaran Tari tetap berontak melawan pengaruh rasa kantuk. Dan sebagian percakapan pun direkam oleh otaknya. Dalam keadaan tubuhnya tak sadar, otaknya masih bisa dikuasainya. Dan dengan ilmu Coban Sa- leksa itu pula ia mencoba melindungi otaknya dari se- rangan ramuan obat yang kemudian diminumkan Em- ban Layarmega. Namun karena ilmu itu baru saja di- perolehnya, dan juga karena penggunaannya kurang te- pat, maka hasilnya tidak terlalu tepat. Beberapa saat tubuhnya berhasil melawan kerja ramuan Emban La- yarmega. Ia bahkan masih berhasil menyuruh tangan- nya untuk mengambil sebutir obat pemunah racun dari kantung rahasianya. Tapi seterusnya susunan perta- hanan dirinya runtuh.

Tari masih sangat beruntung. Dengan pertahanan awal yang dibangun oleh Coban Saleksa maka tidak se- lamanya otaknya dipengaruhi oleh kelupaan seperti yang dimaksud oleh Emban Layarmega. Ingatannya memang terhapus. Tapi untuk sementara. Dan kata te- rakhir yang teringat olehnya adalah nama anak yang begitu berkesan itu: Tantri.

“Oh, kau sudah sadar,” Emban Layarmega menente- ramkan dirinya. Mungkin anak ini anak istimewa yang tak mempan ramuannya. Mungkinkah ini karena dia betul-betul satu ilmu dengan Sindura? Dan apakah Sin- dura akan mengenalnya? Atau inikah salah seorang ma- ta-matanya? Sungguh berbahaya!

“Siapa namamu?” tanya Sindura mengernyitkan ke- ning. Di mata Emban Layarmega pemuda itu sungguh kebingungan. Apakah karena ia heran akan keadaan anak buahnya itu, ataukah ia memang sama sekali ti- dak kenal? “Tan... tan...” Tari megap-megap. Itu yang terakhir diingatnya. Ia tadi berkata apa?

“Kau bilang ‘Tantri’. Itu namamu?” Sindura semakin mengernyitkan kening. Dan kini Emban Layarmega ya- kin bahwa Sindura memang tidak kenal pada gadis itu. Dan agaknya gadis itu pun mulai kehilangan ingatan- nya!

“Aku... aku tak tahu,” kata Tari lemah. “Aku... aku sakit sekali ”

Sindura tiba-tiba memegang tangan Tari. Menggeng- gam telapak tangan gadis itu seolah akan menghan- gatkannya. Kemudian ia memeriksa detak nadi di tan- gan Tari. Kembali terlihat rasa bingung yang sangat di wajahnya.

“Betulkah Adik Wirada menemukannya di pasar? Be- tulkah ia anak Ara Plasa?” tiba-tiba Sindura berpaling pada Emban Layarmega.

“Maafkan hamba, Raden, itulah yang hamba dapat dari Raden Wirada,” Emban Layarmega memperlihatkan wajah ketakutan.

Tiba-tiba saja tangan kiri Sindura bergerak meleng- kung menghantam muka Tari. Emban Layarmega terke- jut menjerit. Tetapi ternyata gerakan tadi hanyalah ge- rakan tipuan yang sudah sangat diperhitungkan Sindu- ra. Gerakannya adalah gerakan pukulan maut. Jika se- seorang belum tahu kedalaman ilmu Sindura, pastilah mengira gerakan itu betul-betul untuk membunuh, se- bab jika pun dilakukan orang lain untuk memancing maka dengan kepandaian rendah pukulan tak bisa di- hentikan seketika hingga sasarannya pasti terkena.

Itu tadi adalah salah satu pukulan Bantala Liwung yang paling keji. Jika Tari seorang yang berilmu, pasti- lah akan membuat gerakan menangkis atau membela diri. Dan gerakan itu akan timbul murni hingga akan terlihat asal ilmu si gadis. Dengan lega Emban Layar- mega melihat sedikit pun gadis itu tak bergerak. Me- ngedipkan mata pun tidak saat Sindura menghentikan tinjunya begitu rapat di dahi si gadis. Ilmuku telah be- kerja padanya, pikir Emban Layarmega lega.

“Waduh, Raden, jangan paksa dia mengaku dengan kekerasan,” kata Emban Layarmega dengan nada lega yang murni. “Bisa makin rusak jiwanya.”

Ra Sindura berdiri. Memperhatikan Tari dari jarak beberapa langkah.

“Aku titipkan dia padamu, Bibi,” kata Sindura ke- mudian tegas. “Ada hal sangat penting yang ingin kuta- nyakan padanya jika ia sudah bisa menjawab dengan baik. Jika terjadi apa-apa padanya, kucatat kau sebagai yang bertanggung jawab. Bahkan Adik Wirada pun sa- ma sekali tak boleh menyentuhnya. Mengerti?” Sindura melepaskan salah satu kalung jabatan yang tergantung di lehernya dan melemparkannya pada Tari. Kalung yang terbuat dari untaian manik-manik kayu Dewa itu dengan tepat jatuh melingkari leher Tari. “Siapa pun yang membuka kalung itu, akan harus berurusan den- ganku.”

Tanpa berkata apa pun lagi Sindura bergegas turun tangga.

“Radeeen,” panggil Emban Layarmega. Tetapi Sindu- ra tak memperhatikannya. Ia telah berada di tangga yang menuju ke lantai terbawah. Bima yang berdiri di kaki tangga di lantai kedua menengadah memandang pada Emban Layarmega, menunggu perintah.

Beberapa saat Emban Layarmega berpikir. Kemudian ia menggelengkan kepala, menuruni tangga.

“Ada sesuatu yang keliru... tapi aku tak tahu apa. Ti- ba-tiba saja dia pergi dan merasa pasti bahwa gadis itu harus dilindungi. Tidak, dia tidak kenal gadis itu, dan sebaliknya. Tapi ada sesuatu yang keliru...,” bisik Em- ban Layarmega pada Bima, namun seolah pada dirinya sendiri.

“Apakah hamba harus mengikutinya?” tanya Bima, memiringkan kepala untuk mendengarkan sudah sam- pai di mana Ra Sindura. Ia mendengar suara ringkik kuda sayup-sayup.

“Tidak. Suruh saja si Landak untuk secepatnya memberi tahu Ra Wirada tentang apa yang terjadi di si- ni. Kau benar. Mata Ra Sindura begitu tajam. Kemung- kinan ia menemukan sesuatu yang kita tidak tahu. Dan dapat menjerat kita. Kau cepat kirim kabar pada Putri Sepuh tentang perkembangan ini. Rasanya Ra Sindura akan memperketat keamanan kota. Sementara itu kau jangan pergi-pergi. Untuk pertama kali dalam hidupku aku tak merasa aman.”

Sementara itu Ra Sindura telah berjalan perlahan meninggalkan rumah Emban Layarmega. Kudanya di- biarkannya berjalan seenaknya. Dan ia pun seakan tak tahu harus pergi ke mana. Kepalanya menunduk da- lam-dalam. Tak memperhatikan jalan kelam yang di- tempuhnya.

Gadis itu sungguh aneh. Butir obatnya. Detak nadi- nya. Menyatakan bahwa ilmunya sama. Bahkan cukup tinggi. Tapi siapa dia? Belum pernah ia diberi tahu ten- tang adanya saudara seperguruan seorang gadis. Mung- kinkah gadis tadi salah satu murid Rahtawu? Kemudian nama itu tadi. Tantri. Mengapa justru nama anak ban- del itu yang diucapkan? Jangan-jangan si bandel itu mengobral ilmu mengajarkannya pada siapa saja.

Lalu, bagaimana bisa dikuasai oleh Ra Wirada? Wak- tu mereka bertemu tadi siang, si gadis masih sehat wa- lafiat. Justru sinar mata si gadis yang waktu itu mem- buat Ra Sindura curiga. Mungkinkah diracun? Ya. San- gat mungkin. Justru saat ia tadi mencoba memberi ti- puan pukulan maut dan si gadis berkedip pun tidak maka timbullah kecurigaannya. Mungkin seseorang in- gin memberi kesan bahwa si gadis tak berilmu. Tapi ka- rena si gadis berkedip pun tidak, Sindura jadi yakin bahwa otak si gadis dipengaruhi oleh sesuatu obat. Jadi si gadis tak tahu akan dirinya bukan karena sakit. Tapi karena memang dibuat begitu!

Emban Layarmega boleh menunggu. Yang penting sekarang mengurus Ra Wirada.

Tiba-tiba Ra Sindura tertegun. Ia baru sadar bahwa jalan di depannya tertutup oleh pasukan kuda yang lengkap membawa senjata dan obor. Bahkan ia menge- nal pemimpinnya. Kebo Kapetengan, pemimpin Pasukan Hitam dari istana.

“Wah, kebetulan kami menemukan Paduka, Ra- den...,” kata Kebo Kapetengan memajukan kudanya.

“Ada apa, Paman?” Sindura heran.

“Paduka diperintahkan segera menghadap ke istana,” kata Kebo Kapetengan. Suaranya terdengar gemetar ge- lisah.

“Hanya untuk menyampaikan itu dikirim satu pasu- kan?” Sindura mengernyitkan kening. Ia memang benci pemborosan tenaga.

“Mohon diampun, Raden... harap Raden menguatkan diri... ayahanda Paduka... ditemukan... tewas!” 5. ANCAMAN DEWI CANDIKA

BEBERAPA saat Ra Sindura terdiam. Keinginan perta- manya adalah menghantam hancur Kebo Kapetengan. Dan walaupun gelap, cahaya obor cukup memberi sinar khusus pada mata Sindura hingga tak terasa Kebo Ka- petengan pun melangkah mundur dan bersiap-siap.

Kemudian Ra Sindura roboh. Jatuh lemas dari ku- danya, terbanting ke tanah.

“Raden!” Kebo Kapetengan gugup menyambut dan mencoba membangunkan Ra Sindura.

“Aku tak apa-apa, Paman.” Sekejap Ra Sindura telah sadarkan diri dan duduk. Lama ia menunduk mengum- pulkan kembali semangatnya.

Ayahnya. Sejak kecil ia tak pernah tidak mengagumi ksatria tua itu. Gagah. Tegas. Berwibawa dan disegani. Pendiam, memang, hingga Sindura dan adiknya, Rara Sindu, rasanya tak pernah merasakan belaian kasih- nya. Ra Sindura masih ingat betapa setahun penuh ia berusaha untuk menguasai ilmu memanah agar ayah- nya bangga punya anak seperti dia. Tapi saat Sindura menjadi juara memanah di Wilwatikta, tersenyum pun beliau tidak. Tapi Sindura tahu bahwa ayahnya bangga padanya. Sindura mulai saat itu dipimpin sendiri oleh ayahnya belajar kewiraan. Sampai umur sebelas tahun saat Sindura diserahkan pada Mpu Megatruh di Gu- nung Lawu. Kemudian ketika enam tahun kemudian Sindura turun gunung, sang ayah memperhambakan- nya ke bhayangkara istana. Tidak ada kata-kata pujian, toh Sindura merasa terpuji setinggi langit atas keper- cayaan ayahnya itu.

Dengan kepribadian dan kemampuannya Sindura cepat menanjak. Dan ia mulai terlibat dalam membasmi kelicikan-kelicikan dan kebusukan di kalangan istana. Saat inilah ia mulai mencandu minuman keras. Suatu hal yang juga dilakukan ayahnya, jadi tahu mengapa ayahnya jadi pemabuk. Tekanan batin dikarenakan oleh kebusukan kalangan istana sungguh berat. Dan Sindu- ra begitu lega mengetahui bahwa ayahnya betul-betul bersih. Dan karenanya banyak memiliki musuh.

Apakah beliau tewas karena salah seorang musuh ini?

“Apa yang terjadi, Paman?” Sindura berjalan perla- han ke arah istana. Tak guna tergesa-gesa. Pasti ayah- nya sudah tak tertolong lagi. Kalau ini hasil suatu keja- hatan, pastilah pelakunya telah lama lolos. Kalau tidak Kebo Kapetengan pasti telah menangkapnya.

“Ayahanda, sang Rakryan Rangga, agaknya sedang dalam perjalanan ke istana. Di tikungan Kali Bera dekat Pasar Utara, rupanya beliau diserang oleh seseorang atau sekelompok orang. Beliau ditemukan tewas oleh seorang petani yang langsung melapor ke istana. Aku sendiri yang menyelidiki tempat itu.” Kebo Kapetengan termenung sejenak. “Agak mengherankan. Tak ada tan- da-tanda bahwa Sang Rakryan Rangga diserang oleh sekelompok orang. Hanya seorang. Dan dari bekas yang ada, terlihat jejak pertempuran. Berarti Sang Rakryan tidak diserang secara gelap.”

Ra Sindura tidak menyuarakan keheranannya. Tapi seperti Kebo Kapetengan ia merasakan keganjilan itu. Rakryan Rangga adalah salah seorang benteng hidup Kuripan. Tak sembarang orang dapat mengalahkannya dalam suatu pertempuran. Secara adil ataupun licik.

“Atas perintah Sang Raja, Sang Rakryan Rangga kini disemayamkan di istana. Kemudian ibunda dan adinda Paduka juga diboyong ke istana untuk mendapatkan perlindungan sepenuhnya. Serta, tentunya agar dekat dengan Sang Rakryan. Keranggan kini dijaga oleh pasu- kan Kebo Basah,” kata Kebo Kapetengan lagi.

“Sang Raja sungguh memperhatikan kami,” desis Ra Sindura perlahan. Namun dalam hati ia meragukan ke- baikan Sang Raja. Ra Sindura, dapat menebak pemi- kiran siapa yang menasihatkan sang Raja untuk menge- luarkan perintah itu. Mungkin Rakryan Kanuruhan. Te- tapi memang tugasnya untuk melindungi Sang Raja. Kemungkinan beliau berpikiran bahwa bisa saja Ra Sindura merasa begitu terguncang hatinya karena ke- matian ayahnya, hingga paling tidak akan terpengaruh oleh bisik-bisik busuk kelompok Dharmaputra.

Tidak. Ia takkan terguncang oleh peristiwa ini. Ba- gaimanapun, kesetiaannya pada Wilwatikta akan tetap utuh. Ia seorang prajurit. Dan ia hanya punya satu ke- setiaan. Pada rajanya. Dan pada apa saja yang dilam- bangkan sebagai kepentingan Sang Raja. Ayahandanya pun pasti akan berbuat serupa. Ia akan menyelidiki pembunuhan ayahnya itu. Dan ia akan menghukum pembunuhnya—membalas dendam adalah suatu ke- mewahan yang tak pantas baginya. Ia akan mencari si pembunuh, dan menghukumnya, karena dengan mem- bunuh ayahnya, si pembunuh telah membahayakan ke- mantapan tata hidup kerajaan, telah membahayakan Sang Raja.

Sindura menghentikan langkahnya. Ada kemungki- nan, ya memang ada kemungkinan, kematian ayahnya dikehendaki Sang Raja. Begitu banyak orang yang bisa mempengaruhi Sang Raja dengan keputusan tolol se- perti itu. Jika memang itu yang terjadi, ia akan melacak terus pembunuhan tersebut. Kemudian akan menghu- kum pemrakarsanya. Dan jika itu menyalahi kehendak Sang Raja ia akan langsung bunuh diri.

Ra Sindura naik ke punggung kudanya.

“Paman, tolong antar aku ke tempat Ayahanda gu- gur,” katanya pada Kebo Kapetengan. “Biar pasukan Paman kembali ke Istana dan menghaturkan ini pada Sang Raja. Aku harus mencari jejak apa yang terjadi, sebelum jejak itu dihilangkan sang waktu.”

Sesaat Kebo Kapetengan tampak ragu-ragu. Di saat seperti itu membangkang perintah Sang Raja bisa dija- tuhi hukuman mati. Tapi kemudian Kebo Kapetengan berpikir bahwa keadaannya khusus. Rakryan Rangga berkedudukan penting. Ra Sindura berjabatan tinggi. Dan peristiwanya sungguh besar.

“Baik, Raden, akan Paman iringkan. Mohon jika ke- lak ada amarah dari Sang Raja, Raden mau menyum- bangkan suara bagi hamba,” Kebo Kapetengan menoleh pada wakilnya. “Curing, kaupimpin pasukan kembali ke istana. Kecuali Tosan dan Sidi. Kalian ikut aku mengi- ringi Sang Raden. Berangkatlah.”

Ra Sindura dan ketiga pengiringnya berkuda diam- diam. Derap kaki kuda mereka seakan bergema. Jalan- jalan sesungguhnya masih agak ramai dengan beberapa orang dan kendaraan berlalu-lalang. Ikat kepala Tosan menunjukkan bahwa rombongan kecil itu dari pasukan khusus istana. Itu saja sudah cukup  membuat  siapa pun minggir. Tak peduli pedati, kereta, tandu, berkuda, apalagi jalan kaki.

Tempat yang ditunjukkan Kebo Kapetengan sangat sepi. Gelap-pekat. Obor yang dibawa Tosan bahkan tak sanggup dengan jelas memberi penerangan. Di situ ja- lan menikung. Di kejauhan tampak bayangan hitam Bukit Pemandangan. Dengan kelap-kelip beberapa lam- pu rumah penduduk. Sebelah kanan lereng curam me- nuju jurang yang dibentuk oleh Kali Bera. Di lereng itu terdapat banyak semak-semak. Sebelah kanan adalah beberapa petak ladang dan bukit-bukit kecil. Di bagian depan jalan berbelok ke kanan mengikuti aliran sungai dan menuju alun-alun di depan istana. Ada  sesuatu yang aneh. Ra Sindura sesaat berpikir. Ya. Biasanya ayahnya tak melalui jalan ini jika pergi ke istana. Ba- gaimana tadi disebutkan bahwa ayahnya dalam perjala- nan ke istana? Mungkin saja ayahnya berpamitan pada ibunya. Tapi, pasti ada alasan khusus kenapa beliau lewat sini.

Pikiran Ra Sindura terputus oleh gerakan Sidi yang menyulut obor pada obor Tosan.

“Tunggu, matikan obor itu,” kata Ra Sindura tiba- tiba. Sidi langsung mematikan obornya.

“Ada apa, Raden?” tanya Kebo Kapetengan. “Tunggu,” kata Ra Sindura. Kemudian setelah sesaat

lamanya mereka berdiam diri, ia menghirup udara da- lam-dalam. “Apakah kau mencium sesuatu, Paman?” bisik Ra Sindura.

Kebo Kapetengan akhirnya tahu apa yang dimaksud Ra Sindura. Ada semacam bau harum. Sangat lembut dan lamat-lamat. Tadi memang tertutup oleh bau api obor yang mendadak semakin tajam dengan menyala- nya obor Sidi. Kini bau itu, walaupun sangat lembut tercium.  Ya.  Mungkin waktu pertama kali ke sini bau itu ada. Tapi tadi ia membawa satu pasukan. Entah be- rapa obor yang dinyalakan tadi.

“Mungkin bau bunga? Di bawah sana?” tanya Kebo Kapetengan.

“Ini harum wewangian wanita, Paman... semacam... ya—semacam yang ada di rumah Emban Layarmega!” Ra Sindura tertegun. Benarkah? Ya. Harumnya paling tidak sejenis. Dia turun dari kudanya. Memeriksa tanah sekitar tempat itu.

“Paman sungguh bodoh,” kata Kebo Kapetengan, ikut turun dari kuda. “Paman tadi kemari membawa pasu- kan. Pasti jejak yang ada tertutup oleh jejak kaki kuda. Menurut petani yang menemukan Rakryan Rangga, tu- buh beliau berada di tepi jalan itu  ” Kebo Kapetengan

berjalan ke tepi jalan  dan menunjuk  sebuah  batu  besar di pinggir jalan itu.  “Tubuh itu separuh tengkurap di  ba- tu itu. Kedua pengiringnya tergeletak di ladang sana, agaknya terlempar menembus pagar hidup itu. Yang sa- tu lagi di lereng itu, hampir dekat kali.”

“Apakah Ayahanda luka?” tanya Ra Sindura.

“Tak ada bekas senjata tajam. Dada beliau seperti remuk terkena tendangan,” kata Kebo Kapetengan.

“Terkena tendangan?” Ra Sindura berpikir-pikir. Il- mu tendangan mana yang begitu hebat? Kalau tadi di- laporkan bahwa kemungkinan Rakryan Rangga hanya diserang oleh seseorang, maka orang itu pastilah sangat tangguh. Dan jika ia sangat tangguh, maka ia tak perlu sembunyi. Ia pasti menunggu. Sampai Rakryan Rangga datang. Ia menunggu. Kemungkinan duduk. Yang pa- ling dekat dengan jalan. Batu ini. Ra Sindura menun- duk mencium batu tadi. Memang di sini baunya lebih tajam, walaupun sudah lemah.

Penyerang Ayah memiliki suatu keharuman khas. Mungkinkah seorang wanita? Kalau dihubungkan de-

ngan desas-desus selama ini... mungkinkah itu Dewi Candika?

“Kita ke istana, Paman,” tiba-tiba Ra Sindura me- lompat tinggi. Langsung ke punggung kudanya.

Dan kini Ra Sindura berkuda bagai kesetanan. Kebo Kapetengan dan kedua anak buahnya ikut mengejar. Tapi kuda mereka bukan tandingan kuda Ra Sindura.

Tak berapa lama Sindura telah berada di depan ista- na Kuripan. Istana itu dijaga begitu ketat.

Serentak sepasukan prajurit langsung menghadang, membentuk barisan tombak tiga lapis, saat Sindura mendekati pintu gerbang. “Oh, Raden!” kepala pasukan itu langsung mengenali Sindura. Apalagi saat itu Kebo Kapetengan telah tiba. “Silakan masuk, Raden. Raden sudah ditunggu.”

Di dalam pun penjagaan terasa berlebih-lebihan. Sindura dan Kebo Kapetengan dikawal oleh pasukan khusus lewat jalan-jalan di halaman istana yang terang- benderang oleh begitu banyak obor.

Ketika memasuki ruangan penghadapan di istana dalam, Ra Sindura disambut oleh dua jeritan  wanita. Nyi Rangga, ibunya, dan Rara Sindu, adiknya, langsung merangkulnya serta menangis tersedu-sedu.

Ra Sindura termangu-mangu, sementara ibu dan adiknya menangis di dadanya. Di ruang itu ia melihat ayahnya terbujur di tengah ruangan. Dikelilingi bebe- rapa orang pejabat. Rakryan Tumenggung, Mpu Gaga- rang, yaitu ayah Ra Wirada, duduk di tempat duduk yang terbuat dari kayu. Di sampingnya duduk Rakryan Kanuruhan, Mpu Gatra.

“Ibu... adikku Sindu...,” akhirnya Ra Sindura berka- ta, “biarkan aku menghadap Ayahanda. ”

Dengan lembut Ra Sindura membuka rangkulan ta- ngan ibunya dan menyerahkannya pada seorang dayang yang datang mendekat. Kemudian ia berjalan jongkok mendekati tempat ayahnya terbujur. Ia menghaturkan sembah terlebih dahulu pada Rakryan Kanuruhan dan Rakryan Tumenggung sebelum ia kemudian menghatur- kan sembah pada ayahnya.

Dalam keadaan tanpa nyawa, Rakryan Rangga tam- pak masih gagah. Namun dadanya yang bidang itu ter- tutup kain. Ra Sindura menyembah sekali kemudian mengangkat kain tersebut.

Diperhatikannya luka di dada itu. Dan ia sangat ter- kejut. Sekali lagi diperhatikannya. Tulang rusuk dan tu- lang dada ayahnya remuk. Dengan teliti Ra Sindura mengukur patahnya tulang-tulang tadi. Dan diperik- sanya bekas kulit yang tampak seperti luka bakar itu. Ra Sindura tak percaya akan apa yang dilihatnya.

“Di manakah orang yang menemukan Ayahanda ta- di?” tanya Ra Sindura pada Kebo Kapetengan.

Rakryan Tumenggung yang menjawab. “Aku telah menyuruhnya pulang, Raden. Ia tak bisa lagi memberi- kan keterangan apa pun.”

“Maafkan hamba, Paman... apakah Paman berkenan menanyakan siapa nama dan di mana rumahnya?”

“Orang itu tadi diperiksa oleh Demang Wulungrat,” kata Rakryan Tumenggung. “Katakan apa yang kauke- tahui, Demang.”

Demang Wulungrat menghaturkan sembah dan ber- kata, “Namanya Cikur, dari desa Selating. Dia dalam perjalanan pulang dari mengunjungi saudaranya, si Ri- ga, pedagang beras di Pasar Utara. Maksudnya untuk menagih utang. Dan dia memang membawa uang dua keping, katanya pemberian saudaranya itu. Rumah Ci- kur di desa Selating itu berjarak lima bubungan dari rumah buyut desa tersebut. Dia pulang naik pedati.”

“Terima kasih, Paman. Paman Rakryan berdua, ham- ba mohon izin untuk minta agar Paman Demang Ging- sir mengirimkan dua pasukan. Pasukan pertama ke Pa- sar Utara untuk mengambil si Riga guna ditanyai lebih lanjut. Pasukan kedua harap pergi ke desa Selating gu- na menahan Cikur di rumahnya. Aku akan segera me- nyusul ke sana.”

Rakryan Tumenggung memandang Rakryan Kanu- ruhan. Ragu menjawab. Tapi Rakryan Kanuruhan lang- sung menganggukkan kepala dan mengelus jenggotnya yang seputih kapas itu. “Bagus sekali, Raden... pikiran- mu sungguh tajam. Demang Gingsir, lakukan baik-baik perintah itu.” Demang Gingsir menyembah dan berlalu.

“Apa lagi, Raden? Dalam saat seperti ini, sungguh enak memandang tingkah dan mendengar  suaramu. Kau sangat mirip dengan ayahmu semasa mudanya,” Rakryan Kanuruhan yang sudah tua itu terbatuk-batuk beberapa saat. “Hayo apa lagi yang ingin kaulakukan, Raden?”

“Hamba ingin bertanya pada ibunda hamba. Paman,” Ra Sindura berpaling dan berjalan jongkok mendekati ibunya. “Ibu... tabahlah,  Ibu...  masih  ada  aku  yang akan menjagamu... dan  menjaga adikku Rara...” Sindu- ra membelai rambut ibunya, seolah di tempat itu tak ada orang lain. “Tolong Ibu ingat-ingat... apakah Ra- manda dipanggil ke istana? Bukankah ini belum hari- nya menghadap? Lalu... apakah ada yang minta agar Ramanda pergi lewat jalan Pasar Utara? Ingatlah, Bu    ”

“Memang ada seseorang datang membawa suatu pe- san,” Rara Sindu menyahut saja. “Tetapi bukan dari is- tana, Kakang. Ramanda tidak mau memberitahukan pesan itu datang dari siapa. Tapi kemudian tampak pipi beliau merah    beliau tampak sangat marah. Kemudian

berangkat begitu saja.”

“Terima kasih, Adikku.” Ra Sindura akan bertanya sesuatu. Tetapi tidak jadi. Rakryan Kanuruhan terse- nyum dari balik kumisnya. “Kalau aku boleh menebak, Raden, Raden sesungguhnya ingin bertanya tentang be- kas luka di dada ayahandamu. Aku juga heran. Ilmu tendangan orang yang menyerang ayahandamu sangat mirip dengan ilmu tendangannya sendiri, bukan?”

“Mata Paduka sungguh tajam,” sembah Ra Sindura betul-betul kagum. “Apakah Paduka punya suatu peng- arahan?” Ra Sindura tahu, Rakryan Kanuruhan sesung- guhnya tak punya ilmu kewiraan apa pun. Hanya ma- tanya begitu tajam dan sanggup cepat mengingat sesua- tu hingga melihat bekas tendangan saja ia ingat siapa yang menggunakan tendangan itu.

“Mataku sudah terlalu tua, Raden, aku tak tahu... tampaknya kecuali gurumu turun gunung, rasanya tak ada yang mampu melepaskan tendangan itu,” kata Ra- kryan Kanuruhan. “Tapi kukira semua pemikiranmu ta- ruh dahulu dalam benakmu, Raden, kukira lebih baik begitu ”

“Baiklah, Paman, dalam hal ini hamba pun tak mau membuat keruh suasana. Jika Paman berdua tidak me- merlukan hamba lagi... hamba ingin mencari ketera- ngan ke Selating,” Ra Sindura merapikan kainnya.

“Apakah itu perlu, Raden, saat ayahandamu meng- harap kau memberikan penghormatan terakhir bagi- nya?” tanya Rakryan Tumenggung.

“Kukira keputusan Sindura lebih tepat dalam kedu- dukannya sekarang ini. Bagi dia, persoalan pribadi tak boleh menghalangi tugas. Dan kini, ia harus bertin- dak.... Seharusnyalah baginya ini adalah pembunuhan salah seorang pejabat tinggi negara, dan bukan ayah- nya.”

“Kalau begitu, hamba mohon diri, Paman,” Ra Sindu- ra menyembah sedalam-dalamnya dan berjalan jongkok mundur. Pandangan ibu dan adiknya pun tak membuat ia menghentikan langkahnya. Ia teringat sesuatu. Ber- henti sejenak untuk berkata, “Hamba mohon, Paman Kebo Kapetengan diperkenankan mengiringi hamba. Beserta siapa pun yang dikehendakinya.”

Rakryan Kanuruhan tersenyum. “Bagus sekali kau segera menyadari kelupaanmu, Raden. Sungguh gega- bah untuk terpengaruh perasaan hati saja. Baik, Raden. Kebo Kapetengan, kauikuti Ra Sindura.”

“Daulat, Junjungan,” Kebo Kapetengan cepat meng- haturkan sembah. Di luar, seorang prajurit wanita bersimpuh di jalan yang akan dilalui Ra Sindura. Ra Sindura berhenti. Me- nyapa.

“Ah, Madri... apakah kau menghendaki aku?” tanya Ra Sindura.

“Sembah hamba untuk Paduka, Raden,” Madri ber- datang sembah. “Hamba menyampaikan  keinginan Sang Raja. Sang Maharaja menghendaki Raden segera menghadap di Istana Timur. Sendirian.”

Sesaat Ra Sindura bingung. Ia tahu apa yang ada di balik permintaan menghadap Sang Raja, jika yang me- nyampaikan permintaan itu Madri, prajurit wanita pe- ngawal pribadi Sang Raja. Suatu siksaan batin. Terlebih pada saat ia ingin segera menyelesaikan penyelidikan- nya. Tapi tentunya permintaan seperti ini tak bisa dito- lak.

Dengan hanya  diiringi  Madri  yang  membawa  obor, Ra Sindura berjalan menuju Istana Timur. Taman dan halaman istana yang dilewatinya bagaikan gambaran tentang kahyangan, dengan permainan cahaya lampu- lampu yang dipasang  di  mana-mana.  Tetapi  tak  ada yang terpikir oleh Sindura kecuali tugas yang dihadapi- nya.

Melewati taman terakhir di depan Istana Timur, tiba- tiba Ra Sindura merasakan bahwa ia berjalan sendiri. Ia pun tidak terkejut. Selalu begitu.

Ia tak perlu obor. Cahaya beberapa lampu memben- tuk paduan terang dan gelap bagaikan dongeng. Dan di bawah sebatang pohon Nagasari di depan danau kecil, seperti biasa telah menunggu Dewi Malini.

“Kakang Sindura... ini memang bukan saat yang sa- ngat tepat, tetapi aku sangat merindukanmu... aku in- gin kau berbagi kesedihan ini denganku,” bisik Dewi Malini tanpa kata-kata pendahuluan lagi, langsung me- megang lengan Ra Sindura, mencegah pemuda itu ber- jongkok menghaturkan sembah.

“Dewi...” Ra Sindura ikut berbisik. Gelisah. Dan... ta- kut. “Ingat kedudukanmu. Kau kini adalah milik Sang Raja, junjunganku. Apa pun perasaan hatimu padaku, tak berlaku lagi. Kau pun junjunganku, dan aku hamba sahayamu. Hubungan kita... sangat berbahaya. Bagimu. Bagiku. Apalagi di saat seperti ini,” kata Ra Sindura. Wanita itu muda. Cantik. Putri Rakryan Demung. Te- man bermain Ra Sindura sejak kecil. Namun kemudian diambil selir oleh Sang Raja.

Dewi Malini tak pernah bisa melupakan Sindura. Di tiap kesempatan ia menghendaki pertemuan dengan ksatria muda itu. Selalu diatur oleh Madri, salah seo- rang teman bermain semasa kecil dulu.

Dalam rasa baktinya, Ra Sindura tak pernah bisa menolak perintah junjungannya. Dalam gejolak jiwa mudanya Ra Sindura sering lupa bahwa Dewi Malini is- tri rajanya. Tapi kali ini ia tidak lupa. Ia dengan lembut mendorong Sang Dewi yang ingin mendekapnya.

Halaman 91 dst hilang—robek.

Bersambung ke jilid 4.