Damarwulan Bab 16 : Panji Wulung Kedatangan Tentara

Bab 16 : Panji Wulung Kedatangan Tentara

Ada yang giat membangun, dan ada pula yang lebih giat meruntuh! Bagaimana perjalanan Layang Seta dan Layang Kumitir sampai ke Sulebar,

tidak perlu diceritakan semuanya di sini. Karena tempat-tempat yang akan 'dikunjunginya itu telah dipelajari dan diketahuinya belaka dengan saksama, mudah juga keduanya mendapat bantuan. Berbagai-bagai berita dan kebohongan yang telah mereka siarkan, untuk memburukburukkan Majapahit serta memfitnahkan Damarwulan. Keduanya tidak malu-malu menyiarkan berita, sebenarnya yang mengalahkan dan yang telah menewaskan Menak Jingga mereka berdua bersaudara bersama-sama seorang satria yang sudah tewas. Dalam suasana sedang menghebat dan pertempuran masih berjalan, sekonyong-konyong muncullah seorang kelana muda dengan orang-orangnya yang terjadi dari kaum petualang belaka. Dengan tidak diduga-duga kelana yang tak tentu asal usulnya itu, dengan akal dan siasat yang licik dapat menguasai suasana. Ada yang menceritakan ia berasal dari anak tukang arit, ada pula yang mengatakan keturunan perampok yang telah lama menantinanti kesempatan dan berusaha menangguk di air keruh. Sehingga mereka yang sebenarnya yang membunuh Menak Jingga, buat sementara terpaksa meninggalkan Majapahit. Demikian pula orang tuanya. Patih Logender, terpaksa meninggalkan kedudukannya karena beliau tak bersedia bekerja dengan penipu dan perampok yang tak tentu asal usulnya itu.

Untung mujur bagi keduanya, Raden Panji Wulung sama sekali belum kenal akan nama Damarwulan bahkan tentang ayahnya sendiri is hanya mengetahuinya dari keterangan bundanya. Bundanya senantiasa menceritakan bahwa yang jadi patih di Majapahit sekarang ialah "pakciknya" sendiri, Patih Logender, ketika diketahuinya Layang Seta dan Layang Kumitir adalah anak pamannya anak Patih Logender, tak dapat dikatakan betapa terharunya. Ia berjanji akan membantu pamannya dan bersedia hendak mengembalikannya kepada kedudukannya dan membela Majapahit dan akan datang sendiri mengusir kelana itu, beserta kelengkapannya.

Adapun bunda Panji Wulung, putri tunggal Ratu Sulebar, dan ketika itu dialah yang memegang pemerintahan Sulebar itu, menggantikan kakenda dibantu Patih Pecat Tanda.

Sesuai dengan perhitungan ilmu pelayaran pada ketika itu, maka pada pagi hari yang kedua belas, tibalah armada yang dikirim dari Sulebar di muara Kali Sedayu. Ada lagi beberapa buah perahu yang akan datang menyusul, karena terpaksa menyinggahi bala bantuan. Perahu-perahu yang telah sampai itu dipimpin sendiri oleh Patih Pecat Tanda, yang lain oleh Raden Panji Wulung sendiri.

Rakyat tentu gempar melihat kedatangan perahu sebanyak itu, dan bertanya-tanya, perahu atau armada dari mana gerangan. Mereka terlalu keheran-heranan.

"Yang berdiri di samping nakhodanya itu, seperti ... ya, serupa benar dengan Layang Seta."

Kata yang lain, "Benar ... tak salah lagi, yang berdiri di sebelahnya itu Layang Kumitir, memang ... Kumitir...!"

"Dari manakah mereka gerangan?"

Yang lain menjawab pula dengan herannya, "Bukankah Seta dan Kumitir telah tewas di medan pertempuran?"

"Bukan tewas tetapi dipenjarakan, karena telah berkhianat kepada Raden Gajah!" sahut yang lain pula.

"Tidak tewas dan bukan pula dipenjarakan," sela yang lain. "Ah, mana boleh jadi "

"Benar...! Layang Seta dan Layang Kumitir ?"

"Ini buktinya, ..." jawab yang lain pula. "Keduanya melarikan diri tengah malam, sesudah beberapa hari ditahan."

"Ya, saya mengetahui rahasianya," kata seseorang yang baru sampai ke ujung dermaga, tempat mereka bertengkar itu.

"Patih Logender sendiri yang menyelundupkan kedua orang anaknya itu dari penjara dan membawanya keluar kota tengah malam. Itu sebabnya pada upacara pelantikan Raja Angabaya dan Senapati yang penting itu Patih Logender tidak tampak...," katanya pula.

"Bukan rahasia lagi di Majapahit," jawab yang lain, Patih Logender sangat dipengaruhi oleh kedua orang anaknya, yang selalu berhati dengki kepada sepupunya sendiri."

"Malah telah menjadi iparnya pula!" sela yang lain.

"Kedengkian dan dendam telah meracuni kehidupan dan perhubungan mereka berkeluarga...," sahut seorang nelayan yang lebih tua dari sekaliannya.

"Bukan semata-mata merusak atau meracuni hubungan mereka saja, tetapi pasti akan membakar seluruh Majapahit dan meruntuhkannya menjadi abu!" ujar orang yang berdiri di samping dan kelihatan hampir sebaya dengan nelayan itu. "Kesatria Majapahit yang diharapkan untuk membela keraton, amat sayang, mereka akan bertikam-tikaman dan berbunuh-bunuhan sesamanya."

"Sekarang usaha dan perjuangan kita, mudah-mudahan, akan lebih lancar jalannya," kata seorang anak muda berbisik kepada kawannya. Dari tadi keduanya berdiri agak memencil-mencil dari orang banyak serta memperhatikan sekalian peristiwa itu dengan amat cermatnya. "Sudah jelas armada orang Sulebar. Engkau segeralah menyampaikannya kepada Patih Logender dan aku segera pergi ke Giri, dari sana mungkin terus ke Tuban... Assalamualaikum "

"Alaikumsalam!" jawab temannya dengan senyum bahagia. Insya Allah wa taala kita segera berjumpa lagi "

Keduanya keluar menuju ke jalan raya dan orang makin berbondong- bondong dan berdesak-desakan ke kuala dan sebahagian pasukan yang datang itu telah naik ke darat. Pada ujung jalan yang keluar dari muara Kali Sedayu itu yang seorang membelokkan kudanya ke kanan akan menuju ke Giri, yang menjadi pusat ajaran Islam dan yang seorang membelok ke kiri, terus ke selatan menuju ke rumah Patih Logender. Keduanya sama-sama berusaha secepat-cepatnya supaya dapat menyampaikan berita itu selekas-lekasnya.

Ke dalam istana Majapahit segera juga tersiar kabar tentang kedatangan perahu-perahu dari Sulebar itu dan telah disampaikan orang pula tentang kedatangan Layang Seta dan Layang Kumitir bersama-sama bala tentara yang datang itu. Raja Angabaya segera memerintahkan orang untuk menahan dan membawa bekas Patih Majapahit ke istana, tetapi ternyata Patih Logender sudah melarikan diri. Rumahnya telah ditinggalkannya, sama sekali telah kosong.

"Ah Paman...!" keluh Damarwulan menyambut kabar dari prajurit yang diperintahkan ke rumah pamannya itu.

"Itulah, pertimbangan Kakanda terlalu terikat oleh perasaan kekeluargaan!" ujar istrinya menyesali.

"Ya, bagaimana tidak, Adinda!" jawab Damarwulan. "Bekas Patih Majapahit itu pamanku serta mertuaku, ayahmu sendiri. Anjasmara! Kedua orang anaknya itu, saudaramu, sepupuku dan iparku pula. Tak lain yang aku harapkan kesadaran mereka sendiri."

"Adinda sudah memberi ingat kepada Kakanda, tentang orang-orang Utara yang datang berkunjung ke pedesaan Ayahanda!"

Damarwulan terdiam seketika, kemudian ketika istrinya mendesak dijawabnya, "Sejak bila ada larangan, orang asing tidak boleh berhubungan di Majapahit!" sahut Damarwulan pula dengan tegas. "Hati manusia tidak dapat dikongkong dan dibendung dengan seribu lapis penjagaan dan peraturan, tetapi barangkali, mungkin dapat disadarkan dengan kebenaran serta keinsafan tentang arti kebenaran itu. Saya tak pernah khawatir dan gentar, demi dewa-dewa yang lebih kuasa, selama saya berdiri di atas yang benar dan berjuang untuk membela kebenaran itu "

Anjasmara menjawab dan seakan-akan menuduh, "Ya, Kakanda, karena hendak membela kebenaran dan untuk menjaga rma Majapahit, Kakanda seharusnya lebih waspada serta lebih berhati-hati. Sejak semula, tiadakah Kakanda sadari, diri Kakanda diancam kedengkian, dendam, dan iri hati "

Beberapa lamanya keduanya terdiam, sana-sama merasakan makna perkataan masing-masing. "Kebenaran itu sendirilah yang akan unggul memperlihatkan diri seperti cahaya matahari yang menyinari bumi tak akan tertutup oleh kabut atau mega mendung sekalipun," jawab Damarwulan dengan lebih pasti dan yakin.

Di gapura kesatriaan tampak dua orang satria masuk dan segera turun dari atas kudanya, menuju ke tempat mereka.

"Tilarsa dan Rarangin datang!" ujar Damarwulan. '

"Majapahit menanti satria yang setia mempersembahkan jiwa raganya...," seru Dewi Anjasmara kepada keduanya.

"Karena itulah kami datang, Kakanda!" jawab keduanya, seraya memberi hormat kepada iparnya. Kemudian kepada Damarwulan selaku Raja Angabaya. "Pasukan sudah disiapkan. Menunggu perintah!"

"Adinda kedua dengan pasukan Adinda, akan mengeluari musuh sampai ke muara Kali Sedayu, sementara Senapati menyiapkan bala tentara menanti di perbatasan kota," demikian perintah Raja Angabaya. "Sebelum meninggalkan kota dengan pasukan Adinda, Adinda kedua harus menghadap Senapati, merundingkan tugas."

Adapun Patih Logender beberapa hari sebelum Armada Panji Wulung itu masuk ke muara Kali Sedayu terlebih dahulu telah menerima berita. la segera berangkat ke desa Ampel. Di sanalah ia menunggu kedatangan Panji Wulung dengan kedua orang anaknya. la sangat berbesar hati menyambut mereka dan yang lebih membesarkan hatinya lagi, Raden Panji Wulung belum mengenal dan mengetahui bagaimana keadaan di Majapahit yang sebenarnya. Harus dijaga benar, supaya ia jangan mengetahui, Damarwulan adalah saudaranya sendiri. Untung pula! Kedatangan perahu kenaikan Raden Panji Wulung tidak bersama-sama dengan Layang Seta dan Layang Kumitir. Dapat ia mengatur dan membicarakan siasat lebih leluasa dengan anaknya yang tiba terlebih dahulu.

Demikian pula Patih Pecat Tanda harus dijaga benar, jangan dapat hendaknya ia berhubungan dengan siapa pun, yang mungkin akan membukakan rahasia itu.

Kedatangan perahu Panji Wulung bersamaan benar dengan kehadiran pasukan Raden Panji Kuda Tilarsa dan Raden Panji Kuda Rarangin. Bukan kepalang ramainya orang di muara Sedayu. Dari mana-mana orang datang berbondong-bondong sengaja hendak melihat dan ingin mengetahui maksud kedatangan mereka, karena tampaknya bukan pelang atau kapal dagang biasa. Sebuah armada dengan perlengkapan secukup-cukupnya.

Yang berjualan makin hari makin ramai, terutarna yang berjualan barang makanan dan buah-buahan. Pasukan Panji Wulung itu makin hari makin terbiasa pula dan makin berani naik ke darat. Maklum mereka telah berhari- hari tinggal di laut. Selain mereka memerlukan sayur-mayur dan buah- buahan, mereka perlu pula menghirup hawa segar dan menikmati pemandangan alam ujung wetan Jawadwipa yang permai itu_ Ke mana mereka pergi anak-anak ramai pula mengiringkan mereka. Bagi bangsa apa pun di seluruh dunia, dari dahulu sampai sekarang, waktu damai maupun waktu perang, ke mana mereka pergi, bila berjumpa dengan kanak-kanak, segeralah bercipta suasana damai yang akrab, kasih sayang yang kadang- kadang sampai mereka lupa di mana dan waktu apa mereka berada.

Tetapi ... sayang...! Suasana gembira itu tidak lama. Di suatu tempat segera terjadi peristiwa tegang, agaknya karena salah mengerti, salah bertindak mungkin juga salah perlakuan. Tentara Tilarsa dan orang-orang Kuda Rarangin segera bertindak untuk menjaga keamanan. Sebaliknya, yang sepihak lagi tidak mau menerima perlakuan yang semacam itu, mereka merasa tersinggung dan merasa benar sendiri. Terjadilah perkelahian kecil-kecil yang satu segera diikuti oleh yang lain dan sesudah yang lain yang lain pula. Itulah permulaan pertempuran itu.

Terjadi pula perkelahian antara Patih Pecat Tanda dengan Raden Menak Koncar sendiri. Radon Menak Koncar segera tidak berdaya lalu jatuh pingsan. Begitu pula sekalian yang berani menghadapinya.

Kuda Tilarsa dan Kuda Rarangin segera datang membantunya. Barulah Patih Pecat Tanda mendapat perlawanan, malah seakan-akan kepayahan juga ia menghadapinya, sehingga Raden Panji Wulung datang pula membantu.

Mula-mula ia berhadapan dengan Kuda Tilarsa. Kedua satria itu sama-sama tampan, sebaya, sama-sama muda, ketangkasannya berbanding pula. Yang seorang menyerang dengan gesitnya, yang lain menangkis dengan tangkasnya. Beberapa lama mereka serang-menyerang, tangkis-menangkis, belum ada juga yang kena.

Kemudian bergantian. Kuda Rarangin pula tampil ke depan, berhadapan seorang lawan seorang dengan Raden Panji Wulung dari Sulebar itu. Kuda Rarangin mempergunakan siasat yang lain. Dengan langkah lebih rapat dan lebih rapi serta menyerang lebih cepat, menikam Panji Wulung dengan tikaman yang bertubi-tubi. Itu pun sia-sia dan dengan mudahnya juga ditangkis serta dielakkan oleh Panji Wulung.

Dicobanya pula cara menyerang yang lain, itu pun dengan mudah juga dielakkannya. Sesudah berulang-ulang dan gantiberganti menyerang dan menangkis mereka sama-sama tercengang dan sama-sama heran. Laku mereka dalam perang tanding, tak ubahnya sebagai laku tukang gendang dengan tukang tari, begini lagunya begitu tarinya, berubah lagunya lalu beralih pula tarinya. Seimbang dan sejalan benar.

Ajar Tunggul Manik yang sejak semula diam-diam menyaksikan perkelahian itu lalu tampil ke muka, menyeruak di antara orang banyak. Setelah sampai ke tempat kedua orang satria itu ia berkata, "Wahai satria muda! Engkau kedua ternyata mempunyai ilmu yang sama selain mempunyai aliran darah yang sama pula. Berhentilah kalian berkelahi ... tiada gunanya diteruskan!"

Keduanya sama-sama memandang kepada ajar sakti itu seolah-olah dia diutus para dewa, datang tiba-tiba datang melerai perkelahian itu. Siapakah dia gerangan dan dari mana datangnya. Keduanya amat heran, demikian pula sekalian yang hadir.

Patih Pecat Tanda juga keheran-heranan. Ia masih mengenal ajar itu, tetapi ia agak ragu-ragu akan menegurnya. Sinar matanya amat tenang tetapi memesonakan, yang hanya didapati pada orang-orang yang berpribadi luhur belaka. "Ketahuilah, bahwa kamu ketiganya," ujarnya pula, seraya memegang pundak Kuda Tilarsa yang segera pula mendekatinya, "adalah bersaudara!"

Panji Wulung dan Kuda Rarangin masih tertegun, tegak sebagai terpaku di tanah. Ketiga satria yang dikatakan bersaudara itu berpandang-pandangan; bagi yang menyaksikan ketika itu akan kelihatanlah sorot pandangan ketiganya tidak berbeda, raut mukanya serupa bahkan potongan badan serta lagak-lagu mereka berkata-kata dan bertindak tidak berbeda sedikit juga.

Sekaliannya tidak didapati kecuali pada orang yang bersaudara juga.

"Ampunilah hamba ... Bendara Patih!" seru Pecat Tanda sujud menyembah di hadapan ajar itu. "kalian kepandaian dan pengetahuan yang telah dilimpahkan atas diri hamba telah hamba turunkan semuanya sesuai dengan amanat Bendara Patih!"

"Ya ya, Pecat Tanda," sahut ajar itu, "telah saya saksikan sekaliannya.

Terima kasih alas kesetiaanmu!"

Raden Panji Wulung masih terheran-heran juga.

"lnilah mendiang') Patih Udara," seru Patih Pecat Tanda pula, kepada Panji Wulung, "Ayah Bendara Raden sendiri!"

Panji Wulung segera membungkukkan badannya memberi hormat kepada Ajar Tunggul Manik, ayahnya yang belum pernah dilihat dan dikenalnya.

Dituruti oleh Kuda Rarangin dan Kuda Tilarsa yang tak kurang pula herannya, karena keduanya sebenarnya baru pada ketika itu pula menyadari bahwa Ajar Tunggul Manik itu ayahnya sendiri.

Orang banyak tidak terkira-kira pula terharunya. Dari pertarungan yang amat sengit sekarang berubah menjadi pertemuan kekeluargaan yang teramat mengharukan.

Kuda Rarangin dan Kuda Tilarsa segera mengajak ayahnya dan saudaranya dari Sulebar itu masuk ke dalam kota menemui Raden Damarwulan, yang telah diangkat menjadi Raja Angabaya. Seluruh kota terlalu amat gempar melihat pasukan Kuda Tilarsa dan Kuda Rarangin menuju ke dalam kota mengiringkan Panji Wulung, tentu dengan pengawal kebesarannya pula.

Senapati, Raden Menak Koncar, tentu serta pula mengiringkannya beserta beberapa kepala pasukannya.

"Apakah gerangan yang telah terjadi?" pikir Seri Ratu Suhita, melihat sekalian pasukan itu telah memasuki gerbang kota Majapahit. Demikian pula Damarwulan ketika sekaliannya menuju ke kesatriaannya, langsung menuju ke tempat kediamannya.