Damarwulan Bab 15 : Usaha Memakmurkan Negeri

Bab 15 : Usaha Memakmurkan Negeri

Berbilang bulan telah berlalu...! Banyak peristiwa sudah terjadi, menuju saat pembaruan dan perubahan. Yang usang dan lapuk telah bertukar dan berganti, dibina serta diperbarui dan yang jebol sudah pula diperbaiki. Tampaklah kecintaan dan kepatuhan rakyat kepada ratunya. Terutama Damarwulan pandai sekali mendekati dan menarik hati rakyat. Tak berhenti-hentinya is berusaha memimpin dan menuntun rakyat, demi kemajuan dan kesejahteraan mereka sendiri. Paseban selalu saja ramai. Pada saat-saat yang telah ditetapkan Damarwulan sendiri muncul di tengah-tengah orang banyak, memberi contoh dan teladan, penerangan dan pengajaran tentang tugas dan kewajiban bernegara dan bermasyarakat. Semua golongan senang berhadapan dengan dia, yang lemah dilindunginya dan yang bodoh dibimbing serta dituntunnya. Yang pandai didekatinya dan diajaknya berunding serta bekerja bersama-sama dalam membela kepentingan rakyat dan berusaha untuk memajukannya. Sekaliannya turut membantu, baik yang beragama Hindu Syiwa atau Buddha, baik yang menganut kepercayaan apa pun. Maupun

orang-orang dari Pesisir Utara yang menganut kepercayaan baru mendapat kemerdekaan seluas-luasnya.

Damarwulan sendiri tak dapat diceritakan betapa girang hatinya serta betapa giatnya berusaha, sehingga besar sekali tampak perubahan di seluruh kota Majapahit, bahkan di seluruh wilayah kerajaan.

Apalagi setelah pamannya, Patih Logender, kembali ke Majapahit, tak ada lagi yang dikhawatirkannya. Sekalipun Patih Logender tidak lagi turut dalam pemerintahan, ia tetap berbesar hati, karena Seri Ratu telah memberi kurnia secukupnya untuk jaminan kehidupan pamannya itu. Ternyata menurut pandangan dan keputusan Ratu Suhita sendiri, pamannya tidak tersangkut dalam peristiwa kedua orang anaknya. Sekalipun Damarwulan telah mengetahui, bahwa Layang Seta dan Layang Kumitir, seperti keterangan Patih Logender sendiri, telah melarikan diri dan ada di Sulebar, ia tidak akan menuntutnya lagi asal saja ia tidak datang mengganggu ke Majapahit. Segala pembicaraannya dengan kedua orang anaknya serta bagaimana rencana Layang Seta dan Layang Kumitir tentu dirahasiakannya sungguh-sungguh. Ia seakan-akan tidak tahu-menahu dengan keberangkatan anak-anaknya itu.

Memang Logender sangat pandai bersandiwara.

"Kakanda terlalu sibuk benar akhir-akhir tegur Dewi Anjasmara, sambil duduk di samping suaminya. "Bagaimana keadaan di pertapaan-pertapaan yang Kakanda kunjungi?"

"Ah, tidak ... Adinda," sahut Damarwulan, menatap wajah istrinya. "Kakanda berterima kasih kepada dewa-dewa, sekalian yang Kakanda jumpai dalam perjalanan sangat membesarkan hati. Suasana di desa membayangkan harapan baik pada zaman mendatang."

"Bagaimana tampaknya penghidupan orang desa?" tanya Anjasmara pula dengan penuh perhatian.

"Menyenangkan sekali, Adinda, malah dapat dikatakan sangat menggirangkan!"

"Menggirangkan bagaimana?"

"Dengarlah Kakanda kisahkan bagaimana terasa dekat kecintaan rakyat kepada tentara Majapahit sekarang," ujar Damarwulan. "Karena banyak tempat pertapaan yang harus dikunjungi dan tempat-tempat itu berjauh- jauhan letaknya, kami terus memilih kuda yang sekencang- kencangnya di Majapahit. Aku menaiki seekor kuda hitam, Langlayang namanya dan Senapati memilih seekor kuda putih, Jalurang."

"Yang lain bagaimana serta berapa orang pengiring Kakanda?" sela Anjasmara pula.

"Sekaliannya naik kuda, dua belas orang jumlahnya dengan kami."

"Lalu?" desak Dewi Anjasmara, ingin lekas mengetahui kisah perjalanan itu. "Kepada Senapati telah aku beri tahukan supaya kami berpakaian biasa

saja. Akan tetapi...," Damarwulan berhenti pula. Dari wajahnya kelihatan ia

teringat sesuatu peristiwa yang lucu tetapi menyenangkan. "Akan tetapi bagaimana?"

"Kesepuluh pengiring kami tentu berpakaian kesatria belaka, karena Kakanda lupa memberitahukan kepada mereka untuk berpakaian biasa saja seperti kami."

"Mengapa pada waktu akan berangkat mereka tidak disuruh mengganti pakaian mereka kembali?"

"Tidak sempat lagi! Kami harus berangkat menurut rencana yang telah ditetapkan, jika tidak tak dapat pula kami kembali pada waktunya," sahut Damarwulan.

"Tadi pun kalau Adinda tiada keliru, Kakanda terlambat dari biasanya," ujar Dewi Anjasmara menyiasat.

"Sesungguhnya tidak! Nanti Kakanda jelaskan...." "Lalu apa yang terjadi dalam perjalanan, Kakanda?"

"Tentu akibatnya, karena kami berpakaian biasa, di manamana rakyat menyambut pengiring kami yang berpakaian kesatria itu."

"Serta bagaimana terhadap Kakanda dan Senapati?"

"Bagaimana lagi, kami hams menerima perlakuan sesuai dengan pakaian yang melekat di badan kami. Perwira dan prajurit yang jadi pengiring kami dthormati dan dielu-elukan sepanjang jalan dan ke mana mereka pergi, sebagai kesatria dan

pahlawan Majapahit. Tahukah Adinda sekarang, bagaimana hati rakyat mencintai prajuritnya pada umumnya dan kesatria khususnya, lain dari pandangan dan sambutan mereka terhadap prajurit yang dahulu?"

"Bagaimana lainnya?" tanya Dewi Anjasmara.

"Berlain sekali!" jawab Raden Damar. "Sebelum aku ke kota, Adinda tahu Kakanda dibesarkan dan tinggal di desa. Pada waktu itu kalau ada prajurit atau tentara yang masuk ke desa, anakanak habis berlarian menyembunyikan diri dan perempuanperempuan segera menutup, mengunci atau memalang pintunya. Negeri, kampung atau desa seperti dialahkan garuda, karena rakyat ketakutan. Tetapi sekarang tidak lagi, mereka merasa bangga menyambut prajurit-prajurit, karena mereka yakin prajurit-prajurit Majapahit sekarang bercita-cita dan berusaha membela rakyat, betul-betul mereka telah dianggap jadi pagar negeri."

Dewi Anjasmara tersenyum bangga, kemudian katanya menggoda, "Akan tetapi Kakanda sendiri, menurut cerita Kakanda tadi, tidak ikut merasakan penghargaan atau penyambutan itu. Bukankah begitu, karena pakaian yang Kakanda pakai?"

"Memang!" jawab Dam ulan, "tetapi aku merasa mat bangga telah dapat mengembalikan kepercayaan rakyat yang telah hilang selama ini; kepada prajuritnya terutama!"

"Bagaimana pula sambutan para ajar dan pendeta di pertapaan?"

"Baik ... baik sekali! Biasanya rombongan kami dari desa diiringkan oleh orang-orang desa dan anak-anak ke pertapaan beramai-ramai. Ketika itulah orang desa mengetahui siapa kami."

"Bagaimana caranya?" tanya Anjasmara.

"Ketika tiba di desa, orang kampung seperti telah dikatakan amat dipengaruhi oleh pakaian prajurit-prajurit kami dan kami dikiranya sebagai cantrik-cantrik, kebayan atau lurch desa yang menjadi penunjuk jalan saja. Buktinya pengiring-pengiring kami di desa mana pun kami berhenti senantiasa disuguhi air nira, tuck atau seguir atau sekurang-kurangnya air kelapa muda, tetapi aku dan Raden Menak Koncar... sedih... sedih... sedih sekali," ujar Damarwulan.

"Kakanda kedua disuguhi apa saja?" tanya Anjasmara. "Disuguhi air di batok kelapa juga tetapi air sumur biasa saja."

"Memang sedih benar kalau begitu!" ujar Dewi Anjasmara pula. "Tetapi tidakkah ada di antara prajurit Kakanda itu yang memberitahukan kepada orang-orang desa keadaan hal yang sebenarnya."

"Tentu tidak, Adinda! Sesuai dengan perintah atasan dan peraturan yang telah dibuat sebelum berangkat. Seseorang harus tunduk kepada atasan, tidak boleh membantah dan harus menerima seada-adanya, apa yang dikemukakan orang desa dalam perjalanan itu."

"Lucu sekali," ujar Dewi Anjasmara. Keduanya tersenyum.

"Tadi Kakanda katakan sambutan di pertapaan baik sekali. Bagaimana pula pengalaman Kakanda dan Raden Menak Koncar di sana?"

"Sambutan para ajar serta para pendeta lain sekali. Mereka seolah-olah tidak memihak yang lahir, tetapi langsung melihat ke dalam. Mereka tidak mempergunakan pandangan orang biasa lagi, tetapi sebaliknya dengan pandangan cendekiawan yang mahabijaksana. Di sana kami dijamu dengan kata-kata hikmat serta firman-firman kedewaan, yang tak terpahami oleh telinga orang biasa. Di pertapaan-pertapaan itu kami tidak lama, sekadar mendengar keinginan atau menerima usul para pendeta untuk keselamatan agama dan negara.... Setelah mendapat ucapan restu, kami lalu berangkat pula. Ketika akan berangkat itulah rupanya orang banyak atau rakyat desa mengetahui, siapa kami kedua, karena dalam mantra restu yang diucapkan Sang Pendeta, sesudah menyebut nama Seri Ratu, lalu menyebut nama Raja Angabaya dengan Senapatinya dengan suara yang merdu. Mantra restu itu ringkasnya berisi pengharapan, mudah-mudahan para Dewa selalu membimbing Majapahit dengan perantaraan Seri Ratu Dewi Suhita dan tangan kanannya Raja Angabaya, Kakanda sendiri yang dipercayakan memegang segala urusan kenegaraan dan tangan kiri Kakanda, Senapati, yang memegang urusan pertahanan dan ketentaraan. Demikianlah kami mengunjungi tiap-tiap desa dan tiap-tiap pertapaan."

Setelah membicarakan keadaan desa dan pertapaan, juga mereka membicarakan rencana pembangunan dan perbaikannya.

"Tentu ada lagi pengalaman Kakanda yang lain, sampai terlambat tiba di rumah sendiri!" ujar Dewi Anjasmara.

"Ah, itu yang Adinda maksud. Sesampai di luar kota, Kakanda singgah dahulu di pedesaan Ayahanda."

Patih Logender seperti telah diceritakan setelah mengunjungi Bintara segera kembali ke Majapahit. Apa yang dilakukan selama itu sangat dirahasiakan tak seorang pun yang tahu selain kedua orang putranya. Kemudian dengan suatu helah pula ia diperkenankan mengundurkan diri dan tinggal di luar kota.

"Kakanda mula-mula agak terperanjat, karena bersua dengan orang banyak dari Pantai Utara datang menghadap Paman, eh, Ayahanda!"

"Orang-orang dari Utara! Apakah urusannya dengan Ayah?"

Damarwulan tidak lekas menyahut. Dalam ingatannya ketika itu timbul pula suatu pertanyaan, yang sebenarnya dari tadi itulah yang dipikir-pikirkannya, sebelum Dewi Anjasmara datang bertanyakan tentang perjalanannya itu.

Kemudian ia berkata, "Karena tergesa-gesa dan karena takut akan terlambat sampai di rumah tiada Kakanda perhatikan benar dan tak sempat pula menanyakannya kepada Ayahanda."

"Tidakkah pernah Kakanda mencurigai orang-orang dari Pantai Utara itu? Sepanjang penglihatan Adinda sendiri, pada waktu akhir-akhir banyak benar mereka dalam kota Majapahit," ujar Dewi Anjasmara bersungguh-sungguh.

"Kecurigaanku tentu ada, akan tetapi terhadap Paman, ayah Adinda sendiri pertimbangan Kakanda berlain, Dewi!" jawab Damarwulan dengan tegas. "Tetapi tentang itu baiklah kita pikirkan kemudian. Yang sangat Kakanda pentingkan dan sangat mengharapkan dorongan batin Adinda, ialah tentang pembangunan Majapahit kembali! Bagaimana pertimbangan Adinda?"

"Pembangunan dan keselamatan negara harus sama-sama kita pikirkan, Kakanda!" ujar Dewi Anjasmara dengan nada kecemasan. "Mata hati Adinda merasa dan melihat matahari pembangunan di Majapahit bercahaya dan bersinar amat terang menyilaukan mata, tetapi Adinda selalu mengkhawatirkan pula jangan-jangan seperti sinar surya di waktu petang menjelang senja, hanya sekadar menanti gelap malam turun merundung " "Bagaimana kesudahannya jangan kita pikirkan, Adinda, terserah ke dalam tangan para dewa. Dewa-dewa yang mengatur dan dewa-dewa pula yang kuasa melenyapkannya," jawab Damarwulan dengan pendek.

"Kakanda Layang Seta dan Layang Kumitir bagi Adinda selalu menjadi pertanyaan dalam hati, siang dan malam!" ujar Dewi Anjasmara pula. "Adinda mengenal pekerti dan watak keduanya dan Ayahanda sangat mencintainya. "