Damarwulan Bab 13 : Diangkat Menjadi Raja Angabaya

Bab 13 : Diangkat Menjadi Raja Angabaya

Alun-alun masih ramai. Kota Majapahit seakan-akan tenggelam dalam kegembiraan dan keceriaan. Sejak Raden Gajah dengan induk pasukannya telah kembali dari Prabalingga membawa kemenangan, tiada berhenti- hentinya rakyat bersuka ria. Siang malam dalam kota diadakan keramaian untuk merayakan kemenangan itu. Bermacam-macam keramaian diadakan sepanjang alun-alun bahkan di seluruh kota. Keraton, kabupaten dan seluruh paseban seakan-akan bermandikan cahaya yang gilang-gemilang. Gamelan Kala-ganjur yang termasyhur itu tiada putus-putusnya ditahuh orang, sebagai mendengarkan kemenangan Majapahit ke dalam rongga hati seluruh rakyat. Makin malam makin memesonakan bunyi dan iramanya, membangun dan mengetuk-ngetuk hati putra dan putrinya.

Apalagi pada hari itu luar biasa kegembiraan rakyat, mendengar pahlawan muda yang sangat dicintainya itu telah diangkat menjadi Ratu Angabaya dan Raden Menak Koncar diangkat menggantikannya jadi Senapati. Apakah yang lebih menggembirakan daripada berita kemenangan serta berita pengangkatan Raden Gajah menjadi Raja Angabaya itu! Seluruh rakyat mencintainya serta memuliakannya karena budi bahasa dan keberaniannya. Di mana-mana orang berkumpul, tiada lain yang jadi buah tutur mereka, selain Raden Gajah. Yang belum mengenalnya pada hari itu sengaja datang dari tempat jauh, semata- mata hendak melihat wajah Raden Gajah. Banyak di antara orang yang telah mengenalnya di Majapahit, tetapi banyak yang tidak mengetahui atau tidak mengira, bahwa dialah Raden Gajah yang dicari-cari selama ini. Raden Damarwulan mempunyai pergaulan yang luas di kalangan rakyat, terutama dengan para pemuda.

Hanya Damarwulan atau Raden Gajah sendiri, yang tampaknya tiada bergembira amat, malah dada sedikit juga ia terpengaruh oleh kegembiraan rakyat yang meluap-luap itu. Ia seakan-akan acuh tak acuh saja kelihatannya akan segala sambutan dan pujian-pujian terhadap dirinya.

"Haraplah Adinda dimaafkan...!" ujar Dewi Anjasmara sambil memandang dengan tenang kepada Damarwulan, "sejak Kakanda kembali dari medan pertempuran tampak Kakanda tiada bergembira benar atas segala kemenangan yang telah Kakanda peroleh. Sudilah kiranya Kakanda menerangkan kepada Adinda. Apakah gerangan yang jadi sebabnya, Kakanda?"

Damarwulan agak terperanjat mendengar suara Dewi Anjasmara, yang seakan-akan tiada disadarinya benar ada di sampingnya. Sehari-harian itu sesungguhnya ia terlalu lelah, menghadiri upacara ini, upacara itu, pertemuan ini, pertemuan itu. Setelah selesai dan setibanya di rumahnya, tiada putus- putus pula tamu dan kenalan datang mengucapkan selamat atas kemenang- annya itu dengan hati yang setulus-tulusnya atas pengangkatannya jadi Raja Angabaya, payung panji kerajaan Majapahit.

Setelah membalas pandangan dan menatap wajah Dewi Anjasmara dengan pandangan yang penuh kasih sayang, Raden Damar lalu menjawab, "Yayi...!" Kemudian terdiam pula seketika. Ternyata juga agak payah ia rupanya memilih kata-kata, mencari jawab yang akan dapat menyenangkan hati kekasihnya.

"Sesungguhnya pada mulanya Kakanda mengira, apabila peperangan sudah selesai, bila Blambangan telah dapat dialahkan, tugas Kakanda habislah sudah...!"

"Bukankah tugas Kakanda kepada negara sudah Kakanda penuhi dengan sebaik-baiknya dan Seri Ratu sangat berterima kasih dan sangat memuliakan jasa serta kepahlawanan Kakanda.

Kakanda telah dianugerahi pula pangkat yang setinggi-tingginya, jadi Raja Angabaya serta Kakanda diharapkan senantiasa dapat mendampingi Seri Ratu Suhita sepanjang masa. Apalagi kemuliaan yang lebih dari itu!"

Berdiam diri sebentar, kemudian katanya mengajuk, "Apabila Kakanda bersedia, sesuai dengan persatiran dan janji Seri Ratu, Kakanda akan dijadikan Mahkota Hati sendiri...!"

"Adinda!" jawab Damarwulan dengan sangat berhati-hati. "Kemenangan atas Blambangan belumlah berarti apa-apa. Musuh Majapahit yang paling berat dan amat rumit, bukanlah yang datang menyerang dari luar, akan tetapi ialah yang bersarang di dalam negeri serta yang berkubu di relung hati rakyat sendiri."

Dewi Anjasmara mengangkat alisnya, menatap Damarwulan sebagai bertanya, penuh keheranan. Damarwulan segera mengerti dan dapat menyelami perasaan kekasihnya lalu berkata, "Apabila dipandang dari luar, kelihatanlah Majapahit masih utuh, tetapi yang sebenarnya "

Raden Damar tidak segera meneruskan perkataannya. Lama ia terdiam. "Sebenarnya bagaimana?" tanya Anjasmara pula dengan tidak sabar.

"Seperti sebuah bangunan yang benar, tiang-tiangnya telah tua dan lapuk serta dasarnya sudah tiada kuat lagi!" jawabnya dengan tenang.

"Apa maksud Kakanda?"

"Kepercayaan rakyat sudah binasa, Adinda, sudah sulit memperbaikinya.

Selain hati mereka telah rusak, karena selalu mencerminkan perbuatan yang menyakitkan hati serta menjauhkan kepercayaan mereka kepada petugas- petugas dan pembesarpembesar negara. Kesetiaan rakyat tiada dapat diharapkan lagi."

Anjasmara menatap suaminya, sebenarnya ia belum dapat menangkap maksud pembicaraannya itu dan Damarwulan merasakan benar hal itu sebab itu ujarnya, "Kakanda Seta dan Kumitir sendiri...!"

"Sekarang keselamatan Majapahit tergenggam dalam tangan Kakanda, sebagai Raja Angabaya. Seperti dikatakan oleh Seri Ratu, Baginda. Seri Ratu niscaya tiada berdaya dengan tiada Kakanda. Di tangan Kakandalah sesungguhnya terletak keselamatan dan harapan seluruh Majapahit. Kakanda harus bertindak dengan tegas. Tentu terang Adinda katakan, terhadap siapa saja, demi keselamatan negara, baik terhadap saudara sendiri "

"Karena pengharapan yang tertumpah atas diri Kakanda itulah sesungguhnya Kakanda sangat meragukan kesanggupan Kakanda. Kakanda tahu rakyat sangat menderita!" jawabnya pula.

Kemudian keduanya berdiam diri pula beberapa lamanya.

"Tidak, Kakanda! Kakanda tidak boleh meragukan kemampuan diri Kakanda sendiri. Rakyat harus ditundukkan dengan kekerasan dan Mahkota Majapahit harus diselamatkan !"

"Kekerasan! Musuh dapat dilawan dan ditundukkan dengan kekerasan, tetapi rakyat tidak, Adinda! Tidak dapat dan Kakanda tidak akan mempergunakan kekerasan kepada mereka yang lemah dan sebaliknya selalu mengharapkan perlindungan. Aku sendiri adalah dari kalangan rakyat Adinda! Aku lebih mengerti jiwa mereka seperti meyakini diri sendiri. Terus terang aku katakan, penderitaan mereka adalah penderitaanku."

Damarwulan berdiam diri pula seketika, sebagai hendak meresapkan arti kata-katanya yang terakhir itu.

"Harus Adinda ketahui, Kakanda bersedia menjadi Raja Angabaya hanya dengan suatu pertimbangan yang bulat, untuk kepentingan rakyat. Karena merekalah aku berjuang dan Kakanda dididik dan dibesarkan di tengah-tengah keluhan dan penderitaan rakyat."

"Bagaimana tentang keinginan, bahkan telah menjadi impian Seri Ratu agaknya, akan mendudukkan Kakanda di sisi Seri Ratu supaya dapat memelihara Majapahit bersama-sama...?" ujar Dewi Anjasmara.

"Adinda...!" jawab Damarwulan dengan senyum masam, tetapi penuh arti. "Rongga jiwa Kakanda, sayang, sudah terisi, tiada lagi mengharapkan yang lain, tegasnya selain cinta kasih Adinda sendiri."

Dewi Anjasmara tersenyum pula menampil senyum Damarwulan yang kedengaran seakan-akan mengejek.

"Kakanda selalu mengatakan, bahwa kepercayaan rakyat sudah terpecah- pecah sekarang. Tidakkah kewajiban seorang kesatria untuk mempersatukan kepercayaan yang pecah-belah itu kembali demi keutuhan Majapahit!?" "Tidak, Adinda, sekali lagi tidak! Kepercayaan atau keyakinan adalah hak pribadi tiap-tiap orang, tidak dapat dipaksa dan tidak mungkin ditundukkan apalagi dengan kekerasan."

"Selanjutnya ingin pula Adinda mengetahui, siapakah sebenarnya Sang Pendeta Tunggul Manik itu?!"

"Kakanda belum dapat kepastiannya, tetapi ternyata sangat mencintai dan membela Majapahit, terlebih-lebih sangat memuliakan Seri Ratu!"

"Sepatutnyalah, Kakanda, kita selalu berterima kasih ke hadapan Gusti yang Mahasuci! Kita selalu dikurniai perlindungannya serta dilimpahi kebahagiaan....

Akan tetapi Kakanda "

Dewi Anjasmara terdiam pula. Kemudian dengan mendekatkan mukanya kepada Raden Damar sebagai berbisik, katanya, "Pastilah Sang Pendeta bukan orang lain bagi kita, jangan-jangan Pamanlah Atau... Ayah Kakanda sendiri!"

Damarwulan menatap wajah istrinya dengan pandangan yang mengandung seribu makna serta menyinarkan bermacammacam pengharapan.

Sesungguhnyalah ia sendiri ingin sekali hendak berjumpa dengan Ajar Suci yang bijaksana itu. Ia merasa selalu dipayungi oleh restu serta perlindungannya. Segera pula ia teringat akan pesan Ajar Tunggul Manik, lalu katanya, "Kakanda segera akan menyuruh Paman Sabda dan Paman Naya ke Paluh Amba, akan menyampaikan persembahan Kakanda kepada Bunda dan Kakenda Maharesi. Keduanya harus segera diberi tahu!"

"Adinda berpendapat juga demikian. Tentu Bibi Nawangsasth senantiasa dalam kekhawatiran tentang Kakanda. Ketika Kakanda berangkat ke Blambangan beliau dalam sakit. Apalagi mendengar berita yang bermacam- macam tentang diri Kakanda, jangan-jangan Bibinda sangat berduka cita."

Keduanya berdiam diri pula. Malam telah bertambah larut.

Jalan-jalan sudah mulai sepi. Keriaan dan keriuhan kota telah berganti dengan kesunyian dan ketenangan. Hanya prajurit pengawas yang masih berjalan dengan lesu dan perlahan-lahan atau berdiri di muka gardu penjagaannya sampai waktunya digantikan oleh prajurit yang lain.

"Bagaimana pikiran Kakanda tentang Ayahanda dan Kakanda Layang Seta dan Layang Kumitir..- " tanya Dewi Anjasmara.

"Itulah yang selalu menjadi pemikiran Kakanda. Kakanda sendiri sudah menetapkan dalam hati Kanda, tidak akan menuntut segala perlakuan mereka terhadap diri Kakanda sendiri, apa lagi Paman Patih dalam hal ini sebenarnya tidak apa-apa. Beliau dipengaruhi oleh Kakanda kedua itu. Jika sekiranya Paman Patih hadir dalam sidang kedua di bangsal niscaya beliaulah yang akan diangkat menjadi wakil keratuan di Suwarnabumi, tetapi datang berita, Paman dan Kakanda keduanya telah meninggalkan Majapahit.... Kakanda menghadapi soal yang serba sulit."

"Hal itu janganlah menjadi buah pikiran Kakanda. Adinda mengerti watak Kakanda Seta dan Kumitir dan Adinda yakin seperti kata Kakanda sendiri, kebenaran itu akan tetap menang dan unggul." -

Adapun Raden Damar sekembalinya dad Prabalingga di tengah jalan pasukannya dihadang oleh rombongan pengacau, yang diduga dipimpin dan diatur oleh Layang Seta dan Layang Kumitir sendiri dan rupa-rupanya dengan setahu parnannya pula, Patih Logender. Soal itu tentu menjadi buah pikiran bagi Damarwulan yang senantiasa memaksanya bertindak dan berlaku waspada.